Docstoc

BEBERAPA FAEDAH TENTANG AYAM

Document Sample
BEBERAPA FAEDAH TENTANG AYAM Powered By Docstoc
					        BEBERAPA FAEDAH TENTANG AYAM
Berikut akan disajikan sedikit faedah tentang ayam bagi saudara-
saudaraku kaum muslimin, terutama sekali tertuju bagi Anda :
penggemar ayam, pemelihara ayam, peternak ayam, penggemar
daging ayam, penggemar mie ayam, dan penggemar telor ayam.
Sebagaimana kata pepatah : tak kenal, maka tak sayang….

1. Daging ayam adalah halal.

Hal itu dikarenakan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam sendiri pernah
memakannya.

Telah menceritakan kepada kami Hannaad : Telah menceritakan
kepada kami Wakii’, dari Sufyaan, dari Ayyuub, dari Abu Qilaabah, dari
Zahdam, dari Abu Muusaa, ia berkata : “Aku pernah melihat Rasulullah
shallallaahu ‘alaihi wa sallam memakan daging ayam”.

At-Tirmidziy berkata : “Di dalam hadits ini terdapat perkataan yang
lebih banyak dari ini. Hadits ini hasan shahih. Ayyuub As-Sukhtiyaaniy
juga meriwayatkan hadits ini dari Al-Qaasim At-Tamiimiy, dari Abu
Qilaabah, dari Zahdam” *Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy no. 1827;
shahih].

Diriwayatkan juga oleh Al-Bukhaariy no. 5518 & 6649 & 6721 & 7555,
Muslim no. 1649, An-Nasaa’iy no. 4347 dan dalam Al-Kubraa no. 4840,
At-Tirmidziy no. 1826, Al-Huamidiy no. 783, Ad-Daarimiy no. 2055-
2056, Ahmad 4/394 & 397 & 401 & 406, Ibnu Hibbaan no. 5255, Abu
‘Awaanah no. 5926-5935, Ibnul-Jaaruud dalam Al-Muntaqaa no. 864,
dan yang lainnya; dari beberapa jalan, dari Zahdam, dari Abu Muusaa
radliyallaahu ’anhu.
Para ulama tidak berbeda pendapat tentang kehalalan daging ayam.

Adapun larangan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam memakan burung
yang mempunyai cakar[2], maka maksudnya adalah burung yang
memburu mangsanya dengan menggunakan cakarnya [Al-
Hayawaanaat, hal. 23].

2. Ayam yang sering makan kotoran, jika ia hendak disembelih dan
dimakan, maka dikurung dulu selama tiga hari.

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr : Telah menceritakan
kepada kami Wakii’[3], dari Sufyaan[4], dari ‘Amru bin Maimuun[5],
dari Naafi’[6], dari Ibnu ‘Umar : Bahwasannya ia mengurung ayam yang
sering memakan kotoran selama tiga hari (sebelum disembelih)”
[Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah 8/334; shahih].

yaitu, setelah diberi makanan yang baik (selain kotoran), sehingga
keluar kotoran yang ada di dalam perutnya.

Karena, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam melarang memakan
hewan yang sering memakan kotoran (jalaalah).[7]
3. Dilarang mencela ayam.

Telah menceritakan kepada kami Yaziid[8], dari ‘Abdul-‘Aziiz bin
‘Abdillah bin Abi Salamah[9] : Telah menceritakan kepada kami Shaalih
bin Kaisaan[10]. Dan Abun-Nadlr[11], ia berkata : Telah menceritakan
kepada kami ‘Abdul-‘Aziiz bin ‘Abdillah bin Abi Salamah, dari Shaalih
bin Kaisaan, dari ‘Ubaidullah bin ‘Abdillah bin ‘Utbah[12], dari Zaid bin
Khaalid Al-Juhhaniy, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu
‘alaihi wa sallam : “Janganlah kalian mencela/mencaci ayam jantan,
karena ia menyeru kepada shalat”. Abun-Nadlr berkata : “Rasulullah
shallallaahu ‘alaihi wa sallam melarang mencela/mencaci ayam jantan,
karena ia menyeru kalian segera melaksanakan shalat” *Diriwayatkan
oleh Ahmad 5/192-193; shahih].

