BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Kemajuan dan perkembangan teknologi dewasa ini ternyata tidak hanya membawa pengaruh positif bagi masyarakat tetapi juga membawa dampak yang negatif bagi kehidupan masyarakat. Mudahnya masyarakat mengakses informasi dari berbagai belahan dunia dan pengaruh liberalisasi barat ternyata semakin memperburuk moral bangsa. Salah satu dampak negatif yang paling terasa adalah semakin mudahnya generasi bangsa Indonesia mengakses informasi yang bersifat negatif dari internet sehingga berakibat pada pola dan gaya kehidupan bebas termasuk dalam hal kehidupan seksual. Peredaran VCD porno dan maraknya pornografi di Indonesia menunjukkan betapa rendahnya moral bangsa Indonesia saat ini. Tindakan asusila terjadi sebagai refleksi dan hasrat seksual yang tidak tersalurkan sehingga mencari pelampiasan dengan cara apapun termasuk tindak pidana perkosaan. Perkosaan terjadi tidak hanya di kota tetapi di daerah-daerah pun seringkali terjadi dan pelakunya tidak hanya para pemuda atau remaja bahkan seringkali orang yang sudah tua pun melakukan. Tidak hanya terhadap orang lain tetapi seringkali dijumpai kasus perkosaan yang dilakukan seorang kakek terhadap cucunya atau pun seorang bapak yang memperkosa anaknya hanya untuk mendapatkan kepuasan seksual semata.
1
Banyak
kasus
terjadi
terutama
kasus
perkosaan
yang
sulit
diselesaikan secara tuntas apabila mengacu pada peraturan hukum yang ada saat ini. Secara umum hukum belum memberikan perlindungan yang cukup memadai utamanya perempuan dan anak sebagai korban tindak pidana perkosaan. Korban atau saksi korban yang seharusnya ditempatkan sebagai pihak yang harus dilindungi hak - haknya seringkali dilanggar hajnya, bahkan seringkali diperlakukan sebagai pelaku tindak pidana. Dalam pembuktian di dalam persidangan serta pencarian bukti-bukti, seringkali justru menyudutkan korban perkosaan, sehingga korban perkosaan lebih menghindar dari penyelesaian hukum. Salah satu cara memperjuangkan hak-hak korban perkosaan adalah melalui pengumpulan bukti-bukti yang dapat melindungi korban, memperkuat posisi korban, serta mengungkapkan tindak pidana perkosaan dalam persidangan di pengadilan. Berbagai upaya dilakukan dalam memperoleh bukti-bukti yang mengacu pada tindak pidana perkosaan. Bukti-bukti tersebut berhubungan erat dengan tersangka, saksi dan korban perkosaan itu sendiri. Bukti-bukti sangat diperlukan mengingat tindak pidana perkosaan merupakan tindak pidana yang proses persidangannya dilakukan secara tertutup dan tindak pidana ini baru diproses apabila ada laporan dari korban atau orang lain yang menyaksikan tindak pidana tersebut, sehingga tidak menutup kemungkinan akan sangat sulit menemukan bukti-bukti dalam mengungkap kasus perkosaan. Dalam proses mengungkap tindak pidana perkosaan, penegak hukum wajib mengusahakan pengumpulan data maupun fakta-fakta mengenai suatu
3
tindak perkara
pidana perkosaan.
Secara
outentik Bukti-bukti
yang
dikumpulkan harus dapat membuktikan bahwa tindakan si pelaku benarbenar memenuhi unsur-unsur tindak pidana perkosaan. Tetapi seringkali para penegak hukum kesulitan menemukan bukti-bukti yang dapat membuktikan unsur-unsur telah dilakukannya tindak pidana perkosaan oleh si pelaku, karena tindak pidana ini merupakan tindak pidana kesusilaan yang menyangkut harkat dan kehormatan seseorang serta bersifat pribadi. Artinya tindak pidana ini merupakan tindak pidana yang seringkali sulit diungkap. Kesulitan yang seringkali dialami adalah sulitnya menemukan bukti-bukti dan saksi tindak pidana ini. Salah satu cara yang digunakan oleh aparat penegak hukum untuk mengungkapkan tindak pidana ini adalah dengan meminta bantuan dokter ahli dalam kedokeran kehakiman (forensik) dengan meminta laporan berupa Visum et Repertum. Visum et Repertum selama ini dianggap mampu menjadi salah satu alat bukti yang dapat digunakan untuk penyelesaian tindak pidana perkosaan. Dalam pembuktiannya di pengadilan Visum et Repertum dapat digunakan sebagai alat bukti surat berupa keterangan ahli apabila bentuk Visum et Repertum tersebut berupa laporan yang diperoleh dari dokter ahli dalam kedokteran kehakiman (forensik). Pendekatan yuridis mengenai Visum et Repertum didalam peraturan perundang-undangan pidana Indonesia menunjukkan bahwa terdapat
masalah mendasar mengenai kedudukan Visum et Repertum.
4
1. Pasal 179 KUHAP a. Setiap orang yang diminta pendapatnya sebagai ahli kedokteran kehakiman atau dokter atau ahli lainnya wajib memberikan keterangan ahli demi keadilan. b. Semua ketentuan tersebut diatas untuk saksi berlaku juga bagi saksi yang memberikan keterangan ahli, dengan ketentuan bahwa mereka mengucapkan sumpah atau janji akan memberikan keterangan yang sebaik-baiknya dan yang sebenar-benarnya menurut pengetahuan dalam bidang keahliannya. 2. Pasal 180 KUHAP a. Dalam hal diperlukan untuk menjernihkan duduknya persoalan yang timbul di sidang pengadilan, hakim ketua sidang dapat minta keterangan ahli dan dapat pula minta agar diajukan bahan baru oleh yang berkepentingan. b. Dalam hal timbul keberatan yang beralasan dari terdakwa atau penasihat hukum terhadap hasil keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) hakim memerintahkan agar hal itu dilakukan penelitian ulang. c. Hakim karena jabatannya dapat memerintahkan untuk dilakukan penelitian ulang sebagaimana tersebut pada ayat (2) d. Penelitian ulang sebagaimana tersebut pada ayat (2) dan ayat (3) dilakukan oleh instansi semula dengan komposisi personil yang berbeda dan instansi lain yang mempunyai wewenang untuk itu. 3. Pasal 184 KUHAP ayat 1 huruf b a. Alat bukti yang sah ialah : 1) keterangan ahli. 4. Pasal 186 KUHAP “Keterangan ahli ialah apa yang seorang ahli nyatakan di sidang pengadilan.” Sedangkan mengenai bentuk Visum et Repertum sebagai alat bukti surat diatur dalam Undang-Undang No. 8 Tahun 1981 tentang hukum acara pidana yaitu:
5
Terdapat pada pasal 187 KUHAP yang bunyinya sebagai berikut: Surat sebagaimana tersebut pada pasal 184 ayat (1) huruf c, dibuat atas sumpah jabatan atau dikuatkan dengan sumpah adalah: a. Berita acara dan surat lain dalam bentuk resmi yang dibuat oleh pejabat umum yang berwenang atau yang dibuat dihadapannya, yang memuat keterangan tentang kejadian atau keadaan yang didengar, dilihat atau yang dialaminya sendiri, disertai dengan alasan yang jelas dan tegas tentang keterangannya itu; b. Surat yang dibuat menurut ketentuan peraturan perundang-undangan atau surat yang dibuat oleh pejabat mengenai hal yang termasuk dalam tata laksana yang menjadi tanggung jawabnya dan yang diperuntukkan bagi pembuktian sesuatu keadaan; c. Surat keterangan dari seorang ahli yang memuat pendapat
berdasarkan keahliannya mengenai sesuatu hal atau sesuatu keadaan yang diminta secara resmi daripadanya ; d. Surat lain yang hanya dapat berlaku jika ada hubungannya dengan isi dari alat pembuktian yang lain.1 Essensi dari semua ketentuan di atas sepanjang mengenai
keterangan ahli ialah sekalipun kesaksian ahli dilakukan dibawah sumpah (pasal 179 ayat (2) KUHAP) keterangan ahli bukan merupakan bukti yang mengikat hakim dalam menjatuhkan keputusannya. Dalam banyak kasus tindak pidana ( perkosaan ) Visum et Repertum telah diangap sebagai alat bukti yang sah dalam penyelesaian proses untuk
Romli Atmasasmita. Kapita Selekta Hukum Pidana Dan Kriminologi. Mandar Maju Bandung. 1995, h.184
1
6
mengungkap kasus tindak pidana perkosaan. Sehingga peranan Visum et Repertum dalam pembuktian didalam proses persidangan sangatlah penting. Visum et Repertum seringkali dianggap sebagai salah satu penentu pertimbangan hakim dalam memutuskan perkara perkosaan bila terjadi keraguan dalam pengumpulan bukti-bukti.
