Bab 6 - Energi by zaidibnu

VIEWS: 1,517 PAGES: 16

									Status Lingkungan Hidup Indonesia 2004

Energi
Pertumbuhan konsumsi energi yang mencapai 7,2 persen per tahun mengakibatkan pengurasan sumber daya fosil, terutama minyak bumi. Di lain pihak, efisiensi energi dan pengembangan energi terbarukan (energi hijau) belum menunjukkan langkah nyata.

6

Status Lingkungan Hidup Indonesia 2004

dok.PLN, 2005 ket: Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA)

energi di Indonesia belum sepenuhnya berjalan sesuai dengan konsep pembangunan berkelanjutan (Herman Darnel Ibrahim, 2004). Padahal, dalam Konferensi Tingkat Tinggi Pembangunan Berkelanjutan (World Summit on Sustainable Development) September 2002 di Johannesburg, Afrika Selatan, disepakati bahwa sistem penyediaan dan pemanfaatan energi yang berkelanjutan telah menjadi agenda internasional.

6. E n e r g i
Jumlah penduduk di Indonesia berbanding lurus dengan konsumsi energi, terlihat dari data tahun 1969/1970 (awal PELITA I) jumlah penduduk tercatat 114.866.550 jiwa dengan konsumsi energi 50.063.000 ribu setara barel minyak (SBM) sehingga konsumsi energi per kapita adalah 0,4358. Pada tahun 2003 jumlah penduduk tercatat 215.152.383 jiwa, dengan konsumsi energi sebesar 764.113.374 ribu SBM atau konsumsi energi per kapita sebesar 3,5515. Permintaan energi meningkat rata-rata 7,2 persen per tahun, tetapi energi primer yang digunakan masih tetap didominasi oleh energi fosil yang sejak awal pangsanya hampir tidak bergerak dari angka 95 persen, sebaliknya pangsa penggunaan energi terbarukan masih berkisar 5 persen. Tidak meningkatnya pangsa energi terbarukan selama 25 tahun menunjukkan bahwa sistem pengelolaan

Dengan kesepakatan itu, konsep pembangunan berkelanjutan diintegrasikan dengan kebijakan pemanfaatan sumber daya energi. Ciri pembangunan berkelanjutan itu antara lain adalah peningkatan pangsa pemanfaatan energi terbarukan yang ramah lingkungan dan hemat dalam penggunaan energi. Blue Print Pengelolaan Energi Nasional 2005-2025 memberi gambaran tentang potensi energi nasional saat ini, seperti dilihat pada Tabel 6.1.

A. PEMANFAATAN ENERGI TAK TERBARUKAN
Seperti terlihat pada Tabel 6.1, rasio antara cadangan dan produksi terendah adalah energi fosil minyak, yaitu 18 tahun. Sementara itu, pemakaian bahan bakar minyak (BBM) sampai saat ini masih 67 persen dari total energi final yang dikonsumsi. Data tersebut menunjukkan bahwa krisis BBM dapat terjadi lebih cepat apabila konsumsinya tidak berkurang dan tidak dilakukan eksplorasi sumber-sumber minyak baru. Untuk me

Tabel 6.1 Potensi Energi Nasional Energi Fosil Minyak Gas Batubara Energi Nonfosil Tenaga Air Panas Bumi Mini/Micro Hydro Biomassa Tenaga Surya Tenaga Angin Uranium *) Sumber Daya 86,9 miliar barel 384,7 TSCF 57 miliar ton Sumber Daya 845 juta BOE 219 juta BOE 458,75 MW Cadangan 9 miliar barel 188 TSCF 19,3 miliar ton Setara 75,67 GW 27 GW 458,75 MW 49,81 GW 4,80 kWh/m2/hari 9,29 GW 3 GW u/11 tahun Produksi (per Tahun) 500 juta barel 3 TSCF 130 juta ton Pemanfaatan 6.851,00 GWh 2.593,50 GWh Rasio Cadangan/Produksi (tanpa eksplorasi) Tahun 18 62 147 Kapasitas Terpasang 4.200,00 MW 800,00 MW 84,00 MW 302,40 MW 8,00 MW 0,50 MW

24.112 ton

Sumber: Departemen ESDM, 2005 Keterangan : *) Hanya di daerah Kalan, Kalbar

160

Status Lingkungan Hidup Indonesia 2004

ngurangi ketergantungan pada BBM, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (Departemen ESDM) menargetkan antara lain peningkatan peran batubara menjadi 32,7 persen pada tahun 2025 untuk pasokan energi nasional, sebagaimana tercantum dalam Blue Print Pengelolaan Energi Nasional 2005-2025. Sumber daya batubara di Indonesia, yang sebagian besar berada di Sumatra dan Kalimantan, diperkirakan mencapai 57,85 miliar ton (Statistik DJESDM, 2003), dengan 12,47 miliar ton di antaranya berupa cadangan terukur (measured reserve) dan 6,98 miliar ton berupa cadangan yang dapat ditambang (mineable reserve). Pemerintah berupaya meningkatkan penggunaan batubara sebagai sumber energi dengan mempromosikan pemanfaatan briket batubara dan batubara kalori rendah.

1. Briket Batubara Pada periode tahun 2001 - 2004 produksi briket batubara PT Bukit Asam (PT BA) cenderung menurun. Di lain pihak, pada tahun 2004 produksi swasta cenderung meningkat jika dibandingkan dengan tahun 2003. Penjualan briket batubara PT BA mengalami penurunan, tetapi penjualan oleh pihak swasta mengalami kenaikan yang cukup tajam pada tahun 2004 (Gambar 6.1). Konsumen batubara terbesar adalah PT PLN (Perusahaan Listrik Negara) untuk pembangkit tenaga listrik. Sejak tahun 2001 sampai 2004 pemakaiannya relatif stabil sekitar 20 juta ton per tahun, diikuti oleh industri semen yang mencapai 5 juta ton (Gambar 6.2).

