kapitis

Document Sample
kapitis Powered By Docstoc
					SmArTnEt




Profile



SmArTnEt
       Hanya manusia yang ingin mencoba tahu banyak hal & pengen jadi lebih baik
Lihat profil lengkapku


Kamis, September 04, 2008
Trauma Kapitis

Pengertian

“Trauma merupakan penyebab utama kematian pada populasi dibawah umur 45 tahun dan
merupakan penyebab kematian no. 4 pada seluruh populasi. Lebih dari 50% kematian
disebabkan oleh cidera kepala. Kecelakaan kendaraan bermotor menrupakan penyebab cedera
kepala pada lebih dari 2 juta orang setiap tahunnya, 75.000 orang meninggal dunia dan lebih dari
100.000 orang yang selamat akan mengalami disabilitas permanent” (York, 2000). Sedangkan
menurut Brunner & Suddarth (2000), trauma capitis adalah “gangguan traumatic yang
menyebabkan gangguan fungsi otak disertai atau tanpa disertai perdarahan in testina dan tidak
mengganggu jaringan otak tanpa disertai pendarahan in testina dan tidak mengganggu jaringan
otak”
Tipe-Tipe Trauma :

   1. Trauma Kepala Terbuka: Faktur linear daerah temporal menyebabkan pendarahan
      epidural, Faktur Fosa anterior dan hidung dan hematom faktur lonsitudinal.
      Menyebabkan kerusakan meatus auditorius internal dan eustachius.
   2. Trauma Kepala Tertutup

      Comosio Cerebri, yaitu trauma Kapitis ringan, pingsan + 10 menit, pusing dapat
       menyebabkan kerusakan struktur otak.
      Contusio / memar, yaitu pendarahan kecil di jaringan otak akibat pecahnya pembuluh
       darah kapiler dapat menyebabkan edema otak dan peningkatan TIK.
      Pendarahan Intrakranial, dapat menyebabkan penurunan kesadaran, Hematoma yang
       berkembang dalam kubah tengkorak akibat dari cedera otak. Hematoma disebut sebagai
       epidural, Subdural, atau Intra serebral tergantung pada lokasinya.

Ada berbagai klasifikasi yang di pakai dalam penentuan derajat kepala.

The Traumatic Coma Data Bank mendefinisakan berdasarkan skor Skala Koma Glasgow (cited
in Mansjoer, dkk, 2000: 4):

Cidera kepala ringan/minor (kelompok resiko rendah)

      Skor skala koma Glasglow 15 (sadar penuh,atentif,dan orientatif)
      Tidak ada kehilangan kesadaran(misalnya konkusi)
      Tidak ada intoksikasi alkohaolatau obat terlarang
      Pasien dapat mengeluh nyeri kepala dan pusing
      Pasien dapat menderita abrasi,laserasi,atau hematoma kulit kepala
      Tidak adanya kriteria cedera sedang-berat.

Cidera kepala sedang (kelompok resiko sedang)

      Skor skala koma glasgow 9-14 (konfusi, letargi atau stupor)
      Konkusi
      Amnesia pasca trauma
      Muntah
      Tanda kemungkinan fraktur kranium (tanda battle,mata rabun,hemotimpanum,otorhea
       atau rinorhea cairan serebrospinal).

Cidera kepala berat (kelompok resiko berat)

      Skor skala koma glasglow 3-8 (koma)
      Penurunan derajat kesadaran secara progresif
      Tanda neurologis fokal
      Cidera kepala penetrasi atau teraba fraktur depresikranium.

Menurut Keperawatan Klinis dengan pendekatan holistik (1995: 226):
Cidera kepala ringan /minor

      SKG 13-15
      Dapat terjadi kehilangan kesadaran atau amnesia tetapi kurang dari 30 menit.Tidak ada
       fraktur tengkorak,tidak ada kontusio cerebral,dan hematoma.

Cidera kepala sedang

      SKG 9-12
      Kehilangan kesadaran dan atau amnesia lebih dari 30 menit tetapi kurang dari 24
       jam.Dapat mengalami fraktur tengkorak.

