PROPOSAL PENELITIAN - DOC

Document Sample
PROPOSAL PENELITIAN - DOC Powered By Docstoc
					EVALUASI KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN (KTSP)
           UNTUK PENINGKATAN MUTU PEMBELAJARAN




1. Pendahuluan
      Menurut Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) (2006:3), Kurikulum adalah
 seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta
 cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran
 untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Tujuan tertentu ini meliputi tujuan
 pendidikan nasional serta kesesuaian dengan kekhasan, kondisi dan potensi daerah,
 satuan pendidikan dan peserta didik. Oleh sebab itu kurikulum disusun oleh satuan
 pendidikan untuk memungkinkan penyesuaian program pendidikan dengan kebutuhan
 dan potensi yang ada di masing-masing satuan pendidikan. Undang-Undang Republik
 Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan
 Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional
 Pendidikan mengamanatkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) jenjang
 pendidikan dasar dan menengah disusun oleh satuan pendidikan dengan mengacu
 kepada Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) serta berpedoman
 pada panduan yang disusun oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP).
       Kurikulum yang disusun oleh satuan pendidikan disebut Kurikulum Tingkat
 satuan pendidikan (KTSP) yang merupakan kurikulum operasional yang terdiri dari
 tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan, struktur dan muatan kurikulum tingkat
 satuan pendidikan, kalender pendidikan, dan silabus (BNSP 2006:5). Peraturan
 Menteri Pendidikan Nasional Nomor 24 Tahun 2006 dan Nomor 6 Tahun 2007 tentang
 Pelaksanaan Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan menetapkan satuan
 pendidikan dapat mengadopsi atau mengadaptasi model KTSP yang disusun oleh
 Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pendidikan Nasional bersama unit
 utama terkait. KTSP ditetapkan oleh kepala satuan pendidikan dasar dan menengah
 setelah memperhatikan pertimbangan dari Komite Sekolah atau Komite Madrasah.
 Satuan pendidikan dasar dan menengah dapat menerapkan Peraturan Menteri
 Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi dan Peraturan Menteri
 Pendidikan Nasional Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan
 mulai tahun ajaran 2006/2007 dan harus sudah mulai menerapkan paling lambat tahun
 ajaran 2009/2010.
       Implikasi penerapan KTSP mengharuskan terjadi pergeseran paradigma dari
 pengajaran menjadi pembelajaran, yaitu interaksi peserta didik dengan guru dan
 sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Agar mencapai hasil yang optimal
 proses pembelajaran harus direncanakan, dilaksanakan secara fleksibel, bervariasi,
 interaktif, inspiratif, menarik, dan menantang peserta didik untuk berpartisipasi aktif
 serta memberikan ruang yang cukup bagi peserta didik untuk berkreasi dan
 berimprovisasi dalam proses pembelajaran. Untuk kebutuhan ini, satuan pendidikan
 harus berpedoman pada Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas)
                                                               Konsep Proposal Tesis
                                                             @Tadjuddin Nural MMUBD    hal. 1
nomor 41 tahun 2007 tentang standar proses untuk satuan pendidikan dasar dan
menengah.
       Standar proses meliputi perencanaan, pelaksanaan, penilaian, dan pengawasan
proses yang efektif dan efisien. Dalam proses perencanaan guru dituntut membuat
silabus, rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Sedang untuk pelaksanaan
ditentukan tentang persyaratan pelaksanaan proses, pelaksanaan pembelajaran dan
diukur melalui penilaian. Rangkaian proses akan berjalan dengan baik bila dilengkapi
pengawasan dalam bentuk pemantauan, supervisi, evaluasi, pelaporan dan tindak
lanjut.
       Sehebat apapun isi kurikulum, faktor guru tetap yang paling menentukan
keberhasilan pendidikan. Untuk meningkatkan mutu pembelajaran terdapat tiga
komponen penting program pembelajaran yang saling terkait, yaitu perencanaan
pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, dan penilaian. Perencanaan
pembelajaran merupakan persiapan mengelola pembelajaran yang akan dilaksanakan
pada setiap tatap muka. Pelaksanaan proses pembelajaran merupakan kegiatan guru
mengelola pembelajaran di kelas. Kegiatan penilaian dilakukan untuk mengukur dan
menilai pencapaian kompetensi serta untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan
dari proses pembelajaran yang telah dilaksanakan. Program pembelajaran perlu
dirancang secara terencana agar pelaksanaan pembelajaran berjalan dengan baik.
Karena saling terkait inilah, maka perencanaan pembelajaran yang baik sangat
penting untuk menjamin terlaksananya proses pembelajaran yang benar.
       Menyimak tuntutan standar proses idealnya, guru memang telah merancang
perencanaan dalam bentuk silabus dan RPP. Di lapangan sering terjadi
pembuatannya secara rombongan melalui musyawarah guru mata pelajaran (MGMP)
atau kelompok kerja guru (KKG) tingkat kabupaten/kota atau musyawarah guru mata
pelajaran tingkat sekolah . Mengingat pembuatannya secara bersama-sama, maka
guru ada yang aktif dan ada yang pasif. Guru yang pasif membuat perencanaan
pembelajaran hanya untuk memenuhi kewajiban administrasi, bukan untuk acuan
melaksanakan pembelajaran di kelas sehingga pelaksanaan pembelajaran di kelas
relatif tidak terencana, akibatnya hasil belajar yang dicapai siswa relatif belum
menggembirakan. Sebagian guru mengadopsi secara utuh rencana pembelajaran
buatan orang lain untuk kondisi dan situasi yang berbeda sehingga belum tentu sesuai
dengan karakteristik peserta didiknya. Kebiasaan ini mengakibatkan pembelajaran
tidak bermakna. Pembelajaran cenderung hanya berorientasi pada penguasaan
materi, bukan membekali siswa untuk memecahkan masalah dalam kehidupannya.
Guru tidak mengaitkan materi pelajaran dengan situasi dunia nyata dilingkungan
masyarakat agar dapat mendorong peserta didik membuat hubungan antara
pengetahuan yang diperoleh dengan penerapannya dalam kehidupan mereka
sebagai warga masyarakat.
       Kecenderungan sebagian guru mengadopsi secara utuh perencanaan
pembelajaran yang belum tentu sesuai dengan karakteristik peserta didiknya ini
merupakan indikasi bahwa kemampuan guru tersebut dalam merancang perencanaan
pembelajaran masih perlu ditingkatkan. Dari gambaran ini tampak jelas bahwa secara
kasat mata mayoritas guru memiliki perencanaan pembelajaran, namun apakah guru
yang bersangkutan paham atau tidak, sampai saat ini sepengetahuan penulis belum
ada yang menelitinya. Padahal perencanaan proses akan terkait erat dengan
                                                            Konsep Proposal Tesis
                                                          @Tadjuddin Nural MMUBD    hal. 2
pelaksanaan penilaian yang sangat berpengaruh untuk peningkatan mutu pendidikan.
      Tinjauan terhadap satuan pendidikan dalam pelaksanaan proses menyangkut
persyaratan proses pembelajaran di antaranya ketentuan tentang jumlah maksimal
peserta didik setiap rombongan belajar. Idealnya rombongan belajar jenjang SD/MI 28
orang, SMP/ MTs/SMA/MA/SMK 32 orang, Standar ini mayoritas belum digubris oleh
pelaksana tingkat satuan pendidikan. Pada umumnya sekolah belum mentaati
ketentuan ini. Banyak ditemukan rombongan belajar mencapai 38 orang atau bahkan
ada yang 40 orang. Fakta ini menggambarkan bahwa standar proses pendidikan
selama ini belum memenuhi syarat yang ditentukan. Kondisi ini diperparah lagi
ketersediaan buku teks pelajaran dan pengelolaan kelas. Belum banyak rasio buku
teks untuk peserta didik 1: 1 per mata pelajaran. Bahkan sarana buku di perpustakaan
masih sangat jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan menunjang pengalaman
belajar peserta didik. Menyangkut tentang penilaian hasil pembelajaran, belum banyak
penilaian dilakukan secara konsisten, sistematik dengan menggunakan tes dan
nontes.
      Bila kondisi yang banyak terjadi dalam praktik pendidikan ini tidak mendapat
solusi secara bijak, tampaknya proses pendidikan tidak akan maksimal dan terkesan
hanya asal jalan. Pengawasan proses pembelajaran juga belum berjalan secara
optimal. Peran pengawasan baik melalui pemantauan, supervisi, evaluasi, pelaporan
dan tindak lanjut baik oleh kepala sekolah maupun pejabat pengawas belum
maksimal. Banyak kepala sekolah yang sibuk dengan dirinya sendiri sehingga tidak
ada waktu untuk supervisi dan evaluasi proses pembelajaran. Akibatnya guru
menyelenggarakan proses pembelajaran tanpa motivasi yang berarti.
      Evaluasi merupakan bagian dari sistem manajemen yaitu perencanaan,
pengorganisasian, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi. Evaluasi merupakan
rangkaian yang dilakukan dengan sengaja untuk melihat tingkat keberhasilan program
(Arikunto 2002: 290). Melakukan evaluasi program merupakan kegiatan yang
dimaksudkan untuk mengetahui tingkat keberhasilan dari kegiatan yang direncanakan
yang merupakan rangkaian kegiatan yang dirancang untuk mengukur efektifitas suatu
sistem secara keseluruhan (Sudjarwo, 1988:112). Miller dan Seller (1985: 329)
menegaskan bahwa evaluasi kurikulum penting untuk méndapatkan informasi yang
digunakan guna perbaikan-perbaikan di sekolah. Evaluasi kurikulum merupakan
penerapan prosedur ilmiah untuk mengumpulkan data yang valid dan reliabel untuk
membuat keputusan tentang kurikulum yang sedang berjalan atau telah dijalankan.
Evaluasi kurikulum penting dilakukan dalam rangka penyesuaian dengan
perkembangan ilmu pengetahuan, kemajuan teknologi dan kebutuhan pasar, sebab
evaluasi kurikulum dapat menyajikan informasi mengenai kesesuaian, efektifitas dan
efisiensi kurikulum tersebut terhadap tujuan yang ingin dicapai dan penggunaan
sumber daya. Evaluasi kurikulum akan menghasilkan informasi yang berguna sebagai
bahan pembuat keputusan apakah kurikulum tersebut masih layak dijalankan tetapi
perlu revisi atau kurikulum tersebut harus diganti dengan kurikulum yang baru, karena
evaluasi kurikulum bertujuan memperoleh informasi mengenai kebaikan dan
kelemahan kurikulum sehingga dari hasil evaluasi dapat dilakukan proses perbaikan
dan pengembangan menuju yang lebih baik.
      Para pemegang kebijaksanaan pendidikan dan para pengembang kurikulum
dapat menggunakan hasil evaluasi sebagai bahan petimbangan dalam memilih dan
                                                            Konsep Proposal Tesis
                                                          @Tadjuddin Nural MMUBD    hal. 3
 menetapkan kebijaksanaan pengembangan sistem pendidikan dan pengembangan
 model kurikulum yang digunakan. Dalam kaitannya dengan proses penyelenggaraan
 pendidikan di sekolah, Sukmadinata (2001: 172) menyatakan bahwa hasil-hasil
 evaluasi kurikulum dapat digunakan oleh guru-guru, kepala sekolah, dan para
 pelaksana pendidikan lainnya dalam memahami dan membantu perkembangan
 peserta didik, memilih bajan ajar, memilih metode dan alat bantu pelajaran, serta
 fasilitas pendidikan lainnya. Evaluasi    adalah komponen penting dari proses
 pengembangan kurikulum yang sedang berjalan dan sistem pendidikan yang
 diterapkan. Menurut Gronlund (1975) yang dikutip Djiwandono (2002: ) evaluasi
 adalah proses yang sistematis untuk menentukan atau membuat keputusan sampai
 sejauh mana tujuan-tujuan telah dicapai.       Dari beberapa pendapat di atas
 menunjukkan bahwa evaluasi kurikulum merupakan proses yang dilakukan untuk
 menilai kurikulum berdasarkan kriteria atau tujuan yang telah ditetapkan, yang
 selanjutnya diikuti dengan pengambilan keputusan untuk penyempurnaan.

