Docstoc
EXCLUSIVE OFFER FOR DOCSTOC USERS
Try the all-new QuickBooks Online for FREE.  No credit card required.

komunikasi mama

Document Sample
komunikasi mama Powered By Docstoc
					Berbagai Tingkatan dalam Proses Komunikasi

Menurut Denis McQuail, secara umum kegiatan/proses komunikasi dalam masyarakat
berlangsung dalam 6 tingkatan sebagai berikut :

1. Komunikasi intra-pribadi (intrapersonal communication Yakni proses komunikasi yang
terjadi dalam diri seseorang, berupa pengolahan informasi melalui pancaindra dan sistem
syaraf.Contoh : berpikir, merenung, menggambar, menulis sesuatu, dll.

2. Komunikasi antar-pribadi Yakni kegiatan komunikasi yang dilakukan secara langsung
antara seseorang dengan orang lainnya.Misalnya percakapan tatap muka, korespondensi,
percakapan melalui telepon, dsbnya.

3. Komunikasi dalam kelompok Yakni kegiatan komunikasi yang berlangsung di antara
suatu kelompok. Pada tingkatan ini, setiap individu yang terlibat masing-masing
berkomunikasi sesuai dengan peran dan kedudukannya dalam kelompok. Pesan atau
informasi yang disampaikan juga menyangkut kepentingan seluruh anggota kelompok, bukan
bersifat pribadi.Misalnya, ngobrol-ngobrol antara ayah, ibu, dan anak dalam keluarga, diskusi
guru dan murid di kelas tentang topik bahasan, dsbnya.

4. Komunikasi antar-kelompok/asosiasi Yakni kegiatan komunikasi yang berlangsung
antara suatu kelompok dengan kelompok lainnya. Jumlah pelaku yang terlibat boleh jadi
hanya dua atau beberapa orang, tetapi masing-masing membawa peran dan kedudukannya
sebagai wakil dari kelompok/asosiasinya masing-masing.

5. Komunikasi Organisasi Komunikasi organisasi mencakup kegiatan komunikasi dalam
suatu organisasi dan komunikasi antar organisasi.Bedanya dengan komunikasi kelompok
adalah bahwa sifat organisasi organisasi lebih formal dan lebih mengutamakan prinsip-
prinsip efisiensi dalam melakukan kegiatan komunikasinya.

6. Komunikasi dengan masyarakat secara luas Pada tingkatan ini kegiatan komunikasi
ditujukan kepada masyarakat luas. Bentuk kegiatan komunikasinya dapat dilakukan melalui
dua cara :Komunikasi massa Yaitu komunikasi melalui media massa seperti radio, surat
kabar, TV, dsbnya.Langsung atau tanpa melalui media massa Misalnya ceramah, atau pidato
di lapangan terbuka.

PROSES KOMUN IKASI

      Proses komunikasi adalah bagaimana sang komunikator menyampaikan pesan kepada
komunikannya, sehingga dapat dapat menciptakan suatu persamaan makna antara komunikan
dengan komunikatornya. Proses Komunikasi ini bertujuan untuk menciptakan komunikasi
yag efektif (sesuai dengan tujuan komunikasi pada umumnya).

Proses Komunikasi, banyak melalui perkembangan. Pada penjelasan ini, akan dijelaskan
berbagai proses komunikasi melalui model-model komunikasi itu sendiri :

1.1Model Komunikasi Aristoteles
Aristoteles menerangkan tentang model komunikasi dalam bukunya Rhetorica, bahwa setiap
komunikasi akan berjalan jika terdapat 3 unsur utama :
1. Pembicara, yaitu orang yang menyampaikan pesan
2. Apa yang akan dibicarakan (menyangkut Pesan nya itu sendiri)
3. Penerima, orang yang menerima pesan tersebut.

