kumpulan-materi-bank-dan-lembaga-keuangan

Document Sample
kumpulan-materi-bank-dan-lembaga-keuangan Powered By Docstoc
					PENGERTIAN DAN SEJARAH BANK
+      Pengertian Bank
Bank adalah sebuah tempat di mana uang disimpan dan dipinjamkan.

Menurut Undang-undang Negara Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 1998
Tanggal 10 November 1998 tentang perbankan, yang dimaksud dengan bank
adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk
simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau
bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidur rakyat banyak.

Dari pengertian di atas dapat dijelaskan secara lebih luas lagi bahwa bank
merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang keuangan, artinya aktivitas
perbankan selalu berkaitan dalam bidang keuangan.

Fungsi utama dari bank adalah menyediakan jasa menyangkut penyimpanan nilai
dan perluasan kredit. Evolusi bank berawal dari awal tulisan, dan berlanjut sampai
sekarang di mana bank sebagai institusi keuangan yang menyediakan jasa
keuangan. Sekarang ini bank adalah institusi yang memegang lisensi bank. Lisensi
bank diberikan oleh otoriter supervisi keuangan dan memberikan hak untuk
melakukan jasa perbankan dasar, seperti menerima tabungan dan memberikan
pinjaman.

Kata bank berasal dari bahasa Italia banca atau uang. Biasanya bank
menghasilkan untung dari biaya transaksi atas jasa yang diberikan dan bunga dari
pinjaman

+      Sejarah Perbankan

Usaha perbankan dimulai dari zaman Babylonia, dilanjutkan ke zaman Yunani
Kuno dan Romawi. Pada saat itu, kegiatan utama bank hanya sebagai tempat tukar
menukar uang. Selanjutnya, kegiatan bank berkembang menjadi tempat penitipan
dan peminjaman uang. Uang yang disimpan oleh masyarakat, oleh bank
dipinjamkan kembali ke masyarakat yang membutuhkannya.




                                                                                0
Sementara itu, mengenai sejarah perbankan di Indonesia tidak terlepas dari zaman
penjajahan Hindia Belanda. Pada saat itu terdapat beberapa bank yang memegang
peranan penting di Hindia Belanda antara lain: De Javasche NV, De Post Paar
Bank, De Algemenevolks Crediet Bank, Nederland Handles Maatscappij (NHM),
Nationale Handles Bank (NHB), dan De Escompto Bank NV.

Sejarah mencatat asal mula dikenalnya kegiatan perbankan adalah pada zaman
kerajaan tempo dulu di daratan Eropa. Kemudian usaha perbankan ini
berkembang ke Asia Barat oleh para pedagang. Perkembangan perbankan di Asia,
Afrika dan Amerika dibawa oleh bangsa Eropa pada saat melakukan penjajahan
ke negara jajahannya baik di Asia, Afrika maupun benua Amerika. Bila ditelusuri,
sejarah dikenalnya perbankan dimulai dari jasa penukaran uang. Sehingga dalam
sejarah perbankan, arti bank dikenal sebagai meja tempat penukaran uang. Dalam
perjalanan sejarah kerajaan tempo dulu mungkin penukaran uangnya dilakukan
antar kerajaan yang satu dnegan kerajaan yang lain. Kegiatan penukaran ini
sekarang dikenal dengan nama Pedagang Valuta Asing (Money Changer).
Kemudian dalam perkembangan selanjutnya, kegiatan operasional perbankan
berkembang lagi menjadi tempat penitipan uang atau yang disebut sekarang ini
kegiatan simpanan. Berikutnya kegiatan perbankan bertambah dengan kegiatan
peminjaman uang. Uang yang disimpan oleh masyarakat, oleh perbankan
dipinjamkan kembali kepada masyarakatyang membutuhkannya. Jasa-jasa bank
lainnya menyusul sesuai dengan perkembangan zaman dan kebutuhan masyarakat
yang semakin beragam

JENIS DAN FUNGSI BANK

Jenis – jenis Bank

Sejak diberlakukannya Undang-Undang nomor 10 tahun 1998, jenis bank dapat
dibedakan menjadi Bank Umum dan Bank Perkreditan Rakyat.

1) Bank Umum




                                                                              1
  Bank Umum adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara
  konvensional dan atau berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya
  memberikan jasa dalam lalulintas pembayaran. Sifat jasa yang diberikan adalah
  umum. Bank Umum sering juga disebut Bank Komersial. Usahausaha bank
  umum yang utama antara lain:

  a. menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk giro, deposito, sertifikat
      deposito, tabungan;

  b. memberikan kredit;

  c. menerbitkan surat pengakuan hutang;

  d. memindahkan uang;

  e. menempatkan dana pada atau meminjamkan dana dari bank lain;

  f. menerima pembayaran dari tagihan atas surat berharga;

  g. menyediakan tempat untuk menyimpan barang dan surat berharga.

Bank umum di Indonesia dilihat dari kepemilikannya terdiri atas:

  a. Bank pemerintah, seperti BRI, BNI, BTN.

  b. Bank Pembangunan Daerah (BPD), seperti BPD DKI Jakarta.

  c. Bank Swasta Nasional Devisa, seperti BCA, NISP, Bank Danamon.

  d. Bank Swasta Nasional Bukan Devisa.

  e. Bank Campuran, contoh Sumitomo Niaga Bank.

  f. Bank Asing, seperti Bank of America, Bank of Tokyo.

Bank umum ada yang disebut Bank Devisa dan Bank Non Devisa:




                                                                             2
    Bank Umum Devisa artinya yang ruang lingkup gerak operasionalnya
       sampai ke luar negeri.
    Bank Umum Non Devisa artinya ruang lingkup gerak operasionalnya di
       dalam negeri saja.

2) Bank Perkreditan Rakyat (BPR)

Menurut Undang-Undang Nomor 7 tahun 1992 tentang Perbankan, yang
dimaksud Bank Perkreditan Rakyat adalah bank yang menerima simpanan hanya
dalam bentuk deposito berjangka, tabungan dan atau bentuk lainnya yang
dipersamakan dengan itu.

Usaha-usaha Bank Perkreditan Rakyat, diantaranya:

   a) menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan berupa
       deposito berjangka, dan tabungan;
   b) memberi kredit;
   c) menyediakan pembiayaan bagi nasabah berdasarkan prinsip bagi hasil
       sesuai dengan yang ditetapkan pemerintah; dan
   d) menempatkan dananya dalam bentuk sertifikat Bank Indonesia (SBI)
       Pembagian bank selain didasarkan Undang-Undang Perbankan dapat juga
       dibagi menurut kemampuan bank menciptakan alat pembayaran, yang
       meliputi:

   1) Bank Primer yaitu bank yang dapat menciptakan alat pembayaran baik
       berupa uang kartal maupun uang giral. Bank yang termasuk kelompok ini
       adalah:

   a) Bank Sentral atau Bank Indonesia sebagai pencipta uang kartal. Selain itu
       tugas Bank Sentral diantaranya:
       - menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter;
       - mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran; dan
       - mengatur dan mengawasi bank.




                                                                             3
   b) Bank Umum sebagai pencipta uang giral (uang yang hanya berlaku secara
       khusus dan tidak berlaku secara umum).
   2) Bank Sekunder yaitu bank yang tidak dapat menciptakan alat pembayaran
       dan hanya berperan sebagai perantara dalam perkreditan yang tergolong
       dalam bank ini adalah Bank Perkreditan Rakyat

Fungsi Bank

Fungsi perbankan Indonesia adalah sebagai penghimpun, penyalur dan pelayan
jasa dalam lalulintas pembayaran dan peredaran uang di masyarakat yang
bertujuan menunjang pelaksanaan pembangunan nasional, dalam rangka
meningkatkan pemerataan, pertumbuhan ekonomi dan stabilitas nasional ke arah
peningkatan kesejahteraan rakyat banyak. Secara ringkas fungsi bank dapat dibagi
menjadi sebagai berikut:

a) Penghimpun dana Untuk menjalankan fungsinya sebagai penghimpun dana
   maka bank memiliki beberapa sumber yang secara garis besar ada tiga
   sumber, yaitu:
   1) Dana yang bersumber dari bank sendiri yang berupa setoran modal waktu
       pendirian.
   2) Dana yang berasal dari masyarakat luas yang dikumpulkan melalui usaha
       perbankan seperti usaha simpanan giro, deposito dan tabanas.
   3) Dana yang bersumber dari Lembaga Keuangan yang diperoleh dari
       pinjaman dana yang berupa Kredit Likuiditas dan Call Money (dana yang
       sewaktu-waktu dapat ditarik oleh bank yang meminjam)
b) Penyalur/pemberi Kredit Bank dalam kegiatannya tidak hanya menyimpan
   dana yang diperoleh, akan tetapi untuk pemanfaatannya bank menyalurkan
   kembali dalam bentuk kredit kepada masyarakat yang memerlukan dana segar
   untuk usaha. Tentunya dalam pelaksanaan fungsi ini diharapkan bank akan
   mendapatkan sumber pendapatan berupa bagi hasil atau dalam bentuk
   pengenaan bunga kredit. Pemberian kredit akan menimbulkan resiko, oleh
   sebab itu pemberiannya harus benar-benar teliti dan memenuhi persyaratan.
   Mungkin Anda pernah mendengar beberapa bank dilikuidasi atau dibekukan


                                                                               4
   usahanya, salah satu penyebabnya adalah karena banyak kredit yang
   bermasalah atau macet.
c) Penyalur dana Dana-dana yang terkumpul oleh bank disalurkan kepada
   masyarakat dalam bentuk pemberian kredit, pembelian surat-surat berharga,
   penyertaan, pemilikan harta tetap.
d) Pelayan Jasa Bank dalam mengemban tugas sebagai “pelayan lalu-lintas
   pembayaran uang” melakukan berbagai aktivitas kegiatan antara lain
   pengiriman uang, inkaso, cek wisata, kartu kredit dan pelayanan lainnya.

Jika fungsi di atas diklasifikasikan lagi maka fungsi bank dibagi menjadi Fungsi
Utama dan Fungsi Tambahan. Yakni sbb :

    Fungsi Utama, meliputi:
       - penghimpun dana;
       - pembiayaan;
       - peningkatan faedah dari dana masyarakat;
       - penanggung resiko.
    Fungsi Tambahan, meliputi:
       - memberikan fasilitas pengiriman uang;
       - penggunaan cek;
       - memberikan garansi bank.

Fungsi bank yang dikemukakan di atas, secara umum merupakan fungsi bank
umum, adapun fungsi dari bank sentral adalah:

   1) penyelesaian utang-piutang antar bank;
   2) mengedarkan uang kertas;
   3) wakil pemerintah dalam menerima pembayaran pajak;
   4) sumber dana pinjaman terakhir;
   5) memegang cadangan kas sistem;
   6) mengontrol volume dan keadaan kredit untuk mempertahankan tingkat
       kegiatan ekonomi.




                                                                              5
AKTIFITAS BANK


    Sebagai lembaga keuangan yang berorientasi bisnis, bank juga melakukan
berbagai kegiatan, seperti telah dijelaskan sebelumnya. Sebagai lembaga
keuangan, kegiatan bank sehari-hari tidak akan terlepas dari bidang keuangan.
Kegiatan perbankan yang paling pokok adalah membeli uang dengan cara
menghimpun dana dari masyarakat luas. Kemudian menjual uang yang berhasil
dihimpun dengan cara menyalurkan kembali kepada masyarakat melalui
pemberian pinjaman atau kredit.
    Dari kegiatan jual beli uang inilah bank akan memperoleh keuntungan yaitu
dari selisih harga beli (bunga simpanan) dengan harga jual (bunga pinjaman).
Disamping itu kegiatan bank lainnya dalam rangka mendukung kegiatan
menghimpun dan menyalurkan dana adalah memberikan jasa-jasa lainnya.
Kegiatan ini ditujukan untuk memperlancar kegiatan menghimpun dan
menyalurkan dana.
    Dalam praktiknya kegiatan bank dibedakan sesuai dengan jenis bank tersebut.
Setiap jenis bank memiliki ciri dan tugas tersendiri dalam melakukan kegiatannya,
misalnya dilihat dari segi fungsi bank yaitu antara kegiatan bank umum dengan
kegiatan bank perkreditan rakyat, jelas memiliki tugas atau kegiatan yang
berbeda.
    Kegiatan bank umum lebih luas dari bank perkreditan rakyat. Artinya produk
yang ditawarkan oleh bank umum lebih beragam, hal ini disebabkan bank umum
mempunyai kebebasan untuk menentukan produk dan jasanya. Sedangkan Bank
Perkreditan Rakyat mempunyai keterbatasan tertentu, sehingga kegiatannya lebih
sempit. Untuk lebih jelasnya berikut ini akan dijelaskan kegiatan masing-masing
jenis bank dilihat dari segi fungsinya.


A. Kegiatan Bank Umum
    Bank umum atau yang lebih dikenal dengan nama bank komersil merupakan
bank yang paling banyak beredar di Indonesia. Bank umum juga memiliki
berbagai keunggulan jika dibandingkan dengan BPR, baik dalam bidang ragam
pelayanan maupun jangkauan wilayah operasinya. Artinya bank umum memiliki


                                                                               6
kegiatan pemberian jasa yang paling lengkap dan dapat beroperasi diseluruh
wilayah Indonesia.