Gambar 6.1 Produksi dan Penjualan Briket Batubara

Sumber: Departemen ESDM, 2004

Gambar 6.2 Industri Pemakai (Konsumen) Batubara

Ton

Sumber: Departemen ESDM, 2004

Status Lingkungan Hidup Indonesia 2004

161

2. Batubara Kalori Rendah Sebagian besar batubara di Indonesia (60 persen) berkalori rendah yang dicirikan dengan kandungan kalori di bawah 5.000 kcal/kg (air dried basis) dan kandungan air tinggi (20-40 persen) sehingga batubara ini memiliki efisiensi panas yang rendah. Di Indonesia, batubara ini umumnya terdapat di dekat permukaan dengan ketebalan antara 0,5 hingga 30

m. Dengan teknologi upgraded brown cola (UBC), kualitas batubara ini dapat ditingkatkan sampai sekitar 6.700 kcal/kg sehingga dapat dimanfaatkan dengan ekonomis untuk berbagai keperluan. Teknologi ini tergolong sederhana yaitu dengan mencampurkan batubara, minyak residu, dan minyak tanah kemudian dipanaskan pada temperatur 150160oC pada tekanan 250-350 kPa.

Kotak 6.1 Ekoefisiensi PLTU Batubara Meningkatnya penggunaan batubara sebagai bahan bakar dalam pembangkitan energi, selain meningkatkan ketersediaan energi listrik, juga meningkatkan resiko terhadap lingkungan terutama pencemaran udara, limbah B3 (utamanya fly ash dan bottom ash) bahkan pencemaran air (apabila menggunakan wet scrubber). Setidaknya terdapat tiga langkah yang dapat dilakukan untuk meminimisasi potensi pencemaran utamanya serta menurunkan emisi dan konsumsi bahan bakar tanpa mengubah sistem pengendalian pencemaran udara. Upaya-upaya tersebut meliputi: (1). menaikkan efisiensi alat, (2). menaikkan kualitas bahan bakar, dan (3). gabungan butir satu dan dua. ‚ Asumsi yang diambil adalah sebuah PLTU berbahan bakar batubara berkapasitas pembangkitan 500 MW dengan menggunakan 4375 kkal/kg dan 95 persen realibility dan efisiensi 38 persen, maka: • Jika efisiensi dinaikkan 1 persen, emisi yang dapat direduksi adalah: i. NOx 39.000 ton/tahun ii. Partikulat 20.600 ton/tahun iii. SO2 22.400 ton/tahun • Jika heating value dinaikkan 10 persen, emisi yang dapat direduksi adalah: i. NOx 36.100 ton/tahun ii. Partikulat 19.100 ton/tahun iii. SO2 26.700 ton/tahun Dampak tidak langsung dengan pengurangan tiga parameter utama tersebut akan mengurangi potensi pemakaian energi, seperti terlihat dalam ilustrasi berikut: Contoh kasus pengurangan emisi abu yang sudah dilakukan di beberapa industri PLTU Batubara

‚

adalah pemanfaatan pelumas bekas sebagai co-combustion dengan batubara Æ Asumsi yang diambil adalah sebuah PLTU berbahan bakar batubara berkapasitas pembangkitan 90 MW dengan running load 60 persen, pemanfaatan pelumas bekas dilakukan dengan komposisi umpan bahan bakar 5 persen pelumas bekas dan 95 persen batubara (persen adalah kebutuhan energi): • Akan terjadi penghematan 1.037 ton/batubara setiap jam (terjadi pengurangan potensi pemakaian energi). • Jika harga bahan bakar batubara $6/ton batubara, akan dihemat biaya $6.222/jam. • Jika batubara mengandung 1,5% abu, timbulan fly ash dapat dikurangi minimum 15,6 ton/jam.
Sumber: Ahmad Gunawan KLH, 2004

162

Status Lingkungan Hidup Indonesia 2004

Proyek percontohan UBC dengan kapasitas 5 ton/ hari di Palimanan, Cirebon, merupakan realisasi kerja sama antara Pemerintah Jepang (JCOAL) dengan Pemerintah Indonesia (Departemen ESDM) yang berakhir tanggal 31 Maret 2005 dan dilaksanakan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara (Tekmira), Kobe Steel Ltd dan Sojitz (Jepang) serta BPPT. B. PENGGALAKAN PEMANFAATAN ENERGI TERBARUKAN Perubahan iklim dunia, yang diyakini oleh sebagian besar pakar lingkungan dunia sebagai salah satu dampak pemanasan global, merupakan isu utama di bidang lingkungan hidup yang disebabkan oleh pemanfaatan energi (fosil) yang terus meningkat. Protokol Kyoto yang mengusung mekanisme pembangunan bersih (MPB) dapat memaksa Indonesia mempersiapkan diri untuk menyongsong ajakan dari stakeholder asing untuk bertransaksi proyek pengurangan emisi di berbagai sektor terutama sektor energi, pertanian dan kehutanan. Khusus sektor energi, MPB tidak hanya diharapkan untuk dapat menurunkan emisi dengan mengalihkan kepada pemakaian energi bersih (atau lebih bersih dari sebelumnya sebagai baseline). Nasrullah Salim (2005) memberi contoh pemanfaatan pembangkit listrik mikrohidro dan atau biomassa untuk mengganti pembangkit listrik tenaga diesel, pemanfaatan gas (LPG dan CNG), dan/atau biodiesel untuk mengganti minyak solar, tapi juga dapat dimanfaatkan sebagai instrumen untuk meningkatkan ekonomi desa sekaligus mengurangi kemiskinan mengingat

