MOTOR INDUKSI 3 PHASA (PDF)

Document Sample
MOTOR INDUKSI 3 PHASA (PDF) Powered By Docstoc
					MOTOR INDUKSI TIGA PHASA
   MOTOR INDUKSI TIGA PHASA
-. Motor induksi adalah suatu mesin listrik yang
   merubah energi listrik menjadi energi gerak
   dengan menggunakan gandengan medan listrik
   dan mempunyai slip antara medan stator dan
   medan rotor.
-. Motor induksi merupakan motor yang paling
   banyak kita jumpai dalam industri.
Konstruksi motor tiga phasa
Bagian Motor Induksi Tiga Phasa
                        Stator
-. Stator adalah bagian dari mesin yang tidak berputar
   dan terletak pada bagian luar. Dibuat dari besi bundar
   berlaminasi dan mempunyai alur – alur sebagai
   tempat meletakkan kumparan.
                    Rotor


-. Rotor sangkar
  Adalah bagian dari mesin yang berputar bebas
   dan letaknya bagian dalam. Terbuat dari besi
   laminasi yang mempunayi slot dengan batang
   alumunium / tembaga yang dihubungkan
   singkat pada ujungnya.
Rotor Sangkar
Konstruksi rotor sangkar
 ( squarrel-cage rotor )
      Rotor kumparan ( wound rotor )

Kumparan dihubungkan bintang dibagian
dalam dan ujung yang lain dihubungkan
dengan slipring ke tahanan luar. Kumparan
dapat dikembangkan menjadi pengaturan
kecepatan putaran motor.
Pada kerja normal slipring hubung singkat
secara otomatis, sehingga rotor bekerja
seperti rotor sangkar.
Jenis Rotor Belitan
Konstruksi rotor kumparan
     ( wound rotor ).
   Keuntungan motor tiga phasa
 -.Konstruksi sangat kuat dan sederhana terutama
   bila motor dengan rotor sangkar.
-. Harganya relatif murah dan kehandalannya
   tinggi.
-. Effesiensi relatif tinggi pada keadaan normal,
   tidak ada sikat sehingga rugi gesekan kecil.
-. Biaya pemeliharaan rendah              karena
   pemeliharaan motor hampir tidak diperlukan.
   KERUGIAN PENGGUNAAN MOTOR
             INDUKSI
• Kecepatan tidak mudah dikontrol
• Power faktor rendah pada beban ringan
• Arus start biasanya 5 sampai 7 kali dari arus
  nominal
PRINSIP KERJA MOTOR
    (Gaya Lorentz)

                           F = Gaya
                           B = Kerapatan fluks
                           I = Arus
                           L = Konduktor




         Arus listrik (i) yang dialirkan di dalam
         suatu medan magnet dengan kerapatan
         Fluks (B) akan menghasilkan suatu gaya
         Sebesar:
Nilai F Dipengaruhi Banyaknya Lilitan ( N )
Linear Motor
                  Prinsip kerja 3 Phasa

1. Bila sumber tegangan tiga phasa dipasang pada kumpara
   stator, maka pada kumparan stator akan timbul medan putar
   dengan kecepatan                              n =
                                                     120 f
                                            ns = kecepatan sinkron
                                                   s

                              120 f                    P

                         ns =                 f = frekuensi sumber
                                              p = jumlah kutup
                                P
2. Medan putar stator akan memotong konduktor
 yang
 terdapat pada sisi rotor, akibatnya pada kumparan
 rotor akan timbul tegangan induksi ( ggl ) sebesar




                        E2 s = 44,4 fNφ
 E = tegangan induksi ggl
 f = frekkuensi
 N = banyak lilitan
 Q = fluks
3. Karena kumparan rotor merupakan
   kumparan rangkaian tertutup, maka
   tegangan induksi akan menghasilkan
   arus ( I ).
4. Adanya arus dalam medan magnet akan
   menimbulkan gaya ( F ) pada rotor.
5. Bila torsi awal yang dihasilkan oleh gaya
   F pada rotor cukup besar untuk memikul
   torsi beban, maka rotor akan berputar
   searah dengan arah medan putar stator.
6. Untuk membangkitkan tegangan induksi E2s agar tetap ada,
   maka diperlukan adanya perbedaan relatif antara kecepatan
   medan putar stator ( ns )dengan kecepatan putar rotor ( nr ).
 7.Perbedaan antara kecepatan nr dengan ns disebut dengan
   slip ( S ) yang dinyatakan dengan persamaan:
                  n s − nr
               S=          × 100%
                     ns

8.Jika ns = nr tegangan akan terinduksi dan arus tidak
  mengalir pada rotor, dengan demikian tidak ada torsi yang
  dapat dihasilkan. Torsi suatu motor akan timbul apabila
   ns > nr.
9.Dilihat dari cara kerjanya motor tiga phasa disebut juga
 dengan motor tak serempak atau asinkron.
                 Contoh soal
• Motor enam kutub disuplai dari sumber 60 Hz fasa
  tiga. Kecepatan rotor pada beban penuh adalah 1140
  rpm. Tentukan:
  a) kecepatan sinkron dari medan magnet
  b) slip per unit
  c) kecepatan rotor untuk sebuah hasil
     beban yang dikurangi di slip s = 0,02
                Penyelesaian
 Diketahui :
 p =6
 f = 60 Hz
 nr = 1140 rpm
• Kecepatan sinkron

        120 f 120 x60
   ns =      =
          p       6
        7200
      =      = 1200 rpm
          6
Slip pada beban penuh

      n s − nr 1200 − 1140
   s=         =
         ns       1200
       60
    =      = 0,05 atau 5%
      1200
Kecepatan putar rotor bila s =
0,02
        ns − nr      nr
     s=         = 1−
          ns         ns
                  nr
     0,02 = 1 −
                1200
     nr = (1 − 0,02) x1200
        = 1176 rpm
TEGANGAN TERINDUKSI PADA ROTOR

• Pada saat standstill (slip = 100%)
  – medan putar rotor maksimum
  – Fluks dalam stator sama dengan dalam rotor
  – tegangan yang dibangkitkan maksimum,
    tergantung pada belitan rotor
  – Tegangan yang diinduksikan ke rotor tergantung
    pada ratio belitan
  – Frekuensi rotor sama dengan frekuensi stator
• Pada saat bergerak:
   – medan putar rotor maksimum
   – fluks dalam stator sama dengan dalam rotor
   – tegangan yang dibangkitkan berkurang sesuai dengan slip
     yang terjadi
   – Frekuensi rotor semakin berkurang sesuai dengan
     penurunan slip
• Dapat disimpulkan bahwa:
   – Er = s x EBR
       • Er tegangan induksi rotor
       • EBR tegangan induksi rotor saat standstill
   – fR = s x f   S