    Dalam praktiknya ragam produk tergantung dari status bank yang
bersangkutan. Menurut status bank umum dibagi kedalam dua jenis, yaitu bank
umum devisa dan bank umum non devisa. Masing-masing status memberikan
pelayanan yang berbeda. Bank umum devisa misalnya memiliki jumlah layanan
jasa yang paling lengkap seperti dapat melakukan kegiatan yang berhubungan
dengan jasa luar negeri. Sedangkan bank umum non devisa sebaliknya tidak dapat
melayani jasa yang berhubungan dengan luar negeri.
Kegiatan bank umum secara lengkap meliputi kegiatan sebagai berikut :


1. Menghimpun Dana (Funding)
    Kegiatan menghimpun dana merupakan kegiatan membeli dana dari
masyarakat. Kegiatan ini dikenal juga dengan kegiatan funding. Kegiatan
membeli dana dapat dilakukan dengan cara menawarkan berbagai jenis simpanan.
Simpanan sering disebut dengan nama rekening atau account. Jenis-jenis
simpanan yang ada dewasa ini adalah:
    a.   Simpanan Giro (Demand Deposit),
         Simpanan giro merupakan simpanan pada bank yang penarikannya dapat
         dilakukan dengan menggunakan cek atau bilyet giro. Kepada setiap
         pemegang rekening giro akan diberikan bunga yang dikenal dengan nama
         jasa giro. Besarnya jasa giro tergantung dari bank yang bersangkutan.
         Rekening giro biasa digunakan oleh para usahawan, baik untuk
         perorangan maupun perusahaannya. Bagi bank jasa giro merupakan dana
         murah karena bunga yang diberikan kepada nasabah relatif lebih rendah
         dari bunga simpanan lainnya.
    b.   Simpanan Tabungan (Saving Deposit),
         Merupakan simpanan pada bank yang penarikan sesuai dengan
         persyaratan yang ditetapkan oleh bank. Penarikan tabungan dilakukan
         menggunakan buku tabungan, slip penarikan, kuitansi atau kartu
         Anjungan Tunai Mandiri (ATM). Kepada pemegang rekening tabungan


                                                                            7
         akan diberikan bunga tabungan yang merupakan jasa atas tabungannya.
         Sama seperti halnya dengan rekening giro, besarnya bunga tabungan
         tergantung dari bank yang bersangkutan. Dalam praktiknya bunga
         tabungan lebih besar dari jasa giro.
   c.    Simpanan Deposito (Time Deposit),
         Deposito merupakan simpanan yang memiliki jangka waktu tertentu
         (jatuh tempo). Penarikannyapun dilakukan sesuai jangka waktu tersebut.
         Namun saat ini sudah ada bank yang memberikan fasilitas deposito yang
         penarikannya dapat dilakukan setiap saat. jenis depositopun beragam
         sesuai dengan keinginan nasabah. Dalam praktiknya jenis deposito terdiri
         dari deposito berjangka, sertifikat deposito dan deposit on call.
2. Menyalurkan Dana (Lending)
        Menyalurkan dana merupakan kegiatan menjual dana yang berhasil
        dihimpun dari masyarakat. Kegiatan ini dikenal dengan nama kegiatan
        Lending. Penyaluran dana yang dilakukan oleh bank dilakukan melalui
        pemberian pinjaman yang dalam masyarakat lebih dikenal dengan nama
        kredit. Kredit yang diberikan oleh bank terdiri dari beragam jenis,
        tergantung dari kemampuan bank yang menyalurkannya. Demikian pula
        dengan jumlah serta tingkat suku bunga yang ditawarkan.
        Sebelum kredit dikucurkan bank terlebih dulu menilai kelayakan kredit
        yang diajukan oleh nasabah. Kelayakan ini meliputi berbagai aspek
        penilaian. Penerima kredit akan dikenakan bunga kredit yang besarnya
        tergantung dari bank yang menyalurkannya. Besar kecilnya bunga kredit
        sangat mempengaruhi keuntungan bank, mengingat keuntungan utama
        bank adalah dari selisih bunga kredit dengan bunga simpanan. Secara
        umum jenis-jenis kredit yang ditawarkan meliputi :
        a.     Kredit Investasi,
        Yaitu merupakan kredit yang diberikan kepada pengusaha yang
        melakukan investasi atau penanaman modal. Biasanya kredit jenis ini
        memiliki jangka waktu yang relatif panjang yaitu di atas 1(satu) tahun.
        Contoh jenis kredit ini adalah kredit untuk membangun pabrik atau
        membeh peralatan pabrik seperti mesin-mesin.


                                                                               8
    b.   Kedit Modal Kerja,
         Merupakan kredit yang digunakan sebagai modal usaha. Biasanya kredit
         jenis ini berjangka waktu pendek yaitu tidak.lebih dari 1 (satu) tahun.
         Contoh kredit ini adalah untuk membeli bahan baku, membayar gaji
         karyawan dan modal kerja lainnya.
    c.   Kredit Perdagangan,
         Merupakan kredit yang diberikan kepada para pedagang dalam rangka
         memperlancar        atau   memperluas   atau   memperbesar      kegiatan
         perdagangannya. Contoh jenis-kredit ini adalah kredit untuk membeli
         barang dagangan yang diberikan kepada para suplier atau agen.
    d.   Kredit Produktif,
         Merupakan kredit yang dapat berupa investasi, modal keda atau
         perdagangan. Dalam arti kredit ini diberikan untuk diusahakan kembali
         sehingga pengembalian kredit diharapkan dari hasil usaha yang dibiayai.
    e.   Kredit Konsumtif,
         Merupakan kredit yang digunakan untuk keperluan pribadi misainya
         keperluan konsumsi, baik pangan, sandang maupun papan. Contoh jenis
         kredit ini adalah kredit perumahan, kredit kendaraan bermotor yang
         kesemuanya untuk dipakai sendiri.
    f.   Kredit Profesi,
         Merupakan kredit yang diberikan kepada para kalangan profesional
         seperti dosen, dokter atau pengacara.


3. Memberikan jasa- jasa Bank Lainnya (Services)
    Jasa-jasa bank lainnya merupakan kegiatan penunjang untuk mendukung
kelancaran kegiatan menghimpun dan menyalurkan dana. Sekalipun sebagai
kegiatan penunjang, kegiatan ini sangat banyak memberikan keuntungan bagi
bank dan nasabah, bahkan dewasa ini kegiatan ini memberikan kontribusi
keuntungan yang tidak sedikit bagi keuntungan bank, apalagi keuntungan dari
spread based semakin mengecil, bahkan cenderung negatif spread (bunga sim-
panan lebih besar dari bunga kredit).


                                                                                   9
    Semakin lengkap jasa-jasa bank yang dapat dilayani oleh suatu bank maka
akan semakin baik. Kelengkapan ini       ditentukan dari permodalan bank serta
kesiapan bank dalam menyediakan SDM yang handal. Disamping itu ,juga perlu
didukung oleh kecanggihan teknologi yang dimilikinya. Dalam praktiknya jasa-
jasa bank yang ditawarkan meliputi :
    a.   Kiriman Uang (Transfer)
         Merupakan jasa pengiriman uang lewat bank. Pengiriman uang dapat
         dilakukan pada bank yang sama atau bank yang berlainan. Pengiriman
         uang juga dapat dilakukan derigan tujuan dalam kota, luar kota atau luar
         negeri. Khusus untuk pengiriman uang keluar negeri harus melalui bank
         devisa. Kepada nasabah pengirim dikenakan biaya kirim yang besarnya
         tergantung dari bank yang bersangkutan. Pertimbangannya adalah
         nasabah bank yang bersangkutan (memiliki rekening di bank yang
         bersangkutan) atau bukan. Kemudian juga jarak pengiriman antar bank
         tersebut.
    b.   Kliring (Clearing)
         Merupakan penagihan warkat (surat-surat berharga seperti cek, bilyet
         giro) yang berasal dari dalam kota. Proses penagihan lewat kliring hanya
         memakan waktu 1 (satu) hari. Besarnya biaya penagihan tergantung dari
         bank yang bersangkutan.
    c.   Inkaso (Collection)
         Merupakan penagihan warkat (surat-surat berharga seperti cek, bilyet
         giro) yang berasal dari luar kota atau luar negeri. Proses penagihan lewat
         inkaso tergantung dari jarak lokasi penagihan dan biasanya memakan
         waktu 1 (satu) minggu sampai 1 (satu) bulan. Besarnya biaya penagihan
         tergantung dari bank yang bersangkutan dengan pertimbangan jarak serta
         pertimbangan lainnya.
    d.   Safe Deposit Box
         Safe Deposit Box atau dikenal dengan istilah safe loket jasa pelayanan ini
         memberikan layanan penyewaan box atau kotak pengaman tempat
         menyimpan surat-surat berharga atau barang-barang berharga milik


                                                                                10
     nasabah. Biasanya surat-surat atau barang-barang berharga yang
     disimpan di dalam box tersebut aman dari pencurian dan kebakaran.
     Kepada nasabah penyewa box dikenakan biaya sewa yang besarnya
     tergantung dari ukuran box serta jangka waktu penyewaan.
e.   Bank Card (Kartu kredit)
     Bank card atau lebih populer dengan sebutan kartu kredit atau juga uang
     plastik. Kartu ini dapat dibelanjakan di berbagaf tempat perbelanjaan
     atau tempat-tempat hiburan. Kartu ini juga dapat digunakan untuk
     mengambil uang tunai di ATM-ATM yang tersebar diberbagai, tempat
     yang strategis. Kepada pemegang kartu kredit dikenakan biaya iuran
     tahunan yang besarnya tergantung dari bank yang mengeluarkan. Setiap
     pembelanjaan memiliki tenggang waktu pembayaran dan akan dikenakan
     bunga dari jumlah uang yang telah dibelanjakan jika melewati tenggang
     waktu yang telah ditetapkan.
f.   Bank Notes
     Merupakan jasa penukaran valuta asing. Dalam jual beli bank notes bank
     menggunakan kurs (nilai tukar rupiah dengan mata uang asing).
g.   Bank Garansi
     Merupakan jaminan bank yang diberikan kepada nasabah dalam rangka
     membiayai suatu usaha. Dengan jaminan bank ini si pengusaha
     memperoleh fasilitas untuk melaksanakan kegiatannya dengan pihak lain.
     Tentu sebelum jaminan bank dikeluarkan bank terlebih dulu mempelajari
     kredibilitas nasabahnya.
h.   Bank Draft
     Merupakan wesel yang dikeluarkan oleh bank kepada para nasabahnya.
     Wesel ini dapat diperjualbelikan apabila nasabah membutuhkannya.
i.   Letter of Credit (L/C)
     Merupakan surat kredit yang diberikan kepada para eksportir dan
     importir yang digunakan untuk melakukan pembayaran atas transaksi
     ekspor-impor yang mereka lakukan. Dalam transaksi ini terdapat
     berbagai macam jenis L/C, sehingga nasabah dapat meminta sesuai
     dengan kondisi yang diinginkannya.


                                                                         11
j.   Cek Wisata (Travellers Cheque)
     Merupakan cek perjalanan yang biasa digunakan oleh turis atau
     wisatawan. Cek Wisata dapat dipergunakan sebagai alat pembayaran
     diberbagai tempat pembelanjaan atau hiburan seperti hotel, supermarket.
     Cek Wisata juga bisa digunakan sebagai hadiah kepada para relasinya.
k.   Menerima setoran-setoran.
     Dalam hal ini bank membantu nasabahnya dalam rangka menampung
     setoran dari berbagai tempat antara lain :
     - Pembayaran pajak
     - Pembayaran telepon
     - Pembayaran air
     - Pembayaran listrik
     - Pembayaran uang kuliah
l.   Melayani pembayaran-pembayaran.
     Sama halnya seperti dalam hal menerima setoran, bank juga melakukan
     pembayaran seperti yang diperintahkan oleh nasabahnya antara lain :
     - Membayar Gaji/Pensiun/honorarium
     - Pembayaran deviden Pembayaran kupon
     - Pembayaran bonus/hadiah
m. Bermain di dalam pasar modal.
     Kegiatan bank dapat memberikan atau bermain surat-surat berharga di
     pasar modal. Bank dapat berperan dalam berbagai kegiatan seperti
     menjadi :
     - Penjamin emisi (underwriter)
     - Penjamin (guarantor)
     - Wali amanat (trustee)
     - Perantara perdagangan efek (pialang/broker)
     - Pedagang efek (dealer)
     - Perusahaan pengelola dana (invesment company)




                                                                            12
B. Kegiatan Bank Perkreditan Rakyat (BPR)
    Kegiatan BPR pada dasarnya sama dengan kegiatan Bank umum, hanya yang
menjadi perbedaan adalah jumlah jasa bank yang dilakukan BPR jauh lebih
sempit. BPR dibatasi oleh berbagai persyaratan, sehingga tidak dapat berbuat
seleluasa bank umum. Keterbatasan kegiatan BPR juga dikaitkan dengan misi
pendirian BPR itu sendiri. Dalam praktiknya kegiatan BPR adalah sebagai
berikut:
1. Menghimpun dana hanya dalam bentuk :
   - Simpanan Tabungan
   - Simpanan Deposito
2. Menyalurkan dana dalam bentuk :
   - Kredit Investasi
   - Kredit Modal Kerja
   - Kredit Perdagangan
    Karena keterbatasan yang dimiliki oleh BPR, maka ada beberapa larangan
yang tidak boleh dilakukan BPR. Larangan ini meliputi hal-hal sebagai berikut :
   - Menerima Simpanan Giro
   - Mengikuti Miring
   - Melakukan Kegiatan Valbta Asing
   - Melakukan kegiatan Perasuransian
C. Kegiatan Bank Campuran Dan Bank Asing


    Bank-bank asing dan bank campuran yang bergerak di Indonesia adalah jelas
bank umum. Kegiatan bank asing dan bank campuran, memiliki tugasnya sama
dengan bank umum lainnya. Yang membedakan kegiatannya dengan bank umum
milik Indonesia adalah mereka lebih dikhususkan dalam bidang-bidang tertentu
dan ada larangan tertentu pula dalam melakukan kegiatannya.
    Adapun kegiatan bank asing dan bank campuran di Indonesia dewasa ini
adalah :




                                                                                  13
1. Dalam mencari dana bank asing dan bank campuran juga membuka
   simpanan.giro dan simpanan deposito namun dilarang menerima simpanan
   dalam bentuk tabungan.
2. Dalam hal pemberian kredit yang diberikan lebih diarahkan ke bidang-bidang
   tertentu saja seperti dalam bidang :
    - Perdagangan Internasional
    - Bidang Industri dan Produksi
    - Penanaman Modal Asing/Campuran
    - Kredit yang tidak dapat dipenuhi oleh bank swasta nasional.
3. Sedangkan khusus untuk jasa-jasa bank lainnya juga dapat dilakukan oleh
   bank umum campuran dan asing sebagaimana layaknya bank umum yang ada
   di Indonesia seperti berikut ini :
    - Jasa TransferJasa Miring
    - Jasa Inkaso
    - Jasa Jual Beli Valuta Asing
    - Jasa Bank Card (kartu kredit)
    - Jasa Bank Draft
    - Jasa Safe Deposit Box
    - Jasa Pembukaan dan Pembayaran L/C
    - Jasa Bank Garansi
    - Jasa Bank Notes
    - Jasa Jual Beli Travellers Cheque
    - dan jasa bank umum lainnya


FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI SUKU BUNGA


Factor-faktor yang mempengaruhi kecil besarnya penetapan suku bunga adalah
sebagai berikut :
   1. Kebutuhan dana. Apabila bank kekurangan dana, sementara permohonan
       pinjaman meningkat, maka yang dilakukan oleh bank agar dana tersebut
       cepat terpenuhi dengan meningkatkan suku bunga simpanan.




