Strategi Pengembangan Perbankan Syariah di indonesia by rifkiismal

VIEWS: 5,569 PAGES: 12

									STRATEGI PENGEMBANGAN PERBANKAN SYARIAH DI INDONESIA Rifki Ismal1 PhD Student Islamic Banking and Finance School of Government and International Affairs Durham University (United Kingdom)
Email: rifki_ismal@yahoo.com

I. PENDAHULUAN Perbankan syariah di Indonesia berkembang pesat dalam satu dekade terakhir yaitu sejak didirikannya Bank Muamalat Indonesia tahun 1992 lalu. Hal ini utamanya dilatarbelakangi oleh semakin meningkatnya minat masyarakat untuk menanamkan dananya pada lembaga keuangan yang dikelola dengan system Islami. Keyakinan bahwa suku bunga bank adalah haram sesuai dengan fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) bulan Desember 2003 di sisi lain telah menambah laju percepatan perkembangan perbankan syariah dalam beberapa tahun terakhir. Dalam usaha untuk pengembangan perbankan syariah pemerintah, Bank Indonesia dan pihak terkait telah merancang beberapa program pengembangan perbankan syariah Indonesia. Salah satu langkah yang dilakukan adalah survei perbankan syariah di pulau Jawa yang dilakukan tahun 2000 untuk mengukur sejauh mana pemahaman masyarakat terhadap kehadiran system perbankan berdasarkan nilai-nilai Islam. Selain itu, disadari pula bahwa pengembangan industri yang masih belia ini menuntut kerja keras dan komitmen semua pihak termasuk masyarakat muslim pada umumnya. Paper ini akan menjelaskan perkembangan perbankan syariah di tanah air, sejauh mana tingkat penerimaan masyarakat dan pendekatan dari sisi apa saja yang dapat ditempuh untuk mendorong pengembangan perbankan syariah lebih lanjut. Di bagian akhir akan diusulkan sejumlah strategi pengembangan perbankan syariah dengan melibatkan tiga elemen bangsa berdasarkan informasi dan kondisi penerimaan masyarakat saat ini. II. PERKEMBANGAN PERBANKAN SYARIAH DEWASA INI Dalam satu dasawarsa terakhir, perbankan syariah telah mencuri perhatian industri perbankan di tanah air. Dari sisi pertumbuhan, perbankan syariah tumbuh rata-rata 60% per tahun sejalan dengan peningkatan jumlah bank syariah (BU), unit usaha syariah (UUS) dan Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS). Sampai dengan semester pertama tahun ini, terdapat 3 bank syariah, 23 UUS dan 108 BPRS dengan 664 kantor di seluruh Indonesia. Apabila dibandingkan dengan total industri perbankan nasional jumlah ini memang masih terbilang kecil sehingga tidak heran share perbankan syariah pun masih berkisar 1.5%-2% dari total industri perbankan nasional.

1

Email : rifki_ismal@yahoo.com / rifki.ismal@durham.ac.uk. Address : 2.16 Keenan House, Old Dryburn Way, Durham (DH1 5BN), UK, phone number : +44 07900411659

1

35.00 30.00 25.00 20.00 15.00 10.00 5.00 0.00

trillion Rp

100.00 80.00

trillion Rp

25.00

120.00 100.00

20.00

60.00
15.00

80.00 60.00 Total Deposit Growth (%) 5.00 0.00 40.00 20.00

Total Asset Growth (%)

