KONDISI EKSISTING KAWASAN AMPEL SURABAYA MENURUT 3 TEORI PERANCANGAN KOTA DAN RTBL by RirienHumaan

VIEWS: 2,174 PAGES: 68

More Info
									ARSITEKTUR KOTA

                             “ KONDISI EKSISTING KAWASAN AMPEL SURABAYA
                             MENURUT 3 TEORI PERANCANGAN KOTA DAN RTBL“




              ARSITEKTUR KOTA
      “ KONDISI EKSISTING KAWASAN AMPEL
  SURABAYA MENURUT 3 TEORI PERANCANGAN
                     KOTA DAN RTBL“




                               Dosen :
                      Ir. Niniek Anggriani,MT


                            Disusun oleh :

                           Kelompok 1
                    Eka SuryaWulan F / 0851010001
                    Lili Indah Aryani / 0851010027
                     Yoerina Dwi O / 0851010045
                    Raflesia MAhendra /0851010051
                        Syahfitri / 0851010062
                        Lucky M / 0851010093
                      Angga Aditya / 0951010013


                               BAB I

                                  2
TEKNIK ARSITEKTUR
ARSITEKTUR KOTA

                                   “ KONDISI EKSISTING KAWASAN AMPEL SURABAYA
                                   MENURUT 3 TEORI PERANCANGAN KOTA DAN RTBL“




                                     BAB II
                                           ISI


2.1 TINJAUAN UMUM
1.1.1 TEORI HAMID SHIRVANI, 1985
2.1.1.1 Tata Guna Lahan
       Pengaturan penggunaan lahan untuk menentukan pilihan yang terbaik
dalam mengalokasikan fungsi tertentu sehingga secara umum dapat memberikan
gambaran keseluruhan bagaimana daerah pada suatu kawasan tertentu.
       Penggunaan lahan merupakan salah satu elemen kunci dalam urban
desain yang menjabarkan rencana dua dimensi menjadi tiga dimensi.
       Penetapan land use pada lingkup urban design menentukan hubungan
antara sirkulasi/parkir dengan intensitas kegiatan dalam urban area. Ada
beberapa area yang memiliki intensitas, pencapaian, parkir, sistem transportasi;
yang membutuhkan penggunaan tersendiri.
Beberapa masalah yang terjadi pada masa lalu hingga masa kini antara lain :
       Kurangnya variasi penggunaan lahan, kompartementalisasi dan segregasi
       penggunaan lahan;
       Kurang memperhitungkan faktor lingkungan dan kondisi fisik alamiah,
       Tidak memperhitungkan infrastruktur, misal: kawasan industri tua
       membutuhkan biaya operasional dan pemeliharaan.
       Bagaimana mengalokasikan penggunaan campuran (mixed use) untuk
       menghidupkan vitalitas kota selama 24 jam, melalui peningkatan sirkulasi,
       sistem   infrastruktur,   analisa        lingkungan   alami,   dan   kemudahan
       pemeliharaan.
       Pengembangan floor area distrct untuk mengendalikan coverage dan
       ketinggian bangunan di kawasan pusat kota.




                                            3
TEKNIK ARSITEKTUR
ARSITEKTUR KOTA

                                  “ KONDISI EKSISTING KAWASAN AMPEL SURABAYA
                                  MENURUT 3 TEORI PERANCANGAN KOTA DAN RTBL“




       Contoh bangunan yang beralih fungsi lahan tanpa merubah wujud
bangunan secara mendasar yaitu:
   a. Pabrik Garmen Tua




                                             Gambar 1 : Pabrik garmen tua di Utica
                                             New York, yang dialihfungsikan menjadi
                                             shopping mall yang cukup berhasil.


   b. Sekolah Tua Madison Hight School




                                                  Gambar 2 : Sekolah tua Madison
                                                  High School, Syracuse, New York,
                                                  yang    dialihfungsikan   menjadi
                                                  kondomonium.



2.1.1.2 Bentuk dan Massa Bangunan
       Bentuk dan per-massa-an bangunan harus mencakup: ketinggian, blok
massa, KDB, KLB, GSB, gaya atau langgam, skala, material, tekstur, warna.
Studi mengenai bentuk terbangun dan jaringan fisik tidak boleh semata-mata
hanya menitikberatkan pada ketinggian, blok massa, set-back, dan sebagainya
(Spreiregen; 1965).
       Prinsip-prinsip dasar rancang kota dan teknik dasar yang disajikan
Spreiregen (1965) menetapkan beberapa isu penting mengenai bentuk dan per-
massa-an; yang mencakup:
       Skala; yang berkaitan dengan pengamatan visual manusia, sirkulasi,
       bangunan, dan ukuran lingkungan permukiman.
       Ruang luar kota; sebagai sebuah elemen utama rancangan kota dan
       pentingnya artikulasi   oleh   bentuk, skala urban, enclosure, serta tipe
       ruang luar urban.




                                         4
TEKNIK ARSITEKTUR
ARSITEKTUR KOTA

                                    “ KONDISI EKSISTING KAWASAN AMPEL SURABAYA
                                    MENURUT 3 TEORI PERANCANGAN KOTA DAN RTBL“




          Massa; yang meliputi bangunan-bangunan, permukaan tanah, serta
          obyek lain di dalam ruang yang dapat diatur.

