Docstoc

FILSAFAT ILMU (PowerPoint)

Document Sample
FILSAFAT ILMU (PowerPoint) Powered By Docstoc
					FILSAFAT ILMU
BIDANG/WILAYAH FILSAFAT




                       Estetika


                                   Etika,
                                   Religi
          MANUSIA




         F. Ilmu
         Logika
         Metodologi
   Problem yang dibahas dalam
    Filsafat Ilmu Pengetahuan:

• Problem Epistemologis tentang ilmu
• Problem metafisis (ruang-waktu,
  asumsi-asumsi, kausalitas Dll.)
• Problem metodologis tentang ilmu
• Problem logis tentang Ilmu
• Problem etis tentang ilmu
• Problem estetis tentang Ilmu
         Filsafat Ilmu dibedakan:

• Philosophy of Science in-general (Filsafat Ilmu umum). Membahas
  permasalahan/prinsip ilmu pengetahuan secara umum
• Filsafat Ilmu Pengetahuan umum, bisa dibedakan atas:
• Filsafat Ilmu Pengetahuan alam dan Filsafat Ilmu sosial &
  Humaniora
• Philosopies of Specific Sciences (Filsafat Ilmu Pengetahuan khusus:
  Filsafat matematik, fisika, teknologi, fisafat ilmu pengetahuan sosial,
  dll.)
     Sumber Pengetahuan (Ted
       Hondrich, 1995. 935):

1. Persepsi (Perception).
2. Reason (rasio): Deduction, induction,
  abduction; dialectic
3. Introspection
4. Sumber lain: Intuition, telepathy,
  clairfoyance, precognition.
     Sumber Pengetahuan (Hosper,
            1967, 123-24):

1.   Sense experience (pengalaman indrawi)
2.   Reason
3.   Authority
4.   Intition
5.   Relevation (Wahyu)
6.   Faith (kepercayaan)
       Obyek Pengetahuan

1. Fenomena/gejala alam fisis (External
  world)
2. Masa lalu (the Past)
3. Masa depan (The future)
4. Values (etis, estetis, religius)
5. Abstraksi
6. Mind (dimensi dalam/psikis)
Struktur pengetahuan (hubungan Subyek-Obyek):




1. Obyektivisme (subyek pasif)
2. Subyektivisme (subyek aktif)
3. Relativisme
4. Fenomenalisme
5. Konstruktivisme
• F. Bacon (1561-1626) menyebut filsafat
  sebagai “the great mother of the sciences”
  (ibu agung dari ilmu-ilmu)
• “The queen of all sciences” (ratu dari ilmu-
  ilmu
• Hrndry Sidwick (1839-1900) Scientia
  Scientiarum” (ilmu dari Ilmu-ilmu)
• Pengetahuan prailmiah = commonsense = pengetahuan
  eksistensial
• Filsuf Sophis (yang mempermasalahkan segala sesuatu,
  mempertanyakan pengetahuan; pendiri epistemologi)
• Relativisme (Protagoras): manusia individu ukuran
  segalanya
• Epistemology : episteme (pengetahuan) + logos (teori,
  ilmu) = pengetahuan sistematis mengenai pengetahuan
  (Theory of knowledge)
• Plato dan Aristoteles menanggapi pandangan para sofis
  (ada pengetahuan yang tetap dan abadi)
• Filsafat & pengetahuan awalnya menyatu
• Filsafat disebut induk ilmu (matter
  scientarum)
• Ilmu memisahkan diri dari filsafat dengan
  tuntutan jastifikasi ilmiah dapat
  ditingkatkan menjadi ilmu
•    Teori Kebenaran:
1.   T. Korespondensi (the correspondence theory of truth). Aristoteles
     “Veritas est adequatio intellectus et rhei”
2.   T. Konsistensi atau koherensi (the Concistence theory of truth)
3.   T. Pragmatis (The Pragmatic theory of truth). Tokoh pragmatisme
     Amerika Charles Sander Pierce (1834-1914);m William James
     (1842-1920); John Dewey (1859-19 ), Kemanfaatan, kegunaan,
     efekltivitas yang menetukan kebenaran. James “Something is true
     it is works”. Ilmu dilihat sebagai problem solving. Ilmu sebagai
     instrumen(talisme).
4.   T. Performatif atau tindak bahasa (John Langshaw Austin (1911-
     1960)
5.   T. Paradigmatis (berdasarkan aturan paradigma yang digunakan)
• Batas Pengetahuan
• Batas pengetahuan tergantung pada jenis
  pengetahuan:
1.Pengetahuan biasa
2.Pengetahuan ilmiah
3.Pengetahuan filosofis
4.Pengetahuan teologis
           Paradigma Newtonian

• Ilmu pengetahuan modern didasarkan atas paradigma Newtonian
  yang memiliki asumsi-asumsi sebagai berikut;
• Alam semesta adalah sebuah mesin yang mengikuti hukum-hukum
  sebab-akibat (cause-effect);
• Ruang dan waktu adalah realitas yang obyektif yang
  keberadaannya terlepas dari pengamat;
• Atom adalah unit terdasar dari materi (ingat penemuan sub-atomik
  dan quantum makanik);
• Manusia seperti mesin, panas tubuh adalah akibat gelombang radio
  yang bergerak kontinyu;
• Ilmu pengetahuan pada akhirnya dapat membawa pengetahuan
  yang sempurna (obyektif) tentang universe ( bandingkan dengan
  tentative theory dari Popper dan Kritik Thomas Kuhn dan
  postmodernis)
• Stephen Korner, Fundamental Questions
  in Philosophy: One Philosopher‟s Answer,
  1971,278-280 (Philosophical replection will
  cease only when non-philosophical
  reflection too is at its end” (pemikiran
  filsafat berhenti hanya bilamana pemikiran
  no-filsafat juga tiba pada akhir
  (kematiannya)”
                      Positivisme
• Positivisme bertujuan untuk menjadikan ilmu pengetahuan dengan
  fundasi yang kuat dan terpercaya. Ajaran dasar positivisme antara
  lain:
• Dalam alam terdapat hukum-hukum yang dapat diketahui
• Penyebab adanya benda-benda dalam alam tidak dapat diketahui,
  karena ilmuwan tidak dapat melihat penyebab itu (misalnya apakah
  alam diciptakan atau alam terjadi dengan sendirinya berada di lusar
  jangkauan indrawi).
• Setiap pernyataan yang secara prinsip tidak dapat dikembalikan
  pada fakta tidak mempunyai arti nyata dan tidak masuk akal.
• Hanya hubungan antara fakta-fakta saja yang dapat diketahui.
• Perkembangan intelektual merupakan sebab utama perubahan
  sosial (Osborne, 2001, 134-135).
• Prosedur penelitian empiris-eksperimental Comte dapat dirumuskan
  sebagai berikut:
   – Observasi: meneliti dan mencari hubungan antara fakta-fakta, lalu
     meninjaunya dari hukum statika dan dinamika sosial. Dari Observasi
     dapat dirumuskan hipotresa yang akan dibuktikan melalui penelitisan.
   – Eksperimen: fenomen sosial dengan cara tertentu diintervensi cara
     tertentu, sehingga dengan demikian dapat dijelaskan sebab-akibat
     fenomena masyarakat ( Misalnya studi tentang pathologi dan
     keresahan) dan mendapat pemahaman tentang bagaimana masyarakat
     yang normal.
   – Perbandingan (komparasi) dan metode historis, misalnya dalam biologi
     dikenal anatomi komparatif. Dalam sosiologi studi komparatif bisa
     dilakukan antara dua masayarakat/kebudayaan (studi antropologi) atau
     antara dua periode dalam masyaratakt tertentu (sosiologi historis).
     Metode historis dimaksudkan adalah penelusuran terhadap hukum-
     hukum yang menguasai petkembangan pemikiran manusia.
  Susunan ilmu pengetahuan (hirarkhi) yang didasarkan atas logika ilmiah menurut
Comte dapat dilukiskan sebagai berikut: (Osbern Richard, 2001: 135).

                                Tata Logis        Tata yang benar-benar di dapat
                                                  (kompleksitas)
Matematika                  1                     6
Astronomi                   2                     5
Fisika                      3                     4
Kimia                       4                     3
Biologi                     5                     2
Sosiologi                   6                     1
          .
• Soberg dan Nett ,mengemukakan berberapa asumsi-asumsi yang
  teradapat dalam metode ilmiah antara lain:
• Bahwa ada peristiwa atau fenomena yang terjadi secara berulang
  kembali atau peristiwa yang mengikuti alur/pola tertentu.
• Ilmu pengetahuan adalah lebih utama dari kebodohan.
• Ada keyakinan bahwa pengalaman memberikan dasar yang dapat
  dipercaya bagi kebenaran ilmu pengetahuan.
• Ada tatanan kausalitas dalam fenomena alam dan fenomena sosial
  dan manusia.
• Ada asumsi yang berkaitan dengan pengamat, antara lain:
• Dorongan untuk memperolah pengetahuan sebagai alat
  memperbaiki kehidupan manusia.
• Pengamat/peneliti mampu menarik hakekat yang ada pada
  fenomena yang diteliti.
• Masyarakat ilmiah mendukung metode empiris sebagai dasar
  pencarian ilmu pengetahuan (Chadwick, 1991: 14).
• Makna verfikasi adalah:
• Satu proposisi hanya berarti bila proposisi itu dapat dibuktikan
  benar-salahnya. Misalnya, kalau saya katakan, bahwa , ada tuyul
  di dalam kelas, atau Si Ali sakit karena santet, maka pernyataan itu
  dinyatakan tidak ilmiah karena tuyul dan santet itu tidak dapat
  diverifikasi (tidak dapat dibuktikan).
• Ada bentuk-bentuk kebenaran logis dan bentuk-bentuk kebenaran
  faktual. Kebenaran logis dan matematis adalah kebenaran yang
  sifatnya rasional, sedangkan kebenaran faktual jastifikasinya
  (pembenarannya) adalah verifikasi fakta yang dapat dilakukan oleh
  orang yang indranya baik (normal).
• Kebenaran faktual hanya dapat dibuktikan melalui pengalaman
  indrawi (verifikasi). (bandingkan dengan Osborne, 2001; 149).
• Dari pembahasan di atas dapat dirumuskan asumsi-asumsi yang
  terkandung dalam paradigma positivisme itu melalui tabel berikut,
  (bandingkan dengan Smith, 1998; 76,. Lubis, ):
     Asumsi                   Definisi                            Implikasi
Naturalisme   Positivis mengakui pandangan Ilmu hanya sosial-budaya bertolak
              bahwa fenomena alam sama dari tingkah laku, dan institusi
              (manusia secara prinsip sama masyarakat yang
              dengan hewan, dan alam fisis), teramati. Dalam cara yang sama
              karenanya metode ilmu              manusia dapat diteliti sebagai proses
              alam dapat diterapkan pada ilmu    kimia     atau   biologi.    Ilmu   alam
              sosial-budaya    (unification   of menjadi     model    untuk    penelitian
              method,      kesatuan      metode sosial-budaya
              ilmiah)
Fenomenalis   Ilmu pengetahuan hanya bersum      Realitas dibatasi pada yang dapat
me            ber dari fenomena yang dapat       dilihat diraba, disentuh, didengar dan

