Documents
Resources
Learning Center
Upload
Plans & pricing Sign in
Sign Out

Pengertian Etos Kerja

VIEWS: 1,561 PAGES: 33

  • pg 1
									                               Pengertian Etos Kerja
Apa pengertian etos kerja? Kamus Wikipedia menyebutkan bahwa etos berasal dari bahasa
Yunani; akar katanya adalah ethikos, yang berarti moral atau menunjukkan karakter moral.
Dalam bahasa Yunani kuno dan modern, etos punya arti sebagai keberadaan diri, jiwa, dan
pikiran yang membentuk seseorang. Pada Webster's New Word Dictionary, 3rd College Edition,
etos didefinisikan sebagai kecenderungan atau karakter; sikap, kebiasaan, keyakinan yang
berbeda dari individu atau kelompok. Bahkan dapat dikatakan bahwa etos pada dasarnya adalah
tentang etika.

Etika tentu bukan hanya dimiliki bangsa tertentu. Masyarakat dan bangsa apapun mempunyai
etika; ini merupakan nilai-nilai universal. Nilai-nilai etika yang dikaitkan dengan etos kerja
seperti rajin, bekerja, keras, berdisplin tinggi, menahan diri, ulet, tekun dan nilai-nilai etika
lainnya bisa juga ditemukan pada masyarakat dan bangsa lain. Kerajinan, gotong royong, saling
membantu, bersikap sopan misalnya masih ditemukan dalam masyarakat kita. Perbedaannya
adalah bahwa pada bangsa tertentu nilai-nilai etis tertentu menonjol sedangkan pada bangsa lain
tidak.

Dalam perjalanan waktu, nilai-nilai etis tertentu, yang tadinya tidak menonjol atau biasa-biasa
saja bisa menjadi karakter yang menonjol pada masyarakat atau bangsa tertentu. Muncullah etos
kerja Miyamoto Musashi, etos kerja Jerman, etos kerja Barat, etos kerja Korea Selatan dan etos
kerja bangsa-bangsa maju lainnya. Bahkan prinsip yang sama bisa ditemukan pada pada etos
kerja yang berbeda sekalipun pengertian etos kerja relatif sama. Sebut saja misalnya berdisplin,
bekerja keras, berhemat, dan menabung; nilai-nilai ini ditemukan dalam etos kerja Korea Selatan
dan etos kerja Jerman atau etos kerja Barat.

Bila ditelusuri lebih dalam, etos kerja adalah respon yang dilakukan oleh seseorang, kelompok,
atau masyarakat terhadap kehidupan sesuai dengan keyakinannya masing-masing. Setiap
keyakinan mempunyai sistem nilai dan setiap orang yang menerima keyakinan tertentu berusaha
untuk bertindak sesuai dengan keyakinannya. Bila pengertian etos kerja re-definisikan, etos
kerja adalah respon yang unik dari seseorang atau kelompok atau masyarakat terhadap
kehidupan; respon atau tindakan yang muncul dari keyakinan yang diterima dan respon
itu menjadi kebiasaan atau karakter pada diri seseorang atau kelompok atau masyarakat.
Dengan kata lain, etika kerja merupakan produk dari sistem kepercayaan yang diterima
seseorang atau kelompok atau masyarakat.

Bagaimana etos kerja putra-putri Indonesia? Di republik ini, Jansen Sinamo menyajikan 8 Etos
Kerja Professional dengan ciri-ciri sebagai berikut:

   1.   Kerja adalah Rahmat
   2.   Kerja adalah Amanah
   3.   Kerja adalah Panggilan
   4.   Kerja adalah Aktualisasi
   5.   Kerja adalah Ibadah
   6.   Kerja adalah Seni
   7.   Kerja adalah Kehormatan
   8. Kerja adalah Pelayanan

Namun demikian, di website ini disodorkan etos kerja baru, yaitu etos kerja Pancasila, untuk
membedakannya dari istilah-istilah yang ada.

Renungan:

   1.   Menurut Anda, apa pengertian etos kerja?
   2.   Apa ciri-ciri etos kerja masyarakat dan bangsa kita secara umum?
   3.   Bagaimana mengubah etos kerja itu menjadi etos kerja yang lebih baik?
   4.   Apa yang akan Anda lakukan untuk memperbaiki etos kerja Anda?

http://www.putra-putri-indonesia.com/pengertian-etos-kerja.html

Hakekat Pembinaan

     Pembinaan merupakan suatu tanggung jawab pimpinan yang harus diberikan kepada
bawahan secara kontinyu agar bawahan selalu merasa ada perhatian dari pimpinan dalam
hubungan kerja. Memberi pembinaan kepada bawahan sama halnya dengan memberi motivasi
kerja. Seorang manajer atau pimpinan harus mampu memberi dorongan kepada bawahannya agar
dapat bekerja sesuai dengan kebijakan dan rencana kerja yang telah digariskan.
     Bimbingan (direction) berarti memelihara, menjaga dan memajukan organisasi melalui
setiap personal, baik secara struktural maupun fungsional, agar kegiatannya tidak terlepas dari
usaha mencapai tujuan.
     Berdasarkan pengertian diatas bahwa bimbingan atau pembinaan adalah merupakan salah
satu usaha untuk menumbuh kembangkan organisasi. Usaha tersebut melalui setiap personal,
agar setiap kegiatan yang dilakukan dapat mencapai tujuan.
     Dalam bimbingan tersebut juga memberi dorongan agar personal organisasi dapat bekerja
lebih kreatif dan berdedikasi tinggi. Apabila setiap personal struktural maupun fungsional dapat
menjalankan fungsinya dengan baik berarti pembinaan yang diberikan oleh pimpinan dapat
dikatakan berhasil. “Pembinaan adalah usaha, tindakan, dan kegiatan yang dilakukan secara
berdaya guna untuk memperoleh hasil yang baik”. Untuk memperoleh hasil kerja yang
berkualitas, diperlukan peran serta dari pimpinan. Pimpinan harus mampu memberi pembinaan
kepada bawahan agar dapat bekerja secara berdaya guna dan berhasil guna, sehingga pekerjaan
yang dihasilkan mempunyai kualitas.
     “Pembinaan terhadap staf tidak hanya pada anggota yang baru saja, tetapi juga kepada
seluruh     staf”.   Pembinaan    harus   dilakukan   secara   terus-menerus   dan    secara
sistematis/programatis. Berbagai macam perkembangan, yaitu perkembangan ilmu pengetahuan,
perkembangan tekhnologi, maupun perkembangan masyarakat dan kebijakan-kebijakan baru
menjadikan pembinaan dari atasan sangat penting.
     Salah satu indikasi keberhasilan sekolah adalah keterkaitan yang tinggi kepala sekolah
terhadap perbaikan pengajaran. Kepala sekolah sesuai dengan jenjang sekolah yang dipimpinnya
perlu memahami program pengajaran masing-masing.
          “Membina guru-guru ialah mengembangkan profesi, termasuk kepribadian mereka
sebagai guru”. Untuk meningkatkan profesionalisme dan kepribadian guru, sangat perlu adanya
pembinaan dari atasan. Dengan memberi pembinaan, diharapkan para guru lebih bertanggung
jawab pada tugas yang di emban.
          Pembinaan kepada guru-guru dilakukan oleh kepala sekolah selaku supervisor. Dengan
demikian seorang kepala sekolah berkewajiban untuk selalu membina, dalam arti berusaha untuk
meningkatkan pelaksanaan penyelenggaraan pendidikan yang lebih baik. Dari empat macam
pembinaan yang harus dilakukan oleh kepala sekolah, penulis akan mengemukakan tentang
pembinaan program pengajaran. Ada empat fase proses pembinaan program pengajaran: (1).
Penilaian sasaran program (2). Merencanakan perbaikan program, dan (3). Melaksanakan
perubahan program (4). Evaluasi perubahan program.


