PENGARUH ALOKASI PAJAK ANTAR PERIODA BERDASARKAN PSAK No. 46 TERHADAP KOEFISIEN RESPON LABA AKUNTANSI | EkyDakka.Com by ekydakka

VIEWS: 983 PAGES: 26

PENGARUH ALOKASI PAJAK ANTAR PERIODA BERDASARKAN PSAK No. 46 TERHADAP KOEFISIEN RESPON LABA AKUNTANSI - Jurnal Akuntansi - EkyDakka.Com

More Info
									Download @ http://ekydakka.com | SNA VII DENPASAR-BALI, 2-3 DESEMBER 2004


     PENGARUH ALOKASI PAJAK ANTAR PERIODA BERDASARKAN PSAK No. 46
              TERHADAP KOEFISIEN RESPON LABA AKUNTANSI

                                                    Oleh
                                           AKHMAD RIDUWAN*)
                         Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia (STIESIA) Surabaya


                                                 ABSTRACT
     Starting on January, 1st, 1999, Indonesian public companies must be applied
accounting for income taxes based on PSAK No.46. The objective of this study is to
examine: (1) the difference of stock price change in the period before and after PSAK
No.46 was implemented; (2) the effect of interperiod tax allocation based on PSAK
No.46 on the earning response coefficient (ERC); and (3) the ERC difference
between companies which reported deferred tax income and companies which
reported deferred tax expenses.
     This study used the sample of 111 manufacturing companies listed at the Jakarta
Stock Exchange. This study used time-series data during 1997-2002 for the first and
second model regression analysis, and used cross-sectional data on 2002 for the third
model regression analysis. The first model regression analysis measured earnings
response coefficient (ERC), with cummulative abnormal return as independent
variable and unexpected earnings as dependent variable. The ERC was used as
dependent variable in the third model regression analysis. The second model
regression analysis was used to test H1, and the third model was used to test H2 and
H3. Independent variables of the third model regression analysis were interperiod tax
allocation, earnings persistance, earnings growth, capital structure, and firm size.
     The result of this study provide empirical evidence that: (1) stock price change in
the period after implementing of the PSAK No.46 are higher than the period before
the PSAK No.46 was implemented; (2) interperiod tax allocation based on the PSAK
No.46 have negative effects on the ERC; and (3) earnings response coefficient (ERC)
for companies which reported deferred tax income were not differ from companies
which reported deferred tax expenses. The result of this study indicate that interperiod
tax allocation based on the PSAK No.46 was succesfully improve the income
statement informativeness and earnings quality. However, interperiod tax allocation
based on the PSAK No.46 generate perceive noise embedded in the reported earnings.
Therefore, additional disclosures are needed, particularly for economic substance of
deferred tax income and deferred tax expenses reported in income statement.
Keywords: earnings response coefficient, interperiod tax allocation, deferred tax income, deferred tax
         expenses


                                         1. PENDAHULUAN


*)   Penulis menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih kepada Prof. Dr. Bambang Subroto, SE, MM,
     Ak. dan Drs. Subagyo, MSi, Ak. (Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya Malang) atas bimbingan serta
     arahan beliau dalam penelitian dan penulisan artikel ini. Kekurangan dan kekeliruan yang mungkin terjadi
     adalah tanggung-jawab penulis.

                                                                                                         209
Download @ http://ekydakka.com | SNA VII DENPASAR-BALI, 2-3 DESEMBER 2004

Latar Belakang Penelitian
    Pada tahun 1997 Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) menerbitkan pernyataan standar
akuntansi keuangan (PSAK) No.46 yang mengatur tentang akuntansi pajak
penghasilan (PPh). PSAK No.46 diberlakukan secara efektif mulai tanggal 1 Januari
1999 bagi perusahaan publik, dan mulai tanggal 1 Januari 2001 bagi perusahaan
lainnya.
    Sebelum PSAK No.46 diberlakukan, praktik pelaporan keuangan yang berkaitan
dengan PPh berpedoman pada PSAK No.16 paragraf 77, yang memberikan kebebasan
kepada perusahaan untuk memilih dan menerapkan salah satu dari dua metoda
akuntansi PPh. Pertama, perusahaan dapat menghitung PPh menurut laba akuntansi.
Selisih antara beban PPh menurut laba akuntansi dengan utang pajak yang dihitung
menurut laba fiskal sebagai akibat adanya perbedaan temporer pengakuan pendapatan
dan beban, ditampung dalam akun “PPh ditangguhkan” dan dilaporkan dalam neraca
untuk dialokasikan pada beban PPh tahun-tahun mendatang. Metoda akuntansi pajak
penghasilan semacam ini disebut dengan metoda alokasi pajak antar perioda. Metoda
alokasi pajak antar perioda berdasarkan PSAK No.16 paragraf 77 ini identik dengan
metoda alokasi pajak antar perioda yang diatur dalam APB Opinion No.11 (lihat
Means, 1990). Kedua, perusahaan dapat menghitung dan melaporkan beban PPh
berdasarkan laba fiskal, tanpa diikuti oleh pelaporan PPh ditangguhkan dalam neraca,
sehingga tidak ada alokasi pajak pada tahun-tahun mendatang.
    Baridwan (2001:48) dan Harnanto (2003:110) menyatakan hal yang sama, bahwa
metoda akuntansi PPh tanpa alokasi pajak antar perioda merupakan metoda akuntansi
yang mengakibatkan laba bersih tidak dapat merefleksikan laba yang sebenarnya,
karena beban PPh yang dilaporkan tidak berkorelasi langsung (tidak match) dengan
laba sebelum pajak. Aktiva dan kewajiban dalam neraca juga dinyatakan terlalu
rendah (understated) sebagai akibat tidak dilaporkannya konsekuensi pajak di masa
mendatang atas perbedaan temporer pengakuan pendapatan dan beban.
    PSAK No.46 diterbitkan untuk memperbaiki kualitas pelaporan keuangan yang
berkaitan dengan pajak penghasilan. PSAK No.46 mengatur akuntansi pajak
penghasilan menggunakan dasar akrual, yang secara komprehensif menerapkan
pendekatan aktiva-kewajiban (asset-liability approach) atau berorientasi pada neraca
(balance-sheet oriented). Alokasi pajak antar perioda berdasarkan PSAK No.46
adalah sama dengan alokasi pajak antar perioda yang diatur dalam SFAS No.96 (lihat
Means, 1990).
    Penelitian tentang respon investor terhadap alokasi pajak antar perioda pernah
dilakukan oleh Beaver dan Dukes (1972). Mereka meneliti pengaruh alokasi pajak
antar perioda berdasarkan APB Opinion No.11 terhadap perubahan harga saham.
Hasil penelitian mereka mengungkapkan bahwa: (a) perubahan harga saham pada
perioda implementasi APB Opinion No.11 adalah lebih besar dibandingkan dengan
perioda sebelumnya; (b) pada perioda implementasi APB Opinion No.11 yang
diamati, harga saham bergerak searah dengan naik-turunnya laba akuntansi, tetapi
alokasi pajak antar perioda tidak menunjukkan pengaruh terhadap perubahan harga
saham tersebut; dan (c) perubahan harga saham untuk perusahaan yang melaporkan
penghasilan pajak tangguhan tidak berbeda dengan perusahaan yang melaporkan
beban pajak tangguhan.
    Setelah metoda akuntansi pajak penghasilan berdasarkan APB Opinion No.11
diganti dengan SFAS No.96, penelitian pengaruh alokasi pajak antar perioda terhadap


                                                                                 210
Download @ http://ekydakka.com | SNA VII DENPASAR-BALI, 2-3 DESEMBER 2004

perubahan harga saham dilakukan oleh Pincus (1997). Dengan membatasi
penelitiannya pada analisis perbedaan temporer yang berkaitan dengan persediaan
(LIFO untuk tujuan fiskal dan FIFO untuk tujuan akuntansi), Pincus (1997)
memperoleh bukti bahwa: (a) perubahan harga saham pada perioda implementasi
SFAS No.96 adalah lebih besar dibandingkan dengan perioda sebelumnya; (b) pada
perioda implementasi SFAS No.96 yang diamati, alokasi pajak antar perioda
menunjukkan pengaruh positif terhadap perubahan harga saham; dan (c) perubahan
harga saham untuk perusahaan yang melaporkan penghasilan pajak tangguhan adalah
lebih besar dari perusahaan yang melaporkan beban pajak tangguhan.
    Penelitian Beaver dan Dukes (1972) serta Pincus (1997) masing-masing menguji
pengaruh alokasi pajak antar perioda berdasarkan APB Opinion No.11 dan SFAS
No.96 terhadap perubahan harga saham. Berbeda dengan penelitian mereka,
penelitian ini menguji pengaruh alokasi pajak antar perioda berdasarkan PSAK No.46
terhadap koefisien respon laba akuntansi (earnings response coefficient – disingkat
ERC). Beaver (1998:103) menyebut ERC sebagai koefisien sensitivitas laba
akuntansi, yaitu ukuran sensitivitas perubahan harga saham terhadap perubahan laba
akuntansi.
Pertanyaan Penelitian
        Masalah dalam penelitian ini dirumuskan dalam tiga pertanyaan penelitian
berikut: (1) apakah ada perbedaan perubahan harga saham pada perioda sebelum dan
setelah implementasi alokasi pajak antar perioda berdasarkan PSAK No.46; (2)
apakah alokasi pajak antar perioda berdasarkan PSAK No.46 berpengaruh terhadap
koefisien respon laba akuntansi (ERC); dan (3) apakah ada perbedaan ERC pada
perusahaan yang melaporkan penghasilan pajak tangguhan dan perusahaan yang
melaporkan beban pajak tangguhan dalam laporan laba-rugi.
Motivasi Penelitian
       Motivasi penelitian ini adalah sebagai berikut. Pertama, PSAK No.46
diterbitkan untuk meningkatkan kualitas pelaporan keuangan yang berkaitan dengan
PPh. Alokasi pajak antar perioda berdasarkan berdasarkan PSAK No.46 diharapkan
dapat menghasilkan laporan keuangan yang lebih berkualitas dibandingkan PSAK
No.16 paragraf 77 (Harnanto 2003:110). Laporan keuangan yang berkualitas dapat
menunjukkan laba akuntansi yang berkualitas, yaitu laba akuntansi yang
mencerminkan kinerja keuangan perusahaan yang sebenarnya. Semakin berkualitas
laba akuntansi, maka makin tinggi respon investor (Lev dan Thiagarajan, 1993). Hal
tersebut memotivasi penelitian ini untuk menguji tentang ada/tidaknya perbedaan
perubahan harga saham pada perioda sebelum dan sesudah implementasi PSAK
No.46.
      Kedua, salah satu variabel yang mempengaruhi kualitas laba akuntansi adalah
metoda dan kebijakan akuntansi yang diterapkan oleh perusahaan. Collins dan Salatka
(1993) mengungkapkan bahwa penjabaran laporan keuangan mata uang asing
berdasarkan SFAS No.52 menghasilkan laba akuntansi yang lebih berkualitas
dibandingkan dengan SFAS No.8, dan karenanya, pengaruhnya terhadap ERC lebih
besar. Bandyopadhyay (1994) mengungkapkan bahwa perusahaan minyak dan gas
bumi yang menerapkan metoda full cost memiliki ERC yang lebih besar dibandingkan
dengan perusahaan yang menerapkan metoda succesful efforts. Dengan menggunakan
data pasar modal Indonesia, Chandrarin (2001) memberikan bukti bahwa laba (rugi)
selisih kurs penjabaran transaksi mata uang asing berpengaruh negatif terhadap ERC,
tetapi ia tidak menemukan perbedaan respon investor terhadap metoda pelaporan laba