       • fR frekuensi rotor
       • fS frekuensi stator
                      Contoh Soal
• A three-phase 60 Hz four-pole 220-V wound
  induction motor has a stator winding Delta
  connected and a rotor winding Y connected. The
  rotor has 40% as many turns as the stator. For a rotor
  speed of 1710 r/min, calculate:
   –   The slip
   –   The block rotor-induced voltage per phase EBR
   –   The rotor-induced voltage per phase ER
   –   The voltage between rotor terminals
   –   The rotor frequency
               Solution
• The slip


        120 f 120 x60
   ns =      =        = 1800 r / min
          p      4

           nr    1710
     s = 1− = 1−      = 0,05
           ns    1800
            rotor-
  The block rotor-induced voltage per
  phase EBR
     EBR = 40% of Vstator / phase
   EBR = 0,4 x 220 = 88 V / phase

• The rotor-induced voltage per phase ER

   E R = sE BR = 0 , 05 x 88 = 4 , 4 V
 The voltage between rotor terminals

   VL − L ( rotor ) = 3 VR
   VL − L ( rotor ) = 3 x 4,4 = 7,62 V

• The rotor frequency

    f R = sf = 0 , 05 x 60 = 3 H z
              RANGKAIAN ROTOR

• Di rotor dalam tiap kondisi diperoleh kesimpulan:
   – Arus short circuit rotor dibatasi oleh impedansi rotor
   – Impedansi terdiri dari dua komponen yaitu:
      • Resistansi rotor RR
      • Reaktansi diri sXBR (XBR Reaktansi diri rotor pada stand-still)
   – Selama reaktansi diri merupakan fungsi dari frekuensi,
     reaktansi proportional terhadap slip
• Sebagai hasil, arus rotor menjadi

                  ER
       IR =
               RR + X R
                  2       2


  bila,                   maka
                           ,
    ER = sEBR                        sEBR
                              IR = 2
    X R = sX BR                   RR + (sX BR ) 2
jika penyebut dan pembilang dibagi dengan s, maka:
                             Pembagian dengan s
             EBR
  IR =                      merubah titik
        RR 2                referensi dari rotor ke
       [ ] + X BR
                  2
                            rangkaian stator
         s
sehingga rangkaian ekuivalen rotor per fasa
  menjadi:
• Untuk tujuan menyamakan dengan rangkaian
  resistansi rotor RR yang sebenarnya, maka RR/s
  dipisah dalam dua komponen:

                       RR RR
                          =   + RR − RR
                        s   s

         RR            1
            = RR + RR ( − 1)
          s            s
   sehingga rangkaian ekuivalen rotor
   menjadi sebagai berikut:
RANGKAIAN EKUIVALEN ROTOR
       KOMPONEN DAYA PADA ROTOR
•   ROTOR POWER INPUT (RPI)
•   ROTOR COPPER LOSS (RCL)
•   ROTOR POWER DEVELOPED (RPD)
•   OUT-PUT POWER

    Ketiga komponen daya tersebut
    didapat dari persamaan:
    RR            1          bila ruas kanan dan
       = RR + RR ( − 1)     ruas kiri dari
     s            s         persamaan ini dikalikan
                            dengan IR2, maka:
             RR                    1
                = I R RR + I R RR ( − 1)
     2               2        2
IR
              s                    s
Dimana:
         2    RR
IR                           ROTOR POWER INPUT (RPI)
               s
     2
I R RR                       ROTOR COPPER LOSS (RCL)


        1
I R RR ( − 1)
     2                       ROTOR POWER DEVELOPED (RPD)

        s
                   RPI = RCL + RPD
    HUBUNGAN RPD DENGAN RPI

            RR
RPI = I R
         2

             s
          2    1
RPD = I R RR ( − 1)                   1− s
                        RPD = I R RR (
                                 2
               s                           )
                                       s
          2
      I R RR
RPD =        (1 − s )
         s
 RPD = RPI (1 − s)
  HUBUNGAN RCL DENGAN RPI

                RR
RPI = I R
            2

                 s
 sRPI = I R RR       RCL = I R RR
                2            2




 sRPI = RCL          RCL = sRPI
             DAYA OUT-PUT

• Daya yang dibangkitkan di poros rotor dapat
  dinyatakan dengan persamaan:

        Pout = RPD - Protasional

      Protasional adalah daya hilang yang
      disebabkan oleh gaya gesekan
      (friksi) dan angin (kipas pendingin)
     TORSI YANG DIBANGKITKAN
• Torsi elektromekanik Te adalah torsi yang
  dibangkitkan di celah udara yang dapat dinyatakan
  dengan persamaan:



      Te =
             RPI                   2πns
                              ωs =
             ωs                     60
• Torsi poros Td adalah torsi yang dibangkitkan di
  poros rotor yang dapat dinyatakan dengan
  persamaan:

             Pout                 2π n r
    Td =                     ωr =
             ωR                    60
  Bila rugi Protasional diabaikan maka Td
  dapat dinyatakan dengan persamaan:
                       RPD
                Td =
                        ωR
           RANGKAIAN STATOR
• Terdiri dari
   – Tahanan stator Rs
   – Reaktasi induktif Xs
   – Rangkaian magnetisasi (tidak boleh diabaikan
     seperti trafo karena rangkaian ini menyatakan
     celah udara)
• Rangkaian stator per fasa dinyatakan pada
  gambar berikut:
DIAGRAM RANGKAIAN STATOR
• Bila tegangan konstan
   – Rugi inti dianggap konstan mulai dari kondisi tanpa beban
     sampai beban penuh
   – Rc dapat dihilangkan dari diagram rangkaian tetapi:
      • rugi inti tetap ada dan diperhitungkan pada efisiensi
   – Arus magnetisasi pada motor sekitar 30% s/d 50% dari
     arus nominal
   – Reaktansi magnetisasi merupakan komponen penting pada
     rangkaian pengganti
• Sehingga penyederhanaan diagram rangkaian stator
  menjadi seperti gambar berikut:
PENYEDERHANAAN DIAGRAM
   RANGKAIAN STATOR
     PENGGABUNGAN DIAGRAM
   RANGKAIAN ROTOR DAN STATOR

• Sisi stator sebagai referensi parameter rotor
• Untuk menggabung rangkaian rotor dengan rangkaian
  stator maka dapat digunakan konsep: “daya stator sama
  dengan daya rotor”
• Sehingga EBR harus sama dengan ES
• ES = a.EBR = E’BR
• I’R = IR/a
• R’R =a2.RR
• X’BR =a2.XBR
• Konstanta a merupakan transformasi tegangan stator ke
  rotor
DIAGRAM LENGKAP MOTOR INDUKSI
          TIAP FASA
ANALISA ARUS (METODE LOOP)

