Teori Agenda Setting
Shared by: elusivelyeasy
Categories
-
Stats
- views:
- 15640
- posted:
- 8/4/2009
- language:
- Indonesian
- pages:
- 16
Document Sample


11,12
MODUL
OPINI PUBLIK
Feni Fasta, SE, M.Si
Pokok Bahasan:
Teori Agenda Setting
Tujuan Instruksi Umum
Modul ini bertujuan memberikan pemahaman mengenai reaksi publik terhadap konten
media massa.
Tujuan Instruksi Khusus
Setelah mempelajari modul ini, diharapkan dapat dipahami dengan baik mengenai
berbagai teori tentang reaksi khalayak (publik).
PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB Feni Fasta, SE,M.Si. OPINI PUBLIK 1
Teori Agenda Setting
I. Teori deFleur tentang efek media massa
Menurut teori “norma-norma kultural deFleur, media tidak berpengaruh langsung
terhadap individu-individu, melainkan juga mempengaruhi kebudayaan, pengetahuan,
norma-norma, dan nilai-nilai suatu masyarakat. Semuanya ini membentuk citra, ide-ide,
dan evaluasi dengan mana audiens menentukan tingkah laku sendiri.
Misalnya, dalam hal tingkah laku seksual seseorang, media massa menyajikan sejumlah
pandangan, dan seringkali secara tidak sengaja, tentang mana yang normal, mana yang
disetujui dan mana yang tidak disetujui.
II. Teori Agenda Setting
Di antara berbagai hipotesa tentang efek komunikasi massa, salah satunya yang
bertahan dan bahkan berkembang di tahun-tahun belakangan ini, menyatakan bahwa “
media massa dengan hanya memberikan perhatian pada beberapa isu dan
mengabaikan isu yang lainnya, akan mempengaruhi opini publik”.
Orang cenderung mengetahui hal-hal yang disajikan oleh media massa dan
menggunakan atau memakai urutan-urutan prioritas yang ditetapkan oleh media massa
tentang berbagai persoalan tersebut.
Teori agenda setting menghidupkan kembali model Jarum Hipodermik, tetapi fokus
penelitian telah bergeser dari efek pada sikap dan pendapat kepada efek kesadaran dan
efek pengetahuan. Asumsi dasar teori ini menurut Cohen (1963) adalah membentuk
persepsi khalayak tentang apa yagn dianggap penting. Melalui teknik pemilihan dan
penonjolan, media memberikan petunjuk (cues) tentang isu apa yang lebih penting.
Asumsi Agenda Setting ini mempunyai kelebihan karena mudah untuk diuji. Dasar
pemikirannya adalah di antara berbagai topik yang dimuat media massa, topik yang
lebih banyak mendapat perhatian dari media massa akan menjadi lebih akrab bagi
pembacanya dan akan dianggap penting dalam suatu periode waktu tertentu dan akan
terjadi sebaliknya bagi topik yang kurang mendapat perhatian media massa. Oleh
karena itu, teori Agenda Setting menekankan adanya hubungan positif antara penilaian
yang diberikan media pada suatu persoalan dengan perhatian yagn diberikan khalayak
pada pesoalan tersebut. Dengan kata lain, apa yang dianggap penting oleh media, akan
PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB Feni Fasta, SE,M.Si. OPINI PUBLIK 2
dianggap penting pula oleh khalayak. Apa yang dilupakan media, akan luput pula dari
perhatian khalayak.
Orang pertama yang memperkenalkan teori agenda setting adalah Maxwell McCombs
dan Donald Shaw. Mereka mengatakan audiens tidak hanya memahami masalah-
masalah umum dan hal-hal lainnya dari media massa, akan tetapi mereka juga
memahami betapa pentingnya satu isu atau topik, dan penekanan yang diberikan media
mssa terhadap topik itu. Misalnya, dalam memberitakan apa-apa yang diucapkan
seorang calon presiden dalam kampanye, media massa akan menentukan isu-isu apa
yang terpenting.
Dengan perkataan lain, media massa membentuk “agenda” dari kampanye tersebut.
Kemampuan mempengaruhi perubahan kognitif di antara individu-individu ini merupakan
salah satu aspek terpenting dari kekuatan komunikasi massa.
Ketika diadakan penelitian tentang pemilihan presiden AS pada tahun 1968 ditemukan
hubungan yang tinggi antara penekanan berita dan bagaimana berita itu dinilai
tingkatannya oleh pemilih. Meningkatnya nilai penting suatu topik berita pada media
massa menyebabkan meningkatnya nilai penting topik tersebut bagi khalayaknya.
