tata kelakukan etika keperawatan

Document Sample
tata kelakukan etika keperawatan Powered By Docstoc
					                       Go
Search:


personalitydeaarista
Just another WordPress.com site

         About

TATA NILAI PERAWAT CARE, EMPATHY, ALTRUISM
December 29th, 2010 § Leave a Comment

CARE

Pengertian

“Care” dalam bahasa Inggris berarti asuhan, pemeliharaan, perawatan. Caring merupakan
fenomena universal yang berkaitan dengan cara seseorang berfikir, berperasaan, dan bersikap
ketika berhubungan dengan orang lain. Caring dalam keperawatan dipelajari dari berbagai
macam filosofi dan perspektif etik, artinya bukan hanya perawat saja yang berperilaku caring
tapi sebagai manusia, kita juga hars mampu memperhatikan manusia lain.

Human care merupakan hal yang mendasar dalam teori caring. Menurut Pasquali dan Arnold
(1989)serta Watson (1979), human care terdiri dari upaya untuk melindungi, meningkatkan, dan
menjaga atau mengabdikan rasa kemanusiaan dengan membantu orang lain untuk meningkatkan
pengetahuan dan pengendalian diri.

Caring sebagai suatu proses yang berorientasi pada tujuan membantu orang lain bertumbuh dan
mengaktualisasikan diri. Sifat-sifat caring seperti sabar, jujur, rendah hati. Ada juga yang
berpendapat bahwa caring sebagai suatu sikap rasa peduli, hormat dan menghargai orang lain.
Artinya memberi perhatian dan mempelajari kesukaan-kesukaan seseorang dan bagaimana
seseorang berpikir, bertindak, dan berperasaan.

Marriner dan Tomey (1994) menyatakan bahwa caring merupakan pengetahuan kemanusiaan,
inti dari praktik keperawatan yang bersifat etik dan filosofikal. Caring bukan semata-mata
perilaku. Caring adalah cara yang memiliki makna dan motivasi tindakan. Caring juga
didefinisikan sebagai tindakan yang bertujuan memberikan asuhan fisik dan memperhatikan
emosi sambil meningkatkan rasa aman dan keselamatan klien (Carruth et all, 1999).

Caring adalah manifestasi dari perhatian pada orang lain, berpusat pada orang, menghormati
harga diri dan kemanusiaan, komitmen untuk mencegah terjadinya sesuatau yang memburuk,
memberi perhatian dan konsen, menghormati pada orang lain dan kehidupan manusia, cinta dan
ikatan, otoritas dan keberadaan, selalu bersama, empati, pengetahuan, penghargaan, dan
menyenangkan.
Menurut Watson, ada tujuh asumsi tentang konsep caring yaitu :

1.   Caring hanya akan efektif bila diperlihatkan dan dipraktikan secara interpersonal.

2.  Caring sendiri terdiri dari faktor karatif yang berasal dari kepuasan dalam membantu
memenuhi kebutuhan manusia atau klien

3.   Caring yang efektif dapat meningkatkan kesehatan individu dan keluarga.

4.   Caring merupakan respon yang diterima oleh seseorang tidak hanya saat itu saja namun
juga mempengaruhi akan seperti apakah seseorang tersebut nantinya.

5.   Lingkungan yang penuh caring sangat potensial untuk mendukung perkembangan
seseorang dan memepengaruhi seseorang dalam memilih tindakan yang terbaik untuk dirinya
sendiri

6.    Caring lebih kompleks daripada curing. Praktik caring memadukan antara pengetahuan
biofisik dengan pengetahuan mengenai perilaku manusia yang berguna dalam peningkatan
derajat kesehatan dan membantu klien yang sakit.

7.   Caring merupakan inti dari keperawatan

Perilaku Caring

Dalam memberikan asuhan, perawat menggunakan keahlian, kata-kata yang lemah lembut,
sentuhan, memberikan harapan, selalu berada di samping klien, dan bersikap caring sebagai
media pemberi asuhan (Currut, Steele, Moffet, Rehmeyer, Cooper, dan Burroughs, 1999).

Perilaku caring, bertujuan dan berfungsi membangun struktur sosial, pandangan hidup dan nilai
kultur setiap orang yang berbeda pada satu tempat dengan tempat yang lain. Leininger (1991)
telah mengembangkan bentuk yang relevan dengan teori untuk mendefinisikan beberapa istilah,
diantaranya:

a.    Care adalah fenomena yang berhubungan dengan bimbingan, dukungan, atau perilaku lain
yang berkaitan atau untuk individu lain/kelompok dengan kebutuhan untuk meningkatkan
kondisi kehidupan manusia.

b.   Caring adalah tindakan yang diarahkan untuk membimbing individu atau kelompok
dengan nyata atau antisipasi kebutuhan untuk meningkatkan kondisi kehidupan manusia.

