PERUMUSAN MASALAH

Document Sample
PERUMUSAN MASALAH Powered By Docstoc
					                                        BAB I

                               PENDAHULUAN



A. Latar Belakang Masalah

         Dalam beberapa kasus kegiatan yang bermula tidak sengaja dan secara

   kecil – kecilan ini telah membuahkan kegiatan bisnis ekspor raksasa. Ekspor

   mobil Toyota ke Eropa tahun 1950-an bermula atas prakarsa seorang dealer mobil

   berkebangsaan Denmark yang melakukan perjalanan ke Jepang dan membeli

   beberapa mobil disana sebagai pesanan percobaan. Kadang kala bisnis ekspor

   dimulai setelah perusahaan mengikuti pameran dagang di pekan raya

   internasional (Amir MS, 2002 : 1)

         Kegiatan ekspor selain tujuan bisnis juga bertujuan pertukaran barang dari

   suatu negara dengan negara lain. Dimana kedua negara tersebut mempunyai

   maksud untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri mereka masing – masing.

   Pertukaran lintas negara berbeda dengan perdagangan dalam negeri yaitu berbeda

   dalam hal peraturan kepabeanan, ukuran, takaran, mutu standar produk, serta

   peraturan perdagangan luar negeri yang ditetapkan oleh pemerintah setempat.

         Dalam pelaksanaan kegiatan ekspor para eksportir menjual produknya

   sendiri ataupun menggunakan jasa perusahaan lain. Eksportir yang menggunakan

   jasa perusahaan lain produknya kurang bisa bersaing dan berkembang. Sehingga

   di dalam kegiatan ekspor mutu produk sangat diperlukan agar mampu bersaing

   dengan produk yang ada di pasaran.
      Hal ini yang menarik dari ekspor adalah bahwa menjual barang di beberapa

negara berarti pula diversifikasi risiko, karena perusahaan tidak lagi tergantung

pada penjualan di satu negara saja. Ekspor juga mempunyai tendensi mengurangi

dampak penurunan penjualan dalam negeri yang disebabkan daur hidup

komoditas di pasar ekspor berjalan lebih lambat di banding pasar dalam negeri.

Pada saat pasar domestik lesu pasar ekspor sering kali masih kuat. Masa transisi

dapat dibuat lebih muda untuk memproduksi produk baru. Oleh karena

pemerintah menganggap ekspor yang kuat amat sangat penting untuk ekonomi

yang sehat, maka beberapa negara menyediakan aneka dukungan kepada para

eksportir. Dukungan ini mulai dari pembuatan brosur dan bantuan ahli sampai

pada kredit ekspor.

      Trisna Gallery merupakan industri kerajinan yang menggunakan bahan

dasar tembaga dan kuningan. Selain memenuhi permintaan lokal, industri ini juga

memenuhi permintaan      konsumen luar negeri. Daerah pemasaran lokal yang

paling bagus adalah Bali. Untuk memperkenalkan produknya industri ini

melakukan berbagai macam promosi baik lewat media maupun pameran. Dalam

memenuhi permintaan konsumen luar negeri jalan yang digunakan adalah dengan

ekspor.

      Dalam transaksi ekspor membutuhkan pengetahuan yang mendalam

tentang prosedur ekspor, karena begitu banyaknya dokumen yang harus dipenuhi.

Para pengusaha kendatipun sudah sangat memahami suatu bidang misalnya

dalam menghitung biaya dan melihat peluang, namun sering kali kurang

memahami masalah logistik transportasi sehingga lebih suka menyerahkan
   urusan itu kepada usaha jasa transportasi (freight forwarder). Sehingga dalam

   kegiatan ekspor para pelaku harus benar – benar mengerti tugas masing - masing.

           Berdasarkan uraian diatas, akan diuraikan secara detail mengenai prosedur

   ekspor, risiko yang harus dihadapi dan juga perkembangan ekspor Trisna Gallery

   dengan judul “PROSEDUR EKSPOR PADA INDUSTRI KERAJINAN

   TEMBAGA DAN KUNINGAN TRISNA GALLERY, TUMANG CEPOGO,

   BOYOLALI”.



B. Perumusan Masalah

   Untuk     memudahkan       dalam      pembahasan       masalah,   maka   perumusan

   permasalahannya sebagai berikut :

   1. Bagaimana prosedur ekspor pada Trisna Gallery?

   2. Bagaimana      risiko   kegiatan    ekspor   pada     Trisna   Gallery dan   cara

      penanganannya?

   3. Bagaimana perkembangan ekspor pada Trisna Gallery?



C. Tujuan Penelitian

   Penelitian ini dilakukan adalah untuk memberikan kesimpulan pada suatu

   permasalahan. Tujuan dari penelitian ini adalah :

   1. Untuk mengetahui prosedur ekspor pada Trisna Gallery

   2. Untuk mengetahui risiko kegiatan ekspor pada Trisna Gallery dan cara

      penanganannya.

   3. Untuk mengetahui perkembangan ekspor pada Trisna Gallery
D. Manfaat Penelitian

   Penelitian ini juga diharapkan memberikan manfaat yang berguna bagi pembaca,

   manfaat dari penelitian ini antara lain :

   1. Bagi Perusahaan

       Memberikan masukan yang relevan mengenai aktivitas ekspor sebagai

       pertimbangan     dalam    pengambilan   keputusan   oleh   perusahaan   guna

       meningkatkan kegiatan ekspornya

   2. Bagi Mahasiswa dan Pembaca lainnya

       Sebagai tambahan referensi bagi mahasiswa dalam menyusun laporan sejenis

   3. Bagi Pemerintah (Disperindag Kabupaten Boyolali)

       Sebagai bahan acuan untuk melihat perkembangan ekspor industri kerajinan

       tangan di Boyolali.



E. Metode Penelitian

          Riset atau penelitian pada dasarnya merupakan suatu kegiatan untuk

   memperoleh data/informasi yang sangat berguna untuk mengetahui sesuatu, untuk

   memecahkan       persoalan   atau   untuk   mengembangkan      ilmu   pengetahuan

   (J Supranto, M.A, 1993:1). Untuk mendapatkan hasil yang akurat, penelitian

   harus didasarkan pada metode – metode yang sesuai.

          Metode penelitian merupakan runtutan tata kerja penelitian, metode ini

   terdiri dari :
1. Ruang lingkup penelitian

   Yang menjadi obyek penelitian adalah Industri kerajinan tembaga dan

   kuningan Trisna Gallery yang terletak di Tumang, Cepogo, Boyolali

2. Jenis dan alat pengumpul data

   a. Jenis data

      1) Data primer (primary data)

          Yaitu data yang dikumpulkan sendiri oleh perorangan/suatu organisasi

          langsung melalui obyeknya (J Supranto M.A, 1993:5-6). Data

          diperoleh dengan cara melakukan pendekatan dengan para karyawan

          dan juga pimpinan langsung yaitu prosedur ekspor dan data volume

          penjualan ekspor. Data primer tersebut antara lain prosedur ekspor

          yang dilakukan Trisna Gallery berupa tahapan – tahapan yang

          dilakukan.Data primer yang lain yaitu data volume penjualan ekspor,

          berisi data penjualan ekspor yang dilakukan selama 2 tahun terakhir.

      2) Data sekunder (secondary data)

          Yaitu data yang diperoleh dalam bentuk yang sudah jadi berupa

          publikasi, data sudah di kumpulkan oleh pihak/ instansi lain

          (J. Supranto M.A, 1993:5-6). Data sekunder yang diperoleh dari

          Dinas    Perindustrian dan perdagangan Kabupaten Boyolali adalah

          bagaimana proses pengajuan SKA (surat keterangan asal) Industri

          kerajinan Trisna Gallery apakah ditangani sendiri ataukah ditangani

          freight forwarder dan juga perkembangan ekspor industri kerajinan di

          wilayah Kabupaten Boyolali tahun 2003-2004.
b. Metode pengumpulan data

   1) Wawancara

      Merupakan percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan itu

      dilaksanakan oleh dua pihak, yaitu pewawancara (interviewer) yang

      mengajukan pertanyaan dan yang diwawancarai (interviewee) yang

      memberikan jawaban atas pertanyaan itu (Dr. Lexy J. Moleong, M.A,

      1998 :135). Pertanyaan yang diajukan adalah mengenai prosedur

      ekspor   yang dilakukan oleh Trisna Galley, wawancara dilakukan

      dengan karyawan bagian pemasaran. Selain prosedur ekspor juga

      mengenai proses produksi, pemberian upah dan kesejahteraan

      karyawan, wawancara dilakukan dengan karyawan bagian personalia.

   2) Riset Perpustakaan.

      Ialah riset dimana dilakukan dengan jalan membaca buku – buku /

      majalah dan sumber data lainya di dalam perpustakaan. Pengumpulan

      data (informasi) dilakukan di perpustakaan atau ditempat lainnya

      dimana tersimpan buku – buku serta sumber – sumber data lainnya

      (J. Supranto M.A, 1993:12). Buku – Buku yang dipelajari antara lain

      mengenai prosedur ekspor serta risiko bisnis ekspor – impor.

   3) Pengamatan

      Pengamatan yang dilakukan merupakan pengamatan terbuka dimana

      pengamat secara terbuka diketahui oleh subjek, sedangkan sebaliknya

      para subjek dengan sukarela memberikan kesempatan kepada

      pengamat untuk mengamati peristiwa yang terjadi, dan mereka
        menyadari bahwa orang yang mengamati hal yang dilakukan mereka

        (Dr. Lexy J. Moleong, M.A, 1988:127). Pengamatan dilakukan pada

        tahapan ekspor antara lain dalam proses stuffing dan pengisian

        dokumen eskpor.



3. Sumber data

  a. Sumber data primer

     Data diperoleh langsung dari pimpinan ataupun karyawan, yaitu dengan

     cara melakukan wawancara dengan mereka

  b. Sumber data sekunder

     Data diperoleh dari Disperindag Kabupaten Boyolali,yaitu dengan cara

     melihat proses pengajuan SKA (Surat Keterangan Asal)
                                      BAB II

                             LANDASAN TEORI



A. Pengertian Kegiatan Ekspor

          Menurut Surat Keterangan Menperindag No 146/MPR/IV/99 ekspor

   adalah kegiatan   mengeluarkan barang       dari daerah    pabean sesuai dengan

   peraturan perundangan yang berlaku. Daerah pabean adalah Wilayah Republik

   Indonesia yang meliputi wilayah darat, perairan dan ruang angkasa diatasnya

   serta tempat – tempat tertentu di ZEE dan landasan kontinen yang di dalamnya

   berlaku UU NO X/1995 tentang kepabeanan. Sedangkan menurut PPEI , 2003:1

   ekspor adalah kegiatan mengeluarkan barang dari daerah pabean Indonesia,

   sedangkan yang dimaksud dengan eksportir adalah perusahaan atau perorangan

   yang melakukan kegiatan ekspor.Menurut Berry Punan Ekspor adalah

   perdagangan dengan mengeluarkan barang dari dalam keluar pabean Indonesia

   dengan memenuhi ketentuan – ketentuan yang berlaku.

          Syarat menjadi eksportir adalah : (PPEI, 2003)

   a. Surat ijin usaha perdagangan (SIUP) dari Depperindag.

   b. Tanda daftar perusahaan (TDP)

   c. Izin Usaha dari Departemen teknis / Lembaga Non Departemen berdasarkan

      peraturan perundang – undangan yang berlaku.

      Ada 3 macam SIUP :

   a. Perusahaan besar dimana kekayaannya diatas Rp. 500.000.000,00

   b. Perusahaan menengah dimana kekayaannya Rp. 200.000.000,00
c. Perusahaan kecil dimana kekayaannya dibawah Rp. 200.000.000,00

   Yang perlu diperhatikan oleh eksportir :

a. Barang yang diminta

   Barang yang diminta harus sesuai permintaan buyer

b. Tata niaga barang

   Eksportir harus benar – benar paham jenis produk apa yang di ekspor ataukah

   itu barang dilarang atau bebas. Karena hal tersebut sangat rawan sekali.

c. L/C atau kontrak

   Kontrak harus benar – benar dapat menekan/menghindari masalah yang akan

   timbul

d. Ketepatan pengiriman

   Pengiriman harus sesuai dengan perjanjian yaitu waktu pengiriman harus

   sesuai dengan sales contract.

e. Syarat Pembayaran

   Syarat pembayaran harus dipenuhi sesuai dengan sales contract agar

   pembayaran dapat dilakukan dengan lancar.

f. Hindari Klaim dagang

   Klaim dagang dapat dihindari dengan melakukan tahapan ekspor dengan

   benar.
B. Proses Kegiatan Ekspor (menurut Paper Pelatihan Prosedur Ekspor yang

   diadakan di Fakultas Ekonomi UNS 2004)

   1. Sales Contract Process

      a. Ekspor mempromosikan komoditas yang akan diekspornya melalui media

          promosi seperti pameran dagang iklan di koran, majalah maupun televisi,

          baik di luar negari maupun di dalam negari, atau melalui badan – badan

          urusan promosi ekspor seperti Badan Pengembangan Ekspor Nasional

          (BPEN), Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN INDONESIA),

          atase perdagangan RI ditiap kedutaan besar asing yang ada di Jakarta,

          kamar dagang      dan   industri negara asing di Jakarta dan kota besar

          Indonesia lainnya seperti AMCHAM (American Chamber of Commerece),

          China external Trade Association (CETRA), Japan External Trade

          Organization (JETRO), Korean Trade Agency (KOTRA) dan lain – lain.

          Tujuan promosi adalah untuk menarik minat calon importir terhadap

          komoditas yang akan diekspor.

      b. Importir yang berminat akan mengirimkan surat permintaan harga atau

          letter of inquiry kepada eksportir.

          Letter of Inquiry lazimnya berisikan permintaan penawaran harga barang

          dengan memberitahukan mutu barang yang diinginkan, kuantum yang

          ingin dibeli, harga satuan dan total harga dalam valuta asing (US Dollar

          dan lainnya), waktu pengiriman (shipment date) dan nama pelabuhan

          tujuan yang diinginkan.
c. Eksportir memenuhi permintaan importir dengan mengirimkan surat

   penawaran harga yang lazim disebut dengan offer sheet.

