Docstoc

finish (PowerPoint)

Document Sample
finish (PowerPoint) Powered By Docstoc
					    Tugas Kelompok Biologi
Kelompok 8 :
 Isabella
 Ivan.A
 Kevin.S
 Prasetyo.H
 Ramadinata
 Septi.A
Sistem Pernapasan
1. Pernapasan pada
      Manusia
    Pernapasan dapat diartikan sebagai proses untuk menghasilkan
    energi. Pernapasan terbagi menjadi 2 macam, yaitu respirasi
    eksternal (luar) dan respirasi internal (dalam).


   Pernapasan Eksternal
    Respirasi eksternal meliputi proses bernafas atau pengambilan
    oksigen serta pengeluaran karbon dioksida dan uap air antara
    organisme dengan lingkungannya.


   Pernapasan Internal
    Respirasi internal disebut juga respirasi sel karena proses ini terjadi
    di dalam sel, yaitu di sitoplasma dan mitokondria. Respirasi internal
    dapat terjadi secara interseluler, yaitu pertukaran oksigen dari
    sitoplasma dengan karbon dioksida dari mitokondria.Oksigen hanya
    sedikit yang dapat disimpan dalam tubu, yaitu berupa oksimioglobin
    (dalam otot) dan oksihemoglobin (dalam darah).
2. Proses Pertukaran
     Oksigen dan
   Karbondioksida
        1. Tahapan Respirasi Internal
   Glikolisis
    Pada proses glikolisis ini terjadi pengubahan glukosa
    menjadi asam piruvat.
        Reaksi glikolisis adalah sebagai berikut:
    C6H12O6             Asam piruvat + 2 ATP + 2NADH2

    Rangkaian reaksi enzimatis yang memecah glukosa
    menjadi asam piruvat, terjadi disitoplasma dan tidak
    membutuhkan oksigen. Reaksi ini melepaskan sejumlah
    energi dalam bentuk ATP dan NADH. Asam piruvat yang
    dihasilkan dalam proses diatas akan diubah menjadi
    asetil ko-A di dalam mitokondria.
   Dekarboksilasi oksidatif
    Pada tahap ini asam piruvat diubah menjadi
    asetil ko-A di dalam matriks mitokondria.
    Proses ini menghasilkan NADH dan CO2.

   Siklus krebs
    Merupakan serangkaian reaksi metabolisme
    yang mengoksidasi asetil ko-A menjadi CO2
    dengan proses oksidasi.
    Pada reaksi glikolisis telah dihasilkan asam
    piruvat. Asam piruvat yang terbentuk ini dapat
    memasuki siklus krebs, setelah bereaksi
    dengan NAD+ dan Ko-enzim A membentuk
    senyawa asetil Ko-A.
   Rantai Transfer Elektron
    Merupakan serangkaian reanksi yang melibatkan sistem
    pembawa elektron. Transpor elektron terjadi di dalam
    mitokondria yang banyak menghasilkan ATP. Reaksi
    menghasilkan ATP melibatkan sistem elektron
    pembawa. Pada reaksi ini yang berperan penting adalah
    NADH, FAD, dan molekul-molekul khusus dalam
    respirasi antara lain Ko-enzim A, flavoprotein, dan
    sitokrom.Reaksi pada transfer elektron ini menghasilkan
    H2O.
    Reaksi tersebut dapat dituliskan sebagai berikut:
    10 NADH + 5O2              10 NAD+ + 10H2O + 30 ATP
    2 FADH2 + O2               2 FAD + 2H2O + 4 ATP
          2.Jenis Respirasi Internal
    Berdasarkan kebutuhan oksigennya, respirasi internal terbagi menjadi sebagai
    berikut.
   Respirasi aerob (oksidasi), respirasi yang menggunakan O2. Proses ini merupakan
    pemecahan molekul dengan menggunakan oksigen, reaksi umumnya adalah sebagai
    berikut :
          C6H12O6 + 6O2               6CO2 + 6H2O +675 kalori

   Respirasi anaerob, respirasi yang tidak menggunakan O2, tetapi dapat
    menggunakan oksigen yang terikat secara kimia. Respirasi ini disebut juga respirasi
    intra molekuler atau fermentasi. Reaksi umumnya adalah sebagai berikut :
           C6H12O6              2C2H5OH + CO2 + 28 kalori

    Pada proses ini terjadi pemecahan molekul yang tidak sempurna, karena masih
    dihasilkan zat organik sehingga energinya belum terbebaskan semua. Proses
    tersebut hanya terhenti sampai glikolisis dan terbentuk asam laktat, sehingga energi
    yang dihasilkan sedikit dan dampaknya mengakibatkan kelelahan pada tubuh.

