; skripsi ayam
Documents
Resources
Learning Center
Upload
Plans & pricing Sign in
Sign Out
Your Federal Quarterly Tax Payments are due April 15th Get Help Now >>

skripsi ayam

VIEWS: 52 PAGES: 19

  • pg 1
									                         II. METODE PENELITIAN


1. Lokasi, Objek dan Ruang Lingkup Penelitian
      Penelitian   ini   dilakukan   di     Kecamatan   Seumelu    Timur
Kabupaten Seumelu. Penentuan lokasi ini dengan pertimbangan
bahwa daerah ini merupakan salah satu sentral produksi cengkeh di
Kecamatan Seumelu Timur dan merupakan salah satu pemasok
utama cengkeh untuk wilayah Kabupaten Seumelu.
      Objek   penelitian    ini    adalah    masyarakat   petani    yang
berusahatani cengkeh yang tinggal dilokasi penelitian.
      Ruang lingkupnya terbatas pada aspek penggunaan lahan
marginal, modal dan tenaga kerja serta pendapatan petani cengkeh di
Kecamatan Seumelu Timur Kabupaten Seumelu.
2. Populasi, Metode Pengambilan Contoh dan Besarnya Contoh.
      Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh petani yang
memiliki usahatani cengkeh yang berada pada lokasi penelitian yaitu
di Kecamatan Seumelu Timur sebanyak 102.
      Penentuan petani sampel dilakukan secara acak sederhana
(Simple Random Sampling). Jumlah petani sampel yang ditetapkan
sebesar 20% dan jumlah petani yang mengusahakan usahatani
cengkeh pada lahan marginal yang berada di tiap-tiap desa yang ada
dilokasi penelitian. Dengan demikian jumlah petani sampel adalah 20
orang.
3. Metode Pengambilan Data.
      Pengumpulan data primer dilakukan secara wawancara dan
menggunakan daftar pertanyaan yang telah dipersiapkan terlebih
dahulu sesuai dengan tujuan penelitian. Data sekunder diperoleh
dari instansi terkait dan leteratur serta laporan-laporan yang erat
kaitannya dengan penelitian ini.
4. Konsep Operasional Variabel.
      Variabel-variabel yang dipergunakan dalam penelitian ini dapat
dioperasionalkan sebagai berikut :
1. Modal adalah banyaknya unag/biaya yang dimiliki oleh petani
  yang digunakan untuk biaya produksi cengkeh. Modal yang
  dihitung dalam penelitian ini dinyatakan dalam Rp/bulan.
2. Luas lahan garapan adalah luas seluruh lahan marginal yang
  dimiliki petani dan digunakan untuk proses produksi cengkeh
  yang dinyatakan dalam hektar (Ha).
3. Tenaga kerja adalah pencurahan tenaga kerja pada usahatani
  cengkeh mulai dari pengolahan tanah sampai pemungutan hasil,
  dengan satuan pengukuran HKP/UT/MT. Pengukuran jumlah HKP
  dilakukan dengan formula sebagai berikut :
     L=txhxj
              w
Dimana :
     L = Hari Kerja Pria (HKP)
     t = Jumlah Tenaha Kerja (orang)
     h = Jumlah Jam Kerja (jam)
     j = Jumlah Hari Kerja (jam)
     w = Jumlah Rata-rata Jam Kerja/hari/orang
4. Biaya produksi adalah keseluruhan biaya yang dikeluarkan oleh
  petani dalam proses produksi yang dinyatakan dalam Rp/UT/MT.
5. Nilai produksi adalah hasil kali antara produksi dengan harga
  cengkeh per kilogram dinyatakan dalam Rp/kg/MT.
6. Pendapatan adalah selisih antara nilai produksi dengan biaya
  produksi yang dikeluarkan yang dinyatakan dalam Rp/UT/MT/
5. Model dan Metode Analisis.
     Data     yang   telah   diperoleh   dari   lapangan   diolah   dan
ditabulasikan ke dalam bentuk tabelasis sesuai dengan kebutuhan
analisis. Untuk menguji hipotesis digunakan regresi linear berganda
dengan tiga variabel bebas dan satu variabel terikat, dengan
persamaan :
            Y = a0 + a1 X1 + a2 X2 + a3 X3 + e
Dimana :
            Y = Pendapatan (Rp/Ha/Mt)
              X1 = Luas Lahan (Ha)
              X2 = Modal (Rp)
              X3 = Tenega Kerja (HKP/MT)
              A0 = Konstanta (Intercept)
      A1, a2, a3 = Parameter yang dicari
               e = Faktor yang tidak terobservasi.
      Untuk mengetahui besarnya variabel             bebas (Xi) terhadap
variabel terikat (Y) secara serempak digunakan uji "F" yaitu :
      R2 = JK (Reg)/K
              JK (sisa)/n-k-1                        ……….        (Sudjana,
1991 : 75)
Dengan kaedah keputusan :
Jika F cari > F0,05 maka terima Ha tolak Ho
Jika F cari < F0,05 maka terima Ho tolah Ha
      Untuk melihat keeratan hubungan antara variabel bebas
dengan variabel terikat dianalisis dengan Koefisien ®. Perhitungan
Koefisien     Korelasi   berdasarkan       pada   perhitungan    koefisien
Determinasi (R²) dengan Formula :
      F = JK (Reg)
             JK total
Rimana :
      R² = Besarnya Persentase penentuan variabel terikat (Y) yang
             dipengaruhi variabel bebas (X).
      R = Besarnya keeratan hubungan antara variabel bebas (X1
             X2 X3) secara serempak dengan variabel terikat (Y).
      Untuk mengetahui pengaruh secara parsial digunakan uji "t"
dengan rumus :
      T = ai
             Sai
Dimana :
      t = Uji secara parsial
      ai = Parameter yang dicari
      S = Standar Deviasi
Kaedah Penganbilan Keputusan :
Jika t-cari > t0,05 maka terima Ha tolak Ho
Jika t-cari < t0,05 maka terima Ho tolak Ha
Dimana :
Ho : ai = 0 :          Besarnya modal, luas lahan dan tenaga kerja yang
            digunakan tidak berpengaruh nyata terhadap pendapatan
            petani cengkeh di Kecamatan Seumelu Timur.
Ho : ai ≠ 0 : Besarnya modal, luas lahan dan tenaga kerja yang
            digunakan         berpengaruh nyata terhadap pendapatan
            petani cengkeh di Kecamatan Seumelu Timur.




