kesuburan_tanah by lelettoa

VIEWS: 471 PAGES: 114

									Dasar Dasar Ilmu Tanah
Bahan Kuliah Online untuk mahasiswa Fakultas Pertanian, Univ. Sriwijaya Oleh: Dr.Ir.Abdul
Madjid,MS

Tampilkan posting dengan label Kesuburan Tanah. Tampilkan semua posting
Tampilkan posting dengan label Kesuburan Tanah. Tampilkan semua posting

Senin, 2009 Juni 15
Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Kering (Bagian 1)

Pengelolaan Kesuburan Tanah Mineral Masam untuk Pertanian*
Oleh: Ida Nursanti** dan Abdul Madjid Rohim***

(Bagian 1 dari 5 Tulisan)

Keterangan:
* : Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah, Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister
(S2), Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya. Palembang, Propinsi Sumatera Selatan,
Indonesia.
** : Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2), Program Pascasarjana, Universitas
Sriwijaya. Palembang, Propinsi Sumatera Selatan, Indonesia.
*** : Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah, Program Studi Ilmu Tanaman, Program
Magister (S2), Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya. Palembang, Propinsi Sumatera
Selatan, Indonesia.

(Bagian 1 dari 5 Tulisan)



I. PENDAHULUAN


1.1. Tanah Mineral Masam dan Penyebarannya

Tanah mineral masam banyak dijumpai di wilayah beriklim tropika basah, termasuk Indonesia.
Luas areal tanah bereaksi asam seperti podsolik, ultisol, oxisols dan spodosol, masing-masing
sekitar 47,5, 18,4, 5,0 dan 56,4 juta ha atau seluruhnya sekitar 67% dari luas total tanah di
Indonesia (Nursyamsi et al, 1996). Luasnya tanah
masam tersebut sebenarnya mempunyai potensi yang besar untuk pengembangan usaha
pertanian, tetapi sampai sekarang masih belum dapat dimanfaatkan secara maksimal mengingat
beberapa kendala yang terdapat pada tanah masam.Tanah ordo lain yang bersifat masam adalah
inseptisol dan entisol.

Keasaman tanah ditentukan oleh kadar atau kepekatan ion hidrogen di dalarn tanah tersebut. Bila
kepekatan ion hidrogen di dalam tanah terlalu tinggi maka tanah akan bereaksi asam. Sebaliknya,
bila kepekatan ion hidrogen terIalu rendah maka tanah akan bereaksi basa. Pada kondisi ini kadar
kation OH- lebih tinggi dari ion H+.

Tanah masam adalah tanah dengan pH rendah karena kandungan H+ yang tinggi. Pada tanah
masam lahan kering banyak ditemukan ion Al3+ yang bersifat masam karena dengan air ion
tersebut dapat menghasilkan H+. Dalarn keadaan tertentu, yaitu apabila tercapai kcjenuhan ion
Al3+ tertentu, terdapat juga ion Al-hidroksida ,dengan demikian dapat menimbulkan variasi
kemasaman tanah (Yulianti, 2007).

Di daerah rawa-tawa, tanah masam umumnya disebabkan oleh kandungan asam sulfat yang
tinggi. Di daerah ini sering ditemukan tanah sulfat masam karena mengandung, lapisan cat clay
yang menjadi sangat masarn bila rawa dikeringkan akibat sulfida menjadi sulfat.

Kebanyakan partikel lempung berinteraksi dengan ion H+. Lempung jenuh hidrogen mengalami
dekomposisi spontan. Ion hidrogen menerobos lapisan oktahedral dan menggantikan atom Al.
Aluminium yang dilepaskan kemudian dijerap oleh kompleks lempung dan suatu kompleks
lempung-Al-H terbentuk dengan cepat ion. Al3+ dapat terhidrolisis dan menghasilkan ion H.

Reaksi tersebut menyumbang pada peningkatan konsentrasi ion H+ dalam tanah. Sumber
keasaman atau yang berperan dalam menentukan keasaman pada tanah gambut adalah pirit
(senyawa sulfur) dan asam-asam organik. Tingkat keasaman gambut mempunyai kisaran yang
sangat lebar. Keasaman tanah gambut cendrung semakin tinggi jika gambut semakin tebal.
Asam-asam organik yang tanah gambut terdiri dari atas asam humat, asam fulvat, dan asam
humin. Pengaruh pirit yaitu pada oksida pirit yang akan menimbulkan keasaman tanah hingga
mencapai pH 2 - 3. Pada keadaan ini hampir tidak ada tanaman budidaya yang dapat tumbuh
baik. Selain menjadi penghambat pertumbuhan tanaman, pirit menyebabkan terjadinya karatan
(corrosion) sehingga mempercepat kerusakan alat-alat pertanian yang terbuat dari logam.

Terdapat dua jenis reaksi tanah atau kemasaman tanah, yakni kemasaman (reaksi tanah) aktif dan
potensial. Reaksi tanah aktif ialah yang diukurnya konsentrasi hidrogen yang terdapat bebas
dalam larutan tanah. Reaksi tanah inilah yang diukur pada pemakaiannya sehari-hari. Reaksi
tanah potensial ialah banyaknya kadar hidrogen dapat tukar baik yang terjerap oleh kompleks
koloid tanah maupun yang terdapat dalam larutan (Hanafiah, 2007).

Selanjutnya dijelaskan juga oleh Hanafiah (2007) bahwa sejumlah senyawa menyumbang pada
pengembangan reaksi tanah yang asam atau basa. Asam-asam organik dan anorganik, yang
dihasilkan oleh penguraian bahan organik tanah , merupakan konstituen tanah yang umum dapat
mempengaruhi kemasaman tanah. Respirasi akar tanaman menghasilkan C02 yang akan
membentuk H2CO3 dalam air. Air merupakan sumber lain dari sejumlah kecil ion H+. Suatu
bagian yang besar dari ion-ion H+ yang dapat dipertukarkan.

H
H---Lempung ---> Lempung + 3 H+
H

Ion-ion H+ tertukarkan tersebut berdisosiasi menjadi ion-ion H+ bebas. Dcrajat ionisasi dan
disosiasi ke dalam larutan tanah menentukan khuluk kemasaman tanah. Ion-ion H+ yang dapat
dipertukarkan merupakan penyebab terbentuknya kemasaman tanah potensial atau cadangan.
Besaran dari kemasaman potensial ini dapat ditentukan dengan titrasi tanah. Ion-ion H+ bebas
menciptakan kemasaman aktif. Kemasaman aktif diukur dan dinyatakan sebagai pH tanah. Tipe
kemasaman inilah yang sangat menentukan dan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan
tanaman.

Ada beberapa alat ukur reaksi tanah yang dapat digunakan. Alat yang murah ialah kertas lakmus
yang bentuknya berupa gulungan kertas kecil memanjang. Alat lain yang harganya sedikit mahal
tetapi dapat dipakai berulang kali dengan hasil pengukuran lebih terjamin adalah pH tester dan
soil tester.

Pemakaian kertas lakmus sangat mudah, caranya yaitu : mengambil tanah lapisan dalam, lalu
larutkan dengan air murni (aquadest) dalam wadah. Biarkan tanahnya terendam di dasar wadah
sehingga airnya menjadi bening kembali. Setelah bening, air tersebut dipindahkan ke wadah lain
secara hati-hati agar tidak keruh. Selanjutnya, ambil sedikit kertas lakmus dan celupkan ka dalam
air tersebut. Dalam beberapa saat kertas lakmus akan berubah warna. Cocokan warna pada kertas
lakmus dengan skala yang ada pada kemasan kertas lakmus. Skala tersebut telah dilengkapi
dengan angka pH masing-masing Warna. Angka pH tanah tersebut adalah angka dari warna pada
kemasan yang cocok dengan warna kertas lakmus Misalnya, angka yang cocok adalah 6 maka
pH-nya 6.

Pemakaian soil tester untuk mendapat pH tanah agak berbeda dengan kertas lakmus. Bentuknya
seperti pahat dan berukuran pendek. Oleh karena berbentuk padatan, ada bagian yang runcing.
Bagian runcing inilah yang ditancapkan ke tanah hingga pada batas yang dianjurkan. Setelah
ditancapkan, sekitar tiga menit kernudian jarum skala yang terletak di bagian atas alat ini akan
bergerak. Angka yang ditunjukkan jarum tersebut merupakan pH dari tanah tersebut.

Pemakaian pH tester lebih sederhana dan soil tester penggunaannya untuk megukur nilai pH
tanah di lahan yang tidak terlalu luas, sekitar 1-2 ha. Walaupun demikian, alat ini masih bisa
diandalkan. Bagian yang menunjukkan angka pH berbentuk kotak dengan jarum penunjuk
angka. Bagian kotak tersebut dihubungkan dengan besi sepanjang 25 cm yang ujungnya runcing
dan dilapisi logam elektroda. Besi inilah vang ditancapkan ke tanah. Jumlah besi bisa 1-2 buah.

Penetapan pH tanah sekarang ini dilakukan dengan elektroda kaca. Elektroda ini terdiri dari
suatu bola kaca tipis yang berisi HCL. encer, dan di dalamnya disisipkan kawat Ag-AgCl, yang
berfungsi sebagai elektrodanya dengan tegangan (voltase) tetap. Pada waktu bola kaca tersebut
itu dicelupkan ke dalam suatu larutan, timbul suatu perbedaan antara larutan di dalam bola dan
larutan tanah di luar bola kaca. Sebelum pengukuran pH dilakukan, kedua elektroda
pertama-tama harus dimasukkan ke dalam suatu larutan yang diketahui pH-nya (misalnya
konsentrasi ion H+ = 1 g/L). Kegiatan ini disebut pembakuan elektroda dan petunjuk pH (pH
meter).
Dalam pengukuran pH, elektroda acuan dan elektroda indikator dicelupkan ke dalam suspensi
tanah yang heterogen yang terdiri atas partikel-partikel padat terdispersi dalam suatu larutan
aquadest. Jika partikel-partikel padat dibiarkan mengendap, pH dapat diukur dalam cairan
supernatant atau dalam endapan (sedimen). Penempatan pasangan elektroda dalam supernatant
biasanya memberikan bacaan pH yang lebih tinggi dari pada penempatan dalam sedimen.
Perbedaan dalam bacaan pH ini disebut pengaruh suspensi. Pengadukan suspensi tanah sebelum
pengukuran tidak akan memecahkan masalah tersebut, karena prosedur ini memberikan bacaan
yang tidak stabil (Hanafiah, 2007).

Jenis tanah masam diantaranya terdapat pada tanah ordo Ultisol. Ultisol dibentuk oleh proses
pelapukan dan pembentukan tanah yang sangat intensif karena berlangsung dalam lingkungan
iklim tropika dan subtropika yang bersuhu panas dan bercurah hujan tinggi dengan vegetasi
klimaksnya hutan rimba. Dalam lingkungan semacam ini reaksi hidrolisis dan asidolisis serta
proses pelindian (leaching) terpacu sangat cepat dan kuat. Asidolisis berlangsung kuat karena air
infiltrasi dan perkolasi mengambil CO2 hasil mineralisasi bahan organik berupa serasah hutan
dan hasil pernafasan akar tumbuhan hutan (Yulnafatmawita, 2008).

Pelapukan masam tanah membebaskan basa dari mineral tanah secara cepat apabila didukung
dengan daya lindi yang kuat maka akan terbentuk tanah yang miskin hara dan Al Fe serta Mn
yang tinggi dapat meracun tanaman. Persoalan akan bertambah berat jika bahan induk tanah
sudah bersifat masam kondisi inilah yang dijumpai di Sumatera.

Tanah ultisol memiliki ciri-ciri sebagai berikut ;
1. pH rendah
2. Kejenuhan Al , Fe dan Mn tinggi
3. Daya jerap terhadap fosfat kuat
4. Kejenuhan basa rendah ; kadar Cu rendah dalam tanah yang berasal dari bahan induk masam
(feksil) atau batuan pasir, Zn cukup namun tereluviasi.
5. Kadar bahan organik rendah dan kadar N rendah
6. Daya simpan air terbatas
7. Kedalaman efektif terbatas
8. Derajat agregasi rendah dan kemantapan agregat lemah baik pada lahan berlereng maupun
datar.

Kerentanan terhadap erosi membuat tanah akan semakin cepat berkurang kesuburannya terutama
pada lapisan atas dan akan terakumulasi di bagian yang lebih rendah (Notohadiprawiro, 2006).

Kekahatan fosfor merupakan salah satu kendala terpenting bagi usaha tani di lahan masam. Hal
ini karena sebagian besar koloid dan mineral tanah yang terkandung dalam tanah Ultisol
mempunyai kemampuan menyemat fosfat cukup tinggi, sehingga sebagian besar fosfat dalam
keadaan tersemat oleh Al dan Fe, tidak tersedia bagi tanaman maupun biota tanah (Hasanudin
dan Ganggo, 2004).

Menurut Subandi (2007) Tanah Ultisol umumnya mempunyai pH rendah yang menyebabkan
kandunganAl, Fe, danMn terlarut tinggi sehingga dapat meracuni tanaman. Jenis tanah ini
biasanya miskin unsur hara esensial makro seperti N, P, K, Ca, dan Mg; unsur hara mikro Zn,
Mo, Cu, dan B, serta bahan organik. Meskipun secara umum tanah Ultisol atau Podsolik Merah
Kuning banyak mengandung Al dapat ditukar (Al-dd) (20-70%), namun hasil
penelitianmenunjukkan bahwa beberapa contoh tanah tersebut mengandung Al-dd relatif rendah
(< 20%). Tanah di KP. Kayu Agung, Indralaya, dan Prabumulih Sumatera Selatan, misalnya,
mempunyai kejenuhan Al-dd berturut-turut 11,08%, 1,01%, dan 17,26%, di Jawa Barat 13,40%
dan 11 dari 28 contoh tanah lapisan atas yang berasal dari Lampung Tengah jugamemiliki
kejenuhanAl-dd yang rendah .

Tekstur tanah ultisol bervariasi, berkisar dari pasiran (sandy) sampai dengan lempungan (clayey)
.Fraksi lempung tanah ini umumnya didominasi oleh mineral silikat tipe 1:1 serta oksida dan
hidroksida Fe danAl , sehingga fraksi lempung tergolong beraktivitas rendah dan dayamemegang
lengas juga rendah. Karena umumnya memiliki kandungan bahan organik rendah dan fraksi
lempungnya beraktivitas rendah maka kapasitas tukar kation tanah (KTK) tanah Podsolik juga
rendah, sehingga relatif kurang kuatmemegang hara tanaman dan karenanya unsur haramudah
tercuci. Tanah Podsolik atau Ultisol termasuk tanah bermuatan terubahkan (variable charge),
sehingga nilai KTK dapat berubah bergantung nilai pH-nya, peningkatan pH akan diikuti oleh
peningkatan KTK ,lebih mampu mengikat hara K dan tidak mudah tercuci.

Ultisols (ultimus-selesai) adalah tanah-tanah yang berwarna kuning merah dan telah mengalami
pencucian yang sudah lanjut. Dikenal luas sebagai podsolik merah kuning. Tanah-tanah ini
mendominasi lahan kering yang ada di Sumatera, Kalimantan dan Jawa. Total luas adalah sekitar
45.79 juta ha atau 24.3 % dari lahan Indonesia dan menyebar di Kalimantan Timur (10.04 juta
ha), Irian Jaya (7.62 juta), Kalimantan Barat (5.71 juta), Kalimantan Tengah (4.81 juta), dan
Riau (2.27 juta ha).


Tanah Oxisols (oxide, oksida) adalah tanah-tanah yang telah mengalami pencucian yang intensif
dan miskin hara, tinggi kandungan AL dan Fe. Seperti halnya Ultisols, mereka mendominasi
lahan kering dengan intensitas curah hujan yang tinggi. Tanah-tanah ini sudah tua. Total luas
tanah ini sekitar 14.11 juta ha atau 7.5% dari total lahan Indonesia dan menyebar di Sumatera
Selatan (2.82 juta ha), Irian Jaya (2.41 juta), Kalimantan Tengah (2.06 juta), Kalimantan Barat
(1.79 juta), Jambi (1.14 juta), dan Lampung (1.01 juta ha).

Spodosol merupakan tanah mineral yang mempunyai horizon spodik, suatu horizon dalam
dengan akumulasi bahan organic, dan oksidasi aluminium (Al) dengan atau tanpa oksidasi besi
(Fe). Horizon iluvial ini dijumpai dibawah horizon eluviasi, biasanya suatu horizon albik
(berwarna merah muda, dengan demikian memadai bila disebut abu kayu). Umumnya terbentuk
diwilayah iklim humid, dibawah vegetasi hutan basah dan berkembang dari bahan endapan dan
batuan sediment kaya kuarsa yang dipercepat oleh adanya vegetasi yang menghasilkan serasah
asam. Senyawa – senyawa organic tercuci kebawah bersama air perkolasi sehingga tanah
permukaan menjadi berwarna terang, sedang horizon bawah menjadi berwarna gelap karena
terjadinya selaput organic pada butir-butir tanah.

Species tumbuhan yang berkadar ion-ion logam rendah, seperti pinus, kelihatannya merangsang
pertumbuhan spodosol. Dengan membusuknya daun-daun yang rendah kadar ion logamnya,
kemasaman tinggi akan terbentuk. Air perkolasi membawa asam-asam itu kebagian profil tanah
yang lenig dalam. Horizon atas hancur karena pencucian intensif oleh asam. Sebagian besar
mineral, dipindahkan kebagian lebih dalam. Oksida aluminium dan besi serta bahan organic akan
diendapkan di horizon bagian bawah, sehingga menghasilkan profil spodosol yang menarik.

Mengikuti definisi kuantitatif taksonomi tanah, tanah diklasifikasi sebagai spodosol, apabila
memiliki horizon dengan semua sifat berikut : i. Tersementasi dengan kelembaban minimum 10
cm; ii. Terletak langsung dibawah horizon albik, pada 50 % atau lebih dari setiap pedonnya; iii.
Batas atas berada dalam kedalaman <50 cm, apabila kelas besar butirnya berlempung kasar,
skeletal berlempung, atau lebih halus atau <200 cm. Apabila kelas besar butirnya berpasir, dan;
iv. Batas bawah pada kedalaman 25 cm atau lebih, dari permukaan tanah. Dalam hal ini
Spodosol mencakup Tanah-tanah yang disebut : Podzol dan Podzol Air Tanah.

Spodosol adalah Tanah – tanah yang secara unik berkembang dari endapan pasir kuarsa, dan/atau
batu sedimen berupa batu pasir kuarsa. Vegetasi alami yang tumbuh biasanya spesifik jenisnya.
Yaitu vegetasi yang mampu berkembang subur di Tanah masam, seperti kantung Semar dan
Paku-pakuan.

Banyak tanah dari timur laut amerika serikat, termsuk bagian utara michigan dan winconsin yang
dulunya digolongkan sebagai podsol, podsolik coklat dan podsol air tanah termasuk dalam
spodosol. Sebagian dari mereka adalah orthod, suatu spodosol umum. Akan tetapi beberapa
adalah aquod, karena tanah ini selama musim tertentu jenuh dengan air dan mempunyai ciri-ciri
yang berasosiasi dengan kebasahan, seperti akumulasi bahan organik yang tinggi, becak-becak
pada horizon albik dan terbentuknya semacam lapisan keras (duripan) pada horizon albik.
Daerah-daerah dari aquod adalah Florida.

Di Indonesia sendiri penyebaran endapan pasir dan batu pasir kuarsa yang secara geologis sangat
luas, terdapat di kalimantan tengah, serta setempat-setempat di kalimantan barat dan kalimantan
timur. Di pulau lain nampaknya tidak luas penyebaranya dan setempat – setempat terdapat
disulawesi dan sumatra. Landform – nya dimasukkan sebagai dataran tektonik. Lanscape luas
tanah spodosol seluruhnya diperkirakan 2,16 juta ha atau 1,1 % wilayah dataran indonesia.
Penyebaranya paling luas terdapat di kalimantan tengah sekitar 1,51 juta ha, kemudian
dikalimantan barat 0,42 juta dan kalimantan Timur 0,15 juta ha. Di silawesi tengah, tengah,
selatan dan tenggara dipearkirakan terdapat antara 11-25 ribu ha (Himatan, 2006).

Dari empat sub-ordo dalam kelompok spodosol, yang sering kali dibuka untuk pertanian adalah
Haplorthods yaitu spodosol yang terbentuk diwilayah beriklim basah, dengan curah hujan tunggi
dan rezim kelembaban tanah udik dan aquods yaitu spodosol basah atau jenuh air dengan
drainase sangat terhambat dan sering kali mempunyai permukaan air tanah berada dekat dengan
permukaan tanah.

Data dari analisis tanah dari beberapa pedon Spodosol dari kalimantan tengah dan kalimantan
barat menunjukkan bahwa, Spodosol termasuk tanah dengan kelas besar butir berpasir, dengan
kandungan fraksi pasir tinggi (65-96 %). Reaksi tanah menunjukkan masam ekstrem sampai
sangat masam (pH 3,3 – 4,9) di seluruh lapisan tanah, cenderung menaik kelapisan bawah. Pada
permukaan tanah, bisasanya terdapat lapisan bahan organik (Oi dan Oe) tipis (5-10) cm dan
dibawahnya terdapat Horizon Al dengan kandungan bahan organik termasuk sedang sampai
tinggi (3,1 – 9,5)%. Langsung dibawah horizon ini terdapat horizon E, berwarna putih dan putih
kekelabuan, dengan kandungan bahan organik dangat rendah (0,2 – 0,95) %. Rasio C/N
tergolong tinggi (16-35).

Kandungan P dan K-potensial di lapisan atas dan dilapisan bawah, sangat rendah sampai rendah.
Jumlah basa-basa dapat ditukar termasuk sangat rendah (0,2-1,2 cmol (+)/kg tanah). Kandungan
kedua unsur hara ini dilapisan serasah, selalu lebih tinggi dari pada lapisan bawah yang berpasir.
KTK tanah sebagian besar sangat rendah dilapisan pasir, dan agak tinggi sampai tinggi pada
lapisan serasah dan di horizon Bs (sesquioksida). KB semuanya sangat rendah sampai. Potensi
Kesuburan alami Spodosol dengan demikian disimpulkan sangat rendah sampai rendah
penggunaan tanah (Himatan, 2006)


1.2. Tinjauan Umum Kesuburan Tanah

Sebagai sumberdaya alam untuk budidaya tanaman, tanah mempunyai dua fungsi, yaitu : (1)
sebagai sumber penyedia unsur hara dan air, dan (2) tempat akar berjangkar. Salah satu atau
kedua fungsi ini dapat menurun, bahkan hilang.

Hilangnya fungsi inilah yang menyebabkan produkvitas tanah menurun menjadi Tanah Marjinal.
Dengan demikian, Tanah Marjinal untuk budidaya tanaman merupakan tanah yang mempunyai
sifat-sifat fisika, kimia, dan biologi yang tidak optimal untuk kebutuhan pertumbuhan tanaman.
Kalau tanah ini diusahakan untuk budidaya tanaman memerlukan masukan teknologi, sehingga
menambah biaya produksi. Selain itu, tanah ini juga tidak mempunyai fungsi ekologis yang baik
terhadap lingkungan.

Tanah Marjinal dapat terbentuk secara alami dan antropogenik (ulah manusia). Secara alami
(pengaruh lingkungan) yang disebabkan proses pembentukan tanah terhambat atau tanah yang
terbentuk tidak sesuai untuk pertumbuhan tanaman. Misalnya, bahan induk yang keras dan asam,
kekurangan air, suhu yang dingin/membeku, tergenang dan akumulasi bahan gambut, fraksi
tanah yang dihasilkan didominasi oleh pasir, pengaruh salinisasi/penggaraman.

Tanah Marjinal yang dimaksudkan adalah tanah yang terbentuk secara alami, bukan tanah yang
menjadi marjinal karena antropogenik. Dari 12 ordo tanah di dunia (Alfisols, Andisols, Aridisols,
Entisols, Gelisols, Histosols, Inceptisols, Mollisols, Oxisols, Spodosols, Ultisol, dan Vertisols)
yang tergolong Tanah Marjinal antara lain adalah : Aridisols, Entisols, Gelisols, Histosols,
Inceptisols, dan Ultisols.

Secara antropogenik adalah karena ulah manusia yang memanfaatkan sumberdaya alam yang
tidak terkendali, sehingga terjadi kerusakan ekosistem. Misalnya, deforestasi dan degradasi
hutan, eksploitasi deposit bahan tambang, terungkapnya unsur atau senyawa beracun bagi
tanaman, pengeringan ekstrem pada tanah gambut, serta kebakaran. Deforestasi dan degradasi
hutan menyebabkan terjadinya erosi yang dipercepat dan punahnya organisme yang berperan
dalam pembentukan tanah T = ƒ (i, b, r, o, w).
Aliran permukaan yang berasal dari curah hujan akan mengikis lapisan permukaan yang
merupakan bagian tersubur dari tanah. Fraksi tanah yang dahulu diangkut adalah yang halus dan
ringan yaitu liat dan humus. Kedua fraksi ini sangat berperan dalam menentukan kesuburan
tanah, karena merupakan kompleks petukaran ion dan penahan unsur hara. Dalam sedimen yang
terangkut pada peristiwa erosi terdapat juga berbagai unsur hara dan bahan organik. Oleh karena
itu, tanah yang mengalami erosi akan menurun produktivitasnya menjadi tanah marjinal yang
kalau erosi selanjutnya tidak dikendalikan, tanah tersebut akan menjadi lahan kritis.

Luas lahan kritis di Indonesia dari tahun ke tahun meningkat, sejalan dengan semakin
mengganasnya deforestasi dan degradasi hutan serta belum diterapkannya teknologi konservasi
tanah yang memadai, terutama pada areal budidaya tanaman pada lahan berlereng. Dari hasil
survei Direktorat Kehutanan tahun 1985 pada 75 DAS (sebagian dari jumlah DAS di Indonesia)
jumlah lahan kritis telah mencapai 16 juta ha dan meningkat 2,5 % / tahun. Sedangkan dari
laporan Suranggajiwa (1975) luas lahan kritis pada seluruh DAS di Indonesia mencapai 30 juta
ha dan meningkat 2 % / tahun. Dapat diprediksi betapa luasnya lahan kritis di Indonesia saat ini.

Produktivitas tanah merupakan kemampuan suatu tanah untuk menghasilkan produk tertentu
suatu tanaman dibawah suatu sistem pengelolaan tanah tertentu. Suatu tanah atau lahan dapat
menghasilkan suatu produk tanaman yang baik dan menguntungkan maka tanah dikatakan
produktif. Produktivitas tanah merupakan perwujudan darifaktor tanah dan non tanah yang
mempengaruhi hasil tanaman.


Tanah produktif harus mempuyai kesuburan yang menguntungkan bagi pertumbuhan tanaman.
Akan tetapi tanah subur tidak selalu berarti produktif. Tanah subur akan produktif jika dikelaola
dengan tepat, menggunakan jenis tanaman dan teknik pengelolaan yang sesuai. Kesuburan tanah
adalah kemampuan atau kualitas suatu tanah menyediakan unsur hara tanaman dalam jumlah
yang mencukupi kebutuhan tanaman, dalam bentuk senyawa-senyawa yang dapat dimanfaatkan
tanaman dan dalam perimbangan yang sesuai untuk pertumbuhan tanaman tertentu dengan
didukung oleh faktor pertumbuhan lainnya (Yuwono dan Rosmarkam 2008).

Tanah yang sehat akan memberikan sumbangan yang besar tehadap kualitas tanah. Kualitas
tanah dapat sebagai sifat atau atribut inherent tanah yang dapat digambarkan dari sifat-sifat tanah
atau hasil observasi tidak langsung, dan sebagai kemampuan tanah untuk menampakkan fungsi-
fungsi produktivitas lingkungan dan kesehatan.

Winarso (2005) menjelaskan bahwa pengukuran kualitas tanah merupakan dasar untuk penilaian
keberlanjutan pengelolaan tanah yang dapat diandalkan untuk masa-masa yang akan datang,
karena dapat dipakai sebagai alat untuk menilai pengaruh pengelolaan lahan. Pada umumnya
proses degradasi tanah dalam sistem pertanian dapat disebabkan oleh erosi, pemadatan,
penurunan ketersediaan hara atau penurunan kesuburan, kehilangan bahan organik tanah dan lain
lain.

Aryantha (2002) menjelaskan ada tiga konsep untuk memperbaiki kesuburan tanah yaitu yang
berwawasan lingkungan atau berkelanjutan adalah Low External Input Agriculture (LEIA) dan
Low Ezternal Input Sustainable Agriculture (LEISA), dan pertanian modren yang tergantung
dengan bahan kimia adalah High External Input Agriculture (HEIA)

LEIA adalah sistem yang memanfaatkan sumberdaya lokal yang sangat intensif dengan sedikit
atau sama sekali tidak menggunakan masukan dari luar sehingga tidak terjadi kerusakan
sumberdaya alam. Pendauran hara di dalam usahatani dengan sumber-sumber yang berasal dari
luar usaha tani. Kegiatan ini berguna untuk menambahkan hara kepada tanah dari luar usaha tani.
Bahan-bahan yang digunakan: sampah, kompos, limbah, dll. Pendauran hara di dalam usaha tani
dengan sumber-sumber yang berasal dari usaha tani itu sendiri. Pendauran ini dapat dilewatkan
dengan ternak atau pengembalian sisa-sisa biomassa hasil panen. Cara ini tidak menambahkan
hara kepada tanah, tetapi hanya mengembalikan hara yang tidak terangkut ke luar bersama
dengan hasil panen . Pendauran hara di dalam petak pertanaman. Kegiatan ini biasanya
melibatkan tanaman legum (cover crop) untuk memenuhi sebagian besar kebutuhan N pada
tanaman pokok.

HEIA adalah Merupakan sistem pertanian yang menggunakan masukan dari luar (secara
berlebihan). Umumnya berupa bahan-bahan agrokimia konvensional yang memang disengaja
dibuat untuk input produksi. Sistem ini sangat tergantung senyawa kimia sintetis (pupuk,
pestisida, zat pengatur tumbuh). Dapat berpengaruh buruh pada keseimbangan lingkungan dan
kesehatan manusia .

LEISA adalah Pertanian dengan masukan rendah tetapi mengoptimalkan pemanfaatan
sumberdaya alam (tanah, air, tumbuhan dan hewan), manusia (tenaga, pengetahuan dan
keterampilan) yang tersedia ditempat dan layak secara ekonomis, mantap secara ekologis, adil
secara sosial dan sesuai dengan budaya lokal. Ciri-ciri sitem ini (a) berusaha mengoptimalkan
pemanfaatan sumberdaya lokal dengan mengkombinasikan berbagai komponen sistem usahatani
(tanaman, hewan, tanah, air, iklim dan manusia) sehingga saling melengkapi dan memberikan
efek sinergi yang luar biasa,(b) berusaha mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya lokal
dengan mengkombinasikan berbagai komponen sistem usahatani (tanaman, hewan, tanah, air,
iklim dan manusia) sehingga saling melengkapi dan memberikan efek sinergi yang luar biasa.

Prinsip dasar LEISA adalah menjamin kondisi tanah yang mendukung pertumbuhan tanaman,
khususnya dengan mengelola bahan organik dan meningkatkan kehidupan mikroorganisme di
dalam tanah (soil regenerator), mengoptimalkan ketersediaan dan menyeimbangkan aliran unsur
hara, khususnya melalui penambatan Nitrogen, pendaur ulangan unsur hara dan pemanfaatan
pupuk luar sebagai pelengkap,, meminimalkan kerugian sebagai akibat radiasi matahari, udara
dan air dengan pengelolaan iklim mikro, pengelolaan air dan pengendalian erosi, saling
melengkapi dan sinergi dalam penggunaan sumberdaya genetik yang mencakup penggabungan
dalam sistem pertanian terpadu dengan tingkat keanekaragaman fungisonal tinggi .


1.3. Kualitas dan Karekteristik Lahan

Kualitas lahan adalah sifat-sifat pengenal atau attribute yang bersifat kompleks dari sebidang
lahan. Setiap kualitas lahan mempunyai keragaan ( performance) yang berpengaruh terhadap
kesesuaiannya bagi penggunaan tertentu dan biasanya terdiri atas satu atau lebih karakteristik
lahan (land characteristics ). Kualitas lahan ada yang bisa diestimasi atau diukur secara langsung
di lapangan, tetapi pada umumnya ditetapkan berdasarkan karakteristik lahan (FAO, 1976).

Sitorus (1985) menjelaskan ada empat kelompok kualitas lahan utama : (a) Kualitas lahan
ekologis yang berhubungan dengan kebutuhan tumbuhan seperti ketersediaan air, oksigen, unsur
hara dan radiasi (b) Kualitas yang berhubungan dengan kualitas pengelolaan normal, seperti
kemungkinan untuk mekanisasi pertanian (c) Kualitas yang berhubungan dengan kemungkinan
perubahan, seperti respon terhadap pemupukan, kemungkinan untuk irigasi dan lain-lain (d)
Kualitas konservasi yang berhubungan dengan erosi.

Karakteristik lahan yang erat kaitannya untuk keperluan evaluasi lahan dapat dikelompokkan ke
dalam 3 faktor utama, yaitu topografi, tanah dan iklim. Karakteristik lahan tersebut terutama
topografi dan tanah) merupakan unsur pembentuk satuan peta tanah (Ritung,2003).

Topografi yang dipertimbangkan dalam evaluasi lahan adalah bentuk wilayah
(relief) atau lereng dan ketinggian tempat di atas permukaan laut. Relief erat hubungannya
dengan faktor pengelolaan lahan dan bahaya erosi. Sedangkan faktor ketinggian tempat di atas
permukaan laut berkaitan dengan persyaratan tumbuh tanaman yang berhubungan dengan
temperatur udara dan radiasi matahari.


Ketinggian tempat diukur dari permukaan laut (dpl) sebagai titik nol. Dalam kaitannya dengan
tanaman, secara umum sering dibedakan antara dataran rendah (<700> 700 m dpl.). Namun
dalam kesesuaian tanaman terhadap ketinggian tempat berkaitan erat dengan temperatur dan
radiasi matahari. Semakin tinggi tempat di atas permukaan laut, maka temperatur semakin
menurun. Demikian pula dengan radiasi matahari cenderung menurun dengan semakin tinggi
dari permukaan laut. Ketinggian tempat dapat dikelaskan sesuai kebutuhan tanaman. Misalnya
tanaman teh dan kina lebih sesuai pada daerah dingin atau daerah dataran tinggi. Sedangkan
tanaman karet, sawit, dan kelapa lebih sesuai di daerah dataran rendah.

Iklim sebagai salah satu faktor lingkungan fisik yang sangat penting dapat mempengaruhi
pertumbuhan tanaman. Bebrapa unsur iklim yang penting adalah curah hujan, suhu, dan
kelembaban. Di daerah tropika umumnya radiasi tinggi pada musim kemarau dan rendah pada
musim penghujan. Namun demikian mengingat sifat saling berkaitan antara unsur iklim satu
dengan yang lainnya, maka dalam uraian iklim ini akan diuraikan unsur-unsur iklim yang yang
berkaitan dengan pertumbuhan tanaman.

Tanaman kina dan kopi, misalnya, menyukai dataran tinggi atau suhu rendah, sedangkan karet,
kelapa sawit dan kelapa sesuai untuk dataran rendah. Pada daerah yang data suhu udaranya tidak
tersedia, suhu udara diperkirakan berdasarkan ketinggian tempat dari permukaan laut. Semakin
tinggi tempat, semakin rendah suhu udara rata-ratanya dan hubungan ini dapat dihitung dengan
menggunakan rumus Braak (1928): 26,3 C (0,01 x elevasi dalam meter x 0,6 C) Suhu udara rata-
rata di tepi pantai berkisar antara 25-27 C.

Data curah hujan diperoleh dari hasil pengukuran stasiun penakar hujan yang
ditempatkan pada suatu lokasi yang dianggap dapat mewakili suatu wilayah tertentu. Pengukuran
curah hujan dapat dilakukan secara manual dan otomatis. Secara manual biasanya dicatat
besarnya jumlah curah hujan yang terjadi selama 1(satu) hari, yang kemudian dijumlahkan
menjadi bulanan dan seterusnya tahunan. Sedangkan secara otomatis menggunakan alat-alat
khusus yang dapat mencatat kejadian hujan setiap periode tertentu, misalnya setiap menit, setiap
jam, dan seterusnya.

Untuk keperluan penilaian kesesuaian lahan biasanya dinyatakan dalam jumlah curah hujan
tahunan, jumlah bulan kering dan jumlah bulan basah. Oldeman (1975) mengelompokkan
wilayah berdasarkan jumlah bulan basah dan bulan kering berturut-turut. Bulan basah adalah
bulan yang mempunyai curah hujan >200 mm, sedangkan bulan kering mempunyai curah hujan
<100 mm. Kriteria ini lebih diperuntukkan bagi tanaman pangan, terutama untuk padi.

Berdasarkan kriteria tersebut Oldeman (1975) membagi zone agroklimat kedalam 5 kelas utama
(A, B, C, D dan E). Sedangkan Schmidt & Ferguson (1951) membuat klasifikasi iklim
berdasarkan curah hujan yang berbeda, yakni bulan basah (>100 mm) dan bulan kering (<60
mm). Kriteria yang terakhir lebih bersifat umum untuk pertanian dan biasanya digunakan untuk
penilaian tanaman tahunan.

Faktor tanah dalam evaluasi kesesuaian lahan ditentukan oleh beberapa sifat atau karakteristik
tanah di antaranya jenis tanah, drainase tanah, tekstur, kedalaman tanah dan retensi hara (pH,
KTK), serta beberapa sifat lainnya diantaranya alkalinitas, bahaya erosi, dan banjir/genangan.
Data jenis tanah dapat di lihat melalui peta satuan lahan khusus jenis tanah, seperti contoh peta
jenis tanah propinsi Jambi Kabupaten Muaro Jambi.

Drainase tanah menunjukkan kecepatan meresapnya air dari tanah atau keadaan tanah yang
menunjukkan lamanya dan seringnya jenuh air. Kelas drainase tanah disajikan pada Tabel 5.
Kelas drainase tanah yang sesuai untuk sebagian besar tanaman, terutama tanaman tahunan atau
perkebunan berada pada kelas 3 dan 4. Drainase tanah kelas 1 dan 2 serta kelas 5, 6 dan 7 kurang
sesuai untuk tanaman tahunan karena kelas 1 dan 2 sangat mudah meloloskan air, sedangkan
kelas 5, 6 dan 7 sering jenuh air dan kekurangan oksigen.


Tekstur merupakan komposisi partikel tanah halus (diameter 2 mm) yaitu pasir, debu dan liat.
Tekstur dapat ditentukan di lapangan seperti disajikan pada Tabel 4, atau berdasarkan data hasil
analisis di laboratorium dan menggunakan segitiga tekstur . Pengelompokan kelas tekstur adalah:
Halus (h) : Liat berpasir, liat, liat berdebu. Agak halus (ah) : Lempung berliat, lempung liat
berpasir, lempung liat berdebu. Sedang (s) : Lempung berpasir sangat halus, lempung,
lempungberdebu, debu. Agak kasar (ak) : Lempung berpasir. Kasar (k) : Pasir, pasir berlempung.
Sangat halus (sh) : Liat (tipe mineral liat 2:1).

Bahan kasar adalah persentasi kerikil, kerakal atau batuan pada setiap lapisan
tanah, dibedakan menjadi: sedikit : <> 60 %. Ketebalan gambut, dibedakan menjadi: tipis : <>
400 cm.



Karakteristik Kelas Drainase Tanah
1. Cepat (excessively drained):
Tanah mempunyai konduktivitas hidrolik tinggi sampai sangat tinggi dan dayamenahan air
rendah. Tanah demikian tidak cocok untuk tanaman tanpa irigasi.Ciri yang dapat diketahui di
lapangan, yaitu tanah berwarna homogen tanpabercak atau karatan besi dan aluminium serta
warna gley (reduksi).


2. Agak cepat (somewhat excessively drained):
Tanah mempunyai konduktivitas hidrolik tinggi dan daya menahan air rendah.Tanah demikian
hanya cocok untuk sebagian tanaman kalau tanpa irigasi. Ciri yang dapat diketahui di lapangan,
yaitu tanah berwarna homogen tanpa bercak atau karatan besi dan aluminium serta warna gley
(reduksi).


3. Baik (well drained):
Tanah mempunyai konduktivitas hidrolik sedang dan daya menahan air sedang, lembab, tapi
tidak cukup basah dekat permukaan. Tanah demikian cocok untuk berbagai tanaman. Ciri yang
dapat diketahui di lapangan, yaitu tanah berwarna homogen tanpa bercak atau karatan besi
dan/atau mangan serta warna gley (reduksi) pada lapisan 0 sampai 100 cm.


4. Agak baik (moderately well drained):
Tanah mempunyai konduktivitas hidrolik sedang sampai agak rendah dan daya menahan air (pori
air tersedia) rendah, tanah basah dekat permukaan. Tanah demikian cocok untuk berbagai
tanaman. Ciri yang dapat diketahui di lapangan, yaitu tanah berwarna homogen tanpa bercak
atau karatan besi dan/atau mangan serta warna gley (reduksi) pada lapisan 0 sampai 50 cm.


5. Agak terhambat (somewhat poorly drained):
Tanah mempunyai konduktivitas hidrolik agak rendah dan daya menahan air (pori air tersedia)
rendah sampai sangat rendah, tanah basah sampai ke permukaan. Tanah demikian cocok untuk
padi sawah dan sebagian kecil tanaman lainnya. Ciri yang dapat diketahui di lapangan, yaitu
tanah berwarna homogen tanpa bercak atau karatan besi dan/atau mangan serta warna
gley(reduksi) pada lapisan 0 sampai 25 cm.


6. Terhambat (poorly drained):
Tanah mempunyai konduktivitas hidrolik rendah dan daya menahan air (pori air tersedia) rendah
sampai sangat rendah, tanah basah untuk waktu yang ke cukup lama sampai permukaan. Tanah
kemikian cocok untuk padi sawah dan sebagian kecil tanaman lainnya. Ciri yang dapat diketahui
di lapangan, yaitu tanah mempunyai warna gley (reduksi) dan bercak atau karatan besidan/atau
mangan sedikit pada lapisan sampai permukaan.


7. Sangat terhambat (very poorly drained):
Tanah dengan konduktivitas hidrolik sangat rendah dan daya menahan air (pori air tersedia)
sangat rendah, tanah basah secara permanen dan tergenang untuk waktu yang cukup lama sampai
ke permukaan. Tanah demikian cocok untuk padi sawah dan sebagian kecil tanaman lainnya.
Ciri yang dapat diketahui di lapangan, yaitu tanah mempunyai warna gley (reduksi) permanen
sampai pada lapisan permukaan.


Tingkat bahaya erosi dapat diprediksi berdasarkan kondisi lapangan, yaitu dengan cara
memperhatikan adanya erosi lembar permukaan (sheet erosion), erosi alur (rill erosion), dan
erosi parit (gully erosion). Pendekatan lain untuk memprediksi tingkat bahaya erosi yang relatif
lebih mudah dilakukan adalah dengan memperhatikan permukaan tanah yang hilang (rata-rata)
pertahun, dibandingkan tanah yang tidak tererosi yang dicirikan oleh masih adanya horizon A.
Horizon A biasanya dicirikan oleh warna gelap karena relative mengandung bahan organik yang
lebih tinggi.



Bersambung ke bagian 2 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini:


Pustaka:

Madjid, A. R. 2009. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Bahan Ajar Online untuk mata kuliah: (1) Dasar-
Dasar Ilmu Tanah, (2) Kesuburan Tanah, (3) Teknologi Pupuk Hayati, dan (4) Pengelolaan
Kesuburan Tanah Lanjut. Fakultas Pertanian Unsri & Program Pascasarjana Unsri.
http://dasar2ilmutanah.blogspot.com.
Diposkan oleh Dr. Ir. Abdul Madjid, MS di 21:27 1 komentar
Label: Kesuburan Tanah

Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Kering (Bagian 2)

Pengelolaan Kesuburan Tanah Mineral Masam untuk Pertanian*
Oleh: Ida Nursanti** dan Abdul Madjid Rohim***

(Bagian 2 dari 5 Tulisan)

Keterangan:
* : Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah, Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister
(S2), Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya. Palembang, Propinsi Sumatera Selatan,
Indonesia.
** : Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2), Program Pascasarjana, Universitas
Sriwijaya. Palembang, Propinsi Sumatera Selatan, Indonesia.
*** : Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah, Program Studi Ilmu Tanaman, Program
Magister (S2), Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya. Palembang, Propinsi Sumatera
Selatan, Indonesia.
(Bagian 2 dari 5 Tulisan)


II. Permasalahan Pada Tanah Mineral Masam

Tanah masam di Indonesia memiliki ciri-ciri tekstur lempungan, struktur gumpal, permeabilitas
rendah, stabilitas agregat baik, pH rendah, KPK rendah, aras N, P, Ca, Mg sangat rendah,
vegetasi alami alang-alang (Imperata cylindrica) dan hutan (Hardjowigeno, 1993), fraksi
lempung didominasi oleh mineral-mineral bermuatan terubahkan seperti kaolinit, gibsit dan atau
goetit (Ismail et al., 1993). Tanah ini di Indonesia terbentuk di daerah yang bercurah hujan tinggi
(2500-3000 mm per tahun), topografi berombak hingga berbukit dengan ketinggian 50-350 mm
di atas muka air laut, batuan induk granit, abu vulkan atau andesit .

Pengelolaan tanah-tanah mineral masam untuk kepentingan pertanian menghadapi kendala pH
yang rendah, keracunan Al, Mn, dan/atau Fe, serta kekahatan unsur-unsur hara penting seperti N,
P, Ca, dan atau Mg dan Mo . Upaya untuk mengatasi persoalan kesuburan tanah-tanah masam
adalah dengan mengkombinasikan antara praktek usaha tani dengan penerapan bioteknologi
tanah yang menekankan pada komponen mengamankan suplai N di dalam sistem tanah-tanaman
dengan pengayaan fiksasi N2 secara biologis (Notohadiprawiro, 1990). Teknologi ini mencakup
segala upaya untuk memanipulasi jasad renik dalam tanah dan proses metabolik mereka untuk
mengoptimumkan produktivitas pertanaman.

