Docstoc

Kebijakan Moneter.ppt

Document Sample
Kebijakan Moneter.ppt Powered By Docstoc
					Bagaimana mungkin BI bisa diharapkan
mampu menangani seluruh permasalahan
moneter, bila menangani beberapa bank saja
tidak sanggup?

Petualangan BI di bidangnya sendiri, ekonomi
makro moneter, memberi hasil kosong total,
karena BI membuat kebijakan moneter tanpa
stir dan tanpa arah

BI belum meletakkan dan menggunakan
dengan benar instrumen moneternya.
Pengetatan Peredaran Uang ( TMP)

Ada dua istilah yang tidak pernah dijelaskan BI,
baik wawancara, pernyataan umum, ataupun
publikasinya. Diantaranya pertanyaan tersebut:
1. Apakah faktor penentu jumlah uang beredar?
2. Instrumen moneter apa yang harus dipakai
   apabila peredaran uang dianggap terlalu
   banyak atau sedikit?
3. Dalam situasi ekonomi bagaimana pengetatan
   uang di berlakukan
4. Dan apa dampak lain dari penggunaan
   instrumen moneter bersangkutan atas
   besaran-besaran makro lainnya?
Sering kita temukan bahwa BI
tertuju satu arah pada satu
sasaran saja, tanpa
memperhitungkan dampak
sampingnya.

Tidak heran, penyelesaian satu
masalah bisa saja menciptakan
masalah baru yang
penyelesaiannya mungkin lebih
sulit lagi.
sebelum beralih pada masalah TMP, perlu
dijelaskan terlebih dahulu bagaimana teknik
penentuan volume uang beredar

Secara teoritis uang beredar dapat dihitung
dengan rumus: M = m x Rm, dimana M =
Jumlah uang beredar; m = Money multiplier;
Rm = reserve money = uang primer

Statistik BI menunjukkan data sebagai berikut:
                            M         Rm
                          (dalam trilyun rupiah)
Desember 1997              356              46

Juni 1998                  566               70
  mari kita hitung money multiplier:
 - Multiplier Desember 1997 adalah 356:46=8
 - Multiplier Juni 1998 adalah 566:70=8

• Dari dua periode tersebut multiplier terlihat stabil
  pada angka 8.

• Bila uang primer pada tahun 1999 direncanakan
  menjadi Rp120 trilyun, maka jumlah uang beredar
  ditaksir akan menjadi Rp960 trilyun, yaitu 8 x
  Rp120 trilyun

• Untuk mengurangi jumlah uang beredar, maka
  multiplier harus diperkecil dengan memperbesar
  rasio cadangan.
rasio cadangan mempengaruhi besar multiplier
uang, yang menentukan jumlah uang beredar.
Rumusnya, m = 1 : rr.

Rasio cadangan menunjukkan perbandingan
cadangan wajib terhadap uang cek dan giro
masyarakat dalam bank bersangkutan

Memperbesar rasio cadangan berarti Bi
mewajibkan Bank memperbesar cadangan
wajibnya, katakan saja dari 5% sekarang ini
menjadi 30%. Dengan demikian potensi
perluasan kredit atau deposito di perbankan
menjadi berkurang, dari 20 kali, yaitu 1,5%
menjadi 3kali saja.
Apa yang menentukan besaran makro uang
primer, Rm, yang juga dikenal sebagai reserve
money, primary money, dan base money? Uang
primer diciptakan BI seperti yang tercermin di
Neraca BI berikut ini:

                               Tabel A
              Aktiva                               Pasiva
                        (dalam trilyun Rp)
                                97  98                         97     98
1.   Emas dan valas             100 293      1.   Rm           46     70
2.   Tagihan pada Pemerintah    5     4      2.   Valas        17     43
3.   Tagihan pada BPPN          -   110      3.   Rekening G   38     66
4.   Tagihan pada Bank          26   29      4.   SBI          15     71
5.   SBPU                       41   34      5.   Lain-lain    73    245
6.   Lain-lain…?                25

                               189   495                       189   495
* Sampai dengan Juni 98
Sebelum kita sampai pada mekanisme yang
menentukan uang primer, ada baiknya kita
kembali pada beberapa kaidah sistem akuntansi
yang menyusun Neraca BI diatas.

