Jangan Takut Dibilang gila

Document Sample
Jangan Takut Dibilang gila Powered By Docstoc
					From: Zulfikar <zulfikar_thatum@yahoo.com>
Subject: [nagarimagek] (motivation) Jangan Takut Dibilang "Gila"..!
Date: Fri, 5 Sep 2003 00:16:23 -0700 (PDT)
To: nagarimagek <nagarimagek@yahoogroups.com>
      Full Headers
Undecoded Letter
Jangan Takut Dibilang "Gila"..!
Unsur kreatif diperlukan dalam proses berpikir untuk menyelesaikan
masalah. Semakin kreatif seseorang, semakin banyak alternatif
penyelesaiannya.
Berpikir merupakan instrumen psikis paling penting. Dengan berpikir,
kita dapat lebih mudah mengatasi berbagai masalah dalam hidup.
Dalam proses mengatasi suatu masalah, kita sering berpikir dengan
cara berbeda-beda. Para psikolog dan ahli logika mengenal beberapa
cara berpikir. Namun, tidak semua efektif bagi proses pemecahan
masalah. Berpikir kreatif merupakan salah satu cara yang dianjurkan.
Dengan cara itu, seseorang akan mampu melihat persoalan dari banyak
perspektif. Pasalnya, seorang pemikir kreatif akan menghasilkan
lebih banyak alternatif untuk memecahkan suatu masalah.
Bukan Jiplakan
Menurut J.C. Coleman dan C.L. Hammen (1974), berpikir kreatif
merupakan cara berpikir yang menghasilkan sesuatu yang baru -dalam
konsep, pengertian, penemuan, karya seni.
Sedangkan D.W Mckinnon (1962), menyatakan selain menghasilkan
sesuatu yang baru, seseorang baru bisa dikatakan berpikir secara
kreatif apabila memenuhi dua persyaratan.
Pertama, sesuatu yang dihasilkannya harus dapat memecahkan persoalan
secara realistis. Misalnya, untuk mengatasi kemacetan di ibukota,
bisa saja seorang walikota mempunyai gagasan untuk membuat jalan
raya di bawah tanah. Memang, gagasan baru, tetapi untuk ukuran
Indonesia solusi itu tidak realistis. Dalam kasus itu, sang walikota
belum dapat dikatakan berpikir secara kreatif.
Kedua, hasil pemikirannya harus merupakan upaya mempertahankan suatu
pengertian atau pengetahuan yang murni. Dengan kata lain,
pemikirannya harus murni berasal dari pengetahuan atau pengertiannya
sendiri, bukan jiplakan atau tiruan. Misalnya, seorang perancang
busana mampu menciptakan rancangan yang unik dan mempesona.
Perancang itu dapat disebut kreatif kalau rancangannya memang murni
idenya, bukan mencuri karya atau gagasan orang lain.
Menurut ahli lain, Dr. Jalaludin Rakhmat (1980), untuk bisa berpikir
secara kreatif, si pemikir sebaiknya berpikir analogis. Jadi, proses
berpikirnya dengan cara menganalogikan sesuatu dengan hal lain yang
sudah dipahami. Kalau menurut pemahaman si pemikir, kesuksesan
adalah keberhasilan mencapai suatu tujuan, maka saat ia berpikir
tentang kesuksesan, ciri-ciri berupa "berhasil mencapai tujuan",
menjadi unsur yang dipertimbangkan.
Misalnya, seseorang dikatakan sukses bila ia dengan bekerja keras
telah berhasil mencapai tujuan yang ditetapkan. Tanpa tujuan yang
jelas, sulit bagi seseorang untuk bisa sukses. Namun, karena setiap
orang mempunyai tujuan berbeda, maka standar kesuksesan setiap orang
pun berbeda.
Disamping berpikir secara analogis, untuk berpikir secara kreatif,
si pemikir juga harus mengoptimalkan imajinasinya untuk mereka-reka
berbagai hubungan dalam suatu masalah. Dengan ketajaman imajinasi,
kita dapat melihat hubungan ynag mungkin tidak terlihat oleh orang
lain. Contohnya, Einstein melihat hubungan antara energi, kecepatan,
dan massa suatu benda. Newton, melihat hubungan antara apel jatuh
dan gaya tarik Bumi. Seorang pemuda Indonesia, Baruno melihat
hubungan antara keahliannya membuat kerajinan tangan dengan enceng
gondok, sandal, dan uang.
