PEMBINAAN ETOS KERJA GURU

Document Sample
PEMBINAAN ETOS KERJA GURU Powered By Docstoc
					                PEMBINAAN ETOS KERJA SEBAGAI UPAYA
   MENINGKATKAN PROFESIONALISME DAN KOMPETENSI GURU
         DALAM RANGKA MENINGKATKAN MUTU LULUSAN
                            SMP NEGERI 230 JAKARTA



                                           BAB I

                                    PENDAHULUAN

1.1   Latar Belakang

             Sekolah sebagai lembaga pendidikan terdiri dari komponen-komponen yang
      mendukung dan saling terkait. Komponen utama pendukung terlaksananya perikehidupan
      sekolah tersebut meliputi kepala sekolah, guru, staf tata usaha, staf tenaga khusus, dan
      siswa. Sedangkan komponen di luar sekolah namun juga berpengaruh terhadap sekolah
      antara lain masyarakat, komite sekolah, orang tua siswa, dan dinas pendidikan sebagai
      komponen Pembina sekolah.
             Dari sekian banyak komponen sekolah, guru merupakan komponen yang sangat
      menentukan dan memegang peranan sangat penting dalam upaya pencapaian visi, misi,
      dan tujuan sekolah.
             Definisi yang dikenal dalam kehidupan sehari-hari adalah bahwa guru merupakan
      orang yang harus digugu dan ditiru, dalam hal orang yang memiliki kharisma atau
      wibawa hingga perlu untuk ditiru dan diteladani. Mengutip pendapat Laurence D.
      Hazkew dan Jonathan C. Mc Lendon dalam bukunyaThis is Teaching (hal : 10) :
      ―Teacher is professional person who conducs classes‖ ( Guru adalah seseorang yang
      mempunyai kemampuan dalam menata dan mengelola kelas). Sedangkan menurut Jean
      D. Grambs dan C Morris Mc Clare dalam Fondation of teaching, An Introduction to
      Modern Education (hal :141), ―teacher are those person who consciously direct the
      experiences and behaviour of an individual so that education take place‖. (Guru adalah



                                                                                            1
mereka yang secara sadar mengarahkan pengalaman dan tingkah laku dari seorang
individu hingga dapat terjadi pendidikan).
       Jadi guru adalah orang dewasa yang secara sadar bertanggung jawab dalam
mendidik, mengajar, dan membimbing peserrta didik. Orang yang disebut guru adalah
orang yang memiliki kemampuan merangsang program pembelajaran serta mampu
menata dan mengelola kelas agar peserta didik dapat belajar dan pada akhirnya dapat
mencapai tingkat kedewasaan sebagai tujuan akhir dari proses pendidikan.
       Sedangkan dalam kegiatan proses pembelajaran tersebut, agar tujuan yang
diharapakn dapat tercapai secara maksimal maka guru juga harus memiliki kompetensi
dalam mengajar. Kompetensi adalah kekuatan mental dan fisik untuk melakukan tugas
atau ketrampilan yang dipelajari melalui latihan dan praktik (JJ. Litrell :310).
       Kompetensi guru adalah salah satu faktor yang mempengaruhi tercapainya tujuan
pembelajaran dan pendidikan disekolah, namun kompetensi guru tidak berdiri sendiri,
tetapi dipengaruhi latar belakang pendidikan, pengalaman mengajar, dan lamanya
mengajar. Kompetensi guru dapat dinilai penting sebagai alat seleksi dalam penerimaan
calon guru, juga dapat dijadikan sebagai pedoman dalam rangka pembinaan dan
pengembangan tenaga guru.Sealain itu, penting dalam hubungannya kegiatan belajar
mengajar dan hasil belajar siswa. Dengan kompetensi profesional tersebut, dapat diduga
berpengaruh pada proses pengelolaan pendidikan sehingga mampu melahirkan keluaran
pendidikan yang bermutu. Keluaran pendidikan yang bermutu dapat dilihat dari hasil
langsung pendidikan yang berupa nilai yang dicapai siswa dan dapat juga dilihat dari
dampak pengiring, yaitu peserta didik setelah di masyarakat.
       Dengan demikian, guru hendaknya memiliki kompetensi yang sesuai dengan
keprofesionalannya. Dengan kata lain, guru dituntut secara mutlak berkompetensi dengan
memadai sehingga dapat melaksanakan tugas pokok dan fungsinya sesuai dengan
Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru Pasal 52 yang meliputi 5
tupoksi guru yaitu:
a.     Merencanakan pembelajaran
b.     Melaksanakan pembelajaran
c.     Menilai hasil pembelajaran

                                                                                    2
d.     Membimbing dan melatih peserta didik
e.     Melaksanakan tugas tambahan
       Lebih dari itu bahwa seorang guru hendaknya memiliki kualifikasi dan
kompetensi sebagaimana disebutkan pada Lampiran Peraturan Menteri Pendidikan
Nasional (Permendiknas RI) Nomor 16 Tahun 2007 yaitu:

       Kualifikasi Akademik Guru SMP/MTs:
       Guru pada SMP/MTs, atau bentuk lain yang sederajat, harus memiliki kualifikasi
       akademik pendidikan minimum diploma empat (D-IV) atau sarjana (S1) program
       studi yang sesuai dengan mata pelajaran yang diajarkan/diampu, dan diperoleh dari
       program studi yang terakreditasi.
       Standar Kompetensi yang harus dimiliki guru ( dalam hal ini guru SMP):
       1)      Kompetensi Pedagogik
       2)      Kompetensi Kepribadian
       3)      Kompetensi Sosial
       4)      Kompetensi Profesional.
       Di samping itu, guru juga hendaknya memiliki kompetensi sebagai guru mata
pelajaran sesuai dengan mata pelajaran yang diampunya.
       Guru berkaitan langsung dengan pencapaian target mutu lulusan. Target prestasi
akademik lulusan atau satandar kompetensi lulusan – dalam hal ini- Kompetensi Ketuntasan
Minimal (KKM) yang telah ditetapkan pada awal tahun pelajaran semestinya menjadi target
dan tolok ukur keberhasilan proses pendidikan di sekolah.
       Sementara itu di SMP Negeri 230 Jakarta tuntutan-tuntutan tersebut belum dapat
terpenuhi secara memadai. Hal tersebut disebabkan oleh bermacam faktor kendala yang ada
dan menuntut pula untuk diatasi dengan segera. Apabila tidak segera diatasi akan sangat
berpengaruh terhadap mutu hasil pendidikan di SMP Negeri230 Jakarta. Dalam hal ini adalah
target mutu lulusan (prestasi akademik).
       Target prestasi akademik lulusan atau satandar kompetensi lulusan – dalam hal ini-
Kompetensi Ketuntasan Minimal (KKM) yang telah ditetapkan pada awal tahun pelajaran
semestinya menjadi target dan tolok ukur keberhasilan proses pendidikan di sekolah.




                                                                                       3
1.2   Permasalahan

      Seperti telah disampaikan di depan bahwa sesuai dengan tuntutan PP No. 74 Tahun 2008
      dan Permendiknas No. 16 Tahun 2007, bahwa seorang guru hendaknya memiliki
      kualifikasi dan kompetensi yang memadai agar dapat melaksanakan tugas pokok dan
      fungsinya dengan baik. Tuntutan demikian sudah seharusnya dipenuhi oleh guru agar
      tujuan pendidikan dapat tercapai.

             Dengan kata lain bahwa guru yang profesional sangat memegang peranan penting
      dan menentukan terhadap pencapaian visi, misi, dan tujuan sekolah.

             Sehubungan dengan hal tersebut, kondisi di SMP Negeri 230 Jakarta belum
      semua guru secara sepenuhnya memiliki kualifikasi dan kompetensi yang dipersyaratkan
      sebagai guru professional.

             Faktor penyebab utama dari hal tersebut adalah bahwa Etos Kerja sebagian besar
      guru SMP Negeri 230 Jakarta belum optimal. Kenyataan itu memberikan tantangan
      tersendiri bagi Kepala Sekolah dalam meningkatkan etos kerja para guru di SMP Negeri
      230 Jakarta tersebut.

             Berdasarkan kondisi realita yang telah disebutkan di atas, maka perlu di
      laksanakan Pembinaan Etos Kerja Guru sebagai Upaya Meningkatkan Mutu Lulusan di
      SMP Negeri 230 Jakarta.

1.3   Strategi Pemecahan Masalah

             Segala permasalahan yang ada sebagaimana telah diuraikan di depan sangat perlu
      dan mendesak untuk dcarikan solusinya.
             Adapun strategi yang ditempuh guna menyelesaikan permasalahan yang terjadi di
      SMP Negeri 230 Jakarta adalah:

             a. Mengidentifikasi masalah pokok yang menghambat guru dalam melaksanakan
                 tugas pokok dan fungsinya.

                                                                                          4
          b. Menetapkan dan Melaksanakan pembinaan terhadap guru melalui pelatihan/
             lokakarya/ workshop.

          c. Menambah sarana dan prasarana belajar dan pembelajaran

          Guna mengatasi masalah yang terjadi di SMP Negeri 230 Jakarta sebagaimana
telah dimaklumkan di depan, maka ditempuh beberapa tahapan. Adapun tahapan tersebut
adalah:

          a. Menginventarisasai       masalah    yang    menghambat    guru    dalam
             melaksanakan tupoksi.
             Pada tahapan ini ditemukan beberapa hal antara lain:
             1) Guru belum sepenuhnya menguasai teknik pembuatan perangkat
                pembelajaran
             2) Guru belum sepenuhnya menguasai teknik penyajian bahan pembelajaran
             3) Guru belum sepenuhnya melaksanakan tupoksi sesuai dengan alokasi
                waktu dan jam kerja
             4) Guru masih berkesan asal-asalan dalam mempersiapkan pembelajaran
                sampai dengan mengevaluasi hasil pembelajaran, termasuk dalam
                melaksanakan tupoksi membimbing peserta didik
             5) Guru masih berorientasi bahwa mengajar hanya sekadar menggugurkan
                kewajiban
             6) Guru belum memahami dan tidak memiliki berbagai produk hukum yang
                mengatur tentang berbagai pedoman dan panduan yang berhubungan
                dengan tugas profesinya.

          b. Menyusun dan Melaksanakan Program Pengembangan SDM
                Pada tahapan ini disusun Program Pengembangan SDM yang langsung
             berhubungan dengan peningkatan kompetensi guru terutama kompetensi
             professional yang meliputi pelatihan dan lokakarya/ workshop ICT untuk
             pembelajaran, pengembangan silabus dan RPP, Kursus bahasa Inggris, kursus
             computer dan internet, pelatihan PTK.

                                                                                      5
              Di samping itu sebagai pembinaan lanjutan disusun dan dilaksanakan
          program supervise akademik/ supervisi pembelajaran dengan menghadirkan
          supervisor dari LPMP Jakarta.

          Lebih lanjut tentang strategi dalam hal ini secara utuh tercermin meliputi
          meliputi 8 Standar Nsional Pendidikan

      c. Program Strategis


1) Standar Kompetensi Lulusan


a) Pengembangan Program Peningkatan Standar Kelulusan.

b) Pengembangan      dan   Peningkatan    Kejuaraan   lomba-lomba   akademik    dan
   nonakademik.

c) Pengembangan Program Peningkatan Standar Nilai

d) Pengembangan Program Jam Pelajaran Tambahan

e) Pengembangan Program Remedial.

f) Pengembangan Program Pengayaan.

 2) Standar Isi

 a) Pengembangan Kurikulum/ KTSP

 b) Pengembangan Silabus Pembelajaran.

 c) Pengembangan Pemetaan S,KD Materi Peajaran, dan Bahan Ajar semua mapel.

 d) Pengembangan RPP.

 e. Pengembangan standar pencapaian KKM.

 3) Standar Proses

 a) Pengembangan Strategi dan model pembelajaran CTL.
                                                                                  6
b) Pengembangan meode pembelajaran untuk semua mata pelajaran.

c) Pengembangan Strategi Pembelajaran.

d) Pengembangan bahan-bahan ajar.

e) Pengembangan buku referensi.

f) Pengembangan media pembelajaran.

4) Standar Sarana dan Prasarana

a) Pengembangan pengadaan sarana prasarana.

b) Pengembangan, perbaikan , dan pemelharaan ruang kelas.

c) Pengembangan dan pengadaan alat-alat pelajaran.

d) Pengembangan bahan-bahan praktikum.

e) Pengembangan, perbaikan, dan pemeliharaan ruang penunjang.

f) Pengembangan buku-buku referensi.

g) Pengembangan alat/ media pembelajaran.

h) Pengembangan perabot sekolah.

i) Pengembangan perlengkapan admintrasi sekolah.

5) Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan

a) Pengembangan profesinalisme guru.

b) Pengembangan dan peningkatan kompetensi guru.

c) Pengembngan dan peningkatan kompetensi tenaga TU.

d) Pengembangan dan peninkatan kualitas tenaga pendidik dan kependidikan.

6) Standar Pengelolaan/ Manajemen
                                                                            7
 a) Pengembangan sistem monitoring dan evaluasi oleh Kepala Sekolah.

 b) Pengembangan implementasi MBS.

 c) Pengembangan supervisi klinis oleh Kepala Sekolah.

 d) Pengebangan aspek-aspek manajemen untuk pengembangan standar-standar

   pendidikan.

 e) Pengembangan jaringan informasi akademik internal sekolah.

 7) Standar Pembiayaan

 a) Pengembangan sistem subsidi silang.

 b) Pengembangan kewirausahaan sekolah.

 c) Pengembangan pemberdayaan potensi sekolah.

 d) Pengembangan penggalangan prtisipasi masyarakat.

 e) Pengembangan jalinan kerja sama dengan penyandang dana/ danatur.

 8) Standar Penilaian

 a) Pengembangan sistem penilaian secara lengkap dengan instrumen.

 b) Pengembangan implementasi model evaluasi pembelajaran.

 c) Pengembangan pedoman evaluasi/ penilaian.

2) Strategi Pencapaian

1. Strategi program pengembangan KTSP adalah sekolah menyelenggarakan workshop
   yang    diikuti   oleh   seluruh   stakeholder    sekolah     untuk   menganalisis,
   memusyawarahkan, sekaligus mendiskusikan langkah-langkah serta titik fokus
   pengembangan KTSP.



                                                                                    8
2. Mengembangkan kerja sama dengan Komie Sekolah, Stakeholder, dan DU/DI yang
   berkompetensi dalam pengembangan dan pelaksanaan kurikulum sekolah.

3. Peningkatan standar proses: menjalin kerja sama dengan personil sekolah untuk
   mengembangkan metode, strategi, sistem penilaian, bahan ajar, serta sumber
   pembelajaran melalui peer teaching dan TK.

4. Melaksanakan kunjungan, loka karya/ workshop, seminar, in servis trining, dll.
   berkoordinasi dengan lembaga/ ahli yang berkompetensi dalam bidangnya.

5. Pengembangan tenaga kependidikan dengan: melaksanakan sosialisasi, pelatihan, dll,
   untuk   meningkatkan    profesionalisme   dan   kometensi   tenaga   kependidikan;
   melaksanakan monitoring dan evaluasi oleh Kepala Sekolah terhadap kinerja guru
   dan TU; serta meningkatkan kualitas tenaga kependidikan.

6. Pengembangan peningkatan standar kelulusan : menjalin kerja sama dengan insansi
   terkait, partisipasi masyarakat untuk peningkatan dan penembangan media, sarana
   prasarana dan lingkungan pendidikan yang kondusif sebagai komunitas pendidikan.

7. Pengembangan dan peningkatan kualitas kelembagaan dan manajemen: menjalin
   kerja sama dengan masyarakat, komite sekolah, instansi tekait, DU/DI dalam
   mengimplementaikan MBS; melengkapi adminstrasi sekolah; melaksanakan supervisi
   klinis dan nonklinis; membuat jaringan informasi akademik dan jaringan kerja/net
   working.

8. Pengembangan Standar pembiayaan pendidikan: menjalin kerja sama dengan
   penyandang dana dari berbagai sumber; berusaha menadakan penciptaan usaha;
   memberdayakan potensi sekolah dan linkungan serta membuat sistem subsidi silang.

