Docstoc

Media Pembelajaran BAB II KAJIAN PUSTAKA

Document Sample
Media Pembelajaran BAB II KAJIAN PUSTAKA Powered By Docstoc
					                                 BAB II

                           KAJIAN PUSTAKA



A. Media Pembelajaran

   1. Pengertian Media Pembelajaran

             Bagi sebagian pihak media pembelajaran mungkin tidak begitu

      asing mendengarnya, namun banyak sekali pengertian media pembelajaran

      yang dikemukakan oleh para ahli, media sendiri berasal dari kata

      ”Medium” (Bahasa Yunani) yang berarti        perantara atau pengatur.

      Perantara disini bahwa media menjadi alat yang menghubungkan /

      menjembatani interaksi pemberi pesan dengan penerima pesan, dalam hal

      ini antara guru dan     siswa. Adapun     pengertian-pengertian   yang

      dikemukakan oleh para ahli, diantaranya Oemar Hamalik (1986:23)

      menyatakan bahwa : “media pembelajaran adalah alat, metode dan teknik

      yang digunakan dalam rangka mengefektifkan komunikasi dan interaksi

      antara guru dengan siswa dalam proses pendidikan dan pengajaran di

      sekolah”.

             Pendapat diatas didukung oleh Arief      S. Sadiman (1993:7)

      menyatakan bahwa :

             Media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat
           digunakan        untuk menyalurkan pesan dari pengirim kepada
           penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan,
           perhatian, dan minat siswa sedemikian rupa sehingga proses
           belajar terjadi.




                                    11
                                                                    12




       Dientje Borman Rumampuk (1988:6) berpendapat bahwa : “Media

pembelajaran adalah media yang penggunaannya diintegrasikan dengan

tujuan dan isi pengajaran yang biasanya diterangkan dalam GBPP dan

dimaksudkan untuk mempertinggi mutu kegiatan belajar”.

       Dari pengertian-pengertian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa

media pembelajaran merupakan segala sesuatu yang dapat digunakan

untuk mempermudah penyampaian materi pelajaran. Dengan kata lain,

kedudukan media dalam pembelajaran adalah sebagai perantara atau

jembatan yang menghubungkan interaksi antar komponen dalam

pembelajaran. Jadi guru menjadi lebih terbantu dalam kaitannya dengan

proses penyampaian materi dengan adanya media pembelajaran.

       Dapat berarti juga bahwa media pembelajaran adalah segala

sesuatu yang digunakan atau disediakan oleh guru dimana penggunaannya

diintegrasikan kedalam tujuan dan isi pembelajaran sehingga dapat

membantu dalam meningkatkan kualitas kegiatan belajar serta pencapaian

tujuan pembelajaran. Apalagi saat ini digunakan Kurikulum Tingkat

Satuan Pendidikan atau KTSP, jadi guru dapat berperan menentukan

penggunaan media disesuaikan dengan setiap pokok bahasan materi yang

akan disampaikan.

       Selain sebagai perantara dalam interaksi belajar mengajar, media

pembelajaran memiliki peran sebagai alat bantu proses belajar mengajar

yang efektif. Proses belajar mengajar seringkali ditandai dengan adanya
                                                                               13




  unsur tujuan, bahan, metode dan alat, serta evaluasi. Keempat unsur

  tersebut saling berinteraksi dan berinterrelasi antar satu dengan lainnya.

          Pola interrelasi antar komponen tersebut dapat dilihat pada bagan

  berikut ini :


TUJUAN


                   BAHAN                               METODE DAN ALAT



                                                           PENILAIAN




          Berdasarkan apa yang tergambar pada bagan diatas dapat dilihat

  bahwa unsur metode dan alat merupakan unsur yang tidak dapat

  dipisahkan dari unsur pembelajaran lainnya. Metode dan alat yang dalam

  hal ini adalah teknik / cara guru memberikan materi pelajaran dengan

  menggunakan media pembelajaran yang berfungsi mengantarkan bahan

  pelajaran agar sampai kepada tujuan. Dengan menggunakan media

  pembelajaran siswa mendapatkan berbagai pengalaman nyata, sehingga

  materi pelajaran yang disampaikan dapat diserap dengan lebih mudah dan

  lebih baik.

          Selain itu adapun pendapat yang dikemukakan oleh para ahli

  tentang penggunaan media dalam pembelajaran didasarkan pada konsep

  bahwa belajar dapat ditempuh melalui berbagai cara, antara lain : dengan
                                                                          14




mengalami secara langsung (melakukan dan berbuat), dengan mengamati

orang lain dan dengan membaca serta mendengar.

       Olsen    sebagaimana     dikutip    Nana     Sudjana    (1989:110)

mengungkapkan bahwa :

       Prosedur belajar menempuh tiga tahap, yaitu :
     a. Pengajaran langsung melalui pengalaman langsung.
         Pengajaran ini diperoleh dengan teknik karyawisata,
         wawancara (interview), resource visitor, dan lain-lain.
     b. Pengajaran tidak langsung melalui alat peraga. Pengalaman
         ini diperoleh melaui gambar, peta, bagan, objek, model, slide,
         film, TV, dramatisasi dan lain-lain.
     c. Pengajaran tidak langsung melalui lambang kata, misalnya
         melalui kata-kata dan rumus-rumus.

       Pendapat senada juga diuraikan oleh Edgar Dale dalam kerucut

pengalamannya (cone of experience) seperti yang tergambar pada bagan di

bawah ini :




                 k                        k. Verbal
                    j
                                          j.   Lambang
                 i
                                          i.   Visual
                 h
                 g
                                          h. Radio
                                          g. Film
                 f
                                          f.   Televisi
                e
                                          e. Karyawisata
                d                         d. Demonstrasi

                c                         c. Pengalaman melalui drama
                                          b. Pengalaman melalui
                b
                                               benda tiruan
                a
                                          a. Pengalaman langsung
                                                                   15




       Melalui cone of experience tersebut, Edgar Dale mengemukakan

bahwa pengalaman belajar seseorang 75 % diperoleh melalui indera

penglihatan, 13 % melalui indera pendengaran dan selebihnya 12 %

diperoleh melalui indera lainnya.

       Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa belajar lebih

efektif dan memberikan kesan yang mendalam jika didukung oleh media

pembelajaran yang sesuai. Media pembelajaran memiliki peranan sebagai

sesuatu yang dapat digunakan untuk mempermudah penyampaian pesan

dan merangsang kreatifitas siswa dalam kegiatan belajar.