Dari diagram rangkaian berikut dapat
dibuat dua persamaan:
Loop I:
     ( R S + jX S + jX M )Is - (0 + jX M )I'R = VS
Loop II:
                      R'R
  − (0 + jX M )Is + (     + jX'BR + jX M )I'R = 0
                       s
Dibuat dalam bentuk matrik didapat:
 RS + j ( X S + X M )        − (0 + jX M )        I  V 
                        R' R                     S = S
 − (0 + jX M )               + j ( X 'BR + X M )  I 'R   0 
                         s                         
Tentukan nilai deteminant (∆)
                          (∆
konstanta matrik, dengan:
      RS + j ( X S + X M )        − (0 + jX M )
 ∆=                           R'R
         − (0 + jX M )            + j ( X ' BR + X M )
                               s
Arus IS didapat dengan persamaan:
         VS + j 0            − (0 + jX M )
                         R'R
              0              + j ( X ' BR + X M )
  IS =                    s
                             ∆
Arus IR didapat dengan persamaan:

        RS + j ( X S + X M ) (VS + j 0)
        − (0 + jX )              0     
I 'R =                M                
                         ∆
Arus magnetisasi IM diperoleh dari:
 IM = IS – I’R

Faktor daya motor didapat dari Cos
sudut arus stator IS
KOMPONEN DAYA TIGA FASA

STATOR POWER INPUT (SPI)

SPI = 3 xI SVS cos ϕ

STATOR COPPER LOSS (SCL)

 SCL = 3 xI S RS
            2
KOMPONEN DAYA TIGA FASA

ROTOR POWER INPUT (RPI)
                      R'R
 RPI = 3 xI ' R
                  2

                       s
ROTOR COPPER LOSS (RCL)

RCL = 3 xI 'R R'R
             2
 KOMPONEN DAYA TIGA FASA

ROTOR POWER DEVELOPED (RPD)
                            1
RPD = 3 xI ' R       R ' R ( − 1)
                 2

                            s
ROTASIONAL LOSS (PR)
  Rugi-rugi yang disebabkan oleh gesekan
  dan angin
OUTPUT POWER (PO)
 PO = RPD - PR
DIAGRAM ALIR DAYA PADA MOTOR
      INDUKSI TIGA FASA



   SPI
               RPI
                           RPD
                                      POUT


         SCL         RCL         PR
           ANALISA ARUS
     (METODE PENYEDERHANAAN)
• Mengacu pada diagram lengkap motor induksi
  tiap fasa
• Untuk tujuan menyederhanakan analisa,
  pindahkan parameter XM mendekati sumber
  tegangan maka didapat diagram rangkaian
  seperti berikut:
PENYEDERHANAAN RANGKAIAN
 EKUIVALEN MOTOR INDUKSI
• Dari rangkaian penyederhanaan didapat
  persamaan arus I’R sebagai berikut:

                           VS
    I 'R =
                    R'BR
             ( RS +      ) + j ( X S + X 'R )
                     s
  Arus pemagnetan IM sebagai berikut:


                        VS
                  IM =
                       jX M
Arus stator IS sebagai berikut:
     IS = I M + I'R
Bila mengikuti gambar rangkaian maka
rugi tembaga stator SCL menggunakan
arus I’R. Tetapi untuk mengurangi error
yang tinggi pada perhitungan efisiensi
maka SCL dihitung menggunakan
persamaan berikut:            SCL = 3 xI R
                                    S
                                        2
                                            S




                     rugi-
Perhitungan daya dan rugi-rugi yang lain
sama seperti perhitungan metode LOOP
Faktor daya motor didapat dari Cos
sudut arus stator IS
                EFISIENSI (η)

• Menyatakan perbandingan daya output dengan
  daya input

        Pout Pin − Ploos      Ploos
     η=     =            = 1−
        Pin      Pin           Pin
   Bila dinyatakan dalam prosen maka,
         Pout
      η=      x100%
         Pin
                  Contoh Soal
A three-phase 220-V 60-Hz six-pole 10-hp induction
motor has following circuit parameters on a per phase
basis referrred to the stator:
RS = 0.344 Ω         R’R = 0.147Ω
XS = 0.498 Ω         X’R = 0.224Ω      X’M = 12.6Ω
Assuming a Y-connected stator winding. The
rotational losses and core loss combined amount to
262 W and may be assumed constant. For slip of 2.8
% determine:
 – the line current and power factor
 – the shaft torque and output horse power
 – the efficiency
     SOLUTION (LOOP METHODE)

• the phase voltage is:
     220 / 3 = 127 V
  the equivalent circuit is given in Figure:
Loop I:
 (0,344 + j13,098)Is - (0 + j12,6)I'R = 127
Loop II:
− (0 + j12,6)Is + (5,25 + j12,824)I'R = 0

Dibuat dalam bentuk matrik didapat:
0,344 + j13,098 − (0 + j12,6)   I S  127
                                         =
 − (0 + j12,6)
                5,25 + j12,824  I 'R   0 
                                  
Tentukan nilai deteminant (∆)
                          (∆
konstanta matrik, dengan:

     0,344 + j13,098    − (0 + j12,6)
∆=
      − (0 + j12,6)    5,25 + j12,824
 = 1,81 + j 4,41 + j 68,76 - 167,97 - (-158.76)
 = −7,4 + j 73,17
a. Arus IS didapat dengan persamaan:
          127 + j 0 − ( 0 + j12 ,6 )
              0        5, 25 + j12 ,824
     IS =
                         ∆
          127 + j 0 − (0 + j12 ,6 )
              0        5,25 + j12 ,824
        =
                 − 7 ,4 + j 73,17
          666,75 + j1628.65
        =
            − 7 ,4 + j 73,17
        = 23,64 - j11,25 = 23,93∠ − 28,04 °
Arus IR didapat dengan persamaan:
            5,25 + j12,824 127 + j 0
             − (0 + j12,6)        0
     I 'R =
                  − 7,4 + j 73,17
             0 + j1600,2
          =
            − 7,4 + j 73,17
          = −22,747 − j 2,19 = 21,757∠ − 5,77°
Power faktor motor (diambil dari sudut
 IS): PF = cos(−28,04) = 0,88
b. The shaft torque and output horse
  power
  Kecepatan sinkron dari motor adalah :
        120 × f s 120 × 60
   ns =          =         = 1200 rpm
           P         6
                       2πnr 2π x 1166
                ωr =       =          = 122,1 rad/detik
 Kecepatan rotor adalah :
                        60     60




   nr = (1 − s)ns = (1 − 0,028) = 1166 rpm
 Kecepatan sudut rotor adalah :
Rotor Power Input adalah :
               R'R
  RPI = 3I 'R
            2

                s
      = 3 x 21,757 x 5,25 = 7455,531 W
                   2



Rotor Power Developed adalah :
 RPD = RPI (1 − s)
     = 7455.531(1 - 0,028)
     = 7246.776 W
Power Output adalah :
  Pout = RPD – Protasional
       = 7246,776 – 262
       = 6984,776 W
Torsi motor adalah :
           Pout       6984.776
    Td =          =            = 57.2 N - m
           ωR           122,1




