Docstoc

Forestry of Ministry

Document Sample
Forestry of Ministry Powered By Docstoc
					Kepedulian Anda di "Hari Menanam Pohon Indonesia" dan "Bulan Menanam Nasional 2008"
Saat ini, sekitar 1,6 milyar manusia di seluruh dunia bergantung pada hutan sebagai sumber penghidupannya. Saat ini pula, 60 juta masyarakat di dunia tengah menggantungkan nasibnya pada hutan untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari. Kelak, masa depan anak dan cucu kita pun kian terancam oleh kesulitan air, bahaya kelaparan, hama penyakit, banjir, serta longsor yang terus – menerus terjadi, tatkala kita tak lagi memiliki hutan-hutan kita. EJATINYA, hutan adalah simpfoni kehidupan. Kelestariannya menjadi hulu keseimbangan alam yang mampu menjaga kehidupan umat manusia dari murka alam bernama bencana. Berkurang keanekaragaman hayati di dalamnya, berarti jutaan manusia akan menghadapi masa depan suram. Persediaan makanan yang semakin rawan, hama dan penyakit terus menyerang, persediaan air semakin langka, serta pemanasan global yang semakin tak tertahankan mengancam. Kiranya, meski tercatat telah banyak upaya dilakukan, degradasi hutan atau deforestasi di hampir seluruh penjuru dunia kini terus mengalami peningkatan yang kian mengkhawatirkan, yang saat ini mencapai hampir jutaan hektar per tahunnya. Tak pelak, hal tersebut berakibat besar bagi keanekaragaman hayati, iklim global, dan jutaan umat manusia. Kita menyadari, hutan terdiri dari 90 persen kekayaan hayati darat di dunia yang berperan sangat penting memerangi pemanasan global. Hutan pula yang menjadi cadangan karbon terbesar di seluruh muka Bumi. Tidakkah kita sadari, bahwa perubahan iklim di negeri kita saat ini semakin terasa? Banjir melanda di mana-mana, tanah longsor menghujam pelosok hingga pinggir kota, dan musim penghujan yang berubah-ubah tidak terkendali? Setitik Rasa Peduli Anda Sangat Berarti UNTUK itulah, perlu komitmen dari seluruh pihak yang peduli pada hilangnya hutan dan perubahan iklim sebagai dampaknya, sehingga kita bisa bersama-sama menghadapinya. Di tingkat dunia, para Menteri Lingkungan dan delegasi 60

S

negara termasuk Jerman sebagai tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi PBB ke-9 Convention on Biological Diversity (CBD COP9), telah menunjukkan kepada dunia bahwa mereka bersungguh-sungguh memerangi hilangnya hutan demi menjaga keanekaragaman hayati, iklim global, serta kesejahteraan manusia. Lalu, bagaimana dengan kita, bangsa Indonesia? Dalam upaya memasyarakatkan gerakan menanam dan memelihara pohon secara serentak dan nasional sekaligus sebagai peringatan “100 Tahun Kebangkitan Nasional”, Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono menetapkan tanggal 28 November nanti sebagai “Hari Menanam Pohon Indonesia”. Hal tersebut termaktub dalam Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 24 tahun 2008 tentang Hari Menanam Pohon Indonesia. Selain itu, Presiden sekaligus juga menetapkan tanggal tersebut sebagai “Bulan Menanam Pohon Nasional” dengan target 100 juta pohon hingga bulan Desember mendatang. Hal ini merupakan hasil konkrit sebagai komitmen pemerintah sejak setahun lalu. “Kegiatan ini bermaksud membangkitkan kembali kepedulian dan rasa cinta kebangsaan dengan mewujudkan Indonesia Hijau, yang bertujuan konkrit untuk mengurangi dampak pemanasan global, mencegah banjir, kekeringan dan longsor, serta meningkatkan upaya konservasi sumberdaya genetik tanaman hutan dan kesadaran budaya menanam,” ujar Masyhud, Kepala Pusat Informasi Kehutanan Departemen Kehutanan Republik Indonesia. Program gerakan tanam pohon akan dilakukan pada beragam lokasi. Mulai lahan terbuka di luar yang terlantar hingga