2. Konsep Dasar Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)
       Istilah kurikulum berasal dari bahasa latin, yakni “Curriculae”, artinya jarak yang
 harus ditempuh seorang pelari. Pada awalnya, pengertian kurikulum merupakan
 jangka waktu pendidikan yang harus ditempuh oleh peserta didik untuk memperoleh
 ijazah. Ijazah pada hakekatnya merupakan bukti, bahwa seorang peserta didik telah
 menempuh kurikulum yang berupa rencana, sebagaimana halnya seorang pelari telah
 menempuh suatu jarak antara satu tempat ke tempat lain dan akhirnya mencapai
 finish (Hamalik 2001:16). Dalam hal ini kurikulum dianggap sebagai jembatan untuk
 mencapai titik akhir dari suatu perjalanan dan ditandai oleh perolehan suatu ijazah
 tertentu. Di dalam Peraturan Pemerintah RI Nomor 19 Tahun 2005, tentang Standar
 Nasional Pendidikan, dinyatakan bahwa kurikulum adalah seperangkat rencana dan
 pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan
 sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan
 pendidikan tertentu.
       Kurikulum sebagai seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan
 pembelajaran, berarti kurikulum adalah suatu program pendidikan yang disediakan
 untuk membelajarkan peserta didik sehingga terjadi perubahan tingkah laku sesuai
 dengan tujuan pendidikan dan pembelajaran. Kurikulum meliputi segala sesuatu yang
 diperkirakan dapat mempengaruhi perkembangan peserta didik, seperti sarana
 prasarana, media dan sumber belajar, metode, dan lain sebagainya untuk memberikan
 kesempatan dan kegiatan kepada peserta didik sehingga mereka dapat dibelajarkan
 secara terencana.
       Kurikulum memuat isi dan bahan pelajaran, berarti kurikulum merupakan
 sejumlah mata pelajaran yang harus dipelajari dan ditempuh oleh peserta didik untuk
 memperoleh sejumlah pengetahuan. Bahan ajar dipandang sebagai pengalaman dan
 penemuan para ahli masa lampau yang disusun secara sistematis dan logis. Bahan
 ajar tersebut mengisi materi pelajaran yang disampaikan kepada peserta didik
 sehingga memperoleh ilmu pengetahuan yang berguna baginya. Penemuan-
 penemuan        dari pengalaman para ahli sebagai ilmu pengetahuan ini selalu
 berkembang dan semakin banyak, maka semakin banyak pula muatan kurikulum yang