Hakekat Kompetensi

          Dalam suatu profesi, kemampuan melaksanakan tugas dari keahlian yang menjadi
tanggung jawabnya merupakan syarat utama. Kemampuan dasar itulah yang dinamakan
kompetensi.
          “Kompetensi adalah kewenangan (kekuasaan) untuk menentukan (memutuskan)
sesuatu”. Seseorang yang melaksanakan suatu pekerjaan mempunyai kewenangan untuk
membuat sebuah keputusan. Pada pekerjaan profesi kewenangan untuk mengambil keputusan
dimiliki oleh orang yang mempunyai profesi tersebut. Setiap profesi harus diikuti oleh
kompetensi bagi pemiliknya, sehingga pekerjaan tersebut mempunyai arti dalam penerapannya.
       Sahertian mengatakan bahwa “Kompetensi adalah kemampuan melaksanakan sesuatu
yang diperoleh melalui pendidikan dan latihan”. Dari pendapat tersebut dapat diartikan bahwa
kompetensi merupakan penguasaan dalam suatu bidang ilmu yang diperoleh dengan mengikuti
pendidikan dan latihan. Semakin tinggi tingkat pendidikan yang ditempuh seseorang, dan
semakin sering berlatih, akan semakin tinggi seseorang sangat membantu dalam melaksanakan
tugasnya. Sahertian mengemukakan bahwa guru yang kompeten harus mampu mengembangkan
tiga aspek kompetensi pada dirinya, yaitu: (a). Kompetensi pribadi (b). Kompetensi profesional,
dan (c). Kompetensi sosial. Selain pendapat diatas, pendapat lain tentang kompetensi
dikemukakan oleh Houston sebagaimana berikut:
Seseorang yang dikatakan kompeten dibidang tertentu adalah seseorang yang menguasai
kecakapan kerja atau keahlian selaras dengan tuntutan bidang kerja yang bersangkutan, dan
mempunyai wewenang dalam pelayanan sosial dimasyarakatnya, yang secara kompeten orang
tersebut mampu bekerja dibidangnya secara efektif dan efisien.
       Dari pendapat diatas dapat dimengerti bahwa kompetensi adalah kemampuan seseorang
dalam penguasaan pekerjaan yang menjadi keahliannya. Kemampuan tersebut diakui oleh
sesama profesinya dan masyarakat, karena seseorang yang mempunyai kompetensi dalam suatu
bidang pekerjaan diharapkan mampu bekerja dengan berdaya guna dan berhasil guna.
        Selain pendapat diatas, ada pendapat yang lebih merinci tentang kompetensi yang
dikatakan oleh Cooper dalam bukunya The Teacher As A Decision Maker, mencakup: (a).
Memiliki pengetahuan tentang belajar dan tingkah laku manusia (peserta didik). (b). Memiliki
sikap yang tepat terhadap diri sendiri, sekolah, peserta didik, teman sejawat dan mata pelajaran
yang dibina. (c). Menguasai mata pelajaran yang akan diajarkan. (d). Memiliki keterampilan
teknis dalam mengajar, dan strategi belajar mengajar.
       Sedangkan Zamroni berpendapat “bahwa guru memerlukan tiga kemampuan dasar, yakni
Didaktik, Coaching dan Socratic. Dari sini sudah jelas bahwa sudah saatnya posisi mengajar
diletakkan kembali pada profesi yang tepat untuk pembinaan dan pengembangan profesional
kemampuan guru, yang diperlukan bukannya juknis, juklak dan intruksi serta berbagai pedoman
yang cenderung mematikan kreatifitas guru.
       Agar kompetensi (kemampuan) guru memperoleh kemampuan dan peningkatan, maka
guru harus aktif dalam program-program pelatihan guru, baik didalam maupun diluar sekolah.
Selain itu guru juga harus mengembangkan kompetensinya melalui perpustakaan-perpustakaan.
Dengan demikian guru tidak akan ketinggalan dalam menyerap informasi baru tentang
pengajaran. Supaya kompetensi profesional benar-benar dikuasai oleh guru, maka seorang guru
harus memiliki motivasi kompetensi dalam dirinya. “Motivasi kompetensi adalah dorongan
untuk mencapai keunggulan kerja, meningkatkan keterampilan pemecahan masalah, dan
berusaha keras untuk inovatif”.
       Sedangkan menurut Raka Joni Dalam suyatno mengemukakan ada tiga dimensi umum
yang menjadi kompetensi tenaga pendidikan: (a). Kompetensi personal. (b). Kompetensi
profesional. (c). Kompetensi kemasyarakatan. Dari pendapat tersebut dapat dipahami bahwa
seorang guru harus merupakan sosok yang berkualifikasi berbagai kemampuan yang akan
tercermin pada karakter kepribadiannya.


HUBUNGAN PEMBINAAN, KOMPETENSI DENGAN
KEDISIPLINAN GURU SMP NEGERI KABUPATEN
KUTAI TIMUR

                              PROPOSAL THESIS
          HUBUNGAN PEMBINAAN, KOMPETENSI
         DENGAN KEDISIPLINAN GURU SMP NEGERI
               KABUPATEN KUTAI TIMUR


                                    Tugas Individu
                            Mata Kuliah Metode Penelitian
                          (Dosen Pengampu : Dr. Susilo, M.Pd)
                                            Oleh :
                                     Taufik Hidayat
                                   NIM : 0805136149
                          Program Studi : Manajemen Pendidikan




             PROGRAM PASCA SARJANA KEPENDIDIKAN
                  UNIVERSITAS MULAWARMAN
                         SAMARINDA
                            2008




                                   KATA PENGANTAR



       Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT, karena atas berkat Rahmat Hidayah-
Nya lah hingga proposal ini dapat penulis selesaikan tepat pada waktunya.
       Proposal ini adalah salah satu syarat untuk membuat Thesis dan sebagai syarat utama
dalam menyelesaikan perkuliahan program pasca sarjana (S2). Dalam penulisan proposal ini
penulis sampaikan terima kasih kepada yang terhormat Bapak dan Ibu pembimbing yang telah
mencurahkan segenap tenaga dan waktu untuk memberikan bimbingan kepada penulis dalam
menyusun proposal ini .
        Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam penulisan proposal ini masih jauh dari
sempurna, hal ini karena keterbatasan kemampuan penulis dalam penyusunan proposal ini, oleh
karena itu kritik dan saran sangat penulis harapkan dalam penyempurnaan penyusunan proposal
ini.
        Kepada rekan-rekan mahasiswa pasca sarjana kependidikan yang lain, penulis juga
berharap agar saran dan kritik membangunnya dapat membantu saya dalam proses
penyempurnaan proposal ini.
        Atas kritik dan saran Bapak dan ibu pembimbing serta rekan-rekan mahasiswa pasca
sarjana kependidikan, saya mengucapkan banyak terima kasih. Semoga hal ini menjadi amal
jariah bagi bapak/ibu pembimbing serta rekan-rekan mahasiswa sekalian, Amin.




                                                 Samarinda, 17 Mei 2008
                                                         Penulis




                                      DAFTAR ISI



                                                                                        Halaman

KATA PENGANTAR ………………………………………………………                                            i
DAFTAR ISI …………………………………………………………………                                           ii
BAB I         PENDAHULUAN
              A. Latar Belakang Masalah …………………………………..                             1
              B. Identifikasi Masalah ………………………………………                               3
              C. Pembatasan Masalah ………………………………………                                 3
              D. Perumusan Masalah………………………………………..                                 4
              E. Kegunaan Penelitian ………………………………………                                4
BAB II          KERANGKA TEORITIS DAN HIPOTESIS
                A. Diskripsi Teoritis …………………………………………..                            5
                   1. Hakekat Kedisiplinan ……………………………………                        5
                   2. Hakekat Pembinaan ……………………………………..                         6
                   3. Hakekat Rencana Kerja …………………………………..                     8
                   4. Hakekat Kompetensi …………………………………….                         9
                B. Penelitian yang Relevan …………………………………..                       12
                C. Kerangka Berfikir …………………………………………                           12
                D. Pengajuan Hipotesis ………………………………………                          15
BAB III         DESAIN PENELITIAN
                A. Tujuan Penelitian ………………………………………….                          16
                B. Tempat Dan Waktu Penelitian ……………………………….                            16
                C. Metode Penelitian …………………………………………                           16
                D. Teknik Pengambilan Sampel ………………………………                        17
                E. Instrumen Penelitian ………………………………………                          18
                F. Teknik Pengumpulan Data ………………………………..                       23
                G. Teknik Analisa Data ………………………………………                          23
                H. Hipotesis Statistik …………………………………………                         25
DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………………                                          26
                                           BAB I
                                      PENDAHULUAN




