Docstoc

KTI BOS

Document Sample
KTI BOS Powered By Docstoc
					                                           BAB I

                                        PENDAHULUAN

1.1   Latar Belakang

             Sekolah sebagai lembaga pendidikan terdiri dari komponen-komponen yang
      mendukung dan saling terkait. Komponen utama pendukung terlaksananya
      perikehidupan sekolah tersebut meliputi kepala sekolah, guru, staf tata usaha, staf
      tenaga khusus, dan siswa. Sedangkan komponen di luar sekolah namun juga
      berpengaruh terhadap sekolah antara lain masyarakat, komite sekolah, orang tua
      siswa, dan dinas pendidikan sebagai komponen Pembina sekolah.
             Dari sekian banyak komponen sekolah, guru merupakan komponen yang
      sangat menentukan dan memegang peranan sangat penting dalam upaya pencapaian
      visi, misi, dan tujuan sekolah.
             Guru adalah orang dewasa yang secara sadar bertanggung jawab dalam
      mendidik, mengajar, dan membimbing peserta didik. Orang yang disebut guru adalah
      orang yang memiliki kemampuan merangsang program pembelajaran serta mampu
      menata dan mengelola kelas agar peserta didik dapat belajar dan pada akhirnya dapat
      mencapai tingkat kedewasaan sebagai tujuan akhir dari proses pendidikan.
             Sedangkan dalam kegiatan proses pembelajaran tersebut, agar tujuan yang
      diharapakan dapat tercapai secara maksimal maka guru juga harus professional
      memiliki kompetensi dalam mengajar. Kompetensi guru adalah salah satu faktor yang
      mempengaruhi tercapainya tujuan pembelajaran dan pendidikan di sekolah, namun
      kompetensi guru tidak berdiri sendiri, tetapi dipengaruhi latar belakang pendidikan,
      pengalaman mengajar, dan lamanya mengajar. Profesionalisme dan kompetensi
      tersebut berpengaruh pada hasil proses pembelajaran.
             Dengan demikian, guru hendaknya memiliki kompetensi yang sesuai dengan
      keprofesionalannya. Dengan kata lain, guru dituntut secara mutlak berkompetensi
      dengan memadai sehingga dapat melaksanakan tugas pokok dan fungsinya sesuai
      dengan Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru Pasal 52 yang
      meliputi 5 tupoksi guru yaitu:

                                                                                        1
a.     Merencanakan pembelajaran
b.     Melaksanakan pembelajaran
c.     Menilai hasil pembelajaran
d.     Membimbing dan melatih peserta didik
e.     Melaksanakan tugas tambahan
       Lebih dari itu bahwa seorang guru hendaknya memiliki kualifikasi dan
kompetensi sebagaimana disebutkan pada Lampiran Peraturan Menteri Pendidikan
Nasional (Permendiknas RI) Nomor 16 Tahun 2007 yaitu:

       Kualifikasi Akademik Guru SMP/MTs:
       Guru pada SMP/MTs, atau bentuk lain yang sederajat, harus memiliki kualifikasi
       akademik pendidikan minimum diploma empat (D-IV) atau sarjana (S1) program
       studi yang sesuai dengan mata pelajaran yang diajarkan/diampu, dan diperoleh
       dari program studi yang terakreditasi.
       Standar Kompetensi yang harus dimiliki guru ( dalam hal ini guru SMP):
       1)      Kompetensi Pedagogik
       2)      Kompetensi Kepribadian
       3)      Kompetensi Sosial
       4)      Kompetensi Profesional.
       Di samping itu, guru juga hendaknya memiliki kompetensi sebagai guru mata
pelajaran sesuai dengan mata pelajaran yang diampunya.
       Guru berkaitan langsung dengan pencapaian target mutu lulusan. Target prestasi
akademik lulusan atau satandar kompetensi lulusan – dalam hal ini- Kompetensi
Ketuntasan Minimal (KKM) yang telah ditetapkan pada awal tahun pelajaran semestinya
menjadi target dan tolok ukur keberhasilan proses pendidikan di sekolah.
       Sementara itu di SMP Negeri 230 Jakarta pada masa terdahulu tuntutan-tuntutan
tersebut belum dapat terpenuhi secara memadai. Apabila tidak segera diatasi akan sangat
berpengaruh terhadap mutu hasil pendidikan di SMP Negeri230 Jakarta.
       Target prestasi akademik lulusan atau standar kompetensi lulusan –atau -
Kompetensi Ketuntasan Minimal (KKM) yang telah ditetapkan pada awal tahun pelajaran
semestinya menjadi target dan tolok ukur keberhasilan proses pendidikan di sekolah. Dan
diharapkan selalu meningkat dari tahun ke tahun.