9. Pengembangan fasilitas pendidikan : menjalin kerja sama dengan instansi terkait,
   partisipasi masyarakat untuk peningkatan dan penegmbanan media, sarpras, dan
   linkungan pendidikan yang kondusif sebagai komunitas pembelajaran.




                                                                                      9
1.4 Tahapan Penyelesaian Masalah

   1.4.1   Pengelompokkan Masalah

   1.4.2   Analisis Kondisi Nyata

   1.4.3   Menyusun Program/ Jadwal Pelatihan Kompetensi dan Profesionalisme Guru

   1.4.4   Penambahan Alokasi jam belajar Kelas IX untuk Mata Pelajaran yang di-UN-kan




                                        BAB II

           LANDASAN TEORI DAN KERANGKA BERPIKIR

2.1 Landasan Teori

   2.1.1   Pembinaan

                  Pembinaan merupakan suatu tanggung jawab pimpinan yang harus
           diberikan kepada bawahan secara kontinyu agar bawahan selalu merasa ada
           perhatian dari pimpinan dalam hubungan kerja. Memberi pembinaan kepada
           bawahan sama halnya dengan memberi motivasi kerja. Seorang manajer atau
           pimpinan dalam hal ini Kepala Sekolah harus mampu memberi dorongan kepada
           bawahannya yaitu para guru/ karyawan agar dapat bekerja sesuai dengan
           kebijakan dan rencana kerja yang telah digariskan.
           Bimbingan (direction) berarti memelihara, menjaga dan memajukan organisasi
           SMP Negeri 230 Jakarta melalui setiap personal, baik secara struktural maupun
           fungsional, agar kegiatannya tidak terlepas dari usaha mencapai tujuan.
                  Berdasarkan pengertian di atas bahwa bimbingan atau pembinaan
           merupakan salah satu usaha untuk menumbuhkembangkan organisasi SMP Negeri
           230 Jakarta sebagai lembaga pendidikan secara utuh. Usaha tersebut melalui

                                                                                     10
setiap personal khususnya guru, agar setiap kegiatan yang dilakukan meliputi
tugas pokok dan fungsinya dapat mencapai tujuan.
       Dalam bimbingan tersebut, Kepala Sekolah juga memberi dorongan agar
personal organisasi yaitu para guru dapat bekerja lebih kreatif dan berdedikasi
tinggi. Apabila setiap personal guru dapat menjalankan tugas pokok dan
fungsinya dengan baik berarti pembinaan yang diberikan oleh Kepala Sekolah
dapat dikatakan berhasil. ―Pembinaan adalah usaha, tindakan, dan kegiatan
yang dilakukan secara berdaya guna untuk memperoleh hasil yang baik”.
Untuk memperoleh hasil kerja yang berkualitas, diperlukan peran serta dari
pimpinan. Seorang Kepala Sekolah harus mampu memberi pembinaan kepada
bawahan/ guru agar dapat bekerja secara berdaya guna dan berhasil guna,
sehingga pekerjaan berkenaan dengan tupoksi memberikan hasil yang berkualitas.
Adapun tolok ukur utama keberhasilan dalam hini adalah dengan diperolehnya
prestasi akademik lulusan yang memuaskan.
―Pembinaan terhadap guru hendaknya secara komprehensif tidak hanya pada
sebagian guru, tetapi juga kepada seluruh guru‖. Pembinaan harus dilakukan
secara terus-menerus dan secara sistematis/programatis. Berbagai macam
perkembangan, yaitu perkembangan ilmu pengetahuan, perkembangan teknologi,
maupun perkembangan masyarakat dan kebijakan-kebijakan baru menjadikan
pembinaan dari Kepala Sekolah sangat penting.
       Salah satu indikasi keberhasilan sekolah adalah keterkaitan yang tinggi
kepala sekolah terhadap perbaikan proses pembelajaran. Kepala sekolah sesuai
dengan jenjang sekolah yang dipimpinnya perlu memahami program pembinaan
terhadap keberhasilan pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru sesuai dengan
mata pelajaran yang diampunya masing-masing.
―Membina guru-guru ialah mengembangkan profesi, termasuk kepribadian
mereka sebagai guru‖. Untuk meningkatkan profesionalisme dan kepribadian
guru, sangat perlu adanya pembinaan dari Kepala Sekolah. Dengan memberi
pembinaan, diharapkan para guru lebih bertanggung jawab pada tugas yang
diemban dan yang menjadi tanggung jawabnya.

                                                                            11
                Pembinaan kepada guru-guru dilakukan oleh kepala sekolah selaku
        supervisor. Dengan demikian seorang kepala sekolah berkewajiban untuk selalu
        membina, dalam arti berusaha untuk meningkatkan pelaksanaan penyelenggaraan
        pendidikan yang lebih baik. Dari empat macam pembinaan yang harus dilakukan
        oleh kepala sekolah, penulis akan mengemukakan tentang pembinaan program
        pembelajaran. Ada empat fase proses pembinaan program pembelajaran: (1).
        Penilaian sasaran program (2). Merencanakan perbaikan program, (3).
        Melaksanakan perubahan program dan (4). Evaluasi perubahan program.


2.1.2   Profesionalimse

                Profesi — merupakan bidang pekerjaan khusus yang memerlukan prinsip-
        prinsip profesional. Profesi guru harus (1) memiliki bakat, minat, panggilan jiwa,
        dan idealisme, (2) memiliki kualifikasi pendidikan dan latar belakang pendidikan
        yang sesuai dengan bidang tugasnya,(3) memiliki kompetensi yang diperlukan
        sesuai dengan bidang tugasnya. Di samping itu, mereka juga harus (4) mematuhi
        kode etik profesi, (5) memiliki hak dan kewajiban dalam melaksanakantugas, (6)
        memperoleh penghasilan yang ditentukan sesuai dengan prestasi kerjanya, (7)
        memiliki kesempatan untuk mengembangkan profesinya secara berkelanjutan,
        (Cool    memperoleh     perlindungan    hukum     dalam    melaksanakan     tugas
        profesionalnya, dan (9) memiliki organisasi profesi yang berbadan hukum
        (sumber UU tentang Guru dan          Dosen).


        Bila kita mencermati prinsip-prinsip profesional di atas, kondisi kerja pada dunia
        pendidikan di Indonesia masih memiliki titik lemah pada hal-hal berikut.
        (1) Kualifikasi dan latar belakang pendidikan tidak sesuai dengan bidang tugas.
        Dilapangan banyak di antara guru mengajarkan mata pelajaran yang tidak sesuai
        dengan kualifikasi pendidikan dan latar belakang pendidikan yang dimilikinya.
        (2) Tidak memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai bidang tugas. Guru
        professional — memiliki empat kompetensi, yaitu kompetensi pedagogis,
        kognitif, personaliti, dan sosial. Oleh karena itu, seorang guru selain terampil
                                                                                       12
mengajar, juga memiliki pengetahuan yang luas, bijak, dan dapat bersosialisasi
dengan baik.
(3) Penghasilan tidak ditentukan sesuai dengan prestasi kerja.Sementara ini guru
yang berprestasi dan yang tidak berprestasi mendapatkan penghasilan yang sama.
Memang benar sekarang terdapat program sertifikasi. Namun, program tersebut
tidak memberikan peluang kepada seluruh guru. Sertifikasi hanya dapat diikuti
oleh guru-guru yang ditunjuk kepala sekolah yang notabene akan berpotensi
subjektif
(4) Kurangnya kesempatan untuk mengembangkan profesi secara berkelanjutan.
Banyak guru yang terjebak pada rutinitas. Pihak berwenang pun tidak mendorong
guru ke arah pengembangan kompetensi diri ataupun karier. Hal itu terindikasi
dengan minimnya kesempatan beasiswa yang diberikan kepada guru dan tidak
adanya program pencerdasan guru, misalnya dengan adanya tunjangan buku
referensi, pelatihan berkala, dsb.


Profesionalisme — dalam pendidikan perlu dimaknai ―he does his job well―.
Artinya, guru haruslah orang yang memiliki insting pendidik, paling tidak
mengerti dan memahami peserta didik. Guru harus menguasai secara mendalam
minimal satu bidang keilmuan. Guru harus memiliki sikap integritas profesional.
Dengan integritas barulah, sang guru menjadi teladan atau role model.
Isu tentang pendidikan di Indonesia masih hangat untuk diperdebatkan, terutama
yang menyangkut kualitasnya. Kualitas pendidikan di Indonesia masih sangat
rendah tingkat kompetisi dan relevansinya (Parawansa, 2001; Siskandar, 2003;
Suyanto, 2001). Laporan United Nation Development Program (UNDP) tahun
2005 mengungkapkan bahwa kualitas pendidikan di Indonesia menempati posisi
ke-110 dari 117 negara. Laporan UNDP tersebut mengindikasikan bahwa kualitas
pendidikan di Indonesia    relatif   rendah.


Sadar akan hasil-hasil pendidikan yang belum memadai, maka banyak upaya telah
dilakukan oleh pemerintah Indonesia untuk melakukan perbaikan. Upaya-upaya

                                                                             13
tersebut,   adalah   melakukan    perubahan     atau   revisi   kurikulum    secara
berkesinambungan, program Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP),
Penataran Kerja Guru (PKG), program kemitraan antara sekolah dengan Lembaga
Pendidikan Tenaga Kependidikan, proyek peningkatan kualifikasi guru dan
dosen, dan masih banyak program lain dilakukan untuk perbaikan hasil-hasil
pendidikan tersebut. Upaya-upaya tersebut telah dilakukan secara intensif, tetapi
pengemasan pendidikan sering tidak sejalan dengan hakikat belajar dan
pembelajaran. Dengan kata lain, reformasi pendidikan yang dilakukan di
Indonesia masih belum seutuhnya memperhatikan konsepsi belajar dan
pembelajaran. Reformasi pendidikan seyogyanya dimulai dari bagaimana siswa
dan guru belajar dan bagaimana guru mengajar, bukan semata-mata pada hasil
belajar (Brook & Brook, 1993). Podhorsky & Moore (2006) menyatakan, bahwa
reformasi pendidikan hendaknya dimaknai sebagai upaya penciptaan program-
program yang berfokus pada perbaikan praktik mengajar dan belajar, bukan
semata-mata berfokus pada perancangan kelas dengan teacher proof curriculum.
Dengan demikian, praktikpraktik pembelajaran benar-benar ditujukan untuk
mengatasi kegagalan siswa belajar.


Praktik-praktik pembelajaran hanya dapat diubah melalui pengujian terhadap
cara-cara guru mengemas dan melaksanakan pembelajaran. Untuk itu, diperlukan
program-program      pembinaan    profesi     guru.    Program-program      tersebut
membutuhkan fasilitas yang dapat memberi peluang kepada mereka learning how
to lean dan to learn about teaching. Fasilitas yang dimaksud, misalnya pelatihan
tentang innovative instruction and assessment (pembelajaran dan asesmen
inovatif), classroom action research (penelitian tindakan kelas), dan lesson study
(kaji   pembelajaran).


        Berdasarkan hasil survei (Ardhana, et al., 2003; Ardhana, et al., 2004;
Ardhana, et al., 2005) yang dilakukan di Propinsi Bali, Jawa Timur, Kalimantan
Tengah, dan Aceh, terungkap bahwa Pembelajaran dan Asesmen Inovatif atau

                                                                                 14
Innovative Instruction and Assessment (IIA) belum digunakan oleh para guru
dalam pembelajaran. Alasan mendasar bagi para guru adalah karena tidak
mengerti tentang pembelajaran dan asesmen inovatif. Hal ini patut disadari,
bahwa sesungguhnya isu pembelajaran dan asesmen inovatif telah banyak
didengung-dengungkan dalam pelatihan guru dan berbagai kegiatan guru lainnya.
Namun, sampai saat ini model pelatihan yang operasional dan praktis tentang IIA
belum ditemukan dalam praksis pendidikan. Oleh sebab itu, pengembangan
model pelatihan berikut pedoman IIA dipandang sangat penting untuk dilakukan.
Secara empiris penerapan IIA dalam pembelajaran berdampak positif dalam
peningkatan perolehan belajar siswa (Ardhana, et al., 2003; Ardhana, et al., 2004;
Ardhana, et al., 2005). Berdasarkan penelitian selama dua tahun yang telah
dilakukan oleh Santyasa et al (2005) dan Santyasa et al (2006) secara konsisten
terungkap, bahwa penerapan model perubahan konseptual sebagai IIA
memberikan dampak positif dalam pemerolehan belajar berupa peningkatan
pemahaman, kemampuan pemecahan masalah, dan keterampilan menggunakan
pengetahuan secara bermakna.
       Sementara itu, budaya melakukan classroom action research (CAR) bagi
para guru masih sangat rendah. Rendahnya budaya melakukan CAR tersebut
disebabkan karena pemahaman para guru terhadap konsep-konsep CAR belum
memadai. Santyasa dan Suwindra (2007) mengungkapkan bahwa pemahaman
guru terhadap konsep dasar CAR relatif rendah. Alasan-alasan guru tidak
memahami CAR secara mendalam adalah karena sebagian besar dari mereka
belum mengerti tentang CAR dan sebagian kecil menyatakan pernah mengikuti
in-service training (pelatihan), namun yang diperoleh hanya makalah seminar.
Dalam kegiatan pelatihan bagi sebagian kecil guru-guru tersebut, konsep-konsep
CAR memang telah diberikan kepada para guru dari tingkat sekolah dasar hingga
sekolah menengah. Persoalannya adalah, apakah pelaksanaan pelatihan-pelatihan
CAR pada sebagian kecil guru-guru tersebut telah menggunakan model pelatihan
yang operasional praktis? Pertanyaan ini memberikan inspirasi dan sekaligus
menjadikannya sebagai sebuah tema kajian yang sangat menarik. Hal ini penting

                                                                               15
dilakukan, karena secara teoretis, CAR dapat digunakan sebagai dasar pembinaan
profesi dan peningkatan kompetensi guru (Jones & Song, 2005; Kirkey, 2005;
McIntosh, 2005). CAR dapat membantu (1) pengembangan kompetensi guru
dalam menyelesaikan masalah pembelajaran mencakup kualitas isi, efisiensi, dan
efektivitas pembelajaran, proses, dan perolehan belajar siswa, (2) peningkatan
kemampuan pembelajaran akan berdampak pada peningkatan kompetensi
kepribadian, sosial, dan profesional guru (Prendergast, 2002). Penjelasan
Prendergast tersebut mengindikasikan, bahwa CAR tidak hanya dapat
memfasilitasi guru untuk meningkatkan profesionlisme, tetapi juga berdampak
positif dalam peningkatan kualitas proses dan perolehan belajar siswa.
       Lesson Study (LS) atau Kaji Pembelajaran adalah suatu pendekatan
peningkatan pembelajaran yang awal mulanya berasal dari Jepang. Di Indonesia,
LS telah diterapkan di tiga daerah (Malang, Yogyakarta, dan Bandung) sejak
tahun 2006 melalui skema Strengthening In-Service Teacher Training of
Mathematics and Science (SISTTEMS)(Susilo, 2007). Di Bali, isu tentang LS
baru terdengar pada awal tahun 2007, dan itupun hanya pada tatanan seminar.
Model pelatihan yang operasional dan praktis tentang LS sampai saat ini belum
ditemukan di Indonesia pada umumnya dan di Bali pada khususnya. Fakta ini
mendorong munculnya gagasan untuk mengembangkan model pelatihan yang
operasional dan praktis serta pedoman penggunaannya. Secara teoretis, LS
menyediakan suatu cara bagi guru untuk dapat memperbaiki pembelajaran secara
sistematis (Podhorsky & Moore, 2006). LS menyediakan suatu proses untuk
berkolaborasi   dan   merancang    lesson    (pembelajaran)   dan    mengevaluasi
kesuksesan strategi-strategi mengajar yang telah diterapkan sebagai upaya
meningkatkan proses dan perolehan belajar siswa (Lewis, 2002; Lewis, et al.,
2006; Yuliati, et al., 2006). Dalam proses-proses LS tersebut, guru bekerja sama
untuk merencanakan, mengajar, dan mengamati suatu pembelajaran yang
dikembangkannya       secara   kooperatif.   Sementara    itu,      seorang   guru
mengimplementasikan pembelajaran dalam kelas, yang lain mengamati, dan
mencatat pertanyaan dan pemahaman siswa. Penggunaan proses Lesson Study

                                                                                16
dengan program-program pengembangan yang profesional tersebut merupakan
wahana untuk mengembalikan guru kepada budaya mengajar yang proporsional
(Lewis & Tsuchida, 1998).


