Your Federal Quarterly Tax Payments are due April 15th Get Help Now >>

Qodzaf dalam hukum pidana islam by kipanji

VIEWS: 634 PAGES: 12

qodzaf dalam hukum pidana islam

More Info
									    REINTERPRETASI HUKUMAN (HADD) JARIMAH QODZAF
     KAITANNYA DENGAN PEMBUKTIAN 4 ORANG SAKSI


I. PENDAHULUAN
               Setiap muslim diharapkan mampu menjaga nama baik saudaranya
  sesama muslim. Bukanlah membuka dan menebar rahasia atau aib yang yang
  akan mencemarkan nama baik sesama muslim lainnya, maka jika ada orang
  menuduh muslim menuduh berzina namun tidak dapat membuktikannya
  dengan mengemukakan 4 orang saksi, maka dia dianggap seorang yang telah
  berbuat qodzaf atau menuduh wanita/laki-laki baik telah melakukan zina.
               Al-Qur’an dan al-Sunnah telah menetapkan hukuman (hadd)
  tertentu    untuk   kesalahan-kesalahan   tertentu.    Kesalahan-kesalahan     itu
  merupakan dosa besar yang mengharuskan adanya hukuman bagi pelaku
  kesalahan    itu.   Hal   tersebut   dimaksudkan      untuk   memelihara     jiwa,
  mempertahankan kehormatan, dan menjamin kemaslahatan umat. Salah satu
  contoh dari kesalahan-kesalahan yang menyebabkan pelakunya dikenakan
  hukuman (hadd) adalah qodzaf. Lantas bagaimanakah reinterpretasi dan
  reaktualisasi jarimah qodzaf dalam hukum pidana islam dan hukum pidana
  positif? Untuk lebih jelasnya mengenai jarimah qodzaf dalam hukuman
  pidana islam dan hukum pidana positif akan penulis paparkan dalam
  pembahasan di bawah ini.


II. PERMASALAHAN
               Berdasarkan pendahuluan di atas, maka permasalah yang akan
  penulis bahas dalam makalah ini adalah:
  a. Apakah pengertian qodzaf?
  b. Bagaimanakan pembuktian jarimah qodzaf?
  c. Bagaimanakah hukuman (hadd) jarimah qodzaf?




                                        1
III. PEMBAHASAN
       A. Pengertian Qodzaf
                       Asal makna qodzaf adalah “arramyu” artinya melempar,
          umpamanya dengan batu atau lainnya,1 ini bisa dilihat dari firman Allah
          dalam surat Thaha ayat 39, sebagai berikut:
                        
                
                   
                     
             
             
            
                         
          Artinya “Yaitu: "Letakkanlah ia (Musa) di dalam peti, Kemudian
                     lemparkanlah ia ke sungai (Nil), Maka pasti sungai itu
                     membawanya ke tepi, supaya diambil oleh (Fir'aun) musuh-Ku
                     dan musuhnya. dan Aku Telah melimpahkan kepadamu kasih
                     sayang yang datang dari-Ku; dan supaya kamu diasuh di
                     bawah pengawasan-Ku.”
                       Arti qodzaf dalam kaitannya dengan zina dipetik dari firman
          Allah tersebut, sedangkan qodzaf yang dimaksud di sini adalah qodzaf
          zina yang arti syar’i yaitu menuduh zina.2
                       Dalam istilah syara’ qodzaf ada 2 macam,, sebagaimana
          disebutkan oleh Abdul Qodir Audah dalam kitabnya “At-Tasyri al-Jina’iy
          al-Islami” sebagai berikut:3

          ‫القرف ىف الشسيعة وىعان: قرف حيد عليه القاذف, وقرف يعاقب عليه‬

          ‫باالتعزيس فاماماحيد فيه القرف فهى زمي احملصه بالزوا أووفى وسبه و أماما‬


          1
            Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah, Juz II, Beirut, Cet II, 1980, hlm. 372.
          2
            Saifullah al-Aziz, Fikih Islam Lengkap, Surabaya, Terang, 2005, hlm. 535.
          3
            Abdul Qodir Audah, At-Tasyri’ al-Jinaiy al-Islam, (Beirut: Muasash Ar-Risalah), hlm.
455.




