Docstoc

Sembilan Faedah Surat al

Document Sample
Sembilan Faedah Surat al Powered By Docstoc
					Sembilan Faedah Surat al-Fatihah (1)

Kategori Al-Quran, Aqidah, Tafsir | 29-05-2009 | 23 Komentar


Surat al-Fatihah menyimpan banyak pelajaran berharga. Surat yang hanya terdiri dari tujuh ayat
ini telah merangkum berbagai prinsip dan pedoman dalam ajaran Islam. Sebuah surat yang harus
dibaca setiap kali mengerjakan sholat. Di dalam surat ini, Allah ta‟ala memperkenalkan diri-Nya
kepada hamba-hamba-Nya. Di dalamnya, Allah mengajarkan kepada mereka tugas hidup mereka
di dunia. Di dalamnya, Allah mengajarkan kepada mereka untuk bergantung dan berharap
kepada-Nya, cinta dan takut kepada-Nya. Di dalamnya, Allah menunjukkan kepada mereka jalan
yang akan mengantarkan mereka menuju kebahagiaan. Berikut ini kami akan menyajikan petikan
faedah dari surat ini dengan merujuk kepada al-Qur‟an, as-Sunnah, serta keterangan para ulama
salaf. Semoga tulisan yang ringkas ini bermanfaat untuk yang menyusun maupun yang
membacanya.


Faedah Pertama: Kewajiban untuk mencintai Allah

Di dalam ayat „Alhamdulillahi Rabbil „alamin‟ terkandung al-Mahabbah/kecintaan. Syaikh
Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah menjelaskan, “Di dalam ayat tersebut terkandung
kecintaan, sebab Allah adalah Yang memberikan nikmat. Sedangkan Dzat yang memberikan
nikmat itu dicintai sesuai dengan kadar nikmat yang diberikan olehnya.” (Syarh Ba‟dhu Fawa‟id
Surah al-Fatihah, hal. 12)

Sebagaimana kita ketahui bahwa kecintaan merupakan penggerak utama ibadah kepada Allah
ta‟ala. Karena cintalah seorang hamba mau menundukkan diri dan menaati perintah dan larangan
Allah ta‟ala. Sebaliknya, karena sedikit dan lemahnya kecintaan maka ketundukan dan ketaatan
seorang hamba kepada Rabbnya pun akan semakin menipis. Syaikh Shalih al-Fauzan
mengatakan, “Setiap pemberi kenikmatan maka dia berhak dipuji sesuai dengan kadar
kenikmatan yang dia berikan. Dan hal ini melahirkan konsekuensi keharusan untuk
mencintainya. Sebab jiwa-jiwa manusia tercipta dalam keadaan mencintai sosok yang berbuat
baik kepadanya. Sementara Allah jalla wa „ala adalah Sang pemberi kebaikan, Sang pemberi
kenikmatan dan pemberi keutamaan kepada hamba-hamba-Nya. Oleh sebab itu hati akan
mencintai-Nya karena keutamaan dan kebaikan-Nya, sebuah kecintaan yang tak tertandingi
dengan kecintaan mana pun. Oleh karena itu, kecintaan merupakan jenis ibadah yang paling
agung. Maka alhamdulillahi Rabbil „alamin mengandung -ajaran- kecintaan.” (Syarh Ba‟dhu
Fawa‟id Surah al-Fatihah, hal. 12)

Allah ta‟ala berfirman,



“Di antara manusia, ada orang-orang yang menjadikan selain Allah sebagai sesembahan
tandingan. Mereka mencintainya sebagaimana kecintaan mereka kepada Allah. Sedangkan
orang-orang yang beriman lebih dalam kecintaannya kepada Allah.” (QS. al-Baqarah: 165)
Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Allah memberitakan bahwa barangsiapa yang
mencintai selain Allah sebagaimana kecintaannya kepada Allah ta‟ala maka dia tergolong orang
yang menjadikan selain Allah sebagai sekutu. Ini merupakan persekutuan dalam hal kecintaan,
bukan dalam hal penciptaan maupun rububiyah, sebab tidak ada seorang pun di antara penduduk
dunia ini yang menetapkan sekutu dalam hal rububiyah ini, berbeda dengan sekutu dalam hal
kecintaan, maka sebenarnya mayoritas penduduk dunia ini telah menjadikan selain Allah sebagai
sekutu dalam hal cinta dan pengagungan.” (Ighatsat al-Lahfan, hal. 20)

Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam bersabda,




“Ada tiga perkara, barangsiapa yang memilikinya maka dia akan mendapatkan manisnya iman.
Yaitu apabila Allah dan rasul-Nya lebih dicintainya daripa selain keduanya. Apabila dia
mencintai orang tidak lain karena kecintaannya kepada Allah. Dan dia membenci kembali ke
dalam kekafiran sebagaimana orang yang tidak senang untuk dilemparkan ke dalam neraka.”
(HR. Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahu‟anhu)

Oleh sebab itu jalinan kecintaan karena selain Allah akan musnah, sedangkan kecintaan yang
dibangun di atas ketaatan dan kecintaan kepada-Nya akan tetap kekal hingga hari kemudian.
Allah ta‟ala berfirman,



“Pada hari itu orang-orang yang saling berkasih sayang akan saling memusuhi satu dengan
yang lainnya, kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS. az-Zukhruf: 67)

Syaikh Shalih al-Fauzan mengatakan, “Tidak tersisa selain kecintaan sesama orang-orang yang
bertakwa, karena ia dibangun di atas landasan yang benar, ia akan tetap kekal di dunia dan di
akhirat. Adapun kecintaan antara orang-orang kafir dan musyrik, maka ia akan terputus dan
berubah menjadi permusuhan.” (Syarh Ba‟dhu Fawa‟id Surah al-Fatihah, hal. 15)

Allah ta‟ala berfirman,




“Dan ingatlah pada hari kiamat itu nanti orang yang gemar melakukan kezaliman akan
menggigit kedua tangannya dan mengatakan, „Aduhai alangkah baik seandainya dahulu aku
mengambil jalan mengikuti rasul itu. Aduhai sungguh celaka diriku, andai saja dulu aku tidak
menjadikan si fulan itu sebagai teman dekatku. Sungguh dia telah menyesatkanku dari
peringatan itu (al-Qur‟an) setelah peringatan itu datang kepadaku.‟ Dan memang syaitan itu
tidak mau memberikan pertolongan kepada manusia.” (QS. al-Furqan: 27-29)

Faedah Kedua: Kewajiban untuk berharap kepada Allah
Di dalam ayat „ar-Rahman ar-Rahim‟ terkandung roja‟/harapan. Syaikh Muhammad bin Abdul
Wahhab rahimahullah mengatakan, “Di dalam ayat tersebut terkandung roja‟.” (Syarh Ba‟dhu
Fawa‟id Surah al-Fatihah, hal. 18). Harapan merupakan energi yang akan memacu seorang
insan. Dengan masih adanya harapan di dalam dirinya, maka ia akan bergerak dan melangkah,
berjuang dan berkorban. Dia akan berdoa dan terus berdoa kepada Rabbnya. Demikianlah
karakter hamba-hamba pilihan. Allah ta‟ala berfirman,



“Mereka itu -sosok orang salih yang disembah oleh orang musyrik- justru mencari jalan untuk
bisa mendekatkan diri kepada Allah; siapakah di antara mereka yang lebih dekat dengan-Nya,
mereka mengharapkan rahmat-Nya dan merasa takut dari siksa-Nya. Sesungguhnya siksa
Rabbmu harus senantiasa ditakuti.” (QS. al-Israa‟: 57)

Allah ta‟ala berfirman,



“Rabb kalian berfirman; Berdoalah kalian kepada-Ku niscaya akan Aku kabulkan permintaan
kalian. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku maka
mereka akan masuk ke dalam Neraka dalam keadaan hina dina.” (QS. Ghafir: 60)

Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam bersabda,



“Apabila salah seorang di antara kalian berdoa maka janganlah dia mengatakan, „Ya Allah,
ampunilah aku jika Kamu mau‟ tetapi hendaknya dia bersungguh-sungguh dalam memintanya
dan memperbesar harapan, sebab Allah tidak merasa berat terhadap apa pun yang akan
diberikan oleh-Nya.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu‟anhu).

Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam bersabda,



“Barangsiapa yang tidak meminta kepada Allah, maka Allah akan murka kepadanya.” (HR.
Tirmidzi dari Abu Hurairah radhiyallahu‟anhu, dihasankan al-Albani dalam Shahih wa Dha‟if
Sunan Tirmidzi [3373])

Harapan bukanlah angan-angan kosong, namun ia merupakan perbuatan hati yang mendorong
pemiliknya untuk berusaha dan bersungguh-sungguh dalam mencapai keinginannya. Karena
harapan itulah maka dia tetap tegar di atas keimanan, rela untuk meninggalkan apa yang
disukainya demi mendapatkan keridhaan Allah, dan dia akan rela mengerahkan segala daya dan
kekuatannya di jalan Allah ta‟ala. Allah ta‟ala berfirman,
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah, mereka
itulah orang-orang yang mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang.” (QS. al-Baqarah: 218)

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Ketahuilah, sesungguhnya harapan yang
terpuji tidaklah ada kecuali bagi orang yang beramal dengan ketaatan kepada Allah dan
mengharapkan pahala atasnya, atau orang yang bertaubat dari kemaksiatannya dan
mengharapkan taubatnya diterima. Adapun harapan semata yang tidak diiringi dengan amalan,
maka itu adalah ghurur/ketertipuan dan angan-angan yang tercela.” (Syarh Tsalatsat Ushul, hal.
58)

Faedah Ketiga: Kewajiban untuk takut kepada Allah

Di dalam ayat „Maaliki yaumid diin‟ terkandung ajaran untuk merasa takut kepada hukuman
Allah. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berkata, “Di dalamnya terkandung
khauf/rasa takut.” (Syarh Ba‟dhu Fawa‟id Surah al-Fatihah, hal. 18). Dengan adanya rasa takut
inilah, seorang hamba akan menahan diri dari melanggar aturan-aturan Allah ta‟ala. Dengan
adanya rasa takut inilah, seorang hamba akan rela meninggalkan sesuatu yang disukainya karena
takut terjerumus dalam larangan dan kemurkaan-Nya. Sebab pada hari kiamat nanti manusia
akan mendapatkan balasan atas amal-amalnya di dunia. Barangsiapa yang amalnya baik, maka
baik pula balasannya Dan barangsiapa yang amalnya buruk, maka buruk pula balasannya.

Allah ta‟ala berfirman,



“Adapun orang yang merasa takut kepada kedudukan Rabbnya dan menahan diri dari
memperturutkan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surga itulah tempat tinggalnya.” (QS. an-
Nazi‟at: 40-41)

Di hari kiamat nanti, semua orang akan tunduk di bawah kekuasaan-Nya. Tidak ada seorang pun
yang berani dan mampu untuk menentang titah-Nya. Ketika itu langit dan bumi akan dilipat.
Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam bersabda,




“Allah „azza wa jalla akan melipat langit pada hari kiamat nanti kemudian Allah akan
mengambilnya dengan tangan kanan-Nya, lalu Allah berfirman; „Akulah Sang raja, di manakah
orang-orang yang bengis, di manakah orang-orang yang suka menyombongkan dirinya.‟
Kemudian Allah melipat bumi dengan tangan kirinya, kemudian Allah berfirman; „Aku lah Sang
Raja, di manakah orang-orang yang bengis, di manakah orang-orang yang suka
menyombongkan diri.‟.” (HR. Muslim dari Abdullah bin Umar radhiyallahu‟anhuma).

Di hari kiamat nanti, harta dan keturunan tidak ada gunanya, kecuali bagi orang-orang yang
menghadap Allah dengan hati yang bersih. Allah ta‟ala berfirman,
“Pada hari itu tidak berguna harta dan keturunan kecuali bagi orang yang datang kepada Allah
dengan hati yang bersih, dan surga itu akan didekatkan kepada orang-orang yang bertakwa,
dan akan ditampakkanlah dengan jelas neraka itu kepada orang-orang yang sesat.” (QS. as-
Syu‟ara‟: 88-91)

Suatu hari ketika kegoncangan di hari itu sangatlah dahsyat, sampai-sampai seorang ibu
melalaikan bayi yang disusuinya dan setiap janin akan gugur dari kandungan ibunya. Allah ta‟ala
berfirman,




“Hai umat manusia, bertakwalah kepada Rabb kalian, sesungguhnya kegoncangan hari kiamat
itu adalah kejadian yang sangat besar. Ingatlah, pada hari itu ketika kamu melihatnya, setiap
ibu yang menyusui anaknya akan lalai terhadap anak yang disusuinya, dan setiap perempuan
yang hamil akan mengalami keguguran kandungannya, dan kamu melihat manusia dalam
keadaan mabuk, padahal sesuangguhnya mereka tidak sedang mabuk, namun ketika itu adzab
Allah sangatlah keras.” (QS. al-Hajj: 1-2)

