Docstoc

SNI+03-6460.3-2000

Document Sample
SNI+03-6460.3-2000 Powered By Docstoc
					                                                                            SNI 03-6460.3-2000


UMUM

1.     Ruang Lingkup
Standar ini menguraikan dan memberikan rekomendasi supaya penerowongan dapat dilaksanakan
dengan aman. Standar ini tidak termasuk rekomendasi untuk penerowongan dengan cara “gali
dan tutup”, terowongan pipa benam atau menggunakan konstruksi terowongan untuk
penambangan mineral.
Catatan : Desain, pembuatan dan penggunaan mesin yang diperlukan dilakukan dengan mengutamakan
keselamatan.

2.     Acuan
Judul-judul yang dipublikasi merujuk standar ini tertera pada bagian belakang buku ini.

3.     Definisi-Definisi
Tidak ada definisi-definisi khusus yang digunakan di dalam standar ini. Istilah-istilah yang
digunakan juga istilah yang biasa digunakan pada pelaksanaan penerowongan.

4.     Perundang-Undangan
Pokok-pokok perundang-undangan yang berlaku mengenai masalah keamanan dan pelaksanaan
penerowongan adalah sejalan dengan standar ini.
Apabila pada suatu kondisi lapangan dimana peraturan yang berlaku tidak dapat diterapkan untuk
pekerjaan terowongan, bagaimanapun juga harus memenuhi persyaratan-persyaratan selama
pelaksanaannya masih memungkinkan.

KOMUNIKASI DAN KEBISINGAN

5.      Komunikasi
5.1. Umum
Komunikasi yang baik yang dapat menjangkau seluruh lokasi pekerjaan adalah merupakan hal
yang mendasar terhadap keamanan dan efisiensi pekerjaan proyek terowongan. Salah satu aspek
adalah penyampaian informasi dan instruksi dari dan ke lokasi pekerjaan. Aspek lain adalah
melakukan kontrol terhadap pelaksanaan pekerjaan seperti misalnya penanganan beban derek di
dalam sumuran. Pada pekerjaan dengan skala kecil dan sederhana yang melibatkan tenaga kerja
sedikit, komunikasi dengan suara masih dapat dilakukan, tetapi untuk proyek-proyek yang lebih
besar dan lebih komplek, sistem sinyal dan telepon menjadi penting untuk keamanan.

5.2.    Informasi dan Instruksi
Peralatan komunikasi harus tersedia supaya pekerja yang ditugaskan di bagian muka kerja dapat
berkomunikasi mengenai material dan peralatan yang diperlukan dan memberikan peringatan
terhadap bahaya yang tidak diharapkan serta menerima instruksi-instruksi penting. Sistem yang
diambil tergantung dari ukuran dan panjang terowongan, jumlah pekerja di terowongan serta
sistem penerowongan, potensi risiko dan kecepatan pelaksanaan. Di dalam terowongan kecil atau
yang disangga dengan kayu, komunikasi dengan suara mungkin memadai, khususnya yang
kondisinya merata dan suatu siklus operasinya telah selesai. Di dalam terowongan yang lebih
besar dan lebih panjang komunikasi yang lebih cepat sangat diperlukan. Sistem sinyal dengan
bel atau cahaya berwarna cukup memadai untuk komunikasi rutin, seperti permintaan segmen
lining atau material lainnya yang harus segera dikirimkan ke muka kerja.


                                                1
                                                                             SNI 03-6460.3-2000


Sistem telepon yang harus di desain dengan baik, akan lebih efektif jika dijaga tetap bekerja
dengan baik dan harus segera dipasang setelah muka kerja selesai. Perbaikan khusus diperlukan
untuk menjamin penyampaian pesai dengan jelas dan tidak dilindungi terhadap kebisingan
disekelilingnya. Sistem telepon harus terpisah dari pasokan daya di dalam terowongan sehingga
tidak mengganggu pengguna telepon. Apabila digunakan udara bertekanan harus menggunakan
telepon yang cukup memadai sehingga komunikasi secara langsung tetap dapat dilakukan di
antara tempat kerja yang bertekanan, dan di antara petugas dalam ruangan tertutup dengan orang
di luar.
Alternatif mengenai cara pemberian tanda dan dari semua tempat harus tersedia setiap saat.
Untuk itu, harus ada sambungan langsung dengan tempat kontrol dengan tempat kontrol
kompresor.
Setiap mesin penerowongan harus dilengkapi dengan peralatan komunikasi yang kedap suara dan
dihubungkan dengan ruang kontrol.
Detil tanda sinyal berupa suara atau tanda lain harus ditempatkan pada puncak dan dasar masing-
masing sumuran tegak atau miring dan di tempat yang mudah dilihat operator.

5.3. Sinyal Bunyi
Sinyal bunyi dengan bel, peluit, gong atau alat lain dapat dipakai untuk operasi yang rutin seperti
menaikan dan menurunkan ke sumuran atau untuk pemakai tali penggerak pada tempat yang
miring. Setiap sinyal harus dapat berhubungan cukup keras dan berbeda-beda untuk menghindari
kerancuan kejadian insidentil atau adanya kecelakaan.
Semua sinyal kecuali tanda “berhenti” dan darurat harus diulang oleh operator mesin sebelum
dilaksanakan untuk memberikan waktu koreksi.
Kode/tanda yang diusulkan adalah sebagai berikut :
Stop                  satu tanda
Turunkan              dua tanda
Naik                  tiga tanda
Turun                 empat tanda
Darurat               menerus

5.4. Sinyal Visual
Sinyal ke operator mesin biasanya diberikan hanya oleh petugas pemberi isyarat atau orang lain
yang diberi wewenang untuk melaksanakan pekerjaan tersebut, semua pekerjaan yang terlibat
dalam pekerjaan, harus terbiasa dengan kode yang telah ditentukan.
Untuk operasi derek di dalam lingkungan di mana pemberi isyarat terlihat jelas oleh petugas
pemberi isyarat, pemberian kode/tanda harus diberikan sesuai dengan ketentuan.
Sinyal cahaya dapat dilaksanakan dengan menggunakan sejumlah lampu dan menggunakan kode
yang sama seperti pada suara. Alternatif lain adalah dengan menggunakan lampu tiga warna
dengan kode tertentu atau dengan pencahayaan langsung pada panel.

5.5. Televisi
Jaringan tertutup televisi memungkinkan operator mampu memantau daerah kerja dapat
meningkatkan keamanan dan kontrol yang efisien tetap, suatu sistem pemberian tanda yang bebas
harus selalu dipelihara dan selalu tersedia.




                                                2
                                                                           SNI 03-6460.3-2000


6.      Kebisingan
6.1. Umum
Kebisingan dapat menimbulkan bahaya dalam pelaksanan konstruksi yaitu :
(a) kerusakan langsung pada pendengaran;
(b) menyebabkan kesulitan komunikasi dan persepsi tanda sinyal;
(c) mengganggu keamanan pekerjaan.
Permasalahan kebisingan di dalam terowongan akan meningkat akibat gema yang terjadi dalam
ruang yang tertutup dan orang yang bekerja di dekat mesin yang bising.
Di dalam situasi di mana pertimbangan risiko gangguan pendengaran, maka perlu dilakukan
pengujian-pengujian yang memenuhi syarat. Penggunaan lain juga perlu dilakukan yaitu yang
berkaitan dengan aspek kebisingan yang timbul diseluruh ruangan dan lingkungan disekitarnya.
Keselamatan dalam terowongan dapat ditingkatkan dengan mengurangi tingkat kebisingan di
daerah kerja.

6.2. Tingkatan Kebisingan
6.2.1 Batasan.
Suara dengan intensitas sangat tinggi dapat memekakkan dan menyebabkan kerusakan langsung
pada telinga. Pada intensitas yang lebih rendah, suara yang berbunyi terus-menerus dapat
menyebabkan ketulian, meskipun intensitasnya masih dapat ditolerir. Angka ekivalen maksimum
tingkat suara yang terus menerus (L eq) didasarkan pada 8 jam/hari kerja, ditetapkan sebesar 90
dB (A) untuk telinga yang tak terlindung, pada kondisi tertentu sebesar 135 dB dan untuk bunyi
yang tidak beraturan sebesar 150 dB. Di atas batasan tersebut pelindung telinga harus digunakan.
6.2.2 Muka kerja terowongan.
Daerah yang sangat sulit supaya kebisingan dapat dikurangi adalah daerah muka kerja
terbatasnya ruang sehingga peredam suara tidak mungkin dipasang. Semua mesin harus diseleksi
dengan cermat terhadap tingkat suara dan harus dipilih yang mempunyai tingkat terendah dengan
pemeliharaan yang mudah terhadap peralatan pembatas secara memadai.
Ketentuan tentang alat pelindung telinga diuraikan dalam butir 6.5. Perlu dicatat bahwa siklus
alamiah dari pelaksanaan terowongan dapat mengakibatkan tingkat kebisingan yang berfluktuasi.
6.2.3 Rute jalan masuk.
Bagian manapun di dalam terowongan atau rute jalan masuk dan di sumuran, kebisingan harus
dibatasi dengan alat peredam, penyaringan atau cara lainnya sampai tingkat tertentu dimana
perlindungan telinga tidak diperlukan, kecuali untuk kebisingan yang tingkatnya tinggi (seperti
pembobolan atau pemecahan beton), di mana daerah kerja yang berbatasan dengan areal kerja
lain, harus diredam.

6.3. Sumber Kebisingan
Pada prinsipnya sumber-sumber kebisingan yang terjadi pada muka kerja adalah cukup bervariasi
sesuai dengan metode penerowongan dan tahap siklus operasinya.
Pada terowongan yang digali dengan tanah melalui lapisan tanah lunak, sumber kebisingan
biasanya berasal dari skop pneumatik atau peralatan sejenis. Bor atau mesin pemecah kadang-
kadang digunakan untuk bongkah batu atau perintang lainnya. Pada terowongan berbatu keras,
pengeboran, peledakan dan mesin pembuang tanah dapat menimbulkan tingkat kebisingan
dengan karakteristiknya sendiri-sendiri. Alat pelindung telinga untuk operator mesin bor dan
pekerja disekitarnya harus digunakan. Suara ledakan adalah merupakan suatu bunyi mendadak
(impuls) yang berlangsung sebentar. Pekerja-pekerja harus ditarik dan dijauhkan dari muka kerja
pada jarak yang cukup aman.


                                               3
                                                                             SNI 03-6460.3-2000


Mesin penerowongan dapat dibagi menjadi tiga tipe :
(a) Mesin untuk lapisan tanah lunak yang tidak menimbulkan kebisingan. Pengurangan
kebisingan merupakan masalah utama mendesain detil mesin, dengan menggunakan cara seperti
alat peredam dan penyaring bunyi. Pemeliharaan yang benar adalah sangat penting seperti
pelumasan.
(b) Mesin penerowongan batuan. Operasi pemecahan batu dapat menjadi sumber kebisingan;
transmisi suara melalui struktur mesin sulit diprediksi. Penyaringannya harus digunakan dalam
desain. Operator mesin besar biasanya dilengkapi dengan kabin akustik yang kedap suara.
(c) Mesin-mesin yang secara progresif menggali muka kerja dengan alat pemecah yang lebih
kecil biasanya tidak dapat dilengkapi dengan alat penyaring suara. Bahkan bila operator
dilengkapi dengan alat penutup yang memadai, orang lain tetap harus dilengkapi dengan alat
pelindung telinga. Sumber kebisingan lain yang perlu diteliti adalah alat penyaring atau cara lain
termasuk kebocoran udara bertekanan tinggi, pipa penyalur udara, pompa, pembawa material,
ban berjalan, derek, kerekan, peralatan disel, lokomotif disel, pencampur beton, pompa beton dan
kompresor.

6.4.      Pengurangan Kebisingan
Di dalam mengambil keputusan awal pada metode yang dipakai dan pemilihan peralatan mesin,
kebisingan merupakan satu faktor yang harus dipertimbangkan. Pengurangan kebisingan harus
diperhitungkan di dalam desain detil peralatan serta instalasinya. Dalam hal ini, motor hidraulik
atau elektrik lebih disukai daripada mesin disel.
Kebisingan dapat dikurangi dengan memasang peralatan peredam suara yang relatif jauh dari
pekerja dengan menggunakan alat penyaring, penutup peredam suara. Semua aspek harus
dipertimbangkan dengan cermat sebelum peralatan dipasang. Apabila penyaringan atau peredam
akustik digunakan, maka persyaratan ventilasi dan risiko api harus diperhitungkan dengan
cermat. Pemeliharaan berkala dari peralatan dengan mengganti atau memperbaiki bagian-bagian
yang rusak dapat memberikan kontribusi dalam penanganan pengurangan kebisingan.

6.5.    Perlindungan Pendengaran
Apabila bunyi tidak dapat dikurangi sampai ke tingkat aman, telinga harus dilindungi dengan
pemakaian pelindung yang memadai. Tipe yang paling baik pelindung pendengaran tergantung
pada kondisi, apakah digunakan pekerja tertentu pada giliran kerja atau untuk pekerjaan
sementara yang sebentar. Peralatan termasuk penyumbat telinga sementara, penyumbat telinga
permanen, ikat kepala dengan lapisan karet, sarung telinga dan pelindung khusus dengan
amplitudo yang sensitif.
Pelindung telinga harus dipakai secara perorangan dan dipasang orang yang terlatih. Kebersihan
dalam penggunaannya adalah merupakan faktor yang penting. Peraturan Departemen Tenaga
Kerja atau peraturan yang berlaku harus diikuti dan dipatuhi.