Horsepower motor adalah :
       Pout 6984.776
  HP =     =         = 9.36
       746    746
Power loos adalah :
 Protasional + Core loss          = 262 W
 RCL = 0,028 x 7455,351           = 208.75 W
 SCL = 3x23,932x 0,344            = 590,97 W +
                       Total loss = 1061,72 W
c. Efisiensi motor adalah :
      η=
               Pout
           Pout + Ploss
                        x100%

               6984,776
       =                      = 86,8%
           6984,776 + 1061,72
    SOLUTION (Penyederhanaan)
• the phase voltage is:
     220 / 3 = 127 V
  the equivalent circuit is given in Figure:
Arus IR didapat dengan persamaan:
                   127
    IR =
         0,344 + 5, 25 + j 0,722
       = 22 ,52 ∠ − 7, 4°
       = 22,33 - j 2,88 A
Arus IM didapat dengan persamaan:

         127
    IM =       = − j10,08 A
         j12,6
a. Arus Sumber IS didapat dari :
    I S = 22 ,33 + j ( 2,88 + 10 ,08 )
       = 22,33 - j12 ,96
       = 25,82 ∠ − 30 ,1° A

  Power faktor motor (diambil dari sudut
   IS):
    PF = cos( −30,1) = 0,865
b. The shaft torque and output horse
  power
  Kecepatan sinkron dari motor adalah :
        120 × f s 120 × 60
   ns =          =         = 1200 rpm
           P    ωr =
                     6 2πnr 2π x 1166
                           =          = 122,1 rad/detik
 Kecepatan rotor adalah :
                        60     60




   nr = (1 − s)ns = (1 − 0,028) = 1166 rpm
 Kecepatan sudut rotor adalah :
Rotor Power Input adalah :
                 R'R
    RPI = 3I ' R
              2

                  s
        = 3 x 22,52 x 5,25 = 7988 W
                    2



Rotor Power Developed adalah :
     RPD = RPI (1 − s )
         = 7988(1 - 0,028)
         = 7764 W
Power Output adalah :
  Pout = RPD – Protasional
       = 7764 – 262
       = 7502 W
Torsi motor adalah :
            Pout       7502
     Td =          =         = 61.4 N - m
            ωR         122,1




Horsepower motor adalah :
         Pout 7502
    HP =     =     = 10.1
         746 746
Power loos adalah :
 Protasional + Core loss          = 262 W
 RCL = 0,028 x 7988               = 224 W
 SCL = 3x25,822x 0,344            = 688 W +
                       Total loss = 1174 W
c. Efisiensi motor adalah :
       η=
                Pout
            Pout + Ploss
                         x100%

               7502
        =               = 86,5%
            7502 + 1174
    Perbandingan Kedua Metode
• Arus sumber


    Metode Loop

    I S = 23,64 - j11,25 = 23,93∠ − 28,04° A

    Metode Pendekatan

    I S = 22,33 - j12,96 = 25,82∠ − 30,1° A
    Perbandingan Kedua Metode
• Torsi Poros dan Output Horsepower


    Metode Loop
       Td = 57,2 N − m         HP = 9,36

    Metode Pendekatan

       Td = 61,4 N − m         HP = 10,1
     Perbandingan Kedua Metode
• Efisiensi


     Metode Loop
              η = 86,8%
     Metode Pendekatan

              η = 86,5%
KARAKTERISTIK MOTOR INDUKSI


• Rotor sangkar bajing dibuat dalam 4 kelas
  berdasarkan National Electrical Manufacturers
  Association (NEMA)
  – Motor kelas A
     • Mempunyai rangkaian resistansi ritor kecil
     • Beroperasi pada slip sangat kecil (s<0,01) dalam keadaan berbeban
     • Untuk keperluan torsi start yang sangat kecil
• Rotor sangkar bajing dibuat dalam 4 kelas
  berdasarkan National Electrical Manufacturers Association
  (NEMA)
   – Motor kelas B
       • Untuk keperluan umum, mempunyai torsi starting normal dan arus
         starting normal
       • Regulasi kecepatan putar pada saat full load rendah (dibawah 5%)
       • Torsi starting sekitar 150% dari rated
       • Walaupun arus starting normal, biasanya mempunyai besar 600% dari
         full load
   – Motor kelas C
       •   Mempunyai torsi statring yang lebih besar dibandingkan motor kelas B
       •   Arus starting normal, slip kurang dari 0,05 pada kondisi full load
       •   Torsi starting sekitar 200% dari rated
       •   Untuk konveyor, pompa, kompresor dll
• Rotor sangkar bajing dibuat dalam 4 kelas
  berdasarkan National Electrical Manufacturers
  Association (NEMA)
  – Motor kelas D
     • Mempunyai torsi statring yang besar dan arus starting relatif
       rendah
     • Slip besar
     • Pada slip beban penuh mempunyai efisiensi lebih rendah
       dibandingkan kelas motor lainnya
     • Torsi starting sekitar 300%
     TORQUE-SPEED CURVES OF
DIFFERENT NEMA STANDARD MOTORS
Karakteristik motor induksi
Kondisi-kondisi Ektrim Karakteristik Motor
                  Induksi

 • Untuk mempersingkat perhitungan dan penjelasan
   maka dari Gambar karakteristik motor induksi dipilih
   kondisi-kondisi ekstrim yaitu :
    – Kondisi starting
    – Kondisi puncak (maksimum)
    – Kondisi beban nominal (sudah dibahas)
         Kondisi Torsi Starting (Stand still)

• Dari gambar penyederhanaan rangkaian ekuivalen motor
• Pada saat start rotor belum berputar sehingga slip s = 1
• Arus starting rotor menjadi:
                             VS
  I ' R ( start ) =
                                                RPI ( start ) = 3I ' R ( start ) R 'R
                                                                             2
                      ( RS + R' R ) + X e
                                  2         2