                                                                                211
Download @ http://ekydakka.com | SNA VII DENPASAR-BALI, 2-3 DESEMBER 2004

(rugi) selisih kurs tersebut yang didasarkan pada PSAK No.10, ISAK No.4, dan
peraturan Bapepam.
     Penelitian tentang ERC secara terus menerus masih perlu dilakukan, untuk
memperoleh bukti empiris yang cukup tentang pengaruh metoda akuntansi terhadap
ERC. Penelitian ini merupakan perluasan dari penelitian-penelitian sebelumnya yang
berkaitan dengan pengaruh metoda akuntansi terhadap ERC tersebut. Pengaruh
alokasi pajak antar perioda berdasarkan PSAK No.46 terhadap ERC akan diuji dalam
penelitian ini.
     Ketiga, sebagai elemen pembentuk laba bersih, penghasilan (beban) pajak
tangguhan yang dilaporkan dalam laporan laba-rugi dapat dipandang sebagai
gangguan persepsian (perceived noise) yang terkandung dalam laba akuntansi,
sebagai pengaruh dari akuntansi akrual. Di samping itu, penghasilan (beban) pajak
tangguhan yang dilaporkan dalam laporan laba-rugi merupakan komponen transitori.
Komponen transitori adalah komponen yang hanya berpengaruh pada laporan
keuangan perioda tertentu, tidak terjadi secara terus-menerus, dan menyebabkan
angka laba-rugi menjadi berfluktuasi (Chandrarin 2001:26). Karena dapat dipandang
sebagai gangguan persepsian yang terkandung dalam laba akuntansi, penghasilan
(beban) pajak tangguhan yang dilaporkan dalam laporan laba-rugi mungkin direspon
secara berbeda oleh investor. Hal ini menjadi motivasi untuk menguji ada atau
tidaknya perbedaan ERC antara perusahaan yang melaporkan beban pajak tangguhan
dan penghasilan pajak tangguhan.
Tujuan Penelitian
        Penelitian ini bertujuan untuk: (1) memperoleh bukti empiris tentang ada-
tidaknya perbedaan perubahan harga saham pada perioda sebelum dan sesudah
implementasi PSAK No.46; (2) memperoleh bukti empiris tentang pengaruh alokasi
pajak antar perioda berdasarkan PSAK No.46 terhadap ERC; dan (3) memperoleh
bukti empiris tentang ada-tidaknya perbedaan ERC antara perusahaan yang
melaporkan beban pajak tangguhan dengan perusahaan yang melaporkan penghasilan
pajak tangguhan.
Kontribusi Penelitian
     Penelitian ini diharapkan mempunyai implikasi teoritis maupun praktis.
Implikasi teoritis yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut. (1)
memberikan dasar untuk menilai apakah PSAK No.46 telah berhasil memperbaiki
kualitas pelaporan keuangan atau belum; (2) memperkuat sintesis dalam literatur
akuntansi yang menyatakan bahwa metoda akuntansi merupakan salah satu faktor
yang mempengaruhi kualitas laba akuntansi; dan (3) bahan masukan bagi dewan
standar akuntansi keuangan IAI maupun Bapepam untuk mengevaluasi persyaratan
pengungkapan wajib yang berkaitan dengan PPh.
     Beberapa implikasi praktis yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai
berikut: (1) hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai salah satu pertimbangan bagi
akuntan publik untuk menyajikan pengungkapan yang cukup dan penjelasan secara
memadahi tentang beban dan penghasilan pajak tangguhan yang dilaporkan dalam
laporan laba-rugi, melebihi pengungkapan wajib yang disyaratkan oleh PSAK No.46
dan Bapepam. (2) memberikan petunjuk bagi manajemen tentang perlunya
kemampuan manajemen untuk mengelola perbedaan temporer (dalam pengakuan
pendapatan dan beban) sedemikian rupa sehingga laba akuntansi tetap dipersepsikan
berkualitas atau direspon positif oleh investor; dan (3) bahan pertimbangan bagi

                                                                                  212
Download @ http://ekydakka.com | SNA VII DENPASAR-BALI, 2-3 DESEMBER 2004

manajemen untuk memilih dan menerapkan metoda-metoda akuntansi yang
menghasilkan perbedaan temporer yang menguntungkan posisi perusahaan dalam
menghadapi persepsi publik, khususnya investor.


                      2. TINJAUAN PUSTAKA DAN PERUMUSAN HIPOTESIS
                                     A. Tinjauan Pustaka
1. Koefisien Respon Laba Akuntansi
     Penelitian Ball dan Brown (1968) menemukan bukti bahwa naik-turunnya laba
akuntansi mempengaruhi naik-turunnya harga saham. Hasil penelitian mereka
memberi petunjuk bahwa ada perbedaan respon pasar terhadap informasi laba
akuntansi, sekaligus menegaskan bahwa laba akuntansi yang dilaporkan dalam
laporan laba-rugi bermanfaat bagi investor untuk mengambil keputusan investasi.
Dalam perkembangan selanjutnya, penelitian Ball dan Brown dinilai masih
mengandung keterbatasan atau kelemahan (Scott 1997:112). Penelitian mereka dinilai
masih kurang teliti dalam mengukur besarnya respon harga saham terhadap laba
akuntansi, karena kandungan informasi yang diteliti oleh Ball dan Brown (1968)
hanya diklasifikasikan dalam berita baik (good news) dan berita buruk (bad news).
Berdasarkan kelemahan tersebut, penelitian selanjutnya banyak diarahkan pada
penelitian tentang koefisien respon laba akuntansi.
     Cho dan Jung (1991) mendefinisikan koefisien respon laba akuntansi (earnings
response coefficient –ERC) sebagai pengaruh setiap dollar laba kejutan (unexpected
earnings) terhadap return saham, yang ditunjukkan melalui slope coefficient dalam
regresi abnormal return saham dengan unexpected earnings. ERC disebut juga
koefisien sensitivitas laba akuntansi, yaitu ukuran sensitivitas perubahan harga saham
terhadap perubahan laba akuntansi (Beaver, 1998:103).
     Rerangka teoretis penelitian ERC diklasifikasikan oleh Cho dan Jung (1991) ke
dalam dua pendekatan atau model, yaitu: (1) model penilaian berbasis keekonomisan
informasi (information economics based valuation model). Model ini berasumsi
bahwa ERC merupakan fungsi dari sinyal kandungan informasi laba serta persepsi
investor terhadap sistem informasi. Semakin buruk sinyal kandungan informasi laba
dan persepsi investor terhadap sistem informasi (berarti semakin rendah kualitas
laba), maka semakin kecil ERC, dan sebaliknya; (2) model penilaian berbasis time-
series laba (time-series based valuation model). Model ini berasumsi bahwa ERC
merupakan fungsi dari time-series processes berbagai variabel informasi yang dapat
memprediksi besarnya dividen. Penelitian ini termasuk penelitian yang menggunakan
model pertama, yang menunjukkan bahwa ERC merupakan fungsi dari sinyal
kandungan informasi laba dan persepsi investor terhadap kualitas laba.
     Dari aspek empiris, penelitian tentang ERC diklasifikasikan oleh Cho dan Jung
(1991) ke dalam dua kelompok, yaitu: (1) penelitian tentang determinan ERC, dan (2)
penelitian tentang keinformatifan laba akuntansi atau kandungan informasi laba
akuntansi. Penelitian determinan ERC biasanya mengukur ERC sebagai suatu
hubungan laba akuntansi dengan return saham menggunakan jendela perioda panjang,
dengan fokus utama untuk mengidentifikasi determinan atau faktor-faktor yang
mempengaruhi ERC, tanpa mengkaitkannya dengan peristiwa tertentu. Determinan
ERC yang berhasil diikhtisarkan oleh Cho dan Jung berdasarkan hasil penelitian-
penelitian terdahulu meliputi persistensi laba, prediktabilitas laba, pertumbuhan laba,
risiko perusahaan, besaran perusahaan, dan efek industri. Penelitian tentang

                                                                                   213
Download @ http://ekydakka.com | SNA VII DENPASAR-BALI, 2-3 DESEMBER 2004

keinformatifan laba akuntansi diarahkan untuk menguji pengaruh suatu peristiwa
tertentu terhadap perubahan ERC dengan menggunakan jendela perioda pendek.
Sebagian besar penelitian keinformatifan laba berfokus pada (a) perubahan dalam
ketidakpastian laba akuntansi di masa depan, dan (b) perubahan kualitas laba
akuntansi. Jadi, dalam penelitian keinformatifan laba akuntansi, ERC dapat digunakan
sebagai petunjuk tentang prospek laba perusahaan di masa depan dan petunjuk
tentang kualitas laba akuntansi. Hal ini sesuai dengan pernyataan Lev dan Thiagarajan
(1993), bahwa semakin berkualitas laba akuntansi akan semakin tinggi ERC.
Penelitian ini termasuk dalam kelompok penelitian ERC yang ke dua, yaitu penelitian
tentang keinformatifan laba akuntansi atau kandungan informasi laba akuntansi.
2. Kualitas Laba Akuntansi
     Laba akuntansi yang berkualitas adalah laba akuntansi yang mempunyai sedikit
atau tidak mengandung gangguan persepsian (perceived noise) di dalamnya dan dapat
mencerminkan kinerja keuangan perusahaan yang sesungguhnya (Chandrarin, 2003);
sedangkan Ayres (1994) menyatakan bahwa laba akuntansi dikatakan berkualitas
apabila elemen-elemen yang membentuk laba tersebut dapat diintepretasikan dan
dipahami secara memuaskan oleh pihak yang berkepentingan.
      Menurut Hayn (1995), gangguan persepsian dalam laba akuntansi dapat
disebabkan oleh peristiwa transitori (transitory events) atau penerapan konsep akrual
dalam akuntansi (accounting accruals). Peristiwa transitori adalah peristiwa yang
terjadi pada waktu tertentu dan hanya berpengaruh pada perioda terjadinya peristiwa
tersebut. Chandrarin (2001:26) menjelaskan bahwa komponen transitori merupakan
komponen yang hanya berpengaruh pada perioda tertentu, terjadinya tidak persisten
atau tidak terus-menerus, dan mengakibatkan angka laba (rugi) yang dilaporkan
dalam laporan laba-rugi menjadi berfluktuasi. Gangguan persepsian dalam laba
akuntansi akibat penerapan konsep akrual yang dicontohkan oleh Hayn (1995) antara
lain adalah write-down, write-offs, dan provision of losses, yang sekaligus merupakan
komponen transitori dalam laporan laba-rugi, karena terjadinya tidak secara terus
menerus dan hanya mempengaruhi laporan laba-rugi perioda berjalan. Chandrarin
(2001:1) berpendapat bahwa semakin besar gangguan persepsian yang terkandung
dalam laba akuntansi, maka semakin rendah kualitas laba akuntansi.
     Walaupun Chandrarin (2003) dan Ayres (1994) telah mengemukakan
karakteristik laba akuntansi yang berkualitas, tetapi dalam praktiknya, kualitas laba
akuntansi tersebut sulit untuk diukur. Oleh karena itu, masing-masing peneliti
menggunakan pendekatan yang berbeda untuk mengukur kualitas laba akuntansi.
Beberapa peneliti menggunakan variabel metoda akuntansi sebagai proksi kualitas
laba akuntansi, yang pada hakikatnya hanya menunjukkan sinyal tentang kualitas laba
akuntansi, misalnya SFAS No.2 tentang akuntansi biaya riset dan pengembangan
(Wasley, 1991), SFAS No.52 tentang penjabaran laporan keuangan mata uang asing
(Collins dan Salatka, 1993), metoda akuntansi untuk perusahaan minyak dan gas bumi
(Bandyopadhyay, 1994). Peneliti-peneliti lainnya menggunakan variabel selain
metoda akuntansi sebagai proksi kualitas laba akuntansi, yang pada hakikatnya juga
hanya menunjukkan sinyal tentang kualitas laba akuntansi, misalnya variabel luas
ungkapan sukarela (Widiastuti, 2001), konservatisma akuntansi (Dewi, 2003),
ketepatan waktu pelaporan keuangan (Jaswadi, 2003), spesialisasi industri auditor
(Mayangsari, 2002), kualitas auditor (Suryono, 2003), kompleksitas informasi (Cheng
et al., 1992 dan Kusuma, 2003), serta variabel laba/rugi selisih kurs (Chandrarin,



