Docstoc

biografi_penari

Document Sample
biografi_penari Powered By Docstoc
					01.Penari India Pecahkan Rekor Dunia
Mancanegara | January 7, 2011 at 00:13




Seorang wanita penari asal India, Kalamandalam Hemaletha, rajin berlatih tarian klasik
India 10 jam setiap hari.

Tak hanya itu, ia juga jogging sejauh 45 Km, untuk mendongkrak staminanya. Setelah
itu, ia menari, menari, dan menari.

Rekor pun dipecahkannya. Wanita asal Kochi ini menari tarian Mohiniyattam selama 123
jam 15 menit. Mohiniyattam merupakan satu dari delapan tarian klasik India yang
dibawakan secara solo.

Ibu berusia 37 tahun itu dinyatakan sebagai pemecah rekor menari terlama. Ofisial
Guinness World Records, Amarilis Whitty menyebutkan, pemecahan rekornya sendiri
dilakukan September lalu, di Thrissur, sebuah kota kecil di negara bagian Kerala Selatan.

Hemaletha Kamis (6/1) mengatakan, ia menerima sertifikat Guinness World Records dua
hari lalu. [ap/end]

Famous Mohiniyattam dancer Kalamandalam Hemalatha break the world record for the
longest dance performance by crossing the existing record performed in Mohiniyattam
for 108 hours continuously, attained by Dr Vattikotta Yadagiri Acharya of Hyderabad in
2008. She reached the Guinness record at 9.32 pm on Saturday(25.09.2010), at the K T
Muhammad Smaraka Theatre of the Kerala Nadaka Sangeetha Academy, Thrissur. Her
aim is to reach the 120 hour mark by performing Mohiniyattam continuously from
September 20 to September 26.
02.Kalamandalam Hemalatha Break the World Record
for Longest Dance Performance




The danseuse had made an earlier attempt to set the record in Mohiniyattam dance on
June 6 this year aiming to dance continuously for 120 hours, but was forced to stop after
64 hours due to health problems. After graduating from Kalamandalam, Hemalatha also
took a degree in Bharathanatyam from Bharathidasan University in Tiruchirapalli and
MA (Bharathanatyam) from Indira Kala Viswa Vidyalaya, a deemed university at
Chattisgarh. She was the student of Dr. Padma Subrahmanyam, and her husband is P.B.
Jayan & she has two children, Swaroop and Saurav.
Photo from : kalamandalamhemalatha.com


The major achievements attained by Smt. Hemalatha:

      Kerala Kalamandalam Balakrishna Award
      Mohiniyattam Fellowship Award (Ministry of human resources Development
       India)
      Sahithi Puraskaram(Kerala State)
      Lasya Mohini Award(Bombay Malay alee Samajam)
      JCI Puraskaram- Thrissur
Photo from : kalamandalamhemalatha.com

For More Details and Bookings Visit Official site at http://kalamandalamhemalatha.com
Charlize Theron
                  Biografi :
                  Tempat & tanggal lahir
                  7 Agustus 1975, Benoni, Gauteng, South Africa
                  Nickname
                  Charlie
                  Tinggi badan
                  5' 9½" (1.77 m)

                  Charlize Theron dibesarkan di sebuah peternakan di
                  luar Benoni, Afrika Selatan, sebagai anak tunggal. Dia
                  mendapat pendidikan sebagai penari balet dan menari
                  dengan sangat baik seperti dalam film "Swan Lake" dan
                  "Nutcracker Suite". Tidak banyak aktris muda atau
                  penari seperti dirinya yang ada di Afrika Selatan, jadi
                  dia segera pergi ke Eropa dan Amerika Serikat, di mana
                  dia mendapatkan pekerjaan di Joffrey Ballet di New
                  York. Dia juga bekerja sebagai foto model. Namun,
                  sebuah cedera lutut membuatnay harus berhenti dari
                  karier dansanya. Pada usia 18 tahun, ibunya
                  membuatnya pergi ke Los Angeles untuk mencoba karir
                  di industri film. Dia datang ke Los Angeles tanpa
                  mengetahui siapa saja di kota tapi setelah dua minggu
                  ketika ia berada di Hollywood Boulevard, seorang agen
                  memberikan kartu namanya. Setelah delapan bulan di
                  Los Angeles dia mendapat peran dalam filmn yang
                  pertamanya. Sejak itu, ia mengambil pendidikan
                  berakting dan kariernya terus meroket.

                  Filmography :
                  Actress:
                  - Astro Boy (2009) (voice) .... 'Our Friends' Narrator
                  - The Road (2009) .... The Mother
                  - The Burning Plain (2008) .... Sylvia
                  - Hancock (2008) .... Mary
                    ... aka "Hidden from Earth" - Philippines (English title)
                  (review title)
                  - Sleepwalking (2008) .... Joleen
                  - Battle in Seattle (2007) .... Ella
                  - In the Valley of Elah (2007) .... Det. Emily Sanders
                  - "Robot Chicken" .... Daniel's Mom / ... (1 episode,
                  2006)
                      - Book of Corrine (2006) TV episode (voice) ....
                  Daniel's Mom / Mother / Waitress
                  - "Arrested Development" .... Rita (5 episodes, 2005)
                      - The Ocean Walker (2005) TV episode .... Rita
                      - Mr. F (2005) TV episode .... Rita
                      - Notapusy (2005) TV episode .... Rita
                      - Forget Me Now (2005) TV episode .... Rita
                      - For British Eyes Only (2005) TV episode .... Rita
                  - Æon Flux (2005) .... Æon Flux
                  - Æon Flux (2005) (VG) (voice) .... Æon Flux
                  - North Country (2005) .... Josey Aimes
- Head in the Clouds (2004) .... Gilda Bessé
- The Life and Death of Peter Sellers (2004) .... Britt
Ekland
- Monster (2003) .... Aileen
- The Italian Job (2003) .... Stella Bridger
- Waking Up in Reno (2002) .... Candy Kirkendall
- Trapped (2002) .... Karen
  ... aka "Call" - Japan (English title)
- The Curse of the Jade Scorpion (2001) .... Laura
Kensington
- 15 Minutes (2001) .... Rose Hearn
- Sweet November (2001) .... Sara Deever
- The Legend of Bagger Vance (2000) .... Adele
Invergordon
- Men of Honor (2000) .... Gwen Sunday
  ... aka "The Diver" - Japan (English title)
- The Yards (2000) .... Erica Soltz
- Reindeer Games (2000) .... Ashley
  ... aka "Deception" - UK, USA (working title)
- The Cider House Rules (1999) .... Candy Kendall
- The Astronaut's Wife (1999) .... Jillian Armacost
  ... aka "Noise" - Japan (English title)
- Mighty Joe Young (1998) .... Jill Young
- Celebrity (1998) .... Supermodel
- The Devil's Advocate (1997) .... Mary Ann Lomax
  ... aka "Devil's Advocate" - USA (DVD box title)
  ... aka "Diabolos" - Japan (English title)
- Trial and Error (1997) .... Billie Tyler
- Hollywood Confidential (1997) (TV) .... Sally
- That Thing You Do! (1996) .... Tina
- 2 Days in the Valley (1996) .... Helga Svelgen
- Children of the Corn III: Urban Harvest (1995)
(uncredited) .... Young Woman

Producer:
- The Burning Plain (2008) (executive producer)
- Sleepwalking (2008) (producer)
- East of Havana (2006) (producer)
- Monster (2003) (producer)
Bentara Dance Performance KATHAK DANCE by Pooja BHATNAGAR




                        Kamis, 13 November 2008 pukul 19.00 wib

Pooja Bhatnagar adalan seorang Penari Khatak Professional dan juga seorang sejarawan seni. Berpengalaman
selama 18 tahun sebagai penari dan seniman dari ICCR. Banyak pertunjukan yang telah digelutinya sekaligus
sebagai pengajar tari di India maupun di luar negeri. Pooja berlatih pada seorang pakar / pencipta tari Kathak, Smt
Geetanjali dan Shri Rajendra Gangani. Saat ini ia mengajar anak-anak muda berbakat di Jawaharlal Nehru Indian
Cultural Centre (JNICC) Jakarta.




Ni Ketut Cenik Maestro Joged Pingit
Meninggal Dunia
ENTERTAIMENT | JULY 26, 2010 AT 11:04




Denpasar (ANTARA News) – Ni Ketut Cenik (86), maestro penari joged pingit dan legong playon kesenian
klasik Bali, meninggal dunia ketika dalam perawatan intensif di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Sanglah
Denpasar, Bali.
“Dia menghembuskan nafas terakhir Sabtu malam (24/7) pukul 21.20 Wita dan jenazah langsung dibawa ke
rumah duka, Desa Batuan Kabupaten Gianyar,” kata Ketua Sanggar Seni Panti Pusaka Budaya Desa
Batuan I Nyoman Budiartha, SSN ketika dihubungi ANTARA News, Senin.
Nyoman Budiartha mengatakan, Ketut Cenik sempat menjalani perawatan selama dua minggu akibat
menderita sakit jantung basah.
“Jenazah disemayamkan di rumah duka dan Minggu (25/7) dikuburkan di setra Alas Harum Desa Adat
Batuan,” tutur Nyoman Budiartha yang juga cucu almarhum, seraya menjelaskan upacara pengabenan
jenazah almarhum masih menunggu hari baik.
Semasa hidupnya Ketut Cenik menjadikan seni tabuh dan tari Bali bagian dari kehidupan yang dilakoninya
sehari-hari.
Berkat kepiawaiannya dalam bidang tari itu mengantarkan dirinya pernah mengadakan lawatan ke sejumlah
negara di dunia dan terakhir 2008 selama sebulan ke Jepang.
Ketut Cenik pernah menjadi bintang tamu selama pelaksanaan Batuan Art Festival (BAF) III 29 Mei-2 Juni
2008 di Desa Batuan, Kabupaten Gianyar, Bali.
Penampilannya saat itu bersama seniman binaannya mampu menarik perhatian ribuan
wisatawan mancanegaradan nusantara sedang menikmati liburan di Pulau Dewata.
Sejumlah pimpinan biro perjalanan wisata (BPW) asing yang menyaksikan kelincahan nenek dari sejumlah
cucu itu secara spontanitas melakukan “penawaran” untuk mengajak Ni Ketut Cenik pentas keliling ke
sejumlah kota besar di Jepang.
BPW yang menangani kunjungan wisatawan Jepang berliburan ke Bali akhirnya mengajak Ni Ketut
Cenik yang tergabung dalam tim kesenian Bali mengadakan lawatan ke Negeri Matahari Terbit.
Ni Ketut Cenik yang mengantongi segudang penghargaan atas prestasi dan dedikasinya dalam
bidang senitermasuk Dharma Kusuma, penghargaan tertinggi dari Pemprov Bali dalam bidang seni itu,
kiprahnya berhasil mencetak ratusan bahkan ribuan seniman, termasuk diantaranya seniman besar
kenamaan yang sanggup meneruskan upaya melestarikan dan mengembangkan seni budaya di Pulau
Dewata.
Prestasi yang diraihnya itu melalui perjalanan sejarah cukup panjang, berawal dari ketika masa kanak-
kanak, berusaha belajar secara terus belajar, hingga akhirnya mampu menguasasi sejumlah tarian, yang
hingga sekarang sulit dipelajari oleh seniman muda.
Seniwati alam yang telah berhasil mencetak kader-kader penerus, dilakukan tidak hanya dalam lingkungan
desanya di Batuan, namun hampir seluruh pelosok pedesaan di Bali.
Ibu dua putra-putri yang telah dikaruniai tujuh cucu serta tiga cicit itu mempunyai motto “Seniman adalah
sebuah dendam sekaligus pengabdian dan kecintaan”.
Dalam perjalanan sejarah hidupnya yang panjang itu, Ni Ketut Cenik boleh dikatakan sebagai salah
seorang penari “top” Pulau Dewata.
Berawal dari belajar tari Joged Pingitan pada seniman I Wayan Kuir, kemudian belajar tari Arja pada Anak
Agung Mandra Ukiran. Namun anehnya, Cenik merasa tidak pernah dipintarkan oleh kedua gurunya itu.
Bagi Ketut Cenik belajar sendiri dan mencari sendiri apa itu menari, lebih penting dari belajar pada
seseorang guru. Akhirnya Cenik mulai membagikan kepandaiannya menari kepada orang lain.
Mulailah Ni Ketut Cenik mengajarkan tari Arja, yang diawalinya dari sekitar desanya. Tak cukup hanya
disitu, Cenik kemudian mengajar tari, khususnya Arja sampai ke Tabanan, Desa Culik, Karangasem,
Peliatan, Palasari, Tampaksiring, Tegenungan di Kabupaten Gianyar.
Selain itu ikut bergabung membina kesenian yang dilakukan secara formal oleh Pemkab Gianyar,
khususnya menyangkut Joged Pingitan dalam rangka persiapan duta Kabupaten Gianyar pada awal Pesta
Kesenian Bali (PKB) digelar tahun 1978, tutur Nyoman Budiartha.
(T.I006/A023/P003)




Profil Margarethe Gertruide Zelle ( Matahari ): Pelacur
Elit Asal Indonesia Sekaligus Mata-mata Untuk
pemerintah Jerman dan Perancis




Penari
Seorang wanita Belanda di era PD-I menjadi penari orientalis dan spion politik untuk pemerintah
Jerman dan Perancis. Gadis Belanda itu bernama Margarethe Gertruide Zelle. Dia lahir di
Leeuwarden, Belanda. Ketika dia berusia 19 tahun, tepatnya tahun 1895, dia dinikahi oleh
Rudolph Macleod,(39 tahun). Rudolph adalah perwira tinggi militer Belanda yang bertugas di
Indonesia. Pasangan baru kimpoi ini diboyong ke Indonesia, pertama kali tinggal di Semarang.
Margarethe senang dengan rumah di Semarang yang nyaman. Tak berapa lama lagi, suaminya
harus berpindah tugas ke Malang, di daerah Tumpang. Di situ Margarethe suka bermain ke candi
Jago, candi Kidal, candi Singosari. Dia mengagumi tarian Serimpi yang ditarikan di candi-candi
tersebut.      Kemudian        Suaminya       dipindah       tugaskan        ke      Sumatra.