Proses Komunikasi
Proses`komunikasi`terdiri`dari`enam`tahapan`sebagai`berikut`:                            :
a.Pengirim mempunyai ide yang ingin disampaikan kepada pihak lain.
b.Pengirim mengubahnya menjadi pesan. Pada saat ia mengubah idenya menjadi pesan yang
akan diterima oleh pihak lain, ia menentukan bentuk pesan (kata, ekspresi, wajah, gerak,
isyarat), panjang uraian pesan, susunan nada, dan gaya, semunya tergantung pada ide,
penerima       pesan      (audience),    dan     suasana      hati    penerima      pesan.
c.Pengirim menyampaikan pesan. Untuk mengirimkan pesan kepada penerima, perlu dipilih
saluran komunikasi (verbal atau nonverbal), lisan atau tertulis) dan media yang sesuai
(telepon, komputer, surat, memo, laporan). Saluran dan media yang dipilih tergantung pada
pesan yang akan disampaikan, lokasi penerima, sifat pesan, dan formailtas.
d.Pihak penerima menerima pesan. Komunikasi terjadi apabila audience menerima pesan
terlebih dahulu. Jika pesan yang dikirim dalam bentuk surat, penerima telah membacanya
untuk memahami pesan yang diterimanya. Apabila pesan disampaikan dalam bentuk
presentasi lisan, audience harus dapat mendengar pembicara dan memperhatikan pesan yang
disampaikan.
e.Penerima menafsirkan pesan. Audience harus menyelaraskan pemikiran dengan pihak
pengirim pesan, menerima dan memahaminya, kemudian pesan yang diterima disimpan
dalam pikiran. Jika ini dapat dilakukan dengan baik, pesan dapat ditafsirkan dengan benar.
f.Penerima memberikan reaksi dan mengirim umpan balik. Umpan balik berupa respons
penerima, batas akhir rangkaian komunikasi setelah mendapat pesan, penerima memberikan
respons. Umpan balik merupakan unsur utama dalam proses komunikasi, karena umpan balik
memungkinkan pihak pengirim pesan untuk mengevaluasi efektifitas pesan yang dikirimkan

Bentuk – Bentuk Komunikasi

1. Komunikasi Verbal adalah pertukaraan informasi dengan menggunakan kata-kata, baik
   dalam bentuk lisan maupun tertulis. Conyohnya: ketika perawat memberi penjelasan
   kepada klien, saat dokter membuat catatan perkembangan, dll.
2. Komunikasi nonverbal adalah proses komunikasi dimana pesan disampaikan tidak
   menggunakan kata-kata. Contoh komunikasi nonverbal ialah menggunakan gerak isyarat,
   bahasa tubuh, ekspresi wajah dan kontak mata, penggunaan objek seperti pakaian,
   potongan rambut, dan sebagainya, simbol-simbol, serta cara berbicara seperti intonasi,
   penekanan, kualitas suara, gaya emosi, dan gaya berbicara.

Faktor-faktor yang mempengaruhi komunikasi

   1. Manusia
   2. Pesan
   3. Lingkungan

Faktor Manusia

   a.   Tingkat pengetahuan
   b.   Perkembangan
   c.   Sosiokultural
   d.   Jenis kelamin
    e.   Peran dan tanggug jawab
    f.   Atensi
    g.   Sikap
    h.   Persepsi
    i.   Hubungan
    j.   Status fisik

a.Tingkat pengetahuan

  Pengetahuan memengaruhi kemampuan seseorang untuk mengirim pesan,Mis.,untuk memilih kata-
kata (diksi),menentukan saat pesan harus disampaikan,serta mengembangkan berbagai teknik
komunikasiverbaldannonverbal.Bagiseorangpenerimainformasi(komunikan),pengetahuanpentinguntu
k menginterpretasikan pesan yang disampaikan oleh komunikator,sekaligus untuk memberi umpan
balik kepada pemberi pesan.

b.perkembangan

       perkembangan manusia memengaruhi bentuk komunikasi dalam dua aspek,yaitu tingkat
perkembangan tubuh memengaruhi kemempuan untuk menggunakan teknik komunikasi tertentu dan
untuk mempersepsiksan pesan yang disampaikan. Keterampilan penguasaan bergantung pada
perkembangan neurologi dan kognitif. Bayi berkomunikasi melalui tangisan. Kita tidak mungkin
menerangkan tentang penyakit secara kompleks dan detil kepada anak,karena ia masih sulit menang
kap pesan dari situasi nonverbal.pembahasan tentang pengaruh perkembangan terhadap komunikasi
akan dijelaskan pada bab lain

c.Sosiokultural

`Konsep Manusia Sehat Sakit Dalam Pelayanan Keperawatan

Keperawatan: Suatu bentuk pelayanan professional yg merupakan bagian integral dr
pelayanan kesehatam berbentuk pelayanan biologis, psikologi, social & spiritual secara
komfrehensif yg ditujukan pd individu, keluarga, & masyarakat baik sehat maupun sakit.

Paradigma keperawatan
Manusia=Lingkungan==Kesehatan=keperawatan=manusia

Konsep Manusia
Manusia: Mahluk biopsikososiospiritual yg uutuh dlm arti merupakan satu kesatuan utuh dr
aspek jasmani & unik krn mempunyai berbagai kebutuhan sesuai dngn tingkat kebutuhan.
Sebagai sasaran pelayanan asuhan keperawatan & praktek keperawatan, manusia adalah klien
yg dibedakan menjd individu,keluarga dan masy.

