Laporan PKL - Download as DOC

Document Sample
Laporan PKL - Download as DOC Powered By Docstoc
					     LAPORAN PRAKTEK KERJA INDUSTRI
                      (PRAKERIN)




Alih Catu Untuk Satu Line Pelanggan Speedy Pada MDF
        Di PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk




        Nama                    : Richo Ray Fandi
        NIS                     : 09100327
        Kompetensi Keahlian     : Teknik Suitsing




BIDANG KEAHLIAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI
     SMK TELEKOMUNIKASI TELESANDI BEKASI
                        2010 / 2011
        LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING UNTUK
                     MENGIKUTI UJI PRAKERIN




Siswa dengan identitas di bawah ini :
Nama                     : Richo Ray Fandi
NIS                      : 09100327
Kompetensi Keahlian : Teknik Suitsing
Judul Laporan            : Alih Catu Untuk Satu Line Pelanggan Speedy Pada
                           MDF Di PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk




Dinyatakan telah selesai melaksanakan penulisan Laporan Praktek Kerja Industri
(Prakerin), sehingga yang bersangkutan diijinkan mengikuti Uji Prakerin.




                                                       Bekasi, 9 Agustus 2011
Pembimbing Sekolah                                     Pembimbing Industri




Lisa Devita Irianti,SS                                 Slamat
NPK : 2010 0069                                        NIK : 622855
               LEMBAR PENGESAHAN UJI PRAKERIN


Laporan Praktek Kerja Industri (Prakerin) ini telah disidangkan pada :

Hari/Tanggal           : Sabtu, 6 Agustus 2011

Pukul                  : 15.10 – 15.38

Ruang                  : XII TKJ 2

Hasil                  : LULUS/TIDAK LULUS*




Keterangan ini dibuat dengan sebenar-benarnya.




                                                          Bekasi, 6 Agustus 2011

Penguji                       Nama                          Tanda Tangan

1. Penguji 1                  H. Suntoro, SE                ………………….
2. Penguji 2                  Edo Pramudya, S.Pd            ………………….




Mengetahui
Kepala Sekolah                                             Wakabid. Hubin




Drs.Syaifullah Ishak                                      Guruh Wijanarko, ST
NPK. 2008 0001                                            NPK.2008 0002
                               MOTTO




“Bukanlah kebahagiaan yang membuat kita bersyukur tetapi bersyukurlah yang
                          membuat kita bahagia”
                           KATA PENGANTAR


Rasa syukur yang dalam penulis sampaikan atas kehadirat Allah SWT Yang
Maha Pemurah lagi Maha Esa atas segala curahan karunia berikut hidayah-Nya
sehingga penulis masih diberikan rahmatNya untuk berkesempatan dapat
menyelesaikan laporan PRAKERIN ini yang berjudul “Alih Catu Terminal
Pelanggan Untuk Satu Line Pelanggan Speedy Dengan Akses Kawat
Tembaga Pada MDF Di PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk” Penulis telah
menyelesaikan praktek kerja di PT. TELKOM INDONESIA Bekasi Timur,Tbk
yang berlokasi di MDF PT TELKOM Bekasi Timur dengan jangka waktu selama
satu bulan lebih yang dimulai dari tanggal 10 Februari sampai 18 Maret 2011.
Selama penulis mengikuti praktek kerja industri, penulis telah mengetahui dan
mempelajari beberapa pekerjaan yang berkaitan dengan segala hal tentang
pengoperasian pada MDF (Main Distribution Frame). Oleh sebab itu, penulis
membuat laporan ini ditujukan sebagai suatu syarat bahwa penulis telah mengikuti
dan menyelesaikan praktek kerja industri sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Penulis masih sadar bahwa dalam penyusunan laporan ini masih banyak terdapat
kekurangan dan kesalahan sehingga masih jauh dari kesempurnaan.Oleh karena
itu penulis mohon sekiranya dimaklumkan atas hal tersebut.Dan pada kesempatan
kali ini penulis juga menghaturkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada
yang terhormat :

1. Drs. Syaifullah Ishak yang bertindak sebagai Kepala Sekolah SMK
   Telekomunikasi Telesandi yang telah memberikan izin dan segala hal yang
   berkaitan dengan pelaksanaan PRAKERIN di PT.Telekomunikasi Indonesia,
   Tbk.
2. Slamet dan Effendi yang bertindak selaku pembimbing industri yang selama
   ini telah membimbing dan memberikan pengarahan tentang segala hal dalam
   praktek kerja di industri kepada praktikan.
3. Guruh Wijanarko. ST, yang bertindak selaku Wakil Kepala Sekolah Hubungan
   Industri yang telah menyalurkan siswa praktikan ke dalam dunia industri.
4. Lisa Devita Irianti S.S, yang bertindak selaku pembimbing sekolah yang telah
   membina dan memberikan pengarahan pada praktikan dalam hal praktek kerja
   dan juga dalam hal pembuatan laporan akhir PRAKERIN.
5. Bapak/Ibu Guru beserta seluruh staf dan karyawan SMK Telekomunikasi
   Telesandi Bekasi yang telah memberikan dukungan kepada praktikan baik
   material maupun spiritual sehingga laporan ini dapat tersusun dengan baik dan
   lancar.
6. Kedua orang tua penulis yang telah memberikan dukungan secara moril
   maupun materil.
7. Kerabat,rekan dan teman-teman semua yang telah memberikan dukungan dan
   bantuan dalam hal penyusunan laporan sehingga laporan ini dapat
   terselesaikan dengan sebaik-baiknya.
8. Pihak-pihak yang tidak dapat praktikan sebutkan satu persatu, atas
   bantuan,dukungan dan doa restu yang berkaitan dengan segala kegiatan
   PRAKERIN.




                                                        Bekasi, 6 Agustus 2011
                                                        Penulis
                                 DAFTAR ISI


HALAMAN JUDUL ………………………………………………..                                                 i
LEMBAR PERSETUJUAN………………………………………..                                                ii
LEMBAR PENGESAHAN …………………………………………                                                 iii
MOTTO ……………………………………………………………...                                                   iv
KATA PENGANTAR ………………………………………………                                                  v
DAFTAR ISI …………………………………………………………                                                  vii
DAFTAR GAMBAR ………………………………………………...                                                viii
BAB I      PENDAHULUAN
           A. Latar Belakang ……………………………………                                        1
           B. Tujuan…………. …………………………………                                            2
           C. Pokok Masalah…….. ……………………………..                                      2
           D. Batasan Masalah…………………………………...                                      2
BAB II     URAIAN UMUM
           A. Sejarah Perusahaan ……………………………….                                     3
           B. Struktur Organisasi…………….……………….....                                 7
           C. Uraian Kepegawaian............................................ ...   8
           D. Tata Tertib…………………………………………                                          9
BAB III    JURNAL PRAKERIN
           A. Teori Kompetensi………………………….………                                       13
           B. Gambaran Umum …………………….…………...                                       21
           C. Gambar Kerja …………………………….…….…                                        27
           D. Alat dan Bahan ………………………………..…..                                     28
           E. Langkah Kerja …………………………………….                                        30
           F. Hasil yang Diperoleh dari Kompetensi …………...                         35
BAB IV     PENUTUP
           A. Kesimpulan………………………………………..                                          36
           B. Saran………………………………………………                                              37
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
                           DAFTAR GAMBAR



