Docstoc

Jender dan Kesehatan Reproduksi

Document Sample
Jender dan Kesehatan Reproduksi Powered By Docstoc
					JENDER DAN KESEHATAN
REPRODUKSI
Apa Itu Jender?

 Konstruksi Sosial Yang Menempatkan
  Manusia (Laki-laki dan Perempuan) atas
  kategori feminin maskulin
 Perbedaan laki-laki dan perempuan atas
  kategori sosial bukan fisik.
 Perbedaan laki-laki dan perempuan atas
  peran dan fungsinya dalam masyarakat.
  Contoh Ketimpangan Jender
  Dalam Kesehatan Reproduksi
 Firginitas (Keperawanan)
 Marital Rape (Perkosaan Dalam Perkawinan)
 Pemenuhan Kebutuhan Seksual Suami-Istri
 Disfungsi Seksual
 Infertilitas
 Pemakaian KB
 Seductive Rape (Dating Rape)
 dll
TUBUH,
KESEHATAN REPRODUKSI DAN
KETIMPANGAN JENDER
   FENOMENA


 Pasien Puskesmas/RS ……. Meningkat !!!
 Konsumen Pusat Kebugaran (Female Clinic,
 On Clinic, Fitness Centre, dll) …… Meningkat !!!



             “KESEHATAN TUBUH”
Fenomena Membanjirnya
Pusat Kebugaran


 Demi perawatan kesehatan, pembentukan
 tubuh atau penampilannya?
Kesehatan tubuh  perluasan
makna.
 Sehat tidak hanya tiadanya rasa sakit,
  lemah dan kecacatan saja, sehingga
  mampu melakukan kegiatan ekonomi
  produktif, tapi juga telah merambah lebih
  jauh dari itu yaitu ke bentuk dan
  penampilan tubuh, seperti perut yang
  langsing, kulit yang kencang, pinggul dan
  pantat yang ‘berbentuk’, dsb.
  Mengapa Terjadi ??
 Pertama, karena makna ‘sehat’ dari tubuh sangat ditentukan
  oleh struktur sosial yang ada di luar jangkauan individu.
 Secara sosial, tubuh tidak terlepas dari pengaturan,
  monitoring dan pengendalian masyarakat yang menjelma
  dalam berbagai bentuk
 seperti harus vaksinasi agar tidak terkena penyakit, harus
  memilih metode kontrasepsi tertentu agar terhindar dari
  efek sampingnya, cara menyusui bayi harus baik agar bentuk
  ‘payudara’ tidak jelek, harus senam fisik agar membentuk
  bagian tubuh tertentu, dan sebagainya.
 Dengan demikian manajemen dan pengendalian tubuh
  karenanya, sangat terikat pada ukuran-ukuran atau standar
  nilai yang ada di suatu masyarakat.
 Kedua, karena ekspos body ideal dari fotomodel.
  Tahun 1970-an misalnya, sewaktu lagi trendnya
  model Twiggy, remaja-remaja putri banyak yang
  menyukai tubuh yang kerempeng, karena dapat
  memberi kesan lincah dan sehat. Mungkin di era
  millenium ketiga ini yang disukai remaja bukan lagi
  tubuh yang kerempeng, tapi tubuh yang padat,
  montok dengan lekuk tubuh yang kelihatan.
  Dengan demikian tubuh manusia dipahami sebagai
  ‘konstruksi’ sosial yang dapat berubah dan berbeda
  berdasarkan perbedaan ruang dan waktu.
 Ketiga, karena label orang lain terhadap seseorang. Cukup
  banyak wanita merasa minder karena mendapat panggilan
  ‘jerapah’ karena terlalu tinggi, ‘tong’ karena terlalu gemuk
  dan gembrot, dan sebagainya. Bila demikian keadaannya,
  maka seseorang akan selalu gelisah dan mencemaskan
  bentuk tubuhnya walaupun sebenarnya cukup sempurna.
 Sebuah survey di Amerika Serikat menunjukkan hasil bahwa
  hampir 70% responden wanita merasa kurang langsing,
  padahal hanya 15% diantaranya yang kegemukan.
  Sementara pada pria 59% menginginkan tubuh yang berisi
  karena merasa kerempeng, meskipun pada kenyataannya
  ditemukan yang benar-benar kerempeng hanya 25% saja.
Mengapa Pusat Manajemen Tubuh
Berkembang Pesat??
 Pertama, alasan ekonomi. Bagi sebagian orang
  tubuh merupakan aset ekonomi yang memiliki
  nilai jual. Merawat tubuh atau memperindah
  tubuh sama artinya dengan memberikan nilai
  tambah kepada tubuh.
 Kedua, penolakan terhadap ketuaan dan
  nasib. Ketakutan tampil jelek dan tua hampir
  identik dengan trauma kematian, dimana
  muncul kecenderungan untuk melakukan
  tawar-menawar terhadap nasib tubuhnya.
 Ketiga, bentuk pelarian dari rutinitas.
  Bertambahnya jumlah wanita dari berbagai
  kelas sosial melakukan kegiatan-kegiatan
  yang berhubungan dengan tubuhnya
  merupakan tanda bahwa wanita semakin
  tidak memiliki ‘arena’ ekspresi diri yang
  produktif dalam bidang publik dan ekonomi
Kapitalisme

