; Pressure Control Mechanism in Cold Rolling Mill Steel Plant
Documents
Resources
Learning Center
Upload
Plans & pricing Sign in
Sign Out
Your Federal Quarterly Tax Payments are due April 15th Get Help Now >>

Pressure Control Mechanism in Cold Rolling Mill Steel Plant

VIEWS: 511 PAGES: 113

Internship Report on Pressure Control Mechanism in Cold Rolling Mill Steel Plant Krakatau Steel Indonesia

More Info
  • pg 1
									                LAPORAN KERJA PRAKTEK

                                  DI

                FET (Facility Engineering Team)
            PT. CHEVRON PACIFIC INDONESIA
                     22 Februari – 22 Maret 2010



   Sebagai Syarat Penyelenggaraan Kuliah Praktek Industri (MFS 4643)

           di Program Studi S1 Elektronika dan Instrumentasi




                          DISUSUN OLEH :

                 Yusnan Hasni Siregar 06/194363/PA/10954

                 Herman                 06/195738/PA/11180



PROGRAM STUDI STRATA 1 ELEKTRONIKA DAN INSTRUMENTASI

  FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

                  UNIVERSITAS GADJAH MADA

                           YOGYAKARTA

                                 2010
          37 &KHYURQ 3DFLILF ,QGRQHVLD

                                                      8QLYHUVLWDV *DGMDK 0DGD




                       HALAMAN PENGESAHAN
                        LAPORAN KERJA PRAKTEK


                DI PT. CHEVRON PACIFIK INDONESIA
                                DISTRIK MINAS, RIAU



                         Periode 22 Februari - 22 Maret 2010
                                         Disusun oleh :


                      Yusnan Hasani Siregar        06/194363/PA/10954
                      Herman                       06/195738/PA/11180




 PROGRAM STUDI STRATA 1 ELEKTRONIKA DAN INSTRUMENTASI

      FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

                          UNIVERSITAS GADJAH MADA


                     Laporan ini telah diperiksa dan disetujui oleh :




           Pembimbing Lapangan                              Dosen Pembimbing




              Nanang Juniarto                             Panggih Basuki, M.Si.




(OHNWURQLND ,QVWUXPHQWDVL 8*0                                                     ii
          37 &KHYURQ 3DFLILF ,QGRQHVLD

                                                8QLYHUVLWDV *DGMDK 0DGD




                                KATA PENGANTAR


         Alhamdulillah, puji dan syukur kami ucapkan kepada Allah SWT yang

 senantiasa memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat

 menyelesaikankerja praktek dan penulisan laporannya. Kerja praktek ini

 merupakan salah satu syarat untuk menyelesaikan pendidikan pada Program Studi

 Elektronika dan Instrumentasi, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

         Laporan Kerja Praktek ini disusun berdasarkan pelaksanaan Kerja Praktek

 yang kami lakukan di PT. Chevron Pacific Indonesia distrik Minas pada tanggal

 22 February – 23 Maret 2010.

         Laporan ini diharapkan bisa memberi manfaat yang sebesar-besarnya bagi

 kita semua. Sebagai manusia, tentunya kami tidak lepas dari kesalahan baik dalam

 pelaksanaan maupun         dalam penyusunan laporan ini. Untuk itu kami

 menyampaikan permintaan maaf yang sebesar-besarnya. Tak lupa kritik dan saran

 akan kami terima untuk menyempurnakan laporan ini. Semoga laporan kerja

 praktek ini dapat bermanfaat bagi kami khususnya dan pembaca umumnya.

         Terlaksananya kerja praktek dan penyusunan laporan ini tidak terlepas dari

 bantuan berbagai pihak. Untuk itu pada kesempatan ini kami menyampaikan

 banyak terima kasih kepada :

    1.   Orang tua dan saudara-saudara kami tercinta yang telah memberikan do’a

         restu, motivasi serta dorongan dan bimbingan untuk meraih cita-cita kami.




(OHNWURQLND ,QVWUXPHQWDVL 8*0                                                   iii
          37 &KHYURQ 3DFLILF ,QGRQHVLD

                                                 8QLYHUVLWDV *DGMDK 0DGD




    2.   Bapak Panggih Basuki, M.Si., atas segala bimbingan dan masukannya

         selama pembuatan proposal dan pelaksanaan kerja praktek ini.

    3.   Bapak Agus Harjoko, Ph.D., selaku ketua jurusan elektronika dan

         instrumentasi.

    4.   Bapak Jazi Eko Istiyanto, selaku ketua jurusan Fisika FMIPA UGM.

    5.   Bapak Dr. Pekik Nurwantoro, M.S. selaku wakil dekan bidang

         kemahasiswaan.

    6.   Bapak Nanang Juniarto selaku pembimbing kerja praktek yang telah

         memberikan wawasan, pengetahuan, dan membimbing kami dengan sabar

         hingga proses kerja praktek ini berjalan dengan lancar.

    7.   Bapak Elwin Nasution (Rumbai Training Center), atas segala bimbingan,

         arahan dan keramahtamahannya.

    8.   Bapak Zulfikar, atas segala bantuan, arahan dan bimbingannya, (terima

         kasih untuk bantuan pengobatan ke Clinik CPI).

    9.   Bapak Carlo selaku Manager di Facility Engineering Team (FET) yang

         telah bersedia menrima kami untuk melakukan kerja praktek di FET.

    10. Mas Andrey, Mas Deny, Mas Yorry atas segala bimbingan, masukan,

         maupun guyonannya selama pelaksanaan kerja praktek ini berlangsung.

    11. Seluruh staff karyawan dan security PT Chevron Pacifik Indonesia yang

         berada di MO1 khususnya Facility Engineering Team atas segala kebaikan

         dan keramahtamahannya.

    12. Dr. Faisal, terimakasih atas pertolongan dan kebaikannya di Clinic Minas.

         Ditunggu kedatangannya di Lombok Dok.



(OHNWURQLND ,QVWUXPHQWDVL 8*0                                                  iv
          37 &KHYURQ 3DFLILF ,QGRQHVLD

                                                8QLYHUVLWDV *DGMDK 0DGD




    13. Mas Deni dan Bapak Suwito atas segala kebaikannya selama kami berada

         di Kenanga 511.

    14. Bapak Oyong, atas segala motivasi dan curahan hatinya kepada kami.

    15. Bang Ade yang merapikan dan membersihkan wisma kami setiap hari.

    16. Seluruh karyawan Hotel Pusako, yang telah menyediakan tempat tinggal

         yang sangat layak bagi kami, termasuk fasilitas laundy-nya.

    17. Karyawan PT. Bengkalis Kuda Laut, terutama kepada Bang Rizal terima

         kasih untuk taksi yang mengantar kami selama bepergian di dalam distrik.

    18. Karyawam PT. Bianglala Metropolitan, terima kasih untuk transportasi

         antar distrik Minas-Rumbai.

    19. Teman-teman dari UI (Meisya), Univ.Al-Azhar (Ilham, Aida), Unibraw

         (Irwan), Unsri (Angga, Sabda dan ceweknya), Unand (Monica dan

         Rafiola), Unpad (Indah), UNJ (Delia). Terimakasih atas kerjasamanya

         selama pelaksanaan kerja praktek.

    20. Seluruh Staff Karyawan PT. Chevron Pacific Indonesia baik di Rumbai

         maupun di Minas serta pihak-pihak yang telah memberikan bantuan

         kepada kami namun tidak dapat kami sebutkan satu per satu.




                                                   Minas, 18 Maret 2010




                                                           Penulis




(OHNWURQLND ,QVWUXPHQWDVL 8*0                                                   v
          37 &KHYURQ 3DFLILF ,QGRQHVLD

                                             8QLYHUVLWDV *DGMDK 0DGD




                                     DAFTAR ISI


 HALAMAN JUDUL…………………………………………………….. . i
 LEMBAR PENGESAHAN ………………………………………………. ii
 KATA PENGANTAR……………………………………………………. iii
 DAFTAR ISI……………………………………………………………… vi
 DAFTAR GAMBAR…………………………………………………….. ix
 DAFTAR TABEL………………………………………………………… xi


 BAB I PENDAHULUAN………………………………………………… 1
         1.1 Latar Belakang…………………………………………………..1
         1.2 Tujuan Kerja Praktek…………………………………………....2
         1.3 Manfaat Kerja Praktek…………………………………………..2
         1.4 Waktu dan Tempat Pelaksanaan………………………………....3
         1.5 Batasan Masalah…………………………………………………3
         1.6 Metode Penulisan………………………………………………..4
         1.7 Sistematika Penulisan…………………………………………....4


 BAB II PT. CHEVRON PACIFIC INDONESIA………………………..7
         2.1 Sejarah Singkat PT. Chevron Pacific Indonesia ………………...7
         2.2 Wilayah Kerja PT. Chevron Pacific Indonesia …………………10
         2.3 Kegiatan Operasi PT. Chevron Pacific Indonesia ………………11
                 2.3.1 Eksplorasi ……………………………………………..11
                 2.3.2 Kegiatan Produksi …………………………………….14
                 2.3.3 Peningkatan Perolehan Minyak ……………………….16
         2.4 Sarana Penunjang Operasi……………………………………….18
         2.5 Sumber Daya Manusia ………………………………………….19
         2.6 Struktur Organisasi PT. Chevron Pacific Indonesia …………….20
                 2.6.1 Pembagian Distrik …………………………………….23
         2.7 Kesejahteraan Karyawan ………………………………………..24
         2.8 Keselamatan Kerja ………………………………………………27

(OHNWURQLND ,QVWUXPHQWDVL 8*0                                             vi
          37 &KHYURQ 3DFLILF ,QGRQHVLD

                                                           8QLYHUVLWDV *DGMDK 0DGD




                  2.8.1 Tenets ………………………………………………….29
                  2.8.2 Komponen FSWP …………………………………….32
                  2.8.3 Behaviour Based Safety ………………………………37


 BAB III LANDASAN TEORI ……………………………………………38
         3.1 Pengertian Pengendalian Proses ………………………………..38
         3.2 Jenis-Jenis Pengendalian Proses ..................................................40
                  3.2.1 Pengendalian Oleh Manusia (manual control) ……….40
                  3.2.2 Pengendalian Otomatis (automatic control) ………….42
         3.3 Elemen-Elemen dalam Pengendalian Proses …………………...42
                  3.3.1 Sensing Element ………………………………………43
                  3.3.2 Transmitter ……………………………………………44
                  3.3.3 Element Controller ……………………………………45
                  3.3.4 Control Valve …………………………………………53
                           3.3.4.1 Bagian-bagian Control Valve …………………...54
                           3.3.4.2 Tipe-tipe Control Valve …………………………62
         3.4 Loop Pengendalian ……………………………………………...71
                  3.4.1 Pengendalian loop terbuka ……………………………71
                  3.4.2 Pengendalian loop terbuka ……………………………72


 BAB IV SISTEM KONTROL PADA GATHERING STATION-1
           MINAS ……………………………………………………………74
         4.1 Tinjauan Umum …………………………………………………74
         4.2 Contoh Sistem Kontrol Automatik untuk Aplikasi Pengisian
         Tangki ……………………………………………………………….77
         4.3 Prose pada Gathering Station-1 Minas…………………………..80
                  4.3.1 Gas Boot ………………………………………………80
                  4.3.2 Wash Tank …………………………………………….84
                  4.3.3 Shiping Tank …………………………………………..89
                  4.3.4 Clarifier Tank…………………………………………..92
                  4.3.5 Surge Tank……………………………………………..94


(OHNWURQLND ,QVWUXPHQWDVL 8*0                                                                       vii
          37 &KHYURQ 3DFLILF ,QGRQHVLD

                                              8QLYHUVLWDV *DGMDK 0DGD




                 4.3.6 Water Injection Pump dan Water Injection Well….…97
                 4.3.7 Vavor Recovery System………………………….…..97
                 4.3.8 Cooper Bassemer Gas Compressor Plant…………….98


 BAB V PENUTUP……………………………………………………….100
         6.1 Kesimpulan ……………………………………………………100
         6.2 Saran …………………………………………………………..101


 DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………102




(OHNWURQLND ,QVWUXPHQWDVL 8*0                                               viii
          37 &KHYURQ 3DFLILF ,QGRQHVLD

                                                   8QLYHUVLWDV *DGMDK 0DGD




                                DAFTAR GAMBAR
 Gambar      2.1.    Sumur minyak tertua di Indonesia yang ditemukan
                     Jepang……………………………..................................        8
 Gambar      2.2.    Proses pengeboran ladang minyak …………………….                  12
 Gambar      2.3.    Alat pengebor sumur penghasil minyak .................……   13
 Gambar      2.4.    Pompa penghisap minyak…...………………………….                      14
 Gambar      2.5.    Ladang Penghasil Minyak….…………………………..                      15
 Gambar      2.6.    Stasiun Penghasil Uap Panas ……………………….…. 16
 Gambar      2.7.    Tanker Pengangkut Hasil Produksi …………….......….            18
 Gambar      2.8.    Struktur Organisasi Secara Keseluruhan ………………              21
 Gambar      2.9.    Struktur Organisasi Eksekutif PT. CPI ……………....... 21
 Gambar      2.10    Struktur Organisasi Sumatra Light Operations PT.CPI .. 22
 Gambar      2.11    Struktur organisasi Sumatra Light South Operations
                     PT.CPI ……………………………………....................                  22
 Gambar      2.12. Struktur organisasi Divisi Reliability, Engineering &
                     MTCE PT.CPI ………………….………………..….....                         23
 Gambar      2.13. Faslitas transportasi PT.CPI…..………………………..                   26
 Gambar      2.14. Sistem kerangka kerja FSWP ............………………….              33
 Gambar      2.15. Prosedur GWP .............………………………………...                    34
 Gambar      2.16. Grafik penurunan laju angka kecelakaan industri di
                     PT.CPI(dalam 200.000 jam kerja)……………………...                 36
 Gambar      2.17. Formulir Kartu observasi BBS ……….....……………..                 37
 Gambar      3.1.    Manual Control ………………………………………... 41
 Gambar      3.2.    Pengendalian otomatis ……………………........………                  42
 Gambar      3,3.    Diagram kotak sistem pengendalian ..........…….……… 43
 Gambar      3.4..   Block diagram Proportional Controller ..………………             48
 Gambar      3.5.    Block diagram pengendali Proportional Integral….....… 49
 Gambar      3.6.    Block diagram pengendali Proportional Derivative…....      51
 Gambar      3.7.    Block diagram pengendali PID………………………… 52
 Gambar      3.8.    Bagian-bagian control valve secara umum ….………… 54
 Gambar      3.9.    Bagian-bagian dari Direct-Acting Valve ……............…     56


(OHNWURQLND ,QVWUXPHQWDVL 8*0                                                        ix
          37 &KHYURQ 3DFLILF ,QGRQHVLD

                                                               8QLYHUVLWDV *DGMDK 0DGD




 Gambar      3.10    Pneumatic Actuator ……............................................…                57
 Gambar      3.11    Pneumatic Piston Actuator untuk rotary-shaft valve ..…                            58
 Gambar      3.12    Electric Motor Actuator ……......................................… 59
 Gambar      3.13. Skematik Positioner ………………………………....…                                               60
 Gambar      3.14. Bagian-bagian Control Valve ……………………….…                                             61
 Gambar      3.15. Single port globe body ………...................................…. 63
 Gambar      3.16. Single port cage balanced plug …….....………………..                                      63
 Gambar      3.17. Double port valves bodies …………..…………………                                             64
 Gambar      3.18. (a). Three-way valve (diverting) untilizing modofied
                     double port body, (b). Three-way valve (diverting)
                     untilizing modofied double port body ……................…                          65
 Gambar      3.19. Spilit Body Valve ...................................................……             66
 Gambar      3.20    Angle Body Valve ..........................................…………                   67
 Gambar      3.21    Ball Valve....................................................................…   68
 Gambar      3.22    Typical Butterfly Control Valve …….........................… 69
 Gambar      3.23. Sounders-type (diaphragm) Valve Bodies…...……....… 70
 Gambar      3.24. Sistem pengendalian loop terbuka .....……………….…                                      72
 Gambar      3.25. Sistem pengendalian loop tertutup...........................…… 73
 Gambar      4.1.    Skema proses yang terjadi pada gathering station .......... 75
 Gambar      4.2     Rancangan sistem pada aplikasi sistem kontrol ..........… 77
 Gambar      4.3     Skema Rangkaian Elektronika ...…….........................… 79
 Gambar      4.4..   Flowchart ……………………………….…...……....…                                                80
 Gambar      4.5.    P&ID Sistem kontrol pada aliran dari Gas Boot menuju
                     Wash Tank ………………………………….....…….…                                                  83
 Gambar      4.6.    P&ID Sistem yang ada pada Wash Tank secara umum..                                 86
 Gambar      4.7     P&ID Sistem dari Wash Tank menuju Clarifier Tank .... 88
 Gambar      4.8     P&ID pada Clarifier Tank .........................................…               91
 Gambar      4.9.    P&ID pada Clarifier Tank………..….........................…                          92
 Gambar      4.10. P&ID pada Surge Tank ............................…...……....… 95




(OHNWURQLND ,QVWUXPHQWDVL 8*0                                                                               x
          37 &KHYURQ 3DFLILF ,QGRQHVLD

                                                        8QLYHUVLWDV *DGMDK 0DGD




                                  DAFTAR TABEL


 Gambar      4.1.   Tabel Kebenaran ….............……..................................   79




(OHNWURQLND ,QVWUXPHQWDVL 8*0                                                                 xi
          37 &KHYURQ 3DFLILF ,QGRQHVLD

                                                      8QLYHUVLWDV *DGMDK 0DGD




                                           BAB I
                                PENDAHULUAN

  1.1    Latar Belakang

         Pengetahuan yang bersifat praktis menjadi sesuatu hal penting dan

 bermaanfaat bagi seorang mahasiswa, terutama pada saat terjun kedalam dunia

 kerja yang sesungguhnya. Berbeda dengan pengetahuan teoritis yang dapat

 diperoleh mahasiswa melalui bangku kuliah, pengetahuan yang bersifat praktis

 serta sesuai dengan perkembangan zaman tentunya hanya dapat diperoleh dari

 luar lingkungan kampus, yaitu melalui suatu kegiatan kerja praktek lapangan pada

 suatu instansi atau perusahaan. Dengan harapan mahasiswa dapat mengetahui

 kondisi lapangan sesungguhnya dan mengetahui perkembangan ilmu pengetahuan

 sehingga tidak hanya berbekal pengetahuan yang bersumber dari buku pegangan

 dalam kegiatan perkuliahan semata.

         Program studi Elektronika dan Instrumentasi, Universitas Gadjah Mada

 mewajibkan mahasiswanya untuk melakukan kerja praktek di lingkungan yang

 mengaplikasikan ilmu dan teknologi kelistrikan dengan bidang lainnya, seperti

 telekomunikasi, sistem kendali, sistem komputer dan instrumentasi. Kerja praktek

 juga bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk dapat

 lebih memahami konsep-konsep non-akademis dan non-teknis dalam dunia kerja

 nyata dengan memberikan sedikit kontribusi pengetahuan pada instansi secara

 konsisten.

         PT.    Chevron     Pacific      Indonesia   sebagai   salah   satu     perusahaan

 pertambangan minyak terbesar di Indonesia memiliki sistem informasi modern

(OHNWURQLND ,QVWUXPHQWDVL 8*0                                                           1
          37 &KHYURQ 3DFLILF ,QGRQHVLD

                                                  8QLYHUVLWDV *DGMDK 0DGD




 yang mutakhir. Sistem informasi canggih ini mendukung komunikasi antar divisi

 atau bagian yang terdapat pada PT. Chevron Pacific Indonesia agar dapat

 bekerjasama dengan baik sehingga proses produksi berjalan lancar. Komunikasi

 menjadi sangat penting dalam suatu proses produksi termasuk dalam melakukan

 pengendalian dan pengontrolan agar produk yang dihasilkan sesuai dengan yang

 diharapkan.



 1.2     Tujuan Kerja Praktek

         Terdapat beberapa tujuan dari kerja praktek yang ingin diperoleh pada

 kesempatan ini adalah :

          1. Menegenal ruang lingkup PT. Chevron Pacific Indonesia secara

               umum.

          2. Mengenal sistem dan manajemen kerja yang terdapat pada PT.

               Chevron Pacific Indonesia

          3. Mengenal ruang lingkup dari Divisi REM khususnya bagian Facility

               Engineering Team, distrik Minas.

          4. Mempelajari sistem kontrol dan proses yang ada dalam sistem kontrol

               tersebut khususnya pada proses pengolahan minyak yang terdapat

               pada Gathering Station-1 Minas.



