ilmu-islam by stariya

VIEWS: 42 PAGES: 79

									                     ILMU ISLAM
Pelaku Dosa Besar Tidak Kekal Di Dalam Neraka Bila...

ARTIKEL PILIHAN
                  SuaraMedia News - Abu Mushlih Ari Wahyudi

                  Yazid al-Faqir (si bungkuk, tabi‟in ini dijuluki
                  demikian karena tulang punggungnya cidera)
                  menuturkan:

                  Dahulu aku sempat terseret dalam salah satu
                  pendapat sekte Khawarij -yaitu berkeyakinan
bahwa pelaku dosa besar kekal di neraka, dan orang yang sudah masuk
neraka tidak bisa lagi keluar darinya-. Pada suatu ketika, kami
bersama serombongan orang banyak berangkat menunaikan ibadah
haji. Kemudian, kami pun keluar di hadapan orang-orang -sembari
menyerukan pemikiran Khawarij dan menghasut orang-orang untuk
mengikutinya-.

Ketika kami melewati Madinah, kami bertemu di sana dengan Jabir bin
Abdullah -seorang sahabat Nabi- yang sedang menuturkan hadits dari
Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam kepada sekelompok orang
sambil dia duduk bersandar kepada sebuah tiang. Ketika itu, dia
menyebutkan hadits tentang al-Jahannamiyun (yaitu orang-orang yang
dikeluarkan dari neraka lalu dimasukkan ke surga).

Aku pun (Yazid) berkata kepadanya,

“Wahai Sahabat Rasulullah, apa-apaan yang kalian ceritakan ini?
Bukankah Allah telah berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya
barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka maka Engkau
benar-benar telah menghinakannya.” (QS. Ali Imran: 192). Allah
juga menyatakan (yang artinya), “Setiap kali mereka -penduduk
neraka- ingin keluar darinya maka mereka pun dikembalikan lagi
ke dalamnya.” (QS. as-Sajdah: 20). Lalu apa-apaan yang kalian
ucapkan tadi?”.

Jabir pun menjawab, “Apakah Engkau membaca al-Qur‟an?”.

Kujawab, “Iya.”
Jabir berkata, “Apakah kamu pernah mendengar (di dalam al-Qur‟an)
mengenai maqam/kedudukan agung yang dimiliki oleh Muhammad
„alaihis salam, yaitu yang beliau dibangkitkan oleh Allah di atasnya
(maksudnya adalah syafa‟at Nabi kepada umatnya kelak di akherat)?”.

Kujawab,                                                       “Iya.”

Jabir berkata, “Sesungguhnya hal itu -yang aku sampaikan- merupakan
kedudukan terhormat Muhammad shallallahu „alaihi wa sallam yang
dengan sebab itu Allah berkenan mengeluarkan siapa saja yang ingin
dikeluarkan-Nya -yaitu semua orang beriman-.”

Yazid berkata:

Kemudian      Jabir    menceritakan      kejadian     diletakkannya
jembatan/shirath -di atas neraka- dan bagaimana keadaan orang-
orang yang berjalan di atasnya, namun aku khawatir tidak hafal
dengan baik rentetan ceritanya. Yang jelas, dia menceritakan bahwa
ada suatu kaum yang keluar dari neraka yang sebelumnya mereka
berada di dalamnya.

Dia -Jabir- berkisah, “Mereka itu keluar darinya dalam keadaan
seperti pucuk-pucuk benih tanaman wijen -yang menghitam karena
tersengat sinar matahari- (hal itu disebabkan tubuh mereka terbakar
di dalam neraka, sebagaimana diceritakan dalam sebagian riwayat).
Kemudian mereka masuk ke dalam sebuah sungai di antara sungai-
sungai yang ada di surga dan mandi di dalamnya. Kemudian mereka
pun keluar -dalam keadaan putih bersih- seperti lembaran-lembaran
kertas.”

Setelah mendengar -hadits- itu, maka kami pun rujuk -dari pendapat
kami-. Kami berkata, “Sungguh celaka kalian ini -maksudnya adalah
diri mereka sendiri- apakah kalian mengira orang tua ini (yaitu Jabir
bin Abdullah) berdusta atas nama Rasulullah shallallahu „alaihi wa
sallam?”.

Setelah itu, kami pun kembali pulang -seusai menunaikan ibadah haji-
. Demi Allah, tidak ada di antara kami yang tetap berkeras untuk
keluar (memberontak sebagaimana Khawarij) kecuali hanya satu
orang.
Demikianlah isi kisah itu, atau sebagaimana yang disampaikan oleh
Abu Nu‟aim -seorang guru dari gurunya Imam Muslim yang
meriwayatkan hadits ini-.

(Kisah ini diriwayatkan oleh Imam Muslim, lihat Syarh Muslim [2/323-
324])

Kisah ini mengandung banyak pelajaran, di antaranya:

  1. Kewajiban mengimani adanya neraka dan siksaan pedih yang
     ada di dalamnya. Sehingga hal itu akan menumbuhkan rasa
     takut kepada Allah kemudian berupaya senantiasa menjauhkan
     diri dari meninggalkan kewajiban atau menerjang larangan-Nya.



  2. Semua orang yang beriman pasti masuk ke dalam surga,
     meskipun di antara mereka ada juga yang terlebih dahulu
     „mampir‟ ke neraka untuk dibersihkan dosa-dosanya, semoga
     Allah menyelamatkan kita dari siksanya…



  3. Keutamaan tauhid yang sangat agung, karena tidak mungkin
     orang bisa masuk surga tanpa tauhid di dalam dirinya. Orang
     yang beriman tidak dikatakan beriman jika dia tidak
     mengikhlaskan (memurnikan ibadahnya) untuk Allah dan
     menjauhi segala bentuk kesyirikan. Oleh sebab itu Allah
     berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Allah tidak akan
     mengampuni dosa syirik, dan Dia akan mengampuni dosa lain
     yang di bawahnya bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya.” (QS.
     an-Nisaa‟: 48)



  4. Sifat „adl („udul) para sahabat, artinya mereka adalah penukil
     berita dan hadits-hadits yang terpercaya. Oleh sebab itu para
     tabi‟in tidak meragukan kejujuran mereka dalam meriwayatkan
     hadits-hadits Nabi shallallahu „alaihi wa sallam.
5. Dakwah yang dikumandangkan oleh para sahabat adalah
  seruan untuk berpegang teguh dengan Sunnah. Oleh sebab itu
  mereka adalah orang-orang yang paling giat menyebarkan
  hadits-hadits Nabi shallallahu „alaihi wa sallam di tengah-tengah
  manusia, bahkan mereka itulah narasumber kunci periwayatan
  hadits-hadits Nabi shallallahu „alaihi wa sallam kepada generasi-
  generasi lain sesudah mereka, semoga Allah membalas jasa-jasa
  mereka dengan sebaik-baik balasan. Oleh sebab itu barangsiapa
  yang berupaya untuk mendiskreditkan para sahabat dan
  menjatuhkan kehormatan mereka di mata kaum muslimin -
  apalagi sampai mengkafirkan mereka- maka pada hakekatnya dia
  ingin menghancurkan agama Islam yang mulia ini dengan cara
  menolak riwayat-riwayat mereka! Maha suci Allah dari
  perbuatan keji yang mereka lakukan..



6. Kedalaman ilmu para sahabat radhiyallahu „anhum. Dimana
  mereka senantiasa mengembalikan penafsiran ayat-ayat al-
  Qur‟an kepada Sunnah Nabi shallallahu „alaihi wa sallam
  (hadits). Karena mereka meyakini bahwa Nabi shallallahu „alaihi
  wa sallam adalah manusia yang paling paham tentang al-Qur‟an.
  Dan juga mereka memahami bahwa apa yang disabdakan oleh
  Rasul tidak mungkin bertentangan dengan al-Qur‟an. Karena
  kewajiban Rasul adalah menyampaikan apa yang diturunkan oleh
  Allah. Allah ta‟ala berfirman (yang artinya), “Dan Kami telah
  turunkan kepadamu adz-Dzikra (al-Qur‟an) untuk kamu jelaskan
  kepada manusia apa yang diturunkan kepada mereka dan
  mudah-mudahan mereka mau memikirkannya.” (QS. An-Nahl:
  44). Oleh sebab itu siapapun juga yang meninggalkan manhaj
  para sahabat dalam memahami al-Qur‟an dan menerapkannya
  pasti akan tersesat… Kisah ini sebagai salah satu buktinya!



7. Menyimpang dari manhaj (metode beragama) para sahabat
  akan berujung kepada kesesatan. Bagaimana tidak? Sementara
  Allah „azza wa jalla“Orang-orang yang terdahulu dan pertama-
  tama dari kalangan Muhajirin dan Anshar, serta orang-orang
  yang mengikuti mereka dengan baik, maka Allah ridha kepada
  mereka dan mereka pun pasti akan ridha kepada-Nya. Allah
  telah persiapkan untuk mereka surga-surga yang mengalir
  sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya. Itulah
  kemenangan yang sangat besar.” (QS. at-Taubah: 100) sendiri
  telah merekomendasikan mereka di hadapan segenap umat manusia di
  dalam Kitab-Nya Yang Mulia dalam firman-Nya (yang artinya),



8. Bantahan bagi Khawarij yang berpemahaman bahwa pelaku
  dosa besar kekal di neraka dan tidak mungkin keluar darinya.
  Dan pembuktian kepada mereka bahwa kesalahan yang mereka
  lakukan bukan terletak pada dalil (sumber hukum) yang mereka
  pakai, akan tetapi letak kesalahan mereka adalah dalam hal
  istidlal (cara penyimpulan hukum) dari dalil yang ada, entah itu
  ayat-ayat al-Qur‟an maupun hadits-hadits Nabi shallallahu
  „alaihi wa sallam. Oleh sebab itu untuk mengikuti kebenaran
  tidak cukup dengan membawakan dalil tanpa disertai dengan
  cara pemahaman terhadap dalil yang benar! Dan betapa banyak
  orang yang tersesat melalui pintu ini -istidlal yang salah-.



9. Sebab utama sekte Khawarij menyimpang dari jalan yang
  lurus adalah karena mereka terlalu kagum dengan hasil
  pikiran mereka dan tidak mau mengikuti cara pemahaman
  para sahabat radhiyallahu ta‟ala „anhum. Mereka ahli
  membaca al-Qur‟an, namun mereka tidak memahaminya
  sebagaimana yang dipahami oleh Rasul dan para sahabat. Oleh
  sebab itulah mereka itu sesat dan menyesatkan. Bukankah ketika
  mengkafirkan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu‟anhu mereka juga
  berdalil dengan ayat al-Qur‟an, namun ternyata mereka sendiri
  yang tidak paham tentang tafsirannya?!



10. Tidak boleh mempertentangkan antara dalil al-Qur’an dengan
  dalil Hadits Nabi shallallahu „alaihi wa sallam. Sebab
  keduanya adalah wahyu yang bersumber dari Allah ta‟ala.
  Adapun sebuah hadits yang disandarkan kepada Nabi yang
  bunyinya, “Apa saja datang kepada kalian dariku maka
  bandingkanlah ia dengan apa yang ada dalam Kitabullah.
  Apabila ia cocok dengan Kitabullah maka itu berarti aku benar-
  benar mengucapkannya. Akan tetapi jika ia bertentangan
  dengan     Kitabullah      maka    itu   artinya   aku     tidak
  mengucapkannya…” maka ini adalah hadits yang tidak sahih
  yang dibuat-buat oleh kaum Zindiq dan Khawarij, sebagiamana
  yang diungkapkan oleh Abdurrahman bin Mahdi dan dikutip oleh
  Ibnu Abdil Barr (lihat kutipannya dalam Ma‟alim Ushul Fiqh „inda
  Ahlis Sunnah wal Jama‟ah, Dr. Muhammad bin Husain al-Jizani
  hal. 126)



11. Meninggalkan bimbingan para ulama Rabbani -dan para sahabat
  adalah tokoh terdepan dalam barisan mereka- akan
  menjerumuskan umat ke dalam jurang kehancuran. Salah satu
  penyebab utama terjadinya hal itu -baik di masa dahulu maupun
  sekarang- adalah rasa percaya diri yang berlebihan dan
  kekaguman terhadap pendapat pribadi atau kelompoknya
  sehingga menganggap diri telah paham perkara agama tanpa
  terlebih dulu berkonsultasi kepada para ulama. Maka camkanlah
  hal ini baik-baik, wahai para pemuda! Dan ketika ulama sudah
  ditinggalkan, maka yang diangkat adalah sosok Ruwaibidhah
  yaitu orang-orang yang bodoh -meskipun dijuluki dengan Kiyai,
  Ustadz, atau Cendekiawan- yang nekad berbicara soal urusan
  orang banyak.. Laa haula wa laa quwwata illa billaah



12. Syafa’at Nabi bagi para pelaku dosa besar agar dikeluarkan
  dari neraka adalah benar adanya. Hal itu sebagaimana yang
  dikisahkan oleh Hammad bin Zaid ketika dia bertanya kepada
  Amr bin Dinar, “Apakah kamu pernah mendengar Jabir bin
  Abdullah -radhiyallahu‟anhuma- menyampaikan hadits dari
  Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam yang isinya:
  Sesungguhnya Allah akan mengeluarkan sekelompok orang dari
  neraka dengan sebab syafa‟at?”. Maka dia menjawab, “Benar.”
  (lihat Sahih Muslim yang dicetak bersama Syarh Muslim [2/322])



13. Keutamaan ahlul hadits, yaitu orang-orang yang berpegang
  teguh dengan hadits-hadits Nabi shallallahu „alaihi wa
  sallam. Ada di antara ulama salaf dahulu yang mengatakan,
  “Para malaikat adalah penjaga-penjaga langit, sedangkan ahlul
      hadits adalah penjaga-penjaga bumi.” Semoga Allah membalas
      jasa-jasa mereka dan meneguhan kita untuk berada di dalam
      rombongan mereka, Allahul musta‟an…

Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi

(muslim.or.id)


Read more about Fiqhislam.com - Pustaka Muslim Indonesia by www.fiqhislam.com

Ciri-Ciri Penduduk Surga

ARTIKEL PILIHAN
                      SuaraMedia News - Abu Mushlih Ari Wahyudi - Berikut
                   ini adalah sebagian ciri-ciri dan karakter orang-
                   orang yang dijanjikan oleh Allah mendapatkan
                   surga beserta segala kenikmatan yang ada di
                   dalamnya, yang sama sekali belum pernah terlihat
                   oleh mata, belum terdengar oleh telinga, dan
belum terlintas dalam benak manusia. Semoga Allah menjadikan kita
termasuk di antara penduduk surga-Nya.



1. Beriman dan beramal salih

Allah ta‟ala berfirman,




“Berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan
beramal salih bahwasanya mereka akan mendapatkan balasan
berupa surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai…” (Qs. al-
Baqarah: 25)

Ibnu Abi Zaid al-Qairawani rahimahullah mengatakan,
                                              ‫ق ب‬
                                                   ‫ق‬            ‫ق‬
    ‫ف ي‬           ‫ك‬           ‫ف‬    ‫ق‬             ‫ال‬    ‫ك‬
           ‫ال‬             ‫ع‬       ‫ال‬          ‫ال‬     ‫ال‬
                                              ‫فق ال‬                 .

“Iman adalah ucapan dengan lisan, keikhlasan dengan hati, dan amal
dengan anggota badan. Ia bertambah dengan bertambahnya amalan
dan berkurang dengan berkurangnya amalan. Sehingga amal-amal bisa
mengalami pengurangan dan ia juga merupakan penyebab
pertambahan -iman-. Tidak sempurna ucapan iman apabila tidak
disertai dengan amal. Ucapan dan amal juga tidak sempurna apabila
tidak dilandasi oleh niat -yang benar-. Sementara ucapan, amal, dan
niat pun tidak sempurna kecuali apabila sesuai dengan as-
Sunnah/tuntunan.” (Qathfu al-Jani ad-Dani karya Syaikh Abdul Muhsin
al-Abbad, hal. 47)

al-Baghawi rahimahullah menyebutkan riwayat dari Utsman bin Affan
radhiyallahu‟anhu bahwa yang dimaksud amal salih adalah
mengikhlaskan amal. Maksudnya adalah bersih dari riya‟. Mu‟adz bin
Jabal radhiyallahu‟anhu mengatakan, “Amal salih adalah yang di
dalamnya terdapat empat unsur: ilmu, niat yang benar, sabar, dan
ikhlas.” (Ma‟alim at-Tanzil [1/73] as-Syamilah)



2. Bertakwa

Allah ta‟ala berfirman,

                      ‫ق‬
              ‫ف‬
                                                              ‫ع‬
“Bagi orang-orang yang bertakwa terdapat balasan di sisi Rabb
mereka berupa surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-
sungai, mereka kekal di dalamnya, begitu pula mereka akan
mendapatkan istri-istri yang suci serta keridhaan dari Allah. Allah
Maha melihat hamba-hamba-Nya.” (Qs. Ali Imran: 15)

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah menguraikan jati diri orang
bertakwa. Mereka itu adalah orang-orang yang bertakwa kepada Rabb
mereka. Mereka menjaga diri dari siksa-Nya dengan cara melakukan
apa saja yang diperintahkan Allah kepada mereka dalam rangka
menaati-Nya dan karena mengharapkan balasan/pahala dari-Nya.
Selain itu, mereka meninggalkan apa saja yang dilarang oleh-Nya juga
demi menaati-Nya serta karena khawatir akan tertimpa hukuman-Nya
(Majalis Syahri Ramadhan, hal. 119 cet Dar al-‟Aqidah 1423 H).

Termasuk dalam cakupan takwa, yaitu dengan membenarkan berbagai
berita yang datang dari Allah dan beribadah kepada Allah sesuai
dengan tuntunan syari‟at, bukan dengan tata cara yang diada-adakan
(baca: bid‟ah). Ketakwaan kepada Allah itu dituntut di setiap kondisi,
dimana saja dan kapan saja. Maka hendaknya seorang insan selalu
bertakwa     kepada    Allah,    baik     ketika    dalam      keadaan
tersembunyi/sendirian atau ketika berada di tengah keramaian/di
hadapan orang (lihat Fath al-Qawiy al-Matin karya Syaikh Abdul
Muhsin al-‟Abbad hafizhahullah, hal. 68 cet. Dar Ibnu „Affan 1424 H)

an-Nawawi rahimahullah menjelaskan, salah satu faktor pendorong
untuk bisa menumbuhkan ketakwaan kepada Allah adalah dengan
senantiasa menghadirkan keyakinan bahwasanya Allah selalu
mengawasi gerak-gerik hamba dalam segala keadaannya (Syarh al-
Arba‟in, yang dicetak dalam ad-Durrah as-Salafiyah, hal. 142 cet
Markaz Fajr dan Ulin Nuha lil Intaj al-I‟lami)

Syaikh as-Sa‟di rahimahullah memaparkan bahwa keberuntungan
manusia itu sangat bergantung pada ketakwaannya. Oleh sebab itu
Allah memerintahkan (yang artinya), “Bertakwalah kepada Allah,
mudah-mudahan kamu beruntung. Dan jagalah dirimu dari api
neraka yang disediakan bagi orang-orang kafir.” (Qs. Ali Imron:
130-131). Cara menjaga diri dari api neraka adalah dengan
meninggalkan segala sesuatu yang menyebabkan terjerumus ke
dalamnya, baik yang berupa kekafiran maupun kemaksiatan dengan
berbagai macam tingkatannya. Karena sesungguhnya segala bentuk
kemaksiatan -terutama yang tergolong dosa besar- akan menyeret
kepada kekafiran, bahkan ia termasuk sifat-sifat kekafiran yang Allah
telah menjanjikan akan menempatkan pelakunya di dalam neraka.
Oleh sebab itu, meninggalkan kemaksiatan akan dapat menyelamatkan
dari neraka dan melindunginya dari kemurkaan Allah al-Jabbar.
Sebaliknya, berbagai perbuatan baik dan ketaatan akan menimbulkan
keridhaan ar-Rahman, memasukkan ke dalam surga dan tercurahnya
rahmat bagi mereka (Taisir al-Karim ar-Rahman [1/164] cet Jum‟iyah
Ihya‟ at-Turots al-Islami)

Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah mengimbuhkan, bahwa tercakup
dalam ketakwaan -bahkan merupakan derajat ketakwaan yang
tertinggi- adalah dengan melakukan berbagai perkara yang
disunnahkan (mustahab) dan meninggalkan berbagai perkara yang
makruh, tentu saja apabila yang wajib telah ditunaikan dan haram
ditinggalkan (Jami‟ al-‟Ulum wa al-Hikam, hal. 211 cet Dar al-Hadits
1418 H)

Ibnu Rajab rahimahullah menyebutkan riwayat dari Mu‟adz bin Jabal
radhiyallahu‟anhu, Mu‟adz ditanya tentang orang-orang yang
bertakwa. Maka beliau menjawab, “Mereka adalah suatu kaum yang
menjaga diri dari kemusyrikan, peribadahan kepada berhala, dan
mengikhlaskan ibadah mereka hanya untuk Allah.” al-Hasan
mengatakan, “Orang-orang yang bertakwa adalah orang-orang yang
menjauhi perkara-perkara yang diharamkan Allah kepada mereka dan
menunaikan kewajiban yang diperintahkan kepada mereka.” Umar bin
Abdul Aziz rahimahullah juga menegaskan bahwa ketakwaan bukanlah
menyibukkan diri dengan perkara yang sunnah namun melalaikan yang
wajib. Beliau rahimahullah berkata, “Ketakwaan kepada Allah bukan
sekedar dengan berpuasa di siang hari, sholat malam, dan
menggabungkan antara keduanya. Akan tetapi hakikat ketakwaan
kepada Allah adalah meninggalkan segala yang diharamkan Allah dan
melaksanakan segala yang diwajibkan Allah. Barang siapa yang setelah
menunaikan hal itu dikaruni amal kebaikan maka itu adalah kebaikan
di atas kebaikan.” Thalq bin Habib rahimahullah berkata, “Takwa
adalah kamu melakukan ketaatan kepada Allah di atas cahaya dari
Allah karena mengharapkan pahala dari Allah, serta kamu
meninggalkan kemaksiatan kepada Allah di atas cahaya dari Allah
karena takut hukuman Allah.” (dinukil dari Jami‟ al-‟Ulum wa al-
Hikam, hal. 211 cet Dar al-Hadits 1418 H)

