1.2 memilih teknik gambar yang benar

					Heriyanto, S.Pd.T.

Handouts

1.2. MEMILIH TEKNIK GAMBAR YANG BENAR

Untuk Sekolah Menengah Kejuruan Bidang Studi Keahlian Teknologi Dan Rekayasa Program Studi Keahlian Teknik Mesin Kompetensi Keahlian Teknik Pengelasan 2009
1

A. B. C. D.

Etiket (kepala gambar) dan Skala Gambar. ..................... Huruf dan angka ................................................................. Garis..................................................................................... Konstruksi Geometri........................................................... 1. Membagi Garis Sama Panjang ................................... 2. Membagi Garis Menjadi n Bagian Sama Besar.......... 3. Membagi Sudut Sama Besar ...................................... 4. Membagi Sudut Menjadi Tiga Bagian ........................ 5. Membuat Sudut 60o .................................................... 6. Membuat Sudut 30o .................................................... 7. Membuat Sudut 90o .................................................... 8. Membuat Sudut 45o .................................................... 9. Membuat segi empat beraturan................................. 10. Segi lima beraturan .................................................... 11. Segi enam Beraturan ................................................. 12. Segi tujuh beraturan................................................... 13. Segi-n Beraturan......................................................... 14. Elips .............................................................................

2 2 5 7 7 8 9 9 10 11 11 12 12 13 14 15 16 17

2

A.

Etiket (kepala gambar) dan Skala Gambar. Setiap gambar kerja selalu ada etiketnya. Etiket dibuat di sisi kanan bawah kertas gambar. Yang dicantumkan pada etiket meliputi: Nama yang membuat gambar, b) nama gambar, c) nama instansi/departemen/sekolah, d) nomor gambar, e) tanggal menggambar atau selesainya gambar, f) tanggal diperiksanya gambar dan nama yang memeriksa, g) ukuran kertas gambar yang dipakai, h) skala gambar, i) proyeksi yang dipakai pada gambar tersebut, j) satuan ukuran yang digunakan, k) berbagai data yang diperlukan untuk kelengkapan gambar. Contoh etiket seperti pada gambar 1.27

Gb. 1.27 Etiket Skala gambar adalah perbandingan ukuran linier pada gambar terhadap ukuran linier dari unsur yang sama dari benda. Ada 3 (tiga) macam skala gambar, yaitu : ukuran penuh, skala pembesaran, dan skala pengecilan. Skala pembesaran digunakan jika gambarnya di buat lebih besar daripada benda sebenarnya, misalnya ; 10 : 1, 5 : 1, 2 : 1. Skala penuh digunakan bilamana gambarnya di buat sama besar dengan benda sebenarnya ( 1 : 1 ). Skala pengecilan digunakan bilamana gambarnya di buat lebih kecil dari benda yang sebenarnya, misalnya : 1 : 2, 1 : 5, 1 : 10. B. Huruf dan angka Dalam menggambar teknik, huruf-huruf, angka-angka dipergunakan untuk memberi ukuran-ukuran, catatan-catatan, judul dan sebagainya. Syarat yang perlu diperhatikan pada huruf dan angka adalah harus mudah dibaca, mudah ditulis, jelas dan seragam. Dalam ISO 3098 / 1 – 1974 diberikan contoh huruf miring dan huruf tegak.

3

Penulisan huruf dan angka tegak

Penulisan huruf dan angka miring

Dasar ukuran diambil dari tinggi h dari huruf besar. Daerah standar tinggi huruf adalah sebagai berikut : 2,5, 3,5, 5,7, 14 dan 20 mm. Angka perbandingan tinggi dan lebar huruf diambil dari perbandingan ukuran kertas yang distandar yaitu √ 2. Tinggi h (tinggi huruf besar) dan c (tinggi huruf kecil) tidak boleh kurang dari 2,5 mm. Jika terdapat gabungan antara huruf besar dan kecil, dengan huruf kecil setinggi 2,5 mm maka h akan menjadi 3,5 mm. Berdasarkan perbandingan tebal huruf dan tinggi huruf, huruf dan angka dibagi menjadi dua tipe yaitu : 1. Tipe huruf A ( d = h / 14 ) 2. Tipe huruf B ( d = h / 10 ) Perbandingan yang dianjurkan untuk tinggi-tinggi huruf kecil, jarak antara huruf-huruf, ruang minimum antara garis dasar dan jarak antara perkataan dijelaskan pada tabel 3. Tabel 3 Perbandingan huruf yang dianjurkan