Menhut MS Kaban tengah melakukan penanaman pohon sebagai bagian dari gerakan menanam 100 juta pohon di Indonesia untuk melestarikan alam dan mencegah global warming

di dalam kawasan hutan, dari kawasan publik seperti masjid, gereja, pusat rekreasi, pasar, terminal, stasiun, halaman kantor pemerintah/swasta, kampus, sekolah, hingga daerah aliran sungai dan tepi jalan hutan, serta daerah bekas pertambangan atau perkebunan yang terlantar. Termasuk di dalamnya adalah lahan hutan yang rusak, tidak produktif atau tidak terkena proyek Hutan Tanaman Industri (HTI) dan reboisasi. Untuk mendukung progam ini, pemerintah dan swadaya dari pihak swasta maupun masyarakat yang peduli akan mengupayakan ketersediaan bibit tanaman yang sangat beragam. Mulai tanaman produk-

si, hias, buah, hingga tanaman berkhasiat seperti Nyamplung, Buni, Sukun, Rambutan, Damar, Nyawai, Kokolecean, Mahoni, Manglid, Pulai Suren, Salam, Durian, Pala, serta Puspa. Masing-masing institusi atau lembaga diharapkan menanam minimal 1000 batang pohon. “Sejauh ini pemerintah pusat menyediakan 52 juta bibit tanaman, selebihnya akan diupayakan melalui pemerintah provinsi, kabupaten dan kota, serta partisipasi masyarakat luas,” kata Masyhud. Kiranya, upaya pemerintah melalui program “Penanaman Serentak Indonesia” dan “Gerakan Perempuan Tanam dan Pelihara Pohon” dalam rangka COP-13 UNFCC bulan Nopem-

ber 2007 dari target 79 juta pohon direalisasikan 86,9 juta pohon. Dan dari gerakan perempuan tanam dan pelihara pohon, 10 juta pohon berhasil direalisasikan 14,1 juta pohon. Berkat keberhasilan tersebut, pada Juni 2008 lalu Indonesia mendapat apresiasi berupa “Internasional Certificate of Global Leadership” dari United Nation Environment Programme (UNEP) dibawah Perserikatan Bangsa Bangsa. Total penanaman dalam periode 2004 hingga akhir 2007 telah berhasil mencapai dua miliar lebih batang pohon baru. Kini, melalui gerakan tanam 100 juta pohon pemerintah berharap akan lebih menuai hasil ytang lebih menggembira-

kan. Dengan asumsi setiap hektar ditanam 2000 bibit, maka luas areal yang dapat tertanami mencapai 50 ribu hektar. Artinya, bila setiap hektare mampu menghasilkan 150 meter kubik, maka potensi kayu yang bisa dipanen dari penanaman 100 juta pohon bisa mencapai 7,5 juta meter kubik. Melalui gerakan ini pula, masyarakat pun tidak lagi hanya akan menjadi produsen bahan baku kayu, tetapi juga dapat mengembangkan industri primer pengolahan kayu seperti venner, pertukangan atau penggergajian. Sementara bagi kalangan swasta dan individu rumah tangga, tanaman bukan hanya penambah estetika

ruang, tapi juga sumber udara bersih dan pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari. “Gerakan ini menyentuh tiga aspek, ekonomi, sosial dan lingkungan hidup yang akan menjadi wujud kepedulian generasi sekarang untuk tanggap bencana pemanasan global, ujar Ir. Sunaryo, Dirjen Rehabiltasi Lahan dan Perhutanan Sosial Departemen Kehutanan. Gerakan tanam pohon ini juga diharapkannnya mampu menjadi semangat dan budaya yang terus menerus dijaga. Setitik kepedulian kita tentu sangat berarti, maka marilah mendukung langkah pemerintah dalam menghijaukan Indonesia untuk masa depan yang lebih baik, ” tambahnya.


				
DOCUMENT INFO
Stats:
views:256
posted:7/24/2009
language:Indonesian
pages:1
Description: This one of portfolio. Contain an advertorial in national newspaper where Forestry Minister spoke about how important to plan a three. One can became billion and save the earth.