Khauf kepada Allah semata merupakan bukti jujurnya keimanan seorang hamba. Allah ta‟ala
berfirman,



“Sesungguhnya itu hanyalah syaitan yang menakut-nakuti para walinya, maka janganlah kalian
takut kepada mereka, akan tetapi takutlah kepada-Ku, jika kalin benar-benar beriman.” (QS.
Ali Imran: 175)

Syaikh Shalih al-Fauzan mengatakan, “Apabila ketiga perkara ini terkumpul: cinta, harap, dan
takut, maka itulah asas tegaknya aqidah.” (Syarh Ba‟dhu Fawa‟id Surah al-Fatihah, hal. 18).

Ketiga hal di atas -mahabbah, raja’ dan khauf- merupakan pondasi aqidah Ahlus Sunnah wal
Jama‟ah. Oleh karena itu para ulama kita mengatakan, “Barangsiapa yang beribadah kepada
Allah dengan rasa cinta saja maka dia adalah seorang Zindiq. Barangsiapa yang beribadah
kepada-Nya dengan rasa takut semata, maka dia adalah seorang Haruri/penganut aliran
Khawarij. Dan barangsiapa yang beribadah kepada-Nya dengan rasa harap semata, maka dia
adalah seorang Murji‟ah. Barangsiapa yang beribadah kepada-Nya dengan cinta, takut, dan harap
maka dia adalah seorang mukmin muwahhid.” (Syarh Aqidah at-Thahawiyah tahqiq Ahmad
Syakir [2/275] as-Syamilah).

Faedah Keempat: Kewajiban untuk mentauhidkan Allah

Di dalam ayat „Iyyaka na‟budu wa iyyaka nasta‟in‟ terkandung ajaran untuk mentauhidkan Allah
ta‟ala. Syaikh as-Sa‟di rahimahullah menjelaskan kandungan ayat ini, “Maknanya adalah: Kami
mengkhususkan ibadah dan isti‟anah hanya untuk-Mu…” (Taisir al-Karim ar-Rahman [1/28]).
Inilah hakikat ajaran Islam yaitu mempersembahkan segala bentuk ibadah kepada Allah semata.
Karena tujuan itulah Allah menciptakan jin dan manusia. Untuk mendakwahkan itulah Allah
mengutus para nabi dan rasul kepada umat manusia. Dengan ibadah yang ikhlas itulah seorang
hamba akan bisa menjadi sosok yang bertakwa dan mulia di sisi-Nya. Allah ta‟ala berfirman,



“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS.
adz-Dzariyat: 56)

Allah ta‟ala berfirman,



“Tidaklah Kami mengutus sebelum seorang rasul pun melainkan Kami wahyukan kepadanya
bahwa tidak ada sesembahan yang benar selain Aku, maka sembahlah Aku saja.” (QS. al-
Anbiya‟: 25)

Allah ta‟ala berfirman,



“Hai umat manusia, sembahlah Rabb kalian, yaitu yang telah menciptakan kalian dan orang-
orang sebelum kalian, mudah-mudahan kalian menjadi bertakwa.” (QS. al-Baqarah: 21)

Allah ta‟ala berfirman,



“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian adalah orang yang paling bertakwa.”
(QS. al-Hujurat: 13)

Maka barangsiapa yang menujukan salah satu bentuk ibadah kepada selain Allah sungguh dia
telah terjerumus dalam kemusyrikan. Sebagaimana kita meyakini bahwa Allah satu-satunya yang
menciptakan alam semesta ini, yang menghidupkan dan mematikan, yang menguasai dan
mengatur alam ini, maka sudah seharusnya kita pun menujukan segala bentuk ibadah kita yang
dibangun di atas rasa cinta, harap, dan takut itu hanya kepada Allah semata.