Lahan kering tergolong suboptimal karena tanahnya kurang subur, bereaksi masam, mengandung
Al, Fe, dan atau Mn dalam jumlah tinggi sehingga dapat meracuni tanaman. Lahan masam pada
umumnya miskin bahan organik dan hara makro N, P, K, Ca, dan Mg. Pemberian bahan
ameliorasi kapur, bahan organik, dan pemupukan N, P, dan K merupakan kunci untuk
memperbaiki kesuburan lahan kering masam.

Usaha pertanian di tanah Ultisol akan menghadapi sejumlah permasalahan.Tanah Ultisol
umumnya mempunyai pH rendah yang menyebabkan kandunganAl, Fe, dan Mn terlarut tinggi
sehingga dapat meracuni tanaman. Jenis tanah ini biasanya miskin unsur hara esensial makro
seperti N, P, K, Ca, dan Mg; unsur hara mikro Zn, Mo, Cu, dan B, serta bahan organik .
Meskipun secara umum tanah Ultisol atau Podsolik Merah Kuning banyak mengandung Al dapat
ditukar (Al-dd) (20-70%), namun hasil penelitianmenunjukkan bahwa beberapa contoh tanah
tersebut mengandung Al-dd relatif rendah (< 20%).

Tanah di KP. Kayu Agung, Indralaya, dan Prabumulih Sumatera Selatan, misalnya, mempunyai
kejenuhan Al-dd berturut-turut 11,08%, 1,01%, dan 17,26% di Jawa Barat 13,40% dan 11 dari
28 contoh tanah lapisan atas yang berasal dari Lampung Tengah jugamemiliki kejenuhanAl-dd
yang rendah (Taufiq et al. 2003).

Tekstur tanah ultisol bervariasi, berkisar dari pasiran (sandy) sampai dengan lempungan
(clayey). Fraksi lempung tanah ini umumnya didominasi oleh mineral silikat tipe 1:1 serta oksida
dan hidroksida Fe danAl, sehingga fraksi lempung tergolong beraktivitas rendah dan
dayamemegang lengas juga rendah. Karena umumnya memiliki kandungan bahan organik
rendah dan fraksi lempungnya beraktivitas rendah maka kapasitas tukar kation tanah (KTK)
tanah Podsolik juga rendah, sehingga relatif kurang kuatmemegang hara tanaman dan karenanya
unsur haramudah tercuci. Tanah Podsolik atau Ultisol termasuk tanah bermuatan terubahkan
(variable charge), sehingga nilai KTK dapat berubah bergantung nilai pH-nya, peningkatan pH
akan diikuti oleh peningkatan KTK, lebih mampu mengikat hara K dan tidak mudah tercuci
(Subandi, 2007).

Memperhatikan permasalahan yang dihadapi pada lahan kering masam seperti yang disebutkan
di depan, maka dalam pengelolaannya untuk pertanaman, secara teknis, terdapat dua pendekatan
pokok yakni pemilihan jenis komoditas atau varietas yang adaptif serta perbaikan kesuburan
tanah dengan ameliorasi dan pemupukan.

Indonesia memiliki lahan kering masam cukup luas yaitu sekitar 99,6 juta hektar dan tersebar di
Kalimantan, Sumatera, Maluku, Papua, Sulawesi, Jawa dan Nusa Tenggara (Soebagyo,et al.,
2004; Hidayat dan Mulyani, 2005). Salah satu ordo tanah yang cukup luas penyebarannya adalah
Ultisols. Ditinjau dari luasnya, Ultisol mempunyai potensi yang besar untuk pengembangan
pertanian lahan kering. Namun demikian, pemanfaatan lahan ini menghadapi kendala
karakteristik tanah yang dapat menghambat pertumbuhan tanaman terutama tanaman pangan bila
tidak dikelola dengan baik. Beberapa kendala sifat fisik tanah yang sering dijumpai antara lain
adalah kemantapan agregat yang rendah, tanah mudah menjadi padat dan permeabilitas tanah
yang lambat.

Pada umumnya lahan kering masam didominasi oleh tanah Ultisol, yang dicirikan oleh kapasitas
tukar kation (KTK) dan kemampuan memegang/menyimpan air yang rendah, tetapi kadar Al dan
Mn tinggi. Oleh karena itu, kesuburan tanah Ultisol sering kali hanya ditentukan oleh kadar
bahan organik pada lapisan atas, dan bila lapisan ini tererosi maka tanah menjadi miskin hara dan
bahan organik. Di samping itu, kekahatan fosfor merupakan salah satu kendala terpenting bagi
usaha tani di lahan masam. Hal ini karena sebagian besar koloid dan mineral tanah yang
terkandung dalam tanah Ultisol mempunyai kemampuan menyemat fosfat cukup tinggi, sehingga
sebagian besar fosfat dalam keadaan tersemat oleh Al dan Fe, tidak tersedia bagi tanaman
maupun biota tanah (Notohadiprawiro, 2006).

Kendala pengembangan lahan Podzolik Merah Kuning beriklim basah dengan topograsi
bergelombang cukup kompleks. Kesalahan dalam pengelolaan merupakan penyebab degradasi
lahan yang mendasar. Di daerah tropika basah yang topografinya bervariasi dari datar,
bergelombang hingga bergunung, erosi tanah merupakan salah satu penyebab degradasi lahan
yang dominan disamping penyebab lain seperti pencucian hara dan akumulasi unsur-unsur
beracun.

Lahan kering Podzolik Merah Kuning beriklim basah didominasi oleh tanah masam PMK
dengan bahan induk yang miskin unsur hara (Partohardjono et al, 1994). Oleh karena itu lahan
ini tergolong lahan marginal yang tingkat produktivitasnya rendah. Kesuburan tanah ini secara
alamiah sangat tergantung pada lapisan atas yang kaya bahan organik tetapi bersifat labil. Kalau
lahan ini diolah untuk budidaya, kandungan bahan organik yang memadai, produktivitas lahan
cepat pula menurun dan akhirnya menjadi lahan kritis.

Tanaman yang dibudidayakan pada lahan kering PMK yang krits tidak mampu berproduksi
secara optimal jika dikelola secara konvensional (Hakim et al, 1997). Sedangkan pembuatan
teras dan galengan memerlukan biaya yang tinggi dan petani tidak memiliki cukup biaya.

Sifat kimia dan fisika tanah PMK yang jelek merupakan kendala misalnya tanah yang bereaksi
masam sampai sangat masam. Kandungan dan kejenuhan aluminiumnya tinggi yang dapat
meracuni tanaman dan daya fiksasi yang tinggi terhadap Phospor.

Kandungan bahan organik, KTK dan kejenuhan basahnya umumnya rendah. Mineral liat
umumnya didominasi oleh kaolinit yang tidak banyak memberikan sumbangan terhadap
kesuburan tanah serta sebagian besar tanah ini mempunyai kapasitas memegang air yang rendah
dan peka terhadap erosi (Arief dan Irman, 1997). Dampak langsung dari wilayah yang
mengalami erosi adalah terjadinya suatu areal yang secara bertahap menjadi tandus dengan
konsekuensi penduduk yang tinggal disekitarnya akan menjadi miskin (Pandang dan Subandi,
1997).

Mineral Kaolin telah lama dikenal akan reaktivitasnya terhadap fosfat, karena kaolin merupakan
mineral lempung yang merajai terutama pada tanah-tanah mineral masam seperti Ultisols,
Alfisols dan Oxisols maka reaktivitasnya terhadap fosfat perlu dipertimbangkan sebagai landasan
pengelolaan P pada tanah-tanah ini. Wild (1950) melakukan penelitian tentang reaksi fosfat
dengan lempung alumino-silikat dan berkesimpulan bahwa montmorillonit dan kaolinit menjerap
P dalam jumlah yang hampir sama apabila ukuran partikelnya serupa. Ia mengusulkan dua
mekanisme retensi P oleh mineral-mineral lempung, yaitu pertukaran ion fosfat dengan gugus
hidroksil pada lapisan gibbsite dan/atau sebagai anion tertukarkan yang mengimbangi muatan
positif hasil protonasi ion. Muljadi et al. (1966) berkesimpulan bahwa isotherm retensi P adalah
sama untuk kaolinit, gibbsite dan pseudoboehmite, perbedaannya adalah pada jumlah tapak
retensi.

Oksida-oksida besi dan aluminium maupun lempung aluminosilikat, yang merupakan komponen
utama fraksi lempung tanah-tanah mineral masam, mampu menjerap P. Meskipun demikian
perlu disadari bahwa terdapat perbedaan kekuatan ikatan retensi yang bersumber pada perbedaan
sifat ikatan antara anion fosfat dengan oksida-oksida besi dan lempung alumino silikat.
Perbedaan ini akan menimbulkan perilaku dan tanggapan yang berbeda terhadap perlakuan
pemberian fosfat ke dalam tanah sebagai pupuk. Dalam hubungan ini nisbah antara oksida besi
dan lempung silikat perlu dipertimbangkan sebagai dasar pengelolaan P terutama pada tanah-
tanah mineral masam. Penelitian ini dilakukan untuk menentukan kemampuan retensi P dari
kaolin dan oksida-oksida besi yang diperoleh dari tanah-tanah mineral masam di Indonesia.

Tanaman kedelai mempunyai prospek yang cukup besar untuk dikembangkan di tanah Ultisol
asal dibarengi dengan pengelolaan tanaman dan tanah yang tepat. Umumnya tanah tersebut
mempunyai pH yang sangat masam hingga agak masam, yaitu sekitar 4.1-5.5, jumlah basa-basa
dapat ditukar tergolong rendah hingga sedang dengan komplek adsorpsi didominasi oleh Al, dan
hanya sedikit mengandung kation Ca dan Mg. Kapasitas tukar kation (KTK) dan kejenuhan basa
(KB) lapisan atas tanah umumnya rendah hingga sedang (Subagyo et al., 2000).

Kekahatan kalium merupakan kendala yang sangat penting dan sering terjadi di tanah Ultisol.
Masalah tersebut erat kaitannya dengan bahan induk tanah yang miskin K, hara kalium yang
mudah tercuci karena KTK tanah rendah, dan curah hujan yang tinggi di daerah tropika basah
sehingga K banyak yang tercuci. Upaya untuk meningkatkan produksi kedelai di tanah masam
dapat dilakukan melalui pengelolaan tanaman yang sesuai dan manipulasi tanah yang tepat.
Pemupukan kalium memegang peranan yang sangat penting dalam meningkatkan produksi
kedelai di tanah Ultisol. Hara kalium merupakan hara makro bagi tanaman yang dibutuhkan
dalam jumlah banyak setelah N dan P (Nursyamsi,2006)



Bersambung ke bagian 3 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini:


Pustaka:

Madjid, A. R. 2009. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Bahan Ajar Online untuk mata kuliah: (1) Dasar-
Dasar Ilmu Tanah, (2) Kesuburan Tanah, (3) Teknologi Pupuk Hayati, dan (4) Pengelolaan
Kesuburan Tanah Lanjut. Fakultas Pertanian Unsri & Program Pascasarjana Unsri.
http://dasar2ilmutanah.blogspot.com.
Diposkan oleh Dr. Ir. Abdul Madjid, MS di 21:23 0 komentar
Label: Kesuburan Tanah

Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Kering (Bagian 3)

Pengelolaan Kesuburan Tanah Mineral Masam untuk Pertanian*
Oleh: Ida Nursanti** dan Abdul Madjid Rohim***

(Bagian 3 dari 5 Tulisan)

Keterangan:
* : Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah, Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister
(S2), Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya. Palembang, Propinsi Sumatera Selatan,
Indonesia.
** : Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2), Program Pascasarjana, Universitas
Sriwijaya. Palembang, Propinsi Sumatera Selatan, Indonesia.
*** : Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah, Program Studi Ilmu Tanaman, Program
Magister (S2), Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya. Palembang, Propinsi Sumatera
Selatan, Indonesia.

(Bagian 3 dari 5 Tulisan)


III. Perkembangan Penelitian Tanah Mineral Masam

Hasil penelitian Arimurti et al (2006) menunjukkan bahwa tanah tersebut mempunyai sifat yang
sangat masam (pH 4,2), hal ini dapat disebabkan tanah tersebut mempunyai kapasitas tukar
kation yang tinggi dan mempunyai kejenuhan basa rendah dan bereaksi masam (Sanchez, 1976).
Hasil analisis juga menunjukkan bahwa tanah ini mempunyai sifat berikut: C tinggi, N sangat
rendah, P tersedia dan P total yang sangat rendah.

Selanjutnya dijelaskan pula bahwa perlakuan bakteri pelarut fosfat (BPF) mampu meningkatkan
pertumbuhan tanaman jagung pada tanah masam, yang tampak pada parameter tinggi tanaman
10 dan 45 HST, berat basah trubus, berat kering trubus, berat basah akar, berat kering akar, luas
daun serta kadar P trubus. Perlakuan dengan pupuk P ternyata mampu meningkatkan
pertumbuhan hanya pada parameter tinggi tanaman 10 dan 17 HST serta kadar P trubus.
Perlakuan masing-masing SP-36 maupun rock fosfat sama baiknya dalam meningkatkan tinggi
tanaman 10 dan 17 HST serta kadar P trubus. Perlakuan kombinasi pupuk P dengan BPF dapat
meningkatkan pertumbuhan yang tampak pada parameter berat kering trubus. Semua kombinasi
perlakuan jenis pupuk P dengan BPF sama baiknya dalam meningkatkan berat kering trubus
pada tanah masam.

Hasanudin (2003) melakukan penelitian tentang ketersediaan dan serapan P pada tanaman
jagung di tanah ultisol melalui inokulasi mikoriza dan pemberian bahan organik. Terlihat bahwa
ketersediaan P dan serapan P meningkat dengan perlakuan tersebut diikuti pula peningkatan pada
ketersediaan N serta hasil tanaman jagung.

Hasil penelitian Joy (2005) bahwa pada tanah masam terjadi penurunan kandungan Al-dd tanah
dan peningkatan kandungan P-tersedia tanah dipengaruhi oleh interaksi antara takaran P-alam
dengan jenis kapur, sedangkan peningkatan nilai pH tanah dipengaruhi oleh efek mandiri P-alam
dan jenis kapur. Pengapuran dengan dolomit meningkatkan pH tanah lebih tinggi dibandingkan
pengapuran dengan kalsit. Secara umum, semakin tinggi takaran P-alam, semakin tinggi pula
nilai pH tanah.

Peningkatan takaran P- alam akan menurunkan kandungan Al-dd tanah, terutama jika
dikombinasikan dengan kapur, baik kalsit maupun dolomit. Efek peningkatan takaran P-alam
juga berpengaruh terhadap peningkatan kandungan Ptersedia tanah pada setiap level pengapuran.
Meningkatnya nilai pH tanah menyebabkan penurunan kandungan Al-dd tanah sedangkan
penurunan nilai Al-dd tanah akan meningkatkan kandungan P-tersedia tanah.

Penelitian Siradz (2003) memperlihatkan bahwa baik mineral lempung golongan kaolin maupun
oksida-oksida besi mampu menjerap P. Kapasitas retensi P dari oksida-oksida besi sekitar 10 kali
lipat lebih besar dari kaolin, tetapi keberadaan kaolin di dalam tanah-tanah mineral masam
sekitar 18 kali lipat dibandingkan dengan oksida besi. Oleh karena itu sebenarnya jumlah P yang
dijerap oleh kaolin jauh lebih besar dibandingkan dengan oksida-oksida besi.

Tanah Latosol merupakan tanah yang telah mengalami pelapukan yang intensif, bereaksi asam
dan terjadi pencucian yang kuat terutama basabasa K, Ca dan Mg. Kendala lain untuk budidaya
pertanian adalah kekurangan unsur hara P akibat terjadinya fiksasi oleh mineral lempung kaolinit
dan ion-ion Fe dan A1 akibat pH yang rendah. Hasil penelitian Sumaryo dan Suryono (2000)
tentang pengaruh pupuk P dan Dolomit pada hasil tanaman kacang tanah di tanah latosol
menunjukkan bahwa pengaruh sangat nyata dari dosis pupuk dolomit pada semua parameter
yang diamati dikarenakan pemberian dolomit dapat menambah unsur hara Ca dan Mg yang di
dalam tanah Latosol sangat rendah sampai rendah serta dimungkinkan dapat memperbaiki sifat
fisik dan kimia tanah.

Ultisol merupakan tanah terluas dari seluruh lahan kering yang ada di Propinsi Jambi yang
mempunyai potensi besar untuk untuk dijadikan lahan pertanian produktif yang berkelanjutan
dan menunjang program ketahan pangan nasional. Salah satu kendala adalah permeabilitas tanah
yang lambat. Penelitian Junedi (2008) menunjukkan bahwa untuk memperbaiki permeabilitas
tanah dapat dilakukan dengan penambahan kompos jerami padi saja, kapur saja maupun
diberikan secara bersama-sama.

Pemberian kompos jerami padi 20 ton-1 ha masih mampu meningkatan permeabilitas tanah,
demikian pula dengan pemberian kapur sampai 2xAldd. Akan tetapi jika kompos jerami padi
diberikan bersama sama dengan kapur maka pemberian 10 ton-1 hakompos jerami padi dan
1xAldd kapur sudah mampu meningkatkan permeabilitas tanah.

Penelitian Bertam et al (2005) pada tanah masam di Bengkulu dengan seri tanah Kandanglimun
Bengkulu yang memiliki pH sangat masam, kadar bahan organik rendah sampai sedang, kadar N
total rendah, kadar P tersedia sangat rendah, Ca tertukar rendah, Mg dan K tertukar rendah ,
KTK rendah dan tekstur silt loam . Diberi perlakuan dengan inokulasi mikoriza dan rhizobia
indigeneus pada beberapa varietas kedelai , memperlihatkan bahwa terjadi peningkatan
kesuburan tanah yang ditandai dengan meningkatnya N total, P tersedia, KTK , pH meningkat ke
arah netral, serta terjadi peningkatan pertumbuhan dan produksi kedelai jika dibandingkan
dengan kontrol.

Hasil penelitian Wulandari (2001) pada tanah ultisol menjelaskan bahwa inokulasi bakteri
pelarut fosfat jenis Pseudomonas diminuta dan Pseudomonas cepaceae yang diikuti dengan
pemberian pupuk fosfat dapat meningkatkan ketersediaan fosfat dan meningkatkan produksi
tanaman kedelai serta meningkatkan efisiensi pupuk P yang digunakan. Pelarutan fosfat oleh
Pseudomonas didahului dengan sekresi asam-asam organik, diantaranya asam sitrat, glutamat,
suksinat, laktat, oksalat, glioksilat, malat, fumarat. Hasil sekresi tersebut akan berfungsi sebagai
katalisator, pengkelat dan memungkinkan asam-asam organik tersebut membentuk senyawa
kompleks dengan kationkation Ca2+, Mg2+, Fe2+, dan Al3+ sehingga terjadi pelarutan fosfat
menjadi bentuk tersedia yang dapat diserap oleh tanaman.

Hasanudin dan Gonggo (2004) meneliti tentang pemanfaatan mikrobia pelarut fosfat dan
mikoriza untuk perbaikan fosfor tersedia, serapan fosfor tanah ultisol dan hasil jagung. Dari hasil
penelitiannya terdapat pengaruh tunggal dan interaksi dari pemberian mikrobia pelarut fosfat dan
mikoriza terhadap serapan P dan hasil jagung. Nilai tertinggi terdapat pada perlakuan mikrobia
pelarut fosfat 15 ml tanaman-1 dan mikoriza 20 g tanaman-1 terhadap serapan P dan hasil jagung
masing-masing sebesar 0,3881 ppm dan 280,15 g tanaman-1.

Noor (2003) meneliti tentang pengaruh fosfat alam dan kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan
pupuk kandang terhadap P tersedia dan pertumbuhan kedelai pada ultisol. Dari hasil
penelitiannya di dapat bahwa fosfat alam dan kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan pupuk
kandang mampu meningkatkan P tersedia tanah , jumlah dan bobot kering bintil akar dan bobot
kering tanaman kedelai. Pemberian bakteri pelarut fosfat dan pupuk kandang secara sendiri-
sendiri maupun kombinasinya meningkatkan P tersedia berturut-turut 26%, 34% dan 48%
dibandingkan dengan kontrol. Kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan pupuk kandang
meningkatkan bobot kering tanaman kedelai 29% dibandingkan kontrol.


Widawati dan Suliasih (2005) meneliti tentang Augmentasi Bakteri Pelarut Fosfat (BPF)
Potensial sebagai Pemacu Pertumbuhan Caysin (Brasica caventis Oed.) di Tanah Marginal
dengan pH rendah. Dari hasil penelitiannya didapat bahwa Empat isolat BPF jenis Bacillus
pantotheticus, Klebsiella aerogenes, Chromobacterium lividum dan B. Megaterium sebagai
inokulan padat, mampu memacu pertumbuhan tanaman caysin. Inokulan yang berisi 4 isolat BPF
jenis Bacillus pantotheticus, Klebsiella aerogenes, Chromobacterium lividum, dan B.
megaterium merupakan inokulan terbaik sebagai biofertilizer dan menghasilkan berat daun segar
1 tanaman terbesar dari 4 tanaman perpot (g), berat daun segar 4 tanaman per pot, dan berat
tanaman segar seluruh tanaman per pot (daun + batang + akar) sebesar 139,22 g, 575,48 g, dan
606,42 g atau ada kenaikan 877,67%; 903,63%; 930,63 dari tanaman kontrol 3/R = tanaman
tanpa pupuk/inokulan; 354,67%; 208,30%; 217,23% dari tanaman kontrol 2/Q = tanaman dengan
pupuk kompos; dan 61,81%; 203,75%; 207,84% dari tanaman kontrol 1/P = tanaman dipupuk
kimia. Ada kenaikan pada tanaman segar seluruh tanaman per pot (daun + batang + akar) sebesar
32,87% dari tanaman yang diinokulasi dengan isolat BPF tunggal maupun campuran 2-3 isolat
BPF.

Penelitian Sudirja et al (2006) menunjukkan bahwa respon pemberian kompos kulit buah kakao,
kascing, dan pupuk kandang ayam berpengaruh terhadap pH tanah. Semakin besar dosis
perlakuan pupuk organik yang diberikan, maka pH tanah pun semakin meningkat. Sejalan
dengan pemikiran Sufiadi (1999), pemberian bahan organik dengan dosis yang meningkat akan
meningkatkan pelepasan kation ke dalam larutan tanah, sehingga cukup untuk meningkatkan pH
dan akibatnya muatan permukaan negatif menjadi lebih besar.


Bersambung ke bagian 4 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini:


Pustaka:

Madjid, A. R. 2009. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Bahan Ajar Online untuk mata kuliah: (1) Dasar-
Dasar Ilmu Tanah, (2) Kesuburan Tanah, (3) Teknologi Pupuk Hayati, dan (4) Pengelolaan
Kesuburan Tanah Lanjut. Fakultas Pertanian Unsri & Program Pascasarjana Unsri.
http://dasar2ilmutanah.blogspot.com.
Diposkan oleh Dr. Ir. Abdul Madjid, MS di 21:20 0 komentar
Label: Kesuburan Tanah

Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Kering (Bagian 4)

Pengelolaan Kesuburan Tanah Mineral Masam untuk Pertanian*
Oleh: Ida Nursanti** dan Abdul Madjid Rohim***

(Bagian 4 dari 5 Tulisan)
Keterangan:
* : Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah, Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister
(S2), Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya. Palembang, Propinsi Sumatera Selatan,
Indonesia.
** : Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2), Program Pascasarjana, Universitas
Sriwijaya. Palembang, Propinsi Sumatera Selatan, Indonesia.
*** : Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah, Program Studi Ilmu Tanaman, Program
Magister (S2), Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya. Palembang, Propinsi Sumatera
Selatan, Indonesia.

(Bagian 4 dari 5 Tulisan)


IV. Pengelolaan Kesuburan Tanah Mineral

4.1. Pemakaian Pupuk Organik dan Anorganik

Sumber pupuk organik dapat berasal dari kotoran hewan, bahan tanaman dan limbah, misalnya ;
pupuk kandang, hijauan tanaman rerumputan, semak ,perdu dan pohon, limbah pertanaman dan
limbah agroindustri. Tanah yang dibenahi dengan pupuk organik mempunyai struktur yang baik
dan sifat menahan air yang lebih besar dari pada tanah yang kandungan bahan orgaiknya rendah.

Pada umumnya pupuk organik mengandung hara makro yang rendah, tetapi mengandung hara
mikro yang cukup sangat diperlukan oleh tanaman, sebagai bahan pembenah tanah pupuk
organik dapat mencegah erosi, mencegah pengerakan permukaan tanah (crusting)dan retakan
tanah, mempertahankan kelengasan tanah .

Karekteristik umum yang dimiliki oleh pupuk organik adalah :
1. Kandungan hara rendah. Kandungan hara pupuk organik pada umumnya rendah tetapi
bervariasi tergantung jenis bahan dasarnya.
2. Ketersediaan unsur hara lambat. Hara yang berasal dari bahan organik diperlukan untuk
kegiatan mikrobia tanah untuk dirubah dari bentuk organik komplek yang tidak dapat
dimanfaatkan tanaman menjadi bentuk senyawa organik dan anorganik yang sederhana yang
dapat diabsorpsi oleh tanaman.
3. Penggunaan pupuk organik sebaiknya harus diikuti dengan pupuk anorganik yang lebih cepat
tersedia untuk menutupi kekurangan hara dari pupuk organik .

Pupuk kandang merupakan hasil samping yang cukup penting dari budidaya hewan peliharaan
baik unggas maupun non unggas, terdiri dari kotoran padat dan cair dari hewan ternak yang
bercampur sisa makanan, dapat menambah unsur hara dalam tanah . Pemberian pupuk kandang
selain dapat menambah tersedianya unsur hara, juga dapat memperbaiki sifat fisik tanah.
Beberapa sifat fisik tanah yang dapat dipengaruhi pupuk kandang antara lain kemantapan
agregat, bobot volume, total ruang pori, plastisitas dan daya pegang air.

Kandungan unsur hara pupuk kandang akan berbeda dengan berbedanya jenis dan wujud bahan
pupuk kandang .

Pemupukan yang dianjurkan pada budidaya tanaman jagung , untuk pupuk organic ( pupuk
kandang / kompos ) 20 ton / ha. Sedangkan untuk pupuk an organik : Urea 300 kg / ha, TSP 100
kg / ha, KCI 50 kg / ha. Pupuk dasar diberikan sebelum tanam atau bersamaan tanam sejumlah
20 ton / ha pupuk organic, 100 kg / ha Urea, 100 kg TSP, dan 50 kg / ha KCl dengan membuat
larikan atau ditugalkan kemudian ditutup kembali dengan tanah dengan jarak 10 cm dari garis
tanam / lubang tanam. Pupuk susulan diberikan 3 minggu setelah tanam berupa Urea 100 kg / ha,
diteruskan pupuk susulan kedua pada tanaman berumur 5 minggu sejumlah 100 kg Urea / ha
(Dinas Pertanian Jember,2007).
Hasil penelitian Mayadewi (2007) pupuk kandang ayam meningkatkan pertumbuhan hasil
tanaman jagung manis sebesar 47,03% bila dokombinasikan dengan jarak tanam 50 x 40 cm.

Barus (2005) menjelaskan bahwa efisiensi penggunan pupuk dapat ditingkatkan dengan
melakukan serangkaian uji tanah untuk suatu sistem hara-tanah-tanaman. Pada dasarnya tahapan
kegiatan uji tanah meliputi ; (1) Pengambilan contoh tanah yang mewakili lokasi berdasarkan
hasil survey terdahulu, (2) Analisa kimia tanah di laboratorium dengan metode yang tepat dan
teruji, (3) Interpretasi hasil analisis dan (4) Rekomendasi pemupukan.

Hasil penelitian Hasanudin et al (2007) menunjukkan bahwa pemberian pupuk kandang pada
berbagai dosis mampu menurunkan Al-dd sekaligus meningkatkan pH tanah walaupun
peningkatan pH tanah tidak sedrastis penurunan Al-dd. Peningkatan pH diikuti dengan
peningkatan P tersedia tanah .

Pemberian bahan organik pada tanah masam dapat meningkatkan serapan P dan hasil tanaman
jagung karena setelah bahan organik terdecomposisi akan menghasilkan beberapa unsur hara
seperti N, P dan K serta menghasilkan asam humat dan fulvat yang memegang peranan penting
dalam pengikatan Fe dan Al yang larut dalam tanah sehingga ketersediaan P akan meningkat
(Hasanudin, 2003).

Seperti halnya pupuk organik, pemakaian pupuk anorganik hanya diperlukan untuk memenuhi
kebutuhan minimum hara tertentu seperti N, P, dan K, sehingga diberkan pada takaran yang
rendah. Pupuk N (urea) untuk tanaman legum diperlukan sebagi stater sehingga diberikan pada
saat tanam dengan takaran 15-20 kg/ha, sedangkan untuk tanaman nonlegum takarannya lebih
tinggi. Pemakaian pupuk P (P-alam) minimal 60 kg P/ha untuk dua musim tanam, demikian pula
pupuk KCl dengan takaran 60-90 kg/ha. Takaran pupuk anorganik secara tepat perlu diteliti lebih
lanjut. Pengapuran mungkin diperlukan, tetapi hanya sebatas memenuhi kebutuhan tanaman,
bukan untuk meningkatkan pHtanah maupun mengurangi kadar Al tanah.

Pemupukan P juga memegang peranan penting dalam meningkatkan pertumbuhan dan produksi
tanaman. Fosfor berperan pada berbagai aktivitas metabolisme tanaman dan merupakan
komponen klorofil. Sebagian besar hara P dari pupuk P yang diberikan difiksasi di dalam tanah
sehingga hanya 10-20% pupuk P yang diberikan diserap tanaman. Oleh sebab itu pemberian
yang etrus menerus dalam jumlah berlebih akan terakumulasi dalam tanah dan dapat merubah
status P tanah dari rendah ke tinggi sehingga tanaman tidak lagi tanggap terhadap pemupukan P
(Barus, 2005).
Pemberian pupuk P yaitu pupuk SP36 dan pupuk Rock fosfat mampu meningkatkan
pertumbuhan tanaman jagung terlihat darai parameter tinggi tanaman 10 dan 17 hari setelah
tanam serta kadar P trubus (Arimurti et al , 2006).


4.2. Pengapuran

Salah satu kegiatan reklamasi lahan untuk memperbaiki atau memulihkan kembali tanah –tanah
yang tidak subur agar secara optimal dapat mendukung pertumbuhan tanaman adalah dengan
penambahan amelioran seperti pemberian kapur pertanian. Secara tidak langsung kapur dapat
mengurangi keracunan Al, meningkatkan ketersediaan P, meningkatkan pH tanah dan secara
langsung kapur dapat meningkatkan ketersediaan hara Ca.

Pengapuran ditekankan kepada penggunaan kapur biasa CaCO3 , seterusnya tanah masih perlu
terus dipupuk. Pengapuran hendaknya dipandang hanya untuk menetralisasikan tanah secara
cepat dan seterusnya jangan tergantung lagi pada banyaknya kapur, walaupun kualitas lahan
cepat menurun kembali. Kapur dapat menetralisir Al melalui ion OH- membentuk Al(OH)3 tidak
aktif yang dihasilkan dari pelepasan CO32- yang selanjutnya Al menjadi tidak larut dan Al-dd
semakin berkurang (Hasanudin et al, 2007). Selanjutnya dijelaskan juga bahwa untuk
meningkatkan pH tanah dari 4,6 menjadi 5,8 diperlukan dosis kapur 2x Al-dd.

Kapur berfungsi memantapkan stabilitas tanah, tetapi daya kerjanya lebih cepat dari pada kerja
bahan organik. Kelemahannya adalah bila tanah berkualitas rendah, yang ditandai dengan tingkat
kesuburan rendah, maka dengan pengapuran saja hanya memungkinkan pertumbuhan tanaman
yang normal. Sebaliknya penggunaan bahan organik tanpa didahului dengan pengapuran
menghasilkan pemantapan stabilitas tanah secara lambat, tetapi dampak positifnya berlangsung
jangka panjang. Oleh karena itu pengapuran pada tanah masam sebaiknya diikuti dengan
pemberian pupuk organik agar stabilitas tanah terjaga dan pertumbuhan serta produksi tanaman
akan terjamin (Kuswandi,1993).


4.3. Pupuk Hayati Penyedia Hara Tanaman

Mikrobia tanah yang menguntungkan dapat dikategorikan sebagai biofertilizer atau pupuk
hayati. Menurut Yuwono (2006) secara garis besar fungsi menguntungkan tersebut dapat dibagi
menjadi beberapa :
1. Penyedia hara
2. Peningkat ketersediaan hara
3. Pengontrol organisme pengganggu tanaman
4. Pengurai bahan organik dan pembentuk humus
5. Pemantap agregat tanah
6. Perombak persenyawaan agrokimia

Beberapa mikroorganisme tanah seperti Rhizobium, Azospirillum dan Azootobacter, Mikoriza,
Bakteri pelarut fosfat, bila dimanfaatkan secara tepat dalam system pertanian akan membawa
pengaruh yang positif baik bagi ketersediaan hara yang dibutuhkan tanaman, lingkungan edapik,
maupun upaya pengendalian beberapa jenis penyakit. Sehingga akan dapat diperoleh
pertumbuhan dan produksi tanaman yang optimal dan hasil panen yang lebih sehat.
Mikroorganisme tersebut sering disebut sebagai biofertilizer atau pupuk hayati (Sutanto, 2002).

Dari beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa bakteri pelarut fospat dapat meningkatkan
ketersediaan P di dalam tanah dan dapat meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk P serta dapat
meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman. Penggunaan pupuk hayati berupa inokulan
bakteri fospat dengan tanpa pemberian pupuk TSP dapat meningkatkan hasil jagung yang setara
dengan pemberian TSP (Prihartini, 2003).

Hasil penelitian Arimurti et al (2006) pada perlakuan bakteri pelarut fosfat (BPF) mampu
meningkatkan pertumbuhan tanaman jagung pada tanah masam, yang tampak pada parameter
tinggi tanaman 10 dan 45 HST, berat basah trubus, berat kering trubus, berat basah akar, berat
kering akar, luas daun serta kadar P trubus. Pemberian BPF P. putida sama baiknya dengan P.
Aeruginosa atau gabungan keduanya dalam meningkatkan tinggi tanaman 10 dan 45 HST. Untuk
meningkatkan berat basah, berat kering trubus dan akar paling baik menggunakan P. putida.

Asosiasi simbiotik anatara jamur dan sistem perakaran tanaman tinggi diistilahkan dengan
mikoriza. Dalam fenomena ini jamur menginfeksi dan mengkoloni akar tanpa menimbulkan
nekrosis sebagaimana biasa terjadi pada infeksi jamur patogen, dan mendapat pasokan nutrisi
secara teratur dari tanaman. Asosiasi ini akan dapat meningkatan ketersediaan hara P dan lainnya
serta meningkatkan serapannya. MVA membantu pertumbuhan tanaman dengan memperbaiki
ketersediaan hara fosfor dan melindungi perakaran dari serangan patogen (Hadiyanto dan
Hairiyah, 2007).

Hasil penelitian Hasanudin dan Gonggo (2004) menjelaskan pemberian inokulasi mikrobia
pelarut fosfat 15 ml tanaman-1 dan inokulasi mikoriza 20 g tanaman-1 dapat meningkatkan
serapan P dan hasil jagung.

Rhizobium yang berasosiasi dengan tanaman legum mampu menfiksasi 100-300 Kg N/Ha dalam
satu musim tanam dan meninggalkan sejumlah N untuk tanaman berikutnya. Permasalahan yang
perlu diperhatikan adalah efisiesnsi inokulan Rhizobium untuk tanaman tertentu. Rhizobium
mampu mencukupi 80% kebutuhan nitrogen tanaman legum dan meningkatkan produksi antara
10-25%. Tanggapan tanaman sangat bervariasi tergantung pada kondisi tanah dan efektifitas
populasi asli (Sutanto, 2002).

Kenaikan hasil tanaman setelah diinokulasi Azotobacter terjadi pada tanaman jagung, cantel,
padi, bawang putih, tomat, terong dan kubis. Apabila Azotobacter dan Azospirillum diinokulasi
secara bersama-sama, maka Azospirillum lebih efektif dalam meningkatkan hasil tanaman.
Azospirillum menyebabkan kenaikan hasil cukup besar pada tanaman jagung, gandum dan cantel
(Sutanto, 2002).


Selanjutnya dijelaskan juga oleh Tim Peneliti Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian
(2008) bahwa pemakaian pupuk hayati pada lahan kering masam sebaiknya yang telah terbukti
dapat menjalankan fungsi ekologis, merupakan mikroba hasil seleksi yang benar-benar unggul
dalam membantu pertumbuhan tanaman.

Pupuk hayati meliputi bakteri penambat N, mikroba pelarut fosfat, dan cendawan mikoriza
arbuskula. Bakteri penambat N2. Bakteri ini mencakup bakteri yang membentuk bintil akar,
bersimbiose dengan tanaman legum, dan bakteri penambat N yang hidup bebas di dalam tanah.
Oleh karena itu, budi daya tanaman legum (kacang-kacangan) dapat menggunakan Rhizobium
spp. Namun, perlu diperhatikan bahwa hubungan antara tanaman legum dan Rhizobium bersifat
sangat spesifik, artinya satu spesies Rhizobium hanya dapat bersimbiose dengan spesies legum
tertentu. Oleh karena itu, penggunaan Rhizobium sp. harus disesuaikan dengan spesies legum
yang akan dibudidayakan. Bakteri penambat N yang hidup bebas seperti Azotobacter,
Azospirillum, dan Beijerinckia dapat digunakan pada tanaman dari famili Gramineae (rumput-
rumputan) seperti padi, jagung, dan sorgum.

Mikroba pelarut fosfat. Telah banyak dihasilkan pupuk hayati yang mengandung mikroba pelarut
fosfat. Mikroba ini ada yang hidup bebas di dalam tanah atau hidup di daerah perakaran
(rhizobakteri). Mikroba tersebut dapat menghasilkan senyawa organik yang dapat melarutkan P-
tanah, sehingga ketersediaan P bagi tanaman meningkat dan mengurangi takaran penggunaan
pupuk P.

Cendawan mikoriza arbuskula (CMA). CMA merupakan suatu bentuk asosiasi cendawan dengan
akar tanaman tingkat tinggi. Kemampuan asosiasi tanaman- CMA ini memungkinkan tanaman
memperoleh hara dan air yang cukup pada kondisi lingkungan yang miskin unsur hara dan
kering, perlindungan terhadap patogen tanah maupun unsur beracun, dan secara tidak langsung
melalui perbaikan struktur tanah.

Hal ini dimungkinkan karena CMA mempunyai kemampuan menyerap hara dan air lebih tinggi
dibanding akar tanaman. Keunggulan kemampuan CMA dalam pengambilan hara, terutama hara
yang bersifat tidak mobil seperti P, Zn, dan Cu, disebabkan CMA memiliki struktur hifa yang
mampu menjelajah daerah di antara partikel tanah, melampaui jarak yang dapat dicapai akar
(rambut akar), kecepatan translokasi hara enam kali kecepatan rambut akar, dan nilai ambang
batas konsentrasi hara yang dapat diserap CMA lebih rendah (setengah ambang batas konsentrasi
hara yang dapat diserap akar). CMA secara tidak langsung juga dapat meningkatkan ketersediaan
P-tanah melalui produksi enzim fosfatase oleh akartanaman. CMA juga berperan dalam
membantu pemenuhan kebutuhan air pada saat kekeringan karena bertambahnya luas permukaan
penyerapan air oleh hifa eksternal.

Satu spesies CMA dapat berasosiasi dengan berbagai tanaman sehingga satu macam CMA dapat
digunakan untuk berbagai jenis tanaman. Pada saat ini telah dihasilkan berbagai inokulan
CMA,umumnya dari spesies Glomus, Gigaspora, dan Acaulospora.


4.4. Teknik Pengelolaan Tanah

Apabila dihadapkan pada kondisi tanah masam, ketersediaan hara rendah, bahan organik tanah
rendah, dan tanah memiliki slope tertentu serta berada pada daerah dengan intensitas hujan
tinggi, maka secara teknik pengolahan tanah yang dilakukan harus berprinsip peningkatan
kesuburan tanah dan adanya pelaksanaan konservasi tanah dan air.

Pada prinsipnya untuk meningkatkan atau mempertahankan kemampuan tanah dapat dilakukan
teknik pengelolaan tanah secara mekanik dan vegetatif. Secara mekanik pembuatan teras
misalnya teras gulud, teras bangku atau teras individu dan pembuatan saluran drainase.
Sedangkan secara vegetatif adalah penerapan pola tanam yang menutup permukaan tanah
sepanjang tahun baik dengan hijauan maupun vegetasi misalnya dengan pergiliran tanaman ,
tumpang sari atau penanaman budidaya lorong.

Konservasi tanah secara mekanik adalah semua perlakuan fisik mekanis dan pembuatan
bangunan yang ditujukan untuk mengurangi aliran permukaan guna menekan erosi dan
meningkatkan kemampuan tanah mendukung usahatani secara berkelanjutan.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan teras gulud (Gambar 8) menurut
Sinukaban (1994):
(1) Teras gulud cocok diterapkan pada lahan dengan kemiringan 10-40%.
(2) Pada tanah yang permeabilitasnya tinggi, guludan dapat dibuat menurut arah kontur. Pada
tanah yang permeabilitasnya rendah, guludan dibuat miring terhadap kontur, tidak lebih dari 1%
ke arah saluran pembuangan. Hal ini ditujukan agar air yang tidak segera terinfiltrasi ke dalam
tanah dapat tersalurkan ke luar ladang dengan kecepatan rendah.

Teras bangku atau teras tangga dibuat dengan cara memotong panjang lereng dan meratakan
tanah di bagian bawahnya, sehingga terjadi deretan bangunan yang berbentuk seperti tangga.
Pada usahatani lahan kering, fungsi utama teras bangku adalah: (1) memperlambat aliran
permukaan; (2) menampung dan menyalurkan aliran permukaan dengan kekuatan yang tidak
sampai merusak; (3) meningkatkan laju infiltrasi; dan (4) mempermudah pengolahan tanah.
Teras bangku dapat dibuat datar (bidang olah datar, membentuk sudut 0o dengan bidang
horizontal), miring ke dalam/goler kampak (bidang olah miring beberapa derajat ke arah yang
berlawanan dengan lereng asli), dan miring keluar (bidang olah miring ke arah lereng asli). Teras
biasanya dibangun di ekosistem lahan sawah tadah hujan, lahan tegalan, dan berbagai sistem
wanatani.

Teras individu adalah teras yang dibuat pada setiap individu tanaman, terutama tanaman tahunan.
Jenis teras ini biasa dibangun di areal perkebunan atau pertanaman buah-buahan.

Pengelolaan tanah secara vegetatif dapat menjamin keberlangsungan keberadaan tanah dan air
karena memiliki sifat : (1) memelihara kestabilan struktur tanah melalui sistem perakaran dengan
memperbesar granulasi tanah, (2) penutupan lahan oleh seresah dan tajuk mengurangi evaporasi,
(3) disamping itu dapat meningkatkan aktifitas mikroorganisme yang mengakibatkan
peningkatan porositas tanah, sehingga memperbesar jumlah infiltrasi dan mencegah terjadinya
erosi (Rahim, 2006).

Pergiliran tanaman atau tanam berurutan adalah sistem bercocok tanam dengan menanam dua
atau lebih jenis tanaman pada sebidang tanah selama satu tahun; tanaman musim kedua ditanam
sebelum panen tanaman musim pertama. Contohnya adalah tumpang gilir antara tanaman jagung
yang ditanam pada awal musim hujan dan kacang tanah yang ditanam beberapa minggu sebelum
panen jagung. Sistem ini bertujuan untuk meningkatkan intensitas penggunaan lahan dan
menjaga agar permukaan tanah selalu tertutup tanaman. Selain itu, sistem ini juga dimaksudkan
untuk mempercepat penanaman tanaman pada musim kedua, sehingga masih mendapatkan air
hujan dengan jumlah yang cukup untuk pertumbuhan dan produksinya.

Tanam bersisipan atau tumpang sari adalah sistem penanaman lebih dari satu macam tanaman
pada lahan yang sama secara simultan, dengan umur tanaman yang relatif sama dan diatur dalam
barisan atau kumpulan barisan secara berselang-seling seperi: padi gogo + jagung - jagung +
kacang tanah. Pada musim pertama di awal musim hujan, padi gogo ditanam secara tumpang sari
dengan jagung.

Menambah tanaman penguat teras,tanaman yang memenuhi syarat sebagai penguat teras adalah:
a. Mempunyai sistem perakaran intensif, sehingga mampu mengikat air.
b. Tahan pangkas sehingga tidak menaungi tanaman utama.
c. Bermanfaat dalam menyuburkan tanah maupun sebagai penghasil makanan ternak.
Tanaman penguat teras yang dianjurkan ditanam antara lain lamtorogung, gamal, akasia,
kaliandra, rumput gajah dan rumput benggala.

Salah satu cara untuk memperbaiki struktur tanah, mempertinggi kemampuan tanah dalam
menyerap air yaitu dengan menggunakan pupuk organik berupa pupuk hijau atau pupuk kandang
serta penggunaan sisa-sisa tanaman yang diletakkan di atas tanah sebagai serasah (mulsa)
sehingga dapat mempertahankan kelembaban tanah. Dengan cara ini penguapan air tanah dapat
diperkecil sehingga air tanah tetap tersedia bagi tumbuhnya tanaman.

Teknologi yang diintroduksikan ke lahan kering masam DAS bagian hulu haruslah teknologi
yang mampu mengendalikan erosi, mudah dilaksanakan, murah dan dapat diterima oleh petani.
Salah satu teknologi yang tersedia adalah sistem pertanaman lorong atau Alley cropping.