 1.3     Manfaat Kerja Praktek

         Adapun manfaat yang dapat diperoleh dari kegiatan Kerja Praktek antara

 lain adalah :


(OHNWURQLND ,QVWUXPHQWDVL 8*0                                                 2
          37 &KHYURQ 3DFLILF ,QGRQHVLD

                                                  8QLYHUVLWDV *DGMDK 0DGD




          1. Bagi perguruan tinggi

             •    Membuka wawasan baru bagi mahasiswa melalui praktek yang

                  dilakukan secara langsung dilapangan.

             •    Memberi       Tambahan   pengetahuan      dan   keterampilan   bagi

                  mahasiswa tentang kondisi dilapangan.

             •    Mewujudkan program keterkaitan dan kesepadanan antara

                  perguruan tinggi dengan dunia industri.

          2. Bagi PT. Chevron Pacific Indonesia

             •    Melakukan tukar-menukar informasi dibidang teknologi antara

                  dunia industri dengan perguruan tinggi.

             •    Sebagai salah satu upaya alih generasi di bidang sistem kontrol.



 1.4      Waktu dan Tempat Pelaksanaan

          Kerja Praktek ini dilaksanakan terhitung sejak tanggal 22 Februari 2010

 sampai dengan 22 Maret 2010 pada bagian Facility Engineering Team, distrik

 Minas, PT. Chevron Pacific Indonesia, provinsi Riau.



 1.5      Batasan Masalah

          Adapun batasan masalah yang kami angkat dalam kerja praktek kali ini

 yaitu:

       1. Mempelajari sistem kontrol yang meliputi control objektif, control

          strategy, sensor, end device dari pengolahan minyak yang terdapat pada

          Gathering Station-1 Minas.

(OHNWURQLND ,QVWUXPHQWDVL 8*0                                                        3
           37 &KHYURQ 3DFLILF ,QGRQHVLD

                                                  8QLYHUVLWDV *DGMDK 0DGD




       2. Mempelajari proses-proses pengolahan minyak yang terjadi pada

          Gathering Station-1 Minas.

       3. Analisis P&ID hanya difokuskan pada Gathering Station-1 Minas, dengan

          mengacu pada rancangan yang telah dibuat sebelumnya.




 1.6      Metode Penulisan

          Dalam penulisan kerja praktek ini digunakan beberapa metode untuk

 mendapatkan data-data yang diperlukan sebagai pedoman dalam menulis laporan

 kerja praktek ini. Metode-metode tersebut adalah :

       1. Wawancara

          Dengan cara mengadakan tanya jawab secara langsung kepada

          pembimbing lapangan dan para staff karyawan Divisi REM khususnya

          bagian Faclity Engineering Team, PT. Chevron Pacifc Indonesia.

       2. Studi lapangan

          Dengan cara melakukan pendampingan langsung atas aktivitas yang

          dilakukan pembimbing dalam melakukan tugas lapangan.

       3. Studi literatur

          Melakukan pencarian informasi melalui buku-buku bacaan, product

          manual dan situs PT.CPI yang diberikan oleh pembimbing lapangan serta

          para staff PT. Chevron Pacific Indonesia.



 1.7      Sistematika Penulisan



(OHNWURQLND ,QVWUXPHQWDVL 8*0                                                4
           37 &KHYURQ 3DFLILF ,QGRQHVLD

                                                    8QLYHUVLWDV *DGMDK 0DGD




          Adapun sistematika yang kami gunakan dalam penulisan laporan kerja

 praktek kali ini adalah sebagai sebagai berikut:


 BAB I            PENDAHULUAN

                  Berisi tentang latar belakang dilakukannya kerja praktek, tujuan

                  dan manfaat kerja praktek baik bagi mahasiswa, universitas dan

                  perusahaan, waktu dan tempat dilaksanakannya kerja praktek,

                  batasan masalah dan metode penulisan dan sistematika penulisan

                  laporan kerja praktek.

 BAB II           PT. CHEVRON PACIFIC INDONESIA

                  Berisi tentang sejarah singkat PT. Chevron Pacific Indonesia,

                  wilayah kerja PT.Chevron Pacific Indonesia, kegiatan operasi PT.

                  Chevron Pacific Indonesia mencakup kegiatan eksplorasi dan

                  produksi, sarana penunjang operasi, sumber daya manusia,

                  struktur organisasi PT Chevron Pacific Indonesia khususnya Divisi

                  REM bagian FET, kesejahteraan karyawan dan keselamatan kerja.

 BAB III          LANDASAN TEORI

                  Berisi tentang dasar teori secara umum tentang sistem kontrol yang

                  ada di dunia industri pada umunya. Landasan teori ini brisi tentang

                  penjelasan secara umum dari sistem kontrol, elemen-elemen sistem

                  kontrol, perbandingan kontrol manual dan kontrol automatik.




(OHNWURQLND ,QVWUXPHQWDVL 8*0                                                       5
          37 &KHYURQ 3DFLILF ,QGRQHVLD

                                                8QLYHUVLWDV *DGMDK 0DGD




 BAB IV          SISTEM         KONTROL    PADA     GATHERING         STATION-1

                  MINAS

                 Berisi tentang penjelasan dari proses yang terjadi pada Gathering

                 Station-1 Minas, yang meliputi sistem kontrol, instrumen-

                 instrumen sistem kontrol beserta fungsinya, dan proses yang

                 terdapat pada Gathering Station-1 Minas.

 BAB V           PENUTUP

                 Berisi tentang kesimpulan dan saran bagi PT. CHEVRON

                 PACIFIC INDONEISA, khususnya pada Divisi REM bagian FET,

                 Distrik Minas.




(OHNWURQLND ,QVWUXPHQWDVL 8*0                                                   6
          37 &KHYURQ 3DFLILF ,QGRQHVLD

                                                  8QLYHUVLWDV *DGMDK 0DGD




                                         BAB II
               PT. CHEVRON PACIFIC INDONESIA


 2.1     Sejarah Singkat PT. Chevron Pacific Indonesia

         Berdirinya PT. Chevron Pacific Indonesia (PT. CPI) berawal dari upaya

 pencarian minyak di Sumatera khususnya Aceh dan Kalimantan Timur oleh tim

 geologi Chevron Coorporation, yang bernama Standart Oil of California

 (SOCAL), pada tanggal 8 maret 1924 yang dipimpin oleh Emerson M.

 Butterworr. Selain di Sumatra tim ini juga mengadakan survey eksplorasi minyak

 dipulau Papua (sekarang Irian Jaya). Enam tahun kemudian pemerintah Hindia

 Belanda menyetujui permintaan Chevron untuk memperoleh hak eksplorasi. Pada

 bulan Juni 1930 dibentuk N.V Nederlandche Pacific Petroleum Maatschappij

 (NPPM) dan lima tahun kemudian mendapatkan tawaran eksplorasi seluas

 600.000 hektar di Sumatera bagian tengah yang dianggap kurang memberikan

 harapan dan tahun 1936 Chevron dan Texaco inc, mendirikan kelompok

 perusahaan Chevron. Pada gambar 2.1 ditunjukkan sumur yang pertamakali

 dibuat oleh chevron pada tahun 1949.

         Pada tahun 1940 ditemukan gas dalam sumur eksplorasi kedua di Sebanga,

 diikuti dengan ditemukannya minyak di Duri setahun kemudian. Perang Dunia II

 menyebabkan terhentinya seluruh kegiatan, sehingga penggunaan peralatan

 seharga US$ 1 juta terpaksa dihentikan.

         Pada tahun 1949, bala tentara pendudukan jepang menyelesaikan

 pengeboran eksplorasi Minas pertamakalinya pada lokasi yang dipilih dan



(OHNWURQLND ,QVWUXPHQWDVL 8*0                                                7
           37 &KHYURQ 3DFLILF ,QGRQHVLD

                                               8QLYHUVLWDV *DGMDK 0DGD




 dipersiapkan Chevron dengan menggunakan peralatan yang ditinggalkan karena

 pecahnya perang. Ini merupakan satu-satunya sumur “wildcat” di Indonesia

 selama PD II dan berhasil menemukan minyak pada kedalaman 2623 kaki (787,5

 meter).




            Gambar 2.1 Sumur minyak tertua di Indonesia yang ditemukan Jepang



           Setelah berakhirnya perang, kegiatan chevron dilanjutkan dengan

 pengembangan lapangan Minas tanggal 20 April 1952 yang diresmikan oleh

 Menteri Perekonomian Suamang, SH, yang ditandai dengan pengapalan pertama

 “Minas Crude” dari Perawang menggunakan kapal tangki menyelusuri Sungai

 Siak menuju Pakning di Selat Malaka untuk selanjutnya diekspor ke pasar dunia.

 Lima tahun kemudian dimulai Proyek perluasan I meliputi pengembangan


(OHNWURQLND ,QVWUXPHQWDVL 8*0                                                   8
          37 &KHYURQ 3DFLILF ,QGRQHVLD

                                                    8QLYHUVLWDV *DGMDK 0DGD




 lapangan Duri, pengembangan jalan dan pemasangan pipa bergaris tengah 60 dan

 75 cm sepanjang 120 km dari Minas melintasi rawa ke Dumai. Proyek ini juga

 mencakup pembangunan stasiun-stasiun pengumpulan dan stasiun pompa pusat di

 Duri, dermaga minyak Dumai dan komplek perumahan serta perbengkelan di Duri

 maupun Dumai.

         Pada tanggal 15 Juli 1958, Menteri Perindustrian Ir. F.J Inkiriwang

 meresmikan penyelesaian proyek perluasan I dan saat itu produksi Chevron

 diekspor melalui Dumai. Dalam rangka proyek perluasan I ini diselesaikan pula

 pembangunan jembatan Leton melintasi Sungai Siak yang menghubungkan

 Pekanbaru dengan Rumbai.                Dengan adanya jembatan Sungai Siak itu,

 terwujudlah jalan lintas pulau yang pertama di Sumatera, merentang sepanjang

 500 km dari Sumatera Barat ke Dumai. Pada tahun 1970 dimulai proyek perluasan

 II yaitu pengembangan lapangan Bangko dan Kota batak.

         Dengan berlakunya UU No. 44 tahun 1960, wilayah NPPM yang disebut

 Rokan I Block dan Rokan III Block (seluas 9030 km2), dikembalikan kepada

 pemerintah Republik Indonesia. Kegiatan NPPM kemudian dilanjutkan oleh PT.

 Chevron Pacific Indonesia (PT. CPI) didirikan dalam bulan Februari 1963, yang

 juga milik Chevron dan Texaco inc.

         Perjanjian karya PT. CPI dengan PT. Pertamina yang ditandatangani pada

 bulan September 1963 mendapatkan ratifikasi DPR-RI yang meliputi Rokan I dan

 Rokan III dan lima tahun kemudian ditambahkan empat daerah baru (Sebanga,

 Minas Tenggara, Libo Tenggara dan Libo Barat Laut), sehingga luas wiayah kerja

 CPI seluruhnya menjadi 9898 Km2. Perjanjian karya yang berakhir 28 November



(OHNWURQLND ,QVWUXPHQWDVL 8*0                                                 9
          37 &KHYURQ 3DFLILF ,QGRQHVLD

                                               8QLYHUVLWDV *DGMDK 0DGD




 1983 diperpanjang menjadi Kontrak Production Sharing (KPS) sampai 8 Agustus

 2001. Saat ini kegiatan CPI di Propinsi Riau meliputi kawasan seluas 31.700 km2.



 2.2     Wilayah Kerja PT.Chevron Pacific Indonesia

         Daerah kerja PT. CPI yang memiliki daerah eksplorasi seluas 9.030 km2

 dikenal dengan nama “Kanggaroo Block” terletak di Kabupaten Bengkalis. Selain

 mengerjakan daerah sendiri, PT CPI juga bertindak sebagai operator bagi

 Calasiatic/Chevron dan Topco/Taxaco (C&T) perusahaan dimiliki oleh Chevron

 dan Texaco. Perjanjian C&T yang pertama berdasarkan Perjanjian Blok A,

 sebagai Blok D, serta Blok C pada tahun 1968 diserahkan kembali kepada

 Pemerintahan RI. Pengembalian daerah-daerah berikutnya dilakukan pada tahun

 1973 dan 1978, sehingga kini tersisa 8314 km2 atau kira-kira 67,4% luas semula.

         Pada Bulan Agustus 1971, C&T menandatangani Perjanjian Coastal

 Plains Pekanbaru Block seluas 21.975 km2. Kemudian pada bulan Januari 1975,

 menandatangani Perjanjian Mountain Front Kuantan Block seluas 6865 km2.

 Setelah dilakukan pengembalian beberapa bagian daerah kerja secara bertahap,

 sekarang Coastal Plain Pekanbaru tinggal 9.996 km2.

 Di tahun 1979 - 1991, C&T menandatangani lima perjanjian:

       • Tahun 1979, Perjanjian Patungan (Join Venture) dengan Pertamina (Jambi

         Selatan blok B) seluas 5.826 km2 sudah dikembalikan keseluruhnya tahun

         1988.

       • Tahun 1981, KPS Singkarak Blok seluas 7.163 km2 di Sumatera Barat

         (telah dikembalikan seluruhnya pada Juni 1984)


(OHNWURQLND ,QVWUXPHQWDVL 8*0                                                  10
          37 &KHYURQ 3DFLILF ,QGRQHVLD

                                                8QLYHUVLWDV *DGMDK 0DGD




       • Tahun 1981, KPS Langsa Blok seluas 7.080 Km2 di Selat Malaka di

         Lepas Pantai Sumatera Utara dan Daerah Istimewa Aceh (juga telah

         dikembalikan seluruhnya pada Mei 1986).

       • Tahun 1991, KPS Nias Blok seluas 16.116 km2.

       • Perpanjangan Kontrak Karya ke dalam bentuk KPS untuk Siak Blok seluas

         8.314 km2 berlaku 20 tahun sejak 28 November 1993.



 2.3     Kegiatan Operasi PT. Chevron Pacific Indonesia

         Terdapat dua kegiatan utama yang dilakukan oleh PT. Chevron Pacific

 Indonesia yaitu kegiatan eksplorasi dan kegiatan produksi.


 2.3.1   Eksplorasi

         Pekerjaan eksplorasi yang pertama mencakup penelitian Geologis beserta

 pengeboran sumur seperti yang ditunjukkan oleh gambar 2.2, hingga penelitian

 seismik. Penelitian seismik yang dilakukan pada tahun 1937-1941 dengan metode

 pengeboran pada lokasi-lokasi yang terpencar-pencar dengan kedalaman total

 26.208 feet (7.862,4 meter).




(OHNWURQLND ,QVWUXPHQWDVL 8*0                                                  11
          37 &KHYURQ 3DFLILF ,QGRQHVLD

                                                8QLYHUVLWDV *DGMDK 0DGD




                    Gambar 2.2 Proses pengeboran ladang minyak

         Pada tahun 1938, dimulai pengeboran eksplorasi di Kubu, namun tidak

 terdapat indikasi adanya minyak. Tahun 1938-1944, sembilan sumur eksplorasi

 berhasil diselesaikan dengan temuan di tiga empat, yakni gas di Sebanga, serta

 minyak di Duri dan Minas.Temuan gas di Sebanga merupakan tonggak sejarah

 meningkatnya kegiatan eksplorasi perminyakan di bagian tengah pulau Sumatera.

         Penelitian Geologis dan pemetaan-pemetaan dimulai diseluruh daerah

 kerja pada tahun 1951, disusul dengan pengeboran eksplorasi dan penelitian

 geofisik pada tahun 1955.

         Pada tahun 1968 PT. Chevron Pacific Indonesia memanfaatkan helikopter

 untuk mendukung kegiatan pengeboran seismik dan eksplorasi yang berhasil

 mengurangi secara drastis hambatan yang dihadapi dalam penyediaan suplai

 angkutan tenaga kerja untuk penelitian geofisika.

         Pengeboran dilakukan dengan menggunakan alat yang disebut dengan rig.

 Alat ini ditunjukkan oleh gambar 2.3.




(OHNWURQLND ,QVWUXPHQWDVL 8*0                                               12
          37 &KHYURQ 3DFLILF ,QGRQHVLD

                                               8QLYHUVLWDV *DGMDK 0DGD




                  Gambar 2.3 Alat pengebor sumur penghasil minyak



         Sumur-sumur eksplorasi yang dibor sejak tahun 1968 - 1990 menghasilkan

 banyak temuan baru sebanyak 119 temuan baik minyak maupun gas. Temuan

 utama yang terjadi sejak tahun 1989 adalah Lapangan Rintis dan Jingga di daerah

 KPS Mountain Front - Kuantan yang menjadi daerah-daerah produksi baru

 sekaligus meningkatkan kegiatan eksplorasi di daerah sekitarnya.

         Hingga kini kegaitan eksplorasi   PT. Chevron Pacific Indonesia telah

 memiliki lebih dari 70.000 km2 data seismik dan 5.600 km2 diantaranya berasal

 dari daerah Riau daratan.


(OHNWURQLND ,QVWUXPHQWDVL 8*0                                                13
          37 &KHYURQ 3DFLILF ,QGRQHVLD

                                               8QLYHUVLWDV *DGMDK 0DGD




 2.3.2   Kegiatan Produksi

         Pada tanggal 14 Mei 1969, yaitu setelah 17 tahun berproduksi, lapangan

 Minas mencapai jumlah produksi akumulatif satu milyar barrel yang pertama, dan

 menjadi lapangan raksasa di Asia sebelah timur Iran dan ke-22 di Dunia.




                         Gambar 2.4 Pompa penghisap minyak

         Hingga akhir 1990 produksi akumulatif Lapangan Minas telah melebihi 3

 milyar barrel “Minas Crude oil” (sekarang dikenal dengan nama “Sumatran Light

 Crude” yang digemari oleh negara-negara industri dikarenakan kadar belerangnya

 sangat rendah. Pada gambar 2.5 tampak ladang minyak dengan jumlah sumur

 yang cukup banyak dan diatur dalam bentuk blok-blok.




(OHNWURQLND ,QVWUXPHQWDVL 8*0                                               14
          37 &KHYURQ 3DFLILF ,QGRQHVLD

                                                   8QLYHUVLWDV *DGMDK 0DGD




                                Gambar 2.5 Ladang penghasil minyak

         Walaupun setiap tahun produksi terus meningkat, namun produksi tahun

 1985 menunjukkan kemajuan terbatas. Selama tahun 1951-1965 meskipun

 pengeboran eksplorasi menghasilkan tujuh temuan, tapi berproduksi hanya

 dilapangan Duri serta Minas, hal ini dikarenakan iklim politik pada saat itu tidak

 mendukung penanaman modal. Produksi yang pernah mencapai 1 juta barrel

 sehari antara Mei dan Agustus 1973 membuktikan adanya peningkatan kegiatan

 PT. Chevron Pacific Indonesia secara menyeluruh.

         Program penyuntikan air (waterflooding) di Lapangan Minas dimulai

 tahun 1970. Kadar air yang tersedot waktu pompa minyak disuntikan kembali

 kedalam tanah sebanyak jutaan barrel sehari. Sebuah proyek injeksi air lainnya

 dilaksanakan dilapangan Kota batak sejak tahun 1974 dengan penyuntikan rata-

 rata 32.000 barrel perhari.

         Sementara itu terus dikembangkan metoda peningkatan perolehan minyak

 yang dikenal dengan sebagai EOR atau Enhanced Oil Recovery untuk menambah

 cadangan minyak serta memperbaiki faktor perolehan serta menahan merosotnya


(OHNWURQLND ,QVWUXPHQWDVL 8*0                                                   15
          37 &KHYURQ 3DFLILF ,QGRQHVLD

                                                     8QLYHUVLWDV *DGMDK 0DGD




 produksi lapangan-lapangan yang menua. Pada tanggal 3 Maret 1990 diresmikan

 Proyek Injeksi-Uap (Steam Injection) Duri yang merupakan Proyek injeksi uap

 terbesar di Dunia.


 2.3.3    Peningkatan Perolehan Minyak

          Teknologi yang kini diterapkan PT. Chevron Pacific Indonesia adalah

 injeksi air dan teknik injeksi uap. Meskipun mahal dan besarnya biaya, namun

 secara    menyeluruh     peningkatan    perolehan     minyak     ini   ternyata   sangat

 menguntungkan.

          Pada permulaan kegiatan operasional Lapangan Minas, produksi dilakukan

 melalui tekanan alamiah dan pemompaan. Setelah berproduksi bertahun-tahun

 tekanan alamiahpun mengendur, sedangkan minyak masih terperangkap dalam

 jumlah besar didalam resevoirnya.




                        Gambar 2.6 Stasiun penghasil uap panas




(OHNWURQLND ,QVWUXPHQWDVL 8*0                                                         16
           37 &KHYURQ 3DFLILF ,QGRQHVLD

                                               8QLYHUVLWDV *DGMDK 0DGD




         Walaupun sistem perolehan tahap awal pada dasarnya hanya mampu

 mengambil 35% dari kandungan minyak yang ada, namun teknologi injeksi air

 yang diterapkan dilapangan Minas untuk dipertahankan dan meningkatkan

 tekanan      akan dapat memperpanjang perolehan minyak. Pada gambar 2.6

 ditunjukkan stasiun penghasil uap panas yang akan diinjeksikan.