B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang uraian tersebut di atas, maka dapatlah dirumuskan masalah sebagai berikut: Bagaimana peran Visum et Repertum sebagai salah satu alat bukti yang dapat membantu mengungkap suatu kasus pidana di persidangan?
C. Tujuan dan Manfaat Penulisan 1. Tujuan Penulisan Untuk mengetahui dan menganalisis peranan Visum et Repertum dalam analisa hasil keputusan yang telah disidangkan Pengadilan Negeri Tenggarong dengan Nomor Perkara : 136 / Pid. B / 2008 / PN. Tgr. 2. Manfaat Penulisan a. Sebagai sarana untuk mengembangkan wacana tentang peranan Visum et Repertum dalam mengungkap tindak pidana perkosaan. b. Sebagai proses pembelajaran dalam memecahkan persoalan yang secara riil terjadi di masyarakat utamanya tentang tindak pidana perkosaan dimana Visum et Repertum mempunyai peran yang sangat penting.
7
D. Tinjauan Pustaka a. Visum et Repertum Pembuktian dengan menggunakan Visum et Repertum makin lama makin banyak dipergunakan untuk membuktikan suatu kejadian.
Pengertian Visum et Repertum adalah suatu keterangan tertulis yang dibuat oleh dokter atas sumpah yang diucapkan pada waktu berakhirnya pelajaran kedokteran, mempunyai daya bukti yang sah pengadilan selama keterangan itu memuat segala sesuatu yang diamati (terutama yang dilihat dan ditemukan) pada benda yang diperiksa. Menurut staatsblad tahun 1937 no 350 visum et Repertum atau visa Reperta adalah laporan tertulis untuk yustisi yang dibuat oleh dokter berdasarkan sumpah, tentang segala hal yang dilihat dan ditemukan pada benda yang diperiksa menurut pengetahuan yang sebaik-baiknya. b.Alat Bukti yang dimaksud dengan alat bukti adalah suatu benda atau alat yang dapat digunakan sebagai kesaksian atau bukti dalam mengungkap suatu kejahatan. Dalam hal ini, keberadaan hasil Visum et Repertum tersebut dapat menjadi alat bukti petunjuk bagi hakim dalam mengambil putusannya dalam kasus pidana. Bukti petunjuk itu sendiri hanya dapat diproleh hakim melalui keterangan saksi, dalam bukti surat, atau dalam keterangan terdakwa dalam satu kasus. Sebagaimana diketahui bahwa alat bukti dalam hukum acara pidana diatur dalam KUHAP yaitu pasal 184 ayat 1 yaitu ; 1. saksi
8
2. keterangan ahli keterangan 3. surat 4. petunjuk, dan 5. keterangan terdakwa c. Pembuktian pembuktian merupakan tahap yang paling menetukan dalam proses persidangan pidana mengingat pada tahap pembuktian tersebut akan ditentukan terbukti tidaknya seorang terdakwa yang melakukan perbuatan pidana sebagaimana yang didakwakan penuntut umum dalam
persidangan d. Persidangan suatu peroses yang membahas tuntutan atau surat dakwaan jaksa dimana dihadirkan tersangka dan saksi berserta barang bukti dan dipimpin oleh majelis hakim e. studi kasus merupakan suatu kegiatan yang menyangkut pada masalah atau hukum tertentu. f. putusan merupakan hasil kesimpulan dalam proses persidangan
E. Metode Penelitian Dalam hal ini agar mempunyai nilai kebenaran yang tinggi maka penulisan menggunakan metode penelitian sebagai berikut : 1. Pendekatan masalah
9
Berdasarkan judul yang terurai, maka meteri yang akan penulis bahas tentunya berkaitan dengan judul skripsi ini. Pendekatan masalah yang penulis pergunakan yaitu pendekata yuridis normatif yang merupakan penelitian kepustakaan. 2. Bahan Hukum Data dalam penelitian ini menggunakan data sekunder karena penelitian hukun ini merupakan penelitian hukum normative.
Berhubung menggunakan data sekunder maka data sekunder tersebut diperoleh dari bahan hukum perimer, sekunder. a. Bahan Hukum Primer Yang dimaksud dengan bahan hukum primer dalam penelitian ini adalah bahan hukuim yang mempunyai kekuatan mengikat dan berlaku dalam waktu tertentu. b. Bahan Hukum Sekunder Bahan hukum sekunder yang digunakan dalam penelitian ini adalah bahan hukum yang memberi penjelasan mengenai bahan hukum primer yang berupa literatur-literatur. 3. Pengumpulan dan Pengolahan Bahan Hukum. Penelitian dalam rangka penulisan ini bersifat normatif yaitu didasarkan atas pemikiran yang logis dan runtut dengan menelaah peraturan perundang-undangan yang berlaku dan ada kaitannya dengan permasalahan yang dibahas.
10
4. Analisa Bahan Hukum Analisa data dalam penelitian ini adalah menggunakan analisis induktif yaitu cara berfikir yang menuju kesimpulan fakta-fakta yang khusus, peristiwa-peristiwa yang khusus dan konkrit. Kemudian dari fakta-fakta atau peristiwa-peristiwa yang khusus dan konkrit itu ditarik kesimpulan yang bersifat umum.
F. Pertanggungjawaban Sistematika. Sistematika penyusunan skripsi ini saya bagi menjadi 4 (empat) Bab terdiri dari sub-sub yang berurutan dengan alasan untuk memperjelas masalah-masalah dalam latar belakang, secara teori sebagai penunjang untuk memberikan penjelasan dalam pembahasan masalah yang terdiri yaitu sebagai berikut ; Bab I : Pendahuluan, pembahasan yang mengawali rangkaian uraian dalam
bab-bab
selanjutnya,
didalamnya
berisikan
gambaran umum atas masalah yang ada dalam skripsi ini. Subsub terdiri dari 6 ( enam ) sub yaitu ; Latar belakang, Rumusan masalah, tinjauan dan pemanfaatan penulisan, Tinjauan pustaka, Metode penelitian, pertanggung jawaban sistematika. Bab II : Beberapa fakta yang terungkap dari kasus Persidangan Pengadilan Negeri Tenggarong, pada bab ini di bagi 6 (enam) sub yaitu : Analisa kasus Posisi, Dakwaan, Keterangan saksi, Keterangan terdakwa, tuntutan, Putusan hakim.
11
Bab III :
Putusan Hakim dalam kasus perkosaan pada Pengadilan Negeri Tenggarong kalimantan timur. Bab ini terbagi atas 2 (dua) sub, yaitu : faktor-faktor yang mempengaruhi Putusan hakim, Analisa kasus.
Bab IV :
Penutup, dalam bab ini sub babnya terdiri atas : Kesimpulan, saran, Lampiran.
