Bukti Tumbuhan pun Bertasbih

Document Sample
Bukti Tumbuhan pun Bertasbih Powered By Docstoc
					Bukti Tumbuhan pun Bertasbih




Pada sebuah penelitian ilmiah yang diberitakan oleh sebuah majalah sains terkenal, Journal of
plant Molecular Biologist, menyebutkan bahwa sekelompok ilmuwan yang mengadakan
penelitian mendapatkan suara halus yang keluar dari sebagian tumbuhan yang tidak biasa
didengar oleh telinga biasa. Suara tersebut berhasil disimpan dan direkam dengan sebuah alat
perekam tercanggih yang pernah ada.

Para ilmuwan selama hampir 3 tahun meneliti fenomena yang mencengangkan ini berhasil
menganalisis denyutan atau detak suara tersebut sehingga menjadi isyarat-isyarat yang bersifat
cahaya elektrik (kahrudhahiyah) dengan sebuah alat yang bernama Oscilloscope. Akhirnya para
ilmuwan tersebut bisa menyaksikan denyutan cahaya elektrik itu berulang lebih dari 1000 kali
dalam satu detik.

Prof. William Brown yang memimpin para pakar sains untuk mengkaji fenomena tersebut
mengisyaratkan setelah dicapainya hasil bahwasanya tidak ada penafsiran ilmiah atas fenomena
tersebut. Padahal seperti diakui oleh sang professor bahwa pihaknya telah menyerahkan hasil
penelitian mereka kepada universitas-universitas serta pusat-pusat kajian di Amerika juga Eropa,
akan tetapi semuanya tidak sanggup menfsirkan fenomena itu bahkan semuanya tercengang tidak
tahu harus berkomentar apa...

Pada kesempatan terakhir, fenomena tersebut dihadapkan dan dikaji oleh para pakar dari
Britania, dan diantara mereka ada seorang ilmuwan muslim yang berasal dari India. Setelah 5
hari mengadakan mengadakan penelitian dan pengkajian ternyata para ilmuwan dari Inggris
tersebut angkat tangan. Sang ilmuwan muslim tersebut mengatakan: "Kami umat Islam tahu
tafsir dan makna dari fenomena ini, bahkan semenjak 1400 tahun yang lalu".

Maka para ilmuwan yang hadir pun tersentak dengan pernyataan tersebut, dan meminta dengan
sangat untuk menunjukkan tafsir dan makna dari kejadian itu.
Sang ilmuwan muslim segera menyitir firman Allah:
"....Dan tak ada sesuatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya,tetapi kamu sekalian tidak
mengerti tasbih mereka.Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun"
(QS.Al-Israa': 44)

Tidaklah suara denyutan itu melainkan lafadz jalalah (nama Allah Azza wa Jalla) sebagaimana
tampak dalam layer (Oscilloscope) .Maka keheningan dan keheranan luarbiasa menghiasi aula
dimana para ilmuwan muslim tersebut berbicara.

SubhanalLaah, Maha Suci Allah! Ini adalah salah satu mukjizat dari sekian banyak mukjizat
agama yang haq ini!! Segala sesuatu bertasbih menggunakan nama Allah Jalla wa 'Ala. Akhirnya
orang yang bertanggung-jawab terhadap penelitian ini, yaitu Prof. William Brown menemui sang
ilmuwan muslim untuk mendiskusikan tentang agama yang dibawa oleh seorang Nabi yang
ummi (tidak bisa baca tulis) sebelum 1400 tahun lalu tentang fenomena ini. Maka ilmuwan
tersebut pun menerangkan kepadanya tentang Islam, setelah itu ia menghadiahkan alQur'an dan
terjemahnya kepada sang professor.

Selang beberapa hari setelah itu, professor William mengadakan ceramah di universitas Carnich
- Miloun, ia mengatakan: "Dalam hidupku, aku belum pernah menemukan fenomena semacam
ini selama 30 tahun menekuni pekerjaan ini, dan tidak ada seorang ilmuwan pun dari mereka
yang melakukan dari mereka yang melakukan pengkajian yang sanggup menafsirkan apa makna
dari fenomena ini. Begitu pula tidak pernah ditemukan kejadian alam yang bisa menafsirinya.
Akan tetapi satu-satunya tafsir yang bisa kita temukan adalah didalam alQur'an. Hal ini tidak
memberikan pilihan lain buatku selain mengucapkan "Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang
haq melainkan Allah, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya"

Sang professor ini telah mengumumkan Islam nya dihadapan para hadirin yang sedang
terperangah.

Allahu Akbar !! Kemuliaan hanyalah bagi Islam, ketika seorang ilmuwan sadar dari kelalaiannya
dan mengetahui bahwa agama yang haq ini adalah agama Islam.
5 WASIAT DARI ALLAH S.W.T. KEPADA RASULULLAH S.A.W

Dari Nabi S.A.W., “Pada waktu malam saya diisrakkan sampai ke langit, Allah S.W.T telah
memberikan lima wasiat, antaranya :

1. Janganlah engkau gantungkan hatimu kepada dunia kerana sesungguhnya Aku tidak
menjadikan dunia ini untuk engkau.

2. Jadikan cintamu kepada-Ku sebab tempat kembalimu adalah kepada-Ku.

3. Bersungguh-sungguhlah engkau mencari syurga.

4. Putuskan harapan dari makhluk kerana sesungguhnya mereka itu sedikitpun tidak ada kuasa di
tangan mereka.

5. Rajinlah mengerjakan sembahyang tahajjud kerana sesungguhnya pertolongan itu berserta
qiamullail.

Ibrahim bin Adham berkata, “Telah datang kepadaku beberapa orang tetamu, dan saya tahu
mereka itu adalah wakil guru tariqat. Saya berkata kepada mereka, berikanlah nasihat yang
berguna kepada saya, yang akan membuat saya takut kepada Allah S.W.T.

Lalu mereka berkata, “Kami wasiatkan kepada kamu 7 perkara, iaitu :

1. Orang yang banyak bicaranya janganlah kamu harapkan sangat kesedaran hatinya.

2. Orang yang banyak makan janganlah kamu harapkan sangat kata-kata himat darinya.

3. Orang yang banyak bergaul dengan manusia janganlah kamu harapkan sangat kemanisan
ibadahnya.

4. Orang yang cinta kepada dunia janganlah kamu harapkan sangat khusnul khatimahnya.

5. Orang yang bodoh janganlah kamu harapkan sangat akan hidup hatinya.

6. Orang yang memilih berkawan dengan orang yang zalim janganlah kamu harapkan sangat
kelurusan agamanya.

7. Orang yang mencari keredhaan manusia janganlah harapkan sangat akan keredhaan Allah
daripadanya.”
Makna Nama Muhammad dalam Interpresentasi Gambar

Rahasia dibalik nama Muhammad, dimana banyak makna yang tersirat dalam kebesaran nama
yang sederhana itu. entah apakah ini merupakan salah satu mukjizat atau sekedar kebetulan saja,
bahwa ada fakta menarik di abjad/huruf-huruf yang tersusun dari nama itu:

1. Kata Muhammad, jika kita gabungkan dalam bentuk normal mim kha mim kha dal, maka
akan menjadi sebuah sekesta seorang manusia. sudah maklum adanya bahwa sebaik-baik mahluk
/ ciptaan yang pernah diciptakan oleh Tuhan di alam semesta ini adalah manusia dengan
kelebihan aqal mereka, sementara mahluk lain hanyalah hayawan dan planet-planet yang penuh
rahasia.

Manusia Sempurna:




2. kata Ahmad, jika kita cermati satu-persatu hurufnya mak huruf-huruf itu akan
mennggambarkan sosok orang yang sedang melakukan sholat, tahukah kita bahwa sholat
merupakan sebaik-baik doa dan ibadah yang pernah diperintahkanNya.
Ahmad Terpisah:




3. Kata Muhammad jika digabungkan huruf-hurufnya maka akan berbentuk layaknya manusia
yang sedang sujud dalam shalat. dalam ritual sholat Sujud merupakan inti dari semua rukun-
rukunnya, karena pada saat sujud manusia menundukkan 8 bagian tubuhnya di bumi bukti
kepasrahan total kepada sang pencipta. hmmm betapa rahasia Tuhan sangat menggetarkan hati,
saya yakin masih banyak tersirat rahasia-rahaisa lain dibalik sosok, nama dan semua yang
berkaitan dengan sang kekasih sejati 'Habibullah: Muhammad'.




wallahualam bissawab
Kesatuan Lembaga Setan Laknatillah

Kesatuan pertama ditujukan kepada orang-orang dewasa setan membuat para orang tua ini
terlena dalam 4 dosa : setan mendorong mereka berbohong, setan mendorong mereka menuduh
orang tentang sesuatu yang tidak mereka lakukan, setan mendorong mereka memberi kesaksian
palsu, dan setan mendorong mereka beribadah tanpa mempunyai pengetahuan yang sempurna
tentang hukum cara menjalankan ibadah.

Orang ini akan memanjatkan doa, mendirikan shalat, dan membaca doa-doa wajib, namun
mereka berbicara buruk tentang orang lain, mempersaksikan perbuatan buruk orang lain tanpa
melihatnya sendiri, dan melaksanakan shalat tanpa mengetahui semua hukum shalat itu,

Kesatuan Kedua ditujukan kepada para pemuda, setan tidak pernah mencegah para pemuda
untuk menjalankan ibadah shalat, melaksanakan haji, atau melakukan apa saja lainnya asalkan
setan terlibat dalam dua hal. Hal pertama , setan mendorong para pemuda untuk melihat hal-hal
yang terlarang untuk mereka, dan yang kedua, mereka mendengar hal-hal yang terlarang untuk
mereka.

Kesatuan yang Ketiga ditujukan kepada para perempuan tua, setan mendorong para
perempuan tua untuk ghibah (menggosip, mengumpat), menuduh orang lain secara tidak benar,
menghancurkan karakter laki-laki dan perempuan lain, dan senang melakukan sihir kepada laki-
laki dan perempuan.

Kesatuan yang Keempat ditujukan kepada para perempuan muda, kesatuan ini adalah kesatuan
yang paling tidak aktif, karena semua pemudi sudah menjadi bala tentara setan dan setan
mengendalikan mereka secara kukuh, setan tidak mendapatkan kesulitan dalam menipu mereka.
( banyak para pemudi yang mempertontonkan aurat mereka, menggunakan wangi-wangian yang
mencolok di depan para masyarakat sehingga mengundang syawat para pria, menampak-
nampakkan perhiasan kepada orang yang bukan muhrimnya).

Namun demikian, satu dalam seribu, setan melihat satu pemudi yang jalan hidupnya mengikuti
jalan hidup Nabi Muhammad saw (menggunakan Jilbab, menundukkan pandanganya, menjaga
auratnya) maka setan tidak sanggup sama sekali untuk menipunya.

Inilah Empat kesatuan yang diciptakan oleh setan sebagai senjata andalan dalam cara
menyesatkan manusia anak turun Adam as. Dan jika para para orang tua, pemuda, perempuan
tua, pemudi tidak tersesat oleh ke4 kesatuan ini maka setan akan menunggu sampai mereka
menjalankan amal kebaikan, lalu setan akan pergi kepada mereka lagi dan menipu mereka
sehingga mereka merasa bahwa mereka telah berbuat baik kepada Allah dengan menjalankan
amal kebaikan semacam itu, dan setan akan mendorong mereka untuk bercerita amal-amal
kebaikan yang telah mereka lakukan, seperti :

“aku telah melaksanakan shalat, menjalankan puasa, besedekah dengan uang yang banyak, atau
menolong orang lain saat kesusahan”.
Lalu bagaimanakah kita menghadapi problem penipuan setan ini, jika pengikut Muhammad saw
menjalankan perbuatan ini dengan niat yang tulus dan pada saat yang tepat, maka mereka tidak
akan mungkin tertipu oleh setan, dan perbuatan itu adalah “shalat wajib”.

Akan tetapi untuk memecahkan masalah ini setan telah menunjuk salah satu tentaranya yang
bernama “Mutawaqi” pekerjaanya adalah menjadikan para umat Rasul Allah malas dan asik
dengan kemalasannya itu yang karena itu membuat mereka shalat diakhir waktu. Ketika mereka
shalat diakhir waktu, mereka melaksanakan sedemikian hingga shalatnya tidak diterima oleh
Allah.


Perdebatan Antara Nabi Adam dan Nabi Musa

Dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam bersabda, “Adam dan
Musa pernah berbantahan. Musa berkata, „Wahai Adam, engkau adalah bapak kami. Tetapi
engkau telah mengecewakan kami karena menyebabkan kami keluar dari surga.‟

Adam menjawab, „Engkau wahai Musa, engkau telah dipilih dan dimuliakan oleh Allah
Subhanahu wa Ta‟ala. Dengan kehendak-Nya engkau dapat bercakap-cakap dengan-Nya.
Apakah engkau mencelaku karena urusan yang telah ditakdirkan Allah atasku sejak 40 tahun
sebelum aku diciptakan-Nya?‟

Demikianlah Adam membantah Musa, demikianlah Adam membantah Musa, demikianlah Adam
membantah Musa.”

(HR. Bukhari, no. 3407 dan Muslim, no. 2652)

Pelajaran yang dapat dipetik:
1. Diperbolehkan beradu argumentasi antara orang shaleh jika menemukan kesulitan
2. Hendaknya yang bersangkutan masing-masing mengetahui kelebihan lawannya.
3. Bantahan terhadap kelompok qadariyah bahwasanya suatu perkara sudah tetap dan tidak bisa
diubah.
4. Penetapan sifat tangan bagi Allah Subhanahu wa Ta‟ala.
5. Bisa jadi suatu kemaksiatan melahirkan kebaikan.
6. Seseorang yang bertaubat dari kemaksiatan yang dilakukan karena unsur lupa atau tidak
sengaja, tidak sepantasnya dilempari dengan celaan.
Kecerdasan Imam Asy-Syafi

Di bawah ini adalah beberapa riwayat yang menunjukkan kecerdasan Imam Asy-Syafi‟i
rahimahullah yang sangat di sanjung oleh para ulama yang lainnya.

Dari Ubaid bin Muhammad bin Khalaf Al-Bazzar, dia berkata, “Ketika Abu Tsaur ditanya
tentang siapa yang lebih pandai antara Imam Asy-Syafi‟i dan Muhammad bin Al-Hasan, maka ia
menjawab bahwa Imam Asy-Syafi‟i lebih pandai dari pada Muhammad, Abu Yusuf, Abu
Hanifah, Hammad, Ibrahim, Al-Qamah dan Al-Aswad.