                                                                                 214
Download @ http://ekydakka.com | SNA VII DENPASAR-BALI, 2-3 DESEMBER 2004

2001 dan 2003). Penelitian ini menggunakan variabel alokasi pajak antar perioda
sebagai proksi kualitas laba akuntansi.
3. PSAK No.46 dan Alokasi Pajak Antar Perioda
     Praktik pelaporan keuangan yang berkaitan dengan PPh di Indonesia telah
mengalami beberapa kali perubahan. Dalam perioda berlakunya sistem pemungutan
pajak yang dikenal sebagai sistem MPS-MPO, laporan laba-rugi praktis tidak
menyajikan beban PPh, dan PPh yang telah dibayar dilaporkan dalam neraca sebagai
uang muka pajak sampai diterbitkannya SKP-Rampung oleh kantor pelayanan pajak.
Oleh karena itu laba sebelum pajak selalu menjadi bottom-line laporan laba-rugi pada
masa itu (Harnanto, 2003:109). Perubahan sistem pemungutan pajak dari MPS-MPO
menjadi self-assessment pada tahun 1984, mendorong praktik pelaporan keuangan
untuk mulai menyajikan beban PPh dalam laporan laba-rugi tetapi dengan jumlah
yang ditaksir, diikuti dengan pelaporan taksiran utang PPh di neraca. Praktik
pelaporan PPh seperti ini berlangsung hingga diterbitkannya PSAK No.16 (khususnya
paragraf 77).
     PSAK No.16 paragraf 77 memberi kebebasan kepada perusahaan untuk
melaporkan beban pajak penghasilan dalam laporan laba-rugi: (a) sebesar jumlah
yang dihitung berdasarkan laba fiskal (tanpa alokasi pajak antar perioda), atau (b)
sebesar jumlah yang dihitung berdasarkan laba akuntansi (dengan alokasi pajak antar
perioda),
     PSAK No.46 yang berlaku mulai tanggal 1 Januari 1999 mengakhiri praktik
pelaporan PPh berdasarkan PSAK No.16 paragraf 77. Perbedaan pokok antara PSAK
No.46 dengan PSAK No.16 paragraf 77 adalah, bahwa PSAK No.46 mengatur
akuntansi PPh menggunakan dasar akrual, yang secara komprehensif menerapkan
pendekatan aktiva-kewajiban (asset-liability approach), sedangkan alokasi pajak antar
perioda berdasarkan PSAK No.16 paragraf 77 dilakukan dengan pendekatan laba-rugi
(income-statement approach).
     Berdasarkan PSAK No.46, alokasi pajak antar perioda diawali dengan adanya
keharusan bagi perusahaan untuk mengakui aktiva dan kewajiban pajak tangguhan
yang harus dilaporkan dalam neraca. Pengakuan aktiva dan kewajiban pajak
tangguhan tersebut merupakan pengakuan tentang konsekuensi pajak di masa
mendatang atas efek akumulatif perbedaan temporer pengakuan penghasilan dan
beban untuk tujuan akuntansi dan tujuan fiskal.
     Dalam pendekatan aktiva-kewajiban, yang dimaksud dengan perbedaan temporer
adalah perbedaan antara dasar pengenaan pajak (DPP) dari suatu aktiva atau
kewajiban dengan nilai tercatat aktiva atau kewajiban tersebut. Efek perubahan
perbedaan temporer yang terefleksi pada kenaikan atau penurunan aktiva dan
kewajiban pajak tangguhan harus diperlakukan sebagai beban pajak tangguhan
(deferred tax expenses) atau penghasilan pajak tangguhan (deferred tax income), dan
dilaporkan dalam laporan laba-rugi tahun berjalan bersama-sama beban pajak kini
(current tax expenses), dengan penyajian secara terpisah.
     Dengan demikian, berdasarkan PSAK No.46, PPh yang dilaporkan dalam
laporan laba-rugi akan menunjukkan (1) beban pajak kini ditambah beban pajak
tangguhan, atau (2) beban pajak kini dikurangi penghasilan pajak tangguhan. Jumlah
agregat beban pajak kini dan pajak tangguhan, dapat berupa (a) beban pajak (tax
expenses), atau (b) penghasilan pajak (tax income).


                                                                                 215
Download @ http://ekydakka.com | SNA VII DENPASAR-BALI, 2-3 DESEMBER 2004

                               B. Perumusan Hipotesis
1. Perbedaan perubahan harga saham (cummulative abnormal return - CAR) pada perioda
   sebelum dan sesudah implementasi PSAK No.46.
    Means (1990) berpendapat, bahwa alokasi pajak antar perioda berdasarkan
balance-sheet approach menghasilkan neraca yang lebih realistis, karena neraca
melaporkan konsekuensi pajak di masa mendatang, sehingga memungkinkan investor
untuk membuat prediksi yang lebih baik tentang laba dan arus kas di masa
mendatang. Di samping itu, laporan laba-rugi dapat mencerminkan kinerja perusahaan
yang sesungguhnya, terutama karena beban PPh telah berkorelasi langsung dengan
laba sebelum pajak. Laporan laba-rugi juga lebih informatif, karena dilaporkannya
penghasilan (beban) pajak tangguhan secara terpisah dengan beban pajak kini.
    Sebaliknya, Means (1990) menilai bahwa alokasi pajak antar perioda berdasarkan
income-statement approach juga menghasilkan laporan laba-rugi yang dapat
mencerminkan laba bersih akuntansi yang sebenarnya, karena beban PPh berkorelasi
langsung dengan laba sebelum pajak. Tetapi, karena beban PPh tersebut dihitung dari
laba akuntansi dan dilaporkan tanpa memisahkan komponen beban pajak kini dan
beban pajak tangguhan, maka keinformatifan pelaporan elemen-elemen pembentuk
laba menjadi kurang. Selanjutnya, Means (1990) menyatakan bahwa alokasi pajak
antar perioda berdasarkan income-statement approach memang menghasilkan neraca
yang sedikit menggambarkan konsekuensi pajak di masa mendatang (yang tercermin
pada akun PPh yang ditangguhkan), tetapi saldo debit atau kredit akun PPh yang
ditangguhkan tersebut sulit untuk diintepretasikan substansi maknanya.
    Sebelum PSAK No.46 diberlakukan, perusahaan juga diperbolehkan untuk
melaporkan beban pajak penghasilan tanpa alokasi pajak antar perioda. Apabila
metoda ini yang diterapkan, Harnanto (2003:109) berpendapat bahwa neraca kurang
dapat menggambarkan realita ekonomi perusahaan yang sebenarnya, terutama karena
tidak dilaporkannya konsekuensi pajak di masa depan. Di samping itu, laporan laba-
rugi juga tidak dapat menunjukkan laba bersih akuntansi sebenarnya, karena beban
PPh yang dilaporkan tidak berkorelasi langsung dengan laba sebelum pajak.
    Uraian di atas dapat digunakan sebagai dasar untuk menyatakan bahwa akuntansi
PPh dengan alokasi pajak antar perioda berdasarkan pendekatan laba-rugi (income-
statement approach) menghasilkan laba akuntansi yang lebih berkualitas daripada
akuntansi PPh tanpa alokasi pajak; tetapi akuntansi PPh dengan alokasi pajak antar
perioda berdasarkan pendekatan neraca (balance-sheet approach) menghasilkan laba
akuntansi yang lebih berkualitas daripada akuntansi PPh dengan alokasi pajak antar
perioda berdasarkan pendekatan laba-rugi. Hal ini telah dibuktikan oleh Beaver dan
Dukes (1972), yang menguji perbedaan perubahan harga saham pada perioda
diimplementasikannya alokasi pajak antar perioda berdasarkan APB Opinion No.11
dan perioda sebelumnya. Beaver dan Dukes (1972) menemukan bukti bahwa
perubahan harga saham pada perioda setelah implementasi APB Opinion No.11
adalah lebih besar dibandingkan dengan perioda sebelumnya. Mereka menyatakan
bahwa hal tersebut terjadi karena kualitas laba akuntansi pada perioda setelah
implementasi APB Opinion No.11 adalah lebih baik daripada perioda sebelumnya.
   Setelah alokasi pajak antar perioda berdasarkan APB Opinion No.11 diganti
dengan SFAS No.96, Pincus (1997) kembali menguji perbedaan perubahan harga
saham pada perioda sebelum dan sesudah implementasi SFAS No.96 tersebut. Pincus
(1997) menyimpulkan bahwa kualitas laba akuntansi pada perioda implementasi
SFAS No.96 adalah lebih baik dibandingkan dengan perioda sebelumnya.

                                                                               216
Download @ http://ekydakka.com | SNA VII DENPASAR-BALI, 2-3 DESEMBER 2004

Kesimpulan tersebut dibuat berdasarkan bukti dari hasil penelitiannya bahwa
perubahan harga saham pada perioda implementasi SFAS No.96 adalah lebih besar
dibandingkan perioda sebelumnya
   Temuan Beaver dan Dukes (1972) serta Pincus (1997) tersebut konsisten dengan
pernyataan Holthausen dan Verrechia (1988), bahwa bahwa laporan laba-rugi
mempunyai pengaruh yang lebih besar terhadap penilaian investor terhadap
perusahaan ketika angka-angka yang dilaporkan lebih mencerminkan nilai ekonomi
yang sesungguhnya. Lev dan Thiagarajan (1993) juga menyatakan bahwa semakin
berkualitas laba akuntansi, semakin tinggi respon investor. Hal ini digunakan sebagai
dasar untuk menyatakan hipotesis berikut:
H1:Perubahan harga saham pada perioda setelah implementasi PSAK No.46 lebih
besar dari perioda sebelum implementasi PSAK No.46.
2. Pengaruh alokasi pajak antar perioda berdasarkan PSAK No.46 terhadap koefisien respon
   laba akuntansi (ERC)
    Foster (1986:25) menyatakan bahwa investor yang mengambil keputusan investasi
atas dasar informasi dalam laporan keuangan harus memahami sifat dan karakteristik
laporan keuangan yang dijadikan dasar tersebut. Salah satu karakteristik laporan
keuangan adalah bahwa laporan keuangan merupakan hasil dari proses akuntansi yang
menerapkan konsep akrual. Alokasi pajak antar perioda berdasarkan PSAK No.46
juga merupakan hasil penerapan konsep akuntansi akrual, yang tercermin dari jumlah
beban atau penghasilan pajak tangguhan yang dilaporkan bersamaan dengan beban
pajak kini (current tax) dalam laporan laba-rugi.
    Dalam keadaan tertentu, jumlah penghasilan (beban) pajak tangguhan yang
dilaporkan dapat lebih besar dari laba (rugi) sebelum pajak, sehingga sangat
berpengaruh terhadap fluktuasi laba (rugi) bersih setelah pajak. Oleh karena itu,
investor yang konservatif harus memperhatikan item-item akrual, terutama item
akrual yang bersifat transitori (Foster 1986:30). Item-item akrual yang bersifat
transitori dapat menimbulkan gangguan persepsian (perceived noise) dalam laba
akuntansi. (Hayn, 1995).
    Penghasilan (beban) pajak tangguhan dapat dianggap sebagai gangguan
persepsian dalam laba akuntansi, karena dua hal: (1) beban (penghasilan) pajak
tangguhan yang dilaporkan dalam laporan laba-rugi merupakan hasil dari penerapan
konsep akuntansi akrual (accrual accounting) dalam pengakuan pendapatan dan
beban serta peristiwa lain yang memiliki konsekuensi pajak; (2) penghasilan (beban)
pajak tangguhan yang dilaporkan dalam laporan laba-rugi merupakan komponen
transitori, yang berarti bahwa penghasilan (beban) pajak tangguhan tersebut tidak
terjadi secara terus-menerus dan hanya terjadi pada perioda tertentu, yaitu selama
perusahaan menerapkan metoda dan kebijakan akuntansi yang berbeda dengan
peraturan perpajakan. Jika metoda dan kebijakan akuntansi yang diterapkan
perusahaan adalah sama dengan metoda akuntansi berdasarkan peraturan perpajakan,
pelaporan penghasilan (beban) pajak tangguhan dalam laporan laba-rugi akan dapat
dihindari.
    Chandrarin (2001:1) menyatakan bahwa laba (rugi) selisih kurs juga merupakan
gangguan persepsian dalam laba akuntansi, karena item tersebut merupakan
komponen transitori. Semakin besar laba (rugi) selisih kurs yang dilaporkan dalam
laporan laba-rugi (berarti semakin besar gangguan persepsian yang terkandung dalam
laba akuntansi), maka semakin rendah kualitas laba akuntansi. Semakin rendah