Secara singkat, teori penyusunan agenda ini mengatakan media (khususnya media
berita) tidak selalu berhasil memberitahu apa yang kita pikir, tetapi media tersebut
benar-benar berhasil memberitahu kita berpikir tentang apa.
Media massa selalu mengarahkan pada kita apa yang harus kita lakukan. Media
memberikan agenda-agenda lewat pemberitaannya, sedangkan masyarakat akan
mengikutinya. Menurut asumsi teori ini, media punya kemampuan untuk menyeleksi dan
mengarahkan perhatian masyarakat pada gagasan atau peristiwa tertentu. Media
mengatakan pada kita apa yang penting dan apa yang tidak penting. Media pun
mengatur apa yang harus kita lihat atau tokoh siapa yang harus kita dukung.
Dengan perkataan lain, agenda media akan menjadi agenda khalayak.
Model agenda setting adalah sebagai berikut :
PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB Feni Fasta, SE,M.Si. OPINI PUBLIK 3
Masalah/Isu Perbedaan perhatian Persepsi publik
yang diberikan media terhadap isu tersebut
X1 X1
X2 X2
X3 X3
X4 X4
Menurut model ini, di antara sejumlah isu atau topik, maka isu atau topik yang mendapat
lebih banyak perhatian dari media massa akan semakin akrab dengan audiens dan
dianggap penting dalam satu jangka waktu tertentu, sementara yang mendapat sedikit
perhatian akan tidak akrab bagi audiens.
Dengan perkataan lain, apa yang dianggap penting oleh media massa akan dianggap
penting pula oleh audiens, dan apa yang tidak dianggap penting
oleh media massa akan tidak dianggap penting oleh audiens.
McCombs dan Shaw pada tahun 1976 melihat Skandala Watergate sebagai ilustrasi
fungsi agenda setting. Sebagaimana diketahui Skandala Watergate adalah tentang
keterlibatan Presiden Nixon dalam penyadapan pembicaraan
politik lawan-lawannya dalam partai politik yang berbeda.
Sebenarnya tidak ada hal yang baru dalam pengungkapan kasusu korupsi politik itu,
akan tetapi pemuatan yang intensif oleh pers setelah peristiwa Watergate telah
membuat isu atau topik itu menjadi “topic in year”.
Contoh agenda media menjadi agenda khalayak adalah :
Jika agenda media adalah pemberitaan tentang operasi pemulihan keamanan di Aceh
untuk menumpas GAM, maka agenda atau pembicaraan khalayak/masyarakat juga
sama seperti yang diagendakan media tersebut.
PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB Feni Fasta, SE,M.Si. OPINI PUBLIK 4
Jika pemberitaan media massa adalah tentang kenaikan harga BBM, maka yang
menjadi pembicraan di masyarakat adalah juga soal harga BBM.
Jika media selalu mengarahkan untuk mendukung tokoh politik tertentu, bukan tidak
mustahil khalayak akan iktu terpengaruh mendukung tokoh tertentu tersebut.
Gagasan awal dari teori agenda setting sebenarnya sudah dikemukakan oleh para ahli.
Norton Long (1958) telah menulis bahwa “Dalam beberapa hal, surat kabar adalah
penggerak utama dalam menentukan agenda daerah. Surat kabar memiliki andil besar
dalammmenentukan apa yang akan dibahas oleh sebagian besar orang, apa pendapat
sebagian besar orang tentang fakta yang ada, dan apa yang dianggap oleh sebagian
besar orang sebagai cara untuk menangani masalah”.
Selanjutnya Kurt Lang dan Gladys Engel Lang (1959) mengatakan “Media massa
memaksakan perhatian pada isu-isu tertentu.Media massa membangun citra publik
tentang figur-figur politik. Media massa secara konstan menghadirkan objek-objek yang
menunjukkan apa yang hendaknya dipertimbangkan, diketahui, dan dirasakan individu-
individu dalam masyarakat.”
Perubahan dalam Pemikiran
Hipotesis penentuan agenda terjadi ketika para peneliti menjadi tidak puas dengan
posisi teoritis yang dominan dalam riset komunikasi massa selama 1950-an dan 1960-
an. Joseph Klapper menulis, bahwa “komunikasi massa biasanya tidak berfungsi
sebagai penyebab yang perlu dan memadai dari dampak audiensi, melainkan berfungsi
di antara dan melalui hubungan dari faktor-faktor dan pengaruh-pengaruh penengah”.
