Documents
Resources
Learning Center
Upload
Plans & pricing Sign in
Sign Out

Kredit Konsumtif

VIEWS: 1,942 PAGES: 42

									                                                                              17



                                     BAB II

                            TINJAUAN PUSTAKA



         Dalam bab ini dijelaskan mengenai teori permintaan Kredit Kepada

   Pegawai Berpenghasilan Tetap (Kretap). Analisis mengenai permintaan Kretap

   didasarkan pada teori permintaan uang. Dalam hal ini individu/masyarakat

   membutuhkan uang. Bila dalam teori tersebut, salah satu faktor yang

   mempengaruhi permintaan uang adalah pendapatan, maka dalam permintaan

   Kretap juga dipengaruhi oleh pendapatan dan faktor–faktor lain. Sebelum

   diuraikan mengenai teori permintaan uang akan terlebih dahulu dijelaskan

   mengenai pengertian kredit, Kredit Kepada Pegawai Berpenghasilan Tetap

   (Kretap) dan latar belakang P.T. BRI (Bank Rakyat Indonesia).



A. Bank Rakyat Indonesia (BRI)

  1. Sejarah Singkat dan Perkembangan Bank Rakyat Indonesia (BRI)

        Sejak berdiri tahun 1895 sampai sekarang, Bank Rakyat Indonesia (BRI)

    mengalami banyak perubahan baik dari segi manajemen sampai pada

    penciptaan produk dan jasa baru. Perkembangan BRI dapat dilihat pada

    keterangan berikut :

    a. Masa Penjajahan Belanda

            Pertama kali BRI didirikan oleh patih Wiraatmaja yang melihat banyak

      sekali pangreh praja dan pegawai negeri bangsa Indonesia yang terjerat oleh

      hutang. Patih Wiraatmaja menawarkan pinjaman dengan bunga yang rendah
                                                                         18



dan jangka waktu pengembalian selama 20 bulan, sehingga cicilan

bulanannya relatif ringan. Patih Wiraatmaja kemudian membentuk Bank

Bantuan dan Simpanan Milik Pribumi Purwakerto yang menjadi awal dari

terbentuknya Bank Perkreditan Rakyat (BPR). Akhirnya pada tanggal 16

Desember 1895 secara resmi didirikanlah bank perkreditan rakyat pertama di

Indonesia yaitu Bank Bantuan dan Simpanan Milik Pegawai Pangreh Praja

Berkebangsaan Pribumi. Tujuan utama pendiriannya adalah untuk membantu

para priyayi bangsa Indonesia pribumi agar terbebas dari tangan para pelepas

uang/rentenir. Bank tersebut kemudian menjadi Bank Rakyat Indonesia, dan

tanggal 16 Desember 1895 dijadikan sebagai hari kelahiran BRI (BRI, 1995 :

5–21).

1). Volksbank

         Sejalan dengan perkembangan, Bank Bantuan dan Simpanan Milik

   Pegawai Pangreh Praja Berkebangsaan Pribumi (Bank Priyayi) diubah

   namanya menjadi Bank Bantuan, Simpanan dan Kredit Usaha Tani

   Purwokerto (Volksbank/bank rakyat) yang menjadi pusat dari bank–bank

   yang menggerakkan perkoperasian di perdesaan. Jangkauan nasabah bank

   ini tidak terbatas hanya untuk melayani para priyayi saja, namun juga

   meluas sampai kalangan rakyat kecil, penduduk desa, para petani, tukang

   dan pedagang kecil. Bank priyayi tersebut menjadi pendorong berdirinya

   bank–bank sejenis di berbagai daerah di Indonesia. Pemerintah Belanda

   mnghendaki agar perkreditan rakyat di Indonesia ditangani secara serius

   sehingga akhirnya diambil langkah untuk mengembangkan bank–bank
                                                                        19



   tersebut dengan bantuan para pegawai negeri. Untuk mendukung program

   pengembangan tersebut maka dibentuklah lembaga Urusan Perkreditan

   yang menjadi lembaga perkreditan semi pemerintah karena merupakan

   bentuk dari lembaga yang berbadan hukum dan mendapat pengawasan

   dari pemerintah. Lembaga Urusan Perkreditan Rakyat terdiri dari Badan

   Kredit Kabupaten dan Badan Kredit Desa yang mengatur penyaluran

   kredit dari Badan Kredit Kabupaten ke Badan Kredit Desa. Bank–bank

   tersebut dikelola oleh pemerintah Indonsia dan bangsa Eropa.

2). Sentral kas

         Berdasarkan keputusan raja Belanda No. 118 tanggal 10 Juli tahun

   1912, Staatsblad 1912 No. 392, pemerintah mendirikan sentral kas yang

   bertugas untuk mengawasi dan mengadakan pembinaan terhadap badan

   kredit rakyat dan menerima dana simpanan dari badan kredit rakyat.

3). AVB (Algemeene Volkscredietbank)

         Perkembangan bank rakyat menjadi semakin menurun dikarenakan

   campur tangan sentral kas dan terjadi penggelapan dana oleh beberapa

   pegawai, di samping itu pengawasan dan pembinaan yang dilakukan oleh

   sentral kas lebih ditujukan kepada badan kredit desa. Selanjutnya

   dibentuklah AVB (Algemeene Volkscredietbank) yang bertujuan untuk

   mempersatukan bank–bank setempat yang mengalami kesulitan dalam

   bidang keuangan. AVB dibentuk pada tanggal 19 Februari 1934. Salah

   satu aktivitas AVB dalam dunia perbankan adalah memberikan pinjaman
                                                                        20



     kepada penduduk desa dan pinjaman yang diberikan pada golongan yang

     berpenghasilan tetap.

b. Masa Penjajahan Jepang (Tahun 1942–1945)

        Pada masa penjajahan Jepang, BRI tidak banyak mengalami

   perubahan yang berarti. Algemeene Volkscredietbank (AVB) berubah

   menjadi Syomin Ginko yang memperkenalkan sistem pencabangan baru.

   Syomin artinya rakyat sedangkan Ginko artinya dalah bank. Syomin Ginko

   bertugas membantu pemerintah dalam pembelian padi, penyimpanan

   permata, pengadaan undian dan pengumpulan simpanan. Syomin Ginko

   mempunyai 98 cabang dengan kantor pusatnya berada di Jakarta. Meskipun

   telah berganti nama menjadi Syomin Ginko namun cara kerjanya tidak

   banyak mengalami perubahan dengan tetap bertujuan membantu golongan

   ekonomi lemah. Dalam periode ini tidak ditemukan data–data yang

   mendukung. Data yang terpenting adalah pergantian nama AVB menjadi

   Syomin Ginko (BRI, 1995 : 23–27).

c. Masa 17 Agustus 1945–1959

        Syomin Ginko diubah namanya menjadi Bank Rakjat Indonesia (BRI).

   Pada awal Oktober 1945, BRI sudah dikuasai oleh tenaga–tenaga Indonesia.

   Secara resmi perubahan nama Syomin Ginko menjadi BRI diterangkan

   dalam Peraturan Pemerintah (PP) NO.1 tahun 1946 pasal 1 yang

   menyebutkan bahwa “BRI adalah bank pemerintah yang dulu berturut–turut

   bernama Algemeene Volkscredietbank dan Syomin Ginko”. Selanjutnya
                                                                      21



pada pasal 2 disebutkan bahwa wilayah kerja BRI adalah di seluruh

Indonesia (BRI, 1995 : 29–43).

1). BRI tahun 1946

         Pada tahun 1946 BRI menjadi satu–satunya bank milik pemerintah

   RI. BRI melayani 2 golongan masyarakat peminjam dana, yang pertama

   adalah kredit yang diberikan kepada golongan berpenghasilan tetap dan

   kepada golongan rakyat kecil di perdesaan dan yang kedua adalah kredit

   yang diberikan kepada pengusaha golongan menengah nasional.

2). BRI masa agresi Belanda

         Aktivitas BRI terhenti selama kurang lebih satu tahun sampai

   perjanjian Roem Royen disepakati, yaitu pada tanggal 7 Mei 1949.