Pokok dan akar ketakwaan itu tertancap di dalam hati. Ibnul Qayyim
rahimahullah berkata, “Pada hakikatnya ketakwaan yang sebenarnya
itu adalah ketakwaan dari dalam hati, bukan semata-mata ketakwaan
anggota tubuh. Allah ta‟ala berfirman (yang artinya), “Yang demikian
itu dikarenakan barang siapa yang mengagungkan syi‟ar-syi‟ar
Allah, maka sesungguhnya itu semua muncul dari ketakwaan yang
ada di dalam hati.” (Qs. al-Hajj: 32). Allah juga berfirman (yang
artinya), “Tidak akan sampai kepada Allah daging-daging dan
darah-darah -hewan kurban itu-, akan tetapi yang akan sampai
kepada Allah adalah ketakwaan dari kalian.” (Qs. al-Hajj: 37). Nabi
shallallahu „alaihi wa sallam bersabda, “Ketakwaan itu sumbernya
di sini.” Seraya beliau mengisyaratkan kepada dadanya (HR. Muslim
dari Abu Hurairah radhiyallahu‟anhu).” (al-Fawa‟id, hal. 136 cet.
Dar al-‟Aqidah 1425 H)

Namun, perlu diingat bahwa hal itu bukan berarti kita boleh
meremehkan amal-amal lahir, Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,
“Petunjuk yang paling sempurna adalah petunjuk Rasulullah
shallallahu „alaihi wa sallam. Sementara itu, beliau adalah orang yang
telah menunaikan kedua kewajiban itu -lahir maupun batin- dengan
sebaik-baiknya. Meskipun beliau adalah orang yang memiliki
kesempurnaan dan tekad serta keadaan yang begitu dekat dengan
pertolongan Allah, namun beliau tetap saja menjadi orang yang
senantiasa mengerjakan sholat malam sampai kedua kakinya bengkak.
Bahkan beliau juga rajin berpuasa, sampai-sampai dikatakan oleh
orang bahwa beliau tidak berbuka. Beliau pun berjihad di jalan Allah.
Beliau pun berinteraksi dengan para sahabatnya dan tidak menutup
diri dari mereka. Beliau sama sekali tidak pernah meninggalkan
amalan sunnah dan wirid-wirid di berbagai kesempatan yang
seandainya orang-orang yang perkasa di antara manusia ini berupaya
untuk melakukannya niscaya mereka tidak akan sanggup melakukan
seperti yang beliau lakukan. Allah ta‟ala memerintahkan kepada
hamba-hamba-Nya untuk menunaikan syari‟at-syari‟at Islam dengan
perilaku lahiriyah mereka, sebagaimana Allah juga memerintahkan
mereka untuk mewujudkan hakikat-hakikat keimanan dengan batin
mereka. Salah satu dari keduanya tidak akan diterima, kecuali apabila
disertai dengan „teman‟ dan pasangannya…” (al-Fawa‟id, hal. 137 cet.
Dar al-‟Aqidah 1425 H)



3. Taat kepada Allah dan Rasul-Nya
Allah ta‟ala berfirman,



                                         ‫ف‬                      ‫ع‬
“Barang siapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, maka Allah
akan memasukkannya ke dalam surga-surga yang di bawahnya
mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Itulah
kemenangan yang sangat besar.” (Qs. an-Nisa‟: 13)

Allah ta‟ala berfirman tentang mereka,

            ‫ك‬                                               ‫ك‬
                           ‫ق‬   ‫ع‬     ‫ع‬
“Sesungguhnya ucapan orang-orang yang beriman itu ketika diseru
untuk patuh kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul itu
memutuskan perkara di antara mereka maka jawaban mereka
hanyalah, „Kami dengar dan kami taati‟. Hanya mereka itulah
orang-orang yang beruntung.” (Qs. an-Nur: 51)

Allah ta‟ala menyatakan,

                                                   ‫فق‬
“Barang siapa taat kepada Rasul itu maka sesungguhnya dia telah
taat kepada Allah.” (Qs. An-Nisaa‟ : 80)

Allah ta‟ala berfirman,

                                                        ‫ك‬
     ‫ك‬

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan Rasul,
ketika menyeru kalian untuk sesuatu yang akan menghidupkan
kalian. Ketahuilah, sesungguhnya Allah yang menghalangi antara
seseorang dengan hatinya. Dan sesungguhnya kalian akan
dikumpulkan untuk bertemu dengan-Nya.” (Qs. al-Anfal: 24)

Ketika menjelaskan kandungan pelajaran dari ayat ini, Ibnul Qayyim
rahimahullah mengatakan, “Sesungguhnya kehidupan yang membawa
manfaat hanyalah bisa digapai dengan memenuhi seruan Allah dan
rasul-Nya. Barang siapa yang tidak muncul pada dirinya istijabah/sikap
memenuhi dan mematuhi seruan tersebut maka tidak ada kehidupan
sejati padanya. Meskipun sebenarnya dia masih memiliki kehidupan ala
binatang yang tidak ada bedanya antara dia dengan hewan yang paling
rendah sekalipun. Oleh sebab itu kehidupan yang hakiki dan baik
adalah kehidupan pada diri orang yang memenuhi seruan Allah dan
rasul-Nya secara lahir dan batin. Mereka itulah orang-orang yang
benar-benar hidup, walaupun tubuh mereka telah mati. Adapun selain
mereka adalah orang-orang yang telah mati, meskipun badan mereka
masih hidup. Oleh karena itulah maka orang yang paling sempurna
kehidupannya adalah yang paling sempurna di antara mereka dalam
memenuhi seruan dakwah Rasul shallallahu „alaihi wa sallam. Karena
sesungguhnya di dalam setiap ajaran yang beliau dakwahkan
terkandung unsur kehidupan sejati. Barang siapa yang luput darinya
sebagian darinya maka itu artinya dia telah kehilangan sebagian unsur
kehidupan, dan di dalam dirinya mungkin masih terdapat kehidupan
sekadar dengan besarnya istijabahnya terhadap Rasul shallallahu
„alaihi wa sallam.” (al-Fawa‟id, hal. 85-86 cet. Dar al-‟Aqidah)



4. Cinta dan Benci karena Allah

Allah ta‟ala berfirman,

‫ال‬
                         ‫ك‬
                    ‫في ك ب‬
                                                                    ‫ف‬
       ‫ي‬                                             ‫ب‬         ‫ال‬
                                           ‫ب‬
“Tidak akan kamu jumpai suatu kaum yang beriman kepada Allah
dan hari akhir berkasih sayang kepada orang-orang yang
menentang Allah dan Rasul-Nya meskipun mereka itu adalah
bapak-bapak mereka, anak-anak mereka, saudara-saudara
mereka, maupun sanak keluarga mereka. Mereka itulah orang-
orang yang ditetapkan Allah di dalam hati mereka dan Allah
kuatkan mereka dengan pertolongan dari-Nya, Allah akan
memasukkan mereka ke dalam surga-surga yang di bawahnya
mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha
kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Mereka itulah
golongan Allah, ketahuilah sesungguhnya hanya golongan Allah
itulah orang-orang yang beruntung.” (Qs. al-Mujadalah: 22)

Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam bersabda,

       ‫ب‬                                                  ‫فق‬    ‫ك‬

“Barang siapa yang mencintai karena Allah. Membenci karena Allah.
Memberi karena Allah. Dan tidak memberi juga karena Allah. Maka
sungguh dia telah menyempurnakan imannya.” (HR. Abu Dawud,
disahihkan al-Albani dalam Shahih wa Dha‟if Sunan Abu Dawud
[10/181] as-Syamilah)

Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam bersabda,

           ‫يف‬             ‫ال‬           ‫ك‬                 ‫ب ك‬

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah beriman salah
seorang dari kalian sampai aku lebih dicintainya daripada orang tua
dan anak-anaknya.” (HR. Bukhari)

Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam bersabda,
                     ‫ب‬
“Ciri keimanan yaitu mencintai kaum Anshar, sedangkan ciri
kemunafikan yaitu membenci kaum Anshar.” (HR. Bukhari)



5. Berinfak di kala senang maupun susah

Allah ta‟ala berfirman,

                                    ‫ك‬
                                ‫ق‬                   ‫ق‬   ‫في‬
                     ‫ك‬              ‫عف‬                        ‫ب‬
                                    ‫فع‬         ‫ف‬
         ‫ك‬                ‫ف‬                         ‫ب‬        ‫ال‬
                                               ‫فع‬                     ‫ع‬
“Bersegeralah menuju ampunan Rabb kalian dan surga yang
luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang
yang bertakwa. Yaitu orang-orang yang menginfakkan hartanya di
kala senang maupun di kala susah, orang-orang yang menahan
amarah, yang suka memaafkan orang. Allah menyukai orang-orang
yang berbuat baik. Dan orang-orang yang apabila melakukan
perbuatan keji atau menzalimi diri mereka sendiri maka mereka
pun segera mengingat Allah lalu meminta ampunan bagi dosa-dosa
mereka, dan siapakah yang mampu mengampuni dosa selain Allah.
Dan mereka juga tidak terus menerus melakukan dosanya
sementara mereka mengetahuinya.” (Qs. Ali Imron: 133-135)

Membelanjakan harta di jalan Allah merupakan ciri orang-orang yang
bertakwa. Allah ta‟ala berfirman,

             ‫ب ال ك ب‬   ‫ف‬                  ‫ق‬
              ‫ب‬       ‫ق‬                                           ‫ق‬
“Alif lam mim. Ini adalah Kitab yang tidak ada keraguan padanya.
Petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa. Yaitu orang-orang yang
beriman kepada perkara gaib, mendirikan sholat, dan
membelanjakan sebagian harta yang Kami berikan kepada
mereka.” (Qs. al-Baqarah: 1-3)

Syaikh as-Sa‟di memaparkan, infak yang dimaksud dalam ayat di atas
mencakup berbagai infak yang hukumnya wajib seperti zakat, nafkah
untuk istri dan kerabat, budak, dan lain sebagainya. Demikian juga ia
meliputi infak yang hukumnya sunnah melalui berbagai jalan kebaikan.
Di dalam ayat di atas Allah menggunakan kata min yang menunjukkan
makna sebagian, demi menegaskan bahwa yang dituntut oleh Allah
hanyalah sebagian kecil dari harta mereka, tidak akan menyulitkan
dan memberatkan bagi mereka. Bahkan dengan infak itu mereka
sendiri akan bisa memetik manfaat, demikian pula saudara-saudara
mereka yang lain. Di dalam ayat tersebut Allah juga mengingatkan
bahwa harta yang mereka miliki merupakan rezki yang dikaruniakan
oleh Allah, bukan hasil dari kekuatan mereka semata. Oleh sebab itu
Allah memerintahkan mereka untuk mensyukurinya dengan cara
mengeluarkan sebagian kenikmatan yang diberikan Allah kepada
mereka dan untuk berbagi rasa dengan saudara-saudara mereka yang
lain (lihat Taisir al-Karim ar-Rahman [1/30] cet. Jum‟iyah Ihya‟ at-
Turots al-Islami)



6. Memiliki hati yang selamat

Allah ta‟ala berfirman,

            ‫ال‬            ‫ال‬           ‫ال‬                ‫قب‬
“Pada hari itu -hari kiamat- tidak bermanfaat lagi harta dan
keturunan, melainkan bagi orang yang menghadap Allah dengan
hati yang selamat.” (Qs. as-Syu‟ara: 88-89)

Abu Utsman an-Naisaburi rahimahullah mengatakan tentang hakikat
hati yang selamat, “Yaitu hati yang terbebas dari bid‟ah dan tenteram
dengan Sunnah.” (disebutkan Ibnu Katsir dalam tafsirnya [6/48] cet
Maktabah Taufiqiyah)
Imam al-Baghawi rahimahullah mengatakan bahwa hakikat hati yang
selamat itu adalah, “Hati yang bersih dari syirik dan keragu-raguan.
Adapun dosa, maka tidak ada seorang pun yang bisa terbebas darinya.
Ini adalah pendapat mayoritas ahli tafsir.” (Ma‟alim at-Tanzil [6/119],
lihat juga Tafsir Ibnu Jarir at-Thabari [19/366] as-Syamilah)

Imam al-Alusi rahimahullah juga menyebutkan bahwa terdapat
riwayat dari para ulama salaf seperti Ibnu Abbas, Mujahid, Qatadah,
Ibnu Sirin, dan lain-lain yang menafsirkan bahwa yang dimaksud hati
yang selamat adalah, “Hati yang selamat dari penyakit kekafiran dan
kemunafikan.” (Ruh al-Ma‟ani [14/260] as-Syamilah)

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Pengertian paling lengkap
tentang makna hati yang selamat itu adalah hati yang terselamatkan
dari segala syahwat yang menyelisihi perintah Allah dan larangan-Nya.
Hati yang bersih dari segala macam syubhat yang bertentangan dengan
berita dari-Nya. Oleh sebab itu, hati semacam ini akan terbebas dari
penghambaan kepada selain-Nya. Dan ia akan terbebas dari tekanan
untuk berhukum kepada selain Rasul-Nya…” (Ighatsat al-Lahfan, hal.
15 cet. Dar Thaibah)

Syaikh as-Sa‟di rahimahullah mengatakan, “Hati yang selamat artinya
yang bersih dari: kesyirikan, keragu-raguan, mencintai keburukan, dan
terus menerus dalam bid‟ah dan dosa-dosa. Konsekuensi bersihnya hati
itu dari apa-apa yang disebutkan tadi adalah ia memiliki sifat-sifat
yang berlawanan dengannya. Berupa keikhlasan, ilmu, keyakinan,
cinta kebaikan dan memandang indah kebaikan itu di dalam hati, dan
juga kehendak dan kecintaannya pun mengikuti kecintaan Allah, hawa
nafsunya tunduk mengikuti apa yang datang dari Allah.” (Taisir al-
Karim ar-Rahman hal. 592-593 cet. Mu‟assasah ar-Risalah)

Ibnul Qayyim rahimahullah juga menjelaskan karakter si pemilik hati
yang selamat itu, “… apabila dia mencintai maka cintanya karena
Allah. Apabila dia membenci maka bencinya karena Allah. Apabila dia
memberi maka juga karena Allah. Apabila dia mencegah/tidak
memberi maka itupun karena Allah…” (Ighatsat al-Lahfan, hal. 15 cet.
Dar Thaibah)

Demikianlah sekelumit yang bisa kami tuangkan dalam lembaran ini.
Semoga bermanfaat bagi yang menulis, membaca maupun yang
menyebarkannya. Wa shallallahu „ala Nabiyyina Muhammadin wa „ala
alihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil „alamin.

Oleh Abu Mushlih Ari Wahyudi

(muslim.or.id)


Read more about Fiqhislam.com - Pustaka Muslim Indonesia by www.fiqhislam.com

Sifat Malu, Aset Berharga Wanita Beriman
  Sabtu, 03 April 2010 22:48 |
ARTIKEL PILIHAN
                       VOA-islam.com - Ganna Pryadha - Sifat malu
                       merupakan aset berharga wanita mukmin yang
                       mampu menolongnya menjaga kehormatan dirinya,
                       martabat, dan statusnya. Para istri shalihah adalah
                       para muslimah yang memiliki sifat malu dalam
                       akhlak, berpakaian, tindak-tanduk, obrolan,
                       interaksi,       dan         budi           pekerti.

Sifat malu positif yang dimiliki seorang istri shalihah membuatnya
senantiasa patuh pada aturan berpakaian Islami, baik itu jilbab, cadar,
ataupun burqa. Dia tidak akan pernah mau mengenakan pakaian yang
transparan, ketat, sama dengan pakaian pria, dipakai untuk niatan
pamer dan berlagak, lalu memakai wewangian dan menggoda.

Bagaimana bisa seorang wanita muslim mengabaikan aturan-aturan
Allah yang ditetapkan baginya. Dia akan menanggung dosa apabila
menyepelekan aturan-aturan tersebut. Allah SWT mengharuskannya
untuk menuulurkan kain kerudung menutupi dadanya, sebagaimana
ditegaskan-Nya      di      surat      An-Nur     ayat     31.

Allah juga berfirman, “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu,
anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin:
"Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh
mereka." Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk
dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah
Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-Ahzab: 59).
  ...Bagaimana bisa seorang wanita muslim mengabaikan aturan-
 aturan Allah yang ditetapkan baginya. Dia akan menanggung dosa
         apabila menyepelekan aturan-aturan tersebut...

Maksud dari jilbab di ayat tadi adalah sejenis baju kurung yang lapang,
tidak ketat dan transparan, yang menutup kepala, muka, dan dada.
Selain itu, Allah juga menyatakan:
“Hai istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang
lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam
berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit
dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik. dan
hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias
dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan
dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-
Nya.”                          (Al-Ahzab:                        32-33)

Dengan demikian, bagaimana bisa seorang muslimah mengklaim
dirinya sebagai wanita yang baik, sementara di waktu yang bersamaan
dia mempertontonkan pesona, kecantikan, dan keindahannya kepada
setiap laki-laki untuk menarik perhatian mereka? Dia seharusnya
menyimpan kemolekannya hanya untuk sang suami. Rasulullah
menegaskan, “Sifat malu dan perasaan takut tidak dapat dipisahkan.
Jika salah satunya hilang, maka yang lainnya pun akan menghilang.”

Dari hadits tadi dapat ditarik kesimpulan bahwa wanita muslimah yang
mengumbar kecantikannya adalah seorang yang tidak memiliki rasa
malu. Jika dia tidak memiliki rasa malu, maka dipastikan tidak
memiliki karakteristik Islam yang esensial. Rasul bersabda lagi,
“Setiap agama memiliki etika moral khusus, dan sifat malu
merupakan etika moral yang khusus di dalam Islam.”

...wanita muslimah yang mengumbar kecantikannya adalah seorang
  yang tidak memiliki rasa malu. Jika dia tidak memiliki rasa malu,
 maka dipastikan tidak memiliki karakteristik Islam yang esensial...

Selain itu, sifat malu seorang wanita beriman mengharuskannya untuk
menundukkan pandangannya. Di dalam sebuah hadits Qudsi, melalui
lisan Nabi Muhammad, Allah menyatakan, “Pandangan (terlarang)
merupakan salah satu anak panah beracun Iblis. Seseorang yang
menghindari hal itu karena takut kepada-Ku, maka akan diberi
keimanan yaitu dia merasakan rasa manis (keindahan) di hatinya.”
Memberikan tali kendali yang bebas kepada pandangan mata bisa
mendatangkan berbagai kerusakan. Sebagaimana pandangan terlarang
adalah perangkap yang ditebarkan setan. Oleh karena itu, Rasulullah
berkata kepada Ummu Salamah dan Maimunah ketika keduanya
menatap Abdullah Ummi Maktum yang buta, “Apakah engkau buta?
Engkau tidak melihatnya?”

    ...setiap wanita muslim harus mengejawantahkan sifat malu
                            positifnya...

Tak hanya itu, sifat malu yang dimiliki seorang wanita beriman juga
direfleksikan dengan caranya berbicara, beretika, bergerak, berjalan,
dan lain sebagainya. Maka setiap wanita muslim harus
mengejawantahkan sifat malu positifnya. Contoh terbaik dari sifat
malu yang dimiliki wanita beriman adalah dua orang wanita yang
bertemu        Nabi     Musa      di      mata      air      Madyan.

Allah berfirman mengenai hal tersebut, “Dan tatkala ia sampai di
sumber air negeri Madyan ia menjumpai di sana sekumpulan orang
yang sedang meminumkan (ternaknya), dan ia menjumpai di
belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang
menghambat (ternaknya). Musa berkata: "Apakah maksudmu
(dengan berbuat at begitu)?” Kedua wanita itu menjawab: "Kami
tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum pengembala-
pengembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak kami
adalah orang tua yang telah lanjut umurnya.” (Al-Qashash: 23).

Rasa malu telah menggiring keduanya untuk tidak menggabungkan
ternak keduanya dengan ternak orang lain. Keduanya juga memberi
contoh bahwa wanita tetap tinggal di rumah, kecuali jika ada urusan
mendesak, seperti keduanya yang terpaksa keluar rumah untuk
memberi minum ternak, karena ayahnya sudah ringkih.


Read more about Fiqhislam.com - Pustaka Muslim Indonesia by www.fiqhislam.com

Wanita Yang Teguh Menggenggam Tauhid

ARTIKEL PILIHAN

    Alkisah di negeri Mesir, Fir'aun terakhir yang terkenal dengan
keganasannya bertahta. Setelah kematian sang isteri, Fir'aun kejam itu
hidup sendiri tanpa pendamping. Sampai cerita tentang seorang gadis
jelita dari keturunan keluarga Imran bernama Siti Asiah sampai ke
telinganya.

Fir'aun lalu mengutus seorang Menteri bernama Haman untuk
meminang Siti Asiah. Orangtua Asiah bertanya kepada Siti Asiah :

'Sudikah anakda menikahi Fir'aun ?'

'Bagaimana saya sudi menikahi Fir'aun. Sedangkan dia terkenal sebagai
raja yang ingkar kepada Allah ?'

Haman kembali pada Fir'aun. Alangkah marahnya Fir'aun mendengar
kabar penolakan Siti Asiah.

'Haman, berani betul Imran menolak permintaan raja. Seret mereka
kemari. Biar aku sendiri yang menghukumnya !'