                                                                Konsep Proposal Tesis
                                                              @Tadjuddin Nural MMUBD    hal. 4
 harus dipelajari oleh peserta didik di sekolah, karena itu idealnya kurikulum sekolah
 selalu dikembangkan.
       Kurikulum sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran, berarti
 kurikulum memuat serangkaian pengalaman belajar yang harus dijalani peserta didik.
 Semua kegiatan baik di dalam kelas maupun kegiatan di luar kelas (tatap muka dan
 tugas mandiri) yang memberikan pengalaman belajar bagi peserta didik pada
 hakekatnya adalah kurikulum, dan harus direncanakan sebagai muatan kurikulum.
       Kurikulum pada hakekatnya merupakan seperangkat rencana dan pengaturan
 sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran yang memuat tujuan, isi
 dan bahan pelajaran, serangkaian pengalaman belajar dan cara mengukur
 pencapaian tujuan, serta segala yang diperkirakan dapat mempengaruhi
 perkembangan peserta didik untuk mencapai tujuan penyelenggaraan satuan
 pendidikan yang bersangkutan sebagai upaya pencapaian tujuan pendidikan nasional.
 Ralph W. Tylor (1949) dalam Sukmadinata (2001: 29) mengemukakan empat
 pertanyaan pokok yang menjadi inti kajian kurikulum; (1) tujuan pendidikan yang
 manakah yang akan dicapai?; (2) pengalaman belajar yang bagaimanakah yang harus
 disediakan untuk mencapai tujuan tersebut?; (3) bagaimana mengorganisasikan
 pengalaman belajar tersebut secara efektif?; (4) bagaimana menentukan bahwa tujuan
 tersebut telah tercapai?.
      Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) merupakan kurikulum yang
bersifat operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan
pendidikan. KTSP secara yuridis diamanatkan oleh Undang-Undang Republik
Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar
Nasional Pendidikan. Penyusunan dan penerapan KTSP oleh satuan pendidikan
dapat dimulai tahun ajaran 2006/2007 dan harus sudah mulai menerapkan paling
lambat tahun ajaran 2009/2010 dengan mengacu pada Standar Isi (SI) dan Standar
Kompetensi Lulusan (SKL) untuk pendidikan dasar dan menengah sebagaimana
yang diterbitkan melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional masing-masing
Nomor 22 Tahun 2006 dan Nomor 23 Tahun 2006, serta Panduan Pengembangan
KTSP yang dikeluarkan oleh BSNP.
      Pemberlakuan KTSP sebagaimana yang ditetapkan dalam peraturan Menteri
Pendidikan Nasional Nomor 24 Tahun 2006 dan Nomor 6 tahun 2007 tentang
Pelaksanaan SI dan SKL, ditetapkan oleh kepala sekolah setelah memperhatikan
pertimbangan dari komite sekolah. Dengan kata lain, pemberlakuan KTSP
sepenuhnya diserahkan kepada satuan pendidikan, dalam arti tidak ada intervensi
dari Dinas Pendidikan atau Departemen Pendidikan Nasional dengan tujuan agar
kurikulum tersebut dapat disesuaikan dengan karakter dan tingkat kemampuan
satuan pendidikan masing-masing.
      Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) menggariskan bahwa KTSP
dikembangkan berdasarkan prinsip-prinsip: (1). Berpusat pada potensi,
perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya. (2).
Beragam dan terpadu. (3). Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan,
teknologi dan seni. (4). Relevan dengan kebutuhan kehidupan. (5). Menyeluruh dan
berkesinambungan (6). Belajar sepanjang hayat (7). Seimbang antara kepentingan
nasional dan kepentingan daerah. Dalam pengembangan dan penyusunan KTSP
                                                             Konsep Proposal Tesis
                                                           @Tadjuddin Nural MMUBD    hal. 5
perlu memperhatikan: (1). Peningkatan iman dan takwa serta akhlak mulia.
Keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia menjadi dasar pembentukan
kepribadian peserta didik secara utuh. Dalam pengembangan kurikulum perlu
dipertimbangkan hal yang memungkinkan semua mata pelajaran dapat menunjang
peningkatan iman dan takwa serta akhlak mulia. (2). Peningkatan potensi,
kecerdasan, dan minat sesuai dengan tingkat perkembangan dan kemampuan
peserta didik.      Kurikulum disusun dengan memperhatikan potensi, tingkat
perkembangan, minat, kecerdasan intelektual, emosional dan sosial, spritual, dan
kinestetik peserta didik. (3). Keragaman potensi dan karakteristik daerah dan
lingkungan. Kurikulum harus memuat keragaman untuk menghasilkan lulusan yang
relevan dengan kebutuhan pengembangan daerah. (4). Tuntutan pembangunan
daerah dan nacional. untuk mewujudkan pendidikan yang otonom dan demokratis
perlu memperhatikan keragaman dan mendorong partisipasi masyarakat dengan
tetap mengedepankan wawasan nasional. Untuk itu, keduanya harus ditampung
secara berimbang dan saling mengisi. (5). Tuntutan dunia kerja. Kurikulum perlu
memuat kecakapan hidup untuk membekali peserta didik memasuki dunia kerja. (6).
Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Kurikulum harus
dikembangkan secara berkala dan berkesinambungan sejalan dengan
perkembangan Ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. (7). Agama, muatan
kurikulum semua mata pelajaran harus ikut mendukung peningkatan iman, taqwa
dan akhlak mulia. (8). Dinamika perkembangan global Pendidikan harus
menciptakan kemandirian, baik pada individu maupun bangsa, yang sangat penting
ketika dunia digerakkan oleh pasar bebas. Pergaulan antarbangsa yang semakin
dekat memerlukan individu yang mandiri dan mampu bersaing serta mempunyai
kemampuan untuk hidup berdampingan dengan suku dan bangsa lain. (9).
Persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan, kurikulum harus mendorong
berkembangnya wawasan dan sikap kebangsaan serta persatuan nasional untuk
memperkuat keutuhan bangsa dalam wilayah NKRI. (10).Kondisi sosial budaya
masyarakat setempat. Kurikulum harus dikembangkan dengan memperhatikan
karakteristik sosial budaya masyarakat setempat dan menunjang kelestarian
keragaman budaya. Penghayatan dan apresiasi pada budaya setempat harus
terlebih dahulu ditumbuhkan sebelum mempelajari budaya dari daerah dan bangsa
lain. (11). Kesetaraan Jender, Kurikulum harus diarahkan kepada terciptanya
pendidikan yang berkeadilan dan memperhatikan kesetaraan jender. (12).
Karakteristik satuan pendidikan Kurikulum harus dikembangkan sesuai dengan visi,
misi, tujuan, kondisi, dan ciri khas satuan pendidikan.
      Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) merupakan acuan
utama bagi satuan pendidikan dalam mengembangkan kurikulum. Standar isi
adalah ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi yang dituangkan dalam kriteria
tentang kompetensi tamatan, kompetensi bahan kajian, kompetensi mata pelajaran,
dan silabus pembelajaran yang harus dipenuhi oleh peserta didik pada jenjang dan
jenis pendidikan tertentu. Standar kompetensi lulusan adalah kualifikasi
kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
Pengembangan kurikulum disusun antara lain agar dapat memberi kesempatan
kepada peserta didik untuk: (a). belajar untuk bermain dan bertaqwa kepada Tuhan
Yang Maha Esa; (b). belajar untuk memahami dan menghayati; (c). belajar untuk
                                                            Konsep Proposal Tesis
                                                          @Tadjuddin Nural MMUBD    hal. 6
mampu melaksanakan dan berbuat secara efektif; (d). belajar untuk hidup bersama
dan berguna untuk orang lain; dan (e). belajar untuk membangun dan menemukan
jati diri melalui proses belajar aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan (PAKEM).

4. Komponen Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
       Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) memuat komponen yang
dipersyaratkan dan telah disahkan oleh Dinas Pendidikan Provinsi. Penyusunan
KTSP dilakukan secara mandiri dengan membentuk Tim KTSP. Komponen KTSP
memuat tentang visi, misi, tujuan, struktur dan muatan KTSP. KTSP dilengkapi
dengan silabus. Muatan KTSP meliputi sejumlah mata pelajaran yang keluasan dan
kedalamannya merupakan beban belajar bagi peserta didik pada satuan
pendidikan. Di samping itu materi muatan lokal dan kegiatan pengembangan diri
termasuk ke dalam isi kurikulum. Struktur dan Muatan Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan mencakup : (a).Mata pelajaran dan alokasi waktu berpedoman pada
struktur kurikulum yang      tercantum dalam Standar Isi; (b). Muatan Lokal yang
mencakup jenis program dan strategi pelaksanaan; (c). Kegiatan Pengembangan
Diri mencakup jenis program dan strategi pelaksanaan; (d). Pengaturan Beban
Belajar; (e). Ketuntasan belajar setiap indikator yang telah ditetapkan dalam suatu
kompetensi dasar; (f). Kenaikan Kelas dan Kelulusan; (g). Penjurusan menyangkut
kriteria penjurusan dengan mempertimbangkan bakat, minat, prestasi peserta didik
yang disesuaikan dengan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) dan karateristik
sekolah yang bersangkutan; (h). Pendidikan Kecakapan Hidup; (i). Pendidikan
Berbasis Keunggulan Lokal dan Global; (k). Kalender Pendidikan tingkat satuan
pendidikan yang disusun sesuai dengan kebutuhan daerah dan karakteristik
sekolah. Muatan KTSP tersebut di atas merupakan komponen dokumen 1 KTSP.
       KTSP dilengkapi oleh dukumen 2 yang berisi silabus untuk setiap mata
pelajaran yang dikembangkan secara mandiri melalui proses penjabaran SK/KD
menjadi Indikator, Materi Pembelajaran, Kegiatan Pembelajaran dan Jenis Penilaian
yang mencakup seluruh mata pelajaran baik yang SK/KD nya telah disiapkan oleh
Pemerintah maupun yang disusun oleh sekolah sesuai dengan kebutuhan sekolah
yang bersangkutan. Silabus selanjutnya dikembangkan dalam Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) sebagai acuan guru dalam menyelenggarakan
proses pembelajaran.
       Proses pembelajaran pada hakikatnya merupakan suatu proses yang ditata
dan diatur menurut langkah-langkah tertentu agar pelaksanaannya dapat mecapai
hasil yang diharapkan dan kompetensi dasar dapat dicapai secara efektif. Oleh
karena itu, guru perlu mengembangkan perencanaan pembelajaran yang
didasarkan atas pertimbangan agar peserta didik memiliki pengalaman belajar yang
bermakna. Perencanaan pembelajaran yang yang tepat dan efektif akan
mempengaruhi keberhasilan pelaksanaan pembelajaran. Peraturan Pemerintah
Nomor 19 Tahun 2005 pasal (20) menyatakan perencanaan proses pembelajaran
meliputi Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang memuat sekurang-
kurangnya tujuan pembelajaran, materi ajar, metode pengajaran, sumber belajar,
dan penilaian hasil belajar. Menurut Anitah (2008: 12.9) silabus merupakan produk
utama dari pengembangan kurikulum sebagai suatu rencana tertulis yang harus
memiliki keterkaitan dengan produk pengembangan kurikulum lainnya, yaitu proses
                                                              Konsep Proposal Tesis
                                                            @Tadjuddin Nural MMUBD    hal. 7
pembelajaran. Silabus merupakan kurikulum ideal, sedangkan proses pembelajaran
merupakan kurikulum aktual. Selanjutnya Anitah menyatakan silabus merupakan
program yang dilaksanakan untuk jangka waktu yang cukup panjang yaitu untuk
satu tahun atau satu semester, menjadi acuan dalam mengembangkan rencana
pelaksanaan pembelajaran yang merupakan program untuk jangka waktu yang
lebih pendek. Menurut Ralph W. Tyler dalam Winataputra (1997: 55), ada beberapa
pertanyaan yang perlu dijawab dalam proses pengembangan silabus, yaitu: (a).
Tujuan apa yang akan dicapai?, (b). Pengalaman belajar apa yang perlu disiapkan
untuk mencapai tujuan?, (c). Bagaimana pengalaman belajar itu diorganisasikan
secara efektif?, (d). Bagaimana menentukan keberhasilan pencapaian tujuan?.
Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok mata
pelajaran/tema tertentu yang mencakup standar kompetensi , kompetensi dasar,
materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator, penilaian, alokasi
waktu, dan sumber/bahan/alat belajar( BNSP, 2006:5). Silabus merupakan
penjabaran standar kompetensi dan kompetensi dasar ke dalam materi
pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi untuk
penilaian. Jika mengikuti pandangan Tyler dan batasan BNSP di atas, silabus
mempunyai komponen-komponen; (a). komponen tujuan; (b). komponen isi; (c).
komponen metode pembelajaran, dan (d). komponen penilaian. Setiap komponen
silabus merupakan suatu kesatuan yang mempunyai hubungan dan pengaruh
timbal balik antara satu dengan lainnya. Jalinan hubungan timbal balik itu dapat
digambarkan seperti bagan di bawah ini:

                                TUJUAN



     MATERI AJAR                                        PENILAIAN



                                 METODE

               Gambar 1: Jalinan hubungan timbal balik komponen kurikulum

      Komponen tujuan merupakan arah atau sasaran yang hendak dituju oleh
proses pembelajaran. Tujuan akan menuntun kepada apa yang akan dicapai atau
sebagai gambaran hasil akhir setelah proses pembelajaran dilaksanakan. Dengan
mempunyai gambaran yang jelas tentang hasil yang akan dicapai, dapatlah
diupayakan berbagai kegiatan atau perangkat untuk mencapainya.
      Komponen materi ajar merupakan isi kurikulum yang akan diperoleh peserta
didik dari pengalaman belajar. Peserta didik akan melakukan berbagai kegiatan
dalam rangka memperoleh pengalaman belajar tersebut. Pengalaman-pengalaman
belajar ini perlu dirancang dan diorganisasikan sedemikian rupa agar apa yang
diperoleh peserta didik sesuai dengan tujuan.
      Komponen metode merupakan cara peserta didik memperoleh pengalaman

                                                              Konsep Proposal Tesis
                                                            @Tadjuddin Nural MMUBD    hal. 8
belajar untuk mencapai tujuan. Metode berkenaan dengan proses pencapaian
tujuan, sedangkan proses itu sendiri perlu disesuaikan dengan karakter materi ajar.
Untuk itu perlu ada kriteria pola organisasi kurikulum yang efektif, yang menurut
Tyler dalam Wiranataputra (1997: 56) kriteria dalam merumuskan organisasi
kurikulum adalah: (a). berkesinambungan, yaitu adanya pengulangan kembali
unsur-unsur utama kurikulum secara vertical, (b). berurutan, maksudnya isi
kurikulum diorganisasikan dengan cara mengurutkan materi ajar sesuai dengan
tingkat kedalaman atau keluasan yang dimiliki dan (c). keterpaduan, maksudnya
adanya penggabungan yang menunjukkan hubungan horizontal pengalaman belajar
yang menjadi isi kurikulum, sehingga membantu peserta didik memperoleh
pengalaman dalam kesatuan yang utuh.
      Komponen penilaian merupakan cara untuk mengukur ketercapaian sasaran
yang akan dituju dan untuk mengetahui apakah proses kurikulum berjalan secara
optimal atau tidak. Dengan penilaian akan diperoleh balikan tentang pelaksanaan
kurikulum sehingga dapat dilakukan perbaikan-perbaikan seperlunya. Karena tujuan
penilaian seperti tersebut di atas, maka sasaran penilaian ada dua, yaitu penilaian
hasil belajar yang bertujuan mengukur keberhasilan mencapai tujuan yang
diharapkan dan penilaia proses yang bertujuan menilai apakah proses berjalan
secara optimal.
      Sejalan dengan pandangan Tyler di atas, BNSP menetapkan 8 (delapan)
prinsip pengembangan silabus, yaitu: (1). Ilmiah, maksudnya keseluruhan materi
dan kegiatan yang menjadi muatan dalam silabus harus benar dan dapat
dipertanggungjawabkan secara keilmuan. (2). Relevan, maksudnya cakupan,
kedalaman, tingkat kesukaran dan urutan penyajian materi dalam silabus sesuai
dengan tingkat perkembangan fisik, intelektual, sosial, emosional, dan spritual
peserta didik. (3). Sistematis, maksudnya komponen-komponen silabus saling
berhubungan secara fungsional dalam mencapai kompetensi. (4). Konsisten,
maksudnya adanya hubungan yang konsisten antara kompetensi dasar, indikator,
materi pokok, pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian. (5).
Memadai, cakupan indikator, materi pokok, pengalaman belajar, sumber belajar,
dan sistem penilaian cukup untuk menunjang pencapaian kompetensi dasar. (6).
Aktual dan Kontekstual, maksudnya cakupan indikator, materi pokok, pengalaman
belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian memperhatikan perkembangan ilmu,
teknologi, dan seni mutakhir dalam kehidupan nyata, dan peristiwa yang terjadi. (7).
Fleksibel, maksudnya keseluruhan komponen silabus dapat mengakomodasi variasi
peserta didik, pendidik, serta dinamika perubahan yang terjadi di sekolah dan
tuntutan masyarakat. (8). Menyeluruh, maksudnya komponen silabus mencakup
keseluruhan ranah kompetensi (kognitif, afektif, psikomotor).
      Silabus memuat sekurang-kurangnya komponen-komponen: Identifikasi,
Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, Materi Pokok, Pengalaman Belajar,
Indikator, Penilaian, Alokasi Waktu, dan Sumber/Bahan/Alat. Silabus yang disusun
sebagai program yang dilaksanakan untuk jangka waktu yang cukup panjang yaitu
untuk satu tahun atau satu semester, dijabarkan dalam bentuk Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang merupakan program untuk jangka waktu
yang lebih pendek yang idealnya disusun untuk setiap kali pertemuan. Di dalam
RPP tercermin kegiatan yang dilakukan guru dan peserta didik untuk mencapai
                                                              Konsep Proposal Tesis
                                                            @Tadjuddin Nural MMUBD    hal. 9
kompetensi yang telah ditetapkan. Komponen RPP minimal memuat : Tujuan
Pembelajaran, Materi Ajar, Metode Pembelajaran, Sumber Belajar, dan Penilaian
Hasil Belajar.