                                                                                    217
Download @ http://ekydakka.com | SNA VII DENPASAR-BALI, 2-3 DESEMBER 2004

kualitas laba akuntansi, akan semakin rendah respon investor (Lev dan Thiagarajan,
1993). Hal ini dibuktikan oleh Chandrarin (2001:97), bahwa laba (rugi) selisih kurs
akibat transaksi mata uang asing berpengaruh negatif terhadap ERC. Temuan
penelitian Chandrarin (2001:97) ini konsisten dengan temuan Collins dan Salatka
(1993) yang meneliti tentang pengaruh sinyal gangguan laba akuntansi terhadap
koefisien respon laba akuntansi (ERC).
    Berkaitan dengan alokasi pajak antar perioda, penelitian Beaver dan Dukes (1972)
memperoleh bukti bahwa harga saham berubah searah dengan naik-turunnya laba
akuntansi, tetapi mereka tidak berhasil membuktikan adanya pengaruh alokasi pajak
antar perioda berdasarkan APB Opinion No.11 terhadap perubahan harga saham
tersebut. Ketidak-berhasilan mereka untuk menunjukkan pengaruh alokasi pajak antar
perioda terhadap perubahan harga saham, konsisten dengan pendapat Means (1990)
yang menyatakan bahwa saldo akun PPh ditangguhkan yang dilaporkan dalam neraca
membingungkan pembaca laporan keuangan karena makna substansialnya sulit untuk
diintepretasikan.
    Pincus (1997) menemukan bukti yang berbeda dengan Beaver dan Dukes (1972).
Dengan membatasi analisis pada perbedaan temporer untuk item persediaan
(penilaian LIFO untuk tujuan fiskal dan FIFO untuk tujuan akuntansi), Pincus (1997)
menemukan bukti bahwa perubahan harga saham bergerak searah dengan naik-
turunnya laba akuntansi, dan alokasi pajak antar perioda berdasarkan SFAS No.96
berpengaruh positif terhadap perubahan harga saham tersebut. Temuan Pincus (1997)
ini konsisten dengan pendapat Means (1990) yang menyatakan bahwa alokasi pajak
antar perioda berdasarkan SFAS No.96 lebih mudah bagi pembaca laporan keuangan
untuk menginterpretasikan substansi maknanya.
    Dalam penelitian Beaver dan Dukes (1972) maupun Pincus (1997), variabel
alokasi pajak antar perioda diperlakukan sebagai determinan perubahan harga saham.
Berbeda dengan mereka, penelitian ini memperlakukan variabel alokasi pajak antar
perioda berdasarkan PSAK No.46 sebagai determinan ERC, bukan sebagai
determinan harga saham. Penelitian ini memperlakukan variabel alokasi pajak antar
perioda sebagai proksi dari kualitas laba akuntansi, yang akan diuji pengaruhnya
terhadap ERC. Oleh karena itu, perumusan hipotesis penelitian ini mengacu pada
hasil penelitian Collins dan Salatka (1993) serta Candrarin (2001), yang menyatakan
bahwa laba (rugi) selisih kurs berpengaruh negatif terhadap ERC. Karena item alokasi
pajak antar perioda memiliki karakteristik yang sama dengan item laba (rugi) selisih
kurs (yaitu merupakan item hasil akuntansi akrual dan item transitori yang dapat
menimbulkan gangguan persepsian dalam laba akuntansi), maka hipotesis penelitian
ini dirumuskan sebagai berikut:
H2:Alokasi pajak antar perioda berdasarkan PSAK No.46 berpengaruh negatif
terhadap koefisien respon laba akuntansi (ERC)
3. Perbedaan koefisien respon laba akuntansi (ERC) pada perusahaan yang melaporkan
   penghasilan pajak tangguhan dan perusahaan yang melaporkan beban pajak tangguhan
    Pada bidang pengujian yang lain tentang alokasi pajak antar perioda berdasarkan
APB Opinion No.11, penelitian Beaver dan Dukes (1972) juga memperoleh bukti
bahwa perubahan harga saham untuk perusahaan yang melaporkan penghasilan pajak
tangguhan tidak berbeda dengan perusahaan yang melaporkan beban pajak tangguhan.
Perubahan harga saham yang tidak berbeda antara dua perusahaan tersebut
menunjukkan bahwa investor tidak merespon secara berbeda terhadap pelaporan
penghasilan (beban) pajak tangguhan tersebut. Hal ini dimungkinkan terjadi karena

                                                                                218
Download @ http://ekydakka.com | SNA VII DENPASAR-BALI, 2-3 DESEMBER 2004

penghasilan (beban) pajak tangguhan tersebut tidak tampak secara langsung dalam
laporan laba-rugi. Besaran penghasilan (beban) pajak tangguhan berdasarkan APB
Opinion No.11 dapat dideteksi dengan melihat kenaikan (penurunan) saldo akun PPh
ditangguhkan yang dilaporkan dalam neraca, dan hal tersebut sulit untuk
diinterpretasikan oleh investor (Means, 1990).
    Pincus (1997) memperoleh bukti yang berbeda dengan Beaver dan Dukes (1972).
Pincus (1997) menemukan bukti bahwa penerapan asumsi arus biaya LIFO untuk
tujuan fiskal dan FIFO untuk tujuan akuntansi, direspon negatif oleh investor pada
tahun awal penerapannya, tetapi direspon positif pada tahun-tahun berikutnya. Hal ini
terjadi karena pada tahun awal penerapan LIFO (untuk tujuan fiskal) dan FIFO (untuk
tujuan akuntansi), perusahaan harus melaporkan beban pajak tangguhan dalam
laporan laba-rugi, sedangkan pada tahun-tahun berikutnya perusahaan melaporkan
penghasilan pajak tangguhan. Pincus (1997) juga menunjukkan bahwa rata-rata
perubahan harga saham pada perusahaan yang melaporkan penghasilan pajak
tangguhan adalah lebih besar dari perusahaan yang melaporkan beban pajak
tangguhan. Walaupun temuan Pincus (1997) terbatas dalam penerapan asumsi arus
biaya (FIFO versus LIFO), bukti tersebut dapat digunakan sebagai dasar untuk
menyatakan bahwa penghasilan dan beban pajak tangguhan direspon oleh investor
secara berbeda.
    Penelitian ini berbeda dengan penelitian Beaver dan Dukes (1972) maupun Pincus
(1997), terutama dalam perlakuan variabel alokasi pajak antar perioda (penghasilan
atau beban pajak tangguhan). Mereka memperlakukan variabel penghasilan (beban)
pajak tangguhan sebagai variabel yang mempengaruhi perubahan harga saham,
sedangkan penelitian ini memperlakukan variabel penghasilan (beban) pajak
tangguhan sebagai variabel yang mempengaruhi ERC.
    Penghasilan maupun beban pajak tangguhan, keduanya merupakan komponen
transitori dalam laporan laba-rugi dan dapat dipandang sebagai gangguan persepsian
(perceived noise) yang terkandung dalam laba akuntansi. Hayn (1995) menyatakan
bahwa, semakin besar komponen transitori (yang berarti semakin besar gangguan
persepsian dalam laba akuntansi), koefisien respon laba akuntansi (ERC) dapat
semakin menurun, tanpa memandang apakah komponen transitori tersebut menaikkan
atau menurunkan laba akuntansi.
    Hal tersebut dapat dijadikan sebagai dasar untuk memprediksi bahwa penghasilan
maupun beban pajak tangguhan keduanya akan berpengaruh negatif terhadap ERC,
seperti yang telah dinyatakan dalam hipotesis kedua. Walaupun demikian, masih
diperlukan pengujian apakah besarnya pengaruh negatif tersebut berbeda antara
perusahaan yang melaporkan penghasilan pajak tangguhan dan perusahaan yang
melaporkan beban pajak tangguhan, sehingga besarnya ERC antara kedua perusahaan
menjadi berbeda. Berdasarkan pernyataan Hayn (1995) tersebut di atas, penelitian ini
memprediksi bahwa tidak ada perbedaan pengaruh pelaporan penghasilan pajak
tangguhan maupun beban pajak tangguhan terhadap ERC, sehingga besarnya ERC
antara kedua perusahaan tidak berbeda. Prediksi ini digunakan sebagai dasar untuk
menyatakan hipotesis berikut.
H3:Koefisisen respon laba akuntansi (ERC) pada perusahaan yang melaporkan
penghasilan pajak tangguhan tidak berbeda dengan perusahaan yang melaporkan
beban pajak tangguhan.



                                                                                 219
Download @ http://ekydakka.com | SNA VII DENPASAR-BALI, 2-3 DESEMBER 2004

                                                         3. METODA PENELITIAN
                                             A. Model Empiris dan Variabel Penelitian
Penelitian ini menggunakan tiga model empiris. Pertama, model empiris untuk
menghitung besaran koefisien respon laba akuntansi (earnings response coefficient -
ERC), yang dirumuskan dalam bentuk persamaan regresi berikut:
         CARit = 0 + 1 UEit + it ......................................................................... (1)
         dalam hal ini:
         CARit         : cummulative abnormal return perusahaan i pada perioda t
         UEit          : unexpected earnings perusahaan i pada perioda t
         1            : koefisien respon laba akuntansi (ERC)
Kedua, model empiris untuk menguji hipotesis 1 (H1). Model empiris kedua ini sama
dengan model empiris pertama, tetapi ditambahkan variabel indikator (dummy
variable) ke dalam model. Variabel indikator (VI) dalam model kedua ini dinyatakan
dengan nilai 0 untuk menunjukkan perioda sebelum implementasi PSAK No.46, dan
nilai 1 menunjukkan perioda setelah implementasi PSAK No.46. Model empiris
kedua dirumuskan dalam bentuk persamaan regresi berikut:
         CARit = 0 + 1 UEit + 2 VI + it ............................................................. (2)
Ketiga, model empiris untuk menguji hipotesis 2 (H2) dan hipotesis 3 (H3). Variabel
dependen dalam model ketiga ini adalah koefisien respon laba akuntansi (ERC),
sedangkan variabel independen adalah alokasi pajak antar perioda. Dalam model
ketiga ini dimasukkan beberapa variabel kontrol yang pada penelitian-penelitian
sebelumnya terbukti sebagai determinan ERC. Tujuan dimasukkannya variabel
kontrol tersebut adalah untuk mengisolasi pengaruh alokasi pajak antar perioda
terhadap ERC, sekaligus mengkonfirmasi konsistensi pengaruh variabel-variabel
tersebut terhadap ERC berdasarkan hasil penelitian-penelitian sebelumnya. Variabel
kontrol yang dipilih adalah persistensi laba akuntansi, pertumbuhan laba akuntansi,
struktur modal, dan besaran perusahaan. Dalam model empiris ketiga juga
dimasukkan variabel indikator untuk menunjukkan perusahaan yang melaporkan
beban pajak tangguhan dan perusahaan yang melaporkan penghasilan pajak
tangguhan. Model empiris ketiga dirumuskan sebagai berikut:
              ERCit = 0 + 1ALPAit + 2PSLAit + 3PTLAit + 4SMit + 5BPit + 6VI + it ..... (3)
  dalam hal ini:
  ERCit         : koefisien respon laba akuntansi perusahaan i pada perioda t
  ALPAit : alokasi pajak antar perioda perusahaan i pada tahun t
  PSLAit : persistensi laba akuntansi perusahaan i pada tahun t
  PTLAit : pertumbuhan laba akuntansi perusahaan i pada tahun t
  SMit          : struktur modal perusahaan i pada tahun t
  BPit          : besaran perusahaan untuk perusahaan i pada tahun t
  VI            : variabel indikator (0 untuk perusahaan yang melaporkan beban pajak tangguhan; 1
                  untuk perusahaan yang melaporkan penghasilan pajak tangguhan).




