SURROGATE MOTHER.doc;INSEMINASI BUATAN by Saifxs

VIEWS: 5,525 PAGES: 9

									BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Manusia sebagai makhluk yang memiliki naluri untuk melangsungkan hidupnya di dunia ini, salah satu dari sifat insaniahnya itu ialah melanjutkan keturunannya sebagai pewaris peradabannya. Hal itu memang sudah menjadi Sunnah Ilahi sebagaimana firman-Nya: "Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya ialah bahwa Dia telah menciptakan untukmu isteri-isteri dari kalanganmu agar kamu tenteram bersama mereka dan Dia adakannya cinta dan kasih sayang di antara kamu”. Sebagai upaya manusia untuk memperoleh keturunan tersebut maka Allah Ta’ala memberikan aturan serta batasan-batasan yang akan membawa manusia ke dalam kebahagiaan di dunia dan Akhirat. Perkembangan sains dan teknologi ternyata berpengaruh juga pada cara manusia mengembangkan keturunannya, sehingga bila kita perhatikan sekarang, ada dua cara manusia melangsungkan dan memperoleh keturunannya. Pertama, dilakukan melalui hubungan langsung antara lawan jenis (Coitus/Bersenggama). Kedua, dapat dilakukan dengan cara memanfaatkan teknologi berupa inseminasi buatan (Bayi tabung).

A. Pengertian dan Tujuan Inseminasi Buatan atau Bayi Tabung. Inseminasi buatan atau bayi tabung ialah upaya pembuahan yang dilakukan dengan cara mempertemukan sperma dan ovum tidak melalui hubungan langsung (bersenggama). Hal ini dilakukan melalui proses pembuahan sperma dan sel telur (Fertilisasi) di dalam gelas (in vitro, latin) atau dengan kata lain ikhtiar mempertemukan sel telur (ovum) dengan sperma di luar kandungan, kemudian dimasukkan lagi ke rahim setelah pembuahan terjadi. Berdasarkan catatan-catatan yang ada, tehnik bayi tabung ini ada yang dinamakan FIV (Fertilisasi In Vitro) sebagaimana cara di atas dan ada pula dengan melalui TAGIT (Tandur Alih Gamet Intra Tuba)

By : Saifxs@

1

Tujuannya adalah untuk memperoleh keturunan yang diharapkan, maksudnya, dengan cara inseminasi buatan atau bayi tabung itu si pasien mendapatkan anak sesuai dengan keinginannya.

B. Latar Belakang Inseminasi Buatan atau Bayi Tabung Dalam dunia kedokteran sistem inseminasi buatan atau bayi tabung ini bukan merupakan hal yang baru. Bangsa Arab telah mempraktekan sistem ini pada abad 14 dalam upaya mengembangbiakan peternakan kuda dan mulai dikenal di dunia Barat pada akhir abad ke-18. John Hanter adalah dokter pertama dari Inggris yang merekayasa sistem ini tahun 1899 M, yaitu dengan experimen pada sepasang suami isteri. Pada tahun 1978 di Inggris, dokter Step Toe berhasil melakukan inseminasi ini pada pasangan tuan dan nyonya Brown. Pada tahun 1918 M di Perancis terjadi inseminasi buatan atau bayi tabung dengan benih selain dari suami isteri. Kemudian muncul bank-bank sperma untuk mendukung penemuan baru tersebut. Bila dilihat dari aspek tujuannya, inseminasi buatan atau bayi tabung ini sudah dilakukan masyarakat Arab jahiliah yang disebut nikah istibdha’ dengan tujuan memperoleh keturunan yang unggul dari sperma seorang bangsawan yang terhormat. Yang menjadi persoalan dalam praktek inseminasi buatan/ bayi tabung ini bukan prosesnya itu sendiri, tapi sperma siapa yang digunakan, dan sel telur siapa yang dibuahi. Karena itu praktek inseminasi buatan ini ditinjau dari aspek subyeknya (Pasien) adalah sebagai berikut:

1. Inseminasi buatan/bayi tabung dari sperma dan ovum suami isteri yang dimasukkan kedalam rahim isterinya sendiri.

2. Inseminasi buatan/bayi tabung dari sperma dan ovum suami isteri yang dimasukkan ke dalam rahim selain isterinya. Atau disebut juga sewa rahim.