Individu sebagai Klien

Individu : anggota keluarga yg unik sbg kesatuan utuh dr aspek biopsikososiospiritual.
Peran Perawat pd individu sbg klien: Pd dasarnya memenuhi kebutuhan dasarnya yg
mencakup biopsikososiospiritual, krn adanya kelemahan fisik & mental, keterbatasan
pengetahuan, kurang kemauan menuju kemandirian pasien.

Hirarki Maslow tentang kebutuhan dasar Manusia
-Aktualisasi Diri(Kebutuhan dr individu unt mencapai tujuan melalui pengembangan
kemampuan individu tsb)
-Harga diri(Memberikan rasa percaya diri & mandiri pd seseorang)
-Dicintai & rasa memiliki(pada dasarnya mempunyai kebutuhan u/ dicintai & memiliki
termasuk didalamnya mengerti & menerima)
-Keamanan & kenyamanan(Menyangkut komponen fisik & emosional,menjaga klien dr
kemungkinan terjd sesuatu yg merugikan)
-Kebutuhan fisiologi(Kebutuahan pling dasar krn sangat penting dlm kehidupn)

Keluarga Sebagai Klien
Merupakan sekelompok individu yg berhubungan erat secara terus menerus & terjd interaksi
satu dngn yg lain baik perorngn maupun secr bersama2 didlm lingkungnnya sendiri mauoun
masy secr keseluruhan.

Masyarakat sebagai Klien
Suatu pranata yg terbentuk krn interaksi antara manusia & budaya dlm lingknya bersifat
dinamis & terdr dr individu,kelga,kelompk & komunitas yg mempnyai tujuan & norma sbg
system nilai.
Ada 6 Faktor pengaruh masyarakat terhadap kes. Anggota masy=(tersedianya fasilitas
pelayanan kes/pendidikan/rekreasi/transportasi/komunikasi/ social/keyakinan masy)
Konsep sehat sakit

Kesehatan bg seseorang adalah sesuatu yg relative berdasarkan pd nilai & kepercayaan orng
tsb


TINGKAT KEPUASAN TERHADAP KOMUNIKASI TERAPEUTIK
PERAWAT

A. Kepuasan Pelanggan/Pasien
Tjiptono (1997) membahas tentang kepuasan pelanggan berdasarkan teori dari Tse and
Wilton (1988) bahwa kepuasan/ketidak puasan pelanggan adalah respon pelanggan terhadap
evaluasi ketidak sesuaian yang dirasakan antara harapan sebelumnya dan kinerja kerja aktual
produk yang dirasakan setelah pemakaiannya. Selanjutnya Wilkei (1990) kepuasan
didefinisikan sebagai suatu tanggapan emosional pada evaluasi terhadap pengalaman
konsumsi suatu produk atau jasa. Engel, et al (1980) menyatakan bahwa kepuasan pelanggan
merupakan evaluasi pembeli dimana alternatif yang dipilih sekurang-kurangnya sama atau
melampaui harapan pelanggan, sedangkan ketidakpuasan timbul apabila hasil/ outcome tidak
memenuhi harapan (Tjiptono, 1997).
Kotler, et al (1996) menandaskan bahwa kepuasan pelanggan adalah tingkat perasaan
seseorang setelah membandingkan kinerja atau hasil yang ia rasakan dibandingkan dengan
harapannya. Dari berbagai definisi tentang kepuasan itu dapat ditarik kesimpulan bahwa
kepuasan pelanggan mencakup perbedaan antara harapan dan kinerja kerja atau hasil yang
dirasakan (Tjiptono, 1997)
Faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan pasien dikemukakan oleh beberapa teori,
diantaranya adalah Garvin cit Lovelock (1994); Peppard dan Roland (1995), menegaskan
faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan pelanggan/pasien yaitu: a) kinerja/ performance,
karakteristik operasi pokok dari produk inti (core product) yang dibeli; b) ciri-ciri atau
keistimewaan tambahan/features, karakteristik sekunder atau pelengkap; c) keandalan/
reability, kemungkinan kecil akan mengalami kerusakan atau gagal dipakai; d) kesesuaian
dengan spesifikasi/ conformance to specifications, sejauh mana karakteristik desain dan
operasi memenuhi standar-standar yang telah ditetapkan sebelumnya; e) daya
tahan/durability, berkaitan dengan berapa lama produk tersebut dapat terus digunakan; f)
serviceability, meliputi kecepatan, kompetensi, kenyamanan, mudah direparasi; serta
penanganan keluhan yang memuaskan; g) estetika, daya tarik produk terhadap panca indera;
h) kualitas yang dipersiapkan/perceived quality, citra dan reputasi produk serta tanggung
jawab perusahaan terhadapnya (Tjiptono, 1997).
Parasuraman, et al (1985) membahas tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan
yaitu: a) bukti langsung/ tangibles, meliputi fasilitas fisik, perlengkapan, pegawai, dan sarana
komunikasi; b) keandalan/reliability, kemampuan memberikan pelayanan yang dijanjikan
dengan segera, akurat, dan memuaskan; c) daya tanggap/responsiveness, keinginan para staf
dan karyawan untuk membantu para pelanggan dan memberikan pelayanan dengan tanggap;
d) jaminan/assurance, mencakup pengetahuan, kemampuan, kesopanan dan sifat dapat
dipercaya dari para staf; e) empati, kemudahan dalam melakukan hubungan, komunikasi
yang baik, perhatian pribadi dan memahami kebutuhan para pelanggan (Tjiptono, 1997).
Wijono (1999), juga membahas beberapa faktor yang mempengaruhi kepuasan pasien dalam
menerima pelayanan kesehatan, yaitu: a) pendekatan dan perilaku petugas saat kontak
pertama dengan pasien yang baru datang; b) mutu informasi yang diterima oleh pasien saat
mendapatkan pelayanan kesehatan dari petugas kesehatan; c) prosedur perjanjian; d) waktu
tunggu; e) fasilitas umum yang tersedia; f) fasilitas penginapan untuk pasien, seperti mutu
makanan, privasi, dan pengaturan kunjungan; g) outcome tercapai dan perawatan yang
diterima.