A. Latar Belakang Masalah

         Pendidikan sebagai ujung tombak kemajuan bangsa harus mendapat perhatian yang serius
dari semua pihak, terutama pihak-pihak yang berkecimpung dalam bidang pendidikan. Kemajuan
pendidikan merupakan cerminan kemajuan suatu bangsa dan negara.
         Melalui pendidikan akan dicetak manusia-manusia Indonesia yang berkualitas, manusia
Indonesia yang berbudi luhur dan berilmu pengetahuan yang tinggi. Kualitas pendidikan yang
baik akan menghasilkan sumber daya manusia yang baik pula. Dalam bidang pendidikan
diharapkan munculnya sumber daya manusia yang mempunyai sumber daya tinggi, bertanggung
jawab, dan mengerti tugasnya.
       Pendidikan nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan        mengembangkan
manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang
Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani
dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan
kebangsaan.1
        Mencerdaskan kehidupan bangsa menjadi tanggung jawab negara, dan pelaksanaan
diserahkan pada lembaga-lembaga pendidikan, baik formalmaupun non formal. Lembaga-
lembaga pendidikan tersebut, dalam menyelenggarakan pendidikan tetap mengacu pada aturan-
aturan pemerintah pusat      sebagai konsekuensi dari sistem sentralisasi. Seiring mulai
diberlakukannya sistem otonomi daerah yang imbasnya juga akan dirasakan dalam bidang
pendidikan. Sekolah diberi kesempatan untuk mengatur rumah tangganya sendiri.
       Dengan pemberian otonomi sekolah, semua personal yang terlibat dalam pendidikan
terutama guru sebagai pelaksana pendidikan, harus kreatif dan bertanggung jawab dalam
melaksanakan tuganya, terutama lebih meningkatkan kedisiplinan. Disiplin merupakan jalan
menuju sukses.
       Berdasarkan pengamatan penulis, di lapangan masih banyak ditemukan guru yang
melaksanakan tugasnya dengan disiplin yang rendah. Wujud dari ketidak disiplinan guru antara
lain: guru sering tidak hadir di sekolah, guru datang terlambat dan pulangnya lebih cepat, guru
tidak disiplin dalam memberi nilai, juga tidak disiplin dalam penyusunan perangkat
pembelajaran.
       Seperti yang diungkapkan Kepala Dinas Diknas Kaltim Asnawi, dalam Arah Pendidikan
kaltim Belum Jelas. Mugni menekankan bahwa belum ada kesatuan sikap mengenai penindakan
terhadap guru-guru yang tidak melaksanakan tugas dengan baik. Bahkan Mugni berhadapan
dengan pengadilan karena akan membenahi disiplin guru.
       Dari uraian diatas menunjukan bahwa disiplin guru dalam melaksanakn tugasnya masih
rendah. Sebagai seorang guru yang mempunyai tugas mendidik siswa dalam rangka
mencerdaskan kehidupan bangsa seharusnyamempunyai kesadaran berdisiplin yang tinggi untuk
memikul tugas mulia tersebut.
       Kesadaran berdisiplin yang rendah merupakan salah satu bukti pelanggaran kedinasan.
Untuk mencegah pelanggaran tersebut pihak atasan harus mengontrol, dan yang paling penting
adalah contoh kepada bawahan, sehingga perilaku disiplin dapat menjadi budaya yang patut
dibanggakan.
        Banyak hal yang dapat menyebabkan guru menjadi tidak disiplin. Antara lain
kesejahteraan guru yang kurang memadai. Guru lebih mengutamakan mencari pekerjaan
sampingan untuk mencukupi kebutuhan sehari-harinya. Sehingga ia melaksanakan kewajibannya
sebagai guru hanya sekedarnya saja. Selain itu bisa juga karena guru tidak siap atau kehilangan
kewibawaannya di depan anak didik, sehingga guru menjadi malas untuk masuk kelas.
Ketidakdisiplinan guru dapat berakibat ke siswa, sehingga siswa juga ikut tidak disiplin.
       Penerapan disiplin nasional secara tuntas dan konsekuen haruslah dilaksanakan di dalam
setiap lingkungan pendidikan, baik formal maupun non formal. Pelaksanaan displin di
lingkungan formal mencakup pendidikan taman kanak-kanak sampai dengan perguruan tinggi.


B. Identifikasi Masalah

        Sesuai dengan uraian yang telah penulis paparkan pada latar belakang, dapat diketahui
bahwa masalah utama yang sangat mendesak untuk dikaji adalah masalah kedisiplinan guru.
Dari kedisiplinan guru dapat dilihat sumber daya manusia pendidikan yang ada. Sepandai-
pandainya seorang guru, kalau ia tidak disiplin, dapat dipastikan kalau program kerja yang telah
disusun tidak dapat dilaksanakan sepenuhnya. Apabila program kerja tidak dapat dilaksanakan
berarti tujuan pendidikan tidak dapat dicapai.
       Kedisiplinan guru tidak dapat dipisahkan dengan pembinaan dari kepala sekolah. Antara
kepala sekolah dan guru harus ada kata sepakat untuk bersikap disiplin. Dari masalah-masalah di
atas, dapat diidentifikasi sebagai berikut: Apakah guru sudah mempunyai kedisplinan yang tinggi
untuk melaksanakan tugasnya? Mungkinkah sikap disiplin dapat seiring dengan pengembangan
sumber daya manusia? Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi kedisiplinan guru? Bagaimana
meningkatkan kedisplinan guru? Apakah pengaruh kedisiplinan guru bagi siswa? Hambatan-
hambatan apa yang disebabkan karena guru tidak disiplin? Sebarapa tinggi disiplin guru
menghambat dalam pengembangan kompetensinya? Seberapa jauh kepala sekolah membina
disiplin guru?.
C. Pembatasan Masalah

       Dari sejumlah identifikasi masalah di atas, penulis membatasi masalah pada: pembinaan
dari kepala sekolah pada rencana kerja guru, kompetensi guru, dengan kedisiplinan guru SMP
Negeri di Kabupaten Kutai Timur.
       Pembahasan ini penulis lakukan untuk memperoleh gambaran yang jelas dan terperinci
dari masalah-masalah tersebut.




D. Perumusan Masalah

       Berdasarkan identifikasi masalah di atas, perumusan masalah yang diperoleh adalah:
1. Apakah terdapat hubungan pembinaan dengan kedisiplinan guru SMP Negeri di Kabupaten
   Kutai Timur.
2. Apakan terdapat hubungan antara kompetensi guru dengan kedisiplinan guru       SMP Negeri
   di Kabupaten Kutai Timur.
3. Apakah terdapat hubungan antara pembinaan dari kepala sekolah pada rencana kerja guru,
   kompetensi guru, dengan kedisiplinan guru SMP Negeri di Kabupaten Kutai Timur.


E. Kegunaan Penelitian

1. Secara Teoritis
   Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi sumbangan bagi perkembangan ilmu
manajemen pendidikan dan bahan penelitian lebih lanjut bagi peneliti selanjutanya. Selain itu
untuk menambah wawasan keilmuan dan memberi informasi kepada semua pihak yang
berkecimpung dalam bidang pendidikan.

2. Secara Praktis
  Selain itu hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna untuk:
       a. Motivasi para guru untuk meningkatkan keprofesionalannya dalam
            menjalankan tugas mulianya.
       b. Memberi masukan kepada para guru dalam meningkatkan kinerjanya
            dengan berdisiplin.
       c. Memberi masukan kepada kepala sekolah untuk meningkatkan kinerjanya
            di lingkungan sekolah yang dipimpinnya.
       d. Memberi masukan kepada para pejabat yang berwenang di lingkungan
            diknas untuk meningkatkan pengawasannya tentang kedisiplinan guru.




                                             BAB II
                        KERANGKA TEORITIS DAN HIPOTESIS




A. Diskripsi Teoritis

1. Hakekat Kedisiplinan
     Menurut Atmosudirjo, dikatakan disiplin adalah: (1). Sikap mental tertentu yang
merupakan sikap taat dan tertib. (2). Suatu pengetahuan tingkat tinggi tentang sistem aturan-
aturan perilaku. (3). Suatu sikap yang secara wajar menunjukan kesanggupan hati-hati.
           Berdasarkan pengertian diatas, konsep disiplin meliputi dua aspek, yaitu sikap dan
perilaku yang keduanya saling berkaitan. Sikap merupakan kesanggupan jiwa yang timbulnya
didasari oleh pengetahuan emosinya, dapat menumbuhkan kesadaran untuk mematuhi tata tertib
atau peraturan yang ada. Tanpa didasari oleh pengetahuan tentang norma-norma dan peraturan-
peraturan berlaku disiplin yang dilakukan akan menjadi kaku. Perilaku disiplin merupakan
tindakan nyata atau perbuatan yang timbul sebagai akibat adanya kesadaran kepatuhan pada
dirinya.
           Dalam Ensiklopedi Pendidikan, disiplin mempunyai beberapa arti, satu diantaranya
“suatu tingkat tata tertib tertentu untuk mencapai kondisi yang lebih baik guna memenuhi fungsi
pendidikan. Pengertian disiplin selalu berkaitan pada kepatuhan dalam menjalankan tata tertib,
norma atau aturan-aturan yang berlaku.
     “Disiplin juga merupakan usaha untuk menanamkan kesadaran pada setiap personel
tentang tugas dan tanggung jawab, agar menjadi orang yang bersedia dan mampu memikul
tanggung jawab atas semua pekerjaannya”.
     “Disiplin adalah penurutan terhadap suatu peraturan dengan kesadaran sendiri untuk
terciptanya tujuan peraturan ini”. Setiap pegawai dituntut mentaati peraturan yang telah
ditentukan oleh lembaga atau instansi tempat pegawai tersebut bekerja. Rasa tanggung jawab
yang tinggi akan menimbulkan kedisiplinan yang didasari oleh kesadaran untuk melaksanakan
tugasnya.
     Peningkatan disiplin kerja guru dapat diterapkan dengan melihat faktor kondisional dan
situasional sekolah dan guru itu sendiri. Sehingga kebijakan-kebijakan yang ada dapat berjalan
dengan baik dan bisa diterima oleh semua pihak.
     Pembinaan terhadap disiplin kerja guru ini dapat juga dilakukan dengan menerapkan
langkah-langkah pengawasan yang dapat diterapkan dalam rangka membina disiplin kerja guru
tersebut adalah: merumuskan standar, mengadakan perbaikan jika terdapat kekurangan dan
ketidakdisiplinan.
     Selain itu pembinaan terhadap disiplin kerja guru dapat juga menggunakan pendekatan
agama. Hal ini disebabkan karena semua guru pasti beragama. Dalam setiap agama mewajibkan
kepada setiap pemeluknya untuk disiplin dalam menjalankan agamanya. Guru yang patuh pada
agamanya, dapat dipastikan dapat menjalankan tugasnya dengan disiplin yang tinggi.
       Disiplin adalah suatu sikap, perbuatan untuk selalu mentaati tata tertib. Disiplin adalah
sikap yang tercermin dalam perbuatan, tingkah laku, tingkah laku perorangan, kelompok atau
masyarakat berupa kepatuhan atau ketaatan terhadap peraturan-peraturan dan ketentuan-
ketentuan yang ditetapkan pemerintah, atau etika, norma dan kaidah yan berlaku dalam
masyarakat untuk tujuan tertentu.
     Menurut pendapat diatas bahwa disiplin merupakan cermin sikap mental dari setiap orang
atau kelompok pada peraturan atau norma dalam masyarakat untuk mencapai tujuan yang telah
ditetapkan.