   Selanjutnya AVB di Jakarta diubah menjadi kantor pusat Bank Rakjat

   Indonesia Serikat (BARRIS) sedangkan BRI di Yogyakarta diubah

   namanya menjadi BRI negara bagian.

3). BRI sebagai bank menengah

         Sesuai dengan Peraturan Pemerintah (PP) No. 25 tanggal 20 April

   1951, BRI ditetapkan menjadi “bank menengah yaitu bank untuk

   golongan menengah yang memiliki tugas untuk membantu memajukan

   kemakmuran rakyat Indonesia”.

4). BRI sebagai bank devisa

         Berdasarkan surat Dewan Moneter No. SEKR/BRI/328 tanggal 25

   September 1956, BRI telah ditetapkan menjadi Bank Devisa. Keputusan

   tersebut dibuat karena kantor cabang BRI tersebar di seluruh Indonesia
                                                                          22



      sehingga diharapkan BRI dapat memberi pelayanan kepada nasabah

      yang bergerak dalam bidang perdagangan luar negeri.

d. Masa 1959-1965 (BRI, 1995 : 47–53).

   1). BRI dilebur menjadi BKTN

            BKTN (Bank Koperasi Tani dan Nelayan) adalah penggabungan

      dari BRI, Bank Tani dan Nelayan (BTN) dan Nederlandsche Handels

      Maatschappij    (NHM).    BKTN     dibentuk    untuk   membantu    dan

      mendorong perkembangan usaha para petani dan nelayan. BKTN

      bertugas untuk memberikan kredit kepada koperasi, para nelayan dan

      petani dan juga menerima simpanan masyarakat.

   2). BKTN diubah menjadi BNI unit II

            Berdasarkan Penpres No. 8 tahun 1965, bank–bank umum dan

      BTN diintegrasikan ke dalam Bank Indonesia (BI). Selanjutnya

      berdasarkan Peraturan Presiden (Penpres) No. 9 tahun 1965, BKTN

      diintegrasikan ke dalam BI dengan nama Bank Indonesia Urusan

      Koperasi, Tani dan Nelayan (BI-UKTN). BI-UKTN kemudian

      diintegrasikan ke dalam BI menjadi Bank Negara Indonesia Unit II (BNI

      Unit II) sesuai dengan Penpres No. 17 tahun 1965.

e. BRI Era Orde Baru (BRI, 1995 : 55–104).

   1). Periode 1966–1983

            Pada tahun 1969, BRI ditunjuk pemerintah untuk melaksanakan

      program    Bimas     (Bimbingan    Masal),    untuk    itu   mendukung

      pelaksanaannya maka BRI mendirikan Bank Unit Desa di daerah–daerah
                                                                       23



   dengan tujuan untuk membantu masyarakat desa dengan cara

   memberikan kredit dalam bentuk bibit unggul, pupuk serta obat–obatan

   untuk para petani serta kredit untuk pembelian sarana dan prasarana

   produksi. Kredit ini diberikan dengan suku bunga yang relatif rendah

   yaitu sebesar 12% per tahun. Kredit penting lainnya yang diberikan oleh

   BRI pada periode ini antara lain adalah kredit investasi, kredit untuk

   membantu perkembangan koperasi serta menerima simpanan tabungan

   yang dipergunakan untuk Ongkos Naik Haji/ONH.

2). BRI era deregulasi

         BRI menyelenggarakan Kredit Usaha Tani (KUT) yang merupakan

   rangkaian dari kredit yang diberikan sebelumnya yaitu kredit Bimas.

   KUT diberikan bagi para petani yang belum mampu membiayai

   kegiatan produksi pertanian secara mandiri. Pada tahun 1986, BRI

   memperkenalkan produk baru yaitu SIMPEDES (Simpanan Pedesaan)

   yang bertujuan untuk membantu masyarakat khususnya di daerah

   perdesaan yang mempunyai keinginan untuk menyalurkan dananya.

   Pada tahun 1984, BRI juga memperkenalkan (KUPEDES) Kredit Umum

   Pedesaan yang jangkauan nasabahnya adalah masyarakat golongan

   menengah ke bawah yang berada di luar sektor pertanian yang

   membutuhkan modal. Selain itu KUPEDES juga diberikan untuk

   menunjang usaha bercocok tanam, seperti : pengecer pupuk, obat–

   obatan dan penjualan hasil pertanian.
                                                                             24



      3). BRI era persero

                Sesuai dengan Peraturan pemerintah (PP) No. 21 tahun 1992

          tanggal 29 April 1992 tentang penyesuaian badan hukum Bank Rakyat

          Indonesia menjadi perusahaan perseroan (PERSERO) disingkat dengan

          P.T. Bank Rakyat Indonesia. BRI berstatus sebagai bank umum, namun

          BRI tetap melaksanakan fungsinya sebagai agen pembangunan

          pemerintah yang artinya BRI tetap mengembangkan sektor ekonomi

          seperti : koperasi, golongan ekonomi lemah, pengusaha kecil,

          memberikan pinjaman kepada para pensiunan dan pegawai–pegawai

          berpenghasilan tetap.



2. Tugas dan Usaha BRI

        Pada pasal 7 UU No 21 tahun 1968 dijelaskan mengenai tugas dan usaha

   yang dijalankan oleh BRI yang diarahkan untuk memperbaiki ekonomi rakyat

   dan pembangunan ekonomi nasional (BRI, 1995 : 57-58). Hal ini dilakukan

   dengan cara melakukan usaha bank umum dengan mengutamakan pada

   kegiatan :

   a. Memberikan pinjaman yang ditujukan untuk sektor koperasi, tani dan nelayan

      yang kegiatannya antara lain adalah :

      1). Membantu perkembangan koperasi yang diutamakan pada bidang

          pertanian dan perikanan.
                                                                          25



      2). Membantu usaha para petani dan nelayan yang belum tergabung dalam

          koperasi dan berupaya mendorong kegiatannya berdasar asas dan sendi

          perkoperasian.

   b. Membantu rakyat yang belum tergabung dalam koperasi dan membantu

      menjalankan kegiatan dalam bidang perindustrian rakyat, kerajinan,

      perusahaan rakyat dan perdagangan kecil.

   c. Memberikan bantuan kepada usaha pemerintah yang berhubungan dengan

      pembangunan masyarakat desa.

   d. Membantu pemerintah untuk membangun masyarakat perdesaan.

   e. Pemberian kredit untuk pegawai (Kredit Kepada Pegawai Berpenghasilan

      Tetap)



3. Sumber Dana BRI

   BRI memperoleh dana dari masyarakat, kredit Bank Dunia (seperti kredit

   ternak), penyertaan modal pemerintah, dan modal yang dimiliki sendiri. BRI

   juga menerima dana yang disalurkan masyarakat melalui tabungan BRI yaitu

   dalam bentuk Britama, SIMASKOT (Simpanan Perkotaan), SIMPEDES

   (Simpanan Pedesaan) dan deposito berjangka.
                                                                               26



4. Jenis-jenis Kredit BRI

        Berbagai jenis kredit yang ditawarkan oleh Bank Rakyat Indonesia (BRI),

   antara lain adalah

   a. Kredit komersial/konsumtif

      1). Kredit mikro

          a). Kupedes, bertujuan untuk membantu pemenuhan kebutuhan modal

              masyarakat golongan ke bawah, untuk pertanian dan di luar sektor

              pertanian.

          b).Kredit skala kecil, diperuntukkan untuk modal usaha bagi masyarakat

              yang tidak memiliki jaminan (nilai kredit sampai dengan Rp. 2 juta)

      2).Kredit Ritel adalah kredit dengan total sampai dengan Rp. 5 Milyar baik

          secara langsung maupun kontingen yang dipergunakan untuk kegiatan

          usaha yang produktif dan konsumtif, kecuali kredit program, Kupedes

          dan kredit yang disalurkan oleh unit kerja BRI di luar negeri.

          a). Kredit Kecil Modal Kerja (KMK)/Kredit Kecil Investasi (KKI).

          b). Kredit Kelayakan Usaha (KKU) modal kerja/investasi.

          c). Kredit Kepada Golongan Berpenghasilan Tetap (Kretap).

          d). Kredit pensiun (Kresun).

          e). Kredit Kepada Karyawan BRI.

          f). Kredit dengan agunan fully cash collateral (kredit yang dijamin

              dengan agunan kas).

          g). Kredit komersial/kredit konsumtif lainnya sampai dengan Rp. 5

              milyar.
                                                                                27



     b. Kredit Program

        1). Kredit Ketahanan Pangan Padi, kredit ini bertujuan untuk membantu

            para petani padi.

