Docstoc

KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH DALAM PENGEMBANGAN BUDAYA DAN IKLIM SEKOLAH KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH DALAM PENGEMBANGAN BUDAYA DAN

Document Sample
KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH DALAM PENGEMBANGAN BUDAYA DAN IKLIM SEKOLAH KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH DALAM PENGEMBANGAN BUDAYA DAN Powered By Docstoc
					   KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH DALAM PENGEMBANGAN
              BUDAYA DAN IKLIM SEKOLAH


Kepemimpinan kepala sekolah merupakan salah satu karakteristik yang paling konsisten
hubungannya dengan prestasi belajar. Temuan penelitian Heck, dkk. (1991) menunjukkan bahwa
prestasi akademik dapat diprediksi berdasarkan pengetahuan terhadap perilaku kepemimpinan
pengajaran kepala sekolah.MenuruTownsend (1994), proses kepemimpinan mempunyai
pengaruh terhadap semua aspek kinerja sekolah. Lebih spesifik, kepemimpinan pengajaran
berperan dalam kegiatan pembinaan personil guru, perlindungan sekolah dari tekanan eksternal
yang kurang mendukung, pemantauan prestasi sekolah, penyediaan waktu dan energi untuk
per¬baikan sekolah, pemberian dukungan kepada guru, dan pencarian sumberdaya ekstra untuk
sekolahnya (Mortimore, 1993).

Menjadi pemimpin sekolah yang dapat menciptakan budaya dan iklim sekolah didasarkan pada
asumsi bahwa para pemimpin sekolah adalah orang-orang yang mampu mengespresikan diri
sepenuhnya atau dengan kata lain mereka mengetahui siapa diri mereka, apa kekuatan mereka
dan mengimbangi kelemahan mereka, mengetahui keinginan dan harapan mereka dan mengapa
dia menginginkan hal itu, bagaimana cara mengemukakan keinginan tersebut kepada personil
sekolah guna memperolah kerja sama dan mendapatkan dukungan dari personil sekolah.
Akhirnya kepala sekolah tahu bagaimana cara mencapai sasaran mereka. Kunci untuk ekspresi
diri adalah pengetian tentang diri sendiri dan dunia kerja serta lingkungan sekolah dimana kita
berada. Dan kunci untuk pengertian adalah belajar dari kehidupan dan pengalaman pribadi.

Dewasa ini orang bekerja cenderung mencari lebih dari sekedar gaji, mereka ingin diperlakukan
sebagai manusia. Kondisi ini mungkin kedengaran klise tetapi banyak pemimpin yang kurang
menyadari hal ini.

Inti budaya dan iklim sekolah yang bersemangat adalah terletak pada kualitas hubungan antara
individu dalam sebuah komunitas sekolah dan kepercayaan, penghormatan serta pertimbangan
yang ditunjukkan oleh kepala sekolah kepada guru , staf dan siswa setiap harinya. Untuk
memaksimalkan potensi personil sekolah terutama tergantung pada bagaimana seseorang
diperlakukan, diberi inspirasi dan ditantang untuk menghasilkan prestasi kerja terbaik mereka
dengan dukungan sumber daya serta bimbingan yang diberikan oleh kepala sekolah untuk
membantu menjadikan performa personil sekolah menjadi luar biasa.

Sejauh mana budaya dan iklim sekolah dalam bidang kepemimipin sekolah dapat
memberdayakan atau malah menghambat potensi yang ada. Cuntoh sederhana yang dapat
dilakukan dalam menggairahkan iklim sekolah adalah dengan sesekali mengadakan perayaan
untuk membangun moral atau budaya sekolah yang bisa menghasilkan perubahan, memberikan
jadwal yang pleksibel atau peralatan terbaik untuk melaksanakan tugas dengan benar. Hal ini
mungkin akan memerlukan biaya yang tidak sedikit, tetapi cara ini tidak akan percuma dilakukan
jika dapat menghasilkan produktifitas kerja yang meningkat.

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan oleh kepala sekolah dalam melaksanakan
kepemimpinan di sekolah sehingga tercipta iklim dan buaya sekolah yang kondusip:

A.Membangun Moral Kerja
Dalam menciptakan budaya dan iklim sekolah, salah satu faktor yang paling menentukan adalah
membangkitkan semangat orang-orang yang berada dalam lingkungan sekolah khususnya guru,
staf dan siswa. Hal ini disebabkan karena moral dapat memberikan dampak langsung terhadap
kualitas sekolah dan dapat meningkatkan prestasi belajar bagi siswa serta meningkatkan
profesionalitas para guru dan staf dalam melaksanakan tugas-tugas mereka.

Kepala sekolah selaku pemimpin dalam lingkungan organisasi sekolah harus mengetahui apakah
hubungan mereka dengan guru, staf, siswa, komite, orang tua dan masyarakat terjalin dengan
baik atau tidak? Hal ini dapat dilakukan melalui jawaban dari pertanyaan-pertanyaan berikut.

1.Apakah personil sekolah merasa bebas memberikan pendapat mereka dan mengetahui bahwa
pendapat mereka dihargai?

2.Apakah mereka yakin bahwa mereka mendapatkan informasi yang tepat waktu tentang hal-hal
yang berhubungan dengan program-program sekolah dan tugas mereka?

3.Apakah anda dapat membangkitkan komitmen mereka atau mereka tidak merasa dirinya
sebagai bagian dari sekolah?

4.Apakah anda dapat memahami kebutuhan mereka dan menjalin hubungan saling pengertian
diantara mereka untuk meraih saran-saran dalam meningkatka kualitas kerja mereka?

5.Apakah anda memberikan kesempatan bukan hanya dalam melaksanakan tugas tetapi juga
memberikan efek sehingga mereka tanggap dan berusaha untuk memastikan apa yang telah
terjadi?