Fir'aun mengutus tentaranya untuk menangkap orangtua Siti Asiah.
Setelah disiksa begitu keji, keduanya lantas dijebloskan ke dalam
penjara. Menyusul kemudian, Siti Asiah digiring ke Istana. Fir'aun
kemudian membawa Siti Asiah ke penjara tempat kedua orangtuanya
dikurung. Kemudian, dihadapan orangtuanya yang nyaris tak berdaya,
Fir'aun berkata:"He, Asiah. Jika engkau seorang anak yang baik,
tentulah engkau sayang terhadap kedua orangtuamu. Oleh karena itu,
engkau boleh memilih satu diantara dua pilihan yang kuajukan. Kalau
kau menerima lamaranku, berarti engkau akan hidup senang, dan
pasti kubebaskan kedua orangtuamu dari penjara laknat ini.
Sebaliknya, jika engkau menolak lamaranku, maka aku akan
memerintahkan para algojo agar membakar hidup-hidup kedua
orangtuamu itu, tepat dihadapanmu."

Karena ancaman itu, Siti Asiah terpaksa menerima pinangan Fir'aun.
Dengan mengajukan beberapa syarat :

Fir'aun harus membebaskan orangtuanya.

Fir'aun harus membuatkan rumah untuk ayah dan ibunya, yang indah
lagi lengkap perabotannya.

Fir'aun harus menjamin kesehatan, makan, minum kedua orangtuanya.
Siti Aisyah bersedia menjadi isteri Fir'aun. Hadir dalam acara-acara
tertentu, tapi tak bersedia tidur bersama Fir'aun.

Sekiranya permintaan-permintaan tersebut tidak disetujui, Siti Asiah
rela mati dibunuh bersama ibu dan bapaknya.

Akhirnya Fir'aun menyetujui syarat-syarat yang diajukan Siti Asiah.
Fir'aun lalu memerintahkan agar rantai belenggu yang ada di kaki dan
tangan orangtua Siti Asiah dibuka. Singkat cerita, Siti Asiah tinggal
dalam kemewahan Istana bersama-sama Fir'aun. Namun ia tetap tak
mau berbuat ingkar terhadap perintah agama, dengan tetap
melaksanakan ibadah kepada Allah SWT.

Pada malam hari Siti Asiah selalu mengerjakan shalat dan memohon
pertolongan Allah SWT. Ia senantiasa berdoa agar kehormatannya
tidak disentuh oleh orang kafir, meskipun suaminya sendiri, Fir'aun.
Untuk menjaga kehormatan Siti Asiah, Allah SWT telah menciptakan
iblis yang menyaru sebagai Siti Asiah. Dialah iblis yang setiap malam
tidur dan bergaul dengan Fir'aun.

Fir'aun mempunyai seorang pegawai yang amat dipercaya bernama
Hazaqil. Hazaqil amat taat dan beriman kepada Allah SWT. Beliau
adalah suami Siti Masyitoh, yang bekerja sebagai juru hias istana, yang
juga amat taat dan beriman kepada Allah SWT. Namun demikian,
dengan suatu upaya yang hati-hati, mereka berhasil merahasiakan
ketaatan mereka terhadap Allah. Dari pengamatan Fir'aun yang kafir.

Suatu kali, terjadi perdebatan hebat antara Fir'aun dengan Hazaqil,
disaat Fir'aun menjatuhkan hukuman mati terhadap seorang ahli sihir,
yang menyatakan keimanannya atas ajaran Nabi Musa a.s. Hazaqil
menentang keras hukuman tersebut.

Mendengar penentangan Hazaqil, Fir'aun menjadi marah. Fir'aun jadi
bisa mengetahui siapa sebenarnya Hazaqil. Fir'aun lalu menjatuhkan
hukuman mati kepada Hazaqil. Hazaqil menerimanya dengan tabah,
tanpa merasa gentar sebab yakin dirinya benar.

Hazaqil menghembuskan nafas terakhir dalam keadaan tangan terikat
pada pohon kurma, dengan tubuh penuh ditembusi anak panah. Sang
istri, Masyitoh, teramat sedih atas kematian suami yang amat
disayanginya itu. Ia senantiasa dirundung kesedihan setelah itu, dan
tiada lagi tempat mengadu kecuali kepada anak-anaknya yang masih
kecil.

Suatu hari, Masyitoh mengadukan nasibnya kepada Siti Asiah. Diakhir
pembicaraan mereka, Siti Asiah menceritakan keadaan dirinya yang
sebenarnya, bahwa iapun menyembunyikan ketaatannya dari Fir'aun.
Barulah keduanya menyadari, bahwa mereka sama-sama beriman
kepada Allah SWT dan Nabi Musa a.s.

Pada suatu hari, ketika Masyitoh sedang menyisir rambut puteri
Fir'aun, tanpa sengaja sisirnya terjatuh ke lantai. Tak sengaja pula,
saat memungutnya Masyitoh berkata : "Dengan nama Allah binasalah
Fir'aun."

Mendengarkan ucapan Masyitoh, Puteri Fir'aun merasa tersinggung lalu
mengancam akan melaporkan kepada ayahandanya. Tak sedikitpun
Masyitoh merasa gentar mendengar hardikan puteri. Sehingga
akhirnya, ia dipanggil juga oleh Fir'aun.

Saat Masyitoh menghadap Fir'aun, pertanyaan pertama yang diajukan
kepadanya adalah : 'Apa betul kau telah mengucapkan kata-kata
penghinaan terhadapku, sebagaimana penuturan anakku. Dan
siapakah Tuhan yang engkau sembah selama ini ?'

"Betul, Baginda Raja yang lalim. Dan Tiada Tuhan selain Allah yang
sesungguhnya menguasai segala alam dan isinya." jawab Masyitoh
dengan berani.

Mendengar jawaban Masyitoh, Fir'aun menjadi teramat marah,
sehingga memerintahkan pengawalnya untuk memanaskan minyak
sekuali besar. Dan saat minyak itu mendidih, pengawal kerajaan
memanggil orang ramai untuk menyaksikan hukuman yang telah
dijatuhkan pada Masyitah. Sekali lagi Masyitoh dipanggil dan
dipersilahkan untuk memilih : jika ingin selamat bersama kedua
anaknya, Masyitoh harus mengingkari Allah. Masyitoh harus mengaku
bahwa Fir'aun adalah Tuhan yang patut disembah. Jika Masyitoh tetap
tak mau mengakui Fir'aun sebagai Tuhannya, Masyitoh akan
dimasukkan ke dalam kuali, lengkap bersama kedua anak-anaknya.

Masyitoh tetap pada pendiriannya untuk beriman kepada Allah SWT.
Masyitoh kemudian membawa kedua anaknya menuju ke atas kuali
tersebut. Ia sempat ragu ketika memandang anaknya yang berada
dalam pelukan, tengah asyik menyusu. Karena takdir Tuhan, anak yang
masih kecil itu dapat berkata, 'Jangan takut dan sangsi, wahai Ibuku.
Karena kematian kita akan mendapat ganjaran dari Allah SWT. Dan
pintu surga akan terbuka menanti kedatangan kita.'

Masyitoh dan anak-anaknyapun terjun ke dalam kuali berisikan minyak
mendidih itu. Tanpa tangis, tanpa takut dan tak keluar jeritan dari
mulutnya. Saat itupun terjadi keanehan. Tiba-tiba, tercium wangi
semerbak harum dari kuali berisi minyak mendidih itu.

Siti Asiah yang menyaksikan kejadian itu, melaknat Fir'aun dengan
kata-kata yang pedas. Iapun menyatakan tak sudi lagi diperisteri oleh
Fir'aun, dan lebih memilih keadaan mati seperti Masyitoh.

Mendengar ucapan Isterinya, Fir'aun menjadi marah dan menganggap
bahwa Siti Asiah telah gila. Fir'aun kemudian telah menyiksa Siti Asiah,
tak memberikan makan dan minum, sehingga Siti Asiah meninggal
dunia.

Sebelum menghembuskan nafas terakhir, Siti Asiah sempat berdoa
kepada Allah SWT, sebagaimana termaktub dalam firman-Nya :

'Dan Allah membuat isteri Fir'aun perumpamaan bagi orang-orang
yang beriman, ketika ia berkata : 'Ya Tuhanku, bangunlah untukku
sebuah rumah di sisi_mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari
Fir'aun dan perbuatannya dan selamatkanlah aku dari kaum yang
zalim.'(Q.S. At-Tahrim [66] : 11)

Demikian kisah Siti Asiah dan Masyitoh. Semoga muslimah sekalian bisa
mengambil hikmah dan mengikuti jejak keduanya, meninggal dalam
keadaan teguh menggenggam 'Tauhid.'

www.cybermq.com


Read more about Fiqhislam.com - Pustaka Muslim Indonesia by www.fiqhislam.com

Islam Menyuruh Kita Mensucikan Allah Bukan Mensucikan
Manusia

ARTIKEL PILIHAN
    Kalimat Tauhid di dalam ajaran Islam mengandung banyak
    konsekuensi. Seorang Muslim atau ahli Tauhid hanya mengesakan,
    memuji, mengagungkan, membesarkan dan mensucikan Allah
semata. Sebab demikianlah tuntutan ajaran Tauhid. Di antara ekspresi
seorang ahli Tauhid ialah seringnya terlontar dari bibirnya kalimat-
kalimat seperti Subhaanallah (Maha Suci Allah), Alhamdulillah
(segala Puji hanya bagi Allah), Laa ilaaha illa Allah (Tiada ilah selain
Allah) dan Allahu Akbar (Allah Maha Besar). Semua kalimat itu
diucapkannya dengan penuh pemahaman, penghayatan dan keyakinan.

Seorang Muslim yang faham makna kalimat Subhaanallah tidak akan
terjebak ke dalam anggapan adanya fihak lain selain Allah yang pantas
disucikan. Ia tahu hanya Allah sajalah di dalam hidup ini yang tidak
mengandung cacat dan kekurangan. Allah adalah Dzat Yang Maha
Sempurna. Oleh karena itu sepanjang perjalanan sejarah dunia Allah
mengutus para Nabi dan Rasul dengan tujuan untuk menjernihkan
aqidah ummat manusia. Sebab manusia memiliki kecenderungan untuk
merasa butuh mensucikan sesuatu di dalam hidupnya. Namun sayang,
kebanyakan manusia bodoh akan Ma‟rifatullahSubhaanahu wa
Ta‟aala (Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi). (Pengenalan akan Allah)
sehingga mereka akhirnya menjadikan banyak fihak selain Allah
sebagai fihak yang disucikan sedemikian rupa sebagaimana semestinya
mereka mensucikan Allah

Diantara mereka ada yang mensucikan sesama manusia yang dianggap
sangat mulia. Sedemikian rupa pensucian itu sehingga mereka
memposisikan manusia yang dimuliakan itu berlebihan alias melampaui
batas. Seperti yang dilakukan oleh kaum Yahudi terhadap Uzair dan
kaum Nasrani terhadap Nabiyullah Isa putra Maryam ‟alahis-salam.

Orang-orang Yahudi berkata: ”Uzair itu putra Allah” dan orang
Nasrani berkata: "Al Masih itu putra Allah". Demikian itulah
ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan
orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah-lah mereka;
bagaimana mereka sampai berpaling?

Kaum Nasrani telah memposisikan Nabiyullah Isa sebagai anak tuhan
bahkan tuhan itu sendiri. Oleh karenanya kita ummat Islam sangat
bersyukur adanya sebuah surah di dalam Al-Qur‟an yang memberikan
pengetahuan fundamental mengenai aqidah tauhid, yaitu surah Al-
Ikhlas.
”Katakanlah: "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa, Allah adalah Tuhan
yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu Dia tiada beranak
dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang
setara dengan Dia".(QS Al-Ikhlas ayat 1-4)

Dengan tegas dan jelas surah di atas memberikan dasar-dasar aqidah
pengesaan Allah di dalam ajaran Islam. Sejak SD kebanyak muslim
sudah hafal surah di atas di luar kepala. Sehingga bagi seorang muslim
adalah suatu hal yang tidak masuk di akal bila ada sesama manusia
yang diposisikan sebagai anak tuhan apalagi sebagai tuhan itu sendiri.
Karena jelas diegaskan bahwa Allah itu ” tiada beranak dan tiada
pula diperanakkan” dan bahwa Allah itu ”tidak ada seorang pun
yang setara dengan Dia”.

Oleh karenanya di dalam Islam kita diajarkan agar jangan mensucikan,
mengagungkan atau mengagumi sesama manusia berlebihan. Malah
dalam rangka prefentif, Nabi shollallahu ‟alaih wa sallam sudah
menutup celah muncul dan berkembangnya penyakit mensucikan
sesama manusia dalam bentuk teguran keras beliau ketika
menyaksikan seorang muslim memuji sesama muslim berlebihan.
Perhatikanlah hadits di bawah ini:

Hadis riwayat Abu Bakrah ra., ia berkata: Seorang lelaki memuji
orang lain di hadapan Nabi shollallahu ‟alaih wa sallam maka beliau
bersabda: “Celaka kamu! Kamu telah memenggal leher temanmu,
kamu telah memenggal leher temanmu!” Beliau mengucapkannya
berulang-ulang. ”Apabila seorang di antara kamu terpaksa harus
memuji temannya, hendaklah ia berkata: Aku mengetahui
kebaikan si Fulan namun Allah lebih mengetahui keadaannya, dan
aku tidak memberikan kesaksian kepada siapa pun yang aku
ketahui di hadapan Allah karena Allah lebih mengetahui
keadaannya yang sebenarnya”. (HR Muslim 5319)

Bayangkan, saudaraku. Betapa keras teguran Nabi shollallahu ‟alaih
wa sallam kepada seseorang yang telah memuji orang lainnya.
Sedemikian kerasnya teguran Nabi shollallahu ‟alaih wa sallam
sehingga tindakan memuji sesama manusia itu disetarakan dengan
memenggal leher teman artinya membunuhnya…! Dan hal ini
dikatakan berulang-kali oleh Rasulullah shollallahu ‟alaih wa sallam.
Mengapa teguran Nabi shollallahu ‟alaih wa sallam begitu kerasnya?
Karena Nabi shollallahu ‟alaih wa sallam sangat khawatir bila ummat
beliau terjatuh kepada penyimpangan ummat terdahulu, khususnya
kaum Yahudi dan Nasrani. Sebab penyimpangan seperti ini dapat
dipandang sebagai salah satu bentuk mempersekutukan Allah. Dan itu
berarti termasuk dosa besar. Bahkan dosa yang tidak bisa diampuni
Allah.

”Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia
mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa
yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah,
maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS An-Nisa ayat
48)

Sehingga dalam kesempatan lainnya Nabi shollallahu ‟alaih wa sallam
bahkan pernah menegur keras para sahabat ketika beliau dapati
mereka melakukan bentuk penghormatan berlebihan kepada diri
Rasulullah.

Ibnu Abbas mendengar Umar berkata dari atas mimbar: ”Aku
mendengar     Rasulullah    bersabda:     “Janganlah     kalian
mengkultuskanku sebagaimana kaum Nasrani mengkultuskan Isa
putra Maryam. Sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba. Maka
ucapkanlah: hamba Allah dan RasulNya.” (HR Bukhary 3189)

Subhanallah... Nabi Muhammad shollallahu ‟alaih wa sallam sadar dan
faham betul bahwa kemusyrikan seringkali bermula dari bentuk
mensucikan orang-orang mulia seperti para Nabi sebagaimana yang
dialami oleh kaum Nasrani yang bermula dari mensucikan Nabi Isa
berlebihan akhirnya menjadi melampaui batas sehingga dewasa ini
kaum Nasrani meyakini bahwa Nabi Isa adalah anak tuhan bahkan
tuhan itu sendiri.

Berarti Islam sangat tidak membenarkan hadirnya berbagai bentuk
penghormatan berlebihan kepada sesama manusia walau terhadap
seorang Nabiyullah sekalipun. Dan jika Rasulullah shollallahu ‟alaih wa
sallam melarang ummatnya untuk mengkultuskan diri beliau,
bagaimana lagi gerangan kerasnya teguran beliau jika saja beliau bisa
menyaksikan perlakuan sebagian ummat Islam di zaman kita yang
mengkultuskan kalangan yang mengaku diri mereka sebagai
”keturunan Nabi Muhammad shollallahu ‟alaih wa sallam”? Atau
pengkultusan terhadap seorang Kyai atau Ajengan di sebuah
Pesantren? Atau pengkultusan para kader kepada Qiyadah/pimpinan
sebuah Jama‟ah minal Muslimin dalam bentuk mentaati segala
keputusan-keputusannya walau sudah jelas bertentangan dengan Al-
Qur‟an dan As-Sunnah?

Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari
mempersekutukan Engkau sedang aku mengetahuinya dan aku mohon
ampun kepadaMu dari apa-apa yang tidak kuketahui.

www.sunni.cybermq.com

                                < Prev         Next >


Read more about Fiqhislam.com - Pustaka Muslim Indonesia by www.fiqhislam.com




                    HukumLukisan Islam
          Sistem Masyarakat Islam dalam
               Al Qur'an & Sunnah
                                oleh Dr. Yusuf Qardhawi
          Indeks Islam | Indeks Qardhawi | Indeks Artikel | Tentang Pengarang

      ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota


KESIMPULAN HUKUM TENTANG GAMBAR (LUKISAN) DAN PARA
PELUKISNYA

Di sini bisa kita simpulkan mengenai hukum lukisan dan para pelukisnya secara ringkas
sebagai berikut:

A. Jenis lukisan (gambar) yang paling berat dosanya adalah gambar sesuatu yang
disembah selain Allah. Ini menjadikan pelukisnya (pemahatnya) menjadi kafir apabila dia
mengetahui tujuannya. Dalam hal ini gambar yang berbentuk itu lebih berat lagi dosanya
dan pengingkaran kita terhadap-Nya. Juga setiap orang yang menyebarkan gambar itu
atau mengagungkannya dengan cara apa pun, maka ia masuk ke dalam dosa itu sejauh
keikutsertaannya.
B. Tingkat yang kedua dalam besarnya dosa adalah orang yang menggambar sesuatu
yang tidak untuk disembah, tetapi dimaksudkan untuk mengungguli ciptaan Allah SWT.
Ini mendekati kekufuran dan dia berkait erat dengan niat orang yang menggambar.

C. Satu tingkatan di bawahnya lagi adalah gambar-gambar yang berbentuk yang tidak
disembah, tetapi diagungkan. Seperti gambar raja-raja, para pemimpin dan selain mereka
dari tokoh-tokoh yang diabadikan dengan patung dan dipasang di lapangan dan tempat-
tempat lainnya. Di sini sama antara yang utuh satu badan atau setengah badan.

D. Tingkatan di bawahnya lagi adalah gambar-gambar yang berbentuk untuk setiap yang
bernyawa, yang tidak disucikan dan diagungkan. Ini disepakati haramnya, kecuali mainan
anak-anak atau yang dipakai untuk permen.

E. Tingkatan di bawahnya lagi adalah gambar-gambar yang tidak berbentuk, berupa
lukisan-lukisan yang diagungkan. Seperti lukisan para pengusaha, pemimpin dan lainnya,
terutama yang ditempel atau digantung. Semakin kuat haramnya apabila mereka itu
adalah orang-orang zhalim, fasik dan kafir, karena mengagungkan mereka berarti
merobohkan Islam.

F. Tingkatan di bawahnya lagi adalah gambar-gambar yang tidak berbentuk, mempunyai
nyawa yang tidak diagungkan, tetapi sekedar untuk kemewahan. Seperti hiasan dinding,
ini hukumnya makruh.

G. Adapun gambar-gambar yang tidak bernyawa seperti pohon, kurma, lautan, kapal,
gunung-gunung, awan dan sejenisnya dari pemandangan alam maka tidak berdosa bagi
orang yang menggambarnya atau memasangnya, selama tidak mengganggu ketaatan atau
tidak untuk kemewahan yang dimakruhkan.

H. Adapun fotografi, pada dasarnya boleh, selama foto itu tidak diharamkan. Kecuali
kalau sampai mengkultuskan seseorang, terutama dari orang-orang kafir atau fasik,
Komunis dan para artis yang melecehkan nilai-nilai ajaran Islam.

I. Terakhir, sesungguhnya patung-patung dan lukisan-lukisan yang diharamkan atau
dimakruhkan, apabila diubah bentuknya atau dihinakan, maka berubah dari lingkup
haram dan makruh ke lingkup halal. Seperti gambar-gambar di kain keset yang diinjak-
injak oleh kaki dan sandal.


Sistem Masyarakat Islam dalam Al Qur'an & Sunnah
(Malaamihu Al Mujtama' Al Muslim Alladzi Nasyuduh)
oleh Dr. Yusuf Qardhawi
Cetakan Pertama Januari 1997
Citra Islami Press
Jl. Kol. Sutarto 88 (lama)
Telp.(0271) 632990 Solo 57126
Agar Ditolong Allah

ARTIKEL PILIHAN

    Saudaraku, jangan panik jika usaha yang kita lakukan belum
menemukan keberhasilan. Jangan heran bila yang kita cita-citakan di
tahun kemarin belum tercapai. Karena bisa jadi, apa yang kita
inginkan belum saatnya dikabulkan Allah, atau bisa jadi usaha yang
kita lakukan belum maksimal. Namun, ada satu hal yang betul-betul
perlu kita renungkan, jangan-jangan kita masih berlumur dosa
sehingga pertolongan Allah enggan menyapa.

Untuk itu, ada tiga hal yang wajib kita amalkan agar layak ditolong
Allah. Itu dikenal dengan 3 T. T pertama adalah taubat. Pertolongan
Allah akan tercurah kepada orang-orang yang mau merendahkan diri
seraya mengakui kesalahan dihadapan Allah. Ada empat syarat taubat,
diantaranya: menyesal untuk tidak mengulangi apa yang telah
diperbuat, memohon ampun kepada Allah, bertekad untuk tidak
mengulanginya, dan mengiringinya dengan amal shalih. Bagi ahli
taubat, telah Allah janjikan ketentraman, diberikan jalan keluar, dan
dimudahkan rezeki dari jalan yang tidak disangka-sangka. Salah satu
rezeki ini dapat berupa pertolongan Allah.