                                                                          14
2. Persaingan. Dalam memperebutkan bunga simpanan, maka disamping
   factor promosi, yang paling utama pihak perbankan harus memerhatikan
   pesaing.
3. Kebijaksanaan pemerintah. Dalam arti baik untuk bunga simpanan
   maupun bunga pinjaman kita tidak boleh melebihi harga yang sudah
   ditetapkan oleh pemerintah.
4. Target laba yang diinginkan. Sesuai dengan target laba yang diinginkan,
   jika laba yang diinginkan besa, maka bunga pinjaman ikut besar dan
   sebaliknya.
5. Jangka waktu. Semakin panjang jangka waktu pinjaman, akan semakin
   tinggi bunganya, hal ini disebabkan besarnya kemungkinan resiko di masa
   mendatang. Demikian pula sebaliknya jika pinjaman berjangka pendek,
   maka bunganya relative lebih rendah.
6. Kualitas jaminan. Semakin likuid jaminan yang diberikan, semakin rendah
   bunga kredit yang dibebankan dan sebaliknya. Sebagai contoh jaminan
   sertifitikat deposito berbeda dengan jaminan sertifitikat tanah.
7. Reputasi perusahaan. Bonafitifiditas suatu perusahaan yang akan
   memperoleh kredit sangat menentukan tingkat suku bunga yang akan
   diberikan     nantinya,   karena   biasanya    perusahaan     yang   bonafit
   kemuningkinan resiko kredit macet di masa mendatang relative lebih kecil
   dan sebaliknya.
8. Produk yang kompetitif. Maksudnya adalah produk yang dibiayai tersebut
   laku di pasaran. Untuk produk yang kompetitif, bunga kredit yang
   diberikan relative lebih rendah jika dibandingkan dengan produk yang
   kurang kompetitif.
9. Hubungan baik. Nasabah utama biasanya mempunyai hubungan yang baik
   dengan pihak bank sehingga dalam penentuan suku bunganya pun berbeda
   dengan nasabah biasa, ini berdasarkan keaktifan serta loyalitas nasabah
   yang bersangkutan terhadap bank.
10. Jaminan pihak ketiga




                                                                            15
PERKEMBANGAN PERBANK DI INDONESIA

Mulai tahun 1980 – an jumlah pertumbuhan bank swasta nasional sangatlah cepat,
sehingga membawa perekonomian Indonesia semakin berkembang. Sektor
perbankan sangatlah berperan dalam memobilisasikan dana masyarakat untuk
berbagai tujuan mengalami peningkatan yang sangat besar. Dahulu sektor
perbankan tersebut tidak lebih hanya sebagai fasilitator kegiatan pemerintah dan
beberapa perusahaan besar, dan kini telah berubah menjadi sektor yang sangat
berpengaruh bagi perekonomian.

Perkembangan yang sangat cepat tersebut tidak diikuti oleh penerapan prinsip
kehati – hatian yang seimbang, bahkan istilah tersebut terdengar masih asing bagi
masyarakat awam bahkan bankir sekalipun. Dimana hal tersebut menjadi
penyebab masalah yang besar pada akhir tahun 1990 – an.

Dari pengalaman buruk tersebut, timbulah pertanyaan. Apakah strategi
pengembangan dunia perbankan di Indonesia selama in sudah benar? Apakah
peraturan perundangan yang ada selama ini sudah mampu mengatur dan
mengarahkan sektor perbankan ke arah perbankan yang efisien dengan resiko
yang masuk akal? Pertanyaan lainpun juga ditujukan kepada manajemen bank,
karyawan, Bank Indonesia, dan juga Pemerintah.

BIS ( Bank for International Settlement ) telah lama mencari tahu praktik –
praktik perbankan yang dianggap dapat mencipatakan dunia perbankan yang
efisien dan efektif dalam perannya sebagai financail intermediary. Menyadari
adanya prinsip – prinsip yang telah dirumuskan dalam BIS dan perlunya
merancang ulang sektor perbankan di Indoneisa dalam jangka panjang, otoritas
moneter berusaha untuk membuat Arsitektur Perbankan Indonesia ( API ).
Dengan adanya API, BI secara bertahap berkeinginan untuk menerapkan praktik –
praktik terbaik internasional yang tercakup dalam 25 Prinsip Pokok Basel untuk
pengawasan perbankan yang efektif ( Basel Core Principles for Effective Banking
Supervision ), sehingga dalam jangka waktu lima tahun ke depan diharapkan
Indonesia telah sejajar dengan negara – negara lain yang lebih dulu menerapkan
prinsip – prinsip tersebut.

                                                                              16
KESEHATAN DAN RAHASIA BANK

Kemampuan suatu bank untuk melakukan kegiatan operasional perbankan secara
normal dan mampu memenuhi semua kewajibannya dengan baik dengan cara –
cara yang sesuai dengan peraturan perbankan yang berlaku dapat diartikan sebagai
indikator kesehatan suatu bank.

Dimana merupakan suatu batasan yang sangat luas, karena kesehatan bank
memang mencakup kesehatan suatu bank untuk melaksanakan seluruh kegiatan
usaha perbankannya. Kegiatan tersebut meliputi:

    Kemampuan menghimpun dana dari masyarakat, dari lembaga lain, dan
       dari modal sendiri;
    Kemampuan mengelola dana;
    Kemampuan untuk menyalurkan dana ke masyarakat;
    Kemampuan memenuhi kewajiban kepada masyarakat, karyawan, pemilik
       modal, dan pihak lain;

Pemenuhan peraturan perbankan yang berlaku.

Dengan semakin meningkatnya kompleksitas usaha dan resiko, bank perlu
mengidentifikasi permasalahan yang mungkin timbul dari opersional bank. Hasil
akhir penilaian kondisi bank tersebut dapat digunakan sebagai salah satu sarana
dalam menetapkan strategi usaha di waktu yang akan datang sedangkan bagi Bank
Indonesia antara lain digunakan sebagai sarana penetapan dan implementasi
startegi pengawasan bank oleh Bank Indonesia.

Tingkat kesehatan bank merupakan hasil penilaian kualitatif atas berbagai aspek
yang berpengaruh terhadap kondisi atau kinerja suatu bank melalui penilaian
faktor permodalan, kualitas aset, manajemen, rentabilitas, likuiditas, dan
sensitivitas terhadap resiko pasar. Penilaian terhadap faktor – faktor tersebut
dilakukan   melalui    penilaian   kuantitatif    dan   atau   kualitatif   setelah
mempertimbangakan unsur judgement yang didasarkan atas materialitas dan


                                                                                17
signifikansi dari faktor – faktor penilaian serta pengaruh dari faktor lainnya seperti
kondisi industri perbankan dna perekonomian nasional. (Stefanus A. Pratama)

BANK SEBAGAI LEMBAGA INTERMEDIASI DAN PENGAWASAN


Calon Deputi Senior Bank Indonesia (BI) Gunarni Soeworo menyampaikan
gagasannya berupa pemetaan kembali Arsitektur Perbankan Indonesia (API)
terhadap perbankan, guna mendorong ekonomi nasional.
Pasalnya, selama ini perbankan di Indonesia belum memainkan perannya secara
optimal terhadap perekonomian Indonesia, salah satunya Bank Pembangunan
Daerah (BPD) yang dinilai kurang pengawasan sehingga tidak memberikan positif
bagi perekonomian di daerah.
"Peran BPD harus dikaji lebih lanjut dengan membangun struktur yang tepat dan
ditunjang lembaga kajian yang kredibel," dalam paparannya, dalam uji kelayakan
dan kepatutan (fit and profer test) calon Deputi Senior Gubenur BI, di Gedung
DPR/MPR, Senayan, Jakarta, Senin (11/5/2009).
Dalam uji kelayakannya, Gunarni menyampaikan makalah yang bertemakan
Memperkuat Sistem Perbankan Nasional untuk Mendukung Pertumbuhan
Ekonomi Berkelanjutan. Gunarni mencoba memberikan titik tekan perlunya
perbankan diberikan pengembangan manajemen dan pengawasan. Karena, sejauh
ini perbankan belum diawasai secara ketat.
Tak ayal, banyak di Indonesia yang belum dikategorikan perbankan berskala
internasional. Selain itu, terhadap perbankan BUMN yang dinilai lambat dalam
berkompetisi, dia mengusulkan harus adanmya konsolidasi ditengah persaingan
bank asing tanpa membebani APBN.
Sementara itu, dia menambahkan, agenda BI yang cukup besar ke depan adalah
intermediasi perbankan tanpa mengurangi dampak prudential terhadap perbankan.
"Sejauh ini, BI cukup agresif dalam intermediasi perbankan dengan melakukan
relaksasi peraturan yang ada, tapi hal ini tidak mungkin dilakukan secara
permanent. Jadi, perlu formulasi yang baru," ungkapnya.
Di sisi lain, BI selama ini, kurang efektif dalam menditeksi para pemilik dan
pengendali saham perbankan yang bertentangan dengan Good Government
pengelolaan yang baik.

                                                                                   18
Oleh karena itu, dia mengusulkan sebagai pemilik bank yang dinilai melanggar
sanksi tersebut, perlu sanksi tegas tidak hanya administrasi, karena kepastian
hukum sangat diperlukan dalam dunia perbankan, guna menciptakan kondisi yang
kondusif bagi nasabah.
Dalam makalahnya, Gunarni menyampaikan tiga poin penting, pertama
memperkuat intermediasi perbankan, kedua, membangun fungsi pengawasan guna
mendukung pengembangan perbankan yang lebih kuat dan kompetitif, dan ketiga,
membangun kapasitas kelembangan


ARSITEKTUR PERBANKN INDONES


Arsitektur Perbankan Indonesia (API) merupakan suatu kerangka dasar sistem
perbankan Indonesia yang bersifat menyeluruh dan memberikan arah, bentuk,
dan tatanan industri perbankan untuk rentang waktu lima sampai sepuluh tahun ke
depan. Arah kebijakan pengembangan industri perbankan di masa datang yang
dirumuskan dalam API dilandasi oleh visi mencapai suatu sistem perbankan yang
sehat, kuat dan efisien guna menciptakan kestabilan sistem keuangan dalam
rangka membantu mendorong pertumbuhan ekonomi nasional

Berpijak dari adanya kebutuhan blue print perbankan nasional dan sebagai
kelanjutan dari program restrukturisasi perbankan yang sudah berjalan sejak tahun
1998, maka Bank Indonesia pada tanggal 9 Januari 2004 telah meluncurkan API
sebagai suatu kerangka menyeluruh arah kebijakan pengembangan industri
perbankan Indonesia ke depan. Peluncuran API tersebut tidak terlepas pula dari
upaya Pemerintah dan Bank Indonesia untuk membangun kembali perekonomian
Indonesia melalui penerbitan buku putih Pemerintah sesuai dengan Inpres No. 5
Tahun 2003, dimana API menjadi salah satu program utama dalam buku putih
tersebut.

Bertitik tolak dari keinginan untuk memiliki fundamental perbankan yang lebih
kuat dan dengan memperhatikan masukan-masukan yang diperoleh dalam
mengimplementasikan API selama dua tahun terakhir, maka Bank Indonesia
merasa perlu untuk menyempurnakan program-program kegiatan yang tercantum


                                                                              19
dalam API. Penyempurnaan program-program kegiatan API tersebut tidak
terlepas pula dari perkembangan-perkembangan yang terjadi pada perekonomian
nasional maupun internasional. Penyempurnaan terhadap program-program API
tersebut antara lain mencakup strategi-strategi yang lebih spesifik mengenai
pengembangan perbankan syariah, BPR, dan UMKM ke depan sehingga API
diharapkan memiliki program kegiatan yang lebih lengkap dan komprehensif yang
mencakup sistem perbankan secara menyeluruh terkait Bank umum dan BPR,
baik konvensional maupun syariah, serta pengembangan UMKM.




                                                                          20
A.   Pengertian Manajemen Dana Bank

     Bagi bank, manajemen dana bank adalah bagaimana memilih dan mengelola
     sumber dana yang tersedia. Bagi bank pengelola sumber dana dari
     masyarakat luas, terutama dalam bentuk simpanan giro, tabungan dan
     deposito sangatlah penting. Dalam penglolaan sumber dana di mulai dari
     pencarian akan kebutuhan dana, kemudian pelaksanaan pencarian sumber
     dana yang tersedia. Pengelolaan sumber dana kini di kenal dengan nama
     manajemen dana bank. Dengan kata lain pengertian manajemen dana bank
     adalah suatu kegiatan perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian terhadap
     penghimpuan dana yang yang ada di masyarakat.

B.   Sumber Dana Bank

     Pengertian sumber dana bank adalah suatu bank dalam menghimpun dana
     dari masyarakat perolehan ini tergantung pada bank itu sendiri, apakah dari
     simpanan masyarakat atau dari lembaga lainnya. Pemilihan sumber dana
     akan menentukan besar kecilnya biaya yang ditanggung oleh karena itu
     pemilihan sumber dana harus dilakukan secara tepat.

     Secara garis besar sumber dana bank dapat diperoleh dari :
     a). Dari bank itu sendiri
     b). Dari masyarakat luas
     c). dan dari lembaga lainnya

     1. Jenis Sumber Dana
        a). Dana yang bersumber dari bank itu sendiri

        Perolehan dana dari sumber bank itu sendiri (modal sendiri) maksudnya
        adalah dana yang diperoleh dari dana bank salah satu jenis dana yang
        bersumber dari bank itu sendiri adalah modal setor dari para pemegang
        saham. Dana sendiri adalah dana yang berasal dari para pemegang
        saham bank atau pemilik saham.

        Adapun pencarian dana yang bersumber dari bank itu sendiri terdiri dari:
        1. Setoran modal dari pemegang saham yaitu merupakan modal dari
           para pemegang saham lama atau pemgang saham yang baru. Dana
           yang disetor secara efektif oleh para pemegang saham pada waktu
           bank berdiri. Pada umumnya modal setoran pertama dari pemilik
           bank sebagian digunakan untuk sarana perkantoran, pengadaan
           peralatan kantor dan promosi untuk menarik minat masyarakat.
        2. Cadangan laba, yaitu merupakan laba yang setiap tahun di cadangkan
           oleh bank dan sementara waktu belum digunakan. Cadangan laba
           yaitu sebagian dari laba bank yang disisihkan dalam bentuk
           cadangan modal dan cadangan lainnya yang akan dipergunakan
           untuk menutupi timbulnya resiko di kemudian hari. Cadangan ini



                                                                             21
   dapat diperbesar apabila bagian untuk cadangan tersebut
   ditingkatkan atau bank mampu meningkatkan labanya.
3. Laba bank yang belum di bagi, merupakan laba tahun berjalan tapi
   belum dibagikan kepada para pemegang saham.
   Semakin besar modal yang dimiliki oleh suatu bank, berarti
   kepercayaan masyarakat bertambah baik dan bank tersebut akan
   diakui oleh bank-bank lain baik di dalam maupun di luar negeri
   sebagai bank yang posisinya kuat.


b) Dana yang bersumber dari masyarakat luas

Sumber dana ini merupakan sumber dana terpenting bagi kegiatan
operasi bank dan merupakan ukuran keberhasilan bank jika mampu
membiayai operasinya dari sumber dana ini. Adapun Dana masyarakat
adalah dana-dana yang berasal dari masyarakat, baik perorangan maupun
badan usaha, yang diperoleh dari bank dengan menggunakan berbagai
instrumen produk simpanan yang dimiliki oleh bank.