4

Huruf A ( d = h/14 ) Sifat Perbandingan Tinggi huruf h (14/14) h 2,5 Tinggi huruf besar Tinggi huruf kecil c (10/14) h (Tanpa tangkai dan kaki) Jarak antara huruf a (2/14) h 0,35 Jarak minimum antara b (20/14) h 3,5 garis Jarak minimum antara e (6/14) h 1,05 Perkataan Tebal huruf d (1/14) h 0,18 Catatan : Jarak antara dua huruf a boleh memberi efek visual yang lebih baik; seperti dengan tebal huruf d. Huruf B ( d = h/10 ) Sifat Perbandingan Tinggi huruf h (10/10) h 2,5 Tinggi huruf besar Tinggi huruf kecil c (7/10) h (Tanpa tangkai dan kaki) Jarak antara huruf a (2/10) h 0,5 Jarak minimum antara b (14/10) h 3,5 garis Jarak minimum antara e (6/10) h 1,5 Perkataan Tebal huruf d (1/10) h 0,25 Catatan : Jarak antara dua huruf a boleh memberi efek visual yang lebih baik; seperti dengan tebal huruf d. 3,5 2,5 0,5 5 1,5 5 3,5 0,7 7 2,1 Ukuran 7 10 5 1 10 3 7 1,4 14 4,2 14 10 2 20 6 20 14 2,8 28 8,4

0,25 0,35 0,5 0,7 1 1,4 dikurangi setengahnya, bila mana ini misalnya LA, TV dsb., d. h. i. a. sama

3,5 2,5 0,7 5 2,1

5 3,5 1 7 3

Ukuran 7 10 5 1,4 10 4,2 7 2 14 6

14 10 2,8 20 8,4

20 14 4 28 1,2

0,35 0,5 0,7 1 1,4 2 dikurangi setengahnya, bila mana ini misalnya LA, TV dsb., d. h. i. a. sama

Huruf dan angka jenis TECHNIC BOLT

5

Huruf dan angka jenis ISOCT SHX

C.

Garis Dalam gambar teknik dipergunakan beberapa jenis garis dalam bentuk dan tebal sesuai penggunaannya. Jenis-jenis garis dan penggunaannya dapat dilihat pada table 4.

6

Tabel 4 Macam-macam garis dan penggunaannya. (ISO. R 128)
Jenis garis A B Keterangan Tebal kontinu Tipis kontinu. (lurus lengkung) Penggunaan A1. Garis-garis nyata (gambar) A2. Garis-garis tepi B1. Garis-garis berpotongan khayal (imaginer). B2. Garis-garis ukur. B3. Garis-garis proyeksi/bantu. B4. Garis-garis penunjuk. B5. Garis-garis arsir. B6. Garis-garis nyata dari penampang yang diputar ditempat. B7. Garis sumbu pendek. C1. Garis-garis batas dari potongan sebagian atau bagian yang dipotong, bila batasnya bukan garis bergores tipis. D1. Sama dengan C1. E1. Garis nyata terhalang. E2. Garis tepi terhalang. F1. Garis nyata terhalang F2. Garis tepi terhalang G1. Garis sumbu. G2. Garis simetri. G3. Lintasan. H1. Garis (bidang) potong.

atau

C.

Tipis kontinu bebas

D. E F G

Tipis kontinu dengan sig-sag Garis gores tebal Garis gores tipis Garis bergores tipis

H

J

Garis bergores tipis, yang dipertebal pada ujungujungnya dan arah perobahan arah. Garis bergores tebal. Garis bergores ganda tipis

K

J1. Penunjukkan permukaan yang harus mendapat penangan khusus. K1. Bagian yang berdampingan. K2. Batas-batas kedudukan benda yang bergerak. K3. Garis sistem (pada baja profil). K4. Bentuk semula sebelum dibentuk. K5. Bagian benda yang berada di depan bidang potong.