Menyadari banyaknya guru yang belum memenuhi kriteria profesional, guru dan
penanggung jawab pendidikan harus mengambil langkah. Hal-hal yang dapat
dilakukan di antaranya:
       (1) penyelenggaraan pelatihan. Dasar profesionalisme adalah kompetensi.
          Sementara itu, pengembangan kompetensi mutlak harus berkelanjutan.
          Caranya, tiada lain dengan pelatihan.
       (2) Pembinaan perilaku kerja. Studi-studi sosiologi sejak zaman Max
          Weber di awal abad ke-20 dan penelitian-penelitian manajemen dua
          puluh tahun belakangan bermuara pada satu kesimpulan utama bahwa
          keberhasilan pada berbagai wilayah kehidupan ternyata ditentukan
          oleh perilaku manusia, terutama perilaku kerja.
       (3) Penciptaan waktu luang. Waktu luang (leisure time) sudah lama
          menjadi sebuah bagian proses pembudayaan. Salah satu tujuan
          pendidikan klasik (Yunani-Romawi) adalah menjadikan manusia
          makin menjadi "penganggur terhormat",dalam arti semakin memiliki
          banyak waktu luang untuk mempertajam intelektualitas (mind) dan
          kepribadian (personal).
       (4) Peningkatan kesejahteraan. Agar seorang guru bermartabat dan
          mampu "membangun" manusia muda dengan penuh percaya diri, guru
          harus memiliki kesejahteraan yang cukup.
    Berdasarkan alasan yang mendasar tentang pentingnya IIA, LS, CAR bagi
guru dan siswa tersebut, maka model pelatihan IIA, LS, dan CAR sangat
mendorong untuk segera dikembangkan dalam penelitian ini. Penelitian
pengembangan model pelatihan untuk pembinaan profesi guru dilakukan selama 3
tahun (2008-2010). Pelaksanaan penelitian pada tahun I (2008) lebih fokus untuk



                                                                            17
mengungkap keberadaan dan pentingnya pengembangan model-model pelatihan
IIA, LS, dan CAR untuk pembinaan provesi guru.
       Kegiatan yang membuat seseorang belajar memerlukan suatu disiplin
ilmu, agar dapat melaksanakan tugas secara sistematis dan logis yang disebut
profesi.

       Profesi merupakan bidang pekerjaan yang dilandasi pendidikan keahlian
(keterampilan, kejuruan, dsb) tertentu sehingga mempunyai kompetensi (Kamus
Besar Bahasa Indonesia). Profesi adalah deklarasi, pengakuan tentang keyakinan
…, termasuk cabang belajar atau sains (The New Oxford Encyclopedic
Dictionary, 1991: 1348). Pendidikan keahlian ini dapat saja diikuti seseorang
secara formal dalam lembaga persekolahan. Atau dapat juga dipelajari secara
otodidak (belajar sendiri) yang pencapaiannya berupa kinerja yang dapat diakui
oleh masyarakat profesional dan masyarakat luas (tanpa perlu ada perjanjian
terlebih dahulu antar masyarakat).

       Profesionalisme dapat dikatakan sebagai mutu, kualitas, dan tindak-
tanduk yang merupakan ciri suatu profesi atau orang yang profesional (memiliki
keahlian). Hal ini ditandai dengan adanya standar atau jaminan mutu seseorang
dalam melakukan suatu upaya profesional. Jaminan mutu ini dapat saja dalam
kalangan terbatas – di lingkungan profesi – atau dapat juga dalam lingkungan
yang luas – oleh masyarakat umum membuat penilaian terhadap kinerjanya.

Dengan demikian profesionalisme bagi guru adalah mutu dan kualitas yang selalu
tercermin pada dirinya sehingga menjadi cirri khas dalam tindak-tanduk dalam
melaksanakan tugas pokok dan fungsinya sebagai guru di sekolah.

       Kompetensi Profesional guru merupakan kondisi, arah, nilai, tujuan dan
kualitas suatu keahlian dan kewenangan dalam bidang pendidikan dan pengajaran
yang berkaitan dengan pekerjaan seseorang yang menjadi mata pencaharian.
Profesionalisme guru yang dimaksud dalam skripsi ini adalah guru Fiqih
Ibadah yang profesional. Adapun guru profesional itu sendiri adalah guru yang
berkualitas, berkompetensi, dan guru yang dikehendaki untuk mendatangkan

                                                                           18
prestasi belajar serta mampu mempengaruhi proses belajar mengajar siswa, yang
nantinya akan menghasilkan prestasi belajar siswa yang lebih baik. Kompetensi
guru yang diteliti meliputi empat kategori. Pertama, kemampuan guru dalam
merencanakan program belajar mengajar. Kedua, kemampuan guru dalam
menguasai bahan pelajaran. Ketiga, kemampuan guru dalam melaksanakan dan
memimpin/mengelola proses belajar mengajar. Dan keempat, kemampuan dalam
menilai kemajuan proses belajar mengajar.
       ―Kompetensi Profesionalisme Guru‖ dirujuk dari pendapat para ahli
tentang apa dan bagaimana kompetensi seorang guru yang profesional. Dalam
rangka turut serta mencerdaskan kehidupan bangsa, peranan guru sangat penting
sekali untuk membentuk sumber daya manusia yang berkualitas dan berakhlak
mulia. Kita sadari, bahwa peran guru sampai saat ini masih eksis, sebab sampai
kapanpun posisi/peran guru tersebut tidak akan bisa digantikan sekalipun dengan
mesin sehebat apapun, mengapa ? Karena, guru sebagai seorang pendidik juga
membina sikap mental yang menyangkut aspek-aspek manusiawi dengan
karakteristik yang beragam dalam arti berbeda antara satu siswa dengan lainnya.
Banyak pengorbanan yang telah diberikan oleh seorang guru semata-mata ingin
melihat anak didiknya bisa berhasil dan sukses kelak. Tetapi perjuangan guru
tersebut tidak berhenti sampai disitu, guru juga merasa masih perlu meningkatkan
kompetensinya agar benar-benar menjadi guru yang lebih baik dan lebih
profesional   terutama    dalam    proses    belajar   mengajar     sehari-hari.
       Pada dasarnya terdapat seperangkat tugas yang harus dilaksanakan oleh
guru berhubungan dengan profesinya sebagai pengajar, tugas guru ini sangat
berkaitan dengan kompetensi profesionalnya. Hakikat profesi guru merupakan
suatu profesi, yang berarti suatu jabatan yang memerlukan keahlian khusus
sebagai guru dan tidak dapat dilakukan oleh sembarang orang di luar bidang
pendidikan. Walaupun pada kenyataannya masih terdapat hal-hal tersebut di luar
bidang kependidikan.


Ciri seseorang yang memiliki kompetensi apabila dapat melakukan sesuatu, hal ini

                                                                              19
sesuai dengan pendapat Munandar bahwa, kompetensi merupakan daya untuk
melakukan suatu tindakan sebagai hasil dari pembawaan dan latihan. Pendapat ini,
menginformasikan dua faktor yang mempengaruhi terbentuknya kompetensi,
yakni ; (a) faktor bawaan, seperti bakat, dan (b) faktor latihan, seperti hasil
belajar.


Menurut Soedijarto, Guru yang memiliki kompetensi profesional perlu menguasai
antara lain :
           (a) disiplin ilmu pengetahuan sebagai sumber bahan pelajaran,
           (b) bahan ajar yang diajarkan,
           (c) pengetahuan tentang karakteristik siswa,
           (d) pengetahuan tentang filsafat dan tujuan pendidikan,
           (e) pengetahuan serta penguasaan metode dan model mengajar,
           (f) penguasaan terhadap prinsip-prinsip teknologi pembelajaran,
           (g) pengetahuan    terhadap      penilaian,   dan     mampu     merencanakan,
              memimpin,           guna        kelancaran         proses      pendidikan.
              Tuntutan atas berbagai kompetensi ini mendorong guru untuk
              memperoleh informasi yang dapat memperkaya kemampuan agar tidak
              mengalami ketinggalan dalam kompetensi profesionalnya. Semua hal
              yang disebutkan diatas merupakan hal yang dapat menunjang
              terbentuknya kompetensi guru. Dengan kompetensi profesional
              tersebut,   dapat   diduga berpengaruh           pada   proses pengelolaan
              pendidikan sehingga mampu melahirkan keluaran pendidikan yang
              bermutu. Keluaran yang bermutu dapat dilihat pada hasil langsung
              pendidikan yang berupa nilai yang dicapai siswa dan dapat juga dilihat
              dari dampak pengiring, yakni dimasyarakat. Selain itu, salah satu unsur
              pembentuk kompetensi profesional guru adalah tingkat komitmennya
              terhadap profesi guru dan didukung oleh tingkat abstraksi atau
              kemampuan       menggunakan          nalar.
              Guru yang rendah tingkat komitmennya, ditandai oleh ciri-ciri sebagai

                                                                                      20
           berikut                                                             ;
           a. Perhatian yang disisihkan untuk memerhatikan siswanya hanya
               sedikit.
           b. Waktu dan tenaga yang dikeluarkan untuk melaksanakan tugasnya
               hanya sedikit.
   3) guru yang mempunyai tingkatan komitmen tinggi, ditandai oleh
               ciri-cirisebagai berikut:
               -     Perhatiannya terhadap siswa cukup tinggi.
               -     Waktu dan tenaga yang dikeluarkan untuk melaksanakan
                     tugasnya banyak.
               -     Banyak bekerja untuk kepentingan orang lain.
        Kompetensi guru berkaitan dengan profesionalisme, yaitu guru yang
profesional adalah guru yang kompeten (berkemampuan). Karena itu, kompetensi
profesionalisme guru dapat diartikan sebagai kemampuan dan kewenangan guru
dalam    menjalankan      profesi   keguruannya    dengan    kemampuan   tinggi.
Profesionalisme seorang guru merupakan suatu keharusan dalam mewujudkan
sekolah berbasis pengetahuan,           yaitu pemahaman tentang pembelajaran,
kurikulum, dan perkembangan manusia termasuk gaya belajar. Pada umumnya di
sekolah-sekolah yang memiliki guru dengan kompetensi profesional akan
menerapkan ―pembelajaran dengan melakukan‖ untuk menggantikan cara
mengajar dimana guru hanya berbicara dan peserta didik hanya mendengarkan.
        Dalam suasana seperti itu, peserta didik secara aktif dilibatkan dalam
memecahkan masalah, mencari sumber informasi, data evaluasi, serta menyajikan
dan mempertahankan pandangan dan hasil kerja mereka kepada teman sejawat
dan yang lainnya. Sedangkan para guru dapat bekerja secara intensif dengan guru
lainnya dalam merencanakan pembelajaran, baik individual maupun tim,
membuat keputusan tentang desain sekolah, kolaborasi tentang pengembangan
kurikulum,         dan        partisipasi      dalam        proses   penilaian.
        Kompetensi profesional seorang guru adalah seperangkat kemampuan
yang harus dimiliki oleh seorang guru agar ia dapat melaksanakan tugas

                                                                             21
mengajarnya dengan berhasil. Adapun kompetensi yang harus dimiliki oleh
seorang guru, terdiri dari 3 (tiga) yaitu ; kompetensi pribadi, kompetensi sosial,
dan kompetensi profesional mengajar. Keberhasilan guru dalam menjalankan
profesinya sangat ditentukan oleh ketiganya dengan penekanan pada kemampuan
mengajar.
       Dengan demikian, bahwa untuk menjadi guru profesional yang memiliki
akuntabilitas dalam melaksanakan ketiga kompetensi tersebut, dibutuhkan tekad
dan keinginan yang kuat dalam diri setiap guru atau calon guru untuk
mewujudkannya. Sebagai seorang guru perlu mengetahui dan menerapkan
beberapa prinsip mengajar agar seorang guru dapat melaksanakan tugasnya secara
profesional,yaitu sebagai berikut :
   (a) Guru harus dapat membangkitkan perhatian peserta didik pada materi
       mata pelajaran yang diberikan serta dapat menggunakan berbagai
       media dan sumber belajar yang bervariasi.
   (b) Guru harus dapat membangkitkan minat peserta didik untuk aktif dalam
       berpikir serta mencari dan menemukan sendiri pengetahuan.
   (c) Guru harus dapat membuat urutan (sequence) dalam pemberian pelajaran
       dan penyesuaiannya dengan usia dan tahapan tugas perkembangan peserta
       didik.
   (d) Guru perlu menghubungkan pelajaran yang akan diberikan dengan
       pengetahuan yang telah dimiliki peserta didik (kegiatan apersepsi), agar
       peserta didik menjadi mudah dalam memahami pelajarannya yang
       diterimanya.
   (e) Sesuai dengan prinsip repitisi dalam proses pembelajaran, diharapkan guru
       dapat menjelaskan unit pelajaran secara berulang-ulang hingga tanggapan
       peserta didik menjadi jelas.
   (f) Guru wajib memerhatikan dan memikirkan korelasi atau hubungan antara
       mata pelajaran dan/atau praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari.




                                                                               22
           (g) Guru harus tetap menjaga konsentrasi belajar para peserta didik dengan
               cara memberikan kesempatan berupa pengalaman secara langsung,
               mengamati/meneliti, dan menyimpulkan pengetahuan yang didapatnya.
           (h) Guru harus mengembangkan sikap peserta didik dalam membina
               hubungan sosial, baik dalam kelas maupun diluar kelas.
           (i) Guru harus menyelidiki dan mendalami perbedaan peserta secara
               individual agar dapat melayani siswa sesuai dengan perbedaannya
               tersebut.
           (j) Guru juga dapat melaksanakan evaluasi yang efektif serta menggunakan
               hasilnya     untuk   mengetahui     prestasi    dan   kemajuan    siswa   serta
               menggunakan hasilnya untuk mengetahui prestasi dan kemajuan siswa
               serta       dapat     melakukan          perbaikan    dan      pengembangan.
               Seiring dengan kemajuan teknologi informasi yang berkembang pesat,
               guru tidak lagi hanya bertindak sebagai penyaji informasi, tetapi juga
               harus mampu bertindak sebagai fasilitator, motivator, dan pembimbing
               yang lebih banyak memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk
               mencari dan mengolah sendiri informasi. Dengan demikian keahlian guru
               harus terus dikembangkan dan tidak hanya terbatas pada penguasaan
               prinsip mengajar seperti yang telah diuraikan diatas.


               Bertitik tolak dari pendapat para ahli tersebut di atas, maka yang dimaksud
        ―Kompetensi Profesionalisme Guru‖ adalah orang yang memiliki kemampuan dan
        keahlian khusus dalam bidangnya sehingga ia mampu menjalankan tugas dan
        fungsinya      sebagai      seorang      guru      dengan     hasil     yang     baik.


2.1.3   Etos Kerja

               Kamus Wikipedia menyebutkan bahwa etos berasal dari bahasa Yunani;
        akar katanya adalah ethikos, yang berarti moral atau menunjukkan karakter moral.
        Dalam bahasa Yunani kuno dan modern, etos punya arti sebagai keberadaan diri,
        jiwa, dan pikiran yang membentuk seseorang. Pada Webster's New Word
                                                                                           23
Dictionary, 3rd College Edition, etos didefinisikan sebagai kecenderungan atau
karakter; sikap, kebiasaan, keyakinan yang berbeda dari individu atau kelompok.
Bahkan dapat dikatakan bahwa etos pada dasarnya adalah tentang etika.

         Etika tentu bukan hanya dimiliki bangsa tertentu. Masyarakat dan bangsa
apapun mempunyai etika; ini merupakan nilai-nilai universal. Nilai-nilai etika
yang dikaitkan dengan etos kerja seperti rajin, bekerja, keras, berdisplin tinggi,
menahan diri, ulet, tekun dan nilai-nilai etika lainnya bisa juga ditemukan pada
masyarakat dan bangsa lain. Kerajinan, gotong royong, saling membantu, bersikap
sopan misalnya masih ditemukan dalam masyarakat kita. Perbedaannya adalah
bahwa pada bangsa tertentu nilai-nilai etis tertentu menonjol sedangkan pada
bangsa lain tidak.