Fenomena Caring

Milton Mayeroff (1972) menggambarkan caring sebagai suatu proses yang memberikan
kesempatan pada seseorang (baik pemberi asuhan (carer) maupun penerima asuhan) untuk
pertumbuhan pribadi. Aspek utama caring meliputi:
1.       Pengetahuan

2.       Kesabaran

3.       Kejujuran

4.       Rasa percaya

5.       Penggantian irama (belajar dari pengalaman)

6.       Kerendahan hati

7.       Harapan

8.       Keberanian

Mc Farlane (1976) mengartikan keperawatan sebagai proses “menolong, membantu, melayani,
caring”, menunjukan bahwa keperawatan dan caring adalah sesuatu yang tidak terpisahkan dan
pada saat yang sama mengindikasikan bahwa beberapa aktivitas praktik dilakukan dalam proses
caring di lingkungan keperawatan.

Griffin (1983) menggambarkan caring dalam keperawatan sebagai sebuah proses interpersonal
esensial yang mengharuskan perawat melakukan aktivitas peran yang spesifik dalam sebuah cara
dengan menyampaikan ekspresi emosi-emosi tertentu pada resipien. Aktivitas tersebut menurut
Griffin meliputi ; membantu, menolong, dan melayani orang yang mempunyai kebutuhan
khusus.

Fry (1988) menyatakan beberapa petunjuk tentang caring :

         Caring harus dilihat sebagai nilai puncak atau nilai tertinggi untuk membimbing tindakan
          seseorang.
         Caring harus dipertimbangkan sebagai sesuatu yang bernilai universal.
         Caring harus dipertimbangkan secara jelas karena perilaku tertentu (empati, dukungan,
          simpati, perlindungan, dll) diutamakan.
         Caring harus berkenaan dengan orang lain. Harus berfikir untuk menyejahterakan orang
          lain dan bukan menyejahterakan diri sendiri.

EMPATI

Pengertian

Empati adalah “suatu kualitas atau proses memasuki secara penuh melalui imaginasi ke dalam
perasaan-perasaan atau motif-motif orang lain”. Istilah empati diperkenalkan pertama kalinya
oleh seorang psikolog Jerman bernama Theodore Lipps, sekitar tahun 1880-an dalam istilah
“einfuhlung” atau „in-feeling” yang menjabarkan apresiasi emosional terhadap perasaan-
perasaan orang lain. Berempati berarti mempersepsikan kerangka pikir internal orang lain secara
tepat yang mencakup unsur-unsur emosional dan cara-cara bertingkahlaku, disertai dengan
kepedulian seolah-olah diri sendiri adalah orang lain yang sedang dipersepsi tetapi tanpa
kehilangan kesadaran sedang mengandaikan sebagai orang lain. Dengan kata lain, berempati
adalah mengandaikan diri kita sebagai orang lain tanpa larut secara emosional dalam kondisi
orang yang diandaikan.

Menurut Eileen R. dan Sylvina S (Kompas, 18 Nop.2006) menjelaskan bahwa empati adalah
kegiatan berpikir individu mengenai “rasa” yang dia hasilkan ketika berhubungan dengan orang
lain.

Menurut Bullmer, empati adalah suatu proses ketika seseorang merasakan perasaan orang lain
dan menangkap arti perasaan itu, kemudian mengkomunikasikannya dengan kepekaan
sedemikian rupa hingga menunjukkan bahwa ia sungguh-sungguh mengerti perasaan orang lain
itu. Bullmer menganggap empati lebih merupakan pemahaman terhadap orang lain ketimbang
suatu diagnosis dan evaluasi terhadap orang lain. Empati menekankan kebersamaan dengan
orang lain lebih daripada sekadar hubungan yang menempatkan orang lain sebagai obyek
manipulatif.

Taylor menyatakan bahwa empati merupakan faktor esensial untuk membangun hubungan yang
saling memercayai. Ia memandang empati sebagai usaha menyelam ke dalam perasaan orang
lain untuk merasakan dan menangkap makna perasaan itu. Empati memberikan sumbangan guna
terciptanya hubungan yang saling memercayai karena empati mengkomunikasikan sikap
penerimaan dan pengertian terhadap perasaan orang lain secara tepat.

Sedangkan Alfred Adler menyebut empati sebagai penerimaan terhadap perasaan orang lain dan
meletakkan diri kita pada tempat orang itu. Empathy berarti to feel in, berdiri sebentar pada
sepatu orang lain untuk merasakan betapa dalamnya perasaan orang itu.