7

Pada gambar 1.27 a, gambar 1.27 b, dan gambar 1.27 c, memperlihatkan contoh-contoh penggunaan jenis-jenis garis.

a

b

c

Gb. 1.27 Penggunaan macam – macam garis D. Konstruksi Geometri 1. Membagi Garis Sama Panjang Caranya : a. Gambarkan garis A-B (sembarang) ! b. Lingkarkan jangka dengan jari-jari r1, dengan titik A sebagai pusatnya !

8

c.

d.

Dengan tidak merubah jangka (r1 = r2), lingkarkan r2 tersebut dengan titik pusat di B, sehingga berpotongan di C dan D ! Tarik garis tipis dari C ke D hingga memotong garis A-B di E, sehingga AE = EB !

Gb. 1.29 Membagi garis A – B sama besar 2. Membagi Garis Menjadi n Bagian Sama Besar

Caranya : lihat gambar 3.7
a. b. c. d. e. misalkan n = 15 bagian sama besar ! tentukan garis AB dan gambarkan ! tarik garis pertolongan dari titik A ke bawah dengan sudut sembarang ! tentukan jangka dengan jari-jari r = A-1 ! buatlah garis batas dengan jangka yang mempunyai jarijari r tersebuit dengan titik pusat berturut-turut A-1, 2, 3, … , sampai dengan 14 ! hubungkan titik B dengan 15 (sebagai garis penutup) ! buatlah garis sejajar (menggunakan mistar satu pasang) melalui 1, 2, 3, …, dan seterusnya yang sejajar dengan garis penutup, hingga didapat perpotongan garis di C, D, E, dan seterusnya ! Diperoleh AC = CD = DE = EF = FG dan seterusnya.

f. g.

9

Gb. 1.30 Membagi garis menjadi n bagian sama besar

3.

Membagi Sudut Sama Besar

Gb. 1.31 Membagi sudut sama besar

Caranya :
a. b. Buat sudut BAC yang akan dibagi dua sama besar ! Tentukan r1 dengan jangka dan lingkarkan dengan titik pusat di A, hingga memotong garis AB di D dan garis AC di E ! Tentukan r2 (sembarang) dan lingkarkan dengan titik pusat di D dan E, sehingga berpotongan di F ! Hubungkan garis dari titik A ke titik F ! Diperoleh sudut BAF = sudut FAC.

c. d. e. 4.

Membagi Sudut Menjadi Tiga Bagian Caranya : lihat gambar 1.32 a. Gambarkan sudut BAC yang akan dibagi sudutnya menjadi tiga bagian sama besar ! Perpanjang AC ke kiri sebagai garis pertolongan ! b. 10

c. d. e. f. g. h.

Tentukan r1 (sembarang) dan lingkarkan dengan titik pusat di A hingga berpotongan di E, D, dan F ! Tentukan r2 = 2 . r1 dan lingkarkan dari titik pusat E dan F hingga berpotongan di G ! Tarik garis bantu dari D ke G hingga berpotongan di H ! Bagi tiga panjang H-E hingga didapat 1’ dan 2’ ! Tarik garis dari G ke 1’ dan G ke 2’ hingga didapat I dan J pada lingkaran ! Hubungkan I dan J dengan A, sehingga didapat 3 sudut sama besar !

Gb. 1.32 Membagi sudut menjadi 3 bagian 5. Membuat Sudut 60o

Caranya :
a. b. c. d. e. tentukan garis OA mendatar ! tentukan r (sembarang) dan lingkarkan busur dengan titik pusat di O ! Pindahkan jangka yang berjari-jari r 9tidak diubah) dengan titik pusat di B hingga berpotongan di C ! Hubungkan O dengan C ! Diperoleh sudut AOC = 60o.