Anonimous (2009) menjelaskan bahwa alley cropping merupakan salah satu sistem agroforestry
yang menanam tanaman semusim atau tanaman pangan diantara lorong-lorong yang dibentuk
oleh pagar tanaman pohonan atau semak (Kang et al., 1984). Tanaman pagar dipangkas secara
periodik selama pertanaman untuk menghindari naungan dan mengurangi kompetisi hara dengan
tanaman pangan/semusim. Leucaena leucocephala yang pertama diuji dalam sistem Alley
cropping ini dan menyusul kemudian Glinsidia sepium.

Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem ini sangat efektif mengendalikan erosi. Di
Filipina, Alley cropping dapat menurunkan erosi sebanyak 69%, yang terdiri atas 48%
disebabkan oleh pengaruh penutupan tanah oleh mulsa, 8% disebabkan oleh perubahan profil
tanah dan 4% oleh penanaman secara kontour .Di Indonesia sistem ini sudah diyakini efektif
mengendalikan erosi (Sukmana and Suwardjo, 1991) dapat meningkatkan produktivitas tanah
dan tanaman serta dapat diadopsi oleh petani di lahan kering. Beberapa hasil penelitian yang
dilakukan telah menunjukkan bahwa Alley cropping sangat efektif dalam mengendalikan erosi.

Efektivitas pengendalian erosi tersebut sangat tergantung kepada jenis tanaman pagar yang
digunakan, jarak antara tanaman pagar dan pada saat awal, kemiringan lahan. Efektivitas
pengendalian erosi dapat mencapai >95% dibanding apabila tidak menggunakan Alley cropping.

Alegre dan Rao (1995) menunjukkan bahwa Alley cropping menahan kehilangan tanah 93% dan
air 83% dibandingkan dengan pertanaman tunggal semusin. Efektivitas pengendalian erosi ini
selain karena hal yang telah disebutkan diatas juga karena terbentuknya teras secara alami dan
perlahan-lahan setinggi 25-30 cm pada dasar tanaman pagar. Rendahnya erosi disebabkan oleh
hasil pangkasan yang sukar melapuk yang berfungsi sebagai mulsa, sehingga tanah terlindung
dari air hujan dan pemadatan tanah karena ulah pekerja selama operasi di lapangan. Barisan
tanaman pagar menurunkan kecepatan aliran permukaan sehingga memberikan kesempatan pada
air untuk berinfiltrasi. Selanjutnya tanaman pagar menyebabkan air tanah selalu berkurang untuk
kebutuhan pertumbuhannya selama musim kemarau sehingga sistem ini menyerap lebih banyak
air hujan ke dalam tanah dan akhirnya menurunkan erosi.

Selain efektif mengendalikan erosi, Alley cropping juga ternyata dapat meningkatkan
produktivitas tanah dan tanaman. Sistem ini dapat memperbaiki sifat fisik tanah yaitu
menurunkan BD (bulk density) dan meningkatkan konduktivitas hidraulik tanah.

Hasil penelitian Agas et al. (1997) tentang sifat-sifat tanah dan air di bawah Alley cropping pada
tanah oxilos miring menunjukkan bahwa pada umumnya sifat-sifat tanah tidak dipengaruhi oleh
jenis legum/taman pagar, tetapi dipengaruhi oleh posisi dalam lorong. Lebih dekat pada barisan
tanaman pagar, mempengaruhi distribusi air. Air tersedia pada kedalaman 10-15 cm adalah 0,16 ;
0,13 dan 0,08 m3 masing-masing pada bagin bawah, tengah dan atas dari lorong. Transmisivitas
air menurun dari 0,49 mm/detik pada bagian bawah menjadi 0,12 mm/detik pada bagian atas dari
lorong. Kandungan air tanah dan tekanan air tanah menurun pada bagian lorong yang dekat pada
tanaman pagar. Hal ini akan menyebabkan kompetisi air antara tanaman pagar dengan tanaman
pangan pada lorong.

Selain perbaikan sifat fisik tanah, penelitian-penelitian terdahulu juga memperlihatkan bahwa
Alley cropping dapat meningkatkan unsur hara di dalam tanah .Contoh kondisi pertanaman alley
cropping.



Bersambung ke bagian 5 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini:


Pustaka:

Madjid, A. R. 2009. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Bahan Ajar Online untuk mata kuliah: (1) Dasar-
Dasar Ilmu Tanah, (2) Kesuburan Tanah, (3) Teknologi Pupuk Hayati, dan (4) Pengelolaan
Kesuburan Tanah Lanjut. Fakultas Pertanian Unsri & Program Pascasarjana Unsri.
http://dasar2ilmutanah.blogspot.com.
Diposkan oleh Dr. Ir. Abdul Madjid, MS di 21:09 0 komentar
Label: Kesuburan Tanah

Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Kering (Bagian 5)
Pengelolaan Kesuburan Tanah Mineral Masam untuk Pertanian*
Oleh: Ida Nursanti** dan Abdul Madjid Rohim***

(Bagian 5 dari 5 Tulisan)

Keterangan:
* : Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah, Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister
(S2), Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya. Palembang, Propinsi Sumatera Selatan,
Indonesia.
** : Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2), Program Pascasarjana, Universitas
Sriwijaya. Palembang, Propinsi Sumatera Selatan, Indonesia.
*** : Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah, Program Studi Ilmu Tanaman, Program
Magister (S2), Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya. Palembang, Propinsi Sumatera
Selatan, Indonesia.

(Bagian 5 dari 5 Tulisan)


V. Kesimpulan

1. Tanah mineral masam yang terdapat pada iklim tropik adalah jenis tanah ultisol, oxisols dan
spodosol serta inseptisol . Karekteristik tanah mineral masam adalah pH rendah , bahan organik
rendah dan kahat unsur hara makro maupun mikro serta tingginya kandungan Al dan Fe.

2. Pengelolaan tanah-tanah mineral masam untuk kepentingan pertanian menghadapi kendala pH
yang rendah, keracunan Al, Mn, dan/atau Fe, serta kekahatan unsur-unsur hara penting seperti N,
P, Ca, dan atau Mg dan Mo

3. Alternatif yang dapat dilakukan untuk mengatasi tanah masam guna mendukung pertumbuhan
dan produksi tanaman adalah pemberian pupuk organik dan anorganik, pengapuran, pemberian
pupuk hayati dan pengelolaan tanah yang berazas peningkatan kesuburan tanah dan melakukan
tindakan konservasi tanah dan air .



DAFTAR PUSTAKA

Arimurti,S, Setyati,D dan Mujib,M. 2006. Efettivitas bakteri pelarut fosfat dan pupuk P terhadap
pertumbuhan tanaman jagung (Zea mays) pada tanah masam. Universitas Jember Jurusan
FMIPA .

Arief, A. Dan Irman. 1997. Ameliorasi Lahan Kering Masam untuk Tanaman Pangan. Prosiding
Simposium Penelitian Tanaman Pangan III. Puslitbang Tanaman Pangan. Balitbangtan Deptan.
Hal. 1665-1675.

Arief. 2008. Geografi tanah Indonesia. feiraz.files.wordpress.com (diakses Mei 2009)
Anonimous.2009.Budidaya Lorong. bebasbanjir2025.files.wordpress.com (diakses Mei 2009)

Bertam,YH. Kusuma,C.Setiadi,Y.Mansur,I dan Sopandie,D. 2005. Introduksi pasangan CMA
dan Rhizobia Indigenous untuk peningkatan pertumbuhan dan hasil kedelai di ultisol Bengkulu.
Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia. 7(2):94-103.

Barus,J. 2005. Respon tanaman padi terhadap pemupukan P pada tingkat status hara P tanah
yang berbeda. Jurnal Akta Agrosia . 8(2): 52-55.

Dinas Pertanian Jember. 2007. Budidaya Tanaman Jagung. http://warintek.bantul.go.id (diakses
8 April 2009).

Hasanudin.Ganggo,B.2004. Pemanfaatan Mikrobia Pelarut Fospat dan Mikoriza untuk Perbaikan
Fospor tersedia,Serapan Fospor Tanah Ultisol dan Hasil Jagung.Universitas Bengkulu. Jurnal
Ilmu Pertanian Indonesia . 4(2) : 97-103.

Hasanudin. 2003. Peningkatan ketersediaan dan serapan N dan P serta hasil tanaman jagung
melalui inokulasi mikoriza, azotobacter dan bahan organic pada ultisol. Jurnal Ilmu Pertanian
Indonesia. 5(2): 83-89.

Hasanudin, Mitriani dan Barchia F.2007. Pengaruh pengapuran dan pupuk kandang terhadap
ketersediaan hara P pada timbunan tanah pasca tambang batubara. Jurnal Akta Agrosia . Edisi
khusus No 1: 1-4.

Handayanto,E.Hairiyah,K.2007.Biologi Tanah Landasan Pengelolaan Tanah Sehat. Pustaka
Adipura.

Hardjowigeno, S. 1993. Klasifikasi Tanah dan Pedogenesis. Akademika Pressindo, Jakarta. 273
p.

Hanafiah,AK. 2007. Dasar Dasar Ilmu Tanah. Edisi 2. Raja Gravindo Persada.Jakarta . pp 139-
165.

Himatan. 2006. Pembentukan dan Profil Tanah. Himpunan Ilmu Tanah Universitas Padjajaran.
Hiatan06.files.wordpress.com (di akses Mei 2009).

Hidayat, A. Dan A. Mulyani. 2005. Lahan Kering untuk Pertanian. Teknologi Pengelolaan Lahan
Kering: Menuju Pertanian Produktif dan Ramah Lingkungan. Puslitbang Tanah dan Agroklimat,
Badan Litbang Pertanian, Departemen Pertanian. pp 8-35.

Hakim, N., G. Ismail., Mardinus dan H. Muchtar. 1997. Perbaikan Lahan Kritis dengan Rotasi
Tanaman dalam Budidaya Lorong. Prosiding Simposium Penelitian Tanaman Pangan III.
Puslitbangtan. Deptan. Hal. 1656-1664.

Ismail, H.., J. Shamshuddin & S.R. Syed Oman. 1993. Allevation of SoilAcidity in Ultisol and
Oxisol for Corn Growth. Plant & Soil 151: 55- 65.

Joy, B. 2005. Perbedaan respon keterkaitan pH, Al-dd, serta P tersedia dari tanah masam akibat
aplikasi P-alam, kalsit dan dolomite.Jurnal Bionatura 7(3): 249-258.

Junedi, H. 2008. Pemanfaatan kompos dan jerami padi dan kapur guna memperbaiki
permeabelitas tanah ultisol dan hasil kedelai.Proseding Seminar Nasional Sains dan Teknologi II.
Universitas Lampung 17-18 November 2008.
.
Kuswandi. 1993. Pengapuran Tanah Pertanian. Kanisus Yogyakarta.Edisi 1.

Mayadewi, NA. 2007. Pengaruh jenis pupuk kandang dan jarak tanam terhadap pertumbuhan
gulma dan hasil jagung manis. Jurnal Agritrop. 28(4): 163-169.

Notohadiprawiro,T. 2006. Ultisol, Fakta dan Implikasi Pertaniannya. Buletin Pusat Penelitian
Marihat .No.6. 2006.

Notohadiprawiro, T. 1990. Farming Acid Soils for Food Crop: An Indonesian Experience.- In:
Management of Acid Soils in the Humid Tropics of Asia E.T. Croswell & E. Pusparajah (Eds.)
Aciar Monograph 13: 62-68.

Nursyamsi, D; S.M. Nanan.; Sutisni dan I P.G. Widjaja-Adhi. 1996. "Erapan P dan Kebutuhan
Pupuk P Untuk Tanaman Pangan pada Tanah-tanah Asam". Dalam Jurnal Tanah Tropika. Tahun
II No.2. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat.Bogor.

Nursyamsi, D. 2006. Kebutuhan hara kalium tanaman kedelai di tanah ultisol. Jurnal Ilmu Tanah
dan Lingkungan. 6(2) : 71-81.
Noor A. 2003. Pengaruh fosfat alam dan kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan pupuk kandang
terhadap P tersedia dan pertumbuhan kedelai pada ultisol. Buletin Agronomi. 31 (3): 100-106.

Prihartin.2003. Mikroorganisme Meningkatkan Efisiensi Pemupukan Fospat.Pusat Penelitian dan
Pengembangan Tanah dan Agroklimak.Bogor

Partohardjono, S., I.G. Ismail., Subandi., M.O. Adnyana dan D.A. Darmawan. 1994. Peranan
Sistem Usahatani Terpadu dalam Upaya Pengentasan Kemiskinan di Berbagai Agroekosistem.
Prosiding Simposium Panelitian Tanaman Pangan III. Puslitbangtan Deptan. Hal 143-182.

Pandang, M.S.,dan Subandi. 1997. Sistem Usahatani Konservasi Menunjang Pendapatan Petani
Lahan Kering. Prosiding Simposium Penelitian Tanaman Pangan III Buku 6. Puslitbangtan.
Deptan. Hal. 1676-1686.

Rachman S.2002. Penerapan Pertanian Organik . Edisi 5. Kanisus Jakarta. Pp 177-184.

Rahim, ES. 2006. Pengendalian Erosi Tanah.Edisi 3. Bumi Aksara Jakarta.pp 91-106.

Sutanto,R..2002.Penerapan Pertanian Organik.Edisi 3 . Kanisus Jakarta.
Sinukaban, N. 1994. Membangun Pertanian Menjadi Lestari dengan Konservasi. Faperta IPB.
Bogor.

Subandi. 2007. Teknologi Produksi dan Strategi Pengembangan. Iptek Tanaman Pangan 2(1) :12
-25.

Sunaryo dan Suryono. 2000. Pengaruh dosis pupuk dolomit dan pupuk P terhadap jumlah bintil
akar dan hasil tanaman kacang tanah di tanah latosol.Agrosains 2(2):54-58.

Subagyo, H., N. Suharta, dan A.B. Siswanto. 2000. Tanah-tanah pertanian di Indonesia. Hal. 21-
66 dalam Sumber Daya Lahan Indonesia dan Pengelolaannya. Pusat Penelitian Tanah dan
Agroklimat, Bogor.

Sudirja,R.Solihin,MA dan Rosniawati,S. 2006. Respon beberapa sifat kimia fluventic eutrudepts
melalui pendayagunaan limbah kakao dan berbagai jenis pupuk organik.Universitas Padjajaran.

Taufiq,A., H. Kuntyastuti, Sudaryono,A.G.Manshuri, Suryantini, Triwardani, dan C. Prahoro.
2003. Perbaikan dan peningkatan efisiensi produksi kedelai di lahan keringmasam. Laporan
teknis BalaiPenelitianTanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian (tidak dipublikasi).

Tim Peneliti Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian. 2008. Pemanfaatan Biota Tanah
untuk keberlanjutan produktivitas pertanian lahan kering masam. Pengembangan Inovasi
Pertanian 1(2):157-163.

Wulandari, S. 2001. Efektifitas bakteri pelarut fosfat Pseudomonas sp pada pertumbuhan
tanaman kedelai pada tanah podsolik merah kuning. Jurnal Nature Indonesia. 4(1) : 1-5.

Widawati, S dan Suliasih . 2005. Augmentasi Bakteri Pelarut Fosfat (BPF) Potensial sebagai
Pemacu Pertumbuhan Caysin (Brasica caventis Oed.) di Tanah Marginal.Biodiversitas. 7(1):10-
14.

Wild, A. 1950. The retention of phosphate by soils. J. Soil Sci. 1: 221-238

Yuwono,NW.2006.Pupuk Hayati . UGM.Yogyakarta.

Yuwono NW dan Rosmarkam A. 2008. Ilmu Kesuburan Tanah. Edisi 4. Yogyakarta. pp 23 -32.

Yulianti, N. 2007. Reaksi Tanah .Jurnal Hijau.2(5) : 23 – 43.
Diposkan oleh Dr. Ir. Abdul Madjid, MS di 21:04 0 komentar
Label: Kesuburan Tanah

Sabtu, 2009 Juni 13
Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Gambut (Bagian 1)
Pemanfaatan Lahan Gambut untuk Pertanian*

Oleh: Novriani** dan Abdul Madjid Rohim***

(Bagian 1 dari 5 Tulisan)

Keterangan:

* : Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah, Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister
(S2), Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya. Palembang, Propinsi Sumatera Selatan,
Indonesia.

** : Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2), Program Pascasarjana, Universitas
Sriwijaya. Palembang, Propinsi Sumatera Selatan, Indonesia.

*** : Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah, Program Studi Ilmu Tanaman, Program
Magister (S2), Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya. Palembang, Propinsi Sumatera
Selatan, Indonesia.


(Bagian 1 dari 5 Tulisan)



I. Pendahuluan

Lahan gambut dikenal dan ditemukan pertama kali oleh Kyooker, seorang pejabat Belanda pada
tahun 1860an yang menyatakan bahwa 1/6 areal wilayah Sumatera ditempati gambut
(Notohadiprawiro, 1997). Istilah gambut sendiri pertama kali muncul dan kemudian umum
digunakan oleh di kalangan ilmiawan dan menjadi kosa kata Indonesia sejak tahun 1970 an
(Radjaguguk, 2001).

Menurut Soekardi dan Hidayat (1988) penyebaran gambut di Indonesia meliputi areal seluas
18.480 ribu hektar, tersebar pada pulau-pulau besar Kalimantan, Sumatera, Papua serta beberapa
pulau Kecil. Dengan penyebaran seluas sekitar 18 juta ha maka luas lahan gambut Indonesia
menempati urutan ke-4 dari luas gambut dunia setelah Kanada; Uni Sovyet dan Amerika Serikat.
Kalimantan Barat merupakan propinsi yang memiliki luas lahan gambut terbesar di Indonesia
yaitu seluas 4,61 juta ha, diikuti oleh Kalimantan Tengah, Riau dan Kalimantan Selatan dengan
luas masing-masing 2,16 juta hektar, 1,70 juta hektar dan 1,48 juta hektar.

Jenis tanah Organosol atau tanah gambut atau tanah organik berasal dari bahan induk organik
seperti dari hutan rawa atau rumput rawa, dengan ciri dan sifat: tidak terjadi deferensiasi horizon
secara jelas, ketebalan lebih dari 0.5 m, warna coklat hingga kehitaman, tekstur debu lempung,
tidak berstruktur, konsistensi tidak lekat-agak lekat, kandungan organik lebih dari 30% untuk
tanah tekstur lempung dan lebih dari 20% untuk tanah tekstur pasir, umumnya bersifat sangat
asam (pH 4,0) kandungan unsur hara rendah (Paungkas P, 2006).
Soil Survey Staff (1990) menyatakan bahwa yang dimaksud dengan tanah organik (Histosol)
adalah tanah yang mempunyai ketebalan sebagai berikut :

(1) 60 cm atau lebih dengan kandungan serat (bahan organik kasar) meliputi 3/4 volume atau
lebih dan kerapatan jenis dalam keadaan lembab kurang dari 0.1 g ml-1;

(2) 40 cm atau lebih :

(a) dengan lapisan bahan organik jenuh air lebih dari 6 bulan atau telah ada perbaikan
drainase;

(b) dengan bahan organik terdiri atas bahan organik halus (saprik) atau bahan organik sedang
(hemik) atau bahan fibrik (kasar) kurang dari 2/3 volume dan kerapatan jenis dalam keadaan
lembab 0.1 g ml -1 atau lebih.

Tanah gambut merupakan tanah hidromorfik yang bahan asalnya sebagian besar atau seluruhnya
terdiri atas bahan organik sisa-sisa tumbuhan, dalam keadaan yang selalu tergenang, dimana
proses dekomposisinya berlangsung tidak sempurna sehingga terjadi penumpukan dan akumulasi
bahan organik membentuk tanah gambut yang kedalamannya di beberpa tempat dapat mencapai
16 meter. Di daerah tropis khususnya Indonesia menurut Driesen (1978) terbentuknya gambut
pada umumnya terjadi dibawah kondisi dimana tanaman yang telah mati tergenang air secara
terus menerus, misalnya pada cekungan atau depresi, danau atau daerah pantai yang selalu
tergenang dan produksi bahan organik yang melimpah dari vegetasi hutan mangrove atau hutan
payau.

Tanah gambut dapat terbentuk di daerah rawa pasang surut dan di daerah rawa-rawa
pedalaman yang tidak dipengaruhi oleh air pasang surut (Hardjowigeno, 1996). Tanah
gambut terbentuk karena laju akumulasi bahan organik melebihi proses mineralisasi yang
biasanya terjadi pada kondisi jenuh air yang hampir terus menerus sehingga sirkulasi oksigen
dalam tanah terhambat. Hal tersebut akan memperlambat proses dekomposisi bahan organik
dan akhirnya bahan organik itu akan menumpuk.

Lahan gambut mempunyai penyebaran di lahan rawa, yaitu lahan yang menempati posisi
peralihan diantara daratan dan sistem perairan. Lahan ini sepanjang tahun/selama waktu yang
panjang dalam setahun selalu jenuh air (water logged) atau tergenang air. Tanah gambut terdapat
di cekungan, depresi atau bagian-bagian terendah di pelimbahan dan menyebar di dataran rendah
sampai tinggi. Yang paling dominan dan sangat luas adalah lahan gambut yang terdapat di lahan
rawa di dataran rendah sepanjang pantai. Lahan gambut sangat luas umumnya menempati
menyebar diantara aliran bawah sungai besar dekat muara, dimana gerakan naik turunnya air
tanah dipengaruhi pasang surut harian air laut.

Di alam, gambut sering bercampur dengan tanah liat. Tanah disebut sebagai tanah gambut
apabila memenuhi salah satu persyaratan berikut (Soil Survey Staff ,1990):

1. Apabila dalam keadaan jenuh air mempunyai kandungan C –organik paling sedikit 18% jika
kandung liatnya >60 % atau mempunyai kandungan C-organik 2% jika tidak mempunyai liat (O
%) atau mempunyai kandungan C–organik lebih dari 12% + % liat x 0,1 jika kandungan liatnya
antara 0-60 %.

2. Apabila tidak jenuh air mempunyai kandungan C-organik minimal 2O %.

Menurut Suhardjo dan Soepraptohardjo (1981), tanah gambut mempunyai lapisan organik
setebal 50 cm atau lebih dari permukaan tanah. Kriteria penggolongan tanah gambut dengan
tanah mineral secara kuantitatif ditentukan oleh kandungan fraksi bahan tanah mineral dan
C-organik. Menurut Everret (1983), suatu tanah digolongkan pada tanah gambut jika (1)
mempunyai 18 % atau lebih C-organik jika fraksi mineral terdiri atas 60% atau lebih kadar
liat, (2) mempunyai 12% atau lebih kecil C-organik jika fraksi mineral tidak mengandung liat,
dan (3) mempunyai 12% sampai 18% C-organik jika fraksi mineral mengandung liat antara
0% sampai 60 %.

Gambut tropis umumnya berwarna coklat tua (gelap), bergantung pada tahapan
dekomposisinya. Kandungan air yang tinggi dan kapasitas memegang air 15 sampai 30 kali
dari bobot kering, bobot isi rendah (0.05-0.4 g cm-3), dan porositas total antara 75% sampai
95% menyebabkan terbatasnya penggunaan mesin-mesin pertanian dan pemilihan komoditas
yang akan diusahakan (Ambak dan Melling, 2000). Sifat lain yang merugikan adalah jika
gambut mengalami pengeringan yang berlebihan sehingga koloid gambut menjadi rusak.
Gejala kering tak balik (irreversible drying) terjadi dan gambut berubah sifat seperti arang
sehingga tidak mampu lagi menyerap hara dan menahan air (Subagyo et al, 1996). Gambut
akan kehilangan air tersedia setelah 4 sampai 5 minggu pengeringan dan hal itu
mengakibatkan gambut mudah terbakar.

Dapat juga digolongkan pada tanah gambut bila kedalaman tanah tersebut besar dari 50 cm dan
kandungan bahan organiknya besar 65%. Menurut Soil Taxonomi gambut digolongkan kedalam
order Histosol yang dibedakan menjadi 4 sub order masing-masing Folists, Fibreists, Hemists,
Saprists.

 Folist merupakan lapisan tanah yang tersusun oleh tumpukan daun-daun, ranting dan cabang
yang tertimbun diatas batuan, kerikil atau pasir yang ruang antaranya telah diisi oleh bahan
organik.

 Fibrists merupakan tumpukan dari bahan organik yang berserat yang belum atau baru
mengalami proses dekomposisi.

 Hemists adalah gambut yang tingkat dekomposis bahan organik tengah berlangsung, dimana
separuh dari bahan organik tersebut telah terdekomposisi.

 Saprists adalah gambut yang tingkat dekomposisinya telah lanjut, hampir tidak berserabut,
berat jenisnya besar dari 0,2 dan biasanya berwarna hitam atau coklat kelam.

Berdasarkan penyebaran topografinya, tanah gambut dibedakan menjadi tiga yaitu:
a. gambut ombrogen: terletak di dataran pantai berawa, mempunyai ketebalan 0.5 – 16 meter,
terbentuk dari sisa tumbuhan hutan dan rumput rawa, hampir selalu tergenang air, bersifat sangat
asam. Contoh penyebarannya di daerah dataran pantai Sumatra, Kalimantan dan Irian Jaya
(Papua);
b. gambut topogen: terbentuk di daerah cekungan (depresi) antara rawa-rawa di daerah dataran
rendah dengan di pegunungan, berasal dari sisa tumbuhan rawa, ketebalan 0.5 – 6 meter, bersifat
agak asam, kandungan unsur hara relatif lebih tinggi. Contoh penyebarannya di Rawa Pening
(Jawa Tengah), Rawa Lakbok (Ciamis, Jawa Barat), dan Segara Anakan (Cilacap, Jawa Tengah);
dan
c. gambut pegunungan: terbentuk di daerah topografi pegunungan, berasal dari sisa tumbuhan
yang hidupnya di daerah sedang (vegetasi spagnum). Contoh penyebarannya di Dataran Tinggi
Dieng.

Tanah gambut secara alami terdapat pada lapisan paling atas. Di bawahnya terdapat lapisan tanah
alluvial pada ke dalaman yang bervariasi. Lahan dengan ketebalan tanah gambut kurang dari 50
cm disebut sebagai lahan atau tanah bergambut disebut sebagai lahan gambut apabila ketebalan
gambut lebih dari 50 cm. Dengan demikian,lahan gambut adalah lahan rawa dengan ketebalan
gambut lebih dari 50 cm.

Berdasarkan kedalamnya, lahan gambut dibagi menjadi empat tipe, yaitu:

1. Lahan gambut dangkal, yaitu lahan dengan ketebalan gambut 50 - 100 cm;

2. Lahan gambut sedang, yaitu lahan dengan ketebalan gambut 100 - 200 cm

3. Lahan gambut dalam, yaitu lahan dengan ketebalan gambut 200 - 300 cm

4. Lahan gambut sangat dalam, yaitu lahan dengan ketebalan gambut lebih dari 300 cm.

Tanah gambut di daerah tropika basah seperti Indonesia berkembang dari vegetasi hutan tropis.
Dalam kondisi alami, lapisan tanah gambut terdiri atas bahan material berserat dan tanaman yang
terdekomposisi belum sempurna, sehingga menghasilkan tanah gambut yang variasi dan
sebarannya heterogen. Menurut pengamatan di lapangan, material berserat ini tidak terdistribusi
secara merata dalam lapisan tanah.

Dari sekian luas penyebaran di Indonesia beberapa bagian dipengaruhi oleh pasang. Diberbagai
tempat dewasa ini telah dilakukan pemanfaatan tanah gambut itu terutama untuk lahan pasang
surut dan pembukaan lahan lain baik untuk perkebunan maupun untuk lahan pemukiman
transmigrasi.

Wilayah lahan-lahan gambut merupakan potensi karbon dan juga sebagai penyimpan air perlu
didorong sehingga pemanfaatannya bisa maksimal dan tidak keliru lagi. Pemanfaatan gambut
yang tidak bijaksana justru membawa bencana bagi kehidupan masyarakat setempat dan bangsa.
Misalnya kasus kebakaran hutan yang menyebabkan protes dari negara-negara tetangga.

Pasalnya, di kawasan hutan gambut tropika, vegetasi maupun gambut di bawahnya menyimpan
kandungan karbon yang besar. Terdapat hubungan sangat jelas antara cadangan karbon, emisi
karbon, dan pengaruhnya terhadap proses perubahan iklim dunia. Isu perubahan iklim dunia
sudah menjadi isu global yang perlu dicarikan solusinya.

Berdasar sifat dari bahan gambut dan hasil pembelajaran dalam pengelolaan lahan gambut, maka
pengembangan lahan gambut Indonesia ke depan dituntut menerapkan beberapa kunci pokok
pengelolaan yang meliputi aspek legal yang mendukung pengelolaan lahan gambut; penataan
ruang berdasarkan satuan sistem hidrologi gambut sebagai wilayah fungsional ekosistem
gambut; pengelolaan air; pendekatan pengembangan berdasarkan karakteristik bahan tanah
mineral di bawah lapisan gambut; peningkatan stabilitas dan penurunan sifat toksik bahan
gambut dan pengembangan tanaman yang sesuai dengan karakteristik lahan.

Komposisi bahan penyusun gambut berkaitan erat dengan asam-asam organik yang dihasilkan
selama proses dekomposisi. Stevenson (1994) menjelaskan bahwa lignin akan mengalami proses
degradasi menjadi senyawa humat dan selama proses degradasi tersebut akan dihasilkan asam-
asam fenolat.

Berdasarkan tingkat kesuburan alami, gambut dibagi dalam 3 kelompok yakni eutrofik
(kandungan mineral tinggi, reaksi gambut netral atau alkalin), oligotrofik (kandungan mineral,
terutama Ca rendah dan reaksi masam) dan mesotrofik ( terletak diantara keduanya dengan pH
sekitar 5, kandungan basa sedang). Ketebalan atau kedalaman gambut juga menentukan tingkat
kesuburan alami dan potensi kesesuaiannya untuk tanaman. Subagyo et al, (1996) membagi
gambut dalam 4 kelas, yaitu dangkal (50-100 cm), agak dalam (100-200 cm), dalam (200-300
cm) dan sangat dalam (lebih dari 300 cm).

Menurut Subagyo et al, (1996), tanah bawah gambut dapat terdiri atas liat endapan marin, pasir
kuarsa, atau endapan liat nonmarin. Tanah gambut yang berkembang di atas pasir kuarsa miskin
hara esensial dibandingkan dengan tanah gambut yang berkembang di atas tanah lempung dan
liat.

Tingkat dekomposisi bahan organik ditunjukkan oleh kandungan serat. Pengertian taraf
dekomposisi bahan organik tanah yang lebih jelas dikemukakan Widjaja dan Adhi (1988).
Yang dimaksud dengan fibrik adalah bahan organik tanah yang sangat sedikit terdekomposisi
yang mengandung serat sebanyak 2/3 volume. Bobot volume fibrik lebih kecil dari 0.075 g
cm-3 dan kandungan air tinggi jika tanah dalam keadaan jenuh air. Saprik adalah bahan
organik yang terdekomposisi paling lanjut yang mengandung serat kurang dari 1/3 volume dan
bobot isi saprik adalah 0,195 g cm -3, sedangkan hemik adalah bahan organik yang
mempunyai tingkat dekomposisi antara fibrik dengan saprik dengan bobot isi 0,075 sampai
0,195 g cm -3.

Berdasarkan status hara, Fleisher (1965, dikutip Driessen dan Soepraptohardjo, 1974)
memilah gambut menjadi tiga golongan, yaitu (1) gambut eutropik yang subur, (2) gambut
mesotropik dengan kesuburan sedang, dan (3) gambut oligotropik sebagai gambut miskin.
Penggolongan tersebut didasarkan pada kandungan nitrogen (N), kalium (K), fosfor (P),
kalsium (Ca), dan kadar abunya seperti yang disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1. Kriteria kimia gambut eutropik, mesotropik, dan oligotropik menurut Fleischer
Tingkat           Kriteria

Kesuburan         Penilaian (%)
                  N           K 2O        P 2O 5       CaO            Abu
Eutropik          2.50        0.10        0.25         4.00           10.00
Mesotropik        2.00        0.10        0.20         1.00           5.00
Oligotropik       0.80        0.03        0.05         0.25           2.00

Sumber : Driessen dan Soepraptohardjo (1974).

Sebagai akibat akumulasi bahan organik dan tanah dalam lingkungan tergenang air, banyak
terbentuk senyawa-senyawa asam organik sehingga derajat kemasaman tanah gambut tinggi.
Menurut Halim dan Soepardi (1987), kategori kemasaman tanah gambut dibedakan atas : (1)
tinggi, pH kurang dari 4; (2) sedang, pH berkisar antara 4 sampai 5; (3) rendah, pH lebih dari
5.

Bersambung ke bagian 2 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini:

Pustaka:

Madjid, A. R. 2009. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Bahan Ajar Online untuk mata kuliah: (1) Dasar-
Dasar Ilmu Tanah, (2) Kesuburan Tanah, dan (3) Pengelolaan Kesuburan Tanah Lanjut. Fakultas
Pertanian Unsri & Program Pascasarjana Unsri. http://dasar2ilmutanah.blogspot.com.

Diposkan oleh Dr. Ir. Abdul Madjid, MS di 21:50 0 komentar
Label: Kesuburan Tanah

Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Gambut (Bagian 2)

Pemanfaatan Lahan Gambut untuk Pertanian*

Oleh: Novriani** dan Abdul Madjid Rohim***

(Bagian 2 dari 5 Tulisan)


Keterangan:

* : Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah, Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister
(S2), Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya. Palembang, Propinsi Sumatera Selatan,
Indonesia.
** : Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2), Program Pascasarjana, Universitas
Sriwijaya. Palembang, Propinsi Sumatera Selatan, Indonesia.

*** : Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah, Program Studi Ilmu Tanaman, Program
Magister (S2), Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya. Palembang, Propinsi Sumatera
Selatan, Indonesia.


(Bagian 2 dari 5 Tulisan)




II. Permasalahan Pada Tanah Gambut

Pada pengelolaan tanah gambut untuk usaha pertanian, yang pertama-tama harus
diperhatikan adalah dinamika sifat-sifat fisika dan kimia tanah gambut, antara lain (1)
dinamika sifat kemasaman tanah yang dikaitkan dengan pengendalian asam-asam organik
meracun, dan (2) dinamika kesuburan tanah sehubungan dengan ketersediaan unsur hara
makro dan mikro yang dibutuhkan tanaman yang diusahakan (3) kebakaran lahan gambut dan
(4) pengaturan tata air pada lahan gambut sesuai kebutuhan tanaman.

 Sifat-sifat Tanah Gambut

Diantara sifat yang penting dari tanah gambut di daerah tropis adalah : bahan penyusun berasal
dari kayu-kayuan, dalam keadaan tergenang, sifat menyusut dan subsidence ( penurunan
permukaan gambut) karena drainase, kering tidak balik, pH yang sangat rendah dan status
kesuburan tanah yang rendah. Pengembangan usaha pertanian sangat dibatasi oleh beberapa hal
di atas (Andriesse, 1988).

A. Sifat Fisik

Sifat-sifat fisik gambut sangat erat kaitannya dengan pengelolaan air gambut. Bahan penyusun
gambut terdiri dari empat komponen yaitu bahan organik, bahan mineral, air dan udara.
Perubahan kandungan air karena reklamasi gambut akan ikut merubah sifat-sifat fisik lainnya
(Andriesse, 1988). Mengingat sifat-sifat fisik tanah gambut saling berhubungan maka
pembahasan sifat fisik dari tanah gambut tidak dapat dilakukan secara terpisah. Uraian tentang
sifat-sifat fisik gambut ini akan dihubungankan dengan sifat-sifat kimia tanah gambut.
Pemahaman akan sifat-sifat fisik akan sangat bermanfaat dalam menentukan strategi
pemanfaatan gambut.

Menurut Hardjowigeno (1996) sifat-sifat fisik tanah gambut yang penting adalah: tingkat
dekomposisi tanah gambut; kerapatan lindak, irreversible dan subsiden. Noor (2001)
menambahkan bahwa ketebalan gambut, lapisan bawah, dan kadar lengas gambut merupakan
sifat-sifat fisik yang perlu mendapat perhatian dalam pemanfaatan gambut.
Berdasarkan atas tingkat pelapukan (dekomposisi) tanah gambut dibedakan menjadi: (1) gambut
kasar (Fibrist ) yaitu gambut yang memiliki lebih dari 2/3 bahan organk kasar; (2) gambut
sedang (Hemist) memiliki 1/3-2/3 bahan organik kasar; dan (3) gambut halus (Saprist) jika bahan
organik kasar kurang dari 1/3. Gambut kasar mempunyai porositas yang tinggi, daya memegang
air tinggi, namun unsur hara masih dalam bentuk organik dan sulit tersedia bagi tanaman.
Gambut kasar mudah mengalami penyusutan yang besar jika tanah direklamasi. Gambut halus
memiliki ketersediaan unsur hara yang lebih tinggi memiliki kerapatan lindak yang lebih besar
dari gambut kasar (Hardjowigeno, 1996).

Tanah gambut mempunyai kerapatan lindak (bulk density) yang sangat rendah yaitu kurang dari
0,1 gr/cc untuk gambut kasar, dan sekitar 0,2 gr/cc pada gambut halus. Dibanding dengan tanah
mineral yang memiliki kerapatan lindak 1,2 gr/cc maka kerapatan lindak gambut adalah sangat
rendah. Rendahnya kerapatan lindak menyebabkan daya dukung gambut (bearing capasity)
menjadi sangat rendah, keadaan ini menyebabkan rebahnya tanaman tahunan seperti kelapa dan
kelapa sawit pada tanah gambut.

Tanah gambut jika di drainase secara berlebih akan menjadi kering dan kekeringan gambut ini
disebut sebagai irreversible artinya gambut yang telah mengering tidak akan dapat menyerap air
kembali. Perubahan menjadi kering tidak balik ini disebabkan gambut yang suka air (hidrofilik)
berubah menjadi tidak suka air (hidrofobik) karena kekeringan, akibatnya kemampuan menyerap
air gambut menurun sehingga gambut sulit diusahakan bagi pertanian. Berkurangnya
kemampuan menyerap air menyebabkan volume gambut menjadi menyusut dan permukaan
gambut menurun (kempes). Perbaikan drainase akan menyebabkan air keluar dari gambut
kemudian oksigen masuk kedalam bahan organik dan meningkatkan aktifitas mikroorganisme,
akibatnya terjadi dekomposisi bahan organik dan gambut akan mengalami penyusutan
(subsidence) sehingga permukaan gambut mengalami penurunan.

Kadar lengas gambut (peat moisture) ditentukan oleh kematangan gambut. Pada gambut alami
kadar lengas gambut sangat tinggi mencapai 500-1.000 % bobot, sedangkan yang telah
mengalami dekomposisi berkisar antara 200-600 % bobot. Kadar lengas gambut fibrik lebih
besar dari gambut hemik dan saprik. Kemampuan menyerap air gambut fibrik lebih besar dari
gambut sapris dan hemist, namun kemampuan fibris memegang air lebih lemah dari gambut
hemik dan saprist (Noor, 2001). Tingginya kemampuan gambut menyerap air menyebabkan
tingginya volume pori-pori gambut, mengakibatkan rendahnya kerapatan lindak dan daya
dukung gambut (Mutalib et al, 1991).

Akumulasi gambut akan menyebabkan ketebalan gambut yang bervariasi pada suatu kawasan.
Umumnya gambut akan membentuk kubah (dome), semakin dekat dengan sungai ketebalan
gambut menipis, kearah kubah gambut akan menebal, di Kalimantan Barat kubah gambut di
Sungai Selamat dapat mencapai 8 m, demikianpula pada daerah rasau Jaya. Ketebalan gambut
berkaitan erat dengan kesuburan tanah. Gambut ditepi kubah tipis dan memiliki kesuburan yang
relatif baik (gambut topogen) sedang di tengah kubah gambut tebal >3m memiliki kesuburan
yang relatip rendah (gambut ombrogen) (Andriesse, 1988; Harjowigeno, 1996).

Lapisan bawah gambut dapat berupa lapisan lempung marine atau pasir. Gambut diatas pasir
kuarsa memiliki kesuburan yang relatip rendah, jika lapisan gambut terkikis, menyusut dan
hilang maka akan muncul tanah pasir yang sangat miskin. Tanah lapisan lempung marin
umumnya mengandung pirit (FeS2), pada kondisi tergenang (anaerob) pirit tidak akan berbahaya
namun jika didrainase secara berlebihan dan pirit teroksidasi maka akan terbentuk asam sulfat
dan senyawa besi yang berbahaya bagi tanaman. Kemasaman tanah akan memningkat pH
menjadi 2-3 sehingga tanaman pertanian akan keracunan dan pertumbuhan terhambat serta hasil
rendah.

Gambut tropis umumnya berwarna coklat kemerahan hingga coklat tua (gelap) tergantung
tahapan dekomposisinya. Kandungan air yang tinggi dan kapasitas memegang air 15-30 kali dari
berat kering, rendahnya bulk density (0,05-0,4 g/cm3) dan porositas total diantara 75-95%
menyebabkan terbatasnya penggunaan mesin-mesin pertanian dan pemilihan komoditas yang
akan diusahakan (Ambak dan Melling, 2000)

Sebagai contoh di Malaysia, tiga komoditas utama yaitu kelapa sawit, karet dan kelapa
cenderung pertumbuhannya miring bahkan ambruk sebagai akibat akar tidak mempunyai
tumpuan tanah yang kuat (Singh et al, 1986). Gambut memiliki daya dukung atau daya tumpu
yang rendah karena kerapatan tanahnya rendah. Sebagai akibatnya, pohon yang tumbuh menjadi
mudah rebah, jalan sulit dilalui kendaraan, dan sulit disawahkan (kecuali gambut dengan
kedalaman kurang dari 75 cm). Gambut tebal sulit dan tidak cocok dibuat sawah karena dalam
kondisi basah, akan sulit diinjak serta sangat miskin hara. Karenanya, gambut tebal sebaiknya tidak
digunakan sebagai lahan pertanian/sawah.

Penurunaan gambut terjadi setelah dilakukan drainase, permukaan tanah gambut akan mengalami
penurunan karena pematangan gambut dan berkurangnya kandungan air. Rata-rata kecepatan
penurunan adalah 0,3-0,8 cm/bulan, dan umumnya terjadi selama 3-4 tahun setelah drainase dan
pengolahan tanah. Semakin tebal gambut, penurunan tersebut semakin cepat dan semakin lama.
Sifat gambut seperti ini mengakibatkan terjadinya genangan, pohon rebah, dan konstruksi
bangunan (jembatan, jalan, saluran drainase) terganggu atau ambles.

Masalah penurunan gambut ditanggulangi dengan cara sebagai berikut: Penanaman tanaman
tahunan didahului dengan penanaman tanaman semusim minimal tiga kali musim tanam; dan
dilakukan pemadatan sebelum penanaman tanaman tahunan.

Beberapa kiat untuk mengatasi daya tumpu dan daya dukung gambut yang rendah adalah:

1. Budidaya tanaman tahunan hanya pada lahan dengan ketebalan gambut <>

2. Dilakukan pemadatan gambut sebelum penanaman. Pemadatan dapat dilakukan dengan
menggunakan alat sederhana yang dibuat sendiri dari kayu gelondong yang dapa digelindingkan
(Gambar 3), ata menggunakan alat pemadat mekanis yang biasa digunakan untuk memadatkan
tanah di jalan;

3. Gambut dengan ketebalan lebih dari 75 cm ditata dengan sistem tegalan.

Untuk mengatasi masalah kandungan asam-asam organik yang beracun biasanya dilakukan drainase
dengan membuat saluran drainase intensif atau saluran cacing. Bahan amelioran adalah bahan
yang mampu memperbaiki atau membenahi kondisi fisik dan kesuburan tanah. Beberapa contoh
bahan amelioran yang sering digunaka adalah kapur , tanah mineral, pupuk kandang, kompos, dan
abu.

B. Sifat-sifat Kimia

Ketebalan horison organik, sifat subsoil dan frekuensi luapan air sungai mempengaruhi
komposisi kimia gambut. Pada tanah gambut yang sering mendapat luapan, semakin banyak
kandungan mineral tanah sehingga relatif lebih subur.

Kesuburan gambut sangat bervariasi dari sangat subur sampai sangat miskin. Gambut tipis yang
terbentuk diatas endapan liat atau lempung marin umumnya lebih subur dari gambut dalam
(Widjaya Adhi, 1988). Atas dasar kesuburannya gambut dibedakan atas gambut subur (eutropik),
gambut sedang (mesotropik) dan gambut miskin (oligotropik).

Secara umum kemasaman tanah gambut berkisar antara 3-5 dan semakin tebal bahan organik
maka kemasaman gambut meningkat. Gambut pantai memiliki kemasaman lebih rendah dari
gambut pedalaman. Kondisi tanah gambut yang sangat masam akan menyebabkan kekahatan
hara N, P, K, Ca, Mg, Bo dan Mo. Unsur hara Cu, Bo dan Zn merupakan unsur mikro yang
seringkali sangat kurang (Wong et al, 1986, dalam Mutalib et al, 1991). Kekahatan Cu acapkali
terjadi pada tanaman jagung, ketela pohon dan kelapa sawit yang ditanam di tanah gambut.

Tanah gambut ombrogen dengan kubah gambut yang tebal umumnya memiliki kesuburan yang
rendah dengan pH sekitar 3,3 namun pada gambut tipis di kawasan dekat tepi sungai gambut
semakin subur dan pH berkisar 4,3 (Andriesse, 1988). Kemasaman tanah gambut disebabkan
oleh kandungan asam asam organik yang terdapat pada koloid gambut. Dekomposisi bahan
organik pada kondisi anaerob menyebabkan terbentuknya senyawa fenolat dan karboksilat yang
menyebabkan tingginya kemasaman gambut. Selain itu terbentuknya senyawa fenolat dan
karboksilat dapat meracuni tanaman pertanian (Sabiham, 1996). Jika tanah lapisan bawah
mengandung pirit, pembuatan parit drainase dengan kedalaman mencapai lapisan pirit akan
menyebabkan pirit teroksidasi dan menyebabkan meningkatnya kemasaman gambut dan air
disaluran drainase.

