garam menjadi listrik by aliashari1974

VIEWS: 32 PAGES: 1

									                                                 Direktorat Pembinaan Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus Pendidikan Dasar (PPK-LK Dikdas)


Mengubah Garam Jadi Listrik


TOFTE -- Secangkir teh di tangan putri mahkota Norwegia, Mette-Marit, itu begitu istimewa. Teh itu adalah minuman
pertama yang diseduh dengan tenaga osmosis, hasil pembangkit listrik tenaga osmosis pertama di dunia yang
diresmikan di Tofte, Norwegia, 24 November lalu.Pembangkit baru tersebut memanfaatkan energi dari pertemuan air
tawar dan air laut untuk menghasilkan listrik bersih. "Garam saja mungkin tak dapat menyelamatkan dunia, kami yakin
tenaga osmosis ini akan menjadi bagian penting sumber energi terbarukan global di masa depan," kata Bard Mikkelsen,
 pemimpin Statkraft, kelompok perusahaan energi milik pemerintah Norwegia.



Perusahaan energi alternatif, mulai energi surya, angin, hingga air, membangun prototipe pembangkit listrik tenaga
osmosis itu di Hurum, tepi Teluk Oslo, 60 kilometer selatan ibu kota Norwegia. "Ketika air tawar dari sungai mengalir ke
laut dan bercampur dengan air asin, ada energi yang dilepaskan," ujarnya, "Statkraft telah mengembangkan teknologi
dan sistem untuk menangkap energi itu." Pemanfaatan energi osmosis ini dilandaskan pada fenomena alam osmosis,
yang memungkinkan pohon mengisap air dari daun. Prinsip itu kemudian diterapkan pada pembangkit listrik baru ini
dengan menyalurkan air tawar dan air laut yang memiliki kandungan garam tinggi ke bilik yang dipisahkan oleh sebuah
membran buatan. Membran tipis itu dapat dilewati air, tapi tak dapat ditembus garam. Molekul garam dalam air laut
menarik air tawar menembus membran, menyebabkan tekanan pada bilik air laut meningkat. Hal itu terjadi karena air
mengalir dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi yang lebih tinggi. Tekanan setara dengan tangki air setinggi 120 meter
atau sama dengan sebuah air terjun itulah yang digunakan untuk menggerakkan turbin dan menghasilkan listrik.
Menteri Perminyakan dan Energi Norwegia Terje Riis-Johansen amat bangga atas peresmian pembangkit listrik tenaga
osmosis pertama di dunia itu. "Kami berada di barisan terdepan, dan kami telah membuka sesuatu yang belum pernah
dibuka sebelumnya," ujarnya. Riis-Johansen pantas berbangga hati atas peresmian pembangkit listrik tenaga osmosis
ini. Meski listrik yang dihasilkan prototipe itu baru sebatas untuk menyeduh teh dan kopi, listrik yang diproduksinya
ramah lingkungan dan bersih. Berbeda dengan energi alternatif lain, semisal angin dan tenaga surya, tenaga osmosis
juga lebih unggul. Sumber energi baru ini menghasilkan listrik yang stabil tanpa terpengaruh kondisi cuaca. "Ini adalah
bentuk energi terbarukan yang menghasilkan energi stabil yang dapat diandalkan," kata Stein Erik Skilhagen,
penanggung jawab proyek tersebut di Statkraft. Pembangkit listrik ini juga bisa dibangun di bawah tanah, misalnya di
bawah gedung pabrik atau taman. Kelebihan lain pembangkit energi osmosis ini juga tidak menyebabkan polusi ke
atmosfer atau air, dan tidak mempengaruhi flora dan fauna di sungai maupun di dasar laut. Sebelum Statkraft
memanfaatkan tenaga osmosis untuk menghasilkan listrik, fenomena itu hanya digunakan oleh industri untuk
mendesalinasi atau menyuling air laut menjadi air tawar. Kini hampir semua negara yang berbatasan dengan laut dapat
memanfaatkan energi osmosis ini, karena yang diperlukan hanyalah pertemuan air tawar dan air laut. Asalkan ada
sungai yang mengalir ke laut, pembangkit energi osmosis bisa didirikan. Potensi energi osmosis di seluruh dunia
diperkirakan mencapai 1.700 terawatt hour (TWh) per tahun, setara dengan separuh produksi energi Uni Eropa atau
sama dengan konsumsi listrik Cina pada 2002. Masalahnya sekarang adalah membran yang lebih efisien energi.
Gagasan untuk menciptakan listrik dari energi osmosis sebenarnya telah muncul pada 1970-an. Namun, membran pada
masa itu sangat rendah kemampuannya dan biaya listrik masih murah sehingga tak ada yang mau berinvestasi untuk
membuat membran. Prototipe ini pun dibangun pemerintah Norwegia untuk menguji teknologi osmosis sekaligus
mengembangkan membran yang mampu menarik cukup banyak air agar dapat menciptakan tekanan yang efektif
sebagai penggerak turbin. Pada saat ini, prototipe pembangkit tersebut hanya dapat memproduksi 2.000-4.000 watt
jam per hari atau cukup untuk menyalakan satu kompor saja. Untuk memperbaiki teknologi membran tersebut, Statkraft
bekerja sama dengan lembaga riset dan industri di Norwegia, Jerman, dan Belanda. Pada saat ini, membran yang
paling efisien hanya mampu menghasilkan 3 watt per meter persegi sehingga belum memenuhi standar komersial, yakni
5 watt per meter persegi. Statkraft berharap dapat mulai membangun pembangkit listrik tenaga osmosis komersial
pertamanya pada 2015. Rencananya, pembangkit listrik itu memiliki kapasitas hingga 25 megawatt, cukup untuk
memenuhi kebutuhan listrik 10 ribu rumah.
http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2009/11/26/Ilmu_dan_Teknologi/




http://www.pkplk-plb.org                         Powered by Joomla!                                                 Generated: 9 June, 2011, 11:22

								
To top