Internal Control System (DOC) by adhita123

VIEWS: 400 PAGES: 20

A plan that includes organizational structure and all the methods and tools used are coordinated within the company in order to maintain the security of corporate property, check the accuracy and correctness of accounting data, promote efficiency, and help to encourage compliance with management policies that have been established.

More Info
									   TUGAS KELOMPOK AKUNTANSI
    MANAJEMEN INFORMATIKA
      RESUME (MERANGKUM)




            KELOMPOK :
  HANIF ARIP SUMANTRI    : 3093311041
  YUVE DESFINISIONDA     : 3093311071
  RAHMAD ADHITA MUSLIM   : 3093311067
  EDI PURWO LAKSONO      : 3093311018




UNIVERSITAS TEKNOLOGI YOGYAKARTA
      TAHUN AJARAN 2009 / 2010
   SISTEM PENGENDALIAN INTERN , AKUTANSI UNTUK KAS
    PIUTANG DAGANG, PERSEDIAAN BARANG DAN AKTIVA
                        TETAP



SISTEM PENGENDALIAN INTERN
       Suatu perencanaan yang meliputi struktur organisasi dan semua metode dan alat-
alat yang dikoordinasikan yang digunakan di dalam perusahaan dengan tujuan untuk
menjaga keamanan harta milik perusahaan, memeriksa ketelitian dan kebenaran data
akuntansi, mendorong efisiensi, dan membantu mendorong dipatuhinya kebijakan
manajemen yang telah ditetapkan.

Dari definisi di atas dapat kita lihat bahwa tujuan adanya pengendalian intern :
1. Menjaga kekayaan organisasi.
2. Memeriksa ketelitian dan kebenaran data akuntansi.
3. Mendorong efisiensi.
4. Mendorong dipatuhinya kebijakan manajemen.

Dilihat dari tujuan tersebut maka sistem pengendalian intern dapat dibagi menjadi dua
yaitu Pengendalian Intern Akuntansi (Preventive Controls) dan Pengendalian Intern
Administratif (Feedback Controls).
        Pengendalian Intern Akuntansi dibuat untuk mencegah terjadinya inefisiensi yang
tujuannya adalah menjaga kekayaan perusahaan dan memeriksa keakuratan data
akuntansi. Contoh : adanya pemisahan fungsi dan tanggung jawab antar unit organisasi.
        Pengendalian Administratif dibuat untuk mendorong dilakukannya efisiensi dan
mendorong dipatuhinya kebijakkan manajemen.(dikerjakan setelah adanya pengendalian
akuntansi) Contoh : pemeriksaan laporan untuk mencari penyimpangan yang ada, untuk
kemudian diambil tindakan.

Elemen Pengendalian Internal
1.Lingkungan Pengendalian
2.Sistem Akuntansi
3.Prosedur Pengendalian

Lingkungan Pengendalian
      Lingkungan Pengendalian dari suatu organisasi menekankan pada berbagai
macam faktor yang secara bersamaan mempengaruhi kebijakan dan prosedur
pengendalian.

Filosofi dan Gaya Operasional Manajemen
       Filosofi adalah seperangkat keyakinan dasar yang menjadi parameter bagi
perusahaan dan karyawannya. (menggambarkan apa yang seharusnya dikerjakan dan
yang tidak dikerjakan) Gaya Operasional mencerminkan ide manajer tentang bagaimana
kegiatan operasi suatu perusahaan harus dikerjakan (Filosofi perusahaan
dikomunikasikan melalui gaya operasi manajemen)
Struktur Organisasi
       Salah satu elemen kunci dalam lingkungan pengendalian adalah struktur
organisasi. Struktur Organisasi menunjukkan pola wewenang dan tanggung jawab yang
ada dalam suatu perusahaan. (Desentralisasi maupun sentralisasi)

Dewan Komisaris Dan Audit Komite
       Dewan komisaris merupakan penghubung antara pemegang saham dengan pihak
manajemen perusahaan. Pemegang saham mempercayakan pengendalian atas manajemen
melalui dewan komisaris. (jadi semuanya tergantung dari dewan komisaris) Komite audit
dibentuk oleh dewan komisaris untuk melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan
pengendalian operasional perusahaan.Metode Pendelegasian Wewenang Dan Tanggung
Jawab Metode pendelegasian wewenang dan tanggung jawab mempunyai pengaruh yang
penting dalam lingkungan pengendalian. Biasanya metode ini tercermin dalam suatu
bagan organisasi.
Metode Pengendalian Manajemen
       Lingkungan pengendalian juga dipengaruhi oleh metode pengendalian
manajemen. Metode ini meliputi pengawasan yang efektif (melalui peranggaran), laporan
pertanggung jawaban dan audit internal.Kebijakkan dan praktik kepegawaian Kebijakan
dan praktek yang berhubungan dengan perekrutan, pelatihan, evaluasi, penggajian dan
promosi pegawai, mempunyai pengaruh yang penting dalam mencapai tujuan perusahaan
sebagaimana juga dilakukan dalam meminimumkan resiko.

Pengaruh Ekstern
         Organisasi harus mematuhi aturan-aturan yang dikeluarkan oleh pemerintah
maupun pihak yang mempunyai juridiksi atas organisasi. Hal tersebut sangat berpengaruh
pada pengendalian intern perusahaan.
Sistem Akuntansi
Sistem akuntansi tidak hanya digunakan untuk menghasilkan laporan keuangan saja,
tetapi juga menghasilkan pengendalian manajemen.

Prosedur Pengendalian
       Prosedur pengendalian merupakan kebijakan dan aturan mengenai kelakuan
karyawan yang dibuat untuk menjamin bahwa tujuan pengendalian manajemen dapat
tercapai.
Secara umum prosedur pengendalian yang baik terdiri dari :
1. Penggunaan wewenang secara tepat untuk melakukan suatu kegiatan atau transaksi.
2. Pembagian tugas.
3. Pembuatan dan penggunaan dokumen dan catatan yang memadai.
4. Keamanan yang memadai terhadap aset dan catatan.
5. Pengecekan independen terhadap kinerja.

Penggunaan Wewenang Secara Tepat
      Dalam organisasi, setiap transaksi hanya terjadi atas dasar otorisasi dari pejabat
yang memiliki wewenang untuk menyetujui terjadinya transaksi tersebut. Oleh karena itu
dalam organisasi harus dibuat sistem yang mengatur pembagian wewenang untuk
otorisasi atas terlaksananya setiap transaksi. Dengan adanya pembagian wewenang ini
akan mempermudah jika akan dilakukan audit trail, karena otorisasi membatasi aktivitas
transaksi hanya pada orang-orang yang terpilih. Otorisasi mencegah terjadinya
penyelewengan transaksi kepada orang lain.

Pembagian Tugas
        Pembagian tugas memisahkan fungsi operasi dan penyimpanan dari fungsi
akuntansi (pencatatan). Dan suatu fungsi tidak boleh melaksanakan semua tahap suatu
transaksi. Dengan pemisahakn fungsi operasi dan penyimpanan dari fungsi pencatatan,
catatan akuntansi yang disiapkan dapat mencerminkan transaksi yang sesungguhnya
terjadi pada fungsi operasi dan fungsi penyimpanan. Jika semua fungsi disatukan, akan
membuka kemungkinan terjadinya pencatatan transaksi yang sebenarnya tidak terjadi,
sehingga informasi akuntansi yang dihasilkan tidak dapat dipercaya kebenarannya, dan
sebagai akibatnya kekayaan organisasi tidak terjamin keamanannya.