Hubungan ketebalan gambut dengan sifat kimia dan kesuburan gambut disajikan pada Tabel 3.
Tanah gambut memiliki kapasitas tukar kation (KTK) yang sangat tinggi (90-200 me/100 gr)
namun kejenuhan basa (KB) sangat rendah, hal ini menyebabkan ketersedian hara terutama K,
Ca, dan Mg menjadi sangat rendah.

KB gambut harus ditingkatkan mencapai 25-30% agar basa-basa tertukar dapat dimanfaatkan
tanaman (Tim Fakultas Pertanian IPB,1986; Hardjowigeno, 1996; dan Sagiman, 2001). C/N
gambut umumnya sangat tinggi melibihi 30 ini berarti hara nitrogen kurang tersedia untuk
tanaman sekalipun hasil analisis N total menunjukkan angka yang tinggi. Unsur P dalam tanah
gambut terdapat dalam bentuk P organik dan kurang tersedia bagi tanaman. Pemupukan P
dengan pupuk yang cepat tersedia akan menyebabkan ion phosphat mudah tercuci dan
mengurangi ketersediaan hara P bagi tanaman. Penambahan besi dapat mengurangi pencucian P
(Soewono, 1997) dilapangan pencucian P dapat diperkecil dengan menambahkan tanah mineral
kaya besi dan Al (Salampak, 1999).

Everret (1983) mengemukakan bahwa Kapasitas Tukar Kation (KTK) tanah gambut pada
umumnya sangat tinggi, biasanya lebih dari 100 cmol kg -1 tanah. KTK tanah gambut di
dataran Anai termasuk tinggi dan sangat tinggi, yaitu antara 35,1 sampai 65,6 cmol kg -1 tanah.
Data KTK tanah gambut di dataran Anai yang diambil dari beberapa sampel profil.

Nilai Kejenuhan Basa (KB) adalah persentase dari total kapasitas tukar kation yang ditempati
oleh kation-kation basa seperti kalsium, magnesium, kalium, dan natrium. Nilai KB
berhubungan erat dengan pH dan tingkat kesuburan tanah.

Kemasaman akan menurun dan kesuburan tanah akan meningkat dengan meningkatnya KB.
Laju pelepasan kation terjerap bagi tanaman bergantung pada tingkat KB suatu tanah. Suatu
tanah dikatakan sangat subur jika KB-nya lebih besar dari 80%, kesuburan sedang jika KB-
nya berkisar antara 50% sampai 80%, dan dikatakan tidak subur jika KB-nya kurang dari 50%
(Tan, 1993).

Tindak lanjut masalah tanah gambut yang sudah dipecahkan adalah usaha memperbaiki
kesuburan tanah digunakan pupuk (makro dan mikro) dan bahan amelioran. Pupuk mikro
digunakan pada tanah gambut dengan kedalaman lebih dari 1 m. (Prasetyo, 1996), pengapuran
untuk menaikkan pH tanah (Mawardi et al,1997), dan aplikasi mikrobia pelapuk bahan
organik (Poeloengan et al, 1995).

Hasil penelitian Mawardi et al, (1997) memperlihatkan bahwa bahan-bahan amelioran dapat
menetralkan asam-asam organik yang bersifat meracuni, meningkatkan pH, dan memperbaiki
pertumbuhan dan produksi tanaman.

Menurut Sastrosupadi et al, (1992) pengapuran dapat meningkatkan pH tanah, menetralkan
Al, dan meningkatkan ketersediaan P untuk tanaman. Rendahnya pH dan besarnya kapasitas
sangga tanah gambut menyebabkan banyak diperlukan kapur untuk meningkatkan setiap
satuan pH.

Dari hasil-hasil penelitian disimpulkan bahwa salah satu kegiatan pertanian yang memberikan
kontribusi yang nyata bagi rusaknya ekosistem gambut adalah kegiatan pembukaan lahan
gambut dengan cara bakar. Pembukaan lahan gambut dengan cara bakar, menjadi faktor
penyebab kerusakan lahan gambut yang cukup signifikan.

Selain itu, pemakaian pupuk kimia dengan dosis tinggi secara terus menerus dapat merusak
struktur tanah dan menimbulkan pencemaran, baik terhadap lahan pertanian maupun lingkungan,
sehingga menyebabkan produktivitas lahan semakin merosot.

Pertanian yang hanya bertumpu pada pemakaian pupuk kimia, selain memberikan dampak positif
terhadap peningkatan produksi, juga memberikan dampak negatif berupa penurunan kualitas
tanah serta pemborosan energi. Dalam era lingkungan dan globalisasi, orientasi pengembangan
pertanian diarahkan untuk meningkatkan produksi secara berkelanjutan (mempertahankan
kualitas lahan dan lingkungan) denga cara memperbaiki kesuburan tanah menggunakan
sumberdaya alami seperti mendaur ulang limbah pertanian sehingga pemakaian pupuk kimia
dapat dikurangi.

Alternatif mempertahankan dan meningkatkan kesuburan lahan gambut serta menghindarkan
dampak negatif penggunaan abu bakaran gambut dan pupuk kimia antara lain dengan
memadukan penggunaan limbah-limbah pertanian sebagai amelioran dan penanaman varietas-
varietas adaftif serta pemanfaatan pupuk organik. Pembuatan abu sebagai bahan amelioran
dilakukan petani bersamaan dengan musim kemarau, yaitu dengan cara membakar gambut pada
waktu membersihkan lahan dari gulma dan semak belukar. Mahalnya harga pupuk menyebabkan
ketergantungan petani pada abu bakar dari gambut semakin tinggi.

Kendala utama yang dihadapi dalam pengembangan pertanian di lahan pasang surut (gambut)
adalah adanya lapisan gambut tebal dan lapisan pirit (FeS02). Gambut mempunyai sifat khas,
yaitu sifat kering tak balik (irreversible drying) dan daya retensi air yang besar (Driessen dan
Soepraptohardjo, 1974). Sedangkan pirit adalah suatu mineral endapan marin yang terbentuk
pada tanah yang jenuh air, kaya bahan organik dan diperkaya oleh sulfat larut yang berasal dari
laut. Pirit mempunyai sifat yang unik dan tergantung pada keadaan air (Van Breemen dan Pons,
1978). Pada keadaan jenuh air pirit stabil dan tidak berbahaya, tetapi pada keadaan kering atau
drainase berlebihan maka pirit menjadi labil dan mudah teroksidasi. Oksidasi pirit akan
menyebabkan pemasaman tanah karena diikuti oleh pelepasan ion ion sulfat dan besi,
selanjutnya akan menghancurkan struktur mineral liat tanah sehingga meningkatkan kadar asam,
besi, aluminum dalam larut tanah.

Dalam konteks konservasi lahan gambut maka upaya untuk menghindarkan terjadinya degradasi
lahan adalah bagaimana mempertahankan lapisan gambut pada batas antara 25 – 50 cm
bergantung sistem usahatani yang dikembangkan dan mencegah terjadinya oksidasi pirit
berlebihan. Hasil pemetaan pada sebagian besar kawasan gambut di Kalimantan, termasuk
kawasan pengembangan lahan gambut (PLG) sejuta hektar berada pada endapan marin yang
kaya pirit pada kedalaman yang beragam antara 25 – 100 cm lebih. Oleh karena itu penyusutan
atau kehilangan lapisan atas (gambut) dapat menyebabkan terjadinya pemasaman tanah dan
pencemaran terhadap lingkungan. Selain itu juga dengan semakin meningkatnya penyusutan
kawasan gambut dapat mengakibatkan terganggunya tatanan tata air di kawasan gambut karena
sifat gambut yang besar dalam menyimpan air yaitu antara 200 – 800 % bobot (Nugroho et al.,
1997).

Lahan gambut merupakan lahan yang berasal dari bentukan gambut beserta vegetasi yang
terdapat diatasnya terbentuk di daerah yang topografinya rendah, dan bercurah hujan tinggi atau
di daerah yang suhunya sangat rendah. Tanah gambut mempunyai kandungan bahan organik
yang tinggi (>12% C. karbon) dan kedalaman gambut minimum 50 cm. Tanah gambut
diklasifikasikan sebagai Histosol dalam sistem

Klasifikasi FAO UNESCO (1994) yaitu yang mengandung bahan organik lebih tinggi daripada
30 persen, dalam lapisan setebal 40 cm atau lebih, dibagian 80 cm teratas profil tanah. Gambut
merupakan sumberdaya alam yang banyak memiliki kegunaan antara lain untuk budidaya
tanaman pertanian maupun kehutanan, dan akuakultur, selain juga dapat digunakan untuk bahan
bakar, media pembibitan, ameliorasi tanah dan untuk menyerap zat pencemar lingkungan.

C. Sifat Biologi

Menurut Waksman dalam Andriesse (1988) perombakan bahan organik saat pembentukan
gambut dilakukan oleh mikroorganisme anaerob dalam perombakan ini dihasilkan gas methane
dan sulfida. Setelah gambut didrainase untuk tujuan pertanian maka kondisi gambut bagian
permukaan tanah menjadi aerob, sehingga memungkinkan fungi dan bakteri berkembang untuk
merombak senyawa sellulosa, hemisellulosa, dan protein. Gambut tropika umumnya tersusun
dari bahan kayu sehingga banyak mengandung lignin, bakteri yang banyak ditemukan pada
gambut tropika adalah Pseudomonas selain fungi white mold dan Penecilium (Suryanto, 1991).
Pseudomonas merupakan bakteri yang mampu merombak lignin(Alexander, 1977). Penelitian
tentang dekomposisi gambut di Palangkaraya menunjukkan bahwa dekomposisi permukaan
gambut terutama disebabkan oleh dekomposisi aerob yang dilaksanakan oleh fungi (Moore and
Shearer, 1997).

Pada berapa penelitian di lahan gambut Jawai (Kab Sambas) dan Jangkang (Kab Pontianak)
dapat diisolasi bakteri Bradyrhizobium japonicum yang dapat dipergunakan untuk meningkatkan
hasil kedelai di lahan gambut. Kedelai adalah tanaman yang sangat banyak memerlukan
nitrogen, 40 – 80 persen kebutuhan nitrogen kedelai dapat disuplai melalui simbiosis kedelai dan
bakteri bintil akar (B. japonicum ). Gambut memiliki ketersediaan N yang rendah. Inokulasi B
japonicum asal Jawai dan Jangkang yang efektif dapat meningkatkan kandungan N dan hasil
tanaman kedelai (Sagiman dan Anas. 2005).

D. Pengaturan Tata Air Pada Tanah Gambut

Lahan marginal seperti lahan gambut dapat ditingkatkan menjadi lahan produktif dengan
menerapkan teknologi yang tepat guna. Lahan gambut dicirikan dengan kandungan bahan organik
yang tinggi, kemasaman tanah tinggi, namun mempunyai ketersedian hara makro dan mikro yang
sangat rendah. Selain itu path musim penghujan akan terjadi penggenangan air dan path musim
kemarau akan terjadi kekeringan, sehingga tata air menjadi kebutuhan mutlak (Yardha, et a1, 1998;
Yusuf, et a1, 1999).

 Sumber Air di Lahan Gambut

Sebagai salah satu jenis lahan rawa, keberadaan air di lahan gambut sangat dipengaruhi oleh
adanya hujan dan pasang surut/luapan air sungai. Tingkah laku dari keduanya akan berpengaruh
terhadap tinggi dan lama genangan air di lahan gambut dan pada akhirnya akan berpengaruh
terhadap tingkat kesuburan lahan serta pola budidaya tanaman yang akan diterapkan di atasnya.
Lahan gambut yang sering menerima luapan air sungai relatif lebih subur dibandingkan lahan
gambut yang semata-mata hanya menerima limpasan/curahan air hujan. Sifat luapan/pasang
surut air sungai yang jangkauannya dapat mencapai lahan gambut dapat disiasati untuk
mengatasi berbagai kendala pertanian di lahan gambut, misalnya untuk mencuci zat-zat beracun
atau asam kuat yang berasal dari teroksidasinya pirit dan mengatur keberadaan air sehingga
tanaman dapat tumbuh dengan baik.
 Teknologi Pengelolaan Air di Lahan Gambut

Pengelolaan air di lahan gambut bertujuan untuk mengatur pemanfaatan sumber daya air secara
optimal sehingga didapatkan hasil/produktivitas lahan yang maksimal, serta sekaligus
mempertahankan kelestarian sumber daya lahan tersebut. Salah satu teknik pengelolaan air di
lahan gambut dapat dilakukan dengan membuat parit/saluran, dengan tujuan:

1. Mengendalikan keberadaan air tanah di lahan gambut sesuai dengan kebutuhan tanaman yang
akan dibudidayakan. Artinya: gambut tidak menjadi kering di musim kemarau, tapi juga tidak
tergenang di musim hujan. Hal demikian dapat dicapai dengan membuat pintu air (flapgate) yang
dapat mengatur tinggi muka air tanah gambut sekaligus menahan air yang keluar dari lahan;

2. Mencuci asam-asam organik dan anorganik serta senyawa lainnya yang bersifat racun
terhadap tanaman dan memasukan (suplai) air segar untuk memberikan oksigen;

3. Memanfaatkan keberadaan air di dalam saluran sebagai media budidaya ikan, baik budidaya
aktif (dimana benih ikan ditebarkan di dalam saluran) maupun budidaya pasif (dimana
parit/saluran digunaan sebagai perangkap ikan ketika sungai di sekitarnya meluap).

Selain itu keberadaan air di dalam parit akan berfungsi sebagai sekat bakar yang dapat mencegah
terjadinya kebakaran di lahan gambut; sebagai sarana transportasi hasil panen.Lahan gambut
merupakan salah satu jenis lahan rawa yang selalu jenuh air atau tergenang, kondisi demikian
menjadikan lahan gambut sulit untuk dikembangkan sebagai lahan pertanian. Salah satu faktor
kunci keberhasilan pengembangan pertanian di lahan gambut, selain meningkatkan
kesuburannya adalah mengendalikan tinggi muka air di dalamnya sehingga gambut tetap basah
tapi tidak tergenang dimusim hujan dan tidak kering di musim kemarau. Pengaturan tinggi muka
air yang tepat juga dimaksudkan agar proses pencucian bahan beracun berjalan dengan lancar
sehingga tercipta media tumbuh yang baik bagi tanaman.

Beberapa teknik pengelolaan air yang telah lama dikembangkan di lahan rawa (termasuk
gambut) antara lain:

(1) Sistem parit/handil di tepi sungai; dan

(2) Sistem saluran model garpu di lahan pasang surut

(dikembangkan oleh Universitas Gajah Mada).

Kedua sistem ini mempunyai kelemahan yaitu aliran air yang masuk atau keluar dari petakan
lahan gambut (pada saat pasang-surut/luapan berlangsung) terjadi pada satu saluran yang sama,
dan pada saluran ini sering terjadi pendangkalan yang diakibatkan oleh endapan lumpur sungai.
Kondisi demikian menyebabkan penyumbatan saluran sehingga proses pergantian air di dalam
petakan lahan tidak berlangsung sempurna, akibatnya bahan-bahan beracun dan juga senyawa
asam menumpuk/terakumulasi di dalam saluran dan menyebabkan mutu air menjadi jelek.
Kondisi di atas dapat diatasi dengan mengangkat/ membuang endapan dari dalam saluran atau
memisahkan saluran air masuk/irigasi (inlet) dengan air keluar/drainase (outlet).
1. Sistem parit/handil di tepi sungai

Pengelolaan lahan pertanian dengan sistem parit/handil ini, telah dikembangkan sejak dahulu
kala oleh petani di lahan gambut pedalaman Kalimantan. Parit dibuat dari pinggir sungai yang
mengarah tegak lurus ke arah daratan, dikiri dan kanan parit dibuat pematang-pematang yang
umumnya digunakan sebagai jalan sekaligus sebagai batas kepemilikan lahan. Parit dapat
dipandang sebagai saluran sekunder bila sungai dipandang sebagai saluran primer. Parit dibuat
secara bertahap dan diselaraskan dengan kondisi perubahan lahan, pengaruh pasang surut
(kedalaman muka air) dan ketebalan gambut. Penerapan sistem parit biasanya diawali dengan
usaha pembukaan lahan (reklamasi) dengan merintis dan memotong/menebang pohon-pohon
besar.

Pekerjaan ini dilakukan secara berkelompok dan bertahap serta dimulai dari tepi sungai tegak
lurus kearah pedalaman. Sistem parit/handil dicirikan oleh:

1. Lahan usahatani umumnya berjarak 0,5 - 4 km dari tepi sungai ke arah pedalaman, atau
sampai ke ketebalan gambut maksimum 1meter;

2. Di bagian tepi sungai biasanya tidak dibuatkan pematang, karena sudah ada tanggul sungai
yang terbentuk secara alami sehingga bila sungai pasang atau banjir, luapan air akan tertahan dan
genangan pada lahan usaha yang ditimbulkan terbatas;

3. Parit dibuat biasanya berfungsi ganda, pertama sebagai saluran drainase (pembuangan) apabila
air surut dan kedua sebagai saluran irigasi (mengairi) apabila air pasang. Aliran air dalam parit
adalah dua arah atau bolak balik;

4. Untuk mempertahankan keberadaan air di lahan/petakan, maka pada parit dipasang tabat untuk
mencegah keluarnya air sewaktu surut tetapi sewaktu pasang air dapat mudah masuk dalam
petakan;

5. Untuk mencegah agar parit tidak tersumbat oleh endapan lumpur, maka perlu dilakukan
pengangkatan/pembuangan lumpur secara rutin setiap bulan sekali;

6. Lebar parit/handil berukuran 5 meter dan semakin menyempit ke arah hulu parit. Pada kanan
dan kiri parit dibuat tanggul/pematang untuk ditanami buah-buah yang berfungsi sebagai penguat
tanggul agar tidak longsor. Di atas pematang ini, juga dapat dibuat pondok-pondok;

7. Pada setiap jarak 500 meter dibuat parit cacing yang berfungsi untuk memasukan dan
mengeluarkan air pada petakan pertanaman.

2. Sistem saluran model garpu di lahan pasang surut

Pengaturan tata air dengan sistem garpu (Gambar 2) telah dikembangkan oleh Universitas Gajah
Mada (UGM) pada lahan pasang surut, yaitu lahan-lahan yang terletak di dataran pantai atau
dataran dekat sungai; baik terpengaruh secara langsung maupun tidak langsung oleh pasang
surut. Untuk mengatur air pasang surut, maka dibuat pintu-pintu air yang dikenal dengan sebutan
flapgate yaitu pintu otomatis yang ketika pasang, air akan mendorong pintu sehingga air dapat
masuk ke dalam parit-parit petakan lahan; tetapi sewaktu surut, air akan tertahan di dalam parit-
parit petakan lahan. Struktur tinggi/operasional pintu-pintu air tersebut disesuaikan dengan
penggunaan lahannya, apakah untuk sawah, surjan atau lahan kering. Kelemahan sistem garpu:
Biaya pembuatan sistem garpu terlalu mahal, karena dirancang untuk areal pertanian yang cukup
luas dan menggunakan alat-alat berat;

E. Kebakaran Lahan Gambut

Kendala lain pada tanah gambut adalah kebakaran gambut hal ini dapat merugikan, apabila
gambut mengalami pengeringan yang berlebihan sehingga koloid gambut menjadi rusak dan
kering. Terjadi gejala kering tak balik (irreversible drying) dan gambut berubah sifat seperti
arang sehingga tidak mampu lagi menyerap hara dan menahan air (Subagyo et al, 1996). Gambut
akan kehilangan air tersedia setelah 4 - 5 minggu pengeringan dan ini mengakibatkan gambut
mudah terbakar.

Kebakaran hutan dan lahan gambut di wilayah tropika terutama di Asia Tenggara sudah terjadi
selama 20 tahun terakhir ini. Kebakaran tersebut terjadi umumnya selama musim kering yang
terimbas oleh periode iklim panas atau dikenal sebagai El Nino-Southern Oscilation (ENSO).
Periode panas ini dapat terjadi setiap 3–7 tahun, dan lama kejadiannya dari 14 bulan hingga 22
bulan (Singaravelu, 2002). Pemanasan ini biasanya bermula pada bulan Oktober, terus
meningkat ke akhir tahun dan berpuncak pada pertengahan tahun berikutnya.

Kebakaran hutan tropika basah di Indonesia diketahui terjadi sejak abad ke-19, yakni di kawasan
antara Sungai Kalimantan dan Cempaka (sekarang Sungai Sampit dan Katingan) di Kalimantan
Tengah, yang rusak akibat kebakaran hutan tahun 1877. Statistik Kehutanan Indonesia telah
mencatat adanya kebakaran hutan sejak tahun 1978, meskipun kebakaran besar yang diketahui
oleh umum terjadi pada tahun 1982/1983 telah menghabiskan 3,6 juta ha hutan termasuk sekitar
500.000 ha lahan gambut di Kalimantan Timur (Page et al., 2000; Parish, 2002). Selanjutnya
pada tahun 1987 kebakaran hutan dalam skala besar terjadi lagi di 21 propinsi terutama di
Kalimantan Timur, yang terjadi bersamaan dengan munculnya periode iklim panas ENSO,
sehingga sejak saat itu timbul anggapan bahwa kebakaran hutan adalah bencana alam akibat
kemarau panjang dan kering karena ENSO. Begitulah kebakaran besar terjadi lagi pada tahun
1991, 1994 dan 1997 di 24 propinsi di Indonesia.

Kebakaran selama musim kering pada tahun 1997, telah membakar sekitar 1,5 juta ha lahan
gambut di Indonesia (BAPPENAS, 1998), termasuk 750.000 ha di Kalimantan. Kebakaran hutan
dan lahan pada tahun 1997 dinyatakan sebagai yang terburuk dalam 20 tahun terakhir. Atas dasar
rekaman sejarah tersebut di atas, kebakaran hutan dan lahan di Indonesia berulang setiap lima
tahun, yang nampaknya cocok benar dengan periode iklim panas ENSO rata-rata 5 tahun.

 Penyebab Kebakaran

Kebakaran hutan dan lahan gambut selama musim kering dapat disebabkan atau dipicu oleh
kejadian alamiah dan kegiatan atau kecerobohan manusia. Kejadian alamiah seperti terbakarnya
ranting dan daun kering secara serta-merta (spontan) akibat panas yang ditimbulkan oleh batu
dan benda lainnya yang dapat menyimpan dan menghantar panas, dan pelepasan gas metana
(CH4) telah diketahui dapat memicu terjadinya kebakaran (Abdullah et al., 2002). Meskipun
demikian, pemicu utama terjadinya kebakaran adalah adanya kegiatan dan atau kecerobohan
manusia, yang 90–95% kejadian kebakaran dipicu oleh faktor ini.

Faktor manusia yang dapat memicu terjadinya kebakaran meliputi pembukaan lahan dalam
rangka pengembangan pertanian berskala besar, persiapan lahan oleh petani, dan kegiatan-
kegiatan rekreasi seperti perkemahan, piknik dan perburuan. Menurut pengalaman di Malaysia
(Abdullah et al., 2002; Musa & Parlan, 2002) dan di Sumatra (Sanders, 2005), kegiatan
pembukaan dan persiapan lahan baik oleh perusahaan maupun masyarakat merupakan penyebab
utama terjadinya kebakaran hutan dan lahan gambut. Pembukaan dan persiapan lahan oleh petani
dengan cara membakar merupakan cara yang murah dan cepat terutama bagi tanah yang
berkesuburan rendah. Banyak penelitian telah menunjukkan bahwa cara ini cukup membantu
memperbaiki kesuburan tanah dengan meningkatkan kandungan unsur hara dan mengurangi
kemasaman (Diemont et al., 2002). Hanya saja jika tidak terkendali, kegiatan ini dapat memicu
terjadinya kebakaran.

Dalam skala besar, ancaman kebakaran terutama terjadi dalam kawasan hutan dan lahan gambut
yang telah direklamasi. Kasus kebakaran hutan dan lahan gambut pada tahun 1997 menunjukkan
bahwa sekitar 80% dari luas lahan Proyek Pengembangan

Lahan Gambut (PPLG) 1,4 juta hektar di Kalimantan Tengah diliputi oleh titik titik panas (hot
spots), yang sebarannya semakin banyak ke arah saluran pengatusan (drainase) yang telah
dibangun (Jaya et al, 2000; Page et al, 2000). Ancaman itu memang akhirnya terjadi bahwa
sekitar 500.000 ha kawasan PPLG di Kalimantan Tengah telah terbakar selama kebakaran tahun
1997 (Page et al, 2000; Siegert et al, 2002).

 Sifat Kebakaran

Sifat kebakaran yang terjadi di kawasan hutan dan lahan gambut berbeda dengan yang terjadi di
kawasan hutan dan lahan tanah mineral (bukan gambut). Di kawasan bergambut, kebakaran tidak
hanya menghanguskan tanaman dan vegetasi hutan serta lantai hutan (forest floor) termasuk
lapisan serasah, dedaunan dan bekas kayu yang gugur, tetapi juga membakar lapisan gambut
baik di permukaan maupun di bawah permukaan.

Berdasarkan pengamatan lapangan (Usup et al, 2003) ada dua tipe kebakaran lapisan gambut,
yaitu tipe lapisan permukaan dan tipe bawah permukaan. Tipe yang pertama dapat
menghanguskan lapisan gambut hingga 10–15 cm, yang biasanya terjadi pada gambut dangkal
atau pada hutan dan lahan berketinggian muka air tanah tidak lebih dari 30 cm dari permukaan.
Pada tipe yang pertama ini, ujung api bergerak secara zigzag dan cepat, dengan panjang proyeksi
sekitar 10–50 cm dan kecepatan menyebar rata-rata 3,83 cm jam-1 (atau 92 cm hari-1).

Tipe yang kedua adalah terbakarnya gambut di kedalaman 30–50 cm di bawah permukaan.
Ujung api bergerak dan menyebar ke arah kubah gambut (peat dome) dan perakaran pohon
dengan kecepatan rata-rata 1,29 cm jam-1 (atau 29 cm hari-1). Kebakaran tipe kedua ini paling
berbahaya karena menimbulkan kabut asap gelap dan pekat, dan melepaskan gas pencemar
lainnya ke atmosfer. Di samping itu, kebakaran tipe ke-2 ini sangat sulit untuk dipadamkan,
bahkan oleh hujan lebat sekalipun.

Dari uraian di atas jelas bahwa kebakaran hutan dan lahan gambut dapat meninmbulkan
dampak/akibat buruk yang lebih besar dibandingkan dengan kebakaran yang terjadi di kawasan
tidak bergambut (tanah mineral). Selain itu, cara penanganannya pun berbeda, karena
karakteristik kebakaran di kawasan bergambut yang khas daripada di kawasan tidak bergambut.

 Akibat Kebakaran

Kebakaran hutan dan lahan gambut dapat berakibat langsung dan tidak langsung atas lingkungan
di dalam tapak kejadian (on site efect) atau di luar tapak kejadian (of site efect). Akibat
kebakaran hutan dan lahan gambut antara lain adalah kehilangan lapisan serasah dan lapisan
gambut, stabilitas lingkungan, gangguan atas dinamika flora dan fauna, gangguan atas kualitas
udara dan kesehatan manusia, kehilangan potensi ekonomi, dan gangguan atas sistem
transportasi dan komunikasi.

Kasus kebakaran hutan dan lahan gambut di Kalimantan Tengah pada tahun 1997 telah
menghilangkan lapisan gambut 35–70 cm (Jaya et al., 2000). Kehilangan lapisan gambut ini
berakibat atas kestabilan lingkungan, karena kehilangan lapisan gambut. Ketebalan itu setara
dengan pelepasan karbon (C) sebanyak 0,2–0,6 Gt C. Pelepasan C ini berdampak luar biasa atas
emisi gas karbondioksida (CO2) ke atmosfer, yang turut berperan dalam pemanasan global
(Siegert et al., 2002). Selain itu, kebakaran tahun 1997 telah merusak vegetasi hutan sehingga
kerapatan pohon berkurang hingga 75% (D‟Arcy & Page, 2002).

Dampak utama kebakaran hutan dan lahan gambut adalah asap yang mempengaruhi jarak
pandang dan kualitas udara. Asap bertahan cukup lama di lapisan atmosfer permukaan, akibat
rendahnya kecepatan angin permukaan. Lapisan asap ini berdampak serius pada sistem
transportasi udara, dan pada kesehatan manusia serta flora dan fauna. Pada kebakaran tahun 1997
berkurangnya jarak pandang di beberapa kota di Kalimantan dan Sumatra antara bulan Mei dan
Oktober telah mengakibatkan penundaan jam terbang dan bahkan penutupan beberapa bandar
udara.

Di beberapa daerah di Kalimantan dan Sumatra, terutama di daerah-daerah yang banyak
dijumpai kebakaran hutan dan lahan gambut, asap yang dihasilkan telah mengakibatkan
gangguan kesehatan terutama masyarakat miskin, lanjut usia, ibu hamil dan anak balita. Jumlah
kasus selama bulan September–November 1997 di delapan propinsi di Kalimantan dan Sumatra
tercatat 527 kematian, 298.125 asma, 58.095 bronkitis, dan 1.446.120 ISPA (infeksi saluran
pernafasan akut), termasuk di Kalimantan Selatan yang dijumpai 69 kasus kematian, 41.800
asma, 8.145 bronkitis, dan 202.761 kasus ISPA.

Kebakaran hutan dan lahan gambut juga berdampak atas hilangnya beberapa potensi ekonomi
terutama di sektor kehutanan dan pertanian. Kerugian ekonomi pada sektor kehutanan akibat
kebakaran tahun 1997 mencapai Rp 2,4 trilyun untuk delapan propinsi kawasan bergambut di
Kalimantan dan Sumatra. Sedangkan di sektor pertanian kerugiannya mencapai Rp 718 milyar.
Akibat tidak langsung dari kebakaran lahan gambut merupakan akibat lanjutan (postefect) yang
dihasilkan ketika proses pemulihan hutan dan lahan gambut baik secara alamiah maupun buatan
manusia belum mencapai titik pulih. Akibat ini bisa terjadi selama bertahun-tahun tergantung
kemampuan untuk memulihkan. Akibat utamanya adalah terganggunya fungsi hidrologis dan
pengaturan iklim. Hilangnya vegetasi dan terbukanya hutan dan lahan gambut menyebabkan
debit aliran permukaan dan erosi akan meningkat dalam musim hujan sehingga dapat
menyebabkan banjir. Selain itu, hilangnya vegetasi akan mengurangi penyerapan CO2 sehingga
meningkatkan efek rumah kaca dan hutan juga kehilangan fungsi pengaturan iklimnya.


Pengelolaan atas kebakaran hutan lahan gambut meliputi upaya pencegahan dan pengendalian.
Kedua upaya itu harus dilakukan secara sistematis, serba-cakup (comprehensive), dan terpadu,
dengan melibatkan semua pihak yang berkepentingan (stake holder).

 Pencegahan kebakaran

Tindakan pencegahan merupakan komponen terpenting dari seluruh sistem penanggulangan
bencana termasuk kebakaran. Bila pencegahan dilaksanakan dengan baik, seluruh bencana
kebakaran dapat diminimalkan atau bahkan dihindarkan. Pencegahan kebakaran diarahkan untuk
meminimalkan atau menghilangkan sumber api di lapangan. Upaya ini pada dasarnya harus
dimulai sejak awal proses pembangunan sebuah wilayah, yaitu sejak penetapan fungsi wilayah,
perencanaan tata guna hutan/lahan, pemberian ijin bagi kegiatan, hingga pemantauan dan
evaluasi.

Beberapa kegiatan yang dapat dilakukan untuk mencegah timbulnya api di antaranya:

1. Penatagunaan lahan sesuai dengan peruntukan dan fungsinya masing-masing, dengan
mempertimbangkan kelayakannya secara ekologis di samping secara ekonomis.

2. Pengembangan sistem budidaya pertanian dan perkebunan, serta sistem produksi kayu yang
tidak rentan terhadap kebakaran, seperti pembukaan dan persiapan lahan tanpa bakar (zero
burning-based land clearing), atau dengan pembakaran yang terkendali (controlled burning-
based land clearing).

3. Pengembangan sistem kepemilikan lahan secara jelas dan tepat sasaran. Kegiatan ini
dimaksudkan untuk menghindari pengelolaan lahan yang tidak tepat sesuai dengen peruntukan
dan fungsinya.

4. Pencegahan perubahan ekologi secara besar-besaran diantaranya dengan membuat dan
mengembangkan pedoman pemanfaatan hutan dan lahan gambut secara bijaksana (wise use of
peatland), dan memulihkan hutan dan lahan gambut yang telah rusak.

5. Pengembangan program penyadaran masyarakat terutama yang terkait dengan tindakan
pencegahan dan pengendalian kebakaran. Program ini diharapkan dapat mendorong
dikembangkannya strategi pencegahan dan pengendalian kebakaran berbasis masyarakat
(community-based fire management).
6. Pengembangan sistem penegakan hukum. Hal ini mencakup penyelidikan terhadap penyebab
kebakaran serta mengajukan pihak-pihak yang diduga menyebabkan kebakaran ke pengadilan.

7. Pengembangan sistem informasi kebakaran yang berorientasi kepada penyelesaian masalah.
Hal ini mencakup pengembangan sistem pemeringkatan bahaya kebakaran (Fire Danger Rating
System) dengan memadukan data iklim (curah hujan dan kelembaban udara), data hidrologis
(kedalaman muka ir tanah dan kadar lengas tanah), dan data bahan yang dapat memicu
timbulnya api. Kegiatan ini akan memberikan gambaran secara kartografik terhadap kerawanan
kebakaran. Gambarannya dapat berupa peta bahaya kebakaran yang berhubungan dengan kondisi
mudahnya terjadi kebakaran, peta resiko kebakaran yang berkaitan dengan sebab musabab
terjadinya kebakaran, dan peta sejarah kebakaran yang penting untuk evaluasi penanggulangan
kebakaran.

 Pengendalian kebakaran

Kegiatan pengendalian kebakaran meliputi kegiatan mitigasi, kesiagaan, dan pemadaman api.
Kegiatan mitigasi bertujuan untuk mengurangi dampak kebakaran seperti pada kesehatan dan
sektor transportasi yang disebabkan oleh asap. Beberapa kegiatan mitigasi yang dapat dilakukan
antara lain:

(1) menyediakan peralatan kesehatan terutama di daerah rawan kebakaran,

(2) menyediakan dan mengaktifkan semua alat pengukur debu di daerah rawan kebakaran,

(3) memperingatkan pihak-pihak yang terkait tentang bahaya kebakaran dan asap,

(4) mengembangkan waduk-waduk air di daerah rawan kebakaran, dan

(5) membuat parit-parit api untuk mencegah meluasnya kebakaran beserta dampaknya.

Kesiagaan dalam pengendalian kebakaran bertujuan agar perangkat penanggulangan kebakaran
dan dampaknya berada dalam keadaan siap digerakkan. Hal yang paling penting dalam tahap ini
adalah membangun partisipasi masyarakat di kawasan rawan kebakaran, dan ketaatan para
pengusaha terhadap ketentuan penanggulangan kebakaran.

Tahapan ketiga adalah kegiatan pemadaman api. Pada tahap ini usaha lokal untuk memadamkan
api menjadi sangat penting karena upaya di tingkat lebih tinggi memerlukan persiapan lebih lama
sehingga dikhawatirkan api sudah menyebar lebih luas. Pemadaman api di kawasan bergambut
jauh lebih sulit daripada di kawasan yang tidak bergambut. Hal ini terkait dengan kecepatan
penyebaran api yang sangat cepat dan tipe api di bawah permukaan.

Strategi pemadaman api secara konvensional seperti pada kawasan hutan dan lahan tidak
bergambut harus dikombinasikan dengan cara-cara khas untuk kawasan bergambut, terutama
untuk memadamkan api di bawah permukaan. Pemadaman api di bawah permukaan dengan
menyemprotkan air ke atas permukaan lahan tidaklah efektif, karena tanah gambut mempunyai
daya hantar air cacak (vertikal) yang sangat randah, tetapi daya hantar air menyamping (lateral)-
nya tinggi. Oleh karenanya pemadaman api bertipe ini hanya dapat dilakukan dengan membuat
parit yang diairi, seperti sekat bakar diairi (KATIR) yang telah dikembangkan oleh Tim Serbu
Api Universitas Palangkaraya. Cara lainnya adalah penyemprotan air melalui lubang yang telah
digali hingga batas api di bawah permukaan, seperti yang dilakukan di Malaysia (Musa & Parlan,
2002).

Pengelolaan lahan gambut harus dilakukan secara terencana dan penuh kehati-hatian agar mutu
dan kelestarian sumber daya lahan dan lingkungannya dapat dipertahankan secara
berkesinambungan. Kegiatan pengelolaan lahan rawa gambut untuk pertanian harus
diprioritaskan pada kawasan lahan gambut yang telah mengalami kerusakan tetapi memiliki
potensi pemanfaatan yang tinggi dengan batas kedalaman tidak lebih dari 1 meter. Kegiatan
pertanian dengan membuka lahan baru, apalagi yang masih

berhutan, harus dihindari/dilarang.




Bersambung ke bagian 3 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini:


Pustaka:

Madjid, A. R. 2009. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Bahan Ajar Online untuk mata kuliah: (1) Dasar-
Dasar Ilmu Tanah, (2) Kesuburan Tanah, dan (3) Pengelolaan Kesuburan Tanah Lanjut. Fakultas
Pertanian Unsri & Program Pascasarjana Unsri. http://dasar2ilmutanah.blogspot.com.

Diposkan oleh Dr. Ir. Abdul Madjid, MS di 21:46 0 komentar
Label: Kesuburan Tanah

Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Gambut (Bagian 3)

Pemanfaatan Lahan Gambut untuk Pertanian*

Oleh: Novriani** dan Abdul Madjid Rohim***

(Bagian 3 dari 5 Tulisan)


Keterangan:

* : Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah, Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister
(S2), Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya. Palembang, Propinsi Sumatera Selatan,
Indonesia.
** : Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2), Program Pascasarjana, Universitas
Sriwijaya. Palembang, Propinsi Sumatera Selatan, Indonesia.

*** : Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah, Program Studi Ilmu Tanaman, Program
Magister (S2), Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya. Palembang, Propinsi Sumatera
Selatan, Indonesia.


(Bagian 3 dari 5 Tulisan)




III. Hasil-Hasil Penelitian Tentang Tanah Gambut

Dari luasan total lahan gambut di dunia sebesar 423.825.000 ha, sebanyak 38.3 17.000 ha terdapat
di wilayah tropika. Sekitar 50% dari luasan lahan gambut tropika tersebut terdapat di Indonesia
yang tersebar di pulau-pulau Sumatra, Kalimantan, dan Papua, sehingga Indonesia menempati
urutan ke-4 dalam hal luas total lahan gambut sedunia, setelah Kanada, Uni Soviet, dan Amerika
Serikat.

Diperkirakan sedikitnya 20% dari luasan lahan gambut di Indonesia telah dimanfaatkan dalam
berbagai sektor pembangunan meliputi pertanian, kehutanan, dan penambangan (Rieley et al,
1996). Karena wataknya yang sangat rapuh, luasan lahan gambut di Indonesia cenderung
mengalami penurunan, diperkirakan yang masih tersisa tidak lebih dari 17 juta hektar (Kurnain,
2005). Bahkan dari data yang telah dipublikasikan oleh Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat
tahun 2002, luasan lahan gambut di Indonesia hanya tersisa 13,203 juta hektar dari 16,266 juta
hektar tahun 1997.

Dari itu semua dan dari banyak publikasi yang telah dirilis baik melalui pertemuan ilmiah maupun
laporan ilmiah, penelitian tentang pemanfaatan tanah gambut untuk lahan pertanian dan
perkebunan telah banyak dilakukan diantaranya:

Jagung merupakan komoditas pangan kedua setelah padi. Kendala yang dihadapi untuk
meningkatkan produksi jagung di antaranya persaingan lahan dan tanaman padi sebagai makanan
pokok sebagian besar masyarakat Indonesia. Untuk itu perlu lahan altematif yang potensial
seperti lahan gambut untuk budidaya tanaman jagung. Tanah gambut merupakan tanah marjinal
yang memiliki kesuburan rendah yang dicirikan oleh pH rendah (3.0 - 5.0), kandungan dan
ketersediaan unsur N, P, K, Mg, Zn, B, Ca, Mo dan Mn rendah dan kandungan air yang tinggi.
Namur demikian lahan gambut masih memberikan harapan untuk dijadikan lahan produktif
dengan menerapkan teknologi yang sesuai seperti paket teknologi tampurin. Penerapan paket
teknologi Tampurin yang merupakan singkatan dari Tata Air, Mikroba, Pupuk yang seimbang dan
kapur serta proses inkubasi bahan amelioran (IPPTP, 1997; Widarjanto, 1997). Dengan
penelitian mampu meningkatkan produksi tanaman jagung hingga mampu meningkatkan
pendapatan petani (Gonggo et al, 2004).
Penelitian Widodo ( 2004), tentang budidaya tanaman padi gogo di lahan gambut telah
dilakukan. Kendala utama dalam meningkatkan produksi padi gogo adalah rendahnya kesuburan
tanah dan juga kandungan bahan organik dalam tanah. Altematif untuk mengatasi kendala pada
tanah gambut untuk tanaman padi gogo dilakukan dengan memberikan pupuk urea dan
kombinasi media tanam. Ukuran urea tidak memberikan perbedaan yang nyata pada peubah yang
diamati, demikian juga interaksi antara ukuran urea dan media tanam tidak terjadi. Pada
perlakuan media tanam memberikan beda nyata pada peubah jumlah dawn, bobot pupus, jumlah
malai, bobot bulir bemas dan indeks panen dan nilai tertinggi untuk peubah: jumlah dawn: 45,19,
bobot pupus 10,53, jumlah malai 7,59, bobot bulir berms 12,62 g, dan indeks panen 1,12.

Pengembangan budidaya tanaman melon pada lahan gambut melalui penerapan sistem pertanian
berwawasan lingkungan maka sistem budidaya inovatif, yaitu sistem budidaya yang
menggunakan tanah gambut hanya sebagai sarana pendukung atau sebagai wadah berpengaruh
positif bagi pertumbuhan dan hasil tanaman melon varietas Action 434. Hal itu didukung oleh
berbagai hal sebagaimana tercantum dalam butir-butir di bawah ini. 1. Abu serbuk gergaji dan
pupuk organik padat Powernasa secara sinergis dapat meningkatkan panjang tanaman dan bobot
buah per tanaman. Panjang tanaman terpanjang dan bobot buah terberat diperoleh pada
pemberian abu serbuk gergaji dengan dosis 22,5 ton ha-1 dan pemberian pupuk organik padat
Supernasa dengan dosis 15 kg ha-1, masing-masing 149,0 cm dan 1166,7 g per tanaman. 2.
Dosis pupuk kalium dan pupuk organik padat Powernasa yang memberikan pertumbuhan dan
hasil yang baik masing-masing adalah 250 kg ha-1 dan 15 kg ha-1 menghasilkan panjang
tanaman 135,3 cm dan bobot buah 1530,0 g per tanaman (Asie E R, 2003).

Penelitian tentang tanaman perkebunan juga dilakukan pada tanah gambut. Dalam Peraturan
Menteri Pertanian Nomor 14/Permentan/PL.110/2/2009 Tahun 2009 tentang Pedoman
Pemanfaatan Lahan Gambut Untuk Budidaya Kelapa Sawit, lahan gambut yang dapat digunakan
untuk budidaya kelapa sawit harus memenuhi kriteria:

1. Berada pada kawasan budidaya
Kawasan budidaya dimaksud dapat berasal dari kawasan hutan yang telah dilepas dan/atau areal
penggunaan lain (APL) untuk usaha budidaya kelapa sawit.
2. Ketebalan lapisan gambut kurang dari 3 (tiga) meter
Lahan gambut yang dapat digunakan untuk budidaya kelapa sawit:
(2.1) dalam bentuk hamparan yang mempunyai ketebalan gambut kurang dari 3 (tiga) meter; dan
(2.2) proporsi lahan dengan ketebalan gambutnya kurang dari 3 (tiga) meter minimal 70% (tujuh
puluh prosen) dari luas areal yang diusahakan.
3. Lapisan tanah mineral di bawah gambut
Substratum menentukan kemampuan lahan gambut sebagai media tumbuh tanaman. Lapisan
tersebut tidak boleh terdiri atas pasir kuarsa dan tanah sulfat masam.
4. Tingkat kematangan gambut
Areal gambut yang boleh digunakan adalah gambut matang (saprik) dan gambut setengah
matang (hemik) sedangkan gambut mentah dilarang untuk pengembangan budidaya kelapa
sawit.
5. Tingkat kesuburan tanah
Tingkat kesuburan tanah dalam kategori eutropik, yaitu tingkat kesuburan gambut dengan
kandungan unsur hara makro dan mikro yang cukup untuk budidaya kelapa sawit sebagai
pengaruh luapan air sungai dan/atau pasang surut air laut. (hukmas dj bun).

Dari pembukaan lahan yang telah dilakukan pada tanah gambut untuk tanaman kepada sawit
mampu memproduksi kelapa sawit sebesar 12 - 24 ton/ha dalam satu tahunnya.

 Analisis Usahatani Komoditas Di Lahan Gambut

Padi

Produksi rata-rata padi unggul 2,3 ton/ha dengan kisaran 2 – 2,5 ton/ha dan padi lokal rata-rata
1,8 ton/ha dengan kisaran 1,5 – 2,4 ton/ha. Secara ekonomi pengusahaan padi dilahan gambut
cukup menguntungkan.