T kedua adalah taat. Taat dapat berarti patuh seraya bersungguh-
sungguh menjalankan perintah Allah. Siapa pun yang ingin ditolong
Allah maka ia harus bersungguh-sungguh meningkatkan ibadah dengan
tidak mensia-siakan shalat berjamaah. Disempurnakan dengan amalan
sunnah tahajud, dhuha, rawatib, perbanyak sedekah, santuni fakir
miskin, biasakan shaum sunnah. Semakin dekat kita dengan Allah,
Insya Allah akan semakin dekat pada datangnya pertolongan Allah.

T ketiga adalah tawakal. Usaha yang kita lakukan, harapan yang kita
tekadkan belum tentu sesuai dengan keinginan dan harapan Allah.
Karena bisa jadi baik menurut kita, belum tentu baik menurut Allah.
Untuk itu menggantungkan diri sepenuhnya pada ketentuan Allah
menjadi keharusan.

Saudaraku, gantungkan semua usaha, harapan semata-mata untuk
mencari keridhaan-Nya. Dengan ridha-Nya diharapkan pertolongan
Allah akan segera menyapa. Wallahu‟alam bishawab.
KH. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) / www.cybermq.com




Read more about Fiqhislam.com - Pustaka Muslim Indonesia by www.fiqhislam.com



Tanpa Tauhid, Amal Ibadah Tidaklah Bernilai

ARTIKEL PILIHAN
                          Muslim.or.id - Muhammad Abduh Tuasikal - Tidaklah
                       kita diciptakan hanya untuk makan dan minum
atau hidup bebas dan gembira semata. Akan tetapi, ada tujuan yang
mulia dan penuh hikmah di balik itu semua yaitu melakukan ibadah
kepada Sang Maha Pencipta. Ibadah ini bisa diterima hanya dengan
adanya tauhid di dalamnya. Jika terdapat noda-noda syirik, maka
batal lah amal ibadah tersebut.

Tauhid adalah Syarat Diterimanya Ibadah

Perlu pembaca sekalian ketahui bahwa ibadah tidak akan diterima
kecuali apabila memenuhi 2 syarat: Pertama, memurnikan ibadah
kepada Allah semata (tauhid) dan tidak melakukan kesyirikan. Kedua,
mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam. Ibadah
apapun yang tidak memenuhi salah satu dari kedua syarat ini, maka
ibadah tersebut tidak diterima.

Fudhail bin „Iyadh mengatakan, ”Sesungguhnya apabila suatu amalan
sudah dilakukan dengan ikhlas, namun tidak sesuai dengan tuntunan
Rasulullah maka amalan tersebut tidak diterima. Dan apabila amalan
tersebut sudah sesuai dengan tuntunan Rasulullah, namun tidak ikhlas,
maka amalan tersebut juga tidak diterima, sampai amalan tersebut
ikhlas dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu „alaihi wa
sallam.” (Jaami‟ul Ulum wal Hikam)
Ada permisalan yang sangat bagus mengenai syarat ibadah yang
pertama yaitu tauhid. Sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Muhammad
bin Abdul Wahab dalam risalahnya yang berjudul Al Qawa‟idul Arba‟.
Beliau rahimahullah berkata, ”Ketahuilah, sesungguhnya ibadah
tidaklah disebut ibadah kecuali dengan tauhid (yaitu memurnikan
ibadah kepada Allah semata, pen). Sebagaimana shalat tidaklah
disebut shalat kecuali dalam keadaan thaharah (baca: bersuci).
Apabila syirik masuk dalam ibadah tadi, maka ibadah itu batal.
Sebagaimana hadats masuk dalam thaharah.”

Maka setiap ibadah yang di dalamnya tidak terdapat tauhid sehingga
jatuh kepada syirik, maka amalan seperti itu tidak bernilai selamanya.
Oleh karena itu, tidaklah dinamakan ibadah kecuali bersama tauhid.
Adapun jika tanpa tauhid sebagaimana seseorang bersedekah,
memberi pinjaman utang, berbuat baik kepada manusia atau
semacamnya, namun tidak disertai dengan tauhid (ikhlas mengharap
ridha Allah) maka dia telah jatuh dalam firman Allah yang artinya,
”Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami
jadikan amal itu bagaikan debu yang beterbangan.” (Al Furqon :
23). (Abrazul Fawa‟id)

Tanpa Tauhid, Amal Ibadah Tidaklah Bernilai

Syaikh rahimahullah membuat permisalan yang sangat mudah
dipahami dengan permisalan shalat. Tidaklah dinamakan shalat kecuali
adanya thaharah yaitu berwudhu. Apabila seseorang tidak dalam
keadaan berwudhu lalu melakukan shalat yang banyak, memanjangkan
berdiri, ruku‟, dan sujudnya, serta memperbagus shalatnya, maka
seluruh kaum muslimin sepakat shalatnya tidak sah. Bahkan dia
dihukumi telah meninggalkan shalat karena agungnya syarat shalat ini.
Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam bersabda, ”Allah tidak akan
menerima shalat seseorang di antara kalian apabila dia berhadats
sampai dia berwudhu.” (Muttafaqun „alaihi).

Sebagaimana shalat dapat batal karena tidak adanya thaharah, maka
ibadah juga bisa batal karena tidak adanya tauhid di dalamnya. Namun
syarat ikhlas dan tauhid agar ibadah diterima tentu saja jauh berbeda
jika dibanding dengan syarat thaharah agar shalat diterima. Apabila
seseorang shalat dalam keadaan hadats dengan sengaja, maka
terdapat perselisihan pendapat di antara ulama tentang kafirnya orang
ini. Akan tetapi, para ulama tidak pernah berselisih pendapat
tentang kafirnya orang yang beribadah pada Allah dengan berbuat
syirik kepada-Nya (yaitu syirik akbar) yang dengan ini akan
menjadikan tidak ada satu amalnya pun diterima. (Lihat Syarhul
Qawa‟idil Arba‟, Syaikh Sholeh Alu Syaikh)

Syirik Akbar Akan Menghapus Seluruh Amal

Ingatlah saudaraku, seseorang bisa dinyatakan terhapus seluruh
amalnya (kafir) bukan hanya semata-mata dengan berpindah agama
(alias: murtad). Akan tetapi, seseorang bisa saja kafir dengan berbuat
syirik yaitu syirik akbar, walaupun dalam kehidupannya dia adalah
orang yang rajin melakukan shalat malam. Apabila dia melakukan satu
syirik akbar saja, maka dia bisa keluar dari agama ini dan amal-amal
kebaikan yang dilakukannya akan terhapus. Allah Ta‟ala”Seandainya
mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka
amalan yang telah mereka kerjakan.” (Al An‟am: 88). Apabila dia
tidak bertaubat darinya maka diharamkan baginya surga, sebagaimana
firman-Nya      yang    artinya,    ”Sesungguhnya       orang    yang
mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah
mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka,
tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.” (Al
Maidah: 72) berfirman yang artinya,

Contoh syirik akbar adalah melakukan tumbal berupa sembelihan
kepala kerbau, kemudian di-larung (dilabuhkan) di laut selatan agar
laut tersebut tidak ngamuk (yang kata pelaku syirik: tumbal tersebut
dipersembahkan kepada penguasa laut selatan yaitu jin Nyi Roro
Kidul). Padahal menyembelih merupakan salah satu aktivitas ibadah
karena di dalamnya terkandung unsur ibadah yaitu merendahkan diri
dan tunduk patuh. Allah Ta‟ala berfirman yang artinya,
”Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku dan matiku
hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam.” (Al An‟am: 162).
Barangsiapa yang memalingkan perkara ibadah yang satu ini kepada
selain Allah maka dia telah jatuh dalam perbuatan syirik akbar dan
pelakunya keluar dari Islam. (Lihat At Tanbihaat Al Mukhtashot Syarh
Al Wajibat)

Syirik Ashgar Dapat Menghapus Amal Ibadah

Jenis syirik yang berada di bawah syirik akbar dan tidak mengeluarkan
pelakunya dari Islam adalah syirik ashgar (syirik kecil). Walaupun
dinamakan syirik kecil, akan tetapi tetap saja dosanya lebih besar dari
dosa besar seperti berzina dan mencuri. Salah satu contohnya adalah
riya‟ yaitu memamerkan amal ibadah untuk mendapatkan pujian dari
orang lain. Dosa ini yang Nabi shallallahu „alaihi wa sallam sangat
khawatirkan akan menimpa para sahabat dan umatnya. Pada
kenyataannya banyak manusia yang terjerumus di dalam dosa syirik
yang satu ini. Banyak orang yang mengerjakan shalat dan membaca Al
Qur‟an ingin dipuji dengan memperlihatkan ibadah yang mulia ini
kepada orang lain. Tatkala orang lain melihatnya, dia memperpanjang
ruku‟ dan sujudnya dan dia memperbagus bacaannya dan menangis
dengan dibuat-buat. Semua ini dilakukan agar mendapat pujian dari
orang lain, agar dianggap sebagai ahli ibadah dan Qori‟ (mahir
membaca Al Qur‟an).

Waspadalah terhadap jerat setan yang dapat membatalkan amal
ibadahmu ini!! Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam bersabda yang
artinya, ”Allah berfirman: Aku itu paling tidak butuh sekutu.
Barangsiapa melakukan suatu amalan lantas dia mencampurinya
dengan berbuat syirik di dalamnya dengan selain-Ku, maka Aku
akan tinggalkan dia bersama amal syiriknya itu.” (HR. Muslim).
Apabila ibadah yang dilakukan murni karena riya‟, maka amal tersebut
batal. Namun apabila riya‟ tiba-tiba muncul di pertengahan ibadah
lalu pelakunya berusaha keras untuk menghilangkannya, maka hal ini
tidaklah membatalkan ibadahnya. Namun apabila riya‟ tersebut tidak
dihilangkan, malah dinikmati, maka hal ini dapat membatalkan amal
ibadah.

Wahai saudaraku, bersikaplah sebagaimana Nabi Ibrahim „alaihis salam
-kekasih Allah yang bersih tauhidnya dari perbuatan syirik-. Beliau
masih berdo‟a kepada Allah: ”Jauhkanlah aku beserta anak cucuku
dari menyembah berhala-berhala.” (Ibrahim: 35). Jika beliau yang
sempurna tauhidnya saja masih takut terhadap syirik, tentu kita
semua yang miskin ilmu dan iman tidak boleh merasa aman darinya.
Ibrahim At Taimi berkata: ”Dan siapakah yang lebih merasa aman
tertimpa bala‟ (yaitu syirik) setelah Nabi Ibrahim.” Tidaklah
seseorang merasa aman dari syirik kecuali dia adalah orang yang
paling bodoh tentang syirik. (Fathul Majid)

Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari menyekutukan-Mu sedang
kami mengetahuinya dan kami memohon ampunan kepada-Mu atas
sesuatu yang kami tidak mengetahuinya.
Oleh Muhammad Abduh Tuasikal


Read more about Fiqhislam.com - Pustaka Muslim Indonesia by www.fiqhislam.com



Apa yang Membuat Seorang Istri Menarik ?

ARTIKEL PILIHAN

Apa yang membuat seorang istri menarik, hingga suami makin
menyenangi dan mengaguminya? Karena interaksi dengan istri sudah
menjadi keseharian dan hal rutin, seringkali seorang suami sulit
menjawab pertanyaan itu. From a distance, saya mencoba mengurai
sifat dan sikap menarik dan menyenangkan dari seorang istri.

Kenapa saya pilih kata menarik instead of cantik? Cantik fisik itu
relatif. Parameter-parameter pembangun kecantikan itu masih
debatable. Terlebih lagi cantik fisik itu adalah daya tarik instant. Ia
bisa menjadi daya tarik melenakan pada pandangan pertama dan pada
interval waktu awal, tapi belum tentu pesona yang sama bisa
dirasakan melalui interaksi pada jangka waktu yang panjang.

Menarik itu terbangun dari keutuhan kepribadian. Berbagai dimensi
kecerdasan berpadu membangun kemenarikan (attractiveness), mulai
dari kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional hingga kecerdasan
spiritual            dan             kecerdasan             religius.

Maka kemenarikan seorang istri, paling tidak tercermin dan menampak
pada   delapan   pasangan      karakter    kunci    di   bawah  ini:

1.          Ramah             dan            murah           senyum
Keramahan dan murah senyum itu menjadi daya tarik universal. Ia
menjadi salah satu kunci sukses seseorang, sebab dengannya ia mudah
diterima orang lain. Dan ini menjadi faktor penting dalam berbagai
kerja              sosial              dan              profesional.

Dan senyum adalah pancaran suasana hati. Murah senyum dan ramah
itu bukan tampilan sesaat. Ia adalah cerminan kepribadian. Dengan
senyuman istri, seorang suami mendapatkan ketentraman dan
kehangatan jiwa. Setiap kali ia mendapatkan senyuman sang istri,
terbitlah suasana "kemarilah, di sini aku selalu ada untukmu"
menghiasi                      relung                  jiwanya.

2.                 Optimis                dan                ceria
Masalah itu untuk dipecahkan dan jangan membuat kita berdiam diri.
Percayalah, kalau kita bergerak dan berusaha, kita akan menemukan
jalan keluar. Kalimat-kalimat barusan itu normatif. Tapi ketika
ucapan-ucapan itu keluar dari seorang istri dan ketika hal itu
diucapkan dengan penuh rasa optimis dan dibarengi keceriaan,
yakinlah seorang suami bahwa ia memperoleh anugerah terindah
dalam                                                    hidupnya.

Seorang yang optimis itu tak akan berdiam diri dalam himpitan
masalah. Ia akan mengurai masalah. Ia akan kerjakan apa yang bisa
dikerjakan terlebih dahulu, tanpa menunda-nunda. Dan justru karena
sikap melekat seperti ini, ia tak pernah mendapatkan dirinya
menunggu himpitan segunung masalah. Setiap ada permasalahan
hidup, ia cepat menyelesaikannya. Karena geraknya ini, setiap kali
menyelesaikan satu pekerjaan, sekecil apapun, ia mendapatkan
kesenangan jiwa. Dan karenanya sikap ceria selalu bisa dipelihara.

3.          Penyabar            dan             teguh           hati
Bangunan rumah tangga itu ibarat bahtera yang berlayar mengarungi
samudra. Adakalanya cuaca buruk melanda lautan. Angin dan ombak
kencang menerpa. Pada saat itu terujilah sifat sabar dan teguh hati.

Seorang suami akan sangat bersyukur dengan kesabaran dan keteguhan
hati istrinya ketika menghadapi berbagai kesulitan hidup. Hari-hari
ketika persediaan uang bahkan tak mencukupi untuk hidup sehari,
ketika mesti bekerja keras karena memang tak ada dana untuk
menggaji seorang pembantu, ketika mesti berjalan cukup jauh
mengantar anak bersekolah dengan mendorong baby-car adiknya pula.
Atau ketika hadir suara-suara,"Bagaimana mungkin kamu bersabar
dengan kondisi begini? Sekali-kali berontak donk sama suami ...."
Ketika itu kesabaran dan keteguhan seorang istri dalam menjalani
episode                       kehidupan                       diuji.

Tentu keteguhan hati itu lahir dari saling pengertian dan keyakinan,
bahwa suami tak berdiam diri dengan kondisi yang ada. Tapi landasan
utama keteguhan ini adalah pada keyakinan, bahwa Allah tak
meninggalkan hambaNya. Dia akan menolong saat upaya kita sudah
sampai pada batasnya; Saat kita berserah diri di ujung segala harapan
dan       hanya         menggantungkan            diri       padaNya.

4.              Penyayang                dan                pemaaf
Manusia tak ada yang terbebas dan kekhilafan dan kekeliruan. Begitu
juga seorang suami terhadap istrinya. Bahkan di hadapan istrinya,
hampir semua ketidaksempurnaan yang dapat ia tutupi di luar rumah,
akan                                                       terbuka.

Sifat penyayang dan pemaaf amat diperlukan seorang suami,
dihadapkan pada segala kelemahan dirinya. Pengertian istri sungguh
menjadi sesuatu yang amat dihajatkan. Dengan ini seorang suami
terhindar dari keputusasaan dan blaming himself too far, menyalahkan
diri sendiri terlalu jauh. Dengan ini seorang suami tetap bisa terjaga
harga            diri         dan           sikap         optimisnya.

Penyayang dan pemaaf juga nampak pada keseharian istri dalam
mendidik anak-anak. Suami akan senang melihat anak-anak tumbuh
dalam suasana kasih sayang. Pemaafan atas kesalahan anak-anak
bukan untuk mentolerir kesalahan itu, tapi untuk memberikan
kesempatan    kepada    mereka    belajar  dari   kesalahannya.

Penyayang juga menjadi karakter yang muncul saat istri berinterkasi
dengan orang tua dan kerabat suaminya. Pernikahan itu menyatukan
dua bani. Dan ketika suami mendapatkan istrinya menerima dan
diterima dengan baik dan bahkan menjadi kesayangan orang tua dan
karib kerabatnya, sungguh ia merasakan rasa senang tiada tara.

5.    Empatif    dan     ringan     tangan    (suka     menolong)
Bekerja sama dan saling menolong dalam kehidupan rumah tangga
menjadi tuntutan mendasar. Adapun sifat empatif dan ringan tangan
dalam menolong di sini lebih ditekankan pada karakter seorang istri
bagi            masyarakat             di            sekelilingnya.

Sebuah rumah tangga menjadi bagian dari satu masyarakat.
Keharmonisan satu keluarga dalam menempatkan diri di tengah
masyarakat menjadi satu kepuasan batin dan kebahagiaan tersendiri.
Ketika seorang istri menunjukkan sikap empatif dan banyak
memberikan pertolongan kepada orang-orang di sekeliling rumah,
seorang suami akan mendapatkan pesona sosial pada istrinya.
Selain itu, seorang istri yang memberikan perhatian terhadap
masyarakat sekelilingnya justru akan semakin bersikap dewasa dalam
mengatasi permasalahan rumah tangganya. Ini menjadikan suasana
komunikasi dengan suaminya di rumah lebih seimbang dan
menentramkan.

6.                 Aktif               dan                 produktif
Pesona sosial pada seorang istri lebih dirasakan suaminya, ketika ia
memberikan kontribusi lebih sistematis kepada masyarakatnya. Tidak
menjadi masalah pada bidang apa kontribusi ini dicurahkan, pada
pendidikan, kesehatan, perekonomian, kesejahteraan, atau beberapa
sektor industri. Yang pasti keaktifan dan produktifitas seorang istri
bagi masyarakatnya menjadi daya tarik tersendiri bagi suami.

Produktifitas ini tentu saja tidak mesti identik pada jauh meninggalkan
urusan rumah tangga. Basis dari segala aktifitas sosial seorang istri itu
adalah bagaimana ia menjadi aktifis yang memiliki visi terbangunnya
keluarga-keluarga      yang      sehat,     cerdas     dan   sejahtera.


Untuk mewujudkan visi diatas dibutuhkan dukungan segenap
instrument sosial-kemasyarakatan dan kenegaraan, mulai dari
peraturan perundangan yang digodok di lembaga legislatif, ilmu
pengetahuan dan teknologi yang dihasilkan lembaga pendidikan dan
riset, konsep dan kebijakan yang dibuat eksekutif, aktifitas
pemberdayaan masyarakat yang dipelopori LSM-LSM (NGOs) dan
gerakan sosial lainnya hingga wujud materi peradaban seperti sekolah-
sekolah, klinik hingga rumah sakit, industri farmasi penopang
kesehatan, industri pemasok makanan bergizi, industri telekomunikasi
yang memfasilitasi dan menyajikan informasi yang baik dan
mencerdaskan,                       dan                     lain-lain.

Karenanya terbuka seribu satu medan bagi para istri untuk berkiprah,
mulai dari ruang lingkup rukun tangga (RT), rukun warga (RW) hingga
lingkup          negara          dan          bahkan          dunia.

7.               Cerdas                dan                kreatif
Kepribadian seorang manusia itu terus berkembang dan tumbuh
menuju kematangan tatkala proses belajar terus menyertainya. Dari
waktu ke waktu istri pembelajar akan selalu menghadirkan
 kemenarikan yang baru. Satu hari tiba-tiba dia memasak kue bolu
 amat lezat, yang belum pernah disajikan kepada keluarganya. Di
kesempatan lain dia mengisahkan baru lulus kursus Qiraati -satu
metoda belajar membaca al-Quran-, karena memang dibutuhkan untuk
menyertai perkembangan salah satu sisi pendidikan anak-anak. Atau
ketika dia mengikuti kegiatan senam kebugaran dengan tekun, yang
memang membuat tubuhnya bugar dan menambah vitalitas hubungan
dengan                                                  suaminya.

Kecerdasan itu bergabung dengan kreatifitas dan berjalan seiring.
Kreatifitas dalam mengelola rumah tangga menjadi pesona tiada batas
bagi pasangan suami-istri. Dengan daya kreatif ini, segala masalah bisa
dihadapi          secara          cerdas            dan          tepat.

8.           Tekun             dan           ikhlas        beribadah
Puncak dan sekaligus landasan bagi segala daya tarik seorang istri
adalah pada ketekunannya menjalankan ibadah dan mengikhlaskan
segala cinta, aktifitas dan kerja-kerjanya semata untuk mengharapkan
keridhoan Ilahi. Pada karakter ini seorang istri adalah individu yang
independent dari siapapun, termasuk dari suaminya. Ia akan
menggapai kemuliaan dirinya di hadapan Allah Penguasa Alam Semesta
dan di hadapan segenap makhlukNya, termasuk di hadapan suaminya.