        2). Kredit Ketahanan Pangan Palawija, bertujuan membantu para petani

            palawija.

        3). Kredit Tebu Rakyat Insentif, bertujuan membantu para petani tebu.

        4). Kredit Peternakan, untuk membantu para peternak.



B. Kredit

   1. Pengertian kredit

     a. Dalam bahasa latin kredit berarti credere yang artinya percaya. Maksudnya

        adalah “percaya pada penerima kredit bahwa dana yang disalurkannya akan

        dikembalikan sesuai jangka waktu” (Kasmir, 2001 : 93). Kredit juga dapat

        berarti “creditum yang artinya adalah kepercayaan atas kebenaran” (Teguh

        Pudjo Mulyono, 1987 : 9).

     b. Menurut Drs. Op. Simorangkir, “kredit adalah pemberian prestasi (misalnya

        uang dan barang) dengan balas prestasi (kontraprestasi) yang akan terjadi

        pada waktu yang akan datang” (H. Budi Untung, 2000 : 1).

     c. Menurut Undang–undang tentang perbankan nomor 7 tahun 1992, kredit

        adalah

            “penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu,
            berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antar bank
            dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam melunasi utangnya
            setelah jangka waktu tertentu dengan jumlah bunga, imbalan atau
            pembagian hasil keuntungannya” (Kasmir, 2001 : 327).
                                                                         28




d. Menurut Undang-undang perbankan nomor 10 tahun 1998, kredit adalah

       “penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu,
       berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antar bank
       dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam melunasi utangnya
       setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga” (Kasmir, 2001
       : 92).

   Menurut UU No. 10 tahun 1998 Penyediaan dana oleh bank tidak hanya

   dalam bentuk kredit saja tapi juga penyedian dana dengan prinsip syariah

   (Susilo Y. Sri, 2000 : 70).

e. Kredit adalah kemampuan untuk melaksanakan suatu pembelian/mengadakan

   suatu pinjaman dengan suatu janji pembayarannya akan dilakukan,

   ditangguhkan pada suatu jangka waktu yang telah disepakati" (Teguh Pudjo

   Mulyono, 1987 : 9).

f. Dari definisi kredit diatas maka terdapat persamaan dari definisi tentang

   kredit yaitu (Teguh Pudjo Muljono, 1987 : 9) :

   1). Adanya suatu penyerahan uang/tagihan/dapat juga barang yang

       menimbulkan tagihan tersebut kepada pihak lain, dengan harapan

       memberi pinjaman ini, bank akan memperoleh suatu tambahan nilai dari

       pokok pinjaman tersebut yang berupa bunga sebagai pendapatan bagi

       bank yang bersangkutan.

   2). Kedua belah pihak telah sepakat untuk mematuhi kewajiban masing–

       masing.

   3). Adanya kesepakatan mengenai hutang dan bunga yang akan dilunasi

       sesuai dengan jangka waktu yang telah ditentukan.
                                                                              29



2. Unsur –unsur Kredit

   Unsur-unsur yang terkandung dalam pemberian kredit adalah sebagai berikut

   (Kasmir, 2001 : 95) :

   a. Kepercayaan

     Kepercayaan merupakan keyakinan dari pihak kreditur berkenaan dengan

     dana yang dipinjamkan kepada debitur (berupa uang, barang atau jasa) akan

     benar-benar diterima kembali pada masa yang akan datang.

   b. Kesepakatan

     Kesepakatan     dilakukan   dengan   cara     mengadakan   perjanjian   yang

     ditandatangani oleh pihak debitur dan kreditur berkaitan dengan pinjaman

     dana dan syarat-syarat yang harus dipenuhi.

   c. Jangka waktu

     Jangka waktu mencakup masa pengembalian kredit yang telah disepakati

     beserta jatuh temponya. Jangka waktu dapat dibedakan antara jangka waktu

     pendek, menengah dan panjang.

   d. Resiko

     Dalam bisnis perbankan khususnya pemberian fasilitas kredit mengandung

     resiko yang besar karena berkenaan dengan dana yang dipinjamkan. Resiko

     kredit timbul apabila terjadi kredit macet/bermasalah.

   e. Balas jasa

     Merupakan keuntungan atas pemberian suatu kredit atau jasa. Balas jasa

     dapat berupa bunga ataupun biaya administrasi. Balas jasa ini merupakan

     keuntungan yang diterima oleh pihak bank.
                                                                               30



3. Prinsip-prinsip pemberian kredit

         Kredit yang akan diberikan oleh bank kepada deditur harus berdasarkan

   pada kriteria-kriteria tertentu. Dalam hal ini pihak bank harus terlebih dahulu

   melakukan penilaian terhadap calon peminjam dana. Analisis penilaian yang

   dilakukan adalah (Siswanto Sutojo, 1995 ; BRI a, 1999 : 114) :

   a. Character (analisis watak)

       Character debitur merupakan kemauan yang berhubungan dengan perilaku,

       latar belakang, gaya hidup dan keadaan keluarga. Character dapat

       mempengaruhi kemampuan debitur dalam membayar kembali pinjaman

       pokok dan bunga sesuai dengan jangka waktu yang telah ditetapkan.

   b. Capacity (analisis kemampuan)

       Kepercayaan pihak bank terhadap calon debitur dipengaruhi oleh sikap yang

       dimiliki oleh calon debitur, seperti rasa tanggungjawab, kejujuran dan

       kemauan untuk dapat mengembalikan dana pinjaman sesuai dengan

       perjanjian yang telah disepakati. Hal ini berhubungan dengan penilaian dari

       pihak bank mengenai kemampuan calon debitur mengelola usaha dan

       melunasi kewajiban-kewajibannya.

   c. Capital (analisis modal)

       Capital adalah jumlah dana sendiri yang dimiliki oleh calon debitur.

       Semakin besar jumlah dana/modal yang dimiliki maka anggapan bank

       bahwa calon debitur memiliki kemampuan untuk menjalankan usahanya

       dengan dibiayai modal sendiri.
                                                                               31



   d. Collateral (analisis agunan)

       Jaminan yang diberikan oleh calon debitur hendaknya melebihi jumlah

       kredit yang diambil serta jika ditinjau dari segi yuridis telah memenuhi

       syarat untuk dipakai sebagai jaminan. Jaminan dapat berupa jaminan fisik

       maupun non fisik. Jaminan dapat dipergunakan sebagai alat pengaman

       apabila terjadi ketidakpastian dalam pembayaran kredit. Agunan merupakan

       dana kedua untuk melunasi kredit apabila terjadi masalah pada saat

       pelunasan. Hal ini dikarenakan bagaimanapun juga baiknya analisa yang

       dilakukan pihak bank mengenai watak, kemampuan, permodalan, serta

       prospek usaha, tapi jika di kemudian hari terjadi kredit bermasalah maka

       agunan dapat digunakan untuk pembayaran pinjaman.

   e. Condition (analisis kondisi/keadaan)

       Penilaian kredit yang berdasarkan pada kondisi ekonomi, politik, sosial dan

       budaya saat ini dan di masa datang. Penilaian ini dimaksudkan untuk

       melihat seberapa besar perubahan ekonomi/daerah dapat berdampak

       positif/negatif terhadap usaha debitur serta perspektif atau tidak usaha

       debitur di masa mendatang.

   f. Constraint (analisis kendala)

      Adalah    merupakan     hambatan-hambatan     yang   tidak   memungkinkan

       seseorang untuk melakukan pengembangan bisnis di suatu tempat.