B. Pelayanan Keperawatan
Pelayanan keperawatan yaitu suatu bentuk pelayanan profesional yang merupakan bagian
integral dari pelayanan kesehatan, dimana pelaksanaannya didasarkan pada ilmu dan kiat
keperawatan, berbentuk pelayanan holistik biopsikososiospiritual yang komprehensif,
ditujukan kepada individu, keluarga dan masyarakat baik sakit ataupun sehat yang mencakup
seluruh proses kehidupan manusia (Gaffar, 1999).
Pelayanan keperawatan yaitu berupa bantuan yang diberikan karena adanya kelemahan fisik
dan mental, keterbatasan kemampuan serta kurangnya kemauan menuju kepada kemampuan
melaksanakan kegiatan hidup sehari-hari secara mandiri. Upaya-upaya yang dilakukan dalam
pelayanan keperawatan meliputi peningkatan kesehatan (promotif), pencegahan penyakit
(preventif), penyembuhan penyakit (kuratif) dan pemulihan (rehabilitatif) dengan penekanan
pada upaya pelayanan kesehatan utama sesuai dengan tanggung jawab dan etika profesi
keperawatan (Gaffar, 1999).
Kusnanto (2004), membahas tentang teori konsep dan model keperawatan Henderson ada 14,
yaitu pemberian bantuan terhadap pemenuhan kebutuhan dasar manusia secara
biopsikososiospiritual yang mencakup 14 komponen yaitu a) memenuhi kebutuhan oksigen;
b) memenuhi kebutuhan nutrisi, keseimbangan cairan dan elektrolit; c) memenuhi kebutuhan
eliminasi; d) memenuhi kebutuhan keamanan; e) memenuhi kebutuhan kebersihan dan
kenyamanan; f) memenuhi kebutuhan istirahat dan tidur; g) memenuhi kebutuhan gerak dan
kegiatan jasmani; h) memenuhi kebutuhan spiritual; i) memenuhi kebutuhan emosional; j)
mencegah dan mengatasi reaksi fisiologis; k) memenuhi kebutuhan komunikasi; l) memenuhi
kebutuhan pengobatan dan membantu proses penyembuhan; m) memenuhi kebutuhan
penyuluhan; dan n) memenuhi kebutuhan rehabilitasi. Pelayanan keperawatan di rumah sakit
dilakukan di unit rawat jalan, unit gawat darurat, unit rawat inap, termasuk didalamnya yaitu
unit perawatan intensif, unit bedah dan kamar bersalin.
Smeltzer dan Bare (2002) menegaskan bahwa dalam membantu memenuhi kebutuhan dasar
manusia secara biopsikososiospiritual dapat dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan
proses keperawatan, sebab proses keperawatan merupakan suatu sistem yang cermat untuk
mengidentifikasi dan menyelesaikan masalah-masalah kesehatan dalam rangka memenuhi
kebutuhan kesehatan dan keperawatan seseorang.

