Docstoc

18676265-Konsep-Pendidikan-Anak-Menurut-Islam

Document Sample
18676265-Konsep-Pendidikan-Anak-Menurut-Islam Powered By Docstoc
					                                                                                                1




            KONSEP PENDIDIKAN ANAK MENURUT PANDANGAN ISLAM
                      PROF.DR.BAIHAQI AK (ALMARHUM)

A. Pendidikan Anak Sejak Awal Islam Sampai Zaman Dynasti ‗Abbasiyah

        1.      Pendidikan anak di zaman Nabi

Menulis pendidikan di zaman Nabi, terutama apabila yang dimaksudkan adalah penulisan
secara sistematis ilmiah, sama sulitnya dengan menulis pendidikan Islam pada umumnya.
Bahan-bahan tertulis, kecuali yang terdiri dari ayat-ayat Al-Qur‘an dan hadits-hadits Nabi
yang mengandung makna mengajar dan mendidik, dapat dikatakan tidak adam, atau belum
ditemukan, para penulis di masa itu, karena masih amat sedikit, tersibukkan dengan kegiatan
menulis wahyu Allah (Al Qur‘an) dan kejadian-kejadian yang dalam pandangan mereka
sangat penting misalnya prihidup dan perjuangan Nabi, dakwah dan penyiaran Islam dan
peperangan-peperangan. Mengenai ini terdapat buku-buku dalam jumlah yang cukup banyak
dan bahkan ada yang sampai puluhan jilid untuk satu judul masalah.1
Kekurangan tulisan dibidang pendidikan disebabkan oleh, antara lain (1) jumlah yang relatif
masih kecil, (2) faktor adat Arab yang kurang memberi cukup waktu bagi anak untuk berada
di luar rumah, (3) kondisi lingkungan yang didominasi oleh kegiatan penyiaran ajaran Islam,
(4) peperangan-peperangan (jihad) yang menarik bagian terbesar dari porsi pemikiran umat
Islam, termasuk para penulis, waktu itu.
Di seluruh wilayah Arab, sebelum Islam, anak tidak mendapat perlakuan yang baik. Di dalam
tradisi sebagian suku bangsa Arab malah terdapat kebiasaan membunuh anak perempuan
dengan cara menguburnya dalam keadaan hidup tanpa sedikitpun merasa belas kasihan.
Keadaan mereka ini pada waktu itu sama saja dengan hewan yang memakan anaknya. 2 Di
wilayah-wilayah lainnya, meskipun tidak menganut tradisi membunuh anak perempuan,
berlaku hukum rimba di mana yang kuat mengeksploitasi yang lemah, yang kaya memeras
yang miskin dan berbagai kekerasan lainnya tanpa rasa manusiawi.3
Kebangkitan agama Islam telah membentuk kondisi atau suasana baru bagi nasib anak-anak
orang Arab. Islam telah mengharamkan pembunuhan anak melalui firman-firman Allah,
seperti yang antara lain terdapat pada 3 surah di dalam Al Qur‘an :

Pertama, Surah Al Isra : 31, yang artinya :
                                    
                                        
                  
                  
                                                           

        ―Janganlah kamu bunuh anak-anakmu karena takut lapar. Kamilah yang memberi
        rizki mereka dan (juga rizki) kamu. ―
        1
          Ahmad Syalabi, Tarikhu Al Tarbiyah Al Islamiyah, Daru al Kasysyaf li al Nasyri wa al
Thiba‘ah wa al Tauzi, Mesir 1954, hal. 1
        2
          Fat-hiyah Hasan Sulaiman, Tarbiyatu Al Thifli Baina al Madhi wa Al Hadhir, Mesir, Dar
Al Syuruq, 1399 H/1979 M, hal. 11
        3
          HAMKA, Sejarah Umat Islam, Jilid I, Cet. Ke 6, Jakarta Bulan Bintang, 1981, hal. 116-118
                                                                                                    2




Kedua, Surah Al Takwir : 8, yang artinya :
                

               ―Dan apabila anak perempuan yang telah dibunuh itu ditanya, karena dosa apa
               (maka) ia dibunuh ? ―

Ketiga, Surah Al An‘am : 140, yang artinya :

                  
          
                  
                   
          
                                        

               ‖Sesungguhnya telah rugilah orang-orang yang membunuh anak-anak mereka
               karena kebodohan, tanpa pengetahuan.‖

Selain daripada pengharaman pembunuhan anak tersebut, Islam, lebih jauh, telah
menampilkan ketentuan hukum yang memperlihatkan betapa pentingnya bahkan betapa
wajibnya memperhatikan dan merawat anak dengan penuh kasih sayang sejak sebelum dan,
apalagi setelah lahir. Ibu yang sedang mengandung, jika merasa berat atau kuatir akan
kesehatannya terganggu, dibolehkan berbuka di kala orang lain sedang wajib berpuasa dalam
Ramadhan4 agar menyusukan anaknya selama 2 tahun, jika ia bermaksud supaya penyusunan
itu lebih sempurna dan menolong.5 Jika karena satu dan lain hal ia tidak sanggup
menyusukan sendiri anaknya maka suami (dan juga isteri) diharuskan (baca: diwajibkan)
mencari ibu lain yang mempunyai air susu agar, dengan upah yang wajar, membantu
menyusukan anaknya tersebut sehingga dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Islam
sama sekali tidak memberi isyarat meskipun tidak mengaramkan atau melarang penggantian
air susu ibu dengan air susu kambing, sapi atau susu buatan, melainkan mencari ibu lain,
yakni manusia yang memiliki air susu agar anak menghisap air susu manusia, bukan air susu
hewan atau susu buatan.6
        4
            Fat-hiyah Hasan Sulaiman, Op. Cit., hal. 82. Lihat juga Al Sayyid Sabiq, Fiqhu Al Sunnah,
Jilid I, Cet. IV (revisi), Libanon, Beirut, Daru Al Fikri li Al Al Thiba‘ah wa Al Nasyri wa Al Tauzi‘,
1403 H/1983 M., hal. 372.
          5
            Lihat Q.S. Luqman : 14
          6
            Lihat Q.S. Al Baqarah: 233. Arti ayat ini secara lengkap:
          Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin
menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu
dengan cara yang ma‘ruf (wajar). Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya.
Janganlah seorang ibu menderita karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan pewarispun
berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan
keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu
disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran
menurut yang patut. Bertaqwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa
yang kamu kerjakan.
                                                                                                   3




Islam mewajibkan suami agar berusaha untuk memenuhi kebutuhan biaya hidup keluarga,
termasuk anak7, karena dalam hal itu, secara alami, ia lebih kuat dan mampu. Sedangkan
isteri dibebankan kewajiban merawat mengasuh anak, karena dalam hal ini ia, secara alami
pula, lebih lembut, sabar dan kasih sayang. Dan nanti, setelah anak mencapai umur layak
untuk secara wajar dididik, maka ayah kembali terbeban kewajiban mendidiknya, sebab
untuk itu, dialah yang biasanya lebih berwibawa dan karenanya lebih bertanggungjawab.
Isteri diwajibkan membantu dalam hal mendidik tersebut sehingga tercapai kerjasama yang
harmonis dan edukatif dalam rumah tangga.
Nabi Muhammad SAW, sebagai Rasul Allah, tidak membicarakan secara terjabar cara-cara
(metode) pendidikan anak. Ajaran-ajaran yang disampaikannya melingkup segala aspek
kehidupan manusia, baik kehidupan jasmani dan rohani maupun kehidupan anak, remaja,
dewasa dan orang tua dan bahkan tidak saja kehidupan di dunia melainkan juga di akhirat.
Khusus tentang manusia, Nabi SAW telah menyampaikan ajaran Allah mengenai proses
kejadian anak di dalam kandungan,8 termasuk ketentuan-ketentuan mengenai rizki,9 umur,10
nasib baik dan buruk.11 Ajaran itu menyangkut pula proses-proses penentu sebelumnya,
seperti petunjuk-petunjuk tentang pemilihan jodoh,12 perkawinan,13 persetubuhan,14 dan
pembinaan kerukunan rumah tangga.15
Namun demikian, jika dipelajari ajaran-ajaran Islam tentang pendidikan secara umum akan
terlihat bahwa Nabi SAW, sesuai dengan wahyu Allah, telah menetapkan garis-garis
besarnya. Wahyu pertama,16 dan wahyu kedua,17 yang diturunkan Allah kepada Nabi
Muhammad telah memberi isyarat bahwa pendidikan Islam terdiri dari 4 belahan besar, yaitu:
(1) pendidikan keagamaan, (2) pendidikan akal dan ilmu pengetahuan, (3) pendidikan akhlak
mulia dan (4) pendidikan jasmani dan kesehatan.18 Nabi Muhammad sendiri secara
operasional telah melangkah ke arah realisasi keempat belahan tersebut sejak awal. Madrasah
pertama jika dapat dikatakan madrasah yang dipilihnya untuk tempat pendidikan secara
formal adalah rumah AL Arqam bin Abi Al Arqam. Di situ ia mengajarkan pokok-pokok
ajaran Islam, Menyampaikan wahyu-wahyu yang diterimanya dari Allah kepada sahabat-
        7
           Lihat Q.S. Al Baqarah: 233
        8
           Lihat Q.S. Al Mu‘minun: 12–14.
         9
           Lihat Q.S. Hud: 6, Taaha: 132, Al Isra: 31, Al Thalaq: 3, Al An‘am: 2
         10
            Ketentuan mengenai umur ada dalam rahasia Allah. Lihat Q.S. Al A‘raf: 34, Al Nahl: 61,
Luqman: 34.
         11
            Lihat Q.S. Al Furqan: 2, ‗Abasa: 19, Al Ra‘du: 26, Al Nahl: 27, AL Isra‘: 30.
         12
            Hadits nabi yang artinya: Dikawini seorang wanita karena kecantikannya, keturunannya,
kekayaannya maka kawinilah wanita yang beragama, niscaya anda akan beruntung.
         13
            Lihat Q.S. Al Nisa: 22, Al Baqarah: 221, Al Nur: 3, Al Nisa: 3, Lihat juga: Abu Ishaq bin
‗Ali bin Yusuf Al Fairuzabad Al Syirazi: Al Muhadzdzab fi Fiqhi Al Imam Al Syafi’i, Mesir
Maktabah wa Mathba‘ah Mushthafa Al Babi Al Halabi, Cet. II, 1379 H/1959 M, hal 35-41.
         14
             Abu Ishaq, Op. cit., hal. 67. Bahkan disunatkan membaca do‘a agar terhindari dari
gangguan syetan ketika akan bersetubuh.
         15
            Lihat Q.S. Al Nisa: 19.
         16
            Lihat Q.S. Al ‗Alaq: 1-5 yang mengandung makna (antara lain) pendidikan keagamaan dan
keilmuan.
         17
            Lihat Q.S. Al Muddatstsir: 1-7 yang mengandung makna (antara lain) pendidikan kesehatan
(karena) kebersihan pangkal kesehatan dan pendidikan akhlak mulia.
         18
            ‗Abdu Al Ghani ‗Abud, Fi Al Tarbiyah Al Islamiyah, Mesir, Daru Al Fikri Al ‗Arabi, 1977,
hal. 120-121. Lihat juga Mahmud Yunus, Sedjarah Pendidikan Islam, Djakarta. Mutiara, 1963, hal. 5-6
                                                                                                 4




sahabatnya, menjawab pertanyaan-pertanyaan dan memberi contoh-teladan. Sedangkan
secara informal Nabi mengajarkan agama Islam di rumahnya, dilapangan terbuka dan di
mana saja.19
Di antara sahabat-sahabat Nabi ada yang dengan suka rela membantu Nabi sebagai guru,
misalnya ‗Umar Ibnu Al Khaththab, ‗Ali bin Abi Thalib, Ibnu Mas‘ud, Zaid bin Tsabit,
‗Abdullah bin Salam, Salman Al Farisi. Sedang metode pengajaran di zaman Nabi adalah
berpidato, menerangkan, tanya jawab, diskusi, teladan dan peragaan. Metode yang tersebut
terakhir terlihat dalam cara Nabi memperagakan shalat kepada pengikut-pengikutnya,
memperagakan akhlak Islami dan berbagai tindakan atau perbuatannya. Dengan metode-
metode itu Nabi SAW menyeru umat ke arah meng-Esa-kan can menyembah Allah, membina
akhlak mulia dalam kalangan pengikutnya, seperti persaudaraan, persamaan, saling sayang
dan hormat, menjaga hak dan kewajiban.20
Kecenderungan para sahabat Nabi pada waktu itu adalah mendengar dan menghafal wahyu-
wahyu Allah yang disampaikannya kepada mereka. Wahyu-wahyu itu dengan segera dan
sengaja diperintahkan Nabi untuk ditulis oleh beberapa orang sahabatnya, seperti Ubayya bin
Ka‘ab Al Anshari, Zaid bin Tsabit Al Anshari serta dibantu oleh 8 orang sahabat lainnya.21 Di
samping menghafal wahyu itu, mereka juga mendengar dan menghafal sabda-sabda Nabi.
Tetapi sabda-sabda tersebut dilarang oleh Nabi untuk ditulis karena rupanya kuatir akan
bercampur-baur dengan wahyu Allah. Namun demikian, para sahabat menghafal keduanya
untuk difahami, dihayati dan diamalkan.
Diantara hail gemilang dari kegiatan Nabi dibidang pendidikan dan dakwah adalah
bersatunya bangsa Arab ke dalam agama Islam, sekaligus mengamalkannya sehingga pola
tingkah laku yang semula penuh dengan kekerasan dan kekejaman, termasuk kepada anak,
berubah secara ekstrim menjadi sebaliknya. Ajaran Islam tentang persaudaraan dalam
persamaan dan yang termulia dalam pandangan Allah hanyalah yang paling taqwa,22 dan
bahwa semua mereka yang beriman adalah bersaudara,23 menjadi benar-benar terealisir dalam
realitas kehidupan sosial bangsa arab. Anak-anak menjadi disayang, diasuh, dirawat dan
dididik.
Nabi sendiri telah merupakan teladan yang paling utama dalam hal bergaul dan kasih sayang
terhadap anak. Keteladannya itu terutama terlihat dalam tingkah laku pergaulannya dengan
cucunya. Hasan dan Husin, dua orang putera ‗Ali dari Fatimah binti Rasul Allah, pada waktu
keduanya masih kecil. Dalam pergaulannya itu, Nabi telah memperlakukan Hasan dan Husin
sebagai anak, sebagai cucu, bukan sebagai manusia dewasa yang kecil. Sehubungan dengan
tingkah laku tersebut terdapat beberapa sabda Nabi SAW :
Pertama,24


        19
           Mahmud Yunus, Sedjarah Pendidikan Islam, Djakarta, Mutiara, 1963, hal. 6. Lihat juga:
Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta, Tim Penyusun Proyek Pembinaan Prasarana dan Sarana PTA/IAIN,
1986, hal. 29.
        20
           Fat-hiyah Hasan Sulaiman, Op. cit., hal. 75
        21
           Mahmud Yunus, Op. cit., hal. 19
        22
           Lihat Q.S. Al Hujurat: 13
        23
           Hadits shahih, lihat Isma‘il ‗Ali, Nasy‘atu Al Tarbiyah Al Islamiyah, Al Qahirah, A‘lamu
Al Kutubi, 1978, hal. 2.
        24
           Fat-hiyah Hasan Sulaiman, Op. cit., hal. 72.
                                                                                             5




      Barangsiapa mempunyai anak kecil maka hendaklah ia mempergaulinya sebagai anak
      kecil.

Kedua,25


      Mengajarlah, tetapi jangan berlaku kasar, karena guru (harus) lebih baik daripada
      orang yang kasar.

Ketiga,26


Tanah adalah musim seminya anak-anak.


Musim semi membuat tumbuh-tumbuhan berdaun, berbunga dan berbuah. Demikianlah
tanah, menurut makna yang terkandung dalam hadits yang tersebut terakhir, membuat anak-
anak tumbuh dan berkembang dengan baik. Oleh karena itu, anak-anak harus diberi
kesempatan seluas-luasnya untuk bermain-main dengan tanah dan pasir,27 sebab dengan
begitu ia akan mendapatkan pengalaman berharga yang menunjang bagi pertumbuhan fisik,
psikis dan kreatifitasnya.
Sabda-sabda Nabi SAW yang mengandung makna memperlakukan anak sebagai anak (bukan
sebagai orang dewasa yang berbadan kecil), mengajar anak dengan lembut dan memberi
kesempatan baginya untuk bermain-main dengan tanah dan pasir dan banyak sabda-sabda
lainnya sebagiannya sudah dinukil dalam Bab II telah merubah pola pikir tradisional orang
Arab, khususnya dalam hal mengasuh, merawat dan mendidik anak-anak mereka, baik laki-
laki maupun perempuan. Ajaran Islam tentang kasih sayang kepada anak dipatuhi dan
diamalkan sepenuhnya oleh mereka sehingga, pada saat yang sama, tertransfer kepada cara
mendidik anak oleh orang tua.
Tetapi kecenderungan menghafal wahyu Allah dan hadits Nabi telah mengambil tempat pada
posisi yang lebih inti ketimbang memahami dan mengamalkan isinya (bahkan sampai
sekarang) dalam segala kegiatan pendidikan anak. Di dalam dan di luar rumah tangga, anak-
anak didorong untuk menghafal wahyu-wahyu Allah dan hadits-hadits Nabi (meskipun
makna yang dikandungnya belum dapat mereka fahami dengan baik), di samping belajar
membaca dan menulis. Anak-anak dapat juga mendengar secara langsung wahyu Allah dan
hadits-hadits tersebut dari Nabi dan sahabat-sahabat pada saat mereka mendapat kesempatan
untuk itu.
Namun demikian, pendidikan anak di zaman Nabi SAW pada dasarnya dipusatkan di dalam
rumah tangga. Anjuran- anjuran Nabi tentang itu senantiasa ditujukan kepada orang tua.
Sedangkan metode atau teknisnya tidak dijelaskan secara terperinci, kecuali sekedar
       25
           Ibid.
       26
           Ibid.
        27
           Bermain-main dengan menggunakan pasir atau tanah liat sebagai salah satu media atau
teknik pendidikan anak kecil yang telah diakui cukup motivatif dan stimulatif bagi pengembangan
daya kreatifitas anak telah diperkenalkan oleh Nabi Muhammad 10 abad sebelum F.W.A. Frobel
(1782-18520 dan tokoh-tokoh aliran baru pendidikan mengetengahkannya.
                                                                                                       6




mencontoh metode dan teknik Nabi sendiri dalam mendidik pengikutnya yaitu: membacakan,
memperdengarkan, menerangkan, memperagakan, melatih, memberi contoh, membiasakan,
tanya-jawab, menghukum dan tentu ada lagi, meskipun secara teoritis-konseptual Nabi tidak
menyebutkan istilah-istilah khusus untuk itu. Hal-hal teknis memang senantiasa
diserahkannya kepada para pemikir dibelakangnya.
Nabi mengajarkan bahwa anak lahir sudah siap dengan fitrah bagi keperluan menerima
pendidikan.28 Jika teori Empirisme,29 menyatakan bahwa lingkunganlah yang paling
‗berkuasa‘ dalam pembentukan tingkah laku manusia dan teori Nativisme, yang dipelopori
oleh Arthur Schopennauer (1788–1860), mengatakan bahwa pembawaan/keturunan yang
paling menentukan dalam hal tersebut,30 maka teori Konvergensi, yang dipelopori oleh
William Stern (1871–1938), telah mencoba menggabungkan kedua teori yang bertentangan
secara ekstrim itu.31 Teori ini mengemukakan bahwa pembawaan/keturunan dan lingkungan
secara bersama-sama mempengaruhi pembentukan tingkah laku lahir dan batin manusia,
masing-masing dalam batas-batas tertentu.
Teori yang tersebut terakhir, yang oleh sementara tokoh pendidikan dikatakan sesuai dengan
teori pendidikan Islam muncul pada abad 18. teori Islam tentang pengaruh keturunan dan
lingkungan terhadap anak, telah lahir jauh lebih awal, yaitu sejak Nabi mengatakan
‗dikawini‘ wanita karena empat hal salah satunya karena keturunan32 dan ketika Nabi
mengatakan: Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah.33 Jadi, jika kedua teori dikatakan
sama maka logikanya adalah bahwa yang datang belakangan adalah imitasi belaka. Tetapi
apakah benar sama?
        28
            Lihat Al Bukhari, AL Bukhari bi Hasyiati Al Sindi, Jilid I, Daru Al Fikri, tk., tt., hal. 235
        29
            Dalam Hassan Shadily, dkk., Ensiklopedi Indonesia, Ikhtiar Baru – van Hoeve, Jakarta,
1983, hal. 926 dijelaskan bahwa teori Empirisme mula-mula dikembangkan oleh Abu Musa Jabir Ibn
Hayyan (721–815), Abu Yusuf Ya‘cob Al Kindi (801–973), Abu Nashr Al Farabi (870–
950),Muhammad Ibn Zakaria Al Razi (865–925). Di Barat dikembangkan oleh Gerbert d‘Aurignac
(940–1003), Gerard de Gremona (1114–1187), Roger Bacon (1214–1294) dan Francis Bacon (1561–
1624).
         Dalam Soegarda Poerbakawatja, dkk., Ensiklopedi Pendidikan, Cet. 2, Gunung Agung,
Jakarta, 1981, hal. 36 dan 93 dijelaskan bahwa teori Empirisme dipelopori oleh Francis Bacon dan
John Lock (1632–1704). Lihat juga A.G. Pringgodigdo & Hassan Shadily, Ensikplopedi Umum,
Yayasan Kanisius, Jakarta, 1977, hal. 307.
         Dalam Paul Edwards, Ed. In Chief, The Encyclopedia of Philosophy, Vol. 1 and 2,
Macmillan Co. & Inc., The Free Press, New York, Collier Macmillan Publishers, London , 1972, pp.,
499–500 dijelaskan bahwa: Empiricism is the theory that experience rather than reason is the source of
knowledge, and in this sense it is opposed to Rasionalism (Empirisme adalah teori bahwa pengalaman
dan bukan akal adalah sumber pengetahuan dan dalam pengertian ini Empirisme berlawanan dengan
Rasionalisme).
         Dalam Watsy Soemanto dan Hendayat Soetopo, Dasar dan Teori Pendidikan Dunia,
Tantangan bagi Para Pemimpin Pendidikan, Usaha Nasional, Surabaya, 1982, hal. 12 dijelaskan bahwa
pelopor Empirisme adalah John Lock, tetapi dalam makna tabularasa, yakni anak dapat dibentuk
menurut keinginan pendidiknya, karena anak tidak mempunyai potensi sama sekali.
         Empirisme dengan makna semacam itu berbeda dengan makna yang dimaksudkan oleh tokoh-
tokoh muslim di atas.
         30
            Wasty Soemanto dan Hendayat Soetopo, Op. cit., hal. 13–14.
         31
            Ibid., hal. 14–15
         32
            Al Bukhari, Al Bukhari bi Hasyiati Al Sindi, Jilid I, Daru Al Fikri, tk., tt., hal. 242.
         33
            Ibid., hal. 235.
                                                                                       7




Bahwa anak sesudah lahir telah memiliki potensi adalah benar menurut ajaran Nabi. Tetapi,
bahwa potensi itu ikut menentukan dalam pembentukan tingkah laku adalah masalah lain.
Potensi, sebenarnya, adalah semacam daya, kekuatan dan kemampuan menerima pengaruh
lingkungan (pergaulan dan pendidikan dalam batas tertentu). Pada anak potensi tersebut
adalah gabungan daripada pihak pertama, yaitu faktor keturunan, pembawaan dan fitrah tadi
yang mempunyai daya, kekuatan dan kemampuan untuk menerima pengaruh pihak kedua,
yaitu lingkungan. Pihak pertama tidak akan dapat berkembang dengan baik tanpa pengaruh
pihak kedua dan sebaliknya, pihak kedua tidak akan dapat berbuat banyak sekiranya pihak
pertama tidak atau kurang mampu menerima pengaruh (pergaulan dan pendidikan).
Potensi tadi pada mulanya, tidak mempengaruhi pembentukan tingkah laku anak, tetapi
memiliki kemampuan dan kekuatan untuk menerima dan bahkan menyerap pengaruh
lingkungan, baik pergaulan maupun pendidikan. Itulah antara lain makna yang terkandung
dalam hadits Nabi yang artinya: …kedua orang tuanyalah yang membuat anak menjadi
Yahudi, Nashrani atau Majusi.34 Orang tua, menurut hadits itu, adalah lingkungan yang
mempengaruhi, sedang anak, dengan potensi yang dimilikinya itu, adalah sebagai penerima
dan penyerap pengaruh.
Lebih jauh dapat dipahami dari ayat berikut:

                 
          
                       
                
                      

‖Dan Allah telah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui apa-
apa dan Dia memperlengkapi kamu dengan pendengaran, penglihatan dan hati agar kamu
bersyukur.(Q.S. Al Nahl: 78)

Anak, setelah lahir, menurut ayat itu belum tahu apa-apa, tetapi telah diperlengkapi oleh
Allah dengan alat pendengaran, penglihatan dan hati yang, meskipun pada mulanya tidak
mempengaruhi anak, namun sudah memiliki potensi untuk menerima pengaruh
lingkungannya. Alat-alat itu mempunyai pula kemungkinan untuk menjadi kuat atau lemah
sejalan dengan periode perkembangan dan pengalaman anak. Atas dasar potensi itu maka
Nabi SAW memerintahkan dimulainya pendidikan anak segera setelah lahir, dengan tujuan
agar alat-alat tadi secara bersama-sama membentuk dhamir (kata hati) yang akan dengan
dominan mempengaruhi anak dalam segenap tingkah laku kehidupan lahir dan batinnya di
masa mendatang.
Metode pendidikan untuk anak yang baru lahir adalah membacakan dan memperdengarkan.
Sedangkan materi pelajaran adalah lafadzh-lafadzh adzan dan iqamah. Metode dan materi
tersebut dapat dikembangkan, misalnya, dengan menerangkan secara bertahap, sesuai dengan
perkembangan anak, makna yang terkandung di dalam lafadzh-lafadzh adzan dan iqamah
tadi, sehingga manakala sudah mencapai umur pantas untuk beribadat (misalnya 7 tahun atau
lebih awal) maka ia segera disuruh mendirikan shalat. Pada saat yang sama disuruh pula
menghafal surah-surah pendek dari Al Qur‘an, seperti Al Fatihah, Al Ikhlash, Al Falaq, Al
       34
            Ibid.
                                                                                                8




Nas, Al Kautsar dan do‘a dalam shalat, lalu disusul dengan belajar membaca Al Qur‘an, yang
sekaligus berarti memberantas buta huruf.
Teori pendidikan ajaran Nabi itu telah berjalan dimasa hidupnya, namun madrasah dalam arti
lembaga formal belum didirikan. Peraturan khusus mengenai sistem belajar, batas umur anak,
kurikulum, syllabus, metodik didaktik dan sebagainya, seperti yang dikenal sekarang, belum
terdapat di masa itu. Nabi SAW hanya memerintahkan untuk belajar/menuntut ilmu
sedangkan sarana penunjang bagi keberhasilannya, ia serahkan sepenuhnya kepada umatnya
yang berilmu untuk memikirkannya agar senantiasa sesuai dengan tuntutan zaman dan
kondisi sewaktu.
Namun demikian, sejak awal dari zaman Islam telah terdapat lembaga yang oleh orang Arab
dinamakan Al Kutab35 (tempat beberapa orang anak belajar), meskipun tidak banyak. Di
antara orang tua ada yang memasukkan anaknya ke dalam Al Kuttab pada umur 5 atau 6
tahun dan biasanya 7 tahun. Ketentuan umur mungkin sekali didasarkan kepada tradisi yang
berlaku atau kepada hadits Nabi yang memerintahkan orang tua agar menyuruh anaknya
mendirikan shalat pada umur tersebut.36 Diantara alasan bagi memasukkan anak ke Al Kuttab
adalah kesibukan orang tua dengan kegiatan penyiaran Islam dan peperangan untuk
menembus hambatan-hambatan dakwah Islamiah.37
Sebenarnya Al Kuttab tersebut sudah terdapat dalam wilayah Arab sebelum kebangkitan
Islam, tetapi tidak tersebar secara meluas sehingga tidak banyak diketahui, baik mengenai
bentuk maupun sistemnya. Fakta ini dibuktikan oleh kenyataan bahwa pada waktu Islam
muncul, orang Quraisy yang sudah pandai tulis dan baca terdapat sebanyak 17 orang.38
Mungkin sekali cara belajar di Al Kuttab adalah: beberapa orang anak berkumpul di suatu
tempat dan duduk mengelilingi guru, seperti yang dikenal sekarang dengan sistem halaqah
(di Aceh: sistem rangking).
Anak-anak yang belajar di Al Kuttab mungkin hanya terdiri dari kalangan tertentu saja
sehingga tidak banyak anak-anak orang Arab yang mendapat kesempatan belajar di
dalamnya. Kemungkinan lainnya adalah bahwa Al Kuttab didirikan oleh orang-orang tertentu
di rumahnya atau ditempat-tempat lainnya tanpa pengumuman resmi secara meluas ke dalam
masyarakat ramai. Oleh karena itu, Al Kuttab belum mendapat perhatian masyarakat secara
wajar, apalagi karena umat Islam di zaman Nabi terlalu disibukkan dengan urusan perang dan
penyiaran agama Islam. Di samping itu mereka sangat mengutamakan belajar dari Nabi
secara langsung. Meskipun demikian, ajaran dasar pendidikan yang telah diletakkan oleh
Nabi, tindakan-tindakannya di bidang pengajaran, perhatian dan kasih sayangnya kepada
anak, kesempatan yang diberikannya kepada tawanan perang Badar untuk menebus diri
dengan imbalan mengajar masing-masing sebanyak 10 orang anak umat Islam sampai pandai
membaca dan menulis,39 dan banyak lagi, telah memberi petunjuk dan, sekaligus, bimbingan
dan pengarahan yang cukup bermakna bagi para pemikir muslim bidang pendidikan di
        35
           Ahmad Syalabi, Op. cit., hal.20–26
        36
           Abu Dawud Sulaiman Ibn Al Asy‘ats Al Sajistani Al Azdi, Sunanu Abi Dawud, Jilid I, Juz
I, Daru Al Fikri li Al Thiba‘ah wa Al Nasyri wa Al Tawzi‘, tk., tt., hal. 133.
        37
           Fat-hiyah Hasan Sulaiman, Op. cit., hal. 84.
        38
            Ahmad Syalabi, Op. cit., hal. 2 lihat juga, Muhammad Munir Marsi Al Tarbiyah Al
Islamiyah Ushuluha wa tathawwuruha fi al Biladi al ‗Arabiyyah, ‗Alamu al Kutubi, Al Qahirah, 1977,
hal 3.
        39
           ‗Ali Husni AL Kharbuthali, Al Hadharah Al Tarbiyah Al Islamiyah, Al Qahirah, Maktabah
Al Khanji, 1975, hal. 225.
                                                                                               9




belakangnya, baik mengenai pandangan terhadap anak didik dan materi pelajaran maupun
mengenai metodik didaktik.
Sebenarnya, dua pusat pendidikan dan pengajaran sudah berdiri di zaman Nabi, yaitu
Mekkah dan Madinah, meskipun belum dapat dikatakan lembaga formal pendidikan anak
dalam pengertian sekarang. Di Mekkah pendidikan tersebut berpusat di rumah Arqam Ibn
Abi Al Arqam dan di Madinah, setelah hijrah, berpusat di Masjid Nabi sendiri. Di sini para
sahabat mendalami mengenai dan mengembangkan diri dalam Ilmu pengetahuan agama
Islam langsung di bawah asuhan Nabi. Dari sini pula Nabi mengutus sebagian dari
sahabatnya untuk menjadi guru dan penyiar agama Islam ke luar kota Madinah.40
Apa yang dikenal dengan aliran baru di bidang pendidikan di Eropa, seperti yang misalnya
dikembangkan oleh John Amos Comenius, sekitar abad 16,41 sebenarnya sudah dirintis dan
bahkan dimulai oleh pendidik-pendidik muslim di zaman awal Islam. Tetapi munculnya ke
permukaan sebagai suatu pemikiran yang konsepsional mendasar oleh pemikir-pemikir
muslim dan secara aplikatif dan operasional oleh para praktisi pendidikan Islam adalah
disekitar abad 3 dan 4 Hijrah atau sekitar abad 10 dan 11 Masehi. Ibnu Sahnur, bahkan pada
abad 2 Hijrah telah banyak berbicara mengenai guru dan murid.42 Al Ghazali (450–505
H/1053-1111 M) telah banyak membahas mengenai tujuan pendidikan, keutamaan ilmu,
mempelajari dan mengajarkannya, materi pelajaran, persyaratan guru dan metode mengajar.43
Ia, sebagaimana akan dibahas nanti, menegaskan bahwa sikap yang harus dimiliki oleh guru
dalam kegiatannya mendidik anak adalah kasih sayang. Kondisi pendidikan yang penuh
dengan kasih sayang akan membuat anak merasa lebih mudah memahami pelajaran.
Al Ghazali adalah orang pertama memasukkan Ilmu Jiwa ke dalam kegiatan pendidikan
dengan memperkenalkan al furuq al fardiyyah yang oleh para ahli Ilmu Jiwa Pendidikan, jauh
di belakangnya, diperkenalkan sebagai individual differences (perbedaan individual). Sesuai
dengan teorinya itu, ia menganjurkan agar para guru menyesuaikan pelajaran dengan tingkat
kemampuan dan pembawaan anak. Pelajaran yang tidak disesuaikan akan dibenci oleh anak
dan, karenanya, ia akan menjadi bodoh, minimal, dalam pelajaran itu.44

2.     Pendidikan Anak di Zaman Khalifah

Di zaman keempat khalifah, pendidikan secara umum, kecuali penyebaranya yang semakin
melauas, tidak mendapat perubahan yang berarti, baik di segi-segi metode mengajar maupun
materi pelajaran. Kewajiban mendidik anak tetap menjadi beban/kewajiban orang tua dalam
rumah tangga atau, jika dipandang sudah mampu, diserahkan kepada Al kuttab, masjid atau
tempat-tempat lainnya dimana pendidikan anak diselenggarakan. Batas umur untuk
memasuki pendidikan secara resmi belum ditetapkan. Anak-anak boleh saja bergabung
kedalam pengajian umum asalkan ia sopan dan sanggup, baik sebagai pendengar maupun
sebagai murid aktif. Tetapi di dalam Al kuttab hanya terdapat anak-anak, meskipun umur
mereka tidak sama.
       40
           Mahmud Yunus, Op. cit., hal. 26–28.
       41
           William Boyd, The History of Western Education, London, Adam & Charles Black, 1959,
hal. 241–254.
        42
           Muhammad Munir Marsi, Op. cit., hal. 111–118.
        43
           Fat-hiyah Hasan Sulaiman, Madzahibu fi Al Tarbiyah, Bahtsun fi Al Madzahibi Al Tarbawi
‗inda Al Ghazali. Al Qahirah, Maktabah Nahdah, 1964, hal. 14–31.
        44
           Ibid., hal. 36
                                                                                               10




Perhatian Abu Bakr, khalifah I, dalam mengendalikan pemerintahan terfokus kepada usaha
memulihkan kemanan yang, setelah kewafatan Nabi, terganggu oleh ulah golongan murtad.
Sebagian mereka ingin mengembalikan situasi dan kondisi kezaman jahiliyah. Sebagian
berambisi politik dan kekuasaan sehingga bermaksud untuk menggantikan kedudukan Nabi
yang karenanya tidak tunduk kepada khalifah. Sebagian lainnya tidak bersedia membayar
zakat karena dipandangnya sebagai pajak yang merugikan.

Abu Bakr berhasil memulihkan situasi setelah mengerahkan 11 unit pasukan dibawah
pimpinan 11 orang komandan ke 10 daerah pemberontakan.45keberhasilan tersebut telah
menyebabkan Abu bakr dan umat Islam dapat memusatkan perhatian mereka kembali kepada
pengajaran dan penyiaran Islam, tidak saja dii dalam melainkan juga keluar Jazirah Arab
sampai ke Parsi dan Syam. Perhatian yang sangat memusat itu telah mendorong para penulis
dizamannya untuk lebihutamakan penulisan sejarah penyiaran Islam dan peprangan-
peperangan yang terjadi. Penulisan di bidang pendidikan, karenanya, tidak mendapat
perhatian yang wajar.
Situasi pada zaman Abu Bakr itu telah menjurus kepada terbinanya semacam asumsi bahwa
pendidikan anak tetap terbeban kepada orang tua, belum menjadi tugas pemerintah. Asumsi
lainnya adalah bahwa lembaga Al kuttab, meskipun belum mendapat perhatian yang serius
dari pihak pemerintah, telah semakin banyak berdiri dan tersebar di seluruh wilayah Islam.
Dengan demikian, anak-anak yang diperkirakan atau yang merasa dirinya sudah mampu,
dapat memasuki Al kuttab-Al kuttab, masjid-masjid atau tempat pendidikan lainnya yang
semakin banyak disediakan oleh masyarakat di seluruh wilayah Islam yang dikuasai Islam.
Di masa ‗Umar Ibn al Khattab, khalifah ke II, penyebaran Islam semakin pesat dan wilayah
kekuasaannyapun semakin luas, sehingga mencapai seluruh Parsi, Rum, Iraq dan Mesir.46
Pergaulan antara bangsa Arab dengn bangsa-bangsa lain semakin meluas dan interaksi
kebudayaanyapun terjadi. Pada waktu yang sama, agama Islam, bahasa dan kebudayaan Arab
semakin bersungguh-sungguh dipelajari dan diserap oleh bangsa-bangsa yang ditaklukkan.
Kegiatan pendidikan menjadi berkembang sangat pesat, meskipun dengan sisteam yang sama,
kecuali mungkin-tetapi tidak tercatat-dengan sistem lain didaerah-daerah seperti Parsi dan
Rum yang sudah maju sebelum Islam. Kegiatan pelajaran membaca dan menulis, menghafal
dan menafsirkan ayat-ayat Al-Qur‘an dan Hadist Nabi semakin berkembang dan meluas.
Bangsa0bangsa yang ditaklukkan memerlukan belajar bahasa Arab, Al-Qur‘an, Hadist dan
berbagai ilmu pengetahuan agamaislam yang dengan sendirinya menuntut banyak lembaga
pengajaran agama Islam dan, sekaligus, banyak guru. Atas permintaan Yazid Ibn Abi Sufyan
yang menjabat amir (gubernur) di Syam, ‗Umar mengirim beberapa orang sahabat Nabi
untuk menjadi guru disana. Di antara mereka adalah Mu‘adz, ;‘Ubadah, Abu al Darda, untuk
mengjara Al-Qur‘an, ibadah dan ajaran Islam lainnya. Yang tersebut pertama dan kedua
menjadi guru ke Palistina dan sahabat yang ketiga ke Damaskus.47
Pada saat itu ilmu pengetahuan dan kebudayaan bangsa yang ditaklukkan mulai
mempengaruhi materi pendidikan. Namun pendidikan, pelajaran bahasa Arab, Al-Qur‘an dan
akhlak Islami tetap mejadi meta pelajaran pokok. Sedang ilmu politik sudah mulai mendapat
perhatian, tetapi belum diangkat menjadi suatu matapelajaran. Anjuran Islam tentang
        45
          Hamka (Haji Abdul Malik Karim Amrullah), Sejarah Umat Islam, jilid II, cet. V., Jakarta,
Bulan Bintang, 1981, hal. 22-23.
       46
          HAMKA, Op. Cit., h. 32-33.
       47
          ‗Ali Hasan al Khurbthali, op. cit., h. 226-227.
                                                                                       11




menuntut ilmu –apa saja ilmu itu-telah sangat berkembang dan bahkan dimotivasi pada
zaman ini. Berbagai ilmu yang terdapat di Parsi, Rum Timur dan Mesir sangat menarik umat
Islam dan, karenanya, mereka amat terdorong untuk mempelajarinya. Disamping itu, Al
Kuttab semakin banyak berdiri karena murid dan peminat ilmu semakin bertambah.
Di masa ‗Utsman Ibn ‗Affan, khalifah ke III (setelah ‗Umar wafat karena di bunuh oleh Abu
Lu‘lu‘ah), kegiatan penyiaran Islam berjalan semakin meluas sehingga mencapai Azerbijah,
Armenia, Khurasan, Afrika, Sabur sampai Konstantinopel (Turki).48 Oleh karena itu,
pendidikan dan pengajaran agama Islam, meskipun dengan sistem dan metode yang tidak
banyak berubah, semakin meluas sesuai .
Tetapi kebijakan ‗Utsman dalam mengendalikan pemerintahan rupanya telah mengundang
banyak masalah. Sikapnya yang lembut dan penempatan banyak penjabat dari kalangan
keluarganya telah menempatkan dirinya kedalam posisi yang semakin sulit dan, karena tidak
berhasil mengatasi situasi, berakhir dengan pembunuhannya. 49 situasi yang mencekam dan
pembunuhan tersebut telah menarik para penulis lebih kepada pengabdian peristiwa-peristiwa
sejarah aripada pencatatan kegiatan-kegiatan pendidikan. Namun demikian, dapat diyakini
bahwa kegiatan pendidikan anak berjalan dengan lancar, karena ia tetap menjadi tanggung
jawab orang tua, baik dengan cara mengajarnya sendiri dalam rumah tangga maupun dengan
cara menyerahkannya kepada Al kuttab, masjid atau tempat-tempat pendidikan lainnya.
Di masa ‗Ali Ibn Abi Thalib, khalifah IV, situasi semakin gawat. Tindakannya
memberhentikan semuapenjabat yang diangkat ‗Utsman telah menyebakan semakin banyak
pihak-pihak yang tidak bersimpati kepadanya dan, akhirnya, melawanya. Peperangan sesama
umat Islam yang satu pihak dipimpin oleh ‗Ali sendiri dan di pihak lainnya dipimpin oleh
Mu‘aiah, gubernur Syam, terjadi sedemikian sengitnya sehingga perhatian seluruh umat islam
terkuras olehnya. Perundingan diplomatik yang dilakukan kemudian oleh Abu Musa, kuasa
penuh yang mewakili ‗Ali dan Amr Ibn Al ‗Ash, kuasa penuh yang mewakili Mu‘awiyah,
berakhir dengan kekalahan ‗Ali. Hal itu telah mengobarkan peperangan yang lebih dahsyat
yang, pada waktu itu, tak terbayangkan kapan berakhirnya.
Kaum khawarij melihat bahwa peperangan yang mencekam itu terjadi adalah karena ulah
ketiga pimpinan umat, yaitu ‗Ali, Mu‘awiah dan Amr. Oleh karena itu, tiga orang anggota
khawarij bernama Ibn Muljam, Buraq dam Ibn bajr bersekongkol untuk membunuh
ketiganya. Yang pertama membunuh ‗Ali, yang kedua membunuh Mu‘awiah dan yang ketiga
membunuh Amr, sedangkan tanggal pembunuhan ditetapkan pada 17 Ramadhan. Tetapi yang
berhasil adalah pembunuhan ‗Ali. Mu‘awiah hanya luka pada pinggangnya, sedangkan
pembunuh Amr tidak berhasil sama sekali.50
Situasi semacam itu telah mendorong para penguasa dan umat untuk memenangkan perang,
bukan meningkatkan kegiatan pendidikan.lpemuda-pemuda yang terlihat sudah mampu
bermain pedang dikerahkan ke medan pertempuran. Kegian pendidikan, meskipun mungkin
tidak di seluruh wilayah Islam (kecuali mungkin pendidikan militer), dengan sendirinya
kurang berkembang. Namun demikian, dapat diyakini bahwa di wilayah-wilayah yang jauh
dari medan pertempuran, kegiatan pendidikan tetapn berjalan dengan baik.
Sementara itu kegiatan pengajaran dan penyiaran agama Islam melalui sahabat-sahabat Nabi
di seluruh wilayah Islam berjalan dengan lancar. Mereka dikelilingi oleh murid-murid atau
orang-orang yang sewaktu-sewaktu memerlukan tambahan pengetahuan tentang Islam untuk
       48
          HAMKA, Op. cit., h. 53-60.
       49
          HAMKA, Op. cit., h. 59-60.
       50
          HAMKA, Op. cit., h. 73-77.
                                                                                             12




disebarkan pula kepada umat didaerahnya masing-masing. Para penyebar ajaran islam
tersebut, akhirnya, tidak saja terdiri orang-orang Arab melainkan juga dari bangsa-bangsa
lain yang telah memeluk dan memiliki pengetahuan tentang Islam. Matapelajaran terpusat,
hadist-hadist Nabi, bahasa Arab, hukum Islam mengenai masalah-masalah yang terjadi.51
Pusat-pusat pendidikan di zaman ini bertambah dengan kota-kota Basrah dan Khufah (Irak),
Damaskus dan Palistina (Syam) dan Fistat (Mesir).52 Sistem pengajaran yang umum berlaku,
terutama di masjid, adalah bahwa murid-murid, terutama di masjid, berkumpul menghadap
guru untuk mengajar dan memahami pelajaran yang diberikannya. Hal yang merupakan ciri
khasnya ialah bahwa murid bebas memilih mata pelajaran yang disenanginya dan, karenanya,
bebas pula pindah dari seorang guru kepada yang lainnya, dalam masjid yang sama, apalagi
karena guru senantiasa memberitahukan matapelajaran yang diasuhnya.
Sebaliknya, gurupun merasa tidak harus mengenal muridnya satu-persatu, karena ia hanya
merasa wajib mengajar. Rupanya, msaing-masing guru dan murid berpegang teguh kepada
ajaran Islam tentang kewajiban belajar dan mengajar. Guru merasa telah melaksanakan
kewajibannya apabila ia telah megajarkan ilmunya dan ia tidak perlu tahu secara persis
murid-murid yang belajar kepadanya. Murid merasa telah melakukan kewajibannya apabila
iatelah belajar, tetapi berbeda dengan guru, ia harus kenal gurunya, sekaligus matapelajaran
yang diasuhnya, agar ia dapat menentukan pilihan pilihan, disamping mengharapkan ijazah
untuk mengakui menjadi guru pula.
Di dalam sebuah masjid biasanya terdapat beberapa kelompok murid yang masing-masingnya
diasuh oleh seorang guru. Mereka mengambil tempat di salah satu sudut masjid sehingga ada
masjid yang tiap sudutnya berisi kelompok belajar. Murid yang semakin banyak telah
mendorong guru mengajar dengan suara yang keras dan kelompok yang semakin membesar
kian memperkecil jarak antara satu kelompok dengan yang lainnya. Diskusi yang
berlangsung antara murid dengan guru atau sesama murid telah menyebabkan situasi masjid
sedemikian ramainya sehingga umat Islam yang datang ke masjid dengan maksud semata-
mata beribadat menjadi terganggu. Hal inilah yang kemudian telah mendorong umat Islam
untuk menyelenggarakan pendidikan di luar masjid.

        3.     Pendidikan Anak di zaman Amawiyah
Setelah ‗Ali Ibn Thalib wafat, Mu‘awiah Ibn Abi Sufyan berhasil mengokohkan dirinya
sebagai khalifah ke V. ia begitu cerdas, politikus, diplomat dan keras serta teguh sehingga
semua pihak yang tidak setuju kepadanya atau memberontak terhadapnya dapat
dipatahkannya. Kekuatannya itu ditunjang oleh Amr Ibn ‗Ash, politikus dan diplomat ulung
di zamannya. Mu‘awiah kemudian, berdasarkan pertimbangan supaya jabatan khalifah tidak
menjadi rebutan yang akan menimbulkan huru-hara dan pertumpahan darah yang
berkelanjutan, memutuskan penurunan jabatan-jabatan itu kepada puteranya, Yazid Ibn
Mu‘awiah. Sejak itulah dinasti Amawiyah, secara berketurunan sebanyak 13 orang, selama
92 tahun hijriah (90 tahun Masehi) bercokol memegang jabatan khalifah yang menguasai
seluruh wilayah Islam, tidak termasuk ‗Abdul Al Rahman Ibn Mu‘awiah Ibn Hisyam Ibn
‗abd Al Malik yang lari ke Spanyol dan mendirikan kerajaan Amawiyah di sana.53
       51
           ‗Ali hasal Al Kharbuthali, op.Cit., h. 227.
       52
            Mahmud Yunus, Op. Cit., h. 29. lihat juga Dra Zuhairini, dkk., Ed. Drs. Bahaqi A.K.,
Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta, Proyek Prasarana dan Sarana PTA/IAIN, 1986, h. 73-76.
        53
           HAMKA, Op. Cit., h. 78-98.
                                                                                               13




Penyiaran Islam dan perluasan daerah kekuasaan, dapat berjalan dengan lancar karena semua
pemberontakan dari dalam berhasil dipatahkan oleh dinasti ini. Penaklukan Afrika, Spanyol
dan banyak negeri-negeri di wilayah-wilayah bagian Timur terselesaikan. Akan tetapi corak
pemerintahan yang di zaman nabi sampai dengan zaman ke empat khalifah dijiwai
sepenuhnya oleh agama, berubah bercirikan politik dan diplomatik,54 meskipun demikian,
peranan mereka, kecuali beberapa orang khalifah, seperti misalnya Yazid Ibn ‗Abdi Al
Malik, Al Walid Ibn Yazid Ibn ‗Abdi Al Malik yang malah merusak citra Islam, 55 cukup
besar dalam upaya penyebaran Islam, mengembangkan pendidikan dan ilmu pengetahuan,
meskipun masih dalam tahap ―permulaan‖.56
Dalam kegiatannya dibidang pendidikan dan pengajaran, Mu‘awiah berusaha
mengembangkan bahasa Arab, sebagai bahasa agama Islam, keseluruh pelosok wilayah Syam
dengan target semua anak-anak harus cakap berbahasa arab sejak kecilnya. Puteranya, Yazid,
sebelum ditetapkan menjadi putera mahkota, ditugaskannya untuk menjadi pengajar bahasa
Arab di desa-desa.57 Seseorang dipandangnya terpelajar apabila ia cakap membaca dan
menulis, pintar memanah dan membuat panah dan terampil berenang. Di bidang akhlak,
seseorang dianggapnya baik apabila ia berani, sabar, baik dengan tetangga, manusiawi,
pemurah, memuliakan tamu, menghargai wanita dan menepati janji.58
Pusat-pusat pendidikan yang sudah berfungsi sebelumnya, meskipun dalam kondisi
menghadapi berbagai pemberontakan dalam negeri, dikembangkan dan bahkan ditambahnya.
Jumlah penuntut ilmu yang semakin besar dan semangat belajar yang semakin tinggi telah
melahirkan ulama-ulama besar dalam jumlah yang cukup banyak. Dua dari empat ulama
pendiri madzhab yang terkenal sampai zaman ini, yaitu Abu Hanifah, pendiri madzhab
Hanafi dan Malik, pendiri madzhab maliki adalah produk pendidikan di zaman dinasti ini.59
Tetapi pendidikan sebagai ilmu belum dikenal pada zaman Amawiyah-bahkan demikian juga
pada zaman pemerintahan dinasti ‗Abbasiyah, seperti akan terlihat nanti-kecuali yang
sifatnya aplikatif oleh para praktisi. Sedang pendidikan anak masih tetap sebagai beban orang
tua, terutama yang masih kecil atau tanggung jawab mereka yang merasa terpanggin untuk
mengajar di lembaga-lembaga Al Kuttab. Anak-anak yang terlihat atau merasa dirinya sudfah
mampu mengikuti pelajaran di masjid-masjid atau tempat-tempat pendidikan yang linnya
yang di zaman Amawiyah sudah banyak tersedia, dapat belajar bersama-sama dengan murid-
murid yang sudah dewasa.

4.     Pendidikan Anak Di Zaman ‘Abbasiyah.
Dinasti Amawiyah (41-132 H/661-750 M),60 kemudian dapat ditumbangkan oleh dinasti
‗Abbasiyah di bawah pimpinan ‗Abdullah Al Saffah (berkat bantuan, terutama Ibrahim Al
Mahdi dan Muslim Al Khurasani). ‗Abdullah Al Saffah (‗Abdullah penumpah darah), setelah
berjaya sebagai khalifah, tidak saja beritindak mengalahkan dan melumpuhkan dinasti
Amawiyah melainkan juga lebih dari itu menumpas dan membunuh mereka habis-habisan.
        54
            HAMKA, Op. Cit., h. 75-76.
        55
            Yoesoef Sou‘yb, Sejarah Daulat Umayyah I di Damaskus, Bulan Bintang, Jakarta, 1977, h.
218. lihat juga HAMKA, Op. Cit., h. 93 dan 95.
         56
            ‗Ali Hasan Al Kharbuthali, Loc. cit.
         57
            Op. cit., h. 228.
         58
            Loc. cit.
         59
            Mahmud Yyunus, op. cit., h. 39.
         60
            Joesoef Sou‘yb, op. cit., h. 10.
                                                                                                 14




Dinasti ‗Abbasiyah berhasil memerintah secara keturunan selama 524 tahun (132-640 H/750-
1242 M) dengan khalifah sebanyak 37b orang, termasuk 15 orang khalifah lambang, karena
tidak berkuasa lagi sebagaimana dengan khalifah-khalifah sebelumnya. Khalifah lambang
tersebut hanya menerima gaji, sedang yang sebenarnya berkuasa adalah panglima-panglima
Turki yang mengepalai angkatan perang negara.61
Pemerintah dinasti ‗Abbasiyah lebih bercorak politik di samping tetap sebagai pemerintah
Islam yang sangat giat menyelenggarakan dakwah Islamiyah dan pengembangan ajaran Islam
pada umumnya. Interaksi intim antara ajaran Islam dengan ilmu dan kebidayaan asing,
terutama Parsi, Romawi dan Mesir, telah menyebabkan berkembangnya pola pikir ilmiah
baru dalam kalangan ilmuwan muslim yang kebetulan hidup dalam kondisi semangat belajar
yang cukup tinggi. Ilmu pengetahuan yang selama ini kebetulan tersemai ditanah yang sudah
mengering di Parsi, Rumawi dan Mesir menemukan pasangannya diwilayah Islam yang
masyarakatnya haus ilmu.
Perluasan wilayah di zaman dinasti ‗Abbasiyah tidak banyak, kecuali perluasan kecil-kecilan
yang hampir semuanya dimenangkan dengan pengorbanan besar, misalnya peperangan
menghancurkan benteng Romawi, Amuriah, yang pada zamannya terhitung sangat kuat di
Eropa. Angkatan perang Islam berhasil merebut benteng tersebut sehingga bangsa Romawi
menjadi takut dan, karenanya, bersedia menandatangani perjanjian perdamaian dengan syarat
membayar upeti. Sedangkan perluasan wilayah kedaerah Hindustan tidak berhasil sama
sekali.62 Ketidakberhasilan itu telah membuat pemerintah dinasti ini lebih menukik kedalam.
Pembangunan istana yang indah, gedung-gedung yang mewah, masjid-masjid yang besar dan
megah, taman-taman rekreasi dan tempat pelesiran yang mempesona telah mengambil cukup
besar perhatian khalifah-khalifah. Di antara mereka bahkan ada yang senang dengan
memelihara wanita-wanita cantik sebagai gundik (yang sebagian khalifah Amawiyah telah
memulainya).63
Namun demikian, zaman pemerintahan dinasti ‗Abbasiyah amat terkenal dalam sejarah
dengan zaman pengembangan ilmu pengetahuan. Pusat-pusat pendidikan berdiri di kota dan
desa pada hampir seluruh penjuru negara, baik melalui bantuan pemerintah maupun atas
usaha badan-badan swasta. Pusat-pusat itu sedemikian banyaknya sehingga sukar mengetahui
jumlahnya, apalagi menghitung jumlah murid-muridnya.64 Diantara murid-murid tersebut ada
yang, setelah belajar di kampungnya, mengembara mencari ulama-ulama yang terkenal tinggi
ilmunya untuk belajar selama beberapa tahun; kemudian pergi lagi untuk belajar pula kepada
ulama lainnya yang di dengarnya mempunyai ilmu lebih tinggi, misalnya, dalam satu bidang
ilmu yang ia berminat mendalaminya; demikian seterusnya.
Ilmu pengetahuan yang pernah berkembang di zaman kuno (Mesir, Yunani, Babylonia dan
Parsi) dibangkitkankembali oleh umat Islam di zaman ini. Ilmu-ilmu itu diterjemahkan oleh
mereka-atau oleh siaa saja-kedalam bahasa Aarb, dengan biaya resmi dari pemerintah, untuk
di baca dan dikembangkan oleh ilmuwan muslim sampai dengan menemukan ilmu-ilmu
pengetahuan baru. Mereka berlomba menambah dan mengembangkan ilmu, tidak saja di
       61
          HAMKA, op. cit., h. 130-132.
       62
          Op. cit., h. 106.
       63
          Joesoef Sou‘yb, Sejarah Daulat ‗Abbasiyah, II, Bulan Bintang, Jakarta, 1977, h. 112.
       64
          Ahmad Syalabi, Op. cit., h. 97-115.
                                                                                                      15




bidang ilmu-ilmu agama melainkan juga dibidang ilmu-ilmu lainnya, seperti filsafat,
kedokteran, ilmu ukur dan sebagainya.65
Tetapi, sebelum mempelajari ilmu-ilmu tersebut, setiap murid harus terlebih dahulu
mempelajari ilmu-ilmu agama, seperti al-qur‘an, tafsir, hadist, tauhid, fikif dan sebagainya
yang dipandang sebagai ―Mata Kuliah Dasar Umum‖ (MKDU). Penetapan tersebut tampak
didasarkan kepada pertimbangan bahwa seelah aqidah dan syari‘ah lurus serta diamalkan
oleh murid maka kebenaran keislamannya tidak akan goncang lagi, meskipun ia mempelajari
ilmu pengetahuan sekuler secara mendalam. Dengan kata lain, semua kegiatan pendidikan
dan keilmuwan harus dijiwai dengan agama dan akhlak Islami yang mulia.66
Pendidikan pada zaman itu di bagi kedalam tiga jenjang, yaitu rendah, menengah dan tinggi.
Tingkat pertama di selenggarakan di Al kuttab, tingkat kedua di masjid dan madrasah, tingkat
ketiga di masjid-masjid tertentu dan, lebih khusus, di Bait al Hikmah (Bagdad) dan di Dar al
‗Ilmi (Mesir).67 Di masjid-masjid pelajaran tinggi didasarkan pada kitab-kitab besar yang
diajarkan. Dan meskipun susunan mata pelajaran dilembaga-lembaga itu berbeda-karena
masing-masing guru mengaturnya sesuai dengan pertimbangannya atau sesuai dengan
ilmu/kita yang dikuasainya atau sesuai dengan kebutuhan masyarakat disekitarnya-namun
mata pelajaran agama tetap mendapat perhatian yang utama.68waktu belajar adalah sepanjang
hari denganmasa istirahat pada pada waktu-waktu shalat dan pulang makan. Libur mingguan
adalah hari jum‘at, sedang libur tahunan adalah pada hari raya fitrah dan haji. Jumlah hari
libur pada kedua hari besar tersebut di tentukan oleh guru.69
Pada mulanya, baik di Al Kuttab maupun dimasjid, guru mengajar anak-anak secara
individual. Setiap anak, secara berganti-ganti, mendekati guru sambil membawa buku yang
sedang dipelajarinya dan guru mengajarnya sampai dengan batas tertentu. Kemudian murid
tersebut mengambil tempat duduk di sekitar tempat duduk disekitar gurunya dan segera
mengulangi atau menghafal pelajarannya. Setelah itu anak lainnya menyusul untuk
menambah pelajaran dengan cara yang sama tetapi mungkin buku atau bab yang
dipelajarinya berlainan.70
Di dalam sebuah Al Kuttab seringkali, karena meningkatkan jumlah anak, bertambah banyak
jumlah buku yang diperlukan. Di samping itu mungkin pula terjadi sebuah buku dipelajari
oleh semakin banyak anak yang, karenanya, berjalan secara ganti-ganti. Hal ini tlah
mendesak bagi (1) pengangkatan guru bantu dan (2) penambahan buku. Guru bantu biasanya
diangkat oleh guru dari kalangan anak yang sudah lama belajar dan dipandangnya sudah
mampu mengajarkan bagian-bagian atau seluruh kitab yang akan diajarkan kepada anak
baru.71penambahan buku dilakukan dengan menyalin atau mendiktekannya kepada anak-anak
yang menuliskannya di batu tulis atau kertas untuk di baca atau di hafal seperlunya.
        65
             Sa‘id Isma‘il ‗Ali, Nasya‘au al Tarbiyah Al Islamiyah, sl Qahirah, A‘lam al Kutub, 1978, h.
62.
        66
            Hasan ‗Abdul al ‗Al, Al Tarbiyah al Ismamiyah , fi al qarni al Rabi‘ al Hijri, Mesir, Daar al
Fikr al ‗Arabi, 1977, h. 87.
         67
            Mahmud Yunus, op. cit., h. 54 dan 58.
         68
            Hasan ‗Abduh Al ‗Al, Op. cit., h. 90-91.
         69
            Mahmud Yunus, Op. cit., h. 44. lihat juga Muhammad Fu‘ad Al Ahwani, Op. cit., h. 64.
         70
            Mahmud Yunus, Op. cit., h. 44-45.
         71
            Sistem semacam itu masih banyak terdapat di Meunasah-meunasah (tempat-tempat anak
mengaji, sekaligus tempat bershalat (jamaah) dan Aceh dan beberapa langgar yang saya lihat di
Sumater Utara. Akan tetapi, ditingkat rangkang (pesantern) murid-murid yang setingkat
                                                                                          16




Metode mengajar lainnya adalah guru membaca dengan suara keras dan anak-anak
mengikutinya dan dilakukan berulang-ulang sampai lancar. Di samping itu ada juga guru
yang menyuruh anak menyalin pelajaran dari kitab tulisan tangan, baik yang ditulis oleh
guru sendiri maupun yang ditulis oleh ulama lain. Berapa lamanya anak belajar di Al Kuttab
tidak dibatasi dengan waktu tetapi ditentukan dengan selesainya buku-buku yang dipelajari.
Mata pelajaran ditingkat ini adalah membaca/menghafal Al-Qur‘an, Hadist Nabi, menulis,
pengetahuan-pengetahuan agama dan akhlak. Setelah mata pelajaran tersebut terselesaikan,
anak segera pindah ketingkat selanjutnya, seperti masjid dan madrasah.72
Disamping pelajaran-pelajaran tersebut, di zaman ‗Abbasiyah telah berkembang pula
pendidikan keterampilan, misalnya (1) pendidikan sekretaris dan mata pelajaran bahasa Arab,
karang mengarang, surat-menyurat dan penataan arsip, (2) pendidikan pidato dan mata
pelajaran bahasa Arab, Syi‘ir, balaghah dan retorika, (3) pndidikan tulisan indak, (4)
pendidikan musik, (5) pendidikan pertukangan, (6) pendidikan pertanian dan ada lagi yang
lainnya khusus untuk anak-anak yang tidak mampu melanjutkan studinya ketingkat yang
lebih tinggi. Untuk itu beberapa ahli didik muslim, seperti Al Ghazali dan Ibnu Khaldun,
telah mengemukakan bahwa bakat dan minat adalah faktor yang paling menentukan bagi
pemilihan jurusan pendidikan yang akan ditempuh anak. Mereka telah mengemukakan
beberapa teori tentang dan bakat dalam kaitannya dengan, terutama, pendidikan kejuruan atau
keterampilan73. Lama sebelum aliran barun di bidang pendidikan berkembang di Eropa.

B. PEMIKIRAN TENTANG PENDIDIKAN ANAK
         1.     Pemikiran Pakar-Pakar Muslim
         Pemikiran tentang pendidikan dalam kalangan ilmuwan mulim, sebenarnya, sudah
berkembang sejak awal zaman Islam, terbukti dengan semakin meningkatnya kegiatan
pendidikan dan meluasnya wilayah jangkauannya. Tetapi pemikiran secara konsepsional dan
tertulis mengenai pendidikan, khususnya pendidkan anak, ditemukan pada abad 2 dan 3
hijrah yang ternyata dimulai oleh Ibnu Sahnun dan Al-Qabisi. Pemikiran-pemikiran
berikutnya, kira-kira satu setengah abad kemudian, ditemukan dalam tulisan-tulisan Ikhwanu
al-Shafa, Al-Ghazali, Ubnu Khaldun, Ibnu Maskawaih dan banyak lagi dalam jumlah yang
sudah agak memadai.
         Pertanyaan-pertanyaan inti, sebagaimana terlihat dalam perumusan masalah yang
diupayakan penemuan jawabannya melalui tulisan ini, terlebih dahulu dicoba dihadapkan
kepada mereka. Untuk itu, maka dalam uraian berikut ini pemikiran-pemikiran tersebut
dipungut secara selektif dari beberapa orang ilmuwan pemikir mulsim yang ikut
membicarakan masalah pendidikan. Mereka yang terpilih adalah: (1) Ibnu sahnun, (2) Al-
qabisi, (3) Ihkhwanu Al-Ahafa, (4) Al-Ghazali, (5) Ibnu Khaldun. Pemikirn-pemikir lainnya,
setelah dipelajari terlihat membahas hal-hal yang kuran glebih bersamaan mengenai
pendidikan, baik secara umum maupun secara khusus berkenaan dengan pendidikan anak.
Dua pemikir yang tersebut pertama dipilih berdasarkan pertimbangan bahwa keduanya adalah
yang paling awal menulis hal-hal yang berkenaan dengan pendidikan dan pengajaran.74 Yang

dikelompokkan untuk diajar oleh seorang guru bantu. Sekali atau dua kali seminggu semua murid
diajar oleh Teungku (guru kepala) mengenai satu buku atau masalah yang dipelajari bersama.
         72
            Hasan ‗Abdu Al ‗Al, Op. cit., h. 103.
         73
            Muhammad Munir al-Mursi,Op.Cit.,hal.135
         74
           Muhammad munir Marsi, Al-Tabiyah Al-Islamiyah Ushuluha wa Tahawwuruha fi Al-Biladi
Al-Arabiyah, Al-Qahiroh, A‘lamu Al-Kutub, 1977, h. 111 dan 119
                                                                                                 17




tersebut ketiga adalah kelompok politik dari golongan Syi‘ah yang bergerak secara ilegal
yang, karenanya, mempunyai missi tersendirid alam upayanya dibidang pendidikan.75 Dua
ilmuwan muslim yang tersebut terakhir hidup dalam zaman dimana perkembangan ilmu
pengetahuan dan, sekaligus, diskusi ilmiah sedang sangat maju.