Diriwayatkan juga oleh Abu Daawud no. 5101, Al-Humaidiy no. 833,
Ibnu Hibbaan no. 5731, An-Nasaa’iy dalam Al-Kubraa no. 10711, Ath-
Thayaalisiy no. 999, ‘Abd bin Humaid no. 278, dan yang lainnya.
Dishahihkan oleh Al-Albaaniy dalam Shahih Sunan Abi Daawud 3/253.
Faedah tambahan :

Seandainya ayam saja dilarang untuk dicela/dicaci, lantas bagaimana
dengan manusia dimana ada sebagian orang yang lisannya mudah
sekali untuk mencela dan mencaci orang lain ?. Sementara itu Allah
ta’ala telah berfirman tentang kemuliaan manusia :

 “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami
angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari
yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang
sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan” *QS. Al-
Israa’ : 70+.

4. Kokok ayam jantan adalah suara yang membangunkan Nabi
shallallaahu ‘alaihi wa sallam untuk shalat malam.

Telah menceritakan kepada kami Aswad[13], ia berkata : Telah
menceritakan kepada kami Syu’bah[14], dari Asy’ats[15], dari
ayahnya[16], dari Masruuq[17], ia berkata : Aku pernah bertanya
kepada ‘Aaisyah tentang shalat shalat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa
sallam di waktu malam. Lalu ia menjawab : “Apabila mendengar kokok
ayam jantan, beliau bangun, lalu shalat” *Diriwayatkan oleh Ahmad,
6/110; shahih].300
Diriwayatkan juga oleh Al-Bukhaariy no. 1132 & 6461-6462, Muslim no.
741, Abu Daawud no. 1317, Ahmad 9/94, Ath-Thayaalisiy no. 1510, Al-
Baihaqiy 3/3-4, An-Nasaa’iy no. 1616, dan yang lainnya.

Kokok ayam jantan biasa terdengar pada sepertiga malam terakhir,
waktu ketika Allah ta’ala turun ke langit dunia. Waktu itulah yang
paling utama (afdlal) untuk shalat malam dan berdoa. Tidak ada
seorang hamba pun berdoa pada waktu itu kecuali akan dikabulkan
oleh-Nya.[18]

5. Apabila mendengar kokok ayam, dianjurkan untuk berdoa.

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah : Telah menceritakan
kepada kami Al-Laits, dari Ja’far bin Rabii’ah, dari Al-A’raj, dari Abu
Hurairah radliyallaahu ‘anhu : Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi
wa sallam bersabda : “Apabila kalian mendengar kokok ayam jantan,
maka memohonlah kemurahan kepada Allah, karena ia melihat
malaikat. Namun jika kalian mendengar ringkikan keledai, mohonlah
perlindungan kepada Allah dari gangguan setan, karena ia telah
melihat setan” *Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 3303].

Ini adalah salah satu sunnah yang sering dilupakan kaum muslimin.
Semoga Allah ta’ala memberikan kemudahan bagi Penulis untuk
mengamalkannya.

6. Suara setan yang membisiki para dukun seperti suara dengkur
ayam.

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Salaam : Telah
mengkhabarkan kepada kami Makhlad bin Yaziid : Telah
mengkhabarkan kepada kami Ibnu Juraij : Telah berkata Ibnu Syihaab :
Telah mengkhabarkan kepadaku Yahyaa bin ‘Urwah, bahwasannya ia
mendengar ‘Urwah berkata : Telah berkata ‘Aaisyah : Orang-orang
pernah bertanya kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam
tentang para dukun. Maka Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam
berkata kepada mereka : “Tidak ada apa-apanya”. Mereka berkata :
“Wahai Rasulullah, sesungguhnya mereka menceritakan sesuatu yang
terkadang sesuai kenyataan”. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam
bersabda : “Kalimat yang benar tersebut dicuri oleh jin, lalu mereka
(jin) memberitahukan ke telinga para walinya (dukun) seperti
dengkuran ayam jantan. Lalu mereka mencampurkan padanya lebih
dari 100 kedustaan” *Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 6213].
7. Dilarang melempari dan menyiksa ayam.

Telah menceritakan kepada kami Abul-Waliid : Telah menceritakan
kepada kami Syu’bah, dari Hisyaam bin Zaid, ia berkata : Aku bersama
Anas pernah masuk menemui Al-Hakam bin Ayyuub. Lalu ia (Anas)
melihat beberapa orang anak atau pemuda yang mengikat seekor ayam
lalu melemparinya. Anas berkata : “Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam
melarang menyiksa binatang” *Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no.
5513].