C. Komunikasi Terapeutik
Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang direncanakan, disengaja, dan dan merupakan
tindakan profesional. Komunikasi terapeutik bertujuan membantu memahami klien, mencapai
hubungan baik perawat dan klien, dan membantu klien memahami tujuan dari tindakan
perawatan yang dilakukan (Potter & Perry, 2005).
Wawancara klinis atau komunikasi terapeutik adalah salah satu strategi dalam penerapan
proses keperawatan, karena dapat meningkatkan kualitas hubungan perawat-pasien,
memberikan informasi yang diperlukan untuk melakukan pengkajian menyeluruh pada status
kesehatan indivudu/pasien serta mengidentifikasi landasan untuk membuat diagnosa
keperawatan. Dalam penerapan wawancara klinis atau komunikasi terapeutik perilaku
perawat dan teknik komunikasi terapeutik perlu dipelajari dan dipahami sehingga
mempermudah perawat dalam penerapannya (Smeltzer & Bare, 2002).
1. Tujuan Komunikasi Terapeutik
Tujuan komunikasi terapeutik menurut Purba, JM (2006) adalah untuk mengumpulkan
berbagai informasi yang mendukung. Teknik komunikasi verbal dan non verbal dipergunakan
untuk menghasilkan data yang akurat, yang nantinya dipergunakan untuk menentukan
masalah keperawatan. Pada tahap berikutnya, setelah diagnosa keperawatan dirumuskan,
perawat akan mengomunikasikannya kepada klien untuk kemudian mengajak klien
bekerjasama menyusun rencana keperawatan. Perawat dapat meminta pendapat klien tentang
masalah keperawatan yang mereka hadapi, tujuan perawatan, dan teknik perawatan yang
akan dilakukan. Pada tahap ini komunikasi menjadi bagian penting untuk mengembangkan
rencana keperawatan.
2. Komponen Dasar Komunikasi Terapeutik
Suryani (2006) menyatakan unit dasar komunikasi terdiri dari seorang pengirim, seorang
penerima dan sebuah pesan dalam konteks tertentu.
Melalui tambahan rangkaian umpan balik sehingga menjadi komunikasi dua arah. Lima unsur
yang diperlukan untuk terjadi komunikasi, yaitu; a) Komunikator, komunikator (pembawa
berita) bisa individu, keluarga maupun kelompok yang mengambil inisiatif dalam
menyelenggarakan komunikasi dengan individu atau kelompok lain yang menjadi
sasarannya. Komunikator bisa juga berarti tempat berasalnya sumber pengertian yang
dikomunikasikan; b) Message, message (pesan) adalah berita yang disampaikan oleh
komunikator melalui lambang-lambang, pembicaraan, gerakan dan sebagainya. Message bisa
berupa gerakan, sinar, suara, lambaian tangan, atau tanda-tanda lain dengan interprestasi yang
tepat akan memberikan arti dan makna tertentu. Di rumah sakit message ini berupa nasehat
dokter, hasil konsultasi pada status klien dan laporan; c) komunikan, komunikan adalah objek
sasaran dari kegiatan komunikasi atau orang yang menerima berita atau lambang. Bisa berupa
klien, individu, keluarga maupun masyarakat; d) feed back (umpan balik), feed back yaitu
umpan balik dalam rangka proses berlangsungnya komunikasi. Hal ini bisa juga dijadikan
patokan sejauh mana pencapaian dari pesan yang telah disampaikan; e) channel, channel
(saluran) adalah sarana tempat berlakunya lambang-lambang. Saluran tersebut meliputi
pendengaran (lambang berupa suara), penglihatan (lambang berupa sinar, pantulan sinar atau
gambar), penciuman (lambang yang berupa bau-bauan) dan rabaan (lambang-lambang berupa
rangsangan rabaan). Jadi secara keseluruhan saluran ini bisa berupa radio, televisi, majalah
atau koran.
3. Jenis-jenis Komunikasi Terapeutik
Komunikasi terapeutik merupakan salah satu sarana bagi perawat untuk menjadi terapeutik
(Nurjannah, 2001). Potter dan Perry (2005) menjabarkan jenis-jenis komunikasi terapeutik
ada tiga, yaitu: a) komunikasi verbal, bentuk komunikasi terapeutik individu mengirimkan
pesan adalah dengan cara verbal. Komunikasi verbal meliputi kata-kata yang diucapkan
maupun ditulis. Kata-kata adalah media atau simbol yang digunakan untuk mengekspresikan
ide atau perasaan, menimbulkan respon emosional, atau menggambarkan objek, observasi,
kenangan atau kesimpulan; b) komunikasi tertulis merupakan salah satu bentuk komunikasi
yang sering digunakan dalam bisnis, seperti komunikasi melalui surat menyurat, pembuatan
memo, laporan, iklan di surat kabar dan lain-lain. Adapun prinsip-prinsip komunikasi tertulis
yaitu: lengkap, ringkas, pertimbangan, kongkrit, jelas, sopan, dan benar; c) komunikasi non
verbal, merupakan penyampaian pesan tanpa kata-kata dan komunikasi non verbal
memberikan arti pada komunikasi verbal, yang termasuk komunikasi non verbal: 1) kinesics,
merupakan komunikasi non verbal yang dilakukan melaluipergerakan tubuh; 2)
paralanguage, menunjukkan pada bahasa itu sendiri, vokal dapat membedakan emosi yang
dirasakan satu orang dengan orang lain; 3) proxemics, ilmu yang mempelajari antara jarak
hubungan dalam interaksi sosial; 4) sentuhan, alat komunikasi yang sangat kuat yang dapat
menimbulkan reaksi positif dan negatif. Sentuhan penting dilakukan pada situasi emosional
karena akan menunjukkan kepedulian kita kepada klien; 5) cultural artifact, hal- hal yang ada
dalam interaksi seseorang dengan orang lain yang mungkin bertindak sebagai rangsang non
verbal, misalnya: baju, kosmetik, parfum, bau badan dll; 6) gaya berjalan, menunjukkan