                                                2
                                  ‫ى‬
       ‫فيه التعزيس فهى السمي بغري الزوا أووفى الّسب سىاء كان مه زمي حمصىا أو‬

                    ‫غري حمصه ويلحق هبر الىىع السب الشتم ففييهما التعزيس أيضا‬
       1. Qodzaf yang diancam dengan hukuman hadd
            “Adalah menuduh orang muhson dengan tuduhan berbuat zina atau
           dengan tuduhan yang menghilangkan nasabnya.”
       2. Qodzaf yang diancam hukuman ta’zir
           “Adalah menuduh dengan tuduhan selain berbuat zina atau selain
           menghilangkan nasabnya, baik orang yang tertuduh itu muhson
           maupun ghairu muhson.”
           Contoh: tuduhan yang sharih (jelas/tegas) seperti “engkau orang yang
           berzina” adapun contoh tuduhan yang tidak jelas (dilalahnya) seperti
           menasabkan seseorang kepada orang lain yang bukan ayahnya.4
                    Untuk menjatuhkan hukuman dera bagi qadzif terdapat
       beberapa syarat, diantaranya:
       a. Syarat pada qadzif
                       Mengenai qadzif (orang yang menuduh orang lain
           berzina), fuqaha telah sependapat bahwasannya ada dua syarat yang
           harus dipenuhi, yaitu dewasa dan berakal, baik laki-laki maupun
           perempuan, merdeka atau hamba sahaya, orang muslim atau non
           muslim.5 Dalam keadaan ikhtiyar tidak dipaksa pihak lain.
       b. Syarat pada maqdzuf
                       Mengenai maqduf (orang yang dituduh berzina), fuqaha
           telah sependapat bahwa diantara syaratnya adalah berhimpunnya lima
           sifat padanya, yaitu: dewasa, merdeka, kehormatan diri, Islam dan
           padanya terdapat alat untuk berzina. Jika salah satu dari sifat-sifat itu
           tidak ada, maka tidak dikenakan hukuman hadd.6

       4
         A. Wardi Muslich, Hukum Pidana Islam, Jakarta, Sinar Grafika, 2005, hlm. 60.
       5
          M. Ibnu Ruysd al-Qurthubi, Terjemahan Bidayatul Mujtahid, alih bahasa M.
Abdurahman dan A. Haris Abdullah, Semarang, Asy-Syifa’, 1990, hlm. 634.
       6
         Ibid, hlm. 635.




                                         3
                               Jumhur fuqoha seluruhnya menyepakati syarat merdeka
                 pada maqdzuf, tetapi kemungkinan ada perselisihan padanya. Imam
                 Malik mensyaratkan adanya kemampuan bersetubuh pada usia
                 perempuan maqdzuf.
                               Dengan demikian berarti apabila zina dilakukan oleh
                 orang yang tidak berakal atau gila, maka yang menuduh zina tidak
                 dapat dijatuhi hukuman dera, karena sesungguhnya hukuman dera itu
                 dimaksudkan untuk mencegah terjadinya bahaya yang diterima
                 dengan sakit hati oleh sitertuduh. Padahal orang gila sama sekali tidak
                 ada bahaya yang diterimanya dengan sakit hati bila tertuduh zina.7
                               Apabila dilihat dari sudut niatnya, jika perbuatan yang
                 dilakukan oleh orang gila, stress, lalai, atau tidur tidaklah termasuk ke
                 dalam golongan perbuatan yang harus disertai niat, maka apabila
                 perbuatan tersebut berupa ketaatan, maka yang melakukan hal tersebut
                 tidak akan mendapat ganjaran pahala. Dan jika perbuatan-perbuatan
                 tersebut berupa maksiat, maka orang yang melakukannya juga tidak
                 akan mendapat ganjaran dosa.
    B. Pembuktian Jarimah Qodzaf
                          Jarimah qodzaf dapat dibuktikan dengan tiga macam ala bukti,
           yaitu sebagai berikut:
           a. Dengan saksi
                               Saksi merupakan alat bukti untuk jarimah qodzaf, syarat-
                 syarat saksi dalam jarimah ini sama dengan jarimah zina, yaitu:
                 -    Baligh
                 -    Dapat dipercaya
                 -    Adil
                 -    Dan tidak ada penghalang menjadi saksi