12
BAB II BEBERAPA FAKTA YANG TERUNGKAP DARI KASUS PERSIDANGAN PENGADILAN NEGERI TENGARONG
A. Analisa Kasus 1. Kasus posisi a. Pada hari Rabu tanggal 30 Januari 2008 jam 01.00 WITA di desa Sumber Sari kec Kota Bangun kabupaten Kutai Kartanegara telah terjadi tindak pidana; “melarikan seorang perempuan yang belum dewasa tidak dengan kemuan orang tuanya atau walinya dan melakukan perbuatan cabulyang diduga dilakukan oleh saudara Agus Riadi Bin Warsid terhadap korban sdr. Siti Sulastri Binti Siswanto b. Pada hari Selasa tanggal 29 Januari 2008 sekira jam 18.30 WITA tersangka Agus Riadi Bin Warsid yang saat itu berada di daerah Senoni kec. Sebuluh menerima SMS dari korban sdri. Siti Sulastri Binti Siswanto yang berbunyi: “Mas datang aja ke rumah, saya tidak enak badan dan saya juga lagi muyek di rumah karena habis bertengkar mulut dengan bapak saya” c. Pada hari Selasa tanggal 29 Januari 2008 sekira jam 23.30 WITA tersangka Agus Riadi Bin Warsid menerima SMS kembali dari korban Siti Sulastri yang berbunyi: “Kalau mas gak kesini untuk nemuin saya, mas akan menyesal tidak akan ketemu saya selamanya” dan setelah
12
13
itu tersangka langsung meminjam sepeda motor milik temanya untuk mendatangi korban di desa Sumber Sari kec. Kota Bangun dan sampai di desa Sumber Sari sekira jam 01.00 WITA hari Rabu tanggal 30 Januari 2008. d. Setelah bertemu dan ngobrol beberapa saat kemudian tersangka dan korban berangkat ke Senoni berboncengan menggunakan sepeda motor dan tidak meminta ijin dari orang tuanya dan sekira jam 03.00 WITA sampai di KM 28 Senoni kec. Sebulu kemudian tidur di sebuah pondok. e. Pada pagi harinya Rabu, tanggal 30 Januari 2008 sekira jam 07.30 WITA tersangka dan korban melanjutkan perjalanan ke arah Tenggarong dengan naik bus kota bangun dan kira jam 09.00 WITA sampai di KM 5 Bukit Biru Tenggarong dan menuju ke penginapan Simpang Bukit Biru Tenggarong yang awalnya untuk makan tetapi tersangka Agus Riadi bin Warsid memesan kamar untuk menginap. f. Setelah menginap sehari semalam di penginapan, pada hari Kamis tanggal 31 januari 2008 sekira jam 5 tersangka Agus Riadi Bin Warsid melakukan pencabulan terhadap korban masih tidur dengan cara menciumi pipi, bibir dan memegang tangan korban. g. Karena kaget korban terbangun dan bertanya: “sampean ngapain?” dan tersangka Agus Riadi Bin Warsid menjawab: “tidak apa-apa, nanti kalau ada apa-apa saya tanggung jawab!” h. Mendengar jawaban tersangka, akhirnya korban Siti Sulastri Binti Siswanto diam saja badannya diraba-raba sampai bagian
14
kemaluannya dan kancing celananya dilepas oleh tersangka sampai akhirnya korban ikut terangsang sehingga terjadi hubungan badan sampai keduanya sama-sama merasakan puas. 2. Analisis yuridis Berdasarkan pembahasan pada analisa kasus tersebut di atas terdapat petunjuk adanya tindak pidana: “Melarikan perempuan yang belum dewasa tidak dengan kemauan orang tuanya atau walinya dan melakukan perbuatan cabul“ yang diduga dilakukan oleh tersangka Sdr. Agus Riadi Bin Warsid karena terpenuhinya unsur-unsur yang dirumuskan dalam pasal 332 ayat (1) KUHP jo pasal 82 UURI No. 23 tahun 2002 tenang perlindungan anak, yaitu: Barang siapa Yang dimaksud disini adalah tersangka : Agus Riadi Bin Warsid tempat tanggal lahir Surabaya 11 Oktober 1979, kelamin laki-laki, kewarganegaaan Indonesia, suku Jawa, agama Islam, pendidikan STM, pekerjaan swasta, Alamat desa Sumber Sari RT VIII kec. Kota Bangun kab Kutai Kartanegara Melarikan perempuan yang belum dewasa : Yang dimaksud disini adalah : Tersangka Agus Riadi Bin Warsid telah membawa pergi sdri. Siti Sulastri Binti Siswanto yang belum dewasa atau di bawah umur yaitu baru berumur 15 tahun 2 bulan ke Tenggarong. Tanpa persetujuan orang tua atau wali Yang dimaksud disini adalah :
15
Tersangka Agus Riadi bin Warsid telah membawa pergi Sdri. Siti Sulastri Binti Siswanto untuk melakukan hubungan badan dengannya dengan cara memberikan janji akan bertanggung jawab dan memberikan rangsangan kepada korban dengan cara mencium pipi, bibir dan payudara serta meraba-raba bagian kemaluan korban. Kesimpulan Berdasarkan hasil pemahaman terhadap fakta-fakta/bukti-bukti dalam analisa kasus dan analisa yuridis tersebut bahwa pada hari Rabu tanggal 30 Januari 2008 sekira jam 01.00 WITA di desa Sumber Sari Rt XIII kec. Kota Bangun kab Kutai Kartanegara patut diduga telah terjadi tindak pidana “melarikan perempuan yang belum dewasa tidak dengan kemauan orang tuanya atau walinya dan melakukan perbuatan cabul” terhadap korban Siti sulastri yang diduga dilakukan oleh tersangka Agus Riadi Bin Warsid Oleh karena itu tersangka Agus Riadi Bin Warsid dapat disangka melakukan tindak pidana: “melarikan perempuan yang belum dewasa tidak dengan kemauan orang tuanya atau walinya dan melakukan perbuatan cabul” sebagaimana rumusan pasal 332 ayat (1) ke 1e KUHP jo UURI No. 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak.
B. Dakwaan Dari adanya peristiwa yang dilakukan oleh terdakwa Agus Riadi Bin Warsid maka terdakwa dihadapkan ke persidangan dengan dakwaan sebagai berikut:
16
Dakwaan Kesatu Bahwa ia terdakwa Agus Riadi Bin Warsid, pada hari Rabu tanggal 30 Januari 2008 sekitar pukul 01.00 WITA atau setidak-tidaknya pada suatu waktu dalam bulan Januari 2008, bertempat di desa Sumber Sari IV blok G (depan masjid) kec. Kota Bangun, kab. Kutai Kartanegara atau setidaktidaknya di tempat lain yang masih termasuk daerah Hukum Pengadilan Negeri Tenggarong yang berwenang memeriksa dan mengadili perkara ini, membawa pergi seorang wanita yang belum dewasa tanpa dikehendaki orang tuanya atau walinya tetapi dengan persetujuannya, dengan maksud untuk memastikan penguasaan terhadap wanita itu yaitu Sdri. Siti Sulastri Binti Siswanto, yang mana perbuatan tersebut dilakukan oleh terdakwa dengan cara antara lain sebagai berikut: Berawal pada hari Selasa sekitar pukul 18.30 WITA, bermula dari saksi Siti Sulastri Binti Siswanto menghubungi terdakwa melalui SMS, saksi mengatakan bahwa dirinya tidak enak badan dan malas di rumah karena habis bertengkar dengan bapak saksi, mendapat SMS tersebut hari Rabu sekitar pukul 01.00 WITA terdakwa langsung datang menjemput saksi di depan masjid Blok G Desa Sumber Sari IV kec. Kota Bangun, kab. Kutai Kertanegara selanjutnya tanpa ijin dari orang tua saksi terdakwa membawa saksi ke Senoni dengan naik bus, sampai di Senoni sekitar pukul 07.00 WITA kemudian terdakwa dan saksi naik bus dari Senoni menuju arah Tenggarong, selanjutnya sekitar pukul 09.00 WITA kab. Kutai Kartanegara, sampai di penginapan terdakwa memesan kamar kemudian saksi tidur didalam kamar
17
yang dipesan oleh terdakwa. Akibat perbuatan terdakwa terdakwa tersebut Sdr. Siswanto sebagai orang tua saksi merasa keberatan. Perbuatan tersebut dilakukan tedakwa terhadap saksi Siti Sulastri binti Siswanto tanpa adanya ijin dari orang tua saksi dan tidak ada ikatan perkawinan yang sah.
Dan Kedua Bahwa ia terdakwa Agus Riadi Bin Warsid, pada hari Kamis tanggal 31 Januari 2008 sekitar pukul 05.00 WITA atau setidak-tidaknya pada suatu waktu dalam bulan Januari 2008, bertempat di penginapan Bukit Biru KM. 5 Tenggarong, kab. Kutai Kartanegara atau setidak-tidaknya di tempat lain yang masih termasuk Hukum Pengadilan Negeri Tenggarong yang berwenang memeriksa dan mengadili perkara ini, dengan sengaja melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan, memaksa, melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan, atau membujuk anak untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul, yang dilakukan oleh terdakwa dengan cara antara lain sebagai berikut : Berawal pada hari Selasa sekitar pukul 18.30 WITA, bermula dari saksi Siti Sulastri Binti Siswanto menghubungi terdakwa melalui SMS, saksi mengatakan bahwa dirinya tidak enak badan dan malas di rumah karena habis bertengkar dengan bapak saksi, mendapat SMS tersebut hari Rabu sekitar pukul 01.00 WITA terdakwa langsung datang menjemput saksi di
18
depan masjid Blok G Desa Sumber Sari IV kec. Kota Bangun Kab. Kutai Kertanegara. Kemudian saksi dan terdakwa malam itu juga berangkat ke Senoni, sampai di Senoni sekitar pukul 07.00 WITA kemudian terdakwa dan saksi naik bus dari Senoni menuju arah Tenggarong, selanjutnya sekitar pukul 09.00 WITA terdakwa membawa saksi ke Penginapan Bukit Biru KM. 5 Tenggarong kab. Kutai Kartanegara, sampai di penginapan terdakwa memesan kamar, kemudian saksi tidur di dalam kamar yang dipesan oleh terdakwa. Selanjutnya pada saat saksi sedang tidur, terdakwa memegang tangan saksi dan akhirnya saksi kaget dan tebangun, kemudian saksi bertanya kepada terdakwa “sampean mau ngapain?” terdakwa menjawab ”nanti kalau ada apa-apa saya tanggung jawab.” Mendengar hal itu saksi menuruti saja apa maunya terdakwa. Selanjutnya terdakwa mencium muka saksi bagian mulut sambil tangan terdakwa membuka kaos saksi sampai payudara saksi kelihatan, kemudian terdakwa mencium payudara korban kanan kiri secara bergantian setelah itu terdakwa juga membuka resleting celana saksi dan terdakwa juga menyuruh saksi membuka celananya, saksi pada saat itu menurut saja apa kata terdakwa, setelah celana saksi terbuka kemudian terdakwa
memasukkan kemaluannya ke kemaluan saksi dan menggerakkan pantatnya ke atas dan ke bawah, dan terdakwa dengan saksi bergantian posisinya saksi berada di atas terdakwa sampai terdakwa puas dan mengeluarkan spermanya.