40.00 20.00 0.00 -20.00
10.00

0.00
00 20 01 20 02 20 03 20 04 20 05 20 06 20

-20.00
07 nJu 7 -0 ay M 7 r- 0 Ap 7 -0 ar M 07 bFe 07 nJa

07 nJu 7 -0 ay M 7 r- 0 Ap 7 -0 ar M 07 bFe 07 nJa 06 20

Namun demikian, percepatan pertumbuhan industri ini tidak dapat dipungkiri melebihi counter part-nya yaitu perbankan konvensional. Indikator utama perbankan syariah yaitu total asset, total pembiayaan dan total deposit senantiasa tumbuh positif dengan fungsi intermediasi perbankan yang berjalan optimal. Total asset perbankan syariah pada pertengahan tahun 2007 telah mencapai Rp29.2 triliun (Figure 1) dengan total deposit sebesar Rp22,7 triliun (Figure 2) dan total pembiayaan sebesar Rp22,9 triliun (Figure 3). Financing to deposit ratio (FDR) perbankan syariah pun tercatat sebesar 101,12% dengan net non performing financing (NPF) 4% (Figure 4). Hal ini membuktikan bahwa industri ini berpotensi membantu pergerakan sektor riil melalui aktifitas pembiayaan perbankan berbasis kontrak-kontrak Islami. Sebagai perbandingan, total asset perbankan konvensional berada jauh di atas perbankan syariah yaitu lebih dari Rp1700 trillion dengan total deposit kurang lebih Rp1200 trillion dan total kredit lebih dari Rp800 trillion. Namun demikian, perbankan konvensional mencatat Loan to Deposit Ratio (LDR) sebesar 66% dengan Non Performing Loan bersih sebesar 3%. Di satu sisi, angka ini menunjukkan bahwa perbankan nasional masih didominasi oleh system konvensional namun demikian fungsi intermediasi perbankan konvensional terlihat masih belum optimal terutama sejak krisis ekonomi 1997 lalu. Selain itu, perbankan konvensional mengalami pertumbuhan tahunan yang relatif stagnan dibandingkan perbankan syariah.
14.00 12.00 10.00 8.00 6.00 4.00 2.00 0.00
Apr-01 Apr-02 Apr-03 Apr-04 Apr-05 Apr-06 Dec-01 Dec-02 Dec-03 Dec-04 Dec-05 Dec-06 Aug-01 Aug-02 Aug-03 Aug-04 Aug-05 Aug-06 Apr-07 2000

Di balik kenyataan positif perkembangan perbankan syariah di atas, terdapat pertanyaan mendasar, mengapa negeri yang berpenduduk mayoritas muslim (88%) hanya

00 20

Figure 1. Total Asset Bank Syariah

Figure 3. Total Financing Bank Syariah

01 20

02 20

03 20

04 20

05 20

Figure 2. Total Deposit Bank Syariah

NPF (%)

Figure 4. NPF Bank Syariah

2

memiliki industri perbankan syariah dengan porsi kurang dari 2% ? bahkan bank syariah sejatinya bukanlah barang baru mengingat pendirian bank syariah pertama di Indonesia adalah 15 tahun yang lalu. Hal ini merupakan pertanyaan sekaligus tantangan bagi para pemikir perbankan syariah dan masyarakat muslim Indonesia pada umumnya yang menghendaki perbankan syariah dan bahkan system ekonomi syariah menjadi tuan rumah di negeri sendiri. II. HASIL SURVEI PERBANKAN SYARIAH BANK INDONESIA Bank Indonesia bekerjasama dengan beberapa Universitas terkemuka di pulau Jawa telah mengadakan serangkaian survei persepsi masyarakat terhadap keberadaan perbankan syariah tahun 2000 lalu. Survei ini diharapkan dapat menyingkap kondisi perbankan syariah yang sebenarnya, permasalahan yang dihadapi sekaligus dapat menghadirkan solusi bagi langkah pengembangan perbankan syariah lebih lanjut. Pemilihan pulau Jawa sebagai lokasi survei tidak lain karena pulau Jawa adalah the most populated island yang dihuni oleh sebagian besar penduduk muslim. Informasi dari Hasil Survei di Propinsi Jawa Barat2 Secara umum, masyarakat di Jawa Barat memandang penting kehadiran lembaga keuangan bank dalam menunjang kegiatan perekonomian di daerah. Oleh karena itu, kesan masyarakat terhadap perbankan syariah sangat positif dan mendukung sekali. Salah satu faktor utama yang melatarbelakangi dukungan terhadap keberadaan perbankan syariah di Jawa Barat adalah karena sebagian besar penduduknya adalah muslim dan mereka berpikiran positif terhadap praktek perbankan yang berbasis nilai-nilai Islam. Faktor lain yang membentuk dukungan positif terhadap perbankan syariah adalah persepsi mereka bahwa perbankan syariah adalah:  Bank dengan system bagi hasil.  Tidak berbeda prakteknya dengan bank konvensional, dan  Bank yang khusus dibentuk bagi muslim. Namun demikian, beberapa kalangan masyarakat di Jawa Barat menilai bahwa bank syariah masih kurang professional dan belum populer dibandingkan bank konvensional (Figure 5 dan 6).
4.1 6.6 1.9
4.9 2.8 2.8

63.4
63

55.9

57.88

Profit Sharing Bank Less known

Islamic Bank Less Professional

Good Prospect

Profit Sharing Bank Less known

Islamic Bank Less Professional

Good Prospect

Figure 5. Kesan thd Bank Syariah oleh Nasabah Bank konvensional (%)

Figure 6. Kesan thd Bank Syariah oleh Nasabah Bank Syariah (%)

2

Kerjasama antara Bank Indonesia and IPB.