           7
               Sayyid Sabiq, Terjemahan Fiqh Sunnah 9, Cet I, Bandung: PT. Al-Ma’arif, 19984, hlm.
148-149.




                                                  4
                 Adapun jumlah atau banyaknya saksi jarimah qodzaf ini
   sekurang-kurangnya adalah 4 orang saksi. Sebagaimana dalam surat
   an-Nur ayat 13:
           
     
             
             
      
            
   Artinya: “Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan
              empat orang saksi atas berita bohong itu? Olah Karena
              mereka tidak mendatangkan saksi-saksi Maka mereka
              Itulah pada sisi Allah orang- orang yang dusta.”
                 Atas dasar inilah jumhur fuqoha berpendapat bahwa
   apabila saksi dalam jarimah zina kurang dari 4 orang maka mereka
   dikenai hukuman hadd sebagai penuduh, walaupun menurut sebagian
   yang lain mereka tidak dikenai hadd, selama mereka betul-betul
   bertindak sebagai seorang saksi.
                 Oleh sebab itu, saksi untuk tuduhan zina sungguh sangat
   berat, sehingga peristiwa perajaman bagi orang yang berzina dengan
   empat orang saksi zaman Nabi saw sampai hari ini belum pernah
   terjadi, yang terjadi adalah pengakuan dari pelaku sendiri, seperti
   kasus Maizd dan wanita Ghamdiyah.
b. Dengan pengakuan
                 Jarimah qodzaf bisa dibuktikan dengan adanya pengakuan
   dari pelaku (penuduh). Bahwa yang tertuduh orang lain yang
   melakukan zina. Pengakuan cukup dinyatakan 1 kali dalam majelis
   pengadilan.
c. Dengan sumpah
                 Menurut Imam Syafi’i jarimah qodzaf dapat dibuktikan
   dengan sumpah apabila tidak ada saksi dan pengakuan. Caranya
   adalah orang yang dituduh (korban) meminta kepada orang yang




                                 5
         menuduh (pelaku) untuk bersumpah bahwa tidak melakukan
         penuduhan. Apabila penuduh enggan bersumpah, maka jarimah
         qodzaf bisa dibuktikan dengan keengganan untuk bersumpah tersebut.
         Demikian pula sebaliknya, penuduh (pelaku) bisa meminta kepada
         orang yang dituduh (korban) bahwa penuduh benar melakukan
         penuduhan. Apabila orang yang dituduh enggan melakukan sumpah
         maka tuduhan dianggap benar dan dibebaskan dari hukuman hadd
         qodzaf.8
C. Hukuman (Hadd) Jarimah Qodzaf
                   Hukuman yang ditetapkan atas diri seseorang yang berzina
   dapat dilaksanakan dengan syaarat-syarat sebagai berikut:
  a. Hukuman pokok, yaitu jilid atau dera sebanyak 80 kali. Hukuman ini
         merupakan hukuman ini merupakan hukuman hadd, yaitu hukuman
         yang sudah ditetapkan oleh syara’ sehingga ulil amri tidak
         mempunyai hak untuk memberikan pengampunan. Adapun bagi orang
         yang dituduh, para ulama berbeda pendapat. Menurut Madzab Syafi’i,
         orang yang dituduh berhak memberikan pengampunan, karena hak
         manusia lebih dominan dari pada hak Allah. Sedangkan menurut
         madzab Hanafi bahwa korban tidak berhak mendapat pengampunan,
         karena didalam jarimah qodzaf hak Allah lebih dominan daripada hak
         manusia.9
                       Akan tetapi Imam Malik dan Imam Ahmad membenarkan
         pembuktian dengan sumpah, sebagaimana yang dikemukakan oleh
         madzaf Syafi’i. sebagian ulama Hanafiyah pendapatnya sama dengan
         madzaf Syafi’i atau membenarkan pembuktian dengan sumpah tetapi
         sebagian lagi tidak membanrkannya. Menurut hemat penulis, bahwa
         pembuktian dengan sumpah ini kurang menyakinkan bagi hakim
         apalagi jarimah yang hukumannya berat, seperti halnya jarimah
         qodzaf.