         Lapangan Duri memiliki jenis minyak yang lebih berat, karenanya sejak

 tahun 1960-an PT. Chevron Pacific Indonesia melakukan uji coba berbagai sistem

 peningkatan perolehan minyak, menyusul uji coba “Sylical Steaming” dan “Huff

 and Puff” pada tahun 1975 dilakukan uji coba penyuntikan uap secara

 berkesinambungan dalam jumlah besar. Hasil uji coba injeksi uap ini

 menggembirakan dan 11 daerah barupun dijadikan kawasan injeksi uap yang akan

 dikembangkan.

         Kira-kira 20% produksi minyak digunakan sebagai bahan bakar

 pembangkit tenaga uap. Pertamina dan PT. Chevron Pacific Indonesia kini

 mengusahakan ditemukan cadangan gas alam untuk dapat dimanfaatkan oleh

 proyek injeksi uap Duri. Dengan demikian, minyak mentah yang akan

 digantikannya dapat dimanfaatkan untuk pemakaian dalam energi dan untuk

 diekspor.

         Peningkatan perolehan minyak mungkin masih dapat dikembangkan

 dengan menerapkan teknologi baru yang kini sedang terus diteliti di pusat-pusat

 Chevron dan Texaco di Amerika Serikat.




(OHNWURQLND ,QVWUXPHQWDVL 8*0                                                17
          37 &KHYURQ 3DFLILF ,QGRQHVLD

                                                 8QLYHUVLWDV *DGMDK 0DGD




 2.4     Sarana Penunjang Operasi

         Sarana-sarana yang menunjang operasi PT. CPI antara lain:

        • Pembangkit Tenaga Listrik terdapat empat buah lokasi diantaranya di

           Duri, Central Duri, Minas dan North Duri serta jaringan transmisi dan

           distribusi listrik dengan menggunakan Hotline Maintenance yang

           memungkinkan dilakukan perbaikan pada jaringan-jaringan listrik

           tegangan tinggi tanpa memutuskan aliran listrik.

        • Empat buah dermaga khusus di Dumai (dua diantaranya mampu

           melayani kapal-kapal tangki yang berbobot mati 150.000 ton). Seperti

           yang ditunjukkan oleh gambar 2.7.




                   Gambar 2.7 Tanker pengangkut hasil produksi

        • Komplek tangki penyimpanan berkapasitas 5,8 juta barrel

        • Dua jalur pipa saluran masing-masing berdiameter 90 cm dan 75 cm

           pada jalur-jalur Minas - Dumai dan Bangko - Dumai

        • Jaringan Microwave UHF yang menghubungkan keempat distrik, serta

           suatu sistem telepon dan komunikasi radio HF/VHF/UHA untuk seluruh

           kegiatan lapangan


(OHNWURQLND ,QVWUXPHQWDVL 8*0                                                18
          37 &KHYURQ 3DFLILF ,QGRQHVLD

                                                  8QLYHUVLWDV *DGMDK 0DGD




        • Pemanfaatan empat saluran Sistem Komunikasi Satelit Domestik Palapa

           untuk hubungan dengan kantor Jakarta

        • Layanan teleks dan elektronik mail antara Dumai-Rumbai-Jakarta dengan

           kedua    perusahaan     pemegang   saham     dan      perusahaan-perusahaan

           diseluruh dunia melalui Satelit Palapa dan Intelset

        • Pada akhir tahun 1968, PT. CPI memasang unit pengolahan data

           elektronik yang pertama, berupa komputer IBM 360 model 30 dengan

           core capacity 64 Kbytes, untuk memenuhi tuntutan tersedianya sarana

           informasi yang akurat dan cepat, serta adanya sistem pengendalian yang

           efektif dalam segala segi

        • Dumai Remote Entry Shipping System (DRESS) merupakan On-line

           Teleprocessing yang pertama diterapkan PT. CPI untuk mengolah

           pengisian dan pemompaan tangki penyimpanan dan mengatur kapal

           tangki di Dumai, serta menyusun membuat dan menghasilkan dokumen

           teleprocessing untuk Crude Movement Storage Shipping



 2.5     Sumber Daya Manusia

         Saat ini PT. CPI memiliki dari 6000 tenaga kerja yang 98% diantaranya

 adalah bangsa Indonesia. PT. CPI ditengah melaksanakan proses alih teknologi

 dan alih ketrampilan yang pada dasarnya terdiri dari tiga aspek pelatihan,

 pertukaran gagasan dan proses komunikasi antar tenaga kerja Indonesia dan

 tenaga kerja asing.




(OHNWURQLND ,QVWUXPHQWDVL 8*0                                                      19
            37 &KHYURQ 3DFLILF ,QGRQHVLD

                                               8QLYHUVLWDV *DGMDK 0DGD




         Program pengembangan sumber daya manusia meliputi kursus keahlian

 dasar (latihan bahasa Inggris), latihan teknik (latihan kejuruan berbagai bidang)

 dan program pengembangan manajemen (khursus segi-segi manajemen dan

 latihan khusus untuk para karyawan senior). Untuk menyiapkan tenaga Indonesia

 menduduki jabatan yang lebih tinggi dan untuk pengalihan teknologi maju dari

 kedua perusahaan pemegang saham, sejumlah tenaga kerja Indonesia tingkat

 menengah keatas setiap tahun mengikuti training sambil bekerja di Amerika

 Serikat.



 2.6     Struktur Organisasi PT Chevron Pacific Indonesia

            Struktur organisasi PT. Chevron Pacific Indonesia adalah suatu

 perusahaan swasta asing yang merupakan Kontraktor Production Sharing (KPS)

 Pertamina. Sekalipun perusahaan ini didirikan secara patungan oleh Chevron dan

 Texaco, namun dalam jajaran manajemen tingkat atasnya (top management level)

 terdapat banyak warga negara Indonesia, bahkan posisi puncak (President and

 Chairman of the Managing board) yang berkedudukan di Jakarta-pun dipegang

 oleh orang Indonesia sejak tahun 1966.

         Dengan struktur organisasi suatu perusahaan, maka dapat dilihat ruang

 lingkup kekuasaan, tugas-tugas dan hubungan yang satu dengan yang lainnya

 dalam organisasi PT. Chevron Pacific Indonesia sebagai perusahaan besar dengan

 struktur yang luas dan kompleks tetapi luwes, cepat tanggap agar dapat

 mengantisipasi setiap perubahan keadaan yang sangat mendesak sekalipun dan




(OHNWURQLND ,QVWUXPHQWDVL 8*0                                                  20
          37 &KHYURQ 3DFLILF ,QGRQHVLD

                                                 8QLYHUVLWDV *DGMDK 0DGD




 sekaligus memberi peluang yang besar bagi karyawan untuk berkembang serta

 berprestasi.




                 Gambar 2.8 Struktur Organisasi Secara Keseluruhan




                   Gambar 2.9 Struktur orgasnisasi eksekutif PT.CPI


(OHNWURQLND ,QVWUXPHQWDVL 8*0                                              21
          37 &KHYURQ 3DFLILF ,QGRQHVLD

                                               8QLYHUVLWDV *DGMDK 0DGD




         Gambar 2.10 Struktur organisasi Sumatra Light Operations PT.CPI




            Gambar 2.11 Struktur organisasi Sumatra Light South PT.CPI



(OHNWURQLND ,QVWUXPHQWDVL 8*0                                              22
          37 &KHYURQ 3DFLILF ,QGRQHVLD

                                                    8QLYHUVLWDV *DGMDK 0DGD




      Gambar 2.12 Struktur organisasi Divisi Reliability, Engineering & MTCE
                                         PT.CPI


 2.6.1   Pembagian Distrik

         Untuk pengolahan wilayah yang cukup luas, maka PT. CPI membagi

 daerah operasinya menjadi distrik-distrik yaitu:

         ¾ Distrik Jakarta

              Merupakan kantor pusat tempat kedudukan President & Chairman of

              The Managing Board untuk wilayah Indonesia

         ¾ Distrik Rumbai

              Merupakan kantor pusat yang menangani berbagai kegiatan untuk

              seluruh wilayah Sumatera.

         ¾ Distrik Minas

              Merupakan lapangan penghasilan minyak jenis Sumatran Light Crude

(OHNWURQLND ,QVWUXPHQWDVL 8*0                                                  23
          37 &KHYURQ 3DFLILF ,QGRQHVLD

                                                8QLYHUVLWDV *DGMDK 0DGD




         ¾ Distrik Duri

              Merupakan lapangan penghasil minyak terbesar bagi PT. CPI dan

              terdapatnya Duri Steam-Flat

         ¾ Distrik Dumai

              Merupakan pelabuhan bagi PT. CPI utnuk melakukan pengapalan

              minyak mentah untuk dieksport.

         ¾ Distrik Kalimantan

              Merupakan wilayah operasi baru bagi PT.CPI semenjak unocal

              bergabung dengan chevron.

 2.7     Kesejahteraan Karyawan

         Kesejahteraan karyawan sangat diperhatikan oleh PT. Chevron Pacific

 Indonesia karena dinilai sangat penting dalam upaya menjadikan karyawan

 semangat dan nyaman dalam berkerja sehingga berdampak positif bagi

 perusahaan dengan tercapainya target-target yang direncanakan PT. Chevron

 Pacific Indonesia. Kesejahteraan yang diberikan perusahaan berupa fasilitas,

 penghargaan akan kinerja, prestasi dan lain sebagainya.

         PT. Chevron Pacific Indonesia menyediakan banyak fasilitas untuk

 kesejahteraan karyawan dinataranya adalah :

         1. Sarana Perumahan

             Bagi karyawan yang telah berkeluarga akan tinggal di perumahan yang

             telah disediakan perusahaan dengan lokasi masih berada didalam

             wilayah perusahaan, sehingga dengan dekatnya lokasi kerja dengan

(OHNWURQLND ,QVWUXPHQWDVL 8*0                                                24
          37 &KHYURQ 3DFLILF ,QGRQHVLD

                                                    8QLYHUVLWDV *DGMDK 0DGD




             tempat tinggal akan memberikan kemudahan bagi karyawan untuk

             bekerja. Sedangkan untuk karyawan yang belum berkeluarga akan

             bertempat tinggal di wisma dengan fasilitas yang sangat baik.

         2. Sarana Peribadatan

             Perusahan juga menyediakan sarana peribadatan agar karyawan dapat

             beribadah dengan nyaman tanpa harus keluar dari wilayah operasional

             perusahaan. Berbagai sarana peribadatan yang disediakan adalah

             masjid    dan      gereja   yang   dibangun   pada    kompleks-kompleks

             perumahan.

         3. Sarana Pendidikan

             Perusahaan memnyediakan fasilitas pendidikan dari Taman Kanak-

             kanak, Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP) hingga

             Sekolah Menengah Umum (SMU) yang tersedia di berbagai distrik.

             Sekolah-sekolah ini tidak hanya diperuntukkan bagi masyarakat dan

             keluarga perusahaan saja, namun diperbolehkan juga bagi masyarakat

             umum untuk mengenyam pendidikan di sekolah-sekolah tersebut.

             Sarana pendidikan ini diatur oleh suatu yayasan milik perusahaan,

             yaitu Yayasan Pendidikan Cendana (YPC).

         4. Sarana Transportasi

             Untuk memudahkan karyawan dalam bekerja atau pun beraktivitas

             diluar pekerjaan, disediakan pula fasilitas transportasi gratis yang dapat

             digunakan oleh pegawai perusahaan beserta keluarga, mahasiswa kerja


(OHNWURQLND ,QVWUXPHQWDVL 8*0                                                       25
          37 &KHYURQ 3DFLILF ,QGRQHVLD

                                                  8QLYHUVLWDV *DGMDK 0DGD




             praktek (Practical Training) dan Commpany Bussines. Adapun jenis

             transportasi yang disediakan oleh perusahaan diantaranya adalah taksi,

             bus antar distrik hingga bus shopping. Tidak hanya transportasi dalam

             lingkungan perusahaan saja, disediakan pula tranportasi melalui udara

             bagi karyawan yang ingin berpergian ke Jakarta dengan pesawat

             Fokker 100 seperti yang ditunjukkan oleh gambar 2.11 berikut.




                         Gambar 2.13 Fasilitas transportasi PT.CPI

             Untuk keadaan darurat (emergency) perusahaan juga menyediakan alat

             transportasi menggunakan helikopter yang dapat di gunakan pada

             rumah sakit dalam lingkungan PT. Chevron Pacific Indonesia.

         5. Sarana Olahraga

             Perusahaan juga menyediakan sarana olah raga yang lengkap seperti

             kolam renang, lapangan sepak bola, golf, tennis, basket, volley,

             bowling, billiard, fitness, lapangan bulu tangkis dan tennis meja. Hal

             ini dikarenakan karena olah raga adalah salah satu kebutuhan untuk

             dapat menjaga kondisi tubuh agar tetap fit sehingga dapat berkerja

             dengan baik dan memberikan kontribusi yang besar bagi perusahaan.

         6. Sarana Kesehatan


(OHNWURQLND ,QVWUXPHQWDVL 8*0                                                   26
          37 &KHYURQ 3DFLILF ,QGRQHVLD

                                                  8QLYHUVLWDV *DGMDK 0DGD




              Kesehatan bagi karyawan dan keluarga juga mendapat perhatian lebih

              oleh perusahaan, hal ini terlihat dengan tersedianya klinik-klinik medis

              pada tiap-tiap distrik. Sehingga jika terjadi insiden baik yang dialami

              oleh karyawan, keluarga ataupun mahasiswa kerja praktek (Practical

              Training) dapat segera diberikan tindakan medis. Tidak hanya itu

              meskipun dalam kondisi sehat pun karyawan harus menjalanin general

              check up secara rutin guna mengetahui kondisi kesehatan yang dialami

              oleh karyawan.

         7. Sarana Rekreasi

              Secara psikologis manusia membutuhkan hiburan terlebih lagi atas

              kepenatan sebagai akibat pekerjaan yang dilakukan. Maka dari itu PT.

              Chevron Pacific Indonesia juga menyediakan berbagai sarana rekreasi

              dan hiburan bagi karyawan dan keluarga. Adapun fasilitas-fasilitas

              tersebut diantaranya adalah taman-taman bermain, auditorium, bar

              room, TV kabel, sanggar karyawan dan sanggar seni.

 2.8     Keselamatan Kerja

         PT. Chevron Pacific Indonesia sangat memperhatikan keselamatan dan

 kesehatan kerja (3K). Untuk mencapai sasaran tersebut, maka dibentuklah suatu

 departemen yang mengatasi masalah keselamatan dan kesehatan kerja, yaitu Fire

 and Safety Departement. Personal inti dari departemen ini sangat sedikit, namun

 seluruh karyawan PT. Chevron Pacific Indonesia dilibatkan dalam mencapai

 sasaranya.



(OHNWURQLND ,QVWUXPHQWDVL 8*0                                                      27
          37 &KHYURQ 3DFLILF ,QGRQHVLD

                                                8QLYHUVLWDV *DGMDK 0DGD




         Setiap tempat yang rawan kecelakaan diberi tanda peringatan dan

 beberapa tempat dikibarkan bendera keselamatan (safety flag). PT. Chevron

 Pacific Indonesia juga memberlakukan peraturan-peraturan yang mendukung 3K

 seperti kewajiban memasang safety belt bagi semua pengendara, penggunaan

 safety shoes dibeberapa tempat tertentu seperti lapangan, penggunaan penutup

 telinga di tempat peralatan yang mempunyai tingkat kebisingan tinggi dan

 sebagainya.

         Pertimbangan yang menyebabkan keselamtan kerja sangat diperhatikan

 adalah hal-hal berikut :

         1. Adanya Undang-undang antara lain:

                 a. Kecelakaan Nomor 33/1947 dan Nomor 1/1970

                 b. Undang-undang penimbunan dan pengangkutan minyak

         2. Peraturan keselamatan kerja di PT. Chevron Pacific Indonesia yang

             menetapkan wajib pencegahan kecelakaan sebagai salah satu bagian

             dari proses produksi.

         3. Kecelakaan menimbulkan kerugian, baik terhadap karyawan dan

             keluarganya maupun bagi perusahaan. Maka dari itu berfikir dan

             bertindak sesuai dengan syarat keamanan adalah satu tindakan yang

             dapat memperkecil terjadinya kecelakaan.

         Prinsip utama PT. Chevron Pacific Indonesia dalam hal mencegah

 kecelakaan kerja yaitu:




(OHNWURQLND ,QVWUXPHQWDVL 8*0                                              28
          37 &KHYURQ 3DFLILF ,QGRQHVLD

                                                  8QLYHUVLWDV *DGMDK 0DGD




         1.    Lakukan dengan selamat atau tidak sama sekali (Do It Safely or Not at

               All).

         2.    Selalu ada waktu untuk melakukan dengan benar (there is always time

               to do it right)



         Adapun beberapa peraturan dan himbauan untuk keselamatan yang

 dirangkum dalam komponen TENETS, FSWP, dan BBS yang dapat diuraikan

 sebagai berikut:

 2.8.1. Tenets

         Tenets merupakan penjelasan akan nilai-nilai dan prinsip yang berlaku

 bagi semua pegawai (manajemen, bukan manajemen, kontraktor) yang berisi

 ringkasan hal-hal yang beresiko tinggi dari PT. Chevron Pacific Indonesia yang

 apabila seseorang pegawai mengoperasikan tidak sesuai/tidak mengikutinya, akan

 dapat/mungkin mengakibatkan suatu masalah. Oleh karena itu tenets merupakan

 suatu kewajiban bagi semua pegawai untuk bertindak secepatnya. Sehingga tenets

 bertujuan untuk melindungi orang, lingkungan, dan peralatan yang mengacu pada

 dua prinsip utama dan berdasarka pada sepuluh nilai.

 Dua prinsip utama tersebu yaitu:

         1. Do it safely or not at all (lakukan dengan aman atau tidak sama sekali)

        2. There’s always time to do it right (selalu ada waktu untuk

              melakukannya dengan benar)

 Sepuluh nilai tersebut yaitu:

         1. Beroperasi dalam batas-batas desain dan lingkungan.



(OHNWURQLND ,QVWUXPHQWDVL 8*0                                                     29
          37 &KHYURQ 3DFLILF ,QGRQHVLD

                                                    8QLYHUVLWDV *DGMDK 0DGD




          2. Beroperasi dalam keadaan yang aman dan terkendali.

          3. Memastikan alat-alat pengaman terpasang dan berfungsi.

          4. Mengikuti praktek dan prosedur kerja yang selamat.

          5. Memenuhi atau melebihi kebutuhan pelanggan.

          6. Menjaga keutuhan sistim sesuai peruntukannya.

          7. Mentaati semua peraturan yang berlaku.

          8. Menangani keadaan yang tidak normal.

          9. Mengikuti prosedur yang tertulis untuk pekerjaan yang berisiko tinggi

             atau yang tidak biasa.

          10.Melibatkan orang-orang yang tepat dalam pengambilan keputusan yang

             mempengaruhi prosedur dan peralatan.

 Oleh karena itu Tenets terbagi kedalam sepuluh kategori, yaitu sebagai berikut:

 Tenets #1       : Beroperasi dalam batas-batas desain dan lingkungan.

 Tujuan          : Mengurangi resiko kecelakaan, pencemaran lingkungan dan

 kegagalan kerusakan peralatan           dengan mengikuti batas operasi yang sudah

 ditentukan.

 Tenet #2        : Beroperasi dalam keadaan yang aman dan terkendali

 Tujuan          : Setiap pegawai dan kontraktor diharapkan bekerja dengan selamat

 dan mencari, mengidentifikasi dan membetulkan kondisi/tindakan yang tidak

 aman dan tidak terkendali itu dengan segera.

 Tenet #3        : Memastikan alat-alat pengaman terpasang dan berfungsi




(OHNWURQLND ,QVWUXPHQWDVL 8*0                                                      30
          37 &KHYURQ 3DFLILF ,QGRQHVLD

                                                    8QLYHUVLWDV *DGMDK 0DGD




 Tujuan          : Selalu memasang alat pengaman dimana semestinya. Bila tidak

 berfungsi , lakukan usaha pengamanan dan perbaiki situasi ini dengan sesegera

 mungkin.

 Tenet #4        : Mengikuti praktek dan prosedur kerja yang selamat

 Tujuan          : Praktek kerja yang selamat adalah sesuatu yang sudah pasti (cast

 in concrete) supaya seorang pegawai tidak perlu harus berpikir lagi mengapa

 semua langkah-langkah ini perlu.