sebagian besar potensi energi terbarukan berada di pedesaan. Selain itu, MPB juga menekankan upayaupaya penghematan pemanfaatan energi sehingga tidak hanya emisi yang dapat ditekan tetapi juga efisiensi penggunaan energi. 1. Biomassa Sebagai negara agraris, limbah biomassa cukup berlimpah dan berlanjut terutama pada daerah industri pertanian, perkebunan, dan kehutanan seperti yang diperlihatkan pada Tabel 6.2, demikian juga aplikasi dari berbagai aplikasi berbasis biomassa yang telah dilakukan oleh berbagai jenis industri (Tabel 6.3). Pemanfaatan energi biomassa dari penggunaan sekam padi pada pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) komersial pertama terdapat di penggilingan padi milik PT (Persero) Pertani di Desa Haurgaulis, Kecamatan Haurgaulis, Kabupaten Indramayu, yang dibangun PT Indonesia Power dan PT PLTD tersebut berkekuatan 1 x 100 kilowatt. Sebagai gambaran, jika PLTD berkapasitas 100 kW dioperasikan penuh dengan menggunakan BBM, dibutuhkan 0,3 liter BBM per kWh, sementara jika ditambahkan gas sekam padi, hanya dibutuhkan 0,06 liter BBM per kWh ditambah sekam padi sebanyak 1,5 kg per kWh. Sebagai upaya untuk diversifikasi energi, Provinsi Sumatra Utara akan memanfaatkan biomassa dari sampah perkotaan sebagai sumber energi listrik. Investor gabungan Indonesia dan Malaysia merencanakan inventasi US$ 300 juta yang diharapkan mampu menghasilkan energi listrik sebesar 100-200 MW (Bisnis Indonesia, 2004).

Tabel 6.2 Potensi Teknis dari Berbagai Jenis Limbah Sumber/Jenis Limbah Peremajaan kebun karet Sisa logging Limbah industri penggergajian kayu Tandan kosong kelapa sawit Sabut sisa buah sawit Cangkang buah sawit Bagas tebu Sekam padi Tempurung kelapa Sabut kelapa
Sumber: Chayum Budiono, 2003

Produksi (juta ton/tahun) 31,0 1,15 1,1 3,5 3,7 1,3 6,5 14,3 1,1 2,0

Potensi Kalori (juta GJ/tahun) 496,0 11,0 10,6 15,4 35,3 17,2 78,0 179,0 18,7 24,0

Status Lingkungan Hidup Indonesia 2004

163

Tabel 6.3
Aplikasi dari Berbagai Teknologi Berbasis Biomassa
Jenis Industri Kapasitas Produksi Kapasitas CHP 40-100 kWe 1,5-3 MWe 3-10 MWe 30-70 Kwe > 0,7 t/jam 2-6 MWe Spesifik Karakteristik 0,6 m3 limbah kayu/m3 produk gergajian @ 130 kWH/m3 kayu gergajian 0,8 m3 limbah kayu/m3 plywood @ 200 kWh/m3 plywood 0,3 baggase/t tebu @ 100 kWh /t tebu 280 kg sekam/t padi @ 120 kWh/t padi 100-300 Kwe 0,2 t tandan kosong/t TBS 0,2 t fiber/t TBS 70 kg cangkang/t TBS @ 160 kWh/t TBS

Penggergajian kayu 1.000-3.000 m3/th Industri plywood Pabrik gula 40.000-120.000 m3/th 1.000-4.000 TCD

Penggilingan padi < 0,7 t/jam

Pabrik CPO

20-60 t TBS/h

Sumber: ZRUE, CGI 2000

2. Panas Bumi Pemanfaatan panas bumi masih sangat rendah yakni 787 MW atau sekitar 3 persen dari 27,354 Gwe potensi terbukti yang siap dikembangkan (SLHI 2003, KLH 2004), padahal lokasi panas bumi tersebar di 251 lokasi (Gambar 6.3). Target pemerintah untuk memanfaatkan energi panas bumi hingga tahun 2006 hanya mencapai 1.000 MW, sementara target tahun 2020 mencapai 6.000 MW (Buyung WK, 2005). 3. Energi Surya

Hingga saat ini masih terdapat sekitar 15.000 desa yang masih belum terjangkau oleh jaringan listrik. Hal ini disebabkan faktor geografi dan demografi penduduknya yang tersebar dalam kelompokkelompok yang kecil. Pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), menurut Wilson W. Wenas (2005), merupakan salah satu solusi yang tepat untuk daerah-daerah seperti di atas karena tidak memerlukan jaringan serta bebas polusi udara dan suara.

Gambar 6.3 Peta Lokasi Lapangan Panas Bumi

Sumber: Direktorat Inventarisasi Sumber Daya Mineral, 2005 (http://www.djgsm.esdm.go.id/id/panasbumi/sumber daya/ index.html)