Nilai keuntungan dari padi lokal sebesar Rp 1.270.000/ha sementara pada padi unggul sebesar
Rp 1.144.743/ha. Hal ini diikuti pula dengan nilai R/C yaitu pada usahatani padi lokal sebesar
1,38 dan padi unggul 1,32. Pengembalian tenaga kerja pada usahatani padi unggul lebih tinggi
sebesar 28,7% dibanding padi lokal, hal ini karena tenaga kerja yang digunakan pada padi
unggul lebih sedikit atau pada kegiatan pengolahan tanah menggunakan handtraktor, sementara
pada usahatani padi lokal umumnya petani melakukan secara manual yaitu tebas-angkut (Riza
AR, 2006)

Sistem usahatani berbasis padi dapat dilihat dari besarnya kontribusi usahatani tani dalam
menyumbang pendapatan rumah tangga petani. Dari sistem usahatani berbasis padi di Desa
Petak Batuah Kecamatan Kapuas Murung wilayah UPT Dadahup A 2 Proyek Lahan Gambut
Sejuta hektar menunjukkan bahwa kontribusi pendapatan usahatani padi sebesar 47% terhadap
pendapatan rumah tangga petani sebesar Rp 9.516.314,- per tahun (Riza AR, 2006).

Sayuran

Sayuran yang diusahakan petani adalah kacang panjang, gambas, pare dan cabai Rawit (varietas
Tiung). Sayuran umumnya untuk konsumsi rumah tangga, namun tidak sedikit petani yang
menjual ke pasar desa. Berdasarkan analisis biaya dan pendapatan menunjukkan bahwa sayuran
cabai rawit, pare dan gambas cukup efisien diusahakan di lahan gambut.

Hasil dari pelaksanaan demplot oleh Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (Balittra) pada tahun
2006 menunjukkan bahwa sayuran tomat dan bawang daun cukup menguntungkan untuk
diusahakan di lahan gambut dengan nilai R/C masing-masing 3,37 dan 2,22. (Riza AR, 2006)
Demikian juga dengan tanaman sayuran yang diusahakan di lahan gambut Desa Siantan Hulu
Kalimantan Barat menunjukkan bahwa komoditas bawang daun memiliki R/C tertinggi (3,36)
dibanding sayuran lainnya, namun demikian semua jenis sayuran yang diusahakan cukup layak
untuk dikembangkan karena R/C > 1. (Noorginayuwati et al, 2006)

Sistem usahatani berbasis sayuran di lahan gambut menunjukkan bahwa kontribusi sayuran
cukup besar terhadap pendapatan total rumah tangga petani. Hasil penelitian Noorginayuwati et
al, (2006) menunjukkan bahwa kontribusi sayuran sebesar 39 % terhadap pendapatan total
rumah tangga petani sebesar Rp 8.214.674 per tahun.

Dalam istilah yang tepat, konsep pertanian berkelanjutan pada lahan gambut sebenarnya bukan
merupakan istilah yang tepat dikarenakan adanya daya menyusut dan adanya subsidence selama
penggunaannya untuk usaha pertanian. Akan tetapi, hal tersebut bisa dikurangi dalam arti
memperpanjang „life span’ dengan meminimalkan tingkat subsidence dengan cara mengadopsi
beberapa strategi pengelolaan yang benar mengenai air, tanah dan tanaman.

Penggunaan sistem surjan merupakan suatu cara pengelolaan tanah dan air yang disesuaikan den
kondisi gambut <> dapat dilakukan pada lahan gambut dangkal yang marginal . Namun yang perlu
diperhatikan dalam menggunakan sistem ini adalah penerapan pola tanam tumpang (multicroping)
yang berkelanjutan dan produktif dalam waktu lama. Hal ini misalnya terlihat dari adanya pola
suksesi dari pertanaman padi menjadi tanaman perkebuna kelapa atau kebun karet atau pohon
buah-buahan dan perikanan.

Dengan penerapan sistem surjan, maka lahan akan menjadi lebih produktif , karena pada lahan
tersebut akan tersedia dua tatanan lahan, yaitu: ( 1) Lahan tabukan yang tergenang (digunakan untuk
menanam padi atau digabungkan dengan budidaya ikan/minapadi) ; da (2) Lahan
guludan/tembokan/baluran sebagai lahan kering (digunakan untuk budidaya palawija, buah-
buahan, tanaman tahunan/perkebunan).

Keuntungan dan Kerugian Sistem Surjan

Keuntungan

 Dapat menanam aneka ragam jenis tanaman dengan umur panen yang berbedasehingga
pendapatan petani dapat berlanjut

 Pengolahan tanah dan pemeliharaan tanaman lebih mudah

 Memperkecil resiko kegagalan panen karena jenis tanaman yang ditanam berma macam

 Dapat ditanami padi sawah sebanyak 2 kali musim tanam.

Kerugian

 Biaya pembuatan surjan maha dan membutuhkan lebih banyak waktu dan tenaga ker

 Diperlukan pengaturan/ pengawasan air yang lebih ba

 Lapisan gambut akan lebih cepat dangkal karena sering diolah, sehingga menimbulkan lapisan
pirit yang dapat meracuni tanaman. Untuk mengatasi hal demikian, maka perlu dilakukan
pemilihan jen tanaman yang tepat (misal jen tanaman tahunan atau hortikultura tertentu yang tidak
memerlukan pengolaha tanah secara intensif).
Tahapan-tahapan P embuatan Surjan

Pemilihan lokas

Identifikasi terlebih dahulu loka dan karakteristik lahan yang ak digunakan menjadi lahan pertanian
dengan sistem surjan apakah layak secara fisik dan memenuhi nilai-nilai sosial ekonomi. Dalam
kegiatan ini, beberapa hal yang harus diperhatikan yaitu kondisi permukaan lahan/tutupan vegetasi,
kedalaman dan kematangan gambut, serta kedalaman permukaan air tanah.

Kondisi permukaan lahan/tutupan vegetasi

Lahan berhutan akan lebih sulit untuk diolah dibandingkan denga lahan yang sudah terbuka atau semak
belukar . Hutan setelah dibuka harus dibiarkan selama du tahun untuk proses pencucian, pengeringan dan
pematangan tanah. Sedangkan semak beluka dan rerumputan akan lebih mudah dan relatif dapat digunakan.

Kedalaman dan kematangan gambut

Tanah gambut yang baik untuk usaha pertanian adalah lahan bergambut (<0,5>

Kedalaman permukaan air tanah

Kegiatan budidaya tanaman di laha gambut sangat ditentukan oleh kedalaman muka/paras air tanah
d lamanya periode genangan. Jenis-jeni tanaman yang berbeda memiliki toleransi yang berbeda
pula terhadap tinggi muka air tanah dan genangan (lihat Tabel 1), sehingga pola surjan ya akan
dibangun harus pula memperhatikan aspek muka air tanah untuk kelangsungan hidup jenis-jenis
tanaman yang akan ditanam diatasnya.

Pembuatan surjan

Menata/mengolah lahan dengan sistem surjan, terutama pada lahan yang telah lama ditinggalkan
(seperti semak belukar) memerlukan waktu pengolahan lebih lama dan tenaga memerlukan waktu
pengolahan lebih lama dan tenaga ke lebih banyak daripada lahan yang seri dikerjakan sebagai
lahan usaha.

Bersambung ke bagian 4 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini:

Pustaka:

Madjid, A. R. 2009. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Bahan Ajar Online untuk mata kuliah: (1) Dasar-
Dasar Ilmu Tanah, (2) Kesuburan Tanah, dan (3) Pengelolaan Kesuburan Tanah Lanjut. Fakultas
Pertanian Unsri & Program Pascasarjana Unsri. http://dasar2ilmutanah.blogspot.com.

Diposkan oleh Dr. Ir. Abdul Madjid, MS di 21:44 0 komentar
Label: Kesuburan Tanah

Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Gambut (Bagian 4)
Pemanfaatan Lahan Gambut untuk Pertanian*

Oleh: Novriani** dan Abdul Madjid Rohim***

(Bagian 4 dari 5 Tulisan)




Keterangan:

* : Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah, Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister
(S2), Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya. Palembang, Propinsi Sumatera Selatan,
Indonesia.

** : Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2), Program Pascasarjana, Universitas
Sriwijaya. Palembang, Propinsi Sumatera Selatan, Indonesia.

*** : Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah, Program Studi Ilmu Tanaman, Program
Magister (S2), Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya. Palembang, Propinsi Sumatera
Selatan, Indonesia.


(Bagian 4 dari 5 Tulisan)



IV. Pengelolaan Kesuburan Pada Tanah Gambut

Bertani di lahan gambut harus dilakukan secara hati-hati karena menghadapi banyak kendala
antara lain kematangan dan ketebalan gambut yang bervariasi, penurunan permukaan gambut,
rendahnya daya tumpu, rendahnya kesuburan tanah, dan pH yang sangat masam. Selama ini,
untuk mengatasi kendala kesuburan lahan gambut pada umumnya dilakukan pemberian abu
bakaran gambut, kapur dan pemberian pupuk kimia. Penggunaan abu bakaran gambut sebagai
amelioran sangat tidak dianjurkan karena jika dilakukan terus menerus gambut akan menipis
sehingga fungsi gambut sebagai pengatur air/hidrologi, sarana konservasi keanekaragaman
hayati serta sebagai penyerap dan penyimpan karbon yang mampu meredam perubahan iklim
global akan berkurang.

Kesuburan tanah dalam pandangan masyarakat petani lokal melayu di lahan rawa atau lahan
gambut adalah kemampuan tanah untuk memberikan hasil yang memadai umumnya dilihat dari
aspek fisik dan lingkungannya. Kriteria lahan yang cocok untuk pertanian bagi para petani pioner
sebagaimana dituturkan ditentukan oleh jeluk mempan (kedalaman effective) dan bau dari tanah
lapisan atas yang diistilahkan dengan bau “harum” (Idak, 1985). Boleh jadi yang dimaksud
dengan bau “harum” adalah lawan dari bau “busuk” yang muncul dari asam sulfida (H2S). Asam
sulfida ini bersifat meracun tanaman pada kondisi tergenang atau lahan-lahan yang setelah
kekeringan (musim kemarau) menjadi basah kembali setelah hujan menyisakan kadar sulfida
yang tinggi hasil proses reduksi sulfat.

Berkenaan dengan dinamika tanah ini pada petani umumnya pada awal-awal minggu pertama
musim hujan membiarkan tanahnya kosong karena ”air bacam” dapat meracuni tanaman,
khususnya padi. Petani baru melakukan tanam setelah 3-4 minggu memasuki musim hujan saat
air bacam sudah terencerkan dan tergelontor.

Selain hal di atas, petani juga sering menilai kesuburan lahan dari vegetasi yang tumbuh pada
lahan tersebut. Jenis-jenis gulma atau vegetasi tertentu sering dijadikan penciri atau tanaman
indikator bagi status kesuburan lahan tersebut. Misalnya tanaman purun tikus (Eleocharis dulcis)
mencirikan keadaan tumpat air (waterlogging) dan kemasaman akut, galam (Meleleuca
leucadendron) mencirikan tanah mengalami pengatusan dan berubah matang dengan tingkat
kemasaman pH <>(Melastoma malabatharicum) dengan bunga merah jambu menarik, yang
disebut juga Rhododendron Singapura menunjukkan tanah paling miskin. Tumbuhan lain seperti
Commelina dan Emilia menunjukkan pH rendah (Noor, 1996; Mackinnon et al., 2000). Indikasi
tumbuhan yang dilihat di atas berkorelasi dengan tipe luapan lahan rawa sehingga umumnya
dipilih yang mendapatkan luapan yaitu tipe A dan B.

Penilaian kesuburan tanah juga terkait dengan keadaan air di sekitar wilayah tersebut antara lain
apabila air tersebut tampak bening dan terang ini menunjukkan bahwa kualitas air tersebut sangat
masam. Sebaliknya apabila keruh dan berwarna cokelat seperti air teh menunjukkan bahwa
kondisi lahan di sekitar wilayah tersebut adalah gambut dalam atau tebal. Menurut Maas (2003)
warna air yang keruh tersebut menunjukkan kandungan asam-asam humat dan fulvat yang tinggi.

Menurut Radjagukguk (2003) lahan gambut tropika yang terdapat di Indonesia dicirikan oleh
antara lain :

1. Biodiversitas (keragaman hayati) yang khas dengan kekayaan keragaman flora dan fauna

2. Fungsi hidrologisnya, yakni dapat menyimpan air tawar dalam jumlah yang sangat besar. Satu
juta lahan gambut tropika setebal 2 m ditaksir dapat menyimpan 1,2 juta m3 .

3. Sifatnya yang rapuh (fragile) karena dengan pembukaan lahan dan drainase (reklamasi) akan
mengalami pengamblesan (sub-sidence), percepatan peruraian dan resiko pengerutan tak balik
(irreversible) serta rentan terhadap bahaya erosi

4. Sifatnya yang praktis tidak terbarukan karena membutuhkan waktu 5000-10.000 tahun untuk
pembentukannya sampai mencapai ketebalan maksimum sekitar 20 m, sehingga taksiran laju
pelenggokannya adalah 1cm/ 5 tahun, di bawah vegetasi hutan

5. Bentuk lahan dan sifat-sifat tanahnya yang khas, yakni lahannya berbentuk kubah keadaannya
yang jenuh atau tergenang pada kondisi alamiah serta tanahnya mempunyai sifat-sifat fisika dan
kimia yang sangat berbeda dengan tanah-tanah mineral.
Pengelolaan air harus disesuaikan dengan kebutuhan perakaran tanaman. Kedalaman
permukaan air tanah pada parit kebun diusahakan agar tidak terlalu jauh dari akar tanaman,
jika permukaan air terlalu dalam maka oksidasi berlebih akan mempercepat perombakan
gambut, sehingga gambut cepat mengalami subsiden. Sebagai acuan kedalaman permukaan air
tanah untuk tanaman pertanian menurut Maas et al dalam Andriesse (1988).

Bertitik tolak dari uraian tersebut, maka perlu dilakukan penelitian tentang budidaya tanaman
melon di lahan gambut dengan teknik budidaya inovatif, yaitu memadukan beberapa teknik
budidaya ramah lingkungan seperti pembukaan lahan tanpa bakar, pengolahan tanah minimum
(minimum tillage), pemanfaatan gambut hanya sebagai sarana pendukung atau sebagai
wadah/pot bagi tanaman, pemanfaatan limbah pertanian seperti abu serbuk gergaji dan pupuk
kandang sebagai amelioran sehingga dapat mengurangi penggunaan kapur, pemberian amelioran
hanya pada lubang tanam untuk efisiensi dan penggunaan pupuk organik padat (POP) untuk
mengurangi pemakaian pupuk anorganik serta menananam varietas adaptif.

Pengelolaan lahan gambut yang berwawasan lingkungan sangat perlu dipraktekan mengingat
lahan gambut merupakan salah satu lahan untuk masa depan apabila diperhatikan cara
pengelolaan yang tepat. Menurut Sabiham (2007) melaporkan bahwa beberapa kunci pokok
penggunaan gambut berkelanjutan : (1) Legal aspek yang mendukung pengelolaan lahan gambut,
(2) Penataan ruang berdasarkan satuan sistem hidrologi, (3) Pengelolaan air yang memadai
sesuai tipe luapan dan hidro topografi, (4) Pendekatan pengembangan berdasarkan karakteristik
tanah mineral di bawah lapisan gambut, (5) Peningkatan stabilitas dan penurunan sifat toksik
bahan gambut. Selain itu dalam pengelolaan lahan gambut haruslah didukung dengan teknologi
budidaya spesifik lokasi dan ketersediaan lembaga pendukung.

Salah satu upaya dapat dilaksanakan untuk memanfaatkan lahan gambut dan mengurangi resiko
terjadinya kebakaran di lahan gambut/bergambut adalah memperpendek masa bera. Pengaturan
pola tanam dan pola usahatani merupakan alternatif yang dapat diterapkan untuk meningkatkan
intensitas pertanaman dan memperpendek masa bera.

Pola usahatani yang diterapkan petani dapat berupa monokultur seperti padi – bera, padi +
palawija/sayuran, sayuran+palawija, sayur-sayuran, sangat tergantung pada tipologi gambut.

Sistem usahatani lahan gambut hendaknya didasarkan kepada sistem usahatani terpadu yang
bertitik tolak kepada pemanfaatan hubungan sinergik antar subsistemnya agar pengembangannya
tetap menjamin kelestarian sumberdaya alamnya. Secara garis besar ada dua sistem usahatani
terpadu yang cocok dikembangkan di lahan gambut, yaitu sistem usahatani berbasis tanaman
pangan dan sistem usahatani berbasis komoditas andalan (Alihamsyah dan Ananto 1998;
Suprihatno et al., 1999; Alihamsyah et al.,2000). Sistem usahatani berbasis tanaman pangan
ditujukan untuk menjamin keamanan pangan petani sedangkan sistem usahatani berbasis
komoditas andalan dapat dikembangkan dalam skala luas dalam perspektif pengembangan sistem
dan usaha agribisnis.

Sitem pertanian Leisa menggunakan Tanah selalu tertutupi tanaman dimana dedaunan yang jatuh
atau serasah membusuk menutupi permukaan tanah. Pelepasan unsur hara oleh mikroba tanah
sejalan dengan kebutuhan tanaman . Sebagian besar hara disimpan dalam bentuk tumbuhan dan
ternak. Dari segi perakaran diupayakan menanam tanaman yang menyebar merata di tanah pada
berbagai kedalaman. Konsep agroforestry dan penggunaan mulsa merupakan sebagian contoh
konsep meniru alam.

Konsep LEISA berupaya memanfaatkan sinergi berbagai komoditi seperti pemilihan tumpang
sari yang saling mendukung dalam memanfaatkan ruang, hara, air dan enerji surya. Integrasi
ternak – tanaman selalu diusahakan sepanjang hal itu memungkinkan.

Tanaman atau limbah tanaman dijadikan pakan ternak dan limbah ternak dalam bentuk urine,
sisa pakan dan kotoran ternak dijadikan bahan untuk pupuk organik sebagai upaya untuk
mengembalikan kesuburan tanah baik secara fisik maupun kimiawi. Budidaya campuran
berbagai varietas atau jenis diupayakan selain untuk tujuan tersebut di atas juga untuk
mengurangi resiko kegagalan. Budidaya padi dengan ikan secara terintegrasi (Mina padi)
merupakan praktek yang mendukung keberlanjutan. Penganekaragaman sumber hara terutama
yang berasal dari bahan organik yang tersedia secara lokal menjadi salah satu ciri upaya
mempertahankan keberlanjutan


Sistem usahatani berbasis Padi

Sistem usahatani yang berkembang di tingkat petani lahan gambut adalah di lahan pekarangan
ditanami dengan tanaman hortikultura seperti rambutan, mangga, ternak ayam buras atau itik
dipelihara dengan skala rumah tangga 5-20 ekor per KK atau ternak sapi, atau kambing.
Sedangkan lahan usaha ditata dengan sistem surjan. Bagian tabukan (bawah) ditanami padi- bera
atau padi-padi, sedangkan di guludan ditanami tanaman hortikultura.

Dengan sistem tata air mikro yang telah dikembangkan di lahan pasang surut dan pembuatan
pintu air”flapgate” yang dikembangkan Balittra, peluang untuk meningkatkan intensitas
pertanaman sangat besar. Pola ”Sawit Dupa” (sekali mawiwit dua kali panen), yaitu pola padi
unggul – padi lokal sudah berkembang. Sebenarnya menurut petani khususnya petani
transmigrasi, penanaman padi unggul dapat dilaksanakan. Tetapi karena petani tidak semuanya
mengusahakan padi unggul maka muncul beberapa masalah di lapangan. Masalah hama tanaman
seperti tikus, walang sangit menjadi penyebab kegagalan panen padi unggul oleh petani. Hama
tikus umumnya bersarang di lahan-lahan tidur yang tidak digarap petani.

Selama pola tanam di lahan petani tidak bisa disepakati, maka pola sawit dupa akan sulit
terlaksana. Hal ini akan berdampak masa bera yang diperpanjang. Hasil-hasil penelitian yang
telah dilaksanakan oleh Balittra menunjukkan bahwa pola tanam padi unggul- palawija dapat
berhasil baik. Pola tanam digunakan petani di Desa Kantan Atas dan Pinang Habang adalah padi-
kedelai, padi-kacang tanah, kedelai-kacang tanah.


Sistem Usahatani berbasis komoditas Hortikultura

Di lahan pekarangan ditanam tanaman keras/hortikultura dan ternak ayam, kambing dan sapi,
sedangkan di lahan usaha diusahakan tanaman palawija/sayuran. Penataan lahan pada lahan
bergambut cukup beragam antar lokasi, namun sistem usahataninya relatif serupa. Lahan
bergambut dengan dengan tipe luapan B/C (Rasau Jaya II) umumnya ditata sebagai surjan, hanya
sebagian kecil ditata sebagai sawah/tegalan.

Pembuatan surjan dan pengolahan tanah harus hati-hati sesuai dengan kaedah konservasi gambut
dengan mempertahankan lapisan gambut tetap dalam keadaan lembab serta tidak melakukan
pembakaran. Pola tanam yang umum dijumpai adalah padi-palawija pada lahan sawah dan
palawijapalawija pada surjan dengan periode tanam Agustus/September-Januari/Pebruari-
Mei/Juni. Sebagian petani menanam palawija dan sayuran pada periode Juni- Agustus. Lahan
bergambut dengan tipe luapan C ditata sebagai lahan tadah hujan, surjan dan tegalan dengan pola
tanam Padi-Palawija dan Palawija-Palawija.

Noorginayuwati et al, (2006) melaporkan bahwa sistem usahatani berbasis sayuran dapat
diusahakan pada lahan gambut dangkal seperti di Desa Kelampangan kecamatan Sebangau
Kalimantan Tengah. Pola tanam yang diusahakan petani Sawi-Sawi, Kangkung, bawang daun,
demikian pula di desa Siantan Hulu Kalimantan Barat dilakukan pola tanam palawija/ sayuran,
lidah buaya, pepaya dan obat-obatan.

Pengalaman petani sayuran yang mengusahakan lahan gambut tebal di daerah Sungai Slamet
(Pontianak) menunjukkan produksi mantap dicapai setelah 15 tahun. Gambut tebal sampai
dengan 350 cm ternyata cocok untuk budidaya sayuran, terutama bawang daun, kubis dan
bayam. Pemupukan yang diperlukan sangat berat dengan abu kayu dan kotoran ternak sebagai
pupuk utama dan dengan abu bakaran gambut serta serasahan.

Bertanam di lahan gambut sama dengan bertanam sistem hidroponik (Notohadiprawiro, 1994).
Demikian juga menurut Maas (1999) bahwa pertanian di lahan gambut dengan ketebalan 20 – 50
cm di Pangkoh 10 (Kalimantan Tengah) dengan pengaturan muka air pada tingkat tersier yang
berupa penandonan air di musim hujan dan pembukaan tabat di musim kemarau, dapat bertanam
2 kali setahun dengan hasil 2 – 3 ton/ha gabah kering, dan pada demfarm dapat menghasilkan 4,4
ton/ha padi IR 66.

Pemanfaatan lahan gambut oleh sebagian besar telah dilakukan petani untuk pertanaman
palawija dan hortikultura. Pengembangan pertanian sayuran yang tergolong berhasil telah
dilakukan petani di Siantan Hulu dan Rasau Jaya (Kalimantan Barat), Kalampangan (Kalimantan
Tengah), Mamuju Utara (Sulawesi Barat). Sistem usahatani di lahan gambut Mamuju Utara
terdiri dari lahan pekarangan tanaman cacao dan jeruk sedangkan di lahan usaha diusahakan
tanaman jeruk secara monokultur maupun tumpang sari dengan tanaman sayuran atau palawija.
Perbaikan tingkat kesuburan dan kemasaman tanah gambut dilakukan petani dengan memberikan
bahan amelioran, seperti abu serbuk gergajian, abu sisa tanaman, dan gulma, pupuk kandang,
tepung kepala usang dan tepung ikan.

Pengelolaan air

1. Drainase
Drainase merupakan prasyarat untuk usaha pertanian, walaupun hal tersebut bukanlah suatu yang
mudah untuk dilakukan mengingat sifat dari gambut yang bisa mengalami penyusutan dan kering
tidak balik akibat drainase, sehingga sebelum mereklamasi lahan gambut perlu diketahui sifat
spesifik gambut, peranan dan fungsinya bagi lingkungan.

Drainase yang baik untuk pertanian gambut adalah drainase yang tetap mempertahankan batas
air kritis gambut akan tetapi tetap tidak mengakibatkan kerugian pada tanaman yang akan
berakibat pada hasil. Intensitas drainase bervariasi tergantung kondisi alami tanah dan curah
hujan. Curah hujan yang tinggi (4000-5000 mm per tahun)(Ambak dan Melling, 2000)
membutuhkan sistem drainase untuk meminimalkan pengaruh banjir.

Setelah drainase dan pembukaan lahan gambut, umumnya terjadi subsidence yang relatif cepat
yang akan berakibat menurunya permukaan tanah. Subsidence dan dekomposisi bahan organik
dapat menimbulkan masalah apabila bahan mineral di bawah lapis gambut terdiri dari lempeng
pirit atau pasir kuarsa. Kerapatan lindak yang rendah berakibat kemampuan menahan (bearing
capacity) tanah gambut juga rendah, sehingga pengolahan tanah sulit dilakukan secara mekanis
atau dengan ternak. Kemampuan menahan yang rendah juga juga merupakan masalah bagi untuk
tanaman pohon-pohonan atau tanaman semusim yang rentan terhadap kerebahan (lodging)
(Radjagukguk, 1990).

Bagi tanaman perkebunan, usaha perbaikan drainase dilakukan dengan pembuatan kanal primer,
kanal sekunder dan kanal tersier. Hasil penelitian sementara di PT. RSUP menunjukkan bahwa
kelapa hybrida PB 121 pada umur 4 tahun (4-5 tahun setelah tanam adalah 1,5 ton kopra/ha).
Angka ini sementara 5 kali lebih besar dari hasil yang dicapai di negara asalnya Afrika dimana
PB 121 pada umur 4 tahun menghasilkan 0,26 ton kopral/ha (Thampan, 1981 dalam Sudradjat
dan Qusairi, 1992).


2. Irigasi

Ketika batas kritis air dapat dikontrol pada level optimum untuk pertumbuhan tanaman,
pengelolan air bukan merupakan suatu masalah kecuali pada tahap awal pertumbuhan tanaman.
Jika batas kritis air tidak dapat terkontrol dan lebih rendah dari kebutuhan air semestinya, irigasi
perlu dilakukan terutama bagi tanaman tertentu. Hal ini penting untuk memasok kebutuhan air
tanaman dan menghindari sifat kering tidak balik. Sayuran berdaun banyak, menunjukkan layu
pada keadaan udara panas. Kondisi ini mungkin merupakan pengaruh dari dangkalnya profil
tanah yang dapat dicapai oleh akar tanaman dan kehilangan air akibat transpirasi yang lebih
cepat daripada tanah mineral (Ambak dan Melling, 2000).

Tanaman mempunyai tahapan pertumbuhan yang sensitif terhadap stress air yang berbeda.
Pengetahuan tentang tahapan tersebut akan mempermudah irigasi pada saat yang tepat sehingga
mengurangi terjadinya stress air dan penggunaan air yang optimum. Untuk penanaman tanaman
semusim, pengaturan irigasi harus mempertimbangkan saat dan kebutuhan tanaman dan
disesuaikan dengan ketersediaan air tanah diatas water table, jumlah air hujan, distribusi dan
jumlah evapotranspirasi (Lucas,1982)..
3. Penggenangan

Untuk meminimalkan terjadinya subsidence, langkah yang bisa dilakukan adalah tetap
mempertahankan kondisi tergenang tersebut dengan mengadopsi tanaman-tanaman sejenis
hidrofilik atau tanaman toleran air yang memberikan nilai ekonomi seperti halnya Eleocharis
tuberosa, bayam cina (Amaranthus hybridus), kangkung (Ipomoea aquatica) dan seledri air. Di
Florida ketika tanaman tertentu tidak bisa dibudidayakan karena perubahan musim,
penggenangan dilakukan dan digunakan untuk budidaya tanaman air tersebut (Ambak dan
Melling, 2000).


Pengelolaan Tanah

Tanah gambut sebenarnya merupakan tanah yang baik untuk pertumbuhan tanaman bila ditinjau
dari jumlah pori-pori yang berkaitan dengan pertukaran oksigen untuk pertumbuhan akar
tanaman. Kapasitas memegang air yang tinggi daripada tanah mineral menyebabkan tanaman
bisa berkembang lebih cepat. Akan tetapi dengan keberadaan sifat inheren yang lain seperti
kemasaman yang tinggi, kejenuhan basa yang rendah dan miskin unsur hara baik mikro maupun
makro menyebabkan tanah gambut digolongkan sebagai tanah marginal (Limin et al, 2000).
Untuk itulah perlunya usaha untuk mengelola tanah tersebut dengan semestinya.

1. Pembakaran

Pembakaran merupakan cara tradisional yang sering dilakukan petani untuk menurunkan tingkat
kemasaman tanah gambut. Terjadinya pembakaran bahan organik menjadi abu berakibat
penghancuran tanah serta menurunkan permukaan tanah. Pembakaran berpengaruh nyata
terhadap pertumbuhan tanaman pada tahun pertama dan meningkatkan serapan P tanaman,
namun akan menurunkan serapan Ca dan Mg (Mawardi et al, 2001).


2. Bahan pembenah tanah

Pemberian pupuk dan amandemen dalam komposisi dan takaran yang tepat dapat mengatasi
masalah keharaan dan kemasaman tanah gambut. Unsur hara yang umumnya perlu ditambahkan
dalam bentuk pupuk adalah N, P, K, Ca, Mg serta sejumlah unsur hara mikro terutama Cu, Zn
dan Mo. Pemberian Cu diduga lebih efektif melalui daun (foliar spray) karena sifat sematannya
yang sangat kuat pada gambut, kurang mobil dalam tanaman dan kelarutan yang menurun ketika
terjadi peningkatan pH akibat penggenangan. Sebagai amandemen, abu hasil pembakaran
gambut itu sendiri akan berpengaruh menurunkan kemasaman tanah, memasok unsur hara dan
mempercepat pembentukan lapis olah yang lebih baik sifat fisikanya (Radjagukguk, 1990).

Di Sumatera Barat ditemukan bahan amelioran baru Harzburgite yang defositnya cukup besar
dan kandungan Mg yang tinggi (27,21 – 32,07% MgO) yang merupakan bahan potensial untuk
ameliorasi lahan gambut (Mawardi et al, 2001).
Pupuk kandang khususnya kotoran ayam dibandingkan dengan kotoran ternak yang lainnya
mengandung beberapa unsur hara makro dan mikro tertentu dalam jumlah yang banyak.
Kejenuhan basanya tinggi, tetapi kapasitas tukar kation rendah. Kotoran ayam, dalam
melepaskan haranya berlangsung secara bertahap dan lama. Tampaknya, pemberian kotoran
ayam memungkinkan untuk memperbaiki sifat fisika dan kimia tanah gambut. Pada jagung
manis, pemberian kotoran ayam sampai 14 ton/ha pada tanah gambut pedalaman bereng bengkel
dapat meningkatkan jumlah tongkol (Limin, 1992 dalam Darung et al, 2001).

Potensi pengembangan pertanian pada lahan gambut, disamping faktor kesuburan alami gambut
juga sangat ditentukan oleh tingkat manajemen usaha tani yang akan diterapkan. Pada
pengelolaan lahan gambut pada tingkat petani, dengan pengelolaan usaha tani termasuk tingkat
rendah (low inputs) sampai sedang (medium inputs), akan berbeda dengan produktivitas lahan
dengan tingkat manajemen tinggi yang dikerjakan oleh swasta atau perusahaan besar (Subagyo et
al, 1996)

Dengan manajemen tingkat sedang (Abdurachman dan Suriadikarta, 2000), yaitu perbaikan
tanah dengan penggunaan input yang terjangkau oleh petani seperti pengolahan tanah, tata air
mikro, pemupukan, pengapuran dan pemberantasan hama dan penyakit, potensi pengembangan
lahan gambut untuk pertanian adalah sebagai berikut :

Pemilihan jenis tanaman


1. Padi sawah

Budidaya padi sawah selalu diupayakan oleh petani transmigrasi untuk memenuhi kebutuhan
pangannya. Akan tetapi budidaya padi sawah di lahan gambut dihadapkan pada berbagai
masalah terutama menyangkut kendala-kendala fisika, kesuburan serta pengelolaan tanah dan air.
Khususnya gambut tebal (> 1 m ) belum berhasil dimanfaatkan untuk budidaya padi sawah,
karena mengandung sejumlah kendala yang belum dapat diatasi. Kunci keberhasilan budidaya
padi sawah pada lahan gambut terletak pada keberhasilan dalam pengelolaan dan pengendalian
air, penanganan sejumlah kendala fisik yang merupakan faktor pembatas, penanganan substansi
toksik dan pemupukan unsur makro dan mikro (Radjagukguk, 1990).

Lahan gambut yang sesuai untuk padi sawah adalah gambut dengan (20-50 cm gambut) dan
gambut dangkal (0,5-1 m). Padi kurang sesuai pada gambut sedang (1-2 m) dan tidak sesuai pada
gambut tebal (2-3 m) dan sangat tebal (lebih dari 3 m). Pada gambut tebal dan sangat tebal,
tanaman padi tidak dapat membentuk gabah karena kahat unsur hara mikro Subagyo et al, 1996).

Pada tanah sawah dengan kandungan bahan organik tinggi, asam-asam organik menghambat
pertumbuhan, terutama akar, mengakibatkan rendahnya produktivitas bahkan kegagalan panen.
Leiwakabessy dan Wahjudin (1979) dalam Radjagukguk (1990) menunjukkan hubungan erat
antara ketebalan gambut dan produksi gabah padi sawah. Pada percobaan pot dengan tanah yang
diambil dari lapis 0-20 cm, diperoleh hasil gabah padi (ditanam secara sawah) yang sangat
rendah apabila tebal gambut > 80 cm, dan yang paling tinggi apabila ketebalan gambut 50 cm.
Ditunjukkan pula bahwa ada kesamaan antara pola perubahan kejenuhan Ca, kejenuhan Mg, pH
dan kandungan abu bersama ketebalan gambut dengan perubahan tingkat hasil gabah.

Sehingga kemungkinan tingkat kemasaman dan suplai Ca yang rendah serta kandungan abu yang
rendah merupakan faktor pembatas utama pertumbuhan padi sawah pada gambut tebal. Tidak
terbentuknya gabah menurut Andriesse (1988) dan Driessen (1978) berkaitan dengan defisiensi
Cu yang akan menyebabkan meningkatnya aktivitas racun fenolik dan menyebabkan male
sterility pada tanaman padi.


2. Tanaman perkebunan dan industri

Budidaya tanaman-tanaman perkebunan berskala besar banyak dikembangkan di lahan gambut
terutama oleh perusahaan-perusahaan swasta. Pengusahaan tanaman-tanaman ini kebanyakan
dikembangkan di propinsi Riau dengan memanfaatkan gambut tebal. Sebelum penanaman,
dilakukan pemadatan tanah dengan menggunakan alat-alat berat. Sistem drainase yang tepat
sangat menentukan keberhasilan budidaya tanaman perkebunan di lahan tersebut. Pengelolaan
kesuburan tanah yang utama adalah pemberian pupuk makro dan mikro (Radjagukguk, 1990).
Tanaman perkebunan sesuai ditanam pada ketebalan gambut 1-2 m dan sangat tebal (2-3 m)
(Subagyo et al, 1996).

Di Malaysia, diantara tanaman perkebunan yang lain seperti kelapa sawit, sagu, karet, kopi dan
kelapa, nanas (Ananas cumosus) merupakan tanaman yang menunjukkan adaptasi yang tinggi
pada gambut berdrainase. Nanas bisa beradaptasi dengan baik pada keadaan kemasaman yang
tinggi dan tingkat kesuburan yang rendah. Kelapa sawit merupakan salah satu tanaman tahunan
yang cukup sesuai pada lahan gambut dengan ketebalan sedang hingga tipis dengan hasil sekitar
13 ton/ha pada tahun ketiga penanaman (Ambak dan Melling, 2000). Percobaan-percobaan yang
dilakukan oleh PT. RSUP di Indragiri Hilir, menunjukkan bahwa tanaman nenas tumbuh dengan
baik dan mulai berbuah 14 bulan setelah tanam. Dari hasil sementara menunjukkan bahwa,
penanaman nanas dengan kerapatan 20.000 pohon/ha yang ditanam diantara jalur kelapa,
tumpangsari kelapa nenas memberikan prospek yang sangat cerah (Sudradjat dan Qusairi, 1992).

Sagu bisa beradaptasi dengan baik dan memberikan hasil bagus tanpa pemberian input pupuk
(Ahmad dan Sim, 1976) pada gambut dengan minimum drainase, walaupun umur tanaman
sampai menghasilkan buah sangat lama (15-20 tahun).

Untuk jenis-jenis pohon buah banyak ditemukan di Sumatra dan Kalimantan seperti jambu air
(Eugenia) Mangga (Mangosteen), rambutan (Ambak dan Melling, 2000) sedangkan di daerah
pantai Ivory dengan gambut termasuk oligotropik, pisang dapat tumbuh dengan drainase 80-100
cm dan menghasilkan 25-40 ton/ha walaupun dengan pengelolaan yang agak sulit (Andriesse,
1988) .

Komoditas lain yang berpotensi ekonomi untuk dikembangkan guna memenuhi kebutuhan
domestik adalah tanaman industri/keras seperti kelapa, kopi, lada dan tanaman obat
(Abdurachman dan Suriadikarta, 2000). Tanaman rami dan obat-obatan tumbuh dan berproduksi
baik pada gambut sedang dan kurang baik pada gambut sangat dalam (3-5 m) (Subagyo et al,
1996).


3. Tanaman pangan (palawija) dan tanaman semusim lainnya

Tanah gambut yang sesuai untuk tanaman semusim adalah gambut dangkal dan gambut sedang.
Pengelolaan air perlu diperhatikan agar air tanah tidak turun terlalu dalam atau drastis untuk
mencegah terjadinya gejala kering tidak balik (Subagyo et al, 1996).

Tanaman pangan memerlukan kondisi drainase yang baik untuk mencegah penyakit busuk pada
bagian bawah tanaman dan meminimalkan pemakaian pupuk. Cassava (Manihot esculenta) atau
tapioka menghasilkan lebih dari 50 ton/ha dengan pengelolaan yang baik dan merupakan
tanaman pangan yang penting pada gambut oligotropik tropis dengan drainase yang baik
(Andriesse, 1988).

Di Bengkulu, penanaman jagung dengan penerapan teknologi yang spesifik untuk lahan gambut
(teknologi Tampurin) diperoleh hasil 3,29 ton/ha pada varietas Pioneer-12 (Manti et al, 2001).

Sementara untuk tanaman sayuran, Satsiyati (1992) dalam Abdurachman dan Suriadikarta
(2000) menyebutkan beberapa tanaman hortikultura yang berpotensi ekonomi untuk
dikembangkan di lahan gambut eks PLG yaitu cabai, semangka dan nenas .

Di daerah Kalampangan yang merupakan penghasil sayuran untuk Palangkaraya Kalimantan
Tengah, petani setempat mengembangkan sayuran diantaranya sawi, kangkung, mentimun yang
diusahakan secara monokultur dalam skala kecil dalam lahan kurang lebih 0,25 hektar (Limin et
al, 2000). Di samping itu beberapa lahan gambut yang termasuk lahan bongkor bisa diusahakan
untuk berbagai tanaman seperti cabai besar/keriting/kecil, terong, tomat, sawi, seledri, bawang
daun, kacang panjang, paria, mentimun, jagung sayur, jagung manis, dan buah-buahan (mangga,
rambutan, melinjo, sukun, nangka, pepaya, nanas dan pisang) karena lahan gambut tersebut
termasuk tipe luapan C/D (tidak dipengaruhi air pasang surut, hanya melalui rembesan air tanah
>50 cm di bawah permukaan tanah pada musim kemarau dan <>et al, 2001).

Teknis Bertanam

Untuk menghindari penurunan permukaan tanah (subsidence) tanah gambut melalui oksidasi
biokimia, permukaan tanah harus dipertahankan agar tidak gundul. Beberapa vegetasi seperti
halnya rumput-rumputan atau leguminose dapat dibiarkan untuk tumbuh disekeliling tanaman
kecuali pada lubang tanam pokok seperti halnya pada perkebunan kelapa sawit dan kopi.
Beberapa jenis legume menjalar seperti Canavalia maritima dapat tumbuh dengan unsur hara
minimum (Singh, 1986) dan menunjukkan toleransi yang tinggi terhadap kemasaman.

Pembakaran seperti yang dilakukan pada perkebunan nanas harus mempertimbangkan
pengaruhnya terhadap kebakaran lingkungan sekitarnya. Akan lebih baik bila penyiangan
terhadap gula dikembalikan lagi ke dalam tanah (dibenamkan) yang akan berfungsi sebagai
kompos sehingga selain bisa memberikan tambahan hara juga dapat membantu mempertahankan
penurunan permukaan tanah melalui subsidence (Ambak dan Melling, 2000).

Untuk tanaman hortikultura, pembakaran seresah bisa dilakukan pada tempat yang khusus
dengan ukuran 3 X 4 m. Dasar tempat pembakaran diberi lapisan tanah mineral/liat setebal 20
cm dan sekelilingnya dibuat saluran selebar 30 cm. Kedalaman saluran disesuaikan dengan
kedalaman air tanah dan ketinggian air dipertahankan 20 cm dari permukaan tanah agar gambut
tetap cukup basah. Ini dimaksudkan agar pada waktu pembakaran, api tidak menyebar
Ardjakusuma et al (2001).


Ekosistem Lahan Gambut

Pada saat mengembangkan hutan rawa gambut harus memerhatikan ekosistem lahan gambut
yang sangat unik dan rapuh/rentan. Hal tersebut dapat dicermati secara mudah dari Peta Tata
Guna Hutan Kesepakatan (TGHK) pada lahan gambut.

Di dalam peta tersebut, ada alokasi hutan tanaman industri (HTI) yang berada pada ekosistem
kubah gambut. Seharusnya pada bagian kubah gambut ini dijadikan daerah konservasi sebagai
tempat cadangan/resapan air untuk daerah yang berada di sekitarnya.

Akibat yang ditimbulkan oleh kesalahan alokasi ini adalah kawasan hutan tanaman industri pada
kubah gambut tersebut mempunyai produktivitas yang rendah. Demikian pula lingkungan di
sekitar kubah gambut menjadi terganggu, yang pada musim hujan kebanjiran dan pada musim
kemarau kekeringan.

Pembukaan lahan gambut besar-besaran untuk pengembangan lahan pertanian yang
dikombinasikan dengan pengembangan wilayah melalui proyek transmigrasi banyak dilakukan
pada gambut tebal (ketebalan gambut >2,0 m). Pembukaan lahan gambut ini dimulai dengan
pembuatan saluran berukuran sangat besar, tanpa memperhatikan sifat gambut yang mudah
rusak.
Akibatnya, terjadi berbagai fenomena perubahan sifat gambut yang sangat drastis. Di beberapa
tempat, terutama di daerah dengan gambut lebih tipis (ketebalan <>

Perubahan sifat yang drastis ini mengakibatkan lahan gambut tidak dapat dipakai sebagai lahan
budi daya sehingga banyak yang ditinggalkan begitu saja oleh para pemiliknya. Dampak lebih
jauh dari pembukaan lahan gambut yang dilakukan secara besar-besaran dengan membuat
saluran drainase berukuran besar adalah bahwa saluran-saluran tersebut menjadi jalan untuk
masuknya kegiatan pembalakan ke dalam hutan. Akibatnya, penebangan hutan menjadi sangat
intensif, yang disusul fenomena kebakaran hutan dan lahan gambut yang asapnya telah
menyebabkan persoalan lingkungan yang serius hingga memancing protes negara-negara
tetangga.

Potensi pengembangan pertanian pada lahan gambut, disamping faktor kesuburan alami gambut
juga sangat ditentukan oleh tingkat manajemen usahatani yang akan diterapkan. Pada
pengelolaan lahan gambut pada tingkat petani, dengan pengelolaan usaha tani termasuk tingkat
rendah (low inputs) sampai sedang (medium inputs), akan berbeda dengan produktivitas lahan
dengan tingkat manajemen tinggi yang dikerjakan oleh swasta atau perusahaan besar (Subagyo et
al, 1996)

Dengan manajemen tingkat sedang (Abdurachman dan Suriadikarta, 2000), yaitu perbaikan
tanah dengan penggunaan input yang terjangkau oleh petani seperti pengolahan tanah, tata air
mikro, pemupukan, pengapuran dan pemberantasan hama dan penyakit, potensi pengembangan
lahan gambut dapat dilakukan dengan baik.




Bersambung ke bagian 5 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini:


Pustaka:

Madjid, A. R. 2009. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Bahan Ajar Online untuk mata kuliah: (1) Dasar-
Dasar Ilmu Tanah, (2) Kesuburan Tanah, dan (3) Pengelolaan Kesuburan Tanah Lanjut. Fakultas
Pertanian Unsri & Program Pascasarjana Unsri. http://dasar2ilmutanah.blogspot.com.

Diposkan oleh Dr. Ir. Abdul Madjid, MS di 21:31 0 komentar
Label: Kesuburan Tanah

Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Gambut (Bagian 5)

Pemanfaatan Lahan Gambut untuk Pertanian*

Oleh: Novriani** dan Abdul Madjid Rohim***

(Bagian 5 dari 5 Tulisan)


Keterangan:

* : Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah, Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister
(S2), Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya. Palembang, Propinsi Sumatera Selatan,
Indonesia.

** : Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2), Program Pascasarjana, Universitas
Sriwijaya. Palembang, Propinsi Sumatera Selatan, Indonesia.

*** : Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah, Program Studi Ilmu Tanaman, Program
Magister (S2), Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya. Palembang, Propinsi Sumatera
Selatan, Indonesia.
(Bagian 5 dari 5 Tulisan)




III. Kesimpulan


(1) Tanah gambut atau tanah organik adalah tanah yang berasal dari bahan induk organik seperti
dari hutan rawa atau rumput rawa, dengan ciri dan sifat: tidak terjadi deferensiasi horizon secara
jelas, ketebalan lebih dari 0.5 m, warna coklat hingga kehitaman, tekstur debu lempung, tidak
berstruktur, konsistensi tidak lekat-agak lekat, kandungan organik lebih dari 30% untuk tanah
tekstur lempung dan lebih dari 20% untuk tanah tekstur pasir, umumnya bersifat sangat asam
(pH 4,0) kandungan unsur hara rendah.