                                                                                                                    220
Download @ http://ekydakka.com | SNA VII DENPASAR-BALI, 2-3 DESEMBER 2004

                                                    B. Pengukuran Variabel
1. Cummulative abnormal return (CAR). CAR pada saat laba akuntansi
dipublikasikan dihitung dalam event window pendek selama 7 hari, yang dipandang
cukup untuk mendeteksi abnormal return yang terjadi akibat publikasi laba sebelum
confounding effect mempengaruhi abnormal return tersebut. CAR dirumuskan
sebagai berikut.
                                            3
         CARit  CARi(-3,  3)             AR
                                           t  -3
                                                    it



Dalam perhitungan abnormal return tersebut, expected return diestimasi berdasarkan
model pasar dengan beta yang telah dikoreksi. Koreksi beta dilakukan dengan metode
Fowler dan Rorke (1983) dengan perioda 4 lead dan 4 lag selama setahun seperti
dijelaskan dalam Hartono (1998).
2. Unexpected earnings (UE), dihitung menggunakan model random-walk seperti
dilakukan oleh Beaver dan Ryan (1987) serta Collins dan Kothari (1989). Unexpected
earnings diukur dengan rumus sebagai berikut:
                    Eit - Eit - 1
         UEit 
                       Eit - 1

 dalam hal ini:
 Eit       : laba akuntansi (earnings) setelah pajak perusahaan i pada tahun t
 Eit-1     : laba akuntansi (earnings) setelah pajak perusahaan i sebelum tahun t


3. Koefisien respon laba akuntansi (ERC), merupakan koefisien yang diperoleh dari
regresi antara cummulative abnormal return (CAR) dan unexpected earnings (UE)
sebagaimana dinyatakan dalam model empiris pertama, yaitu:
         CARit = 0 + 1UEit + it
1 merupakan koefisien respon laba akuntansi (ERC).

4. Alokasi pajak antar perioda (ALPA), diukur dengan melihat besaran penghasilan
dan beban pajak tangguhan yang dilaporkan dalam laporan laba-rugi, kemudian
membaginya dengan jumlah laba akuntansi sebelum pajak, sebagai berikut:
                         BPTit atau PPTit
         ALPAit 
                                 LRSP it

   dalam hal ini:
   BPTit     : beban pajak tangguhan perusahaan i pada tahun t
   PPTit     : penghasilan pajak tangguhan perusahaan i pada tahun t
   LRSPit : laba(rugi) sebelum pajak perusahaan i pada tahun t


5. Persistensi laba akuntansi (PSLA), merupakan suatu ukuran yang menjelaskan
kemampuan perusahaan untuk mempertahankan jumlah laba yang diperoleh saat ini
sampai masa mendatang. Persistensi laba akuntansi diukur menggunakan koefisien
regresi antara laba akuntansi perioda sekarang dengan laba akuntansi perioda yang


                                                                                    221
Download @ http://ekydakka.com | SNA VII DENPASAR-BALI, 2-3 DESEMBER 2004

lalu seperti dilakukan oleh Kormendi dan Lipe (1987) dan Jaswadi (2003), dengan
rumusan berikut:
          Eit = 0 + 1 Eit-1 + it
 dalam hal ini:
Eit         :          laba akuntansi (earnings) setelah pajak perusahaan i pada tahun t
Eit-1       :          laba akuntansi (earnings) setelah pajak perusahaan i sebelum tahun t
1          :          persistensi laba akuntansi (PSLA)


6. Pertumbuhan laba akuntansi (PTLA), diukur menggunakan rasio antara nilai
pasar ekuitas terhadap nilai bukunya (Collins dan Kothari, 1989). Nilai pasar ekuitas
dihitung dengan mengalikan harga penutupan saham (closing price) rata-rata dalam
setahun dengan total saham yang beredar pada akhir tahun. Pertumbuhan laba
akuntansi diukur sebagai berikut:
                          NPEit
           PT LA 
                it
                         NBEit
      dalam hal ini:
NPEit :                nilai pasar ekuitas perusahaan i pada tahun t
NBEit :                nilai buku ekuitas perusahaan i pada tahun t


7. Struktur modal (SM), diukur berdasarkan rasio antara total utang dengan total
aktiva (Dhaliwal et al., 1991), yaitu sebagai berikut:
                       T Uit
           SM it 
                       T Ait


8. Besaran perusahaan (BP), diukur berdasarkan nilai pasar ekuitas (Collins dan
Kothari, 1989, serta Chaney dan Jeter, 1991), yang dirumuskan sebagai berikut:
          BPit = Log NPEit
Penggunaan nilai logaritma dilakukan untuk menghindari bias dalam pengukuran
akibat adanya perbedaan skala operasi perusahaan.




                                      C. Data dan Sampel Penelitian


Penelitian ini menggunakan data sekunder, yang diperoleh dari Pusat Referensi Pasar
Modal Indonesia, Indonesian Capital Market Directory, serta database Bursa Efek
Jakarta (BEJ) yang ada di JSX Corner Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya
Malang.
Sampel penelitian diambil secara purposive, dengan kriteria: (1) perusahaan termasuk
dalam kategori industri pemanufakturan; (2) perusahaan sudah terdaftar di BEJ sejak

                                                                                           222
Download @ http://ekydakka.com | SNA VII DENPASAR-BALI, 2-3 DESEMBER 2004

tanggal 1 Januari 1997 sampai 31 Desember 2002; (3) perusahaan melaporkan alokasi
pajak antar perioda berdasarkan PSAK No. 46 (yaitu melaporkan penghasilan atau
beban pajak tangguhan) setidaknya selama tiga tahun berturut-turut dalam kurun
waktu 1999 – 2002. Dengan menggunakan kriteria pemilihan sampel tersebut,
penelitian ini memperoleh 111 sampel untuk perioda 1997-2002.


                                       D. Pengujian Statistis
1. Pengujian Hipotesis
Pengujian statistis terhadap seluruh hipotesis didasarkan pada tingkat keyakinan
sebesar 0,95 atau =0,05. Hipotesis pertama diuji dengan menggunakan persamaan
regresi yang memasukkan variabel indikator (dummy variable) seperti dinyatakan
dalam model kedua, yaitu:
                                  CARit = 0 + 1 UEit + 2 VI + it
Variabel indikator bernilai 0 untuk perioda sebelum implementasi PSAK No.46
(tahun 1997-1998), dan bernilai 1 untuk perioda setelah implementasi PSAK No.46
(tahun 1999-2002). Data yang digunakan dalam persamaan regresi model kedua ini
adalah data cross-sectional untuk 111 perusahaan sampel, dan data runtun waktu
(time-series) untuk perioda 1997 sampai 2002. Signifikan atau tidaknya perbedaan
perubahan harga saham antara dua perioda pengamatan tersebut dilakukan dengan
mengevaluasi nilai t atau p-value dari koefisien variabel indikator (VI) dari persamaan
regresi, mengacu pada Mason dan Lind (1996:119). Apabila t-hitung lebih besar dari
t-tabel, atau p-value lebih kecil dari  (0,05), maka hipotesis diterima.
Hipotesis kedua diuji menggunakan persamaan regresi dengan memasukkan empat
variabel kontrol dan sebuah variabel indikator seperti yang dinyatakan dalam model
ketiga, yaitu:
           ERCit = 0 + 1 ALPAit + 2 PSLAit + 3 PTLAit + 4 SMit + 5 BPit + 6 VI + it
Variabel indikator bernilai 0 untuk perusahaan yang melaporkan beban pajak
tangguhan, dan bernilai 1 untuk perusahaan yang melaporkan penghasilan pajak
tangguhan. Data yang digunakan dalam persamaan regresi model ketiga ini adalah
data cross-sectional untuk 111 perusahaan sampel pada tahun 2002. Hasil pengukuran
masing-masing variabel independen selama empat tahun (1999-2002), kecuali
variabel persistensi laba dan variabel indikator, dihitung rata-ratanya per tahun.
Signifikan atau tidaknya pengaruh alokasi pajak antar perioda berdasarkan PSAK
No.46 terhadap ERC ditentukan dengan mengevaluasi nilai t atau p-value dari
koefisien variabel alokasi pajak antar perioda (ALPA) hasil dari analisis regresi.
Apabila t-hitung lebih besar dari t-tabel atau p-value lebih kecil dari  (0,05), maka
hipotesis diterima. Pengujian hipotesis kedua ini akan sekaligus mengevaluasi
pengaruh variabel-variabel kontrol terhadap ERC, yaitu variabel persistensi laba
akuntansi, pertumbuhan laba akuntansi, struktur modal, dan besaran perusahaan.
Hipotesis ketiga juga diuji dengan menggunakan persamaan regresi model ketiga.
Pengujian hipotesis ketiga ini bertujuan untuk memperoleh bukti empiris tentang
perbedaan ERC antara perusahaan yang melaporkan beban pajak tangguhan dengan
perusahaan yang melaporkan penghasilan pajak tangguhan. Perbedaan ERC antara
kedua perusahaan tersebut tampak dari besaran koefisien dari variabel indikator (VI).
Signifikan atau tidaknya perbedaan ERC antara kedua perusahaan ditentukan dengan


                                                                                              223
Download @ http://ekydakka.com | SNA VII DENPASAR-BALI, 2-3 DESEMBER 2004

mengevaluasi nilai t atau p-value dari koefisien variabel indikator (VI) tersebut,
mengacu pada Mason dan Lind (1996:119). Apabila nilai t-hitung lebih besar dari t-
tabel atau p-value lebih kecil dari  (0,05), maka hipotesis ditolak.


                          4. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
                                      A. Statistik Deskriptif
Statistik deskriptif untuk variabel-variabel penelitian yang digunakan dalam model
persamaan regresi pertama dan kedua disajikan dalam tabel 1, sedangkan statistik
deskriptif untuk variabel-variabel penelitian yang digunakan dalam model regresi
ketiga disajikan dalam tabel 2.


                                             Tabel 1
                       Statistik Deskriptif Regresi Model Pertama dan Kedua
                                 CARit = 0 + 1 UE + 2 VI + it

  Variabel        N          Minimum            Maksimum                 Mean         Deviasi Standar
    CAR          666          -0,90546           0,89202             0,06172             0,19587
    UE           666         -94,90168           32,11799            -0,72451            7,44925


                                             Tabel 2
                             Statistik Deskriptif Regresi Model Ketiga
             ERCit = 0 + 1 ALPA + 2 PSLA + 3 PTLA + 4 SM + 5 BP + 6 VI + it

  Variabel        N          Minimum            Maksimum                 Mean         Deviasi Standar
    ERC          111          -0,12700           0,32900             0,00514             0,06388
   ALPA          111          -6,49848           0,83954             -0,16501            0,79740
   PSLA          111          -0,98000           1,43800             -0,05050            0,39876
   PTLA          111          -2,14476           4,95387             0,86487             1,18129
    SM           111          0,11534            1,91908             0,75686             0,35599
    BP           111          9,89878            13,54330            11,39426            0,73914


                                   B. Hasil Uji Asumsi Klasik
Hasil uji autokorelasi, multikolinearitas, heteroskedastisitas, dan normalitas data
model regresi ketiga disajikan dalam tabel 3.