Senada dengan Adler, Tubesing memandang empati merupakan identifikasi sementara terhadap
sebagian atau sekurang-kurangnya satu segi dari pengalaman orang lain. Berempati tidak
melenyapkan kedirian kita. Perasaan kita sendiri takkan hilang ketika kita mengembangkan
kemampuan untuk menerima pula perasaan orang lain yang juga tetap menjadi milik orang itu.
Menerima diri orang lain pun tidak identik dengan menyetujui perilakunya. Meskipun demikian,
empati menghindarkan tekanan, pengadilan, pemberian nasihat apalagi keputusan. Dalam
berempati, kita berusaha mengerti bagaimana orang lain merasakan perasaan tertentu dan
mendengarkan bukan sekadar perkataannya melainkan tentang hidup pribadinya: siapa dia dan
bagaimana dia merasakan dirinya dan dunianya.

Menurut definisi Thomas F. Mader & Diane C. Mader (Understanding One Another: 1990),
empati adalah kemampuan seseorang untuk share-feeling yang dilandasi kepedulian. Kepedulian
ini ada tingkatan-tingkatannya.

Mengapa Perlu Empati?

Pertama, kesadaran bahwa tiap orang memiliki sudut pandang berbeda akan mendorong
mahasiswa mampu menyesuaikan diri sesuai dengan lingkungan sosialnya. Dengan
menggunakan mobilitas pikirannya, mahasiswa dapat menempatkan diri pada posisi perannya
sendiri maupun peran orang lain sehingga akan membantu melakukan komunikasi efektif.

Kedua, mampu berempati mendorong mahasiswa tidak hanya mengurangi atau

menghilangkan penderitaan orang lain, tetapi juga ketidaknyamanan perasaan melihat

penderitaan orang lain. Merasakan apa yang dirasakan individu lain akan menghambat
kecenderungan perilaku agresif terhadap individu itu.

Ketiga, kemampuan untuk memahami perspektif orang lain membuat mahasiswa menyadari
bahwa orang lain dapat membuat penilaian berdasarkan perilakunya. Kemampuan ini membuat
individu lebih melihat ke dalam diri dan lebih menyadari serta memperhatikan pendapat orang
lain mengenai dirinya.

Proses itu akan membentuk kesadaran diri yang baik, dimanifestasikan dalam sifat optimistis,
fleksibel, dan emosi yang matang. Jadi, konsep diri yang kuat, melalui proses perbandingan
sosial yang terjadi dari pengamatan dan pembandingan diri dengan orang lain,

akan berkembang dengan baik.

Mengasah Empati

Empati dapat kita analogikan dengan pisau. Ketika sebuah pisau diasah, maka dia akan semakin
tajam, begitu juga dengan rasa empati yang dimiliki manusia. Ketika sebuah pengalaman
mengantarkan seseorang untuk berbuat lagi dan lagi, maka empati akan tumbuh dengan
suburnya. Al Qur‟an telah mengajarkan bahwa manusia itu ibarat satu tubuh, jika salah satu
anggota tubuh sakit, maka rasa sakit itu pula akan dirasakan oleh anggota tubuh yang lain.
Artinya, ketika seorang manusia merasakan sakit, maka manusia yang lain juga akan ikut
merasakan hal yang sama.

Itulah empati. Perasaan yang lebih dalam dari pada simpati dan tidak didapat secara mudah.
Orang yang memiliki kasih sayang tinggi biasanya juga memiliki ingatan jangka panjang yang
lebih baik. Sebab itu jika dosen berhasil menanamkan kasih sayang di antara mahasiswanya
(dalam konteks yang positif), dan dosen juga mengajar dengan penuh kasih sayang kepada
mahasiswanya, maka keberhasilan mahasiswa dalam belajar akan lebih baik.

Sikap yang baik untuk berkasih sayang ini dapat dicapai melalui pembiasaan ber-empati kepada
orang lain.

Apabila setiap dosen dan mahasiswa mengembangkan sikap empati ini, saling menghargai dan
saling menghormati, maka sikap saling membantu akan terwujud, dan kelas yang demikian pasti
akan solid. Kesolidan kelas akan memudahkan pencapaian prestasi oleh mahasiswa, karena
mahasiswa yang telah berhasil akan rela membantu teman-temannya yang belum berhasil untuk
mencapai hasil yang optimal pula. Kondisi saling ber-empati akan terwujud jika mahasiswa
dalam keadaan fun dan tidak dalam kondisi tertekan.
Dengan demikian, pembelajaran juga akan berlangsung lancar, dan mahasiswa dapat mencapai
hasil belajar secara optimal.