(2) Ada beberapa hal yang dapat menghambat perkembangan lahan gambut sebagai lahan
pertanian diantaranya : 1) Sifat fisik, 2) Sifat Kimia, 3) Sifat Biologi, 4) Keadaan air tanah dan 5)
Kebakaran lahan gambut.


(3) Untuk pengembangan lahan gambut yang berkelanjutan perlu dilakukan pengolahan tanah,
tata air mikro, pemupukan, pengapuran dan pemberantasan hama dan penyakit, serta memilih
tanaman yang sesuai dengan kondisi lahan gambut yang ada.

DAFTAR PUSTAKA

Abdurachman dan Suriadikarta, 2000. Pemanfaatan Lahan Rawa eks PLG Kalimantan Tengah
untuk Pengembangan Pertanian Berwawasan Lingkungan. Jurnal Litbang Pertanian 19 (3).

Ambak, K., dan Melling, L., 2000. Management Practices for Sustainable Cultivation of Crop
Plants on Tropical Peatlands. Proc. Of The International Symposium on Tropical Peatlands 22-
23 November 1999. Bogor-Indonesia, hal 119.

Andriesse, J.P. 1989. Constrainsts and opportunities for alternative use options of tropical peat
land. In B.Y. Aminuddin (Ed.). Tropical Peat; Proceedings of International Symposium on
Tropical Peatland, 6-10 May 1991, Kuching, Sarawak, Malaysia. BB Litbang SDLP (Balai Besar
Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan

Andriesse, J.P. 1988. Nature and Management of Tropical Peat Soils. FAO Soils Bulletin 59.

Asie E R. 2004. Pengembangan Tanaman Melonn di Lahan Gambut Dengan Budidaya Inovatif.
Palangkaraya. Kalimantan.
Driessen, P.M., dan H. Suhardjo. 1976. On the Defective Grain Formation of Sawah Rice on
Peat. Soil Res. Inst. Bull. 3: 20 – 44. Bogor.

Driessen, P.M. 1978. Peat soils. pp: 763-779. In: IRRI. Soil and rice. IRRI. Los Banos.
Philippines.

Fakultas Pertanian IPB. 1986. Gambut pedalaman untuk lahan pertanian. Kerjasama Dinas
Pertanian Tanaman Pangan Propinsi Dati I, Kalimantan Tengah dengan Fakultas Pertanian IPB,
Bogor.

FAO-Unesco. 1994. Soil Map of the world. FAO Rome Published By ISRIC. Wageninagan 140
hal.

Gonggo B M, Purwanto, Bilan W S dan J. Arto. 2004. Pertumbuhan dan Hasil Jagung Pada
Lahan Gambut dengan Penerapan Teknologi Tampurn. ISSN 1411-0067; 6; 14-21.

Hardjowigeno, S. 1986. Sumber daya fisik wilayah dan tata guna lahan: Histosol. Fakultas
Pertanian Institut Pertanian Bogor. Hal. 86-94.

Jaya, A., Inoue, T., Rielley, J.O, dan Limin, S. 2004. Enviromental change caused by
development of peatland landscapes in Central Kalimantan, Indonesia. Dalam Proc. of the 12th
Int. Peat Congress: Wise Use of Peatland. Finlad. pp. 660-667.

Limin, S., Layuniati., Jamal, Y., 2000. Utilization of Inland Peat for Food Crop Commodity
Development Requires High Input and is Detrimental to Peat Swamp Forest Ecosystem. Proc.
International Symposium on Tropical Peatlands 22-23 November 1999. Bogor-Indonesia.

Maas A,Tukijo, Dwijono, Darmanto. 1999. Karakterisasi dan Identifikasi Masalah Lahan
bongkor Untuk Perluasan Areal Tanam di Wilayah Kerja C PLBT Kalimantan Tengah. Makalah
”Temu Pakar dan Lokakarya Nasional Optimasi pemanfaatan Sumberdaya Lahan Rawa”. Jakarta
23-26 November 1999.

Mawardi, E, Azwar dan Tambidjo, A. 2001. Potensi dan Peluang Pemanfaatan Harzeburgite
sebagai Amelioran Lahan Gambut. Prosiding Seminar Nasional Memantapkan Rekayasa Paket
Teknologi Pertanian dan Ketahanan Pangan dalam Era Otonomi Daerah, 31 Oktober – 1
November 2001. Bengkulu.

Mutalib, A.Aa, J.S. Lim, M.H. Wong and L. Koonvai. 1991. Characterization, distribution and
utilization of peat in Malaysia. Proc. International Symposiumon tropical peatland. 6-10 May
1991, Kuching, Serawak, Malaysia.

Notohadiprawiro, T. 1994. Pengembangan Lahan Pasang Surut Untuk Tujuan Pertanian.
Pertemuan Teknis Kegiatan Pengajian Tahapan Pengembangan Lahan Rawa Pasang Surut,
Badan Litbang PU, Bandung, 20 Oktober 1994.

Noor, M. 2001. Pertanian Lahan Gambut ; Potensi dan Kendala. Kanisius, Yogyakarta.
Noorginayuwati, A.Rafiq, Yanti R., M. Alwi, A.Jumberi, 2006. Penggalian Kearifan Lokal
Petani untuk Pengembangan Lahan Gambut di Kalimantan. Laporan Hasil Penelitian Balittra
2006.

Nugroho, K., G. Gianinazzi and IPG. Widjaja-Adhi. 1997. Soil hydraulic properties of
Indonesian peat. In: Rieley and Page (Eds.). pp. 147-156 In Biodiversity and sustainability of
tropical peat and peatland. Samara Publishing Ltd.

Radjagukguk, B. 1997. Peat soil of Indonesia: Location, Classification, And Problems For
Sustainability. In: Rieley and Page (Eds.). pp. 45-54. Biodiversity and Sustainability of Tropical
Peat and Peatland. Samara Publishing Ltd. Cardigan. UK.

Radjagukguk, B. 2001. Perubahan Sifat-Sifat Fisik dan Kimia tanah Gambut Akibat Reklamasi
Lahan Gambut untuk Pertanian. Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan (2) :1-15.

Riza, AR. 2006. Karakteristik Wilayah dan Perancangan Model Penataan Lahan dan Komoditas
di Lahan Rawa Pasang Surut. Laporan Hasil Penelitian Balittra. Balai Besar Penelitian dan
Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian.

Rieley, J.O., R.A.J. Wüst, J. Jauhiainen, S.E. Page, H. Wösten, A. Hooijer, F. Siegert, S.H.
Limin, H. Vasander and M. Stahlhut. 2008. Tropical Peatlands: Carbon Stores, Carbon Gas
Emissions and Contribution to Climate Change Processes. pp. 148-182 In M.

Sabiham, S. 2007. Pengembangan Lahan Secara berkelanjutan Sebagai Dasar dalam Pengelolaan
Gambut di Indonesia. Makalah Utama disimpulkan pada Seminar Nasional Pertanian Lahan
Rawa di kapuas, 3-4 juli, 2007.

Sagiman,S. 2005. Pertanian di Lahan Gambut Berbasis Pasar dan Lingkungan, Sebuah
Pengalaman Pertanian Gambut dari Kalbar. Workshop gambut HGI. Palangkaraya 20-2 1 Sept
2005.

Soekardi M., dan A. Hidayat. 1988. Extent and distribution of peatsoils of Indonesia. Third
meeting cooperative resarch on problem soils. CRIFC. Bogor.

Soewono,S. 1997. Fertility Management For Sustainable Agriculture On Tropical Ombrogenous
Peat.In Biodiversity And Sustainability Of Tropical Peatlands. Eds J.O. Rieley. And S.E. Page.
Proceedings Of The International Symposium On Biodiversity, Environmental Importance and
sustainability of Tropical Peat and Peatlands, held in Palangkaraya, Central Kalimantan,
Indonesia, 4-8 sept. 1995.

Soil Survey Staff. 1990. Key to Soil Taxonomy. 7th edition. USDA Washington DC.

Singh, G., Tan, Y.P., Padman, C.V., Rajah dan Lee. F.W. 1986. Experinces on the Cultivation
and Management of Oil Palm on Deep Peat in United Plantation Berhard. In. Proc. 2nd Intern-
Soils Management Workshop Thailand/Malaysia 7-18 April 1986.
Suhardjo, H. and I P.G. Widjaja-Adhi. 1976. Chemical Characteristics Of The Upper 30 Cm Of
Peat Soils From Riau. ATA 106. Bull. 3: 74-92. Soil Res. Inst. Bogor. Tie, Y.L. And J.S. Esterle.
1991. Formation of lowland peat domes in Serawak, Malaysia. Proc. International Symposium
on Tropical Peatland. 6-10 May 1991, Kuching, Serawak, Malaysia.

Suryanto, S. 1991. Prospek Gambut Sebagai Sumberdaya Alam Dalam Pengembangan
Bioteknologi Di Indonesia. Makalah Seminar Bioteknologi PPI Perancis, 30 –Juni-1 Juli, 1990
Di Institute Agronomique Meditererranee (IAM) Montpellier.

Sudradjat daan Qusairi, L., 1992. Diversifikasi Usaha Perkebunan Pada Lahan Gambut Dengan
Kelapa Sebagai Tanaman Utama (Suatu Pandangan terhadap pemanfaatan Lahan Gambut).
Seminar Pengembangan Terpadu kawasan Rawa Pasang Surut di Indonesia 5 September 1992.
Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor.

Subagyo, Marsoedi dan Karama, S., 1996. Prospek Pengembangan Lahan Gambut untuk
Pertanian dalam Seminar Pengembangan Teknologi Berwawasan Lingkungan untuk Pertanian
pada Lahan Gambut, 26 September 1996. Bogor.

Soewono,S. 1997. Fertility management for sustainable agriculture on tropical ombrogenous
peat.In Biodiversity and Sustainability of Tropical Peatlands. Eds J.O. Rieley. and S.E. Page.
Proceedings of the international Symposium on Biodiversity, Environmental importance and
sustainability of Tropical Peat and Peatlands, held in Palangkaraya, Central Kalimantan,
Indonesia, 4-8 sept. 1995.

Stevenson, F.J. 1994. Humus Chemistry. Genesis, Composition, and Reactions. John Wiley and
Sons. Inc. New York. 443 p.

Tim Institut Pertanian Bogor. 1974. Laporan Survai Produktivitas Tanah Dan Pengembangan
Pertanian Daerah Palangka Raya, Kalimantan Tengah. IPB. Bogor.

Widjaja-Adhi, I P.G. 1988. Physical And Chemical Characteristic Of Peat Soil Of Indonesia.
Ind. Agric. Res. Dev. J. 10:59-64.

Widjaja-Adhi, I P.G. 1997. Developing tropical peatlands for agriculture. In: J.O. Rieley and
S.E. Page (Eds.). pp. 45-54. Biodiversity and Sustainability Of Tropical Peat And Peatland.
Proceedings of the International Symposium on Biodiversity, environmental importance and
sustainability of tropical peat and peatlands, Palangka Raya, Central Kalimantan 4-8 September
1999. Samara Publishing Ltd. Cardigan. UK.

Widodo. 2004. Pertumbuhan dan Hasil Padi Gogo CV.Cirata terhadap 3 Jenis Media Tanam dan
Ukuran Pupuk Urea. Akta Grasia 7.1; 7-10

Yardha A, Yusuf dan Hifnalisa. 1998. Penilaian sifat fisis tanah dan kimia gambut Teunom Aceh
Barat. Jurnal Agrista (2) : 22-28.

Diposkan oleh Dr. Ir. Abdul Madjid, MS di 21:19 0 komentar
Label: Kesuburan Tanah

Pengelolaan Kesuburan Tanah Sulfat Masam (Bagian 1)

Pengelolaan Kesuburan Tanah Sulfat Masam*
Oleh: Masayu Rodiah** dan Abdul Madjid Rohim***

(Bagian 1 dari 5 Tulisan)

Keterangan:
* : Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah, Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister
(S2), Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya. Palembang, Propinsi Sumatera Selatan,
Indonesia.
** : Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2), Program Pascasarjana, Universitas
Sriwijaya. Palembang, Propinsi Sumatera Selatan, Indonesia.
*** : Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah, Program Studi Ilmu Tanaman, Program
Magister (S2), Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya. Palembang, Propinsi Sumatera
Selatan, Indonesia.

(Bagian 1 dari 5 Tulisan)


DAFTAR ISI


BAB I. PENDAHULUAN ............................................................................... 1

BAB II. PERMASALAHAN PADA TANAH SULFAT MASAM ............ 3

BAB III. RINGKASAN HASIL-HASIL PENELITIAN TANAH SULFAT
MASAM....................................................................................... 19

BAB IV. PENGELOLAAN KESUBURAN PADA TANAH SULFAT
MASAM.................................................................................. 25

BAB V. KESIMPULAN............................................................................... 54

DAFTAR PUSTAKA .................................................................................... 55



I. PENDAHULUAN

Lahan rawa di Indonesia cukup luas dan tersebar di tiga pulau besar, yaitu di Sumatera,
Kalimantan, dan Irian Jaya (Papua). Menurut Widjaja-Adhi et al. (1992) luas lahan rawa
Indonesia ± 33,4 juta ha, yang terdiri atas lahan rawa pasang surut sekitar 20 juta ha dan lahan
lebak 13,4 juta ha. Pembukaan lahan rawa pasang surut dilakukan berkaitan dengan program
pemukiman transmigrasi yang dimulai sejak Pelita I (orde baru) sekitar tahun 1969 melalui
program Proyek Pembukaan Persawahan Pasang Surut (P4S). Pemanfaatan lahan pasang surut
untuk pertanian merupakan pilihan yang strategis dalam mengimbangi penciutan lahan produktif
di pulau Jawa yang dialihfungsikan untuk pembangunan sektor non pertanian seperti,
perumahan, jalan raya, industri dan pembangunan lainnya.

Menurut Sudiadikarta et al., (1999) sampai saat ini lahan rawa yang telah dibuka 2,4 juta ha, 1,5
juta ha di Kalimantan dan 0,9 ha di Sumatera. Lahan rawa di Irian Jaya (Papua) sampai saat ini
masih belum dibuka untuk pertanian. Pengembangan lahan rawa memerlukan perencanaan
pengelolaan dan pemanfaatan yang baik dan memerlukan penerapan teknologi yang sesuai,
terutama pengelolaan tanah dan air yang tepat. Pemanfaatan yang bijak, pengembangan yang
seimbang dan pengelolaan yang sesuai dengan karakteristik, sifat dan kelakuannya, diharapkan
dapat mengembalikan lahan rawa menjadi lahan pertanian yang berproduktivitas tinggi,
berkelanjutan dan berwawasan lingkungan (Widjaja-Adhi, 1995a dan 1995b). Sejak proyek P4S
tahun tujuh puluhan dan dilanjutkan dengan proyek penelitian Badan Litbang Pertanian Swamp
I, Swamp II, dan kerjasama dengan Belanda (LAWOO) tahun delapan puluhan, Proyek
Penelitian Pengembangan Lahan Rawa Terpadu (ISDP) dan Proyek Pertanian PLG tahun
sembilan puluhan telah banyak teknologi pengelolaan lahan rawa yang dihasilkan (Suriadikarta
dan A.Abdurachman, 1999). Teknologi itu antara lain adalah teknologi pengelolaan tanah, tata
air mikro, teknologi ameliorasi tanah dan pemupukan, penggunaan varietas yang adaptif,
teknologi mengatasi hama dan penyakit, dan model usahatani. Namun penerapan teknologi
pertanian lahan rawa umumnya tidak dapat diterapkan secara berkelanjutan disebabkan ada
beberapa kendala yaitu : modal petani yang rendah, infrastruktur yang terbatas, kelembagaan
pedesaan yang minim, dan kurangnya perhatian pemerintah dalam pemeliharaan jaringan tata air
makro secara konsisten.

Berbagai kegagalan telah didokumentasikan namun keberhasilan juga telah dicapai sepanjang
pengembangan lahan rawa. Terjadinya lahan bongkor akibat reklamasi yang kurang tepat
merupakan pengalaman kegagalan yang tidak perlu terulang lagi dalam pengembangan lahan
rawa yang masih memungkinkan untuk pengembangan pertanian. Potensi lahan rawa yang masih
besar ini sebaiknya dapat dimanfaatkan untuk menunjang persiapan pengembangan sistem
ketahanan pangan dan agribisnis yang menjadi program utama sektor pertanian. Sebagaimana
disampaikan oleh Menteri Pertanian (1999). Lahan rawa, baik rawa pasang surut maupun bukan
pasang surut (lebak) dapat dijadikan basis pengembangan sistem ketahanan pangan, untuk
kepentingan jangka pendek, menengah maupun jangka panjang. Sehingga perhatian berupa
investasi, terutama swasta dalam pemanfaatan lahan rawa seyogyanya dapat lebih ditingkatkan.
Berdasarkan macam dan tingkat kendala dalam pengembangan dan pengelolaan, khususnya
untuk pertanian, lahan rawa dibagi menjadi lima tipologi lahan, yaitu 1) lahan potensial, 2) lahan
sulfat masam, 3) lahan gambut, 4) lahan salin atau pantai, 5) lahan rawa lebak.



Bersambung ke bagian 2 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini:
Pustaka:

Madjid, A. R. 2009. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Bahan Ajar Online untuk mata kuliah: (1) Dasar-
Dasar Ilmu Tanah, (2) Kesuburan Tanah, dan (3) Pengelolaan Kesuburan Tanah Lanjut. Fakultas
Pertanian Unsri & Program Pascasarjana Unsri. http://dasar2ilmutanah.blogspot.com.
Diposkan oleh Dr. Ir. Abdul Madjid, MS di 02:21 0 komentar
Label: Kesuburan Tanah

Pengelolaan Kesuburan Tanah Sulfat Masam (Bagian 2)

Pengelolaan Kesuburan Tanah Sulfat Masam*
Oleh: Masayu Rodiah** dan Abdul Madjid Rohim***

(Bagian 2 dari 5 Tulisan)

Keterangan:
* : Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah, Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister
(S2), Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya. Palembang, Propinsi Sumatera Selatan,
Indonesia.
** : Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2), Program Pascasarjana, Universitas
Sriwijaya. Palembang, Propinsi Sumatera Selatan, Indonesia.
*** : Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah, Program Studi Ilmu Tanaman, Program
Magister (S2), Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya. Palembang, Propinsi Sumatera
Selatan, Indonesia.

(Bagian 2 dari 5 Tulisan)


II. PERMASALAHAN PADA TANAH SULFAT MASAM

Pertama kali tanah sulfat masam dikenal dengan sebutan cat clay yang diambil dari asal kata
katteklei (bahasa Belanda), yang diartikan sebagai lempung yang berwarna seperti warna pada
bulu kucing, yaitu warna kelabu dengan bercak kuning pucat (jerami). Bercak kuning pucat ini
merupakan senyawa hasil (produk) oksidasi pirit yang sering disebut dengan jarosit. Istilah tanah
sulfat masam sendiri digunakan karena berkaitan dengan adanya bahan sulfida (pirit) dalam
tanah ini yang apabila teroksidasi menghasilkan asam sulfat sehingga menyebabkan tanah
menjadi masam sampai sangat masam (pH 2-3). Tanah sulfat masam merupakan tanah liat rawa
dan seringkali memiliki lapisan gambut tipis < 20 cm; memiliki lapisan pirit yang belum
teroksidasi (bahan sulfidik) atau sudah teroksidasi (horison sulfurik) pada kedalaman 0-50 cm.
Tanah sulfat masam terbagi menjadi sulfat masam potensial dan sulfat masam aktual. Sulfat
masam potensial dapat berubah menjadi sulfat masam aktual bila tanah mengalami drainase yang
berlebihan akibat reklamasi. Pirit yang semula stabil dan tidak berbahaya pada kondisi anaerob
atau tergenang, akan teroksidasi bila kondisi berubah menjadi aerob. Menurunnya permukaan air
tanah akibat pembuatan saluran drainase primer-sekunder-tersier menyebabkan oksigen masuk
ke dalam pori tanah dan akan mengoksidasi pirit membentuk asam sulfat, ion hidrogen dan Fe3+.
Apabila oksidasi pirit berlangsung cepat maka akan terbentuk mineral jarosit berupa bercak-
bercak karatan berwarna kuning jerami (Dent, 1986; Langenhoff, 1986).

Pada kondisi tergenang, kemasaman tanah dapat dikurangi namun disisi lain muncul masalah
keracunan besi fero (Fe2+), Al, Mn, Hidrogen sulfida, CO2, dan asam organik. Masalah fisik
yang sering dijumpai adalah terhambatnya perkembangan akar tanaman pada horison sulfurik
karena tanaman kekurangan air, pematangan tanah terhambat serta saluran drainase tertutup oleh
deposit oksida besi. Pada kondisi seperti ini, pertumbuhan dan aktivitas mikroorganisme tanah
terhambat. Jenis tanaman yang dapat tumbuh dan berkembang akan sangat terbatas dengan hasil
rendah.


Proses kimia pada tanah sulfat masam:

Proses kimia pada tanah sulfat masam dapat dikelompokkan menjadi dua bagian penting.
Pertama, proses kimia yang terjadi dalam keadaan reduktif, antara lain pembentukan pirit,
reduksi besi feri menjadi fero, serta reduksi senyawa beracun.


Kedua, proses kimia pada kondisi oksidatif, yang terpenting adalah oksidasi pirit.

a. Proses reduksi

Pada kondisi aerob, sumber elektron utama bagi aktivitas mikroorganisme
pendekomposisi bahan organik adalah oksigen. Bila keadaan berubah menjadi anaerob, oksigen
di dalam tanah secara perlahan menghilang. Namun demikian, dekomposisi bahan organik oleh
bakteri anaerob tetap berlangsung dengan memanfaatkan elektron yang dilepaskan dalam proses
reduksi nitrat, oksida mangan, oksida besi, dan sulfat. Dalam proses reduksi selalu
memanfaatkan proton, sehingga pH tanah akan meningkat. Proses kimia penting yang terjadi
adalah :

Pembentukan pirit. Pirit (FeS2) adalah mineral berkristal kubus dari senyawa besi-sulfida yang
terkumpul di dalam endapan marin kaya bahan organik dan diluapi air mengandung senyawa
sulfat (SO4-) dari air laut. Bentuk kristal pirit sangat halus bervariasi dari <> 2 mikron hingga >
100 mikron (Van Dam dan Pons, 1972). Kandungan pirit dalam endapan marin mencapai 5%,
tetapi umumnya 1-4% (Van Breemen, 1972). Pembentukan pirit memerlukan persyaratan
tertentu :
(1) Lingkungan anaerob : Reduksi sulfat hanya dapat terjadi pada kondisi yang sangat anaerob
seperti pada sedimen tergenang dan kaya bahan organik. Dekomposisi bahan organik oleh
bakteri anaerob menghasilkan senyawa-senyawa yang bersifat masam sehingga menyebabkan
lingkungan bertambah masam (Pons et al., 1982);
(2) Sulfat terlarut : Sumber utama sulfat adalah air laut atau air payau pasang;
(3) Bahan organik : Oksidasi bahan organik menghasilkan energi yang sangat diperlukan oleh
bakteri pereduksi sulfat. Ion sulfat bertindak sebagai sumber elektron bagi respirasi bakteri
kemudian direduksi menjadi sulfida. Jumlah sulfida yang terbentuk berkaitan langsung dengan
jumlah bahan organik yang dimetabolisme oleh bakteri;
(4) Jumlah besi : Tanah dan sedimen mengandung besi oksida dan hidroksida dalam jumlah yang
banyak, yang akan tereduksi menjadi Fe2+, yang sangat larut pada pH sekitar normal atau
dijerap oleh senyawa organik yang larut;
(5) Waktu : Waktu yang diperlukan untuk pembentukan pirit pada kondisi alami masih belum
banyak diketahui. Reaksi antara padatan FeS dan S berjalan sangat lambat, memerlukan waktu
bulanan bahkan tahunan untuk menghasilkan sejumlah pirit. Namun demikian, pada kondisi
yang sesuai, Fe2+ larut dan ion polisulfida dapat membentuk pirit dalam beberapa hari
(Howarth, 1979 dalam Dent, 1986). Reaksi keseluruhan pembentukan pirit dari besi oksida
(Fe2O3) sebagai sumber Fe digambarkan sebagai berikut :


Pada kondisi tergenang atau anaerob, selain terbentuk ion mono-karbonat, di dalam tanah atau
sedimen juga mengandung karbonat yang berasal dari koral atau binatang laut. Karbonat akan
menetralisir kemasaman tanah dan mempertahankan pH sekitar netral.

Pirit adalah zat yang hanya ditemukan di tanah di daerah pasang surut saja. Zat ini dibentuk pada
waktu lahan digenangi oleh air laut yang masuk pada musim kemarau. Pada saat kondisi lahan
basah atau tergenang, pirit tidak berbahaya bagi tanaman. Akan tetapi, bila terkena udara
(teroksidasi), pirit berubah bentuk menjadi zat besi dan zat asam belerang yang dapat meracuni
tanaman. Pirit dapat terkena udara apabila:
=>Tanah pirit diangkat ke permukaan tanah (misalnya pada waktu mengolah tanah, membuat
saluran, atau membuat surjan).
=>Permukaan air tanah turun (misalnya pada musim kemarau).

Gejala keracunan zat besi pada tanaman:
· Daun tanaman menguning jingga
· Pucuk daun mengering
· Tanamannya kerdil
· Hasil tanaman rendah.

Ciri-ciri tingginya kadar besi dalam tanah:
· Tampak gejala keracunan besi pada tanaman
· Ada lapisan seperti minyak di permukaan air
· Ada lapisan merah di pinggiran saluran.

Belerang menyebabkan air tanah menjadi asam, bahkan lebih asam daripada cuka. Akibat yang
ditimbulkan adalah:
· Tanaman mudah terserang penyakit
· Hasil panen rendah
· Tanaman lebih mudah kena keracunan besi.

Tingkat kemasaman tanah diukur dengan angka pH. Makin rendah angka pH, makin asam air
atau tanahnya. Tanaman padi menyukai pH antara 5-6 dan padi tidak dapat hidup jika berada
pada pH di bawah 3.

Pirit di dalam tanah dapat ditandai dengan:
· Adanya rumput purun atau rumput bulu babi, menunjukkan ada pirit di dalam tanah yang telah
mengalami kekeringan dan menimbulkan zat besi dan asam belerang.
· Bongkah tanah berbecak kuning jerami ditanggul saluran atau jalan, menunjukkan adanya pirit
yang berubah warna menjadi kuning setelah terkena udara.
=> Adanya sisa-sisa kulit atau ranting kayu yang hitam seperti arang dalam tanah. Biasanya di
sekitamya ada becak kuning jerami.
=> Tanah berbau busuk (seperti telur yang busuk), maka zat asam belerangnya banyak. Air di
tanah tersebut harus dibuang dengan membuat saluran cacing dan diganti dengan air baru dari air
hujan atau saluran.

Kedalaman pirit diukur dengan cara berikut ini:
· Gali lubang sedalam 75 cm atau lebih.
· Ambillah gumpalan tanah mulai dari kedalaman 10 cm, 20 cm, 30 cm, dan seterusnya sampai
ke bagian bawah.
· Gumpalan tanah tersebut ditandai dan dicatat sesuai dengan asal kedalaman.
· Setiap gumpalan tanah ditetesi air peroksida. Bila keluar buih meledak-ledak menunjukkan
adanya pirit dalam tanah tersebut.
· Cara lain dengan menyimpan gumpalan tanah tadi di tempat teduh. Diamati setelah 3 minggu,
jika ada becak warna kuning jerami, maka tanah tersebut mengandung pirit.

Cara ini diulang sedikitnya di 20 tempat untuk setiap hektar lahan, guna memastikan kedalaman
piritnya. Sehingga sewaktu mengolah tanah, pirit tidak teroksidasi, karena dapat meracuni
tanaman.

Reduksi Fe3+menjadi Fe2+. Pada sebagian tanah masam, penggenangan akan mengakibatkan
pH meningkat hingga 6-7 setelah beberapa minggu. Pada kondisi seperti ini, proses terpenting
adalah reduksi Fe3+ menjadi Fe2+ (Ponnamperuma, 1972; Patrick dan Reddy, 1978). Pada tanah
sulfat masam muda, peningkatan pH dari 3,0-3,5 menjadi 5,5-6,0 berkaitan dengan tingkat
pelarutan Fe2+ yang dicapai. Pada tanah sulfat masam yang telah lanjut, pH meningkat sangat
lambat setelah penggenangan bahkan kadang-kadang tidak mencapai 5,5-6,0. Kemungkinan hal
ini disebabkan oleh : (1) lambatnya proses reduksi dan (2) tidak adanya bahan yang akan
direduksi seperti misalnya oksida besi feri. Pada kondisi pertama, maka setelah penggenangan
tidak akan terjadi perubahan nilai Eh atau pH yang drastis. Pada kasus kedua, nilai Eh akan
menurun tanpa meningkatkan pH. Menurut Dent (1986), tanah sulfat masam yang sudah tua
mengandung besi dalam bentuk kristal goetit dan hematit yang stabil sehingga sulit tereduksi.
Sebaliknya tanah sulfat masam yang masih muda kaya akan koloid besi, sehingga diperkirakan
mempunyai kadar besi terlarut yang tinggi setelah penggenangan. Reduksi oksida Fe3+ dengan
bahan organik sebagai donor elektron akan mengkonsumsi 4 proton :
Konsten et al., (1990) melaporkan bahwa tanah sulfat masam di Kalimantan ada yang tidak
menunjukkan peningkatan pH setelah penggenangan. Hal ini disebabkan tanah tersebut
mempunyai kandungan oksida Fe3+ yang rendah dibandingkan kapasitas netralisasi oleh tanah.

Reduksi sulfat. Proses reduksi sulfat menjadi sulfida dapat terjadi pada kondisi pH di atas 4
hingga 5, pada pH di bawah itu reaksi terjadi sangat lambat dan bahkan tidak ada. Reduksi sulfat
seringkali terjadi pada tanah sulfat masam yang masih muda dan sulfat masam lanjut yang lama
tergenang. Reduksi sulfat ini sangat berkaitan dengan adanya hasil dekomposisi bahan organik
yang masih baru. H2S yang terbentuk sangat beracun bagi tanaman, pada konsentrasi 0,1 mg l-1
H2S sudah dapat meracuni tanaman padi dalam larutan hara (Mitsui, 1964 dalam van Breemen,
1993). Reaksi yang terjadi digambarkan sebagai berikut :


b. Proses oksidasi

Proses utama yang terjadi bila tanah sulfat masam teroksidasi adalah oksidasi pirit. Reklamasi
lahan rawa melalui pembuatan saluran drainase mengakibatkan perubahan kimia di dalam tanah
sulfat masam. Pirit yang semula tidak berbahaya pada kondisi tergenang, secara perlahan
berubah menjadi unsur beracun dan merupakan sumber kemasaman tanah bila kondisi tanah
berubah menjadi oksidatif. Perbedaan yang besar antara pasang surutnya air laut serta musim
kemarau yang panjang menyebabkan pirit teroksidasi secara alami. Reaksi oksidasi pirit dengan
oksigen pada tanah sulfat masam berlangsung dalam beberapa tahapan, meliputi reaksi-reaksi
kimia dan biologis (Dent, 1986). Pada tahap awal, oksigen terlarut secara lambat bereaksi dengan
pirit menghasilkan 4 molekul H+ per molekul pirit yang dioksidasi :

Pada nilai pH kurang dari 3,5 reaksi oksidasi kimia ini berjalan sangat lambat dengan waktu
paruh 1.000 hari. Kecepatan oksidasi pirit oleh Fe3+ sangat dipengaruhi oleh pH, karena Fe3+
hanya larut pada nilai pH di bawah 4 dan Thiobacillus ferrooxidans tidak tumbuh pada pH yang
tinggi. Besi oksida dan pirit di dalam tanah mungkin secara fisik berada pada tempat yang
berdekatan, namun ada tidaknya reaksi di antara mereka sangat dipengaruhi oleh kelarutan Fe3+.

Kecepatan oksidasi pirit cenderung bertambah dengan menurunnya pH tanah. Pada pH di bawah
4, proses oksidasi terhambat oleh suplai O2. Kecepatan penurunan pH akibat oksidasi pirit
tergantung pada : (1) jumlah pirit; (2) kecepatan oksidasi; (3) kecepatan perubahan bahan hasil
oksidasi; dan (4) kapasitas netralisasi. Kalsium karbonat dan basa dapat ditukar merupakan
bahan penetralisir kemasaman dimana reaksinya dengan asam sulfat berjalan cepat(van
Breemen, 1993).

Di dalam tanah, berbagai tingkatan oksidasi yang berlangsung tidak terjadi
pada titik yang sama. Pengujian secara mikro-morfologi menunjukkan bahwa ada
perbedaan/batas yang nyata antara lokasi beradanya pirit dan bahan hasil oksidasinya seperti
jarosit, besi oksida, dan gipsum. Pirit biasanya terdapat di dalam inti dari ped, sedangkan jarosit,
besi oksida, dan gipsum terdapat pada permukaan ped dan ruang pori. van Breemen (1976)
menduga bahwa oksigen bereaksi dengan Fe2+ terlarut membentuk Fe3+ terlebih dahulu
sebelum bertemu dengan pirit.


c. Hasil oksidasi pirit

Oksidasi pirit oleh Fe3+ menghasilkan ion (H+) yang kemudian sebagian digunakan lagi untuk
mengoksidasi Fe2+ menjadi Fe3+. Hasil akhir dari oksidasi pirit adalah hidroksida Fe3+. Pada
pH > 4, oksida dan hidroksida Fe3+ akan mengendap, misalnya dalam bentuk goetit yang lambat
laun akan berubah menjadi hematit (Dent, 1986).

Jarosit [KFe3(SO4)2(OH)6] merupakan endapan berwarna kuning pucat hasil oksidasi pirit pada
kondisi yang sangat masam, yaitu pada Eh diatas 400 mV dan pH kurang dari 3,7. Reaksi
pembentukannya sebagai berikut :

Pada pH di atas 4, jarosit tidak stabil dan mudah berubah menjadi goetit dan terhidrolisa menjadi
oksida besi. Hasil pengujian mikroskopi terhadap irisan tipis dan difraksi sinar X menunjukkan
bahwa bercak kuning yang merupakan karakteristik tanah sulfat masam didominasi oleh jarosit
dan goetit. Bercak merah dan coklat pada sulfat masam adalah goetit yang kadang-kadang
berasosiasi dengan jarosit dan hematit (van Breemen, 1976). Sulfat merupakan salah satu hasil
oksidasi pirit yang sangat sedikit dijerap oleh profil tanah. Sebagian besar dari sulfur terlarut
hilang bersama air drainase atau berdifusi ke lapisan di bawahnya yang kemudian akan direduksi
kembali menjadi sulfida. Sebagian kecil tertahan dalam bentuk jarosit atau gipsum. Gipsum
terbentuk pada tanah sulfat masam melalui reaksi netralisasi kemasaman oleh kalsium karbonat :
Ion hidrogen (proton) yang dihasilkan dari oksidasi pirit menyebabkan kondisi tanah yang sangat
masam. pH yang sangat rendah menyebabkan penghancuran kisi-kisi mineral liat sehingga silikat
dan Al3+ terlepas. Di lapangan, nilai pH tanah sulfat masam berkisar antara 3,2 hingga 3,8
(Dent, 1986). Meningkatnya kandungan silika dan Al3+ terlarut mempengaruhi karakteristik
tanah dan air tanah. Aktivitas Al3+ terlarut berkorelasi secara langsung dengan pH, bila pH
meningkat maka aluminium akan mengendap sebagai hidroksida atau basic sulfate (van
Breemen, 1973).

Beberapa unsur mikro seperti Ni dan Co ikut terakumulasi di dalam sedimen karena
mensubstitusi Fe dalam pirit atau unsur Cu, Zn, Pb yang menggantikan sulfida (Deer et al., 1965
dalam van Breemen, 1993). Unsur-unsur tersebut akan terlepas kembali saat pirit teroksidasi.
Satawathananont (1986 dalam van Breemen, 1993) menunjukkan bahwa konsentrasi unsur Cu,
Zn, Mo, Cd, Pb, Ni, dan As terdapat dalam jumlah yang lebih tinggi pada tanah berpirit yang
aerasinya baik (pH 2,9) dibandingkan pada tanah sulfat masam yang sudah berkembang (pH 3,9-
4,5) dan tanah marin yang tidak masam (pH 4,9) di Bangkok. Lebih lanjut ia mengamati tanah
yang diinkubasi pada nilai potensial redoks dan pH yang terkontrol dalam suasana masam yang
oksidatif selama dua minggu, logam berat yang larut air lebih tinggi pada tanah berpirit
dibandingkan tanah lanjut/tua.

Selain unsur mikro, masih banyak unsur lain seperti gas SO2, Fe2+, H2S, Al3+ dan asam-asam
organik yang dilepaskan sebagai akibat teroksidasinya pirit. Keluarnya unsur-unsur beracun
tersebut dari tanah melalui air drainase ke perairan umum dapat menyebabkan polusi dan
mengancam kehidupan biota sungai/laut.

Kandungan pirit di tanah sulfat masam temyata di kemudian hari menjadi permasalahan utama
yang berat, atau sangat sulit diatasi, apabila tanah sulfat masam dibuka untuk pertanian.
Masalahnya dimulai pada saat direklamasi, yaitu dengan penggalian saluran-saluran drainase
besar, seperti saluran primer, sekunder, dan tersier, dengan tujuan untuk mengeringkan wilayah
agar tanah sulfat masam yang semula basah atau tergenang menjadi tanah yang relatif lebih
kering yang siap digunakan sebagai lahan pertanian. Akibat adanya saluran-saluran drainase
tersebut, permukaan air tanah menjadi turun, dan tanah bagian atas menjadi kering dan terbuka.
Akibat adanya oksigen di udara, maka tanah bagian atas ini mengalami oksidasi, sementara tanah
bagian bawah masih tetap berada di lingkungan air tanah, yaitu tetap dalam kondisi tereduksi.
Pirit yang terbentuk dalam suasana reduksi dalam endapan laut di dekat pantai dengan
kandungan bahan organik tinggi, berasal dari vegetasi pantai seperti api-api dan
bakau/mangrove.

Dalam kondisi reduksi, pirit bersifat stabil sesuai dengan suasana lingkungan pembentukannya.
Akibat penurunan air tanah, pirit yang berada di tanah bagian atas ikut terbuka (exposed) di
lingkungan yang aerob, dan mengalami oksidasi, menghasilkan asam sulfat dan senyawa besi
bebas bervalensi 3 (Fe-III). Hasil akhirnya merupakan tanah ber-reaksi masam ekstrim (pH
<3,5),>4,0), tekstur liat berdebu sampai liat, dan umumnya berwarna kelabu-kelabu gelap.

Profil tanah sulfat masam potensial, tanah bagian atas teroksidasi relatif lebih tipis sekitar 25-75
cm, setengah matang sampai hampir matang, reaksi tanah sangat masam-agak masam (pH >4,0),
tekstur umumnya liat berdebu, dan warnanya kelabu tua sampai coklat kekelabuan. Lapisan
bawah tereduksi, hampir mentah (practically unripe) sampai mentah, reaksi tanah masam-agak
masam (pH >4,0), tekstur liat berdebu sampai liat, dan warnanya kelabu tua sampai kelabu gelap.
Tanah sulfat masam aktual, karena memiliki reaksi masam ekstrim, dan banyak kandungan ion-
ion yang bersifat racun/toksik, sehingga tidak sesuai untuk tanaman pertanian. Tanaman padi
yang ditanam di tanah ini tidak menghasilkan gabah yang berarti. Lahan ini banyak ditinggalkan
petani transmigran, sehingga menjadi lahan bongkor dan ditutupi semak-semak lebat. Vegetasi
alami yang mampu tumbuh adalah yang toleran terhadap kemasaman tinggi, terdapat di Delta
pulau Petak biasanya berupa purun (Lepironia mucronata), atau purun tikus (Fimbristylis sp.),
dan gelam (Melaleuca leucadendron).


Sulfat masam potensial

Data profil sulfat masam potensial (SMP) menunjukkan adanya lapisan gambut permukaan yang
tipis, sekitar 0-12/16 cm. Tekstur seluruh lapisan tanah menunjukkan halus, yaitu tekstur tanah
SMP dari Sumatera mempunyai kandungan liat antara 40-75%, dengan debu 25-60%. Sementara
kandungan liat SMP dari Kalimantan, bervariasi antara 40-85%, dan debu 20-50%. Dengan
demikian, tekstur tanah lapisan atas termasuk liat berdebu, sedangkan lapisan bawahnya liat
berdebu atau liat.

Reaksi tanah di seluruh lapisan bervariasi dari masam ekstrim (extremely acid) (pH 3,5 atau
kurang) sampai sangat masam (very strongly acid) (pH 4,5-4,8), dan cenderung makin masam di
lapisan-Iapisan bawah. Reaksi tanah lapisan atas rata-rata sangat masam sekali (pH 4,0-4,3), dan
di lapisan bawah masam ekstrim sampai sangat masam sekali (pH 3,5-3,8). Kandungan garam,
dengan data terbatas yang hanya berasal dari SMP Kalimantan, ditunjukkan oleh daya hantar
listrik yang bervariasi dari 7.000-21.000 dS/m, dengan rata-rata termasuk sangat tinggi sekali
(7.253-7.320 dS/m), baik di lapisan atas maupun lapisan bawah.

Kandungan bahan organik, tidak termasuk lapisan gambut tipis di permukaan tanah bervariasi
sedang sampai sangat tinggi, baik pada SMP dari Sumatera maupun SMP dari Kalimantan. Rata-
rata kandungan bahan organik sangat tinggi sampai sangat tinggi sekali (9,16-20,54%) di lapisan
atas, dan sangat tinggi (6,31-6,61%) di lapisan bawah. Kandungan N tinggi (0,59-0,70%) di
lapisan atas, dan menurun menjadi rendah sampai sedang (0,17-0,28%) di lapisan bawah. Rasio
C/N di seluruh lapisan tanah bervariasi dari tinggi sampai sangat tinggi, dan cenderung
meningkat di lapisan bawah. Rata-rata C/N tergolong tinggi (16-24) di lapisan atas, dan sangat
tinggi (30-31) di lapisan bawah.

Kandungan fosfat potensial (P2O5-HCI) pada SMP dari Sumatera bervariasi dari rendah sampai
sangat tinggi di lapisan atas, dan menurun menjadi rendah sampai sedang di lapisan bawah. Rata-
ratanya tinggi (58 mg/100 g tanah) di lapisan atas, dan rendah (20 mg/100 g tanah) di lapisan
bawah. Sementara kandungan P2O5 di seluruh lapisan pada SMP dari Kalimantan, bervariasi
dari rendah sampai sangat tinggi. Oleh karena itu, rata-rata kandungan P2O5 potensial di lapisan
atas termasuk sangat tinggi (115 mg/100 g tanah), dan di lapisan bawah sedang (33 mg/100 g
tanah). Kandungan K2O tergolong sedang (32-35 mg/100 g tanah) di lapisan atas, dan sedang
sampai tinggi (29-60 mg/100 g tanah) di lapisan bawah.

Kandungan fosfat tersedia (P2O5 Bray-I) tergolong sedang sampai tinggi (17,7-32,3 ppm) di
lapisan atas, dan sedang (15,2-17,0 ppm) di lapisan bawah. Jumlah basa, baik di lapisan atas
maupun lapisan bawah, tergolong tinggi (18,0-28,3 cmol(+)/kg tanah).

Basa dapat tukar yang dominan di seluruh lapisan tanah adalah Mg dan Na masing-masing untuk
Mg termasuk sangat tinggi (10,89- 14,19 cmol(+)/kg tanah, pada SMP dari Sumatera, dan
termasuk tinggi (7,05-8,02 cmol(+)/kg tanah) pada SMP dari Kalimantan. Kandungan Na
tergolong sangat tinggi sampai sangat tinggi sekali, baik di lapisan atas (2,34-6,01 cmol(+)/kg
tanah) maupun di lapisan bawah (4,91-5,61 cmol(+)/kg tanah). Sebaliknya kandungan Ca-dapat
tukar rendah sampai sedang, baik di lapisan atas (5,11-7,84 cmol(+)/kg tanah), maupun lapisan
bawah (4,61-7,95 cmol(+)/kg tanah). Sementara kandungan K-dapat tukar, tergolong sedang
(0,43-0,64 cmol(+)/kg tanah) di seluruh lapisan. Kapasitar tukar kation tanah, menunjukkan nilai
tinggi sampai sangat tinggi (31,5-62,5 cmol(+)/kg tanah) di lapisan atas, dan tinggi (28,9-32,7
cmol(+)/kg tanah) di lapisan bawah karena pengaruh kandungan bahan organik yang sangat
tinggi.

Kejenuhan basa tergolong rendah sampai sedang (35-49%) di lapisan atas, dan sedang sampai
sangat tinggi (55-84%) di lapisan bawah. Kejenuhan AI di semua lapisan umumnya sangat
bervariasi dari sangat rendah sampai sangat tinggi, dan rata-ratanya rendah (32-35%) di lapisan
atas, dan rendah sampai sedang (30-47%) di lapisan bawah. Kandungan pirit (FeS2) sangat
rendah (0,44-1,12%) di lapisan atas, dan rendah (1,35-2,31%) di lapisan bawah.