3

Selain itu, alasan khusus mereka sehingga mendukung operasi bank syariah adalah penolakan terhadap system bunga bank. Secara khusus, di antara nasabah bank konvensional mereka mengemukakan sejumlah alasan penolakan system bunga dan lebih memilih bank syariah yaitu: (1) Bunga bank adalah riba, (2) Bunga bank membebani nasabah peminjam, (3) Ketidakpastian mengenai status riba dalam Islam. Namun demikian, para nasabah bank konvensional yang melegitimasi bunga bank juga memiliki sejumlah alasan mengenai hal tersebut utamanya (1) Bunga digunakan untuk merangsang masyarakat menyimpan uangnya di bank (2) Bunga dapat ditoleransi selama masih reasonable (modest rate) (3) Bunga adalah kompensasi modal, dan (4) Bunga masih ditoleransi selama belum ada alternatif lain. Kedua kelompok di atas menempati porsi yang hampir berimbang dari hasil survei yang dilakukan. Lebih lanjut, masyarakat Jawa Barat baik nasabah bank syariah maupun konvensional hanya mengenal perbankan syariah dari dua hal yaitu bank dengan system bagi hasil dan bank yang beroperasi dengan hukum syariah. Mereka tidak mengetahui manfaat system perbankan syariah dan layanan (produk dan jasa) perbankan syariah. Bahkan, pengetahuan dan pemahaman mereka mengenai operasi perbankan syariah yang berdasarkan kerja sama antara bank, peminjam (partner bisnis) dan pihak terkait sangatlah minim (Figure 7 and 8). Ini adalah realita umum yang terjadi di masyarakat Jawa Barat dan salah satunya bisa disebabkan oleh perkembangan perbankan syariah baru marak dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi ini tidak hanya memperlambat pemahaman masyarakat umum mengenai perbankan syariah namun juga para ulama dan kalangan akademisi di sana.
3.4 4.9
5.9 9

18.5 18.4
23.8

13.6

45.6

57.7

Don't know Based on Sharia Law Syaria Products

Profit Sharing Banks Partnership

Don't know Partnership

Profit Sharing Banks Syaria Products

Based on Sharia Law

Figure 7. Pengentahuan Bank Syariah Nasabah Bank konvensional (%)

Figure 8. Pengetahuan Bank Syariah Nasabah Bank Syaria (%)

Terkait dengan perilaku masyarakat dan penerimaan mereka terhadap system bank bagi hasil, lebih dari 90% responden menyatakan dukungannya terhadap implementasi system perbankan bagi hasil. Alasan mereka, (1) Sistem bagi hasil adalah dekat dengan hukum syariah dan (2) system bagi hasil lebih adil dan memberikan manfaat bagi semua pihak. Sementara bagi sebagian kecil masyarakat yang berpendapat bahwa system bagi hasil tidak efektif mengemukakan alasan (1) Mereka tidak mengerti system perbankan bagi hasil maupun praktek perbankan syariah (2) Mereka berpendapat system bagi hasil memberikan keuntungan yang minimal dan (3) Sistem bagi hasil belum terbukti efektif dan sulit untuk dihitung (complicated system). Disamping itu, peran informasi mengenai perbankan syariah menempati posisi yang strategis untuk mendukung perkembangan perbankan syariah. Masyarakat di Jawa Barat sangat ingin mengetahui lebih jauh dan mendalami perbankan syariah melalui sumber 4

informasi yang terpercaya bahkan segolongan masyarakat tertentu sengaja mempelajarinya dari beragam sumber informasi (Figure 9). Beragam sumber informasi dimaksud antara lain (dari yang memberikan kontribusi paling besar sampai yang terkecil): 1. Teman, rekan kerja maupun tetangga. 2. Informasi langsung dari bank syariah. 3. Media elektronik. 4. Media cetak. 5. Brosur, iklan dan spanduk.
60 54.7

Syaria Law
50

40

Bonus/Gift

30

Status of Bank
26 23.3 20.8

20 13.3 10

Credibility

Accessibility

0 Friends, workplace From Syaria Bank Electronic Media Printing Media Brochure

0%

20%

40%

60%

80%

100%

Conventional Banks Customers

Syaria Banks Customers

Figure 9. Sumber Information mengenai Bank Syariah (%)