Ahmad bin Yahya memberitahukan bahwa Al-Humaidi berkata, “Aku telah mendengar dari
Sayyid Al-Fuqaha‟, yaitu Muhammad bin Idris Asy-Syafi‟i.”

Sedang Ar-Rabi‟ berkata, “Aku pernah mendengar Al-Humaidi dari Muslim bin Khalid, ia
berkata kepada Imam Asy-Syafi‟i, „Wahai Abu Abdillah, berfatwalah. Aku bersumpah demi
Allah, sesungguhnya kamu sekarang sudah berhak mengeluarkan fatwa.‟ Padahal Imam Asy-
Syafi‟i pada saat itu baru berusia lima belas tahun.”

Dari Harmalah bin Yahya, ia berkata, “Aku telah mendengar Imam Asy-Syafi‟i ditanya tentang
seorang suami yang berkata kepada isterinya yang pada saat itu dimulutnya terdapat sebiji
kurma, „Jika kamu makan korma itu, maka kamu aku talak (cerai), dan apabila kamu
memuntahkannya, maka kamu juga aku talak (cerai),‟ maka Imam Syafi‟i menjawab, „Makan
separuh dan muntahkanlah separuhnya.‟”

Al-Muzni berkata, “Ketika Imam Asy-Syafi‟i ditanya tentang burung unta yang menelan mutiara
milik orang lain, maka dia menjawab, „Aku tidak menyuruhnya untuk menelannya. Kalau
pemilik mutiara ingin mengambil mutiara itu, maka sembelih dan keluarkan mutiara itu dari
perutnya, lalu dia harus menebus burung unta tersebut dengan harga antara burung itu hidup dan
sudah disembelih.‟”

Ma‟mar bin Syu‟aib berkata, “Aku mendengar Amirul Mukminin Al-Makmun bertanya kepada
Muhammad bin Idris Asy-Syafi‟i, ia berkata, „Wahai Muhammad, apa illat-nya Allah
menciptakan lalat?‟”

Mendengar pertanyaan itu, Imam Asy-Syafi‟i terdiam sesaat, lalu dia menjawab, „Wahai Amirul
Mukminin, lalat itu diciptakan untuk menghinakan para raja.‟
Dengan seketika, Al-Makmun tertawa terbahak-bahak. Lalu ia berkata, „Wahai Muhammad, aku
telah melihat lalat jatuh ketika ada di pipiku.‟ Sehingga Imam Asy-Syafi‟i membalasnya dengan
berkata, „Benar tuanku. Sebenarnya ketika tuanku menanyakan hal tersebut kepadaku, aku tidak
mempunyai jawabannya. Ketika aku melihat lalat itu jatuh tanpa ada suatu sebab dari pipi tuanku
tersebut, maka aku baru menemukan jawabannya.‟”
Kemudian Al-Makmun berkata, „Wahai Muhammad, segalanya adalah kekuasaan Allah.‟”

Ibrahim bin Abi Thalib Al-Hafidz berkata, “Aku bertanya kepada Abu Qudamah As-Sarkhasi
tentang Imam Asy-Syafi‟i, Imam Ahmad, Abu Ubaid dan Ibnu Rahawaih, maka dia menjawab,
„Imam Asy-Syafi‟i adalah orang yang paling cerdas di antara mereka semua.‟”
Ar-Rabi‟ berkata, “Pada suatu hari ketika aku sedang bersama Imam Asy-Syafi‟i, seseorang
datang dan bertanya, „Wahai guru, apa pendapatmu tentang orang yang sedang bersumpah,
„Apabila dalam sakuku terdapat „banyak uang dirham‟ lebih dari tiga dirham, maka budakku
merdeka. „Sedangkan dalam saku orang yang bersumpah tesebut hanya terdapat uang sebanyak
empat dirham saja. Apakah orang itu harus memerdekakan budaknya?‟ maka dia menjawab, „Ia
tidak wajib memerdekakan budaknya.‟”

Ketika penanya minta penjelasan lebih lanjut, maka Imam Asy-Syafi‟i berkata, „Orang tersebut
telah mengecualikan sumpahnya dengan „banyak dirham‟, sedangkan empat dirham itu
mempunyai kelebihan satu dari tiga dirham yang disumpahkan. Satu dirham bukanlah „banyak
dirham‟ sebagaimana yang dimaksudkan dalam sumpahnya.‟

Mendengar penjelasan ini, maka penanya kemudian berkata, „Aku beriman kepada Zat yang
telah memberikan ilmu melalui lisanmu.‟”

Sumber: Dinukil dari kitab Min A‟lamis Salaf karya, Syaikh Ahmad Farid, edisi indonesia: 60
Bigrafi Ulama Salaf cet. Pustaka Azzam, hal. 371-372.
Kisah Perjuangan Bilal Bin Rabah Radhiallahu Anhu

Namanya adalah Bilal bin Rabah, Muazin Rasulullah Shalallahu „alaihi wasallam, memiliki
kisah menarik tentang sebuah perjuangan mempertahankan aqidah. Sebuah kisah yang tidak akan
pernah membosankan, walaupun terus diulang-ulang sepanjang zaman. Kekuatan alurnya akan
membuat setiap orang tetap penasaran untuk mendengarnya.

Bilal lahir di daerah as-Sarah sekitar 43 tahun sebelum hijrah. Ayahnya bernama Rabah,
sedangkan ibunya bernama Hamamah, seorang budak wanita berkulit hitam yang tinggal di
Mekah. Karena ibunya itu, sebagian orang memanggil Bilal dengan sebutan ibnus-Sauda‟ (putra
wanita hitam).

Bilal dibesarkan di kota Ummul Qura (Mekah) sebagai seorang budak milik keluarga bani
Abduddar. Saat ayah mereka meninggal, Bilal diwariskan kepada Umayyah bin Khalaf, seorang
tokoh penting kaum kafir.

Ketika Mekah diterangi cahaya agama baru dan Rasul yang agung Shalallahu „alaihi wasallam
mulai mengumandangkan seruan kalimat tauhid, Bilal adalah termasuk orang-orang pertama
yang memeluk Islam. Saat Bilal masuk Islam, di bumi ini hanya ada beberapa orang yang telah
mendahuluinya memeluk agama baru itu, seperti Ummul Mu‟minin Khadijah binti Khuwailid,
Abu Bakar ash-Shiddiq, Ali bin Abu Thalib, „Ammar bin Yasir bersama ibunya, Sumayyah,
Shuhaib ar-Rumi, dan al-Miqdad bin al-Aswad.

Bilal merasakan penganiayaan orang-orang musyrik yang lebih berat dari siapa pun. Berbagai
macam kekerasan, siksaan, dan kekejaman mendera tubuhnya. Namun ia, sebagaimana kaum
muslimin yang lemah lainnya, tetap sabar menghadapi ujian di jalan Allah itu dengan kesabaran
yang jarang sanggup ditunjukkan oleh siapa pun.

Orang-orang Islam seperti Abu Bakar dan Ali bin Abu Thalib masih memiliki keluarga dan suku
yang membela mereka. Akan tetapi, orang-orang yang tertindas (mustadh‟afun) dari kalangan
hamba sahaya dan budak itu, tidak memiliki siapa pun, sehingga orang-orang Quraisy
menyiksanya tanpa belas kasihan. Quraisy ingin menjadikan penyiksaan atas mereka sebagai
contoh dan pelajaran bagi setiap orang yang ingin mengikuti ajaran Muhammad.

Kaum yang tertindas itu disiksa oleh orang-orang kafir Quraisy yang berhati sangat kejam dan
tak mengenal kasih sayang, seperti Abu Jahal yang telah menodai dirinya dengan membunuh
Sumayyah. Ia sempat menghina dan mencaci maki, kemudian menghunjamkan tombaknya pada
perut Sumayyah hingga menembus punggung, dan gugurlah syuhada pertama dalam sejarah
Islam.

Sementara itu, saudara-saudara seperjuangan Sumayyah, terutama Bilal bin Rabah, terus disiksa
oleh Quraisy tanpa henti. Biasanya, apabila matahari tepat di atas ubun-ubun dan padang pasir
Mekah berubah menjadi perapian yang begitu menyengat, orang-orang Quraisy itu mulai
membuka pakaian orang-orang Islam yang tertindas itu, lalu memakaikan baju besi pada mereka
dan membiarkan mereka terbakar oleh sengatan matahari yang terasa semakin terik. Tidak cukup
sampai di sana, orang-orang Quraisy itu mencambuk tubuh mereka sambil memaksa mereka
mencaci maki Muhammad.

Adakalanya, saat siksaan terasa begitu berat dan kekuatan tubuh orang-orang Islam yang
tertindas itu semakin lemah untuk menahannya, mereka mengikuti kemauan orang-orang
Quraisy yang menyiksa mereka secara lahir, sementara hatinya tetap pasrah kepada Allah dan
Rasul-Nya, kecuali Bilal, semoga Allah meridhainya. Baginya, penderitaan itu masih terasa
terlalu ringan jika dibandingkan dengan kecintaannya kepada Allah dan perjuangan di jalan-Nya.

Orang Quraisy yang paling banyak menyiksa Bilal adalah Umayyah bin Khalaf bersama para
algojonya. Mereka menghantam punggung telanjang Bilal dengan cambuk, namun Bilal hanya
berkata, “Ahad, Ahad … (Allah Maha Esa).” Mereka menindih dada telanjang Bilal dengan batu
besar yang panas, Bilal pun hanya berkata, “Ahad, Ahad ….“ Mereka semakin meningkatkan
penyiksaannya, namun Bilal tetap mengatakan, “Ahad, Ahad….”

Mereka memaksa Bilal agar memuji Latta dan „Uzza, tapi Bilal justru memuji nama Allah dan
Rasul-Nya. Mereka terus memaksanya, “Ikutilah yang kami katakan!”

Bilal menjawab, “Lidahku tidak bisa mengatakannya.” Jawaban ini membuat siksaan mereka
semakin hebat dan keras.

Apabila merasa lelah dan bosan menyiksa, sang tiran, Umayyah bin Khalaf, mengikat leher Bilal
dengan tali yang kasar lalu menyerahkannya kepada sejumlah orang tak berbudi dan anak-anak
agar menariknya di jalanan dan menyeretnya di sepanjang Abthah Mekah. Sementara itu, Bilal
menikmati siksaan yang diterimanya karena membela ajaran Allah dan Rasul-Nya. Ia terus
mengumandangkan pernyataan agungnya, “Ahad…, Ahad…, Ahad…, Ahad….” Ia terus
mengulang-ulangnya tanpa merasa bosan dan lelah.

Suatu ketika, Abu Bakar Rodhiallahu „anhu mengajukan penawaran kepada Umayyah bin Khalaf
untuk membeli Bilal darinya. Umayyah menaikkan harga berlipat ganda. Ia mengira Abu Bakar
tidak akan mau membayarnya. Tapi ternyata, Abu Bakar setuju, walaupun harus mengeluarkan
sembilan uqiyah emas.

Seusai transaksi, Umayyah berkata kepada Abu Bakar, “Sebenarnya, kalau engkau menawar
sampai satu uqiyah-pun, maka aku tidak akan ragu untuk menjualnya.”

Abu Bakar membalas, “Seandainya engkau memberi tawaran sampai seratus uqiyah-pun, maka
aku tidak akan ragu untuk membelinya.”

Ketika Abu Bakar memberi tahu Rasulullah Shalallahu „alaihi wasallam bahwa ia telah membeli
sekaligus menyelamatkan Bilal dari cengkeraman para penyiksanya, Rasulullah Shalallahu
„alaihi wasallam berkata kepada Abu Bakar, “Kalau begitu, biarkan aku bersekutu denganmu
untuk membayarnya, wahai Abu Bakar.”

Ash-Shiddiq Rodhiallahu „anhu menjawab, “Aku telah memerdekakannya, wahai Rasulullah.”
Setelah Rasulullah Shalallahu „alaihi wasallam mengizinkan sahabat-sahabatnya untuk hijrah ke
Madinah, mereka segera berhijrah, termasuk Bilal Rodhiallahu „anhu. Setibanya di Madinah,
Bilal tinggal satu rumah dengan Abu Bakar dan „Amir bin Fihr. Malangnya, mereka terkena
penyakit demam. Apabila demamnya agak reda, Bilal melantunkan gurindam kerinduan dengan
suaranya yang jernih :

Duhai malangnya aku, akankah suatu malam nanti
Aku bermalam di Fakh dikelilingi pohon idzkhir dan jalil
Akankah suatu hari nanti aku minum air Mijannah
Akankah aku melihat lagi pegunungan Syamah dan Thafil

Tidak perlu heran, mengapa Bilal begitu mendambakan Mekah dan perkampungannya;
merindukan lembah dan pegunungannya, karena di sanalah ia merasakan nikmatnya iman. Di
sanalah ia menikmati segala bentuk siksaan untuk mendapatkan keridhaan Allah. Di sanalah ia
berhasil melawan nafsu dan godaan setan.

Bilal tinggal di Madinah dengan tenang dan jauh dari jangkauan orang-orang Quraisy yang kerap
menyiksanya. Kini, ia mencurahkan segenap perhatiannya untuk menyertai Nabi sekaligus
kekasihnya, Muhammad Shalallahu „alaihi wasallam. Bilal selalu mengikuti Rasulullah
Shalallahu „alaihi wasallam ke mana pun beliau pergi.

Selalu bersamanya saat shalat maupun ketika pergi untuk berjihad. Kebersamaannya dengan
Rasulullah Shalallahu „alaihi wasallam ibarat bayangan yang tidak pernah lepas dari pemiliknya.

Ketika Rasulullah Shalallahu „alaihi wasallam selesai membangun Masjid Nabawi di Madinah
dan menetapkan azan, maka Bilal ditunjuk sebagai orang pertama yang mengumandangkan azan
(muazin) dalam sejarah Islam.

Biasanya, setelah mengumandangkan azan, Bilal berdiri di depan pintu rumah Rasulullah
Shalallahu „alaihi wasallam seraya berseru, “Hayya „alashsholaati hayya „alalfalaahi…(Mari
melaksanakan shalat, mari meraih keuntungan….)” Lalu, ketika Rasulullah Shalallahu „alaihi
wasallam keluar dari rumah dan Bilal melihat beliau, Bilal segera melantunkan iqamat.