6.6.      Komunikasi
Kebisingan membuat komunikasi menjadi sulit, penggunaan pelindung telinga dapat menambah
kesulitan. Untuk pekerjaan rutin di dalam ruangan yang bising, tanda-tanda visual harus dibuat
secara sistematis. Jika mungkin, pekerjaan yang menimbulkan kebisingan yang berlebihan
dihentikan sementara sehingga pengarahan dapat diberikan dengan jelas dan pasti. Untuk tanda
alarm, bunyi merupakan sarana paling efektif, tetapi di dalam daerah yang bising, pengujian
harus dilakukan dengan peralatan harus dimodifikasi, sehingga tanda cukup keras dan berbeda
untuk menarik perhatian. Tanda visual tambahan mungkin dapat membantu.


                                                4
                                                                            SNI 03-6460.3-2000


JALAN MASUK DAN TRANSPORTASI

7.     Sumuran
7.1. Umum
Jalan masuk sumuran dapat terdiri dari :
(a) sumuran sementara yang khusus dibangun untuk jalan masuk;
(b) sumuran permanen dilengkapi dengan jalan masuk selama pelaksanaan;
(c) kombinasi (a) dan (b).

7.2.   Disain
Jika digunakan sumuran permanen linningnya harus didesain untuk pekerjaan permanen. Jika
sumuran dibangun menggunakan penyangga struktural sementara, harus diperlakukan sebagai
pekerjaan sementara.

7.3. Sumuran Tak Terpakai
Jika sumuran tak terpakai dan tidak berfungsi lagi, bagian deck-nya harus di desain dan di pasang
dengan memadai. Jika terdapat rongga, ventilasi yang cukup memadai harus dibuat untuk
keamanan dalam inspeksi.
Pencatatan yang memadai harus disimpan untuk semua sumuran tertutup atau jalan masuk, yang
memberikan gambaran detil sumuran atau terowongan dan metode penutupan dan pengisiannya.

7.4. Dasar Sumuran
Jika dasar sumuran diisi dengan beton cor di tempat diperkuat dengan penulangan bila perlu;
harus diperhitungkan terhadap kemungkinan adanya gaya angkat hidraulis atau kemungkinan
adanya “heave” dan lapisan lempung.

7.5. “Mata Terowongan”
Jika pintu masuk berada di dasar sumuran dimana penggalian terpecah di terowongan atau
dipermukaan pintu harus terdukung secara baik sebagai struktur bukaan terowongan (lihat butir
10.4).
Jika suatu “mata terowongan” harus dibuat di dekat dasar terowongan dimana penggalian untuk
membuat terowongan atau bagian depan terowongan harus dilakukan struktur sumuran harus
diperkuat dengan penyangga yang memadai seperti halnya membuat suatu lubang terowongan.
Pelaksanaan penggalian/pemecahan tanah/batuan yang aktual harus dilakukan dengan hati-hati,
karena tanah pasti akan terganggu akibat galian sumuran dan air mungkin mengalir ke bawah
melalui dinding sumuran, meskipun telah di graut. Penyangga yang rapat harus segera di bangun.
Pada tanah yang jelek, disarankan untuk memasang penyangga pertama atau membuat cincin
pertama dari besi atau beton di dalam sumuran. Sebagai alternatif lain, bagian muka kerja yang
kecil digali dari sumuran, kemudian terowongan ukuran pendek dibuat pada jarak yang aman jika
tanah yang tak terganggu; bagian muka kemudian diperbesar dengan arah mundur kesumuran.

7.6. Perlindungan Sumuran
7.6.1. Perundang-undangan.
Perundang-undangan untuk melindungi sumuran disesuaikan dengan peraturan yang berlaku.




                                               5
                                                                             SNI 03-6460.3-2000


7.6.2. Puncak sumuran.
Tata letak dan detil puncak sumuran harus sedemikian rupa sehingga dapat mencegah kecelakaan
jatuhnya orang atau material kedalam sumuran. Untuk mengatasi hal tersebut dibuat pagar
dengan penahan yang kuat.
Penumpukan dan penyimpanan material harus ditempatkan pada jarak yang cukup dari puncak
sumuran sehingga tekanan tanah yang berlebihan tidak mempengaruhi sumuran tersebut dan
material yang jatuh akibat penumpukan tidak masuk ke dalam sumuran.
Daerah di sekitar masing-masing sumuran harus rata, bebas rintangan, terdrainase dengan baik
dan mempunyai ruang kerja yang aman dan cukup terang. Air permukaan harus dicegah langsung
masuk ke dalam sumuran dengan membuat cara membendungnya, membuat sistem tata salir atau
bila perlu membuat sistem pemompaan.
7.6.3. Tangga sumuran.
Setiap sumuran harus dilengkapi dengan tangga masuk seawal mungkin, kecuali jalan masuk
alternatif yang aman ke dasar sumuran. Tangga tersebut harus dilengkapi dengan “bordes” pada
setiap interval 9 m. tangga tersebut harus kokoh, dilengkapi dengan pegangan, rel pengaman dan
pijakan kaki. Bukaan untuk tangga harus sekecil mungkin supaya praktis dan diikat dengan kuat
pada dasar dan bagian atas “bordes”. Tangga tersebut harus dibuat minimal 1,1 m di atas bordes
bagian atas, jika tidak dilengkapi pegangan tangan lain. Injakan pada setiap anak tangga harus
rata (tidak terhalang). Tambatan tangga di dalam sumuran harus terlindungi dengan perintang
dari ayunan beban yang sedang diangkut ke dalam sumuran.
Tangga vertikal harus sampai pelindung yang ditanam di atas ketinggian 2.5 m dari landasan
(bordes).
7.6.4. Komunikasi (lihat butir 5).
Komunikasi yang baik diantara permukaan tanah dan tempat kerja adalah penting untuk
mengontrol pengangkutan dan penurunan beban serta saling tukar informasi mengenai cara
penanganan beban tersebut. Hal yang penting diperhatikan di dalam bahwa pergerakan beban
oleh alat angkat selain alat angkat otomatis pada setiap tahap harus di bawah pengarahan dari satu
orang.
Pada kondisi dimana penglihatan operator terhalang beban yang sedang diangkut di dalam
terowongan, operator tersebut harus dibantu dengan seorang petugas lain dari suatu tempat di
puncak sumuran yang dapat melihat situasi beban tersebut dengan jelas. Operator dan pembantu
yang berdiri di puncak sumuran harus dapat saling melihat dan saling berkomunikasi. Bila
diperlukan, pembantu kedua dapat ditempatkan pada dasar galian yang dapat memberikan tanda
kepada pengemudi crane atau pengemudi alat penarik (winch) atau dapat juga memberikan
petunjuknya kepada pembantu pertama di puncak sumuran. Pada kondisi penggunaan dua
pembantu tersebut, tanggung jawab masing-masing petugas harus ditentukan dengan jelas.
Sistem visual dari tanda (sinyal) crane harus digunakan, tetapi bila petugas pembantu dapat
dilihat dari suatu tempat yang sinyal dari crane dapat disalah-artikan, misalnya dari petugas
pembantu di dasar sumuran, suatu kode (sandi) yang jelas (termasuk tanggung jawabnya) harus
direncanakan dengan baik dan diberitahukan kepada semua petugas yang bersangkutan. Bila
kode (sandi) tersebut berupa bunyi-bunyian, harus sesuai dengan peraturan yang ada. Pada
sumuran dengan kedalaman lebih dari 40 m, disarankan untuk menggunakan sistem bunyi.
Tanda sandi yang telah disetujui harus diberikan (dibunyikan) di bagian puncak dan dasar
terowongan serta di setiap tempat ruang pengangkut yang dikontrol oleh operatornya.




                                                6
                                                                            SNI 03-6460.3-2000


7.6.5. Bahaya Khusus.
Perhatian harus diberikan untuk menjamin bahwa :
(a) beban tidak berayun atau berputar yang dapat menyebabkan terjadinya benturan pada lining
sumuran atau struktur lain.
(b) beban atau tali penggantung tidak menyinggung tonjolan pada saat penurunan atau
pengangkatan, yang dapat menyebabkan beban menjadi miring dan isinya ke luar.
(c) tali tidak kendur bila beban diletakkan pada dasar atau panggung dan diikatkan dibagian
struktur sumuran dengan kerusakan yang kecil.
(d) beban diangkat beberapa meter kemudian dihentikan, diperiksa dan diamati sebelum
pengangkatan diteruskan.

8.      Alat Pengangkat
8.1. Umum
Semua operasi pengangkatan harus mengikuti peraturan yang berlaku di Indonesia.
Peraturan itu harus digunakan dalam hal pemasangan, penggunaan dan pembongkaran crane
dimana pemasangannya memerlukan penopang, ruang yang aman serta jarak pandang yang jelas.
Derek (hoist) adalah merupakan alat pengangkat yang bekerja secara mekanis, tenaga listrik atau
bukan serta alat pembawa atau “sangkar”. Pergerakannya dibatasi oleh suatu alat pengarah.
Derek ini bukan merupakan alat pengangkat yang digunakan seperti pada truck atau wagon yang
bergerak melalui lintasan atau rel. Derek tersebut biasanya diangkat dan diturunkan dengan tali
menggunakan alat penarik dan hanya didesain untuk material atau orang. Bila derek tersebut
digunakan, harus mengikuti peraturan dan standar yang berlaku.
Peraturan tersebut mencakup persyaratan untuk inspeksi, pemeriksaan dan pengujian yang cermat
terhadap peralatan angkatnya. Pemeriksaan yang cermat dan menyeluruh perlu dilakukan lebih
sering, bila ditemui suatu kondisi yang dapat mengakibatkan karatan (korosif).

8.2. Derek
8.2.1 Derek pada sumuran
Jenis crane yang lebih sering digunakan untuk sumuran terowongan adalah crane, gantry dan
derek mobil. Alat pengangkat yang mobil tersebut lebih sesuai digunakan pada sumuran dangkal,
karena kesulitan pengontrolannya. Untuk kedalaman lebih dari 40 m, alat pengangkat “hoist”
harus digunakan, terutama bila digunakan bersama-sama untuk mengangkat pekerja.
Di sekeliling setiap sumuran, tindakan pencegahan harus diambil untuk meminimalkan
penurunan dan membuat beban crane tersebar selebar mungkin serta mencegah gaya lateral yang
berlebihan dari tanah terhadap lining sumuran. Perkuatan beton bertulang atau balok beton harus
dilakukan pada setiap daerah yang sensitif, bila perlawanan (daya dukung) tanah tidak cukup
memadai. Bila udara bertekanan digunakan, beton harus dilengkapi dengan ventilasi udara.
8.2.2 Jarak Bebas
Bila jarak bebas yang disyaratkan tidak dapat dipenuhi di sekitar crane, pada saat crane
beroperasi, pekerja tidak diperbolehkan masuk ke daerah kerja.
8.2.3 Gigi Pengangkat
Peraturan mensyaratkan penggunaan rantai yang tidak diuji, tali dan gigi pengangkat, diberi tanda
beban kerja yang aman dan penggunaan kait dari jenis yang aman.
Semua beban harus diangkat menggunakan kawat sling yang memadai. Cara pengangkatan
dengan sling yang tergantung dari gesekan sling untuk memegang beban tidak boleh digunakan.
Bila tidak ada alasan bagi orang yang bekerja di tempat pengangkatan, hanya petugas yang
berkaitan dengan operasi pengangkatan yang diijinkan berada di sumuran selama pekerjaan
pengangkatan berlangsung. Petugas harus berada pada posisi yang aman.

                                               7
                                                                             SNI 03-6460.3-2000


8.2.4 Beban Panjang
Pada beban panjang yang harus diangkat vertikal karena keterbatasan ruangan, pengaturan sling
harus direncanakan dengan matang untuk menjamin bahwa beban tidak lepas (merosot) dan
beban tidak berayun tanpa kontrol. Apabila beban sulit diangkat, hanya petugas pengangkat yang
boleh berada di sumuran selama pengangkatan berlangsung; Petugas harus berada pada posisi
yang aman.
8.2.5 Korban Luka
Alat pengangkut yang aman untuk membawa ke luar korban luka harus disediakan, seperti
usungan (tandu) yang dapat mengangkat korban pada usungan dalam posisi horisontal. Sling
khusus darurat untuk membuat korban terikat aman, misalnya usungan (tandu) Neil Robertson,
hanya boleh digunakan di bawah pengawasan petugas P3K yang berpengalaman yang sudah
terbiasa menggunakannya.

8.3. Alat Angkat “Hoist”
Jalan/alur alat angkat harus dilindungi dan dipagari secara efektif pada semua titik sepanjang alur
dimana orang mungkin masuk atau tertabrak oleh bagian yang bergerak atau oleh material yang
jatuh dari alat angkat. Perlindungan lebih lanjut mungkin diperlukan untuk menjamin bahwa alur
alat angkat tidak boleh terganggu oleh kayu yang panjang atau material lain saat sedang diangkut
di sekelilingnya.