6.Apakah anda pernah menyentuh hati mereka untuk memberikan yang terbaik dari hasil kerja
dan karya mereka selama ini?
Jika jawaban terhadap pertanyaan tersebut menunjukkan sikap bahwa kita peduli terhadap
mereka dan membutuhkan suasana gembira, akan memberikan motivasi yang paling kuat bagi
mereka. Karena ketika semua unsur dan personil sekolah merasa senang dan semangat yang
tercipta lahir dari iklim dalam budaya sekolah maka mereka akan lebih produktif.

Personil sekolah akan lebih menerima program-program sekolah yang telah disusun bersama,
jika mereka yakin bahwa kepala sekolah benar-benar perduli secara pribadi setiap hari di sekolah
dan sikap peduli ini diwujudakan dengan ekspresif lewat mimik wajah yang mendukung atau
ucapan-ucapan selamat dan sekali-sekali diberikan hadiah atau bonus pada saat moment penting
seperti pada perayaan ulang tahun akan menambah semangat dan motivasi mereka untuk selalu
berbuat yang terbaik.

Cara terbaik untuk mendukung moral kerja personil dalam lingkungan sekolah dan untuk
menginspirasi mereka sehingga memiliki kinerja prima adalah dengan cara meyakinkan mereka
dengan segala yang anda lakukan dan bersikap dengan sepenuh hati bahwa anda sangat
mendukung mereka. Karena pada dasarnya setiap orang ingin merasa berguna atau penting bagi
orang lain.

Uang bukanlah satu-satunya cara yang dapat meningkatkan produktivitas kerja seseorang tetapi
lebih dari itu memberikan kepercayaan kepada mereka akan menemukan kembali nilai kesetiaan
mereka, dan nilai kesetiaan ini merupakan modal yang paling berharga dalam mencapai
produktivitas kerja yang lebih baik karena lahir dari rasa memiliki yang tertanam dalam benak
mereka.

B.Kebijakan dan Prosedur
Cukup banyak sekolah yang berhasil memiliki cara mudah untuk membangkitkan semangat guru
dalam mengajar, semangat staf dalam bekerja dan semangat siswa dalam belajar dan berprestasi
dengan cara meminimalisir beberapa kebijakan dan prosedur yang dapat menghambat upaya
untuk menjadikan personil sekolah bersemangat dan menggantikannya dengan kebijakan dan
prosedur yang lebih sederhana dan tidak menghambat.

Sekolah yang memiliki budaya dan iklim yang baik menyadari bahwa person sekolah yang dapat
dipercaya untuk melakukan apa yang benar ketika mereka di izinkan untuk bertanggung jawab
atas tindakan mereka sendiri.

Menurut Bob Nelson (2007), ada beberapa saran dalam menetapkan kebijakan dan prosedur
kerja dalam organisasi sebagai berikut:
1.Dalam hal kebijakan, lebih singkat dan sederhana adalah lebih baik dari pada lebih panjang dan
rumit.
2.Setiap kali anda menetapkan satu kebijakan baru, hapuslah dua kebijakan lama.
3.Pastikan kebijakan dan prosedur organisasi disusun untuk melayani para karyawan dan
pelanggan anda bukan hanya organisasi anda saja.
4.Waspadai kemungkinan menetapkan kebijakan atau prosedur baru sebagai reaksi terhadap
suatu insiden tunggal, mungkin saja masalahnya tidak pernah muncul lagi.
5.Seberapa besarpun ukuran organisasi, tidak ada kebijakan tunggal yang uraiannya terdiri lebih
dari satu halaman.

Penetapan kebijakan di atas dapat diadopsi dalam lingkungan budaya sekolah apabila ditunjang
oleh struktur organisasi sekolah yang baik. Karakteristik struktur organisasi sekolah yang baik
adalah jika struktur tersebut dapat menghasilkan kerja yang baik dan tidak berbelit-belit. Karena
jika person sekolah merasa tidak senang otomatis akan memberikan hasil kerja dan karya yang
buruk, hal ini merupakan efek dari kebijakan dan prosedur kerja yang kurang baik.

Hubungan yang dibangun dalam budaya dan iklim sekolah yang berdasarkan atas hubungan
saling percaya, saling menghormati dan mau mendengarkan pendapat orang lain serta dapat
mengekspresikan diri dalam tugas dan karya adalah sarana yang kuat bagi personil sekolah untuk
mendapatkan apa yang mereka inginkan.

C.Tujuan yang Jelas dan Sasaran yang Didefinisikan dengan Baik
Gaya kepemimpinan kepala sekolah dalam mencitakan budaya dan iklim sekolah yang kondusif
akan memberdayakan seluruh personil sekolah sebagai tim kerja. Dengan pemberdayaan ini akan
memberikan semangat yang kuat diantara personil sekolah, karena mereka dapat mengendalikan
dan memberi efek pada pekerjaannya. Membangun iklim seperti ini bukanlah sesuatu yang dapat
dilakukan dengan instant, karena harus ditumbuhkan dalam kondisi yang menyenangkan.

Agar tercipta sebuah tim work yang baik dalam lingkungan sekolah, maka setiap setiap personil
sekolah sebagai bagian dari anggota tim perlu memiliki maksud dan tujuan yang jelas serta
menetapkan sasaran sekolah dengan melibatkan seluruh anggota agar mereka mengetahui dan
paham apa tujuan dan sasaran sekolah.

Dengan tujuan sekolah yang jelas dan sasaran-sasaran sekolah yang didefinisikan dengan baik
serta diketahui setiap anggota sekolah dan melibatkan mereka sepenuhnya dalam program-
program sekolah akan memberikan hasil kerja yang lebih baik dan berkualitas. Misalnya tim
guru bidang studi di sekolah dapat menunjukkan kualitas kerja tim yang tinggi jika mereka
memiliki maksud dan tujuan yang jelas, menetapkan sasaran-sasaran, metode dan strategi
mengajar yang tepat dalam proses belajar mengajar, serta mengetahui posisi mereka dalam tim
atau prinsip-prinsip operasional dalam tim tersebut. Ketika batasan-batasan ini tidak jelas dan
tidak di ingatkan secara rutin maka tim akan kehilangan semangat dan komitmennya.