19
Berdasarkan hasil Visum et Repertum No. 445.1-441. 6/039/TU/2008 tanggal 18 Februari 2008 yang ditangani oleh dr..Norjannah dokter yang bertugas di Puskesmas Kota Bangun, dengan kesimpulan sebagai berikut: 1. Liang senggama penderita sudah pernah dilewati suatu benda tumpul, ada yang sudah berlangsung lama dengan diketemukannya robekan lama selaput dara pada jam tiga, enam, sembilan, dan sepuluh dan juga pernah baru dilewati sesuatu benda tumpul dengan diketemukannya larerasi didasar selaput darah pada jam enam. 2. Tidak dijumpai tanda-tanda ruda paksa pada tubuh penderita. 3. Perbuatan tersebut dilakukan terdakwa terhadap saksi Siti Sulastri binti Siswanto tidak ada ikatan perkawinan yang sah.
C. Keterangan saksi Adapun fakta-fakta yang terungkap dalam persidangan secara berturut-turut berupa barang bukti, keterangan saksi-saksi yang diberikan oleh Siti Sulastri binti Siswanto (korban) adalah sebagai berikut: 1. Saksi Siti Sulastri binti Siswanto, di persidangan pada pokoknya menerangkan sebagai berikut: a. Bahwa saksi pergi dari rumah bersama terdakwa yaitu Sdr. Agus Riadi bin Warsid tanpa seijin orang tua saksi dan saksi telah melakukan hubungan badan dengan terdakwa. b. Bahwa benar kejadiannya pada hari Rabu, tanggal 30 Januari 2008 sekira jam 01.00 WITA dari rumah saksi di Desa Sumber Sari RT XIII Kec. Kota Bangun Kab. Kutai Kertanegara.
20
c. Bahwa benar saksi pergi bersama terdakwa dari rumah kearah Tenggarong menggunakan sepeda motor, kemudian stop di KM. 28 Senoni dan bermalam di pondok semalam dan kemudian pagi harinya saksi bersama terdakwa pergi ke Tenggarong menggunakan bus. d. Bahwa benar yang mempunyai ide atau rencana pergi dari rumah adalah saksi dan terdakwa, bahwa sebelumnya sudah ada janji bertemu. e. Bahwa benar awalnya pada hari selasa, tanggal 29 Januari 2008 sekira jam 8.30 WITA saksi SMS kepada terdakwa yang isinya “Mas datang saja kerumah, saya tidak enak badan dan saya juga lagi muyak di rumah karena habis bertengkar mulut sama bapak saya”. f. Bahwa benar hubungan saksi dengan terdakwa hanya sebatas teman biasa saja dan saksi berjalan-jalan bersama terdakwa sudah 4 (empat) kali. g. Bahwa benar saksi pergi dari rumah bersama terdakwa tidak ada orang yang melihatnya. h. Bahwa benar sekitar jam 07.00 WITA saksi dan terdakwa naik bus ke arah Tenggarong, kemudian sekitar jam 09.00 WITA saksi dan terdakwa turun di Bukit Biru KM.5 Tenggarong. i. Bahwa benar saksi diajak oleh terdakwa ke penginapan yang awalnya untuk makan, setelah itu terdakwa juga memesan kamar. j. Bahwa benar setelah masuk kamar Penginapan saksi hanya menonton televisi sambil tiduran di atas ranjang sampai ketiduran.
21
k. Bahwa benar sekira tengah malam tidak tahu jam berapa saksi terbangun dan kaget karena tangan saksi dipegang oleh terdakwa dan saksi melihat terdakwa sudah berada di atas badannya tidak menggunakan baju dan hanya menggunakan celana panjang mau mencium saksi dan saksi tanya kepada terdakwa “Sampean ngapain” terus terdakwa menjawab “Tidak apa-apa, kalau ada apa- apa saya tanggung jawab”, setelah itu saksi diam saja. l. Bahwa benar terdakwa mencium bibir, pipi dan tangan saksi dirabaraba sampai bagian kemaluan saksi, kemudian kancing celana saksi dibuka dan dipelorotkan sampai paha oleh terdakwa, kemudian saksi disuruh bangun untuk membuka celana saksi sendiri, setelah saksi tidur lagi diranjang dengan posisi terlentang. m. Bahwa benar setelah itu saksi ditiduri terdakwa dengan posisi saksi dibawah dan terdakwa diatas sambil menciumi bibir, pipi saksi, setelah itu terdakwa membuka baju saksi dengan menaikkan sampai dada, kemudian payudara saksi diciumi sehinnga saksi jadi terangsang dan setelah itu kemaluan terdakwa dimasukkan ke kemaluan saksi sambil menggerakakan pantat ke atas dan ke bawah, tidak lama kemudian badan saksi dibalik dengan posisi terdakwa di bawah dan saksi di atas atau bergantian dan tidak lama kemudian sperma terdakwa keluar didalam kemaluan saksi. n. Bahwa benar saksi merasakan sakit, kemudian saksi merasakan enak atau nikmat.
22
o. Bahwa benar saksi mau melakukan hubungan badan tersebut karena terdakwa mau bertangung jawab dan mau menikahi saksi Tanggapan terdakwa: membenarkan keterangan saksi. 2. Saksi Siswanto Bin Marmo Rejo, di bawah sumpah di persidangan pada pokoknya menerangkan sebagai berikut: a Bahwa benar saksi mengerti dipanggil, diperiksa dan dimintai keterangannya sebagai saksi dalam masalah anaknya yaitu sdri..Siti Sulastri yang pergi dari rumah tanpa ijin orang tua. b. Bahwa benar saksi tidak tahu kemana anaknya pergi meninggalkan rumah dan selama dirumah baik-baik saja seperti biasa tidak ada yang aneh. c. Bahwa benar sebelumnya saksi tidak tahu sdri. Siti Sulastri pergi bersama siapa, tetapi setelah itu yang dicurigai membawa sdri. Siti Sulastri pergi adalah terdakwa, yaitu sdr. Agus Riadi d. Bahwa benar kejadiannya pada hari Rabu, tanggal 30 Januari 2008 sekira jam 01.00 WITA di desa Sumber Sari Rt XIII Kec. Kota Bangun Kab. Kutai Kartanegara. e. Bahwa benar saksi tahu dan curiga sdri.Siti Sulastri pergi dari rumah bersama terdakwa dari petunjuk 1 (satu) lembar surat yang ditemukan oleh adik saksi di jalan depan rumah saksi dan disurat tersebut ada tulisan Agus Riadi. f. Bahwa benar saksi tidak kenal dan tidak ada hubungan keluarga dengan terdakwa.