8.4. Pengangkutan Petugas
8.4.1 Umum.
Crane tidak digunakan untuk mengangkut orang, kecuali alat angkat (hoist) tidak dapat
digunakan. Pada sumuran yang dibuat untuk terowongan alat angkat hoist belum tentu dapat
digunakan untuk semua pengangkutan, tetapi bila sumuran telah selesai dibuat dan dimanfaatkan
sebagai jalan masuk keterowongan, penggunaan hoist dapat dipertimbangakan. Ukuran sumuran
masuk sementara harus cukup besar supaya alat angkat hoist dapat dipasang.
8.4.2 Penggunaan Crane.
Jika crane digunakan untuk membawa orang, peraturan harus diberlakukan dengan ketat dan
mengikuti hal-hal sebagai berikut :
(a) crane yang dilengkapi dengan mesin yang dapat mengontrol penurunan beban;
(b) tombol kunci operasi, untuk memindahkan dari mode beban jatuh bebas ke mode penurunan
beban, harus ditempatkan pada posisi yang memudahkan pengemudi menjangkaunya;
(c) tombol kunci operasi harus dibuat sedemikian rupa untuk mencegah berpindahnya kunci dari
posisi jatuh bebas, dan memindahkan kunci berpindah ke posisi penurunan beban;
(d) sistem kontrol tali penarik “hoist”, bila pada mode penurunan beban harus dibuat
sedemikian rupa, sehingga rem tali penarik dapat bekerja secara otomatis, jika tongkat pengatur
tidak terjangkau saat beroperasi.
(e) lampu gawar yang baik harus dipasang di dalam kabin pengemudi yang dapat menyala, bila
crane dalam posisi pengereman otomatis, hal tersebut untuk megingatkan pengemudi bahwa
pengereman otomatis sedang dioperasikan pada tali penarik.
(f) lampu gawar harus disesuaikan posisinya pada “crane” dimana hal tersebut terlihat oleh
penumpang maupun petugas di sekitar crane.
Hal tersebut banyak memberikan petunjuk kepada penumpang bahwa kondisinya telah aman
untuk mengoperasikan “keranjang pengangkut orang”.
Kurungan khusus yang dimodifikasi harus disediakan dan dapat memberikan perlindungan
kepada penumpang terhadap benturan dari benda-benda yang jatuh, serta perlindungan terhadap
miring dan putaran.

                                                8
                                                                            SNI 03-6460.3-2000


Apabila kurungan tersebut tertutup seluruhnya harus dilengkapi dengan pintu keluar; aman
terhadap bahaya terbukanya pintu, tetapi dapat dibuka dari bagian dalam kurungan.
Apabila menggunakan ruang khusus yang telah dimodifikasi, maka tali kawat harus dipasang
sedemikian rupa, sehingga bila ruang tersebut diangkat oleh batang pengangkat tali tersebut dapat
mengikutinya.
8.4.3 Kurungan kerekan. Sebagai persyaratan tambahan, kurungan harus mempunyai pintu
darurat, panel atau alat lain jika pintu masuk tidak dapat dioperasikan.

9.     Jalan Masuk Terowongan
9.1. Umum
Jalan masuk terowongan dapat berupa :
(a) terowongan sementara yang dibangun secara khusus atau bagian depan terowongan yang
digunakan sebagai jalan masuk;
(b) terowongan permanen yang digunakan sebagai jalan masuk selama konstruksi;
(c) kombinasi dari (a) dan (b).

9.2. Disain
Jika digunakan terowongan permanen, desain lining harus dianggap sebagai suatu pekerjaan
permanen. Jika terowongan sementara (butir a) dibangun menggunakan penyangga struktural
sementara, maka bangunan tersebut harus diperlakukan sebagai pekerjaan sementara
Ukuran terowongan harus cukup untuk menanggulangi situasi darurat yang mungkin terjadi.

9.3. Kemiringan
Apabila kemiringan terowongan sedemikian rupa sehingga harus menggunakan tali penarik, perlu
perhatian khusus terhadap pengangkeran alat untuk mengontrol tali dan menjamin bekerjanya
rem. Kendaraan atau lintasan harus mencakup alat seperti rem otomatis dan alat khusus untuk
mengontrol jalannya kereta, bila tali atau rangkaian putus. Pijakan kaki pada tangga dapat
ditolerir dengan kemiringan 30o. Jalan masuk terowongan lebih curam dari 30o, hanya dapat
digunakan dengan menggunakan alat khusus seperti ban berjalan.

9.4. Jarak Bebasa
Jarak bebas dan jalur jalan kaki untuk suatu jalan masuk terowongan harus sesuai dengan butir
9.3 yang berkaitan dengan pekerjaan utama.

10.     Transport.
10.1. Pengangkutan dengan Rel
10.1.1. Umum.
Keterbatasan ruang di dalam terowongan meminta tanggung jawab yang lebih besar terhadap
pengoperasian pengangkutan menggunakan rel, memerlukan kewaspadaan yang tinggi, serta
pengawasan yang ketat terhadap peraturan keamanan. Ruang yang cukup harus tersedia, terutama
pada kedua sisi jalan kereta untuk mencegah orang terjebak atau tertabrak kereta, truck atau
wagon.
Jika jarak bebas sepanjang lintasan tidak sesuai, maka terowongan harus dilengkapi dengan ceruk
pengaman pada setiap jarak 18 m dan dilengkapi dengan bunyi peringatan apabila lori atau truck
mendekatinya.




                                               9
                                                                            SNI 03-6460.3-2000


Jarak sisi antara setiap bagian kendaraan atau alat berat lain untuk membuang atau mengayun
adalah minimal 500 mm. Perlu diperhatikan adalah jarak bebas di atas kepala antara pengemudi
lokomotif dengan atap terowongan tidak kurang dari 1,1 m, apabila pengemudi duduk di atas
kursi kemudi dan tidak kurang dari 2 m di atas pijakan kaki apabila pengemudi berdiri.
Pengemudi dan penumpang harus diberi peringatan apabila akan memasuki tempat yang langit-
langitnya rendah.
10.1.2. Track
Track harus disangga dengan kuat terhadap adanya pergerakan dalam terowongan; rel harus
berupa profil yang memadai terletak pada permukaan yang telah direncanakan yang disambung
menggunakan baud atau alat penyambung lain yang kuat.
Sebagai petunjuk profil yang memadai dari rel pada landasan berjarak tidak lebih dari 900 mm,
berat rel disarankan sebesar 20 kg/m, untuk beban gandar sampai 3,5 ton, dengan suatu tambahan
untuk beban gandar yang lebih tinggi pada setiap laju penambahan 5 kg/m untuk setiap ton beban
gandar. Besar kehilangan berat yang diijinkan akibat keausan dan korosi adalah sebesar 25%.
Karena terowongan digali dengan suatu kemiringan tertentu, perhatian terhadap jalur lintasan
wagon atau lokomotif perlu dilakukan karena ruang yang terbatas. Alat pengaman, supaya laju
lokomotif dapat dihentikan/dikurangi harus dipasang pada atau melintang lintasan dimana
lintasan tersebut mendekati muka kerja atau tempat lain pada kemiringan yang menurun sebesar
1% dengan panjang yang cukup supaya gerbong atau lokomotif dapat bergerak. Alat pengatur
lintasan (track), lebih baik menggunakan tongkat (lengan) yang letaknya cukup jauh dari track
untuk mencegah pengoperasiannya dari kabin lokomotif.
Superelevasi diperlukan pada busur lintasan yang kecepatannya melebihi 10 km/jam, dan harus
diberikan secara bertahap pada kedua bagian awal dan akhir busur untuk menghindarkan puntiran
tiba-tiba yang dapat mengurangi stabilitas roda. Jarak sisi bebas dari lintasan harus ditambah di
daerah busur lintasan tersebut. Keluarnya lori dari rel adalah merupakan resiko yang biasa pada
pengangkutan dalam terowongan akibat buruknya konstruksi dan pemeliharaannya, kecepatan
yang berlebihan pada tikungan dan tempat kritis lain, kecerobohan dan beban yang berlebihan
serta halangan dan tanah buangan pada lintasan.
Hal-hal yang dimaksud di atas harus diperhatikan saat melakukan inspeksi. Sebagai tambahan,
perlindungan bagi pejalan kaki dan petugas yang sedang bekerja di dekat lintasan harus
diberikan, seperti pada orang yang bekerja pada bagan kerja yang tinggi atau pada ceruk yang
terbuat dari kayu.
Rangkaian kereta atau lori yang digerakkan oleh lokomotif tidak boleh terlalu panjang sehingga
pengemudi mengalami gangguan pandangan saat melewati lengkungan terowongan atau
rintangan lain.
10.1.3. Lokomotif.
Lokomotif biasanya menggunakan tenaga disel atau baterai yang digerakkan secara elektrik.
Lokomotif yang digunakan di dalam terowongan harus memenuhi beberapa hal sebagai berikut :
(a) rem yang memadai, siap dioperasikan oleh pengemudi pada setiap saat dan lebih baik
menggunakan rem yang bekerja secara otomatik pada kondisi darurat.
(b) lampu depan yang cukup panjang, supaya pengemudi dapat melihat setiap rintangan jika
terowongan dalam kondisi tidak baik, tetapi tidak menyilaukan orang yang ada di depan
lokomotif di dalam terowongan.
(c) perangkat klakson atau alat bunyi yang lain.
(d) kursi pengemudi diatur sedemikian rupa, sehingga dapat memberikan pandangan yang jelas
baik ke depan maupun ke belakang serta pengemudi dapat mengoperasikan lokomotif dengan
nyaman


                                               10
                                                                             SNI 03-6460.3-2000


(e) peralatan roda anti selip terutama pada kondisi basah atau melewati tanjakan.
(f) tombol untuk menghentikan tenaga jika pengemudi tidak dalam kondisi siap mengontrol.
(g) alat pemadam kebakaran dari tipe yang memadai.
(h) Terbuat dari bahan yang tidak mudah terbakar dan dengan kontainer yang di desain kuat
serta cukup ventilasinya untuk semua zat cair, khususnya akibat uap dari olie bahan bakar dan
bahan racun baterai.
Mesin disel mengkonsumsi oksigen dan gas buangnya mengandung bahan beracun, termasuk
nitrogen oksida dan karbon monoksida. Emisi gas buang lainnya tidak beracun, meskipun
kadang-kadang membuat mata pedih. Ventilasi udara harus dibuat sedemikian rupa sehingga
dapat mengurangi gas racun sampai pada kondisi yang aman. Mesin disel yang digunakan di
dalam terowongan harus dipelihara dengan baik, pengujian terhadap udara harus dilakukan
seperlunya untuk menjamin polusi udara seminimal mungkin. Penyimpanan dan pengisian bahan
bakar disel, dapat meningkatkan resiko kebakaran. Di dalam terowongan, harus di desain tempat
khusus untuk parkir lokomotif disel, tempat pengisian bahan bakar dan tempat penyimpanannya.
Jumlah penyimpanan bahan bakar harus diambil seminimum mungkin untuk penggunaan tidak
lebih dari 24 jam.
Semua konstruksi dan tempat-tempat yang didesain tersebut harus terbuat dari bahan yang tidak
mudah terbakar dengan sekat pemisah dan pintu-pintu untuk mengisolir api serta dilengkapi
dengan ventilasi yang cukup. Merokok dilarang sampai jarak 10 m dari tempat bahan bakar.
Peralatan pemadam kebakaran yang memadai harus dipasang dan dipelihara ditempat kerja.
Jalan masuk ke tempat penyimpanan bahan bakar harus berada di bawah kontrol orang yang
bertanggung jawab pada setiap saat.
Lokomotif baterai tidak mengkonsumsi oksigen dan tidak mengeluarkan asap buang. Bahaya
utama dari penggunaan baterai ini adalah keluarnya racun baterai jika terjadi kecelakaan atau saat
melepas atau mengisi baterai tersebut. Untuk itu perlu dilengkapi dengan stasiun khusus pengisi
baterai yang dilengkapi dengan ventilasi yang memadai serta lantai tahan racun dan drainasi yang
baik. Perhatian harus diberikan terhadap timbulnya bahaya kebakaran dari emisi hidrogen selama
pengisian.
Lokomotif dengan suplai tenaga listrik tidak biasa digunakan untuk pekerjaan terowongan,
karena terbatasnya ruang, kondisi yang basah dan bahaya runtunya batu. Keuntungannya adalah
interval waktu pemeliharaan yang panjang dan tidak adanya polusi. Apabila lokomotif listrik ini
digunakan, perhatian khusus harus diberikan kepada petugas yang tidak terlindung terhadap
sengatan listrik dan kabel yang dialiri listrik. Kawat-kawat listrik harus dilengkapi dengan sirkit
pengaman sehingga peralatan-peralatan yang telah terpasang tidak dapat dialiri listrik oleh kawat
yang rusak.
10.1.4. Gerbong
Gerbong untuk pengangkutan bekas galian atau pengiriman material ke muka kerja biasanya
didesain supaya mudah ditumpahkan dan apabila menggunakan sumuran sebagai jalan masuk,
gerbong dapat tersebut harus diangkat dengan crane atau alat derek lain. Alat penumpah harus
didesain supaya terkunci aman saat tidak ditumpahkan. Alat pengukur muatan untuk setiap jalan
masuk terowongan harus dipasang, sehingga jarak sisi antara muatan dengan struktur terowongan
cukup aman. Muatan pada dasar gerbong atau wagon tidak boleh melebihi alat pengukur yang
dipasang, kecuali pada muatan yang tidak biasa dan harus di bawah pengawasan petugas khusus
yang mengikutinya. Gerbong dapat juga dari jenis yang non tumpah yang dibagian bawahnya
dilengkapi dengan alat untuk mengosongkan muatan supaya dapat ditumpahkan melalui “hoper”
atau dipasang pada ban berjalan untuk penumpahannya. Semua alat harus aman terhadap operasi
pekerjaan yang membahayakan.