   Offer sheet berisikan keterangan sesuai permintaan importir, seperti uraian

   barang, mutu, kuantum, waktu penyerahan, harga dan tempat penyerahan

   barang, syarat pembayaran, waktu pengapalan, cara pengepakan barang,

   brosur dan bila perlu contoh barang yang ditawarkan. Penawaran itu juga

   menyebutkan apakah penawaran itu bersifat Free offer atau Firm Offer.

d. Importir setelah mempelajari dengan seksama offer sheet dan eksportir

   menempatkan surat pesanan dalam bentuk order sheet atau purchase

   order kepada eksportir.

e. Eksportir menyiapkan kontrak jual beli ekspor (sales contract) sesuai

   dengan data data dari offer sheet dan order sheet ditambahkan dengan

   keterangan seperti force manjeur clause, claims, syarat pengapalan seperti

   partial shipment, transhipment, vessel age dan lain – lain. Ditandatangani

   oleh eksportir dan dikirimkan kepada importir untuk ditanda tangani pula

   sebagai tanda persetujuan atas sales contract itu, sales contract lazimnya

   dibuat aslinya dalam rangkap 2 (two original)

f. Importir mempelajari dengan seksama “sales contract” dan bila dapat

   menyetujuinya, lantas ditandatangani importir untuk dikembalikan kepada

   eksportir satu copy original ditahan oleh importir sebagai dokumen asli

   transaksi, yang lazim disebut sebagai sales confirmation.

   Kedua copy sales confirmation yang asli ini mempunyai ketentuan hukum

   yang sama.
2. L/C Opening Process (menurut Paper Pelatihan Prosedur Ekspor yang

   diadakan di Fakultas Ekonomi UNS 2004)

   a. Importir meminta kepada bank devisa untuk membuka sebuah letter of

      credit (L/C) sebagai dana yang dipersiapkan untuk melunasi hutangnya

      kepada eksportir, sejumlah yang disepakati dalam sales contract dan

      sesuai dengan syarat – syarat pencairan yang disebut dalam sale’s contract

      dan merujuk pada ketentuan dari the uniform custom and practice of

      dokumentary Letter Of Credit dari – International Chamber of Commerce

      (Kamar Dagang Internasional) Paris No 500 atau UCPDC-500.

      L/C yang dibuka adalah untuk dan atas nama eksportir atau orang badan

      usaha lain yang ditentukan eksportir, sesuai kesepakatan didalam sale’s

      contract.

      Bank devisa yang diminta importir membuka L/C itu disebut dengan

      opening bank, opening bank bertanggung jawab melakukan pembayaran

      atas L/C itu kepada eksportir penerima L/C itu. importir yang minta

      pembukaan L/C itu disebut aplicant.

   b. Opening Bank setelah menyelesaikan jaminan dana L/C dengan importir,

      melakukan pembukaan L/C melalui bank korespondennya di negara

      eksportir.

      Pembukaan L/C itu dapat dilakukan dengan surat kawat telex facsimile

      atau media elektronik lainnya yang sah.

      Penegasan pembukaan L/C itu dalam bentuk tertulis disebut dengan L/C

      confirmation   yang diteruskan oleh opening         bank   kepada bank
       korespondennya untuk disampaikan kepada penerima, yaitu eksportir yang

       disebut dalam surat itu.

       Bank koresponden yang diminta opening bank untuk menyampaikan

       amanat pembukaan L/C itu disebut sebagai advising bank.

   c. Advising bank selalu meneliti keabsahan amanat pembukuan L/C yang

       diterima dari opening bank, meneruskan amata pembukuan L/C itu kepada

       eksportir yang berhak menerima dengan surat pengantar dari advising

       bank, surat pengantar itu disebut sebagai L/C Advise, sedangkah eksportir

       penerima L/C itu disebut sebagai benneficiary dari L/C itu. Bila advising

       bank diminta dengan tertulis oleh opening bank turut menjamin

       pembayaran atas L/C itu. Maka untuk turut menjamin pembayaran atas

       L/C itu. Maka advising bank juga disebut sebagai confirming bank.



3. Cargo Shipment Process (menurut Paper Pelatihan Prosedur Ekspor yang

   diadakan di Fakultas Ekonomi UNS 2004)

   a. Eksportir setelah menerima “L/C Confirmation yang sifatnya operatif (sah

       sebagai landasan pembayaran) lantas mempersiapkan barang “Ready for

       Export”. Melakukan booking atau memesan ruangan (tempat) kepada

       Perusahaan pelayaran (shipping company) yang akan berangkat ke

       pelabuhan tujuan sesuai dengan yang dimaksud pada sales contract atau

       L/C serta sesuai dengan waktu pengepakan (shipment date) yang

       disepakati dalam sales’ contract.
   Kemudian mengurus formalitas ekspor seperti mengisi pemberitahuan

   ekspor barang, membayar pajak ekspor (PE) dan pajak ekspor tambahan

   (PET) melalu advising bank. Mengurus izin muat dengan kantor inspeksi

   bea dan cukai di pelabuhan muat.

   Setelah semua formalitas ekspor selesei, kemudian menyerahkan barang

   kepada perusahaan pelayaran (Shipping Company) untuk dimuat pada

   waktu yang disepakati.

b. Shipping Company, setelah selesai melakukan pemuatan barang ke atas

   kapal, menyerahkan bukti penerimaan barang, bukti kontrak angkutan dan

   bukti pemilikan barang dalam bentuk bill of lading (B/L) atau transport

   document lainnya kepada eksportir yang dalamm pengangkutan ini disebut

   sebagai shipper.

c. Shipping Company bertanggung jawab untuk mengangkut muatan itu

   sampai ke pelabuhan tujuan, serta menyerahkan dengan salam dan utuh

   kepada penerima barang yang disebut dalam B/L dipelabuhan tujuan

   (Destination Port) yang disebut dalam bill of lading tersebut.

d. Importir selaku penerima barang (consignee) bila telah menerima

   dokumen pengapalan (shipping document) dari opening bank mengurus

   ijin impor (import clearance) dengan pihak bea cukai di pelabuhan tujuan.

   Setelah itu menghubungi agar pelayanan (shipping agent) di pelabuhan

   tujuan dinegaranya untuk menerima muatan itu.
   e. Shipping Agent menyerahkan muatan kepada importir segera setelah

      pelunasan biaya yang menjadi hak shipping agent bersangkutan dengan ini

      selesailah proses penerimaan barang oleh importir.



4. Shipping Documents Negotiation Process          (menurut Paper Pelatihan

   Prosedur Ekspor yang diadakan di Fakultas Ekonomi UNS 2004)

   a. Eksportir setelah menerima Bill of Lading dari perusahaan pelayaran

      menyiapkan semua dokumen yang disyaratkan dalam letter of credit

      seperti faktur (invoice) daftar pengepakan (Packing List) sertifikasi mutu –

      surat keterangan negara asal (SKA) dan lain sebagainya seperti wesel

      (Draft) serta surat pengantar negosiasi dokumen secara lengkap dan

      cermat.

      Semua dokumen pengapalan itu diserahkan eksportir pada negotiating

      bank yang ditentukan dalam L/C untuk memperoleh pembayaran

      (dayment)

   b. Negotiating bank meneliti dengan seksama semua dokumen pengapalan

      yang diminta oleh syarat – syarat L/C. Bila semua cocok baik jumlah,

      jenis maupun uraian sebagaimana yang dituntut oleh L/C, maka

      negotiating bank akan membayarkan jumlah yang ditagih oleh eksportir

      dari dana L/C yang tersedia. Negotiating bank, meneruskan dokumen

      pengapalan yang sudah dilunasi itu kepada opening bank yang membuka

      L/C bersangkutan sebagai penagihan kembali dari uang yang sudah

      dibayarkan negotiating bank itu kepada eksportir.
c. Opening bank memeriksa dengan seksama semua dokumen pengapalan

   itu, dan bila ternyata sesuai dengan syarat – syarat L/C yang dibuka, maka

   opening bank melunasi uang yang sudah dibayarkan oleh negotiating

   bank. Pembayaran pelunasan ini disebut sebagai reimbursement.

d. Opening    bank    selanjutnya    memberitahukan    penerima    dokumen

   pengapalan itu kepada importir.
                                       Gambar 2.1
                                     Prosedur Ekspor




                                    Importir                           Bank
                                     Buyer                              Luar
                                                     2
                                                                       Negeri
                                            B                          1


                                         1
    Luar Negeri

    Dalam Negeri
                                         14



                        3           Eksportir                2         Bank
      Produsen                                               12                    13
                                     Seller                            Dalam
                                                                       Negeri
      C                                 A                                  H




                   7            6               9                 11




                        Instansi                                       Keduataan
    Pelayaran           Ekspor                      Asuransi             Asing


      D                     E                            F                     G



Sumber : Makalah Ekspor Impor 2003
Keterangan :

1. Eksportir menerima order (pesanan) dari langganan luar negeri (B-A)

2. Bank memberitahukan telah dibukanya suatu L/C untuk dan atas nama

   eksportir (H-A)

3. Eksportir menempatkan pesanan kepada leveransir maker pemilik

   barang/produsen (A-C)

4. Eksportir menyelenggarakan pengepakan barang khusus untuk diekspor

   (sea-worthy packing) (A)

5. Eksportir memesan ruangan kapal (booking) dan mengeluarkan shipping

   order pada maskapai pelayaran (A-D)

6. Eksportir menyelesaikan semua formulir ekspor dengan semua instansi

   ekspor yang berwenang (A-E)

7. Eksportir menyelenggarakan pemuatan barang ke atas kapal, dengan atau

   tanpa mempergunakan perusahaan ekspedisi (A-D)

8. Eksportir mengurus bill of lading dengan maskapai pelayaran (A-D)

9. Eksportir menutup asuransi laut dengan maskapai asuransi (A-F)

10. Menyiapkan faktur dan dokumen – dokumen pengapalan lainnya (A)

11. Mengurus consular-invoice dengan trade councelor kedutaan negara

   importir (A-G)

12. Menarik wesel kepada opening bank dan menerima hasilnya              dari

   negotiating bank (A-H)
13. Negotiating bank mengirimklan shipping – documents kepada principal-

   nya di negara importir (H-I)

14. Eksportir mengirimkan shipping –advice dan copy shipping documents

   kepada importir (A-B)
                                                                    Gambar 2.2

                                                  PROSEDUR EKSPOR DENGAN L/C




                                                         LKP (14)                                           Asli              LKP ( 13 b)

                                                                          Mask. Pel                                    Copy

              PEB. (5b)                                         barang        Carrier      Barang
                                       EKSPORTIR /              (6 a)                       (6 a)           Importir     Periksa brg (13a)   Surveyor L.N
Bea & Cukai   PEB (5 a)                  SELLER                                                              /Buyer                             (SGS)
                                                                                   S.C (1 a)




                            Sahkan &
                            Serahkan       BAYAR           BAYAR
                               PEB         WESEL              SE  B/L (6 b)
                              (4 c)          (8)             (16)                                             DOK
                                                                                                               L/C
                          ADV        PEB &
                          L/ C       perht        PE/                                               PL/C
                           (3)      semen-        PET                                               (1 b)
                                       tara       (9)
                                       SD                LKP                                                         BAYAR AKSEP WESEL
                                      (4 a)               &                                                                (12.b)
                                            DOC          SE                                                 (12.a)
                            Cocokkan L/C                (15)
                            data PEB         &
                             dengan PEB
                               L/C          (7)
                              (4 b)



                                    ADVISING BANK/                  Wesel & Dok L/C (100)            Bank Koresp/
                                   NEGOTIATING BANK                  SR / Reimburse (11)             Issuing bank




                   Sumber : Transaksi Ekspor impor, 1992
Prosedur Ekspor dengan L/C

1. a. Antara importir di luar negeri dan eksportir di dalam negeri telah ada

      “sales contract”

   b. Importir mengajukan permohonan pembukuan L/ C kepada banknya,

     bank membuka L/C (issuing bank), yang merupakan bank koresponden

     dari bank devisa dalam negeri (bank eksportir / advising bank)

2. L/C dibuka oleh issuing bank tersebut kepada advising bank di dalam

   negeri, L/C tersebut dapat Usance atau Sight

3. L/C diteruskan / diadvising bank dalam negeri kepada eksportir

4. a. Eksportir mengisi PEB dalam rangkap 8 (delapan) berikut perhitungan

      sementara S.E. (bila ada) dan mengajukannya kepada bank devisa

      untuk disahkan

   b. Advising bank mencocokkan data yang dicantumkan eksportir di dalam

       formulir PEB dengan data yang tercantum dalam L/C dan ketentuan

       yang berlaku

   c. Formulir PEB disahkan oleh advising bank setelah meneliti kebenaran

       pengisiannya, dan diberi nomor bank, kemudian di set lembar – lembar

       PEB diserahkan kepada eksportir

5. a. PEB dibawa eksportir ke bea dan cukai untuk dimintakan persetujuan

      muat

   b. Bea dan cukai memberikn persetujuan muat atas PEB kepada eksportir,

       menahan lembar ke 7 dan menyerahkan lembar – lembar lainnya

       kepada eksportir
6. a. Eksportir mengapalkan barang sendiri        atau melalui perusahaan

      ekspedisi dan memperoleh B/L dari maskapai pelayaran

   b. Maskapai pelayaran langsung mengirimklan B/L tersebut kepada

      advising bank / negotiating bank

7. a. Setelah lembar – lembar PEB diberi persetujuan muat oleh bea dan

      cukai eksportir menyerahkan asli PEB + lembar – lembar lainnya

      kecuali    lembar ke 7 kepada advising bank disertai dokumen –

      dokumen yang disyaratkan dalam L/C untuk negosiasi atau aksep /

      diskonto tergantung pada syarat – syarat L/C tersebut.

   b. Advising / Negotiating bank mengisi ruang D pada PEB lembar asli dan

      lembar lainnya dan membagi – bagi lembar – lembar PEB tersebut

      kepada pihak – pihak yang bersangkutan.

8. Advising     bank yang akan bertindak        sebagai “negotiating bank”

   mencocokkan data – data yang tercantum di dalam dokumen ekspor

   dengan syarat – syarat yang tercantum di dalam dokumen L/C dan

   ketentuan yang berlaku dan bila cocok barulah pembayaran wesel

   dilakukan dengan cara negosiasi, akseptasi / diskonto

9. Eksportir menyetor PE/PET kepada bank devisa/langsung dipotong dari

   hasil wesel L/C tergantung pada kondisi – kondisi L/C.