1. Gambar 2.1 Struktur Organisasi…………………………………                                 7
2. Gambar 3.1 Pembacaan terminal blok vertical………………….                         14
3. Gambar 3.2 Pembacaan terminal blok horizontal……………….                        16
4. Gambar 3.3 Susunan pembacaan LTG.........................................   16
5. Gambar 3.4 LTG (Line Trunk Group)………………………….                                17
6. Gambar 3.5 Pembacaan Terminal DSLAM Huawei……………                             17
7. Gambar 3.6 Susunan pembacaan pada RK……………………..                              19
8. Gambar 3.7 Konfigurasi ADSL pada Speedy………………….                             20
9. Gambar 3.8 Buku catatan validasi port ………………………..                           24
10. Gambar 3.9 Mencatat nomor primer yang di ANI …………….                        24
11. Gambar 3.10 Menjepit jack pada klem………………………...                            25
12. Gambar 3.11 Tombol power microtest menyala……………….                          25
13. Gambar 3.12 Tekan 141 pada microtest………………………..                            25
14. Gambar 3.13 Mendengarkan tone pada microtest………………                         26
15. Gambar 3.14 Memberi tanda pada klem yang baik……………..                       26
16. Gambar 3.15 Proses Alih Catu…………………………………                                  27
17. Gambar 3.16 Insertion tool EQN………………………………                                 28
18. Gambar 3.17 Insertion tool DSLAM…………………………..                               28
19. Gambar 3.18 Microtest…………………………………………                                      28
20. Gambar 3.19 Jumper wire merah-putih………………………..                             29
21. Gambar 3.20 Test Cord…………………………………………                                      29
22. Gambar 3.21 Petugas RK mengkonfirmasi petugas MDF…….                       30
23. Gambar 3.22 Tampilan nomor DSLAM pada komputer………                          30
24. Gambar 3.23 Melakukan ANI pada strook vertikal……………..                      31
25. Gambar 3.24 Mencolokkan test cord pada klem strook vertical..              31
26. Gambar 3.25 Petugas RK mengecek tone…………………….                              32
27. Gambar 3.26 Penarikan jumper wire merah-putih……………..                       32
28. Gambar 3.27 Memasukkan jumper wire ke klem DSLAM out..                     33
29. Gambar 3.28 Pengedhopan pada klem DSLAM out…………...       33
30. Gambar 3.29 Pengedhopan pada klem strook vertikal………….   34
31. Gambar 3.30 Melakukan ANI pada klem strook vertikal………   34
32. Gambar 3.31 Petugas Data Accuration menginput data……….   35
                                       BAB I

                                PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

   Dewasa ini, perkembangan jaman telah menuntut kemajuan teknologi bagi
   masyarakat dunia. Munculnya berbagai macam teknologi modern dalam
   kehidupan menurut Supriadi (1992) merupakan inovasi yang membantu dan
   mempermudah untuk segala kegiatan. Perkembangan teknologi juga mengarah
   pada perkembangan komunikasi yang begitu pesat bahkan begitu pesatnya
   sehingga dapat melampaui perkembangan teknologi lainnya. Komunikasi
   menjadi salah satu aspek kehidupan yang sangat penting karena setiap hari
   manusia tidak bisa lepas dari komunikasi untuk memenuhi kebutuhannya.

   Sehingga pentingnya telekomunikasi dan informatika juga menuntut akan
   kemampuan kualitas telekomunikasi yang bagus dan memadai. Untuk
   menunjang kualitas telekomunikasi tersebut perlu dilakukan operasi
   pemeliharaan dari sistem telekomunikasi itu sendiri. Kualitas telekomunikasi
   tidak terlepas dari bagaimana kualitas jaringan yang digunakan sehingga
   apabila jaringan telekomunikasi tersebut dapat berjalan dengan baik maka
   kemungkinan dapat dipastikan kualitas telekomunikasi yang dihasilkan juga
   baik pula.

   Salah satu penerapan yang dapat dilakukan dalam menangani gangguan yang
   terjadi adalah dengan menerapkan proses alih catu. Alih catu merupakan
   tindakan penanganan dengan melakukan perbaikan jaringan akses kawat
   tembaga yang dapat memulihkan jaringan dari gangguan sehingga proses
   komunikasi yang terjadipun dapat berlangsung lancar dan baik kembali.
   Dengan       diterapkannya   alih   catu    dapat   memungkinkan   terjaganya
   pemeliharaan kualitas jaringan telekomunikasi yang mampu menyediakan
   saluran komunikasi yang memadai bagi pelanggan.
B. Tujuan Penelitian
   Prakerin mempunyai tujuan agar siswa dapat menerapkan ilmu yang diperoleh
   dari sekolah dan terbiasa mengenal dunia kerja yang sesungguhnya
   sebagaimana yang sudah diterapkan di industri tersebut.      Adapun tujuan
   umum dilaksanakan kerja praktek tersebut adalah sebagai berikut :
   a. Membentuk mental siswa – siswi agar mempunyai jiwa pekerja keras yang
      mampu konsisten.
   b. Menambah pengetahuan siswa – siswi di masing - masing bidangnya.
   c. Memberikan suatu motivasi dalam diri siswa – siswi agar menunjukan
      dirinya mampu melakukan pekerjaan sesuai dengan bidangnya.
   d. Memberikan bekal serta gambaran pada siswa – siswi seperti apakah
      bekerja itu.
   e. Memberikan suatu wawasan tambahan pada siswa – siswi tentang sesuatu
      yang belum didapatkan di sekolah.
   f. Sebagai pengalaman melatih diri dengan mengkaji konsep-konsep yang
      didapat selama melakukan PRAKERIN sehingga terbiasa dengan dunia
      lapangan kerja.




C. Pokok Masalah

   Berdasarkan latar belakang yang sudah dikemukakan sebelumnya maka pokok
   masalah yang akan dibahas pada laporan PRAKERIN ini adalah bagaimana
   cara melakukan Alih catu pada terminal pelanggan untuk satu line pelanggan
   Speedy pada MDF?