Sulfat masam aktual

Data Sulfat Masam Aktual (SMA) yang tersedia, hanya berasal dari lahan rawa di Kalimantan.
Sementara data analisis yang berasal dari Sumatera, tidak menyebutkan adanya SMA karena data
relatif berumur tua, 1974-1978. Tanah mempunyai lapisan gambut permukaan yang tipis, sekitar
0-12 cm. Seluruh lapisan tanah memiliki tekstur halus, dengan kandungan fraksi liat 35-70%,
dan debu 25-60%, sehingga tekstur tanah lapisan atas tergolong liat berdebu, dan di lapisan
bawah liat. Lapisan atas berreaksi sangat masam sekali (pH 3,6), sementara lapisan bawah antara
kedalaman 20-120 cm menunjukkan pH antara 1,8-3,5, dengan pH rata-rata 2,8, sehingga
tergolong ber-reaksi masam ekstrim.
Kandungan bahan organik di seluruh lapisan bervariasi tinggi sampai sangat tinggi, sehingga
rata-ratanya tergolong sangat tinggi (7,51-10,93%). Kandungan N rata-rata tergolong sedang
(0,22-0,49%) di seluruh lapisan, dan cenderung menurun di lapisan-Iapisan bawah. Rasio C/N
bervariasi dari tinggi sampai sangat tinggi, dan bertambah besar di lapisan bawah. Karena itu
rasio C/N rata-rata tergolong tinggi (25) di lapisan atas, dan sangat tinggi (39) di lapisan bawah.

Kandungan fosfat potensial (P2O5-HCI 25%) di lapisan atas bervariasi dari rendah sampai
sangat tinggi, dan rata-ratanya termasuk tinggi (45 mg/100 g tanah). Kandungan P2O5 lapisan
bawah, sebagian besar sangat rendah sampai sedang, sehingga rata-ratanya rendah (17 mg/100 g
tanah). Sebaliknya kandungan K2O potensial (HCl 25%), sebagian besar tinggi sampai sangat
tinggi di semua lapisan, sehingga rata-ratanya tergolong sangat tinggi (73-81 mg/100 g tanah).

Kandungan fosfat tersedia (P Bray-I) di seluruh lapisan sangat rendah sampai sedang, dan
cenderung semakin rendah ke lapisan bawah. Oleh karena itu, rata-ratanya termasuk sedang
(19,3 ppm) di lapisan atas, dan rendah (12,6 ppm) di lapisan bawah.

Jumlah basa-basa di semua lapisan sampai sedalam 180 cm sangat bervariasi dari rendah sampai
sangat tinggi sekali, dan cenderung menurun di lapisan bawah. Karena itu, rata-rata jumlah basa,
baik di lapisan atas maupun lapisan bawah tergolong tinggi (21,9-29,1 cmol(+)/kg tanah). Seperti
pada tipe- tipe lahan sebelumnya, basa dapatttukar yang dominan di seluruh lapisan adalah Mg
dan Na. Mg terdapat dalam jumlah tinggi sampai sangat tinggi sekali, dan rata-ratanya sangat
tinggi (8,30-9,25 cmol(+)/kg tanah) di semua tapisan. Demikian juga Na terdapat dalam jumlah
tinggi sampai sangat tinggi sekali di seluruh lapisan, sehingga rata-ratanya termasuk sangat
tinggi sekali (9,70-14,87 cmol(+)/kg tanah). Sebaliknya kandungan Ca-dapat tukar umumnya
bervariasi dari sangat rendah sampai sedang, dan rata-ratanya tergolong rendah (3,49-4,12
cmol(+)/kg tanah) di lapisan atas dan lapisan bawah. Sedangkan K-dapat tukar tergolong tinggi
(0,89 cmol(+)/kg tanah) di lapisan atas, dan rendah (0,37 cmol(+)/kg tanah) di lapisan bawah.
Kapasitas tukar kation tanah bervariasi dari tinggi sampai sangat tinggi, dan rata-ratanya
tergolong tinggi (33,5-37,2 cmol(+)/kg tanah) di seluruh lapisan karena kontribusi dari bahan
organik.

Kejenuhan basa di seluruh lapisan tanah sangat bervariasi, sebagian sangat rendah, sebagian
rendah sampai sedang, dan sebagian lagi sangat tinggi, dengan rata-rata sedang (40-42%), baik di
lapisan atas maupun lapisan bawah. Kejenuhan AI di semua lapisan umumnya bervariasi dari
sedang sampai sangat tinggi, sehingga rata-ratanya tinggi (67-71%) baik di lapisan atas maupun
lapisan bawah. Kandungan pirit (FeS2) menunjukkan rata-rata sangat rendah (0,85-1,07%) di
kedua lapisan tanah.


Bersambung ke bagian 3 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini:

Pustaka:

Madjid, A. R. 2009. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Bahan Ajar Online untuk mata kuliah: (1) Dasar-
Dasar Ilmu Tanah, (2) Kesuburan Tanah, dan (3) Pengelolaan Kesuburan Tanah Lanjut. Fakultas
Pertanian Unsri & Program Pascasarjana Unsri. http://dasar2ilmutanah.blogspot.com.
Diposkan oleh Dr. Ir. Abdul Madjid, MS di 02:04 1 komentar
Label: Kesuburan Tanah

Pengelolaan Kesuburan Tanah Sulfat Masam (Bagian 3)

Pengelolaan Kesuburan Tanah Sulfat Masam*

Oleh:Masayu Rodiah** dan Abdul Madjid Rohim***

(Bagian 3 dari 5 Tulisan)

Keterangan:

* :Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah, Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister
(S2), Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya. Palembang, Propinsi Sumatera Selatan,
Indonesia.

** :Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2), Program Pascasarjana, Universitas
Sriwijaya.Palembang, Propinsi Sumatera Selatan, Indonesia.

*** :Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah, Program Studi Ilmu Tanaman, Program
Magister (S2), Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya. Palembang, Propinsi Sumatera
Selatan, Indonesia.


(Bagian 3 dari 5 Tulisan)




III. RINGKASAN HASIL-HASIL PENELITIAN TANAH SULFAT MASAM

Salah satu tipologi lahan yang dijumpai di lahan rawa pasang surut, adalah lahan sulfat masam.
Dicirikan dengan terdapatnya lapisan sulfida (pirit-FeS2) yang kadarnya >2% di dalam tanah
dengan kedalaman bervariasi, sifat kimia tanahnya kurang menguntungkan bagi usaha
pertanian, diantaranya kemasaman tanah sangat tinggi (pH tanah <4,0),>Ada tiga komponen
teknologi yang harus diterapakan secara bersama-sama, yakni penataan lahan, pengelolaan
tanah dan air, dan penanaman tanaman varietas toleran (Simatupang, 2006).

Lahan sulfat masam di mana kandungan besinya cukup tinggi dan ditemukan pada lapisan
tanah tidak terlalu dalam (<50>Pirit tidak berbahaya apabila tidak terekspos ke permukaan
tanah dan tidak memgalami oksidasi, oleh karena itu pirit di dalam tanah di upayakan tetap
stabil dengan cara penerapan teknologi olah lahan konservasi. Terjadinya oksidasi pirit akan
memasamkan tanah sehingga pH tanah turun sampai di bawah 3,0 dan menghasilkan besi ferro
(Fe 2+) yang bersifat racun bagi tanaman padi. Penyiapan lahan sistem olah tanah konservasi
merupakan teknologi yang dapat mengendalikan dan mengkonservasi pirit yang terdapat pada
lapisan tanah. Olah tanah konservasi merupakan salah satu teknologi yang dapat menjawab
atau mengatasi masalah yang berpeluang muncul dalam pengembangan kawasan lahan eks-
PLG di Kalteng sebagai lahan produksi pangan (Simatupang, 2006).

Olah tanah konservasi merupakan teknologi penyiapan lahan yang menganut kepada prinsip
konservasi tanah dan air. Bertujuan untuk mengatasi dan mengendalikan terjadinya degradasi
kesuburan tanah terutama pada lahan-lahan marginal seperti lahan rawa pasang surut sehingga
produktivitas lahan dapat dipertahankan dan berkelanjutan (Simatupang, 2006).

Sistem olah tanah konservasi dapat diterapkan sebagai pengganti sistem olah tanah yang
mengguanakan banyak tenaga kerja, dilain pihak tenaga kerja sulit diperoleh (langka) dan
upahnya relatif mahal. Di kawasan lahan rawa pasang surut, tenaga kerja merupakan salah satu
kendala dalam sistem usahatani sehingga untukk mengatasi masalah tersebut sistem penyiapan
lahan tanpa olah tanah merupakan cara yang lebih tepat (Simatupang, 2006).

Sistem olah tanah konservasi di lahan sulfat masam sangat erat hubungnannya dengan
terdapatnya lapisan sulfidik (pirit) di dalam tanah hendaknya dipertahankan tetap dalam
keadaan stabil, tadak terekspos (terangkat ke permukaan tanah) sehingga pirit tidak mengalami
oksidasi (Simatupang, 2006).

Teknologi olah tanah konservasi erat kaitannya dengan pengelolaan gulma, dilain pihak gulma
tumbuh cepat dan subur di lahan pasang surut, oleh karenannya dalam penerapannya berkaitan
dengan penggunaan herbisida sebagai komponen utama untuk untuk mengendalikan gulma
sehingga lahan menjadi siap untuk ditanami. Herbisida digunakan bertujuan untuk lahan
menjadi siap untuk ditanam dan sekaligus untuk mengendalikan pertumbuhan gulma di areal
pertanaman sebagai lahan ditanami (Simatupang, 2006).

Tahapan kegiatan dalam penerapan sistem penyiapan tanpa olah tanah: vegetasi (gulma dan
sisa tanaman sebelumnya) disemprot dengan herbisida (glyfostat, paraquat, dan sulfo sat).
Selanjutnya, setelah gulma mati kemudian direbabkan menggunakan alat bantu (seperti drum,
batang pisang atau kelapa, digilas dengan roda traktortanagn) sampai rata dengan permukaan
tanah untuk memudahkan pelaksanaan tanam padi (Simatupang, 2006).

Berdasarkan penelitian berlokasi SP-I Palingkau di kawasan lahan eks-PLG, ternyata
penerapan teknologi tanpa olah tanah menggunakan herbisida dapat meningkatkan hasil padi
30-47% dibanding hasil padi yang didapat dengan teknologi yang diterapkan oleh petani
umumnya. R/C-ratio 1,24-1,28, meningkat pendapatan petani, mengurangi penggunaan tenaga
kerja sampai 28% dan teknologi tanpa olah tanah mampu mengendalikan keracunan besi pada
tanaman padi. Selain itu, teknologi TOT ini juga dapat mendukung sistem usahatani yang
berkelanjutan (Simatupang, 2006).

Maka untuk memacu usaha peningkatan produksi dan untuk mengendalikan kegagalan
usahatani padi karena timbulnya keracunan besi, penerapan teknologi tanpa olah tanah
merupakan langkah yang strategis. Melalui penerapan teknologi ini revitalisasi pembangunan
pertanian di kawasan lahan eks-PLG diharapkan memberikan hasil yang optimal, dan
memberikan kontribusi yang besar dalam usaha peningkatan produksi dan penyediaan pangan
nasional (Simatupang, 2006).

Sistem mekanisasi pada pengolahan tanah akan menyebabkan pengusikan tanah yang juga akan
memperlancar difusi oksigen ke dalam tanah. Difusi oksigen akan memperbaiki aerasi tanah
yang berdampak pada perubahan suasana tanah. Tata air yang berfungsi sebagai saluran pengatus
tanpa keberadaan sistem pengatur muka air tanah dapat menyebabkan tanah rawa menjadi over
drain sehingga status tanah yang semula reduktif berubah menjadi oksidatif. Proses perubahan
suasana ini selalu menyebabkan pemasaman pada tanah, terlebih lagi bila dalam tanah tersebut
terkandung bahan sulfidik. Untuk itu perlu dilakukanlah penelitian hubungan antara potensi
kemasaman dengan laju pengeluaran asam pada berbagai ayunan kondisi air oleh Sutanto (2001),
guna mengurangi kontak antara asam yang timbul dengan tanah, maka pembilasan perlu segera
dilaksanakan. Pembilasan dapat dikerjakan dengan air biasa ataupun air yang mengandung ion.

Tujuan penelitian ini adalah: (a) mengetahui peran gambut dalam memperbaiki sifat fisik tanah,
(b) melihat pengaruh air laut, kapur, atau pupuk kandang sebagai bahan amelioran pada tanah
sulfat masam, (c) melihat pengaruh pengolahan tanah secara mekanisasi terhadap evolusi
kejenuhan aluminium di tanah sulfat masam potensial pada sistem sawah dan palawija.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa:

(a) Tanah sulfat masam paling cocok digunakan untuk padi sawah, akan lestari bila kadar pirit
awal <1%>

(b) Perbaikan sifat fisika tanah dapat dikerjakan dengan pemberian bahan gambut hingga takaran
yang mampu mencegah tanah bersifat kohesif bila kering. Takaran gambut sampai 10% belum
mampu melonggarkan tanah atau memperbaiki laju perembihannya,

(c) Air laut dapat berfungsi sebagai amelioran dengan jalan menukarkan sumber kemasaman
dalam kompleks pertukaran dengan kation basa (Ca dan Mg serta K) yang ada dalam air laut
tersebut. Pembilasan sisa air laut sangat dibutuhkan untuk menghindari plasmolisis akar
tanaman,

(d) Pembilasan garam terlarutkan, hasil oksidasi pirit yang bersifat masam sangat diperlukan
sebelum tanah sulfat masam diberi amelioran dan pupuk,

(e) Kejituan pemberian amelioran sangat ditentukan oleh tingkat reaktifitas tanah, tanah tidak
reaktif lebih tanggap daripada tanah reaktif, bahan penukar atau penetral sangat efisien bila
hanya untuk sumber kemasaman yang berada dalam kompleks pertukaran.


Tahana (status) hara pada tanah sulfat masam tergolong rendah bahkan sangat rendah. Gejala
kahat hara N, P, K, dan terutama P dan B sering dialami tanaman budidaya (lahan kering)
merana dan kerdil akibat kemasaman dan keracunan ion Al 3+ dan Fe3+ yang tinggi. Pada
kondisi tergenang tanaman (seperti padi) mengalami keracunan Fe 2+, H2S, CO2, dan asam-
asam organik.
Hasil-hasil pertanian di tanah sulfat masam menunjukkan pemberian pupuk berpengaruh
positif terhadap hasil tanaman. Keragaan tanaman yang diberi pupuk lengkap (N, P, dan K)
menunjukkan lebih baik. Pengaruh ppuk lebih sangkil apabila kombinasi dengan pemberian
bahan amelioran seperti kapur, dolomit, batuan fosfat alam, atau sejenis lainnya.

Prinsip dasar pemberian kapur pada tanah sulfat masam adalah untuk menekan kemasaman
tanah terutama akibat kelarutan Al 3+ yang tinggi dan juga untuk kemepanan pemupukan.
Pemberian kapur, dolomit, atau batuan fosfat alam banyak disarankan untuk menetralisir
kondisi kemasaman dan keracunan oleh H +, Al3+, dan atau Fe3+. Pemberian dolomit atau
kapur tidak mesti untuk mencapai pH 5,5, karena apabila ditujukan untuk menaikkan pH
mencapai 5,5 diperlukan jumlah kapur yang besar sekali antara 15-20 ton kapur/ha.
Berdasarkan kadar pirit, untuk menetralkan 1 % pirit yang apabila terdegradasi menghasilkan
potensi kemasaman setara dengan 35 cmol (+)/kg, diperlukan sekitar 50 ton kapur/ha.
Padahal kadar pirit tertinggi di tanah sulfat masam antara 5-7 % sehingga untuk
menetralkannya diperlukan 200-400 ton kapur (Sutrisno, 1990; Maas, 2000). Hasil
Simposium internasional tanah sulfat masam kedua di bangkok, Thailand (1982)
merekomendasikan bahwa pemberian kapur cukup hanya beberapa ton saja untuk perbaiakn
kondisi kemasaman dan tahanan hara tanah yang rendah.

Laporan-laporan penelitian tentang pengaruh kapur menunjukkan hasil beragam. Pemberian
kapur pada lahan budidaya yang telah mantap pada Kebun Percobaan Unit Tatas, Kapuas
sampai dengan 1,5 ton kapur/ha memberikan respon yang linier mengikuti persamaan :

       Y = 1,336 + 1,862 X,

Dimana:

Y = hasil padi (dalam ton gabah/ha) dan

X = takaran kapur (dalam ton kapur/ha)

Rangkaian penelitian di alhan sulfat masam tipe luapan B, Unit Tatas, kalimantan tengah
menunjukkan pemberian kapur 1,5 ton CaO/ha dapat meningkatkan hasil padi sebesar 30 %
berturut-turut hasil pada MH 89/90, MK 90, MK 90/91 mencapai 3,14; 2,00 dan 3,28 ton
GKG/ha). Penelitian lain di lahan sulfat masam tipe C, Barambai, kalimantan Selatan dengan
pemberian kapur 2 ton CaCO 3/ha dapat meningkatkan hasil padi sebesar 20 % (4,65 ton
GKG/ha) yang apabila dipadukan dengan pelumpuran hasil padi meningkat 52 % (5,83 ton
GKG/ha). Dalam rangkaian penelitian ini juga ditunjukkan bahwa pengaruh residu kapur
dapat diperoleh sampai masa tanam ketiga.

Dengan kata lain, pemberian kapur tidak diperlukan setiap musim tanam (Noor, 1996; Noor
dan Saragih, 1997). Penelitian di lahan sulfat masam, Vietnam menunjukkan pemberian
kapur hingga sebesar 3 ton kapur/ha tidak berpengaruh terhadap pH tanah, Al dapat ditukar,
serapan N, P dan Ca pada tanam ke 1, tetapi sebaliknya pada tanam ke 2 terjadi peningkatan
pH, penurunan Al, peningkatan serapan serapan N, P, dan Ca dan penurunan serapan Fe.
Pengaruh pemberian kapur hingga takaran 3 ton/ha berhasil meningkatkan hasil padi sampai
tanam ke empat, tetapi pada takaran 6-10 ton/ha hanya dapat meningkatkan hasil sampai
pada tanam kedua selanjutnya menurun untuk tanam ketiga dan keempat. Tambahan kapur
susulan/ulangan sampai takaran 10 ton/ha setiap musim tanam secara terus-menerus berhasil
meningkatkan hasil padi hingga mencapai 4,8 ton gabah/ha. Pemberian kapur
susulan/ulangan lebih sangkil dibandingkan secara tunggal dalam jumlah kapur yang sama,
tetapi perbedaan hasil sangat kecil.

Banyak laporan yang menyatakan munculnya gejala kahat P pada tanaman yang
dibudidayakan di lahan sulfat masam. Hal ini sebagaimana dikemukakan diatas, terkait
dengan sifat kimia tanah sulfat masam yang tinggi dalam menyemat (fixation) P, terutama
oleh Al3+, Fe3+. Hasil penelitian di lahan sulfat masam pada sistem reklamasi garpu Unit
Tatas, Kalimantan Tengah menunjukkan tanggapan P muncul secara jelas pada pemberian
bersaam dengan kapur, teapi pada takaran >2 ton kapur/ha pengaruh pemberian P tidak
muncul secara jelas. Pemberian 90 kg P 2O5/ha yang dikombinasikan dengan 1,50 ton
kapur/ha dapat meningkatkan hasil padi sebesar 90 % (2,38 ton GKG/ha) dibandingkan
dengan kontrol (1,22 ton GKG/ha). Pemberian P saja hanya meningkatkan hasil padi sebesar
25 % (1,50 ton GKG/ha) dan kapur saja hanya meningkatkan hasil padi sebesar 60 % (2,06
ton KG/ha). Hasil penelitia menunjukkan juga bahwa pengaruh residu P masih tampak
sampai dengan tanam ketiga (Noor, 1996). Hasil penelitian di lahan sulfat masam pada
sistem jaringan tat air Samuda Kedah, Semenanjung Malaysia menunjukkan pemberian fosfat
alam setara 100 kg P 2O5/ha yang dikombinasikan dengan kapur 2 ton/ha dapat meningkatkan
hasil padi sebesar 15 % (4,09 GKG/ha) dan tanpa kapur meningkatkan hasil padi hanya
sebesar 5 % (3,76 ton GKG/ha) (Arulando dan Pheng, 1982).

Pemberian P dalam bentuk fosfat alam menunjukkan lebih unggul dibandingkan dengan
bentuk superfosfat (TSP atau SP-36). Pupuk fosfat alam adalah bahan galian yang sebagian
besar mengandung kalsium fosfat yang disebut apatit (Ca 10(PO4)6F2) berbentuk serbuk (prill)
yang dapat digunakan langsung. Selain kandungan unsur ikutan yang tinggi seperti Ca, Mg,
dan sebagainya, fosfat alam bersifat pelepas P lambat (slow release) sehingga cocok untuk
tanah-tanah masam. Pengaruh fosfat alam selain tergantung pada mutu dan kadar P -nya, juga
sifat reaksi yang ditimbulkannya. Berdasarkan kuat lemahnya reaksi, fosfat alam dapat
dipilah antara yang bereaksi lemah (soft), sedang dan kuat (strong). Dalam simposium
internasional tanah sulfat masam di Bangkok, Thailand (1982) banyak dikemukakan tentang
pengaruh pemberian fosfat alam terhadap perubahan kimia dan hasil padi di lahan sulfat
masam.



Bersambung ke bagian 4 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini:


Pustaka:

Madjid, A. R.2009.Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Bahan Ajar Online untuk mata kuliah: (1) Dasar-
Dasar Ilmu Tanah, (2) Kesuburan Tanah, dan (3) Pengelolaan Kesuburan Tanah Lanjut. Fakultas
Pertanian Unsri & Program Pascasarjana Unsri. http://dasar2ilmutanah.blogspot.com/.
Diposkan oleh Dr. Ir. Abdul Madjid, MS di 01:28 0 komentar
Label: Kesuburan Tanah

Pengelolaan Kesuburan Tanah Sulfat Masam (Bagian 4.A)

Pengelolaan Kesuburan Tanah Sulfat Masam*

Oleh: Masayu Rodiah** dan Abdul Madjid Rohim***

(Bagian 4.A dari 5 Tulisan)



Keterangan:

* : Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah, Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister
(S2), Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya. Palembang, Propinsi Sumatera Selatan,
Indonesia.

** : Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2), Program Pascasarjana, Universitas
Sriwijaya. Palembang, Propinsi Sumatera Selatan, Indonesia.

*** : Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah, Program Studi Ilmu Tanaman, Program
Magister (S2), Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya. Palembang, Propinsi Sumatera
Selatan, Indonesia.

(Bagian 4.A dari 5 Tulisan)


IV. PENGELOLAAN KESUBURAN PADA TANAH SULFAT MASAM


A. Pengelolaan Bahan Organik

Pengelolaan bahan organik di lahan sulfat masam memegang peranan penting. Walaupun
pada umumnya kadar bahan organik di lahan sulfat masam cukup tinggi, khususnya yang
berasosiasi dnegan gambut, tetapi di beberapa tempat kadar bahan organik tanah mengalami
kemerosotan karena pembakaran atau terbakar, perombakan alamiah, terangkut melalui
tanaman, dan tererosi/terlindi. Penyiapan lahan dengan membakar umum, tidak saja
dilakukan oleh petani atau peladangyang miskin, tetapi juga oleh perusahaan perkebunan
yang bermodal besar karena dianggap mudah dan lebih murah.

Bahan organik tidak hanya berperanan dalam memperbaiki fisik tanah, tetapi sekaligus
berperan dalam menekan oksidasi pirit. Dalam konteks tanah sulfat masam, kompos humus
(bahan organik) mempunyai fungsi untuk menurunkan atau mempertahankan suasana reduksi
karena dapat mempertahankan kebasahan tanah sehingga oksidasi pirit dapat ditekan.
Penekanan terhadap oksidasi pirit ini penting artinya bagi pertumbuhan tanaman yang peka
terhadap peningkatan kemasaman dan kadar meracun kation-kation seperti Al 3+, Fe2+, Mn2+,
dan anion-anion seperti sulfida dan sisa-sisa asam organik.

Penyiapan lahan secara konvensional oleh petani petani tradisional dengan sistem tajak-
puntal-hambur sebagaimana dkemukakan di atas merupakan kearifan lokal (indigenous
knowledge) dalam pengelolaan bahan organik yang patut dikembangkan. Proses
pengomposan praktis diserahkan kepada kebesaran alam dengan memanfaatkan
mikroorganisme perombak anaerob. Hasil analisis kompos dari purun (Eleocharis sp.), bura-
bura (Panicum repens), kerisan (Rhynchospora corymbosa) menunjukkan mengandung rata-
rata 31,74 % organik karbon, 1,96 % N, 0,68 % P, dan 0,64 % K (Balittra, 2001).

Kadar bahan organik tanah di sulfat masam perlu dipertahankan pada taraf 5 %, terutama
pada tipe luapan c untuk mempertahankan kebasahan tanah dan potensial redoks. Pada lahan
sulfat masam yang lapisan atasnya berupa gambut atau lahan-lahan gambut yang dibawahnya
terdapat lapisan pirit keberadaan lapisan piritnya perlu dipertahankan setebal antara 15 -25
cm (Noor, 2001). Lahan-lahan gambut yang mempunyai lapisan pirit di bawahnya (seperti
jenis tanah Sulfihemist, dan Sulfohemist) merupakan lahan yang sangat berbahaya dan
beresiko serta sukar penulihan kembali apabila terdegradasi bila dibandingkan jenis lahan
sulfat masam seperti Sulfaquent. Produktivitas dan kesuburan tanah rawa pasang surut
berkaitan erat dengan ketebalan lapisan gambut atau kadar bahan organik tanah
(Notohadiprawiro, 1998b).


Bersambung ke bagian 4.B yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini:


Pustaka:

Madjid, A. R. 2009. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Bahan Ajar Online untuk mata kuliah: (1) Dasar-
Dasar Ilmu Tanah, (2) Kesuburan Tanah, dan (3) Pengelolaan Kesuburan Tanah Lanjut. Fakultas
Pertanian Unsri & Program Pascasarjana Unsri. http://dasar2ilmutanah.blogspot.com.

Diposkan oleh Dr. Ir. Abdul Madjid, MS di 01:23 0 komentar
Label: Kesuburan Tanah

Pengelolaan Kesuburan Tanah Sulfat Masam (Bagian 4.B)

Pengelolaan Kesuburan Tanah Sulfat Masam*

Oleh: Masayu Rodiah** dan Abdul Madjid Rohim***


(Bagian 4.B dari 5 Tulisan)
Keterangan:

* : Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah, Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister
(S2), Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya. Palembang, Propinsi Sumatera Selatan,
Indonesia.

** : Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2), Program Pascasarjana, Universitas
Sriwijaya. Palembang, Propinsi Sumatera Selatan, Indonesia.

*** : Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah, Program Studi Ilmu Tanaman, Program
Magister (S2), Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya. Palembang, Propinsi Sumatera
Selatan, Indonesia.

(Bagian 4.B dari 5 Tulisan)


B. Teknologi Ameliorasi dan Pemupukan pada Lahan Sulfat Masam

Ameliorasi tanah sulfat masam untuk memperbaiki sifat kimia dan fisik tanah harus dilakukan
terlebih dahulu sebelum pemupukan dilaksanakan. Pemupukan tanpa perbaikan tanah tidak akan
efisien bahkan tidak respon. Produktivitas tanah sulfat masam biasanya rendah, disebabkan oleh
tingginya kemasaman (pH rendah), kelarutan Fe, Al, dan Mn serta rendahnya ketersediaan unsur
hara terutama P dan K dan kejenuhan basa yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman (Dent,
1986). Oleh karena itu tanah seperti ini memerlukan bahan pembenah tanah (amelioran) untuk
memperbaiki kesuburan tanahnya sehingga produktivitas lahannya meningkat. Bahan amelioran
yang dapat digunakan adalah kaptan dan Rock Phosphate. Kaptan digunakan untuk
meningkatkan pH tanah sedangkan Rock Phosphate untuk memenuhi kebutuhan hara P-nya.

Beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan dalam menetapkan kebutuhan kapur menurut (Mc
Lean, 1982, dalam Al-Jabri, 2002) adalah 1) derajat pelapukan dari tipe bahan induk, 2)
kandungan liat, 3) kandungan bahan organik, 4) bentuk kemasaman, 5) pH tanah awal, 6)
penggunaan metode kebutuhan kapur, dan 7) waktu. Penetapan kebutuhan kapur untuk tanah
sulfat masam dapat dilakukan melalui beberapa metode, yaitu : 1) kebutuhan kapur berdasarkan
metode inkubasi, 2) metode titrasi, dan 3) berdasarkan Al-dd. Penetapan kebutuhan kapur
dengan metode inkubasi dilakukan dengan mencampurkan kapur dan tanah serta air dalam
beberapa dosis kapur selama beberapa waktu tertentu, biasanya dari satu minggu sampai
beberapa minggu. Lalu kebutuhan kapur ditentukan pada nilai pH tertentu. Menurut Mc. Lean
(1982 dalam Al-Jabri 2002), kelemahan metode ini adalah terjadinya akumulasi garam (Ca, Mg,
dan K) sehubungan dengan aktivitas mikroba sehingga takaran kapurnya lebih tinggi. Penetapan
kebutuhan kapur berdasarkan metode titrasi dengan NaOH 0,05 N untuk mencapai pH tertentu
lebih rendah jika dibandingkan dengan metode inkubasi dan Al-dd KCl 1 N, tetapi cara ini
lambat tidak sesuai untuk analisis rutin (Al-Jabri, 2002). Walaupun kebutuhan kapur dengan
metode titrasi lebih rendah, tetapi sebagian besar dari kemasaman tanah tidak dinetralisir oleh
basa. Hal ini disebabkan reaksi antara kation-kation asam yang dapat dititrasi berlangsung sangat
lambat. Penetapan kebutuhan kapur berdasarkan Al-dd KCl 1,0 N banyak dipertanyakan, sebab
tingkat keracunan Al bervariasi dengan tanaman dan tanah. Karena tingkat keracunan untuk
suatu jenis tanaman mempunyai variasi lebar dalam tanah yang berbeda maka Al-dd tidak
digunakan sebagai parameter yang menentukan keracunan tetapi persentase kejenuhannya.

Hasil penelitian di rumah kaca dan lapangan ternyata pemberian dosis kapur berdasarkan titrasi
dan inkubasi dapat diaplikasikan pada tanah sulfat masam potensial bergambut di Lamunti ex.
PLG Kalimantan Tengah (Suriadikarta dan Sjamsidi, 2001), tanah sulfat masam umumnya
ketersediaan hara P dan K rendah namun bila bahan organiknya tinggi maka P dan K biasanya
tinggi pula. Pada tanah sulfat masam aktual kadar P dan K dalam tanah sangat rendah sehingga
pemupukan P dan K sangat diperlukan. Pemupukan P diberikan 100 kg TSP/ha atau 125 kg SP-
36/ha yang setara dengan 200 kg RP/ha (Hartatik, 1999 dan Supardi et al., 2000). Rock
Phosphate yang baik mutunya untuk tanah ini adalah Rock Phosphate Maroko Ground karena
mempunyai kandungan Ca yang tinggi yaitu 27,65% dan kadar P2O5 total 28,8% (Suriadikarta
dan Sjamsidi, 2001). Hasil penelitian di lahan rawa menunjukkan pupuk kalium cukup diberikan
100 kg KCl/ha untuk tanaman padi sawah.

Tanah sulfat masam di Pulau Petak sangat respon terhadap pemupukan P baik yang berasal dari
TSP maupun dari Rock Phosphate. Hasil penelitian Manuelpillei et al. (1986) di kebun
percobaan Unitatas BARIF pemberian 135 kg P2O5/ha, 1.000 kg kaptan/ha, 50 kg K2O/ha, dan
120 kg N/ha dapat meningkatkan hasil tanaman padi menjadi 2,45 t/ha GKG terjadi delapan kali
lipat peningkatan bila dibandingkan dengan kontrol (tanpa P dan Kaptan). Pemberian 90 kg
P2O5/ha dan kaptan 500 kg/ha menghasilkan 2,21 t/ha GKG, hasil ini tidak berbeda nyata
dengan pemberian 135 kg P2O5/ha dan kaptan 1.000 kg/ha.

Pemberian Rock Phosphate pada tanah sulfat masam juga menunjukkan tidak ada perbedaan
yang nyata dengan penggunaan TSP, hal ini disebabkan terjadinya proses penyanggaan Rock
Phophate dalam media yang sangat masam, menghasilkan bentuk P yang meta-stabil seperti
Dicalsium phophate yang tersedia untuk tanaman. Subiksa et al. (1999), menunjukkan pemberian
dolomit 2 t/ha dan SP-36 200-300 kg/ha dapat menghasilkan rata-rata 4,0 t/ha GKG pada tanah
sulfat masam potensial di Kecamatan Telang, Kabupaten Muba, Sumatera Selatan.

Dalam penelitian pada tanah sulfat masam potensial di Tabung Anen Kalimantan Selatan
pemberian pupuk P + kalium + bahan organik dan kapur masing-masing sebesar 43 kg P/ha, 52
kg K/ha, kapur 1 t/ha dan pupuk kandang 5 t/ha memberikan hasil 3,24 t/ha GKG, pemberian
kapur didasarkan kepada metode inkubasi untuk mencapai pH 5 (Hartatik et al., 1999).
Sedangkan pemupukan P berdasarkan kepada kebutuhan P untuk mencapai 0,02 ppm P dalam
larutan tanah. Di Belawang kebutuhan kapurnya lebih tinggi yaitu sebesar 4 t/ha, respon
pemupukan P dan K tertinggi dicapai pada perlakuan P optimum (100 kg P/ha), K 78 kg/ha, dan
4 t kapur/ha. Hasil itu dapat dipahami karena tanah sulfat masam aktual di Belawang piritnya
telah mengalami oksidasi sehingga Al-dd tinggi dan P tersedia rendah. Hasil penelitian
pemupukan P dan kapur pada tanah sulfat masam pada beberapa lokasi penelitian disajikan pada
Tabel 4.3. P-alam yang telah dicoba untuk tanah sulfat masam dan memberikan hasil yang sama
baiknya adalah P-alam Tunisia, Ciamis, Christmas, dan Aljazair.

Di Lamunti, ex PLG Kalimantan Tengah P-alam setara dengan 150 kg P2O5/ha rata-rata dapat
memberikan hasil 4,5 t/ha GKG, tetapi kalau diberikan 75 kg P2O5/ha hasil yang diperoleh
hanya 3,79 t/ha GKG, sedangkan di Palingkau Kalimantan Tengah dengan dosis yang sama
dapat memberikan masing-masing 3,7 t/ha dan 3,4 t/ha GKG (Supardi et al., 2000). Pemupukan
P-alam hingga 60% erapan maksimum P dalam tanah sulfat masam Sumber Agung dan Sumber
Rejo di Pulau Rimau, Sumatera Selatan dapat meningkatkan kadar P tersedia, namun belum
dapat menurunkan kadar unsur beracun Fe2+, Fe-Al oksida, dan amorf serta sulfat dalam tanah.
Unsur beracun diatas ditemukan dalam jumlah yang lebih tinggi pada tanah sulfat masam
potensial yang baru teroksidasi dibandingkan tanah sulfat masam aktual (Setyorini, 2001). Oleh
karena itu diperlukan kehati-hatian dalam mereklamasi atau melakukan pencucian/drainase di
tanah sulfat masam potensial, apalagi jika kandungan liat tinggi. Lebih lanjut ia menyatakan
bahwa erapan P maksimum pada tanah sulfat masam aktual mencapai 2,000 µg P/g sedangkan
pada sulfat masam potensial sedikit lebih rendah yaitu sekitar 1,666 µg P/g. Nilai erapan
maksimum yang tinggi pada sulfat masam aktual dari pada sulfat masam potensial diakibatkan
perbedaan kadar dan jenis liat, kadar pirit, pH, Al dan Fe, serta bahan organik. Ditinjau dari
distribusi bentuk P-anorganik pada tanah sulfat masam diatas, terlihat bahwa fraksi Fe-P dan Al-
P mendominasi jumlah P anorganik pada tanah sulfat masam potensial sedangkan fraksi Al-P
dan Ca-P dominan pada sulfat masam aktual. Faktor-faktor yang mempengaruhi ketersediaan P
pada tanah sulfat masam antara lain pH, Alo, Feo, Ald, Fed, dan pirit. Tingginya kadar Fe dan Al
bentuk amorf pada tanah sulfat masam mempengaruhi distribusi fraksi Panorganik (Setyorini,
2001).

Dari hasil penelitian Konsten dan Sarwani (1990), di Pulau Petak Kalimantan Selatan, diperoleh
bahwa oksidasi pirit setelah reklamasi membuat tanah di daerah tersebut sangat masam, dijenuhi
oleh Al dan mempunyai pH antara 3 dan 4. Adanya garam-garam besi bebas dan Al
menyebabkan keracunan tanaman dan defisiensi K dan Ca sangat sering terjadi. Kemasaman
tanah aktual dari tanah sulfat masam di Pulau Petak diduga dengan titrasi cepat pada pH 5,5,
jumlah Al-dd sampai 60 mmol/g. Kemasaman tanah aktual untuk tanah pH kurang dari 4 adalah
20 mmol/100 g yang setara dengan keperluan kapur 15 t/ha. Potensi kemasaman sangat tinggi
dengan kandungan pirit mencapai 8%.

Selanjutnya Konsten dan Sarwani (1990) mengemukakan bahwa untuk mengatasi kemasaman
aktual yang tinggi dapat dilakukan dengan drainase dangkal, pencucian intensif tanah lapisan
atas, yang dikombinasikan dengan pemberian kapur dan pupuk kalium.


Bersambung ke bagian 4.C yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini:


Pustaka:

Madjid, A. R. 2009. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Bahan Ajar Online untuk mata kuliah: (1) Dasar-
Dasar Ilmu Tanah, (2) Kesuburan Tanah, dan (3) Pengelolaan Kesuburan Tanah Lanjut. Fakultas
Pertanian Unsri & Program Pascasarjana Unsri. http://dasar2ilmutanah.blogspot.com.

Diposkan oleh Dr. Ir. Abdul Madjid, MS di 01:16 0 komentar
Label: Kesuburan Tanah
Pengelolaan Kesuburan Tanah Sulfat Masam (Bagian 4.C)

Pengelolaan Kesuburan Tanah Sulfat Masam*

Oleh: Masayu Rodiah** dan Abdul Madjid Rohim***

(Bagian 4.C dari 5 Tulisan)


Keterangan:

* : Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah, Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister
(S2), Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya. Palembang, Propinsi Sumatera Selatan,
Indonesia.

** : Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2), Program Pascasarjana, Universitas
Sriwijaya. Palembang, Propinsi Sumatera Selatan, Indonesia.

*** : Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah, Program Studi Ilmu Tanaman, Program
Magister (S2), Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya. Palembang, Propinsi Sumatera
Selatan, Indonesia.


(Bagian 4.C dari 5 Tulisan)


C. Penggunaan Varietas yang Adaptif

Tanaman yang dapat diusahakan dilahan sulfat masam antara lain tanaman padi, palawija
(jagung, kedelai, kacang tanah, dan kacang hijau), sayuran (cabe, kacang panjang, kubis, tomat,
dan terong), buah-buahan (rambutan, nanas, pisang, jeruk, nangka, dan semangka), dan tanaman
industri (kelapa dan lada) (Suwarno et al., 2000). Tanaman tersebut dapat tumbuh baik bila
tanahnya masih SMP dan sistem tata air mikro seperti saluran drainase dan ameliorasi tanah
dilakukan dengan baik sesuai kondisi lahannya. Namun walaupun banyak tanaman pangan,
buah-buahan, sayuran, dan tanaman industri dapat tumbuh di lahan rawa sulfat masam faktor
pemasaman perlu dipertimbangkan.


a. Padi dan palawija

Penelitian adaptabilitas tanaman padi sawah telah lama dilakukan di lahan pasang surut
khususnya pada tanah sulfat masam dan pertumbuhan tanaman padi lebih baik pada tanah sulfat
masam dibandingkan pada tanah gambut dalam. Penelitian dimulai sejak sebelum Proyek
Swamps sampai berakhir pada Proyek ISDP tahun 2000. Menurut Suwarno et al. (2000) sampai
saat ini telah dilepas secara resmi 11 varietas yang cocok di lahan pasang surut (Tabel 4.4). Dari
11 varietas di atas nampaknya yang akan cocok untuk di lahan sulfat masam adalah Mahakam,
Kapuas, Lematang, Sei Lilin, Banyuasin, Lalan, Batang hari, dan Dendang.

Namun untuk tanah sulfat masam aktual dimana kadar Al dan Fe sangat tinggi lebih baik
ditanami varietas lokal yang telah adaptif seperti varietas Ceko, Jalawara, Talang, Gelombang,
dan Bayur. Mengingat kondisi kesuburan tanah sulfat masam sangat beragam maka pemupukan
perlu disesuaikan dengan hasil analisis tanahnya.

Tanaman palawija umumnya ditanam di lahan pekarangan sebagai kebun campuran dengan
tanaman buah-buahan dan sayuran. Varietas kedelai yang cocok untuk tanah sulfat masam
adalah varietas Wilis, Rinjani, Lokon, dan Dempo. Varietas kedelai tersebut mampu memberikan
hasil 1,5- 2,4 t/ha, kacang tanah 3,5 t/ha, dan kacang hijau 1,2 t/ha biji kering, dan jagung yang
sesuai adalah varietas Arjuna dengan hasil 3-4 t/ha biji pipilan kering.


b. Sayuran dan buah-buahan

Teknik penggunaan amelioran dan pengelolaan hara terpadu serta penggunaan benih bermutu
dengan waktu tanam yang tepat merupakan persyaratan utama keberhasilan sayuran di lahan
rawa (Satsiyati et al., 1999). Namun keberadaan lokasi pengembangan yang terletak jauh
dipedalaman dan tidak didukung oleh infrastruktur dan sarana menjadi hambatan untuk
pemasaran hasil sayuran.

Tanaman buah-buahan ditanam di pekarangan pada guludan adalah pisang, nangka, dan
rambutan atau jeruk. Tanam sayuran dan pisang cepat memberikan kontribusi terhadap
pendapatan petani terutama pada tahun pertama mereka tinggal di tempat pemukiman baru. Hasil
penelitian Proyek Swamps di lahan pekarangan lahan sulfat masam di Karang Agung Ulu
(1987/1988), komoditas hortikultura mampu memberikan pendapatan lebih besar dari pada
tanaman pangan dengan rincian 65,4% untuk tanaman sayuran dan 34,6% untuk tanaman pangan
(Subiksa dan Basa, 1990).

Jenis sayuran yang telah diteliti pada tanah sulfat masam adalah tomat varietas Ratna dan Intan
dengan potensi hasil masing-masing 18,54 t/ha dan 13,4 t/ha. Petsai yang sesuai hanya ada satu
varietas yaitu No. 82-157 dengan potensi hasil 15,6 t/ha. Selanjutnya bawang merah varietas
Ampenan dan Bima dapat beradaptasi cukup baik pada tanah sulfat masam dengan potensi hasil
6,4 dan 6,15 ton umbi kering/ha (Sutater et al., 1990). Dosis pemupukan tanaman sayuran dan
buah-buahan disajikan pada Tabel 4.6.


c. Tanaman industri/perkebunan

Hasil penelitian di Sumatera Selatan dan Kalimantan Tengah ex PLG tanaman
industri/perkebunan yang dapat beradaptasi di lahan sulfat masam adalah kopi, kelapa, dan lada.

a. Kelapa
Tanaman kelapa merupakan komoditas tanaman di lahan pasang surut, sebagai sentra produksi
kelapa sebaran tanaman kelapa di Provinsi Riau diperkirakan > 60% (Mahmud, 1990). Jenis
kelapa yang sesuai adalah kelapa lokal, yang dikenal memiliki daya adaptasi dan toleransi
terhadap lingkungan tumbuh sangat luas.

Tanaman kelapa dapat ditanam tumpangsari dengan tanaman kopi, palawija, dan hortikultura.
Namun ada juga yang ditanam secara monokultur di guludan seperti di Riau. Di Karang Agung
Ulu dan Karang Agung Tengah produksi kelapa rata-rata berkisar 7-18 butir/pohon/periode petik
dan 10-17 butir/pohon/periode petik.

Pupuk yang diberikan untuk tanaman kelapa masing- masing diberikan per pohon, tergantung
kepada umur tanaman (Tabel 4.7). Pemberian pupuk N, P, dan K paling tinggi pada umur
tanaman kelapa 3 tahun.


b. Temu-temuan

Jenis tanaman temu-temuan di antaranya jahe, kencur, kunyit, temulawak, lengkuas, dan bangle
di lokasi pasang surut cukup baik pertumbuhannya dan dapat dikembangkan secara monokultur
dan tumpangsari dengan tanaman palawija atau tanaman tahunan yang tidak terlalu tinggi tingkat
naungannya (Anonimous, 1993 dan Anonimous, 1999). Persyaratan tumbuh tanaman temu-
temuan menghendaki tanah yang gembur dan subur, pH tanah normal dan tidak tahan genangan
air, sehingga upaya perbaikan tanah meliputi pemberian kaptan, pemupukan, pembuatan saluran
cacing yang intensif, dan penambahan lapisan gambut akan memberikan pertumbuhan dan
produksi rimpang yang optimum.

Temu-temuan diharapkan dapat menunjang sistem usahatani di lahan pasang surut yang
mempunyai fungsi ganda dapat dimanfaatkan sebagai bumbu dan dapat digunakan sebagai obat
alternatif baik untuk manusia maupun ternak, di antaranya kunyit, temulawak, jahe, kencur (obat
reumatik pegel linu), lempuyang (pegel linu) temu ireng dan bangle (obat cacing), temu giring
(obat panas dan batuk).