4. Jenis-jenis Kredit

         Perbankan menawarkan berbagai jenis produk dan jasa dalam usaha

   bisnisnya, antara lain dengan cara memberikan dana pinjaman. Secara umum
                                                                       32



kredit yang diberikan oleh bank dapat diklasifikasikan menjadi beberapa

macam, antara lain :

a. Dilihat dari segi tujuan kredit (Kasmir, 2001 : 99-100) :

   1). Kredit produktif

       Kredit ini diberikan bank untuk membantu meningkatkan usaha atau

       investasi, seperti misalnya kredit pertanian, pertambangan dan

       pembangunan pabrik.

   2). Kredit konsumtif

       Kredit ini dimaksudkan untuk membantu konsumsi perseorangan atau

       rumah tangga, seperti kredit perumahan, kendaraan bermotor dan

       perabotan rumah tangga.

   3). Kredit perdagangan

       Kredit ini ditujukan untuk membantu pembeliaan barang-barang

       dagangan yang pembayarannya diambil dari hasil penjualan. Contohnya

       adalah kredit ekspor dan impor.

b. Dilihat dari segi kegunaan (Kasmir, 2001 : 99) :

   1). Kredit investasi

       Kredit investasi merupakan fasilitas kredit yang ditujukan untuk

       perluasan usaha/pembangunan pabrik atau proyek baru dengan jangka

       waktu pengembalian kredit umumnya lebih dari 1 tahun (jangka

       panjang).
                                                                            33



   2). Kredit modal kerja

       Kredit modal kerja merupakan fasilitas kredit yang dipergunakan untuk

       membiayai modal kerja dan peningkatan produksi operasional, seperti :

       pembelian bahan baku atau pembayaran gaji pegawai. Kredit modal

       kerja umumnya berjangka waktu pendek.

c. Dilihat dari segi jangka waktu (H. Budi untung, 2000 : 7) :

   1).Kredit jangka pendek

       Kredit yang memiliki jangka waktu pengembalian ≤ 1 tahun yang

       digunakan untuk modal kerja.

   2). Kredit jangka menengah

       Jangka waktu kredit antara 1 tahun sampai 3 tahun yang digunakan

       untuk investasi.

   3). Kredit jangka panjang

       Kredit yang memiliki jangka waktu pengembalian lebih dari 3 tahun.

d. Dilihat dari segi status hukum (Siswanto Sutojo, 1995 : 26) :

   1). Kredit korporasi/komersial

       Kredit ini digunakan untuk membiayai kegiatan operasi bisnis, seperti

       untuk membiayai kebutuhan dana modal kerja, pengadaan fasilitas

       produksi, penggantian fasilitas produksi dan kebutuhan dana mendadak.

   2). Kredit perorangan/konsumen

       Kredit ini digunakan untuk membiayai kebutuhan barang dan jasa

       konsumtif. Kredit perorangan mempunyai jumlah debitur yang lebih

       banyak dibanding dengan kredit korporasi dengan jumlah kredit per
                                                                                 34



          debitur relatif lebih kecil. Sebagian besar kredit perorangan, pembayaran

          angsurannya dilakukan secara mencicil. Penghasilan tetap yang diterima

          debitur setiap bulan adalah salah satu sumber pembayaran cicilan kredit.

   e. Dilihat dari segi cara pembayaran kembali (Siswanto Sutojo, 1995 : 26) :

      1). Kredit dengan cicilan.

      2). Kredit dengan pembayaran kembali sekaligus.

5. Kredit yang diberikan oleh bank mempunyai manfaat yang besar baik ditinjau

   dari sisi debitur, kreditur maupun pemerintah. Manfaat dari pemberian kredit

   adalah (Kasmir, 2001 : 96-98; BRI c, 1999 : 6) :

   a. Bagi kepentingan debitur, kredit dapat merupakan sarana yang dapat

      membantu debitur yang memerlukan dana untuk pembiayaan usaha dan

      meningkatkan kegairahan berusaha.

   b. Bagi kepentingan kreditur

      1). Menerima pendapatan dalam bentuk bunga.

      2). Memperkenalkan bentuk jasa-jasa perbankan.

      3). Terjalinnya hubungan baik antar pihak bank dengan nabahnya sehingga

          pihak bank dapat menawarkan produk seperti deposito, tabungan dan

          jasa lainnya.

   c. Bagi kepentingan pemerintah kredit dimaksudkan untuk :

      1). Membantu pemerintah dalam meningkatkan pendapatan yaitu dalam

            bentuk pembayaran pajak.

      2). Untuk meningkatkan daya guna uang yang jika hanya disimpan tidak

            akan menghasilkan pendapatan bunga.
                                                                              35



       3). Untuk meningkatkan peredaran dan lalu lintas uang dari satu wilayah

              daerah yang kekurangan uang dengan adanya kredit maka akan

              memperoleh tambahan uang dari daerah lain.

       4).    Sebagai alat stabilitas ekonomi karena dengan pemberian kredit maka

              akan menambah jumlah barang yang diperlukan masyarakat.

       5).    Meningkatkan pemerataan pendapatan.

6. Kredit Bermasalah

   Kredit dikategorikan sebagai kredit bermasalah adalah jika debitur tidak dapat

   memenuhi komitmen/tidak dapat mengembalikan pinjaman beserta bunganya

   seperti perjanjian yang telah disepakati antara pihak bank dan debitur. Pada

   umumnya penyebab kredit bermasalah dapat ditinjau dari berbagai sisi, yaitu

   (BRI c, 1999 : 13–16) :

   a. Ditinjau dari sisi debitur

              Adanya kredit macet yang disebabkan karena dana yang dipinjamkan

       oleh pihak bank mengalami masalah bila dilihat dari sisi debitur, hal ini

       timbul karena

       1).Usaha debitur mengalami kesulitan sehingga akan mempengaruhi

             pembayaran kembali kewajiban–kewajiban pada bank.

       2). Ketidakjujuran pihak debitur dalam menjalankan usahanya.

       3). Adanya perubahan–perubahan dalam kondisi perekonomian sehingga

             mempengaruhi usaha yang dijalankan oleh debitur.
                                                                            36



b. Ditinjau dari sisi kreditur

          Selain disebabkan oleh permasalahan yang dihadapi oleh pihak

    debitur, kredit macet juga dapat terjadi apabila pihak bank bermasalah. Hal

    ini timbul dikarenakan

    1). Jangka waktu dan jumlah kredit yang diberikan tidak sesuai dengan

        besarnya kemampuan pihak debitur.

    2). Pihak bank tidak mengadakan analisa yang mendalam tentang

        permohonan dan posisi keuangan debitur.

    3). Tidak dilakukan pembinaan, pengawasan dan komunikasi terhadap

        debitur secara berkala.

c. Ditinjau dari sisi ekstern

    1). Adanya perubahan pada kebijakan yang diambil pemerintah, seperti

        meningkatnya suku bunga pinjaman.

    2). Terjadi persaingan dalam dunia usaha.

    3). Bencana alam

    4). Terjadi perubahan dalam teknologi       di dalam industri/bidang usaha

        debitur.

    5). Peraturan–peraturan yang membatasi dan berdampak buruk pada

        prospek usaha dan posisi keuangan debitur.
                                                                              37



C. Kredit Pegawai Berpenghasilan Tetap (Kretap)

   1. Pengertian Kretap (Kredit Kepada Pegawai Berpenghasilan Tetap)

             Kredit Kepada Pegawai Berpenghasilan Tetap (Kretap) adalah kredit
        yang diberikan kepada pegawai instansi pemerintah/BUMN/BUMD/swasta,
        yang telah diangkat sebagai pegawai tetap, pemberiannya dilakukan secara
        kolektif dengan rekomendasi pimpinan instansi/perusahaan tempatnya
        bekerja, sedangkan pegawai sementara/kontrak tidak dibenarkan untuk
        mendapatkan fasilitas Kretap yang pemberiannya secara kolektif (BRI b,
        1999 : 2).