8. Di antara orang yang mendatangi shalat Jum’at, ada yang diberi
pahala seperti berkurban seekor ayam.

Dan telah menceritakan kepadaku Abuth-Thaahir, Harmalah, dan
‘Amru bin sawwaad Al-‘Aamiriy – Abuth-Thaahir berkata : ‘Telah
menceritakan kepada kami’, dan yang lain berkata : ‘Telah
mengkhabarkan kepada kami’ – Ibnu Wahb : Telah mengkhabarkan
kepadaku Yuunus, dari Ibnu Syihaab : Telah mengkhabarkan kepadaku
Abu ‘Abdillah Al-Agharr : Bahwasannya ia mendengar Abu Hurairah
berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam :
“Apabila hari Jum’at tiba, semua pintu masjid terdapat malaikat yang
akan mencatat siapa yang datang pertama kali dan seterusnya. Apabila
imam telah duduk, mereka menutup lembaran catatan untuk
bersegera mendengarkan khutbah. Perumpamaan orang yang pertama
kali datang seperti berkurban seekor onta. Kemudian orang setelahnya
seperti berkurban seekor sapi. Kemudian setelahnya seperti berkurban
seekor domba. Kemudian setelahnya seperti orang yang berkurban
seekor ayam. Kemudian setelahnya seperti orang yang berkurban
sebutir telur” *Diriwayatkan oleh Muslim no. 850+.

9. Firasat ‘Umar bin Al-Khaththaab radliyallaahu ‘anhu tentang saat
dekatnya kematiannya adalah seperti patukan ayam.

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al-Mutsannaa : Telah
menceritakan kepada kami Yahyaa bin Sa’iid : Telah menceritakan
kepada kami Hisyaam : Telah menceritakan kepada kami Qataadah,
dari Saalim bin Abil-Ja’d, dari Ma’daan bin Abi Thalhah : Bahwasannya
‘Umar bin Al-Khaththaab pernah berkhutbah di hari Jum’at. Kemudian
ia menyebutkan tentang perihal Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan
juga Abu Bakr. Kemudian ia berkata : “Sesungguhnya aku bermimpi
seakan-akan ayam jantan telah mematukku tiga kali. Dan
sesungguhnya aku tidak berfirasat akan hal itu, kecuali (segera)
datangnya masa ajalku…” *Diriwayatkan oleh Muslim no. 567+.

10. Yang keluar dari bangkai ayam.

Telah mengkhabarkan kepadaku Yahyaa bin Ayyuub[19], dari Abu
Sakhr[20], dari Abu Mu’aawiyyah Al-Bajaliy[21], dari Abush-Shahbaa’
Al-Bakriy[22], ia berkata : Ibnul-Kawwaa’ berdiri menghadap ‘Aliy bin
Abi Thaalib radliyallaahu ‘anhu yang saat itu ia berada di atas mimbar.
Ia (Ibnul-Kawwaa’) bertanya : “Sesungguhnya aku pernah menginjak
ayam yang sudah mati, lalu keluar darinya sebutir telur. Bolehkah aku
memakannya ?”. ‘Aliy menjawab : “Tidak”. Ia bertanya lagi :
“Sesungguhnya aku telah menaruh telur itu untuk dierami ayam lain,
lalu keluar darinya anak ayam. Bolehkah aku memakannya ?”. ‘Aliy
menjawab : “Ya”. Ia bertanya : “Bagaimana bisa begitu ?”. ‘Aliy
menjawab : “Karena ia hidup yang keluar dari yang mati” *Diriwayatkan
oleh Ibnu Wahb dalam Al-Muwaththa’ no. 1; sanadnya hasan].

Al-Baihaqiy 10/7 dan Ibnu Ja’d no. 2688 juga meriwayatkan atsar
semisal di atas dari Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhumaa dengan sanad
dla’iif.[23]

11. Najiskah kotoran ayam ?

Kotoran ayam tidaklah najis, karena ia adalah binatang yang halal
dagingnya. Inilah pendapat yang raajih yang dipilih oleh Maalik dan
Ahmad. Dalilnya adalah :

Telah menceritakan kepada kami Sulaimaan bin Harb, ia berkata : Telah
menceritakan kepada kami Syu’bah, dario Abut-Tayyaah, dari Anas, ia
berkata : “Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat di kandang
kambing”. Kemudian aku (Abut-Tayyaah) mendengarnya (Anas) berkata
setelah itu : “Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat di
kandang kambing sebelum masjid (Nabawiy) dibangun” *Diriwayatkan
oleh Al-Bukhaariy no. 429].