             1) Ibnu Sahnun (202-256 H/758-812 M)
Ibnu Sahnun, yang menulis lebih dari 20 buku, dikenal oleh kalangan peniliti pendidikan
Islam karena bukunya yang berjudul Adabu Al-Mu‘allimin (akhlak guru-guru) yang
diterbitkan pada tahun 1384 H/1929 M oleh Al-Lajnah Al-Tunisiyah (suatu badan di Tunis)
yang dengan secara berencana menerbitkan dan menyebarkan manuskrip-manuskrip Arab
Islam kuno yang ditulis, menimal, sebelum abad 8 H.76 tulisan Ibnu Sahnun ternyata baru
dikenal setelah abad 12 (atau 1128 tahun) ia meninggal.
Buku Ibnu Sahnun ternyata kecil, terdiri dari hanya 12 halaman tulisan tangan (26 halaman
buku yang diterbitkan) tetapi terhitung sangat tinggi nilainya karena merupakan buku
pertama dalam sejarah Islam yang ditulis khusus mengenai pendidikan, terutama yang
berkenaan dengan guru. Ibnu Sahnun menulis bukunya itu dengan narasumber ayahnya
sendiri, Al-Imann Sahnun, seorang ulama besar yang menjabat hakim tinggi dalam masa
pemerintahan Al-Amir Al-‗Abbas dan beberapa orang Amir sesudahnya.77
Buku Ibnu Sahnun berisi 10 bab:
Dalam bab pertama, pengajaran Al-Qur‘an, ia menjelaskan mengutamakan belajar dan
mengajar Al-Qur‘an. Untuk menunjang kebenaran penulisannya, Ia menyadur beberapa
hadist Nabi kedalam bahasanya sendiri.78
Dalam bab kedua, keadilan guru terhadap murid, ia menjelaskan mengenai sikap adil yang
harus dimiliki, baik oleh guru terhadap semua murid maupun oleh orang tua terhadap semua
anak. Untuk itu ia menyadur pula bebarapa hadist Nabi kedalam bahasanya sendiri.79
Dalam bab ketiga, tatakrama menghapus nama Allah atau ayat Al-Qur‘an yang telah ditulis,
misalnya dibatu tulis atau kertas, ie menjelaskan bahwa menghapus nama Allah atau ayat
tersebut adalah makruh (tidak disenangi) malah terlarang, kecuali dengan cara tertentu.
Suatu cerita yang bersumber dari Anas bahwa dalam masa pemerintahan keempat khalifah,
setiap guru menyediakan sebuah kolam kecil yang diisi oleh setiap murid dengan air suci,
yang masing-masing mereka mendapat perintah untuk itu. apabila mereka bermaksud akan
menghapus nama-nama Allah atau ayat-ayat Al-Qur‘an yang telah ditulisnya maka batu
tulisnya harus dimasukkan kedalam kolam tadi untuk dibersihkan di dalmnya. Sesudah semua
murid membersihkan batu tulisnya dengan cara yang sama, iar kolam tersebut seluruhnya
dialirkan kedalam sebuah lobah yang dengan sengaja digali untuk maksud itu agar semua air
tadi diserap oleh bumi80.
Dalam bab keempat, hukuman, ia menjelaskan adab (tatakrama) menghukum anak (murid).
Untuk ini ia mengutip beberapa hadist Nabi yang menjelaskan batasan samapai dimana dan
dengan alat apa saja guru-guru dibenarkan menjatuhkan/melakukan hukuman atas anak
        75
          Lihat Nadiyah jamalu al din, Falsafatu al-tarbiyah ‗inda ikhwani al-shafa, samir Abu Daud,
al Markazu al ‗Arabi li Al Shahafah, Ahlan, 1983, hal. 42-55
        76
           Muhammad Munir Al-Marsi, Op.cit., hal.111
        77
           Loc.cit.
        78
          Loc.cit.hal. 112
        79
           Loc.cit.,hal.114
        80
           Loc.cit.hal.
                                                                                        18




beruat salah. Diantara hadist Nabi yang dikutipnya adalah (yang artiyna) : tida seorangpun
diantara kamu boleh di pukul dengan cambuk melebihi dari 10 kai kecuali karena hukuman
berbentuk hudud (seperti karena mencuri, berzina, minum khamar dan sebagainya). Yang
lainny adalah (yang artinya) : hukumlah anak dengan 3 kali pukulan (cambuk). Jikalebih,
maka yang memukul dituntut hukuman qishas (bela) di hari kiamat81.
Dalam bab kelima, mengenai khatam Al-Qur‘an, ia menjelaskan bahwa yang dimaksud
khatam (tamat) Al-Qur‘an tidaklah harus berarti menghafal keseluruhannya, tetapi bisa
berarti menghafal sebagian besar, separuh, sepertiga atau seperempatnya. Guru sama sekalti
tidak boleh memaksa anak (murid) untuk menghafal keseluruhan Al-Qur‘an kecuali dengan
seizin orang tuanya. Pada upacara wisuda khatam Al-Qur‘an, hari-hari lebaran (puasa atau
haji), guru dibolehkan menerima hadiah dari murid-muridnya. Tetapi ia tidak dibenarkan
menerimanya kecuali dengan izin orang tua mereka. Penerimaan hadiah di luar izin atau
permintaan hadih dengan sesuatu hilah (dalih) apapun bentuknya, hukumnya haram82.
Dalam bab ketujuh, mengenai libur dan murid yang absen, ia berpendpat bahwa hari libur
puasa adalah 1-3 hari dan lebur haji 3-4 hari. Mengenai murid yang absen, guru tidak boleh
menugaskan murid lain untuk menyelidikinya, kecuali setelah mendapat izin dari orang tua
anak yang ia tugaskan itu atau karena rumah anak yang absen tersebut memang dekat dengan
lokasi belajar. Penugasan semacam itu dapat menimbulkan, minimal, dua akibat negatif, yaitu
(1) pelajaran anak yang ditugaskan akan tertinggal selama masa menyelidik, (2) mungkin ia
akan mendapat penerimaan yang tidak baik atau malah mungkin ancaman dari murid yang ia
selidiki. Guru sendirilah yang harus menyelidikinya dan dengan segera melaporkannya
kepada orang tuanya.
Disamping itu, guru tidak boleh (1) mewakilkan kepada satu (atau beberapa) orang muridnya
untuk melaksanakan hukuman (pukulan) atas murid lainnya yang bersalah, (2) mengangkat
salah seorang muridnya untuk menjadi ketua bagi seluruh murid, kecuali jika murid tersebut
sduah khatam Al-Qur‘an, (3) mengangkat salah seorang muridnya menjadi guru bantu guna
mengajar murid-murid yang lain, kecuali apabila murid tersebut telah memahami benar atau
tidak perlu diajar lagi mengenai ilmu yang akan diajarkannya. Apabila ia mengangkat guru
bantu yang memenuhi persyaratan tersebut maka, dirasanya patut, ia boleh memberi uang
lelah secara wajar.83
Dalam bab kedelapan, kewajiban khusus guru, ia menjabarkan bahwa guru: (1) tidak boleh
bercanda dengan murid, kecuali berkelakar sekedarnya pada waktu akan menukar pelajaran,
(2) harus melarang murid-muridnya melempar-lempar atau berubatan makanan atau buah-
buahan dalam pesta ―wisuda‖ khatam Al-Qur‘an, karena makanan yang dilempar atau yang
direbut terhitung rampasan, (3) harus meluangkan sebanyak mungkin waktunya untuk murid-
muridnya dan tidak meninggalkan tugasnya karena hal-hal yang kurang perlu, misalnya
mengikuti salat jenazah, mengantarkan jenazah kekuburan dan sebagainya, (4) harus
menyusun jadwal mengajar, misalnya, membaca Al-Qur‘an, i‘rab Al-Qur‘an, waqaf, tartil,;
tidak perlu mengajarkan ilmu hitung, sya‘ir, ilmu nahwu, bahasa Arab, kecuali jika memang
dibebani untuk itu, (5) tidak boleh memukul dibgian kepala atau muka murid, (6) tidak boleh
mewakilkan kepada muridnya untuk untuk mengajar murid lain, (7) tidak boleh menyibukkan
diri dengan sesuatu pekerjaan yang menyebabkan perhatiannya kepada muridnya berkurang,
(8) harus memperlihatkan kepada murid-muridnya atau tongkat pemukul, ruang belajar dan
       81
          Loc.cit.
       82
          Loc.cit.
       83
          Loc.cit.
                                                                                        19




kantin, (9) harus menguji sejauh mana kemajuan belajar murid-muridnya, (10) tidak boleh
mengajar dengan suara ilhan (mereng) dan juga nyanya karena keduanya makruh (tidak
disenangi), (11) harus seng dengan tinta yang mengotori kainnya karena hal itu menandakan
ketekunannya mengajar, (12) sebaiknya menetapkan waktu belajar dari pagi sampai zhohor,
(13) boleh menyuruh salah seorang muridnya untuk mendikte pelajaran kepada yang lain,
tetapi ia harus memeriksa kebenaran dikte itu, (14) tidak boleh menukar pelajaran muridnya
dri satu surah Al-Qur‘an kepada surah lainnya sebelum hafal lafazh, harakat dan tulisannya,
(15) tidak boleh melepaskan anak kecil untuk membuang sendiri air besar atau air kecilnya,
(16)wajib memerintahkan muridnya mendirikan solat setelah berumur 7 tahun dan memukul
yang meninggalkannya setelah berumur 10 tahun,, (17) tidak boleh menyelenggarakan
pendidikan anak-anak di idalammesjid, karena mereka belum terjamin bersih dari najis, (18)
tidak boleh mengajar anak-anak kristen membaca Al-Qur‘an, (19) tidak boleh
menggabungkan anak perempuan dengan anak laki-laki dalam belajar, karena hal itu lama-
lama akan mebuat mereka menjadi menyimpang, (20) harus menghukum murid jika ia
mengganggu/menyakiti murid yang lain, (21) jika tersalah dalam menghukum, misalnya
menghukum muridnya sampai buta atau mati maka ia akan dikenakan hukum kifarat (denda)
sesuai dengan ketentuan yang berlaku; apabila hukumannya melampaui batas sehingga
menyebabkan muridnya mati maka ia dikenakan hukum diyat (membayar 100 unta);
sebaliknya, jikalau terbukti tidak melampaui batas, ia tidak terkena diyat; jika hukumannya
dilakukan dengan alat yang tidak termaafkan dan muridnya mati maka ia dikenakan hukuman
qishas (bela atau bunuh)84.
Dalam ke sembilan, gaji guru – berlainan dengan Al-Ghazali (dua abad dibelakangnya) yang
tidak membenarkan menerima upah – menegaskan bahwa guru: (1) boleh digaji, baik bulanan
maupun tahunan atau diberi insentif secara wajar, (2) tetap berhak menerima gaji yang sudah
disepakti samapi masa setahun dari muridnya yang, krena sakit atau bepergian, tidak dapat
mengikuti pelajaran, (3) boleh digaji guna mengajar sekelompok anak, jika para orang tuanya
bersepakt untuk itu, (4) bisa dilarang mengajar jika telah diketahui berbuat salah atau
keterlaluan dalam tindakannya, (5) boleh mengajar anak-anak lain disamping dengan anak-
anak dengan mana ia diberi gaji85.
Dalam bab kesepuluh, sewa-menyewa Al-Qur‘an dan kitab-kitab fikih, ia menegaskan: (1)
boleh menyewa dan mempersewakan Al-Qur‘an untuk dibaca seperti juga boleh menjualnya,
karena yang dijual itu adalah tinta dan kertas, (2) boleh mempersewakan dan menjual kitab-
kitab fikih, jika sudah dikenal penyewa atau pembelinya86.
Ibnu Sahnun, meskipun tidak membahas pendidikan secara menyeluruh, telah berjasa
terutama dalam pemikirannya mengenai guru. Pemikirannya itu menggambarkan betapa
beragamnya tindakan guru dalam upayanya mendidik anak, terutama dalam hal melakukan
hukuman. Sebagian dari hasil pemikirannya itu ada yang masih relevan dengan masa kini.
Tetapi ia tidak membicarakan pendidikan anak di dalamkandungan, apalagi masa-masa
sebelumnya.

2)    Al-Qabisi (324-403 H/935-1112 M).
       84
          Loc.cit.,op.cit.hal.115-117
       85
          Loc.cit.,hal.118
       86
          Loc.cit.
                                                                                                    20




Al-Qabisi (Abu Al-Hasan ‗Ali ibnu Muhammad Ibnu Khalaf Al-Ma‘arifi Al-Qairawani)87,
disamping 15 buku yang ditulisnya mengenai fikih, hadist dan beberapa kumpulan-kumpulan
nasehat, jika menulis buku berisi pembahasan tentang murid dan hukum-hukum mengenai
hubungannya dengan guru. Naskah asli tulisan tangannya sendiri belum ditemukan, tetapi
salinannya dengan tulisan tangan tahun 706 H masih terpelihara dengan baik dalam
perpustakaan Nasional di Paris88.

Diantara pemikiranny mengenai pendidikan adalah:
       Tujuan Pengajaran
Tujuan pokok pengajran adalah mengenal agama Islam secara ilmiah dan amaliah.
Mengajarkan Al-Qur‘an agar dipahami dan diamalkan oleh anak-anak tujaun pertama dan
pertama. Bahkan solah sebagai salah satu rukun islam , tidak dipandang sah tanpa membaca
bagian-bagian tertentu dari Al-Qur‘an, misalnya alfatihah89
       Kewajiab Mendidik Anak
Semua anak wajib mendapat pengajaran dan, karenanya, mendidik mereka adalah wajib..
cikal bakal wajib belajar untuk semua anak telah terdapat dalam pemikiran Al-Qabisi.
Kewajiban mendidik, pertama, dibebankan kepada orang tua dalam rumah tangga samapai
dengan anak dewasa dan mampu berdiri sendiri. Jika tidak sanggup mendidik sendiri maka
orang tua wajib mengupayakan pendidikan anaknya melalui guru, meskipun untuk itu ia
harus mengeluarkan biaya. Jika kebetulan ia miskin maka biaya itu wajib dipukul oleh
familinya yang berada. Jika kebetulan semua familinya tidak mampu maka biaya tersebut
wajib dipikul oleh umat Islam yang kaya, atau guru-guru secara ikhlas berbakti mendidik
anak –anak yang orang tuanya miskin. Dalah hal ini, pemerintah wajib memperhatikan
kesejahteraan guru-guru tersebut90.

       Pendidikan Anak Perempuan
Anak perempuan wajib mendapat pengajaran karena kewajiban mengamalkan ajaran agama
dan hak mendapat balasan sorga atau ancaman neraka sama antaranya dengan anak laki-laki.
Islam memerintahkan menuntut ilmu tidak tidak hanya kepada laki-laki melainkan juga
kepada perempuan. Tetapi dalam penyelenggaraan pendidikan/pengajaran mereka tidak
seyogyanya digabung dengan anak laki-laki dalam satu ruangan. Penggabungan itu
cenderung bermuara kepada demoralisasi sebagai akibat dari pergaulan muda-mudi secara
terbuka selama belajar dan bahkan sebelum/sesudahnya. Oleh karena itu, anak perempuan
sebaiknya dididik secara terpisah dan diajarkan ilmu pengetahuan yang erat kaitannya dengan
kewanitaan, kerumahtanggaan yang dapat meningkatkan derajat wanita. Pemisahan itu lebih
menjamin bagi terpeliharanya muda-mudi daripada fitnah atau hal-hal yang cenderung
merangsang kerah melakukan perbuatan maksiat91.

Kurikulum
Mata pelajaran poko adalah Al-Qur‘an yang diperinci oleh Al-Qabisi kedalam syllabus:
(1)menghafal Al-Qur‘an, (2)membaca Al-Qur‘an, (3) menulis Al-Qur‘an, (4)menuturkan Al-
       87
          Ahmad Fu‘ad al-ahwani, al-Tarbiyah fi al islam, al-Qahirah, Daru al-Ma‘arif,1980.hal.21
       88
          Muhammad Munir Marsi,op.cit.,hal.119
       89
          Ahmad Fu‘ad al-ahwani,op.cit.,hal.97
       90
         Muhammad Munir Marsi,op.cit.,hal.120
       91
          Loc.cit,
                                                                                                21




Qur‘an dan memahaminya, (5)tajwidu Al-Qur‘an(pebaikan bacaan). Matapelajaran umum,
seperti berhitung, tidak ditetapkannya secara baku sehingga dapat ditambah atau dikurangi
sesuai kebutuhan92.

                Akhlak
Setiap kegiatan pendidikan harus diarahkan kepada pembinaan akhlak mulia. Dalam
aplikasinya harus dimulai dari pendidikan dhamir (nurani,super ego) yakni mengisinya
dengan nilai-nilai ajran Islam sehingga nantinya mempu menjadi pengendali dan pendorong
bagi realisasi akhlak Islami dalam tingkahlaku kehidupan anak sehari-hari. Metode untuk
pendidikan akhlak adalah mengajarkan dan teladan. Yang bertolakd ari firman Allah: ―yang
disuruh oleh Rasul laksanakanlah dan yang dilarangnya jauhkanlah‖93. Sedangkan yang
kedua berdasarkan kepada firman-Nya: ―sesungguhnya pada kepribadian Rasul itu
(tercermin) teladan utama untuk kamu‖94. Kepada anak harus diajarkan akhlak yang terpuji
dan tercela, termasuk perbedaan dan akibatiakibatnya. Kemudian, guru harus membuat
dirinya menjadi teladan dalam hal berakhlak mulia itu95.

        Kebajikan dan Kenistaan
Kebajikan/keutamaan adalah tujuan pendidikan akhlak yang sebenarnya. Untuk itu perlu
metode pembiasaan, yakni membiasakan agar melakukan yang bajik mempribadi didalam
diri anak dan, pada gilirannya, akan termanifestasi dalam tingkah lakunya sehari-hari, baik
pada saat sendirian maupun pada waktu didepan umum. Oleh karena itu, guru harus berupaya
membiasakan anak berakhlak baik dan menghindarkan prilaku yang tercela. Diantara akhlak
mulia yang harus terinternalisasi kedalam diri anak serta membudaya dalam prilakunya
adalah taat, tidak saja kepada orang tua dan guru melaikan juga, yang malah palinbg utama,
kepada Allah dan Rasul serta Ulul Amri (pemimpin muslim)96. Akhlak mulia lainnya dalah
disiplin dan teratur. Kacau, berantakan dan berbuat seenaknya adalah prilaku tercela yang
membuat anak menjadi berandalan dan bahkan jahat97.

        Kasih sayang dalam menghukum anak.
Setiap guru harus benar-benar sayang kepada murid seperti orang tua sayang kepada
anaknya, tentu saja, bukan orang tua yang kejam atau buas sampai membunuhnya 98,
yangsampai dengan zaman kinipun masih terdengar. Hukuman atas anak atau murid, jika
berbuat salah, dapat dan bahkan, jika berulang, perlu dilakukan, tetapi harus didasarkan atas
kasih sayang sesuai dengan roh Islam dengan cirinya yang karektaristik: kasih sayang dan
maaf.
Dalam melaksanakan hukuman, oleh karenanya, harus diikuti syarat-syarat sebagai :
(1)lembut dan sederhana dalam menghukum, bahkan mengurangi dari pada yang seharusnya,
(2)adil dalam menghukum, artinya sesuai dengan kesalahan yang dilakukan dan tidak
membeda-bedakan antara satu anak dengan yang lainnya, (3) tidak tergesa-gesa menghukum,
       92
          Op.cit.,hal.121
       93
          Q.S.al-Hasy:8
       94
          Q.S.al- Ahzab:21
       95
          Muhammad Munir Marsi,op.cit.
       96
          Lihat QS.al-Nisa‘: 59
       97
          Muhammad Munir Marsi,op.cit..lihat juga:Ahmad Fu‘ad al-Ahwani,Op.cit., hal. 116-124
       98
          Pembunuhan anak perempuan terdengar berlaku dalam beberapa kalangan arab Jahiliyah
                                                                                           22




(4) tidak berbentuk melarang makan atau minum, (5)tidak dengan maksud membalas dendam
atau melapiaskan sakit hati.
Hukuman dalam bentuk pukulan hanya boleh dilakukan dengan syarat: (1) karena kesalahan
tertentu saja, (2)kadar pukulan harus selalu kurang dari sekedar kesalahan, (3)dibatasi dengan
1-3 pukulan; jika diperlukan lebih, maka harus melalui izin orangtua atau pemerintah
setempat, (4)harus dilakukan oleh guru sendiri, (5) hanya boleh dibagian kaki, tidak dibagian
muka, kepala atau bagian-bagian tubuh yang peka, (6)alat pemukul adalah semacam rotan
(cambuk) atau bambu yang dibelah tipis, yang harus terjamin aman dari kemungkinan
berbahaya.99

        Sistem Belajar
Belajar harus berjalan setiap dan sepanjang hari. Libur hanya pada hari jum‘at dan setengah
hari akhir hari kamis. Jadwal belajar dan matapelajaraan diatur sebagai berikut:
Rabu,pagi-sore dan kamis pagi:mengulang pelajaran dibawah pengawan dan periksa guru.
Hari-hari lainnya:
Dari subuh-dhuha (kira-kira:09-00) belajar al-Qur‘an.
Dari Dhuha-Zuhur belajar menulis.
Setelah shalat zhuhur anak-anak pulang makan.
Sore belajar ilmu lainnya, seperi ilmu Nahwu (Qawa‘id, berhitung, syair sampai ashar atau
menjelang maghrib100

       Larangan mengajar non muslim
Umat non muslim tidak boleh diajar di dalam Al-Kuttab atau madrasah. Putera puteri muslim
tidak boleh belajar di sekolah-sekolah Nasrani atau non muslim lainnya. Alasan untuk
larangan yang tersebut kedua adalah hadist Nabi yang menyatakan bahwa anak yng baru lahir
dalam keadaan fitrah (suci), tetapi kedua orang tuanyalah yang membuatnya menjadi Yahudi,
Nasrani atau Majusi.101jadi, jika seorang anak muslim dimasukkan kedalam, umpamanya,
sekolah Nasrani maka dengan sendirinya berarti bahwa orang tuanya telah memasukkan
anaknya kedalam lingkungan nasrani yang sekaligus dapat bermakna menasranikannya.102

Guru

Dibagian penutupan tulisannya, Al-Qabisi mengetengahkan pembahasannya mengenai guru.
Pada masanya berkembang semacam pameo bahwa jika ada seorang yang tolol atau bebal
ditengah keluarga atau masyarakat segera dikatakan ahmaq min mu‘allimi al-kuttab (lebih
bodoh dari guru Al-Kuttab). Pameo ini menggambarkan betapa rendahnya penilaian
masyarakat terhadap guru mengaji di Al-kuttab itu. mereka dipandang bebal, kurang akal
dan, karenanya, tidak dapat menjadi saksi.103
Pandangan tersebut mungkin sekali disebabkan oleh suatu kondisi dimasa itu bahwa guru-
guru mengaji senantiasa mengajar anak-anak dari kalangan awam yang miskin. Mereka,
         99
            Muhammad Munir Marsi,op.cit.,hal.122-123
         100
             Op.cit.,hal.123
         101
            Hadist Shahih
         102
             Muhammad Munir Marsi, loc.. cit.
         103
             Ahmad Muhammad Jamal, Nahwa Tarbiyah Islamiyah, Jiddah, Tihamah, 1400 H/1980 M,
h. 49.
                                                                                                    23




karenanya, selalu berhubungan atau bergaul dengan golongan miskin dan awam pula.
Akibatnya adalah bahwa mereka, karena memperoleh penghasilan yang sangat minim, turut
menjadi miskin dan tampak melarat. Kondisi itu memunculkan akhirnya pandangan bahwa
yang bersedia menjadi guru mengaji di Al-kuttab adalah mereka yang bebal, tolol dan tidak
layak hidup. Dipihak lain, para mu‘addib (guru khusus dirumah atau istana) mendapt
penilaian yng baik dan wajar, karena hidupnya tampak lebih layak.104
Al-Qabisi menegaskan bahwa pandangan semacam itu tidak benar. Semua guru seyogyanya
mendapat penghargaan yang sama, termasuk guru mengaji di Al-Kuttab. Tetapi I tidak secara
ketat menjabarkan syarat-syarat untuk menjadi guru. Ia, terutama, menganjurkan bertanya
kepada diri masing-amsing. Jika seseorang merasa sudah menguasai ilmu yang diajarkannya,
boleh saja Ia mengajar asalkan ada murid yang mau belajar kepadanya. Namun demikian,
beberapa syarat dikemukakannya, seperti memiliki ilmu tentang Al-Qur‘aan, Qawa‘id Sya‘ir,
Sejarah Arab, kepribadian yang agamis dan dikenal berakhlak baik.105
Setelah bertugas sebagai guru, seseorang lantas terikat dengan syarat-syarat, seperti: tidak
boleh meninggalkan tugas mengajar karena, misalnya, mengikuti solat jenazah,
mengantarkan jenazah ke kuburan, mengunjungi orang sakit, menjdi saksi jual-beli, dan
menghadiri (upacara) perkawinan. Barangkali, karena larangan itulah maka, akhirnya,
mereka dipandang sebagai manusia kurang yang tidak diterima kesaksiannya.106
Dalam pada waktu itu, guru boleh menerima upah sebanding dengan kelelahannya serta
mendapat kewenangan yang sama kewenangan orang tua terhadap anak. Sejalan dengan
kewenangan itu maka guru harus bertanggungjawab atas keberhasilan kegiatannya dan tidak
boleh mengelak dalam hal itu. karena itu, seorang guru dapat dihukum apabila terbukti
melengahkan tugasnya. Hukuman itu dapat meningkat sampai kepada larangan mengajar atau
pemecahan atas dirinya dari tugasnya sebagai guru.107


    3) Ikhwanu Al Shafa
Ikhwanu Al Shafa adalah sebuah perkumulan politik bahwa tanah yang berpusat di kota
Bashrah dalam masa pertengahan kedua abad 4 hijrah (abad 10 M). mereka berhasil
bersembunyi di tengah – tengah masyarakat sehingga meskipun Risalah – risalah mereka
tersebar dan dibaca oleh banyak orang, namun mereka tidak pernah dikenal secara individu.
Risalah – risalah yang mereka tulis terdapat di masjid, toko buku, penjualan loakan dan
banyak didiskusikan.108
Mereka membahas berbagai cabang ilmu,109 termasuk pendidikan dan pengajaran. Dengan
kegiatan pendidikan mereka maksudnya untuk membina generasi muda yang cakap, berilmu,
        104
           Muhammad Munir Marsi, loc. cit.
        105
            op. cit., h. 123-124.
        106
            Loc. cit.
        107
            lo. cit. sejauh itu pemikiran Al-Qabisi, namun pemikirannya terbatas kepada pendidikan
anak setelah lahir.
        108
            Nadiyah Jamalu al din, Op. cit., hal. 7.
        109
            Syed Ameer Ali, The Spirit of Islam , Idarah I Adabyati Delli, Reprint 1978, hal 432 – 434.
        Lihat juga terjemahannya oleh H.B. Jassin, Api Islam , Jakarta, Bulan Bintang, 1978, hal
636-368.
        Lihat juga A. Hasymi, Sejarah Kebudayaan Islam , Jakarta, Bulan Bintang, 1975, hal.
256-638.
                                                                                           24




berakhlak mulia, memiliki pandangan luas dan tajam sehingga mampu bekerja dan
bertanggung jawab di dalam suatu negara yang akan dibangun nanti.110


Dasar Pendidikan
Dasar pendidikan adalah Islam yang dijabarkan dalam pengenalan tentang (1) Allah, alam
dan manusia,111 (2) Akhlak manusia dan ilmu,112 (3) masyarakat yang makmur dan
pemerintah yang adil.113 Allah telan menciptakan alam semesta bukanlah tanpa tujuan. Dan
manusia, secara khusus, dimuliakan-Nya dan dibebani-Nya tugas untuk menjadi khalifahnya
di muka bumi dan bertugas memakmurkannya serta memanfaatkan alam semesta seoptimal
mungkin tanpa melupakan Allah. Kemakmuran tersebut tidak mungkin akan tercapai tanpa
akhlak mulia dan ilmu pengetahuan. Yang pertama akan tercapai dengan mengamalkan
ajaran Allah dan Rasul-Nya mengenai akhlak mulia. Sedang yang kedua diperoleh melalui
sumber ajaran Allah, pengenalan dengan indra dan penalaran dengan akal. Semuanya
diarahkan kepada pencapaian cita – cita mendirikan suatu pemerintahan yang adil dan
bewibawa berdasarkan nilai keutamaan Islam .114

Tujuan Pendidikan
Ikhwanu Al Shafa menjabarkan tujuan pendidikan sebagai berikut :
Pertama, mengenal Allah dan Ke-Esaan-Nya. Tujuan ini adalah yang terpenting. Semua
tujuan lain dari kagiatan pendidikan adalah sekedar wasilah (jalan) untuk mencapai tujuan
utama itu.115
Kedua, mengenal dan mendidik diri. Pengenalan akan Allah tidak akan tercapai oleh manusia
kecuali apabila ia telah mengenal dengan baik dirinya. Pengenalan yang benar tentang
hakikat diri akan membimbing ke arah iman kepada hari berbangkit di akhirat, pahala dan
siksaan yang pada gilirannya, akan menumbuhkan gairah untuk berakidah benar, beramal
saleh, berakhlak mulia dan tabah menghadapi segala kemelut hidup.
Manusia, sebenarnya diatur oleh dirinya (nurani atau kata hatinya) baik dalam cara berpikir
dan mengambil keputusan maupun dalam bertindak dan berbuat. Oleh karena itu, sangat
diperlukan usaha membidik dari tersebut agar memperhatikan alam, langit dengan bintang –
bintangnya, bumi dengan segala isinya dan alam ruh manusia sendiri.116
Ketiga, membesakan ruh dari jasad dan mengutamakan nikmat akhirat. Tugas hakiki manusia
di dunia adalah meningkatkan dirinya untuk mencapai insan kamil (manusia seuntuhnya) dan
dengan ilmunya berhasil mencapai bashirah (penalaran tinggi). Dengan begitu ia akan dapat
terbebas dari alam jasad dan kekelaman kebodohan (dalam masa hidupnya) dan menerobos
alam angkasa (alam langit) serta menerawang ke alam abadi, alam sorgawi. Tugas mulia ini
hanya mungkin tercapai dengan ilmu, karena ia adalah alat pen-sucikan jiwa dan
peningakatannya ke derajat malaikat yang terjadi pada saat jiwa mengalami keterbebasan
tersebut. Tetapi ilmu saja tidak membantu untuk itu kecuali jika dilandasi oleh tafaqquh fi al
       110
           Nadiyah Jamalu al Din, Loc. Cit
       111
           Ibid. hal. 129
       112
           Ibid. hal. 179
       113
           Ibid. hal. 229
       114
           Ibdi. hal. 161
       115
           Ibid. hal. 284-285
       116
           Ibid. hal. 285 - 287
                                                                                                  25




din, yakni pendalaman agama, sekaligus, penghayatan dan pengamalannya secara khusyu‘
dan ikhlas sehingga membuahkan amal saleh dalam artinya yang luas.117
Keempat, meningkatkan kesejahteraan manusia di dunia. Ilmu harus diaplikasikan dalam
rangka mencapai kesejahteraan hidup. Manusia yang layak mendapat penghormatan adalah
yang dapat menerapkan ilmunya ke dalam realitas kehidupan yang sebenarnya.118

Asas – asas Pendidikan

Ikhwanu al Shafa mengemukakan asas pendidikan sebagai berikut :

Asas perbedaaan individu (individual differences)
Guru harus menyesuaikan materi pelajaran dengan kondisi pribadi atau potensi intelejensi
anak – anak, karena mereka berbeda antara satu dengan yang lainnya, baik perbedaan itu
karena berlainan fisis, psikis dan intelejensi maupun karena keberagaman faktor lingkungan
yang mempengaruhinya. Perbedaan tersebut tidak hanya dalam kalangan individu melainkan
juga dalam kalangan kelompok sosial dan antar bangsa dan termanifestasi yang atau
terkonfigurasi dalam berbagai prilaku kehidupan sosial, misalnya tingkah laku, watak, cara
berpikir, bahasa dan sebagainya yang bermura kepada nuansa – nuansa penampilan diri dan
ciri karakteristik individual yang sukar diukur secara tepat. Memang Allah telah
melebihtingikan sebagian manusia atas yang lainnya.119

Asas Umum dan Khusus
Ke dalam asas umum termasuk anak – anak, wanita, anak terbelakang (retarded chidren),
banci, cacat tubuh (physically retarded) dan yang semacamnya. Ke dalam asas khusus
terkategori para ulama, ilmuwan, cedekiawan, filosof dan yang semacamnya. Di samping itu
terdapat juga manusia ‗in between‘ antara dua kelompok tersebut. Ikhwanu al Shafa
mengakui adanya kelompok ketioga ini, namun mereka tiak mengarahkan perhatian
kepadanya secara khusus.120
Ilmu pengetahuan yang dimiliki Ikhwanu al Shafa tidak akan diberi kecuali kepada kelompok
khusus saja. Oleh karena itu, maka yang dapat bergabung ke dalam kelompok mereka adalah
dari kalangan khusus dan terseleksi serta telah berhasil menempuh tingatan – tingkatan ilmu,
sesuai dengan jenjang – jenjang yang mereka tentukan.

        Asas Menolak taqlid
Setiap orang harus berpegang teguh kepada dirinya dlam berusaha menemukan hakikat dan
tidak boleh menjadi pengikut setia (taqlid) saja kepada pendapat orang lain. Masing - masing
harus berusaha menemukan sendiri sesuatu ilmu dan jika mungkin mencari sendiri proposisi
– proposisi penunjangnya. Kelompok yang terbebas dari keharusan itu hanyalah anak – anak,
        117
            Ibid. hal. 287 - 290
        118
            Ibid. hal. 290 – 292 Dari segi status sosial, Ikhwanu al Shafa mengemukakan bahwa orang
yang berilmu akan memperoleh 10 keutamaan : (1) mulia, meskipun hina, (2) tinggi, meskipun ia
rendah, (3) kaya, meskipun ia miskin, (4) kuat, meskipun ia lemah, (5) cukup, meskipun ia kurang, (6)
pemurah, meskipun ia kikir, (7) pemalu, meskipun ia senang memuji diri, (8) berwibawa, meskipun ia
rendah hati, (9) sehat, meskipun ia sakit, (10) anggun, meskipun ia biasa – biasa saja.
        119
            Ibid, hal. 293
        120
            Ibid, hal. 296
                                                                                        26




wanita dan mereka yang lemah akal (feeable minded). Oleh karena itu, setiap peserta didik
harus diarahkan kepada berpikir dan menemukan sendiri natijah logik daripada kegiatan
berpikirnya.121

Asas Ilmu Inherent pada Amal
Pengajaran tidak hanya sekedar mengisi otak anak dengan berbagai ilmu pengetahuan, tetapi
lebih dari itu, ilmu tersebut harus termanifestasi dan terealisasikan dalam amal perbuatan
nyata. Selanjutnya, orang – orang yang beramal (berbuat) tanpa ilmu pengetahuan pasti akan
sesat dan malah mungkin sekali berakibat tidak baik terhadap dirinya. Oleh karena itu,
pendidikan adaah membimbing anak kearah menuntut ilmu dengan tujuan untuk
diwujudkan/diamalka. Ilmu yang diperoleh anak seharusnya membimbingnya ke arah
peningkatan kemamuan konseptualisasi konsepsi, kemampuan operasionalisasi, aplikasi dan
keterampilan yang akurat.122

Asas bakat dan kecenderungan
Perbedaan bakat menyatakan keinginan dan kecederungan berlainan, baik dalam hal ilmu
maupun profesi atau pekerjaan. Ada manusia yang berbakat dagang, pertukangan atau
lainnya dan ada yang berbakat ilmiah, tetapi berlainan ilmu yang menduduki pusat minatnya,
di samping berbeda pula kemampuan intelejensi (IQ) dan kesempatan memperolehnya.
Anak, karena itu harus terlebih dahulu mengerti atau kenal akan berbagai ilmu yang akan
dipelajarinya sehingga ia dapat menentukan altenarif pemilihan ilmu yang sesuai dengan
bakat dan minatnya atau mana di antara ilmu – ilmu itu yang terkategori pokok baginya
sehingga ia merasa wajib mendalaminya. Hal ini perlu karena ilmu telah berkembang
sedemikian banyaknya sehingga tidak mungkin semuanya dipelajari secara mendalam oleh
setiap orang.123

Sistem Belajar
Sesuai dengan sifat perkumpulannya yang rahasia, maka pengajaran tidak dilakukan secara
klasikal. Mereka tidak mendaftarkan murid dalam jumlah dan absen tertentu tetapi berusaha
memilih orang – orang yang setelah dengan cara rahasia diberi informasi tertentu,
diperkirakan akan bersedia bergabung kedalam jamaah mereka. Setelah calon baru diperoleh
mulailah mereka mengajarnya dengan cara, antara lain sebagai berikut :
Membina kegairahan ilmiah
Kepada calon dijelaskan tentang keutamaan dan kebajikan melalui pembacaan beberapa
bagian dari Risalah Ikhwanu al Shafa. Masalah – masalah yang terasa sulit oleh calon, tidak
diberikan jawaban yang memuaskan sehingga ia merasa bergairah untuk mempelajarinya
lebih jauh. Di samping itu, kepada calon diajukan beberapa topik yang digambarkan sebagai
sangat penting, tetapi pembahasan dan penyelesaiannya akan diperoleh hanya melalui
penelahan mendalam Risalah – Risalah Ikhwanu al Shafa, terutama dengan menemui ahlinya
(baca : pemimpinnya). Itulah sebabnya, mengapa kepada calon hanya diajarkan ilmu yang
sifatnya hanya pendahuluan atau pengantar.124

       121
           Ibid, hal. 297
       122
           Ibid, hal. 298
       123
           Ibid, hal. 298 - 299
       124
           Ibid, hal. 350
                                                                                               27




        Latihan Jiwa
Jika calon sudah terlihat senang akan dan gairah kepada ilmu, maka guru (Ikhwanu al Shafa)
harus bersikap sebagai dokter yang benar – benar lembut dan bahkan berbuat sebagai perawat
pasien yang baik. Ia harus menghadapi calon dengan sopan serta menghajarnya secara
berangsur sesuai dengan tingkat kemampuannya. Jika setelah belajar terlihat tanda – tanda
jiwa calon sudah suci dan akhlaknya sudah baik, maka guru sudah dapat memuali latiah –
latihan intelejensinya dengan mengajarkan ilmu – ilmu pasti alam, mencoba dengan ujian –
ujian mentalitas dan loyalitas sebelum mengajarnya ilmu – ilmu hikmat yang sifatnya rahasia.
Guru dilarang membuka rahasia dan ilmu dan hikmat sebelum mengenal calon dengan amat
baik, terutama loyalitasnya. Ia akan mendapat hukuman meskipun tidak pernah dilakukan
jika melanggar ketentuan itu. Setelah latihan dan ujian itu selesai maka calon akan diajar
dalam majlis – majlis khusus.125

Majelis Pengajaran Periodik Rahasia
Masing – masing dari keempat strata Ikhwanu al Shafa mempunyai majlis khusus. Dalam
majlis – majlis itu mereka, secara sangat tertutup, membahas berbagai bidang cabang ilmu
pengetahuan dan mendiskusikan berabgai rahasia atau hikmat. Para pemimpin dari sekian
banyak majlis itu berkumpul secara periodik, 12 hari sekali, dalam majlis tertinggi dengan
tujuan peningkatan ketaqwaan kepada Allah. Sebelum hadir mereka harus terlebih dahulu
membersihkan diri dan mensucikan jiwa serta berpakaian sebaik mungkin.126
Setelah mereka berkumpul dengan tertib, datanglah ‗presiden‘ perkumpulan dengan pakaian
yang rapi dan penampilan yang anggun, terhormat dan berwibawa serta dengan anggun dan
meyakinkan pula ia memberi petunjuk berupa hikmat – hikmat tinggi yang disesuaikan
dengan kemampuan peserta. Ia menganjurkan agar semua peserta berusaha meningkatkan
ilmu, terutama ilmu ketuhanan dan di larangnya dari bersikap anti ilmu dan membenci
ulama.127

Membaca dan Mendiskusikan isi Risalah
Risalah – rislah Ikhwanu al Shafa yang berjumlah 51 buah itu,128 dijadikan buku pegangan
dalam semua majlis pengajaran mereka. Untuk lebih menolong para penggemar mereka telah
menyusun daftar isi dari semua Risalah secara berurutan. Dengan penyusunan itu mereka
maksudkan tidak saja untuk memudahkan menemukan masalah melainkan juga menolong
bagi mempelajarinya secara bertingkat.129
Murid – murid yang sudah dapat menyelesaikan pendalaman semua Risalah berarti sudah
meningkat menjadi ilmuwan muttaqin. Ia dibenarkan melanjutkan studynya ketingkat lebih
tinggi, yakni mendalami kitab – kitab terhormat yang dipelihara secaha khusus dan
dirahasiakan yang amat dalam di dalam Risalah Al Jami‘ah (Risalah tertinggi) dan rahasia –
rahasia (asrar) lainnya yang diketahui hanya oleh mereka. Orang yang sudah memahami
        125
            Ibid, hal. 350 - 351
        126
            Ibid, hla. 351
        127
            Ibid, hal. 351
        128
            ‗Umar Al Dasuqi, Ikhwanu Al Shafa, Mesir, daru Ihya‘I Al Kutubi Al ‗Arabiyyah, ‗Isa Al
Babi Al Halabi wa Syarkahu, tt., 215. Lihat juga A. Hasimy : Op. cit, hal. 256.
        129
            Nadiyah Jamalu Al Din, Op. cit., hal. 352
                                                                                                   28




rahasia – rahasia itu berarti sudah cukup tinggi ilmunya sehingga sudah dapat bergabung
dengan mereka.130

Menyebarkan Risalah dan Da‘i
Risalah dan Da‘i (Guru) disebarkan oleh mereka kewilayah – wilayah yang jauh. Para Da‘i
mengajarkan Risalah dengan cara memulai dari membina mental cinta ilmu dan, secara
berangsur, menggiring ke arah menanyakan masalah – masalah yang sukar di dalamnya.
Mereka lantar membisikan bahwa Risalah mengandung isi tersurat dan tersirat serta hikmah
penting yang sangat perlu didalami darn karenanya, perlu menemui ahlinya.131

Mengajar secara Berangsur
Setiap guru (da‘i) harus mengajarkan isi Risalah secara berangsur, mulai dari yang mahsus
(concrete) menuju yang ma‘qul (abstract).132 Dengan lebih dahulu mengajarkan yang mahsus
berarti mempersiapkan murid untuk mempelajari ilmu yang ma‘qul.


Asas umum Metode Mengajar
Ikhwanu Al Shafa merumuskan metode mengajar atas asas - asas sebagai berikut :
Asas Cinta
Semua ilmu harus dicintai. Asas ini akan mendorong murid untuk mempelajari dan
mengajarkan ilmu.
Asas Terampil
Ilmu yang sudah dimiliki harus dengan terampil diaplikasikan (diamalkan) dalam realitas
kehidupan.
Asas Terbuka
Seorang ilmuwan tidak boleh fanatik kepada satu atau beberapa ilmu saja, apalagi taqlid buta
kepada sesuatu madzhab ilmiah.
Asas reformatif dan Inovatif
Setiap murid harus dirangsang untuk belajar secara kritis, analisis dan berinisitatif (berijtihad)
guna menemukan ilmu pengetahuan baru.
Asas Isyarat dan Hikayat.
Pelajaran dapat diberikan teknik isyarat melalui ceritera – ceritera burung atau hewan –
hewan lainya, misalnya : hewan – hewan bertengkar dalam hal mengadukan kepada jin
tentang kejahatan manusia. Cara ini, menurut mereka, lebih berkesan ke dalam hati anak dan
tidak membosankan.
Asas Jelas
Bahan pelajaran harus jelas, tidak sukar atau membingungkan.133 Pengajaran harus dimulai
dari yang mudah dan secara berangsur beranjak kepada yang sukar.
        130
            Ibid, hal. 352
        131
            Ibid, hal. 353
        132
            B. Lewis, V.L. Menage, Ch. Pellat, eds. The Ensyclopedia of Islam , Vol. III, Leiden, E.J.
Brill London, Luzac & Co., 1971, hal. 1074 dan 1075.
        Lihat juga Nadiyah Jamalu Al Din, Op. cit., hal 356 - 357
        133
            Kerahasiaan perkumpulan Ikhwanu Al Shafa rupanya telah menyebabkan sebagian tulisan
mereka dalam Risalah tidak mudah dipahami. Itulah terutama sebabnya mereka menganjurkan
pengajaran dimulia dari yang mudah.
                                                                                                 29




        Asa Keberhasilan.
Keberhasilan belajar menumbuhkan kesan positif dalam diri anak. Dengan rasa berhasil itu
anak akan terdorong menambah ilmunya. Guru diharuskan berushaa sekuatnya untuk
membuat anak merasa berhasil dalam kegiatan belajarnya.134
Periode dan Ciri – ciri Pertumbuhan
Ikhwanu al Shafa membagi pertumbuhan manusia ke dalam 6 periode :
Periode kanak – kanak (al thufulah)
Periode ini dimulia dari sejak lahir sampai umur 4 tahun. Bulan berperan dalam mengatur
pertumbuhan anak dalam periode ini. Sejalan dengan peranan bintang – bintang yang berbeda
maka pertumbuhan, kesehatan, kecerdasan, dan tingkah laku anakpun berubah – ubah. Setiap
bintang, selama masa jabatannya masig – masing bertugas merealisir perilaku dan perbuatan
anak, sebagaimana halnya dengan peranannya terhadapnya pada waktu masihdalam
kandungan. Tanggung jawab pendidikan pada periode ini terbeban sepenuhnya kepada orang
tua.135

Periode anak – anak (al – shaba)
Periode ini mulai dari umur 4 – 13 tahun. Pengaruh bulan berakhir, maka bintang
mempengaruhi anak pada periode ini adalah Merkuri yang, menurut Ikhwanu al Shafa,
merupakan sumber pikiran, pengajaran, pendidikan, analisa dan pemahaman. Pada periode ini
anak harus dimasukan ke dalam lembaga pendidikan formal, Al Maktab, untuk belajar
membaca, menulis, bahasa, matematika, hitung dagang, meterologi, hukum Islam, ceritera,
dan sejarah. Tanggung jawab pendidikan pada periode ini terbeban sepenuhnya kepada guru.
Belajar di Al – Maktab berakhir apabila anak sudah terampil menulis, menguasai beberapa
ilmu alat, seperti hafal Al-Qur‘an, hadits, ilmu nahu, bahasa Arab dan sebagainya. Setelah itu
anak bisa melanjutkan studinya ke masjid atau terjun ke dalam pekerjaan. Pada saat itu ia
telah berada pengaruh bintang Al Zuharah (Venus).136

Periode Remaja (al syabab)
Periode ini mulai dari umur 15 – 30 tahun, yakni umur dimana remaja termasuk golongan al-
abrar (orang baik –baik) dan al rujama‘ (pengasih penyanyang) yang sedang memiliki potensi
intelektual yang tinggi. Ikhwan Al Shafa memilih kader dari kelompok ini, dengan
persyaratan : (1) bermental ilmu, (2) beriman kepada Allah dan hari akhiat, (3) tidak fanatik
kepada hanya satu ilmu atau hanya satu madzhab saja.
Dalam periode ini remaja tidak tunduk kepada pengaturan hanya satu, melainkan lebih dari
satu bintang. Pengaruh bintang ‗Utharid (merkuri) berakhir manakala anak sudah berumur 17
tahun. Setelah itu bintang mempengaruhinya adalah al Zuharah (venus) selama 8 tahun.
Bintang – bintang lain ikut kerja sama dengan Venus, tetapi masing – masing mengambil
        134
            Nadiyah Jamal al Din, Op.cit., hal. 357 – 361
        135
            Nadiyah Jamalu al Din, Op. cit., hal. 370.
        Ikhwanu al Shafa berpendapat bahwa watak, kecerdasan, akhlak dan ilmu pengetahuan
manusia tunduk sepenuhnya kepada pengaruh bintang – bintang. Teori ini, barangkali, eratkaitannya
dengan pendapat mereka tentang amat besarnya pengaruh lingkungan alam dan lingkungan sosial
terhadap segala aspek kehidupan manusia.
        136
            Anak – anak, secara potensial - spiritual, berada antara satu dengan yang lainnya karena
perbedaan yang mempengaruhinya. Diantara anak ada yang dipengaruhi oleh bintang Al Mirrka
(Mars), ada yang dipengruhi oleh bintang Al Zuharah (Venus)
                                                                                                   30




masa sepertujuh dari 8 tahun tersebut dan seluruhnya berakhir pada masa remaja sudah
berumur 25 tahun. Selama dalam pengaruh Venus remaha ingin kawin, senang kepada yang
indah dan cantik, banyak uang dan teman.
Setelah selesai dari pengaruh Venus, remaha mulai memasuki masa pengaruh matahari
selama 10 tahun. Selama dalam pengaruh matahari, remaja ingin megah, memimpin,
mengatur dan berpolitik. Ia sudah memiliki kecenderungan mengasuh dan mendidik anak,
membantu atau bertanggungjawab atas kehidupan keluarga, bekerja sama dengan teman dan
ingin berkuasa. Pada umur 30 tahun tibalah kekuatan berpikir filosofis.137

Periode falsafi (al hikmiyah)
Periode ini mulai umur 30 – 40 tahun. Kelompok umur ini terkategori ke dalam tingkat al
akhyar al fudhala‘ (terpikih dan utama). Matahari berperan mempengaruhi kelompok ini
selama 5 tahun. Yakni sampai dengan pemuda berumur 35 tahun. Kemudian yang berperan
adalah bintang mars selama 7 tahun, 5 tahun pertama bersama dengan matahari, sampai
dengan pemuda berumur 40 tahun. Pada msa mataharai berperan sebagai pengatur, Mars dan
bintang – bintang lainnya berperan serta dalam membina kekutan dan tindakan serta tingkah
laku, masing – masing sepertujuh dari masa dominasi matahari tersebut. mars adalah bintang
kecerdikan, cita – cita, keberanian, kecakapan, menerima dan memberi, kemajuan, semangat,
kesadaran dan keteguhan.138

Periode Cendekia (al namusiyah)
Pada periode ini murid telah berhasil mencapai strata ketiga dalam kualifikasi perkumpulan
Ikhwanu Al Shafa. Ke dalam periode ini tergabung mereka yang sudah berumur 40 tahun,
yang telah memiliki daya kecendekiawanan tinggi dan berlanjut sampai dengan berumur 50
tahun. Selama 2 tahun pertama (42) penguasaan bintang mars masih berjalan. Kemudian
beralih kepada penguasaan bintang al Musytari (Yupiter) yang mendominasi pengaturan
selama 12 tahun dari masa setelah seseorang anggota berumur 42 tahun, namun untuk periode
ini hanya mengatur dalam masa 8 tahun saja. Bintang – bintang lain ikut membantu Yupiter
dengan porsi, masing – masing, sepertujuh dari masa dominasinya.
Dalam masa dominasi Yupiter tersebut seorang anggota telah memiliki sifat – sifat taat
mengamalkan ajaran agama, takut kepada Allah , tidak cinta dunia dan seklalu
mempersiapkan diri untuk kehidupan akhirat yang kekal. Pada periode ini anggota tersebut
sudah dapat mempelajari semua ilmu Ikhwanu Al Shafa yang terkandung di dalam Risalah Al
Jami‘ah dan kitab – kitab ‗keramat‘ lainnya.139

Periode adi manusiawi (al malakiyah)
Pada periode ini seseorang anggota telah mencapai strata keempat,140 yaitu tingkat
‗ketuhanan yang mempunyai kemauan dan kehendak. Kedalam periode ini terkategori
        137
             Nahdiyah Jamalu Al Din, Op. cit., hal. 369 - 375
        138
             Tingkat al Akhyar al Fuhala‘ dalam konsep Ikhwanu Al Shafa adalah derajat pemimpin
yang bijak dan karenanya, bertugas mengepalai kelompok – kelompok dalam jemaah mereka dengan
penuh kelembutan, kasih sayang, ramah dan cinta.
         139
             Nadiyah Jamalu Al Din, Op. cit., hal. 377.
         140
             Berbeda dengan konsep lain, strata dalam pengertian Ikhwanu Al Shafa didasarkan kepda
potensi ilmiah yang sudah dimiliki. Oleh karena itu, strata dimaksud terbagi kepada : (1) strata
intelejensi (al quwwah al al hikmiyah) sejak usia 15 tahun, (2) atrata falsafi (al quwwah al hikmiyah)
                                                                                                 31




mereka yang sudah berusia 50 tahun sampai wafat. Tingkat inilah yang menjadi tujuan akhir
dari setiap mereka yang menjadi anggota Ikhwanu al Shafa. Mereka, pada periode ini, telah
menjadi manusia super karena mendapat kekuatan malaikat yang senantiasa dalam kondisi
siap untuk kembali kepada Allah dan meninggalkan alam bena guna menerawang ke alam
langit (malakut al sama‘) dan berkerabat dengan Allah Yang Maha Tinggi.
Meskipun demikian anggota tersebut masih berada dalam dominasi bintang Yupiter selama 4
tahun (umur 54), kemudian di bawah pengaturan Saturnus. Bintang – bintang lainnya turut
membantu dengan porsi, masing – masing, sepertujuh dari waktu dominasi Saturnus tersebut.
Karakter yang menonjol pada anggota dalam periode ini adalh diam, tenang dan malas.
Kekuatan nafsu biologis menurun, kondisi fisik menyusut dan alat – alat indra kembali
berorientasi kepada hal – hal konkrit.141

Pemikiran Tentang Murid dan Guru
Persyaratan murid
Pemilihan murid terlihat ditetapkan berdasarkan test kepribadian (personality test) yang
melalui hasilnya calon murid diperkirakan dapat diterima atau ditolak. Test kepribadian
tersebut dilakukan secara berhati – hati oleh gurunya yang akan memilih muridnya. Di
samping itu ada beberapa syarat yang menentukan bagi diterimanya calon murid, yaitu : (1)
berkelakuan baik, (2) berkebiasaan terpuji, (3) bersikap jujur, (4) amanah terhadap kawan dan
lawan, (5) benar terhadap diri dan Tuhan, (6) mencintai tetangga dan karib kerabat, (7) ikhlas
dalam mencintai orang, (8) tidak tamak akan harta dunia, (9) menginginkan untuk orang lain
apa yang ia inginkan untuk dirinya, (10) tidak fanatik kepada hanya satu madzhab, (11) tidak
muda tergod dengan masalah duniawi.142 Syarat – syarat tersebut, disamping sebagai periksa
tahap awal, merupakan tujuan yang harus dicapai oleh setiap murid.
Anak – anak yang sudah diterima diwajibkan bertanya tetapi diwajibkan pula mendengarkan
jawaban dengan tenang, lalu berpikir dan selanjutnya mengamalkan ilmu yang sudah
dipelajari. Mereka diwajibkan membenarkan dan meyakini bahwa segala ilmu yang diajarkan
guru kepadanya bersumber dari Allah . Oleh karenanya, mereka harus menghormati guru
dengan ikhlas serta bersyukur bahwa Allah telah menunjukinya sehingga
menemukan guru yang terpilih.143


sejak usia 30 tahun, (3) strata cendekia (al quwwah al namusiyah) sejak usia 40 tahun dan (4) strata
adminusiawi / manusia super (al quwah al malakiyah) sejak umur 50 tahun.
        141
            Nadiyah Jamalu Al Din, Op. cit., hal. 378
        142
            Ibid, hal. 386 – 387.
        143
                                                                                             C-32




Persyaratan Guru
Setiap manusia tidak bebas daripada kewajiban belajar kepada guru. Ayah dan ibu adalah
sekedar saja bagi lahirnya anak kedalam dunia. Dengan berguru anak akan menjadi manusia
yang baik dan dapat diharapkan akan mampu mencapai tingkat insan kamil.144 Oleh karena
itu, setiap guru harus memiliki persyaratan (1) menjadi teladan yang baik, tidak hanya dalam
hal agama dan ilmu saja melainkan jug adalam penampilan (performance), pakaian dan sikap,
(2) menghargai serta bersikap serta bersikap rendah hati kepada murid, tidak boleh
memungut upah atas jerih payahnya, apalagi menjangkit – jangkit jasanya berkenaan dengan
ilmu yang diajarkannya, (3) bersikap kasih sayang dan sabar, tidak boleh marah, apalagi
menggertak murid, misalnya : karena bodoh atau lambat memahami pelajaran, (4) membina
hubungan batin melalui kasih sayang yang intim antaranya dengan murid-muridnya
sedangkan mereka mengenal dan mencitainya. Hubungan semacam itu akan membuat
bimbingan dan pengarah menjadi lebih mudah.145
Setiap guru Ikhwanu al Shafa wajib menghindarkan diri dari sifat tercela, seperti : (1)
takabur, angkug, (2) senang mujadalah (mempertengkarkan) berbagai masalah ilmiah dan
selalu ingin menang, (3) mencampuri banyak masa lalunya dan memandang hal – hal syubhat
(diragukan halal atau haramnya) dan suka meninggalkan yang wajib – wajib, (4) cinta dunia
dan senang menimbun harta kekayaan.146
Pemikiran Ikhwanu Al Shafa dibidang pendidikan ternyata terbatas kepada pendidikan anak
setelah lahir dan paling jauh, pada masa anak dalam kandungan yang menurut mereka
dipengaruhi oleh bintang – bintang.


              4) Al-ghazali (450-505 H/1058-1111 M).

Abu Hamid Al-Ghazali telah berbicara banyak tidak saja dalam berbagai bidang ilmu agama
melainkan juga dalam bidang ilmu pengetahuan umum. Khusus mengenai pendidikan, ia
telah mengemuukakan pendapatnya dalam beberapa bukunya, misalnya : Fatihatul Al ‗Ulum,
Ayyuha al –walad, dan Ihya, ‗Ulumi Al-Din Yang tersebtut terakhir adalah bukunya yang
terbesar, terdiri dari 4 jilid . 147
Dalam jilid 1, Al-ghazalai telah dengan secara luas membahas pendidikan anak. Pada bagian
pertama ia menekankan pada kebutuan manusai akan ilmu, keutaman ilmu dan kewajiban
mengajarkannya. Pengejaran yang diselenggarakan dengan baik dan dengan materi pelajaran
yang tepat merupakan jalan (metode) yang benar menuju kearah Taqarrub (menedekatkan

        144
              Ibid, hal 396 - 397
        145
              Ibid, hal,403 – 404
          146
              Ibid,.
          147
              Dalam jilid satu I, Al-Ghazali membicarakan ilmu dan keutamaan mengajarkannya. Dalam
jilid II, ia membahasnya. Dalam jilid III dan IV, ia membahas Akhlak terpuji dan tercela serta
pembinaannya.
                                                                                         C-33



diri) kepada Allah dan sekali gus sebagai teknik terbaik untuk mencapai kebahagian duni dan
kemenangan Akhirat. Pendapatnya ini telah mengantarkanya kepada penarikan kesimpulan
mengenai derajat ke mulyaan dan keutamaan guru yang Sholeh di depan murid dan tengah-
tengah masyarakat. 148
Untuk melandasi pendapatnya, ia telah mengumpulkan banyak ayat-ayat Al-Qur‘an dan
Hadits Nabi yang menjelaskan keutamaan ilmu, belajar dan mengajar. Dalil tersebut
dilengkapinya dengan semacam pembuktian bahwa kebesaran manusia telah, dan sedang
akan ditentukan oleh kadar ilmu yang dimilikinya. Tetapi ilmu terbagi kedalam dua belahan
besar yang diistilahkannya dengan ilmu nafi‘ (yang berguna) dan ‗ilmu Dharr yang mulia
jika kadar ilmu naffi‘ yang dimilikinya cukup menopang. Sebalikny, sesorang mungkin akan
menjadi besar akan tetapi hina, jika yang berbobot tinggi didalam dirinya adalah ‗il;mu dharr.
Di antara ungkapannya, sehubungan dengan keutamaan ilmu adalah bahwa: yang termulia
dalam segala yang ada di permukaan bumi adalah jenis manusia. Komponen yang termulia
dalam dirinya adalah hatinya. Sedang guru adalah pendidik yang berusaha membuat hati itu
mulia, suci dan berbudi serta membimbingnya agar senantiasa dekat kepada Allah. Oleh
karena itu, mengajarkan ilmu disatu pihak adalh beriubadah kepada Allah, dipihak lain adalah
mewakili (khaliffah) Allah (dalam mengajar Manusia). Maka manusia, karena berfungsi
mewakili itu , telah dibukakan Allah hati para ilmuwannya untuk menerima ilmu. Padahal
ilmu adalah ‗sifat diri‘ Allah sendiri. 149
Dalam bukunya, Fatihatu al ‗Ulumi, ia menegaskan bahwa: kesempurnaan manusia
ditentukan oleh kadar kedekatanya kepada Allah. Kedekatan itu ditentukan oleh ilmu. Oleh
karena itu, semakin tinggi dan sempurna ilmu seseorang maka ia akan lebih dekat kepada
Allah dan lebih mendekati sama dengan Malaikat.150 Dibagian lainnya ia mengatakan bahwa
manusia semuanya akan binasa kecuali yang berilmu. Tetapi mereka ini pun akan binasa juga
kecuali yang mengamalkan ilmunya. Dan mereka yang tersebut terakhirpun akan binasa juga
kecauali yang ikhlas dan di dalam, perbuatannya. 151
Mengenai tukuan pendidikan tidak secar ekplisit dibahas oleh Al-Ghazali dibawah sebuah
topik tetentu. Namun demikian, dapat diahami dari konteks pembahasannya mengenai belajar
dan mengajar bahwa ia membagi tujuan pendidikan kedalam 2 belahan besar :
Pertama, membina manusai integrated (manusia seutuhnya, insan kamil) yang senantiasa
dekat kepada Allah.
Kedua, membina manusia interated (insan kamil) yang akan mendapat kebahagian duani dan
kemenangan akhirat. 152
Pembahasan Al-Ghazali menjurus kepada pencapaian satu kutub piramida manusiawi, yaitu
manusia yang manusiawi, manusia yang sesuai dengan hakikat dirinya sebagai manusia,
bukan manusia yang hewani atau nabati,. Manusia yang sedemikin kualitanya itulah yang
dalam istilah Islami adalah insan kamil, manusia hamba Allah yang memenuhi persyaratan
sesuai dengan kepribadian Muhamad SAW. 153

       148
             Fat-hiyah Hasan Sulaeman, Madzahibu fi Al-Tarbiyah, bahtsun fi Al-Madzahibi Al-
Tarbawi, Inda Al-Gahzalai, Mesir, Maktabah Al-Nahdhah, 1964, hal. 15.
        149
            Fat-hiyah Hasan Sulaeman, Loc. Cit.
        150
            Al-Ghazali , Loc. Cit.
        151
            Al-Ghazali, Loc. Cit.
        152
            Ibid., hal. 16.
        153
             Persyaratan seseorang untuk dapat dikatagorikan kedalam hamba Allah dengan contoh
kepribadiam nabi Muhama, lihat Disertasi ini dalam Sub Bab Tujuh Pendidikan Islam.
                                                                                                   C-34



Al-Ghazali, tampaknya, berlebihan ketika mengatakan bahwa ilmu keutamaan didalam
dirinya secara mutlak.pendapatnya itu telah menjuruskannya kepada penarikan kesimpulan
bahwa menuntut ilmu sampai berhasil haruslah menjadi tujuan pendidikan. Manusai akan
menemukan didalam ilmu itu kenikmatan dan kesedapan, karena didalamnya terdapat nialai.
154
    Tetapi ia dalam uraian selanjutnya di peroleh meskipun ia hanya menyebut ilmu tanpa
embelan keterangan bahwa yang dimaksudkannya dengan itu adalah ilmu agama. 155
Indikator untuk itu diperoleh dari konteks bahwa setiap kali ia membahas ilmu, selalu
diikatnya dengan ‗mendekatkan diri kepada Allah‘ sebagai sarana untuk mencapai
kebahagiaan dan kemenagan akhirat.
Pendapatnya tentang tujuan pendidikan tersebut teklah mendorongnya untuk
mengklasifikasikan ilmu kedalam :
     1. Ilmu yang tecela, baik sedikit maupun banyak.
     2. Ilmu yang tepuji, baik sedikit maupn banyak
     3. Ilmu yang terpuji dalam kadar tertentu saja
Yang pertama, diberinya contoh dengan misal ilmu sihir (black majic), ilmu azimat
(talisman), ilmu tenung (astrologer), ilmu ramal. 156 yang kedua adalah seperti ilmu-ilmu
agama yang membimbing ke arah kesucian batin, pengenalan kebenaran dan pengalamannya,
pendekatan diri kepada Allah dan segala ilmu yang menunjang bagi pencapaian kebahagiaan
di Dunia dan kemenangan di akhirat. 157 dan yang ketiga diberinya contoh, dengan ilmu-
ilmu yang jika dipelajari secara mendalam akan membuat seseorang ragu, bahkan mungkin
anti Tuhan, seperti beberapa cabang ilmu Falsafat tentang ketuhanan dan beberapa aliran dari
pengetahuan alam. 158
Al-Ghazali berpendapat bahawa berdasarkan hadits Nabi yang artinya: „Menutut ilmu adalah
wajib atas setip, laki-laki dan perempuan‟ , maka asas wajib belajar sesungguhnya telah
berlaku atas semua umat islam. Oleh karena itu, ia telah berusaha menjabarkan ilmu
pengetahuan ke dalam : (1) yang wajib dipelajari oleh setiap muslim secara menyeluruh dan
(2) yang hanya wajib dipelajari oleh sebagian dari mereka. Yang pertama dinamakan ilmu
Fardu A‘in, sedang yang kedua ilmu Fardu Kifayah. Kedalam ilmu pardu a‘in termasuk:
Al-Qur‘än (membacanya), pokok-pokok ajaran agama, seperti akidah, ibadah dan yang
berkaitan dengannya. 159
Kedalam ilmu fardhu kifayah termasuk ilmu-ilmu yang demikian pentingnya sehingga
menyangkut kepentingan semua umat, misalnya imu kedokteran, ilmu-ilmu hitung,
pertukangan, perindustrian, pertanian, perakitan, 160 dan ilm-ilmu lainnya (misalnya
penerbangan, pelayaran dan berbagai teknologi canggih yang kian berkembang).
Mengenai metode pendidikan dan pengajaran Al-ghazali tanpak tidak dengan secara khusus
membahasnya, tetapi diuraikan secara terpencar dalam pembahasannya, mengenai ketiga

        154
             Ilmu , sebenarnya, tidak memiliki nilai didalam dirinya (kecuali niali estetis). Ia hanyalah
ibarat pisau yang bersignipikasi positif atau negatif pada saat ia dipergunakan untuk sesuatu perbuatan
bajik ataupun jahat.
         155
               ilmu agama adalah sama halnya. Ia tidak memiliki signifikasi fositif jikalau tidak
diamalkan, bakan bisa bermakna negatif jika digunakan untuk menipu atau memecah belah.
         156
             Fat-hiyah Hasan Sulaeman, (1964), Op. Ci t., hal. 18.
         157
             Ibid. , hal. 19.
         158
             Ibid.
         159
             Al-Ghazali , 1, Op. Cit. hal. 14-20.
         160
             Ibid.
                                                                                       C-35



komponen pendidikan, yaitu : guru, murid dan mata pelajaran Ia, agaknhya, yakin bahwa
hasil pendidikan terkait amat erat kepada tingkat aktivitas interaksi edukatif antara ketiga
komponen tersebut. Jika masing-masing ketiga komponen itu telah ditata dan, oleh
karenanya, berfungsi dengan cara yang semakin baik serta disesuaikan seperlunya antara
yang satu dengan yang lainnya maka uasaha pendidikan akan berhasil dalam tingkat dan
bobot yang semakin memuaskan, meskipun metode yang digunakan, misalnya, hanya
membacakan dan menerangkan.
Itulah yang tampak menjadi sebabnya mengapaia telah secara luas membahas hal-hal yang
berkenaan dengan ketiga komponen tersebut. Pembahasannya yang pertama difokuskannya
kepada prilaku pelajar yang harus dimiliki/dilakukan oleh murid. Ia menjabarkan 10 adab
tatakrama) belajar untuk murid, jika ia bermaksud berhasil memperoleh ilmu. Kesepuluh
adab itu adalah :
Pertama, men-sucikan batin dan membersihkan diri dari akhlak yang tidak baik. Menuntut
ilmu adalah ibadat hati dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah. Oleh karena itu, setiap
murid perlu terlebih dahulu men-sucikan batinnya sebelum terjun kedalam kancah
pergulatannya dengan ilmu.
Kedua mengenai keterikatan dengan kesibukan dan ambisi duniawi dan tidak terpengaruh
oleh kondisi lingkungan. Apabila hati dan pikiran tidak terkonsentrasikan. Ilmu tidak akan
menyerahkan sedikitpun daribagian dirinya kepada seseorang kecuali apabila orang itu
menyerahkan keseluruhan dirinya kepadanya.
Ketiga, merendahkan hati dan menghormati serta tidak berlaku seolah-olah lebih pandai,
apalagi menganggap enteng tehadap guru. Murid harus menyerahkan dirinya kepada gurunya
untuk diberi nasihat, pelajaran dan petunjuk serta dengan sepenuhnya mematuhinya, seperti
halnya dengan kepatuhan seseorang yang sakit kepada dokter.
Keempat, menghindarkan diri, terutama pada saat-saat awal dari masa belajar,
Dari mendengarkan isu-isu mengenai perbedaan pendapat atau perselisihan paham tentang
ilmu yang akan dipelajari. Murid harus menyerahkannya saja kepada guru tentang ilmu apa
yang sebaiknya ia pelajari.
        Kelima, mendalami semua cabang dari disiplin ilmu yang dipelajarinya karena semua
cabang tersebut akan menunjang pembentukan kebulatan pengertian tentang ilmu tersebut di
dalam diri.
        Keenam, menghindarkan diri dari mempelajari segala/ beberapa cabang ilmu
sekaligus. Setiap murid harus belajar dari bagian awalnya dan melanjutkannya secara
berurutan. Untuk itu murid harus memulai dengan mempelajari yang lebih penting sampai
benar-benar menguasainya sebelum meneruskan kepada yang berikutnya. Keterbatasan umur
tidak memungkinkan seseorang untuk mendalami segala macam ilmu. Oleh karenanya,
sangatlah dikuatirkan kalau umur sudah lanjut atau sudah mencapai titik lemah sedang ilmu
yang sedang dipelajari belum terkuasai.
        Ketujuh, menghindarkan diri dari pada pindah kepada ilmu yang lain sebelum
menguasai ilmu yang sedang dipelajari sepenuhnya. Ilmu itu sebenarnya berkait-berurut dan
sebagiannya menjadi jembatan bagi memahami yang berikutnya.
Setiap murid hendaknya tidak saja hanya memahami ilmu tetapi juga mampu
memproyeksikannya dalam realitas kehidupan.
        Kedelapan, memahami cara-cara mengenal ilmu yang lebih baik dan utama yang,
karenanya, harus didahulukan mempelajarinya. Pemahaman tersebut dapat dilakukan dengan
melihatnya dari dua sisi, yaitu keutamaan hasil atau kekuatan argumentasi. Untuk sekedar
                                                                                            C-36



contoh dapat diambil ilmu agama dan ilmu kedokteran. Yang pertama akan menghasilkan
kebahagian hidup dunia dan kemenangan akhirat , sedang yang kedua akan mendatangkan
kemakmuran hidup dan kesehatan umat di dunia saja. Oleh karena itu, ilmu agama lebih
mulia dan, karenanya, harus didahulukan mempelajarinya.
         Kesembilan, mengokohkan tujuan dalam kegiatan menuntut ilmu. Setiap murid
harus menjauhkan dirinya dari pada menuntut ilmu dengan niat dan tujuan untuk
mendapatkan pangkat, jabatan, kekayaan, kemegahan, apalagi untuk memeras atau menipu.
Tujuan itu haruslah dibulatkan untuk mencapai nilai-nilai keutamaan dalam rangka
mendekatkan diri kepada Allah.
         Kesepuluh, memahami kaitan antara ilmu yang di pelajari dengan tujuan yang ingin
dicapai. Apabila dengan suatu ilmu tidak terkumpulkan hasil-hasil berupa kemenangan dunia
dan akhirat , maka mempelajarinya harus ditunda dulu sampai dengan sesudah terkuasainya
ilmu-ilmu yang dapat mengantarkan ke arah kedua kemenangan itu. 161
         Guru, jika ingin berhasil dalam dalam kegiatannya mendidik anak, harus mematuhi 8
adab:

           Pertama, sayang kepala murid sebagaimana sayangnya kepada anaknya sendiri dan
berusah memberi pelajaran yang dapat membebaskannya dari api neraka. Oleh karena itu ,
tugas guru adalah lebih mulia dari pada tugas kedua orang tua. Guru adalah sebab bagi
kebahagiaan dunia dan akhirat , sedang orang tua hanyalah sebab bagi kelahiran anak ke
dalam dunia fana.
          Kedua, mengikuti akhlak dan keteladanan Nabi Muhamad SAW. Oleh karena itu,
seorang guru tidak boleh mengharapkan gaji, upah atau ucapan terima kasih. Ia mengajar
harus dengan niat beribadat dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
          Ketiga, membimbing murid secara penuh, baik dalam cara belajar maupun dalam
menentukan urutan pelajaran. Ia harus memulai pelajaran dari yang mudah dan berangsur
meningkat kepada yang sukar. Ia harus menjelaskan juga pada murid bahwa menuntut ilmu
itu tidak boleh bercampur dengan niat lain kecuali karena Allah semata-mata.
         Keempat, menasehati murid agar senantiasa berakhlak baik. Ia harus memualai
nasehat itu dari hanya sekedar sindiran serta dengan penuh kasih sayang, tidak dengan cara
dengan terang-terangan, apalagi dengan kasar dan mengejek yang malah akan membuat
murid menjadi kebal atau keras kepala sehingga nasehat itu akan menjadi seumpama air
dalam dalam keranjang menets kedalam pasir.
         Kelima, menghindarkan diri dari sikap merendahkan ilmu-ilmu lain dihadapan anak,
mislanya guru bahasa mengatakan ilmu Fikih tidak penting, guru fikih mengatakan ilmu
tafsir tidak perlu dan sebagainya.
Keenam, menjaga agar materi yang diajarkanya sesuai dengan tingkan kematangan dan daya
tangkap muridnya. Ia tidak boleh memberikan pelajaran yang belum terjangkau oleh fotensi
inteljensi anak didiknya. Pelajaran yang tidak disesuaikan malah akan membuat anak benci,
karnenya, akan meninggalkannya. 162
Ketujuh, memilihkan mata pelajaran yang sesuai untuk anak-anak yang kurang pandai atau
bodoh. Ia tidak boleh menyebut-menyebut bahwa dibelakang dari ilmu yang sedang

       161
            Al-Ghazali, 1, Op. Ci t., hal . 49-53.
       162
            Teori Al-Ghazali mengenai penyesuaian pelajaran dengan tingkat kematangan anak telah
menyebabkannya tanpil sebagai pelopor dari pemeranSsertaan ilmu jiwa kedalam kegiatan pendidikan.
Lihat Fat-hiyah Hasan Sulaiman (1964), Op.Cit., hal. 36.
                                                                                           C-37



diajarkanya masih banyak rahasia yang hanya ia sendiri mengetahuinya. Kadang-kadang
guru, dengan sikap menyembunyikan semacamitu, ingin memperlihatkan dirinya sebagi
seorang yang sangat dalam ilmunya sehingga orang banyak harus berguru kepadanya . 163
Kedelapan, mengamalkan ilmunya serta perkataannya tidak boleh berlawana dengan realita
perbuatanya. Sebab, jika demikian halnya maka murid-murid tidak akan hormat kepadanya.
164

Ada beberapa hal penting yang perlu ditampilkan kepermukaan dari teori Al-Ghazali
mengenai guru tersebut. Diantaranya adalah:
Mengajar dengan kasih sayang
Al-ghazali telah mengemukakan teorinya pada abad 9, sedang di Erofa dizaman reformasi
Martin Luther pada abad 15 – jadi 6 abad kemudian – anak-anak masih didik denga kasar dan
bengis berdasrkan teori bahwa mereka, karena dosa asal, benar-benar berkodrat jahat.165 Juan
Luis Vives (1492-1540) mulai mengemukakan bahwa dalam kegiatan pendidikan,anak harus
mendapakan perhatian. Tetapi pendidiakn anak dengan kasih sayang, baru dimulai di Erufa
pada abad 18. 166
Memperhatikan tingkat kemampuan anak.
Pelajaran harus dimulai dari materi-materi yang sesuai dengan tingkat kemampuan
pemahaman anak. Oleh karena itu pelajaran harus dimuali dari yang konkrit dan mudah, lalu
secara berangsur meningkat kepada yang abstrak dan sukar.
Memberi nasehat dengan kiasan/ kasih sayang.
Dalam memberi nasehat kepada anak (murid) tidak boleh langsung atau secara belak-
belakkan, tetapi harus dimulai dengan sindiran atau kiasan dan menyampaikanya secara
sopan dan lembut. Nasehat yang belak-belakkan pada saat-saat sangat diperlukan.
Berakhlak mulia.
Guru akan ditiru dan diteladani oleh murid. Oleh karena, itu ia harus berakhlak mulia,berbudi
tinggi dan memiliki sikap toleransi (tasamuh) dalam menghadapi murid-muridnya.
Bersikap sebagi motivator.
Setiap murid harus diusahakan berhasil memperoleh ilmu. Untuk itu guru harus bersikap
motivator, merangsang murid agar mencintai ilmu dan dengan bersungguh-sungguh
mempelajarinya. Kecintaan tersebut tidak boleh diarahkan kepada satu atau dua macam ilmu
saja. Oleh karena itu ia tidak boleh mengatakan ilmu yang dimilikinya lebih penting dari pada
ilmu yang dikuasai oleh guru yang lain.
Memperhatikan perbedaan individual.
Anak-anak, termasuk yang kembar, berbeda antar yang satu dengan yang lainnya (individual
differences). Guru harus memperhatikanya dan menyesuaikan pelajaran dengan kondisi anak
agar benar-benar dapat diserap serta difahaminya dengan baik.
Al-Ghazali sudah mengemukakan apa yang kemudian, pada abad 20, dikenal dengan
individual differences yang olehnya diistilahkan dengan Al-furuq Al-fardiyyah (perbedaan
individual). Berdasarkan teorinya itu, ia menganjurkan supaya pelajaran disesuaikan dengan


          163
              Fathiyah hasan Sulaeman (1964), Op. Ci t., hal. 37.
          164
              Al-Ghazali, I, Op. Cit. , hal. 55-58.
          165
              Y.B. Suparlan, Aliran-Aliran Baru dalam Pendidikan, Yogyakarta, Andi Offset, 1984,
hal.30.
          166
         Ibid. , hal. 44-. Di Aceh. Sampai dengan tahun 1940an, guru-guru masih banyak yang
menggunakan tongkat untuk memukul murid waktu belajar.
                                                                                              C-38



kondisi individual masing-masing anak 167 Ia ternyata orang pertama memasukan teori Ilmu
Jiwa kedalam Ilmu Pendidikan yang kemudian berkembang amat pesat dibelakangnya
terutama mengenai keharusan menyesuaikan pelajaran dengan pribadi anak didik, baik dilihat
dari segi tingkatan umur, kematangan jiwa dan kemampuan memahami maupun tingkat
intelejensi.