          Bentuk dan massa bangunan tidak semata-mata ditentukan oleh ketinggian
atau besarnya bangunan, penampilan bentuk maupun konfigurasi ari massa
bangunan akan tetapi ditentukan juga oleh besaran selubung bangunan (building
envelope), BCR / KBD, KLB, ketinggian bangunan, sempadan bangunan, ragam
arsitektur, skala, material yang digunakan, warna yang terdapat pada bangunan
dan sebagainya.




                                         Gambar 3 : Suatu kawasan yang baik
                                         ditunjukkan oleh Pedoman Perancangan
                                         Perumahan oleh Departemen Perencanaan
                                         Kota San Francisco (1970) yang
                                         menekankan pada analisis fisik kota
                                         (perbukitan) dan bangunan.




2.1.1.3 Sirkulasi dan perparkiran
          Elemen   parkir   mempunyai   pengaruh   langsung    terhadap    kualitas
lingkungan, yaitu: Kelangsungan kegiatan komersial pusat kota, Kesan visual
terhadap wujud fisik dan bentuk kota. Ada beberapa cara untuk menangani
parkir:
          Membuat bangunan parkir
          Lantai dasar bangunan     parkir dapat dirancang untuk perdagangan
          eceran agar mendapatkan kesinambungan visual dengan jalan.
          Program multiguna
          Dengan memaksimalkan tempat parkir untuk digunakan bersama oleh
          berbagai penggunaan berbeda, yang dapat menarik pengunjung berbeda
          pada saat yang berbeda.



                                        5
TEKNIK ARSITEKTUR
ARSITEKTUR KOTA

                                   “ KONDISI EKSISTING KAWASAN AMPEL SURABAYA
                                   MENURUT 3 TEORI PERANCANGAN KOTA DAN RTBL“




       Package-plan parking
       Beberapa     kegiatan bisnis yang        mempunyai     banyak   pegawai
       membentuk     distrik   parkir atau   menyediakan    beberapa blok untuk
       kegiatan parkir sehari penuh.
       Urban-edge parking
       Developer bekerjasama dengan pemerintah kota mengembangkan area
       parkir pada periferi wilayah kota yang padat.
       Sirkulasi merupakan salah satu elemen pembentuk struktur lingkungan
       kota. Bisa berupa arah; kontrol aktivitas; sistem jalan umum, pedestrian
       ways, transit dan sistem hubungan.


Teknik penataannya dibentuk oleh beberapa prinsip:
       Jalan harus menjadi elemen ruang luar positip.
       Mencakup penataan lansekap, tinggi dan pemunduran bangunan, ROW
       dan median, pembentukan lingkungan alami.
       Jalan harus diorientasikan bagi pengendara dan membuat lingkungan
       menjadi mudah dibaca.
       Mencakup penyediaan lansekap, lighting, rancangan jalan ke arah vista
       dan landmark, pembedaan hirarki jalan.
       Sektor publik dan privat harus bekerjasama untuk mencapai tujuan
       tersebut.


       Kecenderungan dalam perencanaan transportasi dewasa ini memiliki
tujuan umum:
       Meningkatkan mobilitas di dalam central bussiness districts;
       Mengurangi penggunaan kendaraan pribadi;
       Meningkatkan penggunaan transportasi umum;
       Meningkatkan akses ke central bussiness districts.




                                        6
TEKNIK ARSITEKTUR
ARSITEKTUR KOTA

                                     “ KONDISI EKSISTING KAWASAN AMPEL SURABAYA
                                     MENURUT 3 TEORI PERANCANGAN KOTA DAN RTBL“




Kelangsungan kegiatan komersial pusat kota;
Di San Deigo, bangunan parkir diintegrasikan dengan perdagangan eceran untuk
menghidupkan kegiatan pada street level.




           Gambar 4 : Kelangsungan kegiatan komersial pusat kota di San Deigo


2.1.1.4 Jalan Pendestrian
        Pedestrian berasal dari bahasa Yunani, dimana berasal dari kata pedos
yang berarti kaki, sehingga pedestrian dapat diartikan sebagi pejalan kaki atau
orang yang berjalan kaki, sedangkan jalan merupakan media diatas bumi yang
memudahkan manusia dalam tujuan berjalan, Maka pedestrian dalam hal ini
memiliki arti pergerakan atau perpindahan orang atau manusia dari satu tempat
sebagai titik tolak ke tempat lain sebagai tujuan dengan menggunakan moda jalan
kaki.
        Pedestrian juga berarti “person walking in the street“, yang berarti
orang yang berjalan di jalan. Namun jalur pedestrian dalam konteks perkotaan
biasanya dimaksudkan sebagai ruang khusus untuk pejalan kaki yang berfungsi
sebagai sarana pencapaian yang dapat melindungi pejalan kaki dari bahaya yang
datang dari kendaraan bermotor.


Beberapa pengertian dasar Pedestrian menurut:
        John Fruin (1979) Berjalan kaki merupakan alat untuk pergerakan
internal kota, satu – satunya alat untuk memenuhi kebutuhan interaksi tatap muka
yang ada didalam aktivitas komersial dan kultural di lingkungan kehidupan kota.