                III.   KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN
1. Luas dan Penggunaan Lahan.
      Kecamatan Seumelu Timur merupakan salah satu kecamatan
dalam wilayah Kabupaten Seumelu, terletak diarah Utara dari
Kabupaten Seumelu. Jarak Kecamatan Seumelu Timur ke Kabupaten
Seumelu adalah 10 km, yang dapat ditempuh dalam 15 menit
perjalanan dengan menggunakan sepeda motor.
      Luas keseluruhan wilayah Seumelu Timur adalah 84.066 Ha,
terbagi atas 75 desa dengan 6.840 Rumah tangga dan berpenduduk
31,899 jiwa. Adapun batas administrasi adalah sebagai berikut :
- Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Teunom
- Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Teunom
- Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Teunom
- Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Teunom
      Ditinjau dari peruntukan penggunaan tanah sebagian besar
tanah di Kecamatan Seumelu Timur berupa tanah tegalan. Untuk
lebih jelasnya mengenai persentase luas areal dan penggunaan tanah
di Kecamatan Seumelu dapat dilihat pada Tabel 3 berikut :
Tabel 3.      Luas Areal dan Jenis Penggunaan Tanah di Kecamatan
        Seumelu Timur Tahun 2005.
No.        Jenis Penggunaan           Luas (Ha)        Persentase (%)
 1.   Tanah Sawah                      1.913                3,07
 2.   Tanah         Tegalan/Tanah      50.652              81,17
 3.   Basah                            1.873                3,00
 4.   Perumahan/Perkarangan            6.500               10,42
 5.   Perkebunan                       1.380                2,21
 6.   Hutan                              82                 1,13
      Lain-lain
                  Jumlah               62.400              100,00
Sumber :      Kantor Camat Seumelu Timur di Kecamatan Seumelu
        2005 (diolah)
      Data pada Tabel 3 tersebut memperlihatkan bahwa persentase
penggunaan tanah tersebut terdapat pada penggunaan untuk tegalan
yang mencapai 50,652 Ha atau 81,17% dari luas daerah Kecamatan
Seumelu Timur. Sedangkan tanah perkarangan 3,00%, tanah sawah
3,07, perkebunan 10,42, ditinjau dari tegalan yang begitu besar yaitu
mencapai 50,652 Ha atau 81,17% dari luas Kecamatan Seumelu
Timur. Maka masih sangat besar peluang yang tersedia untuk
memanfaatkan potensi areal tegalan tersebut untuk usaha-usaha
yang produktif dan bermanfaat untuk kesejahteraan masyarakat tani
dan pembangunan nasional.
2. Keadaan Tanah
      Wilayah Kecamatan Seumelu Timur sebagian besar diliputi oleh
daerah dataran sampai berombak. Keadaan topografi atau ketinggian
tempat berada sekitar 0,80 meter diatas    permukaan laut, dengan
keadaan     permukaan      tanahnya   adalah      datar,   landai   dan
bergelombang.
      Dengan keadaan tanah seperti ini menyebabkan wilayah
Kecamatan Seumelu Timur semakin cocok bagi areal pengembangan
berbagai jenis kegiatan usahatani.
3. Penduduk dan Mata Pencaharian.
      Penduduk merupakan jumlah orang yang bertempat tinggal di
suatu wilayah pada waktu tertentu dan merupakan hasil proses-
proses demografi yaitu mortalitas dan migrasi. Bagi penduduk usia
produktif dalam penyediaan lapangan kerja yang tidak terlepas dari
kesempatan memperoleh pengetahuan, latihan dan keterampilan
guna mendapatkan jenis mata pencaharian yang sesuai.
      Berdasarkan mata pencaharian, penduduk di Kecamatan
Seumelu mempunyai mata pencaharian yang utama dan tersebar
disektor pertanian. Pada Tabel 2 berikut memperlihatkan bahwa
tingkat partisipasi angkatan kerja di Kecamatan Seumelu Timur
sebesar …… jiwa yang bekerja sebagai         petani. Hal tersebut jelas
memperlihatkan bagaimana pentingnya sektor pertanian didalam
tingkat kesejahteraan penduduk di wilayah Kecamatan Seumelu.
Untuk itu diperlukan usaha-usaha yang memacu kepeningkatan
keterampilan dan kemampuan dalam meningkatkan taraf hidup
masyarakat, serta adanya pengembangan penyerapan tenaga kerja di
sektor-sektor lainnya dan sekaligus peningkatan kualitas mata
pencaharian penduduk itu sendiri.
Tabel 4.       Keadaan Penduduk dan Mata Pencaharian di Wilayah
        Kecamatan Seumelu Timur Tahun 2005.
No.        Mata Pencaharian            Jumlah (Jiwa)      Persentase (%)
 1.   Petani                              4.713                 66,02
 2.   Pegawai Negeri                       4192                  5,87
 3.   Pedagan                              872                  12,21
 4.   Tukang                               312                   4,43
 5.   Pensiunan                            112                   1,57
 6.   Buruh                                241                   3,42
 7.   Industri                             350                   4,90
 8.   Lain-lain                            120                   1,70
                  Jumlah                  7.139                 100,00
Sumber :       Statistik   Kecamatan   Seumelu    Timur    di    Kabupaten
        Seumelu 2005 (diolah)
                IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