10. Negotiating bank meneruskan      dokumen – dokumen L/C dan wesel

   kepada issuing bank/ bank koresponden
11. Dalam saat yang sama dengan formulir schedule of remittance/

   reimbursemen request, negotiating bank meminta reimbursement dari

   issuing bank tersebut.

12. a. Apabila dokumen – dokumen dan pengajuan wesel dengan syarat –

       syarat L/C     maka issuing bank/paying bank akan          meneruskan

       dokumen – dokumen tersebut kepada importir

   b. Importir yang setelah meneliti dan menyetujui kelengkapan –

       kelengkapan dokumen tersebut akan membayar wesel sesuai

       persyaratan L/C

13. a. Dalam hal barang – barang ekspor yang mendapat SE, importir akan

       meminta barang – barang diperiksa oleh surveyor SGS

   b. Atas kebenaran jenis, mutu, jumlah dan nilai barang tersebut surveyor

       SGS mengeluarkan laporan kebenaran pemeriksaan (LPK) dan copy

       LKP di berikan kepada Importir, sedang asli LKP dikirimkan kepada

       eksportir.

14. LKP asli diterima oleh eksportir dari SGS. Apabila kapal barang telah tiba

   sedangkan LKPnya belum, maka dapat dimintakan LKP pengganti

   (LKPP) yang disahkan oleh perwakilan SGS di Jakarta

15. Eksportir menyerahkan SGS dan SE kepada negotiating bank

16. Negotiating bank membayar SE kepada eksportir.
                                                     Gambar 2.3

                                    PROSEDUR EKSPOR TANPA L/C


                                                                             Dokumen (7 a)

                                                              Barang
                                                               (5b)       CARRIER            Barang
                                                                                             (5 b)
 Bea         PEB (5a)                                         BL (5b)     Mask. Per
  &                           EKSPORTIR/SELLER                          S.C/Invoice (1a)
                                                                                                           IMPORTIR/BUYER
Cukai        PEB (4b)                                                     Transfer (1b)



                                      (4a)
                                   Serahkan
                           (2)       PEB
                        Copy SC/
                        Invoice/                                                           Dokumen (7 b)
                         Bukti                PEB
                        Transfer               (6)
                                                      (8)
                                                     Baya r
                                      (3)            hasil
                                    -Teliti
                                   -Sahkan
                                     PEB
                                   -Pungut
                                   PE/PET




                               BANK DEVISA D.N




        Sumber : Transaksi Ekspor impor, 1992
Prosedur Ekspor Tanpa L/C

1. a. Dalam sales contract telah diperjanjikan dan cara pembayaran, dan

      lain – lainnya

   b. Pembayaran dengan transfer / draft dikirimkan oleh importir kepada

      eksportir

2. Bukti transfer harus dilampirkan eksportir pada waktu mengajukan

   formulir PEB kepada bank devisa untuk disahkan

3. a. Bank devisa telah meneliti kebenaran data yang dicantumkan eksportir

      pada PEB mengesahkan kelengkapan dan kebenaran PEB.

   b. PE/PET dipungut pada saat bank mensahkan PEB atau pada waktu PEB

     di ajukan pada bank.

4. a. Oleh bank devisa lembar PEB diserahkan kepada eksportir

   b. Eksportir minta pengesahan PEB dari bea dan cukai untuk pemuatan

      barang

5. a. Instansi bea dan cukai memberikan persetujuan muat barang pada

      lembar – lembar PEB, menahan lembar ke 7 dan menyerahkan lembar

      lainnya kembali kepada eksportir.

   b. Eksportir mengapalkan barang dan menerima B/L dari perusahaan

      pelayaran.

6. Eksportir mengembalikan lembar – lembar PEB tersebut kepada bank

   devisa, dan oleh bank devisa bersama – sama dengan lembar – lembar

   PEB lainnya diteruskan kepada instansi dan eksportir sesuai dengan

   ketentuan yang berlaku.
   a. Dokumen ekspor dapat dikirim sendiri oleh eksportir kepada importir

       di luar negeri

   b. Atau meminta bantuan bank devisa untuk mengirimkannya.

7. Bila belum, maka pembayaran hasil ekspor kepada eksportir dilaksanakan
C. Dokumen – Dokumen Ekspor

            Bagi eksportir pemula L/C merupakan dokumen yang sangat penting

  untuk pelaksanaan ekspor setelah ekportir menerima L/C dari importir melalui

  advising banknya atau bank devisanya, maka L/C itu harus dipelajari secara

  seksama.

            Dokumen – dokumen ekspor yang perlu diketahui adalah dokumen

  ekspor untuk memenuhi peraturan dan persyaratan dari pemerintah seperti produk

  yang diatur dan diawasi dan dokumen – dokumen yang diminta yang pada

  umumnya tercantum dalam L/C. Menurut Paper Pelatihan Prosedur Ekspor yang

  diadakan oleh Fakultas Ekonomi UNS 2004, dokumen-dokumen ekspor yang

  diminta antara lain :

  1. Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB)

     Dokumen pabean yang digunakan untuk pemberitahuan pelaksanaan ekspor

     barang yang isinya antara lain jenis barang ekspor (umum, terkena pajak

     ekspor, mendapatkan fasilitas pembebasan dan pengembalian bea masuk, dan

     barang ekspor lainnya) indentitas eksportir, nama importir, NPWP, Izin khusus

     (SIE, Karantina, SM), No HS, berat barang, negara tujuan, propinsi asal

     barang, cara penyerahan barang (FOB, CIF, dll) merek dan nomor kemasan,

     dll.

  2. Commercial Invoice / Faktur

     Merupakan nota perincian tentang keterangan barang – barang yang dijual dan

     harga dari barang – barang tersebut. Commercial invoice oleh penjual

     ditujukan kepada pembeli      yang nama dan alamatnya sesuai dengan yang
   tercantum      dalam     L/C   dan   ditanda   tangani   oleh   yang    berhak

   menandatanganinya.

3. Bill of lading (B/L)

   B/L merupakan dokumen pengapalan yaitu surat yang membuktikan bahwa

   barang yang tercantum dalam dokumen dan sudah dimuat dalam kapal.

4. Air Way Bill

   Airway bill adalah tanda terima barang yang dikirim melalui udara untuk

   orang dan alamat tertentu.

5. Packing List

   Dokumen ini menjelaskan tentang isi barang yang dipak dibungkus atau diikat

   dalam peti, kaleng, kerdus, dsb, yang fungsinya untuk memudahkan

   pemeriksaan oleh Bea dan Cukai

6. Surat Keterangan Asal (SKA)

   Surat keterangan yang menyatakan asal barang yang diekspor

7. Inspection Certificate

   Sertifikat ini memuat tentang keadaan barang yang dibuat          independent

   surveyor, juru pemeriksa barang        atau badan resmi yang disahkan     oleh

   pemerintah dan dikenal oleh dunia perdagangan internasional. Sertifikat ini

   memberikan jaminan : mutu dan jumlah barang, ukuran dan berat barang,

   pembungkusan dan pengepakan.

8. Marine and air Insurance Certificate

   Asuransi ini merupakan persetujuan dimana pihak penanggung berjanji akan

   mengganti kerugian         sehubungan dengan kerusakan, kehilangan. Dalam
   kontrak FOB dan C & F importir bertanggung jawab atas asuransi barang –

   barang, sedangkan dalam kontrak CIF eksportirlah yang menutup asuransi.

9. Certificate of Quality.

   Sertifikat ini merupakan surat keterangan yang menyatakan tentang mutu

   barang yang diekspor, sertifikat ini dikeluarkan oleh badan penelitian yang

   disahkan oleh pemerintah suatu negara. Sertifikat ini wajib dimiliki oleh setiap

   eksportir untuk keperluan perdagangan.

10. Manufakturer’s Quality Certificate

   Sertifikat mutu ini memberikan penjelasan tentang baru atau tidaknya barang

   dan apakah sudah memenuhi standar yang telah ditetapkan. Sertifikat ini

   dibuat   oleh pabrik pembuat atau suatu lembaga resmi          swasta maupun

   pemerintah.

11. Sanitary,Health and Venetary Certificate

   Sertifikat ini diperlukan untuk menyatakan bahwa bahan baku ekspor,tanaman

   atau bahan hasil tanaman telah diperiksa dan dinyatakan bebas dari hama

   penyakit. Dalam sertifikat ini juga dijelaskan tingkat daya tahan barang,

   kebersihan serta aspek kesehatan lainnya.Dokumen ini dikeluarkan oleh

   jawatan resmi yang telah ditunjuk oleh pemerintah

12. Weight Note and Measurement List

   Yang dimaksud dengan weight note adalah surat keterangan tentang berat

   barang yang dibuat oleh eksportir      di ketahui    oleh surveyor pelayaran.

   Sedangkan measurement list adalah surat keterangan yang menerangkan
   tentang ukuran panjang, lebar, tebal, tipis, garis tengah dan isi barang yang

   diekspor di buat oleh eksportir.

13. Certificate Of Analysis

   Keterangan yang memuat hasil analisa barang dari laboratorium           yang

   dilakukan     oleh laboratory      Accreditation   body   yang ditunjuk oleh

   Pemerintah atau negara pembeli

14. Ekspor’s Certificate

   Surat keterangan ini merupakan keterangan dari eksportir yang menyatakan

   bahwa barang barang yang dikapalkan merupakan hasil produksi sendiri atau

   perusahaan lain

15. Manufakturer’s Certificate

   Surat Keterangan ini merupakan keterangan dari pembuat barang yang

   menyatakan bahwa barang – barang tersebut adalah hasil produksinya

16. Beneficiary Certificate

   Surat Keterangan yang dibuat oleh eksportir yang menyatakan tentang telah

   dikirimnya dokumen ekspor asli/ copy kepada importir

17. Shipping Agent Certificate

   Surat Keterangan yang dibuat oleh shipping agent atas perintah beneficiary

   berdasarkan perintah L/C. isinya antara lain mengenai jenis kapal beserta

   jalur pelayaran

18. Special Customs Invoice

   Dokumen yang dipergunakan untuk mempercepat barang penilaian bea masuk

   dinegara pengimpor seperti Kanada
  19. Consular Invoice

     Dokumen invoice yang dikeluarkan oleh kedutaan (konsulat) yang berhak

     menandatangani adalah konsul perdagangan negara pembeli, tujuannya untuk

     melihat dengan pasti harga jual dan tidak terjadinya dumping price.

  20. Wesel

     Merupakan alat pembayaran, perintah yang tidak bersyarat dalam bentuk

     tertulis oleh seseorang kepada orang lain ditandatangani oleh orang yang

     menarik (draweer) dan mengharuskan pihak si tertarik (drawee) untuk

     membayar pada saat diminta atau pada waktu tertentu.



D. Macam Pembayaran Ekspor (menurut Paper Pelatihan Prosedur Ekspor

  yang diadakan di Fakultas Ekonomi UNS 2004)

  1. Advance payment (Pembayaran dimuka)

      Dalam cara pembayaran ini sangat menguntungkan bagi eksportir karena :

      a. Mendapatkan kredit

      b. Menerima pembayaran atas barang yang dijual

      c. Tidak ada resiko

  2. Open Account (perhitungan kemudian)

      Metode open account atau rekening terbuka ini merupakan salah satu cara

      membiayai transaksi perdagangan internasional dan bukan merupakan cara

      melaksanakan pembayaran. Dari segi pembiayaan transaksi jual – beli,

      metode rekening terbuka dapat dipandang sebagai lawan dari pada metode

      pembayaran dimuka. Dengan cara open account ini, eskportir mengirimkan
   barang kepada importir tanpa ada     dokumen     - dokumen untuk meminta

   pembayaran. Commercial invoice atau faktur dipakai sebagai tanda hutang.

   Pembayaran dilakukan setelah barang tersebut laku atau sesudah satu sampai

   dengan tiga bulan setelah tanggal pengiriman, sesuai dengan perjanjian yang

   mereka sepakati bersama – sama

   Kelemahan Metode Open Account

   a. Risiko bagi eksportir sangat besar sebab tidak di pergunakannya dokumen

       – dokumen yang menjamin pembayaran tersebut.

   b. Eksportir harus membiayai seluruh transportasi tersebut.

   c. Risiko yang timbul sebagai akibat adanya perubahan kurs devisa dalam

       cara ini juga sangat besar.

   Keuntungan metode open account

   a. Prosedurnya sangat sederhana

   b. Karena prosedur yang sederhana tersebut, maka biaya pelaksanaannya pun

       akan rendah. Biaya dengan menggunakan cara semaca ini pada umumnya

       lebih rendah dari pada menggunakan bill of exchange atau dengan letter

       of credit

   c. Bagi Importir, cara semacam ini sangat menguntungkan, sebab untuk

       transportasi ini importir tidak perlu menyediakan modal.