                                                11
                                                                             SNI 03-6460.3-2000


Untuk mengangkut segmen-segmen konstruksi dari terowongan dapat digunakan gerbong datar
yang harus dilengkapi dengan alat pengaman muatan terhadap bahaya tergelincir atau jatuhnya
muatan tersebut. Beban/muatan tidak boleh ditumpuk pada satu tempat atau satu sudut saja dan
harus ditempatkan secara merata.
Gerbong tersebut tidak boleh digunakan untuk mengangkut orang dan orang harus diangkut
menggunakan kendaraan yang dilengkapi dengan kursi pengaman dan ditarik oleh lokomotif
yang dilengkapi dengan rem otomatis yang dapat segera bekerja bila kereta terpisah. Flens atau
profil dari roda harus berbentuk kerucut dengan kemiringan 1:20.
10.1.5. Alat Peredam Tumbukan dan Alat Perangkai
Alat peredam tumbukan dan alat perangkai harus didesain sedemikian rupa, sehingga petugas
dapat menangani alat alat perangkai tanpa menimbulkan bahaya terjepitnya tangan, bahkan saat
wagon bergerak, yang juga memungkinkan petugas untuk melakukan perangkaian saat kedua alat
peredam tumbukan bersentuhan. Celah sebesar 40 mm diantara alat peredam selama penarikan
dianggap cukup; celah yang lebih besar dapat menimbulkan sentakan diantara wagon dan
terjadinya tegangan yang tidak diperlukan pada alat perangkai. Untuk itu diperlukan suatu sistem
dimana bagian-bagian komponen tidak mudah terlepas yang dapat memicu terjadinya bahaya.
Alat peredam tanpa pegas dapat digunakan untuk massa ringan seberat sekitar 1,5 – 2 ton. Untuk
massa yang lebih besar dari itu, diperlukan alat peredam tumbukan berpegas, terutama pada
rangkaian kereta yang panjang, dimana alat peredam pertamalah yang akan menerima akumulasi
regangan. Bagian sisi yang berbenturan dari setiap alat peredam harus berbentuk membulat,
karena bagian tersebut hampir tidak pernah menahan beban terpusat.
Alat perangkai mempunyai dua jenis, yaitu sistem rantai dengan pin atau sistem palang
(drawbar). Sistem rantai dan pin dapat menggunakan rantai yang kendor yang terdiri dari satu
rantai, sepasang rantai atau dua rantai dengan cincin (tiga rantai). Sistem tiga rantai memudahkan
melakukan perangkaian pada lintasan yang menikung yang tidak rata, tetapi mempunyai
kelemahan, yaitu lebih banyak mengakibatkan sentakan saat berhenti atau mulai berjalan. Rantai
dapat dipasang di bagian atas atau bawah rangka wagon. Rantai yang dipasang di bagian bawah
wagon lebih sulit dipasang, karena petugas bekerja pada bagian yang gelap. Batang besi yang
runcing dapat digunakan dengan beberapa sistem perangkaian atau sebagai alternatif dapat
dilengkapi dengan gigi perangkai yang terkendali. Apabila wagon tetap dalam kondisi terangkai,
lebih baik menggunakan batang perangkai yang halus dan polos. Di tempat yang miring perlu
ditambahkan alat pengait dan rantai pengaman pada alat perangkai utama. Sistem palang sebagai
alternatif cara penyambungan yang dapat mencegah kemungkinan terjadinya distorsi pada rangka
wagon. Palang tersebut dapat berpegas, terpusat dengan sendirinya atau poros berputar (poros
yang lateral lebih baik dibandingkan poros vertikal, meskipun ada sistem yang menggunakan
keduanya). Sistem palang dengan titik pusat yang berputar cukup baik digunakan di dalam
terowongan, karena mengurangi resiko keluarnya wagon dari rel. Pada tempat kerja yang miring,
sistem palang dalam satu satuan adalah cukup baik untuk dipilih. Untuk kerata berkecepatan
tinggi, sebaiknya menggunakan alat perangkai otomatis.
Sistem palang dan alat perangkai akan menahan beban benturan yang tinggi, oleh karena itu
harus terbuat dari material yang memadai; besi tempa sebaiknya tidak digunakan. Baja tempa
yang memenuhi syarat mungkin dapat digunakan dengan campuran 1,5% mangan. Tidak seperti
baja yang mengandung mangan, bila menggunakan baja tempa, baja tersebut harus mengalami
proses pemanasan dan pendinginan secara berkala terlebih dulu. Untuk tempat pijakan dan
bekerja pada tempat yang miring yang mengandung resiko terputusnya rangkaian, sistem palang
harus terbuat dari besi mangan. Gigi penarik dan alat peredam tumbukan harus didesaian
sedemikian rupa untuk menghindari terkuncinya alat peredam dan gaya lateral yang tak layak
atau terjadinya arus balik.

                                               12
                                                                            SNI 03-6460.3-2000


10.2. Alat Angkut Lain
10.2.1. Umum
Alat angkut lain dapat berupa alat tambahan pada alat angkut dengan rel atau sebagai alternatif
lain, seperti alat angkut darat (jalan). Ban berjalan (konveyor) adalah alat pembuang yang
prinsipnya digunakan di dalam terowongan utama atau hanya sebagai tambahan pada tempat
tertentu.
10.2.2. Ban Berjalan (Konveyor)
Konveyor yang digunakan di dalam ruang terbatas seperti pada terowongan dapat berpotensi
membahayakan manusia yang bekerja. Semua rantai; jentera gigi, dan titik jepitan harus tertutup
seluruhnya. Titik jepitan antara ban berjalan dan drum adalah merupakan faktor penting dan
harus dipasang pada tempat-tempat pemuatan, pencurahan dan alat penarik yang dipasang.
Pemeliharaan seperti pelumasan, penyetelan posisi ban dan lain-lain pekerjaan perbaikan tidak
boleh dilakukan saat konveyor bergerak. Tombol isolator digunakan pada keadaan tertentu.
Saklar pemutus darurat harus dipasang pada tempat kerja, pada interval yang memadai
disepanjang ban konveyor. Semua saklar tersebut harus diberi tanda yang jelas. Kabel saklar
pemutus yang menerus adalah merupakan alternatif yang lebih baik. Penyalaan ulang konveyor
harus dilakukan dari satu posisi, biasanya pada tempat curahan yang dikontrol oleh seorang
petugas. Sebelum memulai penyalaan, gawar harus dibunyikan dengan interval tertentu untuk
keamanan.
Penggunaan yang aman dari konveyor sangat tergantung dari inspeksi yang benar (minimal sekali
setiap giliran kerja) dan pemeliharaannya. Bagian-bagian yang usang dan rusak harus segera
diganti. Kotoran-kotoran dan tanah bekas buangan yang menempel pada ban dan batang pemutar
harus diperiksa dan dibersihkan karena hal tersebut dapat menimbulkan panas yang berlebihan
pada motor. Tindakan pencegah kebakaran harus dilakukan, terutama pada semua lokasi motor.
Konveyor memerlukan sisi yang tinggi untuk mencegah kotoran melimpas kedalamnya. Bongkah
besar dan material galian harus dipecah di tempat galian sebelum dimuat ke dalam konveyor. Bila
pemecahan tersebut tidak dilakukan, hal tersebut kecuali membuat pekerjaan tidak rapi, bongkah
tersebut dapat membentur atau melukai petugas serta dapat mengakibatkan rusaknya mesin.
Konveyor yang menanjak yang tidak panjang, harus dilengkapi dengan alat pencegah supaya ban
tidak berbalik arah menuju muka kerja, saat terjadi matinya tenaga listrik. Operator yang bekerja
di dekat konveyor harus menggunakan pakaian yang pas dan tidak terlalu longgar serta pelindung
kepala, sehingga resiko tersangkutnya pakaian dan rambut dapat dicegah seminimal mungkin.
Orang tidak diperbolehkan naik konveyor. Pada saat menangani tanah buangan yang kering, debu
dapat menimbulkan masalah khususnya pada tempat pencurahan. Penyiraman air dapat dilakukan
meskipun akan menimbulkan kesulitan dalam menangani material yang basah. Pemasangan lokal
yang dikombinasikan dengan penghisapan udara akan memberikan hasil yang lebih baik.
10.2.3. Pemompaan Adonan
Untuk memompa galian tanah keluar dari terowongan, dapat dilakukan menggunakan cairan,
biasanya air, memasang mesin pemecah dan pencampur serta instalasi pompa dan pemipaannya
sampai ke permukaan. Perbandingan antara volume adonan (air + tanah) dengan bahan padat
adalah 12:1. Bagian-bagian yang bergerak pada mesin pemecah atau sistem pompa harus dijaga
dan dilindungi. Tekanan pemompaan yang digunakan adalah cukup tinggi, untuk itu perlu
perhatian untuk melindungi jaringan pipa terhadap kerusakan terutama pada sambungan-
sambungannya. Jaringan pipa harus ditopang dengan kuat pada interval yang teratur, terutama
pada bengkokan.




                                               13
                                                                            SNI 03-6460.3-2000


10.2.4. Kendaraan Jalan
Pada terowongan yang lebih besar, truk diesel dapat digunakan untuk transportasi material
bahan. Jarak sisi yang lebih besar diperlukan antara truk dengan orang, peralatan dan dinding
terowongan dibandingkan dengan kendaraan rel. Jalan harus ditentukan jelas dengan garis rambu.
Seperti pada lokomotif disel, perhatian khusus harus diberikan terhadap pengurangan gas buang
dan sistem ventilasi. Truk tidak boleh digunakan pada kemiringan lebih curam dari 1:10, kecuali
pada kondisi khusus. Pada saat muatan dicurahkan, truk harus berada pada posisi yang datar dan
pengemudi keluar dari kabin.
Setiap truk harus dilengkapi dengan peralatan, sebagai berikut :
(a) alat gawar yang dapat berbunyi;
(b) dua buah lampu depan warna putih yang mempunyai jarak pandang 60 m;
(c) dua lampu belakang berwarna merah yang dapat terlihat pada jarak 60 m;
(d) sistem pengereman yang cukup handal, terutama pada tanjakan yang dapat dengan mudah
    dioperasikan oleh pengemudi;
(e) rem tangan yang mampu menahan kendaraan yang bermuatan penuh pada tanjakan;
(f) penahan angin yang harus dilengkapi dengan alat pembersih;
Setiap truk harus menjadi tanggung jawab pengemudi yang kompeten, yaitu seseorang yang
mempunyai SIM kendaraan berat yang terkait. Pengemudi harus memeriksa muatan dan jika
perlu meratakannya sebelum meninggalkan tempat pemuatan.
Kendaraan harus diparkir dalam kondisi mesin dimatikan pada posisi gigi rendah atau gigi
mundur. Apabila digunakan lebih dari satu truk pada jalur jalan satu arah harus dilengkapi
dengan tanda-tanda untuk mengaturnya, supaya efisien. Hal tersebut dapat dilakukan dengan
menggunakan telepon atau radio, tergantung dari kompleksnya sistem jaringan jalan tersebut.

10.3. Jalan Orang
Sebagai jalan masuk orang umumnya dilengkapi dengan lajur pejalan kaki, meskipun untuk
terowongan yang panjang; kendaraan pengangkut yang ditarik lokomotif dapat digunakan untuk
mengangkut orang. Pada umumnya, lajur lintasan tersebut mempunyai ukuran minimum dengan
tinggi 1.800 mm dan lebar 750 mm dengan lajur jalan minimal selebar 400 mm. Bila lajur
tersebut berdekatan dengan lajur rel, harus diperhatikan keselamatan orang yang sedang
menggunakannya saat kereta melintas, jika tidak, harus dicegah bertemunya orang dengan kereta
yang lewat. Jika ruangannya memungkinkan jarak lintasan kereta dan orang harus dilengkapi
dengan ruang tambahan akibat berayunnya kereta serta kemungkinan keluarnya kereta dari rel.
Bila tidak mungkin membuat ruangan tambahan yang menerus, tempat khusus harus disediakan
pada interval tertentu tergantung dari tikungan, kemiringan , kecepatan lalu lintas dan jarak
pandang. Tempat pelindung tersebut meliputi hal sebagai berikut :
(a) Ceruk harus dibuat di luar garis lintasan;
(b) Penghalang yang kuat antara posisi yang aman dengan rute pengangkutan;
(c) Pada tingkat yang aman dari setiap bahaya.
Permukaan jalan pejalan kaki harus rata dan cukup kasar untuk diinjak telapak kaki. Lintasan
jalan yang terletak di atas 2 m atau lebih dari muka tanah harus diberi pegangan tangan dan papan
pijak. Semua jalan tangga harus dilengkapi dengan pegangan tangan. Air tidak boleh tergenang di
setiap tempat pada lintasan jalan atau diatasnya. Setiap bahaya akibat limpasnya tanah bekas
galian atau kotoran lain pada lintasan jalan harus segera dibersihkan.
Lampu penerangan harus diberikan sesuai persyaratan. Lampu penerangan disepanjang lintasan
jalan ini tidak hanya penting untuk pengguna jalan, tetapi juga supaya pengemudi kendaraan
pengangkut dapat melihat dengan jelas.
Lampu penerangan harus ditempatkan sedemikian rupa sehingga tidak mengganggu kendaraan
yang lewat.
                                               14
                                                                          SNI 03-6460.3-2000


10.4. Penumpahan dan Pembuangan
Lokasi dari setiap penumpahan dan pembuangan di tempat harus dipilih dengan hati-hati. Lokasi
tersebut seharusnya tidak ditempatkan sedemikian rupa, sehingga tidak membebani tempat
penggalian yang akan datang, kecuali tanah atau batuan di tempat tersebut dapat mendukung
beban tambahan tersebut.
Bahaya akibat penyimpanan adonan yang dipompa dapat terjadi disini. Perlindungan banjir pada
setiap sumuran harus dibuat di atas elevasi penampung adonan.
Di daerah tempat curahan, elevasi yang memadai dan jalan yang terpelihara dan dipadatkan
dengan baik (cukup keras) harus tetap dijaga, supaya kendaraan pengangkut dapat beroperasi
dengan lancar. Bila penumpahan dilakukan pada daerah yang menurun, kendaraan harus diberi
ganjal atau penghalang yang kuat supaya kendaraan tidak bergerak turun.
Bila penumpahan dilakukan di luar daerah pekerjaan, kendaraan pengangkut harus disesuaikan
dengan persyaratan lalu lintas jalan. Kendaraan perlu dilengkapi dengan pembersih roda sebelum
kendaraan menuju jalan umum.