1. Karakteristik Petani
      Tingkat produksi sekaligus pendapatan petani yang diusahakan
turut dipengaruhi oleh karakteristik petani yang mengusahakan.
Dalam penelitian ini, unsur-unsur karakteristik petani yang dianalisa
meliputi    :    umur,      pendidikan,    pengalaman,     besarnya     jumlah
tanggungan dan luas lahan garapan, yang meliputi hubungan dengan
kemampuan petani            dalam   mengalokasikan       sumber   daya    yang
dimiliki.
      Suharjo dan Patong (1973 : 51), mengatakan bahwa umur
petani akan mempengaruhi kemampuan fisik bekerja dan cara
berfikir. Petani yang lebih muda biasanya cenderung lebig agresif dan
lebih dinamis dalam berusahatani bila dibandingkan dengan petani
yang lebih tua. Disamping itu, umur juga mempengaruhi seorang
petani dalam mengelola usahataninya. Petani dengan umur yang
relatif lebih muda akan mampu bekerja keras bila dibandingkan
dengan petani yang lebih tua.
      Tingkat pendidikan merupakan faktor yang menentukan dalam
kemampuan             seorang   petani    mengadopsi     teknologi.     Tingkat
pendidikan yang rendah akan mengakibatkan daya serap petani
terhadap perkembangan teknologi menjadi lamban. Dari itu terjadi
kesulitan       dan    membutuhkan        waktu   yang   lama   untuk    dapat
mengadopsi hal-hal yang baru. Semakin tinggi tingkat pendidikan
seseorang maka akan semakin tinggi kemampuan yang dimilikinya
dalam mengembangkan dan menerapkan segala sesuatu yang
menyangkut usahataninya.
      Jumlah tanggungan atau jumlah orang yang menjadi tanggung
jawab petani terhadap kelangsungan hidup dan pendidikannya juga
mempengaruhi pendapatan dan pengeluaran keluarga petani. Jumlah
tanggungan juga merupakan aset tersendiri bagi keluarga petani.
Dengan jumlah tanggungan yang besar maka petani akan memiliki
tenaga kerja dalam keluarga yang lebih besar pula. Hal ini akan
berpengaruh terhadap biaya tidak tunai yang sebenarnya termasuk
dalam penerimaan keluarga tani.
      Pengalaman      dalam       berusahatani        juga    menentukan
keberhasilan suatu usahatani. Petani dengan pengalaman kerja yang
lebih lama akan lebih mudah mengambil keputusan yang baik pada
saat yang tepat. Selain dari pada itu pengalaman seseorang
merupakan       indikator       terhadap      kemampuannya            dalam
mengembangkan usahataninya. Dengan pengalaman yang lebih lama,
pengalokasian sumber daya yang dimiliki akan lebih efektif.
      Jumlah tanggungan yang relatif besar akan menekan biaya
produksi yang dibayarkan petani akan kecil. Dengan penambahan
tenaga kerja dalam keluarga akan menambah pendapatan yang
diterima petani. Keseriusan dalam penerapan teknologi juga akan
semakin baik apabila         diusahakan oleh        anggota keluarga     bila
dibandingkan dengan tenaga kerja borongan (luar keluarga). Data
karakteristik petani sampel usahatani cengkeh di daerah penelitian
tercantum pada Lampiran 1. Rata-rata karakteristik petani sampel di
daerah penelitian diperlihatkan pada Tabel 5 berikut.
Tabel 5.     Rata-rata Karakteristik Petani Sampel pada Usahatani
       Cengkeh di Daerah Penelitian Per Musim Tanam Tahun 2005.
No.          Karakteristik                 Satuan            Rata-rata
 1.   Umur                                 Tahun              41,15
 2.   Pendidikan                           Tahun               9,15
 3.   Jumlah Tanggungan                     Jiwa               4,15
 4.   Pengalaman Petani                    Tahun               15,2
 5.   Luas Garapan                         Hektar              0,38