     5) Ibnu Khaldun (732-808 H/1332-1406 M).
‗Abdurrahman Ibnu Khaldun (lahir di Tunis), sebenarnya lebih terkenal sebagai ahli filsafat,
sejarah dan politik bangsa Arab168 Ia menulis sebuah buku besar dengan judul: Al ‗Ibar wa
Diwan al Mubtada wa al Khabar fi Ayyam al ‗Arab wa al ‗Ajam wa al Barbar wa man
‗Asharahum min dzi al Sulthan al Akbar, yang terdiri dari 7 jilid besar 169. Di dalam jilid
pertama yang ia namakan Muqaddimah (pendahuluan atau pengantar) paling tenar dari segala
bukunya ia membahas berbagai masalah, seperti perubahan umat manusia, peradaban,
kehidupan dan berbagai ilmu pengetahuan yang di kenal pada zamannya, termasuk
pembahasan mengenai masalah pendidikan dan pengajaran di dunia Islam170.
Pemikiran Ibnu Khaldun tentang pendidikan dan penganjaran tampak tidak berbeda dengan
para ilmuwan pendahulunya. Tetapi, ia mengklasifikasikan ilmu-ilmu ke dalam: ‗ulum
naqliyat (ilmu-ilmu pengetahuan agama), ‗ulum lisaniyat (ilmu - ilmu bahasa) dan ‗ulum
aqliyat (ilmu-ilmu pengetahuan umum) 171 (Al Ghazali membagi ilmu-ilmu ke dalam ilmu
naqliyat dan ilmu ‗aqliyat di samping pembagian lainnya ke dalam ilmu dharr dan ilmu nafi‘,
seperti telah dikemukakan uraian terdahulu).
Ibnu Khaldun mengemukakan dalam upaya belajar-mengajar harus dijaga asas tadarruj
(berangsur-angsur)172 artinya, segala pelajaran harus disesuaikan dengan tingkat kemampuan
anak yang secara alami berkembang secara berangsur dan bertahap. Oleh karenanya, pada
tahap pertama di ajarkan sekedar dasar dari setiap bab daripada mata pelajaran yang
diajarkan. Kemudian, pada tahapan kedua, diajarkan lebih mendalam dan pada tahapan ketiga
lebih mendalam lagi serta diperluas sampai pada hal-hal yang detail, termasuk pendapat
ilmuan para ilmuan sepanjang berkaitan dengan mata pelajaran tersebut173.
Di sisi lain ia mengemukakan bahwa guru, dalam mengajar anak, harus berlaku sabar dan
bersikap kasih sayang. Sebab, mengajar dengan keras, apalagi dengan memukul, hanya akan
mendorong anak untuk berdusta guna melindungi dirinya dari kemurkaan atau pukulan



        167
             Fat-hiyah Hasan Sulaeman (1964), Op. Ci t ., hal. 33-36
        168
             B. Lewis, V.L. Menage, Ch. Pellat, Eds, Op.cit, hal. 825.
         169
             Muqaddimah Ibnu Khaldun Cet. I tahun 1401 H/1981 M, dicetak oleh Daru Al Fikri,
Lubnan & Beirut, terdiri atas 8 jilid besar; jilid I, Muqaddimah Tarikh Ibnu Khaldun; jilid II –
VII, Tarikh Ibnu Khaldun; dan jilid VIII, Faharis (semacam index) Ibnu Khaldun
         170
             Lihat Ibnu Khaldun, Muqaddimah Ibnu Khaldun, jilid I dari Tarikh Ibnu Khaldun, Lubnan,
Beirut, Cet. I, 1401 H/981 M, hal. 480-542.
         Lihat juga terjemahannya dalam bahasa Indonesia oleh Ahmadie Thoha, Muqaddimah Ibnu
Khaldun, Jakarta, Pustaka Firdaus, 1986, hal. 521-838. Lihat juga Ali Audah, Ibnu Khaldun, Sebuah
pengantar, Jakarta, PT. Pustaka Firdaus, tt, hal. 49 dan 52.
         171
             Muhammad Munir Marsi, Op. citOp. Cit, hal. 135.
         172
             Ibnu Khaldun, Op. Cit, hal 734
         173
             I b i d, hal. 735. Lihat juga terjemahan Ahmadie Thoha, Op. Cit, hal. 752
                                                                                       C-39



tersebut. Lebih dari itu, kekerasan dan pukulan bahkan akan membuat menjadi keras kepala,
membandel atau bodoh 174.
Dalam teorinya mengenai pendidikan anak, ia terlihat lebih mengutamakan pendidikan akal
(intelejensi) dari pada pendidikan kejuruan (profesi). Pada yang pertama, sasaran pendidikan
adalah akal, sedang yang kedua adalah komponen-komponen jasmani. Yang pertama
bertujuan untuk membina akal agar memiliki kemampuan pikir dan nalar yang tinggi. Yang
kedua bertujuan membina anggota jasmani agar terampil melakukan sesuatu
pekerjaan secara tepat dan cepat 175




           174
            Ibnu Kholdun, op. cit. hal. 743-744
175
      Muhammad Munir Marsi, loc. Cit
                                                                                              105




 Di antara hasil pemikirannya yang menonjol adalah teori bahwa manusia memiliki
 kualitas yang belebihan atau berkurang, berbeda atau berlainan yang disebabkan oleh
 kemampuan atau kecakapan (ilmiah atau non ilmiah) yang diperolehnya melalui
 pendidikan. Ia tidak sependapat dengan sebagian ilmuan muslim pada zamannya yang
 secara.
Sopistikat mengatakan bahwa nasib manusia telah ditentukan dalam takdir Tuhan
(fatalis)1761 Ia tidak setuju dengan teori penyerahan nasib manusia hanya kepada takdir
manusia semata, tetapi telah menekankan penyerahan itu kepada teknik sejauh mana
manusia telah berusaha mengubah nasibnya, meskipun ia sama sekali tidak membantah
akan adanya kekuasaan mutlak Tuhan atas manusia.
Ada beberapa saran Ibnu Khaldun yang tampak perlu dijabarkan dalam kaitannya dengan
kegiatan pendidikan dan pengajaran:
Pertama, kegiatan mengajar akan efektif jika pelajaran diberikan secara berangsur,
setapak demi setapak atau sedikit demi sedikit, dimulai dari masalah-masalah pokok dari
keseluruhan isi mata pelajaran yang diajarkan. Pelajaran haruslah bersifat umum dan
menyeluruh (global: ingat gestalt) dengan memperhatikan tingkat kemampuan dan
kematangan177.
Kedua, tidak mencampur adukkan beberapa masalah kedalam mata pelajaran yang sedang
diajarkan. Pencampur adukan semacam itu akan membuat anak tidak menguasai satupun
dari masalah-masalah itu secara baik. Seorang anak (murid) yang sudah menguasai satu
mata pelajaran akan lebih siap menguasai bab-bab selanjutnya178
Ketiga, interfal waktu antara mempelajari sesuatu ilmu lainnya atau antara satu bab
(dalam sebuah buku) dengan bab lainnya tidak boleh terlalu panjang sehingga anak-anak
tidak sampai terlalu lupa akan ilmu yang sudah dipelajarinya179
Keempat, guru tidak boleh mengajarkan dua ilmu sekaligus. Anak (murid) akan sukar
sekali memahami keduanya atau satu pun tidak terkuasai olehnya secara baik, karena
perhatiannya terbagi atau terganggu oleh ilmu kedua pada saat ia mempelajari yang
pertama180.
Kelima, guru tidak boleh mengajar dengan kekerasan, apalagi kekejaman, tetapi harus
dengan sabar dan kasih sayang. Mengajar dengan kekerasan akan menyebabkan
timbulnya kebiasan buruk, seperti berdusta, malas, serong dan bahkan bodoh181.


C Pemikiran para pakar penididikan Eropa.
      Mendidik anak dengan kekerasan masih berjalan di Eropa sampai dengan abad 19
dan bahkan abad 20.182 Sistem kekerasan tersebut mulai di kritik oleh para pemikir

        176
            Ahmad Muhammad Jamal, Nahwa Tarbiyatin Islamiah, Jiddah, Tihamah, 1980, hal..
        177
            Ibnu Khaldun, op. cit. hal,734.
        178
            Ibid, hal.735.
        179
           Ibid.
        180
            Ibid, hal.736.
        181
            Ibid, hal.743-744.
            Lihat juga terjemahan Muqaddimah oleh Ahmadie Thoha. Op. Cit, hal. 763-764.
                182
                    Pada tahun antara 1937-1947, guru, khususnya di sekolah dan pesantren ( di
Aceh Tengah ) di mana saya sendiri belajar – tetapi juga terdengar hal yang sama di eluruh sekolah
dan pesantren lainya – masih memegang tongkat ( cambuk atau cemeti ) dan siap memukulkannya
dengan keas dan berkali-kali kepada murid yang bersalah, misalnya tidak hadir belajar, tidak
menghafal pelajaran yang di tugaskan untuk di hafal. Bahkan ada murid yang di pukuli bukan
                                                                                          106




pendidikan pada abad 17. Di antara pengeritik itu --- kemudian mereka di sebut sebagai
pelopor aliran baru gerakan pendidikan Eropa – adalah: Johan Amos Comenius,183
        Johan Locke, Jean Jaques Rousseau, Johan Heinrich Pestalozzi, Johan friedrich
Herbart, friedrich Wilheim Frobel, Maria montessor dan banyak yang lainnya. Tetapi
teori mereka tentang pendidikan, khususnya pendidikan anak, pada mulanya di anggap
ebagai aneh dan, karenanya, tidak mendapat sambutan.
Pertanyaan-pertanyaan inti, sebagaimana telah di hadapkan kepada pakar-pakar muslim
abad tengah dalam Upaya menemukan jawaban184 dicoba di hadapkan pula kepada para
pakar pendidikan Eropa abad 17, 18 dan 19 atau 20 tersebut. Penghadapan di maksud,
tapi secara purposif di tujukan yang di perhitungkan lebih menonjjol di antara mereka,
seperti: (1) Johan Amos Comeneus, (2) Jean Jaques Rousseau, (3) Johan Heinrich
Pestalozzi, (4) Friedrich Wliheim August Frobel dan (5) Maria Montessori. Masing-
masing dari pemikiran mereka dikemukakan sekedarnya guna mengetahui apakah
mereka sudah pernah menjawab pertanyaan-pertanyaan inti tersebut.

    1) John Amos Comenius ( 1592-1671 ).
John Amos Comenius ( selanjutnya J. A. Comenius ) yang lahir di Nivnitz ( kini menjadi
daerah Checouslovakia ) pada tahun 1592,185melihat sendiri penderitaan anak-anak di
sekolah akibat siksaan dan, terutama, kesukaran dalam pelajaran bahasa Latin yang pada
masa itu menjadi bahasa pengantar dalam seluruh kegiatan belajar.
Mengajar. Keadaan itu kemudian, menyebabkannya merasa terpanggil untuk mempelajari
bahasa Latin itu.
Tatkala perang 30 tahun berkobar di Eropa, ia pindah ke Lezno di Polandia. Di sana ia
menetap selama 12 tahun, berkerja sebagai guru dan mulai menulis berbagai topik
berkenaan dengan pendidikan. Buku pertamanya yang berjudul Janua Linguarum
Reserata berisi metode baru berkenaan dengan pengajaran bahasa Latin. Ia menganjurkan
supaya dalam kelas-kelas pertama di sekolah dasar di pergunakan bahasa ibu sebagai
bahasa pengantar dalam kegiata belajar-mengajar dan pada kelas kelas berikutnya bahasa
Latin.
J.A. Comnius adalah orang pertama yang mengaran buku pelajaran bahasa dengan
menggunakan gambar. Dibawah setiap gambar ia tulis nama atau keterangan dalam
bahasa ibu dan bahasa Latin. Bukunya yang berjudul: School and Infancy, merupakan
lanjutan dari sebagian isi bukunya yang sangat terkenal: The Great Deductic 186 Ia sangat
anak dan, karenanya, corak pendidikan yang di inginkannya adalah yang bercorak agama.
Anak, menurutnya, adalah karunia Tuhan kepada manusia yang, karenanya harus di
rawat, di pelihara dan di didik dengan baik, tidak dengan kekerasan dan pukulan.
Pendapatannya itu, Sebenarnya, merupakan protes atas perlakuan keras dan kasar
terhadap anak dalam kegiatan pendidikan di zamannya.

karena bersalah, tetapi karena bodoh atau lambat mengerti. Sama dengan itu adalah tindak orang
tua dalam upaya mendidik anaknya
                 183
                     Fat- hiyah Hsan Sulaiman, Tarbiyatu Al Thiflibaina al Madhi wa al Hadhir,
Mesir Dan Syuruq, 1339 H/ 1979 M, hal.108.
                 184
                     Pakar-pakar muslim abad tengah ternyata tidak menjawab pertanyaan-perta-
nyan inti, terutama pertnyaan tentang masa didik yang sesungguhnya harus di mulai sejak
pemilihan jodoh. Pendidikan anak pada waktu anak masih berada di dalam kandungan juga belum
mendapat perhatian dan pemikiran mereka.
        185
            William Boyd, The History of Western education, london, Adam & Charles Black,
1959, hal.242
                186
                      William Boyd, Op. cit. , hal.244.
                                                                                          107




J.A. Cominus menggariskantujuan pendidikan kedalam: (1) mencapai ilmu pengetahuan,
(2) mencapai alak mulia dan (3) kesalehan dan ketaqwaan187 Ia berpendapat bahwa semua
anak dari semua tingkatan harus mendapat kesempatan yang sama dalam menikmati
pendidikan. Oleh karenaitu, sekolah harus didirikan sebanyak-banyaknnyasehingga anak,
putra dan putri, dapat memasukinya tanpa perbedaan.
Masa pelajaran dibaginya kedalam 4 priode, yaitu: (1) dari lahir sampai umur 6 tahun
dimana anak belajar dalam School Infancy dengan lokasi paling baik adalah pengakuan
itu, (2) dari umur 6-12 tahun, dimana anak memasuki sekolah pertama dan bahasa ibu
dipakai sebagai bahasa pengantar, (3) dari umur 12-18 tahun, dimana anak belajar di
sekolah menengah ( Sekolah Latin ) deengan bahasa Latin sebagai bahasa pengantar (4)
dari umur 18-24 tahun dimana aknak belajar di perguruan tinggi di negeri lain; tingkat ini
hanya di tempuh oleh anak-anak yang tercer das yang di namakannya The Flowers of
mankaid. 188

        Anak dalam priode pertama, menurut J.A. Comenius, sudah mampu befikir secara
sederhana tentang ruang, jarak, bidang angka dan kaitan antara 1 dengan yang lainnya,
perbedaan antara bumi, matahari, bulan dan bintang, perbedaan antara lebah, alur, sungai
dan danau dan juga perbedaan antara tumbu-tumbuhan dan hewan. Perbedaan-perbedaan
terebut dapat di ajarkan kepada anak secara sederhana yang engan sendirinya
mengemukakan perasaan dan keinginan tatakrama dan bahasa yang baik. Melalui
pelajaran ini anak sudah sendirinya belajar dengan ilmu ahlak.
Khusus mengenai pendidikan anak dalam rumah tangga, J.A. comenius menyusun sebuah
buku, The School of Infancy, dengan lokasi utamanya adalah pangkuan ibu, dalam
bukunya itu ia membahas mengenai mata pelajaran yang layak di pelajari oleh anak,
metode-metode yang dapat membuat anak secara langsunga dan gembira, tertarrik
mempelajari dalam sekitarnya, membuatnya menjadi sehat jasmani dan rohaninya,
membuatnya mampu membuat kata-kata yang dapat mengiringnya kearah keutamaan,
ketakwaan dan keluhuran ahlak189
Pemikiran J.A. Comenius tidak mendapat sambutan pada zamannya karena (1)
merupakan pemikiran yang benar-benar baru bagi orang Eropa,190 (2) di ketengahkannuya
di dalam kondisi perang 30 tahun, dimana orang Erpa masih terlampau sibuk dengan
perang, pembunuh penganiayaan, penghancuran dan pemusnahan. Meskipun demikian,
para pemerhati pendidikan pada zamannya sudah mulai mempelajari hal pemikirannya
dan mencoba menerapkannya dalam kegiatan pendidikan di negrinya masing-masing.

    2) Jean Jacques Rousseau (1712-1778).
Jean Jacques Rousseau ( selanjutnya J.J. Rousseau ) di lahirkan dalam keluarga berbeda
di Geneva, Switserland. Ayahnya sangat gemar membaca buku-buku roman atau lain,
sehingga perpustakaannya penuh dengan buku. Tanpa kemampuan membaca sama sekali,

                187
                      Fat-hiyah Hasan Sulaiman, Op. cit., oleh hal. 111
                188
                      Op. cat., hal. 111-112
                117
                     Op. cit., hal. 118
                190
                    Di zaman kita pemikiran J.A. Comenius tidaklah aneh atau baru, meskipun
pendidkan dengan kekerasan masih dan mungkin tetap ada, misalnya saja, dalam pendidikan
militer. Tetapi di zamannya, di mana orang-rang berkeyakinan bahwa anak di lahirkan bertabiat
buruk dan jahat yang perlu di berantas melalui siksaan, pemikirannya itu ganjil dan menyimpang
daripada yang lazim berlaku. Keyakinan yang mapan itulah yang menyebabkan anak di perlakukan
secara kasar, bahkan kejam. Di antara anak, meskipun masih kecil, ada yang di pekerjakan di
dalam industeri dan pertambangan.
                                                                                          108




J.J. Rousseau sampai laut malam bersama ayahnya melalui cerita-cerita roman yang,
kemudian, rupanya turut membentuk pola kepribadiannya. Ia, karenanya, menjadi sangat
sensitif dan imajinatf, lebih-lebih karena ia selalu di manjakan untuk menuruti kehendak
dan keinginannya sendiri.
Kemanjaannya itu telah menyebabkannya tidak dapat mematuhi peraturan sekolah yang
ia masukinya ketika telah berumur 10 tahun, sehingga ia terpaksa keluar. Ia kemudian
masuk sekolah keterampilan selama 4 tahun. Tetapi karena telah sempat bergaul dengan
anak-anak nakal, ia lalu ikut terlibat menjadi pembohong, pemalas dan malah mencuri.
Akhirnya, ia lari dari sekolah tersebut dan sebagi seorang buron ia hidup berpindah-
pindah dari satu kelain tempat.
        Setelah ia menetap di paris terjadilah perubahan radikal dalam kepribadian
Rousseau, ia menjadi seorang perasa, pencinta alam dan sayang kepada orang-orang
miskin yang lantas mendorong nya menjadi pemikir. Tetapi cara belajarnya yang
serampangan telah menyebabkan pikirannya, termasuk tentang pendidkan anak, kurang
sistematik. Namun, hal pemikirannya di tuangkanya kedalam kedalam beberapa buku,
seperti The social Contact dan Emile191
        Bukunya yang tersebut kedua, Emile, berisi pemikirannya tentang pendidikan
anak. Dalam bukunya ini ia mengatakan bahwa: semuanya baik pada saat awal datangnya
dari pencipta alam dan semuanya berubah menjadi buruk ketika sudah berada dalam
tangan manusia. Oleh karena itu, ia mengancam keras secara hidup berlebihan dalam
kalangan tingkatann atas dan para penguasa Perancis di tengah-tengah rayat yang
semakin menderita, dan perlakuan keras terhadap anak dalam kegiatan pendidikan.
        J.J. Rousseau yakin bahwa perbaikan sosial masyarakat Perancis akan tercapai
hanya dengan pendidikan. Ia menegaskan bahwa semua orang, termasuk guru, mengerti
tentang anak sehingga mereka lebih jauh menyimpang dari sistem dan metode yang
benar. Karena itu pula para pendidk dan guru tidak memikirkan ilmu pengetahuan yang
sesuai untuk di ajarkan kebada anak. Bahkan, sebaliknya, malah memberi anak dengan
ilmu pengetahuan yang sebenarnya layak dipelajari oleh orang-orang yang sudah
dewasa.192
        Buku Emile terdiri 5 jild. Empat jilid pertama khusus berkenaan dengan
pendidikan Emile yang di baginya kedalam 4 priode, yaitu: (1) priode kanak-kanak
(Infancy), (2) priode kanak-kanak (childhood), (3) priode remaja (boyhood) dan (4)
priode dewasa (youth). Jilid ke 5 khusus mengenai pendidikan anak perempuan yang
nantinya akan menjadi isteri Emile.
        Jilid pertama berisi cara mendidik Emile pada priode awal dan berakhir pada
umur 5 tahun. Faktor-faktor yang paling berpengaruh dalam proses pendidikan Emile,
dalam prode ini, adalah alam, masyarakat dan benda-benda yang senantiasa saling
berinteraksi dalam proses tersebut. Yang harus di ikuti dalam mendidik Emile adalah
perkembangan sendiri. Karena pendidik dalam hal itu. Tidak mampu membuat
perubahan. Maka yang harusdiubah-ubah atau ditukar-tukar dalam kegiatan pendidikan
Emile adalah ketika Faktor tersebut.193


        191
               Op. cit., hal. 123.
        192
             Sampai dengan zaman J.J. Rousseau dan bahkan masih lama sesudah zamannya
memang sedang di anut secara mapan teori klasik yang keliru bahwa anak adalah manusia faham
bahwa setiap anak harus berbuat dan bersikap dewasa dan ia harus di paksa bahkan denga pukulan
untuk maksud itu. Faham lainnya yang mendorong kearah itu ialah bahwa setiap anak lahir
beertabiat jahat. Hanya kekerasan yang dapat memusnahkan tabiat jahat itu
        193 121
                Op. cit., hal.127
                                                                                            109




         Tujuan pendidikan Emile adalah untuk menumbuhkan dan hidup yang di
hadapinya. Oleh karena itu Emile harus di didik dengan menghadapkannya kepada hidup
itu sendiri kewajiban mendidik dalam priode ini terpikul kepada rang tuanya, kecuali
anak yatim, seperti Emile.194 maka pendidikannya harus di selenggarakan oleh seseorang
Tutor yang di percayai oleh Emile.
         Metode pendidikan Emile harus sepenuhnya alaminya tidak boleh di bentuk
kecuali jika ia membutuhkannya. Apabila sekitarnya berbahaya gerakannya harus bebas
serta di latih agar tahan terhadap berbagai cuaca seperi panas dan dingin. Ia tidak boleh di
biasakan peraturan-peraturan teratur, sebab kebiasaan yang baik adalah tidak mempunyai
kebiasaan sama sekali. Namun demikian ia tidak boleh di majukan dan alat-alat
permainan yang di berikan padanya tidak boleh yang berharga mahal.195
         Dalam jilid ke 2, J.J. Rousseau menjelaskan bahkan Emile (Umur 5-12 tahun)
tidak perlu di ajarkan nilai-nilai molar. Nilai-nilai itu akan dengan sendirinya di mintai
dan di hayatinya manakala ia sudah siap untuk memahaminya. Jika Emile berohong atau
berbuat jahat, maka ia

Maka ia sendiri beban mental (siksaan batin ) sehingga ia akan mengerti apaka ia berlaku
benar atau berbuat salah. Semuanya akan difahaminya di masa yang akan datang196.
        Dalam jilid ketiga, J.J. Rousseau menjelaskan Emile ( umur12-15 tahun ) tidak
boleh di paksa untuk membaca dan menghafal serta tidak perlu tidak boleh menggunakan
buku-buku untuk mengajarnya ilmu bumi, sejarah dan bahasa. Jika Emile di bebani
kewajiban belajar maka dengan sendirimya berarti telah di cabut daripadanya faktor-
faktor yang mendorongnya belajar sendiri. Pemaksaan belajar melalui membaca adalah
penyiksa yang paling kejam buat anak197.
        Emile sendiri pada umur 12 tahun belum pandai membaca. Tetapi pada umur itu,
ada orang yang mengatakan kepadanya bahwa membaca itu perlu. Ia tidak
menentangnya, lantas dengan sendirinya ia belajar membaca karena telah merasakannya
berguna bagi dirnya, meskipun dirasakannya sebagai suatu beban yang cukup berat.
Pendidikan jasmani
Buat emile sangat perlu karena akan membantu pembinaan intelejesinya. Untuk itu,
Emile perlu di beri waktu tidur yang cukup, tapi tidak di tikar sutera atau bahan-bahan
yang halus. Ia harus di latih berenang, loncat jauh, memanjat dinding atau batu-batu yang
besar.198



Lihat juga Y.B.Suparlan, aliran-aliran baru dalam pendidikan, Yogyakarta, Andi Offiset 184, hal,
52-35.
         194
             Dari urayan tentng Emile dapat di ketahui bahwa yang di maksudnya dengan Emile
adalah ia sendiri. Artinya : agar anak
         195
             Sampai dengan urayan itu terlihat bahwa J.J. Rousseau sangat menguatkan
pendidikan jasmani. Waktu dan otak. Menurutnya, di biarkan berkembang sendiri, tidak boleh di
biasakan atau di intrvinasi, setiap pemaksaan atau intervinasi akan selau bermuara kepada
kesalahan.
196
   Proyeksi diri JJ Rousseau dalam Emile semakin terlihat dalam karangannya itu. karena merasa
berhasil dalam hidupnya. Ia lantas menjadikan pengalaman dirinya sebagai model metode
pendidikan yang baik. Larangan memanjakan anak adalah hasil pengalamannya yang dirasakannya
tidak menguntungkan akibat dimanjakan bibinya.
        197
            Op.Cit.hal 126-130
        198
            Lihat Y.B. Suparlon, Op. cit., hal. 54.
        Lihat juga Ag. Soejono, Aliran Baru dalam pendidikan, I,
                                                                                           110




        Dalam jilid ke empat, J.J. Rousseau menjelaskan Emile, umur 15-20 tahun,
sedang mengalami masa kritis dan bahkan kriminal. Kesan kehidupan pada priode ini
tidak terlupakan seumur hidup. Dalam masa ini Emile merasakan sebagai kehidupan baru
dan, karenanya, ia membina hubungan sosial dengan orang lain. Di dalam dirinya mulai
berfungsi nilai-nilai ajaran agama. Maka untuk membina rasa cinta dan kasih sayang
Emile seharusnya di bawa mengunjungi orang sakit, ke rumah-rumah santunan dan
bahkan kepenjara agar ia menyaksikan berbagai penderitaan.199
        Untuk membebaskan Emile dari tingkah laku jahat, sebaikny ia bergabung saja
kedalam kelompok pemuda binal atau berandalan. Dalam kelompok itu ia akan dengan
sendirinyaikut menserita dan merasakan akibat aperbuatan Kriminalmereka secara
bersama. Setelah merasakan sendiri penderitaan itu, ia akan sangat menyesal dan, secara
berangsur, berubah menjadi baik.200
        Dalam hal pendidikan agama, cukuplah bagi Emile dengan sara meniru atau
mengikuti upasara-upacara keagamaan secara tidak resmi. Sebab, masa ini, Emile belum
mampu berfikir tentang Tuhan dan jiwa manusia. Tetapi, kecintaannya kepada alam akan
mendorongnya sampai ketingkat dimana ia, akhirnya, siap untuk menyelidiki penciptaan
alam. Ia, nantinya, memelihara keagungan dan kebesaran Tuhan dan bahkan melihat-Nya
dalam segala ciptaan-Nya.201
  Dalam jilid kelima J.J Rousseau membahas membahas pendidikan untuk anak
perempuan yang di namakannya Sophie. Pendidikan untuk Sophie harus di sesuaikan
sedemikian rupa sehingga memenuhi kebutuhan dan keperluan laki-laki. Ia Harus diajar
cara-cara menghormati, menyenangkan dan menampakan cinta kepada laki-laki. Ia harus
diajar cara merawat,mengasuh, mendidik, menas-ehati, membimbing, memelihara dan
menjaga anak laki-laki sampai dapat merasakan hidup enak dan senang. Itulah kewajiban
perempuan sepanjang waktu dan, karenanya, itupulalah yang menjadi mata pelajaran dan
latihan-latihannya sejak kecil202
        Sopie harus mendapat pendidikan jasmani yang baik supaya tumbu dan
berkembang menjadi baik, dan kuat sehingga, nantinya, ia akan meng-andung dan
melahirkan anak yang sehat dan kuat. Seeperti menyusun dan mengatur perabot sehingga
terlihat nyaman dan indah, memasak, menjahit, menyulam dan sebagainya. Ia harus
mematuhi perintah ayah dan suaminy, karena akalnya kurang dan pemikirannya penuh
dengan kesalahan-kesalahan yang harus di luruskan dengan kebijaksanaan dan, sewaktu-
waktu, dengan kekerasan. Ia tidak boleh belajar falsafat dan ilmu pengetahuan, tetapi
wajib mempelajari watak dan tabiat laki-laki203

        199
             127 Fat-hiyah Hasan Sulaiman, Op. cit., hal. 132.
          Lihat juga Y.B. Suparlan, Loc. cit. dan Ag. Soejono, Op
          Cit., hal. 26.
          200
              Fat-hiyah Hasan Sulaiman, Op. cit., hal. 132-133. dengan ungakapan itu semakin
terlihat proyeksinya pengalaman J.J. Rousseau dalam Emile. Keberhasilan dirinya menjadi model
bagi keberhasilan pendidikan semua anak. Teorinya itu tidak dapat di terima karena Isalam
mengajarkan pembiasaan pembuatan baik sejenak anak masih kecil
          201
             Terori itupun bertentangan dengan ajaran Islam yang memerintahkan pembiasaan
beragama sejak anak masih kecil. Bahkan sejak dalam kandungan melalui ibuny. Pengalaman
empirik melalui penelitian memperlihatkan lain, yaitu anak yang sudah terbiasa denganperbuatan
atau kelakuan tercela, sukar mengembalikannya kedalam yang benar, sesuai dengan tuntunan
agama.
          202
             Menurut J.J. Rousseeau perempuan di ciptakan hanya untuk memenuhi kebutuhan dan
keperluan lali-laki, tidak lebih. Karena akalnya kurang, perempuan wajib memetuhi perintah ayah
dan suami. Ibunya tidak wajib di perintah
          203
              Wiliam Boyd, Op. cit., hal. 300.
                                                                                   111




        Buku J.J. Rousseau tentang Sophie di perkirakan sebagai satu-satunya buku yang
di tulis, pada masanya, mengenai pendidikan anak perempuan sehingga telah di
terjemahkan kedalam banyak bahasa di Eropa. Banyak keluarga bergerrak mengikuti cara
hidup Emile dan Sophie sehingga para pendidik mulai mencatat dan mendiskusikan hal-
hal yang menyangkut kehidupan anak dalam rumah tangga.204
        J.J. Rousseau, dengan teorinya itu, telah memperhatikan ketidak tahuannya
tentang krakter dan watak sosialmanusia. Ia telah dengan gembilang membedakan secara
menyolok antaara pendidikan anak laki-laki dan anak perempuan dan antara pendidikan
anak dari kalangan kaya dan anak dari kalabgan miskin, meskipun ia sangat sayang
kepada semua anak. Teori-teorinya, pada umumnya, tidak trealis dan sebagainya malah
bertentangan dengan kebenaran danlogika. Meskipn demikian, pikirannya di bidang
pendidikan anak, akhirnya, turut berperan bagi lainnya tiga gerakan pendidikan di abad
19, yaitu: (1) gerakan pendidikan yang mendasarkan pendiriannya kepada ilmu jiwa, (2)
gerakan pendidikan yang mendasarkan pendiriannya kpada ilmu pengetahuan dan (3)
gerakan pendidikan pendidikan yang mendasarkan pendiriannya kepada nilai-nilai sosial
205
        Yang pertama mulai dengan mempelajari watak anak, pertumbuhan dan
perkembangannya. Kelompok ini mendasarkan teori-teori pendidikan kepada hasil-hasil
penemuannya mengenai pertumbuhan dan perkembangannya tersebut. Yang kedua
mengembangkan fungsionalisasi ilmu dalam metode dan sistem pengajaran. Ynag ketiga
menentang teori J.J. Rousseau yamg menganjurkan isolasi Emile dari masyarakat. Teori
kelompok terakhir ini menunjang fungsi nasionalisasi sosial dalam mekanisme
pendidikan anak, karena manusia adalah mahluk sosial. 134

     3) John Heinrich Pesstalozzi (1746-1824).
        John Heinrich Pestalozzi (selanjutnya J.H. Pestalozzi) lahir di Zurich, Swiss,
dalam tahun 1746. Ayahnya, seorang dokter meninggal dalam usiasanagt muda, 33 tahun,
ketika J.H. Pestalozzi masih berumur 6 tahun. Ibunya lalu mendidiknyadengan iklim
tersendiri dan terasing sehingga ia tidak mendapat kesempatan begaul dengan anak-anak
lain, kecuali pada waktu berada di sekolah Kehidupan luar tidak dapat dirasakan kecuali
hal-hal yang dengan sengaja diperlihatkan oleh ibunya, misalnya kemiskinan dan
kemelaratan hidup dalam mayarakat desa. Keadaan yang dilihatnya itulah rupanya yang
kemudian menanamkan sesuatu didalam dirinya yang nantinya tumbuh dalam bentuk
pemikirannya mengenai perbaikan sosial.
J.H. Pestalozzi mempelajari theology dan berhasil menyelesaikan studinya di tingkat
Universitas. Tetapi rupa ia tidak berwatak rahib seperti kakeknya melainkan
berpembawaan pemikiran yang banyak terpengaruh oleh tulisan-tulisan Roausseau. Oleh
karna itu ia bersama dosen dan mahasiswa, mengadakan gerakan-gerakan baru di bidang
pemikiran. Diantara masalah-masalah yang dipikirkannya adalah hal-hal yang berkenaan
dengan keadilan sosial , kemerdekaan yang ideal, kesederhanaan hidup dan nilai-nilai
manusiawi yang baik. 206
Kegagalannya beberapa kali dalam kegiatan pembaikan sosial melalui pertania, telah
mendorong untuk mencari jalan lain dengan tujuan serupa, yaitu mendidik anak-anak
desa dengan metode J. J. Rousseau, sebagaimana terdapat dalam buku Emile. Di celah-
celah kegiatannya itu ia kemudian, menemukan metode baru yang diperkirakannya
mungkin diaplikasikan kepada anak-anak dalam jumlah banyak. Di antara isi

       204 Op. cit., hal 301.
       205Op. cit., hal. 301-302.
       206
             Op. cit, hal. 135
                                                                                   112




penemuannya ialah bahwa belajar tidak hanya harus melalui buku-buku. Tetapi anak-
anak dapat dilatih dalam berbagai keterampilan dan pekerjaan ( Propesi) yang
menghasilkan guna memenuhi kebutuhan hidup disamping belajar dengan metode
tradisional . 207
Percobaan Neuhof (1774) dilakukannya dengan membuka desa pertanian baru. Untuk itu
ia mengumpulkan 20 orang anak dari kalangan miskin yang semuanya tinggal
bersamanya di rumahnya. Pendidikan dimulainya dengan mengajar anak laki-laki
bercocok tanam dan merawat kebun. Sedangkan perempuan dididiknya dengan pelajaran
keruhtanggaan , seperti memasak, menjahit dan sebagainya. Jika cuaca buruk anak-anak,
laki-laki dan perempuan diajarnya didalam rumah secara bersama-sama memintal benang
dan menenun. Sebelum membaca dan menulis dikaitkannya dengan kegiatan-kegiatan
praktikum , yaitu bersamaan dengan praktek melaksanakan sesuatu pekerjaan atau
mempermahir sesuatu keterampilan.
J. H. Pestalozzi ternyata sangat berhasil. Anak-anak segera terdorong untuk maju , baik
perkembangan jasmani maupun akan pikiranya. Mereka menjadi amat ligat dan tekun
mempelajari berbagai jenis pekerjaan dan keterampilan dan ternyata mereka mampu
berfikir disaat mereka bekerja. Hal itu telah menyebabkan sekolah pestalozzi menjadi
sangat terkenal. Anak-anak akhirnya berdatangan dalam jumlah banyak sehingga ia tidak
mampu lagi memberi mereka makan, pakaian dan layanan lainnya. Sekolah terpaksa
bubar. 208
Kegagalan tersebut telah memaksa J. H. pestalozzi terjun kedalam kegiatan baru. Ia
mulai menulis didalam Koran yang diterbitkan oleh seorrang temannya. Tulisan-
tulisannya segera menjadi tenar. Di dalam tulisannya itu yang terpenting adalah : The
Evening of a Hermet ( Sebuah renungan subuh ) yang tebit dalam tahun 1781. Di dalam
buku ini ia menggambarkan sebagian besar percobaan-percobaa, berikut hasil-hasilnya
dalam mendidik anak-anak miskin di desa. 209
Sebuah bukunya yang berjudul : Leonard and Gartrune sangat tenar dalam kalangan
mereka yang terdidik dan mereka yang menaruh perhatian terhadap masalah perbaikan
social dan nasib rakyat miskin. Buku ini berisi kisah seorang ibu yang amat tenang dan
tabah di Swiss yang dapat mengembalikan suaminya yang pemabuk ke jalan yang benar
dan berhasil mendidik anaknya yang binal menjadi baik melalui ayat-ayat Injil. Ibu itu
telah berhasil mengajar suami dan anaknya berhitung secara praktis dengan menghitung
benang –benang yang dipintal, lembaran-lembaran kaca di jendela dan pintu, menghitung
jarak dan bentuk benda-benda. Semuanya dilakukannya dengan penuh kasih sayang.
Di Stanz ( percobaan Stanz ) J.H. Pestalozzi mencoba mengasuh dan mengajar 80 anak
yatim. Ia membina metode baru dalam kegiatannya itu. Diantaranya adalah : (1)
mengutamakan belajar lebih kepada pengalaman langsung daripada sekedar verbalis atau
hafalan-hafalan dan sedapat mungkin tidak berpegang kepada buku, (2) menekankan
pendidikan akhlak melalui latihan menahan diri, pengenalan pergaulan yang baik, kasih
sayang dan estetika, (3) menggunakan sebanyak mungkin benda-benda yang dapat
disentuh, diraba, dirasa, khususnya dalam mengajar anak berbagai ilmu, hukum-hukum
alam serta pengungkapan dengan bahasa, (4) menggunakan cerita dan percakapan dalam
mengajarkan ilmu bumi dan (5) menggunakan benda-benda yang dapat diindra dalam
mengajar berhitung.
J.H. Pestalozzi menyelenggarakan upaya tersebut dalam sebuah biara. Pekerjaan itu
ternyata sangat melelahkan. Pemikiran dan praktek pendidikannya yang sama sekali baru
telah membuat masyarakat menjadi tidak partisipatif terhadapnya dan bahkan
       207
             Op. cit, hal. 135 - 136
       208
             Op. cit., hal. 137
       209
             Op. cit., hal. 138
                                                                                        113




mencurigainya. Setengah tahun kemudian, biara itu ditetapkan oleh pemerintah untuk
dijadikan rumah sakit, sehingga sekolahnya terpaksa bubar210. Inti pemikirannya adalah
bahwa pengembangan anak harus diusahakan melalui upaya anak sendiri. Hal ini akan
tercapai apabila materi-materi yang diajarkan memiliki signifikansi riil, artinya
mempunyai makna nyata bagi anak. Ia menegaskan : adalah tidak bijaksana menderitakan
kepada anak hal-hal yang ia terpaksa mengatakannya sebelum ia mengerti apa yang ia
katakana itu211.
Di celah-celah percobaannyaa itu,J.H. Pestalozzi menemukan teori baru. Diantaranya
adalah teorinya yang menyatakan: There is no impression without expression (takkan
ada kesan tanpa perbuatan). Artinya, perkataan tidak akan bermakna tanpa diikuti dengan
praktek212. Ia telah menemukan nilai hakiki dari pekerjaan tangan di sekolah yang tidak
saja mengandung nilai ekonomis melainkan juga yang lebih penting adalah nilai
pendidikan itu sendiri. Ia menemukan juga tentang pentingnya hubungan akrab antara
guru dengan murid. Hubungan akrab tersebut lebih besar makna dan kesannya bagi
pembinaan akhlak mulia daripada pendidikan akal.
         Di Burgdorf (percobaan Burgdorf) J,H.Pestalozzi melakukan percobaan baru
(1799) dengan mengajar sejumlah anak dari kalangan miskin. Disini ia menyusun
metode barunya yang unik, yaitu metode mengajar yang sesuai dengan anak berdasarkan
prinsip-prinsip psikologi. Ia sebenarnya berusaha merealisasikan segala yang ditulisnya
dalam bukunya Leonard dan Gertrude.
         Pada tingkat pertama, menurutnya, alam luar buat anak adalah merupakan
kumpulan dari segala sesuatu yang bercampuraduk. Kemudian melalui perhatian dan
pengamatannya mulailah kumpulan itu terpisah-pisah karena memiliki cirri atau tanda
yang jelas sehingga membentuk unit-unit tertentu yang berbeda antara satu dengan
lainnya213. Ia menjelaskan bahwa pikiran manusia tentang alam didapatnya melalui
instinct (naluri), sebab tidaklah mungkin manusia mengetahui seluruh alam secara
indrawi. Manusia, dengan akalnya, hanya mampu mengindra bagian-bagiannya, lalu
mencoba memahami atau memikirkan bagian-bagian lainnya sampai kepada watak dan
ciri daripada alam yang diamatinya itu.
         Di Yverdum J.H. Pestalozzi (1804) membuka sebuah institut yang karena begitu
tenarnya lalu menjadi kiblat para pendidik di seluruh Eropa dan Amerika. Mereka
berdatangan kesana untuk mendalami dari dekat metode pengajaran Pestalozzi yang
modern. F.W.A. Frobel ikut berkunjung ke sana dan berlatih bersama para pendidik
lainnya supaya dapat mendidik anak-anak dengan metode Pestalozzi. Frobel, kemudian,
termasuk yang paling terkenal dalam bidang pendidikan di Eropa. Tetapi, di swiss sendiri
Institut Pengajaran Pestalozzi tidak mendapat penghargaan, bahkan sebaliknya menerima
kritikan sedemikian tajamnya sehingga terjadilah perselisihan antaranya dengan teman-
temannya. Sebagian besar mereka meninggalkannya sehingga institut inipun terpaksa
ditutup pada tahun 1825214.
         J.H. Pestalozzi segera kembali ke Neuhof dan menetap di sana. Usaha-usahanya
yang terakhir dilanjutkannya dengan menulis berbagai buku, seperti Nyanyian Bebak
(Swana Song), Pengalaman Hidup (Life Experiences). Dalam kedua tulisan itu, ia

       210
            Op. cit., hal. 140
       211
            William Boyd, op. cit., hal. 325
        212
            Fat-hiyah Hasan sulaiman, op. cit., hal. 141
        213
            Loc. Cit.
        214
            Di antara mereka yang cukup partisipatif dalam praktikum J.H Pestalozzi terdapat
seorang pemuda inggris beranama Greaves. Kepadanya Pestalozzi menyerahkan 34 naskah
tulisannya mengenai pendidikan anak. Pemuda ini, kemudian, menerbitkannya di bawah topic :
IBU DAN ANAK.
                                                                                          114




mengkritik dirinya secara terang-terangan dan cukup beralasan. Pada waktu penerbit
buku-bukunya mengirimkan kepadanya sejumlah uang yang cukup besar, ia
menerimanya dengan syarat supaya keuntungan yang menjadi haknya dipergunakan
untuk perbaikan pendidikan anak215.

    4) Friedrich Whelhem August ( 1782-1852 )
Friedrich Whelhem August Frobel (selanjutnya Frobel) lahir di Oberweisbach, sebuah
desa di jerman pada tanggal 21 April 1782216. ibunya meninggal ketika ia masih
menyusu dan ayahnya yang rahib lebih mengutamakan tugas keuskupannya daripada
semua anaknya, termasuk Frobel yang bungsu. Setelah Frobel berumur 4 tahun ayahnya
kawin dengan seorang wanita yang kebetulan telah menyebabkan kehidupan Frobel
menjadi menderita karena ibu tirinya tidak baik kepadanya, disamping ayahnya pun tidak
menghiraukannya oleh karena itu, ia menghabiskan sebagian besar waktunya untuk
berdiam diri dan bermenung didalam kebun dibelakang rumahnya. Hal ini, rupanya, telah
membuatnya menjadi cinta kepada tumbuh-tumbuhan, dan udara bebas217.
        Frobel, karena tidak dapat merasakan kasih sayang dalam rumah tangga, bahkan
menderita, tidk mampu meraih nilai yang baik di sekolah.setelah 6 tahun manderita,
datanglah seorang bibinya mengunjunginya dan karena merasa sedih akan
penderitaannya, segera meminta supaya Frobel diizinkan pergi bersamanya. Dalam
asuhan bibinya itu kesehatannya menjadi lebih baik karena dapat mengikuti senam dan
permainan-permainan di sekolah. Meskipun nilai pelajarannya cukup baik, namun ketika
akan memasuki perguruan tinggi, ia dipaksa oleh ayahnya untuk menjadi pengembala dan
penjaga kebun selama 2 tahun. Hanya adik tirinya mendapat kesempatan untuk
melanjutkan studi.
        Ketika sudah berumur 17 tahun, ia mendapat kesempatan untuk melanjutkan studi
di universitas, tetapi tidak selesai karena ayahnya meninggal. Penderitaannya setelah itu
telah menyebabkannya menjadi terpaksa melakukan berbagai pekerjaan untuk memenuhi
kebutuhan hidupnya. Kemudian ia menemukan dirinya berbakat sebagai guru dan berkat
bantuan saudaranya, ia mendapatkan kesempatan untuk itu. Setelah 2 tahun mengajar ia
melanjutkan lagi studinya di universitas.
        Kemudian Frobel mendapat peluang untuk menjadi tutor bagi 3 orang anak dari
suatu keluarga kaya. Ia lalu meminta supaya ketiga anak tersebut diizinkan belajar
bersamanya di sekolah Pestalozzi di Yverdum selama 2 tahun. Dalam kesempatan inilah
ia dapat mengenal secara langsung metode Pestalozzi. Ia amat menghormatinya, tetapi ia
melihat masih ada kekurangannya. Oleh karena itu ia bermaksud untuk lebih
memperdalam studinya sehingga ia cukup siap untuk menyelenggarakan pendidikan anak
dengan system dan metodenya sendiri. Untuk mencapai maksud itu ia dengan sengaja
pergi belajar ke Universitas Cottingen, tahun 1811, kemudian ke Universitas Berlin,
tahun 1812218.
        Pada tahun 1816 Frobel mendirikan sebuah sekolah di mana dikumpulkannya
beberapa orang anak kerabatnya. Dua orang kenalannya – dalam masa dinas wajib militer
bergabung dengannya dan diangkatnya menjadi guru. Di sekolah inilah ia melakukan
percobaan-percobaan selama 10 tahun. Hasil-hasil percobaannya dituliskannya kedalam
sebuah buku yang diberinya judul: The Education of Man (pendidikan manusia). Buku

        215
             op. cit., 147
        216
             Soegarda Poerbakawatja, Ensiklopedia Pendidikan, Jakarta, Gunung Agung, 1981, hal
124. lihat juga : fat-hiyah Hasan Sulaiman, op. cit., hal 148.
         Buku ini menejlaskan bahwa desa kelahiran pestalozzi adalah Thuringia.
         217
              Loc. Cit.
         218
              Op. cit., hal 147 - 148
                                                                                        115




ini, kemudian, dipandang oleh para pedagang sebagai sebuah pilar dalam perjalanan
sejarah pendidikan.
        Di celah-celah pekerjaannya sebagai guru anak-anak dari segala tingkatan umur ia
memikirkan pula pendidikan anak pada masa-masa sebelum memasuki sekolah secara
formal. Maka pada tahun 1838, ia mulai memformulasikan pemikirannya itu kedalam apa
yang kemudian dinamakannya: Gifts and Occupation (kecakapan dan kesibukan anak-
anak). Pada tahun 1840, ia membuka sekolah yang pertama, khusus untuk anak-anak di
Blankemberg yang ia beri nama Kindergarten (taman kanak-kanak) dan menerima anak-
anak yang berumur sekitar 3-7 tahun. Begitulah ia untuk pertama kalinya merealisasikan
hasil pemikirannya di bidang pendidikan anak secara nyata dan praktis di tengah-tengah
masyarakatnya.
        Dalam tahun yang sama ia telah berhasil membuka 16 buah taman kanak-kanak
pada beberapa kota di jerman. Tetapi , pada tahun 1948, ketika berkobar revolusi social di
negara-negara Eropa, semua sekolah Frobel terpaksa ditutup. Namun, pengikut-
pengikutnya beruasaha menyebarkan metodenya ke Inggris dan Amerika. Charles
Dickens, setelah yakin akan kebaikan metode Frobel, menulis sebuah makalah yang
cukup terkenal, tahun 1855 berkenaan dengan pendidikan anak dengan judul Infant
Gardens219.
        Kegiatan utama anak-anak dalam sekolah Frobel adalah bermain-main. Berbagai
alat permainan disediakan untuk anak sesuai dengan tingkatan umurnya220, seperti alat
untuk menggambar, alat untuk melubang, menggunting, melipat- lipat dan menyambung-
nyambung kertas, alat untuk menjahit secara sederhana dan lain-lainnya yang dapat
menjadi alat belajar anak-anak. Frobel berpendapat bahwa permainan daripada wajah
perjuangan hidup yang akan dihadapinya di masa-masa mendatang. Sebab, manusia,
dalam rangka mempersiapkan dirinya agar mampu menghadapi pergulatan hidup, harus
berusaha menyelidiki dan menemukan berbagai kendala serta belajar mengatasinya.
Belajar untuk ituharus dimulai sejak masa kanak-kanak melalui permainan221. Ia
menegaskan bahwa permainan mempunyai fungsi social, karena akan menolong anak-
anak untuk bergaul dan berinteraksi, belajar kelak akan hak dan kewajiban. Disamping itu
adalah juga amat berguna membina kesehatan, ketahanan fisik dan menyeiramakan gerak
badan dengan irama dan nada musik.

     5) Maria Montessori (1870-1952).
         Maria Montessori (selanjutnya Montessori) lahir di Chiaravalle, dekat Ancona,
Itali, pada tahun 1870. ia lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Roma, tahun 1894.
sebelum tahun 1900 ia bekerja di klinik kesehatan jiwa pada Universitas yang sama
disamping, pada tahun 1904, mengajar mata kuliah paedagogical anthropology. Ia
ternyata berhasil mengajar anak tersebut membaca dan menulis, bahkan lebih dari itu,
dapat mengikuti ujian umum sekolah dasar dan berhasil memperoleh ijazah222.
         Keberhasilan itu telah menyebabkannya menjadi yakin akan berhasil pula
mendidik anak-anak banal melebihi daripada yang diperkirakan secara umum. Untuk itu
ia membuka semacam asrama untuk mengasuh anak-anak pada pagi hari yang ia
namakan Casa de Bambini (asrama anak-anak) disebuah rumah di desa San Lorenzo yang

       219
            Op. cit., hal. 153
       220
            Alat permainan kelompok 1 dipersiapkan untuk anak-anak yang berumur antara 2-8
bulan, kelompok II untuk anak-anak yang berumur 8 – 12 bulan, kelompok III untuk anak-anak
yang berumur 1-3 tahun, kelompok IV untuk anak-anak yang berumur 3-9 atau 10 tahun. Bermain-
main dengan alat-alat itu mendorong anak untuk belajar mendapat pengalaman yang berharga
        221
            Op. cit., 156
        222
            Op. Cit., hal. 159-160
                                                                                              116




berpendudukan miskin di Roma158. Di rumah itulah ia memulai percobaannya mendidik
anak dalam lingkungan yang dengan sengaja dipersiapkan secara paedagogis. Ia
menyediakan sarana-sarana yang secara khusus dibuat untuk mengajar anak beberapa
keterampilan, membekalinya dengan pengetahuan dan membiasakannya dengan sikap
dan tingkah laku tertentu. Sarana-sarana tersebut dirancang dengan sedemikian rupa
sehingga berfungsi mendorong anak untuk belajar dalam rangka mencapai tujuan ilmiah
yang ditetapkan223.
        Pendidikan yang sebenarnya, menurut Montessori, adalah pendidikan diri sendiri.
Oleh karena itu, setiap anak harus mendapat kebebasan untuk mengembangkan segenap
potensi rohani dan jasmaninya dengan sebaik-baiknya160. Tugas guru adalah
mempersiapkan sarana-sarana belajar dan memperkenalkan cara-cara pemakaiannya
kepada anak-anak. Setelah itu guru tidak berperan lagi kecuali sekedar memperbaiki
kesalahan-kesalahan pemakaian tersebut oleh anak-anak. Ia tidak boleh mencampuri,
apalagi membantu, kecuali apabila sangat perlu atau pada waktu mereka sangat
membutuhkannya224.
        Lingkungan belajar yang disiapkan untuk anak-anak hanya merupakan kamar
kerja saja, bukan untuk bermain. Di dalam kamar itulah disiapkan alat-alat belajar dengan
cara yang teratur rapi serta mudah dicapai oleh anak untuk digunakan, misalnya tempat-
tempat duduk, meja-meja kecil dan lain-lainnya yang semuanya, selain disesuaikan
dengan anak juga mudah di pindah-pindahkan. Di samping itu tersedia juga tikar-tikar,
kepingan-kepingan batu ditanah yang dapat menjadi tempat duduk anak-anak.
        Selain menggunakan alat-alat (sarana) belajar itu anak-anak dilatih untuk
melaksanakan kewajiban dalam kewajiban dalam kehidupan sehari–hari. Pelaksanaan
kewajiban itu dipandang merupakan bagian dari lingkungan belajar khusus. Untuk itu,
setiap anak, dalam belajar dan bekerja, diwajibkan bersikap tertib dan tenang pada waktu

        158
              Keberhasilan Montessori dibidang itu telah menyebutkan pemerintah Italia tahun
1922, mengangkatnya menjadi penilik umat atas semua sekolah negeri di seluruh Italia.
         223
              Diantara alat-alat yang dipersiapkan itu ada yang mengandung tujuan membedakan
warna-warna, ada yang untukmembedakan suara, membedakan benda-benda yang dapat diraba,
membedakan berat dan sebagainnya tujuan pertama dari pemakaian alat-alat itu agar anak
menggunakan indra dan menggerak-gerakkan ototnya. Hal itu perlu dalam rangka melatih dan
mempersiapkan anak kerah menggunakan indra dan otot secara tepat guna memperoleh ilmu
pengetahuan.
         160
             op. cit., hal. 161
         224
             Ada 4 kelompok sarana belajar menurut montestessori : kelompok I dirancang khusus
untuk untuk mengajar anak membedakan ukuran, warna, berat dan lain-lain. Kelompok II terdiri
dari kotak-kotak itu diatas kertas kosong dan dengan pensil menggaris kertas itu dengan mengikuti
pinggir kotak tersebut sehingga terjadi bidang kosong. Kemudian bidang kosong itu diisi oleh anak
dengan garis-garis lurus. Pekerjaan ini bertujuan untuk mengarahkan anak kepada menulis dan
sekaligus keterampilan mengunakan pensil.
         Kelompok III terdiri dari huruf-huruf abjad yang terbuat dari kertas keras dan kasar anak
merabanya dengan menyebutkan nama huruf yang dirabanya itu dengan bantuan guru. Dengan
cara itu terbentuklah hubungan antara indra-indra anak, baik antara sesama indra maupun antara
indra dengan huruf tadi. Pekerjaan itu sekaligus membina keterampilan gerak. Semuanya itu bias
tercapai karena anak itu sendiri melihat. Meraba, menggerakkan tangan daan mendengarkan bunyi
huruf.
         Kelompok IV terdiri dari papan-papan bolak-belok pengajran yang berbeda-beda yang
khususnya bertujuan untuk melatih keterampilan tangan. Ada balok yang belubang yang diatur
secara berurut muali dari lubung yang besar sampai kepada lubung yang kecildisampingnya da
bauh-bauhan yang besar sampai kepada bulan yagn kecil. Di sampingny ada buah-buahan yang
harus diisikan oleh anak kedalam lobang-lobang yang sesuai. Adapula balok-balok yang besar dan
kecil yang ahrus disusun oleh anak sedemikiran rupa yang hingga berbentuk seperti rumah
                                                                                                  117




akan duduk atau akan berdiri, pada waktu mengatur kursi di sekeliling meja, pada waktu
membuka dan menutup pintu dan sebagainya. anak–anak bahwa diwajibkan
membersihkan meja dan kursi, mencuci wadah–wadah (piring – mangkuk) sekolah
sampai bersih, berhati–hati membawa barang–barang yang mudah pecah, merapihkan
meja makan dan mengatur makanan dengan baik sampai terlihat teratur, berpakaian
bersih dan rapi sampai memperlihatkan penampilan yang menarik.225.
Anak, dalam umur 3–6 tahun, menurut Montessori, tidak boleh dibiarkan tanpa
pengendalian. Massa itu harus dimanfaatkan seoptimal mungkin bagi kegiatan pendidikan
dengan metode yang baik dan akuran disertai dengan binaa lingkungan. Lingkungan
lainnya juga harus dibina sedemikian rupa sehingga dapat menunjang bagi
pengembangan kearah positif segala potensi yang dimiliki anak. Perkembangan dan
pertumbuhan tidak boleh diperlambat atau dipercepat, tetapi harus ditunggu sampai
dengan,tetapi harus ditunggu sampai dengan saat masing–masingnya matang secara
alami. Pendidikan yang baik adalah yang bersifat membantu dan pertumbuhan dan
perkembangan potensi itu, baik fisik mapun jiwanya226.
Metode sekolah Montessori memberi kebebasan sepenuhnya kepada anak–anak, asalkan
senantiasa dalam iklim tertib, tenang dan rapi. Anak secara individu, bebas melakukan
pekerjaan yang disukai dan dipelihara sendiri dan bebas menggunakan alat–alat
pendidikan yang telah dengan sengaja dirancang dan disediakan. Dalam metode itu tidak
dikenal batas waktu. Anak–anak bebas bekerja sepanjang ia bisa, asalkan tetap berada
dalam lingkungan belajar–mengajar khusus dan selama mereka tetap menggunakan alat–
alat pendidikan yang tersedia disamping harus mengetahui tatatertib kelompok dan nilai–
nilai moral. Oleh karena itu, setiap anak harus dihukum jika melakukan melakukan salah
atau berkelakuan tidak senonoh.
Sekolah harus memperhatikan segala kegiatan dan tingkah laku anak dengan maksud
mengarahkan kepada hal–hal yang lebih positif. Sebab, sekolah yang dibiasakan iklim
tenang, tertib dan rapi, menurut montessory pasti memberi kesempatan kepada anak
untuk menyelesaikan pekerjaan dengan baik ketenangan dan keterampilan tersebut
berkait amat erat dengan kemampuan para guru dalam menggunakan metode atau teknik–
teknik yang baik. Maka guru, oleh karenanya, haruslah memiliki keterampilan membuat
sesuatu yang menarik, misalnya pekerjaan tangan, menggambar, bernyanyi, berceritera
dan sebagainya. lebih lagi dari itu ialah bahwa guru di sekolah Montessori harus mengerti
landasan filosofisnya,yaitu : manusia mengajar dirinya (autoedukatif). Landasan tersebut
mengandung makan agar anak–anak dapat membetulkan sendiri kesalahannya227.
Terkemuka pendidikan itu mempunyai kelebihan dan kekurangan atau kelemahan.
Kekurangan yang menonjol dilihat dari segi masalah inti yang menjadi pembahasan
pokok dalam diseratasi ini adalah bahwa teori–teori mereka tidak menjawab persoalan
yang dihadapkan kepadanya. Kelima tokoh itu, dan setelah dipelajari ternyata demikian
juga halnya dengan pendidikan tokoh barat alinnya, termasuk tokoh–tokoh abad 18, 19
dan 20, seperti decroly, H. Parkhurst (di India) Rabind dranath Tagore‘di Indonesia Ki

        225
              Op. Cit., hal. 163
        226
              Op. Cit., hal. 46. terlihat adanya beberapa persamaan antara teori Ki Hajar Dewantara
(1889-1995) dalam hal itu, teori Ki Hajar Dewantara mengakui hak anak atas kemerdekaannya
untuk tumbuh dan berkembang sesuai dengan bakat dan pembawaannya. Karena itu sistemnya
adalah Tutwuri Andayani artinya megikuti anak dari belakang sambil membimbing. Anak aktif
dan pendidik berfungsi sebagai orang yang mengarahkan dan melayani.
          Lihat Sorgarda poerbakwatja, ensiklopedi pendidikan, Jakarta, Gunung Agung, 1981,hal.
73 1981., hal. 37
          227
              Loc.cit. l;ihat juga fat-hiyah Hasan Sultan man, op. cit., hal. 164-167; Ag. Soejono, I,
op.cit., hal 78-79; Y.B Suparlan, Op. cit., hal. 86-87
                                                                                 118




Hajar Dewantara dan Moh. Syafi‘i) tidak menjawab pertanyaan tentang : kapan dimulai
(persiapan) mendidik anak, bagiaman metode mendidik anak bagian metode mendidikan
anak di dalam kandungan, apa metode dan mata pelajaran yang harus disajikan kepada
anak sgerah hadir. Bagaimana mendidik anak didalam kandungan, apa metode an mata
pelajaran yagn harud di dalam kandungan, apa metode dan mata pelajaran yang harus
disajikan kepada anak segera setelah lahir. Disamping ungkapan lahir, mereka yang
memikirkan pendidikan anak dari masa paling awal ) ketika anak sudah berumur 3 tahun.


Orang tua sebagai pendidik Anak
Pendidik pertama dan utama bagi anak adalah orang tuanya, sebab dalam rumah
tanggalah setiap anak belajar banyak hal-hal penting mengenai kehidupan kelak.
Pestalozzi (1746-1872), menjelaskan bahwa rumah tangga, karena merupakan pusat kasih
sayang dan saling membantu antara sesama anggotanya, telah menjadi lemabag teramat
penting sebagai pendidikan anak. Oleh karena itu maka orang tua adalah paling
bertanggung jawab terhadap penmdidikan anaknya. Apalagi sejak dilihat sejak masa
anaknya dalam kandungan merekalah yang paling setia—terutama ibu—menjaga,
merawat dan mengasuh.

C Kewajiban orang tua mendidik Anak
        Uraian di atas telah memperlihatkan secara umum kewajiban orang tua mendidik
anak. Dilihat dari kecamata agama ternyata bahwa islam telah menggariskan konsep-
konsep yang jelas mengenai pendidikan anak. Pada tingkat pertama, islam menjelaskan
bahwa yang paling sayang dan cinta kepada anak adalah oarang tuannya, yang
dimaksudkan dengan orang tua disini adalah ayah dan ibu kandung anak yang dididik.
Memang, didalam realitas empirik memang terlihat bahwa karena kasih sayang dan cinta
itu maka orang Tua bersedia berkorban sampai ketingkat optimal untuk memenuhi
kebutuhan anak-anaknya.
        Hal itu telah terbukti kebenarannya dalam realita kehidupan manusia kecuali
dalam kalangan orang tua yang mempunyai kelainan jiwa.
        Al-qur‘an menggambarkan kasih sayang orang tua kepada anak dengan berbagai
cara, antara lain :
        Allah SWT menjelaskan :

        
              
        
    
                            

       Artinya : harta dan anak-anak adalah hiasan hidup di Dunia.
       (Q.S. Al-Kahf : 46)
       Tanpa anak rumah tangga tidak kelihatan indah karena tidak ada kembang yang
menghiasinya. Tawa dan tangis anak menyebabkan rumah tangga menjadi semakin
semarak dan ramai. Kencing dan beraknya menyebabkan menjadi ibunya repot, tetapi
hatinya senang. Sakitanya menjadi orang tuanya susah dan segera berupaya
mengobatinya. Semua itu tidak membuatnya benci, sebalinya malah menambah kasih dan
sayangnya.
       Allah menjelaskan pula :
                                                                                                119




           
  
       
                           

       Artinya : dan kami membantumu dengan harta kekayaan dan anak-anak dan kami
menjadikanmu kelompok yang besar. (Q.S. Al-isra‘ : 6.)

tanpa anak, orang tua belum merasa mendapat bantuan Tuhan yang memuaskan hatinya.
Mereka, meskipun kaya, akan merasakan sebagai masih kurang, bahkan resah, jika belum
beroleh anak. Sebaliknya, mereka yang miskin bisa saja terlihat gembira di ten g ah
penderitaanya, karena sudah mempunyai anak.
       Melalui hadaits-haditsnya, Nabi SAW., menegaskan :228



Abu Hurairah RA. Berkata : Nabi SAW. Didatangi seorang laki-laki sambil memeluk
anak. Nabi Saw. Berkata : ―apakah anda sayang kepadanya ?‖ laki-laki itu menjawab
―Ya‖, Nabi berkata : ―sayang Allah kepadamu melebihi sayangmu kepadanya‖. Allah
lebih menyayangi daripada segalanya yang penyayang.    (H.R. Al-Bukhari.)

       Nabi SAW, jiak mengetahu ada sahabatnya yang tidak sayang kepada anak,
segera menegurnya :229



`Aisyah RA. Berkata : Seorang Arab dusun datang kepada Rasul SAW, dan berkat :
‗apakah anda mencium anak ? kami tidak pernah menciumnya‘ Rasul SAW berkata :
‗apakah yang dapat kukatakan jika Allah SWT, telah mencopot rasa kasih sayang dari
dalam hatimu‘. (H.R. Al-Bukhari)



Dalam hadits berikut terdapat penjelasan yang lebih gamblang230
Abu Hurairah RA. Berkata : Rasul SAW, mencium Hasan bin Ali, sedang didekatnya
duduk Al-aqra‘ bin Habis Al-tamimi. (melihat hal itu) habis berkata : ‗saya mempunyai
sepuluh orang anak, satupun tidak ada yang saya cium‘. Rasul SAW, berkata : ―orang
yang tiak menyayangi (Makhluk) tidak disayangi (Khalik)‖. (H.R. Al-Bukhari).
        Ayat dan hadits tersebut menjelaskan bahwa orang tualah yang sebenarnya paling
sayang kepada dan, karenanya, paling bersungguh-sungguh berusaha untuk
menyelamatkan dan menyejahterakan anaknya. Untuk itu mereka harus memenuhi
kebutuhan jasmani dan rohani anak itu, terutama kebutuhannya akan pendidikan.
        Mengenai kewajiban orang tua mendidik anak terdapat ajaran islam yang cukup
tegas. Allah SWT, berfirman


        228
             . lihat „Abdullah „Ulwan, tarbiyatul Awlad fil islam, I, Mesir, darulaslam, 1401 H/1981
M, hal. 53. ibid Dalam hadits terdapat penjelasan yang lebih gambling : 14
         229
             Loc.Cit
         230
              Loc.Cit
                                                                                  120




   
              
  
    
                  
              


   Hai orang-orang yang beriman, perihalalah dirimu dan keluargamu dari (siksaan)
   neraka.
   Q.S. Al Tahriim: 6.

Perintah memelihara diri di dalam ayat itu mencakup pemeliharaan iman, peningkatan
amal shaleh dan akhlak mulia, sebab dengannya seseorang akan terhindar dari ancaman
siksaan neraka (dunia dan akherat). Tetapi pemeliharaan dan peningkatan tersebut tidak
mungkin tercapai kecuali dengan pembinaan bersungguh-sungguh tercapai kecuali
dengan pembinaan bersungguh-sungguh melalui upaya pendidikan. Penegasan ini
ditunjang oleh beberapa hadits Nabi Saw sebagai berikut:231

   Mendidik anak adalah lebih baik daripada bersedekah secupak (beras).
   H.R. Al Tarmidzi.

   Tidak ada pemberian orang tua kepada anaknya lebih utama daripada pendidikan
   yang baik.
   H.R. Al Tarmidzi.

Dalam hadits-hadits berikut terlihat Nabi Saw dengan tegas memerintahkan mendidik
anak.
Nabi Saw bersabda:232

   Ajarkanlah anak-anak kamu kebajikan dan didiklah mereka.
   H.R. ‗Abdu Al Razzaq dan Sa‘id ibn Manshur.

Nabi Saw bersabda:233

Didiklah anak-anakmu dan sempurnakanlah pendidikan mereka.
H.R. Ibnu Maajah.

Nabi Saw bersabda:234

   Suruhlah anak-anakmu mengikuti segala perintah dan menjauhi segala larangan
   (Allah). Hal itu akan menghindarkan mereka dari (siksaan) neraka.
H.R. Ibnu Jariir.

Hadits-hadits tersebut menjelaskan bahwa orang tua wajib dan bahkan bertanggungjawab
secara formal atas pendidikan anaknya.