Sisi pendalilannya : Shalatnya beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam di
kandang kambing menunjukkan bahwa tempat itu suci. Padahal,
kambing biasanya tidak lepas dari kotoran dan kencing kambing.

Telah menceritakan kepada kami Sulaimaan bin Harb, ia berkata : Telah
menceritakan kepada kami Hammaad bin Zaid, dari Ayyuub, dari Abu
Qilaabah, dari Anas, ia berkata : “Orang-orang dari suku ‘Ukl atau
‘Urainah datang ke Madinah, namun mereka tidak tahan dengan iklim
di sana sehingga sakit. Lalu Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam
memerintahkan untuk mendatangi onta lalu meminum air kencing dan
susunya. Lalu mereka pun pergi ke sana….” *Diriwayatkan oleh Al-
Bukhaariy no. 233].

Sisi pendalilannya adalah : Seandainya air kencing onta itu najis, niscaya
beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak akan memerintahkan untuk
meminumnya.

Itu sedikit faedah tentang ayam yang bisa dituliskan. Semoga dapat
memberikan manfaat.

Wallaahu a’lam.
Abul jauzaa’



[2] Sebagaimana riwayat :

Telah menceritakan kepada kami ‘Ubaidullah bin Mu’aadz Al-‘Anbariy :
Telah menceritakan kepada kami ayahku : Telah menceritakan kepada
kami Syu’bah, dari Al-Hakam, dari Maimuun bin Mihraan, dari Ibnu
‘Abbaas, ia berkata : Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam melarang
memakan semua jenis hewan buas yang memiliki taring dan burung
yang mempunyai cakar” *Diriwayatkan oleh Muslim no. 1934+.

[3] Wakii’ bin Al-Jarraah bin Maliih Ar-Ruaasiy, Abu Sufyaan Al-Makkiy;
seorang yang tsiqah, hafidh, lagi ‘aabid. Termasuk thabaqah ke-9,
wafat tahun 196/197 H. Dipakai oleh Al-Bukhaariy, Muslim, Abu
Daawud, At-Tirmidziy, An-Nasaa’iy, dan Ibnu Maajah *Taqriibut-
Tahdziib, hal. 1037 no. 7464].

[4] Sufyaan bin Sa’iid bin Masruuq Ats-Tsauriy; seoorang tsiqah,
haafidh, faqiih, ‘aabid, imam, lagi hujjah. Termasuk thabaqah ke-7,
wafat tahun 161 H. Dipakai oleh Al-Bukhaariy, Muslim, Abu Daawud,
At-Tirmidziy, An-Nasaa’iy, dan Ibnu Maajah *idem, hal. 394 no. 2458].

[5] ‘Amru bin Maimun bin Mihraan Al-Jazriy, Abu ‘Abdillah/Abu
‘Abdirrahmaan Ar-Raqiy; seorang yang tsiqah. Termasuk thabaqah ke-
6, wafat tahun 147 H. Dipakai oleh Al-Bukhaariy, Muslim, Abu Daawud,
At-Tirmidziy, An-Nasaa’iy, dan Ibnu Maajah *idem, hal. 746 no. 5156].

[6] Naafi’, Abu ‘Abdillah Al-Madaniy; seorang yang tsiqah, tsabat,
faqiih, lagi masyhuur. Termasuk thabaqah ke-3, wafat tahun 117 H.
Dipakai oleh Al-Bukhaariy, Muslim, Abu Daawud, At-Tirmidziy, An-
Nasaa’iy, dan Ibnu Maajah *idem, hal. 996 no. 7136].