Suatu ketika, Najasyi, Raja Habasyah, menghadiahkan tiga tombak pendek yang termasuk
barang-barang paling istimewa miliknya kepada Rasulullah Shalallahu „alaihi wasallam.
Rasulullah Shalallahu „alaihi wasallam mengambil satu tombak, sementara sisanya diberikan
kepada Ali bin Abu Thalib dan Umar ibnul Khaththab, tapi tidak lama kemudian, beliau
memberikan tombak itu kepada Bilal. Sejak saat itu, selama Nabi hidup, Bilal selalu membawa
tombak pendek itu ke mana-mana. Ia membawanya dalam kesempatan dua shalat „id (Idul Fitri
dan Idul Adha), dan shalat istisqa‟ (mohon turun hujan), dan menancapkannya di hadapan beliau
saat melakukan shalat di luar masjid.

Bilal menyertai Nabi Shalallahu „alaihi wasallam dalam Perang Badar. Ia menyaksikan dengan
mata kepalanya sendiri bagaimana Allah memenuhi janji-Nya dan menolong tentara-Nya. Ia juga
melihat langsung tewasnya para pembesar Quraisy yang pernah menyiksanya dengan hebat. Ia
melihat Abu Jahal dan Umayyah bin Khalaf tersungkur berkalang tanah ditembus pedang kaum
muslimin dan darahnya mengalir deras karena tusukan tombak orang-orang yang mereka siksa
dahulu.

Ketika Rasulullah Shalallahu „alaihi wasallam menaklukkan kota Mekah, beliau berjalan di
depan pasukan hijaunya bersama ‟sang pengumandang panggilan langit‟, Bilal bin Rabah. Saat
masuk ke Ka‟bah, beliau hanya ditemani oleh tiga orang, yaitu Utsman bin Thalhah, pembawa
kunci Ka‟bah, Usamah bin Zaid, yang dikenal sebagai kekasih Rasulullah Shalallahu „alaihi
wasallam dan putra dari kekasihnya, dan Bilal bin Rabah, Muazin Rasulullah Shalallahu „alaihi
wasallam.

Shalat Zhuhur tiba. Ribuan orang berkumpul di sekitar Rasulullah Shalallahu „alaihi wasallam,
termasuk orang-orang Quraisy yang baru masuk Islam saat itu, baik dengan suka hati maupun
terpaksa. Semuanya menyaksikan pemandangan yang agung itu. Pada saat-saat yang sangat
bersejarah itu, Rasulullah Shalallahu „alaihi wasallam memanggil Bilal bin Rabah agar naik ke
atap Ka‟bah untuk mengumandangkan kalimat tauhid dari sana. Bilal melaksanakan perintah
Rasul Shalallahu „alaihi wasallam dengan senang hati, lalu mengumandangkan azan dengan
suaranya yang bersih dan jelas.

Ribuan pasang mata memandang ke arahnya dan ribuan lidah mengikuti kalimat azan yang
dikumandangkannya. Tetapi di sisi lain, orang-orang yang tidak beriman dengan sepenuh
hatinya, tak kuasa memendam hasad di dalam dada. Mereka merasa kedengkian telah merobek-
robek hati mereka.

Saat azan yang dikumandangkan Bilal sampai pada kalimat, “Asyhadu anna muhammadan
rasuulullaahi (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah)”.

Juwairiyah binti Abu Jahal bergumam, “Sungguh, Allah telah mengangkat kedudukanmu.
Memang, kami tetap akan shalat, tapi demi Allah, kami tidak menyukai orang yang telah
membunuh orang-orang yang kami sayangi.” Maksudnya, adalah ayahnya yang tewas dalam
Perang Badar.

Khalid bin Usaid berkata, “Aku bersyukur kepada Allah yang telah memuliakan ayahku dengan
tidak menyaksikan peristiwa hari ini.” Kebetulan ayahnya meninggal sehari sebelum Rasulullah
Shalallahu „alaihi wasallam masuk ke kota Mekah..

Sementara al-Harits bin Hisyam berkata, “Sungguh malang nasibku, mengapa aku tidak mati saja
sebelum melihat Bilal naik ke atas Ka‟bah.”

AI-Hakam bin Abu al-‟Ash berkata, “Demi Allah, ini musibah yang sangat besar. Seorang budak
bani Jumah bersuara di atas bangunan ini (Ka‟bah).”

Sementara Abu Sufyan yang berada dekat mereka hanya berkata, “Aku tidak mengatakan apa
pun, karena kalau aku membuat pernyataan, walau hanya satu kalimat, maka pasti akan sampai
kepada Muhammad bin Abdullah.”
Bilal menjadi muazin tetap selama Rasulullah Shalallahu „alaihi wasallam hidup. Selama itu
pula, Rasulullah Shalallahu „alaihi wasallam sangat menyukai suara yang saat disiksa dengan
siksaan yang begitu berat di masa lalu, ia melantunkan kata, “Ahad…, Ahad… (Allah Maha
Esa).”

Sesaat setelah Rasulullah Shalallahu „alaihi wasallam mengembuskan napas terakhir, waktu
shalat tiba. Bilal berdiri untuk mengumandangkan azan, sementara jasad Rasulullah Shalallahu
„alaihi wasallam masih terbungkus kain kafan dan belum dikebumikan. Saat Bilal sampai pada
kalimat, “Asyhadu anna muhammadan rasuulullaahi (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah
utusan Allah)”, tiba-tiba suaranya terhenti. Ia tidak sanggup mengangkat suaranya lagi. Kaum
muslimin yang hadir di sana tak kuasa menahan tangis, maka meledaklah suara isak tangis yang
membuat suasana semakin mengharu biru.

Sejak kepergian Rasulullah Shalallahu „alaihi wasallam, Bilal hanya sanggup
mengumandangkan azan selama tiga hari. Setiap sampai kepada kalimat, “Asyhadu anna
muhammadan rasuulullaahi (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah)”, ia
langsung menangis tersedu-sedu. Begitu pula kaum muslimin yang mendengarnya, larut dalam
tangisan pilu.

Karena itu, Bilal memohon kepada Abu Bakar, yang menggantikan posisi Rasulullah Shalallahu
„alaihi wasallam sebagai pemimpin, agar diperkenankan tidak mengumandangkan azan lagi,
karena tidak sanggup melakukannya. Selain itu, Bilal juga meminta izin kepadanya untuk keluar
dari kota Madinah dengan alasan berjihad di jalan Allah dan ikut berperang ke wilayah Syam.

Awalnya, ash-Shiddiq merasa ragu untuk mengabulkan permohonan Bilal sekaligus
mengizinkannya keluar dari kota Madinah, namun Bilal mendesaknya seraya berkata, “Jika dulu
engkau membeliku untuk kepentingan dirimu sendiri, maka engkau berhak menahanku, tapi jika
engkau telah memerdekakanku karena Allah, maka biarkanlah aku bebas menuju kepada-Nya.”

Abu Bakar menjawab, “Demi Allah, aku benar-benar membelimu untuk Allah, dan aku
memerdekakanmu juga karena Allah.”

Bilal menyahut, “Kalau begitu, aku tidak akan pernah mengumandangkan azan untuk siapa pun
setelah Rasulullah Shalallahu „alaihi wasallam wafat.”

Abu Bakar menjawab, “Baiklah, aku mengabulkannya.” Bilal pergi meninggalkan Madinah
bersama pasukan pertama yang dikirim oleh Abu Bakar. Ia tinggal di daerah Darayya yang
terletak tidak jauh dari kota Damaskus. Bilal benar-benar tidak mau mengumandangkan azan
hingga kedatangan Umar ibnul Khaththab ke wilayah Syam, yang kembali bertemu dengan Bilal
Radhiallahu „anhu setelah terpisah cukup lama.

Umar sangat merindukan pertemuan dengan Bilal dan menaruh rasa hormat begitu besar
kepadanya, sehingga jika ada yang menyebut-nyebut nama Abu Bakar ash-Shiddiq di depannya,
maka Umar segera menimpali (yang artinya), “Abu Bakar adalah tuan kita dan telah
memerdekakan tuan kita (maksudnya Bilal).”
Dalam kesempatan pertemuan tersebut, sejumlah sahabat mendesak Bilal agar mau
mengumandangkan azan di hadapan al-Faruq Umar ibnul Khaththab. Ketika suara Bilal yang
nyaring itu kembali terdengar mengumandangkan azan, Umar tidak sanggup menahan tangisnya,
maka iapun menangis tersedu-sedu, yang kemudian diikuti oleh seluruh sahabat yang hadir
hingga janggut mereka basah dengan air mata. Suara Bilal membangkitkan segenap kerinduan
mereka kepada masa-masa kehidupan yang dilewati di Madinah bersama Rasulullah Shalallahu
„alaihi wasallam..Bilal, “pengumandang seruan langit itu”, tetap tinggal di Damaskus hingga
wafat.

Disalin dari Biografi Ahlul Hadits, yang bersumber dari Shuwar min Hayaatis Shahabah, karya
Doktor „Abdurrahman Ra‟fat Basya


Peta Dunia Kalau dibalik Terbentuk Tulisan Allah SWT dan Nabi Muhammad
SAW

Ternyata peta dunia kalau di balik terbentuk tulisan allah swt dan nabi muhamaad saw, bagi yang
belum tahu.

Qs.6 An‟aam:75. “Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan di
langit dan bumi dan agar dia termasuk orang yang yakin.”
7 Rombongan Iblis Saat Sakaratul Maut

Iblis akan senantiasa mengganggu manusia, mulai dengan memperdayakan manusia dari terjadinya
dengan setitik mani hingga ke akhir hayat mereka, dan yang paling dahsyat ialah sewaktu akhir hayat
yaitu ketika sakaratul maut. Iblis mengganggu manusia sewaktu sakaratul maut disusun menjadi 7
golongan dan rombongan.

Hadith Rasulullah S.A.W. menerangkan:

"Ya Allah aku berlindung kepada Engkau dari tipuan syaitan diwaktu sakaratul maut. "

Rombongan 1

Akan datang Iblis dengan berbagai rupa aneh seperti emas, perak dan lain-lain, serta sebagai makanan
dan minuman yang lezat-lezat. disebabkan orang yang di dalam sakaratul maut itu di masa hidupnya
sangat tamak dan loba kepada barang-barang tersebut, maka diraba dan disentuhnya barang2 Iblis itu,
pada waktu itu nyawanya putus dari tubuh. Inilah yang dikatakan mati yang lalai dan lupa kepada Allah
SWT inilah jenis mati fasik dan munafik, ke nerakalah tempatnya.

Rombongan 2

Akan datang Iblis kepada orang yang didalam sakaratul maut itu merupakan diri sebagai rupa binatang
yang di takuti seperti, Harimau, Singa, Ular yang berbisa. Yang apabila orang yang sedang sakaratul maut
itu memandang ke binatang itu, maka dia pun menjerit dan melompat sekuat hati. Maka seketika itu
juga akan putuslah nyawa itu dari badannya, maka matinya itu disebut sebagai mati lalai dan mati dalam
keadaan lupa kepada Allah SWT, matinya itu sebagai Fasik dan Munafik dan ke nerakalah tempatnya.

Rombongan 3

Akan datang Iblis mengacau dan memperdayakan orang yang di dalam sakaratul maut itu dengan
menyerupai binatang kesayangannya. Apabila tangan orang yang hendak mati itu meraba-rabakepada
binatang kesayangan itu dan waktu tengah meraba-raba itu dia pun mati, maka matinya itu di dalam
golongan yang lalai dan lupa kepada Allah SWT. Matinya itu mati Fasik dan Munafik, maka nerakalah
tempatnya.

Rombongan 4

Akan datang Iblis merupakan dirinya sebagai rupa yang paling dibenci oleh orang yang akan mati, seperti
musuhnya ketika hidupnya dahulu maka orang yang di dalam sakaratul maut itu akan menggerakkan
dirinya untuk melakukan sesuatu kepada musuh yang dibencinya itu. Maka sewaktu itulah maut pun
datang dan matilah ia sebagai mati Fasik dan Munafik, dan nerakalah tempatnya

Rombongan 5

Akan datang Iblis merupakan dirinya dengan rupa sanak-saudara yang hendak mati itu, seperi ayah
ibunya dengan membawa makanan dan minuman, sedangkan orang yang di dalam sakaratul maut itu
sangat mengharapkan minuman dan makanan lalu dia pun menghulurkan tangannya untuk mengambil
makanan dan minuman yang dibawa oleh si ayah dan si ibu yang dirupai oleh Iblis, berkata dengan
penuh kasih "Wahai anakku inilah saja makanan dan bekal yang kami bawakan untukmu dan berjanjilah
bahwa engkau akan menurut kami dan menyembah Tuhan yang kami sembah, supaya kita tidak lagi
bercerai dan marilah bersama kami masuk ke dalam syurga. "

Maka dia pun sudi mengikut tawaran itu dengan tanpa berfikir lagi, ketika itu waktu matinya pun sampai
maka matilah dia di dalam keadaan kafir, kekal di dalam neraka dan terhapuslah semua amal kebajikan
semasa hidupnya.

Rombongan 6

Akan datanglah Iblis merupakan dirinya sebagai ulama'-ulama' yang membawa banyak kitab-kitab, lalu
berkata ia: "Wahai muridku, lama sudah kami menunggu akan dikau, ternyata kamu sedang sakit di sini,
karena itu kami bawakan kepada kamu dokter dan obat untukmu. " Lalu diminumnya obat, itu maka
hilanglah rasa penyakit itu, kemudian penyakit itu datang lagi.

Lalu datang pula Iblis yang menyerupai ulama' dengan berkata: "Kali ini kami datang kepadamu untuk
memberi nasihat agar kamu mati didalam keadaan baik, tahukah kamu bagaimana hakikat Allah?"

Berkata orang yang sedang dalam sakaratul maut: "Aku tidak tahu. "

Berkata ulama' Iblis: "Ketahuilah, aku ini adalah seorang ulama' yang tinggi dan hebat, baru saja kembali
dari alam ghaib dan telah mendapat syurga yang tinggi. Cobalah kamu lihat syurga yang telah disediakan
untukmu, kalau kamu hendak mengetahui Zat Allah SWT hendaklah kamu patuh kepada kami. "

Ketika itu orang yang dalam sakaratul maut itu pun memandang ke kanan dan ke kiri, dan dilihatnya
sanak-saudaranya semuanya berada di dalam kesenangan syurga, (syurga palsu yang dibentangkan oleh
Iblis untuk tujuan menggoda orang yang sedang dalam sakaratul maut). Kemudian orang yang sedang
dalam sakaratul maut itu bertanya kepada ulama' palsu:

"Bagaimanakah Zat Allah?" Iblis merasa gembira apabila jeratnya mengena.