164

Status Lingkungan Hidup Indonesia 2004

Sebagai negara tropis yang terletak di khatulistiwa, Indonesia memiliki rata-rata intensitas harian penyinaran matahari yang tinggi yakni sebesar 4,5 kWh/m2. Potensi penggunaan listrik nonjaringan di Indonesia telah dihitung mencapai sekitar 900MW. Saat ini kapasitas terpasang PLTS baru mencapai sekitar 6 MW. Pada tahun 2004 sekitar 2.700 unit solar home system (SHS) dengan kapasitas 50 Wp/unit telah dipasang melalui program BPPT. Saat ini tengah dilakukan pembuatan roadmap penggunaan PLTS secara nasional yang akan mencapai sekitar 100 MW sampai dengan tahun 2020. Untuk kebutuhan tersebut, akan dikembangkan industri dalam negeri yang dapat memproduksi panel sel suryanya. Pengembangan teknologi ini di Indonesia dilakukan oleh perguruan tinggi seperti ITB, UI dan ITS, instansi pemerintah seperti LIPI, dan dari industri seperti PT LEN. Pemanfaatan sinar matahari juga telah dirasakan oleh sejumlah desa terpencil di Alor, Nusa Tenggara Timur, terutama di daerah yang sulit dijangkau PLN dengan pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) sebanyak 1.200 unit. Di Kabupaten Kulon Progo, Provinsi DI Yogyakarta, PSE UGM (Pusat Studi Energi Universitas Gajah Mada) telah melakukan aplikasi penelitian listrik tenaga surya 6 buah SLS 200 untuk pompa air bersih dengan power pompa sumur dalam kapasitas terpasang 1.000 watt. 4. Energi Air Untuk pengembangan listrik skala kecil, telah diresmikan Pembangkit Mikrohidro 120 kW di Desa Cinta Mekar, Segalaherang, Subang, Jawa Barat, yang diinterkoneksikan ke jaringan tegangan menengah PT PLN (Persero) Purwakarta. Pada kesempatan itu dilakukan pula peletakan fondasi pembangunan pusat pelatihan bagi para pemula di seluruh Indonesia bahkan di ASEAN yang tertarik untuk mendalami mikrohidro dan aspek-aspek pengembangannya. PSE UGM telah membangun pusat listrik tenaga mikrohidro (PLTMH) dengan kapasitas terpasang 5 Kw di Kali Progo, Minggir (Kali Bawang), Sleman, DI Yogyakarta. Proyek PLTA Musi diharapkan dapat memenuhi kenaikan permintaan listrik Sumatra khususnya untuk wilayah Sumatra Bagian Selatan. PLTA Musi yang terletak di Desa Ujanmas Atas, Kecamatan Ujanmas, Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu, merupakan pembangkit dengan bendung tipe run of river dengan gedung pembangkit berada 400 m di bawah tanah yang memanfaatkan aliran air Sungai Musi di sebelah hulu dan pembuangan akhir ke aliran Sungai Simpang Aur di sebelah hilir. Dengan kapasitas 3 x 70 MW, PLTA ini akan mampu membangkitkan energi

listrik sebesar 1,140 GWh/tahun melalui jaringan interkoneksi 150 kV/275 kV. 5. Energi Angin Potensi energi angin di Indonesia secara umum kecil karena kecepatan angin pada umumnya rendah, yaitu antara 3-5 m/detik. Namun di beberapa daerah tertentu, khususnya di Kawasan Timur Indonesia, kecepatan anginnya lebih dari 5 m/detik. Diperkirakan kapasitas terpasang pembangkit listrik tenaga angin (PLT Angin) saat ini kira-kira 0,5 MW khususnya untuk listrik pedesaan (Departemen ESDM, 2003). Pemanfaatan energi angin telah dilakukan di beberapa tempat untuk membantu pengairan persawahan dan perkebunan. Teknologi yang digunakan adalah kombinasi antara kincir angin Egra dengan pompa air. Contoh pemanfaatan energi angin yang telah berjalan dengan baik adalah di Indramayu dengan konstruksi kincir angin dan pompa air Egra, serta di Karawang dan Balaraja Tangerang dengan konstruksi kincir angin Egra dan pompa tangan.

Gambar 6.4 Kincir Angin di Perkebunan Mangga Indramayu, Jawa Barat

Sumber: Egra Windmill, 2004

Status Lingkungan Hidup Indonesia 2004

165

6. Biodiesel Teknologi produksi biodiesel relatif tidak rumit dibandingkan dengan teknologi yang diterapkan di kilang minyak, sehingga dapat dikembangkan, dikuasai dan diterapkan secara komersial. Biodiesel merupakan nama lain dari metil ester dan memiliki sifat fisik yang serupa dengan automotive diesel oil (solar). Biodiesel, yang bisa didapat dari CPO (crude palm oil), merupakan harapan baru untuk menjawab berbagai kebutuhan energi. Luas perkebunan kelapa sawit pada tahun 2003 telah mencapai 4,8 juta ha dengan produksi CPO 10,6 juta ton. Menurut Darnoko (2001), kebutuhan solar di Indonesia mencapai 160 juta barrel atau 23 juta ton per tahun. Seandainya kebutuhan satu persen solar diganti dengan biodiesel, dibutuhkan 230.000 ton biodiesel yang dapat diolah dari 230.000 ton CPO atau 120.000 ton

Gambar 6.5 Stasiun Pengisian Bahan Bakar Biodesel B10 di BPPT

Sumber: Balai Rekayasa Desain dan Sistem Teknologi BPPT, 2004

Tabel 6.4 Beberapa Tumbuhan Darat Indonesia Penghasil Minyak-Lemak Nama Indonesia Jarak (kaliki) Jarak pagar Kacang suuk Kapok Karet Kecipir Kelapa Kelor Kemiri Kusambi Nimba Saga utan Sawit Nama Latin Bagian kaya minyak Kadar, persen berat kering 45 - 50 40 - 60 35 - 55 24 - 40 40 - 50 15 - 20 60 - 70 30 - 49 57 - 69 55 - 70 40 - 50 14 - 28 45 - 70 46 - 54 P/N N N P N N P P P N N N P P P

Ricinus communis Biji (seed) Jatropha curcas Biji Arachis hypogea Biji Ceiba pentandra Biji Hevea brasiliensis Biji Psophocarpus tetragonolobus Biji Cocos nucifera Daging biji (kernel) Moringa oleifera Biji Aleurites moluccana Daging biji Schleichera trijuga/oleosa Daging biji Azadirachta indica Daging biji Adenanthera pavonina Daging biji Elaeis guineensis Sabut Daging biji