       Media memiliki kedudukan yang sama pentingnya dengan

komponen pembelajaran yang lain. Hal ini disebabkan kemampuan media

dalam memberikan kesempatan pada siswa untuk melakukan interaksi

langsung dengan kenyataan, sehingga pengalaman yang diperoleh tidak

mudah dilupakan. Yunus sebagaimana dikutip oleh Azhar Arsyad

(2006:16) mengungkapkan:

       Bahwasanya media pembelajaran paling besar pengaruhnya
     bagi indera dan lebih dapat menjamin pemahaman, orang yang
     mendengar saja tidaklah sama tingkat pemahamannya dan
     lamanya bertahan apa yang dipahaminya dibandingkan dengan
     mereka yang melihat, atau melihat dan mendengarnya.

       Dari pendapat ahli diatas dapat diambil kesimpulan bahwa proses

belajar mengajar menggunakan media mempunyai pengaruh yang cukup

besar terhadap pemahaman seseorang yang akan bertahan lama disebabkan

oleh pengamatan langsung para siswa terhadap sumber belajar, beda
                                                                       16




   dengan proses pembelajaran hanya mendengarkan ceramah guru saja

   siswa akan cepat lupa akan materi dan akan cenderung bosan.

2. Kriteria Pemilihan Media Pembelajaran

             Media pembelajaran digunakan untuk menyampaikan materi

   pelajaran kepada siswa melalui indera pendengaaran dan penglihatan,

   sehingga dapat mengurangi verbalisme yang mungkin terjadi. Karena itu

   pemilihan dan penggunan media pembelajaran harus memperhatikan

   kriteria-kriteria sebagai berikut yang diungkapkan oleh Nana Sudjana

   (1989:3) :

        a.    Ketepatan dan kesesuaian dengan tujuan pengajaran.
        b.    Memberikan dukungan terhadap isi bahan pelajaran.
        c.    Mudah didapat.
        d.    Keterampilan guru dalam menggunakannya.
        e.    Tersedianya waktu untuk menggunakannya.
        f.    Sesuai dengan taraf berpikir siswa.

             Media yang digunakan dalam pembelajaran di kelas mempunyai

   batasan-batasan tertentu, diusahakan harus        sesuai dengan tujuan

   pembelajaran yang ingin dicapai serta dapat menunjang terhadap materi

   yang disampaikan, dan hal itu berhubungan dengan sejauh mana guru

   memahami pentingnya media dan mampu untuk menggunakannya. Setelah

   itu media pun disesuaikan juga dengan kapasitas siswa dari segi

   kemampuan berpikir, mengamati dan mempraktekan materi yang

   disampaikan. Karena bila tidak disesuaikan malah akan membuat siswa

   terbebani untuk dapat menerima materi dengan baik dan tepat.

             Setelah dilakukan pemilihan terhadap media pembelajaran yang

   telah diuraikan diatas, selanjutnya perlu dipertimbangkan pula prinsip-
                                                                       17




prinsip penggunaan media tersebut. Hal ini dimaksudkan agar media yang

telah dipilih benar-benar dapat digunakan untuk membantu pencapaian

tujuan.

          Prinsip-prinsip penggunan media menurut Dientje Borman

Rumampuk seperti yang dikutip oleh Hikmah (1999:15) adalah sebagai

berikut :

      1. Penggunaan media bukan berarti mengganti kedudukan guru
         secara keseluruhan. Penggunaan media hanya sebagai alat
         yang membantu efisiensi dan efektifitas proses belajar
         mengajar.
      2. Tidak ada media tunggal yang dapat dipakai untuk mencapai
         semua tujuan. Tiap-tiap media mempunyai tujuan tertentu,
         dalam kondisi tertentu untuk murid dan mata pelajaran
         tertentu dan sebagainya.
      3. Media adalah bagian integral dalam proses belajar mengajar,
         sehingga penggunaan media tidak terlepas dari elemen proses
         belajar mengajar.
      4. Penggunaan media hendaknya secara bervariasi dan
         berimbang. Karena tiap media memiliki kelebihan,
         kekurangan serta keterbatasan masing-masing.
      5. Penggunaan media supaya disertai partisipasi siswa. Oleh
         karena itu perlu pula dipertimbangkan umur siswa, tingkat
         kemampuannya dan jumlahnya. Dengan kata lain ciri-ciri
         siswa perlu dipertimbangkan dalam penggunaan media untuk
         membangkitkan partisipasi siswa.
      6. Penggunaan multimedia sangat dianjurkan, tetapi dalam
         batas-batas kewajarannya agar tidak membingungkan siswa.
      7. Penggunaan media memerlukan persiapan yang matang
         berkaitan dengan hal-hal yang akan dilakukan sebelum,
         selama, dan sesudah media itu digunakan.

          Walaupun media mempunyai peranan penting dalam proses

pembelajaran    tapi tidak bisa menggeser posisi guru sebagai pemberi

materi, sebab kedudukan media hanya sebagai alat bantu saja. Dan

penggunaannya pun dibatasi disesuaikan dengan tiap pelajaran tertentu

saja. Karena kedudukannya yang cukup krusial maka media hendaknya
                                                                             18




   tidak dapat dipisahkan dari proses pembelajaran walaupun tidak semua

   media ideal digunakan sebab terdapat kekurangan dan kelebihan dari

   setiap media. Ketika menggunakan media siswa mempunyai perananan

   partisipatif maka hendaknya media pun diselaraskan dengan umur, batas

   kemampuan dan karakter siswa. Dan juga pemakaian media dipersiapkan

   dengan baik dari sebelum sampai selesai proses pembelajaran, agar

   bermakna dan kebermanfaatannya terasa.

3. Jenis dan Manfaat Media

           Media pembelajaran yang digunakan dalam kegiatan belajar

   mengajar bermacam-macam bentuk dan jenisnya sesuai kebutuhan serta

   tujuan yang ingin dicapai oleh guru dalam mentransformasikan materi

   pelajaran.

           Nana Sudjana (1989:13) membagi media menjadi empat golongan,

   antara lain :

         1. Media grafis seperti : gambar, foto, grafik, bagan, poster,
            kartun, komik, dan lain-lain. Media grafis sering sering juga
            disebut media dua dimensi, yaitu media yang mempunyai
            ukuran panjang dan lebar.
         2. Media tiga dimensi, yaitu dalam bentuk model padat (solid
            models), model penampang (cut away models), model kerja
            (working models), mock-up, diorama dan lain-lain.
         3. Media proyeksi seperti slide, film strip, film, OHP, dan lain-
            lain.
         4. Lingkungan sebagai media pembelajaran.

           Penggolongan media diatas adalah media yang seringkali

   digunakan untuk proses pembelajaran, penggolongan tersebut disesuaikan

   dengan bentuk dan karakteristiknya masing-masing sesuai dengan manfaat

   yang akan diperoleh dari penggunaan media tersebut.
                                                                         19




       Ada beberapa manfaat yang dapat kita ambil dari penggunaan

media dalam proses pembelajaran, Seperti diungkapkan Yusup Hadi

Miarso (1984:16) :

       Kegunaan media pendidikan dapat menimbulkan kegairahan
     belajar, memungkinkan interaksi langsung antara siswa dengan
     lingkungan dan kenyataan, dan memungkinkan belajar lebih
     sendiri-sendiri menurut kemampuan siswa.