Lalu berkata ulama' palsu: "Tunggu, sebentar lagi dinding dan tirai akan dibuka kepadamu. "

Ketika tirai dibuka selapis demi selapis tirai yang berwarna warni itu, maka orang yang dalam sakaratul
maut itu pun dapat

melihat satu benda yang sangat besar, seolah-olah lebih besar dari langit dan bumi.

Berkata Iblis: "Itulah dia Zat Allah yang patut kita sembah. "

Berkata orang yang dalam sakaratul maut: "Wahai guruku, bukankah ini benda yang benar-benar besar,
tetapi benda ini mempunyai enam sisi, yaitu benda besar ini ada kiri dan kanannya, mempunyai atas dan
bawah, mempunyai depan dan belakang.
Sedangkan Zat Allah tidak menyerupai makhluk, sempurna Maha Suci Dia dari sebarang sifat
kekurangan. Tapi sekarang ini lain pula keadaannya dari yang di ketahui dahulu. Tapi sekarang yang
patut aku sembah ialah benda yang besar ini. "

Dalam keraguan itu maka Malaikat Maut pun datang dan terus mencabut nyawanya, maka matilah
orang itu di dalam keadaan kafir dan kekal di dalam neraka dan terhapuslah segala amalan baik selama
hidupnya di dunia ini.

Rombongan 7

Rombongan Iblis yang ketujuh ini terdiri dari 72 barisan sebab dari menjadi 72 barisan ialah karena dia
menepati Iktikad Muhammad S.A.W bahwa umat Muhammad akan terbagi kepada 73 barisan). Satu
barisan/golongan yang benar yaitu ahli sunnah waljamaah, 72 yang lain masuk ke neraka karena sesat.

Ketahuilah bahwa Iblis itu akan mengacau dan mengganggu anak Adam dengan 72 macam yang setiap
satu berlainan di dalam waktu manusia sakaratul maut. Oleh karena itu hendaklah kita mengajarkan
kepada orang yang hamper meninggal dunia akan talkin Laa Ilaaha Illallah untuk menyelamatkan dirinya
dari gangguan Iblis dan syaitan yang akan berusaha bersungguh-sungguh menggoda orang yang sedang
dalam sakaratul maut.

Disebutkan dalam sebuah hadith yang artinya: "Ajarkan oleh kamu (orangyang masih hidup) kepada
orang yang hampir mati itu: Laa Ilaaha Illallah. "
Penghuni Alam Malakut

"Wahai hamba-Ku, jika engkau ingin masuk ke wilayah kesakralan-Ku (Haramil Qudsiyah), jangan
engkau tergoda oleh alam Mulk, alam Malakut, dan alam Jabarut, karena alam Mulk adalah setan
bagi orang alim, alam Malakut setan bagi orang arif, dan alam Jabarut setan bagi orang yang akan
masuk ke alam Qudsiyah." (Hadis Qudsi).

Alquran mengisyaratkan unsur kejadian manusia ada tiga, yaitu unsur badan atau jasad (jasad), unsur
nyawa (nafs), dan unsur roh (ruh). Dalam Alquran, nyawa dan roh berbeda. Nyawa dimiliki tumbuh-
tumbuhan dan binatang, tetapi unsur roh tidak dimiliki oleh keduanya, bahkan oleh seluruh makhluk
Tuhan lainnya. Unsur roh inilah yang membuat para malaikat dan seluruh makhluk lainnya sujud kepada
manusia (Adam).

Roh yang merupakan unsur ketiga manusia ini menjadi potensi amat dahsyat baginya untuk mengakses
alam puncak sekalipun. Unsur ketiga inilah yang disebut sebagai ciptaan khusus (khalqan akhar) di dalam
Alquran.

"Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian,
Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian, air
mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan tulang belulang, lalu
tulang-belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian, Kami jadikan dia makhluk yang
(berbentuk) lain. Maka Maha Suci Allah, Pencipta Yang Paling Baik". (QS al-Mu'min [23]: 12-14).

Kata ansya'nahu khalqan akhar dalam ayat di atas, menurut para mufasir, maksudnya adalah unsur
rohani setelah unsur jasad dan nyawa (nafs). Hal ini sesuai dengan riwayat Ibnu Abbas yang menafsirkan
kata ansya'nahu dengan ja'ala insya' al-ruh fih, atau penciptaan roh ke dalam diri Adam. Unsur ketiga ini
kemudian disebut unsur ruhani, atau lahut atau malakut, yang menjadikan manusia berbeda dengan
makhluk biologis lainnya.

Unsur ketiga ini merupakan proses terakhir dan sekaligus penyempurnaan substansi manusia
sebagaimana ditegaskan di dalam beberapa ayat, seperti dalam Surah al-Hijr: 28-29. Setelah penciptaan
unsur ketiga ini selesai, para makhluk lain termasuk para malaikat dan jin bersujud kepada Adam dan
alam raya pun ditundukkan (taskhir) untuknya. Unsur ketiga ini pulalah yang mendukung kapasitas
manusia sebagai khalifah Tuhan di bumi (QS al-An'am [6]: 165) di samping sebagai hamba (QS al-Zariyat
[51]: 56).

Meskipun memiliki unsur ketiga, manusia akan tetap menjadi satu-satunya makhluk eksistensialis
karena hanya makhluk ini yang bisa turun naik derajatnya di sisi Tuhan. Sekalipun manusia ciptaan
terbaik (ahsan taqwim/QS al-Tin [95]: 4), ia tidak mustahil akan turun ke derajat paling rendah (asfala
safilin/QS at-Tin [95]: 5), bahkan bisa lebih rendah daripada binatang (QS al-A'raf [7]: 179).

Eksistensi kesempurnaan manusia dapat dicapai manakala ia mampu menyinergikan secara seimbang
potensi berbagai kecerdasan yang dimilikinya. Seperti orang sering menyebutnya dengan kecerdasan
unsur jasad (IQ), kecerdasan nafsani (EQ), dan kecerdasan ruhani (SQ). Tidak semua aspek manusia itu
dapat dipahami secara ilmiah dan terukur oleh kekuatan panca indera manusia. Karena memang unsur
manusia memiliki unsur berlapis-lapis.

Dari lapis mineral tubuh kasar sampai kepada roh (unsur Lahut/Malakut) yang di-install Allah SWT
sebagaimana ditegaskan lagi di dalam Alquran, "Kemudian apabila telah Aku sempurnakan kejadiannya
dan Aku tiupkan roh-Ku kepadanya, tunduklah kamu dengan bersujud kepadanya. Lalu, para malaikat itu
bersujud semuanya". (QS Shad [38]: 72-73).

Para penghuni alam Malakut terdiri atas para jin dan malaikat, termasuk iblis.

Alam ini tidak bisa diakses dengan panca indera atau kekuatan-kekuatan fisik manusia. Alam ini hanya
bisa diakses manusia jika mereka mampu menggunakan potensi lahut dan malakut yang dimilikinya.
Hubungan interaktif antara para penghuni alam dimungkinkan, mengingat berbagai alam itu sama-sama
ciptaan Allah Swt. Manusia sebagai makhluk utama memiliki kemampuan untuk itu karena kedahsyatan
unsur ketiga tadi.
Subhanallah !! „Tentara Allah‟ Pernah Di Turunkan di Deli Serdang

Pagi itu, waktu Dhuha, pukul 10.00 WIB, usai menggarap ladang, 20 petani Kampung Melayu Selambo,
Deli Serdang, Sumatera Utara yang tengah rehat di teras Masjid Al Barakah, tiba-tiba diserang sekitar
300 lebih kelompok preman bersenjata tajam.

Sambil mengacungkan golok, linggis, kelewang, dan batu, kelompok itu meneriakkan: “Bunuh, cincang
saja orang Islam teroris, di Jakarta kalian bisa menang, tapi jangan coba-coba disini.”

Bukan hanya mengacungkan senjata, tapi juga melempari atap masjid tersebut dengan batu, sampai
atapnya bocor di sana-sini. Kejadian itu terjadi, Sabtu, 30 Oktober 2010 lalu. Hingga masuk waktu
Zuhur, petani yang semuanya muslim itu bertahan di dalam masjid. Di tengah situasi yang mencekam
dan dipenuhi rasa takut itu, para petani mengumandangkan azan. Usai azan, mereka meneriakkan takbir
“Allohu Akbar”. Lalu apa yang terjadi, para penyerang itu lari terbirit-birit.

Banyak saksi mata, baik di pihak penyerang maupun para kuli bangunan yang sedang bekerja di sekitar
masjid, menyaksikan dan melihat langsung pasukan berjubah putih, berpakaian ala Romawi dan Ninja.
Kata seorang warga yang bekerja sebagai kuli bangunan kepada Pengurus FUI Sumatera Utara, ia seperti
menonton film dari atas balkon saja. Bahkan ia melihat para penyerang yang berjumlah ratusan orang
itu saling berkelahi sendiri.

Lantas siapakah pasukan berpakaian ala Romawi, berjubah putih dan bergaya Ninja seperti yang
disaksikan banyak mata? Bukan tidak mungkin, Tentara Allah datang memberi pertolongan kepada umat
Islam di Kampung Melayu Selambo – Deli Serdang yang terkepung dalam keadaan tak
berdaya.Wallahu’alam bishshowab.

Subhanallah, aneh bin ajaib, meski warga muslim yang hanya berjumlah 20 orang ini dalam posisi
diserang, tapi yang jatuh korban, justru berada di pihak penyerang. Dikabarkan, empat orang penyerang
terluka, dua diantaranya kritis dan harus diopname di sebuah rumah sakit di Medan.

Bayangkan, 300 melawan 20. Logikanya, yang sedikit akan dikalahkan yang banyak. Sedangkan, menurut
pengakuan Sabarudin, dirinya bersama rekannya tidak melakukan perlawanan, dengan alasan takut dan
tidak punya senjata. Setelah mengepung warga muslim di Masjid Al Barakah itu, akhirnya para
penyerang mundur ke belakang dan membakar tujuh unit rumah warga.

Diantara penyerang itu, kata Sabarudin Sagala, salah seorang petani yang diserang itu, mengenali
beberapa wajah yang ternyata sebagian berasal dari warga setempat. “Kelompok penyerang itu
sepertinya terorganisir. Diantara mereka, ada yang saya kenal,” ujarnya.

Tak lama kemudian, aparat kepolisian mulai melakukan pengamanan di sekitar masjid. Keanehan
kembali terjadi, sekitar pukul 14.00 WIB, ketika salah seorang aparat bermarga Manurung sedang
rebahan di ruang majelis Masjid Al Barkah. Tiba-tiba saja, kaki bagian kirinya seperti ada yang terangkat.
Begitu terbangun, polisi itu melihat makhluk berukuran tinggi besar dan mengerikan. Believe or not,
wajah makhluk gaib itu terlihat hingga di ujung langit.
..Subhanallah, aneh bin ajaib, meski warga muslim yang hanya berjumlah 20 orang ini dalam posisi
diserang, tapi yang jatuh korban, justru berada di pihak penyerang. Dikabarkan, empat orang penyerang
terluka, dua diantaranya kritis dan harus diopname di sebuah rumah sakit di Medan.




Fatwa Ulama Besar Seputar Maulid

Para pembaca yang budiman, ketahuilah bahwa wajib atas setiap muslim dan muslimah untuk
cinta kepada Rasulullah -Shallallahu „alaihi wasallam-. Bahkan tidak akan sempurna keimanan
seseorang hingga ia mencintai Nabi -Shallallahu „alaihi wasallam-, melebihi kecintaannya
kepada orang tuanya, anak-anaknya, bahkan seluruh manusia. Nabi -Shallallahu „alaihi
wasallam- bersabda,



"Tidak beriman salah seorang di antara kalian hingga aku lebih dicintai daripada orang tuanya,
anak-anaknya, dan seluruh manusia." [HR. Bukhariy (15), dan Muslim (44)]

Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu -hafizhahullah- berkata, "Hadits ini memberikan faedah
kepada kita bahwasanya keimanan tidak akan sempurna hingga seseorang mencintai Rasulullah
-Shollallahu „alaihi wasallam- melebihi kecintaannya kepada orang tuanya, anaknya, dan
seluruh manusia." [Lihat Minhajul Firqatun Najiyah (hal. 111)]

Setelah kita mengetahui hal ini, lalu bagaimana cara mencintai Nabi-Shollallahu „alaihi
wasallam-? Cinta kepada Nabi -Shollallahu „alaihi wasallam- adalah dengan mengikuti
syari‟at beliau. Tidaklah dibenarkan bagi seseorang untuk mengada-adakan suatu perkara baru
dalam syariat beliau, dengan anggapan hal tersebut bisa mendekatkan diri kepada Allah atau
suatu bentuk kecintaan kepada Nabi -Shollallahu „alaihi wasallam- , atau itu adalah bid‟ah
hasanah. Padahal semua bid‟ah dalam agama adalah sesat dan buruk !!

Di edisi kali ini, kami akan bawakan fatwa ulama besar berkenaan dengan perkara yang
dianggap oleh sebagian orang merupakan bentuk kecintaan kepada Nabi -Shollallahu „alaihi
wasallam-, padahal perkara tersebut tidak ada dasarnya sama sekali dalam syari‟at yang mulia ini
dan bukan pula bentuk kecintaan kepada Nabi -Shallallahu „alaihi wa sallam-, yakni perayaan
maulid Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- .

      Fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Baaz (mantan mufti di sebuah negeri Timur Tengah), ditanya
       tentang hukum perayaan maulid Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- .

Syaikh bin Baaz-rahimahullah- menjawab, "Tidaklah dibenarkan seorang merayakan hari lahir
(maulid) Nabi -Shollallahu „alaihi wasallam- dan hari kelahiran lainnya, karena hal tersebut
termasuk bid‟ah yang baru diada-adakan dalam agama. Padahal sesungguhnya Rasul -
Shollallahu „alaihi wasallam- , para Khalifah Ar-Rasyidin dan selainnya dari kalangan sahabat
tidak pernah melakukan perayaan tersebut dan tidak pula para tabi‟in yang mengikuti mereka
dalam kebaikan di zaman yang utama lagi terbaik. Mereka adalah manusia yang paling tahu
tentang Sunnah, paling sempurna cintanya kepada Nabi dan ittiba‟-nya (keteladanannya)
terhadap syariat beliau dibandingkan orang-orang setelah mereka.