Sumber: Forum Biodiesel Indonesia, 2005 Keterangan: N= minyak/lemak nonpangan (inedible fat/fatty-oil), P = minyak/lemak pangan (edible fat/fatty-oil)

tandan buah segar kelapa sawit yang dihasilkan dari perkebunan sawit seluas 60.000 hektar. Selain sawit, sedikitnya ada 40 jenis tumbuhan lain yang berpotensi dapat menghasilkan minyak nabati, baik yang telah dikebunkan oleh rakyat maupun yang sudah terabaikan di antaranya kelapa, jarak pagar, kapok, kemiri, kelor, nyamplung, saga utan, dan kasumba, seperti tercantum pada Tabel 6.6. Untuk menguji kelayakan penggunaan biodiesel untuk kendaraan bermotor, BPPT telah melakukan pengujian property and performance yang dilakukan di laboratorium Lemigas dan Balai Termodinamika dan Motor Propulsi (BTMP). Selanjutnya, dilakukan uji jalan sepanjang 5.000 km dari Sumatra-Jawa dan Jawa-Bali sepanjang 20.000 km. Hasil pengujian menunjukkan bahwa asap menurun drastis, emisi

berkurang, suara mesin lebih halus, dan power lebih responsif. 7. Rekayasa Teknologi untuk Efisiensi Industri KLH bekerja sama dengan UNEP-ROAP (United Nations Environment Program-Regional Office for Asia Pacific) menyelenggarakan kegiatan-Greenhouse Emission Reduction at Industries in Asia Pacific (GERIAP). Kegiatan ini bertujuan untuk memfasilitasi upaya penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) melalui penerapan CP-EE (Cleaner Production -Energy Efficient) pada empat jenis industri yang menggunakan energi secara intensif yaitu industri semen, besi dan baja, pulp dan kertas, serta kimia/ pupuk. Sebagai uji coba, konsep CP-EE ini diterapkan pada industri semen (Kotak 6.3).

166

Status Lingkungan Hidup Indonesia 2004

Kotak 6.2 Contoh Implementasi Mekanisme Pembangunan Bersih di Sektor Energi Protokol Kyoto yang mengusung mekanisme pembangunan bersih (MPB) sudah di depan mata dan tinggal menghitung hari hingga mencapai genap 90 hari setelah Rusia meratifikasi November 2004 untuk dapat berkekuatan hukum penuh secara internasional. Tanggal 16 Februari 2005 menjadi tonggak sejarah kepedulian umat di dunia untuk memerangi degradasi lingkungan yang diakibatkan pemanasan global karena Protokol Kyoto akan berkekuatan hukum secara internasional. MPB merupakan mekanisme fleksibel yang memungkinkan negara maju melakukan penurunan emisi di negara bekembang, itu sendiri tidak lepas dari sektor energi karena emisi yang dihasilkan. MPB juga berkaitan dengan sektor kehutanan karena hutan dianggap sebagai penyerap emisi GRK. Jika saja skenario kebutuhan energi pada tahun 2020, seperti yang dicanangkan oleh Kebijakan Energi Nasional bahwa energi terbarukan akan mengambil peran sebesar 5 persen dari total kebutuhan bensin dan minyak solar (ADO) yaitu sekitar 43 miliar liter dan 59 miliar liter, kita akan memproduksi sekitar 2 miliar liter bioethanol dan 3 miliar liter biodiesel. Dengan tingkat produksi sebesar itu, skenario mengganti bensin dengan bioethanol dan minyak solar (ADO) dengan biodiesel secara berturut-turut akan mampu mereduksi emisi CO2 sekitar 5,3 juta ton dan 8 juta ton di akhir 2020. Jika nilai jual dari sertifikasi reduksi emisi (certified emission reductions atau CERs) sebesar US$ 5 per ton CO2, proyek bioethanol dan proyek biodiesel akan mempunyai nilai jual sekitar US$ 26 juta dan US$ 40 juta. Selain itu, manfaat dari segi ekonomi lainnya adalah dengan asumsi harga bensin Rp 1.500 per liter maka kita akan menghemat belanja negara dari impor bensin sebesar Rp 3 triliun per tahun. Demikian halnya dengan minyak solar, dengan asumsi harga minyak solar Rp 2.000 per liter, kita akan menekan belanja negara melalui impor minyak solar sebesar Rp 6 triliun per tahunnya. Efek berganda dari kedua skenario tadi adalah akan tercipta banyak lapangan pekerjaan, pertumbuhan sentra industri, pemanfaatan lahan-lahan tidak terpakai, dan yang paling penting adalah penanggulangan persoalan kemiskinan desa dengan kemunculan kekuatan ekonomi baru di desa-desa yang akan berdampak kepada kekuatan ekonomi secara nasional.

Sumber: Nasurullah Salim, Pelangi, 2005

Kotak 6.3 Implementasi Cleaner Production - Energy Efficient di PT Indocement Tunggal Prakasa Tbk. Setelah mendapatkan gambaran secara utuh dari hasil penelitian lanjutan, ternyata fan drive harus diganti dengan VDFs (variable frequency drives). Tim produksi hijau menganjurkan pada manajemen beberapa tipe fan.

No. Peralatan Persen Bukaan IGV/Damper Ukuran Motor (kW) 471-FN4 471-FN5 471-FN6 471-FN7 471-FNE 471-FNG 471-FNH 471-FNJ 471-FNK 60 55 55 70 52 52 44 46 36 110 110 110 110 110 160 132 160 132

Konsumsi Listrik (kW) 58 58 50 50 82 86 54 88 55

Status Lingkungan Hidup Indonesia 2004

167

Lanjutan Kotak 6.3
Secara teknis tim produksi hijau tidak mengalami kesulitan dalam memasang VFD di fan. Investasi untuk proyek ini Rp 1,250 miliar dengan asumsi sebagai berikut: • Biaya energi = Rp 500 per kWh • Pengoperasian plant = 297 hari • Faktor penghematan energi = 40 persen Perhitungan investasi yang diperlukan: Konsumsi listrik : 1.075 kW Penghematan listrik : 0,4 x 1.075 kW = 430 kW Penghematan energi per hari : 430 kW x Rp 500/kWh x 24 jam = Rp 5.160.000 Penghematan energi per tahun : 430 kW x Rp 500/kWh x 24 jam x 300 hari = Rp 1.532.520.000 Payback period : 242 hari atau 8 bulan atau 0,67 tahun Perhitungan NPV DCF : Nilai sekarang 0.833 NPV dalam 1 tahun Perhitungan IRR DCF untuk NPV=0 % IRR : PV of Rp 1 potongan 20 persen : Rp 1.276.589.160 : Rp 26.589.160 : 0,81565004 : 22,60 persen

Keuntungan dari produksi bersih: Penggunaan GP di Plant pendingin No. 6 akan menghasilkan penghematan biaya yang cukup besar dan mengurangi konsumsi listrik. Dengan investasi Rp 1.250.000.000, pengembalian biaya kurang dari satu tahun. Kesimpulan: Dengan Demplot Produksi Bersih pada plant No. 6, PT Indocement Tunggal Prakasa Tbk akan meningkatkan lingkungan dan keuntungan. Proyek ini akan memberikan solusi untuk penghematan biaya pada Indocement Plant lainnya.