   2. Tujuan Kretap

           Kredit kepada pegawai berpenghasilan Tetap (Kretap) diberikan oleh

      Bank Rakyat Indonesia untuk memenuhi kebutuhan pegawai baik yang

      bersifat produktif (digunakan sebagai modal usaha) dan konsumtif, seperti

      untuk biaya sekolah, kesehatan, renovasi rumah dan kegunaan lainnya (BRI b,

      1999 : 2).

   3. Manfaat Kredit Kepada Pegawai Berpenghasilan Tetap (Kretap)

           Kretap (Kredit Kepada Pegawai Berpenghasilan Tetap) merupakan

      bagian dari kredit konsumtif. Manfaat dari kredit konsumtif yang diberikan

      oleh bank adalah (BRI a, 1999 : 1–2) :

      a. Meningkatkan standar kehidupan

        Manfaat yang diperoleh dari adanya kredit konsumtif adalah bahwa debitur

        dapat memanfaatkan pendapatan yang akan diterima pada masa yang akan

        datang untuk memenuhi kebutuhan barang dan jasa saat ini.

      b. Memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang mendesak.

        Debitur dapat memanfaatkan kredit konsumtif untuk mencukupi kebutuhan-

        kebutuhan yang mendesak, seperti : biaya kesehatan.
                                                                               38



4. Jaminan Kredit

   Kredit dapat diberikan oleh bank dengan atau tanpa jaminan. Jaminan

   merupakan dana kedua untuk pembayaran kredit. Jaminan merupakan cara

   menanggulangi kerugian apabila di masa mendatang kredit tidak dapat

   dilunasi (BRI b, 1999 : 1; Kasmir, 2001 : 102–103).

   a. Kredit dengan jaminan

     1). Jaminan benda berujud, seperti : tanah, bangunan, kendaraan bermotor,

        mesin, barang dagangan, sawah, dan lainnya.

     2). Jaminan tidak berujud adalah merupakan surat–surat/berkas yang

        dijadikan jaminan. Jaminan tidak berujud dapat berupa sertifikat saham,

        tanah, rekening tabungan dan lainnya.

     3). Jaminan orang merupakan jaminan yang diberikan oleh seseorang

        dimana resiko kredit (kredit macet) ditanggung oleh orang yang

        memberikan jaminan.

   b.Kredit tanpa jaminan

     Kredit tanpa jaminan diberikan untuk perusahaan yang sudah bonafit dan

     memiliki prospek usaha yang baik sehingga akan terhindar dari adanya

     resiko terhadap kredit macet. Kredit seperti inilah yang tidak memerlukan

     jaminan.

   Kredit tanpa ada jaminan akan dapat membahayakan posisi bank karena

   berkaitan dengan dana yang dipinjamkan pada nasabah. Secara umum,

   jaminan utama dari kretap adalah gaji yang diterima oleh debitur setiap bulan.
                                                                             39



 5. Karakteristik debitur Kretap

           Kredit Kepada Pegawai Berpenghasilan Tetap (Kretap) diberikan oleh

     BRI untuk tujuan konsumtif dan produktif. Kretap diberikan pada pegawai–

     pegawai yang memiliki penghasilan tetap. Pegawai yang mengambil Kretap

     harus berdomisili di wilayah kabupaten Klaten. Pegawai yang dapat

     mengajukan Kretap pada BRI adalah (BRI b, 1999 : 1) :

     a. Pegawai Negeri Sipil, Pusat, maupun Daerah yang diangkat berdasarkan

         peraturan pemerintah.

     b. Anggota TNI (Tentara Nasional Indonesia)/POLRI (Polisi Republik

         Indonesia)

     c. Pegawai BUMN (Badan Umum Milik Negara).

     d. Pegawai PERUM (Perusahaan Umum Milik Negara).

     e. Pegawai Perusahaan Perseroan.

     f. Pegawai Perusahan daerah.

     g. Pegawai perusahaan swasta yang go public.

     h. Pegawai perusahaan swasta nasional/asing/patungan/yayasan, yang dinilai

         BRI mampu melakukan usahanya.

6. Prosedur, sistem dan syarat-syarat Kretap

         Debitur berkewajiban memenuhi syarat–syarat yang diberlakukan di BRI

   pada saat akan mengambil kredit. Prosedur dalam peminjaman dana di BRI baik

   unit maupun cabang melalui tahapan–tahapan tertentu yang hampir sama antara

   satu lembaga perbankan dengan lembaga perbankan lainnya. Setiap pegawai

   yang berpenghasilan tetap baik yang bekerja di instansi/perusahaan pemerintah
                                                                          40



maupun pegawai swasta dapat mengajukan permohonan kredit. Tahapan

pengajuan Kredit Kepada Pegawai Berpenghasilan Tetap (Kretap), yaitu (BRI

b, 1999 : 4-18; Kasmir, 2001 : 112-113) :

a. Tahap pra realisasi

   1). Pengisian permohonan pengajuan Kretap

       Pada tahap ini calon debitur mengambil surat permohonan pengajuan

       Kretap yang juga dapat dilakukan oleh petugas (dalam hal ini bendahara

       perusahaan/instansi tempat debitur bekerja). Blangko permohonan diisi

       sendiri oleh calon debitur yang bersangkutan

   2). Pengembalian blangko permohonan Kretap

       Setelah blangko diisi oleh calon debitur maka selanjutnya diserahkan

       sendiri ataupun secara kolektif oleh petugas yang mewakili calon

       debitur. Blangko permohonan dilengkapi dengan berkas–berkas yang

       harus dilampirkan. Berkas–berkas yang harus dilampirkan menurut

       ketentuan BRI adalah

       a) Foto copy KTP calon debitur dan suami/istri.

       b). SK Pengangkatan Pegawai Pertama.

       c). SK Kenaikan pangkat terakhir.

       e). Surat keterangan/perincian gaji terakhir.

       f). Rekomendasi atasan di tempat calon debitur bekerja.

            Pegawai–pegawai yang berpenghasilan tetap dapat mengajukan

           permohonan kredit apabila instansi/perusahaan tempat calon debitur

           bekerja telah/sedang menjalani kerjasama dengan BRI.
                                                                           41



b. Tahap persiapan realisasi

         Sebelum dana pinjaman Kretap terlealisir maka permohonan Kretap

   harus sudah dianalisa, direkomendasikan dan diputuskan oleh pejabat lini di

   BRI yang antara lain adalah AO Kretap (Account Officer Kretap), AO

   Umum, WBP (Wakil Bidang Pemasaran) serta PINCA (Pimpinan Cabang).

         Sebelum kredit dapat dilealisir maka petugas OPK (Operasional

   Kredit) Tapsun dan petugas AO bersama–sama meneliti kembali

   persyaratan Kretap Tujuannya adalah untuk meneliti apakah persyaratan

   yang diberikan oleh debitur sudah lengkap atau belum. Dokumen yang

   harus ada pada saat kredit akan direalisasi adalah :

   1). Instruksi realisasi kredit

   2). Formulir permohonan

   3). Formulir analisa permohonan dana putusan Kretap

   4). Surat pengakuan hutang model SH.03 Tapsun

   5). Kwitansi model KP.01 dan OPS.03

   6). SK pengangkatan pegawai pertama

   7). SK Kenaikan pangkat terakhir

   8). Fotocopy KTP dan photo suami/istri

   9). Surat kuasa potong gaji

   10). Surat kesangguapn juru bayar untuk potong gaji

   11). Surat keterangan gaji terakhir

   12). Rekomendasi atasan

   13). Fiducia (model PJ.06) apabila terdapat jaminan tambahan.
                                                                                42



 c. Tahap Putusan Kredit

     Jika putusan kredit telah diterima maka debitur membayar administrasi yang

     dikeluarkan. Putusan kredit berisi jumlah uang yang akan diterima, jangka

     waktu kredit dan biaya–biaya yang harus dikeluarkan. Biaya–biaya yang

     harus dikeluarkan apabila kredit terealisir antara lain adalah pembayaran

     provisi sebesar 1,5% dari pokok pinjaman yang dibayar pada saat kredit

     direalisir, biaya meterai, premi asuransi jiwa seperti yang telah ditetapkan

     oleh BRI, dan biaya percetakan.

 d. Tahap Realisasi

     Tahap Realisasi kredit terjadi setelah selesainya penandatanganan surat/berkas

     yang diperlukan. Selanjutnya debitur Kretap mengambil dana pinjaman yang

     telah disetujui oleh BRI. Pengambilan dana dilakukan sendiri tanpa

     perwakilan. Setelah dimulainya tahap realisasi kredit maka sejak saat itulah

     jangka waktu kredit mulai dihitung.