23
g. Bahwa benar pada saat itu tidak ada orang yang melihat sdri. Siti Sulastri dibawa orang pergi dari rumahnya. h. Bahwa benar saat itu sdri. Siti Sulastri menggunakan baju kaos warna lorek merah, jaket warna coklat dan celana levis panjang atau jeans warna biru. i. Bahwa benar sebelumnya saksi tidak tahu alamat terdakwa, karena terdakwa adalah pendatang baru dan setelah ada masalah saksi baru tahu bahwa alamat terdakwa di desa Sumber Sari Blok M Kec.Kota Bangun Kab.Kutai Kartanegara. j. Bahwa benar tingkah laku sdri.Siti Sulastri di rumah sehari-hari baik saja, membantu orang tua di rumah, tidak pernah kemana-mana dan sepengetahuan saksi saudara Siti Sulastri tersebut tidak mempunyai pacar dan saksi tidak tahu kalau sdri. Siti Sulastri ada hubungan dengan terdakwa, k. Bahwa benar sebelumnya saksi tidak tahu sdri. Siti Sulasti pergi kemana, karena saksi suah mencari sdri. Siti Sulastri tapi tidak ketemu juga dan setelag saksi ketemu dengan sdri. Siti Sulastri ternyaa sdri. Siti Sulastri dibawah ke Penginapan Bukit Biru Tenggarong selama 1 (satu) hari 1 (satu) malam l. Bahwa benar sebelum menemukan sdri. Siti Sulastri tersebut saksi mendapat telepon dari sdri. Siti Sulastri yang mengatakan posisinya ada di KM. 40 jalan antara Tenggarong – Kota Bangun dan pada saat itu saksi berada di Samarinda, setelah mendapat kabar tersebut saksi bernama sdr. Anton Slamet langsung menuju ke Desa Bahulak kec.
24
Muara Kaman dan saksi menemukan sdri. Siti Sulastri sedang sendiri saja. m. Bahwa benar setelah ditanya sdri. Siti Sulastri pergi bersama terdakwa ke penginapan Simpang Bukit Biru Tenggarong n. Bahwa benar sdri.Siti Sulastri bilang bahwa dirinya disuruh minum teh oleh terdakwa kemudian sdri. Siti Sulastri mengantuk dan tertidur, setelah sdri. Siti Sulastri bangun dirinya sudah telanjang dan Sdri.Siti Sulastri bilang telah ditiduri oleh terdakwa. Tanggapan terdakwa: membenarkan keterangan saksi 3. Saksi Anton Selamet Bin Tukedu, dibawah sumpah keterangannya dibacakan pada pokoknya menerangkan sebagai berikut : a. Bahwa benar saksi mengerti dipanggil, diperiksa dan dimintai keterangannya sebagai saksi dalam perkara melarikan perempuan yang belum dewasa dan melakukan pencabulan kepada sdri. Siti Sulastri. b. Bahwa benar kejadiannya pada hari rabu, tanggal 30 Januari 2008 sekira jam 01.00 WITA di Desa Sumber Sari Rt. XIII kec. Kota Bangun Kab. Kutai Kartanegara. c. Bahwa benar sebelumnya saksi tidak tahu siapa pelakunya, setelah sdri. Siti Sulastri ditemukan saksi baru tahu bahwa yang membawa pergi sdri. Siti Sulastri adalah terdakwa, yaitu sdr. Agus Riadi warga Desa Sumbe kec. Kota Bangun. d. Bahwa benar saksi tidak tahu ada hubungan apa antara sdri. Siti Sulastri dengan terdakwa dan saksi tidak tahu apa maksud dan tujuan
25
terdakwa mengajak sdri. Siti Sulastri pergi dari rumah tersebut dan ada ijin dari orang tuanya atau tidak. e. Bahwa benar setelah mengetahui kejadian tersebut saksi berusaha melakukan pencarian, karena tidak ditemukan juga saksi melapor ke Polsek Kota Bangun. Bahwa benar setelah ketemu dengan sdri. Siti Sulastri saksi baru tahu sdri. Siti Sulastri bersama terdakwa pergi ke Tenggarong. g. Bahwa benar saksi tidak tahu pencabulan yang dilakukan oleh terdakwa terhadap sdri. Siti Sulastri. Tanggapan terdakwa: membenarkan keterangan saksi.
D. Keterangan Terdakwa Terdakwa Agus Riadi Bin Warsid, antara lain menerangkan sebagai berikut : 1. Bahwa benar terdakwa membawa lari Sdri.Siti Sulastri pada hari rabu, tanggal 30 Januari 2008 jam 01.00 wita dari Desa Sumber Sari Rt.XIII Kec. Kota Bangun 2. Bahwa benar berawal pada hari selasa, tanggal 29 Januari 2008 sekitar jam 23.00 wita tedakwa mendapat SMS dari Sdri.Siti Sulastri yang berbunyi “kalau mas gak kesini untuk menemui saya, mas akan menyesal tidak akan ketemu saya selamanya” dan agar menjemput ditempat yang sudah ditentukan yaitu di jalan depan masjid Blok G Desa Sumber Sari Kec.Kota Bangun
26
3. Bahwa benar terdakwa mengenal Sdri.Siti Sulastri kurang lebih 1 (satu) bulan dan hubungan terdakwa dengan Sdri.Siti Sulastri sebagai pacar. 4. Bahwa benar sebelum melakukan hubungan badan dengan Sdri.Siti Sulastri tersebut terdakwa tidak memberikan janji maupun melakukan pengancaman, paksaan dan dilakukan atas dasar suka sama suka dan setelah kejadian terdakwa bilang kepada Sdri.Siti Sulastri bahwa terdakwa mau menikahi dan akan bertanggung jawab. 5. Bahwa benar terdakwa melakukan pencabulan terhadap Sdri.Siti Sulastri pada hari kamis, tanggal 31 Januari 2008 sekira jam 05.00 wita hanya 1 (satu) kali di Penginapan Bukit Biru Km.5 Tenggarong. 6. Bahwa benar terdakwa melakukan penciuman dibagian mulut sekitar muka dan kemudian tangan terdakwa menaikkan kaos dan BH Sdri.Siti Sulastri setinggi diatas payudara, kemudian terdakwa menciumi payudara Sdri.Siti Sulastri sebelah kanan dan kiri secara bergantian, kemudian terdakwa membuka hak resleting celana Sdri.Siti Sulastri, kemudian terdakwa menyuruh Sdri.Siti Sulastri membuka celananya dan Sdri.Siti Sulastri menurut, kemudian Sdri. Siti Sulastri melepas sendiri celananya dan celana dalamnya, kemudian terdakwa dan Sdri. Siti Sulastri melakukan hubungan badan dengna posisi tidur terdakwa diatas dan Sdri. Siti Sulastri dibawah sambil mengerahkan kemaluannya kebagian kemaluan Sdri. Siti Sulastri sambil menggerakkan pantannya naik turun dan Sdri. Siti Sulastri juga ikut mengimbangi dengan menggoyang pantatnya dan setelah beberapa saat terdakwa mengeluarka sperma kedalam kemaluan Sdri. Siti Sulastri
27
7. Bahwa benar yang memegangi dan memasukkan alat kelaminnya adalah Sdri. Siti Sulastri sendiri. 8. Bahwa benar pada saat terdakwa melakukan hubungan badan dengan Sdri.Siti Sulastri terdakwa merasakan enak dan puas karena terdakwa mengeluarkan sperma 9. Bahwa benar terdakwa tidak tahu apakah sebelumnya Sdri. Siti Sulastri pernah melakukan hubungan intim dengan orang lain atau tidak karena pada saat melakukan hubungan badan dengannya Sdri. Siti Sulastri sudah tidak perawan lagi. 10. Bahwa benar pada saat melakukan hubungan badan Sdri. Siti Sulastri tidak ada mengeluarkan darah. 11. Bahwa benar sebelumnya terdakwa pernah menikah dan mempunyai 1 (satu) orang anak dan statusnya sudah cerai 12. Bahwa benar saat ini terdakwa masih mencintai Siti Sulastri.