2. Hakekat Pembinaan
     Pembinaan merupakan suatu tanggung jawab pimpinan yang harus diberikan kepada
bawahan secara kontinyu agar bawahan selalu merasa ada perhatian dari pimpinan dalam
hubungan kerja. Memberi pembinaan kepada bawahan sama halnya dengan memberi motivasi
kerja. Seorang manajer atau pimpinan harus mampu memberi dorongan kepada bawahannya agar
dapat bekerja sesuai dengan kebijakan dan rencana kerja yang telah digariskan.
     Bimbingan (direction) berarti memelihara, menjaga dan memajukan organisasi melalui
setiap personal, baik secara struktural maupun fungsional, agar kegiatannya tidak terlepas dari
usaha mencapai tujuan.
     Berdasarkan pengertian diatas bahwa bimbingan atau pembinaan adalah merupakan salah
satu usaha untuk menumbuh kembangkan organisasi. Usaha tersebut melalui setiap personal,
agar setiap kegiatan yang dilakukan dapat mencapai tujuan.
     Dalam bimbingan tersebut juga memberi dorongan agar personal organisasi dapat bekerja
lebih kreatif dan berdedikasi tinggi. Apabila setiap personal struktural maupun fungsional dapat
menjalankan fungsinya dengan baik berarti pembinaan yang diberikan oleh pimpinan dapat
dikatakan berhasil. “Pembinaan adalah usaha, tindakan, dan kegiatan yang dilakukan secara
berdaya guna untuk memperoleh hasil yang baik”. Untuk memperoleh hasil kerja yang
berkualitas, diperlukan peran serta dari pimpinan. Pimpinan harus mampu memberi pembinaan
kepada bawahan agar dapat bekerja secara berdaya guna dan berhasil guna, sehingga pekerjaan
yang dihasilkan mempunyai kualitas.
     “Pembinaan terhadap staf tidak hanya pada anggota yang baru saja, tetapi juga kepada
seluruh     staf”.   Pembinaan    harus   dilakukan     secara   terus-menerus    dan    secara
sistematis/programatis. Berbagai macam perkembangan, yaitu perkembangan ilmu pengetahuan,
perkembangan tekhnologi, maupun perkembangan masyarakat dan kebijakan-kebijakan baru
menjadikan pembinaan dari atasan sangat penting.
     Salah satu indikasi keberhasilan sekolah adalah keterkaitan yang tinggi kepala sekolah
terhadap perbaikan pengajaran. Kepala sekolah sesuai dengan jenjang sekolah yang dipimpinnya
perlu memahami program pengajaran masing-masing.
          “Membina guru-guru ialah mengembangkan profesi, termasuk kepribadian mereka
sebagai guru”. Untuk meningkatkan profesionalisme dan kepribadian guru, sangat perlu adanya
pembinaan dari atasan. Dengan memberi pembinaan, diharapkan para guru lebih bertanggung
jawab pada tugas yang di emban.
        Pembinaan kepada guru-guru dilakukan oleh kepala sekolah selaku supervisor. Dengan
demikian seorang kepala sekolah berkewajiban untuk selalu membina, dalam arti berusaha untuk
meningkatkan pelaksanaan penyelenggaraan pendidikan yang lebih baik. Dari empat macam
pembinaan yang harus dilakukan oleh kepala sekolah, penulis akan mengemukakan tentang
pembinaan program pengajaran. Ada empat fase proses pembinaan program pengajaran: (1).
Penilaian sasaran program (2). Merencanakan perbaikan program, dan (3). Melaksanakan
perubahan program (4). Evaluasi perubahan program.


3. Hakekat Rencana Kerja

        “Perencanaan itu dapat diartikan sebagai proses penyusunan berbagai keputusan yang
akan dilaksanakan pada masa yang akan datang untuk mencapai tujuan yan gtelah ditentukan”.
Menurut pendapat diatas bahwa perencanaan merupakan sebuah langkah awal dalam
melaksanakan sebuah kegiatan yang diawali dengan penyusunan draft blue print yang akan
diimplementasikan dalam pelaksanaan kegiatan untuk mencapai tujuan yang telah dirumuskan.
         Merencanakan pengajaran berarti merecanakan suatu sistem pengajaran. Sistem
pengajaran merupakan suatu sistem yang komplek, sehingga tugas merencanakan pengajaran
bukanlah tugas yang mudah bagi seorang guru. Ia menuntut pemilikan kemampuan berfikir yang
tinggi untuk memecahkan masalah-masalah pengajaran. Lebih dari itu ia menuntut kemampuan
yang tinggi untuk bisa mengidentifikasi unsur-unsur pengajaran dan menghubung-hubungkan
satu sama lain.
        Berdasarkan pendapat diatas, bahwa merencanakan pengajaran berarti menyusun suatu
sistem pengajaran yang memerlukan pengetahuan dan keterampilan dari guru, karena menyusun
rencana pengajaran bukanlah suatu pekerjaan yang mudah.
        Suatu keputusan terhadap apa yang akan dilaksanakan oleh seseorang untuk mencapai
tujuan tertentu sebagai yang telah ditetapkan dengan melalui prosedur atau langkah-langkah
yang sistematis dan memperhatikan prinsip-prinsip pelaksanaan tugas/pekerjaan tersebut.
       Menurut pendapat diatas bahwa untuk melaksanakan suatu pekerjaan diperlukan
pemikiran-pemikiran untuk melaksanakn pekerjaan tersebut, yang pada akhirnya diambil suatu
keputusan yang berupa langkah-langkah konkrit untuk mencapai tujuan. Seseorang dalam
melaksanakan langkah-langkah pekerjaan tersebut harus berdasarkan prinsip-prinsip yang ada.
        “Perencanaan pada hakekatnya merupakan suatu proses yang mengarah berbagai usaha
untuk mencapai tujuan”. Menurut pendapat tersebut perencanaan merupakan suatu kegiatan
yang dilakukan untuk mencapai tujuan. Suatu pekerjaan dapat berhasil dengan baik apabila
dalam pengajarannya telah ditentukan langkah-langkah atau urutan-urutan pelaksanaan pekerjaan
tersebut.
            Sedangkan Yusuf Enoch mengatakan bahwa “Perencanaan sebagai suatu proses
mempersiapkan hal-hal yang akan dikerjakan pada waktu yang akan datang untuk mencapai
suatu tujuan yang telah ditetapkan terlebih dahulu”. Dalam melaksanakan suatu kegiatan
diperlukan adanya suatu perencanaan yang merupakan perincian kegiatan apa saja yang akan
dilaksankan, berdasarkan rencana-rencana yang telah disusun.
            Kepala sekolah sebagai seorang pemimpin di sekolah harus menguasai dalam
penyusunan rencana pengajaran yang merupakan rencana guru. Dengan kemampuan yang
dimiliki, kepala sekolah dapat memberi pembinaan kepada guru dalam penyusunan program
kerja tersebut. Hamalik menjelaskan dalam menyusun rencana pengajaran terdapat dua aspek
yaitu perilaku (perfomance) dan aspek keterangan (informasi).