Figure 10. Kriteria Pemilihan Bank

Faktor penting lainnya yang mempengaruhi masyarakat Jawa Barat secara umum dalam pemilihan bank utamanya adalah kemudahan akses bank (accessibility) dari tempat tinggal maupun tempat beraktifitas, kredibilitas bank dan bonus/gift yang diberikan bank. Secara khusus bagi nasabah bank konvensional, status bank (apakah bank pemerintah ataukah swasta) menempati urutan pertama, diikuti oleh bonus/gift, kredibilitas bank dan kemudahan akses (Figure 10). Lebih dari itu, bagi nasabah bank konvensional, layanan Automatic Teller Machine (ATM), tingkat profesionalisme dan jasa bank juga mempengaruhi keputusan mereka walaupun tidak terlalu dominan. Sementara itu, bagi nasabah bank syariah, faktor terpenting bagi mereka adalah kesesuaian system syariah dan akses perbankan (Figure 10). Selain itu, faktor lainnya yang mempengaruhi keputusan mereka relatif tidak sama dengan nasabah bank konvensional seperti, ketersediaan Automatic Teller Machine (ATM), tingkat profesionalisme dan jasa yang diberikan. Sebagai nasabah bank konvensional, ketika mengajukan aplikasi kredit, mereka mempertimbangkan dua hal (1) Kecepatan layanan bank dan (2) Rendahnya suku bunga yang dikenakan. Sedangkan bagi nasabah bank syariah di Jawa Barat, ketika mereka mengajukan permohonan pembiayaan ke bank syariah, mereka mempetimbangkan tiga hal; (a) Kecepatan layanan bank syariah, (b) Kesesuaian dengan prinsip syariah (syariah compliance) dan (c) Tidak menggunakan system bunga (Figure 11). Terakhir, nasabah bank syariah lebih aktif memanfaatkan layanan simpanan daripada pinjaman. Dalam portfolio-nya, nasabah bank syariah lebih banyak menempatkan dana dalam bentuk saving deposit (wadiah yad dhamanah atau wadiah mudharabah) (Figure 12). Bentuk ini paling dominan dibandingkan deposito syariah. Dalam hal pembiayaan, mereka lebih memilih skim Musyarakah daripada Murabahah (Figure 12).

5

35
31.5

100 89.8
29

30 25
20.7

90 80
23.1

70 60 50

20 15
11.1

12

40 30 20 10 4.6 7.4 9.9 27.7

10 5 0 Profit Sharing Quick Services System (Saving) No Interest (Saving) Syaria Law Quick Services (Lending) No Interest (Lending)

0 Demand Deposit Saving Deposit Time Deposit Murabahah Funding Syirkah Funding

Figure 11. Motif Saving & Lending di Syaria Banks (%)

Figure 12. Preferensi thd Produk Bank Syariah (%)

Informasi dari Hasil Survei di Propinsi Jawa Timur3 Tidak berbeda dengan masyarakat di Jawa Barat, masyarakat Jawa Timur mengakui keberadaan lembaga perbankan sebagai penentu keberhasilan perekonomian daerah. Namun demikian, berbeda dengan masyarakat Jawa Barat, kesan masyarakat Jawa Timur terhadap bank syariah nampak lebih rendah. Hal ini terlihat dari rendahnya preferensi dan kebutuhan mereka akan layanan bank syariah. Kesan ini terbentuk dikarenakan anggapan mereka bahwa: (1) Bank syariah tidak berbeda dengan bank konvensional dan (2) Bunga bank tidaklah riba. Di antara responden yang diteliti, mereka yang memilih layanan bank syariah hanyalah 32.6%, dan sisanya lebih memilih layanan bank konvensional (Figure 13). Sayangnya, 95% masyarakat yang memilih layanan bank syariah tersebut, hanya 3% dari mereka yang benar-benar telah menjadi nasabah bank syariah dan hanya 26% dari mereka yang benar-benar merasa membutuhkan kehadiran bank syariah dalam kehidupan ekonominya sehari-hari, sisanya cenderung netral dan bahkan tidak membutuhkan perbankan syariah kecuali tidak ada pilihan lain.