  8
      Abdul Qodir Audah, op., cit., hlm. 490.
  9
      Ibid, hlm. 491.




                                           6
        b. Hukuman tambahan, yaitu tidak diterimanya persaksiannya.
                           Kedua macam hukuman ini didasarkan pada firman Allah
             surat an-Nur ayat 4-5:
                        
                    
                         
              
                        
               
                       
                
               
                                
               
                       10
                            
             Artinya : “Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-
                          baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat
                          orang saksi, Maka deralah mereka (yang menuduh itu)
                          delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima
                          kesaksian mereka buat selama-lamanya. dan mereka Itulah
                          orang-orang yang fasik.”
             Artinya: “Kecuali orang-orang yang bertaubat sesudah itu dan
                          memperbaiki (dirinya), Maka Sesungguhnya Allah Maha
                          Pengampun lagi Maha Penyayang.”
    D. Taubatnya Qadzif dan Gugurnya Hukuman Qodzaf
                      Para ulama sepakat bahwa selama ia belum bertaubat maka
        kesaksiannya tidak dapat diterima karena ia telah melakukan sesuatu yang
        menyebabkan kefasikan yang juga mengakibatkan ia tidak dapat dianggap
        adil, sedangkan adil merupakan salah satu syarat diterimanya kesaksian
        seseorang. Adapun hukuman dera yang telah diterimanya itu meskipun
        dapat melebur dosa dan membebaskannya dari adzab akhirat, namun itu



        10
            Depag RI Proyek Pengadaan Kitab al-Qur’an , al-Qur’an dan Tafsirnya, jilid VII, PT.
Partja, Jakarta, 1986.




                                               7
bukan berarti dapat menghilangkan sifat kefasikan, dengan demikian
jelaslah bahwa yang dapat menghilangkan sifat fasik adalah taubat:
a. Pendapat Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad, yang
       mengatakan bahwa kesaksian dapat diterima bila taubatnya termasuk
       taubatan nasuha.
b. Pendapat Ahnaf Hasan Said bin Jabir Tsauri mengatakan bahwa
       kesaksiannya tidak dapat diterima.
                Pangkal perselisihan pendapat tersebut adalah pada penafsiran
ayat 4-5 surat an-Nur sebagai berikut:
-      Ulama yang menafsirkan bahwa pengecualian dalam ayat tersebut
       kembali pada masalah persaksian dan kefasikan, maka mereka
       berpendapat kesaksiannya dapat diterima.
-      Ulama yang menafsirkan bahwa pengecualian dalam ayat tersebut
       hanya kembali kepada masalah kefasikan, maka mereka bependapat
       kesaksiannya tidak dapat diterima.
                Oleh karena itu jika qodzif menerima hukum cambuk 80 kali,
menyesal dan berjanji bahwa ia tidak akan melakukan perbuatan itu lagi
di masa yang akan datang, maka hak sipilnya dalam memberikan
kesaksian dapat dipilih kembali. Tapi Imam Abu Hanifah mengemukakan
pertimbangan yang berbeda dan lebih berat. Bahwa lebih baik dari pada
hukuman cambuk 80 kali maupun dicabutnya hak memberi kesaksian tak
dapat dibatalkan dengan penyesalan.
                Hukuman (hadd) qodzaf dapat gugur karena hal-hal sebagai
berikut:11
a. Karena para saksi yang diajukan oleh orang yang dituduh mencabut
       kembali persangkaannya.
b. Karena orang yang dituduh melakukan zina dan membenarkan
       tuduhan tersebut.
c. Karena yang tertuduh zina tidak dapat mempercayai para saksi
       (menurut Imam Abu Hanifah).