Margarethe tidak kerasan tinggal di Sumatra. Dia rindu dengan suasana di Jawa. Apalagi anak
laki-lakinya Norman meninggal di Sumatra. Tahun 1902 pasangan ini kembali ke Belanda. Dan
berakhir dengan perpisahan. Rudolph tinggal dengan anak perempuannya. Masih tahun yang
sama Margarethe pergi ke Paris, dengan tujuan akan belajar balet yang kemudian timbul niat
Margarethe untuk menjadi penari orientalis di sebuah klab malam. Dia mencoba menari
sebisanya bergaya tarian Jawa. Apalagi dia dulu sering melihat tari Serimpi di candi Jago,
Malang. Pakaianpun dia variasi sendiri. Bahkan Margarethe sebenarnya tidak tahu banyak
kesenian Jawa, apalagi agama nenek moyang orang Jawa. Dia nekat saja menari dan
berpakaian                                   khas                                ketimuran.

Tarian dia membuat gebrakan baru. Bukan saja dia pandai menari orientalis di mata orang Paris,
namun dia juga menari dengan eksotik dan telanjang. Dalam waktu singkat namanya sudah
cepat melambung. Banyak kaum elit Paris dan Eropa lainnya terkesima dengan penampilannya.
Ketika banyak media menyorotnya. Dia mengaku kalau lahir di kota Jaffnapatam, pantai Malabar,
India. Sedang ayahnya seorang Brahmana dan ibunya seorang penari di candi. Kebohongannya
membuat publik makin yakin. Apalagi setelah nama yang sebenarnya sebagai istri Rudolph
Mcleod         itu          diganti       dengan           nama          MATA           HARI.
Nama itu kedengarannya sangat asing di telinga orang barat. Khas ketimurannya menonjol. Mata
Hari memang cocok dianggap orang timur. Bukan saja rambutnya yang hitam kelam dan kulitnya
yang kecoklatan. Tapi bibir dan matanya tampak bukan seperti orang barat. Tariannya sungguh
liar       dan       mengundang           decak        kagum          banyak        penonton.

Seorang yang dibuat tergila-gila pertama kali adalah Emile Guimet. Dia pengusaha industri sabun
cuci dari kota Lyon, Perancis. Sejak tahun 1885, Guimet telah mendirikan museum yang
mengkoleksi barang-barang seni orientalis dan dia juga mempersilakan museumnya untuk
pentas dan mengenalkan pada kalangan elit Paris. Honor yang didapat Mata Hari saat itu berupa
emas seharga 1000 Franc. Pada tahun 1905 Mata Hari telah melakukan pertunjukan sebanyak
35 kali. Penonton yang terbanyak di Olympia-Theater, dia mendapat bayaran sejumlah 10.000
Francs. Di samping dia pentas di pertunjukan umum, juga melayani pentas privat. Mata Hari
bercita-cita punya pacar orang kaya. Dan kini cita-citanya telah tercapai. Tak hanya orang kaya
dan bangsawan yang menjadi pacarnya, tapi termasuk para perwira tinggi. Dia hidup dengan
kemewahan.

Kemudian Mata Hari berganti pacar lagi, kali ini dengan seorang pengacara bernama Edouard
Clunet. Dia meminta saran Clunet untuk menghubungkan dengan sebuah agen yang profesional
untuk mengurus pementasannya. Clunet lalu menghubungkan dengan agen teater terkenal
bernama Gabriel Astruc. Pada Januari 1906, pertama kali Mata Hari pentas di luar Perancis yaitu
di Madrid. Pada Pebruari 1906 penari yang juga menyandang nama Margarethe itu pergi ke
Berlin. Dia tak butuh waktu lama untuk memperkenalkan kebolehannya ke publik. Apalagi ada
dukungan dari seorang bangsawan setempat. Kemudian dia pergi lagi ke Wina, karena dia
mendapatkan surat dari Astruc untuk pentas di ibu kota kekaisaran Austria-Hongaria. Publik di
Wina luar biasa. Media terkecoh dengan pemberitaan asal mula Margarethe. Beberapa media
menulis bervariasi, dia berasal dari Belanda, Jawa, Bali dan India. Postur tubuhnya juga diekpos,
besar      dan         langsing.    Kemolekannya         seperti    seekor      binatang     liar.
Seorang perempuan cantik yang mirip dewi aneh, berkulit gelap mirip gelapnya malam. Sebuah
media mewartakan, kalau Margarethe berusia 30 tahun, tapi wajahnya seperti gadis muda.
Bahkan di bulan Desember di Belanda terbit sebuah buku berjudul:"The Life of Mata Hari, the
Biography of my Daughter". Buku itu ditulis oleh Adam Zelle, ayah Margarethe. Margarethe tidak
yakin, kalau itu tulisan ayahnya sendiri. Dia percaya, kalau ada dua penulis mendatangi ayahnya,
karena                                                                           kepopulerannya.

Spion(Double                                  Eye                                   Spy)
Sudah berbulan-bulan telah beredar desas-desus ketegangan internasional di seluruh Eropa.
Perang akan terancam meletus. Pada awal Agustus 1914 diumumkan perang telah meletus.
Orang-orang di jalan marah dan beringas. Pertokoan di sepanjang jalan di Paris yang berlabel
Jerman atau Austria dibakar. Tak ada lagi "Brasserie Viennoise" dan "Café Klein". Polisipun
kewalahan antara memihak bangsanya atau manusia pada umumnya. Di Berlin reaksinya tak
beda dengan di Paris. Bangsa Jerman dan Perancis bersitegang dan dipertanyakan, kenapa
Margarethe mondar-mandir di Berlin? Hanya seorang penari, namun banyak punya kenalan luas
dan orang-orang penting. Akhir bulan Juli 1914 Margarethe menjalin hubungan dengan seorang
komandan polisi bernama Griebel. Margarethe sebagai gundiknya ikut melihat demonstrasi di
luar istana kaisar. Semboyan "Deutschland über Alles" mengumandang keras. Dalam beberapa
hari saja, Margarethe kena sasaran aksi anti orang asing. Suasana yang mencekam itu juga
mengkhawatirkan keselamatan Margarethe. Kini dia sudah berusia 38 tahun. Dia punya akal ke
Paris lewat Zürich, Switzerland. Namun pada 7 Agustus dia sudah berada di Berlin lagi. Bukan
saja dia tanpa kawan di Berlin, tapi juga tanpa pakaian. Dia beruntung ada orang Belanda tua
yang baik hati dan membelikan tiket kereta api untuk keluar dari Berlin menuju Belanda. Pada 14
Agustus dia meninggalkan Berlin dan berhenti di Frankfurt meminta dokumen perjalanan konsul
Belanda. Tanggal 16 Agustus dia tiba di Amsterdam. Pada 14 Desember 1914 untuk pertama
kalinya Margarethe manggung di publik Belanda. Gedung teater di Den Haag penuh sesak
pengunjung. Semua orang ingin melihat penampilan Mata Hari yang sudah tersohor itu. Tak
begitu lama Margarethe menemukan pasangan barunya, Baron Edouard van der Capellen.
Baron Edouard tak hanya kaya, tapi juga pimpinan kavaleri. Dia berusia 52 tahun. Dalam tempo
sebulan dari perjumpaannya Margarethe dibuatkan sebuah rumah mungil nan indah oleh Baron
di      Den      Haag.     Baron      menganggap        Margarethe       bagaikan     prostitusi.

Pada 13 Maret 1915 Margarethe membaca koran Belanda yang memuat fotonya dengan judul
"Madame Mata Hari". Dia sedih meratapi masa jayanya yang sudah lewat, sementara di rumah
pemberian Baron seperti terkekang. Pada Agustus 1915 Margarethe berulang tahun yang ke 39
tahun. Kehidupan sehari-hari Margarethe terasa sepi, karena Baron sering bertugas berbulan-
bulan tak pulang. Margarethe mencoba kabur dan akan kembali ke Paris lagi. Jalan yang dia
tempuh harus berkeliling dari Amsterdam menuju pelabuhan Inggris, selat Biskaya ke
Vigo,Spanyol utara. kedatangan Margarethe di Paris Desember 1915 menjadi sorotan agen
Prancis. Margarethe mengenakan pakaian mahal dan berlagak sombong. Apalagi dia merasa
pernah                menjadi                bintang                di               Paris.

Pada suatu kesempatan Margarethe mengungkapkan: Suatu malam bulan Mei 1916 di Den
Haag aku didatangi seseorang yang bernama Karl Kramer. Kramer memberitahu tentang
hubungannya dengan Perancis. Dan dia tanya aku, apakah kiranya aku bisa sedikit berbuat yang
bisa membuat senang bangsa Jerman? Margarethe menirukan tawaran Kramer:
"Kalau kamu bisa bantu, aku gembira dan aku sediakan bayaran sebanyak 20.000 Franc."

Mendengar tawaran uang, Margarethe terpikat. Namun dia butuh beberapa hari untuk
mempertimbangkan. Bagi Margarethe tidaklah teramat sulit, karena dia sudah terbiasa berbuat
naif dan menjalani liku-liku dengan berbagai kalangan elit. Margarethe mengajukan usulan,
seandainya dirinya bisa berbuat lebih, bisakah ditambah bayarannya? Dan Kramer menyetujui.
Akhirnya dia menulis surat jawaban ke Kramer, kalau dirinya sanggup menerima tawaran. Betapa
senang Kramer, dia cepat-cepat mendatangi rumah Margarethe sambil membawa uang kontan
20.000 Franc. Kramer juga membawa peralatan tulis rahasia berupa tiga botol tinta. Dua botol
diantaranya berupa tinta tanpa warna. Sedang sebuah botol berisi tinta berwarna biru kehijauan.
Cairan di botol pertama berfungsi untuk melembabkan kertas. Cairan botol kedua untuk menulis
berita dan cairan di botol ketiga untuk menghapus. Margarethe tampak heran dengan peralatan
rahasia itu. Tapi dia mempercayai Kramer. Tak hanya di situ persiapan sebagai agen ata-mata.
Namun ada sandi khusus yang harus dipakai Margarethe yaitu sandi nomor: H21. Sandi nomor
itu harus ditulis sebagai tanda tangan. Dan semua beritaharus dikirim ke alamat Hotel de
l`Europe                                     di                                    Amsterdam.

Lalu Margarethe dikirim ke Paris, untuk mengirim berita-berita yang penting.
Tapi Margarethe tak tahu apa-apa tentang tugas yang akan dilakukan. Memang antara dunia
spionase dan seks sangat erat. Orang-orang yang penting posisinya dan intelek sekalipun tetap
akan bertekuk lutut di atas ranjang. Di Paris petualangan cinta Margarethe dimulai lagi. Kali ini
dengan seorang perwira muda Rusia bernama Vadime de Masloff. Pada suatu malam ulang
tahun Margarethe yang ke 40 itu, pemuda Vadime bercinta di kamar Grand Hotel. Vadime
usianya 20 tahun lebih muda dari Margarethe. Bahkan Margarethe berujar, selama hidupnya dia
hanya bercinta dengan para perwira. Suatu hari sebuah musibah menimpa pada Vadime.
Sebuah granat meledak dan melukai wajah serta leher Vadime dan terkena asap gas beracun.
Dia harus dirawat di rumah sakit tentara. Margarethe cemas dan bermaksud ingin mengunjungi
Vadime di rumah sakit. Namun diperlukan surat khusus dari sebuah kantor kementerian perang
di Boulevard St.Germain. Tak tahunya di kantor itu juga dipakai sebagai kantor agen spion
Perancis. Di sebuah tangga gedung itu, secara kebetulan Margarethe berpapasan dengan
kapten George Ladoux. Hubungan antara Margarethe dan Ladoux makin dekat. Makin diketahui,
kalau Ladoux sebenarnya ketua spion Perancis. Margarethe ditawari, untuk bekerja sebagai
spion untuk Perancis. Ladoux menanyakan berapa gaji yang diminta? Bayangan Margarethe
melambung tinggi, utamanya mencita-citakan hidup di masa depan dengan pacar terbarunya
Vadime. "Satu Juta Franc", jawab Margarethe. Ladoux mempertimbangkannya, karena gaji
sejumlah itu sama dengan gaji untuk 12 spion paling handal. Namun Ladoux mencurigai, kalau
Margarethe sebenarnya adalah spion untuk Jerman. Mendengar permintaan gaji yang kurang
ditanggapi Ladoux, maka Margarethe mencoba meyakinkan lagi. Kalau dirinya juga kenal orang
penting di Jerman bernama Kramer. Telinga Ladoux hampir pecah mendengar nama Kramer.
Karena memang dia orang penting Jerman. Dari sini Ladoux makin yakin, kalau Margarethe
benar-benar spion Jerman. Dan Margarethe mencoba akan menjadi double agen. Ladoux tidak
mau mengambil resiko lebih jauh. Dia tak menyanggupi membayar satu juta Franc.

Pada 13 Pebruari Albert Priole, komandan polisi mengetuk pintu kamar hotel, tempat Margarethe
menginap. Polisi itu membawa surat perintah penahanan dantertulis: "Madame Zelle, Margarethe
dengan nama Mata Hari, beragama kristen protestan, lahir di Belanda 7 Agustus 1876, tinggi
1,75, bisa baca tulis telah dinyatakan terdakwa sebagai spion yang menyebarkan berita ke
musuh."

Margarethe resmi menjadi tahanan di Palais de Justice. dibawah pengawasan kapten Pierre
Bouchardon. Kapten Bouchardon terus mempelajari dokumen yang dikirim dari kantor Ladoux.
Margarethe dikeluarkan dari sel untuk dilakukan pemeriksaan. Kesibukan pemeriksaan makin
ditingkatkan, kasus per kasus yang telah terlewati dipertanyakan langsung pada Margarethe.
Hasil pemeriksaan, sangat diragukan loyalitas Margarethe sebagai spion Perancis. Dia dituduh
berbohong dan jelas terbukti sebagai spion Jerman. Margarethe mengelak dan justru mengaku
bekerja untuk Ladoux. Buktinya dia sudah mengirim berita penting dari Madrid. Dalam
pemeriksaan Ladoux tidak ada di tempat. Margarethe meminta menghadirkan Ladoux. Pada 10
April pihak kepolisian menyerahkan bukti pemeriksaan pada zat-zat kimia yang dipakai
Margarethe. Sebuah botol tinta bertuliskan: Beracun, ternyata sebuah tinta tanpa warna itu dari
bahan kwalitas terbaik. Ketika temuan polisi itu diutarakan Margarethe oleh Bouchardon.
Margarethe        mengelak,        dia       mengaku         memesan          di     Spanyol.