Bagi sebagian orang, gagasan bahwa media massa biasanya tidak mempunyai dampak
apapun justru tidak tampak sangat beralasan. Para peneliti juga mulai
mempertimbangkan kemungkinan bahwa mereka mungkin mencari dampak di tempat
yang salah. Selama bertahun-tahun, pendekatan ayng digunakan dalam riset
komunikasi adalah mencari perubahan sikap, dan sebagian ebsar riset menemukan
bahwa media massa mempunyai dampak kecil dalam bidang ini.
Peraubahan dalam pemikiran yang dialami para peneliti komunikasi ini mungkin juga
dikuatkan oleh perubahan yang sama berlangsung dalam bidang psikologi. Tahun 1950-
PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB Feni Fasta, SE,M.Si. OPINI PUBLIK 5
an menandai munculnya psikologi kognitif sebagi saingan dari pendekatan yang
dominan, yaitu behaviorisme.
Behaviorisme menekankan pentingnya penguatan, penghargaan dan hukuman, serta
pengondisian dalam membentuk perilaku, dan juga berusaha untuk menggunakan
konsep-konsep tersebut untuk menjelaskan pikiran dan bahasa.
Sebaliknya psikologi kognitif, melihat manusia sebagai pencari pengetahuan yang aktif
yang bertindak di dunia berdasarkan pengetahuan ini. Dalam panangan ini, orang dilihat
sebagai pemecah masalah daripada sebagai objek pengondisian atau manipulasi.
Psikologi kognitif berkenaan dengan gambaran dunia yang dibangun orang di kepalanya
dan bagaimana orang mulai membangun dunia itu.
Hipotesis agenda setting, dengan menyelidiki keutamaan atau kepentingan yang
diberikan orang pada isu-isu tertentu dan bagaimana keutamaan itu dicapai, sangat
sesuai dengan psikologi kognitif.
Agenda Media dan Realitas
Peneliti G. Ray Funkhouser tertarik dengan hubungan antara liputan berita dengan
persepsi publik tentang pentingnya isu-isu. Tetapi ia juga menghasilkan aspek lain, yaitu
keutamaan sesungguhnya dari isu-isu spesifik dalam realitas.
Dia memfokuskan penelitiannya pada tahun 1960-an, sebuah dekade yang aktif di mana
terdapat banyak isu yang menonjol. Untuk mendapatkan tingkat opini publik tentang isu-
isu mana yang penting, Funkhouser menggunakan hasil jejak pendapat Gallup di mana
orang diberi pertanyaan tentang “masalah penting yang dihadapi Amerika”. Hasilnya dia
memperoleh tingkat isi media dengan menghitung jumlah artikel pada setiap eksemplar
yang terbit dalam tiga majalah mingguan. Tingkat pentingnya sebuah isu dalam realitas
didasarkan pada statistik yang diambil dari Statistical Abstract of the United States.
Funkhouser kemudian melihat hubungan antara opini publik dengan isi media, dan
hubungan antara isi media dengan realitaas. Hubungan yang pertama, yaitu hubungan
antara tingkat pentingnya isu-isu menurut publik dan isi media, ditunjukkan dalam
sebuah tabel. Tabel tersebut menunjukkan persesuaian yang kuat antara tingkat
pentingnya sebuah isu menurut publik dengan jumlah liputan
yang diberikan untuk isu tersebut oleh media. Isu-isu yang diberi peringkat tinggi oleh
publik juga adalah isu-isu yang sering diliput oleh media massa.
PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB Feni Fasta, SE,M.Si. OPINI PUBLIK 6
Dalam bagian kedua penelitiannya, Funkhouser melihat hubungan antara liputan media
dan realitas. Analisis ini bukan analisis yang dapat dirangkum dengan mudah dalam
sebuah tabel. Tetapi pola yang ditemukan Funkhouser kelihatan seakan-akan liputan
media tidak begitu sesuai dengan realitas isu-isu. Misalnya, liputan media tentang
Perang Vietnam, kerusuhan kampus, dan kerusuhan kota memuncak setahun atau dua
tahun sebelum kejadian-kejadian ini mencapai klimaksnya dalam realitas. Liputan
narkoba dan inflasi agak sesuai dengan realitas, tetapi liputan hubungan ras, kejahatan,
kemiskinan, dan polusi menghasilkan sedikit hubungan dengan keadaan yang
sesungguhnya.