Faedah Kelima: Kewajiban untuk bertawakal kepada-Nya

Hal ini terkandung di dalam potongan ayat „wa iyyaka nasta‟in‟. Karena kita meyakini bahwa
tidak ada yang menguasai kemanfaatan dan kemadharatan kecuali Allah, tidak ada yang
mengatur segala sesuatu kecuali Dia, maka semestinya kita pun bergantung dan berharap hanya
kepada-Nya. Kita tidak boleh meminta pertolongan dalam perkara-perkara yang hanya dikuasai
oleh Allah kepada selain-Nya. Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam berpesan kepada Ibnu
Abbas radhiyallahu‟anhuma,




“Hai anak muda, aku akan mengajarkan beberapa kalimat kepadamu. Jagalah Allah, niscaya
Allah akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya kamu akan menemukan-Nya di hadapanmu.
Apabila kamu meminta maka mintalah kepada Allah. Apabila kamu meminta pertolongan maka
mintalah pertolongan kepada Allah. Ketauhilah, seandainya seluruh manusia bersatu padu
untuk memberikan suatu manfaat kepadamu maka mereka tidak akan memberikan manfaat itu
kepadamu kecuali sebatas apa yang Allah tetapkan untukmu. Dan seandainya mereka bersatu
padu untuk memudharatkan dirimu dengan sesuatu maka mereka tidak akan bisa menimpakan
mudharat itu kecuali sebatas apa yang Allah tetapkan menimpamu. Pena telah diangkat dan
lembaran takdir telah mengering.” (HR. Tirmidzi, dia berkata; hasan sahih, disahihkan oleh al-
Albani dalam Shahih wa Dha‟if Sunan at-Tirmidzi [2516])

Allah ta‟ala berfirman,



“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah maka Allah akan berikan baginya jalan keluar dan
akan memberikan rezeki kepadanya dari jalan yang tidak disangka-sangka. Barangsiapa yang
bertawakal kepada Allah maka Allah pasti mencukupinya.” (QS. at-Thalaq: 2-3)

Orang-orang yang beriman adalah orang yang bertawakal kepada Allah semata. Allah ta‟ala
berfirman,



“Hanya kepada Allah sajalah hendaknya kalian bertawakal, jika kalian benar-benar orang yang
beriman.” (QS. al-Maa‟idah: 23)

Apabila disebutkan nama Allah maka bergetarlah hati mereka. Allah ta‟ala juga berfirman,




“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang apabila disebutkan
nama Allah maka hati mereka menjadi takut/bergetar, dan apabila dibacakan kepada mereka
ayat-ayat-Nya maka bertambahlah keimanan mereka. Dan mereka hanya bertawakal kepada
Rabb mereka. Orang-orang yang mendirikan sholat dan menginfakkan sebagian rezeki yang
Kami berikan kepada mereka. Mereka itulah orang-orang mukmin yang sejati, mereka akan
mendapatkan derajat yang berlainan di sisi Rabb mereka dan ampunan serta rezeki yang
mulia.” (QS. al-Anfal: 2-4)
Dengan mengingat Allah maka hati mereka menjadi tenang. Allah ta‟ala berfirman,



“Ingatlah, dengan mengingat Allah maka hati akan menjadi tenang.” (QS. ar-Ra‟d: 28)

Berbeda halnya dengan orang yang bergantung dan berharap kepada selain Allah. Hati mereka
tenang dan gembira ketika mengingat sesembahan dan pujaan selain Allah ta‟ala. Allah ta‟ala
berfirman,



“Apabila disebut nama Allah saja maka akan menjadi kesal hati orang-orang yang tidak
beriman dengan hari akhirat itu, sedangkan apabila disebut selain-Nya maka mereka pun tiba-
tiba merasa bergembira.” (QS. az-Zumar: 45)

Karena tawakal pula seorang hamba akan bisa masuk ke dalam surga tanpa hisab dan tanpa
siksa. Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam bersabda,



“Akan masuk surga tujuh puluh ribu orang di antara umatku tanpa hisab, mereka itu adalah
orang-orang yang tidak meminta diruqyah, tidak mempunyai anggapan sial/tathayyur, dan
hanya bertawakal kepada Rabb mereka.” (HR. Bukhari dari Abdullah bin Abbas
radhiyallahu‟anhuma).

-bersambung insya Allah-

***

Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi
Artikel www.muslim.or.id

   
   
   
   
   
   
   



Anda diperkenankan untuk menyebarkan, re-publikasi, copy-paste atau mencetak artikel yang
ada di muslim.or.id dengan menyertakan muslim.or.id sebagai sumber artikel

Daftar RSS komentar
23 komentar

   1. wong dheso says:

      29 May 2009 at 10:33 pm

      Ketika sholat Dhuhur,Ashar,Sunnah bacaan basmallah di baca ngak ya ?