Beberapa saran yang diajukan oleh Nelson (2007) dalam menentukan tujuan yang jelas dan
sasaran didefinisikan dengan baik adalah sebagai berikut;
1.Tentukan misi bagi tim, hal ini akan mendefinisikan maksud anda dan menetapkan batasan-
batasan bagi cakupan cakupan kerja tim.
2.Pastikan agar tim mengembangkan sasaran-sasaran yang spesifik dan agar tim secara berkala
mengevaluasi serta memperbaharui sasaran-sasarannya.
3.Nyatakan maksud dan aturan-aturan tim untuk operasionalnya pada setiap rapat.
4.Jelaskan bahwa semua orang berada dalam tim yang sama. Hindarkan praktik-praktik yang
menghasilkan anggapan bahwa sebagian orang adalah tim kelas satu dan anggota tim yang lain
adalah tim kelas dua.

Selanjutnya Jon R. Katzenbach dan Douglas K. Smith yang dikutip Nelson (2007) menyarankan
enam hal penting bagi pemimpin dalam membangun semangat tim dalam organisasi sebagai
berikut:
1.Pastikan agar maksud, sasaran serta pendekatan relevan dan bermakna.
2.Bangun komitmen serta keyakinan.
3.Kuatkan perpaduan dan tingkatkan keterampilan.
4.Kelola hubungan dengan orang luar, termasuk mengatasi hambatan.
5.Ciptakan kesempatan bagi orang lain.
6.Lakukan pekerjaan yang nyata.
Beberapa saran di atas dapat di adopsi oleh pemimpin sekolah dalam menciptakan budaya dan
iklim sekolah yang kondusif.

D.Membangun Semangat Kerja yang Solid
Untuk membangun semngat kerja yang solid dalam sebuah komunitas sekolah bukan hanya
memberikan tugas atau menempatkan mereka pada posisi dan jabatan yang sesuai dengan
potensi mereka tetapi lebih dari itu. Untuk menciptakan sekolah yang sukses dan memiliki
kualitas perlu adanya proses pembentukan budaya, moral dan perilaku yang tidak bertentangan
dengan falsafah bangsa yang diwarnai kecerdasan intelektual, emosional dan spritual. Selain itu
juga sekolah yang sukses diwarnai oleh semangat yang menarik para personil sekolah sebagai
satu unit yang utuh, dimana mereka dapat berkontribusi untuk mencapai sutu tujuan dan sasaran
bersama.
Banyak cara untuk dapat membangun semangat kerja yang solid dalam organisasi sekolah seperti
dengan cara membangun budaya dan menciptakan iklim bekerja sama dengan penuh semangat,
mengejar sasaran ketika mereka terdorong oleh visi dan misi sekolah yang jelas dengan kekuatan
serta ketersedian sarana belajar yang memadai untuk mencapai tujuan sekolah. Kekuatan yang
dimaksudkan dalam hal ini adalah kerja sama dan semangat kerja yang solid diantara personil
sekolah.

Berikut beberapa cara yang dapat ditempuh sekolah untuk membangkitkan semangat personil
sekolah dalam membangun budaya dan iklim sekolah yang memiliki semangat yang solid
adalah:

1.Mengajak seluruh personil sekolah seperti guru, staf, dan siswa juga orang tua siswa, komite
dan masyarakat dalam jamuan makan siang bersama di sekolah dan menyatakan hal-hal yang
berhubungan dengan program sekolah terutama jika terjadi perubahan dalam program dan
lingkungan sekolah dan melibatkan mereka dalam proses perubahan tersebut.

2.Senantiasa mengkomunikasikan segala informasi baru kepada seluruh personil sekolah
terutama hal-hal yang menyangkut peningkatan mutu dan kualitas pendidikan di sekolah.

3.Senantiasa mendorong mereka untuk memperbaiki proses, prosedur atu aspek-aspek yang
berkaitan dengan peningkatan proses belajar mengajar baik itu di dalam kelas dan lingkungan
sekolah maupun di luar sekolah.

4.Kepala sekolah senantiasa dapat menunmbuhkan dan mendukung pertumbuhan pribadi
maupun profesionalisme guru, staf dan siswa dalam berprestasi dan membangun sekolah yang
berkualitas dalam iklim dan suasana yang menyenangkan.

E.Kepemimpinan dalam Pemberdayaan, Kemandirian dan Otonomi
Setiap orang ingin diperlakukan sebagai bagian dari organisasi demikian halnya di dalam
sekolah, setiap personilnya ingin dipercaya dan dihargai. Kepemimpinan kepala sekolah yang
menekankan pada pemberdayaan dalam budaya dan iklim sekolah akan memberikan
kesempatan, tanggung jawab dan kewenangan kepada personil sekolah untuk melaksanakan
segala sesuatu menurut cara mereka sendiri dan diberi kesempatan dalam pengambilan
keputusan dengan resiko dari efek keputusan yang dilakukan, akan membuat mereka lebih
senang dalam bekerja dan berkarya.

Tidak ada yang dapat memompa personil sekolah lebih total, kecuali inisiatif pribadi atau usaha
kerasnya untuk memberikan hasilkerja dan karya yang lebih baik jika mereka dihargai, diberikan
kebebasan untuk mandiri. Akan masuk akal jika para kepala sekolah mengetahui bahwa
pemberdayaan, kemandirian dan otonomi yang besar kepada seluruh personil sekolah akan
meningkatkan produktifitas mereka, meskipun sekali-sekali mereka membuat kesalahan bukan
berarti mereka gagal dalam tugas, mungkin saja itu awal dari keberhasilan yang tertunda.
Faktor-faktor yang dapat diperhatikan oleh kepala sekolah dalam menerapkan prinsip-prinsip
pemberdayaan, kemandirian dan otonomi dalam kepemimpinan kepala sekolah sebagai berikut:

1.Ketika guru dan staf menunjukkan hasil kerja atau karya yang baik dan meraih sukses/prestasi,
berilah dia kesempatan untuk melaksanakan kerja berikutnya.