3. Collection Basis

   Pengiriman dokumen oleh eksportir kepada importir dengan menggunakan

   jasa bank untuk menagih pembayarannya, baik menggunakan wesel atau

   promes
   Cellection basis dibedakan menjadi

   a. Documentary collection

      Pengiriman seluruh dokumen, termasuk wesel atau promes untuk

      ditagihkan

   b. Clean collection

      Pengiriman wesel atau promes saja untuk ditagihakan

   Dari segi pembayaran collection basis di bedakan menjadi

   a. D/P (documents againts payments)

      Dokumen pengapalan sebagai dokumen untuk mengambil barang hanya

      bisa di serahkan oleh bank, bila wesel/draft sudah dibayar oleh pembeli

   b. D/A (documents Againts Acceptance)

      Dokumen pengapalan hanya bisa diserahkan oleh bank            bila wesel

      berjangka sudah di aksep oleh importir

   Risiko dalam pembayaran jenis ini

   a. Delay payment

   b. Cancellation

   c. Non payment atas trade acceptance

4. Konsinyasi (Consigment)

   Pemilik barang (consigner) mengirimkan barang kepada consignee untuk

   dijual dengan harga di tentukan dan consignee memperoleh komisi. Mereka

   mempunyai perjanjian penitipan barang bukan sales contract
5. Letter of credit (L/C)

   Pengertian L/C

   Adalah instrumen berupa jaminan yang diterbitkan oleh bank atas permintaan

   nasab ahnya (applicant) untuk membayar sejumlah uang kepada penerima

   L/C (benificiary) atas penyerahan seperangkat dokumen sesuai dengan syarat

   dan kondisi yang diminta

   - Benificiary            : Pihak yang menerima L/C

   - Applicant              : Pihak yang mengajukan L/C

   - Issuing Bank           : Bank yang mengeluarkan L/C

   - Advising Bank          : Bank yang meneruskan L/C

   - Carrier                : Jasa Pengiriman

   - Consignee              : Pihak penerima barang

   - Notify party           : Pihak yang harus diberitahu tentang kedatangan

                             barang

   - Drawee                 : Pihak yang tertarik terhadap L/C

   - Drawer                 : Pihak yang menarik L/C

   - Paying bank            : Bank yang menerima pembayaran dari issuing bank

   - Accepting bank         : Bank yang melakukan negosiasi dokumen ekspor

   - Reimbursing Bank : Pihak ketiga yang melakukan reimbursement(yang

                            memberi talangan)

   - Trasnferee             : Bank yang menerima transfer L/C

   - Transfering Bank : Bank yang melakukan transfer L/C

   - Transferor             : Pihak yang mentransfer L/C
     Jenis dukumen dalam L/C

     a. Draft (bill of exchange)

     b. Dokumen transport (B/L. Airway Bill, Seaway Bill)

     c. Invoice

     d. Packing list

     e. Certificate of origin / COO

     f. Fumigation certificate

     g. Cities certificate

  6. Pembayaran lainnya sesuai kesepakatan antara seller dan buyer antara lain :

     -    Traditional barter

          Yaitu pertukaran antara barang dengan barang

     -    Counter Trade

          Yaitu perdagangan separuh dibayar yang dan seperuh dibayar barang

     -    Mix Payment

          Yaitu gabungan dari beberapa macam pembayaran



E. Para Pelaku Ekspor dan Dokumen Yang Diterbitkannya (menurut Paper

  Pelatihan Prosedur Ekspor yang diadakan di Fakultas Ekonomi UNS 2004)

             Para Pelaku                      Dokumen Yang diterbitkan
    1. Produsen
         Dokumen yang              a. Kontrak Penjualan
         diterbitkan               b. Manufacture Certificate
                                   c. Instruction manual
                             d. Brochure


2. Eksportir                 a. Brochure
                             b. Offersheet
                             c. Sale’s Contract
                             d. Invoice
                             e. Consular Invoice
                             f. Packing List
                             g. Weigt Note-Measurement List
                             h. Letter of Indennity
                             i. Letter Of subrogation
                             j. Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB)
                             k. Pemberitahuan Ekspor Barang Tertentu


3. Bank                      a. Akad kredit
                             b. Letter of credit
                             c. Surat Setoran Pajak (SSP)
                             d. Surat setoran Bea Cukai (SSBC)
                             e. Nota perhitungan pembayaran Wesel Ekspor


4. Balai Pengujian dan       a. Certificate of Quality
   Sertifikasi mutu barang   b. Test - Certificate
                             c. Chemical Analisis


5. Usaha jasa transportasi   a. Packing list
                             b. Measurement list
                             c. Weight Note


6. Bea dan Cukai             a. Fiat (izin) muat barang (PEB)
7. Dinas Karantina         a. Phytosanitary Certificate


8. Independent Surveyor    a. Certificate of Quality
                           b. Certificate of Weight
                           c. Chemical Analysis
                           d. Survey report
                           e. Inspection Certiticate
                           f. Tes Certificate


9. Dinas peternakan        a. Veterinary Certificate


10. Perusahaan Asuransi    a. Cover note
                           b. Insurance policy


11. BPEN-ITPC ATASE-       a. General information
   JETRO-KONTRA dan        b. Trade Promotion
   lain – lain             c. Trade Mission
                           d. Trade Fain
                           e. Trade Consultation


12. Perusahaan pelayaran   a. Mate’s Receipt (Resi Mualim)
   (shipping Company)      b. Bill of lading (B/L)
   (Carries)               c. Except bewijs (EB)
                           d. Claim constatering Bewijs (CCB)


13. Angkutan udara         a. Airway Bill (AWB)


14. Kanwil Depperindag     a. Quata Tekstil-Kopi dll
                           b. Surat Keterangan Negara Asal (SKA)
                           c. Angka Pengenal Ekspor (APE)
                                  d. Angka Pengenal Impor Umum (API-U)
                                  e. Angka Pengenal Impor Terdaftar (Approved
                                      Trades)


    15. Kantor Inspeksi pajak     a. Nomor Pokok wajib (NPWP)


    16. Kedutaan Negara Asing     a. Consular Invoice
                                  b. Custome Invoice




F. Risiko Bisnis Ekspor – Impor

   Pengelolaan (manajemen) risiko yang baik merupakan jantung dari perdagangan

   internasional. Seperti diketahui, risiko merupakan unsur yang selalu ada dalam

   semua usaha bisnis. Dalam perdagangan internasional risiko itu berlipat ganda

   dibandingkan dengan perdagangan domestik.Menurut Amir MS dalam bukunya

   Kontrak Dagang Ekspor,risiko bisnis ekspor-impor antara lain :

   1. Risiko Transportasi

             Transportasi internasional berkecenderungan menempuh jarak semakin

      jauh dengan muatan yang sering berpindah tangan dan masa penyimpanan di

      gudang yang bertambah lama. Semuanya bisa berakibat meningkatnya risiko

      kerusakan, kehilangan dan pencurian dibandingkan dengan risiko serupa pada

      perdagangan domestik. Sebagai konsekuensinya, para importir memahami hak

      – haknya yang sah dalam urusan pengangkutan.
          Jika barang – barang rusak karena kesalahan pengangkut, maka

   tanggung jawab pengangkut tergantung pada syarat – syarat yang tercantum

   dalam kontrak pengangkutan dan informasi yang terdapat dalam konosemen

   (dokumen yang menyatakan syarat pengangkutan) oleh karena itu, importir

   harus pula memahami syarat – syarat pertanggungan yang disebutkan dalam

   polis asuransi yang memungkinkan importir bersangkutan mengajukan ganti

   rugi bila terjadi kerusakan selama dalam perjalanan.

2. Risiko kredit atau nonpayment

   Oleh karena sulit bagi eksportir untuk menelusuri bonafiditas dan reputasi

   calon pembeli luar negeri, maka risiko untuk tidak dibayar, terlambat dibayar,

   bahkan risiko ditipu, bertambah tinggi. Sebagai konsekuensinya, eksportir

   yang waspada sering kali menutut syarat pembayaran dengan cara pembukuan

   irrevocable documentary letter of credit.

3. Risiko Mutu Barang

   Bagi importir akan sulit memeriksa secara fisik mutu barang sebelum

   dikapalkan.

4. Risiko Nilai Tukar

          Jika harga telah ditetapkan dalam suatu mata uang tertentu dalam

   kontrak internasional, maka fluktuasi nilai tukar yang terjadi setelah itu tidak

   dapat dihindari akan menguntungkan salah satu pihak atas beban kerugian

   pihak lain. Pemecahan     yang termudah untuk menghindari ketidakpastian

   adalah dengan cara menetapkan harga kontrak dalam mata uang sendiri.

   Tetapi cara ini sebenarnya juga tidak menghilangkan risiko nilai tukar, karena
   pengusaha masih mungkin menghadapi risiko melemahnya mata uang sendiri

   yang bisa terjadi dalam tenggang waktu antara tanggal kontrak dengan tanggal

   saat pembayaran

          Mengajukan penawaran harga dalam mata uang sendiri bermanfaat

   bagi perusahaan kecil karena akan merupakan standarisasi mata uang yang

   akan memudahkan pembukuan dan proyeksi arus kas (cash flow) namun

   demikian, dalam banyak hal, dipandang dari sudut komersial, dirasa perlu

   untuk mengajukan penawaran dalam berbagai mata uang.

          Dalam kasus semacam itu eksportir akan berusaha, mencari cara untuk

   melindungi dirinya terhadap risiko nilai tukar ini dengan membeli valuta asing

   dengan penyerahan kemudian (forward atau option contract) yang lazim

   dikenal dengan istilah hedging atau swap.

5. Risiko peristiwa tak terduga

   Pemogokan, bencana alam, ataupun peperangan bisa mengakibatkan

   kegagalan pengiriman barang. Peristiwa tak terduga dapat mengubah secara

   dramatis biaya transportasi karena kenaikan bahan bakar kapal atau

   tertutupnya jalur pelayaran yang ekonomis. Ketentuan tentang “bencana”

   yang diatur secara baik dalam setiap kontrak dapat melindungi kedua pihak

   bersangkutan.

6. Risiko hukum

          Peraturan dan hukum negara asing bisa saja berubah atau diterapkan

   berbeda dengan masa sebelumnya yang akan dapat merintangi atau

   mengecewakan transaksi. Izin pabean bisa saja secara mendadak tak dapat
   diperoleh. Selain itu, bila suatu kontrak bersyarat pada pengadilan negara

   asing, atau tunduk pada hukum asing, dapat menimbulkan kemungkinan tak

   dapatnya diselenggarakan pengadilan yang cepat bila terjadi sengketa.

          Hal ini terjadi salah satu sebab mengapa eksportir atau importir sering

   memaksakan syarat – syarat “pilihan hukum” dan “pilihan forum” yang

   menjelaskan bahwa sengketa akan diseleseikan sesuai dengan hukum dan

   pengadilan nasional mereka. Salah satu jalan keluar untuk mengatasinya

   adalah dengan menerapkan cara perwasitan internasional” (internasional

   commercial arbitration) seperti yang diatur oleh pengadilan arbitrasi

   internasional dari kamar dagang internasional.

7. Risiko investasi

          Risiko bisnis yang lazim dalam pemasaran suatu komoditas menjadi

   bertambah besar dalam hal ekspor karena adanya tambahan investasi yang

   dibutuhkan untuk melancarkan program ekspor. Sebagai contoh, suatu pasar

   yang telah bertumbuh secara mantap dalam beberapa tahun segara mendadak

   bisa merosot karena ketidakstabilan nilai tukar sebelum eksportir mampu

   menembus investasi itu pada distribusi setempat.

          Perusahaan haruslah secara sungguh – sungguh mempertimbangkan

   apakah akan mengekspor atau tidak. Beberapa perusahaan kurang siap untuk

   ekspor dan sebagian mungkin           tidak akan mampu bersaing secara

   internasional dan harus berkonsentrasi di pasar domestik.

          Untuk kelancaran ekspor dibutuhkan jaminan atas sumber produksi

   yang dapat menimbulkan kerugian yang tidak akan dapat dipulihkan lagi bila
mengalami kegagalan, pengalaman menunjukkan adanya perusahaan yang

mengalami kebangkrutan karena melakukan investasi secara besar – besaran

dan optimisme yang berlebihan dalam operasi ekspor.

       Para praktisi profesional dalam bidang ekspor – impor dapat menekan

risiko bisnis ekspor – impor dengan cara sebagai berikut :

a. Risiko bonafiditas

   Eksportir pada umumnya tidak mengenal importir secara pribadi sehingga

   tidak dapat mengukur bonafiditas calon pembeli. Ini bisa mendatangkan

   risiko kerugian bagi perusahaan karena berhubungan dengan perusahaan

   yang mungkin hanya mempunyai alamat garasi, kontrakan, perusahaan

   aktentas, atau malah perusahaan penipu yang cukup banyak beroperasi

   dalam dunia bisnis ekspor – impor untuk mencegah risiko semacam ini

   dapat dilakukan tindakan – tindakan sebagai berikut :

   1) Melakukan pengecekan bonafiditas mitra usaha dengan cara meminta

       referensi dari bank atau dari atase perdagangan kita yang ada ditiap

       KBRI.

   2) Membuat konsep kontrak dagang ekspor yang rapi dan teliti yang

       memuat ketentuan perlindungan hukum yang menyangkut keamanan

       pembayaran dan mutu barang.

   3) Mempergunakan syarat perdagangan sesuai incoterms 2000 secara

       tepat syarat FCA mungkin lebih aman ketimbang syarat FOB yang

       lazim, dilihat dari sudut ke mudahan memperoleh dokumen untuk

       pencairan dana L/C
   4) Memasukkan dalam kontrak dagang ekspor ketentuan tentang peneliti

      serta proses penyelesaian sengketa, apakah melalui cara amicable

      solutions arbitarations ataukah melalui court (pengadilan) atau

      Alternative dispute solution.

b. Risiko Nonpayment

   Hak utama seorang eksportir adalah menerima pembayaran dari importir

   (buyers) cara pembayaran yang paling aman bagi eksportir adalah bila

   dalam   kontrak dagang ekspor disebutkan cara pembayaran di muka

   (advance payment) sehingga tidak ada risiko nonpayment. Namun dalam

   praktek cara pembayaran dalam perdagangan internasional beraneka

   ragam misalnya dengan L/C ( letter of credit ) atau open account

   Untuk mengurangi risiko dapat ditempuh cara sebagai berikut :

   1) Memilih jenis L/C yang lebih aman seperti :

      a). Red clause L/C yang memungkinkan memperoleh sebagian dari

      dana L/C sebagai uang muka

      b). Irrevocable & confirmed L/C yang pembayarannya dijamin oleh

      opening bank bersama – sama dengan confirming bank sehingga salah

      satu dari kedua bank dana bangkrut atau tidak mampu membayar

      masih bisa diharapkan akan dibayar oleh bank lainnya. Jaminan ganda

      semacam ini akan lebih baik bagi eksportir.

      c). Standby L/C yang dibuka untuk mendukung syarat pembayaran

      “open account” sehingga.
   2) Membiasakan memanfaatkan jasa badan usaha “Anjak Piutang”

      (factoring) yang dikenal sebagai “nonrecourse factoring” sehingga

      eksportir terhindar dari risiko nonpayment.

   3) Menutup asuransi pada perusahaan seperti PT Asuransi Ekspor

      Indonesia (PT ASEI) yang bertugas untuk melindungi risiko

      nonpayment terhadap eksportir Indonesia.

c. Risiko Perbedaan Mutu Barang

           Komoditi yang diekspor dapat mengalami perubahan mutu

   selama dalam kendali dari eksportir sebelum sampai ketempat tujuan di

   negara importir kedelai yang dieksportir dari Surabaya, bila ditimpa hujan

   diperjalanan, bisa menjadi tauge setelah sampai di pelabuhan tujuan dubai

   misalnya. Steel Shet yang diekspor Krakatau Steel, bisa karatan bila telah

   sampai di pelabuhan New York. Jagung yang diekspor dari Lampung bisa

   merosot kuantumnya      setelah sampai di pelabuhan Yokohama karena

   ditimpa teriknya matahari selama dalam perjalanan.

