Documents
Resources
Learning Center
Upload
Plans & pricing Sign in
Sign Out

Paragraf Eskposisi dan EYD

VIEWS: 345 PAGES: 6

									                Menulis Gagasan dalam Bentuk Paragraf Eskposisi
Perhatikan paragraf berikut!
          Proses urbanisasi sangat terkait erat dengan mobilitas maupun migrasi penduduk. Ada sedikit
perbedaan antara mobilitas dan migrasi penduduk. Mobilitas penduduk didefinisikan sebagai
perpindahan penduduk yang melewati batas wilayah administrasi tingkat II, namun tidak berniat menetap
di suatu daerah yang baru; sedangkan migrasi penduduk didefinisikan sebagai perpindahan penduduk
yang melewati batas wilayah administrasi tingkat II dan sekaligus berniat menetap di daerah yang baru
tersebut.
          Paragraf di atas bersifat menguraikan atau menerangkan satu pokok pikiran yang dapat
memperluas pandangan atau pengetahuan pembaca. Bentuk karangan seperti itu disebut eksposisi.
Eksposisi atau penjelasan adalah bentuk tulisan atau retorika yang berusaha untuk menerangkan atau
menguraikan suatu pokok pikiran, yang dapat memperluas pengetahuan seseorang (Gorys
Keraf:1982:3). Percaya atau tidak para pembaca terhadap apa yang sedang diuraikan dalam suatu
tulisan eksposisi, tidaklah penting bagi penulis. Setiap pembaca diperbolehkan menolak dan menerima
apa yang dikemukakan penulis, sebab tujuan utama tulisan eksposisi bukan untuk meyakinkan pembaca,
tetapi memberi pengetahuan pada pembaca. Karena bertujuan untuk memperluas pengetahuan, gaya
bahasa yang digunakan dalam eksposisi gaya bahasa informatif, bahasa pemberitaan atau bahasa tanpa
rasa subjektif dan emosional. Penulis berusaha menguraikan sejelas-jelasnya pokok permasalahan,
sehingga pembacadapat memahami yang dimaksud (Gorys Keraf, 1983:5). Data-data berupa grafik,
statistik, diagram, gambar, organigram, dan lain-lain yang disertakan dalam tulisan eksposisi
dimaksudkan untuk memperjelas uraian dan memperluas wawasan pembaca.
          Tahap awal dalam menyusun suatu tulisan adalah memilih atau menentukan topik. Apa yang
akan kamu tulis atau pokok pembicaraan apa yang akan kamu bahas dalam tulisan kamu, dan sejauh
mana batasan pokok persoalan yang akan kamu bahas. Untuk memilih suatu topik tulisan eksposisi,
kamu perlu mempertimbangkan hal berikut.
1. Topik haruslah menarik sebagai bahan pengetahuan.
2. Kamu harus memahami betul permasalahan topik yang akan kamu bahas atau akan kamu
     kembangkan.
3. Topik eksposisi sebaiknya bersifat suatu pernyataan ilmiah yang bertumpu pada hasil pengamatan,
     pengalaman, dan pendapat atau penalaran.