Untuk memperoleh dana dari masyarakat luas bank dapat menggunakan
tiga macam jenis simpanan (rekening). Masing-masing jenis simpanan
memiliki keunggulan tersendiri, sehingga bank harus pandai dalam
menyiasati pemilihan sumber dana. Sumber dana yang dimaksud adalah:
1. Simpanan giro
2. Simpanan tabungan
3. Simpanan deposito

c) Dana yang bersumber dari lembaga lain

Dalam praktiknya sumber dana ini merupakan tambahan jika bank
mengalami kesulitan dalam pencarian sumber dana sendiri dan
masyarakat. Dana yang diperoleh dari sumber ini digunakan untuk
membiayai atau membayar transaksi-transaksi tertentu. Perolehan dana
dari   sumber    ini  antara    lain     dapat     diperoleh    dari:

1. Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI), merupakan kredit
yang diberikan
   bank Indonesia kepda bnk-bank yang mengalami kesulitan likuiditas.
   Kredit likuiditas ini juga diberikan kepada pembiayaan sektor-sektor
   usaha tertentu.
2. Pinjaman antar bank (Call Money). Biasanya pinjaman ini di berikan
   kepada bank-bank yang mengalami kalah kliring di dalam lembaga
   kliring dan tidak mampu untuk membayar kekalahannya. Pinjaman
   ini bersifat jangka pendek dengan bunga yang relative tinggi jika
   dibandingkan dengan pinjaman lainnya.
3. Pinjaman dari bank-bank luar negeri. Merupakan pinjaman yang
   diperoleh oleh perbankan dari pihak luar negeri.



                                                                    22
        4. Surat berharga pasar uang (SBPU). Dalam hal ini pihak perbankan
           menerbitkan SPBU kemudian diperjual belikan kepada pihak yang
           berminat, baik perusahaan keuangan maupun nonkeuangan. SPBU
           diterbitkan dan ditawarkan dengan tingkat suku bunga sehingga
           masyarakat tertarik untuk membelinya.

     2. Konsep Perhitungan Biaya Sumber Dana

        Sebagai sebuah lembaga intermediasi keuangan, mekanisme dasar bank
        syariah adalah menerima deposito dari pemilik modal (depositor) pada
        sisi liability-nya (kewajiban) untuk kemudian menawarkan pembiayaan
        kepada investor pada sisi asetnya, dengan pola atau skema pembiayaan
        yang sesuai dengan syariat Islam. Pada sisi kewajiban, terdapat dua
        kategori utama, yaitu interest-free current and saving accounts dan
        investment accounts yang berdasarkan pada prinsip PLS (Profit and Loss
        Sharing) antara pihak bank dengan pihak depositor. Sedangkan pada sisi
        aset, yang termasuk didalamnya adalah segala bentuk pola pembiayaan
        yang bebas riba dan sesuai standar syariah, seperti mudarabah,
        musyarakah, istisna, salam, dan lain-lain.

        Manajemen bank harus memperhitungkan seluruh biaya yang
        dikeluarkan berkenaan dengan mobilisasi sumber dana dengan cermat
        dan akurat, ada beberapa biaya yang harus diperhitungkan bank dalam
        menjalankan usahanya misalnya:
        a) Cost of fund, yaitu biaya yang dikeluarkan bank atas dana yang
            dihimpun sebelum diperhitungkan besarnya pemenuhan persyaratan
            giro wajib minimum (GWM) atau reserve requirement (RR). Dalam
            menghitung cost of fund, bank terlebih dahulu harus mencari biaya
            rata-rata tertimbang dari setiap sumber dana.
         b) Cost of Loanable Fund, adalah biaya dana setelah dikurangi
            ketentuan giro wajib minimum (GWM), sesuai dengan ketentuan BI
            bank umum wajib menempatkan dana dalam rekening giro wajib
            minimum di BI jumlahnya ditetapkan sebesar 5% dari dana pihak
            ketiga.

        Jadi berdasarkan term of reference di atas penetapan standar mimum
        Bank Syariah, pada dasarnya mestinya berpegang fungsi tersebut di atas
        dan dapat dilakukan, kecuali bila dalam melaksanakan fungsinya
        perbankan, missal melakukan hal-hal yang dilarang dalam syariah.
        Perhitung Lending Rate yang menghasilkan pendapatan bagi suatu bank
        dimana bank akan memperoleh laba usaha/bagi hasil maka komponen
        lending rate diantaranya adanya cost of loanable fund, overhead cost,
        risk factor, spread dan tax (pajak) yang berlaku secara umum di
        Indonesia.

C.   Manajemen Alokasi Dana




                                                                           23
Bagi bank manajemen dana bank adalah bagaimana memilih dan mengelola
sumber dana yang tersedia. Bagi bank pengelola sumber dana dari
masyarakat luas, terutama dalam bentuk simpanan giro, tabungan dan
deposito sangatlah penting. Dalam penglolaan sumber dana di mulai dari
pencarian akan kebutuhan dana, kemudian pelaksanaan pencarian sumber
dana yang tersedia. Pengelolaan sumber dana kini di kenal dengan nama
manajemen dana bank. Dengan kata lain pengertian manajemen dana bank
adalah suatu kegiatan perncanaan, pelaksanaan dan pengendalian terhadap
penghimpuan dana yang yang ada di masyarakat.

Alokasi Dana Menurut Sifat Aktiva

Menurut Lukman Dendawijaya alokasi dana berdasarkan sifat aktiva adalah
pengalokasian dana bank ke dalam bentuk-bentuk aktiva, baik aktiva yang
dapat memberikan hasil (income) maupun aktiva yang tidak memberikan
hasil.

Alokasi Dana Bank

Dana yang diperoleh sebuah bisnis perbankan perlu dialokasikan dengan
tepat. Untuk itu diperlukan suatu kebijakan alokasi aktiva. Alokasi aktiva
merupakan pendistribusian dana investasi yang didasarkan pada fungsi dan
kegunaan diantara berbagai kategori aktiva, termasuk ekuivalen kas, saham,
investasi pendapatan tetap, dan aktiva berwujud lainnya. Alokasi aktiva akan
berdampak baik pada resiko maupun laba. Alokasi aktiva merupakan konsep
sentral dalam perencanaan keuangan bagi manajemen investasi bisnis
perbankan, kebijakan alokasi aktiva perlu mengindahkan tingkat likuiditas,
tetapi tidak mengabaikan tingkat rentabilitas. Untuk itu dana yang diperoleh
dialokasikan ke dalam cadangan primer, cadangan sekunder, kredit, dan
investasi dalam perbandingan yang tepat sesuai dengan perubahan-
perubahan.

Aktiva Produktif (Earning Assets) yaitu semua aktiva yang dimiliki bank
dengan maksud untuk memperoleh penghasilan sesuai dengan fungsinya.
Pengelolaan dana dalam aktiva produktif merupakan sumber pendapatan
bank yang digunakan untuk membiayai keseluruhan biaya operasional bank,
termasuk biaya bunga, biaya tenaga kerja, dan biaya operasional lainnya.
Komponen aktiva produktif terdiri dari :

a. Kredit yang diberikan adalah semua realisasi kredit dalam rupiah dan
   valuta asing yang diberikan oleh bank termasuk kantornya di luar negeri,
   kepada pihak ketiga bukan bank, baik di dalam maupun di luar negeri.
b. Penempatan dana pada bank lain. Penempatan dana pada bank lain dapat
   berupa deposito berjangka pada bank lain, call money, pinjaman uang
   biasa berjangka menengah dan panjang, surat berharga dalam pasar uang
c. Surat-surat berharga.Penempatan dana dalam surat berharga sebagai
   aktiva produktif meliputi :



                                                                         24
   (1) Surat-surat berharga jangka pendek yang digunakan sebagai
       cadangan sekunder.

   (2) Surat-surat berharga jangka panjang yang dimaksudkan untuk
      mempertinggi profitabilitas bank.

   Penanaman dana dalam surat berharga tersebut antara lain meliputi
   Sertifikat Bank Indonesia (SBI), Surat Berharga Pasar Uang (SBPU),
   wesel dan promes yang di-endors bank lain, Revolving Underwriting
   Facilities (RUF), aksep atau promes dalam rangka call money, kertas
   perbendaharaan atas beban negara, berbagai macam obligasi, dan saham
   yang terdaftar pada bursa efek.

d. Penyertaan modal. Alokasi dana bank dalam bentuk penyertaan modal
    adalah penanaman dana bank dalam bentuk saham secara langsung pada
    bank lain atau lembaga keuangan lain yang berkedudukan di dalam dan
    di luar negeri. Di samping itu, dapat juga berbentuk penyertaan saham
    dalam suatu perusahaan nasabah asalkan dalam rangka penyelamatan
    kredit (rescue operation).

Aktiva Tidak Produktif (Nonearning Assets) adalah yaitu penanaman dana
bank ke dalam aktiva yang tidak memberikan hasil bagi bank. Komponen
dana dalam bentuk aktiva tidak produktif terdiri atas:

a. Alat-alat likuid.

Alat likuid atau cash asset adalah aktiva yang dapat dipergunakan setiap saat
untuk memenuhi kebutuhan likuiditas bank. Aktiva ini merupakan aktiva
yang paling likuid dari keseluruhan aktiva bank. Komponen alat likuid
menurut ketentuan Bank Indonesia terdiri atas uang kas yang ada pada bank
dan saldo rekening giro pada Bank Indonesia. Sejak deregulasi 1 juni 1983,
saldo giro pada BI tidak diberikan jasa giro.

b. Aktiva tetap dan inventaris.

Aktiva tetap yang dimiliki bank dapat berbentuk tanah, gedung kantor (baik
kantor pusat maupun cabang-cabang), peralatan kantor seperti komputer,
facsimile, ATM, peralatan promosi, dan lain-lain.

Faktor yang perlu diperhatikan dalam melakukan investment adalah:
- Tingkat bunga / capital gain
- Kualitas (keamanan)
- Mudah diperjual belikan
- Jangka waktu jatuh tempo
- Pajak
- Diversifikasi




                                                                          25
Penggolongan kualitas kredit sesuai ketentuan Bank Indonesia:
- Pass (Lancar)
- Special Mention (Dalam Perhatian Khusus)
- Substandard (Kurang Lancar)
- Doubtful (Diragukan)
- Loss (Macet)

Kualitas Surat Berharga:
- Pass (Lancar)
- Loss (Macet)

Cadangan Bank Untuk mempertahankan likuiditasnya manajemen bisnis
perbankan membentuk cadangan. Dilihat dari strategi untuk
mempertahankan likuiditas, cadangan dalam perbankan dapat dibedakan
dalam cadangan primer dan cadangan sekunder. Cash reserve adalah dana
cadangan yang berbentuk tunai dan digunakan untuk menjaga keselamatan
bank, baik jangka panjang maupun jangka pendek. Penguasaan cash reserve
merupakan bagian penting dari tugas manajemen likuiditas karena akan
sangat menentukan apakah bank tersebut dapat merebut kepercayaan
masyarakat atau tidak. Banyak kesuksesan bank terjadi karena keberhasilan
mengelola secara baik dana cadangan tunai ini.

Jenis-Jenis Cadangan Bank :

Cadangan Primer (Primary Reserve). Primary reserve diperlukan untuk
memenuhi permintaan efektif dari para nasabah yang muncul secara tiba-
tiba. Bahasa teknis perbankan dalam mewujudkan primary reserve ini adalah
alat-alat yang dikuasai dan tercermin pada pos-pos aktiva, berupa : saldo kas
dan saldo rekening pada Bank Indonesia. Cadangan primer merupakan garis
pertahanan pertama sebuah bank jika para deposan menarik dana mereka.


Cadangan Sekunder. Digunakan untuk memenuhi kebutuhan likuiditas yang
jangka waktunya kurang dari satu tahun yang sekaligus dimanfaatkan untuk
mencari laba. Cadangan sekunder merupakan pinjaman dan sekuritas yang
dapat dikonversikan ke dalam uang tunai tanpa kerugian yang serius.
Sertifikat Bank Indonesia (SBI), Surat Berharga Pasar Uang (SBPU),
Sertifikat Deposito, dan Surat Dagang adalah beberapa instrumen yang
termasuk dalam cadangan sekunder. Cadangan sekunder tidak semata-mata
sebagai penyangga cadangan utama, tetapi juga sebagai dana yang lincah
bergerak dan ditanam dalam bentuk investasi jangka pendek dengan sifat-
sifat yang tetap current.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Cadangan Bank :

Setiap manajemen bisnis perbankan harus memelihara rasio aktiva-cadangan
(reserve-assets ratio) atau rasio likuiditas (liquidity ratio), yaitu bagian dari
aktiva keseluruhan suatu bank komersial yang perlu dipertahankan dalam


                                                                              26
bentuk aktiva lancar agar dapat memenuhi penarikan uang sehari-hari oleh
para     nasabah    dan     kewajiban-kewajiban      keuangan    lainnya.
Setiap strategi manajemen keuangan perbankan, khususnya yang berkaitan
dengan upaya bertahan dalam persaingan, perlu selalu mempertimbangkan
dan memproyeksikan kebutuhan yang optimum akan cadangan primer dan
cadangan sekunder. Dalam hal seperti inilah strategi manajemen likuiditas
memerlukan perencanaan keuangan baik arus masuk maupun arus keluar
yang mampu mengantisipasi setiap perubahan di waktu yang akan datang.

Cash Ratio

Rasio ini menunjukkan posisi kas yang dapat menutupi hutang lancar. Rasio
ini adalah rasio yang paling likuid. Semakin tinggi rasio ini semakin tinggi
pula kemampuan likuiditas bank yang bersangkutan, namun dalam praktek
akan mempengaruhi profitabilitasnya. Menurut ketentuan Bank Indonesia,
alat likuid terdiri atas uang kas ditambah dengan rekening giro bank
bersangkutan yang disimpan pada Bank Indonesia. Komponen-komponen
alat likuid untuk semua jenis bank adalah sama, yaitu : Saldo Kas dan Saldo
Rekening pada Bank Indonesia. Sedangkan komponen-komponen kewajiban
segera dapat ditagih atau segera harus dibayar adalah : Giro, Deposito,
Tabungan, dan Kewajiban jangka pendek lainnya.

Penempatan Dana Bank

Kegiatan ini adalah kegiatan yang dilakukan bank dimana dana yang
diperoleh didapat dari dana yang dihimpun dari masyarakat. Kredit yang
diberikan dan suku bunga dapat ditentukan sendiri oleh nasabah.
Menurut UU Perbankan No. 10 Tahun 1998, Kredit adalah:
“penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu,
berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam anata bank
dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam melunasi utangnya
setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga”.

