tugas fiqh 2

Document Sample
tugas fiqh 2 Powered By Docstoc
					Tugas 1

1. Jelaskan makna fiqh dan mengapa kita perlu mempelajari Fiqh Jenazah ?
   Jawab :



Kata fiqh yang berasal dari bahasa arab mempunyai makna etimologi al-fahm (memahami).
Sedangkan arti terminologinya adalah mengetahuai sesuatu yang menjadi hak maupun kewajiban
seseorang, atau mengetahui hukum-hukum partikular (juz‟i) berdasar dalil-dalilnya. Definisi
seperti ini dikemukakan oleh Imam Abu Hanifah yang cenderung memaknai fiqh secara umum
dan mencakup hukum-hukum i‟tiqadiyyat (keimanan), wijdaniyyat (akhlaq-tashawuf), dan
‟amaliyyat (hukum praktis keseharian). Mengingat cakupannya yang begitu menyeluruh seperti
ini maka fiqh dalam madzhab hanafiyyah dikenal dengan sebutan al-fiqh al-akbar sesuai
perkembangan fiqh pada era madzhab ini yang belum didiversifikasi menjadi sebuah disiplin
ilmu tersendiri.


4. Pandangan ulama fiqh tentang menghadiahkan pahala bacaan Al-qur‟an bagi mayit,
   Jawab :

Mengirim pahala bacaan Qur’an bagi orang yang telah meninggal dunia

Untuk masalah ini, ulama berselisih pendapat. Masing-masing memiliki dalil dan hujjah yang
sulit dipatahkan begitu saja. Dan tentu saja masing-masing pendapat akan mengklaim bahwa
pendapatnyalah yang paling benar dan hujjah mereka yang paling kuat. Namun sebagai muslim
yang baik, sikap kita atas perbedaan itu tidak dengan menjelekkan atau melecehkan pendapat
yang kiranya tidak sama dengan pendapat yang telah kita pegang selama ini. Bila kita tentram
dan merasa pas dengan salah satu pendapat,jangan lantas diiringi dengan caci maki kepada yang
berbeda pendapat. Karena bagaimanapun yang mereka ikuti juga adalah para ulama yang telah
diakui kehujjahannya dalam dunia islam.
Ulama Yang Berpendapat Sampainya Bacaan Qur’an Kepada Orang Meninggal
Pendapat ini didukung oleh para ulama dari berbagai mazhab diantaranya :
Abdullah bin Amru bin Al ‘Ash Radhiallahu ‘Anhuma
Beliau adalah seorang sahabat Nabi, ayahnya adalah Amr bin Al „Ash, Gubernur Mesir pada
masa Khalifah Umar. Dalam kitab Syarh Muntaha Al Iradat 3/16, disebutkan demikian: Dari
Abdullah bin Amru, bahwa dia menganjurkan jika mayit dikuburkan hendaknya dibacakan
pembuka surat Al Baqarah, dan akhir surat Al Baqarah. Ini diriwayatkan oleh Imam AlLalika‟i.
Hal ini dikuatkan oleh keumuman hadits: Bacalah Yasin kepada orang yang menghadapi
sakaratul maut.


Imam Ahmad bin Hambal rah. dan Imam Ibnu Qudamah rah.
Pendapat Ini telah masyhur diketahui sebagai pendapat imam Ahmad dan ulama-ulama mazhab
Hanbali, bahwa beliau membolehkan membaca Al Quran untuk orang sudah meninggal. Imam
Ibnu Qudamah mengatakan dalam kitabnya, Syarhul Kabir : Berkata Ahmad: bahwa mereka
membacakan Al Quran ( surat Yasin) pada sisi mayit untuk meringankannya, dan juga
diperintahkan membaca surat Al Fatihah. (Syarh Al Kabir, 2/305).
Imam Al Bahuti juga mengatakan: Imam Ahmad mengatakan, bahwa semua bentuk amal shalih
dapat sampai kepada mayit baik berupa doa, sedekah, dan amal shalih lainnya, karena adanya
riwayat tentang itu. (Syarh Muntaha Al Iradat, 3/16)
Dalil naqli :
     Dari Abu Hurairah ra.: “Bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi Saw :
     “Sesungguhnya ayahku sudah wafat, dia meninggalkan harta dan belum diwasiatkannya,
     apakah jika disedekahkan untuknya maka hal itu akan menghapuskan kesalahannya?
     Rasulullah Saw menjawab: Ya.” (HR. Muslim)


     Al Qur‟an surah al Hasyr ayat 10 : ”Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara
     kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami.”