PEMBANGKIT DAN PERALATAN

11.      Instalasi Listrik
11.1. Sambungan Suplei Utama
Pada pekerjaan penerowongan, tambahan pelindung terhadap resiko tersengatnya listrik,
kebakaran dan peledakan, keamanan orang dan pekerja menjadi sangat penting, tergantung dari
kesinambungan pasokan tenaga listrik, terutama yang berkaitan dengan penerangan, pemompaan,
ventilasi dan udara bertekanan.
Pentingnya dari setiap pekerjaan tersebut dan waktu untuk memutuskan pasokan tergantung dari
kondisi terowongan dan metode pelaksanaannya. Pada pengaturan pasokan tenaga listrik yang
utama, harus dipelajari secara cermat dan didiskusikan dengan instansi pemasok. Pembangkit
listrik cadangan perlu disiapkan yang dihubungkan dengan penyambung utama kedua. Tombol
pemindah dan rangkaian listrik harus dirancang sedemikian rupa, sehingga rangkaian yang
penting tidak rusak, apabila rangkaian yang lain putus atau rusak. Semua rangkaian harus diberi
isolasi, sehingga pemasangan, pemeliharaan dan perbaikannya dapat dilakukan dengan aman.

11.2. Pemasangan di lapangan
11.2.1. Umum
Pemasangan di lapangan dan sistem distribusinya di atur sesuai dengan peraturan yang
dikeluarkan oleh instansi terkait.
Untuk instalasi bawah tanah, tambahan untuk keamanan yang disesuaikan dengan kondisi
disekelilingnya meliputi hal-hal sebagai berikut :
(a) tegangan tinggi diperlukan untuk distribusi tenaga yang ekonomis;
(b) karena ruangan di dalam terowongan terbatas, instalasinya sedapat mungkin harus kompak,
    oleh karena itu mudah rusak;
(c) kondisi basah dengan kelembaban udara yang tinggi harus diperhitungkan;
(d) pada peristiwa kebakaran, bahaya asap dapat meningkat dengan cepat;
(e) adanya gas yang dapat menimbulkan kebakaran dan ledakan;
(f) perlunya kesinambungan pasokan ke muka kerja;




                                              15
                                                                           SNI 03-6460.3-2000


11.2.2. Tegangan
Pasokan tegangan tinggi di atas 650 V dan tegangan nominal yang direkomendasikan adalah :
3.3.1.1 6.6 11.00 k semuanya 3 phasa 50 HZ. Pasokan tegangan rendah sampai sedang adalah
antara 50 V sampai 650 V dan tegangan normal yang direkomendasikan adalah : 550 V atau 415
V, 3 phasa 50 HZ (550 V banyak digunakan untuk peralatan tambang), 110 V dihubungkan ke
bumi (CTE), phase tunggal (55 - 0 - 55) atau 3 phase dan netral (110/65) 50 HZ. Untuk lampu
penerangan dan peralatan tangan (portable), tegangan ke tanah tidak lebih dari 55 V. Peralatan
transportasi yang lebih berat memerlukan 3 phase yang harus dipasok pada tegangan 110 V.
Dengan pemeliharaan pengawasan yaang benar, sistem 110 VCTE dengan proteksi bocoran ke
tanah (ELP) dapat dibuat aman di dalam semua kondisi, yang paling membahayakan sistem
tegangan rendah diperlukan dimana tegangan ke tanah atau tegangan diantara konduktor tidak
lebih dari 50 V. Tegangan sebesar 240 V phase tunggal tidak boleh dipakai, kecuali untuk
pasokan tenaga ke peralatan tetap yang memakai kabel pelindung. Peralatan harus dipilih
sehubungan dengan tingkat kegagalan rangkaian dan dalam semua kasus masih mampu bartahan
selama 3 detik. Tingkat kegagalan berikut, biasa terjadi pada perlengkapan industri, tetapi jika
rangkaian di desain untuk menggunakan peralatan dari jenis pelindung ledakan, berbagai tingkat
tegangan yang penting.
11 kV                  250 MVA
6.6 kV                 150 MVA
3.3 kV                 50 MVA
1.1 kV                 50 MVA
415 kV                 30 MVA
Penetapan dan pemantauan mengenai prosedur izin kerja adalah merupakan bagian penting dari
pedoman keamanan petugas yang bekerja pada tegangan tinggi.
11.2.3. Hubungan ke Tanah (Arde)
Hubungan ke dalam tanah atau arde dan pengikatan adalah penting untuk semua instalasi dan
peralatan listrik, untuk mencegah kemungkinan rusak akibat naiknya tegangan dan menjamin
bahwa kegagalan dengan cepat diatasi oleh pelindung rangkaian yang telah terpasang.
Akibat dari berbagai macam sekering dan pemasangan alat pelindung yang berkaitan dengan
rekomendasi dari pabrik maka perlu dipertimbangkan rekomendasi dan peraturan dari instansi
terkait.
Bila gardu pembangkit harus dilindungi terhadap listrik statis atau petir dengan menggunakan
sistem yang dihubungkan ke tanah, hubungan ke tanah tersebut harus dilakukan pada beberapa
tempat untuk menjamin bahwa semua bagian logam dari gardu pembangkit mempunyai potensi
yang sama :
(a) hubungan yang solid untuk mengurangi bahaya sengatan listrik dengan mencegah naiknya
tegangan, atau;
(b) melalui alat pembatas yang memadai untuk mengurangi kemungkinan pencegahan detenator
yang sensitif dan pengaruh dari pancaran bunga api.
11.2.4. Perlindungan Rangkaian Akibat Kerusakan Listrik
Sebagai tambahan persyaratan penggunaan peralatan pelindung, adalah seperti tabel di bawah.
Residual Current Device (RCV) tidak membatasi masuknya arus yang salah, tetapi memutuskan
hubungan dengan rangkaian yang gagal, bila arus ke bumi melebihi nilai RCD yang sedang
bekerja.




                                              16
                                                                         SNI 03-6460.3-2000


                                              Tabel 1
                                      Perlindungan ke Tanah

              Tegangan rangkaian                  Perlindungan bocoran ke tanah

        Tinggi (650 V dan lebih)        Tidak lebih sensitif dari relay bumi pada 5
                                        Ampere atau 15% dari arus maksimum
                                        kerusakannya, mana yang terjadi lebih
                                        dahulu
                                        Residual Current Device (RCD)
        Rendah dan menengah (lebih dari Tidak lebih sensitif dari 750 m A dalam
        110 V)                          sirkuit.
                                        Residual Current Device (RCD)
        Rendah (110 V)                  Peralatan portabel : 250 m.A
                                        Penerangan tetap     : 150 m.A
                                        Penerangan portabel : 30 m.A
                                        Peralatan tangan      : 30 m.A


Sensitifitas pada Tabel 1 dianggap kondisi normal yang dapat dicapai, tetapi penyetelan lebih
sensistif dapat dilakukan bila memungkinkan. Pada rangkaian tegangan rendah dan menengah,
perbedaannya adalah penting. Bila RCD dipasang, perbedaan yang berkaitan dengan hubungan
ke tanah dapat ditingkatkan dengan memilih waktu operasi dari alat ELP harus dipasang sebagai
berikut :
(a) pada rangkaian pemasukan dari unit distribusi utama, hanya bila semua tempat pengeluaran
pasokan, dipasang melalui kabel-kabel tetap;
(b) pada rangkaian pemasokan dari unit distribusi utama dan juga pada tempat pengeluaran yang
memasok peralatan mobil;
(c) pada bagian sekunder dari transformator step-down yang meliputi tidak lebih dari enam
rangkaian pengeluaran;
(d) pada semua tempat pengeluaran pasokan ke rangkaian lampu penerangan.
Apabila transformator step-down dikendalikan dari unit distribusi utama, semua rangkaian
sekunder 110 V setiap kutubnya harus dilindungi dengan sekering atau alat penutup rangkaian.
11.2.5. Perlindungan terhadap Air dan Debu
Semua bahan yang digunakan untuk pembuatan tombol pemisah, gigi pengontrol, motor dan
peralatan lain yang digunakan di dalam terowongan harus sedemikian rupa sehingga kinerja dan
keamanannya tidak dipengaruhi oleh lingkungan kerjanya. Terutama di tempat yang mengandung
garam, logam alluminium tidak boleh digunakan, kecuali dilindungi terhadap korosi.
Untuk peralatan listrik yang digunakan di dalam terowongan yang digali tanpa menggunakan
peledakan, termasuk udara bertekanan, peralatan harus dibungkus sedemikian rupa untuk
melindungi terhadap debu dan air.
11.2.6. Kondisi Mudah Terbakar dan Mudah Meledak
Pada terowongan yang telah atau sedang dikerjakan melalui tanah yang banyak mengandung gas
metan atau gas lain yang mudah terbakar, semua peralatan listrik yang digunakan dalam
terowongan harus dibuat, dipasang dan dilindungi terhadap bahaya ledakan. Peralatan listrik
harus diisolasi untuk melindunginya terhadap gas yang mudah terbakar.



                                             17
                                                                                SNI 03-6460.3-2000


Pada ventilasi yang merupakan cara penting untuk melindungi terhadap ledakan, harus ada yang
mempersambungkan antara kipas ventilasi dengan peralatan lain, sehingga tenaga listrik tidak
dapat dihidupkan sampai kipas ventilasi bekerja secukupnya untuk mengurangi konsentrasi gas
yang mudah terbakar sampai pada tingkat yang aman. Kegagalan kipas akan memutuskan
hubungan ke peralatan secara otomatis. Pengaktipan alat waktu (timer) untuk pemberian tenaga
pada koil pengkontak harus diatur melalui aliran udara di dalam pipa udara dan bukan dari alat
pemasukan dari starter motor kipas. Motor kipas ventilasi harus dari jenis yang tahan ledakan.
Pasokan listrik kepada semua peralatan, kecuali yang tahan ledakan, harus dihentikan, jika
ditemui gas metan lebih dari 1,25% V/V.
11.2.7. Penerangan yang Tahan Api
Penerangan yang tahan api tidak boleh digunakan pada kondisi ruangan yang mudah meledak di
dalam ruang kerja yang bertekanan udara. Hal tersebut harus dikonsultasikan dengan pabrik
pembuatanya.

11.3. Kabel
11.3.1. Pemilihan Kabel
Kabel harus dipilih setelah mempertimbangkan dengan matang mengenai kondisi dan
spesifikasinya. Khususnya kabel yang terbungkus alluminium memerlukan perlindungan yang
tinggi terhadap korosi di dalam kondisi lembab dan kemungkinan adanya salinitas di dalam
terowongan.
Jika kabel tegangan tinggi digunakan di dalam terowongan, diperlukan insulasi dan perlindungan
mekanis dengan standar yang tinggi.
Jenis kabel yang memadai meliputi :
- Cross Linked Polyethylene                   (XLPE)
- Paper insulated lead covered                (PILC)
- Ethylene propylene rubber                   (EPR)
Kabel suplai dengan tegangan 3,3 kV atau dibawahnya dapat berupa PVC, SWA, PVC yang
terdiri 3 (tiga) inti dengan pelapis yang digunakan sebagai hubungan balik ke tanah pada kondisi
dimana kabel direntangkan secara menerus, tetapi begitu direntangkan, tidak terjadi pergerakan
yang menerus setelah pemasangan atau bila suplai dihubungkan ke suatu titik tetap.
11.3.2. Resiko Kebakaran
Pada peristiwa kebakaran, insulasi kabel dapat menyala kemudian menyebarkan api dan akan
mengeluarkan asap banyak. Untuk itu lebih baik menggunakan kabel yang tidak mudah terbakar
atau yang tidak mengandung racun dan mengeluarkan asap yang sedikit. Kelompok kabel khusus
yang mudah rusak pada sumuran tegak harus dicatat dan ditandai; pemisahan rangkaian yang
penting disarankan supaya dilakukan untuk mengurangi resiko dan akibat dari penyebaran api.
Insulasi yang rusak dapat menimbulkan percikan atau bunga api yang dapat mengakibatkan
kebakaran dan bahaya tersengat listrik. Rangkaian yang mengalami beban lebih atau
penyambungan yang buruk dapat menyebabkan timbulnya panas yang dapat merusak insulasi dan
akhirnya mengakibatkan terputusnya aliran.
11.3.3. Pemasangan Kabel
Semua kabel harus disimpan dan dililitkan pada drum atau pada koil, bila drum sulit diperoleh.
Kabel tersebut harus bebas dari puntiran. Bila aliran listrik melalui kabel pada koil, perlu hati-hati
terhadap pengaruh panas.




                                                 18
                                                                           SNI 03-6460.3-2000


Kabel di dalam terowongan harus dilindungi terhadap benturan, api dan air. Kabel-kabel tersebut,
harus dipasang di atas jalan lalu lintas dan harus ditopang kuat dengan memadai dan sebaiknya
mudah terlihat. Saat dilakukan pekerjaan las atau pembakaran didekatnya, kabel-kabel tersebut
harus dilindungi dengan saringan pengaman.
Apabila memungkinkan, kabel tidak boleh terendam air, kabel yang memasuki ruang atau tempat
tertutup lain harus dilindungi terhadap resapan air.
11.3.4. Sambungan
Panjang kabel diantara sambungan-sambungan, kalau memungkinkan dibuat semaksimal
mungkin. Pertemuan kabel yang bertegangan 11.000 V harus terbuat dari kompon atau resin
dingin, sebagai alternatif dapat menggunakan tabung penyambung yang diperkuat dengan baut.
Penyambung kabel untuk 6.600 V, 3.300 V dan 1.100 V harus terbuat dari tabung yang diperkuat
dengan baut.
Pada tempat yang mudah terbakar, semua alat penyambung harus terbuat dari jenis tahan ledakan.
Kabel jenis PVC.SWA.PVC 3-inti harus mempunyai konektor 3-pin. Kabel jenis 321 dan 331
harus mempunyai konektor 3-pin yang dilengkapi dengan arde (kawat hubung ke tanah). Bila
digunakan jenis kabel multi-inti yang tidak lentur, hubungan ke bumi harus dilakukan melalui
pelindung lapis baja (armour).
Pengujian kontinyuitas ke bumi harus dilakukan secara berkala terhadap semua kabel dan
dilakukan juga segera setiap penggantian, penambahan panjang dan kabel yang rusak. Hubungan
ke bumi harus dilakukan melalui tabung penyambung yang diperkuat baut dengan menggunakan
suatu alat pengikat ke tanah, misalnya di-klem-kan bagian pelapis pada setiap sisi tabung
penyambung.