       Media pembelajaran mempunyai fungsi dan manfaat masing-

masing sesuai dengan materi yang disampaikan. Diantaranya dapat

menimbulkan ketertarikan siswa untuk menyimak materi dan bisa

berinteraksi dengan hal-hal baru tentang segala hal              yang ada

disekelilingnya serta memungkinkan timbul minat untuk lebih mendalami

materi yang diberikan secara individual menurut kemampuan mereka

masing-masing.

       Sependapat dengan hal itu       Ibrahim sebagaimana dikutip oleh

Azhar Arsyad (2006:15) mengungkapkan :

       Media pembelajaran membawa dan membangkitkan rasa
     senang dan gembira bagi murid-murid dan memperbaharui
     semangat mereka, membantu memantapkan pengetahuan pada
     benak para siswa serta menghidupkan pelajaran.

       Pendapat-pendapat   ahli     diatas   dapat   kita   pahami,   bahwa

penggunaan media pembelajaran dapat bermanfaat bagi guru maupun

siswa. Adapun manfaat bagi guru :

1. media pembelajaran membantu guru dalam menyampaikan materi

   pembelajaran.
                                                                        20




2. Media dapat menutupi keterbatasan yang dimiliki oleh guru dalam

   mengajar. Baik itu keterbatasan tenaga, waktu atau pengetahuan.

3. Media membantu guru dalam mencapai tujuan pembelajaran.

4. Dengan menggunakan media pembelajaran guru menjadi lebih kreatif

   dalam menyampaikan materi karena menggunakan beberapa metode

   pembelajaran.

       Sedangkan manfaat yang didapat oleh siswa dari penggunaan

media pembelajaran yaitu :

1. Siswa akan lebih mudah memahami dan                mengingat materi

   pembelajaran dibandingkan tanpa bantuan media.

2. Menghindarkan verbalisme diantara siswa.

3. Siswa akan lebih bersemangat dalam mengikuti proses belajar

   mengajar.

4. Siswa akan lebih mengembangkan ketiga ranahnya; kognitif, apektif

   dan psikomotor.

5. Dengan media pembelajaran siswa dapat mengenal lebih mendalam

   apa yang belum mereka ketahui dengan detail. Sehingga mereka dapat

   memahaminya dan dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

6. Dapat    membangkitkan      keinginan    dan    minat       yang   baru,

   membangkitkan motivasi, membawa dan membangkitkan rasa senang

   dan gembira bagi siswa serta rangsangan kegiatan belajar.
                                                                             21




B. Sumber Belajar

   1. Pengertian Sumber belajar

             Sumber belajar mempunyai peranan penting dalam kegiatan belajar

      mengajar serta membuat proses belajar lebih bermakna, disebabkan siswa

      dapat berinteraksi langsung dengan sumber belajar dan secara tidak

      langsung membuat siswa lebih tertarik serta akan lebih mudah memahami

      apa yang dipelajarinya maupun apa yang dijelaskan gurunya dengan

      bantuan sumber belajar yang ada.

             Nana Sudjana dan Ahmad Rivai (2003:76) mengungkapkan

      bahwa : ”Sumber Belajar itu tidak lain adalah daya yang bisa

      dimanfaatkan guna kepentingan proses belajar mengajar, baik secara

      langsung   maupun    secara   tidak   langsung,   sebagian   atau   secara

      keseluruhan”.

             Torkleson dalam Nana Sudjana dan Ahmad Rivai (2003:79)

      menyatakan bahwa :

             Sumber belajar begitu luasnya, bisa meliputi segala sesuatu
           yang dipergunakan untuk kepentingan pelajaran yaitu segala apa
           yang ada di sekolah yang dipergunakan untuk kepentingan
           pelajaran pada masa lalu, sekarang dan akan datang.

             Berdasarkan pada dua pendapat para ahli diatas, sumber belajar

      adalah segala sesuatu yang dapat dimanfaatkan dalam kegiatan belajar

      mengajar. Disini jelas bahwa sumber belajar harus dapat menjadi rujukan

      yang digunakan dan diambil kegunaannya demi terjadinya proses

      penambahan pengetahuan dan wawasan bagi siswa. Serta begitu luasnya

      sumber belajar sehingga bisa dipergunakan oleh guru, peserta didik,
                                                                        22




   maupun oleh keduanya secara bersamaan dalam rangka proses belajar

   mengajar.

2. Fungsi dan Manfaat Sumber Belajar

        Zainudin Basouri dalam Hapsari (2001:21) mengemukakan bahwa

   sumber belajar sebagai penunjang proses belajar mengajar memiliki fungsi

   sebagai berikut :

        a. Meningkatkan produktivitas;
        b. Memberikan kemungkinan pendidikan yang sifatnya lebih
           indidual;
        c. Memberikan dasar yang lebih ilmiah terhadap pengajaran;
        d. Lebih memanfaatkan pengajaran;
        e. Memungkinkan belajar secara seketika;
        f. Kemungkinan penyajian pendidikan yang lebih luas, tenaga
           atau kejadian yang langka.

          Sumber belajar akan mengurangi segala noise atau penghambat

   dalam proses komunikasi antara guru dengan siswa karena sumber belajar

   dapat menjadi jembatan agar informasi yang disampaikan oleh guru dapat

   diterima dengan baik oleh siswa tanpa ada salah penafsiran. Sumber

   belajar juga dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar

   secara mandiri dan mengembangkan kemampuannya sendiri. Sumber

   belajar dapat mengurangi batas pemisah berupa komunikasi verbal yang

   dilakukan guru kepada murid dengan menyajikan realitas yang bersifat

   kongkrit.

          Djaja Djajuri, dkk (1998) mengungkapkan bahwa “Sumber belajar

   memiliki manfaat yang penting terutama dalam proses pembelajaran”.

          Manfaat sumber belajar tersebut antara lain :
        a. Sumber belajar dapat memberi pengalaman belajar baru yang
           kongkrit dan langsung kepada siswa.
                                                                          23




        b. Sumber belajar menyajikan sesuatu yang tidak mungkin
           diadakan, dikunjungi atau dilihat.
        c. Sumber belajar menambah dan memperluas cakrawala sajian
           yang ada dalam kelas.
        d. Sumber belajar memberi informasi yang akurat dan yang
           terbaru.
        e. Sumber belajar membantu memecahkan masalah pendidikan
           atau pembelajaran baik dalam lingkungan mikro atapun
           makro.
        f. Sumber belajar memberi motivasi yang positif lebih jika
           diatur dan direncanakan pemanfatannya secara tepat.
        g. Sumber belajar merangsang untuk berfikir, bersikap, dan
           berkembang lebih lanjut.