Dalam sistem akuntansi, setiap pertambahan
atau pengurangan aktiva (asset) akan
menimbulkan perubahan yang sama besarnya
pada pasiva (liability), begitu pula sebaliknya.

Naiknya jumlah aktiva, dari 189 menjadi 495,
sama dengan kenaikan pasiva. Tetapi turunnya
pos SBPU, dari 41 menjadi 34, tidak ada sangkut
pautnya dengan naiknya pos tagihan pada bank,
dari 26 menjadi 29. Tidak berhubungan juga
naiknya pos SBI dengan naiknya pos uang
primer pada sisi pasiva
Kesimpulannya BI sendiri tidak memahami
kedudukan dan peran uang primer dalam
menentukan besarnya peredaran uang, dan
faktor faktor yang menentukan volume uang
primer.

Perlu dicatat disini bahwa SBI tidak
berpengaruh apa-apa atas besarnya uang
primer, sekalipun dalam Tabel A Neraca BI
jumlahnya naik pesat, dari Rp15 trilyun
menjadi 71 trilyun. Itu berarti, sekalipun SBI
menyedot uang dari peredaran, pengurangan
tersebut terjadi hanya dalam „seketika‟
sebelum beredar kembali dalam bentuk uang
melalui saluran BLBI, tanpa melalui
pembentukan uang primer
Maka menurut hemat saya, menegaskan
bahwa tidak benar penjualan SBI yang
dilakukan BI sebagai instrumen moneter
merupakan OPT, untuk menyedot uang dari
peredaran dan sekaligus untuk menentukan
tingkat suku bunga

Penjualan SBI tidak bisa disebut OPT, karena
penjualan tersebut bukan dalam arti
operasional.

Operasional berarti BI beroperasi tuntas
sampai tujuan tercapai.

SBI hanya berlangsung periodik, sementara
OPT berlangsung berhari-hari bahkan
berbulan-bulan sampai penyedotan mencapai
target
Di negara maju, penjualan surat berharga,
termasuk treasury bills, melalui OPT bisa
dipakai sebagai instrumen penentu tingkat
suku bunga makro yang sesuai dengan
keperluan perekonomian

Ciri khas penjualan atau pembelian surat
berharga, berhubungan terbalik dengan
tingkat suku bunga

Maksudnya harga efek yang cenderung turun
saat dijual dalam OPT, otomatis menaikkan
suku bunga
Dalam OPT, surat-surat berharga seperti
treasury bills, Obligasi, saham, dan efek-
efek lainnya, jatuh tempo surat berharga
tersebut tidak dipersoalkan. Sedangkan
dengan SBI, pembelian kembali bisa
dilakukan ketika telah jatuh tempo, dan
efek penyedotannya seketika dinetralisir
dengan pembelian kembali surat
berharga tersebut oleh BI.

Suku bunga secara otomatis mengikuti
transaksi OPT, bukan ditentukan otonom
terlebih dahulu oleh BI
 Sebenarnya SBI bisa ditingkatkan menjadi
treasury bills dan dijadikan alat pembiayaan
defisit APBN

Seperti dinegara-negara lain apalgi negara maju
Treasury bills menjadi alat yang non-inflasioner.

Defisit APBN yang inflasioner (cenderung
memicu inflasi) dinetralisir oleh OPT yang
deflasioner, yaitu menarik uang dari masyarakat
dan perbankan

Sistem SBI sekarang ini hanya menjadi pelarian
tabungan perbankan yang bunganya dibayar
mahal oleh BI. Padahal operasi BI sendiri sama
sekali tidak memutar hasil penjualan SBI,
sebagaimana defisit APBN yang dibiayai hasil
penjualan treasury bills
Namun mekanismenya tidak dapat dijelaskan
disini karena sudah standar dalam text book.

Pengetatan uang menurunkan likuiditas
masyarakat dan sekaligus menciptakan kenaikan
suku bunga.

Mekanisme pembentukan suku bunga dalam OPT
secara fundamental sama sekali berbeda dengan
praktek penjualan SBI.