Information

Need of Banks

Moslem

Customers

Preferences

0%

20% Syaria Banks

40%

60%

80% Others

100%

Figure 13. Kesan Masyarakat Jawa Timur terhadap Bank Syariah (%)

Pemahaman masyarakat Jawa Timur tentang perbankan berdasarkan system syariah nampaknya juga perlu menjadi perhatian. Dari sebagian kecil masyarakat yang bersedia menggunakan layanan bank syariah di atas, hanya sebagian dari mereka yang berkomitmen
3

Sources of all figures and data are from survey report of Bank Indonesia and University of Brawijaya.

6

bahwa bunga adalah riba dan sebagian yang lain beranggapan bunga tidaklah riba. Kondisi ini menjelaskan bahwa mereka menggunakan bank syariah bukan karena nilai-nilai islami tapi lebih kepada alasan lainnya seperti jasa yang diberikan, lokasi, dll. Sumber informasi mengenai bank syariah relatif sama dengan masyarakat di Jawa Barat yaitu dapat diklasifikasikan ke dalam 3 sumber utama; (1) Kerabat dekat (keluarga, teman, rekan kerja, dll) (2) Beragam media massa dan (3) Lembaga (sekolah, Universitas, tempat kerja, dll). Ketika memilih bank, mayoritas masyarakat Jawa Timur mengharapkan bank syariah menguntungkan dan memiliki layanan yang memuaskan. Apabila harapan tersebut tidak dapat dipenuhi maka mereka akan tetap menggunakan jasa perbankan konvensional. Sedangkan bagi sebagian kecil masyarakat yang telah menjadi nasabah bank syariah, keputusan mereka berpedoman utama kepada ketaatan dan kesetiaan kepada ajaran Islam diikuti oleh sejumlah alasan lainnya sebagai pendukung seperti: - Informasi & Rational Judgment. - Humanist & Karakter dinamis . - Ukuran dan Fleksibilitas layanan. - Modern Lifestyle. - Kebutuhan. - Lokasi. - Keyakinan dan Attitude Materialism. - Age & Lifecycle - Post-Purchasing Behavior. - Direct Promotion & Religion. Khusus di Jawa Timur, penelitian juga mencakup perusahaan selain individual dan diperoleh kesan yang lebih baik mengenai bank syariah walaupun sebagian besar dari mereka masih menggunakan bank konvensional. Hampir 40% dari perusahaan yang di survei lebih memilih layanan bank syariah dan sisanya lebih memilih bank konvensional (Figure 14). Sayangnya dari 40% perusahaan yang cenderung kepada bank syariah di atas hanya 7.4% dari mereka yang telah menjadi nasabah bank syariah. Apabila dikaji lebih lanjut kesan perusahaan yang menilai bank syariah tidak berbeda dengan bank konvensional adalah karena (a) Pemahaman yang kurang mengenai bank syariah dan (b) Keingian mereka yang mensyaratkan agar bank syariah selalu menguntungkan dan mempunyai layanan yang baik.
Need of Banks

Knowledge

Located in town

Customers

Preferences

0%

20% Syaria Banks

40%

60%

80% Others

100%

Figure 14. Kesan Perusahaan di Jawa Timur thd Bank Syariah (%)

Apabila diamati lebih dalam, dari perusahaan yang disurvei, hanya 22% dari mereka yang paham parsial mengenai bank syariah sedangkan 68% dari mereka sama sekali tidak paham bank syariah. Mereka yang paham bank syariah juga baru sebatas operasi bagi hasil, penolakan system bunga dan penerapan system syariah di setiap product dan system perbankan syariah.