      Berdasarkan Tabel 5 diatas terlihat bahwa rata-rata umur
petani sampel di daerah penelitian 41,15 tahun, hal ini membuktikan
bahwa rata-rata usia petani sampel masih tergolong usia produktif,
Sukirno (1978 : 186) menyatakan umur produktif di negara
berkembang antara 15 – 59 tahun. Rata-rata tingkat pendidikan
petani sampel di daerah penelitian adalah 9,15 tahun, bearti telah
menamatkan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama.
       Seperti telah diuraikan diatas bahwa pengalaman petani turut
mempengaruhi kemampuan petani dalam menerima inovasi baru
dalam upaya peningkatan produksi. Rata-rata pengalaman bertani
petani sampel adalah 15,2 tahun. Keadaan ini menunjukkan bahwa
petani     sampel    telah    cukup   berpengalaman    dalam     mengelola
usahataninya. Rata-rata tanggungan keluarga petani sampel di
daerah penelitian adalah 4 jiwa. Dengan jumlah tanggungan yang
kecil, pencurahan tenaga kerja dalam keluarga relatif lebih kecil pula.
2. Luas Lahan Garapan.
       Keseluruhan areal yang digarap petani untuk usahatani
cengkeh dalam satu kali musim tanam merupakan luas lahan
garapannya. Luas lahan yang diusahakan oleh petani sampel sangat
bervariasi. Pada umumnya petani sampel merupakan pemilik lahan
atau bukan sebagai penyewa, penyakap atau sebaliknya. Pada daerah
penelitian ini luas lahan pada umumnya merupakan lahan sedang.
Rata-rata luas lahan garapan petani sampel di daerah penelitian
adalah 0,38 Ha. Hernanto (1989 : 46) menyatakan bahwa yang
termasuk golongan lahan luas adalah lahan yang lebih dari 2 hektar,
golongan lahan sedang antara 0,5 sampei 2 hektar dan golongan
lahan sempit kurang dari 0,5 hektar. Luas lahan garapan pada
penelitian ini berkisar antara 0,25 – 0,75 Ha. Adapun jumlah petani
sampel berdasarkan golongan luas lahan garapan dapat dilihat pada
Tabel 6 berikut.
Tabel 6.      Jumlah     Petani   Sampel    pada     Usahatani    Cengkeh
         Berdasarkan Kriteria dan Luas Lahan Garapan di Daerah
         Penelitian Tahun 2005.
 No.        Kriteria Luas Lahan            Jumlah          Persentase
                    Garapan                (Orang)               (%)
  1.     Sempit (0,5)                        11                  55
  2.     Sedang (0,5 – 2)                     9                    45
  3.     Luas (>2)                            0                    0
         Jumlah                               20               100