              diamati (fisikalisme), hal yang    dicium saja. Kesadaran, motivasi,

              abstrak dan metafisik berada di tujuan hidup/kebahagiaan adalah hal
                                              yang subyektif (ada dalam pikiran)
              luar ilmu pengetahuan
                                                 saja.
Nominalisme   Konsep       universal     sebagai Semua konsep dan Ide yang tidak
              gambaran                           didasarkan atas pengamatan lang-
              murni sulit diterima karena sung tidak bermakna. Konsep:
              hanya                               kesadaran, keadilan, jiwa, makna/
              didasarkan       pada     fakta tujuan hidup dinyatakan                tidak
              individual. Konsep adalah suatu bermakna
              nama/sebutan kebahasa-
              an yang disepakati.
Atomisme      Atomisme adalah pendekatan Unit terkecil yang dapat diobservasi
              khusus untuk mendefinisikan menjadi                 fokus    riset.      Dalam
              obyek      studi.    Objek       dapat penelitian sosiologi ia bertolak dari
              dipecah dalam bagian-bagian individu;
              kecil. Objek merupakan jumlah masyarakat dipandang tidak lain dari
              total dari komponen atomiknya.           kumpulan individu-individu.
Hukum-        Tujuan ilmu pengetahuan adalah Pencarian hukum ilmiah diadopsi
hukum         nememukan hukum (nomotetis). oleh
ilmiah        Bertolak dari observasi terhadap ilmuwan sosial dengan asumsi
              fenomena            alam         dicari keteraturan empiris, misalnya:
              “empirical-regularity”. Hukum            merokok menyebabkan kanker
              ilmiah adalah
                                                       paru-paru. Biasanya dirumuskan:
               pernyataan umum yang dapat
                                                       jika p maka q.
              menjelaskan                keberaturan
              pengalaman pada tempat dan
              waktu yang berbeda
Fakta    dan Fakta dan nilai dilihat sebagai Para ahi ilmu sosial-budaya yang
Nilai         dua hal yang berbeda/terpisah.           menerima asumsi ini menyatakan
              Fakta dapat diobservasi, diukur bahwa proposisi ilmiah bebas dari
              dan     diverifikasi.       Nilai-nilai nilai.
              termasuk penilaian subyektif,
              tuntutan     tentang       apa   yang
              seharusnya tidak boleh masuk
              dalam          wilayah            ilmu
              pengetahuan
• Dari penelitian yang dilakukan Durkheim dapat ditarik lima aturan
   fundamental dalam metodenya ( lihat Giddens, Anthony, Daniel Bell,
   dan Michel Forse‟ Cs. (2004, 47) yaitu:
1. Mendefinisikan obyek yang dikaji secara obyektif.
   Obyek dan focus penelitian adalah peristiwa (fenomena)
   masyarakat yang dapat diobservasi yang berada di luar kesadaran
   individu. Definisi tidak boleh mengandung prasangka dan terlepas
   dari apapun yang kira-kira akan menjadi kesimpulan studi. Misalnya
   Durkheim merumuskan definisi tujuan pendidikan sebagai berikut,
   “Pemdidikan adalh tindakan yang dilaksanakan oleh generasi-
   generasi dewasa kepada generasi yang belum dewasa dalam
   kehidupan sosial. Pendidikan bertujuan untuk membangkitkan dan
   mengembangkan sejumlah kondisi fisik, intelektual dan moral pada
   anak seperti yang dituntut masyarakat politik terhadap si anak
   dalam keseluruhan dan lingkungan sosial yang diperuntukkannya”
2. Memilih satu atau beberapa kriteria yang obyektif.
   Dalam buku pertamanya De la division du travail socia l (pembagian
   Kerja Sosial). Durkheim mempelajari bebagai bentuk solidaritas
   sosial yang berbeda-beda dari sudut hukum. Ia juga berusaha
   mencari penyebab tindakan bunuh diri dengan mempergunakan
   angka klematian akibat bunuh diri. Kana tetapi harus diperhatian
   berbagai kriteria yang digunakan dalam menganalisis bunuh diri itu
3. Menjelaskan kenormalan patologi
   Ada beberapa situasi yang bersifat kebetulan dan sementara yang
   bisa mengacaukan keteraturan peristiwa. Kita harus dapat
   membedakan situasi normal yang menjadi dasar bagi kesimpulan-
   kesimpulan teoritis. Dapat kita bendingkan dengan pemikiran
   dengan metode ideal-tipikasl dari Max Weber. Yang riil akan selalu
   terlihat orisinal dalam kompleksitasnya, akan tetapi bisa pula kita
   mencari struktur dan ciri khas yang menonjol .
4. Menjelaskan masalah sosial secara sosial.
   Satu peristiwa sosial tidak hanya dapat dijelaskan melalui keinginan
   individual yang sadar namun juga melalui peristiwa atau tindakan
   sosial sebelumnya. Semua tindakan kolektifmemiliki sati
   sugnifikansi dalam sebuah sistem interaksi dan sejarah. Inilah yang
   disebut dengan metode fungsionalis.
5. Mempergunakan metode komparatif secara sistematis
   demonstrasi sosiologis.
                 “   old paradigm” (paradigma lama) yang pandangannya
         terlalu ekstrem dan mengandung beberapa ciri dan kelemahan antara lain:




• menyingkirkan hegemoni agama (Kristen) pada zaman Pertengahan
  dengan menggantinya dengan hegemoni ilmu pengetahuan (Paul
  Feyerabend, 1975). Reduksi realitas pada fakta yang teramati telah
  menyingkirkan dimensi dan perspektif lain, dan memandang
  manusia hanya sebagai obyek, pandangan ini tidak dapat
  dibenarkan;
• positivisme telah menciptakan satu model rasionalitas ilmiah
  (rasionalitas instrumental menurut Habermas) dengan
  menyingkirkan model rasionalitas lain. Selama tiga dasawarsa
  terakhir proyek-proyek besar dan kebenaran absolut dan ide
  rasionalisme Pencerahan (modern) mulai berantakan diserang dari
  berbagai sisi oleh perkembangan fisika kuatum, postrukturalis dan
  dekonstruksionis (tentang postrukturalis & Dekonstruksionis akan
  dibahas secara khusus pada kuliah selanjutnya).
•   positivisme tidak mengakui sifat kontigensi, relativitas dan historisitas pikiran (rasio)
    manusia. Pendukung positivisme seperti dikemukakan Hillary Putnam, seakan dapat
    memposisikan diri sebagaimana Tuhan melihat realitas dengan transparan apa
    adanya. Pandangan ini ditolak oleh Putnam (1983; 1989), Gadamer, Heidegger.
    Kuhn , Rorty, dan tokoh paradigma Konstruktivis (tema ini akan dibahas
    selanjutnya). Putnam dan Rorty dengan jelas mengemukakan bahwa manusia adalah
    makhluk yang terbatas, sehingga tidak mampu melihat realitas dengan transparan
    dan holistik
•   pandangan evolusionisme, pandangan tentang keseragaman serta kesatuan hukum
    alam (grand theory) tidak mampu menjelaskan keberagaman budaya manusia,
    karena itu pandangan positivisme ini cendrung ditolak oleh pendukung
    pascapositivisme dan postmodernisme. Pandangan kesatuan ilmu pengetahuan tidak
    mampu memperhitungkan situasi budaya lokal, etnis, budaya multikultural, psikologi
    pribumi (indigeneous psychology), studi budaya-budaya, dan teori-teori feminis yang
    banyak menjadi perhatian pada pluralisme budaya sekarang ini. Grand-theory tidak
    menerima cerita-cerita kecil dan suara dari kelompok yang terpinggirkan, karena itu
    dalam ilmu sosial-budaya pandangan ini banyak dikritik dan ditinggalkan.
•   Kepercayaan bahwa ilmu pengetahuan akan membawa pada kemajuan ternyata di
    sisi lain juga menimbulkan hal-hal yang negatif bagi kehidupan (persaingan
    senjata/perang, kesenjangan antara negara kaya dan miskin, masalah ekologi) dan
    lain-lain. Masalah ini menjadi salah satu kritik kaum pospositivis terhadap
    pandangan positivisme ilmiah yang sangat mempercayai kemampuan ilmu
    pengetahuan untuk menciptakan kemakmuran, keadilan dalam masyarakat modern.
    Ilmu pengetahuan dan teknologi ternyata bersifat ambivalen, artinya di samping
    memberi harapan dan kemudahan bagi umat manusia, akan tetapi di sisi lain
    menimbulkan dampak negatif yang sangat memprihatinkan.
     Untuk memberikan gambaran lebih lengkap tentang perbedaan antara
ilmu-ilmu empiris dengan nonempiris dapat dilihat pada tabel berikut:

No Kelompo       Subjek-Objek           Metode                  Tujuan
   k Ilmu
1  Ilmu          - Obyeknya Dunia III   - Deduktif- axiomatis   - Kepastian
   Formal        - Universal                                    - Universalitas
   (apriori)
2  Ilmu          - Obyek anorganis      - Empiris               - Eksplanasi kausal-
   Alam          - Jarak S-O            - Deduktif               mekanis
                                        - Induktif              - Prediksi,  -
                                                                Retrodiksi
                                                                - Nomotetis
3    Ilmu        - Obyek organik        - Empiris:              - Eksplanasi
     Hayat                              - Deduktif              - Fungsional
                                        - Induktif
4    Ilmu        - Manusia dan          - Empiris               - Eksplanasi
     Sosial       Masyarakat            - Deduktif              - Kualitatif
                                        - Induktif              - Verstehen
                                        - Intuitif
                                        - Fenomenologis
                                        - Hermeneutis
5    Ilmu        - Manusia dan          - Empiris               - Deskripsi,
     Budaya       budaya/ Kar-yanya     - Fenomenologi, -       - Retrodiksi
     (termasuk    (Cultur-al studies:   Hermeneutika, -         - Verstehen
     Cultural     Budaya pop,           Semiotika,     -        - Kualitatif
     Studies      budaya mas-sa,        Framing, dll.
     berkemba     budaya tinggi,
     ng tahun     buda-ya kulit hi-
     1980-an)     tam, budaya
                  pinggiran dll).
         The Basic Beliefs (metaphysics) of alternative Inquiry Paradigms