7

Namun demikian, di balik semua pemahaman mereka yang masih minim mengenai bank syariah, 62% perusahaan merasakan perlunya bank syariah bagi kegiatan usaha mereka dan 32% dari mereka telah terdaftar menjadi nasabah bank syariah. Yang belum menjadi nasabah, masih berkeinginan agar bank syariah mempunyai layanan perbankan yang memuaskan terlebih dahulu. Sedikit berbeda dengan individu, bagi perusahaan, indikator seleksi mereka dalam menerima bank syariah mengacu kepada: - Dinamis dan Efisiensi. - Promosi. - Keamanan dan Kecepatan layanan. - Harga. - Kemudahan mendapat pinjaman. - Reputasi. - Jenis Product. - Faith dan Attitude. - Role and Status. - Business Partner. - Society's Norms and Ethics. - Lokasi. - Materialism. - Age & Lifecycle of Firm. Informasi dari Hasil Survei di Propinsi Jawa Tengah dan Jogjakarta4 Secara umum pendapat dan kesan masyarakat Jawa Tengah dan Jogjakarta terhadap institusi bank syariah lebih baik daripada dua propinsi sebelumnya. Bahkan proporsi masyarakat Jawa Tengah dan Jogjakarta yang ingin menempatkan dananya di bank syariah tercatat cukup tinggi yaitu 64.8%. Kenyataan ini nampaknya dilatarbelakangi oleh keyakinan mereka terhadap larangan bunga bank yang diungkapkan oleh 49% dari responden sedangkan sisanya masih menanggap bunga sebagai subhat. Baiknya lagi, sebagian besar masyrakat di daerah ini (51%) sangat yakin bahwa bank syariah memiliki keuntungan relatif daripada bank konvensional. Secara khusus, pengetahuan masyarakat mengenai bank syariah terdeteksi cukup baik. Kurang lebih 70% dari masyarakat yang di survei mengetahui bank syariah walaupun masih pada taraf mengenai apa itu bank syariah dan belum kepada produk dan layanan yang diberikannya. Mengenai produk bank syariah, 84% responden menyatakan tidak mengetahui produk simpanan dan produk pembiayaan syariah. Secara rata-rata mereka yang mengenal produk simpanan bank syariah juga tidak lebih dari 22%, terutama jenis wadiah dan mudharabah. Fakta yang sama juga nampak pada pemahaman mereka terhadap produk pembiayaan bank syariah yaitu hanya 12%, utamanya hanya pada jenis Murabahah, Ijarah, kafalah, qard and rahn (Figure 15 and 16). Sedangkan mengenai layanan jasa perbankan syariah, masyarakat baru terbiasa dengan jenis kafalah dan rahn yang operasionalnya mirip dengan produk bank konvensional yaitu letter of credit dan collateral.

4

Sources of all figures and data are from survey report of Bank Indonesia and Undip.

8

12.2 13

21.53
25

12 11 9.87

20

13.13

10 9

15

8
10

6.8 5.67

7 6

5

5 4

0 Wadiah Mudharabah

Murabahah

Salam

Istisna

Ijarah

Figure 15. Pengetahuan tentang Saving Products (%)

Figure 16. Pengetahuan tentang Lending Products (%)

Salah satu faktor yang diduga menyebabkan rendahnya pemahaman masyarakat di daerah ini terhadap produk dan layanan bank syariah adalah minimnya sosialisasi system bagi hasil dan operasional bank syariah secara umum. Bukti nyata menjelaskan bahwa lebih kurang 45% masyarakat tidak mengetahui apa-apa mengenai konsep bagi hasil dan bahkan 53% masyarakat tidak setuju dengan kosep tersebut. Selain itu, kedua fakta tersebut bisa jadi disebabkan karena mereka belum menjadi nasabah bank syariah seiring dengan minimnya informasi bank syariah kepada mereka karena jumlah bank syariah di sana yang masih terbatas. Namun demikian, dalam dimensi yang lebih luas 86.5% masyarakat menyatakan bahwa bank syariah berdimensi universal dan bahkan berdimensi akhirat dibandingkan bank konvensional sehingga sebagian besar mereka setuju penerapan bank syariah pada system perbankan nasional. Seperti disinggung sebelumnya, sumber informasi mengenai bank syariah di Jawa Tengah dan Jogjakarta secara garis besar sama dengan propinsi lainnya di pulau Jawa. Kehausan masyarakat daerah ini terhadap bank syariah terlihat dari 53,3% respondent yang melakukan extra effort dalam mencari informasi mengenai keuntungan dan kerugian menggunakan jasa bank syariah. Sebagian masyarakat lainnya melakukan upaya yang lebih dari sekedar mencari informasi yaitu sudah langsung memikirkan untuk menempatkan dananya di bank syariah termasuk menggunakan layanan pembiayaan. Kemantapan hati mereka untuk langsung menjadi nasabah bank syariah antara lain karena pertimbangan (Table 1) :
Table 1. Faktor-faktor bagi Nasabah untuk Menggunakan Bank Syariah

To Save in Syaria Banks
* Age * Acceptance to New Technology * Family Mobility * Flexibility of Religious Complience * Comprehensiveness

To Get Financing from Syaria Banks
* Sex * Agricultural Sector * Service Sector * Government Sector * Acceptance to New Technology * Social Status * Flexibility to Different Culture