By : Saifxs@

2

3. Inseminasi buatan/bayi tabung dengan sperma dan ovum yang diambil dari bukan suami/isteri.

4. Inseminasi buatan/bayi tabung dengan sperma yang dibekukan dari suaminya yang sudah meninggal.

By : Saifxs@

3

BAB II PEMBAHASAN

2.1

Pengertian Sewa Rahim Menggunakan rahim wanita lain untuk mengandungkan benih wanita

(ovum) yang telah disenyawakan dengan benih lelaki (sperma) (yang kebiasaannya suami isteri), dan janin itu dikandung oleh wanita tersebut sehingga dilahirkan. Kemudian anak itu diberikan semula kepada pasangan suami isteri itu untuk memeliharanya dan anak tersebut dikira anak mereka dari sudut undangundang. Kaedah ini dikenali dengan sewa rahim karena lazimnya pasangan suami isteri yang ingin memiliki anak ini akan membayar sejumlah wang kepada ibu tumpang atau syarikat yang menguruskan kerja mencari ibu tumpang yang sanggup mengandungkan anak percantuman benih mereka dan dengan syarat ibu tumpang tersebut akan menyerahkan anak tersebut setelah dilahirkan atau pada masa yang dijanjikan. Kaedah ini termasuk dalam ruang lingkup kaedah persenyawaan luar rahim yang lebih dikenali sebagai bayi tabung uji (invitro fertilization). Kaedah bayi tabung uji lebih umum karena sperma suami atau lelaki lain disenyawakan dengan ovum isteri atau wanita lain di dalam radas makmal, kemudian benih yang telah disenyawakan tadi dimasukkan semula ke dalam rahim isteri atau wanita lain, manakala kaedah penyewaan rahim lebih khusus hanya kepada yang melibatkan penyewaan rahim wanita lain sebagai pihak yang ketiga (bukan isteri) dan kebiasaannya benih yang dimasukkan ialah benih suami isteri.

2.2

Sebab Atau Tujuan Penyewaan Rahim Terdapat beberapa sebab yang akan menyebabkan sewa rahim dilakukan,

antaranya: 1) Seseorang wanita tidak mempunyai harapan untuk mengandung secara biasa karena ditimpa penyakit atau kecacatan yang menghalangnya dari mengandung dan melahirkan anak

By : Saifxs@

4

2) Rahim wanita tersebut dibuang karena pembedahan. 3) Wanita tersebut ingin memiliki anak tetapi tidak mahu memikul bebanan kehamilan, melahirkan dan menyusukan anak dan ingin menjaga kecantikan tubuh badannya dengan mengelakkan dari terkesan akibat kehamilan. 4) Wanita yang ingin memiliki anak tetapi telah putus haid (menopause). 5) Wanita yang ingin mencari pendapatan dengan menyewa rahimnya kepada orang lain.

2.3

Bentuk-Bentuk Penyewaan Rahim 1) Bentuk pertama: Benih isteri (ovum) disenyawakan dengan benih suami(sperma), kemudian dimasukkan ke dalam rahim wanita lain. Kaedah ini digunakan dalam keadaan isteri memiliki benih yang baik, tetapi rahimnya dibuang karena pembedahan, kecacatan yang teruk, akibat penyakit yang kronik atau sebab-sebab yang lain. 2) Bentuk kedua: Sama dengan bentuk yang pertama, kecuali benih yang telah

disenyawakan dibekukan dan dimasukkan ke dalam rahim ibu tumpang selepas kematian pasangan suami isteri itu. 3) Bentuk ketiga: Ovum isteri disenyawakan dengan sperma lelaki lain (bukan suaminya) dan dimasukkan ke dalam rahim wanita lain. Keadaan ini apabila suami mandul dan isteri ada halangan atau kecacatan pada rahimnya tetapi benih isteri dalam keadaan baik. 4) Bentuk keempat: Sperma suami disenyawakan dengan ovum wanita lain, kemudian dimasukkan ke dalam rahim wanita lain. Keadaan ini berlaku apabila isteri ditimpa penyakit pada ovari dan rahimnya tidak mampu memikul tugas kehamilan, atau isteri telah mencapai tahap putus haid (menopause).