Sumber: KLH, 2005

C. KONSERVASI ENERGI Masalah penyediaan energi saat ini merupakan isu nasional yang membutuhkan penanganan yang tepat mengingat pertumbuhan konsumsi energi ratarata Indonesia, yang mencapai 7,2 persen per tahun, melebihi pertumbuhan konsumsi dunia maupun negara-negara APEC. Laju konsumsi yang tinggi ini mengakibatkan pengurasan sumber daya fosil terutama minyak bumi, yang jauh lebih cepat dibanding kecepatan untuk menemukan cadangan

baru, sehingga diperkirakan dalam waktu yang tidak lama lagi cadangan energi fosil akan habis. Namun yang lebih memprihatinkan lagi adalah bahwa energi yang tersedia tersebut masih belum dapat dimanfaatkan secara efisien. Dilihat dari konsumsi energi per kapita, Indonesia masih tergolong rendah yaitu 0,449 STM/orang, tetapi penggunaan energi di dalam negeri tergolong boros yang ditandai dengan intensitas energi tinggi sebesar 590 STM/juta dolar AS (SLHI 2003, KLH 2004).

Gambar 6.6 Indeks Intensitas Energi dan Konsumsi Energi Per Kapita Tahun 2000

168

Status Lingkungan Hidup Indonesia 2004

Konservasi energi dengan penggunaan energi secara efisien dan rasional diterapkan pada seluruh tahap pemanfaatan, mulai dari pemanfaatan sumber daya energi sampai pada pemanfaatan akhir, dengan menggunakan teknologi dan budaya pola hidup hemat energi. 1. Pokok-pokok Program Konservasi Energi Program kegiatan konservasi energi yang mengarah pada implementasi konservasi energi dibagi menurut masing-masing instrumen kebijaksanaan, yaitu kebijakan informasi, insentif dan disinsentif, pengaturan, serta harga energi. a. Kebijakan Informasi Kebijakan informasi bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat, yang mencakup program 1) kampanye, 2) penyuluhan, 3) pendidikan, 4) pelatihan, 5) pemberian penghargaan, 6) percontohan, dan 7) forum dialog. b. Kebijakan Insentif dan Disinsentif Kebijakan insentif/disinsentif dimaksudkan untuk mendukung penggunaan produk-produk hemat energi dan memberi kemudahan investasi proyekproyek konservasi energi, mencakup program 1) keringanan pajak, 2) keringanan bea masuk, 3) pinjaman lunak, 4) subsidi terarah, dan 5) penghargaan. c. Kebijakan Pengaturan Kebijaksanaan pengaturan yang bertujuan agar program konservasi energi dapat dilaksanakan secara menyeluruh dan terpadu, mencakup program 1) audit energi, 2) pengangkatan manager energi, 3) pemantauan konsumsi energi, 4) target intensitas energi, 5) rancangan/desain efisiensi energi, 6) standardisasi, 7) labelisasi, dan 8) transportasi darat (CALTI). d. Kebijakan Harga Energi Instrumen kebijaksanaan harga energi merupakan alat yang sangat efektif untuk mendorong pemanfaatan energi yang efisien dan mencakup program 1) penetapan harga ekonomis energi dan 2)

penyesuaian tarif listrik secara otomatis 2. Strategi Pengendalian Konsumsi dan Upaya Efisiensi Energi Strategi pengendalian konsumsi dan upaya efisiensi energi dilakukan melalui program Demand Side Management (DSM) merupakan suatu kegiatan terencana yang dilakukan untuk mempengaruhi pola konsumsi pelanggan sehingga memperbaiki kinerja sistem pembangkit dan mengurangi rekening listrik konsumen. • • Manfaat Program DSM : Bagi pelanggan: menurunkan biaya pemakaian listrik. Bagi produsen listrik: – Mengurangi biaya bahan bakar, operasi dan pemeliharaan. – Mengurangi beban puncak tanpa mengurangi kepentingan konsumen. – Menunda pembangunan pembangkit baru. Bagi pemerintah: – Mengurangi polusi lingkungan. – Menghemat penggunaan sumber daya alam. – Mengurangi laju konsumsi energi nasional. a. Program Terang (Tahun 2002-2004) Penerapan program hemat energi untuk rumah tangga dengan penggunaan lampu hemat energi melalui program Terang (Terapkan hEmat eneRgi di rumAh taNGga). Teknis pelaksanaan DSM Program Terang adalah: • Penggantian lampu pijar (40 W) dengan lampu hemat energi (8 W). • Ditujukan bagi pengguna kurang mampu 450 VA (R1), dengan memberi kemudahan angsuran untuk pembelian lampu hemat energi. Angsuran akan ditagihkan pada setiap bulan pada tagihan rekening listrik.