          Begitu banyaknya fungsi dan manfaat yang bisa kita dapatkan dari

   sumber belajar menunjukkan bahwa sumber belajar itu mempunyai

   peranan penting, terutama jika dimanfaatkan dalam proses pembelajaran di

   sekolah-sekolah.

3. Klasifikasi Sumber Belajar

          Sumber belajar mempunyai bentuk, ukuran, jenis dan karakter

   masing-masing      yang bermacam-macam. Sehingga perlu dibagi dalam

   beberapa klasifikasi berdasarkan kategori tertentu agar memudahkan

   dalam mengetahui dan mempelajarinya. Donald. P. Ely sebagaimana

   dikutip ole Nana Sudjana dan Ahmad Rivai (2003:79) :

        a. Man sebagai pihak yang menyalurkan atau mentransmisikan
           pesan.
        b. Materials dan Devices sebagai bahan (software) dan
           perlengkapan (hardware)
        c. Methods sebagai cara atau metode yang dipakai dalam
           menyajikan informasi.
        d. Setting sebagai lingkungan tempat interaksi belajar mengajar
           terjadi.

          Sumber belajar bermacam-macam dari mulai bentuk sampai

   karakteristiknya, manusia sebagai nara sumber misalnya dalam seminar
                                                                       24




atau loka karya atau bisa berupa alat misalnya media pembelajaran. Dapat

juga berupa sesuatu hal yang berhubungan dengan tempat, misalnya alam

sekitar bisa menjadi sumber belajar pelajaran sains atau berupa tata cara

yang dapat bermanfaat bagi keterampilan siswa.

       Adapun yang diungkapkan oleh Nana Sudjana dan Ahmad Rivai

(2003:79) membedakan sumber belajar menjadi :

     a. Sumber belajar “by design”, yakni sumber belajar yang sengaja
        direncanakan, disiapkan untuk tujuan pengajaran tertentu.
     b. Sumber belajar “by utilization”, yakni sumber belajar yang tidak
        direncanakan atau tanpa dipersiapkan terlebih dahulu, tetapi
        langsung dipakai guna kepentingan pengajaran dan diambil
        langsung dari dunia nyata.

       Adapun klasifikasi lain yang dijabarkan pendapat ahli diatas, yaitu

sumber belajar yang dibuat dengan sengaja atau direkayasa oleh ahlinya

untuk membantu proses kelancaran pembelajaran. Dan sumber belajar

yang sudah ada di lingkungan sekitar, yang senatiasa diharapkan dapat

bermanfaat untuk keberlangsungan belajar mengajar.

       Klasifikasi lain yang biasa dilakukan terhadap sumber belajar

adalah sebagai berikut :

a. Sumber belajar tercetak : buku, majalah, brosur, Koran, poster denah,

   ensiklopedi, kamus, booklet dan lain-lain.

b. Sumber belajar noncetak : film, slides, video, model, audiocassette,

   transparansi, realia, objek dan lain-lain.

c. Sumber belajar berupa kegiatan : wawancara, kerja kelompok,

   observasi, simulasi, permainan dan lain-lain.
                                                                           25




      d. Sumber belajar yang berbentuk fasilitas : perpustakaan, ruangan

         belajar, carrel, studio, lapangan olahraga dan lain-lain.

      e. Sumber belajar berupa lingkungan di masyarakat : taman, terminal,

         pasar, toko, pabrik, museum dan lain-lain.

             Keberadaan sumber belajar (media model) di lingkungan sekolah,

      terutama Sekolah Dasar merupakan hal yang penting untuk membantu

      keberlangsungan proses pembelajaran. Siswa dapat melihat langsung

      media tersebut dan memberikan wahana baru bagi siswa serta memberikan

      semangat baru untuk menggali materi pelajaran.



C. Media Model Sebagai Sumber Belajar

   1. Pengertian dan Jenis Media Model

             Menurut James W. Brown (1977:290) mengungkapkan bahwa

      media nyata di dalam kelas dibagi atas 3 bagian, diantaranya :

           1. Media nyata yang tidak dimodifikasi, yaitu media
              pembelajaran yang alami dan tidak mengalami perubahan,
              persis ketika media tersebut diambil. media tersebut dapat
              merupakan benda mati atau mahluk hidup. contohnya ; batu
              alam, binatang, tumbuhan, kayu, besi, gambar, dll.
           2. Media nyata yang dimodifikasi, yaitu media pembelajaran
              yang tidak alami dan mengalami perubahan. contohnya ;
              mesin, tulang belulang yang di awetkan, dll
           3. Speciment, yaitu media yang termodifikasi hanya saja
              merupakan bagian dari lingkungan yang diawetkan,
              contohnya ; kupu-kupu yang diawetkan dalam tabung, kadal
              yang diawetkan dalam botol

             Salah satu diantara sekian banyak media pembelajaran yang dapat

      menyajikan pesan atau informasi secara visual adalah model. Model

      merupakan media nyata yang telah dimodifikasi atau sengaja dirancang,
                                                                               26




dan model juga merupakan kelompok realia yang dapat digunakan dalam

lingkup pembelajaran klasikal maupun individual. Media model sebagai

media tiga dimensi menduduki urutan kedua pada core of experience atau

kerucut pengalaman Edgar Dale. Urutan kedua dari kerucut pengalaman

Edgar Dale adalah terletak pada pengalaman tiruan yang diatur.

Pengalaman yang diatur ini diperoleh melalui benda-benda atau kejadian-

kejadian tiruan dari yang sebenarnya. Pembelajaran yang menggunakan

media model diasumsikan dapat memberikan pengalaman yang lebih

konkrit kepada siswa, sehingga siswa dapat lebih memahami secara lebih

nyata hal-hal yang disampaikan dalam pembelajaran. Amir Hamzah

Suleiman seperti yang dikutip oleh Hikmah (1999:15) :

       Model dapat diartikan sebagai sesuatu yang dibuat dengan
     ukuran tiga dimensi sehingga menyerupai benda aslinya untuk
     menjelaskan hal-hal yang tidak mungkin diperoleh dari benda
     yang sebenarnya. Model adalah salah satu media pengajaran
     yang efektif, dapat memperjelas pengertian atau proses suatu
     kegiatan, dapat dibuat dalam ukuran yang lebih besar atau lebih
     kecil dari benda aslinya, dan dapat memperlihatkan bagian-
     bagian yang rumit dari suatu benda yang dalam keadaan
     sebenarnya selalu tertutup.