       Tabel 6 memperlihatkan bahwa 55% petani sampel memiliki
lahan sempit dan 45% merupakan penggarap lahan sedang. Dari
semua petani sampel di daerah penelitian tidak ada yang memiliki
lahan dengan kriteria luas.
3. Penggunaan Tenaga Kerja.
       Berdasarkan pencurahan tenaga kerja dari setiap jenis tenaga
kerja yang digunakan, maka seluruh unit satuan kerja dihitung
dengan mengkonversikan ke dalam Hari Kerja Pria (HKP) dengan rata-
rata waktu kerja 7 jam/hari/orang. Perbandingan pencurahan tenaga
kerja pria, wanita dan anak-anak didasarkan atas perkiraan upah
masing-masing. Tenaga kerja pria menerima upah Rp.5.000/hari,
wanita     Rp.4.000/hari    dan   anak-anak       Rp.3.000/hari.       Dengan
demikian perbandingan pencurahan        tenaga kerja pria, wanita dan
anak-anak adalah 1 : 0,8 : 0,6. Tenaga kerja yang dicurahkan dalam
usahatani cengkeh di daerah penelitian pada umumnya bersumber
dari dalam keluarga, hal ini disebabkan lahan yang digarap tidak
terlalu luas. Adapun jenis-jenis kegiatan yang dilakukan meliputi
pengolahan            tanah,         penanaman,              pemupukan,
penyiangan/pembumbunan, pemberantasan HPT dan pemanenan.
       Perincian pencurahan tenaga kerja menurut fase kegiatan di
daerah penelitian dapat dilihat pada Lampiran 2. Untuk distribusi
penggunaan tenaga kerja pada setiap fase kegiatan dapat dilihat pada
Tabel 7 berikut.
Tabel 7.      Rata-rata Penggunaan Tenaga Kerja per Usahatani dari
         Tiap-tiap Fase Kegiatan pada Usahatani Cengkeh per Musim
         Tanam di Daerah Penelitian Tahun 2005.


No.             Fase Kegiatan             Penggunaan Tenaga Kerja
                                              (HKP/UT/MT)

 1.   Pengolahan Tanah                             39,07
 2.   Penanaman                                    9,37
 3    Pemupukan                                    19,32
 4    Penyiangan/Pembumbunan                       12,21
 5    Pemberantasan HPT                            9,92
 6.   Pemanenan                                    10,03
      Total                                        99,92



      Dari Tabel 7 diatas terlihat bahwa rata-rata penggunaan tenaga
kerja per usahatani per musim tanam untuk seluruh jenis kegiatan
adalah sebesar 37,97 HKP. Tenaga kerja yang digunakan pada
kegiatan persiapan lahan di daerah penelitian relatif lebih besar
dibandingkan dengan pada fase kegiatan yang lainnya, yaitu 14,85
HKP dari jumlah total tenaga kerja yang digunakan pada usahatani
tersebut.
4. Penggunaan Sarana Produksi
      Sarana produksi yang digunakan dalam penelitian ini meliputi
bibit, pupuk kimia (Urea, SP 36, KCL, Pestisida dan Herbisida). Di
daerah penelitian petani menggunakan pestisida maupun insektisida,
hal ini disebabkan karena kebiasaan dan dari pengalaman petani
yang sudah sekian lama mereka jalani. Rata-rata penggunaan sarana
produksi pada daerah penelitian dapat dilihat pada Tabel 8.




Tabel 8.     Rata-rata Penggunaan Sarana Produksi per Usahatani
       pada Usahatani Cengkeh      di Daerah Penelitian per Musim
       Tanam Tahun 2005.