Pada 25 Juli 1917 sebuah sidang tertutup digelar dengan penjagaan ekstra ketat. Beberapa saksi
dan pejabat militer perang hadir. Oleh hakim pengadilan perang, Margarethe disodorkan delapan
pertanyaan. Dan Margarethe dinyatakan terbukti bersalah sebagai spion Jerman. Untuk itu
pengadilan perang Perancis menjatuhkan hukuman mati pada Margarethe. Pelaksanaan
hukuman mati pada Senin, 15 Oktober 1917 di Bois de Vincennes, bagian timur kota Paris. 12
resimen artileri siap dengan senapan di sebuah pagi yang dingin dan berkabut. Sedang usia
semua tentara tersebut masih muda, sekitar 20 tahun. Sehari setelah pelaksanaan eksekusi,
tepatnya pada Selasa, 16 Oktober 1917, berbagai media internasional memberitakan. "The Time"
memberitakan penari Mata Hari telah dihukum tembak. "Daily Express", juga melangsir berita
dengan judul "Spion cantik Mata Hari dihukum mati". "New York Times" menulis, penari dan
petualang Mata Hari dijatuhi hukuman mati. Dia diambil dari penjara St.Lazare dan dibawa ke
Vincennes untuk dihadapkan regu tembak. "Le Figoro" mengabarkan, spion Mata Hari dihukum
mati dan mayatnya dikubur di kuburan Vincennes. Dua tahun kemudian Jeanne-Louise, anak
perempuan Mata Hari yang sedang menginjak usia 21 tahun meninggal dunia akibat pendarahan
di otak.


Sukses Sang Penari di Bisnis Kerajinan Perak Dunia
Thursday, July 29th, 2010
oleh : Henni T. Soelaeman




Jiwa seni yang mengalir deras dalam tubuhnya mengantarkan Nyoman
Suarti menjadi desainer perak kelas dunia. Ketika dunia bisnis berada
dalam genggamannya, ia justru memutuskan pulang ke tanah
kelahirannya, Bali. Bagaimana lika-likunya menembus pasar
mancanegara?
Gelung Arjuna dalam ajang New York Fashion Show itu membetot
ratusan penikmat seni kerajinan perak. Memadukan gaya kontemporer
dengan sentuhan klasik Bali, produk dengan kerang atau bebatuan
indah seperti mutiara dibalut ornamen ukiran khas Bali itu
mengantarkan sang desainer, Desak Nyoman Suarti, berkibar di jagat
sosialita New York.
Sejak momen yang berlangsung tahun 1980 itu, sosok energik, lincah,
ramah dan cekatan itu, mendapat julukan Suarti Perak Bali. Namanya
makin berkibar ketika ia mendirikan galeri kerajinan perak Balinesia
Inc. di jantung kota New York, 1986. Setelah itu, kiprah Suarti sebagai
desainer perhiasan perak melanglang sampai ke London, Jerman, dan
negara-negara Eropa lainnya. Pesanan dari selebritas dunia pun
membanjir. Produk Suarti muncul di Value Vision, jaringan televisi
belanja di Amerika Serikat. Majalah Vogue Alture pun mengulas
rancangan kelahiran Ubud, Bali 25 Mei 1958 ini.
Mengundang decak kagum banyak kalangan, namanya pun menjadi
merek desainer kerajinan perak kelas atas. Kini, sudah ribuan desain
yang dihasilkan ibu tiga anak dan nenek dua cucu ini. Toh, hujan emas
di negeri orang itu justru menggelitik Suarti untuk pulang ke tanah
kelahirannya pada 1990. Bersama sang suami, Peter Luce, ia pulang
ke Bali dan mendirikan PT Suarti. Padahal, bisnis perak Suarti tengah
berkibar di mancanegara seiring kiprahnya membeli perusahaan perak
Kanada, Bali Inc.
Suarti tentu punya alasan. Kepulangannya ke Bali ternyata untuk
memperbesar produksi. Suarti tak tanggung-tanggung merogoh
koceknya hingga Rp 5 miliar buat mendatangkan mesin-mesin
produksi agar para tukang peraknya menyelesaikan order tepat waktu.
“Waktu penyelesaian menjadi kendala terbesar dalam menyelesaikan
pesanan,” ungkapnya. Mesin-mesin ini diharapkan Suarti bisa
meringankan kerja para tukangnya tanpa meninggalkan pekerjaan
manual yang menjadi syarat sebuah hasil kerajinan tangan.
Sementara pemasaran, Suarti sejak awal memfokuskan diri
menggarap pasar ekspor saja dengan meneruskan pasar yang telah
dibinanya saat masih di AS. Hampir 90% karyanya diekspor ke AS,
Australia, Eropa dan negara-negara Asia. Suarti hanya bekerja sama
dengan mitra-mitra bisnisnya secara wholesale. “Kebijakan harga ritel
produk saya serahkan sepenuhnya pada mitra bisnis,” ujarnya.
Dengan sistem ini membuatnya bisa lebih fokus mendesain dan
berproduksi saja. “Saya tidak mau direpotkan dengan permintaan
perorangan,” tambahnya. Walaupun diakui bila menjual ritel tentu
keuntungan yang berhasil diraup akan jauh lebih besar.
Untuk membantu merealisasi ide-idenya, ia membentuk Suarti Design
Centre, yang saat ini menaungi tiga desainer yang siap merealisasikan
idenya. “Saya tetap memberikan makna dan jiwa pada setiap produk
yang digarap tim,” ujar Suarti sambil memperlihatkan hasil desainnya.
“Tanggung jawab desain dan memberikan jiwa pada setiap produk
Suarti tetap di tangan saya,” imbuh Suarti menggambarkan posisinya
sekarang. Dia mengaku tidak akan pernah kehabisan ide mengingat
begitu beragamnya budaya Indonesia yang bisa diadaptasi. “Desain
saya dipengaruhi gerak tari Bali,” katanya.
Suarti memang teguh mengeluarkan rancangan bergaya tradisional
yang mempunyai kesan unik untuk tetap bersaing di pasar
internasional. “Saya tetap berkomitmen untuk tampil melestarikan
kehebatan budaya,” tutur Suarti di teras belakang rumahnya yang
bergaya tropis, menghadap langsung ke laut lepas di Desa Ketewel,
Gianyar, Bali.
Dengan 120 karyawan yang bekerja di kantornya yang letaknya
berhadapan dengan rumah tinggalnya, dan tidak kurang dari 350
tukang yang bekerja di rumah masing-masing, Suarti merasa agak
kewalahan memenuhi order yang harus diselesaikan untuk bulan Mei-
Juli, yang menghabiskan bahan baku hingga mencapai tidak kurang
dari satu ton perak yang dikombinasikan dengan berbagai bebatuan.
Selain memenuhi pesanan mitra bisnis wholesale-nya, secara rutin
setiap dua bulan Suarti juga tampil di home shopping network AS dan
Inggris dengan air time empat jam untuk memperkenalkan desain
terbarunya berupa satu tema terpadu mulai dari cincin, gelang,
kalung, anting hingga bros yang rata-rata dihargai US$ 100 untuk
cincin, sedangkan kalung US$ 350.
Dari tampilnya di TV itu, Suarti mengaku meraih Rp 1-2 miliar per
bulan dengan margin keuntungan rata-rata 30%. Pemasaran produk
Suarti memang masih ditangani sendiri. Selain rutin tampil di QVC dan
Value Vision, ia juga mengikuti pameran di luar negeri untuk mencari
mitra bisnis wholesale, sebagai upayanya memperbesar pasar. “Aktif
jemput bola. Go and get it. Ayo desainer Indonesia, you can do it,”
ujarnya bersemangat.
Kerja keras dan bertanggung jawab dijadikan dasar pijakan Suarti
untuk terus berkembang di pasar internasional. Tak heran ia begitu
bersemangat melakukan perjalanan karena baginya
tiga showroom yang ia miliki di Bali hanya dipakai untuk memajang
contoh produknya dan sisa hasil ekspor (bila ada), bukan untuk
menjaring pembeli eceran. Dengan alasan yang sama, ia memilih tidak
mempunyai toko sendiri di luar negeri, melainkan hanya mitra bisnis
yang diberi kebebasan menjual secara ritel, tersebar di AS, Inggris,
Jerman, Australia dan Jepang, yang rata-rata mampu memberi
pemasukan hingga Rp 29 miliar ke pundi-pundi Suarti setiap tahun.
Karakteristik pembeli di negara maju, menurut Suarti, sangat
gampang ditangkap. “Asal bisa jujur, mempunyai komitmen dan
bertanggung jawab terhadap produk yang dihasilkan,” katanya.
Setelah hampir 20 tahun, ia berhasil membesarkan PT Suarti tidak
hanya memproduksi aksesori berbahan baku perak. Saat ini tidak
kurang dari 9 anak perusahaan bernaung di bawah PT Suarti seperti
Suarti Ritual of Fire (fashion jewelry), Suarti Homeware, Suarti Gold,
Visnu (pengembangan dan kreasi), Luh Luwih (Sanggar Seni Wanita
Bali), Maestro Resto Sanur, Maestro Bistro Celuk, dan Swamitra Visnu
(koperasi).
Kejelian mengendus peluang bisnis dipadu dengan kekuatan “jiwa”
dalam setiap produk yang dihasilkan adalah kunci keberhasilan Suarti
mengekspor aksesori perak ke mancanegara dengan omset puluhan
miliar rupiah. Padahal, latar belakangnya bukanlah keluarga
wirausaha. Ia justru lahir dari keluarga seniman. Kakek dan neneknya,
Dewa Limbak dan Jero Nesa, dikenal sebagai pionir penari Legong
Keraton. Sang ibu, Jero Gambir, terkenal sebagai penari Arja yang
juga menempa Suarti menjadi penari andal. Sementara sang ayah,
Dewa Putu Sugi, berprofesi sebagai pelukis. Alhasil, pada usia 10
tahun (1968), Suarti sudah menyabet juara satu Lomba Tari Taruna
Jaya dalam Festival Gong Kebyar se-Bali.
Mengikuti jejak ayahnya, Suarti juga piawai melukis. “Saya merasa
seolah-olah berada di surga saat mulai membuat goresan di atas
kanvas,” tutur sulung dari tiga bersaudara ini. Perasaan itu,
menurutnya, karena sebelumnya ia hanya bisa mencoret-coret tanah
karena kemiskinan orang tuanya. Lukisan perdananya ini ternyata
mengundang kekaguman seorang editor terkenal dari New York, Mr.
Levine. Tidak hanya tertarik pada lukisannya, Levine juga mengupah
Suarti kecil bersama grup tarinya untuk menari. Di kemudian hari
Levine banyak membeli dan menjadi penggemar fanatik lukisan Suarti.
Perjalanan Suarti sebagai pengusaha sejatinya dimulai dari
kepiawaiannya menari. Diawali dengan petualangan pertama ke luar
negeri pada 1972 saat diajak bergabung oleh Anak Agung Gede
Mandra, penari dan pemilik grup tari asal Peliatan, Ubud – yang sangat
terkenal saat itu – menjadi Duta Kebudayaan Indonesia untuk ikut
menari di Australia. Sejak saat itu, perjalanan Suarti melanglang
buana seolah tak terbendung. Apalagi setelah ia diperistri Charles
Levins, warganegara AS pada 1973, yang kemudian mengajaknya
menetap di Singapura. Pemerintah Singapura kemudian memintanya
menjadi pengajar tari Bali yang dilakoni Suarti sambil belajar fashion.
Ia sempat menimba ilmu di Prett School of Design dan New York
School of Design.
Seiring perceraiannya setelah 7 tahun menikah, Suarti memutuskan
hijrah ke AS. Ia mulai berkiprah di New York Asia Society dan
memantapkan diri untuk hidup di dunia seni dengan mengajar tari di
seluruh universitas di AS. Ia kemudian menemukan jodohnya, Peter
Luce, tahun 1983. Setelah menikah yang kedua kalinya, Suarti mulai
menekuni dunia fashiondengan fokus mendesain dan membuat
kerajinan berbahan baku perak. Bermula dari produksi kecil-kecilan
dengan jumlah terbatas dan hanya dipasarkan di kampus tempatnya
mengajar tari, bisnis kerajinan peraknya ternyata berkembang pesat
di luar perkiraannya.
Namanya berkibar setelah ia mendirikan galeri kerajinan perak
Balinesia Inc. di New York, 1986. Ia mengaku modalnya didapat dari
hasil “proyek” Presiden Jimmy Carter, yang mengenalnya sebagai duta
seni Indonesia. Ia juga sempat mengamen di restoran-restoran untuk
menambah modal demi membesarkan usahanya. Suatu hari, seorang
pengusaha terkenal yang juga pemilik gerai perhiasan terkenal di Fifth
Avenue New York, Henry Bundle, tertarik mengajak Suarti bergabung
menjadi model di toko milik Bundle yang menjual perhiasan dari para
desainer terkenal di seluruh dunia.
Kiprah bisnis Suarti makin menjadi saat dirinya dipercaya memiliki
gerai sendiri untuk memajang karya-karyanya dengan label Suarti
Collection, yang mengantarkannya menjadi desainer perak kelas
dunia. “Aksesori saya mampu berbicara sendiri,” ungkap Suarti tanpa
bermaksud menyombongkan diri. Artinya, “Desain saya mengandung
filosofi dan bermakna sehingga mempunyai „jiwa‟,” tambah
peraih Kartini Award 2007 ini.
Memiliki “jiwa”, kelebihan itu yang menurut Suarti menjadikannya bisa
menyejajarkan diri dengan para desainer aksesori dunia lainnya yang
secara teknis diakuinya jauh di atas kemampuan dia. “Secara teknis
kami kalah jauh,” ia mengakui. “Jiwa” yang berhasil ditampilkan pada
setiap desainnya, lanjut Suarti, lebih disebabkan kedekatannya
dengan budaya Bali dan darah seni yang mengalir deras di tubuhnya
sehingga ia lebih mudah berekspresi untuk menciptakan suatu desain.
Talenta dan kejelian mengendus peluang bisnis meluaskan garapan
Suarti ke home accessories peranti makan dan perabot rumah tangga,
seperti sendok garpu dan hiasan dinding. Juga makin menyebar ke
pasar internasional seiring strategi pemasaran yang dikembangkannya
lewat dunia maya. Tak pelak, ragam produk Suarti hadir di sejumlah
situs belanja dunia.
Keberhasilan bisnis tak membuat Suarti melupakan akar seni tari. Di
balik tubuh rampingnya, pemilik beberapa tato di tubuhnya ini aktif
memimpin Forum Peduli Budaya Bali yang didedikasikan untuk
melestarikan budaya Bali. Sebagai orang yang telah cukup lama
berkecimpung di bisnis yang menjual seni, Suarti mengaku paham
benar kalau telah terjadi kegiatan ilegal mematenkan motif tradisional.
Sehingga untuk bisa memakai motif tertentu, perajin harus membayar
sebesar nilai tertentu kepada pihak yang mempunyai hak paten.
Ancaman hukuman dan penolakan dari negara pengimpor hasil
kerajinan menurut Suarti cukup meresahkan para perajin. “Saya tetap
pasang badan di barisan terdepan untuk menjaga warisan budaya
leluhur kita. Jangan sampai di kemudian hari kita harus membayar
pada pihak asing untuk bisa menggunakan budaya kita,” tutur Suarti.
Kepedulian Suarti untuk bisa maju bersama-sama ditunjukkannya
dengan membuka lebar pintu komunikasi bagi yang tertarik untuk
mengetahui lebih banyak tentang seluk-beluk bisnisnya mulai dari
produksi hingga bagaimana bisa menembus pasar luar negeri. Maka,
ia berencana mendirikan sekolah desain plus di mana selain
mengajarkan tentang seluk-beluk desain, juga manajemen
pemasaran. Tidak hanya itu, di tengah aktivitasnya mendesain dan
melakukan perjalanan bisnis, Suarti tidak pernah melupakan obsesinya
mendirikan Museum Perak. ”Sebagai bentuk kecintaan saya pada
dunia seni, khususnya kerajinan perak,” ungkapnya.
Keterbukaan Suarti dirasakan benar oleh para karyawannya. Suarti
yang akrab dipanggil Mami oleh karyawannya ini tak canggung
mendidik langsung bila ada karyawan yang baru bergabung. Hal ini
dirasakan oleh salah seorang karyawannya, Dewi, yang langsung
bergabung begitu lulus SMK Pariwisata, tiga tahun lalu. “Mami baik
dan penuh pengertian,” kata Dewi. Menurutnya, Suarti tak pelit
berbagi ilmu dengan para pegawainya. Dari Suarti-lah, Dewi yang
tidak punya latar belakang pengetahuan tentang perak, sekarang tahu
banyak tentang produksi hingga pemasarannya. “Mami tidak menjaga
jarak dengan anak buahnya, ” tambah Dewi.