Oleh Adi J. Mustafa, @Chiba-Japan

Sumber, kafemuslimah.com


Read more about Fiqhislam.com - Pustaka Muslim Indonesia by www.fiqhislam.com




Saat Kita Dimadu

ARTIKEL PILIHAN

Kepada para isteri dan seluruh muslimat yang hanya menggantungkan
harapan dan pengabdian hanya kepada Allah SWT. Itulah maksud
sebenarnya dari kalimat „laa illaha illallaah‟, sebagaimana
dikemukakan oleh Syaikh Yusuf Qaradhawi dalam buku Masyarakat
Islam Yang Diidamkan. Kalimat dan keyakinan tersebut adalah sumber
kekuatan yang membantu kita menghadapi apapun ketentuan yang
berlaku terhadap diri, dalam kehidupan dunia yang fana ini.

Apabila ikatan kehambaan kita terhadap Allah sudah sedemikian kuat,
maka segala hukum dan takdir-Nya akan kita terima dengan hati
terbuka penuh keridhaan. Kita terima segala yang diperintahkan-Nya,
walaupun nafsu amat kuat menentangnya. Misalnya dalam
menjalankan tanggungjawab kita sebagai isteri, kita harapkan secara
mutlak bukan keridhaan suami semata-mata, tetapi lebih dari itu,
keridhaan Allah SWT.

Mungkin kita berasa bahawa suami kita tidak layak untuk mendapat
khidmat setia kita kerana lumrahnya, apa yang jelek pada suami kita
itulah yang kita nampak lebih. Tetapi, kalau kita melakukan
tanggungjawab kita hanya kerana Allah, walau berat rasanya, mudah-
mudahan akan terasa kebahagiaan, hasil keikhlasan perbuatan kita itu.

Begitu pula jika kita ditakdirkan hidup bermadu, apalagi jika kita tidak
mempunyai ilmu yang cukup seperti layaknya seorang mufti pemberi
fatwa, maka janganlah kita mengharamkan perkara yang halal itu.
Biarlah orang berkata 'cakap senanglah, tak rasa sendiri, mana tahu
pedihnya'. Nafikan pendapat itu, dan sandarkan hati dan diri kita
kepada Allah SWT.

Sekurang-kurangnya, jika ada yang tengah menjalani "drama poligami"
membaca risalah ini, mudah-mudahan akan terbetik di hatinya untuk
terus berpegang kepada tali Allah, tidak semerta-merta bertindak.
Siapa tahu episode tersebut bisa membuat kita memahami betapa
pentingnya belajar, untuk menjadi hamba Allah yang sebenar-
benarnya.

Saat kita dimadu, pokok pangkalnya, mari kita renungkan segala
kekurangan dan kelebihan diri. Timbang berapa dalam kita telah
mengabdi kepada suami, keluarga, dan lebih penting lagi cinta kepada
Allah SWT. Kita terus berusaha untuk menambah ilmu, amal,
mengabdi kepada keluarga selagi roh masih berada di dalam jasad.
Jika suami tampaknya tidak mengacuhkan atau membimbing kita,
adalah menjadi kewajiban kita untuk terus mengabdi kepada keluarga,
dan terus mencari ilmu untuk bekal dunia maupun akhirat. Insya-Allah,
jika kita teguhkan niat, Allah akan memudahkan usaha kita, dan
memberikan kepada kita kebaikan, karena setelah kesusahan pasti ada
kemudahan.

Jadikan „drama poligami‟ sebagai pengukuh hubungan kepada Allah
SWT, kepada-Nya makin intens berkhalwat dan hanya kepada-Nya kita
berkhidmat. Insya-Allah, jika kita jaga hubungan dengan Allah,
hubungan dengan sesama makhluk juga akan beres secara otomatis.
Usahlah kita sibuk memperjuangkan hak keduniaan jika hak Allah
sebagai satu-satunya Tuan, satu-satunya Tuhan masih terus kita
abaikan.

Percayalah, dengan berserah dan berusaha untuk terus mengabdi, dan
saat pengukuhan hubungan dengan Allah dan jika ini dapat dicapai,
segala kemudahan lain akan datang sekaligus. Jadi, jika kita berusaha
untuk mengubah nasib, lakukan dengan berpandukan batasan-batasan
yang Islam tetapkan. Wallahu a'lam bish shawab.



Sumber: www.CyberMQ.com

                              < Prev        Next >


Read more about Fiqhislam.com - Pustaka Muslim Indonesia by www.fiqhislam.com




Cantiknya Bidadari…

    ARTIKEL PILIHAN

    Terheran-heran. Tapi itulah kenyataan. Seseorang – yang mungkin
dengan mudahnya – melepas jilbabnya dan merasa enjoy
mempertontonkan kecantikannya. Entah dengan alasan apa, kepuasan
pribadi, materi dunia, popularitas yang semuanya berujung pada satu
hal, yaitu hawa nafsu yang tak terbelenggu.

Padahal… nun di surga sana, terdapat makhluk yang begitu cantik yang
belum pernah seorang pun melihat ada makhluk secantik itu. Dan
mereka sangat pemalu dan terjaga sehingga kecantikan mereka hanya
dinikmati oleh suami-suami mereka di surga.



Harumnya Bidadari

Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam bersabda, “Sekiranya salah
seorang bidadari surga datang ke dunia, pasti ia akan menyinari
  langit dan bumi dan memenuhi antara langit dan bumi dengan
aroma yang harum semerbak. Sungguh tutup kepala salah seorang
    wanita surga itu lebih baik daripada dunia dan seisinya.”

                     (HR. Bukhari dan Muslim)



Kecantikan Fisik

   Nabi shallallahu „alaihi wa sallam bersabda, “Rombongan yang
 pertama masuk surga adalah dengan wajah bercahaya bak rembulan
  di malam purnama. Rombongan berikutnya adalah dengan wajah
bercahaya seperti bintang-bintang yang berkemilau di langit. Masing-
masing orang di antara mereka mempunyai dua istri, dimana sumsum
tulang betisnya kelihatan dari balik dagingnya. Di dalam surga nanti
                        tidak ada bujangan.”

                     (HR. Bukhari dan Muslim)



                      ‫ك‬
   “Demikianlah. Dan Kami berikan kepada mereka bidadari.”

                          (Qs. Ad-Dukhan: 54)



Abu Shuhaib al-Karami mengatakan, “Yang dimaksud dengan hur
adalah bentuk jamak dari haura, yaitu wanita muda yang cantik jelita
dengan kulit yang putih dan dengan mata yang sangat hitam.
Sedangkan arti „ain adalah wanita yang memiliki mata yang indah.

Al-Hasan berpendapat bahwa haura adalah wanita yang memiliki mata
dengan putih mata yang sangat putih dan hitam mata yang sangat
hitam.



Sopan dan Pemalu

Allah Subhanahu wa Ta‟ala menyifati bidadari dengan “menundukkan
pandangan” pada tiga tempat di Al-Qur‟an, yaitu:

“Di dalam surga, terdapat bidadari-bidadari-bidadari yang sopan,
  yang menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh
 manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni surga yang menjadi
suami mereka) dan tidak pula oleh jin. Maka nikmat Rabb-mu yang
manakah yang kamu dustakan? Seakan-akan biadadari itu permata
                       yakut dan marjan.”

                     (Qs. Ar-Rahman: 56-58)

      “Di sisi mereka ada bidadari-bidadari yang tidak liar
               pandangannya dan jelita matanya.”

                       (Qs. Ash-Shaffat: 48)

  “Dan pada sisi mereka (ada bidadari-bidadari) yang tidak liar
             pandangannya dan sebaya umurnya.”

Seluruh ahli tafsir sepakat bahwa pandangan para bidadari surgawi
hanya tertuju untuk suami mereka, sehingga mereka tidak pernah
melirik lelaki lain.



Putihnya Bidadari

 Allah Ta‟ala berfirman, “Seakan-akan bidadari itu permata yakut
                            dan marjan.”

                       (Qs. ar-Rahman: 58)
al-Hasan dan mayoritas ahli tafsir lainnya mengatakan bahwa yang
dimaksudkan adalah bidadari-bidadari surga itu sebening yaqut dan
seputih marjan.

   Allah juga menyatakan,“(Bidadari-bidadari) yang jelita, putih
                  bersih dipingit dalam kemah.”

                         (Qs. Ar-Rahman: 72)

Maksudnya mereka itu dipingit hanya diperuntukkan bagi para suami
mereka, sedangkan orang lain tidak ada yang melihat dan tidak ada
yang tahu. Mereka berada di dalam kemah.

Baiklah…ini adalah sedikit gambaran yang Allah berikan tentang
bidadari di surga. Karena bagaimanapun gambaran itu, maka manusia
tidak akan bisa membayangkan sesuai rupa aslinya, karena sesuatu
yang berada di surga adalah sesuatu yang tidak/belum pernah kita
lihat di dunia ini.

 Dari Abu Hurairah radhiallahu „anhu, mengatakan bahwa Rasulullah
   shallallahu „alaihi wa sallam bersabda, “Allah Azza wa Jalla
   berfirman, “Aku siapkan bagi hamba-hamba-Ku yang shalih
   sesuatu yang tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah
 didengar oleh telinga dan tidak pernah terlintas oleh pikiran.”

                      (HR. Bukhari dan Muslim)

Setelah mengetahui sifat fisik dan akhlak bidadari, maka bukan berarti
bidadari lebih baik daripada wanita surga. Sesungguhnya wanita-
wanita surga memiliki keutamaan yang sedemikian besar, sebagaimana
disebutkan dalam hadits,

 “Sungguh tutup kepala salah seorang wanita surga itu lebih baik
                 daripada dunia dan seisinya.”

                      (HR. Bukhari dan Muslim)

Dan lagi, seorang manusia telah Allah ciptakan dengan sebaik-baik
rupa,

    “Dan manusia telah diciptakan dengan sebaik-baik rupa.”
                              (Qs. At-Tiin: 4)

Dari Ummu Salamah radhiyallahu „anha, ia berkata, “Saya bertanya,
“Wahai Rasulullah, manakah yang lebih utama, wanita dunia ataukah
bidadari yang bermata jeli?”

Beliau shallallahu‟„alaihi wa sallam menjawab, “Wanita-wanita
dunia lebih utama daripada bidadari-bidadari yang bermata jeli,
seperti kelebihan apa yang tampak daripada apa yang tidak
tampak.”

Saya bertanya, “Karena apa wanita dunia lebih utama daripada
mereka?”

Beliau menjawab, “Karena shalat mereka, puasa dan ibadah
mereka kepada Allah. Allah meletakkan cahaya di wajah mereka,
tubuh mereka adalah kain sutra, kulitnya putih bersih, pakaiannya
berwarna hijau, perhiasannya kekuning-kuningan, sanggulnya
mutiara dan sisirnya terbuat dari emas. Mereka berkata, „Kami
hidup abadi dan tidak mati, kami lemah lembut dan tidak jahat
sama sekali, kami selalu mendampingi dan tidak beranjak sama
sekali, kami ridha dan tidak pernah bersungut-sungut sama sekali.
Berbahagialah orang yang memiliki kami dan kami memilikinya.‟.”
(HR. Ath Thabrani)

Subhanallah. Betapa indahnya perkataan Rasulullah shallallahu „alaihi
wa sallam. Sebuah perkataan yang seharusnya membuat kita, wanita
dunia, menjadi lebih bersemangat dan bersungguh-sungguh untuk
menjadi wanita shalihah. Berusaha untuk menjadi sebaik-baik
perhiasan. Berusaha dengan lebih keras untuk bisa menjadi wanita
penghuni surga..

Nah, tinggal lagi, apakah kita mau berusaha menjadi salah satu dari
wanita penghuni surga?

Maraji‟:
Mukhtashor Hadil al-Arwah ila Bilad al-Afrah (Tamasya ke Surga) (terj), Ibnu
Qoyyim al-Jauziyyah.

***

Sumber Artikel www.muslimah.or.id
                              < Prev        Next >


Read more about Fiqhislam.com - Pustaka Muslim Indonesia by www.fiqhislam.com




Istri Yang Membahagiakan

ARTIKEL PILIHAN

     Kebahagiaan rumah tangga yang menjadi tujuan setiap keluarga
terbentuk di atas beberapa faktor, yang terpenting adalah faktor
anggota keluarga. Mereka inilah faktor dan aktor pencipta
kebahagiaan dalam rumah tangga, atau sebaliknya, kesengsaraan
rumah tangga juga bisa tercipta oleh mereka. Dari anggota rumah
tangga, faktor yang paling berperan besar dalam perkara ini adalah
istri, karena dia adalah ratu dan ikon utama sebuah rumah tangga, ia
adalah rujukan suami dan tempat kembali anak-anak, maka dalam
bahasa Arab dia disebut dengan „Um‟ yang berarti induk tempat
kembali.

Sebagai pemeran utama dalam panggung rumah tangga, karena
perannya yang cukup signifikan di dalamnya, maka istri harus
membekali diri dengan sifat-sifat dan kepribadian-kepribadian
sehingga dengannya dia bisa mengemban tugas dan memerankan
perannya sebaik mungkin, dengan itu maka kondisi yang
membahagiakan dan situasi yang menentramkan di dalam rumah akan
terwujud.

Mengetahui skala prioritas

Dunia memang luas dan lapang, namun tidak dengan kehidupan, yang
akhir ini, selapang dan seluas apa pun tetap terbatas, ada tembok-
tembok yang membatasi, ada rambu-rambu yang mengekang, namun
pada saat yang sama tuntutan dan hajat kehidupan terus datang silih
berganti seakan tidak akan pernah berhenti, kondisi ini mau tidak
mau, berkonsekuensi kepada sikap memilah skala prioritas,
mendahulukan yang lebih penting kemudian yang penting dan
seterusnya.
Sebagai ikon dalam rumah tangga, istri tentu mengetahui benar
keterbatasan rumah tangga di berbagai sisi kehidupan, keterbatasan
finansial dan ekonomi misalnya, sebesar apapun penghasilan suami
plus penghasilan istri (jika istri bekerja), tetap ada atap yang
membatasi, ada ruang yang menyekat, tetap ada hal-hal yang tidak
terjangkau oleh uang hasil usaha mereka berdua, ditambah dengan
jiwa manusia yang tidak pernah berhenti berkeinginan, keadaannya
selalu berkata, “Adakah tambahan?”, maka sebagai istri yang
membahagiakan, dia harus mengetahui dengan baik prinsip dasar ini,
mendahulukan perkara yang tingkat urgensinya tertingi kemudian
setelahnya dan seterusnya.

Keterbatasan dalam hubungan di antara suami dan istri, mungkin
karena latar belakang keduanya yang berbeda, tingkat pendidikan
yang berbeda, keluarga yang berbeda, tabiat dan watak yang berbeda,
hobi dan kesenangan yang berbeda, waktu yang tersedia untuk berdua
minim, semua itu membuat hubungan suami istri serba terbatas,
namun hal ini bukan penghalang yang berarti, selama istri memahami
kaidah prioritas ini.

Istri yang baik adalah wanita yang mengetahui tatanan prioritas
dengan baik, dalam tataran hubungan suami istri, secara emosinal dan
fisik, dalam tatanan rumah tangga, secara formalitas dan etika, ia
menempati deretan nomor wahid.

Realistis dalam menuntut

Di hari-hari pertama pernikahan, biasanya dalam benak orang yang
menjalani tersusun rencana-rencana yang hendak diwujudkan, tertata
target-target yang hendak direalisasikan, terlintas harapan-harapan
yang hendak dibuktikan. Umum, lumrah dan jamak. Kata orang, hidup
ini memang berharap, karena berharap kita bisa tetap eksis hidup
dengan berbagai macam siatuasi dan kondisinya. Demikian pula
dengan sebuah rumah tangga. Tahun pertama harus memiliki anu.
Tahun kedua harus ada ini. Tahun ketiga, keempat dan seterusnya.

Sekali lagi wajar, selama hal itu masih realistis. Dan soal harapan dan
ambisi biasanya istri selalu yang menjadi motornya. Dalam sebuah
ungkapan dikatakan, “Wanita menginginkan suami, namun jika dia
telah mendapatkannya, maka dia menginginkan segalanya.”
Memang tidak semua wanita, karena ini hanya sebuah ungkapan dan
tidak ada ungkapan yang general. Namun dalam batas-batas tertentu
ada sisi kebenarannya, karena tidak jarang kita melihat beberapa
orang suami yang banting tulang dan peras keringat demi kejar setoran
yang telah dipatok istrinya.

Maka alangkah bijaknya jika dalam menuntut dan mencanangkan
target memperhatikan realita dan kapasitas suami, jika sebuah
harapan sudah kadung digantung tinggi, lalu ia tidak terwujud, maka
kecewanya akan berat, bak orang jatuh dari tempat yang sangat
tinggi, tentu sakitnya lebih bukan?

Sebagian istri memaksa suami menelusuri jalan-jalan yang berduri dan
berkelok-kelok, di mana dia tidak menguasainya, jika suami
mengangkat tangan tanda tak mampu mewujudkan sebagian dari
tuntutannya, maka istri berteriak mengeluh. Hal ini, sesuai dengan
tabiat kehidupan rumah tangga, menyeret kehidupan rumah tangga
kepada jalan buntu selanjutnya yang muncul adalah perselisihan, jika
ia menyentuh dasar kehidupan, maka bisa berakibat keruntuhannya.

Seorang istri shalihah selalu mendahulukan akalnya, dia tidak
membuat lelah suaminya dengan tuntutan-tuntutan yang irasional,
tidak membebaninya di luar kemampuannya dan tidak memberatkan
pundaknya dengan permintaan-permintaan demi memenuhi keinginan-
keinginannya semata.

Salah satu contoh yang jarang ditemukan yang terjadi dalam sejarah
tentang keteladanan sebagian istri yang begitu memperhatikan
keadaan suami tanpa batas walaupun hal tersebut berarti
mengorbankan kemaslahatannya sendiri adalah apa yang diriwayatkan
oleh kitab-kitab ath-Thabaqat tentang Fatimah az-Zahra` pada saat
dia dan suaminya Ali bin Abu Thalib mengalami kesulitan hidup yang
membuatnya bermalam selama tiga malam dalam keadaan lapar, pada
saat Ali melihatnya pucat, dia bertanya, “Ada apa denganmu wahai
Fatimah?” Dia menjawab, “Telah tiga malam ini kami tidak memiliki
apa pun di rumah.” Ali berkata, “Mengapa kamu diam saja?” Fatimah
menjawab, “Pada malam pernikahan bapakku berkata kepadaku, „Hai
Fatimah, kalau Ali pulang membawa sesuatu maka makanlah, kalau
tidak maka jangan memintanya.”

Bermental kaya
Mental kaya, dalam agama dikenal dengan istilah qana‟ah, rela dengan
apa yang Allah Subhanahu waTa‟ala bagi sehingga tidak menengok dan
berharap apa yang ada di tangan orang lain.

Kaya bukan kaya dengan harta benda, namun kaya adalah kaya hati,
artinya hati merasa cukup. Sebanyak apa pun harta seseorang, kalau
belum merasa cukup, maka dia adalah fakir. Kata fakir dalam bahasa
Arab berarti memerlukan, jadi kalau seseorang masih memerlukan
[baca: berharap dan menggantungkan diri] kepada apa yang dimiliki
oleh orang lain tanpa berusaha, maka dia adalah fakir alias miskin.

Kebahagiaan rumah tangga bergantung kepada perasan istri dalam
skala lebih besar daripada yang lain, jika istri tidak bermental kaya,
maka dia akan selalu merasa kekurangan, akibatnya dia akan
mengeluh ke mana-mana dengan kekurangannya. Kurang ini, kurang
itu, kurang anu dan seterusnya. Mentalnya adalah mental sengsara,
mental miskin, minim syukur, memposisikan diri sebagai orang miskin
sehingga seolah-olah dirinya patut diberi zakat.

Padahal seorang wanita bisa saja memiliki segala keutamaan di kolong
langit ini, akan tetapi semua keutamaan ini tidak ada nilai dan
harganya jika yang bersangkutan mempunyai tabiat sengsara dan
mental miskin. Kedua tabiat ini bagi wanita menyebabkan
kesengsaraan bagi suami dan kenestapaan bagi rumah tangga.

Banyak wanita sejak zaman batu sampai hari ini merasa nyaman
dengan tabiat sengsara dan mental miskin ini. Dalam kehidupan
sejarah, Nabiyullah Ibrahim ‟alaihissalam pernah menemukan dua
orang wanita, yang pertama bermental miskin dan yang kedua
bermental kaya, keduanya pernah menjadi istri bagi anaknya, Ismail.
Dengan bahasa sindiran, Nabi Ibrahim ‟alaihissalam pernah meminta
Ismail untuk berpisah dari istri pertamanya. Ibrahim ‟alaihissalam
melihat istri pertama anaknya bukan istri yang layak, karena dia
bermental miskin. Ketika Ibrahim ‟alaihissalam bertanya kepadanya
tentang kehidupannya dengan suaminya, yang Ibrahim ‟alaihissalam
dengar dari mulutnya hanyalah keluh kesah. Sebaliknya istri kedua,
jawabannya kepada mertuanya mengisyaratkan bahwa dia adalah istri
yang pandai bersyukur dan bersikap qana‟ah, maka Ibrahim
‟alaihissalam meminta Ismail untuk mempertahankannya.
Dalam kehidupan ini tidak sedikit kita menemukan istri model seperti
ini. Ditinjau secara sepintas dari keadaan rumahnya, rumah milik
sendiri, lengkap dengan perabotan elektronik yang modern, didukung
kendaraan keluaran terbaru, tapi dasar mentalnya mental miskin,
maka yang bersangakutan tetap mengeluh seolah-olah dia adalah
orang termiskin di dunia. Apakah hal ini merupakan kebenaran dari
firman Allah Subhanahu waTa‟ala, yang artinya, “Sesungguhnya
manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir.” (QS. al-Ma‟arij:
19). Tanpa ragu, memang.