Bila pada OPT suku bunga terbentuk secara
endogen (mekanisme pasar), maka dalam
penjualan SBI suku bunga terbentuk secara
eksogen.
BI sendiri secara otonom yang menentukan
dan memaksakannya supaya dituruti
perbankan.

BI tidak menyadari bahwa semua instrumen
moneter yang dijalankannya seyognya tidak
berdiri sendiri dan terlepas dari problem
utama, yaitu mencegah agar perekonomian
yang morat-marit sekarang tidak berlanjut,
tetapi kembali cepat bergairah.

Tidak heran kendati BI tanpa henti-hentinya
mengeluarkan berbagai kebijakan yang
meramu berbagai instrumen moneter,
perekonomian merosot terus.
Dilihat dari segi ekonomi mikro, menaikkan
suku bunga akan membuat beberapa tabungan
pribadi naik.

Tetapi, ditinjau dari segi ekonomi makro, suku
bunga tinggi justru membuat tabungan makro
di Indonesia pasti jatuh.

Resesi dan anjloknya pendapatan menjamin
turunnya tabungan dan investasi makro.

Semakin cepat laju penurunan tabungan,
semakin cepat pula anjloknya investasi.

Pada keadaan perekonomian sekarang ini
bukan permintaan atas devisa saja yang turun,
seluruh permintaan juga akan turun, sehingga
Mengurangi produksi secara keseluruhan.

 Disintermediasi perbankan semakin diperluas
karena bank sudah pasti lebih tertarik untuk
membeli SBI ketimbang memberi kredit
seperti sediakala.

Dalam sektor moneter, ceteris paribus, bila
peredaran uang naik suku bunga akan turun,
sedang bila permintaan uang naik maka suku
bunga cenderung naik, sehingga
meningkatkan volume peredaran uang.

Permintaan likuiditas sendiri akan naik
dengan naiknya pendapatan nasional.
Dalam sektor riil, bila suku bunga naik maka
tabungan makro akan naik, sedang bila suku
bunga turun investasi akan naik.

Volume dan keseimbangan antara tabungan
dengan investasi akan naik sebagai akibat dari
menurunnya suku bunga, yang pada gilirannya
menaikkan pendapatan nasional

Keseimbangan makro antara likuiditas (L)
dengan suplai uang (M) di satu pihak, dan
investasi (I) dengan tabungan (saving-S) dilain
pihak, akan menciptakan tingkat suku bunga (i)
dan tingkat pendapatan nasional (y) tertentu.
Hubungan diantara enam faktor tersebut,
dalam teori modern, dikenal sebagai
model IS-LM, dan biasanya dinyatakan
dalam kurva IS-LM.

Sektor moneter meliputi L dan M,
digambarkan sebagai kurva LM, dan sektor
riil, meliputi I dan S, dinyatakan dalam
kurva IS.

Kedua kurva dibawah ini bertemu pada
titik keseimbangan (i) dan (y),
sebagaimana dalam gambar dibawah ini.
                         LM1 LM2


     IS1   IS2



11                E1
                       E2
12                          E3




 0               Y1 Y2      Y3
Perlu dicatat, sistem IS-LM yang dikemukakan
diatas bukan cara menghitung tingkat suku
bunga, melainkan menjelaskan teori dan
mekanisme terjadinya tingkat suku bunga bagi
terciptanya keseimbangan moneter dan sektor
riil pada tingkat pendapatan nasional tertentu.

Semua faktor dalam hubungan IS dan LM
berada dalam jalur berbagai interrelasi, yang
secara sederhana dinyatakan dalam beberapa
rumusan berikut:
   I    = I (i)
   C    = C (y)
   L    = L (i,y)
   M    =L
   Y    = I + C (y)
Keterangan:

 I = Investasi
 I = suku bunga
 C = Konsumsi
 L = Likuiditas (permintaan uang)
 M = penawaran uang = m x Rm

 Dalam prakteknya, dinegara yang sudah maju
 bank sentral melakukan pengawasan terhadap
 tingkat suku bunga melalui OPT.