Cidera kepala berat

      SKG 3-8
      Kehilangan kesadaran dan atau terjadi amnesia lebih dari 24 jam,juga meliputi kontusio
       serebral,laserasi atau hematoma intrakranial.

Annegers ( 1998 ) membagi trauma kepala berdasarkan lama tak sadar dan lama amnesia pasca
trauma yang di bagi menjadi :

   1. Cidera kepala ringan,apabila kehilangan kesadaran atau amnesia berlangsung kurang dari
      30 menit
   2. Cidera kepala sedang,apabila kehilangan kesadaran atau amnesia terjadi 30 menit sampai
      24 jam atau adanya fraktur tengkorak
   3. Cidera kepala berat,apabiula kehilangan kesadaran atau amnesia lebih dari 24
      jam,perdarahan subdural dan kontusio serebri.

Arif mansjoer, dkk (2000) mengklasifikasikan cidera kepala berdasarakan mekanisme,
keparahan dan morfologi cidera.

Mekanisme : berdasarkan adanya penetrasi durameter:

v Trauma tumpul : Kecepatan tinggi(tabrakan mobil).

: Kecepatan rendah(terjatuh,di pukul).

v Trauma tembus(luka tembus peluru dan cidera tembus lainnya.

Keparahan cidera

v Ringan : Skala koma glasgow(GCS) 14-15.

v Sedang : GCS 9-13.

v Berat : GCS 3-8.
Morfologi

v Fraktur tengkorak : kranium: linear/stelatum; depresi/non depresi; terbuka/tertutup.
Basis:dengan/tanpa kebocoran cairan serebrospinal, dengan/tanpa kelumpuhan nervus VII.

v Lesi intrakranial : Fokal: epidural, subdural, intraserebral. Difus: konkusi ringan, konkusi
klasik, cidera difus.

Jenis-jenis cidera kepala (Suddarth, dkk, 2000, l2210-2213)

   1. Cidera kulit kepala. Cidera pada bagian ini banyak mengandung pembuluh darah, kulit
      kepala berdarah bila cidera dalam. Luka kulit kepala maupun tempat masuknya infeksi
      intrakranial. Trauma dapat menyebabkan abrasi, kontusio, laserasi atau avulsi.
   2. Fraktur tengkorak. Fraktur tengkorak adalah rusaknya kontinuitas tulang tengkorak di
      sebabkan oleh trauma. Adanya fraktur tengkorak biasanya dapat menimbulkan dampak
      tekanan yang kuat. Fraktur tengkorak diklasifikasikan terbuka dan tertutup. Bila fraktur
      terbuka maka dura rusak dan fraktur tertutup keadaan dura tidak rusak.
   3. Cidera Otak. Cidera otak serius dapat tejadi dengan atau tanpa fraktur tengkorak, setelah
      pukulan atau cidera pada kepala yang menimbulkan kontusio, laserasi dan hemoragi otak.
      Kerusakan tidak dapat pulih dan sel-sel mati dapat diakibatkan karena darah yang
      mengalir berhenti hanya beberapa menit saja dan kerusakan neuron tidak dapat
      mengalami regenerasi.
   4. Komosio. Komosio umumnya meliputi sebuah periode tidak sadarkan diri dalam waktu
      yang berakhir selama beberapa detik sampai beberapa menit. Komosio dipertimbangkan
      sebagai cidera kepala minor dan dianggap tanpa sekuele yang berarti. Pada pasien dengan
      komosio sering ada gangguan dan kadang efek residu dengan mencakup kurang
      perhatian, kesulitan memori dan gangguan dalam kebiasaan kerja.
   5. Kontusio. Kontusio serebral merupakan didera kepala berat, dimana otak mengalami
      memar, dengan kemungkinan adanya daerah haemoragi. Pasien tidak sadarkan dari,
      pasien terbaring dan kehilangan gerakkan, denyut nadi lemah, pernafsan dangkal, kulit
      dingin dan pucat, sering defekasi dan berkemih tanpa di sadari.
   6. Haemoragi intrakranial. Hematoma (pengumpulan darah) yang terjadi di dalam kubah
      kranial adalah akibat paling serius dari cidera kepala, efek utama adalah seringkali lambat
      sampai hematoma tersebut cukup besar untuk menyebabkan distorsi dan herniasi otak
      serta peningkatan TIK.
   7. Hematoma epidural (hamatoma ekstradural atau haemoragi). Setelah cidera kepala, darah
      berkumpul di dalam ruang epidural (ekstradural) diantara tengkorak dan dura. Keadaan
      ini karena fraktur tulang tengkorak yang menyebabkan arteri meningeal tengah putus
      /rusak (laserasi), dimana arteri ini berada di dura dan tengkorak daerah inferior menuju
      bagian tipis tulang temporal; haemoragi karena arteri ini menyebabkan penekanan pada
      otak.
   8. Hematoma sub dural. Hematoma sub dural adalah pengumpulan darah diantara dura dan
      dasar, suatu ruang yang pada keadaan normal diisi oleh cairan. Hematoma sub dural
      dapat terjadi akut, sub akut atau kronik. Tergantung ukuran pembuluh darah yang terkena
      dan jumlah perdarahan yang ada. Hematoma sub dural akut d hubungkan dengan cidera
      kepala mayor yang meliputi kontusio dan laserasi. Sedangkan Hematoma sub dural sub
      akut adalah sekuele kontusio sedikit berat dan di curigai pada pasien gangguan gagal
      meningkatkan kesadaran setelah trauma kepala. Dan Hematoma sub dural kronik dapat
      terjadi karena cidera kepala minor dan terjadi paling sering pada lansia.
   9. Haemoragi intraserebral dan hematoma. Hemoragi intraserebral adalah perdaraan ke
      dalam substansi otak. Haemoragi ini biasanya terjadi pada cidera kepala dimana tekanan
      mendesak ke kepala sampai daerah kecil (cidera peluru atau luka tembak; cidera kumpil).