Sardono Waluyo Kusumo
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
  Belum Diperiksa
Langsung ke: navigasi, cari




Sardono Waluyo Kusumo

Sardono Waluyo Kusumo (lahir di Solo, 6 Maret 1945; umur 65 tahun) adalah seorang
penari, koreografer, dan sutradara film asal Indonesia. Ia adalah salah seorang tokoh tari
kontemporer Indonesia.

Sardono pertama kali belajar menari tarian klasik Jawa 'alusan' pada R.T. Kusumo
Kesowo (master tari kraton Surakarta). Pada tahun 1961, R.T. Kusumo Kesowo
menciptakan sendratari kolosal Ramayana yang dipentaskan di Candi Prambanan. Tari
kolosal ini melibatkan 250 penari dengan dua set orkestra gamelan. Sardono diserahi
tugas untuk menarikan tokoh Hanoman - meskipun ia terlatih sebagai penari 'alusan'
bukan 'gagahan'. Pada awalnya ia kecewa, namun tugas ini memberinya inspirasi untuk
mengadaptasi gerakan Hanoman di tari Jawa dengan silat yang ia pelajari sejak umur 8
tahun setelah ia melihat komik Tarzan.

Pada tahun 1968 ia menjadi anggota termuda IKJ pada usia 23 tahun. Pada tahun 1970-an
ia mendirikan Sardono Dance Theatre. Sardono pernah mendapatkan penghargaan
Prince Claus Awards dari Kerajaan Belanda pada tahun 1997. Sejak 14 Januari 2004 ia
adalah Guru Besar Institut Kesenian Jakarta (IKJ).

[sunting] Penghargaan
      Penghargaan khusus berupa diploma berpigura dari Pemerintah Meksiko (17
       Februari 1993)
      Prince Claus Awards 1997 dari Kerajaan Belanda (18 Desember 1997)
        Bintang Budaya Parama Dharma (14 Agustus 2003)
        Distinguished Artist Award dari International Society of Performing Arts (ISPA)
         (Juni 2003)




Tati Saleh


Bagi masyarakat Tatar Sunda khususnya serta Pencinta Seni Budaya Daerah di seluruh Tatar Nusantara
sepertinya sudah tidak asing lagi dengan nama Tati Saleh. Beliau adalah salah seorang Juru Kawih, Juru
Tembang, Penari, Pemain Film serta Penggubah Tari Jaipongan yang sudah tidak asing lagi.

Tati Saleh dilahirkan di Jakarta pada tanggal 24 Juli 1944 dengan nama lengkap Raden Siti Hatijah Saleh. Pada
tahun 60-an, Tati Saleh bersama dengan Indrawati Lukman, Irawati Durban, Tien Sapartinah dan Bulantrisna
Jelantik dikenal sebagai penari istana.

Darah seni yang dimiliki Tati Saleh ini mengalir dari ayahanda tercintanya Rd. Abdullah Saleh. Pada zamannya
ayahanda Tati Saleh ini dikenal sebagai Tokoh Seniman Ciamis yang sekaligus berprofesi sebagai Kepala
Kebudayaan Ciamis. Ibundanya bernama Tjarwita Djuariah serta bertugas sebagi Kepala Urusan Dalam Rumah
Sakit Ciamis yang juga mengajar Seni Tari dan Tembang.

Pendidikan formal Tati Saleh sewaktu SD dan SMP ditempuhnya di Ciamis. Sedangkan Sekolah Lanjutan Atas
(SLA) ditempuhnya di KOKAR (Konservatori Karawitan) Bandung. Tati Saleh masih ingat, pada waktu sekolah di
KOKAR yang menjadi Kepala Sekolahnya adalah Daeng Sutigna.

Ketika di KOKAR Tati Saleh seangkatan dengan Atik Sopandi dan juga Nano S. Tokoh yang mempopulerkan Seni
Ibing Jaipongan bersama Euis Komariah dan Gugum Gumbira ini sangat tekun dengan kariernya. Bersama
mereka pula Tati Saleh menggubah beberapa Seni Ibing Jaipongan seperti Lindeuk Japati, Rineka Sari, Mega
Sutra serta beberapa kreasi Seni Ibing Jaipongan lainnya.

Pengalaman pertama Tati Saleh belajar tari selain dari ayahandanya juga dari tokoh Tari Sunda R. Cece Somantri
pada tahun 1961. Ketika belajar di KOKAR Tati Saleh juga berguru pada R. Enoch Atmadibrata dan Ono
Lesmana. Sejak usia 5 tahun, Tati kecil senang mendengarkan lagu-lagu kawih maupun tembang yang
dinyanyikan Upit Sarimanah, Titim Fatimah dan Ibu Saodah. Bakatnya ini tersalurkan dengan berguru pada Mang
Koko Koswara, Apung S. Wiratmaja dan Mang Bakang Abubakar, sewaktu sekolah di KOKAR. Tidaklah heran
dengan ketekunannya belajar Seni Tembang itu, pada tahun 1961 Tati Saleh berhasil merebut gelar Juara II
dalam Pasanggiri Tembang Sunda Cianjuran yang diselenggarakan DAMAS.

Falsafah hidup Seniwati Sunda yang sering melawat ke luar negeri mewakili Indonesia dan Jawa Barat ini adalah,
dalam menjalani segala sesuatu termasuk menekuni profesi harus dijalani secara tuntas.

“Pokona mah kudu junun, ulah kapalang ngajalanannana, sarta ulah adigung, gumede jeung gede hulu,” ucap Tati
Saleh yang low profile ini.

Tati Saleh dikaruniai 3 orang putera dan puteri masing-masing Mutia Purnamawati, Budi dan Lia Muliawati buah
perkawinannya dengan Maman Sulaeman. Sedangkan muhibah seni Tati Saleh yang terakhir ke luar negeri
adalah Jepang. Tati Saleh pergi ke Jepang bersama-sama dengan Nano S, mengikuti misi kesenian Jawa Barat
selama 1,5 bulan.
Kim Young-soon, 72 tahun, dulunya adalah penari tersohor, dekat dengan kelompok elit
di Korea Utara, dan pernah bertemu sekali dengan pemimpin negara Kim Jong-il.

Semua berubah ketika pihak berwenang mengetahui dia banyak tahu tentang kehidupan
cinta sang pemimpin, dimana ia dijebloskan kedalam penjara politik selama sembilan
tahun.

[Kim Young-Soon, pembelot Korea Utara]:
"Saya tidak tahu keberadaan penjara politik. Saya pikir saya bisa pulang setelah
penyelidikan. Saya menulis semuanya dengan harapan itu. Tidak pernah saya bayangkan
sistem Korea Utara akan membawa kekejaman (karena apa yang saya dengar)."

Hal ini bermula karena ia berteman dengan salah satu aktris terkemuka Korea Utara,
Sung Hye-rim, yang menikah dengan Kim Jong-il dan melahirkan seorang putra di tahun
1971.

Rahasia cinta yang diketahui Kim Young-soon telah mengubah dirinya menjadi kriminal
negara, karena Kim Jong-il berusaha menutupi hubungan ini dari ayahnya, Kim Il-sung,
yang merupakan isu sensitif di negara komunis ini.

Dia baru tahu di tahun 1989 mengapa ia dilempar ke penjara.

[Kim Young-Soon, pembelot Korea Utara]:
"Seorang penyelidik mengatakan Sung Hye-rim bukan istri Kim Jong-il dan tidak
melahirkan putranya, semua itu gosip. Ia berkata saya tidak akan diampuni jika
membocorkannya kepada orang lain."

Akhirnya, dia melarikan diri ke Korea Selatan, sekarang bekerja sebagai seorang
instruktur tari dan koreografer musik tentang penjara politik Korea Utara.
Eko Supriyanto Penari Tradisional di
Pentas Dunia
“Pengalaman yang paling berkesan adalah menari karya sendiri di Tanah Air”

“Mas Eko” begitu dia biasa dipanggil. Pria yang mulai belajar menari di usia tujuh tahun
dan berasal dari Solo, Jawa Tengah ini sempat membuat masyarakat Indonesia heboh dan
bangga ketika dipilih Madonna sebagai salah satu penari latar belakang dalam Drowned
World Tour

2001.

Eko yang lahir di Banjar ini adalah salah satu penari dan koreografer ternama dari
Indonesia yang telah mengantongi banyak pengalaman dan penghargaan dari manca
negara. Dari 1998 sampai 2001, ia mengorganisasi dan mengkoreografi sebuah
pementasan berseri yang berjudul “Second Journey”, dan membawa dia tur keliling
Nusantara bersama para penari dan seniman dari Indonesia, Los Angeles, Seattle, New
York, dan Korea.

Eko yang beraksen kental Jawa ini juga pernah menari dan mengkoreografi opera
produksi Gyorgy Ligeti yang berjudul “Le Grand Macabre” yang disutradarai Peter
Sellars di Paris dan London. Pria yang punya beberapa anak angkat di Solo ini juga
pernah pentas untuk Asian Contemporary Dance Festival di kota Osaka dan Okinawa di
Jepang pada

2002.

Selain itu, ia juga pernah menjadi penasihat tari untuk produksi Julie Taymor’s The Lion
King Disney di Pantages Theater, Hollywood. “Opera Jawa” adalah fi lm perdananya
yang diarahi sutradara kawakan Garin Nugroho dan Eko adalah salah satu aktor utama di
fi lm musikal ini. Film ini salah satu yang terpilih dan ditayangkan di San Francisco
International Film Festival 2007. Saat ini ia sibuk sebagai instruktur tari Jawa di UCLA.

Eko yang mendapat beasiswa dan gelar Master of Fine Arts dari UCLA baru-baru ini
mampir ke Bay Area untuk pentas bersama Gamelan Sari Raras yang diarahi Midiyanto
dan Ben Brinner dari UC Berkeley. Kabari beruntung sekali bisa ada kesempatan untuk
berbicara bersama pria mungil nan ramah ini sebelum ia menari di panggung. Berikut
ngobrol-ngobrol kabari dengan “Mas Eko”.

Kabari (k): Bagaimana ceritanya Anda sampai di UC Berkeley untuk pementasan ini?

Mas Eko (ME): Februari kemarin saya pentas di San Francisco Symphony bersama karya
John Adams dan Peter Sellars. Sebelum pulang, saya dikontak Mas Midiyanto yang tahu
tentang saya dari salah satu teman saya di Berkeley, namanya Mbak Emi Kosoesilo dari
Gamelan Sekar Jaya. Mereka tahu saya akan mengajar di UCLA untuk semester Spring
ini dan akhirnya menawarkan saya untuk pentas di acara ini.

K: Apakah pementasan ini ditujukan untuk promosi tarian Jawa atau untuk pendidikan
bagi mahasiswa seni gamelan UC Berkeley?

ME: Yang pasti untuk departemen seni gamelan UC Berkeley, karena tiap tahun pada
akhir semester atau quarter (catur wulan) mereka mengadakan konser gamelan. Kalau
tahun-tahun kemarin saya rasa tidak, karena jarang sekali penari tradisional yang datang
ke Amerika. Kebetulan tahun ini saya dan beberapa teman penari datang ke Los Angeles,
jadi sekalian digabung, karena seharusnya kan gamelan itu kebanyakan diiringi oleh
penari.

K: Anda mendapat beasiswa dari UCLA tahun 1999 dan gelar MFA tahun 2001,
ceritakan pengalaman di LA?