         Dalam perjalanan waktu, nilai-nilai etis tertentu, yang tadinya tidak
menonjol atau biasa-biasa saja bisa menjadi karakter yang menonjol pada
masyarakat atau bangsa tertentu. Muncullah etos kerja Miyamoto Musashi, etos
kerja Jerman, etos kerja Barat, etos kerja Korea Selatan dan etos kerja bangsa-
bangsa maju lainnya. Bahkan prinsip yang sama bisa ditemukan pada pada etos
kerja yang berbeda sekalipun pengertian etos kerja relatif sama. Sebut saja
misalnya berdisplin, bekerja keras, berhemat, dan menabung; nilai-nilai ini
ditemukan dalam etos kerja Korea Selatan dan etos kerja Jerman atau etos kerja
Barat.

         Bila ditelusuri lebih dalam, etos kerja adalah respon yang dilakukan oleh
seseorang, kelompok, atau masyarakat terhadap kehidupan sesuai dengan
keyakinannya masing-masing. Setiap keyakinan mempunyai sistem nilai dan
setiap orang yang menerima keyakinan tertentu berusaha untuk bertindak sesuai
dengan keyakinannya. Bila pengertian etos kerja re-definisikan, etos kerja adalah
respon yang unik dari seseorang atau kelompok atau masyarakat terhadap
kehidupan; respon atau tindakan yang muncul dari keyakinan yang diterima
dan respon itu menjadi kebiasaan atau karakter pada diri seseorang atau

                                                                               24
        kelompok atau masyarakat. Dengan kata lain, etika kerja merupakan produk
        dari sistem kepercayaan yang diterima seseorang atau kelompok atau masyarakat.

               Bagaimana etos kerja di Indonesia? Di republik ini, Jansen Sinamo
        menyajikan 8 Etos Kerja Professional dengan ciri-ciri sebagai berikut:

        1)     Kerja adalah Rahmat
        2)     Kerja adalah Amanah
        3)     Kerja adalah Panggilan
        4)     Kerja adalah Aktualisasi
        5)     Kerja adalah Ibadah
        6)     Kerja adalah Seni
        7)     Kerja adalah Kehormatan
        8)     Kerja adalah Pelayanan

               Berdasarkan pengertian etos kerja di atas dapat ditarik ketegasan bahwa
        yang dimaksud etos kerja bagi guru adalah melaksanakan tugas profesinya
        secara sungguh-sungguh, berdisiplin, berdedikasi, dengan tulus ikhlas, serta
        menyadari bahwa tupoksi professional tersebut dilaksanakan dengan kiat-kiat
        yang sesuai dan berfungsi untuk memberikan pelayanan sebaik-baiknya kepada
        peserta didik, sehingga profesi tersebut memiliki nilai kehormatan dan
        bermartabat.

2.1.4   Kompetensi Guru

               Dalam suatu profesi, kemampuan melaksanakan tugas dari keahlian yang
        menjadi tanggung jawab sebagai guru merupakan syarat utama. Kemampuan
        dasar itulah yang dinamakan kompetensi.
        ―Kompetensi adalah kewenangan (kekuasaan) untuk menentukan (memutuskan)
        sesuatu‖. Seseorang yang melaksanakan suatu pekerjaan mempunyai kewenangan
        untuk membuat sebuah keputusan. Pada pekerjaan profesi kewenangan untuk
        mengambil keputusan dimiliki oleh orang yang mempunyai profesi tersebut.

                                                                                    25
Setiap profesi harus diikuti oleh kompetensi bagi pemiliknya, sehingga pekerjaan
tersebut mempunyai arti dalam penerapannya.
       Sahertian   mengatakan      bahwa    ―Kompetensi      adalah   kemampuan
melaksanakan sesuatu yang diperoleh melalui pendidikan dan latihan‖. Dari
pendapat tersebut dapat diartikan bahwa kompetensi merupakan penguasaan
dalam suatu bidang ilmu yang diperoleh dengan mengikuti pendidikan dan
latihan. Semakin tinggi tingkat pendidikan yang ditempuh seseorang, dan semakin
sering berlatih, akan semakin tinggi seseorang sangat membantu dalam
melaksanakan tugasnya. Sahertian mengemukakan bahwa guru yang kompeten
harus mampu mengembangkan tiga aspek kompetensi pada dirinya, yaitu: (a).
Kompetensi pribadi (b). Kompetensi profesional, dan (c). Kompetensi sosial.
Selain pendapat di atas, pendapat lain tentang kompetensi dikemukakan oleh
Houston sebagaimana berikut:
     Seseorang yang dikatakan kompeten dibidang tertentu adalah
     seseorang yang menguasai kecakapan kerja atau keahlian selaras
     dengan tuntutan bidang kerja yang bersangkutan, dan mempunyai
     wewenang dalam pelayanan sosial dimasyarakatnya, yang secara
     kompeten orang tersebut mampu bekerja dibidangnya secara efektif
     dan efisien.

       Dari pendapat di atas dapat dimengerti bahwa kompetensi adalah
kemampuan seseorang dalam penguasaan pekerjaan yang menjadi keahliannya.
Kemampuan tersebut diakui oleh sesama profesinya dan masyarakat, karena
seseorang yang mempunyai kompetensi dalam suatu bidang pekerjaan diharapkan
mampu bekerja dengan berdaya guna dan berhasil guna.
       Selain pendapat di atas, ada pendapat yang lebih merinci tentang
kompetensi yang dikatakan oleh Cooper dalam bukunya The Teacher As A
Decision Maker, mencakup: (a). Memiliki pengetahuan tentang belajar dan
tingkah laku manusia (peserta didik). (b). Memiliki sikap yang tepat terhadap diri
sendiri, sekolah, peserta didik, teman sejawat dan mata pelajaran yang dibina. (c).
Menguasai mata pelajaran yang akan diajarkan. (d). Memiliki keterampilan teknis
dalam mengajar, dan strategi belajar mengajar.


                                                                                26
                 Sedangkan Zamroni berpendapat ―bahwa guru memerlukan tiga
          kemampuan dasar, yakni Didaktik, Coaching dan Socratic. Dari sini sudah jelas
          bahwa sudah saatnya posisi mengajar diletakkan kembali pada profesi yang tepat
          untuk pembinaan dan pengembangan profesional kemampuan guru, yang
          diperlukan bukannya juknis, juklak dan intruksi serta berbagai pedoman yang
          cenderung mematikan kreatifitas guru.
                 Agar kompetensi (kemampuan) guru memperoleh kemampuan dan
          peningkatan, maka guru harus aktif dalam program-program pelatihan guru, baik
          di dalam maupun diluar sekolah. Selain itu guru juga harus mengembangkan
          kompetensinya melalui perpustakaan-perpustakaan. Dengan demikian guru tidak
          akan ketinggalan dalam menyerap informasi baru tentang pengajaran. Supaya
          kompetensi profesional benar-benar dikuasai oleh guru, maka seorang guru harus
          memiliki motivasi kompetensi dalam dirinya. ―Motivasi kompetensi adalah
          dorongan untuk mencapai keunggulan kerja, meningkatkan keterampilan
          pemecahan masalah, dan berusaha keras untuk inovatif‖.
                 Sedangkan menurut Raka Joni Dalam suyatno mengemukakan ada tiga
          dimensi umum yang menjadi kompetensi tenaga pendidikan: (a). Kompetensi
          personal. (b). Kompetensi profesional. (c). Kompetensi kemasyarakatan. Dari
          pendapat tersebut dapat dipahami bahwa seorang guru harus merupakan sosok
          yang berkualifikasi berbagai kemampuan yang akan tercermin pada karakter
          kepribadiannya.
                 Selain dari beberapa pendapat di atas, sebagaimana telah diuraikan pada
          bagian pendahuluan, bahwa menurut Permendiknas RI No. 16 Tahun 2007
          kompetensi    guru   meliputi:   1)   Kompetensi   Pedagogik,   2)   Kompetensi
          Kepribadian, 3) Kompetensi Sosial, dan 4) Kompetensi Profesional.


2.2 Kerangka Berpikir
   2.1.1 Etos Kerja Sangat Berpengaruh terhadap Hasil Kinerja
   2.1.2 Pembinaan Etos Kerja Meningkatkan Profesional dan Kompetensi guru



                                                                                       27
3   Mutu Lulusan Hasil Belajar




                                             BAB III

                             METODOLOGI PENELITIAN

       Dalam kaitannya dengan tugas pokok dan fungsi guru dalam pembelajaran, maka jenis
penelitian yang dilakukan guru sebaikinya adalah penelitian yang memiliki dampak terhadap
pengembangan profesi guru dan peningkatan mutu pembelajaran. Salah satu jenis penelitian
ditinjau dari tingkat eksplanasinya adalah penelitian deskriptif (Sugiyono: 2006, 5), penelitian
ini dilakukan dalam kaitannya dengan proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru di kelas .
Penelitian dan tulisan ini mendeskripsikan upaya yang telah dilakukan guru untuk memecahkan
masalah dalam pembelajaran (Suhardjono: 2005). Upaya tersebut dapat berupa penggunaan
metode pembelajaran yang baru, metode penilaian atau upaya lain dalam rangka memecahkan
masalah yang dihadapi guru atau dalam rangka meningkatkan mutu pembelajaran. Dilihat dari
syarat penelitian deskriptif yang sesuai dengan kegiatan pengembangan profesi tersebut
(mendeskripsikan upaya yang telah dilakukan), maka apabila penelitian seperti itu dilakukan
secara terencana oleh peneliti maka dapat dikategorikan sebagai jenis penelitian Pre
Experimental Design One Shot Case Study atau One-Group Pretest-Posttest Design (Sugiyono:
2006, 83). Namun demikian, karena pelaksanaan penelitian dilakukan setelah kejadian
berlangsung (ini ciri penelitian deskriptif) maka tetap dikatakan sebagai penelitian deskriptif.
Jenis penelitian deskriptif sendiri dapat dikelompokkan dalam tiga kelompok, yaitu (1) apabila
hanya mendeskripsikan data apa adanya dan menjelaskan data atau kejadian dengan kalimat-
kalimat penjelasan secara kualitatif maka disebut penelitian deskriptif kualitatif; (2) Apabila
dilakukan analisis data dengan menghubungkan antara satu variabel dengan variabel yang lain
maka disebut deskriptif asosiatif; dan (3) apabila dalam analisis data dilakukan pembandingan
maka disebut deskriptif komparatif. Dan karena untuk penelitian deskriptif yang dilakukan guru
harus berorientasi pada pemecahan masalah atau peningkatan mutu pembelajaran maka lebih


                                                                                                   28
tepatnya rancangan penelitian seperti itu disebut penelitian deskriptif yang berorientasi
pemecahan masalah atau peningkatan mutu,




                                            BAB IV

                                       PEMBAHASAN



   1. Alasan pemilihan strategi pemecahan masalah

               Guru sebagai pengajar atau pendidik, guru merupakan salah satu faktor penentu
       keberhasilan setiap usaha pendidikan dengan pengajaran. Itulah sebabnya setiap adanya
       inovasi pembelajaran, khususnya mengenai masalah kurikulum dan peningkatan sumber
       daya yang dimiliki oleh siswa yang dihasilkan oleh pembelajaran, sering bermuara pada
       faktor kemampuan guru. Hal tersebut menunjukkan bahwa guru dituntut untuk senantiasa
       berperan aktif dan eksis dalam dunia pendidikan.
               Sehubungan dengan prestasi belajar siswa, keahlian dan kepribadian guru
       merupakan salah satu faktor yang sangat berperan sekaligus menjadi loncatan bagi siswa
       untuk meraih keberhasilan khususnya prestasi baik dari segi analisis maupun kemampuan
       mendayagunakan ilmu pengetahuan yang dimilikinya.
               Profesionalisme berakar pada kata profesi yang berarti pekerjaan yang dilandasi
       pendidikan keahlian, profesionalisme itu sendiri dapat berarti mutu, kualitas, dan tindak
       tanduk yang merupakan ciri suatu profesi atau orang yang profesional. Profesionalisme
       guru dapat berarti guru yang profesional.
               Menurut Sanusi, et.al dalam Sujipto (1994:17) bahwa ciri-ciri utama suatu profesi
       itu sebagai berikut :
               a)      Suatu jabatan yang memiliki fungsi dan signifikansi sosoial yang
                       menentukan (crusial).

                                                                                             29
       b)      Jabatan yang menuntut keterampilan/keahlian tertentu
       c)      Keterampilan/keahlian yang dituntut jabatan itu didapat melalui
       d)      pemecahan masalah dengan menggunakan teori dan metode ilmiah.
       e)      Jabatan itu berdasarkan pada batang tubuh disiplin ilmu yang jelas,
               sistematik, eksplisit yang bukan hanya sekedar pendapat khalayak
               umum.
       f)      Jabatan itu memerlukan pendidikan tingkat perguruan tinggi dengan waktu
               yang cukup lama.
       g)      Proses pendidikan untuk jabatan itu juga aplikasi dan sosialisasi nilai-nilai
               profesional itu sendiri.
       h)      Dalam memberikan layanan kepada masyarakat anggota profesi itu
               berpegang teguh pada kode etik yang timbul yang dikontrol oleh
               organisasi profesi.
       i)      Tiap anggota profesi mempunyai kebebasan dalam memberikan
               judgement terhadap permasalahan profesi yang dihadapinya.
       j)      Dalam prakteknya melayani masyarakat anggota profesi otonom dan
               bebas dari campur tangan orang lain.
       k)      Jabatan ini mempunyai prestise yang tinggi dalam masyarakat dan oleh
               karenanya memperoleh imbalan yang tinggi pula.


       Ini berarti bahwa pekerjaan yang bersifat profesional adalah pekerjaan yang hanya
dapat dilakukan oleh mereka yang khusus dipersiapkan untuk itu dan bukan pekerjaan
yang dilakukan oleh mereka yang karena tidak dapat memperoleh pekerjaan yang lain.
       Dengan bertitik tolak dari pengertian ini, maka guru profesional adalah orang
yang memiliki keahlian khusus dalam bidang keguruan sehingga mampu melaksanakan
tugas-tugasnya dengan maksimal atau dengan kata lain guru profesional adalah orang
yang terdidik dan terlatih dengan baik serta memiliki pengalaman yang kaya
dibidangnya.
       Perihal teori tentang guru profesional telah banyak dikemukakan oleh para pakar
manajemen pendidikan, seperti Rice & Bishoporik dalam Bafadal (2003:5) dan Glickman

                                                                                          30
dalam Bafadal (2003:5) guru profesional adalah guru yang mampu mengelola dirinya
sendiri dalam melaksanakan tugas-tugasnya. Profesionalisasi guru oleh kedua pasangan
tersebut dipandang sebagi sebuah proses gerak yang dinamis dari ketidaktahuan
(ignorance) menjadi tahu, dari ketidakmatangan (immaturity) menjadi matang, dari
diarahkan (other-directedness) menjadi mengarahkan diri sendiri. Peningkatan mutu
yang berbasis sekolah (MPMBS) mensyaratkan adanya guru-guru yang memilki
pengetahuan yang luas, kematangan, dan mampu menggerakkan dirinya sendiri dalam
rangka meningkatkan mutu pendidikan. Oleh karena itu perlunya dilakukan peningkatan
mutu profesi seorang guru baik secara formal maupun secara informal. Peningkatan
secara formal merupakan peningkatan mutu melalui pendidikan dalam berbagai kursus,
sekolah, maupun kuliah di perguruan tinggi atau lembaga lain yang berhubungan dengan
bidang profesinya. Disamping itu, secara formal guru dapat saja meningkatkan mutu
profesinya dengan mendapatkan informasi dari media massa (surat kabar, majalah, radio,
televisi dan lain-lain) atu dari buku-buku yang sesuai dengan bidang profesi yang
bersangkutan.
       Sedangkan Glickman dalam Bafadal (2003: 5) menegaskan bahwa seorang akan
bekerja secara profesional bilamana orang tersebut memiliki kemampuan (ability) dan
motivasi (motivation). Maksudnya adalah seseorang akan bekerja secara profesional
bilamana memiliki kemampuan kerja yang tinggi dan kesungguhan hati untuk
mengerjakan dengan sebaik-baiknya.
       Lebih lanjut menurut Glickman, seorang guru profesional bilamana memiliki
kemampuan tinggi (high level of abstract) dan motivasi kerja tinggi (high level
commitment) komitmen lebih luas dari concern sebab komitmen itu mencakup waktu dan
usaha. Tingkat komitmen guru terbentang dalam satu garis kontinum, bergerak dari yang
paling rendah ketempat yang paling tinggi. Guru yang memiliki komitmen rendah
biasanya kurang memberikan perhatian kepada murid, demikian pula waktu dan tenaga
yang dikeluarkan untuk meningkatkan mutu pendidikan pun sedikit. Sebaliknya, seorang
guru yang memiliki komitmen yang tinggi biasanya tinggi sekali perhatian terhadap
murid, demikian pula waktu yang disediakan untuk peningkatan mutu pendidikan pun
lebih banyak. Sedangkan tingkat abstraksi yang dimaksudkan disini adalah kemampuan