11.4. Transformator dan Tombol Pemindah
11.4.1. Transformator Jenis Standar
Perkembangan penggunaan pembangkit pada konstruksi terowongan tergantung pada pasokan
daya listrik melalui transformator yang ditempatkan sedekat mungkin ke pembangkit serta
mempertimbangkan jenis yang aman pada rentang standar yang dikehendaki. Kondisi
pemasangan konstruksi terowongan yang bersifat sementara dan ruangan yang sangat terbatas di
dalam terowongan harus diperhatikan.
Di bawah adalah 4 (empat) pokok penempatan transformator, yaitu :
a) cabang-cabang pada permukaan;
b) cabang-cabang tetap di dalam terowongan, biasanya dikendalikan dari tempat bekerja;
c) pemasangan sementara untuk menyetel mesin mobil;
d) transformator yang dipasang atau merupakan bagian integral dari suatu mesin.
Jenis transformator kering yang berpendingin udara (A/N) adalah jenis yang paling cocok untuk
semua cabang di dalam terowongan, terutama pada daerah kerja. Insulasi minyak tahan api lebih
baik digunakan pada situasi dimana dampak kebakaran akan menimbulkan bahaya yang serius.
Cara pemisahan sisi utama dari setiap utama dari setiap unit, sebaiknya dilakukan dengan tombol
pemindah, pemecah udara, vakum atau jenis yang diisi gas.
Transformator menggunakan minyak dingin (O/N) hanya digunakan di dalam cabang tetap yang
dikendalikan dari tempat kerja dan harus ditempatkan dalam suatu tempat yang mempunyai
kapasitas cukup untuk menahan semua bahan pendingin pada saat terjadi kebocoran. Penggunaan
transformator yang diisi askarel (PCB) tidak dianjurkan, karena kemungkinan pengaruh dari
bocornya bahan pendingin.




                                              19
                                                                          SNI 03-6460.3-2000


Dalam mendesain skema distribusi, pengelompokan transformator tegangan tinggi/tegangan
rendah harus dipertimbangkan dengan teliti terhadap hal-hal sebagai berikut :
1) memastikan bahwa sistem telah dilengkapi dengan arde dibeberapa tempat yang benar untuk
mencegah tegangan pada setiap bagian meningkat sampai tingkat yang membahayakan.
2) mencegah sirkulasi arus;
3) memberi tanda “bintang” pada beban terakhir dari sistem;
4) memastikan operasi paralel yang aman;
Setiap handel pengubah selektor yang terletak di bagian luar harus dalam kondisi tergembok
dengan aman.
11.4.2. Tempat Kedudukan Transformator
Transformator harus ditempatkan sedemikian rupa, sehingga resiko kerusakan dapat dibuat
seminimal mungkin dan diberi perlindungan yang memadai dari objek bergerak untuk keamanan.
Jalan masuk harus dibuat sedemikian rupa, sehingga inspeksi, perawatan dan keadaan darurat
dapat dilakukan dengan baik.
11.4.3. Tombol Pemindah
Tombol pemindah harus dipasang pada sistem untuk mengisolasi dan melindungi kabel,
transformator dan unit distribusi lainnya. Semua kabel harus memenuhi standar dan sesuai
dengan sistem tegangan dan beban rangkaian serta harus dilindungi terhadap bahaya yang
diperkirakan terjadi, tergantung dari situasinya, yang meliputi hal-hal sebagai berikut :
a) kesalahan arus;
b) masuknya air dan debu;
c) adanya gas metan dan gas lainnya;
d) kerusakan akibat benturan mesin dan kendaraan;
e) kerusakan akibat peledakan.
Penggunaan tombol berisi minyak tidak dianjurkan, karena bahaya api; akan lebih baik
menggunakan pemutus udara, penghisap udara atau tombol yang diisi gas.

11.5. Outlet
Penyambung tegangan tinggi dan sambungan berbentuk T harus memenuhi syarat dan harus dari
jenis yang dibaut. Soket outlet tegangan rendah juga harus memenuhi syarat. Operasi pada
tegangan rendah yang lebih besar dari 110 V harus dilengkapi dengan suatu alat listrik atau
mekanis untuk mencegah putusnya aliran; rangkaian pengukur harus dilengkapi dengan ELP.

11.6. Pemasangan Lampu
11.6.1. Umum
Pada umumnya, penerangan yang digunakan saat pelaksanaan terowongan menggunakan lampu
listrik. Bahaya yang harus dihindari adalah sengatan listrik, terbakar atau kebakaran akibat
percikan api dan akibat kondisi yang mudah menyala atau ledakan.
11.6.2. Tegangan
Rangkaian lampu penerangan harus terpisah dari rangkaian lain harus sesuai dengan butir 11.2,
tegangan tidak boleh melebihi 55 V yang dihubungkan ke bumi (arde), kecuali bila pasokan
dilakukan kesatu tempat yang tetap dan bila fitting telah terpasang dengan kuat pada posisinya.
Pada lokasi yang terbatas seperti terowongan kecil yang dilaksanakan menggunakan alat bor
dengan diameter lubang kurang dari 1,5 m, dianjurkan untuk menggunakan penerangan
sementara yang dipasok dengan sistem tegangan tidak melebihi 60 Vac dengan tegangan
maksimum tidak melebihi 25 Vac.



                                              20
                                                                           SNI 03-6460.3-2000


Pada kasus dimana tegangan turun pada 50 Vac akan menimbulkan masalah pada terowongan
yang panjang. Kehandalan penerangan 25.0.25 V yang dipasok dari transformator yang dipasang
di lapangan 55.0.55 V / 25.0.25 harus dipelajari dan dikembangkan sendiri oleh pemakai. Ruang
yang terbatas dari penempatan rangkaiannya memerlukan perencanaan yang teliti, seperti halnya
lingkungan yang terbatas yang dapat meningkatkan resiko akibat kontak dengan konduktor
tegangan tinggi, karena kurang hati-hati.
Pada semua lokasi yang terbatas atau situasi lain di bawah tanah, dimana pemasangan yang baik,
kemampuan cadangan dan kelengkapan darurat adalah merupakan hal yang kritis. Penggunaan
topi berlampu yang dijalankan baterai, harus dipertimbangkan saat merencanakan persyaratan
pemasangan.
11.6.3. Jenis Fitting
Penerangan harus mempunyai tingkat perlindungan yang baik; bila diperlukan, dapat
menggunakan lampu penerangan yang tahan air, tahan api dan tahan debu dan harus sesuai
dengan butir 11.2.5. Lampu penerangan yang berhubungan dengan suatu transformator step-up
dapat digunakan, bila jalan masuk ke fitting dilakukan oleh petugas yang berwenang. Untuk
penerangan jalan masuk, dapat digunakan fitting terbungkus karet dengan lampu pijar yang
dilengkapi dengan pegangan lampu yang terbungkus dengan bahan insulasi dan dibungkus
permanen dengan suatu bahan yang mempunyai mutu setara dengan pembungkus kabel.
11.6.4. Perlindungan Mekanis
Perlindungan mekanis dari peralatan dan fitting lampu penerangan terhadap kerusakan akibat
benturan pada situasi yang kurang menguntungkan dapat dilakukan dengan menggunakan kawat
pengaman atau alat lain. Kabel-kabel harus dilindungi dengan tempat dudukan yang baik dan
dilengkapi dengan saringan, penghalang atau pipa karena pentingnya penerowongan tersebut
pada kondisi darurat. Kabel berlapis bahan pelindung dapat digunakan di daerah yang rawan dan
mempunyai resiko tinggi.
11.6.5. Bahan Peledak
Pada penggunaan bahan peledak, bahaya yang mungkin terjadi adalah saat pengapian awal dari
detonator listrik selama pengisian dan penyambungannya. Sebelum detonator dan bahan peledak
diletakkan pada muka kerja, semua penerangan dan rangkaiannya harus ditarik pada jarak yang
aman dari muka kerja serta harus dimatikan atau diisolir. Jarak aman tergantung dari lingkungan
sekitar, termasuk peralatan bor dan peralatan lainnya serta hambatan lain dimuka kerja.
Pada situasi yang dapat menimbulkan adanya gas yang mudah meledak, perhatian khusus
diperlukan berkenaan dengan cara pemasangan dan pemberian arde peralatan listrik; untuk itu
diperlukan saran dari tenaga ahli.

11.7. Motor Listrik
11.7.1. Jenis
Pada umumnya, motor listrik untuk mesin penerowongan harus sesuai untuk pasokan tegangan
415 V - 3 fase, 50 Hz. Sistem arde harus sesuai dengan butir 11.2.3 dan 11.2.4. Jenis motor yang
didinginkan oleh fan yang tertutup seluruhnya biasanya digunakan. Jenis motor yang berventilasi
terbuka tidak boleh digunakan.
11.7.2. Kontrol dan Perlindungan Motor
Motor harus dilengkapi dengan perlindungan terhadap arus lebih berfase tunggal. Pada motor
dengan starter tegangan tinggi harus dilengkapi dengan suatu perlindungan kesalahan arde yang
dapat bekerja dengan segera. Perlindungan terhadap hubungan pendek dapat dilakukan dengan
menggunakan sekering yang dapat memutuskan atau menghentikan kecepatan motor yang tinggi
atau alat pemutus rangkaian lainnya.


                                              21
                                                                           SNI 03-6460.3-2000


Sekering yang rusak yang kawatnya diganti tidak boleh digunakan lagi. Suatu isolator yang
merupakan bagian dari starter yang mampu memutuskan arus motor yang terhambat, harus
dipasang pada posisi yang mudah dijangkau oleh operator. Bila digunakan yang ada
hubungannya dengan starter, alat pengaman harus dipasang untuk mencegah akses ke bagian
yang beraliran listrik, tetapi harus dibuat kelengkapan supaya mampu mengontrol rangkaian yang
diuji dengan isolator pada posisi aliran dimatikan. Rangkaian kontrol motor harus dioperasikan
pada tegangan serendah mungkin, tetapi rangkaian tidak boleh dipasok dari sistem CTE (lihat
butir 11.2.2).
11.7.3. Alat Pemberhentian Darurat
Peralatan mesin harus dilengkapi dengan alat kontrol pemberhentian darurat yang dapat
dioperasikan dengan mudah digunakan oleh operator atau petugas lainnya.

12.     Perlengkapan Lain
12.1. Umum
Selain alat pelindung, alat pendiri segmen dan mesin penggali, ada beberapa peralatan lain yang
berkaitan dengan konstruksi terowongan. Namun, bila digunakan perlu perhatian khusus terhadap
keamanan, karena keterbatasan ruangan akan meningkatkan bahaya dalam pengoperasiannya.
Tindakan pencegahan yang tepat dalam pengoperasiannya harus dipelajari dengan cermat. Hal
tersebut tidak diuraikan secara rinci disini, tetapi aspek keamanan khususnya terhadap
penerowongan diuraikan disini. Penggunaan peralatan las dari pembakar di dalam terowongan
harus dibatasi seminimal mungkin. Silinder dan lain-lain hanya diangkut menggunakan trolley
yang di desain untuk itu.

12.2. Alat Pneumatis
Alat-alat pneumatis sering digunakan untuk bekerja di dekat muka kerja, yaitu sekop, pemecah
dan bor batuan. Slang pemasok, terutama slang fleksibel dapat menimbulkan sumber bahaya dan
tindakan pencegahan harus diambil untuk memastikan bahwa semua peralatan telah dilindungi
dengan aman. Rantai pengaman harus dipasang pada semua slang yang mempunyai diameter di
atas 20 mm. Slang berdiameter 50 mm atau lebih harus dilengkapi dengan kawet pengaman pada
setiap sambungannya.
Jenis peralatan pneumatis ini sering menimbulkan tingkat kebisingan yang tinggi dan dapat
menghasilkan debu yang banyak dan mengganggu. Oleh karena itu peralatan harus dilengkapi
dengan alat peredam kebisingan dan penahan debu.
Apabila terjadi bahaya ledakan, pencegahan khusus terhadap timbulnya bunga api perlu
dilakukan.

12.3. Mesin Hidraulis
Minyak hidraulis yang mempunyai titik nyala yang melebihi temperatur tempat kerja tidak boleh
digunakan di dalam terowongan. Bila memungkinkan, lebih baik menggunakan minyak yang
encer, terutama di dalam tempat kerja yang bertekanan udara.
Panas yang berlebihan harus dikeluarkan dengan menggunakan ventilasi ekstrak atau alat kontrol
lain. Hanya slang dan penyambung bertekanan tinggi boleh digunakan dan slang harus dilindungi
dengan benar.
Slang hidraulis pada temperatur di atas 70oC harus dilindungi dengan insulasi atau alat saringan
lain, supaya tidak terjadi kontak langsung dengan orang.