[7] Sebagaimana riwayat :

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Abi Suraij, ia berkata :
Telah mengkhabarkan kepadaku ‘Abdullah bin Jahm : Telah
menceritakan kepada kami ‘Amru bin Abi Qais, dari Ayyuub As-
Sukhtiyaaniy, dari Naafi’, dari Ibnu ‘Umar, ia berkata : “Rasulullah
shallallaahu ‘alaihi wa sallam melarang jalaalah dari onta :
menungganginya dan meminum susunya” *Diriwayatkan oleh Abu
Daawud no. 3787; dishahihkan Al-Albaaniy dalam Shahih Sunan Abi
Daawud 2/446 dan dalam Irwaaul-Ghaliil 8/150].

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr, ia berkata : Telah
menceritakan kepada kami Syabaabah, ia berkata : Telah menceritakan
kepada kami Mughiirah bin Muslim, dari Abuz-Zubair, dari Jaabir, ia
berkata : “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam melarang memakan
daging jalaalah dan meminum air susunya” *Diriwayatkan oleh Ibnu Abi
Syaibah, 8/333-334; hasan].

Syabaabah bin Sawwaar, seorang yang tsiqah lagi haafidh [Taqriibut-
Tahdziib, hal. 439 no. 2748]. Al-Mughirah bin Muslim, Abu Salamah As-
Siraaj; seorang yang shaduuq [idem, hal. 966 no. 6898]. Abuz-Zubair,
Muhammad bin Muslim bin Tadrus; seorang yang shaduuq [idem, hl.
895 no. 6331]. Adapun riwayatnya yang berasal dari Jaabir dihukumi
muttashil (bersambung).

Catatan :

Para ulama berbeda pendapat mengenai hukum memakan hewan
jalaalah ini. Ada yang mengatakan haram, makruh, dan boleh.

Akan tetapi mereka sepakat bahwa daging hewan yang asalnya halal
namun memakan kotoran, ia menjadi halal setelah dikurung pada
waktu tertentu dengan memberinya makan yang baik, hingga keluar
kotoran yang bersarang di perutnya [baca penjelasan singkatnya di :
http://www.taimiah.org/index.aspx?function=item&id=957&node=554
8 dan http://www.yanabi.com/Hadith.aspx?HadithID=14317].

[8] Yaziid bin Haaruun bin Zaadzaan As-Sulamiy, Abu Khaalid Al-
Waasithiy; seorang yang tsiqah. Termasuk thabaqah ke-9, wafat tahun
206 H. Dipakai oleh Al-Bukhaariy, Muslim, Abu Daawud, At-Tirmidziy,
An-Nasaa’iy, dan Ibnu Maajah *idem, hal. 1084 no. 7842].

[9] ‘Abdul-‘Aziiz bin ‘Abdillah bin Abi Salamah Al-Maajisyuun Al-
Madaniy, Abu ‘Abdillah; seorang yang tsiqah lagi faqiih. Termasuk
thabaqah ke-7, wafat tahun 164 H. Dipakai oleh Al-Bukhaariy, Muslim,
Abu Daawud, At-Tirmidziy, An-Nasaa’iy, dan Ibnu Maajah *idem, hal.
613 no. 4132].

[10] Shaalih bin Kaisaan Al-Madaniy Ad-Dausiy; seorang yang tsiqah,
tsabat, lagi faqiih. Termasuk thabaqah ke-4, wafat setelah tahun 130 H
atau setelah tahun 140 H. Dipakai oleh Al-Bukhaariy, Muslim, Abu
Daawud, At-Tirmidziy, An-Nasaa’iy, dan Ibnu Maajah *idem, hal. 447 no.
2900].

[11] Ia adalah Haasyim bin Al-Qaasim bin Muslim Al-Laitsiy Al-
Baghdaadiy; seorang yang tsiqah lagi tsabat. Termasuk thabaqah ke-9,
wafat tahun 207 H di Baghdaad. Dipakai oleh Al-Bukhaariy, Muslim,
Abu Daawud, At-Tirmidziy, An-Nasaa’iy, dan Ibnu Maajah *idem, hal.
1017 no. 7305].

[12] ‘Ubaidullah bin ‘Abdillah bin ‘Utbah bin Mas’uud Al-Hudzaliy, Abu
‘Abdillah Al-Madaniy; seorang yang tsiqah, faqiih, lagi tsabat. Termasuk
thabaqah ke-3, wafat tahun 94 H atau 98 H atau dikatakan selain itu.
Dipakai oleh Al-Bukhaariy, Muslim, Abu Daawud, At-Tirmidziy, An-
Nasaa’iy, dan Ibnu Maajah *idem, hal. 640 no. 4338].