5. Standar Proses
      Tidak ada satupun model proses pembelajaran yang sesuai untuk setiap mata
pelajaran di dalam kelas dengan peserta didik yang beragam. Untuk itu guru harus
mampu memilih, mengembangkan, dan menerapkan proses pembelajaran yang
sesuai dengan karakteristik mata pelajaran, karakteristik peserta didik, serta kondisi
dan situasi lingkungan. Agar mencapai hasil yang optimal, proses pembelajaran
harus direncanakan, dilaksanakan secara fleksibel, bervariasi, interaktif, inspiratif,
menarik, dan menantang siswa untuk berpartisipasi aktif serta memberikan ruang
yang cukup bagi peserta didik untuk berkreasi dan berimprovisasi dalam proses
pembelajaran. Untuk kebutuhan ini, satuan pendidikan harus berpedoman pada
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) nomor 41 tahun 2007
tentang Standar Proses Pembelajaran. Berdasarkan Peraturan Pemerintah RI
Nomor 19 tahun 2005 standar proses pembelajaran meliputi perencanaan proses
pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, penilaian hasil pembelajaran, dan
pengawasan proses pembelajaran untuk terlaksananya proses pembelajaran yang
efektif dan efisien.
      Standar perencanaan proses pembelajaran didasarkan pada prinsip sistematis
dan sistemik. Sistematis berarti secara runtut, terarah dan terukur, mulai jenjang
kemampuan rendah hingga tinggi secara berkesinambungan. Sistemik berarti
mempertimbangan berbagai faktor yang berkaitan, yaitu tujuan yang mencakup
semua aspek perkembangan peserta didik (pengetahuan, sikap, dan keterampilan),
karakteristik peserta didik, karakteristik materi ajar yang meliputi fakta, konsep,
prinsip dan prosedur, kondisi lingkungan serta hal-hal lain yang menghambat atau
menunjang      terlaksananya     pembelajaran.    Standar    pelaksanaan     proses
pembelajaran didasarkan pada prinsip terjadinya interaksi secara optimal antara
peserta didik dengan pendidik, antar peserta didik sendiri, serta peserta didik
dengan aneka sumber belajar termasuk lingkungan. Untuk itu perlu diperhatikan
jumlah maksimal peserta didik dalam setiap kelas agar dapat berlangsung interaksi
yang efektif. Di samping itu perlu diperhatikan beban pembelajaran maksimal per
pendidik dalam satuan pendidikan dan ketersediaan buku teks pelajaran bagi setiap
peserta didik.
      Standar penilaian hasil pembelajaran ditentukan dengan menggunakan
berbagai teknik penilaian sesuai dengan kompetensi dasar yang harus dikuasai
oleh peserta didik. Teknik penilaian tersebut dapat berupa tes dan nontes. Penilaian
secara individual melalui observasi dilakukan sekurang-kurangnya sekali dalam satu
semester. Penilaian dilakukan atas segala aspek perkembangan peserta didik yang
mencakup pengetahuan, sikap, dan keterampilan.
      Standar pengawasan proses pembelajaran merupakan upaya penjaminan
mutu pembelajaran bagi terwujudnya proses pembelajaran yang efektif dan efisien
ke arah tercapainya kompetensi yang ditetapkan. Pengawasan perlu didasarkan
pada prinsip-prinsip tanggung jawab dan kewenangan, periodik, demokratis,
                                                                Konsep Proposal Tesis   hal.
                                                              @Tadjuddin Nural MMUBD
                                                                                        10
terbuka, dan keberlanjutan. Pengawasan meliputi pemantauan, supervisi, evaluasi,
pelaporan, dan tindak lanjut yang diperlukan.
5.1 Perencanaan Proses Pembelajaran
     Perencanaan proses pembelajaran meliputi silabus dan rencana pelaksanaan
pembelajaran (RPP). Silabus sebagai acuan pengembangan RPP memuat identitas
mata pelajaran atau tema pelajaran, SK, KD, materi pembelajaran, kegiatan
pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi, penilaian, alokasi waktu, dan
sumber belajar. Silabus dikembangkan oleh satuan pendidikan berdasarkan
Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL), serta panduan penyusunan
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). RPP dijabarkan dari silabus untuk
mengarahkan kegiatan belajar peserta didik dalam upaya mencapai Kompetensi
Dasar (KD). Setiap guru berkewajiban menyusun RPP secara lengkap dan
sistematis agar pembelajaran berlangsung secara interaktif, inspiratif,
menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif,
serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian
sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.
RPP disusun untuk setiap KD yang dapat dilaksanakan dalam satu kali pertemuan
atau lebih. Guru dapat merancang penggalan RPP untuk setiap pertemuan yang
disesuaikan dengan penjadwalan di satuan pendidikan.
        Komponen RPP meliputi: (1). Identitas mata pelajaran, meliputi: satuan
pendidikan, kelas, semester, program, alokasi waktu/jumlah pertemuan; (2).
Standar kompetensi, merupakan kualifikasi kemampuan minimal peserta didik yang
menggambarkan penguasaan pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang
diharapkan dicapai pada setiap kelas dan/atau semester pada suatu mata
pelajaran; (3). Kompetensi dasar, merupakan sejumlah kemampuan yang harus
dikuasai peserta didik dalam mata pelajaran tertentu sebagai rujukan penyusunan
indikator kompetensi dalam suatu pelajaran; (4). Tujuan pembelajaran yang
menggambarkan proses dan hasil belajar yang diharapkan dicapai oleh peserta
didik sesuai dengan kompetensi dasar; (5).        Materi ajar yang memuat fakta,
konsep, prinsip, dan prosedur yang relevan, dan ditulis dalam bentuk butir-butir
sesuai dengan rumusan indikator pencapaian kompetensi; (6). Alokasi waktu yang
ditentukan sesuai dengan keperluan untuk pencapaian KD dan beban belajar; (7).
Metode pembelajaran yang digunakan oleh guru untuk mewujudkan suasana
belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik mencapai kompetensi dasar
atau seperangkat indikator yang telah ditetapkan. Pemilihan metode pembelajaran
disesuaikan dengan situasi dan kondisi peserta didik, serta karakteristik dari setiap
indikator dan kompetensi yang hendak dicapai pada setiap mata pelajaran; (8).
Kegiatan pembelajaran yang dirinci dalam tiga tahap yaitu; a). Pendahuluan yang
merupakan kegiatan awal dalam suatu pertemuan pembelajaran yang ditujukan
untuk membangkitkan motivasi dan memfokuskan perhatian peserta didik untuk
berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran. b). Kegiatan inti, merupakan proses
pembelajaran untuk mencapai KD. c). Tahap Penutup, merupakan kegiatan yang
dilakukan untuk mengakhiri aktivitas pembelajaran yang dapat dilakukan dalam
bentuk rangkuman atau kesimpulan, penilaian dan refleksi, umpan balik, dan tindak
lanjut; (9). Indikator pencapaian kompetensi, adalah perilaku yang dapat diukur
                                                               Konsep Proposal Tesis   hal.
                                                             @Tadjuddin Nural MMUBD
                                                                                       11
dan/atau diobservasi untuk menunjukkan ketercapaian kompetensi dasar tertentu
yang menjadi acuan penilaian mata pelajaran. Indikator pencapaian kompetensi
dirumuskan dengan menggunakan kata kerja operasional yang dapat diamati dan
diukur, yang mencakup pengetahuan, sikap, dan keterampilan; (10). Penilaian hasil
belajar, prosedur dan instrumen penilaian proses dan hasil belajar disesuaikan
dengan indikator pencapaian kompetensi dan mengacu kepada Standar Penilaian;
(11). Sumber belajar, penentuan sumber belajar didasarkan pada standar
kompetensi dan kompetensi dasar, serta materi ajar, kegiatan pembelajaran, dan
indikator pencapaian kompetensi.
      Pengembangan RPP harus memperhatikan enam prinsip, yaitu: (1).
Memperhatikan perbedaan individu peserta didik. RPP disusun dengan
memperhatikan perbedaan jenis kelamin, kemampuan awal, tingkat intelektual,
minat, motivasi belajar, bakat, potensi, kemampuan sosial, emosi, gaya belajar,
kebutuhan khusus, kecepatan belajar, latar belakang budaya, norma, nilai,
dan/atau lingkungan peserta didik; (2). Mendorong partisipasi aktif peserta didik.
Proses pembelajaran dirancang dengan berpusat pada peserta didik untuk
mendorong motivasi, minat, kreativitas, inisiatif, inspirasi, kemandirian, dan
semangat belajar; (3). Mengembangkan budaya membaca dan menulis. Proses
pembelajaran dirancang untuk mengembangkan kegemaran membaca,
pemahaman beragam bacaan, dan berekspresi dalam berbagai bentuk tulisan; (4).
Memberikan umpan balik dan tindak lanjut. RPP memuat rancangan program
pemberian umpan balik positif, penguatan, pengayaan, dan remedi; (5). Keterkaitan
dan keterpaduan. RPP disusun dengan memperhatikan keterkaitan dan
keterpaduan antara SK, KD, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator
pencapaian kompetensi, penilaian, dan sumber belajar dalam satu keutuhan
pengalaman belajar. RPP disusun dengan mengakomodasikan pembelajaran
tematik, keterpaduan lintas mata pelajaran, lintas aspek belajar, dan keragaman
budaya; dan (6). Menerapkan teknologi informasi dan komunikasi. RPP disusun
dengan mempertimbangkan penerapan teknologi informasi dan komunikasi secara
terintegrasi, sistematis, dan efektif sesuai dengan situasi dan kondisi.


