Docstoc

BAB II EDIT

Document Sample
BAB II EDIT Powered By Docstoc
					                                     BAB II

                            TINJAUAN PUSTAKA



A. Teori atau Konsep

          Motivasi adalah segala sesuatu yang mendorong seseorang untuk

   melakukan sesuatu (Purwanto, 2000).

          Motivasi kerja perawat adalah respon perawat yang berhubungan dengan

   kemampuan perawat dalam memberikan pelayanan kepada pasien dan membuat

   kehidupan pasien menjadi berbeda. (Fletcher, 2001)

        Faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi kerja adalah :

   1. Otonomi

      Otonomi adalah kebebasan untuk memilih tindakan tanpa kendali dari luar.

      Otonomi merupakan salah satu komponen yang penting dari disiplin

      profesional yaitu penetapan mekanisme untuk pengaturan sendiri dan

      penyelenggaraan mandiri (Susilowati, 2002).

   2. Status Profesional

      Status profesional adalah perasaan perawat secara umum dalam meningkatkan

      keterampilan profesional, kegunaan pekerjaan status pekerjaan dan harga diri

      terhadap profesi keperawatan (Ghale, 1998)

   3. Tuntutan Tugas

      Tuntutan tugas adalah tugas yang harus dilakukan sesuai dengan pekerjaan

      dan kemampuan yang merupakan tanggung jawab dan kewajibannya atau
                                                                            7




   segala macam tugas kegiatan yang harus diselesaikan sebagai bagian reguler

   dari pekerjaan (Iskandar, 2001)

   Timulty mengatakan bahwa rendahnya kemampuan dalam mengelola tugas

   yang diberikan akan berdampak pada ketidakpuasan penyebabnya karena

   tidak mampu mengatur waktu dengan baik, sehingga waktu untuk pasien

   berkurang dan kurangnya waktu untuk berdiskusi tentang permasalahan

   manajemen dan manajer perawat (Fletcher, 2001).

4. Hubungan Interpersonal

   Hubungan Interpersonal adalah kebutuhan akan kerja sama secara timbal balik

   antara perawat dengan atasan, teman sekerja, tim kesehatan lain dan pasien.

   Makin baik hubungan interpersonal seseorang maka makin terbuka orang

   untuk mengungkapkan dirinya dan makin cermat mempersepsikan tentang

   orang lain dan diri sendiri, sehingga makin efektif komunikasi yang

   berlangsung antar komunikan (Rahmat, 2000).

   Menurut Arnold (2000) ada 3 (tiga) prinsip metode peningkatan hubungan,

   yaitu : makin baik hubungan interpersonal maka :

   a. Makin terbuka seseorang mengungkapkan perasaannya

   b. Makin cenderung ia meneliti perasaan secara mendalam beserta

      penolongnya

   c. Makin cenderung ia mendengar dengan penuh perhatian dan bertindak

      atas nasehat yang diberikan penolongnya.
                                                                            8




5. Interaksi

   Interaksi adalah kesempatan dan kemampuan individu dalam melakukan

   percakapan baik formal maupun informal selama bekerja. Interaksi diperlukan

   untuk selalu melakukan tindakan dengan benar. Interaksi yang dilakukan

   dengan benar dapat :

   a. Menurunkan konflik antara tenaga kesehatan

   b. Meningkatkan partisipasi

   c. Meningkatkan keterampilan

6. Gaji atau Upah

   Gaji atau Upah adalah pembayaran dalam bentuk barang atau uang dan

   keuntungan-keuntungan yang di terima oleh individu karena telah bekerja

   sesuai dengan pekerjaannya. Upah merupakan salah satu faktor yang

   meyebabkan seorang termotivasi untuk bekerja.

   Upaya peningkatan mutu pelayanan kesehatan ridak bisa lepas dari upaya

   peningkatan mutu keperawatan. Oleh sebab itu, perawat sebagai tim

   pelayanan kesehatan yang terbesar dituntut untuk meningkatkan mutu

   pelayanan mutu keperawatan. Mutu pelayanan di rumah sakit di tinjau dari

   sisi keperawatan mengikuti aspek jumlah dan kemampuan tenaga profesional,

   motivasi kerja dan sarana.

       Motivasi penting karena diharapkan dengan motivasi sikap tenaga kerja

   mau bekerja keras dan antusias untuk mencapai produktivitas yang tinggi.

   Motivasi kerja adalah besar kecilnya usaha yang diberikan seseorang untuk
                                                                            9




   melakukan tugas pekerjaannya. Hasil dari usaha ini tampak dalam bentuk

   penampilan kerja seseorang yang merupakan hasil interaksi atau fungsinya

   motivasi, kemampuan dan persepsi pada diri seseorang.



Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kualitas Pelayanan Perawat

     Parasuraman, dkk (dalam Tjiptono & Chandra, 2005) mendefinisikan

kualitas pelayanan sebagai kesenjangan (gap) antara kenyataan yang diterima

konsumen dengan harapan konsumen. Dari kesenjangan tersebut pasien akan

menilai bail atau buruknya kualitas pelayanan yang diberikan oleh perawat.

Parasuraman, dkk (dalam Tjiptono & Chandra, 2005) mengemukakan beberapa

faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas pelayanan perawat yaitu :

a. Tangible (bukti fisik) adalah keadaan yang ada berupa penampilan fisik dari

   perawat, cara berpakaian atau    menggunakan uniformnya, peralatan yang

   digunakan di dalam bertugas, bahan-bahan sarana pelayanan lainnya.

b. Reliability (keandalan) adalah kemampuan perawat dalam memberikan

   pelayanan yang dijanjikan dengan segera, akurat, dan memuaskan.

c. Responsiveness (daya tanggap) adalah keinginan perawat untuk membantu

   kebutuhan dan keinginan pasien dan        keluarga pasien dan memberikan

   pelayanan secara memuaskan.

d. Assurance (jaminan) merupakan kemampuan perawat dalam melakukan

   pelayanan, misalnya pengetahuan tentang penanganan medis, keterampilan,

   dan ketulusan di dalam melayani pasien dan keluarga pasien sehingga dapat
                                                                            10




   menimbulkan kepercayaan dan keyakinan termasuk juga kesopanan dan

   menghargai pasien dan keluarganya.

e. Empathy (empati) adalah kemudahan perawat dalam melakukan hubungan

   komunikasi yang baik, kepedulian, perhatian perawat terhadap pasien dan

   keluarga pasien termasuk pendekatan atau upaya memahami kebutuhan pasien

         Menurut Sada, (2000), Sikap kerja adalah tindakan yang akan diambil

karyawan dan segala sesuatu yang harus dilakukan karyawan tersebut yang

hasilnya sebanding dengan usaha yang dilakukan. Misalnya, jika membagi

tanggung jawab antara manajemen puncak dengan karyawan dari sudut pandang

pekerjaan. Keduanya jelas berbeda. Manajemen harus menanggung tanggung

jawab atas produk atau jasa tetapi karyawan hanya menanggung proses

bagaimana membuat produk atau jasa tersebut. Jika prosesnya benar maka

hasilnya tentu akan baik. Sikap kerja bisa dijadikan indikator apakah suatu

pekerjaan berjalan lancar atau tidak. Jika sikap kerja dilaksanakan dengan baik

pekerjaan akan berjalan lancar. Jika tidak berarti akan mengalami kesulitan.

Tetapi harus diingat, bukan berarti adanya kesulitan karena tidak dipatuhinya

sikap kerja, melainkan ada masalah lain lagi dalam hubungan antara karyawan

yang akibatnya sikap kerjanya diabaikan. Harus selalu diingat proses akan

menentukan hasil akhir.

         Menurut Aniek, (2005), Sikap kerja sebagai kecenderungan pikiran dan

perasaan puas atau tidak puas terhadap pekerjaannya. Indikasi karyawan yang

merasa puas pada pekerjaannya akan bekerja keras, jujur, tidak malas dan ikut
                                                                              11




memajukan      perusahaana.   Sebaliknya   karyawan   yang    tidak   puas   pada

pekerjaannya akan bekerja seenaknya, mau bekerja kalau ada pengawasan, tidak

jujur, yang akhirnya dapat merugikan perusahaan. Sikap kerja yang ditunjukkan

perwat di rumah sakit adalah pelayanan perawatan.

        Setyaningsih (2003), menjelaskan pelayanan keperawatan sebagai

bagian penting dari pelayanan kesehatan yang meliputi aspek bio-psiko-sosial-

spiritual yang komprehensif yang ditunjukkan kepada individu, keluarga atau

masyarakat yang sehat maupun sakit yang mencakup siklus hidup manusia.

International Council of Nurses (Setianingsih, 2003), menjelaskan bahwa

keperawatan adalah fungsi yang unik membantu individu yang sakit atau sehat

dengan penampilan kegiatan yang berhubungan dengan keehatan atau

penyembuhan sampai individu yang bersangkutan mampu merawat kesehatannya

sendiri apabila memilki kekuatan, kekuatan dan pengetahuan.