Masalahnya kini ialah apakah ketrampilan – kalau belum dapat disebut bagian dari pada ilmu
pengetahuan resmi Komunikasi Empati itu dapat dipelajari secara klasikal ? Tentu saja
ketrampilan Komunikasi Empati ini dapat dipelajari oleh semua orang karena pada dasarnya
semua orang telah mempraktekkannya secara tidak sadar sejak masa kecilnya.
Bagaimana seorang bayi dan balita berkomunikasi dengan ibunya padahal ia belum menguasai
bahasa apapun kecuali bahasa isyarat dan yang terpenting kemampuan untuk membaca dan
menginterpretasi “bahasa air muka ibunya”. Bagaimana pula seorang bayi mampu mendeteksi
kehadiran “orang yang jahat” di sekitarnya yang dapat membahayakan nyawa diri dan ibunya
dan memberikan “early warning” lewat para-bahasa satu-satunya yang dikenalnya yaitu dengan
cara menangis sekeras-kerasnya? Bayi memiliki “kecerdasan intuitif” yang berada pada domain
otak hemisfir kanan sementara kecerdasan analitis dari otak kirinya sama sekali masih belum
berkembang.

Dengan masuknya anak-anak pasca-balita ke dalam sistem pendidikan formal – yang secara
berat sebelah sangat menekankan pentingnya “kecerdasan intelektual”, maka kemampuan
“kecerdasan intuitif” anak semakin ditekan dan dianggap “kurang ilmiah” itupun hanya karena
belum dapat dijelaskan secara memadai oleh dunia ilmu pengetahuan.

Bersamaan dengan itu terdapat gejala umum fakta menciutnya kelenjar pineal pada otak anak
sehingga “kecerdasan spiritual”-nya juga secara bertahap mulai menghilang. Ia tidak dapat lagi
“melihat” kawan-kawannya yang nir-wujud yang selama ini dapat diajaknya “berbicara dan
bermain-main” di mana oleh dan dalam dunia orang dewasa kemampuan “indra keenam” yang
nyata itu hanya dianggap sebagai suatu bentuk halusinasi, atau secara umum sebagai daya khayal
dan imaginasi anak-anak belaka.

Komunikasi Empati melatih kembali orang dewasa untuk memanfaatkan “kecerdasan
intuitive”nya untuk dimanfaatkan secara optimal bagi kepentingan dalam berbagai bidang
profesinya masing-masing di mana selalu terdapat kebutuhan akan suatu komunikasi
interpersonal dengan orang lain.

Sukarkah Mempelajari Komunikasi Empati?

Melatih ketrampilan Komunikasi Empati itu dapat dikatakan mudah tetapi sekaligus dapat Juga
dikatakan rumit. Intinya, komunikasi Empati tidak dapat dipelajari seperti mempelajari ilmu-
ilmu pengetahuan eksakta atau humaniora lainnya yang menekankan dominansi fungsi
“kecerdasan intelektual”. Dikatakan mudah karena ketrampilan ini lebih mudah dipelajari oleh
anak-anak karena mereka memiliki semangat avonturir, spontanitas, sikap relaks, sikap berani
salah dan berani malu, karena di sini tidak diperlukan ketajaman otak untuk menganalisis dan
mengajukan bermacam-macam pertanyaan yang rumit. “Mengapa begini?” “Apa dasar
metodiknya?” “Bagaimana validitas jawabannya?” “Bagaimana Proses terjadinya?” “Apakah
hasilnya standar dan terukur?” “Apakah prosesnya repeatable dan hasilnya homogen? Semua
pertanyaan tersebut timbul dari disiplin ilmu yang mengandalkan “kecerdasan intelektual”.
Selama para peminat tidak mampu melakukan “switching” dominansi otaknya dari hemisfir kiri
ke hemisfir kanan, maka ia selalu akan gagal mempraktekkan Komunikasi Empati. Just that
simple ! Pertanyaan selanjutnya kemudian ialah: Bagaimana caranya melakukan aktivasi
dominansi otak hemisfir kanan supaya “intuitive intelligence” seseorang dapat mulai beroperasi?
Tekniknya tidak akan dibahas dalam session ini namun pada dasarnya ialah dengan cara
melakuklan apa yang dinamakan “proses de-konsentrasi” secukupnya selama beberapa menit.