D. Batasan Masalah
   Ruang lingkup yang ditetapkan penulis sebagai batasan dalam laporan ini
   adalah bagaimana langkah melakukan penanganan gangguan dengan
   menerapkan Alih catu pada strook pelanggan untuk satu line pelanggan
   Speedy pada MDF dengan akses jaringan kawat tembaga.
                                 BAB II

                           URAIAN UMUM



A. Sejarah Perusahaan

   PT. TELEKOMUNIKASI INDONESIA Tbk, atau di kenal dengan TELKOM
   adalah badan usaha yang memiliki sejarah panjang. Berawal dari Posten
   Telegraafdiensts sebuah perusahaan swasta yang menyelengarakan jasa-jasa
   pos dan telekomunikasi yang didirikan dengan staatblad No.25 Tahun 1884.
   Penyelenggaraan telekomunikasi oleh swasta ini berlangsung sampai tahun
   1906 dan sejak itu diambil oleh pemerintah Hindia Belanda dengan
   berdasarkan staablad No. 395 Tahun 1906. Sejak itu berdirilah Post,
   Telegraaf entelefoonaiest, atau disebut PTT. Dienst yang pada tahun 1927
   ditetapkan sebagai Perusahaan Negara Pemerintahan Hindia Belanda.

   Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (PERPU) N0. 19 Tahun
   1960, yang menetapkan Jawatan PTT untuk menjadi perusahaan Negara.
   Kemudian berdasarkan Peraturan Pemerintahan Republik Indonesia No. 240
   Tahun 1961 Perusahaan Jawatan PTT berubah menjadi Perusahaan Negara
   (PN) Pos dan Telekomunikasi. Dalam perkembangan selanjutnya pemerintah
   perlu memandang untuk membagi PN Pos dan telekomunikasi menjadi 2
   jawatan PTT berlangsung sampai dikeluarkan Peraturan Pemerintahan
   Pengganti Undang-Undang 2 (dua). Perusahaan Negara berdiri sendiri, yakni
   berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 29 tahun 1965 di bentuk PN Pos dar
   Giro dan dengan peraturan pemerintah No. 30 tahun 1965 didirikan PN
   Telekomunikasi.

   Kemajuan teknologi dan jasa Telekomunikasi mendorong Pemerintahan untuk
   meningkatkan bentuk perusahaan PN Telekomunikasi menjadi Perusahaan
   Umum (PERUM). Untuk itu berdasarkan peraturan pemerintahaan No.36
   tahun 1974 resmi berdiri perusahaan umum telekomunikasi yang dikenal
dengan sebutan PERUMTEL Dalam peraturan tersebut, PERUMTEL
dinyatakan sebagai penyelenggara telekomunikasi untuk umum baik untuk
hubungan telekomunikasi dalam negeri maupun luar negeri. Pada saat itu,
hubungan telekomunikasi luar negeri juga diselenggarakan oleh PT. Indonesia
Satelit Corporation (INDOSAT) yang saat itu berstatus perusahaan asing
bagian dari American Cabel dan Radio Corporation, sebuah perusahaan di
negeri bagian Delawari, USA. Seluruh saham PT. INDOSAT dengan modal
asing tersebut pada akhir tahun 1980 dibeli oleh Negara Republik Indonesia
dan untuk selanjutnya dikeluarkan peraturan pemerintah No. 53 tahun 1980,
yang isinya tentang perubahan atas peraturan pemerintah No. 22 tahun 1974.
Berdasarkan peraturan pemerintah No. 53 tahun 1980, PERUMTEL
ditetapkan sebagai badan usaha penyelenggara telekomunikasi dalam negeri
dan INDOSAT sebagai penyelenggara telekomunikasi jasa luar negeri.

Memasuki     Repelita   V    pemerintah   merasakan   perlunya   percepatan
pembangunan telekomunikasi, karena sebagai infrastruktur diharapkan dapat
memicu pembangunan sektor lainnya. Untuk itu berdasarkan Peraturan
Pemerintah No. 25 tahun 1991, maka Perusahaan Umum (PERUM) dialihkan
menjadi perusahaan Perseroan (PERSERO), sebagaimana dimaksud dalam
undang – undang No. 9 Tahun 1969. Sejak itu berdirilah perusahaan Perseroan
(PERSERO) Telekomunikasi Indonesia dengan sebutan TELKOM.

Perubahan dilingkungan TELKOM juga terus berlangsung seperti perubahan
bentuk perusahaan sejak dari jawatan, PERUM, PERSERO sampai menjadi
perusahaan publik. Perubahan–perubahan besar tersebut terjadi pada tahun
1995, meliputi :

1. Restruksi internal

2. Kerjasama Operasi (KSO)

3. Intial Public Offering (IPO)
Restruksi internal dimaksudkan untuk menjadikan pengelolaan perusahaan
menjadi efisien dan efektif, karena terjadi pemisahan antara bidang usaha
utama TELKOM dalam menyelenggarakan jasa telepon lokal dan jarak jauh
dalam negeri. Bidang usaha yang terkait seperti jasa Sistem Telepon Bergerak
(STBS), sirkit langganan, teleks, penyewaan transponder satelit, VSAT (Very
Small Aperture Terminal ) dan jasa nilai tambahan tertentu. Bidang usaha
yang terkait ini ada yang diselenggarakan dengan membentuk perusahaan
patungan.

Sebagai hasil restruksi, sejak 1 juli 1995 organisasi TELKOM terdiri dari 7
(tujuh) Divisi Regional dan 1 (satu) Divisi Network yang keduanya mengelola
bidang usaha utama. Divisi regional ini menjadi pengganti struktur wilayah
Usaha Telekomunikasi (WITEL) yang memiliki daerah territorial tertentu,
namun hanya menyelenggarakan jasa telepon lokal dan mendapat bagian dari
jasa telepon Sambungan Langsung Jarak Jauh (SLJJ), Sambungan Langsung
Internasional (SLI) melalui perhitungan interkoneksi.

Adapun Divisi Penunjang (support) adalah :

1. Divisi Riset Teknologi Informasi (RisTi)

2. Divisi Atelir

3. Divisi Properti

4. Divisi Pelatihan

5. Divisi Sistem Informasi (SISFO)

Perkembangan terakhir berdasarkan keputusan Direksi TELKOM, mulai
tanggal 31 Desember 1996, TELKOM menambah 2 (dua) Divisi, yaitu Divisi
Multimedia dan Divisi Pembangunan. Divisi Multimedia adalah yang
mengelola jasa bisnis utama, sedangkan Divisi Pembangunan sebagai Divisi
penunjang.