4. Hakekat Kompetensi

        Dalam suatu profesi, kemampuan melaksanakan tugas dari keahlian yang menjadi
tanggung jawabnya merupakan syarat utama. Kemampuan dasar itulah yang dinamakan
kompetensi.
            “Kompetensi adalah kewenangan (kekuasaan) untuk menentukan (memutuskan)
sesuatu”. Seseorang yang melaksanakan suatu pekerjaan mempunyai kewenangan untuk
membuat sebuah keputusan. Pada pekerjaan profesi kewenangan untuk mengambil keputusan
dimiliki oleh orang yang mempunyai profesi tersebut. Setiap profesi harus diikuti oleh
kompetensi bagi pemiliknya, sehingga pekerjaan tersebut mempunyai arti dalam penerapannya.
        Sahertian mengatakan bahwa “Kompetensi adalah kemampuan melaksanakan sesuatu
yang diperoleh melalui pendidikan dan latihan”. Dari pendapat tersebut dapat diartikan bahwa
kompetensi merupakan penguasaan dalam suatu bidang ilmu yang diperoleh dengan mengikuti
pendidikan dan latihan. Semakin tinggi tingkat pendidikan yang ditempuh seseorang, dan
semakin sering berlatih, akan semakin tinggi seseorang sangat membantu dalam melaksanakan
tugasnya. Sahertian mengemukakan bahwa guru yang kompeten harus mampu mengembangkan
tiga aspek kompetensi pada dirinya, yaitu: (a). Kompetensi pribadi (b). Kompetensi profesional,
dan (c). Kompetensi sosial. Selain pendapat diatas, pendapat lain tentang kompetensi
dikemukakan oleh Houston sebagaimana berikut:
Seseorang yang dikatakan kompeten dibidang tertentu adalah seseorang yang menguasai
kecakapan kerja atau keahlian selaras dengan tuntutan bidang kerja yang bersangkutan, dan
mempunyai wewenang dalam pelayanan sosial dimasyarakatnya, yang secara kompeten orang
tersebut mampu bekerja dibidangnya secara efektif dan efisien.
       Dari pendapat diatas dapat dimengerti bahwa kompetensi adalah kemampuan seseorang
dalam penguasaan pekerjaan yang menjadi keahliannya. Kemampuan tersebut diakui oleh
sesama profesinya dan masyarakat, karena seseorang yang mempunyai kompetensi dalam suatu
bidang pekerjaan diharapkan mampu bekerja dengan berdaya guna dan berhasil guna.
        Selain pendapat diatas, ada pendapat yang lebih merinci tentang kompetensi yang
dikatakan oleh Cooper dalam bukunya The Teacher As A Decision Maker, mencakup: (a).
Memiliki pengetahuan tentang belajar dan tingkah laku manusia (peserta didik). (b). Memiliki
sikap yang tepat terhadap diri sendiri, sekolah, peserta didik, teman sejawat dan mata pelajaran
yang dibina. (c). Menguasai mata pelajaran yang akan diajarkan. (d). Memiliki keterampilan
teknis dalam mengajar, dan strategi belajar mengajar.
       Sedangkan Zamroni berpendapat “bahwa guru memerlukan tiga kemampuan dasar, yakni
Didaktik, Coaching dan Socratic. Dari sini sudah jelas bahwa sudah saatnya posisi mengajar
diletakkan kembali pada profesi yang tepat untuk pembinaan dan pengembangan profesional
kemampuan guru, yang diperlukan bukannya juknis, juklak dan intruksi serta berbagai pedoman
yang cenderung mematikan kreatifitas guru.
       Agar kompetensi (kemampuan) guru memperoleh kemampuan dan peningkatan, maka
guru harus aktif dalam program-program pelatihan guru, baik didalam maupun diluar sekolah.
Selain itu guru juga harus mengembangkan kompetensinya melalui perpustakaan-perpustakaan.
Dengan demikian guru tidak akan ketinggalan dalam menyerap informasi baru tentang
pengajaran. Supaya kompetensi profesional benar-benar dikuasai oleh guru, maka seorang guru
harus memiliki motivasi kompetensi dalam dirinya. “Motivasi kompetensi adalah dorongan
untuk mencapai keunggulan kerja, meningkatkan keterampilan pemecahan masalah, dan
berusaha keras untuk inovatif”.
       Sedangkan menurut Raka Joni Dalam suyatno mengemukakan ada tiga dimensi umum
yang menjadi kompetensi tenaga pendidikan: (a). Kompetensi personal. (b). Kompetensi
profesional. (c). Kompetensi kemasyarakatan. Dari pendapat tersebut dapat dipahami bahwa
seorang guru harus merupakan sosok yang berkualifikasi berbagai kemampuan yang akan
tercermin pada karakter kepribadiannya.
        Dikatakan Lardizabal bahwa kompetensi keguruan meliputi kompetensi kepribadian,
kompetensi sosial, dan kompetensi profesional terlihaat dalam diagram dibawah ini.

                                           Kompetensi
                                            Profesional
                                           …………….
                                           Kompetensi
                                          Personal-Sosial



                                      Tindakan keguruan:
                                         Membimbing,
                                        Mengajar, dan
                                           melatih




                                            Gambar 1
                         Integrasi antara kompetensi kepribadian-sosial
                                dengan kompetensi professional
     Kompetensi guru adalah kemampuan guru dalam bekerja melaksanakan kegiatan belajar
mengajar di kelas dengan menerapkan semua aspek pengajaran untuk mencapai tujuan
pengajaran.
B. Penelitian Yang Relevan

     Penelitian Made Pidarta menyimpulkan bahwa kompetensi dosen digunakan untuk menarik
kesimpulan etos kerja dosen yang memiliki beberapa indikator, yaitu dedikasi (mencakup moral
dan mental). Kemampuan memecahkan masalah, antar hubungan, berpartisipasi, penguasaan
bahan ajar. Makna dari kesimpulan tersebut ada hubungan positif antara dedikasi, antar
hubungan, partisipasi, dan penguasaan bahan ajar dengan kompetensi dosen.
     Penelitian ini mempunyai persamaan dalam hal kompetensi. Yang membedakan penelitian
ini dengan penelitian Made Pidarta adalah mengenai obyek, tempat, waktu penelitian, dan
beberapa variabelnya. Dalam penelitian Made Pidarta yang diteliti adalah kompetensi dosen
dalam Etos Kerja Dosen, 1999, maka yang diteliti dalam kesempatan ini adalah pembinaan dari
kepala sekolah, kompetensi guru, dengan kedisiplinan guru.


C. Kerangka Berpikir

     Berdasarkan konstruksi dari masing-masing variabel yang telah diuraikan diatas,
selanjutanya dilakukan analisis rasional tentang hubungan dari masing-masing variabel bebas,
yaitu pembinaan kepala sekolah pada rencana kerja guru, kompetensi guru, dan variabel terikat
kedisiplinan guru.

1. Hubungan Antara Pembinaan Dengan Kedisiplinan Guru
       Pembinaan kepala sekolah pada rencana kerja guru adalah bimbingan dan arahan yang
diberikan oleh kepala sekolah kerpada guru dalam penyusunan program pengajaran yang
dijadikan sebagai pedoman melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas. Pembinaan
tersebut harus diberikan secara kontinyu, agar rencana kerja selalu ada peningkatan, baik dalam
penyusunan maupun dalam pelaksanaannya. Kedisiplinan guru adalah ketaatan guru pada
peraturan kedinasan dalam menjalankan tugas profesionalnya yang tercermin dalam bentuk
tindakan positif yang tidak merugikan orang lain. Seorang guru yang bekerja dengan penuh
tanggung jawab untuk melaksanakan semua tugasnya sesuai dengan peraturan yang ada, dapat
dikatakan bahwa guru tersebut telah melaksanakan kedisiplinan.
Berdasarkan uraian diatas dapat diduga terdapat hubungan positif antara pembinaan kepala
sekolah pada rencana kerja guru dengan kedisplinan guru, artinya makin intensif pembinaan
kepala sekolah pada rencana kerja guru, makin tingi kedisiplinan guru.