                                                                                   31
guru dalam mengelola pembelajaran, mengklarifikasi masalah-masalah pembelajaran,
dan menentukan alternatif pemecahannya. Menurut Glickman dalam Bafadal (2003:5)
guru yang memiliki abstraksi yang tinggi adalah guru yang mampu mengelola tugas,
menemukan berbagai permasalahan dalam tugas, dan mampu secara mandiri
memecahkannya.
       Guru yang profesional bukan hanya sekadar alat untuk transmisi kebudayaan
tetapi mentransformasikan kebudayaan itu kearah budaya yang dinamis yang menuntut
penguasaan ilmu pengetahuan, produktivitas yang tinggi, dan kualitas karya yang
bersaing. Tugas seorang guru profesional meliputi tiga bidang utama: 1) dalam bidang
profesi, 2) dalam bidang kemanusiaan, 3) dalam bidang kemasyarakatan.
       Dalam bidang profesi, seorang guru profesional berfungsi untuk mengajar,
mendidik, melatih, dan melaksanakan penelitian masalah-masalah pendidikan. Dalam
bidang kemanusiaan, guru profesional berfungsi sebagai pengganti orang tua khususnya
didalam bidang peningkatan kemampuan intelektual peserta didik. Guru profesional
menjadi fasilitator untuk membantu peserta didik mentransformasikan potensi yang
dimiliki peserta didik menjadi kemampuan serta keterampilan yang berkembang dan
bermanfaat bagi kemanusiaan.
Adapun 10 kompetensi profesional guru yang dikutip Samana (1994) adalah :
1.     Guru dituntut mengusai bahan ajar, meliputi bahan ajar wajib, bahan ajar
       pengayaan, dan bahan ajar penunjang untuk keperluan pengajarannya. Guru
       mampu mengelola program belajar mengajar meliputi : Merumuskan tujuan
       instruksional; Mengenal dan dapat menggunakan metode pengajaran; Memilih
       dan menyusun prosedur instruksional yang tepat; Melaksanakan program belajar
       mengajar;   Mengenal    kemampuan    anak   didik;   dan   Merencanakan   dan
       melaksanakan pengajaran.
2.     Guru mampu mengelola kelas antara lain mengatur tata ruang kelas untuk
       pengajaran dan menciptakan iklim mengajar yang serasi sehingga Proses Belajar
       Mengajar berlangsung secara maksimal.
3.     Guru mampu mengunakan media dan sumber pengajaran untuk itu diharapkan
       mempunyai : Mengenal, memilih dan menggunakan media; Membuat alat bantu

                                                                                  32
       pengajaran sederhana; Menggunakan dan mengelola laboratorium dalam Proses
       Belajar Mengajar; Mengembangkan laboratorium; Menggunakan perpustakaan
       dalam Proses Belajar Mengajar; Menggunakan mikro teaching dalam PPL.
4.     Guru menghargai landasan-landasan pendidikan. Landasan pendidikan adalah
       sejumlah ilmu yang mendasari asas-asas dan kebijakan pendidikan baik di dalam
       sekolah maupun di luar sekolah.
5.     Guru mampu mengelola interaksi belajar mengajar. Dalam pengajaran guru
       dituntut cakap termasuk penggunaan alat pengajaran, media pengajaran dan
       sumber pengajaran agar siswa giat belajar bagi dirinya.
6.     Guru mampu menilai prestasi siswa untuk kepentingan pengajaran.
7.     Guru mengenal fungsi serta program pelayanan bimbingan dan penyuluhan.
8.     Guru mengenal dan menyelenggarakan administrasi sekolah.
9.     Memahami prinsip-prinsip dan menafsirkan hasil penelitian pendidikan guna
       keperluan pengajaran.
       Berkaitan dengan itu Sahabuddin (1993:6) mengemukakan bahwa seorang guru
profesional harus mempunyai empat gugus kemampuan yaitu: (a) merencanakan program
belajar mengajar, (b) melaksanakan dan memimpin Proses Belajar Mengajar, (c) menilai
kemajuan Proses Belajar Mengajar dan (d) memanfaatkan hasil penilaian kemajuan
belajar mengajar dan informasi lainnya dalam penyempurnaan Proses Belajar Mengajar.
Sedangkan dalam UU No. 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen pada pasal 10 ayat 1
disebutkan bahwa kompetensi guru meliputi : kompetensi pedagogik, kompetensi
kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh dari
pendidikan profesi.
       Didalam bidang kemasyarakatan, profesi guru berfungsi untuk memenuhi amanat
dalam pembukaan UUD 1945 yaitu ikut serta dalam mencerdaskan kehidupan bangsa
sesuai dengan diferensiasi tugas dari suatu masyarakat modern, sudah tentu tugas pokok
utama dari guru profesional ialah didalam bidang profesinya tanpa melupakan tugas-
tugas kemanusiaan dan kemasyarakatan.
       Untuk mencapai suatu profesionalisme bukanlah hal yang mudah, tapi harus
melalui suatu pendidikan dan latihan yang relevan dengan profesi yang ditekuni.

                                                                                   33
Profesionalitas sangat diperlukan di era global, jika tidak maka kita akan tergilas oleh
arus dan pada akhirnya tersisih.
       Demikian pula halnya dengan guru, sebuah profesi yang tak kalah mulianya
dibanding profesi yang lain, bahkan dari profesi inilah lahir generasi-generasi yang
diharapkan menjadi penentu masa depan. Guru adalah aset nasional intelektual bangsa
dalam pelaksanaan pendidikan yang mempersiapkan pengembangan potensi peserta didik
dalam rangka melahirkan sumber daya manusia yang mampu, cerdas, terampil dan
menguasai IPTEK serta berakhlak mulia guna menunjang peran serta dalam
pembangunan.
       Untuk mencapai pendidikan yang berkualitas tidaklah semudah membalik telapak
tangan, banyak masalah yang dihadapi dalam Proses Belajar Mengajar, diantaranya
keterbatasan sumber belajar, keterbatasan penguasaan pengetahuan untuk menyesuaikan
diri dengan perubahan dalam kemajuan pendidikan, cara menyampaikan materi pelajaran,
cara membantu anak agar belajar lebih baik, cara membuat dan memakai alat peraga,
peningkatan hasil belajar anak dan pelaksanaan berbagai perubahan kebijakan yang
berhubungan dengan tugasnya.
       Untuk menjawab permasalahan tersebut perlu diciptakan suatu sistem pembinaan
profesional bagi guru yang berfungsi memberi bantuan kepada guru agar mereka dapat
meningkatkan profesionalnya dengan berupaya menyelesaikan masalah yang hadapinya.
Menurut Shapero dalam Bafadal (2003:10) menegaskan bahwa untuk memiliki pegawai
yang profesional dapat ditempuh dengan menjawab 2 pertanyaan pokok yaitu bagaimana
mendapatkan guru profesional dan bagaimana memberdayakan guru sehingga mandiri
dalam meningkatkan mutu pendidikan. Kegiatan-kegiatan esensial untuk meningkatkan
profesionalisme guru dalam peningkatan mutu pendidikan yaitu: 1) rekrutmen guru mulai
dari perencanaan guru, seleksi guru dan pengangkatan guru, 2) peningkatan kemampuan
guru, 3) peningkatan motivasi kerja guru, 4) pengawasan kinerja guru.
       Pemerintah sudah menunjukkan perhatian serius terhadap guru dengan berupaya
meningkatkan anggaran pendidikan dan membuat produk hukum yang mengatur tentang
guru yaitu Undang-undang Guru.



                                                                                     34
              Dalam undang-undang ini, sudah diatur mulai dari ketentuan umum kedudukan
   fungsi dan tujuan, prinsip profesionalitas guru, kualifikasi kompetensi dan sertifikasi, hak
   dan kewajiban serta sanksi. Guru mempunyai kedudukan sebagai tenaga profesional pada
   jenjang pendidikan dasar, menengah, dan usia dini pada jalur pendidikan formal yang
   diangkat sesuai dengan aturan perundang-undangan. Guru berfungsi untuk meningkatkan
   martabat sebagai agen pembelajaran, pengembangan ilmu pengetahuan teknologi dan
   seni. Serta pengabdian pada masyarakat berfungsi meningkatkan mutu pendidikan
   nasional.
              Profesi guru merupakan bidang pekerjaan khusus yang dilaksanakan berdasarkan
   prinsip memiliki bakat minat, panggilan jiwa dan idealisme, memiliki komitmen untuk
   meningkatkan mutu pendidikan, keimanan, ketakwaan dan akhlak mulia. Memiliki
   kualifikasi akademik dan latar belakang pendidikan sesuai dengan bidang tugas.
   Memiliki tanggung jawab atas pelaksanaan tugas keprofesionalan, memperoleh
   penghasilan sesuai prestasi kerja. Memiliki kesempatan untuk mengembangkan
   keprofesionalan berkelanjutan dengan belajar sepanjang hayat.
              Memiliki   jaminan    perlindungan   hukum      dalam    melaksanakan      tugas
   keprofesionalan dan memiliki organisasi profesi yang mempunyai kewenangan mengatur
   hal-hak yang berkaitan dengan keprofesionalan guru.


2. Hasil atau dampak yang dicapai dari strategi yang dipilih

              Sebelum penulis menguraikan pengertian belajar terlebih dahulu diberikan
   pengertian belajar itu sendiri. Hal ini untuk mempermudah mendefinisikan prestasi
   belajar.
              Tentang pengertian belajar, telah banyak dikemukakan oleh para ahli sesuai
   dengan pandangan dan wawasan mereka masing-masing. Sebahagian berpendapat bahwa
   proses belajar itu terjadi di lembaga-lembaga formal saja atau di sekolah-sekolah saja.
   Persoalan ini bila kita kaji lebih dalam adalah kurang tepat, sebab proses belajar itu
   berlangsung di mana saja dan kapan saja.
              Dalam pembicaraan sehari-hari dapat diartikan sebagai suatu usaha untuk
   menguasai dan memiliki sesuatu, misalnya seseorang yang dikatakan belajar tentang
                                                                                            35
huruf-huruf Arab, ini berarti yang bersangkutan sedang berusaha menguasai dan
memiliki bacaan huruf Arab agar dapat lancar dan fasih dalam membacanya.
           Belajar adalah proses untuk sangat kompleks, yang terdiri dari berbagai ragam
kegiatan. Oleh sebab itu belajar sangat memerlukan aktivitas seseorang yang sedang
belajar. Pada prinsipnya belajar adalah mengarah kepada perkembangan pribadinya
sendiri.
           Menurut S Nasution, bahwa: belajar itu hanya menambah dan mengumpulkan
sejumlah ilmu pengetahuan.
           Menurut H. M. Said, bahwa belajar berarti suatu proses psikis yang akan
membawa perubahan atau peroleh baru dari disposisi psikis bagi perilaku tertentu.
Dengan jalan pikiran seperti ini, berarti bahwa belajar itu membawa perubahan atau
perolehan baru pada tingkah lakunya, pola pikirannya dalam menentukan pilihannya.

           Dari beberapa pendapat di atas dapat dikatakan bahwa seseorang dapat dikatakan
telah belajar apabila ia dapat melakukan sesuatu yang tak dapat dilakukan sebelumnya itu
berarti telah ada perubahan dalam dirinya yang disebabkan adanya proses belajar
sebelumnya.
           Jadi belajar adalah suatu aktivitas psikis yang dilakukan agar terjadi perubahan
dalam diri seseorang sebagai akibat dari adanya pengalaman dan latihan. Sedangkan
perubahan itu meliputi perubahan seluruh aspek kepribadian, yaitu pengetahuan, sikap,
dan tingkah laku.


Pengertian Prestasi Belajar
           Prestasi belajar siswa diperoleh dari adanya usaha yang dilakukan dalam aktivitas
belajar, dimana usaha yang dilakukan tersebut bukan hanya semata-mata lakon siswa,
tetapi harus melibatkan pihak-pihak lain, misalnya: guru dan orang tua, sebab dengan
keterlibatan orang lain akan memberikan nilai tambah pada usaha seseorang untuk
mencapai prestasi yang baik. Untuk menilai sejauh mana kemajuan yang telah diperoleh
dapat diukur lewat kemajuan cara belajarnya.
           Menurut pendapat Poerwadarminta bahwa: prestasi adalah hal-hal yang dicapai
(dilakukan, dikerjakan dan lain sebagainya).

                                                                                         36
       Selanjutnya S. Nasution, mengatakan bahwa ―Prestasi belajar dapat dirumuskan
seperti yang telah dikuasai oleh setiap individu yang telah melakukan sesuatu kegiatan
belajar dalam rentang waktu tertentu‖.
       Dengan demikian dapat dikatakan bahwa, yang dimaksud dengan prestasi belajar
adalah suatu hasil yang telah dicapai dalam wujud adanya perubahan pada seluruh aspek
kepribadian yang merupakan akibat adanya aktivitas psikis untuk melakukan kegiatan
belajar dari individu yang ingin mengalami perubahan pada pengetahuan, sikap dan
tingkah laku.
       Untuk mencapai prestasi yang baik bukan hanya didasari pada usaha siswa itu
sendiri akan tetapi harus ditunjang oleh berbagai faktor, adapun faktor yang paling
dominan mempengaruhi prestasi belajar siswa adalah faktor yang bersumber dari dalam
diri dan faktor yang bersumber dari luar diri siswa.
       A. Tabrani Rusyam dkk, bahwa ―Prestasi belajar yang dicapai oleh individu
merupakan hasil interaksi antara berbagai faktor yang mempengaruhinya, baik dalam diri
(faktor internal) maupun dari luar diri (faktor eksternal) individu‖.
       Adapun yang termasuk faktor internal adalah antara lain: kecerdasan, bakat,
motivasi dan sebagainya. Sedang faktor yang bersumber dari luar diri siswa adalah antara
lain faktor kemampuan guru dalam memberikan pengajaran, faktor dorongan dari orang
tua serta faktor ekonomi.
       Dari sekian banyak faktor seperti tersebut di atas terdapat faktor dorongan dari
orang tua, faktor ini mempunyai pengaruh yang sangat besar sekali dalam perkembangan
anak, sebab pendidikan yang berlangsung pertama kalinya adalah lingkungan keluarga.
Keluargalah tempat pembentukan watak dan kepribadian anak yang utamanya dalam
lingkungan pendidikan seperti pada Hadits berikut:


       Artinya:
                Dari Abu Hurairah r.a, berkata: Rasulullah SAW bersabda: setiap anak
                yang dilahirkan dalam keadaan fitrah (lahir batin), maka bapaknyalah
                yang menjadikannya Yahudi dan Nasrani atau Majusi. (H.R. Ahmad)

       Dengan menganalisa makna Hadits tersebut di atas terlihat betapa berat beban
orang tua, karena merekalah yang pertama kali menciptakan dan membentuk kondisi
                                                                                     37
pada anak. Dengan demikian maka dapat dikatakan bahwa sukses atau tidaknya seorang
anak dalam menuntut ilmu sangat tergantung dari peran orang tuanya.
       Keadaan keluarga sebagai faktor lingkungan, juga dapat memberikan pengaruh
yang urgen bagi peningkatan prestasi belajar anak. Cara hidup keluarga akan berpengaruh
terhadap perkembangan prestasi belajar anaknya, olehnya itu status keluarga yang banyak
memberikan motivasi dan perhatian adalah sangat berbeda dengan keluarga yang tidak
memperhatikan dan memberikan motivasi terhadap anaknya.


Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Prestasi Belajar Siswa
       Dalam proses belajar mengajar, perubahan tingkah laku sering terjadi
sepenuhnya, hal ini dimungkinkan adanya faktor yang mempengaruhinya. Adapun
faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa adalah internal dan eksternal
yang terdapat dalam diri siswa tersebut. Faktor internal ada pada diri siswa sangat
berpengaruh dibandingkan dengan faktor eksternal siswa tersebut. Sebagaimana
dikemukakan oleh Clarck bahwa hasil belajar siswa di sekolah 70% dipengaruhi oleh
kemampuan siswa dan 30% dipengaruhi oleh lingkungan.
       Adapun kedua faktor tersebut, penulis akan dibahas secara sederhana sebagai
berikut:


Faktor Internal
       Faktor internal, menyangkut seluruh aspek yang menyangkut fisik/jasmani
maupun yang menyangkut mental/fisiknya.
1.     Faktor kesehatan sangat berpengaruh terhadap kondisi belajarnya. Siswa kurang
sehat, keadaan fisiknya lemah, pusing dan gangguan kesehatan lainnya, tidak dapat
berkonsentrasi dalam belajarnya.
2.     Faktor cacat tubuh. Faktor cacat tubuh juga mempengaruhi prestasi belajar siswa
seperti gangguan penglihatan, pendengaran dan sebagainya.
Adapun yang menyangkut psikis adalah:
1.     Inteligensi. Inteligensi besar pengaruhnya terhadap kemajuan belajar, ini



                                                                                    38
       bermakna, semakin tinggi kemampuan inteligensi siswa maka semakin besar
       peluangnya untuk meraih sukses.
2.     Perhatian. Perhatian merupakan faktor yang berpengaruh terhadap prestasi belajar
       siswa. Apabila seseorang memiliki perhatian yang penuh terhadap apa yang
       dipelajari, maka hal tersebut dapat mendukung hasil belajar yang dicapai.
3.     Bakat. Faktor bakat dapat juga mempengaruhi prestasi belajar yang dicapai oleh
       seorang siswa.
4.     Minat. Minat berarti kecenderungan dan kegairahan yang tinggi terhadap sesuatu.
       Minat juga dapat mempengaruhi kualitas pencapaian hasil belajar siswa.
5.     Motivasi. Motivasi juga mempengaruhi prestasi yang dicapai oleh siswa, baik
       motivasi intrinsik maupun motivasi ekstrinsik.
Faktor Eksternal
Faktor eksternal siswa terdiri atas dua macam yaitu: faktor lingkungan sosial, dan faktor
lingkungan non social (+) Lingkungan Sosial
1)   Lingkungan sosial sekolah. Lingkungan sekolah seperti para guru, para staf
     administrasi dan teman-teman sekelas dapat mempengaruhi semangat belajar
     seorang siswa. Para guru yang selalu menunjukkan sikap dan perilaku yang
     simpatik dan memperlihatkan suri tauladan yang baik, dapat menjadi daya dorong
     yang positif bagi kegiatan belajar siswa. Faktor guru dan cara mengajarnya
     merupakan faktor yang penting, terutama dalam belajar di sekolah. Bagaimana
     sikap dan kepribadian guru, tinggi rendahnya
2)   Lingkungan Masyarakat. Pengaruh masyarakat ini terjadi karena keberadaan siswa
     dalam masyarakat. Masyarakat yang terdiri dari orang-orang mempunyai kebiasaan
     kurang baik akan berpengaruh terhadap belajar anak
3)   Lingkungan keluarga. Sifat-sifat orang tua, praktik pengelolaan keluarga,
     ketegangan keluarga, semuanya dapat memberikan dampak baik atau buruk
     terhadap kegiatan belajar dan hasil yang dicapai siswa.
(+) Lingkungan non sosial




                                                                                        39
Faktor-faktor yang termasuk lingkungan non sosial; gedung dan letaknya alat-alat belajar,
keadaan cuaca dan waktu belajar yang digunakan siswa. Faktor-faktor ini dipandang turut
menentukan tingkat keberhasilan belajar siswa.
Faktor pendekatan belajar. Faktor pendekatan belajar guru berpengaruh terhadap tahap
proses pembelajaran siswa tersebut. Seorang siswa yang terbiasa mengaplikasikan
pendekatan belajar deef misalnya, mungkin sekali berpeluang untuk meraih prestasi
belajar yang bermutu dari pada siswa yang menggunakan pendekatan belajar surface atau
refro uductive.
       Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka dapatlah dipahami bahwa banyak hal
yang mempengaruhi prestasi belajar siswa, termasuk faktor guru. Guru sangat
menentukan tingkat keberhasilan siswa dalam belajar.
       Pemerintah telah mengeluarkan beberapa kebijakan berkaitan dengan predikat
guru sebagai pendidik profesional. Hal ini tertuang dalam Undang-Undang RI Nomor 20
tahun 2003 (tentang sistem pendidikan nasional), Undang-Undang RI Nomor 14 tahun
2005 (tentang guru dan dosen), dan Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 (tentang
standar nasional pendidikan).
       Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar,
membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada
pendidikan anak usia dini, jalur pendidikan formal, dasar, dan menengah. Lalu, apa saja
yang dibutuhkan guru untuk dapat dikatakan profesional? Seorang guru dikatakan
profesional jika memiliki keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar
mum atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi.
       Oleh karena itu, guru disyaratkan memenuhi kualifikasi akademik minimal
sarjana S1 /D4 yang relevan dan menguasai kompetensi sebagai agen pembelajaran. Jadi,
tidak heran kalau akhir-akhir ini banyak guru yang berlomba-lomba untuk melanjutkan
kuliahnya. Rita berharap bahwa inisiatif guru untuk melanjutkan kuliah bukan sekadar
untuk mendapat ijazah atau sertifikasi saja, tetapi lebih kepada peningkatkan kompetensi
sebagai pendidik profesional.
       Selain tuntutan akademik, banyak tugas yang harus dilaksanakan oleh guru dalam
dunia pendidikan. Salah satunya adalah peran guru sebagai agen pembelajaran. Guru

                                                                                       40
sebagai agen pembelajaran berperan memfasilitasi siswa agar dapat belajar secara
nyaman dan berhasil menguasai kompetensi yang sudah ditentukan. Untuk itu, guru perlu
merancang agar proses pembelajaran berjalan lancar dengan hasil optimal. Nah,
kompetensi apa yang harus dikuasai guru sebagai agen pembelajaran? Ada empat
kompetensi pokok yang harus dikuasai guru sebagai agen pembelajaran, yaitu (1)
kompetensi kepribadian, (2) kompetensi pedagogik, (3) kompetensi profesional, dan (4)
kompetensi sosial.


A. Kompetensi Kepribadian
       Kompetensi kepribadian merupakan kemampuan seseorang yang mencerminkan
kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, berwibawa, menjadi teladan bagi peserta
didik, dan beraklak mulia.
       Guru yang telah memiliki kompetensi kepribadian seperti di atas, pasti dapat
melakukan tuntutan profesi dengan baik pula. Ia akan bangga menjadi guru dan memiliki
konsistensi dalam bertindak sesuai norma hukum, agama, maupun sosial. Guru tersebut
juga mampu menunjukkan kemandirian sebagai pendidik dan memiliki etos kerja yang
tinggi. Jika ada guru yang tidak bangga terhadap profesinya, orang tersebut tidak akan
maju dan berkembang.
       Guru yang memiliki kepribadian mantap juga mampu melakukan kincrja yang
bermanfaat bagi peserta didik, sekolah, dan masyarakat. Guru tersebut mampu
menunjukkan kedewasaan dalam berfikir dan bertindak sehingga produk kinerjanya dapat
dikontrol dan dievaluasi lebih lanjut.


B. Kompetensi Pedagogik
       Kompetensi kedua yang harus dikuasai guru sebagai pendidik profesional adalah
kompetensi pedagogik. Kemampuan ini diperlukan guru untuk membimbing dan
memberikan pembelajaran kepada siswa agar lebih terarah.
       Kompetensi pedagogik meliputi: (1) pemahaman tcrhadap peserta didik, (2)
perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, (3) evaluasi hasil belajar, dan (4)



                                                                                         41
pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang
dimilikinya.
          Kompetensi pedagogik yang dimiliki guru juga dapat digunakan untuk memahami
peserta didik dengan baik. Bagaimana cara memahami peserta didik dengan baik?
Sebagai guru profesional, kita dituntut untuk ikut membantu mengembangkan bakat atau
kelebihan peserta didik secara maksimal sekaligus dapat membantu kesulitan yang ia
hadapi.
          Setiap peserta didik pasti mempunyai bakat yang berbeda-beda. Ada peserta didik
yang berbakat dalam bidang olahraga, seperti sepak bola atau bulutangkis. Ada juga
peserta didik yang berbakat dalam bidang akademik. Guru tinggal mengembangkan bakat
setiap peserta didik lebih lanjut. Jika sekolah menyediakan fasilitas untuk
mengembangkan bakat mereka maka guru tinggal membina atau mendatangkan pembina
khusus.
          Nah, bagaimana cara guru untuk ikut membantu kesulitan-kesulitan lainnya dari
peserta didik? Langkah yang dapat diambil guru adalah dengan mengidentifikasi
kesulitan yang sedang dihadapi peserta didik. Jika peserta didik mengalami kesulitan di
bidang pelajaran maka guru dapat membantunya dengan memberikan tambahan pelajaran
di luar jam sekolah.
          Dengan memiliki kompetensi pedagogik yang baik, diharapkan guru dapat
menyusun rancangan pembelajaran dan melaksanakannya. Guru diharapkan dapat
memahami landasan pendidikan, mampu menerapkan teori bclajar, dapat menentukan
strategi pembelajaran berdasarkan karakteristik peserta didik, dan mampu menyusun
rancangan pembelajaran berdasarkan strategi yang tepat. Untuk menghasilkan proses
belajar mengajar yang maksimal, guru memang tidak cukup mengandalkan rancangan
yang telah dibuatnya. Guru harus tetap mencari metode dan strategi pembelajaran yang
tepat.
          Jadi, dapat disimpulkan bahwa kemampuan pedagogik seorang guru harus mampu
mengembangkan kompetensi dan mengaktualisasikan potensi peserta didik. Selanjutnya,
guru juga akan berusaha mencari strategi untuk menggali dan mengembangkan potensi
yang dimiliki peserta didik.

                                                                                          42
3. Langkah Pembinaan Kinerja Guru

  A.    Indikator Penilaian Kinerja Guru

        Indikator penilaian terhadap kinerja guru dilakukan terhadap tiga kegi-atan
        pembelajaran dikelas yaitu:
        1.      Perencanaan Program          Kegiatan       Pembelajaran
                Tahap perencanaan dalam kegiatan pembelajaran adalah tahap yang ber-
        hubungan dengan kemampuan guru menguasai bahan ajar. Kemampuan guru
        dapat dilihat dari cara atau proses penyusunan program kegiatan pembelajar-an
        yang dilakukan oleh guru, yaitu mengembangkan silabus dan rencana pe-
        laksanaan pembelajaran(RPP). Unsur/komponen yang ada dalam silabus terdi ri
        dari:
        a. Identitas Silabus
        b. Stándar Kompetensi (SK)
        c. Kompetensi Dasar (KD)
        d. Materi Pembelajaran
        e. Kegiatan Pembelajaran
        f. Indikator
        g. Alokasi waktu
        h. Sumber pembelajaran
                Program pembelajaran jangka waktu singkat sering dikenal dengan sitilah
        RPP, yang merupakan penjabaran lebih rinci dan specifik dari sila-bus, ditandai
        oleh adnya komponen-komponen :
        a. Identitas RPP
        b. Stándar Kompetensi (SK)
        c. Kompetensi dasar (KD)
        d. Indikator
        e. Tujuan pembelajaran
        f. Materi pembelajaran
        g. Metode pembelajaran

                                                                                          43
h. Langkah-langkah kegiatan
i. Sumber pembelajaran
j. Penilaian


2. Pelaksanaan Kegiatan Pembelajaran
           Kegiatan pembelajaran di kelas adalah inti penyelenggaraan pendidikan
yang ditandai oleh adanya kegiatan pengelolaan kelas, penggunaan media dan
sumber belajar, dan penggunaan metode serta strategi pembejaran. Semua tu-gas
tersebut merupakan tugas dan tanggung jawab guru yang secara optimal dalam
pelaksanaanya menuntut kemampuan guru.



a. Pengelolaan Kelas
           Kemampuan menciptakan suasana kondusif di kelas guna mewujudkan
proses pembelajaran yang menyenangkan adalah tuntutan bagi seorang guru
dalam pengelolaan kelas. Kemampuan guru dalam memupuk kerjasama dan
disiplin siswa dapat diketahui melalui pelaksanaan piket kebersihan, ketepat-an
waktu masuk dan keluar kelas, melakukan absensi setiap akan memulai proses
pembelajaran, dan melakukan pengaturan tempat duduk siswa.
           Kemampuan lainnya dalam pengelolaan kelas adalah pengaturan ruang/
setting tempat duduk siswa yang dilakukan pergantian, tujuannya memberi-
kan kesempatan belajar secara merata kepada siswa.


b. Penggunaan Media dan Sumber Belajar
           Kemampuan lainnya dalam pelaksanaan pembelajaran yang perlu diku-asi
guru di samping pengelolaan kelas adalah menggunakan media dan sum-ber
belajar.
           Media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan
pesan (materi pembelajaran), merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan
kemampuan siswa, sehingga dapat mendorong proses pembelajaran. (R. Ibra-him
dan Nana Syaodih S., 1993: 78)
                                                                                   44
Sedangkan yang dimaksud dengan sumber belajar adalah buku pedoman.
Kemampuan menguasai sumber belajar di samping mengerti dan memahami buku
teks, seorang guru juga harus berusaha mencari dan membaca buku-bu-
ku/sumber-sumber lain yang relevan guna meningkatkan kemampuan teruta-ma
untuk keperluan perluasan dan pendalaman materi, dan pengayaan dalam proses
pembelajaran.
       Kemampuan menggunakan media dan sumber belajar tidak hanya meng-
gunakan media yang sudah tersedia seperti media cetak, media audio, dan media
audio visual. Tatapi kemampuan guru di sini lebih ditekankan pada penggunaan
objek nyata yang ada di sekitar sekolahnya.
Dalam kenyataan di lapangan guru dapat memanfaatkan media yang su-dah ada
(by utilization) seperti globe, peta, gambar dan sebagainya, atau guru dapat
mendesain media untuk kepentingan pembelajaran (by design) seperti membuat
media foto, film, pembelajaran berbasis komputer, dan sebagainya.


c. Penggunaan Metode Pembelajaran
       Kemampuan berikutnya adalah penggunaan metode pembelajaran. Gu-ru
diharapkan mampu memilih dan menggunakan metode pembelajaran sesu-ai
dengan materi yang akan disampaikan. Menurut R. Ibrahim dan Nana S.
Sukmadinata (1993: 74) ‖Setiap metode pembelajaran memiliki kelebihan dan
kelemahan dilihat dari berbagai sudut, namun yang penting bagi guru metode
manapun yang digunakan harus jelas tujuan yang akan dicapai‖.
       Karena siswa memiliki interes yang sangat heterogen idealnya seorang
guru harus menggunakan multi metode, yaitu memvariasikan penggunaan metode
pembelajaran di dalam kelas seperti metode ceramah dipadukan de-ngan tanya
jawab dan penugasan atau metode diskusi dengan pemberian tu-gas dan
seterusnya. Hal ini dimaksudkan untuk menjembatani kebutuhan sis-wa, dan
menghindari terjadinya kejenuhan yang dialami siswa.