1. Ruang lingkup divisi – divisi di TELKOM
Adapun ruang lingkup usaha dari masing- masing divisi dapat diuraikan
sebagai berikut:

a. Divisi Network

  Divisi yang menyelenggarakan jasa telekomunikasi jarak jauh dalam
  negeri melalui pengoperasian jaringan transmisi jalur utama nasional.
  Pelanggan Divisi Network utamanya adalah untuk kepentingan internal
  TELKOM, namun bila memungkinkan melayani eksternal TELKOM.

b. Divisi Multimedia

  Divisi TELKOM yang mengelola jasa Multimedia dan network Provider
  untuk melayani masyarakat, langganan dan internal TELKOM, Internet
  Provider, Coorporate Customer. Divisi ini bertanggung jawab untuk
  menyiapkan bisnis masa depan yang ditandai dengan adanya konvergasi
  telepon, televisi kabel (Video Communication) dan internet (Computer
  communicaton).

c. Divisi Sistem Informasi

  Divisi yang menyediakan sistem informasi, baik untuk kepentingan
  TELKOM maupun pihak lain. Produk-produk layanan yang dihasilkan :
  Software, Management Informasi Sistem, Sistem Informasi Kastemer,
  Billing, Corporate Database, Interkoneksi Billing dan proses telepon
  selular.

d. Divisi Riset Teknologi Informasi (RisTi)

  Divisi yang melaksanakan riset dan pembangunan teknologi komunikasi
  dan informasi untuk kepentingan internal TELKOM, baik riset
  pembangunan produk baru, standarisasi pembangunan produk baru,
  standarisasi perangkat, uji kaji laboratorium.

e. Divisi Properti
    Divisi yang mengelola properti (tanah, gedung, dan sarana lainnya) milik
    TELKOM yang tidak berkaitan dengan alat produksi. Pengelolaan
    properti ini utamanya untuk kepentingan TELKOM, namun tidak
    menutup kemungkinan juga untuk pihak lainnya.

  f. Divisi Atelir

    Divisi yang berfungsi sebagai Repair center (pusat pembekalan) bagi
    kepentingan TELKOM, meliputi : pengetesan dan modul repair,
    menyediakan suku cadang perangakat dan konsultasi teknis.

  g. Divisi Pelatihan

    Divisi yang menyelengarakan pendidikan dan pelatihan bagi pegawai
    TELKOM untuk menunjang terwujudnya sumber daya manusia yang
    berkualitas, profesional dan berintegrasi.

  h. Divisi pembangunan

    Divisi yang melaksanakan pembangunan, konstruksi jaringan, konsultasi
    pembangunan, desain proyek dan pengadaan kepentingan TELKOM.
    Divisi pembangunan ini tidak menangani pembangunan yang menjadi
    tanggung jawab mitra KSO yang harus diselesaikan sampai akhir
    Repelita VI.




Lokasi Perusahaan

PT Telekomunikasi Indonesia MDF Bekasi berlokasi di Jl.H.Juanda, Bekasi.
    B. Struktur Organisasi

                                       Supervisor Bekasi



                                            Effendi




                     Kokpit                                      Team Solution



                   Sudarisman                                       Slamet




UI Handling POTS                      UI Handling speedy                         UI Provisioning



     Abun                                    Endi                                 Iwan Ridwan




       Main Distribution Frame                                    Maintenance



                   Radi                                             Sukirman




                                Gambar 2.1 Struktur Organisasi
C. Uraian Kepegawaian

  Divisi-divisi yang terdapat pada PT.TELKOM adalah sebagai berikut:

  1. Provisioning Speedy

    a. Memastikan bahwa seluruh proses provisioning pasang baru Speedy
       sudah berjalan sesuai PM /PK (Prosedur Mutu / Prosedur kerja ).
    b. Memastikan bahwa semua ukuran sudah sesuai dan telah ada usage
       dengan embassy live.
    c. Memastikan waktu yang diinginkan pelanggan untuk setting modem
       terpenuhi dengan tepat.
    d. Memastikan bahwa seluruh tahapan provisioning Speedy telah berjalan
       sesuai aturan sebelum technical clock.

  2. Fault Handling Speedy

    a. Memastikan service customer pada Speedy pelanggan yang terdapat
       gangguan agar sesuai dengan waktu yang sudah ditentukan.
    b. Memastikan seluruh kendala teknis telah diketahui sebelum kunjungan
       perbaikan ke pelanggan.
    c. Melakukan perbaikan gangguan Speedy pelanggan sesuai dengan aturan
       dan waktu yang tepat.
    d. Melakukan embassy live setelah gangguan selesai diperbaiki untuk
       memastikan semua ukuran sudah terpenuhi.

  3. Fault Handling POTS

    a. Mengambil WO (Work Order) tentang permasalahan gangguan POTS
       melalui SISKA.
    b. Melakukan perbaikan gangguan POTS dan melakukan pencatatan jenis
       perbaikan beserta pihak yang terlibat didalamnya.
    c. Menginformasikan penyelesaian tersebut ke R2DC melalui data SISKA
       untuk penyelesaian gangguan.
   4. Maintenance

     a. Melakukan input jenis gangguan.
     b. Melakukan input perbaikan gangguan.
     c. Menginformasikan ke petugas gangguan dan Supervisor tentang
        perbaikan dan kendala.

   5. Main Distribution Frame

     a. Mengambil work order Speedy dan POTS.
     b. Melakukan pengembalian work order Speedy dan POTS.
     c. Melakukan input data teknis agar akurat dengan data teknis SISKA.
     d. Melakukan penjumperan pasang baru telepon dan pasang baru Speedy
        sesuai order.
     e. Melakukan perbaikan bila terdapat gangguan pada transmisi pelanggan
        di MDF dengan berkordinasi dengan petugas lapangan.

   6. Data Accuration

     a. Melakukan akurasi data setelah ada laporan oleh petugas lapangan
        maupun MDF baik POTS, Speedy maupun LC.
     b. Melakukan akurasi data berdasarkan laporan management.


D. Tata tertib/Peraturan
   1. Sekolah
      Siswa wajib :
      a. Siswa Kelas XI aktif mengikuti program praktek kerja industri
          (PRAKERIN) dengan waktu pelaksanaan sesuai yang disepakati pihak
          peserta (siswa/i), sekolah, dan industri.
      b. Membuat jurnal, program harian, program kerja prakerin dengan
          persetujuan pihak pembimbing sekolah dan industri.
   c. Membuat dan melaporkan hasil prakerin berupa jurnal dan atau bentuk
       laporan hasil prakerin dengan standar baku yang ditetapkan sekolah
       yang direkomendasikan Wakil Kepala Hubungan Industri.
   d. Selama prakerin berlangsung peserta (siswa/i) mematuhi aturan tata
       tertib pihak industri/sekolah dan melaksanakan program yang telah
       disepakati sekolah, industri dan siswa.
   e. Membina hubungan baik antara siswa, sekolah, dan seluruh warga
       perusahaan industri dan usaha.
   f. Tidak mengambil, memindahtangankan sarana dan prasarana prakerin
       di Industri.
   g. Siswa/i yang diketahui memindahtangankan sarana dan prasarana
       prakerin di Industri, akan dikembalikan ke sekolah dan dikenakan
       hukuman disiplin siswa dengan pasal 32.
   h. Pembuatan dan pengumpulan laporan prakerin maksimal 40 hari
       setelah kembali ke sekolah.
   i. Siswa yang akan mengajukan siding harus memiliki bukti bimbingan
       minimal 5 kali dan memilki surat keterangan dai pembimbing untuk
       ketua kompetensi jurusan.
   j. Hal lain yang diatur pihak industri dan usaha wajib dipatuhi peserta
       (siswa/i) peserta prakerin.
   k. Pelanggaran terhadap pasal 16 ini akan dikenakan hukuman disiplin
       siswa dengan pasal 32.