11
     Ahmad Wardi Muslich, op. cit., hlm. 70.




                                         8
           d. Karena hilangnya kecakapan para saksi sebelum pelaksanaan
              hukuman juga menurut Imam Abu Hanifah.


IV. ANALISIS
                 Jika qodzif tidak bisa menunjukkan bukti atas kebenaran
    tuduhannya, maka ia wajib diberi hukuman yang bersifat materi yaitu didera
    80 kali dan hukuman tambahan yaitu tidak diterima kesaksiannya,12 karena
    sudah tidak adil lagi menurut Allah sebagaimana disebutkan dalam QS. surat
    an-Nur ayat 4-5.
                 Sedangkan dalam hukum pidana positif hukuman qodzaf diatur
    dalam pasal 310 ayat 1 KUHP, yang berbunyi: “Barang siapa yang sengaja
    menyerang kehormatan atau nama baik seseorang dengan menuduh sesuatu
    hal, yang maksudnya terang supaya hal itu diketahui umum, diancam karena
    pencemaran dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau denda
    paling banyak Rp. 4.500,00- .13
                 Hukuman yang diberikan hakim kepada para penghina atas
    (penuduh zina) yang terdapat dalam pasal 301 ayat 1 KUHP sudah termasuk
    hukuman yang sedikit banyak membuat jera pelakunya, dibandingkan dengan
    hukuman delapan puluh pukulan/dera tersebut.
                 Dengan demikian, hukuman bagi pelaku qodzaf tidak harus
    berupa hukuman fisik (badan) semata, tetapi juga ditambah dengan hukuman
    denda sebagai alternatifnya.
                 Dalam jarimah qodzaf ini permalasahan yang perlu kita analisis
    adalah mengenai pembuktian dengan 4 orang saksi yang harus diajukan
    sebagai bukti atas tuduhan dari qadzif. Hal ini sepertinya sangat sulit untuk
    dipenuhi, pasalnya sejak zaman Nabi sampai saat ini belum pernah terjadi
    atau ada qadzif yang dapat menghadirkan 4/minimal 2 orang saksi atas
    tuduhannya, yang ada adalah pengakuan dari pelaku sendiri, seperti kasus


      12
         Rokhmadi, Reaktualisasi Hukum Pidana Islam (Kajian tentang Formulasi Sanksi Hukum
Pidana Islam), Pusat Penelitian IAIN Walisongo, Semarang, 2005. hlm. 30.
      13
         Moejatno, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, Bumi Aksara, Jakarta, tt. hlm. 114.




                                            9
       Maizd dan wanita Ghamdiyah. Maka dari itu menurut hemat penulis,
       pembuktian 4 saksi tersebut perlu diinterpretasikan kembali,            menginngat
       banyak alat-alat bukti-bukti lainnya yang memiliki keotentikan dan
       kevaliditasan yang setara dengan 4 orang saksi, misalnya: hasil visum dari
       kedokteran, tes DNA, rekaman (audio/vidio), dan foto-foto serta alat-alat
       lainnya hasil perkembangan teknologi modern yang dapat dijadikan bukti.
       Karena menurut penulis pembuktian dengan alat-alat bukti teknologi modern
       jauh lebih relevan dan logis, tentunya tanpa harus menafikan pembuktian
       klasik sebagaimana yang dijelaskan di atas.