5.2 Pelaksanaan Proses Pembelajaran
      Permendiknas Nomor 41 Tahun 2007 menentukan jumlah maksimal peserta
didik setiap rombongan belajar adalah 28 orang peserta didik untuk SD, dan 32
orang peserta didik untuk satuan pendidikan SMP/SMA/SMK atau yang sederajat.
Beban kerja guru mencakup kegiatan pokok yaitu merencanakan pembelajaran,
melaksanakan pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, membimbing dan melatih
peserta didik, serta melaksanakan tugas tambahan. Beban kerja guru sekurang-
kurangnya 24 (dua puluh empat) jam tatap muka dalam 1 (satu) minggu. Buku teks
pelajaran yang akan digunakan dipilih melalui rapat guru dengan pertimbangan
komite sekolah/madrasah dari buku-buku teks pelajaran yang ditetapkan oleh
Menteri. Rasio buku teks pelajaran untuk peserta didik adalah 1 : 1 per mata
pelajaran. Selain buku teks pelajaran, guru menggunakan buku panduan guru, buku
pengayaan, buku referensi dan sumber belajar lainnya. Guru membiasakan peserta
didik menggunakan buku-buku dan sumber belajar lain yang ada di perpustakaan
                                                             Konsep Proposal Tesis   hal.
                                                           @Tadjuddin Nural MMUBD
                                                                                     12
sekolah/madrasah.
       Dalam pengelolaan kelas, guru harus memperhatikan: (a). mengatur tempat
duduk sesuai dengan karakteristik peserta didik dan mata pelajaran, serta aktivitas
pembelajaran yang akan dilakukan; (b). volume dan intonasi suara guru dalam
proses pembelajaran harus dapat didengar dengan baik oleh peserta didik; (c). tutur
kata guru santun dan dapat dimengerti oleh peserta didik; (d). menyesuaikan materi
pelajaran dengan kecepatan dan kemampuan belajar peserta didik; (e).
menciptakan ketertiban, kedisiplinan, kenyamanan, keselamatan, dan kepatuhan
pada peraturan dalam menyelenggarakan proses pembelajaran; (f). memberikan
penguatan dan umpan balik terhadap respons dan hasil belajar peserta didik
selama proses pembelajaran berlangsung; (g). menghargai peserta didik tanpa
memandang latar belakang agama, suku, jenis kelamin, dan status sosial ekonomi;
(h). menghargai pendapat peserta didik; (i). memakai pakaian yang sopan, bersih,
dan rapi; (j). pada tiap awal semester, guru menyampaikan silabus mata pelajaran
yang diampunya; (k). guru memulai dan mengakhiri proses pembelajaran sesuai
dengan waktu yang dijadwalkan.
       Pelaksanaan pembelajaran merupakan implementasi dari RPP. Pelaksanaan
pembelajaran meliputi kegiatan pendahuluan, kegiatan inti dan kegiatan penutup.
Dalam kegiatan pendahuluan, guru: (a). menyiapkan peserta didik secara psikis dan
fisik untuk mengikuti proses pembelajaran; (b). mengajukan pertanyaan-pertanyaan
yang mengaitkan pengetahuan sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari; (c).
menjelaskan tujuan pembelajaran atau kompetensi dasar yang akan dicapai; (d).
menyampaikan cakupan materi dan penjelasan uraian kegiatan sesuai silabus.
      Pelaksanaan kegiatan inti merupakan proses pembelajaran untuk mencapai
KD yang dilakukan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, dan
memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang
cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan
perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Pembelajaran interaktif adalah
pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menjalin
kerjasama yang bermakna dengan teman dan guru. Pembelajaran inspiratif adalah
pembelajaran yang mendorong dan memicu peserta didik untuk mencaritemukan
hal-hal yang baru dan inovatif. Pembelajaran yang menyenangkan adalah
pembelajaran yang memungkinkan siswa belajar dalam suasana tanpa tekanan,
bebas, terlibat secara psikis dan fisik.  Pembelajaran yang menantang adalah
pembelajaran dimana peserta didik        dihadapkan pada masalah, persoalan-
persoalan dilematis, yang jawabannya membutuhkan kreativitas dan kemungkinan-
kemungkinan baru sesuai dengan tingkat perkembangan kognitif peserta didik.
Pembelajaran yang memotivasi adalah pembelajaran yang mendorong dan
memberi semangat pada peserta didik untuk mencapai prestasi, berkompetisi,
berani mengekspresikan dan mengaktualisasikan diri dengan materi pembelajaran.
      Kegiatan inti menggunakan metode yang disesuaikan dengan karakteristik
peserta didik dan mata pelajaran, yang dapat meliputi proses eksplorasi, elaborasi,
dan konfirmasi. Eksplorasi merupakan serangkaian kegiatan pembelajaran yang
memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mencaritemukan berbagai
informasi, pemecahan masalah, dan inovasi. Elaborasi adalah serangkaian kegiatan
                                                              Konsep Proposal Tesis   hal.
                                                            @Tadjuddin Nural MMUBD
                                                                                      13
pembelajaran yang memungkinkan peserta didik mengekspresikan dan
mengaktualisasikan diri melalui berbagai kegiatan dan karya yang bermakna.
Konfirmasi adalah serangkaian kegiatan pembelajaran yang memberi kesempatan
bagi peserta didik untuk dinilai, diberi penguatan dan diperbaiki secara terus-
menerus.
      Dalam kegiatan penutup, guru: (a). bersama-sama dengan peserta didik
dan/atau sendiri membuat rangkuman/simpulan pelajaran; (b). melakukan penilaian
dan/atau refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan secara konsisten dan
terprogram; (c). memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran;
(d). merencanakan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pembelajaran remedi,
program pengayaan, layanan konseling dan/atau memberikan tugas baik tugas
individual maupun kelompok sesuai dengan hasil belajar peserta didik; (e).
menyampaikan rencana pembelajaran pada pertemuan berikutnya.

      Disamping proses pembelajaran untuk mata pelajaran, satuan pendidikan juga
perlu membudayakan kegiatan pengembangan diri, berupa proses pembelajaran di
dalam lingkungan sekolah. Kegiatan ini diarahkan untuk pembentukan iklim sekolah
yang kondusif melalui keteladanan pendidik dan tenaga kependidikan sehingga
terwujud interaksi edukatif yang memungkinkan terjadinya internalisasi nilai, dan
secara kumulatif akan bermuara pada terbentuknya akhlak mulia dan kepribadian
luhur peserta didik. Pengembangan diri adalah kegiatan yang bertujuan
memberikan kesempatan kepada setiap peserta didik untuk mengembangkan dan
mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan, bakat, minat, dan iklim sekolah.
Kegiatan pengembangan diri difasilitasi dan/atau dibimbing oleh guru, konselor,
atau tenaga kependidikan yang dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan
ekstrakurikuler. Kegiatan pengembangan diri dapat dilakukan antara lain melalui
kegiatan pelayanan konseling yang berkenaan dengan masalah diri pribadi dan
kehidupan sosial, belajar, dan pengembangan karier peserta didik serta kegiatan
kepramukaan, kepemimpinan, dan kelompok ilmiah remaja. Pengembangan diri
bukan merupakan mata pelajaran. Oleh karena itu, penilaian kegiatan
pengembangan diri lebih ditekankan pada menilai keikutsertaan peserta didik dalam
kegiatan pengembangan diri yang dipilihnya.    Keikutsertaan peserta didik dalam
kegiatan pengembangan diri dibuktikan dengan surat keterangan yang
ditandatangani oleh pembina kegiatan dan kepala sekolah/madrasah.



5.3 Penilaian Hasil Pembelajaran
      Penilaian dilakukan oleh guru terhadap hasil pembelajaran untuk mengukur
tingkat pencapaian kompetensi peserta didik, serta digunakan sebagai bahan
penyusunan laporan kemajuan hasil belajar, dan memperbaiki proses
pembelajaran. Penilaian dilakukan secara konsisten, sistematik, dan terprogram
dengan menggunakan tes dan nontes dalam bentuk tertulis atau lisan, pengamatan
kinerja, pengukuran sikap, penilaian hasil karya berupa tugas, proyek dan/atau
produk, portofolio, dan penilaian diri. Penilaian hasil pembelajaran menggunakan
Standar Penilaian Pendidikan dan Panduan Penilaian Kelompok Mata Pelajaran.
                                                            Konsep Proposal Tesis   hal.
                                                          @Tadjuddin Nural MMUBD
                                                                                    14
5.4 Pengawasan Proses Pembelajaran
      pengawasan proses pembelajaran merupakan upaya penjaminan mutu
pembelajaran bagi terwujudnya proses pembelajaran yang efektif dan efisien ke
arah tercapainya kompetensi yang ditetapkan. Pengawasan perlu didasarkan pada
prinsip-prinsip tanggung jawab dan kewenangan, periodik, demokratis, terbuka, dan
keberlanjutan. Pengawasan meliputi pemantauan, supervisi, evaluasi, pelaporan,
dan tindak lanjut yang diperlukan.
      Pemantauan proses pembelajaran dilakukan pada tahap perencanaan,
pelaksanaan, dan penilaian hasil pembelajaran. Pemantauan dilakukan dengan
cara diskusi kelompok terfokus, pengamatan, pencatatan, perekaman, wawancara,
dan dokumentasi. Kegiatan pemantauan dilaksanakan oleh kepala dan pengawas
satuan pendidikan.
      Supervisi proses pembelajaran dilakukan pada tahap perencanaan,
pelaksanaan, dan penilaian hasil pembelajaran. Supervisi pembelajaran
diselenggarakan dengan cara pemberian contoh, diskusi, pelatihan, dan konsultasi.
Kegiatan supervisi dilakukan oleh kepala dan pengawas satuan pendidikan.
      Evaluasi proses pembelajaran dilakukan untuk menentukan kualitas
pembelajaran secara keseluruhan, mencakup tahap perencanaan proses
pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, dan penilaian hasil pembelajaran.
Evaluasi proses pembelajaran diselenggarakan dengan cara: (a). membandingkan
proses pembelajaran yang dilaksanakan guru dengan standar proses, (b).
mengidentifikasi kinerja guru dalam proses pembelajaran sesuai dengan
kompetensi guru. Evaluasi proses pembelajaran memusatkan pada keseluruhan
kinerja guru dalam proses pembelajaran.
      Sebagai tindak lanjut dari pengawasan proses pembelajaran, satuan
pendidikan perlu melakukan program tindak lanjut berupa: (a). Penguatan dan
penghargaan diberikan kepada guru yang telah memenuhi standar. (b). Teguran
yang bersifat mendidik diberikan kepada guru yang belum memenuhi standar. (c).
Guru diberi kesempatan untuk mengikuti pelatihan/penataran lebih lanjut. Secara
umum tujuan penyusunan standar proses untuk satuan pendidikan dasar dan
menengah adalah dalam rangka menjamin mutu proses pembelajaran pada setiap
satuan pendidikan dasar dan menengah, agar terlaksana proses pembelajaran yang
efektif dan efisien untuk mencapai standar kompetensi lulusan.


6. Evaluasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
      Evaluasi merupakan bagian dari sistem manajemen yaitu perencanaan,
pengorganisasian, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi. Kurikulum juga dirancang
dari tahap perencanaan, pengorganisasi kemudian pelaksanaan dan akhirnya
monitoring dan evaluasi. Evaluasi merupakan rangkaian yang dilakukan dengan
sengaja untuk melihat tingkat keberhasilan program (Arikunto 2002: 290).
Rangkaian kegiatan tersebut dirancang untuk mengukur efektifitas suatu sistem
secara keseluruhan (Sudjarwo, 1988:112). Peranan monitoring dan evaluasi dari
suatu sistem merupakan hal yang penting untuk pengembangan dan perubahan
                                                            Konsep Proposal Tesis   hal.
                                                          @Tadjuddin Nural MMUBD
                                                                                    15
untuk penyempurnaan program. Fungsi utama monitoring dan evaluasi adalah
mendiagnosa dan memberikan saran agar program dapat berjalan sebagaimana
yang direncanakan. Karena pendekatan sistem bersifat daur ulang dan interaktif
secara alami, maka setiap daur dapat menimbulkan manfaat berdasarkan
pengalaman-pengalaman dan umpan balik yang diperoleh dari daur yang terdahulu
(Sudjarwo 1988: 112). Serangkaian teknik evaluasi dapat digunakan untuk
mengumpulkan gambaran menyeluruh tentang efek dari suatu program.
      Menurut Gronlund (1975) yang dikutip Djiwandono (2002). mengatakan bahwa
evaluasi adalah proses yang sistematis untuk menentukan atau membuat
keputusan sampai sejauh mana tujuan-tujuan telah dicapai. Selanjutnya, Djaali
(2008 ) menjelaskan bahwa evaluasi merupakan               proses menilai sesuatu
berdasarkan kriteria atau tujuan yang telah ditetapkan, yang selanjutnya diikuti
dengan pengambilan keputusan atas objek yang dievaluasi. Dalam dunia
pendidikan, Semiawan (1979; 21) membedakan istilah-istilah evaluasi, penilaian,
dan pengukuran. Pengukuran dilakukan terhadap kemampuan dan kemajuan
belajar di sekolah sedangkan penilaian terhadap kelakuan yang bersifat kualitatif,
dan evaluasi mencakup kedua pengertian tersebut.
      Evaluasi kurikulum bertujuan untuk mengetahui bagaimana kondisi kurikulum
tersebut dalam rancangan, pelaksanaan serta hasilnya. Evaluasi kurikulum adalah
proses penerapan prosedur ilmiah untuk mengumpulkan data yang valid dan
reliabel untuk membuat keputusan tentang kurikulum yang sedang berjalan atau
telah dijalankan. Evaluasi kurikulum penting dilakukan dalam rangka penyesuaian
dengan perkembangan ilmu pengetahuan, kemajuan teknologi dan kebutuhan
pasar. Evaluasi kurikulum dapat menyajikan informasi mengenai kesesuaian,
efektifitas dan efisiensi kurikulum tersebut terhadap tujuan yang ingin dicapai dan
penggunaan sumber daya. Rangkaian kegiatan evaluasi kurikulum akan
menghasilkan informasi yang berguna sebagai bahan pembuat keputusan apakah
kurikulum tersebut masih layak dijalankan tetapi perlu revisi atau kurikulum tersebut
harus diganti dengan kurikulum yang baru karena evaluasi kurikulum dapat
menyajikan bahan informasi mengenai kebaikan dan kelemahan kurikulum
sehingga dari hasil evaluasi dapat dilakukan proses perbaikan dan pengembangan
menuju yang lebih baik. Para pemegang kebijaksanaan pendidikan dan para
pengembang kurikulum dapat menggunakan hasil evaluasi sebagai bahan
petimbangan dalam memilih dan menetapkan kebijaksanaan pengembangan sistem
pendidikan dan pengembangan model kurikulum yang digunakan. Dalam kaitannya
dengan proses penyelenggaraan pendidikan di sekolah, Sukmadinata (2001: 172)
menyatakan bahwa hasil-hasil evaluasi kurikulum dapat digunakan oleh guru-guru,
kepala sekolah, dan para pelaksana pendidikan lainnya dalam memahami dan
membantu perkembangan peserta didik, memilih bajan ajar, memilih metode dan
alat bantu pelajaran, serta fasilitas pendidikan lainnya.
      Tujuan evaluasi kurikulum adalah untuk pengembangan kurikulum yang
sedang berjalan dan sistem pendidikan yang diterapkan, Undang-undang Nomor 20
Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 57 ayat (1) menyatakan
bahwa evaluasi dilakukan dalam rangka pengendalian mutu pendidikan secara
nasional sebagai bentuk akuntabilitas penyelenggara pendidikan kepada pihak-
pihak yang berkepentingan. Pasal 57 ayat (2) menyatakan evaluasi dilakukan
                                                               Konsep Proposal Tesis   hal.
                                                             @Tadjuddin Nural MMUBD
                                                                                       16
terhadap peserta didik, lembaga pendidikan, dan program pendidikan pada jalur
formal dan nonformal untuk semua jenjang, satuan, dan jenis pendidikan.


      Pendidikan merupakan suatu sistem dengan komponen-komponen yang
saling berkaitan. Seluruhan sistem harus sesuai dengan standar yang telah
ditentukan oleh BSNP. Sistem tersebut dapat digambarkan sebagai berikut.


                                         Lingkungan

                Standar       Standar Pendidik &        Standar
                                   Tenaga              Sarana &
                  Isi
                                 Kependidikan         Prasarana.




                                                                         Standar
 Peserta              Standar Proses Pembelajaran                       Kompetensi        Dampak
  Didik                                                                  Lulusan




                   Standar              Standar             Standar
                                      Pengelolaan           Penilaian
                 Pembiayaan




             Gambar 2: Sistem Pembelajaran Ditinjau dari Standar Proses Pembelajaran
      (Panduan Implementasi Standar Proses: Tim Nasional Implementasi KTSP , 2009: 8)

      Gambaran sistem pembelajaran tersebut memperlihathan peranan penting
proses pembelajaran. Masukan berupa peserta didik, instrumental berupa isi,
tenaga, sarana dan prasarana, biaya dan pengelolaan, tergantung pada proses
pembelajaran untuk menghasilkan kompetensi lulusan yang bermutu, serta
berdampak terhadap lingkungan. Mutu pembelajaran adalah gambaran mengenai
baik-buruknya hasil yang dicapai oleh peserta didik dalam proses pembelajaran
yang dilaksanakan. Satuan pendidikan dianggap bermutu bila berhasil mengubah
sikap, perilaku dan keterampilan peserta didik dikaitkan dengan tujuan pendidikan
(Depdiknas, 2009: 9). Mutu pendidikan sebagai sistem dipengaruhi oleh mutu
komponen yang membentuk sistem, serta proses pembelajaran yang berlangsung
hingga membuahkan hasil.
      Tim Nasional Implementasi KTSP (2009: 8) Secara konseptual merumuskan
indikator mutu poses pembelajaran dalam lima rujukan, yaitu kesesuaian, daya
tarik, efektivitas, efisiensi dan produktivitas pembelajaran. Rujukan kesesuaian
meliputi indikator sebagai berikut: sepadan dengan karakteristik peserta didik, serasi
dengan aspirasi masyarakat maupun perorangan, cocok dengan kebutuhan
masyarakat, sesuai dengan kondisi lingkungan, selaras dengan tuntutan zaman,
dan sesuai dengan teori, prinsip, dan/atau nilai baru dalam pendidikan.
Pembelajaran yang bermutu juga harus mempunyai daya tarik yang kuat;
                                                                             Konsep Proposal Tesis   hal.
                                                                           @Tadjuddin Nural MMUBD
                                                                                                     17
indikatornya meliputi di antaranya: kesempatan belajar yang tersebar dan karena itu
mudah dicapai dan diikuti, isi pendidikan yang mudah dicerna karena telah diolah
sedemikian rupa, kesempatan yang tersedia yang dapat diperoleh siapa saja pada
setiap saat diperlukan, pesan yang diberikan pada saat dan peristiwa yang tepat,
keterandalan yang tinggi, terutama karena kinerja lembaga dan lulusannya yang
menonjol, keanekaragaman sumber, baik yang dengan sengaja dikembangkan
maupun yang sudah tersedia dan dapat dipilih serta dimanfaatkan untuk
kepentingan belajar, dan suasana yang akrab, hangat, dan merangsang. Efektivitas
pembelajaran seringkali diukur dengan tercapainya tujuan, atau dapat pula diartikan
sebagai ketepatan dalam mengelola suatu situasi. Pengertian ini mengandung ciri
pemeblajaran dilakukan secara sistematis, yaitu dilakukan secara teratur atau
berurutan melalui tahap perencanaan, pengembangan, pelaksanaan, penilaian, dan
penyempurnaan, sensitif terhadap kebutuhan akan tugas belajar dan kebutuhan
peserta didik, kejelasan akan tujuan dan karena itu dapat dihimpun usaha untuk
mencapainya, bertolak dari kemampuan atau kekuatan mereka yang bersangkutan
(peserta didik, pendidik, masyarakat dan pemerintah). Efisiensi pembelajaran dapat
diartikan sebagai kesepadanan antara waktu, biaya, dan tenaga yang digunakan
dengan hasil yang diperoleh atau dapat dikatakan sebagai mengerjakan sesuatu
dengan benar. Ciri yang terkandung meliputi: merancang kegiatan pembelajaran
berdasarkan model yang mengacu pada kepentingan, kebutuhan dan kondisi
peserta didik, pengorganisasian kegiatan belajar dan pembelajaran yang rapi,
misalnya lingkungan atau latar yang diperhatikan, pemanfaatan berbagai sumber
daya dengan pembagian tugas seimbang, serta pengembangan dan pemanfaatan
aneka sumber belajar sesuai keperluan, pemanfaatan sumber belajar bersama,
usaha inovatif yang merupakan penghematan, seperti misalnya pembelajaran jarak-
jauh dan pembelajaran terbuka yang tidak mengharuskan pembangunan gedung
dan mengangkat tenaga pendidik yang digaji secara tetap. Inti dari efisiensi adalah
mempertimbangkan berbagai faktor internal maupun eksternal (sistemik) untuk
menyusun alternatif tindakan dan kemudian memilih tindakan yang paling
menguntungkan. Produktivitas pada dasarnya adalah keadaan atau proses yang
memungkinkan diperolehnya hasil yang lebih baik dan lebih banyak. Produktivitas
pembelajaran dapat mengandung arti: perubahan proses pembelajaran (dari
menghafal dan mengingat ke menganalisis dan mencipta), penambahan masukan
dalam proses pembelajaran (dengan menggunakan berbagai macam sumber
belajar), peningkatan intensitas interaksi peserta didik dengan sumber belajar, atau
gabungan ketiganya dalam kegiatan belajar-pembelajaran sehingga menghasilkan
mutu yang lebih baik, keikutsertaan dalam pendidikan yang lebih luas, lulusan lebih
banyak, lulusan yang lebih dihargai oleh masyarakat, dan berkurangnya angka
putus sekolah.
           Proses pembelajaran yang tidak memenuhi standar merupakan salah
satu penyebab rendahnya mutu pendidikan. Berbagai masukan lain di antaranya
kondisi peserta didik, kualitas pendidik, kurikulum, terbatasnya anggaran,
terbatasnya sarana, dan sebagainya, merupakan faktor yang tekait erat dengan
mutu. Selama masih digunakan paradigma pengajaran yang lebih menitikberatkan
peran pendidik dan belum banyak memberikan peran yang lebih besar kepada