No.         Jenis Sarana         Satuan       Penggunaan Sarana
             Produksi                               Produksi
 1.     Benih                       Kg                60,52
 2.     Urea                        Kg                48,95
 3.     SP 36                       Kg                 100
 4.     KCL                         Kg                50,26
 5.     Herbisida                   ml                3,16
 6.     Insektisida                 ml                1,18


5. Biaya Produksi
        Biaya produksi yang diperhitungkan dalam penelitian ini
adalah seluruh pengeluaran yang dibayar tunai maupun tidak tunai
untuk satu kali musim tanam. Perhitungan didasarkan atas harga-
harga yang berlaku di daerah penelitian.
        Biaya yang diperhitungkan meliputi biaya tenaga kerja, biaya
sarana produksi dan biaya lainnya. Biaya tidak tunai adalah upah
tenaga kerja yang seluruhnya berasal dari dalam keluarga dan bunga
modal. Adapun biaya tunai yang dikeluarkan seperti pembelian
sarana produksi.
        Biaya-biaya lain adalah biaya yang dikeluarkan meliputi biaya
bunga modal. Bunga modal dihitung menurut bunga yang berlaku
untuk kredit usahatani di daerah penelitian yaitu sebesar 24% per
tahun. Besarnya bunga modal yang digunakan dalam penelitian ini
adalah sebesar 7% karena dihitung berdasarkan satu kali musim
tanam.
        Perincian penggunaan biaya produksi di daerah penelitian
tercantum pada Lampiran 5. Tabel 9 berikut memperlihatkan rata-
rata penggunaan biaya produksi di daerah penelitian musim tanam
2005.
Tabel 9.    Rata-rata Penggunaan Biaya Produksi per Usahatani
       pada Usahatani Cengkeh di Daerah Penelitian Musim Tanam
       Tahun 2005.


No.        Komponen Biaya               Biaya
                                      Tunai             Tidak Tunai
 1.   Tenaga Kerja                                          189.835
 2.   Sarana Produksi
      - Benih                            80.500
      - Pupuk Ure                         8.231
      - Pupuk TSP                        25.819
      - Pupuk KCL                        37.250
      - Herbisida                        42.825              28.956
 3.   - Insektisida                      29.000
      Lain-lain
      - Bunga Modal
      Total                            223.825              218.719


      Dari Tabel 9 menunjukkan bahwa pengeluaran terbesar dalam
penggunaan biaya produksi dikeluarkan dalam bentuk tunai. Biaya
tidak tunai terdiri dari biaya tenaga kerja karena tenaga kerja berasal
dari dalam keluarga dan bunga modal        merupakan modal sendiri.
Biaya tunai terdiri dari biaya     pembelian pupuk dan herbisida.
Besarnya biaya tunai yang dikeluarkan oleh petani sampel adalah Rp.
223.825 dengan biaya tidak tunai sebesar Rp. 218.791.
6. Produksi dan Nilai Hasil Priduksi
      Produksi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah jumlah
fisik yang dihasilkan dari usahatani cengkeh, Hernanto (1989 : 170)
menyebutkan konsep dasar didalam kegiatan ekonomi pada dasarnya
adalah fungsi produksi. Petani Indonesia umumnya tidak mengerti
tentang fungsi produksi. Dalam keseharian mereka bergelut dalam
hal    yang     menyangkut        produksi    dan     pengolahan   faktor-faktor
produksi dalam bentuk fisik. Misalnya luas lahan, batas lahan sawah,
kilogram pupuk dan bibit, serta berapa liter obat-obatan. Sebenarnya
mereka bergelut dengan fungsi pertanian yaitu produksi. Melalui
fungsi produksi itu dapat dilihat secara nyata bentuk hubungan
perbedaan jumlah dari faktor produksi dan sekaligus menunjukkan
produktivitas dari hasil itu sendiri.
       Tinggi     rendah    hasil    produksi       dalam   usahatani       sangat
tergantung pada sistem pengolahan usahatani dan dan pemakaian
sarana produksi. Tujuan peningkatan produksi dan produktivitas
yang    dihasilkan       adalah     untuk     peningkatan      pendapatan        dan
kesejahteraan petani. Dengan penggunaan paket teknologi yang
disarankan, diharapkan tujuan tersebut dapat tercapai.
       Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata produksi yang
dihasilkan      petani   sampel     masih     berada     dibawah   target    yang
diharapkan oleh pemerintah yaitu 1200 Kg/Ha. Sedangkan rata-rata
produksi per usahatani dan per hektar yang dihasilkan di daerah
penelitian dapat dilihat pada Tabel 10 berikut.
Tabel 10.       Rata-rata Produksi dan Produktivitas Cengkeh                     per
          Usahatani        dan per Hektar di Daerah Penelitian              Musim
          Tanam Tahun 2005.