                         RPI ( start )               2π n s
     Tstart =                                   ωs =
                              ωs                      60
            Kondisi Torsi Maksimum
• Dari gambar penyederhanaan rangkaian ekuivalen motor
• Pada saat arus rotor maksimum torsi akan maksimum
                                                       2
                                                 ' 
• Arus maksimum rotor pada slip sb (torsi max) Rsterjadi 0bila
                                           R +
                                           
                                               S
                                                   R

                                                   b
                                                     +X ≅
                                                    
                                                           e
                                                               2




  impedansi rotor mendekati nol sehingga:
                  VS
   I 'R =
                         2
                 R' 
              RS + R  + X e
                             2
                  sb 
            

  Karena nilai normal RS<<Xe
  maka:
                        R' R                                       R'R
    sb = sT max ≅ −                      sb = sT max ≅ −
                      RS + X e                                     Xe
• Masukkan nilai sb ke dalam persamaan arus saat torsi
  maksimum, didapat arus rotor maksimum yaitu:
                           VS             VS
     I 'R ( mak ) =                     =
                       Xe + Xe
                           2        2
                                          2Xe

  Rotor power Input maksimum menjadi:
                                             2
                                 2 R'R   3VS
    RPI ( mak ) = 3I ' R ( mak )       =
                                   sb    2Xe
  Rotor power developed maksimum
  menjadi:
    RPD( mak ) = RPI ( mak ) (1 − sb )
  Torsi maksimum menjadi:
                    RPD( mak ) − Prot        Pout
     Td ( mak ) =                       =
                         ω R (b )           ω R (b)
                  Contoh soal
• A three-phase 220-V 60-Hz six-pole 10-hp induction
  motor has following circuit parameters on a per phase
  basis referrred to the stator:
  RS = 0.344 W         R’R = 0.147W
  XS = 0.498 W         X’R = 0.224W      X’M = 12.6W
  Assuming a Y-connected stator winding. The rotational
  losses and core loss combined amount to 262 W and
  may be assumed constant. For slip of 2.8 % calculate
  of:
   – the starting torque of the motor
   – the maximum torque of the motor
                                   SOLUTION
• Arus starting :
                                VS
    I ' R ( start ) =
                        ( RS + R ' R ) + X e
                                     2         2


                                         127
                 =
                        (0,344 + 0,47) 2 + (0,498 + 0,224) 2
                 = 145,45 A
   RPI starting :
    RPI ( start ) = 3 I ' R ( start ) R ' R
                                     2


                        = 3 x (145 , 45 ) 2 x 0 ,147
                        = 9330 W
                     SOLUTION
Kecepatan sudut sinkron :
       120 f 120 x60
  ns =      =        = 1200 rpm
         P      6
      2πns 2π x 1200
 ωs =     =          = 125,664 rad/det
       60     60
Torsi starting :

            RPI ( start )      9330
 Tstart =                   =         = 74,2 N − m
                ωs            125,664
                          SOLUTION

• Slip saat torsi maksimum :
                    R'R         0,147
   sb = sT max   ≅−     =−                 = 0,2
                    Xe     (0,498 + 0,224)

  Kecepatan putar saat torsi maksimum :
  nr ( mak ) = (1 − sb )n s = (1 − 0,2) x1200 = 960 rpm
  RPI saat torsi maksimum :
                      2         2
                   3VS    3 x 127
   RPI ( mak )   =      =          = 33,509 W
                   2 X e 2 x 0,722
                                 SOLUTION
 RPD saat torsi maksimum :
RPD( mak ) = RPI ( mak ) (1 − sb )              2πnR 2π x 960
                                     ω R (b) =       =
                 = 33,509 x(1 − 0,2)             60       60
                 = 26,807 W                  = 100,531 rad/det

 Torsi maksimum :
                 RPD( mak ) − Prot        Pout
  Td ( mak ) =                       =
                      ω R (b )           ω R (b)
             26,807 − 262
           =
               100,531
           = 264 N − m
          MOTOR ROTOR BELITAN
• Perbedaan mendasar dari Motor rotor belit dengan motor
  sangkar bajing adalah terdapat pada konstruksi rotor
• Rotor sangkar bajing mempunyai:
   – Tahanan rotor tetap
   – Arus starting tinggi
   – Torsi starting rendah
• Rotor belit
   – Memungkinkan tahanan luar dihubungkan ke tahanan rotor melalui
     slip ring yang terhubung ke sikat.
   – Arus starting rendah
   – Torsi starting tinggi
   – Power faktor baik
BAGIAN-BAGIAN ROTOR BELIT
  Graph of induction motors showing effect of
increasing the ratio of resistance to inductance
        KLAS ISOLASI MOTOR


        Maximum
Class              Temperature (*)
         Allowed
 A        105ºC         221ºF
 B        130ºC         266ºF
 F        155ºC         311ºF
 H        180oC         356oF
MOTOR DUTY CYCLE TYPES AS PER IEC
         STANDARDS
MOTOR DUTY CYCLE TYPES AS PER IEC
         STANDARDS
TYPICAL NAME PLATE OF AN
  AC INDUCTION MOTOR
       NAME PLATE TERMS AND THEIR MEANINGS

   Term                   Description
Volts          Rated terminal supply voltage.
Amps                 full-
               Rated full-load supply current.
H.P.           Rated motor output.
R.P.M                full-
               Rated full-load speed of the motor.
Hertz          Rated supply frequency.
Frame          External physical dimension of the
               motor based on the NEMA
               standards.
Duty           Motor load condition, whether it is
               continuos load, short time, periodic,
               etc.
    NAME PLATE TERMS AND THEIR MEANINGS

   Term                Description
Date         Date of manufacturing.
Class        Insulation class used for the
Insulation   motor construction. This
             specifies max. limit of the motor
             winding temperature.
NEMA         This specifies to which NEMA
Design       design class the motor belongs
             to.
Service      Factor by which the motor can
Factor       be overloaded beyond the full
             load.
       NAME PLATE TERMS AND THEIR MEANINGS

    Term                  Description
NEMA Nom.    Motor operating efficiency at full load.
Efficiency
PH           Specifies number of stator phases of
             the motor.
Pole         Specifies number of poles of the motor.
             Specifies the motor safety standard.