By : Saifxs@

5

5) Bentuk Kelima : Sperma suami dan ovum isteri disenyawakan, kemudian dimasukkan ke dalam rahim isteri yang lain dari suami yang sama. Dalam keadaan ini isteri yang lain sanggup mengandungkan anak suaminya dari isteri yang tidak boleh hamil.

2.4

Pandangan Etika terhadap Sewa Rahim Dalam dua dasa warsa terakhir ini kemajuan Iptek kedokteran dalam bidang

reproduksi manusia begitu pesatnya, sehingga dewasa ini terdapat berbagai cara pelaksanaan dalam upaya kehamilan di luar cara alami, yang disebut “Teknologi Reproduksi Buatan” (TRB) dan dalam UU kesehatan disebut kehamilan di luar cara alami. TRB merupakan teknik dimana oosit dimanipulasi sebelum di tandur alihkan, baik sebagai oosit maupun sebagai embrio. Hal ini dilakukan sebagai upaya terakhir pengobatan pasangan kurang subur (infertil), karena memerlukan upaya yang besar, dapat menimbulkan distress pada pasangan yang bersangkutan, dan dengan cara lain mungkin kehamilannya berhasil. Dalam UU No. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan terdapat butir-butir tentang kehamilan diluar cara alami sebagai berikut: Pasal 16. 1. Kehamilan di luar cara kehamilan dapat dilaksanakan sebagai upaya terakhir untuk membantu suami isteri mendapat keturunan. 2. Upaya kehamilan di luar cara alami sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) hanya dapat dilakukan oleh tenaga pasangan suami istri yang sah dengan ketentuan: a. Hasil pembuahan sperma dan ovum dari suami isteri yang bersangkutan, ditanamkan dalam rahim istri dari mana ovum berasal; b. Dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu; c. Pada sarana kesehatan tertentu. 3. Ketentuan mengenai pensyaratan dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.

By : Saifxs@

6

Penjelasan Ayat (1) Jika secara medis dapat dibuktikan bahwa pasangan suami isteri yang sah dan benar-benar tidak dapat memperoleh keturunan secara alami, pasangan suami isteri tersebut dapat melakukan kehamilan di luar cara alami sebagai upaya terakhir melalui ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran.

Ayat (2) Pelaksanaan upaya kehamilan di luar cara alami harus dilakukan sesuai dengan norma hukum, norma kesusilaan, dan norma kesopanan. Butir c Sarana kesehatan tertentu adalah sarana kesehatan yang memiliki tenag dan peralatan yang telah memenuhi persyaratan untuk penyelenggaraan upaya kehamilan di luar cara alami dan ditunjuk oleh pemerintah.

2.5

Pandangan Hukum Islam terhadap Sewa Rahim Dalam hal ini para ulama telah sepakat tentang pengharaman sewa rahim

dalam keadaan berikut: menggunakan rahim wanita lain selain isteri, percampuran benih antara suami dan wanita lain, percampuran benih isteri dengan lelaki lain, atau memasukkan benih yang disenyawakan selepas kematian suami isteri, sebagaimana pendapat Syekh Jad Al-Haq Ali Jad Al-Haq, Syekh Al-Azhar bahwa hal tersebut hukumnya haram, karena akan menimbulkan percampuradukkan nasab dan akibat-akibat hukum yang pelik. Argumen yang dikemukakan para ulama antara lain: 1) Praktek di atas identik dengan nikah istibdha’ / zina walaupun keadaan sperma sudah dibuahi (tidak menyendiri) seperti diungkapkan oleh Dr. Jurnalis Udin: "Memasukan benih ke dalam rahim wanita lain sama dengan bersetubuh dengan wanita itu.” 2) Qaidah usul mengatakan, "Al-Ashlu Fil Ibdha’ Al-Tahrim" (Pada dasarnya dalam urusan kelamin (percampuran) hukumnya haram). Kontrak rahim termasuk meletakan sperma pada sebuah rahim yang tidak halal baginya.