   2. elfian suaeb says:

      30 May 2009 at 10:16 am

      assalamu‟alaikum! thx utk artikelnya. mudah2n berguna utk saya dan sahabat2 yan
      membacanya. disana tertulis SEMBILAN FAEDAH SURAT AL-FATIHAH. tapi kok
      baru LIMA faedahnya?

   3. Muhammad Nadir says:

      17 July 2009 at 9:28 am

      Materi yang bagus sangat salafy sekali, Mator nuwon

   4. raziqin says:

      18 July 2009 at 8:03 am

      kok ayatnya salah QS. al-Anbiya‟: 25, kalo ana ga salah baca (maklum tulisannya ga
      begitu jelas) disitu ditulis innaa seharusnya illaa
      Sekalian font arabnya diganti

   5. abu muhammad says:

      31 August 2009 at 10:13 am

      materinya bagus, tp ko tulisan Arabnya kecil-kecil yh. agk krg jelas gitu…

   6. Mudib says:

      10 October 2009 at 8:14 am

      Aswrwb. Redaksi muslim.or.id Subhanallah walhadulillah…sebuah website yang sangat
      baik menurun ane..dengan tampilan web yang bersahaja, berisi tulisan yang bagus2..
      semoga kita semua dapat menjalankan sunnah dengan baik.
      wswrwb

   7. Daliman says:
   18 October 2009 at 2:15 pm

   Mohon ijin untuk bisa copy.

8. hmba says:

   3 December 2009 at 2:51 pm

   salam..
   mohon copy point dri blog empunye dri..
   nota2 yg berguna.terus kan usaha.

9. Martono awaludin says:

   5 January 2010 at 10:18 pm

   Ingin jg penjelasan sholat fardu dalam penerapan kehidupan sehari2

10. farida says:

   28 March 2010 at 10:32 am

   apa sih kegunaan surat al fatihah untuk jenazah

11. anjarmakna says:

   1 April 2010 at 8:49 am

   Assalamu‟alaikum,Terimakasih artikelnya bagus sekali dn bermanfaat bwt sya,sy ambil
   bwt notes di Fb ya supy bs dibaca temen2.

12. muchamad says:

   9 July 2010 at 3:55 pm

   assalamu‟alaikum membaca artikel tersebu sngatlh takut tapi apakah ada manusia yang
   masih peduli kepada saudra saudaranya yang membutuhkan pertolongan

13. muchamad says:

   9 July 2010 at 3:58 pm

   Ass… berpangkal pada ayat tesebut diatas sudilah kiranya saudara-saudara peduli dng
   saudara-saudara yang lain yang membutuhkan uluran tangan

14. irsyadul halim says:
   15 July 2010 at 9:21 am

   Assww. Makalahnya bagus sekali. Insya Allah saya kan sampaikan kpd org lain. Tolong
   ditulis analisa lain Surah Al Fatihah dari sudut akhlak dan muamalah, trims. Wassalam.

15. anto says:

   16 August 2010 at 1:02 pm

   asalamualaikum wr.wb ..

   sangat besar makna dan arti yang terkandung dalam surat alfatiqah

16. sustika says:

   7 October 2010 at 4:52 pm

   penjelasannya baguz,,saya jadi lbh mengerti manfaat surah tersebut,,tpi lain kali tolong
   tulisan arabnya agak diperbesar,,

17. sumaryanto says:

   12 November 2010 at 6:43 pm

   A;hamdulliah,apa yg sdh pernah aku lakukan pada bacaan surat alfatihah,sangat
   bermanfaat dalam ke hidupanku mencari rezeki yg halal

18. ericsagita says:

   9 March 2011 at 4:10 pm

   izin baca dan copas

19. KAS says:

   21 April 2011 at 8:49 am

   Subhanallah, artikel ini sangat bagus,,, semoga kita termasuk mukmin yg mengamalkan
   isi surat Al-Fatihah itu, aamiin

20. bambangsag says:

   3 May 2011 at 8:16 pm

   tolong dlanjutkan faidah surat al fatikahnya
Ingin Berkomentar?