                                                                                     2
1.2   Permasalahan
      Berdasarkan kondisi realita bahwa sebelum tahun 2010 prestasi akademik dan
      nonakademik di SMP Negeri 230 Jakarta cenderung belum memuaskan dan berada
      pada posisi bawah di antara SMP Negeri di wilayah Kecamatan Cipayung maupun
      wilayah yang lebih luas-Jakarta Timur. Kenyataan demikian dapat ditarik
      permasalahan sebagai berikut:
      a. Mengapa prestasi SMP Negeri 230 sebelum tahun 2010 masih rendah?
      b. Apakah faktor penyebab utama rendahnya prestasi akademik           SMP Negeri 230
         Jakarta sebelum tahun 2010?
1.3   Strategi Pemecahan Masalah
      Sebagai strategi pemecahan permasalahan yang ada seperti telah disebutkan di atas,
      maka mulai tahun 2010 ditempuh strategi sebagai berikut:
      a. Menganalisis dan menginventarisasi masalah pokok yang mendasar penyebab
         rendahnya prestasi akademik di SMP Negeri 230 Jakarta, terutama yang berkaitan
         dengan tupoksi guru.
         Pada tahapan ini ditemukan beberapa hal antara lain:
                1) Guru belum sepenuhnya menguasai teknik pembuatan perangkat
                     pembelajaran
                2) Guru     belum     sepenuhnya     menguasai    teknik    penyajian    bahan
                     pembelajaran
                3) Guru belum sepenuhnya melaksanakan tupoksi sesuai dengan alokasi
                     waktu dan jam kerja
                4) Guru masih berkesan asal-asalan dalam mempersiapkan pembelajaran
                     sampai dengan mengevaluasi hasil pembelajaran, termasuk dalam
                     melaksanakan tupoksi membimbing peserta didik
                5) Guru     masih     berorientasi    bahwa      mengajar    hanya      sekadar
                     menggugurkan kewajiban
                6) Guru belum memahami dan tidak memiliki berbagai produk hukum
                     yang mengatur tentang berbagai pedoman dan panduan yang
                     berhubungan dengan tugas profesinya.



                                                                                             3
            b. Menyusun dan Melaksanakan Program Pengembangan SDM Guru
               Pada tahapan ini disusun Program Pengembangan SDM yang langsung
               berhubungan dengan peningkatan kompetensi guru terutama kompetensi
               professional yang meliputi pelatihan dan lokakarya/ workshop ICT untuk
               pembelajaran, pengembangan silabus dan RPP, Kursus bahasa Inggris,
               kursus komputer dan internet, pelatihan PTK, pelatihan CTL, Uji
               Kompetensi Guru, dsb.
               Dalam pada itu sebagai pembinaan lanjutan disusun dan dilaksanakan
               program    supervisi    akademik/   supervisi       pembelajaran   dengan
               menghadirkan supervisor dari LPMP Jakarta dan atau lembaga/ pakar yang
               berkompeten untuk hal tersebut.
1.4 Strategi Pencapaian
    Guna pencapaian target penyelesaian masalah dan peningkatan prestasi khusunya
    prestasi akademik di SMP Negeri 230 Jakarta, maka dilakukan berbagai macam
    pelatihan dan/ atau workshop yang dapat meningkatkan profesionalisme dan
    kompetensi guru dengan harapan etos kerja para guru membaik.
1,5 Tahapan Penyelesaian Masalah
    a. Tahapan penyelesaian masalah bagi guru yaitu dengan disusunnya agenda/ jadwal
       pelatihan dan/atau workshop serta supervisi pembelajaran.
    b. Tahapan penyelesaian masalah bagi siswa adalah dengan meningkatkan motivasi
       belajar dan menintensifkan kegitan pembelajaran termasuk penambahan alokasi/
       jumlah jam belajar terutama untuk mata pelajaran yang di-UN-kan.