 Tenet #5        : Memenuhi dan melebihi kebutuhan pelanggan

 Tujuan          : Setiap pegawai harus bertanggung jawab dan berkewajiban akan

 kualitas dari product dan jasa-jasa yang diberikan/dihasilkan

 Tenet #6        :Menjaga       keutuhan   sistem   yang   terdedikasi    yang   sesuai

 peruntukannya

 Tujuan          : Memelihara keutuhan sistem produksi dan sistem penunjangnya

 Tenet #7        : Mentaati semua peraturan yang berlaku

 Tujuan          :Diharapkan mencapai 100% pemenuhan di dalam melakukan

 pelaporan

 Tenet #8        : Menangani semua keadaan yang tidak normal

 Tujuan          :Mengidentifikasi kondisi yang abnormal, evaluasi resiko dan

 segera melakukan perbaikan.

 Tenet #9        : Mengikuti prosedur yang tertulis untuk pekerjaan yang beresiko

 tinggi atau yang tidak biasa




(OHNWURQLND ,QVWUXPHQWDVL 8*0                                                       31
          37 &KHYURQ 3DFLILF ,QGRQHVLD

                                                      8QLYHUVLWDV *DGMDK 0DGD




 Tujuan          :     Untuk    memastikan operasi       yang konsisten         dan   stabil,

 revisi/pakai/buat suatu prosedur tertulis yang jelas untuk semua operasi tidak

 rutin, kritis, dan yang kompleks

 Tenet #10       : Melibatkan orang-orang yang tepat dalam pengambilan keputusan

 yang mempengaruhi prosedur dan peralatan

 Tujuan          : Keputusan-keputusan dibuat oleh orang-orang                  yang cukup

 pengetahuannya dan berdasarkan data dan informasi terakhir / paling akurat



 2.8.2. Komponen FSWP

          FSWP (Fundamental Safe Work Practices) mempunyai dua pengertian

 dasar. Safe Work Practices sendiri yaitu Segala praktek/aktifitas yang

 berhubungan dengan pekerjaan di tempat kerja yang mengikuti peraturan

 keselamatan umum dan berperilaku sebagai pekerja yang selamat dan

 Fundamental Safety adalah Dasar-dasar Keselamatan di CPI yang terdiri atas

 Access     Control,    Work     Permit,   Personal     Protective   Equipment        (PPE),

 Lockout/Tagout (LOTO), Standard Operating Procedure (SOP), Job Safety

 Analysis (JSA), Material Safety Data Sheet (MSDS) dan Housekeeping.

          Jadi FSWP merupakan peraturan keselamatan untuk untuk segala hal atau

 kegatan aktivitas yag berhubungan dengan pekerjaan ketika berada di tempat kerja

 yang mencakup Access Control,Work Permit, PPE, LOTO, SOP, JSA, MSDS,

 dan House Keeping seperti yang terlihat pada gambar beikut :




(OHNWURQLND ,QVWUXPHQWDVL 8*0                                                             32
          37 &KHYURQ 3DFLILF ,QGRQHVLD

                                               8QLYHUVLWDV *DGMDK 0DGD




                      Gambar 2.14. Sistem kerangka kerja FSWP

 Access Control

         Merupakan suatu sistem keamanan yang berfungsi untuk menjamin

 keabsahan orang-orang yang memiliki kewenangan dan alasan yang jelas yang

 terkait dengan operasi dan bisnis sehingga mendapatkan ijin dan memahami serta

 memenuhi persyarataan yang ditentukan untuk dapat masuk kedalam fasilitas

 operasi sehingga dapat memasuki dan atau bekerja dalam fasilitas. Hal ini

 dimaksudkan agar keselamatan dan keamanan operasi fasilitas dan orang-orang

 didalamnya dapat terjamin.



 General Work Permit (GWP)

         Merupakan suatu bentuk komunikasi diantara kelompok kerja lintas fungsi

 disuatu tempat kerja dalam melakukan pekerjaan-pekerjaan atau aktivitas tidak

 rutin yang berfungsi untuk mengingatkan pekerja akan bahaya yang mungkin

 akan timbul dan untuk memastikan bahwa pekerjaan tersebut aman untuk

 dilakukan.




(OHNWURQLND ,QVWUXPHQWDVL 8*0                                                33
          37 &KHYURQ 3DFLILF ,QGRQHVLD

                                                 8QLYHUVLWDV *DGMDK 0DGD




                                Gambar 2.15 Prosedur GWP



         Sebagaimana yang terlihat pada prosedur GWP di atas, pertamakali

 periksa apakah pekerjaan dilaksanakan oleh pegawai yang tidak biasa

 mengoperasikan fasilita tersebut. Jika ya maka diperlukan GWP, namun jika tidak

 periksa kembali apakah pekerjaan jarang dilakukan dan mempunyai resiko tinggi.

 Jika ya maka diperlukan GWP, namun jika tidak periksa kembali apakah

 pekerjaan tersebut termasuk kerja panas, masuk ruang tertutup, kerja di ketinggian

 atau kerja beresiko. Jika ya maka perlu GWP, namun jika tidak periksa kembali.

 Apabila pekerjaan tersebut tercantum dalam hal 46 GWP guidelines, atau

 termasuk pekerjaan baru (bulir 3.3 dn 4.7 pada GWP guidelines). Jika ya maka

 perlu GWP, jika tidak diperiksa sekali lagi apakah pekerjaan melibatkan resiko




(OHNWURQLND ,QVWUXPHQWDVL 8*0                                                   34
          37 &KHYURQ 3DFLILF ,QGRQHVLD

                                                 8QLYHUVLWDV *DGMDK 0DGD




 yang tidak rutin/tidak biasa?Jika ya maka perlu GWP, namun jika tidak lakukan

 sebagaimana kerja rutin.



 Personal Protective Equipment (PPE):

         Merupakan alat perlindungan diri yang wajib dipakai semua pegawai,

 mitra kerja, dan tamu.yang berada di semua fasilitas operasi PT Chevron Paific

 Indonesia. PPE bertujuan untuk melindugi pegawai dari bahaya yang ada di

 lapangan.



 Standard Operating Procedure (SOP)

         Merupakan suatu aturan atau langkah-langkah yang harus dilakukan

 seseorang pegawai dalam melakukan suatu pekerjaan.



 Lock Out Tag Out (LOTO)

         Merupakan prosedur untuk melindungi orang yang sedang bekerja, atau

 berada disekitar mesin, instalasi listrik atau fasilitas proses produksi yang sedang

 diperbaiki atau dalam perawatan dengan cara mengisolasi energi berbahaya atau

 penguncian, pemasangan pengaman dan label pada sumber-sumber energi yang

 dapat mencederai seseorang.

         Loto merupakan persyaratan minimum yang harus diterapkan pada seluruh

 fasilitas PT. CPI apabila pegawai PT. CPI atau mitra kerjanya melakukan

 pekerjaan pada tempat kerja di mana pelepasan energi berbahaya sangat mungkin

 dapat terjadi.



(OHNWURQLND ,QVWUXPHQWDVL 8*0                                                     35
          37 &KHYURQ 3DFLILF ,QGRQHVLD

                                               8QLYHUVLWDV *DGMDK 0DGD




 Material Safety Data Sheets (MSDS)

         Merupakan jaminan bahwa bahaya bahan kimia dan fisik yang ada di

 tempat kerja, dan cara penanganannya dikomunikasikan secara baik kepada

 pegawai dan mitra kerja sehingga baik pegawai dan mitra kerja dapat bekerja

 dengan selamat dalam menggunakan bahan tersebut.

 House Keeping

         Merupakan proses untuk membuat keadaan bersih, rapi, dan teratur, agar

 dapat menghilangkan kemungkinan cedera dan kebakaran, mencegah pemborosan

 energi, mengoptimalkan pemanfaatan ruangan, membantu pengendalian limbah

 dan kerusakan asset, menjamin kerapian tempat kerja, mendorong kebiasaan kerja

 yang lebih baik, dan mencerminkan tempat kerja yang dikelola dengan baik.

         PT. Chevron Pacific Indonesia berhasil menerapkan FSWP dengan baik.

 Dari penerapan pada tahun 2003 FSWP telah berhasil menurunkan angka laju

 kecelakaan industri TRI (Total Record Injuries) dan LTI (Lost Time Injuries).

 Dalam grafik, penurunan laju kecelakaan industri di PT. Chevron Pacific

 Indonesia digambarkan oleh Gambar 2.16 berikut :




         Gambar 2.16. Grafik penurunan laju angka kecelakaan industry di PT. CPI
                               (dalam 200.000 jam kerja)

(OHNWURQLND ,QVWUXPHQWDVL 8*0                                                36
                37 &KHYURQ 3DFLILF ,QGRQHVLD

                                                                                                         8QLYHUVLWDV *DGMDK 0DGD




 2.8.3. Behaviour Based Safety (BBS)

           BBS merupakan suatu perilaku yang dapat menyebabkan tidak selamat.

 BBS dapat berbentuk form yang berfungsi sebagai laporan atas kepedulian

 terhadap lingkungan antara pgawai dengan cara memberi peringatan pada

 lingkungan jika bekerja dapat menyebabkan tidak selamat. BBS merupakan

 bentuk implementasi dari FSWP.
                                                                                                        O bservasi berkualitas adalah observasi yang lengkap
       C HEVRO N PACIFIC IN DO NESIA                                                                    O bservasi berkualitas m enghasilkan rencana kerja yang baik
                                                                                                         Item #                         Behavior Desription                         Safe      At Risk
       B BS Kartu O bservasi                                                                              8.0     Alat Pelindung D iri (APD )
                                                                                                          8.1       Pelindung kepala
                                                                                                          8.2       Pelindung m ata dan wajah
       Inform asi O bserv er                                                                              8.3       Pelindung pendengaran
        Tanggal:             10-M ar-08          N am a / CAI:       PPSI                                 8.4       Pelindung pernafasan
        O bservasi diri sendiri?                       Ya                                                 8.5       Pelindung tangan dan lengan
                                                                                                          8.6       Pelindung jatuh
       Inform asi O bserv ee (yang d iobservasi)                                                          8.7       Pakaian pelindung
        Jum lah orang yang diobservasi:                          1                                        8.8       Alat m engam bang personal
        O rganisasi:               M FE                                                                   8.9       Pelindung kaki
        Lokasi           Area-10                                                                          9.0     Driving
        Perusahaan                           C hevron                       K ontraktor                   9.1       Perencanaan perjalanan                                           V
        Perusahaan Kontraktor:                                                                            9.2       Pre-Trip Inspection dan Seat Belt                                V
                                                                                                          9.3       Berkendara pada kecepatan yang s esuai                           V
       Item #                       B ehavior D escription                            Safe   At Risk      9.4       Jarak iring                                                      V
         1.0    Posisi Badan                                                                              9.5       Mengerem                                                         V
         1.1      M enghindari "Line of Fire"                                                             9.6       Berpindah jalur                                                  V
         1.2      B erjalan/Bergerak dengan pandangan ke arah gerakan                                     9.7       Menjaga pandangan dan pengam atan                                V
         1.3      M enjaga m ata pada pekerjaan                                                           9.8       Mem undurkan kendaraan                                                      V
         1.4      M enjaga badan dan bagiannya diluar posisi terjepit                                     10.0    Operasi Kelautan
         1.5      N aik/turun                                                                             10.1      Persiapan perjalanan kapal
         2.0    M enggunakan badan                                                                        10.2      Menggerakk an/m em undurkan k apal
         2.1      M engangk at/m enurunkan/m enekan/m enarik                                              10.3      Mem asuki pers im pangan
         2.2      M enghindar dari m em untir                                                             10.4      Docking
         2.3      M enggapai dalam jangkauan                                                              11.0    Observasi perilaku yang lain
         2.4      M enanggapi resiko ergonom i industri                                                   11.1      Lain-lain
         3.0    Perkakas dan Peralatan
         3.1      M em ilih dan m enggunakan perkakas/peralatan
         3.2      M enggunakan Pelindung/Barikade/Alat peringatan
         4.0    Prosedur                                                                               Kom entar-kom entar Observasi
         4.1      P ersiapan Kerja dan JH A (Job Hazard Analys is - JSA)                                S afe Behav ior / Perilaku selam at
         4.2      M engikuti prosedur                                                                   B ehavior Item #
         4.3      Isolasi Energi (Lock-O ut/Tag-O ut)
         4.4      M engerjak an H ot-W ork
         4.5      M em asuki area C onfined Space
         4.7      K om unikasi k e rekan kerja                                                          At-Risk Behavior / P erilaku Beresiko
         5.0    Area kerja                                                                              B ehavior Item #:
         5.1      B ekerja pada posisi seim bang                                                        K etika (Saat kegiatan dilakukan):
         5.2      M em bersihkan/M enyim pan Peralatan/Perkakas (h.keeping)
         5.3      B ekerja di Lingkungan dengan C ahaya yang c ukup
         6.0    Office Ergonom ics                                                                      D item ukan (Jelaskan perilaku beresiko):
         6.1      M elak ukan Istirahat Berk ala (didukung oleh W orkPace)
         6.2      P ostur Leher dan Punggung
         6.3      P ostur Saat Menggunakan Telepon                                                      Sebab/alasan/karena (Alasan m enjelaskan perilaku beresiko):
         6.4      P enyangga Punggung
         6.5      P ostur Pundak                                                                        Saran-saran / m encoba (Diskusi solusi & keinginan untuk m encoba
         6.6      P osis i Pergelangan dan Tangan                                                       saran-saran):
         6.7      M em egang/Menggerakkan Mouse
        6.10      M engenali dan Melaporkan Ketidak nyam anan
         7.0    Pem eliharaan Lingkungan                                                                Setuju perilaku terjadi?                                 9 C ek jika ya
         7.1      P encegahan Tum pahan                                                                 Setuju perilaku beresiko?                                9 C ek jika ya
                                                                                                                                                                                  Non-
         7.2      P ersiapan untuk Pem bersihan Tum pahan                                               Tindak lanjut Steering Com m ittee?                      9 C ek jika ya   enabled/t
         7.3      M enangani Sam pah                                                                    Perilaku selam at:            Ena bled/m u ngkin   D ifficult/S ukar

                                                                                                       Inform a si tam ba ha n m e ng enai proses BBS IBU, silakan a kses:
                                                                                                           h ttp://ssg.ib u.chevron .net/oehes/o esp_bbs.asp




                                          Gambar 2.17 Formulir Kartu observasi BBS.




(OHNWURQLND ,QVWUXPHQWDVL 8*0                                                                                                                                                                   37
          37 &KHYURQ 3DFLILF ,QGRQHVLD

                                                   8QLYHUVLWDV *DGMDK 0DGD




                                         BAB III

                                LANDASAN TEORI



 3.1.    Pengertian Pengendalian Proses

         Pengendalian proses merupakan suatu usaha untuk menjaga proses di

 fasilitas yang dikendalikan bekerja sesuai dengan operasi yang telah ditentukan,

 berada pada nilai yang aman baik menggunakan proses pengendalian manual

 maupun pengendalian automatik.

         Pada sistem pengendalian terdapat berbagai istilah-istilah yang digunakan

 untuk menyamakan persepsi dalam berkomunikasi. Beberapa istilah yang lazim

 dipergunakan adalah sebagai berikut :


 •   Besaran proses (Proses Value/PV), adalah sesuatu yang dimiliki suatu media

     yang nilainya dapat mempengaruhi keadaan dan sifat media tersebut dan/atau

     media yang lain.

     Dalam proses industri biasanya ada empat proses yang keadaan dan nilainya

     dikendalikan untuk digunakan sebagai data pada kegiatan pengendalian

     jalannya proses, yaitu :

     1. Tekanan (Pressure, P).

     2. Suhu (Temperature, T).

     3. Aliran (Flow, F).

     4. Tinggi permukaan (Level, L).




(OHNWURQLND ,QVWUXPHQWDVL 8*0                                                  38
          37 &KHYURQ 3DFLILF ,QGRQHVLD

                                                    8QLYHUVLWDV *DGMDK 0DGD




 •   Set Value / Set Point (SP), adalah besaran process variable yang dikehendaki

     dan digunakan sebagai acuan pada kegiatan pengendalian.

 •   Manipulated Variable, adalah input suatu proses yang dapat dimanipulasi atau

     diubah-ubah besarannya agar process variable atau controlled variable

     besarnya sama dengan set point.

 •   Proses (Process), adalah tatanan peralatan yang mempunyai suatu fungsi

     tertentu.

 •   Disturbance/Load, adalah merupakan besaran lain, selain manipulated

     variable yang dapat menyebabkan berubahnya controlled variable.

 •   Sensing Element (Sensor), merupakan bagian paling awal dari suatu sistem

     pengukuran (mesurement system), yang menerima variabel proses dan

     merubahnya menjadi suatu variabel yang lain. Pada setiap variabel proses

     mempunyai sensor yang berbeda pula.

 •   Transmitter, adalah alat yang berfungsi untuk membaca sinyal yang dihasilkan

     oleh sensor dan mengubahnya menjadi suatu sinyal standar yang dapat

     dimengerti oleh Controller.

     Sinyal standar yang dihasilkan adalah :

     -   Sinyal standar pneumatic        : 3 – 15 psi.

     -   Sinyal standar electric : 1 – 5 Vdc dan 4 – 20 mA.

 •   Measurement Variable / Measured Variable, adalah sinyal keluaran dari

     transmitter yang merupakan cerminan dari sinyal sistem pengukuran.

 •   Error, adalah merupakan selisih antara set point (SP) dengan process variable

     (PV).


(OHNWURQLND ,QVWUXPHQWDVL 8*0                                                  39
          37 &KHYURQ 3DFLILF ,QGRQHVLD

                                                  8QLYHUVLWDV *DGMDK 0DGD




     Bila SP > PV, maka error akan menjadi positip.

     Bila SP < PV, maka error akan menjadi negatip.

 •   Offset adalah merupakan error yang nilainya tetap, hal ini disebabkan oleh

     sistem pengendalian sudah tidak mampu lagi mengupayakan agar nilai PV

     menjadi sama dengan SP.

 •   Controller, adalah elemen pengganti peranan manusia yang mengerjakan tiga

     dari empat tahap langkah sistem pengendalian, yaitu membandingkan set point

     dengan process variable, menghitung berapa banyak koreksi yang perlu

     dilakukan,    dan    mengeluarkan   sinyal    koreksi   sesuai    dengan   hasil

     perhitungannya.

 •   Final control element, adalah merupakan elemen paling akhir dari suatu

     sistem pengendalian proses yang berfungsi untuk mengubah process variable

     dengan cara memanipulasi besarnya manipulated variable berdasarkan

     perintah dari controller.



 3.2.    Jenis-Jenis Pengendalian Proses

         Jenis pengendalian proses dibagi dua macam, yaitu :

         - Pengendalian oleh manusia (manual control)

         - Pengendalian otomatis (automatic control)



 3.2.1. Pengendalian oleh manusia (manual control)

         Pada pengendalian secara manual memanfaatkan ketelitian dari operator

 untuk mengendalikan suatu besaran proses. Jika harga proses tidak sesuai dengan


(OHNWURQLND ,QVWUXPHQWDVL 8*0                                                     40
          37 &KHYURQ 3DFLILF ,QGRQHVLD

                                                 8QLYHUVLWDV *DGMDK 0DGD




 yang dikehendaki oleh operator, maka operator tersebut akan melakukan

 adjustemet sebagai koreksi terhadap besaran proses tersebut sampai proses

 berjalan stabil dan hal ini dilakukan berulang-ulang selama kondisi proses tidak

 sesuai dengan yang dikehendali oleh operator. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat

 pada gambar 3.1. berikut ini.




                 Set
                Point ?




                                Gambar 3.1. Manual Control



         Pada gambar di atas terlihat bahwa seorang operator sedang mengamati

 variabel temperatur pada sebuah dapur (furnace), apabila hasil penunjukan pada

 temperatur indikator (temperature gauge) lebih besar dari         temperatur yang

 dikehendaki oleh operator, maka operator tersebut akan menambah jumlah aliran

 dengan menambah bukaan valve, begitu juga sebaliknya apabila hasil pembacaan

 pada temperatur gauge lebih kecil dari temperatur yang dikehendaki maka

 operator akan mengurangi jumlah aliran dengan jalan mengecilkan bukaan valve.

 Dilihat dari segi ekonomis, pengendalian secara manual tentu lebih murah

 dibandingkan dengan pengendalian secara otomatis karena instrumen yang

 dibutuhkan lebih sederhana.



(OHNWURQLND ,QVWUXPHQWDVL 8*0                                                  41
          37 &KHYURQ 3DFLILF ,QGRQHVLD

                                                   8QLYHUVLWDV *DGMDK 0DGD




 3.2.2. Pengendalian otomatis (automatic control)

         Pada prinsipnya pengendalian otomatis sama dengan pengendalian

 manual. Pada pengendalian otomatis, peranan dari operator digantikan oleh suatu

 alat yang disebut pengendali (controller). Jadi yang bertugas menambah dan

 mengurangi bukaan valve tidak lagi dikerjakan oleh operator tetapi atas perintah

 controller, operator hanya bertugas memberikan harga ke controller (set

 point/SP). Oleh karena itu pengendalian otomatis pada valve harus dilengkapi

 dengan actuator sehingga unit valve tersebut disebut dengan control valve.

