Docstoc

Qowaid Fiqh Al Umuru Bi Maqosidiha

Document Sample
Qowaid Fiqh Al Umuru Bi Maqosidiha Powered By Docstoc
					    ‫األمور بمقاصدها‬
(Al Umuru Bi Maqosidiha)



          MAKALAH
  Di susun guna memenuhi tugas
  Mata kuliah : Qowaid Fiqhiyah
 Dosen Pengampu : Abdul Ghofur




         Di susun Oleh :
Nunik Masfu'ah      : 0722110
Shohibul Ibad       : 072211030
          FAKULTAS SYARI'AH
       JURUSAN SIYASAH JINAYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
             SEMARANG
                2011
                                 ‫األمٌر تمقاصذىا‬
                          (Al Umuru Bi Maqosidiha)
I. Pendahuluan

    Kalimat ”AL UMURU BI MAQOSIDIHA” di atas adalah salah satu qoidah
dalam ilmu fiqih yang biasa dijadikan dasar bagi para ulama untuk memutuskan
suatu hukum tertentu. Kaidah di atas menunjukkan begitu pentingnya niat bagi
diterimanya suatu amal. Niat merupakan faktor penting untuk tercapainya suatu
tujuan. Ketika niat dalam melakukan suatu ibadah sudah salah atau bahkan tidak
ada niat maka tertolaklah amal kita.

    Niat merupakan suatu hal yang selalu ada dalam tingkah laku kita. Mustahil
kita berbuat tanpa landasan niat. Kecuali pada saat kondisi kita berada dibawah
alam sadar. Eksistensi niat sangat signifikan dalam membentuk kualitas
kreativitas, baik secara vertikal maupun horizontal. Dengan niat apa yang kita
lakukan akan bernilai ibadah di sisi tuhan dan niat pula keta’atan akan berubah
menjadi kema’siatan.

    Jadi dari paparan diatas, ternyata ada hal yang menjadi konsekwensi dari niat
itu sendiri. Pertama sebagai tolak ukur suatu berbuatan. Kedua sebagai motivator
dibalik suatu perbuatan. Oeh sebab itulah kami sangat antusias, ketika menerima
qaidah al-umuru bil-maqasidiha, sebagi tema dari makalah kami dari mata kuliah
Qowa’idul-Fiqh. Dan karena begitu besar konstribusinya terhadap amal perbuatan
kita, maka sudah sepantasnyalah kami mengulas makalah ini secara jelas dan
lugas, dalam rangka mempermudah pembaca dalam memahami isi-isi yang
terkandung di dalamnya.



II. Rumusan Masalah

    Dari tema “al Umuru Bi Maqosidiha” ada bebrapa rumusan masalah yang
akan kami bahas diantaranya :

   A) Pengertian dan dasar-dasarnya

   B) Ruang lingkupnya

   C) Fungsi pensyariatannya

   D) Hal-hal yang berkaitan dengannya
III. Pembahsan

   A) Pengertian dan dasar-dasarnya

            Al-Umuru Bil-Maqasidiha (segala sesuatu tergantung pada niatnya)
   merupakan salah satu dari qaidah-qaidah asasiyah fiqhiyyah. Landasan dari
   qoidah ini yaitu hadist nabi yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Imam
   Muslim yang disandarkan kepada Umar bin Khottab yang berbunyi:
                                                                      ْ ِ َ َُ                    ِ ُْْ ِ ِ
            :‫َّقٌُْ ل‬Iِ‫أَمْْز انمؤمنِ ْْنَ أَتِِ حفص عمز ْتن انخَطَّاب رضِ للاُ ع ْنوُ قَال: سمعْد رسٌُْ ل للا‬
             ُ             َ َ ُ َِ َ               َ      َ ِ َ ِ                َْ ْ

   ً ِ‫(( إِنَّما ْاألَعمال تِاننَِّّْاخ ً إِنَّما نِكمِّ امزئ ما نٌٍَ. فَمن كانَد ىجْ زذُوُ إِنََ للا‬
   َ                َ ِ ْ َ ْ َ                  َ َ ِ ْ ُ َ َ ِ                      ُ َ ْ         َ
   ‫رسٌُْ نِو فَيجْ زذُوُ إِنََ للاِ ً رسٌُْ نِو، ً من كانَد ىجْ زذُوُ نِذنَْا ُّصْثُيَا أًَْ امزأَج َّنكحيَا‬
      ُ ِْ َ ْ               ِْ      ُْ َ ِ ْ َ ْ َ َ ِ                 َ َ                َ ِ ِ           َ
   ‫فَيجْ زذُوُ إِنََ ما ىَاجز إِنَْو )) [رًاه إماما انمحذثْن أتٌ عثذ للا محمذ تن إسماعْم‬
                                                       ِْ َ َ        َ           َ ِ
   ‫تن إتزاىْم تن انمغْزج تن تزدستح انثخارُ ً اتٌ انحسْن مسهم تن انحجاج تن مسهم‬
                   ]‫انقشْزُ اننْساتٌرُ فِ صحْحْيما انهذّن ىما أصح انكرة انمصنفح‬
   Dari Amīr al-Mu’minīn, Abū Hafsh ‘Umar bin al-Khaththāb t, dia
   menjelaskan bahwa dia mendengar Rasulullah r bersabda:
   “Sesungguhnya setiap amal perbuatan tergantung pada niatnya. Dan
   sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) sesuai dengan niatnya.
   Barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya
   kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya karena urusan
   dunia yang ingin digapainya atau karena seorang wanita yang ingin
   dinikahinya, maka hijrahnya sesuai dengan apa yang diniatkannya
   tersebut” (HR. al-Bukhāriy dan Muslim)