    Proses ini umumnya terjadi pada organisme tingkat rendah, yaitu pada ragi dan
    bakteri. Pada organisme tingkat tinggi proses ini hanya berlangsung dalam keadaan
    darurat, apabila apabila persediaan oksigen kurang mencukupi. Ini terjadi ketika otot
    bekerja terlalu keras dan berlebih.
3. Tahapan Respirasi Eksternal
Pernapasan eksternal merupakan pertukaran O2 dari udara dengan
CO2 dari kapiler darah dalam alveolus. Pada sistem pernapasan O2
di dalam alveolus masuk ke kapiler arteri darah dengan cara
berdifusi. Proses difusi dapat berlangsung karena perbedaan
tekanan parsial antara O2 dalam alveolus dengan O2 dalam kapiler
darah.

Oksigen yang diikat hemoglobin akan dibawa ke seluruh tubuh
untuk diberikan ke sel untuk proses oksidasi. Oksidasi dalam sel
akan menghasilkan CO2 yang kemudian akan diangkut lewat kapiler
vena darah menuju alveolus. CO2 dalam alveolus ini akan
dikeluarkan lewat paru-paru.CO2 diangkut sebagai ion bikarbonat.
3. Struktur dan Fungsi
 Pernapasan Manusia
    Sistem Pernapasan manusia terdiri atas serangkaian alat-alat
    pernapasan berupa saluran yang berakhir pada sepasang paru-paru
    di dalam rongga dada.

    a. Hidung
   Hidung merupakan alat pernapasan yang terletak diluar dan
    tersusun oleh tulang rawan. Pada bagian ujung dan pangkal hidung
    ditunjang oleh tulang nasalis. Rongga hidung dibagi menjadi dua
    bagian oleh septum nasalis. Bagian depan septum ditunjang oleh
    tulang rawan, sedangkan bagian belakang ditunjang oleh tulang
    vomer dan tonjolan tulang ethmoid. Bagian bawah rongga hidung
    dibatasi oleh tulang palatum, dan maksila. Bagian atas dibatasi oleh
    ethmoid, bagian samping oleh tulang maksila, konka, nasalis inferio,
    dan ethmoid sedangkan bagian tengah dibatasi oleh septum
    nasalis.

   Bagian atas dari rongga hidung terdapat daerah olfaktorius, yang
    menganung sel-sel pembau. Sel-sel ini berhubungan dengan saraf
    otak pertama (nervus olfaktorius). Fungsi rongga hidung adalah
    memanaskan udara, melembapkan udara, dan menyaring udara.
    Fungsi hidung, antara lain sebagai berikut :

    1. Menghangatkan Udara
   Hal ini didukung oleh struktur pembuluh darah yang ada di sekitar hidung. Di sekitar
    rongga hidung terdapat banyak sekali pembuluh darah yang sangat kecil dan sangat
    tipis dindingnya. Karena strukturnya yang seperti ini, maka panas yang berasal dari
    darah sisa berpindah ke udara yang melewatinya sehingga dapat menghangatkan
    udara tersebut.
   Sekalipun suhu udara yang terhirup dingin, tetapi hidung selalu mempunyai cara
    untuk menghangatkan udara, yaitu dengan cara membesarkan pembuluh-pembuluh
    darah sehingga akan menambah luas permukaan untuk proses penghangatan udara
    yang lebih besar.

    2. Melembabkan Udara
   Hidung mensekresikan lendir, bahkan setiap harinya lendir yang diekskresikan
    mencapai 1 liter. Dengan adanya lendir, maka air akan diuapkan untuk
    melaksanakan proses pelembabkan udara, dengan demikian udara yang masuk ke
    paru-paru akan selalu dalam keadaan lembab.