Penelitian Funkhouser menunjukkan bahwa media berita tidak memberikan gambaran
yang sangat akurat mengenai apa yang sedang terjadi pada negara selama tahun 1960-
an. Funkhouser menyimpulkan, “Media berita diyakini oleh banyak orang (termasuk para
pembuat keputusan) sebagai sumber informasi yang dapat dipercaya, tetapi data di sini
menunjukkan bahwa media berita tidak mesti demikian.
Priming
Iyengar, Peters, dan Kinder (1982) juga menemukan cara khusus bagaimana tayangan
berita televisi mungkin mempunyai dampak pada pemilihan presiden. Dengan
menentukan agenda untuk kampanye pemilihan, media juga menentukan kriteria yagn
digunakan untuk mengevaluasi calon-calon presiden.
Iyengar dan koleganya menyebut proses ini priming. Priming adalah proses di mana
media berfokus pada sebagian isu dan tidak pada isu lainnya dan dengan demikian
mengubah standar yang digunakan orang untuk mengevaluasi para calon pemilih.
Iyengar dan Simon (1993) menyelidiki priming dalam liputan berita krisi Teluk Persia
pada tahun 1990 sampai 1991. Pertama, mereka menemukan dampak penentuan
agenda dasar. Ketika krisis Teluk Persia mulai mendominasi liputan berita, krisis
tersebut juga muncul dalam jejak pendapat opini publik sebagai masalah nasional yang
paling penting. Tetapi mereka juga menemukan bahwa liputan yang meningkat pada isu
ini terus mempengaruhi evaluasai presiden Bush secara keseluruhan. Selama krisis
teluk, opini kinerja kebijakann luar negeri Bush lebih kuat berhubungan dengan evaluasi
Bush secara keseluruhan daripada dengan opini kinerja ekonomi Bush. Sebelum krisis
PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB Feni Fasta, SE,M.Si. OPINI PUBLIK 7
Teluk, opini tentang kinerja ekonominya lebih penting daripada opini kinerja kebijakan
luar negerinya.
Harold Gane Zucker (1978) melakukan penelitian dengan membandingkan isu-isu yang
menonjol seperti pengangguran, biaya hidup, dan kejahatan, dengan tiga isu yang tidak
menonjol, yaitu polusi, penyalahgunaan obat, dan krisis energi. Hasilnya adalah, jumlah
liputan keenam isu itu selama periode 8 tahun diambil dari Television News Index,
sebuah penerbitan bulanan. Tingkat opini publik pada pentingnya 6 idu tersebut diambil
dari jumlah jejak pendapat Gallup yang menanyakan “apakah masalah penting yang
dihadapi negara saat ini?
Penelitian menemukan bahwa untuk 3 masalah yang tidak menonjol, liputan media
berita yang gencar mendahului naiknya nilai penting sebuah isu dalam jejak pendapat
opini publik. Tetapi untuk 3 isu yang menonjol, liputan media berita yang banyak tidak
mendahului naiknya nilai penting sesbuah isu bagi publik. Melainkan keduanya tampak
meningkat bersama-sama.
Penelitian ini menunjukkan bahwa penentuan agenda bisa terjadi untuk isu-isu yang
tidak menonjol tetapi tidak untuk isu-isu yang menonjol, dan menyatakan bahwa
menonjolnya isu adalah sebuah konsep penting yang hendaknya ditambahkan pada
hipotesis penentuan agenda.
Chaffe dan Berger mengemukakan beberapa catatan untuk memperjelas teori agenda
setting sebagai berikut :
1. Teori ini mempunyai kekuatan penjelas untuk menerangkan mengapa orang-
orang sama-sama menganggap penting suatu isu.
2. Teori ini mempunyai kekuatan memprediksikan bahwa jika orang-orang
mengekspos pada suatu media yang sama, mereka akan merasa isu yang sama
tersebut adalah penting.
3. Teori ini dapat dibuktikan salah jika orang-orang tidak mengekspos media yang
sama maka mereka tidak akan punya kesamaan bahwa isu media itu penting.
PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB Feni Fasta, SE,M.Si. OPINI PUBLIK 8
LAMPIRAN
Putusan Prita tak Dipengaruhi Opini Publik
By Republika Newsroom
Kamis, 25 Juni 2009 pukul 17:44:00
TANGERANG -- Majelis hakim Pengadilan Negeri Tangerang yang menangani perkara
Prita Mulyasari menyatakan putusan sela atas perkara itu sama sekali tidak dipengaruhi
opini publik yang berkembang. Juga tanpa pengaruh pernyataan Jaksa Agung
Hendarman Supandji yang menyebut jaksa perkara Prita tak profesional.
“Tidak.. tidak, kami sama sekali tidak dipengaruhi oleh publik,” ujar Karel Tuppu, ketua
majelis hakim di ruang kerjanya, Kamis. Sebelumnya di ruang sidang ia memutuskan
bahwa dakwaan jaksa batal demi hukum.
Menurut Karel, putusan majelis mengacu pada dakwaan yang tidak cermat. Ia mengutip
pasal 54 ayat 2 Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) yang
menyatakan pelaksanaan UU ITE baru dapat dilakukan setelah ada Peraturan
Pemerintah (PP).
Majelis juga menelaah Undang-undang Nomor 10 tahun 2004 mengenai dasar
pembentukan peraturan perundang-undangan. Dalam pasal 39 UU tersebut tercantum
bahwa PP dapat ditetapkan untuk melaksanakan UU. Setiap UU, masih menurut pasal
tersebut, wajib menetapkan batas waktu atas pembuatan PP.
“Majelis melihat dalam penyidikan polisi, yakni saat Direskrimum mengajukan surat pada
ahli IT dari UI dan Diknas, pasal yang digunakan ialah 310 dan 311 KUHP,” ujar Karel.
Ia dan dua hakim anggota tidak melihat adanya penggunaan UU ITE dalam penyidikan
perkara. Sehingga, papar Karel, dakwaan tidak memenuhi unsur pasal 143 ayat 2 B
KUHAP. Akibatnya, dakwaan dinyatakan batal demi hukum.
Berdasar asas legalitas, Karel menjelaskan, aparat harus bertindak berdasar hukum dan
undang-undang. Karel berkomentar perlawanan (verzet) sah-sah saja dilakukan oleh
Jaksa Penuntut Umum (JPU). Karel menolak berkomentar lebih jauh soal verzet.
PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB Feni Fasta, SE,M.Si. OPINI PUBLIK 9
“Kalau dalam konteks kuliah, boleh saya menjelaskan,” tambahnya. Ia mencontohkan
hasil verzet dapat berupa perintah pemeriksaan dan pemutusan perkara. Menurut Karel,
hasil verzet bergantung pada Pengadilan Tinggi.
Ditemui usai sidang, pengacara Prita, Syamsu Anwar, menyatakan puas dan sangat
setuju dengan putusan hakim. “Lebih baik hakim melepas seribu orang yang bersalah
daripada menghukum satu orang yang tidak bersalah,” ujarnya mengutip sebuah
adagium dalam ilmu hukum.
PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB Feni Fasta, SE,M.Si. OPINI PUBLIK 10
LAMPIRAN
Wiranto dan Opini Publik
Oleh Sunarto Prayitno
MASA perburuan pasangan oleh para calon presiden (capres), telah berakhir. Masing-
masing capres telah menemukan "pilihannya". Partai politik (parpol) peserta Pemilu
Legislatif yang sudah siap mengajukan capres dan calon wakil presiden (cawapres)-nya,
antara lain Partai Golkar, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P), Partai
Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Demokrat (PD), Partai Amanat Nasional (PAN), dan
Partai Persatuan Pembangunan (PPP).
Bila dicermati, tujuan pemilihan pasangan lebih didasari pertimbangan jangka pendek,
menarik massa agar dapat merebut kursi kepresidenan. Sepertinya parpol-parpol sudah
melupakan misi, visi, platform partai, atau tujuan jangka panjang lain, yang seharusnya
lebih diutamakan sesuai tujuan Pemilu, yakni menciptakan kesejahteraan rakyat. Secara
strategis, bila calon yang diunggulkan meraih kursi presiden, misi partai akan lebih
mudah dicapai. Masalahnya apakah figur-figur itu mampu memenuhi harapan
pengikutnya, atau sebaliknya.
Membangun opini
Angka-angka yang dicapai parpol dalam Pemilu Legislatif lalu tidak menjamin
kesuksesan parpol dalam Pemilu Presiden. Perhitungan matematis guna penentuan
pasangan wapres dan cawapres berdasar hasil Pemilu Legislatif, bisa lain hasilnya.