 Tubuh wanita, misalnya digunakan dalam
  iklan untuk menjual berbagai komoditi,
  seperti mobil, minuman, kacamata, sepatu
  olah raga dan sebagainya. Daya erotik
  menjadi faktor perangsang cukup kuat untuk
  membangkitkan minat orang terhadap suatu
  produk.
 Kapitalisme dalam media ini menurut Ibrahim
  (1998) adalah perangkap keindahan yang
  menyakitkan dan sekaligus perangkap tiranik yang
  menggiurkan.
 Tubuh yang merupakan bagian yang paling private
  dari seorang wanita telah menjadi milik publik.
  Berbagai kriteria publik terus menggoda dengan
  dalih ‘kesehatan’ wanita. Wanita harus bertubuh
  sintal, tidak boleh berburuk nafas, jerawatan
  apalagi kurang enak bau badannya. Kecenderungan
  memotret wanita dari tubuhnya telah menjauhkan
  wanita dari realitas, karena yang direpresentasi dari
  seorang wanita hanyalah ‘citra’, bukan sesuatu yang
  riil.
 Kapitalisme telah membawa dampak yang
  cukup serius bagi wanita. Di satu sisi, ia
  menjadi alat di dalam proses distribusi
  produk dan gaya hidup. Wanita dieksploitasi
  sedemikian rupa, dengan cara membentuk
  dan menonjolkan bagian tertentu dari tubuh
  untuk membangun image yang sesuai
  dengan produk yang dipasarkan
 Wanita yang seksi diidentikkan dengan
  kenikmatan minuman, keindahan mebel,
  kelincahan suatu merk mobil, dan sebagainya.
 Di sisi lain, wanita menjadi objek pasar dari
  produk kapitalisme.
‘the death of the subject’ ,

 wanita sebagai subyek yang mati, dimana ia
  tidak lagi dapat mengendalikan dirinya
  sendiri, tetapi telah dikendalikan oleh
  ideologi dan kepentingan pasar.
Seksi: Unsur Kepribadian?

 Seksi diartikan sebagai sesuatu yang dapat
  merangsang timbulnya dorongan seksual
Wanita Seksi

 Menurut 400 pria muda di Surabaya: 24.3%
  melihat wanita seksi dari ukuran
  payudaranya, 13.5% dari wajah, 7.5% dari
  pantat dan 4.3% dari kakinya.
Pria Seksi
 Di USA, Pria menganggap wanita mengagumi dan
  menyukai : dada bidang dan bahu berotot (21%), lengan
  berotot (18%), tubuh yang tinggi (13%) dan mata 4%.
 Kenyataannya, 39% wanita mengagumi pantat yang
  berotot, tubuh ramping (15%), 11% mengagumi mata
  tajam dengan alis hitam lebat, tubuh tinggi (5%), dada
  dan bahu yang berotot (1%) dan bagian lain (27%).
 Beberapa wanita juga menganggap pria botak seksi
  karena mengundang gairah untuk mengelusnya. Dan
  mengelus kepala adalah salah satu tanda keintiman.
 Sementara di Indonesia, wajah, terutama mata dan bibir,
  merupakan daya tarik yang menjadi pangkal utama
  penilaian
Orang-Orang Seksi

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:156
posted:8/1/2011
language:Indonesian
pages:22