Telah shahih (sebuah hadits) dari Nabi -Shollallahu „alaihi wasallam-, beliau bersabda,



"Barang siapa yang membuat-buat perkara baru dalam agama ini yang bukan bagian dari
agama ini, maka hal itu tertolak". [HR. Al-Bukhariy dalam Shohih-nya (2697) dan
Muslim(1718)]

Beliau juga bersabda, "Wajib atas kalian berpegang kepada sunnahku dan sunnah para khalifah
ar rasyidin yang mendapat petunjuk sesudahku. Peganglah ia kuat-kuat dan gigit dengan gigi
geraham. Berhati-hatilah kalian dari perkara-perkara baru yang diada-adakan, karena semua
perkara baru itu adalah bid‟ah dan semua bid‟ah adalah sesat." [Abu Dawud (4617), At-
Tirmidziy (2676), dan Ibnu Majah (42). Di-shohih-kan Al-Albaniy dalam Shahih Al-Jami'
(2546)]

Jadi, dalam dua hadits yang mulia ini terdapat peringatan yang keras dari berbuat bid‟ah dan
mengamalkannya. Allah -Ta‟ala- berfirman,

"Apa saja yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah; dan apa yang dilarangnya bagimu,
maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras
hukumannya ." (QS. Al-Hasyr :7).

Allah -Ta‟ala- berfirman,

"Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau
ditimpa azab yang pedih." (QS.An-Nur :63).

Allah -Ta‟ala- berfirman,

"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi
orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut
Allah." (QS.Al-Ahzab :21).

Allah -Ta‟ala- berfirman,

"Pada hari Ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu
nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu." (QS.Al-Maidah :3).

Membuat perkara baru -semacam maulid- ini akan memberikan sangkaan bahwa Allah -Ta‟ala-
belum menyempurnakan agama untuk umat ini, dan Nabi -Shollallahu „alaihi wasallam- belum
menyampaikan kepada umatnya apa yang pantas untuk mereka amalkan, sehingga datanglah
orang-orang belakangan ini membuat-buat perkara baru dalam syariat Allah apa yang tidak
diridhoi Allah, dengan sangkaan hal tersebut bisa mendekatkan diri mereka kepada Allah.
Padahal perkara ini –tanpa ada keraguan- adalah bahaya yang sangat besar, termasuk
penentangan kepada Allah dan Rasul-Nya. Padahal sungguh Allah telah menyempurnakan
agama ini bagi hamba-Nya; Allah telah menyempurnakan nikmat-Nya atas mereka dan Nabi -
Shollallahu „alaihi wasallam- sungguh telah menyampaikan syariat ini dengan terang dan jelas.
Beliau tidaklah meninggalkan suatu jalan yang bisa mengantarkan ke surga dan menjauhkan
dari neraka, kecuali beliau telah sampaikan kepada umatnya, sebagaimana dalam hadits yang
shahih dari sahabat Abdullah bin Amer -radhiyallahu „anhu-, beliau berkata, Rasulullah -
Shollallahu „alaihi wasallam- bersabda,




"Tidaklah Allah mengutus seorang nabi, kecuali wajib atasnya untuk menunjukkan kebaikan
atas umatnya apa yang ia telah ketahui bagi mereka, dan memperingatkan mereka dari
kejelekan yang ia ketahui bagi mereka." [HR.Muslim dalam Shohih-nya (1844)]

Suatu hal yang dimaklumi bersama, Nabi kita -Shollallahu „alaihi wasallam- adalah Nabi yang
paling utama, penutup para nabi dan yang paling sempurna penyampaiannya dan nasihatnya.
Andaikata perayaan maulid ini termasuk agama yang diridhoi Allah, niscaya Nabi -Shollallahu
„alaihi wasallam- akan jelaskan kepada umatnya atau pernah melaksanakannya atau setidaknya
para sahabat pernah melakukannya. Akan tetapi, tatkala hal tersebut tidak pernah sama sekali
mereka lakukan, maka diketahuilah hal tersebut bukanlah dari Islam sedikit pun juga, bahkan
dia termasuk dari perkara-perkara baru yang telah diperingatkan bahayanya oleh Nabi -
Shollallahu „alaihi wasallam- sebagaimana dalam dua hadits yang tersebut di atas. Hadits-
hadits lain yang semakna dengannya telah datang (dari Nabi -Shallallahu „alaihi wa sallam-),
seperti sabda beliau dalam khutbah jum‟at:




"Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah, sebaik-sebaik petunjuk adalah
petunjuk Muhammad -Shollallahu „alaihi wasallam-, sejelek-jeleknya perkara adalah yang
diada-adakan dan setiap bid‟ah adalah sesat." [HR.Muslim Shohih-nya (867)]

Demikian fatwa dari Syaikh Abdul Aziz bin Baaz -rahimahullah-, Anda bisa lihat dalam kitab
Majmu’ Fatawa As-Syaikhbin Baz (1/183), dan Al-Bida’ wal Muhdatsat (hal 619-621).

      Syaikh Abdul Aziz bin Baaz juga ditanya, "Apa hukum menyampaikan nasihat atau ceramah
       pada hari maulid Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam-?

Syaikh bin Baaz menjawab, "Amar ma‟ruf nahi mungkar, memberikan bimbingan dan arahan
kepada manusia, menjelaskan kepada mereka tentang agama mereka, dan memberikan nasihat
kepada mereka dengan sesuatu yang bisa melembutkan hati mereka adalah perkara yang
disyariatkan pada setiap waktu, karena adanya perintah untuk perkara tersebut datang secara
mutlak, tanpa ada pengkhususan waktu tertentu.
Allah -Ta‟ala-berfirman,

"Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan,
menyuruh kepada yang ma‟ruf dan mencegah dari yang munkar. Merekalah orang-orang yang
beruntung." (QS.Al-Maidah : 104).

Allah -Ta‟ala- berfirman,

"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan
bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih
mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-
orang yang mendapat petunjuk." (QS.An-Nahl :125).

Allah juga menjelaskan keadaan orang-orang munafik dan sikap para da‟i (penyeru) di antara
mereka,

"Apabila dikatakan kepada mereka: "Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah
turunkan dan kepada hukum Rasul", niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi
(manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu. Maka bagaimanakah halnya apabila
mereka (orang-orang munafik) ditimpa sesuatu musibah disebabkan perbuatan tangan mereka
sendiri. Kemudian mereka datang kepadamu sambil bersumpah: "Demi Allah, kami sekali-kali
tidak menghendaki selain penyelesaian yang baik dan perdamaian yang sempurna". Mereka itu
adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka. Karena itu
berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka
dengan perkataan yang berbekas pada jiwa mereka." (QS. An-Nisa‟: 61-63); dan ayat-ayat lain.

Jadi, Allah memerintahkan untuk berdakwah dan memberikan nasihat secara mutlak, tidak
mengkhususkannya pada waktu tertentu. Sekalipun nasihat dan bimbingan ini semakin
dianjurkan ketika ada tuntutan kepadanya, seperti khutbah Jum‟at dan hari Ied, karena warid
(datang)-nya hal tersebut dari Nabi -Shollallahu „alaihi wasallam- .Demikian pula ketika
melihat suatu kemungkaran, ini berdasarkan sabda Nabi -Shollallahu „alaihi wasallam-,




"Barang siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, maka hendaklah dia mengubahnya
dengan tangannya. Jika dia tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika dia tidak mampu, maka
dengan hatinya. Yang demikian itu adalah selemah-lemahnya iman." [HR.Muslim (49)]

Adapun pada hari maulid, maka di dalamnya tidak boleh ada suatu pengkhususan dengan suatu
ibadah tertentu yang bisa mendekatkan diri kepada-Nya, adanya nasihat, bimbingan,
pembacaan kisah maulid, karena Nabi -Shollallahu „alaihi wasallam- tidak pernah
mengkhususkan hal tersebut dengan perkara-perkara tersebut. Andaikan hal tersebut baik,
niscaya Nabi -Shollallahu „alaihi wasallam- adalah orang yang paling pantas untuk
(melakukan) hal tersebut. Akan tetapi nyatanya beliau tidak pernah melakukannya.
Menunjukkan bahwa adanya pengkhususan-pengkhususan tersebut dengan ceramah, pembacaan
kisah maulid atau selainnya termasuk perkara-perkara bid‟ah. Telah shahih dari Nabi -
Shollallahu „alaihi wasallam- bahwa beliau bersabda,



"Barang siapa yang membuat-buat perkara baru dalam agama ini yang bukan bagian dari
agama ini, maka hal itu tertolak". [HR. Al-Bukhariy dalam Shohih-nya (2697) dan
Muslim(1718)]

Demikian pula halnya para sahabat, mereka tidak pernah melakukan hal tersebut, padahal mereka
adalah manusia yang paling tahu tentang Sunnah dan paling bersemangat untuk mengamalkannya".
[Lihat Fatawa Al-Lajnah Ad-Da'imah (5591), dan Al-Bida' wa Al-Muhdatsat wa ma laa Ashla lahu (628-
630)]

Jadi, maulid bukanlah sarana syar’i dalam beribadah dan mencintai Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-.
Tapi ia adalah ajaran baru yang disusupkan oleh para pelaku bid’ah dan kebatilan . Bid’ah perayaan hari
lahir (ulang tahun) secara umum serta perayaan hari lahir Nabi-Shallallahu ‘alaihi wasallam- (maulid)
secara khusus, tidak muncul, kecuali pada zaman Al-Ubaidiyyun pada tahun 362 H.
Ulama’ bermadzhab Syafi’iyyah, Al-Hafizh Ibnu Katsir Ad-Dimasyqiy -rahimahullah- dalam Al-Bidayah
wa An-Nihayah (11/127) berkata, “Sesungguhnya pemerintahan Al-Fathimiyyun Al-Ubaidiyyun yang
bernisbah kepada Ubaidillah bin Maimun Al-Qoddah, seorang Yahudi yang memerintah di Mesir dari
tahun 357 – 567 H, mereka memunculkan banyak hari-hari raya. Di antaranya perayaan maulid Nabi -
Shallallahu ‘alaihi wasallam-”.
Tujuh Keajaiban Umat Islam

Menara Pisa, Tembok Cina, Candi Borobudur, Taaj Mahal, Ka‟bah, Menara Eiffel, dan Piramida
di mesir, inilah semua keajaiban dunia yang kita kenal. Namun sebenarnya semua itu belum
terlalu ajaib, karena di sana masih ada tujuh keajaiban dunia yang lebih ajaib lagi. Mungkin para
pembaca bertanya-tanya, keajaiban apakah itu?

Memang tujuh keajaiban lain yang kami akan sajikan di hadapan pembaca sekalian belum
pernah ditayangkan di TV, tidak pernah disiarkan di radio-radio dan belum pernah dimuat di
media cetak. Tujuh keajaiban dunia itu adalah:

Hewan Berbicara di Akhir Zaman
Maha suci Allah yang telah membuat segala sesuatunya berbicara sesuai dengan yang Ia
kehendaki. Termasuk dari tanda-tanda kekuasaanya adalah ketika terjadi hari kiamat akan
muncul hewan melata yang akan berbicara kepada manusia sebagaimana yang tercantum dalam
Al-Qur‟an, surah An-Naml ayat 82,

“Dan apabila perkataan Telah jatuh atas mereka, kami keluarkan sejenis binatang melata dari
bumi yang akan mengatakan kepada mereka, bahwa Sesungguhnya manusia dahulu tidak yakin
kepada ayat-ayat Kami”.

Mufassir Negeri Syam, Abul Fida‟ Ibnu Katsir Ad-Dimasyqiy berkomentar tentang ayat di atas,
“Hewan ini akan keluar diakhir zaman ketika rusaknya manusia, dan mulai meninggalkan
perintah-perintah Allah, dan ketika mereka telah mengganti agama Allah. Maka Allah
mengeluarkan ke hadapan mereka hewan bumi. Konon kabarnya, dari Makkah, atau yang
lainnya sebagaimana akan datang perinciannya. Hewan ini akan berbicara dengan manusia
tentang hal itu”.[Lihat Tafsir Ibnu Katsir (3/498)]

Hewan aneh yang berbicara ini akan keluar di akhir zaman sebagai tanda akan datangnya kiamat
dalam waktu yang dekat. Nabi -Shallallahu „alaihi wa sallam- bersabda,

“Sesungguhnya tak akan tegak hari kiamat, sehingga kalian akan melihat sebelumnya 10 tanda-
tanda kiamat: Gempa di Timur, gempa di barat, gempa di Jazirah Arab, Asap, Dajjal, hewan
bumi, Ya‟juj & Ma‟juj, terbitnya matahari dari arah barat, dan api yang keluar dari jurang Aden,
akan menggiring manusia”. [HR. Muslim dalam Shohih-nya (2901), Abu Dawud dalam Sunan-
nya (4311), At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (2183), dan Ibnu Majah dalam Sunan-nya (4041)]

Pohon Kurma yang Menangis
Adanya pohon kurma yang menangis ini terjadi di zaman Rasulullah -Shollallahu „alaihi
wasallam- , mengapa sampai pohon ini menangis? Kisahnya, Jabir bin Abdillah-radhiyallahu
„anhu- bertutur,

“Jabir bin Abdillah -radhiyallahu „anhu- berkata: “Adalah dahulu Rasulullah -Shollallahu „alaihi
wasallam- berdiri (berkhutbah) di atas sebatang kurma, maka tatkala diletakkan mimbar baginya,
kami mendengar sebuah suara seperti suara unta dari pohon kurma tersebut hingga Rasulullah -
Shollallahu „alaihi wasallam- turun kemudian beliau meletakkan tangannya di atas batang pohon
kurma tersebut” .[HR.Al-Bukhariy dalam Shohih-nya (876)]

Ibnu Umar-radhiyallahu „anhu- berkata:
“Dulu Nabi -Shallallahu „alaihi wa sallam- berkhuthbah pada batang kurma. Tatkala beliau telah
membuat mimbar, maka beliau berpindah ke mimbar itu. Batang korma itu pun merintih. Maka
Nabi -Shollallahu „alaihi wasallam- mendatanginya sambil mengeluskan tangannya pada batang
korma itu (untuk menenangkannya)”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (3390), dan At-
Tirmidziy dalam Sunan-nya (505)]

Untaian Salam Batu Aneh
Mungkin kalau seekor burung yang pandai mengucapkan salam adalah perkara yang sering kita
jumpai. Tapi bagaimana jika sebuah batu yang mengucapkan salam. Sebagai seorang hamba
Allah yang mengimani Rasul-Nya, tentunya dia akan membenarkan seluruh apa yang
disampaikan oleh Rasul-Nya, seperti pemberitahuan beliau kepada para sahabatnya bahwa ada
sebuah batu di Mekah yang pernah mengucapkan salam kepada beliau sebagaimana dalam
sabdanya,

Dari Jabir bin Samurah dia berkata, Rasulullah -Shollallahu „alaihi wasallam- bersabda,
“Sesungguhnya aku mengetahui sebuah batu di Mekah yang mengucapkan salam kepadaku
sebelum aku diutus, sesungguhnya aku mengetahuinya sekarang”.[HR.Muslim dalam Shohih-
nya (1782)].