    3. Membersihkan Udara
   Dengan adanya lendir yang terdapat di hidung, ternyata dapat menjerat kotoran atau
    kuman yang berhasil lolos dari saringan. Selain itu, di dalam rongga hidung juga
    terdapat bulu-bulu getar, yang berfungsi sebagai penyaring udara.
   Selain itu udara dapat dikenali baunya karena dalam rongga hidung terdapat indera
    pembau.
b, Laring (rongga tekak)
          Merupakan marupakan percabangan kerongkongan (esophagus), saluran
    pernapasan (batang tenggorokan), dan saluran ke rongga hidung. Struktur laring
    disusun oleh kepingan tulang rawan. Di dalam laring terdapat tonsil (amandel). laring
    berfungsi sebagai ruang getar untuk menghasilkan suara dan mengatur jalannya
    udara dan makanan.
          Bagian atas laring disebut faring. Struktur laring disusun oleh kepingan tulang
    rawan, antara lain seperti berikut :

a. Tulang rawan epiglotis
    Tulang ini berjumlah satu dan terletak di puncak laring berbentuk daun.
b. Tulang rawan tiroid
    Tulang ini berjumlah satu, berbentuk seperti perisai yang terletak di sebelah anterior
    dari laring. Pada pria dan wanita ada perbedaan pada tulang ini, yaitu pada pria lebih
    besar dan menonjol yang membentuk jakun.
c. Tulang rawan krikoid
    Berjumlah satu dan membatasi bagian bawah laring berbentuk cincin.
d. Tulang rawan aritenoid
     Tulang ini berjumlah dua dan terletak di atas krikoid. Tulang ini berhubungan dengan
    pita suara.
e. Tulang rawan kuneiformis
    Berjumlah dua dan terletak di antara epiglotis dan aritenoid.
f. Tulang rawan kornoculatum
    Berjumlah dua dan terletak di atas aritenoid.
c. Batang Tenggorokan (trakea)
        Trakea berada di daerah leher dan disusun oleh tulang rawan
   yang berbentuk seperti cincin.Dinding trakea terdiri dari jaringan ikat
   dan memiliki otot polos, pada bagian tengah terdapat bulu-bulu
   halus yang berfungsi untuk mengeluarkan debu atau kotoran.
   Trakea memanjang ke bawah dan ujungnya bercabang dua yang
   disebut bronkus menuju paru-paru kiri dan kanan. Batang trakea
   bagian dalam dilapisi oleh selaput lendir. Antara selaput lendir yang
   meliputi itu ada sepasang selaput letaknya melintang dari bagian
   muka ke belakang disebut pita suara.

d. Cabang Batang Tenggorokan (bronkus)
          Bronkus tersusun atas percabangan, yaitu bronkus kanan dan
   kiri. Letak bronkus kanan dan kiri agak berbeda. Bronkus kanan
   lebih vertikal dari pada bronkus kiri. Karena strukturnya ini, sehingga
   bronkus kanan akan lebih mudah kemasukan benda asing. Itulah
   sebabnya paru-paru kanan seseorang lebih mudah terserang
   penyakit bronkhitis. Bronkus bercabang-cabang lagi yang disebut
   bronkiolus. Pada bronkiolus ini tersusun alveolus yang berbentuk
   seperti buah anggur.
f. Alveolus
          Bronkiolus berakhir sebagai gelembung-gelembung udara yang
    dinding luarnya memiliki gelembung-gelembung halus yang di sebut
    alveolus. Alveolus memiliki inding yang elastis dan mengandung banyak
    kapiler darah yang memungkinkan terjadinya pertukaran gas oksigen
    secara difusi.