11

Gambar 1.33 Membagi sudut 600 dan 300 6. Membuat Sudut 30o Caranya : a. buat garis OA mendatar ! b. tentukan jari-jari r dan lingkarkan dengan titik pusat di O hingga berpotongan di B ! c. pindahkan titik pusatnya ke B hingga berpotongan di C ! d. pindahkan kembali titik pusat ke B dan C hingga berpotongan di E ! hubungkan O dengan E hingga didapat AOE mempunyai e. sudut 30o ! Membuat Sudut 90o Cara I: a. tarik garis AO dan perpanjang ke kiri! b. tentukan r1 dan lingkarkan dengan titik pusat di O hingga berpotongan di B dan C ! c. tentukan r2 (sembarang) dan lingkarkan dengan titik pusat di B dan C hingga berpotongan di D ! d. hubungan O dengan D maka sudut AOD = 90o ! Cara II: e. tarik garis OA mendatar f. tentukan r (sembarang) dan lingkarkan dengan titik pusat di O hingga berpotongan di B ! g. pindahkan lingkaran yang berjari-jari r ke titik pusat B dan berpotongan di C ! h. pindahkan kembali ke titik pusat C dan berpotongan di D ! i. putarkan kembali dengan titik pusat di D dan C hingga berpotongan di E !

7.

12

j.

hubungkan O dengan E maka sudut AOE = 90o.

Gb. 1.34 Membuat sudut 900 8. Membuat Sudut 45o Caranya : a. Buat garis OA mendatar dan perpanjang ke kiri ! b. Tentukan r1 dan lingkarkan dengan titik pusat di O hingga berpotongan di B dan C ! c. tentukan r (sembarang) dan putar dengan titik pusat di B dan C hingga berpotongan di D ! tarik garis bantu dari O ke D hingga berpotongan dengan d. busur lingkaran r1 di E ! e. tentukan r2 (sembarang) dan lingkarkan dengan titik pusat di B dan E hingga berpotongan di F f. Hubungkan O dengan F sehingga didapat sudut AOF = 45o !

Gb. 1.35 Membuat sudut 450 9. Membuat segi empat beraturan Caranya : Tarik garis sumbu AB (mendatar) ! a. 13

b. c. d. e. f. g.

Lingkarkan jangka dengan r = ½ sisi segiempat yang dikehendaki (lingkaran bertitik pusat di O) ! Lingkarkan busur dengan jari-jari R (sembarang) dan bertitik pusat di A dan B, sehingga didapat titik C dan D ! Hubungkan C dan D melalui O (sehingga didapat sumbu tegak), memotong lingkaran di E dan F ! Tarik garis sejajar AB melalui E dan F ! Tarik garis sejajar EF melalui A dan B, hingga berpotongan di titik G, H, I, dan J ! Maka segiempat GHIJ adalah segiempat beraturan.

Gb. 1.36 Segi empat beraturan 10. Segi lima beraturan Caranya : a. Lingkarkan jangka yang berjari-jari r1 dengan titik pusat di O! Tarik garis sumbu mendatar melalui O hingga b. berpotongan dengan lingkaran di A dan B ! c. Lingkarkan jangka yang berjari-jari r dengan titik pusat di A dan B hingga berpotongan di C! d. Tarik garis dari O ke C hingga memotong lingkaran di G ! e. Lingkarkan jangka yang berjari-jari r1 dari titik pusat B, hingga memotong lingkaran di titik D dan E; lalu hubungkan D dengan E hingga memotong sumbu AB di titik F ! f. Ukurkan jangka dari F ke G (r2 = FG) dan lingkarkan r2 tersebut dengan titik pusat di F hingga memotong sumbu AB di H !

14

g. h. i.

Ukur GH dengan jangka (GH = r3) ini merupakan sisi segilima beraturan ! Pindahkan r3 berturut-turut dengan titik pusat di I, J, K, dan L ! Hubungkan G dengan I, I dengan J, j dengan E, E dengan L, dan L dengan G, sehingga didapat segilima beraturan !