Jika istri bermental kaya, maka keluarga akan merasa kaya dan cukup.
Ini menciptakan kebahagiaan. Jika istri bermental melarat, maka yang
tercipta di dalam rumah adalah iklim melarat dan ini menyengsarakan.



Oleh: Ust. Izzudin Karimi, Lc / alsofwah.or.id

                               < Prev            Next >


Read more about Fiqhislam.com - Pustaka Muslim Indonesia by www.fiqhislam.com

Wanita yang Dilaknat Dan Wanita yang Dipuji Allah

ARTIKEL PILIHAN

    Sejarah telah mencatat beberapa nama wanita terpandang yang di
antara mereka ada yang dimuliakan Allah dengan surga, dan di antara
mereka ada pula yang dihinakan Allah dengan neraka. Karena
keterbatasan tempat, tidak semua figur bisa dihadirkan saat ini,
namun mudah-mudahan apa yang sedikit ini bisa menjadi ibrah
(pelajaran) bagi kita.

Wanita Yang Beriman Sabda Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam :
“Seutama-utama wanita ahli surga adalah Khadijah binti
Khuwailid, Fathimah binti Muhammad, Maryam binti Imran dan
Asiyah binti Muzahim.” (HR. Ahmad)


1. Khadijah binti Khuwailid
Dia tumbuh dalam lingkungan keluarga yang terhormat sehingga
mendapat tempaan akhlak yang mulia, sifat yang tegas, penalaran
yang tinggi, dan mampu menghindari hal-hal yang tidak terpuji
sehingga kaumnya pada masa jahiliyah menyebutnya dengan ath
thahirah (wanita yang suci).

Dia merupakan orang pertama yang menyambut seruan iman yang
dibawa Muhammad tanpa banyak membantah dan berdebat, bahkan ia
tetap membenarkan, menghibur, dan membela Rasulullah Shallallahu
„alaihi wa sallam di saat semua orang mendustakan dan mengucilkan
beliau. Khadijah telah mengorbankan seluruh hidupnya, jiwa dan
hartanya untuk kepentingan dakwah di jalan Allah. Ia rela melepaskan
kedudukannya yang terhormat di kalangan bangsanya dan ikut
merasakan embargo yang dikenakan pada keluarganya.

Pribadinya yang tenang membuatnya tidak tergesa-gesa dalam
mengambil keputusan mengikuti kebanyakan pendapat penduduk
negerinya yang menganggap Muhammad sebagai orang yang telah
merusak tatanan dan tradisi luhur bangsanya. Karena keteguhan hati
dan keistiqomahannya dalam beriman inilah Allah berkenan menitip
salamNya lewat Jibril untuk Khadijah dan menyiapkan sebuah rumah
baginya di surga.

Tersebut dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah, ia berkata: Jibril
datang kepada Nabi kemudian berkata: Wahai Rasulullah, ini
Khadijah datang membawa bejana berisi lauk pauk, makanan dan
minuman. Maka jika ia telah tiba, sampaikan salam untuknya dari
Rabbnya dan dari aku, dan sampaikan kabar gembira untuknya
dengan sebuah rumah dari mutiara di surga, tidak ada keributan
di dalamnya dan tidak pula ada kepayahan.” (HR. Al-Bukhari).

Besarnya keimanan Khadijah pada risalah nubuwah, dan kemuliaan
akhlaknya sangat membekas di hati Rasulullah sehingga beliau selalu
menyebut-nyebut kebaikannya walaupun Khadijah telah wafat.
Diriwayatkan dari Aisyah, beliau berkata: “Rasulullah hampir tidak
pernah keluar dari rumah sehingga beliau menyebut-nyebut
kebaikan tentang Khadijah dan memuji-mujinya setiap hari
sehingga aku menjadi cemburu maka aku berkata: Bukankah ia
seorang wanita tua yang Allah telah meng-gantikannya dengan
yang lebih baik untuk engkau? Maka beliau marah sampai berkerut
dahinya kemudian bersabda: Tidak! Demi Allah, Allah tidak
memberiku ganti yang lebih baik darinya. Sungguh ia telah
beriman di saat manusia mendustakanku, dan menolongku dengan
harta di saat manusia menjauhiku, dan dengannya Allah
mengaruniakan anak padaku dan tidak dengan wanita (istri) yang
lain. Aisyah berkata: Maka aku berjanji untuk tidak menjelek-
jelekkannya selama-lamanya.”

2. Fatimah

Dia adalah belahan jiwa Rasulullah, putri wanita terpandang dan
mantap agamanya, istri dari laki-laki ahli surga yaitu Ali bin Abi
Thalib.

Dalam shahih Muslim menurut syarah An Nawawi Nabi bersabda:
“Fathimah merupakan belahan diriku. Siapa yang menyakitinya,
berarti menyakitiku.”

Dia rela hidup dalam kefakiran untuk mengecap manisnya iman
bersama ayah dan suami tercinta. Dia korbankan segala apa yang dia
miliki demi membantu menegakkan agama suami.

Fathimah adalah wanita yang penyabar, taat beragama, baik
perangainya, cepat puas dan suka bersyukur.


3. Maryam binti Imran

Beliau merupakan figur wanita yang menjaga kehormatan dirinya dan
taat beribadah kepada Rabbnya. Beliau rela mengorbankan masa
remajanya untuk bermunajat mendekatkan diri pada Allah, sehingga
Dia memberinya hadiah istimewa berupa kelahiran seorang Nabi dari
rahimnya tanpa bapak.


4. Asiyah binti Muzahim

Beliau adalah istri dari seorang penguasa yang lalim yaitu Fir‟aun
laknatullah „alaih. Akibat dari keimanan Asiyah kepada kerasulan
Musa, ia harus rela menerima siksaan pedih dari suaminya. Betapapun
besar kecintaan dan kepatuhannya pada suami ternyata di hatinya
masih tersedia tempat tertinggi yang ia isi dengan cinta pada Allah
dan RasulNya. Surga menjadi tujuan akhirnya sehingga kesulitan dan
kepedihan yang ia rasakan di dunia sebagai akibat meninggalkan
kemewahan hidup, budaya dan tradisi leluhur yang menyelisihi syariat
Allah ia telan begitu saja bak pil kina demi kesenangan abadi.
Akhirnya Asiyah meninggal dalam keadaan tersenyum dalam siksaan
pengikut Fir‟aun.

Dari Abu Hurairah, Nabi Shallallahu alaihi wasalam berkata: “Fir‟aun
memukulkan kedua tangan dan kakinya (Asiyah) dalam keadaan
terikat. Maka ketika mereka (Fir‟aun dan pengikutnya)
meninggalkan Asiyah, malaikat menaunginya lalu ia berkata: Ya
Rabb bangunkan sebuah rumah bagiku di sisimu dalam surga. Maka
Allah perlihatkan rumah yang telah disediakan untuknya di surga
sebelum meninggal.”


Wanita yang durhaka


1. Istri Nabi Nuh

2. Istri Nabi Luth


Mereka merupakan figur dua orang istri dari para kekasih Allah yang
tidak sempat merasakan manisnya iman. Hatinya lebih condong
kepada apa yang diikuti oleh orang banyak daripada kebenaran yang
dibawa oleh suaminya. Mereka justru membela kepentingan kaumnya
karena tidak ingin dimusuhi dan dibenci oleh orang-orang yang selama
ini mencintai dan menghormati dirinya. Maka kesenangan sesaat ini
Allah gantikan dengan kebinasaan yang didapat bersama kaumnya.
Istri Nabi Nuh ikut tenggelam oleh banjir besar bersama kaumnya yang
menyekutukan Allah dengan menyembah patung-patung orang shalih,
sedangkan istri Nabi Luth ditelan bumi karena adzab Allah atas
kaumnya       yang      melakukan      liwath      (homoseksual)   .

Semua cerita ini telah Allah rangkum dalam sebuah firmanNya yang
indah dalam surat At-Tahrim ayat 10-12, yang artinya: “Allah
membuat istri Nuh dan istri Luth perumpamaan bagi orang-orang kafir.
Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang shalih
di antara hamba-hamba Kami, lalu kedua istri itu berkhianat kepada
kedua suaminya, maka kedua suaminya itu tiada dapat membantu
mereka sedikitpun dari (siksa) Allah: dan dikatakan (kepada keduanya)
: Masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka). Dan
Allah membuat istri Fir‟aun perumpamaan bagi orang-orang yang
beriman, ketika ia berkata: Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah
rumah di sisimu dalam Surga. Dan selamatkanlah aku dari Fir‟aun dan
perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang dhalim. Dan
Maryam puteri Imran yang memelihara kehor-matannya, maka Kami
tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari roh (ciptaan) Kami, dan dia
membenarkan kalimat-kalimat Tuhannya dan kitab-kitabnya dan
adalah dia termasuk orang-orang yang taat.”

Semoga kisah para wanita ini bisa menjadi pelajaran bagi para wanita
zaman ini untuk berkaca diri, kira-kira saya termasuk golongan yang
mana? Apakah golongan yang dicintai Allah atau yang dimurkaiNya?

Bagi wanita yang belum berumah tangga, saat ini merupakan
kesempatan besar baginya untuk memperbanyak amalan shalih dan
mendekatkan diri pada Allah, bukannya justru menghabiskan masa
mudanya dengan hura-hura dan kegiatan lain yang tidak bermanfaat.
Dan bagi mereka yang sudah berumah tangga, selain menjaga
keistiqomahannya dalam berIslam dia juga diberi beban tambahan
oleh Allah untuk membantu suami menjalankan agamanya. Istri yang
demikian meru-pakan harta yang paling berharga.

Dari kisah mereka, kita juga bisa mengambil pelajaran bahwa dalam
keadaan bagaimanapun, hendaknya ketundukan kepada syariat Allah
dan RasulNya harus tetap di atas segala-galanya. Asalkan berada di
atas kebenaran, kita tidak perlu takut dibenci oleh masyrakat,
sahabat, maupun orang yang paling istimewa di hati kita. Justru
kewajiban kita adalah menunjukkan yang benar kepada mereka.
Dengan begitu kita akan mendapatkan cinta sejati .. cinta Allah
Rabbul „alamin.

Mudah-mudahan kita selalu diberi keistiqomahan untuk menapaki dan
mengamalkan syariat yang haq (benar) walaupun kita seorang diri. Amin.


Maraji’:
1. Ahkamun Nisa’, Ibnul Jauzi.

2. Fathul Bari, Ibnu Hajar Al-Atsqalani.
3. Tuhfatul Ahwadzi, Al Mubarakfuri.

4. Wanita-wanita Shalihat Dalam Lintas Sejarah Islam, Muhyidin Abdul Hamid.

Sumber: www.kafemuslimah.com

                               < Prev         Next >


Read more about Fiqhislam.com - Pustaka Muslim Indonesia by www.fiqhislam.com

Ketika Wanita Harus Bekerja

    ARTIKEL PILIHAN

    Orang-orang Barat melakukan kezaliman terhadap wanita dalam
arena kerja, aktifitas industri, dan di bidang seni dan sastra.
Kenyataan ini tercermin dalam karya seni, cerita, film dan lukisan
mereka. Orang-orang Barat hanya menganggap wanita sebagai sebuah
makhluk pengkonsumsi, pemboros dan pekerja murahan. Bahkan
mengeksploitir aspek sensualitas kewanitaannya. Bagaimana dengan
Islam?.

Islam membolehkan wanita bekerja, namun tetap menjaga fitrah dan
kemuliaannya. Ada seperangkat aturan Allah yang harus diperhatikan
wanita             ketika              harus              bekerja.

Kehidupan Khusus Dan Kehidupan Umum

Tugas utama wanita adalah mendidik anak dan mengurus rumahnya
dalam rangka menjaga keutuhan keluarga. Oleh karena itu, wanita
harus lebih memusatkan perhatiannya pada kehidupan khusus di dalam
rumahnya. Berbeda dengan para pria yang bertanggung jawab
mencari nafkah, sehingga pusat perhatiannya lebih banyak pada
kehidupan umum di luar rumah.

Islam memiliki aturan yang lengkap, baik dalam kehidupan khusus (di
dalam rumah) maupun kehidupan umum (diluar rumah/sector publik).
Sistem Islam sangat menjaga kehidupan khusus sehingga wanita dan
para mahramnya yang hidup di dalamnya merasa tentram, tenang
jiwanya, dan dapat beristirahat setelah melakukan kerja keras.
Sistem Islam juga menjamin kehidupan umum, sehingga menjadi
kehidupan yang serius dan produktif serta mampu memenuhi
kebahagiaan dan kesejahteraan yang dibutuhkan masyarakat. Islam
menjaga interaksi pria dan wanita dalam kehidupan umum tidak
mengarah pada hubungan yang bersifat seksual. Sehingga kerjasama
antara pria dan wanita dalam berbagai bidang kehidupan menjadi
perkara yang pasti memberikan manfaat dan kebaikan.


Wanita Bekerja

Islam sangat menjaga agar dalam kehidupan khusus hendaknya
komunitas kaum wanita terpisah dari komunitas kaum pria, misalnya di
masjid, di sekolah, dan sebagainya. Hal ini terlihat dalam aturan shaf
(barisan) shalat kaum wanita berada di bagian belakang shaf shalat
kaum Jadi wanita hendaknya hidup di tengah-tengah kaum wanita
atau pria. bersama para mahramnya. Apabila kaum wanita telah
selesai menunaikan muamalatnya, ia harus segera kembali hidup
bersama kaum wanita atau para mahramnya.

Ketika seorang wanita harus bekerja, maka dia sering berada dalam
kehidupan umum dimana terjadi interaksi dengan pria yang bukan
muhrimnya. Islam membolehkan adanya interaksi tersebut agar
mereka dapat melaksanakan berbagai aktivitas untuk kepentingan
masyarakat. Hukum Islam yang sempurna mampu mengatur interaksi
tersebut sebatas kerjasama antara pria dan wanita yang selalu berada
dalam koridor kesucian dan ketaqwaan.

Pria dan wanita ketika ada di ruang public diperbolehkan melakukan
aktivitas dalam rangka melaksanakan risalahNya dalam kehidupan, dan
kondusif untuk dakwah Islam dan jihad meninggikan kalimat Allah.
Ketika seorang wanita muslimah harus bekerja di luar rumah, maka dia
harus memperhatikan rambu-rambu syariah agar tidak menimbulkan
kerusakan         dan        bahaya         bagi         masyarakat.

Rambu-rambu bagi wanita ketika keluar rumah

Islam melarang wanita untuk keluar dari rumahnya tanpa seijin
suaminya, karena suami memiliki hak atas istrinya. Istri yang keluar
rumah tanpa seijin suaminya dianggap berbuat maksiyat dan nusyuz
(pembangkangan), sehingga tidak lagi berhak mendapatkan nafkah
dari suaminya. Ibn Baththah dalam kitab Ahkam an Nisa‟ dari
penuturan Anas ra menceritakan bahwa ada seorang pria yang sebelum
pergi melarang istrinya keluar rumah. Kemudian dikabarkan bahwa
ayah wanita itu sakit. Wanita itu meminta ijin kepada Rasulullah saw
agar dibolehkan menjenguk ayahnya.           Rasulullah menjawab:
“Hendaklah engkau takut kepada Allah dan janganlah engkau
melanggar pesan suamimu”. Kemudian ayahnya meninggal. Wanita
itu kembali meminta ijin untuk melayat jenazah ayahnya. Rasullulah
bersabda: “Hendaklah engkau takut kepada Allah dan janganlah
engkau melanggar pesan suamimu”. Lalu turun wahyu Allah:
“Sungguh, Aku telah mengampuni wanita itu karena ketaatan
dirinya kepada suaminya”.

Islam melarang wanita melakukan safar (perjalanan) keluar kota
selama sehari semalam, kecuali disertai mahramnya. Rasulullah
bersabda: “Tidak dibolehkan seorang wanita yang beriman kepada
Allah dan Hari Akhir melakukan perjalanan selama sehari
semalam, kecuali jika disertai mahramnya”.           Aturan ini
menunjukkan bahwa wanita harus dijaga keamanan dan
kehormatannya.

Islam memerintahkan pria dan wanita agar menundukkan pandangan
serta memelihara kemaluannya. QS An Nur: 30-31). Maksudnya
adalah pandangan antara pria dan wanita dalam interaksinya di
kehidupan umum hanya sebatas ada keperluan dan tanpa syahwat.
Hal ini merupakan tindakan pemeliharaan diri yang hakiki dan
mencegah terjadinya perbuatan haram. Sebab, mata merupakan
sarana praktis ke arah perbuatan-perbuatan yang terlarang.

Islam memerintahkan wanita agar memiliki sifat malu dan
mengenakan pakaian yang sempurna dalam kehidupan umum. Pakaian
yang sempurna akan menutup seluruh tubuh wanita kecuali muka dan
telapak tangan. Dengan cara mengulurkan kerudungnya sehingga
menutup kepala, leher dan dadanya; serta menghamparkan jilbabnya
menutupi seluruh tubuh hingga kakinya. Sifat malu juga tercermin dari
gerak-gerik yang dijaga agar tidak menggoda lawan jenisnya.
Termasuk cara berbicara yang tidak mendayu-dayu.

Wanita muslimah ketika harus bekerja tidak menelantarkan tugas
pokoknya di rumah. Pekerjaan wanita dalam mendidik anak dan
melayani suami tidak dapat digantikan oleh orang lain. Dari berbagai
penelitian membuktikan, anak-anak yang berhasil adalah yang
mendapat curahan kasih sayang ibunya. Anak-anak yang tumbuh dalam
pendidikan ibunya, akan menjadi generasi yang tangguh, dibandingkan
mereka yang kering kasih sayang.

Islam melarang pria dan wanita untuk berkhalwat. Rasulullah
bersabda: “Tidak diperbolehkan seorang pria dan wanita
berkhalwat, kecuali jika wanita itu disertai mahramnya”. Khalwat
adalah berkumpulnya seorang pria dan seorang wanita di suatu tempat
yang tidak memberikan kemungkingan orang lain untuk bergabung
dengan keduanya, kecuali dengan ijin keduanya. Khalwat menjadikan
pria dan wanita hanya melihat lawan jenisnya dari sudut pandang
seksual semata, sehingga menjadi sarana pemicu kerusakan. Sehingga
harus diperhatikan desain ruangan kerja yang tidak menjadikan para
karyawannya berkhalwat.

Islam melarang wanita untuk bertabarruj. QS An Nur: 60. Tabarruj
adalah menampakkan perhiasan (yang berada di bagian tubuh yang
merupakan aurat yang harus ditutup) dan kecantikannya kepada pria
yang bukan mahram. Misalnya, gelang kaki (QS An Nur: 31). Sabda
Nabi: “Siapapun wanita yang memakai wewangian kemudian
melewati suatu kaum agar mereka mencium baunya, berarti ia
seorang pezina”. “… wanita yang membuka auratnya seraya
berpakaian tipis merangsang, berlenggak-lenggok, dan banyak lagak.
Mereka tidak dapat masuk surga dan mencium bau surga, padahal bau
surga dapat tercium dari jarak yang sangat jauh”.

Islam melarang pria dan wanita untuk melakukan amal perbuatan yang
dapat membahayakan akhlak. Seorang wanita dilarang melakukan
pekerjaan yang mengeksploitasi aspek sensualitas kewanitaannya
untuk menarik perhatian konsumen atau kliennya.Jadi wanita bekerja
karena kemampuan yang dimilikinya, bukan hanya bermodalkan
kecantikan dan kemolekan tubuhnya.

Kerjasama antara pria dan wanita harus bersifat umum dalam urusan
muamalat, bukan hubungan yang bersifat khusus seperti saling
mengunjungi antara wanita dengan pria yang bukan mahramnya,
jalan-jalan bersama, saling curhat. Tujuan kerjasama antara pria dan
wanita adalah agar wanita dapat segera mendapatkan hak-haknya dan
kemaslahatannya, dan dapat melaksanakan kewajibannya.
Islam melarang tindakan mencemarkan nama baik wanita-wanita suci,
yakni dengan cara melontarkan tuduhan zina (qodzaf) kepada mereka
(QS An Nur: 4, 23). Syariat Islam memang telah mengunci setiap lisan
yang biasa meyebarkan kata-kata buruk dan mencemari kehormatan
orang lain, sehingga kesucian jamaah Islam dapat terjaga.

Khotimah
Ketika Islam membolehkan wanita bekerja dalam kehidupan umum,
telah diperlengkapi dengan seperangkat aturan yang dapat menjaga
kesucian dan kemuliaan masyarakat. (Ummu Hafizh)



Sumber: www. suara-islam.com

                              < Prev        Next >


Read more about Fiqhislam.com - Pustaka Muslim Indonesia by www.fiqhislam.com




Menguak Tabir Rezeki

    ARTIKEL PILIHAN

    “Dan tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah melapangkan
rezki dan menyempitkannya bagi siapa yang dikehendakiNya?
Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda
kekuasaan Allah bagi kaum yang beriman.” (QS. Az-Zumar [39] :
52).

Itu sebabnya dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendapati
kenyataan bahwa tidak semua orang yang bekerja mati-matian bahkan
sepanjang hidupnya pasti kaya raya. Sebaliknya, tidak semua orang
yang bekerja „normal-normal‟ saja hidupnya kekurangan. Dalam
sebuah hadits dikatakan bahwa rezeki adalah satu dari empat hal
pokok yang telah ditetapkan pada awal kehidupan setiap manusia.