Lima Tahap Berpikir
Agar mampu berpikir secara kreatif, pikiran harus dioptimalkan pada
setiap tahap yang dilalui. Lima tahap pemikiran itu ialah orientasi,
preparasi, inkubasi, iluminasi, dan verivikasi.
Pada tahap orientasi masalah, si pemikir merumuskan masalah dan
mengidentifikasi aspek-aspek masalah tersebut. Dalam prosesnya, si
pemikir mengajukan beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan masalah
yang tengah dipikirkan.
Pada tahap selanjutnya, preparasi, pikiran harus mendapat sebanyak
mungkin informasi yang relevan dengan masalah tersebut. Kemudian,
informasi itu diproses secara analogis untuk menjawab pertanyaan
yang diajukan pada tahap orientasi. Si pemikir harus benar-benar
mengoptimalkan pikirannya untuk mencari pemecahan masalah melalui
hubungan antara inti permasalahan, aspek masalah, serta informasi
yang dimiliki.
Pada tahap inkubasi, ketika proses pemecahan masalah menemui jalan
buntu, biarkan pikiran beristirahat sebentar. Sementara itu, pikiran
bawah sadar kita akan terus bekerja secara otomatis mencari
pemecahan masalah. Proses inkubasi yang tengah berlangsung itu akan
sangat tergatung pada informasi yang diserap oleh pikiran. Semakin
banyak informasi, akan semakin banyak bahan yang dapat dimanfaatkan
dalam proses inkubasi.
Pada proses keempat, yakni iluminasi, proses inkubasi berakhir,
karena si pemikir mulai mendapatkan ilham serta serangkaian
pengertian (insight) yang dianggap dapat memecahkan masalah. Pada
tahap ini, sebaiknya diupayakan untuk memperjelas pengertian yang
muncul. Di sini daya imajinasi si pemikir akan memudahkan upaya itu.
Pada tahap terakhir, yakni verifikasi, si pemikir harus menguji dan
menilai secara kritis solusi yang diajukan pada tahap iluminasi.
Bila ternyata cara yang diajukan tidak dapat memecahkan masalah, si
pemikir sebaiknya kembali mengulang kelima tahap itu, untuk mencari
ilham baru yang lebih tepat.
Gagasan luar biasa
Coleman & Hammen mengungkapkan, ada tiga faktor yang secara umum
dapat ikut menunjang cara berpikir kreatif.
Pertama, kemampuan kognitif. Seseorang harus mempunyai kecerdasan
tinggi. Ia harus pula secara terus menerus mengembangkan
intelektualitasnya.
Kedua, sikap terbuka. Cara berpikir kreatif akan tumbuh apabila
seseorang bersikap terbuka pada stimulus internal dan eksternal.
Sikap terbuka dapat dikembangkan dengan memperluas minat dan
wawasan.
Ketiga, sikap bebas, otonom dan percaya diri. Berpikir secara
kreatif membutuhkan kebebasan dalam berpikir dan berekspresi. Juga
memerlukan kemandirian berpikir, tidak terikat pada otoritas, dan
konvensi sosial yang ada. Yang terpenting, ia percaya pada kemampuan
dirinya.
Seseorang yang mempunyai tingkat kreativitas tinggi, acap kali
menghasilkan pemikiran atau gagasan luar biasa, aneh, terkadang
dianggap tidak rasional. Bahkan, karena keluarbiasaan itu, tidak
sedikit orang kreatif dianggap "gila"
Menurut Jalal, ada kesamaan antara orang kreatif dengan orang gila,
karena cara berpikirnya tidak konvensional. Bedanya, orang kreatif
mampu melakukan loncatan pemikiran yang menimbulkan pencerahan atau
pemecahan masaah. Sementara, orang gila tidak mampu melakukannya.
(Ary Santosa Yudha, di Bandung/Intisari no 475- Februari 2003)

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:4
posted:9/5/2011
language:Indonesian
pages:3