                                                                                               224
Download @ http://ekydakka.com | SNA VII DENPASAR-BALI, 2-3 DESEMBER 2004

                                                           Tabel 3
                                        Hasil Uji Asumsi Klasik Model Regresi Ketiga
                    ERCit = 0 + 1 ALPA + 2 PSLA + 3 PTLA + 4 SM + 5 BP + 6 VI + it

                           Multi-                    Auto-                      Hetero-           Normalitas
                        kolinearitas
      Variabel                                      korelasi                skedastisitas
                            VIF1)              Durbin-Watson                Levene Test             K-S2)
       ALPA                 1,286                    1,904                      0,097               0,137
       PSLA                 1,151                                               0,411               0,157
       PTLA                 1,137                                               0,170               0,083
         SM                 1,125                                               0,410               0,112
         BP                 1,125                                               0,840               0,200
 1)   VIF = Variance-Inflating Factor
 2)   K-S = Kolmogorov-Smirnov test

Tabel 3 menunjukkan bahwa VIF untuk masing-masing variabel independen tidak ada
yang lebih besar dari 5. Dengan demikian, model regresi ketiga tidak
mengindikasikan adanya masalah multikolinearitas. Hasil uji autokorelasi
menunjukkan bahwa nilai Durbin-Watson adalah sebesar 1,904. Nilai tersebut berada
di antara 1,79 dan 2,21 (untuk k=6 dan n=111), sehingga model regresi ketiga bebas
dari masalah autokorelasi.
Hasil uji heteroskedastisitas menunjukkan bahwa signifikansi Levene-Test seluruhnya
lebih besar dari  (0,05), sehingga model regresi ketiga bebas dari masalah
heteroskedastisitas. Seluruh data yang digunakan dalam model regresi ketiga juga
berdistribusi normal. Hal ini ditunjukkan dari hasil uji Kolmogorov-Smirnov yang
seluruhnya menunjukkan nilai signifikansi di atas  (0,05).
                                               C. Hasil Pengujian Hipotesis
Hipotesis 1
Hipotesis 1 (H1) menyatakan bahwa perubahan harga saham pada perioda setelah
implementasi PSAK No.46 lebih besar dari perioda sebelum implementasi PSAK
No.46. Hipotesis ini diuji dengan menggunakan model persamaan regresi kedua.
Hasil analisis regresi model kedua diringkas dan disajikan dalam tabel 4.
                                                             Tabel 4
                                            Hasil Analisis Regresi Model Kedua
                                              CARit = 0 + 1UE + 2VI + it

           Variabel                     Koefisien              Standard Error               t        p-value
          (Constant)                     0,0423                    0,130                  3,231       0,001*
              UE                         0,0470                    0,011                  4,286       0,000*
               VI                        0,0342                    0,016                  2,141      0,033**
 * Signifikan secara statistis pada p<0,01
 ** Signifikan secara statistis pada p<0,05



                                                                                                            225
Download @ http://ekydakka.com | SNA VII DENPASAR-BALI, 2-3 DESEMBER 2004



Berdasarkan hasil regresi model kedua yang disajikan dalam tabel 4, dapat dibuat
persamaan estimasi CAR sebagai berikut:
                         CAR = 0,0423 + 0,0470 UE + 0,0342 VI
VI adalah variabel indikator yang bernilai 0 untuk perioda sebelum implementasi
PSAK No.46, dan bernilai 1 untuk perioda setelah implementasi PSAK No.46.
Dengan mensubstitusikan nilai 0 atau 1 ke variabel VI dalam model regresi, dapat
diketahui bahwa perubahan harga saham (CAR) pada perioda setelah implementasi
PSAK No.46 adalah 0,0342 lebih besar dibandingkan dengan perioda sebelum
implementasi PSAK No.46. Perbedaan CAR sebesar 0,0342 tersebut adalah koefisien
dari variabel indikator (VI) yang dimasukkan ke dalam model regresi.
Signifikansi perbedaan CAR diuji dengan melakukan pengujian signifikansi atas
koefisien dari VI. Tabel 4 menunjukkan bahwa p-value dari koefisien VI adalah
0,033, yaitu lebih kecil dari  (0,05), yang berarti bahwa koefisien sebesar 0,0342
tersebut adalah signifikan. Hasil pengujian ini menunjukkan bahwa H1 diterima.
Dengan demikian, penelitian ini membuktikan bahwa perubahan harga saham (CAR)
pada perioda setelah implementasi PSAK lebih besar dari perioda sebelum
implementasi PSAK No.46, dan perbedaan tersebut signifikan secara statistis.
Hasil penelitian ini konsisten dengan hasil penelitian Beaver dan Dukes (1972)
maupun hasil penelitian Pincus (1997). Beaver dan Dukes (1972) menyatakan bahwa
perubahan harga saham pada perioda setelah implementasi alokasi pajak antar perioda
berdasarkan APB Opinion No.11 lebih besar dari perioda sebelum
diimplementasikannya APB Opinion No.11. Pincus (1997) juga menemukan bukti
bahwa perubahan harga saham pada perioda setelah implementasi alokasi pajak antar
perioda berdasarkan SFAS No.96 lebih besar dari perioda sebelum SFAS No.96
tersebut diimplementasikan.
Hasil penelitian ini mempunyai arti bahwa investor memberikan penilaian yang lebih
tinggi terhadap harga saham di sekitar tanggal publikasi laba pada perioda setelah
implementasi PSAK No.46 dibandingkan dengan perioda sebelum implementasi
PSAK No.46. Ada beberapa hal yang dapat diduga sebagai alasan mengapa investor
memberikan penilaian yang lebih tinggi terhadap harga saham pada perioda
implementasi PSAK No.46 tersebut. Kemungkinan pertama, pelaporan laba akuntansi
pada perioda implementasi PSAK No.46 lebih informatif bagi investor dibandingkan
dengan perioda sebelumnya. Semakin tinggi keinformatifan laba akuntansi, maka laba
akuntansi tersebut dipandang semakin berkualitas oleh investor. Hal ini konsisten
dengan pernyataan Means (1990), bahwa alokasi pajak antar perioda yang
memisahkan komponen pajak kini (current tax) dan pajak tangguhan (deferred tax)
akan memperbaiki kualitas pelaporan laba. Means (1990) berargumentasi bahwa
pemisahan yang tegas antara komponen pajak kini dan pajak tangguhan akan lebih
memudahkan investor untuk menilai kinerja keuangan perusahaan yang sebenarnya
dan memprediksi arus kas di masa depan, dibandingkan pelaporan laba tanpa alokasi
pajak atau pelaporan PPh yang dihitung dari laba akuntansi tanpa memisahkan pajak
kini dan pajak tangguhan.
Kemungkinan kedua, sebagai komponen akrual, informasi tentang pajak tangguhan
(baik penghasilan maupun beban pajak tangguhan) dimanfaatkan oleh investor untuk
memprediksi jumlah kewajiban dan penghematan pajak perusahaan di masa depan,
dihubungkan dengan besaran arus kas yang mungkin tersedia baginya. Hal ini

                                                                                226
Download @ http://ekydakka.com | SNA VII DENPASAR-BALI, 2-3 DESEMBER 2004

konsisten dengan Foster (1986:79) yang menyatakan bahwa meskipun investor
mengambil keputusan investasi atas dasar angka laba akuntansi saat ini, tetapi
investor selalu mempertimbangkan kemungkinan arus kas perusahaan di masa depan
yang tersedia baginya, dan prediksi arus kas masa depan tersebut dapat dilakukan
dengan menganalisis informasi laba sekarang. Hal ini diperkuat oleh Warastuti (2003)
yang memperoleh bukti bahwa laba sekarang memiliki hubungan positif dengan laba
dan arus kas mendatang, sedangkan komponen laba yang memiliki pengaruh terhadap
laba dan arus kas mendatang adalah komponen akrual.
Hipotesis 2
Hipotesis 2 (H2) menyatakan bahwa alokasi pajak antar perioda berdasar-kan PSAK
No.46 berpengaruh negatif terhadap koefisien respon laba akuntansi (earnings
response coefficient - ERC). Hipotesis ini diuji dengan menggunakan model
persamaan regresi ketiga. Hasil analisis regresi model ketiga diringkas dan disajikan
dalam tabel 5.
                                                            Tabel 6
                                               Hasil Analisis Regresi Model Ketiga
                      ERCit = 0 + 1 ALPA + 2 PSLA + 3 PTLA + 4 SM + 5 BP + 6 VI + it

         Variabel                       Koefisien             Standard Error           t       p-value
        (Constant)                       0,15900                   0,058             2,749     0,028**
           ALPA                         -0,02615                   0,008             -3,417    0,001*
           PSLA                          0,02897                   0,140             2.001     0,048**
           PTLA                          0,00279                   0,005             0,575     0,566
                SM                      -0,03317                   0,016             -2,120    0,036**
                BP                      -0,01130                   0,008             -1,463    0,146
                 VI                     -0,00064                   0,012             -0,055    0,956
 * Signifikan   secara statistis pada p<0,01
 ** Signifikan   secara statistis pada p<0,05



Tabel 6 menunjukkan bahwa koefisien regresi untuk variabel alokasi pajak antar
perioda (ALPA) adalah sebesar –0,02615 dengan nilai t sebesar –3,417 (p-value
0,001), yang berarti signifikan pada  = 1%. Hasil analisis ini menunjukkan bahwa
penelitian ini menerima H2. Dengan demikian, penelitian ini membuktikan bahwa
alokasi pajak antar perioda berdasarkan PSAK No.46 berpengaruh negatif terhadap
ERC.
Hasil ini tidak mendukung hasil penelitian Beaver dan Dukes (1972), serta
bertentangan dengan hasil penelitian Pincus (1997). Beaver dan Dukes (1972)
memperoleh bukti bahwa alokasi pajak antar perioda berdasarkan APB Opinion
No.11 tidak mempengaruhi perubahan harga saham, sedangkan Pincus (1997)
memperoleh bukti bahwa alokasi pajak antar perioda berdasarkan SFAS No.96
berpengaruh positif terhadap perubahan harga saham. Perbedaan hasil penelitian di
antara mereka konsisten dengan pernyataan Means (1990), bahwa alokasi pajak antar
perioda berdasarkan SFAS No.96 memang menghasilkan informasi laba yang lebih
baik daripada alokasi pajak antar perioda berdasarkan APB Opinion No.11.

                                                                                                     227
Download @ http://ekydakka.com | SNA VII DENPASAR-BALI, 2-3 DESEMBER 2004

Perbedaan hasil penelitian ini dengan hasil penelitian Pincus (1997) terjadi karena
adanya perbedaan dalam memperlakukan variabel alokasi pajak antar perioda dalam
analisis. Pincus (1997) memperlakukan variabel alokasi pajak antar perioda sebagai
variabel yang mempengaruhi perubahan harga saham (CAR), sedangkan penelitian ini
memperlakukannya sebagai variabel yang mempengaruhi koefisien respon laba
akuntansi (ERC).
Hasil penelitian ini memperkuat hasil penelitian Collins dan Salatka (1993) dan
Chandrarin (2001), yang memperoleh bukti bahwa laba (rugi) selisih kurs (sebagai
komponen transitori yang menimbulkan gangguan persepsian dalam laba akuntansi)
berpengaruh negatif terhadap ERC. Sebagai komponen transitori dan gangguan
persepsian dalam laba akuntansi, alokasi pajak antar perioda juga terbukti
berpengaruh negatif terhadap ERC.
Hasil empiris penelitian ini mempunyai arti bahwa semakin besar penghasilan pajak
tangguhan yang dilaporkan dalam laporan laba-rugi (semakin besar laba akuntansi),
akan semakin rendah ERC. Sebaliknya, semakin besar beban pajak tangguhan yang
dilaporkan dalam laporan laba-rugi (semakin rendah laba akuntansi), akan semakin
besar ERC.
Ada beberapa hal yang dapat diduga menjadi alasan mengapa pelaporan beban dan
penghasilan pajak tangguhan berpengaruh negatif terhadap ERC. Kemungkinan
pertama, investor menyadari bahwa penghasilan (beban) pajak tangguhan yang
dilaporkan dalam laporan laba-rugi merupakan hasil dari akuntansi akrual dan
merupakan komponen yang bersifat transitori. Dengan kesadaran tersebut, investor
akan memahami bahwa kenaikan (penurunan) laba akuntansi hanyalah akibat dari
pengakuan konsekuensi pajak karena adanya perbedaan temporer nilai tercatat aktiva
dan kewajiban berdasarkan standar akuntansi dan ketentuan perpajakan. Oleh karena
itu, penghasilan (beban) pajak tangguhan yang dilaporkan dalam laporan laba-rugi
akan berpengaruh negatif terhadap respon investor pada laba akuntansi (ERC), karena
ternyata investor tidak naif.
Kemungkinan kedua, investor belum sepenuhnya mampu menginterpretasikan dengan
baik tentang substansi penghasilan (beban) pajak tangguhan yang dilaporkan dalam
laporan laba-rugi. Dari sudut pandang akuntansi akrual, penghasilan pajak tangguhan
yang dilaporkan dalam laporan laba-rugi tahun berjalan secara substansial
merefleksikan tentang: (a) adanya penghematan pembayaran pajak yang masih akan
diperoleh perusahaan pada tahun-tahun mendatang, atau (b) adanya penghematan
pembayaran pajak yang telah diperoleh perusahaan lebih dulu pada tahun-tahun yang
lalu. Demikian pula, beban pajak tangguhan yang dilaporkan dalam laporan laba-rugi
tahun berjalan secara substansial juga merefleksikan tentang: (a) adanya beban pajak
yang masih harus dibayar oleh perusahaan pada tahun-tahun mendatang, atau (b)
adanya beban pajak yang sudah dibayar lebih dulu oleh perusahaan pada tahun-tahun
yang lalu.
Kekurang-mampuan investor untuk menginterpretasikan substansi pengha-silan
(beban) pajak tangguhan tersebut, akan mendorong investor untuk lebih berhati-hati
dalam merespon laba akuntansi. Walaupun investor menyadari bahwa penghasilan
(beban) pajak tangguhan merupakan hasil dari proses akuntansi akrual, tetapi karena
tidak didukung oleh kemampuan untuk menginterpretasikan substansinya, maka
keinformatifan laba akuntansi bagi investor menjadi berkurang. Berkurangnya
keinformatifan laba akuntansi tersebut akan mengurangi kebermanfaatan informasi
laba bagi investor. Oleh karena itu, respon investor terhadap laba akuntansi (ERC)