Ulama Yang Berpendapat Tidak Sampainya Bacaan Qur’an Kepada Orang Meninggal


Imam Abu Hanifah rah. Dan jumhur pengikut mazhab Hanafi
Keterangan pendapat al Imam Abu Hanifah dan para ulama kalangan Hanafi yang menganggap
bahwa pengiriman pahala kepada orang yang meninggal tidak ada syariatnya dapat kita temukan
dalam kitab Al Mausu‟ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 16/8.


Imam Asy Syafi’i rah.,Imam Ibnu Katsir rah. Dan jumhur mazhab Syafi’I Mutaqadimin
(terdahulu)
Disebutkan dalam Al Mausu‟ah: “Dan pendapat Syafi‟iyah bahwa tidaklah dibaca Al Quran di
sisi mayit.” (Al Mausu‟ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 16/8.)
Dalam Tafsir Al Quran Al „Azhim pada juz ke- 7 halaman 465, Imam Ibnu Katsir berkata ketika
menafsirkan Surat An Najm ayat 18: “(yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan
memikul dosa orang lain.”
Beliau berkata : “Sebagaimana dia tidak memikul dosa orang lain, begitu pula pahala, ia hanya
akan diperoleh melalui usahanya sendiri. Dari ayat yang mulia ini, Imam Asy Syafi‟i
Rahimahullah dan pengikutnya berpendapat bahwa pahala bacaan Al Quran tidaklah sampai
kepada orang yang sudah wafat karena itu bukan amal mereka dan bukan usaha mereka. Oleh
karena itu Rasulullah Saw tidak pernah menganjurkannya dan tidak pernah memerintahkannya,
dan tidak ada nash (teks agama) yang mengarahkan mereka ke sana , dan tidak ada riwayat dari
seorang sahabat pun yang melakukannya, seandainya itu baik tentulah mereka akan mendahului
kita dalam melakukannya.”
Namun, dalam kitab Riyadhus Shalihin, Imam An Nawawi justru mengatakan hal yang
sebaliknya, yaitu beliau mengatakan bahwa Imam Asy Syafi‟i menganggap sunnah membaca Al
Quran di sisi kubur, jika sampai khatam maka itu bagus. Namun yang masyhur (terkenal) dari
Imam Asy Syafi‟i dan pengikutnya adalah mereka menolak keyakinan sampainya pahala bacaan
Al Quran ke mayit. (lihat Nailul Authar, 4/142.)


Kesimpulan
Dari penjelasan diatas dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1.    Ulama telah berijma‟ (sepakat) bahwa doa dan sedekah dari seorang muslim kepada muslim
      lain yang telah meninggal dunia ada masyru‟ (disyariatkan).
2.    Ulama berbeda pendapat mengenai masyru‟iyahnya bacaan Qur‟an dari seorang muslim
      kepada muslim lain yang telah meninggal dunia.
6.      Ta’ziyah adalah Secara bahasa kata takziyah adalah bentuk mashdar dari fiil azza yang
        artinya Aku menyabarkan, menghibur dan menawarkan kesedihannya serta
        memerintahkannya (menganjurkan ) untuk bersabar. Secara definisi, beberapa ulama
        mendefinisikan ta`ziyah dalam beberapa definisi yang artinya mirip satu ama lain dan
        sejakan sesuai dengan maknanya secara bahasa.Berkata Imam Nawawi, Taziyah adalah
        menyabarkan dan menyebutkan hal-hal yang menghibur shahibul mayit (pemilik
        keluarga mayat) mengurangi kesedihannya dan meringankan musibahnya . (Shahih Kitab
        Al – Adzkar 1/400). Berkata syaikh ibnu utsaimin, takziyah bermakna, aku menguatkan
        jiwanya dalam memikul kesabaran (dinukil dari At turuq Al Muyassarah hal 112).
        Hukum takziyah : melakukan takziyah terhadap orang yang ditimpa musibah / kematian
        merupakan sesuatu yang disyariatkan dan merupakan petunjuk Rasulullah SAW.

        Ihdad adalah masa berkabung bagi seorang istri yang ditinggal mati oleh suaminya.
        Berdasarkan hadits Rasululah masa tersebut adalah 40 bulan 10 hari dengan larangan-
        larangannya antara lain: bercelak mata, berhias diri dan keluar rumah kecuali dalam
        keadaan sangat terpaksa. Kaum muslimin telah sepakat bahwa ihdad wajib hukumnya
        atas muslimah sebagaimana apa yang telah dijelaskan oleh Ibnu Rusyd.

        Wasiat ialah suatu hasrat atau keinginan yang dizahirkan secara lisan atau bertulis oleh
        seseorang mengenai hartanya untuk diuruskan selepas berlaku kematiannya. Tetapi
        wasiat yang dibuat secara lisan adalah terdedah kepada fitnah akibat arahan yang tidak
        jelas dan boleh dipertikaikan di kalangan ahli waris.