Pengaduan Seekor Onta
Manusia adalah makhluk yang memiliki perasaan. Dari perasaan itu timbullah rasa cinta dan
kasih sayang di antara mereka. Akan tetapi ketahuilah, bukan hanya manusia saja yang memiliki
perasaan, bahkan hewan pun memilikinya. Oleh karena itu sangat disesalkan jika ada manusia
yang tidak memiliki perasaan yang membuat dirinya lebih rendah daripada hewan. Pernah ada
seekor unta yang mengadu kepada Rasulullah -Shollallahu „alaihi wasallam- mengungkapkan
perasaannya.

Abdullah bin Ja‟far-radhiyallahu „anhu- berkata, “Pada suatu hari Rasulullah -Shallallahu „alaihi
wasallam- pernah memboncengku dibelakangnya, kemudian beliau membisikkan tentang sesuatu
yang tidak akan kuceritakan kepada seseorang di antara manusia. Sesuatu yang paling beliau
senangi untuk dijadikan pelindung untuk buang hajatnya adalah gundukan tanah atau kumpulan
batang kurma. lalu beliau masuk kedalam kebun laki-laki Anshar. Tiba tiba ada seekor onta.
Tatkala Nabi -Shallallahu „alaihi wasallam- melihatnya, maka onta itu merintih dan bercucuran
air matanya. Lalu Nabi -Shallallahu „alaihi wasallam- mendatanginya seraya mengusap dari
perutnya sampai ke punuknya dan tulang telinganya, maka tenanglah onta itu. Kemudian beliau
bersabda, “Siapakah pemilik onta ini, Onta ini milik siapa?” Lalu datanglah seorang pemuda
Anshar seraya berkata, “Onta itu milikku, wahai Rasulullah”.

Maka Nabi -Shallallahu „alaihi wasallam- bersabda:
“Tidakkah engkau bertakwa kepada Allah dalam binatang ini, yang telah dijadikan sebagai
milikmu oleh Allah, karena ia (binatang ini) telah mengadu kepadaku bahwa engkau telah
membuatnya letih dan lapar”. [HR. Abu Dawud dalam As-Sunan (1/400), Al-Hakim dalam Al-
Mustadrak (2/99-100), Ahmad dalam Al-Musnad (1/204-205), Abu Ya‟la dalam Al-Musnad
(3/8/1), Al-Baihaqiy dalam Ad-Dala‟il (6/26), dan Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyqa (9/28/1).
Lihat Ash-Shahihah (20)]

Kesaksian Kambing Panggang
Kalau binatang yang masih hidup bisa berbicara adalah perkara yang ajaib, maka tentunya lebih
ajaib lagi kalau ada seekor kambing panggang yang berbicara. Ini memang aneh, akan tetapi
nyata. Kisah kambing panggang yang berbicara ini terdapat dalam hadits berikut:

Abu Hurairah-radhiyallahu „anhu- berkata :
“Rasulullah -Shollallahu „alaihi wasallam- menerima hadiah, dan tak mau makan shodaqoh.
Maka ada seorang wanita Yahudi di Khoibar yang menghadiahkan kepada beliau kambing
panggang yang telah diberi racun. Lalu Rasulullah -Shallallahu „alaihi wa sallam- pun memakan
sebagian kambing itu, dan kaum (sahabat) juga makan. Maka Nabi -Shallallahu „alaihi wa
sallam- bersabda, “Angkatlah tangan kalian, karena kambing panggang ini mengabarkan
kepadaku bahwa dia beracun”. Lalu meninggallah Bisyr bin Al-Baro‟ bin MA‟rur Al-Anshoriy.
Maka Nabi -Shallallahu „alaihi wa sallam- mengirim (utusan membawa surat), “Apa yang
mendorongmu untuk melakukan hal itu?” Wanita itu menjawab, “Jika engkau adalah seorang
nabi, maka apa yang aku telah lakukan tak akan membahayakan dirimu. Jika engkau adalah
seorang raja, maka aku telah melepaskan manusia darimu”. Kemudian Rasulullah -Shallallahu
„alaihi wa sallam- memerintahkan untuk membunuh wanita itu, maka ia pun dibunuh. Nabi -
Shallallahu „alaihi wa sallam- bersabda ketika beliau sakit yang menyebabkan kematian
beliau,”Senantiasa aku merasakan sakit akibat makanan yang telah aku makan ketika di Khoibar.
Inilah saatnya urat nadi leherku terputus”. [HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya (4512). Di-
shohih-kan Al-Albaniy dalam Shohih Sunan Abi Dawud (hal.813), dengan tahqiq Masyhur
Hasan Salman]

Batu yang Berbicara
Setelah kita mengetahu adanya batu yang mengucapkan salam, maka keajaiban selanjutnya
adalah adanya batu yang berbicara di akhir zaman. Jika kita pikirkan, maka terasa aneh, tapi
demikianlah seorang muslim harus mengimani seluruh berita yang disampaikan oleh Rasulullah
-Shollallahu „alaihi wasallam-, baik yang masuk akal, atau tidak. Karena Nabi -Shallallahu
„alaihi wa sallam- tidaklah pernah berbicara sesuai hawa nafsunya, bahkan beliau berbicara
sesuai tuntunan wahyu dari Allah Yang Mengetahui segala perkara ghaib.

Rasulullah -Shallallahu „alaihi wa sallam- bersabda:
“Kalian akan memerangi orang-orang Yahudi sehingga seorang diantara mereka bersembunyi di
balik batu. Maka batu itu berkata, “Wahai hamba Allah, Inilah si Yahudi di belakangku, maka
bunuhlah ia”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (2767), dan Muslim dalam Shohih-nya
(2922)]

Al-Hafizh Ibnu Hajar-rahimahullah- berkata, “Dalam hadits ini terdapat tanda-tanda dekatnya
hari kiamat, berupa berbicaranya benda-benda mati, pohon, dan batu. Lahiriahnya hadits ini
(menunjukkan) bahwa benda-benda itu berbicara secara hakikat”.[Lihat Fathul Bari (6/610)]
Semut Memberi Komando
Mungkin kita pernah mendengar cerita fiktif tentang hewan-hewan yang berbicara dengan hewan
yang lain. Semua itu hanyalah cerita fiktif belaka alias omong kosong. Tapi ketahuilah wahai
para pembaca, sesungguhnya adanya hewan yang berbicara kepada hewan yang lain, bahkan
memberi komando, layaknya seorang komandan pasukan yang memberikan perintah. Hewan
yang memberi komando tersebut adalah semut. Kisah ini sebagaimana yang dijelaskan oleh Al-
Qur‟an,

“Dan Sulaiman Telah mewarisi Daud, dan dia berkata: “Hai manusia, kami Telah diberi
pengertian tentang suara burung dan kami diberi segala sesuatu. Sesungguhnya (semua) Ini
benar-benar suatu kurnia yang nyata”.Dan dihimpunkan untuk Sulaiman tentaranya dari jin,
manusia dan burung lalu mereka itu diatur dengan tertib (dalam barisan). Hingga apabila mereka
sampai di lembah semut, berkatalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-
sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak
menyadari.Maka dia (Sulaiman) tersenyum dengan tertawa Karena (mendengar) perkataan semut
itu. dan dia berdoa: “Ya Tuhanku berilah Aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat mu yang
Telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan
amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah Aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan
hamba-hamba-Mu yang saleh”. (QS.An-Naml: 16-19).

Inilah beberapa perkara yang lebih layak dijadikan “Tujuh Keajaiban Dunia” yang
menghebohkan, dan mencengangkan seluruh manusia. Orang-orang beriman telah lama
meyakini dan mengimani perkara-perkara ini sejak zaman Nabi -Shallallahu „alaihi wa sallam-
sampai sekarang. Namun memang kebanyakan manusia tidak mengetahui perkara-perkara itu.
Oleh karena itu, kami mengangkat hal itu untuk mengingatkan kembali, dan menanamkan aqidah
yang kokoh di hati kaum muslimin
Bukti Keilmiahan Al Quran



Tidak layak seorang muslim beranggapan bahwa ada Kitab yang lebih baik daripada Al-Qur`an.
Dengan beriman kepada Al-Qur`an, maka seorang muslim dituntut untuk menolak segala paham
yang bertentangan dengan Al-Qur`an.

Paham-paham tersebut antara lain adalah paham Darwinisme, komunisme, atheisme, liberalisme,
sekulerisme, dan materialisme. Karena semua paham tersebut sama sekali tidak ilmiah. Tidak
pernah ada bukti ilmiah bahwa manusia ini berasal dari kera. Tidak pernah ada bukti ilmiah
bahwa dunia ini tercipta dengan sendirinya atau terjadi secara kebetulan.

Sungguh tidak masuk di akal apabila desain yang demikian kompleks ini tercipta tanpa adanya
Designer yang Mahabijaksana. Untuk membuat helikopter saja diperlukan rancangan cerdas dari
para pakar yang cerdas. Apalagi untuk membuat seekor lalat atau seekor capung yang tentunya
lebih canggih daripada helikopter.

PENCIPTAAN ALAM SEMESTA
Dia Pencipta langit dan bumi. Bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai
isteri. Dia menciptakan segala sesuatu; dan Dia mengetahui segala sesuatu. (Q.S. Al-An‟am:
101)

Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar
meluaskannya. (Q.S. Adz-Dzariyat: 47)

Pada tahun 1929, A.E. Hubble seorang astronom berkebangsaan Amerika menghadirkan sebuah
penemuan besar. Ketika mengamati bintang-bintang dengan teleskop raksasa, ia mendapati
cahaya dari bintang-bintang itu berubah ujung spektrumnya menjadi merah. Hal ini berarti,
bintang tersebut menjauh dari tempat observasi. Artinya bintang menjauhi bumi secara tetap.

Sebelumnya ia juga mendapati bahwa galaksi-galaksi dan bintang-bintang bergerak saling
menjauh satu dengan yang lainnya. Ini menjelaskan bahwa ternyata alam semesta ternyata
meluas “tidak statis" sebagaimana diklaim oleh kaum atheis. Alam semesta yang meluas ini
menunjukkan bahwa jika alam semesta dapat bergerak mundur dalam hal waktu, maka didapati
bahwa alam semesta berasal dari "titik tunggal".

Perhitungan menunjukkan bahwa titik tunggal ini, mengandung pengertian semua zat atau materi
yang ada di alam semesta, mempunyai volume nol dan kerapatan tak terbatas. Alam semesta
tercipta melalui ledakan titik tunggal yang bervolume nol ini. Ledakan luar biasa dahsyatnya
yang disebut Ledakan Dahsyat (Big Bang) ini menandai dimulainya alam semesta. Adapun yang
dimaksud dengan "volume nol" adalah ketiadaan.

Ini adalah bukti bahwa agama Islam bukanlah takhyul. Sebab keyaqinan bahwa alam semesta itu
diciptakan oleh Allah dapat dijelaskan secara ilmiah. Justeru teori yang mengatakan bahwa alam
semesta ini tidak diciptakan itulah yang merupakan kepercayaan takhyul yang tidak logis, tidak
masuk aqal, tidak ilmiah, jahil, sesat.

Jika tidak diatur oleh Allah, mana mungkin sebuah ledakan dahsyat dapat menghasilkan tatanan
yang teratur seperti yang kita lihat pada alam semesta. Sebagaimana kita ketahui, setiap ledakan
itu hanya menghasilkan kekacau-balauan. Tidak mungkin ledakan dinamit menghasilkan
bangunan megah yang kokoh dan indah.

Tanpa Kekuasaan Allah, tentu zat-zat itu akan berhamburan tanpa kontrol. Tetapi pada
kenyataannya, setelah peristiwa Big Bang, zat-zat itu bergerak dengan kecepatan dan arah yang
sangat terkendali. Tentu saja Allah Yang telah menahan zat-zat tersebut agar tidak berhamburan
tanpa kendali.

PERJALANAN GUNUNG
Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan
sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap
sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (An Naml: 88)

Pada tahun 1980, teori Alfred Wegner tentang pergerakan benua (continental drift) dibenarkan
para ilmuwan. Kerak dan bagian terluar dari magma, dengan ketebalan sekitar 100 km, terbagi
atas lapisan-lapisan yang disebut lempengan. Terdapat enam lempengan utama dan beberapa
lempengan kecil.

Menurut teori yang disebut lempengan tektonik, lempengan-lempengan ini bergerak pada
permukaan bumi, membawa benua dan dasar lautan bersamanya. Pergerakan benua telah diukur
dan berkecepatan 1-5 cm per tahun. Lempengan-lempengan itu terus bergerak, dan menghasilkan
perubahan pada geografi bumi secara perlahan. Setiap tahun misalnya, Samudera Atlantik
menjadi sedikit lebih lebar.

PEMBENTUKAN HUJAN
Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan dan Kami turunkan hujan dari langit, lalu
Kami beri minum kamu dengan air itu, dan sekali-kali bukanlah kamu yang menyimpannya.
(Q.S. Al-Hijr: 22)

Ternyata angin tidak hanya mengawinkan tumbuh-tumbuhan. Tetapi juga membantu proses
terjadinya hujan.

Di atas permukaan laut dan samudera gelembung udara yang tak terhitung jumlahnya terbentuk
akibat pembentukan buih. Pada saat gelembung-gelembung ini pecah, ribuan partikel kecil
(aerosol) dengan diameter 1/100 milimeter. Aerosol bercampur dengan debu-debu daratan yang
terbawa oleh angin. Selanjutnya terbawa ke lapisan atas atmosfer.