         Sebagai suatu jenis karangan yang memaparkan sejumlah pengetahuan atau informasi, paragraf
eksposisi bertujuan agar pembaca mendapat informasi dan pengetahuan sejelas-jelasnya. Contoh tulisan
yang umumnya menggunakan jenis tulisan eksposisi adalah laporan kegiatan, resep, artikel, dll. Selain
pola pengembangan khusus-umum atau umum khusus, berdasarkan cara pengembangan kalimat utama
paragraf, suatu paragraf eksposisi dapat dikembangkan pula melalui pola pengembangan paragraf
proses dan contoh.
         Perhatikan contoh pola pengembangan paragraf eksposisi berikut.
a. Paragraf proses, yaitu paragraf yang mengembangkan urutan suatu kejadian dari awal sampai akhir
terjadinya sesuatu.
         Langkah pertama yang dilakukan Kolonel Sudirman dalam menghadapi pertempuran Ambarawa
saat itu adalah mengumpulkan para komandan tempur. Setelah bertempur, mulailah mereka mengatur
siasat perang. Dalam pengaturan siasat itu tampak bahwa Kolonel Sudirman benar-benar ahli dalam
bidang itu. Pertemuan itu menghasilkan keputusan bahwa mereka akan menyerang Kota Ambarawa
secara mendadak dan bersama-sama. Kolonel Sudirmanlah yang akan memimpin langsung serangan
umum itu.
b. Paragraf ilustrasi, yaitu paragraf yang menjelaskan atau menggambarkan sesuatu, sehingga pembaca
dapat membayangkan apa yang dimaksud penulis.
         Sepertinya, aku mengenal orang itu rambutnya yang indah, hitam memanjang. Kulitnya
keemasan sangat bersih. Matanya yang bulat nan menawan dihiasi oleh bulu mata yang lentik serta alis
yang tebal. Ia cantik sekali.
c. Paragraf contoh, yaitu mengelompokkan hal-hal yang mempunyai persamaan, kemudian diperinci lagi
ke dalam kelompok-kelompok yang lebih kecil
         Masih berkisar tentang lingkungan, Gubernur Jawa Barat memberi contoh tentang jambu mete di
Mayong, Jepara yang terserang ulat kipat. Ulat ini timbul akibat berdirinya peternakan ayam di tengah-
tengah perkebunan tersebut. Menurut Gubernur, izin peternakan ayam di Mayong diberikan untuk
mensejahterakan masyarakat. ”Kalau hal ini memang benar, lain kali kita harus hati-hati dalam
memberikan izin mendirikan suatu usaha,” Ujarnya.

hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penulisan karangan eksposisi adalah sebagai berikut.
1. Menjelaskan pendapat dan keyakinan.
2. Memerlukan fakta dan dapat diperjelas dengan grafik, gambar, peta, tabel, dan lain-lain.
3. Memerlukan analisis-sintetis dalam mengungkapkan atau menguraikan pokok-pokok permasalahan.
4. Tidak menggunakan daya khayal sebagai sumber gagasan.


                           Perencanaan Membuat Karangan
1. Tema dan Topik Karangan
        Sebelum melakukan penulisan, setiap orang pasti sudah memikirkan apa yang ingin
ditulisnya. Tentu hal-hal yang akan ditulis berhubungan dengan segala yang telah diketahui. Jika
hal tersebut merupakan hal yang baru, maka setidaknya ia akan mengaitkan hal yang ingin ditulis
dan hal yang telah diketahuinya atau ia akan mengumpulkan bahan-bahan informasi yang
berhubungan dengan sesuatu yang ingin ditulis.
        Apa yang ingin ditulis sebelum seseorang menulis karangan merupakan sesuatu yang
menjadi dasar atau pedoman dalam menulis atau mengembangkan karangannya. Sesuatu yang
ingin ditulis itu merupakan sebuah ide atau gagasan yang merupakan pijakan dasar mengenai apa
karangan tersebut. Hal yang menjadi dasar karangan itu disebut dengan tema.
        Tema memang merupakan unsur terpenting yang harus ada sebelum mengarang. Dalam
banyak teori mengarang, menentukan tema karangan merupakan langkah pertama dalam
merencanakan membuat karangan.
        Setelah menentukan hal yang ingin ditulis, langkah selanjutnya adalah memerinci tema
karangan menjadi pokok-pokok pikiran yang lebih khusus. Pokok-pokok pikiran ini menjabarkan
tema karangan. Pokok-pokok pikiran itu disebut dengan topik karangan atau gagasan pokok.
Topiktopik ini disusun dan dirumuskan untuk masing-masing dikembangkan menjadi paragraf-
paragraf. Topik yang masih umum dapat dijabarkan lebih terperinci lagi menjadi subtopik.
Semua unsur itu disusun secara vertikal. Susunan ini disebut dengan kerangka karangan.
Contoh Kerangka Karangan :
                        → - Kemacetan lalu lintas terjadi setiap hari
                        → - Penyebab kemacetan lalu lintas
                                a. volume kendaraan makin bertambah
                                b. ruas jalan makin sempit
Kemacetan Lalu Lintas →         c. banyaknya PKL yang memakai badan jalan
di DKI                  → - Upaya mengatasi kemacetan lalu lintas
                                a. penambahan ruas jalan dengan dibangun fly over
                                b. penertiban PKL
                                c. dioperasikannya busway
                        → - Kerja sama aparat polisi dan masyarakat
                                a. tanggung jawab para petugas polantas
                                b. kesadaran pemakai jalan