Etiologi

Cedera kepala dapat disebabkan oleh dua hal antara lain :

   1. Benda Tajam. Trauma benda tajam dapat menyebabkan cedera setempat.
   2. Benda Tumpul, dapat menyebabkan cedera seluruh kerusakan terjadi ketika energi/
      kekuatan diteruskan kepada otak.

Kerusakan jaringan otak karena benda tumpul tergantung pada :

v Lokasi

v Kekuatan

v Fraktur infeksi/ kompresi

v Rotasi

v Delarasi dan deselarasi

Mekanisme cedera kepala

   1. Akselerasi, ketika benda yang sedang bergerak membentur kepala yang diam. Contoh :
      akibat pukulan lemparan.
   2. Deselerasi. Contoh : kepala membentur aspal.
   3. Deformitas. Dihubungkan dengan perubahan bentuk atau gangguan integritas bagan
      tubuh yang dipengaruhi oleh kekuatan pada tengkorak.

Tanda dan Gejala

Tanda dan gejala cedera kepala dapat dikelompokkan dalam 3 kategori utama ( Hoffman, dkk,
1996):

   1. Tanda dan gejala fisik/somatik: nyeri kepala, dizziness, nausea, vomitus
   2. Tanda dan gejala kognitif: gangguan memori, gangguan perhatian dan berfikir kompleks
   3. Tanda dan gejala emosional/kepribadian: kecemasan, iritabilitas

Gambaran klinis secara umum pada trauma kapitis :
      Pada kontusio segera terjadi kehilangan kesadaran.
      Pola pernafasan secara progresif menjadi abnormal.
      Respon pupil mungkn lenyap.
      Nyeri kepala dapat muncul segera/bertahap seiring dengan peningkatan TIK.
      Dapat timbul mual-muntah akibat peningkatan tekanan intrakranial.
      Perubahan perilaku kognitif dan perubahan fisik pada berbicara dan gerakan motorik
       dapat timbul segera atau secara lambat.