Item    Positivis   Postpositivism          Critical Theory et.      Constructivism
        m                                   al.
Onto    Naive       Critical realism-       Historical realism-      Relativism-local
lo-gy   realism-    “real” reality but only virtual reality shaped   and specific
                    imperfectly and         by social, political,    constructed realities
                    probabilis-tically      cultural, economic,
                    apprehend-able          ethnic, and gender
                                            values
Epist   Dualist,    Modified                Transactional/sub-       Transactional/
e-      objectivist dualist/objectivist,    jectivist, value-        subjectivist; created
molo    ; findings critical tradition/      madiated findings        findings
gy      true        community, findings
                    probably true
Meto    Experime Modified                   Dialogic/ dialectical    Hermeneutical/
-       ntal/manip experimental/ma-                                  dialectical
dolo    ulative,    nipulative; critical
gy      verificatio multiplism;
        n of        falsification of
        hypothesi hypotheses, may
        s; chiefly include qualitative
        quantitati methods
        ve
        methods
Perbedaan doktrin pronaturalis (Paradigma positivisme) dan antinaturalis
(Anti Positivisme) :

     o
    Problem         Ilmu-ilmu Alam/ Biologi       Ilmu Sosial-Humaniora
1   Generalisasi Ya: Uniformitas alam             Tidak: Keunikan & heterogenitas
2   Eksperimen      Ya: Terkontrol                Tidak/sulit dikontrol
3   Kebaruan        Statis                        Dinamis
4   Kompleksit      Tidak rumit/dapat diisolasi   Kompleks/sulit diisolasi
    as
5   Prognosa/       Ya                            Sulit
    prediksi
6   Obyektivita     Ya                            Tidak: interaksi subjek-obyek
    s
7   Holisme         Tidak (tapi atomistis)        Ya (Ganzheit)
8   Interpretasi/   Tidak                         Ya
    Intuisi
9   Nominalis-      Nominalis: konsep umum        Esensialis: memahami
    Esensialis      hanya nama (wakil) fakta-
                    fakta individual
1   Kuantitatif     Ya                            Tidak ( tapi kualitatif)
0
• Kuhn menggunakan pengertian paradigma
  dengan dua puluh satu pengertian yang
  berbeda-beda. Masterman membantu untuk
  menjelaskan pengertian paradigma Kuhn
  dengan mereduksir kedua puluh satu konsep
  Kuhn itu pada tiga tipe paradigma. Tipe
  paradigma itu antara lain: 1) paradigma
  metafisik (metaphysical paradigm) ,: 2)
  Paradigma sosiologis (sociological paradigm)
  dan; 3) Paradigma konstruk (construct
  paradigm) (Ritzer,2002;4).
• Paradigma metafisik, memerankan beberapa fungsi:
• Untuk menentukan masalah ontologi (realitas, obyek)
  yang menjadi fokus atau obyek kajian ilmiah dari
  komunitas ilmuwan tertentu. Misalnya dalam paradigma
  Positivisme dalam sosiologi obyek yang dikaji adalah
  fakta sosial
• Menunjuk pada komunitas ilmuwan tertentu bagaimana
  mereka menemukan realitas atau obyek (problem
  ontologi) yang menjadi pusat perhatiannya.
• Menunjuk kepada ilmuwan yang berharap untuk
  menemukan sesuatu yang sunguh-sungguh ada sesuai
  dengan pandangan (1) dan (2). (Bandingkan dengan
  Ritzer; 2002; 5).
• Paradigma sosilogi;Pengertian yang dikemukakan Masterman
  tentang paradigma sosilogi ini mirip dengan exemplar pada Kuhn.
  Eksemplar berkaitan dengan bekiasaan-kebiasaan, keputusan-
  keputusan dan aturan yang diterima serta hasil penelitian yang
  diterima secara umum, Hasil penelitian yang diterima secara umum
  inilah yang dimaksudkan dengan eksemplar. Misalnya penelitian
  Durkheim, Max Weber, Atfred Schulz dalam sosiologi; Freud,
  Skinner, Maslow dalam psikologi, yang hasil penelitian ini kamudian
  dijadikan contoh penelitian oleh pendukung paradigma tersebut.
  Durkeim menjadi model bagi paradigma fakta sosial, Max Weber
  dengan Social Action-nya menduduki eksempakr bagi sosiologi
  interpretatif, sehingga mereka disebut sebagai “jembatan
  paradigma”. Hal Yang sama tentu dapat diberikan pada Freud
  (paradigma Psikoanalisa; Skinner (paradigma Behaviorisme) dan
  Maslow (paradigma Humanistik) sebagai “jembatan paradigma”
  ilmiah dalam psikologi
• Paradigma Konstruk; adalah konsep
  yang paling sempit dari ketiga paradigma
  yang dikemukakan Masterman. Untuk
  menjelaskan paradigma konstruk ia
  memberikan contoh: pembangunan
  reaktor nuklir merupakan paradigma
  konstruk dalam fisika nuklir, mendirikan
  laboratorium menjadi paradigma konstruk
  bagi psikologi eksperimental
  (behaviorisme) dan seterusnya.
• Pergeseran paradigma ilmiah itu mengandung beberapa
  unsur/pengertian:
• Munculnya cara berpikir baru mengenai masalah masalah baru
• Dapat berupa prinsip yang selalu hadir, akan tetapi tidak kita
  kenal/sadari (bandingkan dengan dimensi yang teka terungkap
  menurut Michel Polanyi)
• Paradigma baru tidak dapat diterapkan kecuali dengan
  meningggalkan paradigma lama (prinsip incommonsurable)
• Paradigma baru selalu dihadapi/ditanggapi dengan kecurigaan dan
  permusuhan (ingat tantangan terhadap Giordano Bruno dan Gelileo
  Galilei sewaktu mereka mengajukan teori heliosentris yang
  menggeser teori geosentris yang didukung oleh tokoh-tokoh gereja)
  (Smith, Linda & W. Raeper,2000, 247).
• Dalam sosiologi menurut George Ritzer setidaknya ada
  tiga paradigma yang bersaing dengan beberapa varian
  teori yang dipayunginya. Paradigma itu antara lain:
• paradigma fakta sosial dengan variannya: a) teori
  fungsionalisme struktural; b) teori konflik; c) teori sistem;
  d) teori siologi makro.
• Paradigma Definisi sosial dengan varian teori yang
  dipayunginya antara lain: a) teori aksi (action thory); b)
  interaksionisme simbolik (simbolic interactionism); c)
  fenomenologi (Phenomenology).
• Paradigma perilaku sosial yang dikenal juga dengan
  pendekatan behavioris. Varian teorinya adalah, a)
  Sosilogi tingkah-laku (behavioral sociology); b) teori
  exhange atau teori pertukaran Ritzer, 2002).
•   Skema Revolusi ilmiah Kuhn
    (Smith;1998; ):
.   Pra paradigma
•   Paradigma A     normal Science
    Anomalies       Crisis   Scientific
    Revolution    Paradigma B
     Ian Hacking mengemukakan bahwa pemikiran Kuhn telah
 menghancurkan beberapa gagasan penting dalam ilmu pengetahuan
               (khususnya positivisme), antara lain:


1. Realisme ilmiah: di mana ilmu pengetahuan dianggap sebagai upaya untuk
   menemukan/menjelaskan suatu dunia nyata, bahwa kebenaran teori adalah
   sesuai dengan realitas/ obyek apa adanya, dengan demikian teori adalah
   pencerminan realitas tanpa keterlibatan subjek di dalamnya.
2. Demarkasi, maksudnya ada garis batas yang jelas dan tegas antara teori
   ilmiah dengan non-ilmiah atau jenis keperca-yaan lainnya.
3. Kumulasi, yang mengandung pengertian bahwa ilmu penge-tahuan
   berkembang secara kumulatif dan berkembang berdasarkan apa yang
   sudah diketahui dan berdasarkan paradigma sebelumnya.
4. Pemilahan antara teori dengan observasi, karena tidak ada keterkaitan
   antara teori/paradigma dengan observasi.
5. Fundasionalisme, karena adanya pandangan bahwa observasi dan
   eksperimen merupakan fundasi terpercaya bagi kebenaran hipotesa dan
   teori (karena dapat diverifikasi).
6. Struktur deduktif teori, yakni bahwa pengujian atas teori-teori
   berlangsung dengan cara mendeduksi laporan-laporan observasi
   dari postulat-postulat teoretis.
7. Presisi, yakni bahwa konsep-konsep ilmiah memiliki ketepatan dan
   memiliki makna yang pasti.
8. Penemuan dan pembenaran, yakni bahwa antara konteks
   pembenaran dan konteks penemuan adalah dua hal yang benar-
   benar terpisah. Dalam ilmu pengetahuan harus benar-benar
   dipisahkan secara tegas antara dimensi sosial, histo-ris, psikologis
   di mana suatu penemuan dilakukan dengan basis logismetodologis
   yang mengukuhkan kepercayaan pada fakta-fakta yang ditemukan.
9. Kesatuan ilmu pengetahuan, yakni bahwa ilmu pengetahuan
   ditegakkan di atas fundasi (bahasa, obyek, metode) yang sama.
   Paradigma positivisme (metode ilmu alam) menjadi model
   terpercaya dan dapat diandalkan bagi semua ilmu pengetahuan
   (Hacking, 1981: 1-2).
                     Critical Theory
ajaran Marx yang ditinggalkan oleh Tokoh Mazhab Frankfurt antara lain:
1. Teori nilai pekerjaan Marx dianggap kehilangan arti, karena dalam
    masyarakat industri maju ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi tenaga
    produktif yang utama. Jika Marx menganggap ekonomi sebgaia infrastruktur
    yang menentuka suprastriuktur, maka pada abad xxi ini sering disebut
    sebagai era ekonomi yang berbasis ilmu pengetahuan. Jadi ilmu
    pengetahuan dianggap sebagai modal (capital) utama.
• Pertentangan modal (kapital) dengan pekerjaan juga kehilangan
    relevansinya, karena penindasan manusia tidak lagi penindasan kaum
    kapitalis pada pekerja (buruh), akan tetapi semuanya ditindas oleh sistem,
    di mana proses produksi yang ditentukan oleh teknologi sudah tidak
    terkontrol lagi. Dengan demikian analisis kelas yang begitu penting dalam
    pemikiran Marx, kehilangan fundamennya atau tidak relevan lagi.
• Hilangnya pertentangan kelas, disebabkan meleburnya kaum proletariat ke
    dalam “sistem” sehingga tidak lagi memiliki semangat revolusioner,
    Proletariat bukan lagi subyek bagi revolusi menyeluruh.
               Critical Theory
• Generasi I Teori Kritis menghasilkan karakter Teori
   sbb :
1. Teori bersifat historis, maksudnya teori didasarkan
   atas situasi mesyarakat yang kongkrit, lalu
   melakukan kritik terhadap kondisi masyarakat yang
   tidak adil dan tidak manusiawi.
2. Teori Kritis bersifat kritis terhadap
   pandangan/teorinya sendiri
3. Metode dialektik yang digunakan memunculkan
   kecurigaan terhadap kondisi masyarakat aktual.
4. Teori tidak bersifat kontemplatif tapi bertujuan
   praxis, di mana teori mendorong transformasi
   masyarakat yang hanya mungkin bisa diterapkan
   melalui praxis
    Kritik Teori Kritis mencakup:

1. Kritik terhadap marxisme yang terlalu deterministik. Teori kritis
   mengatasi determinisme ekonomi dengan memperhatikan
   aspek sosial-budaya di samping ekonomi
2. Kritik terhadap positivisme yang menyamakan kehidupan
   sosial-budaya dengan alam (fisikalisme), Habermas
   menyatakan bahwa positivisme mengabaikan peran individu
   (actor, egent). Positivisme merendahkan pandangan terjhadap
   manusia dan hukum ilmiah tidak begitu saja berlaku bagi
   manusia.
3. Kritik terhadap positivisme dalam sosiologi yang menyebabkan
   sosiologi berwatak konservatif dan mempertahankan status-
   quo.
4. Teori Kritis menolak ilmu yang kontemplatif dengan
   mengaitkan teori dengan praxis –emansipatoris.
Keterkaitan antara pengetahuan dengan Kepentingan                  :
        No Kelompok          Tujuan          Kepentingan
            Ilmu
        1   Empiris          Nomotetis (rasio Teknis &
            Analitis (Ilmu   Instrumental)   Penguasaan,Kontrol
            alam &                           alam/manusia
            Positivisme
            Ilmu Sosial
        2   Historis-        Menangkap       Perluasan
            Hermeneutis      makna           Intersubyektivitas,
            (Sejarah-ilmu                    saling memahami &
            Humaniora)                       Komunikasi
        3       Kritis-      Refleksi diri   Pencerahan,
            Refleksif        dan             Emansipatoris
            (Filsafat,       Lingkungan
            Psikoanalisa,    kekuasaan
            K, Ideologi)
   Ilmu dan kepentingan (Habermas)


 o
Kelompok Ilmu           Tujuan & Kepentingan
  1
Empiris-analitis:       Nomotetis:       mencari
ilmu-ilmu alam &        hukum alam
Ilmu          sosial    Kepentingan : teknis
Positivis
  2
Historis-               Idiografis: pengungkapan
Hermenutis:             makna
Sejarah, sastra         Kepentingan: Perluasan
                        wawasan dan komunikasi,
                        tindakan bersama
 3
Ilmu-ilmu               Refleksi kritis
Tindakan:               Kepentingan:
Sosiologi,              Emansipatoris
 politik,   filsafat,
teori feminisme
    No    Pandangan      Rasionalisme          Teori Kritis
         Positivisme     Kritis
         Logis
1        Ilmu bebas      Mendukung ilmu Menolak: Pandangan itu
         nilai           bebas nilai          ideologis
    1                                        dan menyembunyikan
                                             kepentingan yang
                                             ada di dalamnya
2        Verifikasi      Ditolak: Validitas Ditolak: Validitas diarah
         sebagai         ilmiah didasarkan kan oleh rasionalitas-
    2    dasar           pada        putusan kepentingan
         validitas       ilmuwan       untuk ilmuwan/manusia
         ilmiah          menyepakati
                         dasarnya



3        Persoalan       Konsensus             Pengamatan tidak bebas
         basis (fakta    ilmuwan       yang    nilai, Kepentingan untuk
         atomik          menentukan            menguasai alam menjadi
         sebagai basis   bahwa pernyataan      dasar
         pernyataan      (teori)      sesuai   ilmu-ilmu alam. Hasil
         ilmiah)         dengan realitas       penelitian diarahkan oleh
               Teori Ilmiah      Teori Kritis
1
    Tujuan     Nomotetis,        Mencerahkan,
               Manipulasi dunia  Emansiparoris,
               eksternal         menemukan
                                 kepentingan
                                 sejati
                                 masyarakat
2
    Struktur   Mengobyektivasi, Refleksi, teori
    kognitif   merepresentasikan merupakan
               obyek             bgn dari obyek
                                 yg
                                 dideskripsikan
3
    Konfirmasi Empiri &          Scr Kognitif
               Verifikasi sbg    diterima jika
               Justifikasi       mampu
                                 bertahan oleh
                                 proses
                                 evaluasi; teori
                                 benar-benar
                                 refleksif
n                 Scientific Theories        Critical Theories
    1 Tujuan     Nomotetis;           Emansipatoris & Mencerahkan;
                 manipulasi    dunia menyadarkan represi terselubung,
                 eksternal            sehingga     dapat    membebaskan,
                                      mampu menemukan kepentingan
                                      nyata/sejati masyarakat

    2 Struktur   Mengobyektivasi,    -refleksi
      kognitif   teori               - Teori merupakan bagian dari
                 merepresentasikan   obyek yang dideskripsikan
                 obyek,


    3 Konfir     Empiri          & Secara kognitif diterima jika ia
      masi       eksperimen sebagai mampu bertahan oleh proses
                 legitimasi         evaluasi rumit; apakah teori benar-
                 (verifikasi)       benar refleksif
    Emancipatory Politics                        Life Politics
1   Pembebasan kehidupan sosial Keputusan keputusan politik yang keluar dari
    dari tradisi dan adat-istiadat     kebebasan memilih dan kekuasaan generatif
                                       (kekuatan sebagai kemampuan transformatif)
2   Pengurangan atau penghapusan Pembentukan bentuk-bentuk kehidupan yang
    eksploitasi, ketidaksamaan dan dapat        dibenarkan       secara   moral     akan
    penindasan. Perhatian terhadap mendukung aktualisasi diri dalam konteks
    pendistribusian    yang   divisive global
    terhadap
    kekuasaan.sumberdaya.
3   Kataatan      terhadap    prinsip- Pengembangan etika tentang “bagaimana
    prinsip    keadilan,   persamaan, kita      harus    hidup”       dalam       tatanan
    dan partisipasi                    postradisional serta terhadap permasalahan
                                       eksistensial
   Asumsi Epistemologi Praktis
        (Pragmatisme):
1. Tidak ada dasar epistemilogi yang pasti bagi
  ilmu pengetahuan (antifundasionalisme).
2. Pengetahuan adalah kepingan-kepingan
  pengalaman.
3. Ilmu pengetahuan adalah konstruksi kognitif
  & interaksi yang berkaitan dgn lingkungan.
4. Kebenaran ilmu pengetahuan ditentukan
  oleh kegunaan praktisnya.
•   Akibatnya revolusi kehilangan arti, revolusi ternyata
    hanya akan mengembalikan keadaan semula.
•   Kritik ekonomi kapitalis Marx yang parsial, digantikan
    oleh kritik yang lebih menyeluruh yaitu kritik terhadap
    kebudayaan teknokratis.
•   Karena dalam upaya emansipasi tekanan fungsi
    kesadaran bersifat primer, maka bidang produksi tidak
    lagi memiliki kedudukan sentral, Akibatnya skema
    basis- bangunan atas dianggap tidak berlaku lagi.
•   Atas dasar itu ajaran (dogma) inti Marxisme tentang
    hukum perkembangan ekonomi umat manusia yang
    niscaya menuju penghapusan masyarakat berkelas
    dan ke arah kebebasan manusia, juga tertolak.
    (Magnis, 1992; 167-68).
•   Upaya untuk membebaskan diri dari dogmatisme ajaran Marx telah
    memunculkan berbagai pandangan baru yang berkembang seperti:
•   bukan kebutuhan manusia yang menentukan proses produksi melainkan
    kebutuhan itu sendiri diciptakan, agar hasil-hasil produksi bisa laku;
    perkembangan teknologi ternyata menuruti hukum-hukumnya sendiri dan
    lepas dari kontrol manusia;
•   kebahagiaan yang ditawarkan industri konsumsi ternyata kebahagiaan
    semu, karena ternyata membuatnya semakin tergantung pada benda-
    benda (pemilikan) dan menghilangkan nilai pada dirinya sendiri;
•   bekerja bukan lagi untuk memenuhi kebutuhan hidup dan pengembangan
    diri, akan tetapi merupakan keterpaksaan untuk memenuhi kebutuhan yang
    diciptakan;
•   teknologi modern ternyata bukan memanusiakan manusia akan tetapi
    sebaliknya semakin memperbudaknya;
•    kemajuan sarana komunikasi ternyata mengisiolosi manusia dan bukan
    meningkatkan interaksi dan komunikasi individu (Magnis. 1992; 169).
Arthur Asa Berger mengemukakan beberapa metode hermeneutika atau interpretasi teks
yang banyak digunakan dalam interpretasi teks (realitas sosial-budaya) dalam dunia
akademis sekarang ini (bab V, halaman: 231-233) antara lain:




             Feminist Theory           Semiotics          Ethical Criticism


             Sociological                                  Marxist
                                        Text
               Theory                                      Theory


            Aesthetic             Psychoanalytic            Literary
                Theory                Theory                Theory


Jika kita melakukan penelitian tentang masalah perempuan yang kita anggap sebagai
teks, maka metode hermeneutika dengan variannya: teori psikoanalisa, teori estetika,
teori literatus, teori marxis, teori semiotika, teori kritis, teori-teori feminis atau bahkan
dekonstruksi model Derrtida dapat saja kita gunakan.
                     T. Feminis
• Ada tiga faktor yang membantu terciptanya gelombang
  aktivitas feminis akhir-akhir ini antara lain:
   – Berkembangnya pemikiran kritis pada tahun 1960-/1970an.
   – Kemarahan aktivis perempuan yang terhimpun dalam gerakan
     anti perang, penegakan hak-hak sipil, gerakan mahasiswa yang
     hanya bertujuan menentang menentang sikap seksis dan liberal
     di dalam gerakan tersebut.
   – Pengalaman kaum perempuan dalam menghadapi prasangka
     dan diskriminasi yang mereka alihkan menjadi tuntutan upah
     dan pendidikan yang lebih tinggi (Ritzer dan Goodman, 2004:
     98).
                       T. Feminis
• Jika diteliti secara rinci dapat dilihat ciri utama teori sosiologi
   feminis dalam upaya membangun sosiologi yang prefosional
   anatara lain:
1. Menekankan bahwa pengalaman, pekerjaan, dan kehidupan
   perempuan sama pentingnya dengan, pengalaman, pekerjaan dan
   kehidupan kaum laki-laki.
2. Penekanan itu diiringi oleh kesadaran bahwa ,mereka berbicara
   dari pendirian hendak diwujudkan bukan dengan nada keangkuhan
   obyektivisme, karena mereka ingin menjadikan teori sosiologi laki-
   laki sebagai patner bagi teori yang mereka bangun.
3. Kesadaran bahwa sosiologi bertujuan untuk mereformasi
   kehidupan sosial, di mana tujuan akhirnya adalah untuk
   meningkatkan kualitas kehidupan manusia melalui kehidupan.
4. Kesadaran bahwa ketimpangan sosial sebagai masalah utama
   dalam upaya mencapai kemajuan, karena itu ketimpangan dan
   ketidak adilan itu harus diatasi .
• Dalam mengembangkan teorinya pendekatan feminis tidak
   menerima pendekatan positivis atau fungsionalis karena
   pertimbangan berikut:
1. Karena pendekatan positivis menekankan pada penemuam
   kebenaran universal dengan metode verifikasi.
2. Komitmennya pada obyektivitas dan netralitas peneliti.
3. Klasifikasinya yang dikotomis serta penekanannya pada prinsip
   kausalitas.
4. Pandangan-pandangannya yang ahistoris.
5. Tidak melihat pemakaian bahasa sebagai medium untuk
   menyampaikan pemikiran-pemikiran, konsep-konsep dan teori-teori
   (Ollenburger & Helen A. Moore, 1996: 46).
• Janet Chavetz mengemukakan beberapa unsur yang
   terdapat dalam teori sosiologi feminis sebagai berikut:
1. Masalah jenis kelamin sentral dalam semua teori
2. Hubungan jenis kelamin tidak dipandang sebagai
   masalah
3. Hubungan jenis kelamin tidak dipandang sebagai
   alamiah dan kekal
4. Kriteria teori sosiologi feminis dapat digunakan untuk
   menentang, meniadakan atau mengubah suatu status
   quo yang merugikan atau merendahkan derajat
   perempuan (Olenburger & Helen A. Moore, 1996: 45).
•    Sandra Harding merumuskan metode (epistemologi) feminis sebagai
     alternatif. Ia merumuskan lima macam kecenderungan penelitian
     interdisipliner yang perlu dikembangkan oleh kaum feminis:
1.    Suatu penelitian yang adil didorong oleh politik reformis liberal untuk
     menguji perlawanan dan diskriminasi terhadap wanita di dalam dunia
     ilmiah. Pendidikan serta proses sosialisasinya menanamkan minat dan
     bakat dalam ilmu pengetahuan.
2.   Penelitian terhadap penyalahgunaan ilmu-ilmu sosial, bilogi dan teknologi
     diperlukan untuk menunjukkan adanya proyek-proyek sosial yang bersifat
     sexist, racist dan homophobic
3.   Kajian dari kaum konstruktivisme sosial diperlukan untuk mengusahakan
     kemungkinan adanya ilmu pengetahuan murni.
4.   Kajian kelompok dekonstruksionis diperlukan untuk menemukan kebenaran
     laporannya, terutama yang berkaitan dengan batas bahasa, struktur retoris
     dan lain sebagainya.
5.   Kajian epistemologis diperlukan untuk mengeksplorasi fundasi-fundasi
     pengetahuan dalam kaitannya dengan relasi sosial, perwujudannya serta
     kaitannya dengan struktur kekuasaan.
•  Shulamit Reinharzt mengemukakan sepuluh tema metodologi feminis (
   dalam Feminst Methods In Social Research, 1992) sebagaiu berikut:
1. Feminisme adalah suatu perpektif bukan metode penelitian
2. Feminist menggunakan bermacam-macam metode penelitian
3. Penelitian femins melibatkan kritik berkelanjutan terhadap penelitian dan
   kegiatan ilmiah di luar Kajian feminis
4. Penelitian feminis dituntun oleh teori feminis
5. Penelitian feminis bersifat interdisipliner/multididipliner
6. Penelitian feminis bertujuan untuk menciptakan perubahan sosial
7. Penelitian feminis berupaya untuk menampilkan keberagaman manusia.
8. Penelitian feminis sering menyertakan peneliti sebagai seorang pribadi
9. Penelitin fiminis sering berupaya mengemvbangkan hubungan khusus
   dengan orang-orang yang diteliti (penelitian interaktif, partisipatif)
10. Penelitian feminis sering menetukan hubungan khusus dengan pembaca (
   Shulamit; : 336).
•   Richardson dan Taylor menyusun lima metode feminis sebagaimana
    dikamukakan oleh Judith Cook dan Mary Margaret Fonow sebagai berikut:

1. Memperkenalkan tentang adanya pengaruh gender (male biased) ketimpangan
   gender dalam semua kegiatan sosial manusia.
2. Menyingkapkan bagaimana hubungan gender dengan system lain yang
   mempengaruhi perbedaan seperti: ras, kelas sosial, etnis, umur dan lain sebagainya.
   Ada pengalaman dan harapan yang berbeda antara laki-laki dan perempuan antara
   kelas, ras kulit putih dengan kulit hitam dan berwarna.
3. Meningkatkan dan menyebarkan kesadaran (conciuosness rising) yang diyakini
   dapat membantu memperkecil atau menghilangkan ketidak adilan/penindasan
   terhadap kaum perempuan.
4. Memikirkan dan mengubah pandangan dualisme antara si peneliti dengan obyek
   yang diteliti dengan pandangan yang dialogis, partisipatif. Karena tuntutuan
   obtektivitas ilmiah ternyata membuat hubungan yang tidak sejajar (tidak adil). Dialog
   dan sikap kritis diperlukan untuk memahami perspektif, pengalaman dan harapan
   kaum perempaun.
5. Menekankan perlunya pemberdayaan dan transformasi yang secara tidak langsung
   telah menimbulkan berbagai kritik.
•  Dalam proses pengetahuan ini yang terjadi bukanlah dualisme subyek-
   obyek, rasio dan emosi. Akan tetapi proses yang menyatukan antara
   tangan, kepala dan hati (hand, brain, and heart).
• Dalam pandangan ini ilmu pengetahuan menjadi holistik, relasional serta
   bertangungjawab terhadap berbagai proses keputusan kelompok. Ada tiga
   pengertian analitis menuju ke suatu teori yang holistik (terpadu) yaitu:
1. Memberi tempat bagi mereka yang tertekan, sebagai cara untuk
   mengembangkan ilmu pengetahuan dan penelitian yang adil,
   bertangungjawab. Subyek yang dijadikan sebagai obyek penelitiasn justru
   harus diposisikan sebagai mitra dialog;
2. Ilmu dan penelitian diakui tidak netral, terdapat hubungan antara gaya
   kognitif dengan keterlibatan dalam kegiatan-kegiatan sosial;
3. Ciri relasional ilmu dan penelitian mengakui dan menjalani proses, dan tidak
   dapat meninggalkan sumbangan pengalaman prarasional sekalipun. (lihat
   tulisan J.B. Banawiratma, dalam, Budi Susanto, 1994, 97).
Table 1. 2 Interpretive Paradigms (Denzin & Yvonna, 1998; 27):
 Paradigm/Theory              Kriteria                     Bentuk teori               Tipe Narasi
 Positivist/postpositiv Internal, validitas eksternal    Logical-deductive,           Laporan ilmiah
 ist                                                     ilmiah, grounded (teori
                                                         dari dasar)
 Konstruktivis           Keterpercayaan,                 Formal-substantif            Interpretasi,     studi
                         ckredibilitas,           dapat                               kasus,    ethnografik,
                         ditransfer, konfirmabilitas                                  fiksi
 Feminist                Lokal, pengalaman hidup, Kritis, standpoint                  Essei,    historis,   .
                         dialok,           Kepedulian,                                tulisan
                         akuntabilitas, ras, klas,                                    eksperimentasi
                         gender,
                         reflesivitas,           praxis,
                         perasaan, didasarkan fakta
                         nyata
 Ethnic                  Afrosentris,      pengalaman Standpoint,           kritis,   Essei, cerita (narasi),
                         hidup, dialog, keprihatinan, historis                        drama
                         akuntabilitas,             ras,
                         klass,gender
 Marxist                  Teori emansi-                  historis-kultural,           Historis, ekonomis,
                         patoris, dapat difalsifikasi, economis                       analisis sosial-budaya
                         dialogis, ras, klas, gender




 Cultural     Studies     Praksis budaya, Teks sosial,     Kritisisme Sosial          Teori budaya sebagai
 (studi budaya)           subjektif                                                   kritik
           Table 1. 2 Interpretive Paradigms (Denzin & Yvonna, 1998; 27):
Paradigm/Theory Kriteria                         Bentuk teori          Tipe Narasi
Positivist/postpo    Internal, validitas         Logical-deductive,    Laporan ilmiah
sitivist             eksternal                   ilmiah, grounded
                                                 (teori dari dasar)
Konstruktivis        Keterpercayaan,             Formal-substantif     Interpretasi, studi
                     ckredibilitas, dapat                              kasus, ethnografik,
                     ditransfer,                                       fiksi
                     konfirmabilitas
Feminist             Lokal, pengalaman           Kritis, standpoint    Essei, historis, .
                     hidup, dialok,                                    tulisan
                     Kepedulian,                                       eksperimentasi
                     akuntabilitas, ras, klas,
                     gender,
                     reflesivitas, praxis,
                     perasaan, didasarkan
                     fakta nyata
Ethnic               Afrosentris,                Standpoint, kritis,   Essei, cerita, drama
                     pengalaman hidup,           historis
                     dialog, keprihatinan,
                     akuntabilitas, ras,
                     klass,gender
Marxist              Teori emansipatoris,        historis-kultural,    Historis, ekonomis,
                     dapat difalsifikasi,        economis              analisis sosial-
                     dialogis, ras, klas,                              budaya
                     gender
Bagaimana ilmu pengetahuan terkait dengan kepentingan, dengan kuasa dan                                       nilai
emansipatoris dapat dilihat dalam table berikut:
                        P. Positivis              P. Interpretatif               P. Feminis
 Asumsi dasar           Fenomena/fakta sosial     Fenomena             sosial    Ada kuasa &kepentingan yang
                        dapat dion\bservasi,      dikonstruksi            dari   mengendalikan/mempengaruhi
                        obyektif, bebas dari      pemaknaan simbolik             fenomena        sosial      dan
                        bias peneliti             yang                  dapat    tingkahlaku          seseorang.
                                                  terlihat/terobservasi          Realitas bersifat terkonstruksi
                                                  dari          tingkahlaku      dan       “negosiable”         .
                                                  manusia,          interaksi    Perbedaannya tergantung pada
                                                  manusia dan bahasa.            konsteks osial-budaya dan
                                                  Realitas         beragam,      kuasa
                                                  kompleks, terdiri dari
                                                  berbagai        perspektif,
                                                  subyektif.
 Sumber evidensi/       Fakta yang tersingkap     Pemaknaan diperoleh            Kuasa, kontrol dan faktor-
 fakta                  melalui       prosedur    dari            perspektif,    faktor kontekstual yang dapat
                        penelitian        yang    pengalaman              dan    diketahui      dari     pendapat
                        terstandarisasi    dan    tingkahlaku          dalam     personal/kelompok         sebagai
                        bebas konteks             suatu konteks sosial-          refleksi berbagai versi dari
                                                  budaya                         realitas
 Metode                 Cara     pengumpulan      Semi            structural.    Observasi          pertisipatoris,
                        data yang terstruktur,    Observasi               dan    dialog terarah, memungkinkan
                        terukur & terkontrol      pertanyaan         terbuka     dua kelompok (dominan-
                        ketat                     memungkinkan                   marjinal)       mengemukakan
                        Contoh:         survei,   partisipasi          untuk     pendapat, pengalaman dan
                        eksperimen                mengekspresikan                keinginannya
                        laboratorium,             pikiran & Tingkahlaku          Contoh:                penelitian
                        observasi terstruktur     secata alamiah.                partisipatoris, mendengar aktif
                        dan skala rating          Contoh:       Wawancara        dan reflektif, Mengupayaklan
                                                  mendalam,              riset   perubahan dan menghilangkan
                                                  partisipatif,         Studi    hambatan oersonal dan politis.
                                                  kasus.
 Kecendrungan/Ara       Pendekatan                Studi            kualitatif,   Studi     feminis       mencari
 h                      kuantitatif, Erklaeren,   memahami tingkahlaku           pemahaman dari pengaruh
 Penelitian             verifikasi,    prediksi   manusia              dalam     gender terhadap sikap &
                        tingkah-laku melalui      konteksnya                     tingkahlaku,          termasuk
                        hubungan kausalitas                                      perbedaan kuasa dan kontrol
                        dan asosiasi.                                            dalam                 kerangka
                                                                                 perubahan/emansipasi sosial
 Tingkat Partisipasi    Subyek       penelitian   Partisipasi, pertanyaan        Partisipan memiliki kebebasan
                        menjawab pertanyaan       terbuka, spontan dan           dalam mengarahkan proses
                        spesifik dalam bentuk     natural                        pengumpulan data dan dalam
                        respon yang terformat                                    menentukan             tindakan
                                                                                 selanjutnya
 Pengaruhnya            Subyek/peneliti     &     Partisipan menyadari           Pemberdayaan                dan
 terhadap Partisipasi   Obyak yang diteliti       peran keterlibatannya          emansipasi. Hasil penelitian
                        tidak           saling    dalam            proses        mengarahkan      aksi     untuk
                        mempengaruhi              penelitian.                    perubahan sosial
                        (Netral)                  Memperoleh
                                                  pemahaman        sesuai
                                                  dengan persoektif &
                                                  tingkahlaku      sesuai
                                                  topik penelitian
               Pengertian Modernitas