Sebelum memberikan kredit biasanya bank menilai terlebih dahulu kepada
orang yang meminjam dana tersebut, agar dana yang diberikan bisa aman.
Penilaiannya tersebut dilihat dari: Latar belakang nasabah tersebut, Prospek
usahannya dan Jaminan yang diberikan.

Unsur-unsur yang terdapat ketika memberikan kredit:

Kepercayaan: Dimana Bank dapat mempercayai nasabah dapat memebayar
             dana yang telah dipinjamkan oleh bank kepada nasabah.

Kesepakatan: Merupakan perjanjian antara pihak debitur dengan pihak
             kreditur
             yang dituangkan dalam suatu surat perjanjian, biasanya surat
             perjanjian itu dibuat sebelum nasabah mendaptkan dana dan
             terdapat beberapa syarat yang harus diajukan kepada Bank.


                                                                         27
     Jangka Waktu:Untuk menentukan jangka waktu kredit yang akan dilakukan
                  oleh nasabah.

     Resiko       : Suatu tenggang waktu pengembalian akan menyebabkan
                    resiko
                    tidak tertagih. Semakin lama jangka waktunya semakin besar
                    resikonya. Untuk itu bank sebaiknya sebisa mungkin untuk
                    dapat menghindari resiko-resiko yang dapat membuat bank
                    menjadi tidak mendapatkan keuntungan.

     Balas jasa   : Merupakan keuntungan atas pemberian kredit dan jasa
                    tersebut
                    yang kita kenal dengan bunga / bagi hasil.

D.   Simpanan Giro

     Giro adalah simpanan pihak ketiga kepada bank yang penarikannya dapat
     dilakukan setiap saat dengan menggunakan cek, surat perintah lainnya atau
     dengan cara pemindahbukuan. Pasar sasaran giro adalah seluruh lapisan
     masyarakat, baik perorangan maupun badan usaha yang dalam profesinya
     membutuhkan bantuan jasa bank untuk menyelesaikan transaksi
     pembayarannya.

     Pengertian giro menurut undang-undang perbankan nomor 10 tahun 1998
     tanggal 10 November adalah Simpanan yang penarikannya dapat dilakukan
     setiap saat dengan menggunakan cek, bilyet giro, sarana perintah
     pembayaran lainnya atau dengan cara pemindah bukuan.

     Penarikan uang yang ada di rekening dapat ditarik secara tunai maupun
     ditarik secara non-tunai (pemindahbukuan). Penarikan secara tunai adalah
     dengan menggunakan cek dan penarikan non-tunai adalah dengan
     menggunakan                  bilyet             giro               (BG).

     Pengertian cek adalah surat perintah tanpa syarat dari nasabah kepada bank
     yang memelihara rekening giro nasabah tersebut untuk membayar sejumlah
     uang kepada pihak yang disebutkan didalam cek atau kepada pembawa cek.
     Berarti bank harus membyar sejumlah uang kepada siapa saja jika cek
     tersebut memenuhi syarat seperti yang telah ditentukan oleh bank.

     Syarat-syarat penarikan cek yang ditetapkan oleh bank untuk menarik
     sejumlah uang yang diinginkan adalah sebagai berikut:
     1. Tersedianya dana yang cukup.
     2. Adanya materai yang cukup.
     3. Jika ada coretan atau perubahan harus ditandatangani oleh si pemberi
         cek.
     4. Jumlah uang yang tertulis dalam angka dengan huruf haruslah sama.
     5. Memperhatikan masa kadaluwarsa cek yaitu 70 hari setelah
         dikeluarkannya cek tersebut.


                                                                            28
6. Tanda tangan atau stempel perusahaan harus sama dengan yang di
    specimen (contoh tanda      tangan).
7. Dalam keadaan tidak diblokir pihak berwenang.
8. Resi cek yang diberikan kenasabah sudah kembali.
9. Endorsment cek benar jika ada.
10. Kondisi cek sempurna tidak cacat.
11. Rekening nasabah belum ditutup.
12. Dan syarat-syarat lainnya.

Dalam praktik sehari-hari terdapat beberapa jenis cek yang sudah ada di
masyarakat dewasa ini antara lain:
a. Cek atas unjuk
   Yaitu cek yang tidak tertulis nama seseorang atau badan tertentu di
   dalam cek tersebut.
b. Cek atas nama
   Merupakan cek yang diterbitkan atas nama orang atau badan tertentu
   yang tertulis jelas didalam cek tersebut.
c. Cek silang
   Merupakan cek yang dipojok kiri atas diberi tanda dua tanda silang. Cek
   tersebut berfungsi sebagai pemindahbukuan bukan tunai dan fungsinya
   sama dengan bilyet giro.
d. Cek mundur
   Merupakan cek yang diberi tanggal mundur dari tanggal sekarang.
e. Cek kosong
   Yaitu cek yang dananya tidak tersedia artinya jumlah dana yang tertulis
   didalam cek tidak dapat dibayar karena dana yang yang ada di rekening
   giro jumlahnya lebih kecil.

Pengertian Bilyet Giro (BG) adalah surat perintah dari nasabah kepada bank
yang memelihara rekening giro nasabah tersebut untuk memindahbukua
sejumlah uang dari rekening yang bersangkutan kepada phak penerima yang
disebutkan namanya pada bank yang sama atau yang lainnya.

Syarat-syarat yang berlaku untuk BG agar pemindahbukuannya dapat
dilakukan sebagai berikut:
1. Ada nama Bilyet Giro(BG)
2.       Perintah tanpa syarat untuk memindahbukuan sejumlah uang atas
    beban rekening yang bersangkutan.
3. Nama dan tempat bank tertarik.
4. Jumlah dana yang dipindahkan dalam angka dan huruf
5. Nama atau rekening pihak penerima.
6. Tanda tangan penarik atau stempel penarik jika si penarik merupakan
    perusahaan.
7. Tanggal dan tempat penarikan
8. Nama bank yang menerima pemindahbukuan tersebut

Bagi bank simpanan giro merupakan sumber dana yang dibeli masyarakat.



                                                                       29
     sumber dana ini harus dibayar dengan suku bunga tertntu.pemberian balas
     jasa berupa suku bunga ini disebut jas giro.

E.   Simpanan Tabungan

     Pengertian tabungan menurut Undang-Undang perbankan nomor 10 tahun
     1998 adalah Simpanan yang penarikannya hanya dapat dilakukan menurut
     ayarat-syarat tertentu yang disepakati, tetapi tidak dapat ditarik dengan cek,
     bilyet giro tab atau alat lainnya yangdipersamakan dengan itu.

     Syarat-syarat penarikan tertentu maksudnya adalah sesuai dengan perjanjian
     atau kesepakatan yang telah dibuat antara bank dengan si penabung.


     Ada beberapa alat penarikan tabungan, hal ini tergantung dari persyaratan
     bank masing-masing, mau menggunakan sarana yang mereka inginkan. Alat
     ini dapat digunakan sendiri-sendiri atau secara bersamaan. Alat-alat yang
     dimaksud                                                           adalah:

     1. Buku Penabungan
        Di dalam buku tabungan berisi catatan saldo tabungan, penarikan,
        penyetoran dan pembebanan- pembebanan yang terjadi. Buku ini dapat
        digunakan pada saat penarikan, sehingga langsug dapat mengurangi
        saldo yang ada di buku tabungan tersebut.
     2. Slip Penarikan
        Merupakan formulir penarikan. Slip penarikan ini biasanya digunakan
        ini biasanya digunakan bersamaan dengan buku tabungan.
     3. Kartu yang terbuat dari plastik
        Yaitu sejenis kartu kredit yang terbuat dari plastik yang dapat digunakan
        untuk menarik sejumlah uang dari tabungannya baik uang yang ada
        ataupun di mesin Automated Teller Machine (ATM).
     4. Kombinasi
        Yaitu penarikan tabungan dapat dilakukan kombinasi antara buku
        tabungan dengan slip penarikan.
        Biaya yang dikeluarkan oleh bank untuk simpanan tabungan biasanya
        berupa bunga. Metode pembebanan bunga untuk jasa dan giro yaitu
        saldo terendah, saldo rata-rata dan saldo harian.

        Adapun jenis-jenis tabungan adalah:
        a. Tabanas
           Tabanas merupakan tabungan pembangunan nasional.
        b. Taska
           Yaitu tabungan yang dikaitkan dengan Asuransi Jiwa.
        c. Tabungan lainnya
           Yaitu tabungan selain Tabanas dan Taska. Tabungan ini dikeluarkan
           oleh masing-masing bank dengan ketentuan-ketentuan yang diatur
           oleh BI.



                                                                                30
F.   Simpanan deposito

     Pengertian Deposito menurut undang-undang No. 10 tahun 1998 adalah
     Simpanan yang penarikannya hanya dapat dilakukan pada waktu tertentu
     berdasarkan perjanjian nasabah penyimpanan dengan bank.

     Simpanan Deposito mengandung unsur jangka waktu (jatuh tempo) lebih
     panjang dan dapat ditarik atau dicairkan setelah jatuh tempo. Untuk
     mencairkan deposito yang dimiliki deposan dapat menggunakan Bilyet
     Deposito atau Sertifikat Deposito. Dalam praktiknya terdapat paling tidak
     tiga                              jenis                            yaitu:

     1. Deposito Berjangka
         Deposito berjangka (DB) merupakan deposito yang diterbitkan dengan
     jenis jangka waktu tertentu. Jangka waktu deposito berjangka biasanya
     bervariasi mulai dari 1, 2, 3, 6, 12, 18, sampai dengan 24 bulan. Deposito
     berjangka diterbitkan atas nama baik perorangan maupun lembaga. Artinya
     di dalam bilyet deposito tercantum nama seseorang atau lembaga si pemilik
     deposito berjangka. Penarikan bunga deposito berjangka dapat dilakukan
     setiap bulan atau setelah jatuh tempo atau sesuai jangka waktunya.
     Penarikan dapat dilakukan sacara tunai maupun pemindahbukuan dan setiap
     bunga deposito dikenakan pajak dari jumlah bunga yang diterimanya.

     2.        Sertifikat Deposito
         Merupakan deposito yang diterbitkan dengan jangka waktu 3, 6 dan 12
     bulan. Sertifikat deposito tidak tertulis nama seseorang atau badan hukum
     tertentu. Sertifikat deposito diterbitkan atas unjuk dalam bentuk sertifikat
     serta dapat dipindah-tangankan kepada pihak lain. Pencairan bunga sertifikat
     deposito dapat dilakukan di muka, tiap bulan atau jatuh tempo, baik tunai
     ataupun nontunai. Penerbitan nilai sertifikat deposito sudah tercetak dalam
     berbagai nominal dan biasanya dalam jumlah yang bulat, sehingga nasabah
     dapat membeli dalam lembaran banyak yang bervariasi untuk jumlah
     nominal                             yang                         diinginkan.

     3. Deposito On Call
         Merupakan deposito yang berjangka waktu minimal 7 hari dan paling
     lama kurang dari 1 bulan. Diterbitkan atas nama dan biasanya dalam jumlah
     yang besar (tergantung bank yang bersangkutan). Pencairan bunga dilakukan
     pada saat pencairan Deposito On Call dicairkan terlebih dahulu 3 hari
     sebelumnya nasabah sudah memberitahukan bank penerbit. Besarnya bunga
     biasanya di hitung perbulan dan biasanya untuk menentukan bunga
     dilakukan negosiasi antara nasabah dengan pihak bank.




Pengertian anjak piutang


                                                                              31
Anjak piutang atau disebut juga factoring apabila dilihat dari secara leksikal, frasa
anjak piutang terbangun dari dua kata yaitu anjak dan piutang. Kamus Besar
Bahasa Indonesia memberikan penjelasan kata anjak atau an·jak (v), ber·an·jak
(v) yang artinya berpindah (sedikit); beringsut; bergerak. kemudian kata Piutang,
pi·u·tang (n), ada beberapa pengertian, pengertian pertama, uang yang
dipinjamkan (yang dapat ditagih dari seseorang); utang-piutang, uang yang
dipinjam dari orang lain dan yang dipinjamkan kepada orang lain; Pengertian
kedua, tagihan uang perusahaan kepada para pelanggan yang diharapkan akan
dilunasi dalam waktu paling lama satu tahun sejak tanggal keluarnya tagihan. Dari
frasa tersebut dapat ditarik kesimpulan secara leksikal bahwa anjak piutang adalah
beralih atau berpindahnya piutang. Sehingga perjanjian anjak piutang adalah
perjanjian yang mendasari perpindahan tagihan sejumlah piutang kepada pihak
yang lain.

Memang belum ada kesamaan pendefinisian mengenai apa yang dimaksud dengan
anjak piutang, Namun definisi tersebut dapat kita simpulkan dari pendefinsian
mengenai perusahaan anjak piutang dalam peraturan perundang-undangan yaitu:
(1) Pasal 1 (8) Keputusan Presiden Nomor 61 Tahun 1988 Tentang Lembaga
Pembiayan dan (2) Pasal 1 (i) Kepmenkeu No. 1251 Tahun 1988 Tentang
Ketentuan dan Tata Cara Pelaksanaan Lembaga Pembiayaan. Kedua peraturan
perundang-undangan tersebut memberikan definisi perusahaan anjak piutang :
“badan usaha yang melakukan kegiatan pembiayaan dalam bentuk pembelian dan
atau pengalihan serta pengurusan piutang atau tagihan jangka pendek suatu
perusahaan dan transaksi perdagangan dalam atau luar negeri”

Berdasarkan penjelasan tersebut, dapat dilihat kegiatan pokok dari perusahaan
anjak piutang, yaitu:

   1. Pembelian dan atau penagihan piutang berjangka pendek dan transaksi
      perdagangan.
   2. Menatausahakan penjualan kredit.
   3. Penagihan piutang perusahaan kredit.

Agar dapat lebih memahami tentang perjanjian anjak piutang ini maka dapat
dilihat dari tiga serangkai hukum yaitu, (1) subyek hukum, (2)obyek hukum, dan
(3) Hubungan hukum atau Peristiwa Hukum. Dalam perjanjian ketiga-tiganya
selalu ada.

Subyek hukum dari perjanjian anjak piutang itu tentau saja adalah Penjual,
Pembeli dan Perusahaan anjak piutang. Namun penamaan tersebut dirubah
disesuaikan dengan hakekat anjak piutang. Perusahaan anjak piutang atau dikenal
sebagai factor adalah badan usaha yang menawarkan anjak piutang lihat
pengertian di atas. Klien adalah pihak yang menggunakan jasa dari anjak piutang
(mudahnya adalah pihak yang menjual piutang kepada factor). Penjual atau
supplier masuk dalam pengeritan klien. Sementara nasabah atau konsumen
merupakan pihak yang mengadakan transaksi dengan klien.