                                           7
TEKNIK ARSITEKTUR
ARSITEKTUR KOTA

                                  “ KONDISI EKSISTING KAWASAN AMPEL SURABAYA
                                  MENURUT 3 TEORI PERANCANGAN KOTA DAN RTBL“




       Amos Rapoport (1977) Dilihat dari kecepatannya moda jalan kaki
memiliki kelebihan yakni kecepatan rendah sehingga menguntungkan karena
dapat mengamati lingkungan sekitar dan mengamati objek secara detail serta
mudah menyadari lingkungan sekitarnya.
       Giovany Gideon (1977) Berjalan kaki merupakan sarana transportasi
yang menghubungkan antara fungsi kawasan satu dengan yang lain terutama
kawasan perdagangan, kawasan budaya, dan kawasan permukiman, dengan
berjalan kaki menjadikan suatu kota menjadi lebih manusiawi. Dengan demikian
jalur pedestrian merupakan sebuah sarana untuk melakukan kegiatan, terutama
untuk melakukan aktivitas di kawasan perdagangan dimana pejalan kaki
memerlukan ruang yang cukup untuk dapat melihat-lihat, sebelum menentukan
untuk memasuki salah satu pertokoan di kawasan perdagangan tersebut
   Jalur pejalan kaki merupakan salah satu unsur penting dalam urban
design, dan bukan sekedar bagian dari program untuk mempercantik kota. Jalur
pejalan kaki cenderung merupakan suatu sistem pemberian kenyamanan, di
samping unsur penunjang bagi pedagang eceran.
   Sebuah sistem pedestrian yang baik dapat mengurangi ketergantungan
pada kendaraan bermotor di kawasan pusat kota, dan menambah kegiatan “cuci
mata”, meningkatkan kualitas lingkungan, menciptakan lebih banyak kegiatan
penjualan eceran, dan menunjang perbaikan kualitas udara. Contohnya adalah
Minneapolis yang membuat jembatan penyeberangan untuk pejalan kaki (lihat
gambar).
       Sebuah konsep penting dalam perencanaan pedestrian adalah bahwa suatu
skema pedestrianisasi semacam mall dan penyeberangan harus dijalin dengan
sangat hati-hati untuk menyelesaikan persoalan tertentu.




                                        8
TEKNIK ARSITEKTUR
ARSITEKTUR KOTA

                                      “ KONDISI EKSISTING KAWASAN AMPEL SURABAYA
                                      MENURUT 3 TEORI PERANCANGAN KOTA DAN RTBL“




      Gambar 5 : Minneapolis yang membuat jembatan penyeberangan untuk pejalan kaki.



2.1.1.5 Pendukung Kegiatan (Activity Support)
       Merupakan salah satu bangunan yang mendukung kegiatan yang ada di
sekitar lingkungan, Penunjang aktivitas (acitivity support) mencakup semua
penggunaan dan kegiatan yang memperkuat ruang publik, yang saling melengkapi
satu sama lain yaitu :
       Membuat pedestrian plaza atau bangunan korporasi tanpa toko-toko,
       merupakan salah satu contoh tidak efisiennya urban design, karena tidak
       mempertimbangkan acitivity support di dalam maupun di dekat bangunan.
       Demikian pula, suatu wilayah yang tidak memasukkan penunjang aktivitas
       dalam rancangannya, akan menyebabkan wilayah tersebut secara gradual
       mengalami kemerosotan lingkungan.
       Contohnya adalah Bonaventura Hotel di Los Angeles yang konsepnya
       disebut “inward looking” karena tidak mengintegrasikan hubungan antara
       bagian dalam dan luar bangunan – tidak bisa dinikmati pada street level.
       Secara umum menimbulkan kesan: sepi, terasing, kaku, tidak ada interaksi
       dengan jalan dan pedestrian.




                                            9
TEKNIK ARSITEKTUR
ARSITEKTUR KOTA

                                      “ KONDISI EKSISTING KAWASAN AMPEL SURABAYA
                                      MENURUT 3 TEORI PERANCANGAN KOTA DAN RTBL“




    Gambar 6 : Bonaventura Hotel di Los Angeles yang konsepnya disebut “inward looking”



         Penunjang aktivitas tidak hanya berupa penyediaan pedestrian way atau
plaza,    tetapi   juga   mempertimbangkan          perlunya     fungsi    utama     untuk
membangkitkan dan menghidupkan kegiatan kota. Wujudnya bisa berupa: pusat
perdagangan, taman rekreasi, pusat kegiatan lingkungan, perpustakaan umum dan
lainnya. Penempatan penunjang kegiatan yang tidak tepat akan berimplikasi buruk
pada lingkungan sekitarnya. Misalnya, sebuah mall menjadi kurang berhasil dan
kurang hidup karena tidak menghubungkan dua pusat kegiatan.
         Menurut Long Beach (1980): Kegiatan belanja, makan-makan, menunggu,
istirahat, kegiatan pulang dan pergi ke tempat kerja; merupakan tanda-tanda vital
sehatnya pusat kota – untuk menjamin berlangsungnya kegiatan tersebut
dibutuhkan penyediaan penunjang aktivitas yang sesuai dengan kebutuhan
masyarakat penggunanya.