          Risiko mutu dan kuantum semacam ini bisa dihindari             bila

   eksportir dapat menyakinkan pembeli untuk menyepakati klausul “Pre

   shipment inspection” dalam kontrak dagang ekspornya. Namun            bila

   importir mengingini “Arrival Inspection” maka eksportir terpaksa

   memikul risiko perubahan mutu dan kuantum yang mungkin saja terjadi .

d. Risiko kemungkinan ingkar janji

   Perubahan situasi ekonomi memungkinkan salah satu pihak ingkar janji.

   Merosotnya harga di pasar internasional bisa berakibat pembeli
   membatalkan kontrak dagang yang sudah ditandatanganinya. Risiko

   seperti ini dapat diatasi dengan cara meminta :

   1) Uang muka yang cukup tinggi

   2) Bank garansi dari pembeli (importir)

   3) Membuka stanby L/C dari pembeli

   4) Menyediakan performace bond dalam persentasi yang cukup tinggi

e. Risiko kerusakan, kekurangan, pencurian, pencolongan

   Dalam transaksi, komoditi ekspor dapat mengalami kerusakan (damage

   /breakage) susut (lost shortage), pencurian (theft) pencolengan (pilforage)

   yang dapat merugikan eksportir maupun penerima barang. Risiko

   semacam ini dapat diatasi dengan cara :

   1) Melakukan pengepakan yang layak luat (seaworthy packing) sesuai

      dengan jenis komoditi yang diekspor

   2) Membuat kontrak angkutan dengan persyaratan khusus, selain

      persyaratan khusus selain persyarat standar yang sudah dicantumkan

      dalam bill of lading atau airways bill.

   3) Menghindari dikeluarkannya un-clean bill of lading yang mengundang

      catatan tentang kerusakan barang.

   4) Menutup asuransi kebakaran dan asuransi transportasi laut (marine

      insurance)    terhadap   pertanggungan     all   risk/war   risk   dengan

      pertanggungan minimal 110% dari nilai CIF barang yang diangkut.
   5) Memberikan instruksi pegapalan yang tepat dan benar untuk

      menghindari kemungkinan muatan nyasar (shortlanded cargo) muatan

      katut (ovcerlanded cargo) dan muatan rusak (damaged cargo)

   6) Memberi tanda – tanda yang jelas mengenai sifat barang           yang

      diangkut seperti

      a) Gambar gelas / piala dengan tambahan kata – kata

          Fragile

          Hendle with care

          Do not drop

      b) Posisi barang dalam peti kemas :

          Up

          Top

          This way up

          Not up side down

f. Risiko terhadap penipu

   Penipu dimana – mana selalu ada, termasuk dalam bidang ekspor-impor

   risiko terhadap kemungkinan penipuan dapat dihindari atau dikurangi

   dengan cara :

   1) Meminta referensi seperti diuraikan diatas

   2) Memanfaatkan jasa ICC (commercial crime cervice) yang memiliki

      data – data atau informasi perusahaan yang masuk daftar hitam.
                                   BAB III

        DESKRIPSI OBYEK PENELITIAN DAN PEMBAHASAN



A. Gambaran Umum Perusahaan

  1. Sejarah Berdirinya Trisna Gallery

            Secara resmi usaha Trisna Gallery ini berdiri pada tahun 1998, tapi

     tanggal dan bulannya tidak diketahui secara pasti. Namun usaha ini telah

     dimulai pada tahun 1997 di kota Muntilan, tapi hanya sebagai kerja sambilan,

     awal mulanya Bapak Trisna adalah seorang pegawai pada industri sejenis.

     Beliau bekerja sebagai tukang disana beliau adalah seorang pekerja keras

     yang ulet dan jujur. Berkat keuletan dan kejujuran beliau dipercaya sebagai

     tangan kanan pemilik Industri tersebut. Beliau kemudian berpikir, usaha ini

     sangat menjanjikan karena para pembeli lokal juga antusias dengan produk

     industri ini. Seandainya promosi dan pemasarannya lebih luas maka

     terbukalah peluang pasar. Maka beserta adiknya beliau membuka usaha kecil

     – kecilan dan pertama     kali beliau mendirikan usaha di Muntilan dengan

     modal yang seadanya. Lambat laun usaha ini mulai memperlihatkan hasilnya,

     dengan datangnya beberapa order. Beliau tidak pantang menyerah, dengan

     segala cara beliau ingin memberikan kepuasan bagi para pelanggannya. Dan

     hasilnya beliau bisa menikmati walau belum begitu besar jumlahnya.

            Pada tahun 1998, beliau memutuskan untuk memindahkan usaha ini ke

     tempat yang lain lebih dekat dengan jalur pemasarannya. Usaha ini kemudian

     dipindahkan ke Tumang yang sekarang ini. Beliau memulai usaha ini dari
   awal lagi, dan tentui saja dengan modal yang lebih besar. Produk yang

   dihasilkan pun semakin beragam dan bervariasi. Mulai dari      cinderamata

   sampai dengan furniture. Dan hal yang paling membanggakan pada tahun

   2003 Trisna Gallery mulai mengekspor produknya ke luar negeri walaupun

   dalam skala yang kecil namun itu merupakan sebuah prestasi, dimana produk

   Trisna Gallery mampu bersaing di pasar internasional. Kebanyakan para

   buyer datang sendiri dan memesan produk yang mereka inginkan, tapi tak

   jarang ada yang melakukannya melalui fax ataupun e-mail.

          Sekarang Trisna Gallery adalah salah satu industri kerajinan tembaga

   dan kuningan yang cukup populer di kalangan industri dan sekitarnya. Selain

   mendatangkan keuntungan bagi intern usaha ini juga telah meningkatkan taraf

   hidup penduduk di sekitarnya. Ide Pak Trisna Rahardjo ternyata memang

   tepat karena dengan mendirikan usaha ini telah menciptakan peluang pasar

   dan juga membuka kesempatan kerja bagi penduduk di Daerah Tumang dan

   sekitarnya



2. Tujuan Perusahaan

          Trisna Gallery bukan satu – satunya industri kerajinan di Boyolali

   sehingga persaingan dalam meraih buyer tidak bisa dihindari. Maka Trisna

   Gallery harus mempunyai jalur yang tepat agar mampu meraih pangsa pasar.

   Trisna Gallery mempunyai beberapa tujuan dalam menjalankan usahanya di

   jalur yang tepat.
  a. Bagi Pemilik usaha ini adalah bisnis yang harus mendatangkan

      keuntungan karena     usaha ini dididirikan adalah untuk mendatangkan

      laba. Diharapkan produknya mampu menguasai pasar dalam negeri

      maupun luar negeri. Dengan prestasi yang sudah diraih selama ini Trisna

      Gallery optimis akan dapat menarik simpati pasar, sehingga tujuan untuk

      bersaing di pasar global optimis dipegang selain itu Trisna Gallery

      menginginkan produknya memenuhi standar internasional dalam upaya

      merebut hati konsumen.

  b. Selain ingin bersaing di pasar global, Trisna Gallery juga mempunyai

      tujuan lain. Trisna Gallery menginginkan para konsumen benar – benar

      puas dengan produk yang dihasilkan. Karena dengan kepuasan konsumen

      akan memberikan nilai tersendiri bagi Trisna Gallery sebab produk ada

      karena permintaan konsumen. Kepuasan konsumen adalah segala –

      galanya, otomatis buyer tidak akan sembarangan membeli produk

      serupa pada industri lain, karena sudah terlanjur percaya pada Trisna

      Gallery. Pelanggan setia adalah aset yang perlu di jaga.



3. Lokasi Perusahaan

    Trisna Gallery terletak di kaki gunung Merbabu, tepatnya di Desa Tumang,

    Tegalrejo 01/ IX, Cepogo, Boyolali. Desa yang sebenarnya berada di antara

    kaki gunung Merapi dan gunung Merbabu. Sebelumnya Desa Tumang

    hanyalah sebuah desa yang sebagian besar penduduknya adalah petani,

    namun sekarang sebagian dari penduduknya beralih profesi menjadi
pengrajin tembaga dan kuningan. Lambat laun nama Tumang menjadi

terkenal selain tradisi “nyadran”. Secara geografis Tumang merupakan

daerah pegunungan yang berkelok-kelok, struktur tanahnya juga tergolong

subur. Alat komunikasipun disana sudah lancar.

Pemilik memilih lokasi ini dengan memperhitungkan banyak hal.

a. Tingkat Kompetisi

   Trisna Gallery merupakan salah-satunya industri tembaga dan kuningan

   dari Boyolali yang mampu mengekspor produknya ke mancanegara.

   Karyawan yang dimilikipun jumlahnya mencapai 60 orang cukup besar

   jumlahnya bagi industri kecil. Sehingga tingkat kompetisi masih rendah

   sehingga Trisna Gallery adalah penguasa di daerah Tumang.

b. Potensi Pasar

         Posisi Desa Tumang berada pada jalur SSB (Solo-Selo-Borobudur)

   sehingga potensi pasarnya cukup menjanjikan. Tak jarang para

   wisatawan menyempatkan diri membeli produk Trisna Gallery, baik

   wisatawan domestik maupun mancanegara. Potensi pasar ekspor juga

   cukup menjanjikan karena Tumang juga merupakan Desa wisata yang

   menarik bagi wisatawan asing.

c. Transportasi

         Sarana transportasi sudah cukup lancar, hanya saja jalannya sempit

   sehingga kontainer susah masuk ke dalam desa. Tapi itu bukan masalah

   besar, karena kontainer masih bisa masuk namun dengan kehati-hatian
       yang tinggi. Para penduduk memakai mobil pick up sebagai angkutan

       umum.

    d. Peluang Ekspor

            Tumang adalah desa wisata, hal tersebut adalah modal utama yang

       dimiliki. Para wisatawan asing dapat menikmati seni ukir tembaga dan

       kuningan dan juga pemandangan alamnya. Hal tersebut menjadi hal

       penting untuk mendapatkan peluang ekspor.



4. Struktur Organisasi

      a. Struktur Organisasi


                                 Pimpinan


                               Wakil Pimpinan


                                 Sekretaris




       Personalia                Marketing                   Keuangan



        Produksi               Quality Control               Produksi



       Karyawan                  Karyawan                    Karyawan
b. Deskripsi Pekerjaan

   -   Pimpinan          : Bertanggung jawab penuh terhadap maju dan

                             mundurnya usaha ini. Sehingga pimpinan wajib

                             mengawasi dan memonitor kerja semua bagian

                             dan melakukan pembenahan terhadap hal yang

                             tidak sesuai dengan visi dan misi perusahaan.

   -   Wakil Pimpinan : Membantu pekerjaan pimpinan.

   -   Sekretaris        : Membantu administrasi perusahaan, bertang-

                             gung jawab terhadap arsip-arsip penting seperti

                             catatan   order,    kwitansi    pembelian      dan

                             penjualan,   dokumen-dokumen         ekspor    dan

                             disket-disket penting.

   -   Personalia        : Mengurusi masalah kepegawaian.

   -   Marketing         : Bagian ini adalah bagian yang paling vital

                             dalam perusahaan. Dimana tugasnya adalah

                             memasarkan      produk.     Bagian    ini     harus

                             mempunyai strategi yang tepat dalam tugasnya

                             seperti cara promosi yang tepat sasaran.

   -   Keuangan          :   Bagian keuangan bertugas mengatur keluar-

                             masuknya     uang   dalam      perusahaan.    Tapi

                             dengan catatan keluar masuknya uang harus

                             sesuai dengan kebijakan perusahaan.
         -     Produksi         : Melakukan proses produksi, yaitu mengubah

                                  bahan baku menjadi bahan jadi dan siap

                                  dipasarkan. Bagian produksi harus mampu

                                  bertanggung jawab seberapa besar jumlah yang

                                  harus dipenuhi.

         -     Quality Control : Mengawasi mutu dan kualitas produk adalah

                                  tugas   Quality    Control.   Quality   Control

                                  bertugas menciptakan desain produk terbaru

                                  dan dapat memenuhi selera konsumen. Setiap

                                  bulannya harus menciptakan desain produk

                                  yang baru.

             Dari bagian-bagian perusahaan di atas adalah suatu rantai yang saling

      berkaitan, dimana bagian-bagian tersebut harus bisa bekerja sama untuk

      mencapai tujuan perusahaan.



5. Ketenagakerjaan

     a. Tenaga Kerja

                 Trisna Gallery termasuk jenis industri kecil yang mempunyai

         banyak tenaga kerja. Trisna Gallery mempunyai 60 karyawan, dimana

         mereka adalah pekerja tetapnya. Disamping itu Trisna Gallery juga

         mempunyai pekerja tidak tetap yang membantu proses produksi. 60

         karyawan tersebut dipekerjakan menurut keahliannya dalam membuat

         kerajinan tembaga dan kuningan. Para karyawan dapat menambah
   keahlian mereka dengan belajar dari para seniornya, mereka dituntut

   untuk selalu bekerja sama dalam bekerja. Para senior wajib

   membimbing dan mengawasi juniornya.

b. Kepegawaian

   1). Penerimaan Pegawai

            Penerimaan pegawai tidak terpancang pada pendidikan,

      namun pada tingkat keahlian yang dimiliki. Namun pada bagian

      vital perusahaan yaitu, sekretaris, personalia, pemasaran dan

      keuangan perusahaan memberikan syarat-syarat khusus yaitu

      jenjang pendidikan dan pengalaman kerja.

   2). Pemberhentian Pegawai

            Trisna Gallery tidak mau memberhentikan pekerjaannya

      dengan semena-mena, sehingga pemberhentian harus benar-benar

      transparan. Tapi jika terbukti pekerja tersebut melanggar peraturan

      maka tidak segan-segan akan di PHK. Contohnya sudah 7 hari

      berturut-turut   tidak   masuk   kerja,   pihak   perusahaan   akan

      menghubungi pekerja tersebut meminta kejelasan.

   3). Sistem Jam Kerja

      a). Sistem Jam Kerja Reguler.