Dokumen dan Catatan yang Memadai.
        Prosedur harus mencakup perancangan dan penggunaan dokumen dan catatan
yang memadai untuk membantu meyakinkan adanya pencatatan transaksi dan kejadian
secara memadai. Selanjutnya dokumen dan catatan yang memadai akan menghasilkan
informasi yang teliti dan dapat dipercaya mengenai kekayaan, utang, pendapatan dan
biaya suatu organisasi.(biasanya dilakukan berdampingan dengan penggunaan wewenang
secara tepat)
Keamanan yang memadai Terhadap aset dan catatan.
        Keamanan yang memadai meliputi pembatasan akses ke tempat penyimpanan aset
dan catatan perusahaan untuk menghindari terjadinya pencurian aset dan data/informasi
perusahaan. Pengecekan independen terhadap kinerjaSemua catatan mengenai aktiva
yang ada harus dibandingkan (dicek) secara periodik dengan aktiva yang ada secara fisik.
Pengecekkan inni harus dilakukan oleh suatu unit organisasi yang independen (selain unit
fungsi penyimpanan, unit fungsi operasi dan unit fungsi pencatatan) untuk menjaga
objektivitas pemeriksaan.

Pengendalian Internal pada Lingkungan Pemrosesan Data Elektronik
       Sistem pengendalian intern dalam perusahaan yang menggunakan manual system
dalam akuntansinya lebih menitikberatkan pada orang yang melaksanakan sistem tersebut
(People Oriented).
       Jika komputer yang digunakan sebagai alat bantu pengolahan data, akan terjadi
pergeseran dari sistem yang berorientasi pada orang ke sistem yang berorientasi pada
komputer (Computer Oriented).
       Pengendalian Intern Akuntansi dalam lingkungan Pemrosesan Data Elektronik
dibagi menjadi Pengendalian Umum dan Pengendalian Aplikasi.

Pengendalian Umum
       Pengendalian umum merupakan standart dan panduan yang digunakan oleh
karyawan untuk melakukan fungsinya. Unsur pengendalian umum ini meliputi :
Organisasi, prosedur dan standar untuk perubahan program, pengembangan sistem dan
pengoperasian fasilitas pengolahan data.
Organisasi
        Dalam manual sistem, pengendalian dilaksanakan dengan memisahkan fungsi
fungsi pokok (operasi, penyimpanan dan akuntansi). Suatu transaksi akan dilaksanakan
oleh fungsi operasi jika ada otorisasi dari yang berwenang, hasil transaksi akan disimpan
oleh fungsi penyimpanan, dan transaksi yang terjadi akan dicatat oleh fungsi akuntansi.
        Dalam sistem komputer, fungsi pokok tersebut seringkali digabung dalam wujud
program komputer, sehingga penggabungan ketiga fungsi tersebut memerlukan metode
pengendalian yang khusus.
        Contoh, dalam sistem manual persediaan barang, pemisahan dilakukan dalam
fungsi operasi (pembelian) dan fungsi penyimpanan (gudang) dengan fungsi akuntansi
(pencatatan persediaan) sehingga pada akhir periode dapat dilakukan pengecekkan silang
antar fungsi untuk mengetahui jumlah sisa persediaan. Dalam sistem komputer, program
komputer dirancang untuk membuat keputusan kapan persediaan harus dipesan, dan
sekaligus dapat menerbitkan dokumen Pesanan Pembelian.Jika barang sudah diterima,
maka komputer melakukan pencatatan terhadap barang yang diterima dan membuat
dokumen laporan penerimaan barang.
        Untuk menciptakan sistem pengendalian intern dalam lingkungan PDE, maka
perlu diadakan pemisahan fungsi-fungsi berikut :
a. Fungsi perancangan sistem dan penyusunan program.
b. Fungsi operasi fasilitas pengolahan data.
c. Fungsi penyimpanan program dan kepustakaan.

     Pemisahan tesebut dilakukan dengan tujuan :
a.    Pemisahan ini akan menciptakan cross check terhadap ketelitian dan kewajaran
      terhadap perubahan yang dimasukkan kedalam sistem.
b.    Untuk mencegah seseorang yang tidak berhak untuk mengakses komputer.
c.    Untuk mendorong efisiensi karena adanya spesialisasi.

Pengendalian terhadap sistem dan program
Pengendalian umum yang bersangkutan terhadap sistem dan program meliputi :
a. Prosedur penelaahan dan pengesahan sistem baru.
b. Prosedur pengujian program.
c. Prosedur pengubahan program.
d. Dokumentasi.

Pengendalian terhadap fasilitas pengolahan data
Fasilitas pengolahan data meliputi empat bidang utama :
a. Operasi konversi data.
b. Operasi Komputer.
c. Perpustakaan.
d. Fungsi Pengendalian.
    Kegiatan konversi data terdiri dari pengubahan data dari dokumen sumber kedalam
bentuk yang dapat dibaca komputer baik dengan metode batch maupun online processing.
Pengendalian terhadap operasi komputer meliputi :
       Akses ruangan komputer yang terbatas, pembuatan instruksi yang jelas mengenai
perubahan data dokumen sumber jadi machine-readable form, password yang digunakan
untuk mengatur penggunaan komputer.
       Pengendalian terhadap arsip data dan program yang disimpan harus dilakukan
oleh karyawan perpustakaan dalam tempat yang terlindung dengan baik, meliputi :
prosedur dalam penyimpanan, penjagaan keamanan fisik terhadap arsip komputer,
prosedur pembuatan backup, pengendalian terhadap penggunaan arsip yang disimpan
dalam perpustakaan.


A. PENGERTIAN KAS
       Kas adalah harta yang dapat digunakan untuk membayar kegiatan operasional
perusahaan atau dapat digunakan untuk membayar kewajiban saat ini. Wujud dari kas
dpat berupa uang kertas/logam, simpanan bank yang sewaktu-waktu dapat ditarik, dana
kas kecil, cek, bilyet giro, dsb. Item yang tidak dapat dikatakan kas adalah cek mundur,
cek yang tidak cukup dananya/ not sufficient fund (NSF) check , saldo dana yang
kegunaannya dibatasi, saldo rekening koran yang diblokir.

B. REKONSILIASI SALDO KAS
        Untuk pengendalian, kas dapat disimpan di bank dalam bentuk simpanan giro.
Jika hal ini terjadi maka masing-masing fihak yaitu perusahaan (nasabah) dan bank akan
melakukan pencatatan atas saldo dan perubahan dari saldo kas tersebut. Perusahaan
melakukan pencatatan atas uang yang disimpan di bank di perkiraan (akun) cash atau
cash in bank
        Selanjutnya berdasarkan catatan bank, secara berkala bank biasanya mengirimkan
laporan ke nasabah yang lazim disebut rekening koran ( bank statement ). Dengan
demikian dapat dilakukan perbandingan antara data menurut perusahaan dengan
informasi yang dilaporkan bank. Rekonsiliasi adalah tindakan membandingkan dua data
untuk mencari kesesuaiannya. Jika rekening koran bank tersebut dibandingkan dengan
catatan perusahaan, kemungkinan ada perbedaan yang dapat disebabkan oleh hal-hal
sebagai berikut:

1. Transaksi sudah dicatat oleh perusahaan, tetapi belum dilaporkan oleh bank, seperti:
       setoran dalam perjalanan ( deposit in transit ), yaitu setoran yang dilakukan oleh
perusahaan (biasanya pada akhir suatu periode yang dicakup oleh rekening koran) dan
uang setoran tersebut telah diterima oleh bank tetapi belum masuk dalam rekening koran
bank karena rekening koran bank dibuat mendahului setoran tersebut. Cek yang masih
beredar ( outstanding check ), yaitu cek yang sudah dibuat dan diserahkan oleh
perusahaan kepada penerima tetapi sampai akhir periode cek tersebut belum diuangkan di
bank. Akibatnya perusahaan telah mencatat pengeluaran tetapi bank belum.