James T. Hardee MD. memberikan beberapa petunjuk untuk meningkatkan empati dokter kepada
para pasien. Dalam Komunikasi Empati hal-hal itu dapat diperhatikan dan tentu akan sangat
bermanfaat namun bukan merupakan syarat bagi keberhasilannya.
Langkah-langkah kunci yang disarankannya mencakup hal-hal seperti:
1. Mengakui adanya perasaan-perasaan kuat dalam situasi klinis bagi pasien seperti rasa takut,
marah terpendam, kesedihan, kekecewaan dsb.

2. Berhenti sejenak dan embayangkan apa yang sedang diraskan oleh pasien yang bersangkutan.

3. Mengekspresikan persepsi doktervtentang perasaan pasien tersebut (Misalnya, “Saya dapat
membayangkan bahwa anda…” atau “sepertinya anda merasa kesal tentang…”)

4. Melegitimasi perasaan-perasaan tersebut.

5. Menghargai usaha-usaha pasien untuk bekerjasama.dalam proses pengobatan.

6. Menawarkan suatu dukungan atau kerjasama (Misalnya: “Saya janji untuk memberikan
kerjasama yang sebaik-baiknya…” atau „Mari kita lihat apa yang dapat kita lakukan bersama
untuk mengatasi hal ini …”).

Manfaat Komunikasi Empati Dalam Bidang Medis

Apakah Komunikasi Empati mempunyai sesuatu manfaat bagi dunia kedokteran maupun juga
dalam keperawatan? Dalam setiap hubungan interpersonal terjadilah komunikasi. Ada corak
komunikasi yang efektif tetapi ada pula komunikasi yang sama sekali tidak produktif apalagi
kondusif. Di masa lampau – atau mungkin sebagian masih berlaku sampai sekarang juga – ilmu
pengobatan allopatik dalam penanganan suatu kasus penyakit terdapat pola pikir “Find it and fix
it.” Yaitu pada tahap prognosis mengamati simtom-simtomnya dan kemudian memikirkan
metode penanganannya. Secara keseluruhan agak mirip dengan pekerjaan seorang montir
elektronik. Padahal yang dihadapi para dokter dan perawat ialah manusia yang memiliki tiga
matra dalam jatidirinya yaitu matra fisik, kejiwaan dan spiritual.

Untuk penanganan penyakit-penyakit yang jelas-jelas bersifat fisikal tentunya tidak memerlukan
Komunikasi Empati. Kalau kaki pasien patah yang diperlukan pertama-tama ialah selembar foto
rontgen dan kemudian diperlukan bilah supaya kaki itu dapat disalut gipsum.

Untuk mules-mules saja sudah diperlukan informasi tambahan tentang kondisi psikologis pasien.
Mungkin saja benar hal itu hanya akibat kontaminasi bakteri E. Coli biasa atau gejala flatulensi
biasa akibat ekskresi getah lambung berlebihan karena kerap makan terlambat. Tetapi mungkin
saja ada sebab kejiwaan, misalnya karena stress menghadapi suatu persoalan yang pelik dan
belum lagi terpikirkan bagaimana cara pemecahannya.

Pernah ada kisah tentang pasien yaitu seorang nenek tua yang semua jari-jari tangannya selalu
dalam keadaan mencengkeram kaku dan tidak kunjung tersembuhkan. Lewat konseling yang
intensif diketahui bahwa nenek itu sangat membenci menantunya dan menganggap dia itu ingin
merebut semua hartanya. Ia sama sekali tidak rela hartanya jatuh ke tangan menantunya itu.
Kebencian itu telah merasuk jauh ke dalam hatinya. Kemudian nenek itu secara perlahan dapat
diyakinkan tentang pentingnya nilai pengampunan serta nilai keterbukaan untuk dapat menerima
manusia lain sebagaimana adanya. Juga nilai kepasrahan untuk menyerahkan segala sesuatunya
kepada Tuhan sesuai agama yang diyakininya.

Akhirnya, quasi carpal syndrome itu sembuh dengan sendirinya dan nenek itu menjadi seorang
penderma yang sangat murah hati dan selanjutnya memiliki muka yang penuh senyum.

Dalam wawancara singkat antara dokter dengan pasien di ruang praktek tidak mungkin seorang
dokter melalui tanya jawab biasa untuk menemukan akar masalah kejiwaan dan kerohanian yang
mendalam seperti itu yang menjadi akar masalah penyakitnya. Justru dalam hal seperti ini dan
dalam waktu sesingkat itulah Komunikasi Empati dapat sangat bermanfaat bagi para dokter
maupun perawat untuk menggali sedalam-dalamnya semua informasi yang dibutuhkan dari
memori para pasiennya. Tiga hal yang patut dipertimbangkan ialah:
1. Pemberian pelayanan yang lebih sesuai kepada para pasien.