       231
           ‗Abdullaah ‗Ulwaan, I, Op. cit., hal 150.
       232
           Ibid.
       233
           Ibid., hal. 143.
       234
           Ibid
                                                                                              121




D. Syarat-syarat orang tua sebagai pendidik
Setiap orang tua, jika ingin mencapai hasil optimal dalam upayanya mendidik anaknya,
haruslah menampilkan kepribadian mulai di tengah anak-anaknya. Sebab, seorang yang
jahat tidak dapat memberi (kepada orang lain) kecuali kejahatan. Kebaikan yang
diberikannya, jika ada, baik kepada isteri dan anak-anaknya maupun kepada orang lain,
sifatnya semu atau sementara.
Salah satu dari sebab-sebab keberhasilan Nabi Muhammad Saw dalam upayanya
mendidik umatnya, seperti tercatat dalam sejarah, adalah kemampuannya menempatkan
dirinya menjadi teladan utama,235 dan akhlaknya yang sangat mulia,236 di tengah-tengah
mereka. Kepribadian yang sama (atau mendekati sama) seperti itulah yang sesungguhnya
dituntut dari setiap orang tua yang mendidik anaknya. Orang tua yang muslim tentu
bercita-cita agar semua anaknya menjadi muslim sejati yang berakidah, berfikir, bersikap,
bergaul dan berbuat sesuai dengan ajaran Islam. Tetapi cita-citanya itu mustahil akan
tercapai jika persyaratan-persyaratan sebagai pendidik yang baik tidak tercermin dalam
tingkah laku dan amal perbuatannya.
Meskipun diakui, berdasarkan hasil penelitian empirik psikologis, bahwa anak
mempunyai watak dan ciri-ciri pembawaan yang sampai dengan batas-batas tertentu tidak
bisa dikuasai atau diubah, namun ditemukan pula bahwa orang tua mempunyai
kesempatan cukup luas untuk membimbing anaknya ke arah yang lebih baik.22 Teori yang
mengatakan bahwa hubungan interpersonal antara orang tua dengan anak tidak dapat
dipahami kecuali sekedar yang satu sebagai sebab dan yang lain sebagai akibat, telah
ditinggalkan karena hsil penelitian akhir memperlihatkan lain.237
Peranan orang tua cukup besar dan, dalam banyak hal, menentukan terhadap anak-
anaknya. Shirly menjelaskan bahwa sikap dan kepribadian ibu amat menentukan bagi
caranya merawat, bahkan dalam sikapnya memberi makanan dan memakaikan pakaian
anaknya. Bahrens mengambil kesimpulan bahwa pertumbuhan anak lebih banyak
dipengaruhi oleh struktur karakter ibu daripada cara-cara tertentu yang dengan sengaja
dilakukannya dalam merawat dan membesarkan anaknya. Tetapi telah diakui pula bahwa
bukan kepribadian ibu saja yang berpengaruh secara dominan melainkan juga, sama
dengan itu, kepribadian bapak.238
Di Amerika, misalnya, meskipun corak dan style kehidupan keluarga sudah berubah
begitu radikal dalam decade-dekade akhir ini, namun keluarga tetap merupakan bagian
terpenting dari jaringan social (social network) anak. Hal ini disebabkan terutama oleh
karena keluarga telah membentuk lingkungan anak sejak awal sekali dan anggota-
anggotanya adalah yang paling signifikan sejak masa-masa pertama dari tahap-tahap
pembentukan.239 Melalui kontak dengan anggota-anggota keluarga anak menemukan
dasar-dasar dari pola sikapnya menghadapi orang-orang, benda-benda dan kehidupan
pada umumnya. Ia juga menemukan pola-pola dasar penyesuaian serta belajar memahami
dirinya sebagaimana anggota-anggota keluarga memahami dan memikirkannya.



        235
             Q.S. Al Ahzaab: 21.
        236
             Q.S. Al Qalam: 4.
         22
             Arthur T. Jersild, dkk., Child Psychology, Seventh Edition, New Jersey, Prentic Hall,
Inc., 1975, hal. 206.
         237
             Loc. cit.
         238
             Loc. cit.
         239
              Elizabeth B. Harlock, Child Development, Sixth Edition, New York St Luis San
Fransisco Euckland Bogoto Dusseldort Johanneshurg London, Mc Grow Hill Company, 1978, hal.
494-495.
                                                                                                      122




Akibatnya adalah bahwa anak menyesuaikan diri untuk dan atas dasar pola yang tersedia
(laid) ketika lingkungan, untuk bagian terbesar, masih dibatasi oleh rumah tangga.240
Setelah lingkungan sosialnya menjadi lebih luas, di masa ia telah bergaul dengan teman
sepermainannya dan orang-orang dewasa di luar rumah tangga, pola tadi bisa berubah
atau bertukar. Meskipun tidak secara menyeluruh. Penelitian empirik psikologis
memperlihatkan bahwa meskipun lingkungan pergaulan sangat mempengaruhi anak,
namun pola tingkah laku yang diketemukannya di dalam rumah tangga tetap berdiri
sebagai pola-pola yang mendasari segala sikap dan kepribadiannya.
Dari kedua orang tua, diakui, ibulah yang paling besar pengaruhnya kepada anak. Hal itu
disebabkan oleh kenyataan bahwa dialah yang paling akrab serta yang paling sering
berhubungan dengan anak, terutama pada masa-masa ia menyusukannya. Penelitian telah
banyak dilakukan dalam rangka menemukan jawaban atas pertanyaan tentang sejauh
mana pengaruh tingkah laku dan sikap ibu terhadap anak dalam periode-periode
perkembangannya.241
Jauh sebelum penelitian-penelitian itu dilakukan, Islam telah menjelaskan dengan
gamblang tentang peranan dan pengaruh ibu terhadap anak, seperti terlihat dalam hadits-
hadits berikut ini:242

       Isteri (artinya ibu) bertanggungjawab dalam rumah suaminya dan akan dimintai
       pertanggungjawabannya (dalam hal itu).
    H.R. Al-Bukhari dan Muslim.

Dalam hadits lainnya Nabi Saw menjelaskan:243

    Surga berada di bawah telapak kaki ibu-ibu.
    H.R. Al Khatib dari Anas.

Hadits itu mengandung maksud bahwa ibu paling besar peranannya, malah menentukan,
dalam membawa anak ke syurga. Mafhum (pengertian) sebaliknya adalah bahwa ibu
jugalah yang paling berperan membawa anak ke neraka, baik di dunia maupun di akherat.
Pendidikan paling awal berjalan dalam bentuk mengandung, melahirkan, mengasuh,
merawat dan memelihara yang semuanya tak terpisahkan dari kegiatan pendidikan dalam
artinya yang luas. Hal itu tidak mungkin diselenggarakan secara baik dan penuh kasih
kecuali oleh ibu. Kenyataan itu memperlihatkan betapa besarnya peranan dan pengaruh
ibu terhadap pendidikan anaknya.244
Mengenai besarnya pengaruh kedua orang tua terhadap anak, terdapat sabda Nabi Saw
yang berbunyi:245

    Semua anak lahir dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanyalah yang membuat
    menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi.
    H.R. Al Bukhaarii dan Muslim

         240
             Loc. cit.
         241
             Robert I. Watson & Henry Clay Lindgren, psychology of The Child, Third Edition,
Tokyo, Japan, John Willey Inc., New york London Sydney Toronto, Toppan Company, Ltd., 1973,
hal. 187.
         242
             Lihat ‗Abdullaah ‗Ulwaan, I, Op.cit., hal. 141.
         243
             Al Sayuuthii, Al Jaami‘ al Shaghiir fi ahaadiits al Basyiir al Nadzir , I, tk., tt., hal. 145.
         244
             Ahmad Muhammad Jamaal, Nahwa Tarbiyah Islaamiy-Jiddah, Tihamah, 1400 H/1980
M., hal. 33.
         245
             Loc. cit.
                                                                                      123




Orang tua, biasanya, mendambakan dan karenanya berupaya agar anak-anaknya lebih
meningkat di segi kehidupan dari dirinya. Tetapi, sebagaimana telah disinggung dalam
pembahasan yang lalu dambaan itu tidak mungkin akan tercapai jika orang tua sendiri
tidak memenuhi persyaratan-persyaratan kepribadian yang perlu. Di antara persyaratan
itu adalah:
            1. Bertakwa kepada Allah
Dalam usahanya mendidik anak, setiap orang tua harus berkepribadian muttaqin,
bertaqwa kepada Allah Swt agar diteladani oleh anak-anaknya. Yang dimaksud dengan
takwa, sebagaimana ditafsirkan oleh para ulama adalah:246

        Bahwa Allah tidak melihat anda melakukan segala yang dia larang, dan bahwa
        anda tidak meninggalkan segala yang Dia perintah.

Sebagian ulama menjelaskan bahwa taqwa adalah memelihara diri dari azab Allah (di
dunia dan di akherat) dengan beramal shaleh (yang baik, layak, patut) dan takut kepada-
Nya, baik dalam keadaan tersembunyi maupun dalam situasi terbuka.247
Di dalam Al-Qur‘an terdapat penjelasan bahwa manusia yang terkategori muttaqin adalah
mereka (1) beriman kepada yang ghaib (Allah dan yang ghaib lainnya) dan (2) beramal
shaleh, yakni menirikan shalat dan suka menolong, seperti terlihat dalam firman-Nya:248
       
   
  
             

    Kitab (Al-Qur‘an) itu, tidak (terdapat) keraguan di dalamnya; petunjuk bagi mereka
    yang bertakwa. (Yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan
    shalat dan yang menyedekahkan sebagaian rizki yang Kami berikan kepada
    mereka.Q.S. Al Baqarah: 2-3.

Dari pengertian-pengertian yang terkandung dalam banyak ayat-ayat Al-Qur‘an dapat
dipahami bahwa yang dimaksud dengan takwa adalah memelihara dan menyelamatkan
diri dengan cara mematuhi dan mengamalkan segala perintah Allah dan menjauhi segala
larangan-Nya. Dalam kaitannya dengan upaya pendidikan anak, maka orang tua harus
terlebih dahulu berusaha mendidik dirinya agar senantiasa bertakwa kepada Allah. Hasil
pertama yang akan diperolehnya dari sifat ketaqwaannya itu adalah bahwa ia akan
menjadi orang tua yang berwibawa, yakni memiliki kekuatan dan kekuasaan moral yang
amat tinggi di depan anak-anaknya, suatu kekuatan dan kekuasaan yang tidak akan dapat
dimiliki oleh orang tua yang berlumur maksiat.

            2. Ikhlas
Orang tua, dalam upayanya mendidik anaknya, harus berniat dan berbuat dengan ikhlas.
Yang dimaksud dengan ikhlas adalah bahwa segala amal dan upaya, termasuk mendidik
anak, dilakukan dengan niat semata-mata lillahi ta‘ala (karena Allah saja) dan taqarub
(mendekatkan diri) kepada-Nya, tidak dengan niat mendapatkan sesuatu pamrih atau

       246
            Lihat ‗Abdullaah ‗Ulwaan, II, Op. cit., hal. 782.
       247
            Loc. cit.
        248
             Yang dimaksud dengan yang ghaib dalam ayat di atas adalah sesuatu yang secara
agamawi harus diyakini adanya, meskipun tidak tertangkap oleh pancaindera, seperti Allah,
malaikat, jin, hari akherat, hisab, syurga, neraka dan sebagainya.
                                                                                     124




balas jasa.249 Seorang yang ikhlas dalam melakukan sesuatu perbuatan hanya
mengharapkan keridhaan Allah dan hasil-hasil positif untuk kepentingan duniawi dan
ukhrawi, baik bagi dirinya maupun keluarganya serta masyarakat pada umumnya.
Di dalam Al-qur‘an terdapat banyak ayat yang menganjurkan keikhlasan dalam beramal,
antara lain:
   
                                           
  
   
                               

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan
ketaatan kepada-Nya ..Q.S. Al Bayyinah: 5.



Dalam ayat lain terdapat penjelasan bahwa mereka yang ikhlas tidak tertipu oleh syetan:
            
     
                      


Iblis menjawab : demi kekuasaan-Mu, aku akan menyesatkan mereka semua, kecuali
hamba-hamba-Mu yang ikhlas di antara mereka. Q.S. Shaad: 82-83.

Di antara orang tua memang ada yang tidak ikhlas mendidik anaknya. Misalnya, orang
tua yang dengan amat bersungguh-sungguh membiayai pendidikan anaknya sampai
dengan selesai perguruan tinggi dengan tujuan supaya anaknya megah, kaya, senang
hidup, berpangkat, berjabatan tinngi dan sebagainya. Ada pula orang tua yang ingin
supaya ikut ketiban megah karena anaknya sudah sekolah, terutama apabila sudah
berhasil menggondol gelar kesarjanaan di perguruan tinggi. Dan tentu banyak lagi tujuan-
tujuan keduniaan lainnya.
Pekerjaan mendidik anak dengan pamrih profan semacam itu tidak dapat di masukkan ke
dalam kategori ikhlas, sebab niat dan tujuannya masih terikat amat erat dengan keinginan
atau hawa nafsu duniawi saja. Sedangkan Islam memandang setiap amalan yang
dilakukan tanpa keikhlasan tidak ridhoi oleh Allah Swt dan, oleh karenanya, tidak
berpahala, kecuali sekedar ‗pahala‘ duniawi. Allah Swt berfirman:



… dan barangsiapa menghendaki pahala dunia maka akan Kami beri sebagian dari
pada pahala dunia itu, tetapi di akhirat ia tidak mendapat bagian (pahala lagi).Q.S.
Al Syuraa: 20.

Keikhlasan dan kebersihan niat seseorang muslim dalam berbuat biasanya akan tercermin
di wajahnya terpantul di dalam tingkah laku dan perbuatannya. Sama halnya dengan itu
adalah orang tua yang ikhlas di tengah-tengah keluarga dan anak-anaknya, lebih-lebih
apabila ia dengan penuh kesadaran berusaha mendidik mereka. Studi empirik

       249
             Al Ghazaali, IV, Op. cit., hal. 367-368.
                                                                                     125




memperlihatkan bahwa anak, meskipun tidak mungkin mengungkapkan dengan terang,
sangat peka terhadap sikap dan perilaku orang tuanya atas dirinya. Melalui rasa peka itu
anak membina pola-pola dasar tingkah laku kepribadiannya. 250
Keikhlasan berbuat sangat diperlukan dalam rangka memelihara stabilitas mental dan
menghindari kejengkelan dan keputusasaan. Orang yang tidak ikhlas dalam usahanya,
termasuk usaha mendidik anak, biasanya segera jengkel atau marah dan bahkan mungkin
sekali putus asa jika usahanya gagal atau tidak mendatangkan hasil yang memuaskannya.
Demikian juga orang tua yang tidak ikhlas dalam mendidik anaknya akan segera jengkel,
mengutuk atau menyesali dan bahkan mungkin sekali mengeluarkannya dari sekolah, jika
anaknya itu mundur apalagi gagal mencapai keinginan yang didambakannya. Atau
sebaliknya, ia berusaha menyogok guru agar nilai anaknya dikatrol, kelasnya dinaikkan
dan sebagainya

3. Berakhlak mulia
Orang tua, karena senantiasa menjadi model yang akan ditiru oleh anaknya, haruslah
selalu berakhlak mulia. Yang dimaksud dengan akhlak mulia adalah kelakuan atau
tingkah laku yang sepenuhya berpola kepada akhlak Rasul Allah Saw. Penegasan ini
perlu, karena jika diserahkan kepada manusia, betapapun bobot ilmunya, guna memikir
dan merumuskan apa yang dimaksudkan dengan akhlak mulia maka jawaban yang
muncul pasti berbeda dan malah mungkin sekali bertentangan, sehingga rumusan dari
seorang atau sekelompok ilmuwan akan dikritik atau ditolak oleh seorang atau
sekelompok ilmuwan lainnya.
Apabila konsep ‗mulia‘ -- untuk sekedar gambaran saja -- diberi makna berdasarkan
social-budaya atau adat istiadat yang dianut oleh kelompok-kelompok social manusia di
berbagai penjuru dunia akan ditemukan nanti bahwa kadar kandungan yang dicakupnya
dan persyaratan yang dituntutnya berbeda. Sama dengan itu adalah konsep ‗baik‘ dalam
kaitannya dengan konsep ‗akhlak‘. Dalam adat-istiadat biasanya dianut sebagai standar
nilai bagi konsep ‗baik‘ adalah suatu bentuk tingkah laku yang telah berlaku umum dan
tetap dalam kelompok yang bersangkutan walaupun belum tentu berlaku umum dan tetap
dalam kelompok lainnya lainnya.251 Oleh karena itu, suatu bentuk tingkah laku yang telah
berlaku umum dan tetap sehingga terkategori baik dalam masyarakat Minang, misalnya,
belum tentu baik dalam pandangan masyarakat Jawa, karena yang berlaku umum dan
tetap pada kedua kelompok social itu berbeda.
Untuk umat Islam dan masyrakat muslim makna dari konsep ‗baik‘ itu cukup jelas. Bagi
mereka, yang sesungguhnya baik adalah yang baik menurut ajaran Allah dan Rasul-Nya,
yang oleh Ibnu Maskawaih di istilahkan dengan al khairu al muthlaq (kebaikan
mutlak).252 Oleh karena itu, contoh akhlak yang sebenarnya baik bagi umat Islam terdapat
pada pribadi, kelakuan, perkataan dan perbuatan Rasul Allah Saw. Allah SWT
menegaskan hal itu dengan firmanNya:

Sesungguhnya pada (kepribadian) Rasul Allah itu (terdapat) teladan yang baik bagi kamu.
Q.S. Al Ahzaab: 21.

Islam memerintahkan umat penganutnya untuk senantiasa berakhlak baik dan mulia.
Perintah tersebut mendapat penegasan melalui sebuah hadits yang berbunyi: 253

       250
            Robert I. Watson, dkk., Op. cit., hal. 195.
       251
            Muhammad ‗Abdu Al Rahmaan, Al Aqidah wa Al Akhlaq wa Atsruhaa fi Hayati Al
Fardi wa Al Mujtama‘, Mesir, Al Maktabah Al Anglo Al Mishriyyah, 1393 H/1973 M, hal. 237.
        252
            Ibid., hal. 255.
        253
            Al Ghazaali, II, Op. cit., hal. 155.
                                                                                             126




Sesungguhnya aku diutus (Allah) adalah untuk menyempurnakan akhlak mulia.
H.R. Ahmad, Al Baihaqi dan Al Hakiim.

 Setiap orang tua, dalam upayanya mendidik anak, tentulah bertujuan agar anaknya itu
berakhlak mulia dan berbudi luhur. Tetapi tujuan itu mustahil akan tercapai jika mereka
sendiri berkelakuan jahat. Orang tua yang berakhlak sebagai pencuri tidak mungkin
berhasil mendidik anaknya kecuali untuk menjadi pencuri atau malah lebih, misalnya
menjadi perampok atau pembunuh.
Di antara akhlak mulia yang harus dimiliki oleh orang tua, kecuali yang abnormal, yang
tidak kasih sayang kepada anaknya. Masalahnya sebenarnya terletak pada pertanyaan:
bagaimana caranya memberikan kasih sayang itu sehingga anak benar-benar merasakan
bahwa ia disayangi.254 Di sinilah letak masalahnya, yaitu bahwa orang tua, di satu pihak,
telah merasa bahwa ia telah menumpahkan kasih sayangnya kepada anaknya, tetapi anak,
sebaliknya, kadang-kadang sama sekali tidak merasakan adanya kasih sayang itu, bahkan
mungkin merasakan sebagai dibenci atau tidak diperhatikan oleh orang tuanya. Hal ini
disebabkan oleh, antara lain, perbedaan penafsiran mengenai konsep kasih sayang kepada
anak tersebut. Nilai-nilai social, tata budaya atau adat-istiadat yang dianut telah dengan
kuat memberikan pengaruhnya dalam hal memberi makna terhadap konsep yang
dimaksud, sehingga sering terdapat perbedaan pengertian yang cukup berarti.
Masyarakat Gayo, Aceh Tengah, misalnya, menganut suatu nilai tradisional yang
mengejawantah dalam tingkah laku social, khususnya dalam hubungan interaksi yang
ditafsirkan sebagai sangat positif, antara orang tua dan anak. Sayang kepada anak, di
sana, dinyatakan dalam bentuk: tidak bercakap-cakap dengan anak kecuali pada saat
sangat perlu dan itupun sejauh mungkin hendaknya dilakukan secara tidak terlalu
langsung; berbicara harus dengan suara dan nada selembut dan serendah mungkin dengan
hampir-hampir tidak kedengaran; duduk tidak boleh berdekatan apabila berdampingan;
berjalan tidak boleh bersama-sama secara berdekatan apabila bergandengan; ketika
berpapasan di jalan tidak boleh bertegoran secara langsung tetapi masing-masing
menundukkan kepala dan tidak saling memandang; bekerja di sawah atau di kebun tidak
boleh dalam satu petak tetapi harus berjauhan … dan banyak lagi.255 Demikianlah nilai
yang dianut dan, karenanya, lalu mempengaruhi sikap orang tua dalam cara memberikan
kasih sayang kepada anaknya.
Di dalam masyarakat kota lain pula halnya. Di antara orang tua di kota ada yang
menumpahkan kasih sayang dengan cara memenuhi segala yang diinginkan anaknya,
misalnya dengan memberikan uang lebih dari cukup, dengan membelikan mobil khusus,
membuatkan rumah tersendiri dan sebagaianya. Masalah yang muncul adalah: apakah
penampilan yang diberikan kasih sayang semacam yang pertama atau yang kedua, atau
bentuk-bentuk lainnya, telah mampu membuat anak merasakan bahwa ia disayangi oleh
orang tuanya?
Beberapa contoh kasus dibawa ini memperlihatkan bahwa anak merasakan tidak
disayangi, meskipun orang tuanya merasakan sangat sayang kepadanya:



        254
             Muhammad ‗Athiyyah al Abrasyi, Ruuh al Tarbiyah wa al Ta‘liim, Mesir, Daar Ihyaa‘
al Kutub al ‗Arabi 1950 M/1369 H., hal. 122.
         255
             Hasil penelitian pendidikan anak dalam rumah tangga di Aceh Tengah. Penulis sendiri,
yang dilahirkan di sana, mengalami betapa sulitnya berinteraksi dengan orang tua. Tetapi karena
orang tua penulis adalah ulama maka dalam hal-hal yang berkaitan dengan interaksi ilmiah
terdapat sedikit kebebasan, meskipun bukan keintiman dan keakraban hati.
                                                                                        127




   Keluarga MS yang berdomisili di bilangan Blok C Kebayoran Baru, Jakarta, terhitung
   amat kaya. Rumah mereka sangat besar dan indah dikelilingi pagar tinggi dengan
   ukiran yang indah pula. Mereka mempunyai 3 orang anak, 2 orang putera dan seorang
   puteri. Kedua puteranya bersekolah di SMA yang berlainan, sedang puterinya masih
   duduk di bangku SMP.
   Kasih sayang kepada putera-puterinya telah menyebabkan terdorong untuk
   membelikan masing-masing mereka sebuah mobil. Fasilitas ini telah membuka
   kesempatan kepada kedua puteranya untuk sering keluar rumah, siang atau malam,
   dengan alasan belajar di rumah teman atau berbagai keperluan lainnya.
   Keluarga ini, kemudian, sangat bersusah hati dan menyesal setelah mengetahui kedua
   puteranya telah jauh terlibat dalam kenakalan remaja, bahkan seorang di antaranya
   sudah benar-benar terjerumus ke dalam lembah pengisapan ganja dan narkotika.
   Mereka mengeluh karena kedua puternya tidak menghargai kasih sayang orang tua.

Kasus ini memperlihatkan bahwa orang tua, di satu pihak, merasa telah sungguh-sungguh
menumpahkan kasih sayangnya kepada semua anaknya. Tetapi kedua puteranya, di lain
pihak, tidak merasakan adanya kasih sayang itu, meskipun telah diberi mobil dan uang
yang malah lebih dari yang diperlukannya. Hal ini diketahui melalui wawancara dengan
kedua puteranya yang dilakukan secara terpisah.
Dari kedua putera tersebut diperoleh jawaban yang sama, yaitu di rumah mereka merasa
sepi, kosong dan hampa. Mereka ingin sekali bermanja-manja atau menceritakan sesuatu
kepada ‗papa dan mama‘, tetapi jarang sekali dapat bertemu, sehingga mereka merasakan
seperti ketiadaan ayah dan ibu. Mereka sampai, lebih jauh, merasakan bahwa hidup
mereka hampa, tanpa makna. Setiap pulang ke rumah mereka tidak menemukan sesuatu
kecuali hanya bertengkar dengan adiknya yang perempuan.256
Dari wawancara dengan ibunya diketahui bahwa memang tidak mempunyai cukup
kesempatan untuk mengasuh atau meladeni anak-anaknya. Ia telalu sibuk dengan bisnis
dalam rangka membantu suaminya sehingga urusan makanan dan pakaian anak-anak
terpaksa diserahkannya sepenuhnya kepada beberapa orang pembantu yang dengan
sengaja digaji untuk itu. Bahkan waktu anak-anaknya masih bayi, ia hanya
menyusukannya, sedangkan urusan lainnya dilaksanakan oleh pembantu. Ia dengan
suaminya sibuk dengan bisnis adalah dengan maksud untuk membahagiakan putera dan
puterinya di belakang hari. Dan maksud yang baik itulah, katanya, yang tidak dapat
dimengerti oleh kedua puteranya, meskipun sudah diterangkan berulang kali.
Kondisi keluarga tersebut telah mendorong kedua puteranya untuk (1) mencari tempat
lain di mana ia dapat mengisi jiwanya yang dirasakannya kosong dan hampa, (2) mencari
teman-teman dengan siapa ia dapat bercakap-cakap sehingga rasa kesepian terhibur.
Mobil dan uang jajan yang lebih dari cukup itu telah memberinya peluang besar untuk
memuaskan diri dan jiwanya dengan cara yang menyebabkannya semakin menyimpang.
Sebaliknya, keluarga itu sendiri sebenarnya menumpahkan harapan penuh kepada guru di
sekolah dan guru mengaji di rumah untuk melakukan pengontrolan terhadap anak-
anaknya.
Kasus di bawah ini memperlihatkan penderitaan batin seorang anak perempuan, yang
meskipun sudah berumur dewasa dan memperoleh pekerjaan, sukar mengurangi apalagi
menyembuhkannya:

       256
            Wawancara dengan putera-puteri tersebut dilakukan setelah selesai pengajian yang
dengan sengaja diadakan oleh orang tuanya dalam rangka upaya mengatasi kenakalan kedua
puteranya. Meskipun kenakalan tersebut belum teratasi secara tuntas, namun bagian yang
terpenting daripada sebab-sebab terjadinya kenakalan itu sudah terketemukan.
                                                                                  128




    Gadis S, seorang sekretaris dalam sebuah kantor di kota B, kelihatan pucat, kurus,
murung, tidak bersemangat dan di wajahnya tidak tercermin keceriaan. Meskipun ia
pernah ikut senyum dan bergembira bersama teman-teman sekantornya, namun di
balik senyumnya itu terlihat tanda-tanda seolah-olah ia dengan sengaja
menyembunyikan sesuatu …
   Saya mencoba bercakap-cakap dengannya, tentu saja, dengan
menggunakan teori-teori psikoterapi. Baru kira-kira 15 menit percakapan
berjalan. Ia tiba-tiba menangis tersedu-sedu dan kelihatannya sedih sekali.
Kemudian, ia mengangkat kepalanya, menyeka air mataNya dan segera
mamohon maaf. ia mengatakan tidak tahu mengapa ia tiba-tiba merasa sangat sedih
dan tidak mampu menahan tangisnya.
    Dalam percakapan selanjutnya diitemukan bahwa kemurungan tidak hanya
ditinggalkan oleh seorang kekasih, tetapi karena sikap ibunya yang terlalu
keras,kejam dan tak kenal ampun apalagi kasih sayang. Diantara keluhannya
adalah:
    Ibu saya sangat taat beribadah dan rajin mengikuti pengajian-pengajian
agama, bahkan ia adalah anggota pimpinan dari beberapa majlis pengajian.
Oleh karena itu, siang malam ia sibuk dengan kegiatannya itu sehingga jarang
dirumah kecuali setelah jam 9 atau jam 10 malam.

    Kami, beberapa orang saudara perempuan, telah berusaha memasak dengan baik.
Tetapi, setelah ibu pulang, dan biasanya memeriksa semua pekerjaan kami, ia selalu
mencala. Ia mengatakan masakan kami tidak enak. Kami dikatakan tidak becus dan
apalagi. Pokoknya ada-ada saja dalam pekerjaan kami. Bekerja dicela apalagi tidak.
    Sebagian masakan kami malah sering di buangnya dengan sikap yang sangat
sinis, umpatan dan celaan. Jika ada diantara kami yang berani bertanya atau
menyanggah sedikit saja maka jawabannya adalah celaan, makian atau pukulan.
    Ayah kami sama sekali tidak berdaya dengan ibu. Pokoknya, kalau ibu sudah
marah, tidak ada lagi yang berani bersuara. Saya sendiri pernah mendapat hukuman
yang karena beratnya,tak akan terlupakan seumur hidup saya. Waktu itu, rupanya ibu
sangat marah karena suatu kesahan yang sekarang saya sudah lupa .Ibu memegang
pundak saya dan menjatuhkan saya dalam sumur yang memang tidak terlalu dalam
airnya. Namun demikian, saya terpaksa terendam dalam air setinggi paha.
Dibiarkannya saya terendam air 3 jam sehingga saya hampir mati
kedinginan.Hukuman itu akan lebih berat lagi jika kami berani keluar rumah dan
pulang terlambat, terutama malam. Saya, Pak…(ia menangis lagi).
    Gadis tersebut, atas usaha seorang temannya, berhasil mendapat pekerjaan
sebagai sekertaris. Selama dalam bekerja ia merasa dapat mengurangi tekanan batin
yang dideritanya. Dalam pada itu, ia merasa agak beruntung tidak sampai menjadi
gadis berandalan, mungkin karena ketatnya penjagaan Ibunya terhadap dirinya dan
saudara-saudaranya. Apalagi memang, kota B sendiri termasuk kota kecil yang belum
ramai dengan pemuda-pemuda nakal.
    Diantara keluhannya yang lain adalah ia tidak kuat belajar dan tidak mampu
berkonsentrasi dalam berfikir. Karena tidak berhasil dalam tingkat III di Fakultas
Ekonomi, ia memutuskan untuk tidak meneruskan studinya, apapun ancaman yang ia
hadapi atau yang akan ia derita. Ia dengan terus terang bahwa Ibunya kejam, bahkan
tak kenal sayang. Beberapa kali ia berniat akan lari meninggalkan rumah, tetapi
merasa segan untuk meninggalkan ayahnya yang lemah, meskipun saying kepadanya.
                                                                                   129




   Namun, ia merasa tidak puas dengan sikap ayahnya yang tidak pernah terlihat
   olehnya berupaya membelanya atau merasa mengatasi Ibunya yang keras itu.
       Melalui penelitian diketahui bahwa Ibunya malah merasa bangga dengan
   sikapnya yang keras itu. Ia bahkan sering mencerittakan sikap/ tindakannya itu
   kepada orang lain. Ia tampak yakin sekali bahwa dengan sikap semacam itulah ia
   menyayangi semua anaknya dan dengan cara begitu pula ia sangat optimis bahwa
   mereka akan menjadi manusia- manusia yang baik dan berguna di belakang hari.

Beberapa kasus lainnya:
        BS (38), Sarjana muda, merasa takut, gelisah, senmua orang mengumpat dan
mencacinya. Setiap malam diperintahkan istri-istrinya atau adiknya untuk mengintip dan
mendengar orang-orang yang sedang bercakap-cakap, karena menurut keyakinannya orng
–orang itu lagi mempercapkannya. Hal itu telah membuat istri dan semua saudara-
saudaranya menjadi susah.
        Dalam wawancara dengannya ditemukan bahwa ia waktu berumur 4-7 tahun
terpaksa tinggal bersama neneknya karena Ibu tirinya (ibu kandungnya meninggal) sangat
keras dan kejam sedangkan ayahnya bermata pencaharian nelayan, sering tidak dirumah.
AW(12) Siswa SMP, mudah tersinggung, mudah marah dan susah bergaul. Ia merasa
semua orang benci dan atau sakit hati kepadanya. Di dalam sekolah ia terhitung tidak
maju. Jika tersinggug, sukar hilang sakit hatinya. Hal itu mempengaruhinya sehingga
temen-temennya mengatakan pendengki.
        Melalui penelitian diketahui bahwa ibunya meninggal diwaktu ia masih kecil.
Kemudian ia diasuh oleh neneknya. Tetapi, 2 tahun kemudian, Neneknya yang sudah
menjanda itu, meninggal pula. Adik neneknya yang memungut dan mengasuhnya sampai
kelas VI SD, Ia masuk SMP atas bantuan bibinya. Sedangkan ayahnya yang miskin
tidak mampu menyekolahkannya dan ibu tirinya tidak pernah memikirkan nasibnya.
ST(11), Siswi SMP,mudah tersinggung mudah murung, mudah merajuk serta tidak maju
dalam pelajaran. Ia bersaudara 6 orang. Anak yang pertama sampai kelima,dia sendiri,
semuanya perempuan. Setelah lahir adiknya, laki-laki, ia kurang mendapat perhatian dari
orang tuanya sehingga merasa bagai dibenci saja. Hal itu masih dirasakannya, meskipun
ia naik kekelas II SMP.
        Kasus- kasus diatas betepa anak merasa menderita akibat tidak merasa di sayangi
oleh kedua orang tuanya, meskipun sebaliknya, seperti terlihat pada dua kasus pertama,
orang tua merasakan (dengan caranya masing- masing) sangat menyayanginya. Tetapi
memperlihatkan kasih sayang atau memberikan perhatian yang berlebih –lebihan akan
mendorong tumbuhnya tingkah laku negatif yang mungkin sekali akan bermuara kearah
penderitaan yang sama sebab, anak yang selalu diperhatikan akan tidak berkembang
kreativitasnya, akan menggantungkan diri pada orang lain, tidak mampu menyelesaikan
sendiri masalah yang dihadapinya….dan jika sekali-kali menghadapi kesulitan mudah
merasa lemah dan putus asa.
b. Benar.
        Dalam usahanya mendidik anak dalam rumah tangga juga diluar rumah tangga,
terutama dalam masa-masa anak masih terikat erat kepadanya), setip orang tua harus
bersifat dan bersikap benar. Orang tua yang pembohong tidak usah mengharapkan kecuali
bahwa anaknya akan bersifat pembohong pula. Selain itu sikap bohong orang tua akan
membuat anaknya menderita gangguan batin (jiwa), seperti halnya anak-anak yangtidak
mendapatkan kasih saying orang tua.
        Pada umumnya semua orang tua ingin berkata atau bersikap benar pada anaknya.
Mereka hanya berbohong hanya pada saat merasa sangat perlu atau kondisi sangat
terdesak. Anak yang umpamanya, ngotot untuk ikut bepergian barsama, sedangkan
                                                                                   130




pihak orng tua menghandaki lain maka satu-satunya jalan, jika tidak memukul atau
membiarkannya saja menangis, adalah membohonginya, misalnya, akan pergi kedokter
untuk disuntik, atau yang lainnya yang membuatnya menjadi takut.
        Dalam kondisi lain, misalnya orang tua ingin supaya anaknya mengerjakan
sesuatu dengan baik. Untuk mencapai maksudnya itu, ia berjanji bahwa jika pekerjaan
yang ditugaskannya itu terselesaikan oleh anaknya dengan baik maka maka ia akan
memberinya hadiah tertentu. Tetapi kemudian, entah karena ia lupa, sengaja dilupakan
atau sekedar hanya membujuk, janjinya itu tidak dipenuhinya, meskipun anaknya sudah
mengerjakan yang di tugaskan itu dengan baik.
        Dalam percakapan dengan beberapa belas orang tua yang berumur antara 30-40
dibawah topik: Kenang-kenangan selama dalam asuhan orang tua, terdapat kesan bahwa
bohong orang tua masih mempengaruhi jiwa mereka, meskipun mereka sendiri sudah
terhitung tua juga. Dibawah ini diturunkan beberapa kasus berkenaan dengan kebohongan
orang tua :
        AS di kampung B, Aceh tengah, peserta berumur 40 tahun bercerita : Saya sampai
sekarang masih tetap merasa kecewa terhadap sikap orang tua saya yang dusta. Peristiw
anya terjadi ketika saya masih berumur 7 tahun.
Pada waktu itu ayah berjanji bahwa jika saya dapat mengaji al-quran sampai khatam
maka untuk saya akan diberikan celana panjang wool dan sepatu kulit buatan inggris,
sebagai hadiah. Saya tahu bahwa ayah saya mampu membelinya.
        Tertarik oleh janji itu maka saya berusaha sekuat daya untuk menamatkan bacaan
Qur‘an dibawah pimpinan seorang guru mengaji. Hati saya teras telah sarat dengan
harapan akan mendapat celana wool dan sepatu kulit buatan Inggeris. Alangkah
megahnya.
       Tetapi yang terjadi adalah bahwa ayah selalu menunda-nunda janjinya dengan
berbagai macam alasan. Ia tetap tidak menempati janjinya itu sampai dengan saat
berpulangnya ke Rahmatullah. Anehnya, janji itu masih tetap saja menjadi tuntutan batin
saya sampai dengan sekarang, padahal saya sendiri sudah mampu membelinya. Saya telah
berusaha juga menghibur diri saya, tetapi perasaan kecewa itu tidak kunjung hilang.

        Dari 18 orang peserta yang dikumpulkan dan 8 orang yang dengan berencana
dijadikan objek wawancara secara terpisah, ternyata semuanya menyatakan perasaannya
y7ang kurang-lebih bersamaan. Mereka kecewa terhadap janji orang tua mereka yang
palsu :
       Kasus 1, Jika selesai mengerjakan sawah tahun itu, akan dibelikan kuda jantan
       yang bagus, meskipun harganya mahal, untuk ikut lomba pacuan kuda.

       Kasus 2, Jika selesai mengerjakan sawah tahun ini, akan dihadiahi seekor kerbau
       betina.

       Kasus 3, Setelah selesai Vervolkschool, asal nilainya baik, akan dibelikan satu
       style pakian yang bagus (baju, celana, kain sarung, sepatu).

       Kasus 4, Setelah selesai Vervolkschool, asal nilainya baik, akan dibawa jalan-
       jalan ke Bireuen dan lhoksmawe, Aceh Utara.
       Kasus 5, Sama dengan kasus 1.
       Kasus 6, Sama dengan kasus 1.
                                                                                          131




         Kasus 7, Asalkan rajin mengerjakan sawah dan kebun maka sebagian dari
         hasilnya akan dibelikan sepeda (kereta angin, yang ditahun 30-an di Aceh tengah
         masih terhitung langka.
         Kasus, 8 Sama dengan kasus 3.
                 Tetapi ketiak perrtanyaan mencapai sasaran tetang sikap mereka terhadap
         anak-anak mereka, sebagian besar mengatakan berbohongatau berjanji palsu,
         meskipun tidak selalu. Jika tidak, kami akan memaksa memukul mereka. Para
         peserta lain kelihatannya membenarkan pernyataan tersebut.
         Pertanyaan yang segera muncul adalah bagaimana menundukkan anak kecil yang
membandel dengan cara yang tidak berbohong ?
         Bohong memang penyakit sosial yang ,dengan kualitas besar atau kecil, merata.
Dalam realitas pergaulan sehari-hari memang sukar orang sukar melepaskan diri seratus
persen dari pada bersikap, bersifat atau berkata dan berbuat bohong. Karena takut
dimarahi suami, Istri lantas berbohong, atau sebaliknya. Karena takut dipukul ayah, anak
berdusta. Karena takut dicaci dan disalahkan, orang menutupi diri dengan memberi
keterangan palsu. Karena takut dihukum, orang tidak mau mengaku berbuat salah,
meskipun ia telah melakukannya. Dan banyak lagi conoh lainnya.257
         Dilihat dari ajaran agama islam, bohong terhadap anak jelas terlarang, seperti
terlihat dalam hadits berikut : 258

ٝ‫عٓ عجداهلل ثٓ عب ِس عٕٗ لبي: دعزٕٝ اٜ يِٛب, ٚزسٛي اهلل صٍٝ اهلل عٍيٗ ٚسٍُ لبعد ف‬
‫ثيزٕب, فمبٌذ: ٘برعبي اعطه, فمبي ٌٙب زسٛي اهلل صٍٝ اهلل عٍيٗ ٚسٍُ: ِبازدد اْ رعطيٗ؟‬
ٗ‫لبٌذ: ازدد اْ رعطيٗ ّٔسا, فمبي ٌٙب زسٛي اهلل صٍٝ اهلل عٍيٗ ٚسٍُ: اِب أه ٌٌُٛ رعطي‬
                                           )ٝ‫شيئب وزجذ عٍيه ورثٗ (زٚاٖ اثٛ داٚد ٚاٌجيٙم‬
‗Abdulloh Ibnu ‗Amir berkata: ―Saya dipanggil ibu saya, pada suatu hari, sedang
rosululloh SAW. berada dirumah kami. Ibu saya berkata: Hai, mari, Ibu akan
memberi kepada kami‖. Rosul SAW berkata: ―Apa yang anda berikan ?‖ Ibu saya
menjawab : ― Saya akan memberinya korma‖.
Rosul SAW. Berkata : Jika anda tidak memberinya maka anda tertulis berdusta
(H.R. Abu Daud dan Al- Baihaqy)

        Bentuk bohong lainnya terlihat dalam sikap orang tua yang tidak mau mengatakan
yang sebenarnya mengenai cara bekerja dan hasil pekerjaan anaknya. Kasus dibawah ini
memperlihatkan hal itu:
        BA, 11 tahun, adalah putra kedua. Ia bersaudara 4 orang. Pada waktu berumur
antara 7-10 tahun, ia adalah anak yang baik, rrajin kesekolah dan gemar membantu kedua
orang tuanya disawah dan dikebun. Tetapi, setelah berumur 11 tahun keadaanya menjadi
berubah.
        BA menjadi malas belajar, sering minggat dari rumah, bolos dari sekolah, suka
berkelahi dan mengganggu orang lain. Oleh karena itu, ia sering dimarahi, bahkan
dimaki-maki dan dipukul oleh kedua orang tuanya.


        257
             Wawancara dilakukan sekitar tahun 70-an kepada mereka yang sudah berumur antara
30-40 tahun. Kini mereka sudah berumur antara 48-58 tahun. Pada masa meraka itu masih kecil
janji- janji orang tua tentu tidak sekarang. Orang tua sekarang mungkin saja menjanjikan speda
motor, mobil atau lainnya.
         258
             ‘Abdullah ‗Ulwar, I,Op. Cit; hal. 182-183.
                                                                                    132




         Namun demikian, kenakalan BA semakin menjadi-jadi sehingga pada suatu hari
ia di tangkap polisi karena mencuri.

        Melalui penelitian ditemukan realita ketidak benaran orang tuanya terhadap
dirinya. Mula-mula ia rajin belajar sehingga mendapat nilai yang cukup baik pula. Tetapi
orang tuanya dengan maksud supaya BA lebih giat lagi belajartidak pernah mengakui,
apalagi menghargai keberhasilannya. Ia dikatakan masih malas dan nilainya masih
kurang, sebab nilai 7 masih lebih rendah dari nilai 8. Ia, pada tahun –tahun yang sama,
senang juga membantu orang tuanya disawah dan dikebun. Tetapi semua pekerjaanya
tidak ada yang di akui baik oleh kedua orang tuanya, meskipun jika diukur dengan dirinya
sebagai anak beumur 7-10 tahun terhitun sudah memadai. Sam a dengan yang pertama,
ternyata bahwa maksud orang tuanya adalah supaya BA lebih giat pula bekerja di sawah
dan dikebun.
        Orang tua BA tidaaak sadar, meskipun ia terkategori berilmu dalam ukuran
kampungnya, bahwa ia sudah berbohong kepada anaknya. Yang sudah baik atau berhasil
tidakj diakuinya sebagaimana kenyataannya. Seharusnya ia berkata benar-benar saja
dalam hal itu. Yang sudah baik, sesuai dengan ukuran kemampuan anaknya, harus dengan
terangdikatakannya baik. Jika masih terdapat kekurangan-kekurangan maka dengan cara
yang baik pula ia mengatakan yang sebenarnya sambil memberi petunjuk seperlunya.
Dengan begitu ia berarti ia bersikap dan berkata benar kepada anaknya.
        BA, dengan sikap orang tuanya itu, merasa tidak mendapatkan penghargaan dan
pengakuan, betapapun rajinnya ia belajar di sekolah dan betapagesitnya ia bekerja
disawah dan dikebun. Orang tuanya digambarkannya sebagai tidak berperasaan, tidak
tahu terima kasih, ‗tahunya hanya mengomel dan mencela‘. Ia merasa semakin menyesal
dan kecewa. Kejengkelannya muncul kepermukaan dalam bentuk bolos sekolah, minggat
dari rumah dan ahirnya mencuri.
        SS(15 tahun, kelas III SMP)lebih kecewa lagi. Selama 4 hari bekerja keras
disawah, ia berhasil menyelesaikan hampir lebih dari separoh sawahnya. Ia bekerja
sendirian dengan gembira, sambil dalam waktu sejenak ia beristirahat ia bernyanyi-
nyanyi kecil.
        Pada hari kelima ayahnya datang. Setelah melihat anaknya ia berkata: ‗Sudah
lebih dari separoh saah ini kamu bereskan‘. Berapa hari lamanya kamu bereskan ? SS
menjawab senang : ‗Empat hari pak‘
        Ayahnya sambil mengejek berkata : ‗Empat hari baru selesai begitu? Betul-betul
kamu tidak pandai bekerja, sambil lenggang kangkung lagi. Kalau saya mengerjakan
dalam tempo dua hari sudah beres semuanya‘.
        SS merasa sangat kecewa, karena sudah begitu bersungguh-sungguh ia bekerja,
namun yang didapatnya terbalik sepenuhnya daripad yang diharapkannya semula. Bukan
penghargaan yang diterimanya, melainkan sebaliknya,omelan dan celaan.meskipun
begitu ia diam saja karena ia tahu benar bahwa jika ia berani menjawab atau menangis
dengan alasan apapun, kemungkinan besar gagang dangkul akan mengambil tempat
dikepalanya. Ia tahu ayahnya sangat keras dan tidak boleh dibantah.
        SS karena semakin kesal akibat hal-hal yang sama berulang –ulang terjadi, mulai
malas bekerja dengan sendirinya membuat ayahnya semakin lebih marah, mengomel dan
mencela. Kesahannya itu merembet kepada malas belajar dan bolos dari sekolah.
Ahirnya, ia tidak berhasil menamatkan SMP, karena melarikan diri dan menemukan
pekerjaan sebagai buruh perkebunan.
        Kasus semacam itu cukup banyak dan tidak saja didapati dalam masyarakat
pedesaan melainkan juga dimasyarakat modern dikota-kota. Rupanya banyak anak yang
sudah dewasa dan bahkan sudah bekerja, mengaklami sesuatu yang sama, yaitu dibohongi
                                                                                                133




orang tua. Rasa kecewa tetap bersarang didalam batin mereka. Tetapi karena sebagiannya
tidak berat atau karena mendiamkannya saja, maka masalahnya dianggap sudah selesai.
        Dalam beberapa kali diskusi mengenai pendidikan anak dengan dua kelompok
pengajian di Tibet dan Slipi, Jakarta, ditemukan bahwa masing-masing mereka pernah
merasakan dibohongi oleh orang tua diwaktu masih kecil. Diantara kebohongan ia yang
membuat mereka masih merasakan kekecewaan psikologis sampai ‗sekarang‘ tetapi ada
pula yang, setelah berupaya, merasa mampu melupakannya.259
        SS yang sudah bekerja keras menyelesaikan pekerjaannya lebih dari separoh
sawah, sebenarnya harus diakui dan dilisankan oleh orang tuanya bahwa ia sudah bekerja
dengan baik dan berhasil menyelesaikan lebih dari separoh sawah. Sesuai dengan ajaran
Islam tentang pendidikan, SS sebenarnya sudah berhak mendapat pujian yang secara
psikologis akan menyebabkannya merasa senang dengan keberhasilannya. Dengan rasa
berhasil itu, sebenarnya, ia akan lebih terdorong lagi . jadi, tidak dengan omelan dan
celaan untuk lebih giat bekerja guna mengejar keberhasilan berikutanya. Dengan
merasakan kegagalan terus menerus anak akan menjadi pesimis dan, pada ahirnya, putus
asa atau menyimpang

       c. ADIL
       Orang tua yang ingin berhasil dalam upayanya mendidik anaknya, haruslah
bersikap adil dalam melayani, mengasuh, memberikan kasih sayang sampai kepada sikap
memarahi dan menghukum anak-anaknya. Yang dimaksud adil adalah tidak berat sebelah,
260
    menyamakan, 261 atau tidak berlaku diskriminatif, 262 dalam pelayanan, perlakuan,
pengasuhan, perhatian, pendidikan dan sebagainya antara semua anak.
       Ada suatu kejadian di masa Rasul ALLah SAW yang menggambarkan tentang
keharusan berlaku adil terhadap anak. Kejadian tersebut tertera dalam sebuah hadits:263…

        259
              mengenai kekerasan orang tua dalam mendidik anak telah terjadi perdebatan yang
sangat seru. Seorang peserta menantang dengan pernyataan : ‗Bapak sendiri,saya kira, tidak
menjadi seperti sekarang , jika orang tua bapak tidak beres ‗. Peserta tersebut dan beberapa peserta
lainnya rupanya yakin sekali bahwa mendidik anak harus dilakukan dengan keras dan kekerasan.
Orang-orang dahulu yang telah menjadi besar dan megah, menurut mereka, adalah produk dari
pendidikan keras yang dilakukan oleh orang tuanya masing-masing. Tetapi ketika telah ditelusuri
dengan baik sejarah hidup beberapa orang pemimpin besar didunia, nyatalah bahwa keyakinan
mereka itu tidak secara menyeluruh benar.
         260
             Hans Wehr, A dictionary of Modern Written Arabic, Wiesbaden , Otto Horassowitz,
London, George Allen and Unwin 596 Ltd. , 1971, hal. 596.
         261
             W.J.S. Poerwadarminta, Kamus umum Bahasa Indonesia, Jakarta, PN, Balai Pustaka ,
1976, hal. 16.
         262
             AL Ab Luis Ma`luf Al Yasu`i, Al Munjiid fi Al Lughah wa Al Adab wa Al `ulum,
Beirut, al Mathba`ah Al Kathulikiyah, Cet. V, 1928, hal.511-512.Lihat juga H.A.R. Gibb, J. H.
Kramers, et al. , The Encyclopaedia of Islam, New Edition, Vol. I(A-B), Leiden, E.J. Brill,
London, Luzac & Co., 1960, hal. 209-210             .
         Dari 74 kasus anak berkelakuan menyimpang yang diteliti oleh Al qushi, 50 terdapat 6
kasus yang diperlakukan secara tidak adil dalam hal kasih sayang oleh orang tuanya. Ternyata
semua memperlihatkan tingkah laku menyimpang
         263
             `Abdulah `Ulwan, I, Op.cit., hal. 654-655.Dari Al Nu`man bin Busyair bahwa ayahnya
membawanya kepada Rasul ALLah SAW dan (setelah bertemu) berkata : `saya telah memberikan
kepada anak saya ini seorang budak milikku sendiri`.Rasul ALLah berkata: `apakah semua
anakmu telah mendapat pemberian yang sama seperti itu? ` Ayah saya menjawab :`tidak`. Rasul
ALLah SAW berkata: `cabut kembali pemberiannmu itu !`Dalam suatu riwayat , rasul AllahSAW
berkata:`apakah semua anakmu sudah kamu beri secara sama ?` Ayah              saya       menjawab:
Tidak,Rasul Allah SAW berkata:`Bertaqwalah kepada allah dan berlaku adilliah kepada semua
anakmu `.Ayah saya pulang dan segera menarik kembali pemberiannya . H.R. Al Bukhari dan
                                                                                              134




Dari 74 kasus anak berkelakuan menyimpang yang diteliti oleh Al qushi, 50 terdapat 6
kasus yang diperlakukan secara tidak adil dalam hal kasih sayang oleh orang tuanya.
Ternyata semua memperlihatkan tingkah laku menyimpang264
        Kasus 1, (11 Tahun), menderita sangat gagap, cenderung mengeritik dan
menguasai. Anak ini, setelah mempunyai dua orang adik perempuan yang sangat
dimanjakan orang tuannya, kurang mendapat perhatian sehingga merasa tidak disayangi .
        Kasus 2, ( 11 ½ tahun), menderita gagap dan senang mengganggu. Ia adalah anak
pertama yang pada mulanya sangat dimanjakan oleh kedua orang tuannya. Tetapi setelah
dua orang adiknya (perempuan) lahir, mereka hanya sayang kepada kedua adiknya itu.
        Kasus 3,(9 ½ tahun) , terkebelakang dalam pelajaran, pemalu, pendusta, iri, keras
kepala, pengecut, dan enggan makan. Ia adalah anak laki-laki kedua di tengah-tengah
antara dua orang anak perempuan, kakaknya dan adiknya.Ibunya selalu membanding-
banding antara anak-anaknya dan karena terlalu sayang kepada anaknya yang perempuan,
senantiasa membuat anaknya ( kasus) di pihak yang dikalahkan.
        Kasus 4, (11 tahun), perempuan, matanya tiba-tiba kabur, sering pusing secara
mendadak, mudah tersingguang dan cepat menangis. Ia adlaha nak pertama, setelah dua
kali keguguran. Pada mulanya ia sangat dimanjakan. Tetapi setelah beberapa orang
adiknya lahir, ia tidak disayangi lagi.
        Kasus 5, (19 tahun), laki-laki, sering emosi dan suka menentang. Ia hidup
bersama ayahnya setelah ibunya dicerai.ia tidak merasa dekat dengan ibu tirinya bahkan
merasa seperti tamu di rumahnya sendiri.
        Kasus 6, (11 tahun), laki-laki, keras kepala dan minggat dari rumah. Ia adalah
anak pertama yang disusul oleh kelhiran adiknya, perempuan. Ibunya hanya sayang
kepada adik perempunya dan secara terang-terangan benci padanya.
        Kasus- kasus tersebut memperlihatkan berbagai macam tingkah laku negatif dari
anak-anak yang diperlakukan secara tidak adil oleh orang tuannya,baik dalam pemenuhan
kebutuhan jiwa (seperti akan terlihat nanti ) maupun dalam pelayanan kebutuhan fisik .
mungkin sekali, ditengah-tengah masyarakat terdapat diantara sekian banyak anak-anak
yang meskipun diperlakukan secara tidak adil orang tuanya, namun tetap memperlihatkan
tingkah laku yang baik dan normal. Akan tetapi penelitian memperlihatkan bahwa
kebaikan dan kenormalan itu biasanya semu, tidak tumbuh dari kesadaran batin, mungkin
sekali karna takut terpaksa atau malu kepada orang lain. Dan, kecuali karena mendapat
pendidikan agama yang mendalam, kebaikan dan kenormalan tersebut biasanya bersifat
sementara.
        Kasus dibawah ini memperlihatkan contoh penanmpilan dan perbuatan dari
seorang anak yang diperlakukan secara tidak adil oleh orang tuannya:
                AF (40 tahun),dikampung K , anak laki-laki keempat dari lima orang
bersaudara. Anak yang pertama laki-laki, yang kedua dan ketiga perempuan. AF adalah
anak keempat, sedangkan yang kelima adalah anak perempuan. Mungkin karena anak
sulung maka anak laki-laki perrtama sangat dimanjakan kedua orang tuannya. Segala
permintaan dan keinginannya selalu dikabulkan. Sedangkan permintaan AF selalu
ditunda-tunda.

Muslim. Hadits tersebut ... dan banyak hadits lainnya.... menegaskan bahwa setiap orang tua , jika
bermaksud akan mencapai hasil yang baik dalam upayannya mendidik anak, haruslah ia berbuat
adil kepada semua anaknya. Keadilan itu tidak saja akan menyenangkan dan menentramkan jiwa
semua anak melainkan juga untuk mencapai tujuan yang lebih jauh, yaitu membina mereka untuk
berbakti secara bersama-sama kepada orang tua di belakang hari
        264
            Abdul Al `Aziz Al qushi, Ususu Al Shihhah Al Nafsiah, Cet. III, Caero, mkatabah Al
        Nahdhah Al Mishriyah, 1948, hal. 176-201
                                                                                      135




        Meskipun sudah berumur 40 tahun (pada waktu diwawancarai) dan bahkan sudah
menjadi pemimpin dikampungnya, AF merasa tidak puas sehingga mengatakan :jika tidak
karena sudah belajar agama saya tidak akan menghormati orang tua saya.
        Kasusd ini memperlihatkan pendaman rasa tertekan yang amat dalam dari seorang
anak yang diperlakukan secara tidak adil, sehingga jika tidaklah karena sudah belajar
agama, ia akan membalas dendam kepada kedua orang tuannya, terutama ayahnya. Kasus
dibawah ini memperlihatkan hal itu secara lebih ternag :
        GP (58 tahun, laki-laki) di kampung K, menceritakan bahwa selagi kecil dulu dia
amat malas sekolah, sering bolos sehingga tidak dapat menamatkan sekolah desa (
Volkschool zaman Belanda). Ayahnya hanya sayang kepada adiknya M, laki-laki. Tetapi,
adiknya pun tidak dapat menamatkan sekolahnya karena selalu diganggunya, dipukulnya,
disembunyikannya bukunya malah sebagiannya dibakarnya; ditakut-takutinya dalam
perjalanan ke sekolah sejauh 6 km dan sebagainya.
        Ayahnya, ketika mengetahui hal itu sangat marah dan memukulinya mula-mula ia
tidak melawan dan tidak dapat meloloskan diri karena terlebih dahulu telah diikat oleh
orang tuanya.tetapi dendamnya kepada orang tuannya itu semakin menjadi. Oleh karena
itu malka gangguannya kepada adiknya makin ditingkatkannya.
        Ketika pukulan berikutnya oleh orang tuannya akan berulang , ia sudah siap
dengan alat yang disembunyikannya dalam kain sarungnya, sehingga belum lagi sempat
orang tuannya memukulnya, ia telah mendahului memukul sehingga terjadilah
perkelahian seru. Orang ramai datang melerainya, sehingga perkelahian mereka dapat
dihentikan .
        Mulai saat ini GP meninggalkan rumah dan tidak pernah pulang selama lebih dari
25 tahun. Ia menghilang sedemikian lamanya sehingga orang kampungnya nyaris lupa
kepadanya . ia baru pulang setelah mengetahui orang tuannya sakit dan uzur serta dengan
keyakinan bahwa pemukulan atas dirinya tidak akan terulang lagi.
        GP, pada waktu wawancara , menyatakan menyesal akan perbuatannya , tetapi
lebih menyesali lagi sikap ketidak adilan ayahnya.
        Dari 30 orang yang diteliti berkaitan dengan ketidak adilan orang tua, ternyata 24
orang menyatatakan kekecewaan ;yang lainnya tidak memberikan jawaban. Sikap orang
tua semacam itu sebenarnya dapat di pahami mengingat bahwa kebanyakan orang tua
pada zamannya belum bersekolah. Namun demikian, beberapa kasus anak ini ,termasuk
anak-anak yang tinggal dalam kompleks dosen, hal-hal yang sama masih terjadi.dari 30
anak yang diteliti dalam kompleks perumahan dosen di kota c, jakarta, terdapat lebih dari
15 orang yang menyatakan kecewa terhadap sikap ketidakadilan orangtuanya atas dirinya
.
        D. Sopan
        Mendidik anak, terutama jika sudah banyak , lebih kurang sama denga seorang
guru mendidik murit atau seorang pemimpin mendidik rakyat. Maka orang tua harus
selalu memulai upayanya mendidik anaknya dengan cara yang sopan ( lembut ) . Bahkan
dalam menghukum anak, jika memang sudah perlu misalnya dengan cara memukulnya
maka pelaksanaannya harus pula denga sopan. Yang dimaksud dengan sopan disini
adalah mengendalikan diri agar tidak marah atau emosi dalam mendidik anak, termasuk
dalam melakukan hukuman. 26551
        Sopan mendidik anak mencakup sopan (lembut) dalam perkataan, sikap dan
perbuatan sepanjang berkaitan dengan kegiatan mendidiknya. Sikap tersebut akan
membuahkan hasil positif, antara lain : anak akan menirunya sehingga dapat diharapka
bahwa diapun akan bersikap sopan, baik terhadap orang tuannya maupun terhadap oarng
lain.
265
      Abdullah `Ulwan, Ii, Op. Cit., Hal. 788-789.
                                                                                  136




Keberhasilan rasul Allah SAW dalam mendidik umatnya sebagian terbesar tergantung
kepada sopan santun dan kelembutannya menghadapi mereka, seperti diabadikan Allah
dengan firmannya :

    
     
           
         
             
         
   
                
        
         Maka dengan rahmat dari pada Allah engkau telah berlaku lembut kepada
mereka. Sekirannya hatimu keras dan sikapmu kasar niscaya mereka berlarian dari
sekelilingmu. Oleh karena itu, maafkanlah mereka dan mohonlah ampun untuk mereka
serta bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Dan jika engkau telah
memutuskan maka (laksanakanlah dan ) serahkanlah dirimu kepada allah. Sesungguhnya
allah senang kepada mereka yang menyerahkan diri (kepada-Nya) Q.S. Ali `imron: 159.
         Dalam hal mengajar anak (atau guru mengajar murid) terdapat ajaran nabi SAW
yang memerintahkan sopan, sebagaimana terlihta dalam hadits berikut ini :52


―Mengajarlah kamu, tetapi jangan berlaku kasar karena guru harus lebih baik dari
manusia kasar‖ (H.R. AL Harits, AL Thayalisi dan AL Baihaqi.)


Dalam lainnya terlihat bahwa Nabi SAW sopan kepada anak-anaknya: 53



―Anas mengatakan bahwa Rasull Allah SAW berjalan di depan anak-anak, lalu ia
memberi salam kepada mereka. Anas mengatakan bahwa rasul Allah SAW sendiri (
senantiasa memperbuatnya‖ (H.R. Al Bukhari dan Muslim)
        Ayat dan hadits-hadits tersebut menjelaskan betapa seharusnya orang tua (dan
guru) menghadapi anak dalam rangka upaya mendidiknya. Tetapi dalam penyelenggara di
lapangan, banyak orang tua yang keliru atau salah , termasuk sebagian mereka yang
berpendidikan dan yang malah berprofesi sebagai guru. Diantara mereka ada yang jika
mengajar atau mendidik anak-anak orang ( misalnya murid-murid di sekolah cukup sabar,
sopan dan lembut. Akan tetapi , pada waktu mengajar atau mendidik anaknya sendiri ia
kasar dan mudah marah . Dengan sikap semacam itiu ia bermaksud agar anaknya cepat
pandai atau ingin memperlihatkan dirinya sebagai orang tua yang sangat memperhatikan
anak. Kasus di bawah memperlihatkan hal yang sama:
     FH, (30 tahun), seorang ibu, guru SMP dibilangan kebayoran lama, Jakarta selatan,
mempunyai tiga orang anak, dedi, erni, dan tati (masing-masing kelas IV dan II SD dan
yang terakhir masih duduk di TK). FH ingin sekali agar dedi menjadi juara, paling
                                                                                     137




kurang, dalam kelasnya. Oleh karena itu setiap malam dedi harus belajar dengan
sungguh-sungguh di bawah asuhannya sendiri.
        Ketika saya bertamu ke rumahnya (dalam rangka penelitian) dan bercakap-cakap
dengan suaminya, FH meminta maaf kepada saya. Ia tampak bangga sebagai seorang ibu
yang sangat ketat perhatikan pendidikan anaknya. Tetapi beberapa kali saya melihat
telinga dedi dijewernya sambil marah dan membentak-bentaknya.Berulang kali dedi
menangis. Tetapi semakin berani ia menangis kian keras pula jeweran yang dideritannya
dan bentakan yang didengarnya. Air mata dedi memenuhi matanya sehingga mungkin
sekali huruf-huruf pada lembaran bukunya tidak jelas lagi terlihat olehnya.
        Dalam pengamatan yang saya lakukan terhadap FH di sekolahnya (ia tidak tahu
bahwa saya mengamatinya) dan sepanjang jawaban yang diberikan murid-muridnya, FH
ternyata cukup baik. Ia penyabar, sopan, dan lembut dalam menghadapi murid-murid dan
tidak pernah memukul.
        Pengamatan terhadap dedi di sekolahnya memperlihatkan bahwa prestasi
belajarnya menurun sejak semester pertama kelas IV. Ia suka menyendiri dan jika
tersinggung lekas menangis atau segera mengajak berkelahi. Padahal selama duduk di
kelas I,II dan III, ia termasuk pandai, meskipun tidak dapat mencapai juara kelas. Itulah
rupanya yang menjadi sebab mengapa ibunya, FH, amat terdorong untuk memperhatikan
secara serius pengajaran dedi di rumah. Sebenarnya pada semester bagian akhir kelas III
prestasi belajar dedi sudah memperlihatkan gejala-gejala penurunan. Ia rupanya, sudah
menderita tekanan kekecewaan karena perlakuan ibunya yang tidak sopan atau lembut
kepadanya.
        Enam kasus lainnya yang mendapat perlakuan seperti dedi, dari pihak ibu dan
atau ayah, masing-masing menampakkan gejala-gejala tingkah laku yang kurang lebih
bersamaan :
        Kasus 1 dan 2 (IV SD) suka menyendiri, mudah sekali tersinggung dan mudah
menangis serta mundur dalam pelajaran. Ibu mereka sangat kasar bahkan memaki-maki
sedang ayah mereka pendiam.
        Kasus 3 (V SD) murung susah bergaul dan bahkan senang menyendiri. Ia adalah
putri pertama yang terlalu dibebani menjaga tiga orang adiknya yang masih kecil-kecil.
Ibunya yang sibuk berjualan di warung, selalu menyalahkannya jika adik-adiknya
menangis atau berkelahi. Ayahnya yang bekerja sebagai sopir pulang kerumah secara
tidak teratur.
        Kasus 4 dan 5 (V SD) sedih, gelisah, bingung dan sering lupa buku-buku
pelajaran dan alat-alat tulisnya.
Yang pertama adalah putra kedua yang selalu diejek oleh ayahnya. Ibunya tidak berusaha
membelannya. Yang kedua selalu ditekan ibu tirinya. Ayahnya jarang berada di rumah.
        Kasus 6 (VI SD) sering bolos dari sekolah, malas belajar dan suka mengganggu.
Ia adalah putra ketiga dari tujuh orang bersaudara. Ayahnya yang bekerja sebagai sopir
taksi jarang ada di rumah kecuali setelah larut malam. Ibunya sangat keras dan tidak
pernah bersikap lembut kepadanya. Hampir semua anak dari keluarga ini nakal kecuali
yang ke enam dan ke tujuh karena mungkin masih kecil.
        Kasus-kasus tersebut belum cukup representatif untuk semua anak dari orang tua
yang kasar otoriter atau suka memukul, tetapi sebaliknya mampu pula mencurahkan kasih
sayangnya kepada anaknya.dari kalangan orang tua yang tersebut terakhir ini terdapat
anak-anak yang tidak mundur dalam pelajaran dan bahkan ada diantaranya yang cerdas,
meskipun dalam pergaulan dalam teman-temannya terlihat adanya gejala murung dan
cenderung merasa rendah diri. Sebab, dari segi kejiwaan kekerasan orang tua,apalagi
sampai memaki dan memukul, akan tetap berbekas dalam hati anak sampai dengan ia
berumur dewasa dan lanjut. Perasaan takut yang ditimbulkan oleh kekerasan orang tua
                                                                                         138




mungkin sekali akan menjadi sebab bagi terjadinya gangguan mental (neurosisi) dalam
satu atau berbagai bentuknya, atau malah dapat juga muncul dalam bentuk sakit jiwa
(psikosisi), meskipun kemungkinannya agak kecil.
        Dilihat dari konsepsi Islam masalahnya terletak pada pertanyaan : Apakah
kekerasan orang tua semacam itu terhadap anak sesuai dengan ajaran islam tentang
pendidikan? Ajaran islam seperti telah dibahas terdahulu, menghendaki dan bahkan
memerintahkan supaya upaya pendidikan pada umumnya dan pendidikan anak pada
kususnya dimulai dengan kasih sayang , sopan dan lembut. Sedangkan kekerasan dan
hukuman hanya dilakukan manakala tuntutan paedagogis memerlukannya. Ibu khaldun,
seorang penulis dan pemikir terkemuka, mengatakan bahwa pendidikan yang dilakukan
secara keras dan kasar, terutama untuk anak yang masih kecil, akan merusak.Kekerasan
hanya akan mengungkung jiwa anak, membunuh aktivitasnya dan membuatnya menjadi
malas, acuh, penipu dan tidak jujur.266

        e. Sabar
        Setiap manusia, termasuk orang tua dalam upayanya mendidik anak, harus
senantiasa berlaku sabar. Sifat sabar tidak pernah boleh terpisah dari orang yang ingin
agar berhasil dalam usahanya mencapai cita-citanya yang dimaksud dengan sabar, secara
umum, adalah tahan menderita, tidak lekas marah, tidak lekas patah hati, tidak lekas putus
asa serta tenang dan tidak terburu nafsu dalam berusaha .267
        Al Ghazali menjelaskan bahwa sabar tercermin dalam ketahanan sepasukan
militer yang berperang melawan musuh. Sabar hanya dimiliki manusia dewasa, bukan
anak-anaka atau hewan. Manusia dapat bersabar karena memiliki dua sifat khusus, yaitu
mengenal Allah dan Rasul serta dikaruniai akal yang dengannya ia dapat memahami hal-
hal yang berkaitan dengan akibat yang akan timbul. 268
        Dengan kata lain Al ghazali menegaskan bahwa sabar adalah pantulan dari pada
kekuatan memenangkan dorongan agama dalam melawan Dorongan hawa nafsu . sabar
semacam ini akan membawa orang menuju kebahagiaan dunia dan akhirat .269
        Dalam kaitannya dengan anak, maka setiap orang tua harus senantiasa berlaku
sabar . artinya ,jika ia ingin berhasil baik dalam upayanya mendidik anaknya maka ia
harus tahan menderita , tidak lekas marah , tidak lekas patah hati ,tidak lekas putus asa
dan tidak terburu nafsu . atau jika di pinjam contoh yang di ungkapan oleh Alghazali
,orang tua harus seperti sepasukan militer yang tahan melawan musuhnya , dalam hal ini
kebodohan anaknya sampai berhasil mengalahkan kebodohan itu .
         Sabar dalam menyelennggarakan pendidikan anak adalah kunci keberhasilan
.sabar menunggu selama 9 bulan dalam kandungan dengan cara memelihara dan merawat
fisik isteri yang sedang mengandung adalah kunci keberhasilan mendapat anak. Sabar
memelihara dan menunggu sampai 4 tahun agar anak dapat masuk taman kanak – kanak
merupakan kunci keberhasilan bagi mencapai pendidikan .Lebih lanjut . itulah antara lain
sebabnya mengapa Allah SWT mengulang – ulang sampai lebih dari 70 kali di dalam
Alqur`an 270 perintah , anjuran atau
peringatan agar manusia senantiasa berlaku sabar supaya sukses dalam menempuh hidup
dan kehidupannya .