No.               Uraian                           Satuan          Rata-rata
 1.    Luas Lahan                                   Ha                    0,38
 2.    Produksi                                     Kg               258,00
 3.    Produktivitas                               Kg/Ha             678,95


       Rata-rata produksi cengkeh per hektar yang dihasilkan belum
mencapai rata-rata produksi per hektar yang diharapkan oleh
pemerintah sebesar 1.200 Kg/Ha. Hal ini dapat merupakan akibat
dari    kurangnya        kemampuan           dan     kemauan     petani     dalam
melaksanakan anjuran yang diberikan dan lahan yang digunakan
adalah lahan marginal. Produksi yang dihitung dalam penelitian ini
adalah produksi yang dihasilkan setelah pemanenan atau merupakan
produksi buah cengkeh. Perincian data produksi di daerah penelitian
tercantum pada Lampiran 6.
      Nilai produksi merupakan pendapatan kotor yang diperoleh
dari hasil kali total produksi dengan harga jual yang berlaku di
daerah      penelitian    adalah   Rp.3.000/Kg.    Tabel   11     berikut
memperlihatkan rata-rata nilai produksi cengkeh per usahatani yang
dihasilkan oleh petani sampel.
Tabel 11.     Rata-rata Nilai Produksi dan per Usahatani Cengkeh di
         Daerah Penelitian Musim Tanam Tahun 2005.


No.             Uraian                    Satuan           Rata-rata
 1.   Produksu                                Kg                  320
 2.   Harga Produksi                          Rp                 3.000
 3.   Nilai Produksi                          Rp               773.000


      Tabel 11 memperlihatkan rata-rata nilai produksi per hektar
adalah sebesar Rp.773.000. Perincian data nilai produksi di daerah
penelitian tercantum pada Lampiran 6.
7. Pendapatan Usahatani.
      Pendapatan usahatani yang dimaksud dalam penelitian adalah
pendapatan usahatani cengkeh yang diperoleh dalam satu kali musim
tanam. Pendapatan usahatani dalam penelitian adalah pendapatan
yang merupakan hasil pengurangan antara nilai produksi dengan
seluruh biaya produksi yang dikeluarkan selama proses produksi
berlangsung. Rata-rata pendapatan pada usahatani cengkeh di
daerah penelitian dapat dilihat pad Tabel 12 berikut.
Tabel 12.     Rata-rata    Pendapatan   per   Hektar    pada    Usahatani
         Cengkeh di Daerah Penelitian Musim Tanam Tahun 2005.


No.             Uraian                    Satuan           Rata-rata
 1.   Produksi                                Kg                  320
 2.   Nilai Produksi                          Rp              773.000
 3.   Biaya Produksi                          Rp              442.616
 4.   Pendapatan                              Rp              330.386,80