Pemeriksaan Dianostik:

   1. CT –Scan : mengidentifikasi adanya sol, hemoragi menentukan ukuran ventrikel
       pergeseran cairan otak.
   2. MRI : sama dengan CT –Scan dengan atau tanpa kontraks.
   3. Angiografi Serebral : menunjukkan kelainan sirkulasi serebral seperti pergeseran jaringan
       otak akibat edema, perdarahan dan trauma.
   4. EEG : memperlihatkan keberadaan/ perkembangan gelombang.
   5. Sinar X : mendeteksi adanya perubahan struktur tulang (faktur pergeseran struktur dan
       garis tengah (karena perdarahan edema dan adanya frakmen tulang).
   6. BAER (Brain Eauditory Evoked) : menentukan fungsi dari kortek dan batang otak..
   7. PET (Pesikon Emission Tomografi) : menunjukkan aktivitas metabolisme pada otak.
   8. Pungsi Lumbal CSS : dapat menduga adanya perdarahan subaractinoid.
   9. Kimia/elektrolit darah : mengetahui ketidakseimbangan yang berpengaruh dalam
       peningkatan TIK.
   10. GDA (Gas Darah Arteri) : mengetahui adanya masalah ventilasi atau oksigenasi yang
       akan dapat meningkatkan TIK.
   11. Pemeriksaan toksitologi : mendeteksi obat yang mungkin bertanggung jawab terhadap
       penurunan kesadaran.
   12. Kadar antikonvulsan darah : dapat dilakukan untuk mengetahui tingkat terapi yang cukup
       efektif untuk mengatasi kejang.

Komplikasi

   1. Kebocoran cairan serebrospinal akibat fraktur pada fossa anterior dekat sinus frontal atau
      dari fraktur tengkorak bagian petrous dari tulang temporal.
   2. Kejang. Kejang pasca trauma dapat terjadi segera (dalam 24 jam pertama dini, minggu
      pertama) atau lanjut (setelah satu minggu).
   3. Diabetes Insipidus, disebabkan oleh kerusakan traumatic pada rangkai hipofisis
      meyulitkan penghentian sekresi hormone antidiupetik.

Penatalaksanaan Medik

Penatalaksanaan medik cedera kepala yang utama adalah mencegah terjadinya cedera otak
sekunder. Cedera otak sekunder disebabkan oleh faktor sistemik seperti hipotesis atau hipoksia
atau oleh karena kompresi jaringan otak (Tunner, 2000). Pengatasan nyeri yang adekuat juga
direkomendasikan pada pendertia cedera kepala (Turner, 2000).
Penatalaksanaan umum adalah sebagai berikut :

· Nilai fungsi saluran nafas dan respirasi.

· Stabilisasi vertebrata servikalis pada semua kasus trauma.

· Berikan oksigenasi.

· Awasi tekanan darah

· Kenali tanda-tanda shock akibat hipovelemik atau neuregenik.

· Atasi shock

· Awasi kemungkinan munculnya kejang.

Penatalaksanaan lainnya:

   1. Dexamethason/kalmethason sebagai pengobatan anti edema serebral, dosis sesuai dengan
      berat ringannya trauma.
   2. Therapi hiperventilasi (trauma kepala berat). Untuk mengurangi vasodilatasi.
   3. Pemberian analgetika
   4. Pengobatan anti oedema dengan larutan hipertonis yaitu manitol 20% atau glukosa 40 %
      atau gliserol 10 %.
   5. Antibiotika yang mengandung barrier darah otak (penisilin).
   6. Makanan atau cairan. Pada trauma ringan bila terjadi muntah-muntah tidak dapat
      diberikan apa-apa, hanya cairan infus dextrosa 5% , aminofusin, aminofel (18 jam
      pertama dan terjadinya kecelakaan), 2-3 hari kemudian diberikana makanan lunak.
   7. Pada trauma berat, hari-hari pertama (2-3 hari), tidak terlalu banyak cairan. Dextrosa 5%
      untuk 8 jam pertama, ringer dextrose untuk 8 jam kedua dan dextrosa 5% untuk 8 jam
      ketiga. Pada hari selanjutnya bila kesadaran rendah, makanan diberikan melalui ngt
      (2500-3000 tktp). Pemberian protein tergantung nilai urea N.