          Jam kerja Reguler dimulai pada jam 08.00 WIB sampai dengan

          jam 16.30 WIB. Selama bekerja mereka tidak boleh

          meninggalkannya tanpa ijin kecuali jam istirahat antara jam

          11.45 WIB – 13.00 WIB
            b). Sistem Jam Kerja Lembur

                Jam kerja lembur di berlakukan jika harus mengajar tanggal

                pengiriman barang. Sebenarnya sama dengan jam kerja reguler

                yaitu jam 08.00 sampai dengan selesei, hanya saja seleseinya

                tidak dibatasi sampai jam berapa sesuai kemauan pekerja itu

                sendiri.



6. Proses Produksi

      a. Jenis bahan baku yang digunakan

         1). Bahan baku utama

            Bahan baku yang digunakan adalah tembaga, kuningan dan

            alumunium. Bahan baku berupa lempengan yang masih berupa

            lembaran. Bahan baku ini masih di impor dari negara lain

            namun dapat dibeli disolo.Pembelian bahan baku dilakukan

            seminggu sekali. Setiap harinya produksi menghabiskan 50 kg

            kuningan dan 125 kg tembaga. Khusus untuk proyek kuda laut

            Malaysia yang sekarang baru di tangani Trisna Gallery

            menghabiskan 1 ton kuningan setiap harinya.

         2). Bahan pelengkap

            Disamping bahan baku dibutuhkan juga bahan pelengkap. Bahan

            dibutuhkan dalam tahap finishing, antara lain :
        a)   Vernis
        b)   Cat minyak
        c)   Brom (Sejenis pewarna, coklat keemasan)
        d)   Amplas (mengperhalus ukiran)
        e)   Clear coating
        f)   Arang
        g)   Patri timah
        h)   Kawat tembaga dan kuningan
        i)   Asam sulfat
        j)   HCL

             Karena produk yang dihasilkan adalah kerajinan tangan maka

   peralatan yang digunakan peralatan tradisional dan sangat sederhana.

   a)   Palu
   b)   Ondel
   c)   Suwul
   d)   Jantur
   e)   Bur
   f)   Grenda
   g)   Blower
   h)   Gunting
   i)   Kikir
   j)   Las
   k)   Solder

b. Jenis produk yang dihasilkan

   Trisna Gallery adalah industri kerajinan tembaga dan kuningan maka

   produk yang dihasilkan juga merupakan perpaduan antara kedua bahan

   tersebut yaitu :

   1) Brass Handicraft

        Yaitu kerajinan tangan dari bahan kuningan antara lain patung,

        wastafel, vas, tempat perhiasan, hiasan dinding, lampu gantung,

        kaligrafi, bokor, guci, asbak, lampu duduk, tempat buah, piring,

        pigura, mangkok.
   2) Cooper Handicraft

      Yaitu kerajinan tangan dari bahan tembaga, sebenarnya hampir

      sama dengan brass hanya beda bahan saja.

      a) Vas: elips, oval, daun pisang, batu, tetes air, bola, gelas, ulir,

          miring, anggrek, guci, indra, kerang, perahu, dll.

      b) Wastafel: double tembaga, persegi panjang, bulat, oval, caping,

          acak, double outside rockstone, double cacah halus, double

          kotak.

      c) Hiasan dinding: lukisan dinding, pemandangan alam, kaligrafi,

          cermin, pigura.

      d) Pajangan : hiasan rumah tangga        yang biasanya dipajang di

          dalam lemari kaca atau sejenisnya. Bentuknya dibuat sesuai

          keinginan konsumen

      e) Perabot rumah tangga : meja, kursi, lampu gantung, tempat

          payung, gayung, mangkok, piring, tempat buah, panci masak,

          asbak, tempat tisu.

      f) Papan nama : Produk ini dibuat sesuai dengan permintaan

          konsumen. Biasanya berupa papan nama hotel, ruang di dalam

          hotel, kamar hotel.

c. Proses Produksi

   Dalam pelaksanaan proses produksi melalui beberapa tahap yang harus

   dikerjakan. Dimana proses tersebut saling berkaitan dan menentukan

   baik dan tidaknya produk yang dihasilkannya.
1) Persiapan bahan baku

   Bahan baku masih berupa lembaran baik tembaga             maupun

   kuningan. Dimana harus dipilih bahan baku yang baik agar di

   dapatkan produk yang baik pula. Dalam menggunakan bahan baku

   hendaknya efisien dalam arti bahan baku yang diperlukan

   disesuaikan dengan produknya.

2) Pemotongan bahan

   Dalam proses ini lembaran tembaga atau kuningan dipotong sesuai

   yang dibutuhkan, dimana pemotongan dilakukan dengan gunting

   khusus.

3) Pengelasan

   Tujuan dari pengelasan adalah menyambung bagian – bagian yang

   ada menjadi satu bagian yang utuh pengelasan harus dilakukan

   secara hati – hati agar bekasnya tidak begitu kelihatan

4) Pembentukan

   Proses ini adalah perwujudan dari produk apa nanti yang akan

   dibuat. Dimana sambungan dari lembaran – lembaran itu dibentuk

   menjadi sebuah benda. Ini merupakan bentuk dasar dari produk ini,

   yang nanti akan dilakukan lagi beberapa tahap untuk finishing.

5) Pembakaran

   Dalam proses ini produk di bakar diatas bara api, dengan tujuan

   agar materilnya menjadi lebih lunak, sehingga akan memudahkan

   dalam menciptakan reliefnya nanti. Produk dibakar pada
       temperatur tertentu agar didapatkan produk yang sesuai dengan

       keinginan.

   6) Finishing Pembentukan

       Produk dalam bentuk dasar tadi di finishing sesuai keinginan.

       Misalnya produk vas dimana konsumen ingin ada relief disamping

       vas, maka pada tahap ini relief ini dibuat dan dihaluskan.

   7) Finishing Warna

       Untuk      mempercantik   tampilan    produk    ini   dicat   dengan

       menggunakan cat minyak ataupun brom. Penggunaan cat harus

       disesuaikan dengan jenis produk, perpaduan warna yang benar dan

       menarik akan menimbulkan kesan cantik pada produk tersebut,

       produk siap dipasarkan.

d. Stuffing

   Dalam proses stuffing Trisna Gallery benar – benar memperhatikan hal

   – hal yang sepele sekalipun karena Trisna Gallery menginginkan

   kepuasan dari buyer.

   1) Memeriksa peti kemas seperti light test, bersalin, bebas bau, kering

       dan bebas hama, pintu dapat ditutup dengan baik dan atap tidak

       berkarat

   2) Stuffing yang baik

       a) Maksimum kapasitas container

       b) Berat terbagi rata

       c) Peraturan umum pemuatan barang dalam karton
           d) Yang ringan diatas yang berat di bawah

           e) Ruang kosong harus di dunnage

           f) Kemasan mudah pecah jangan tertekan ke dinding

           g) Susunan jangan rubuh menimpa pintu container

           h) Peraturan special cargo harus diperhatikan

           i) Muatan berbahaya harus diperhatikan

        3) Mengurangi Akibat Kondensasi

           a) Harus di tata ditempat yang lebih lapang

           b) Container harus kering

           c) Dipergunakan silica gel

           d) Dunnage harus kering

           e) Besi telanjang harus dicat atau dibungkus pipa PVC

        Dalam proses penyegelan container dilakukan oleh perusahaan.

        Container yang biasa digunakan adalah container dengan ukuran 20

        feet (20’). Barang dikemas dalam karton dan dilapisi dengan papan

        kayu yang dipaku, supaya barang tidak tergores sebelum dimasukkan

        dalam karton barang dibungkus dengan kertas koran. Setelah

        penyegelan selesai barang siap di bawa ke pelabuhan untuk dikirim ke

        pelabuhan tujuan



7. Pemasaran

     a. Daerah Pemasaran

        Daerah pemasaran Trisna Gallery meliputi dua sasaran yaitu :
   1) Lokal

      Daerah yang menjadi daerah pemasaran Trisna Gallery untuk lokal

      adalah kota – kota besar di Indonesia yaitu Jogjakarta, Jakarta,

      Jambi, Bali, Surabaya, Jepara, dan Muntilan. Daerah yang

      mempunyai prospek yang menjanjikan adalah Bali, karena setiap

      minggu pasti memesan produk dari Trisna Gallery.

   2) Internasional

      Selain daerah pemasaran lokal, Trisna Gallery juga telah

      memasarkan produknya keluar negeri. Daerah         tujuan ekspor

      Trisna Gallery adalah negara – negara ASEAN juga negara Eropa

      dan Amerika. Ekspor ini merupakan langkah Trisna Gallery untuk

      melebarkan sayap usahanya.

b. Kebijakan Harga

   Penentuan harga pada produk Trisna Gallery didasarkan pada :

   1) Jenis bahan yang digunakan

      Jenis bahan yang digunakan      sangat mempengaruhi penentuan

      harga pada produk Trisna Gallery karena harga kuningan lebih

      murah dari pada tembaga dan juga bahan – bahan pelengkap lain

      yang dipergunakan dalam proses produksi.

   2) Proses Pembuatan

      Penentuan harga juga didasarkan pada tingkat kesulitan dari proses

      pembuatan. Produk yang memerlukan           kehati – hatian dan
                kesulitan tinggi akan mempunyai nilai yang tinggi pula, lamanya

                proses pembuatan juga menentukan harganya.

        c. Promosi

            Promosi bertujuan untuk mengenalkan produk kepada calon buyer.

            Promosi dibuat semenarik mungkin untuk menarik para calon buyer.

            Trisna Gallery melakukan promosi dengan beberapa cara yaitu lewat

            media – media elektronik seperti, internet cara itu dipilih karena

            jangkauannya yang luas bahkan di seluruh dunia.



B. Pembahasan

  1. Prosedur Ekspor pada Trisna Gallery

            Prosedur ekspor pada Trisna Gallery telah dilaksanakan dengan benar

     proses dimulai dari terjadinya sales contract hingga barang sampai ke tangan

     importir. Cara pembayarannya dilakukan dengan transfer payment, mereka

     memilih cara    pembayaran ini karena syaratnya sangat mudah dan tidak

     memerlukan biaya yang besar. Dalam pembayarannya Trisna Gallery

     memakai mata uang rupiah karena pada saat mereka mencoba memakai mata

     uang dollar penjualan menurun drastis. Maka mereka memutuskan kembali

     memakai mata uang rupiah dalam melakukan transaksi.

            Dalam melakukan prosedur ekspor, Trisna Gallery meminta bantuan

     freight forwarder. Freight forwarderlah yang akan mengurus pengiriman

     pengangkutan, dan penerimaan barang. Dari uraian tersebut akan diuraikan

     secara lebih jelas mengenai prosedur ekspor pada Trisna Gallery.
a. Sales Contract

            Trisna Gallery mempromosikan komoditas yang akan diekspornya

   melalui media promosi seperti pameran dagang. Iklan di koran, internet,

   dan galeri – galeri di Bali. Trisna Gallery pada tiap minggunya menerima

   pesanan dari galeri seni di Bali, dari situlah para buyer mengetahui produk

   Trisna Gallery. Mereka kemudian memesan produk serupa langsung ke

   Trisna Gallery. Hal serupa juga terjadi pada pelanggan tetap Trisna

   Gallery, yaitu Hotel Amman yang mempunyai cabang di banyak negera di

   dunia.    Hotel Amman mempercayakan interior kamar hotelnya pada

   Trisna Gallery, dari situlah Trisna Gallery memperoleh order, karena para

   tamu hotel banyak yang tertarik dengan produk Trisna Gallery. Kemudian

   para calon buyer menghubungi Trisna Gallery untuk mendapatkan

   informasi produk berupa surat permintaan harga dengan memberitahukan

   mutu barang yang diinginkan, kuantum yang ingin dibeli, harga satuan

   dan total harga dalam valuta asing (dalam seluruh transaksinya Trisna

   Gallery memakai mata uang rupiah), waktu pengiriman (shipment date)

   dan nama pelabuhan tujuan yang diingini.

            Trisna Gallery memenuhi permintaan calon buyer dengan

   mengirimkan surat penawaran yang lazim disebut dengan offer sheet.

   Offer sheet berisikan keterangan sesuai permintaan importir, seperti uraian

   barang, mutu kuantum, waktu penyerahan, harga dan tempat penyerahan

   barang, syarat pembayaran, waktu pengapalan, cara pengepakan barang,

   brosur dan bila perlu contoh barang yang ditawarkan. Penawaran itu juga
   menyebutkan apakah penawaran itu bersifat free offer ataukah firm offer.

   Calon buyer setelah mempelajari secara seksama offer sheet dari eksportir

   menempatkan surat pesanan dalam bentuk order sheet atau purchase

   order kepada eksportir.

          Trisna Gallery     menyiapkan kontrak jual beli     ekspor (sale’s

   contract) sesuai dengan data – data dari offter sheet dan order sheet

   ditambahkan dengan keterangan seperti force majeur clauses, claims,

   syarat pengapalan seperti partial shipment, transhipment, vessel age dan

   lain – lain. Ditanda tangani oleh Trisna Gallery dan dikirimkan kepada

   buyer untuk ditanda tangani pula sebagai tanda persetujuan atas sales

   contract lazimnya dibuat aslinya dalam rangkat 2 (two original)

          Buyer mempelajari dengan seksama sales contract dan bila dapat

   menyetujui lantas ditanda tangani buyer untuk dikembalikan kepada

   Trisna Gallery satu copy original ditahan oleh buyer sebagai dokumen

   asli transaksi yang lazim disebut sebagai Sales Confirmation.

          Cara pembayaran ekspor Trisna Gallery menggunakan transfer

   payment dimana pembayarannya Trisna Gallery menggunakan mata uang

   rupiah. Trisna Gallery pernah melakukan transaksi dalam bentuk dollar

   AS namun malah menurunkan pemasukan.



b. Mempersiapkan dokumen ekspor dan barang ekspor

          Karena tidak menggunakan L/C sebagai pembayarannya maka

   persiapan dokumen sesuai dengan perjanjian dan permintaan dari buyer.
Dokumen yang diperlukan dalam transaksi ekspor pada Trisna Gallery

adalah :

1) Sales Contract

   Sales contract merupakan dokumen yang memuat kesempatan antara

   pihak pembeli (importir) dan penjual (eksportir). Dalam Sales contract

   pada umumnya tercantum kesempatan mengenai :

   -   Uraian barang selengkapnya

   -   Jumlah barang

   -   Harga satuan dan total harga

   -   Pelabuhan tujuan

   -   Syarat – syarat pembayaran dan persyaratan lain yang dipandang

       perlu serta dokumen – dokumen yang harus disediakan oleh

       eksportir untuk diserahkan kepada importir.