•

Tabel 6.5 Implementasi Program Terang Tahun 2002 2003 2004 Kegiatan Sosialisasi di 21 wilayah, kecuali NAD, Ambon, Disosialisasikan di 21 wilayah Indonesia, kecuali Aceh, Ambon, Batam dan Irian Jaya Sosialisasi di Bandung, Yogyakarta, Semarang, Surabaya dan Pulau Bali Energi Terpasang 234.180 lampu hemat energi atau setara Batam, Irian Jayadengan penghematan daya 10,35 MW 247.136 lampu hemat energi atau setara dengan penghematan daya 7,41 MW 500.000 lampu hemat energi atau setara dengan penghematan daya 15 MW

Sumber: DJLPE-Departemen ESDM, 2005

Status Lingkungan Hidup Indonesia 2004

169

•

Dilakukan pada wilayah dengan karakteristik: – Mengalami krisis penyediaan tenaga listrik. – Sebagian besar pelanggannya adalah rumah tangga kecil. – Mempertimbangkan kesiapan stakeholder untuk pelaksanaan kegiatan DSM. Sumber dana dari PT PLN.

c. Program Penerangan Jalan Umum (PJU) Program yang merupakan kerja sama antara pemda, PT PLN, pemasok peralatan listrik dan investor memberikan keuntungan kepada para pihak seperti bagi masyarakat mendapatkan penerangan jalan yang memadai, bagi pemda akan mengurangi tagihan listrik dan secara tidak langsung akan meningkatkan PAD, dan bagi PT PLN akan mengurangi beban puncak secara langsung sehingga memperbaiki kinerja sistem ketenagalistrikan secara keseluruhan. Implementasi Program DSM PJU pada tahun 2002 adalah: • Telah terpasang lampu hemat energi masingmasing sebanyak 4.000 unit di Semarang, 1.000 unit di Yogyakarta, dan 10.000 unit di Medan. • Dengan inisiatif sendiri untuk menghemat tagihan listrik pada PJU, Pemda DKI Jakarta dan Surabaya bekerja sama dengan produsen lampu telah menerapkan DSM di dua kota tersebut.

•

b. Program PEDULI (Tahun 2003) Pada dasarnya, program DSM PEDULI tidak beda jauh dengan DSM Terang yang diperuntukkan kepada masyarakat kurang mampu dengan subsidi harga sebesar Rp 3.000 per unit lampu dengan pembelian maksimum 3 lampu per pelanggan. Umur lampu hemat energi tersebut sekitar 3 tahun dan perusahaan pembuat lampu diwajibkan memberi jaminan selama 1 tahun. Program ini dimulai pada bulan Maret 2003. Teknis pelaksanaan DSM PEDULI tahun 2003 adalah: • Penggantian lampu pijar (40 W) dengan lampu hemat energi (8 W). • Ditujukan bagi pengguna kurang mampu (pelanggan 900 VA ke bawah) dengan subsidi harga PLN sebesar Rp 3.000 per unit lampu, maksimum 3 lampu per pelanggan. • • Umur pakai lampu hemat energi ± 3 tahun dengan jaminan 1 tahun. Sumber dana dari PT PLN.

d. Program Kemitraan Program kemitraan merupakan strategi efektif untuk menyinergikan fungsi dan kapasitas dari berbagai pihak dalam upaya peningkatan efisiensi pemanfaatan energi. Prioritas diberikan bagi pengguna energi yang padat energi, khususnya industri dan bangunan gedung komersial yang berminat untuk mengimplementasikan potensi konservasi energi yang ada. Tahapan kegiatan Program Kemitraan Konservasi Energi adalah sebagai berikut : • Komitmen peserta yang bergabung dalam program ini melalui penandatanganan kesepakatan kerja sama (MoU) dengan DJLPE, sementara PT PLN menyediakan dana untuk pelaksanaan audit energi;

Implementasi Program PEDULI tahun 2003 adalah: • Disosialisasikan di 21 PLN Wilayah/Distribusi di Jawa dan luar Jawa. • Telah terpasang 246.251 unit lampu hemat energi atau setara dengan penghematan daya 7,39 MW.

Tabel 6.6 Kegiatan Program Kemitraan Tahun 2003 Kegiatan Survei dan audit energi Jenis Industri Tekstil Nama Industri PT Roda Vivatex Cibinong, PT Bhineka Karya Manunggal 1 Karawang, PT Bhineka Karya Manunggal 2 Bogor, PT Vastex Prima Bandung, dan PT Indah Jaya Textile Tangerang. PT Ispatindo, Jawa Timur Graha Pangeran Surabaya, Sarana Jaya Jakarta,Dharma Niaga Jakarta, Bimantara Jakarta, Plaza Permata Jakarta, dan Manggala Wanabakti Jakarta PT Barawaja Makasar dan PT Roda Mas Makasar PT Berdikari SUFM Makasar Gedung DJLPE Jakarta, Gedung Badan Diklat ESDM Jakarta, Gedung LEMIGAS Jakarta, Bank Indonesia Palembang, Inna Bali Beach Denpasar, dan Mall Fantasy Balikpapan

Baja Gedung komersil

2004

Survei dan audit energi

Baja Fluor mills Gedung komersil

Sumber: DJLPE-Departemen ESDM, 2004

170

Status Lingkungan Hidup Indonesia 2004

•

Peserta Program Kemitraan bersedia untuk diaudit pemakaian energinya tanpa dipungut biaya (secara cuma-cuma) untuk mengindentifikasi permasalahan konservasi energi dan mencari cara terbaik untuk mengatasinya. Rekomendasi hasil audit energi akan diberikan kepada peserta program berupa rekomendasi untuk implementasi konservasi energi dari yang bersifat no cost/low cost sampai pada implementasi konservasi energi yang bersifat high cost (memerlukan investasi). Pendanaan audit energi didukung oleh PT PLN yang dikaitkan dalam program Demand Side Management (DSM) pada sektor industri. Pelaksanaan audit energi dilakukan oleh konsultan energi yang berkompeten antara lain PT Koneba (Persero) dan lain-lain dengan dukungan dana dari PT PLN (Persero).