 Apabila terjadi ketidaksesuai harga yang yang terdapat pada prosesdengan nilai

 yang diinginkan (SP) maka controller akan membuka atau menutup sesuai dengan

 kondisi operasi yang sedang berjalan (process variable = PV). Untuk lebih

 jelasnya dapat dilihat pada gambar 3.2 berikut.




                            Gambar 3.2. Pengendalian otomatis



 3.3.    Elemen-Elemen dalam Pengendalian Proses

         Agar sistem pengendalian suatu proses dapat berjalan sesuai dengan yang

 diinginkan, maka minimal pada sistem tersebut harus mempunyai komponen-



(OHNWURQLND ,QVWUXPHQWDVL 8*0                                                 42
           37 &KHYURQ 3DFLILF ,QGRQHVLD

                                                          8QLYHUVLWDV *DGMDK 0DGD




 komponen pokok seperti elemen proses, elemen pengukuran (sensing elemen dan

 transmitter), elemen controller (control unit), dan final control element (control

 valve).

           Untuk melihat letak masing-masing elemen pengendalian digunakan

 diagram kotak. Pada gambar 3.3. ditampilkan diagram kotak sistem pengendalian

 secara otomatis. Di dalam diagram kotak sistem pengendalian otomatis terdapat

 elemen proses, elemen pengukuran (sensing element dan transmitter), element

 controller (control unit) dan final control elemen (control valve).


                                                                                        Load
                                                  Manipulated Variable

                +                                                                   -
        Set               error    Control            Control
                                                                         Proses
        Point                       Unit               Valve
                -                                                                   +
                      Controller                                                    Controlled
                                                                                    Variable
                     (Process Variable)

                                                                     Sensing
                                    Transmitter
                                                                     Element



                         Gambar 3.3. Diagram kotak sistem pengendalian


           Pada gambar 3.3. tampak bahwa bagian controller mempunyai summing

 junction dengan tanda positif-negatif (+/-), dimana disini terjadi proses

 membandingkan antara nilai process variabel dengan set point. langkah

 membandingkan dilakukan dengan mengurangi besaran set point dengan nilai

 process variable. Hasilnya adalah sinyal yang disebut error.


 3.3.1. Sensing Element

           Sensing element merupakan bagian paling awal dari suatu sistem

 pengukuran (mesurement system), yang menerima variabel proses dan

(OHNWURQLND ,QVWUXPHQWDVL 8*0                                                                  43
          37 &KHYURQ 3DFLILF ,QGRQHVLD

                                                     8QLYHUVLWDV *DGMDK 0DGD




 merubahnya menjadi suatu variabel yang lain seperti tekanan, temperatur, atau

 flow menjadi sinyal yang dapat ditransmisikan ke kontroler, rekorder, atau

 indikator. Nama lain juga disebut elemen sensing atau detektor.



 3.3.2. Transmitter

         Transmitter merupakan secondary element dari suatu loop pengendalian

 yang berfungsi mengubah besaran phisis yang dihasilkan oleh sensing element

 (transducer) ke dalam signal standard kemudian ditransmisikan ke peralatan

 instrument yang lainnya sebanding dengan besara phisis yang diterimanya.

 Signal standard yang dihasilkan transmitter adalah :

    - Pneumatic: 3 ~ 15 psi atau 0,2 ~ 1,0 kg/cm2

    - Electric    : 4 ~ 20 mA DC dan 1 – 5 V DC

 Peralatan instrument penerimna signal dari transmitter antara lain :

    − Indicator       :   adalah      peralatan   instrument   yang    dapat   langsung

                          menunjukkan hasil pengukuran besaran proses yang sedang

                          berjalan.

    − Recorder        : adalah peralatan instrument selain dapat menunjukkan hasil

                          pengukuran besaran proses yang sedang berjalan juga dapat

                          mencatat hasil pengukuran besaran proses yang sedang

                          berjalan maupun besaran proses yang sudah berjalan.

    − Controller      : adalah peralatan instrument yang mengatur jalanya proses

                          agar suatu besaran proses tetap berada pada posisi yang

                          diinginkan (Set Point) dan akan memberikan koreksi



(OHNWURQLND ,QVWUXPHQWDVL 8*0                                                       44
          37 &KHYURQ 3DFLILF ,QGRQHVLD

                                                    8QLYHUVLWDV *DGMDK 0DGD




                         apabila ada perbedaan besaran proses yang diatur dengan

                         set point-nya sesuai dengan aksi dan mode control-nya.

 Jenis-jenis transmitter dapat dibedakan menjadi 2 (dua) yaitu :

    -    Blind transmitter (standard transmitter) adalah transmitter yang tidak

                         dilengkapi dengan tampilan hasil pengukuran, tetapi hanya

                         melakukan pengukuran besaran phisis yang diterimanya dan

                         mentransmisikan hasil pengukuran ke dalam signal standar

                         sebanding dengan besaran phisis yang diterimanya.

    - Indicator Transmitter      adalah      transmitter     disamping        melakukan

                         pengukuran       besaran   phisis   yang    diterimanya    dan

                         mentransmisikan hasil pengukuran ke dalam signal standar

                         sebanding dengan besaran phisis yang diterimanya juga

                         dapat menunjukkan hasil pengukurannya.



 3.3.3. Element Controller

         Controler merupakan peralatan instrument yang mengatur jalanya proses

 agar suatu besaran proses tetap berada pada posisi yang diinginkan (Set Point) dan

 akan memberikan koreksi apabila ada perbedaan besaran proses yang diatur

 dengan set point-nya sesuai dengan aksi dan mode control-nya. Controler sangat

 penting pada sistem kontrol otomatis, karena controller akan merespon nilai

 proses variabel dan posisi control valve. Kontroler secara terus menerus

 membandingkan antara nilai proses variabel (biasanya sinyal output dari

 transmiter) dengan seting set point.



(OHNWURQLND ,QVWUXPHQWDVL 8*0                                                       45
          37 &KHYURQ 3DFLILF ,QGRQHVLD

                                                 8QLYHUVLWDV *DGMDK 0DGD




         Sinyal set point dapat diatur secara manual oleh operator atau melalui

 komputer atau melalui instrumen lain. Jika proses variabel menyimpang dari nilai

 set point, kontroler akan beraksi mengkoreksi dengan cara merubah besarnya

 sinyal output yang menuju ke elemen kontrol akhir atau control valve. Dengan

 adanya reposisi control valve akan merubah aliran manipulated variable yang

 akan membawa proses variabel untuk kembali menuju ke set pointnya.

         Kontroler     secara     normal   dilengkapi   dengan     transfer   switch

 otomatis/manual, yang memungkinkan operator merubah proses dari otomatis

 menuju ke manual atau sebaliknya dengan delay atau waktu tunda seminimal

 mungkin.

 Output Controller pada suatu pengendalian proses tergantung kepada :
     • Aksi kontrol (Control action),
     • Mode kontrol (Control mode),


 Aksi Kontroler (Controller action)

 Controller action adalah merupakan aksi dari kontrol yang dapat diubah-ubah dari

 direct menjadi reverse atau sebaliknya dan ditentukan sesuai dengan

 kebutuhannya untuk membentuk metode loop pengaturan menjadi sistem tertutup

 dengan feed back negative.

 •    Pada controller dengan aksi Direct, adalah merupakan aksi controller apabila

      terjadi kenaikan sinyal pengukuran (PV), maka menyebabkan kenaikan sinyal

      output sedangkan apabila terjadi kenaikan set point (SV) maka output akan

      turun dengan menghasilkan kesalahan (error) sebesar PV – SV.




(OHNWURQLND ,QVWUXPHQWDVL 8*0                                                    46
            37 &KHYURQ 3DFLILF ,QGRQHVLD

                                                  8QLYHUVLWDV *DGMDK 0DGD




 •    Pada controller dengan aksi Reverse, adalah merupakan aksi controller

      apabila terjadi kenaikan sinyal pengukuran (PV), maka menyebabkan

      penurunan sinyal output sedangkan apabila terjadi kenaikan set point (SV)

      maka output akan naik dengan menghasilkan kesalahan (error) sebesar SV –

      PV.

 Mode Kontroler (Controller Mode)

         Control mode adalah tata cara controller dalam menghasilkan sinyal output

         sebagai tanggapan atas kesalahan yang dideteksinya.

         Mode kontroler antara lain :

         1. Model kontroler Proportional (P Controller),

         2. Model kontroler Proportional + Integral (PI Controller),

         3. Model Kontroler Proportional + Derivative (PD Controller),

         4. Model Kontroler Proportional + Integral + Derivative (PID Controller).



     •    Proportional Controller (P Controller)

          Proportional controller menghasilkan perubahan output sebanding dengan

          error. Unit proportional (P) banyak digunakan, baik secara tersendiri

          maupun dalam kombinasi dengan mode Integral (I) dan Derivative (D).

          Gain pada unit proportional controller besarnya tetap, linear di semua

          daerah kerja dan tidak tergantung pada fungsi waktu. Dalam prakteknya

          istilah gain jarang digunakan

          Secara matematik output controller ini ditulis sebagai berikut :

                     M     = ∆M + Mo



(OHNWURQLND ,QVWUXPHQWDVL 8*0                                                    47
          37 &KHYURQ 3DFLILF ,QGRQHVLD

                                                   8QLYHUVLWDV *DGMDK 0DGD




         dimana :

         M       = controller output

         ∆M      = perubahan output

                 = Kc . e

                     100
                 =       . (PV – SV) Æ untuk aksi Direct controller, dan
                     PB

                     100
                 =       . (SV – PV) Æ untuk aksi Reverse controller
                     PB

         Kc      = sensitivitas kontroler (controller gain).

         Mo      = Output controller mula-mula atau Bias, adalah nilai yang

                     dibutuhkan untuk menentukan bukaan valve pada operasi

                     normal proses yaitu dimana nilai PV sama dengan nilai SV atau

                     e = 0. Biasanya nilai bias adalah 50%.

                     Biasanya bias diperlukan untuk mempertahankan output pada

                     saat error sama dengan nol. Salah satu cara untuk

                     menghilangkan offset adalah dengan menyetel bias agar

                     sedekat mungkin       dengan load. Tetapi cara ini tidak dapat

                     direkomendasikan, karena tidak semua controller mempunyai

                     fasilitas adjustable bias.

         Secara block diagram dapat digambarkan sebagai berikut :



                                   e
                                             Kc
                                                     Output


                  Gambar 3.4. Block diagram Proportional Controller


(OHNWURQLND ,QVWUXPHQWDVL 8*0                                                   48
          37 &KHYURQ 3DFLILF ,QGRQHVLD

                                                       8QLYHUVLWDV *DGMDK 0DGD




         Pengendali proportional akan selalu meninggalkan error yang tetap pada

         saat proses dalam keadaan steady state atau disebut dengan offset.

     •   Proportional plus Integral Controller (P+I Controller)

         Controller dengan mode integral akan menghasilkan perubahan output

         sebanding dengan integral waktu dari error. Elemen integral ini tidak

         dibangun secara sendirian akan tetapi dirangkai dengan elemen

         proportional sehingga ada interaksi diantara keduanya.

         Sifat dari pengendali Integral (I) yang tidak mengeluarkan output sebelum

         selang waktu tertentu, mengakibatkan pengendali Integral                  menjadi

         memperlambat respon walaupun pada pengendali ini tidak meninggalkan

         offset. Untuk memperbaiki lambatnya respon, umumnya                     pengendali

         Integral dipasang paralel dengan pengendali Proportional.

         Secara block diagram dapat digambarkan sebagai berikut :



                                               Kc
                                                              +        Output
                SV

                                                              +
                                         1
                       PV                   ⋅ Kc ³ e dt + B
                                         Ti
             Gambar 3.5 Block diagram pengendali Proportional Integral

         Proportional Integral controller menghasilkan output dengan perhitungan

         sebagai berikut :

                                        §     1       ·
                                 M = Kc ¨ e + ³ e dt ¸ + Mo
                                        ©     Ti      ¹
                                              Kc
                                              Ti ³
                                   = Kc . e +      e dt + Mo




(OHNWURQLND ,QVWUXPHQWDVL 8*0                                                           49
          37 &KHYURQ 3DFLILF ,QGRQHVLD

                                                      8QLYHUVLWDV *DGMDK 0DGD




                                    = ¨MP + ¨MI + Mo

         Dimana :

           M        = controller output

           ¨MP      = konstribusi perubahan output oleh proportional elemen

           ¨MI      = kontribusi perubahan output oleh integral elemen

           MO       = bias.

           Ti       = waktu integral (Integral time), adalah waktu yang dibutuhkan

                       oleh     elemen   integral     untuk   menghasilkan      perubahan

                       outputnya menjadi sebesar output yang dihasilkan oleh

                       elemen proportional          bila errornya (selisih antara PV –

                       SV) tetap.

         Karena pengendali PI merupakan gabungan dari dua unit control P dan I,

         maka semua kelebihan dan kekurangan yang ada pada P dan I juga ada

         pada PI. Sifat P yang selalu meninggalkan offset dapat ditutupi oleh

         pengendali I, dan sifat pengendali I yang lambat pada awal terjadinya error

         dapat ditutupi oleh pengendali P. Sehingga PI mempunyai respon yang

         lebih cepat dari pengendali I dan mampu menghilangkan offset yang

         ditinggalkan oleh pengendali P.

     •   Proportional plus Derivative Controller (P+D Controller)

         Controller element dengan mode operasi derivative menghasilkan

         perubahan output sebanding dengan derivative waktu dari error. Seperti

         halnya elemen integral, elemen derivative juga tidak dibangun secara

         sendirian akan tetapi merupakan rangkaian tambahan elemen proportional.



(OHNWURQLND ,QVWUXPHQWDVL 8*0                                                         50
          37 &KHYURQ 3DFLILF ,QGRQHVLD

                                                    8QLYHUVLWDV *DGMDK 0DGD




         Bentuk diagram kotak dari unit proportional derivative controller adalah

         sebagai berikut :


                                 e             Kc             +       Output
                     S
                                                              +
                           P                 de
                                         Kc ⋅ TD+B
                                             dt
                Gambar 3.6 Block diagram pengendali Proportional Derivative

         Proportional derivative controller menghasilkan output dengan hitungan

         berikut :

                                       §        de ·
                                M = Kc ¨ e + Td      ¸ + Mo
                                       ©        dt ¹
                                                       de
                                M = Kc . e + Kc . Td .    + Mo
                                                       dt
                                M = ∆MP + ∆Md + Mo

         Dimana :

         ¨Md = kontribusi prubahan output oleh elemen derivative

         TD       = waktu derivative, yaitu waktu yang dibutuhkan oleh elemen

                     proportional untuk menghasilkan perubahan outputnya menjadi

                     sebesar output yang dihasilkan oleh elemen derivative bila

                     errornya berubah secara linear terhadap waktu.

                     e(t) = A . t Æ A = konstanta

         Elemen derivative tidak response terhadap error yang tetap, dan karena

         sifatnya yang seperti inilah maka elemen derivative controller tidak dapat

         memperbaiki sifat steady state pada system pengendalian yang

         menggunakan proportional controller. Sifat lain yang dimiliki oleh elemen

         derivative adalah sifat antisipasif dimana outputnya yang mendahului


(OHNWURQLND ,QVWUXPHQWDVL 8*0                                                   51
          37 &KHYURQ 3DFLILF ,QGRQHVLD

                                                       8QLYHUVLWDV *DGMDK 0DGD




         kesalahan. Hal ini dapat dilihat pada table di atas. dimana pada saat t = 0,

         erornya masih nol tetapi elemen derivative mengeluarkan tambahan output

         sebesar 10%. Dalam praktek, kegunaannya adalah untuk mengantisipasi

         dan mencegah error agar tidak membesar. Oleh sebab itu nama elemen

         derivative ini sering juga disebut pre-act. Derivative control elemen cocok

         digunakan pada proses yang time constannya besar yang memiliki waktu

         response yang lama.

     •   Proportional + Integral + Derivative Controller (PID Controller)

         Untuk menutupi kekurangan pada pengendali PI dan PD, maka ketiga

         mode digabungkan menjadi PID. Unsur P, I dan D masing-masing berguna

         untuk mempercepat reaksi sistem, menghilangkan offset dan mendapatkan

         energi ekstra di saat awal-awal perubahan load. Tetapi semua kelebihan

         pada pengendali PID belum tentu sesuai untuk mengendalikan semua

         proses. Hanya proses yang variabelnya tidak mengandung noise (riak)

         yang boleh dikendalikan dengan pengendali PID. Oleh karena itu

         pengendali PID biasanya hanya dipakai untuk pengendalian temperatur.

         Diagram kotak pengendali PID adalah sebagai berikut :



                                e             Kc

                                                                  + Output
                     SV                                      +
                                         1
                                         Ti    ³
                                            ⋅ Kc e dt + B
                          PV

                                                   de
                                         Kc ⋅ TD      +B
                                                   dt

                          Gambar 3.7. Block diagram pengendali PID

(OHNWURQLND ,QVWUXPHQWDVL 8*0                                                     52
          37 &KHYURQ 3DFLILF ,QGRQHVLD

                                                       8QLYHUVLWDV *DGMDK 0DGD




         Persamaan output unit PID adalah sebagai berikut :

                                        ª   1            d º
                    MP+I+D         = Kc «e + ³ e dt + TD   e + MO
                                        ¬   Ti           dt »
                                                            ¼

                                                Kc                  d
                                   = Kc . e +
                                                Ti ³ e dt + Kc . TD dt e + MO
                                   = ∆MP + ∆MI + ∆MD + MO

        Dengan demikian fungsi dari masing-masing mode controller adalah

        sebagai berikut :

         ∗   Proportional controller      =     mengatur      damping     (redaman)   atau

                                                stabilitas.

         ∗   Integral Controller          = menghilangkan offset

         ∗   Derivative Controller        = mempercepat respon



 3.3.4. Control Valve

         Dalam suatu sistem pengendalian secara otomatis, Control Valve

 merupakan final control elemen yang mewujudkan signal output dari controller

 menjadi suatu gerakan valve membuka atau menutup aliran sehingga dapat

 mengembalikan variabel proses ke harga yang telah ditentukan.

         Cara kerja valve adalah bilamana plug terangkat, fluida akan mengalir

 dari bagian inlet ke bagian outlet. Besarnya bukaan plug menentukan jumlah

 fluida yang akan mengalir.

         Secara umum control valve berfungsi sebagai :

    •     On –Off                  : buka tutup aliran (selenoid valve)

    •    Variable Control          : mengatur besar kecilnya aliran.

(OHNWURQLND ,QVWUXPHQWDVL 8*0                                                          53
            37 &KHYURQ 3DFLILF ,QGRQHVLD

                                                   8QLYHUVLWDV *DGMDK 0DGD




     •     Safety                  : sebagai pengaman proses.

           Bentuk umum dari control valve




                    Gambar 3.8. Bagian-bagian control valve secara umum

 3.3.4.1.     Bagian-bagian Control Valve

           Secara umum control valve terdiri dari valve itu sendiri, actuator, dan

 positioner.

 •       Valve

            Yang dimaksud dengan body control valve adalah bagian luar dari control

 valve yang langsung berhubungan dengan fluida. Material untuk body tidaklah

 sama untuk setiap penggunaan fluida, tergantung pada sifat fluida yang di handle.

 Seperti yang terlihat pada gambar diatas bahwa valve itu sendiri terdiri dari plug

 dan seat.

 •       Actuator

            Actuator adalah bagian dari control valve           yang berfungsi sebagai

 penggerak, dimana gerakan actuator menghasilkan gerakan pada stem valve.

 Bagian-bagian dari actuator secara umum yaitu:


(OHNWURQLND ,QVWUXPHQWDVL 8*0                                                      54
          37 &KHYURQ 3DFLILF ,QGRQHVLD

                                                8QLYHUVLWDV *DGMDK 0DGD




 1.   Cases

      Sebagai pembentuk ruangan dimana signal dari controller yang akan

      mengerjakan diaphragm dijebak.

 2.   Stopper

      Sebagai plat pembatas atau penentu posisi awal dari diaphragma.

 3.   Diaphragma

      Penangkap tekanan signal pneumatic yang diterima dari controller dan

      karenanya akan diubah menjadi gaya tekan sebesar luas diaphragma dikalikan

      dengan tekanan yang akan melawan gaya tekan dari spring dan tekanan fluida

      kali luas actual dari plug.

 4.   Diaphragma Plate

      Sebagai dudukan diaphragma pada bagian tengah dan ini dijadikan satu

      dengan stem dan diaphragma.

 5.   Stem

      Penerus gerak lurus dari diaphragma ke plug.

 6.   Yoke

      Bagian dimana cases, adjusting screw dan spring ditempatkan.

 7.   Spring

      Biasanya berupa spring tekan, untuk menyimpan tenaga yang akan melawan

      gaya dari diaphragma dan akan mengembalikan atau menyesuaikan posisi

      plug sesuai dengan perubahan tekanan yang masuk dalam chamber.