[13] Al-Aswad bin ‘Aamir, Abu ‘Abdirrahmaan Asy-Syaamiy, terkenal
dengan nama Syaadzaan; seorang yang tsiqah. Termasuk thabaqah ke-
9, wafat tahun 208 H di Baghdaad. Dipakai oleh Al-Bukhaariy, Muslim,
Abu Daawud, At-Tirmidziy, An-Nasaa’iy, dan Ibnu Maajah *idem, hal.
146 no. 508].

[14] Syu’bah bin Al-Hajjaaj bin Al-Ward Al-‘Atakiy Al-Azdiy, Abu
Busthaam; seorang yang tsiqah, haafidh, mutqin, dan seorang amiirul-
mukminiin dalam bidang hadits. Termasuk thabaqah ke-7, wafat tahun
160 H. Dipakai oleh Al-Bukhaariy, Muslim, Abu Daawud, At-Tirmidziy,
An-Nasaa’iy, dan Ibnu Maajah *idem, hal. 436 no. 2805].
[15] Asy’ats bin Abi Sya’tsaa’ Al-Muhaaribiy Al-Kuufiy; seorang yang
tsiqah. Termasuk thabaqah ke-6, wafat tahun 125 H di Kuufah. Dipakai
oleh Al-Bukhaariy, Muslim, Abu Daawud, At-Tirmidziy, An-Nasaa’iy, dan
Ibnu Maajah [idem, hal. 149 no. 530].

[16] Saliim bin Aswad bin Handhalah, Abusy-Sya’tsaa’ Al-Muhaaribiy Al-
Kuufiy; seorang yang tsiqah. Termasuk thabaqah ke-3, wafat tahun 83
H. Dipakai oleh Al-Bukhaariy, Muslim, Abu Daawud, At-Tirmidziy, An-
Nasaa’iy, dan Ibnu Maajah *idem, hal. 403 no. 2539].

[17] Masruuq bin Al-Ajda’ bin Maalik bin Umayyah bin ‘Abdillah Al-
Hamdaaniy Al-Waadi’iy, Abu ‘Aaisyah Al-Kuufiy; seorang yang tsiqah,
faqiih, lagi ‘aabid. Termasuk thabaqah ke-2, wafat tahun 62/63 H.
Dipakai oleh Al-Bukhaariy, Muslim, Abu Daawud, At-Tirmidziy, An-
Nasaa’iy, dan Ibnu Maajah *idem, hal. 935 no. 6645].

[18] Sebagaimana riwayat :

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Maslamah, dari Maalik,
dari Ibnu Syihaab, dari Abu Salamah dan Abu ‘Abdillah Al-Agharr, dari
Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu : Bahwasannya Rasulullah
shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda : “Rabb kita turun pada
setiap malam ke langit dunia saat tersisa sepertiga malam yang
terakhir. Lalu Ia berfirman : ‘Siapa saja yang berdoa kepada-Ku niscaya
akan Aku kabulkan, siapa saja yang meminta kepada-Ku niscaya akan
Aku berikan. Siapa saja yang meminta ampun kepada-Ku niscaya akan
Aku ampuni” *Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 1145].

[19] Yahyaa bin Ayyuub Al-Ghaafiqiy, Abul-‘Abbaas Al-Mishriy; seorang
yang shaduuq, namun kadang keliru. Termasuk thabaqah ke-7, wafat
tahun 168 H. Dipakai oleh Al-Bukhaariy, Muslim, Abu Daawud, At-
Tirmidziy, An-Nasaa’iy, dan Ibnu Maajah *idem, hal. 1049 no. 7561].
[20] Abu Sakhr, Humaid bin Ziyaad; seorang yang dikatakan Ibnu Hajar :
shaduuq, namun banyak ragu. Termasuk thabaqah ke-6, wafat tahun
189 H. Dipakai oleh Al-Bukhaariy dalam Al-Adabul-Mufrad, Muslim, Abu
Daawud, At-Tirmidziy, An-Nasaa’iy dalam Musnad ‘Aliy, dan Ibnu
Maajah [idem, hal. 274 no. 1555].