Y            Specifies whether the motor windings
             are start (Y) connected or delta (∆)
             connected.
 MENENTUKAN PARAMETER RANGKAIAN
 EKUIVALEN MOTOR INDUKSI TIGA PHASE

• Melakukan kegiatan pengujian untuk
  mendapatkan parameter rangkaian ekuivalent
  motor induksi
• Menggambar karakteristik motor induksi (torsi
  terhadap slip)
• Menguji kebenaran data-data yang ada pada
  name plate
RANGKAIAN EKUIVALENT MOTOR INDUKSI
              TEST MOTOR


• No load test
• Blocked rotor test
• DC test
                   No Load Test
• Tujuan
  – menentukan rugi inti + rugi rotasional
  – menentukan parameter Xm



                                                  Vnl
                                             Xm =
                                                  3I nl
             Blocked rotor test
• Tujuan
  – menentukan parameter Re dan Xe
                                              PBR
                                        Re =       2
                                             3I BR
                                             VBR
                                        Ze =
                                             3I BR

                                     X e = Ze − Re
                                             2         2
                    DC test
• Tujuan
  – Menentukan parameter RS dan R’R

   untuk hubungan Y

                                                 Vdc
                                      Rdc = Rs =
                                                 2 I dc

    Resistansi ekuivalen rotor
           R 'R = Re − RS
                DC test
 untuk hubungan delta
             3Vdc
  Rdc = Rs =
             2 I dc
 Resistansi ekuivalen rotor

      R 'R = Re − RS
•untuk 60Hz    Rac=1,4Rdc
•untuk 50Hz    Rac=1,3Rdc
               Contoh
Name plate Three Phase Induction Motor
  P = 0,75 KW = 1 HP
  V = 380/220 V
  f = 50 Hz
  nr = 1380 rpm
  I = 2/3,45 A
     Data yang diperoleh :
 No load test :
     P = 120 W
     V = 380 V
     I = 1,3 A
Blocked rotor test :
     P = 260 W
     V = 120 V
     I=2A
DC test :
     V = 48 V
     I=2A
              PERHITUNGAN
1. No load test
         Vnl            380
    Xm =        =               = 168 ,76 Ω
         3 I nl         3 × 1,3

    Prot + inti = Pnl − 3 xI nl xRac
                             2


            = 120 − 3 x1,3 x15,272


            = 42,5 W
             PERHITUNGAN

2. DC test

          Vdc     48
   Rdc =        =      = 12 Ω
         2 xI dc 2 x 2

    Rac = 1,3 xRdc = 1,3 x12 = 15,6 Ω
                                PERHITUNGAN
3.   Blocked rotor test
             PBR       260
       Re =        2
                     =      2
                              = 21,67 Ω
            3xI BR     3x 2
           VBR      120
     X e = Z e − Re = 34,64 2 − 21,67 2 = 27,02 Ω
             2     2



      Ze =        =      = 34,6 4Ω
           3xI BR    3x2



       R' R = Re − RS = 21,67 − 15,6 = 6,07 Ω
Rangkaian Ekuivalen MI
• Slip motor:
  – Jika nr = 1380 rpm, maka ns yang mungkin pada
    frekuensi 50 Hz adalah 1500 rpm shg:

         120 xf
    ns =
           P
           120 x50
    1500 =
               P
    P=4
       ns − nr 1500 −1380
    s=        =           = 0,08
         ns       1500
Arus I’R
            VS                  220
I 'R =               =
            R'R                6,07
       RS +     + X e (15,27 +      ) + j 27,02
             s                 0,08
        220∠0°         220∠0°
   =                 =
     95,27 + j 27,02 99,02∠15,8°
   = 2,22∠ − 15,8° A
Arus IS
 I S = I ' R + I m = 2,22∠ − 15,8° − j1,3
    = 2,14 − j (0,6 − 1,3) = 2,14 − j1,9
    = 2,86∠ − 41,6 A
• Rotor Power Input (RPI)
                   R 'R
 RPI = 3 xI ' R x
              2

                    s
                     6,07
     = 3 x 2, 22 x
                 2

                     0,08
     = 1121 ,83 W
  Rotor Power Developed (RPD)
   RPD = RPIx (1 − s )
        = 1121,83 x (1 − 0,08 )
        = 1032 ,1W
• Daya Output
   Pout = RPD − Prot + inti
        = 1032 ,1 − 42 ,5
        = 989 ,6 W
 Daya Losses
RCL = RPIxS = 1121,83 x 0,08 = 89,75 W
SCL = 3x2,86 x15,27 = 374,71W
               2


Ploses = RCL + SCL + Prot+nti = 89,75 + 374,71+ 42,5
      = 506,96W
• Effisiensi dan daya dalam Hp
      Pout
   η=      x100 %
      Pin
               Pout
    =                    x100 %
        Pout   + Plosses
            989 , 6
    =                   x100 %
      989 , 6 + 506 ,96
    = 66 ,12 %
                            Poutput
                             989,6
Daya output dalam HP =     =       = 1,33HP
                       746    746
Rangkuman Hasil Test
No load test
  Xm         = 168,76 ohm
  P rot+inti = 42,5 W
Blocked rotor test
  Re = 21,67 ohm
  Ze = 34,6 ohm
  Xe = 26,97 ohm
  R’r = 6,07 ohm
DC test
  Rdc = 11,75 ohm
  Rac = 15,27 ohm
  Slip= 0,08
    Rangkuman Hasil Test
I’R                    = 2,3 A
RPI                    = 1185,2 W
RPD                   = 1032,1 W
Pout                   = 989,6 W
Effisiensi             = 66,12 %
Daya output dalam Hp = 1,33 Hp
                    SOAL 1
• Diketahui motor induksi tiga phasa, P=4,
  V=230 V, f=60 Hz, nm=1725 rpm
• Tentukan : slip per-unit dan frekuwensi rotor
  pada rated speed
              PENYELESAIAN

• Kecepatan sinkron dari motor adalah :
        120 × f s 120 × 60
   ns =          =         = 1800 rpm
           P         4
       per-
  Slip per-unit :
      n s − nm 1800 − 1725
   s=         =            = 0.0417
          ns      1800
  Maka frekwensi rotor :
  f r = s × f s = 0.0417⋅ 60 = 2.5 Hz
                     SOAL 2
• Diketahui motor induksi tiga phasa 10 HP, P=4, V=440
   V, f=60 Hz, nm=1725 rpm
  Rugi tembaga stator = 212 W;
  rotational loss=340 W
• Tentukan :
  a. Power developed           b. Daya celah udara
  c. Rugi tembaga rotor d. Total daya input
  e. Efisiensi motor
             PENYELESAIAN