   Setelah sales contract ditanda tangani oleh eksportir, eksportir dapat

   mempersiapkan barang yang dipesan.



2) Commercial Invoice

           Adalah faktur yang dikeluarkan oleh eksportir bagi importir

   yang berisi informasi lengkap mengenai barang yang diekspor.

           Faktur ini dipakai sebagai dokumen pembuktian suatu

   transaksi. Dokumen ini juga menjadi dasar penilaian untuk

   menetapkan pajak ekspor. Informasi yang tercantum dalam dokumen

   ini mencakup.
           a) Nama Eksportir dan Importir

           b) Jenis dan uraian barang

           c) Harga satuan dan total harga

           d) Syarat – syarat penyerahan

3) Pemberitahuan Ekspor barang (PEB)

   Pada umumnya setiap eksportir barang dilakukan                   dengan

   menggunakan dokumen Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB). Namun

   demikian ekspor diperkenankan tanpa PEB untuk barang – barang

   contoh (commericial sample). Baru – baru ini ini Trisna Gallery

   mendapatkan inquiry dari California, Amerika yaitu menginginkan

   600 wastafel dikirim setiap bulannya, dan kemudian mereka meminta

   sampel untuk dikirimkan kesana. PEB di tetapkan sebagai dokumen

   utama, karena     itu dokumen PEB wajib diisi dengan sebenarnya,

   diteliti dan ditandatangani oleh eksportir, pejabat bea cukai dan pejabat

   bank devisa yang berwenang.



4) Bill of lading (B/L)

           Dikeluarkan oleh perusahaan pelayaran samudera. Yang

   dimaksud dengan B/L adalah suatu tanda terima penyerahan barang

   yang dikeluarkan oleh perusahaan pelayaran         sebagai tanda bukti

   pemilikan atas barang yang       telah dimuat diatas kapal laut oleh

   eksportir untuk diserahkan kepada importir.
           B/L merupakan alat bukti          penerimaan dan sekaligus

   penyerahan hak milik atas barang sebagai pelaksanaan suatu transaksi

   antara eksportir dengan importir. B/L juga merupakan alat bukti

   adanya kontrak pengangkutan antara eksportir dengan perusahaan

   pelayaran.

5) Polis Asuransi

   Dikeluarkan oleh maskapai asuransi. Yang dimaksud dengan polis

   asuransi adalah surat bukti pertanggungan yang dikeluarkan maskapai

   asuransi atas permintaan eksportir atau importir untuk menjamin

   keselamatan atas barang yang dikirim dari aneka bencana dan

   kerusakan, dengan membayar premi. Polis asuransi merupakan alat

   bukti pertanggungan atas barang yang dimaksud sebagai pelaksanaan

   suatu transaksi antara eksportir dan importir.

6) Packing list

   Packing list adalah perincian lengkap tentang barang yang terdapat

   dalam setiap peti. Uraian tersebut juga mencakup jenis bahan

   pembungkusan / pengepak dan cara mengepaknya. Packing             list

   biasanya disiapkan jika barang yang terdapat dalam setiap        peti

   berbeda jenis, jumlah atau beratnya. Packing list akan mengurangi

   terjadinya kekeliruan dalam penyerahan barang. Petugas pabean akan

   melakukan pemeriksaan isi peti dengan mengambil beberapa sampel.

   Jika isinya sesuai dengan packing list. Seperti yang lain diasumsikan

   demikian juga.
  7) Certificate of origin (COO)

             Certificate of origin atau surat keterangan asal (SKA) adalah

     surat pernyataan yang menyebutkan negara asal suatu barang,

     certificate of origin ini penting artinya untuk memperoleh fasilitas bea

     masuk maupun sebagai alat perhitungan Quota di negara tujuan, atau

     untuk   mencegah masuknya barang dari          negara yang    terlarang

     setelah semua     dokumen      telah dipersiapkan     eksportir segara

     menyiapkan barang sesuai dengan permintaan importir atau perjanjian



c. Pemesanan Ruang Kapal

         Trisna Gallery memesan ruang kapal ke perusahaan pelayaran

  Samudera, dalam pengurusan pengangkutan Trisna Gallery memakai

  jasa pengangkutan EMKL (Ekspedisi muatan kapal laut) atau freight

  forwarder. EMKL merupakan usaha usaha pengurusan dokumen dan

  muatan yang akan diangkutan melalui kapal atau pengurusan dokumen

  dan muatan yang berasal dari kapal untuk urusan ini, EMKL mendapat

  kuasa secara tertulis dari pemilik untuk mengurus barangnya

         Freight forwader pengurusan atas seluruh            kegiatan yang

  diperlukan bagi terkabulnya pengiriman, pengangkutan dan penerimaan

  barang dengan menggunakan multimodal transport baik melalui darat, laut

  ataupun udara.

         Trisna Gallery dalam transaksi ekspor dengan The Nature

  Company dari Singapura menggunakan jasa freight forwarder RCL
   (Regional Container Lines) untuk mengurus prosedur dan formalitas

   dokumentasi yang dipersyaratkan oleh adanya peraturan – peraturan

   pemerintah negara ekspor, transit dan negara impor.



d. Pengajuan PEB (Pemberitahuan Ekspor barang)

   Trisna Gallery mendaftarkan pemberitahuan ekspor barang (PEB) kepada

   kantor pabean atau bank devisa. Barang – barang yang akan diekspor

   wajib diberitahukan dan didaftarkan ke kantor pabean. Barang yang

   diberitahukan dalam PEB yang telah didaftarkan sebagai pengangkut

   untuk dikeluarkan dari Daerah Pabean, dianggap telah di ekspor dan

   perlukan sebagai barang ekspor.



e. Stuffing barang ke Container

          Untuk melakukan stuffing eksportir bisa meminta bantuan freight

   forwarder atau EMKL, karena merekalah yang sangat paham tentang cara

   pengirimannya, selain itu, Internasional Trade Center (ITC) yang

   merupakan salah satu badan perserikatan bangsa – bangsa juga bersedia

   memberi nasehat mengenai cara pembungkusan produk yang akan ekspor.

          Barang    dibungkus   sesuai   dengan     packing   list   sehingga

   memudahkan dalam pemeriksaan. Jenis yang dipakai untuk membungkus

   barang tergantung dari.

   -   Sifat dan jenis barang yang akan dibungkus

   -   Volumenya
   -   Beratnya

   -   Jumlah bungkusan yang ada

   -   Cara mengangkutnya

   -   Tujuan akhir dari barang yang diangkut

          Jenis bungkusan yang lebih sering digunakan adalah bahan karton

   karena barang yang diangkut adalah dari bahan tembaga dan kuningan

   yang tidak mudah pecah.



f. Pengiriman barang ke pelabuhan

          Trisna Gallery mengirimkan barang ke pelabuhan dengan

   menggunakan jasa EMKL atau freight forwarder. Pihak freight forwader

   akan melaksanakan transaksi     barang ke pelabuhan laut, dan dalam

   pengiriman barang juga disertakan dokumen – dokumen ekspor

          Kemudian barang dimasukkan ke container dengan hati – hati

   untuk mendapat hasil yang optimal dari suatu petikemas adalah usaha agar

   barang atau bungkusan barang yang masuk di dalamnya dapat masuk

   secara maksimum dan masih adanya cukup ruangan sisa untuk separation,

   pengikatan dan peranginan.



g. Pemeriksaan Bea Cukai

   Setelah barang dikirim kepelabuhan, dokumen ekspor di periksa oleh

   pihak bea cukai. Apabila diperlukan barang – barang yang diekspor di

   periksa juga oleh pihak – pihak bea cukai. Apabila barang – barang dan
   dokumen yang menyertainya telah sesuai dengan ketentuan bea cukai

   menandatangani pernyatan persetujuan muat yang ada pada PEB.



h. Pemuatan Barang ke Kapal

   Setelah pihak bea cukai menandatangani PEB maka barang telah dapat

   dimuat ke kapal. Segera setelah barang dimuat ke kapal, pihak pelayaran

   menerbitkan   bill of lading (B/L) yang kemudian diserahkan kepada

   eksportir.



i. Surat Keterangan Asal barang (SKA)

   Eksportir sendiri atau perusahaan freight forwarder atau EMKL meminta

   pemuatan barangnya dan mengajukan permohonan ke kantor wilayah

   Departemen Perindustrian dan perdagangan atau ke kantor Departemen

   Perindustrian Perdagangan untuk memperoleh SKA apabila di perlukan.



j. Pengiriman Barang Kepada Importir

   Barang dikirimkan dari pelabuhan muat menuju pelabuhan tujuan di

   negara importir



k. Penyelesaian Transfer Payment

   Pembayaran dilakukan dalam 3 kali pertama disaat kontrak terjadi yaitu

   sebesar 30%, kedua setelah barang sampai dipelabuhan sebesar 30%,

   ketiga setelah barang diterima oleh pihak importir pembayaran dilunasi
      penuh, dengan catatan barang diterima sesuai dengan perjanjian dalam

      kontrak dagang.



2. Risiko Dalam Kegiatan Ekspor

          Pengelolaan (manajemen) risiko yang baik merupakan jantung dari

   perdagangan internasional. Seperti diketahui, risiko merupakan unsur yang

   selalu ada dalam semua usaha bisnis dalam perdagangan internasional risiko

   itu berlipat ganda dibandingkan dengan perdagangan domestik.

          Beberapa kerugian dalam perdagangan internasional secara khusus dan

   sangat berpengaruh (Maurice d levi : 23):

          a. Satu kemungkinan kerugian dari perdagangan bebas internasional

             terjadi suatu negara menemukan perusahaan lokalnya bangkrut

             dan oleh karenanya negara tersebut     menjadi terbuka terhadap

             eksploitasi oleh monopoli asing

          b. Kemungkinan kelemahan yang lain dari perdagangan adalah

             kekurangannya keaneka ragaman ekonomi, ini adalah sisi buruk

             keuntungan dari spesialisasi.

          Risiko yang ditimbulkan oleh perdagangan internasional, timbul

   karena adanya perbedaan – perbedaan yang nyata antara negara pelaku

   perdagangan internasional. Risiko yang nyata dari perdagangan internasional

   dibandingkan dengan perdagangan domestik ditimbulkan oleh adanya

   ketidakpastian kurs. Perubahan kurs yang tak terduga memiliki dampak

   penting pada penjualan, harga dan laba eksportir dan importir. Risiko
perdagangan internasional yang lain adalah         risiko negara (country risk)

mencakup risiko tidak terbayarnya ekspor perusahaan sebagai akibat perang,

revolusi, atau peristiwa poilitik dan sosial lainnya. Risiko tambahan lain dari

bisnis internasional meliputi tidak pastian mengenai kemungkinan pengenaan

atau perubahan        tarif import atau meliputi      ketidakpastian mengenai

kemungkinan pengenaan atau perubahan tarif impor kuota, kemungkinan

perubahan subsidi bagi produsen lokal, dan kemungkinan pengenaan

hambatan non tarif.

       Dalam melakukan kegiatan ekspor Trisna Gallery tidak selalu berjalan

sesuai dengan keinginan ada juga hambatan yang dihadapi. Baik dirasakan

secara langsung maupun tidak langsung. Hambatan - hambatan tersebut

sebenarnya masih dapat diatasi hanya saja mengakibatkan sedikit perubahan

dalam perusahaan. Risiko tersebut antara lain adalah :

       a. Risiko ketidak pastian kurs

           Dalam setiap transaksi ekspor, Trisna Gallery memakai mata uang

           rupiah baik itu negara Asia maupun negara Eropa, pernah pada

           suatu saat Trisna Gallery memakai mata uang           dollar sebagai

           pembayarannya, tetapi apa yang terjadi penjualan dan pemasukan

           menurun hingga 15%. Hal tersebut karena ketidakstabilan kurs

           rupiah terhadap      dollar dengan spread yang lumayan besar.

           Apalagi adanya perubahan kurs yang terjadi dengan tiba – tiba dan

           eksportir tidak dapat mengatisipasinya.
   Langkah yang diambil adalah kembali ke mata uang rupiah lagi

   karena dengan begitu penjualan akan kembali stabil. Walaupun

   nantinya akan sulit bagi perusahaan menembus pasar internasional

   namun itu merupakan suatu keputusan yang harus diambil demi

   kelangsungan usaha

b. Risiko Transportasi

   Trisna Gallery       terletak di daerah pegunungan yang jalannya

   cenderung sempit dan berkelok – kelok, sehingga transportasi

   tidak memungkinkan untuk truk – truk besar seperti trailer. Namun

   untuk jenis container ukuran 20 kaki masih bisa, namun juga tidak

   bisa maksimal.

   Untuk mengatasi hal tersebut , Trisna Gallery melakukan stuffing

   di tanah lapang untuk mencegah kerusakan barang.

c. Risiko ketidak pastian mengenai kemungkinan pengenaan atau

   perubahan tarif       impor atau kuota, kemungkinan perubahan

   subsidi      bagi produsen lokal, dan kemungkinan pengenaan

   hambatan non tarif.

             Bentuk hambatan perdagangan yang paling penting atau

   menonjol secara historis adalah tarif. Tarif adalah pajak atau cukai

   yang dikenakan untuk suatu komoditi yang perdagangkan lintas –

   lintas teritorial.

             Tarif terdiri dari dua macam yaitu tarif impor dan tarif

   ekspor. Ketika sebuah negara kecil memberlakukan tarif terhadap
barang – barang impornya, hal tersebut tidak akan mempengaruhi

harga. Harga barang itu dipasaran intenasional yang berubah

hanyalah harga barang tersebut di pasar domestiknya sendiri,

sehingga pihak yang harus menghadapi segala implikasi kenaikan

harga itu adalah konsumen dan produsen di negara kecil yang

bersangkutan. Para produsen akan terdorong untuk meningkatkan

produksi komoditi yang semua diimpor itu, karena mereka ingin

turut menikmati keuntungan berkat kenaikan itu, dalam waktu

bersamaan konsumen akan mengurangi konsumsi, dan volume

ekspor juga akan berkurang.