2. Tujuan
        Selain menetapkan tema dan menyusun topik karangan, penulis juga harus merumuskan
tujuan. Tujuan karangan merupakan maksud penulis atau pengarang dalam mengarang. Tujuan
dapat berkaitan dengan bentuk karangan yang akan dibuat. Banyak hal yang dapat dijadikan
tujuan, misalnya tujuan memberi informasi kepada pembaca, bentuk karangannya bersifat
ekspositoris. Tujuan menggugah dan menghimbau, karangannya dapat berjenis persuasi dan
sebagainya.
Contoh tujuan pada karangan berbentuk narasi:
Tema : Kisah usaha seorang kakak untuk membelikan adiknya boneka dari hasil menyemir
           sepatu.
Tujuan : Menggugah simpati pembaca untuk ikut memikirkan betapa susahnya hidup orang tak
           mampu tapi tetap menyayangi saudaranya.
Contoh tujuan pada karangan argumentasi:
Tema : Bahaya kecanduan rokok
Tujuan : Menggugah orang yang terbiasa merokok agar mengurangi kebiasaan merokok
3. Judul
        Setiap tulisan atau karangan selalu mempunyai judul. Judul di dalam sebuah karangan
merupakan unsur yang penting. Seringkali seorang ingin membaca sebuah karangan karena
judulnya menarik. Oleh sebab itu, dalam menentukan judul, diusahakan judul karangan enak
dibaca, mudah diucapkan, dan mudah diingat.
        Judul sebuah karangan tidak perlu panjang. Judul yang terlalu panjang membuat pembaca
sulit mengingatnya. Judul yang dibuat atau dipilih harus memiliki daya tarik untuk mendorong
orang membaca karangan tersebut.
Judul dapat berbentuk pertanyaan atau seruan, misalnya:
o Sudah Sukseskah Anda?
o Narkoba? No Way!
    dan sebagainya
        Penulisan judul harus sesuai dengan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Huruf awal
setiap kata ditulis dengan huruf kapital, kecuali kata depan atau kata tugas yang berada di tengah.
Kata tugas yang berada di awal kalimat judul ditulis dengan huruf kapital.

Contoh hubungan antara tema, topik, tujuan, dan judul dalam perencanaan membuat karangan:
Tema : Perpustakaan sekolah
Topik : - Perpustakaan sekolah
        - Sebagai sumber belajar
        - Memanfaatkan perpustakaan sekolah
        - Perpustakaan sekolah sarana berkumpul
Judul : - Ngerumpi Positif di Perpus, yah !
        - Menggali Ilmu di Perpustakaan
        - Perpustakaan Solusi Cerdas
Tujuan : - Memotivasi siswa agar memanfaatkan perpustakaan sekolah sebagai sarana menggali
            ilmu dan tempat berkumpul sesama siswa
       modal pengetahuan untuk mengarang
1. Ejaan
a. Penulisan Huruf
       Secara umum, dalam Kamus Besar Bahssa Indonesia digunakan ejaan bahasa
Indonesia yang diatur dalam Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan.
Ejaan tersebut misalnya penulisan huruf kapital. Berikut ini contoh penggunaan huruf kapital
yang tepat.
Sumbangan pembaca Jawa Pos kembali disalurkan kepada warga Dusun
1                            2
Ngompro dan Pilang, Desa Ngompro, Kecamatan Pangkur, Ngawi.
       3
Keterangan:
1 = dipakai dalam penulisan huruf pertama kata pada awal kalimat.
2 = dipakai dalam penulisan huruf pertama semua kata di dalam nama
buku, majalah, surat kabar, dan judul karangan.
3 = dipakai dalam penulisan huruf pertama nama geografi.
b. Tanda Baca
Penulisan tanda baca, misalnya pada penulisan:
1) tanda titik (.)
2) tanda garis hubung satu (-)
3) tanda koma (,)
4) tanda kurung (( ... ))
5) tanda petik (" ... ")