                                                                                  32
Obyek Hukum. Obyek hukum dalam perjanjian ini jelas adalah piutang itu
sendiri. Baik itu dijual atau dialihkan atau di urus oleh pihak lain.

Peristiwa hukum atau hubungan hukumnya adalah perjanjian anjak piutang,
yaitu perjanjian antara perusahaan anjak piutang dengan klien.



Berikut peragaan skema anjak piutang (factoring)




Cara peralihan piutang

Peralihan hak milik atau dikenal dengan levering sejatinya harus melihat bentuk
dari bendanya yang akan dialihkan tersebut, yaitu apakah benda tersebut adalah
benda bergerak dan benda tidak bergerak. Karena pada esensinya anjak piutang
adalah perjanjian jual beli maka cara peralihannya pun mengikuti kaedah jual beli
(Pasal 1459 KUHPerdata). Dimana dalam peralihannya dilihat dalam Pasal 612,
613, dan 616 KUHPerdata.

Umumnya piutang yang timbul dari perdagangan adalah piutang atas nama (op
name). Sehingga berdasarkan Pasal 613 pengalihan dalam anjak piutang (piutang
atas nama dan benda tak bertubuh lainnya) dilakukan dengan akta dan
pemberitahuan dan pengakuan.




                                 LEASING

                                                                              33
                          ( Sewa Guna Usaha )


A. Pengertian Leasing
      Istilah leasing berasal dari bahasa Inggris to lease yang berarti
   menyewakan. Istilah ini berbeda dari istilah rent / rental.
      Setiap kegiatan pembiayaan perusahaan dalam bentuk penyediaan barang-
   barang modal yang digunakan untuk jangka waktu tertentu didasari
   pembayaran secara berkala disertai dengan hak pilih (opsi) bagi perusahaan
   untuk membeli barang-barang modal yang bersangkutan atau memperpanjang
   jangka waktu leasing berdasarkan nilai sisa yang telah disepakati bersama.
      Leasing       memberikan   kemungkinan       untuk    memperoleh   alat-alat
   perlengkapan dan fasilitas yang diperlukan walaupun keuangan untuk itu
   tidak dapat segera disediakan. Dengan demikian, menambah efisiensi dari
   keuangan yang ada dan mencegah kesulitan dalam hal administrasi.
      Leasing menurut Perpres No. 9 Tahun 2009 tentang Lembaga Pembiayaan
   adalah kegiatan pembiayaan dalam bentuk penyediaan barang modal baik
   secara sewa guna usaha dengan hak opsi (finance lease) maupun sewa guna
   usaha tanpa hak opsi (operating lease) untuk digunakan oleh penyewa guna
   usaha (lessee) selama jangka waktu tertentu berdasarkan pembayaran secara
   angsuran. Dilihat dari segi pandangan hukum kegiatan Leasing mempunyai 4
   tahap yang utama yaitu :
      a. Perjanjian antara pihak Lessor dengan pihak Lessee.
      b. Berdasarkan perjanjian sewa guna usaha, Lessor mengalihkan hak
          penggunaan barang pada pihak Lessee.
      c. Lessee membayar kepada Lessor uang sewa atas penggunaan barang
          (asset)
      d. Lessee mengembalikan barang tersebut pada Lessor pada akhir periode
          yang ditetapkan lebih dahulu dan jangka waktunya kurang dari umur
          ekonomi barang tersebut.

          Sesuai dengan PMK No. 84/PMK.012/2006 tanggal 29 September
      2009 tentang Perusahaan Pembiayaan, jumlah modal disetor atau


                                                                                34
     simpanan pokok dan simpanan wajib dalam rangka pendirian perusahaan
     pembiayaan adalah :
           a. Perusahaan swasta nasional atau perusahaan patungan sekurang-
              kurangnya sebesar Rp. 100 milyar.
           b. Koperasi sekurang-kurangnya sebesar Rp. 50 milyar.



B. Jenis Perusahaan Leasing
   Dalam     menjalankan   kegiatan   usahanya    Perusahaan      Leasing   dapat
   digolongkan menjadi 3 jenis kelompok Leasing yaitu :


   a. Independent Leasing Company
      Adalah jenis pembiayaan leasing dimana Lessor bebas menentukan
      pembelian barang dari berbagai supplier yang kemudian di lease kepada
      pemakai.


      Gambar : Mekanisme Transaksi Leasing dalam Independent Lessor.


                             Pembelian Barang
        Supplier                                            Independent
                                                               Lessor
                               Pembayaran


                                       Pembayaran Leasing              Kontrak


                                                              Lessor




   b. Captive Lessor
      Adalah jenis pembiayaan leasing dimana Lessor memiliki Supplier
      tersendiri yang berperan sebagai perusahaan induk. Pihak pertama terdiri


                                                                                 35
      dari perusahaan induk dan anak perusahaan dan pihak keduanya lessee
      sebagai pemakai barang.


      Gambar : Mekanisme Transaksi Leasing dalam Captive Lessor.


                             Pembayaran
     Perusahaan                                             Subsidiary
       Induk                                                 (Lessor)
                          Pembayaran Barang


                                          Kontrak Leasing                Pembayaran
                                                                         Leasing

                                                             Lessee




   c. Lessee Broker atau Packager
      Adalah jenis pembiayaan leasing dimana Broker yang biasanya tidak
      memiliki barang/peralatan hanya berfungsi mempertemukan calon lease
      dengan lessor.


      Gambar : Mekanisme Transaksi Leasing dalam Lease Broker.

                                     Lessee




         Barang                 Lease Broker                       Lessor



                                    Pendanaan



C. Jenis Pembiayaan Leasing
     Leasing company sebagai lembaga keuangan menyediakan barang modal
   bagi para pengusaha yang membutuhkannya selama jangka waktu tertentu


                                                                                 36
dengan membayar sewa. Sebagai contoh, sipengusaha hanya memiliki tanah,
bangunan, dan tidak memiliki cukup dana untuk membeli mesin-mesin jika
ingin mendirikan pabrik. Ia dapat memperoleh mesin melalui leasing.
   Dalam pembiayaan investasi melalui leasing ini terdapat beberapa cara,
yaitu sebagai berikut :
1. Financial Lease (Full-pay out leasing)
   Adalah suatu bentuk pembiayaan denga cara kontrak antara lessor dengan
   lessee dengan pemberian hak opsi kepada lessee pada akhir periode lease.
   Finance Lease terbagi dalam berbagai bentuk transaksi sebagai berikut :
    Direct Financial Lease/ True Lease/ Direct Lease adalah transaksi
       dimana Lessor membeli suatu barang atas permintaan pihak Lessee
       dan sekaligus menyewa-guna-usahakan barang tersebut kepada Lessee
       yang bersangkutan.
    Sale and Lease Back, adalah transaksi dimana pihak Lessee sengaja
       menjual barang modalnya kepada lessor untuk kemudian dilakukan
       kontrak sewa guna usaha atas barang tersebut dengan tujuan untuk
       memperoleh tambahan dana untuk modal kerja, jadi transaksi Leasing
       ini bersifat refinancing.
    Leveraged Lease, adalah transaksi dimana pihak yang memberikan
       pembiayaan di samping lessor juga pihak ketiga. Biasanya dilakukan
       terhadap barang modal yang bernilai sangat tinggi, dimana pihak
       lessor hanya mampu membiayai antara 20% sampai 40% harga barang
       modal, selebihnya dibiayai pihak ketiga dengan memakai kontrak
       leasing bersangkutan sebagai jaminan hutangnya. Pihak ketiga disebut
       juga Credit Provider atau Debt Participant.
    Syndicated adalah transaksi leasing yang dilakukan lebih dari satu
       Lessor atas suatu objek leasing.
    Cross Border Lease adalah transaksi laesing yang dilakukan diluar
       batas negara yaitu negara Lessor berbeda dengan negara Lessee.
    Vendor Program adalah suatu metode penjualan yang dilakukan oleh
       produsen atau dealer dimana perusahaan leasing memberikan atau
       menyediakan fasilitas leasing kepada pembeli barang.


                                                                             37
   2. Operating Lease
      Adalah suatu bentuk pembiayaan dengan cara kontrak antara Lessor
      dengan Lessee tanpa pemberian hak opsi kepada Lease pada akhir periode
      lease jumlah seluruh pembayaran berkala tidak mencakup jumlah biaya
      yang dikeluarkan untuk memperoleh barang modal tersebut berikut
      dengan bunganya.


      Perbedaan Dasar antara Finance Lease ( Full-payout leasing) dengan
      operting Lease.
       No                Finance Lease                 Operating Lease
        1        Perjanjian lease tidak dapat   Dapat dibatalkan setiap saat
                 Dibatalkan (dikenakan denda)

        2        Masa sewa selama umur          Masa sewa relatif singkat
                 ekonomis diberikan hak opsi
                 beli
        3        Menggunakan transaksi          Tidak ada transaksi keuangan
                 keuangan
        4        Tidak dikenakan biaya lease    Transaksi biaya sewa menyewa
        5                    -                  Angsuran leasing kena PPn dan
                                                PPh Ps 23
        6        Bersifat full pay out          Tidak full pay out
        7        Lessor tidak dapat             Lessor dapat menyusutkan
                 menyusutkan modal              barang modal



   3. Sales and Lease Back
      Adalah cara pembiayaan dimana pemilik barang/ modal menjual hak
      miliknya kepada lessor dan kemudian barang modal tersebut oleh lessor
      di-lease-kan kembali kepada pemilik semula. Bentuk perjanjian ini
      diadakan apabila lessee ingin menutup defisit yang diperkirakan akan
      terjadi.
D. Mekanisme dan Tehnik Pembayaran Leasing
     Besarnya uang sewa yang dibayarkan oleh lessee terdiri dari unsur bunga
   dan cicilan pokok yang jumlahnya selalu berubah-ubah. Pembayaran bunga


                                                                               38
   tersebut akan semakin kecil sejalan dengan penurunan saldo pinjaman pokok.
   Pembayaran sewa dapat dilakukan dengan menggunakan dua cara, yaitu
   sebagai berikut :
      1. Pembayaran di Muka.
          Pembayaran angsuran pertama dilakukan pada saat realisasi, angsuran
          ini hanya mengurangi utang pokok karena saat itu belum dikenakan
          bunga. Misalnya, kontrak leasing dilakukan pada tanggal 1 Maret 2007
          untuk jangka waktu 12 bulan, pembayaran sewa pertama dilakukan
          pada tanggal 1 Maret 2007.
      2. Pembayaran di Belakang
          Angsuran realisasi dilakukan pada bulan berikutnya., angsuran ini
          mengandung unsur bunga dan cicilan pokok. Misalnya, kontrak leasing
          dilakukan pada tanggal 1 April 2007 untuk jangka waktu yang sama
          dengan diatas. Pembayaran sewa pertama dilakukan pada tanggal 1
          April 2007, dengan jumlah angsuran yang mengandung bunga
          ditambah cicilan pokok.


E. Perkembangan Leasing di Indonesia
      Leasing adalah suatu bangunan hukum yang tidak lain merupakan
   improvisasi dari pranata hukum konvensional yang disebut “sewa menyewa”
   (lease). Dikatakan konvensional, karena ternyata sewa menyewa itu
   merupakan bangunan tua dan sudah lama sekali ada dalam sejarah peradaban
   umat manusia. Pranata hukum sewa menyewa yang dikembangkan sebagai
   ilmu pengetahuan telah terekam dalam sejarah paling tidak sudah ada sejak
   lebih kurang 4500 tahun sebelum Masehi. Yakni sewa menyewa yang
   dipraktekkan dan dikembangkan oleh orang-orang Sumeria.
      Sedangkan leasing dalam arti modern pertama kali berkembang di
   Amerika Serikat, dan kemudian menyebar ke Eropa bahkan keseluruh
   belahan dunia termasuk di Indonesia.
      Di Amerika Serikat leasing dalam arti modern ini pertama kali
   diperkenankan yaitu leasing yang berobjekkan Kereta api. Bahkan dalam




                                                                           39
      tahun 1850, telah tercatat adanya perusahaan leasing yang pertama di
      Amerika Serikat yang beroperasi di bidang Kereta api.
         Eksistensi pranata hukum leasing di Indonesia baru terjadi di awal
      dasawarsa 1970-an dan baru diatur untuk pertama kali dalam perundang-
      undangan Republik Indonesia pada tahun 1974. Beberapa peraturan di tahun
      1974 tersebut merupakan tonggak sejarah perkembangan hukum tentang
      leasing di negeri ini. Adapun peraturan-peraturan tersebut, yaitu :
      1. Surat Keputusan Bersama Menteri Keuangan, Menteri Perindustrian dan
          Menteri Perdagangan Republik Indonesia No. Kep-122/MK/IV/2/1974,
          No. 32/M/SK/2/1974, No. 30/Kpb/I/1974, tertanggal 7 Pebruari 1974
          tentang Perizinan Usaha Leasing.
      2. Surat   Keputusan     Menteri     Keuangan     Republik     Indonesia    No.
          Kep.649/MK/IV/5/1974, tanggal 6 Mei 1974 tentang Perizinan Usaha
          Leasing.
      3. Surat Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia No. Kep.
          649/MK/IV/5/1974, tanggal 6 Mei 1974 tentang Penegasan Ketentuan
          Pajak Penjualan Dan Besarnya Bea Materai Terhadap Usaha Leasing.
      4. Pengumuman        Direktur    Jenderal    Moneter      Nomor       :    Peng-
          307/DJM/III.I/7/1974, tanggal 8 Juli 1974 tentang Pedoman Pelaksanaan
          Peraturan Leasing.

      Setelah berbagai aturan yang dikeluarkan pada tahun 1974, ada beberapa
      aturan lagi yang terbit di tahun-tahun berikutnya. Dan perkembangan sejarah
      bisnis leasing di Indonesia sangat terkait erat dengan policy pemerintah yang
      tertuang dalam peraturan-peraturan tersebut.