Misalnya akan terjadi fragmentasi anggota dan simpatisan Partai Golkar dalam
menentukan pilihan, karena massanya akan terkonsentrasi sebagai pendukung Wiranto,
Jusuf Kalla, atau Marwah Daud. Juga dengan warga Nahdlatul Ulama (NU). Mereka
dihadapkan berbagai pilihan, ikut Hasyim Muzadi, Salahuddin Wahid, atau memilih Gus
Dur. Belum lagi pertimbangan lain seperti dikotomi militer-sipil, Orde Baru-reformasi,
status quo-perubahan, Jawa-luar Jawa. Semua akan nenecag konstrasi pemilih.
Sebenarnya kecil relevansi hasil Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden. Peran mesin
politik partai mungkin lebih menentukan dalam Pemilu Legislatif. Tetapi Pemilu Presiden
lebih dikendalikan opini publik terutama terhadap figur capres, yang tidak ada kaitannya
dengan asal golongan atau partai. Dengan kata lain, capres dan pasangannya tidak bisa
PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB Feni Fasta, SE,M.Si. OPINI PUBLIK 11
mengandalkan pemilih dari partai atau golongan. Mereka harus menciptakan massa
baru, dibangun berdasar opini publik.
Opini publik merupakan kumpulan opini perorangan atas suatu isu yang dirasakan
(affection) tiap individu, dan sebagai kolektivitas pandangan yang tercipta dari individu
yang tertarik pada subyek tertentu. Jadi, bila seseorang tidak tertarik suatu subyek
(istilah populernya emangnya gue pikirin), meski berasal dari kelompok sosial (politik)
yang sama, tidak akan memberi dukungan pada terciptanya opini publik. Opini publik
yang positif mampu menggerakkan massa pendukung tanpa melihat asal dan latar
belakang pendukung. Kesuksesan PD dalam Pemilu Legislatif lalu, lebih banyak
didasari opini publik atas "penganiayaan" SBY, daripada hasil mesin politik PD.
Seperti saat ini, Wiranto yang didera bermacam tuduhan berkait masa lalunya-yang oleh
Golkar dianggap sebagai character assassination-merupakan isu potensial untuk
membangun opini publik. Popularitas SBY pun bisa menjadi luntur gara-gara masuknya
Wiranto dalam perebutan kursi presiden, karena Wiranto membawa citra kekuasaan
militer lebih kental, sementara SBY juga bekas militer. Dari berbagai isu itu, dapat
dikembangkan menjadi opini negatif (oleh pesaing) maupun opini positif bagi yang
bersangkutan, tergantung kelihaian dalam mengelola dan membangun opini publik.
Kemampuan menyentuh tujuan, aspirasi, kebutuhan, dan idealisme seseorang,
merupakan kunci utama menciptakan ketertarikan dan perasaan keterlibatan individual
atas subyek tertentu, yang akhirnya dapat memciptakan opini publik.
"The multiple-step flow model"
Sementara orang berpikir, media merupakan alat utama dalam menciptakan opini
publik. Namun yang sebenarnya terjadi adalah sebaliknya. Peran media antarpersona
(interpersonal communication) lebih menentukan. Misalnya dalam debat politik di
televisi, tulisan-tulisan di media cetak, atau siaran radio yang mengangkat topik "citra
Wiranto". Para pengamat politik yang merasa independen umumnya memasalahkan
masa lalu Wiranto-sebagai komandan militer tertinggi-yang harus bertanggung jawab
atas kasus Timor Timur, tragedi Trisakti, peristiwa Semanggi, maupun kerusuhan Mei
1998 dan belum diselesaikan. Di sisi lain, para petinggi partai Golkar dibuat sibuk
memberi argumentasi guna menghindari serangan-serangan itu.
Secara individu, pemirsa, pembaca, atau pendengar media dihadapkan bermacam
pilihan atas isi pesan, apakah menggangap Wiranto negatif, positif, atau emangnya gue
pikirin. Konon, hanya ada 10 persen - 12 persen inidividu yang akan menyerap isi pesan
PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB Feni Fasta, SE,M.Si. OPINI PUBLIK 12
dan mampu menetapkan sebagai pesan positif atau negatif (survai the Roper
Organization atas 20.000 pemilih di USA). Pesan itu akan berdampak di masyarakat,
bila ke-10 sampai 12 persen personal yang disebut opinion leaders, yakni mereka yang
dapat memahami dan pandai mengeluarkan pikiran-pikirannya dengan jelas tentang isu-
isu atas subyek tertentu, mau memainkan perannya. Artinya, pendapat opinion leaders-
lah yang akan mempengaruhi afeksi masyarakat, dan dapat menciptakan opini publik.