keadaan seseorang misal: gaya berjalan semangat dan gembira menunjukan orang itu sehat,
sebaliknya gaya berjalan menyeret menunjukkan sedih atau kecil hati; 7) penampilan fisik
umum, kulit yang kering atau keriput akan mengkomunikasikan kepada kita bahwa orang
tersebut sedang mengalami kekurngan cairan atau dehidrasi (Nurjannah, 2005).
4. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Proses Komunikasi Terapeutik
Nurjannah, (2005) membahas faktor-faktor yang mempengaruhi komunikasi terapeutik
berdasarkan konsep teori dari Potter dan Perry (1993) meliputi :
a. Usia perkembangan, agar dapat berkomunikasi dengan efektif, perawat harus mengerti
pengaruh dari perkembangan usia, baik dari sisi bahasa, proses pikir pada diri klien.
b. Persepsi, pandangan pribadi seseorang terhadap suatu kejadian atau peristiwa. Persepsi ini
dibentuk oleh harapan atau pengalaman seseorang. Perbedaan persepsi dapat mengakibatkan
terhambatnya proses komunikasi.
c. Nilai adalah standar yang mempengaruhi perilaku sehingga penting bagi perawat untuk
menyadari nilai yang dianut oleh klien. Perawat perlu berusaha untuk mengetahui dan
mengklarifikasi nilai pada klien sehingga dapat membuat keputusan dan interaksi yang tepat
dengan klien. Dalam hubungan profesional, perawat diharapkan tidak terpengaruh oleh nilai
personalnya.
d. Latar belakang sosial budaya, bahasa dan gaya komunikasi akan sangat dipengaruhi oleh
faktor budaya. Budaya juga akan membatasi cara bertindak dan berkomunikasi.
e. Emosi, merupakan perasaan subyektif terhadap suatu kejadian. Emosi seperti marah, sedih,
senang akan mempengaruhi perawat dalam berkomunikasi dengan pasien. Perawat perlu
mengkaji emosi klien dan keluarganya sehingga perawat mampu memberikan asuhan
keperawatan dengan tepat. Selain itu perawat juga perlu mengevaluasi emosi yang ada pada
dirinya agar dalam melaksanakan asuhan keperawatan tidak terpengaruhi emosi bawah
sadarnya.
f. Jenis kelamin, wanita dan laki-laki mempunyai gaya komunikasi yang berbeda.
g. Pengetahuan, tingkat pengetahuan mempengaruhi komunikasi yang dilakukan seseorang.
Bila seseorang tingkat pengetahuannya rendah akan sulit berespon terhadap pertanyaan yang
mengandung bahasa verbal dengan tingkat penegtahuan yang lebih tinggi. Perawat perlu
mengetahui tingkat pengetahuan pasien agar perawat dapat berinteraksi dengan baik dan
akhirnya dapat memberikan asuhan keperawatan yang tepat kepada pasien.
h. Peran dan hubungan, gaya komunikasi sesuai dengan peran dan hubungan diantara orang
yang berkomunikasi. Cara komunikasi seorang perawat dengan koleganya akan berbeda
caranya saat berkomunikasi dengan pasien, tergantung perannya.
i. Lingkungan, interaksi mempengaruhi proses komunikasi yang efektif. Suasana yang bising,
tidak ada privasi yang tepat akan menimbulkan kerancuan, ketegangan dan ketidaknyamanan.
Untuk itu perawat perlu menyediakan lingkungan yang tepat dan nyaman sebelum
berinteraksi dengan pasien.
j. Jarak, jarak dapat mempengaruhi komunikasi, karena jarak menyediakan rasa aman dan
kontrol. Individu akan marasa terancam ketika seseorang yang tidak dikenalnya, tiba-tiba
berada pada jarak yang dekat dengan dirinya. Hal itu juga dialami pasien pada saat pertama
kali berinteraksi dengan perawat. Oleh karena itu, perawat perlu memperhitungkan jarak
yang tepat pada saat berinteraksi dengan pasien.
5. Tahapan Interaksi Perawat-Pasien Dalam Komunikasi Terapeutik
Tahap interaksi adalah merupakan tahap dalam membina hubungan terapeutik perawat
dengan klien. Tahap interaksi terdiri dari empat tahap yang setiap tahapnya terdapat tugas
yang harus di lakukan oleh perawat. Keempat tahap itu adalah sebagai berikut:
a. Tahap pre interaksi, merupakan tahap dimana perawat belum bertemu dengan pasien.
Tugas perawat dal tahap ini adalah: 1) mendapatkan informasi tentang klien (dari medical
record atau sumber yang lain); 2) mencari literatur tentang masalah yang dialami klien; 3)
mengeksplorasi perasaan, fantasi dan kekuatan diri; 4) menganalisa kekuatan dan kelemahan
profesional diri; 5) membuat rencana pertemuan dengan klien,meliputi: tipe spesifik yang
akan dicari, metode yang tepat untuk wawancara, setting ruang/waktu yang tepat.
b. Tahap orientasi atau perkenalan, merupakan tahap dimana perawat pertama kali bertemu
dengan klien. Tugas perawat dalam tahap ini adalah: 1) melakukan kontrak dengan
pasien,meliputi: nama perawat dan klien termasuk nama yang disukai, peran perawat yang
diharapkan dari perawat dan klien, tanggung jawab dari perawat dan klien, tujuan,
kerahasiaan, harapan, topik, waktu dilakukannya interaksi; 2) membina hubungan saling
percaya dengan klien.
c. Tahap kerja, merupakan tahap dimana perawat memulai kegiatan wawancara. Tugas
perawat saat ini adalah melaksanakan kegiatan yang telah direncanakan pada tahap pra
interaksi.
d. Tahap terminasi, merupakan tahap dimana perawat akan menghentikan interaksinya
dengan klien, tahap ini bisa merupakan terminasi sementara maupun terminasi akhir. Pada
tahap ini perawat mempunyai tugas: 1) mengevaluasi kegiatan kerja yang telah dilakukan
baik secara kognitif maupun afektif; 2) merencanakan tindak lanjut dengan pasien; 3)
melakukan kontrak; 4) mengakhiri terminasi dengan cara yang baik. (Nurjannah, 2005)