2. Transaksi sudah dilaporkan di rekening koran bank, tetapi belum dicatat oleh
perusahaan, seperti: Biaya bank, yang dibebankan kepada nasabah dengan cara langsung
mengurangi saldo simpanan nasabah. Nasabah biasanya baru mengetahui hal itu pada
saat menerima rekening koran. Penerimaan tagihan oleh bank, jika bank telah menerima
uang dari pelanggan perusahaan , kadangkala bank memberi tahu hal tersebut bersamaan
dengan rekening koran.

3. Kesalahan, baik yang dilakukan oleh perusahaan maupun oleh bank, misalnya cek
untuk membayar gaji sebesar Rp 192.000.000,00 oleh petugas akuntansi perusahaan
dicatat sebesar Rp 129.000.000,00.

SISTEM INFORMASI AKUNTANSI PIUTANG

A. Pengertian dan Tujuan Sistem Informasi Akuntansi

1. Pengertian Sistem Informasi Akuntansi
        Pada dasarnya informasi merupakan data yang telah diolah sedemikian rupa,
sehingga dapat dijadikan dasar bagi pengambilan keputusan. Informasi memegang peran
yang sangat penting dalam suatu perusahaan untuk mengetahui kegiatan apa yang telah
terjadi dengan perusahaannya, melakukan evaluasi apakah kegiatan yang dilakukan telah
sesuai dengan apa yang telah direncanakan dan menjamin agar data tersebut dapat diolah
secara efisien menjadi informasi yang akurat, dapat dipercaya dan tepat waktu maka
dalam pengolahan data tersebut diperlukan suatu alat yang dinamakan sistem informasi.
        Ada beberapa perbedaan sistem informasi yang diterapkan perusahaan. Salah satu
sistem informasi yang sangat diperlukan bagi manajemen untuk mengolah data
administrasi dan keuangan adalah sistem informasi akuntansi. Perbedaan tersebut
sebenarnya hanya terletak pada penekanannya saja, namun pada dasarnya tetap
mengandung pengertian yang sama. Davis, dan kawan-kawan, mengatakan bahwa
Accoun-ting information system encompass the process and procedures by which an
organization’s financial information is received, registered, recorded, handled, processed,
stored, and ultimately disfosed of. Penjelasan di atas menekankan pada proses dan
prosedur pengelolaan atas informasi keuangan organisasi mulai dari penerimaan sampai
dengan informasi tersebut tidak berguna lagi bagi organisasi.
         Sedangkan Robert G. Murdick menyatakan bahwa The accounting information
system can be defined as the set of activities of the organization responsible for
preparation of financial information and the information obtained from transaction data
for the purpose of :(1)internal reporting to managers for use in planning and controlling
current and future operations, and (2) external reporting to stockholders, government and
other outside parties. Pengertian di atas jelas mengenai sistem informasi akuntansi dan
dapat diambil kesimpulan bahwa sistem informasi akuntansi mencakup proses dan
prosedur pengelolaan informasi keuangan organisasi dengan tujuan untuk pelaporan
kepada pihak intern maupun ekstern perusahaan.

2. Tujuan Sistem Informasi Akuntansi
       Tujuan penyusunan sistem informasi akuntansi adalah sama dengan tujuan
penyusunan sistem akuntansi antara lain :
     a. Untuk menyediakan informasi bagi pengelola kegiatan usaha baru.
     b. Untuk memperbaiki informasi yang dihasilkan oleh sistem yang sudah ada, baik
        mengenai mutu, Ketepatan penyajian maupun struktur informasi
     c. Untuk memperbaiki pengendalian akuntansi & pengecekan intern, yaitu untuk
        memperbaiki tingkat keandalan (realibility) informasi akuntansi dan untuk
        menyediakan catatan lengkap mengenai pertanggung jawaban dan
        perlindungan kekayaan perusahaan.
     d. Untuk mengurangi biaya klerikal dalam penyeleng-garaan catatan akuntansi.

Tujuan di atas dapat dijelaskan bahwa biasanya perusahaan baru memulai usahanya
sangat memerlukan penyusunan sistem informasi akuntansi yang lengkap. Namun,
adakalanya sistem informasi akuntansi yang sudah ada tidak dapat memenuhi kebutuhan
manajemen, baik dalam hal mutu, ketepatan penyajian maupun struktur informasi yang
terdapat dalam laporan. Dengan memperbaiki pengawasan akuntansi dan pengendalian
intern, maka pertanggungjawaban terhadap penggunaan kekayaan organisasi dapat
dilaksanakan dengan baik serta informasi yang dihasilkan oleh sistem tersebut dapat

B. Struktur Pengendalian Intern

1. Pengertian struktur pengendalian intern
         Pengendalian intern merupakan istilah yang telah umum dan banyak
dipergunakan dalam berbagai kepentingan. Fungsi dari pengendalian intern ini semakin
penting, karena perusahaan semakin berkembang dengan system akuntansi yang semakin
rumit. Semua pimpinan perusahaan harus menyadari dan memahami arti penting
pengendalian intern. Struktur pengendalian intern satuan usaha terdiri dari kebijakan dan
prosedur yang diterapkan untuk keyakinan (assurance) memadai bahwa tujuan tertentu
satuan usaha akan dicapai. Kell, et.al., mengatakan pengendalian intern adalah sebagai
berikut :Anentity’s internal control structure consists of the policies and procedures
established to provide Reasonable assurance that specific entity objectives will be
achieved. Entity’s internal control structure consists of three elements (1) the control
environment, (2) the accounting system, and (3) control procedures. Prosedur adalah
urut-urutan pekerjaan yang harus diikuti dalam mengimplementasikan kebijakan yang
telah ditetapkan, sedangkan tujuan merupakan pernyataan mengenai apa yang diinginkan
perusahaan untuk dicapai. Pengertian tentang pengendalian intern dalam arti luas adalah
:Internal control comprises the plan of organization and all of the coordinated methods
and measures adopted a business to safeguard its assets, check the accuracy and
realibility of its accounting data, promote operational efficiency and encourage adherence
to prescribed managerial policies. Penjelasan definisi di atas meliputi struktur
organisasi,metode dan ukuran- ukuran yang dikoordinasikan Untuk menjaga kekayaan
organisasi, mengecek ketelitian dan keandalan data akuntansi, mendorong efisiensi dan
mendorong dipatuhinya kebijakan manajemen untuk menekankan tujuan yang hendak
dicapai dan bukan unsure-unsur yang membentuk sistem tersebut. Internal control is a
process affected by and entity’s board of directors, management, and other personnel
designed to provide reasonable assurance regarding the achievement of objectives in the
following categories :
(a) realibity of financial reporting,
(b) effectiveness and efficiency of operations, and
(c) compliance with applicable laws and regulations.
         Penjelasan definisi di atas menyimpulkan bahwa pengendalian intern adalah suatu
proses yang terdiri dari usaha atau tindakan-tindakan yang tepat dan terintegrasi yang
harus dilakukan untuk mencapai tujuan. Pelaksanaan pengendalian intern melibatkan
seluruh anggota organisasi bukan dibebankan pada bagian tertentu saja, sehingga
memberikan keyakinan terpercaya atas seluruh kegiatan organisasi yang meliputi
realibility dari pelaporan keuangan, efisiensi dan keefektifan atas kegiatan atau operasi
perusahaan dan kepatuhan terhadap hokum dan undang-undang yang berlaku.
2. Unsur-unsur struktur pengendalian intern
         Struktur pengendalian intern yang baik memiliki karakteristik yang meliputi hal-
hal berikut : Suatu rencana organisasi yang memungkinkan adanya pemisahan
pertanggungjawaban fungsi secara tepat.
a. Suatu sistem otorisasi dan prosedur pencatatan yang tepat untuk memungkinkan
    pengendalian akuntansi yang memadai terhadap aktiva, utang, pendapatan dan biaya.
b. Praktik yang sehat diikuti dalam pelaksanaan tugas dan fungsi dari setiap bagia
    organisasi.
c. Kualitas pengamat yang sesuai dengan tanggung jawab.
         Karakteristik yang baik akan mendukung terciptanya pengendalian intern yang
efektif. Rencana organisasi, sistem otorisasi, dan prosedur pencatatan yang tepat, praktik
yang sehat serta kualitas pengamat yang sesuai harus terintegrasi dengan baik dalam
pelaksanaan kerjanya. Kelancaran pekerjaan akan memudahkan struktur pengendalian
intern terlaksananya dalam mencapai tujuan. Namun untuk keberhasilan tujuan terdapat
beberapa unsur pokok yang dapat menentukan keberhasilan struktur pengendalian intern.
Berikut ini akan dijelaskan tiga unsur-unsur pengendalian intern, yaitu :
• Lingkungan pengendalian
• Sistem akuntansi
• Prosedur pengendalian