Dalam ilmu komunikasi, kondisi ini dikenal sebagai the communication multiple-step flow
model. Intinya pesan akan berdampak bila ada orang lain yang menjelaskan atau
mempengaruhi seseorang untuk menentukan sikap, melalui komunikasi individu, meski
seseorang itu pernah memperolehnya dari media. Singkat kata, melalui opinion leaders
komunikasi interpersonal lebih menentukan kesuksesan penciptaan opini publik,
dibanding memanfaatkan media atau saluran lain.
Apakah kontestan Pemilu Presiden nanti akan mengutamakan iklan politik melalui media
yang menghamburkan dana besar dengan hasil kurang sepadan (seperti diderita PDI-
P)? Atau alokasi dana diarahkan untuk membangun jaringan interpersonal
communication seperti sengaja atau tidak sengaja dilakukan Partai Karya Peduli Bangsa
(PKPB), yang meski dihujat karena menjadi "antek Suharto", toh menjadikannya masuk
10 besar dalam Pemilu Legilatif lalu. Bagaimana bermain di grass roots dengan
memanfaatkan opinion leaders, mungkin lebih bisa diharapkan hasilnya membangun
opini publik untuk mengantar ke kursi kepresidenan.
PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB Feni Fasta, SE,M.Si. OPINI PUBLIK 13
MENGARAHKAN OPINI
PUBLIK
Monday, 02 February 2009 04:29
Oleh: Haryatmoko
Akhir-akhir ini, berbagai hasil jajak pendapat ikut memanaskan atmosfer politik
Indonesia. Dengan mengklaim diri sebagai penelitian ilmiah, jajak pendapat ingin
mencapai status obyektif atau bebas nilai, padahal ia merupakan bagian dari strategi
kekuasaan.
M Foucault dengan jeli menyingkap, status ilmiah merupakan cara kekuasaan
memaksakan pandangannya kepada publik tanpa memberi kesan berasal dari pihak
tertentu (1980). Kriteria ilmiah seakan mandiri terpisah dari kepentingan subyek.
Opini publik perlu dimengerti dalam konteks di mana publik terbentuk karena ada orang
atau kelompok yang memiliki kepedulian terhadap suatu masalah (termasuk responden
dan peneliti jajak pendapat). Mereka mencoba menemukan sebabnya atau menelisik
penanggung jawab yang mengakibatkan masalah itu.
Kerancuan deskripsi
Publik bukan sekadar sekumpulan orang yang didorong sikap atau kepentingan.
Mereka tercipta berkat wacana yang menyatukan dengan menyesuaikan opininya. Lalu
terbentuk publik yang mengenali diri sebagai anggota kelompok yang lebih kurang
sama. Maka, opini pertama-tama bukan sikap, tetapi proyeksi atau prakiraan.
Publik dimengerti sebagai bentuk koordinasi kolektif yang memiliki tiga hal. Pertama,
identitas lebih kurang sama; kedua, setuju atas diagnostik masalah (sebab, tanggung
jawab, dan pemecahan); ketiga, ikut terlibat untuk suatu upaya kolektif.
Jadi, opini selalu kontekstual terkait dengan budaya dan dinamika perdebatan. Jajak
pendapat tidak lain kecuali sarana penyesuaian opini kolektif tidak berbeda dari fungsi
media massa. Jajak pendapat tidak hanya cermin opini bersama, tetapi juga
merupakan panggung debat publik.
Menjawab jajak pendapat berarti mengungkap pandangan di ruang publik. Ada tiga
alasan yang mendasari (M Brougidou, 2008:14). Pertama, responden sadar tidak
sendiri ambil bagian dalam jajak pendapat; kedua, responden tahu biasanya hasil
dipublikasikan dan menjadi bahan komentar publik; ketiga, cakrawala yang
didefinisikan oleh publikasi opini memberi bentuk terhadap posisi sikapnya. Pandangan
pribadi biasanya berakar pada nilai komunitas politiknya.