2.1.1.6 Perpapanan atau Reklame
         Branch (1995) dalam bukunya ”Comprehensive City Planning :
Introduction and Explanation”, mengatakan bahwa perancangan kota berkaitan
dengan tanggapan inderawi manusia terhadap lingkungan fisik kota, yaitu ;
penampilan visual, kualitas estetika dan karakter kota . Shirvani (1985) dalam
”The Urban Design process” , bahwa ada 8 (delapan) unsur yang mempengaruhi
bentuk fisik kota : guna lahan, bentuk bangunan, sirkulasi dan perparkiran, ruang




                                            10
TEKNIK ARSITEKTUR
ARSITEKTUR KOTA

                                    “ KONDISI EKSISTING KAWASAN AMPEL SURABAYA
                                    MENURUT 3 TEORI PERANCANGAN KOTA DAN RTBL“




terbuka, jalan dan pedestrian, pendukung kegiatan, perpapanan nama dan
preservasi.
        Perpapanan nama/reklame adalah merupakan unsur tampilan visual yang
cukup penting dalam membentuk karakter kota. Sehingga dari sisi perancangan
kota/arsitektur kota, perpapanan nama/reklame dengan berbagai bentuknya perlu
diatur dan ditata agar terjalin kecocokan lingkungan, pengurangan dampak visual
negatif, mengurangi kompetisi antara reklame dan juga mencegah kebisingan
masyarakat atau warga kota akan tampilan visual kotanya Pedoman Rancangan
Papan Tanda di Long Beach membagi tanda komunikasi menjadi dua
tingkat; yang langsung dan tidak langsung.
       Langsung : khusus ditujukan untuk identitas bisnis, menujukkan lokasi
       serta memberitahukan barang dan jasa yang diberikan.
       Tidak langsung : menampilkan citra, karakter, dan bentuk-bentuk tanda
       tertentu, menunjukkan komunikasi yang bersifat tak langsung.


       Charlotte Design Guideline menyusun panduan penempatan signage pada
tiga zona, yaitu :
    1. Private information zone: ditempatkan sampai batas proyeksi teritis kanopi
        bangunan – small sign, orientasi untuk pejalan kaki.
    2. Pedestrian zone: ditempatkan dalam batas persil bangunan – untuk
        informasi lokasi, historis, nama kios; orientasi pejalan kaki.
    3. Traffic zone: ditempatkan di dalam ROW – hanya diijinkan untuk rambu-
        rambu lalu lintas.




                                         11
TEKNIK ARSITEKTUR
ARSITEKTUR KOTA

                                   “ KONDISI EKSISTING KAWASAN AMPEL SURABAYA
                                   MENURUT 3 TEORI PERANCANGAN KOTA DAN RTBL“




                     Gambar 7 : Skema Charlotte Design Guideline


       Adapun sisi positif dari perpapanan nama/reklame ini adalah menambah
kesemarakan kota dan juga dapat sebagai sumber pemasukan bagi Pendapatan
Asli Daerah (PAD). Dan sisi negatifnya adalah karena perpapanan nama/reklame
ini tidak direncanakan sebagai elemen ruang luar yang merupakan bagian dari
arsitektur kota, umumnya asal menempatkan saja, yang pada akhirnya dapat
merusak pemandangan atau estetika kota. Jadi merencanakan atau menempatkan
perpapanan nama/reklame jangan melalui pendekatan ekonomi saja, karena yang
akan diperoleh hanya pendapatan (PAD), sementara tata ruang kota ada
kemungkinan semrawut. Yang seharusnya dilakukan adalah menempatkan
ekonomi sebagai dampak positif dari pendekatan perancangan kota. Sehingga
yang diperoleh disamping pendapatan (PAD) adalah juga kondisi teratur dan
harmonis pada tata ruang kota.


2.1.1.7 Preservasi
       Pelestarian tidak hanya berkenaan dengan kepentingan bangunan     dan
tempat bersejarah, tetapi juga semua tempat dan bangunan yang ada; sepanjang
mereka secara ekonomi adalah vital dan secara budaya mempunyai arti
penting. Di dalam rancangan kota pelestarian harus ditujukan untuk melindungi



                                         12
TEKNIK ARSITEKTUR
ARSITEKTUR KOTA

                                     “ KONDISI EKSISTING KAWASAN AMPEL SURABAYA
                                     MENURUT 3 TEORI PERANCANGAN KOTA DAN RTBL“




atau mempertahankan lingkungan; dan juga diarahkan pada pelestarian suatu
kegiatan.
       Pelestarian memberikan keuntungan bagi lingkungan baik kultural,
ekonomi, maupun sosial (California; 1976).
    a. Keuntungan kultural:
       Menawarkan       pengkayaan     terhadap   pendidikan     dan estetika   yang
       dikaitkan      dengan    imaginasi akan tempat dan bangunan              yang
       penggunaan asalnya telah ditinggalkan.
    b. Keuntungan ekonomis:
               Meningkatkan nilai properti;
               Meningkatkan penjualan eceran dan persewaan;
               Menghindari biaya       penggantian (alasan     untuk pencadangan
               konservasi);
               Meningkatkan pemasukan pajak (di negara maju).