Sebagai contoh untuk ternak, jahe dapat mencegah gejala tetelo (ND), dan temulawak dapat
menekan berkembangnya bakteri di kotorannya, sehingga bau limbah dapat ditekan. Produksi
temu-temuan cukup bagus, jahe merah di Karang Agung Ulu (Anonimous, 1993) dengan
pemupukan 45 kg N + 36 kg P2O5 + 50 kg K2O + 200 kg kapur + 1,5 ton gambut/hektar
memberikan hasil 15,5-23,6 t/ha. Sedangkan untuk jahe putih kecil atau emprit produksi 4,9-8,5
t/ha dan jahe putih besar varietas gajah produksi 4,5-5,9 t/ha. Demikian juga dari Kalimantan
Tengah produksi jahe putih kecil cukup baik 0,7-1,0 kg/rumpun. Produksi tanaman kencur juga
cukup baik di Karang Agung Ulu dapat mencapai 11,2-20,1 t/ha, dan dari uji produksi di
Kalimantan Tengah juga menunjukkan produksi yang baik yaitu mencapai 200-300 g/rumpun.

c. Lada

Tanaman lada varietas Petaling I, Petaling II, dan LDK dapat tumbuh dan beradaptasi baik di
lahan pasang surut potensial maupun sulfat masam aktual Karang Agung Ulu. Pada lahan
potensial pengapuran dengan takaran 2-3 kg/tanaman dapat mempengaruhi produksi buah lada
sampai panen ke-3 (panen pertama 28 bulan). Sedangkan pada lahan sulfat masam, pembuatan
saluran cacing di kanan dan di kiri tanaman memberikan hasil tertinggi yaitu 140, 300, dan 230
gram per pohon masing-masing pada panen pertama, kedua, dan ketiga.

Saluran cacing ini ditujukan untuk menjamin drainase yang baik agar kelembaban tanah tidak
berlebihan bagi tanaman lada. Karena lada memerlukan bahan organik tinggi maka
pengembangan di lahan bergambut tipis lebih sesuai untuk tanaman lada produktif, pemupukan
tiga kali setahun dengan interval empat bulan sekali dengan takaran 512 g urea + 880 g TSP +
600 g KCl + 60 g kiserit per pohon memberikan hasil tertinggi yaitu 1,22 kg/pohon (Anonimous,
1993). Tiang panjat seperti lamtoro gung (Leucaena sp.) dan waru-waruan dengan pemangkasan
empat kali setahun memberikan pertumbuhan yang baik terhadap lada di Karang Agung Ulu ini.




Bersambung ke bagian 4.D yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini:


Pustaka:

Madjid, A. R. 2009. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Bahan Ajar Online untuk mata kuliah: (1) Dasar-
Dasar Ilmu Tanah, (2) Kesuburan Tanah, dan (3) Pengelolaan Kesuburan Tanah Lanjut. Fakultas
Pertanian Unsri & Program Pascasarjana Unsri. http://dasar2ilmutanah.blogspot.com.

Diposkan oleh Dr. Ir. Abdul Madjid, MS di 01:08 0 komentar
Label: Kesuburan Tanah

Pengelolaan Kesuburan Tanah Sulfat Masam (Bagian 4.D)

Pengelolaan Kesuburan Tanah Sulfat Masam*

Oleh: Masayu Rodiah** dan Abdul Madjid Rohim***


(Bagian 4.D dari 5 Tulisan)


Keterangan:

* : Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah, Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister
(S2), Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya. Palembang, Propinsi Sumatera Selatan,
Indonesia.

** : Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2), Program Pascasarjana, Universitas
Sriwijaya. Palembang, Propinsi Sumatera Selatan, Indonesia.
*** : Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah, Program Studi Ilmu Tanaman, Program
Magister (S2), Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya. Palembang, Propinsi Sumatera
Selatan, Indonesia.


(Bagian 4.D dari 5 Tulisan)



D. Pengelolaan Tanah dan Air

Pengelolaan tanah dan air (soil and water management) merupakan kunci utama untuk
keberhasilan pengembangan pertanian di lahan rawa pasang surut, termasuk tanah sulfat masam.
Pengelolaan tanah dan air ini meliputi jaringan tata air makro maupun mikro, penataan lahan,
ameliorasi, dan pemupukan.


a. Jaringan tata air makro

Pengembangan lahan rawa meliputi kegiatan reklamasi dan pengelolaan. Kegiatan reklamasi
dimulai dari perencanaan, penelitian dan pelaksanaan di lapangan. Penelitian yang mendukung
perencanaan reklamasi sangat diperlukan terutama penelitian sumberdaya lahan meliputi tanah,
air, iklim, dan hidrologi serta aspek lingkungan. Dalam pelaksanaannya reklamasi mencakup
pekerjaan penebangan hutan dan pembakaran, konstruksi jalan, dan pembuatan saluran drainase
(Widjaja-Adhi, 1995).

Sistem reklamasi lahan rawa di Indonesia telah dilakukan sejak proyek P4S yang dimulai awal
Pelita I di lahan rawa pasang surut pantai timur Sumatera, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan
Selatan serta Kalimantan Barat. Menurut Subagjo dan Widjaja-Adhi (1998) selama PJP I telah
ditetapkan lima sistem jaringan tata air makro, yaitu: 1) sistem garpu, 2) tangga, 3) sisir tunggal,
4) sisir berpasangan, dan 5) kombinasi garpu dengan sisir.

Selain kelima sistem tersebut UGM telah mengkombinasikan dengan pembuatan kolam pada
ujung saluran primer atau sekunder (Gambar 1) yang disebut dengan sistem kolam. Keuntungan
dari sistem kolam ini adalah asamasam atau racun dapat diendapkan dalam kolam tersebut tidak
masuk ke dalam lahan pertanian dan memelihara aliran sewaktu air surut. Sistem kolam ini telah
dilaksanakan di Pulau Petak dan Barabai Kalimantan Selatan.


Sistem jaringan tata air tersebut sebenarnya tidak berlaku umum tetapi tergantung kepada
tipologi lahan dan tipe luapan di daerah itu. Sistem jaringan tata air selain dibedakan menurut
bentuknya dapat pula dibedakan menurut hubungan tata air, yaitu sistem terbuka dan sistem
tertutup. Sistem reklamasi jaringan tertutup adalah cara pembukaan lahan yang jaringan tata
airnya tidak berhubungan satu sama lain (zonasi). Sistem ini seperti yang dilakukan oleh petani
Suku Banjar di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah dan Suku Bugis di Pulau Sumatera.
Pada sistem tertutup ini pembuatan saluran atau handil sangat hati-hati dengan memperhatikan
karakteristik tanah dan tipe luapan air sungai. Handil itu dibuat tegak lurus sungai ke arah hutan
mengikuti garis kontur sehingga handil itu tidak selalu lurus dan panjangnya tergantung air
pasang masuk (4-10 km). Cara reklamasi seperti ini umumnya berhasil dalam meningkatkan
produktivitas lahan rawa, terutama padi, palawija, dan tanaman buah-buahan.

Berdasarkan hasil penelitian Badan Litbang Pertanian bahwa lahan pasang surut memiliki
prospek yang besar untuk dikembangkan menjadi lahan pertanian terutama dalam kaitannya
dalam mendukung program ketahanan pangan dan agribisnis melalui peningkatan dan
diversifikasi produksi, peningkatan pendapatan dan lapangan kerja. Namun untuk mendukung
kearah pengembangan pertanian yang berhasil dan berkesinambungan dilahan pasang surut ada
dua hal penting yang harus diperhatikan dalam reklamasi lahan, yaitu pemanfaatan jaringan tata
air berikut salurannya dan tata ruang untuk penataan lahannya (Widjaja-Adhi dan Alihamsyah,
1998).

Selanjutnya dalam pembuatan saluran baik primer, sekunder dan tersier perlu memperhatikan
tata letak, dimensi dan cara pembuatan salurannya disesuaikan dengan fisiografi dan kondisi
lahan sehingga menunjang kelestarian dan produktivitas lahan. Pembuatan saluran harus
mengikuti atau memperhatikan garis kontur dan tipologi lahannya. Saluran dengan
mempertimbangkan garis kontur maka aliran air dapat mengalir dengan baik, tinggi air di saluran
rata.

Hal ini akan sangat berpengaruh dalam proses pencucian bahan-bahan beracun dari lahan ke
saluran dan seterusnya ke sungai berjalan lancar. Dimensi dan kedalaman saluran perlu
dipertimbangkan sehubungan dengan keadaan hidrologi di daerah tersebut, sebab penurunan
muka air yang drastis akan mengakibatkan teroksidasi lapisan pirit, besi, Al, dan sulfat akan
muncul ke permukaan dan dengan adanya air hujan akan meningkatkan kemasaman (pH) air di
saluran.

Selain itu penurunan permukaan air yang drastis juga akan menyebabkan gambut kering tak
balik (irrevisible drying) sehingga akan mempercepat penurunan permukaan gambut
(subsidence) dan atau cepat hilangnya lapisan gambut. Pembuatan tata ruang sebelum saluran
dibuat perlu memperhatikan dan mempertimbangkan pola penggunaan lahan hipotetik yang
dikemukakan oleh Widjaja-Adhi, (1992). Menurut Harjono, (1995) sedikitnya terbuka lima
peluang fungsi dari jaringan pengairan rawa, yaitu 1) berfungsi sebagai saluran drainase, 2)
sebagai pemasukan air, 3) sebagai alat trasportasi, 4) berfungsi sebagai konservasi sumberdaya
air rawa, dan 5) sebagai pendukung bagi proses reklamasi.

Untuk mencapai jaringan tata air ini hendaknya berpegang kepada pola penggunaan lahan dan
pola pemanfaatan sekaligus diharapkan dapat berfungsi sebagai saluran drainase, pemasok air,
mendukung proses reklamasi, dan konservasi sumber air. Fungsi jaringan tata air sebagai alat
transportasi perlu dipertimbangkan pada tahapan mana ini dapat diberlakukan. Pada tahap
saluran primer dan sekunder mungkin fungsi ini dapat diberlakukan, tetapi untuk tersier
sebaiknya tidak dianjurkan. Pembuatan pintu air pada saluran primer atau sekunder seperti
dilahan ex-PLG sangat tidak efisien karena mengganggu fungsi transportasi masyarakat sekitar
sehingga akhirnya dijebol, pengaturan pintu air sebaiknya mulai dilakukan di tingkat tersier ke
bawah.
Dalam rancangan infrastruktur hidrologi, pengelolaan air di lahan pasang surut dibedakan ke
dalam : (1) Pengelolaan air makro, (2) pengelolaan air mikro, dan (3) pengelolaan air tingkat
tersier yaitu mengkaitkan antara pengelolaan air makro dan pengelolaan air mikro (Widjaja-Adhi
dan Alihamsyah, 1998). Pengelolaan air makro yaitu penguasaan air di tingkat kawasan
reklamasi yang bertujuan mengelola berfungsinya jaringan drainase/irigasi (navigasi-
sekundertersier), kawasan retarder dan sepadan sungai/laut dan saluran intersepsi bila diperlukan
serta kawasan tampung hujan.

Kawasan retarder dimaksudkan untuk mengurangi terjadinya banjir di daerah hulu sungai
termasuk mengurangi kedalaman dan lama genangan air dilahan lebak dangkal dan tengahan.
Dalam hal ini, seyogyanya lebak dalam dapat dimanfaatkan sebagai kawasan retarder dengan
jalan diperdalam dan alirannya diarahkan ke sungai di bagian hilirnya.

Saluran itersepsi dimaksudkan untuk menampung aliran permukaan dan sebagai tempat
memproses air yang mengandung bahan beracun agar tidak memasuki areal pertanian. Saluran
ini dibuat di daerah perbatasan lahan kering dan rawa menyerupai waduk panjang serta
diarahkan untuk menyalurkan kelebihan air ke sungai di bagian hilirnya.

Kawasan tampung hujan dimaksudkan sebagai daerah sumber air untuk irigasi. Kawasan
tampung hujan sebaiknya dialokasikan pada lahan gambut di bagian hulu sungai karena gambut
memiliki daya menahan dan melepas air tinggi, yaitu antara 300-800% bobotnya.


b. Tata Air Mikro

Sistem pengelolaan tata air mikro berfungsi untuk : (1) mencukupi kebutuhan evapotranspirasi
tanaman, (2) mencegah pertumbuhan tanaman liar pada padi sawah, (3) mencegah terjadinya
bahan beracun bagi tanaman melalui penggelontoran dan pencucian, (4) mengatur tinggi muka
air, dan (5) menjaga kualitas air di petakan lahan dan di saluran. Untuk lebih memperlancar
keluar masuknya air pada petakan lahan yang sekaligus memperlancar pencucian bahan racun,
Widjaja-Adhi (1995) menganjurkan pembuatan saluran cacing pada petakan lahan dan di
sekeliling petakan lahan. Oleh karena itu, sistem pengelolaan tata air mikro mencakup
pengaturan dan pengelolaan tata air di saluran kuarter dan petakan lahan yang sesuai dengan
kebutuhan tanaman dan sekaligus memperlancar pencucian bahan beracun.

Hasil penelitian Suriadikarta et al. (1999), saluran kuarter biasanya dibuat di setiap batas
pemilikan lahan, sedangkan di dalam petakan lahan dibuat saluran cacing dengan interval 3-12 m
dan di sekeliling petakan lahan tergantung pada kondisi lahannya. Semakin tinggi tingkat
keracunan, semakin rapat pula jarak antar saluran cacing tersebut. Hasil penelitian Subagyono et
al. (1999) pencucian bahan beracun dari petakan lahan dilakukan dengan memasukkan air ke
petakan lahan sebelum tanah dibajak, kemudian air tersebut dikeluarkan setelah pengolahan
tanah selesai. Usaha pencucian ini akan berjalan baik apabila terdapat cukup air segar, baik dari
hujan maupun dari air pasang. Oleh karena itu, air di petakan lahan perlu diganti setiap dua
minggu pada saat pasang besar.
Pengelolaan air tingkat tersier ditujukan untuk mengatur saluran tersier agar berfungsi: (1)
memasukkan air irigasi, (2) mengatur tinggi muka air di saluran dan secara tidak langsung di
petakan lahan, dan (3) mengatur kualitas air dengan membuang bahan beracun yang terbentuk di
petakan lahan serta mencegah masuknya air asin ke petakan lahan. Sistem pengelolaan air di
tingkat tersier dan mikro tergantung kepada tipe luapan air pasang dan keracunan di petakan
lahan.

Penataan air di lahan petani dapat dilakukan dengan sistem aliran satu arah (one-way flow
system) dan sistem aliran yang sifatnya bolak-balik (twoway flow system). Hal yang perlu
mendapat perhatian khusus dalam sistem tata air adalah sinkronisasi antara tata air makro dan
mikro (Subagyono et al., 1999). Misalnya, penerapan aliran sistem satu arah untuk pencucian
hanya akan berjalan efektif jika kondisi saluran tersier, sekunder, dan primer semuanya dalam
kondisi baik dan arah aliran tidak bolak-balik.

Pada sistem aliran satu arah dirancang saluran irigasi dan saluran drainase secara terpisah. Pintu
klep (flapgate) dipasang berlawanan arah. Pada saluran irigasi pintu klep membuka ke arah
dalam sedang pada saluran drainase pintu klep membuka ke arah luar, sehingga pencucian lahan
dapat berlangsung dengan efektif. Pencucian lahan dimaksudkan agar unsur yang bersifat racun
bagi tanaman seperti Fe2+, sulfat, dan Al3+ keluar dari lahan usaha dan pH tanah menjadi lebih
baik.

Tata air pada lahan yang bertipe luapan A dan B perlu diatur dalam sistem aliran satu arah (one
way flow system), sedangkan untuk lahan bertipe luapan C dan D, saluran air perlu
ditabat/disekat dengan stoplog untuk menjaga permukaan air tanah agar sesuai dengan kebutuhan
tanaman serta memungkinkan air hujan tertampung dalam saluran tersebut. Untuk keperluan
pengaturan tata air ini perlu dibangun pintu-pintu yang sesuai sebagai pengendali air. Pintu air
tersebut dapat berupa stoplog maupun pintu ayun atau pintu engsel (flapgate). Skesta kedua
sistem tata air tersebut dapat dilihat pada Gambar 2 dan 3.

Hasil penelitian pengelolaan tata air mikro dengan cara tersebut pada lahan sulfat masam dengan
berbagai sistem penataan lahan di Karang Agung Ulu oleh Djayusman et al. (1995)
menunjukkan adanya peningkatan kualitas lahan dan hasil tanaman dari musim ke musim. Aliran
satu arah dikombinasikan dengan pengolahan tanah memakai traktor tangan dan pemberian
dolomit pada lahan sulfat masam dalam satu unit tata air saluran sekunder (50 ha) oleh Proyek
ISDP (1997), dapat secara cepat meningkatkan kualitas lahan dan memberikan hasil yang baik
bagi tanaman padi dan palawija. Nilai pH air tanah meningkat dari rata-rata 4,2 pada saat
sebelum pengolahan tanah menjadi rata-rata 4,8 pada saat penanaman dan 5,4 pada pada saat
panen (Widjaja-Adhi dan Alihamsyah, 1998). Sedangkan kandungan Fe++ 160 ppm pada saat
tanam dan 72 ppm pada saat panen. Hasil rata-rata ubinan padi varietas Cisadane mencapai 6,26
t/ha GKP sedangkan varietas Cisangarung dapat mencapai 9,44 t/ha GKP.


c. Penataan lahan

Penataan lahan perlu dilakukan untuk membuat lahan tersebut sesuai dengan kebutuhan tanaman
yang akan dikembangkan. Dalam melakukan penataan lahan perlu diperhatikan hubungan antara
tipologi lahan, tipe luapan, dan pola pemanfaatannya seperti pada tipologi sulfat masam potensial
dengan tipe luapan A, maka penataan lahan sebaiknya untuk sawah, karena pirit akan lebih stabil
tidak mengalami oksidasi dan tanaman padi dapat tumbuh dengan baik. Tetapi bila tipe luapan B,
maka pola pemanfaatan lahan dapat dilaksanakan dengan sistem surjan.

Sistem surjan dapat digunakan untuk tanaman padi, palawija, sayuran atau buah-buahan. Untuk
tanah sulfat masam potensial pengolahan tanah dan pembuatan guludan sebaiknya dilakukan
secara hati-hati dan bertahap. Guludan dibuat secara bertahap dan tanahnya diambil dari lapisan
atas. Hal ini dilakukan untuk menghindari oksidasi pirit.

Sistem surjan adalah salah satu contoh usaha penataan lahan untuk melakukan diversifikasi
tanaman dilahan rawa. Lebar guludan 3-5 m, dan tinggi 0,5-0,6 m, sedangkan tabukan dibuat
dengan lebar 15 m. Setiap ha lahan dapat dibuat 6-10 guludan, dan 5-9 tabukan. Tabukan surjan
ditanami padi sawah, sedangkan guludan ditanami dengan palawija, sayuran, dan tanaman
industri (kencur, kopi, dan kelapa). Dari Tabel diatas ditunjukkan bagaimana pola pemanfaatan
lahan dalam kaitannya tipologi lahan dan tipe luapan. Sistem surjan baik dilakukan pada tipe
luapan B dan C sedangkan tipe luapan D lebih baik untuk sistem pertanian lahan kering. Untuk
tanah gambut tekstur lapisan tanah dibawahnya sangat menentukan dalam pola pemanfaatan
lahannya.


Bersambung ke bagian 4.E yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini:




Pustaka:

Madjid, A. R. 2009. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Bahan Ajar Online untuk mata kuliah: (1) Dasar-
Dasar Ilmu Tanah, (2) Kesuburan Tanah, dan (3) Pengelolaan Kesuburan Tanah Lanjut. Fakultas
Pertanian Unsri & Program Pascasarjana Unsri. http://dasar2ilmutanah.blogspot.com.

Diposkan oleh Dr. Ir. Abdul Madjid, MS di 00:59 0 komentar
Label: Kesuburan Tanah

Pengelolaan Kesuburan Tanah Sulfat Masam (Bagian 4.E)

Pengelolaan Kesuburan Tanah Sulfat Masam*

Oleh: Masayu Rodiah** dan Abdul Madjid Rohim***


(Bagian 4.E dari 5 Posting)


Keterangan:
* : Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah, Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister
(S2), Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya. Palembang, Propinsi Sumatera Selatan,
Indonesia.

** : Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2), Program Pascasarjana, Universitas
Sriwijaya. Palembang, Propinsi Sumatera Selatan, Indonesia.

*** : Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah, Program Studi Ilmu Tanaman, Program
Magister (S2), Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya. Palembang, Propinsi Sumatera
Selatan, Indonesia.


(Bagian 4.E dari 5 Posting)




E. Pengelolaan Lahan Sulfat Masam Melalui Aktivitas Mikroorganisme


Tanah sulfat masam merupakan tanah yang mengandung senyawa pirit (FeS2), banyak terdapat
di daerah rawa, baik pada pasang surut maupun lebak. Mikroorganisme sangat berperan dalam
pembentukan tanah tersebut. Pada kondisi tergenang senyawa tersebut bersifat stabil, namun bila
telah teroksidasi maka akan memunculkan problem, bagi tanah, kualitas kimia perairan dan
biota-biota yang berada baik di dalam tanah itu sendiri maupun yang berada di badan-badan air,
dimana hasil oksidasi tersebut tercuci ke perairan tersebut. Mensvoort dan Dent (1998)
menyebutkan bahwa senyawa pirit tersebut merupakan sumber masalah pada tanah tersebut.


Dilihat luasan, topografi dan ketersediaan air, lahan tersebut sebenarnya mempunyai potensi
untuk pengembangan tanaman pangan dan tahunan. Di Indonesia, diperkirakan terdapat sekitar
6,7 ha lahan berpirit tersebut, yang tersebar di pulau Kalimantan, Sumatera, dan Irian (Nugroho
et al., 1992). Topografi termasuk kategori datar (<3%) style=""> air yang bervariasi tergantung
tipe luapan air. Sebagian lahan tersebut telah dibuka untuk pemukiman transmigrasi, dan
ditanami padi, palawija dan buah-buahan dengan hasil yang bervariasi, dan umumnya dibawah
potensi produksi tanaman.


Pembukaan lahan pada tanah tersebut selalu dibarengi dengan pembuatan saluran air untuk
kepentingan transportasi dan dranase/irigasi kawasan tersebut. Tapi dalam kenyataannya,
pengelolaan air tak terkendali dengan baik. Permukaan air tanah turun di bawah permukaan
lapisan pirit, terutama pada musim kemarau. Akibatnya terjadi oksidasi senyawa pirit, yang
menghasilkan asam sulfat, membuat pH tanah sangat masam. Kemasaman yang rendah tersebut
berdampak negatif terhadap sifat kimia tanah dan aktivitas mikroba tanah.
Tanah-tanah yang sudah teroksidasi ini, bila tergenang pada musim hujan, akan terjadi proses
reduksi. Proses tersebut meningkatkan pembentukan besi ferro dan sulfida, yang dapat meracuni
tanaman padi.


Dilihat dari potensi dan dampaknya, maka tanah tersebut membutuhkan pengelolaan yang tepat
dan terintregasi dari berbagai aspek. Untuk itu perlu dipelajari proses-proses oksidasi dan reduksi
dari senyawa pirit tersebut agar diketahui cara-cara pengelolaannya yang sesuai.


Reaksi oksidasi dan reduksi pada tanah tersebut dipengaruhi berbagai aspek, baik kimia, biologi
maupun fisika tanah. Ditinjau dari aspek biologi, maka kecepatan oksidasi senyawa pirit sangat
ditentukan oleh peran dari bakteri pengoksidasi pirit yang disebut Thiobacillus sp.. Sedangkan
dalam kondisi reduksi, pembentukan pirit atau H2S sangat ditentukan olek aktivtas bakteri
pereduksi sulfat Desulfovibro sp. Karena itu dalam pengelolaan tanah sulfat masam dapat
didekati melalui pemanfaatan peranan kedua bakteri tersebut. Namun aktivitas kedua bakteri
tersebut dipengaruhi oleh lingkungannya, karena adanya saling ketergantungan satu sama lain
antara bakteri dan lingkungannya.


Adanya proses oksidasi senyawa pirit dan proses reduksi dari hasil oksidasi tersebut membawa
berbagai dampak negatif bagi pertumbuhan tanaman dan lingkungan sekitarnya. Karena itu perlu
dilakukan upaya penanggulangan agar dampak negatif tersebut dapat ditekan seminimal
mungkin tanpa banyak mengurangi tingkat produksi padi.


Dalam proses oksidasi-reduksi pada tanah sulfat masam, terlihat betapa besarnya peran dari
mikroorganisma, karena itu pendekatan pengelolaan tanah sulfat masam melalui mikroorganisma
dapat didekati melalui:

1. Mencegah atau memperlambat terjadi proses oksidasi, yaitu mencegah kerja dari bakteri
pengoksidasi tersebut, melalui:

 Pemberian bakterisida. Aktivitas bakteri pengoksidasi dapat ditekan melalui pemberian
bakterisida yang spesifik. Hasil pengujian Polford et al. (1988) mendapatkan bahwa bakterisida
seperti Panasida (2,2’ dyhydrpxy 5,5’ dichlorophenylmethane) dan deterjen efektif mencegah
kerja bakteri pengoksidasi Thiobacillus ferrooxidans. Selain itu, berdasarkan hasil penelitian
Arkesteyn (1980), pemberian NaN3 dan N-ethylmaleimide (NEM) mampu menghambat oksidasi
Fe2+ dan So.

 Mengurangi suplai oksigen melalui penggenangan, sehingga kerja bakteri pengoksidasi
terhambat. Menurut Anonim (2002b), adanya udara mempercepat oksidasi S yang menyebabkan
pH turun kurang dari 1. Kemasaman ini menyebabkan masalah pada organisme lain dan
melarutkan logam-logam berat, sehingga lahan tidak layak digunakan untuk pertanian, tetapi
berguna untuk menghambat Streptomyces scabies penyebab penyakit pada kentang. Wako et al.
   (1984) dan Jaynes et al. (1984 diacu dalam Mensvoort dan Dent 1998) menyebutkan bahwa
   kondisi optimum untuk oksidasi pirit sama dengan kondisi optimum untuk oksidasi besi oleh
   Thiobacillus ferrooxidans yaitu konsentrasi oksigen > 0,01 Mole fraksi (1%), temperatur 5-55oC
   (optimal 30oC), pH 1.5-5.0 (optimal 3.3). Menurut Anonim (2002b), bakteri tersebut adaptif pada
   pH rendah (optimum untuk pertumbuhannya 2-3) dengan konsentrasi besi ferro yang tinggi, besi
   tersebut digunakan sebagai donor elektron, dimana pengaruh pH pada konsentrasi besi
   direpleksikan dengan energi yang dihasilkan.


    Pemberian kapur, sehingga pH meningkat diatas 5,0 akibatnya aktivitas bakteri pengoksidasi
   terhambat, karena meningkatnya populasi bakteri lainnya yang dapat menyaingi dalam
   pengambilan berbagai kebutuhan hidupnya seperti oksigen dan lainnya. Menurut Mills (2002),
   terjadi suksesi bakteri dengan perubahan pH tanah. pH yang cocok untuk habitat Thiobacillus
   ferrooxidans adalah 1,5-3,5, dengan suhu optimal 30-35oC. Pada pH 3,5-4,5 didominasi oleh
   bakteri metalogenium, sedangkan pada pH netral didominasi oleh bakteri Thiobacillus thioparus.
   Selain itu, adanya ion Ca yang berasal dari kapur akan menetralkan ion sulfat membentuk
   gipsum (CaSO4) sehingga menurunkan aktivitas ion sulfat. Hasil penelitian Arkesteyn (1980)
   menunjukkan bahwa adanya penambahan kapur mencegah pemasaman, dimana pada pH
   dibawah 4,0, oksidasi kimia (tanpa bakteri) lebih rendah dibanding tanah yang diberi bakteri
   Thiobacillus ferrooxidans (oksidasi biologi). Ini artinya pada pH diatas 4,0, kemampuan oksidasi
   secara biologi tidak berbeda dengan secara kimia, yaitu berjalan sangat lambat. Pada percobaan
   tersebut, bakteri pengoksidasi pirit lainnya seperti Leptospirillum ferrooxidans atau genus
   Metallogenium gagal diisolat.

   2. Mempercepat proses reduksi sulfat dan besi, dengan menciptakan kondisi lingkungan yang
   diperlukan oleh bakteri tersebut. Hasil reduksi tersebut dikeluarkan dari lahan melalui air
   drainase saat air surut. Menurut Anonim (2002b), reduksi sulfat tersebut dimedia oleh organisme
   yang diketahui secara kolektif sebagai bakteri pereduksi sulfur (SRB). SRB merupakan bakteri
   obligat anaerob yang menggunakan H2 atau organik sebagai donor elektron (chemolithotrophic).
   Kelompok organisme pereduksi sulfat ini secara generik diberi nama awal dengan “desulfo”,
   dimana SO42- sebagai aseptor elektron. Menurut Mills (2002) bakteri tersebut berasal dari genus
   Desulfovibrio dan Desulfotomaculum yang merupakan organisme heterotrophic, yang
   menggunakan sulfate, thiosulphate (S2O3) dan sulfide (SO3-) atau ion yang mengandung sulfur
   tereduksi sebagai terminal aseptor elektron dalam proses metabolisme. Bakteri tersebut
   memerlukan subtrat organik yang berasal dari asam organik berantai pendek seperti asam laktat
   atau asam piruvat. Dalam kondisi alamiah, asam tersebut dihasilkan oleh aktivitas fermentasi
   dari bakteri anaerob lainnya. Laktat digunakan oleh SRB selama respirasi anaerobik untuk
   menghasilkan acetat dengan reaksi berikut:

   2 CH3CHOHCOO- + SO4-  2CH3COO- + 2HCO3- + H2S

H2S tersebut berguna untuk mengendapkan Cu, Zn, Cd sebagai metal sulfide. Menurut Anonim
   (2002a) dan Gadd (1999), bakteri pereduksi sulfat dapat mereduksi sulfat pada kondisi anaerob
   menjadi sulfida, selanjutnya dapat mengendapkan logam-logam toksik sebagai logam sulfida.
   Menurut Saida (2002), pada percobaan lab dengan media agar, bakteri tersebut dapat tumbuh
   sampai pH 2 dan meningkatkan pH media menjadi 6,4. Menurut Beckett et. al. (diacu dalam
Sullivan et al. 2002), reduksi sulfat ke sulfide dalam lingkungan anarobik dilakukan oleh bakteri
dan fungi. Beberapa gas dihasilkan dalam oksidasi-reduksi sulfur tersebut dan tervolatilisasi ke
atmosfer dengan jumlah kurang dari 5% dari total residu sulfur. Dua gas terpenting adalah SO2
dan H2S. SO2 dari lahan basah bergabung dengan yang berasal dari industri dapat membentuk
formasi hujan asam. Pada kondisi aerobik, H2S mungkin dikonsumsi oleh pengoksidasi S,
dimana SO2 diserap secara kimia.

1. Adanya senyawa pirit merupakan salah satu penciri tanah sulfat masam dan merupakan
sumber masalah pada tanah tersebut.
2. Adanya oksidasi senyawa pirit menyebabkan tanah menjadi masam, basa-basa tercuci,
kelarutan logam-logam meningkat, aktivitas mikroorganisma tanah dan kehidupan biota perairan
menjadi terganggu.
3. Proses oksidasi senyawa pirit dan reduksi dari ion atau senyawa yang dihasilkannya terjadi
secara kimia dan biologi.
4. Kecepatan oksidasi dan reduksi secara kimia berjalan lambat. Adanya bantuan bakteri
pengoksidasi atau pereduksi sebagai katalisator mempercepat reaksi tersebut beberapa ratus
sampai juta kali.
5. Pengelolaan tanah sulfat masam dapat dilakukan melalui pengendalian aktivitas
mikroorganisma yaitu menghambat aktivitas bakteri pengoksidasi melalaui pemberian
bakterisida, pemutusan suplai oksigen melalui penggenangan dan pemberian kapur agar terjadi
suksesi bakteri. Sedangkan pada proses reduksi, perlu dirangsang dengan pemberian bahan
organik sebagai sumber elektron dan energi serta penggenangan untuk memutus suplai oksigen
sebagai aseptor elektron.


Bersambung ke bagian 5.F yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini:


Pustaka:

Madjid, A. R. 2009. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Bahan Ajar Online untuk mata kuliah: (1) Dasar-
Dasar Ilmu Tanah, (2) Kesuburan Tanah, dan (3) Pengelolaan Kesuburan Tanah Lanjut. Fakultas
Pertanian Unsri & Program Pascasarjana Unsri. http://dasar2ilmutanah.blogspot.com.

Diposkan oleh Dr. Ir. Abdul Madjid, MS di 00:52 0 komentar
Label: Kesuburan Tanah

Pengelolaan Kesuburan Tanah Sulfat Masam (Bagian 4.F)

Pengelolaan Kesuburan Tanah Sulfat Masam*

Oleh: Masayu Rodiah** dan Abdul Madjid Rohim***


(Bagian 4.F dari 5 Posting)
Keterangan:

* : Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah, Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister
(S2), Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya. Palembang, Propinsi Sumatera Selatan,
Indonesia.

** : Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2), Program Pascasarjana, Universitas
Sriwijaya. Palembang, Propinsi Sumatera Selatan, Indonesia.

*** : Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah, Program Studi Ilmu Tanaman, Program
Magister (S2), Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya. Palembang, Propinsi Sumatera
Selatan, Indonesia.

(Bagian 4.F dari 5 Posting)




F. Penyiapan dan Pengelolaan Surjan

Sistem budidaya surjan (surjan = bahasa jawa yang artinya berjajar/berbaris berselang-seling
seperti lurik) disarankan khususnya hanya untuk lahan pasang surut tipe B (wilayah yang hanya
terluapi pada saat pasang tunggal) dan tipe c atau D (wilayah yang tidak terluapi pasang sama
sekali) yang mempunyai muka air tanah tinggi. Budidaya tanaman lahan kering (palawija) di
lahan pasang surut di aats sering mengalami cekaman kelebihan air, dengan sistem surjan maka
kebasahan atau genangan air yang tidak disukai tanaman lahan kering dapat terhindarkan.


Tujuan pokok dari sistem surjan di lahan pasang surut ini adalah untuk membagi risiko
kegagalan usaha tani sehingga dapat bertahan apabila tanaman padinya gagal (Tim FTP UGM,
1986). Sistem surjan ini banyak diterapkan oleh petani di Kalimantan dan Sumatera, terutama
petani transmigrasi dari Jawa dan Bali. Masyarakat tani setempat seperti di kalimantan tidak
banyak mengenal sistem budidaya surjan ini, tetapi mereka menggunakan istilah tembokan yang
falsafahnya sedikit berbeda (Sarwani et al., 1993: 1994). Budidaya surjan ini juga abnyak
dilakukan petani rawa Malaysia (Mensvoort, 1996; Tri, 1996).


Surjan mengandung pengertian meninggikan sebagian tanah dengan menggali atau mengeruk
tanah di sekitarnya. Dalam praktiknya sebagian tanah lapisan atas diambil atau digali dan
digunakan untuk meninggikan bidang tanah disampingnya secara memanjang sehingga terbentuk
surjan. Wilayah bagian lahan yang ditinggikan disebut tembokan (raise beds), sedang wilayah
yang digali atau di bawah disebut tabukan atau ledokan (sunkens beds). Lahan bagian atas di
tanami tanaman palawija (jagung, kedelai, kacang-kacangan, dan umbi-umbian), hortikultura,
buah-buahan, dan juga tanaman perkebunan, sedang lahan bagian bawah (ledokan/tabukan)
ditanami padi sawah.
Pertanian dengana sistem surjan banyak berkembang di lahan rawa. Berdasarkan cara
pengambilan dan penyusunan lapisan tanah yang dibentuk surjan, surjan dapat dibagi menjadi
dua model atau tipe : 1) model tradisional dan 2) model inovatif dan kreatif. Pada model
tradisional lapisan surjan dibuat dengan meletakkan bagian yang digali ke lapisan atas secara
runtut sehingga kemungkinan besar lapisan atas surjan terdiri dari lapisan bawah (subsoil). Pada
model inovatif dan kreatif lapisan surjan disusun sesuai dengan urutan asal. Model tradisional
sangat berbahaya apabila lapisan bawah yang diletakkan sebagai lapisan atas surjan merupakan
lapisan berkadar pirit tinggi. Berdasarkan sistem pembuatan, surjan dapat dibagi menjadi dua
cara pembuatan yaitu : 1) dibuat sekaligus, dan 2) dibuat secara bertahap. Pembuatan surjan
banyak memerlukan tenaga kerja yaitu sekitar 500 HOK per hektar.



Bersambung ke bagian 4.g yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini:



Pustaka:

Madjid, A. R. 2009. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Bahan Ajar Online untuk mata kuliah: (1) Dasar-
Dasar Ilmu Tanah, (2) Kesuburan Tanah, dan (3) Pengelolaan Kesuburan Tanah Lanjut. Fakultas
Pertanian Unsri & Program Pascasarjana Unsri. http://dasar2ilmutanah.blogspot.com.

Diposkan oleh Dr. Ir. Abdul Madjid, MS di 00:48 0 komentar
Label: Kesuburan Tanah

Pengelolaan Kesuburan Tanah Sulfat Masam (Bagian 4.G)

Pengelolaan Kesuburan Tanah Sulfat Masam*
Oleh: Masayu Rodiah** dan Abdul Madjid Rohim***

(Bagian 4.G dari 5 Posting)

Keterangan:
* : Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah, Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister
(S2), Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya. Palembang, Propinsi Sumatera Selatan,
Indonesia.
** : Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2), Program Pascasarjana, Universitas
Sriwijaya. Palembang, Propinsi Sumatera Selatan, Indonesia.
*** : Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah, Program Studi Ilmu Tanaman, Program
Magister (S2), Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya. Palembang, Propinsi Sumatera
Selatan, Indonesia.

(Bagian 4.G dari 5 Posting)
G. Perikanan

Penelitian komponen perikanan dalam sistem usahatani di lahan pasang surut dan rawa telah
dilakukan sejak 1985/86 di Kertamulia Patratani mewakili lahan rawa, Sungai Lempung di
Lubuk Lampan mewakili rawa banjiran, lahan pasang surut di tepi Sungai Musi Mariana, lahan
potensial di Karang Agung Ulu, lahan Salin di Delta Upang, dan lahan lebak di Kayu Agung
Sumatera Selatan. Sedangkan di wilayah Kalimantan yang mewakili lahan pasang surut dan
sulfat masam di daerah Parit Keladi dan Palingkau. Sistem usahatani perikanan diartikan sebagai
penelitian di lahan petani (Kasrino et al., 1989 dan Partohardjo, 1989) yang bertujuan untuk
meningkatkan produksi, pendapatan, dan pemanfaatan sumberdaya secara optimal guna
meningkatkan kesejahteraan petani. Tujuan tersebut dapat dicapai melalui penerapan teknologi
atau paket teknologi usahatani yang sesuai dengan kondisi biofisik dan sosio-ekonomi yang ada
di daerah (Manwan dan Oka, 1988).

Penelitian perikanan menunjang program usahatani dibagi atas dua jenis kegiatan yaitu (1)
penelitian perikanan yang bersifat komponen dan (2) penelitian dalam usahatani terpadu. Dalam
kegiatan komponen dititik beratkan kepada perekayasaan tata air dan manajemen kolam,
produksi benih ikan, kesesuaian komoditas, dan sistem budidaya. Dalam usahatani terpadu, titik
berat diberikan kepada optimasi pemanfaatan lahan dengan berbagai komoditas.


Penelitian ikan telah dilakukan di lahan potensial, lahan lebak, lahan pasang surut mempunyai
pH air yang relatif lebih baik 4-5 dibandingkan dengan lahan sulfat masam dengan hasil produksi
yang bervariasi. Jumlah kapur yang ditambahkan pada lahan potensial 5 t/ha, sedangkan pada
lahan sulfat masam dosis pengapuran sekitar 10 t/ha. Kendala yang sering dijumpai pada
kolamkolam yang dibangun di lahan pasang surut yang ber-pH air 4 adalah rembesan air dari
pematang dan masuknya air hujan yang jatuh dari tepi pematang ke dalam kolam. Air tersebut
menyebabkan pH air kolam turun mendadak sampai <3 sehingga menyebabkan ikan mati. Jenis
ikan yang dipelihara antara lain ikan patin, tembakang, lele, gurame, dan nila merah. Ikan
tersebut dapat beradaptasi dengan perubahan pH air kolam yang pada umumnya turun di waktu
hujan. Untuk mengatasi penurunan pH di waktu hujan, maka pembuatan kolam harus dilakukan
sebagai berikut : 1) lapisan atas tanah 0-10 cm dikupas kemudian hasil tanah kupasan tersebut
ditempatkan pada lokasi yang aman, 2) penggalian kolam dilakukan sampai kedalaman tertentu
biasanya antara 1-1,2 m, 3) setelah penggalian kolam selesai lalu pembuatan galengan kolam
disusun seperti tangga (2-3 tangga) lalu guludan itu ditutup dengan tanah lapisan atas yang kita
simpan itu, 4) pengapuran kolam baru dilaksanakan dengan dosis 5-10 ton kaptan/ha. Pada
pemeliharaan yang dilakukan polikultur diharapkan ikan dapat memanfaatkan organisme
plankton seperti ikan nila sedangkan organisme yang hidup di dasar kolam diharapkan dapat
menjadi makanan ikan patin. Sedangkan untuk monokultur, ikan diberi tambahan pakan pelet
dan sisa makanan.



Bersambung ke bagian 5 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini:
Pustaka:

Madjid, A. R. 2009. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Bahan Ajar Online untuk mata kuliah: (1) Dasar-
Dasar Ilmu Tanah, (2) Kesuburan Tanah, dan (3) Pengelolaan Kesuburan Tanah Lanjut. Fakultas
Pertanian Unsri & Program Pascasarjana Unsri. http://dasar2ilmutanah.blogspot.com.

Diposkan oleh Dr. Ir. Abdul Madjid, MS di 00:15 0 komentar
Label: Kesuburan Tanah
Posting Lebih Baru Posting Lama Halaman Muka
Langgan: Entri (Atom)

Label
      Biologi Tanah (23)
      Definisi Tanah (2)
      Fisika Tanah (7)
      Kesesuaian Lahan (2)
      Kesuburan Tanah (21)
      Kimia Tanah (14)
      Klasifikasi Tanah (3)
      Kunci Jawaban Ujian (2)
      Nilai Mata Kuliah (2)
      Soal Ujian Akhir Semester (2)




About Me
Dr. Ir. Abdul Madjid, MS.
        Dosen Jurusan Tanah, Fak. Pertanian, Univ. Sriwijaya. Kampus Unsri Indralaya, Propinsi
        Sumatera Selatan
Lihat profil lengkapku


Blog Archive
      ▼ 2009 (61)
          o ▼ 06/14 - 06/21 (5)
                 Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Kering (Bag...
                 Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Kering (Bag...
                 Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Kering (Bag...
         Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Kering (Bag...
         Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Kering (Bag...
o   ► 06/07 - 06/14 (19)
        Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Gambut (Bag...
        Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Gambut (Bag...
        Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Gambut (Bag...
        Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Gambut (Bag...
        Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Gambut (Bag...
        Pengelolaan Kesuburan Tanah Sulfat Masam (Bagian 1...
        Pengelolaan Kesuburan Tanah Sulfat Masam (Bagian 2...
        Pengelolaan Kesuburan Tanah Sulfat Masam (Bagian 3...
        Pengelolaan Kesuburan Tanah Sulfat Masam (Bagian 4...
        Pengelolaan Kesuburan Tanah Sulfat Masam (Bagian 4...
        Pengelolaan Kesuburan Tanah Sulfat Masam (Bagian 4...
        Pengelolaan Kesuburan Tanah Sulfat Masam (Bagian 4...
        Pengelolaan Kesuburan Tanah Sulfat Masam (Bagian 4...
        Pengelolaan Kesuburan Tanah Sulfat Masam (Bagian 4...
        Pengelolaan Kesuburan Tanah Sulfat Masam (Bagian 4...
        Pengelolaan Kesuburan Tanah Sulfat Masam (Bagian 5...
        Hasil Evaluasi Proses Pembelajaran MK: DDIT
        Kunci Jawaban Ujian Akhir Semester mk: DDIT
        Nilai Evaluasi MK: SISDAL
o   ► 05/31 - 06/07 (8)
        Kunci Jawaban Ujian Akhir Semester SISDAL
        Ujian Akhir Semester MK: DDIT
        Ujian Akhir Semester Mata Kuliah: SISDAL
        PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA (Bagian 1)
        PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA (Bagian 2)
        PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA (Bagian 3)
        PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA (Bagian 4)
        PERAN DAN PROSPEK MIKORIZA (Bagian 5)
o   ► 05/24 - 05/31 (12)
        BAKTERI PELARUT FOSFAT SEBAGAI AGENTS PUPUK
          HAYATI...
        BAKTERI PELARUT FOSFAT SEBAGAI AGENTS PUPUK
          HAYATI...
        BAKTERI PELARUT FOSFAT SEBAGAI AGENTS PUPUK
          HAYATI...
        BAKTERI PELARUT FOSFAT SEBAGAI AGENTS PUPUK
          HAYATI...
        BAKTERI PELARUT FOSFAT SEBAGAI AGENTS PUPUK
          HAYATI...
        TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagia...
        TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagia...
        TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagia...
        TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagia...
                   TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagia...
                   TEKNOLOGI PUPUK HAYATI FUNGI PELARUT FOSFAT (Bagia...
                   Prospek Pupuk Hayati Mikoriza
          o   ► 04/26 - 05/03 (4)
                  Mineral Tanah
                  Kadar Hara Mikro Tanaman
                  Kisaran Kadar Kecukupan Hara Mikro Essensial Tanam...
                  Kadar dan Serapan Hara Tanaman
          o   ► 04/19 - 04/26 (12)
                  Penilaian Kelas Kesesuaian Lahan (Bagian I: Tanama...
                  Survei Tanah (Bagian I: Kerapatan Pengamatan setia...
          o   ► 04/05 - 04/12 (1)

      ► 2008 (8)
          o ► 03/23 - 03/30 (1)
          o ► 03/02 - 03/09 (2)
          o ► 02/24 - 03/02 (2)
          o ► 02/10 - 02/17 (3)

      ► 2007 (19)
          o ► 12/02 - 12/09 (5)
          o ► 11/25 - 12/02 (2)
          o ► 11/18 - 11/25 (6)
          o ► 11/11 - 11/18 (4)
          o ► 11/04 - 11/11 (2)



Design by: FinalSense

								
To top