   B) Ruang Lingkupnya

            Masalah-masalah fiqhiyah yang ada dibawah pembahasan qaidah
   al-umuru bi maqashidiha sangat beragam sekali. Sehingga menyebabkan
   perselisihan        dikalangan         ulama’          dalam        membatasi          kuantitas        ruang
   lingkupnya. Bahkan Ibnu Ubaidah pernah mengatakan bahwa tidak ada dari
   sekian banyak hadits nabi yang lebih luas cakupannya dan lebih baik
   faidahnya dari pada hadits yang menjelaskan tentang niat.
            Menurut Imam Syafi’i, Ahmad bin Hambal, Abu Daud dan Addaru
   Qutni bahwa hadits tersebut mencakup terhadap ⅓                                     dari permasalahan
   fiqhiyah. Dan pendapat ini diperjelas oleh Imam Baihaqi bahwa segala
   perbuatan manusia tidak pernah terlepas dari salah satu dari tiga unsur
   diantaranya: Hati, lidah dan anggota badan. Sehingga beliau sangat antusias
       ketika hadits tersebut dikatakan mencakup terhadap ⅓ dari permasalahan
       fiqhiyah, karena memang niat (hati) termasuk salah satu dari ketiga unsur
       instrumen manusia dalam menjalani kehidupannya. Sedangkan menurut Ibn
       Muhdi hadits tersebut meliputi 30 bab akan tetapi ada ulama’ yang
       mengatakan bahwa hadits tersebut meliputi 70 bab dari permasalah ilmu fiqh.


      C) Fungsi pensyariatannya

             Segala syariat yang ada tidak akan terlepas dari tujuan dibalik
       pensyariatannya demikian pula dengan niat di dalamnya ada beberapa maksud
       dan tujuan yang melatar belakanginya diantaranya :
          1. Untuk membedakan amalan yang bernilai ibadah dengan yang hanya
              bersifat kebiasaan belaka, seperti halnya makan, minum, tidur dan
              lain-lain. hal ini merupakan suatu keniscayaan bagi kita sebagai
              manusia, disadari atau tidak kita butuh keberadaanya karena hal yang
              seperti itu termasuk kategori kebutuhan primer. Akan tetapi jika dalam
              aktualisasinya kita iringi dengan niat untuk mempertegar tubuh
              sehingga lebih konsentrasi dalam berinteraksi dengan Tuhan maka
              disamping kita bisa memenuhi kebutuhan juga akan bernilai ibadah di
              sisi Allah. Akan tetapi bagi amalan-amalan yang secara eksplisit sudah
              berbeda dengan amalan yang tidak bernilai ibadah maka tidak
              diperlukan adanya niat seperti halnya iman, dzikir dan membaca
              al-Qur’an dan sebagainya. Dan juga termasuk amalan yang tidak
              membutuhkan niat adalah meninggalkan hal-hal yang dilarang oleh
              agama.
          2. Untuk membedakan satu ibadah dengan ibadah yang lainnya. Dengan
              niat ini pula kita bisa menciptakan beranika ragam ibadah dengan
              tingkatan yang berbeda namun dengan tata cara yang sama seperti
              halnya wudhu’, mandi besar, shalat dan puasa.