2.1.1.8 Ruang Terbuka Hijau (Open Space)
       Pada elemen perancangan kota ruang terbuka didefinisikan sebagai
lansekap, hardscape (jalan, jalur pejalan kaki, dan sejenisnya), park, dan rekreasi
terbuka di dalam kota. Lahan kosong di dalam kota yang lazim disebut “super
hole” pada masa peremajaan kota tidak termasuk ruang terbuka. Elemen ruang
terbuka meliputi :
            Taman,                                 air mancur,
            jalur hijau kota,                      skulptur,
            termasuk pohon,                        jam, dan semua yang berada di
            bangku, pot tanaman,                   dalamnya.
            kolam,                                 Jalur pedestrian, rambu, dan
            lampu penerangan,                      unsur       kenyamanan       juga
            paving,                                (dipertimbangkan)       termasuk
            kios,                                  elemen ruang terbuka
            tempat sampah,




                                         13
TEKNIK ARSITEKTUR
ARSITEKTUR KOTA

                                    “ KONDISI EKSISTING KAWASAN AMPEL SURABAYA
                                    MENURUT 3 TEORI PERANCANGAN KOTA DAN RTBL“




        Ruang terbuka adalah unsur penting dalam urban desain. Pada masa lalu
ruang terbuka dirancang sesudah desain arsitektur dibuat sehingga Perencanaan
ruang terbuka juga merupakan salah satu instrumen pengendali pelestarian fisik
lingkungan dan kerusakan lingkungan sebagaimana dilakukan di Dallas.
        Pada Natural Open Space Plan Dallas, menitikberatkan perencanaan
ruang terbuka yang terintegrasi antara ekologi dan masalah pembangunan, dengan
cara:
   1. Melestarikan kawasan alamiah potensial dan kawasan rawan bencana,
        kawasan semacam ini sama sekali tidak boleh dikembangkan. Antara lain
        perairan, tebing, lembah, ngarai.
   2. Memberikan insentif kepada para pihak yang melaksanakan pelestarian
        dan menghindarkan lingkungan dari bahaya kerusakan.


2.1.2 TEORI KEVIN LYNCH
2.1.2.1 PATH (JALUR)
        Merupakan jalur sirkulasi yang digunakan masyarakat untuk menuju atau
meninggalkan lingkungannya. Bisa berupa jalur jalan, pedestrian ways, jalur
kereta api, jalur sungai. Secara umum path dilengkapi dengan elemen pengarah,
peneduh, pembatas, dan elemen pembentuk estetika lingkungan.




                                            14
TEKNIK ARSITEKTUR
ARSITEKTUR KOTA

                                   “ KONDISI EKSISTING KAWASAN AMPEL SURABAYA
                                   MENURUT 3 TEORI PERANCANGAN KOTA DAN RTBL“




   CONTOH WUJUD TIGA DIMENSI ELEMEN LINGKUNGAN PATH By
                                     LYNCH




                    Jalur sebagai salah satu pencitraan kota
                             menurut Kevin linch




               Gambar 8 : Tiga dimensi elemen lingkungan path by Lynch


2.1.2.2 NODE (SIMPUL)
      Adalah titik-titik kegiatan kota yang mempunyai peranan sebagai titik
orientasi yang lebih ditekankan pada bentuk kegiatan atau aktivitas rutin yang
sudah dikenal masyarakat.
      Nodes bisa berada pada lokasi yang sama dengan landmark.




                                         15
TEKNIK ARSITEKTUR
ARSITEKTUR KOTA

                                     “ KONDISI EKSISTING KAWASAN AMPEL SURABAYA
                                     MENURUT 3 TEORI PERANCANGAN KOTA DAN RTBL“




                Gambar 9 : Tiga dimensi elemen lingkungan node by Lynch


2.1.2.3 EDGE (TEPIAN)
       Adalah batas wilayah yang mempunyai peranan sebagai pemutus suatu
kontinuitas. Edge bisa berupa batas alam seperti pantai, tebing curam, sungai; atau
batas buatan seperti tembok tinggi, saluran atau lalu-lintas padat.




               Gambar 10 : Tiga dimensi elemen lingkungan edge by Lynch


2.1.2.4 DISTRICT
         Adalah daerah di dalam kota yang timbul dalam imajinasi masyarakat
setempat yang ditentukan oleh kesamaan karakteristik wilayah bersangkutan.




              Gambar 11 : Tiga dimensi elemen lingkungan edistrict by Lynch




                                           16
TEKNIK ARSITEKTUR
ARSITEKTUR KOTA

                                   “ KONDISI EKSISTING KAWASAN AMPEL SURABAYA
                                   MENURUT 3 TEORI PERANCANGAN KOTA DAN RTBL“




2.1.2.5 LANDMARK
       Adalah struktur fisik yang ditekankan pada fungsinya sebagai titik
orientasi (terutama secara visual) bagi masyarakat sekitarnya. Pada umumnya
landmark berupa struktur fisik yang mendominasi lingkungan sekitarnya.


   CONTOH WUJUD TIGA DIMENSI ELEMEN LINGKUNGAN LYNCH




            Gambar 12 : Tiga dimensi elemen lingkungan landmark by Lynch



“Pembentuk kota yang dapat berupa bangunan fisik atau gubahan massa atau
   ruang atau detail arsitektur yang sangat spesifik dan terkadang sangat
                      kontekstual terhadap kawasan.”