2. Hubungan Antara Kompetensi Guru dengan Kedisiplinan Guru
       Pemahaman tentang kompetensi guru dapat terwujud apabila analis tentang kompetensi
guru dikaitkan dengan kemampuan guru dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar.
Kompetensi guru adalah kemampuan guru dalam bekerja melaksanakan kegiatan belajar
mengajar di kelas dengan menerapkan semua aspek pengajaran untuk mencapai tujuan
pengajaran.
       Kompetensi guru merupakan kemampuan guru dalam menjalankan tugas profesionalnya
yang diperoleh melalui pendidikan dan latihan. Dengan kompetensi yang dimiliki, guru
mempunyai wewenang untuk membuat keputusan ketika guru berhadapan dengan tugas-
tugasnya di lingkungan pendidikan. Kompetensi yang tinggi akan diakui oleh sesama profesi,
dan masyarakat. Kedsiplinan guru adalah ketaatan guru pada peraturan kedinasan dalam
menjalankan tugas profesionalnya yang tercermin dalam bentuk tindakan positif dan tidak
merugikan orang lain.
        Kompetensi guru mempunyai hubungan dengan kedisiplinan guru, hal ini disebabkan
karena guru yang berkompetensi tinggi mempunyai semangat kerja yang tinggi pula. Guru
semakin mempunyai rasa percaya diri dalam menjalankan tugasnya. Keyakinan terhadap
kompetensi yang dimiliki membuat guru senang dalam melaksanakan tugasnya dengan disiplin
yang tinggi.
Berdasarkan uraian diatas dapat diduga terdapat hubungan yang positif antara kompetensi guru
dengan kedisiplinan guru, maka semakin tinggi tingkat kedisiplinanya.




3. Hubungan antara Pembinaan, Kompetensi Guru secara bersama-sama dengan Kedisiplinan
   Guru
       Telah diuraikan sebelumnya bahwa masing-masing dari kedua variabel bebas, yang
terdiri dari pembinaan kepala sekolah pada rencana kerja guru dan kompetensi guru diduga
mempunyai hubungan positif secara bersama-sama dengan kedisiplinan guru. Dengan demikian
hubungan ketiga variabel tersebut dapat dijelaskan seperti dibawah ini. Pembinaan kepala
sekolah pada dasarnya adalah bimbingan dan arahan yang diberikan kepala sekolah kepada
bawahannya agar dapat bekerja lebih baik untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam
melaksanakan pembinaan, kepala sekolah memberikan pengarahan, motivasi, mengkoordinasi,
serta melakukan pengawasan terhadap guru. Pembinaaan dari kepala sekolah pada rencana kerja
guru adalah bimbingan dan arahan yang diberikan oleh kepala sekolah kepada guru dalam
penyusunan program pengajaran yang dijadikan pedoman dalam melaksanakan kegiatan belajar
mengajar di kelas. Pembinaan kepala sekolah yang diberikan kepada guru menunjukkan adanya
hubungan kerja sama antara atasan dan bawahan. Pembinaan kepala sekolah kepada guru dapat
meningkatkan hubungan kekeluargaan antara atasan dan bawahan.
       Dalam memberikan pembinaannya kepala sekolah harus bersifat terbuka, mau memberi
pendapatnya untuk kemajuan dan kesempurnaan program pengajaran yang disusun. Dan yan
paling penting adalah kepala sekolah mempunyai kemampuan lebih dari guru tentang
penyusunan program pengajaran. Dengan demikian kepala sekolah dapat memberi masukan
kepada guru untuk penyussunan program pengajaran yang berkualitas.
       Kompetensi guru adalah kemampuan guru dalam bekerja melaksanakan kegiatan belajar
mengajar di kelas dengan menerapkan semua aspek pengajaran untuk mencapai tujuan
pengajaran. Dalam hal ini guru dituntut menguasai bahan pengajaran wajib, maupun penunjang
untuk keperluan pengajaran. Namun demikian guru bukanlah sumber satu-satunya dalam belajar
mengajar. Kepala sekolah yang dapat memberikan pembinaannya dengan baik kepada guru dapat
meningkatkan kompetensinya. Guru yang berkompetensi akan lebih baik jika pembinaan dari
kepala sekolah terus diberikan, untuk mengembangkan kompetensi guru dapat dilakukan dengan
memberi kesempatan kepada guru dengan mengikuti pelatihan, baik didalam maupun diluar
sekolah, memberi kesempatan melanjutkan belajar ke jenjang yang lebih tinggi, serta
menyediakan media yang dapat menunjang pengembangan kompetensi guru.


D. Pengajuan Hipotesis
Berdasarkan uraian diatas dapat dirumuskan hipotesis sebagai:
1.   Terdapat hubungan positif antara pembinaan dengan kedisiplinan guru SMP Negeri di
     Kabupaten Kutai Timur.
2. Terdapat hubungan positif antara kompetensi guru dengan kedisiplinan guru SMP Negeri di
     Kabupaten Kutai Timur.
3. Terdapat hubungan positif antara pembinaan, kompetensi guru secara bersama-sama dengan
     kedisiplinan guru di Kabupaten Kutai Timur.




                                           BAB III
                                  DESAIN PENELITIAN




A. Tujuan Penelitian
        Tujuan penelitian yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui:
1. Hubungan antara pembinaan guru dengan kedisiplinan guru SMP Negeri di Kabupaten Kutai
     Timur.
2.   Hubungan antara kompetensi guru dengan kedisiplinan guru SMP Negeri di Kabupaten
     Kutai Timur.
3.   Hubungan antara pembinaan, kompetensi guru, dengan kedisiplinan guru SMP Negeri di
     Kabupaten Kutai Timur.


B. Tempat Dan Waktu penelitian

        Penelitian ini dilaksanakan di beberapa SMP Negeri yang terdapat di Kabupaten Kutai
Timur. SMP Negeri tersebut adalah SMP Negeri 1 Sengata Utara, SMP Negeri 2 Sengata Utara,
SMP Negeri 1 Sengata Selatan, SMP Negeri 2 Sengata Selatan, SMP Negeri 1 Sangkulirang,
SMP Negeri 1 Bengalon, SMP Negeri 1 Kongbeng, SMP Negeri 1 Muara Bengkal , SMP Negeri
1 Muara Ancalong dan SMP Negeri 1 Batu Ampar. Sedangkan waktu penelitian adalah dari
bulan Januari – Juli tahun 2009


C. Metode Penelitian

        Berdasarkan tujuan penelitian ini metode yang digunakan adalah metode korelasional.
Metode survey korelasional bertujuan untuk menemukan ada tidaknya hubungan, dan apabila
ada, berapa eratnya hubungan, serta berarti atau tidaknya hubungan itu.
      Dalam hal ini penulis ingin mengetahui seberapa eratnya hubungan pembinaan kepala
sekolah pada rencana kerja guru, kompetensi guru, dengan kedisiplinan guru SMP Negeri di
Kecamatan Muara Bengkal, Kabupaten Kutai Timur. Selanjutnya dicari korelasi antara variabel
bebas (X1 = p kepala sekolah pada rencana kerja guru, dan X2 = kompetensi guru) dengan
variabel terikat (Y = kedisiplinan guru). Paradigma digambarkan sebagai berikut:


                                            r1

                                     X1 = Pembinaan Guru
                                     Y = Disiplin Guru

                                               R


                                   X2 = Kompetensi Guru




                                          r2


                              Gambar 2: Paradigma penelitian


D. Teknik Pengambilan Sampel

     Populasi dalam penelitian ini adalah guru-guru SMP Negeri yang terdapat di Kabupaten
Kutai Timur yang meliputi SMP Negeri 1 Sengata Utara, SMP Negeri 2 Sengata Utara, SMP
Negeri 1 Sengata Selatan, SMP Negeri 2 Sengata Selatan, SMP Negeri 1 Sangkulirang, SMP
Negeri 1 Bengalon, SMP Negeri 1 Kongbeng, SMP Negeri 1 Muara Bengkal , SMP Negeri 1
Muara Ancalong dan SMP Negeri 1 Batu Ampar yang seluruhnya berjumlah 210 orang.
Sedangkan penentuan sampel menggunakan Teknik Proporsional Random Sampling sebanyak
160 orang. Teknik Proporsional digunakan untuk menentukan agar banyaknya sampel yang
diambil dari kelompok populasi pada tiap-tiap SMP seimbang.
     Keseimbangan tersebut ditetapkan sebesar 30 %. Selanjutnya untuk menentukan guru yang
menjadi sampel penelitian ditentukan dengan teknik random.        Langkah-langkah untuk
menentukan sampel adalah dengan cara sebagai berikut:
1. Memberi nomor kode pada masing-masing guru.
2. Menuliskan nomor-nomor tersebut pada guntingan kertas.
3.    Menggulung guntingan kertas yang bernomor tersebut, kemudian memasukkan ke dalam
     kotak.
4. Mengocok kertas yang berisi gulungan kertas tersebut agar dapat berbaur.
5.    Mengundi gulungan-gulungan kertas tersebut sesuai dengan keseimbangan yang telah
     ditetapkan yaitu 30 %.
6. Nomor-nomor yang terundi itulah yang dijadikan sampel penelitian.
     Gambaran jumlah populasi dan sampel dapat dilihat dalam tabel berikut ini:
           Tabel 1: Gambar sebaran populasi dan sampel
                                           Populasi                   Jumlah
     No.          Nama Sekolah                           Sampel
                                            Guru                      Sampel
     1.     SMPN 1 Sgt Utara                 30           30 %
     2.     SMPN 2 Sgt Utara                  17          30 %
     3.     SMPN 1 Sgt Selatan                21          30 %
     4.     SMPN 2 Sgt Selatan                20          30 %
     5.     SMPN 1 Sangkulirang               20          30 %
     6.     SMPN 1 Bengalon                   21          30 %
     7.     SMPN 1 Kongbeng                   15          30 %
     8.     SMPN 1 Ma. Bengkal                25          30 %
     9.     SMPN 1 Ma. Ancalong               22          30 %
     10.    SMPN 1 Bartu Ampar                19          30 %
                      ∑                       210         30 %