V. KESIMPULAN
                     Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa qodzaf dalam
       hukum pidana Islam meliputi:
       1. Qodzaf yang diancam dengan hukuman hadd adalah adalah menuduh
             orang muhson dengan tuduhan berbuat zina atau dengan tuduhan yang
             menghilangkan nasabnya.
       2. Qodzaf yang diancam hukuman ta’zir adalah menuduh dengan tuduhan
             selain berbuat zina atau selain menghilangkan nasabnya, baik orang yang
             tertuduh itu muhson maupun ghairu muhson.
                     Hukuman (hadd) bagi pelaku jarimah qodzaf adalah dera
       sebanyak 80 kali sebagai hukuman pokok dan tidak diterima persaksiannya
       sebagai hukuman tambahan. Adapun untuk pembuktian Jarimah qodzaf ini
       yaitu: dengan saksi, pengakuan, dan dengan sumpah.
                     Sedangkan dalam hukum pidana positif hukuman qodzaf diatur
       dalam pasal 310 ayat 1 KUHP, yang berbunyi: “Barang siapa yang sengaja
       menyerang kehormatan atau nama baik seseorang dengan menuduh sesuatu
       hal, yang maksudnya terang supaya hal itu diketahui umum, diancam karena
       pencemaran dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau denda
       paling banyak Rp. 4.500,00- .14


        14
             Prof. Moejatno, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, Bumi Aksara, Jakarta, tt. hlm.
114.




                                               10
             Hukuman yang diberikan hakim kepada para penghina atas
  (penuduh zina) yang terdapat dalam pasal 301 ayat 1 KUHP sudah termasuk
  hukuman yang sedikit banyak membuat jera pelakunya, dibandingkan dengan
  hukuman delapan puluh pukulan/dera tersebut.
             Dengan demikian, hukuman bagi pelaku qodzaf tidak harus
  berupa hukuman fisik (badan) semata, tetapi juga ditambah dengan hukuman
  denda sebagai alternatifnya.
             Pembuktian 4 saksi tersebut perlu diinterpretasikan kembali,
  menginngat banyak alat bukti lainnya yang memiliki keotentikan dan
  kevaliditasan yang setara dengan 4 orang saksi, misalnya: hasil visum dari
  kedokteran, tes DNA, rekaman (baik audio/vidio), dan foto-foto serta alat-alat
  lainnya hasil perkembangan teknologi modern yang dapat dijadikan bukti.
  Karena menurut penulis pembuktian dengan alat-alat bukti teknologi modern
  jauh lebih relevan dan logis, tentunya tanpa harus menafikan pembuktian
  klasik sebagaimana yang dijelaskan di atas.

VI. PENUTUP
             Demikianlah makalah dari kami, dan yang tertuang dalam
  makalah ini, menurut penulis bukanlah hal yang sempurna kebenarannya,
  akan tetapi ini adalah bagian dari proses pembelajaran menuju kebenaran.
  Oleh karena itu penulis masih sangat mengharapkan saran dan kritik dari
  teman-teman yang berpartispasi dan berperan aktif dalam forum diskusi ini.
  Semoga bermanfaat bagi kita semua. Amien.




                                      11
                                 Daftar Pustaka

Audah, Abdul Qodir, At-Tasyri’ al-Jinaiy al-Islam, Beirut, Muasash Ar-Risalah,
    tt.
Sabiq, Sayyid, Fiqh Sunnah, Juz II, Beirut, cet II, 1980.
             , Terjemah Fiqh Sunnah , cet I, Bandung, PT. Al-Ma’arif, 19984.
al-Qurthubi, M. Ibnu Rusyd, Bidayah al-Mujathid, Juz II, Dar al-Fikr, tt.
                        , Terjemah Bidayatul Mujtahid, alih bahasa M.
     Abdurahman dan A. Haris Abdullah, Semarang, Asy-Syifa’, 1990.
Muslich, A. Wardi, Hukum Pidana Islam, Jakarta, Sinar Grafika, 2005.
Zuhaili, Wahbah, al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, Juz VI, Dar al-Fikr,
     Damaskus, 1989.
RI, Depag , al-Qur’an dan Tafsirnya, jilid VII, PT. Partja, Jakarta, 1986.
Al-Aziz, Saifullah, Fikih Islam Lengkap, Surabaya, Terang, 2005.
Rokhmadi, Reaktualisasi Hukum Pidana Islam (Kajian tentang Formulasi
    Sanksi Hukum Pidana Islam), Pusat Penelitian IAIN Walisongo,
    Semarang, 2005.




                                        12

								
To top