                                                              Konsep Proposal Tesis   hal.
                                                            @Tadjuddin Nural MMUBD
                                                                                      18
peserta didik proses pembelajaran tidak akan efektif dalam peningkatan mutu.
Paradigma pengajaran cenderung bersifat berbasis materi, dan mendorong peserta
didik untuk menghafalkan isi pelajaran. Hal ini berarti bahwa pengajaran hanya
mampu mencapai tujuan belajar yang dominan bersifat kognitif, dan menghalangi
terbentuknya kemampuan untuk memecahkan masalah dan mencipta. Penyajian
pelajaran oleh guru kebanyakan bersifat verbal dan karena itu lebih banyak
merangsang belahan otak kiri, sementara rangsangan terhadap belahan otak kanan
dengan pendekatan visual, holistik dan kreatif kurang mendapat perhatian. Kegiatan
belajar dan pembelajaran lebih banyak berfokus pada penguasaan atas isi buku
teks. Semua hal ini telah menyebabkan belajar yang membosankan dan mematikan
kreativitas peserta didik. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun
2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah Republik
Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan
mengamanatkan pembelajaran harus diselenggarakan secara interaktif, inspiratif
dalam suasana yang menyenangkan, menggairahkan, menantang, memotivasi
peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi
prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan
perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Untuk semua itu, maka
diperlukan adanya standar proses pembelajaran yang berlaku secara nasional yang
ditetapkan dengan keputusan Menteri Pendidikan Nasional serta memperoleh
dukungan dari masyarakat.
       Sistem Penjaminan dan peningkatan mutu pendidikan dasar dan menengah di
Indonesia, sesuai dengan amanat Peraturan Pemerintah RI Nomor 19 tahun 2005
tentang Standar Nasional Pendidikan salah satu standar yang harus dikembangkan
adalah standar proses sebagai kriteria proses pembelajaran. Standar proses adalah
standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran
pada satuan pendidikan untuk mencapai kompetensi lulusan. Standar proses berisi
kriteria minimal proses pembelajaran pada satuan pendidikan dasar dan menengah
di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia. Standar proses ini
berlaku untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah pada jalur formal, baik pada
sistem paket maupun pada sistem kredit semester.




                                DAFTAR RUJUKAN

    Ahmadi, H. Abu dan Nur Uhbiyati, 2001, Ilmu Pendidikan, Rineka Cipta,
Jakarta: cet 2, ix, 309 hal

    Ali, M. Nashir, 1985, Dasar-Dasar Ilmu mendidik, Mutiara Sumber
Widya, Jakarta: cet.3, 244 hal


                                                             Konsep Proposal Tesis   hal.
                                                           @Tadjuddin Nural MMUBD
                                                                                     19
     Anitah W. ,Sri, dkk, 2008, Materi Pokok Strategi Pembelajaran SD: 1 –
12; Universitas Terbuka, Jakarta: cet 4, 612 hal.

    Arikunto, Suharsimi, 2002, Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan, Bumi
Aksara, Jakarta: Ed.Rev. cet.3. xii, 310 hal

    Budiningsih, C. Asri, 2005, Belajar dan Pembelajaran, Rineka Cipta,
Jakarta: cet 1, xi, 128 hal

     Danim, Sudarman, 2006, Inovasi Pendidikan: Upaya Peningkatan
Profesionalisme Tenaga Kependidikan, Pustaka Setia, Bandung

    Djiwandono, Sri Esti Wuryani, 2002, Psikologi Pendidikan, Grasindo,
Jakarta: xx, 483 hal

    Hamalik, Oemar, 2002, Perencanaan Pembelajaran : Berdasarkan
Pendekatan Sistem, Bumi Aksara, Jakarta: ed 1, cet 3, x, 184 hal

    Hamalik, Oemar, 2002, Kurikulum dan Pembelajaran, Bumi Aksara,
Jakarta: cet 2, x, 240 hal

    Hamalik, Oemar, 2001, Proses Belajar Mengajar, Bumi Aksara, Jakarta:

    Hendayana, Sumar, dkk, 2006, Lesson Study: Suatu Strategi
Meningkatkan Keprofesionalan Pendidik, UPI Press, Bandung

     Hendrijani, Aprilia B, 2005, Pembaharuan Kurikulum: Sebuah Perayaan
Praktik Ruang Kelas, (Judul Asli: Curriculum Innovation: A Celebration of
Classroom Practice, 1997, Roger Crombie White) Grasindi, Jakarta: cet 1,
xx, 197 hal

   Mulyasa, E, 2006, Menjadi Guru Profesional: Menciptakan
Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan, PT. Remaja Rosdakarya,
   Sianipar, dan Supomo, 2002, Desain Instruksional, LAN, Jakarta

     Stamboel, Conny Semiawan, 1982, Prinsip dan Teknik Pengukuran dan
Penilaian di Dalam Dunia Pendidikan, Mutiara, Jakarta: v, 363 hal

      Sudjarwo. S, 1988, Teknologi Pendidikan, Erlangga, Jakarta: v, 231 hal
(Judul Asli: A Handbook of Educational Technology, Fred Percival and Henry
Ellington)

                                                         Konsep Proposal Tesis   hal.
                                                       @Tadjuddin Nural MMUBD
                                                                                 20
    Sukmadinata, Nana Syaodih, 2001, Pengembangan Kurikulum: Teori
dan Praktek, PT Remaja Rosdakarya, Bandung: cet 4, viii, 219 hal

    Sukmadinata, Nana Syaodih, dkk, 2006, Pengendalian Mutu Pendidikan
Sekolah Menengah: Konsep, Prinsip, dan Instrumen, PT Refika Aditama,
Bandung: cet 1, xi, 204 hal

     Walgito, Bimo, 2002, Pengantar Psikologi Umum, Andi, Yogyakarta: Ed.
3 cet. 1, xii, 191 hal

   Winarno, dan Eko Djuniarto, 2003, Perencanaan Pembelajaran, Dirjen
PMPTK Depdiknas, Jakarta

     Winataputra, Udin, S, 2006, Pembelajaran Yang Mendidik dan Dialogis:
Tinjauan Psiko-Pedagogis, Universitas Terbuka, Jakarta

    .
    http://www.newhorizons.org/trans/nea_keys.htm
    http://www.co-nect.net




                                                      Konsep Proposal Tesis   hal.
                                                    @Tadjuddin Nural MMUBD
                                                                              21