2. Industri

   Tata tertib ini sangat penting dalam Praktik Kerja Industri bagi para siswa,
   oleh karena itu tata tertib ini wajib menjadi pedoman bagi para siswa agar
   :

   a. Memahami        dan    mentaati    peraturan   yang    berlaku    dalam
       perusahaan/industri dimana siswa berada.
   b. Bersikap santun dan hormat terhadap semua pekerja/karyawan
       perusahaan.
   c. Memakai pakaian kerja praktek selama melakukan aktivitas praktik.
   d. Bekerja dengan jujur sesuai dengan norma-norma aturan yang ada.
   e. Dapat bekerja sama dengan karyawan yang ada di perusahaan.
   f. Memakai tanda pengenal apabila diperlukan.
   g. Melapor kepada pembimbing apabila ada kesulitan/memerlukan
       peralatan yang diperlukan.
   h. Membersihkan atau merapihkan peralatan dan bahan setelah
       melakukan praktek setiap harinya.
   i. Merahasiakan dan menjunjung nama baik perusahaan.
   j. Mengutamakan keselamatan kerja.
   k. Mengisi dan mengembalikan jurnal kegiatan kepada pembimbing dan
       ditanda tangani setiap hari setelah selesai melakukan praktik.
2.1 Larangan bagi siswa di Industri
   a. Merokok atau sejenisnya selama melakukan kegiatan praktik.
   b. Mengenakan pakaian dan atribut lain di luar ketentuan sekolah.
   c. Main-main/tidak serius dalam melaksanakan praktek
   d. Menerima tamu pribadi pada waktu Praktek.
   e. Menggunakan pesawat telepon/HP tanpa ijin pembimbing/petugas.
   f. Pindah tempat kecuali ada perintah dari pembimbing/petugas.
2.2 Sanksi
   Sanksi dikenakan kepada siswa yang tidak mematuhi aturan/tata tertib.

    a. Diperingatkan secara lisan oleh pembimbing.
    b. Diperingatkan secara tertulis oleh pembimbing tembusannya ke
       sekolah.
    c. Diperingatkan secara tertulis oleh bagian hubungan industri untuk
       diketahui oleh orang tua siswa.
    d. Pengurangan nilai prakerin.
    e. Dikeluarkan dari industri dan dianggap tidak ikut kegiatan Prakerin
       (ditangani oleh sekolah secara serius).
2.3 Lain-lain
   Kegiatan akhir pelaksanaan yang dilakukan siswa adalah :
   a. Siswa     menyerahkan      buku    laporan   pendidikan/rapot   kepada
       pembimbing industri untuk diisi sebagai bukti telah dilaksanakan
       kegiatan praktek.
   b. Bersama dengan pengisian raport, siswa menerima sertifikat prakerin
       dari industri utuk diserahkan ke sekolah sebagai bukti telah
       melaksakan praktek.
   c. Setelah selesai melaksanakan praktek sesuai dengan waktu yang
       ditentukan, pembimbing sekolah menjemput dan diadakan serah terima
       dari industri ke pihak sekolah.
                                   BAB III

                          JURNAL PRAKERIN



A. Teori Kompetensi

   MDF (Main Distribution Frame) atau dapat juga disebut RPU (Rangka
   Pembagi Utama) merupakan suatu ruangan tempat susunan rangka-rangka
   dari pelat logam yang dipergunakan sebagai tempat titik sambung antara ujung
   kabel dari arah jaringan dengan kabel yang berasal dari arah Sentral dan
   didalamnya tersusun dari perangkat BTRPU (Blok Terminal Rangka Pembagi
   Utama). MDF berfungsi sebagai tempat penyambungan kabel primer dengan
   kabel yang keluar dari Sentral, disamping itu juga MDF berfungsi sebagai
   tempat pengetesan dalam melokalisir gangguan jaringan kabel. Pada dasarnya
   Rangka Pembagi Utama (RPU) dirancang dan disupply oleh pabrik yang
   memproduksi perangkat instalasi sentral. RPU dirancang dengan kapasitas
   tertentu sesuai kebutuhan, dan dapat diperluas sampai dengan kapasitas
   maksimumnya, dengan bentuk dan ukuran diusahakan sama dengan RPU
   yang sudah ada.




   BTRPU (Blok Terminal Rangka Pembagi Utama)

   Blok Terminal Rangka Pembagi Utama (BTRPU) ialah suatu terminal yang
   berfungsi sebagai titik peralihan yang terdiri dari susunan titik-titik kontak
   dimana ujung-ujung urat kabel baik yang berasal dari jaringan luar maupun
   dari arah sentral diterminasikan. Titik-titik kontak blok terminal tersebut
   diaplikasikan dengan menggunakan sistem tekan-sisip. Blok terminal rangka
   pembagi utama dibagi menjadi dua yaitu terminal blok vertikal dan terminal
   blok horizontal.
Terminal Blok Vertikal

Terminal blok vertikal adalah sebuah tempat yang menggunakan terminal K71
untuk terminasi kabel yang berfungsi sebagai penghubung antara kabel jumper
wire yang berasal dari terminal blok horizontal dengan kabel primer yang
akan diteruskan ke sisi pelanggan yang menuju RK (Rumah kabel).




             Gambar 3.1 Pembacaan terminal blok vertikal




Cara pembacaan Teminal blok vertikal :

Pembacaan port terminal vertikal berbeda dengan pembacaan port pada EQN
(Equipment Number) atau Terminal Horizontal. Setiap strook memiliki kode
primer tersendiri yang dilambangkan dengan huruf P dan kode angka serta
dicantumkan urutan nomor pair dan diberi keterangan nama RK .Dan setiap
unit secara horizontal memiliki 5 port dan secara vertikal memiliki 20 port
sehingga total keseluruhan port pada strook adalah 100 port .