    Lingkungan pengendalian
        Lingkungan pengendalian merupakan pengaruh gabungan dari berbagai faktor
dalam membentuk, memperkuat atau memperlemah efektivitas kebijakan dan prosedur
tertentu. Faktor-faktor yang mempengaruhi tersebut adalah :
1) Falsafah manajemen dan gaya operasinya
2) Struktur organisasi satuan usaha
3) Berfungsinya dewan komisaris, dan komite-komite yang dibentuk
4) Metode pemberian wewenang dan tanggung jawab
5) Metode pengendalian manajemen dalam membantu dan menindaklanjuti kinerja,
    termasuk audit intern.
6) Kebijakan dan praktik personalia
7) Berbagai factor ekstern yang mempengaruhi operasi dan praktik satuan usaha, Seperti
pemeriksaan yang dilakukan oleh badan legislative dan lembaga pemerintah. Lingkungan
pengendalian mencerminkan keseluruhan sikap, kesadaran dan tindakan dari dewan
komisaris, manajemen, pemilik dan pihak lain mengenai pentingnya pengendalian intern
dan tekanannya pada satuan usaha yang bersangkutan.

   Sistem akuntansi
       Sistem akuntansi terdiri dari metode dan catatan yang diciptakan untuk
mengidentifikasikan, menghimpun Menganalisa, mengelompokkan, mencatat dan
melaporkan transaksi satuan usaha dan untuk menyelenggarakan pertanggungjawaban
aktiva dan kewajiban yang bersangkutan dengan transaksi tersebut. Sistem akuntansi
yang efektif mempertimbangkan pembuatan metode dan catatan yaitu : Mengidentifikasi
dan mencatat semua transaksi yang saha. Menggambarkan transaksi secara tepat waktu
dan cukup rinci sehingga memungkinkan pengelompokkan transaksi secara semestinya
untuk pelaporan keuangan.
1. Mengukur nilai transaksi dengan cara yang memungkinkan pencatatan nilai
keuangan yang layak dalam laporan keuangan.
2. Menentukan periode terjadinya transaksi untuk memungkinkan pencatatan nilai
keuangan yang layak dalam laporan keuangan.
3. Menyajikan dengan semestinya transaksi dan pengungkapannya dalam laporan
keuangan.

   Prosedur pengendalian
        Prosedur pengendalian adalah kebijakan dan prosedur sebagai tambahan terhadap
lingkungan pengendalian dan sistem akuntansi yang telah diciptakan oleh manajemen
untuk memberikan keyakinan memadai bahwa tujuan tertentu satuan usaha akan tercapai.
Prosedur pengendalian mempunyai beberapa tujuan dan diterapkan pada berbagai
tingkatan organisasi dan pembrosesan data. Prosedur pengendalian dapat diintegrasikan
dalam komponen tertentu lingkungan pengendalian dan system akuntansi. Secara umum
prosedur pengendalian dapat dikelompokkan ke dalam prosedur, yaitu :
        1. Otorisasi yang semestinya atas transaksi dan kegiatan.
        2. Pemisahan tugas yang mengurangi kesempatan yang memungkingkan
        seseorang dalam posisi yang dapat melakukan dan sekaligus menutupi kekeliruan
        atau ketidakberesan dalam pelaksanaan tugasnya sehari-hari. Oleh sebab itu,
        tanggung jawab untuk memberikan otorisasi transaksi, mencatat transaksi, dan
        menyimpan aktiva perlu dipisahkan di tangan karyawan yang berbeda.
        3. Perancang dan penggunaan dokumen dan catatan yang memadai untuk
        membantu pencatatan secara semestinya transaksi dan peristiwa, misalnya dengan
        memantau penggunaan dokumen pengiriman barang yang bernomor urut tercetak.
        4. Pengamanan yang cukup atas akses dan penggunaan aktiva perusahaan dan
        catatan, misalnya penetapan fasilitas yang dilindungi dan otorisasi untuk akses ke
        program dan arsip data komputer.
        5. Pengecekan secara independen atas pelaksanaan dan penilaian yang semestinya
        atas jumlah yang dicatat, misalnya pengecekan atas pekerjaan klerikal,
        rekonsiliasi, pembandingan aktiva yang ada dengan pertanggungjawaban yang
        tercatat, pengawasan dengan menggunakan program komputer, penelaahan oleh
        manajemen atas laporan yang mengikhtisarkan rincian akan (misalnya saldo
        piutang yang dirinci menurut umur piutang) dan penelaahan oleh pemakai atas
        laporan yang dihasilkan oleh komputer. pengendalian intern terdiri dari :
        a. Control environment
        b. Risk assessment
        c. Information and communication
        d. Control activities
        e. Monitoring.
a. Control environment
        Control environment atau lingkungan pengendalian mencerminkan suasana
perusahaan yang mempengaruhi sikap dan tindakan para anggota perusahaan akan
pentingnya pengendalian. Efektivitas sistem akuntansi dan prosedur Pengendalian sangat
ditentukan oleh suasana yang diciptakan oleh lingkungan pengendalian. Ini berarti
pengendalian mempunyai dampak yang sangat besar terhadap keseriusan pengendalian
intern yang diterapkan dalam perusahaan.
b. Risk assessment
        Penetapan resiko laporan keuangan adalah mengidentifikasi dan menganalisa
resiko-resiko yang berhubungan dengan manajemen perusahaan untuk menyiapkan
laporan keuangan sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum. Penetapan
resiko oleh manajemen berkenaan dengan hubungan resiko terhadap pernyataan laporan
keuangan yang khusus dan kegiatan mencatat, memproses, menyimpulkan dan
melaporkan data akuntansi.

c. Information and communication
        Information and communication atau informasi dan komunikasi sangat berguna
untuk menghasilkan laporan keuangan. Sistem informasi sangat relevan untuk tujuan
laporan keuangan yang mencakup sistem akuntansi dan melindungi harta dan hutang
perusahaan. Sistem akuntansi seharusnya mencakup penafsiran audit yang lengkap,
karena penafsiran transaksi sangat penting bagi manajemen dan auditor. Dengan kata lain
komunikasi melibatkan pemahaman yang jelas dari peran dan tanggung jawab setiap
individu yang berkenaan dengan struktur pengendalian intern atas laporan keuangan.
Komunikasi harus dapat meyakinkan bahwa setiap personil terlibat dalam memahami
laporan keuangan dan kegiatan mereka baik di luar perusahaan ataupun dalam
perusahaan.

d. Control activities
       Control activities atau pengendalian aktivitas adalah kebijakan prosedur yang
membantu meyakinkan bahwa arahan manajemen dilaksanakan. Pengendalian ini
meyakinkan tidankan-tindakan yang diambil untuk mengatasi resiko dalam mencapai
tujuan organisasi. Pengawasan ini harus terlaksana pada semua tingkat fungsi
manajemen.