                                              22
                                                                          SNI 03-6460.3-2000


12.4. Mesin dengan Pembakaran Internal
12.4.1. Mesin Diesel
Mesin diesel untuk pengangkutan, alat mobil lain atau peralatan mesin yang tidak bergerak yang
menggunakan mesin diesel tidak boleh digunakan, jika tidak dilengkapi dengan ventilasi yang
dilengkapi dengan tempat penyimpanan dan penanganan bahan bakarnya.
Mesin dengan pembakaran internal tersebut harus terbuat sedemikian rupa, sehingga memenuhi
beberapa hal sebagai berikut :
a) tidak ada udara masuk ke dalam mesin, kecuali sedang dibersihkan;
b) tidak ada gas buang yang tersebar, tanpa didinginkan atau dikurangi;
c) tidak ada nyala api atau bunga api yang keluar dari mesin.
Peralatan tahan api harus digunakan bila ditemui bahaya dengan adanya gas yang mudah
meledak.
12.4.2. Mesin Bensin
Mesin bensin tidak boleh digunakan di dalam terowongan, kecuali dalam keadaan darurat bila
alternatif lain tidak memungkinkan.
Bila menggunakan peralatan jenis ini, tindakan perbaikan berikut harus dilakukan, yaitu :
a) banyak orang di dalam terowongan dibatasi;
b) ventilasi yang layak harus dibuat;
c) waktu beroperasinya mesin harus dibatasi;
d) pengangkutan ke permukaan harus dapat dilakukan dengan segera setelah operasi di dalam
terowongan berakhir.
12.4.3. Mesin dengan pembakaran internal yang ditempatkan pada permukaan tanah harus
diletakkan sedemikian rupa, sehingga gas buang tidak masuk ke dalam sistem ventilasi, ke pipa
masuk udara bertekanan atau masuk ke dalam terowongan sumuran atau bukaan lain.

12.5. Peralatan Mobil
Peralatan mobil yang digunakan di dalam terowongan dapat berupa kendaraan beroda, rantai baja
atau rel yang dilengkapi dengan handel pengaman. Peralatan tersebut harus dilengkapi dengan :
a) rem yang dapat berfungsi, meskipun dibebani penuhi;
b) lampu depan dan belakang;
c) gawar (alat tanda peringatan) yang dapat berbunyi atau menyala;
d) jalan masuk ke tempat duduk pengemudi yang aman dan dilengkapi dengan tudung
    pengaman;
e) setiap jendela dilengkapi dengan kaca yang aman dan harus selalu dibersihkan;
f) pada setiap tempat kerja, dimana kereta api lokomotif dilepas dan disambungkan, harus
    dilengkapi dengan ganjal, blok dan lain-lain.
Perhatian khusus harus diberikan untuk menjamin adanya perlindungan yang memadai terhadap
pejalan kaki di dalam terowongan.

12.6. Pengangkutan Segmen
Alat pendiri atau pemasang segmen bangunan adalah merupakan alat khusus pada pelaksanaan
terowongan. Ada beberapa jenis yang dapat dipasang baik pada perisai maupun pada panggung
yang digandeng.




                                             23
                                                                          SNI 03-6460.3-2000


Pemilihan sistem yang digunakan akan ditentukan saat mendesain lining yang akan dipasang
serta ruangan yang tersedia untuk pemasangan segmen. Dalam suatu terowongan yang kecil,
segmen dapat dikerjakan dan dipasang keposisinya oleh tenaga manusia. Pada semua kasus,
penting diperhatikan bahwa prosedur penanganan dan pemasangan segmen harus direncanakan
dengan cermat. Regu pemasang harus dilatih dengan benar untuk menjaga tempat-tempat yang
berbahaya dalam kondisi bersih dari barang-barang yang tidak diperlukan. Petugas lain yang
tidak berkepentingan harus dijauhkan dari tempat kerja.
Petugas alat atau tali pendiri harus berdiri di tempat dimana dia mempunyai pendangan bebas
terhadap seluruh operasi pelaksanaan dan dapat dengan segera menghentikannya, bila diperlukan.
Regu pendiri harus dilengkapi dengan alat dan kunci pemegang untuk memasang segmen dan
dilengkapi dengan pasak dan ganjal dari kayu atau besi, bila diperlukan.
Kerekan pendiri harus dibangun dengan fondasi yang kuat dan aman yang dapat terbuat dari
kayu, (bila memungkinkan) dan berdiri pada elevasi yang paling sesuai dengan prosedur
pendirian segmen.

12.7. Peralatan Udara Bertekanan
Untuk tempat kerja bertekanan udara, kompresor bertekanan rendah, alat penerima, alat pengikat
dan alat pendingin biasanya ditempatkan pada permukaan dan harus disesuaikan dengan
keperluan alat pembawa tekanannya. Hal yang perlu diperhatikan dari daerah ini adalah daerah
kerja harus bebas dari asap yang berminyak, kondisi yang kering dan bertekanan udara rendah.
Cukupnya pasokan dengan duplikasi dari elemen yang mudah rusak dari sistem harus
diperhatikan. Sumber pemasok udara ke dalam ruangan kerja dan tempat penyimpanan udara
harus dilindungi. Apabila kegagalan akan membahayakan ruangan kerja, harus dilakukan
penggantian. Kompresor yang menggunakan tenaga listrik sebaiknya digunakan disini.
Udara bertekanan tinggi untuk pengoperasian alat dan mesin biasanya dipasok dari permukaan.
Pasokan udara bersih yang bebas minyak atau bahan kontaminasi lain adalah merupakan hal yang
sangat penting, karena pasokan udara tersebut dihisap oleh orang yang bekerja di dalam
terowongan.
Kecuali pada keadaan darurat, penggunaan mesin dengan pembakaran internal harus dihindari
(lihat butir 12.4).

12.8. Grauting dan Perbaikan Tanah
Bejana alat grauting adalah alat atau tempat yang bertekanan dan harus dilindungi kemanannya.
Bahaya-bahaya tersebut, antara lain :
a) Pecahnya bejana grauting atau slang pemasukannya, karena pemeliharaan yang tidak memadai,
pengencangan tutup yang kurang benar dan pengendapan bahan graut. Setiap selesai digunakan
peralatan grauting harus dibersihkan dengan segera
b) Semburan pada ujung pipa injeksi karena sambungan yang kurang kuat atau alat bertekanan
lainnya;
c) Aliran balik dari bahan graut setelah penginjeksian, untuk itu harus diperlengkapi dengan
keran khusus bila diperlukan, terutama bila bahan graut mempunyai sifat beracun atau bila pori-
pori lapisan tanah/batuan yang diisi cukup besar.
Pengaman yang sama juga diperlukan terhadap pompa yang digunakan pada grauting. Keran-
keran yang memadai, by-pass, alat ukur tekanan harus disediakan untuk menjamin kontrol
ketelitian tekanan. Rekomendasi dari para ahli pakaian pelindung dan pelindung peralatan harus
diperhatikan.



                                              24
                                                                          SNI 03-6460.3-2000


12.9. Mesin Pencampur Beton
Penggunaan dari slang atau pipa untuk pengecoran, pompa dan alat penekan harus memenuhi
syarat. Pipa pengecoran harus diperiksa terhadap adanya kerusakan atau sobek; pemeriksaan juga
harus dilakukan pada tempat-tempat bengkokan. Pembersihan pipa dapat dilakukan dengan
menggunakan alat khusus (cathing basket).

12.10. Pompa
Kehandalan dan kelayakan dari pompa adalah merupakan hal yang penting. Pompa mungkin
dapat tersumbat oleh bahan halus atau bocoran bahan graut. Pipa pengalir mungkin dapat
tersumbat atau pecah dan pompa dapat terendam seluruhnya. Bahaya-bahaya di atas harus
dipertimbangkan dengan cermat pada tahapan awal, sehingga tindakan pengaman yang perlu
dapat dilakukan.

Lampiran A
Daftar Istilah

Penyangga muka kerja dari kayu       :   Timbered heading
Siklus pelaksanaan/oprasi            :   Cycle of operation
Udara bertekanan                     :   Compressed air
Sumuran                              :   Shaft
Mata terowongan                      :   Tunnel eye
Sumuran tak terpakai                 :   Obsolete shaft
Muka kerja terowongan                :   Tunnel face
Ban berjalan                         :   Belt conveyor
Mesin pengangkat                     :   Hoist
Tali penarik                         :   Winch
Kran                                 :   Crane
Gerbong/lori                         :   Skip, bogy
Ruang/jarak bebas                    :   Clearance
Ceruk                                :   Recess
Lampu depan                          :   Head light
Gawar                                :   Warning device
Tanah hasil galian/bekas galian      :   Muck
Curah                                :   Tipping
Peredam benturan                     :   Buffer
Alat perangkai/penyambung            :   Coupling
Batang palang                        :   Draw bar
Besi tempa                           :   Wrought iron
Gigi jentera                         :   Sprocket
Adonan lumpur                        :   Slurry
Mesin pembuat/pembangkit             :   Plant
Hubungan ke bumi (arde)              :   Earthing
Insulasi                             :   Insulation
Isolasi                              :   Isolation
Rangkaian listrik                    :   Electric circuit
Tombol pemindah                      :   Switchgear
Kunci gembok                         :   Padlock
Hubungan pendek                      :   Short circuit
Mesin pendiri                        :   Erector machine
                                              25
                                                                  SNI 03-6460.3-2000



Tabung penyambung diperkuat   : Bolted barrel coupler
dengan baut
Panggung kerja                :   Staging
Balok penopang atas           :   Headtree
Papan atas                    :   Head board (top poling board)
Balok/tiang samping           :   Side tree
Penyangga muka kerja          :   Piled heading
Besi penyiku                  :   Yankee brob
Batang/balok pengikat         :   Stretcher
Blok kaki                     :   Foot blok
Tiang sandaran                :   Prop
Papan kaki                    :   Leg
Balok dinding                 :   Waling
Baji                          :   Wedge
Baji kecil                    :   Page
Balok penguat                 :   Kicker
Penopang                      :   Strut
Penyangga                     :   Support
Kantong lempung               :   Clay pocketing
Papan muka kerja              :   Faceboard
Lempung pudel                 :   Puddle clay (pug)
Balok penguat                 :   Soldier
Perisai                       :   Shield
Ujung pemotong                :   Cutting edge




                                       26
                                                                            SNI 03-6460.3-2000


Lampiran B

Gambar dan Keterangannya

B. Jenis Penyangga Muka dari Kayu

B.1. Penyangga Muka dengan Tiang
Pada kondisi terburuk, seperti pasir yang mudah bergerak, diperlukan perkuatan penyangga muka
dengan tiang. Hal tersebut memerlukan pendimensian yang teliti dan ditangani oleh tenaga yang
cermat pada kondisi yang sulit. Prinsipnya adalah meluruskan bagian atas dan sumbu dari
penyangga muka yang bila diperlukan juga dilakukan terhadap lantai dengan papan, sehingga
penyangga tepat pada posisinya, sebelum dilakukan penggalian. Gambar 1 sampai dengan
Gambar 3 memperlihatkan suatu penyangga muka sedang dilaksanakan, pada lapisan tanah yang
mudah bergerak. Bagian sebaliknya dianggap tidak perlu dilakukan perkuatan kayu yang rapat.
Bila dianggap perlu, maka konstruksi yang sama seperti dibagian atas dapat dilakukan pada
bagian bawah. Gambar 1, menunjukkan papan atas yang siap didorong, sudut papan ditentukan
oleh jarak rangka, kedalaman balok atas dan papan atas. Papan atas tersebut ditopang oleh balok
atas dari rangka muka yang menggantikan tempat dari papan atas sebelumnya. Supaya papan
dapat didorong, maka perlu dibuatkan jalan pada ujung tanah-tanah yang dipotong dengan
menggunakan batang besi berkait. Papan didorong sampai seluruh panjangnya, bila
memungkinkan, tetapi biasanya hanya sampai separuhnya. Jika memungkinkan pekerjaan
tersebut jangan sampai mengganggu papan muka kerja. Gambar 2, menunjukkan tahapan
berikutnya, bila semua papan atas tidak terdorong dan terpasang sejauh mungkin. Penggalian
( bila perlu satu papan pada waktu tertentu ) telah dilakukan sampai sepenuhnya dan balok atas
sementara harus segera dipasang. Papan samping disiapkan dan didorong dengan cara yang sama
dan papan muka kerja dipindahkan kedepan pada waktu bersamaan. Gambar 3, menunjukkan
tahapan akhir dari pemasangan dengan papan atas dan papan samping tidak terdorong
seluruhnya. Sisa panjang papan digali dan papan disangga dengan rangka yang permanen. Paling
tidak ganjal setebal 50 mm harus dipasang di atas balok atas supaya sistem menjadi kuat dan
terdapat jarak (ruangan) yang cukup untuk satu papan. Bila rangka telah selesai diperkuat, rangka
sementara yang dipasang diantaranya, dapat dicabut. Papan-papan dibagian sudut harus dibuat
miring untuk mengakomodasi kerenggangan.

B.2. Penyetelan Kayu
Bila tanah lebih teguh, pertama kali dilakukan penggalian untuk keseluruhan panjang yang
melebihi lebar dari kedua papan atas. Untuk penyetelannya, pada awalnya lakukan perkuatan
dengan tiang sandaran dan bila seluruh daerah digali, dapat diperkuat dengan rangka. Bagian atas
dari papan atas dapat diisi dengan semen mortar atau digraut sampai penuh.
Gambar 4. menunjukkan sistem penyangga muka yang telah selesai.
Penyederhanaan dapat dilakukan, bila kondisi permukaan tanah cukup bagus dan sistem
penyangga tidak diperlukan untuk jangka waktu yang lama. Papan atas dipasang pada jarak
tertentu dan diberi ruangan diantara papan dan tanah.