                                       BAB II

            LANDASAN TEORI DAN KERANGKA BERPIKIR

 2.1 Landasan Teori

    2.1.1   Pembinaan

                  Pembinaan merupakan suatu tanggung jawab pimpinan yang harus
            diberikan kepada bawahan secara kontinyu agar bawahan selalu merasa ada

                                                                                       4
perhatian dari pimpinan dalam hubungan kerja. Memberi pembinaan kepada
bawahan sama halnya dengan memberi motivasi kerja. Seorang manajer atau
pimpinan dalam hal ini Kepala Sekolah harus mampu memberi dorongan
kepada bawahannya yaitu para guru/ karyawan agar dapat bekerja sesuai
dengan kebijakan dan rencana kerja yang telah digariskan.
       Bimbingan atau pembinaan merupakan salah satu usaha untuk
menumbuhkembangkan organisasi SMP Negeri 230 Jakarta sebagai lembaga
pendidikan secara utuh. Usaha tersebut melalui setiap personal khususnya
guru, agar setiap kegiatan yang dilakukan meliputi tugas pokok dan fungsinya
dapat mencapai tujuan.
       Dalam bimbingan tersebut, Kepala Sekolah memberikan dorongan agar
personal para guru dapat bekerja lebih kreatif dan berdedikasi tinggi. Apabila
setiap personal guru dapat menjalankan tugas pokok dan fungsinya dengan
baik berarti pembinaan yang diberikan oleh Kepala Sekolah dapat dikatakan
berhasil. ―Pembinaan adalah usaha, tindakan, dan kegiatan yang
dilakukan secara berdaya guna untuk memperoleh hasil yang baik”.
Seorang Kepala Sekolah berkewjiban memberi pembinaan kepada guru agar
dapat bekerja secara berdaya guna dan berhasil guna, sehingga pekerjaan
berkenaan dengan tupoksi memberikan hasil yang berkualitas. Adapun tolok
ukur utama keberhasilan dalam hal ini adalah dengan diperolehnya prestasi
akademik lulusan yang memuaskan.
       Pembinaan harus dilakukan secara terus-menerus dan secara
sistematis/programatis. ―Membina guru-guru ialah mengembangkan profesi,
termasuk kepribadian mereka sebagai guru‖. Dengan pembinaan, diharapkan
para guru lebih bertanggung jawab pada tugas yang diemban dan yang menjadi
tanggung jawabnya.
       Pembinaan kepada guru-guru dilakukan oleh kepala sekolah selaku
supervisor. Ada empat fase proses pembinaan program pembelajaran: (1).
Penilaian sasaran program (2). Merencanakan perbaikan program, (3).
Melaksanakan perubahan program dan (4). Evaluasi perubahan program.




                                                                            5
2.1.2   Profesionalimse
               Profesi — merupakan bidang pekerjaan khusus yang memerlukan
        prinsip-prinsip profesional. Profesi guru harus (1) memiliki bakat, minat,
        panggilan jiwa, dan idealisme, (2) memiliki kualifikasi pendidikan dan latar
        belakang pendidikan yang sesuai dengan bidang tugasnya,(3) memiliki
        kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugasnya. Di samping itu,
        mereka juga harus (4) mematuhi kode etik profesi, (5) memiliki hak dan
        kewajiban dalam melaksanakan tugas, (6) memperoleh penghasilan yang
        ditentukan sesuai dengan prestasi kerjanya, (7) memiliki kesempatan untuk
        mengembangkan profesinya secara berkelanjutan, memperoleh perlindungan
        hukum dalam melaksanakan tugas profesionalnya, dan (9) memiliki organisasi
        profesi yang berbadan hokum ( UU tentang Guru dan            Dosen).
                   Profesionalisme - guru haruslah orang yang memiliki insting
        pendidik, paling tidak mengerti dan memahami peserta didik. Guru harus
        menguasai secara mendalam minimal satu bidang keilmuan. Guru harus
        memiliki sikap integritas profesional.
                     Menyadari banyaknya guru yang belum memenuhi kriteria
        professional di SMP Negeri 230 Jakarta, Kepala Sekolah harus mengambil
        langkah nyata untuk membina profesionalisme dan kompetensi guru agar
        memiliki etos kerja yang handal sehingga berdampak pada hasil belajar atau
        mutu lulusan yang memuaskan. Hal-hal yang dapat dilakukan di antaranya:
               (1) Penyelenggaraan        pelatihan.   Dasar   profesionalisme    adalah
                     kompetensi. Sementara itu, pengembangan kompetensi mutlak
                     harus berkelanjutan. Caranya, tiada lain harus dengan pelatihan.
               (2) Pembinaan perilaku kerja.
                     Karena keberhasilan pada berbagai wilayah kehidupan ternyata
                     ditentukan oleh perilaku manusia, terutama perilaku kerja dalam
                     hal ini perilaku kinerja guru.
               Kegiatan yang membuat seseorang belajar memerlukan suatu disiplin
        ilmu, agar dapat melaksanakan tugas secara sistematis dan logis yang disebut
        profesi.