Gb. 1.37 Segi lima beraturan 11. Segi enam Beraturan Caranya : a. Tentukan jari-jari r dan lingkarkan dengan titik pusat di O ! b. Tarik garis sumbu mendatar melalui O hingga berpotongan dengan lingkaran di A dan B ! c. Lingkarkan jangka yang berjari-jari r tadi (tidak dirubah) dengan titik pusat di A dan titik pusat di B, hingga didapat titik potong dengan lingkaran di C, D, E, dan F ! d. hubungkan A dengan D, D dengan E, E dengan B, B dengan F, F dengan C, dan C dengan A, hingga didapat segienam beraturan !

15

Gbr. 1.38 Segi enam beraturan

12. Segi tujuh beraturan

Gb. 1.39 Segi tujuh beraturan Caranya : tentukan jari-jari r1 dan lingkarkan dengan titik pusat di O a. ! b. tarik garis mendatar (sumbu) melalui O hingga didapat titik potong A dan B ! c. buat garis tegak lurus AB melalui O hingga berpotongan di P dan perpanjang ke atas ! d. dengan cara lukisan, garis AB dibagi tujuh bagian sama besar, hingga didapat 1’, 2’, 3’, 4’, 5’, 6’, dan 7’ !

16

e.

f.

g. h. i.

ukur dengan jangka dari A ke 1’ (A1’ = r2) dan lingkarkan r2 tersebut dengan titik pusat di A hingga berpotongan dengan perpanjangan AB di E ! ukur dengan jangka dari O ke E (OE=r3) dan lingkarkan r3 tersebut dengan titik pusat di O hingga memotong garis perpanjangan OP di G ! tarik garis dari E ke G hingga memotong lingkaran di titik H! ukur dengan jangka dari H ke 3’, ini merupakan sisi segitujuh ! pindahkan s=H-3’ ke P-Q, Q-R, R-S, S-T, T-U, dan seterusnya hingga didapat segitujuh beraturan !

13. Segi-n Beraturan Untuk membuat segi-n beraturan dengan cara pendekatan, dapat dilakukan/dilukiskan seperti cara melukis segitujuh beraturan; perbedaannya hanya terletak dalam pembagian garis tengahnya, yaitu garis tengahnya dibagi dalam n bagian sama besar. Misalnya untuk segi-11, maka garis tengahnya dibagi menjadi 11 bagian. Sedangkan untuk menentukan panjang sisi r selalu diambil jarak dari 3’ ke titik H pada gambar segi-7 atau titik F pada contoh segi-n = 11 untuk gambar berikut. Untuk membuat segi-n beraturan ini, selain dapat dilukis dengan menentukan lingkaran pembantu terlebih dulu, dapat juga dilukis dengan menentukan panjang sisi segi-n terlebih dahulu (lihat gambar 1.40).

17

Gb. 1.40 Segi-n beraturan 14. Elips Elips dengan dua lingkaran pertolongan sepusat dapat dilukiskan dengan langkah-langkah seperti berikut : a. tentukan titik pusat lingkaran O ! b. buat lingkaran kecil dengan jari-jari r dan lingkaran besar dengan jari-jari R yang titik pusatnya di titik O’! c. bagi lingkaran tersebut menjadi 16 bagian sehingga pada lingkaran besar terdapat titik potong A, B, C, …, P dan pada lingkaran kecil terdapat titik potong 1, 2, 3, 4, 5, 6, …, 16! d. Buat garis horizontal dari titik potong 2, 3, 4, ke kanan, garis horizontal dari titik potong 6, 7, 8, ke kiri, 10, 11, 12 ke kiri, dan 14, 15, 16 ke kanan! Buat garis vertikal dari I, E, dan K, hingga berpotongan di e. 1’, 2’, dan 3’! f. Buat garis vertikal dari M, G, dan O, hingga berpotongan di 6’, 7’, dan 8’, sedangkan 5 = 5’!

18

g.

h.

Buat garis vertikal dari titik J, F, dan L, begitu juga titik N, H, dan P, hingga berpotongan dengan garis mendatar 9 = 9’, 10’, 11’, 12’, 13 = 13’, 14’, 15’, dan 16’! Hubungkan titik A’ dengan 2’, 3’, 4’, …, 16’ menggunakan mal busur, hingga mendapatkan elips yang diinginkan!

Gb. 1.41 Elips

19


				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:9531
posted:8/7/2009
language:Indonesian
pages:19