        Euthanasia secara bahasa berasal dari bahasa Yunani eu yang berarti “baik”, dan
        thanatos, yang berarti “kematian” (Utomo, 2003:177). Dalam bahasa Arab dikenal
        dengan istilah qatlu ar-rahma atau taysir al-maut. Menurut istilah kedokteran, euthanasia
        berarti tindakan agar kesakitan atau penderitaan yang dialami seseorang yang akan
        meninggal diperingan. Juga berarti mempercepat kematian seseorang yang ada dalam
        kesakitan dan penderitaan hebat menjelang kematiannya (Hasan, 1995:145).



3. Bagaimana hukumnya talqin mayit, setelah mayit selesai dikubur?

     Talqin mayit, kalau mayitnya muslim mukallaf, para ulama’ Ahlu Sunah wal Jama’ah
     menetapkan hukumnya sunah. Dengan dasar ayat:




     Berilah peringatan, sesungguhnya peringatan itu, manfaat bagi orang-orang mu’min
     (Adz-Dzariyat ayat 55)

     Dan hadits yang diriwayatkan oleh Utsman ra.berkata:


                                                          :


     Pendapat Ulama tentang Talqin :

     Ketahuilah, bahwa talqin sebelum mati itu tidak ada perselisihan ulama tentang
     disyariatkannya, yaitu hendaknya orang yang akan meninggal dunia ditalqin untuk
     mengucapkan kalimat tauhid Laa Ilaha Illa Allah. Hal ini berdasarkan hadits:
 “Laqqonuu maautaakum Laa Ilaha Illa Allah”

“Talqinlah orang yang akan meninggal di antara kalian: Laa Ilaha Illa Allah.” *HR.Muslim: 916+

     Adapun talqin setelah mayit dikuburkan, para ulama berselisih pendapat menjadi tiga pendapat:

1.   Sunnah. Berdasarkan hadits diatas dan amalan sebagian ulama. Ibnu Sholah rahimahullah
     berkata: “Adanya talqin, itulah yang kami pilih dan kami amalkan, kami meriwayatkan suatu
     hadits tentangnya dari Abu Umamah, namun sanadnya tidak kuat, tetapi dikuatkan oleh
     beberapa penguat dan diamalkan oleh penduduk Syam.”

2.   Mubah (boleh). Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Dalam hal ini ada tiga
     pendapat: Sunnah, Makruh dan Mubah, inilah pendapat yang paling adil.”

3.   Haram. Hal itu karena haditsnya tidak shohih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maka
     mengamalkannya termasuk kebid’ahan dalam agama. Ash-Shon’ani rahimahullah berkata:
     “Kesimpulan komentar para ulama ahli hadits bahwa hadits ini lemah dan mengamalkannya
     merupakan kebid’ahan, maka janganlah tertipu dengan banyaknya orang yang melakukannya.”

     Syaikh al-Albani rahimahullah berkomentar: “Hal ini jangan dibantah dengan pendapat yang
     populer bahwa hadits lemah bisa digunakan dalam fadhoil a’mal, karena hal tersebut
     merupakan kaidah dalam masalah-masalah yang disyariatkan al-Qur’an dan Sunnah as-
     Shohihah. Adapun bila tidak demikian maka tidak boleh diamalkan karena itu merupakan syariat
     dengan hadits lemah. Hendaknya hal ini diperhatikan oleh orang yang menginginkan
     keselamatan dalam agamanya karena kebanyakan orang lalai.”

Beliau juga mengatakan: “Talqin setelah mati, di samping bid’ah dan tidak ada haditsnya yang shohih,
juga tidak ada faedahnya karena hal itu keluar dari kampung taklif (beban) kepada kampung
pembalasan dan mayit tidak menerima peringatan karena peringatan itu bagi orang yang masih
hidup.”

Pengganti Yang Shohih Cukuplah bagi kita hadist shohih berikut (yang artinya):

“Dari Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apabila
selesai dari menguburkan mayit, beliau berdiri dan berkata: Mintalah ampunan untuk saudara kalian,
dan mintalah ketetapan baginya, karena dia sekarang ditanya.”

5.kemukan contoh yang wajib, yang sunat, yang haram dan yang makruh dilakukan orang
hidupterkait dengan kematian seorang manusia?

1. memandikan mayat

2. mengafani mayat

3. menshalatkan mayat

4. menguburkan mayat

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:24
posted:8/7/2011
language:Indonesian
pages:5
faisal syamsuddin faisal syamsuddin Mr http://peutuah.com
About