Saya (Abul-Jauzaa’) berkata : Berikut perkataan beberapa ulama
tentangnya :

Ahmad bin Hanbal berkata : “Tidak mengapa dengannya”. Namun
dalam riwayat lain ia berkata : “Dla’iif”. Yahyaa bin Ma’iin berkata :
“Tsiqah”. Namun dalam riwayat lain : “Dla’iif” – dan pentautsiqannya
ini lebih shahih. An-Nasaa’iy berkata : “Dla’iif”. Ibnu ‘Adiy berkata :
“Seluruh haditsnya, aku harapkan lurus (mustaqiim)” – dan sebelumnya
ia menyebutkan bahwa pengingkaran ulama terhadapnya hanyalah ada
pada dua hadits yang bukan termasuk yang disebutkan dalam artikel ini
– Abul-Jauzaa’
               . Al-Baghawiy berkata : “Shaalihul-hadiits”. Ibnu Hibbaan
memasukkanya dalam Ats-Tsiqaat. Ad-Daaruquthniy berkata : “Tsiqah”.
Al-’Ijliy berkata : “Tsiqah” *Al-Jaami’ fil-Jarh wat-Ta’diil 1/200 no. 1032,
Mausu’ah Aqwaal Al-Imaam Ahmad no. 635, Tahdziibut-Tahdziib 3/41-
42 no. 69].
Al-Albaaniy berkata : “Hasanul-hadiits” *lihat selengkapnya dalam
Mu’jamu Asaamiyyir-Ruwaat 1/582-583]. Al-Arna’uth dan Basyaar
‘Awwaad berkata : “Shaduuq hasanul-hadiits”. Abu Ishaaq Al-Huwainiy
berkata : “Hasanul-hadits” *Natsnun-Nabaal, hal. 1828 no. 4337].

Kesimpulan : Ia seorang yang shaduuq dan hasan haditsnya. Wallaahu
a’lam.
[21] ‘Ammaar bin Mu’aawiyyah, Abu Mu’aawiyyah Al-Bajaliy Ad-
Duhniy; seorang yang shaduuq. Termasuk thabaqah ke-5, wafat tahun
133 H. Dipakai oleh Al-Bukhaariy dalam Muslim, Abu Daawud, At-
Tirmidziy, An-Nasaa’iy dan Ibnu Maajah *idem, hal. 710 no. 4867].

Bahkan tsiqah, karena ia telah ditsiqahkan oleh Ahmad, Ibnu Ma’iin,
Abu Haatim, An-Nasaa’iy, Ibnu Hibbaan, dan At-Tirmidziy tanpa ternukil
adanya jarh padanya selain tasyayyu’ [Tahriirut-Taqriib, 3/61 no. 4833].

[22] Shuhaib bin Shahbaa’, Abush-Shahbaa’ Al-Bakriy; seorang yang
dikatakan Ibnu Hajar : maqbuul. Termasuk thabaqah ke-4. Dipakai oleh
Muslim, Abu Daawud, dan An-Nasaa’iy *idem, hal. 456 no. 2972].
Saya (Abul-Jauzaa’) berkata : Berikut perkataan beberapa ulama
tentangnya :

Abu Zur’ah berkata : “Tsiqah”. An-Nasaa’y berkata : “Dla’iif”. Ibnu
Hibbaan memasukkannya dalam Ats-Tsiqat. Al-‘Ijliy berkata : “Tsiqah”.
[Tahdziibut-Tahdziib 4/439-440, Ma’rifatuts-Tsiqaat 2/411 no. 2185].
Selain itu, Muslim juga berhujjah dengan riwayatnya dalam Shahih-nya
dan beberapa perawi tsiqah telah meriwayatkan darinya.
Kesimpulan : Ia seorang yang shaduuq hasanul-hadiits. Wallaahu a’lam.

[23] Dikarenakan Katsiir bin Juhmaan As-Sulamiy atau Al-Aslamiy, Abu
Ja’far; seorang yang maqbuul. Yaitu jika ada mutaba’ah. Jika tidak,
maka ia dla’iif [At-Taqriib, hal. 807 no. 5642].

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:177
posted:9/22/2011
language:Malay
pages:14
Abu Fathan As Salafy Abu Fathan As Salafy Ahlus Sunnah Wal Jamaah www.markazabufathan.co.nr
About kunjungi Markaz Abu Fathan di : www.desasalaf.blogspot.com, www.kampungsalaf.wordpress.com, www.markazsunnah.blogspot.com