ME: Saya datang pertama kali di Amerika itu sekitar tahun 1997. Waktu itu saya
diundang oleh wakil Indonesia untuk mengikuti acara American Dance Festival. Terus
dari situ saya langsung diundang oleh Asia Pacific Performance Exchange (APPEX) di
UCLA. Kebetulan di universitas ini ada beberapa teman yang sangat mengenal budaya
Indonesia, saya langsung tanya sama mereka tentang program beasiswa untuk S2. Pas
pulang, saya menerima paket lamaran untuk pendaftaran sekolah dan lamaran beasiswa
dari UCLA. Setelah saya urus pendaftaran, saya diterima dan yang mensponsori adalah
Asian Cultural Council dari New York, Ford Foundation, dan UCLA. Pengalaman ini
luar biasa, karena sangat challenging, apalagi dengan sistem pendidikan Amerika. Saya
malah tambah bermotivasi untuk lebih maju dan lebih mendorong saya untuk
berkreativitas tanpa ada batas tetapi bertanggung jawab. Pengalaman yang lainnya adalah
mempelajari berbagai macam tarian dari negara-negara lain karena saya bagian dari
departemen World Dance and Culture di UCLA.

K: Apa pandangan orang Amerika terhadap seni tradisional Indonesia?

ME: Eksotis, yang jelas. Bagi orang yang tidak begitu mengenal tari Asia atau Indonesia
khususnya, hanya terbatas di situ saja (eksotis). Tetapi bagi orang yang mengenal baik
tari Indonesia dan tahu sejarahnya atau latar belakangnya, mereka akan sangat tertarik
dengan budaya dan masyarakat kita. Akhirnya tidak hanya eksotis saja, bisa juga untuk
menjadi lahan yang luas untuk diteliti. Dari sisi budaya, politik, kolonialisme, atau
bahkan gender. Karena kalau dilihat dari cerita tarian Jawa, pada zaman kerajaan
kebanyakan wanita yang dijadikan untuk menari di depan para pria. Penghargaan orang
Amerika terhadap tari tradisional Indonesia sangat luar biasa. Karena dari tradisi kita
punya identitas, latar belakang, dan masa lalu yang kuat di dalam tubuh kita, apalagi
dalam tarian tradisional.Orang Amerika kan nggak punya.

K: Anda sempat pulang ke Indonesia, seperti apa situasi tari tradisional di Tanah Air
sekarang?
ME: Aduh mengerikan (sambil tertawa) dan sangat fragile. Apresiasi masyarakat
Indonesia saat ini terhadap tarian tradisional semakin jauh. Apalagi sekarang orang
banyak menganggap tarian tradisional itu sudah kuno. Klise memang.

K: Menurut Anda masih banyak nggak kawula muda Indonesia yang menghargai tarian
tradisional?

ME: Kalau di Solo sih masih ya. Karena masih ada kraton dan legitimasi yang kuat untuk
membangun itu. Tapi kalau di luar Solo atau di ibukota saya pikir sudah menjadi sangat
asing yang atau bahkan eksotis. Harusnya kan menjadi asli bukan asing. Yang akhirnya
menjadi sama seperti orang barat melihat tarian tradisional kita.

Nah, itu menurut saya parah sekali, makanya tugas saya, dengan karir ini mudah-
mudahan bisa menjadi contoh atau memacu adik-adik generasi baru untuk tidak
menganggap lagi bahwa tarian tradisional itu bukan sesuatu yang kuno. Dan juga tari itu
bisa menghidupi, mengilhami, dan memberikan daya hidup yang luar biasa.

K: Bagaimana cara artis-artis memandang atau memperlakukan tarian tradisional
Indonesia, melihat kebanyakan dari mereka cenderung kebarat-baratan?

ME: Yang pasti dengan sebelah mata. Mereka berusaha keras untuk berpenampilan
sebarat mungkin.

Contohnya artis Agnes Monica, yang gayanya cenderung ke Hip-Hop atau RnB. Ya
nggak akan bisalah menyaingi Madonna atau Britney Spears dan nggak akan mampu
untuk go international dengan cara seperti itu. Saya waktu itu ada rencana untuk
mengajari Agnes Monica dan kebetulan saya sempat ngobrol sama dia untuk karya
koreografinya. Tetapi ketika saya melihat visi dan misinya ke arah Barat, ya ngapain.
Saya justru merasa dia tidak membutuhkan tenaga dan daya pikir saya. Saya sebenarnya
sih tahu juga tentang RnB, Hip-Hop atau Pop, tapi ya tentu saja keahlian saya memang
tarian tradisi Jawa. Saya tidak merasa leluasa jika harus mengajar sesuatu yang bukan
kekuatan saya. Buat apa juga dan ngapain?

K: Bukannya tarian tradisional itu bisa di-mix dengan tarian modern yang berbau pop
atau RnB?

ME: Harusnya sih bisa. Contohnya Madonna. Sering sekali dia bikin yang tidak ada
esensi Amerikanya.

Mungkin dari sisi white-trash-nya atau gerak-gerik seksualnya. Tapi kan ada flamenco
atau gaya Jepang, atau nuansa Afrikanya juga. Saya pikir justru kita salah melihat wacana
globalisasi sebagai sesuatu yang harus baru atau serba western.

K: Sementara orang Barat sendiri mengarah ke Timur ya?

ME: Iya, memang sering sekali mereka mengarah ke kita.
K: Dari perbedaan segi mana saja yang terlihat jelas perkembangan antara tari di
Indonesia dengan Amerika?

ME: Kalau dilihat dari perkembangan, yang jelas Amerika lebih ke postmodernnya.

Masa-masa modern dan Barat sudah lampau. Yang sekarang ini mereka lebih ke teoritik.
Karena berhubungan dengan teori-teori gender, kolonialisme, atau teori yang tidak hanya
terbatas culture.

Contohnya ketika saya melihat tari India, orang Barat tidak akan hanya melihat bahwa
mereka akan mempelajari tariannya saja, tapi mereka akan mencoba melihat tarian itu
dari sudut mata seseorang yang tidak mempunyai identitas. Itu menjadi sisi teori dan
wacana yang kompleks, nah dari pemikiran yang kompleks itu, akhirnya menjadi sebuah
garapan kreativitas yang lebih sifatnya individu.

Kalau di Indonesia, perkembangan yang saya lihat kebetulan masih ada sisi positifnya
juga di Negara kita.

Maksud saya masih ada juga yang ngugemi atau masih betul-betul melihat bahwa tradisi
kita tuh banyak sumbernya. Contohnya Mahabharata dan Ramayana tuh banyak sekali
mengandung filosofi adi luhur yang sangat luar biasa bagi masyarakat Jawa.

Atau Randay yang ada di masyarakat Sumatra, atau juga Pakarena yang ada di
masyarakat Bugis. Untungnya masih juga yang ada melihat sumber-sumber ini sebagai
kekuatan yang bisa digali untuk menjadi wacana baru di zaman sekarang ini. Saya masih
melihat itu hal yang sangat positif di negara kita. Dari sisi yang lain, saya melihat
banyaknya pop-culture di media kita. Contohnya kita sudah punya istilah penari-penari
latar atau video-video klip yang semakin ala Barat. Tapi ini sisi-sisi yang masih sangat
kecil dibanding bagian besar komunitas tari Indonesia yang saya pikir masih banyak
ngugemi atau mengandalkan sumber filosofi tari tradisional kita.
  Penari Jin Xing Yang Legendaris

   2009-06-10 17:51:51 cri




Jin Xing adalah seorang penari yang legendaris di Tiongkok. Dia mempunyai pengalaman hidup
yang istimewa. Jin Xing adalah laki-laki ketika dilahirkan. Pada usia 28 tahun, melalui
pembedahan trans seksual selama 16 jam, Jin Xing berubahah menjadi wanita. Setelah itu, dia
berpacaran, menikah, dan memelihara anak sebagai ibu. Sementara itu, dia juga membentuk
grup tari-tarian swasta pertama di Tiongkok, dan tak lama berselang, grupnya akan
mempertunjukkan sandiwara klasik Tango Shanghai. Berikut marilah kita kenal Jin Xing secara
lebih dekat.
Di mata orang lain, Jin Xing sebagai waria adalah orang aneh, tetapi dia berani dan dengan
tenang menghadapi segala sesuatu. Walaupun ada orang menyebut dia sebagai penari waria, ia
juga merasa tidak apa-apa. Dia berpendapat, dia mendapat kebebasan dari masyarakat, maka
harus mengizinkan orang lain mempunyai kebebasan bersuara.
Jin Xing mengatakan, " Kitau hidup dalam masyarakat, masyarakat mempunyai komentar
berbeda-beda terhadap seseorang, ini sangat normal. Mengenai hal-hal yang terjadi pada saya,
saya selalu menjawabnya dengan terus terang, dan sama sekali tidak merasa bosan. Saya tidak
menghindarkan hal ini, karena hal ini benar-benar terjadi pada tubuh saya. Akan tetapi, pada
akhirnya masyarakat lebih banyak membicarakan tari-tarian saya."
Jin Xing dijuluki Pencipta Tari Modern Tiongkok. Pada tahun 1991, dia diundang Festival Dansa
AS sebagai pencipta utama tari-tarian untuk menciptakan tari-tarian Ban Meng atau Separo
Impian. Berkat karya itu, Jin Xing memperoleh Hadiah Penyusunan Tarian Terbaik dan Pencipta
Tarian Terbaik. Pada tahun 1998, Jin Xing membentuk Grup Tari Modern Jin Xing. Sejauh ini,
grup ini adalah satu-satunya grup tari modern di daratan Tiongkok. Ia berturut-turut membawa
grupnya mengadakan pertunjukan berkeliling di Tiongkok, Korea Selatan dan berbagai tempat
Eropa, dan mendapat sambutan hangat. Pada tahun 2004, tarian Tango Shanghai karya Jin Xing
digelar. Pertunjukkan tari Tango Shanghai mengutarakan cinta, benci, emosi dan sedih yang
terjadi di kota Shanghai. Ketika dipertunjukkan di Eropa, Tango Shanghai mendapat nilai tinggi
dari kalangan komentar Eropa. Para komentator menunjukkan, saat tari modern kehilangan arah
perkembangan, seorang penari dari Timur memberikan arah kepada kita. Jin Xing mengatakan,
dia tidak menyangkal sejumlah orang memasuki teater dengan rasa aneh terhadap seorang
penari yang dilakukan pembedahan trans seksual, tapi asal mereka duduk satu jam di teater,
mereka pasti terharu dan tertarik pertunjukannya. Setelah mereka ke luar dari teater, yang
terlintas dalam otaknya hanyalah tarian Jin Xing.
Mugiyono Kasido konsisten menampilkan karya tarinya dengan
mengusung kesederhanaan.

Dalam setiap penampilannya, lelaki itu memilih mengenakan baju kombrong dengan
membiarkan benik terbuka, atau kaus oblong dan celana pendek tiga perempat,
ketimbang harus memakai kostum yang eksotis.

Tubuhnya yang ceking terlihat lentur. Gerakannya sangat liat dan elastis. Dia
mengeksplorasi berbagai macam posisi tubuh dengan elegan dan mantap, bertumpu pada
satu kaki dengan telapak kaki mendekat atau mengendap kelantai, kemudian berdiri tanpa
kesulitan. Itulah Mugiyono Kasido, seorang koreografer kenamaan alumnus Sekolah
Tinggi Seni Indonesia (STSI) yang sekarang berubah status menjadi ISI (Institut Seni
Indonesia) Solo.

Selama hampir 18 tahun melakoni diri sebagai pencipta tari kontemporer, pria yang akrab
dipanggil Mugi ini malang melintang ke berbagai penjuru dunia. Biasanya, suami Nuri
Aryanti itu tampil dengan tema-tema aktual, yang kadang bersinggungan dengan situasi
politik. Ia pun tidak canggung melekatkan elemen tradisional seperti musik gamelan,
wayang kulit, ataupun drama topeng dalam karya kontemporernya, mengingat latar
belakangnya memang seorang penari tradisi.

Yang menarik lainnya, ketika pentas, anak dalang asal Klaten kelahiran 1967 ini selalu
membatasi diri pada sebuah panggung persegi panjang kecil. Dia meliukkan tubuhnya
menjadi bentuk komikal dan satire. Dengan bantuan kaus putih ukuran besar, dia menjadi
satu tokoh panggung yang secara konstan memanipulasi tubuhnya untuk menciptakan
berbagai gerakan yang luar biasa.

Sejauh ini banyak pemerhati melihat gerakan-gerakan Mugi saat menari mengesankan
paduan antara komedi, tragedi, satire ekspresi dramatis suara manusia yang mendalam.
Seperti yang ditunjukkan pada pentas Kabar Kabur, yang menggambarkansituasi rusuh
Mei 98 hingga tarian Srimpi Neyeng yang tercipta karena kegalauannya atas situasi
saling klaim kebudayaan Malaysia-Indonesia.

Karya-karya Mugi terus saja berangkat dari pergulatan hatinya untuk merespons sebuah
peristiwa yang kadang-kadang anomali. "Ya, terus terang saja, saya memang merasa
terpanggil untuk berbuat sesuatu. Misalnya ketika tari Pendet dan Reog diklaim sebagai
kebudayaan Malaysia. Tentu sajayang bisa saya lakukan adalah sesuai dengan profesi
saya sebagai seorang penari dengan membuat tari. Seperti April lalu saya pentaskan di
Jakarta yakni Srimpi Neyeng," ungkap Mugi seraya menyebut tariannya itu dipadukan
unsur pedalangan seperti dodogan, sulukan, janturan, dan garapan.

Kaya penghargaan Mugi belajar menari sejak usia delapan tahun dengan dasar tari Jawa
klasik. Selain di lembaga pendidikan formal, SMKI dan STSI Solo (kini ISI Solo), Mugi
banyak belajar olah gerak dan tari dari pujangga tari Pura Mangkunegaran seperti Raden
Ngabehi Rono Suripto dan juga koreografer kondang Sardono W Kusumo.
Pada 1992, pengelola sanggar tari Mugi Dance di Can-gakan, Kartosuro, ini mengawali
karier sebagai seorang koreografer.

Karyanya saat itu berjudul Mati Suri. Ketika dipentaskan di Pura Mangkunegaran, karya
itu meraih trofi KGPAA Mangkunegara IX sebagai penyaji terbaik tari kontemporer.

Lalu setahun kemudian, karyanya berjudul Terjerat yang dipentaskannya di Taman
Sriwedari meraih penghargaan penata tari terbaik.

Masih banyak karya kore-ografinya yang menjulang-kan namanya. Salah satunya adalah
yang akan dipentaskan di Gedung Kesenian Sriwedari, yakni tari Lingkar dan Surat
Shinta. Kedua tarian yang mengusung tema perempuan itu beberapa tahun belakangan ini
sering dipanggungkan di sejumlah negara.

Eropa dan Asia

Di tengah kesibukannya bergulat dengan olah tari kontemporer, Mugi berharap
pemerintah bersedia berbenah diri di dalam menjaga warisan budaya bangsa.