 Oleh karena itu persaingan pasar uang dan
 finansial dinegara maju mendekati persaingan
 sempurna, sehingga tingkat suku bunga tidak
 terlalu berfluktuasi.
Penentuan suku bunga makro dilakukan melalui
perubahan 0,5% atau 0,25% discount rate bank
sentral

Perubahan discount rate tersebut, sekalipun
hanya 0,25% merupakan sinyal yang mau tidak
mau harus diikuti perbankan.

Sebaliknya di negara-negara berkembang
seperti Korea, Filipina, Thailand, India
dimanabelum terdapat persaingan sempurna,
tingkat suku bunga makro ditetapkan bank
Sentral.

Pada tingkat ini, bank sentral sebagai lender of
last resort selalu bersedia memberi pinjaman
pada perbankan.
Jadi tidak perlu dan keliru di Indonesia bila BI
menentukan tingkat suku bunga makro melalui
SBI.

Tingkat suku bunga makro harus diperlakukan
seperti harga beras oleh BULOG, yang menjadi
patokan tingkat harga persaingan beras di
pasar umum.

Maka uraian diatas menjelaskan bahwa tingkat
suku bunga ditentukan bersama oleh sektor
moneter dan sektor riil.

Gambar diatas memperlihatkan bahwa jalan
keluar yang harus ditempuh untuk
menghidupkan kembali produksi dan
pendapatan dewasa ini hanyalah dengan :
“ Cheap Money Policy dengan suku bunga rendah
   ketimbang, “Tight Money Policy” disertai suku
   bunga sangat tinggi.

  Disatu pihak, bila suku bunga diturunkan,
  tabungan dan investasi akan naik, dan
  pendapatan nasional meningkat.

  Di laian pihak naiknya pndapatan memerlukan
  peningkatan permintaan likuiditas dan
  peredaran uang.

  Dalam gambar diatas, perubahan tersebut
  tercermin dari perpindahan tingkat
  keseimbangan IS dan LM, yaitu dari titik E1
  naik menjadi titik E2, dan pendapatan naik Y1
  menjadi Y2
Bila peningkatan kurva IS1 menjadi IS2 diikuti
oleh perluasan uang seperti dalam kasus
pertama yaitu turunnya i1 ke i2 akan
memperbesar peningkatan pendapatan yaitu
dari Y1 menjadi Y3.

Bahaya Inflasi yang mungkin timbul diatasi
melalui instrumen moneter yang lain.
Beberapa kekeliruan hipotesa:

1.Menko perekonomian Boediono keliru bila
  mengatakan bahwa penguatan rupiah
  merupakan awal dan penyebab dari proses
  berantai ke pemulihan ekonomi.
      “ Turunnya kurs rupiah an sich tidak
  mempunyai arti apa-apa. Dan harus bisa
  memastikan apakah pada kurs bersangkutan
  permintaan valas bertambah bagi keperluan
  investasi domestik ? Jika valas yang
  bersangkutan hanya diperuntukkan bagi
  pelunasan utang of shore, turunnya kurs
  tidak akan memulihkan ekonomi.
2. Pemulihan ekonomi bisa tercipta hanya apabila
   investasi brtambah, yang pada gilirannya akan
   terjadi apabila suku bunga turun. Suku bunga
   turun bukan disebabkan turunnya inflasi, tapi
   oleh peredaran uang dan kebutuhan likuiditas
   yang bertambah secara endogen, sebagai
   dampak dari pendapatan yang meningkat. Atau
   suku bunga diturunkan oleh BI secara otonom
   dan dibarengi oleh perluasan peredaran uang
   melalui politik diskonto dan perluasan
   pemberian kredit oleh BI atau dengan
   menurunkan rasio cadangan
3. Naik turunnya Inflasi tidak berperan atas naik
   turunnya suku bunga. Inflasi merupakan gejala
   gangguan dan distorsi atas hubungan produksi
   dan supply barang dan pengeluaran/belanja
   uang yang selalu dapat disaksikan pada
   ekonomi resesi atau boom
3. Bila ekonomi naik, bukan berarti kesemptan
  kerja naik. Tetapi, setelah kesempatan kerja
  naik kegiatan ekonomi baru akan naik, dalam
  arti produksi barang konsumsi, modal, dan
  pendapatan untuk konsumsi dan tabungan
  meningkat.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:325
posted:8/23/2011
language:Indonesian
pages:29