Selain individu, perusahaan tentunya juga berperan penting dalam pengembangan bank syariah di daerah ini. Seperti individu, beberapa indikator yang ditetapkan perusahaan

9

sebagai panduan bagi mereka untuk beralih menjadi nasabah dan menggunakan layanan bank syariah seperti (Table 2):
Table 2. Faktor-faktor bagi Nasabah Perusahaan untuk Menggunakan Bank Syariah

To Save in Syaria Banks
* Age * Family Typology * Flexibility to Violate Islamic Rules * Comprehensiveness

To Get Financing from Syaria Banks
* Social Activities * Family Norm * Flexibility to different culture * Flexibility to Violate Islamic Rules

Lebih jauh lagi, nasabah bank syariah lebih cenderung untuk memanfaatkan layanan simpanan bank syariah ketimbang pembiayaan. Tercatat hanya 45% masyarakat yang di survei yang tertarik untuk menerima pembiayaan dari bank syariah dan 55% lebih senang menempatkan dananya. Bagi perusahaan, 58% dari mereka memperoleh pembiayaan dari bank syariah dan 42% hanya ingin menempatkan dananya di bank syariah. III. STRATEGI PENGEMBANGAN BANK SYARIAH DI INDONESIA Secara umum, upaya pengembangan perbankan syariah menuntut komitmen, kerja keras dan kontribusi semua pihak seperti Bank Indonesia, pemerintah, Majelis Ulama Indonesia dan masyarakat keseluruhan. Bank Indonesia sebagai otoritas perbankan di tanah air telah membentuk Direktorat Perbankan Syariah (DPbS) tahun 2003. DPbS bertugas melakukan riset, mengeluarkan kebijakan dan mengawasi bank syariah. Lebih dari itu, secara nasional, BI telah membuat program pengembangan perbankan syariah di Indonesia dalam skema Cetak Biru Perbankan Syariah Indonesia bulan September 2002 yang berdurasi 10 tahun ke depan. Cetak biru tersebut di rancang sebagai Grand strategy untuk mengembangkan tidak hanya bank syariah namun juga pasar uang syariah, kebijakan moneter syariah termasuk instrumen moneter syariah. Sampai sejauh ini Bank Indonesia telah mengambil langkah pengembangan industri perbankan syariah seperti: 1. Memperluas kantor cabang & pembukaan bank syariah baru. 2. Fasilitas office chanelling. 3. Mengeluarkan aturan yang mendukung dan prudential. 4. Menyiapkan pasar uang syariah, dll. Pemerintah dalam hal ini memberikan dukungan seperti merancang Undang-Undang Bank Syariah dan Undang-Undang Sukuk. Saat ini telah banyak modal asing dari Timur Tengah yang sedang menunggu kesempatan untuk ditanamkan di tanah air. Beberapa alternatif kemungkinan investasi yang mereka pikirkan antara lain membuka bank syariah baru atau mengakuisisi bank syariah di Indonesia, membeli sukuk baik swasta maupun pemerintah atau masuk melalui pasar saham dan pasar reksadana syariah. MUI dan masyarakat juga telah banyak memberikan kontribusi bagi usaha pengembangan bank syariah. Selain mengeluarkan fatwa bunga haram tahun 2003 lalu, MUI senantiasa melengkapi fatwa-fatwa produk dan layanan bank syariah termasuk asuransi syariah dan reksadana syariah. Saat ini, apabila dibandingkan dengan hasil survei perbankan syariah Bank Indonesia di atas, penerimaan dan dukungan masyarakat terhadap bank syariah telah semakin meningkat. Selain didukung oleh semakin mudahnya akses mereka kepada layanan bank syariah, gencarnya sosialisasi di level pemerintah sampai masyarakat termasuk