                                                                                        6
        Profesionalisme dapat dikatakan sebagai mutu, kualitas, dan tindak-
tanduk yang merupakan ciri suatu profesi atau orang yang profesional
(memiliki keahlian). Hal ini ditandai dengan adanya standar atau jaminan
mutu seseorang dalam melakukan suatu upaya profesional. Jaminan mutu ini
dapat saja dalam kalangan terbatas – di lingkungan profesi – atau dapat juga
dalam lingkungan yang luas – oleh masyarakat umum membuat penilaian
terhadap kinerjanya.
        Dengan demikian profesionalisme bagi guru adalah mutu dan kualitas
yang selalu tercermin pada dirinya sehingga menjadi ciri khas dalam tindak-
tanduk dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya sebagai guru di
sekolah.
       Kompetensi Profesional guru merupakan kondisi, arah, nilai, tujuan
dan kualitas suatu keahlian dan kewenangan dalam bidang pendidikan dan
pengajaran yang berkaitan dengan pekerjaan seseorang yang menjadi mata
pencaharian. Adapun guru profesional itu sendiri adalah guru yang berkualitas,
berkompetensi, dan guru yang dikehendaki untuk mendatangkan prestasi
belajar serta mampu mempengaruhi proses belajar mengajar siswa, yang
nantinya akan menghasilkan prestasi belajar siswa yang lebih baik.
Kompetensi guru yang dimaksud meliputi empat kategori. Pertama,
kemampuan guru dalam merencanakan program belajar mengajar. Kedua,
kemampuan guru dalam menguasai bahan pelajaran. Ketiga, kemampuan guru
dalam melaksanakan dan memimpin/mengelola proses belajar mengajar. Dan
keempat, kemampuan dalam menilai kemajuan proses belajar mengajar.
        Pada dasarnya terdapat seperangkat tugas yang harus dilaksanakan
oleh guru berhubungan dengan profesinya sebagai pengajar, tugas guru ini
sangat berkaitan dengan kompetensi profesionalnya. Hakikat profesi guru
merupakan suatu profesi, yang berarti suatu jabatan yang memerlukan
keahlian khusus sebagai guru dan tidak dapat dilakukan oleh sembarang orang
di luar bidang pendidikan. Walaupun pada kenyataannya masih terdapat hal-
hal tersebut di luar bidang   kependidikan.
Guru yang rendah tingkat komitmen/ etos kerjanya, ditandai oleh ciri-ciri


                                                                            7
Sebagai berikut:                                                                   ;
       a. Perhatian yang disisihkan untuk memerhatikan siswanya hanya
             sedikit.
        b. Waktu dan tenaga yang dikeluarkan untuk melaksanakan tugasnya
             hanya sedikit.
Guru yang mempunyai tingkatan komitmen/ etos kerja tinggi, ditandai oleh
ciri-ciri sebagai berikut:
        a.        Perhatiannya terhadap siswa cukup tinggi.
        b.        Waktu dan tenaga yang dikeluarkan untuk melaksanakan
                  tugasnya banyak.
        c.        Banyak bekerja untuk kepentingan orang lain/ sejawat.
        Kompetensi guru berkaitan dengan profesionalisme, yaitu guru yang
profesional adalah guru yang kompeten (berkemampuan). Karena itu,
kompetensi profesionalisme guru dapat diartikan sebagai kemampuan dan
kewenangan        guru    dalam     menjalankan    profesi    keguruannya    dengan
kemampuan tinggi. Profesionalisme seorang guru merupakan suatu keharusan
dalam mewujudkan sekolah berbasis pengetahuan, yaitu pemahaman tentang
pembelajaran, kurikulum, dan perkembangan manusia termasuk gaya belajar.
        Kompetensi profesional seorang guru adalah seperangkat kemampuan
yang harus dimiliki oleh seorang guru agar ia dapat melaksanakan tugas
mengajarnya dengan berhasil. Adapun kompetensi yang harus dimiliki oleh
seorang guru, terdiri dari 4 (empat) yaitu ; kompetensi pedagogik, kompetensi
pribadi,     kompetensi       sosial,   dan   kompetensi     profesional   mengajar.
Keberhasilan guru dalam menjalankan profesinya sangat ditentukan oleh
keempatnya dengan penekanan pada kemampuan                 mengajar.
Etos Kerja
     Etos kerja adalah respon yang dilakukan oleh seseorang, kelompok,
atau masyarakat terhadap kehidupan sesuai dengan keyakinannya masing-
masing. Setiap keyakinan mempunyai sistem nilai dan setiap orang yang
menerima keyakinan tertentu berusaha untuk bertindak sesuai dengan
keyakinannya. Bila pengertian etos kerja dire-definisikan, etos kerja adalah
respon yang unik dari seseorang atau kelompok atau masyarakat terhadap