                                                                                228
Download @ http://ekydakka.com | SNA VII DENPASAR-BALI, 2-3 DESEMBER 2004

akan terpengaruh secara negatif oleh pelaporan penghasilan (beban) pajak tangguhan
tersebut.
Di samping menguji pengaruh alokasi pajak antar perioda terhadap ERC, dari hasil
analisis regresi model ketiga (seperti diringkas dan disajikan dalam tabel 5) juga dapat
dievaluasi pengaruh empat variabel kontrol terhadap ERC sebagai berikut:
(a) Persistensi laba akuntansi berpengaruh positif terhadap ERC. Hasil empiris ini konsisten dengan
    hasil penelitian terdahulu (Kormendi dan Lipe, 1987; Collins dan Kothari, 1989; Lev dan
    Thiagarajan, 1993; dan Chandrarin, 2001).
(b) Pertumbuhan laba akuntansi tidak berpengaruh signifikan terhadap ERC. Hasil ini konsisten
    dengan hasil penelitian Chandrarin (2001), tetapi tidak mendukung hasil penelitian Collins dan
    Kothari (1989).
(c) Struktur modal berpengaruh negatif terhadap ERC. Hasil ini konsisten dengan hasil penelitian
    Dhaliwal et al. (1991), tetapi tidak konsisten dengan hasil penelitian Chandrarin (2001).
(d) Besaran perusahaan tidak berpengaruh signifikan terhadap ERC. Hasil ini konsisten dengan hasil
    penelitian Chandrarin (2001), tetapi tidak konsisten dengan hasil penelitian Chaney dan Jeter
    (1991).
Hipotesis 3
Hipotesis 3 (H3) menyatakan bahwa koefisien respon laba akuntansi (earnings
response coefficient – ERC) pada perusahaan yang melaporkan penghasilan pajak
tangguhan adalah tidak berbeda dengan perusahaan yang melaporkan beban pajak
tangguhan. Hipotesis ini juga diuji dengan persamaan regresi model ketiga, yang
hasilnya diringkas dan disajikan dalam tabel 5 di atas.
     Berdasarkan hasil regresi yang diringkas dan disajikan pada tabel 5 tersebut, dapat dibuat
persamaan estimasi ERC sebagai berikut:
   ERC = 0,159 – 0,02615 ALPA + 0,02897 PSLA + 0,002794 PTLA – 0,03317 SM – 0,01130 BP –
                                        0,00064 VI

VI adalah variabel indikator yang bernilai 0 untuk perusahaan yang melaporkan beban
pajak tangguhan, dan bernilai 1 untuk perusahaan yang melaporkan penghasilan pajak
tangguhan. Dengan mensubstitusikan nilai 0 atau 1 ke variabel VI dalam model
regresi, dapat diketahui bahwa ERC untuk perusahaan yang melaporkan penghasilan
pajak tangguhan adalah -0,00064 (lebih rendah) dibandingkan dengan perusahaan
yang melaporkan beban pajak tangguhan. Signifikan atau tidaknya perbedaan ERC
diuji dengan melakukan pengujian signifikansi atas koefisien dari VI. Tabel 5
menunjukkan bahwa p-value dari koefisien VI adalah 0,956 (lebih besar dari =0,05),
yang berarti bahwa koefisien sebesar -0,00064 tersebut tidak signifikan. Hasil
pengujian ini menunjukkan bahwa H3 diterima. Dengan demikian, penelitian ini
membuktikan bahwa rata-rata ERC pada perusahaan yang melaporkan penghasilan
pajak tangguhan secara statistis tidak berbeda dengan perusahaan yang melaporkan
beban pajak tangguhan.
Hasil penelitian ini tidak mendukung hasil penelitian Pincus (1997), yang menyatakan
bahwa ada perbedaan respon investor terhadap pelaporan beban dan penghasilan
pajak tangguhan. Penelitian Pincus (1997) menemukan bukti bahwa harga saham
akan turun ketika perusahaan melaporkan beban pajak tangguhan, dan sebaliknya,
harga saham akan naik ketika perusahaan melapor-kan penghasilan pajak tangguhan.
Hasil penelitian ini mempunyai arti bahwa pelaporan penghasilan maupun beban
pajak tangguhan keduanya tidak berpengaruh secara berbeda terhadap respon investor

                                                                                               229
Download @ http://ekydakka.com | SNA VII DENPASAR-BALI, 2-3 DESEMBER 2004

pada laba akuntansi (ERC). Hasil pengujian H 3 ini mendukung hasil pengujian
hipotesis kedua H2, yaitu bahwa baik pelaporan penghasilan pajak tangguhan maupun
beban pajak tangguhan, keduanya berpengaruh negatif pada ERC. Demikian pula,
persistensi laba akuntansi, pertumbuhan laba akuntansi, struktur modal, dan besaran
perusahaan juga tidak mempengaruhi ERC secara berbeda pada perusahaan yang
melaporkan penghasilan pajak tangguhan maupun perusahaan yang melaporkan beban
pajak tangguhan.
Ada satu hal yang dapat diduga menjadi alasan mengapa pelaporan penghasilan
maupun beban pajak tangguhan tidak berpengaruh secara berbeda terhadap ERC.
Investor menyadari bahwa penghasilan maupun beban pajak tangguhan yang
dilaporkan dalam laporan laba-rugi, keduanya merupakan komponen transitori yang
menimbulkan gangguan persepsian dalam laba akuntansi. Oleh karena itu, hasil
penelitian ini dapat digunakan sebagai petunjuk awal bahwa manajemen perusahaan
tidak dapat mempengaruhi persepsi investor terhadap profitabilitas perusahaan dengan
cara mengelola metoda akuntansi sedemikian rupa untuk memperbesar pelaporan
penghasilan pajak tangguhan (agar laba akuntansi bersih tampak besar), atau
memperbesar pelaporan beban pajak tangguhan (agar laba akuntansi bersih tampak
rendah). Artinya, investor tidak dapat dikelabuhi dengan cara mengelola alokasi pajak
antar perioda yang diarahkan untuk mempengaruhi besar-kecilnya laba akuntansi.


                                     5. PENUTUP
Kesimpulan
Penelitian ini memberikan bukti bahwa rata-rata perubahan harga saham pada perioda
setelah implementasi PSAK No.46 (1999-2002) lebih besar dari perioda sebelumnya
(1997-1998). Bukti ini dapat digunakan sebagai dasar untuk menyatakan bahwa
kualitas laba akuntansi pada perioda setelah imple-mentasi PSAK No.46 adalah lebih
baik dibandingkan dengan perioda sebelumnya. Pelaporan beban pajak penghasilan
yang mencakup pajak kini (current tax) dan pajak tangguhan (deferred tax),
menghasilkan laba akuntansi yang lebih informatif dan dapat mencerminkan kinerja
perusahaan yang sebenarnya. Hal ini sesuai dengan pernyataan Lev dan Zarowin
(1999), bahwa semakin informatif laba akuntansi bagi investor dalam membuat
keputusan ekonomi, maka semakin tinggi respon investor terhadap laba akuntansi
tersebut yang ditunjukkan dengan besarnya perubahan harga saham di sekitar tanggal
publikasi laba.
Penelitian ini memberikan bukti bahwa alokasi pajak antar perioda berdasarkan PSAK
No.46 berpengaruh negatif terhadap ERC. Hal ini berarti bahwa semakin besar
penghasilan pajak tangguhan yang dilaporkan dalam laporan laba-rugi (semakin besar
laba akuntansi), akan semakin rendah ERC. Sebaliknya, semakin besar beban pajak
tangguhan yang dilaporkan dalam laporan laba-rugi (semakin rendah laba akuntansi),
akan semakin besar ERC. Bukti ini dapat digunakan sebagai dasar untuk menyatakan
bahwa setiap komponen transitori akan menimbulkan gangguan persepsian dalam
laba akuntansi, dan akan berpengaruh negatif terhadap ERC.
Penelitian ini memberikan bukti bahwa ERC untuk perusahaan yang melaporkan
penghasilan pajak tangguhan tidak berbeda dengan perusahaan yang melaporkan
beban pajak tangguhan. Bukti ini dapat digunakan sebagai dasar untuk menyatakan
bahwa investor menyadari bahwa penghasilan pajak tangguhan maupun beban pajak
tangguhan keduanya merupakan komponen transitori yang menimbulkan gangguan


                                                                                 230
Download @ http://ekydakka.com | SNA VII DENPASAR-BALI, 2-3 DESEMBER 2004

persepsian dalam laba akuntansi. Dengan kesadaran tersebut, investor tidak dapat
dikelabuhi dengan cara mengelola alokasi pajak antar perioda yang diarahkan untuk
mempengaruhi besar-kecilnya laba akuntansi.
Implikasi
Secara teoritis, hasil penelitian ini mempunyai implikasi berikut. Pertama, dari sudut
pandang keterhubungan antara laba bersih sebelum pajak dengan beban pajak yang
dilaporkan, alokasi pajak antar perioda berdasarkan PSAK No.46 telah berhasil
memperbaiki kualitas laba akuntansi; tetapi dari sudut pandang kecukupan
pengungkapan, pelaporan penghasilan dan beban pajak tangguhan menimbulkan
gangguan persepsian dalam laba akuntansi. Kedua, hasil penelitian ini memperkuat
sintesis dalam literatur akuntansi, bahwa setiap komponen transitori yang
menimbulkan gangguan persepsian dalam laba akuntansi akan direspon negatif oleh
investor (lihat Collins dan Kothari, 1989; Cho dan Jung, 1991; Collins dan Salatka,
1993; dan Chandrarin, 2001).
Secara praktis, hasil penelitian ini dapat digunakan oleh berbagai pihak yang
berkepentingan, sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil kebijakan dan
keputusan. Ikatan Akuntan Indonesia, dalam hal ini dewan penyusun standar
akuntansi keuangan, dan Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) dapat
menggunakan hasil penelitian ini untuk mengevaluasi kembali persyaratan
pengungkapan wajib yang berkaitan dengan pajak kini dan pajak tangguhan.
Untuk mengurangi gangguan persepsian dalam laba akuntansi, pengungkapan perlu
diperluas pada informasi yang berkaitan tentang: (a) jangka waktu atau perioda
direalisasikannya aktiva dan kewajiban pajak tangguhan di masa yang akan datang,
serta estimasi jumlahnya ketika aktiva dan kewajiban pajak tangguhan tersebut
direalisasi; (b) perioda realisasi penghasilan (beban) pajak tangguhan yang dilaporkan
pada tahun berjalan, apakah penghasilan (beban) pajak tangguhan tersebut telah
terealisasi perioda sebelumnya atau masih akan terealisasi pada perioda-perioda yang
akan datang. Hal ini perlu diungkapkan lebih jelas agar gangguan persepsian yang
terkandung dalam laba akuntansi dapat dikurangi, sehingga mengurangi pula risiko
investor.
Akuntan publik dapat menggunakan hasil penelitian ini sebagai bahan pertimbangan
dalam pengungkapan dan penjelasan yang memadahi tentang informasi yang
berkaitan dengan pajak tangguhan, melebihi pengungkapan wajib yang disyaratkan
oleh PSAK No.46 dan Bapepam. Pengungkapan dan penjelas-an seperti ini diperlukan
karena pengungkapan tersebut dapat menambah keinformatifan laporan keuangan.
Investor dan pelaku pasar modal lainnya dapat menggunakan hasil penelitian ini
sebagai dasar untuk mempertimbangkan pentingnya melakukan pengkajian dan
pemahaman terhadap substansi penghasilan dan beban pajak tangguhan yang
dilaporkan dalam laporan laba-rugi. Dengan demikian, keputusan investasi dapat
dilakukan secara tepat.
Manajer perusahaan publik dapat menggunakan hasil penelitian ini sebagai suatu
pengetahuan bahwa penyajian penghasilan (beban) pajak tangguhan dalam laporan
laba-rugi (sebagai akibat dari penggunaan metoda akuntansi yang berbeda dengan
ketentuan perpajakan) tidak membedakan pengaruhnya terhadap ERC. Artinya, baik
penghasilan maupun beban pajak tangguhan, keduanya berpengaruh negatif terhadap
ERC. Dengan demikian, manajemen perusahaan akan memahami bahwa persepsi
investor terhadap profitabilitas perusahaan tidak dapat dipengaruhi melalui