2.Jika memungkinkan untuk memberikan mereka fleksibilitas jam kerja, maka fokuskan pada
hasil kerja atau karya mereka bukan pada kehadiran mereka.

3.Jika mereka memiliki kinerja yang tinggi, beri kesempatan kepada mereka bekerja dirumah dan
menetapkan jadwal mereka sendiri.

4.Untuk menjalin iklim dan hubungan yang baik antara kepala sekolah dengan guru, staf dan
siswa, maka hubungan antara mereka harus jelas baik dari segi struktur maupun wewenang dan
tanggung jawab mereka agar mereka lebih fokus dalam melaksanakan tugas dalam bidangnya.

F.Komunikasi, Inisiatif dan Fleksibilitas
Apa yang membuat budaya dan iklim sekolah menjadi lebih baik dan kondusif? Dasarnya adalah
implementasi kepemimpinan sekolah yang menghargai inisiatif personil sekolah sehingga
semangat dan tanggung jawab moral dalam bekerja dan berkarya tumbuh dan berkembang dan
secara otomatis produktivitas kerja mereka akan meningkat. Seperti semua inisiatif yang lain,
kepemimpinan yang bagus adalah kunci untuk implementasi yang afektif. Bila perubahan
sistemik dilaksanakan tanpa perubahan budaya dan iklim organisasi sekolah, implementasinya
sering gagal dan kembali ke keadaan sebelumnya.

Insiatif yang dibangun dari proses komunikasi terbuka, hasil diskusi dan tukar pikiran akan
menambah semangat mereka dalam bekerja. Contoh kongkrit dapat dilihat dari peran guru dalam
proses belajar mengajar yang cukup komunikatif dan memiliki inisiatif-inisiatif yang senantiasa
dikomunikasikan dengan kepala sekolah dan guru lainnya akan tampil prima dan produktif
dalam melaksanakan peran mereka dan hal ini sangat mendukung guru di lapangan dan proses
belajar-mengajar secara maksimal dapat ditentukan oleh informasi-informasi baru yang
diperoleh.

Komunikasi merupakan mata rantai yang paling penting dalam mempersatukan sebuah
komunitas sekolah, karena melalui komunikasi dapat diperoleh informasi secara vertikal maupun
horisontal. Budaya dan iklim sekolah yang membangun komunikasi diantara personil sekolah
akan membentuk hubungan yang lebih baik di antara mereka sekaligus memberikan informasi
dalam perbaikan proses, metode dan strategi, evaluasi dan hasil serta kualitas mutu pendidikan
secara kontinu.

Cukup banyak sekolah yang berhasil menemukan cara mudah untuk membanguan semangat
guru, staf dan siswa melalui komunikasi dan inisiatif seperti cara berikut:
1.Mengupayakan pertemuan dengan guru, staf dan siswa yang paling jarang berinteraksi dengan
anda.
2.Memberikan tugas kepada mereka dan ikuti perkembangan mereka dalam melaksanakan tugas
tersebut.
3.Sisihkan sedikit waktu luang anda untuk mengunjungi setiap ruang kelas, ruang guru dan staf
serta layanan pendukung siswa di sekolah untuk berinteraksi langsung dengan mereka yang
sebelumnya tidak pernah anda jumpai.
4.Gunakan waktu anda lebih banyak dengan personil sekolah selama sekolah melewati masa-
masa krisis seperti nilai ujian nasional rendah atau prestasi belajar siswa meurun. Hal ini dapat
membangkitkan semangat mereka.

Sekolah adalah suatu organisasi yang dipimpin oleh seorang pemimpin dengan jabatan kepala
sekolah. Menurut Davis & Thomas (1989) dalam suatu sekolah yang bagus kita dapat
menjumpai kepala sekolah yang agresif, professional dan dinamis, tekun menyediakan program-
program pendidikan yang dianggap penting. Deskripsi singkat kualitas dan perilaku yang
menandai sekolah yang berhasil antara lain:

1.Memiliki visi yang kuat tentang masa depan sekolahnya ( sekolah akan menjadi apa) dan
mendorong stafnya untuk bekerja dan berusaha untuk merealisasikan visi sekolah.

2.Memiliki harapan yang tinggi baik terhadap prestasi siswa maupun kinerja para guru dan staf
sekolah.

3.Mengamati guru dalam kelas dan memberikan masukan yang positif dan konstruktif dalam
menyelesaikan masalah peningkatan pembelajaran.

4.Mendorong pemanfaatan waktu mengajar yang efisien dan merancang prosedur untuk
meminimalkan gangguan.

5.Memanfaatkan bahan dan tenaga secara kreatif

6.Memonitor prestasi individu dan kelompok siswa dan memanfaatkan informasi untuk
perencanaan pendidikan sekolah dan pembelajaran.
7.Peran aktif kepala sekolah dalam menciptakan sekolah yang efektif dimana setiap orang
memperhatikan perbaikan dan peningkatan pembelajaran.

8.Kepala sekolah sebaiknya menilai tugas-tugas harian guru dan meyakinkan bahwa setiap kelas
ada gurunya baik sebaagai guru bidang studi, guru kelas maupun sebagai wali kelas dan setiap
guru akan mengelola kelasnya dengan baik.

9.Sepanjang hari kepala sekolah memonitor jalannya pekerjaan, menjadwal, mengorganisasi dan
mengalokasikan sumber-sumber dan menangani masalah keselamatan dan keteretiban.

10.Kepala sekolah juga harus bisa bertindak sebagai perantara yang mengalirkan informasi dan
menjawab berbagai pertanyaan dalam berbagai hal karena sebagian pekerjaan kepala sekolah
adalah pekerjaaan verbal.