E. Instrumen Penelitian

       Untuk memperoleh data dalam penelitian ini digunakan angket, yang seluruhnya diisi oleh
guru yang terdapat di SMP Negeri di Kabupaten Kutai Timur, yaitu SMP Negeri 1 Sengata
Utara, SMP Negeri 2 Sengata Utara, SMP Negeri 1 Sengata Selatan, SMP Negeri 2 Sengata
Selatan, SMP Negeri 1 Sangkulirang, SMP Negeri 1 Bengalon, SMP Negeri 1 Kongbeng, SMP
Negeri 1 Muara Bengkal , SMP Negeri 1 Muara Ancalong dan SMP Negeri 1 Batu Ampar yang
terpilih menjadi anggota sampel. Penyusunan instrumen penelitian berdasarkan teori-teori yang
tercantum pada BAB II. Definisi konseptual, operasional, kisi-kisi, dan kalibrasi instrumen dari
masing-masing variabel tercantum pada bagian dibawah ini.
1. Kedisiplinan guru (Y)
a.    Definisi Konseptual
     Kedisiplinan guru adalah kepatuhan guru terhadap peraturan-peraturan yang didasari dengan
     kesadaran dalam dirinya untuk menjalankan tugas-tugas keguruannya tanpa adanya
     pelanggaran dirinya sendiri, orang lain atau sekolah.
b. Definisi Operasional
     Kedisiplinan guru merupakan ketaatan guru pada peraturan kedinasan dalam menjalankan
     tugas profesionalnya yang tercermin dalam bentuk tindakan positif dan tidak merugikan
     orang lain.
c.    Kisi-Kisi Instrumen
Tabel 2: Kisi-kisi instrumen final kedisiplinan guru.
     No.                Indikator                No. Butir Pernyataan       Jumlah
     1.     1. Disiplin sebagai pegawai          1, 2
            2. Disiplin dalam melaksanakan       3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10,
                                                                              19
              KBM                                11, 12, 13, 14
            3. Disiplin dalam bekerjasama        15, 16, 17, 18, 19




d. Kalibrasi Instrumen
1. Validitas
           Validitas sering diartikan dengan kesahihan. Validitas bukan pada tes yang dibuat, tetapi
validitas terletak pada hasil pengetesan atau skornya. Dapat juga dikatakan bahwa tes yang valid
adalah tes yang mempunyai kecocokan antara hasil dan tujuan yang akan dicapai.




Untuk Menganalisis validitas butir instrumen kedisiplinan guru digunakan rumus “Korelasi
Product Moment”, hasil uji coba validitas butir menunjukkan bahwa dari 19 butir pernyataan,
semua valid. Uji coba validitas instrumen penelitian diadakan di SMP Negeri yang terdapat di
Kabupaten Kutai Timur sebanyak 60 orang guru.
2. Reliabilitas
         Reliabilitas sering diartikan keterandalan atau keajegan bila tes tersebut diujikan hasilnya
relatif sama. Untuk menghitung reliabilitas instrumen penelitian digunakan rumus Alpha
Cronbach.


2. Pembinaan Kepala Sekolah Pada Rencana Kerja Guru (X1)
a. Definisi Konseptual
         Pembinaan kepala sekolah pada rencana kerja guru merupakan bimbingan yang diberikan
kepala sekolah kepada guru dalam penyusunan dalam bentuk pengelolaan pengawasan, dan
penilaian.

b. Defini Operasional
         Pembinaan kepala sekolah pada rencana kerja guru merupakan bimbingan atau arahan
yang diberikan kepala sekolah kepada guru dalam penyusunan program pengajaran agar menjadi
program yang berkualitas, yang dinyatakan dalam bentuk skor setelah responden mengisi angket
peneltian.
Instrumen yang digunakan untuk mengukur pembinaan kepala sekolah pada rencana kerja guru
adalah angket yang berbentuk non tes. Jumlah pertanyaan sebanyak 19 butir. Setiap butir
pernyataan terdiri dari lima alternatif jawaban, yaitu: SL = selalu dengan skor 5, SR = sering
dengan skor 4, KD = kadang-kadang dengan skor 3,         JR = jarang dengan skor 2, dan TP = tidak
pernah dengan skor 1.




c. Kisi-Kisi Instrumen
Tabel 3 : Kisi-kisi instrumen final variabel pembinaan kepala sekolah pada         rencana kerja
          guru.
   No.                  Indikator                       Nomor Butir          Jumlah
   1.    1. Pembinaan pada penyusunan
           rencana kerja                         1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9
         2. Pembinaan pelaksanaan rencana
           kerja guru                            10, 11, 12, 13, 14, 15      19
         3. Pembinaan Pelaksanaan
           perubahan program                     15, 16, 17, 18, 19
         4. Evaluasi perubahan program           16, 17, 18, 19


d. Kalibrasi Instrumen
1. Validitas
        Untuk menganalisis validitas butir instrumen pembinaan kepala sekolah pada rencana
kerja guru digunakan rumus “Korelasi Product Moment”. Hasil uji coba validitas butir
menunjukkan bahwa dari 19 butir pernyataan, semua valid. 8 uji validitas instrumen penelitian
diadakan di 10 SMP Negeri yang ada di Kabupaten Kutai Timur, yaitu SMP Negeri 1 Sengata
Utara, SMP Negeri 2 Sengata Utara, SMP Negeri 1 Sengata Selatan, SMP Negeri 2 Sengata
Selatan, SMP Negeri 1 Sangkulirang, SMP Negeri 1 Bengalon, SMP Negeri 1 Kongbeng, SMP
Negeri 1 Muara Bengkal , SMP Negeri 1 Muara Ancalong dan SMP Negeri 1 Batu Ampar
dengan jumlah responden 160 orang guru.
2. Reliabilitas
        Untuk menghitung reliabilitas instrumen penelitian digunakan rumus Alpha cronbach.


3. Kompetensi guru (X2)
a. Definisi Konseptual
        Kompetensi guru adalah orang yang memiliki kemampuan dan keahlian khusus dalam
bidang keguruan sehingga ia mampu melakukan tugas dan fungsinya sebagai guru dengan
kemampuan maksimal. Indikator yang digunakan untuk mengukurnya adalah penguasaan bahan
pelajaran, mengelola proses belajar mengajar, mengelola kelas, menggunakan media/ sumber
belajar, mengelola interaksi belajar mengajar dan menilai hasil dan proses belajar mengajar.
b. Definisi Operasional
        Kompetensi guru adalah total skor yang diperoleh dari jawaban responden terhadap
instrumen yang mengukur kompetensi guru dalam penguasaan bahan pelajaran, pengelolaan
kelas, pengelolaan media/ sumber belajar, mengelola interaksi belajar mengajar, dan menilai
hasil dan proses belajar mengajar, dan menilai hasil dan proses belajar mengajar, instrumen ini
terdiri dari 50 butir dan setiap butir mempunyai 4 alternatif jawaban A, B, C, D.
c. Kisi-Kisi Final Kompetensi Guru
Tabel 4 :
   No.                Indikator                   No. Butir             Jmlh Butir
   1.     Menguasai bahan pelajaran               1, 2, 3, 4, 5               5
   2.     Mengelola proses belajar               6, 7, 8, 9, 10               5
   3.     Mengelola kelas                      11, 12, 13, 14, 15             5
   4.     Meggunakan media/ sumber             16, 17, 18, 19, 20             5
   5.     Belajar menguasai landasan           21, 22, 23, 24, 25             5
   6.     Kependidikan mengelola interaksi
                                               26, 27, 28, 29, 30             5
          belajar mengajar
                             Jumlah Soal                                     30


d. Kalibrasi Instrumen
1. Validitas
         Validitas instrumen diuji dengan menggunakan koefisien korelasi antara skor butir
instrumen dengan skor (rhit) melalui teknik korelasi “Product Moment (Person)”. Analisis
dilakukan terhadap semua butir instrumen. Kriteria pengujiannya ditetapkan dengan cara
membandingkan rhit berdasarkan hasil perhitungan dengan           rtab jika pada perhitungan rhit > r   tab

maka butir instrumen dianggap tidak valid. Sehingga item soal tersebut tidak dapat dipergunakan
untuk penelitian.
         Koefisien reliabilitas instrumen dimaksud untuk melihat jawaban butir-butir pernyataan
yang diberikan oleh guru SMP Negeri di Kecamatan Muara Bengkal dan analisis dengan
menggunakan item soal sebanyak 40 besaran koefisien korelasi.