                                                                                  231
Download @ http://ekydakka.com | SNA VII DENPASAR-BALI, 2-3 DESEMBER 2004

pengelolaan alokasi pajak antar perioda, yaitu pelaporan penghasilan atau beban pajak
tangguhan.
Keterbatasan
Hasil penelitian ini dapat berguna bagi penelitian-penelitian yang sama di masa yang
akan datang, dengan mempertimbangkan beberapa keterbatasan penelitian berikut ini.
(1) perioda yang diamati dalam penelitian ini terlalu pendek, yaitu dua tahun untuk perioda sebelum
    implementasi PSAK No.46 (tahun 1997-1998), dan empat tahun untuk perioda setelah
    implementasi PSAK No.46 (tahun 1999-2002).
(2) penelitian ini hanya menggunakan sampel perusahaan pemanufakturan, sehingga mengabaikan
    pengaruh industri (manufaktur dan non-manufaktur) terhadap ERC.
(3) penelitian ini memasukkan perioda pengamatan tahun 1997-1998 yang dapat dipandang sebagai
    perioda terjadinya krisis moneter di Indonesia, sehingga hasil pengujian perbedaan CAR pada
    tahun 1997-1998 (sebelum implementasi PSAK No.46) dan tahun 1999-2002 (setelah
    implementasi PSAK No.46) mungkin dipengaruhi oleh perioda krisis dan pasca-krisis moneter.
Penelitian Anjuran
Penelitian ini merupakan pengembangan penelitian Chandrarin (2001) tentang faktor-
faktor yang mempengaruhi ERC dengan menggunakan data pasar modal Indonesia
(BEJ). Kesimpulan penelitian ini, seperti diuraikan di atas, membuka peluang untuk
melakukan penelitian lanjutan di masa yang akan datang, sehingga akan memperluas
khasanah penelitian tentang ERC di Indonesia dan meningkatkan validasi hasil
penelitian ini. Berikut ini adalah beberapa penelitian lanjutan yang dianjurkan.
(1) penelitian berikutnya dianjurkan untuk menguji pengaruh alokasi pajak antar perioda terhadap
    koefisien respon laba akuntansi (ERC) dengan menggunakan data laporan keuangan publikasian
    triwulanan atau tengah tahunan.
(2) penelitian berikutnya dianjurkan untuk menguji pengaruh alokasi pajak antar perioda terhadap
    ERC, di mana perhitungan CAR dilakukan menggunakan model pasar-sesuaian (market-adjusted
    model) dengan beta yang telah dikoreksi. Hasil penelitian dapat dibandingkan dengan hasil
    penelitian ini, di mana CAR dihitung menggunakan model pasar (market-model) dengan beta
    koreksian.
(3) penelitian berikutnya dianjurkan untuk menguji perbedaan pengaruh alokasi pajak antar terhadap
    ERC dengan melakukan analisis regresi secara terpisah untuk perusahaan yang melaporkan
    penghasilan dan beban pajak tangguhan. Selanjutnya, dilakukan pengujian signifikansi perbedaan
    pengaruh tersebut, di mana nilai t-hitung ditentukan berdasarkan formula Hartono (1997) seperti
    yang dikutip oleh Chandrarin (2001), bukannya menggunakan variabel indikator (dummy variable)
    seperti dalam penelitian ini.


                                       DAFTAR PUSTAKA
Ayres, F.L. 1994. Perception of Earnings Quality: What Manager Need to Know. Management
       Accounting (March). pp. 27-29.
Ball, R. dan P. Brown. 1968. An Empirical Evaluation of Accounting Income Numbers. Journal of
        Accounting Research (Autumn). pp. 159-178.
Bandyopadhyay, S.P. 1994. Market Reaction to earnings Announcemenmts of Succesful Efforts and
      Full Cost Firms in the Oil and Gas Industry. The Accounting Review. Vol.69 No.4 (October). pp.
      657-674.
Baridwan, Z. 2001. Akuntansi Keuangan Intermediate: Masalah-Masalah Khusus. Edisi Satu. Cetakan
      ke tujuh. BPFE. Yogyakarta.


                                                                                                232
Download @ http://ekydakka.com | SNA VII DENPASAR-BALI, 2-3 DESEMBER 2004

Beaver, W.H. dan R.E. Dukes. 1972. Interperiod Tax Allocation, Earnings Expectation, and Behavior of
      Security Prices.. Accounting review 48 (April). pp. 225-249.
_____, dan S. Ryan. 1987. The Information Content of Security Prices: A Second Look. Journal of
       Accounting and Economics. pp. 133-158.
_____. 1998. Financial Reporting: An Accounting Revolution. Third Edition. Upper Sadle River. NJ:
       Prentice-Hall.
Biddle, G.C. dan G.S. Seow. 1991. The Estimation and Determinant of Associations Between Return
        and Earnings: Evidence from Cross-Industry Comparisons. Journal of Accounting, Audit and
        Finance (Spring). pp. 183-232.
Chandrarin, G. 2001. Laba (Rugi) Selisih Kurs Sebagai salah Satu Faktor Yang Mempengaruhi
      Koefisien Respon Laba Akuntansi: Bukti Empiris Dari Pasar Modal Indonesia. Disertasi.
      Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.
_____. 2003. The Impact of Accounting Methods for Transaction Gains (Losses) on The Earnings
       Response Coefficients: The Indonesian Case. Jurnal Riset Akuntansi Indonesia. Vol.6 No.3
       (September). Hal. 217-231.
Chaney, P.K. dan D.C. Jeter. 1991. The Effect of Size on Magnitude of Long Window Earnings
      Response Coefficients. Contemporarry Accounting Research. Vol.8 No.2. pp. 540-560.
Cheng, C.S.A, W.S. Hopwood, dan J.C. McKeown. 1992. Non-Linearity and Specification Problems in
      Unexpected Earnings Response Regresion Model. The Accounting Review. Vol.67 No.3 (July).
      pp. 579-596.
Cho, J.Y. dan K. Jung. 1991. Earnings Response Coefficients: A Synthesis of Theory and Empirical
       Evidence. Jornal of Accounting Literature. Vol 10. pp. 85-116.
Collins, D.W. dan W.K. Salatka. 1993. Noisy Accounting Earnings Signals and Earnings Response
        Coefficients: The Case of Foreign Currency Accounting. Contemporary Accounting Research.
        Vol. 10 No.1 (Fall). pp.119-159.
_____, dan S.P. Kothari. 1989. An Analysis of Intertemporal and Cross-sectional Determinants of
      Earnings Response Coefficients. Journal of Accounting and Economics 11, No.1. pp. 143-182.
Dewi, A.R. 2003. Pengaruh Konservatisma Laporan Keuangan Terhadap Earnings Response
      Coefficient. Makalah. Prosiding Simposium Nasional Akuntansi VI (Surabaya). Hal. 507-525.
Dhaliwal, D.S, K.J. Lee, dan N.L. Fargher. 1991. The Association between Unexpected Earnings and
       Abnormal Security Returns in the Presence of Financial Leverage. Contemporary Accounting
       Research 8, No.1. pp.20-41.
Foster, G. 1986. Financial Statement Analysis. Second edition. Prentice-Hall International.
Harnanto. 2003. Akuntansi Perpajakan. Edisi Pertama. Cetakan Pertama. BPFE Yogyakarta.
Hartono, J. 1998. “Isu-isu Metodologi Penelitian Akuntansi Bidang Pasar Modal”. Makalah. Semiloka
       Sehari Arah dan Topik Penelitian Akuntansi Keuangan dan Pasar Modal. Yogyakarta (18 Juli).
       Hal. 1-21.
Hayn, C. 1995. The Information Content of Losses. Journal of Accounting and Economics (20). pp. 125-
       153.
Holthausen, R. dan R. Verrecchia. 1988. The Effects of Sequencial Information Release on the
       Variance of Price Changes in an Intertemporal Multi-Assets Market. Journal of Accounting
       Research 26 (Spring). pp. 82-106.
Ikatan Akuntan Indonesia. 1994. Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No.16: Aktiva Tetap dan
       Aktiva Lain-lain. Salemba Empat. Jakarta.
______. 1998. Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No.46: Akuntansi Pajak Penghasilan. Salemba
      Empat. Jakarta.

                                                                                                233
Download @ http://ekydakka.com | SNA VII DENPASAR-BALI, 2-3 DESEMBER 2004

Jaswadi. 2003. Dampak Earnings Reporting Lags Terhadap Koefisien Respon Laba. Makalah.
      Prosiding Simposium Nasional Akuntansi VI (Surabaya). Hal. 487-506.
Kormendi, R. dan R. Lipe. 1987. Earnings Inovations, Earnings Persistance, and Stock Return. Journal
      of Business 60. pp. 323-345.
Kusuma, I.W. 2003. Comparing The Earnings Response Coefficients of US Multinational and Domestic
     Firms: The Use of Geographic Segment Reporting Information. Jurnal Riset Akuntansi
     Indonesia. Vol.6 No.3 (September). Hal. 232-248.
Lev, B. dan S.R. Thiagarajan. 1993. Fundamental Information Analysis. Journal of Accounting Research
        (Autumn). pp. 190-215.
______, dan P. Zarowin. 1999. The Boundaries of Financial Reporting and How to Extend Them.
      Journal of Accounting Research 37 (Autumn). pp 153-185.
Mason, R.D. dan D.A. Lind. 1996. Statistical Techniques in Business and Economics. 9th Edition.
      Richard D. Irwin Inc.
Mayangsari, S. 2002. Bukti Empiris Pengaruh Spesialisasi Industri Auditor Terhadap Earnings
      Response Coefficient. Makalah. Prosiding Simposium Nasional Akuntansi V (Semarang).
Means, K.M. 1990. Accounting for Income Taxes: FAS 96 – Unexpected Results. Journal of Accounting,
      Auditing & Finance. Vol 14. pp. 571-579.
Pincus, M. 1997. Stock Price Effects of the Allowance of LIFO for Tax Purpose. Journal of Accounting
       and Economics (23). pp. 283-308.
Scott, W.R. 1997. Financial Accounting Theory. Prentice-Hall Inc. Upper Saddle River. New Jersey.
Suryono, B. 2003. Pengaruh Kualitas Auditor terhadap Koefisien Respon Laba Akuntansi. Tesis.
      Universitas Wijaya Kusuma. Surabaya.
Warastuti, Y. 2003. Analisis Kemampuan Harga Saham Dalam Mencerminkan Informasi Laba dan
      Dividen yang Digunakan dalam Pembentukan Ekspektasi Laba Mendatang. Makalah. Prosiding
      Simposium Nasional Akuntansi VI (Surabaya). Hal. 457-472.
Wasley, C.E. 1991. Mandatory Accounting Changes and Earnings Response Coefficients: SFAS 2 and
      Accounting for Research and Development Costs. Working Paper. Washington University.
Widiastuti, H. 2001. Pengaruh Luas Ungkapan Sukarela Dalam Laporan Tahunan Terhadap Earning
       Response Coefficient (ERC). Tesis. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.




                                                                                                    234

								
To top