Kepala sekolah yang efektif adalah kepala sekolah yang dapat melakukan langkah-langka
kongkrit untuk membantu pengembangan orientasi harapan yang tinggi yang mencerminkan
peran kepemimpinan pengajaran. Terdapat delapan kategori kepala sekolah efektif berdasarkan
hasil penelitian dan pengamatan lapangan:

1.Kepala sekolah dapat memainkan peran dalam meningkatkan kesadaran perlunya perbaikan
sekolah dan harapan prestasi yang tinggi dan pencapaian konsensus untuk perubahan tersebut.

2.Kepala sekolah dapat aktif dalam penciptaan dan perbaikan yang konkrit. Kepala sekolah juga
dapat melibatkan orang tua dalam upaya pengajaran di sekolah.

3.Kepala sekolah dapat menciptakan sistem hadiah untuk setiap siswa dan guru yang medukung
orientasi akademik dan merangsang keunggulan (excellence) dan penampilan siswa dan guru.

4.Tingkah laku yang sentral kepala sekolah yang efektif adalah memonitoring perkembangan
siswa, khususnya dalam nilai tes setiap siswa dalam setiap tingkatan dan kelas. Tindakan ini
secara instrinsik mencerminkan fokus dan nilai akademis.

5.Kepala sekolah dapat memperoleh sumber-sumber material yang diperlukan untuk pengajaran
yang efektif dan menggunakannya secara kreatif sesuai dengan prioritas akademik.

6.Kepala sekolah bertanggung jawab terhadap penciptaan lingkungan sekolah yang tertip dan
aman.
7.Kepala sekolah dapat memonitor faktor-faktor lain yang terkait dengan prestasi, fator yang
terkait dengan perbaikan yang secara implisit menekankan suasana dan budaya akademik.

8.Fungsi utama kepala sekolah yang efektif adalah mengamati guru dalam kelas dan
merundingkan dengan mereka tentang cara menangani masalah dan perbaikan pengajaran, hal ini
dapat dilakukan pada setiap akhir bulan atau setiap triwulan dalam program sekolah.

9.Kepala sekolah tidak seharusnya melakukan kegiatan administrasi sekolah sendiri, tetapi
kepala sekolah harus dapat membagi tugas, pekerjaan kepada orang lain dalam organisasi
sekolah, sehingga tujuan akhir sekolah dapat tercapai dengan baik.

Seorang kepala sekolah yang efektif adalah seseorang yang memilki kecakapan dalam hubungan
antara manusia, memiliki keahlian dan pemahaman yang mendalam terhadap kurikulum dan
pengajaran.

Kepemimpinan instruksional kepala sekolah dalam menentukan iklim dan budaya sekolah sangat
erat kaitannya dengan kemampuan mengajar guru dan motivasi belajar siswa bahkan sangat
berkaitan dengan mutu lulusan. Hal ini dapat dilihat dari implementasi dan pemeliharaan
perubahan yang positif terhadap proses dan hasil belajar siswa. Dapat dikatakan bahwa kualitas
mutu lulusan suatu sekolah sangat dipengaruhi oleh kualitas manajemen pengelolaan sekolah.
Kepemimpinan kepala sekolah sangat berperan dalam menciptakan suasana belajar yang menarik
dan kondusif, komitmen dan tanggung jawab guru serta kepatuhan dan kesungguhan para siswa
untuk belajar, kepatuhan dan kesungguhan guru dalam meningkatkan kualitas pengajaran dan
kepatuhan dan tanggung jawab staf sekolah dalam memberikan pelayanan kepada siswa, guru
dan kepala sekolah.

Karakter kepemimpinan kepala sekolah dengan budaya dan iklim yang kondusif dapat dilihat
pada beberpa indikator sebagai berikut:

1.Membantu siswa dalam kegiatan belajar mengajar dan mendorong semangat belajar siswa.
Deskripsi kompotensi yang harus dimiliki oleh seorang kepala sekolah adalah sebagai beikut :
a.Memiliki visi dan pandangan yang jelas dan tegas dalam kepemimpinan sekolah.
b.Kepala sekolah sangat perhatian terhadap kemajuan belajar siswa.
c.Kepala sekolah mengerahkan sumber belajar dan dukungannya demi pencapaian tujuan
pembelajaran.
d.Kepala sekolah selalu memberi penjelasan kepada siswa dalam menghadapi hal-hal yang baru,
terutama dalam upaya peningkatan mutu pengajaran disekolah.
e.Kepala sekolah mempunyai perhatian terhadap permasalahan belajar siswa.
f.Kepala sekolah memiliki sikap suka membantu siswa belajar dan menghadapi kesulitan.
g.Kepala sekolah menciptakan suasana kerja yang kreatif dan produktif dengan menyediakan
berbagai fasilitas dan perlengkapan yang dapat mendorong siswa mengembangkan bakat minat
dan ketrampilannya.
h.Kepala sekolah membuat program secara teratur untuk mengembangkan pengetahuan siswa
melalui les/kursus-kursus, lomba dan latihan-latihan yang bersifat edukatif.
i.Kepala sekolah mendorong semangat belajar siswa dengan menumbuhkan keyakinan dalam
mencapai prestasi yang tinggi.

