Menyikapi Tuntutan Produktivitas

					Menyikapi Tuntutan Produktivitas Rabu, 27 Desember 2006 - 14:07 WIB Teknologi memudahkan pekerjaan kita, dan itu sama artinya dengan menuntut kita untuk lebih produktif. Dengan demikian, waktu untuk bekerja tidak berkurang dan waktu untuk bersenang-senang tidak bertambah. PC misalnya, telah meningkatkan ekspektasi akan tipe, jumlah dan kualitas hasil kerja individu. Dulu, para profesional dan jajaran ekskutif tergantung pada sekretaris untuk macammacam bantuan layanan. Tapi, kini kita bisa meng-handle lebih banyak kerjaan administratif tanpa banyak bantuan orang lain. Seorang CEO bisa mengerjakan sendiri proposal atau materi presentasi seminar. Dengan kata lain, di satu sisi kita diharapkan pada ironi: PC telah menambah beban kerja individual karena dengannya kita jadi memiliki kemampuan untuk mengerjakan semua hal sendirian. Di sisi lain, ada berkahnya juga: kita jadi produktif. Tapi, benarkah (menjadi) produktif itu berkah? Yang banyak dijumpai kemudian, tuntutan akan produktivitas di tempat kerja memicu munculnya rupa-rupa problem kesehatan. Karena harus produktif, orang jadi stres dan depresi, lebih banyak merokok hingga penyalahgunaan alkohol dan obat-obat telarang. Suka atau tidak suka, inilah dunia tempat kita hidup. Produktif Tanpa Stres Produktivitas bisa dicapai tanpa --atau setidaknya hanya dengan sedikit— stres, jika kita tahu taktik dan cara yang benar dalam mendekatinya. Kita bisa memulainya dengan mengajukan sejumlah pertanyaan kepada diri kita sendiri --untuk menguji seberapa tinggi motivasi yang (masih) kita miliki. 1. Hal-hal apa saja yang paling membuat Anda senang mengerjakannya? 2. Momen-momen apa yang paling membahagiakan dan memuaskan dalam hidup Anda? 3. Apa yang ingin Anda lakukan jika hidup Anda tinggal 5 tahun lagi? Tuliskan jawaban Anda sebanyak mungkin tanpa memikirkannya. Lalu, bacalah jawaban-jawaban Anda itu dan cermati, apakah ada nilai-nilai tertentu yang muncul di situ. Kini, bandingkan nilai-nilai itu yang mencerminkan ―apa yang Anda inginkan‖ itu dengan ―apa yang Anda kerjakan selama ini‖. Berapa banyak kesesuaiannya? Jika pekerjaan Anda ternyata di luar nilai-nilai yang Anda harapkan, bukan berarti bahwa Anda harus mengundurkan diri besok pagi. Anggaplah tanya-jawab tadi itu sebagai latihan berpikir filosofis. Sekarang, mari berlanjut ke level praktis.

Apakah Anda mencintai atau tidak pekerjaan Anda saat ini, ada hal-hal spesifik yang bisa Anda lakukan untuk meningkatkan produktivitas. Berikut ini sejumlah ―alat‖ yang bisa Anda coba: 1. Manjakan diri Anda sendiri setiap kali selesai mengerjakan proyek tertentu, atau berhasil melewati satu masa kerjaan tertentu. Misalnya, beristirahat setiap dua jam atau keluar kantor untuk makan siang di mal. 2. Buatlah semacam daftar ―apa yang harus kulakukan‖. 3. Berjanjilah untuk memenuhi deadline, terutama yang berhubungan dengan orang lain. 4. Percayalah pada kekuatan niat, ―Aku akan menyelesaikan pekerjaan ini dalam 5 jam‖, dan beraksi untuk mewujudkan tujuan itu. 5. Beristirahat total pada akhir pekan tanpa memikirkan pekerjaan –itulah kesempatan bagi Anda untuk ―tidak harus produktif‖. 6. Tuliskan tujuan-tujuan karir Anda –di posisi mana Anda ingin berada dalam setahun ke depan? Dalam tiga tahun? Lima tahun? Persiapkan diri Anda dengan tahapan-tahapan untuk mencapainya. Buatlah rencana aksi untuk melewati tahap demi tahap itu dengan baik. Ingatlah, tempat kerja tak akan pernah terbebas dari stres. Setiap karyawan mau tidak mau harus menghadapi stres –dengan tingkat yang berbeda-beda- yang dipicu oleh tuntutan produktivitas. Jadi, Anda tidak sendirian. Yang penting, jangan biarkan stres itu memburuk dan mencemari lingkungan kerja.


				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:56
posted:8/13/2009
language:Indonesian
pages:2
About