Sebagai contoh, mencari strook primer 21 dengan klem 1047 yang terletak
pada RKA caranya yaitu :

Cari strook primer yang bertulisan P021 1001-2100 RKA karena dalam strook
primer, P021 merupakan kode dari strook primer dan RKA merupakan tempat
RK kabel primer tersebut berada. Setelah itu cari urutan nomor pair yang
didalamnya terdapat urutan pair ke 1047 yakni urutan pair 1001-
2100.Kemudian setelah itu cari port ke 47 pada strook primer tersebut karena
angka 47 menunjukan port dimana terdapat DN (Direct Number) tersebut.
Pembacaan port dimulai dari hitungan satu.




Terminal Blok Horizontal / EQN ( Equipment Number )

Terminal blok horizontal / EQN ( Equipment Number ) berfungsi sebagai
tempat diterminasikannya seluruh kabel yang datang dari Sentral menuju
MDF yang dimana pada setiap port terdapat nomor telepon pelanggan yang
diberikan oleh Sentral. Terminal blok horizontal sering disebut dengan
terminal nomor pelanggan.

Terminal blok horizontal di MDF terbagi menjadi dua bagian yaitu DLU
(Digital Line Unit) dan LTG (Line Trunk Group).

1. Cara pembacaan DLU :

   DLU (Digital Line Unit) adalah strook EQN yang menggunakan terminal
   K-64. Pembacaan port EQN pada terminal DLU berbeda dengan
   pembacaan port EQN pada LTG. Setiap unit memiliki 16 sub unit yang
   setiap sub unitnya terdiri dari dua baris. Dan setiap sub unit memiliki 8
   port.

   Sebagai contoh, mencari DLU 60-1-4-4 caranya yaitu :

   Cari strook yang bertulisan DLU 60-1-4-4 karena dalam EQN 60-1-4-4,
   angka 60 merupakan kode dari DLU dan angka 1 merupakan unit. Setelah
   itu pilih sub unit 4 karena dalam 60-1-4-4, angka 4 menenukan port
   dimana terdapat DN (Direct Number) tersebut. Pembacaan sub unit




   hitungan nol.




           Gambar 3.2 Pembacaan terminal blok horizontal




2. Cara pembacaan LTG :

   LTG (Line Trunk Group) mempunyai strook yang memiliki kode
   tersendiri yang terdiri dari 8 sub unit yang dimulai dari sub unit 0 sampai
   7. Dan setiap sub unit memiliki 32 port.LTG mempunyai kapasitas
   sebanyak 256 nomor pelanggan.
Pembacaan LTG berbeda dengan DLU, karena LTG memiliki susunan
tersendiri. Berikut ini tabel pembacan LTG :




               Gambar 3.3 Susunan pembacaan LTG




             Gambar 3.4 LTG (Line Trunk Group)
   Contoh : LTG 0-12-02-16    maksudnya LTG 0, unit 12, sub unit 02 dan
   port 16.




DSLAM (Digital Subscriber Line Access Multiplexer)

DSLAM (Digital Subscriber Line Access Multiplexer) merupakan sebuah
perangkat terminal yang menghubungkan EQN dan strook teminal vertikal
dengan perangkat Modem ADSL (Asymmetric Digital Subscriber Line).




              Gambar 3.5 Pembacaan Terminal DSLAM Huawei




Cara pembacaan DSLAM yaitu DSLAM Huawei mempunyai 2 slot, setiap
slot mempunyai 64 port yang dimulai dari nol sampai 63. Dalam setiap
vertikal mempunyai 8 port yang dimulai dari nol sampai tujuh. Penomoran
DSLAM yaitu ( Nomor DSLAM-Line-Port ). Misalnya 20-04-32, cara
pembacaannya DSLAM 20, slot 04, port 32.
DSLAM terbagi atas dua, yaitu

1. DSLAM-IN adalah perangkat terminal yang menghubungkan antara kabel
   jumper wire biru-putih yang mengarah ke terminal horizontal EQN dengan
   kabel pair Huawei yang mengarah ke perangkat modem ADSL.
2. DSLAM-OUT adalah perangkat terminal yang menghubungkan antara
   kabel jumper wire merah-putih yang mengarah ke terminal vertikal primer
   dengan kabel pair Huawei yang mengarah ke perangkat modem ADSL.




Alat Kerja Di MDF

1. Microtest
   Microtest adalah alat yang berbentuk seperti gagang telepon, digunakan
   untuk mengecek tone dan nomor tumpangan (pelanggan).
2. Insertion Tool
   Insertion tool berfungsi untuk menterminasikan jumper wire ke port EQN
   dan terminal vertikal primer.
3. Insertion Tool Huawei
   Insertion Huawei adalah alat yang digunakan untuk menterminasi jumper
   di port DSLAM in dan out Speedy.
4. Jumper Wire
   Jumper Wire adalah kawat sambungan yang digunakan sebagai
   penghubung antara titik peralihan, baik di RPU maupun di Rumah Kabel.
   a. Jumper (Biru putih) ialah jumper yang digunakan untuk penjumperan
      Speedy di sisi “in” yaitu mulai dari terminal EQN menuju DSLAM in.
   b. Jumper (Merah putih) ialah jumper          yang digunakan untuk
      penjumperan Speedy di sisi “out” yaitu mulai dari DSLAM out menuju
      terminal primer.
   c. Jumper (Biru merah) ialah jumper yang digunakan untuk penjumperan
      telepon biasa atau pasang baru telepon.
Rumah Kabel

RK (Rumah Kabel) adalah bangunan kecil atau rumah jaga yang merupakan
tempat distribusi kabel dengan strooknya berupa konektor LSA. Rumah kabel
digunakan untuk mendistribusikan atau mengkoneksikan antara kabel primer
dari sentral dengan kabel sekunder. Kapasitas dari semua rumah kabel yang
dikeluarkan oleh PT. Telkom sama. Untuk rumah kabel dengan satu pintu
memiliki kapasitas 1200 pair sedangkan rumah kabel dengan dua pintu
memiliki kapasitas 2400 pair. Didalam Rumah kabel terbagi menjadi dua
yakni strook konektor LSA primer dan strook konektor LSA Sekunder.




                  Gambar 3.6 Susunan pembacaan pada RK
Pengertian Speedy

Speedy adalah produk layanan Internet dari PT. TELKOM dengan berbasis
teknologi Asymetric Digital Subscriber Line (ADSL)             yang dapat
menyalurkan data dan suara secara simultan (bersamaan) melalui satu saluran
telepon biasa dengan kecepatan yang dijaminkan sesuai dengan paket layanan
yang diluncurkan dari modem.