E. Tuntutan Berdasarkan fakta-fakta yang terungkap dipersidangan tersebut di atas, kini sampailah pada pembuktian unsur-unsur tindak pidana yang didakwakan. Oleh karena bentuk dakwaan komulatif maka kami akan buktikan terlebih dahulu dakwaan kesatu. Kami akan membuktikan terlebih dahulu dakwaan kesatu pasal 332 ayat 1 KUHP unsur-unsurnya sebagai berikut: 1. Unsur barang siapa :
28
Bahwa yang dimaksud barang siapa adalah siapa saja sebagai subyek hukum dan didalam melakukan perbuatan pidana ia mampu dan dapat dipertanggung jawabkan menurut hukum. Bahwa berdasarkan fakta yang terungkap dipersidangan, yang diajukan kedepan persidangan sebagai terdakwa adalah bernama Agus Riadi bin Warsid sesuai dengan identitas terdakwa didalam surat dakwaan. Bahwa terhadap diri terdakwa Agus Riadi bin Warsid berdasarkan fakta persidangan tidak terdapat adanya alasan pemaaf, sehingga perbuatanya dapat dipertanggung jawabkan kepada terdakwa. Dengan demikian unsur ini telah terpenuhi. 2 Membawa pergi seorang wanita yang belum dewasa tanpa dikehendaki orang tuanya atau walinya tetapi dengan persetujuannya. Bahwa untuk mempersingkat pembuktian maka kami akan
menggabungkan sekaligus unsur ini. Berdasarkan keterangan saksi-saksi, keterangan terdakwa, dan adanya barang bukti diperoleh fakta persidangan sebagai berikut : a. Berawal pada hari selasa sekitar pukul 18.30 WITA, bermula dari saksi Siti Sulastri binti Siswanto menghubungi terdakwa melaui SMS, saksi mengatakan baha dirinya tidak enak badan dan malas dirumah karena habis bertengkar dengan bapak saksi,mendapat SMS tersebut hari rabu sekitar pukul 01.00 WITA terdakwa langsung datang menjemput saksi didepan masjid Blok G Desa Sumber Sari IV kec. Kota Bangun kab. Kutai Kertanegara selanjutnya tanpa ijin dari orang tua saksi terdakwa terdakwa membawa saksi ke Senoni dengan naik bus,
29
sampai Senoni sekitar pukul 07.00 WITA kemudian terdakwa dan saksi naik bus dari Senoni menuju arah Tenggarong, selanjutnya sekitar pukul 09.00 WITA terdakwa bersama saksi menuju ke Penginapan Bukit Biru KM. 5 Tenggarong, kab. Kutai Kartanegara, sampai di penginapan terdakwa memesan kamar kemudian saksi tidur di dalam kamar yang dipesan oleh terdakwa. Akibat perbuatan terdakwa tersebut sdr. Siswanto sebagai orang tua saksi merasa keberatan b. Perbuatan tersebut dilakukan terdakwa terhadap saksi Siti Sulastri binti Siswanto tanpa adanya ijin dari orang tua saksi dan tidak ada ikatan perkawinan yang sah. Dengan demikian unsur ini telah terpenuhi. 3. Dengan maksud untuk memastikan penguasaan terhadap wanita itu, baik didalam maupun diluar perkawinan. Bahwa untuk mempersingkat pembuktian maka kami akan
menggabungkan sekaligus unsur ini. Berdasarkan keterangan saksi-saksi, keterangan terdakwa, dan adanya barang bukti diperoleh fakta persidangan sebagai berikut : a. Berawal pada hari Selasa sekitar pukul 18.30 WITA, bermula dari saksi Siti Sulastri binti Siswanto menghubungi terdakwa melalui SMS, saksi mengatakan bahwa dirinya tidak enak badan dan malas dirumah karena habis bertengkar dengan bapak saksi, mendapat SMS tersebut hari rabu sekitar pukul 01.00 WITA terdakwa langsung datang menjemput saksi di depan masjid Blok G Desa Sumber Sari IV kec.
30
Kota Bangun, kab. Kutai Kertanegara selanjutnya tanpa ijin dari orang tua saksi terdakwa membawa saksi ke Senoni dengan naik bus, sampai di Senoni sekitar pukul 07.00 WITA kemudian terdakwa dan saksi naik bus dari Senoni ke arah Tenggarong, selanjutnya sekitar pukul 09.00 WITA terdakwa bersama saksi menuju ke penginapan Bukit Biru Km.5 Tenggarong, kab. Kutai Kartanegara, sampai di penginapan terdakwa memesan kamar, kemudian saksi tidur didalam kamar yang dipesan oleh terdakwa. Akibat perbuatan terdakwa tersebut sdr. Siswanto sebagai orang tua saksi merasa keberatan. b. Perbuatan tersebut dilakukan terdakwa terhadap saksi Siti Sulastri binti Siswanto tanpa adanya ijin dari orang tua saksi dan tidak ada ikatan perkawinan yang sah. Dengan demikian unsur ini telah terpenuhi. 1. Unsur barang siapa : Bahwa yang dimaksud barang siapa adalah siapa saja sebagai subyek hukum dan didalam melakukan perbuatan pidana ia mampu dan dapat dipertanggung jawabkan menurut hukum. Bahwa berdasarkan fakta yang terungkap di persidangan, yang diajukan kedepan persidangan sebagai terdakwa adalah bernama Agus Riadi bin Warsid sesuai dengan identitas terdakwa didalam surat dakwaan. Bahwa terhadap diri terdakwa Agus Riadi bin Warsid berdasarkan fakta persidangan tidak terdapat adanya alasan pemaaf, sehingga perbuatanya
31
dapat dipertanggung jawabkan kepada terdakwa. Dengan demikian unsur ini telah terpenuhi. 2. Unsur dengan sengaja melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan, memaksa, melakukan tipu muslihat, serangkain kebohongan, atau membujuk anak untuk melakukan perbuatan cabul dengannya atau dengan orang lain; Bahwa untuk mempersingkat pembuktian maka kami akan menggabungkan sekaligus unsur ini. Berdasarkan keterangan saksi-saksi, keterangan terdakwa, surat, petunjuk dan adanya barang bukti diperoleh fakta persidangan sbb : a. berawal pada hari Selasa sekitar pukul 18.30 WITA, bermula dari saksi Siti Sulastri binti Siswanto menghubungi terdakwa melalui SMS, saksi mengatakan bahwa dirinya tidak enak badan dan malas dirumah karena habis bertengkar dengan bapak saksi, mendapat SMS tersebut hari rabu sekitar pukul 01.00 WITA terdaka langsung datang menjemput saksi didepan masjid Blok G Desa Sumber Sari IV kec. Kota Bangun, Kab. Kutai Kertanegara. b. Kemudian saksi dan tedakwa malam itu juga berangkat ke Senoni, sampai di Senoni pukul 07.00 WITA kemudian saksi dan terdakwa naik bus dari Senoni menuju arah Tenggarong, selanjutnya sekitar pukul 09.00 WITA terdaka membawa saksi ke penginapan Bukit Biru KM. 5 Tenggarong, kab. Kutai Kartanegara, sampai di penginapan terdakwa memesan kamar, kemudian saksi tidur didalam kamar yang dipesan oleh terdakwa.
32
c. Selanjutnya pada saat saksi sedang tidur, terdakwa memegang tangan saksi dan akhirnya saksi kaget dan terbangun, kemudian saksi bertanya kepada terdakwa “Sampean mau ngapain?“ terdakwa menjawab “Nanti kalau ada apa-apa saya tanggung jawab“. Mendengar hal itu saksi menuruti saja apa maunya terdakwa. d. Selanjutnya tedakwa mencium muka saksi bagian mulut sambil tangan terdakwa membuka kaos saksi sampai payudara saksi kelihatan, kemudian terdakwa mencium payudara korban kanan kiri secara bergantian setelah itu terdakwa juga membuka resleting celana saksi dan terdakwa juga menyuruh saksi membuka celananya, saksi pada saat itu menurut saja apa kata terdakwa, setelah celana saksi terbuka kemudian terdakwa memasukkan kemaluannya ke kemaluan saksi dan menggerakkan pantatnya keatas dan kebawah, dan terdakwa dengan saksi bergantian posisinya saksi berada diatas sampai terdakwa puas dan mengeluarkan spermanya. e. Berdasarkan hasil Visum et Repertum No. 445.1-441. 6/039/TU/2008 tanggal 18 Februari 2008 dan ditanda tangani oleh dr. Norjannah dokter yang bertugas di Puskesmas Kota Bangun, dengan kesimpulan sebagai berikut : 1) Liang senggama penderita sudah pernah dilewati sesuatu benda tumpul, ada yang sudah berlangsung lama dengan
diketemukannya robekan lama selaput darah pada jam tiga, enam. Sembilan, dan sepuluh dan juga pernah baru dilewati sesuatu
33
benda tumpul yang dikemukannya larerasi didasar selaput darah pada jam enam. 2) Tidak dijumpai tanda-tanda ruda pada tubuh penderita 3) Perbuatan tersebut dilakukan terdakwa terhadap saksi Siti Sulastri binti Siswanto tidak ada ikatan perkawinan yang sah. Berdasarkan uraian fakta yang terungkap dalam persidangan tersebut, maka unsur ini telah terbukti dan terpenuhi. Bahwa kepada terdakwa harus dinyatakan terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana membawa pergi wanita yang belum dewasa dan dengan sengaja membujuk anak melakukan persetubuhan dengannya sebagaimana dalam dakwaan kesatu dan kedua kepada terdakwa harus dipertanggung jawabkan atas
perbuatannya serta harus pula dijatuhi pidana.