3. Evaluasi/Penilaian Pembelajaran

                                                                               45
       Penilaian hasil belajar adalah kegiatan atau cara yang ditujukan untuk
mengetahui tercapai atau tidaknya tujuan pembelajaran dan juga proses pem-
belajaran yang telah dilakukan. Pada tahp ini seorang guru dituntut memiliki
kemampuan dalam menentukan pendekatan dan cara-cara evaluasi, penyu-sunan
alat-alat evaluasi, pengolahan, dan penggunaan hasil evaluasi.
Pendekatan atau cara yang dapat digunakan untuk melakukan evaluasi/ penilaian
hasil belajar adalah melalui Penilaian Acuan Norma (PAN) dan Penilaian Acuan
Patokan (PAP).
       PAN adalah cara penilaian yang tidak selalu tergantung pada jumlah so-al
yang diberikan atau penilaian dimasudkan untuk mengetahui kedudukan hasil
belajar yang dicapai berdasarkan norma kelas. Siswa yang paling besar skor yang
didapat di kelasnya, adalah siswa yang memiliki kedudukan terting-gi di kelasnya.
Sedangkan PAP adalah cara penilaian, dimana nilai yang diperoleh sis-wa
tergantung pada seberapa jauh tujuan yang tercermin dalam soal-soal tes yang
dapat dikuasai siswa. Nilai tertinggi adalah nilai sebenarnya berdasar-kan jumlah
soal tes yang dijawab dengan benar oleh siswa. Dalam PAP ada passing grade
atau batas lulus, apakah siswa dapat dikatakan lulus atau tidak berdasarkan batas
lulus yang telah ditetapkan.
       Pendekatan PAN dan PAP dapat dijadikan acuan untuk memberikan pe-
nilaian dan memperbaiki sistem pembelajaran.
Kempuan lainnya yang perlu dikuasai guru pada kegiatan evaluasi/ pe-nilaian
hasil belajar adalah menyusun alat evaluasi. Alat evaluasi meliputi: tes tertulis, tes
lisan, dan tes perbuatan. Seorang guru dapat menentukan alat
tes tersebut sesuai dengan materi yang disampaikan.
Bentuk tes tertulis yang banyak dipergunakan guru adalah ragam benar/ salah,
pilihan ganda, menjodohkan, melengkapi, dan jawaban singkat.
Tes lisan adalah soal tes yang diajukan dalam bentuk pertanyaan lisan dan
langsung dijawab oleh siswa secara lisan. Tes ini umumya ditujukan un-tuk
mengulang atau mengetahui pemahaman siswa terhadap materi pelajaran yang
telah disampaikan sebelumnya.

                                                                                   46
             Tes perbuatan adalah tes yang dilakukan guru kepada siswa. Dalam hal ini
     siswa diminta melakukan atau memperagakan sesuatu perbuatan sesuai de-ngan
     materi yang telah diajarkan seperti pada mata pelajaran kesenian, kete-rampilan,
     olahraga, komputer, dan sebagainya.
     Indikasi kemampuan guru dalam penyusunan alat-alat tes ini dapat di-gambarkan
     dari frekuensi penggunaan bentuk alat-alat tes secara variatif, ka-rena alat-alat tes
     yang telah disusun pada dasarnya digunakan sebagai alat pe-nilaian hasil belajar.
             Di samping pendekatan penilaian dan penyusunan alat-alat tes, hal lain
     yang harus diperhatikan guru adalah pengolahan dan penggunaan hasil bela-jar.
     Ada dua hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan hasil belajar, yaitu:
     a. Jika bagian-bagian tertentu dari materi pelajaran yang tidak dipahami oleh
     sebagian kecil siswa, guru tidak perlu memperbaiki program pembelaja-ran,
     melainkan cukup memberikan kegiatan remidial bagi siswa-siswa yang
     bersangkutan.
     b. Jika bagian-bagian tertentu dari materi pelajaran tidak dipahami oleh se-bagian
     besar siswa, maka diperlukan perbaikan terhadap program pembe-lajaran,
     khususnya berkaitan dengan bagian-bagian yang sulit dipahami.
     Mengacu pada kedua hal tersebut, maka frekuensi kegiatan pengem-bangan
     pembelajaran dapat dijadikan indikasi kemampuan guru dalam pengo-lahan dan
     penggunaan hasil belajar. Kegiatan-kegiatan tersebut meliputi:
     a. Kegiatan remidial, yaitu penambahan jam pelajaran, mengadakan tes, dan
     menyediakan waktu khusus untuk bimbingan siswa.
     b. Kegiatan perbaikan program pembelajaran, baik dalam program semes- teran
     maupun program satuan pelajaran atau rencana pelaksanaan pembelajaran, yaitu
     menyangkut perbaikan berbagai aspek yang perlu diganti atau disempurnakan.

B. Indikator Abilitas Guru
Abilitas dapat dipandang sebagai suatu karakteristik umum dari seseorang yang
berhubungan dengan pengetahuan dan keterampilan yang diwujudkan melalui tindakan.
Abilitas seorang guru secara aplikatif indikatornya dapat digambarkan melalui delapan
keterampilan mengajar (teaching skills), yakni:
                                                                                        47
1. Keterampilan Bertanya (Questioning skills)
  Dalam proses pembelajaran, bertanya memainkan peranan penting, hal
  ini dikarenakan pertanyaan yang tersusun dengan baik dan teknik melontar-kan
pertanyaan yang tepat akan memberikan dampak positif terhadap siswa, yaitu:
a. Meningkatkan pastisipasi siswa dalam kegiatan pembelajaran.
b. Membangkitkan minat dan rasa ingin tahu siswa terhadap sesuatu masalah yang
sedang dibicarakan.
c. Mengembangkan pola fikir dan cara belajar aktif dari siswa, karena pada hakikatnya
berpikir itu sendiri sesungguhnya adalah bertanya.
d. Menuntun proses berpikir siswa, sebab pertanyaan yang baik akan mem-bantu siswa
agar dapat menentukan jawaban yang baik.
e. Memusatkan perhatian siswa terhadap masalah yang sedang dibahas.
Pertanyaan yang baik menurut Uzer Usman (1992: 67) adalah:
a. Jelas dan mudah dimengerti oleh siswa.
b. Berikan informasi yang cukup untuk menjawab pertanyaan.
c. Difokuskan pada suatu masalah atau tugas tertentu.
d. Berikan waktu yang cukup kepada siswa untuk berpikir sebelum menjawab
pertanyaan.
e. Berikan pertanyaan kepada seluruh siswa secara merata.
f. Berikan respon yang ramah dan menyenangkan sehingga timbul kebera-nian siswa
untuk menjawab dan bertanya.
g. Tuntunlah jawaban siswa sehingga mereka dapat menemukan sendiri ja-waban yang
benar.


2. Keterampilan Memberi Penguatan (Reinforcement Skills)
Penguatan adalah segala bentuk respon apakah bersifat verbal (diung-kapkan dengan
kata-kata langsung seperti: bagus, pintar, ya, betul, tepat se-kali, dan sebagainya),
maupun nonverbal (biasanya dilakukan dengan gerak, isyarat, pendekatan, dan
sebagainya) merupakan bagian dari modifikasi ting-kah laku guru terhadap tingkah

                                                                                        48
laku siswa yang bertujuan untuk memberikan informasi atau umpan balik (feedback)
bagi siswa atas perbuatannya sebagai suatu tindak dorongan atau koreksi.
Reinforcement dapat berarti juga respon terhadap suatu tingkah laku yang dapat
meningkatkan kemungkinan berulangnya kembali tingkah laku tersebut. Tindakah
tersebut dimaksudkan untuk memberikan ganjaran atau membesarkan hati siswa agar
mereka lebih giat berpartisipasi dalam interaksi pembelajaran.
Tujuan dari pemberian penguatan ini adalah untuk:
(1) Meningkatkan perhatian siswa terhadap pembelajaran.
(2) Merangsang dan meningkatkan motivasi belajar.
(3) Meningkatkan kegiatan belajar dan membina tingkah laku siswa yang produktif.
Ada 4 cara dalam memberikan penguatan (reinforcement) yaitu:
a. Penguatan kepada pribadi tertentu. Penguatan harus jelas kepada siapa di-tujukan,
yaitu dengan cara menyebutkan namanya, sebab bila tidak jelas akan tidak efektif.
b. Penguatan kepada kelompok siswa, yaitu dengan memberikan pengharga-an kepada
kelompok siswa yang dapat menyelesaikan tugas dengan baik.
c. Pemberian penguatan dengan cara segera. Penguatan seharusnya diberi-kan sesegera
mungkin setelah muncul tingkah laku/respon siswa yang di-harapkan. Penguatan yang
ditunda cenderung kurang efektif.
d. Variasi dalam penggunaan. Jenis penguatan yang diberikan hendaknya bervariasi,
tidak terbatas pada satu jenis saja karena akan menimbulkan kebosanan, dan lama
kelamaan akan kurang efektif.


3. Keterampilan Mengadakan Variasi
Variasi stimulus adalah suatu kegiatan guru dalam konteks proses inter-aksi
pembelajaran yang ditujukan untuk mengatasi kejenuhan siswa, sehing-ga dalam situasi
belajar mengajar, siswa menunjukkan ketekunan, antusiasme serta penuh partisipasi.
Tujuan dan manfaat variation skills adalah untuk:
a. Menimbulkan dan meningkatkan perhatian siswa kepada aspek-aspek pembelajaran
yang relevan.
b. Memberikan kesempatan berkembangnya bakat yang dimiliki siswa

                                                                                       49
c. Memupuk tingkah laku yang positif terhadap guru dan sekolah dengan berbagai cara
mengajar yang lebih hidup dan lingkungan belajar yang le-bih baik.
d. Memberi kesempatan kepada siswa untuk memperoleh cara menerima pe-lajaran
yang disenangi.
Ada tiga prinsip penggunaan variation skills yang perlu diperhatikan guru yaitu:
a. Variasi hendaknya digunakan dengan suatu maksud tertentu yang relevan dengan
tujuan yang hendak dicapai.
b. Variasi harus digunakan secara lancar dan berkesinambungan sehingga ti-dak akan
merusak perhatian siswa dan tidak mengganggu kegiatan pem-belajaran.
c. Direncanakan secara baik, dan secara eksplisit dicantumkan dalam renca-na
pelaksanaan pembelajaran (RPP).


4. Keterampilan Menjelaskan (Explaning skills)
Keterampilan menjelaskan dalam pembelajaran adalah penyajian infor-masi secara
lisan yang diorganisasi secara sistematis untuk menunjukkan adanya hubungan yang
satu dengan lainnya, misalnya sebab dan akibat. Pe-nyampaian informasi yang
terencana dengan baik dan disajikan dengan urut-an yang cocok merupakan ciri utama
kegiatan menjelaskan.
Pemberian penjelasan merupakan aspek yang sangat penting dari kegiat-an guru dalam
berinteraksi dengan siswa di dalam kelas.
Tujuan pemberian penjelasan dalam pembelajaran adalah: (1) membim-bing siswa
untuk dapat memahami konsep, hukum, dalil, fakta, dan prinsip secara objektif dan
bernalar; (2) melibatkan siswa untuk berfikir dengan me-macahkan masalah-masalah
atau pertanyaan; (3) mendapatkan balikan dari siswa mengenai tingkat pemahamannya
dan untuk mengatasi kesalahpaham-an siswa; dan (4) membimbing siswa untuk
menghayati dan mendapat proses penalaran dan menggunakan bukti-bukti dalam
memecahkan masalah.




                                                                                     50
a. Komponen-komponen dalam Menjelaskan (explaning skills)
1) Merencanakan
Penjelasan yang dilakukan guru perlu direncanakan dengan baik, teruta-ma yang
berkenaan dengan isi materi dan siswa itu sendiri. Isi materi melipu-ti analisis masalah
secara keseluruhan, penentuan jenis hubungan yang ada di antara unsur-unsur yang
dikaitkan dengan penggunaan rumus, hukum, gene-ralisasi yang sesuai dengan
hubungan yang telah ditentukan. Hal-hal yang berhubungan dengan siswa hendaknya
diperhatikan perbedaan individual tiap siswa baik itu usia, tugas perkembangan, jenis
kelamin, kemampuan, interes, latar belakang sosial budaya, bakat, dan lingkungan
belajar anak.


2) Penyajian Suatu Penjelasan
Penyajian suatu penjelasan dapat ditingkatkan hasilnya dengan memper-hatikan hal-hal
berikuti ini:
a) Kejelasan. Penjelasan hendaknya diberikan dengan menggunakan bahasa yang
mudah dimengerti oleh siswa, hindari penggunaan kata yang tidak perlu.
b) Penggunaan Contoh dan Ilustrasi. Memberikan penjelasan sebaiknya menggunakan
contoh-contoh yang ada hubungannya dengan sesuatu yang dapat ditemui oleh siswa
dalam kehidupan sehari-hari (kontekstual).
c) Pemberian Tekanan. Dalam memberikan penjelasan guru harus memu-satkan
perhatian siswa kepada masalah/topik utama dan mengurangi infor-masi yang tidak
terlalu penting.
d) Penggunaan Balikan. Guru hendaknya memberikan kesempatan kepada siswa untuk
menunjukkan pemahaman, keraguan, atau ketidakmengertian siswa ketika penjelasan
itu diberikan.


5. Keterampilan Membuka dan Menutup Pelajaran (Set Induction and Closure Skills)
Membuka pelajaran (set insuction) adalah usaha atau kegiatan yang di-lakukan oleh
guru dalam kegiatan pembelajaran untuk menciptakan pra kon-disi bagi siswa agar

                                                                                        51
mental maupun perhatiannnya terpusat pada apa yang akan dipelajarinya, sehingga
usaha tersebut akan memberikan efek yang posi-tif terhadap kegiatan belajar.
Menutup pelajaran (closure) adalah kegiatan yang dilakukan oleh guru untuk
mengakhiri kegiatan pembelajaran. Kegiatan ini dimaksudkan untuk memberikan
gambaran menyeluruh tentang apa yang telah dipelajari oleh sis-wa, mengetahui tingkat
pencapaian siswa dan tingkat keberhasilan guru dalam proses pembelajaran.
Komponen membuka dan menutup pelajaran sebagaimana dijelaskan M. Uzer Usman
(1992: 85) adalah sebagai berikut:


a. Membuka Pelajaran
Membuka Pelajaran, komponennya meliputi:
1) Menarik perhatian siswa. Gaya mengajar, penggunaan media pembe-lajaran atau
pola interaksi yang bervariasi.
2) Menimbulkan motivasi, disertasi kehangatan dan keantusiasan, me-nimbulkan rasa
ingin tahu, mengemukakan ide yang bertentangan dan memperhatikan minat atau
interest siswa.
3) Bemberi acuan melalui berbagai usaha, seperti mengemukakan tujuan pembelajaran
dan batas-batas tugas, menyarankan langkah-langkah yang akan dilakukan,
mengingatkan masalah pokok yang akan diba-has dan mengajukan beberapa
pertanyaan.
4) Memberikan apersepsi (memberikan kaitan antara materi sebelumnya dengan materi
yang akan dipelajari) sehingga materi yang dipelari merupakan satu kesatuan yang utuh
yang tidak terpisah-pisah.


b. Menutup Pelajaran.
Dalam menutup pelajaran, cara yang harus dilakukan guru adalah:
1) Meninjau kembali penguasaan materi pokok dengan merangkum atau menyimpulkan
hasil pembelajaran.
2) Melakukan evaluasi. Bentuk evaluasi yang dilakukan oleh guru antara lain adalah
mendemonstrasikan keterampilan, mengaplikasikan ide baru pada situasi lain,

                                                                                     52
mengeksplorasi pendapat siswa sendiri dan memberikan soal-soal tertulis.