      D) Hal-hal yang berkaitan dengan niat

          1. Waktu berniat
Pada dasarnya niat itu haru berada diawal permulaan setiap ibadah seperti dalam
shalat. Akan tetapi ada beberapa amalan ibadah yang memang harus didahulukan dari
amalan itu sendiri bahkan apabila dikerjakan secara bersamaan amalan ibadahnya
tidak sah seperti dalam ibadah puasa.
             2. Tata cara berniat ketika dikaitkan dengan masalah shalat itu
                berbeda-beda tergantung status shalat yang dikerjakan.
                (a) Apabila yang dilakukan berstatus Fardlah maka ada 3 hal yang
                    harus terpenuhi yaitu : Qashdul fiil, Ta’yin dan niat fardlu
                (b) Apabila berstatus sunnah baik yang disandarkan pada waktu-waktu
                    dan sebab tertentu maka ada 2 hal yang harus terpenuhi
                    diantaranya : Qashdul fiil dan Ta’yin
                (c) Apabila berstatus sunnah mutlak maka yang harus terpenuhi
                    hanyalah Qashdul fiil
             3. Syarat-syarat yang harus terpenuhi bagi orang yang ingin berniat yaitu
                beragama islam, tamyis (mampu membedakan hal-hal yang bermanfaat
                dan yang bermudlarat bagi dirinya), yakin terhadap sesuatu yang
                diniati, sesuatu yang diniati harus merupakan hal-hal yang mungkin
                dilaksanakan.
             4. Perselisihan para ulama’ dalam masalah niat apakah niat tersebut
                termasuk rukun atau syarat.
Ada yang berpendapat termasuk rukun sebab niat itu merupakan bagian dari shalat itu
sendiri. Menuru Abu Thayyib niat termasuk syarat karena kalau tidak maka niat harus
diniati pula. Sedangkan pendapat Imam Ghazali dalam masalah ini ditafshil apabila
dikaitkan dengan shalat maka berstatus rukun dan apabila dengan puasa berstatus
syarat.


   IV. Kesimpulan

          Permasalahan niat merupakan sebuh polemik yang sangat erat korelasinya
   dengan perbuatan manusia bahkan kalau ditarik dalam tataran keagamaan niat
   merupakan masalah fundamintal yang berfungsi sebagai barometer kualitas amalan
   itu sendiri. Berangkat dari sinilah ulama’ terhadulu membuat satu kaidah dari
   beberapa kaidah asasiyah yang berbunyi Al-Umuru Bi Maqashidiha.

          Sedangkan sumber hukum dari kaidah di atas adalah sebuah hadits yang
   diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim yang disandarkan pada Umar Ibn
  Khattab yang berbunyi dan masih banyak hadits-hadits yang ada dibalik kaidah
  tersebut dengan sanad dan perawi yang berbeda-beda namun masih satu objek
  pembahasan dengan hadits yang disandarkan kepada Umar Ibn Khattab Ra.

      Sedangkan permasalahan-permasalahan fiqhyah yang termasuk dalam ruang
  lingkup kaidah di atas sangat beraneka ragam sekali sehingga para ulama’ dalam
  menyikapi permasalahan ini juga baraneka ragam ada yang berpendapat bahwa
  kaidah tersebut meliputi ⅓ dari permasalahan fiqhiyah ada yang mengatakan
  mencakup terhadap 70 bab bahkan ada ulama’ yang membatasi hanya 30 bab dari
  seluruh sub pembahasan ilmu fiqh.

      Dan tentunya dalam kaitannya (Al-Umuru Bi Maqashidiha) dengan amalan
  keagamaan seseorang memiliki beberapa fungsi dan konsekwensi, yang
  kesemuanya ini kami sudah menjelaskan dengan jelas dan lugas pada sub
  pembahasan.




                             DAFTAR PUSTAKA


      Asybah Wa An-Nadloir, Jalauddin As-Sayuthi, Al-hidayah, Surabaya, 1965
      Faraidlul Bahiyah, Umar Al-Faruq, Mahkota, surabaya
      Djazuli, HA, 2006, Kaidah-kaidah fiqh, : kencana

Mujib, Abdul, 1978, Al-Qawaidul Fiqhiyah, : Fakultas Tarbiyah IAIN

      Sunan Ampel

Usman, Muslih, 1999, Kaidah-kaidah Ushuliyah dan Fiqhiyah, : Rajawali

      Pers

Effendi, Satria, 2005, Ushul Fiqh, : Kencana

Mubarok, Jaih, 2002, Kaidah Fioqh, : Rajawali Pers

Djazuli, HA, 2005, Ilmu Fiqh, Jakarta : Kencana

Asjmuni, A Rahman, 1976, Kaidah-kaidah Fiqh, Jakarta : Bulan Bintang

Ash-shiddiqie, Hasbi, 1999, Mabahits fi al-Qawaidul Fiqhiyah.
Al-Nadwi, Ali Ahmad, 1998, Al-Qawaidul Fiqhiyah, Beirut : Dar al-Kalam

Faisal, Enceng Arif, 2004, Kaidah Fiqh Jinayah, Bandung : Pustaka Bani

      Quraisy

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Stats:
views:2346
posted:8/10/2011
language:Indonesian
pages:8
Description: Qowaid Fiqh Al Umuru Bi Maqosidiha