                                  PASAR UANG

2.1    PENGERTIAN PASAR UANG
             Dalam system keuangan, pasar uang (money market) dan pasar modal
       (capital market) merupakan bagian dari pasar keuangan (financial market).
       Pasar uang adalah suatu kelompok pasar untuk instrument kredit jangka
       pendek, yang biasanya berkualitas tinggi diperjualbelikan. Jangka waktu


                                                                                    40
      instrument pasar uang biasanya jatuh tempo dalam waktu 1 tahun atau
      kurang.
           Perwujudan dari pasar semacam ini berupa institusi dimana individu
      atau organisasi yang mempunyai kelebihan dana jangka pendek bertemu
      dengan individu yang memerlukan dana. Pasar Uang menurut Pandji
      Anoraga dan Piji Pakarti (2001:19) mempunyai ciri : jangka waktu dana
      yang pendek, tidak terikat pada tempat tertentu, pada umumnya supply dan
      demand bertemu secara langsung dan tidak perlu guarantor underwriter.
      Pasar uang dan pasar modal sebetulnya merupakan sarana investasi dan
      mobilisasi dana. Menurut Pandji Anoraga dan Piji Pakarti (2001:19)
      mempunyai ciri : jangka waktu dana yang pendek, tidak terikat pada tempat
      tertentu, pada umumnya supply dan demand bertemu secara langsung dan
      tidak perlu guarantor underwriter. Pasar uang dan pasar modal sebetulnya
      merupakan sarana investasi dan mobilisasi dana.
           Pasar uang adalah suatu tempat pertemuan abstrak dimana para
      pemilik dana jangka pendek dapat menawarkan kepada calon pemakai yang
      membutuhkannya, baik secara langsung maupun melalui perantara.
      Sedangkan yang dimaksud dengan dana jangka pendek adalah dana-dana
      yang dihimpun dari perusahaan maupun perorangan dengan batasan waktu
      dari satu hari sampai satu tahun, yang dapat diperjualbelikan di dalam pasar
      uang.Pandji Anoraga dan Piji Pakarti (2001:20).
           Perwujudan dari pasar semacam ini berupa institusi dimana individu
      atau organisasi yang mempunyai kelebihan dana jangka pendek bertemu
      dengan individu yang memerlukan dana. Pasar uang dan pasar modal
      merupakan sarana investasi dan mobilisasi dana bagi investor. Pasar uang
      saat ini mencari investasi yang menawarkan expected return yang paling
      tinggi untuk tingkat risiko tertentu sejalan dengan perkembangan
      perdagangan dunia.


2.2   FUNGSI DAN TUJUAN PASAR UANG
           Pasar uang mempunyai fungsi sebagai berikut :




                                                                               41
1. Sebagai perantara dalam perdagangan surat-surat berharga berjangka
     pendek
2. Sebagai penghimpun danas berupa surat-surat berharga jangka pendek
3. Sebagai sumber pembiayaan bagi perusahan untul melakukan investasi
4. Sebagai perantara bagi investor luar negeri dalam menyalurkan kredit
     jangka pendek kepada perusahaan di Indonesia
       Kebutuhan akan adanya pasar uang dilatar belakangi adanya
kebutuhan untuk mendapatkan sejumlah dana dalam jangka pendek atau
sifatnya harus segera dipenuhi. Dengan demikian pasar uang merupakan
sarana alternatif khususnya bagi lembaga-lembaga keuangan, perusahaan-
perusahaan non keuangan, dan peserta-peserta lainnya, baik dalam
memenuhi kebutuhan dana jangka pendeknya maupun dalam rangka
melakukan penempatan dana atas kelebihan likuiditasnya.
       Pasar uang juga merupakan sarana pengendali moneter (secara tidak
langsung) oleh otoritas moneter dalam melaksanakan operasi terbuka,
karena di Indonesia pelaksanaan operasi pasar terbuka oleh Bank Sentral
yaitu Bank Indonesia dilakukan melalui pasar uang dengan Sertifikat Bank
Indonesia (SBI) dan Surat Berharga Pasar Uang (SBPU) sebagai
instrumennya.

       Adapun tujuan dari pasar uang antara lain :
a. Dari pihak yang membutuhkan dana
     1) Untuk memenuhi kebutuhan dana jangka pendek.
     2) Untuk memenuhi kebutuhan likuiditas.
     3) Untuk memenuhi kebutuhan modal kerja
     4) Untuk membayar karena kalah kliring
b. Dari pihak yang menanamkan dana
     1) Untuk memperoleh penghasilan dengan tingkat suku bunga tertentu.
     2) Bermaksud membantu pihak yang benar-benar mengalami kesulitan
        keuangan.
     3) Spekulasi dengan harapan memperoleh keuntungan besar dalam
        jangka pendek dalam kondis iekonomi tertentu.
c.   Untuk manajer keuangan


                                                                        42
         1) Manajemen keuangan merupakan salah satu bidang manajemen
             fungsional dalam suatu perusahaan, yang mempelajari tentang
             penggunaan dana, memperoleh dana dan pembagian hasil operasi
             perusahaan.
         2) Dapat memperoleh dana dengan cepat.
         3) Terpenuhinya kebutuhan kredit jangka pendek untuk membiayai
             kebutuhan modal kerja perusahaan, seperti bahan dasar, bahan
             pembantu untuk kelancaran proses produksinya.


2.3   INSTRUMEN PASAR UANG
           Instrumen atau surat-surat berharga yang diperjualbelikan dalam pasar
      uang jenisnya cukup bervariasi termasuk surat-surat berharga yang
      diterbitkan oleh badan-badan usaha swasta dan negara serta lembaga-
      lembaga pemerintah.
           Instrumen pasar uang adalah sebagai berikut :
      1. Call Money (Interbank Call Money Market)
               Call Money adalah penempatan atau peminjaman dana jangka
         pendek (dalam hitungan hari) antar bank. Call Money merupakan
         instrument bank dalam mengatasi kekurangan atau kelebihan dana
         jangka pendek yang bersifat sementara.
      2. Sertifikat Bank Indonesia (SBI)
               SBI adalah surat berharga dalam mata uang rupiah yang
         diterbitkan oleh Bank Indonesia sebagai pengakuan utang berjangka
         waktu pendek. Tujuan bank Indonesia mengeluarkan SBI untuk
         mengurangi peredaran uang di dalam masyarakat.
               Karakteristik SBI:
         - Satuan unit sebesar Rp.1.000.000,- (satu juta rupiah).
         - Berjangka waktu sekurang-kurangnya 1 (satu) bulan dan paling lama
             12 (dua belas) bulan.
         - Penerbitan dan perdagangan dilakukan dengan sistem diskonto.




                                                                             43
- Diterbitkan tanpa warkat, artinya SBI diterbitkan tanpa adanya fisik
   SBI itu sendiri dan bukti kepemilikan bagi pemegang hanya berupa
   pencatatan elektronis.
- Dapat dipindahtangankan (negotiable).
     SBI sebagai instrumen kebijaksanaan operasi pasar terbuka,
terutama untuk tujuan kontraksi moneter. SBI yang diterbitkan dan
diperdagangkan dengan sistem lelang, pada dasarnya penggunaannya
sama dengan penggunaan T-Bills di pasar uang Amerika Serikat.
Melalui penggunaan SBI tersebut, BI dapat secara tidak langsung dapat
mempengaruhi tingkat bunga di pasar uang dengan cara mengumumkan
Stop Out Rate (SOR).
     SOR adalah tingkat suku bunga yang diterima oleh BI atas
penawaran tingkat bunga dari peserta lelang. Selanjutnya, SOR tersebut
akan dapat dipakai sebagai indikator bagi tingkat suku bunga transaksi di
pasar uang pada umumnya.
     SOR merupakan kebijakan Bank Indonesia dalam melakukan
penjualan SBI secara lelang kepada Bank atau Lembaga Keuangan atau
melalui Broker, dengan tujuan:
- Untuk mengendalikan baik volume uang beredar maupun tingkat
   bunga melalui target volume yang diinginkan dan tingkat bunga
   dalam suatu batas tertentu.
- Dengan menyerahkan tingkat bunga pada Prime Dealer untuk jumlah
   60 %, maka tingkat bunga menjadi wajar.




                                                                      44
           Pola pembelian SBI :
   - Pembelian melalui Pasar Perdana (langsung ke BI).
   - Pembelian melalui Pasar Sekunder.
   - Pembelian melalui Broker.
           Sebelum jatuh tempo SBI boleh diperjualbelikan, baik oleh Bank,
   LKBB, maupun masyarakat atau dunia usaha setiap saat melalui pasar
   sekunder. Untuk itu Security House (perantara) akan membeli atau
   menjual SBI setiap hari dengan tingkat diskonto yang berlaku di pasar.
   Untuk memperlancar perdagangan SBI ini Bank Sentral Indonesia
   menunjukkan beberapa market dan broker yang terdiri dari Bank-bank
   Umum sebagai lembaga penunjang dalam perdagangan SBI. Market
   maker disini bertindak sebagai penggerak pasar sekunder.
3. Sertifikat Deposito
           Instrumen keuangan yang diterbitkan oleh suatu bank atas unjuk
   dan dinyatakan dalam suatu jumlah, jangka waktu dan tingkat bunga
   tertentu. Sertifikat Deposito adalah deposito berjangka yang bukti
   simpanannya dapat diperdagangkan. Ciri pokok yang membedakannya
   dengan      deposito   berjangka   terletak   pada   sifat   yang   dapat
   dipindahtangankan atau diperjualbelikan sebelum jangka waktu jatuh
   temponya melalui lembaga-lembaga keuangan lainnya.
4. Surat Berharga Pasar Uang (SBPU)
           Surat-surat berharga berjangka pendek yang dapat diperjualbelikan
   secara diskonto dengan Bank Indonesia atau lembaga diskonto yang
   ditunjuk oleh BI.
           Ditinjau dari jenis transaksi dan warkatnya, SBPU dapat dibedakan
   sbb :
   a. Surat Sanggup (aksep/promes), dapat berupa:
              Surat sanggup yang diterbitkan oleh nasabah dalam rangka
       penerimaan kredit dari bank untuk membiayai kegiatan tertentu.
       Surat sanggup yang diterbitkan oleh bank dalam rangka pinjaman
       antar bank.




                                                                         45
   b. Surat wesel, dapat berupa :
            Surat wesel yang ditarik oleh suatu pihak dan diaksep oleh
      pihak lain dalam rangka transaksi tertentu. Penarik dan atau tertarik
      adalah nasabah bank. Surat wesel yang ditarik oleh nasabah bank dan
      diaksep oleh bank dalam rangka pemberian kredit untuk membiayai
      kegiatan tertentu.

         Mekanisme perdagangan SBPU adalah dunia usaha atau
   masyarakat yang merupakan nasabah berbentuk badan usaha maupun
   perorangan mengeluarkan surat aksep atau wesel (sebagai surat utang)
   untuk mendapatkan dana dari Bank atau LKBB (Lembaga Keuangan
   bukan Bank). Kemudian SBPU dijualbelikan oleh Bank dan LKBB
   melalui security house (perantara) maupun melalui pasar sekunder, yaitu
   diperjualbelikan antara lembaga-lembaga keuangan itu sendiri serta
   dunia usaha atau masyarakat. SBPU ini melalui security house juga bisa
   dijualbelikan ke Bank Sentral Indonesia. Tujuannya untuk meningkatkan
   likuiditas Bank Umum dan menekan laju inflasi.
5. Banker's Acceptence
         Suatu instrumen pasar uang yang digunakan untuk memberikan
   kredit pada eksportir atau importir untuk membayar sejumlah barang
   atau untuk membeli valuta asing.
         Bank Acceptence adalah surat berharga yang timbul karena suatu
   pihak memiliki tagihan kepada pihak lain. Oleh karena pihak yang
   memiliki uang tersebut memerlukan dana dalam waktu singkat maka
   tagihan tersebut dapat dijual dengan mendapatkan jaminan pembayaran
   dari bank. Biasanya terdapat pada transaksi ekspor/impor yang dilakukan
   dengan sarana letter of credit (L/C).
         Pihak penjual (eksportir) di luar negeri atau atas bank pembeli di
   luar negeri atau atas bank pembeli di luar negeri (opening bank) menurut
   syarat L/C; pada draft tercantum jumlah uang dan tanggal pembayaran.
   Bank penarik draft sebagai bank penerima fasilitas sedangkan bank yang
   mengaksep draft (accepting bank) sebagai bank pemberi fasilitas bank
   pemberi fasilitas Bank Acceptance.


                                                                        46
         Jangka waktu Bank acceptance berkirsar antara 1 sampai 6 bulan.
   Bunga sekuritas didapatkan dengan sistem diskonto dimana bunganya
   dibayarkan dimuka berupa diskon terhadap nilai nominalnya .
6. Commercial Paper
         Promes yang tidak disertai dengan jaminan yang diterbitkan oleh
   perusahaan untuk memperoleh dana jangka pendek dan dijual kepada
   investor dalam pasar uang.
         Commercial Paper (CP) adalah surat berharga yang dikeluarkan
   oleh perusahaan swasta/BUMN. CP adalah surat janji untuk membayar
   kembali jumlah hutang yang diterima pada suatu tanggal tertentu. Bunga
   CP juga didapatkan dengan menggunakan diskonto Berbeda dengan
   Bank Acceptance atauipun Sertifikat Deposito, pelunasan CP tidak
   dijamin oleh bank maupun suatu hak kebendaan (Unsecured Promisory
   Notes).
         Commercial Paper pada dasarnya merupakan promes yang tidak
   disertai dengan jaminan (unsequred promissory notes), diterbitkan oleh
   perusahaan untuk memperoleh dana jangka pendek dan dijual kepada
   investor dalam pasar uang. Penerbit berjanji akan membayar sejumlah
   tertentu uang pada saat jatuh tempo. Penerbit CP adalah perusahaan yang
   mempunyai kredibilitas tinggi. Jangka waktu jatuh tempo CP ini berkisar
   mulai dari beberapa hari sampai 270 hari.
         Penjualan CP dilakukan umumnya dengan sistem diskonto, namun
   beberapa diantaranya menggunakan bunga sebagaimana halnya dengan
   kredit.
         Dalam pelaksanaannya seringkali CP diterbitkan dengan backup
   fasilitas credit line dari bank yang jumlahnya mendekati atau sama
   dengan nilai CP yang diterbitkan. Dalam perkembangannya di beberapa
   negara, CP diterbitkan dengan dukungan aset perusahaan lainnya,
   misalnya piutang, dsb. Bahkan perkembangan terakhir CP diterbitkan
   dengan bank garansi atau jaminan dari perusahaan induknya. Namun
   kasus ini terjadi bila investor tertentu meminta jaminan dari nilai CP
   yang dibeli dalam jumlah besar.


                                                                       47
      Penerbitan CP dapat dilakukan secara langsung kepada investor
maupun secara tidak langsung dengan menggunakan jasa perantara.

      Kelebihan CP bagi penerbit dan investor antara lain sbb :
a. Bagi Penerbit :
    1) Tingkat bunga CP lebih rendah daripada prime rate, yaitu tingkat
        bunga kredit yang dikenakan perbankan kepada nasabah
        utamanya, sehingga biaya dana akan menjadi lebih murah.
    2) Tidak perlu menyediakan jaminan.
    3) Penerbitannya relatif lebih mudah karena pada prinsipnya hanya
        melibatkan penerbit dan investor.
    4) Jangka waktu jatuh temponya lebih fleksibel, dapat diperpanjang
        atas persetujuan investor.
b. Bagi Investor :
    1) CP menawarkan penghasilan yang lebih tinggi dibandingkan
        misalnya Sertifikat Deposito, Treasury Bills.
    2) Dapat dijual kembali (didiskontokan) tanpa perlu menunggu
        jatuh temponya.
    3) Tingkat keamanannya relatif tinggi karena penerbit CP umumnya
        perusahaan dengan rating yang tinggi.