g. Paru-paru (pulmo)
           Paru-paru tersusun atas dua bagian, yaitu paru-paru kiri dan kanan.
    Paru-paru kanan berukuran lebih besar ari pada paru-paru kiri. Paru-paru
    merupakan alat pernapasan yang terletak di antara ronggan dada dan
    diafragma. Diafragma adalah sekat rongga badan yang membatasi rongga
    dada rongga perut. Paru-paru manusia dibungkus oleh selaput
    pembungkus yang disebut pleura, berlapis dua, di antara keduanya
    terdapat cairan limfe. Dalam paru-paru terdapat alveolus yang merupakan
    tempat terjadinya pertukan O2 dan CO2.
           Di dalam paru-paru ini bronkiolus bercabang-cabang lagi membentuk
    gelembung udara yang disebut alveolus. Alveolus ini memiliki dinding yang
    elatis dan banyak mengandung kapiler darah, di situlah terjadinya
    pertukaran oksigen secara difusi , oksigen yang akan diikat sedangkan
    karbondioksida dan air akan dilepaskan.
           Paru-paru ini dibungkus oleh selaput pembungkus yang disebut
    pleura, yang tersusun rangkap dua. Di antara kedua pleura terdapat cairan
    limfe, yang mempunyai peranan untuk melindungi paru-paru dari gesekan
    ketika mengembang dan mengempis.
4. Mekanisme
 Pernapasan.
1. Fase Pernapasan
    Aktivitas pernapasan dapat berlangsung melalui dua fase, yaitu inspirasi
    (inhalasi) dan ekspirasi (ekshalasi). Kedua fase pernapasan tersebut selalu
    melibatkan pergerakan tulang-tulang rusuk dan diafragma.

   Inspirasi
          Pada fase ini terjadi proses pengambilan udara dari atmosfer
    (lingkungan), sehingga masuk ke dalam paru-paru. Bila otot diafragma
    berkontraksi, maka diafragmanya akan mendatar. Pada waktu inspirasi
    maksimum, otot antartulang rusuk berkontraksi sehingga tulang rusuk
    terangkat. Keadaan ini akan menambah besarnya rongga dada.
    Mendatarnya diafragma dan terangkatnya tulang rusuk menyebabkan
    rongga dada bertambah besar, diikuti mengembangnya paru-paru,
    sehingga udara luar masuk melalui hidung.

   Ekspirasi
          Proses ini terjai ketika kita menghembuskan udara. Pada fase ini
    terjadi proses pengeluaran karbon dioksida dari paru-paru.
    Otot-otot dinding diafragma mengendur dan ditekan ke atas oleh organ
    perut, tulang rusuk kembali ke posisi semula, sehingga rongga dada
    menyempit. Akibatnya udara dapat terdorong keluar paru-paru.
2. Mekanisme pernapasan
   Berdasarkan tempat terjadinya, pernapasan dibagi menjadi dua
   macam, yaitu :

   Pernapasan Dada
    Pernapasan dada terjadi karena gerakan otot antartulang rusuk,
    akibatrnya tulang rusuk naik dan volume rongga dada akan lebih
    kecil dari pada udara luar. Karena adanya perbedaan tekanan udara
    ini, maka udara luar masuk ke dalam rongga dada, sehingga terjadi
    proses inspirasi. Dan proses sebaliknya disebut ekspirasi.
                  Perhatikan urutan pernapasan dada :
                                  Proses Inspirasi
    Tulang rusuk berkontraksi            tulang rusuk naik
    volume rongga dada membesar,berakibat tekanan udaranya
    kecil        udara masuk

                       Proses ekspirasi
    Tulang rusuk mengendur          tulang rusuk turun    volume
    rongga dada mengecil, sehingga tekanan udaranya besar
    udara keluar
   Pernapasan Perut
    Pernapasan perut diawali dengan kontraksi otot
    diafragma. Bila otot diafragma berkontraksi, diafragma
    mendatar, rongga dada membesar, tekanan dalam
    paru-paru kecil, akibatnya udara masuk.
    Berikut urutan pernapasan perut :
                    Proses Inspirasi
    Otot-otot mengendur           otot diafragma mendatar
    volume rongga dada membesar               tekanan
    udara rongga dada lebih kecil          udara masuk

                   Proses Ekspirasi
    Otot-otot berkontraksi     volume rongga dada
    mengecil        tekanan udara rongga dada lebih
    besar         udara keluar
    3. Pertukaran Gas (O2 dan CO2) didalam Tubuh

   Pertukaran Gas di Paru-paru
    Difusi O2 dari paru-paru ke darah dan dari darah ke jaringan
    disebabkan oleh adanya perbedaan tekanan oksigen.
                      Hb4 + 4O2        4HbO2