       266
            Muhamad `Athiyyah Al abrasyi, Ruhu Al Tarbiyah wa Al Ta`lim, Mesir, Daru Ihya Al
Kutubi Al ` Arabiyyah, 1950 M/1369 H, hal 137-138
        267
            W.J.S. Poerwadarinta, Op. Cit ., hal.844.
        268
             Al Ghazali, IV, Op. Cit., hal.62
        269
            Ibid.
        270
            Al Ghazali,iv ,op. cit.,hal 62.
                                                                                                 139




        Ada orang yang sabar , tetapi ingin segera mendapat hasil di pihaknya . meskipun
untuk itu ia tidak segan- segan memaksa atau bahkan memukul orang lain . jika dianalog
kepada orang tua yang mendidik anak ,memang ada diantara mereka yang bahkan amat
tabah atau sabar mendidik anak ,tetapi ingin segera merasakan beruntung di pihaknya
,yaitu ingin anaknya cepat pandai , meskipun untuk itu anaknya terpaksa menderita
akibat paksaan , kekerasan dan pukulannya . cara semacam itu sebenarnya tidak dapat di
katakan sabar dalam artiyang sesungguhnya .
        Manusia ,pada hakikatnya ,hanya wajib berusaha ,sedang ketentuan keberhasilan
atau kegagalan tetap berasa dalam rahasia Allah.271 oleh karrena itu ,setiap orang tua
wajib berusaha mendidik anaknya dan ia harus sabar dalam halitu ,sedangkan urusan
keberhasilannya
        Adalah tuhan menentukannya .ia harus sabar menunggu ,karena ilmu atau
kecakapan dan keterampilan lainnya hanya akan secara berangsur dating kepada anaknya
,sesuai dengan tahap perkembangan ,tingkat kematangan dan iq anak itu .kesabaranya itu
haruslah sesuai dengan sunnah alamiyah (hukum ala) ,yakni ibarat kesabaran para petani
menuggu pohon yang di tanaminya berbuah ,sebab setiap pohon hanya akan berbunga
dan berbuah sesuai denngan tahap dan kodrat alaminya masing-masing .
        Disamping sabar,setiap orang tua harus yakin akan keberhasilan upayanya dalam
mendidik anaknya .keyakinan itu akan membuatnya menjadi senantiasa giat serta tidak
mudah jenuh dalam upaya tersebut .Apalagi,setiap orang tua yang muslim yakin bahwa
Allah SWT telah berjanji akan menolong hamba-hambanya yang berusaha dengan yakin
dan sabar.memang janji alllah senantiasa benar dan pasti serta akan terbukti tepat pada
waktunya .272 orang yang hidup pasti akn mati tepat pada waktunya , karena begitulah
janjinAllah atas sekalian yang bernyawa .atau seperti bibit kelapa (atau lainnya) yang
ditanamkan pada lahan yang subur pasti akan tumbuh dan berbuah tepat                pada
waktunya, karena demikianlah janji Allah atas setiap pohon yang berbuah. Kemudian
,semakin besar bobot tugas yang di pikul dan semakin besar upaya yang akan di
laksanakan maka kian tinggi pula kualitas kesabaran yang di tuntut.mendidik anak adalah
tugas yang berat ,karena di samping di akui memang kompleks dan rumit juga memakan
tempo yang berkelanjutan selama puluhan tahun ,sejak dari masa di dalam kandungan
atau bahkan – sesuai dengan konsepsi islam tentang pendidikan anak—sejak dari saat-
saat pemilihan jodoh.di negara-negara maju dewasa ini ,sudah di pikirkan teknologi
pendidikan anak sejak 9 bulan di dalam kandungan ,terutama setelahdiketahui bahwa
kondisi ibu yang sedang mengandung berpengaruh secara signifikan atas kondisi anak
yang di kandungnya .273 Pendidikan anak karena akan dilaksanakan sampai dengan ia




        271
               lihat Q.S. Al Nahl: 96; AL baqarah:233;Alan`am;151;Althalaq:3;Al`Ankabut
:60;Lnahl :97:AL kahf ;88;alan`am ;132,dan banyak lagi
         272
              lihat Qs.Alra`d;22;Alnahl;96;yusuf;9;AL nisa ;122; yunus; 4 dan 55; hud; 45;
maryam;61; Alhajj;48;Alrum;6
         273
             60 lihat Arthur t. jersild / charles w.telford/james M.sawerey,child psychology, seventh
Edition ,prantic –hall inc ,.Englewood cliffs, new jersey ,1974,hal.57-58 lihat juga ; Elizabeth B.
Hurlock ,child development, seventh Edition ,Mc craw –Hill Book company ,Neew york st Luis
san fransisco Aucland Bogoto dusseldorf Johannesburg London Madrid ,1978,hal 67 dan 71-72.
         Lihat juga ElizabethB. Hurlock ,developmental psychology,Alife-span Approach ,fifth
Edition ,Mc graw hill company , New york san fransisco …1980,hal.41-45 dan 46-47. lihat juga
:iram E.Fitzgerald,EllenA,strommen, john paul Mckinney, developmental psychology,the infant
and young child,revised Edition ,the doorsey press, home wood,ILLionis,1982,hal.56
                                                                                        140




berumur 25 dan bahkan 30 tahun,274 maka kualitas kesabaran yang di tuntut dari pihak
orang tua tentulah lebih tinggi ,sejak dari kesabaran yang di tuntut dari pihak orang tua
ttentulah lebih tinggi ,sejak dari kesabaran berusaha mengadakan makanan ,pakaian
,perumahan ,biaya perawatan /pengobatan ,pendidikan dan bahkan sampai kepada biaya
mengawinkannya dan sebagainya.
        Di samping itu ,orang tua sering terpaksa terlibat dengan beraneka masalah berat
yang harus diatasinya yang terjadi karena ulah anaknya yang nakal .masalah itu selain
memakan enrgi juga menuntut pengorbanan tenaga,perasan dan bahkan biaya yang
kadanng-kadang sampai mencapai jumlah yang cukup besar.oleh karena itu ,kesabaran
yang melekat dan berkesinambunganlah yang dapat di harapkan menjadi modal yang
menunjang bagi keberhasilan orang tua dalam upayanya mendidik anaknya .
        Dari 20 kasus anak yang di teliti ternyata 15 orang tidak berhasil menamatkan
sekolahnnya di SD ,smp,dan sma
,karena orang tuanya tidak sabarmenghadapi berbagai masalah yang muncul.275
lima orang yang dapat menyelesaikan sekolahnya sampai tingkat SMP karena bantuan
orang lain .kegagalan 15 oranganatersebut bervariasi sebagai berikut :
1. Kasus 1,2,3 dan 4 di keluarkan orangtuanya dari SD karena beberapa kali tinggal
   kelas .mereka di katakana bodoh ,,tidak punya otak dan karenanya tidak perlu
   disekolahkan .
2. Kasus 5,6,7, dan 8 di usir dari SD karena 2 yang pertama selalu mencuri dan 2 yang
   kedua selalu berkelahi dan bodoh dalam kelas setelah di usir ,orang tua nya tidak
   menyekolahkannya lagi.
3. Kasus 9,10dan 11 di usir dari smp karena menyelewengkan uang spp,terlalu sering
   bolos dan ,meskipun sudah di beri nasehat ,tidak memperlihatkan kemauannya untuk
   memperbaiki dirinya. Orang tuanya ,setelah mengetahui pengusiran itu ,tidak lagi
   berusaha melanjutkan sekolahnya .
4. Kasus 12,dan13 (laki-laki) di usir dari SMA kelas II karena terlibat narkotika dan
   prilaku asosila .setelah mengetahui hal itu ,orang tuanya tidak beersedia lagi
   mendidiknya .
5.    Kasus 14 dan 15(siswi)di usir dari SMA kelas II karena yang satu di ketahui telah
     hamil danyang ke dua terlibat narkotika. Orang tuanya karena merasa sakit hati tidak
     mau menyekolahkannya lagi.

       Kasus-kasus tersebut di temukan di SD,SMP dan SMA yang berlainan di Jakarta
.yang menjadi masalahadalah bahwa orang tua mereka masing-masing mudah putus
harapan dan kehilangan kesabaran .mereka tidak berusaha lagi untuk mencari upaya
optimaldemi kebaikan anak-anak mereka di belakang hari .di pihak lain terlihat banyak

        274
            masa kanak-kanak+masa sekolah dasar+masa sekolah menengah+masa perguruan
tinggi (s1,belum terhitungs2 s3 )adalah 6+6+6+4 (7)tahun (tidak termasuk masa tinggal kelas)
menjadi ber jumlah 22 (25)tahun.
        275
           anak-anak yang tidak berhasil menamatkan sekolahnya karena kemiskinan orang
tuanya atau karena hambatan-mambatanlain yangdi luar perkiraan atau kemampuan manusiawi
dalam penelitian ini .
                                                                                      141




orang-orang tua yang malah berusaha mendidik anaknya yang lemah ingatan (feeble
minded) melalui sekolah luar biasa,meskipun untuk itu mereka harus membayar mahal .
        F .Pemaaf.
        Anak tidak akan bernama anak lagi jika ia sudah berprilaku seperti orang dewasa
atau tua.ia,betapapun juga ,anak yang bertingkah laku ,bersikap dan berbuat sebagai anak.
Ia bukan orang yang sudah berakal, berpikiran dan mempunyai pertimbangan-
pertimbangan. Oleh karena itu, dalam menghadapiya dan terutama dalam mendidiknya,
setiap orang tua harus memperlakukannya sebagi anak, bukan sebagai manusia dewasa
atau tua.
        Dalam setiap kegiatan pendidikan senantiasa terjadi interaksi antara orang tua (
dalam ruamh tangga atau guru di sekolah) sebagai pendidik di satu pihak dan aanak
sebagai terdidik dipihak lainnya. Dari kedua pihak berinteraksi ini pihak pertamalah yang
di anggap atau menanggap diri lebih tahu, karena mereka lebih tua, lebih berilmu lebih
berpengalaman dan bahkan, lebih dari itu, merasa lebih mengerti tentang anak didiknya,
oleh karena itu mereka merasa lebihberhak menentukan arah, tujuan dan cara-cara
mendidik anak,. Jika terjadi penyimpangan kelakuan anak dari nilai atau norma yang
mereka tentukan segera mereka merasa berhak menghukumnya.
        Abdu Al Aziz Al Qashi menjelaskan bahwa kita merasa berhakmendidik anak
berdasarkan pemikiran bahwa kita telah memahaminya sepenuhnya, baik mengenai
factor-faktor yang bekerja didalam dan yang mempengaruhi jiwanya maupun jenis-jenis
pengaruh itu dan sebagainya. Padahal penelitian telah memperlihatkan bahwa betapun
luas dan dalamnya pemahaman kita tentang anak ternyata pemahaman tersebut
masihsangat jauh dari memadai. Sebenarnya pengetahuan kita tentang anak masih amat
sedikit hal ini disebabkan oleh, antara lain, karena kita tidak menempatkan diri kita di
tempat anak, atau tidak memahai aanak sebagaimana ia memahaminya dirinya.276
        Banyak pendidk, termasuk operang tua dalam rumah tangga, tidak berhasrat untuk
memahai anak. Tetapi, malah sebaliknya, mereka bermaksud supaya anaklah yang harus
memahami mereka, yakni memahami niat, cita-cita dan maksud serta keinginan orang
tua. Oleh karena itu, jika seorang anak berperilaku menyimpang segera ia dipandang
tidak mengerti kehendak dan cita-cita orang tua dan karena, ia pantas mendapat koreksi
dan, jika perlu, hukuman. Orang tua tidak akan memberi maaf kepadanya kecuali jika ia
telah mengaku bersalah dan memohon maaf dan berjanji akan mematuhi sepenuhnya
kehendak orang tua.
        Tetapi, memohon maaf tanpa mengetahui kesalahan merupakan beban mental
yang sangat berat dan juika dipaksakan akan menjadi problema kejiwaan yang mungkin
tidak terlupakan seumur hidup. Sebab, mengpa harus mengaku bersalah dan memohon
maaf—demikian dalam pikiran anak – jika sebenarnya ia tidak merasa bersalah.
Sebaliknya, ia harus mengaku bersalah dan harus memohon maaf karena dlam pandangan
orang tuanya ia sebenarnya telah berbuat salah. Mana yang sesungguhnya benar dari
kedua pandangan yang berlawanan secara ekstrim ini,
       Secara dangkal, jawabannya adalah kedua-duanya benar dilihat dari sudut
pandangnnya nmasing-masing secara terpisah. Orang tua menganggap dirinya benar
karena memang mereka lebih tahu dan lebih berpengalaman, tetapi sebagian terbesar dari
merka tidak mengerti tentang anak. Sebaliknya, anakpun merasa dirinya tidak bersalah
karena ia belum memahami konsep-konsep tenang nilai dan norma dan belum mampu
memahami orang tuanya. Akan tetapi jikalau dikaji secara ilmiah maka jawaban yang
muncul cenderung menyalah orang tua. Sebab merekalah yang sebenarnya sudah dewasa

       276
          ‗Abdu Al Aziz Al Qushi, Al Takayyuf Al Ijtima‘I li al athfal, Mesir, Maktabah Al
Nadhah Al Misriyyah, tt., Hal. 7
                                                                                              142




dan mampu berpikir logis yang, jika mau, dapat memahami anaknya sebagai anak, bukan
sebagai orang dewasa yang berbadan kecil. Oleh karena itu, mereka lah yang seharusnya
mengerti dan, karenanya harus memperlakukan anaknya sebagai anak sesuai dengan
periode perkembangannya.
        Sebaliknya, anak cenderung tidak dapat dipersalahkan karena ia belum dewasa
dan karenanya, belum mampu berpikir logis. Anak sebenarnya jujur dalam segenap sikap
dan perbuatannya ia berbuat seadnya, tidak lebih dan tidak kurang. Ia tidak mengada-ada
atau berpura-pura. Perbuatan-perbuatan yang dalam pandangannya tidak atau belum
diketahuinya sebagai salah segera dilakukannya apalagi—telah diketahui—dalam diri
anak belum terbina konsep-konsep nilai mengenai benar atau salah, baik atau buruk, halal
atau haram, seperti terbinanya hal yang sama dalam diri orang tua. 277
        Setiap orang tua, oleh karena harus berusaha memahami sejauh mungkin sikap
dan tingkah laku anak dari sudut pandangan anak itu sendiri sehingga dalam
menghadapinya dan atau mendidiknya ia tidak cepat marah atau terburu nafsu dan, dalam
banyak hal, segera memaafkannya. Sifat pemaaf sangat dituntut dari setiap orang tua
yang ingin berhasil dalam upayanya dalam mendidik anak, apalagi jika diingat bahwa
harta dan anak sebagaimana di firmankan oleh Allah, cobaan dengan mana ketabahan dan
kesabaran manusi diuji. 278 Bahkan Aalah menegaskan bahwa sebagian dri para istri dan
anak itu malah menjadi musuh yang harus dihadapi dengan cara berhat-hati, memaafkan
dan tidak dengan marah, seperti yang terlihat dalam firmannya:
               
               
       
   
        
           
                 
        Wahai orang-orang yang beriman sesungguhnya diantara istri-istri dan anak-
anaknya ada yang menjdai musuhmu. Maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka. Dan
jika kamu memaafkan, tidak memarahi dan mengampuni mereka maka sesungguhnya
Allah Maha Pengampun lagi maha Penyayang. (Q.S Al Taghabun: 14.)
        Ayat tersebut secara eksplisit menerangkan bahwa meskipun mungkin istri dan
anak telah menjadi musuh, namun memaafkan, tidak memarahi dan mengampuni mereka
adalah jaminan bagi kemungkinan bahwa Allah SWT akan memaafkan dan mengampuni
pula. Tetapi ayat tersebut sama sekali tidak memberi petunjuk bahwa hanaya memaafkan,
tidak memarahi serta mengampuni sebagai satu satunya dalam menghadapi atau mendidik
istri dan anak. Ayat itu sama sekali tidak menutup pintu bagi kemungkinan perlunya
hukuman atas setiap kesalahan anak bandel atau istri yang keterlaluan.279
         Fokus utama adalah bahwa setiap orng tua, dalam upayanya menidik anak, harus
mengutamakan maaf sepanjang kesalahan anaknya itu masih dapat dimaafkan. Ia harus
tidak segera memarahi apalgi memukul dan lebih jelek, mendendam. Secara Psikologis
mendendam lebih buruk daripada memukul. Sebab, orang tua, yang pendendam,

        277
            Anak akan berlaku fitrah seperti halnya dengan pada waktu dilahirkan. Ia tetap berbuat
sebagaimana adanya, tidak mengada-ada tidak berpura-pura kecuali lingkungan, terutama rumah
tangga mendidiknya untuk berperilaku lain.
        278
            Lihat Q.S. Al Anfal: 28.
        279
            Ajaran Islam tentang pendidkan megakui adanya hukuman bilamana sudah diperlukan.
Oleh karena itu, mengenai hukuman akan dibicarakan dibagian lain.
                                                                                  143




biasanaya, tidak mau memaafkan anaknya selama berhari-hari berbulan atau
bertahun.Selama masa mendendam, wajahnya selalu cemberut tidak mau menegur atau
bercakap –cakap dengan dan tidak bersedia mendekati atau didekati oleh anaknya. Ia
dengan sendirinya mudah marah dan bila menghukum baisanya berlebihan.
       Ada sementara orang tua merasa bahwa dengan mendendam itu ia mendapatkan
kepuasan disamping ada pula yang merasa bahwa dengan sikap itu anaknya jera dan,
karenanya tidak mengulangi lagi perbuatannya yang salah padahal, sesungguhnya karena
sikap pendendamnya itu anaknya akan semakin menjauh daripadanya sekurang-
kurangnya, pada masa- masa ia mendendam itu. Orang tua yang kemudian anaknya
sebagai pendendam.



lama-lama, akan tersisih dan bahkan disisihkan. Ia dengan sendirinya akan kehilangan
wibawa dan kemampuan mengontrol anak-anaknya. Sebab, anak-anak yang sudah jauh
akan sukar dikontrol. Itulah sebabnya mengapa orang tua pendendam sukar untuk, jika
takut mengatakan mustahil, dibayangkan berhasil mendidik anaknya.
        Setiap orang tua, oleh karenanya, bukan saja tidak boleh bersifat pendendam
melainkan sebaliknya, harus bersifat pemaaf. Setelah memarahi atau menghukum anak,
misalnya, orang tua harus segera dekat kembali kepada anaknya dengan cara
mengampuni dan memaafkannya. Ia harus segera ramah dengan mengatakan,
umpamanya, bahwa hukuman yang tadinya dijatuhkan atas anaknya hanyalah karena
kesalahan yang dilakukannya berulang-ulang, sedangkan kecintaannya kepadanya tidak
pernah luntur atau berkarang. Dengan demikian hubungan intim antaranya dengan
anaknya, tetap terpelihara. Hubungan tersebut amat tergantung kepada kemampuan orang
tua memperlihatkan kasih sayang dan kecintaannya yang tulus sehingga anaknya
mengerti dan merasakan bahwa ia, meskipun dihukum, tetap disayangi dan dicintai. Hal
itu akan membuat jiwa anak menjadi tentram, aman dan tidak merasa takut/terancam.

Ada 6 kasus ditemukan sehubungan dengan sikap orang tua yang tidak pemaaf
(pendendam):

Kasus 1 (12 tahun) lari dari rumah dan mencari uang dengan menjual rokok. Ia tidak mau
pulang ke rumah karena takut kepada ayahnya yang dikatakannya jika marah lalu kalap,
memukul berulang-ulang dan cembetut berminggu-minggu. Sikap ayahnya tetap
demikian, sejak ia masih kecil sampai sekarang.

Kasus 2 (13 tahun) sama dengan kasus 1, yaitu lari dari rumah dan mencari uang melalui
usaha menyemir sepatu. Ia tinggal di sebuah rumah dengan seorang wanita pembantu
rumah tangga, karena ia lakukan sebagai anaknya. Sebagian dari hasil yang didapatnya
dari usaha menyemir sepatu, ia serahkan kepada wanita itu.

Kasus 3 dan 4 (11 dan 13 tahun, perempuan) tidak lari dari rumah, meskipun sering
dijewer, dicubit dan dipukul sampai kulitnya biru-biru oleh ibunya masing-masing,
karena tidak tahu kemana akan pergi. Di sekolah mereka suka menyendiri, murung dan
mundur dalam pelajaran yang membuat ibu mereka menjadi semakin marah. Ayah
mereka sebagai tukang sayur dan jarang ada di rumah.

Kasus 5 dan 6 (11 dan 12 tahun) lari dari kota B di Jkt dan bekerja sebagai pembantu
dalam sebuah restoran. Ayahnya dikatakannya pendiam, tetapi kalau sudah marah lalu
                                                                                       144




mengamuk dengan kayu atau golok atau apa saja sehingga, jika tidak mau babak belur,
luka atau mati, mereka harus dengan cepat lari dan bersembunyi. Keduanya pernah
bersembunyi di rumah neneknya sampai lebih dari 3 minggu. Tetapi, ketika kemudian
pulang ke rumah, mereka tetap dimusuhi oleh ayah mereka.280
       Semua kasus itu menggambarkan betapa beratnya penderitaan anak dari para
orang tua yang tidak pemaaf, apalagi pendendam. Beberapa kasus lainnya yang
diketemukan minggat dari rumah atau gagal menamatkan SD, setelah ditelusuri, ternyata
banyak disebabkan oleh sikap orang tua yang tidak pemaaf atau pendendam.


g. Rukun dalam rumah tangga
       Kerukunan hidup suami isteri dalam rumah tangga merupakan syarat terpenting
bagi menunjang keberhasilan usaha mendidik anak. Kerukunan tersebut tidak saja akan
membahagiakan suami dan isteri lahir dan batin melainkan juga akan mententramkan
jiwa anak, membuatnya merasakan aman dalam rumah dan, lebih dari itu, menikmati
sepenuhnya kecintaan dan kasih sayang orang tuanya.281 Itu pulalah yang menjadi
sebagian kandungan dari firman Allah:

        
                
      
        
                
                         

    Dan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah bahwa Dia menciptakan
    untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri supaya kamu merasa tentram bersamanya
    dan (untuk itu) dijadikan-Nya di antaramu (suami-isteri) rasa cinta dan kasih sayang.
    Sesungguhnya hal itu menjadi tanda-tanda bagi mereka yang berfikir.
    Q.S. Al Ruum: 21.


         Suami-isteri yang paling mencintai di samping akan mampu membina rumah
tangga bahagia juga akan dapat membentuk kesatuan fikiran dan upaya dalam memimpin
dan mendidik anak-anaknya. Dari ayat tersebut di atas terlihat bahwa Islam telah dengan
secara mendasar mengajarkan keharusan saling cinta dan saling kasih antara suami dan
isteri dalam rumah tangga. Hal tersebut ditunjang oleh beberapa hadits Nabi Saw sebagai
berikut:

Anjuran memilih isteri yang beragama:282

    … maka pilihlah (nikahilah) wanita yang beragama, niscaya anda akan beruntung.
    H.R. Al Bukhaari dan Muslim.

Anjuran supaya berakhlak baik kepada keluarga:283

       280
           Semua kasus tersebut ditemukan di daerah Pasar Rumput, Slipi dan Tebet, Jakarta.
       281
            Marian E. Breckenridge & E. Lee Vincent, Child Development, Physical and
Phychological Growth, Through Adolescence, Philladelphia and London, W. B. Saunders
Company, Tokyo, Toopan Company, Limited, 1996, hal. 134-142.
       282
           ‗Abdullaah ‗Ulwaan, Op. cit., hal. 37.
                                                                                            145




    Yang terbaik di antara kamu adalah yang paling baik kepada keluarganya.
    H.R. Al-Thabraanii dari Abii Kabsyah.

Anjuran supaya berakhlak baik kepada isteri:284

    Yang terbaik di antara kamu adalah yang paling baik kepada isterinya.
    H.R. Ibnu Maajah dari Ibnu ‗Umar.

Anjuran memilih menantu yang beragama dan berkhlak baik:285

   Rasul Allah Saw berkata: Apabila datang (meminang puterimu) seorang laki-laki yang
   anda senang akan agama dan akhlaknya maka kawinlah (puterimu) dengannya. Jika
   anda menolaknya maka akan berkecamuklah fitnah dan (pada gilirannya) banyak
   penyelewengan di permukaan bumi.
    H.R. Al Tarmidzi.

Yang dimaksud dengan beragama dalam konteks ini adalah pemahaman dan pengamalan
ajaran agama secara benar dan baik serta simultan sehingga mempribadi pada dari dan
membudaya dalam keluarga dan masyarakat.286 Mengenai pengenalan dan pemilihan
seorang laki-laki, baik untuk pekerja maupun (bahkan lebih-lebih) untuk menantu, ‗Umar
Ibn Al Khaththab telah memperlihatkan ketelitiannya (yang terjemahannya) sebagai
berikut:287

   Seorang laki-laki datang menghadap ‗Umar RA dalam rangka menjadi saksi untuk
   laki-laki lain. ‗Umar bertanya (kepada laki-laki yang tersebut kedua; selanjutnya LK):
   ‗Apakah anda mengenal orang ini?‘
   LK: ‗Ya‘.
   ‗Umar: ‗Apakah          anda    tetangganya     yang     mengetahui      penghasilan     dan
   pengeluarannya?‘
   LK: ‗Tidak‘
   ‗Umar: ‗Apakah anda pernah menemaninya bepergian (musafir) sehingga anda kenal
   keluhuran akhlaknya?‘
   LK: ‗Tidak‘
   ‗Umar: ‗Pernahkah anda bekerjasama denganya dalam transaksi uang sehingga anda
   kenal benar akan kejujurannya?‘
   LK: ‗Tidak‘
   ‗Umar (berkata dengan suara keras): ‗Barangkali anda hanya melihatanya
   sembahyang, berdiri dan duduk, mengangkat dan menundukkan kepalanya di masjid.‘


        283
            Jalaalu Al Diin ‗Abdu Al Rahmaan Al Suyuuthi, Al Jaami‘ Al Shaghiir fii Ahaadiits Al
Basyiir Al Nadziir, II, Daru Al-Fikri, tk., tt., hal 8.
        284
            Loc. cit.
        285
            ‗Abdullaah ‗Ulwaan, Op. cit., hal. 37.
        286
            Ibid., hal. 35.
        287
            Ibid., hal. 35-36.
                                                                                      146




   LK: ‗Ya‘
   ‗Umar: ‗pergi‘! Anda belum mengenalnya.‘

Menurut ‗Umar, rupanya, ketaatan seseorang sembahyang di Masjid tidak dapat dijadikan
indicator satu-satunya bagi memperkirakannya sebagai berakhlak mulai, berprilaku jujur
atau beragama dengan benar. Persyaratan lainnya berupa keprilakuan seharian yang jujur
masih diperlukan bagi pengenalan kepribadian seseorang secara baik sehingga tidak
keliru dalam menetapkan pilihan pengangkatannya menjadi pekerja (pegawai) atau
pemungutannya sebagai menantu. Dengan terpenuhinya persyaratan agama dan akhlak
mulia tersebut pada kedua belah pihak, suami dan isteri, dapatlah didambakan akan
terbinanya rumah tangga yang semakin rukun dan bahagia.
Sebaliknya, suami-isteri yang saling membenci tidak saja akan membuat kondisi rumah
tangga menjadi pecah dan berantakkan melainkan juga akan menyebabkan anak-anak
merasa kehilangan pegangan, kesirnaan teladan dan, pada gilirannya, ketiadaan rasa aman
dan kasih sayang yang sangat potensial dan esensial bagi pembinaan kepribadiannya.
Pertengkaran dan atau perselisihan yang sering terjadi antara suami dan isteri ternyata
menjadi salah satu sebab yang bahkan mendorong bagi timbulnya kelainan prilaku, sikap
dan tingkah laku anak-anaknya. Kasus-kasus di bawah ini memperlihatkan ciri-ciri
kelainan tersebut:

   Dari 20 kasus anak-anak (di 2 buah SD di KL) yang mempunyai tingkah laku,
   terutama mundur dalam pelajaran, setelah diteliti ternyata 7 orang didominasi oleh
   satu sebab utama, yaitu kondisi rumah tangga yang tidak rukun. Dari segi fisik, jiwa
   dan IQ anak-anak tersebut terkategori normal dan rata-rata.

   Kasus 1 (kelas V, lk.) mulai mempunyai kelainan pada bagian akhir kelas III. Ia
   mudah lupa sehingga buku-buku dan alat-alat belajarnya berantakan. Hal itu rupanya
   bermula dari kekecewaan dan kesedihan yang kian menekan batinnya, karena kedua
   orang tuanya seringkali bertengkar dan berakhir dengan perceraian. Karena ikut ayah,
   ia terpaksa tinggal bersama ibu tirinya.

   Kasus 2 (kelas IV, lk.) sangat gagap, sukar menyatakan isi hatinya dan dua kali tinggal
   kelas. Kelainan terjadi sejak awal ia duduk di kelas III. Kedua orang tuanya saling
   mencurigai sehingga tidak pernah hidup secara harmonis dalam rumah tangga.
   Meskipun tidak bercerai, kedua orang tuanya tidak lagi serumah. Ibunya pulang ke
   rumah orang tuanya dan ia tinggal bersama ayahnya.

   Kasus 3 (kelas IV, pr.) murung, mengasingkan diri, mudah tersinggung, mudah
   menangis dan tinggal kelas satu kali. Kelainan mulai terlihat di awal kelas III. Kedua
   orang tuanya tidak mampu mempertahankan kestabilan rumah tangganya karena selalu
   berselisih sehingga berakhir dengan perceraian. Ia tinggal bersama neneknya.

   Kasus 4 dan 5 (kelas V, lk.) memperlihatkan kelainan di bagian akhir kelas III.
   Bukunya berantakan, pakaiannya tidak teratur dan tidak mudah diajak untuk
   bekerjasama. Kedua orang tuanya tidak pernah rukun, selalu bertengkar, malah
   berkelahi, meskipun tidak bercerai. Ayahnya selalu berkeluyuran malam dan ketika
   setelah larut malam pulang disambut oleh ibunya dengan bentakkan sehingga
   keributan tidak terhindarkan lagi.
                                                                                    147




   Kasus 6 dan 7 (kelas VI, pr.) sering sakit panas dan, karenanya, tidak dapat hadir ke
   sekolah. Kegiatan belajarnya menjadi sangat sangat menurun. Kedua orang tuanya
   selalu berselisih. Masing-masing saling mencurigai dan mengikuti kemauan dan
   pikiran sendiri. Ibunya berjualan sampai larut malam dan ayahnya keluar rumah
   sampai, kadang-kadang, beberapa hari tidak pulang.

   Semua kasus itu memperlihatkan betapa beratnya penderitaan batin anak jika suasana
   kehidupan kedua orang tuanya tidak rukun. Oleh karena itu, untuk memperoleh
   keberhasilan pendidikan anak perlu dibina kerukunan hidup berumah tangga antara
   suami dan isteri serta anak-anak seluruhnya.

4. Memenuhi kebutuhan anak
        Pendidikan anak akan berhasil jika semua persyaratan yang lazim untuk itu, baik
yang tersebut duluan maupun yang akan disebutkan belakangan, terpenuhi secara wajar.
Pada dasarnya kebutuhan anak dapat dibagi ke dalam dua belahan besar, yaitu kebutuhan
jasmani dan kebutuhan jiwa (rohani). Pembahasan selanjutnya dititikberatkan lebih
kepada kebutuhan jiwa karena segi ini tampak masih kurang mendapat perhatian.
    a. Kebutuhan jasmani
        Kebutuhan-kebutuhan jasmani, seperti makanan, pakaian, perumahan
(perlindungan), kesehatan dan sebagainya termasuk kebutuhan primer yang menjamin
kelestarian eksistensi manusia di permukaan bumi. Hal ini segera dapat dipahami oleh
setiap manusia, betapapun primitifnya, sehingga dalam realitas kehidupan manusiawi
kebutuhan jasmani telah menduduki skala perioritas yang pertama dan diutamakan.
Kebutuhan jasmani tersebut dirasakan sedemikian pentingnya sehingga kebutuhan jiwa
anak yang malah berperan sangat dominan dalam pembinaan keutuhan kepribadiannya,
kurang mendapat perhatian.
        Di sinilah letak kesenjangan perhatian sebagian orang tua dalam kaitannya dengan
upaya pendidikan anaknya. Padahal, penelitian di bidang pendidikan telah
memperlihatkan hasil bahwa sebagian besar daripada sebab ketidakberhasilan pendidikan
anak adalah karena tidak terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan jiwanya secara wajar.
Betapa banyaknya anak-anak dari kalangan berpunya yang dari segi kebutuhan jasmani
telah terpenuhi secara yang bahkan berlebihan menjadi bandel, berandal, kriminal dan
sebagainnya. Kasus-kasus terdahulu -- dalam disertai ini -- memperlihatkan bahwa
kelainan tingkah laku anak sebagian besar disebabkan oleh kesenjangan antara
pemenuhan kebutuhan jasmani dan kebutuhan jiwanya.
    b. Kebutuhan jiwa
        Studi dibidang perawatan jiwa anak telah memperlihatkan bahwa meskipun
instinct (naluri) dapat menafsirkan tingkah laku anak-anak, tetapi senantiasa ditemukan
kesulitan untuk memahami intensitasnya. Para ahli jiwa akhirnya berhasil menemukan
penafsir (pengungkap) lainnya yang ternyata lebih membantu dalam memahami latar
belakang daripada kelainan tingkah laku ketimbang instinct. Penafsiran itu mereka
namakan kebutuhan-kebutuhan jiwa (psychological needs). Mereka berpendapat bahwa
kelainan tingkah laku anak tersebabkan oleh karena kebutuhan jiwanya (sebagian atau
seluruhnya) tidak terpenuhi.
        Para ahli jiwa tersebut berbeda pendapat mengenai istilah dan jumlah kebutuhan
jiwa. Sebagian mereka mengemukakan 3 kebutuhan jiwa yang asasi:
     1) Al Haajah li al numuwwi (growing up), yaitu kebutuhan akan pertumbuhan dan
     perkembangan pada segala aspek manusiawi, misalnya pertumbuhan jasmani,
                                                                                     148




    perkembangan kognitif, afektif, psikomotor dan sebagainya, termasuk naluri makan,
    ingin tahu, bongkar pasang dan lain-lainnya.
    2) Al Haajah li an yakuuna li al fardi muyuul (loving), yaitu kebutuhan akan
    menyayangi, menyenangi atau yang tampak pada keinginan anak untuk sayang
    kepada adiknya, mengajak teman untuk bermain-main dengannya, memberikan alat-
    alat permainannya untuk dipakai oleh temannya dan sebagainya.
    3) Al Haajah ilaa an yakuuna al fardu nafsuhu maudhuu‘a mailin (being loved),
    yaitu kebutuhan akan disenangi atau dicintai yang tampak pada keinginan anak agar
    kecintaan orang tuanya sepenuhnya tertumpahkan kepadanya, termasuk kecintaan
    kakak dan adiknya, teman sepermainan atau sekelasnya, guru-gurunya dan orang-
    orang lain di sekitarnya.288
Para ahli jiwa lainnya di bidang ini mengemukakan 6 kebutuhan jiwa. Dari segi
operasionalisasi dan penerapan, penemuan mereka ini tampak lebih jelas aplikatif.
Kebutuhan-kebutuhan tersebut adalah:
    1) Al Haajah li al amni (the need of security), yaitu kebutuhan akan rasa aman.
    2) Al Haajah li al mahabbah (the need of affection), yaitu kebutuhan akan rasa kasih
    sayang atau dicintai.
    3) Al haajah li al taqdiir (the need of recognition), yaitu kebutuhan akan rasa
    dihargai.
    4) Al Haajah li al hurriyyah (the need of freedom), yaitu kebutuhan akan kebebasan.
    5) Al Haajah ilaa al najaah (the need of success), yaitu kebutuhan akan rasa berhasil
    (keberhasilan).
    6) Al Haajah ilaa sulthatin dhabitah aw muwajjihah (the need of control), yaitu
    kebutuhan akan rasa terpimpin atau kekuatan yang mengontrol.289

Rasa aman tidak saja dibutuhkan anak pada segi fisik melainkan juga pada aspek mental.
Anak selalu memohon makan dan minum, perlindungan dari panas dan dingin,
pengobatan dari sakit kepada ibunya. Sedang dari segi keamanan mental terlihat pada
ketakutannya akan sesuatu yang aneh baginya. Ia akan segera menyelidiki dan
mengenalinya sehingga, pada akhirnya, ia akan mendekat atau menjauhkan diri
daripadanya. Anak yang tidak merasa aman dalam rumah tangga, misalnya karena sikap
orang tua yang terlalu keras, pada suatu saat, akan lebih tenang berada di luar rumah dan
bergabung dengan teman-teman di mana ia menemukan rasa aman tersebut. Bila
dirasanya dirinya sudah kuat, mungkin sekali ia akan melawan atau menampilkan sesuatu
tingkah laku yang lebih menyakitkan hati orang tuanya – sebagai balas dendam – karena
mememenuhi keinginannya menumpas orang-orang yang diperkirakannya sebagai biang
keladi pengganggu keamanannya.290
Rasa Kasih Sayang tampak pada keinginan anak untuk memiliki sepenuhnya kecintaan
orang tuanya kepadanya, termasuk orang-orang yang berada disekitarnya. Ia, meskipun
masih kecil, ingin disayangi dan menyayangi, dicintai dan mencintai. Masalahnya terletak
pada rasa, yakni apakah anak merasakan bahwa ia disayangi atau dicintai. Sebab banyak
orang tua yang merasa bahwa ia telah menumpahkan kasih sayang dan kecintaannya
kepada anaknya, tetapi sebaliknya, anak tidak merasakan adanya kesayangan dan
kecintaan itu. Beberapa kasus memperlihatkan bahwa anak-anak yang tidak merasakan
kasih sayang orang tua dalam rumah tangga, akhirnya meninggalkan rumah, menjadi
pencuri, pemabuk, pengisap ganja dan sebagainya.291

       288
           ‗Abdu Al ‗Aziiz Al Quushi, Op. cit., hal. 71-72.
       289
           Ibid., hal. 73.
       290
           Ibid., hal. 74.
       291
           Ibid.
                                                                                        149




Rasa dihargai tampak pada keinginan anak supaya ia diakui sebagai ada, berguna dan
berharga. Ia akan sangat kecewa jika dirasanya bahwa orang tuanya tidak
memperhatikanya, melalaikan atau membiarkannya saja. Anak yang kecewa karena sikap
semacam itu mungkin sekali akan merasa rendah diri, tidak berguna atau tidak berharga
atau sebaliknya, membuat tingkah laku yang aneh-aneh, sehingga kelihatan seperti anak
nakal, agar ia diperhatikan. Jika dengan tingkah laku aneh itu mendapat perhatian maka
tingkah laku serupa akan ia ulangi. Bahkan sering, dengan dilarang dan dimarahi, ia
merasa mendapat perhatian dan penghargaan.
Oleh karena itu, sebaliknya setiap orang tua melihat dengan penuh kasih sayang kepada
anak pada waktu bercakap-cakap dengannya, pada waktu menyuruh atau melarangnya
dan pada waktu memberi kepada atau meminta sesuatu daripadanya. Dengan demikian ia
akan merasa dihargai. Hal itu akan menumbuhkan optimisma dan percaya diri serta
keteguhan dalam dirinya. Beberapa kasus memperlihatkan bahwa anak yang tidak merasa
dihargai tidak saja akan nakal -- karena bersusah-payah mencari perhatian -- melainkan
juga bisa menjadi kecewa, mundur, tidak bergairah, malas, lengah dan sebagainya.292
Kebutuhan akan kebebasan, dalam bentuknya yang paling sederhana, terlihat pada
sikap anak yang memberontak/melepaskan diri jika dihambat atau dilarang dari,
misalnya, bermain-main, lari, meloncat-loncat dan sebagainya. Ia ingin bebas
mengungkapkan diri, berkata-kata, berbuat dan bahkan berfikir. Kebebasan dalam hal-hal
itu sebenarnya sangat besar peranannya dalam membantu pertumbuhan anak, baik segi-
segi fisik maupun segi-segi jiwa atau mentalnya. Dengan kebebasannya itu, ia akan dapat
memahami mana di antara sikap dan perbuatannya yang diterima atau ditolak oleh orang
lain.
Dalam memenuhi keinginannya akan kebebasan itu anak akan merasakan sendiri
kebutuhan jiwanya yang lain, yaitu kebutuhan akan adanya kontrol atau pimpinan yang
dengan bijaksana dan lembut memberi petunjuk kepadanya. Ia akan dengan sendirinya
memahami bahwa kebebasannya tidaklah mutlak atau tanpa batas sama sekali, berkat
adanya kontrol atau pimpinan dari orang tua, guru ataupun orang lainnya. Kombinasi
yang seimbang dan wajar antara dua kebutuhan jiwa tersebut akan membuat anak lebih
memahami dan menemukan/mengenal dirinya dalam kaitannya dengan interaksi social
yang akan dihadapinya pada masa mendatang.293
Rasa berhasil sangat dibutuhkan oleh anak sejak kecilnya. Rasa berhasil itu di samping
membuat anak percaya kepada dirinya dan merasa tentram serta berbahagia dengan
keberhasilannya itu juga akan membina sikapnya ke arah yang lebih baik dan terampil.
Keberhasilan yang diperoleh anak pada waktu mula-mula ia belajar berjalan akan
mendorongnya untuk mengulang-ulangnya. Rasa berhasil itu akan lebih bermakna lagi
jika didorong dengan cara memperlihatkan kegembiraan atas keberhasilannya itu, baik
oleh orang tua maupun orang-orang lainnya. Oleh karena itu, adalah sangat tidak baik
manakala orang tua atau orang-orang lain disekitar anak memperlihatkan sikap tidak
gembira atas keberhasilan tersebut, apalagi menyatakan kegagalannya. Anak akan merasa
kecewa dan, karenanya, tidak akan terdorong mengulanginya sehingga, pada gilirannya,
kegagalan yang sebenarnya mungkin akan terjadi.294 Kegagalan seorang murid dalam
belajar bahasa Belanda, umpamanya, mungkin sekali menyebabkannya semakin malas
mempelajarinya dan, akhirnya, kegagalan yang sebenarnya terjadi.


       292
             Ibid. Sebenarnya orang tua sendiri akan sangat benci kepada orang-orang yang
dirasanya tidak mau menghargainya ditengah-tengah masyarakat. Ia mungkin akan bertindak atau
membalas dendam kepada orang itu.
        293
            ‗Abdu al ‗Aziiz al Suushii, Op. cit., hal. 74-75.
        294
            Ibid., hal. 75.
                                                                                     150




Pemahaman tentang kebutuhan-kebutuhan jiwa tersebut selain dapat membantu bagi
penelusuran latar belakang daripada kelainan tingkah laku seorang anak (atau remaja,
dewasa dan tua), juga amat berguna bagi membantu melancarkan penyelenggaraan
perawatan dan penyembuhan. Oleh karena itu, setiap orang tua, dalam upayanya
mendidik anaknya, hendaknya berusaha memahami dan sekaligus memenuhi kebutuhan
jiwanya sesempurna mungkin.
Beberapa kasus kenakalan dalam kalangan remaja, seperti senang berkelahi, senang di
luar rumah, ketagihan minuman keras, terlibat narkotik dan morfin, malas sekolah dan
sebagainya, setelah ditelusuri, ternyata banyak disebabkan oleh karena tidak terpenuhinya
sebagian atau semua kebutuhan jiwa mereka, misalnya merasa tidak aman di rumah,
merasa tidak disayangi, merasa tidak dihargai, merasa tidak adanya pimpinan (kontrol)
dari orang tua (bahkan merasa tidak mempunyai orang tua) atau kebutuhan-kebutuhan
jiwa yang lainnya.
5. Membina kreatifitas anak
    a. Perhatian terhadap pembinaan kreatifitas
Para ahli pendidikan telah lama mengenal pentingnya pembinaan kreatifitas anak didik,
baik secara individual oleh orang tua dalam rumah tangga maupun secara individual atau
kolektif oleh guru di sekolah. Meskipun demikian, pembinaan tersebut masih kurang
mendapat perhatian karena beberapa hal, sebagai berikut:
    1) Adanya kepercayaan tradisional bahwa potensi kreatifitas hanya dapat dimiliki
        melalui keturunan dan, oleh karenanya, tidak ada yang dapat dilakukan untuk
        membuat seseorang menjadi kreatif.
    2) Adanya semacam keyakinan bahwa hanya sedikit orang yang memiliki
        kemampuan kreatif dan bahwa penelitian ilmiah seharusnya difokuskan kepada
        hal-hal yang bergunan bagi umum, bukan kepada golongan kreatif yang
        jumlahnya kecil.
    3) Adanya semacam keyakinan bahwa golongan rata-rata (average) -- IQ normal
        tetapi tekun -- adalah lebih besar kemungkinan berhasilnya di dalam kehidupan
        daripada kelompok mereka yang kreatif yang biasanya hidup dan mati dalam
        kondisi miskin dan kreasi mereka hanya dikenal setelah mereka meninggal.
    4) Adanya kepercayaan bahwa orang-orang kreatif adalah abnormal di bidang
        seksual -- pria yang kreatif bersifat kewanita-wanitaan dan wanita yang kreatif
        bersifat kelaki-lakian -- sehingga orang tua tidak senang kepada anaknya yang
        terlihat kreatif.
    5) Kreatifitas, dikatakan, sukar dikaji dan bahkan lebih sulit untuk diukur. Tekanan
        yang sekarang diutamakan kepada pengukuran perbedaan kualitas manusia --
        intelejensi, kepribadian, kemampuan mekanis -- telah menyebabkan para
        ilmuwan mengabaikan penelitian ilmiah di bidang kreatifitas yang secara
        metodologis sangat sulit itu.295
    b. Pengertian kreatifitas
Beberapa pengertian umum telah dikemukakan oleh para ahli mengenai kreatifitas.
Secara popular pengertian kreatifitas adalah membuat/menciptakan sesuatu yang baru dan
lain dari yang sudah ada. Banyak orang berpendapat (mungkin tidak secara teoritis)
bahwa kreatifitas dapat diukur dari hasilnya, bukan dari pemikiran atau idea yang
diciptakan. Tetapi, sebenarnya, kreatifitas harus dipandang sebagai suatu proses dengan
suatu proses dengan mana sesuatu yang baru, baik idea-idea maupun objek-objek,
dihasilkan dalam bentuk atau tata yang baru.296


       295
             Elizabeth B. Hurlock, Op. cit., hal. 324.
       296
             Loc. cit.
                                                                                     151




Pengertian yang dikemukakan oleh Drevdahl,297 tampak lebih mencakup:

    Kreatifitas adalah kemampuan seseorang untuk menghasilkan tatanan-tatanan,
    produk-produk ataupun idea-idea mengenai sesuatu yang secara esensial baru yang
    sebelumnya tidak dikenal oleh pencipta (sendiri). Ia mungkin berupa semacam
    aktifitas imajinatif atau sintesa pemikiran yang hasilnya tidak merupakan sekedar
    abstraksi atau ringkasan. Ia mungkin saja merupakan pembentukan pola-pola baru,
    kombinasi-kombinasi dari informasi yang diperoleh dari pengalaman masa lampau
    atau transplantasi hubungan-hubungan lama ke dalam situasi baru dan mungkin juga
    mengembangkan korelasi-korelasi baru. Ia harus bertujuan atau mengarah kepada
    tujuan. Ia bukan fantasi picisan, meskipun tidak memerlukan persyaratan aplikasi
    praktis atau hasil yang sempurna dan utuh secara segera. Ia dapat lahir dalam bentuk
    seni, karangan, produk ilmiah atau prosedur dan metodologi alam.

Kreatifitas, dari segi kejiwaan, memberi anak kepuasan dan kebahagiaan pribadi yang
sangat membantu bagi perkembangan dirinya. Tidak ada yang memuaskan anak melebihi
daripada keberhasilannya menciptakan sesuatu yang diciptakannya itu hanya sebuah
rumah-rumahan yang dibuatnya dari kursi-kursi yang dibalikkan dan diberinya atap
dengan rerumputan atau kain-kain tua. Sikap kreatif semacam itu sangat bernilai bagi
anak kecil, karena dengan itu seluruh kegiatannya terpusat. Bila kreatifitasnya itu dapat
membuatnya senang maka ia akan sangat puas dan berbahagia.
Kreatifitas sering menjadi penunjang bagi pembentukan jiwa kepemimpinan. Pada setiap
tingkatan umur, pemimpin harus mampu menyumbangkan sesuatu kepada kelompok
yang oleh setiap anggota dirasakan perlu dan penting. Sumbangan pemimpin kelompok
anak mungkin saja merupakan anjuran untuk melakukan sesuatu kegiatan permainan
dengan cara yang baru, atau membentuk semacam panitia dengan pembagian peranan dan
tugas tertentu. Tetapi sama sekali tidak berlaku otomatis bahwa semakin kreatif seorang
anak akan semakin besar sumbangannya kepada kelompok, atau bahwa ia semakin
berbahagia dan semakin baik penyesuaian sosialnya. Sering juga idea seorang anak yang
kreatif tidak terlaksanakan olehnya atau tidak terfahami dan atau terlakukan oleh
kelompok sosialnya. Hal ini akan membuatnya merasa gagal yang, pada gilirannya, bisa
mengganggu perkembangan kepribadian dan penyesuaian sosialnya.298

c. Kondisi yang menunjang daya kreatif
Setelah diketahui bahwa setiap anak memiliki potensi kreatif, meskipun dengan kualitas
yang berbeda, diterima pulalah pendapat bahwa lingkungan harus membuka kesempatan
dan sekaligus memberi dorongan bagi setiap kreatifitas untuk berkembang. Pendapat
tersebut telah mendorong bagi terselenggarakannya penelitian secara intensif untuk
mengetahui mana di antara kondisi-kondisi social yang menunjang ataupun menghambat
perkembangan kreatifitas anak. Hasil beberapa penelitian memperlihatkan adanya 2
kondisi penting:
Pertama, sikap social yang tampak tidak menunjang perkembangan daya kreatifitas anak
harus dihindarkan. Setiap orang tua harus berusaha membuat kondisi sedemikian rupa
sehingga potensi kreatifitas anaknya mendapat kesempatan untuk berkembang dengan
baik.
Kedua, kondisi tersebut harus dipersiapkan sedini mungkin, yaitu pada saat kreatifitas
anak telah memperlihatkan dirinya dalam permainannya. Pengkondisian tersebut harus


       297
             Ibid., hal. 326.
       298
             Ibid., hal. 327-328.
                                                                                             152




dilakukan secara berkesinambungan sampai dengan kreatifitas anak berkembang dengan
baik.299
Secara terjabar kondisi-kondisi itu dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
1)   Kesempatan.Setiap anak, agar menjadi kreatif, harus diberi kesempatan untuk bermain-main,
     mencoba, mengerjakan, mengatasi, menyelesaikan berbagai idea, konsep, masalah atau
     lainnya yang dihadapinya dalam cara yang secara original menggunakan pikirannya sendiri.
2)   Kebebasan. Setiap anak, agar menjadi kraetif, harus dibebaskan dari segala macam tekanan,
     terutama tekanan kelompok social. Untuk menjadi kreatif diperlukan waktu dan kebebasan
     yang cukup.
3)   Motivasi. Setiap anak, betapapun rendahnya potensi dan kecakapan yang dimilikinya atau
     cacat yang dideritanya, harus didorong untuk menjadi seorang yang kreatif. Ia harus
     dibebaskan dari beban jiwa yang sifatnya negatif, seperti ejekan, kritikan yang dicurahkan
     kepada anak yang kreatif.
4)   Alat-alat permaian.Anak, karena senang bermain-main, sejak dini sudah harus diberi alat-alat
     permainan yang menyenangkan, tetapi tidak membahayakannya. Kemudian, untuk
     membantu pengembangan kreatifitasnya, ia disuplai dengan bahan-bahan yang
     mendorongnya mengadakan eksplorasi dan percobaan yang merupakan element-element
     esensial dari pembinaan kreatifitasnya.
5)   Lingkungan yang mendorong.Kedua lingkungan utama, rumah tangga dan sekolah,
     harus mendorong pertumbuhan kreatifitas anak dengan cara memberikan bimbingan
     dan dorongan untuk menggunakan alat-alat dan bahan-bahan (sedapat mungkin
     dengan sengaja disediakan) yang merangsang daya kreatifitasnya. Bimbingan dan
     dorongan tersebut hendaknya diberikan sedini mungkin dalam rumah tangga dan
     berkesinambungan dengan masa-masa sekolah melalui alat-alat/bahan-bahan yang
     semakin terencana dan terarah.
6)   Hubungan yang wajar antara orang tua dan anak. Orang tua yang bersikap terlalu melindungi
     dan memanjakan anak atau, sebaliknya, terlalu membebaskannya tidak akan membuat
     anaknya menjadi kreatif. Oleh karena itu, setiap orang tua haruslah bersikap motifatif
     terhadap anaknya agar lebih bebas dan percaya diri, dua sifat yang sangat besar andilnya
     dalam pembinaan daya kreatif.
7)   Suasana yang dapat membina kreatifitas.Suasana rumah tangga dan sekolah yang demokratis
     dan permissive, membenarkan anak untuk bermain, berlatih dan bekerja sendiri -- tentunya
     dengan pengawasan tertentu -- akan sangat membantu pertumbuhan kreatifitas anak.
8)   Kesempatan untuk memperoleh pengetahuan. Kreatifitas tidak mungkin tumbuh dan
     berkembang dalam suasana vakum, tanpa kegiatan memperoleh pengetahuan.
     Semakin banyak pengetahuan yang diperoleh anak semakin kokoh fundasi bagi
     pembinaan daya dan produk kreatifitasnya.300

d) Beberapa kondisi yang menghambat kreatifitas
Di dalam rumah tangga, kadang-kadang, terdapat banyak kendala atau kondisi yang
sering secara tidak disadari telah menghambat pertumbuhan dan perkembangan potensi
kreatifitas anak. Oleh karena itu, setiap orang tua harus -- dan bahkan diharuskan -- sadar
bahwa karena rumah tangga adalah lingkungan pertama dan utama bagi anak maka
sesuatu kondisi yang mengganggu pertumbuhan daya kreatifitas -- terutama pada masa-
masa awal munculnya -- dapat menjadi penghambat yang paling fatal bagi
perkembangannya di saat kreatifitas tersebut sudah datang untuk berkembang.
Di antara kendala-kendala tersebut adalah:



        299
               Ibid., hal. 330
        300
              Ibid., hal. 331.
                                                                                    153




1) Larangan melakukan eksplorasi.Apabila orang tua melarang anaknya untuk
melakukan penjagaan atau mengajukan pertanyaan, maka dengan sendirinya ia telah
menghambat perkembangan kreatifitas anaknya.

2) Pengawasan yang terlalu ketat.Apabila anak terlalu diawasi sehingga mendapat amat
sedikit waktu untuk mengerjakan sendiri sesuatu yang disenanginya, maka ia akan
kehilangan hal yang penting bagi perkembangan kreatifitasnya.

3) Pemaksaan kebersamaan kerja dalam keluarga.Mengharuskan mengerjakan sesuatu
secara bersama dalam keluarga, tanpa memperdulikan minat pribadi atau kesempatan
memilih, akan mengganggu pertumbuhan dan perkembangan kreatifitas anak.

4) Larangan berfantasi.Orang tua yang memandang berfantasi adalah membuang waktu
secara percuma dan cenderung mengundang hal-hal yang tidak realistic, tentu akan
melarang anaknya berfantasi dan akan menganjurkannya untuk melakukan perbuatan-
perbuatan yang dalam pandangannya mengandung faedah. Tetapi, tindakan semacam itu,
akan sangat menghambat perkembangan daya kreatifitas anaknya.

5) Penyediaan alat-alat permainan terstruktur.Anak yang hanya disuguhi alat-alat
permainan yang terstruktur, seperti popi yang lengkap dengan pakaian rapi, atau buku-
buku berwarna dengan gambar-gambar yang siap untuk hanya diberi warna, akan
mempersempit kebebasannya bermain yang sebenarnya sangat potensial bagi mendorong
perkembangan kreatifitasnya.

6) Konservatifitas orang tua.Orang tua yang sangat konservatif, terlalu teguh berpegang
kepada tradisi atau agama senantiasa kuatir akan memungkinkan terjadinya
penyimpangan daripada pola tradisi atau ajaran yang dianutnya. Ia ingin supaya anaknya
mengikuti jejaknya dengan teguh. Sikap semacam ini akan sangat menghambat
perkembangan kreatifitas anaknya.301
7) Perlindungan yang berlebihan.Terlalu memberi perlindungan kepada anak akan
dengan sendirinya mengurangi kesempatan baginya untuk melakukan eksplorasi guna
menemukan cara baru dalam menyelesaikan sesuatu. Hal ini akan mengurangi
kesempatan bagi berkembangnya daya kreatifitas anak.

8) Pendisiplinan yang otoriter.Pendisiplinan yang keras biasanya dilakukan oleh orang
tua otoriter yang selalu memaksa anaknya untuk mematuhi pola-pola yang telah mapan
dengan teguh dan setia. Tindakan semacam ini akan dengan sendirinya mengurangi
kemungkinan berkembangnya kreatifitas anaknya.


d. Pembinaan kreatifitas dalam ajaran Islam
Ajaran Islam tentang pendidikan anak -- sebagaimana telah disinggung dalam beberapa
pembahasan yang lalu -- tidak saja mementingkan pendidikan akhlak mulia melainkan
juga mengutamakan segala aspek dan sisi manusiawi, seperti jasmani, rohani, intelektual


       301
           Islam mengajarkan supaya daya kreatifitas anak dikembangkan sebaik-baiknya di
samping tetap harus berpegang teguh kepada ajarannya. Islam memerintahkan orang tua agar
senantiasa meyakinkan anaknya akan kebenaran ajaran Islam dan menghayati serta
mengamalkannya dengan teguh dan konsisten. Di samping itu, Islam memerintahkan agar
pemeluknya selalu berfikir dan berijtihad agar menjadi kreatif.
                                                                                      154




(ilmu), berbagai keterampilan dan pekerjaan.302 Mengenai pendidikan kreatifitas, ternyata
Rasul Allah Saw telah mengajarkannya melalui beberapa contoh, sebagai berikut:
Pertama,303

Rasul Allah Saw bersabda: segala sesuatu (yang dilakukan) bukan karena dzikrullah
(mengikuti ajaran Allah) adalah senda gurau yang sia-sia, kecuali empat macam:
memanah, melatih kuda, menggembirakan keluarga dan mengajarkan (anak)
berenang.H.R. Al Thabrani
C.
     Kedua,304

‗Uramah anak-anak (bermain-main, bergerak secara dinamis, berkelompok dengan
teman-temannya) di waktu kecilnya akan meningkatkan daya fikirnya (atau
kreatifitasnya) diwaktu ia telah dewasa.H.R. Tirmidzi.

Ketiga,305

     ‗Abdullaah bin Al Haarits mengatakan bahwa Rasul Allah Saw membariskan
     ‗Abdullaah, ‗Ubaidullah dan Kutsair ibn ‗Abbaas. Kemudian Rasul Allah Saw
     berkata: ‗Siapa yang lebih dulu sampai kepada saya, ia akan mendapat hadiah sekian,
     sekian.‘ ‗Abdullaah berkata: ‗Ketiga anak itu berlomba menuju Nabi Saw sehingga
     menimpa punggung dan dadanya. Nabi Saw mencium mereka dan bermain-main
     bersama mereka.‘
     H.R. Ahmad.

Keempat,306

     Terjemahannya .
     Jabir RA berkata: ‗Kami masuk ke (kediaman) Rasul Allah Saw, lalu kami diajaknya
     makan bersama. Pada saat itu Husain sedang bermain-main bersama-anak-anak lain
     di jalan. Rasul Allah Saw segera mendatangi kelompok tersebut bersama-sama
     dengan orang-orang lain. Kemudian Rasul Allah Saw membuka kedua tangannya dan
     berlari-lari ke sana dan ke sini. Ia ketawa melihat tingkah Husain, lalu menangkapnya
     dengan salah satu tangannya di leher Husain dan tangannya yang lain di antara kepala
     dan telinganya. Husain dipeluknya dan diciumnya (H.R. Al Thabrani.)

Hadits-hadits tersebut memperlihatkan betapa Rasul Allah Saw telah memberi contoh
dalam hal meluangkan kesempatan kepada anak-anak untuk bermain-main, bergembira
dan berkelompok dengan teman-temannya. Bahkan ia sendiri memperlihatkan
kegembiraan dan partisipasinya dalam hal itu. Permaian adalah salah satu kegiatan yang
sangat bermakna dalam membina kreatifitas anak.

6. Berdedikasi mendidik dan bertanggung jawab

         302
             Elizabeth B. Hurlock, Op. cit., hal. 332.
         303
             ‗Abdullaah ‗Ulwaan, II, Op. cit., hal. 1014.
         304
             Ibid., hal. 1015.
         305
             Loc. cit.
         306
             Ibid., hal. 1016.
                                                                                   155




Setiap orang tua yang bermaksud agar berhasil dalam upayanya mendidik anaknya tidak
saja harus memiliki persyaratan, seperti kepribadian yang baik, kemampuan memenuhi
ebutuhan jasmani dan jiwa serta kemauan membina kreatifitas anak dan lain-lainnya,
melainkan juga harus memiliki dedikasi dan tanggung jawab cukup tinggi. Yang
dimaksud dengan dedikasi adalah kesediaan berbakti, berjuang dan berkorban tanpa
pamrih pribadi.307
Jadi, orang tua yang berdedikasi tinggi dalam upaya mendidik anaknya ialah mereka yang
memiliki kesediaan berbakti, berjuang dan berkorban tidak saja tenaga dan dana tetapi
juga pikiran dan tindakan nyata. Dan orang tua yang muslim tidak pula mengharapkan
pujian dan imbalan atau lainnya dari dedikasinya mendidik anaknya kecuali keridhaan
Allah Swt dan -- sesuai dengan hadits nabi Saw -- agar anaknya menjadi insan saleh yang
akan mendo‘akannya, bilamana ia telah meninggal kelak.
Dalam realitas perjalanan hidup manusia tiada keberhasilan -- kecuali mungkin
keberhasilan semu atau lahiri -- tanpa perjuangan yang penuhi dengan dedikasi. Demikian
juga, keberhasilan mendidik anak tidak pernah akan tercapai tanpa perjuangan yang
memenuhi persyaratan dedikasi tersebut. Tetapi, dedikasi itu harus pula ditunjang oleh
tanggung jawab kemungkinan besar akan mengambang tanpa arah dan, pada gilirannya,
akan sia-sia. Seorang yang bertanggung jawab tidak mudah putus asa. Ia akan dengan
tabah menghadapi kenyataan, karena ia sadar bahwa lari dari kenyataan tidak akan
menyelesaikan masalah.
Orang tua yang bertanggung jawab dalam mendidik anaknya akan dengan tabah
menghadapi segala realitas atas masalah yang timbul sebagai akibat dari kegiatan
mendidik. Ia tidak mengelak dari tanggung jawab memenuhi segala kebutuhan yang
berkaitan dengan keperluan pendidikan anaknya. Ia senantiasa merasa terpanggil untuk
dengan secara tabah dan suka rela memikul beban yang sebenarnya menjadi
tanggungjawabnya, yaitu tanggungjawab mendidik anaknya.
Islam telah mengajarkan kewajiban bertanggungjawab itu secara tegas. Umat Islam,
kecuali yang masih kecil, gila atau tidak normal, semuanya terbeban tanggung jawab.
Sebagaimana dalam hadits berikut:308

   Laki-laki wajib memelihara keluarganya dan ia akan dimintai pertanggungjawaban
   dalam hal itu. Perempuan wajib memelihara (segala sesuatu) dalam rumah suaminya
   dan ia akan dimintai pertanggungjawaban dalam hal itu.
   H.R. Al Bukhaarii dan Muslim.

Allah Swt, mengenai tanggungjawab tersebut, berfirman:

   Dan sesungguhnya kamu akan dimintai pertanggungjawaban tentang apa yang kamu
   perbuat.
   Q.S. Al Nahl:93.

Ayat lainnya menjelaskan tentang tanggungjawab itu sebagai berikut:

   Maka demi Tuhanmu, kami pasti akan memintai tanggungjawab mereka semua,
   tentang apa yang mereka perbuat.


       307
             W. J. s. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahahasa Indonesia, Jakarta, PN Balai
Pustaka, 1976, hal. 235.
        308
            ‗Abdullaah ‗Ulwan, I, Op. cit., hal. 150.
                                                                                   156




   Q.S. Al Hijr: 92-93.

Ayat tersebut, meskipun terlihat menunjuk kepada pertanggung jawaban di akherat,
memberi petunjuk bahwa yang harus dipertanggungjawabkan itu nanti adalah segala
perbuatan yang dilakukan di dunia. Tetapi harus juga difahami bahwa kewajiban
bertanggungjawab di akherat itu sama sekali tidak mengandung makna terlepas dari
kewajiban bertanggungjawab di dunia.
Orang yang berbuat salah harus mempertanggungjawabkan kesalahannya itu di dunia,
sebelum mempertanggungjawabkannya di akherat. Maka, orang tua yang tidak mendidik
anaknya akan terpaksa memikul beban tanggungjawab atas kesalahannya, yakni tidak
akan mendapat hak berupa bantuan moral dan materiil dari anaknya. Di samping itu,
karena     kelalaiannya   akan    kewajibannya      mendidik    anaknya,    ia    harus
mempertanggungjawabkannya juga di akherat. Ia dikenakan hukuman siksa atas
kelalaiannya itu.
E. Tujuan mendidik anak
Tujuan mendidik anak sebenarnya berkaitan amat erat, bahkan inherent pada tujuan
umum pendidikan. Jika dirangkaikan dengan Islam, maka tujuan tersebut dengan
sendirinya berkait amat erat dengan dan bahkan inherent pada tujuan pendidikan Islam.
Dan tujuan pendidikan yang tersebut terakhir ini dengan sendirinya harus menjadi tujuan
pendidikan anak.
Dalam Bab II Disertasi ini, telah dibahas secara luas tentang tujuan pendidikan Islam.
Maka untuk merumuskan tujuan pendidikan anak secara definitive agaknya akan lebih
terbantu jika pendapat beberapa ahli pendidikan muslim yang tercantum dalam Bab II itu
diringkaskan dalam rangka menarik suatu rumusan yang lebih representatif dari ajaran
Islam tentang tujuan pendidikan anak.
Hasan ‗Abdu al ‗Aal mengemukakan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah membentuk
insan kamil (manusia sempurna, utuh). Yang dimaksudnya dengan insan kamil adalah
hamba Allah yang sejati, yakni manusia yang seluruh kegiatan hidup dan kehidupannya
diabadikannya dalam rangka mematuhi segala perintah Allah dan menjauhi segala
larangan-Nya.309

Khalil Thuthah memperinci tujuan pendidikan Islam ke dalam (1) tujuan keagamaan, (2)
tujuan kemasyarakatan, (3) tujuan ilmiah, (4) tujuan materi, (5) tujuan politik atau
golongan. la rupanya, dalam merumuskan tujuan pendidikan Islam, lebih melihat realitas
sosial yang sedang bergejolak di zamannya96.
‗Ali Khalil Abu al ‗Ainain membagi tujuan pendidikan Islam kepada tujuan asasi
(pokok, umum) dan tujuan fur'i (khusus). Sesuai dengan yang pertama, maka tujuan
pendidikan Islam adalah membentuk manusia agar meniadi hamba yang mengabdikan
diri sepenuhnya kepada Allah. Dengan yang kedua dimaksudkan bahwa tujuan
pendidikan Islam harus disesuaikan dengan tuntutan kondisi geografis, sosial, ekonomi
dan sebagainya. la, dalam perumusannya itu, memperlihatkan kemungkinan terbukanya
pintu pemikiran (ijtihad) dalam menggariskan tujuan pendidikan Islam sesuai dengan
kondisi zaman97.
Muhammad Munir Marsi mengemukakan bahwa tujuan pendidikan Islam tidak
mungkin lain kecuali, sesuai dengan tujuan penurunan agama Islam, meningkatkan
martabat manusia. Untuk itu, maka manusia harus dididik agar berakhlak mulia, mampu

       309
             Lihat Disertasi ini hal. 89-104.
       96
            Lihat disertasi ini hal. 90 –92
       97
            Lihat Disertasi ini hal. 90 – 92
                                                                                        157




berusaha untuk mencapai taraf kehidupan yang layak, mampu memikul tanggung jawab
sebagai penguasa di bumi dan, karenanya, harus memiliki ilmu yang memadai, dan
mengabdi/beribadat menyembah Allah dengan penuh ketakwaan310.
Muhammad Natsir, cendekiawan muslim Indonesia, mengemukakan bahwa tujuan
pendidikan adalah tujuan hidup. Sedang tujuan hidup muslim telah dengan secara
gamblang tertera di dalam Al Qur'an, yaitu: memperhambakan diri kepada Allah, yakni
menjadi hamba Allah, jadi, tujuan pendidikan adalah membentuk/membimbing anak
didik agar memperhambakan diri kepada Allah, atau agar menjadi hamba Allah.
Berdasarkan dalil-dalil Islami, ia mengemukakan ciri-ciri hamba Allah, yaitu: (1) taat
sepenuhnya kepada Allah, (2) sehat serta kuat jasmani dan rohaninya, (3) memiliki
cukup ilmu, (A) tersalur hawa nafsunya secara sah dan wajar, (5) mampu memimpin
umat, (6) mampu memanfaatkan dunia dan isinya untuk kemaslahatan umat manusia99.
Perumusan-perumusan tersebut, meskipun bervariasi, mengandung persamaan yang
cukup jelas, minimal dalam 3 hal pokok, yaitu membimbing anak agar (1)          menjadi
muslim dan mukmin yang taat beribadah, (2) berakhlak mulia dalam pergaulan sesama
umat manusia dan makhluk lainnya, (3) berilmu yang cukup sehingga mampu memimpin
umat serta cakap mengolah dunia dan isinya untuk kemaslahatan manusia. Dengan
rumusan yang lebih singkat dapat dipadatkan bahwa tujuan pendidikan anak, dalam
konsepsi 1slam tentang pendidikan, adalah membimbingnya agar menjadi manusia yang
beriman, berakhlak mulia, berilmu serta beramal (bekerja keras) untuk mencapai
kebaikan dan kesejahteraan umat manusia dan, tentu saja, termasuk dirinya sendiri.
        Mengenai iman dan akhlak mulia tampak telah terinci dalam ajaran Islam. Tetapi
        mengenai ilmu yang cenderung berkembang semakin cepat dan, oleh karenanya,
        kian membelah diri ke dalam berbagai disiplin dan sub disiplin, maka segi-segi
        implementasi dan aplikasinya yang semakin beraneka tampak kian menantang
        dan menuntut keahlian, ketekunan dan kecakapan yang tidak tanggung–
        tanggung. Termasuk ke dalam kategori ini adalah ilmu-ilmu yang masih amat
        banyak tersirat di dalam Al Qur'an dan Hadits Nabi. Ajaran Islam bahkan
        menegaskan bahwa semua ilmu bersumber dari dan berakhir kepada Al Qur'an,
        meskipun banyak para ilmuwan belum menyadarinya100. Semua signal untuk
        ilmu-ilmu itu, baik yang sudah maupun yang akan berkembang, telah terumus
        secara gelobal dan menyeluruh di dalamnya.
        Kondisi tersebut terakhir, agaknya, merupakan sebagian daripada sebab mengapa
        para ahli didik muslim dalam merumuskan tujuan pendidikan Islam, termasuk
        tujuan pendidikan anak, mengajukan konsep yang bersamaan. Mereka hanya
        berbeda dalam mengkonseptualisasikan konsep tadi, sehingga perumusan yang
        dimunculkan telah dan akan senantiasa memperlihatkan versi yang berbeda.
        Namun, mereka tampak telah mengemukakan perumusan yang sama mengenai
        tujuan-tujuan keimanan dan akhlak mulia. Tetapi, dalam merumuskan tujuan-
        tujuan yang sifatnya ilmiah dan segi-segi aplikatif, implementatif dan praktikal
        kondisional, mereka berbeda. Hal ini wajar, karena memang dalam ajaran Islam
        terdapat    patokan-patokan      yang    menidakbolehkan      perbedaan     dan
        membolehkannya dalam hal-hal lain di luarnya, termasuk perumusan-perumusan
        tujuan khusus pendidikan Islam.