                                                                                  8
           kehidupan; respon atau tindakan yang muncul dari keyakinan yang diterima
           dan respon itu menjadi kebiasaan atau karakter pada diri seseorang atau
           kelompok atau masyarakat.
                  Berdasarkan pengertian etos kerja di atas dapat ditarik ketegasan
           bahwa yang dimaksud etos kerja bagi guru adalah melaksanakan tugas
           profesinya secara sungguh-sungguh, berdisiplin, berdedikasi, dengan tulus
           ikhlas, serta menyadari bahwa tupoksi professional tersebut dilaksanakan
           dengan kiat-kiat yang sesuai dan berfungsi untuk memberikan pelayanan
           sebaik-baiknya kepada peserta didik, sehingga profesi tersebut memiliki nilai
           kehormatan dan bermartabat.
   2.1.3   Kompetensi Guru
                  Seseorang yang dikatakan kompeten dibidang tertentu adalah
           seseorang yang menguasai kecakapan kerja atau keahlian selaras dengan
           tuntutan bidang kerja yang bersangkutan, dan mempunyai wewenang dalam
           pelayanan sosial dimasyarakatnya, yang secara kompeten orang tersebut
           mampu bekerja dibidangnya secara efektif dan efisien.
                  Kompetensi adalah kemampuan seorang guru dalam penguasaan
           pekerjaan yang menjadi keahliannya. Guru hendaknya bekerja dengan berdaya
           guna dan berhasil guna dengan (a). Memiliki pengetahuan tentang belajar dan
           tingkah laku manusia (peserta didik). (b). Memiliki sikap yang tepat terhadap
           diri sendiri, sekolah, peserta didik, teman sejawat dan mata pelajaran yang
           dibina. (c). Menguasai mata pelajaran yang akan diajarkan. (d). Memiliki
           keterampilan teknis dalam mengajar, dan strategi belajar mengajar.
                  Selain dari itu , bahwa menurut Permendiknas RI No. 16 Tahun 2007
           kompetensi guru meliputi: 1) Kompetensi Pedagogik, 2) Kompetensi
           Kepribadian, 3) Kompetensi Sosial, dan 4) Kompetensi Profesional.
2.2 Kerangka Berpikir
   2.2.1 Etos Kerja Berpengaruh terhadap Hasil Kinerja
                  Etos kerja sangat berpengarauh terhadap hasil kinerja. Keduanya saling
           berhubungan sebagaimana sebab dan akibat. Etos kerja yang baik dan handal
           niscaya akan memberikan hasil kinerja yang baik pula. Demikian sebaliknya