9. Asuransi Jiwa debitur Kretap

        Dalam dunia bisnis perbankan, kredit yang diberikan oleh bank

   mempunyai tingkat resiko yang tinggi, resiko yang timbul akibat meninggalnya

   debitur serta keadaan darurat lainnya sebelum jangka waktu pelunasan kredit

   berakhir. Oleh karena itu resiko harus ditanggulangi/setidaknya dikurangi

   sehingga kerugian yang besar tidak akan timbul. BRI menawarkan fasilitas bagi

   debitur Kretap yaitu memberikan asuransi jiwa.
                                                                          43



         Yang dimaksud dengan asuransi jiwa kredit adalah pertanggungan
   jiwa oleh pihak asuransi atas resiko jiwa pihak debitur tertanggung dalam
   hal ini adalah nasabah Kretap dari kanca BRI apabila debitur tertanggung
   tersebut meninggal dunia dalam masa jangka waktu kredit (BRI b, 1999 :
   40).

     Perusahaan penanggung asuransi untuk Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan

pegawai selain ABRI/POLRI adalah P.T. Bringin Jiwa Sejahtera (BJS),

sedangkan untuk PNS ABRI dengan Iuran Jasa Kesejahteraan Keluarga (IJK).

Batas kadaluarsa pengajuan klaim asuransi adalah 6 bulan sejak debitur

meninggal dunia dengan jumlah asuransi adalah sebesar sisa pokok pinjaman

ditambah dengan bunga. Besarnya premi asuransi jiwa antara yang harus

dibayar oleh debitur Kretap yang harus dibayar adalah

a. PNS dan pegawai selain ABRI/POLRI

   Besarnya premi asuransi yang harus dibayar oleh Pegawai Negeri Sipil dan

   pegawai lainnya selain ABRI/POLRI adalah sebesar 0,75% dari pokok

   pinjaman. Yaitu dengan pembagian sebagai berikut :

                                 Tabel 2.1
                 Jangka Waktu Kredit Dan Premi Asuransi Jiwa
                         P.T.Bringin Jiwa Sejahtera.

                                       Beban Premi Asuransi Jiwa
      Jangka Waktu Kredit
                                       BRI              Debitur Kretap
    1 s/d 4 tahun                     0,50%                  0,25%
    5 tahun                           0,25%                  0,50%
   Sumber : Data Devisi Kredit Ritel, BRI b.

b. POLRI/ABRI

   Besarnya premi asuransi yang harus dibayar oleh POLRI/ABRI adalah

   sebesar 0,5% dari pokok pinjaman, dengan pembagian sebagai berikut :
                                                                               44



                                        Tabel 2.2
                         Jangka Waktu Kredit Dan Premi Asuransi
                         Iuran Jasa Kesejahteraan Keluarga (IJK).

                                            Beban Premi Asuransi Jiwa
          Jangka Waktu Kredit
                                            BRI              Debitur Kretap
         1 s/ d 4 tahun                    0,50%                     -
         5 tahun                              -                   0,50%
        Sumber : Data Devisi Kredit Ritel, BRI b.

 10. Insentif yang diberikan untuk bendahara pembayar gaji

          BRI akan memberikan insentif kepada pimpinan/bendahara/pejabat di

    instansi/perusahaan tempat calon debitur bekerja dari pemotongan gaji/setoran

    ke BRI. Insentif yang diberikan adalah sebesar 1% dari jumlah angsuran/setoran

    (pokok dan bunga) yang dibayarkan ke BRI setiap bulannya. Besarnya insentif

    yang diberikan adalah merupakan putusan dan kebijakan pimpinan cabang BRI

    setempat.



D. Landasan Teori

 1. Fungsi Permintaan Uang Keynes

          Menurut pendapat Keynes terdapat 3 alasan seseorang untuk memegang

    uang, yaitu : untuk motif transaksi, berjaga-jaga dan spekulasi.

    a. Motif Transaksi

                Permintaan uang untuk tujuan transaksi terjadi karena uang

        digunakan untuk melakukan pembayaran regular/biasa (Dornbusch dan

        Fischer, 1994 : 315). Yang dimaksud dengan pembayaran regular adalah

        pembayaran yang biasa dilakukan sehari-hari, seperti untuk pembelian
                                                                          45



bahan pangan, pakaian, surat kabar pembayaran sewa dan pembayaran

lainnya.

     Pengeluaran sektor rumah tangga, sektor usaha dan sektor pemerintah

berlangsung secara terus-menerus, tetapi uang tetap diterima secara periodik

dalam      jumlah     tertentu.   Uang   yang dipegang   dialokasikan   untuk

pengeluaran-pengeluaran yang sifatnya berkelanjutan (Diulio, 1993 : 187).

Permintaan akan uang untuk tujuan transaksi merupakan fungsi dari

pendapatan yang dinyatakan dengan fungsi sebagai berikut :

                                   Mt = f (Y)

Dimana :

Mt : Permintaan uang untuk transaksi

Y : pendapatan


           Y/p
                                           L1




                 L1

            0                                            L1

                                     Gambar 2. 1
                       Permintaan Uang Untuk Tujuan Transaksi
                      Sumber : Goldfeld dan Chandler, 1989 : 373
                                                                          46



        Artinya adalah apabila terdapat peningkatan pada pendapatan maka

   semakin besar pula keinginan akan uang untuk tujuan transaksi demikian

   pula sebaliknya, jika terjadi penurunan pada pendapatan maka uang yang

   diminta untuk tujuan transaksi akan semakin menurun.

b. Motif Berjaga-jaga

          Permintaan uang dengan motif berjaga–jaga digunakan untuk

   melakukan pembayaran yang tidak regular/di luar dari transaksi normal

   (Boediono, 1998 : 64). Uang yang dipegang untuk tujuan berjaga-jaga

   dimaksudkan agar seseorang dapat terhindar dari adanya ketidakpastian dari

   sesuatu yang tidak terduga (Diulio, 1993 : 187)

        Hal ini dikarenakan uang mudah ditukarkan dengan barang–barang

   lain.. Seseorang kemungkinan mengalami ketidakpastian dalam pendapatan

   dan biaya yang harus dikeluarkan, seperti pengeluaran untuk biaya

   kesehatan, sumbangan dan keadaan darurat lainnya.

         Nilai uang untuk berjaga–jaga sama seperti bentuk nilai uang untuk

   transaksi yang erat kaitannya dengan pendapatan (Y) seseorang. Fungsi

   permintaan uang untuk motif berjaga-jaga dapat ditulis sebagai berikut

   (Iswanto, 1994 : 99):

                                Mp = f (Y)

   Dimana :

   Mp : Permintaan uang untuk berjaga–jaga

   Y    : Pendapatan
                                                                        47



c. Motif Spekulasi

        Permintaan uang untuk tujuan spekulasi timbul dari adanya

   ketidakpastian yang berhubungan dengan tingkat bunga. Permintaan uang

   untuk tujuan spekulasi berkaitan dengan motif mencari keuntungan dari

   perubahan–perubahan nilai uang dan aktiva lain, misalnya obligasi.

   Permintaan uang untuk tujuan spekulasi tergantung dari besarnya suku

   bunga (r), sehingga dapat ditulis sebagai berikut :

                                  Ms = f (r)

   Dimana :

   Ms : Permintaan uang untuk tujuan spekulasi

   r   : suku bunga

              r

                      L2




                                               L2

              0                                          L2

                                    Gambar 2. 2.
                       Permintaan Uang Untuk Tujuan Spekulasi
                      Sumber : Goldfeld dan Chandler, 1989 : 372.