2. Mengurangi risiko tuntutan mal-praktek karena kesalahan diagnose.

3. Meningkatkan kepuasan batin bagi kedua belah pihak.

ALTRUISME

Pengertian

Altruisme diartikan sebagai kewajiban yang ditujukan pada kebaikan orang lain. Dari kata Latin
alter, artinya orang lain. Altruisme adalah perhatian terhadap kesejahteraan orang lain tanpa
memperhatikan diri sendiri atau kemampuan diri sendiri untuk mementingkan diri sendiri dan
memiliki dedikasi untuk kesejahteraan orang lain. Perilaku ini merupakan kebajikan yang ada
dalam banyak budaya dan dianggap penting oleh beberapa agama. Gagasan ini sering
digambarkan sebagai aturan emas etika. Beberapa aliran filsafat, seperti Objektivisme
berpendapat bahwa altruisme adalah suatu keburukan. Altruisme adalah lawan dari sifat egois
yang mementingkan diri sendiri. Lawan dari altruisme adalah egoisme.

Dalam keperawatan, altruisme merupakan karakteristik kunci utama yang perlu hadir dalam
hubungan perawat-pasien untuk memastikan dan menjamin layanan yang tepat dan lingkungan
penyembuhan untuk pasien mereka. Jika seorang perawat melakukan perawatan kepada pasien
tanpa perhatian penuh mereka dan pasien akan rentan terhadap lingkungan yang negatif
menyebabkan pandangan negatif dan hasilnya bagi pasien. Faktor pertama Carative Jean Watson
terlibat nilai-nilai kemanusiaan-altruistik, yang menyatakan “berlatih cinta kasih dan
keseimbangan batin untuk diri dan lainnya” (Watson, 2008, hal 30). Dalam profesi keperawatan,
perawat harus berlatih dan memberikan kasih dan kebaikan karena tidak hanya pasien, tapi untuk
dirinya sendiri. Seorang perawat harus menjaga keseimbangan batin secara keseluruhan dalam
diri ketika dengan pasien guna mendukung dan memberikan keamanan bagi pasien mereka,
tetapi juga bagi diri mereka sendiri untuk mencegah burn-out dan stres. Dalam rangka untuk
mendapatkan dan mengamankan nilai-nilai kemanusiaan-altruistis perawat harus berlatih terus-
menerus cinta, kebaikan, dan kesadaran-kesadaran. Altruisme akan membantu membuka belas
kasihan perawat dan keterampilan empati, memungkinkan lingkungan yang lebih positif dan
penyembuhan untuk pasien.

Altruisme dapat dibedakan dengan perasaan loyalitas dan kewajiban. Altruisme memusatkan
perhatian pada motivasi untuk membantu orang lain dan keinginan untuk melakukan kebaikan
tanpa memperhatikan ganjaran, sementara kewajiban memusatkan perhatian pada tuntutan moral
dari individu tertentu (seperti Tuhan, raja), organisasi khusus (seperti pemerintah), atau konsep
abstrak (seperti patriotisme, dsb). Beberapa orang dapat merasakan altruisme sekaligus
kewajiban, sementara yang lainnya tidak. Altruisme murni memberi tanpa memperhatikan
ganjaran atau keuntungan.

Konsep ini telah ada sejak lama dalam sejarah pemikiran filsafat dan etika, dan akhir-akhir ini
menjadi topik dalam psikologi (terutama psikologi evolusioner), sosiologi, biologi, dan etologi.
Gagasan altruisme dari satu bidang dapat memberikan dampak bagi bidang lain, tapi metoda dan
pusat perhatian dari bidang-bidang ini menghasilkan perspektif-perspektif berbeda terhadap
altruisme. Berbagai penelitian terhadap altruisme tercetus terutama saat pembunuhan Kitty
Genovese tahun 1964, yang ditikam selama setengah jam, dengan beberapa saksi pasif yang
menahan diri tidak menolongnya.

Istilah “altruisme” juga dapat merujuk pada suatu doktrin etis yang mengklaim bahwa individu-
individu secara moral berkewajiban untuk dimanfaatkan bagi orang lain.

Suatu tindakan altruistik adalah tindakan kasih yang dalam bahasa Yunani disebut agape. Agape
adalah tindakan mengasihi atau memperlakukan sesama dengan baik semata-mata untuk tujuan
kebaikan orang itu dan tanpa dirasuki oleh kepentingan orang yang mengasihi. Maka, tindakan
altruistik pastilah selalu bersifat konstruktif, membangun, memperkembangkan dan
menumbuhkan kehidupan sesama.