       Media model adalah media tiga dimensi yang digunakan oleh

pengajar dalam proses pembelajaran di kelas. Nana Sudjana dan Ahmad

Rivai (2005:156) mengungkapkan bahwa :

       Model adalah tiruan tiga dimensional dari beberapa objek nyata
     yang terlalu besar, terlalu jauh, terlalu kecil, terlalu mahal, terlalu
     jarang, atau terlalu ruwet untuk dibawa ke dalam kelas dan
     dipelajari siswa dalam wujud aslinya

       .
                                                                         27




       James W. Brown (1977:290) mengungkapkan juga tentang media

model :

       Model adalah media yang termodifikasi yang cukup ekonomis
     dan aman untuk digunakan dalam pembelajaran. Beberapa model
     dibuat dengan ukuran yang lebih kecil atau lebih besar dari
     aslinya karena ukurannya yang kurang atau terlalu besar juga
     karena segi ekonomisnya.

       Menurut ahli diatas model adalah media yang dimodifikasi atau

sengaja dirancang untuk mempermudah proses pembelajaran dan dibuat

dengan ukuran yang disesuaikan secara ekonomis. Dan yang lebih penting

adalah model sebagai pengganti benda yang terlalu ruwet menjadi

sederhana, benda besar dapat diperkecil dan dapat dibawa ke dalam kelas

dengan mudah. Model juga memerlukan buku panduan penggunaan karena

terdapat hal yang harus dijelaskan secara spesifik, dan bimbingan serta

arahan guru tetap diperlukan dalam menggunakan media ini.

       Pengelompokkan media model berdasarkan kegunaan tiap jenis

model tersebut, seperti pendapat R. Murray Thomas (1960:446) adalah ”a

model can built to show the characteristic (solid model), inner structure

(cut away model), sequence of part (build up model), operation (working

model), or special operation aspect (mock-up) of real life object”.

       Menurut ahli diatas media model dibagi kedalam enam jenis sesuai

dengan kegunannya dalam proses belajar mengajar di kelas. Yang

dimaksud model dipakai berdasarkan kegunaan disebabkan suatu media

model tidak dapat dipakai untuk semua pelajaran. Jadi media model

dipakai sesuai dengan kebutuhan setiap mata pelajaran yang dipelajari.
                                                                         28




          Sejalan dengan pendapat diatas Nana Sudjana dan Ahmad Rivai

(2005) mengungkapakan bahwa media model dibagi kedalam enam jenis,

yaitu :

      1. Model Padat yaitu model yang memperlihatkan bagian
         permukaan luar dari pada objek dan acap kali membuang
         bagian-bagian yang membingungkan gagasan-gagasan
         utamanya dari bentuk, warna, dan susunannya. Media model
         padat biasanya digunakan untuk mengenalkan berbagai jenis
         benda-benda. Bentuknya bisa lebih kecil atau lebih besar dari
         aslinya. Contoh : bentuk rumah, candi, bentuk planet, bentuk
         binatang dan sebagainya.
      2. Model Penampang memperlihatkan bagaimana sebuah objek
         itu tampak, apabila bagian permukaannya diangkat untuk
         mengetahui susunan bagian dalamnya. Contoh : torso
         manusia, struktur kulit bumi dan sebagainya.
      3. Model Susunan terdiri dari beberapa bagian objek yang
         lengkap, atau sedikitnya atau suatu bagian penting dari objek
         itu. Model ini berupa potongan-potongan atau pecahan-
         pecahan dari satu kesatuan. Contoh : torso manusia, puzzle,
         bentuk geometris dan lain lain.
      4. Model Kerja adalah tiruan dari suatu objek yang
         memperlihatkan bagian luar dari objek asli, dan mempunyai
         beberapa bagian yang sesungguhnya. Model ini menekankan
         pada cara kerja suatu proses terjadinya sesuatu. Contoh :
         proses penggunaan katrol dalam pelajaran sains atau proses
         terjadinya gerhana matahari atau bulan dan sebagainya.
      5. Model Mock-ups adalah suatu penyederhanaan susunan
         bagian pokok dari suatu proses atau lebih ruwet, susunan
         nyata dari bagian-bagian pokok itu diubah sehingga aspek-
         aspek utama dari suatu proses mudah dimengerti siswa.
         Contoh : rangkaian radio atau cara kerja mesin dan
         sebaginya.
      6. Model Diorama adalah sebuah pemandangan tiga dimensi
         mini bertujuan untuk menggambarkan pemandangan
         sebenarnya, diorama biasanya terdiri atas bentuk-bentuk
         sosok atau objek ditempatkan di pentas yang belatar belakang
         lukisan yang disesuaikan dengan penyajian. Contoh :
         pemandangan hutan, adegan cerita dan lain-lain.

          Media model yang telah diuraikan diatas adalah media model

secara keseluruhan yang dipergunakan guru dalam proses pembelajaran di
                                                                    29




dalam kelas, yang seyogyanya dapat membantu kemudahan guru dalam

memberikan materi kepada siswa serta membuat siswa lebih cepat

memahami setiap materi pelajaran yang dijelaskan oleh guru.

       Selain membantu memudahkan dalam proses pembelajaran, model

juga dapat diterima oleh kelima panca indera. Amir Hamzah Suleiman

yang dikutip oleh Yuri Noberson (2006:38) mengungkapkan bahwa

”model adalah suatu benda yang dibuat ukuran tiga dimensi sehingga

menyerupai benda aslinya, untuk memperjelas hal-hal yang tidak mungkin

kita peroleh dari benda aslinya”.

       Dalam pembelajaran sains ada beberapa model yang dipergunakan

oleh guru, yaitu :

a. Model Torso, model torso dipakai dalam pelajaran sains biologi yang

   menerangkan tentang organ-organ tubuh manusia, lengkap dengan

   bentuk dan letaknya masing-masing.

b. Alat-alat optik seperti mikroskop, transit suveryor, periskop dalam

   pelajaran sains.

c. Bentuk-bentuk tata surya yang digunakan untuk pelajaran sains.

d. Diorama yang digunakan dalam pelajaran sains, yang menggambarkan

   tentang keadaan makhluk hidup yang lebih banyak mempelajari

   tentang hewan dan tumbuhan.

e. Model kerja, katrol atau pengungkit dalam mata pelajaran sains pokok

   bahasan pesawat sederhana.
                                                                           30




     Setelah mengelompokkan jenis media model diatas hal yang harus

diketahui selanjutnya yaitu cara penggunaan media model tersebut. Ada

beberapa petunjuk penggunaan media model dalam PBM, yang

dikemukakan oleh Sharrifah Alwiah Alsagof (1987:78) yaitu :

     1. Model dan model olok-olok sangat sesuai untuk kajian
        sendiri (individu) oleh murid dan untuk kajian dalam
        kumpulan kecil.
     2. Galakan murid memegang, mengeluarkan dan memasang
        kembali (jika model dan model olok-olok itu dibuat
        demikian). Supaya dengan cara menyentuh dan melihat,
        pembelajaran murid akan lebih berkesan.
     3. Galakan juga murid mencari dan mempelajari sesuatu dengan
        sendiri atau diberi sedikit panduan oleh guru.