F. Putusan Hakim Dalam putusan Pengadilan Negeri Tenggarong Nomor: 136/Pid.B./ 2008/PN.Tgr ini telah menjatuhkan putusan dalam perkara terdakwa Agus Riadi bin Warsid, tempat/tanggal lahir di Surabaya/11 Oktober 1979, umur 27 tahun, jenis kelamin laki-laki, kebangsaan Indonesia, agama Islam, pekerjaan swasta, tempat tinggal: Desa Sumber Sari, Rt VIII kec.Kota Bangun, kab.Kutai Kartanegara, menyatakan terdakwa Agus Riadi bin Warsid telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana membawa pergi wanita yang belum dewasa dan dengan sengaja membujuk anak melakukan persetubuhan dengannya sebagaimana dalam dakwaan
34
kesatu dan kedua kepada terdakwa harus dipertanggung jawabkan atas perbuatannya serta harus pula dijatuhi pidana. Menjatuhkan pidana oleh karena itu dengan pidana penjara selama 3 (tiga) tahun 6 (enam) bulan dan pidana denda sebesar Rp. 60.000.000,(enam puluh juta rupiah) dan menetapkan apabila denda tersebut tidak dibayar maka diganti dengan pidana kurungan selama 3 (tiga) bulan serta menghukum terdakwa untuk membayar biaya perkara sebesar Rp. 1.000,(seribu rupiah). Putusan ini diucapkan pada persidangan yang terbuka untuk umum pada hari Senin, tanggal 30 Juni 2008 oleh Donna H. Simamora, SH. selaku Hakim Ketua Majelis, dan Asep S. Danaatmaja, SH., MH. serta Nuryanto, SH. masing-masing sebagai Hakim Anggota pada Pengadilan Negeri Tenggarong, dengan dibantu oleh Titik Sutanti. H. sebagai Panitera Pengganti, serta dihadiri oleh S.M Nurul Chamidiah, SH. sebagai Jaksa Penuntut Umum dan dihadapan terdakwa Agus Riadi bin Warsid.
35
BAB III PUTUSAN HAKIM DALAM KASUS PERKOSAAN PADA PENGADILAN NEGERI TENGGARONG KALIMANTAN TIMUR
A. Faktor-Faktor yang mempengaruhi Putusan Pidana Dalam pasal 183 KUHAP dinyatakan: “Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seseorang, kecuali bila sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah, ia mempunyai keyakinan bahwa suatu tindak pidana benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah melakukannya.” Berdasarkan ketentuan pasal 183 KUHAP tersebut diatas, maka putusan pemidanaan dilakukan oleh hakim jika suatu tindak pidana benarbenar terjadi dan terdakwalah yang terbukti melakukan. Putusan pemidanaan tersebut merupakan salah satu bentuk putusan pengadilan, dimana pengadilan berpendapat bahwa terdakwa bersalah melakukan tindak pidana yang didakwakan kepadanya. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa dari hasil pemeriksaan di sidang pengadilan, kesalahan terdakwa atas perbuatan yang didakwakan kepadanya terbukti secara sah dan meyakinkan. Terbukti secara sah melalui sekurang-kurangnya dua alat bukti dan alat bukti yang sah dan hakim yakin terdakwa bersalah melakukannya. Di Pengadilan Negeri ditemukan bahwa penjatuhan pidana masingmasing terdakwa tidak sama, hal ini disebabkan karena adanya hal-hal yang terungkap di persidangan seperti: 1. Alat bukti yang ditemukan
35
36
2. Keterangan saksi 3. Keterangan terdakwa 4. Keyakinan hakim Keempat hal di atas merupakan faktor yang mempengaruhi putusan hakim di Pengadilan Negeri termasuk Pengadilan Negeri Tenggarong (Kalimantan Timur). Garis dasar proses pengambilan putusan (vide pasal 182 KUHAP) adalah jika pemeriksaan telah usai, maka Jaksa Penuntut Umum mengajukan requisitoir yang dijawab dengan pembelaan (pledoi) dari terdakwa atau penasehat hukumnya, lalu hakim mengadakan musyawarah terakhir yang bersifat tertutup yang didasarkan pada surat dakwaan, saksi-saksi dan buktibukti yang terungkap dipersidangan sampai adanya putusan bulat dari Majelis Hakim yang kemudian dibacakan dan diumumkan dihadapan sidang. Berdasarkan uraian di atas dapat dengan jelas diketahui bahwa mekanisme pengambilan keputusan dalam persidangan oleh Majelis Hakim telah sesuai dengan aturan dan hukum yang berlaku berdasarkan pada ketentuan pasal 182 KUHAP. Selain sebagaimana diatur dalam pasal 182 KUHAP, dasar hakim dalam memutuskan perkara khususnya perkara perkosaan adalah keyakinan hakim itu sendiri yang tidak boleh lepas dari bukti-bukti yang ada, artinya proses pembuktian baik ditemukannya barang bukti berupa petunjuk, keterangan saksi, keterangan ahli dan keterangan terdakwa sendiri juga tetap menjadi sandaran utama bagi hakim dalam menentukan putusan pidananya
37
Selain hal-hal tersebut, faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam menjatuhkan pidana dapat dilihat dalam rumusan pasal 58 KUHP, dimana disebutkan bahwa dalam penjatuhan pidana wajib dipertimbangkan hal-hal berikut: 1. Kesalahan pembuat tindak pidana; 2. Motif dan tujuan tidak pidana; 3. Cara melakukan tindak pidana; 4. Sikap batin pembuat tidak pidana; 5. Riwayat hidup dan keadaan sosial ekonomi pembuat tindak pidana; 6. Sikap dan tindakan pembuat sesudah melakukan tindak pidana; 7. Pengaruh pidana terhadap masa depan pembuat tindak pidana; 8. Pandangan masyaakat terhadap tindak pidana yang dilakukan; 9. Pengurus tindak pidana terhadap korban atau keluara korban; 10. Apakah tindak pidana dilakukan dengan berencana. Selain itu hakim juga memperhatikan hal-hal yang dapat memperberat dan memperringan penjatuhan putusan kepada terdakwa, yaitu: 1. Pidana diperingan jika: a. Seseorang yang mencoba melakukan tindak pidana; b. Seseorang yang membantu terjadinta tindak pidana; c. Seseorang yang dengan suka rela menyersahkan diri kepada yang berwajib setelah melakukan tindak pidana; d. Wanita hamil melakukan tindak pidana; e. Seseorang yang dengan sukarela memberi ganti kerugian yang layak atau memperbaiki kerusakan akibat tindak pidana yang dilakukannya;
38
f.
Seseorang yang melakukan tindak pidana karena guncangan jiwa yang sangat berat dari keadaan pribadi atau keluarganya;
g. Seseorang
yang
melakukan
tindak
pidana,
kurang
dapat
dipertanggungjawabkan karena menderita gangguan jiwa, penyakit jiwa atau retardasi mental. 2. Pidana diperberat jika: a. Pegawai yang melanggar suatu kewajiban jabatan khusus diancam dengan pidana atau pada waktu melakukan tindak pidana
mempergunakan kekuasaan, kesempatan, atau uapaya yang diberkan kepadanya karena jabatan; b. Setiap orang yang melakukan tindak pidana dengan menyalagunakan bendera indonesia; c. Setiap orang yang melakukan tindak pidana dengan menyalagunakan keahlian atau profesi; d. Orang dewasa melakukan tindak pidana bersama dengan anak di bawah umur 18 (delapan belas) tahun; e. Setiap orang yang melakukan tindak pidana dengan bersekutu, bersama-sama dengan kekerasan dengan cara yang kejam atau dengan berencana; f. Setiap orang yang melakukan tindak pidana pada waktu huru-hara atau bencana alam; g. Setiap orang yang melakukan tindak pidana pada waktu negara dalam keadaan bahaya; kekuasaan, lagu kebangsaan, atau lambang negara
39
h. Hal-hal yang ditentukan secara khusus dalam suatu peraturan perundang-undangan; i. Pemberatan pidana diberlakukan juga bagi setiap orang yang melakukan tindak pidana dalam waktu lima tahun sejak: 1) Menjalani seluruh atau sebagian pidana pokok yang dijatuhkan; 2) Pidana pokok yang dijatuhkan telah dihapus; 3) Kewenangan menjalani pidana pokok yang dijatuhkan belum kadaluarsa. Dari ketentuan di atas menunjukkan bahwa hakim dalam menjatuhkan pidana terhadap seorang pelaku tindak pidana tidak hanya berdasarkan pada keyakinanya semata melainkan masih mempertimbangkan banyak hal, sehingga dalam menjatuhkan piana, subyektifitas hakim sebagaimana dalam teori pembuktian negatif semakin memudar dan lebih mengarah pada pertimbangan yang bersifat obyektif. Dari penjelasan diatas juga menjelaskan bahwa alat-alat bukti dalam sistempembuktian berdasarkan KUHAP sangat berpengaruh terhadap keyakinan hakim dalam memutuskan perkara pidana khususnya dalam memutus perkara perkosaan yakni selain menentuka bersalah atau tidaknya seorang terdakwa, juga menetukan berat ringannya pidana yang dijatuhkan oleh hakim. Alat bukti yang digunakan oleh hakim dalam memutus perkara perkosaan yaitu keterangan saksi, keterangan terdakwa, alat bukti petunjuk dan surat keterangan yang dibuat seorang ahli yang tertuang dalam Visum et Repertum serta keyakinan hakim.