e. Monitoring
       Monitoring merupakan proses untuk menilai kualitas dari pelaksanaan struktur
pengendalian intern yang telah berjalan. Monitoring merupakan pemantauan terhadap
personil yang mengawasi desain dan operasi perusahaan yang dilaksanakan. Struktur
pengendalian intern yang berjalan diharapkan dapat mengatasi atau mengantisipasi
penyimpangan atau kecurangan yang terjadi. Monitoring dapat dilaksanakan selama
kegiatan perusahaan berjalan dan dapat dievaluasi secara periodik.

c. Pengertian dan Klasifikasi Piutang
    1. Pengertian piutang
        Piutang merupakan suatu proses yang penting, yang dapat menunjukkan satu
bagian yang besar dari harta likuid perusahaan. Kieso dan Weygandt mendefinisikan
pengertian piutang sebagai berikut :
Receivables are claims held against customers and others for money, goods, or services.
Sedangkan pengertian piutang menurut S.Hadibroto adalah : Piutang merupakan klaim
terhadap pihak lain, apakah klaim tersebut berupa uang, barang atau jasa, untuk maksud
akuntansi istilah dipergunakan dalam arti yang lebih sempit yaitu merupakan klaim yang
diharapkan akan diselesaikan dengan uang. Penjelasan definisi di atas diketahui bahwa
piutang secara luas diartikan sebagai tagihan atas segala sesuatu hak perusahaan baik
berupa uang, barang maupun jasa atas pihak ketiga setelah perusahaan melaksanakan
kewajibannya, sedangkan secara sempit piutang diartikan sebagai tagihan yang hanya
dapat diselesaikan dengan diterimanya uang di masa yang akan datang. Pada umumnya
piutang timbul ketika sebuah perusahaan menjual barang atau jasa secara kredit dan
berhak atas penerimaan kas di masa mendatang, yang prosesnya dimulai dari
pengambilan keputusan untuk memberikan kredit kepada langganan, melakukan
pengiriman barang, penagihan dan akhirnya menerima pembayaran, dengan kata lain
piutang dapat juga timbul ketika perusahaan memberikan pinjaman uang kepada
perusahaan lain dan menerima promes atau wesel, melakukan suatu jasa atau transaksi
lain yang menciptakan suatu hubungan dimana satu pihak berutang kepada yang lain
seperti pinjaman kepada pimpinan atau karyawan.
        Piutang merupakan salah satu elemen yang paling penting dalam modal kerja
suatu perusahaan. Sebagian piutang dapat dimasukkan dalam modal kerja yaitu bagian
piutang yang terdiri dari dana yang diinvestasikan dalam produk yang terjual dan
sebagian lain yang termasuk modal kerja potensial yaitu bagian yang merupakan
keuntungan. Piutang merupakan elemen modal kerja yang selalu dalam keadaan berputar
secara terus menerus dalam rantai perputaran modal kerja yaitu Kas -------- persediaan ---
- piutang ------ kas. Dalam keadaan normal dan dimana penjualan pada umumnya
dilakukan dengan kredit, piutang mempunyai tingkat likuiditas yang lebih tinggi dari
pada persediaan, karena perputaran dari piutang ke kas membutuhkan satu langkah, yang
penting kebijaksanaan kredit yang efektif dan prosedur-prosedur penagihan untuk
menjamin penagihan piutang yang tepat pada waktunya dan mengurangi kerugian akibat
piutang tak tertagih.

     2. Klasifikasi piutang
        Pada umumnya piutang bersumber dari kegiatan operasi normal perusahaan yaitu
penjualan kredit atas barang dan jasa kepada pelanggan, tetapi selain itu masih banyak
sumber-sumber yang dapat menimbulkan piutang. Smith and Skousen memberikan
klasifikasi piutang terdiri atas “piutang dagang (trade receivables) dan piutang bukan
dagang”.
Piutang dagang
a. Wesel tagih atau notes receivables
Wesel tagih ini didukung oleh suatu janji formal tertulis untuk membayar.
b. Piutang usaha atau accounts receivables.
        Piutang usaha merupakan piutang dagang yang tidak dijamin “rekening terbuka”.
Piutang dagang merupakan suatu perluasan kredit jangka pendek kepada pelanggan.
Pembayaran-pembayarannya biasanya jatuh tempo dalam tiga puluh sampai sembilan
puluh hari. Perjanjian kreditnya merupakan persetujuan informal antara penjual dan
pembeli yang didukung oleh dokumen-dokumen perusahaan yaitu faktur dan kontrak-
kontrak penyerahan. Biasanya piutang dagang tidak mencakup bunga, meskipun bunga
atau biaya jasa dapat saja ditambahkan bilamana pembayaran tidak dilakukan dalam
periode tertentu, dengan kata lain piutang dagang merupakan tipe piutang paling besar.

Piutang bukan dagang
        Piutang bukan dagang ini meliputi seluruh tipe piutang lainnya dan mempunyai
beberapa transaksi-transaksi yaitu :
a. Penjualan surat berharga atau pemilik selain barang dan jasa.
b. Uang muka kepada pemegang saham, para direktur, pejabat, karyawan dan
perusahaan-perusahaan affiliasi.
c. Setoran-setoran kepada kreditur, perusahaan kebutuhan umum dan instansi- instansi
lainnya.
d. Pembayaran dimuka pembelian-pembelian.
e. Setoran-setoran untuk menjamin pelaksanaan kontrak atau pembayaran biaya.
f. Tuntutan atas kerugian atau kerusakan.
g. Saham yang masih harus disetor.
h. Piutang deviden dan bunga.
Piutang bukan dagang umumnya didukung dengan persetujuan-persetujuan formal dan
secara tertulis. Piutang bukan dagang harus diikhtisarkan dalam perkiraan-perkiraan yang
berjudul sesuai dan dilaporkan secara terpisah dalam laporan keuangan.

D. Sistem Informasi Akuntansi Penagihan Piutang
        Penagihan piutang dari penjualan kredit dapat dilakukan melalui berbagai cara,
antara lain :
1. Fungsi yang terkait dalam sistem penagihan piutang dari penjualan kredit.
2. Dokumen yang digunakan dalam sistem penagihan piutang.
3. Sistem penagihan piutang melalui penagih perusahaan dilaksanakan dengan prosedur.

Fungsi yang terkait dalam sistem penagihan piutang dari penjualan kredit
Fungsi yang terkait dalam sistem penagihan piutang dari penjualan kredit adalah :
a. Fungsi secretariat
        Fungsi ini bertanggungjawab dalam penerimaan cek dan surat pemberitahuan atau
remittance advice melalui pos dan para debitur perusahaan. Fungsi ini juga bertugas
membuat daftar surat pemberitahuan yang diterima bersama dari para debitur dan fungsi
ini berada di tangan bagian sekretariat.
b. Fungsi penagihan
        Fungsi ini bertanggungjawab untuk melakukan penagihan kepada para debitur
perusahaan berdasarkan daftar piutang yang ditagih yang dibuat oleh fungsi akuntansi
dan fungsi ini berada di tangan bagian penagihan.
c. Fungsi kas
        Fungsi ini bertanggungjawab atas penerimaan cek dari fungsi sekretariat atau
fungsi penagihan dan menyetorkan kas yang diterima dari berbagai fungsi tersebut segera
ke bank dalam jumlah penuh dan fungsi ini berada di tangan bagian kas.
d. Fungsi akuntansi
         Fungsi ini bertanggungjawab dalam pencatatan penerimaan kas dari piutang ke
dalam jurnal penerimaan kas dan berkurangnya piutang ke dalam kartu piutang, dan
fungsi ini berada di tangan bagian akuntansi.
e. Fungsi pemeriksa intern
         Fungsi ini bertanggungjawab dalam melaksanakan perhitungan yang ada di
tangan fungsi kas secara periodik, dan melakukan rekonsiliasi bank, untuk mengecek
ketelitian catatan kas yang diselenggarakan oleh fungsi akuntansi, dan fungsi ini berada
di tangan bagian pemeriksa intern.


