Docstoc

Rangkuman

Document Sample
Rangkuman Powered By Docstoc
					1.   Penetapan Ruang Lingkup Asesmen Perkembangan Bahasa
     Yang dimaksud dengan asesmen perkembangan bahasa dalam bahasan ini adalah
proses penghimpunan informasi secara sistematis dan professional terhadap aspek-aspek
Perkembangan bahasa anak yang diduga secara signifikan berpengaruh terhadap prestnsi
perkembangan anak yang bersangkutan. Adapun tujuan asesmen perkembangan bahasa
dalam bahasan ini adalah untuk menghimpun data atau informasi tentang
aspek-aspek perkembangan bahasa yang meliputi kemampuan memahami makna
kata, kemampuan untuk mengekspresikan diri secara verbal, dan kemampuan dalam
pelafalan (artikulasi), sehingga dapat membantu guru dalam memahami tingkat dan
kemampuan belajar bahasa anak. Untuk itu, perlu dijelaskan ruang lingkup kemampuan
berbahasa seseorang.
     Bahasa merupakan alat komunikasi yang digunakan manusia dalam mengadakan
hubungan dengan sesamanya. Kemampuan berbahasa seseorang dapat dikelompokkan
menjadi dua, yaitu kemampuan berbahasa pasif (reseptij) dan kemampuan
berbahasa aktif (ekspresif). Yang dimaksud kemampuan berbahasa pasif ialah
kemampuan memahami pikiran, perasaan, dan kehendak orang lain. Sedangkan
kemampuan berbahasa aktif adalah kemampuan untuk menyatakan pikiran, perasaan,
dan kehendak sendiri kepada orang lain. Dengan demikian, penguasaan yang satu
bersifat menerima dan penguasan yang lain bersifat menyampaikan.
     Secara umum perkembangan bahasa digambarkan oleh Myklebust
(Sutjihati,1995) yang meliputi: tahap inner language, receptive language, dan expresive
language.
     Inner language adalah aspek bahasa yang pertama berkembang, Muncul kira-kira
pada usia 6 bulan. Karakteristik perilaku yang muncul pada tahap ini
adalah      pemb ent uk an    k ons e p - ko ns ep   sed e rh an a ,   se p e rt i   a n ak
m en d em o nst r asi k an pen getahuannya tentang hubungan sederhana antara satu
obyek - dengan obyek yang lainnya. Tahap berikut dari perkembangan inner language
adalah anak dapat memahami hubungan-hubungan yang lebih kompleks dan dapat
bermain dengan mainan dalam situasi yang bermakna. Contoh menyusun perangkat
pada rumah-rumahan. Bentuk yang febih kompleks dari perkembangan inner
language adalah mentransformasikan pengalaman ke dalam simbol bahasa.
     Receptive language. Setelah inner language berkembang, maka tahap berikutnya
adalah munculnya receptive language. Pada kira-kira usia 8 bulan, anak mulai mengerti
sedikit-sedikit tentang apa yang dikatakan orang lain kepadanya. Anak mulai merespon
apabila namanya dipanggil, dan mulai sedikit mengerti perintah, menjelang kira-kira, 4
tahun anak lebih menguasai kemahiran mendengar, dan setelah itu proses penerimaan
(receptive process) memberi perluasan kepada sistem bahasa verbal. Terdapat hubungan
timbal balik antara inner language dengan receptive language. Perkembangan
inner language melewati fase pembentukan konsep-konsep sederhana menjadi
tergantung kepada pemahaman dan receptive language.
    Expresive language. Aspek terakhir dari perkembangan bahasa adalah bahasa
expresive. Menurut Myklebust expresive language berkembang setelah pemantapana
pemahaman. Bahasa ekspresif anak muncul kira-kira, satu. tahun.
    Perkembangan bahasa erat kaitannya dengan perkembangan kognisi. Keduanya
mempunyai       hubungan      timbal     balik.   Bagi    mereka         yang    memiliki
perkembangan kognisinya terhambat, maka perkembangan bahasanya juga akan
terhambat.
    Secara potensial setiap anak termasuk ABK memiliki perasaan, pikiran, dan
kehendak yang dapat dikemukakan, akan tetapi pada ABK, misaln ya pada anak
tunagrahita seringkali di saat ia mau menyatakan sesuatu mengalami kesulitan.
Apabila kita amati dalam pembicaraan-pembicaraan anak tunagrahita, selain kata-kata,
yang tidak jelas, intonasinya yang datar, dan seringnya mereka, mengulang -
ngulang kata juga susunan kalimat-kalimatnya yang sering terbalik-balik.
    Hambatan yang berkaitan dengan kemampuan berbahasa pada ABK dapat terlihat
dalam   penguasaan kosakata, jumlah kosakata             yang dikuasai,         penguasaan
gramatikal bahasa, seperti struktur kalimat da n sebagainya. Hambatan yang
terjadi akan mempersulit siswa untuk menangkap instruksi maupun memahami dan
menangkap isi teks bacaan.