Partikel-partikel ini dibawa naik lebih tinggi ke atas oleh angin dan bertemu dengan uap air di
sana. Uap air mengembun disekeliling partikel-partikel ini dan berubah jadi butiran-butiran air.
Butiran-butiran air berkumpul membentuk awan dan jatuh ke bumi dalam bentuk hujan. Angin
mengawinkan uap air dengan partikel-partikel aeoroso yang dibawanya.
PEMBAGIAN HUJAN
Dan Yang menurunkan air dari langit menurut kadar (yang diperlukan) lalu Kami hidupkan
dengan air itu negeri yang mati, seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari dalam kubur). (Az
Zukhruf:11)

Setiap detik 16 juta ton air menguap dari bumi atau 513 trilyun air per tahun. Angka ini sesuai
dengan jumlah air yang jatuh ke bumi tiap tahun. Dan hal ini terus terjadi tanpa berubah. Jika
setiap tahun terjadi perubahan 0,1% saja, maka kehidupan di bumi akan berakhir.

PEMBATAS DUA LAUTAN
Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada
batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing. (Ar Rahman: 19-20)

Ahli kelautan telah menemukan bahwa dua luatan yang berbeda tidak akan menyatu disebabkan
adanya perbedaan masa jenis air.

JENIS KELAMIN BAYI
Dan bahwasanya Dialah yang menciptakan berpasang-pasangan laki-laki dan perempuan, dari air
mani, apabila dipancarkan. (An Najm:45-46)

Cabang ilmu genetika dan biologi molekuler membenarkan hal ini. Kromosom menentukan jenis
kelamin bayi. 2 Dari 46 kromosom yang menentukan bentuk seorang manusia, diketahui sebagai
kromosom jenis kelamin. Dua kromosom ini adalah XY pada laki-laki dan XX pada wanita.

Kromosom Y membawa gen yang mengkode sifat laki-laki, dan kromosom X membawa gen
yang mengkode sifat perempuan. Pada perempuan kedua komponen sel kelamin yang terbelah
menjadi dua selama ovulasi membawa kromosom X. Sebaliknya sel kelamin laki-laki
menghasilkan dua sperma yang berbeda. Satu mengandung kromosom X dan yang lain
mengandung kromosom Y.

Jika semua kromosom X dari wanita bergabung dengan sebuah sperma yang mengandung
kromosom X, maka bayi tersebut adalah perempuan. Jika bertemu dengan sperma yang
mengandung kromosom Y, maka bayi tersebut adalah laki-laki. Jadi jenis kelamin bayi
ditentukan oleh jenis kromosom laki-laki yang bergabung dengan sel telur perempuan.

Hal-hal yang sudah disebutkan diatas mungkin tidak diketemukan pada kitab-kitab lain. Galileo
Galilei dan Copernicus adalah dua contoh korban dari kebodohan Gereja. Maka para ilmuwan
berpendapat bahwa dengan mendekati agama, manusia akan mengalami kegelapan. Padahal
bukan agama yang perlu dijauhi, tetapi agama yang bathil itulah yang perlu dijauhi.

Sedangkan dengan mendekati agama yang shahih, maka kita akan mendapatkan pencerahan di
dunia dan di akhirat. Hanya dengan mendekati Islam dan mengkaji Al-Qur`an serta menerapkan
ajaran dari agama yang shahih inilah, ummat manusia akan berjalan menuju kejayaan (al-falah).
Ramalan Dan Kenyataan Seputar Nabi Isa a.s

Beliau as adalah hamba Allah dan Rasul-Nya. Beliau bukan Allah dan putera Allah seperti halnya
keyakinan orang Nashrani. Allah swt berfirman:

“Berkata ‘Isa, ‘Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al-Kitab (Injil) dan Dia menjadikan
aku seorang nabi’.” (Qs. Maryam *19+: 30).

“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata, ‘Sesungguhnya Allah itu ialah Al-Masih putera
Maryam’.” (Qs. al-Maa’idah *5]: 17).

“Orang Nashrani berkata, ‘Al-Masih putera Allah. Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut
mereka’.” (Qs. at-Taubah [9]: 30).

“Dan mereka berkata, ‘Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak. Sesungguhnya kamu
telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar. Hampir-hampir langit pecah karena ucapan
itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh. Karena mereka menda'wakan Allah Yang Maha
Pemurah mempunyai anak. Dan tidak layak bagi Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai)
anak. Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha
Pemurah selaku seorang hamba. Sesungguhnya Allah telah menentukan jumlah mereka dan menghitung
mereka dengan hitungan yang teliti. Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat
dengan sendiri-sendiri’.” (Qs. Maryam *19+: 88-95).

‘Al Masih putera Maryam menolak orang-orang yang menyatakan bahwa beliau as adalah Allah atau
anak Allah. Allah SWT berfirman:

“Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman, ‘Hai ‘Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada
manusia, ‘Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?’ ‘Isa menjawab, ‘Maha Suci Engkau,
tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakan
maka tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak
mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang
ghaib-ghaib. Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan
kepadaku (mengatakannya) yaitu, ‘Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu, dan adalah aku menjadi
saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku.
Engkaulah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu’.” (Qs.
al-Maa’idah *5+:

Sesungguhnya beliau tidak terbunuh dan disalib. Akan tetapi, Allah menyelamatkannya dari orang-orang
dzalim, dan mewafatkannya sebagaimana orang tidur. Lalu, Allah SWT mengangkatnya ke langit dan
Allah mendatangkan orang lain yang serupa dengan ‘Isa as. Selanjutnya, mereka (para tentara kerajaan)
membunuh orang yang diserupakan Isa as dan menyalibnya. Akan tetapi, mereka ragu dan berselisih
dalam perkara itu. Perhatikan Firman Allah SWT berikut ini:

“Dan karena ucapan mereka, ‘Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, ‘Isa putera Maryam, Rasul
al-Allah. Padahal mereka tidak membunuhnya, dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh
ialah) orang yang diserupakan dengan ‘Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih
paham tentang (pembunuhan) ‘Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu.
Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan
belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah ‘Isa, tetapi (yang sebenarnya),
Allah telah mengangkat 'Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana’.” (Qs. an-
Nisaa’ *4+: 157-158).

“Ingatlah, ketika Allah berfirman, ‘Hai ‘Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir
ajalmu, dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir’.” (Qs.
Ali-‘Imraan *3+: 55).

Bahkan, ‘Isa Al Masih as mengingatkan manusia dari para pendusta yang menda’wahkan kenabian
setelah dirinya, dan memberikan khabar gembira dengan risalah Muhammad Saw. Sebagian besar orang
Nashrani beriman dengan kenabian Muhammad Saw, namun sebagian besar lainnya mengingkari
khabar (dari) ‘Isa as dan tidak beriman kepada Nabi Muhammad Saw.

“Dan ingatlah, ketika ‘Isa putera Maryam berkata, ‘Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah
kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu taurat dan memberi khabar gembira
dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).
Maka tatkala Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti yang nyata, mereka berkata, ‘Ini
adalah sihir yang nyata’.” (Qs. ash-Shaff [61]: 6).

“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang
beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik( Ateis). Dan sesungguhnya kamu dapati
yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata,
‘Sesungguhnya kami ini orang-orang Nashrani.’ Yang demikian itu disebabkan karena diantara mereka
itu (orang-orang Nashrani) terdapat pendeta-pendeta, dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya
mereka tidak menyombongkan diri. Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada
Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (al-Qur’an)
yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri), seraya berkata, ‘Ya Tuhan kami, kami telah
beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran al-Qur’an dan
kenabian Muhammad Saw)’.” (Qs. al-Maa’idah *5+: 82-83).

Siapa saja, Yahudi, Nashrani, Majusi atau orang yang memeluk agama selain Islam, yang mendengar
kenabian Muhammad Saw, dan risalahnya dengan penyampaian yang jelas, namun tidak beriman maka
kelak ia akan menjadi penghuni neraka. Allah SWT berfirman:

“Dan barangsiapa yang tidak beriman kepada Allah dan RasulNya maka sesungguhnya Kami
menyediakan untuk orang-orang yang kafir neraka yang bernyata-nyala.” (Qs. al-Fath [48]: 13).

Rasulullah Saw bersabda:
“Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada di tanganNya, tidaklah seseorang dari manusia yang mendengar
aku, Yahudi, dan Nashrani, kemudian mati, sedangkan ia tidak beriman dengan apa yang diturunkan
kepadaku, kecuali ia menjadi penghuni neraka.” *HR. Muslim dan Ahmad].

Ketika ‘Isa as diturunkan di akhir zaman, beliau as akan mengikuti syari'at Islam yang diturunkan kepada
Nabi Muhammad Saw yang telah menghapus seluruh syari'at sebelumnya.

“Tidak ada nabi, di antara aku dan ia, yakni ‘Isa as, sesungguhnya ia adalah tamu. Bila kalian
melihatnya, maka kalian akan mengenalnya sebagai seorang laki-laki yang mendatangi sekelompok
kaum yang berwarna merah dan putih, seakan kepalanya turun hujan, bila ia tidak menurunkan hujan,
maka akan basah, Dan ia akan memerangi manusia atas Islam, menghancurkan salib, membunuhi babi,
mengambil jizyah, saat itu Allah menghancurkan seluruh agama kecuali Islam, sedangkan ‘Isa as
menghancurkan Dajjal. Dan ia berada di muka bumi selama 40 tahun, kemudian wafat dan kaum
muslimin mensholatkannya.” *HR. Abu Dawud+.




Biodata IBLIS




Nama : Iblis

Kedudukan : Pemimpin tertinggi syetan jin dan syetan manusia.

Gelar : Laknatullahi'alaihi (semoga Allah melaknatnya)

Lahir : Sebelum Nabi Adam alaihissalam diciptakan
Tempat Tinggal : Tempat-tempat yang kotor, WC, dan rumah-rumah manusia yang terdapat
gambar & patung, serta rumah yang tidak disebutkan Nama Allah Azza Wajalla ketika orang
memasukinya. (baca : Tempat Mangkal Favorit Syetan)

Kemampuan : Tidak dapat mengetahui yang Ghaib, namun ia dapat berubah bentuk menyerupai
wujud manusia, hantu, anjing hitam, ular atau wujud lainnya.

Agama : Kafir

Ciri2 Sosok dan Rupa : Ghaib, ia dan keturunannya tidak mudah dilihat. “Sesungguhnya ia
(syetan) dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat
mereka.” (Lihat QS.Al-A‟raf: 27)

Sifat : Sombong.
"Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?‟
Iblis menjawab, „Aku lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan aku dari api sedang Engkau
ciptakan dia dari tanah‟ (Lihat QS.Al-A‟raf: 12)

Bahasa: Dapat mengetahui semua bahasa manusia, punya kemampuan membaca, memahami,
berbicara dan Berkomunikasi tanpa menggunakan aksen asing.

Juru Bicara: Paranormal, Dukun, dan penyebar ideologi-ideologi sesat.
“Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki diantara manusia meminta perlindungan
kepada beberapa laki-laki diantara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan
kesalahan.” (Al-Jin: 6) (Lihat Qa‟idah „Azhimah, hal. 152)

Asisten : Para wanita yang menampakkan aurat nya. Rasulullah Shallallahu „Alaihi Wasallam
bersabda “Wanita itu adalah aurat, apabila ia keluar rumah maka syaitan menghias-hiasinya
(membuat indah dalam pandangan laki-laki sehingga ia terfitnah)”. (HR. At Tirmidzi,
dishahihkan dengan syarat Muslim oleh Asy Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi`i dalam Ash
Shahihul Musnad, 2/36).

Masa Jabatan: Sampai hari kiamat. Iblis pernah memohona: "Ya Tuhanku, beri tangguhlah aku
sampai hari mereka dibangkitkan" (Lihatlah QS.Shaad:79)

Kaki Tangan : Orang kafir, Fasiq, Murtad, dan Munafiq. Orang-orang boros adalah saudara-
saudara syaithan" (Lihat QS.Al-Isra:27).

Kekasih di Dunia: Para penjudi, peminum khamr, pezina dan mereka-mereka yang bermaksiat
kepada Allah Ta'ala. "Sesungguhnya syetan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan
dan kebencian diantara kamu dan berjudi itu dan menghalangi kamu untuk untuk mengingat dan
shalat". (QS.Al-Maa‟idah:91)

Musuh utama: Para Nabi dan Ulama yang memikul tugas kenabian.
“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh yaitu syetan-syetan manusia dan
jin sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yg lain perkataan-perkataan yg indah-
indah utk menipu” (Lihat QS.Al-An‟am:112).

Musuh Umum: Setiap orang mu'min.
"Maka kami berkata: "Hai Adam, sesungguhnya ini (iblis) adalah musuh bagimu dan bagi
istrimu, maka sekali-kali janganlah sampai ia mengeluarkan kamu berdua dari surga, yang
menyebabkan kamu menjadi celaka". (Lihat QS.Thaha:117)

Hobby : Berbuat keji, merusak dan menjerumuskan manusia dan Jin ke dalam kekufuran dan
menyesatkan mereka sejauh-jauhnya. "Wahai orang-orang beriman, janganlah kamu mengikuti
langkah- langkah syaitan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, Maka
Sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar"
(Lihat QS.An-Nur: 21)

Cita-Cita: Menjadikan seluruh manusia dan jin menjadi sesat dan kafir dan menjadi
pengikutnya.

Tujuan Hidup : Menggiring manusia ke dalam neraka. Iblis pernah bersumpah: "Karena Engkau
telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan
Engkau yang lurus" (Lihat QS.Al-A'raf:16).

Makanan dan minuman Favorit : makanan dan minuman yang tidak disebutkan nama Allah
'aza wajalla atasnya. “Sesungguhnya setan ikut makan dengan orang yang tidak menyebut nama
Allah (didalam makan & minumnya).” (HR. Muslim 6/107)

Jika seseorang makan dan mengucapkan basmillah, maka syetan berkata: „Tidak ada kesempatan
menginap dan bersantap malam‟.” (Nashihatii li Ahlis Sunnah Minal Jin)



Arti dan Makna Islam
A. Arti Etimologis

Secara etimologis (asal-usul kata, lughawi) kata “Islam” berasal dari bahasa Arab: salima yang artinya
selamat. Dari kata itu terbentuk aslama yang artinya menyerahkan diri atau tunduk dan patuh.
Sebagaimana firman Allah SWT,

“Bahkan, barangsiapa aslama (menyerahkan diri) kepada Allah, sedang ia berbuat kebaikan,
maka baginya pahala di sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak
pula bersedih hati” (Q.S. Al Baqarah:112).