Tindakan terhadap peningktatan TIK

   1.   Pemantauan TIK dengan ketat.
   2.   Oksigenisasi adekuat.
   3.   Pemberian manitol.
   4.   Penggunaan steroid.
   5.   Peningkatan kepala tempat tidur.
   6.   Bedah neuro.

Tindakan pendukung lain

   1. dukungan ventilasi.
   2. Pencegahan kejang.
    3.   Pemeliharaan cairan, elektrolit dan keseimbangan nutrisi.
    4.   Terapi anti konvulsan.
    5.   Klorpromazin untuk menenangkan pasien.
    6.   Pemasangan selang nasogastrik.

Pengkajian Keperawatan

Data tergantung pada tipe, lokasi dan keparahan cedera dan mungkin diperlukan oleh cedera
tambahan pada organ-organ vital.

Aktivitas/ Istirahat

Gejala : Merasa lemah, lelah, kaku, hilang keseimbangan.

Tanda : Perubahan kesehatan, letargi

Hemiparase, quadrepelgia

Ataksia cara berjalan tak tegap

Masalah dalam keseimbangan

Cedera (trauma) ortopedi

Kehilangan tonus otot, otot spastik

Sirkulasi

Gejala : Perubahan darah atau normal (hipertensi)

Perubahan frekuensi jantung (bradikardia, takikardia yang diselingi bradikardia disritmia).

Integritas Ego

Gejala : Perubahan tingkah laku atau kepribadian (tenang atau dramatis)

Tanda : Cemas, mudah tersinggung, delirium, agitasi, bingung depresi dan impulsif.

Eliminasi

Gejala : Inkontenensia kandung kemih/ usus atau mengalami gngguan fungsi.

Makanan/ cairan

Gejala : Mual, muntah dan mengalami perubahan selera.
Tanda : Muntah (mungkin proyektil)

Gangguan menelan (batuk, air liur keluar, disfagia).

Neurosensoris

Gejala : Kehilangan kesadaran sementara, amnesia seputar kejadian, vertigo, sinkope, tinitus
kehilangan pendengaran, fingking, baal pada ekstremitas.

Tanda : Perubahan kesadaran bisa sampai koma

Perubahan status mental

Perubahan pupil (respon terhadap cahaya, simetri)

Wajah tidak simetri

Genggaman lemah, tidak seimbang

Refleks tendon dalam tidak ada atau lemah

Apraksia, hemiparese, Quadreplegia

Nyeri/ Kenyamanan

Gejala : Sakit kepala dengan intensitas dan lokasi yang berbeda biasanya koma.

Tnda : Wajah menyeringai, respon menarik pada rangangan nyeri yang hebat, gelisah tidak bisa
beristirahat, merintih.

Pernapasan

Tanda : Perubahan pola nafas (apnea yang diselingi oleh hiperventilasi). Nafas berbunyi stridor,
terdesak

Ronki, mengi positif

Keamanan

Gejala : Trauma baru/ trauma karena kecelakaan

Tanda : Fraktur/ dislokasi

Gangguan penglihatan

Gangguan kognitif
Gangguan rentang gerak, tonus otot hilang, kekutan secara umum mengalami paralisis

Demam, gangguan dalam regulasi suhu tubuh

Interaksi Sosial

Tanda : Afasia motorik atau sensorik, bicara tanpa arti, bicara berulang-ulang.