       310
            Lihat disertasi ini hal. 93 – 97.
       99
           Lihat Disertasi ini hal.98 - 100
        100
            Lihat Al- Qur‘an, antara lain, surat-sirat Al-An‘am: 38, 80; Al Baqarah: 29; Ali
―Imron: 7; Al A‘raf: 89; Al Isra‘ : 12, 89; Al Kahf: 54; Al Furqan : 2; Al Rum: 58.
                                                                                   158




         Penulis cenderung merumuskan tujuan pendidikan anak –– sesuai dengan
         konsepsi Islam tentang pendidikan tersebut –– sebagai upaya menolong anak
         agar menjadi manusia yang beriman, taat beribadah, berakhlak mulia dan berilmu
         serta gemar beramal (bekerja keras) sesuai dengan petunjuk ilmu dan tuntunan
         keimanannya, mampu memimpin umat, cakap mengolah "bumi dan isinya untuk
         mencapai kebaikan, kesejahteraan dan kemakmuran dunia dan kemenangan
         akhirat. Upaya pertolongan tersebut harus dilakukan secara sadar, bersungguh-
         sungguh dan berencana serta rnemenuhi persyaratan-persyaratan metodologis,
         paedagogis dan psikologis serta terarah dan terpadu menuju tujuan tadi.

            Beberapa Metode Mendidik Anak.
Sebelum merumuskan secara lebih terjabar langkah-langkah yang dari segi praktis dan
aplikatif diharapkan dapat diselenggarakan oleh setiap orang tua dalam rumah tangga
agaknya, akan lebih baik jika, dalam bagian ini, diketengahkan beberapa metode
mendidik anak yang telah banyak dikenal agar lebih terarah bagi menggiring kerangka
teori metodologis menuju pemikiran mengenai perumusan langkah-langkah praktis dan
aplikatif tadi. Mengetengahkan beberapa metode di sini adalah signifikan karena
pengetahuan tentang itu tidak hanya berguna sebagai ilmu melainkan juga, yang bahkan
terutama, berfungsi secara teoritis bagi penggiringannya ke arah pembinaan perumusan
pemikiran yang akan dimunculkan, dalam hal ini, tentang langkah-langkah praktis
pendidikan anak oleh orang tua dalam rumah tangga, menurut ajaran paedagogis Islami.
Metode-metode tersebut adalah:
            1. Metode –teladan
Pendidik, terutama orang tua dalam rumah tangga dan guru di sekolah, adalah contoh
ideal bagi anaknya. Anak yang salah satu ciri utamanya adalah meniru, sadar atau tidak,
akan meneladani segala sikap, tindakan dan prilaku orang tuanya, baik hal-hal itu dalam
bentuk perkataan dan perbuatan maupun dalam pemunculan sikap-sikap kejiwaan,
seperti emosi, sentimen, kepekaan dan sebagainya.
Anak, meskipun memiliki watak fithrah, cenderung untuk menjadi manusia yang baik
atau sebaliknya, menjadi manusia yang jahat. Dan, meskipun ia, misalnya, memiliki
kecenderungan besar untuk menjadi manusia mulia, namun kemuliaan tersebut tidak
terterimakan olehnya tanpa contoh-contoh konkrit yang dilihat, atau dengan secara sadar
dan sengaja diperlihatkan kepadanya. ltulah sebabnya mengapa setiap orang tua (dan
guru) diharuskan memulai langkahnya dalam mendidik anak dengan memberikan
contoh dan teladan (akhlak) yang baik.
Keberhasilan Nabi Muhammad SAW dalam mendidik umatnya berpunca kepada suatu
kunci, yaitu kemampuannya memberi contoh kepribadian mulia di tengah-tengah
parasahabatnya. Allah SWT telah mengabadikan keteladanan Nabi tersebut dengan
firman-Nya;

)12 : ‫لقد كا ن لكم فى رسو ل اهلل اسوة حسنة ( اال حزاب‬
   Sesungguhnya pada kepribadian Rasul Allah itu (terdapat) teladan utama bagimu.
   (Q.S. Al Ahzab; 21).
Orang tua yang tidak berkepribadian mulia sukar, kalau tidak dapat dikatakan mustahil,
akan berhasil mendidik anaknva. Hal ini mudah dipahami karena seseorang tidak
mungkin memberi kepada orang lain sesuatu yang tidak dimilikinya. Maka anak dari
orang tua yang berkepribadian brengsek, karena tumbuh dan berkembang dalam
lingkungan yang memberi teladan brengsek, meskipun diserahkan kepada pendidik ahli
untuk dididik dalam sekolah teladan yang favorite, tidak dapat diharapkan akan berhasil
men adi anak baik dan berkepribadian mulia.
                                                                                    159




              2. Metode Pembiasaan.
Islam mengajarkan bahwa anak berada dalam kondisi fithrah (suci, bersih, belum
berdosa) sejak saat lahirnya sampai berumur beberapa tahun kemudian (baligh). Yang
dimaksud dengan fithrah, dalam konsep Islami, adalah kecenderungan bertauhid secara
murni, beragama secara benar atau beriman dan beramal saleh101. Lingkunganlah, dalam
hal ini terutama orang tua, yang membuat anak terbawa arus ke arah sebaliknya102.
Fithrah tersebut akan berkembang dengan baik dalam lingkungan yang terbina secara
agamawi, di mana teladan utama tercermin dalam segala aspek kehidupan. Namun
demikian, penampilan teladan saja tidaklah           memadai. Fithrah memerlukan
pengembangan melalui usaha sadar dan teratur serta terarah yang, secara umum, disebut
pendidikan. Tetapi untuk anak, terutama yang masih berumur di bawah 10 tahun,
pembiasaan merupakan metode yang terbaik. Anak dibiasakan, misalnya, (1) mandi,
makan dan berpakaian dengan bersih dan teratur, (2) mendirikan shalat setiap waktu,
meskipun dengan cara yang belum sempurna, (3) hormat kepada orang tua, guru dan
tamu, (4) sayang kepada hewan dan tumbuh-tumbuhan, {5) berkata-kata dengan
sopan, (6) rajin belajar (bagi anak yang sudah sekolah) dan (7) akhlak-akhlak mulia
lainnya.

             3. Metode Praktek Atau Peragaan.
Metode ini, jika dilihat dari ajaran Islam, bertolak dari ancaman Allah SWT terhadap
orang yang hanya berkata tanpa berbuat, atau menganjurkan orang lain berbuat baik
sedang ia sendiri berbuat sebaliknya103. Dari segi psikologis dan metodologis metode ini
sangat menarik anak, sebab praktek dan peragaan merangsang banyak indra anak,
misalnya mata, telinga dan minat atau perhatiannya.
Banyak ajaran Islam, misalnya shalat, zakat, sadakah, akhlak mulia, yang dapat
dipraktekkan atau dengan sengaja diperagakan di depan anak. Kecenderungan meniru,
sebagai. salah satu ciri khas kejiwaannya, akan mendorongnya melakukan ajaran-ajaran
yang dipraktekkan di depannya, meskipun dalam bentuk dan cara yang belum seluruhnya
benar. Kebenaran sesuatu amalan agamawi memang belum dituntut dari seorang anak
yang masih kecil.
Nabi Muhammad sendiri dalam menyampaikan ajaran Islam banyak menggunakan
metode praktek dan peragaan. Shalat, puasa, haji, akhlak utama dan perang, misalnya,
dipraktekkan sendiri olehnya yang lantas ditiru oleh para sahabatnya. Sedangkan kasih
sayang kepada hewan dan tumbuh-tumbuhan, hormat kepada teman dan tamu,
bergotong royong dalam berbagai pekerjaan saling menolong dalam berbagai keperluan,
umpamanya, diperagakan olehnya melalui pengamalan praktis.
Sambil menggunakan metode ini, metode menerangkan dapat dipakai sebagai alat bantu
pemantapan, asalkan dilakukan dengan lembut, menarik dan dengan kata-kata yang dapat
dimengerti anak. jika la sudah mulai mencoba meniru atau melakukan yang dipraktek dan
diperagakan itu maka pujilah dia karena pujian merupakan perangsang yang sangat
mendorongnya untuk mengulanginya lagi. Oleh karena itu setiap orang tua seharusnya
memuji saja hasil peniruan anaknya -- tentunya dalam hal-hal yang diperagakan atau
lain-lainnya yang baik-baik -- meskipun nyatanya masih kurang sempurna dan,
karenanya, belum berhak dipujj menurut ukuran orang dewasa.


       101
           ‗Abdul ‗Ulwan, I, op. cit., hal. 665
       102
           Op. cit., hal. 666 – 667.
       103
           Lihat Q.S. Al Shafa: 3.
                                                                                        160




            4. Metode Ceritera.
Anak-anak senang mendengar ceritera, terutama pada waktu ia masih berumur antara 3-
12 tahun. 'Abdu Al ‗Azlz 'Abdu Al Majid menjelaskan bahwa anak sejak mulai
mengerti kata-kata sampai masa memasuki Taman Kanak-Kanak, Sekolah Dasar dan
Sekolah Menengah senang mendengar ceritera104. Dalam kenyataan empirik,
sesunguhnya bukan anak-anak saja yang senang mendengar ceritera melainkan juga
orang-orang dewasa dan tua. Bedanya hanya terletak pada isi ceritera. Anak-anak dapat
tertarik kepada ceritera-ceritera dongeng, meskipun isinya bertentangan dengan
kenyataan. Menjelang urnur 12 tahun atau lebih, apa lagi setelah remaja, dewasa atau tua,
ceritera yang hanya khayali, lebih-lebih yang bertentangan dengan kenyataan tidak lagi
menarik perhatian mereka. Meskipun demikian, jika penyajinya cakap, pintar menarik
perhatian, ceritera dapat saja mempesona pendengarnya. ltulah, barangkali, salah satu
sebabnya Allah Maha Tahu mengapa di dalam Al Qur'an banyak terdapat ceritera yang
menggambarkan kejadian-kejadian purbakala yang berakhir dengar akibat positif atau
negatif terhadap manusia. Melalui ceritera dapat diselipkan nilai-nilai yang diharapkan
akan dianut, dihayati dan diamalkan oleh (anak–anak atau pendengarnya).

             5. Metode Hukuman.
Di antara anak ada yang sangat agressif, suka melawan, berkelahi, senang mengganggu
dan berwatak sedemikian bandelnya sehingga sukar mengendalikannya melalui cara
atau metode yang lazim digunakan untuk sebagian besar anak-anak biasa105. Untuk anak
semacam itu terpaksa diterangkan metode hukuman. Ajaran Islam tentang pendidikan
ternyata membenarkan pemberlakuan hukuman atas anak manakala memang sudah
terpaksa, atau dengan metode–metode lain sudah tidak berhasil.
Pemberlakukan hukuman itu dapat dipahami, karena di satu sisi Islam menegaskan
bahwa anak adalah amanah yang dititipkan Allah kepada orang tuanya, sedang di sisi
lain, setiap orang tua yang mendapat amanah ibu wajib bertanggungjawab atas
pemeliharaan dan pendidikan anaknya agar menjadi manusia yang memenuhi tujuan
pendidikan Islam. Untuk itu orang tua harus melakukan segala cara (metode, teknik),
termasuk hukuman106, umpamanya dengan teknik (1) mengasingkan anak beberapa jam
dari pergaulan dalam rumah tangga, (2) mengurungnya beberapa jam dalam Kamar
yang tidak berbahaya, (3) memukulnya dengan alat–alat yang diperkirakan tidak
membuat kulitnya luka atau (4) cara-cara lainnya. Semuanya dilakukan dengan teknik
yang benar-benar paedagogis107.




       104
            ‗Abdul Al ―Aziz ‗Abdul ―abdul Al Majid, Al Qishshatu fi Al Tarbiyah, Ushuluha Al
Nafsiyyah, Tahwwuruha wa Thariqatu Sardiha li Mudarrisi Al Marhalati Al Ibtidaiyah, Daru Al
Ma ‗arif,1956, hal. 9.
        105
            Arthur T. Jersild, dkk., op. cit., hal. 254-258 dan 281-285.
        106
            Mengenai Teknik menghukum anak secara paedagogis perlu pembahasan yang detail
dan berhati-hati. Ia amat jauh berbeda dengan bentuk-bentuk hukuan lain yang dikenal. Oleh
karena itu, teknik aplikasi detail tentang hokum yang bermakna paedagogis terahdap anak akan
dibahas secara luas dalam bab lain.
        107
             ―Abdullah ―Ulwan, I, op. cit., hal. 63-67
                                                                                                 161




BAB VI
LANGKAH-LANGKAH MENDIDIK ANAK

Mendidik anak, seperti telah disinggung dalam Bab II, adalah kegiatan dalam bentuk
usaha sadar, terarah dan bertujuan dalam rangka membantunya agar menjadi manusia
dewasa yang mukmin, berilmu, berakhlak mulia dan gemar beramal saleh (berbuat baik).
la harus menjadi manusia yang suka menolong dan berkorban, cakap menjadi
pemimpin, mampu mengurus dunia dan mengolah isinya serta sanggup
bertanggungjawab bagi kesejahteraan masyarakat, bangsa dan negara. Manusia yang
demikianlah yang terkategorikan dalam hamba Allah, yakni manusia yang senantiasa
memelihara hubungan baiknya dengan Allah sebagai Pencipta dan dengan sesama
manusia serta dengan alam seluruhnya.
Tetapi-tujuan ideal pendidikan Islam tersebut tidaklah mudah mencapainya, kecuali jika
usaha ke arah itu dilakukan dengan mengikuti langkah-langkah-tertentu seperti yang
diajarkan oleh Islam tentang pendidikan anak. Yang dimaksud dengan langkah-langkah
dalam konteks ini adalah metode (teknik atau cara) menurut pengertiannya yang lazim.
Namun demikian, pemilihan istilah itu adalah disengaja atas dasar pemikiran bahwa
langkah-langkah terasa lebih bermakna aplikatif, implementatif dan operasional.
Ada dua kategori langkah yang secara praktis dapat atau malah seharusnya dilaksanakan
oleh setiap orang tua dalam usahanya mendidik anaknya langkah-langkah itu adalah: (1)
Langkah-langkah persiapan melalui pembinaan lingkungan Islami dan (2) Langkah-
langkah pelaksanaan pendidikan anak

             A. Langkah-langkah Persiapan.
         Setiap orang tua muslim yang bermaksud agar berhasil dalam kegiatannya
         mendidik anaknya, harus melakukan langkah-langkah persiapan seperlunya
         melalui pembinaan lingkungan islami, terutama ia mulai dari pembinaan dirinya
         sendiri1. Di antara langkah-langkah tersebut adalah:
             1. Menghormati orang -tua.
Pembinaan lingkungan Islami bagi mendidik anak harus dimulai dengan mendidik diri
sendiri, dalam hal ini, dengan menghormati orang tua (ayah dan ibu). Di dalam ajaran
Islam terdapat kaitan yang sangat erat antara harapan agar anak menjadi baik (saleh)
dengan sikap hormat dan berbakti kepada kedua orang-tua. Seseorang yang tidak hormat
dan berbakti kepada kedua orang tuanya tidak usah mendambakan anaknya akan menjadi
hormat dan akan berbakti kepadanya di belakang hari, meskipun ia berusaha sekuat
dayanya mendidik anaknya ke arah ibu.
Di dalam Al Qur'an terdapat banyak ayat yang menjelaskan kewajiban berbakti kepada
kedua orang tua2, antara lain, seperti terlihat dalam ayat berikut ini:

        1
           Setiap kegiatan, terutama yang sifatnya besar, professional atau bertujuan jauh, selalu
menuntut persiapan-persiapan yang memadai. Semakin tinggi tujuan kegiatan terebut maka
persiapan yang dituntutnya kian berat dan rumit. Untuk sekedar contoh, misalnya olah raga tinju,,
amatir ataupun professional, memerlukan latihan-latihan yang cukup ketat sebelum terjun ke
gelanggang. Pasukan militer yang akan dikirim ke medan pertempuran perlu mendapat latihan
sebaik mungkin. Maka mendidik anak, sebagai suatu kegitan sosialisasi yang bertujuan jauh
memerlukan perispan-persiapan yang lebih canggih.
        2
           Di dalam Al-Qur‘an terdapat sebanyak 5 kali Allah merangkaikan antara perintah
menyembahnya dan perintah-Nya agar berbakti kepada orang tua, yaitu dalam surah-surah ; (1) Al
Baqarah: 83, (2) Al Nisa‘: 36, (3) AlAn‘am : 151, (4) Al Isra‘ : 23 dan (5) Luqman: 14. Ajaran
berbakti kepada orang tua, tanpa rangkaian tersebut, terdapat tiga kali, yaitu dalam surah-surah: (1)
Maryam: 14, (2) Luqman: 15 dan (3) Al ‗Ankabut : 8. Sedangkan ajaran mendo‘akan orang tua
                                                                                                           162




                                              ٓ ‫ب‬                             ‫ب‬                 ‫ال‬
‫ٚلضٝ زثه ا ّ رعجد ٚا ا ال إيّٖ ٚثبٌٛاٌد يٓ إحسب ٔب إِّ يجٍغ ّ عٕد ن اٌىجس احد ّ٘ب اٚ والّ٘ب فال رمً ٌّٙب اف‬
                                                                                     ‫ٚال رٕٙسّ٘ب ٚلً ٌّٙب لٛال‬
                                                                                   )23 : ‫وس يّب 0 (االء سساء‬
Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan
hendaklah kamu berbakti kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah
seorang dari keduanya atau kedua-duanya                          sampai berumur lanjut dalam
pemeliharaanmu, maka jangan sekali-kali kamu mengucapkan kepada keduanya kata-
kata 'ah dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka
perkataan-perkataan yang mulia. Q.S. Al Isra': 23.
Ajaran Islam mengenai hormat dan berbakti kepada kedua orang tua sangat inti sifatnya
dan, oleh karenanya, berpahala jikalau dipatuhi dan diamalkan serta berdosa 3, jikalau
dilanggar atau diabaikan. Dosa tersebut tidak hanya akan dirasakan akibatnya di akhirat
sebagaimana. diaangka oleh banyak orang awam, melainkan juga akan dengan terpaksa
diderita akibatnya, berupa siksaan duniawi di dunia ini juga.
Di antara siksaan duniawi itu ialah rasa berdosa (sense of guilt) yang akan sangat
mengganggu kestabilan dan ketenteraman jiwa, dari segi moral sosial terpandang rendah
di tengah-tengah masyarakat dan dari segi pergaulan biasanya terisolir. Dari segi mental,
orang yang tidak hormat kepada orang tuanya akan merasa terancam bahwa anaknya pun
tidak menghormatinya. Pernyataan terakhir ini tidak hanya berdasarkan ayat-ayat Al
Qur'an melainkan juga bahkan ditunjang oleh banyak hadits Nabi yang malah telah
menafsirkannya secara lebih jelas serta mengancam dengan siksaan lahir-batin di dunia
dan, nanti, di akhirat bagi mereka yang mendurhakai orang tua. Beberapa buah dari
hadits dimaksud -terasa ada baiknya dinukil.
Nabi Muhammad bersabda 4:




‫عٓ أثٝ ثىسح زضٝ اهلل عٕٗ عٓ إٌجٝ صٍٝ اهلل عٍيٗ ٚسٍُ : وً اٌر ٔٛة يك خس اهلل ِب يثبء إٌٝ يَٛ اٌميب ِخ اال‬
                        ٝٔ‫عمٛ ق اٌس اٌديٓ : فإْ اهلل يعجٍٗ ٌصب حجٗ فٝ اٌحيبح لجً اٌّٙبد زٚاٖ اٌحب وُ ٚ اال صجحب‬
Setiap dosa ditangguhkan Allah siksaannya sesuai dengan kehendak-Nya sampai dengan
saat setelah hari kiamat, kecuali (siksaan atas mereka yang) durhaka kepada orang
tuanya. (Untuk dosa itu) Allah mempercepat siksaan-Nya atas pelakunya di dunia ini,
sebelum ia mati. (H.R. Al Hakim dan Al Ashbihani dari. Abi Bukrah).



teradapat 4 kali, yaitu dalam surah-surah: (1) Ibrahim: 41, (2) AL Naml: 19, Al Aqwaf: 15 dan
(14) Nuh: 28.
         3
            Dosa, adalah pengertian awam, adalah akibat dari perbuatan maksiat atau pelanggaran
terhadap perintah agama dalam bentuk siksaan (adzab Allah) di akhirat saja, tidak di dunia.
Sebenarnya tidaklah demikian. Sebagian siksaan tersebut akan dirasakan atau diderita di dunia ini.
Dalam bahasa Arab dosa itu disebut dzanbu (dosa) yang seakar dengan kata dzanabun (ekor).
Keduanya mempunyai kandungan isi yang berkaitan amat erat. Yang pertama mengikuti secara
ketat pelaku pelanggaran dalam bentuk rasa berdosa (sense of guilt) yang mengganggu jiwa. Yang
kedua, ekor, mengikuti secara ketat hewan-hewan pemiliknya (hewan bereor). Maka, dalam
pengertian dasariah, dosa adalah pengikut setia yang bahkan mengancam ketentraman lahir batin
para pelaku maksiat/kesalahan.
         4
           Abdullah ‗Ulwan, Tarbiyatu Al Awlad fi Al Islam, Beiut, Daru Al Salam, 1401 H/1981
M, I, hal. 93
                                                                                                       163




Pendurhakaan orang tua diancam dengan siksaan lahir atau batin di dunia. Sekurang-
kurang siksaan itu ialah bahwa diapun akan didurhakai oleh anaknya, nanti5.
Dalam hadits lainnya Nabi bersabda6:
                                                                              ‫س‬
ٓ‫لبي زسٛي اهلل عٍيٗ ٚسٍُ : ث ّٚا أثبء وُ رجس وُ أثٕب ٚوُ ٚعفٛا عٓ إٌسبء رعفك ٔسبف وُ : زٚاٖ اٌطجسأٝ عٓ اث‬
                                                                                                       ‫عّس‬
Rasul Allah SAW bersabda; Berbaktilah kepada orang tuamu, niscaya anakmu (nanti)
akan berbakti (pula) kepadamu. Dan menahan dirilah (dari perbuatan maksiat), niscaya
isterimu akan menahandiri (pula dari padanya). (H.R. Al Thabrani dari lbnu 'Umar).
Pengertian sebaliknya (mafhum mukhalafah) dapat dirumuskan dengan: Durhakalah
kepada orang tuamu niscaya anakmu akan durhaka pula kepadamu. Dan perbuatlah
maksiat niscaya isterimu akan berbuat maksiat pula seperti kamu
Dari kedua hadits itu dan tentu masih banyak hadits lainnya yang semakna dapat ditarik
suatu garis saran paedagogis Islami bahwa keberhasilan mendidik anak terkait amat erat
dengan akhlak mulia seseorang terhadap kedua orang tuanya. Sebab dengan akhlaknya itu
ia telah dengan sendirinya membina lingkungan Islami bagi anaknya. Akhlak sebaliknya
hanya akan menghasilkan kegagalan, tentunya, untuk mencapai tujuan pendidikan Islam.
Karena, memang mungkin saja seorang yang durhaka kepada orang tuanya malah
berhasil mendidik anaknya menjadi. ilmuwan (kawakan), tetapi gagal membentuknya
agar menjadi manusia yang mukmin dan saleh.
             2. Mendo‘akan anak.
Do‘a, meskipun hanya sunat hukumnya dalam ajaran Islam, -sangat memberi makna bagi
kehidupan manusia, terutama makna ketenangan batin dan kemantapan perasaan.
Dalam realitas kehidupan sosial di Indonesia, umpamanya, terlihat bahwa segala upacara
khidmat, termasuk upacara negara, besar atau kecil, senantiasa ditutup dengan do'a,
karena dengan itu segala sesuatunya terasa sudah cukup mantap, tenang dan optimis serta
dengan harapan masa depan yang terbayangkan akan lebih cerah.
Islam, di satu pihak, sangat menganjurkan penganutnya agar selalu berdo'a kepada Allah
SWT, sebagaimana terlihat dalam ayat berikut;
                       ‫س‬        ‫ث‬
55: ‫ادعٛا زّىُ رض ّعب ٚخفيخ : اال عساف‬
        Berdo'alah kepada Tuhanmu dengan merendahkan diri dan dengan suara yang
        lembut .…. (Q.S. Al A'raf : 55)
        Dl pihak lainnya, Allah sendiri menjanjikan akan mengabulkan do'a, seperti
        terlihat dalam firman-Nya:
                                  ‫د‬                        ٕ
         686: ٖ‫إذا سأٌه عجبدٜ عّٝ فإثٝ لسيت أجيت دعٛح اٌ ّع إذا دعبٔٗ :اٌجمس‬
        Dan apabila hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwa
        Aku sangat dekat. Aku perkenankan permohonan orang yang berdo'a, apabila ia
        berdo'a kepada-Ku. (Q.S. Al Baqarah: 186).



         5
           Setiap manusia sebelum kawin mempunyai seorang ayah dan seorang ibu. Setelah
kawin mempunyai dua orang ayah dan dua orang ibu keempat orang itu sama dalam pandangan
Allah. Suami atau istri yang durhaka kepada orang tuanya masing-masing akan didurhakai pula
oleh anaknya, annati. Apabila mereka, suami dan atau istri, durhaka kepada mertunya, maka
mereka akan didurhakai pula oleh menantunya, nanti. Bukti empirik sudah banyak
memperlihatkan kebenaran pernyataan tersebut.
        6
          Al Sayuthi, Al Jami‘ Al Shaghir fi Ahadits Al Basyir wa Al Nadzir, Bandung, Syirkah
AL Ma‘arif Indonesia, t.t, hal. 125.
                                                                                                164




         Bahkan Allah telah menggabungkan antara perintah berdo'a dengan janji
         mengabulkannya8, dalam ayat lainnya seperti terlihat dalam firman-Nya:
                                        ‫ث‬
         6 : ‫ٚلبي زّىُ ادعٜٛٔبسزحت ٌىُ : اٌغبفس‬
         Dan Tuhanmu berkata; Berdo'alah kepada-Ku, niscaya akan Ku-perkenankan
         untukmu (Q.S. Ghafir: 60).
         Ayat-ayat tersebut tidak mengkategorikan do'a ke dalam hukum wajib. Akan
         tetapi, jika dikaitkan dengan shalat lima waktu yang esensi intinya adalah
         do*a, maka do‘a adalah wajib ‗ain, artinya minimal lima kali sehari-semalam
         setiap pribadi umat Islam wajib berdo'a melaui shalat tersebut. Dengan demikian
         dapatlah diketahui bahwa do‘a, dilihat dari segi hukumnya terletak di antara
         sunat dan wajib. Jika begitu, maka ia dapat dikategorikan ke dalam hukum
         sunnah mu'akkadah, yakni perbuatan yang karena disenangi Tuhan, sangat
         dianjurkan untuk dihayati dan diamalkan oleh setiap muslim, laki-laki dan
         perempuan.
         Setiap orang tua, karenanya, dalam usahanya mendidik anaknya, harus
         senantiasa berdo‘a agar anaknya ditunjuki Allah ke arah yang lebih baik sehingga
         secara berangsur meningkat menjadi manusia yang saleh. Lafazh do'anya dapat
         tersusun dari kata-kata (bahasa sendiri), misalnya: Ya Allah, tunjukilah anakku
         (semuanya) agar ia (mereka) menjadi manusia yang saleh. Jika orang tua
         mengamalkannya secara konsisten maka janji pengabulannya dapatlah
         diharapkan akan terpenuhi.
         Sejauh mana kaitan antara do'a dengan pendidikan anak dapat dilihat dalam
         analisa berikut ini:
         a. Setiap muslim yakin bahwa anak adalah amanah yang dititipkan Allah
         kepadanya. la sama sekali tidak ikut bekeriasama dalam. penciptaan anaknya,
         kecuali secara naluriah sekedar penyebab bagi. tetapi sama sekali tidak mampu
         merencanakan terjadinya perkawinan antara sperma (suami) dan ovum (isteri).
         Setelah perkawinan tersebut terjadi, yang bahkan tanpa sepengetahuan kedua
         pihak, mereka tidak pula mampu berbuat kecuali sekedar pemeliharaan kesehatan
         jasmani dan rohani isteri yang sedang mengandung9.
b. Jika anak adalah ciptaan Allah Yang Maha Kuasa maka Dia pulalah Yang Maha
Berkuasa membuat anak tersebut menjadi baik dan saleh atau sebaliknya, meskipun Dia
sendiri senantiasa berbuat sesuai dengan sunnah (hukum-hukum alam) yang diciptakan-
Nya. jikalau demikian halnya maka mendo'akan anak agar menjadi baik dan saleh

        8
            Janji Allah mengabulkan do‘a terdapat dalam banyak surat di dalam Al-Qur‘an, antara
lain : (1) Al Baqarah: 186, (2) Al ―Imran: 195, (3) Al Anfal: 9, (4) Yusuf: 34, (5) Al Anbiya‘ : 76,
84, 88, 90, (6) Ghafir: 60, (7) Al An‘am: 36, (8) AL Syura: 26. Pengabulan tersebut sudah tentu
tidak terlalu mudah. Ia memerlukan syarat-syarat tertentu, seperti (1) makanan dan pakaian yang
halal, (2) yakin serta harap dan (3) jangan memaksa untuk segera dikabulkan Tuhan. Dengan yakin
dimaksudkan tidak saja sekedar pengertian semantic, tetapi juga lebih dari itu bahwa berdo‘a tidak
hany sekali, melinkan da‘im (terus menerus), minimal, setiap kali selesai shalat fardhu.
          9
            Perkembangan terakhir mengenai terealisasinya ide ilmu tentang bayi tabung, ternyata
tidak lebih dari sekedar mengusahakan terjadinya perkawinan antara sperma dan ovum di luar
rahim, kemudan menabungnya ke dalam rahim istri atau wanita lain. Pencobaan selanjutnya belum
terbaca oleh penulis, tentulah penetesan ovum wanita yang telah disuntiki sperma dalam mesin
penetes, seperti halnya dengan penetesan telor ayam dengan mesin penetes yang telah berlaku
secara luas dewasa ini. Tetapi prises kejadian dan perkembangan selanjutnya akan senantiasa
berlaku secara evolusi yagn secara konsisten mengikuti sunnah Allah. Apabila calon-calon bayi
yang diproses secara mekanisasi itu akan berumur panajng, siapa orang tuanya, bagimana hukum
perwalian dan warisannya dan dan banyak pertanyaan lainnya masih akan tetap menjadi masalah
yang pelik.
                                                                                           165




merupakan hal yang amat logis.
c. Allah SWT berjanji akan mengabulkan do‘a hamba-Nya yang beriman, beramal
saleh serta memenuhi syarat-syaratnya. Jika orang tua mendo'akan anaknya dengan
memenuhi persyaratan tersebut maka do'anya akan dikabulkan Allah, yakni secara
berangsur anaknya akan menjadi baik dan saleh. Apalagi Jika diingat suatu keyakinan
mengenai kebenaran doktrin Islam bahwa Allah adalah Pendidik Yang Maha Agung10.
d. Mendo'akan anak, dalam kaitannya dengan mendidiknya, bukan saja sekedar langkah
persiapan yang dianalkan sebelum ia secara aktif dididik melainkan juga suatu
mekanisme kegiatan yang harus berkesinambungan mulai dari saat sejak anak diketahui
sudah positif dalam Kandungan bahkan sebaiknya sudah dimulai segera setelah kawin
sampai dengan masa-masa di mana anak sudah dewasa, kawin dan beranak pula atau,
dengan kata lain, mendo'akannya sepanjang hayat. Dengan berdo'a tersebut orang tua,
terutama ibu, akan merasakan ketenteraman batin dan ketenangan jiwa yang dengan
sendirinya berarti telah membina lingkungan paedagogis yang baik bagi anak yang
dikandungnya dan, sekali gus, anak-anak yang sudah dilahirkannya.
e. Dengan mendo'akan anak secara bersinambung, minimal, setiap selesai shalat
fardhu, berarti orang tua telah membina lingkungan yang Islami untuk anaknya. Sebab,
orang tua yang senantiasa berdo'a akan dengan sendirinya terlihat saleh serta takwa dan
anaknya, betapapun, pada suatu saat akan mengetahui bahwa orang tuanya selalu
mendo'akannya. Hal tersebut akan membuat anaknya, terutama yang sudah mumayyiz
(mengerti), merasa sangat disayangi, dicintai, diperhatikan dan, karenanya, merasa
aman, tenteram dan segar11.

            B. Langkah-langkah pelaksanaan (operasional).
Dengan melaksanakan hanya langkah-langkah persiapan di atas tipis sekali kemungkinan
keberhasilan yang bisa diharapkan dari upaya pendidikan anak oleh orang tua dalam
rumah tangga. Oleh karena itu, langkah-langkah persiapan tersebut harus segera diikuti
atau malah disekaliguskan dengan langkah-langkah operasional (pelaksanaan). Langkah-
langkah ini dapat dibagi dua: (1) Mendidik anak yang masih dalam kandungan dan (2)
Mendidik anak

       1.      Mendidik Anak Dalam Kandungan.
Pendapat yang secara umum dikenal adalah bahwa anak mulai dididik setelah lahir atau
beberapa tahun kemudian. Kini semakin disadari bahwa anak, sejak di dalam kandungan,
sudah dapat dididik melalui ibunya. Sigmud Frued, sebagaimana dijelaskan oleh Lee Salk
dan Rita Kramer, menegaskan bahwa pengalaman-pengalaman sebelum dan sejak awal




        10
           Q.S Al An‘am: 74-79 . Nabi Ibrahim dididik Allah melalui ciptaan-Nya, yaitu bintang,
bualn dan matahari, agar menyembah hanya Dia Yang Maha Esa. Nabi Muhammad, tanpa dididik
orang tua atau orang lain dan hidup dalam lingkungan social yang sama sekali tidak menunjang
secara edukatif, telah dididik oleh Allah, sebagaimana terlihat dalam sebuah hadits :
                      ‫ث‬
        ٝ‫ادثٕٝ ز ّٝ فأحسٓ رأديج‬

        Artinya : Tuhanku telah mendidikku dan Maha Pandai Dia meluruskan pendidikanku.
Lihat Al Sayuthi, I, op.cit., hal. 14
        11
           Beberapa belas kasus anak, yang diteliti dari kalangan keluarga tak berpunya yang
kebetulan berhasil menyelesaikan studinya di Pergurua Tinggi, menjelaskan ‗a‘ orang tuanya.
Sebab, dilihat dari segi ukuran kemampaun biaya dan beberapa persyaratan yang lazim,
keberhasilan tersebut teraskan atau diperkirakan sebagai mustahil.
                                                                                    166




setelah lahir merupakan persiapan sikap mental dan response emosional, meskipun
pengalaman tersebut terasa sudah terlupakan.311
Penelitian terakhir tentang bayi menusia, menurut Lee Salk, telah memperlihatkan bukti
yang kuat bahwa pengalaman-pengalaman awal berpengaruh amat besar bagi
pertumbuhan emosi dan intelektual anak. Para pengamat kini menjelaskan bahwa bayi,
pada umur 24 jam pertama, sudah mampu belajar. Bahkan, sejak masa dalam kandungan,
bayi telah responsive terhadap rangsangan dari luar yang ibunya malah tidak
menyadarinya.312 Penemuan tersebut telah membuat para orang tua menjadi terdorong
untuk mempelajari langkah-langkah (metode atau teknik) yang seharusnya diterapkan
dalam rangka mendidik anak tersebut guna mencapai tujuan pendidikan yang dianut.
Islam telah mengajarkan, jauh sebelum penemuan itu, langkah-langkah mendidik anak di
dalam kandungan, sebagai berikut:
         a.      Mempersiapkan diri dengan cara-cara memilih isteri (dan tentunya juga
         suami) yang beragama –dalam arti mengahayati dan mengamalkannya- dengan
         harapan agar isteri dan suami bersama-sama mendidik anak-anaknya secara
         agamawi (Islam) guna mencapai tujuan pendidikan Islam.313
         b.      Membina hubungan harmonis antara suami dan isteri dalam rumah
         tangga. Islam memerintahkan mu'asyarah bi al-ma'ruf (bergaul dengan baik)
         antara suami dan isteri.314 Pergaulan yang harmonis itu akan memberi kesan
         positif terhadap anak yang akan dan sedang dikandung.
         c.      Meningkatkan kasih sayang kepada isteri yang ternyata kandungannya
         sudah positif, sebagaimana diperlihatkan oleh Nabi SAW ketika isterinya
         Khadijah sudah hamil. Nabi bersabda:315
         .‫خيبزوُ خيسوُ ألٍ٘ٗ. زٚاٖ اٌطجسأٝ عٓ أثٓ وجشخ‬
         Yang terbaik di antara kamu adalah yang paling baik kepada isterinya. (H.R. Al-
         Tabrani dari Abi Kabsyah)
         Penjelasan di atas ditunjang oleh hadis lainnya yang berbunyi :316
.‫وبْ إذا خال ثٕسبرٗ أٌيٓ إٌبس أوسَ إٌبس ضحبوب ثبسّب. زٚاٖ اثٓ سعد ٚاثٓ عسبوس عٓ عبئشخ‬
         Rasul Allah SAW, apabila berduaan dengan isterinya, lalu menjadi manusia
         yang paling lembut, paling mudah ketawa dan tersenyum. (HR. Ibnu 'Asakir dari
         'A'isayah)

Hadis lainnya yang lebih khusus berbunyi:317
.‫اٌشمٝ ِٓ شمٝ فٝ ثطٓ أِٗ. زٚاٖ ِسٍُ عٓ عجد اهلل اثٓ ِسعٛد‬
         Orang yang (bernasib) malang adalah yang menderita kemalangan dalam perut
         ibunya. (H.R.Muslim dari 'Abdullah ibnu Mas'ud).

Dari hadits terakhir dapat ditarik mafhum (pengertian) sebaliknya, yaitu bahwa manusia
yang akan berbahagia adalah yang dahulunya, pada waktu ia masih dalam kandungan
ibunya, berada dalam kondisi tenang, tentram dan bahagia. Kondisi menyenangkan



       311
            Lee Salk and Rita Kramer, How to Raise a Human Being, a Parent's Guide to
Emotional Health from Infancy through Adolescence, New York, Warner Book, 1977, hal. 12
       312
           Op.Cit., hal. 26
       313
           Lihat 'Abdullah 'Ulwân, I, Op.cit., hal. 37
       314
           Q.S. Al-Nisa :19
       315
           Al-Suyuthi, II, Op.Cit., hal. 8
       316
           Op.Cit., hal. 105
       317
           Lihat Shahih Muslim, II, Dar Al-Fikr, tk., tt., hal. 452
                                                                                               167




semacam itu tidak akan mungkin tercapai jikalau ibu yang mengandungnya menderita,
lahir dan atau batin, terutama karena ulah suami dan lingkungannya.318
Pernyataan tersebut terakhir di tunjang oleh sebuah hadits yang berbunyi:319
.‫شس إٌبس اٌّضيك عٍٝ أٍ٘ٗ. زٚاٖ اٌطجسأٝ عٓ أثٝ أِبِخ‬
"Manusia yang paling jelek adalah (suami) yang membuat istrinya susah".
(H.R.Al Thabrani dari abi Umamah).

        d.      Mengajak istri untuk menambah ibadahnya dengan, misalnya, shalat
        sunat, menghadiri pengajian dan sebagainya. Dengan begitu orang tua telah
        membina situasi dan lingkungan yang baik dan islami untuk anak dalam
        kandungan. Secara ilmiah sudah dapat dibuktian bahwa anak yang masih dalam
        perut ibunya responsif terhadap lingkungan semacam itu.320
        e.      Mengajak isteri secara bersama-sama atau sendiri-sendiri, semakin banyak
        mendo'akan anak yang masih dikandungannya semoga Allah berkenan
        menjadikannya baik dan sholeh. Berdo'a dalam kondisi semacam itu, besar
        pengaruh dan kesannya kepada anak dalam kandungan.

2. Mendidik anak setelah lahir.
Setelah anak lahir maka langkah-langkah yang lebih konkrit harus dilakukan oleh orang
tua:
Pertama :
Memperdengarkan Adzan dan Iqamat.
Anak, setelah lahir segera disajikan mata pelajaran yang terkandung di dalam lafaz-lafaz
adzan dan iqamat dengan metode membacakan dan mendengarkan, 321 melalui telinga
kanan dan kirinya. Sebab bayi sepanjang ajaran Nabi SAW, harus tidak diberi
kesempatan, meskipun sejenak untuk lebih dahulu mendengar suara apapun kecuali gema
adzan dan iqamat tersebut, sesuai dengan petunjuk yang tersirat dalam firman Allah
(akan diketengahkan nanti). Hal itu sejalan dengan teori responsifnya Frued yang
dikembangkan oleh Lee Salk dan Rita Kramer,322 yang menjelaskan suara yang
didengarnya pada saat awal ia terjun ke dalam dunia akan sangat mempengaruhi sikap
jiwa, pertumbuhan intelektual dan tingkah lakunya. Oleh karena itu, jika suara adzan dan
iqamat yangpaling awal didengarkannya maka kandungan lafaz-lafaz itulah yang akan
sangat mempengaruhinya.
Materi pelajaran yang terkandung di dalam lafaz-lafaz adzan tersebut adalah:323


        318
             Hadits Muslim tersebut pada dasarnya berkenaan dengan suratan takdir seseorang yang
telah tertulis pada waktu janin berumur 40 (41atau 42) hari, yaitu: rejeki, umur, bahagia atau
celaka yang diyakini tidak dapat diubah lagi. Tetapi, di pihak lain, Allah memerintahkan manusia
berdo'a kepada-Nya agar rejeki dimudahkan-Nya, umur dipanjangkan-Nya dan diberi-Nya
kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Di sini terlihat kemurahan Tuhan dalam bentuk pemberian
potensi kepada manusia untuk mengubah nasibnya. Hal itu, sekaligus, dapat berarti bahwa
membahagiakan istri yang sedang mengandung merupakan upaya positif bagi membuat anaknya
merasakan bahagia, tenang dan tentram yang menjadi modal bagi kebahagiaannya nanti setelah
lahir dan menghadapi kehidupan nyata.
         319
             Al-Sayuthi, II, Op.cit., hal. 40
         320
             Lee Salk dan Rita Kramer, Op.cit., hal. 12 dan 26
         321
             'Abdullah 'Ulwan, I, Op.cit., hal. 74
         322
             Lee Salk dan Rita Kramer, Op.cit., hal. 12 dan 26
         323
               lafaz-lafaz adzan sama dengan lafadz-lafadz iqamat. Hanya pada lafadz iqamat
ditambahkan lafaz :qad qamatish-shalat, 2 kali (shalat segera didirikan) sesudah :hayya 'alal falah
dari lafaz adzan.
                                                                                             168




        a.     Allah Akbar, 4 kali (Allah Maha Besar), yang mengandung makna
        mengajarkan kepada bayi bahwa ia harus memahami, menghayati dan meyakini
        kemahabesarana Allah serta, setelah dewasa nanti, menyebarkan ke tengah-
        tengah umat manusia.
        b.     Asyhadu an la Ilaha Ilallah, 2 kali (saya mengaku bahwa tidak ada tuhan
        selain Allah), yang mengandung makna mengajarkan kepada bayi bahwa Allah
        Yang Maha Besar tadi adalah Maha Esa, tidak ada dua atau tiga, apalagi banyak.
        c.     Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah, 2 kali (saya mengaku bahwa
        nabi Muhammad adalah Rasul Allah) yang mengandung makna mengajarkan
        kepada bayi bahwa Muhammad adalah sebenarnya rasul Allah yang sekaligus
        juga bermakna pengakuan akan kebenaran ajaran yang dibawanya dan pengakuan
        akan kesediaan mematuhi dan mengamalkannya.
        d.     Hayya 'alal shalah, 2 kali (mari kita melaksanakan shalat) yang
        mengandung makna mengajarkan kepada bayi bahwa ia nanti akan terbeban
        kewajiban mendirikan shalat, minimal yang fardu, lima kali sehari semalam. Di
        samping itu banyak shalat sunat yang sebaiknya ia amalkan nanti.324
        e.     Hayya 'alal Falah, 2 kali (mari merebut kemenangan) yang mengandung
        makna mengajarkan kepada bayi bahwa ia nanti akan bertugas dan bahkan wajib
        berjuang untuk merebut kemenangan lahir dan batin, di dunia dan akherat. Tugas
        tersebut, nantinya harus dilaksanakan oleh dirinya secara individual dan
        mengajak umat manusia untuk secara kolektif memperjuangkannya.
        f.     Allahu Akbar, 2 kali; yang mengandung makna mengajarkan kepada bayi
        bahwa jika, nantinya, sudah berhasil menggondol kemenangan, ia senantiasa
        harus ingat kepada Allah dengan membesarkan dan mengangungkan-Nya. Sebab,
        orang yang lupa kepada Allah setelah merasakan nikmat kemenangan, nantinya
        akan lupa kepada dirinya (lupa daratan) yang secara pasti akan bermuara kepada
        kebinasaan dirinya.
        g.     La ilaha ilallah, 1 kali (tidak ada tuhan kecuali Allah) yang mengandung
        makna mengajarkan kepada bayi bahwa ia senantiasa harus meng-Esa-kan Allah
        sepanjang hayatnya, baik pada waktu-waktu ia, nantinya, mendirikan shalat
        (beribadat) maupun pada masa-masa telah berhasil merebut kemenangan dalam
        alam kehidupannya.325

Itulah 7 mata pelajaran pokok, menurut ajaran Islam, yang hendaknya diajarkan kepada
bayi dengan metode membacakan dan mendengarkan segera setelah ia lahir. Mata
pelajaran itu pulalah yang dikumandangkan oleh umat Islam (Mu'adzin) lima kali sehari
semalam – sebagai adzan, pemberitahuan telah tiba waktu – manakala mereka akan
mendirikan shalat fardhu di wilayah mereka masing-masing. Dengan adzan itu pula umat
Islam diingatkan kepada 7 mata pelajaran pokok yang dahulu, ketika lahir dari kandungan
ibu, kepada mereka masing-masing telah dibacakan dan diperdengarkan. Mereka semua
diharapkan memahami, menghayati dan mengamalkan sepenuhnya isi dan jiwa mata

                324
                      Shalat, karena merupakan modal dalam beragama, terutama shalat fardu, tidak
saja wajib diamalkan oleh dirinya, nanti, melainkan pula oleh orang lain. Dan karena kehidupan
beragama itu dilaksanakan di dunia maka shalat adalah modal hidup di dunia. Mendirikan shalat
secara tetap dan baik serta dengan hati yang khusyu' akan bermuara kepada perbaikan dan
peningkatan kehidupan itu.
          325
              Materi ketujuh ini bukan saja harus diyakini kebenaran kandungannya melainkan juga
hendaknya dijadikan dzikir, bacaan teratur sepanjang hidup. Sebab jika dinas hidup sudah berakhir
(ajal sudah tiba), maka tugas manusia (Muslim) tinggal hanya satu lagi, yaitu mengucap la ilaha
ilallah, baik oleh dirinya sendiri maupun dengan bantuan orang lain (talqin).
                                                                                                      169




pelajaran yang terkandung dalam lafadz-lafadz adzan dan iqamat tersebut sepanjang
hidup mereka.326
Al-quran telah memberi petunjuka bahwa bayi yang baru lahir dapat memahami dan
menghayati – meskipun belum mampu mengamalkan- makna yang terkandung di dalam
lafadz-lafadz adzan dan iqamat itu. Allah berfirman :

‫ٚإذ أحر زثه ِٓ ثٕٝ آدَ ِٓ ظٙٛزُ٘ ذزيزُٙ ٚأشٙدُ٘ عٍٝ أٔفسُٙ أٌسذ ثسثىُط لبٌٛ ثٍٝ شٙدٔب أْ رمٌٛٛا يَٛ اٌميبِخ‬
672 : ‫إٔب وٕب عٓ ٘را غبفٍيٓ. االعساف‬
           "Dan ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari Sulbi
           mereka dan Allah telah mengambil kesaksian (bai'at) terhadap nyawa-nyawa
           mereka:"bukankah Aku Tuhanmu?" mereka (semua nyawa-nyawa itu) menjawab:
           Benar (Engkau Tuhan kami), kami menyaksikan (berbaiat). (Kami lakukan yang
           demikian) agar di hari qiamat kamu tidak mengatakan:"Sesungguhnya kami
           mengenai hal itu lengah (tidak tahu). (QS. Al-A'raf : 172)

Allah telah membaiat semua nyawa agar menyaksikan dan sekaligus ber-Tuhan kepada-
Nya. Dan semua nyawa telah menyaksikan dan mengakuinya. Pembaiatan itu
berlangsung sebelum nyawa-nyawa itu bertugas sebagai pemberi "hidup", dengan izin
Allah, kepada manusia. Maka adalah sangat mustahil bahwa Allah SWT bertindak
membaiat nyawa-nyawa itu seandainya mereka tidak mengerti makna baiat dan mustahil
pula mereka bisa menjawab sekiranya mereka tidak faham. Oleh karena itu dapat pula
difahami dan bahkan diyakini bahwa nyawa yang berada dalam tubuh bayi yang baru
lahir itu, menurut doktrin Islam, dapat memahami makna yang terkandung di dalam atau
sekurang-kurangnya dapat dipengaruhi oleh gema lafadz-lafadz adzan dan iqamah yang
dibacakan dan diperdengarkan melalui telinga kanan dan kirinya.
Penunjang lainnya dapat dilihat dalam sunah Rasul sendiri mengenai pembacaan adzan
dan iqamah tersebut ke telinga kanan dan kiri bayi yang baru lahir. Nabi SAW sendiri
melakukannya dan malah menetapkannya sebagai suatu sunnah yang seharusnya
diamalkan oleh umatnya setiap kali mendapat karunia Allah berupa kelahiran anak.327
Maka, adalah sangat mustahil pula Rasul Allah memperbuatnya sekiranya bayi yang baru
lahir itu sama dengan kayu, batu atau hewan yang tidak mempunyai "otak", atau "hati"
seperti yang dimiliki oleh manusia.
Penemuan terakhir di bidang penelitian bayi ternyata semakin menunjang kebenaran
sunnah Rasul Allah tadi. Bayi-bayi yang baru lahir, menurut Lee Salk dan Rita Kramer,328
telah mempunyai kemampuan yang cukup peka untuk menerma informasi dari
lingkungan melalui indranya – penglihat, pendengar, perasa, peraba dan indera gerak -.
melalui segala jenis belajar – dalam situasi apaun dalam kehidupan di belakang hari yang
membutuhkan penerimaan informasi bagi mekanisme response yang kita namakan
tingkah laku.
Berdasarkan penemuan tersebut maka perbuatan Rasul SAW membaca dan
memperdengarkan adzan dan iqamah di telinga kanan dan kiri bayi yang baru lahir tidak
lagi dirasakan aneh, tetapi malah semakin diyakini sebagai suatu ajaran yang benar dan,

         326
               Pengumandangan adzan (mata pelajaran) itu sesungguhnya tidak pernah beerhenti,
walau sedetik, di permukaan bumi. Sebab, setelah selesai adzan untuk shalat zhuhur pada wilayah
di garis lintang utara, umpamanya, mungkin sedang adzan untuk shalat ashar di garis lintang utara
sebelah timurnya. Belum lagi selesai gema adzan oleh ribuan, bahkan mungkin jutaan mu'adzdzin
pada garis lintang utara yang sama, sudah mulai pula ribuan mu'adzdzin mengumandangkan adzan
pada garis lintang Utara sebelah baratnya. Demikianlah seterusnya.
         327
              Lihat 'Abdullah 'Ulwan, I, Op.Cit., hal. 74
         328
              Lee Salk and Rita Kramer, Op.Cit., hal. 12 dan 26
                                                                                    170




karenanya perlu diamalkan. Dilihat dari segi pendidikan anak dalam rumah tangga, maka
lafadz-lafadz adzan dan iqamah itu adalah mata pelajaran yang perlu dibacakan dan
diperdengarkan kepada bayi yang baru lahir, sebagai langkah utama dalam upaya
mendidiknya sejak dini.
Kedua:
Memberi Anak Nama Yang Baik.
Nama, pada dasarnya diperlukan untuk membedakan antara seseorang anak dengan yang
lainnya dan untuk memudahkan mengenalnya. Tetapi jika hanya itu yangdijadikan dasar
maka bisa saja seorang anak diberi nama katak, yang lainnya ular, kucing, tikus dan
sebagainya. Orang arab, sebelum zaman Islam, banyak memberi anaknya nama-nama
jelek, seperti – sebagai contoh saja- terlihat dalam sebuah atsar (ucapan sahabat nabi),
bahwa pada suatu waktu, Umar bertanya kepada seorang laki-laki yang mengahapnya
sebagai berikut:329
Umar (selanjutnya : U) siapa namamu ?
Laki-laki (selanjutnya : L): Jamrah (bara api)
U : Nama ayah ?
L : Syihab (api)
U : suku ?
L : Al-Hirqah (terbakar)
U : tempat tinggal ?
L : Hurrah al-Nar (panas api)
U : alamat ?
L : Dzat Lazha (menyala)
U : terbakarlah kampungmu dan penghuninya.
        Kebetulan (tidak lama kemudian) kebakaran terjadi.

Di zaman Islam banyak nama-nama jelek tersebut ditukar oleh Nabi SAW dengan nama-
nama yang bermakna baik, seperti : 'Ashiyah (pendurhaka, pelaku maksiat) ditukar
dengan Jamilah (baik, cantik), Harban (perang) dengan silman (damai), al Mudhthaji'
(tidur) dengan al-Muntaba' (bangun) dan banyak lagi. nabi SAW menjelaskan bahwa
nama-nama itu, lebih-lebih yang jelak, banyak memberi pengaruh dan kesan kepada anak,
terutama karena dengan nama itu ia dipanggil oelh orang tuanya dan disebut-sebut oleh
teman-temannya. Oleh karena itu, dalam banyak hadis, Nabi SAW menganjurkan agar
setiap orang tua memberi nama anaknya yang baik.330
Tinjauan paedagogis dan psikologis memperlihatkan bahwa nama yang baik akan
membuat anak tenang, akrab dan tidak merasa rendah atau kecewa. Sebaliknnya, anak
yang diberi nama jelek, katak misalnya, tentu akan merasa hina atau rendah dan oleh
karenanya, lebih senang mengasingkan dirinya. Akibat peadogogis dan psikologis yang
biasanya akan muncul adalah malas belajar, bolos, nakal danbahkan mungkin sekali
agresif dan suka mencuri.
Dari segi waktunya, maka memberi naam tersebut, sebaiknya dilaksanakan pada hari
ketujuh (ada keterangan yang membolehkannya pada hari pertama, ketiga atau hari
lainnya) sekalian dengan penyembelihan 'aqiqah (hewan yang disembelih; untuk anak
laki-laki 2 ekor kambing atau seekor kibasy dan untuk anak perempuan seekor kambing)
dan pemangkasan rambutnya. Nabi SAW bersabda:331



       329
            'Abdullah 'Ulwan, I, Op.Cit., hal. 84
       330
           Op.Cit., hal. 83-85
       331
           'Abdullah 'Ulwan, I, Op.cit., hal. 81
                                                                                                   171




                                                                  ً
ٖ‫لبي زسٛي اهلل صٍٝ اهلل عٍيٗ ٚسٍُ: و ّ غالَ ز٘يٓ ثعميمزٗ. ررثح عٕٗ يَٛ سبثعخ: ٚيسّٝ فيٗ ٚيحٍك زأسٗ. زٚا‬
.‫أصحبة اٌسٕٓ عٓ سّسح‬
         Rasul Allah SAW bersabda : setiap anak (merupakan) barang gadaian (yang
         harus ditebus) dengan hewan 'aqiqah-nya yang disembelih pada ketika ia
         berumur tujuh hari, lalu diberi nama dan dicukur rambutnya. (H.R. Ash-habu al-
         Sunan dari Sumrah).

Dalam penyembelihan 'aqiqah yang disekaliguskan dengan pemberiana nama yang baik
dan pencukuran rambut terkadang makna psikologis dan pedagogis yang sangat tinggi,
baik bagi orang tua maupun bagi bayi. Orang tua, di satu pihak dengan sendirinya
merasakan suatu kenikmatan berupa kebahagiaan lahir dan batin karena merasa telah
berhasil melunsakna kewajibannya, sebagai orang yang dikaruniai anak. Bagi bayi, di
pihak lain, hal tersebut merupakan stimulus yang akan mendorong upaya responsifnya
sesuai dengan penemuan terahir di bidang penelitian bayi.332 Ketenangan batin di pihak
orang tua, etlah dengan sendirinya membina lingkungan yang baik bagi bayi yang sudah
lahir.
Ketiga.
Memberi Anak Makanan Dan Pakaian Yang Halal
Makanan dan pakaian dlaam konteks ini dapat bermakna ganda. Pertama, ia dapat
bermakna makanan dan pakaian seperti yang lazim difahami dalam percakapan sehari-
hari. Dalam hal ini ia berarti bahan-bahan yang dimakan, termasuk yang diminum dan
bahan-bahan yang dipakai, seperti kain, alat-alat, perumahan dan sebagainya. Kedua, ia
dapat bermakna ilmu sebagai makanan otak atau hati dan akhlak mulia sebagai pakaian
tubuh.
Dalam upaya mendidik anak, setiap orang tua harus berusaha memberi dirinya dan
anaknya makanan dan pakaian yang halal, maksimal, dalam makna pertama dan kedua
atau minimal dalaml makna pertama saja. Yang dimaksud dengan halal di sini adalah
yang baik dan dibolehkan menurut ajaran Allah dan Rasul-Nya. Setiap muslim, dalam hal
itu, pertama, diperintahkan Allah untuk memakan yang halal dan kedua, memberi yang
halal pula kepada orang lain, termasuk anak dan isterinya. Mengenai yang pertama
terlihat dalam firman Allah :

664 : ًٌّٕ‫فىٍٛا ِّب زشلىُ اهلل حالال طيجب . ا‬
        Dan makanlah daripada rezeki yang diberi Allah kepadamu yang halal dan yang
        baik (QS. Al-Nah: 114)

Perintah memakan yang halal itu, meskipun ditujukan kepada para mukalaf (yakni orang-
orang yang telah terbeban hukum dalam norma Islami), namun tidak berarti bahwa anak
yang belum mukalaf boleh saja memakan yang haram. Perintah kepada para mukalaf,
dalam ayat it, mencakup anak-anak ang menjadi tanggungan.
Yang kedua, perintah memberi yang halal kepada orang lain, terlihat dalam firman Allah :
267 : ‫يأايٙب اٌريٓ إِٔٛا أٔفمٛا ِٓ طيجبد ِب وسجزُ. اٌجمسح‬
         Wahai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah yang baik-baik (yang halal-
         halal) dari hasil usahamu. (QS. Al-Baqarah : 267)




        332
              Lee Salk and Rita Kramer, Op.cit., hal., 12 dan 26
                                                                                               172




Di sisi lain terlihat bahwa perintah memakan yang halal pada ayat pertama dan perintah
menafkahkannya pada ayat kedua ditujukan kepada laki-laki, 333 tetapi sama sekali tidak
berarti bahwa perempuan boleh saja memakan atau menafkahkan yang haram. Kedua
ayat itu menegaskan bahwa baik untuk dimakan/dipakai sendiri maupun yang
dinafkahkan untuk dimanfaatkan oleh orang lain, termasuk anak, haruslah terdiri dari
sumber dan hasil usaha yang halal.
Sebaliknya, dengan pemikiran sekilas saja, akan terfahami bahwa jika aak diberi makanan
dan pakaian yang haram yangakhirnya akan muncul adalah: darahnya, dagingnya,
matanya, hidungnya dan pada gilirannya, seluruh tubuhnya akan terisi dan bahkan terdiri
dari bahan-bahan haram. Akibatnya adalah bahwa akalnya, pikirannya, kepribadiannya
serta tingkah lakunya akan mucul dalam bentuk-bentuk haram (terlarang) pula. Oleh
karena itu, setiap orang tua diperintahkan Allah agar menyediakan makanan dan pakaian
yang halal untuk anak-anaknya.
Penelitian terhadap beberapa puluh kasus "kecelakaan susila" dan kenakalan-kenakalan
lainnya yang terjadi dalam kalangan remaja, seperti membunuh, merampok, mencuri,
menipu, berdusta dan sebagainya terbesar disebabkan oleh : (1) orang tua yang kaya raya
dari hasil korupsi, penipuan, riba (rentenir) dan hasil-hasil haram lainnya, (2) orang tua
yang, karena telah terlanjur berbuat haram (maksiat), kehilangan wibawa dalam membina
moral anaknya dan karenanya, membiarkannya saja beruat sama seperti yang
dilakukannya. Orang tua tersebut memang telah membina lingkungan yang tidak baik
untuk anaknya. Secara ilmiah telah terbukti bahwa lingkungan keluarga, dimana peranan
orang tua teramat dominant, mempunyai pengaruh yang lebih besar ketimbang pengaruh
lingkungan yang lainnya.
Orang tua yang berbuat haram, oleh karenanya, tidak akan dapat mempengaruhi anaknya
kecuali kepada yang haram pula. Sebaliknya, pada memberi makanan dan pakaian yang
halal terlihat makna ketaqwaan dan kesalehan yang akan memberikan kesa sebagai
teladan dan sekaligus pembianaan lingkungan Islami yang secara psikologis, dapat
membuat jiwa menjadi tenang tidak saja di pihak orang tua sendiri melainkan juga di
kalangan anak-anaknya.
Keempat:
Memberi Contoh Teladan Yang Baik.
Piaget, seperti dijelaskan oleh Arthur T. Jersild, mengemukakan bahwa peniruan yang
diperlihatkan oleh bayi sejak masa prabicara, melalui gerak panca inderanya, adalah
merupakan manisfestasi dari pada intelenjensinya. Meniru bukanlah suatu proses passif,
tetapi merupakan proses aktif dalam rangka persiapan untuk menghadapi realita.334 Yang
masih dapat dipertanyakan adalah : apakah gerak-gerik refleks bayi itu dikatagorikan ke
dalam gerakan meniru, seperti halnya juga dengan menangis yang biasanya segera
terdengar setelah ia lahir.335
Tetapi, pertanyaan itu sama sekali tidak mempengaruhi kesepakatan ilmiah tentang
peniruan oleh bayi yang berproses secara aktif sejak lahir sampai dengan umur tertentu.
Selama periode rumah tangga (sejak lahir sampai dengan umur 12 bahkan 15 tahun),
orang tua adalah model yang menjadi mode utama tiruan anak. Anak malah sering



        333
              Kulu dan anfiqu adalah fi'il amar (kata kerja perintah) yang secara ilmu nahwu
(grammar) ditujukan kepada laki-laki. Tetapi fi'il amar untuk laki-laki di dalam al-quran adalah
juga perintah untuk perempuan.
         334
             Arthur T. Jersild, dkk., Child Psychologiy, 7 th edition, Prantic-Hall Inc., Englewood
Chiffs, New Jersey, 1975, hal. 124
         335
             Loc.Cit.
                                                                                                173




bertingkah laku sebagai duplilkat orang tuanya.336. Dalam periode umur tertentu
merekalah, dalam pandangan anak, contoh satu-satunya.337. Ia sesungguhnya sudah mulai
meniru pada saat ia sudah pandai menangis – jadi, jauh sebelum ia pandai berkata-kata-
dalaml bentuk ikut menangis jika ia mendengar anak lain menangis. Proses meniru itu
semakin meningkat pada waktu ia sudah mulai mengulang suara yang dibuat oleh orang
lain, meskipun belum benar, atau mengulang-ulang suara yang dibuat olehnya sendiri.338
Dalam hal gerakan-gerakan, bayi belum dapat meniru. Gerakan tangan belum akan
ditirunya kecuali setelah ia sendiri membuatnya.339 Suatu percobaan yang dilakukan
secara seksama menjelaskan bahwa anak, pada umur antara 9 dan 11 bulan, ketika dicoba
agar meniru gerak mata- dibuka dan ditutup- ternyata ia menirunya dengan membuka dan
menutup mulutnya.340 Apabila anak sudah sanggup meniru gerak biasa yang terlihat
olehnya, maka mulailah ia meniru contoh-contoh yang didengar dan dilihatnya.
Kemudian ia bekembang kea rah menemukan 'alat-alat baru melalui kegiatan-
kegiatannya" untuk mulai secara teratur melakukan coba-coba salah.341
Proses berikutnya mengarah kepada meniru tingkah laku orang-orang sekitarnya. Pada
saat inilah orang tua menjadi sasaran tiruan utama. Oleh karena itu, setiap orang tua yang
berupaya mendidik ananknya haruslah emmbuat dirinya sedemikian rupa sehingga
menjadi teladan utama bagi anaknya. Di antara teladan yang harus diperlihatkan oleh
orang tua, dalam rangka mendidik anaknya, adalah:
             a. Kehormatan rumah tangga
Keharmonisan di dalam rumah tangga, terutama antara suami dan isteri, tidak saja akan
membahagiakan mereka berdua melainkan juga berperan edukatif bagi pembinaan
keharmonisan kehidupan anak-anak di dalamnya. Keharmonisan tersebut dapat terwujud
dalam bentuk saling menghargai dan saling menghormati, terutama dalam bergaul dan
berbicara antara suami dan isteri.342 Hal ini akan membuat jiwa anak menjadi tentram.
Sebaliknya, suami dan isteri yang tidak saling menghormati, apalagi cekcok dan bertutur
kata secara kasar akan membuat suasana rumah tangga menjadi tegang dan menyebabkan
anak merasa gelisah.343
Kegelisahan anak dalam rumah tangga mungkin, untuk sementara, dapat ditekannya di
dalam batinnya. Tetapi, manakala pada suatu waktu telah merasa bisa meninggalkan
rumah, misalnya pada umur di mana ia telah berada dalam pendidikan tingkagt SLTP, ia
akan mulai keluar dan, biasanya, segera bergabung dengan teman-teman sebayanya.
Dengan begitu ia merasa dapat menghindarkan dirinya dari situasi rumah tangga yang
dirasakannya sebagai mencekam itu. Bersama teman-teman ia menemukan rasa tenang
serta gembira dan karenanya, ia menghabiskan waktunya lebih banyak di luar rumah.
Jika teman-temannya itu kebetulan terdiri dari anak-anak berandalan maka ia terpengaruh
atau terbawa arus kea rah hal-hal yang negative, apalagi karena di rumah ia merasa
kehilangan teladan dan kendali. Akhirnya, jika keadaannya berlarut-larut dalam suasana



        336
             Bandingkan : Muhammad bin 'Abdu al-Qadir ahmad, Thuruqu Ta'lim al-Tarbiyah al-
Islamiyah, Cairo, Maktabah al-Nahdhah al-Mishriyyah, 1981 /1401, hal. 54
        337
            'Abdullah 'Ulwan, II, Op.Cit., hal. 633
        338
            Arthur T. Jeersild, Op.Cit., hal. 175
        339
            Loc.Cit.,
        340
            Op.Cit., hal 125
        341
            Loc.Cit.
        342
            Lihat Q.S. Al-Nisa : 19
        343
             Arthur T. Jersild, Op.Cit., hal. 206, 209-212. Lihat juga : Elizabeth B. Hurlock, Child
Development, 6 th Edition, McGrow-Hall Book Company,New York, London, 1978, hal. 495-498
                                                                                              174




seperti itu maka keberandalanlah yang akan terinternalisasi di dalam dirinya. Pada saat itu
sukarlah sudah mengembalikannya kepada upaya pencapaian tujuan pendidikan Islam.344
              b. Saling menolong antara suami dan isteri
Suami dan isteri yang saling menolong dalam rumah tangga, di samping membuat
suasana menjadi cerah juga akan..
         juga akan membuat anak merasa tenang serta gembira dan karenanya, betah
         didalamnya. Dengan saling menolong berarti mereka telah secara bersama
         memikul beban kerumahtanggaan dan sekaligus, saling melengkapi atau
         menyempurnakan kekurangan antara sesamanya.
         Istri, disamping bertugas melaksanakan pekerjaan kerumahtanggaan juga
         berfungsi sebagai pendidik pertama dan utama anak-anaknya. Sedangkan suami,
         selain berkewajiban mencari nafkah hidup rumah tangga juga terbeban keharusan
         membantu istrinya, dalam hal ini mendidik anak, terutama mengenai tindakan-
         tindakan yang memerlukan ketegasan, kekerasan atau hukuman. Dalam hal
         pertama, mendidik, suami bertindak sebagai pembantu istri dan dalam hal kedua,
         mendidik yang memerlukan ketegasan, kekerasan dan hukuman, istri memnbantu
         suami dengan cara tidak membela anak yang berbuat salah.345
         Tingkah laku yang saling menolong tersebut sekaligus memberi isyarat bahwa
         suami dan istri lebih banyak berada di rumah, kecuali karena bekerja atau karena
         hal-hal tertentu saja, sehingga anak merasakan bahwa mereka adalah benar-benar
         teladan, penolong dan karenanya, tumpuan harapan dan tempat mengadukan suka
         dan dukanya. Beberapa penelitian memperlihatkan bahwa salah satu dari
         beberapa sebab kenakalan anak adalah karena ia merasa ‗kehilangan‘ ayah
         selama setahun saja, misalnya karena memasuki dinas militer atau karena
         kegiatan dagang di luar negeri dan sebagainya. Dari 51 anak yang ‗kehilangan‘
         ayah selama setahun pada masa kanak-kanaknya dibanding dengan 89 anak yang
         tidak ‗kehilangan‘, ternyata kelompok pertama lebih banyak melakukan sikap-
         sikap anti sosial346.
         Yang dimaksud dengan kehilangan ayah disini ( sebenarnya juga kehilangan ibu )
         bukanlah kehilangan karena kematian atau perceraian ( yang dengan sendirinya
         lain lagi masalahnya ), tetapi kehilangan yang sifatnya sementara, termasuk
         karena terlalu sibuk dengan bisnis atau lainnya.

        a.      Senang beramal dan beribadah.


        344
               Orang tua yang bijak seantiasa berusaha memperlihatkan keharmonisan rumah
tangganya, tidak saja kepada tetangga dan masyarakat sekitarnya melainkan juga lebih-lebih
kepada anak-anaknya. Betapapun dendam atau sakit hati yang membara di dalam hati suami dan
atau isteri, namun bilamana mereka lagi berada di depan anak-anak, semuanya mereka tekan
sampai tidak ketahuan, sekurang-kurangnya untuk sementara anak-anak tersebut belum pergi.
Atau, sekiranya mereka lagi hangat-hangatnya bertengkar, lalu tiba-tiba anak muncul, mereka
segera menghentikan pertengkaran dan memperlihatkan keharmonisan dan kedamaian, meskipun
setelah itu bertengkar lagi.
         345
             Dalam realita kerumahtanggaan, terutama dengan kaitannya dalam mendidik anak,
sering kali perbedaan pikiran dan karenanya, tindakan antara suami dan isteri. Suami, karena suatu
pertimbangan, bermaksud akan menghukum anaknya, tetapi isteri, karena sayang bertindak
membelanya. Sikap sepeti itu akan menimbulkan akibat yang tidak baik bagi pendidikan anak.
        346
           Martin Gold and Richard J.Petronio,Delinquent Behavior in Adolescence, dalam
Yoseph Adelson, Handbook Adolescent Psychology, A Wiley-Interscience publication, John
Wiley dan Sons, New York Chichaster Briishbane Toronto Singapore, 1980, hal. 512-517
                                                                                              175




        Orang tua yang rajin beramal ( berbuat baik ) dan tekun beribadah akan dengan
        sendirinya menjadi teladan utama bagi anak-anaknya. Yang dimaksud dengan
        teladan di sini adalah berbuat baik sesuai dengan ajaran Islam, misalnya
        bersedekah, meringankan beban orang lain dan sebagainya. Dan yang dimaksud
        dengan beribadah adalah --dalam pengertian yang sempit—shalat, puasa , zakat
        dan ( jika mampu ) menunaikan ibadah haji.
        Amal yang baik dan ibadah yang tekun dari pihak orang tua akan sangat
        bermakna bagi pembinaan kepribadian anaknya, karena ia akan menirunya.
        Apalagi jika diingat bahwa amal dan ibadah yang ikhlas akan menumbuhkan
        wibawa maknawi yang sangat kuat di pihak orang tua terhadap anak-anaknya.
        Dengan wibawa yang kuat tersebut, orang tua akan lebih mampu mendidik
        anaknya karena dalam diri anak terbina rasa segan, hormat dan karenanya patuh
        serta taat kepadanya. 347Wibawa orang tua sangat menentukan sifatnya tidak saja
        bagi keberhasilan mendidik melainkan juga bagi pemeliharaan kestabilan rumah
        tangga. Wibawa itu akan terbina melalui beramal dan beribadah dengan tekun
        serta melengkapi diri dengan sekedarnya pengetahuan agama dan pendidikan348.
   b.   Bergaul baik dengan tetangga.