Dokumen yang digunakan dalam sistem penagihan piutang
Dokumen yang digunakan dalam sistem penagihan piutang adalah :
1) Surat pemberitahuan
2) Daftar surat pemberitahuan
3) Bukti setor bank
4) Kuitansi.
       Surat pemberitahuan merupakan dokumen untuk memberitahu maksud
pembayaran yang akan dilakukan. Daftar surat pemberitahuan merupakan rekapitulasi
penerimaan kas. Bukti setor bank merupakan bukti penyetoran kas yang diterima dari
piutang ke bank. Kuitansi merupakan bukti penerimaan kas yang dibuat oleh perusahaan
bagi para debitur yang telah melakukan pembayaran utang mereka.

Sistem penagihan piutang melalui penagih perusahaan dilaksanakan dengan prosedur
Sistem penagihan piutang melalui penagih perusahaan dilaksanakan dengan prosedur
adalah :
1) Penerimaan piutang mengirimkan daftar piutang yang sudah saatnya ditagih
kepada bagian penagihan.
2) Bagian penagihan mengirimkan penagih untuk melakukan penagihan kepada
debitur.
3) Bagian penagihan menerima cek atas nama dalam surat pemberitahuan dari
debitur.
4) Bagian penagihan menyerahkan surat pemberitahuan kepada bagian piutang
untuk kepentingan posting ke dalam kartu piutang.
5) Bagian kas mengirim kuitansi sebagai tanda penerimaan kas kepada debitur.
6) Bagian kas menyetor ke bank, setelah cek atas cek tersebut dilakukan
endorsement oleh pejabat yang berwenang.
7) Bank perusahaan melakukan clearing atas cek tersebut ke bank debitur.

        Sistem pengendalian intern yang baik mengharuskan agar semua penerimaan kas
dari debitur harus dalam bentuk cek atas nama atau giro bilyet. Penerimaan kas dari
debitur dalam bentuk uang tunai memberikan peluang kepada penagih untuk melakukan
penyelewengan. Bentuk penerimaan kas melalui penagih perusahaan ini yang biasa
dilaksanakan di Indonesia, sedangkan bentuk lain masih jarang dilakukan.

E. Prosedur Pengendalian dan Pemantauan atau Monitoring Piutang
    1. Prosedur Pengendalian Piutang
          Salah satu dari model struktur pengendalian intern terdiri dari tiga unsur dan lima
unsur pokok struktur pengendalian intern adalah prosedur pengendalian dan pemantauan
atau monitoring. Prosedur pengendalian adalah Kebijakan dalam prosedur sebagai
tambahan terhadap lingkungan pengendalian dan system akuntansi yang telah diciptakan
oleh manajemen untuk memberikan keyakinan memadai bahwa tujuan tertentu satuan
usaha akan tercapai. Prosedur pengendalian memiliki berbagai macam tujuan dan
diterapkan dalam berbagai tingkat organisasi. Prosedur pengendalian dapat
dikelompokkan ke dalam prosedur yang antara lain adalah :
a. Otorisasi yang semestinya atas transaksi dan kegiatan
b. Pemisahan tugas yang mengurangi kesempatan yang memungkinkan seseorang dalam
posisi yang dapat melakukan dan sekaligus menutupi kekeliruan atau ketidakberesan
dalam pealksanaan tugasnya sehari-hari. Oleh karena itu, tanggung jawab untuk
memberikan otorisasi transaksi, mencatat transaksi dan menyimpan aktiva perlu
dipisahkan di tangan karyawan yang berbeda.
c. Perancangan dan penggunaan dokumen dan catatan yang memadai untuk membantu
pencatatan transaksi secara semestinya, misalnya dengan memantau penggunaan
dokumen pengiriman barang yang bernomor urut tercetak.
d. Pengamanan yang cukup atas akses dan penggunaan aktiva perusahaan dan catatan,
misalnya penetapan fasilitas yang dilindungi dan otorisasi untuk akses ke program dan
arsip data komputer.
e. Pengecekan secara bebas atas pelaksanaan dan penilaian yang semestinya atas jumlah
yang dicatat, misalnya pengecekan atas kerjaan klerikal, rekonsiliasi, pembandingan
aktiva yang ada dengan pertanggungjawaban yang tercatat, pengawasan dengan
menggunakan program komputer, penelaahan oleh manajemen atas laporan yang
mengikhtisarkan rincian akun seperti saldo piutang yang dirinci menurut umur piutang
dan penelaahan oleh pemakai atas laporan yang dihasilkan oleh komputer. Berkaitan
dengan pemakaian komputer dalam sistem informasi akuntansi dewasa ini, maka
perusahaan harus menerapkan pengendalian di lingkungan sistem yang terkomputerisasi.
Winarno memberikan dua kategori pengendalian di lingkungan system terkomputerisasi
adalah :
1) Pengawasan aplikasi (atau sering disebut juga dengan pengawasan transaksi)
merupakan pengawasan yang dirancang untuk menjamin bahwa
          (1) semua transaksi sudah mendapat otorisasi dan
          (2) semua transaksi sudah dicatat, diklasifikasi, diproses dan dilaporkan dengan
          teliti dan benar.
2) Pengawasan umum, ditujukan untuk mengawasi berbagai prosedur, kegiatan
atau aktiva yang tidak secara langsung tercakup dalam pengawasan aplikasi.
Dalam pengawasan aplikasi meliputi tiga jenis pengawasan yaitu :
• Pengawasan masukan
          Pengawasan masukan yaitu pengawasan yang ditujukan untuk kegiatan
pencatatan transaksi, dengan pengawasan ini diharapkan setiap transaksi dicatat dengan
teliti, lengkap dan segera.
• Pengawasan proses atau pengawasan pengolahan.
          Pengawasan proses atau pengawasan pengolahan dilakukan setelah data diinput,
dengan pengawasan ini diharapkan data diolah secara teliti dan lengkap, file dan program
yang digunakan sudah benar, dan semua transaksi dan catatan lainnya dapat ditelusuri
dengan mudah. Pengawasan proses terdiri dari empat kategori yaitu :
• Cek logika proses atau processing logic checks
• Kontrol setiap proses atau run-to-run control
• Cek file dan program
• Keterkaitan telusuran audit atau audit trail lingkages.
• Pengawasan keluaran
Pengawasan keluaran dirancang untuk menjamin keluaran yang dihasilkan oleh sistem
sudah lengkap, benar dan didistribusi ke pemakai yang berhak. Pengawasan ini meliputi
dua kegiatan yaitu mengkaji hasil pengolahan dan pengawasan distribusi laporan.
Pengawasan umum dirancang untuk melengkapi pengawasan aplikasi. Pengawasan ini
meliputi berbagai prosedur, kegiatan dan penggunaan aktiva yang belum tercakup dalam
pengawasan aplikasi terdiri dari :
• Praktik manajemen yang sehat meliputi perencanaan, penganggaran, pemilihan
karyawan dan pengawasan atau supervisi terhadap karyawan.
• Pengawasan operasional yang bertujuan meningkatkan efisiensi pekerjaan tiap
karyawan. Pengawasan ini meliputi tiga tahapan yaitu penetapan standar teknis, penilaian
prestasi dan pengambilan keputusan terutama sebagai tindakan korektif.