    SALING TERHUBUNGAN DI ANTARA ELEMEN PEMBENTUK
                        IDENTITAS LINGKUNGAN




                                        17
TEKNIK ARSITEKTUR
ARSITEKTUR KOTA

                                     “ KONDISI EKSISTING KAWASAN AMPEL SURABAYA
                                     MENURUT 3 TEORI PERANCANGAN KOTA DAN RTBL“




            Gambar 13 : Hubungan antar elemen pembentuk identitas lingkungan




2.1.3 TEORI ROGER TRANCIK DALAM ZAHND
       Menurut Trancik, pendekatan figure/gound, linkage and place, merupakan
landasan yang dapat digunakan untuk melakukan perancangan kota, baik secara
historis maupun modern.
        Ketiga pendekatan tersebut sama-sama memiliki potensi sebagai salah satu
strategi perancangan kota yang menekankan produk rancang kota secara terpadu.
        Ketidakpahaman terhadap tiga pendekatan ini (menurut Zahnd; 1999)
seringkali menyebabkan kegagalan dalam mendesain kawasan kota dengan baik,
terutaa terhadap hubungan-hubungan antara tiga pendekatan tersebut.
        Prinsip-prinsip pendekatan figure/gound, linkage and place, adalah sebagai
berikut :


2.1.3.1 TEORI FIGURE/GROUND
        Teori ini dapat dipahami melalui pola tatanan kota sebagai hubungan
tekstural antara bentuk yang akan dibangun (building mass) dan ruang terbuka
(open space).




                                          18
TEKNIK ARSITEKTUR
ARSITEKTUR KOTA

                                      “ KONDISI EKSISTING KAWASAN AMPEL SURABAYA
                                      MENURUT 3 TEORI PERANCANGAN KOTA DAN RTBL“




       Figure adalah istilah untuk massa yang dibangun (biasanya di dalam
gambar ditunjukkan dengan warna hitam) dan ground adalah istilah untuk semua
ruang di luar massa tersebut (biasanya ditunjukkan dengan warna putih).
       Gambar semacam ini menunjukkan keadaan tekstur kota atau kawasan
kota bersangkutan. Kadang-kadang figure/ground digambarkan dengan warna
sebaliknya supaya dapat mengekspresikan efek tertentu.


            HUBUNGAN FIGURE/GROUND – LINKAGE - PLACE




  Gambar 14 : Tiga pendekatan pokok teori-teori perancangan yang menganggap kota sebagai
                                          produk.
                           Sumber : Trancik dalam Zahnd, 1999




                                           19
TEKNIK ARSITEKTUR
ARSITEKTUR KOTA

                         “ KONDISI EKSISTING KAWASAN AMPEL SURABAYA
                         MENURUT 3 TEORI PERANCANGAN KOTA DAN RTBL“




       CONTOH BERBAGAI PENGGAMBARAN FIGURE/GROUND




                    Gambar 15 : figure/ground




                               20
TEKNIK ARSITEKTUR
ARSITEKTUR KOTA

                                    “ KONDISI EKSISTING KAWASAN AMPEL SURABAYA
                                    MENURUT 3 TEORI PERANCANGAN KOTA DAN RTBL“




         Figure juga dimaknai sebagai solid (blok massa) dan ground dimaknai
sebagai void (ruang). Figure/ground dapat digambarkan dalam skala makro dan
mikro.
         Dalam skala makro, figure/ground memperhatikan kota atau bagian kota
          keseluruhannya.
         Dalam skala mikro biasanya difokuskan pada satu kawasan saja.
          Figure/ground pada skala ini berfokus pada ciri khas tekstur dan
          permasalahan tekstur secara mendalam.


         Analisa figure/gound adalah alat yang sangat baik untuk :
          Mengidentifikasikan sebuah tekstur dan pola-pola tata ruang perkotaan
          (urban fabric).
          Mengidentifikasikan masalah keteraturan massa/ruang.


         Kelemahan analisis figure/gound adalah :
          Perhatiannya hanya mengarah pada gagasan-gagasan ruang perkotaan
          yang bersifat dua dimensi saja.
          Perhatiannya seringa dianggap terlalu statis.




                                            21
TEKNIK ARSITEKTUR
ARSITEKTUR KOTA

                                   “ KONDISI EKSISTING KAWASAN AMPEL SURABAYA
                                   MENURUT 3 TEORI PERANCANGAN KOTA DAN RTBL“




    BEBERAPA CONTOH GAMBARAN TIGA DIMENSI HUBUNGAN
         ANTARA FIGURE-GROUND ATAU SOLID-VOID




    Gambar 16 : Urban poche (skala makro) di berbagai kawasan di Paris, Perancis.
                  Sumber : Benevolo, Leonardo, dalam Zahnd; 1999.



                                         22
TEKNIK ARSITEKTUR
ARSITEKTUR KOTA

                                  “ KONDISI EKSISTING KAWASAN AMPEL SURABAYA
                                  MENURUT 3 TEORI PERANCANGAN KOTA DAN RTBL“




2.1.3.2 TEORI LINKAGE
       Teori ini dapat dipahami dari segi dinamika rupa perkotaan yang dianggap
baik sebagai generator penggerak kegiatan kota dan antar bagian kota.
       Penjelasan mengenai teori figure/ground belum memberikan gambaran
mengenai hubungan pergerakan kegiatan di antara keduanya, karena itu perlu
dipertegas dengan hubungan-hubungan dan gerakan-gerakan pada sebuah tata
ruang kota, yang disebut dengan istilah linkage (penghubung).