Berikut ini contoh penggunaan tanda baca dalam sebuah paragraf.
                Selain itu, masih ada satu karung berisi lebih dari seratus setel seragam SD
        serta paket buku dan alat tulis. "Alhamdulillah, kami senang karena selama ini belum
        pernah ada bantuan alat sekolah dan alat rumah tangga," ungkap Sumiran, kepala
        Dusun Ngompro, kepada Kundari Pri Susanti dari Radar Madiun (grup Jawa Pos).
        Bantuan susu akan diserahkan kepada ibu-ibu yang mempunyai balita.
Keterangan:
 Tanda titik (.) dipakai pada akhir kalimat.
 Tanda koma (,) pada tulisan Selain itu, masih ada satu karung berisi lebih dari seratus setel
   seragam SD serta paket buku dan alat tulis. Tanda koma tersebut dipakai di belakang kata
   atau ungkapan penghubung antarkalimat yang terdapat pada awal kalimat. Selain itu tanda
   koma juga berfungsi untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat.
   Contoh: "Alhamdulillah, Kami senang karena selama ini belum pernah ada bantuan alat
   sekolah dan alat rumah tangga," ungkap Sumiran.
 Tanda petik ( " ..." ) pada tulisan "Alhamdulillah, kami senang karena selama ini belum
   pernah ada bantuan alat sekolah dan alat rumah tangga," ungkap Sumiran, kepala Dusun
   Ngompro. Tanda petik tersebut berguna mengapit petikan langsung yang berasal dari
   pembicaraan.
 Tanda pisah (-) pada penulisan ibu-ibu berguna menyambung unsur-unsur kata ulang.
 Tanda kurung (( ... )) pada tulisan Radar Madiun (grup Jawa Pos) berguna mengapit
   tambahan keterangan atau penjelasan.

2. Pilihan Kata (Diksi)
        Pilihan kata misalnya pemilihan kata-kata baku. Dalam bahasa Indonesia dikenal
adanya ragam bahasa baku dan ragam bahasa nonbaku (ragam dialek dan percakapan sehari-
hari). Ragam bahasa nonbaku artinya penggunaan kata-kata tidak baku dalam kalimat. Kata
yang bergaris bawah berikut ini merupakan contoh penggunaan kata yang tidak baku dalam
sebuah paragraf.
        Sumbangan pembaca Jawa Pos terus mengalir. Senin siang kemarin, Direktur SDM PT
Tjiwi Kimia Drs. Sunoto M.B. bersama Ketua SPSI Toto Suprianto dan temen-temennya datang
menyumbang Rp150 juta untuk korban bencana banjir ke Jawa Pos. "Ini hasil yang
dikumpulkan dari tementemen karyawan Tjiwi Kimia," tutur Toto Supriyanto kepada M.
Nasaruddin Ismail di kantor Jawa Pos.

Keterangan:
Kata temen-temen dalam paragraf di atas adalah contoh kata yang tidak baku. Kata baku dari
temen-temen adalah teman-teman.