                 Gambar 3.7 Konfigurasi ADSL pada Speedy
B. Gambaran Umum

  Dalam penulisan laporan ini akan dibahas mengenai materi yang didapat
  selama PRAKERIN salah satunya yaitu Alih Catu pada MDF. Alih catu pada
  MDF merupakan salah satu metode yang dapat dilakukan untuk penanganan
  gangguan yang terjadi pada jaringan akses kawat tembaga dari arah pelanggan
  menuju MDF. Alih catu adalah proses pemindahan kabel jumper wire yang
  dapat dilakukan dengan cara mengganti atau       memindahkan jumper wire
  tersebut dari satu klem yang diindikasikan rusak pada strook terminal vertikal
  dari suatu RK ke klem lain yang baik pada suatu strook terminal vertikal yang
  berada pada RK yang berlainan.

  Alih catu biasanya dilakukan berdasarkan konfirmasi dari petugas RK yang
  mengindikasikan adanya gangguan saluran jaringan sehingga diperlukan
  penanganan alih catu pada MDF dan umumnya alih catu dilakukan karena
  tidak dapat dilakukannya omzeting untuk mengatasi gangguan tersebut.
  Adapun kelemahan dari alih catu pada MDF yakni hanya dapat dilakukan
  apabila terdapat DP yang berlainan RK yang dapat dijangkau oleh pelanggan.

  Hal-Hal yang dapat menyebabkan perlu dilakukannya alih catu pada MDF
  dapat diuraikan sebagai berikut :

  1. Terdapatnya masalah gangguan kerusakan yang terjadi pada kabel
     sekunder yang terhubung dengan suatu DP (Distribution Point) namun
     tidak bisa dilakukan omzet pada DP tersebut karena kapasitas DP yang
     terisi sudah penuh dan tidak bisa dilakukannya cabutan.
  2. Terjadinya gangguan kerusakan yang terdapat di antara titik sambung
     (span cable) yang terdapat didalam tanah yang dimana span cable tersebut
     berfungsi untuk memisahkan kabel sekunder untuk beberapa DP.
  3. Terjadi kerusakan pada klem kabel sekunder yang terdapat di dalam DP
     namun tidak bisa dilakukan omzet pada DP tersebut karena kapasitas DP
     yang terisi sudah penuh dan tidak bisa dilakukannya cabutan.
4. Terjadinya gangguan kerusakan yang terjadi pada suatu kabel primer
   pelanggan yang terdapat dalam suatu RK namun tidak bisa dilakukan
   omzeting primer pada RK tersebut karena hal berikut :
   a. Kapasitas kabel primer yang digunakan sudah terisi penuh atau ada
       kabel primer yang kosong tapi rusak.
   b. Tidak bisa dilakukannya cabutan.
   c. Klem pada RK pelanggan tersebut rusak namun klem yang lain sudah
       terisi penuh atau ada klem yang kosong tapi rusak.
5. Reabondry
   Reabondry      adalah   keadaan     dimana   jaringan    penanggal   yang
   menghubungkan antara DP dengan KTB (Kotak Terminal Batas)
   pelanggan terlalu jauh namun ada DP lain yang lebih dekat dengan
   pelanggan tetapi berbeda RK sehingga dilakukan alih catu untuk
   memindahkan jaringan pelanggan ke DP lain tersebut.
6. Pelanggan yang berpindah rumah ingin bila di rumah barunya tersebut
   tetap terpasang nomor telepon yang sama seperti nomor telepon
   dirumahnya yang lama.


Sebelumnya yang harus diperhatikan ialah, untuk melakukan alih catu pada
MDF hal yang harus dilakukan pertama kali yaitu harus sudah terpasangnya
jaringan penanggal pelanggan ke DP ( Distribution Point ) yang baru.

Gangguan-gangguan atau masalah kerusakan yang biasa terjadi pada saluran
telekomunikasi jaringan kabel yaitu:
1. Isolasi
   Yaitu terputusnya kawat-kawat kabel a atau b.
2. Kontak
   Yaitu terjadinya hubung singkat antara kawat a dan kawat b dalam satu
   klem yang menyebabkan terjadinya pembebanan.
3. Cakap silang
   Yaitu terjadinya hubung singkat antara kawat a dan kawat a atau kawat b
   dan kawat b pada klem yang berbeda.
4. Induksi
   Yaitu gangguan yang tejadi karena kawat a dan b terkena tegangan asing,
   misalnya dari tegangan listrik PLN atau induksi antar pasangan kawat
   dalam satu kabel.
5. Korosi
   Yaitu gangguan yang terjadi karena kawat pada kabel berkarat.
6. Afleding
   Yaitu terjadinya grounding pada kawat a dan b yang dapat terjadi
   dikarenakan :
   a. kawat a terkena tanah
   b. kawat b terkena tanah
   c. kawat a dan kawat b saling bersentuhan.
Validasi Port / ANI

Validasi Port atau ANI ( Announcement Number Identification ) adalah suatu
langkah yang dilakukan untuk mengidentifikasikan tone yang terdapat pada
port terminal pembagi dengan menggunakan microtest yang berguna untuk
mengetahui nomor tumpangan (pelanggan) pada port tersebut. Selain itu
validasi port atau ANI juga dapat digunakan untuk mengetahui nomor
pelanggan yang melakukan tunggakan pembayaran (rekening telepon)
maupun untuk melakukan pengecekan gangguan.

Langkah melakukan validasi port atau ANI :

1. Siapkanlah peralatan seperti microtest, buku daftar kabel primer dan alat
   tulis.




                       Gambar 3.8 Buku catatan validasi port
2. Tentukanlah primer yang akan divalidasi atau ANI kemudian catatlah pada
   buku.
                  Gambar 3.9 Mencatat nomor primer yang di ANI

3. Carilah nomor klem pada strook terminal yang dituju sesuai dengan buku
   tersebut kemudian jepitkan kedua ujung penjepit jack microtest pada
   pengait besi yang terdapat pada port.




                   Gambar 3.10 Menjepit jack pada klem

4. Lihatlah apakah tombol power pada microtest sudah menyala atau
   belum.Apabila sudah menyala, tekan tombol power microtest.




                Gambar 3.11 Tombol power microtest menyala

5. Kemudian tekan 141 pada tombol dial pada microtest.
                  Gambar 3.12 Tekan 141 pada microtest

6. Dengarkan tone yang dikeluarkan oleh microtest, apabila tone yang keluar
   merupakan nomor pelanggan atau rekening tagihan maka proses ANI
   berhasil dilakukan.




              Gambar 3.13 Mendengarkan tone pada microtest

7. Cocokkanlah nomor pelanggan tersebut dengan buku, beri tanda
   menggunakan pulpen apabila klem tersebut baik dan tedengar tone sesuai
   nomor pelanggan.