    Kemampuan berbahasa seseorang dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu
kemampuan pasif dan kemampuan aktif
    Kemampuan mendengarkan dan berbicara melibatkan kemampuan penguasaan
fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik.
    Tujuan asesmen kemampuan berbahasa adalah untuk memperoleh informasi tentang
kemampuan dan hambatan dalam perkembangan bahasa anak
    Dalam pelaksanaan asesmen kemampuan berbahasa perlu mempertimbangkan tiga
faktor, yaitu bentuk tes, suasana yang alamiah, dan waktu pelaksanaan.
    Berikut ini adalah perkembangan bahasa dari usia 12bln sampai dengan 7thn yang
diadopsi dari Moh. Amin, 1995:84-118 :
1. 12bl(1thn)
    a. Mengucapkan 3 kata atau lebih
    b. Memberikan reaksi suara terhadap maian atau suara
    c. Memperhatikan dan memberikan reaksi terhadap pembicaraan ynag panjang
    d. Memberikan reaksi verbal terhadap beberapa perintah
    e. Memberikan mainannya ketika diminta
2. 13-13bln
    a. Kacau dalam mengucapkanb kata-kata
    b. Menggunakan lima kata atau lebih dengan arti yang tetap
    c. Bersuara, menunjuk, dan memberikan mimic dalam usahanya meraih benda-
        benda
    d. Nampak mengerti persaan orang yang bicara
    e. Tertarik pda gambar-gambar yang diberi nam kurang dari 2 menit
3. 15-16bln
    a. Menggunakan 7 kata atau lebih dengan pengertiaan yang tetap (dengan mimik)
    b. Lebih sering menggunakan konsonan, t, d, w, dan h
    c. Melaksanaklan periontah verbal, mengambil dan memilih sesuatu dari orang lain
    d. Mengenasl dan ingat terhadap benda-benda dan gambar yang diberi nama
    e. Mengenal nama bebagai bagian tubuh
4. 17-18bln
    a. Menunjukan mata, hidung, dan telinga
    b. Mengulang kata-kat yang didengarnya
    c. Memahami pertannyan sederhana
    d. Melaksanakan dua perintah yang berurutan
    e. Membuat asosiasi dan mengingat kata-kata berdasarkan kategori
    f. Mulai bicara tanpa bantuan gerak
5. 19-20bln
    a. Meniru kalimat yang terdiri dari dua/tiga kata
6. 21-22bln
7. 23-24bln
8. 25-27bln
9. 27-30bln
10. 30-33bln
11. 33-36bln
12. 3thn
13. 4thn
14. 5thn
15. 6thn
16. 7thn
2.   Penetapan Ruang Lingkup Asesmen Perkembangan Motorik
     Yang dimaksud dengan perkembangan motorik adalah kemampuan dalam
melakukan gerak, baik yang bersifat gerakan kasar, gerakan halus, dan keseimbangan.
Asesmen perkembangan motorik adalah suatu proses penghimpunan informasi secara
sistematis dan profesional terhadap aspek-aspek perkembangan motorik anak yang diduga
secara signifikan berpengaruh terhadap prestasi akademik. Adapun tujuan
asesmen perkembangan dalam bahasan ini adalah untuk mengetahui informasi tentang
aspek-aspek perkembangan motorik anak yang meliputi aspek motorik kasar,
motorik halus, dan aspek keseimbangan. Asesmen perkembangan motorik ini dapat
membantu guru dalam memahami tingkat kemampuan motorik anak.
     Dari pengertian di atas dapat ditentukan bahwa ruang lingkup perkembangan
motorik, meliputi
a. Kemampuan untuk melakukan gerakan kasar (gross motor).
b. Kemampuan untuk melakukangerakan halus (fine motor).
c. Kemarnpuan dalam keseimbangan (balance).
     Kemampuan gerakan kasar adalah gerak tubuh yang menggunakan sebagian
besar otot-otot atau sekumpulan otot besar dan biasanya memerlukan tenaga. Duduk,
merangkak, berdiri, berjalan, mengambil, menarik, mendorong, naik/turun
tangga, berjingkrak, melompat, menendang, mengendarai, melempar, dan menangkap
merupakan contoh-contoh gerakan kasar. Sedangkan kemampuan motorik halus ialah
kemampuan gerak yang hanya menggunakan otot-otot tertentu saja dan dilakukan oleh
otot-otot kecil Yang membutuhkan koordinasi gerak dan daya konsentrasi yang baik.
Contoh-contoh gerakan halus, seperti: memegang benda kecil antara ibu jari dan
telunjuk, menunjuk benda dengan jari telunjuk, menyortir benda sesuai dengan
bentuknya, mencoret dengan jari, menjelujur, memutar benda, merangkai kalung-
kalungan, membalik halaman buku, menggunakan satu tangan secara tetap, menebalkan
garis lurus, atau lengkung, mewamai bentuk-bentuk geometri, merobek kertas,
menyusun benda menurut besar kecilnya, panjang pendeknya, menggunting,
memotong, menulis, dan sebagainya.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:191
posted:8/22/2011
language:Indonesian
pages:5