Namun demikian, ini tidak berarti bahwa kita tidak perlu berusaha dan
bekerja dalam rangka mencari rezeki. Imam Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu
Majah, Ibnu Al-Mubarak, Ibnu Hibban, Al-Hakim, Al-Qudha‟i, dan Al-
Baghawi meriwayatkan dari Umar bin Khaththab RA, Rasulullah SAW
bersabda, “Seandainya kalian bertawakkal kepada Allah sebenar-
benar tawakkal, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana
rezeki burung-burung. Mereka berangkat dalam keadaan lapar,
dan pulang dalam keadaan kenyang.“

Imam Ibnu Hibban dan Imam Al-Hakim meriwayatkan dari Ja‟far bin
Amr bin Umayah dari ayahnya, Amr bin Umayah RA, ia berkata,
Seseorang berkata kepada Rasulullah SAW, "Aku lepaskan untaku dan
(lalu) aku bertawakkal?" Rasulullah SAW bersabda, "Ikatlah kemudian
bertawakkallah.“

Berdasarkan kedua hadits di atas dapat disimpulkan bahwa rezeki
walaupun telah ditetapkan, namun tetap harus dicari, dijemput.
Dengan bagaimana? Ya dengan bekerja mencari nafkah. Allah SWT
telah menyediakan kotak rezeki masing-masing. Kotak tersebut ada
yang besar ada yang kecil. Ini adalah cobaan bagi kita agar dapat
diketahui seberapa besar rasa syukur seseorang. Jadi, besar atau
kecilnya kotak rezeki seseorang bukanlah cermin kasih sayangNya.

Justru pada kenyataannya, seringkali seorang yang memiliki kotak
rezeki besar malah lupa bersyukur. Lupa akan tugas dan kewajiban
yang diberikanNya.

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya
mereka menyembahKu.” (QS. Adz-Zariyat [51] : 56).

Alkisah adalah Sa‟labah dan istrinya. Mulanya mereka adalah sepasang
hamba Allah yang shaleh dan shalehah. Mereka hidup sangat miskin
hingga untuk shalat pun mereka harus bergantian kain sarung demi
menutup aurat mereka. Suatu hari, karena bosan hidup dalam
kekurangan, Sa‟labah merengek agar Rasulullah bersedia memohonkan
do'a kepada Allah SWT agar mereka berdua diberi rezeki yang
berlebih.

Pada mulanya Rasulullah enggan mengabulkan permintaan tersebut
karena khawatir rezeki yang berlebih bakal memalingkan mereka.
Namun karena terus didesak, akhirnya Rasulullah pun mendo'akan
mereka. Dan dalam waktu tak lama, do'a Rasulullah pun
dikabulkanNya.
Singkat kata, Sa‟labah memperoleh seekor kambing. Dan berkat
ketekunan mereka berdua, kambing mereka makin hari makin banyak.
Sebaliknya, karena makin sibuk, maka makin sedikit pula waktu yang
mereka sisihkan untuk beribadah, untuk mengingatNya. Shalat yang
semula didirikan pada awal waktu, sedikit demi sedikit mulai
bergeser. Puncaknya, mereka bahkan menolak untuk membayar zakat.

Bagi sebagian orang, rezeki adalah identik dengan harta dan materi
yang notabene terlihat secara kasat mata. Ini tidak salah, namun
sebenarnya rezeki tidak selalu demikian. Karena pada akhirnya
sebenarnya rezeki terbesar itu adalah kesehatan. Karenanya sebesar
apapun harta dan materi yang kita miliki, tidak dapat dinikmati jika
kita sakit. Ini terbukti dengan kenyataan bahwa ketika sakit kita akan
berusaha memperoleh kembali kesehatan tersebut berapa pun uang
dan harta yang harus dikorbankan.

Di samping kesehatan, adalah kebahagiaan dan ketentraman hidup.
Rezeki dalam bentuk inilah yang sering kali orang lupa. Betapa sering
kita mendengar kisah orang kaya raya yang hidupnya tidak bahagia.
Bila memungkinkan, pasti orang seperti ini rela menukar berapa pun
banyak hartanya agar pasangan hidupnya, anak-anaknya, atau teman-
temannya kembali ke pangkuannya, memperhatikan serta mengasihi
dan menyayanginya.

Yang juga kita sering lupa. Dengan sejumlah besar uang di tangan bila
Allah menghendaki hujan untuk tidak turun ke bumi selama berbulan-
bulan atau matahari tidak muncul selama berhari-hari atau sebaliknya
matahari terus bersinar sepanjang 24 jam atau hujan salju lebat
selama berminggu-minggu. Dalam keadaan seperti ini, dapatkah
tanaman menghasilkan buah-buahan, sayur-sayuran, padi-padian, dan
sebagainya? Mungkinkah kita tenang-tenang saja ketika sungai-sungai
meluap dan membanjiri rumah kita? Lalu apa gunanya uang kita yang
bergepok-gepok itu.

“Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan
menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan
dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezki
untukmu, dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya
bahtera itu berlayar di lautan dengan kehendakNya, dan Dia telah
menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai. Dan Dia telah
menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus
menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan
bagimu malam dan siang.” (QS. Ibrahim [14] : 32-33).

Dengan kata lain, puncak tertinggi rezeki itu sesungguhnya adalah
keimanan. Bagi orang-orang seperti ini, sebagaimana burung dalam
hadits paling atas, baginya rezeki adalah ketika ia berangkat pagi
dalam keadaan lapar, namun pulang dalam keadaan kenyang.

Abu Hurairah RA mengatakan, Rasulullah SAW bersabda, “Seorang
hamba berkata, hartaku, hartaku, hartaku. Padahal hartanya
yang sesungguhnya hanya tiga macam; apa yang dimakan lalu
habis, apa yang yang dipakai lalu lusuh (rusak), dan apa yang
disedekahkannya lalu tersimpan (untuk akhirat). Selain yang
ketiga macam itu, lenyap atau ditinggalkannya (warisan) bagi
orang lain.” (HR. Muslim).

”Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya
meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang
mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka.” (QS. An-Nisa
[4] : 9).

Namun dengan adanya ayat di atas ( juga sejumlah hadits yang
senada), menandakan bahwa kita sebaiknya tidak meninggalkan anak-
anak kita dalam keadaan lemah alias kekurangan (harta atau ilmu).
Karena hal yang demikian cenderung membuat anak keturunan kita
menjadi tergantung kepada orang lain hingga mudah diperalat dan
akhirnya menjadi lupa akan Tuhannya.

Wallahu a'lam bishshawab.



Penulis : Sylvia Nurhadi / kotasantri.com

                              < Prev        Next >


Read more about Fiqhislam.com - Pustaka Muslim Indonesia by www.fiqhislam.com
10 Hal yang Dapat Membuat Anda Menjadi Wanita Sempurna

ARTIKEL PILIHAN

1. Dengan senyum cantik anda yang membangkitkan rasa cinta dan
menebar kasih sayang kepada orang lain.

2. Dengan tutur kata baik anda yang dapat menjalin persahabatan
yang dianjurkan syariat dan menghapus semua rasa dengki.

3. Dengan ketulusan derma anda yang dapat membahagiakan orang
miskin, menggembirakan orang fakir, dan mengenyangkan orang yang
lapar.

4. Dengan duduk manis bersama Al-Qur‟an seraya membaca,
merenungi makna, mengamalkan kandungannya, bertobat, dan
memohon ampun kepada-Nya

5. Dengan banyak dzikir, memohon ampun, rajin berdoa dan suka
memperbaharui tobat.

6. Dengan mendidik anak-anak anda untuk mendalami agama,
mengajari mereka sunnah dan membimbing mereka kepada hal-hal
yang berguna bagi mereka.

7. Dengan rasa malu dan jilbab seperti yang diperintahkan Allah
kepada anda sebagai sarana memelihara diri dan kehormatan anda.

8. Dengan berteman bersama wanita-wanita yang baik dari kalangan
mereka yang mempunyai rasa takut kepada Allah, menyukai
pengamalan agama, dan menghormati norma-norma etika.

9. Dengan berbakti kepada kedua orang tua, bersilaturahim,
menghormati tetangga dan menjamin anak-anak yatim.

10. Dengan membaca buku-buku yang bermanfaat, menelaah bacaan
yang berguna, maka hal itu benar-benar merupakan hal yang amat
menyenangkan lagi memberikan informasi yang benar.



Sumber : istiqom4h.wordpress.com
Read more about Fiqhislam.com - Pustaka Muslim Indonesia by www.fiqhislam.com




Dibalik Pesona Pribadi Muslimah

ARTIKEL PILIHAN

    Suatu ketika, ada seorang anak laki-laki yang bertanya kepada ibunya. "Ibu,
mengapa Ibu menangis?". Ibunya menjawab, "Sebab, Ibu adalah seorang wanita,
Nak". "Aku tak mengerti" kata si anak lagi. Ibunya hanya tersenyum dan
memeluknya erat. "Nak, kamu memang tak akan pernah mengerti...." Kemudian,
anak itu bertanya pada ayahnya. "Ayah, mengapa Ibu menangis? Sepertinya Ibu
menangis tanpa ada sebab yang jelas?" Sang ayah menjawab, "Semua wanita
memang menangis tanpa ada alasan". Hanya itu jawaban yang bisa diberikan
ayahnya.

Lama kemudian, si anak tumbuh menjadi remaja dan tetap bertanya-tanya,
mengapa wanita menangis. Pada suatu malam, ia bermimpi dan bertanya kepada
Tuhan. "Ya Allah, mengapa wanita mudah sekali menangis?"

Dalam mimpinya, Tuhan menjawab, "Saat Kuciptakan wanita, Aku membuatnya
menjadi sangat utama. Kuciptakan bahunya, agar mampu menahan seluruh
beban dunia dan isinya, walaupun juga, bahu itu harus cukup nyaman dan
lembut untuk menahan kepala bayi yang sedang tertidur.

Kuberikan wanita kekuatan untuk dapat melahirkan, dan mengeluarkan bayi
dari rahimnya, walau, seringkali pula, ia kerap berulangkali menerima cerca
dari anaknya itu.

Kuberikan keperkasaan, yang akan membuatnya tetap bertahan, pantang
menyerah, saat semua orang sudah putus asa.

Pada wanita, Kuberikan kesabaran, untuk merawat keluarganya, walau
letih, walau sakit, walau lelah, tanpa berkeluh kesah.

Kuberikan wanita, perasaan peka dan kasih sayang, untuk mencintai semua
anaknya, dalam kondisi apapun, dan dalam situasi apapun.

Walau, tak jarang anak-anaknya itu melukai perasaannya, melukai hatinya.
Perasaan ini pula yang akan memberikan kehangatan pada bayi-bayi yang
terkantuk menahan lelap. Sentuhan inilah yang akan memberikan
kenyamanan saat didekap dengan lembut olehnya.

Kuberikan wanita kekuatan untuk membimbing suaminya, melalui masa-
masa sulit, dan menjadi pelindung baginya. Sebab, bukankah tulang
rusuklah yang melindungi setiap hati dan jantung agar tak terkoyak?
Kuberikan kepadanya kebijaksanaan, dan kemampuan untuk memberikan
pengertian dan menyadarkan, bahwa suami yang baik adalah yang tak
pernah melukai istrinya. Walau, seringkali pula, kebijaksanaan itu akan
menguji setiap kesetiaan yang diberikan kepada suami, agar tetap berdiri,
sejajar, saling melengkapi, dan saling menyayangi.

Dan, akhirnya, Kuberikan ia air mata agar dapat mencurahkan perasaannya.
Inilah yang khusus Kuberikan kepada wanita, agar dapat digunakan
kapanpun ia inginkan. Hanya inilah kelemahan yang dimiliki wanita,
walaupun sebenarnya, air mata ini adalah air mata kehidupan". Maka,
dekatkanlah diri kita pada sang Ibu jika beliau masih hidup, karena di
kakinyalah kita menemukan surga. ( sumber : dari milis seorang kawan Special
untuk Hari Ibu ).

Itulah pesona pribadi yang lahir dari seorang Ibu/wanita yang tulus, tak pernah
lekang oleh waktu, tak pernah lekang oleh usia, sekalipun usia makin lapuk, jika
pesona kepribadian itu sudah melekat dalam dirinya, pesona bathiniyah itu akan
terus memancar lewat seraut wajah yang tampak, lewat tindakan, ucapan, tindakan
juga                 perbuatan                seorang                 muslimah.

Saudariku'Mutiara-Mutiara yang memancarkan pesona indah itu telah berkilauan
sejak masa keislaman mulai merebak ditengah sebagian besar wanita jahiliyyah
pada saat itu. Sarah Istri Ibrahim adalah seorang istri yang memiliki Kecantikan
yang Luar Biasa, namun tenang dalam menghadapi cobaan, penuh tawakal kepada
Allah, pintar dalam memahami resiko yang dihadapi, sehingga Allahpun memuliakan
Sarah Istri Ibrahim. Begitu pula Hajar Ibu Ismail, Khadijah, Fatimah Az Zahra dll..
Pesona 'Pribadi' mereka tetap harum dan terkenang sampai sekarang, walau mereka
sudah tiada, bahkan diabadikan dalam hadits. Wallahu a'lam.

www.cybermq.com

                              < Prev         Next >


Read more about Fiqhislam.com - Pustaka Muslim Indonesia by www.fiqhislam.com




Solusi Bagi Wanita Yang Tertindas Suami

     ARTIKEL PILIHAN

    Pada hakikatnya, Islam tidak melepaskan kehidupan rumah tangga
berjalan begitu saja tanpa arah petunjuk. Sehingga hawa nafsu
menjadi penentu yang berkuasa. Tidak demikian adanya. Islam telah
menggariskan hak, kewajiban, tugas dan tanggung-jawab antara suami
dan istri sesuai dengan kodrat, kemampuan, mempertimbangkan
tabiat dan aspek psikis. Hal tersebut ditetapkan di atas landasan yang
adil      lagi      bijaksana.       Allah      Ta'ala      berfirman:

"Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan
kewajibannya menurut cara yang ma'ruf. Akan tetapi, para suami
mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya. Dan Allah
Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana". [al-Baqarah/2:228].

Jika pasangan suami istri mengerti dan memahami kewajiban masing-
masing, niscaya biduk suatu rumah tangga kaum muslimin akan
berjalan normal, semarak oleh suasana mawaddah dan rahmat. Suami
memenuhi kewajiban-kewajibannya. Begitu pula, istri juga
menjalankan kewajiban-kewajibannya. Dengan ini, rumah tangga akan
menuai kebahagiaan dan ketentraman. Rumah tangga benar-benar
berfungsi                   sebagaimana                 mestinya.

Allah       Subhanahu        wa        Ta'ala       berfirman        :

"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan
untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung
dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu
rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu
benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir." [ar-
Rûm/30:21].

Akan tetapi, kondisi ideal ini, terkadang terganggu oleh riak-riak
yang pada akhirnya mempengaruhi tingkat mawaddah dan rahmat
antara suami-istri.

Suami berbalik membenci istrinya. Pada sebagian suami, tidak mampu
bersabar sehingga tangan kuatnya diayunkan ke tubuh istri, dan
menyebabkan istri mengerang kesakitan. Bekas-bekas penganiayaan
pun terlihat jelas. Istrinya merasa tidak aman dan nyaman hidup
dengan lelaki itu. Situasi kian memanas. Akibat emosi tak terkendali,
kadang timbul aksi yang tidak diharapkan, semisal penganiayaan
hingga pembunuhan, baik dari suami maupun istri. Nas`alullah as-
salaamah.

Syaikh 'Abdur-Rahmaan as-Sudais menyampaikan fakta: "Ada sejumlah
lelaki (suami) yang tidak dikenal kecuali hanya dengan bahasa
perintah dan larangan, hardikan, sifat arogan, buruk pergaulan, tidak
ringan tangan, susah bertoleransi, emosional dan sangat reaktif. Jika
berbicara, perkataannya menunjukkan dirinya bukan orang yang
beradab. Dan bila berbuat, perilakunya mencerminkan kecerobohan.
Di dalam rumah, suka menghitung-hitung kebaikannya di hadapan
istri. Bila keluar rumah, prasangka buruk kepada istri menggelayuti
pikirannya. Bukan pribadi yang lembut dan tidak sayang. Istrinya
hidup dalam kesulitan, bergulat dengan kesengsaraan dan terpaksa
mengalami prahara"[1]


MENDATANGKAN DUA PENENGAH DARI MASING-MASING PIHAK

Dalam konteks ini, bila persoalan semakin meruncing, maka Allah
Subhanahu wa Ta'ala mengarahkan untuk menghadirkan dua penengah
dari         keluarga           suami         dan          istri.

"Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya,
maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang
hakam dari keluarga perempuan. Jika kedua orang hakam itu
bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik
kepada suami-isteri itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi
Maha                 Mengenal"                [an-Nisaa`/4:35][2].

Tugas mereka berdua, mengerahkan segala upaya untuk mengetahui
akar permasalahan yang menjadi sebba perseteruan antara suami istri
dan menyingkirkannya, serta memperbaiki hubungan suami-istri yang
sedang dilanda masalah. Dua penengah ini (hakamain) disyaratkan
orang muslim, adil, dikenal istiqamah, keshalihan pribadi dan
kematangan berpikir, dan bersepakat atas satu keputusan. Keputusan
mereka berkisar pada perbaikan hubungan dan pemisahan antara
mereka berdua. Berdasarkan pendapat jumhur ulama, keputusan dua
penengah ini mempunyai kekuatan untuk mempertahankan hubungan
atau memisahkan mereka.


TALAK BISA "MENJEMBATANI" KEBUNTUAN ANTARA SUAMI-ISTRI

Pada asalnya, talak bukanlah jalan keluar yang dianjurkan untuk
menyelesaikan keretakan hubungan antara suami-istri, jika tidak ada
faktor penting dan mendesak yang menjadi penyebabnya. Namun,
ketika istri memperlihatkan tanda-tanda kebencian kepada suami,
karena istri sering mengalami penindasan, misalnya secara fisik berupa
pukulan yang menciderai, siksaan yang berat, kewajiban nafkah tak
dipenuhi, terus-menerus dicaci, mendapatkan tuduhan yang
bermacam-macam umpamanya, sehingga kehidupan rumah tangga
tidak mendukung menjadi keluarga harmonis, maka dalam kondisi ini,
talak   bisa menjadi jalan         keluar   bagi mereka        berdua.

Konsepsi kehidupan rumah tangga dalam Islam sendiri bersendikan
"pergaulan yang baik, atau dilepaskan dengan cara baik pula". Hal ini
berdasarkan              firman            Allah              Ta'ala:

"Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma'ruf atau
menceraikan dengan cara yang baik" [al-Baqarah/2:229].

Kalau suami ingin tetap hidup bersama istri, kewajibannya ialah
mempergauli istrinya dengan sebaik-baiknya. Allah Subhanahu wa
Ta'ala                       berfirman                        :

"Dan bergaullah dengan mereka secara patut". [an-Nisâ/4: 19]

Tindakan aniaya terhadap orang lain terlarang. Demikian juga
perbuatan-perbuatan yang merugikan dan membahayakan orang lain.
Apalagi kepada orang yang menjadi pendamping hidup dan bersifat
lemah. Orang terbaik ialah orang yang berlaku baik kepada
keluarganya. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Sebaik-baik kalian adalah orang yang bersikap baik kepada
keluarganya. Dan aku adalah orang yang terbaik bagi keluargaku"
[HR         at-Tirmidzi        dan         Abu          Dâwud].

Kedekatan antara suami dan istri sangat kuat. Dari seringnya interaksi
antara keduanya, masing-masing dapat mudah terpengaruh oleh
kondisi pasangannya. Pengaruh baik akan berdampak positif bagi
pasangan. Begitu pula, keadaan-keadaan yang buruk pun akan mudah
berpengaruh pada pasangannya.

Tatkala kesepahaman tidak bisa dipadukan, dan seluruh terapi tidak
memberi pengaruh positif bagi perubahan ke arah yang baik, maka
kehidupan berumah tangga dengan pasangan bisa menjadi beban berat
untuk dipikul. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :
"Jika keduanya bercerai, maka Allah akan memberi kecukupan
kepada masing-masing dari limpahan karunia-Nya. Dan adalah
Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Bijaksana" [an-
Nisaa/4:130]


BILA SUAMI TIDAK INGIN MENCERAIKAN

Bila kehidupan rumah tangga sudah menjadi beban berat bagi istri
sehingga dikhawatirkan tidak mampu lagi menjadi pendamping suami,
baik karena perilaku maupun tindak kekerasan yang dilakukan suami
atau lainnya, maka dalam keadaan seperti ini, Islam membolehkan
wanita mengajukan gugatan cerai kepada suami dengan memberikan
ganti rugi harta. Dalam syari‟at Islam, gugatan cerai istri atas
suaminya            ini          dinamakan            al-khulu‟.[3]

Al-Hishnî rahimahullah menjelaskan jenis ketiga dari keringanan dalam
pernikahan dengan menyatakan: Di antaranya, ialah kemudahan
pensyariatan talak (cerai) karena beban berat tinggal berumah tangga,
dan demikian juga al-khulu‟. Juga semua yang disyari‟atkan hak pilih
faskh (menggagalkan akad) karena kesabaran wanita atas keadaan
tersebut merupakan beban berat (al-masyaqqah), karena syari‟at tidak
memberikan           hak        cerai       kepada          wanita.[4]

Sedangkan Ibnu Qudamah rahimahullah, ketika menjelaskan hikmah
disyari‟atkannya al-khulu‟, ia menyatakan: "Al-khulu‟ (disyari‟atkan)
untuk menghilangkan dharar (kerugian) yang menimpa wanita karena
jeleknya pergaulan dan tinggal bersama orang yang tidak ia sukai dan
benci".[5]

Lebih jelas lagi, yaitu pernyataan Ibnul-Qayyim, bahwasanya Allah
mensyari‟atkan al-khulu‟ untuk menghilangkan mafsadat yang berat,
menimpa pasangan suami istri dan membebaskan satu dari
pasangannya [6]. Apabila suami menyetujuinya, maka rusaklah akad
pernikahan keduanya (faskh) dan sang wanita menunggu sekali haidh
agar      dapat       menerima       pinangan      orang     lain.