6. Keterampilan Membimbing Diskusi Kelompok Kecil
Diskusi kelompok adalah suatu proses yang teratur yang melibatkan se-
kelompok siswa dalam interaksi tatap muka yang informal dengan berbagai
pengalaman atau informasi, pengambilan kesimpulan dan pemacahan masa-lah. Siswa
berdiskusi dalam kelompok-kelompok kecil di bawah bimbingan guru atau temannya
untuk berbagi informasi, pemecahan masalah atau pe-ngambilan keputusan.
Komponen-komponen yang perlu dikuasi guru dalam membimbing dis-kusi kelompok
yaitu:
a. Memusatkan perhatian siswa pada tujuan dan topik diskusi, dengan cara
merumuskan tujuan dan topik yang akan dibahas pada awal diskusi, kemu-kakan
masalah-masalah khusus, catat perubahan atau penyimpangan dis-kusi dari tujuan dan
merangkum hasil diskusi.
b. Memperjelas masalah, untuk menghindari kesalahpahaman dalam memim-pin
diskusi seorang guru perlu memperjelas atau menguraikan permasa-lahan, meminta
komentar siswa, dan menguraikan gagasan siswa dengan memberikan informasi
tambahan agar kelompok peserta diskusi memper-oleh pengertian yang lebih jelas.
c. Menganalisis pandangan siswa. Adanya perbedaan pendapat dalam disku-si,
menuntut seorang guru harus mampu menganalisis dengan cara mem-perjelas hal-hal
yang disepakati dan hal-hal yang perlu disepakati di sam-ping meneliti apakah suatu
alasan mempunyai dasar yang kuat.
d. Meningkatkan urunan siswa, yaitu mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang
menantang, memberikan contoh dengan tepat, dan memberikan waktu untuk berpikir
dan memberikan urun pendapat siswa dengan penuh perhatian.
e. Memberikan kesempatan untuk berpartisipasi, dilakukan dengan cara memancing
pertanyaan siswa yang enggan berpartisipasi, memberikan kesempatan pada siswa yang
belum bertanya (diam) terlebih dahulu, men-cegah monopoli pembicaraan, dan
mendorong siswa untuk berkomentar terhadap pertanyaan temannya.
f. Menutup diskusi, yaitu membuat rangkuman hasil diskusi, menindaklan-juti hasil

                                                                                      53
diskusi dan mengajak siswa untuk menilai proses maupun hasil diskusi.
g. Hal-hal yang perlu dihindari yaitu mendominasi/monopoli pembicaraan dalam
diskusi, membiarkan terjadinya penyimpangan dalam diskusi.


7. Keterampilan Mengelola Kelas
Pengelolaan kelas adalah keterampilan guru untuk menciptakan dan me-melihara
kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya bila terjadi gangguan dalam
proses pembelajaran, seperti penghentian perilaku siswa yang memindahkan perhatian
kelas, memberikan ganjaran bagi siswa yang tepat waktu dalam dalam menyelesaikan
tugas atau penetapan norma kelom-pok yang produktif.
Komponen-komponen dalam mengelola kelas adalah sebagai berikut:
1) Keterampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi
belajar yang optimal, seperti menunjukkan sikap tanggap, mem-berikan perhatian,
memusatkan perhatian kelompok, memberikan petun-juk yang jelas, menegur bila
siswa melakukan tindakan menyimpang, memberikan penguatan (reinforcement).
2) Keterampilan yang berhubungan dengan pengembalian kondisi belajar yang optimal,
yaitu berkaitan dengan respon guru terhadap gangguan sis-wa yang berkelanjutan
dengan maksud agar guru dapat melakukan tinda-kan remidial untuk mengembalikan
kondisi belajar yang optimal. Guru dapat menggunakan strategi:
a) Modifikasi tingkah laku. Guru hendaknya menganalisis tingkah laku siswa yang
mengalami masalah/kesulitan dan berusaha memodifikasi tingkah laku tersebut dengan
mengaplikasikan pemberian penguatan secara sistematis.
b) Guru menggunakan pendekatan pemecahan masalah kelompok dengan cara
memperlancar tugas-tugas melalui kerjasama di antara siswa dan memelihara kegiatan-
kegiatan kelompok.
c) Menemukan dan memecahkan tingkah laku yang menimbulkan masa-lah.
Di samping dua jenis keterampilan di atas, hal lain yang perlu diperha-tikan oleh guru
dalam pengelolaan kelas adalah menghindari campur tangan yang berlebihan,
menghentikan penjelasan tanpa alasan, ketidaktepatan me-mulai dan mengakhiri
kegiatan, penyimpangan, dan sikap yang terlalu mem-bingungkan.

                                                                                     54
8. Keterampilan Pembelajaran Perseorangan
Pembelajaran ini terjadi bila jumlah siswa yang dihadapi oleh guru ter-batas yaitu
antara 3-8 orang untuk kelompok kecil, dan seorang untuk perse-orangan.
Hakikat pembelajaran perseorangan adalah:
a. Terjadinya hubungan interpersonal antara guru dengan siswa dan juga sis-wa dengan
siswa.
b. Siswa belajar sesuai dengan kecepatan dan kemampuan masing-masing.
c. Siswa mendapat bantuan dari guru sesuai dengan kebutuhannya.
d. Siswa dilibatkan dalam perencanaan kegiatan pembelajaran.
Peran guru dalam pembelajaran perseorangan ini adalah sebagai organi-sator,
narasumber, motivator, fasilitator, konselor dan sekaligus sebagai pe-serta kegiatan.
Komponen-komponen yang perlu dikuasi guru berkenaan dengan pem-belajaran
perseorangan ini adalah:
a. Keterampilan mengadakan pendekatan secara pribadi.
b. Keterampilan mengorganisasi.
c. Keterampilan membimbing dan memudahkan belajar, yaitu memungkin-kan guru
membantu siswa untuk maju tanpa mengalami frustasi. Hal ini dapat dicapai bagi guru
yang memiliki keterampilan dalam memberikan penguatan dan mengembangkan
supervisi.
d. Keterampilan merencanakan dan melaksanakan kegiatan pembelajaran, mencakup
membantu siswa menetapkan tujuan dan menstimulasi siswa untuk mencapai tujuan
tersebut, merencanakan kegiatan pembelajaran bersama siswa yang mencakup kriteria
keberhasilan, langkah-langkah ke-giatan pembelajaran, waktu serta kondisi belajar,
bertindak sebagai super-visor dan membantu siswa menilai pencapaiannya sendiri.


C. Instrumen Penilaian Kinerja Guru
Terdapat berbagai model instrumen yang dapat dipakai dalam penilaian kinerja guru.
Namun demikian, ada dua model yang paling sesuai dan dapat digunakan sebagai
instrumen utama, yaitu skala penilaian dan (lembar) observasi. Skala penilaian

                                                                                        55
mengukur penampilan atau perilaku orang lain (individu) melalui pernyataan perilaku
dalam suatu kontinum atau kategori yang memiliki makna atau nilai. Kategori dibuat
dalam bentuk rentangan mulai dari yang tertinggi sampai terrendah. Rentangan ini
dapat disimbolkan melalui huruf (A, B, C, D) atau angka (4, 3, 2, 1), atau berupa kata-
kata, mulai dari tinggi, sedang, kurang, rendah, dan sebagainya.
Observasi merupakan cara mengumpulkan data yang biasa digunakan untuk mengukur
tingkah laku individu ataupun proses terjadinya suatu kegiatan Yang dapat diamati baik
dalam situasi yang alami (sebenarnya) maupun situasi buatan. Tingkah laku guru dalam
mengajar, merupakan hal yang paling cocok dinilai dengan observasi. Tentu saja
penilai harus terlebih dahulu mempersiapkan lembaran-lembaran yang berisi aspek-
aspek yang hendak dinilai. Dalam lembaran tersebut terdapat kolom di sebelah aspek
yang hendak dinilai, di mana penilai dapat memberikan catatan atau penilaian
mengenai kuantitas dan/atau kualitas aspek yang dinilai. Penilaian dapat diberikan
dalam bentuk tanda cek (√).
Lembar penilaian observasi juga dapat dibuat dalam bentuk yang tidak terstruktur.
Maksudnya penilai (observer) tidak memberikan tanda cek, namun menuliskan catatan
mengenai kondisi aspek yang diamati. Hal ini biasanya dilakukan apabila hal-hal yang
diamati memang belum dapat dipastikan seperti apa dan bagaimana kemunculannya.
Sebagai contoh, penilaian terhadap kemampuan seorang guru baru dalam mengelola
kelas. Meskipun kisi-kisi pengelolaan kelas telah jelas, akan tetapi bisa saja guru baru
yang dinilai tersebut memunculkan perilaku yang tidak terprediksi dalam menghadapi
para siswa di kelas. Hal ini dilakukan terutama bila penilai menggunakan pendekatan
kualitatif.
Beberapa contoh model instrumen penilaian guru disajikan dalam lampiran.


D. Pelaksanaan Penilaian Kinerja Guru
Teori dasar yang digunakan sebagai landasan untuk menilai kualitas ki-nerja guru
menurut T.R. Mithcell (1978) yaitu:




                                                                                           56
Dari formula tersebut dapat dikatakan bahwa, motivasi dan abilitas ada-lah unsur-unsur
yang berfungsi membentuk kinerja guru dalam menjalankan tugasnya sebagai guru.


1. Motivasi
Motivasi memiliki pengertian yang beragam baik yang berhubungan dengan perilaku
individu maupun perilaku organisasi. Motivasi merupakan unsur penting dalam diri
manusia yang berperan mewujudkan keberhasilan dalam usaha atau pekerjaan individu.
Menurut Stoner (1992: 440) motivasi diartikan sebagai faktor-faktor pe-nyebab yang
menghubungkan dengan sesuatu dalam perilaku seseorang. Me-nurut Maslow (1970:
35) sesuatu tersebut adalah dorongan berbagai kebutuh-an hidup individu dari mulai
kebutuhan fisik, rasa aman, sosial, penghargaan dan aktualisasi diri.
Pendekatan yang dapat digunakan adalah pendekatan insentif keuangan sebagaimana
dikemukakan Adam Smith (1976), pendekatan standar kerja se-bagaimana dijelaskan
oleh Frederick Taylor (1978: 262), dan pendekatan ana-lisis pekerjaan dan struktur
penggajian (job analysis and wage structure approach) yaitu mengklasifikasikan sikap,
skill, dan pengetahuan dalam usa-ha untuk mempertemukan kemampuan dan skill
individu dengan persyaratan pekerjaan. Analisis tugas adalah suatu proses pengukuran
sikap pegawai dan penetapan tingkat pentingnya pekerjaan untuk menetapkan
keputusan konpen-sasi.
Berdasarkan pendekatan di atas, maka di kalangan para guru, jabatan guru dapat
dipandang secara aplikatif sebagai salah satu cara dalam memoti-vasi (pemotivasi) para
guru untuk meningkatkan kemampuannya.


2. Abilitas
Abilitas adalah faktor yang penting dalam meningkatkan produktivitas kerja, abilitas
berhubungan dengan pengetahuan dan keterampilan yang dimi-liki individu. Menurut
Bob Davis at. al. (1994: 235) skill dan abilitas adalah dua hal yang saling berhubungan.
Abilitas seseorang dapat dilihat dari skill yang diwujudkan melalui tindakannya.
Berkenaan dengan abilitas dalam arti kecakapan guru A. Samana (1994: 51)

                                                                                       57
    menjelaskan bahwa, ‖Kecakapan profesional guru menunjuk pada suatu tindakan
    kependidikan yang berdampak positif bagi proses belajar dan per-kembangan pribadi
    siswa‖. Bentuk tindakan dalam pendidikan dapat berwu-jud keterampilan mengajar
    (teaching skills) sebagai akumulasi dari pengeta-huan (knowledge) yang diperoleh para
    guru pada saat menempuh pendidikan seperti di SPG, PGSD, atau sejenisnya.


    3. Kinerja
    Kinerja atau unjuk kerja dalam konteks profesi guru adalah kegiatan
    yang meliputi perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran/KBM, dan
    melakukan penilaian hasil belajar.

4. Faktor-faktor pendukung




5. Alternatif pengembangan

          Serangkaian masalah yang meliputi dunia kependidikan dewasa ini masih perlu
   mendapat perhatian dari semua pihak. Mulai dari kualitas tenaga pendidik yang belum
   mencapai target hingga masalah kesejahteraan guru.
          Fakta di lapangan, permasalahan jauh lebih kompleks dalam lingkungan
   pendidikan kita. Boleh dikatakan tingkat kualitas dan kompetensi guru menjadi kendala
   utamanya, mulai dari guru yang tidak memiliki kelayakan kompetensi untuk mengajar
   mata pelajaran tertentu, hingga rendahnya tingkat profesionalisme guru itu sendiri.
          Pemerintah pada 2 Desember 2004 telah mencanangkan guru sebagai profesi.
   Artinya, guru saat ini dituntut bukan hanya sekadar pekerjaan datang- mengajar lalu
   pulang. Tapi dituntut untuk mencapai serangkaian kualifikasi dalam pencapaian mutu
   profesionalisme yang telah   ditetapkan.
          Guru yang profesional minimal memiliki kualifikasi pendidikan profesi yang
   memadai, memiliki kompetensi keilmuan sesuai bidang yang ditekuninya, memiliki
   kemampuan berkomunikasi yang baik dengan anak didik, berjiwa kreatif dan produktif,
   memiliki etos kerja dan komitmen tinggi terhadap profesinya serta melakukan
   pengembangan diri    yang    terus-menerus.
                                                                                        58
          Guru sekarang diharapkan beranjak dari metode lama yang hanya mengandalkan
   komunikasi satu arah, di mana guru menjadi sentral pembelajaran menjadi pembelajaran
   dengan komunikasi dua arah dengan murid yang menjadi fokus utama pembelajaran.
          Guru yang ideal adalah guru yang terus-menerus berinovasi untuk meneliti
   masalah yang ditemukan dalam proses pembelajaran. Kemudian mencari solusi dan
   melakukan tindakan dalam menyelesaikan masalah tersebut.
          Guru diharapkan terus bereksperimen menemukan metode dan teknik
   pembelajaran yang cocok dan efektif dalam mencapai tujuan pembelajaran.
   Guru hendaknya terus membuka wawasan dan kreatif untuk membuat murid bergairah
   dalam proses belajar dan bisa mengaplikasikan prinsip belajar menyenangkan serta
   belajar yang tak terbatas   ruang dan     waktu.
          Belajar tidak lagi diartikan guru menjelaskan, siswa menerima, dan dilakukan di
   ruang kelas. Namun paradigma belajar bergeser menjadi proses penemuan pengetahuan
   yang dilakukan oleh murid sebagai fokus utama pembelajaran dengan bantuan guru
   dalam peranannya    sebagai fasilitator dan pembimbing.
          Untuk mencapai proses pembelajaran ideal yang menjadi tujuan dan arah dalam
   pencapaian profesionalisme guru, fasilitas dan dukungan juga wajib menjadi perhatian
   utama pemerintah.
          Dengan sekian banyak tuntutan dalam mencapai keprofesionalannya, guru harus
   membuka diri terhadap pengetahuan dan wawasan baru serta berupaya mengembangkan
   diri. Aktif dalam organisasi yang dapat mengasah kompetensinya, mengikuti pelatihan
   yang meningkatkan mutu dan kualitas, meningkatkan pengetahuan melalui buku, internet,
   seminar dan semacamnya.


                                      BAB V

       KESIMPULAN DAN REKOMENDASI OPERASIONAL

1. Rumusan simpulan secara lugas dan cermat

2. Rumusan rekomendasi operasional untuk implementasi temuan


                                                                                      59
60
BEBERAPA PENGERTIAN ETOS KERJA ”. 1. Keyakinan yang berfungsi sebagai panduan tingkah laku bagi
seseorang, sekelompok orang atau sebuah institusi. Pengertian Etos Kerja . 43. 2.3.2. Fungsi dan Tujuan
Etos Kerja 47. 2.3.3. Etos Kerja free Download pengertian membangun budaya etos kerja pns pdf. Gratis
artikel buku Makalah Skripsi tesis silabus jurnal proposal karya ilmiah tentang: 2.2.5 Pengertian Etos
Kerja. Setiap organisasi yang selalu ingin maju, akan melibatkan anggota untuk meningkatkan mutu
kinerjanya, diantaranya setiap oleh BAB II - Artikel terkaitberkenaan dengan peningkatan etos kerja
guru… 28. B. Pembahasan Tentang Etos Kerja Guru…………… 32. 1. Pengertian etos kerja
guru……………………. 32 Kamus Besar Bahasa Indonesia (2001) memberi pengertian etos kerja Etos berasal
dari bahasa Yunani (ethos) yang memberikan arti Dalam pengertian lain, etos dapat diartikan sebagai
thumuhat yang .. Ibadah, menjelaskan pengertian etos (khuluk) adalah suatu sifat yang tetap pada jiwa
Bab ini diuraikan tentang pengertian kinerja karyawan, pengertian sikap mandiri, pengertian etos kerja,
kerangka pemikiran dan hipotesis......




                                                                                                    61

				
DOCUMENT INFO
Categories:
Tags:
Stats:
views:891
posted:9/23/2011
language:Indonesian
pages:61
About