      Kekuatan spring menentukan karakteristik daripada gerak dari plug untuk

      membuka dan menutup dan dapat diatur dari adjusting screw.



(OHNWURQLND ,QVWUXPHQWDVL 8*0                                                55
          37 &KHYURQ 3DFLILF ,QGRQHVLD

                                                 8QLYHUVLWDV *DGMDK 0DGD




 8.   Adjusting Screw

      Dipakai untuk mengatur kekuatan spring, agar kerja valve 3-15 psi dapat

      dicapai. Posisi hanya dapat dirubah pada saat pengkalibrasian control valve.

 9.   Travel Indicator

      Plat yang menunjukkan berapa persen dari langkah plug pada setiap saat.

      Contoh gambar Direct-Acting Avtuator




                     Gambar 3.9. Bagian-bagian dari Direct-Acting Valve



         Dilihat dari sistem signal transmisinya actuator dapat berupa : pneumatic

 diaphragm actuator, pneumatic piston actuator, electric motor actuator, Electro

 hydraulic actuator.




(OHNWURQLND ,QVWUXPHQWDVL 8*0                                                    56
            37 &KHYURQ 3DFLILF ,QGRQHVLD

                                                   8QLYHUVLWDV *DGMDK 0DGD




 1.      Pneumatic Diaphragm Actuator

           Pneumatic Actuator menggunakan signal sebesar 3 – 15 psi yang diperoleh

 dari air compresor atau gas apabila dilapangan tersedia gas. Penggunaan supply

 signal perlu dipertimbangkan dari segi safety bagi peralatan proses yang ada

 disekitarnya, yang penting adalah udara atau gas supply harus kering (bebas dari

 air).




                                Gambar 3.10 . Pneumatic Actuator

           Kadang-kadang supply udara yang dibutuhkan harus bertekanan yang

 lebih besar yaitu sekitar 6-30 psi untuk control valve yang berukuran besar. Untuk

 itu perlu dilengkapi dengan boster.

           Spring diperlukan untuk menahan gaya dari input signal agar control valve

 dapat bekerja secara proporsional dengan bukaan valve. Spring diperlukan untuk

 mengembalikan posisi control valve pada saat fail safe, artinya bila terjadi

 kegagalan signal control valve akan berada pada posisi yang aman bagi proses.




(OHNWURQLND ,QVWUXPHQWDVL 8*0                                                    57
          37 &KHYURQ 3DFLILF ,QGRQHVLD

                                                8QLYHUVLWDV *DGMDK 0DGD




 2.   Pneumatic Piston Actuator

         Pada pneumatic piston actuator diperlukan gaya yang lebih besar

 dibandingkan dengan spring dan diaphragm actuator. Input signal yang diperlukan

 sebesar 50 – 150 psi. Piston actuator yang digunakan dilengkapi dengan positioner

 untuk mengatur gerakan stem valve agar dapat membuka dan menutup valve

 dengan sempurna. Pneumatic piston actuator dapat juga dilengkapi dengan spring

 untuk keperluan fail safe.




          Gambar 3.11. Pneumatic Piston Actuator untuk rotary-shaft valve

 3.   Electric Motor Actuator

         Electric motor actuator digunakan untuk semua kondisi proses terdiri dari

 motor dan gear. Electrik motor actuator mempunyai tenaga putar yang besar,

 untuk kondisi proses normal dalam ukuran kecil sangat ekonomis sedangkan

 untuk ukuran besar umumnya bekerja lambat.



(OHNWURQLND ,QVWUXPHQWDVL 8*0                                                  58
          37 &KHYURQ 3DFLILF ,QGRQHVLD

                                                 8QLYHUVLWDV *DGMDK 0DGD




         Electrik motor actuator biasanya menggunakan servo motor yang dapat

 bekerja sesuai dengan input signal yang masuk, sedangkan untuk keperluan on-off

 control atau sistem shut down digunakan selenoid motor.




                         Gambar 3.12. Electric Motor Actuator

 4.   Electro Hydraulic Actuator

         Electro-hydroulic actuator adalah actuator yang digerakkan oleh electric

 signal yang bekerja memutar motor, dimana motor menggerakkan pompa

 hydroulic yang memberikan tekanan pada oil yang cukup besar untuk

 menggerakkan valve.

         Electro-hydroulic actuator menghasilkan tenaga yang besar kurang lebih

 bekerja diatas 10.000 lbs dan motor yang sering digunakan adalah servo motor.

 •    Positioner

 Pada pemakaian control valve, sering kali dipergunakan alat-alat bantu lain yang

 dipergunakan untuk memperlancar kerja valve atau mengganti fungsi actuator bila

 ada suatu kegagalan. Salah satu alat bantu tersebut adalah positioner.


(OHNWURQLND ,QVWUXPHQWDVL 8*0                                                    59
          37 &KHYURQ 3DFLILF ,QGRQHVLD

                                                   8QLYHUVLWDV *DGMDK 0DGD




         Fungsi utama dari valve positioner adalah untuk meyakinkan bahwa posisi

 plug control valve selalu proporsional dengan output presure controller,

 menghilangkan/ mengurangi gesekan packing box, rugi histerisis dari diaphragm

 motor atau off balance force dari plug.

 Valve positioner digunakan untuk :

         -   Single seated dengan presure drop yang tinggi.

         -   Presure yang tinggi, yang memerlukan stem packing yang sangat rapat

             untuk menghindarkan kebocoran.

         -   Aliran fluida yang sangat viscous atau slurry (banyak kotoran).

         -   Split range control (capasity dari instrument system adalah besar).

         -   Time lag yang besar (actuator yang besar, letak control valve yang

             jauh dari controller, dsb.)




                                Gambar 3.13. Skematik positioner.




(OHNWURQLND ,QVWUXPHQWDVL 8*0                                                      60
          37 &KHYURQ 3DFLILF ,QGRQHVLD

                                                 8QLYHUVLWDV *DGMDK 0DGD




                       Gambar 3.14. Bagian-bagian control valve

 Cara kerja :

         Control signal dari controller yang masuk pada positioner diterima oleh

 bellows yang akan menempatkan flapper pada posisi sedemikian rupa terhadap

 nozzle hingga output dari positioner (darirelaynya) sebanding dengan signal dari

 controller.

         Output ini akan masuk pada control valve, menggerakkan diaphragm, stem

 dan plugnya ke posisi yang lain. Gerak ini juga membawa valve mekanis ke

 flapper dan valve posisioner malalui take off linkage sedemikian rupa, sehingga

 gerak ini     merupakan suatu feed back terhadap positioner, sehingga keadaan

 balance yang baru dicapai bila posisi stem dari control ke valve sudah sesuai

 dengan valve positioner output, juga sesuai dengan controlled signal/output dari

 controller. Jadi valve positioner membuat letak atau posisi control valve stem



(OHNWURQLND ,QVWUXPHQWDVL 8*0                                                 61
            37 &KHYURQ 3DFLILF ,QGRQHVLD

                                                  8QLYHUVLWDV *DGMDK 0DGD




 betul-betul sesuai dengan controlled signal output dari controller, dan dalam

 tempuh yang lebih cepat.

            ESSO, basic practise mengharuskan pemakaian valve positioner untuk

 semua control valve, kecuali untuk on-off control saja (tetapi harus diingat bahwa

 valve positioner bukanlah barang dengan harga murah). Valve positioner stem

 travel disamakan dengan travel daro control valve. Valve positioner bisa direct

 atau reverse. Biasanya diberi by pass switch untuk keperluan maintenance

 misalnya control valve bekerja dengan menerima control signal langsung dari

 controller.



 3.3.4.2.      Tipe-tipe Control Valve

            Tipe-tipe control valve berdasarkan bentuk body valvenya adalah sebagai

 berikut: Globe valve, needle valve bodies ( bars stock valve bodies), ball valve

 bodies, butterfly valve bodies, diaphragma (sounders type) valve bodies, drag

 valve bodies.

 •    Globe Valve

     1. Single port valve bodies

            Konstruksinya sangat sederhana, banyak digunakan untuk ukuran-ukuran

 tiga inch kebawah, dapat menutup dengan rapat antara metal dengan metal seat,

 mempunyai range ability yang lebar, tetapi memungkinkan terjadi gaya

 unbalanced yang tinggi pada plug sehingga memerlukan actuator yang lebih

 besar.




(OHNWURQLND ,QVWUXPHQWDVL 8*0                                                   62
            37 &KHYURQ 3DFLILF ,QGRQHVLD

                                                  8QLYHUVLWDV *DGMDK 0DGD




 Gambar dibawah ini menunjukkan dua dari beberapa model single ported atau

 single seated globe valve dan sangat banyak digunakan dalam aplikasi proses

 kontrol.




                           Gambar 3.15. Single port globe body




                       Gambar 3.16. Single port cage balanced plug




(OHNWURQLND ,QVWUXPHQWDVL 8*0                                               63
          37 &KHYURQ 3DFLILF ,QGRQHVLD

                                                8QLYHUVLWDV *DGMDK 0DGD




         Kebanyakan single seated valve bodies sekarang ini menggunakan

 konstruksi cage style untuk memegang seat ring dan juga berfungsi sebagai guide

 valve plug selain itu menguntungkan dalam perawatan dan cagenya dapat ditukar

 untuk mendapatkan karakteristik flow yang berlainan. Cage juga dapat berfungsi

 untuk mengurangi noise dan meredam atau menghilangkan cavitation.

      2. Double port valve bodies

         Gambar dibawah adalah contoh dari double port valve               yang

 dikembangkan untuk membalance gaya-gaya yang bekerja pada single port valve.

 Gaya dinamic pada plug cenderung untuk dibalance karena aliran fluid cenderung

 untuk membuka port yang satu dan menutup port yang lain. Karena gaya dinamic

 yang bekerja pada plug dapat dikurangi maka dapat dipilih actuator yang lebih

 kecil dibanding dengan single port pada ukuran yang sama.




                       Gambar 3.17. Double port valves bodies




(OHNWURQLND ,QVWUXPHQWDVL 8*0                                                64
           37 &KHYURQ 3DFLILF ,QGRQHVLD

                                                   8QLYHUVLWDV *DGMDK 0DGD




 Valve ini biasa dipasang pada ukuran pipa yang lebih besar dari 2 inch tetapi

 sebaiknya tidak digunakan bilamana kebocoran tidak diperbolehkan.

 Biasanya mempunyai kapasitas yang lebih besar dibanding dengan single ported

 valve untuk line size yang sama. Kebanyakan double ported bodies adalah

 reversible yaitu valve plug dapat dipasang untuk “push down to open atau push to

 close”.

      3. Three way valve bodies

           Three way valve ini dirancang untuk mencampur mix atau untuk

 memisahkan (split) arus aliran. Untuk melayani pencampuran terdapat dua saluran

 inlet dan satu saluran outlet sedangkan untuk splitting sebaliknya.

 Valve ini sering digunakan untuk pengaturan temperatur pada heat excharger.

 Kekurangan dari alat ini adalah tidak mengatur total flow.




                   a.                                                  b.

 Gambar 3.18. a. Three-way valve (diverting) utilizing modified double port body.
                    b. Three way valve (mixing) utilizing modified single port body.


(OHNWURQLND ,QVWUXPHQWDVL 8*0                                                      65
          37 &KHYURQ 3DFLILF ,QGRQHVLD

                                                    8QLYHUVLWDV *DGMDK 0DGD




 Gambar tersebut adalah bentuk dari three way valve bodies untuk diverting dan

 mixing. Gambar a. adalah dengan double port body dan gambar b. adalah dengan

 single port body.

      4. Split valve bodies

          Merupakan model khusus dari globe valve. Dinamakan split body karena

 terdiri dari dua buah body dengan seat ring body karena terdiri dari dua buah body

 dengan seat ring diapit diantara kedua buah body tersebut. Valve ini dirancang

 hanya untuk single seated valve dimana konstruksinya mudah dan harganya relatif

 murah.




                                Gambar 3.19.Split body valve

 Gambar diatas adalah merupakan salah satu bentuk dari split body, sedangkan

 bentuk yang lain adalah seperti pada gambar berikut ini yaitu split body dengan

 konstruksi angle. Keuntungan dari valve ini adalah karakteristik pengaturannya

 baik dan dapat menutup dengan rapat.


(OHNWURQLND ,QVWUXPHQWDVL 8*0                                                   66
          37 &KHYURQ 3DFLILF ,QGRQHVLD

                                                8QLYHUVLWDV *DGMDK 0DGD




      5. Angle valve bodies

         Biasanya menggunakan single port, valve ini dapat digunakan untuk

 kebutuhan presure drop yang tinggi dan dapat menimbulkan efek turbulensi,

 cavitation dan mempunyai karakteristik control yang baik, range ability yang

 tinggi dan rating temperatur dan tekanannya tinggi.




                            Gambar 3.20 Angle body valve

         Gambar diatas menunjukkan angle valve dengan split body. Bentuk ini

 ideal untuk fluid slurries dan cairan dengan viscositas tinggi, juga dapat

 mengurangi problem erosi dan dapat menutup dengan rapat. Banyak digunakan

 untuk boiler feed water, drain heater. Kekurangannya adalah biasanya dibuat

 untuk ukuran yang kecil.

 •    Needle Valve Bodies

         Termasuk kategori berstock body (angle style barstock body) dan (needle

 valve of barstock body construction for small flows) dan forget body (needle


(OHNWURQLND ,QVWUXPHQWDVL 8*0                                                67
          37 &KHYURQ 3DFLILF ,QGRQHVLD

                                                   8QLYHUVLWDV *DGMDK 0DGD




 valve forget body) digunakan untuk aplikasi tekanan tinggi dengan aliran yang

 keciil, mempunyai rangeabilities yang tinggi, baik untuk digunakan pada pilot

 plant.

 •    Ball Valve Bodies

          Salah satu type dari ball valve adalah menggunakan cage (sangkar) untuk

 membawa ball kedalam mulut body untuk tempat membuka dan menutup, seperti

 gambar dibawah ini, valve ini digunakan pada cairan bubur pada pabrik kertas.

 Dapat menutup dengan rapat dan mempunyai rangeability yang tinggi untuk

 mengatur aliran.




                                  Gambar 3.21. Ball valve

          Tipe yang lain dari ball valve ini adalah seperti pada gambar berikut yaitu

 partial ball atau sering juga disebut Vee ball valve bodies. Dapat digunakan untuk

 polimer slurries, fluid yang mengandung solid, pada pabrik kertas, kimia,

 penjernihan air dan lain-lain.

          Vee ball mempunyai beberapa kelebihan yaitu : Kapasitasnya besar,

 karakteristik pengaturannya baik, range abilitynya baik. Kekurangannya tidak

 baik untuk proses dengan presure dropnya tinggi, operating presurenya dibatasi.

(OHNWURQLND ,QVWUXPHQWDVL 8*0                                                      68
          37 &KHYURQ 3DFLILF ,QGRQHVLD

                                                 8QLYHUVLWDV *DGMDK 0DGD




 •    Butterfly Valve Bodies

         Butterfly valve terdiri dari sebuah shaft yang berfungsi untuk menyangga

 vane atau disk sehingga memungkinkan dapat berputar pada body yang berbentuk

 silinder. Dalam industri valve ini dikhususkan untuk aplikasi low presure drop,

 dimana pengaturannya tidak kritis dan kebocorannya besar masih dapat diisikan.

 Tetapi pada tahun-tahun terakhir ini design valve ditingkatkan untuk high presure

 drop, high static presure dan dapat menutup dengan rapat. Supaya dapat menutup

 dengan rapat digunakan bahan karet (soft seat) untuk dudukan metal vane.

         Valve ini ekonomis terutama untuk ukuran yang besar karena

 rancangannya sederhana dan mempunyai kapasitas yang besar. Salah satu

 kekurangan dari butterfly valve adalah memerlukan high operating torque,

 diperlukan actuator yang besar jika valvenya besar atau presure dropnya tinggi.

 Valve ini biasanya digunakan untuk trotling control antara bukaan 100 dan 600

 karena torsi menyebabkan ketidakstabilan diluar dari range ini. Namun Fisher

 telah membuat hak paten yaitu Fishtail yang memungkinkan mengatur sampai

 penuh 900.




                     Gambar 3.22. Typical butterfly control valve




(OHNWURQLND ,QVWUXPHQWDVL 8*0                                                  69
          37 &KHYURQ 3DFLILF ,QGRQHVLD

                                                 8QLYHUVLWDV *DGMDK 0DGD




 •    Diaphragma Valve Bodies

         Bentuk valve ini seperti pada gambar dibawah ini, bagian-bagian

 pokoknya adalah body, bonnet, dan flexible diaphragm. Diaphragm iini sangat

 baik untuk mengatur slurries dan cairan yang kental mempunyai kapasitas yang

 besar dan harganya relatif murah. Diaphragm adalah bagian dari valve yang

 bekerja menutup aliran fluid. Keuntungan lain dari valve ini adalah dapat menutup

 dengan rapat jika tekanannya rendah, dapat melayani aliran fluida yang korosif.

 Sedangkan kekurangannya adalah :

         -   Karakteristik pengaturannya buruk

         -   Rangeabilitynya rendah

         -   Umur diaphragmnya pendek

         -   Kecepatan responnya lambat

         -   Biasanya tidak baik untuk aplikasi pada high presure drop

         -   Temperatur operasinya dibatasi oleh karakteristik material diaphragm




                Gambar 3.23 Sounders-type (diaphragm) valve bodies

(OHNWURQLND ,QVWUXPHQWDVL 8*0                                                      70
           37 &KHYURQ 3DFLILF ,QGRQHVLD

                                                  8QLYHUVLWDV *DGMDK 0DGD




 •      Drag Valve Bodies

          Drag valve adalah suatu rancangan yang unik dari Courtesy of control

 components, Inc. seperti yang ditunjukkan pada gambar . Menggunakan teknik

 multiple disk dimana aliran yang masuk dipisah-pisahkan dalam saluran kecil

 yang berbelit-belit. Pengaturan didapat dengan menempatkan posisi dari plug

 didalam susunan disk untuk merubah-rubah luasan aliran, seperti pada gambar c.

 Valve ini dikembangkan untuk aplikasi pengaturan yang sukar, high presure drop,

 temperatur dan tekanan yang tinggi , flashing services dan erosive. Valve ini

 lebih mahal dibandingkan dengan valve standart.




 3.4.     Loop Pengendalian

 Secara umum bentuk loop sistem pengendalian dibagi dua macam, yaitu :
         1. Sistem pengendalian loop terbuka (open loop control system).
         2. Sistem pengendalian loop tertutup (close loop control system).


 3.4.1. Pengendalian loop terbuka (open loop control system)
         Sistem pengendalian loop terbuka (open loop control system), atau sering
         juga disebut    sebagai sistem pengendalian umpan maju (feed forward
         control) adalah sistem pengendalian yang keluarannya tidak akan dapat
         mempengaruhi aksi dari pengendaliannya. Jadi pada sistem pengendalian
         loop terbuka keluarannya tidak diukur atau diumpanbalikkan untuk
         dibandingkan dengan masukannya. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada
         gambar 3.1. berikut ini.




(OHNWURQLND ,QVWUXPHQWDVL 8*0                                                 71
          37 &KHYURQ 3DFLILF ,QGRQHVLD

                                                 8QLYHUVLWDV *DGMDK 0DGD




                    Gambar 3.24. Sistem pengendalian loop terbuka


                Sebagai contoh adalah proses pencucian dengan mesin cuci,
        biasanya perendaman, pencucian dan pembilasan pada mesin cuci
        dioperasikan berdasarkan waktu dan mesin cuci tidak mengukur keluaran,
        misalnya sinyal berupa kebersihan dari pakaian setelah dicuci. Jadi pada
        sistem ini keluaran tidak dibandingkan dengan masukan acuan, sehingga
        untuk setiap masukan acuan terdapat kondisi operasi yang tetap. Apabila
        pada sistem loop terbuka mendapat gangguan (disturbance), maka sistem ini
        tidak dapat bekerja seperti yang diinginkan (mengoreksi gangguan tersebut).
              Sistem ini sangat cocok untuk suatu sistem dengan masukan yang
        telah diketahui dan tidak ada gangguan baik eksternal maupun internal, dan
        untuk mendapatkan hasil yang diinginkan maka pada sistem pengendalian
        loop terbuka harus menggunakan komponen-komponen yang teliti dan
        terkalibrasi.