Suatu tindakan altruistik tidak berhenti pada perbuatan itu sendiri. Keberlanjutan tindakan itu
sebagai produknya dan bukan sebagai kebergantungan merupakan salah satu indikasi dari
moralitas altruistik. Moralitas altruistik tidak sekadar mengandung kemurahan hati atau belas
kasihan. Ia diresapi dan dijiwai oleh kesukaan memajukan sesama tanpa pamrih. Karena itu,
tindakannya menuntut kesungguhan dan tanggung jawab yang berkualitas tinggi.

Altruistik diajarkan semua agama. Dari sudut pandang teologi, altruistik merupakan suatu
tindakan yang dijiwai oleh panggilan ilahi.
Kualitas iman atau agama justru harus diukur dari tindakan altruistik seseorang. Seorang yang
mengaku beragama atau beriman mestilah jiwa dan rohnya diresapi kasih sayang terhadap
sesama tanpa bersikap diskriminatif dan primordialistik.

Ciri utama moralitas altruistik adalah pengorbanan. Pemberian bantuan yang didasarkan pada
kebutuhan sesama disebut sebagai tindakan filantropik. Karena itu, tindakan altruistik menjadi
suatu yang diidealkan dalam ajaran-ajaran agama. Bahwa sesama manusia harus dikasihi.

Didukung Filsafat

Bukan hanya para penganjur agama seperti para nabi yang menganggap altruisme sebagai pilihan
terbaik manusia dalam mengelola hidupnya dengan sesama. Bahkan para filsuf berpendirian
bahwa altruistik adalah pilihan terbaik bagi kehidupan bersama umat manusia. Sir Charles
Erlington umpamanya mengemukakan, bekerja sama telah terbukti lebih berhasil dari pada
berkompetisi dalam proses evolusi.

Dalam bidang politik, bisnis, dan kehidupan sosial lainnya, acapkali dibutuhkan suatu bentuk
pengorbanan untuk kemajuan bersama yang lebih baik. Kebiasaan pejabat tertentu mundur demi
memberi kesempatan pada orang lain yang lebih muda atau lebih potensial, adalah bentuk kerja
sama dan pengorbanan yang diperlukan untuk memberi manfaat yang berharga dan untuk tujuan
lebih luhur bagi kemanusiaan.

Walaupun Darwin mengajarkan survival of the fittest sebagai hukum evolusi, ternyata bahwa
hukum itu tidak semata-mata dijalani dengan berkompetisi dan cenderung mengorbankan pihak
lain dan orang lain, tetapi juga, secara alamiah hukum itu mengandung makna pengorbanan.
Memang tidak mudah memahami ada manusia bersedia mengorbankan kepentingannya sendiri
untuk kebaikan orang lain. Nietzsche umpamanya menyebut kesediaan berkorban dan
kerendahan hati sebagai suatu mental budak, mental orang-orang yang tak sanggup berjuang dan
orang-orang yang mudah menyerah.

Dalam era globalisasi sekarang ini, memang muncul paradoks dalam relasi antarmanusia. Di satu
pihak, persaingan atau kompetisi begitu kuat dipacu oleh pemimpin-pemimpin politik dan bisnis.
Namun di pihak lain, muncul orang- orang yang merelakan dirinya, menempuh bahaya dan
risiko untuk kepentingan orang lain.

Ketika terjadi bencana yang begitu besar, kita menyaksikan dengan penuh haru kesediaan
banyak orang menyediakan diri menolong sesama tanpa pamrih. Kita sering menjadi malu
sebagai bangsa, solidaritas dari mereka yang sering kita anggap sebagai manusia individualistik
dan egoistik justru memperlihatkan praktik hidup altruistik atau sekurang-kurangnya filantropik.

Sebenarnya tindakan altruistik masih sangat banyak kita temukan pada para pengabdi
kemanusiaan yang tulus dan ikhlas membantu sesamanya: para perawat, dokter, guru, pekerja
sosial, agamawan dan lain-lain golongan manusia yang menjalankan tugas dan profesinya tanpa
pamrih.
Memang banyak juga, mungkin lebih banyak, yang sangat komersial dan egoistik, melihat
sesamanya sebagai komoditas yang memberikan keuntungan.

Contohnya orang-orang yang berjuang untuk kepentingan sesama, menjadi bukti bagi kita bahwa
sebenarnya tindakan altruistik masih menjadi suatu kerangka moral manusia yang bernilai tinggi.
Filantropis memang berbeda dengan altruistik. Filantropis berarti kesediaan membantu sesama
yang membutuhkan, baik dalam bentuk uang, barang maupun waktu. Namun, tindakan
filantropis memang sangat tipis bedanya dengan tindakan altruistik.