By : Saifxs@

7

Sedangkan perempuan yang rahimnya dikontrakkan jelas bukan isterinya. Sperma dari siapapun kecuali sperma suaminya, haram dimasukkan ke dalam rahimnya. 3) Dalam surat Al-Maarij ayat 31 Allah berfirman: "Maka barangsiapa yang menghendaki selain yang demikian itu (bercampur kepada isterinya atau hamba sahaya yang dimilikinya) maka mereka itu adalah orang-orang yang melewati batas.” Bagaimana jika alasannya dharurat (terpaksa)? KH. Rusyad Nurdin berkomentar: "Itu bukan dharurat, tapi memenuhi keinginan (bukan terpaksa tapi dipaksakan). Bila seorang wanita sakit lalu harus dioperasi dan hanya ada dokter laki-laki, itu baru dharurat, hukumnya tetap, tapi boleh dilakukan.” Menurut AB Loubis SH, dengan merujuk pada Qararat Maj-lis Al-majma Al-fiqhi Al-Islami yang bersidang di Makkah tanggal 19-28 Januari 1985 menunjukkan bahwa yang dibolehkan oleh Islam adalah: 1. Jika sepasang suami isteri yang sama-sama subur tapi sperma suami tidak pernah sampai secara tepat di dalam rahim isterinya, pemecahannya adalah: suami disuruh masturbasi lalu sperma yang keluar ditanamkan ke dalam rahim isterinya lewat tabung FIV. 2. Jika sepasang suami isteri subur tapi ternyata seluruh yang menghubungkan telur dengan rahim terblokade. Pemecahannya dilakukan di luar rahim. Setelah terjadi pembuahan, segera ditanamkan kembali ke rahim si ibu. 3. Jika rahim wanita lemah sedangkan suami subur dan isterinya juga, pemecahannya adalah dengan melakukan pembuahan di luar rahim lalu menitipkan bakal bayi itu ke rahim isteri lainnya yang sah (tentunya si lakilaki harus terlebih dahulu beristeri lebih dari satu).

By : Saifxs@

8

BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan Inseminasi buatan atau bayi tabung ialah upaya pembuahan yang dilakukan dengan cara mempertemukan sperma dan ovum tidak melalui hubungan langsung (bersenggama). Dan sewa rahim adalah salah satu inseminasi buatan/bayi tabung dari sperma dan ovum suami isteri yang dimasukkan ke dalam rahim selain isterinya. Sesungguhnya para ulama’ dan pengamal undang-undang masih

membincangkan perkara ini dan tidak bersepakat dalam menentukan hukum dalam masalah yang disebutkan tadi. Di Barat, terdapat aliran yang kuat memberikan hak kepada ibu yang melahirkan contohnya di Britain. Manakala di California, pemilik benih dikira sebagai ibu sebenar dari sudut undang-undang.Di Itali, undang-undang melarang penyewaan rahim tetapi menerima sekiranya dengan kerelaan individu sendiri. Suatu persoalan yang boleh ditimbulkan di sebalik permasalahan sewa rahim ini: Tidak adakah kaedah lain yang boleh digunakan bagi mengatasi masalah isteri yang tidak dapat mengandung sedangkan beliau berkeinginan memiliki anak selain daripada penyewaan rahim? Segalanya mungkin dengan perkembangan teknologi terbaru dalam bidang perubatan moden. Namun, ternyata apabila manusia tidak menjadikan agama sebagai pegangan dan akhlak sebagai benteng, berlaku pelbagai kefasadan di atas nama ketamadunan yang mengundang kemusnahan dan kecelaruan kepada institusi masyarakat.

By : Saifxs@

9


								
To top