                                               27
                                                                          SNI 03-6460.3-2000


B.3. Boks Penyangga Muka dari Kayu
Suatu konstruksi alternatif pada “tanah yang berat” adalah boks penyangga muka. Kemajuan
yang dicapai untuk lebar tertentu, hanya pada suatu waktu tertentu, sehingga massa tanah segera
didukung langsung oleh suatu rangka tanpa menggunakan papan atas, seperti ditunjukkan pada
Gambar 5. Urutan pekerjaan adalah memasang balok penopang atas pada tiang sementara,
kemudian galilah bagian muka dan sisi kerja dengan lebar tertentu sampai balok pengikat bawah
dan balok samping dapat dibajikan dan dipasang ditempat, tergantung dari pembebanan tanah;
rangka kayu dapat dipasang bagian perbagian pada jarak tertentu dengan cara “untung-untungan”

B.4. Penyangga Baja
Penyangga muka kerja terbuat dari kayu yang diuraikan pada B.1 sampai dengan B.3 dapat
digantikan dengan baja. Rangka dapat tetap terbuat dari kayu atau kasau dari baja, tetapi akan
timbul kesulitan bila menggunakan ganjal dari baja dan besi.

B.5. Detail Penyangga Kayu
Detail-detail dari penyangga kayu adalah merupakan hal yang sangat penting, sehubungan
dengan kekuatan dan keamanannya; contoh tipikal ditunjukkan pada Gambar 6.
Bila beban berat dipindahkan melalui suatu pertemuan pada penyangga, harus digunakan “baji
lipat” yang dapat terbuat dari kayu atau besi (Gambar 6a). Baji tersebut harus dibuat berbentuk
segitiga atau trapesium dan saling bertaut pada kedua sisi miringnya secara bersamaan. Perlu
diperhatikan, bahwa kedua bagian baji harus mempunyai panjang dan ketebalan yang tepat,
supaya dapat saling bertaut dengan benar dan rapat.
Kayu harus dipotong secara hati-hati, sehingga mempunyai panjang dan sudut yang tepat. Bila
balok atas dan balok samping diperkuat oleh balok pengikat bawah, balok tersebut harus
mempunyai tebal yang memadai serta dipaku dengan kuat (Gambar 6b).
Bila digunakan besi penyiku yang dibengkokkan, besi tersebut mempunyai ketebalan yang cukup
dan dimensi yang tepat; besi penyiku tersebut harus dipasang pada kedua balok dengan kuat
untuk menahan pergerakan. Ganjal dan baji dapat digunakan, bila diperlukan. Semua balok
pengikat harus dipasang kuat untuk mencegah pergerakan, saat dibaji.




                                              28
                                                                          SNI 03-6460.3-2000


Lampiran C

Detail pengerjaan suatu penyangga muka tertutup dari kayu untuk terowongan dengan
lining segmen berdiameter dalam 3,5 m tanpa menggunakan perisai.

Detail di bawah adalah contoh pengerjaan suatu penyangga muka tertutup dari kayu untuk
terowongan dengan lining segmen berdiameter dalam 3,5 m. Pada setiap kasus, penyanggaan
dengan kayu harus didesain sesuai dengan sifat tanah, lining yang digunakan, waktu bolak-balik
dari pembungan bekas galian dan pengalaman dari pelaksana galian. Baji harus terbuat dari kayu
keras dan baji kecil dari kayu lunak.
Nomor di dalam kurung pada penjelasan di bawah, adalah sesuai dengan Gambar 7.
a) Papan atas. Setelah penggalian di bagian atas, papan diselipkan melalui lining. Disangga
pada bagian depan yang awalnya dilakukan dengan membaji/mengganjal tanah dan kemudian
dengan papan muka (2). Pada tanah yang sangat tidak stabil, perlu membuat tiang secara rapat
pada bagian bawah sumbu. Papan mungkin perlu diisi dengan mortar atau digraut untuk
memastikan kontak telah terisi dengan tanah.
b) Kayu dipotong sampai mencapai panjang yang tepat dengan bagian atas cukup renggang
untuk menyesuaikan dengan lingkungan dan penyetelannya pada alat penggaruk. Disangga
dibagian bawah dengan balok pengganjal (4) dari baji kecil (4a) serta ganjal atas (5).
c) Besi penyiku (Yankee brob) dengan tebal tidak kurang dari 6 mm dan dibuat supaya pas
dengan balok kaki (2) untuk mencegah pergerakan arah ke dalam dari bagian atas balok kaki.
d) Blok bagian bawah (blok kaki) diganjal untuk mendukung beban vertikal dari balok atas dan
memindahkan ke berm. Penyangga horisontal ke sisi depan berm sangat penting untuk mencegah
keruntuhan akibat geser.
e) Balok dukung dipotong di bagian ujung membentuk lengkung, ditopang dan diperkuat
dengan baji (7), segmen juga disangga pada bagian ujungnya, penopang dari besi sebagai
pengganti juga dapat digunakan. Papan muka (8) diganjal pada dinding.
f) Tiang penopang dipotong segiempat sampai panjang tertentu, supaya dapat dipasangi dengan
sepasang baji-lipat dari kayu keras pada kedua ujungnya. Tiang ini dapat digunakan pula untuk
menopang panggung/bagan untuk penggalian dan pembuatan lining, bila telah ditopang
secukupnya, lihat (9) dan (11).
g) Balok penguat (kickers) dipotong supaya pas dengan segmen lining, dibaji pada posisinya
dan diganjal pada tempat pertemuannya. Hal tersebut dilakukan maju ke depan setelah rangka
selesai digali.
h) Bagian muka papan atas dijaga supaya berada di bagian belakang dinding (5) dan dibentuk
melengkung di bagian bawah. Papan-papan tersebut di susun menjadi 2 rangka. Rangka bagian
atas dapat digali dan diperkuat sebelum rangka bagian bawah terdahulu terganggu. Hal ini
mengurangi luas muka kerja yang tidak diperkuat dengan penyangga pada setiap satu waktu.
i) Tiang tanah untuk mencegah balok dinding bergerak turun.
j) Blok kaki untuk menyebar beban vertikal dari tiang ke tanah.
k) Balok penopang dan balok dinding diperkuat dengan papan penguat yang dipakukan pada
kedua balok tersebut.




                                             29
                                                                             SNI 03-6460.3-2000


Lampiran D

Kantong Lempung

Kantong lempung biasanya hanya digunakan pada lapisan kerikil atau pasir kasar sehubungan
dengan penggunaan perisai serta pada udara bertekanan. Hal tersebut dilakukan untuk mencegah
kehilangan udara yang berlebihan pada muka kerja dan bagian belakang perisai. Kantong
lempung tersebut juga harus menyangga tanah sampai cincin terakhir telah selesai digraut. Bila
pergerakan tanah terjadi, cara kantong lempung sering digunakan sampai tanah yang tak
terganggu tercapai. Pada awalnya, alat gali yang digunakan adalah dua atau lebih per cincin.
Gambar 9, menunjukkan posisi sebelum dilakukan satu galian.
Urutan pelaksanaan satu galian tersebut adalah sebagai berikut :
a) Lakukan penggalian dengan perisai;
b) Topang bagian atas papan muka kerja pada setiap ujungnya dengan penopang sementara
yang pendek, yaitu 100 mm x 75 mm dari diafragma. Lepaskan baji yang berada diantara papan
muka kerja dengan kedua balok 300 mm x 150 mm. Ulangi untuk papan muka kerja lainnya.
Lepaskan balok penguat 300 mm x 150 mm tersebut.
c) Lepaskan bagian atas papan muka kerja dan mulai dari bagian atas perisai, buatlah lubang
kantong sejauh dan selebar mungkin selama kondisi tanah dan kehilangan udara memungkinkan.
d) Isi kantong dengan lempung pudel yang baik;
e) Ulangi prosedur di atas di sekitar bagian atas perisai sejauh mungkin setelah papan atas
diambil;
f) Ganti papan atas sejauh mungkin selama kondisi tanah mengijinkan, kemudian topang
dengan sementara kedua ujung papan atas menggunakan penopang yang lebih panjang;
g) Ulangi prosedur di atas pada muka kerja secara menurun, pembuatan lubang kantong di
lakukan di sekeliling perisai;
h) Pasang balok penguat untuk menahan papan muka kerja dan perkuat dengan baji dan empat
piston pendorong;
i) Balok penopang sementara yang panjang sekarang dapat diambil karena beban muka kerja
telah dipindahkan ke piston pendorong.

Catatan 1 :   Bila melakukan penggalian per cincin, panjang balok penopang akan satu cincin lebih
              panjang dari balok penopang yang pendek.

Catatan 2 :   Piston muka kerja distel keposisi menutup pada tekanan yang lebih rendah dari piston
              penggali. Balok penopang khusus (gun struts) kadang-kadang digunakan atau penyangga
              muka kerja ditopangkan ke lining yang telah selesai.

Catatan 3 :   Plat pengkaku kerudung bagian atas muka kerja dapat mencegah semua papan muka kerja
              mencapai bagian keliling. Satu metode untuk menyangga kelompok papan di depan plat
              pengkaku tersebut adalah dengan menggunakan plywood yang kemudian dipecahkan oleh
              pengkaku selama penggalian.




                                                30
     SNI 03-6460.3-2000




31
     SNI 03-6460.3-2000




32
     SNI 03-6460.3-2000




33
     SNI 03-6460.3-2000




34
     SNI 03-6460.3-2000




35
                                                                   SNI 03-6460.3-2000


Lampiran E
Daftar Nama dan Lembaga

1)   Pemrakarsa
     Pusat Litbang Teknologi SDA, Badan Litbang Kimbangwil


2)   Penyusun


                    NAMA                             LEMBAGA


         Ir. Sunarto                          Pusat Litbang Teknologi SDA
         Djoko Mudjihardjo, ME.               Pusat Litbang Teknologi SDA




                                         36
                                                    SNI 03-6460.3-2000




                          DAFTAR ISI


                                                               Hal.
1. Ruang Lingkup………………………………………………………………                       1
2. Acuan………………………………………………………………………..                          1
3. Definisi-Definisi…………………………………………………………….                   1
4. Perundang-Undangan………………………………………………………..                   1
5. Komunikasi……….…………………………………………………………                        1
6. Kebisingan…………………………………………………………………..                       3
7. Sumuran……………………………………………………………………..                         5
8. Alat Pengangkat……………………………………………………………..                    7
9. Jalan Masuk Terowongan……………………………………………………                  9
10.Transport…………………………………………………………………….                        9
11.Instalasi Elektrik…………………………………………………………….                  15
12.Perlengkapan Lain…………………………………………………………..                   22



Lampiran A       : Daftar Istilah……………………………………………….           25
Lampiran B, C, D : Gambar dan Keterangannya…………………………….….      27
Lampiran E       : Daftar Nama dan Lembaga…………………………………        36




                               37
                                                                                                          SNI 03-6460.3-2000


    Penopang kepala                    Papan kepala siap dipancang                Pendukung penopang kepala

    Tiang samping                      Papan samping                              Jarak antara

    Papan muka

Gambar 1. Kepala tiang : papan kepala siap dipancang

    Papan kepala dipancang sejauh mungkin
    melewati setengah jalan
                                                              Derekgka lanjut sementara
    Papan samping dipancang
    sama dengan papan kepala

Gambar 2. Kepala tiang : papan kepala dipancang sejauh mungkin

    Papan sudut             Tiang kepala                      Ganjal Yankee/ganjal kayu

    Bentangan               Bentangan                         Tiang samping                 Blok kaki

    (a) Elevasi penampang                          (b) Potongan A – A                       Kemiringan/banding 6

Gambar 3. Kepala tiang : papan kepala dan papan samping dipancang sejauh mungkin

    Papan muka              Ruang baji                        Penopang kepala               Ganjal Yankee

    Tiang samping           Bentangan                         Blok kaki

    (a) Elevasi penampang                          (b) Penampang melintang

Gambar 4. Pemasangan kayu

    Bok terbenam            Penopang               Tiang samping                  Kaki                  Penopang

    Bentangan               Tiang samping          Blok atau bentangan

    (a) Pembebanan          (b) Pemasangan lengkap            (c) Penampang melintang

Gambar 5. Bok kayu kepala
    Benar                   Salah                  (a) Baji lipat         Penopang kepala

    Ganjal Yankee           Tiang samping          Kayu                   (b) Sambungan

    Gambar 6. Detil kayu


    Gambar 7. Baja cor internal berdiameter 3,5 meter melingkari terowongan


    Papan kayu              Papan baja             Rib lengkung baja              Bentangan longitudinal

    Bentangan penampang                Blok kaki

    (a) Elevasi penampang              (b) Penampang melintang

Gambar 8. Kepala busur


                                                                    38
                                                                                                  SNI 03-6460.3-2000



     Potongan A-A

Kunci Gambar 9 :
1. Kantong lempung dengan formasi terdorong sebelumnya            12.   Dasar lubang masuk melalui diafragma pelindung
2. Pengaku disamping ujung pemotong topangan                      13.   Puncak jalan masuk melalui diafragma depan
3. Kantong menonjol ke luar dan diisi dengan pudel lempung        14.   Kayu anyam 300 mm x 150 mm
4. Kerikil atau pasir kasar                                       15.   Pemotongan ujung pelindung (sebelum terdorong)
5. Ram pelindung sorong                                           16.   Pemotongan ujung pelindung (sesudah)
6. Tempat ram muka                                                17.   Diameter lining dalam
7. Tambahan piston ram muka                                       18.   Kulit luar pelindung
8. Diafragma belakang                                             19.   Ujung jalan masuk bukaan melalui diafragma depan
9. Diafragma depan                                                20.   Sisi diafragma depan
10. Papan muka 225 mm x 75 mm                                     21.   Sisi papan muka untuk ditempatkan pada posisi dalam
11. Ekor pelindung                                                      tanah dan dimensi pengaku topang


Gambar 9. Pengantongan lempung menggunakan penopang luar berdiameter 4 m




                                                             39

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:207
posted:9/15/2011
language:Indonesian
pages:39