Di seluruh dunia, lembaga-lembaga agama, perusahaan dan perkumpulan orang perorangan telah
lama mengorganisir usaha-usaha kemanusiaan filantropis. Usaha-usaha filantropis ini telah
memunculkan banyak organisasi kemanusiaan yang dikenal dengan LSM.

Lepas dari adanya “bisnis” dalam usaha-usaha kemanusiaan ini, jelaslah bahwa tindakan-
tindakan filantropis baik yang dilakukan oleh organisasi maupun oleh perorangan dalam
memberi dana, harta dan waktunya, dapat menjadi cikal bakal tindakan altruistik.

Walaupun gagasan filantropis sangat ideal, tidak sedikit disalahgunakan oleh orang tertentu.
Banyak yang bersedia menjadi relawan karena bergaji besar, sehingga hakikatnya sebagai
relawan bisa dipersoalkan. Ada relawan yang tiba-tiba menjadi jutawan baru dan tanpa malu-
malu mengantongi gaji yang sangat besar dengan dalih menolong sesama.

Gagasan altruisme
Konsep ini memiliki sejarah panjang dalam filosofis dan etika berpikir. Istilah ini awalnya
diciptakan oleh pendiri sosiologi dan filsuf ilmu pengetahuan, Auguste Comte, dan telah menjadi
topik utama bagi psikolog (terutama peneliti psikologi evolusioner), biologi evolusioner, dan
etolog. Sementara ide-ide tentang altruisme dari satu bidang dapat memberikan dampak pada
bidang lain, metode yang berbeda dan fokus bidang-bidang ini menghasilkan perspektif yang
berbeda pada altruisme.

Kewajiban

Baik altruisme maupun filantropis mengandung kewajiban moral dan kesadaran moral. Pejabat
negara misalnya, mempunyai kewajiban moral untuk mengutamakan kepentingan rakyat atau
masyarakat melampaui kepentingan diri atau golongannya. Memang kewajiban moral seorang
pejabat tidak bisa dikategorikan sebagai tindakan filantropis apalagi altruistic, sebab
kewajibannya terkait dengan imbalan yang ia terima.

Justru persoalannya adalah kewajiban moral para pejabat negara pun tidak dengan sendirinya
dilaksanakan. Sebaliknya acap kali, atau bahkan seringkali, pejabat negara justru masih
mengkomersialkan kewajiban moralnya.

Suburnya korupsi di Indonesia, berakar dalam pupusnya idealisme altruistik dan filantropik pada
pejabat dan pegawai negeri tertentu. Karena itu, sudah sewajarnya apabila dalam proses fit and
proper test seorang calon pejabat negara, dan dalam proses penerimaan pegawai negeri,
kewajiban moral yang terkait dengan altruistik dan filantropis ini dipertimbangkan.

Sebagai kesadaran moral, tindakan altruistik seharusnya lahir dari panggilan luhur hati nurani
untuk memperlakukan sesama sebagai makhluk yang memiliki harkat dan martabat yang tinggi.

Dalam hal itu, altruistik sesuai dengan tuntutan HAM. Menurut rumus Kaidah Emas (Golden
Rule): “memperlakukan orang lain sebagaimana saya ingin diperlakukan oleh orang lain” yang
ada dalam setiap agama, maka moralitas altruistik dan filantropis tidak lain dari kesadaran
keagamaan dan kemanusiaan yang paling hakiki.

Karena sebagai manusia yang bermoral maka seharusnya setiap manusia mempunyai kesadaran
altruistik.

Sifat altruisme mestinya menjadi muatan pendidikan budi pekerti dan pendidikan agama yang
diberikan kepada anak didik. Kepedulian terhadap sesama, solidaritas sosial dan kesediaan
berbagi merupakan nilai-nilai yang perlu ditanamkan dan dibiasakan kepada anak didik sejak
dari rumah, sekolah, dan di masyarakat.

Like
Be the first to like this post.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Name *

Email *

Website




Comment

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title="">
<acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del
datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
 Post Comment      16         0


 1302584167



    Notify me of follow-up comments via email.

    Subscribe to this site by email

 comment-form-te


Previous Post »

What’s this?

You are currently reading TATA NILAI PERAWAT CARE, EMPATHY, ALTRUISM at
personalitydeaarista.

meta

      Author: personalitydeaarista
      Comments: Leave a Comment
      Categories: Uncategorized

Blog at WordPress.com.

Theme: Oulipo by A. Mignolo.




http://personalitydeaarista.wordpress.com/2010/12/29/tata-nilai-perawat-care-empathy-altruism/

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:315
posted:8/10/2011
language:Indonesian
pages:13
faisal syam faisal syam http://
About