• Kecepatan sinkron dari motor adalah :
        120 × f s 120 × 60
   ns =          =         = 1800 rpm
           P         4
       per-
  Slip per-unit :
      n s − nm 1800 − 1725
   s=         =            = 0.0417
          ns      1800
  Daya output rotor :
   Po = HP × 746 = 10 x 746 = 7460W
c. Rugi tembaga rotor :
    Pcu2 = sPAG = 0.0417x8139.41 = 339.413 W
   Rugi tembaga stator :
   Pcu1= 212 W (diberikan)

d. Daya input :
 Pin = PAG + Pcu1 = 8139.41+ 212 = 8351.41W
e. Efisiensi :
     Po   7460
  η=    =        = 0.893 atau 89.3 %
     Pin 8351.41
                 SOAL 3
• Diketahui motor induksi tiga phasa 2 HP,
  P=4, V=120 V, f=60 Hz, nm=1620 rpm
 Impedansi stator=0.02+j0.06 Ω;
  rotational loss=160 W
• Tentukan : arus rotor
             PENYELESAIAN

• Daya output adalah :
    Po = HP × 746 = 2 x 746 = 1492W
 Kecepatan sinkron :
       120 × f s 120 × 60
  ns =          =         = 1800 rpm
          P         4
      per-
 Slip per-unit :
        ns − nm 1800 − 1620
     s=        =            = 0.1
           ns      1800
Daya yang dikonversikan :

 Pke = Po + Prot = 1492+ 160 = 1652 W
Daya celah udara :

           Pke     1562
 PAG   =         =          = 1835,56 W
         (1 − s ) (1 − 0,1)
Rugi tembaga rotor :
       Pcu2 = sPAG = 0.1x1835,56 = 183,556 W
Arus rotor :

          Pcu 2     183 ,556
 IR =           =             = 55 ,31 A
         3 × Rr     3 × 0 ,02
                       SOAL 4
• Diketahui motor induksi tiga phasa hubungan Y, P=6,
  V=230 V, f=60 Hz,
  Parameter :r1=0.5Ω; r2=0.25Ω; x1=0.75Ω; x2=0.5Ω;
  Xm=100Ω; Rc=500Ω;
  Impedansi stator = 0.02+j0.06 Ω; rotational loss=160
  W
• Tentukan : Arus stator, arus rotor, arus magnetisasi,
  daya input, rugi tembaga stator, rugi tembaga rotor,
  daya output, torsi pada shaft dan efisiensi η saat rated
  slip=2.5 %
           PENYELESAIAN

Kecepatan sinkron :
      120 × f s 120 × 60
 ns =          =         = 1800 rpm
         P         4

Kecepatan sudut sinkron :
      2π × ns 2π ×1800
 ωs =        =         = 188,5 rad/s
        60       60
          Rangkaian Ekivalen Motor

                                                                           ⇒ PkE
                                                      r2/s ⇑
                                    jx1=j0.75                  Pcu 2 I 2
               I1     r1=0.5
                                                                                      ⇒ Po
    ⇒ Pin                                                                  ⇓ Prot
                           ⇑ Pcu1
                                                     ⇒ PAG ⇒ E 2 Z g       jx2=j0.5
                    Z1 ⇒            Zg ⇒
                                                      jXm = j100
V1 = 132∠79o                         Rc=500

                                     ⇓ PFE      Ic   Iφ
Berdasarkan rangkaian pada gambar, maka
Tegangan per-phasa adalah :

       230
  V1 =     = 132,79 V
         3

Impedansi rotor efektif berdasar pada stator adalah :
  )     r2            0 . 25
  Z2 =     + jx 2 =           + j 0 .5
         s           0 . 025
     = 10 + j 0 . 5 = 10 . 012 ∠ 2 . 86 Ω
                                       o
Impedansi celah udara :

     1   1   1    1
     ) =   +    + )
     Z g Rc jX m Z 2
            1    1        1
         =    +    +
           500 j100 10.012∠2.86 o


         = 0.103∠ − 8.37   o

Maka :
      )
      Z g = 9 . 709 ∠ 8 . 37 o
Impedansi total :
     )               )
     Z = r1 + jx 1 + Z g
        = 0 ,5 + j 0 , 75 + 9 , 709 ∠ 8 , 73 o
        = 10 ,335 ∠12 , 08 o
Arus stator :
           )
      ) V1     132 .79∠0 o
      I1 = ) =              = 12.849 ∠ − 12.08 o
           Z 10.335∠12.08 o
Faktor daya :
    pf = cos(−12.08o ) = 0.978 (lagging )
Daya input :
  Pin =    3 ⋅ V1 ⋅ I 1 ⋅ cos θ
  =    3 ⋅ 230 ⋅ 12 ,849 ⋅ 0 ,978 = 5006 , 06 W
Rugi tembaga stator :
   Pcu1 = 3 ⋅ I1 ⋅ r1 = 3 × 12,849 2 × 0,5 = 247.7 W
               2


Tegangan Input :
   )     ) )
   E2 = V1 − I1 ( r1 + jx1 )
       = 132,79 − (12,849∠12,08 ) × (0,5 + j 0,75)
                                   o


       = 124,76∠ − 3,71o V
Arus Inti :
      )
  ) E2 124,76∠ − 3,71o
  Ic = =               = 0,25∠ − 3,71 A
                                     o

      Rc    500
Arus magnetasi :
        )
  )     E2 124,76∠ − 3,71o
  Iφ =     =               = 1,248∠ − 93,71 A
                                           o

       jXm      j100
Arus eksitasi :
  ) ) )
  I m = I c + Iφ = (0,25∠ − 3,71 ) + (1,248∠ − 93,71 )
                                o                   o


     = 1,272∠ − 82,41 A
                      o
Arus rotor :
 ) ) )
 I 2 = I1 − I m = (12,849∠ −12,08 ) − (1,272∠ − 82,41 )
                                 o                   o


    = 12,478∠ − 6,57 Ao


Rugi inti :

  Pc = 3 ⋅ I ⋅ Rc = 3 × 0,25 × 500 = 93,75 W
          2
          c
                          2



Daya celah udara :
  PAG = Pin − PCU 1 − PFE = 50006,06 − 247,65 − 93,75
      = 4664,66 W
Rugi tembaga rotor :
 P 2 = 3⋅ I ⋅ r2 = 3×12,478 × 0,25
  CU
            2
            2
                             2


      = 116,78 W
Daya konversi :
 Pke = PAG − Pcu 2 = 4664,66 − 116,78
    = 4547,88 W
Daya output :
 Po = Pke − Pmech = 4547,88 − 150
    = 4397,88 W
Efisiensi :

     Po 4397,88
   η= =          = 0,879 atau 87,9 %
     Pin 5006,06

Torsi poros/shaft :

            Po           4397,88
   Tc =          =                    = 35,9 Nm
        (1 − s)ωs (1 − 0.025) ×125,66
                   SOAL 5
• Diketahui motor induksi tiga phasa hubungan Y.
  Parameter : r1=10 Ω; x1=25 Ω; r2=3Ω; x2=25 Ω,
  Xm=75 Ω
• Tentukan : breakdown slip dan torsi maksimum
  pada motor.
           PENYELESAIAN