      Kelemahan CP dilihat dari kepentingan investor dan penerbit
antara lain:
a. Bagi investor :
          CP merupakan instrumen yang tidak disertai dengan jaminan.
    Kemungkinan penerbit melakukan rekayasa laporan keuangan untuk
    memperlihatkan keadaan likuiditas dan kemampuan perolehan
    labanya.
b. Bagi perusahaan penerbit :
          CP merupakan sumber dana jangka pendek sehingga
    perusahaan kurang leluasa untuk dijadikan sebagai modal investasi.




                                                                     48
7. Treasury Bills (T-Bills)
           T-Bills merupakan instrument utang yang diterbitkan oleh
   pemerintah atau Bank Sentral atas unjuk dengan jumlah tertentu yang
   akan dibayarkan kepada pemegang pada tanggal yang telah ditetapkan.
   Instrumen ini berjangka waktu jatuh tempo satu tahun atau kurang.
   Instrumen yg sangat aman karena diterbitkan oleh pemerintah atau
   biasanya oleh Bank Sentral. Oleh karena itu instrumen ini sangat mudah
   diperjualbelikan dan disukai oleh perusahaan-perusahaan, terutama oleh
   lembaga-lembaga keuangan untuk dijadikan sebagai cadangan likuiditas
   sekuner yg memberikan hasil.
           T-Bills (istilah umum digunakan di dunia internasional) kalau di
   Indonesia adalah SBI (Sertifikat Bank Indonesia).
8. Repurchase Agreement
           Repurchase Agreement      adalah transaksi jual beli surat-surat
   berharga disertai dengan perjanjian bahwa penjual akan membeli
   kembali surat-surat berharga yang dijual tersebut pada tanggal dan
   dengan harga yang telah ditetapkan lebih dahulu.

     Indikator pasar uang sangat diperlukan untuk mengukur atau paling
tidak mengamati perkembangan pasar uang, indikator pasar uang meliputi :
1. Suku bunga Pasar Uang Antar Bank (Rp)
   Tingkat bunga yang dikenakan oleh bank terhadap bank lain dalam hal
   pinjam meminjam dana dalam bentuk rupiah.
2. Volume transaksi Pasar Uang Antar Bank (Rp)
   Jumlah transaksi antar bank dalam hal pinjam meminjam dalam bentuk
   rupiah.
3. Suku bunga Pasar Uang Antar Bank (US$)
   Tingkat bunga yang dikenakan oleh bank terhadap bank lain dalam hal
   pinjam meminjam dana dalam bentuk US $.
4. Volume transaksi Pasar Uang Antar Bank (US$)
   Jumlah transaksi antar bank dalam hal pinjam meminjam dalam bentuk
   US $.



                                                                        49
    5. J1BOR (Jakarta Interbank Offered)
        Suku bunga yang ditawarkan untuk transaksi pinjam meminjam antar
        bank.
    6. Suku bunga deposito Rupiah (%/Th)
        Tingkat bunga yang diberikan para deposan yang mendepositokan
        uangnya dalam bentuk Rupiah.
    7. Suku bunga deposito US$ (%/Th)
        Tingkat bunga yang diberikan para deposan yang mendepositokan
        uangnya dalam bentuk US $.
    8. Nilai Tukar Rupiah (Kurs)
        Harga suatu mata uang terhadap mata uang lainnya atau nilai dari suatu
        mata uang terhadap mata uang lainnya.
    9. Suku bunga kredit
        Tingkat bunga kredit yang dikenakan bank atau lembaga keuangan
        lainnya kepada para kreditor.
    10. Inflasi
        Kenaikan tingkat harga barang dan jasa secara umum dan terus menerus
        suatu waktu tertentu.
    11. Indeks Harga Konsumen (IHK)
        Angka indeks yang menunjukkan tingkat harga barang dan jasa yang
        harus dibeli konsumen dalam suatu periode tertentu.
    12. Sertifikat Bank Indonesia (SBI)
        Instrumen investasi jangka pendek yang bebas resiko.




                     LEMBAGA               KEUANGAN


A. PENGERTIAN LEMBAGA KEUANGAN



Lembaga keuangan adalah lembaga yang kegiatan utamanya menghimpun dan


                                                                           50
menyalurkan dana, dengan motif mendapatkan keuntungan. Porsi terbesar asetnya
merupakan aset financial. Fungsi utama lembaga keuangan adalah sebagai
perantara pihak-pihak yang membutuhkan uang-modal (pemakai dana) dengan
pihak-pihak yang memilikinya (pemilik dana).

Jika uang dapat dianalogikan sebagai darah yang dibutuhkan untuk kehidupan
ekonomi, maka lembaga keuangan adalah jantungnya. Sebab melalui lembaga
keuanganlah uang yang ada dalam perekonomian dihimpun dan dialirkan ke
sektor-sektor kegiatan yang membutuhkan. Tanpa adanya lembaga keuangan,
tidak mungkin mengharapkan alokasi sumber daya keuangan yang efisien, karena
pasar uang-modal tidak dapat bekerja efisien. Dari penjelasan di atas, lembaga
keuangan mempunyai fungsi dan peranan penting untuk meningkatkan efisiensi
pasar uang-modal. Lewat upaya lembaga-lembaga keuangan, kekuatan penawaran
dan permintaan uang dipertemukan.

Yang dipertukarkan/dialihkan dalam pasar uang-modal adalah hak penggunaan
uang. Penawaran uang-modal berasal dari individu dan atau institusi yang
bersedia menunda penggunaan uangnya. Misalnya Anda menerima gaji sebesar
Rp 3 juta per bulan. Dari sejumiah itu yang digunakan untuk kebutuhan hidup
sampai mendapat gaji bulan berikutnya adalah Rp 2 juta. Sisanya sebesar Rp 1
juta sebenarnya dapat Anda habiskan sekehendak hati. Pada saat berbelanja, Anda
menggunakan hak penggunaan uang. Jika tidak dipakai untuk konsumsi, Anda
dapat mengalihkannya ke pihak lain untuk sementara waktu, misalnya dalam
bentuk tabungan berjangka atau saham. Untuk kesediaan mengalihkan hak
penggunaan uang tersebut, Anda memperoleh kompensasi berupa pendapatan
bunga untuk tabungan atau dividen untuk saham. Jika pengalihan hak penggunaan
uang tersebut kurang dari satu tahun, masuk dalam kategori pasar uang. Tetapi
jika lebih dari setahun, masuk kategori pasar modal.

Uang yang Anda simpan akan disalurkan oleh lembaga keuangan ke pihak-pihak
yang membutuhkan (sisi permintaan), seperti perusahaan, pemerintah, dan
individu. Mereka menggunakannya untuk kegiatan investasi, produksi, atau
konsumsi. Bila mereka membutuhkan uang tersebut dalam tempo kurang dari


                                                                            51
setahun, mereka mencarinya di pasar uang. Bila lebih dari setahun, mereka
mencarinya di pasar modal.

Pihak yang menjembatani antara sisi penawaran dan permintaan inilah yang
disebut sebagai lembaga keuangan. Motivasi usaha mereka adalah untuk
memperoleh keuntungan. Besarnya keuntungan yang diperoleh adalah selisih
antara biaya-biaya yang dikeluarkan untuk menghimpun dana dari pemilik dengan
pendapatan yang diperoleh dari para pengguna dana.

Lembaga keuangan yang dalam menjalankan fungsi intermediasinya diizinkan
menghimpun dan menyalurkan dana dalam bentuk tabungan disebut lembaga
keuangan depositori (depository financial institution). Lembaga yang masuk
dalam kategori ini adalah perbankan. Sedangkan lembaga keuangan yang dalam
menjalankan usahanya tidak diizinkan menghimpun dana dalam bentuk tabungan
disebut lembaga keuangan non depositori (nondepository financial institution),
yang disebut juga sebagai lembaga keuangan bukan bank (LKBB).




a. Lembaga Keuangan Perbankan (Banking Financial Institution)



Berdasarkan Undang-Undang Nomor 7/1992 (sebagaimana diubah dengan UU
No. 10/1998) tentang Perbankan, bank didefinisikan sebagai badan usaha yang
menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya
kepada masyarakat dalam bentuk kredit atau bentuk-bentuk lainnya. Selanjutnya
undang-undang tersebut mengklasifikasikan bank menjadi dua kelompok, yaitu
Bank Umum dan Bank Perkreditan Rakyat (BPR).




1) Bank Umum



Bank umum adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional



                                                                           52
atau berdasarkan prinsip syariah, yang dalam kegiatannya memberi jasa dalam
lalu-lintas pembayaran. Kegiatan usaha bank umum antara lain adalah:



a)   menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan berupa giro,
deposito berjangka, sertifikat deposito, tabungan dan/atau bentuk lainnya yang
dipersamakan dengan itu;



b) memberikan kredit;
c) menerbitkan surat pengakuan utang;
d) membeli, menjual atau menjamin atas risiko sendiri maupun untuk
kepentingan dan atas perintah nasabahnya;
e) kegiatan-kegiatan lain yang lazim dilakukan bank sepanjang tidak
bertentangan dengan undang-undang dan peraturan yang berlaku.

Kegiatan usaha yang tidak boleh dilakukan oleh bank umum adalah:
a)   melakukan penyertaan modal, kecuali dalam hal tertentu seperti yang diatur
dalam undang-undang;
b)   melakukan usaha perasuransian;
c)   melakukan usaha lain seperti yang diatur undang-undang.

2) Bank Perkreditan Rakyat



Bank Perkreditan Rakyat (BPR) adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha
secara konvensional atau berdasarkan prinsip syariah, yang dalam kegiatannya
tidak memberikan jasa dalam lalulintas pembayaran. Jadi BPR adalah bank yang
menerima simpanan dalam bentuk deposito berjangka, tabungan dan atau bentuk
lainnya yang dapat dipersamakan dengan itu.

Kegiatan-kegiatan usaha yang diperbolehkan dilakukan oleh BPR menurut
undang-undang adalah:
a) menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan;
b) memberikan kredit;

                                                                             53
c) menyediakan pembiayaan bagi nasabah berdasarkan prinsip bagi hasil;
d) menempatkan dananya dalam bentuk SBI, deposito dan atau tabungan pada
bank lain.

Kegiatan usaha yang tidak diperkenankan dilakukan oleh BPR di antaranya
adalah:
a) menerima simpanan dalam bentuk giro;
b) melakukan penyertaan modal;
c) melakukan usaha perasuransian;
d) melakukan usaha lain di luar kegiatan usaha tersebut di atas.

b. Bank Senttal (CentralBank)



Fungsi utama paling mendasar dari sebuah bank sentral suatu negara adalah
mengatur jumlah uang beredar dalam perekonomian (to manage nations money
supply). Tetapi dalam praktiknya, bank sentral menjalankan banyak fungsi mulai
dari penanganan penyelesaian giro (clearing and collecting check) sampai kepada
pemberian izin, pembinaan dan pengawasan perbankan.

Bertambah besarnya fungsi-fungsi bank sentral memang sulit dihindari, karena
dunia nyata tidaldah seideal yang dibayangkan. Aspek politis dan historis sangat
mewarnai dan mempengaruhi perkembangan perbankan di setiap negara. Bahkan
di negara-negara kapitalis yang mengandalkan mekanisme pasar, perluasan fungsi
bank sentral tak terhindari. Secara umum ada beberapa fungsi utama bank sentral
dalam dunia nyata:

1) Agen fiskal pemerintah (Fiscal agent of government)



Di mana bank sentral berfungsi sebagai penasihat dan memberi bantuan untuk
mengelola berbagai masalah/transaksi keuangan pemerintah. Misalnya memberi
pinjaman kepada pemerintah dan menyimpan aset-aset finansial milik pemerintah.

2) Banknya bank (Banker of bank)


                                                                             54
Bank sentral memberi bantuan kepada bank-bank yang mengalami kesulitan
likuiditas. Fungsi ini juga dikenal sebagai lender of last resort.

3) Menentukan kebijakan moneter (Monetary policy maker)



Dalam hal ini terutama adalah pengendalian jumlah uang beredar sebagai bagian
dari kebijakan ekonomi yang bertujuan mengarahkan kondisi makroekonomi ke
arah yang lebih baik dan atau diinginkan. Selain tiga fungsi utama tersebut,
umumnya bank sentral juga melaksanakan beberapa fungsi di bawah ini.

4) Pengawasan, evaluasi dan pembinaan perbankan (Supervision,
examination and regulation of members bank)



Salah satu alasan yang mendasari pentingnya fungsi ini adalah karena
ketidaksempurnaan pasar (industri perbankan). Hal ini akan menimbulkan
eksternalitas yang merugikan (diseconomies externalities) dan penyebab
kegagalan pasar, yang sangat mengganggu stabilitas perekonomian. Walaupun
harus diakui bahwa industri perbankan menghasilkan eksternalitas yang
menguntungkan (economies externalities). Melalui fungsi ini bank sentral akan
meminimumkan eksternalitas merugikan dan memaksimumkan eksternalitas
menguntungkan dari industri perbankan.

5) Penanganan transaksi giro (The clearing and collection of checks)



Dengan fungsi ini bank sentral mengefisienkan kegiatan-kegiatan transaksi yang
menggunakan alat pembayaran giro, sebab transaksi tersebut terjadi dalam jumlah
yang besar, antarbank, antarwilayah, dan antarnegara. Tanpa bantuan bank sentral,
bank-bank secara individu tidak dapat menyelesaikan transaksi-transaksi tersebut.

6) Riset-riset ekonomi (Economic research)



Riset-riset ekonomi yang dilakukan bank sentral terutama adalah yang berkaitan

                                                                               55
dengan masalah-masalah dan perkembangan sektor moneter. Riset-riset ini
dibutuhkan sebagai masukan dalam penentuan kebijakan ekonomi, khususnya
kebijakan moneter.




B. FUNGSI / PERANAN LEMBAGA KEUANGAN DI INDONESIA



Bank Indonesia (BI) adalah bank sentral negara Republik Indonesia. Didirikan
pada tahun 1953 dengan mengubah status De Javasche Bank N.V. (yang
dinasionalisasi di tahun 1951) menjadi bank sentral Indonesia. Dasar hukum
pendirian BI adalah Un-dang-Undang Nomor 11 /1953.




                                                                         56

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:1749
posted:8/27/2011
language:Indonesian
pages:57