  A. LINKAGE VISUAL
          Linkage visual menghasilkan hubungan visual : garis, koridor, sisi,
  sumbu dan irama.
          Elemen garis menghubungkan secara langsung dua tempat dengan satu
          deretan massa, baik berupa bangunan maupun deretan pepohonan yang
          memiliki massivitas.




                                    Gambar 17 Garis (line)


          Elemen koridor dibentuk oleh dua deretan massa yang membentuk
          sebuah ruang.




                                 Gambar 18 Koridor (corridor)


          Elemen sisi menghubungkan suatu kawasan dengan satu massa, tetapi
          tidak perlu diwujudkan dalam bentuk massa yang tipis seperti garis.




                                    Gambar 19 Sisi (odge)



                                       23
TEKNIK ARSITEKTUR
ARSITEKTUR KOTA

                                    “ KONDISI EKSISTING KAWASAN AMPEL SURABAYA
                                    MENURUT 3 TEORI PERANCANGAN KOTA DAN RTBL“




         Elemen sumbu mirip dengan koridor tetapi lebih banyak mengunakan
         axes untuk menonjolkan bagian yang dianggap penting.




                                    Gambar 20 Sumbu (axis)



         Irama menghubungkan dua tempat dengan variasi massa dan ruang
         (ulang, varian, kontras, dan lainnya).




                                    Gambar 21 Irama (rythm)



  Analisis linkage adalah alat yang baik untuk :
         Memperhatikan dan menegaskan hubungan-hubungan dan gerak
         aktivitas pada sebuah ruang perkotaan.
  Kelemahan analisis linkage adalah :
         Kurangnya perhatian dalam mendefinisikan ruang perkotaan secara
         spasial dan kontekstual.




                                        24
TEKNIK ARSITEKTUR
ARSITEKTUR KOTA

                                      “ KONDISI EKSISTING KAWASAN AMPEL SURABAYA
                                      MENURUT 3 TEORI PERANCANGAN KOTA DAN RTBL“




                   BEBERAPA CONTOH LINKAGE VISUAL




   Gambar 22 : Elemen koridor kota. Dalam contoh ini lansekap dan bangunan dipakai untuk
        mendefinisikan hubungan antara berbagai kawasan perkotaan (Zahnd; 1999).




                                            25
TEKNIK ARSITEKTUR
ARSITEKTUR KOTA

                                       “ KONDISI EKSISTING KAWASAN AMPEL SURABAYA
                                       MENURUT 3 TEORI PERANCANGAN KOTA DAN RTBL“




                  CONTOH TIGA DIMENSI LINKAGE VISUAL




Gambar 23 : Elemen sumbu kota. Selain menghubungkan suatu kawasan dengan kawasan lainnya,
       sumbu juga mengatur tatanan lingkungan sekitarnya secara hirarkis (Zahnd; 1999).




                                             26
TEKNIK ARSITEKTUR
ARSITEKTUR KOTA

                                  “ KONDISI EKSISTING KAWASAN AMPEL SURABAYA
                                  MENURUT 3 TEORI PERANCANGAN KOTA DAN RTBL“




  B. LINKAGE STRUKTURAL
         Linkage struktural digunakan untuk menyatukan kawasan-kawasan kota
  melalui bentuk jaringan struktural yang disebut collase (Colin Rowe dalam
  Zahnd) atau disebut dengan istilah pattern atau pola struktur kota.


  Linkage struktural pada dasarnya bertujuan :
         Menggabungkan dua atau lebih kawasan sesuai dengan pola yang
         diinginkan.
         Menggabungkan dua kawasan dengan menonjolkan suatu kawasan
         tertentu.


         Dalam penataan ruang kota, linkage sruktural yang baik menggunakan
  pola kota dan bangunan sebagai stabilisator dan koordinator. Tanpa adanya
  koordinasi dalam pembetukan struktur ini maka akan muncul tatanan ruang dan
  bangunan kota yang berkesan kacau. Penerapan elemen linkage struktural
  dapat dilakukan dengan cara
         Menambahkan atau melanjutkan pola yang sudah ada. Bentuk massa
         dan ruang boleh berbeda tetapi harus tetap dipahami sebagai bagian dari
         kawasan tersebut.
         Menyambung elemen dengan memasukkan unsur-unsur baru dari
         elemen-elemen di sekitar atau di luar kawasan.
         Menembus; sedikit mirip dengan elemen tambahan tetapi lebih rumit
         karena polanya merupakan penggabungan dari pola-pola yang ada di
         sekitanya, sehingga memberikan kesan sebagai campuran dari wujud
         lingkungan di sekitarnya.




                                       27
TEKNIK ARSITEKTUR
ARSITEKTUR KOTA

                                   “ KONDISI EKSISTING KAWASAN AMPEL SURABAYA
                                   MENURUT 3 TEORI PERANCANGAN KOTA DAN RTBL“




                      CONTOH ELEMEN TAMBAHAN




                Gambar 24 : Elemen tambahan; (a) sebelum pembangunan;
            (b) sesudah pembangunan (Rowe dan Koetter dalam Zahnd; 199).




          Gambar 25 : Elemen tambahan untuk proposal Kota Goteborg, Swedia.
           (a) sebelum, (b) sesudah pembangunan (Trancik dalam Zahnd; 1999.