        Pada gambar diatas ditunjukan bahwa apabila tingkat suku bunga naik

   maka permintaan uang untuk tujuan spekulasi akan turun demikian pula
                                                                                48



     sebaliknya jika tingkat bunga turun maka permintaan uang untuk motif

     spekulasi akan naik. Jadi permintaan uang untuk spekulasi berlawanan arah

     dengan tingkat bunga (Iswanto, 1994 : 101–103 ; Diulio, 1993 : 187).

             Makin tinggi r (suku bunga) maka makin rendah keinginan

     masyarakat akan uang untuk tujuan spekulasi demikian pula sebaliknya,

     makin rendah suku bunga maka makin tinggi keinginan masyarakat akan

     uang untuk tujuan spekulasi. Pada saat tingkat bunga tinggi maka jumlah

     uang yang digunakan untuk tujuan spekulasi adalah kecil. Pada saat tingkat

     suku bunga yang rendah, masyarakat lebih memilih memegang uang dalam

     bentuk kas karena pada saat suku bunga rendah penghasilan dari kekayaan

     juga rendah/untuk menghindari kerugian yang berupa turunnya harga

     obligasi. Dengan demikian keinginan seseorang untuk memiliki uang untuk

     tujuan spekulasi berbanding terbalik dengan tingkat suku bunga di pasar.

2. Fungsi Permintaan Uang Dan Teori Kuantitas Irfing Fisher

           “Fungsi permintaan uang adalah persamaan yang menunjukkan apa yang

   menentukan kuantitas keseimbangan uang riil yang ingin dipegang orang”.

   Dalam persamaan di atas dinyatakan bahwa keseimbangan uang riil yang

   diinginkan seseorang proporsional terhadap pendapatan riil (Mankiw, 2000 :

   152).

            Menurut teori kuantitas yang dikemukakan Irfing Fisher menyatakan

   bahwa rumah tangga, pengusaha dan pemerintah memerlukan uang untuk

   mempermudah dalam melakukan transaksi. Jika transaksi yang dilakukan

   semakin banyak maka semakin banyak pula uang yang dipegang, sehingga
                                                                       49



permintaan uang untuk tujuan transaksi akan naik. Hubungan diantara motif

untuk melakukan transaksi dengan uang dapat dilihat pada persamaan berikut

(Mankiw, 2000 : 150-152) :

                                    M V  PT

Dimana :
M : Money (uang)
V : Velocity of money (perputaran uang)
P : Price (harga)
T : Transaction (transaksi)

Keterangan :

M menunjukkan kuantitas uang yang digunakan untuk melakukan transaksi. V

adalah perputaran uang untuk tujuan transaksi yang mengukur berapa kali

uang berpindah tangan pada periode waktu tertentu. P adalah harga dari

transaksi sedangkan T adalah total jumlah transaksi selama periode waktu

tertentu. Persamaan kuantitas uang menunjukkan bahwa jika salah satu dari

variabel berubah maka variabel lain juga ikut berubah. Sesuai dengan teori

klasik, permintaan uang diasumsikan hanya untuk tujuan transaksi dan

berjaga–jaga. Persamaanya dapat ditulis sebagai berikut :

                                 Mt = kY

Dimana :

“k : Konstanta yang menyatakan berapa banyak uang yang ingin dipegang

orang dalam bentuk kas untuk setiap pendapatan”. Artinya bahwa besar

kecilnya pendapatan akan menentukan besar kecilnya permintaan akan uang

untuk tujuan transaksi.
                                                                        50



      Pada saat pendapatan diterima, sebagian dari pendapatan akan dipegang

dalam bentuk uang kas dan sebagian lagi akan disimpan atau digunakan untuk

membeli aktiva lain. Jumlah uang yang diinginkan masyarakat untuk

dipegang dalam bentuk uang kas dipengaruhi oleh besarnya pendapatan yang

diterima.

     Fungsi permintaan uang tidak hanya dipengaruhi oleh tingkat

pendapatan saja tetapi juga tingkat suku bunga. Menurut teori preferensi

likuiditas, permintaan uang yang meningkat menyebabkan tingkat bunga

menjadi lebih tinggi pada tingkat pendapatan tertentu. Tingkat pendapatan

yang meningkat menyebabkan permintaan uang riil meningkat, sedangkan

meningkatnya tingkat bunga nominal akan menyebabkan permintaan uang riil

menurun (Mankiw, 2000 : 256, 287). Fungsi permintaan uang menurut teori

preferensi likuiditas dapat ditulis sebagai berikut :

                                (M/P)d = L (r,Y)

     Seberapa besar dan bagaimana pengaruh antara variabel tingkat

pendapatan dan suku bunga terhadap fungsi permintaan uang dapat ditulis

sebagai berikut :

                                L (r,Y) = eY – fr

Nilai e menentukan berapa besar permintaan uang meningkat ketika

pendapatan meningkat. Nilai f menentukan berapa besar permintaan uang

turun ketika tingkat bunga naik. Tanda minus di depan tingkat bunga karena

uang berhubungan terbalik dengan tingkat bunga.
                                                                           51



3. Teori Pendapatan Permanen

        Dalam bukunya yang berjudul The Quantity Theory of Money, Milton

   Friedman menyatakan bahwa permintaan uang sejalan dengan permintaan

   barang–barang tahan lama. Apabila seseorang memegang uang kas maka akan

   sama dengan memegang barang–barang (Iswanto, 1989 : 92)..

         Menurut asumsi yang dikemukakan oleh Friedman, pendapatan

   didefinisikan sebagai pendapatan tetap yang diterima dalam bentuk uang yang

   berfluktuasi dari waktu ke waktu. Yang dimaksud dengan “pendapatan

   permanen adalah bagian pendapatan yang diharapkan orang untuk terus

   bertahan di masa depan”. Rumah tangga yang memiliki pendapatan permanen

   yang relatif tinggi akan melakukan konsumsi yang tinggi pula. Konsumen

   melakukan pengeluaran dengan menggunakan simpanan dan pinjaman untuk

   melancarkan konsumsi (Mankiw, 2000 : 417-418).

         Seseorang yang memiliki pendapatan permanen yang tinggi akan

   memiliki kepastian dalam penerimaan seumur hidupnya sehingga akan

   mempengaruhi pola konsumsi. Besarnya konsumsi yang tergantung dari

   pendapatan permanen. Artinya apabila seseorang memiliki kepastian

   mengenai pendapatan yang akan diterima di masa depan, akan menyebabkan

   konsumsi yang dilakukan akan lebih besar dibanding dengan seseorang yang

   tidak memiliki kepastian.

4. Teori Tentang Pinjaman/Utang

        Menurut pandangan Ricardian, konsumen mendasarkan pengelurannya

   tidak hanya pada pendapatan sekarang, tapi juga pada pendapatan masa depan
                                                                      52



yang diharapkan/pendapatan seumur hidup. Menurut pandangan kaum

tradisional, pendapatan sekarang lebih penting daripada pendapatan seumur

hidup (Mankiw, 2000 : 410-412).