"Terus terang saya khawatir dengan sikap skeptis pemerintah terhadap kekayaan budaya
Tanah Air yang karut-marut ini. Kenapa terus terjadi pembiaran seperti ini? Sungguh
indahnya kalau semua saling menjaga dan melestarikan warisan kekayaan budaya
bangsa," timpalnya lirih.

Sejauh ini, lanjut dia, pemerintah cenderung mengedepankan sesuatu yang justru bukan
milik asli budaya bangsa.

Ini kentara sekali dengan yang terjadi di lembaga pendidikan, khususnya terkait dengan
kebijakan kurikulum pendidikan yang mesti bisa menggunakan kearifan lokal.

"Lihatlah dalam kebijakan kurikulum pendidikan yang mengharuskan adanya muatan
lokal di setiap daerah, kok yang terjadi justru memilih mata pelajaran bahasa Inggris
sebagai muatan lokal sekolah. Yang namanya muatan lokal kok bahasa Inggris,"
tandasnya.(M-4) e-ti
                               Mengenal Sosok Indrawati Lukman Sang Maestro Tari Sunda
                               KOPI, Cantik, lincah dan energik..itulah sosok Indrawati Lukman, seorang tokoh
                               atau Maestro Tari Sunda yang namanya dikenal di dunia jagat tari di Jawa Barat,
                               Indonesia bahkan ke mancanegara. Kiprah beliau di dunia tari khususnya tari Sunda
                               sudah tidak diragukan lagi, bahkan Harian Kompas memberi julukan kepada beliau
                               sebagai Penari Senior Indonesia.
                               Ketika penulis bertatap muka dan mewawancarai beliau dikediamannya yang sejuk
                               dan asri di daerah Antapani-Bandung, wanita kelahiran Bandung, 1 April 1944 ini
                               menyambut penulis dengan ramah dan senyumannya yang khas. Di usianya yang
                               tidak muda lagi, beliau sangat antusias dan bersemangat ketika menceritakan awal
                               karirnya di dunia tari.
                             “Ketika itu tahun 1955. Sebenarnya dulu saya hanya sekadar mengikuti teman-
                             teman untuk menari, sebagai hobi saja. Pada waktu itu satu-satunya guru tari yang
                             terkenal adalah Pak Tjetje Somantri, tempatnya di Badan Kesenian Indonesia (BKI)
di Jalan Naripan Bandung. Ya, memang awalnya saya terjun ke dunia tari betul-betul hanya ikut-ikutan. Tidak tahu
bahwa akhirnya di situlah bakat dan dunia saya,” ujarnya.
“Dari tahun ke tahun ketika itu saya selalu dibawa dalam berbagai pertunjukan. Sampai tahun 1957 saya pertama
kali terpilih menjadi anggota misi kesenian ke luar negeri. Waktu itu ke Rusia, Cekoslowakia, Polandia, Hongaria
dan Mesir. Selama 3 bulan saya harus meninggalkan sekolah, tapi memang mendapat izin karena itu merupakan
sebuah misi kesenian Indonesia. Pilihan untuk menggeluti dunia tari itu berlangsung secara tak sadar. Karena
terus-menerus dan juga karena hobi. Kalau saya ingat lagi ke belakang, karena hobi itulah saya asal bisa menari
saja. Tidak dibayar saja saya merasa senang, dibayar sedikit juga tidak masalah dan mendapat kesempatan
menari ke mana-mana. Jadi saya juga, ya, enjoy saja. Sampai suatu ketika pada tahun 1964, ada orang
menawarkan saya beasiswa untuk belajar ke Amerika Serikat. Saat itu, kebetulan juga saya diminta tampil di New
York World Fair. Saya berangkat ke Amerika dengan lebih dulu mengikuti program pemerintah di New York World
Fair, lalu saya berangkat ke Stephen’s College atas beasiswa. Tapi beasiswa itu bukan untuk studi tari, melainkan
meneruskan studi seperti yang saya pelajari semasa semester satu di Unpad, yaitu psikologi. Tapi ketika itu
bahasa Inggris saya pas-pasan, dan tentu saja mendapat banyak kesulitan. Akhirnya saya memilih untuk
memfokuskan diri pada studi tari. Di situlah saya merasa apa yang saya miliki bisa keluar, terutama dalam kelas
koreografi. Di situlah selama dua tahun saya sempat juga mempelajari berbagai tari etnis, dari mulai tari India,
Spanyol, Hawai hingga teknik modern dance Martha Graham,” urainya panjang lebar dengan penuh semangat.
Perjalanan beliau di dunia tari tidaklah semudah yang dibayangkan, hambatan dan rintangan pun sempat
menyertai beliau ketika pertama kali merintis karir di dunia tari, seperti yang beliau tuturkan kepada penulis di
bawah ini:
“Ya, memang dari awal, ketika saya mulai menikah..suaminya saya sempat melarang untuk terjun di dunia
tari…Awalnya malah saya tidak boleh menari, dia mengatakan bahwa dia bukan artis seperti saya. Karena itu
saya diminta untuk menjaga perasaannya. Dia enggak suka saya menari tapi perasaan dan jiwa saya menari
terus…Setelah dia melihat saya dari tahun ke tahun selalu gelisah, suami saya menganggap memang saya tidak
bisa ditahan untuk terjun di dunia tari…dia mengizinkan saya untuk mengajar dulu. Oleh karena itu saya
mendirikan STI (Studio Tari Indra) dengan tujuan mengajar saja. Tapi lama-kelamaan dia melihat bahwa itulah
dunia saya sampai akhirnya dia juga terjun dan terlibat. Akhirnya mendukung dalam arti positif dan saya boleh
menari asal mendapat izin dari suami…dengan pegangan itu saya pegang terus…akhirnya sampai sekarang
suami dan anak mendukung, malahan kalau keluar negeri ikut.”
Ibu dari satu anak yang telah mempunyai satu orang cucu ini sangat produktif dalam menciptakan tarian,
setidaknya kurang lebih 30 tarian telah diciptakannya selama beliau aktif di dunia tari. Tarian yang pertama kali
beliau ciptakan adalah tari Batik, beliau menuturkan kepada penulis mengenai penciptaan tari Batik ini sebagai
berikut:
“Saya mulai mencoba menciptakan tarian, seingat saya judulnya “Tari Batik”, tarian diciptakan sekitar tahun 1968-
1971, itu diciptakan sepulang dari Amerika, saya tidak melanjutkan sekolah, karena lebih senang meneruskan apa
yang sedang saya geluti. Dari awal itulah apa yang dulu saya pelajari, saya coba masukkan ke dalam karakter tari
Sunda. Karena itulah garapan-garapan saya banyak mengambil gerakan dari daerah lain dengan tetap
mempertahankan roh Parahyangannya. Tapi pola geraknya saya ambil dari tradisi lain yang mungkin sepintas
tidak akan terasa, tapi jika dilihat secara detail akan terasa. Salah satunya, misalnya, idiom gerak yang saya ambil
dari Thailand. Saya belajar di Bangkok dua kali. Atau juga saya mengambilnya dari idiom tari Jawa dan Bali. Tapi
itu bukan berarti asal mengambil begitu saja, tapi ada alasan atau ketentuan estetikanya. Jadi bukan berarti saya
harus begitu saja memasukkan unsur-unsur modern dance. Saya tidak bisa, karena jiwa saya lebih ke tari-tari
tradisional. Sebagai orang yang lebih dulu mendalami tari-tari tradisional, untuk lepas dari akar itu sangat sulit.
Saya membuat koreografi yang tidak sulit dan mudah dimengerti oleh murid sehingga gampang ditiru, tidak hanya
anak-anak tapi mahasiswa juga, kemudian dikemas dengan lagu yang sedemikian rupa agar menarik para
penonton yang melihatnya.”
Ada keistimewaan yang telah melekat dimata masyarakat mengenai tarian yang beliau ciptakan, keistimewaan ini
terletak di bagian busana yang dipakai para penari. Mengenai busana ini, dengan percaya diri beliau menjelaskan:
“Unsur busana dari awal..saya membuat pertunjukan itu nomor satu memang di busana…memiliki ciri khas
tersendiri supaya bisa memuaskan penonton, sehingga muncul kesan dipublik bahwa karya tari saya glamor,
padahal biasa saja hanya dari unsur tata cahaya yang mengakibatkan kostum menjadi lebih menarik….saya tidak
melihat kaidah-kaidah yang terdapat dalam suatu warna…yang penting masih mengikuti norma-norma tari Sunda,
mengikuti zaman tapi kita jangan sampai dikalahkan. Saya ingin tari tradisional yang dulu pakaiannya demikian
sederhana bisa ikut dalam kekinian. Kita tidak bisa menari terus-menerus seperti zaman dulu, tapi kita juga tidak
bisa menghilangkan yang dahulu itu. Yang dahulu dipelihara tapi selanjutnya kita harus membuat anak-anak
sekarang menyukainya. Ketika anak-anak sekarang tidak suka, bahkan untuk melirik pun tidak mau, bagaimana
dia mau belajar.”
Seperti telah dipaparkan pada tulisan di atas, bahwa beliau mendapatkan pendidikan tari ini dari seorang guru tari
yang bernama Tjetje Somantri. Perlu diketahui bahwa Tjetje Somantri merupakan tokoh tari Sunda yang karya
tarinya sangat digemari pada zaman Presiden Sukarno. Indrawati Lukman dengan jujur menceritakan
pengalamannya kepada penulis, tatkala mendapatkan pendidikan tari bersama Tjetje Somantri:
“Saya mengenal beliau ketika saya bergabung di BKI (Badan Kesenian Indonesia). Pak Tjetje orangnya sangat
low profile, tidak banyak bicara, cuma dia seorang penari yang tahu kondisi si anak, Pak Tjetje intens mengajar
agar muridnya bagus, teknik menari Pak Tjetje luar biasa, ini merupakan contoh pengorbanan, dia mengajar tanpa
pamrih.”
Rasa ketertarikan terhadap tari ini semakin besar ketika mengenal Tjetje Somantri, beliau kembali melanjutkan
ceritanya dengan suara lirih: “Sebenarnya ketika saya mendapat pengajaran dari Pak Tjetje, banyak sekali
kemudahan atau rahmat yang saya dapat dari Allah SWT melalui tari, andaikata saya tidak mengenal Pak
Tjetje…tidak mungkin saya seperti sekarang ini. Saya menemukan segalanya dari beliau. Beliau suka bilang
“hargailah kehidupan”, “hargailah yang kamu dapatkan”…beliau suka bilang begitu.”
Tanpa Tjetje Somantri, Indrawati Lukman bukanlah apa-apa, perjuangannya di dunia tari selama kurun waktu
hampir setengah abad tentu banyak sekali suka duka dan pengalaman yang beliau dapatkan. Ketika penulis
mengajukan pertanyaan: sudah 50 tahun Ibu menggeluti dunia tari. Selama itu apa yang Ibu dapatkan? nenek
yang masih tampak kecantikannya itu menjawab:
“Kalau saya lihat itu, yang saya dapatkan adalah bagaimana kita menyelesaikan masalah dengan kegigihan,
pengorbanan dan kerja keras..tanpa itu semua usaha kita tidak akan berhasil…dan jujur, dalam arti kata jujur pada
diri sendiri dan jujur pada orang lain…Kalau pengalaman sudah jelas. Demikian juga dengan anak-anak didik dan
networking. Tapi ada juga nilai tersendiri, bahwa dengan menjadi penari saya merasa kaya. Merasa kaya bukan
dalam pengertian materi, tapi suatu jenis kekayaan yang kelak juga harus bisa bermanfaat bagi generasi
selanjutnya. Ketika saya ingin berhenti, itu tidak bisa karena saya ingin menularkan kebahagiaan saya sebagai
penari pada para generasi muda. Besok lusa saya misal sudah tidak ada. Kalau saya berhenti dan saya belum
memberikan apa yang saya miliki ini pada orang lain, maka semuanya akan terputus. Keindahan itu dari Allah, tapi
persoalannya bagaimana kita bisa merawat dan melanjutkan keindahan itu dengan sebaik-baiknya.”
Mengenai perkembangan tari Sunda di zaman modern ini, beliau menjelaskan bahwa perkembangan tari sunda
masih berjalan ditempat dan biasa-biasa saja. “Perkembangannya sih sejak dengan adanya jaipongan, saya pikir
tari Sunda biasa-biasa saja yah, hidup segan mati pun tak mau, kemudian itu apresiasi masyarakat terhadap tari
Sunda masih kurang..makanya ketika mereka diam, saya tidak diam. Pikiran saya selalu berputar agar bisa terus
menerus mengembangkan tari Sunda.” ujarnya.
Tatap muka dan wawancara penulis dengan sang maestro ini ditutup dengan pertanyaan: Adakah pesan yang
ingin ibu sampaikan untuk para penari generasi sekarang? beliau menjawab: “Yang penting dia peduli kepada
kebudayaan, pesan yang disampaikan terutama kepada lingkungan akademik seperti sekolah, guru. Mereka harus
mau menjadikan kesenian suatu keharusan untuk dipelajari oleh generasi muda, diarahkan untuk mencintai
kesenian dan juga budi pekerti kalau budayanya ingin maju dan berkembang.”
Di usianya yang semakin senja beliau masih tetap bersemangat dalam menjaga nilai-nilai tradisi Sunda. Berbagai
penghargaan dari berbagai pihak telah ia raih, penghargaan terakhir yang ia peroleh adalah Penghargaan Budaya
dari Walikota Bandung Drs.H.Dada Rosada,SH,M.Si pada tanggal 25 September 2010 disaat Kota Bandung
memperingati hari ulang tahunnya yang ke-200. Penghargaan itu diberikan dihadapan para delegasi tamu
kehormatan dari mitra kota atau sister city yaitu Suwon (Korea Selatan), Fort Worth (USA), Hamamatsu (Jepang)
dan Braunscweight (Jerman).
Sisa-sisa kecantikannya yang masih tampak sampai saat ini menyiratkan bahwa perjuangan beliau di dunia
kesenian tidaklah padam. Semangat yang patut kita contoh oleh kita generasi muda.
Gusmiati Suid
                                                  Totalitas Gusmiati Suid dalam berolah
                                                  kreativitas seni, mendapat apresiasi dan
                                                  pujian dari berbagai kalangan. Ratna
                                                  Sarumpaet, dalam acara Anugerah Seni
                                                  Dewan       Kesenian      Jakarta      2004
                                                  mengemukakan, bahawa Gusmiati Suid
                                                  adalah seorang seniman Indonesia yang
                                                  telah    memberikan kontribusi kreatif
                                                  terhadap       perkembangan       kesenian,
                                                  terutama seni tari dan musik yang berakar
                                                  tradisi budaya Minangkabau. Melalui
                                                  Gumarang Sakti yang didirikan tahun 1982,
                                                  Gusmiti      Suid    telah    mengukirkan
                                                  kreativitasnya      melalui     karya-karya
                                                  pertunjukan tari dan musik, yang kemudian
                                                  mengukuhkan dirinya sebagai salah seorang
                                                  Maestro Tari Indonesia yang mendapat
                                                  penghargaan luas, baik di dalam maupun
luar negeri. Gusmiati tidak banyak bicara apalagi berwacana. Wacana Gusmiati adalah gerak
dan perjalanannya. Seorang perempuan Minang yang berani melangkah untuk mewujudkan
kemauannya, meski di era itu adat dan tradisi yang berlaku dapat mengecam dan menjadikan
sika dan pendiriannya sebagai pergunjingan kurang menyenangkan. Misteri Gusmiati tersimpan
dalam suaranya yang tidak terlalu diperdengarkan. Karena dian itulah yang membuat orang
tersentak begitu melihat panggung pergelarannnya. Pergelaran yang mengucapkan banyak hal,
yang berbicara tentang banyak hal, yang memperdulikan dan prihatin pada banyak hal
(Sarumpaet, 2004:2-3).
Pujian serupa juga dikemukan Edi Sedyawati kepada Gusmiati Suid, “sebuah hidup penuh
karya; sebuah teladan mengenai keberanian hidup”. Sebagai wanita yang berperasaan halus ia
adalah siganjua lalai, samuik tapijak indak mati (si cantik gemulai, semut terinjak tidak mati).
Namun dalam berkarya tari dan dalam menghadapi permasalahan hidup, ia adalah representasi
sisi lain dari gambaran perempuan Minang, yaitu alu tataruang patah tigo (alu tertabrak patah
jadi tiga). Karya-karya Gusmiati Suid bahkan lebih „gegap gempita‟, baik dalam penggarapan
susunan gerak yang memerlukan banyak energi, maupun dalam tata rupa pentas yang
„bergerak‟ dan difungsikan sebagai penunjang perlambangan, dan bukan semata-mata dekoratif
(Sedyawati, 2004:2).
Mimi Rasinah