D. Pasien
Linberg & Hunter (1998) cit Mahendrawati (2007), pasien adalah seseorang yang menunggu
atau mencari pengobatan medik dan perawatan. Secara tradisional, pasien yaitu yang
menerima layanan kesehatan. Biasanya seseorang menjadi pasien bila memerlukan bantuan
karena sakit atau pembedahan.
Nasikin (2002) cit Mahendrawati (2007), pasien adalah individu, keluarga, kelompok tertentu
atau masyarakat dalam berbagai keadaan sehat atau sakit yang membutuhkan dan menerima
pelayanan kesehatan atau keperawatan.

E. Landasan Teori
Dari beberapa tinjauan kepustakaan, maka diperoleh landasan teori sebagai berikut :
Kepuasan pelanggan atau respon pelanggan terhadap evaluasi ketidak sesuaian yang
dirasakan antara harapan sebelumnya dan kinerja kerja aktual dipengaruhi oleh beberapa
faktor diantaranya: a) bukti langsung/tangibles, meliputi fasilitas fisik, perlengkapan,
pegawai, dan sarana komunikasi yang berhubungan dengan komunikasi terapeutik perawat;
b) keandalan/reliability, kemampuan memberikan pelayanan yang dijanjikan dengan segera,
akurat, dan memuaskan diantaranya bagaimana perawat dapat memberikan pelayanan yang
maksimal berhubungan dengan komunikasi terapeutik; c) daya tanggap/ responsiveness,
keinginan para staf dan karyawan untuk membantu para pelanggan dan memberikan
pelayanan dengan tanggap terhadap kebutuhan pasien; d) jaminan/assurance, mencakup
pengetahuan, kemampuan, kesopanan dan sifat dapat dipercaya dari para staf dalam
penarapan komunikasi terapeutik; e) empati, kemudahan dalam melakukan hubungan,
komunikasi yang baik, perhatian pribadi, dan memahami kebutuhan pasien.
Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang direncanakan, disengaja dan merupakan
tindakan profesional dari perawat untuk memperoleh informasi tentang status kesehatan
pasien, membentuk hubungan baik antara perawat dengan pasien dan membantu pasien
memahami tujuan tindakan keperawatan yang dilakukan, bertujuan untuk kesembuhan
pasien, dengan menggunakan pendekatan atau teknik komunikasi verbal maupun nonverbal.
Komponen dasar dalam komunikasi terapeutik: pengirim pesan (sender) dan isi pesan/materi,
simbol/ isyarat, media/penghubung, mengartikan kode/isyarat, penerima pesan balikan
(feedback), gangguan. Tahapan dalam komunikasi terapeutik pre-interaksi, orientasi, tahap
kerja dan terminasi. Beberapa faktor-faktor yang dapat mempengaruhi komunikasi antara
perawat dan pasien: perkembangan persepsi, nilai, latar belakang sosial budaya, emosi, jenis
kelamin, pengetahuan, peran dan hubungan, lingkungan, serta jarak.
Pasien adalah adalah individu, keluarga, kelompok tertentu atau masyarakat dalam berbagai
keadaan sehat atau sakit yang membutuhkan dan menerima pelayanan kesehatan atau
keperawatan.