 3.4.2. Pengendalian loop tertutup (close loop control system)
                Sistem pengendalian loop tertutup atau sering juga disebut sebagai
        sistem pengendalian umpan balik (feed back control) adalah merupakan
        sistem pengendalian yang sinyal keluarannya mempunyai pengaruh
        langsung pada aksi pengendaliannya. Jadi sistem pengendalian loop tertutup
        merupakan sistem pengendalian umpan balik. Pada sistem pengendalian
        loop tertutup ini terdapat signal kesalahan penggerak, yang merupakan
        selisih antara signal masukan dan signal umpan balik (yang berupa signal
        keluaran dari proses yang dikendalikan) yang diumpan balikkan ke arah


(OHNWURQLND ,QVWUXPHQWDVL 8*0                                                   72
          37 &KHYURQ 3DFLILF ,QGRQHVLD

                                                  8QLYHUVLWDV *DGMDK 0DGD




        masukan untuk memperkecil kesalahan dan membuat harga keluaran akan
        mendekati dengan harga yang diinginkan. Atau dengan kata lain, pada aksi
        umpan balik digunakan untuk memperkecil kesalahan sistem. Untuk lebih
        jelasnya dapat dilihat pada gambar 3.25 berikut ini.
              Pada sistem pengendalian loop tertutup kesetabilan adalah merupakan
        faktor utama dibandingkan dengan sistem pengendalian loop terbuka, dan
        sangat cocok untuk sistem pengendalian yang mempunyai gangguan yang
        tidak dapat diramalkan dan/atau perubahan yang tidak dapat diramalkan
        pada komponen sistem.




                      Gambar 3.25. Sistem pengendalian loop tertutup




(OHNWURQLND ,QVWUXPHQWDVL 8*0                                                 73
          37 &KHYURQ 3DFLILF ,QGRQHVLD

                                                  8QLYHUVLWDV *DGMDK 0DGD




                                         BAB IV
  SISTEM KONTROL PADA GATHERING STATION-1
                                         MINAS


 4.1.    Tinjauan Umum

         Proses penambangan minyak mentah yang dilakukan dari ladang-ladang

 minyak yang ada tidak secara langsung dapat dijual ataupun digunakan secara

 langsung. Berbagai macam proses terjadi hingga akhirnya hasil penambangan

 yang berupa minyak, air, solid, dan gas dapat dipisahkan dan dimanfaatkan secara

 maksimal. Proses penambangan yang dimulai dari producer well mampu

 mengangkat air, minyak, solid, dan padatan ke permukaan. Producer well dari

 berbagai field akan bermuara pada suatu tempat pengumpulan dan pengolahan

 yang dinamakan gathering station. Proses-proses yang ada pada gathering station

 meliputi pemisahan gas, minyak, air, serta material padatan lainnya sehingga akan

 dihasilkan produk yang bisa digunakan ataupun dijual. Material yang dihasilkan

 meliputi gas yang dapat dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik, minyak, dan air

 diinjeksikan kembali ke dalam tanah untuk mendesak butiran-butiran minyak

 yang terjebak diantara batu-batuan sehingga lebih mudah untuk diangkat oleh

 producer pump.

         Secara umum proses dan bagian bagian yang ada pada gathering station

 seperti yang terdapat pada gambar dibawah ini:




(OHNWURQLND ,QVWUXPHQWDVL 8*0                                                  74
          37 &KHYURQ 3DFLILF ,QGRQHVLD

                                                 8QLYHUVLWDV *DGMDK 0DGD




                 Gambar 4.1 Skema proses yang terjadi pada gathering station



         Berdasarkan gambar diats dapat dijelaskan bahwa fluida reservoir yang

 dihasilkan oleh producer well masih berupa solid, liquid, dan gas. Proses

 pemisahan antara solid, liquid, dan gas terjadi pada gas boot. Proses pemisahan

 dilakukan dengan metode gravity. Hal ini didasarkan atas perbedaan massa jenis

 yang berakibat perbedaan gravitasi antara ketiga material tersebut. Solid atau

 padatan yang berupa pasir dan batuan-batuan kecil akan mengendap pada bagian

 paling bawah, selanjutnya fluida berada dibawah gas. Material yang berupa solid


(OHNWURQLND ,QVWUXPHQWDVL 8*0                                                  75
          37 &KHYURQ 3DFLILF ,QGRQHVLD

                                                 8QLYHUVLWDV *DGMDK 0DGD




 akan menetap dan mengendap pada bagian gas boot dan dibuang secara berkala

 karena dapat mengganggu dan mengurangi kapasitas tangki. Liquid yang masih

 berupa campuran minyak dan air selanjutnya akan masuk ke wash tank,

 sedangkan gas akan masuk pada bagian pengolahan gas sehingga gas tersebut

 dapat dimanfaatkan untuk pembangkit tenaga listrik di lingkungan PT. Chevron

 Pacifik Indonesia. Proses pemisahan air dan minyak terjadi pada bagian wash

 tank. Metode pemisahan dialkukan secara alami yaitu menggunakan metode

 gravity, hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa massa jenis air lebih besar dari

 massa jenis minyak sehingga air cenderung berada di bagian bawah minyak.

 Minyak akan dialirkan menuju shipping tank kemudian akan mengalami proses

 pemisahan lebih lanjut sehingga minyak yang dihasilkan merupakan minyak

 dengan kandungan air yang sangat sedikit bahkan diharapkan tidak mengandung

 air sama sekali. Air yang terangkat oleh producer pump setelah mengalami proses

 pemisahan dengan minyak akan diinjeksikan kembali kedalam tanah oleh

 injection pump untuk mendesak butiran-butiran minyak yang terjebak diantara

 batu-batuan sehingga lebih mudah untuk diangkat oleh producer pump.

         Proses-proses yang terjadi pada gas boot tersebut tidak terlepas dari sitem

 kontrol baik yang dilakukan secara manual maupun sistem kontrol secara

 automatik. Untuk lebih jelasnya tentang sistem kontrol, proses yang terjadi pada

 gas boot akan dijelaskan pada sub bab selanjutnya.




(OHNWURQLND ,QVWUXPHQWDVL 8*0                                                    76
          37 &KHYURQ 3DFLILF ,QGRQHVLD

                                                  8QLYHUVLWDV *DGMDK 0DGD




 4.2.     Contoh Sistem Kontrol Automatik untuk Aplikasi Pengisian

          Tangki


          Suatu tangki di isi dengan cairan, dimana pada tangki tersebut terdapat

 pipa masuk (V1) dan pipa keluar (V2). V2 > V1. Akan dibuat sistem pengaturan

 bukaan valve secara otomatis sehingga cairan tersebut tidak tumpah.

 Rancangan Sistem



     V1
                                         LSH

                                                TRANSMITTER

                                                                      CONTROLLER
                                         LSL




                                         V2



             Gambar 4.2. Rancangan sistem pada aplikasi sistem kontrol

 Keterangan:

          LSH: Level Switch High

          LSL: Level Swich Low

 Elemen Sistem Kontrol

 Output                  : ON/OFF signal (open/close command)

 Set Point               : High and low level

 Proses Variabel         : Level cairan dalam tangki



(OHNWURQLND ,QVWUXPHQWDVL 8*0                                                 77
          37 &KHYURQ 3DFLILF ,QGRQHVLD

                                                   8QLYHUVLWDV *DGMDK 0DGD




 End Control Device      : Control Valve

 Control Objektive: Untuk menjaga agar level cairan pada tangki tetap pada

                       kondisinya (tidak meluap)

 Control Strategy:

    •    Menggunakan control valve pada pipa keluar tangki yang diatur

         sedemikan rupa dengan membuka dan menutup valve sesuai dengan

         kondisi cairan yang ada pada tangki sehingga cairan tidak tumpah.

    •    Menggunakan dua buah sensor yaitu jenis sensor level untuk mendeteksi

         level cairan dalam tangki. Kedua sensor tersebut di pasang pada ketinggian

         yang berbeda, LSL (Level Switch Low) di pasang pada bagian bawah dan

         LSH (Level Switch High) di pasang pada bagian atas seperti yang

         ditunjukkan pada gambar.

    •    Control valve akan tetap terbuka jika ketinggian cairan telah terdeteksi

         oleh sensor LSH atau pada keadaan dimana cairan tersebut beralih dari

         ketinggian dibawah sensor LSH menuju ke ketinggian yang di deteksi oleh

         sensor LSL (emptying down to LSL).

    •    Control valve akan tetap tertutup jika level cairan di bawah ketinggian

         yang di deteksi oleh sensor LSL atau keadaan perpindahan level cairan

         dari ketinggian yang dideteksi oleh sensor LSL hingga cairan tersebut

         belum terdeteksi oleh sensor LSH (filling up to LSH)




(OHNWURQLND ,QVWUXPHQWDVL 8*0                                                   78
          37 &KHYURQ 3DFLILF ,QGRQHVLD

                                                   8QLYHUVLWDV *DGMDK 0DGD




 Logic Diagram

                                Tabel 4.1 Tabel Kebenaran

  NO              CONDITION                LSL     LSH    FLAG      OUTPUT COMMAND

   1   Empty                                0       0       0                0

   2   Filling up to LSL                    1       0       0                0

   3   Filling up to LSH                    1       1       1                1

   4   Emptying Down to LSL                 1       0       1                1

   5   Emptying Down to below LSH           0       0       0                0


 Keterangan:
 Output Command 1 = Valve to open;               Output Command 0 = Valve to close

 Persamaan Boolean

 Flag = LSL. LSH + LSL . LSH

 OP = LSL . LSH . Flag + LSL . LSH . Flag

 Skema Rangakaian




                       Gambar 4.3 Skema Rangkaian Elektronik


(OHNWURQLND ,QVWUXPHQWDVL 8*0                                                    79
          37 &KHYURQ 3DFLILF ,QGRQHVLD

                                                     8QLYHUVLWDV *DGMDK 0DGD




 Flowchart

                                        Mulai


                                Initial State
                          Flag= 0, LSL= 0, LSH=
                                      0


                                                  Tidak
                                       LSH=
                                       1
                                 Ya

                                     SET FLAG


                                 Valve Open


                                                   Tida
                                       LSL=        k
                                       0
                                Ya

                                 Valve


                                SET FLAG


                                      Selesai


                                      Gambar 4.4 Flowchart


 4.3.     Proses pada Gathering Station-1 Minas
 4.3.1. Gas Boot

 Proses

          Cairan yang berasal dari producer well akan dialirkan dengan pipa menuju

 gas boot. Gas boot ini berfungsi sebagai tempat pemisahan antara cairan yang


(OHNWURQLND ,QVWUXPHQWDVL 8*0                                                  80
          37 &KHYURQ 3DFLILF ,QGRQHVLD

                                                8QLYHUVLWDV *DGMDK 0DGD




 mengandung air dan minyak dengan gas. Cairan yang berasal dari producer well

 telah mempunyai tekanan dan suhu awal yang tinggi sehingga sebelum masuk ke

 gas boot cairan tersebut terlebih dahulu diukur tekanan dan suhunya. Untuk

 pengukuran dan menampilkan hasil pengukuran tersebut dipasang pressure

 indicator sebagai tekanan dan temperatur indicator sebagai indikator suhu.

         Proses pemisahan cairan yang masuk menjadi gas, campuran minyak dan

 air dilakukan dengan metode gravitasi. Dimana antara gas, minyak, dan air

 mempunyai massa jenis yang berbeda sehingga masing-masing komponen

 tersebut akan menempati bagian masing-masing pada tangki. Gas berada pada

 bagian atas, minyak berada dibagiah tengah, air berada di bagian paling bawah.

 Jadi pada gas boot cairan yang masuk dari produser well akan di diamkan

 beberapa saat untuk proses pemisahan gas, dengan cairan yang mengandung

 minyak dan air. Cairan yang mengandung minyak dan air akan disalurkan ke

 wash tank, sedangkan gas akan di alirkan ke gas compressor dan flare stack.

         Pada Gas Boot juga diinjeksikan beberapa snyawa kimia yang berfungsi

 untuk mencegah terjadinya karat pada berbagai peralatan yang digunakan. Selain

 jenis bahan kimia pencegah karat juga ditambahkan jenis demulsifier dan reverse

 demulsifier. Demulsifier digunakan untuk memisahkan ikatan antara dua zat kimia

 yang sangat kuat sehingga tidak bisa dipisahkan secara biasa, sedangkan reverse

 demulsifier digunakan untuk menyatukan dua zat kimia yang berbeda sehingga

 mampu berikatan dengan kuat. Jadi reverse demulsifier merupakan kebalikan dari

 demulsifier.




(OHNWURQLND ,QVWUXPHQWDVL 8*0                                                  81
          37 &KHYURQ 3DFLILF ,QGRQHVLD

                                                 8QLYHUVLWDV *DGMDK 0DGD




 Sistem Kontrol

         Pada gas boot tidak terdapat alat kontroller sebagaimana halnya pada

 bagian-bagian lain. Namun, pada proses pengiriman cairan yang mengandung

 minyak dan air tersebut ke wash tank terdapat control valve berupa Differensial

 Pressure Control Valve (DPCV). Pada gas boot terdapat berbagai indikator seperti

 Pressure Indication (PI), Differensial Pressure Indication Controller, dan Pressure

 Indication Transmitter.

         Pada gas boot proses yang ada hanyalah pemisahan antara gas dengan

 cairan yang mengandung minyak dan gas yang berasal dari produser well. Proses

 pemisahan ini menggunakan prinsip gravity.

         Pada gas boot ini telah di setting tekanan yang diperbolehkan sekitar 30

 Psi. Untuk menjaga nilai 30 Psi tersebut dipasang Pressure Safety Valve (PSV)

 yang berfungsi sebagai pengaman. Jika tekanan yang ada di dalam gas boot

 melebihi 30 Psi maka Pressure Safety Valve akan mengalirkan cairan ke wate pit

 sehingga tekanan yang ada pada gas boot area tetap pada kondisi 30 Psi.


         Untuk mengamati nilai temperatur, tekanan, maupun level dipasang

 beberapa indikator seperti Level Indication (LI) untuk indikator ketinggian,

 Pressure Indication (PI) untuk indikator tekanan. Temperatur Indication dan

 Pressure Indication dipasang di lapangan (field) sedangkan Level Indication,

 Level Alarm Low, dan Level Alarm High dipasang pada control room. Level

 Alarm Low berfungsi sebagai penanda bahwa level cairan telah mencapai

 ketinggian 20 Ft, sedangkan Level Alarm High berfungsi sebagai penanda bahwa

 level cairan telah mencapai ketinggian 30 Ft.


(OHNWURQLND ,QVWUXPHQWDVL 8*0                                                    82
          37 &KHYURQ 3DFLILF ,QGRQHVLD

                                                   8QLYHUVLWDV *DGMDK 0DGD




          Walaupun pada gas boot sendiri tidak terdapat sistem kontrol, namun pada

 proses pengaliran fluida ke wash tank terdapat sistem kontrol seperti yang terlihat

 pada gambar P&ID dibawah ini.




  Gambar 4.5. P&ID Sistem kontrol pada aliran dari Gas Boot menuju Wash Tank



 Parameter-parameter sistem kontrol tersebut adalah sebagi berikut:

 Set Point                       : 12.0 Psi

 Output                          : Pressure

 Proses Variabel                 : Differensial Pressure

 End Device Controller           : Control Valve

 Control Objektif                : Diinginkan pada sistem tersebut dimana selisih

 tekanan pada dua tempat berbeda pada pipa (P1 dan P2) tersebut sesuai dengan

 set point yang telah ditentukan yaitu sebesar 12 Psi.

 Control Strategy        :



(OHNWURQLND ,QVWUXPHQWDVL 8*0                                                    83
          37 &KHYURQ 3DFLILF ,QGRQHVLD

                                                    8QLYHUVLWDV *DGMDK 0DGD




     • Menggunakan control valve pada pipa keluar tangki yang diatur

          sedemikan rupa dengan membuka dan menutup valve sesuai sehingga

          perbedaan tekanan antara dua titik yang diukur (P1 dan P2) tetap pada

          nilai 12 Psi.

     • Agar       posisi valve sesuai (proporsi) dengan output kontroller maka

          digunakan positioner. Output kontroller yang berupa sinyal 6-30 Psi akan

          di terjemahkan oleh positioner untuk menyesuaiakan besarnya kebutuhan

          bukaan valve.

     •    Menggunakan dua buah sensor tekanan yang ditempatkan pada titik yang

          berbeda pada daerah disekitar valve yang selanjutnya akan digunakan

          sebagai differensial pressure dari kontroller tersebut.

     •    Jika differensial pressure lebih besar dari set point maka valve akan

          semakin terbuka dan output dari kontroller semakin kecil.


 4.3.2. Wash Tank

 Proses

          Adapun proses yang terjadi pada wash tank adalah proses pemisahan

 antara air dengan minyak yang kemudian akan disalurkan ke shipping tank.

 Pemisahan cairan ini dilakukan dengan menggunakan metode gravity, dimana

 minyak berada pada posisi yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan air. Hal ini

 disebabkan karena massa jenis air lebih besar daripada minyak.

 Komponen pada Wash Tank

          Komponen yang terdapat pada wash tank meliputi peralatan indikator,

 peralatan safety, dan peralatan kontrol. Indikator berfungsi sebagai instrument


(OHNWURQLND ,QVWUXPHQWDVL 8*0                                                  84
          37 &KHYURQ 3DFLILF ,QGRQHVLD

                                                  8QLYHUVLWDV *DGMDK 0DGD




 pengukur sekaligus penunjuk dari nilai yang diukur tersebut. Indikator-indikator

 tersebut antara lain Pressure Indication (PI),     Pressure Indication Transmitter

 (PIT), Level Indication (LI), Level Indication Transmitter (LIT), Temperatur

 Indication (TI). Indikator-indikator ini selain terpasang langsung di lapangan ada

 juga indikator yang terpasang pada control room. Indikator-indikator yang

 terpasang pada control room antara lain, Level Alarm High (LAH), Level Alarm

 Low (LAL), Level Indication (LI), Pressure Indication (PI). Untuk Pressure

 Indication (PI) dan Level Indication (LI) selain terdapat pada control room

 terpasang juga di lapangan. Level Alarm High akan aktif jika ketinggian cairan

 dalam angki sebesar 37, 5 Ft, dan Level Alarm Low akan aktif jika level cairan 34

 Ft.

         Transmitter merupakan secondary element dari suatu loop pengendalian
 yang berfungsi mengubah besaran phisis yang dihasilkan oleh sensing element
 (transducer) ke dalam signal standard kemudian ditransmisikan ke peralatan
 instrument yang lainnya sebanding dengan besara phisis yang diterimanya.
         Indicator Transmitter merupakan transmitter disamping melakukan
 pengukuran besaran phisis yang diterimanya dan mentransmisikan hasil
 pengukuran ke dalam signal standar sebanding dengan besaran phisis yang
 diterimanya juga dapat menunjukkan hasil pengukurannya.
         Indikator level yang terpasang pada control room mendapat masukan dari

 sebuah indikator yang terpasang di setiap tangki. Indikator level ini berada diluar

 tangki namun terhubung dengan pipa yang mengalirkan cairan ke indikatr

 tersebut. Prinsip yang digunakan merupakan prinsip bejana berhubungan dimana

 dua bejana yang berhubungan yang terisi cairan akan menunjukkan ketinggian

 yang sama. Jika pada indikator cairan berada pada posisi paling bawah maka akan



(OHNWURQLND ,QVWUXPHQWDVL 8*0                                                    85
          37 &KHYURQ 3DFLILF ,QGRQHVLD

                                               8QLYHUVLWDV *DGMDK 0DGD




 didefinsikan sebagai keadaan low sedangkan jika cairan berada pada posisi paling

 atas maka akan didefinisikan sebagai keadaan level high. Nilai-nilai inilah yang

 selanjutnya dikirimkan untuk ditampilkan di control room sehingga bisa di amati

 oleh operator.

         Pada wash tank telah terpasang Pressure Safety Valve (PSV) yang

 berfungsi sebagai safety instrument dimana alat ini akan menjaga tekanan wash

 tank berada pada nilai yang aman. Dalam satu tangki terdapat dua Pressure Safety

 Valve (PSV) yaitu PSV-A dan PSV-B. PSV-A mempunyai set point 2” WC Press

 & 1” WC Vacuum sedangkan PSV-B mempunyai set point 3 “ WC Press & 1,5

 Wc Vacuum. Jika tekanan yang ada pada tangki melebihi batas nilai set point

 tersebut maka PSV akan terbuka dan mengalirkan tekanan ke vent stack sehingga

 tekanan aman dalam tangki dapat terjaga.




         Gambar 4. 6 P&ID Sistem yang ada pada Wash Tank secara umum


(OHNWURQLND ,QVWUXPHQWDVL 8*0                                                 86
          37 &KHYURQ 3DFLILF ,QGRQHVLD

                                                    8QLYHUVLWDV *DGMDK 0DGD




 Sistem Kontrol

 Set Point               : Pressure

 Output                  : Pressure

 Process Variabel        : Level

 End Control Device : Control valve

 Sensor                  : Pressure sensor

 Control Objektive:      Menjaga agar level cairan yang ada pada tangki tetap pada

                         kondisi yang diinginkan (tidak tumpah).

 Control Strategy:

     •    Mengendalikan level       cairan yang ada pada wash tank dengan cara

          mengatur besaran bukaan valve sedemikian rupa sehingga cairan dalam

          tangki tidak tumpah.