Sebagian besar hidup Mimi Rasinah didedikasikan untuk berjuang mempertahankan tradisi tari topeng
cirebon. Dari sebuah sanggar sederhana di rumahnya di Desa Pekandangan, Indramayu, Jawa Barat,
ia menurunkan kebisaan menari topeng yang kian lekang dimakan zaman kepada dua generasi
penerusnya.

Nama Mimi Rasinah sudah kesohor sebagai seorang maestro tari topeng Cirebon. Ia pernah berkelana
dari pergelaran ke pergelaran, bahkan hingga mancanegara. Kini, di usianya ke-80, Mimi Rasinah masih
punya semangat. Meskipun stroke mengurung raganya hingga ia terpaksa duduk di atas kasur sembari
menemani cicit bermain, Mimi Rasinah masih bersemangat setiap kali mendengar alunan musik
pengiring tari topeng dimainkan.

Jemari lentik Mimi Rasinah pun masih mampu memukau penonton tatkala ia tampil pada sebuah
pementasan dalam rangka peringatan hari lahirnya yang ke-80 pada 20 Maret lalu. Saat tampil berdua
bersama cucunya, Aerly Rasinah, dalam sebuah tarian simbolik prosesi penurunan pusaka kepada sang
ahli waris berupa Tari Panji Rogo Sukmo, Mimi Rasinah masih memperlihatkan kekuatan dan kharismanya
sebagai seniman sejati. Semangatnya yang tinggi mampu mengalahkan segala keterbatasan. Sang
Mbah Kari, Sang Maestro Tari Topeng Malang
Di pelosok sebuah desa di Kabupaten Malang, sekelompok seniman asyik berlatih tari
topeng dan menabuh gamelan. Sementara yang lain dengan tekun memahat dan mengukir
kayu untuk dibuat topeng. Ketekunan yang dilandasi oleh semangat pengabdian dan
kesetiaan pada tradisi topeng yang diwarisi dari nenek moyangnya, merupakan ciri khas
perilaku berkesenian dari para seniman desa tersebut, seniman desa Jabung. Di antara
mereka yang sedang berlatih tari, tampak seorang pria lanjut usia dengan penuh semangat
melatih para penari usia muda, memberikan contoh ragam-ragam gerak tari topeng
Malangan versi Jabung. Beliau itulah yang dikenal dengan nama Kari atau mbah Kari, pria
yang dilahirkan 70 tahun yang lalu di desa Jabung, Malang.
Semenjak tahun 1958 beliau belajar tari topeng pada para tokoh tari yang terkenal, yaitu
Bapak Sarmudi dan Bapak Tirtonoto. Dari kedua beliau itulah pada akhirnya Kari muda
tertempa pengalamannya dan terbentuk ketrampilan olah tubuhnya, sehingga mampu
menguasai berbagai bentuk tari topeng gaya Malangan. Untuk lebih mematangkan dalam
penguasaan wiraga, wirama dan wirasaning joged, Kari juga belajar pada mbah Rasimun,
seorang penari topeng dari desa Glagahdawa, Malang. Tidak mustahil kalau pada akhirnya
beliau lebih dikenal memiliki peran “serabutan”, artinya tokoh apapun pada dasarnya mampu
beliau kuasai dan diperankan. Ketika pada akhirnya sudah mampu menguasai tari topeng
Malang, Kari kemudian bergabung dengan Paguyuban Wayang Topeng Wirabakti di desa
Jabung. Semenjak itu pula beliau tidak pernah berhenti “naik pentas”, mulai dari pentas dari
desa ke desa yang pada waktu itu biasa ditempuh dengan jalan kaki, sampai pada pentas di
festival-festival seni pertunjukan tradisi di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya dan
Yogyakarta.




Retno Maruti
                     Retno Maruti penari senior itu mewariskan kepiawaiannya pada sang anak Rury Nostalgia.
                     Kolaborasi ibu dan anak melahirkan pergelaran tari Langen Beksan. Sebuah repertoar yang
                     terdiri dari empat tarian Jawa klasik nan indah dan dinamis.

                     Sembilan perempuan berkemben dan berkipas buku itu melangkah pelan berurutan
                     memasuki panggung, lambat dan senyap. Sementara itu gending Ketawang Mangunsih
                     mengalun mengiringinya. Para perempuan itu membentuk barisan memanjang menghadap
                     penonton. Siap menari membawakan tarian Noworetno dalam ragam bedhaya.

                     Mereka mulai bergerak anggun, tangan meraih kain dan mulai membentuk formasi mirip
struktur tubuh manusia, endhel, batak, jangga, apit ngajeng, apit wingking, dhada, endel wedalan ngajeng, endhel
wedalan wingking, dan buntil (satu hati, satu kepala, satu leher, dua lengan, satu dada, dua tungkai, dan satu
organ seks). Tarian putri yang halus, luhur, adiluhung, indah, dan ritual. Noworetno yang secara harafiah berarti
sembilan perempuan pemberani, karya Rury Nostalgia ini adalah tari permohonan. Permohonan pengayoman
agar Tuhan mewujudkan keselamatan dan kedamaian. Tak hanya Noworetno yang ditampilkan dalam pagelaran
Langen Beksan, Padne�     wara di Salihara Jumat-Sabtu (8-9/5) kali ini. Ada tiga tarian lagi setelah Noworetno yakni
Bondo Boyo, Enggar-Enggar dan Kumolo Bumi.
Bondo Boyo menggambarkan empat orang prajurit yang sedang gladen �    berlatih- perang di alun-alun tampil
dalam ragam wireng. Tari ini adalah karya Pura Mangkunegara Surakarta, yang pertama kali ditampilkan di masa
Mangkunegoro IV. Oleh Padne�    wara Bondo Boyo tampil gagah dan anggun membawa kenangan ke masa-masa
kejayaan raja-raja Jawa di masa silam.

Usai dengan Bondo Boyo, Retno Maruti sang maestro tari Jawa klasik tampil dalam Enggar-Enggar sebagai
Anjasmara berpasangan dengan Wahyu Santoso Prabowo sebagai Damarwulan. Pasangan tari yang awet sejak
33 tahun silam. Tarian ini menceritakan adegan ketika Damarwulan hendak pamit berangkat perang. Perang yang
tak mungkin dimenanginya, tapi Damarwulan toh harus tetap berangkat memenuhi tugas Kencanawungu, ratu
Majapahit menghadapi Menakjingga adipati Blambangan .
� Selama puluhan tahun mereka berdua mengajarkan tentang standar love dance yang anggun dari tarian yang
sebenarnya sederhana. Nggak harus vulgar,�kata Rury Nostalgia koreografer yang juga putri tunggal pasangan
Retno Maruti dan Arcadilus Sentot Sudiharto pengasuh Padne�  wara.

Puncak pertunjukan Padne�  wara, justru di tarian terakhir, Kumolo Bumi yang merupakan adaptasi dari serat
menak yang mengisahkan perang tanding antara Adaninggar putri dari China dan Kelaswara putri raja Kelanjali
untuk memperbutkan asmara raja playboy, Wong Agung Jayengrana. Dalam peperangan tersebut, Adaninggar
tewas di tangan Kelaswara.

�Dari kecil saya sudah mempelajari mengenal bedhaya, ragam inilah yang paling saya kenal,�cerita Rury
menjelaskan alasan mengapa Kumolo Bumi ditarikan dengan ragam bedhaya.

Klasik Tapi Dinamis
Walau ditarikan dalam ragam tarian bedhaya yang klasik, Kumolo Bumi oleh Rury diubah menjadi tarian yang
dinamis. Penarinya tak mengenakan kemben yang ribet itu. Tapi memilih mengenakan pakaian mirip pendekar
silat dari daratan China. Atasan putih dan bawahan merah warna yang khas dengan sifat Adaninggar yang kenes
dan pemberani.

Karena tak berdodot (kemben), gerakan menjadi lebih bebas. Tak harus terikat dengan pakem bedhaya, seperti
tangan yang tak boleh melebihi pinggang dan lain-lain.
Melewati sedikit pakem, tak berarti Rury jor-joran dalam mengolah gerak hingga pertarungan Adaninggar dan
Kelaswara menjadi penuh baku pukul. Karena digerakan oleh cinta, perang itu menjadi pertarungan batin antara
keduanya. Batin-batin yang memperebutkan cinta Wong Agung Jayengrana.

Deru sabetan kipas �  penari-penari itu menggunakan kipas sebagai senjata, atau suara gemeretak kipas yang
dibuka dan ditutup ternyata menghasilkan efek bunyi yang dahsyat di tengah alunan gamelan. Gerakan-gerakan
penari yang sedang berperang oleh Rury di olah dengan indah. Juga saat adegan puncak, saat Kelaswara
melepaskan anak panah pada Adaninggar dari sudut panggung. Panah �      berupa penari- melesat ke sudut lainnya
dimana Adaninggar berada. Membelah barisan penari dan menghantam dada Adaninggar. Wanita cantik dari
negeri China itu terputar dan terus berputar dengan tangan terkembang. Sementara penari lainnya bersimpuh di
bumi. Adaninggar terus berputar hingga pelan-pelan lampu panggung meredup dan gelap. Tepuk tangan
membahana untuk adegan puncak ini.

Tumbuh dan berkembang dalam keluarga yang mencintai tari sebagai jalan hidup, Kumolo Bumi adalah karya
terakhir Rury. Rury menciptakan Saragimita di tahun 1984, lalu Bedah Madiun di tahun 2000, dan Kelaswara
Tanding dua tahun kemudian. Sementara Roro Mendut karya Rury diciptakan enam tahun silam.
Pada pagelaran kali ini menunjukan, walau seni tradisi hanya diminati dan ditekuni oleh kalangan tertentu,
Padne�   wara berhasil melakukan regenerasi. Peran sentral Retno Maruti pelan-pelan mulai diwariskan pada
anaknya Rury, tanpa kehilangan kualitas dan pemahamannya akan tari klasik. Tak hanya itu, bila Kumolo Bumi
ditarikan oleh penari senior di Padne�wara, lapis kedua di Padne� wara yang tampil mulus pada Noworetno
menunjukan bahwa pelaku seni tradisi tak akan pernah kehabisan pelakonnya.
teguh nugroho/adiyanto

m jiwanya tidaklah padam
M Yazid bin Tomel




SANG Maestro Tari Zapin, M Yazid bin Tomel, telah tiada. Lelaki yang meraih penghargaan,
Anugerah Kebudayaan bersama 22 orang lainnya yang berjasa bagi kebudayaan nasional
dari pemerintah Indonesia (Kementerian dan Pariwisata), telah berpulang ke pangkuan
Sang Khaliq pada usia 85 tahun, Kamis (23/9) sekitar pukul 17.30 WIB di RSUD Grand
Hospital Bengkalis.


Kepergiaannya di usia senja tidak meninggalkan kesia-siaan. Pasalnya, almarhum dikenal
hingga ke mancanegara karena dedikasinya dalam melestarikan dan mengembangkan tari
zapin, yang merupakan tari tradisi Melayu. Ditambah lagi, M Yazid menjadi simbol
kebangkitan tari zapin di Indonesia. Bahkan kampung Meskom (Bengkalis) yang dibinanya,
dikenal sebagai Kampung Zapin karena warga kampung tersebut menggiatkan zapin dari
kanak-kanak                      hingga                    orang                     tua.


Kepergiannya adalah duka bagi Riau, terutama para seniman dan budayawan, lebih utama
bagi penggiat, pelaku, pemerhati tari zapin. Apalagi, almarhum dikenal orang yang pantang
menyerah      dan   memberikan    pencerahan     bagi   dunia   seni   budaya    Melayu.


Ahmad bin Yazid, anak ketujuh almarhum mengatakan, ayahnya adalah sosok yang
bertanggung jawab dan baik. Aktivitasnya dalam seni tradisi yang satu ini tak perlu
diragukan lagi, bahkan Ahmad sendiri mengikuti jejak ayahnya sebagai penari zapin.