Kecepatan sinkron :
      120 × f s 120 × 60
 ns =          =         = 1800 rpm
         P         4

Kecepatan sudut sinkron :
      2π × ns 2π × 1800
 ωs =        =          = 188,5 rad/s
        60       60
          Rangkaian Ekivalen Motor

                                                                           ⇒ PkE
                                                      r2/s ⇑
                                    jx1=j0.75                  Pcu 2 I 2
               I1     r1=0.5
                                                                                      ⇒ Po
    ⇒ Pin                                                                  ⇓ Prot
                           ⇑ Pcu1
                                                     ⇒ PAG ⇒ E 2 Z g       jx2=j0.5
                    Z1 ⇒            Zg ⇒
                                                      jXm = j100
V1 = 132∠79o                         Rc=500

                                     ⇓ PFE      Ic   Iφ
Berdasarkan rangkaian pada gambar, maka
Tegangan per-phasa adalah :
        120
 V1 =         = 69.282 V
          3
Tegangan thevenin:
   )           jV1 X m          j 69.282 × 75∠90     o
  VTh =                       =
          r1 + j ( x1 + X m )     10 + j (25 + 75)
     = 51.704∠5.71o
Impedansi thevenin :
   )       j (r1 + jx1 ) X m
   ZTh =
         r1 + j ( x1 + X m )
         j (10 + j 25) × 75
       =
         10 + j (25 + 75)
       = 20.094∠73.91      o


Maka :
    RTh = 5.569 Ω      dan     X Th = 19.307 Ω
Breakdown (optimum) slip :
                       r2
    sb =
              RTh + ( X Th + X 2 ) 2
               2


                            3
          =
              5,5692 + (19,307 + 25) 2
          = 0,067

Torsi Maksimum:
                      3 ⋅VTh
                           2
 Te =
                (
      2 ⋅ ω s ⋅ RTh + RTh + ( X Th + X 2 ) 2
                         2
                                               )
                                       3
      =                                                = 0,424 Nm
          2 ×188,5 × 5,569× 5,5692 + (19,307 + 25) 2
                   SOAL 6
• Diketahui motor induksi tiga-fasa, 100 HP,
  V=440 V, P=8, f=60 Hz,
  impedansi rotor= 0.02 + j 0.08 Ω perfasa.
• Tentukan : Kecepatan saat torsi motor
   maksimum dan resistansi eksternal yang harus
   ditambahkan secara seri pada rotor jika torsi
   start dari motor 80 % dari nilai maksimum
             PENYELESAIAN

Daya output :
 Po = 100 × 746 = 74600 W

Kecepatan sinkron :
        120 ⋅ f s 120 × 60
   ns =          =         = 900 rpm
           p         8
   atau
        2πn s 2π × 900
   ωs =      =         = 94.248 rad/s
         60      60
Impedansi rotor :
 Z 2 = 0 . 02 + j 0 . 08 Ω
 R 2 = 0 . 02 Ω
 X 2 = 0 .08 Ω

Slip maksimum dapat diperoleh
dengan :
       R2 0.02
  Sb =    =     = 0.25
       X 2 0.08
Kecepatan motor saat torsi maksimum adalah :
     nr = ns - s ⋅ nr
         = 900 - ( 0.25 × 900)
         = 675 rpm

Torsi motor maksimum diperoleh :
                   P0
     Tmaks   =
               (1 − s)ω s
                      74600
             =
               (1 − 0.25) × 94.248
             = 1055.372 Nm
Penambahan tahanan luar (r) saat motor jalan
pada torsi start 80% dari nilai maksimum adalah :

           ( R2 + r )             R2
                            = 0,8
     ( R2 + r ) + ( X 2 )
               2          2
                                  X2
                                             R2
     ( R2 + r ) = (( R2 + r ) + ( X 2 ) )0,8
                           2           2

                                             X2
                                                0,02
     (0,02 + r ) = ((0,02 + r ) + (0,08) ) x0,8
                               2           2

                                                0,08
     0,02 + r = 0,00032 + 0,016r + 0,8r 2 + 0,064
     0,8r − 0,984r + 0,04432 = 0
         2
Nilai tahanan luar yang dibutuhkan adalah :

            − b ± b 2 − 4ac
    r1, 2 =
                  2a
           − (−0,984) ± (−0,984) 2 − 4 x0,8 x0,04432
         =
                           2 x0,8
           0,984 ± 0,9091
    r1.2 =
                 1,6
    r1 = 1,183Ω
    r2 = 0,0468Ω
           Pengaturan Putaran

Pengaturan Putaran dapat dilakukan dengan :
     -. Mengubah jumlah kutub
     -. Mengubah nilai frekuensi
     -. Mengatur tegangan jala-jala
     -. Mengatur tahanan luar
Pengaturan Putaran
  Menjalankan Motor Induksi Tiga Phasa

Motor induksi tiga phasa dengan daya yang besar tidak dapat
dijalankan dengan cara dihubungkan langsung ke sumber jala-
jala.
Hal ini disebabkan karena, akan menyerap arus yang sangat
besar yaitu mencapai 6 -8 kali arus nominalnya. Hal ini
disebabkan karena pada saat start besarnya slip pada motor
induksi adalah sama dengan 1 (satu), sehingga di saat Slip
= 1, tahanan rotor kecil.
Arus menjadi besar dan akan merusak motor itu sendiri atau
terganggunya sistem instalasi tegangan akan Drop. Di
mana Drop tegangan ini mengganggu kerja dari relay,
kontaktor, nyala lampu, maupun peralatan elektronik dan
computer yang ada disekitarnya.
Ada beberapa cara untuk mengurangi
besarnya arus start antara lain adalah :

 1. Primary resistor control
 2. Transformer control
 3. Wey-Delta control
 4. Part-winding start control
 5. Electronic control
               STARTING STAR/DELTA

           X    Y   Z                 Z   X    Y




           U    V   W                 U    V   W


Gambar. Hubungan Bintang          Gambar. Hubungan Segitiga

Kumparan stator saat pengawalan dalam hubungan bintang (Ү), setelah
motor mencapai putaran nominal hubungan berubah menjadi delta (∆).
Sehingga hubungan tegangan dan arusnya dapat dilihat sebagai berikut :
Tegangan , pada hubungan bintang (Y) tegangan pada kumparan mendapat
tegangan sebesar 1/ dari tegangan jala-jala , untuk hubungan delta
(∆).tegangan pada kumparan mendapat tegangan sama dengan tegangan
jala-jala.
STARTING STAR/DELTA

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:2807
posted:10/10/2011
language:Indonesian
pages:165