40
B. Analisis Kasus Dalam kasus ini dapat dilihat bahwa dalam kesaksian korban atau pun terdakwa, tidak terdapat adanya unsur membawa lari oleh si terdakwa Agus Riadi bin Warsid kepada Siti Sulastri binti Siswanto sebagai korban, Siti Sulastri pergi bersama terdakwa yaitu atas kemauan oleh siti sulastri sendiri dan agus Riadi menuruti ajakan oleh Siti Sulastri tersebut karena di dasari suka sama suka. Maka dapat saya simpulkan dalam kasus ini tidak terdapat adanya tindak pidana membawa pergi wanita yang belum dewasa. Karena dalam kesaksian dari korban sendiri. Korban mengaku bahwa sudah pernah menikah dan telah mempunyai anak satu. Dalam visum et Repertum pun tidak terdapat adanya unsur paksaan yang dilakukan oleh terdakwa yaitu Agus Riadi bin WArsid kepada Siti Sulastri binti Siswanto, karena tidak diketemukannya pendarahan atau robekan baru pada liang senggama, dan tidak diketemukan juga paksaan pada kepala, leher, dada, perut, ekstremitas, dan tanda-tanda ruda paksa pada kemaluan korban Menurut saya Penggunaan pasal 332 ayat 1 KUHP, pasal 82 UU No. 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak kurang kuat dikarenakan gadis tersebut masih dibawah umur dan belum mampu dikawin. Latar belakang tindak pidana yang dilakukan oleh terdakwa Agus Riadi bin Warsid terhadap Siti Sulastri Binti Siswanto adalah dikarenakan Agus Riadi bin Warsid tidak dapat menahan hawa nafsu pada saat melihat Siti Sulastri binti Siswanto sedang tidur di penginapan Bukit Biru. Kemudian
41
timbul hasrat gairah pada Siti Sulastri binti Siswanto sebelum disetubuhi Agus Riadi bin Warsid mencoba untuk merayu dan membujuk Siti Sulastri binti Siswanto dengan kata-kata agar mau melayani birahi Agus Riadi Bin Warsid. Perbuatan yang dilakukan oleh terdakwa Agus Riadi bin Warsid seharusnya dapat dikenakan pasal 287ayat (1) KUHP menyatakan: “barang siapa bersetubuh dengan seorang wanita diluar pernikahan padahal diketahui atau sepatutnya harus diduga bahwa umurnya belum 15 tahun, atau kalo umurnya tidak ternyata bahwa belum mampu kawin, diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun.” Unsur-unsur dalam pasal 287 Ayat (1) KUHP yang dapat dibuktikan secara sah dan meyakinkan yaitu : 1. Unsur barang siapa Di sini yang menjadi subjek hukum atau pelakunya dalam kasus tindak pidana adalah Agus Riadi bin Warsid. 2. Unsur bersetubuh dengan wanita diluar pernikahan Terdakwa Agus Riadi bin Siswanto menaiki tubuh Siti Sulastri binti Warsid yang sedang tidur di kamar penginapan yang sudah dipesan oleh terdakwa Agus Riadi bin Siswanto dan pada saat korban terbangun dan korban pun bertanya kepada terdakwa “sampean mau ngapain“ terdakwa menjawab “tidak apa-apa, nanti kalo ada apa-apa saya tanggung jawab“. Terdakwa mencoba untuk membujuk dan merayu korban dengan katakata setelah itu korban diam saja dan menuruti kemauan dari terdakwa dan sebagaimana diatur dalam pasal 293 ayat (1) KUHP.
42
3. Unsur bahwa umurnya belum 15 tahun atau umurnya tidak ternyata bahwa belum mampu kawin. Dalam hal ini terdakwa Agus Riadi bin Warsid telah melakukan hubungan kelamin atau bersetubuh dengan seorang wanita yang masih di bawah umur. Dalam pasal 287 ayat (1) KUHP kasus tersebut saksi Agus Riadi Bin Siswanto telah melakukan tindak pidana terhadap Siti Sulastri Binti Warsid telah memenuhi unsur pasal 293 ayat (1) KUHP. Dapat disimpulkan dari putusan yang dijatuhkan oleh hakim dalam kasus tindak pidana tersebut terlalu ringan ancaman pemidanaanya (pidana penjara tiga tahun enam bulan) jika dibandingkan dengan ancaman pidana maksimal yang ada dalam pasal 287 ayat (1) KUHP dan pasal 293 ayat (1) KUHP.
43
BAB IV PENUTUP
Demikian penulisan skripsi ini mengenai Visum et Repertum sebagai salah satu alat bukti dalam mengungkap kejahatan.
A. Kesimpulan 1. Pemeriksaan suatu perkara pidana didalam suatu proses peradilan pada hakekatnya adalah bertujuan untuk mencari kebenaran materiil (materiil waarheid). 2. Visum et Repertum diartikan sebagai laporan tertulis untuk
kepentingan peradilan (pro yustisia) atas permintaan yang dibuat oleh dokter, terhadap segala sesuatu yang dilihat dan ditemukan pada pemeriksaan barang bukti, berdasarkan sumpah pada waktu
menerima jabatan. 3. Peranan Visum et Repertum sebagai penentu pertimbangan hakim dalam memutuskan perkara di persidangan bila terjadi hal-hal yang dianggap ada keraguan dalam hal pembuktian dalam pengumpulan bukti-bukti serta ketika terdapat kekurangan dalam menentukan bukti atau pun kesaksian tersangka yang bertentangan dengan bukti.
43
44
B. Saran 1. Sangat penting bahwa sistem hukum pidana harus berorientasi pada pelaku dan korban perkosaan dan bukan semata-mata korban atau pelaku, sehingga dengan demikian sistem hukum pidana tidak saja akan bersifat antisipatif tetapi sekaligus responsif. 2. Hendaknya hakim tetap menjadikan Visum et Repertum sebagai bahan pertimbangan dalam memutus tindak pidana perkosaan mengingat Visum et Repertum merupakan alat bukti surat yang dikeluarkan oleh instansi yang berwenang (dokter).
45
DAFTAR BACAAN
A. Buku Asmasasmaita, Romli, Kapita selekta hukum pidana dan Krimologi, Mandar Maju, Bandung 1995. Gokkel, HRW dan N.Van Der Wal, Istilah Hukum Latin – Indonesia Cet – 1, 1972. Gosita, Arif, Viktimologi dan KUHAP yang mengatur Ganti Kerugian Pihak Lain Korban, Akademik Pressindo, Jakarta, 1987. Hamdani, Njowioto, Ilmu Kedokteran Kehakiman, Gramedia Pustaka Tama, Jakarta, 1996. Hamzah, Andy, Hukum Acara Pidana Indonesia, Sapta Artha Jaya, Jakarta, 1996. Lamintang, Delik-delik Khusus Tindak Pidana yang Melanggar Kesusilaan dan Norma-norma Kepatutan, Mandar Maju, Bandung, 1990. Marpaung, Laden, Kejahatan Terhadap Kesusilaan dan Prevensinya, Sinar Grafika, Jakarta, 1996. Simorangkir, JTC, Kamus Hukum, CV.Mojopahit, Cirebon, 1972. Soeparmono, Keterangan Ahli dan Visum Et Repertum Dalam Aspek Hukum Acara Pidana, Djambatan, Jakarta, 2002. RSUD Dr soetomo, Surabaya. Etik dan Hukum di bidang kesehatan Waluyadi, Ilmu Kedokteran Kehakiman Dalam Prespektif Peradilan dan Aspek Hukum Praktik Kedokteran, Djambatan, Jakarta, 2000. Waluyo, Bambang, Pidana dan Pemidanaan, Sinar Grafika, Jakarta, 2000. Masalah
46
B. Peraturan Perundang-undangan Kitab Undang-Undang No 1 tahun 1946 dan diberlakukan tahun 1958 no 73 (KUHP) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana. Undang-Undang No 23 Tahun 1992, Tentang Kesehatan
C. Putusan Pengadilan Negeri Tenggarong dengan No Perkara 136 / Pid.B / 2008 / PN. Tgr.