• Menurut G. Simmel, Weber : modernitas adalah
  proses yang melahirkan negara industri
  kapitalis modern. Modernitas merangkum
  pengertian yang sistem sosial, ekonomi, politik
  yang muncul di Barat sejak abad 18.
• Posmodernitas berarti yang muncul setelah
  modernitas (kebudayaan posmodern yng
  muncul setelah kebudayaan modern).
  Posmodern bisa juga disebut sebagai cara
  berpikir baru.
                  modernisasi


• Modernisasi proses perubahan sosial-
  ekonomi (budaya) yg diakibatkan
  perkembangan ilmu pengetahuan &
  teknologi (industrialisasi)
• Posmodernisme adalah gerakan
  kebudayaan kapitalis lanjut(late capitalism,
  postindustrial, consumer society, trans-
  national capitalism).
• Dalam perspektif Cultural Studies, politik budaya feminis dapat
   dibagi secara luas setidaknya dalam lima kategori yang bersaing:
1. Politik liberal dan feminis liberal yang menekankan pentingnya
   persamaan dan kesmpatan dalam bidang – bidang seperti:
   pekerjaan, akses pendidikan, perawatan anak. Dalam pandangan
   ini menekjankan individualitras perempuan tanpa berfokus pada
   perbedaan mereka dengan kaum laki-laki.
2. Politik budaya yang terpusat pada perempuan, dipihak lain
   memusatkan perhatian pada perspektif yang mengistemewakan
   kaum perempuan. Keanekaragaman politik budaya kaum
   perempuan ditujukan sebagai upaya menulis ulang sejatrah
   perempuan dari perspektif mereka
3. Feminis Marxis melihat gender sebagai fenomena budaya.
   Perbedaan dalam praktek kebudayaan tidak dilihat sebagai tanda
   adanya perbedaan esensial antara kedua jenis kelamin tersebut.
   Perbedaan gender dilihat sebagai bagaimana perbedaan itu
   bermanfaat bagi kapitalisme.
   Dalam feminisme posmodern perbedaan ras dan gender tidak memiliki
   makna yang tetap. Setiap individu dianggap sebagai gabungan unsur-
   unsur berbagai mode subyektivitas yang ada Unsur-unsur yang
   bertentangan pun bisa saja cocok pada waktu yang berbeda Feminitas dan
   maskulinitas dikonstruksi secara sosial dan merupakan situs perjuangan
   politik tentang makna.
4. Konstruksi sosial merupakan relasi, karena itu feminis posmodern tidak
   tertarik pada autensitas. Feminisme posmpdern membuka ruang bagi
   perbedaan dan (beragam suara) serta interpretasi baru mengenai identitas.
5. Feminisme kulit hitam dan feminisme non barat berkonsentrasi pada
   rasisme dan kolonialisme.dan memandang hal ini sebagai alat untuk
   memahami relasi gender. Bagi feminism kulit hitam ras tetap merupakan
   suatu bentuk penindasan yang hakiki (Sardar danBoris van Loon,2001:
   142-145). Feminsme Dunia Ketiga umumnya menolak pemikiran feminisme
   Barat sebagai tolak ukur dan representasi dari gerakan feminis, Feminisme
   NonBarat berakar dari rasisme dan kolonialisme, pengakuan terhadap
   peranan negara modern dalam mengabadikan keduanya.
                     Posmodern
Sebelum kita menjelaskan posmodern ada baiknya kita jelaskan
  asumsi ilmiah paradigma positivisme yg dominan pd era modern
  yang ditolak oleh epistemologi posmodernis, antara lain:
• Metode ilmiah adalah metode yang baku: (konstruksi sosial,
  Feyerabend)
• Pertanyaan manusia dan sosial-budaya dapat dijawab dengan
  metode ilmiah yang baku itu (maksudnya positivisme).
• Eksistensi manusia (human being) itu seperti mesin.
• Obyektivitas total itu dapat dicapai.
• Kuesioner itu selalu mengemukakan kebenaran.
• Proses penelitian benar-benar bebas dari bias personal.
• Semua yang ada hanya merupakan sebuah teka-teki sosial yang
  akan terpecahkan melalui metode eksperimen.
                Posmodern
• megemukakan pengertian post-modern sebagai
  sesudah modern. Ia mengemukakan bahwa
  pengertain postmodern itu merupakan
  campuran beberapa atau gabungan seluruh
  pengertian berikut: hasil dari modernisme; anak
  dari modernisme; akibat dari modernisme;
  penyangkalan akan modernisme; penolakan
  terhadap modernisme (Appinnanesi, Chris
  Garrat, 1995).
• Istilah moderrn berasal dari kata Latin modo yang berarti „barusan”.
  Istilah itu dimunculkan tahun 1127 oleh Suger seorang kepala
  biarawan Basilika St. Denis di Paris Waktu itu Ia melakukan
  renovasi yang hasilnya berupa karya arsitektur yang benar-benar
  baru (bukan seperti arsitektur Yunani, bukan Romawi) karena itu
  Suger mengalami kesulitan untuk menyebutnya, sehingga ia
  menggunakan istilah opus modernum (sebuah karya modern)
  (Appignanesi, Richard dan Chris Garratt1995: 6). Dalam filsafat era
  Renaisans dan Pencerahan sering disebut sebagai awal zaman
  modern. Modernisme dalam pengertian kultural dimulai pada tahun
  1900-an ketika terjadi inovasi teknologi massal, yaitu gelombang
  pasang kedua revolusi industri yang telah terjadi sekitar tahun 1800-
  an
• Periode dari tahun 1890-an sampai 1920-an dapat disebut sebagai
  masa kejayaan zaman modern sedangkan masa sesudah tahun
  1960-an/1970-an disebut sebagai zaman posmodern.
Pemikir yg mempengaruhi Posmodern:

N0 Pemikir          Pikirannya
1  Nietzsche       Perspektif, Kematian obyektivitas dan kepastian
                   (anti esensialis), gerak sejarah siklus
2   Karl Marx      Kesadaran kelas, posisional/standpoint
                   epistemology, konstruksi sosial
3   Martin         Menolak konsep “obyektivitas” Vs
    Heidegger      “Subyektivitas”

4   Ludwig         Language games (antifundationalism)
    Wittgenstein

5   Thomas Kuhn    Mempopulerkan konsep paradigma, Ilmu sbg
                   consensus komunitas
6    Francois         Abad informasi, Menolak
     Lyotard          universalitas & grand-
                      narrative, little/mini-narrative


7    Jacques Derrida Menolak metafisika
                     kehadiran, Menolak
                     Logosentrisme, dekonstruksi
8    Michel Foucault Kuasa dan kebenaran,
                     episteme, diskursus,

9    Roland Barthes Semiotics, Ideologi,

10   Richard Rorty    Antifundasionalis, menolak
                      teori cermin, kontigensi
11   Jean Budrillard Simulacra, hyperreality,
  Menurut teoritisi sosial postmodern era postmodern
          ditandai oleh beberapa hal berikut:


1. Globalitas: Bangsa-bangsa dan wilayah semakin terhubung satu
   sama lain sehingga mengaburkan perberdaan antara wilayah dan
   bangsa dan wilayah maju (Dunia Pertama) dengan bangsa dan
   wilayah terbelakang (Dunia Ketiga). Dengan Era informasi tidak
   ada satu Negara atau wilayah pun di dunia yang dapat mengurung
   diri dalam batas geografisnya.
2. Lokalitas: kecendrungan global berdampak langsung pada
   lingkungan lokal, sehingga memungkinkan kita untuk memahami
   dinamika global dengan mempelajari manifestasi lokal. Dalam
   pemikiran posmodernis dimensi local dan global merupakan dua hal
   yang berjalan beriringan , karena itu sering juga disebut global
   paradoks. Dari satu sisi era informasi cendrung menghilangkan hal-
   hal yang bersifat lokal, akan tetapi di sis lain memungkinkan hal-hal
   yang bersihat local itu memasuki wilayah nasional dan gobal.
   Contoh jelas paradoks ini dapat kita lihat bagaimana TV selama dua
   puluh empat jam menyuguhkan masalah global, akan tetapi juga TV
   lokal menyiarkan masalah dan budaya lokal ke dunia internasional.
3. “Akhir dari Sejarah” : Modernitas sebagaimana diteorikan pendukung
      pencerahan, bukanlah akhir dari sejarah, yang muncul dari era
      postindustrial dimana kebutuhan dasar material semua orang dipenuhi
      sehingga konflik kolompok dan pertentangan ideologi semakin
      menghilang. Akan tetapi posmodernitas adalah keterputusan
      (diskontinuitas) sejarah yang halus, perkembangan evolusioner kapitalis
      sebagai mana dirancamg oleh pendukung Pencerahan dan pendiri teori
      sosiologi dan ekonomi borjuis. Akhir sejarah diartikan berakhirnya
      pertentangan idologi kapitalis dengan sosialis, dan semakin
      merajalelanya kapitalisme gobal (neokapitalisme)
4.    “Kematian individu” konsep borjuis tentang subyektivitas tunggal dan
      tetap secara jelas dan dibedakan dengan dunia luar tidak dianggap
      masuk akal lagi oleh pemikir postmodernitas. Kini diri atau self
      (individualitas) menjadi arena pertarungan tanpa batas antara “diri” dan
      yang di “ luar diri” atau pertarungan antara “diri” dengan “lingkungan
      sosial-budaya”.
     (Jacques Lacan, 1977, 1982) mengkonsepkan masyarakat sebagai
      subyek tunggal serta sekaligus subyek yang tengah dan selalu berubah.
5. “Mode informasi” cara produksi, dalam terminoligi marxis, kini tidak lagi
    relevan, era sekarang adalah “era informasi” “era postindustri” . Era dimana
    masyarakat postmodern mengorganisir dan menyebarkan informasi dan
    hiburan.
6. “Simulasi” Jean Baudrillard (1983) menyatakan bahwa apa yang disebut
    dengan realitas, sekarang tidaklah stabil dan tidak dapat dilacak dengan
    konsep ilmiah tradisional (maksudnya positivisme), termasuk juga
    Marxisme. Masyarakat semakin “tersimulasi”, tertipu dalam “dunia citraan”
    dan “Wacana” yang secara cepat menggantikan pengalaman manusia atas
    realitas. Goldman dan Parson (1995) mengemukakan bahwa, iklan
    merupakan wahana utama dunia simulasi itu.
7. “Perbedaan dan penundaan dalam bahasa”: Bahasa ,menurut Jacques
    Derrida tidak lagi berada dalam hubungan representasional pasti atas
    ”realitas”. Bahasa tidak lagi dapat menggambarkan realitas dunia secara
    jernih dan transparan. Bahasa dianggap bersifat licin, media ambigu yang
    bisa mengaburkan pemahaman yang jelas menjadi tak pasti. Posmodern
    mengkritisi pandangan obyektivisme–universalisme dalam wacana ilmiah.
    Dekonstruksi atau pembacaan kreatif atas teks dari Derrida, membuka
    ruang bagi penafsir untuk menyingkapkan kekayaan makna teks.
8. “ Polivokalitas” : Segala hal atau obyek dapat dikemukakan dengan
    perspektif atau paradigma yang berbeda, yang kedudukannya satu
    sam lain memiliki kesejajaran atau kedudukan yang sama. Karena
    itu ilmu pengetahuan dihadapkan pada “multi narasi” yang satu
    sama lain saling melengkapi, saling bersaing, di mana satu
    perspektif atau paradigma tidak memiliki keunggulan epistemologis
    dari yang lain. Ketika Amerika menginvasi Irak, Presiden Bush
    menyatakan bahwa ia memerdekakan rakyat Irak dari penguasaan
    Saddam. Berbagai TV seperti CNN, Aljazira, Al-Arabiya, Metro TV,
    dan yang lain menyiarkan kejadian yang sama berdasarkan sudut
    pandang dan kepentinganya masing-masing, sehingga fakta
    (kejadian yang sama) ditafsirkan secara beragam.
9. Kematian analisis oposisi biner: model berpikir yang didasarkan
    atas analisis polaritas (oposisi biner) misalnya: laki-laki Versus
    Perempuan, benar versus salah, negara maju Vs negara
    terbelakang, model berpikir ini dianggap tidak lagi relevan, karena
    munculnya keanekaragaman/pluralitas posisi subyek atau manusia.
10. Lahirnya Gerakan sosial baru: akhir-akhir ini
  bermunculan berbagai gerakan akar rumput yang
  mendorong berbagai perubahan sosial progresif, seperti
  gerakan perempuan, gerakan perempuan kulit hitam,
  gerakan anti kolonialisme, gerakan lingkungan hidup,
  gerakan kaun lesbian, gay dan lain-lain.Gerakan ini tidak
  selalu tepat dengan analisis oposisi biner atau analisis
  hitam-putih, namun yang jelas gerakan ini menuntut
  perubahan sosial baru, menuntut penghargaan pada
  perbedaan etnis, budaya, agama dan lain-lain. Gerakan
  sosial baru ini sangat berkembang dalam kajian
  multikuturalisme.
11. Kritik terhadap narasi besar: Lyotard mengemukakan bahwa pada era
   postmodern kepercayaan pada penjelasan makro atau cerita besar/ cerita
   .agung sejarah seperti diungkapkan oleh Marx, dilektika Roh model Hegel,
   kemajuan yang dipercayai oleh modernitas sudah tidak relevan lagi.
   Posmodernitas lebih mempercayai pada polivokalitas, keanekaragaman
   daripada keseragaman, mengharagai perbedaan, dan interpersonal..
   Posmodern menolak bentuk pemikiran yang monodimensional yang
   otoritarian. Posmodern menurut Lyotard lebih menekankan dan
   mempercayai narasi kecil tentang masalah sosial, cerita tentang masalah
   kehidupanm dan perjuangan pada tingkat budaya, etnis, bahasa yang
   bersifat lokal.
12. Otherness (ke-liyan-an) : Pemikir postmodernis memberikan ruang dan
   penghargaan pada kelompok yang selama ini terpinggirkan
   (termarjinalkan). Penghargaan pada kel;ompok atau suara yang
   terpinggirkan selama ini, berkaitan erat dengan munculnya gerakan dan
   perjuangan hak-hak sipil serta penghargaan pada multikutural(isme) akhir-
   akhir ini.
Pandangan postmodernisme sebagai titik balik peradaban ditunjukkan
              melalui beberapa pandangan pemikir:


  –   Vattimo : Berakhirnya modernitas
  –   Daniel Bell: Akhir ideology, Masyarakat postindustri
  –   Francois Lyotard : matinya Metanarasi
  –   Akhir dari Sosial, ( Jean Baudrillard)
  –   Akhir dari Teori, Masyarakat Konsumer (Fredrich
      Jameson)
  –   Matinya Logos ( Jacques Derrida)
  –   Matinya Ilmu Pengetahuan (The End of Science)
  –   Matinya Ilmu Ekonomi (Omerod)
  –   Matinya Realitas (Leary)
       (Yasraf 244).
         Perlu dibedakan konsep postmodernity
   (postmodernitas) dengan dengan postmodernisme:



• Postmodernitas mengacu pd periode historis
  yang mengikuti era modern.
• Postmodernisme mengacu pada produk cultural
  (seni, film, arsitektur, ilmu pengetahuan) yang
  berbeda dengan produk kultural modern
• Munculnya teori social-budaya postmodern
  (subyektif, local, relative, mini-narrative)
  menggantikan atau melengkapi teori modern
  (obyektif, rasional, universal, grand-narrative).
 Barry Smart dalam, Postmodernity (1993) membedakan
  tiga pendirian yang berbeda dikalangan postmodernis:

1. Tipe Moderat: Postmodern(isme) sebagai lanjutan
   modern(isme). Kekurangan pada modernisme dicoba
   atasi oleh postmodernisme . Tokohnya J. Habermas,
   Daniel Bell (postindustrial Society)
2. Postmodernis ekstrem/Radikal: ada keterputusan antara
   masyarakat/pemikiran modern dengan postmodern.
   Tokoh yang termasuk ini: Francios Lyotard, Jean
   baudrillard, M. Foucault, J. Derrida, Gilles Deleuze, Felix
   Quattari, Richard Rorty
3. Modern dan Posmodern sebagai pilihan dalam
   melihat/menjelaskan masalah social-budaya
              Ciri Filsafat Posmodern


1. Berubah dari ilmu pengetahuan universal
  (metanarasi, grandnarrative) ke narasi yang
  bersifat lokal mini/little narative)
2. Menolak rasionalitas yg universal. Rasionalitas
  selalu dikondisikan dalam narasi partikular,
  tradisi, dan intitusi dan praksis tertentu
3.Posmodern menolak kesatuan, totalisasi, dan
  skema universal dengan merayakan pluralitas,
  perbedaan, fragmentasi, dan kompleksitas
4. Menolak individu yg otonom dan rasionalitas yg
  transenden. Individu senantiasa terkait dengan
  lingkungan budaya, bahasa, sejarah
5. Postmodernis anti metafisika, dimana
  sejarah dan nilai-nilai diturunkan dari
  kepercayaan itu (ingat abad kegelapan).
6. Pengetahuan kita tentang sesuatu
  merupakan konstruksi bahasa dan
  konstruksi sosial.
7. Bahasa adalah konstruksi sosial,
  melaluinya kita berpikir, dan mengubah
  keberadaan kita.
     Ciri Kebudayaan Posmodern (Zygmunt Bauman, 1992) :


1.   Pluralistis
2.   Berjalan di atas perubahan yg konstan
3.   Kurang dlm “otoritas universal”
4.   Hieterarkhis & Permainan
5.   Merujuk pada “Polivalensi penafsiran”
6.   Dominasi media & Pesan-pesannya
7.   Anti esensialis (semua tanda-tanda)
8.   Didominasi pemirsa, pembaca
Bauman membedakan Tipe Intelektual modern (legislator) & Tipe
               postmodern (Interpreter)

•    Tipe Legislator:
1.   Memiliki kewenangan mengatasi perbedaan
2.   Pendapat legislator benar & mengikat
3.   Otoritas karane ilmu yg lebih unggul
4.   Ilmuwan memiliki akses yg lebih baik pd ilmu
5.   Ilmuwan pemilik kolektif atas pengetahuan yg dihasilkan
6.   Ilmu dianggap berhubungan langsung dg perbaikan sosial
7.   Ilmuwan tdk terikat dgn tradisi lokal serta menjastifikasinya.
8.   Ilmuwan melakukan kontrol thdp aturan & aplikasi ilmu
                           Tipe Interpreter:


1.   Interpreter menafsirkan ide-ide dlm komunitas
2.   Interpreter tidak berorientasi mencari ide terbaik, tujuannya utk
     memfasilitasi komunikasi bebas antar komunitas
3.   Interpreter berusaha mencegah distorsi dlm komunikasi
4.   Interpreter perlu pemahaman yg dalam & luas
5.   Interpreter perlu menjaga keseimbangan antar tradisi yg
     berlawanan
Perbedaan Modern dengan Posmodern


No   Modern                              Posmodern
1    Pengetahuan ilmiah Scientific       Kearifan (pengetahuan cultural), wisdom
     knowledge)                          (cultural knowledge)
2    Teori besar (grand-theory)          Kesatuan cultural relative (Relative
                                         Cultural Corpuses)
3    Universalisme (Universalism)        Partikularisme (Particularism)
4    Monovokalitas (monovocality         Polivokalitas (Poly-Vocality)
5    Makna simbolic (symbolic Meaning)   Simulacra
6    Koherensi (Coherence)               Pasticke
7    Holisme (holism)                    Fragmentasi (fragmentation)
8    History (Sejarah )                  Sejarah-sejarah (histories)
9    Ego rasional                        Libidinal self
10   Intelektual                         Tactiler
Perbedaan modern dgn
     Posmodern

No    MODERN                 POSMODERN
1    Narasi Besar           Narasi Kecil
2    Obyektivisme           Naturalisme
3    Pemusatan (centring)   Tersebar,lokalitas,perbedaan,the other
4    Monisme                Pluralisme,multivokal
5    Mataerialisme          Semiosis, interpretatif
6    Dunia Cetak            Elektronik
7    Mekanistik             Nonmekanistik
8    Linear                 Nonlinear
9    Deterministik          Nondeterministik
10   Mekanika Newton        Mekanika kuantum
11   Patriarkhis            Pascapatriarkhis
12   Mekanis                Ekologis
13   Reduktif               Holistik
14   Hierarkhis             Heterarkhis
15   Kepastian              Kebetulan
16   Antroposentrisme       Kosmosentrisme
17   Tujuan                 Permainan
18   Pemusatan (centring)   Tersebar (decentring, ,lokalitas)
19   Kehadiran              Ketidak hadiran
20   Dualisme               Partisipasi/dialog
21   Ahistoris              Historis
22   Konsensus              Disensus
23   homologi               heterologi
Perbedaan modern dgn posmodern (Eduardo P. Schetti dalam
             Kuper, Adam & Jessica Kuper, 1996, 653) :




        No     Modernity                        Postmodernity
        1      Scintific          knowledge Wisdom (kearifan, pengetahuan cultural)
               (pengetahuan ilmiah)
        2      Grand-theory (teori besar, Relative cultural corpuses            (teori-teori
               metanarasi)                    kecil, kesatuan cultural kecil)
        3      Universalism                   Particularism (paticulturalisme
               (universalisme)
        4      Mono-vokality                  Poly-vocality (polivokalitas)
               (monovikalitas)
        5      Symbolic meaning (Makna Simulacra (simulacra, citraan)
               simbolik)
        6      Coherence (koherensi)          Fragmentation (fragmentasi)
        7      Holism               (holisme, Pastiche ( rangkaian potongan-potongan)
               keseluruhan)
        8      History                        Histories (sejarah, sejarah, keragaman)
        9      Rational ego (ego rasional)    Libidinal self ( hasrat, keinginan)
        10     Intelectual (intelektual)      Tactile
              Tipe Pemikiran Posmodernis:

1. Tokoh Posmodern radikal menolak modern: Francois Lyotard, Jacques
   Derrida, Michel Foucault, Jean Baudrilard. Paul Virilio. Tokoh
   postmodernisme radikal ini memfokuskan pemikirannya pada
   pengembangan model, teori sosial- budaya, pengetahuan dan wacana,
   serta praktek-praktek posmodern.
• Para pemikir postmodern radikal/garis keras menyatakan bahwa teori
   totalitas, universalitas modern dipastikan akan membawa kemunduran dan
   dapat memicu tumbuhnya pemikiran totaliter dan politik kotor (Francois
   Lyotard).
• Baudrrilard menyatakan bahwa dalam masyarakat yang sangat terpecah
   (hyperfragmented) dan masyarakat yang dibanjiri media tidak mungkin
   untuk menyatakan mana yang hayalan dan mana yang kenyataan, mana
   tanda (signs) dan mana penanda (signifier), alhasil seseorang tidak bisa
   membuat perbedaan, penghubungan, dan analisis yang sistematis yang
   sebelumnya merupakan ciri teori sosial klasik (modern).
• Bagi aliran Posmodernisme keras, realitas sosial tidak bisa didefinisikan
   dan dipetakan, hal yang terbaik yang mungkin kita bisa lakukan adalah
   tinggal dalam serpihan-serpihan sebuah perpecahan dalam tatanan
   masyarakat (Steven Best, 272).
2. Tipe posmodernis yang moderat yang menyatakan bahwa
   postmodern itu hanya lanjutan dari modernitas. Jurgen Habermas,
   David Hervey, fredrich Jameson, Daniel Bell. Pemikir ini masih
   menggunakan konsep modern (misalnya Marxisme) untuk
   menganalisis bentuk sosial-budaya postmodern. Kelompok ini tidak
   terlalu mempertentangkan apakah Nietszche, Marx modernis atau
   posmodernis. Yang jelas dalam pemikiran Nietzsche dan Marx
   sudah terkandung pemikiran postmodern yang sekarang disebut
   poskapitalisme, dan masyarakat konsumer. Jameson
   mengembangkan konsep marxisme dalam posmodernitas, serta
   menyatakan bahwa ia bukan menolak dan mendukung
   posmodernisme (Jameson, 1991). Karya Michel Ryan, Marxism
   and Deconstructionism (1982), adalah satu karya yang baik sekali
   yang menunjukkan betapa Teori Kritis dan Posmodernisme sebagai
   dua teori yang saling memperkaya, sehingga menghasilkan
   perpaduan teoritis yang menarik.
3. Kelompok ketiga yang menyatakan bahwa postmodernitas sebagai
   perspektif alternative, paradigma alternatif yang dapat kita jadikan
   sebagai alternative untuk memahami dan penyelesaian masalah
   secara baru. Tokohnya antaralain Barry Smart, dan oleh Ritzer
   dimasukkan Francois Lyotard yang menurut penulis Lyotard lebih
   cendrung masuk dalam postmodernisme radikal (Ritzer, George,
   2003; 18). Penggunaan istilah posmodern setelah tahun 1970-an
   kita temukan dalam berbagai bidang, yakni: seni rupa, arsitektur,
   politik, sastra, antropologi, sosio-logi, feminisme, psikologi, filsafat
   dan lain-lain. Istilah posmo-dern digunakan secara luas dengan
   pengertian yang agak longgar bahkan cenderung ambigu dan
   seakan-akan “memayungi” ber-bagai aliran pemikiran yang satu
   sama lain tidak selalu ber-kaitan. Kekaburan itu juga terdapat pada
   pemakaian awalan „pos‟ dan akhiran „isme‟ pada (pos-) modern
   (isme) yang biasa-nya dibedakan dengan istilah posmodernitas.
                       Daniel Bell
• Dalam buku The Coming of Postindustrial Society, ia
  mengemukakan beberapa elemen perubahan dalam masyarakat,
  antara lain:

• Dalam bidang ekonomi; perubahan dari keunggulan barang-barang
  produksi ke pelayanan (jasa). Pelayanan/jasa itu terlihat pada:
  bisnis eceran, perbankan, kesehatan, pendidikan, penelitian, serta
  pelayanan pemerintahan sebagai hal penting dan menentukan
  dalam masyarakat postindustri.

• Hadirnya pekerjaan professional dan teknis yang kini menguasai
  lapangan kerja. Pada Era posindustri peran para ilmuwan dan
  teknisis menjadi sangat penting dan dominant. Pada era ini ilmu
  pengetahuan (capital intelektual) dianggap sebagai modal utama,
  menggantikan peran uang pada era modern.
• Pengetahuan teoritis menjadi esensial bagi masyarakat
  industri. Ada keterkaitan erat antara teori dengan
  praksis. Ilmu pengetahuan menjadi sumber utama
  perubahan struktural dalam masyarakat, perubahan dan
  inovasi dalam hubungan dengan ilmu pengetahuan dan
  teknologi serta kebijakan publik, sesungguhnya didorong
  oleh perubahan dalam karakter ilmu pengetahuan.
  Perkembangan ilmu pengetahuan (teoritis) telah
  mempercepat perkembangan ilmu pengetahuan,
  berkembangnya teknologi intelektual baru, terciptanya
  penelitian-penelitian sistematik di dunia perguruan tinggi
  dan lembaga lain yang didukung anggaran penelitian
  oleh pemerintah dan perusahaan-perusahaan besar
  (Bell, 1973: 44).
•    Masyarakat posindustri berorientasi pada prediksi dan
    kontrol atas teknologi serta berbagai dampaknya. Bell
    melihat peran besar dari “peramalan dan kontrol” serta
    teknik-teknik pemetaan yang melahirkan sejarah baru
    ekonomi, karena lebih memungkinkan ekonomi dan
    kemajuan yang terencana, sehingga memperkecil
    ketidak menentuan ekonomi dan masa depan.
•   Pengambilan “kebijakan” ikut menciptakan sebuah
    “teknologi intelektual” baru seperti: teori informasi,
    sibernetika, teori keputusan, teori permainan, teori
    daya guna, proses-proses yang melibatkan variable
    yang bervariasi (Giddens, 1973: 29).
            Pengantar Ke Pemikiran
             Posmodernis: Lyotard
Gagasan Teori Kritis:

•   Pada Teori kritis sudah dikemukakan kritik tokohnya pada ilmu pengetahuan &
    Kebudayaan modern.
•   Max Horkheimer & Theodor Adorno, Dialectic of Enlightenment (1944) mengkritik
    dorongan untuk menguasai alam dan dominasi kapitalisme lanjut adalah satu bentuk
    fasisme barbar dan irasional. Teori kritis sudah tidak mempercayai Narasi modern.
•   Melalui buku itu Habermas membedakan:
•   a) tindakan instrumental & strategis: tujuannya keberhasilan dlm relasinya dengan
    lingkungan (fisik-sosial)
•   B) tindakan komunikatif: tujuan bukan kepentingan ehois, tapi untuk mendapatkan
    saling pemahaman
•   Habermas melalui teori komunikatifnya mengusulkan untuk menggantikan
    subyektivitas & rasionalitas yang monologis dengan konsep yang dialogis
•   Habermas sudah mengemukakan tentang keberagaman rasionalitas & diskursus.
    Tanpa terjebak pada relativisme/skeptisisme dgn asumsi: rasionalitas komunikatif
    karena pencapaian kesepahaman tanpa tekanan diantara subyek yang bertemu &
    bertindak. (Habermas masih mempercayai keunggulan rasionalitas- Neonitszchean
    justru melihat kekurangannya).
Pokok Pikiran Strukturalis:
         Pemikir Postrukturalis:
•   Jaen Francois Lyotard
•   Jacques Derrida
•   Michel Foucault
•   Richard Rorty
•   Jean Baudrillard
•    Gillesd Deleuze & Guattari
•   Anthony Giddens
•   Pierre Baourdieu
•   Dll.
  Jean Francois Lyotard (1924-
• Lahir di Versailles tahun 1924-
• Belajar Filsafat dan sastra di Sorbonne
• Ia dipengaruhi oleh Kant , Husserl (buku pertamanya La
  phenomenologie (1954)
• Ia pernah mengajar di Algeria, pengalaman ini
  membuatnya menjadi seorang ilmuwan & politisi yg
  radikal. Skembalinya di Prancis ia bergabung dengan
  kelompok Socialisne ou Barbarie (kiri dan anti perang. Ia
  mengritik dan menyatakan Marxisme tidak lagi memadai.
  Tahun 1966 Ia keluar dari Socialisme ou Barbarie
• Ia menjadi dosen di Universitas Nanterre dan aktif
  terlibat dlm gerakan mahasiswa 1968 dan politik oposisi
• Tahun 1971 ia menyelesaikan Disertasinya
  Discourse Figure dan ia diangkat menjadi
  profesor filsafat di Vincennes University.
• Karyanya:
1. Discours Figure (1971)
2. Derive a partirr de Marx et Freud (1973),
3. Des dispositifs pulsionels (1973)
4. Economic Libidinale (1974)
5. The Postmodern Condition
  Penolakan terhadap grand-narrative ini sering disebut
     sebagai anti fundasioal sebagai salah satu ciri
                    posmodernisme
Antifundasionalisme itu dapat dimengerti sebagai berikut:
1. Antifundasionalis dalam teori sosial-budaya dan filsafat
   me-negaskan bahwa meta-narasi yang dijadikan fundasi
   dituntut dalam modernitas Barat dengan universalitas
   dan hak-hak isti-mewanya dalam gagasan mengenai
   ilmu pengetahuan, humanisme, sosialisme dan lain-lain
   adalah cacat, karena itu kita harus mencoba untuk
   menghasilkan mode pengetahuan yang lebih sensitif
   terhadap berbagai bentuk perbedaan. Hal ini
   dimungkinkan ketika para intelektual mengganti peran
   mere-ka sebagai legislator kepercayaan menjadi
   seorang interpre-ter (Lyotard, 1984, Keller, 1988,
   Bauman, 1988).( 234).
2.  Pemberian hak istimewa pada hal-hal yang bersifat lokal dan
    vernakuler (daerah), ini diterjemahkan sebagai seorang
    demokrat dan populis yang menghancurkan hierarkhi simbolik
    di kalangan akademisi dan intelektual serta seni (perbedaan
    seni tinggi dan populer).
3. Peralihan dari bentuk upaya diskursif ke arah bentuk budaya
    figural yang tampak dalam penekanan dan imaji visual dan
    bukan kata-kata, proses primer ego dan bukan proses
    sekunder, apresiasi dengan cara membenamkan/ melibatkan
    diri dan bukan dengan cara mengambil jarak dari penonton
    yang tidak memihak (Lash, 1988),
4. Aspek ini ditangkap sebagai fase “budaya dangkal
    posmodern”
   (Jameson, 1984).

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:3785
posted:10/9/2011
language:Indonesian
pages:103