        347
             Bagi orang tua sendiri amal ibdah tersebut akan berguna untuk, antara lain [1]
meningkatkan keimanannya kepada Allah yang, pada gilirannya, akan meningkatkan ketenteraman
jiwanya, [2] meningkatkan kepercayaannya akan keteguhan dirinya yang hanya akan takut kepada
Allah, [3] kedua peningkatan tersebut akan bermuara kepada stabilisasi emosi dan tindakannya
dalam mendidik anak-anaknya. Sebaliknya, orang tua yang berbuat maksiat, apalagi yang
terkategori dosa besar,misalnya, berzina, doyan minuman keras sehingga terlihat sempoyongan
atau lainnya akan kehilangan keteguhan jiwa karena ia selalu dibisiki oleh batinnya sebagai orang
yang berdosa [sense of guilty]. Ia kehilangan potensi hati nurani sebagai pengendali dirinya dalam
mengatasi godaan kehidupan. Orang tua semacam ini akan segan menasihati, mendidik atau
membimbing anaknya apalagi mengontrolnya karena ia sendiri, sebelum bertindak, telah merasa
lemah menghadapi dirinya termasuk menghadapi anak-anaknya. Ia, dengan perbuatannya itu
kehilangan wibawa dan karenanya, tidak mampu mendidik. Bahkan, mungkin sekali, jika terus
menerus ia berlumuran dosa, maka ia akan merasakan berdosa lagi sehingga ia lupa daratan.
         348
             Sebagian besar orang tua di Indonesia masih terkategori jahil, baik di bidang agama
maupun di bidang pendidikan, mengingat buta huruf pun sampai kinipun belum terberantas secara
tuntas. Pada tahun 1979, Menteri P dan K mengungkapkan bahwa di tanah air masih terdapat 21
juta penduduk usia 10 - 45 tahun yang buta huruf [Baharudin M, Tuna Karya/Pengangguran,
Masalah Penanggulangan, Jakarta, YKKP, 1980, hal. 224]. Menurut perkiraan tahun 1980,
terdapat 2.647.040 jiwa penduduk berusia 7-12 tahun bersekolah, sedang yang berusia 12 tahun
tahun keatas ternyata mencapai 24 juta yang tidak atau yang putus sekolah. Dengan demikian
dapat di perkirakan bahwa yang akan menjadi buta huruf meningkat sampai mencapai jumlah 36
juta jiwa [Baharuddin M., Op. Cit., hal.XI ]. Jikalau misalnya, di bagi dua saja jumlah itu atas
dasar rasio pria :wanita = 1:1, maka akan terdapat pasangan buta huruf sejumlah18 juta. Jika
diandaikan masing-masing pasangan itu mempunyai 3orang anak, maka akan terdapat 54
juta jiwa anak yang akan dididik oleh orang tua yang buta huruf. Bagaimana mereka yang
buta huruf itu mendidik anaknya adalah suatu tantangan besar. Masalahnya, dilihat dari sisi
kewajiban orang tua mendidik anak dalam rumah tangga, terletak pada bagaimana dan apa upaya
yang dapat ditempuh untuk menjadikan mereka supaya, meskipun buta huruf, memiliki
pengetahuan sekedarnya tentang agama dan pendidikan serta bagaimana mengamalkannya. Disisi
tampak perlunya upaya penyuluhan secara berkala dan sistematik. Pengetahuan agama dan
pendidikan itu tampak amat dilematis, karena tidaklah mereka yang buta huruf saja yang ternyata
salah dalam cara mendidk anak melainkan juga para ilmuwan yang telah menyandang titel
kesarjanaan. Mereka ini mungkin telah memiliki ilmu yang memadai di bidangnya, tetapi di
bidang agama dan pendidkan, karena belum belajar atau mendapat penyuluhan tetap saja mereka
jahil, termasuk aplikasi dan implementasinya.
                                                                                 176




Manusia, sebagai makhluk sosial, tidak betah hidup tanpa berkelompok, besar atau
kecil. Dalam kelompok tersebut, mereka hidup bertetangga yang dengan sendirinya
mengundang banyak hal-hal positif dan negatif. Dengan berkelompok mereka bisa
bergotong—royong menyelesaikan masalah-masalah yang menyangkut kepentingan
umum atau pekerjaan-pekerjaan yang besar dan berat, bekerjasama mengupayakan
kebutuhan hidup, bergiliran menjaga keamanan lingkungan, secara kolektif mengusir/
menyerang musuh yang mengancam dan sebagainya. Tetapi sebaliknya, dapat juga
munncul konflik karena perbedaan persepsi, ide atau keinginan ( hawa nafsu ) pribadi
sehingga memerlukan pengatasan secara bijaksana. Namun demikian, dalam
kelompok itulah tumbuh apa yang dinamakan hidup bertetangga. Semakin besar
kelompok yang terbentuk, biasanya semakin banyak muncul hal-hal positif ataupun
masalah-masalah negatif.
Bertetangga belum tentu bersaudara, sebagaimana sebaliknya, bersaudara belum tentu
bertetangga.. Namun demikian, setiap orang yang menggabungkan diri kedalam suatu
kelompok sosial, di desa atau kota, tentu mendapatkan tetangga. Dalam realitas sosial
terlihat bahwa bantuan spontan atas sesuatu kebutuhan mendadak, misalnya karena
sakit berat, kecelakaan atau kematian, biasanya datang dari tetangga. Apalagi jika
seseorang karena misalnya berdomisili di kota besar telah jauh dari sanak
saudaranya. Itulah, antara lain sebabnya mengapa Islam menempatkan tetangga pada
posisi yang terhormat.349     ‗Tidak beriman seseorang diantara kamu sehingga ia
menyenangi untuk saudaranya apa yang ia senangi untuk dirinya350 , Demikian kata
Nabi saw yang menambahkan ketegasannya dengan ‗barang siapa beriman kepada
Allah dan hari akhirat maka hendaklah ia memuliakan ( atau bermurah hati ) kepada
tetangganya.351
Kaitannya dengan pendidikan anak dapat dilihat dari berbagai sisi, antara lain : (1)
orang tua yang senantiasa baik dengan tetangga tentulah berakhlak mulia yang
tercermin dalam senang bersilaturahim, saling memberi dan menerima,      (2) akhlak
tersebut akan membina hubungan yang dekat dan akrab antara orang tua dengan anak
dan antara rumah tangga yang satu dengan lainnya, (3) dari hubungan seperti itu,
secara psikologis akan tumbuh rasa aman, dan pada gilirannya anak-anak turut
merasakannya, baik di dalam maupun di luar rumah tangga, (4) orang tua yang
berakhlak mulia seperti itu disamping mampu memberi teladan yang baik juga anak-
anaknya akan tertarik untuk menirunya.

     c.      Benar dan menempati janji.
Orang tua haruslah secara ikhlas memperlihatkan dirinya sebagai seorang yang selalu
benar dan menempati janji baik di dalam maupun di luar rumah tangga. Didalam
rumah tangga ia harus benar dan menempati janji antara sesamanya ( suami dan istri )
dan dengan anak-anaknya. Ia tidak boleh menganggap bahwa anaknya, karena masih
kecil dan terasa belum tahu apa-apa, boleh saja di bohongi dan janji dengannya tidak
perlu ditepati.
Beberapa kasus anak yang mula-mula rajin menabung tiba-tiba berubah menjadi
kebalikannya, setelah dipelajari ternyata disebabkan oleh orang tuanya yang berlaku
bohong dan tidak menepati janji. Uang tabungannya, karena sesuatu keperluan,
dipinjam dengan akan dibayar. Tetapi ketika pada suatu waktu anaknya memintanya


    349
        Lihat QS. An Nisa‘ : 36
    350
        Al Sayuthi, II, Op. Cit., hal. 204
    351
        Shahih Muslim, I, Op. Cit., hal. 39 – 39.
                                                                                            177




   kembali, orang tua dengan berbagai alasan menangguh-nangguhkannya ( membeseok-
   besokannya ) sampai dengan dirasakannya anaknya sudah lupa dan tidak dibayar lagi.
   Pihak orang tua kadang-kadang mempertimbangkan bahwa uang tabungan anak
   tersebut berasal dari padanya dan karenanya dipinjam tidak harus dikembalikan. Anak
   menurut orang tua harus sadar akan hal itu. Sebaliknya, pihak anak berpendapat
   bahwa uang tabungannya, benar-benar sudah menjadi miliknya, meskipun berasal dari
   pemberian orang tuanya. Maka, jika dipinjam harus dikembalikan apalagi karena
   dahului dengan janji. Dalam hal ini yang benar adalah anak, karena betapapun ia telah
   di beri uang jajan yang jika mau ia bebas saja menghabiskannya. Tetapi karena --
   biasanya-- menginginkan sesuatu misalnya sepeda, sepatu bagus atau lainnya ia lantas
   mengurangi jajan dan mulai menabung.
   Oleh karena itu, benar dan menepati janji sebagai siat-sifat yang terpuji352, harus
   dimiliki olleh orang tua. Maka janji-janji atau pinjaman dari anak harus
   ditepati/dikembalikan kepadanya, lebih-lebih karena sifat-sifat itu diharapkan agar
   terinternalisasi dan diri dan terealisasi dalam perilaku kepribadiannya. Untuk itiu
   orang tua harus memberi contoh serta menampilkannya dalam perbuatan nyata353.
   Dengan penampilan itu ia sebenarnya telah berupaya mendidik sekaligus dengan
   memberi contoh teladan yang akan ditiru oleh anaknya. Sebaliknya orang tua yang
   senang berdusta serta tidak menepati janji, tidak usah mengharapkan dari anaknya
   kecuali sifat yang sama seperti yang dimilikinya.354
   d. Suka menolong.
   Manusia pada hakikatnya suka menolong karena sebagai makhluk sosial, ia sendiri
   pada saat-saat tertentu memerlukan pertolongan. Sementara itu, ada orang yang suka
   menolong karena mengharapkan sesuatu dari mereka yang dtolongnya. Sebaliknya,
   ada pula orang yang memberikan pertolongan secara ikhlas, hanya dengan
   mengharapkan keridhaan Allah. Dalam rangka mendidik anak, menolong dengan ciri
   yang tersebut kedua itulah yang paling bermakna dan akan menanamkan kesan sangat
   positif dalam jiwanya.
   Saling menolong tentunya dalam perbuatan-perbuatan terpuji sangat dianjurkan oleh
   Islam, baik sesama manusia355 maupun --dan bahkan terutama-- sesama anggota
   keluarga dalam rumah tangga,356 termasuk menolong anak melalui kegiatan
   pendidikan. Secara paedagogis terlihat bahwa dengan sikap suka menolong itu pihak
   orang tua telah membina lingkungan yang baik bagi anaknya. Dan dari segi
   psikologis sikap seperti itu akan membina ketenteraman jiwa yang akan terefleksi
   dalam ketenangan sikap dan tingkah laku orang tua sehari-hari. Suasana itu akan
   membuat anak turut merasakan ketenangan, dan karenanya merasa betah di rumah
   serta tertarik meneladani orang tuanya.


        352
             Lihat QS. All Ahab : 22, Al Imran : 152, Al Anbiya : 9.
        353
             QS. Al Saff : 2 - 3.
         354
             Dalam realita banyak orang tua yang merasakan terpaksa membohongi anaknya,
karena ngotot untuk ikut bepergian ketempat yang seharusnya ia tidak ikut bersama-sama. Dalam
kondisi semacam ini, orang tua lalu mengatakan akan pergi ke dokter untuk di suntik atau alasan-
alasan lainnya yang membuat anaknya takut. Mereka berdusta agar anak tersebut bersedia
ditinggalkan. Dusta secara ini pun secara paedagogis, sesuai juga dengan ajaran agama adalah
terlarang. Orang tua, dalam keadaan semacam itu hanya boleh mengambil salah satu dari dua
alternatif sikap yang benar yaitu membawanya atau meninggalkannya, meskipun menangis
meronta-ronta atau menghukumnya agar ia mengerti dan tidak memaksakan kehenndaknya.
        355
              Lihat QS. Al Maidah : 2.
        356
              Lihat QS. Al Ahhzab : 35.
                                                                                           178




   e. Gemar akan ilmu.
   Didalam kegiatan belajar ( menuntut ilmu ), setiap anak memerlukan motivasi dan
   kondisi yang menunjang. Belajar atas dasar hanya karena disuruh atau diperintah
   sukar bisa diharapkan akan berhasil secara memuaskan. Anak amat memerlukan
   motivasi dan kondisi tersebut. Untuk itu orang tua harus memperlihatkan dirinya
   sebagai seorang yang rajin membaca buku, majalah, koran dan sebagainya. Jika
   karena satu dan lain hal orang tua tidak sempat atau tidak mampu membaca maka ia
   harus memperlihatkan dirinya sebagai orang yang amat senang akan ilmu.
   Tentu saja tidak semua orang tua gemar akan ilmu yang karenanya lantas rajin
   membaca. Sebagian mereka malah buta huruf atau pendidikannya terlalu rendah atau
   pindah profesi dari bidang yang memerlukan ketekunan membaca kepada bidang
   lainnya yang membutuhkan hanya keterampillan seperti pertukangan, peternakan,
   perdagangan dan sebagainya dimana seseorang lebih cenderung memikirkan
   peningkatan jumlah modal dan pemasaran dari pada peningkatan ilmu, lebih-lebih
   yang sifatnya teoritis.
   Namun demikian, orang tua yang mengharapkan agar berhasil mendidik anaknya
   dituntut untuk memperlihatkan kegemarannya akan ilmu. Beberapa contoh berikut ini
   dapat mencerminkan kegemaran tersebut, seperti (1) melengkapkan buku-buku dan
   alat-alat tulis anak, (2) menyediakan ruang belajar yang baik, meja, kursi dan lampu
   yang memadai, (3) menanyakan kegiatan belajar anak sehingga ia merasa di
   perhatikan, (4) memberikan perhatian yang besar, walaupun sebentar kepada anak
   pada saat ia sedang belajar, (6) menceritakan para ilmuwan, ulama, pemimpin atau
   pejuang terkemuka yang berhasil dan dikenal orang yang berilmu, (7) cara-cara
   lainnya dengan wujud memperlihatkan keceriaan dan kegembiraan apabila melihat
   anak sedang belajar.
   Kemiskinan barangkali termasuk pembunuh kemauan menuntut ilmu yang paling
   sadis. Ia tidak saja membunuh kemauan tersebut melainkan juga malah kemungkinan
   besar akan menjerumuskan manusia ke dalam kekufuran (mengabaikan ajaran
   agama).357 Bagi masyarakat miskin bukanlah menuntut ilmu yang maha penting,
   tetapi pengisi perut pagi dan petang. Yang mesti menjadi inti atau sentral pengkajian
   dalam masyarakat tersebut adalah masalah pangan, sandang dan papan yang perlu
   segera mendapatkan pengatasan. Islam telah menurunkan ajarannya guna
   diaplikasikan dalam rangka mengatasi masalah kemiskinan itu.358

        f.      Disiplin.
   Yang dimaksud dengan disiplin disini adalah bekerja tepat pada waktunya secara
   tetap, tertib dan benar.359 Bila dikaji dari sudut ajaran Islam niscaya akan terlihat
   bahwa bersikap disiplin itu adalah wajib. Semua ajaran Islam harus dilakukan dengan
   penuh disiplin, artinya diamalkan tepat pada waktunya (misalnya puasa diamalkan
        357
             Lihat haditsnya dalam Al Sayuthi, II, Op. Cit., hal 89.
        358
             Disertasi ini tidak maksud menelorkan teori mengenai penanggulangan kemiskinan.
Namun demikian secara sekilas dapat ditegaskan bahwa ajaran Islam mengandung antara lain
teknik-teknik yang cukup menjamin bagi keberhasilan upaya pengatasan kemiskinan tersebut
asalkan diterapkan dengan benar, jujur dan tuntas serta menyeluruh. Diantaranya adalah : [1]
         keharusan bekerja keras dan rajin ( QS. Al Jumu‘ah : 10, Hud : 61, Al Mulk : 15 ), [2]
         Mengajarkan ajaran sadaqah ( At Taubah : 60. 103 ; Al Baqarah 276, 280 ), [3]
         Membayar zakat ( Al Haj : 78 ), [4] Memelihara dan menyantuni anak yatim ( Al Ma‘un :
1 – 3 ; AL Dhuha : 9 ; Al Baqarah : 73, 177 ; An Nisa : 2, 10, 36 ) [5]  Membayar gaji buruh
sebelum keringattnya kering ( HR. Ibnu Abi Syaibah dari Abu Qatadah ) dan banya lagi.
         359
              Bandingkan WJS. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, PN Balai
Pustaka, Jakarta, hal. 254.
                                                                                    179




   dalam bulan ramadhan), pengamalannya secara tetap ( konsisten ), tertib dan benar,
   sesuai dengan tuntunan ajaran tersebut bagi masing-masing amalan yang
   diselenggarakan. Shalat ( suatu ajaran ibadah Islamiyah yang sangat inti sifatnya ;
   untuk sekedar contoh saja ) harus diamalkan tepat pada waktunya ( untuk masing-
   masing shalat fardhu atau shalat sunah ), secara tetap ( artinya tidak pernah
   ditinggalkan ), tertib ( artinya pengamalan rukun-rukunnya berurutan sesuai dengan
   petunjuk ) dan benar (artinya sesuai dengan shalat yang dicontohkan oleh Rasulullah
   saw).
   Pembinaan disiplin lainnya melalui shalat terlihat pada perintah bahwa ia seharusnya
   didirikan pada awal waktunya. Tetapi, jika karena satu dan lain hal pada awal
   waktunya tidak terselenggarakan maka disiplin shalat harus tetap dijaga dengan
   mendirikannya dalam waktu yang telah ditentukan. Jika dalam waktu itupun masih
   tidak terlaksanakan maka perintah memelihara disiplin shalat tidak pernah terelakkan,
   yaitu harus mendirikannya dalam bentuk qadha‘ ( ganti ) pada waktu lain ( sebagian
   ulama tidak membenarkan qadha‘ ). Pembinaan itu terlihat pula dalam bentuk
   kewajiban mendirikan shalat dalam segala kondisi sepanjang seseorang masih belum
   kehilangan kesadaran, misalnya : shalat duduk bilamana tidak mampu berdiri; atau
   berbaring bilamana tidak mampu duduk; atau isyarat saja bilamana seseorang telah
   berada dalam kondisi yang sangat lemah; atau diingatkan saja bilamana semua
   kemungkinan itu tidak terlakukan kembali. 360
   Orang tua yang bermaksud agar berhasil dalam upaya mendidik anaknya haruslah
   terlebih dahulu mendisiplinkan dirinya supaya diteladani oleh anaknya. Kemudian
   untuk mendisiplinkan anaknya ia harus membuat aturan-aturan -- meskipun tidak
   tertulis -- yang akan secara tertib dan teratur dipatuhi bersama serta memulai
   kepatuhan tersebut dari dirinya sendiri. Beberapa contoh peraturan pendisiplinan di
   kemukakan di bawah ini :
   1) Siang adalah waktu untuk sekolah dan bermain, sedangkan malam adalah
   waktu untuk belajar dan istirahat. Maka setiap malam anak didisiplinkan didalam
   rumah guna belajar, shalat, istirahat dan nantinya tidur. Orang tua tidak boleh
   membiarkan anaknya berkeliaran diluar rumah. Ia harus tegas dalam hal itu. Untuk
   mencapai keberhasilan yang optimal, orang tua sendiri harus senantiasa berada di
   rumah kecuali memang ada keperluan.
   2) Malam adalah waktu untuk belajar di rumah. Oleh karena itu, orang tua harus
   melarang anaknya dari bermain-main kecuali sekedar perlu, misalnya untuk sekedar
   menghilangkan kelelahan belajar.
   3) Shalat adalah wajib. Oleh karena itu, orang tua harus mengontrol anaknya agar
   mendirikan shalat tepat pada awal atau didalam waktunya secara tetap, tertib dan
   benar caranya. Ia marah jika anaknya tidak shalat dan akan tetap marah jika anak
   mencoba melalaikan apalagi meninggalkannya.
   4) Berkelahi adalah tidak baik, apalagi berkelahi antara kakak-adik dalam rumah
   tangga. Oleh karena itu, orang tua harus mendisiplinkan anak-anaknya dengan mula-
   mula melarang mereka berkelahi. Jika sekali-kali terjadi perkelahian maka orang tua -
   - suami dan istri -- harus serentak marah. Jika setelah itu masih terjadi juga
   perkelahian maka mereka harus tetap marah dan betul-betul marah. Jika perlu, mereka
   dapat memberikan hukuman yang wajar secara langsung361.


       360
           Al Bukhari, Matan Al Bukhari, I, Op. Cit., hal. 195 – 196.
       361
            Berkelahi antara kakak-adik dalam rumah tangga merupakan hal yang wajar saja
sepanjang terjadinya pada masa kanak—kanak ( sebelum umur 5 tahun ). Setelah umur itu
perkelahian tersebut harus sudah tidak terjadi lagi.
                                                                                         180




        g.     Rajin.
        Agama Islam mengajarkan agar setiap manusia rajin bekerja, baik untuk
        mencapai kemenangan akhirat maupun untuk memperoleh keuntungan dunia,362
        bahkan mengharuskan agar setiapp orang mengisi waktunya dengan perbuatan
        baik ( al a‘malu al shalihah ),363 apa saja bentuknya. Mengenai pengisian waktu
        senggang yang banyak dipermasalahkan orang dewasa ini, sebenarnya Islam
        telah mengaturnya yaitu dengan melaksanakan berbagai kegiatan yang disamping
        berguna bagi individu yang bersangkutan juga bermanfaat bagi masyarakat.
        Diantara kegiatan itu adalah : mencari nafkah hidup,364 menambah ilmu
        pengetahuan,365 membaca Al-Qur‘an,366 mendirikan shalat sunah, 367 bertasbih,368
        berdzikir369 dan sebagainya.
        Tetapi ada, bahkan banyak diantara orang tua yang rajin mengisi waktu
        senggangnya dengan permainan – permainan yang belum tentu dapat menjadi
        teladan yang baik bagi anak, lebih-lebih yang sedang belajar. Permainan tersebut
        dapat muncul dalam bentuk catur, bridge, domino, nyanyi, tari dan sebagainya.
        Pada umumnya permainan atau hobi semacam itu, jika digunakan untuk mengisi
        waktu senggang akan menyita waktu cukup banyak sehingga pekerjaan pokok
        bisa terlupakan dan oleh karenanya, sudah tentu secara pedagogis kurang
        menguntungkan.370 *71

        Adapun permainan seperti volley ball, bola kaki, bulu tangkis dan yang
        semacamnya, biasanya waktunya lebih pedek, masanya tertentu dan nilai
        kesehatannya lebih tinggi. Oleh karena itu, pengisian waktu senggang dengan
        permainan jenis ini lebih berdayaguna, baik bagi orang tua sebagai pendidik
        maupun untuk anak yang sedang berkembang di dalam alam pendidikan.
        Orang tua yang senantiasa yang mengisi waktunya dengan kegiatan-kegiatan
        positif --antara lain seperti yang diamanatkan oleh Al-Qur‘an diatas atau
        permainan kelompok kedua tersebut tadi-- terkategori kedalam golongan mereka
        yang rajin. Dengan sikapnya itu ia sebenarnya telah membina lingkungan yang
        baik untuk dan sekaligus, memberi teladan yang baik yang akan ditiru oleh
        anaknya.

       362
             QS. Al Qashash : 77.
       363
             QS. An Nahl : 98
         364
             QS. Al Jumu‘ah : 10.
         365
             QS. At Taubah : 122.
         366
             QS. Al Muzzammil : 20.
         367
             QS. Al Mu‘minun : 2 ; Al Ma‘arij : 232
         368
             QS. Al Ahzab : 42.
         369
             QS. Al Ahzab : 41.
         370
             Seorang anak laki – laki ( AF, 15 tahun, kelas II SMP ) minggat dari rumahnya di
bilangan Kebayoran Lama, Jakarta, sehingga sempat membuat keluarganya tersibukkan
mencarinya. Tiga minggu kemudian ia ditemukan di rumah temannya di kota B. Ketika ditanya, ia
hanya menjawab tidak mau sekolah. Orang tuanya memohon kesediaan saya untuk memberi
nasihat/ penyuluhan kepada anaknya agar mau pulang ke rumah dan sekolah kembali.
         Saya setelah menyelenggarakan wawancara penyuluhan ( kanseling ) dengan anaknya,
menemukan bahwa kesalahan tidak terdapat pada anak melainkan di pihak orang tuanya. Anak
tadi sebenarnya sudah cukup rajin belajar setiap malam. Tetapi orang tuanya, karena hobi main
kartu dan membuat suasana rumah menjadi ramai dan ribut, telah membuat AF menjadi jengkel.
Satu-satunya cara, menurutnya, mogok dan minggat supaya katanya orang tuanya kapok.
         Beberapa kasus lainnya yang bersamaan tidak di tengahkan disini.
                                                                                           181




                    5)     Membiasakan anak berbuat baik
     Dengan hanya memberi teladan yang baik saja tanpa diikuti oleh pembiasaan
     belumlah cukup bagi menunjang keberhasilan upaya mendidik anak. Apalagi jika
     dikaji secara berhati-berhati niscaya akan terlihat bahwa dengan hanya memberi
     teladan oleh pihak orang tua dan dengan hanya meniru oleh pihak anak --tanpa
     latihan, pembiasaan dan koreksi yang secara psikologis sangat dibutuhkan--
     pekerjaan, keterampilan, ibadah ( shhalat ) atau apa saja, biasanya tidak mencapai
     target tetap, tepat dan benar apalagi mempribadi. 371
     Mendirikan shalat untuk sekedar contoh saja dengan hanya orang lain, tidak menjamin
     tercapainya ketepatan dan kebenaran aplikatif shalat yang ditiru, lebih-lebih jika
     yang meniru itu adalah anak-anak. Hampir segala pekerjaan, kecuali mungkin yang
     mudah dan sifatnya alami dan rutin, seperti makan,minum dan sebagainya tidak akan
     terlaksanakan secara tepat dan benar dengan hanya meniru. Meskipun
     demikian,meniru tetap penting dan memegang peranan besar dalam memacu gairah
     manusia untuk pencapaian peningkatan berbagai aspek kehidupan, ketika peniruan itu
     diarahkan kepada yang lebih baik,lebih tinggi dan maju. Peniruan tersebut akan
     berhasil positif apabila diikuti dengan kegiatan mengkaji dan memahami, baik segi-
     segi teoritis maupun aspek-aspek aplikatif serta latihan dan pembiasaan-pembiasaan
     seperlunya372

     Mendidik anak untuk mencapai keterampilan tertentu, kemantapan belajar, kebenaran
     serta kemantapan belajar, kebenaran serta ketepatan beribadah dan sebagainya
     tidaklah memadai dengan hanya memberi contoh dan teladan yang baik saja
     melainkan harus diikuti dengan pembiasaan yang pada tingkat permulaan terutama
     untuk anak-anak dalam rumah tangga, tidak lebih dari sekedar ‗pendekatan‘. Di sebut
     pendekatan karena pada mulanya pembiasaan tersebut hanyalah sekedar ‗pembiasaan‘
     tanpa terlalu mengutamakan kebenaran dan ketepatan daripada perbuatan yang sedang
     dibiasakan.
Di bawah ini akan dikemukakan beberapa contoh:

a.       Pembiasan salat.
     Anak , meskipun lahir dalam keadaan fitrah,373 tidaklah lantas menjadi manusia
     beribadah dengan sendirinya. Ia harus dibiasakan dan bahkan diajar agar senantiasa


         371
              Lihat Abdullah Ulwan , II Op. Cit., hal. 679 – 683.
         372
              Sebagai contoh dapat dkemukakan kegiatan mempelajari bahasa. Pada mulanya pelajar
diajak mendengar dan meniru ucapan guru, kemudian memahami dan mengulang-ulanginya.
Selanjutnya pelajar dianjurkan untuk membiasakan satu, dua atau tiga dari sekian alternatif
pembiasaan yang sesuai dengan tujuan belajar bahasa. Yaitu bercakap-cakap,
membaca/memahami buku atau kedua-duanya yakni penguasaan secara aktif dan pasif.
                   Jika dengan mempelajari bahasa itu dimaksudkan hanya untuk bercakap-cakap
saja maka tidaklah diperlukan, kecuali pembiasaan bercakap-cakap. Sebaliknya, jika yang dituju
hanya membaca/memahami buku saja maka kebiasaan membaca sangatlah diperlukan, meskipun
dalam hal mengucapkan kata-katanya kurang tepat. Dengan penggarisan tujuan secara tajam
seperti itu maka jangka waktu belajar dapat di perpendek. Tetapi yang dimaksudkan adalah kedua-
duanya ( aktif dan pasif ) maka disamping keharusan membiasakan bercakap-cakap juga
keharusan membaca sebanyak mungkin buku dalam bahasa yang sama muncul sebagai sesuatu
yang tidak terelakkan. Untuk alternatif ketiga ini diperlukan waktu yang lebih panjang.
          373
              QS. Ar Rum : 30.
                                                                                              182




    berakhlak dan berbuat baik, 374 dalam hal ini, beribadat. Yang dimaksud dengan
    ibadah, dalam kontek ini, adalah dalam arti yang sempit, yaitu: shalat, puasa, sadaqah
    dan yang semacamnya.
Setiap usaha pembiasaan harus disesuaikan dengan umur dan tingkat
perkembangan/kematangan anak. Oleh karena itu, pembiasaan anak yang berumur 1-2
tahun cukup dengan memperlihatkan praktek shalat dihadapannya. Gerakan-gerakan yang
dilihatnya akan menummbuhkan semacam imbas di dalam dirinya untuk menirunya.
Ketika sudah berumur lebih dari 2 tahun ( atau sudah mampu berdiri/berjalan kaki), anak
dibiasakan untuk mengikuti shalat bersama orang tua, meskipun hanya berdiri atau sujud
saja lantas pergi meninggalkannya sebelum selesai. Pembiasaan seperti itu cukup
bermakna bagi anak,l ebih-lebih apabila ia mendapat pujian karena perbuatannya itu.
Oleh karena itu, orang tua hendaknya memuji anaknya setiap kali ia ikut shalat, meskipun
belum belajar.
Untuk menggembirakan shalat bagi anak, orang tua hendaknya menyediakan piranti-
piranti yang cocok dengannya seperti sajadah dan mukena kecil. Anak akan sangat
gembira dengan piranti tersebut dan oleh karenanya, akan mendorongnya untuk shalat
bersama atau mengulanginya sendiri. Disamping iitu, orang tua harus selalu
mengingatkan anaknya sertiap kali akan mendirikan shalat, sebab anak tersebut belum
mengetahui waktu apalagi kewajiban dan makna shalat untuk dirinya.375
Ketika anak sudah berumur 4 – 6 tahun, pembiasaan shalat harus lebih di tingkatkan lagi
dengan cara yang tetap menyenangkan dan menggembirakan. Bedanya dengan
sebelumnya adalah bahwa pembiasaan dalam waktu ini harus lebih intensif dan terarah,
baik mengenai cara shalat yang harus sudah tepat dan benar maupun mengenai
pengertian bahwa shalat adalah suatu kewaiban agamawi. Pada umur 6 tahun, pembiasaan
tersebut sudah harus sedemikian mantapnya sehingga sudah akan siap menerima
kenyataan pada umur 7 tahun nanti, yaitu bahwa shalatnya sudah benar dan siap
menerima perintah dan teguran setiap kali waktu shalat tiba. Demikianlah seterusnya
pembiasaan itu sehingga pada umur 10 tahun, anak sudah akan siap menerima hukuman
bilamana ia meninggalkannya. 376
Pada saat anak sudah berumur 7 tahun perintah untuk mendirikan shalat sudah harus
dipertegas dengan peringatan-peringatan tuntas. Namun, menghukum anak dengan
pukulan karena meninggalkan shalat belum dibenarkan oleh Islam. Rupanya, anak yang
masih di bawah umur 10 tahun belum memiliki kesadaran yang cukup mengenai
perbuatan dan permainannya. Sedangkan hukuman hanya boleh dijatuhkan kepada
seseorang yang melakukan pelanggaran dalam keadaan mengerti dan sadar. Oleh karena
itu, anak sampai dengan berumur 9 tahun masih dididik dengan tekanan utama pada
teknik pembiasaan. Namun demikian, hukuman non fisik karena meninggalkan shalat,
misalnya dengan teguran keras, wajah cemberut atau kurungan dalam rumah dan
sebagainya dapat dilakukan dengan tujuan pembiasaan.377
        374
              Abdullah Ulwan, I, Op. Cit., hal. 161.
        375
              Tugas membiasakan tersebut sekaligus berarti bahwa orang tualah yang terbeban
kewajiban untuk selalu mengingatkan anaknya untuk mendirikan shalat, tidak sebaliknya.
Disinilah letak kesalahan sebagian besar orang tua yakni mereka ingin agar anak mereka untuk
shalat, meskipun baru satu atau dua kali mereka peringatkan
          376
              Lihat Abdullah Ulwan, II, Op. Cit., hal. 680 dan lihat juga   Lihat juga Al Sayuthi,
II, Op. Cit., hal. 155.
          377
              Anak pasti lupa shalat, terutama dalam periode dimana bermain-main dengan teman-
temannya merupakan bagian terpenting dari pada kehidupannya serta sangat menyenangkannya. Ia
larut di dalam teman-temannya. Pada saat-saat seperti itu, jangannkan shalat, perutnya yanga lapar
pun terlupakan olehnya. Maka orang tua yang biasanya tidak pernah lupa mengingatkan anaknya
makan dan berpakaian, seharusnya tidak boleh pula lupa mengingatkannya untuk mendirikan
                                                                                               183




        Setelah berumur 10 tahun berlakulah atas anak ketentuan hukum Islam, yaitu
        memukulnya jika meninggalkan shalat, lebih-lebih dengan sengaja. Ketentuan
        hukum tersebut didasarkan kepada sebuah hadits Nabi saw. yang artinya: 378


        ― Umar bin Al ‗Ash menerangkan bahwa Rasulullah saw. Bersabda :
        ‗Perintahkanlah anak-anakmu mendirikan shalat manakala mereka sudah
        berumur 7 tahun dan pukullah mereka karena meninggalkannya pada waktu
        telah berumur 10 tahun dan pisah-pisahkanlah tempat tidur mereka.
        ( HR. Al Hakim dan Abu Daud )

        Pengertian pukul dalam hadits tidak harus difahami secara kaku, seperti lazimnya
        berlaku dalam pengertian sehari-hari, misalnya pukulan dengan tangan,, cemeti,
        tongkat atau lainnya. Ia bia bermakna ‗pukul‘ dengan ‗lisan‘ dan dengan sikap
        atau hukuman. Ia tampaknya lebih berkonotasi hukuman . Artinya anak yang
        sudah berumur 10 tahun, jika meninggalkan shalat harus dihukum, apapun
        bentuk hukuman itu dengan ketentuan bahwa hukuman fisik adalah yang terakhir.
        Hadits tersebut juga mengandung arti bahwa pembiasaan shalat merupakan tugas
        orang tua yang tidak mengenal terminal atau batas akhir, mungkin sampai dengan
        anak berumur 17 tahun atau lebih sehingga mungkin pula meningkat menjadi
        perjuangan antara penegak ibadah di satu pihak, melawan pemalas/pelanggarnya
        di pihak lain, meskipun yang satu adalah orang tua dan yang lainnya adalah
        anak. Orang tua dalam perjuangan ini niscaya harus tidak mengenal berhenti
        sampai dengan anaknya benar—benar terbiasa, bahkan merasakan bahwa
        mendirikan shalat telah menjadi panggilan batinnya dan jiwanya
        b.     Pembiasaan puasa
        Puasa adalah ibadah wajib, 379 atas setiap muslim yang ‗aqil ( sehat mental ),
        baligh ( sampai umur dewasa ), sehat dan tidak sedang dalam bepergian380.
        Untuk perempuan ditambah syarat bahwa mereka berada dalam kondisi suci dari
        haidh dan nifas.381 Sebagai ibadah wajib, maka anak harus dibiasakan
        mengamalkannya, meskipun tidak harus sempurna seperti puasanya orang
        dewasa. Pemmbiasaan tersebut sudah dapat dmulai dari saat anak sudah mulai
        bertanya-tanya tentang puasa, yaitu pada umur 3 – 5 tahun.
        Diantara pembiasaan yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut :
                1)      Memberi tahu kepada anak dengan penuh gembira dan senang
                hati bahwa bulan puasa sudah dekat. Kegembiraan itu akan menyebabkan
                anak merasa tertarik akan kedatangan bulan puasa itu. Lebih-lebih jika
                digambarkan bahwa setelah puasa akan dibeli baju baru, sepatu baru dan
                lain-lainnya yang serba baru untuk lebaran.


shalat. Ia sama sekali tidak boleh memaksa atau mengharapkan agar anaknya mengingat terus
secara setia dan patuh apa yang sebenarnya baru sekali atau dua kali ia perintahkan. Ia tidak boleh
jengkel tetapi tekun dan karenanya secara terus- menerus mengingatkan anaknya.
         378
             Lihat catatan kaki no. 77.
         merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari dirinya secara mmenyeluruh. Dengan
demikian shalat tidak akan tertinggalkan lagi olehnya.
         379
             QS. Al Baqarah : 178.
         380
             Said Sabiq, Fiqhu Al Sunah, I, cet. V, Libanon, Beirut, Dar Al Fikr li al Thiba‘ah wa
al Nasyr wa Al Tauzi‘, 1403 H./1983 M., hal 380.
         381
             Loc. Cit.
                                                                                     184




                2)     Menerangkan kepada anak -- tentunya dengan bahasa yang
                sederhana – bahwa bulan Ramadhan adalah bulan mulia yang penuh
                dengan berkah. Anak tentu belum sepenuhnya mengerti penerangan yang
                disampaikan kepadanya. Namun kesannya, lebih-lebih jika
                penyampaiannya dipenuhi dengan suasana gembira akan sangat besar
                dan positif.
                3)     Menjelang hari pertama bulan puasa, anak diberitahu bahwa
                malamnya akan ada yang makan sahur. Semua anggota keluarga akan
                secara bersama-sama makan guna persiapan puasa besok. Ia sendiri akan
                dibangunkan dan diajak makan sahur bersama.
                4)     Pada waktu sahurnya ia dibangunkan dengan baik lantas diajak
                makan bersama, meskipun besoknya ia tdak akan berpuasa. Makan sahur
                bersama itu akan menanamkan kesan yang baik mengenai puasa didalam
                dirinya. Sekiranya ia tidak sanggup bangun untuk makan, cukuplah
                dengan mengingatkan saja makan sahur itu kepadanya.
                5)     Paginya ia diberi tahu bahwa puasa sudah di mulai. Orang yang
                berpuasa tidak boleh makan dan minum sampai maghrib yang ditandai
                oleh bunyi bedug atau adzan. Ia karena masih kecil diajak puasa
                beberapa jam atau seingatnya saja. Puasa yang hanya sejenak itu besar
                artinya bagi pembinaan kebiasaan berpuasa.
                6)     Sesudah adzan atau bedug berbunyi yang menandakan sudah
                boleh berbuka, anak diajak berbuka bersama seolah-olah iapun sudah
                berpuasa sepenuh hari. Beberapa menit sebelum adzan atau bedug
                tersebut ia diminta untuk bersabar sampai dengan waktunya minum dan
                makan bersama. Hal itu semua akan menanamkan kesan positif mengenai
                puasa di dalam dirinya.
                7)     Setelah berbuka puasa, anak diajak ke masjid atau mushala untuk
                mengikuti shalat jamaah Isya‘ dan tarawih semampunya, sesuai dengan
                umurnya. Tetapi harus benar-benar dijaga agar ia jika tidak ikut shalat
                bersama, tetap tenang agar ketenteraman shalat jamaah tidak terganggu.
               8)      Pada umur 5 - 6 tahun, masa puasanya harus diperpanjang ,
               misalnya antara 6 – 7 jam sehari. Pada umur 6 tahun ada anak yang sudah
               mampu berpuasa sehari penuh. Apabila ini terjadi maka gizi makanannya
               perlu ditambah, misalnya dengan segelas susu yang agak kental guna
               menambah kekuatannya.382
                       Jika anak berbadan sehat dan pembiasaan seperti yang tersebut
               diatas sudah dimulai sejak awal maka pada umur 7 tahun ia sudah benar-
               benar mampu dan bergairah untuk berpuasa. Oleh karena itu,
               pengontrolan atas puasanya diketatkan dan kegembiraan berpuasa
               ditingkatkan.
               Untuk menambah kegemmbiraannya, orang tua boleh berjanji -- asalkan
               benar-benar henndak ditepati -- akan membelikannya baju baru, sepatu
               baru dan lain-lainnya, jika perlu puasanya penu sampai dengan selesai
               bulan ramadhan.

    c. Pembiasaan Sadaqah

       382
                Kepada anak boleh juga di terangkan sekedarnya mengenai hikmah-hikmah
puasa, seperti kesehatan badan, kegembiraan wakktu berbuka, pahala yang besar, keampunan
Tuhan dan sebagainya. Demikian juga mengenai puasa-puasa sunah, puasa Nabi-nabi dan puasa
orang – orang dahulu.
                                                                                            185




                Sadaqah termasuk amal saleh, 383 yang terwujud dalam bakti sosial.
        Dengan sadaqah, termasuk zakat,384 dalam segala jenisnya yang dikelola dengan
        baik, banyak lembaga dan pranata sosial bisa dibangun serta berbagai
        kesenjangan, terutama antara golongan kaya dan miskin dapat diatasi. Oleh
        karena itu, kegemaran bersadaqah dalam kalangan masyarakat muslim harus
        ditingkatkan. Untuk anak kegemaran tersebut harus sudah mulai dibina secara
        pedagogis sejak awal.
                Anak tentu saja belum terbeban keharusan bersadaqah, seperti halnya
        dengan shalat dan puasa. Akan tetapi pembiasaan untuk itu -- secara paedagogis
        -- harus sudah dimulai sejak dini. Pembiasaan tersebut dapat dimulai dengan
        memberikan sadaqah sunah biasa. Misalnya, jika ada pengemis di pinggir jalan
        atau kebetulan datang kedepan rumah, maka ketangan anak dititipkan sejumlah
        uang untuik dberikannya kepada pengemis itu. Kemudian, orang tua segera
        memperlihatkan kegembiraanya karena anak telah menolong pengemis yang
        miskin itu.
    Setelah itu boleh diterangkan kepadanya, tentulah dengan bahasa yang sederhana,
    mengenai kemelaratan dan penderitaan orang-orang miskin serta kewajiban
    menolongnya sebagaimana diperintahkan kepada agama. Jika sekali-kali dia
    meminta uang karena melihat pengemis, hendaklah orang tua segera memberikannya
    sejumlah yang wajar untuk menunjang keinginannya yang baik itu. Tetapi jikalau
    kebetulan uang tidak ada atau terdiri dari uang kertas dalam lembaran-lembaran
    besar, maka ia dengan cara yang baik disuruh mengucapkan ―maaf‖ kepada
    pengemis tersebut atau diajak menukarkan uang menukarkan uang tadi ke dalam
    recehan untuk disedekahkan.385 Jika upaya itu tidak berhasil maka orang tua
    memperlihatkan rasa menyesal atas ketidak berhasilan mereka memberikan
    pertolongan. Kepada anak yang sudah umur 4 tahun sudah bisa diterangkan dengan
    bahasa yang sederhana tentang kewajiban menolong orang-orang miskin melalui
    amalan bersedekah. Demikian juga tentang bsarnya pahala pahala sadakah itu di sisi
    Allah. Sadakah Wajib, Seperti zakat sudah boleh diperkenalkan, meskipun hanya
    dalam bentuk kata-kata saja. Bagi orang tua yang berpunya akan lebih besar lagi
    kesan dan makna paedagogisnya, dalam rangka membiasakan anaknya bersedekah,
    bila ia mengikut sertakannya pada waktu-waktu mengeluarkan zakat harta atau
    perusahaanya sendiri.386
Di antara cara pembisaan bersedekah itu adalah:
          1)     Memperdengarkan kepada anak cerita-cerita orang yang bersedekah dan
          kewajiban yang diperolehnya di dunia ini (dan, nantinya, di akhirat). 387


        383
              Lihat QS. Al Baqarah : 276 ; At Taubah : 60, 103, 104.
        384
              5    Lihat QS. At Taubah : 60.
        385
            Cara pembiasaan seperti itu akan membuat anak mengerti (1) bersedakah tidaklah
merupakan beban wajib, melainkan sebagai bakti sosial yang terpuji, (2) bersedakah hendaklah
dilakukan dalam jumlah yang wajar, sebab ia sendiri bersama orang tuanya memerlukan uang.
         386
              Apabila pembisaan mendengar kewajiban berzakat itu berjalan secara konsisten,
apabila jikalau dilengkapi dengan pengikut sretaan dalam pembayaran zakat, maka dapatlah
diharapkan bahwa anak, setelah dewasa nanti dan kebetulan berpunya, akan senang dan malah
terdorong untuk membayarkan zakat harta kekayaannya
         387
              Banyak ayat yang menjelaskan tentang kebajikan yang akan diperoleh melaluin
sedekah yang ikhlas. Di antaranya adalah firman Allah yang artinya: ―Perumpamaan (sedekah
yang dikeluarkan oleh) Orang-orang yang menyedekahkan harta dijalan Allah adalah seumpama
sebutir benih yang menumbuhkan tujuh tangkai; pada setiap tangkai (terdapat) seratus biji. Allah
                                                                                             186




          2)     Memberikan sejumlah yang wajar uang kepada anak untuk
          disedekahkan kepada, misalnya, orang miskin, masjid, mushalla, madrasah atau
          lainnya yang sedang dibangun. Jika anak masih kecil, tentu pelaksanaanya harus
          bersama oranr tuanya.

d) Pembiasaan Tertib dan Teratur
   Membina kebiasaan tertib dan teratur sudah harus sudah dimulai sejak anak dilahirkan
   dan, pada mulanya, dilakukan oleh ibu. Pembisaan perlu karena ia akan menggiring
   anak kearah disiplin dalam segala kegiatan dan perbuatannya. Di bawah ini akan
   dikemukakan beberapa contoh:
    1) Membiasakan makan minum dan tidur teratur.
   Anak diberi kesempatan menyusu ada saatnya yang ditentukan secara tetap, misalnya
   dua jam sekali sampai kenyang. Artinya, tidak segara diberi menyusu setia kali
   menangis. Sebab, dengan menangis itu belum tentu ia ingin menyusu (buat bayi
   adalah makan dan minum) karena lapar dan haus, tetapi mungkin ia melatih diri
   mengeluarkan suara yang dengannya tenggorokannya menjadi lebar dan aru-arunya
   menjadi kuat, meskiun ia sendiri belum sadar akan keperluan latihan itu.
   Setelah anak berhenti menyusu maka pengaturan makan harus secara berangsur
   semakin diketatkan, baik mengenai waktu maupun cara makan, misalnya (1)
   dibiasakan makan dalam jam yang telah ditentukan; untuk mengurangi rasa lapar
   dapat ditambah dengan jajan seperlunya, (2) dibiasakan makan dan minum sambil
   duduk,388 (3) dibiasakan mencuci tangan sebelum dan sesudah makan,389 (4)
   dibiasakan membaca Basmallah sebalum makan dan Alhamdulillah sesudahnya,390 (5)
   dibiasakan agar tidak banyak bercakap-cakap waktu makan,391 (6) dibiasakan agar
   mulutnya tidak mengeluarkan bunyi waktu makan,392 (7) dibiasakan agar setelah

melipat gandakan (ganjaran) bagi orang yang ia kehendaki dan Allah Maha Luas (kurnia-Nya) lagi
Maha Mengetahui‖. (Q.S. Al Baqarah : 261).
         Di samping itu banyak kejadian-kejadian di masa Nabi Dawud, Nabi Sulaeman, Nabi
Musa, Nabi Isa, Nabi lainnya yang menggambarkan keselamatan orang-orang yang bersedekah
ketika menghadapi bencana ataupun cobaan.
         Cerita-cerita orang sufi yang, meskipun miskin dan sangat sederhana, suka
bersedekah/menolong orang yang membutuhkannya, adalah baik diungkap kepada anak supaya
batinnya (nuraninya) tergerak atau malah merasa terpanggil untuk bersedekah, nantinya, jika sudah
berpunya, dalam rangka menolong fakir miskin.
         388
             Jika anak digendong maka penggendongnya duduk, ketika memberinya makan. Jika
sudah dapat berjalan. Pembantu atau kadang-kadang, ibu rumah tangga banyak yang keliru dengan
memberi makan anak sambil berjalan-jalan. Ajaran Islam melarangnya.
         389
              kebersihan sangat utama dalam ajaran Islam; ―Sesungguhnya Allah Maha Indah,
senang keindahan; Maha Pemurah, senang akan kemurahan; Maha Bersih, senang akan
kebersihan‖. (H.R. Ibnu ‗Adi dari Ibnu ‗Umar; lihat Al-Sayuthi, I, Op. cit., hal. 69). Meskipun
akan makan dengan sendok, namun tangan yang kotor harus dibersihkan.
         390
             Membaca Bismillah sangat dianjurkan oleh Islam pada waktu akan memulai sesuatu
pekerjaan dan membaca Alhamdulillah ketika sudah selesai atau pada waktu akan mengakhirinya.
(Lihat Al-Sayuthi, II, Op. cit., hal. 92). Untuk anak yang belum dapat membacanya, orang tua
harus bertindak membacakannya.
         391
             Bercakap-cakap sekedar perlu waktu makan tentu saja dapat dibenarkan. Tetapi
bercaka-cakap terlalu banyak, misalnya bercerita, apalagi bertengkar memperebutkan ikan, piring
atau lainnya merupakan kelakuan yang tercela dan karenanya harus dilarang.
         392
             Di antara anak, malah orang dewasa, ada yang mengeluarkan bunyi mulutnya waktu
makan. Orang mengatakannya makan kaya anjing. Rasul Allah melarang makan dan minum
terlalu cepat dan dengan mulut yang mengeluarkan bunyi. Sikap makan yang demikian tidak saja
                                                                                              187




   makan segera mengeringkan tangan dengan serbet yang bersih dan, lebih baik lagi,
   sebelum itu lebih dahulu mencuci tangannya dengan sabun agar tidak bau.
   Membiasakan tidur dengan teratur memang lebih sukar. Sebab anak, terutama pada
   periode bayi, akan tidur jika ia mengantuk di mana dan bilamana saja dan akan bangun
   jikalau tidurnya sudah cukup. Namun demikian, pembiasaan untuk itu sudah dapat
   dimulai dengan cara-cara: (1) membiasakan anak, sejak bayi, agar lebih banyak tidur
   di waktu malam daripada di waktu siang hari, (2) tidak memaksanya untuk atau
   membujuknya agar tidur kecuali setelah waktunya tiba, (3) membangunkannya dari
   tidurnya apabila terlihat terlalu lama.
     2) Membiasakan anak bergaul dengan teman –temannya yang baik.
Di antara factor yang terhitung berpengaruh amat besar bagi terjadinya kenakalan anak
adalah pergaulannya dengan anak-anak nakal, atau anak-anak yang moralnya bejat.393
Islam, dengan ajaran-ajaran pendidikannya, mengarahkan orang tua dan para pendidik
agar mengawasi dengan baik anak-anak mereka,394 sejak kecil, yakni sejak anak tersebut
sudah berani keluar sendiri dari rumah dan mulai bergaul dengan teman-temannya.
Pengawasan tersebut tentu saja harus lebih ketat tetapi juga dengan penuh kebijakan pada
waktu anak menginjak masa remaja, di mana orang tua harus secara teliti mengontrol
dimana anaknya pergi, dimana ia berada dan dengan siapa ia bergaul.
Ajaran pendidikan Islam memerintahkan orang tua untuk berlaku selektif, yakni memilih
teman-temannya yang baik untuk anaknya dan berusaha keras menghindarkannya dari
bergaul dengan anak-anak yang diketahui nakal, bejat atau binal. Sehubungan dengan
teman itu nabi bersabda:395
‫ﻯﺫﻣﺭﺘﻠﺍ ﻩﺍﻭﺭ . ﻞﻟﺎﺧﻴﻥﻤ ﻢﻜﺩﺤﺃ ﺭﻇﻧﻴﻠﻓ ، ﻪﻟﻴﻠﺨ ﻥﻳﺪ ﻰﻠﻋ ﺀﺭﻣﻠﺍ‬
 ―Manusia menuruti agama temannya. Maka hendaklah masing-masing kamu meneliti
dengan siapa ia berteman.‖(H.R. Al Tarmidzi).
Khusus mengenai teman-teman yang jahat, Nabi bersabda:97
‫ﺭ . ﻑﺭﻌﺘ ﻪﺒ ﻙﻧﺈﻓ ﺀﻭﺳﻠﺍ ﻦﻴﺭﻘﻮ ﻙﺎﻴﺇﺭﻛﺎﺴﻋ ﻦﺒﺍ ﻩﺍﻭ‬
―Hindarilah (pergaul dengan ) teman yang jahat, (karena) anda akan dikenal orang (sama)
dengannya.‖ ( H.R. Ibnu „ Asakir).
   Kedua hadits tersebut menggambarkan betapa besarnya pengaruh teman terhadap
   seseorang. Oleh karena itu, betapapun sibuknya menghadapi masalah kehidupan
   sehari-hari, orang tua menyisihkan waktu secukupnya untuk mengawasi dan
   membimbing anaknya. Beberapa petunjuk untuk pengawasan itu diturunkan di bawah
   ini:
   Sejak kecilnya, anak harus dibiasakan agar tidak lagi dibiasakan bermain-main diluar
   rumah bila waktu untuk shalat magrib sudah dekat. Mereka harus segera mandi dan
   berwudhu untuk shalat, kemudian makan dan belajar.396 Dalam komplek- komplek
   perumahan atau lokasi-lokasi yang padat dengan penghuni, anak-anak masih
   kelihatan ramai berkeliaran dan bermain-main pada waktu magrib dan sesudahnya,

memperlihatkan tingkah laku kurang sopan melainkan juga menampilkan tanda-tanda rakus dan
loba yang sangat tercela. Anak harus dilarang dari sikap makan yang demikian.
         393
             Lihat Arthur T. Jersild, dkk., Op. cit., hal. 250, 254-255 dan 284-285.
         394
             ‗Abdullah ‗Ulwan, I, Op.cit., hal. 131.
         395
             ‗Abdullah ‗Ulwan, 1, Op.cit., hal.132.
         97
            Loc. Ci t.
         396
              Sekiranya anak belajar/mengaji di langgar atau tempat lainnya, ia harus segera mandi
dan berwudhu untuk shalat magrib dan mengikuti pengajian. Setelah itu ia harus segera pulang dan
belajar di rumah.
                                                                                            188




   bahkan sampai larut malam. Kebiasan ini membuat anak semakin berani menjauh dari
   rumah dan, tidak lama kemudian, ia akan berkenalan dengan anak-anak nakal.397
   Kebebasan bermain sebaiknya diberikan pada siang hari saja Anak umur 2-4 yahun
   seharusnya diberi kebebasan penuh untuk bermain-main di siang hari bahkan
   sebaiknya di dorong untuk itu asalkan alat permainannya tidak berbahaya, seperti
   pisau atau benda tajam lainnya, bermain-main di pinggir kali dan sebagainya. Setelah
   malam tiba ia di haruskan hanya bermain-main di dalam rumah saja.
   Kepada anak diberitahu dengan siapa ia boleh atau tidak boleh bermain, bergaul dan
   berteman. Alasan-alasan untuk itu di kemukakan dengan jelas tanpa berlebih-lebihan,
   sampai menghina anak lain misalnya dengan mengatakan si Dedeh terlalu bebas
   berkeliaran siang dan malam tanpa kontrol dari orang tuanya, si Oli sering melawan
   orang tuanya dan malas belajar, si Bakir suka berkelahi dan tidak sekolah lagi. Semua
   alasan itu haruslah sesuai dengan kenyataan artinya tidak dibuat-buat.
   Sebaliknya orang tua perlu bertindak tegas dalam penentuan teman yang baik untuk
   anaknya. Ia perlu segera memberi peringatan dan bahkan pemisahan, jikalau terjadi
   penyelewengan dari pihak anaknya dalam berteman.398 Ia perlu tegas pula bahwa
   bermain-main dengan teman yang baikpun hanya bebas pada siang hari saja,
   sedangkan malam perlu di arahkan dan di bimbing untuk tetap di rumah dan di giring
   untuk belajar .
    3) Membiasakan bersih dan sehat.
Islam seperti yang terlihat dalam ayat Al-Qur‘an dan Hadist Nabi sangat mementingkan
kebersihan dan kesehatan . Di antaranya adalah firman Allah:399

    ۱۱ ‫ﻭﻴﻧﺯﻞ ﻋﻠﻳﮑﻡ ﻤﻥ ﺍﻠﺴﻣﺎﺀ ﻣﺎﺀ ﻠﻴﻁﻬﺮﻛﻡ ﺒﻪ . ﺍﻷﻧﻓﺎﻞ ׃‬
    ―Dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit supaya Dia mensucikan (
    Membershkan ) kamu dengannya.(Q.S. Al-Anfal :11).


    Nabi SAW bersabda :400
    . ‫ﻋﻦ ﺭﺴﻮﻞ ﺍﷲ ﺼﻠﻰ ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻮﺳﻟﻡ ﺍﻧﻪ ﻘﻞ ׃ ﺗﻧﻅﻓﻮﺍ ﻓﺈﻦ ﺍﻹﺴﻼﻡ ﺘﻧﻄﻴﻑ‬
    (. ‫)ﺍﺒﻦﺤﺑﺎﻥ‬
    “Hendaklah kamu (selalu) bersih sesungguhnya agama Islam itu bersih‖. (H.R Ibnu
    Hiban ).

        397
              Pembiasaan berada didalam rumah mulai dari waktu magrib, pada mulanya, mendapat
reaksi dari anak. Ia akan mencoba melawan, menyanggah atau melanggar, lebih-lebih jika ia
mendengar suara ramai, sorai-sorai atau panggilan dari teman-temannya. Ia senang sekali dengan
panggilan-panggilan yang ramai itu.
         Tetapi jika dibiasakan terus-menerus agar setelah shalat magrib tidak keluar lagi dari
rumah meskipun mungkin pada mulanya harus dengan paksaan serta di biasakan belajar maka ia
sendiri akan terbiasa di rumah dan tergiring untuk belajar. Akhirnya, ia akan kurang berhasrat
keluar kecuali karena sesuatu keperluan. Dan jika ia berada di rumah maka pengontrolan, dengan
sendirinya, lebih mudah.
         398
             Orang tua dengan guru di sekolah harus membina kerjasama yang baik dalam banyak
hal, diantaranya adalah yang berkaitan dengan pemilihan teman itu. Di sekolah di lihat oleh guru
dan di rumah oleh orang tua.
         399
              Banyak ayat Al-Quran membicarakan dan memerintahkan kebersihan. Di antaranya
dapat dilihat dalam Q.S Al- Baqarah: 222, Al- Ahjab: 33, Al-Mudatsir: 4, Al- Taubah: 108, Al-
Maidah: 6.
         400
             ‗ Abdullah ‗Ulwan, 11, Op cit., hal. 964.
                                                                                      189




    Nabi SAW bersabda :401
    ‫ﻰﻧﺍﺮﺒﻂﻠﺍ ﻩﺍﻭﺮ ﺔﻧﺠﻠﺍ ﻰﻓ ﻪﺑﺣﺎﺻ ﻊﻣ ﻦﺎﻣﻳﻹﺍ ﻰﻠﺇ ﻮﻋﺪﺘ ﺔﻓﺎﻅﻧﻟﺍ‬
    “Kebersihan itu mengajak kepada iman dan iman bersama orang yang memilikinya
    (iman itu) adalah isi surga”. ( H.R Atabrani ).

    Nabi SAW bersabda :402
    ‫ﻮ ﺔﻓﺎﻅﻧﻠﺍ ﻰﻟﻋ ﻡﻼﺴﻹﺍ ﻰﻧﺒ ﻰﻠﺎﻌﺘ ﷲﺍ ﻦﺇﻔ ﻡﺘﻌﻂﺗﺳﺍﺎﻣ ﻞﮑﺑ ﺍﻭﻓﻅﻧﺘﺩﻳ ﻦﻟ‬
    ‫ﻚﻴﻠ ﺎﻌﺴﻠﺍﺎﻨ ﻩﺍﻮﺭ . ﻒﻳﻅﻧ ﻞﻛ ﻻﺇ ﺔﻧﺠﻠ ﻞﺧﺩﻳ ﻦﻟﻮ‬

“Hendaklah kamu (selalu) bersih dengan (menggunakan) alat (pembersih) apa saja yang
kamu mampu, karena sesungguhnya Allah membangun Islam di atas dasar kebersihan,
dan tidak akan masuk ke dalam surga kecuali orang-orang yang bersih”. (H.R. Abu Al
Sha‘alik).
Orang tua harus selalu berupaya agar anaknya selalu dalam keadaan bersih, baik makan
dan pakaian dan kamar tidurnya. Untuk itu, ia sendiri harus selalu menjaga dan
membiasakan bersih dalam rumah tangganya sehingga dapat menjadi teladan untuk
anaknya. Ia harus membiasakan anaknya mandi dengan menggunakan sabun, menyikat
gigi dua kali sehari serta membersihkan tangan dan kaki. Pakaian kotor di badannya
segera diganti dengan yang bersih oleh orang tua atau, jika sudah bisa, oleh anak sendiri
atas perintah mereka. Pakaian anak tidak perlul yang bagus-bagus dengan harga yang
mahal, tetapi memadai dengan bahan-bahan kain yang baik yang harganya lebih murah
sehingga dapat di beli lebih banyak.
Kamar (tempat) tidur anak diupayakan agar selalu bersih. Jika anak tampak sudah
sanggup maka orang tua melatih dan membiasakan agar ia membersihkan sendiri kamar
(tempat) tidurnya. Kertas, alat- alat tulis dan buku-buku pelajaran tidak boleh di biarkan
berserakan di lantai atu tempat lainnya. Anak harus dilatih dan di biasakan mengaturnya
dengan baik sehingga kamarnya bersih dan tempat tidurnya rapih. Dengan begitu ia akan
merasa lebih nyaman, baik untuk belajar maupun untuk beristirahat di kamarnya. Orang
tua harus secara teratur mengontrolnya, dengan sikap yang di usahakan selembut
mungkin, namun ketegasan tetap di perlukan.
Dalam hal makanan dan minuman anak harus di biasakan memakan dan meminum yang
bersih dan dalam wadah yang bersih pula buah-buahan yang di makannya di biasakan
untuk terlebih dahulu di cuci dengan air bersih. Kebiasaan bersih seperti itu akan
membuatnya senang akan kebersihan dan pada gilirannya trbiasa dengan bersih. Akhirnya
ia akan benci kepada yang kotor-kotor.
    4) Membiasakan anak berakhlak baik
Akhlak baik sebenarnya merupakan tuntutan hati nuirani manusia, bukan hanya untuk
dirinya sendiri melainkan juga untuk orang lain dan untuk lingkungan yang luas. Dengan
ahlak baik terhadap diri sendiri di maksudkan Pertama, agar seseorang memperlakukan
dirinya secara baik dan wajar dan kedua, agar orng lain di dalam masyarakat berahlak
baik terhadapnya. Yang kedua ini bisa di capai dengan menanam bibitnya yaitu berakhlak
baik kepada orang lain, sesuai dengan ajaran Islam tentang ahlak mulia . bibit tersebut
akan tumbuh dalam bentuk ahlak baik orang lain tersebut trhadap diri tadi.
Dengan berahlak baik terhadap oaring lain di maksudkan agar seseorang berahlak baik
kepada manusia pada umumnya, misalnya hormat kepada orang tua,403 dan guru,404
        401
              Loc .cit.
        402
              Al Sayuti, I, Op. cit., hal.133.
                                                                                            190




sayang kepada yang kecil,405 pemurah dan bersedia menolong,406 pemaaf atas kesalahan
orang lain,407 benar dalam berkata,408 jujur dalam berbuat,409 amanah dalam berjanji.112
berahlak mulia lainnya. Dengan berahlak baik terhadap lingkungan luas dimaksudkan
agar seseorang misalnya, menyesuaikan diri dalam masyarakat,410 sayang kepada
hewan,411 memperlakukan tumbuh-tumbuhan/kayu-kayuan, hewan atau benda alam
lainnya sesuai dengan fungsi kodratinya,412 menjaga kelestarian alam, kebersihan air,
udara dan sebagainya. Pembiasaan tersebut harus sudah dimulai sejak anak masih kecil
agar benar-benar terbiasa dengan ahlak baiksampai ia menjadi dewasa dan tua.
Sementara orang, mungkin, ada yang berprakira bahwa anak kecil belum perlu di latih/di
biasakan berahlak baik karena di samping ia masih kecil yang perlu di beri sebanyak
mungkin kebebasan,413 juga ia masih muda di maafkan orang dan secara formal bvelum
pula dapat di hukum jika ia berbuat salah. Prakiraan semacam itu perlu mendapat sorotan
secara paedagogis, psikologis dan rasional berdasarkan pertimbangan akal sehat, guna
mendapatkan kesimpulan yang lebih proporsiol.
Sorotan secara paedagogis memperlihatkan bahwa anak tidak saja harus di didik
(dibiasakan) belajar dengan baik melainkan lebih dari itu, yakni harus di biasakan agar di
dalam dirinya terjadi perubahan menuju kedewasaan tingkah laku batiniah dan lahiriah
sehingga ia menjadi manusia yang sedapat mungkin secara optimal berguna bagi dirinya,
masyarakat dan negaranya serta umat manusia pada umumnya. Sorotan secara psikologis
memberi petunjuk bahwa anak harus di pelajari dan di bimbing ke arah memperoleh
kemempuan penyesuaian diri yang baik, tidak saja dengan masyarakat dan lingkungannya
melainkan juga, yang malah lebih utama, dengan dirinya sendiri.414
Secara akal sehat, artinya bilamana mau perfikkir rasional, akan keterketemukan
kesimpulan bahwa meskipun anak harus di beri kebebasan, namun kebebasan itu harus di
batasi dengan keharusan berahlak baik agar ia tidak melanggar kebebasan orang lain.
Sebab, kebebasan tanpa batas adalah kekacauan yang mengancam tidak saja kebebasan
orang lain, tetapi juga akan meruntuhkan diri sendiri, baik fisik maupun mental. Maka,
baik secara paedagogis dan psikologis maupun secara rasional, berdasarkan pertimbangan
akal sehat dan lebih-lebih secara islami, anak dituntut untuk dibiasakan berahlak mulia
agar tidak melanggar hak dan kebebasan orang lain, meskipun tidak secara rill dalam

        403
        404
            QS. Al-Ahqaf: 15.
        405
            Al Ghazali, I, Op. cit., hal. 50.
        406
            Asyayuthi, II, Op.cit., hal. 138.
        407
            QS. Al-Maidah: 2
        408
            QS. Al-Imran: 159.
        409
            QS. Ahzab: 23 dan Muhammad: 21.
        112
            QS. As-Shaf: 3.
        410
            QS. Al-Baqarah: 177.
        411
            Al-Sayuthi, , Op. cit., hal: 38.
        412
            QS. Al-Haj: 63 dan Al Naml: 60-61 dan Al-Fathir: 27, Az Zumar: 5, 21 dan Al Jatiyah:
2-6.
        413
             Elizabet B. Hurlock, Op.cit., hal. 128-129.
        414
              dimaksudkan dengan penyesuian diri dengan diri endiri adalah bahwa setiap anak
dididik agar mampu menyesuaikan dirinya dengan bakatnya dan bertugas atau bekerja tidak
menyimpang dari bakat atau melebihi potensi yang dimilikinya. Penyimpangan dari bakat atau
pemaksaan fungsionalisasi potensi diri, jika tidak akan mengakibatkan kegagalan tentu tidak akan
menghasilkan yang lebih baik. Dalam kegiatan belajar, umpamanya, setiap murid akan sangat aktif
belajar jika mata pelajaran yang dihadapinya sesuai dengan minat dan bakatnya serta ditunjang
oleh potensi yang dimilikinya.
                                                                                             191




totalitas dan realita kehidupannya. Ia hanya perlu di biasakan orang tualah yang
berkewajiban membiasakan.
Di antara materi ahlak yang perlu di biasakan itu adalah : (1) membiasakan anak agar
biasa bersikap lembut serta pemurah kepada temannya, (2) membiasakan anak agar
duduk secara tertib dan tenang dalam waktu sedang bertamu di rumah orang lain, baik
bersama orang tua ataupun mersama teman-teman atau sendirian,415 (3) membiasakan
anak agar tidak bertengkar dan, lebih-lebih, berkelahi sesama kakak-adik di dalam dan di
luar rumah,416 (4) membiasakan anak agar tidak mengambil sendiri uang dari saku ayah
atau tas ibu tanpa izin dan di biasakan meminta jika ia memang memerlulkannya;
peringatan keras harus segera di berikan pada kejadian pertama kalinya tanpa menunggu
kejadia kedua,417 (5) membisakan anak agar tidak mengambil, merampas atau
menyembunyikan alat-alat permainan atau alat-alat belajar saudaranya; ia di bisakan
meminta izin jika memerlukannya, (6) membiasakan anak agar hormat jika
memerlukannya,418 (7) membiasakan anak agar hormat kepada semua gurunya,419 (8)
        415
             Mengikut sertakan ank bertamu kerumah teman mengandung makna ganda, antara lain,
psikologis dan paedagogis menuju ahlak Islami. Tetapi, jika anak, di rumah teman tersebut di
biarkan saja duduk seenaknya, lari sesuka hatinya, menyentuh/menyetel radio, televisi atau
barang-barang berharga lainnya, penulis sendiri pernah di datangi tamu dengan anak semacam itu,
lalu bagaimana kira-kira perasaan pemilik rumah yang di kunjungi? Secara lahiriah ia pasti akan
berkata : ‗ tidak apa-apa ‗ karena yang mengganggu itu adalah anak –anak. Tetapi, secara batiniah
ia kecut, malah kuatir, kalau-kalau radio danTVnya rusak. Maka, pembiasaan duduk dengan tertib
dan tenang di rumah orang sangat perlu dan dapat di lakukan dengan berbagai cara, misalnya: (1)
menerangkan pada anak tata tertib bertamu kerumah orang, (2) memperingatkannya dengan segera
sekiranya akan atau telah terjadi tingkah laku kenakalannya, (3) jika perlu, dengan mengancam,
misalnya, tidak mengikut sertakannya lagi di dalam kunjungan-kunjungan berikutnya. Jika ia
memang benar-benar keras kepala, sebab memang ada anak yang amat senang memperlihatkan
kenakalannya di depan orang lain, maka ancaman tadi harus dengan sungguh-sungguh
dilaksanakan.
         416
              Apabila terjadi perkelahian (memang biasa dalam kalangan anak bersaudara) maka
orang tua harus segera mendamaikan. Jika berulang segera diadakan sidang lalu yang benar di
benarkan dan yang salah di salahkan. Jika perlu keduanya di hukum dulu sekedarnya sebelum
disidangkan. Dengan pembiasaan ini, anak dapat di harapkan akan setia sesamanya dan tidak lagi
suka berkelahi.
         417
             Jika pada suatu saat uang ( atau lainnya) hilang di rumah dan yang di curigai adalah
salah seorang dari anak-anak maka semuanya di kumpulkan untuk kemudian di beri penjelasan
mengenai bahaya yang mengancam manusia pencuri di belakang hari dan di tambahi dengan
peringatan agar mereka semua tidak mengulangi perbuatan tercela itu. Tetapi jika ada yang ,
setelah di beri penjelasan, mengaku, maka ia tidak boleh di hukum. Ia malah harus di puji karena
kejujurannya, namun harus di beri peringatan agar ia tidak mengulangi perbuatannya itu. Jika
ternyata kemudian bahwa ia mengulanginya, maka meskipun mengaku, ia harus di hukum secara
wajar. Tanpa hukuman, penyakit itu akan menjalar kepada anak yang lain. Dengan menghukum
tersebut di harapkan agar anak tadi tidak mengulangi perbuatan mencuri tersebut.
         418
             Di antara contoh hormat kepada orang tua adalah :(1) memohon ijin ketika akan pergi,
(2) memberi salam ketika akan pergi dan waktu pulang, (3) tidak mengelak jika disuruh
mengerjakan sesuatu, (4) menggunakan kata-kata yang halus dan sopan, (5) mencium tangan
orang tua pada waktu berjabatan tangan, (6) tidak lalu lalang di depan orang tua dan atau tamu,
jika trpaksa harus memohon izin dengan hormat, (7) tidak duduk di tempat yang lebih tinggi dari
tempat orang tua, (8) tidak duduk dengan sikap membelakangi orang tua, (9) dan sikap-sikap
hormat laiinya. Dengan pembiasaan sikap-sikap hormat seperti itu, anak di harapkan akan menjadi
manusia yang berahlak mulia serta berbakti kepada orang tuanya.
         419
             Anak harus di sadarkan bahwa guru-guruny adalah orang-orang pandai yang dengan
senang hati mengajarkan ilmu pengetahuan kepadanya guna menjadi bekal hidupnya. Oleh karena
itu, ia di amati agar tidak melawan, apalagi mengancam gurunya. Dengan pembiasaan itu di
                                                                                               192




membiasakan anak agar sayang kepada hewan-hewan, kecuali yang harus di bunuh
karena berbahaya,420 (9) membiasakan anak agar suka menabung, jika setiap hari ia
mendapat uang jajan,421 (10) membiasakan anak agar selalu bersikap benar dan jujur, baik
dalam berkata maupun berbuat. Anak adalah, sebenarnya jujur, tidak pandai berbohong
kecuali setelah ada contoh dari saudaranya, teman-temannya ataupun orang tuanya.125