          Pada saat terjadi volume ekspor yang berkurang, Trisna

Gallery     tetap memproduksi dengan meningkatkan penjualan

dalam negerinya. Trisna Gallery tetap memproduksi seperti biasa

namun sasarannya adalah konsumen lokal.

          Perubahan subsidi produsen lokal, pemberian subsidi bagi

produsen lokal mengakibatkan menurunnya volume ekspor.

          Kuota   (Jatah   atau   pembakuan)   merupakan   bentuk

hambatan perdagangan       non tarif paling penting. Kuota adalah

pembatasan secara langsung terhadap jumlah impor dan ekspor.

Kuota bisa berupa pembatasan kuantitas pasokan. Pembatasan

ekspor secara sukarela (voluntary export restraints) merujuk pada

kasus dimana negara pengimpor mendesak negara lain untuk

membatasi ekspornya atas suatu komoditi tertentu secara sukarela,
dibawah ancaman bahwa negara pengimpor akan menerapkan

restriksi perdagangan apapun bentuknya yang lebih ketat lagi. Jika

ancaman itu berhasil sehingga negara pengekspor bersedia

melakukan pembatasan atas inisiatifnya sendiri, maka dampak

ekonominya akan sama seperti yang ditimbulkan oleh penerapan

kuota impor yang setara, kecuali dampak pendapatannya. Dalam

kasus pembatasan ekspor secara sukarela, pendapatan ekstra akan

jatuh ketangan perusahaan – perusahaan tertentu. Di negara

pengekspor yang memperoleh keistimewaan berupa lisensi ekspor

(sedangkan pemerintah negara pengimpor) dalam kenyataannya,

pembatasan ekspor secara sukarela itu tidak begitu berhasil dalam

membatasi impor. Selain      mekanisme ini, masih banyak lagi

bentuk – bentuk hambatan perdagangan non tarif lainnya. Secara

keseluruhan proteksi non tarif tersebut         semakin banyak

diterapkan di berbagai negara dan berbagai macam sektor ekonomi

atau jenis komoditi. Sekarang ini aneka bentuk restribusi atau

hambatan non tarif itu bahkan telah menggantikan       peran tarif

dimasa sebelumnya sebagai ancaman terbesar bagi kelangsungan

dan perkembangan perdagangan internasional yang bebas.

       Dari risiko itu yang dilakukan oleh Trisna Gallery adalah

meningkatkan produksi untuk konsumen lokal sebagai akibat dari

menurunnya volume ekspor.
          d. Risiko mutu barang

                    Bagi importir akan sulit memeriksa secara fisik mutu barang

             sebelum dikapalkan. Importir tidak dapat mengetahui mutu barang

             yang dipesan sehingga sampai barang disana tidak sesuai dengan

             yang diinginkan.

                    Trisna Gallery pernah mengalami pengembalian produk,

             namun hal tersebut terjadi saat pengiriman sampel. Calon buyer

             ternyata mengembalikan sampel produk karena           tidak sesuai

             dengan standar mutu yang diinginkan. Akhirnya transaksi gagal di

             laksanakan.

          e. Risiko Peristiwa Tak terduga

             Dalam pengiriman barang eksportir dan importir tidak mengetahui

             apa yang terjadi selama perjalanan. Kejadian seburuk apapun

             mungkin bisa terjadi baik itu pemogokan, bencana alam, ataupun

             peperangan bahkan pembajakan, untuk mengatasi         hal tersebut

             Trisna Gallery mengasuransikan produknya agar bisa melindungi

             produk yang dikirim.



3. Perkembangan Ekspor Trisna Gallery 2003-2004

          Volume ekspor Trisna Gallery dari tahun 2003 s/d 2004 mengalami

   peningkatan   sebesar   25%    yaitu   dari   Rp.   436.230.250,00   menjadi

   Rp. 614.667.700,00. Peningkatan yang sangat signifikan. Akan tetapi ekspor

   dilakukan tiap 3 bulan sekali dan hal tersebut atas permintaan konsumen.
       Produk yang paling banyak diminati oleh konsumen adalah wastafel

dengan berbagai macam bentuknya. Kebanyakan peminatnya adalah orang –

orang Amerika dan Eropa. Dalam waktu dekat ini Trisna Gallery mendapat

pesanan dari California AS 600 wastafel. Pelaksanaan ekspor baru sampai

pada tahap pengiriman sampel tinggal menunggu purchase order (PO) dari

calon buyer. Rencananya wastafel tersebut diekspor pada setiap bulannya jika

ini deal maka merupakan ekspor terbesar bagi Trisna Gallery.

       Ekspor sebenarnya baru dilakukan oleh Trisna Gallery mulai tahun

2003. Ekspor pun baru dalam volume kecil sehingga tidak dilakukan pada

tiap bulan. Volume penjualan ekspor pada tahun 2003 secara keseluruhan

sebesar Rp. 436.230.250,00 memang relatif kecil namun mengingat usaha ini

adalah industri kecil yang baru merintis karir. Sedangkan pada tahun 2004

nilai ekspor mengalami        peningkatan, nilai      ekspor mencapai Rp.

614.667.700,00, peningkatan    yang lumayan        dan diharapkan akan terus

mengalami peningkatan.

       Tahun 2005 ini ada dua target ekspor dengan nilai yang cukup besar

yaitu ke Malaysia dengan nilai ekspor mencapai Rp. 600.000.000,00 ekspor

ini sebenarnya agak mundur dari perjanjian karena waktu yang di targetkan

meleset. Produk yang dipesan adalah patung cor kuningan kuda laut dengan

tinggi 17 M yang kedua adalah ekspor wastafel ke California. Ini merupakan

titik terang bagi Trisna Gallery untuk memulai mengembangkan usahanya.

       Volume penjualan pada tahun 2003 – 2004 merupakan titik awal

Trisna Gallery untuk menampakkan kaki ke pasar global.
       Aspek yang mempengaruhi penjualan ekspor tahun 2003 – 2004

meningkat :

       1) Promosi yang dilakukan

          Semakin luas dan gencar sehingga penjualan dapat meningkat.

          Promosi dibuat semenarik mungkin. Berbagai pameran dagang

          diikuti untuk mengenalkan produk     secara luas, yaitu pameran

          dagang di Bali, Semarang dan Jogjakarta.

       2) Design produk yang semakin beragam

          Produk di design dengan lebih bagus untuk menarik para calon

          buyer. Para ahli design dikerahkan untuk menciptakan produk yang

          unik dan elegan. Hasilnya buyer banyak yang tertarik dan

          memesannya, yaitu produk vas dan wastafel yang dibuat dengan

          bentuk yang bermacam-macam.

       3) Penambahan Tenaga Kerja

          Dengan penambahan tenaga kerja Trisna Gallery berani menerima

          order yang volumenya lumayan besar. Mereka diharapkan dapat

          menyelesaikan pesanan tepat pada waktunya

       Pada akhirnya volume penjualan diharapkan bisa terus meningkat dan

dapat memenuhi permintaan pasar. Dan kenyataannya perkembangan ekspor

Trisna Gallery cukup baik.
                                 Tabel 3.1
                    Volume Penjualan ekspor Trisna Gallery
                                Tahun 2003

                                                    Perkembangan
         Bulan             Nilai Penjualan (Rp)
                                                    Penjualan (%)
         Januari               25.500.000

        Februari               40.000.000               156.86

         Maret                 45.000.000               112.50

         April                 18.065.000               40.14

          Mei                  32.077.500               177.57

          Juni                 52.570.000               163.88

          Juli                 53.850.000               102.43

        Agustus                40.097.500               74.46

       September               27.767.000               69.25

        Oktober                     -

       November                101.303.750              364.84

       Desember                     -

         Jumlah                436.230.250
Sumber : Trisna Gallery 2003

Keterangan :

Prosentase < 100% mengalami peningkatan

Prosentase > 100% mengalami penurunan
                                  Tabel 3.2
                        Volume Penjualan Trisna Gallery
                                 Tahun 2004



                                                      Perkembangan
          Bulan                Nilai Penjualan (Rp)
                                                      Penjualan (%)
         Januari                   12.225.000

         Februari                   7.510.000             61.43

          Maret                    51.340.000             683.62

          April                   114.828.750             223.66

           Mei                     54.114.150             47.13

           Juni                    45.698.750             84.45

           Juli                   162.597.200             355.80

         Agustus                   15.716.000              9.67

        September                 47.085.0001             299.60

         Oktober                   44.614.350              9.48

        November                   21.028.500             47.13

        Desember                   37.910.000             180.28

         Jumlah                   614.667.700
Sumber : Trisna Gallery 2004

Prosentase < 100% mengalami peningkatan

Prosentase > 100% mengalami penurunan
                                    BAB IV

                                 PENUTUP



A. KESIMPULAN

         Dari penjelasan dari bab – bab      sebelumnya dapat ditarik kesimpulan

  beberapa kesimpulan mengenai prosedur ekspor pada Trisna Gallery :

  1. Prosedur ekspor pada Trisna Gallery telah dilaksanakan dengan benar. Proses

     dimulai dari terjadinya sales contract hingga barang sampai ketangan

     importir. Cara pembayarannnya dilakukan dengan transfer payment, mereka

     memilih cara pembayaran ini karena syaratnya sangat mudah dan murah.

     Dalam melakukan prosedur ekspor Trisna Gallery meminta bantuan freight

     forwarder, yaitu dalam hal pengurusan prosedur pengiriman barang dan

     dokumen     yang diperlukan. Mata uang yang digunakan dalam transaksi

     pembayarannya adalah rupiah.

  2. Risiko dalam kegiatan ekspor lebih beragam daripada kegiatan perdagangan

     domestik.Risiko dalam perdagangan internasional timbul karena adanya

     perbedaan-perbedaan    yang nyata antara negara pelaku perdagangan

     internasional. Risiko itu antara lain, ketidak pastian kurs,    transportasi,

     mengenai kemungkinan pengenaan atau perubahan tarif impor atau kuota,

     kemungkinan perubahan     subsidi    bagi produsen lokal dan kemungkinan

     pengenaan hambatan non tarif, mutu barang         dan yang terakhir risiko

     peristiwa tak terduga. Risiko-risiko tersebut disikapi Trisna Gallery dengan

     baik yang pada akhirnya tidak menimbulkan perubahan yang berarti
  3. Perkembangan ekspor pada Trisna Gallery cukup baik, dimana volume

      ekspor dari tahun 2003-2004 meningkat. Perkembangan itu sebesar 25%,

      yaitu penjualan pada tahun 2003 sebesar Rp. 436.230.250,00 menjadi

      sebesar Rp. Rp. 614.667.700,00 pada tahun 2004. Hal itu dikarenakan

      beberapa hal yaitu promosi yang dilakukan secara luas dan gencar, design

      yang semakin menarik dan beragam, dan yang terakhir penambahan tenaga

      kerja . Perkembangan ini diharapkan bisa terus meningkat atau minimal bisa

      stabil.



B. SARAN

  1. Cara pembayaran yang dilakukan oleh Trisna Gallery dalam kegiatan

     ekspornya adalah dengan transfer payment. Pembayaran ini cukup berisiko

     dimana eksportir dan importir hanya mempunyai modal saling percaya. Maka

     ada baiknya pembayaran dilakukan dengan L/C (letter of credit) yang lebih

     terjamin dan risikonya tidak besar. Dalam prosedur ekspor dokumen ini

     sangat penting. Dokumen ini bertujuan untuk memberikan jaminan apabila

     terjadi sesuatu yang mengakibatkan kerugian. Dan juga barang belum sampai

     ketangan importir sudah dapat menerima pembayaran dari importir melalui

     bank devisa dengan cara menyerahkan dokumen bill of lading (B/L).

     Selama ini mata uang yang digunakan dalam transaksi pembayaran adalah

     rupiah. Agar lebih mudah sebaiknya menggunakan mata uang dollar AS saja

     karena importir dari berbagai negara selalu berpatokan pada nilai dollar AS,

     dan menggunakannya dalam transaksi internasional.
2. Selama ini prosedur ekspor dilakukan dengan menggunakan jasa freight

   forwarder sebaiknya prosedur ekspor dilakukan sendiri untuk meminimumkan

   biaya yang timbul, dan pihak Trisna Gallery dapat mengetahui cara barang

   dikirim dari pelabuhan muat sampai dengan pelabuhan tujuan hingga akhirnya

   sampai ke tangan buyer.

3. Untuk meningkatkan volume penjualan khususnya ekspor, Trisna Gallery

   hendaknya semakin gencar melalukan promosi, misalnya mengikuti pameran

   dagang yang bertaraf internasional. Selain itu juga harus menambah jenis

   produk yang dihasilkan dari produk antik ke produk yang lebih modern atau

   perpaduan dari keduanya, misalnya furniture.

4. Trisna Gallery belum mempunyai kantor cabang, untuk tujuan memperluas

   pemasaran sebaiknya mendirikan showroom atau counter didaerah        yang

   potensial, karena dengan begitu jangkauan pemasaran Trisna Gallery akan

   semakin luas.
                              DAFTAR PUSTAKA




Amir, MS, 2002, Kontrak Dagang Ekspor, Penerbit BPM, Jakarta.

Anonim 2004, Pedoman Penulisan Tugas Akhir dan Magang Kerja,                Fakultas
       Ekonomi Universitas Sebelas Maret, Surakarta.

Hutabarat, roselyne, 1992, Transaksi Ekpor Impor, Penerbit Erlangga, Jakarta.

Levi D, Maurice, 2001, Keuangan Internasional, Penerbit Andi Offset, Yogyakarta.

PPEI, BPEN dan DEPPERINDAG, 2004, Kumpulan Makalah Pelatihan Prosedur
       Ekspor, Disampaikan pada pelatihan prosedur ekspor angkatan XII, kerjasama
       antara PPEI, BPEN dan DEPPERINDAG dengan lab. Ekspor – Impor,
       Program D3 Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret Surakarta, 30
       September – 2 Oktober 2004.

Salvatore, Dominick, 1997, Ekonomi Internasional, Erlangga, Jakarta.

Supranto. J, 1993, Metode Riset Aplikasinya dalam Pemasaran Penerbit Lembaga
       Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indosnesia. Jakarta.

Suyono R.P, 2001 Shipping (Pengangkut Internasional Ekspor                – Impor
       melalui Laut), BPM, Jakarta.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:770
posted:8/24/2011
language:Indonesian
pages:85