     Demikian juga menurut pandangan Irfing Fisher, konsumen dapat

melakukan kegiatan meminjam dan menyimpan uang. Seseorang yang

melakukan pinjaman dana berarti ia mengkonsumsi pendapatan yang akan

diterima pada masa yang akan datang. Kemampuan meminjam seseorang

akan menyebabkan konsumsi yang dikeluarkan akan melebihi pendapatan

yang diterima sekarang, karena ia dapat menikmati pendapatan masa

depannya, sedangkan seseorang yang tidak memiliki kemampuan meminjam

dana, mencegah konsumsi sekarang tidak akan melebihi tingkat pendapatan

sekarang sehingga konsumsi hanya tergantung dari pendapatan yang diterima

sekarang (Mankiw, 2000 : 410–412). Batas waktu pinjaman akan

mempengaruhi konsumen dalam mengkonsumsi, terdapat 2 kemungkinan

yang mungkin dilakukan oleh konsumen          mengenai konsumsi yang

dilakukan :

a. Pada periode tertentu konsumsi yang dilakukan lebih sedikit dibanding

   pendapatan yang diterima. Dalam hal ini batas pinjaman tidak berlaku

   sehingga tidak mempengaruhi keputuan konsumsi seseorang.

b. Konsumsi yang dilakukan oleh konsumen melebihi pendapatan yang

   diterima. Batas pinjaman akan mencegah konsumen dalam melakukan

   konsumsi yang lebih banyak.
                                                                                 53



            Seseorang yang memiliki kemampuan meminjam dana maka konsumsi

      yang dilakukan akan melebihi pendapatan yang diterima sekarang. Hal ini

      dikarenakan biaya yang dikeluarkan untuk melakukan konsumsi tidak hanya

      tergantung dari pendapatan saja melainkan dari dana di luar pendapatan yaitu

      dana pinjaman. Tetapi sebaliknya jika konsumen tidak memiliki kemampuan

      untuk meminjam, misalnya seorang mahasiswa yang belum bekerja maka

      konsumsinya hanya tergantung pada pendapatan sekarang dengan tidak

      memperhitungkan dana pinjaman. Maka dapat disimpulakan bahwa

      terbatasnya dana yang dapat diperoleh akan menyebabkan konsumsi rumah

      tangga hanya ditentukan oleh pendapatan sekarang bukan pendapatan

      permanen.



E. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Nilai Kredit.

        Sesuai dengan teori yang diterangkan di atas, ditunjukkan bahwa faktor-

   faktor yang mempengaruhi permintaan akan uang adalah pendapatan, suku bunga

   dan faktor-faktor lainnya. Permintaan akan uang dalam hal ini dapat diartikan

   sebagai permintaan akan kredit. Kredit yang diminta oleh masyarakat digunakan

   untuk memenuhi kebutuhan akan uang, baik yang digunakan untuk kebutuhan

   konsumtif maupun produktif. Faktor-faktor yang diteliti dalam penelitian ini yang

   mempengaruhi nilai kredit adalah tingkat pendapatan debitur, jumlah tanggungan

   keluarga dan jangka waktu pengembalian kredit.
                                                                          54



1. Tingkat pendapatan debitur

         Kredit diberikan untuk golongan tertentu dalam masyarakat, seperti

   misalnya bagi pegawai/karyawan yang hidup dari penghasilan yang nyata.

   Penghasilan tersebut dapat dijadikan jaminan untuk kredit yang diambil.

   Pendapatan setiap bulan merupakan sumber utama pembayaran angsuran

   kredit. Semakin besar penghasilan tetap calon debitur dibanding dengan

   jumlah kredit yang diminta, maka kemampuan debitur mengembalikan kredit

   akan semakin besar pula. Pendapatan masyarakat yang mengalami

   peningkatan dapat mendorong mereka untuk menikmati hidup dengan cara

   mengkonsumsi barang tahan lama dengan jumlah yang semakin banyak.

   Apabila tabungan tidak dapat mencukupi kebutuhan tersebut maka

   masyarakat akan meminjam dana di bank (Siswanto Sutojo, 1995 : 169, 178).

2. Jumlah tanggungan keluarga

         Beban tanggungan yang terlalu besar menyebabkan pendapatan yang

   diperoleh yang sebenarnya harus ditabung, terpaksa harus dikeluarkan untuk

   keperluan sandang dan pangan (Lincolin Arsyad, 1999 : 269). Semakin besar

   jumlah tanggungan menyebabkan konsumsi dalam keluarga meningkat,

   sehingga jumlah uang yang dibutuhkan semakin meningkat menyebabkan

   kredit yang akan diambil semakin besar.

         Apabila jumlah beban tanggungan dalam satu keluarga semakin besar

   maka akan menyebabkan bagian pendapatan yang dikeluarkan untuk

   memenuhi kebutuhan hidup (konsumsi). Apalagi jika jika sebagian besar

   komposisi penduduk didominasi oleh penduduk berusia muda dan balita, ynag
                                                                           55



   membutuhkan biaya yang relatif besar untuk kesehatan, pendidikan dan

   sebagainya, sehingga menyebabkan semakin besar jumlah penghasilan yang

   harus dikelurkan (Leff, Nathaniel, 1969 : 59 dalam Suryo Zuniar, 1996 : 21-

   25).

3. Jangka waktu pengembalian kredit

          Jangka waktu kredit juga dapat menentukan besarnya angsuran yang

   harus dibayar oleh debitur setiap bulannya. Semakin lama jangka waktu

   pengembalian kredit berarti jumlah angsuran yang dibayar semakin kecil, hal

   ini akan menyebabkan nilai kredit yang akan diambil meningkat. Sebaliknya

   apabila periode pengembalian kredit semakin kecil akan menyebabkan jumlah

   angsuran yang dibayar akan semakin besar yang berarti akan mengurangi

   jangka waktu kredit menjadi lebih pendek. Semakin lama jangka waktu

   pengembalian kredit menyebabkan nilai kredit/besarnya kredit yang diambil

   semakin besar.

          Jangka waktu pengembalian kredit adalah merupakan cerminan adanya

   resiko yang mungkin terjadi. Semakin lama jangka waktu pengembalian

   kredit berarti bahwa semakin besar pula resiko yang mungkin timbul (Thomas

   Suyatno dkk, 1993 : 94). Jangka waktu pengembalian kredit adalah

   meunjukkan berapa kali debitur akan melunasi dana yang dipinjam, dalam hal

   ini dapat dalam periode waktu bulanan, 6 bulanan, tahunan atau tergantung

   dari ketentuan bank terkait.
                                                                              56




F. Hasil Penelitian Terdahulu

   1. Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Era Tri Pambayun (2001) dengan

      judul Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pengambilan Kredit Dari

      BKK Oleh Pedagang Di Kabupaten Sukoharjo dengan menggunakan data

      primer cross section      menyimpulkan bahwa variabel jangka waktu

      pengembalian kredit berpengaruh positif terhadap jumlah pengambilan kredit.

      Semakin lama jangka waktu pengembalian kredit, maka semakin besar pula

      jumlah kredit yang diambil.

   2. Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pengambilan Kredit Dari BMT

      oleh Endah Sri Wulandari, 1998.

      Penelitian ini dilakukan di lokasi pasar Beringharjo, Yogyakarta dengan

      menggunakan data primer cross section. Responden pada penelitian ini adalah

      para pedagang kecil dan menengah. Teknik untuk menarik sampel pada

      penelitian ini adalah dengan menggunakan teknik purposive random

      sampling. Dari analisis data dengan menggunakan regresi linear berganda,

      dapat disimpulkan bahwa variabel pendapatan berpengaruh positif terhadap

      jumlah pengambilan kredit. Ini dibuktikan dengan nilai koefisien regresi

      variabel pendapatan sebesar 0,63 dan nilai probabilitas sebesar 0,0000 pada

      taraf signifikan 5%. Ini berarti bahwa tingkat pendapatan akan menentukan

      jumlah kredit yang diambil. Semakin tinggi tingkat pendapatan, semakin

      besar jumlah kredit yang mereka ingin ambil.
                                                                            57



3. Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Besarnya Pengambilan Premi

   Asuransi Jiwa Ditinjau Dari Aspek Ekonomi oleh Lilia Ika Purwitasari, 1997.

   Penelitian ini dilakukan di lokasi asuransi Jiwasraya, Surakarta dengan

   menggunakan 80 orang pengambil polis sebagai sampel dari total populasi

   sebesar 5000 orang. Teknik yang digunakan untuk mengambil sampel pada

   penelitian adalah teknik simple random sampling. Dari analisis data dengan

   menggunakan regresi linear berganda, dapat disimpulkan bahwa variabel

   jumlah   tanggungan    keluarga   berpengaruh    positif   terhadap   jumlah

   pengambilan premi. Ini dibuktikan dengan nilai probabilitas dari jumlah

   tanggungan keluarga adalah sebesar 0,0000, pada tingkat keyakinan 5%,

   maka dapat disimpulkan bahwa jumlah tanggungan keluarga menentukan

   premi asuransi yang dimabil. Semakin besar jumlah keluarga yang

   ditanggung, semakin besar pula kredit yang diambil.
58

								
To top