Dari kata aslama itulah terbentuk kata Islam. Pemeluknya disebut Muslim. Orang yang memeluk
Islam berarti menyerahkan diri kepada Allah dan siap patuh pada ajaran-Nya .
Hal senada dikemukakan Hammudah Abdalati . Menurutnya, kata “Islam” berasal dari akar kata
Arab, SLM (Sin, Lam, Mim - , , ) yang berarti kedamaian, kesucian, penyerahan diri, dan
ketundukkan. Dalam pengertian religius, menurut Abdalati, Islam berarti “penyerahan diri
kepada kehendak Tuhan dan ketundukkan atas hukum-Nya” (Submission to the Will of God and
obedience to His Law).

Hubungan antara pengertian asli dan pengertian religius dari kata Islam adalah erat dan jelas.
Hanya melalui penyerahan diri kepada kehendak Allah SWT dan ketundukkan atas hukum-Nya,
maka seseorang dapat mencapai kedamaian sejati dan menikmati kesucian abadi.

Ada juga pendapat, akar kata yang membentuk kata “Islam” setidaknya ada empat yang
berkaitan satu sama lain :
1. Aslama. Artinya menyerahkan diri. Orang yang masuk Islam berarti menyerahkan diri kepada
Allah SWT. Ia siap mematuhi ajaran-Nya.
2. Salima. Artinya selamat. Orang yang memeluk Islam, hidupnya akan selamat.
3. Sallama. Artinya menyelamatkan orang lain. Seorang pemeluk Islam tidak hanya
menyelematkan diri sendiri, tetapi juga harus menyelamatkan orang lain (tugas dakwah atau
„amar ma‟ruf nahyi munkar).
4. Salam. Aman, damai, sentosa. Kehidupan yang damai sentosa akan tercipta jika pemeluk
Islam melaksanakan asalama dan sallama.

B. Arti Terminologis

Secara terminologis (istilah, maknawi) dapat dikatakan, Islam adalah agama wahyu berintikan
tauhid atau keesaan Tuhan yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad Saw
sebagai utusan-Nya yang terakhir dan berlaku bagi seluruh manusia, di mana pun dan kapan pun,
yang ajarannya meliputi seluruh aspek kehidupan manusia.

Cukup banyak ahli dan ulama yang berusaha merumuskan definisi Islam secara terminologis.
KH Endang Saifuddin Anshari mengemukakan, setelah mempelajari sejumlah rumusan tentang
agama Islam, lalu menganalisisnya, ia merumuskan dan menyimpulkan bahwa agama Islam
adalah:

Wahyu yang diurunkan oleh Allah SWT kepada Rasul-Nya untuk disampaikan kepada segenap
umat manusia sepanjang masa dan setiap persada. Suatu sistem keyakinan dan tata-ketentuan
yang mengatur segala perikehidupan dan penghidupan asasi manusia dalam pelbagai hubungan:
dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam lainnya.

Bertujuan: keridhaan Allah, rahmat bagi segenap alam, kebahagiaan di dunia dan akhirat. Pada
garis besarnya terdiri atas akidah, syariat dan akhlak. Bersumberkan Kitab Suci Al-Quran yang
merupakan kodifikasi wahyu Allah SWT sebagai penyempurna wahyu-wahyu sebelumnya yang
ditafsirkan oleh Sunnah Rasulullah Saw.

C. Nama “Islam” Pemberian Allah.
Nama “Islam” bagi agama ini diberikan oleh Allah SWT sendiri. Dia juga menyatakan hanya
Islam agama yang diridhai-Nya dan siapa yang memeluk agama selain Islam kehidupannya akan
merugi di akhirat nanti. Islam juga dinyatakan telah sempurna sebagai ajaran-Nya yang
merupakan rahmat dan karunia-Nya bagi umat manusia, sehingga mereka tidak memerlukan lagi
ajaran-ajaran selain Islam.

“Sesungguhnya dien (agama) yang diridhai Allah hanyalah Islam.” (Q.S. 3:19)
“Dan siapa saja yang memeluk agama selain Islam, tidak akan diterima (oleh Allah) dan dia
termasuk orang-orang yang merugi di akhirat nanti.” (Q.S. 3:85)
“Pada hari ini Aku telah sempurnakan agamamu (Islam) dan Aku telah melimpahkan nikmat-Ku
padamu, dan Aku ridha Islam sebagai agamamu.” (Q.S. 5:3).

Menurut Al-Quran, semua agama yang diturunkan kepada para Nabi dan Rasul sebelum
Muhammad pun pada hakikatnya adalah agama Islam dan pemeluknya disebut Muslim :

Nabi Nuh

“Jika kamu berpaling (dari peringatanku), aku tidak meminta upah sedikitpun dari padamu.
Upahku tidak lain hanyalah dari Allah belaka, dan aku disuruh supaya aku termasuk golongan
muslim (orang-orang yang berserah diri) kepada-Nya.” (QS Nuh : 72)

Nabi Ibrahim

“Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang muslim( tunduk patuh) kepada Engkau dan
(jadikanlah) diantara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah
kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadat haji kami, dan terimalah taubat kami.
Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang” (QS Al Baqarah
: 128)

Nabi Ya‟qub

“Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya‟qub.
(Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu,
maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam.” (QS Al Baqarah : 132)

Nabi Yusuf

“Ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebahagian kerajaan
dan telah mengajarkan kepadaku sebahagian ta‟bir mimpi. (Ya Tuhan) Pencipta langit dan
bumi. Engkaulah Pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam
dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh”. (QS Yusuf : 101)

Nabi Musa

“Berkata Musa: “Hai kaumku, jika kamu beriman kepada Allah, maka bertawakkallah kepada-
Nya saja, jika kamu benar-benar orang muslim ( berserah diri).” (QS Yunus : 84)
Bahkan, Hawariyun, yakni sebutan bagi pengikut Nabi Isa a.s., menyebut diri mereka Muslim :
“Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani lsrail) berkatalah dia: “Siapakah yang
akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?” Para hawariyyin
(sahabat-sahabat setia) menjawab: “Kamilah penolong-penolong (agama) Allah, kami beriman
kepada Allah; dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang muslim
(berserah diri)”. (Q.S. Ali „Imran : 52).

Banyak ayat-ayat lain dalam Al-Qur‟an tentang apa agama yang dianut hamba-hamba pilihan
Allah Swt terdahulu tersebut seperti pada QS. Al-A’raf: 126, QS. Yunus: 90, QS. An-Naml: 31
atau pada ayat-ayat lain.

Inilah salah satu kekhasan agama Islam. Nama “Islam” tidak diasosiasikan pada pribadi
seseorang, nama ras, suku, ataupun wilayah. Sebagaimana dikemukakan Abul A‟la Al-Maududi ,
Islam sama sekali tidak seperti nama agama-agama lain yang dikaitkan dengan nama sesuatu
atau seseorang.

“…Christianity takes its appelation from the name of its prophet Yesus Christ; Budhism from its
founder Gautama Budha; Zoroastrianisme from its founder Zoroaster; and Judaism, the reigion
of Jews, from the name of tribe Judah (of the Country of Judea) where in it took its birth. But no
so with Islam…”

Zoroaster adalah agama di Parsi. Nama itu disandarkan pada nama pendirinya, Zoroaster yang
meninggal tahun 583 SM.

Agama Budha (Budhism) berasal dari nama Sidharta Budha Gautama, lahir tahun 560 SM di
India. Budha adalah gelar bagi Sidharta yang dianggap memperoleh penerangan agung.

Yahudi (Judaism), yang dianut orang-orang Yahudi, berasal dari nama negara Juda (Judea) atau
Yahuda.
Agama Hindu (Hinduism) adalah kumpulan macam-macam agama dan tanggapan tentang dunia
dari orang-orang India.

Agama Tao (Taoism) pada mulanya adalah suatu ajaran filsafat, sebagai aspek manifestasi
perasaan, spontanitas, dan khayalan orang-orang Cina yang berkembang menjadi agama dalam
Dinasti Han (206 SM-220 M).

Kristen diambil dari nama Tuhan yang dipujanya, Jesus Christ. Pengikut Kristus disebut pula
orang-orang Kristen. Dalam Al-Quran ada istilah Nasrani atau Nashoro, disandarkan pada asal
daerah Jesus, yakni Nazareth (Jesus of Nazareth) .

Wallahu a‟lam.
Kecepatan Cahaya Ternyata Ada Di Dalam Al-Qur'an

Bagi umat muslim, al-qur'an adalah sebuah kitab suci yang memiliki semua rahasia kehidupan.
Dalam postingan Arieffan's World kali ini, saya akan membahas salah satu ilmu pengetahuan
yang ada di dalam al-qur'an yang mungkin tidak diketahui semua orang, yakni tentang kecepatan
cahaya -yang masih merupakan misteri bagi para ilmuwan-. Benar, jika kita tafsirkan dengan
benar di dalam al-qur'an akan ditemukan rumus kecepatan cahaya yang ternyata jika dicocokkan
dengan angka-angka temuan para ilmuwan tidak jauh berbeda.


Kecepatan Cahaya, Kecepatan gelombang elektro magnetic yg tercepat di jagat ini, yaitu:
299792.5 Km/detik, yang baru diketahui abad 20, ternyata telah ditulis Qur‟an 1400 Tahun yang
lalu.

Mungkin kita pernah tahu jika konstanta C, atau kecepatan cahaya yaitu kecepatan tercepat di
jagat raya ini diukur, dihitung atau ditentukan oleh berbagai institusi berikut:

US National Bureau of Standards, C = 299792.4574 + 0.0011 km/det

The British National Physical Laboratory, C = 299792.4590 + 0.0008 km/det

Konferensi ke-17 tentang Penetapan Ukuran dan Berat Standar: ”Satu meter adalah jarak tempuh
cahaya dalam ruang vacum selama jangka waktu 1/299792458 detik".
Sekarang, mari kita lihat apa yg Qur‟an tulis tentang kecepatan cahaya.

Qs. 10 Yunus: 5. Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan
ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (jalan-jalan) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu
mengetahui bilangan tahun dan perhitungan. Allah tidak menciptakan yang demikian itu
melainkan dengan haq. Dia menjelaskan tanda-tanda kepada orang-orang yang mengetahui.

Qs. 21 Anbiyaa: 33. Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan.
Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.

Qs. 32 Sajdah: 5. Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik
kepadaNya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu

Sekarang, mari kita perhatikan dengan seksama.

Jarak yang dicapai “Sang urusan” selama 1 hari = jarak yang ditempuh bulan selama 1000 tahun
atau 12000 bulan.

C . t = 12000 . L

dimana : C = kecepatan Sang urusan

t = waktu selama satu hari

L = panjang rute edar bulan selama satu bulan

Sekarang, sistem kalender telah diuji mendapatkan nilai C yang sama dengan nilai C yang sudah
diketahui setelah pengukuran.

Ada dua macam system kalender bulan:

1. Sistem sinodik, didasarkan atas penampakan semu gerak bulan dan matahari dari bumi.

1 hari = 24 jam

1 bulan = 29.53059 hari

2. Sistem sidereal, didasarkan atas pergerakan relatif bulan dan matahari terhadap bintang

dan alam semesta.

1 hari = 23 jam 56 menit 4.0906 detik = 86164.0906 detik

1 bulan = 27.321661 hari

Bulan kembali ke posisi semula tepat pada garis lurus antara matahari dan bumi
. Periode ini disebut “satu bulan sinodik”

Selanjutnya perhatikan rute bulan selama satu bulan sidereal, Rutenya bukan berupa lingkaran
seperti yang mungkin anda bayangkan melainkan berbentuk kurva yang panjangnya L = v . T.

Dimana:

v = kecepatan bulan

T = periode revolusi bulan

= 27.321661 hari

a = 27.321661 days/365.25636 days x 360 o = 26.92848o

Ada dua tipe kecepatan bulan :

1. Kecepatan relatif terhadap bumi yang bisa dihitung dengan

rumus berikut: ve = 2 . p . R / T

dimana R = jari-jari revolusi bulan = 384264 km

T = periode revolusi bulan = 655.71986 jam

Jadi ve = 2 * 3.14162 * 384264 km / 655.71986 jam

= 3682.07 km/jam
2. Kecepatan relatif terhadap bintang atau alam semesta. Yang ini yang akan diperlukan. Einstein
mengusulkan bahwa kecepatan jenis kedua ini dihitung dengan mengalikan yang pertama dengan
cosinus a, sehingga: v = Ve * Cos a

Dimana a adalah sudut yang dibentuk oleh revolusi bumi selama satu bulan sidereal

a = 26.92848o

Bandingkan C (kecepatan sang urusan) hasil perhitungan dengan nilai C (kecepatan cahaya)
yang sudah diketahui !

Jika:

L=v.T

v = Ve * Cos a
Ve = 3682.07 km/jam

a = 26.92848 o

T = 655.71986 jam

t = 86164.0906 detik

Maka:

C . t = 12000 . L

C . t = 12000 . v . T

C . t = 12000 . (Ve * Cos a) . T

C = 12000 . ve . Cos a . T / t

C = 12000 * 3682.07 km/jam * 0.89157 * 655.71986 jam / 86164.0906 detik

C = 299792.5 km/det

Sekarang,,, mari kita bandingkan antara perhitungan yg ditulis Qur‟an dengan perhitungan abad
20.

Qur‟an --------------------------------------> C = 299792.5 Km/detik

US National Bureau of Standards, ------> C = 299792.4574 + 0.0011 km/detik

The British National Physical Laboratory, C = 299792.4590 + 0.0008 km/detik

Konferensi ke-17 tentang Penetapan Ukuran dan Berat Standar: ”Satu meter adalah jarak tempuh
cahaya dalam ruang vacum selama jangka waktu 1/299792458 detik".

Kesimpulan dari Profesor Elnaby:

“Perhitungan ini membuktikan keakuratan dan konsistensi nilai konstanta C hasil pengukuran
selama ini dan juga mnunjukkan kebenaran AlQuranul karim sebagai wahyu yang patut
dipelajari dengan analisis yang tajam karena penulisnya adalah ALLAH, Sang Pencipta Alam
Semesta Raya.”

Elnaby, M.H, 1990, A New Astronomical Quranic Method for The Determination of The
Greatest Speed C

Fix, John D, 1995, Astronomy, Journey of the Cosmic Frontier, 1st edition, Mosby-Year Book,
Inc., St Louis, Missouri

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:284
posted:8/5/2011
language:Indonesian
pages:46