2.Menciptakan suasana sekolah yang kreatif/dinamis serta meningkatkan kelancaran komunikasi.
Deskripsi kompotensi yang harus dimiliki oleh seorang kepala sekolah adalah sebagai berikut:
a.Sebagai manajer perencana, secara langsung kepala sekolah bertugas mengawasi pelaksanaan
tugas-tugas aparat sekolah secara berkesinambungan
b.Kepala sekolah sebagai panutan bagi siswa, guru dan staf sekolah sebagai pemimpin sekolah.
c.Kepala sekolah suka menerima dan mempertimbangkan ide atau gagasan yang disampaikan
oleh guru dan siswa.
d.Kepala sekolah sering mengunjungi guru mengajar.
e.Kepala sekolah bersemangat dalam melaksanakan tugas sehari-hari.
f.Kepala sekolah memiliki sikap bersahabat, ramah dan dekat dengan siswa, guru dan staf
sekolah.
g.Kepala sekolah melibatkan para siswa, guru dan orangtua siswa dalam memecahkan
permasalahan yang dihadapi sekolah.
h.Kepala sekolah melibatkan para siswa, guru dan orangtua siswa dalam menyusun peraturan-
peraturan sekolah.
i.Kepala sekolah menunjukkan kepribadian yang menyenangkan, terbuka dalam memimpin
sekolah.
j.Kepala sekolah sangat tegas terhadap peraturan-peraturan sekolah (disiplin) dan tanpa pandang
bulu, namun tetap bersikap terbuka untuk kritik dan saran

3.Mengembangkan kepemimpinan administratif. Kepala sekolah bertugas untuk memperbaiki
manajemen sekolah serta bertanggung jawab dalam pelaksanaan keputusan manajemen dan
kebijakan sekolah melalui upaya-upaya berikut.
a.Mengembangkan perencanaan pembelajaran yang mendukung sekolah berbasis masyarakat.
b.Mengatur, memelihara dan memungkinkan terciptanya budaya sekolah dan program
pembelajaran yang kondusif bagi pengajaran siswa dan mengembangkan kompetensi staf.
Kepala sekolah bertanggung jawab dalam pelaksanaan dan peningkatan mutu program
pengajaran. Selain itu kepemimpinan kepala sekolah akan sangat menentukan kualitas iklim
sekolah yang memungkinkan berlangsungnya proses belajar mengajar dan kerja sama antaraparat
sekolah yang baik sehingga penyelenggaraan pendidikan di sekolah bisa berhasil.
c.Mengembangkan manajemen sekolah melalui proses pengorganisasian, pelaksanaan dan
penggunaan berbagai sumber daya yang tepat, efesien dan penciptaan lingkungan belajar yang
efektif.
d.Kerja sama dengan orangtua dan masyarakat baik dalam merespon minat dan kebutuhan
masyarakat maupun untuk meningkatkan peran serta masyarakat di sekolah.
e.Mengembangkan pola perilaku dan tindakan yang didasari oleh integritas dan etika dalam
bersikap.
Berikut ini dikemukakan beberapa saran mengenai model kepemimpinan kepala sekolah dalam
manciptakan budaya dan iklim sekolah yang kondusif sebagai berikut:
1.Kembangkan konsep kecerdasan ganda pada setiap pembelajaran dengan melibatkan panca
indra supaya pembelajaran disesuaikan dengan karakteristik siswa, khususnya bakat dan
kemampuannya yang unik melalui penglihatan, pendengaran dan perasaannya.
2.Ciptakan pusat kecerdasan ganda untuk melayani setiap gaya belajar.
3.Bangun jaringan informasi rumah-sekolah-multimedia yang bersifat hangat dan personal.

4.Dirikan sebuah pelabuhan ilmu sebagai pusat teknologi informasi dengan tiga cabang:
•Sebuah pusat produksi dan komunikasi multimedia.
•Sebuah penerbit multimedia, khususnya dibidang materi belajar.
•Sebuah pusat pembelajaran bagi guru dan kalangan lain yang berurusan dengan siswa, dengan
penekanan khusus pada teknologi baru.

5.Buat proyek lain untuk mempromosikan konsep belajar sepanjang hayat:
•Sebuah sekolah/kelas tanpa dinding sehingga para murid bisa belajar dari berbagai pengalaman.
•Metode pembelajaran Spider Web, Menghubungan satu pelajaran dengan pelajaran yang lain.
•Sebuah pusat multimedia yang berfungsi sebagai sumber daya keluarga dan masyarakat.

Selain beberapa cara di atas yang dilakukan oleh kepala sekolah sebagai pemimpin dalam
mengembangkan budaya dan iklim sekolah, kepemimpinan juga dapat dilihat dari prosesnya.
Proses kepemimpinan mencakup dua dimensi penting, yaitu beban kepemimpinan dan bentuk
atau gaya kepemimpinan (Townsend, 1994). Beban kepemimpinan berkaitan dengan sejauhmana
tang-gung jawab kepemimpinan diambil alih atau didelegasikan oleh kepala sekolah terhadap
semua aspek operasi sekolah. Bentuk kepemimpinan berkaitan dengan gaya kepemim¬pinan
yang digunakan oleh kepala sekolah, apakah oto-ritarian, hierakis, demokratis, berorientasi tugas
atau berorientasi manusia. Adapun gaya kepemimpinan yang dikembangkan tergantung pada
kondisi operasional sekolah. Beberapa penelitian yang dilakukan di Inggris menunjukkan bahwa
gaya kepemimpinan otokratik dan gaya yang terlalu demokratik kurang efektif dibandingkan
dengan gaya kepemimpinan situasional (Mortimore, 1993).

Gaya kepemimpinan situasional didasarkan pada anggapan bahwa tidak ada gaya kepemimpinan
yang ter¬baik, melainkan tergantung pada situasi yang menyertainya. Situasi itu antara lain
tingkat kema¬tangan para bawahan. Tingkat kematangan seseorang dapat dilihat dari dua
dimensi. Dimensi pertama adalah kemampuan (keterampilan dan pengetahuan) dan dimensi
kedua adalah kemauan (tanggung jawab dan komitmen). Kombinasi kedua dimensi ini
melahirkan empat tipe kematangan manusia sebagaimana digambarkan pada kuadran berikut.

Gambar 3. Tingkat Kematangan Manusia (Hersey dan Blancard, 1982:152)(terlampir)
Dari gambar tersebut, tingkat kematangan manusia digolongkan ke dalam empat kategori: M1,
M2, M3, dan M4. Menurut teori kepemimpinan situasional, gaya kepemimpinan yang tepat
bervariasi menurut tingkat kematangan tersebut. Hal ini digambarkan pada tabel 2 berikut.