2. Monitoring Piutang
        Monitoring merupakan proses untuk menilai dari pelaksanaan struktur
pengendalian intern yang telah berjalan. Monitoring merupakan pemantauan yang
dilaksanakan oleh personil yang semestinya melakukan pekerjaan tersebut baik pada
tahap desain maupun pengoperasian perusahaan, agar pada waktu yang tepat dapat
menentukan apakah struktur pengendalian intern tersebut telah memerlukan perubahan
karena terjadinya perubahan keadaan. Kell et.al, mendefinisikan monitoring sebagai
berikut : Monitoring is a process that accesses the quality of internal control structures
performance over time. It involves by appropriate of the design operation of control on a
suitable timely basis to determine that ICS is operating as intended and that it is modified
as appropriate for changes in conditions. Monitoring dapat dilakukan selama kegiatan
berlangsung dan dapat dievaluasi secara periodik. Selama kegiatan berlangsung
pengendalian intern penjualan dan penerimaan kas hasil penagihan piutang dilihat dari
keluhan-keluhan yang diterima dari langganan seperti kesalahan billing, terlambatnya
pengiriman barang atau kesalahan pembayaran di dalam lingkungan perusahaan sendiri.
        Oleh sebab itu, perlu dilakukan pemantauan terhadap hasil kerja mereka biasanya
dievaluasi secara periodik, karena manajemen akan melihat hasil laporan penjualan dan
laporan penerimaan kas bulanan atau tahunan apakah sesuai dengan anggaran yang
direncanakan. Pengendalian juga dilaksanakan oleh internal auditor, bila internal auditor
mendapati kesalahan atau penyimpangan dalam pelaksanaan pengendalian intern
penjualan dan penerimaan kas, maka harus segera melaporkan kelemahan tersebut pada
manajemen atau komite audit. Manajemen juga dapat menerima informasi dari pihak
ekstern seperti bank atau akuntan publik tentang kelemahan struktur pengendalian intern
penjualan kredit dan penagihan piutang dalam perusahaan. Informasi yang diterima dari
berbagai pihak akan menjadi bahan pertimbangan bagi manajemen untuk memperbaiki
pelaksanaan pengendalian intern selanjutnya sehingga dapat memperbesar hasil penjualan
dan jumlah penerimaan kas perusahaan.
        Dalam unsure-unsur pengendalian intern, monitoring masih merupakan hal baru
bagi perusahaan-perusahaan di Indonesia, mungkin baru perusahaan- perusahaan besar
yang menerapkannya. Namun sebenarnya kegiatan monitoring telah berjalan dengan
sendirinya dalam suatu perusahaan. Perusahaan sering memonitoring pelaksanaan
pengendalian intern hanya apabila telah terjadi kesalahan yang fatal dan merugikan
perusahaan baik dari segi prosedur kerja maupun dari besarnya laba yang diinginkan
sebagai tujuan akhir perusahaan.
        Piutang adalah tuntutan (claims) terhadap pihak tertentu yang penyelesaiannya
diharapkan dalam bentuk Kas selama kegiatan normal perusahaan. Klaim timbul karena
berbagai sebab. misalnya penjualan secara kredit, pemberian pinjaman kepada karyawan,
porsekot dalam kontrak pembelian, porsekot kepada karyawan, dll. Tidak semua klaim
tersebut di sebut sebagai piutang.
        Berikut ini beberapa bentuk klaim antara lain klaim terhadap kelebihan
pembayaran pajak, klaim terhadap perusahaan angkutan atas barang-barang yang rusak
atau hilang dalam perjalanan, klaim ganti rugi terhadap perusahaan asuransi, piutang
terhadap pemesan saham, piutang penghasilan yaitu penghasilan yang sudah terjadi tetapi
belum diterima, bunga yang masih harus diterima, sewa yang masih harus diterima, dll.

Jenis-Jenis Piutang

        Piutang Dagang (Account Receivables) yaitu piutang yang timbul dari penjualan
kredit barang atau Jasa yang merupakan usaha pokok perusahaan. Bila piutang timbul
dari penjualan asset perusahaan, pemberian pinjaman kepada pihak tertentu maka piutang
tersebut tidak termasuk golongan piutang dagang
        Wesel Tagih yaitu Piutang yang secara formil didukung oleh penjanjian untuk
membayar secara tertulis (Notes Payable)
        Piutang non dagang yaitu piutang yang timbul akibat penjualan asset, pemberian
pinjaman kepada pihak tertentu. Misalnya pinjaman karyawan.

Penyajian Piutang dalam Neraca

        Penyajian piutang dalam neraca harus tetap menyajikan jumlah bruto piutang
karena piutang yang tak dapat direalisasikan hanya berdasarkan taksiran. (Prinsip
Akuntansi Indonesia 3.1 Pasal 9). Harus dipisahkan secara jelas antara piutang dagang,
piutang karyawan dan piutang lainya. Apabila suatu perusahaan mempunyai hubungan
jual beli dengan suatu pihak, sehingga terdapat piutang dagang dan juga utang dagang
atau utang lainnya, penyajian dalam neraca tidak boleh dokompensasi akan tetapi harus
dinyatakan secara terpisah.

Mencatat Piutang

        Dalam sistim akuntansi manual, piutang dicatat oleh bagian khusus yang
menangani piutang. Pada sistim akuntansi komputer umumnya pengembang
menyerahkan tugas tersebut kepada komputer sehingga bagian piutang cukup melakukan
verifikasi untuk menjamin validasi catatan yang dilakukan komputer.
        Aktiva tetap dalam akuntansi adalah aktiva berwujud yang memiliki umur lebih
dari satu tahun dan tidak mudah diubah menjadi kas. Jenis aktiva tidak lancar ini
biasanya dibeli untuk digunakan untuk operasi dan tidak dimaksudkan untuk dijual
kembali.
        Contoh aktiva tetap antara lain adalah properti, bangunan, pabrik, alat-alat
produksi, mesin, kendaraan bermotor, furnitur, perlengkapan kantor, komputer, dll.
Aktiva tetap biasanya memperoleh keringanan dalam perlakuan pajak. Kecuali tanah atau
lahan, aktiva tetap merupakan subyek dari depresiasi atau penyusutan.


AKTIVA TETAP

       Definisi aktiva tetap menurut PSAK No. 16 adalah aktiva berwujud yang
diperoleh dalam bentuk siap pakai atau dengan dibangun terlebih dahulu, yang digunakan
dalam operasi perusahaan, tidak dimaksudkan untuk dijual dalam rangka kegiatan normal
perusahaan dan mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun. Dalam hal ini, aktiva
tetap memiliki beberapa unsur antara lain sebagai berikut :

a. Masa manfaat adalah:
  1. periode suatu aktiva diharapkan digunakan oleh perusahaan, atau
  2. jumlah produksi atau unit serupa yang diharapkan diperoleh dari aktiva oleh
     perusahaan.
  b. Biaya perolehan adalah jumlah kas atau setara kas yang dibayarkan atau nilai wajar
     imbalan lain yang diberikan untuk memperoleh suatu aktiva pada saat perolehan atau
     konstruksi sampai dengan aktiva tersebut dalam kondisi dan tempat yang siap untuk
     dipergunakan.
  c. Nilai wajar adalah suatu jumlah, untuk itu suatu aktiva mungkin ditukar atau suatu
     kewajiban diselesaikan antara pihak yang memahami dan berkeinginan untuk
     melakukan transaksi wajar.
  d. Jumlah tercatat (carrying amount) adalah nilai buku, yaitu biaya perolehan suatu
     aktiva setelah dikurangi akumulasi penyusutan.
  e. Jumlah yang dapat diperoleh kembali (recoverable amount) adalah jumlah yang
     diharapkan dapat diperoleh kembali dari penggunaan suatu aktiva di masa yang akan
     datang, termasuk nilai sisanya atas pelepasan aktiva.