        Sedangkan dari hasil lokakarya keperawatan pada bulan Januari 1983

(Setianingsih, 2003) dirumuskan definisi keperawatan adalah suatu bentuk

pelayanan di bidang kesehatan yang didasari ilmu dan kiat keperawatan yang

ditujukan kepada individu, keluarga, masyarakat baik yang sakit maupun yang

sehat sejak lahir sampai meninggal. Kegiatan pelayanan meliputi upaya

peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit, pemulihan serta pemeliharaan

kesehatan sesuai dengan wewenang, tanggung jawab serta etika profesi

keperawatan.
                                                                           12




         Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa sikap kerja

perawat adalah tindakan yang diambil perawat dalam kegiatan pelayanan sesuai

dengan etika dan wewenang profesi keperawatan sebagai wujud dari

kecenderungan perasaan puas atau tidak puas terhadap pekerjaannya.

         Blum And Naylor (Aniek, 2005) berpendapat bahwa faktor yang

mempengaruhi sikap kerja adalah:

a). Kondisi kerja.

   Situasi kerja yang meliputi lingkungan fisik ataupun lingkungan sosial yang

   menjamin akan mempengaruhi kenyamanan dalam bekerja. Adanya rasa

   nyaman akan mempengaruhi semangat dan kualitas karyawan.

b). Pengawasan atasan.

   Seorang pimpinan yang melakukan pengawasan terhadap karyawan dengan

   baik dan penuh perhatian pada umumnya berpengaruh terhadap sikap dan

   semangat kerja karyawan.

c). Kerja sama dari teman sekerja.

   Adanya teman sekerja yang dapat bekerja sama akan sangat mendukung

   kualitas dan prestasi dalam menyelesaikan pekerjaan.

d). Keamanan.

   Adanya rasa aman yang tercipta serta lingkungan yang terjaga akan menjamin

   dan menambah ketenangan dalam bekerja.
                                                                                13




e). Kesempatan untuk maju.

      Adanya jaminan masa depan yang lebih baik dalam hal karier baik promosi

      jabatan dan jaminan hari tua.

f). Fasilitas kerja

      Tersedianya fasilitas-fasilitas yang digunakan karyawan dalam pekerjaannya.

g). Gaji

      Rasa senang terhadap imbalan yang diberikan perusahaan baik yang berupa

      gaji pokok, tunjangan dan sebagainya yang akan mempengaruhi sikap

      karyawan dalam menyelesaikan pekerjaannya.

      Berdasarkan uraian di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa faktor-

      faktor yang mempengaruhi sikap kerja karyawan adalah kondisi kerja,

      pengawasan atasan, kerjasama dari teman sekerja, keamanan, kesempatan

      untuk maju, fasilitas kerja dan upah /gaji

           Osada (2000), menguraikan tentang aspek-aspek yang mendukung sikap

kerja karyawan. Aspek-aspek sikap kerja tersebut dibagi menjadi 5 hal penting,

yaitu:

a).    Pemilahan (seiri)

             Pemilahan berarti memilah segala sesuatu dengan aturan atau prinsip

       tertentu. Langkah yang harus ditempuh adalah membagi segala sesuatu ke

       dalam kelompok sesuai dengan urutan kepentingannya dan membaginya

       dengan memutuskan mana yang penting dan mana yang sangat penting.

       Pemilahan merupakan dasar dari sikap kerja.
                                                                       14




b). Penataan (seiton)

         Penataan bertujuan untuk menghilangkan proses pencarian. Yang

   diutamakan adalah penghapusan proses pencarian dan manajemen

   fungsional dengan cara mendasarkan pada seberapa banyak yang bisa

   disimpan dalam pikir/otak dan bertindak dengan cepat.

c). Pembersihan (seiso)

         Pembersihan merupakan salah satu bentuk pemeriksaan. Yang

   diutamakan dalam pembersihan adalah pemeriksaan terhadap tindakan yang

   dilakukan dan menciptakan sikap kerja yang tidak memiliki cacat ataupun

   cela. Prinsipnya adalah pemeriksaan dan tingkat kebersihan.

d). Pemantapan (seiketsu)

           Pemantapan berarti terus menerus dan secara berulang-ulang

   memelihara pemilahan, penataan dan pembersihannya.. Prinsip dari

   pemantapan adalah inovasi dan manajemen diri untuk mencapai dan

   memelihara kondisi yang sudah dimantapkan sehingga dapat bertindak

   dengan cepat.

e). Pembiasaan (shitsuke)

           Pembiasaan berarti menanamkan kemampuan untuk melakukan

   sesuatu dengan cara yang benar. Prinsip yang digunakan adalah

   menciptakan suatu sikap kerja yang sesuai lewat kebiasaan dan perilaku

   yang baik sehingga nantinya karyawan dapat bekerja dengan baik dan

   mematuhi peraturan.
                                                                           15




        Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa aspek-

aspek yang mendukung sikap kerja antara lain pemilahan, penataan,

pembersihan, pemantapan dan pembiasaan. Tujuannya menciptakan suatu

sikap kerja yang sesuai kebiasaan yang baik dan perilaku yang baik

sehingga karyawan dapat bekerja dengan lancar dan mematuhi peraturan.

        Faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi kerja adalah :

1. Otonomi

        Otonomi adalah kebebasan untuk memilih tindakan tanpa kendali

     dari luar. Otonomi merupakan salah satu komponen yang penting dari

     disiplin profesional yaitu penetapan mekanisme untuk pengaturan

     sendiri dan penyelenggaraan mandiri (Susilowati, 2002).

2.   Status Profesional

        Status profesional adalah perasaan perawat secara umum dalam

     meningkatkan keterampilan profesional, kegunaan pekerjaan status

     pekerjaan dan harga diri terhadap profesi keperawatan (Ghale, 1998)

3. Tuntutan Tugas

        Tuntutan tugas adalah tugas yang harus dilakukan sesuai dengan

     pekerjaan dan kemampuan yang merupakan tanggung jawab dan

     kewajibannya atau segala macam tugas kegiatan yang harus diselesaikan

     sebagai bagian reguler dari pekerjaan (Iskandar, 2001)

        Fletcher, (2001) mengatakan bahwa rendahnya kemampuan dalam

     mengelola tugas yang diberikan akan berdampak pada ketidakpuasan
                                                                       16




   penyebabnya karena tidak mampu mengatur waktu dengan baik,

   sehingga waktu untuk pasien berkurang dan kurangnya waktu untuk

   berdiskusi tentang permasalahan manajemen dan manajer perawat.

4. Hubungan Interpersonal

       Hubungan Interpersonal adalah kebutuhan akan kerja sama secara

   timbal balik antara perawat dengan atasan, teman sekerja, tim kesehatan

   lain dan pasien. Makin baik hubungan interpersonal seseorang maka

   makin terbuka orang untuk mengungkapkan dirinya dan makin cermat

   mempersepsikan tentang orang lain dan diri sendiri, sehingga makin

   efektif komunikasi yang berlangsung antar komunikan (Rahmat, 2000).

   Menurut Arnold (2000), ada 3 (tiga) prinsip metode peningkatan

   hubungan, yaitu : makin baik hubungan interpersonal maka :

   a. Makin terbuka seseorang mengungkapkan perasaannya

   b. Makin cenderung ia meneliti perasaan secara mendalam beserta

       penolongnya

   c. Makin cenderung ia mendengar dengan penuh perhatian dan

       bertindak atas nasehat yang diberikan penolongnya.

5. Interaksi

       Interaksi adalah kesempatan dan kemampuan individu dalam

   melakukan percakapan baik formal maupun informal selama bekerja.

   Interaksi diperlukan untuk selalu melakukan tindakan dengan benar.

   Interaksi yang dilakukan dengan benar dapat :
                                                                      17




   a. Menurunkan konflik antara tenaga kesehatan

   b. Meningkatkan partisipasi

   e. Meningkatkan keterampilan

6. Gaji atau Upah

       Gaji atau Upah adalah pembayaran dalam bentuk barang atau uang

   dan keuntungan-keuntungan yang di terima oleh individu karena telah

   bekerja sesuai dengan pekerjaannya. Upah merupakan salah satu faktor

   yang meyebabkan seorang termotivasi untuk bekerja.

   Upaya peningkatan mutu pelayanan kesehatan ridak bisa lepas dari

upaya peningkatan mutu keperawatan. Oleh sebab itu, perawat sebagai tim

pelayanan kesehatan yang terbesar dituntut untuk meningkatkan mutu

pelayanan mutu keperawatan. Mutu pelayanan di rumah sakit di tinjau dari

sisi keperawatan mengikuti aspek jumlah dan kemampuan tenaga

profesional, motivasi kerja dan sarana.

   Motivasi penting karena diharapkan dengan motivasi sikap tenaga kerja

mau bekerja keras dan antusias untuk mencapai produktivitas yang tinggi.

Motivasi kerja adalah besar kecilnya usaha yang diberikan seseorang untuk

melakukan tugas pekerjaannya. Hasil dari usaha ini tampak dalam bentuk

penampilan kerja seseorang yang merupakan hasil interaksi atau fungsinya

motivasi, kemampuan dan persepsi pada diri seseorang.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:34
posted:8/10/2011
language:Indonesian
pages:12
faisal syam faisal syam http://
About