Dari tabel 2 tersebut dijelaskan bahwa bawahan yang kematangannya rendah (M1) lebih cocok
dipimpin dengan gaya direktif; bawahan dengan tingkat kematangannya rendah-sedang (M2)
lebih cocok dipimpin dengan gaya konsultatif; bawahan dengan tingkat kematangan sedang-
tinggi (M3) lebih cocok dipimpin dengan gaya partisipatif; sedangkan bawahan dengan tingkat
kematangan tinggi (M4) lebih cocok dipimpin dengan gaya delegatif.

Di samping kecenderungan mempraktekkan gaya kepemimpinan situasional, kepala sekolah
yang efektif dalam mengembangkan budaya dan iklim sekolah melakukan hal-hal berikut.

1.Melakukan pengambilan keputusan partisipatif
Keputusan penting, khususnya yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran di sekolah perlu
melibatkan para guru dan staf. Keterlibatan mereka menjadi sangat penting karena: (1) kepala
sekolah sebagai pimpinan dapat menerima
Tabel 2. Gaya Kepemimpinan dan Kematangan Bawahan (Hersey dan Blancard,
1982:152)Download

masukan dari berbagai sudut pandang; (2) dapat meningkatkan kualitas keputusan, (3) dapat
memberikan penghargaan kepada guru dan staf atas pendapat-pendapat mereka, dan (4) dapat
mengikat komitmen mereka dalam melaksanakan dan mengawasi keputusan.

Mekanisme pengambilan keputusan partisipatif dapat dilakukan secara formal maupun informal.
Secara formal dilakukan melalui rapat-rapat sekolah, sedangkan secara informal dilakukan
melalui pertemuan-pertemuan insidentil seperti arisan, olahraga, dan lain sebagainya. Selain itu,
kepala sekolah juga perlu melibatkan pengurus komite sekolah bahkan orangtua dalam
pengambilan keputusan berkaitan dengan pengembangan sekolah.

2.Melakukan kegiatan supervisi.
Kegiatan supervisi adalah kegiatan yang dilaksanakan untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas
kegiatan di sekolah, khususnya dalam pengembangan budaya dan iklim sekolah. Kegiatan ini
dilakukan untuk melihat bagian mana dari kegiatan sekolah yang masih kurang dan diupayakan
untuk diperbaiki. Demikian pula, kegiatan yang sudah baik diupayakan untuk dapat ditingkatkan
menjadi lebih baik lagi.

Kegiatan supervisi tidak hanya terbatas pada proses pembelajaran yang terjadi di kelas saja,
tetapi juga pada aspek-aspek administrasi yang berfungsi sebagai pendukung terlaksananya
pembelajaran yeng efektif. Aspek-aspek administrasi yang dimaksud misalnya, ketersediaan
administrasi kesiswaan yang rapi dan informatif, kumpulan soal, administrasi penilaian, dan lain-
lain.

Waktu pelaksanaan supervisi kadang-kadang tidak perlu dirancang waktunya, namun perlu
dilakukan secara berkesinambungan. Kapan diperlukan dan dirasakan perlunya peningkatan,
maka supervisi dilaksanakan. Biasanya, supervisi ini dilakukan oleh kepala sekolah atau
pengawas.

Efektivitas sebuah proses pembelajaran dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut: (1) siswa,
(2) guru, (3), kurikulum, (4) sarana dan prasarana, dan (6) lingkungan sekolah. Lingkungan
sekolah dibagi ke dalam empat aspek seperti lingkungan fisik, lingkungan sosial, lingkungan
personil, dan lingkungan kerja. Faktor-faktor inilah yang menjadi ruang lingkup kegiatan
supervisi yang dilakukan oleh kepala sekolah.

Beberapa cara yang dapat digunakan oleh kepala sekolah dalam melakukan kegiatan supervisi
budaya dan iklim sekolah adalah:
a.Kepala sekolah melakukan kunjungan-kunjungan kelas untuk mengamati secara langsung
kegiatan pembelajaran yang dilaku¬kan oleh guru dan budaya serta iklim sekolah yang tercipta.
Kunjungan kelas dapat dilakukan secara tiba-tiba atau atas kesepakatan antara kepala sekolah
dan guru.
b.Kepala sekolah membantu guru dalam mengidentifikasi kesulitan yang dihadapi guru dalam
pembelajaran dan faktor penciptaan budaya dan iklim belajar siswa. Kesulitan-kesulitan itu dapat
berhubungan dengan strategi pembelajaran, pengelolaan kelas maupun materi pembelajaran.
c.Kepala sekolah bersama guru mendiskusikan cara-cara pemecahan masalah guru. Diskusi
diharapkan menghasilkan diagnosis pemecahan dan seca¬ra bersama mengupayakan tindak
lanjut untuk memperbaikinya.
d.Contoh lembar kegiatan supervisi dapat dilihat pada lampiran kegiatan supervisi yang terdapat
di bagian akhir dari bab ini.

3.Memberdayakan warga sekolah
Strategi pemberdayaan merupakan inspirasi banyak organisasi dewasa ini. Hal ini didasarkan
pada asumsi bahwa manusia dalam organisasi merupakan aset yang perlu dipelihara dan
dikembangkan bagi peningkatan organisasi. Di sekolah terdapat sejumlah tenaga profesional,
khususnya guru, yang perlu dikembangkan dan didayagunakan.

Beberapa sekolah yang sukses menerapkan strategi pemberdayaan melalui berbagai program-
program pengembangan profesional guru. Selain itu, kemauan kepala sekolah mendelegasikan
sebagian pekerjaan juga merupakan salah satu strategi yang banyak terbukti mendorong
semangat tim di sekolah. Dalam situasi yang lain, kepala sekolah melibatkan stafnya dalam
berbagai pengambilan keputusan penting.