F. Teknik Pengumpulan Data

         Pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket tertutup,
merupakan angket yang menghendaki jawaban pendek, atau jawabannya diberikan dengan
membubuhkan tanda tertentu. Daftar pertanyaan disusun dengan disertai alternatif jawabannya,
responden diminta untuk memilih salah satu jawaban dari alternatif yang sudah disediakan.


G. Teknik Analisis Data

           Setelah data terkumpul dianalisis dengan menggunakan metode kuatitatif, metode
statistik yang digunakan adaslah statistik deskriptif dan statistik non parametik. Statistik
deskriptif bertujuan untuk memperoleh gambaran karakteristik penyebaran skor setiap variabel
yang diteliti dengan menghitung rata-rata, simpangan baku, median, modus serta visualisasi data
berupa tabel dan grafik.
           Statistik non parametik yang digunakan untuk menguji hipotesis adalah teknik Koefisien
Korelasi Rank Spearman (rs), Koefisien Korelasi Kendali (r), dan Koefesien Korelasi Rangking
Partial Kendali. Sebelum Pengujian hipotesis, terlebih dahulu dilakukan pengujian persyaratan
analisis, yaitu uji normalitas.
1. Uji Normalitas
    Uji normalitas dimaksudkan untuk menentukan normal tidaknya distribusi data penelitian.
    Hal ini berpengaruh terhadap metode statistik yang digunakan. Uji normalitas yang
    digunakan adalah dengan Program Komputer Microstat. Data penelitian normal apabila
    harga x2 hitung < x2 tabel atau p> 0,05 dengan taraf signifikan α = 0,05.




2. Uji Hipotesis
a. Hipotesis 1
    Terdapat hubungan yang positif antara pembinaan dari kepala sekolah pada rencana kerja
    guru dengan kedisiplinan guru SMP Negeri di Kabupaten Kutai Timur. Untuk menguji
    hipotesis tersebut digunakan Analisis Koefesien Korelasi Rank Spearman (rs) seperti yang
    dikemukakan oleh Siegel. Jika jumlah sampel yang terlalu besar N≥10 maka koefisien
    korelasi didekati dengan uji t (student’s t). Dengan kriteria sebagai berikut Ho ditolak jika
    t
        hitung < ttabel dan sebaliknya, pada taraf signifikan α = 0,05.

b. Hipotesis 2
   Terdapat hubungan yang positif antara kompetensi guru dengan kedisiplinan guru SMP
   Negeri di Kecamatan Muara Bengkal. Hipotesis ini diuji dengan menggunakan analisis
   koefisien Korelasi Rank Spearman: rs seperti yang dikemukakan oleh Siegel. Jika jumlah
   sampel yang terlalu besar N≥10 maka koefisien korelasi didekati dengan uji t (student’s t).
   Dengan kriteria sebagai berikut Ho ditolak jika thitung < ttabel dan sebaliknya, pada taraf
   signifikan α = 0,05.

c. Hipotesis 3
   Terdapat hubungan yang posistif antara pembinaan kepala sekolah pada rencana kerja guru,
   kompetensi guru dengan kedisiplinan guru SMP Negeri di Kecamatan Muara Bengkal. Untuk
   menguji hipotesis tersebut digunakan analisis koefisiensi Korelasi Ranking Partial Kendali:
   Txy.z seperti yang dikemukakan oleh Siegel.38 Jika jumlah sampel yang terlalu besar N≥10
   maka koefisien korelasi didekati dengan uji Z dan nilai Z dibandingkan dengan tabel
   kemungkinan yang berkaitan dengan harga-harga seekstrim harga-harga Z observasi dalam
   distribusi normal. Dengan kriteria sebagai berikut Ho ditolak jika p<0,05 dan sebaliknya,
   pada taraf signifikan α = 0,05.




H. Hipotesis Statistik

Ho: Hipotesisa awal adalah
1. Tidak ada hubungan antara X1 dan Y
2. Tidak terdapat hubungan antara X2 dan Y
3. Tidak terdapat hubungan X1 dan X2 secara bersama-sama terhadap Y
Keterangan:
Ho adalah Hipotesis nol
Ho adalah Hipotesis Alternatif
Px1y adalah koefisien korelasi antara pembinaan kepala sekolah pada rencana kerja guru dengan
kedisiplinan guru.
Px2y adalah koefisien korelasi antara kompetensi guru dengan kedisiplinan guru.
Pyx1x2 adalah koefisien korelasi antara pembinaan kepala sekolah pada rencana kerja guru dan
kompetensi guru dengan kedisiplinan guru.




                                  DAFTAR PUSTAKA




Arikunto, Suharsimi. Dasar–Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bima Aksara, 1999.
Arikunto, Suharsimi. Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta, 1993.
Atmodiwiro, Subagio. Manajemen Pendidikan Indonesia. Jakarta: Ardadirya Jaya, 2000.
Bafadal, Ibrahim. Supervisi Pengajaran. Jakarta: Bumi Aksara, 1992.
Burhanuddin, Analisis Administrasi Manajemen Dan Kepemimpinan Pendidikan. Jakarta: Bumi
           Aksara, 1994.
Departemen Pendidikan Nasional. Panduan Manajemen Sekolah. 2000.
Mulyasa, Manajemen Berbasis Sekolah. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002.
Mulyasa, Manajemen Berbasis Kompetensi. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002.
Imron, Ali. Pembinaan Guru Di Indonesia. Jakarta: Dunia Pustaka, 1995.
Pusat Pembinaan Dan Pengembangan Bahasa. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai
           Pustaka, 1990.
Pidarta, Made. Jurnal Ilmu pendidikan. Malang: Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan
           Dan Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia, November, 1999.
Riyanto, Yatim. Metodologi Penelitian Pendidikan. Surabaya: SIC, 2001.
Samana, Profesionalisme Keguruan. Yogyakarta: Kanisus, 1994.
Siegel, Sidney. Statistik Nonparametrik Untuk Ilmu Sosial. Jakarta: Gramedia, 1997.
Saydam, Gouzali. Manajemen Sumber Daya Manusia (Human Resources Management) I.
           Jakarta: PT. gunung Agung, 2000.
Soewadji, Lazaruth. Kepala Sekolah Dan Tanggung Jawabnya. Yogyakarta: Kanisius, 1988.
Suyanto, Hisyam, Djihad. Refleksi Dan Reformasi Pendidikan Di Indonesia. Yogyakarta: Adicita
           Karya Nusa, 2000.
Thoha, Chabib.Teknik Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1991.
Tilaar. Beberapa Agenda Reformasi Pendidikan Nasional. Magelang: Indonesia Tera, 2001.
Wahyosumidjo. Kepemimpinan Kepala Sekolah. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2001.
Zamroni. Paradigma Pendidikan Masa Depan. Yogyakarta: Biograf Publishing, 2001.

http://ufixnet.wordpress.com/2008/05/25/hubungan-pembinaan-kompetensi-dengan-kedisiplinan-
guru-smp-negeri-kabupaten-kutai-timur/

Mengingat semakin tingginya tuntutan kebutuhan pendidikan pada saat ini, etos kerja guru
terutama dalam hal kedisiplinan perlu ditingkatkan. Hal ini seperti diungkapkan oleh Kepala
Badan Kepegawaian Daerah Kota Solo, Etty Retnowati dalam acara pembukaan In House
Training (IHT) pembekalan tenaga pendidik yang diselenggarakan di SMA Negeri 8 Surakarta.



Pihaknya mengatakan bahwa perubahan pola berpikir dan tradisi yang buruk harus dilakukan
karena inovasi dan kreatifitas dalam bidang pendidikan merupakan hal yang utama. Upaya yang
dapat dilakukan salah satunya dengan cara meningkatan kompetensi tenaga pendidik yang
didasari dengan sikap disiplin. “Tuntutan masyarakat untuk mendapatkan kualitas pendidikan
melalui peningkatkan kompetensi tenaga pendidik, harus benar-benar disadari.” , tambahnya.



Kepala SMA Negeri 8 Surakarta, Sudadi Mulyono, juga menjelaskan bahwa peningkatan etos
kerja guru pasti akan berdampak positif dalam pelaksanaan pendidikan, misalnya dalam hal
kedisiplinan dan peningkatan kompetensi lainnya. Selain itu, dengan sikap-sikap tersebut juga
akan menciptakan suasana belajar yang memadai.

								
To top