Perhatikan adab berikut!
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu„anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu„alaihi wa
sallam bersabda, yang artinya:
“Sesungguhnya Allah meridhai kalian pada tiga perkara dan membenci kalian pada tiga perkara
pula.
Allah meridhai kalian bila kalian:
(1) Hanya beribadah kepada Allah semata, (2) Dan tidak mempersekutukan-Nya, (3) Serta
berpegang teguh pada tali (agama) Allah seluruhnya, dan janganlah kalian berpecah belah
Dan Allah membenci kalian bila kalian:
(1) Suka qiila wa qaala (berkata tanpa dasar), (2) Banyak bertanya (yang tidak berfaedah), (3)
Menyia-nyiakan harta”
(HR. Muslim no. 1715)
Admin muslim.or.id berhak untuk tidak memunculkan komentar yang tidak sesuai dengan adab
di atas.

Perlu anda ketahui:
Komentar yang anda kirimkan akan dimoderasi oleh admin terlebih dahulu. Komentar anda yang
muncul setelah klik tombol "KIRIM" hanyalah sekedar preview yang hanya muncul di komputer
yang anda pakai, namun sebenarnya belum muncul.

                    Nama *
                    Email *
                    Website




                              Komentar
Kirim

* wajib diisi

 647            0
Artikel Terkait
  o   Sembilan Faedah Surat al-Fatihah (2)
  o   Hijrah Kepada Allah dan Rasul-Nya
  o   Tafsir Surat Al-Fatihah
  o   Surat Al Fatihah
  o   Cinta, Takut dan Harap Kepada Alloh
  o   Soal-133: Maulid Nabi Merupakan Sarana Sebagaimana Internet?
  o   Apakah Anda Sudah Mengenal Allah?
  o   Tafsir Surat Al Lahab
  o   Bila Cinta Menyapa
  o   3 Makna Zuhud




      Doa dan Zikir
Apa Yang Perlu Dilakukan Bagi Orang Yang Berdosa



Tidaklah ada seorang hamba berbuat suatu dosa, lantas berwudhu dengan
sempurna kemudian berdiri untuk melakukan shalat dua ra‟kaat, kemudian
membaca istighfar kecuali pasti diampuni dosanya. — HR. Abu Dawud 2/86, At-
Tirmidzi 2/257 dan Al-Albani berpendapat bahwa hadits tersebut shahih dalam
Shahih Abu Dawud 1/283.

Next quote »

Petuah Ulama
 4

"Sanad adalah bagian dari agama. Jika tidak ada sanad, maka orang akan berkata
semaunya"
(Muqaddimah Shahih Muslim, 12/1)
Berikutnya




Komentar Pembaca
        abdul aziz pada Islam Di Negeri Jiran aneh rasanya yg notabene di negri
         kita ini 90% muslim mau mencanangkan perang terhadapnya,bukankah
         sesama m...
        abdullah isa pada Untukmu yang Berjiwa Hanif (01) Ass. Wr. Wb. Salam
         hangat kepada ikhwatu muslim yang senantiasa berdakwah .semoga Allah
         SWT senantiasa me...
        abdul aziz pada Keutamaan Dzikir Ketika Keluar Rumah alhamdulilah
         sekrang ana mulai mengamalkanya
        Tina pada Alam Kubur Itu Benar Adanya (1) Syukron artikely, menambh
         ilmu din ku.
        reza pada Mengikuti Ajaran Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam Bukanlah
         Teroris (2) akhi andre. Kl masalahnya tdk punya kumis dan jenggot
         kmudian tdk bs melaksanakan perintah memelihara jengg...
        Syamsul pada Syukur di Kala Meraih Sukses Salamu'alaikum
         warahmatullah..wabarakaatuh, sy mohon ijin itk meng Copy Paste
         postingn tentang Syukur diat...
   ummu husain pada Dosa Selalu Menggelisahkan Jiwa izin share, ustadz
   Abu Kabsyah pada Kajian Umum: “Bom Bunuh Diri, Jihadkah?”
    (Yogyakarta, 7 Mei 2011) Untuk proposal kegiatan dapat di download di
    link berikut http://www.4shared.com/document/IcFIqIxB/Proposa...
   P'din pada Sudahkah Kita Berbakti Pada Orang Tua? #ummu 'abdillaah
    Ada kaidah: Seuatu yang tidak bertentangan jangan dipertentangkan.
    Maka dalam hal ini w...
   Taufik Abu Sai'id pada Tawassul, Ibadah Agung yang Banyak
    Diselewengkan (4) subhanallah. ijin share ustadz. syukron

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:84
posted:8/10/2011
language:Indonesian
pages:15
faisal syam faisal syam http://
About