                                                                                      9
      etos kerja yang tidak baik/ kurang/ buruk akan memberikan hasil kinerja yang
      tidak baik dan tidak optimal.
             Sehubungan dengan hal tersebut, etos kerja guru pun akan sangat
      menentukan hasil kinerjanya yang akan berujung pada keberhasilan belajar
      dari para anak didiknya. Artinya bahwa etos kerja guru akan sangat
      menentukan kualitas/ mutu pada hasil akahir kinerja guru tersebut yang tiada
      lain adalah para siswa/ lulusan dari sebuah sekolah.
             Demikian halnya etos kerja para guru di SMP Negeri 230 Jakarta juga
      berpengaruh terhadap mutu lulusan para siswa SMP Negeri Jakarta. Semakin
      baik etos kerja para guru SMP Negeri 230 Jakarta akan semakin baik pula
      mutu lulusan dan hasil belajar para siswa.
2.2.2 Pembinaan Etos Kerja Meningkatkan Profesionalisme dan Kompetensi guru
             Seperti telah disebutkan di depan bahwa etos kerja guru akan sangat
      menentukan hasil kinerja atau mutu lulusan dan hasilbelajar para siswa.
      Sehubungan dengan hal tersebut guru dituntut memiliki profesionalisme dan
      kompetensi yang memadai agar dapat melaksanakan kinerja dengan etos kerja
      yang baik.
             Profesionalisme dan kompetensi guru harus selalu dibina untuk
      ditingkatkan dengan harapan setelah memahami, memiliki, dan menerapakan
      profesionalisme dan kompetensinya guru akan sanggup meningkatkan etos
      kerjanya sehingga secara langsung maupun tidak langsung akan meningkatkan
      hasil kinerjanya.
             Dengan kata lain, pembinaan terhadap profesionalisme dan kompetensi
      guru mutlak diperlukan agar guru makin professional dalam melaksanakan
      tugas pokok dan fungsing utamanya yaitu menyelenggarakan pembelajaran
      yang baik dan berhail bagi para siswa.




                                                                               10
                                         BAB III

                          METODOLOGI PENELITIAN

       Berkenaan dengan tugas pokok dan fungsi guru dalam pembelajaran, penulis
melaksanakan deskripsi data terhadap prestasi akademik dan perilaku para guru dalam
hubungannya dengan hasil belajar dan mutu lulusan. Hal ini dilakukan agar memiliki
dampak terhadap pengembangan profesionalisme dan kompetensi guru guna peningkatan
mutu pembelajaran. Deskripsi prestasi akademik dan realita guru selanjutnya untuk
menentukan langkah-langkah pembinaan terhadap profesionalisme dan kompetensi guru
sehingga etos kerja mereka dapat meningkat.



                                         BAB IV

                                    PEMBAHASAN

4.1     Latar Belakang Strategi Pemecahan Masalah

              Guru sebagai pengajar atau pendidik, merupakan salah satu faktor penentu
       keberhasilan setiap usaha pendidikan dengan pembelajaran. Guru dituntut senantiasa
       berperan aktif, inovatif, dan eksis dalam pembelajaran.
              Sehubungan dengan prestasi belajar siswa, keahlian dan kepribadian guru
       merupakan salah satu faktor yang sangat berperan sekaligus menjadi loncatan bagi
       siswa untuk meraih keberhasilan khususnya prestasi baik dari segi analisis maupun
       kemampuan mendayagunakan ilmu pengetahuan yang dimilikinya.
              Ini berarti bahwa pekerjaan pekerjaan guru bersifat profesional yaitu pekerjaan
       yang hanya dapat dilakukan oleh mereka yang khusus dipersiapkan untuk itu dan
       bukan pekerjaan yang dilakukan oleh mereka yang karena tidak dapat memperoleh
       pekerjaan yang lain.
              Guru yang memiliki komitmen rendah biasanya kurang memberikan perhatian
       kepada murid, demikian pula waktu dan tenaga yang dikeluarkan untuk meningkatkan
                                                                                          11
      mutu pendidikan pun sedikit. Sebaliknya, seorang guru yang memiliki komitmen yang
      tinggi biasanya tinggi sekali perhatian terhadap murid, demikian pula waktu yang
      disediakan untuk peningkatan mutu pendidikan pun lebih banyak.
4.2   Hasil atau dampak yang dicapai dari strategi yang dipilih
      a. Meningkatnya etos kerja, profesionalisme, dan kompetensi guru
      b. Meningkatnya prestasi belajar dan mutu lulusan
4.3   Langkah Pembinaan Kinerja Guru
      Pembinaan kinerja guru dengan indikator penilaian kinerja guru yang meliputi:
             1) Perencanaan Program Kegiatan Pembelajaran
             2) Pelaksanaan Kegiatan Pembelajaran yang meliputi:
                    a. Pengelolaan Kelas
                    b. Penggunaan Media dan Sumber Belajar
                    c. Penggunaan Metode Pembelajaran
                    d. Evaluasi/Penilaian Pembelajaran
4.4   Faktor-faktor pendukung
      Faktor pendukung terhadap pelaksanaan pembinaan etos kerja guna meningkatkan
      profesionalisme dan kompetensi guru SMP Negeri 230 Jakarta dalam rangka
      meningkatkan mutu lulusannya adalah:
                    a. Potensi para guru yang berjumlah banyak dan bersemangat besar
                        untuk menempa diri mengembangkan kemampuan profesi dan
                        kompetensinya.
                    b. Fasilitas pembelajaran yang semakin ditambah dan ditingkatkan
                        guna menunjang pelaksanaan pembelajaran yang kondusif.
4.5   Alternatif pengembangan
             Serangkaian masalah yang meliputi dunia pendidikan di SMP Negeri 230
      Jakarta masih perlu mendapat perhatian dari semua pihak. Terutama dari kualitas
      tenaga pendidik yang belum mencapai target yaitu belum optimalnya etos kerja dan
      profesionalisme serta kompetensi guru sehingga mutu lulusan pun belum sesuai
      dengan harapan.