3. Penggunaan Kalimat yang Efektif
       Kalimat yang bagaimanakah yang disebut kalimat efektif? Kalimat efektif adalah kalimat
yang dapat mengungkapkan gagasan pemakaiannya secara tepat dan dapat dipahami secara
tepat pula. Ada pun yang dimaksud dengan kalimat efektif adalah kalimat yang mempunyai
kaidah sebagai berikut.
a. Memerhatikan Bentuk Gramatikal
Contoh:
Kami semua menghadiri rapat di balai desa.
Kata kami telah menunjukkan jamak (berarti jamak), sehingga tidak perlu ditambah kata semua.
Jadi kalimat yang efektif adalah:
- Kami menghadiri rapat di balai desa.
b. Tidak Menggunakan Kata secara Berlebihan dan Bertumpang
Tindih
Contoh:
- Pada saat banjir yang telah lalu, mereka juga menerima bantuan sembako.
        Penggunaan kata pada saat dan telah lalu pada kalimat di atas terlalu berlebihan karena
kedua kata tersebut artinya sama. Jadi seharusnya digunakan salah satu saja agar efektif,
misal:
- Saat banjir yang lalu, mereka juga menerima bantuan sembako.
c. Tidak Menggunakan Kata Depan yang Berlebihan
Contoh:
- Selain daripada itu, masih ada satu karung berisi lebih dari seratus setel seragam SD serta
paket buku dan alat tulis.
        Kata depan daripada tidak perlu dipakai karena dengan penggunaannya itu subjek
kalimat menjadi tidak jelas. Jadi penulisannya menjadi:
- Selain itu, masih ada satu karung berisi lebih dari seratus setel seragam SD serta paket buku
dan alat tulis.
4. Penyusunan Paragraf
a. Kepaduan Paragraf
       Suatu paragraf disebut padu jika kalimat-kalimat yang ada dalam paragraf tersebut padu
(kohesi) dan paragraf-paragraf dalam bacaan tersebut juga padu (koheren). Berikut ini contoh
paragraf yang kohesif dan kata-kata yang bercetak tebal merupakan penanda kohesinya.

        Selepas kebanjiran, warga yang tinggal di tepi Kali Madiun itu terus berjuang
meneruskan hidup. Banyaknya sawah dan rumah yang rusak membuat warga trauma bila
diminta mengingat kembali banjir yang pernah menerjang dusun mereka. "Warga Ngompro saat
itu terendam sejak Rabu sampai Jumat. Perahu tak berani masuk karena arus sangat deras,"
kata Joko Purwanto, Kepala Desa Ngompro.
       Sementara itu, kaum ibu rumah tangga kehilangan alat memasak mereka. Warga
Ngompro kebanyakan memang memasak menggunakan tungku dari tanah liat dan berbahan
bakar kayu. Saat banjir, tungku mereka pun ikut hancur lebur, kayu-kayu masih basah dan tak
bisa dipakai lagi. Ada pula yang nekat menjadikan meja mereka dialasi seng, lalu dijadikan
tungku.

Keterangan:
Penanda kohesi: sementara itu..

b. Kesatuan Paragraf
       Setiap paragraf dalam bacaan adalah sebuah kesatuan yang membicarakan salah satu
aspek dari tema seluruh bacaan. Kalimat-kalimat dalam sebuah paragraf harus berhubungan
satu sama lain, sehingga merupakan kesatuan untuk menyampaikan suatu maksud, untuk
mengulas sesuatu hal yang menjadi pembicaran dalam paragraf itu. Jadi, dalam sebuah
paragraf harus ada ide pokok yang mempersatukan semua kalimat dalam paragraf itu. Ide
pokok suatu paragraf itu dapat ditampilkan di awal, di tengah, atau di akhir paragraf.

Contoh:
        Selepas kebanjiran, warga yang tinggal di tepi Kali Madiun itu terus berjuang
meneruskan hidup. Banyaknya sawah dan rumah yang rusak membuat warga trauma bila
diminta mengingat kembali banjir yang pernah menerjang dusun mereka. "Warga Ngompro saat
itu terendam sejak Rabu sampai Jumat. Perahu tak berani masuk karena arus sangat deras,"
kata Joko Purwanto, Kepala Desa Ngompro.

       Kalimat yang dicetak tebal pada paragraf di atas merupakan ide pokok dari paragraf
tersebut.

								
To top