     Sejalan dengan pendapat diatas R. Murray Thomas (1960:427)

mengungkapkan :

       The torso helped the class in two way. First, the teacher used it
     to show the position of each organ at the it was studied. Then
     later in the semester the student in small group used the model
     before class on during free moment to review what they know
     about the placement and function of internal organ.

     Cara yang dianjurkan oleh para ahli tersebut yaitu dengan

mendemonstrasikan terlebih dahulu oleh guru, kemudian siswa aktif

melihat dan mempelajari dengan seksama setiap media model yang

dibawa oleh guru secara mandiri.

     Setelah    mengetahui     pengertian,     cara     penggunaan     serta

pengelompokkan media model tersebut, adapun hal yang harus diketahui

yaitu tujuan pemakaian media model dalam kelas menurut Depdikbud

yang dikutip oleh Zeni Zauhari Sani (1994:36) yaitu :

     1. Memperlihatkan kepada murid-murid benda-benda yang
        sebenarnya dalam bentuk diperbesar atau diperkecil.
                                                                      31




     2. Memperlihatkan bagaimana konstruksi benda-benda itu dan
        bagaimana cara kerjanya (misalnya : penampang (irisan)
        gunung berapi, tambang batu bara, mata, telinga dan
        sebagainya).
     3. Memberikan kepada murid-murid pengertian yang kongkrit
        mengenai benda yang sebenarnya.

          Menurut depdikbud tersebut bahwa tujuan penggunaan media

model adalah memberikan gambaran yang jelas atau kongkrit kepada

siswa mengenai benda yang sebenarnya yang mereka pelajari dan

memperlihatkan bagaimana suatu proses kerja suatu benda yang tidak

dapat langsung dilihat dari benda sebenarnya yang sulit dibawa ke dalam

kelas.

          Sesuai tahap perkembangan cara berpikir ketiga dari Jean Piaget

(Syamsuddin, 1998:73 ), yaitu : “operasi kongkrit siswa sangat cocok

memahami dimensi tiga melalui pengamatan banyak benda-benda kongkrit

dan sedikit gambar relevan pada tahapan yang dialami siswa sekolah

dasar”.

          Model yang dipakai dalam pembelajaran di sekolah sangat banyak

jenis dan cotohnya. Karena, dengan menggunakan media model lebih

menarik      perhatian   siswa   untuk   mengikuti   pembelajaran   yang

bersangkutan. Siswa dapat langsung melihat contoh model yang

menyerupai aslinya meskipun ukurannya belum tentu sama. Pemberian

warna juga dapat menarik perhatian lebih siswa. Guru diharapkan mampu

menggunakan dan memanfaatkan media model yang tersedia dalam

meningkatkan motivasi dan kualitas belajar siswa dikelas.
                                                                        32




       Menggunakan model dalam kelas hendaknya disesuaikan dengan

program mengajar. Agar pengajaran       menjadi lebih efektif Harjanto

(2005:272) mengungkapkan bahwa :

     1. Bentuk dan besarnya model perlu diperhatikan agar bisa
        dilihat oleh kelas
     2. Jangan terlalu banyak memberikan penjelasan sebab biasanya
        para siswa mengkonsentrasikan perhatiannya kepada model
        dan bukan pada penjelasan.
     3. Gunakan model untuk maksud tertentu dalam pengajaran,
        bukan bertujuan untuk mengisi waktu guru dan mengurangi
        peranan guru dalam kelas.
     4. Usahakan agar para siswa sebanyak mungkin belajar dari
        model dengan mendorong mereka bertanya, berdiskusi, atau
        memberikan kritik.
     5. Pada waktu-waktu tertentu gunakan sejumlah model, bukan
        hanya sebuah model saja. Dengan demikian kelas dapat
        membandingkan satu sama lain.
     6. Model hendaknya diintegrasikan dengan alat-alat lainnya
        supaya pengajaran lebih berhasil.
     7. Di dalam suatu pelajaran gunakanlah model-model yang
        terpilih saja. Jangan menggunakan bermacam-macam model
        karena bisa menyebabkan kebingungan pada siswa.
     8. Kalau menggunakan beberapa model hendaknya model itu
        satu sama lain berhubungan dan menghubungkan pelajaran
        satu dengan pelajaran lainnya.
     9. Baik juga digunakan model dari skala yang berbeda tetapi
        menunjukkan benda yang sama. Siswa akan lebih menyadari
        kenyataannya.

       Amir Hamzah (1988:136) mengemukakan beberapa alasan sebagai

dasar mengapa media model merupakan alat visual yang efektif, yaitu :

     1. Model merupakan media tiga dimensi.
     2. Model bisa berupa benda dalam ukuran yang lebih kecil atau
        sebaliknya lebih besar dari ukuran aslinya supaya mudah
        untuk dipelajarinya.
     3. Model bisa memperlihatkan bagian dalam dari sebuah benda
        yang dalam keadaan sebenarnya selalu tertutup.
     4. Dalam membuat sebuah model bagian-bagian tertentu dapat
        ditinggalkan, supaya orang dapat mempelajari bagian-bagian
        yang penting tadi.
                                                                     33




     5. Model yang baik adalah model yang dapat dibongkar,
        kemudian dipasang kembali.

       Sesuai yang telah diungkapkan oleh ahli diatas dapat disimpulkan

bahwa media model adalah alat visual yang efektif dan mempunyai

kelebihan-kelebihan khusus antara lain :

1. Dapat digunakan untuk lingkup pembelajaran klasikal atau individual.

2. Dapat digunakan untuk menjelaskan hal-hal yang tidak mungkin

   diperoleh dari benda yang sebenarnya.

3. Mudah untuk dipelajari karena bentuk objeknya diperbesar atau

   diperkecil.

4. Dapat menyederhanakan objek yang ruwet sehingga dapat mengatasi

   keterbatasan pengamatan.

5. Dapat memperjelas segi-segi yang penting dengan menggunakan

   peranan warna yang menonjol.

6. Dapat dibongkar pasang.

7. Karena sifatnya yang tiga dimensi, maka media model dapat

   menggambarkan bentuk, warna, ukuran, dan kedudukan yang mirip

   dengan aslinya.