PENGAKUAN

       Untuk diakui sebagai aktiva dan dikelompokkan sebagai aktiva tetap maka harus
dipenuhi syarat berikut:
1. Besar kemungkinan (probable) bahwa manfaat keekonomian di masa yang akan
datang yang berkaitan dengan aktiva tersebut akan mengalir ke dalam perusahaan. Dalam
menentukan suatu pos memenuhi kriteria pertama untuk pengakuan, suatu perusahaan
harus menilai tingkat kepastian aliran manfaat keekonomian masa yang akan datang
berdasarkan bukti yang tersedia pada waktu pengakuan awal. Adanya kepastian yang
cukup bahwa manfaat keekonomian masa yang akan datang akan mengalir ke
perusahaan membutuhkan suatu kepastian bahwa perusahaan akan menerima imbalan
dan menerima resiko terkait. Kepastian ini biasanya hanya tersedia jika resiko dan
imbalan telah diterima perusahaan. Sebelum hal ini terjadi, transaksi untuk memperoleh
aktiva biasanya dapat dibatalkan tanpa sanksi yang signifikan, dan karenanya aktiva tidak
diakui.
2. Biaya perolehan aktiva dapat diukur secara andal. Kriteria kedua untuk pengakuan
biasanya dapat dipenuhi langsung karena transaksi pertukaran mempunyai bukti
pembelian aktiva yang mengidentifikasikan biayanya. Dalam keadaan suatu aktiva
dikontruksi sendiri, suatu pengukuran yang dapat diandalkan atas biaya dapat dibuat dari
transaksi dengan pihak eksternal dan perusahaan untuk perolehan bahan baku, tenaga
kerja dan input lain yang digunakan dalam proses kontruksi.
3. aktiva yang digunakan dalam operasi/kegiatan utama perusahaan dan tidak untuk
dijual;
4. memiliki umur ekonomi yang panjang, biasanya lebih dari satu tahun dan disusutkan
nilainya; dan
5. memiliki bentuk fisik yang aktual. Aktiva tetap sering merupakan suatu bagian utama
aktiva perusahaan, dan karenanya signifikan dalam penyajian laporan keuangan. Lebih
jauh lagi, penentuan apakah suatu pengeluaran merupakan aktiva atau beban dapat
terpengaruh signifikan pada hasil operasi yang dilaporkan perusahaan.

PEROLEHAN AKTIVA TETAP
        Biaya perolehan suatu aktiva tetap terdiri dari harga belinya, termasuk bea impor
dan PPN Masukan Tak Boleh Restitusi (non-refundable), dan setiap biaya yang dapat
diatribusikan secara langsung dalam membawa aktiva tersebut pada kondisi untuk
penggunaan yang dimaksudkan, setiap potongan dagang dan rabat dikurangkan dari
harga pembelian. Contoh dari biaya yang dapat diatribusikan secara langsung adalah:
a. biaya persiapan tempat;
b. biaya pengiriman awal (initial delivery) dan biaya simpan dan bongkar muat (handling
cost);
c. biaya pemasangan (installation costs); dan
d. biaya profesional seperti arsitek dan insinyur.
        Biaya administrasi dan overhead umum lainnya bukan merupakan suatu
komponen biaya aktiva tetap sepanjang biaya tersebut tidak dapat diatribusikan secara
langsung pada biaya perolehan aktiva atau membawa aktiva ke kondisi kerjanya.
Demikian pula biaya permulaan (start-up costs) dan pra produksi tidak merupakan bagian
baiya suatu aktiva kecuali biaya tersebut perlu untuk membawa aktiva ke kondisi
kerjanya. Rugi operasi awal yang terjadi sebelum suatu aktiva mencapai kinerja yang
direncanakan diakui sebagai suatu beban. Harga perolehan dari masing – masing aktiva
tetap yang diperoleh secara gabungan ditentukan dengan mengalokasikan harga
gabungan tersebut berdasarkan perbandingan nilai wajar masing-masing aktiva yang
bersangkutan.
Pengertian Penyusutan
        Definisi penyusutan menurut PSAK No. 17 adalah alokasi jumlah suatu aktiva
yang dapat disusutkan sepanjang masa manfaat yang diestimasi. Penyusutan untuk
periode akuntansi dibebankan ke pendapatan baik secara langsung maupun tidak
langsung. aktiva yang dapat disusutkan adalah aktiva yang:
a. diharapkan untuk digunakan selama lebih dari satu periode akuntansi; dan
b. memiliki suatu masa manfaat yang terbatas; dan
c. ditahan oleh suatu perusahaan untuk digunakan dalam produksi atau memasok
         barang dan jasa, untuk disewakan, atau untuk tujuan administrasi. Aktiva yang
dapat disusutkan seringkali merupakan bagian signifikan aktiva perusahaan. Penyusutan
karenanya dapat berpengaruh secara signifikan dalam menentukan dan menyajikan posisi
keuangan dan hasil usaha perusahaan. Masa manfaat adalah:
a. periode suatu aktiva diharapkan digunakan oleh perusahaan; atau
b. jumlah produksi atau unit serupa yang diharapkan diperoleh dari aktiva oleh
perusahaan.
         Estimasi dari masa manfaat suatu aktiva yang dapat disusutkan atau suatu
kelompok aktiva serupa yang dapat disusutkan adalah suatu masalah pertimbangan yang
biasanya berdasarkan pengalaman dengan jenis aktiva yang serupa. Untuk suatu aktiva
yang menggunakan teknologi baru atau yang digunakan dalam produksi suatu produk
baru atau yang digunakan dalam pembelian suatu jasa baru dan hanya sedikit pengalaman
mengenai jasa tersebut, estimasi masa manfaat lebih sulit namun tetap dibutuhkan. Masa
manfaat dari suatu aktiva yang dapat disusutkan untuk suatu perusahaan mungkin lebih
pendek daripada usia fisiknya. Sebagai tambahan terhadap aus dan kerusakan fisik
(physical wear and tear) yang tergantung pada faktor operasional (seperti frekuensi
penggunaan aktiva, program perbaikan dan pemeliharaan), faktorfaktor lain juga perlu
dipertimbangkan. Faktor-faktor tersebut termasuk keusangan yang timbul dari perubahan
teknologi atau perbaikan dalam produksi, keusangan yang timbul dari perubahan dalam
permintaan pasar terhadap output produk atau jasa dari aktiva, dan pembatasan hukum
seperti tanggal batas penggunaan. Masa manfaat dari suatu aktiva yang dapat disusutkan
harus diestimasi setelah mempertimbangkan faktor berikut:
a. taksiran aus dan kerusakan fisik (physical wear dan tear)
b. keusangan
c. pembatasan hukum atau lainnya atas penggunaan aktiva.
         Masa manfaat dari aktiva yang dapat disusutkan harus ditinjau secara periodik
dan persentase penyusutan disesuaikan untuk periode sekarang dan yang akan datang jika
terdapat perbedaan besar dari estimasi sebelumnya. Pengaruh perubahan harus
diungkapkan dalam periode akuntansi di mana perubahan terjadi. Jumlah yang dapat
disusutkan (depreciable amount) adalah biaya perolehan suatu aktiva, atau jumlah lain
yang disubstitusikan untuk biaya dalam laporan keuangan dikurangi nilai sisanya.
         Penghapusan aktiva adalah penghapusan nilai buku suatu aktiva yang dilakukan
apabila nilai buku yang tercantum tidak lagi menggambarkan manfaat dari aktiva yang
bersangkutan. Penghapusan aktiva berbeda dengan penyusutan. Nilai sisa suatu aktiva
seringkali tidak signifikan dan dapat diabaikan dalam penghitungan jumlah yang dapat
disusutkan. Jika nilai sisa signifikan, nilai tersebut diestimasi pada tanggal perolehan atau
pada tanggal dilakukannya revaluasi aktiva (hanya mungkin dilakukan berdasarkan
ketentuan pemerintah), berdasarkan nilai yang dapat direalisasikan pada tanggal tersebut
untuk kondisi yang hampir sama dengan aktiva yang digunakan.

								
To top