Prapemahaman pada diri peneliti, metode yang dipakai, dan konteksnya membuat
jajak pendapat mudah terjebak dalam kerancuan antara deskripsi netral atau
mengungkap situasi mental (sikap), atau dilibatkan dalam memproduksi rumusan
bahasa yang sudah dirancang atau disesuaikan dengan konteks tertentu. Responden
PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB Feni Fasta, SE,M.Si. OPINI PUBLIK 14
bisa tidak lagi memberi deskripsi obyek, tetapi apa yang dirasakan atau membangun
suatu versi tentang obyek. Jadi, tidak jarang hasil jajak pendapat akan
mencampuradukkan antara deskripsi, evaluasi, dan penjelasan.
Apakah validitas jajak pendapat hanya diukur dari sikap yang diambil dari sampel yang
dianggap representatif? Sebetulnya dalam jajak pendapat yang utama adalah
mengambil wacana para pelaku, citra, kisah, dan argumen mereka yang membentuk
ruang bersama terkait dengan suatu masalah dan dengan demikian bisa
mengidentifikasi publik.
Namun, dalam kenyataan, jajak pendapat sering dikaitkan dengan upaya elite untuk
mengontrol dan mengawasi opini publik. Boleh jadi upaya untuk mengukur dan
mengetahui opini publik tidak lain kecuali upaya untuk menjinakkannya. Jajak pendapat
biasanya mendasarkan legitimasinya pada dua bentuk representativitas:
representativitas statistik yang mendeskripsikan penjumlahan opini-opini dan
representativitas politik yang mendasarkan pada prinsip satu orang satu suara.
Ketidakseimbangan
Politisi sering menggunakan hasil jajak pendapat dan menggunakannya untuk
komunikasi politik di media sehingga memberi bentuk realitas pada opini publik.
Artinya, hasil jajak pendapat digunakan untuk mengarahkan opini publik. Dari sudut
demokrasi deliberatif, opini yang dikumpulkan dalam jajak pendapat bisa dipertanyakan
ciri ”publik”-nya karena bukan buah pertimbangan dan diskusi publik. Ada bias karena
dampak penetapan masalah oleh peneliti menyebabkan ketidakseimbangan informasi
di antara responden. Lalu aneka pertanyaan peneliti cenderung sudah mengarahkan
ke opini tertentu. Tentu saja metode yang digunakan (pertanyaan terbuka-tertutup)
akan menentukan hasilnya. Kendati demikian, tetap saja konstruksi nilai sudah terjadi.
Sikap memang dihasilkan oleh lingkungan psikologis dan sosial, tetapi berfungsi
dengan penuh selubung tidak sesadar seperti peneliti/penganalisis. Padahal, peneliti
sering sudah puas bila bisa menunjukkan hubungan statistik tanpa dapat menjelaskan
melalui teori sosial.
Jika demikian, opini publik seolah seperti entitas kolektif, hasil struktur sosial yang
dianggap sebagai hasil yang stabil dari proses interaksi komunikasi politik. Padahal,
opini publik tidak stabil dan warga negara tidak selalu memiliki sikap berhadapan
dengan masalah-masalah yang dibicarakan dalam diskusi publik (JR Ziller, 1992).
Maka, perlukah menyusun kode etik atau mengatur instansi-instansi yang melakukan
jajak pendapat bila upaya itu tidak lebih dari opini juga? Upaya yang perlu, pertama,
adalah menyingkap, jajak pendapat tidak lain kecuali opini; kedua, jika mau
membantah hasilnya, perlu dibuat penelitian tandingan.
Jajak pendapat seharusnya diarahkan untuk menemukan kembali dinamika
perdebatan publik melalui interaksi antara pertanyaan tertutup dan terbuka. Jawaban-
PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB Feni Fasta, SE,M.Si. OPINI PUBLIK 15
jawaban mereka (posisi dan dasar pembenaran) mencerminkan dinamika perdebatan
publik. Maka, statistik bukan untuk menggambarkan representasi politik (satu orang
satu suara), tetapi harus dilihat dalam kerangka demokrasi deliberatif, yaitu memberi
kesempatan kepada suatu suara mengungkap alasan-alasannya.
Memang, dalam ilmu-ilmu sosial, konteks determinasi penelitian pragmatis biasanya
tidak lepas dari soal politik yang kental dengan aspek retorika dan tujuan penelitian (JM
Berthelot, 2001:206). Tujuannya, menekankan kegunaan atau kemampuan menjawab
kebutuhan, maka pesan sponsor amat memengaruhi hasil. Penelitian tidak lepas dari
pengaruh kepentingan dan nilai-nilai tertentu.
PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB Feni Fasta, SE,M.Si. OPINI PUBLIK 16
Related docs
Get documents about "