10

di level akademik telah membentuk image dan kesadaran masyarakat akan eksistensi bank syariah. Namun demikian, hasil survei di atas pada dasarnya memberikan masukan kepada kita semua untuk merancang langkah strategis apa yang selayaknya ditempuh lebih lanjut. Disini kita dapat membagi strategi pengembangan bank syariah melalui tiga pendekatan yaitu (1) Regulator seperti pemerintah, BI, MUI, Depkeu, Bapepam, Anggota Dewan dll; (2) Pelaku pasar seperti perbankan, lembaga keuangan non bank, BMT, dll; dan (3) Masyarakat secara umum. Regulator Selain upaya yang telah ditempuh BI dan pemerintah di atas, ada beberapa upaya lain yang bisa dilakukan regulator berdasarkan informasi hasil survei di atas yaitu : 1. Melibatkan semua pemerintah daerah dalam hal sosialisasi dan pengembangan bank syariah di daerahnya masing-masing. 2. Mengkonversi salah satu bank pemerintah menjadi bank syariah terutama yang memiliki daya jangkau hingga ke daerah-daerah terpencil. 3. Merancang kurikulum mata ajaran bank syariah di level akademik termasuk memberikan kemudahan pendirian Universitas yang khusus mengajarkan bidang studi ekonomi dan perbankan syariah. 4. Segera menyetujui UU Bank Syariah dan UU Sukuk sebagai landasan hukum. Pelaku Pasar Selain regulator, pelaku pasar mengambil peran yang sangat strategis karena membentuk kesan positif dan harapan bagi pengembangan bank syariah lebih lanjut. Peran serta mereka diwujudkan melalui: 1. Senantiasa memperbaiki kualitas layanan, fasilitas dan mengeluarkan produk yang sesuai dengan kebutuhan pasar. 2. Bekerja professional dan menguntungkan (profitable) sehingga menarik minat nasabah baru maupun investor. 3. Memanfaatkan office chanelling secara optimal untuk tidak hanya menjaring nasabah baru namun juga menyalurkan pembiayaan ke seluruh daerah. 4. Senantiasa menjaga kesesuaian operasional dan system perbankan dengan ketentuan syariah (syariah compliance). Masyarakat Tentunya masyarakat sebagai pengguna dan pendukung perkembangan bank syariah mempunyai nilai yang sangat strategis dan penting. Sosialisasi di level terkecil seperti rumah tangga, lingkungan sekitar dan sekolah adalah media komunikasi yang sangat efektif, luas serta murah untuk menciptakan kesan positif bagi bank syariah. Dukungan mereka dapat pula diwujudkan melalui aktifitas keagamaan (pengajian, dsb) yang mencakup pengenalan bank syariah sehingga secara tidak langsung membantu upaya pengembangan bank syariah. IV. KESIMPULAN Bank syariah adalah fenomena keuangan menarik dalam sepuluh tahun terakhir di Indonesia. Keberadaannya tidak hanya didukung oleh masyarakat namun juga diharapkan

11

mampu menjadi solusi bagi permasalahan ekonomi di masa datang. Namun demikian, hasil pengamatan di lapangan membuktikan bahwa secara umum masyarakat masih belum paham dan belum menjadi nasabah bank syariah karena kurangnya informasi maupun lemahnya pengetahuan mereka tentang system bank berbasis nilai islam ini. Oleh karena itu, diperlukan upaya menyeluruh dari semua pihak dalam rangka pengembangan industri ini lebih lanjut. References Triyowono, Iwan, et all (2000), Survey Report on Customers’ Potency, Preference and Bahavior Towards Syaria Bank in East Java, Faculty of Economics University of Brawijaya and Bank Indonesia, Jakarta. Ratnawati, Anny, et all (2000), Survey Report on Potency, Preference and Community Attitude Towards Syaria Bank in West Java, Bogor Institute of Agriculture and Bank Indonesia, Jakarta. Research Team of Undip (2000), Survey Report on Customers’ Potency, Preference and Society Bahavior Towards Syaria Banking System in Central Java and Jogjakarta, Faculty of Economics University of Diponeogoro and Bank Indonesia, Jakarta. Engel, James F, Roger D. Blackwell, Paul W. Miniard (1994), Consumer Behavior, 6 th Edition, Indonesian Version, Bina Rupa Aksara, Jakarta. Siregar Mulya, Dhani G Idat, Nasirwan (2000), Development Policy of Syaria Banking in Indonesia, Paper on National Seminar titled: Syaria Banking Contribution as Financing Agent in Recovering National Economy, 2000. Presley, John R and Humayon Dar (1999), Attitude Toward Islamic Finance: An up date of Empirical Evidence, 7th Intensive Orientation Courses: Islamic Economic, Banking and Finance, Leicester, UK. Loudon, David L and Bitta (1984), Consumer Behavior: Concepts and Applications, Mc Graw Hill Singapore. Gibson L, James, Ivancevic, John M, Donelly, James H (1987), Organization: Behavior, Structure and Process, Airlangga, Jakarta.

12


								
To top