Diagnosa Keperawatan

   1. Perfusi jaringan serebral tidak efektif b/d interupsi aliran darah
   2. Resiko terhadap ketidakefektifan pola nafas b/d kerusakan neurovaskuler, kerusakan
      persepsi atau kognitif, obstruksi trakeo bronkial
   3. Perubahan persepsi sensori b/d perubahan resepsi sensori, transmisi.
   4. Perubahan proses pikir b/d perubahan fisiologis, konflik psikologis.
   5. Kerusakan mobilitas fisik b/d kerusakan persepsi atau kognitif, penurunan kekuatan.
   6. Resiko infeksi b/d jaringan trauma, penurunan kerja silia, kekurangan nutrisi, respon
      inflamasi tertekan.

rudi prasetyo SmArTnEt di 9/04/2008

0 komentar:

Poskan Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Langgan: Poskan Komentar (Atom)
                          Google Search


            only search smartnet




DIHARAP MENCANTUMKAN EMAIL AGAR KAMI BISA KONFIRMASIKAN KE

ANDA




LiNk-Q
sembarang
     reseter
     JUDUL KTI
     Puisi




Friend's blog
  

      Makarim

      Dauroh Muslimah di Masjid Ar-Royyan Surabaya

      2 minggu yang lalu

  

      .::cintul::.

      keamanan komputer

      9 bulan yang lalu
  

      -- Let's Share Everything --

      Opera 10.53 Build 3374 Final

      11 bulan yang lalu

       http://w w w .bany
  

      usman




ArTiKel & InFo
     ► 2010 (18)
        o ► November (18)
                ASKEP ANAK MORBILI
                ASKEP ANAK INTUSEPSI
                ASKEP ANAK IKTERUS
                ASKEP ANAK GLUMERULONEFRITIS AKUT
                ASKEP ANAK DENGAN DHF
                ASKEP ANAK BRONKOPNEUMONIA
                ASKEP PASIEN BERAT BADAN LAHIR RENDAH
                ASKEP BAYI BARU LAHIR YANG SAKIT
                BAYI HIPERBILIRUBINEMIA
                ASKEP ANAK ASTHMA BRONCHIAL
                ASKEP ANAK ASPIRASI MEKONIUM
                ASKEP ANAK DENGAN ANEMIA
                ASKEP ANAK NEFROTIC SINDROME
                ASKEP ANAK DENGAN MENINGITIS
                ASKEP ANAK DENGAN ENCEPHALITIS
                ASKEP ANAK ACUT LIMPHOSITYC LEUCEMIA
                ASKEP ANAK THIPOID
                ASKEP ANAK DM

     ► 2009 (1)
        o ► Januari (1)
                GAGAL GINJAL AKUT

     ▼ 2008 (37)
        o ► Oktober (3)
                Tata laksana pemberian infus
                OBAT DIURETIK
                OBAT KARDIOVASKULAR
o   ▼ September (34)
       DIABETES MELLITUS
       SECTIO CAESAREA DENGAN INDIKASI PANGGUL SEMPIT
       ASKEP FRAKTUR CRURIS
       ERITRODERMA
       HERNIA NUKLEUS PULPOSUS
       SINUSITIS
       askep Pada Klien Dengan CHF
       ASKEP GASTROENTERITIS
       ASKEP THYPOID
       ASKEP ANAK DENGAN DHF
       ASKEP BAYI DENGAN KELAINAN JANTUNG KONGENITAL
       ASKEP BAYI DENGAN BBLR
       Askep Hipertensi
       Askep pada klien dengan GE
       ASKEP anak dengan Atrium Septal Defek (ASD)
       Askep Anak dengan Marasmus
       ASKEP ANAK DENGAN KEJANG DEMAM
       ENDOCARDITIS
       ASKEP INFEKSI PUER PELAR
       ASKEP DENGAN INFEKSI SALURAN PERKEMIHAN
       ASKEP TROMBOFLEBITIS PASCA PARTUM
       ASKEP PADA TINDAKAN VE ATAU FOREEP
       ASKEP DENGAN SECTIO SECARIA
       ASKEP POST FARTUM BLUES
       JUDUL KTI
       ASUHAN KEPERAWATAN SINUSITIS
       ASUHAN KEPERAWATAN POST ATIKOANTROTOMI TELINGA
         DEX...
       Trauma Kapitis
       ungkapan syukur
       multipel sklerosis
       LP Hirchprung
       kanker lambung
       sindrom chusing
       meniere
My Pingbox



Followers

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:127
posted:8/10/2011
language:Indonesian
pages:14
faisal syam faisal syam http://
About