Sehat : Keadaan seimbang yg dinamis antara bentuk & fungsi tubuh serta berbagai factor yg
berusaha mempengaruhinya (Parkins,1938)

Sehat adalah keadaan sempurna dr factor mental, social, tdk hanya bebas dr peny at
kelemahan (WHO)
Derajat Kesehatan seseorang sngt dipengaruhi keluarga, komunitas & masy dimn seseorang
itu tinggal.

KONSEP MODEL SEHAT
-The clinical Model : sehat=bebas dr gejala penykt
-The role performenced model : sehat=kemampuan memenuhi peran social
-The adaptive model : sehat=merupkan suatu proses kreatif
-The eudemonistic model : sehat=suatu kondisi dr aktualisasi & realisasi kemampuan
seseorang.

Sakit : suatu keadaan yg tdk menyenangkan yg menimpa seseorang sehingga menimbulkan
gangguan aktivitas sehari2 baik jasmani,rohani & social (parkins 1987)
Penyakit : suatu kelainan dr fungsi tubuh. Keadaan ini mempunyai tanda gejala specific
dimana sehat & sakit seseorang tergantung pd persepsi masing2.

Tahapan proses sakit: tahap gejala/ asumsi terhadap sakit/ kontak dngn pelayanan kes./
ketergantungan/ penyembuhan

Dampak sakit : terjd perubahan pd peran keluarga/ gangguan psikologis/ masalah keuangan/
kesepian akibat berpisah/ perubahan kebiasaan social/ privacy terganggu/ otonomi terganggu/
perubahan gaya hidup.

Prilaku pada orang sakit : Ada perasaan ketakutan/ menarik diri/ egosentris/ sensitive/
emosional meningkat/ perubahan persepsi/ berkurangnya minat.

Tahap/Tindakan pencegahan
1.Primary Preventive care= ditujukan terhdp peningktn kes. & perlindungan secara specific
terhadap peny.
2.Secondary Preventive care= pemeliharaan kesehatan & pencegahan pd komplikasi yg dpt
terjadi
3.Tertiary preventive care= penyembuhan klien & memulihkan pd keadaan maksimum
setelah sakit.
Faktor yg mempengaruhi sehat sakit= Biologis/ emosional/ intelektual/ lingkungan/social-
kultural/ spiritual

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:187
posted:9/13/2011
language:Indonesian
pages:10