     •    Menggunakan sensor tekanan yang diletakkan pada bagian bawah tangki

          sehingga dengan perhitungan selisih tekanan yang ada pada bagian bawah

          dengan tekanan yang ada pada bagian atas cairan (tekanan ruangan

          terbuka) dapat dihitung level cairan tersebut.

     •    Menggunakan jenis control valve fail to close (FC) dimana jika input

          sinyal mengalami kegagalan maka valve akan tertutup sehingga jika

          terjadi kegagalan sinyal valve akan tertutup dan mencegah cairan keluar

          sia-sia sehingga konsep fail safe dapat tetap terjaga.

     • Menggunakan indicator untuk mengetahui hasil pengukuran besaran

          proses yang sedang berjalan, seperti Level Indicator (LI) untuk

          mengetahui level ketinggian cairan, Pressure Indicator (PI) untuk



(OHNWURQLND ,QVWUXPHQWDVL 8*0                                                  87
          37 &KHYURQ 3DFLILF ,QGRQHVLD

                                                  8QLYHUVLWDV *DGMDK 0DGD




          mengetahui nilai tekanan, Temperatur Indicator (TI) untuk mengetahui

          besaran nilai temperatur.

 Sistem Kontrol yang terdapat pada pipa keluaran Wash Tank menuju ke

 Clarifier Tank




          Gambar 4. 7 P&ID Sistem dari Wash Tank menuju Clarifier Tank

 Set Point               : 10.5 Psi

 Output                  : Pressure

 Process Variabel        : Diferensial Pressure

 End Control Device : Control valve

 Sensor                  : Pressure sensor

 Control Objektif        : Diinginkan pada sistem tersebut dimana selisih tekanan

 pada dua tempat berbeda pada pipa (P1 dan P2) tersebut sesuai dengan set point

 yang telah ditentukan yaitu sebesar 10,5 Psi.

 Control Strategy        :




(OHNWURQLND ,QVWUXPHQWDVL 8*0                                                 88
          37 &KHYURQ 3DFLILF ,QGRQHVLD

                                                    8QLYHUVLWDV *DGMDK 0DGD




     •    Menggunakan control valve pada pipa keluar tangki yang diatur

          sedemikan rupa dengan membuka dan menutup valve sesuai sehingga

          perbedaan tekanan antara dua titik yang diukur (P1 dan P2) tetap pada

          nilai 10,5 Psi.

     •    Agar    posisi valve sesuai (proporsi) dengan output kontroller maka

          digunakan positioner. Output kontroller yang berupa sinyal 6-30 Psi akan

          di terjemahkan oleh positioner untuk menyesuaiakan besarnya kebutuhan

          bukaan valve.

     • Menggunakan dua buah sensor tekanan yang ditempatkan pada titik yang

          berbeda pada daerah disekitar valve yang selanjutnya akan digunakan

          sebagai differensial pressure dari kontroller tersebut.

     • Jika differensial pressure lebih besar dari set point maka valve akan

          semakin terbuka dan output dari kontroller semakin kecil.

     •    Jenis valve yang digunakan merupakan tipe valve fail to open dimana jika

          valve kehilangan sinyal inut maka valve verada pada kondisi terbuka.


 4.3.3. Shipping Tank

 Proses

          Proses pemisahan air dan minyak terjadi di wash tank. Dari pemisahan ini

 akan menghasilkan air yang selanjutnya dialirkan ke clarifier tank sedangkan

 minyak akan dialirkan ke shipping tank. Minyak yang masuk ke dalam shipping

 tank akan didiamkan beberapa saat untuk memisahkan butiran-butiran minyak

 dengan sisa air yang ikut terbawa ke dalam shipping tank. Proses pemisahan ini

 menggunakan metode gravity, dimana air akan berada pada lapisan bawah


(OHNWURQLND ,QVWUXPHQWDVL 8*0                                                    89
          37 &KHYURQ 3DFLILF ,QGRQHVLD

                                              8QLYHUVLWDV *DGMDK 0DGD




 sedangkan minyak berada pada lapisan atasnya. Air yang terdapat pada shipping

 tank ini selanjutnya akan dialirkan kembali menuju ke wash tank. Sedangkan

 minyak akan dipompakan oleh shipping pump menuju ke NBS. Sebelum menuju

 NBS minyak tersebut akan diukur kandungan minyaknya menggunakan crude oil

 meter.

 Komponen-komponen pada Shipping Tank

          Seperti tangki-tangki yang lain pada shipping tank terdapat berbagai

 macam indikator yang akan menunjukkan nilai dari besaran yang diukur tersebut

 seperti tekanan dan level. Begitu halnya dengan Pressure Savety Valve (PSV)

 juga telah terpasang pada shipping tank. Release dari PSV akan terjadi jika

 tekanan dalam tangki lebih besar dari 2“ WC dan akan memasukkan tekanan jika

 tekanan pada tangki lebih kecil dari 1” WC (Vacuum). Pop Up akan terjadi jika

 tekanan pada tangki lebih besar dari 3” WC atau lebih kecil dari 1,5” WC

 (Vacuum). Untuk menjaga agar tangki tidak korosi maka dipasang control valve

 untuk memasukkan tekanan kedalam tangki. Jika tekanan pada tangki lebih kecil

 dari 1” WC maka valve akan terbuka untuk memasukkan tekanan ke dalam tangki

 untuk mencegah terjadinya korosi.

 Sistem Kontrol pada Shipping Tank

 Set Point               : Pressure

 Output                  : Pressure

 Process Variabel        : Pressure

 End Control Device : Control valve

 Sensor                  : Pressure sensor



(OHNWURQLND ,QVWUXPHQWDVL 8*0                                              90
          37 &KHYURQ 3DFLILF ,QGRQHVLD

                                                  8QLYHUVLWDV *DGMDK 0DGD




 Control Objektive:      Menjaga agar tekanan agar sesuai dengan set point yang

                         telah ditentukan.

 Control Strategy:

     • Menggunakan control valve pada pipa keluar tangki yang diatur

         sedemikan rupa dengan membuka dan menutup valve sesuai sehingga

         perbedaan tekanan antara dua titik yang diukur.

     •   Menggunakan dua buah sensor tekanan yang ditempatkan pada titik yang

         berbeda pada daerah disekitar valve dan digunakan sebagai pembanding

         dengan nilai set point.

     •   Jika selisih tekanan antara dua titik tersebut lebih besar dari set point maka

         valve akan semakin terbuka dan output dari kontroller semakin kecil.

     •   Jenis valve yang digunakan merupakan tipe valve fail to open dimana jika

         valve kehilangan sinyal inut maka valve verada pada kondisi terbuka.




                Gambar 4. 8 P&ID Sistem kontrol pada Shipping Tank

(OHNWURQLND ,QVWUXPHQWDVL 8*0                                                       91
          37 &KHYURQ 3DFLILF ,QGRQHVLD

                                                8QLYHUVLWDV *DGMDK 0DGD




 4.3.4. Clarifier Tank

 Proses

          Cairan yang berasal dari wash tank selanjutnya dialirkan menuju ke

 clarifier tank. Proses yang terjadi di clarifier tank yaitu pengolahan air dan

 pengolahan sisa-sisa butiran minyak. Air yang telah mengalami proses pemisahan

 dengan sisa-sisa butiran minyak selanjutnya akan masuk ke surge tank dan siap

 untuk di injeksikan kembali ke dalam tanah dan sebagian lagi masuk ke recyle

 tank dan dipompakan kembali untuk masuk gas boot.

 Komponen-komponen pada Clarifier Tank




                        Gambar 4. 9 P&ID pada Clarifier Tank


(OHNWURQLND ,QVWUXPHQWDVL 8*0                                               92
          37 &KHYURQ 3DFLILF ,QGRQHVLD

                                                 8QLYHUVLWDV *DGMDK 0DGD




         Seperti halnya pada gas boot, dan wash tank pada clarifier juga dilengkapi

 dengan berbagai indikator. Indikator-indikator tersebut berupa Pressure Indication

 (PI) sebagai indikator tekanan, Temperatur Indication (TI) sebagai indikator suhu,

 Level Indicator (LI) sebagai indikator level. Indikator-indikator tersebut ada yang

 terpasng langsung di lapangan dan ada juga yang tersambung ke control room.

 Indikator-indikator yang terhubung dengan control room berupa Level Alarm

 High (LAH), Level Alarm Low (LAL), dan Level Indicator (LI). Sedangkan

 indikator seperti LI, TI, PI terpasang langsung di lapangan.

         Selain terdapat beberapa indikator, pada clarifier tank terdapat alat safety

 berupa pressure safety valve (PSV). Pressure safety valve ini berfungsi untuk

 menjaga tekanan dalam tangki dalam keadaan aman. Jika tekanan dalam tangki

 berlebih maka pressure safety valve akan membuka valve dan mengalirkan

 tekanan berlebih yang ke flare. Pada clarifier tank terdapat dua PSV dalam satu

 tangki. PSV pertama berfungsi untuk membuka valve (relish) untuk membuang

 tekanan yang ada dalam tangki jika tekanan yang ada dalam tangki diatas 2,5“

 WC dan membuka untuk memasukkan tekanan dari luar jika tekanan dalam

 tangki dibawah 0,5“ WC (Vacuum 0,5” WC). PSV yang kedua akan berfungsi

 jika PSV pertama tidak mampu lagi menjaga tekanan dalam tangki pada kondisi

 yang aman. PSV akan melakukan pop up yaitu membuang katup penutup pada

 tangki untuk menjaga tekanan dalam tangki berada pada keadaan aman. Tekanan

 yang terlalu tinggi dapat menyebabkan tangki meledak, begitu juga jika

 tekanannya terlalu rendah dapat mengganggu sistem kerja tangki. PSV yang




(OHNWURQLND ,QVWUXPHQWDVL 8*0                                                     93
          37 &KHYURQ 3DFLILF ,QGRQHVLD

                                                 8QLYHUVLWDV *DGMDK 0DGD




 kedua jika tekanan dalam tangki lebih besar dari 3” WC atau tekanan dibawah

 1,5” WC (Vacuum).

 Sistem Kontrol pada Clarifier Tank

 Set Point               : level

 Output                  : level

 Process Variabel        : level

 End Control Device : Control valve

 Sensor                  : Level sensor

 Control Objektif        : Menjaga level cairan pada tangki agar tidak melebihi

 batas yang telah ditentukan atau cairan tidak berlimpah (over flow).

 Control Strategy        :

     •    Menggunakan control valve pada pipa keluar tangki yang diatur

          sedemikan rupa sehingga dapat membuka dan menutup valve sesuai

          dengan ketinggian level cairan pada tangki.

     •    Menjaga besar kecilnya bukaan valve agar sesuai dengan kondisi level

          cairan pada tangki.

     •    Jenis valve yang digunakan merupakan tipe valve fail to open dimana jika

          valve kehilangan sinyal inut maka valve verada pada kondisi terbuka.



 4.3.5. Surge Tank
 Proses
          Cairan yang berasal dari clarifier tank selanjutnya masuk menuju surge

 tank. Pada clarifier tank telah dipisahkan antara sisa butiran-butiran minyak dan

 air, namun karena proses pemisahan ini masih menyisakan sedikit butiran-butiran


(OHNWURQLND ,QVWUXPHQWDVL 8*0                                                    94
          37 &KHYURQ 3DFLILF ,QGRQHVLD

                                                8QLYHUVLWDV *DGMDK 0DGD




 minyak sehingga perlu lagi di proses untuk mengambil sisa butiran minyak yang

 ada kemudian di alirkan kenbali ke wash tank untuk diolah kembali. Sementara

 air yang telah terpisah dengan sisa butiran minyak akan di alirkan ke waste pit

 untuk selanjutnya siap di injeksikan kembali ke dalam tanah.

 Komponen-komponen pada Surge Tank




                         Gambar 4. 10 P&ID pada Surge Tank




(OHNWURQLND ,QVWUXPHQWDVL 8*0                                                95
          37 &KHYURQ 3DFLILF ,QGRQHVLD

                                                 8QLYHUVLWDV *DGMDK 0DGD




          Seperti halnya pada clarifier tank, pada surge tank terdapat berbagai

 indikator seperti indikator tekanan dan indikator level. Selain indikator ini

 terdapat juga Pressure Safety Valve (PSV). PSV ini akan membuka untuk

 membuang tekanan (release) jika tekanan pada tangki lebih besar dari 0,2” WC

 dan membuka untuk mengisi tekanan dari luar jika tekanan pada tangki sebesar 1”

 WC Vacuum. Jika pada keadaan ini PSV pertama tidak dapat mengembalikan

 tekanan aman pada tangki maka PSV kedua akan melakukan pop up untuk

 menjaga kondisi dalam tangki berada pada tekanan yang aman. PSV kedua ini

 akan release jika tekanan pada tangki lebih besar dari 3” WC atau tekanan lebih

 kecil 1,5” WC Vacuum.

 Sistem Kontrol pada Surge Tank

 Set Point               : level (35,5 Ft)

 Output                  : level

 Process Variabel        : level

 End Control Device : Control valve

 Sensor                  : Level sensor

 Control Objektif        : Menjaga level cairan pada tangki supaya level cairan

 yang ada pada tangki tidak melebihi nilai set point yang ditentukan.

 Control Strategy        :

     •    Menggunakan control valve pada pipa keluar tangki yang diatur

          sedemikan rupa sehingga dapat membuka dan menutup valve sesuai

          dengan ketinggian level cairan pada tangki.




(OHNWURQLND ,QVWUXPHQWDVL 8*0                                                96
          37 &KHYURQ 3DFLILF ,QGRQHVLD

                                                 8QLYHUVLWDV *DGMDK 0DGD




     •    Jika level cairan yang ada pada tangki belum mencapai nilai set point yang

          telah ditentukan maka control valve akan terbuka sehingga cairan akan

          masuk ke dalam tangki.

     •    Valve akan tertutup jika level cairan yang masuk ke dalam tangki telah

          mencapai batas ketinggian yang telah ditentukan (set point) yaitu sebesar

          35,5 Ft.


 4.3.6. Water Injection Pump dan Water Injection Well

 Proses

 Setelah proses pemisahan antara minyak dengan air pada surge tank, air akan di

 alirkan ke water injection pump. Dan dari water injection pump air akan

 dipompakan ke dalam tanah melalui sumur injeksi (injection well) dengan tujuan

 untuk memberikan tekanan kepada minyak yang terjebak diantara batu-batuan.

 Minyak yang terjebak tersebut akan keluar setelah mendapat desakan (tekanan)

 dari air yang dipompkan oleh water injection pump sehingga producer well dapat

 lebih mudah untuk menyedotnya dari dalam tanah.

 Sistem Kontrol pada water injection pump

     •    Menggunakan dua buah sensor tekanan yang ditempatkan pada titik yang

          berbeda pada daerah disekitar valve dan digunakan sebagai pembanding

          dengan nilai set point.

     •    Menjaga bukaan valve agar P1-P2 selalu 720 psi.


 4.3.7. Vapor Recovery System

 Proses



(OHNWURQLND ,QVWUXPHQWDVL 8*0                                                    97
          37 &KHYURQ 3DFLILF ,QGRQHVLD

                                                  8QLYHUVLWDV *DGMDK 0DGD




          Gas basah (wet gas) yang berasal dari shipping tank dan wash tank akan

 dialirkan menuju vapor recovery system. Pada bagian recovery system terdapat

 berbagai proses. Berbagai peralatan yang ada pada bagian vapor recovery system

 tersebut antara lain: vapor recovery unit air cooler, jacket water cooler, vapor

 recovery unit condensate pump, inlet scrubber, vapour recovery unit compressor.

 Wet gas yang berasal dari vent line pertama kali akan masuk ke bagian vapor

 recovery unit air cooler. Setelah selesai dari proses pendinginan ini akan di alirkan

 menuju ke bagian inlet scrubber. Keluaran pengolahan dariinlet scrubber ini juga

 akan dialirkan kembali ke wash tank oleh bagian vapor recovery unit condensate

 pump.


 4.3.8. Cooper Bessemer Gas Compressor Plant

 Proses

          Gas yang berasal dari vapor recovery system selanjutnya akan diolah pada

 bagian cooper bessemer gas compressor plant. Gas tersebut akan masuk ke bagian

 inlet gas cooler, kemudian menuju ke bagian suction scrubber. Pada tahapan

 cooper bessemer gas compressor plant ini melakukan proses compress sampai tiga

 tahapan. Tahapan pertama akan mengkompres gas menjadi 16”- 1500 FF. Untuk

 mencapai keadaan tersebut harus melalui beberapa proses yaitu gas masuk ke

 bagian discharge bottle, interstage gas cooler, discharge scrubber. Keluaran dari

 discharge scrubber tahapan pertama akan dilanjutkan ke tahap kedua yang akan

 memasukkan gas tersebut ke bagian 2nd stage suction bottle. Pada tahapan kedua

 ini gas akan di kompress menjadi 12”-3000 FF. Sama halnya dengan tahapan

 pertama, pada tahapan kedua ini melalui bebagai proses seperti proses melewati


(OHNWURQLND ,QVWUXPHQWDVL 8*0                                                      98
          37 &KHYURQ 3DFLILF ,QGRQHVLD

                                               8QLYHUVLWDV *DGMDK 0DGD




 discharge bottle, interstage gas cooler, dan discharger srubber. Tahapan ketiga

 yaitu akan mengkompress gas menjadi 6” -600” FEM. Output dari cooper

 bessemer gas compressor plant ini akan disalurkan ke AWE compressor, ABE

 compressor, dan ada juga yang langsung menuju flare stack.




(OHNWURQLND ,QVWUXPHQWDVL 8*0                                                99
          37 &KHYURQ 3DFLILF ,QGRQHVLD

                                                 8QLYHUVLWDV *DGMDK 0DGD




                                         BAB V
                                     PENUTUP
 5.1.    KESIMPULAN

         Berdasarkan hasil kerja praktek ini dilaksanakan terhitung sejak tanggal 22

 Februari 2010 sampai dengan 22 Maret 2010 pada bagian Facility Engineering

 Team,     distrik Minas, PT. Chevron Pacific Indonesia, provinsi Riau dapat

 disimpulkan bahwa :

     1. PT. Chevron Pacific Indonesia adalah Perusahaan minyak terbesar yang

         beroperasi di Indonesia dan memilki sistem kontrol automatik yang handal

         dalam proses penambangan sampai minyak siap dipasarkan.

     2. Fluida reservoir yang dihasilkan oleh producer well masih berupa solid,

         liquid, dan gas. Proses pemisahan antara solid, liquid, dan gas terjadi pada

         gas boot. Proses pemisahan dilakukan dengan metode gravity.

     3. Hasil dari proses pengolahan pemisahan pada gathering station berupa

         minyak yang siap untuk dipasarkan, gas yang digunakan untuk

         pembangkit listrik di PT Chevron Pacifik Indonesia sendiri, dan air yang

         diinjeksikan kembali kedalam tanah untuk membantu mendesak minyak

         yang terjebak pada batuan sehingga lebih mudah untuk diangkat oleh

         producer pump.

     4. Pada proses pemisahan untuk mendapatkan minyak dengan kualitas yang

         baik, tidak terlepas dari berbagai instrument seperti indikator dan sistem

         kontrol yang terpasang pada setiap bagian proses.




(OHNWURQLND ,QVWUXPHQWDVL 8*0                                                    100
          37 &KHYURQ 3DFLILF ,QGRQHVLD

                                                    8QLYHUVLWDV *DGMDK 0DGD




     5. Gathering Station yang ada di distrik minas menggunakan control valve

         untuk mengendalikan jumlah aliran fluida yang masuk dan keluar tangki.

     6. Untuk menjaga tekanan pada tangki tetap berada pada keadaan yang aman,

         digunakan berbagai macam safety device seperti Pressure Safety Valve

         (PSV).



 5.2.    SARAN

    1.   PT. Chevron Pacifik             Indonesia sangat menjunjung tinggi etika

         keselamatan kerja sehingga perlu di contoh dan diikuti oleh perusahaan

         lainnya.

    2.   PT. Chevron Pacifik Indonesia diharapkan dapat menjalin kerjasama lebih

         erat lagi dengan institusi pendidikan sehingga materi pendidikan sejalan

         dengan yang dibutuhkan oleh dunia industri khususnya di PT. Chevron

         Pacifik Indonesia.




(OHNWURQLND ,QVWUXPHQWDVL 8*0                                                 101
          PT. Chevron Pacific Indonesia

                                                 Universitas Gadjah Mada




                                      DAFTAR PUSTAKA



         Anonim. 2005. Instrumentation Fundamental (trades training) . PT.
                 Nickel International Indonesia, Tbk.


         Anonim. 2003. Control Valve Handbook. Marshalltown, USA. Controls
                 International LLC.


         Anonim. 2000. Control Valve Catalog. Marshalltown, USA. Controls
                 International LLC.




Elektronika Instrumentasi UGM                                              100

								
To top