Namun, apabila suami tidak menerima al-khulu‟ (gugatan cerai)
istrinya tersebut, maka sang istri dapat mengajukan gugatan cerai
kepada pemerintah atau lembaga yang ditunjuk pemerintah
menangani permasalahan tersebut agar mendapatkan keridhaan suami
untuk menerima gugatan cerai tersebut. Sebab, terjadinya al-khulu‟,
tetap dengan keridhaan suami. Demikianlah pendapat mayoritas ulama
bahwasanya al-khulu‟ tidak sah kecuali dengan keridhaan suami.[7]

Oleh karena itu, Ibnu Hazm rahimahullah berkata: "Maka wanita
diperbolehkan mengajukan gugatan cerai (al-khulu‟) dari suami dan
menceraikannya         bila       suami           meridhainya".[8]

Demikian, cukup jelas solusi yang diberikan Islam dalam menangani
masalah KDRT. Keuntungan dunia dan akhirat akan bisa digapai bila
menaatinya. Mudah-mudahan, Allah Subhanahu wa Ta'ala membukakan
hati kita untuk menerapkan seluruh syari'at-Nya dalam semua aspek
kehidupan        kita       sehari-hari.       Wallahu      a'lam.

Maraji`:
1. Dhamanâtu Huqûqi al-Mar`ati az-Zaujiyyah, Dr. Muhammad Ya`qub Muhammad ad-
Dahlawi, Penerbit Jâmi'ah Islâmiyyah Madînah, Cetakan I, Tahun 1424 H.
2. Kaukabatul- Khutabil-Munîfati min Mimbaril-Ka'batil-Musyarrafah, kumpulan khutbah Dr.
'Abdur-Rahmân as-Sudais, halaman 427-478. Lihat makalah berjudul Abghadhul Halâl, an-
Nidâ`ul Hâni ila an-Nishfits-Tsâni, az-Zawâju Hashânatun wab Tihâj, Washâya wa
Taujiihâtun                   ilâ                  al-Azwâj                  waz-Zaujât.
3. Shahîh Fiqhis Sunnah, Abu Mâlik Kamâl bin Sayyid Salim, Penerbit Maktabah at-
Tauqifiyyah.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun XI/1429H/2008M. Diterbitkan Yayasan
Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183
Telp.                                                                       0271-761016]
________
Footnote
[1].        Washâya          wa       Taujiihâtun         ilâ     al-Azwâj     waz-Zaujât
[2].                                 Adh-Dhamânât,                               156-160.
[3].     Lihat     artikei     almanhaj     http://www.almanhaj.or.id/content/2382/slash/0
[4]. Dinukil dari kitab Dhamânât Huqûq al-Mar`ah al-Zaujiyyah, Muhammad Ya’qub ad-
Dahlawi,                                       hlm.                                   149.
[5].      Al-Mughni,        10/269.     Dinukil      dari     Dhamânât,     hlm.      149.
[6].                      I’lâm                    al-Muwaqqi’în,                  4/110.
[7].                     Shahîh                     Fiqhis-Sunnah,                 3/357.
[8]. Al-Muhalla, 1/235.

Redaksi Majalah As-Sunnah



Read more about Fiqhislam.com - Pustaka Muslim Indonesia by www.fiqhislam.com

Hisab Pada Hari Pembalasan

ARTIKEL PILIHAN
 Beriman kepada hari Akhir dan kejadian yang ada padanya merupakan
 salah satu rukun iman yang wajib diyakini oleh setiap muslim. Untuk
mencapai kesempurnaan iman terhadap hari Akhir, maka semestinya
setiap muslim mengetahui peristiwa dan tahapan yang akan dilalui
manusia pada hari tersebut. Di antaranya yaitu masalah hisab
(perhitungan) yang merupakan maksud dari iman kepada hari Akhir.
Karena, pengertian dari beriman kepada hari kebangkitan adalah,
beriman dengan hari kembalinya manusia kepada Allah lalu dihisab.
Sehingga hakikat iman kepada hari kebangkitan adalah iman kepada
hisab ini.


PENGERTIAN HISAB

Pengertian hisab disini adalah, peristiwa Allah menampakkan kepada
manusia amalan mereka di dunia dan menetapkannya[2]. Atau Allah
mengingatkan dan memberitahukan kepada manusia tentang amalan
kebaikan    dan    keburukan     yang     telah   mereka   lakukan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menyatakan, Allah akan menghisab
seluruh makhluk dan berkhalwat kepada seorang mukmin, lalu
menetapkan dosa-dosanya. Syaikh Shalih Ali Syaikh mengomentari
pandangan ini dengan menyatakan, bahwa inilah makna al muhasabah
(proses hisab). Demikian juga Syaikh Ibnu Utsaimin menyatakan,
muhasabah adalah proses manusia melihat amalan mereka pada hari
Kiamat.

Hisab Menurut Istilah Aqidah Memiliki Dua Pengertian :

Pertama : Al „Aradh (pemaparan). Juga demiliki mempunyai dua
pengertian juga.

1). Pengertian umum, yaitu seluruh makhluk ditampakkan di hadapan
Allah dalam keadaan menampakkan lembaran amalan mereka. Ini
mencakup orang yang dimunaqasyah hisabnya dan yang tidak dihisab.

2). Pemaparan amalan maksiat kaum Mukminin kepada mereka,
penetapannya, merahasiakan (tidak dibuka dihadapan orang lain) dan
pengampunan Allah atasnya. Hisab demikian ini dinamakan hisab yang
ringan (hisab yasir).
Kedua : Munaqasyah, dan inilah yang dinamakan hisab (perhitungan)
antara kebaikan dan keburukan.

Untuk itulah Syaikhul Islam menyatakan, hisab, dapat dimaksudkan
sebagai perhitungan antara amal kebajikan dan amal keburukan, dan
di dalamnya terkandung pengertian munaqasyah. Juga dimaksukan
dengan pengertian pemaparan dan pemberitahuan amalan terhadap
pelakunya.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menyatakan di dalam
sabdanya: “Barangsiapa yang dihisab, maka ia tersiksa”. Aisyah
bertanya,”Bukankah Allah telah berfirman „maka ia akan diperiksa
dengan pemeriksaan yang mudah‟” Maka Rasulullah Shallallahu 'alaihi
wa sallam menjawab: “Hal itu adalah al „aradh. Namun
barangsiapa yang dimunaqasyah hisabnya, maka ia akan binasa”.
[Muttafaqun ‘alaihi]



HISAB PASTI ADA

Kepastian adanya hisab ini telah dijelaskan di dalam al Qur`an dan
Sunnah. Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala : "Adapun orang yang
diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka ia akan diperiksa
dengan pemeriksaan yang mudah", [al Insyiqaq / 84 : 7-8].

"Adapun orang yang diberikan kitabnya dari belakang, maka dia
akan berteriak: “Celakalah aku”. Dan dia akan masuk ke dalam
api yang menyala-nyala (neraka)". [al Insyiqaq / 84:10-12]

"Sesungguhnya kepada Kami-lah kembali mereka, kemudian
sesungguhnya kewajiban Kami-lah menghisab mereka". [al
Ghasyiyah / 88 : 25-26]

"Pada hari ini, tiap-tiap jiwa diberi balasan dengan apa yang
diusahakannya. Tidak ada yang dirugikan pada hari ini.
Sesungguhnya Allah amat cepat hisabnya". [al Mu’min / 40 : 17]

Sedangkan dalil dari Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, di
antaranya hadits yang diriwayatkan Imam Muslim dari Aisyah, dari
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau berkata: “Tidak ada
seorangpun yang dihisab kecuali binasa,” Aku (Aisyah) bertanya,
”Wahai Rasulullah, bukankah Allah berfirman „pemeriksaan yang
mudah‟?” Beliau menjawab, ”Itu adalah al aradh, namun
barangsiapa yang diperiksa hisabnya, maka binasa”.

Imam Ibnu Abil Izz (wafat tahun 792 H) menjelaskan, makna hadits ini
adalah, seandainya Allah memeriksa dengan menghitung amal
kebajikan dan keburukan dalam hisab hambaNya, tentulah akan
mengadzab mereka dalam keadaan tidak menzhalimi mereka
sedikitpun, namun Allah memaafkan dan mengampuninya.

Demikian juga umat Islam, sepakat atas hal ini. Sehingga apabila
seseorang mengingkari hisab, maka ia telah berbuat kufur, dan
pelakunya sama dengan pengingkar hari kebangkitan.



HISAB MANUSIA DAN HEWAN

Syaikhul Islam   menyatakan:    “Allah   akan   menghisab   seluruh
makhlukNya”

Dari pernyataan ini, Syaikhul Islam menjelaskan, bahwa Allah akan
menghisab seluruh makhlukNya. Namun ini termasuk menggunakan
lafahz bermakna umum tapi yang dimaksudkan adalah tertentu saja.
Yaitu khusus yang Allah bebani syariat. Karena pemberlakuan proses
hisab itu pada amalan baik dan buruk hamba yang mukallaf, mencakup
manusia dan jin. Begitu pula Syaikh Ibnu „Utsaimin menyatakan,
bahwa hisab ini juga mencakup jin, karena mereka mukallaf. Oleh
karena itu, jin kafir masuk ke dalam neraka, sebagaimana disebutkan
menurut nash syariat dan Ijma‟. Firman Allah Subhanahuw a Ta'ala
menyebutkan: Allah berfirman: "Masuklah kamu sekalian ke dalam
neraka bersama umat-umat jin dan manusia yang telah terdahulu
sebelum kamu… " [al A'raf/. 7:38]

Yang mukmin masuk syurga, menurut mayoritas ulama dan ini yang
benar sebagaimana ditunjukkan oleh firman Allah: "Dan bagi orang
yang takut saat menghadap Rabb-nya ada dua surga. Maka nikmat
Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan. Kedua surga itu
mempunyai pohon-pohonan dan buah-buahan. Maka nikmat Rabb
kamu yang manakah yang kamu dustakan? Di dalam kedua surga
itu ada dua buah mata air yang mengalir. Maka nikmat Rabb kamu
yang manakah yang kamu dustakan? Di dalam kedua surga itu
terdapat segala macam buah-buahan yang berpasang-pasangan.
Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Mereka bertelekan di atas permadani yang sebelah dalamnya dari
sutra. Dan buah-buahan kedua surga itu dapat (dipetik) dari
dekat. Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu
dustakan? Di dalam Surga itu ada bidadari-bidadari yang sopan
menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh manusia
sebelum mereka (penghuni-penghuni Surga yang menjadi suami
mereka) dan tidak pula oleh jin". [ar Rahman / 55 : 46 – 56]

Dikecualikan dalam hal ini, yaitu mereka yang masuk surga tanpa hisab
maupun adzab. Begitu pula dengan hewan yang tidak memiliki pahala
dan dosa.

Adapun orang kafir, apakah dihisab ataukah tidak? Dalam
permasalahan ini, para ulama berselisih pendapat. Di antara mereka
ada yang berpendapat bahwa orang kafir tidak dihisab. Sedangkan
sebagian lainnya menyatakan mereka dihisab.

Syaikhul Islam mendudukkan permasalahan ini dengan pernyataan
beliau rahimahullah: “Pemutus perbedaan (dalam masalah ini), yaitu
hisab dapat dimaksudkan dengan pengertian pemaparan dan
pemberitahuan amalan mereka, serta celaan terhadap mereka. Dapat
(juga) dimaksudkan dengan pengertian perhitungan antara amal
kebajikan dengan amal keburukan. Apabila yang diinginkan dengan
kata "hisab" adalah pengertian pertama, maka jelas mereka dihisab.
Namun bila dengan pengertian kedua, maka bila dimaksudkan bahwa
orang kafir tetap memiliki kebajikan yang menjadikannya pantas
masuk surga, maka (pendapat demikian) ini jelas keliru. Tetapi bila
yang dimaksudkan mereka memiliki tingkatan-tingkatan dalam
(menerima) adzab, maka orang yang banyak dosa kesalahannya,
adzabnya lebih besar dari orang yang sedikit dosa kesalahannya, dan
orang yang memiliki kebajikan, maka diringankan adzabnya,
sebagaimana Abu Thalib lebih ringan adzabnya dari Abu Lahab. Allah
berfirman: "Orang-orang yang kafir dan menghalangi (manusia)
dari jalan Allah, Kami tambahkan kepada mereka siksaan di atas
siksaan disebabkan mereka selalu berbuat kerusakan". [an Nahl /
16:88]

"Sesungguhnya mengundur-undur bulan           haram     itu   adalah
menambah kekafiran". [at Taubah / 9:37]
Apabila adzab sebagian orang kafir lebih keras dari sebagian lainnya -
karena banyaknya dosa dan sedikitnya amal kebaikan- maka hisab
dilakukan untuk menjelaskan tingkatan adzab, bukan untuk masuk
syurga.

Dengan penjelasan Syaikhul Islam tersebut, maka hisab di atas,
maksudnya adalah dalam pengertian menghitung, menulis dan
memaparkan amalan-amalan kepada mereka, bukan dalam pengertian
penetapan kebaikan yang bermanfaat bagi mereka pada hari Kiamat
untuk ditimbang melawan amalan keburukan mereka.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman : "Mereka itu orang-orang yang
kufur terhadap ayat-ayat Rabb mereka dan (kufur terhadap)
perjumpaan dengan Dia, maka hapuslah amalan-amalan mereka,
dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka
pada hari Kiamat".[al Kahfi / 18 : 105]




AMALAN ORANG KAFIR DI DUNIA

Amalan kebaikan yang dilakukan orang kafir di dunia terbagi menjadi
dua. Pertama, yang disyaratkan padanya Islam dan niat. Amalan-
amalan ini tidak diterima dan tidak bermanfaat baginya di dunia dan
akhirat. Kedua, amalan yang tidak disyaratkan Islam padanya, seperti
keluhuran budi pekerti, menunda penagihan hutang bagi yang tidak
mampu membayar dan lain-lainnya. Amalan-amalan ini akan diberi
balasannya di dunia.

Syaikh Kholil Haras menyatakan: “Yang benar adalah, semua amalan
kebaikan yang dilakukan orang kafir hanya dibalas di dunia saja.
Hingga bila datang hari Kiamat, ia akan mendapati lembaran
kebaikannya kosong”. Demikian ini, karena Allah berfirman: "Dan
Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan
amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan" [al Furqaan / 25 : 23]

"Orang-orang yang kafir kepada Rabb-nya, amalan-amalan mereka
adalah seperti abu yang ditiup angin dengan keras pada suatu hari
yang berangin kencang. Mereka tidak dapat mengambil manfaat
sedikitpun dari apa yang telah mereka usahakan (di dunia). Yang
demikian itu adalah kesesatan yang jauh".[Ibrahim / 14 : 18].
Ada pendapat lain yang menyatakan amalan kebaikan mereka di dunia
dapat meringankan adzab mereka. Menurut pendapat ini, amalan
kebaikan yang tidak disyaratkan Islam padanya, pada hari Kiamat akan
mendapat balasan untuk menutupi kezhalimannya terhadap orang lain.
Apabila antara kezhalimannya seimbang dengan amalan tersebut,
maka ia hanya diadzab disebabkan oleh kekufurannya saja. Namun,
bila orang kafir ini tidak memiliki amal kebaikan di dunia, maka
ditambahkan adzabnya yang disebabkan kekufurannya.

CARA HISAB

Hisab ini dilakukan dalam satu waktu, dan Allah Subhanahu wa Ta'ala
sendiri yang akan melakukannya, sebagaimana dijelaskan Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam sabda beliau: "Tidak ada
seorangpun dari kalian kecuali akan diajak bicara Rabb-nya tanpa
ada penterjemah antara dia dengan Rabb-nya. Lalu ia melihat ke
sebelah kanan, hanya melihat amalan yang pernah dilakukannya;
dan ia melihat kekiri, hanya melihat amalan yang pernah
dilakukannya. Lalu melihat ke depan, kemudian hanya melihat
neraka ada di hadapannya".

Kemudian diberikan kitab yang telah ditulis malaikat agar dibaca dan
diketahui oleh setiap orang. Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala
menyebutkan: "Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-
orang yang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di
dalamnya, dan mereka berkata: “Aduhai celaka kami. Kitab apakah
ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang
besar, melainkan ia mencatat semuanya?” Dan mereka mendapati
apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Rabb-mu tidak
menganiaya seorang juapun". [al Kahfi / 18 : 49]

Allah Subhanahu wa Ta'ala memang menulis semua amalan hambaNya,
yang baik maupun yang buruk, sebagaimana firmanNya: "Barangsiapa
yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan
melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan
kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat
(balasan)nya pula" [al Zalzalah / 99:7-8].

"Pada hari ketika mereka dibangkitkan Allah semuanya, lalu
diberitakanNya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan.
Allah mengumpulkan (mencatat) amal perbuatan itu, padahal
mereka telah melupakannya. Dan Allah Maha Menyaksikan segala
sesuatu". [al Mujaadilah / 58 : 6].

Sehingga seluruh pelaku perbuatan melihat amalannya dan tidak dapat
mengingkarinya, karena bumi menceritakan semua amalan mereka.
Begitu pula seluruh anggota tubuh pun berbicara tentang perbuatan
yang telah ia lakukan. Dijelaskan dalam firman Allah Subhanahu wa
Ta'ala: "Apabila bumi digoncangkan dengan goncangannya (yang
dahsyat), dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang
dikandung)nya, dan manusia bertanya: “Mengapa bumi (jadi
begini),” pada hari itu bumi menceritakan beritanya". [al Zalzalah /
99 : 1-4].

"Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada
Kami tangan mereka dan memberi kesaksian kaki mereka terhadap
apa yang dahulu mereka usahakan." [Yaasin / 36:65]


CARA HISAB SEORANG MUKMIN DAN KAFIR

Allah Subhanahu wa Ta'ala yang Maha Pengasih dan Maha Lembut tidak
menghisab kaum Mukminin dengan munaqasyah, namun mencukupkan
dengan al aradh. Dia hanya memaparkan dan menjelaskan semua
amalan tersebut di hadapan mereka, dan Dia merahasiakannya, tidak
ada orang lain yang melihatnya, lalu Allah berseru : “Telah Aku
rahasiakan hal itu di dunia, dan sekarang Aku ampuni semuanya”.

Demikian dijelaskan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam
hadits Ibnu „Umar, beliau berkata: "Aku telah mendengar Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah
mendekati seorang mukmin, lalu meletakkan padanya sitar dan
menutupinya (dari pandangan orang lain), lalu (Allah) berseru :
„Tahukah engkau dosa ini? Tahukah engkau dosa itu?‟ Mukmin
tersebut menjawab,‟Ya, wahai Rabb-ku,‟ hingga bila selesai
meyampaikan semua dosa-dosanya dan mukmin tersebut melihat
dirinya telah binasa, Allah berfirman,‟Aku telah rahasiakan
(menutupi) dosa itu di dunia, dan Aku sekarang mengampunimu,‟
lalu ia diberi kitab kebaikannya. Sedangkan orang kafir dan
munafik, maka Allah berfirman : „Orang-orang inilah yang telah
berdusta terhadap Rabb mereka‟. Ingatlah, kutukan Allah
(ditimpakan) atas orang-orang yang zhalim”. [HR al Bukhari]
Adapun orang-orang kafir, mereka akan dipanggil di hadapan semua
makhluk. Kepada mereka disampaikan semua nikmat Allah, kemudian
akan dipersaksikan amalan kejelekan mereka disana. Dijelaskan dalam
hadits Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam bersabda: "Lalu Allah menemui hambaNya dan berkata:
“Wahai Fulan! Bukankah Aku telah memuliakanmu, menjadikan
engkau sebagai pemimpin, menikahkanmu dan menundukkan
untukmu kuda dan onta, serta memudahkanmu memimpin dan
memiliki harta banyak?" Maka ia menjawab: “Benar”. Allah berkata
lagi: “Apakah engkau telah meyakini akan menjumpaiKu?” Maka ia
menjawab: “Tidak,” maka Allah berfirman : “Aku biarkan engkau
sebagaimana engkau telah melupakanKu”.

Kemudian (Allah) menemui orang yang ketiga dan menyampaikan
seperti yang disampaikan di atas. Lalu ia (orang itu) menjawab:
"Wahai Rabbku! Aku telah beriman kepadaMu, kepada kitab suciMu
dan rasul-rasul Mu. Juga aku telah shalat, bershadaqah," dan ia
memuji dengan kebaikan semampunya. Allah menjawab: "Kalau
begitu, sekarang (pembuktiannya)," kemudian dikatakan kepadanya:
"Sekarang Kami akan membawa para saksi atasmu," dan orang
tersebut berfikir siapa yang akan bersaksi atasku. Lalu mulutnya
dikunci dan dikatakan kepada paha, daging dan tulangnya:
"Bicaralah!" Lalu paha, daging dan tulangnya bercerita tentang
amalannya, dan itu untuk menghilangkan udzur dari dirinya. Itulah
nasib munafik dan orang yang Allah murkai". [HR Muslim].

Demikianlah keadaan tiga jenis manusia. Yang pertama seorang
mukmin, ia mendapatkan ampunan dan kemuliaan Allah. Yang kedua
seorang yang kafir dan ketiga orang munafik. Keduanya mendapat
laknat dan kemurkaan Allah.

Oleh karena itu, bersiaplah menghadapinya dengan mempersiapkan
bekal ilmu yang bermanfaat dan amal shalih yang cukup,
memperbanyak mengingat hari perhitungan ini dan melihat kepada
amalan yang telah kita perbuat. Mudah-mudahan Allah memberikan
taufiq kepada kita untuk memperbanyak bekal, yang nantinya dengan
bekal tersebut kita menghadap sang pencipta dan mendapat
keridhaanNya.

Washallahu „ala Nabiyina Muhammad wa „ala aalihi wa shahbihi
ajma‟in.
Oleh, Ustadz Abu Asma Kholid Syamhudi
Sumber: www.almanhaj.or.id


Read more about Fiqhislam.com - Pustaka Muslim Indonesia by www.fiqhislam.com

								
To top