                                                                                      12
                    Adapun potret prestasi akademik SMP Negeri 230 Jakarta adalah
No.   Kondisi sebelum tahun 2010                Kondisi saat ini      Target ke depan
1   Hasil UN-US
    - Rata2 pencapaian KKM semua            -   Rata2 pencapaian      ≥7,25
           mapel 6,00                           KKM 80% mapel
       -   Rata2 pencapaian NUN < 6,50          7,00
                                            -   Rata2 pencapaian      ≥ 7,00
                                                NUN 7,00
2      Rata-rata Hasil TUKPD

       Tahap I:                             Peringkat 8 Kecamatan     Peringkat ≤ 5
       A. Indonesia < 7,56                  B Indonesia 7,56          8,00
       Matematika <3,85                     Matematika 3,85           6,00
       B. Inggris < 4,87                    B.Inggris    4, 87        6,00
       IPA         < 5, 66                  IPA         5,66          7,00
       Keberhasilan < 72%                   Keberhasilan 72 %         85 %

       Tahap II:
       Peringkat < 6 Kecamatan              Peringkat 6 Kecamatan     Peringkat ≤ 5
       B Indonesia < 7,43                   B Indonesia 7,43          8,00
       Matematika < 5,36                    Matematika 5,36           6,50
       B Inggris     < 6,27                 B Inggris    6,27         7,00
       IPA           < 5,55                 IPA          5,55         6,50
       Keberhasilan < 89 %                  Keberhasilan 85 %         95 %

3      Kelulusan:

       -   Jumlah kelulusan murni 84 %      -   Jumlah kelulusan      100 % dengan
                                                murni 100%            nilai rata-rata ≥
                                                                      7,00


    Dengan melihat tabel tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa mulai tahun 2010
    prestasi akademik SMP Negeri 230 Jakarta mengalami kenaikan. Hal itu tidak
    terlepas dari pembinaan yang telah dilakukan.




                                                                                          13
                                    BAB V

     KESIMPULAN DAN REKOMENDASI OPERASIONAL

1. Keimpulan
  a. Kondisi etos kerja para Guru SMP Negeri 230 Jakarta belum optimal sehingga
     perlu pembinaan lebih intensif dan terarah.
  b. Pembinaan tersebut bertujuan agar profesionalisme dan kompetensi para Guru
     makin mantap.
  c. Etos kerja, profesionalisme, dan kompetensi Guru memiliki hubungan timbal
     balik kait mengait satu dengan yang lain.
  d. Guru dengan profesionalisme, kompetensi, dan etos kerja yang baik akan
     menghasilkan hasil kerja yang baik pula yaitu hasil belajar atau mutu lulusan di
     SMP Negeri 230 Jakarta akan meningkat.
2. Saran
  a. Seluruh guru terutama guru SMP Negeri 230 agar selalu meningkatkan
     profesionalisme dan kompetensinya.
  b. Dengan profesionalisme dan kompetensi yang dimiliki hendaknya para Guru
     meningkatkan etos kerja sehingga dapat meningkatkan hasil kinerjanya yang
     berdampak pada meningkatnya mutu lulusan SMP Negeri 230 Jakarta.




                                                                                  14

				
DOCUMENT INFO
Categories:
Stats:
views:18
posted:9/23/2011
language:Indonesian
pages:14
About