„‟Ayah memang tidak meninggalkan pesan tapi semasa hidupnya terus-menerus memotivasi
kami untuk melestarikan dan mengembangkan tari zapin,‟‟ ulas Ahmad kepada Riau Pos,
melalui             telepon               genggamnya               malam            tadi.


M Yazid, berdasarkan KTP, lahir di Desa Latak Bengkalis pada 31 Desember 1931. Namun
ada sebagian sumber menyebut M Yazid lahir tahun 1925 atau berusia 85 tahun saat wafat.
Belajar tari zapin sejak kanak-anak dan telah berhasil pula menemukan 20-an bunga dan
pecahan zapin. Bunga dan pecahan zapin secara umum saja hanya 12 tapi M Yazid telah
mengambangkan                       lebih                   jauh                    lagi.

Artinya, almarhum tidak hanya melestarikan tapi mengembangkan secara baik. Salah satu
bunga atau pecahan yang diciptakannya adalah Cino Buto (Cina Buta). Ditarikan dua orang
atau     dua   pasang   yang    tetap   dimainkan     di   sanggarnya     yakni     Sanggar    Yanurbih.


M Yazid meninggalkan tujuh anak dan 36 cucu. Sedang istrinya, Asnah binti Usman telah
mendahuluinya dua bulan lalu. Menurut Ahmad, almarhum memang sering sakit apalagi
saat terjatuh sebelum istrinya meninggal dunia. „‟Tari zapin sudah mendarah daging dalam
dirinya karena itu ayah terus mencipta hingga akhir hayatnya. Saya bangga menjadi
anaknya,‟‟                             tambah                             Ahmad.


Sepanjang hidupnya, almarhum telah mendapatkan berbagai penghargaan dari tingkat
nasional, provinsi hingga kabupaten. Hanya saja, Ahmad merasakan perhatian pada
ayahnya masih minim sehingga ia mengharapkan agar pemerintah memberikan perhatian
pada     ayahnya    dalam      bentuk   apa   saja      asal   bisa     dikenang    sepanjang     masa.


„‟Sedih, saya memang sedih. Apalagi saat mengingat kami menari dalam sebuah acara
dengan empat beranak, ayah, abang saya, saya dan adik saya. Mengingat itu saya merasa
sedih              sekaligus               terharu,‟‟                 katanya              mengakhiri.


Duka juga dirasakan tokoh tari Riau SPN Iwan Irawan Permadi yang cukup dikenal dekat
dengan almarhum. „‟Saya benar-benar merasa kehilangan atas kepergian Pak M Yazid. Saya
juga menyayangkan, karena sebagai maestro zapin Indonesia yang diberikan pusat justru
tersisihkan di negeri sendiri. Bayangkan saja, Pak Yazid tak pernah dapat penghargaan dari
pemerintah daerah kita, semuanya hanya bersifat seremonial saja,‟‟ ulasnya panjang lebar.


Begitu pula sastrawan Riau SP Tafik Ikram Jamil. „‟Kita merasa kehilangan. Almarhum telah
memberikan berbagai hal bukan saja pemahaman tapi juga penghayatan dan ia berpegang
teguh pada bidangnya. Mendiang sangat mencintai seni tradisi, tanpa harus mengatakan
tapi berbuat dan memberikan cakrawala berkesenian di Riau dgn caranya sendiri,‟‟ ujarnya.


Sedangkan perupa Riau SPN Dantje S Moeis merasa kehilangan atas berpulangnya M Yazid.
Baginya almarhum adalah tokoh seni Melayu yang cukup baik dalam berkarya. „‟Saya
sangat berduka atas kepulangannya dan kita kembali kehilangan seorang tokoh besar,
apalagi dedikasinya untuk tari zapin dimulai sejak lama hingga akhir hayatnya,‟‟ ujar
Dantje.


SPN Musrial al Hajj yang juga pimpinan Sanggar Tasik Bengkalis menyebutkan, merasa
kehilangan. Tokoh zapin yang begitu sederhana dan tabah menghadapi kehidupan itu
memberikan banyak pencerahan di sini, bahkan bangsa ini. Menurutnya, almarhum akan
selalu     dikenang,     bersama        karya-karya        terbaiknya      hingga      akhir     zaman.


SPN Zuarman Ahmad menyebutkan, dia pakar zapin dan geraknya aneh, tidak biasa. Dia
dimanfaatkan oleh ASKI Padang Panjang, mengajar di sana dan ilmu itu sudah dicatat di
sana. Begitulah orang lain menghargai kesenian. Tapi kita, terutama pemerintah, tak
pernah menghargai itu dari Tengku Nurdin hingga M Yazid. Almarhum sendiri pernah
mengajar di Akademi Kesenian Melayu Riau (AKMR). „‟Harus dicatat, almarhum berdedikasi
cukup baik hingga akhir hayatnya dan tak pernah bicara budget,‟‟ ucapnya.

Hal senada diungkapkan Tom Ibnur (tokoh tari Indonesia). Saat dihubungi Riau Pos, Tom
Ibnur tak mampu berkata-kata dan tak dapat menahan air mata saat mendengar kabar
duka itu. Namun ada yang membahagiakan baginya karena masih sempat pada akhir
usianya             dapat               maestro          zapin             secara              nasional.


„‟Belum dapat yang banyak saya lakukan buat beliau sebagai guru, tokoh dan sosok tak
tergantikan. M Yazid membanggakan Melayu. M Yazid menyemai, menumbuhkan dan
memelihara zapin tanpa pamrih karena kecintaan yang mendalam. kesadarannya akan
pentingnya khazanah Melayu sebagai warisan yang sangat berharga ke masa depan,‟‟
terangnya.


Suhaimi, kawan dekat yang juga seniman teater Bengkalis menambahkan, dirinya ikut
mengantarkan M Yazid, saat mendapat maestro tari zapin di Jakarta. Penghargaan yang
diberikan langsung wakil presiden, pada 23 Juli 2010. Waktu itu kondisi juga sudah sakit-
sakitan. Uang itu bisa mengobati penyakit istrinya, dari duit penghargaan itu. Namun 25
Juli istrinya meninggal. „‟Saya memang merasa kehilangan sosok yang sangat arif dan
bijaksana,‟‟                                                               ujarnya.

Sedang Hang Kafrawi, Direktur Akademi Kesenian Melayu Riau (AKMR) mengatakan, „‟Kita
kehilangan          tokoh        penting          yang       sulit      mencari       penggantinya.‟‟


Sakit                                                                         Tifus
Rencananya jenazah akan dikebumikan pada hari ini, Jumat (24/9) di Pemakaman Masjid
Alhadi-Taqwa Dusun Langgam Muara Desa Teluk Latak, Bengkalis. Direktur Utama RSUD
Bengkalis AM Rambe kepada Riau Pos mengatakan, sebelum meninggal almarhum masuk
rumah sakit Rabu (22/9) sore dan diagnosa dr Dani terkena tifus. „‟Hasil Diagnosa dr Dani
penyakit tifus yang diderita sudah menjalar ke seluruh tubuh. Diberi antibiotik tidak
mempan       lagi     apalagi         kondisi     almarhum       yang    sudah      tua,‟‟      ujarnya.


Sekretaris RSUD Bengkalis Dahen tawakal mengatakan, sebelum meninggal almarhum
dirawat di lantai II. „‟Tifusnya sudah kronis dan sudah menjalar ke seluruh tubuh,‟‟ ujarnya.


Anugerah                                                                                     Kebudayaan
Juni lalu, Pemerintah Indonesia yang diwakili Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata
(Kemenbudpar) memberikan penghargaan Anugerah Kebudayaan 2010 kepada 23 orang
yang dinilai berjasa dalam melestarikan, mengembangkan, meningkatkan, serta
berdedikasi terhadap kebudayaan. Salah satunya Muhamad Yazid (85) warga Bengkalis,
Riau,        yang           dikenal        sebagai       maestro          seni       tari         zapin.


Menurut Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik saat itu, pemberian Anugerah
Kebudayaan tersebut sebagai apresiasi pemerintah untuk mendorong penerapan nilai-nilai
budaya dalam masyarakat, guna membangun karakter dan jatidiri bangsa dalam rangka
mewujudkan pembangunan kebudayaan berdasarkan nilai-nilai luhur yang dapat merespon
tuntutan                         global                       dalam                         masyarakat.


„‟Anugerah Kebudayaan ini salah satu bentuk apresiasi kepada budayawan kita yang gigih
melestarikan dan mengembangkan budaya sehingga mereka merasa dihargai oleh negara
dan oleh rakyat,‟‟ kata Wacik, usai menyematkan Anugerah Kebudayaan 2010 di Gedung
Sapta                 Pesona              Jakarta             saat             itu.
 Pemberian Anugerah Kebudayaan terdiri atas tiga kategori yakni pelestari dan pengembang
 warisan budaya, hadiah seni, dan anak/pelajar/remaja yang berdedikasi terhadap
 kebudayaan. Sebanyak 13 orang penerima penghargaan adalah sebagai maestro seni
 tradisi          dan              salah           satunya,             Muhammad       Yazid.


 Malam tadi, suasana duka menyelimuti dikediaman sang maestro di Dusun Langgam Muara,
 Desa Teluk Latak Bengkalis, RT 01/RW 02. Kucuran air mata kesedihan dari keluarga, anak,
 dan       para         tetangga           menyelimuti        suasana     dinginnya   malam.


 Seluruh anak-anaknya dan keluarga besar Muhammad Yazid tak henti-hentinya
 membacakan Surat Yasin di hadapan jasad almarhum yang ditutupi kain. Malam itu
 memang yang tampak hanya keluarganya saja, maklum malam sudah mulai larut yakni
 sekitar pukul 23.00 WIB, sejumlah warga dan tetangganya sudah pada pulang dari rumah
 duka.




Mugiyono Kasido




Mugiyono Kasido lahir di Jogodayoh, Klaten, Jawa Tengah, Indonesia pada tahun 1967
 dari keluarga dalang. Sejak kecilMugi, nama panggilannya telah bergaul akrab dengan
dunia pertunjukan dan mulai menari sejak usia 8 tahun dengan dasartari Jawa klasik ya
ng kuat. Mugi memulai pendidikan formal dibidang seni tari di Sekolah Menengah Kar
awitan Indonesia
(SMKI) Surakarta yang diselesaikannya pada 1988 dan kemudian melanjutkan ke Sekol
ah Tinggi Seni (STSI) Surakartahingga meraih gelar sarjananya ditahun 1993.

Dalam perjalanan kariernya, Mugi belajar banyak dari maestro tari seperti R.
Ng. Rono Suripto dari KeratonMangkunegaran Surakarta (1988-
1990), Suprapto Suryodarmo di Padepokan Lemah Putih Surakarta (1994-
1996), danjuga Sardono W. Kusumo sejak 1994.

Mugi memulai karir sebagai koreografer pada 1992, dengan melahirkan karya tari Mati
Suri yang dipentaskan di KeratonMangkunegaran Surakarta, tarian ini meraih Tropi Ma
ngkunegara IX Keraton Surakarta sebagai Penyaji Terbaik TariKontemporer. Pada 199
3, karyanya yang berjudul Terjerat (Tangled) dipentaskan di sebuah event di Solo dan
meraihpenghargaan Penata Tari Terbaik.

Karya-
karyanya kini dipentaskan di berbagai festival di berbagainegara seperti,
Lincoln Center Festival (Amerika Serikat), KunstenFestival des Arts
(Belgia), Goteborg Festival (Swedia), Adelaide Festival (Australia), Hong
Kong         Arts        Festival,        In         Transit       Festival
(Jerman), Dancas na Cidade (Portugal), Asian Contemporary Dance Now
                                                                              Mencari Mat
(Jepang) dan lain-
                                                                              a Candi, IDF
lain. Berbagai karya yang telah dipentaskan disejumlah negara adalah Kab
                                                                                     2006
ar Kabur (Rumours), Bagaspati (In          the      Spirit     of       the
Sun), Mencari Mata Candi (In           Search         of      theTemple’s
Eyes), Surat Shinta (Shinta’s Letter), Lingkar(Circle), Kosong (Empty),
Topeng (Masks), Rotasi (Rotate) danlainnya.


Dalam beberapa kesempatan, Mugi mengajar workshop di sejumlah negara seperti di Jep
ang,       Taiwan, Luang Prabang,Inggris,       Portugal,       Australia,     Hong
Kong, Amerika maupun di Indonesia. Mugi juga terlibat dalam proyek kolaborasi, antar
alain program SOME SHINE (Jerman, Inggris, Israel dan Indonesia), OR LOCAL
(Indonesia, Inggris, Belanda, danJerman) serta MASKS         DANCE        SYMBIOSA
PROJECT (Indonesia dan Thailand). Kerja kolaborasi tersebut kemudianmemunculkan
kerja sama dengan seniman lain dari berbagai negara, seperti Denisa Reyes
(Filipina), Ramli Ibrahim, ArifWaran Saharudin (Malaysia), Waguri,         Masato,
Osamu Jareo, Kotta Yamazaki       (Jepang),    Daniel Yeung (Hongkong), RiaHaggler
(Belanda), Lane Savadove,                         Polly                    Motley
(Amerika Serikat), Koffi Koko (Perancis) dan lain sebagainya.

Bersama seniman Indonesia, kolaborasi dijalin bersama Dedek Wahyudi, Slamet Gundo
no,
W.S Rendra, dan I WayanSadra dan Sardono W. Kusumo. Mugi juga turut berperan dal
am program penelitian Dr.                     Alessandra                  Lopez
Y Royo Iyer(Dosen Senior pada Jurusan Tari University                         of
Surrey Roehampton, London, Inggris) tentang relief Candi Prambanan.

Mugiyono Kasido adalah pendiri Mugi Dance                                        Company
yang merupakan komunitas pertunjukan seni. Institusi ini dirikanatas inisiatif orang-
orang yang berasal dari disiplin dan latar belakang yang bermacam-
macam, seperti koreografer, penari,aktor, musisi, dalang, artis pertunjukan dan juga desai
ner. Mugi Dance
Company bertujuan untuk dapat meningkatkanpertunjukan kesenian Jawa tradisional dan
seni kontemporer Indonesia dengan mengkreasikan tari kontemporerberdasarkan dari seni
 Jawa tradisional yang dibentuk dari ekspresi kepribadian orang Jawa.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:963
posted:10/9/2011
language:Indonesian
pages:43