•

Tanda Tingkat Hemat Energi (Label) merupakan tanda yang akan dibubuhkan pada peralatan pemanfaat listrik rumah tangga. Hal ini untuk memberikan informasi kepada konsumen bahwa pemanfaatan tenaga listrik memenuhi persyaratan sebagai peralatan yang hemat energi dengan tingkat hemat sebagaimana tercantum pada label. f. Program Standardisasi Setelah program labelisasi dan tanda tingkat hemat energi berlangsung dengan baik, langkah selanjutnya adalah menentukan standar efisiensi energi minimum pada produk tertentu sebagai suatu persyaratan yang harus dipenuhi oleh produsen atau importer dalam memproduksi atau memasarkan suatu produk. Program standardisasi bertujuan untuk menetapkan spesifikasi teknis peralatan-peralatan/ barang hemat energi yang telah teruji yang menjadi persyaratan. Standar konservasi energi bagi bangunan gedung adalah sebagai berikut: • SNI 03-6389-2000 Konservasi Energi Selubung Bangunan pada Bangunan Gedung. • • • • SNI 03-6390-2000 Konservasi Energi Sistem Tata Udara pada Bangunan Gedung. SNI 03-6196-2000 Prosedur Audit Energi pada Bangunan Gedung. SNI 03-6197-2000 Konservasi Energi Sistem Pencahayaan pada Bangunan Gedung. SNI 04-6958-2003 Label Tingkat Hemat Energi Pemanfaat Tenaga Listrik untuk Keperluan Rumah Tangga dan Sejenisnya.

•

•

e. Program Labelisasi Program labelisasi energi dimaksudkan untuk menunjukkan tingkat efisiensi peralatan pemanfaat listrik kepada konsumen secara jelas, dengan maksud memberikan informasi tentang efisiensi energi dan memberikan kemudahan dalam pemilihan peralatan yang efisien, agar tujuan meningkatkan efisiensi peralatan listrik dan penghematan energi listrik tercapai. Sasaran program ini adalah peralatan yang umum digunakan di rumah tangga untuk mengubah energi listrik menjadi bentuk energi lain, misalnya lampu, kulkas, AC, setrika, TV, mesin cuci, kipas angin, pompa, magic jar, dan lainnya.

g. Program Penghargaan ASEAN Energy Awards atau Lomba Gedung Hemat Energi ASEAN merupakan bagian dari kerja sama ASEAN di bidang Energy Eficiency and ConservationSub Sector Network (EE&C-SSN) untuk mendorong, mempromosikan dan memberikan penghargaan pada bangunan gedung yang telah berhasil dan secara konsisten menerapkan prinsip konservasi energi agar dapat menjadi contoh bagi penerapan konservasi energi di kawasan ASEAN. Kegiatan ini dilaksanakan setiap tahun yang dimulai sejak tahun 2000. Dalam ASEAN Energy Awards ini, terdapat empat kategori yang diperlombakan yaitu • New and Existing Building, • • • Retrofitting Building, Tropical Building, dan Special Submission.

Gambar 6.7 Label Tingkat Hemat Energi

Sumber: DJLPE, Departemen ESDM, 2004

Status Lingkungan Hidup Indonesia 2004

171

Tabel 6.7 Lomba Gedung Hemat Energi Tingkat ASEAN Tahun 2000 2001 2002 2003 2004 2004 Gedung Grand Preanger Hotel Bandung BII Tower Graha Pangeran Surabaya Gran Melia Hotel Natura Resort and Spa, Bali PT Metropolitan Bayu Industri Jakarta Kategori Retrofitted Retrofitted New and Existing Retrofitted Tropical Special Submission Pemenang Runner Up 1 Winner I Winner I (Air Conditioning Equipped with Heat Pipe for Tropical Climate)

Sumber: DJLPE-Departemen ESDM, 2004

Tabel 6.8
Potensi Penghematan Energi Tiap Sektor Tahun 2003 Sektor Industri Transportasi Rumah Tangga dan Komersial
Sumber: DJLPE-Departemen ESDM, 2004

Total Konsumsi Energi (Juta BOE) 188,2 115,0 185,9

Potensi Penghematan Energi Persentase (%) 15 - 30 25 10 - 30 Juta BOE 28,23 - 56,46 28,75 18,59 - 55,77

3. Potensi Penghematan Energi Berkaitan dengan pelaksanaan program konservasi energi dan konsumsi energi total tiap-tiap sektor tahun 2003, potensi penghematan energi dilihat pada Tabel 6.8. D. KEBIJAKAN ENERGI NASIONAL Kebijakan Energi Nasional (KEN) dan Pengelolaan Energi Nasional (PEN) 2005-2025 berisi sasaran pengembangan energi nasional jangka panjang, yaitu penurunan peran minyak bumi dalam bauran energi (energy mix) nasional dari 50 persen pada tahun 2005 menjadi 10-15 persen pada tahun 2020 dan target rasio elektrifikasi 90 persen pada tahun 2020 menjadi 93 persen pada tahun 2025 (Tabel 6.9). Kebijakan energi nasional pada sisi suplai diarahkan pada peningkatan produksi berbagai jenis sumber energi sedangkan pada sisi kebutuhan diarahkan pada konservasi energi. Pemerintah telah menetapkan UU Nomor 20 Tahun 2002 tentang Ketenagalistrikan sebagai pengganti UU Nomor 15 Tahun 1985 dan telah menganut asas optimalisasi dalam pemanfaatan sumber daya, berkelanjutan dan kelestarian fungsi lingkungan hidup. Selain itu saat ini sedang disiapkan juga:

Tabel 6.9 Kondisi yang Diharapkan Uraian Kondisi Konsumsi Energi per Kapita Rasio Elektrifikasi Elastisitas Energi Peran Minyak Bumi Peran Gas Bumi Peran Batubara Peran Panas Bumi Energi Baru dan Terbarukan Tahun 2005 2025 10 SB 93% <1 30% 27% 33% 4% 4%

30% 17% 1% 0,4%

Sumber: Departemen ESDM- PIEN 2005-2025, 2005

•

RUU tentang Energi yang akan mengikat semua pihak dalam hal penyediaan, pemanfaatan, dan pengusahaannya serta RUU tentang Mineral dan Batubara yang lebih memperjelas pengaturan mengenai pemberdayaan masyarakat, peningkatan nilai tambah dan kandungan lokal serta perlindungan lingkungan.

•

172

Status Lingkungan Hidup Indonesia 2004

Sumber : PLN, 2002

Status Lingkungan Hidup Indonesia 2004

173


								
To top