       Adapun kekurangan media model yang diungkapkan oleh Oemar

Hamalik (1994:135) adalah :

     1. Memerlukan peralatan khusus sehingga membutuhkan biaya
        yang cukup.
     2. Model yang terlalu kompleks kurang efektif untuk kegunaan
        pembelajaran.
     3. Siswa lebih tertarik pada keindahan modelnya sehingga lupa
        pada tujuan belajarnya.
                                                                         34




          Selain memiliki kelebihan-kelebihan, media model juga memiliki

   beberapa kekurangan antara lain :

   1. Tidak dapat digunakan pada pembelajaran klasikal dengan kelompok

      besar (lebih dari 40 orang).

   2. Tidak sederhana karena harganya relatif mahal dan tidak dapat dibuat

      sendiri.

   3. Tidak terdistribusi secara bebas.

   4. Tidak menimbulkan respon langsung.

          Jadi kedudukan media model sebagai sumber belajar          telah

   diungkapkan dan tertera dengan jelas oleh para ahli, dan dapat diambil

   kesimpulan bahwa media model mempunyai peranan yang cukup besar

   dalam memperlancar proses pembelajaran. Sehingga memudahkan guru

   untuk menyampaikan materi-materi yang tidak dapat di sampaikan hanya

   dengan ceramah saja, karena selain sebagai perantara dalam proses

   pembelajaran tetapi dapat menjadi sumber / daya yang dapat memperkaya

   keilmuan para siswa dalam mata pelajaran sains.

2. Pemanfaatan Media Model oleh Guru

          Media perlu digunakan dalam proses pembelajaran dikelas oleh

   guru namun harus direncanakan dan dirancang dengan benar, Arif S.

   Sadiman dkk (2002:181) mengungkapkan :

          Media merupakan salah satu komponen pokok dalam proses
        pembelajaran. Suatu pemahaman atau keterampilan tentang
        sesuatu hal yang berkaitan dengan konsep materi akan diperoleh
        melalui penggunaan media yang tepat dalam pembelajaran.
        Dengan demikian perlu adanya rancangan mengenai
                                                                     35




     pemanfaatan media supaya media pendidikan itu efektif maka
     pemanfatan media harus direncanakan dan dirancang sistematis.

       Berikut ini ada beberapa langkah yang harus dilakukan oleh guru

pada waktu menggunakan media :

1. Menetapkan tujuan mengajar dengan menggunakan media. Pada

   langkah ini guru merumuskan tujuan yang akan dicapai.

2. Persiapan Guru. Pada fase ini guru memilih dan menetapkan media

   mana yang akan digunakan sekiranya tepat untuk mencapai tujuan.

3. Persiapan kelas. Siswa atau kelas harus mempunyai persiapan,

   sebelum mereka menerima pelajaran dengan menggunakan media.

   Mereka harus dimotivasi agar dapat menilai, menganalisis, menghayati

   pelajaran dengan media.

4. langkah penyajian pelajaran dan peragaan. Penyajian pelajaran dengan

   menggunakan     media     merupakan    suatu   keahlian   guru   yang

   bersangkutan. Dalam langkah ini perhatikan bahwa tujuan utama ialah

   pencapaian tujuan mengajar dengan baik, sedangkan media hanya

   sekedar alat pembantu.

5. Langkah kegiatan belajar. Pada langkah ini siswa hendaknya

   mengadakan kegiatan belajar sehubungan dengan penggunaan media,

   kegiatan ini mungkin dilakukan di dalam atau di luar kelas.

6. Langkah evaluasi pelajaran dan media. Kegiatan pembelajaran

   haruslah dievaluasi sampai seberapa jauh tujuan iu tercapai, yang

   sekaligus dapat kita nilai sejauh mana pengaruh media sebagai alat

   pembantu yang dapat menunjang keberhasilan proses belajar.
                                                                      36




          Winarno Surakhmad (1994:61) mengungkapkan bahwa “guru

harus memiliki pengetahuan mengenai psikologi perkembangan peserta

didik serta kecakapan dalam menggunakan metode dan media dalam

pembelajaran untuk membawa perubahan tingkah laku peserta didik”.

          Dalam proses pembelajaran media memiliki fungsi dan peranan

yang sangat tinggi, yaitu membantu guru agar proses belajar mengajar

menjadi lebih efektif dan efisien. Sehubungan dengan hal itu pengajar

dituntut untuk memiliki kecakapan menggunakan media, karena kesalahan

dalam penggunaan media tujuan pembelajaran tidak akan tercapai.

          Berikut ini uraian mengenai hubungan guru dengan masalah

penggunaan media yang diungkapkan oleh Nana Sudjana (1998:106),

yaitu :

      1. Setiap guru hendaknya memilih landasan teoritis mengenai
         media dalam pengajaran.
      2. Setiap guru perlu memiliki pengetahuan mengenai proses
         belajar mengajar, sebab penggunaan media harus terpadu
         dalam proses tersebut.
      3. Setiap guru perlu memahami kegiatan belajar yang dilakukan
         peserta didik, sebab media pembelajaran membantu kegiatan
         belajar peserta didik.
      4. Setiap guru perlu memahami perkembangan siswa didik,
         sebab penggunaan media seirama dengan tingkat kematangan
         dan kemampuan siswa didik.
      5. Setiap guru harus terampil dalam hal penggunaan media
         pendidikan.
      6. Setiap guru berkewajiban melengkapi media dalam kelasnya,
         sehingga ia dituntut agar dapat membuat media yang
         sederhana untuk keperluan mengajar.

          Dari pendapat-pendapat para ahli diatas banyak mengungkapkan

bagaimana seharusnya guru menggunakan media pembelajaran dengan

baik, menggunakannya pun tidak sembarangan karena harus direncanakan
                                                                              37




      dan dirancang dengan sistematik. Guru harus memperhatikan keadaan

      serta kondisi siswa baik dari fisik dan psikologisnya. Selain itu juga guru

      penting sekali untuk meningkatkan pengetahuannya tentang penggunaan

      media, karena jika salah menggunakan maka persepsi siswa akan lain

      terhadap hal yang dipelajarinya.



D. Pelajaran Sains di Sekolah Dasar

   1. Pengertian Sains

             Ilmu Pengetahuan Alam (Sains) berhubungan dengan cara mencari

      tahu tentang alam secara sistematis, sehingga sains bukan hanya

      penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-

      konsep, atau prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses

      penemuan. Pendidikan sains diharapkan dapat menjadi wahana bagi

      peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, serta

      prospek pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya di dalam

      kehidupan sehari-hari.

             Sumarwan (2002:2) mengungkapkan bahwa :

             Sains adalah pengetahuan alam yang mempelajari tentang alam
           dan segala isinya. Kajiannya mencakup makhluk hidup, benda
           mati dan zat-zat yang terkandung di dalamnya serta peristiwa
           perubahan-perubahan yang terjadi di alam.