                 Gambar 3.14 Memberi tanda pada klem yang baik
C. Gambar Kerja
                                         Petugas RK
                                         konfirmasi



                                Mencari nomor DSLAM out pada
                                          komputer



                                     ANI pada klem strook
                                         vertikal lama


                                Sambung test cord pada klem struk
                                      vertikal baru lain RK



          Sambung test
            cord pada                    Petugas RK
            klem lain                   mengecek tone


                   Klem tidak                                  Klem baik
                      baik


                                                            Penarikan jumper
                                                                  wire


                                                            Pengedhopan struk



                                                              ANI pada struk



                                                  Tidak                         Bagus


                                                                                Selesai


                         Gambar 3.15 Proses Alih Catu
D. Alat Dan Bahan




                     Gambar 3.16 Insertion tool EQN




                    Gambar 3.17 Insertion tool DSLAM
     Gambar 3.18 Microtest




Gambar 3.19 Jumper wire merah-putih




      Gambar 3.20 Test Cord
E. Langkah Kerja

  Alih catu pada pelanggan Speedy

  a. Petugas MDF mendapat konfirmasi dari petugas RK untuk melakukan alih
     catu untuk pelanggan Speedy.




                   Gambar 3.21 Petugas RK mengkonfirmasi petugas MDF

  b. Petugas MDF mencari data nomor DSLAM pelanggan Speedy melalui
     komputer.




                 Gambar 3.22 Tampilan nomor DSLAM pada komputer
c. Petugas MDF melakukan penganian pada klem lama pelanggan yang
   terrdapat pada strook vertikal primer untuk mengecek nomor pelanggan
   apakah sesuai dengan data teknis.




                   Gambar 3.23 Melakukan ANI pada strook vertikal

d. Petugas MDF mencolokkan test cord ke dalam klem baru yang terdapat
   pada strook vertikal yang berlainan RK untuk memberikan tone pada klem
   tersebut.




               Gambar 3.24 Mencolokkan test cord pada klem strook vertikal
e. Petugas RK mendengarkan tone yang dikeluarkan pada klem RK dengan
   melakukan penganian.Apabila tone yang keluar terdengar bagus dan
   sesuai dengan nomor pelanggan maka klem tersebut dapat dilakukan alih
   catu.




                   Gambar 3.25 Petugas RK mengecek tone


f. Petugas MDFmelakukan penarikan kabel jumper merah-putih menuju
   strook DSLAM out .




                    Gambar 3.26 Penarikan jumper wire merah-putih
g. Cabutlah kabel jumper merah-putih yang terdapat pada klem DSLAM
   pelanggan dengan pengait besi yang terdapat pada insertion tool kemudian
   masukkanlah ujung kabel merah-putih ke dalam lubang strook DSLAM
   out hingga sampai ke dalam klemnya




           Gambar 3.27 Memasukkan jumper wire ke klem DSLAM out


h. Lakukan pengedhopan pada klem DSLAM out tersebut dengan
   menggunakan insertion tool DSLAM.




                Gambar 3.28 Pengedhopan pada klem DSLAM out
i. Setelah itu ujung kabel merah-putih yang lain ditarik sampai menuju
   strook vertikal primer baru yang berlainan RK tersebut kemudian
   masukkan ujung kabel ke dalam klem strook vertikal primer tersebut lalu
   lakukan pengedhopan pada klem strook primer tersebut dengan insertion
   tool EQN.




                  Gambar 3.29 Pengedhopan pada klem strook vertikal

j. Untuk mengecek klem, lakukanlah penganian pada klem strook vertikal
   primer tersebut.Apabila tone yang keluar sesuai dengan nomor pelanggan
   maka alih catu sudah berhasil dilakukan.




               Gambar 3.30 Melakukan ANI pada klem strook vertikal
   k. Setelah alih catu berhasil dilakukan maka data teknis Speedy pelanggan
      yang baru dimasukkan ke dalam data di komputer SISKA sebagai laporan
      harian gangguan yang dilakukan oleh petugas Data Accuration pada
      bagian MDF.




                   Gambar 3.31 Petugas Data Accuration menginput data




F. Hasil Yang Diperoleh Dari Kompetensi
   Alih catu akan dinyatakan berhasil apabila terdapat tone pada klem strook
   primer yang telah di alih catu. Apabila setelah dilakukan alih catu pada klem
   strook vertikal primer masih tidak terdapat terdengar tone pada saat dilakukan
   penaganian dengan microtest maka ada kemumgkinan adanya kesalahan pada
   saat pengedhopan di bagian strook horizontal maka dari itu harus diperiksa
   kembali pengedhopannya pada strook tersebut.
                                 BAB IV

                               PENUTUP



A. Kesimpulan
  Alih catu pada MDF merupakan salah satu tindakan penanganan untuk
  mengatasi gannguan jaringan dalam rangka operasi maintenance dan lokalisir
  gangguan dengan melakukan perbaikan jaringan akses kawat tembaga yang
  dapat memulihkan jaringan dari gangguan sehingga proses komunikasi yang
  terjadipun dapat berlangsung lancar dan baik kembali. Alih catu adalah
  pemindahan kabel jumper wire yang dapat dilakukan dengan cara mengganti
  atau memindahkan jumper wire tersebut dari satu klem yang diindikasikan
  rusak pada strook terminal vertikal dari suatu RK ke klem lain yang baik pada
  suatu strook terminal vertikal yang berada pada RK yang berlainan. Umumnya
  Alih catu dilakukan karena tidak dapat dilakukannya Omzeting untuk
  mengatasi gangguan tersebut. Hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan
  alih catu bahwa DP haruslah dapat djangkau ke pelanggan. Terdapat beberapa
  hal yang dapat menyebabkan perlu dilakukannya alih catu diantaranya sebagai
  berikut :

  1. Gangguan pada kabel sekunder yang terhubung dengan DP namun tidak
      bisa dilakukan omzet pada DP
  2. Gangguan di antara titik sambung (span kabel)
  3. Kerusakan pada klem kabel sekunder yang terdapat di dalam DP namun
      tidak bias dilakukan omzet pada DP.
  4. Gangguan pada kabel primer pelanggan yang terdapat dalam suatu RK
      namun tidak bisa dilakukan omzeting primer
  5. Reabondry
  6. Permintaan pelanggan untuk dipasangkan nomor telepon yang sama di
      wilayah yang berbeda.
B. Saran

   Dalam menyikapi semua kesimpulan dari hasil Prakerin ini, dapat disimpulkan
   beberapa saran antara lain,

   a. Pemeliharaan     rutin     terhadap   jaringan   telekomunikasi   agar   lebih
      diperhatikan dan dilakukan dengan teliti. Karena pemeliharaan yang rutin
      dapat menjaga kualitas layanan dan ketahanan jaringan tersebut.
   b. Lebih memperhatikan perangkat–perangkat yang berada di Main
      Distribution Frame agar tidak mengalami kerusakan saat di pergunakan.