4.Memperhatikan kebutuhan pelanggan
Osborne dan Plastrik (1997) mengembangkan gagasan mengenai perlunya organisasi pemerintah
memiliki strategi pelanggan dalam meningkatkan akuntabilitasnya. Akuntabilitas berarti
sejauhmana suatu lembaga bertanggung jawab kepada pelanggan produk atau jasa yang
dihasilkan. Semakin puas pelanggan terhadap produk atau jasa yang dihasilkan, semakin
akuntabel suatu lembaga. Karena itu penerapan strategi pelanggan akan memaksa sekolah dalam
memperbaiki kinerjanya.

Definisi tentang pelanggan meliputi pelanggan dari dalam sekolah dan dari luar sekolah.
Pelanggan dari dalam sekolah meliputi: siswa, guru, tenaga administrasi sedangkan pelanggan
dari luar sekolah meliputi orangtua, masyarakat, pemerintah dan pihak terkait lainnya. Baik
pelanggan dari dalam sekolah, terlebih dari luar sekolah, perlu mendapat kepuasan. Karena itu
kepala sekolah sebagai manajer perlu mengembangkan cara-cara baru dalam memenuhi
kepuasan pelanggannya. Identifikasi kebutuhan pelanggan ini dapat dilakukan melalui analisis
SWOT.

Di samping keempat karakteristik tersebut, beberapa indikator kepemimpinan kepala sekolah
yang efektif dike¬mukakan berikut ini.
a.Kepala sekolah menyiapkan waktu untuk berkomunikasi secara terbuka dengan para guru, staf
dan siswa.
b.Kepala sekolah menekankan kepada guru dan staf untuk memenuhi norma-norma
pembelajaran dengan disiplin yang tinggi.
c.Kepala sekolah memantau kemajuan belajar siswa melalui guru sesering mungkin berdasarkan
pada data prestasi belajarnya.
d.Kepala sekolah menyediakan dana yang diperlukan untuk menjamin pelaksanaan program-
program pembelajaran sesuai dengan prioritas-prioritas program yang telah ditentukan.
e.Kepala Sekolah memberikan dukungan pada guru untuk menegakkan kedisiplinan siswa.
f.Kepala sekolah peka terhadap kebutuhan siswa, guru, staf, orangtua dan masyarakat.
g.Kepala sekolah menunjukkan sikap dan perilaku yang dapat menjadi anutan atau model bagi
guru dan siswa.
h.Ruang kepala sekolah terbuka bagi guru, siswa, dan orangtua untuk berkonsultasi atau
berdiskusi secara pribadi mengenai permasalahan yang mereka hadapi berkaitan dengan
pendidikan dan pembelajaran di sekolah.
i.Kepala sekolah transparan, akuntabel dan profesional khususnya dalam pengelolaan keuangan.
j.Kepala sekolah mendorong guru, staf dan siswa melakukan inovasi di sekolah.
k.Kepala sekolah membangun kelompok kerja aktif.
l.Kepala sekolah memiliki komitmen yang jelas terhadap penjaminan mutu sekolah.
m.Kepala sekolah mengidentifikasi misi organisasi supaya dapat menyusun tugas-tugas dan
memberitahukan kepada seluruh karyawan.
n.Kepala sekolah menciptakan lingkungan yang fleksibel yang di dalamnya orang-orang tidak
hanya dinilai dari, tetapi dianjurkan untuk mengembangkan potensi mereka secara penuh.
o.Membentuk budaya organisasi agar kreatifitas otonom dan proses belajar secara berkelanjutan
menggunakan pertumbuhan jangka panjang sebagai sasaran, bukan keuntungan jangka pendek.
p.Mengubah organisasi dari piramid yang kaku menjadi lingkaran yang lentur, di mana jaringan-
jaringan berkem¬bang dari unit-unit otonom.
q.Menganjurkan inovasi, eksperimentasi dan menanggung resiko dari perubahan yang terjadi.
r.Mengantisipasi masa depan dengan membaca masa sekarang
s.Secara konstan mempelajari organisasi dari dalam dan luar organisasi dan mengidentifikasi
hubungan-hubungan yang lemah dalam rangkaian seluruh kegiatan yang ada serta
memperbaikinya.
t.Berfikir secara global, bukan hanya secara nasional dan lokal dalam menerima dan mengola
setiap informasi dan kegiatan yang ada dalam oraganisasi.
u.Proaktif, senang dengan perbedaan dan ketikpastian sehingga menumbuhkan kreatifitas dan
inovatif guru dalam proses pembelajaran.

Di samping memenuhi indikator-indikator tersebut, dalam penelitian sekolah efektif, kompetensi
kepemimpinan yang diperlukan di sekolah tercermin dari beberapa karak¬teristik kepemimpinan
berikut ini (Tiong, 1997).
a.Kepala sekolah yang adil dan tegas dalam mengambil keputusan.
b.Kepala sekolah yang membagi tugas secara adil kepada guru.
c.Kepala sekolah yang memahami perasaan guru
d.Kepala sekolah yang trampil dan tertib
e.Kepala sekolah yang bermampuan dan efisien
f.Kepala sekolah yang memiliki dedikasi dan rajin
g.Kepala sekolah yang tulus.
h.Kepala sekolah yang percaya diri.

Dalam dokumen The School Leadership Context beberapa karakteristik kepemimpinan kepala
sekolah yang baik menurut guru adalah:
a.Memiliki komitmen
b.Memiliki energi
c.Diterima oleh guru, staf, siswa dan orangtua
d.Pendengar yang baik
e.Dapat menyesuaikan diri dengan perubahan
f.Menyediakan waktu bagi siswa
g.Konsisten dan jujur
h.Memiliki selera humor
i.Mengekspresikan perasaan
j.Berbagi tanggung jawab dan kekuasaan
k.Terampil dalam hubungan manusia
l.Mendorong individu dan kelompok untuk mengambil alih kepemimpinan

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:525
posted:8/4/2011
language:Indonesian
pages:17
Sri Budi Sukiyanto Sri Budi Sukiyanto SMPN 230 Jakarta http://inspendik.blogspot.com/
About