   Pertukaran Gas di Jaringan
    Reaksi yang terjadi di dalam jaringan sebagai berikut.
                    4HbO2         Hb4 + 4O2

    Difusi CO2 dari jaringan ke darah dan ke paru-paru disebabkan oleh
    adanya perbedaan tekanan CO2.
                        karbonat anhidrase
         CO2 + H2O                         H2CO3       H+ + HCO3-

    CO2 yang dapat terlarut dalam darah akan membentuk H2CO3.
 5. Faktor-faktor yang
mempengaruhi frekuensi
      pernapasan
    Proses inspirasi dan ekskresi berlangsung sebanyak 15
sampai 18 kali per menit, tetapi frekuensi ini pada setiap orang
berbeda-beda, karena beberapa faktor. Berikut faktor-faktor yang
mempengaruhi frekuensi pernapasan :

1. Umur
     Untuk mengetahui pengaruh umur terhaap frekuensi
pernapasan, kita dapat membandingkan pernapasan orang tua
dengan anak-anak.Frekuensi pernapasan pada anak-anak lebih
banyak dari pada orang tua, karena anak-anak masih dalam usia
pertumbuhan sehingga banyak memerlukan energi. Oleh sebab itu,
kebutuhannya akan oksigen lebih banyak dari pada orang tua.

2. Jenis Kelamin
      Frekuensi pernapasan laki-laki lebih cepat dari pada
perempuan. Hal ini terjadi karena laki-laki pada umumnya
beraktivitas lebih banyak ari pada perempuan. Jadi, semakin
banyak energi yang dibutuhkan, semakin banyak pula oksigen yang
diambil dari udara.
3. Suhu Tubuh
      Hubungan antara suhu tubuh dengan pernapasan, yaitu bahwa
antara kebutuhan energi dengan suhu tubuh berbanding luru. Artinya
semakin tinggi suhu tubuh, maka kebutuhan energi semakin banyak pula
sehingga kebutuhan oksigen semakin banyak.

4. Posisi Tubuh
       Posisi tubuh seseorang akan berpengaruh terhadap kebutuhan
energinya. Coba kita bandingkan posisi orang yang berbaring dengan orang
yang berdiri. Tentunya orang yang berdiri lebih banyak frekuensi
pengambilan oksigen karena otot yang berkontraksi banyak sehingga
memerlukan energi yang lebih banyak pula.

5. Kegiatan Tubuh
       Untuk membuktikan pengaruh faktor ini, kita dapat melakukan
perbandingan antara orang bekerja dengan orang yang tidak bekerja. Jika
diperhatikan, orang yang melakukan aktivitas kerja membutuhkan energi.
Berarti semakin berat kerjanya maka semakin banyak kebutuhan energinya,
sehingga frekuensi pernapasannya semakin cepat.
6. Volume Udara
   Pernapasan
           Kita telah mengetahui bahwa frekuensi seseorang dengan orang lain berbeda-
    beda. Begitu pula volume udara pernapasan antara orang satu dengan lainnya juga
    tidak sama. Hal ini di tentukan oleh ukuran paru-paru, kekuatan bernapas, dan cara
    bernapas. Untuk mengatur volume udara yang keluar masuk paru-paru digunakan
    suatu alat yang disebut spirometer.

   Dalam keadaan biasa, udara yang diisap dan dikeluarkan manusia sebanyak 500 cc.
    Sebenarnya tidak seluruh udara sampai ke dalam paru-paru, tetapi hanya 350 cc
    saja, sedangkan 150 cc hanya sampai pada saluran pernapasan.

   Setelah kita menghirup udara pernapasan biasa sebanyak 500 cc tersebut, ternyata
    kita masih bisa dapat menarik napas sedalam-dalamnya, sebanyak 1500 cc yang
    disebut dengan udara komplementer. Ketika kita mengeluarkan napas biasa
    sebanyak 500 cc, setelah itu ternyata dapat menghembuskan napas sekuat-kuatnya,
    sebanyak 1500 cc yang disebut udara suplementer (cadangan). Walaupun sudah
    menghembuskan napas sekuat-kuatnya, ternyata masih ada udara yang tertinggal
    dalam paru-paru sebanyak 1000 cc. Udara ini disebut udara residu.