      Tabel diatas memperlihatkan bahwa rata-rata pendapatan per
hektar usahatani cengkeh adalah sebesar Rp.330.386,80. Perincian
pendapatan usahatani cengkeh tercantum pada Lampiran 6.
8. Hubungan antara Luas Lahan, Tenaga Kerja dan Modal dengan
Pendapatan.
      Peningkatan pendapatan merupakan salah satu usahatani
menuju kearah peningkatan kesejahteraan keluarganya dan sekaligus
untuk meningkatkan perkapita nasional. Dalam usaha peningkatan
pendapatan di sektor pertanian khususnya pada usahatani cengkeh
yang dipengaruhi oleh banyak faktor yang erat hubungannya dengan
proses    produksi.    Hasil   analisis   fungsi   pendapatan   usahatani
menjelaskan bahwa secara serempak uji "F" variabel-variabel bebas
X1, X2, X3 mempunyai hubungan sangat nyata dengan variabel
terikat (Y) pada tingkat kepercayaan 95%. Dimana Fcari = 517,356
dan Ftabel diperoleh 3,24 berarti Fcari > Ftabel maka terima hipotesis
alternatif dan tolak hipotesis nol. Artinya pendapatan usahatani
cengkeh    di   Kecamatan      Seumelu     Timur    Kabupaten    Seumelu
mempunyai hubungan sangat nyata dengan penggunaan luas lahan,
tenaga kerja dan modal.
      Analisis secara parsial atau hubungan dari masing-masing
variabel yang diteliti terhadap pendapatan usahatani dilakukan
dengan uji "t". Hasil uji "t" menunjukkan bahwa masing-masing nilai
tcari X1 = 9,644, X2 = -10,835 dan X3 = 5,295 sedangkan nilai ttabel
(0,05) dengan df 16 pada tingkat kepercayaan 95% merupakan 1,746.
Kesimpulan dari hasil uji "t" menunjukkan bahwa secara parsial
penggunaan luas lahan dan modal            mempunyai hubungan sangat
nyata dengan tingkat pendapatan (Y) petani cengkeh di Kecamatan
Seumelu     Timur.     Sedangkan     penggunaan      tenaga   kerja   tidak
berhubungan nyata dengan besarnya tingkat pendapatan usahatani.
      Setelah melihat hubungan antara faktor produksi (X) yang
mempunyai hubungan dengan pendapatan (Y) usahatani cengkeh
melalui uji "F" dan uji "t", maka untuk mengetahui keeratan
hubungan yang terjadi antara variabel bebas (X1, X2, X3) dengan
variabel terikat (Y) digunakan koefisien determinasi (R²). Hasil
perhitungan diperoleh R² = 0,9805 artinya bahwa 98% variasi yang
terjadi pada pendapatan usahatani cengkeh mampu dijelaskan oleh
faktor (X) dan sisanya 2% dijelaskan oleh faktor lain diluar modal
penelitian.
      Regresi fungsi pendapatan petani dalam bentuk Regresi Linier
Berganda merupakan sebagai berikut :
      Y = -225515,021 + 911613,909 X1 – 35935,100 X2 + 3,026 X3
      R² = 0,9805
      Persamaan diatas menunjukkan bahwa koefisien regresi luas
lahan X1 sebesar 911613,909. Hal ini menunjukkan bahwa setiap
penambahan atau kenaikan tingkat luas lahan atau hektas akan
meningkatkan    tingkat   pendapatan   usahatani    cengkeh   sebesar
911613,909 rupiah.
      Untuk koefisien regresi tenaga kerja (X2) merupakan sebesar -
35935,100. Hal ini menunjukkan bahwa setiap penambahan tenaga
kerja sebesar satu    Hari Kerja Pria     (HKP) akan    menurunkan
pendapatan usahatani sebesar 35935,100 rupiah, karena pencurahan
tenaga kerja yang dilakukan didalam usahatani cengkeh sudah
mencapai batas yang maksimum dan tidak efesien
      Untuk koefisien regresi modal (X3) diperoleh nilai sebesar 3,026
hal ini menunjukkan bahwa setiap penambahan atau kenaikan
tingkat modal sebesar satu rupiah akan menurunkan tingkat
pendapatan usahatani cengkeh sebesar 3,026 rupiah.




                    V. KESIMPULAN DAN SARAN
1. Kesimpulan.
a. Secara serempak penggunaan luas lahan, tenaga kerja dan modal
   dari usahatani cengkeh di Kecamatan Seumelu Timur mempunyai
   hubungan nyata dengan pendapatan petani dimana Fcari =
   268.056 dan Ftabel = 3,24 (Fcari > Ftabel). Artinya penggunaan
   luas lahan, tenaga kerja dan modal petani cengkeh bersama-sama
   mempunyai hubungan nyata dengan besarnya tingkat pendapatan
   pada usahatani di daerah penelitian.
b. Jika dianalisis secara parsial atau masing-masing faktor yaitu luas
   lahan, tenaga kerja dan modal petani, maka faktor luas lahan dan
   modal mempunyai hubungan sangat nyata dengan besarnya
   tingkat pendapatan petani cengkeh, dimana nilai tcari X1 = 9,644
   dan X3 = 5,295, sedangkan nilai ttabel (0,05) = 1,746 berarti (tcari
   > ttabel). Untuk penggunaan tenaga kerja X2 = -10,835 (nillai tcari
   <ttabel) maka faktor tenaga kerja tidak mempunyai hubungan
   nyata terhadap pendapatan petani cengkeh di daerah penelitian.
2. Saran – Saran.
a. Diharapkan agar petani terus mencari informasi dan solusi
   tentang penggunaan luas lahan, tenaga kerja dan modal yang
   tepat guna dalam rangka peningkatan pendapatan usahatani
   cengkeh melalui PPL di Kecamatan Seumelu Timur.
b. Dalam penelitian ini variavel yang diambil terbatas pada sebesar
   faktor penggunaan luas lahan, tenaga kerja dan modal petani.
   Oleh karena itu perlu adanya penelitian lebih lanjut tentang
   penggunaan pengelolaan yang baik dan efisien agar dapat
   meningkatkan pendapatan yang semaksimal mungkin, sehingga
   taraf hidup petani dapat lebih ditingkatkan.

								
To top