             Pelajaran sains mempelajari hal yang tidak jauh dari proses

      kehidupan makhluk hidup dan benda-benda yang berasal dari alam sekitar.

      Di sekolah dasar cakupannya tentang ilmu hayati dan fisika, kemudian
                                                                           38




   dihimpun dalam ranah sains yang akan memberikan makna dan wahana

   baru bagi siswa tentang keadaan / kondisi alam di sekeliling mereka.

2. Mata Pelajaran Sains

            Mata pelajaran Sains menurut KTSP adalah “program untuk

   menanamkan dan mengembangkan pengetahuan, keterampilan, sikap dan

   nilai ilmiah pada siswa serta rasa mencintai dan menghargai kebesaran

   Allah Yang Maha Esa”.

            Sains di Sekolah dasar sebagai mata pelajaran yang mulai bersifat

   memberi pengalaman-pengalaman mengenai berbagai jenis dan perangai

   lingkungan alam sekitar serta lingkungan buatan.

            Mata pelajaran Sains sesuai dengan KTSP sekarang dimulai dari

   kelas satu, namun disesuaikan dengan kemampuan dan keadaan psikologi

   siswa.

3. Tujuan dan Kompetensi Pembelajaran Sains di SD

   a. Tujuan pembelajaran Sains di SD

               Mata pelajaran Sains di Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah

      Ibtidaiyah (MI) berfungsi untuk menguasai konsep dan manfaat sains

      dalam kehidupan sehari-hari serta untuk melanjutkan pendidikan ke

      Sekolah Menengah Pertama (SMP) atau Madrasah Tsanawiyah (MTs),

      serta bertujuan:

      1) Menanamkan        pengetahuan    dan   konsep-konsep    sains    yang

            bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari.
                                                                    39




   2) Menanamkan rasa ingin tahu dan sikap positif terhadap sains dan

      teknologi.

   3) Mengembangkan keterampilan proses untuk menyelidiki alam

      sekitar, memecahkan masalah dan membuat keputusan.

   4) Ikut   serta   dalam   memelihara,   menjaga   dan   melestarikan

      lingkungan alam.

   5) Mengembangkan kesadaran tentang adanya hubungan yang saling

      mempengaruhi antara sains, lingkungan, teknologi dan masyarakat.

   6) Menghargai alam dan segala keteraturannya sebagai salah satu

      ciptaan Tuhan.

b. Standar Kompetensi Pembelajaran Sains di SD

   Standar Kompetensi mata pelajaran Sains di SD/MI adalah:

   1) Mampu bersikap ilmiah dengan penekanan pada sikap ingin tahu,

      bertanya, bekerjasama, dan peka terhadap makhluk hidup dan

      lingkungan.

   2) Mampu menterjemahkan perilaku alam tentang diri dan lingkungan

      di sekitar rumah dan sekolah.

   3) Mampu memahami proses pembentukan ilmu dan melakukan

      inkuiri ilmiah melalui pengamatan dan sesekali melakukan

      penelitian sederhana dalam lingkup pengalamannya.

   4) Mampu memanfaatkan sains dan merancang/membuat produk

      teknologi sederhana dengan menerapkan prinsip sains dan mampu

      mengelola lingkungan di sekitar rumah dan sekolah serta memiliki
                                                                           40




          saran/usul untuk mengatasi dampak negatif teknologi di sekitar

          rumah dan sekolah.

4. Karakteristik Pembelajaran Sains

          Pembelajaran sains sebaiknya dilaksanakan secara inkuiri ilmiah

   {scientific inquiry) untuk menumbuhkan kemampuan berpikir, bekerja dan

   bersikap ilmiah serta mengkomunikasikannya sebagai aspek penting

   kecakapan hidup.

          Proses pembelajarannya menekankan pada pemberian pengalaman

   langsung     untuk    mengembangkan       kompetensi     agar   menjelajahi

   dan memahami alam sekitar secara ilmiah. Pendidikan sains diarahkan

   untuk inkuiri dan berbuat sehingga dapat membantu peserta didik untuk

   memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang alam sekitar.

          Pembelajaran sains di SD/MI menekankan pada pemberian

   pengalaman     belajar   secara   langsung    melalui    penggunaan    dan

   pengembangan keterampilan proses dan sikap ilmiah.

          Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) sains di

   SD/MI merupakan standar minimum yang secara nasional harus dicapai

   oleh peserta didik dan menjadi acuan dalam pengembangan kurikulum di

   setiap satuan pendidikan. Pencapaian SK dan KD didasarkan pada

   pemberdayaan peserta didik untuk membangun kemampuan, bekerja

   ilmiah, dan pengetahuan sendiri yang difasilitasi oleh guru.
                                                                        41




5. Karakteristik Siswa Sekolah dasar

          Piaget seperti yang dikutip oleh S. Nasution (1992:42), “siswa

   Sekolah Dasar berada pada kelompok usia 7-12 tahun, yang digolongkan

   pada tahap operasi konkret dalam perkembangan kognitifnya”.

          Hal tersebut berarti siswa Sekolah Dasar akan mudah mempelajari

   sesuatu yang dapat dilihat, dirasakan dan dialami secara langsung. Dalam

   proses belajar mengajar pada umumnya siswa lebih banyak mendapatkan

   materi yang diberikan oleh gurunya melalui dua cara, yaitu indera dengar

   dan indera lihat.

          Untuk mempermudah memberikan materi pelajaran kepada siswa

   diperlukan alat sebagai stimulus yang dapat merangsang siswa untuk

   belajar, salah satunya yaitu penggunaan media, siswa akan lebih giat

   belajar dan dapat lebih memahami materi yang disampaikan.

6. Tujuan Pendidikan Sekolah Dasar

          Tujuan penyelenggaraan pendidikan Sekolah Dasar salah satunya

   terdapat dalam PP RI No. 28 tahun 1990, yang menyebutkan bahwa :

          Pendidikan dasar bertujuan untuk memberikan bekal
        kemampuan dasar kepada peserta didik untuk mengembangkan
        kehidupannya sebagai pribadi, anggota masyarakat, warga
        negara dan anggota umat manusia serta mempersiapkan peserta
        didik untuk mengikuti pendidikan menengah.

          Wajib belajar yang diselenggarakan oleh pemerintah merupakan

   salah satu cara untuk mewujudkan suatu masyarakat Indonesia yang

   terdidik minimal memiliki pengetahuan dan keterampilan dasar yang

   essensial, dan digunakan untuk dapat melanjutkan kejenjang pendidikan
                                                             42




yang lebih tinggi atau dijadikan bekal untuk menjalani hidup dan

mengahadapi kehidupan dimasyarakat.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:891
posted:9/29/2011
language:Indonesian
pages:32