   Jika kita menghirup udara sedalam-dalamnya kemudian menghembuskan sekuat-
    kuatnya, maka volume udara yang masuk keluar sebesar 3500 cc dan disebut
    kapasitas vital paru-paru. Adapun jumlah yang berada dalam paru-paru sebanyak
    4500 cc disebut kapasitas total paru-paru.

   Di dalam rongga hidung, faring, laring, trakea, bronkus, dan bronkiolus terdapat
    ruangan udara yang bervolume kira-kira 150 cc. Ruangan ini tidak berhubungan
    langsung dengan alveoli sehingga tidak turut dalam proses respirasi eksternal.
    Ruangan ini disebut dead space. Volume tidal (pernapasan) 500 cc tidak semua
    mencapai alveoli. Udara yang masuk alveoli sebanyak 350 cc.
7. Pernapasan Buatan
   Seseorang bisa mengalami kesulitan bernapas., misalnya karena pingsan atau
   tenggelam. Untuk itu diperlukan napas buatan untuk membantu orang tersebut
   bernapas. Langkah-langkah memberikan napas buatan adalah sebagai berikut :

1. Membuka Jalan Napas ke Paru-Paru.
           Langkah ini dilakukan dengan cara antara lain membaringkan korban dengan
   posisi terlentang, leher korban diangkat ke atas sehingga dagu korban tegak ke atas.

2. Melakukan Pernapasan buatan.
            Langkah ini dilakukan dengan cara, antara lain :
a. Menarik napas dalam-dalam kemudian letakkan mulut pada mulut korban.
    Pijitlah hidung korban kemudian hembuskan udara sejuat-kuatnya ke mulut korban.
b. Apabila mulut korban tertutup rapat maka hembuskan udara lewat hidung dan
    usahakan mulut tidak terbuka.
c. Lakukanlah langkah tersebut di atas kira-kira 12 kali per menit.

3. Melakukan Pemijatan Jantung.
           Langkah ini bertujuan untuk melancarkan peredaran darah. Usaha ini
    dilakukan dengan cara berikut :
a. Letakan pangkal telapak tangan di dada korban.
b. Tekanlah dada korban ke bawah.
c. Lakukanlah dengan frekuensi 60 kali per menit.
8. Gangguan pada Sistem
      Pernapasan
    Faringitis, radang pada faring yang disebabkan oleh infeksi bakteri atau virus.
    Dipteri, infeksi saluran pernapasan atas yang disebabkan oleh infeksi bakteri
     Corynebacterium diphterial.
    Tuberculosis (TBC), infeksi paru-paru yang disebabkan oleh Mycobacterium
     tuberculosa.
    Peradangan saluran pernapasan, terdiri atas ;
    a. Rinitis, radang pada rongga hidung.yang menyebabkan bengkak dan mengeluarkan lendir
       akibat alergi.
    b. Bronkhitis, radang pada bronkhus (radang selaput lendir dari trakea dan saluran bronchial).
    c. Pleuritis, radang pada selaput pembungkus paru-paru.
    d. Laringitis, raang pada laring.
    Polip dan Amandel, pembengkakan kelenjar limfa di daerah hidung dan di
     daerah amandel yang menyebabkan penyempitan saluran pernapasan.
    Tonsilitis, terjadi karena tosil (jaringan limfa dan faring) meradang dan
     membesar.
    Fibrosis, penyakit yang terjadi karena adanya jaringan ikat fibrosa di dalam paru-
     paru, menyebabkan menurunnya elastisitas paru-paru.
    Bronkhitis, peradangan pada trakea dan bronkus hingga dapat menyebabkan
     demam dan batuk-batuk.
    Asma, gangguan pernapasan dengan gejala susah bernapas, bunyi mendesak,
     dan batuk-batuk yang disebabkan alergi, psikis ataupun karena penyakit menurun.
    Emfisema, kelainan perluasan alveoli secara berlebihan hingga
     menggelembungkan paru-paru.
    Asfiksi, gangguan pengangkutan oksigen ke jaringan ataupun gangguan
     penggunaan oksigen oleh jaringan.
Terima Kasih Atas
 Perhatiannya 

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:84
posted:9/26/2011
language:Indonesian
pages:31