    5) Menceritakan kepada anak cerita yang baik-baik.
Kegemaran mendengar cerita pada anak mulai ia sejak mampu memahami kejadian-
kejadian di sekitarnya atau kabar-kabar (sederhana) yang di sampaikan kepadanya, yaitu
pada waktu ia sudah berumur 3 menjelang 4 tahun. Pada umur tesebut anak sudah dapat
bersikap tenang karena senang mendengear cerita (yang sesuai dengannya) dan bahkan,
kadang-kadang, mendesak untuk ditambah.422 Setiap orang tentu dapat mengenang masa
kecil dimana ia senang sekali mendengar cerita dari kakek, nenek atau orang lainnya yang
pandai bercerita dikampung. Cerita tersebut bisa saja terbentuk hikayat, dongeng, kisah
Nabi-Nabi, riwayat pahlawan dan sebagainya.
Orang tua, dalam iupaya mendidik anak, hendaklah menggunakan kesempatan ini dengan
sebaik-baiknya. Ia harus bercerita kepada anaknya mengenai apa saja asalkan cukup
menarik dan tidak membohonginya. Sekiranya terpaksa menceritakan sesuatu hayal atau
tidak masuk akal, maka orang tua harus menjelaskan bahwa cerita tersebut adalah
khayalan belaka. Hal tersebut akan sangat, membantu agar sejak awal anak dapat
memahami mana dari cerita-cerita itu yang benar sehingga dapat di percaya dan mana di
antaranya yang di ceritakan hanya untuk hanya sekedar hiburan atau untuk mengetahui
adanya cerita itu dalam perbendaharaan hikayat, dongeng atau cerita rakyat.

harapkan anak akan hormat kepada gurunya, lebih-lebih nanti, manakala ia sudah berada di tingkat
menengah dan tinggi.
          420
               Ajaran Islam tentang sayang kepada hewan, malah segala yang terdapat di bumi,
terdapat dalam banyak hadits, antara lain, yang bermakna: ‗‖Sayangilah yang di bumi, niscaya
kamu akan disayangi oleh yang di langit. Lihat Al Sayuti, I , Op.cit., hal.38 dan ‗Abdullah ‘Ulwan,
I , Op. cit., hal.409.
          421
              Anak harus dianjurkan dan di biasakan menabung dan uang tabungannya di tetapkan
menjadi miliknya, meskipun bersumber dari orang tuanya. Jika karena sesuatu keperluan orang tua
terpaksa meminjamnya maka mereka harus mengembalikan/membayarnya. Sebab, anak akan
malas menabung, jika setelah di pinjam tidak di bayarnya kembali kepadanya. Untuk lebih
merangsangnya maka uang tabungannya, setelah berjumlah agak memadai, dapat di belikan,
misalnya, sepatu atau baju baru,sepeda baru yang sangat di senanginya, atau, jika sudah sekolah,
dibelikan buku pelajarannya atau lainnya yang terasakan oleh anak berguna untuk dirinya. Orang
tua dapat menambahkan secukupnya jika perlu. Sebab anak, kadang-kadang, menabung karena
ingin membeli arloji. Jika uangnya yang terkumpul baru Rp. 15.000, orang tua sebaiknya
menambahkan 5 ribu lagi agar dapat membelikan yang lebih baik seharga Rp.20.000,. Sikap orang
tua seperti itu akan sangat menyenangkan hati anak sehingga, dengan sendirinya, ia lebih
terangsang menabung. Kebiasaan dan pembiasaan seperti itu diharapkan dapat berkembang secara
bersinambung sehingga terbina secara mentap dalam diri anak.
          125
              Lihat ‗Abdul al Aziz al Qushi, Op. cit., hal. 355-356. Sebagian ahli jiwa menegaskan
bahwa anak akan berdusta kecuali karena takut. Dengtan berdusta itu ia bermaksud menutupi
kesalahannya atau menyembunyikan kejahatannya dan dengan begitu ia mengharapkan dapat
melindungi dirinya dari ancaman hukuman atau lainnya. Apalagi jika orang tuanya keras atau
kejam. Jika demikian halnya, makan orang tua harus berusaha menghilangkan ketakutan tersebut
sehingga anaknya tidak merasa kuatir untuk berkata benar.
          422
              ‗ Abdu al ‗Aziz ‗Abdu al Majid, Al Qishshatufi al Tabiyah, Ushuluha al Nafsiyyah,
Tathawwuruha, Maddatuha wa thariqatu Sardiha li Mudarrisi al Marhalah al Ibtida‘iyyah, Mesir,
Dar al Ma‘arif, Cet. 7, hal. 9.
                                                                                        193




Para ahli jiwa telah mencoba mengklasifikasikan jenis-jenis cerita yang lebih sesuai
dengan masing-masing anak, sebagai objek pendengaran cerita, sesuai dengan fase-fase
perkembangannya (fase anak, remaja dan dewasa) dan perbedaan individualnya. ‗Abdu
Al ‗Aziz ‗Abdu Al Majid mengemukakan 5 fase yang harus di perhatikan oleh orang tua
(guru) ketika akan bercerita pada anaknya, sebagai objek pendengar cerita:423
        1)      Fase realistik yang terbatas dengan lingkungan (al thauru al waqi‟i al
        mandud bi al bi‟ah), di masa anak berumur 3-5 tahun . Lingkungan anak pada
        umur tersebut masih terbatas dengan rumah, kebun, jalan atau paling jauh
        sekolah. Pengalaman dan penghayatannyamasih terbatas dengan apa yang terlihat
        olehnnya di sekelilingnya, seperti hewan, tumbuh-tumbuhan, warna-warni dan
        suara. Ia sudah juga dapat membedakan antara ayah, ibu, saudara laki- laki dan
        saudara perempuan dan hubungan antara satu dengan lainnya.
        Yang lebih sesuai untuk anak dalam fase ini adalah ceritera-ceritera hewan-
        hewan, tumbuh-tumbuhan, termasuk ceritera ayam disambar elang (karena
        memisahkan diri dari induknya), kancil yang cerdik, anak perempuan berambut
        kuning, orang tua berjenggot putih dan yang semacamnya. Hewan dan tumbuh-
        tumbuhan dapat digambarkan kepada anak sebagai bercakap-cakap,
        bermusyawarah untuk mengusir penjahat, saling menolong sesamannya dan
        memohon bantuan kepada manusia . Setiap yang jahat, menipu atau berdusta,
        pada akhirnya akan ketahuan dan kalah atau binasa. Semua cerita itu diharapkan
        akan memeberi kesan positif kepada anak.128 Hal yang harus menjadi perhatian
        orang tua adalah bahwa cerita tersebut tidak berisi hal-hal yang mengerikan atau
        menakutkan anak, seperti hantu yang mengganggu dengan suara yang aneh-aneh,
        pembunuh/penculik anak, mahluk penghisap darah atau raksasa pemakan
        manusia dan sebagainya.424
        2)      Fase hayal bebas (thaur al khayal al hurri), yaitu pada masa anak telah
        mencapai umur 5-8 atau 9 tahun. Dalam fase ini anak mulai bebas dari alam
        semulanya yang terbatas. Ia sudah tahu bahwa anjing bisa menggigit, lebih
        menyengat, kucing bisa memcakar, sapi menghasilkan susu, api membakar dan
        sebagainya.130 Namun, khayalannya sedemikian bebasnya sehingga melampaui
        batas-batas 131 rasional, misalnya bertelepon dengan telepon mainan, memakai
        peci ayah dan menjinjing tas serta berbuat seolah-olah menjadi ayah yang
        sebenarnya.
        Orang tua, pada waktu akan menyajikan sesuatu cerita atau dongengan baheula
        (purba), baik oleh dirinya maupuin orang lain,132 harus berhati-hati benar. Jika
        anak menyatakan kebenaran isis cerita yang disajikan kepadanya maka orang tua
        (atau siapa saja yang bercerita) harus menjawab yang benar. Cerita kuda terbang,
        misalnya, akan sangat mempesona anak, tetapi orang tua harus menjelaskan yang
        benar bahwa cerita itu hanyalah khayalan dan bahwa kuda tidak pernah terbang
        begitu pula manusia kecuali dengan pesawat.

       423
           ‗Abdul Al ‗Aziz ‗Abdu Al Majid,Op. cit., hal.14
       128
           Ibid., hal.15-16
       424
           ‗Abdu al ‗Aziz ‗Abdu al Majid, Loc. Cit.
       130
           Ibid., hal.17.

       131
           Sekiranya orang tua tidak pandai ataupun tidak mampu bercerita, maka sebaiknya ia
mengundang guru atau siapa saja yang pandai untuk maksud itu, guna bercerita kepada anaknya,
secara rutin.
                                                                            194




3)     Fase petualangan dan hirois (thawru al mughamarati wa al buthulati),
yaitu pada waktu anak sudah berumur 8-12 atau 9-13 tahun. Dalam fase ini anak,
meskipun masih senang mendengar cerita-cerita khayalan ataupun dongengan,
sudah memiliki kecendeungan akan hal-hal yang rasional. Ia senang mencoba dan
mengalami sesuatu yang kadang-kadang berbahaya dan ingin menguasainya.
Oleh karena itu, ia terlihat senang memenjat pohon, merusak tanaman, mencuri
buah-buahan dari kebon, bolos sekolah dan sebagainya. Semuanya itu
dilakukannya karena hendak memperlihatkan kemampuan petualangannya atau
karena hendak menonjolkan keberaniannya.425
Oleh karena itu, untuk anak dalam fase ini seyogyanya disajikan cerita yang
mengandung tujuan yang baik. Cerita pahlawan yang gagah berani, cerita
peperangan mempertahankan tanah air, cerita Nabi-Nabi dan yang sejenisnya
adalah contoh-contoh cerita yang mengandung tujuan yang baik dan, karenanya,
patut diceritakan kepada anak dalam fase ini. Cerita komik termasuk kategori
sangat disenangi anak sehingga sering menyebabkan lupa belajar, bahkan banyak
diantaranya yang mengandung isi kurang baik.
4)     Fae romantik (thawru al gharam), yaitu pada waktu anak telah mencapai
imur 12(13) –18 tahun atau lebih, dimana naluri sosial dan seksual tumbuh secara
menonjol. Pada umur ini anak sudah mulai meningkat kepada pemikiran-
pemikiran logis, filosofis dan agamawi dalam rangka pembentukan kerangka
kehidupan yang didambakannya. Oleh itu ia terlihat cenderung kepada
mendengar cerita-cerita yang sentimental, kepahlawanan, ditektif, seksualitas
(roman),     keberhasilan-keberhasilan,      seperti      keberhasilan     usaha
                                                          426
perekonomian,keberhasilan komando atau kepemimpinan.
Cerita keberhasilan orang tua pada suatu rumah tangga dalam mendidik anak-
anaknya, kasus-kasus keberhasilan pemuda miskin mencapai tingkat kesarjanaan,
contoh-contoh ketabahan yang mendatangkan keberhasilan dapat menjadi jalinan
cerita yang menarik bagi anak dalam fase ini. Demikian juga ceita tentang
kegagalan banyak anak orang-orang kaya untuk mecapai keberhasilan di dalam
ilmu, kegagalan banyak anak dari kalangan atas untuk memeperoleh penyesuaian
yang baak di tengah-tengah masyarakat, jika dituangkan ke dalam suatu cerita
yang menarik, dapat memberi kesan positif bagi anak dalam fase ini.
5)      Fase ideal (thawru al mutsuli al „ulya) yaitu pada waktu anak sudah
berumur 18 atau19 tahun ke atas dimana ia telah mencapai kematangan, baik
disegi-segi berfikir (akal) maupun bermasyarakat (sosial). Di dlam dirinya telah
tebentuk dasar-dasar nilai sosial, etik dan politik. Sikap, kecenderungan dan
idenya mengenai hidup dan kehidupan sudah jelas, termasuk kehidupan berumah
tangga (meskipun belum terselenggaraka) .134
Untuk anak yang telah mencapai tingkat kedewasaan seperti itu amatlah sukar
bagi orang tua (guru) untuk menentukan cerita yang menyenangkan. Namun
demikian lingkungan sosial, anggota keluarga dan teman-teman dengan siapa ia
selalu bergaul dan idenya mengenai hidup yang didambakannya dapat di jadikan
indikasi bagi pemilihan cerita yang bisa menarik perhatiannya. Sementara itu,
kesenangan mendengarkan cerita adalah naluri manusiawi, sejak masa kanak-
kanak sampai dewasa dan tua. Dalam fase ideal ceritera yang disenangi adalah


425 132
       ‗ Abdul al ‗Aziz ‗Abdu Al Majid, Loc. Cit.
426 133
       Loc. Cit.
134
    ibid., hal.19.
                                                                                             195




        yang sifatnya rasioanal,faktual dan yang dari segi akidah kebenarannya
        diyakini.135
        6)     Menerangkan yang baik-baik.
        Di antara yang baik-baik yang perlu diterangkan kepada anak adalah (1) akidah,
        (2) ibadah,(3) akhlak, (4) menuntut ilmu, (5) janji-janji Allah kepada mereka
        yang berbuat baik dan (6) tentu masih banyak lagi. Seandainya orang tua tidak
        berilmu atau tidak pandai menerangkannya maka seyogyanya ia mengundang
        orang lain secara periodik untuk menerangkan hal-hal tersebut kepada anaknya di
        rumahnya, atau menyerahkan anaknya untuk diajak oleh guru-guru agama di
        Diniyah, Pesantren, Madrasah atau lainnya.427
        Yang dimaksud dengan ‗yang baik‘ dalam tulisan ini adalah yang baik menurut
        ajaran Allah dan Rasulnya, karena ‗baik‘ menurut ukuran manusia pada suatu
        kelompok sosial dalam suatu kurun waktu belum tentu di setujui sebagai ‗baik‘
        pula oleh kelompok sosial lainnya, meskipun dalam kurun waktu yang sama atau
        malah mungkin sekali tidak disetujui sebagai ‗baik‘ oleh kelompok sosial yang
        sama dalam kurun waktu yang berbeda. Penapsiran mengenai konsep ‗baik‘
        tersebut akan berlainan juga jika kelompok-kelompok sisial penganutnya,
        meskipun sebangsa masing-masing tinggal di kawasan yang jaraknya sedemikian
        jauhnya sehingga komunikasi dan interaksi sosial antara mereka menjadi amat
        sulit. Dalam kaitannya dengan pendidikan anak dalam runmah tangga maka yang
        di terangkan adalah yang baik-baik menurut ajaran Allah dan Rasul tersebut.
        Orang tua, dalam menerangkan yang baik-baik itu tidaklah memerlukan teori atau
        ilmu agama yang mendalam, melainkan memadai dengan menyampaikan
        pengetahuan agama yang di terimanya melalui khotbah-khotbah di mesjid atau
        pengajian-pengajian lainnya.428 Menerangkan akidah islam kepada anak, terutama
        yang masih kecil, memadailah dengan menyebutnya saja: Allah itu ada, Maha
        Esa, Maha Kuasa, Maha Pencipta, Maha Sempurna.429 Muhammad adalah utusan
        Allah dan penutup para Nabi yang telah menyampaikan agama Islam kepada
        umat manusia. Al-quran adalah kitab suci dan ajaran yang terkandung di
        dalamnya adalah seluruhnya benar untuk di pedomani dan di amalkan. Malaikat-
        malaikat adalah mahluk Allah yang meskipun tidak dapat di lihat benar ada dan
        sebagiannya bertugas mencatat amal perbuatab manusia.
        Menerangkan akhlak Islam kepada anak dapat dilakukan dengan mengemukakan
        contoh, seperti pemurah, penyayang, lembut, sopan, hormat kepada orang tua,
        hormat kepada guru, setia antara sesama teman dan sebagainya. Semuanya itu

        135
             Barang kali itulah salah satu sebabnya mengapa di dalam Al-Quran terdapat banyak
ceritera-ceritera nabi-nabi, firaun, Qarun, Harut-Marut, Thalut-Jalut, Ashabul al- kahfi dan
sebagainya. Wallahu a‘lam
         427
             Di Aceh anak yang masih kecil diasuh sendiri oleh orang tua atau jika tidak mampu,
memohon guru kampung untuk mengajarnya di rumah guru tersebut. Sesudah agak besar anak di
serahkan ke meunasah untuk diajar oleh teungku meunasah . Sedangkan anak perempuan tetap
diajar di rumah teungku inong (guru perempuan).
         428
             Orang tua yang berusaha mendidik anaknya harus berupaya meningkatkan pendidikan
dirinya sepanjang hayatnya, seperti melalui pengajian dan sebagainya. Sebab, hasil yang baik dari
usahanya itu akan tercapai secara lebih sempurna jika ia mulai dari dirinya.
         429
             Menerangkan tentang Tuhan kepada anak, biasanya, mendorongnya untuk bertanya.
Jikia ini terjadi, maka jawaban yang di berikan harus sederhana, tidak perlu panjand dan harus
sesuai dengan tingkat anak. Jawaban tersebut cukup dengan mengatakan: ‗Tuhan ada. Nanti, kalau
kamu sudah sekolah akan diterangkan oleh guru‘.
                                                                                              196




        dijelaskan kepada anak sebagai sifat-sifat yang terpuji. Kepada anak yang masih
        kecil diterangkan pula makna dari masing-masing sifat itu. Misalnya, yang di
        maksud dengan pemurah adalah memberi kepada orang lain. Yang di maksud
        dengan sopan adalah bertutur kata dan bersikap lembut. Demikian juga dengan
        yang lainya.
        7)     Membina kreatifitas anak
        Dalam bab VI telah dibahas secara teoritis mengenai pengertian, nilai-nilai, hal-
        hal yang mendorong dan yang menghambat perkembangan kreatifitas . Dalam
        bab ini, oleh karenanya, akan dibahas hanya segi-segi tehnik operasionalnya saja
        guna membantu orang tua dalam rangka upaya pembinaan daya kreatifitas
        anaknya, terutama di dalam rumah tangga.
        Beberapa kondisi yang perlu dibentuk dalam rangka membina daya kreatifitas
        anak tersebut adalah :
        1.    Memberi kesempatan yang cukup luas, tetapi dalam batas-batas
        kewajaran, bagi anak untuk bermain-main, mengadakan percobaan-percobaan
        dan menyelesaikannya sendiri.430
        2.    Memberi kebebasan yang cukup, tanpa tekanan.



        2.      Memberi kebebasan yang cukup, tanpa tekanan, tetapi juga tidak berlebih-
        lebihan, kepada anak untuk aktif, sepanjang aktifitasnya tidak membahayakan
        dirinya.
        3.      Memberikan dorongan kepada anak agar dengan potensi yang dimilikinya
        ia menjadi seorang yang kreatif. Untuk itu ia harus bebas dari kritikan-kritikan
        negatif yang membebani jiwanya, seperti ejekan dan, malah sebaliknya, ia harus
        di puji karena aktifits dan kreatifitasnya .

         4.      Menyediakan     alat-alat    dan   bahan-bahan      permainan      yang
         menyenangkannya. Ia dibebaskan untuk melakukan percobaan dengan alat dan
         bahan tersebut. Dengan demikian ia akan menjadi aktif sehingga dapat
         diharapkan akan menjadi seorang yang kreatif.
         5.      Mempersiapkan lingkungan yang mendorong bagi tumbuhnya daya
         kreatifitas anak dengan cara memberikan bimbingan seperlunya, terutama dari
         pihak orang tua. 431
        Bimbingan tersebut diberikan – terutama – pada waktu yang tepat, yaitu pada saat
        anak sedang mengadakan percobaan, tetapi tidak bersifat memaksa.
         6.      Membina sikap percaya diri pada anak. Untuk ini orang tua harus bersikap
         tidak terlalu melindungi atau terlalu memanjakan anak yang menyebabkannya
         lemah dan tergantung kepada orang lain dan, sebaliknya, tidak boleh pula terlalu


        430
            Anak yang pendiam, tidak senang banyak bergerak atau sangat patuh biasanya, sukar
dibina kreatifitasnya, tetapi di sukai karena mudah di atur. Namun demikian, anak tersebut, jika
pandai atau cerdas, dapat dibina daya kreatifitasnya, di bidang-bidang pemikiran. Sebaliknya nak
yang aktif tetapi bodoh atau intelejensinya rendah, juga sukar ( atau tidak mungkin) di bina
menjadi manusia kreatif.
        431
            Bimbingan, tentu saja, hanya dapat diberikan oleh orang tua yang, sedikit atau banyak,
mempunyai pengetahuan. Orang tua yang tidak memiliki pengetahuan sebaiknya memohonkan
bantuan kepada orang lain, misalnya guru, untuk maksud itu.
                                                                                                197




        membebaskannya sehingga ia merasa kehilangan pengawasan yang secara
        psikologis sangat di butuhkannya.
        7.      Membina suasana demokratis dan terbuka dalam rumah tangga, meskipun
        tidak berarti tanpa pengawasan, sehingga anak merasa aman dan nyaman untuk
        bermain-main dan melakukan percobaan.
        8.      Memberi kesempatan kepada anak untuk memasuki pendidikan { dasar,
        menengah dan tinggi } guna menambah ilmunya. Tanpa ilmu pengetahuan daya
        kreatifitas tidak akan berkembang dengan baik.432 Di pihak lainnya, beberapa
        kondisi yang dapat menghambat perkembangan daya kreatifitas anak harus
        dihindarkan. Di antaranya adalah; (1) melarang anak dari banyak bertanya, (2)
        mengawasi anak terlalu ketat, (3) pembagian kerja yang terlalu rutin dalam
keluarga, (4) menyediakan alat-alat yang terlalu terstruktur, (5) melarang anak berfantasi
( atau mengkhayal ), (6) sikap orang tua yang terlalu konservatif, (7) perlindungan atau
pemberian kebebasan yang berlebihan, (8) pendisiplinan yang terlalu kaku dan otoriter.433

   Di tinjau dari segi ajaran Islam maka pendidikan kreatifitas di temukan sumbernya
   dalam berbagai hadits yang memberi penjelasan tentang metode Rasul Allah dalam
   menghadapi cucu-cucunya dan anak-anak lainnya. Metode-metode tersebut, antara
   lain, adalah;
                              1. Membina keakraban antara orang tua dan anak dalam
                              rumah tangga. Didalam hadits yang di riwayatkan oleh at-
                              thabrani tertera istilah mula‘abatuhu ahlahu, artinya, Orang
                              tua sendiri menyediakan waktu untuk bergurau dengan
                              gembira, tetapi tetap dalam batas kewajaran, baik dalam
                              bentuk percakapan maupun lainnya, bersama semua anggota
                              keluarganya434.       Keakraban akan membina suasana
                              demokratis dan permissif yang sangat membantu
                              perkembangan daya kreatifitas anak.
                              2. Memberi kesempatan luas kepada anak, terutama yang
                              masih kecil, untuk bermain-main, baik sendirian maupun
                              berkelompok dengan teman-temannya. Didalam hadits yang
                              dirwayatkan oleh al –tarmidzi terdapat penjelasan bahwa
                              kebebasan bermain-main anak-anak diwaktu kecil akan
                              meningkatkan daya kreatifitasnya di waktu ia telah meningkat
                              dewasa.435
                              3. Memggembirakan anak. Didalam sebuah hadits yang
                              diriwayatkan oleh al-tabrani ditemukan penjelasan bahwa
                              Nabi SAW, ketika melihat Husain bermain-main dengan
                              teman-temannya, segera berlari-lari bersama mereka dan,
                              karena gembiranya, lalu menangkap Husain dan
                              menciumnya436.


        432
               Elizabeth B. Hurlock, Op. cit. , hal 33
                    433
                          I b I d . , hal. 346.
          434
              ‗Abdullah ‗Ulwani, II, Op. cit. , hal. 1014.
          435
              I b I d . , hal. 1015. di dalam hadits lainnya terdapat penjelasan Nabi mengenai tanah
sebagai tempat yang amat subur bagi pengembangan fisik dan mental anak, yang termasuk daya
kreatifitasnya. Di atas tanah dan pasir anak dapat bermain-main dengan bebas dan gembira.
          436
             I b I d. , hal. 1016
                                                                                     198




   Dari beberapa hadits di atas – dan banyak hadits lainnya – diperoleh modal dasar
   ajaran Islam mengenai motivasi pembinaan daya kreatifitas pada anak. Adapun teknik
   motivasi, dinamisasi dan perangsangan daya kreatifitas tersebut, baik berupa
   bimbingan dan pujian maupun penghargaan dan atau hadiah agar anak menjadi aktif
   dan kreatif, dapat di tingkatkan dan diperbaharui sesuai dengan kondisi dan
   perkembangan teknologi.


   Kesembilan :
   Mengawasi anak.
   Kegiatan pendidikan, kini semakin mendapat perhatian yang serius dengan
   perencanaan yang cukup teliti dan didasarkan kepada hasil studi yang mendalam,.
   Namun demikian, kegiatan tersebut senantiasa memerlukan pengawasan, pengontrolan
   (supervisi) yang kontinu oleh petugas-petugas yang memenuhi persyaratan ilmiah,
   kemampuan operasional dan wibawa formal. Pengawasan, rupanya, selalu perlu
   karena rupanya dalam pengertianya yang moderen ia mempunyai sasaran yang cukup
   luas, seperti mengkoordinir semua kegiatan sekolah, melengkapi kepemimpinan
   sekolah, memperluas pengalaman guru-guru, menstimulir kegiatan-kegiatan yang
   kreatif, memberikan penilaian dan bantuan secara terus-menerus, menganalisa situasi
   belajar dan mengajar, memberikan pengetahuan dan skill kepada setiap anggota staff,
   mengintegrasikan tujuan pendidikan serta membantu dalam hal peningkatan
   kemampuan mengajar para guru. 437Jika segala kegiatan pendidikan formal dan non
   formal selalu memerlukan pengawasan maka pendidikan anak dalam rumah tangga
   adalah sama halnya. Orang tua perlu selalu mengawasi dan mengontrol anaknya dalam
   segala kegiatan pendidikan. Di lihat dari sudut ajaran islam hal itu adalah wajib.
   Perintah Allah SWT yang mengandung makna mewajibkan memelihara diri dan
   keluarga dari api neraka,438 yang ditafsirkan oleh ‗Ali bin Abi Thalib dengan didiklah
   dan ajarlah mereka‘,439 tetepi ditafsirkan oleh ‗Umar Ibnu Al Khatthab dengan ‗anda
   cegah mereka dari memperbuat yang di larang Allah dan anda perintahkan mereka
   melaksanakan yang disuruh-Nya; dengan begitu anda telah memelihara mereka dari
   api neraka‘,440 memberi petunjuk bahwa mendidik anak tidak memadai dengan hanya
   menyuruh dan melarang, melainkan harus mengikutinya dengan pengawasan dan
   pengontrolan yang baik.
   Beberapa hadits Rasul Allah SAW telah menunjang yang artinya: ‗perintahkanlah
   anak-anakmu untuk mendirikan shalat setelah mereka berumur 7 tahun dan pukullah
   mereka karena meninggalkannya setelah berumur 10 tahun‘441. Kandungan makna
   hadits itu memberi petunjuk kepada keharusan adanya pengawasan dan pengontrolan.
   Sebab, hukuman pukulan yang di maksud oleh hadits itu tidak mungkin dijalankan
   atas anak jika belum diketahui secara pasti bahwa ia telah berbuat salah, yakni
   meninggalkan shalat. Sedang kesalahan tersebut tidak mungkin terketemukan tanpa
   pengawasan yang teratur.



       437
             Bandingkan : Drs. Piet A. Suhartin dan Drs. Frans Mataheru, Prinsip & Teknik
Supervisi Pendidikan, Surabaya, Usaha Nasional, 1981, hal. 26.
        438
            Lihat QS.Tahrim:5
        439
            lihat Abdullah Ulwan, op.cit., hal.728
        440
            Loc.Cit
        441
            Loc.Cit
                                                                                 199




Orang tua, karenanya, harus mengawasi anaknya dalam hal-hal, antara lain, sebagai
berikut :
         1. Mengawasi tempat dan teman bermain.
Orang tua harus mengawasi agar anaknya bermain-main di tempat yang aman dan
bergaul dengan teman-teman yang baik serta dari kalangan yang baik-baik pula, sebab
anak cepat terpengaruh oleh teman-temannya.
             2.    Mengontrol teman bermain
             3.    Mengontrol kegiatan dirumah
             4.    Mengontrol kegiatan belajar
             5.    Mengontrol pekerjaan rumah
Jika anak sudah masuk TK, SD, Madarasah atau lainnya maka pengawasan diarahkan
kepada belajar secara teratur, terutama pada malam hari, seperti mengulang pelajaran,
menyelesaikan PR sampai dengan saatnya untuk tidur. 152


            6.     Mengontrol pergi dan pulang sekolah
            7.     mengontrol keluar rumah
            8.     Mengontrol buku bacaan
            9.     mengontrol gambar-gambar di kamar Anak
            10.    Mengontrol ibada
            11.    Mengontrol akidah
            12.    Mengontrol akhlak
            13.    Mengontrol ilmu pengetahuan
            14.    Mengontrol kesehatan
            15.    Mengontrol segi-segi kejiwaan

         2. mengawasi pergi/pulang sekolah/keluar malam.
Anak harus di awasi apakah benar pergi kesekolah, belajar dengan baik dalam kelas
dan setelah selesai lalu langsung pulang kerumah. Jika ia memohon izin untuk keluar
malam dengan alasan berbagai keperluan, 153 maka betapapun terdengarnya alasan-
alasan untuk itu sebagai benar, namun orang tua harus mengawasinya dengan baik.
Alasan untuk rapat dapat dikabulkan pada siang hari, sebab malam adalah waktu untuk
belajar, terutama untuk anak perempuan yang sedang berada dalam fase remaja
pertama. 154
___________
          146      Anak tidak boleh dibiarkan saja menonton acara TV dari awal
          sampai akhir, menonton video secara bebas, tanpa seleksi, mendengar lagu-
          lagu melalui radio atau tape recorder sampai ia tertidur. Sebab, memang ada
          anak yang dengan sengaja meletakan radio dikepalanya dan tidur sambil
          mendengar lagu-lagu.
          147      Alasan undangan teman dapat dipertimbangkan : (1) untuk disco,
          ditolak, (2) untuk ulang tahun, ditolak atau diterima dengan melihat
          acaranya, (3) untuk pesta-pesta, dikabulkan sekali-kali, (4) untuk kemping,
          dikabulkan dengan mempertanyakan guru-guru yang membimbing sebab,
          tanpa pembimbing tidak boleh dikabulkan, (5) untuk kegiatan kesenian,
          dikabulkan dengan mempertanyakan jenis kesenian, pemimpin dan
          pelatihnya, tempat latihan dan apakah anak berbakat untuk itu, (6) untuk
          menonton di bioskop, tidak dibolehkan kecuali beramai-ramai bersama guru
          atau bersama orang tua sendiri serta dengan mempertimbangkan isi cerita
                                                                               200




         dari film yang akan ditonton, (7) untuk diskusi dan belajar bersama teman,
         dapat diluluskan dengan mempertimbangkan sebaiknya diselenggarakan di
         rumah sendiri atau dengan mempertanyakan teman-teman anak berdiskusi,
         berikut tempatnya, (8) untuk pergi bersama pacar, tidak dikabulkan karena
         berpacaran itu hukumnya haram, (9) untuk kegiatan pramuka, karang
         taruna, remaja masjid dan yang sejenisnya, dibolehkan dengan syarat tidak
         mengganggu kegiatan belajar dan ibadah.

          3. mengawasi buku bacaan dan gambar-gambar.
Buku-buku cerita, komik, sangat mempengaruhi anak dan ia akan terangsang untuk
melakukan adegan seperti yang dibacanya. Oleh karena itu, bacaan anak harus diawasi
agar ia tidak secara leluasa membaca cerita-cerita sadis, keras, porno atau lainnya
yang dapat merusak mental dan moralnya. Gambar-gambar di dinding kamarnya agar
tidak terdiri dari gambar-gambar porno yang merangsang seks. 155
6.Mengawasi kegiatan-kegiatan ibadah dan akhlak.
Jika waktu shalat sudah tiba, anak harus segera diingatkan untuk meninggalkan
permainan guna berwudlu dan mendirikan shalat, 156 sebab, anak yang sedang asyik
bermain-main sering lupa shalat, bahkan lupa makan. Pelajaran agama di sekolah
hendaknya menjadi perhatian orang tua. Jika ternyata belum memadai, ia harus
berupaya menambahnya, misalnya dengan mengajarkannya sendiri atau dengan
memasukan anaknya ke pesantren (sore) atau Diniyah. Ia harus memperhatikan juga
sejauh mana pendidikan di dalam rumah tangganya - - dan juga di sekolah - - telah
berhasil membina anaknya menjadi manusia yang berakhlak mulia. 157
___________
         148       Pengawasan atas anak tidak terlalu menyusahkan jika di mulai
         sejak ia masih kecil. Apabila terlambat, misalnya di mulai pada waktu anak
         sudah besar, dapat dipastikan bahwa pengawasan tersebut akan menghadapi
         berbagai kesulitan.
         149       Melihat aurat laki-laki atau perempuan, menurut ajaran islam,
         meskipun dalam bentuk gambar, hukumnya haram. Oleh karena itu, baik
         dari kamar anak maupun dari rumah secara keseluruhan, gambar-gambar
         porno tersebut harus disingkirkan. Demikian halnya dengan patung-patung
         telanjang. Teori yang menerangkan bahwa aurat-aurat itu, jika sudah sering
         di lihat atau sudah terbiasa tidak akan merangsang lagi adalah sesat dan
         menyesatkan.
         150       Jika sudah agak besar dan daerah permainannya sudah jauh tentu
         agak sukar mengawasinya. Namun, pengawasan tersebut tetap menjadi
         beban orang tua.
         151       Apabila terlihat pada anak gejala-gejala tidak baik, misalnya
         bohong, menipu (teman atau orang tua), mencuri uang, tidak menepati janji
         dan sebagainya, maka orang tua harus segera berupaya mengatasinya pada
         saat pertama peristiwa itu terjadi dan tidak menunda sampai dengan terjadi
         kedua kalinya. Demikianlah pula dengan, misalnya, bertutur kata kasar,
         senang memaki (adik atau orang lain), boros, berlagak seperti anak orang
         kaya, senang kepada yang porno-porno (kini amat mudah memasuki rumah
         tangga melalui buku-buku, video dan sebagainya) harus segera di atasi,
         terutama pada saat-saat anak belum mampu melawan, baik secara terang
         maupun secara tersembunyi.
                                                                                 201




                 7. Mengawasi ilmu pengetahuan.
Di dalam islam di kenal dua belahan ilmu, yaitu: ilmu fardhu ‗ain dan ilmu fardhu
kifayah. Yang pertama wajib diketahui dan diamalkan oleh setiap individu, seperti
rukun iman, rukun islam dan akhlak mulia. Ilmu inilah yang terutama wajib diawasi
oleh orang tua. Yang kedua ilmu fardhu kifayah, terdapat dalam cabang dan di siplin
yang sangat banyak, bahkan semakin berkembang, 158          namun wajib dipelajari
seluruhnya oleh umat islam, masing-masing sesuai dengan bakat dan kemampuannya.
Di dalam rumah tangga, ilmu fardhu ‗ainlah yang wajib diajarkan untuk diamalkan
oleh anak, meskipun tidak harus secara luas dan mendalam. 159
___________
          152       mu-ilmu yang terkategori fardhu kifayah tidak terbatas jumlahnya,
          bahkan semakin berkembang menjadi berbagai disiplin. Oleh karena itu,
          tidaklah mungkin setiap individu mempelajarinya secara mendalam, berikut
          kemampuan penerapannya. Tetapi masing-masing dianjurkan menjuruskan
          diri kepada mempelajari ilmu yang sesuai dengan bakat, minat dan kadar
          intelejensinya.

153 Beberapa pertanyaan ini dapat membantu orang tua untuk mengetahui apakah
mereka berhasil dalam usahanya mendidik anaknya ke arah mempelajari dan
mengamalkan ilmu fardhu ‗ain tersebut. Misalnya : (1) apakah anak anda sudah
pandai membaca al-Qur‘an ? (2) apakah anak anda sudah pandai berwudhu dan shalat
? (3) apakah anak anda sudah hafal bacaan-bacaan untuk shalat ? (4) apakah anak anda
sudah pandai berniat wudhu dan juga berniat shalat ? (5) apakah anak anda sudah tahu
hal-hal yang membatalkan wudhu dan shalat ? (6) apakah anak anda sudah tahu
rukun-rukun shalat ? (7) apakah anak anda sudah tahu rukun-rukun ibadah-ibadah
fardhu ? (8) apakah anak anak anda sudah tahu (beberapa dari) yang halal dan yang
haram ? (9) apakah anak anda sudah tahu beberapa daripada akhlak mulia ? (10)
Untuk itu, apakah anak anda sudah hormat kepada orang tua, guru dan orang tua-tua
lainnya ? (11) apakah anak anda sudah mengenal Tuhan, Nabi-Nabi, kitab-kitab suci,
malaikat, hari akherat, surga dan neraka?
Berkenaan dengan ilmu pada umumnya, dapat diajukan pertanyaan dalam rangka
membantu orang tua untuk memahami anaknya dengan baik. Misalnya: (1) apakah
anak anda sudah lancar dan rajin membaca buku ? (2) jika sudah masuk sekolah,
apakah anak anda rajin dan tekun belejar di sekolah ? (3) apakah anak anda sudah
lancar menulis ? (4) bagaimana kemajuan anak anda dalam belajar di sekolah ? (5)
apakah anak anda tekun menyelesaikan PR di rumah ? (6) apakah nilai rapor anak
anda termasuk baik ? (7) apakah guru pernah mengingatkan anda mengenai anak anda
? (8) pernahkah anda memeriksakan mata dan telinga anak anda ? Dan tentu banyak
lagi yang dapat di ajukan.
           8.      Mengawasi segi-segi kejiwaan
    Apabila terlihat pada anak gejala-gejala kelainan jiwa, misalnya.
    1.      Terlalu penurut, terlalu mementingkan dirinya (egoistis) atau suka
    mengasingkan diri, maka orang tua harus segera berusaha menanamkan sifat-sifat
    berani, suka bergaul dan suka memberi kepada serta suka menerima dari teman-
    temannya. Dengan demikian rasa rendah diri, segan, takut atau kurang dan
    egoistis tadi dapat di hindarkan daripadanya secara bertahap.
                                                                                 202




    2.      Penakut, mundur, tidak sanggup mengatasi sendiri masalahnya (tentu saja
    masalah-masalah yang setingkat dengan dirinya), maka orang tua haruslah
    berusaha menanamkan kedalam jiwa anaknya itu sifat percaya diri (self
    confidence), berani serta tidak penyegan. Untuk hal itu orang tua, terutama ibu,
    harus menghindarkan diri dari; (1) memperlihatkan sikap mudah kaget, takut
    atau goncang, (2) menceriterakan mahluk-mahluk gaib dengan cara-cara yang
    memberi kesan takut, serem atau membangunkan bulu roma, seperti jin, setan
    atau makhluk pemakan manusia, (3) menakut-nakuti anak dengan hewan kecil,
    seperti ulat, kecoak dan sebagainya. 161.

___________
161 Orang tua, sebaiknya, harus berupaya untuk: (1) menghilangkan sebab-sebab yang
menumbuhkan rasa takut atau kurang, (2) memperlihatkan dengan baik bahwa
anaknya sama dengan anak-anak lain (jika memang terdapat kekurangan pada anak,
maka oang tua harus membangun semangatnya dengan memperlihatkan kelebihan
yang dimilikinya), (3) memperlihatkan bahwa kekurangan yang misalnya terdapat
pada nilai pelajaran anak adalah hal biasa yang tidak perlu di pandang sebagai rendah


Jika rasa takut, mundur atau lemah tadi ternyata disebabkan oleh ejekan-ejekan atau
perlakuan yang tidak wajar. Maka orang tua harus berusaha mengatasinya dengan
antara lain ; (1) Mengajak anak bercakap-cakap secara lembut, bebas dan permissi.
(2) Mengajak saudara-saudara dan kerabat-kerabat lainnya untuk memperlakukan
anaknya dengan baik. (3) Mengundang counselor yang berpengalaman untuk
memberikan penyuluhan kepada anaknya dalam rangka mengulangi dan mengatasi
kelainan-kelainan tersebut.
Jika kelainan-kelainan jiwa itu terlihat disebabkan oleh kemanjaan yang keterlaluan
maka orang tua harus bersungguh-sungguh berupaya mengatasinya dengan antara lain
; (1) Membimbing anaknya, meskipun harus dengan bantuan psikolog, psikiater atau
lainnya, agar bersikap dewasa sesuai dengan umurnya, dan tidak memberi kesempatan
lepadanya untuk bersikap seperti anak yang lebih kecil dari padanya, (3)
Memisahkannya dari kondisi yang bisa membuatnya menjadi manja, misalnya dari
kakek, nenek dan semacamnya.
Jika kelainan itu ternyata disebabkan oleh faktor keturunan maka cara pengatasannya
adalah, maka, antara lain, dengan ; (1) Membina kondisi lingkungan paedagogis yang
baik, (2) Menyelenggarakan pendidikan khusus, misalnya dengan teknik bimbingan
dan penyuluhan oleh counselor.
   1.       Nakal atau bandel, maka oang tua harus mengatasinya dengan, antara lain
   : (1) memperkenalkan kepadanya sampai mengerti kelakuan dan sifat-sifat nakal,
   (2) menjelaskan kepadanya akibat-akibat, berikut bukti-bukti dari pada perbuatan
   nakal, (3) menerangkan kepadanya bahwa Allah dan Rasul nya tidak senang
   kepada orang-orang yang nakal, (4) menghukumnya secara wajar jika hukuman
   sudah dipandang perlu.
   2.       Pemarah, perajuk maka orang tua harus berusaha mengatasinya dengan
   menghilangkan sebab-sebabnya misalnya; (1) jika kelainan itu disebabkan oleh
   sakit, segera diobati agar cepat sembuh, (2) jika kelainan itu disebabkan oleh
   karena anak merasa diejek, diolok-olok atau dipermainkan maka orang tua harus
                                                                                  203




      berupaya agar mereka sendiri (dan seluruh anggota keluarga) menghindarkan diri
      dari mengucapkan kata-kata yang bermakna ejekan atau penghinaan.
      3.     Kelainan-kelainan jiwa yang lainnya dapat terjadi dalam bentuk gagap,
      pemalu, pendendam, suka berkelahi, senang membuat gaduh, mengganggu,
      mencuri, berdusta. Semua kelainan itu harus dirawat dengan baik. Jika orang tua
      tidak mampu atau tidak sempat untuk menghadapinya secara baik, karena sering
      perawatan menuntut keahlian psikologis, maka upaya untuk itu adalah
      menyerahkannya kepada mereka yang ahli dibidang perawatan jiwa. Jika demngan
      perawatan intensif sedemikian tidak berhasil maka, barangkali, perawatan
      dilembaga pemasyarakatan dapat membantu.

   Kesepuluh
   Menghukum anak.
   Menghukum anak kadang-kadang perlu karena diantaranya yang ada, meskipun telah
   dididik secara bersungguh-sungguh dengan mengikuti tidak saja langkah-langkah
   pelaksanaan seperti telah diuraikan terdahulu, tetap membandel dan keras kepala.
   Namun demikian harus diingat bahwa hukuman tersebut disamping hanya boleh
   dilakukan jika sangat perlu juga harus disesuaikan dengan kondisi kepribadian anak.
   Sebab, diantara anak ada yang tenang dan cepat menerima isyarat sehingga hukuman
   buat dia cukup dengan pandangan tajam atau dengan memperlihatkan sikap tidak
   senang. Yang lainnya termasuk normal atau rata-rata sehingga ia, kadang-kadang,
   perlu mendapat hukuman yang jelas dan tegas. Yang lainnya lagi, karena amat bandel
   dan berulang-ulang melakukan kejahatan, memerlukan hukuman yang disamping
   berulang-ulang juga semakin keras dan tegas.
   Islam telah memperkenalkan tidak saja segi-segi preventif dan persuasif dalam usaha
   mencegah manusia dari pada melakukan perbuatan-perbuatan negatif melainkan juga
   mengajarkan tindakan kuratif dan hukuman atas pelaku-pelaku perbuatan negatif
   tersebut. Ketentuan ajaran Islam tentang hukuman itu disamping berlaku atau
   diberlakukan atas orang-orang dewasa dan normal, melainkan juga, dengan versi dan
   aplikasi yang berbeda, atas anak-anak yang melakukan kesalahan { berulang kali )
   baik di dalam maupun di luar rumah tangga.
        Dalam kegiatan pendidikan anak – terutama didalam rumah tangga – dikenal
adanya ajaran Islam tentang hukuman tersebut atas anak yang, setelah dididik dengan
teknik-teknik lain, tetap keras kepala, membandel atau berulang kali melakukan
perbuatan-perbuatan menyimpang. Dalam pada itu, perlu pula diingat bawha perbuatan-
perbuatan menyimpang tersebut tampil kepermukaan sebagian disebabkan oleh
pembawaan yang diwarisi anak dari orang tuanya, sebagian disebabkan oleh lingkungan
sosial yang tidak baik dan sebagian lagi disebabkan oleh salah asuh atau salah didik
dalam rumah tangga.
        Dengan penekanan iastilah ―jika perlu‖ dalam menjatuhkan hukuman
dimaksudkan bahwa hukuman tersebut hanya boleh hanya boleh dilakukan jika
perubahan kelakuan anak kearah positif diperkirakan tidak berhasil kecuali setelah
hukuman yang setimpal dilaksanakan. Disamping itu, juga berarti bahwa hukuman tidak
boleh dilakukan secara serampangan, tetapi harus diterapkan secara bijaksana, penuh
kasih sayang dan berurutan sedemikian rupa sehingga senantiasa dimulai dari tingkat
hukuman yang paling ringan. Kemudian, jika tidak memberi kesan berupa tanda-tanda
perbaikan, meningkat kepada hukuman lebih berat. Hukuman tersebut, jika masih terlihat
                                                                                      204




perlu, dapat dilakukan secara berketerusan, yakni setiap kali anak ketahuan berbuat salah,
sampai dengan kelakuan baik yang diharapkan tercapai.
        Hukuman sebenarnya tidak lebih dari sekedar ‗obat‘ yang perlu bagi
penyembuhan ‗penyakit‘ anak yang muncul dalam bentuk kejahatan, kenakalan atau
kebinalan. Selama ‗penyakit‘ tersebut belum sembuh maka ‗obat‘ tetap diperlukan dan
bahkan semakin ditingkatkan. Dan jika hukuman diumpamakan sebagai obat bagi
penyakit maka dengan sendirinya obat tersebut harus sesuai dengan tuntutan penyakit
yang sedang diderita. Pernyataan tersebut sekaligus menuntut akan pemeriksaan penyakit,
berikut sebab-sebabnya, latar belakangnya dan sebagainya, agar setelah obat diberikan,
penyakit menjadi sembuh. Jika obat tersebut diberikan dosis terlalu tinggi atau terlalu
rendah maka tidak saja penyakit tidak akan sembuh, melainkan juga malah mungkin
bertambah berbahaya.
        Oleh karena itu, dalam melaksanakan hukuman, orang tua harus mengikuti
ketentuan-ketentuan berikut :
    1. Ketentuan umum
        Hukuman tidak boleh dilakukan kecuali karena terpaksa, hukuman pukulan tidak
        boleh dilakukan kecuali setelah hukuman bentuk lain tidak memberi makna.
    2. Ketentuan khusus
    Orang tua harus mempelajari motivasi kenakalan anaknya sebelum menjatuhkan
    hukuman. Jika motivasi tersebut telah diketemukan maka langkah pertama yang
    harus ditempuh adalah menghilangkan motivasi itu. Seandainya setelah
    menghilangkan motivasi itu, ‗penyakit‘ anak tersembuhkan maka hukuman tidak
    diperlukan lagi.

        Langkah-Langkah Menghukum.
        Berbagai teori telah dikemukakan oleh para pakar pendidikan tentang langkah-
langkah dan teknik-teknik hukuman atas anak yang binal atau berulang kali melakukan
kejahatan. Berikut ini langkah dan teknik tersebut dikemukakan berdasarkan ajaran
paedagogis Islami. Diantaranya adalah :
            1. meberi peringatan
Jika anak memperbuat sesuatu kesalahan kesalahan maka orang tua harus memberi
peringatan agar ia tidak mengulanginya. Peringatan tersebut harus disampaikan sesegera
mungkin. Dalam hal ini, tiada sesuatu kesalahanyang boleh dianggap enteng sehingga
berlalu tanpa peringatan. Berkenaan dengan ini Nabi SAW. bersabda442 :




Artinya :
   “ Unar bin Abi Salmah berkata : „Aku adalah seorang anak dalam pangkuan Rosul
   Allah SAW. (artinya : berada dalam pengawasannya) dan tanganku menjulur kesana
   kemari pada hidangan. Maka Rosul Allah SAW. bersabda (memperingatkan)
   kepadaku : „Nak, bacalah Bismillah, makanlah dengan tangan kananmu, dan ambilah
   makanan yang dekat denganmu‟.
   (H.R. Al-Bukhari dan Muslim)

       442
             ‗Abdullah ‗Ulwan, II, Op. Cit. , hal. 763.
                                                                                   205




Peringatan Rasul itu, meskipun riang, jelas merupakan hukuman atas Umar bin Abi
Salamah karena kesalahannya, yakni berbuat sekehendak hatinya dalam mengambil
makanan. Jika Rasul Allah SAW. tidak segera memberi peringatan tentulah Umar bin Abi
Salamah akan terus menerus berbuat seperti yang dilakukannya dan bahkan akan
memandang perbuatannya itu sebagai hal yang biasa dan baik.
            2. Menjelaskan yang salah sebagai salah
Anak perlu mendapat penjelasan tentang perbuatan-perbuatan atau tingkah laku yang
benar dan yang salah, meskipun penjelasan tersebut harus disampaikan dengan cara dan
materi yang sesuai dengan tingkat kemampuan akal dan mentalnya. Kepada anak yang,
misalnya, berjalan lalu lalang saja – tanpa hormat – di depan orang-orang tua didalam
majelis atau didepan tamu yang berkunjung dirumah, perlu diberi peringatan dengan
lembut di depan tamu, tetapi denga keras dan tegas setelah mereka pulang. Kepada anaka
ada baiknya diterangkan kandungan hadits Nabi yang berbunyi443 :




Artinya:
   “ Tidak termasuk kelompok (umat) kami, orang yang tidak sayang kepada yang kecil
   dan yang tidak hormat kepada orang-orang tua.”
   (H.R. At-Tarmidzi dari Anas bin Malik).


        Anak perlu mengerti bahwa lalu lalang didepan orang tua atau tamu, membuat
keributan pada waktu orang tua sedang bermusyawarah, membuat gaduh di Majelis
Ta‟lim dimasa guru sedang mengajar, becanda atau ribut di rumah orang lain, suka
berkelahi, bolos sekolah dan sebagainya merupakan perbuatan-perbuatan salah yang
terlarang. Ia karenanya, sejak awal sudah harus diberi pengertian tentang perbuatan
atau kelakuan yang negatif itu serta dibiasakan untuk tidak melakukannya. Dan sejak itu
pula ia harus tahu bahwa ia pasti akan mendapat hukuman atas perbuatan dan
kelakuannya yang salah.
             3. Mengalihkannya segera dari yang salah kepada yang benar dan positif.
Orang tua, berbuat atau berkelakuan yang negatif,tidaklah memadai dengan hanya
melarang atau menghukum saja melainkan sebaliknya harus mengalihkan kepada
perbuatan dan kesibukan yang sifatnya positif. Untuk contoh baiklah diturunkan di sini
suatu peristiwa yang terjadi di masa Rasul Allah SAW.444 :




Artinya :
   “ Ibnu „Abbas ra. Mengatakan bahwa Al-fadhal sedang menemani Rasul Allah SAW.
   tiba-tiba datanglah seorang perempuan dari kahts‟am. Al-fadhal lalu melihat (bagai
   terpaku kepada) perempuan itu. Dan (sebaliknya) perempuan itupun melihat

       443
             Al-Sayuthi, II, Op. Cit. , hal. 128.
       444
             ‗Abdullah ‗Ulwan, II, Op.Cit. , hal. 764
                                                                                   206




   kepadanya. Rasul Allah lalu memalingkan wajah Al-fadhal kearah yang lain.
   Perempuan itu bertanya : „ya Rasul Allah, diantara yang diwajibkan Allah kepada
   hamba-Nya adalah hajji. Tetapi ayah saya kini sudah sangat dha‟ifsehingga tidak
   mampu duduk diatas kendaraan (hewan). Bolehkah saya menunaikan hajji untuknya?
   Rasul Allah SAW. menjawab : „boleh‟. Peristiwa ini terjadi pada waktu hajji wada‟ “.
   (H.R. Al-Bukhari).


Dalam itu kelihatan bahwa Rasul Allah SAW. memperingatkan temannya, Al-fadhal, dari
suatu perbuatan salah, yaitu melihat perempuan (tentulah lihat yang mengandung
makna), dengan tindakan kongkrit, yaitu dengan membelokkan wajahnya kearah lain.
Oleh karena itu mendidik anak dalam rumah tangga sering harus dengan tindakan
kongkrit, sebagaimana terlihat dalam hadits itu. Untuk itu, dibawah ini dikemukakan
beberapa contoh:
        Anak yang sudah mulai memaki-maki perlu diperingatkan agar berhenti. Ia
segera dialihkan untuk mengatakan atau mengucapkan kata-kata yang sopan dan baik-
baik. Jika ia masih membandel dengan memaki-maki perlu segera ditutup mulutnya dan
tidak dibuka sampai ia berjanji tidak akan mengulanginya lagi.
        Anak yang sudah mulai berkelompok dengan anak-anak jahat atau berandalan
perlu segera diperingatkan supaya memisahkan dirinya dari mreka. Bahkan perlu segera
ditarik tangannya untuk dikembalikan ke rumah guna menegaskan peringatan tadi. Ia
segera dialihkan untuk bergaul dengan teman-teman yang lebih baik. Jikalau ia berani
melanggar maka ia harus segera dihukum, misalnya, dengan mengurungnya di rumah
dan, jika perlu, lebih keras lagi.
       Anak yang sudah berani mengambil uang tanpa izin dari saku ayah atau tas ibu,
meskipun dalam jumlah kecil, perlu ditangkap tangannya dengan kuat dan segera diberi
peringatan agar ia tidak mengulanginya. Jika ternyata ia masih mengulanginya maka ia
perlu segera dihukum dengan, misalnya, mengikat tangan dan atau kakinya beberapa
menit atau lebih sampai ia jera.
             4. Menjelaskannya karena berbuat salah
Jika kelihatan bahwa anak suka mengejek atau merendahkan anak lain, maka pada tahap
pertama ia perlu mendapat peringatan agar negubah sikapnya. Jika masih berulang, ia
perlu diberi peringatan leh keras, misalnya denganmemperlihatkan kekurangan-
kekurangan yang ada pada dirinya sendiri dan, jika perlu iapun dihina dan dijelekkan.
Sebagai contoh untuk itu, dibawah ini diketengahkan suatu peristiwa yang terjadi dimasa
Rasul Allah SAW.445 :




       445
             Loc. Cit.
                                                                                 207




Artinya:
   “Abu Dzar ra. Berkata : saya sedang saling memaki dengan seorang laki-laki, lalu
   saya menghinanya melalui ibunya (Abu Dzar mengatakan: Hai, anak perempuan
   hitam), (mendengar itu) Rasul Allah SAW. segera berkata : „pantaskah engkau
   menghinanya dengan menyebut ibunya? Engkau sendiri masih mempunyai sifat
   jahiliyah. Saudara-saudaramu masih menjadi hamba sahayamu. Maka barang siapa
   saudaranya menjadi hamba sahayanya hendaklah ia memberi makan seperti yang ia
   makan dan memberinya pakaian seperti yang ia pakai dan janganlah kamu
   membebani mereka dengan pekerjaan yang mereka tidak mampu melaksanakannya.
   Dan jika kamu membebanmi mereka sesuatu pekerjaan maka haruslah kamu
   membantu mereka”. (H.R. Al-Bukhari)


Hukum dalam bentuk ejekan, seperti yang terlihat dalam hadits itu, dapat dijadikan
contoh bagi setiap orang tua dalam menjatuhkam hukuman berbentuk ejekan kepada
anaknya. Perbuatan salah atau kelakuan yang tidak wajar memang selalu harus
dipandang tidak baik dan, karenanya, harus dicaci dan dipandang hina, termasuk pelaku
dan para penunjangnya. Hukuman tersebut, seperti halnya dengan hukuman brntuk
lainnya, tidak boleh melebihi batas kewajaran, kecuali jika anak yang bersangkutan
ternyata memerlukan hukuman yang lebih keras. Dalam hal ini, hukuman kurungan di
rumah atau, jika perlu, pukulan mungkin sekali lebih sesuai.
Dalam kasus, misalnya, anak malas belajar, orang tua dapat mebnghukumnya dengan
menjelekkan sifat malasnyaitru. Jika ia membandel maka orang tua dapat
menghukumnya dengan mengejeknya sebagai anak pamalas. Akan tetapi dalam waktu
yang sama orang tua harus berusaha mengalihkannya kepada kegiatan-kegiatan yang
menggiringnya ke arah aktif dan rajin. Dan manakala tanda-tanda perbuatan ke positif
mulai terlihat maka orang tua harus dengan segera memujinya serta memberikan
dorongan-dorongan seperlunya.
            5. Menghukum dengan cara mengasingkan anak
Jika dengan semua hukuman yang tersebut itu anak masih tetap membandel maka
hukuman berikutnya harus diperberat, yaitu mengasingkannya dari pergaulan dalam
rumah tangga. Sebagai anak, biasanya, ia akan merasa amat tersiksa dengan hukuman
itu, terutama setelah melihat semua anggota keluarga memalingkan diri daripadanya dan
tidak mau berbicara atau bermain-main dengannya.
Anak yang masih berada dalam tingkat umur menangis akan memperotes hukuman itu
dengan menangis. Anak yang lebih tua akan memperotesnya dengan cara yang dapat ia
lakukan supaya hukumam itu diakhiri. Dalam kondisi semacam itu orang tua mendapat
moment yang tepat untuk menjelaskan kepada anaknya tentang sebab mengapa ia
dihukum dengan cara pengasingan itu. Dengan demikian ia diharapkan mengerti dan
berubah kearah lebih baik.
Hukuman dalam bentuk pengasingan itu pernah dilakukan oleh Rasul Allah SAW. atas
seorang bernama Ka‟ab bin Malik446 :




       446
             ‗Abdullah ‗Ulwan, II, Op. Cit. , hal. 768.
                                                                                                    208




Artinya:
   “ Al-bukhari dan muslim meriwayatkan bahwa Ka‟ab bin Malik, karena minggat lari
   peperangan Tabuk tanpa sesuatu halangan, telah diperintahkan oleh Nabi untuk
   mengasingkannya selama lima puluh hari. Maka selama masa tersebut Ka‟ab tetap
   dalam pengasingan penuh karena tidak seorangpun dari kami menemani dan memberi
   salam kepadanya sehingga dunia, semakin luas, telah terang olehnya sangat sempit.
   Setelah rosul Allaah mengumumkan tobatnya telah diterima oleh Allah, maka Ka‟ab
   berkata :‟Saya pergi menemui Rasul Allah, sedangkan kawan-kawan menemuiku
   beramai-ramai mengucapkan selamat atas penerimaan tobatku itu. Mereka semua
   mengatakan : bergembiralah, karena Allah telah menerima tobatmu – sampai dengan
   saya masuk masjid. Pada waktu itu Rasul Allah telah dikelilingi oleh sahabat-
   sahabatnya. Thalhah ibn „Ubaid segera berdiri dan bergegas menjabat tangan ku
   serta mengucapkan selamat‟.
       Ka‟ab melanjutkan : „saya mengucapkan selamat kepada Rasul Allah. Dengan
   wajah berseri karena gembira, ia berkata : „ Bergembiralah dengan hari yang paling
   baik sejak engkau dilahirkan ibumu‟. Sayapun berkata : Apakah berita gembira ini
   dari anda, ya Rasul Allah, ataukah dari Allah? Rasul Allah menjawab : „ Tidak (dari
   saya), tetapi dari Allah SWT. „Rasul Allah, apabila wajahnya berseri, terlihat seperti
   sebuah bulan dan kami (semua) mengetahui hal itu …‟ (H.R. Al-bukhari dan Muslim).
       Hadits diatas memperlihatkan bahwa Nabi SAW. pernah menjatuhkan hukuman
dalam bentuk pengasingan dari pergaulan atas sahabatnya yang berbuat salah dengan
maksud agar yang bersangkutan, setelah merasakan beratnya hukuman, berusaha
mengubah dirinya kearah yang lebih baik (khairat). Oleh karena itu, dalam kegiatan
mendidik anak, hukuman dengan teknik pengasingan tersebut dapat diikuti, jika terasa
baik dan perlu.
            6. Menghukum dengan pukulan.
Jika semua rangkaian hukuman yang tersebut terdahulu, karena kenakalan anak, sudah
dilakukan stu demi satu setiap kali ia berbuat salah, biasanya, terjadilahperubahan
tingkah lakunya kearah yang lebih baik. Namun demikian, jika anak masih membandel
dan tetap dalam kelakuanya yang tercela, maka tiada jalan lain bagi orang tua kecuali
menjatuhkan hukuman yang lebih berat, yaitu hukuman fisik dengan pukulan.
Hukuman pukulan, dalam sejarah pendidikan islam, sebenarnya didasarkan kepada
sebuah hadits Nabi SAW. yang mengadung makna perintah memukul anak yang sudah
mencapai umur 10 tahun yang dengan sengaja meninggalkan shalat. hadits tersebut
berbuyi447:


       447
             Lihat ‗Abdullah ‗Ulwan, II, Op. Cit. , hal. 766. Lihat juga Al-Sayuthi, II, Op. Cit. , hal.
155
                                                                                           209




Artinya:
“ Umar bin Syu‟aib (yang menerima hadits ini) dari ayahnya (dan ayahnya ini
menerima) dari kakaknya, bahwa Rasul Allah SAW. bersabda : perintahkanlah anak-
anakmu mendirikan shalat pada waktu mereka berumur 7 tahun dan pukulah mereka
karena meninggalkannya pada waktu mereka berumur 10 tahun”. (H.R. Abu Dawud dan
Al-hakim).
        Perintah mendirikan shalat pada waktu anak berumur 7 tahun, seperti terlihat
pada hadits tersebut sama sekali tidak berarti melarang mengajak, membujuk,
membimbing dan bahkan memerintahkan anak untuk mendirikannya pada umur-umur
sebelumnya. Pendidikan dalam bentuk pembiasaan dan latihan untuk shalat sudah harus
dimilai sedini mungkin dan hukuman-hukuman selain pukulan sudah dapat dilakukan,
seperti memperlihatkan rasa tidak senang, menegur, memperingatkan dengan tegas,
mengasingkan pergaulan dan sebagainya, bilamana anak meninggalkannya. Bahkan
hadits tersebut tidak mengandung makna larangan untuk menjatuhkan hukuman pukulan
atas anak berumur 7-10 tahun (malah sebelum atau sesudahnya) yang meninggalkan
shalat. Oleh karena itu, orang tua boleh sajah melakukannya, asalkan tetap menjaga
batas-batas kewajaran.
        Hadits tersebut – disamping mengandung hikmah-hikmah yang hanya Allah dan
Rasul-Nya lebih mengetahuinya – memberi petunjuk atas bolehnya memukull anak
apabila ia membandel dalam artinya yang luas, yaitu bukan saja meninggalkan shalat
tetapi juga karena tidak mau berakhlak baik atau mengamalkan ajaran agama pada
umumnya. Sedang cara-cara menghukum dengan pukulan harus berurutan, mulai dari
yang paling ringan sampai kepada yang berat dan yang paling berat.
       Para ahli didik muslim telah mengatur urutan hukuman dengan pukulan, dengan
berpedoman pada ajaran Nabi SAW. sebagai berikut :
    a. Tidak boleh tergopoh-gopoh menghukum dengan pukulan, kecuali setelah
    hukuman-hukuman bentuk lainnya tidak bermakna lagi bagi memperbaiki akhlak dan
    tingkah laku keagamaan anak.448
    b. Tidak boleh melakukan hukuman pukulan dalam keadaan sedang marah, karena
    mungkin sekali pukulan yang dilakukan akan melebihi batas yang diperlukan.449
    c. Hukuman dengan pukulan tidak boleh mengenai bagian-bagian yang peka
    daripada badan anak, misalnya kepala, muka, dada dan perut.450

        448
              ‗Abdullah ‗Ulwan, II, Op. Cit. , hal. 769.
        449
              Didalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Al-bukhari terdapat penjelasan bahwa
Nabi SAW. sangan melarang marah. Bahkan dalam hadits lainnya terdapat larangan bagi para
hakim untuk memutuskan perkara dalam keadaan marah. Demikian juga dalam keadaan sedang
lapar. lihat ‗Abdullah ‗Ulwan, II, loc. Cit.
          450
              Didalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud terdapat penjelasan bahwa
Rasul Allah SAW. melarang memukul muka. Sedang kepala, dada dan perut termasuk yang
terlarang untuk dipukul karena akan mengakibatkan kemudharatan (bahaya) yang mungkin sekali
                                                                                    210




    d. Pada hukuman pertama pukulan itu haruslah yang seringan-ringannya, misalnya
    dengan cemeti yang tidak terlalu keras dan dikenakan dibagian kedua tangan atau
    kedua kakinya serta tidak lebih dari dua sampai tiga kali. Jika sangan diperlukan,
    tidak pula boleh lebih dari sepuluh kali,451 untuk sekali hukuman. Orang tua tidak
    boleh mundur atau berhenti dari melakukan hukuman pukulan tersebut selama
    anaknya masih tetap membandel dalam tingkah lakunya yang tidak baik.
    e. Hukuman pukulan hendaknya tidak dilakukan kecuali atas anak yang telah
    berumur 10 tahun, sesuai dengan hadits Nabi SAW. namun demikian, penulus
    berpendapat bahwa hadits Nabi tersebut tidak mengandung makna larangan untuk
    melakukan hukuman pukulan itu sebelumnya, jika memang benar-benar di perlukan
    dan dilakukan oleh orang tua yang sungguh-sungguh mendidik.452
    f. Hukuman pukulan atas anak harus dilakukan oleh orang tua sendiri secara
    langsung. Ia tidak boleh mewakilkan pelaksanaan hukuman pukulan itu atas anaknya
    kepada orang lain, walaupun kepada anaknya yang tertua.453
    g. Apabila anaka telah meningkat remaja (misalnya remaja pertama) dan terlihat
    masih membandel dalam kelakuannya yang tercela maka orang tua dibolehkan dan
    bahkan diharuskan menambahi pukulannya sampai lebih dari sepuluh kali dan
    memperberatnya serta mengulanginya setiap kali anaknya berbuat salah sampai
    terlihat adanya perubahan tingkah laku anaknya ke arah positif.454
    Hukuman-hukuman tersebut, jika dilakukan secara konsisten sesuai dengan urutan
    dan ketentuannya, dapat lebih diharapkan akan mendatangkan hasil yang baik, yaitu
    bahwa anak yang membandel dalam kelakuannya yang tercela akan dapat
    dikembalikan oleh orang tuanya kepada jalan yang lurus dan benar. Yang
    dimaksudkan dengan konsisten tersebut adalah bahwa orang tua tetap melakukan
    hukuman setiap kali anaknya berbuat salah. Sedang dengan berurutan dimaksudkan
    bahwa orang tua dalam menghukum tersebut tidak mendahulukan hukuman yang
    berat atas hukuman yang ringan.
    Seandainya dengan semua hukuman itu telah dilakukan, anak masih tetap keras
    kepala dan bandel, maka anak tersebut sudah dapat dikategorikan ke dalam kelompok
    anak jahat atau kriminil yang perbaikan kelakuannya hanya dapat dilakukan melalui
    pendidikan di penjara atau Lembaga Pemasyarakatan. Anak semacam itu sudah perlu
    diadili oleh Mahkamah Pengadilan (anak) dan di hukum sesuai dengan ketentuan
    yang berlaku.




fatal. Larangan ini, karenanya, terkategori ke dalam kandungan umum maknahadits Nabi :La
dharara wa la dhirara. ‗Abdullah ‗Ulwan, II, loc. Cit.
         451
             ‗Abdullah ‗Ulwan, II, Op. Cit. , hal. 770.
         452
             Lihat Disertasi ini hal. 406-407
         453
             ‗Abdullah ‗Ulwan, II, hal. 770.
         454
             loc. Cit.
211

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:497
posted:10/19/2011
language:Indonesian
pages:146