                                         28
TEKNIK ARSITEKTUR
ARSITEKTUR KOTA

                                     “ KONDISI EKSISTING KAWASAN AMPEL SURABAYA
                                     MENURUT 3 TEORI PERANCANGAN KOTA DAN RTBL“




                       CONTOH ELEMEN SAMBUNGAN




          Gambar 26 : Elemen sambungan untuk tiga proposal Kota Goteborg, Swedia.
  Kiri : sebelum pembangunan. Kanan : sesudah pembangunan (Trancik dalam Zahnd; 1999).




                                          29
TEKNIK ARSITEKTUR
ARSITEKTUR KOTA

                                    “ KONDISI EKSISTING KAWASAN AMPEL SURABAYA
                                    MENURUT 3 TEORI PERANCANGAN KOTA DAN RTBL“




                       CONTOH ELEMEN TEMBUSAN




         Gambar 27 : Elemen tembusan. Studi untuk Kota Roma dan Firenze, Italia
                             (Peterson dalam Zahnd; 1999).




                                          30
TEKNIK ARSITEKTUR
ARSITEKTUR KOTA

                                   “ KONDISI EKSISTING KAWASAN AMPEL SURABAYA
                                   MENURUT 3 TEORI PERANCANGAN KOTA DAN RTBL“




  C. LINKAGE KOLEKTIF
         Linkage kolektif menunjukkan hubungan menyeluruh yang bersifat
  kolektif dari ciri khas dan organisasi wujud fisik (spatial) kota.
         Ini disebabkan karena sebuah kota memiliki banyak wilayah yang
  mempunyai makna terhadap hubungan dari dalam (internal) maupun dari luar
  (eksternal), yaitu dari dirinya sendiri maupun dari lingkungannya. Dalam tipe
  ini, linkage dikembangkan secara organis.


  Ada tiga tipe bentuk kolektif (Fumihiko Maki; 1964):
         Bentuk komposisi (compositional form)
         Merancang obyek-obyek seperti komposisi dua dimensi.




                        Gambar 28 : Bentuk komposisi (compositional form)



         Bentuk mega (mega form)
         Menghubungkan struktur seperti bingkai yang linier atau sebagai grid
         (pola spatial kota). Linkage dicapai melalui hirarki yang bersifat open
         ended (masih terbuka untuk berkembang).




                              Gambar 29 : Bentuk mega (mega form)




                                         31
TEKNIK ARSITEKTUR
ARSITEKTUR KOTA

                                     “ KONDISI EKSISTING KAWASAN AMPEL SURABAYA
                                     MENURUT 3 TEORI PERANCANGAN KOTA DAN RTBL“




         Bentuk kelompok (group form)
         Muncul dari penambahan akumulasi bentuk dan struktur yang biasanya
         berada di sekitar ruang terbuka public.




                             Gambar 30 : Bentuk kelompok (group form)



                      CONTOH COMPOSITIONAL FORM




      Gambar 31 : Elemen compositional form (a) Kompleks apartemen di Bern, Swiss.
                (b) perspektif udara kompleks apartmen di Brasilia, Brasil.




                                            32
TEKNIK ARSITEKTUR
ARSITEKTUR KOTA

                                       “ KONDISI EKSISTING KAWASAN AMPEL SURABAYA
                                       MENURUT 3 TEORI PERANCANGAN KOTA DAN RTBL“




                                CONTOH MEGAFORM




             Gambar 32 : Elemen megaform (a) proyek Tokyo Bay (Kenzo Tange)
(b) proyek Ville Radieuse (Le Corbusier) (c) proyek pengembangan Brasilia sebagai ibukota baru
                  Brasil (Costa/Niemayer). Le Corbusier dalam Zahnd; 1999.




                                             33
TEKNIK ARSITEKTUR
ARSITEKTUR KOTA

                                  “ KONDISI EKSISTING KAWASAN AMPEL SURABAYA
                                  MENURUT 3 TEORI PERANCANGAN KOTA DAN RTBL“




          CONTOH PROYEK UTOPIA YANG MENGGUNAKAN
                     ELEMEN MEGAFORM




        Gambar 33 : Bebarapa proyek utopis yang menggunakan konsep megaform
                         Sumber : Baham dalam Zahnd; 1999.




                                        34
TEKNIK ARSITEKTUR
ARSITEKTUR KOTA

                                    “ KONDISI EKSISTING KAWASAN AMPEL SURABAYA
                                    MENURUT 3 TEORI PERANCANGAN KOTA DAN RTBL“




                            CONTOH GROUP FORM




  Gambar 34 : Elemen groupform dalam lingkungan modern; dua proyek baru di Tokyo yang
          menggunakan elemen grupform (Japan architects Dalam Zahnd; 1999).




                                          35
TEKNIK ARSITEKTUR
ARSITEKTUR KOTA

                                  “ KONDISI EKSISTING KAWASAN AMPEL SURABAYA
                                  MENURUT 3 TEORI PERANCANGAN KOTA DAN RTBL“




2.1.3.3 TEORI PLACE
       Pendekatan ini dipahami dari segi seberapa besar pentingnya ruang-ruang
kota dikaitkan dengan nilai kesejarahan, kehidupan budaya dan kehidupan sosial
masyarakatnya.
       Pendekatan ini adalah alat yang baik untuk :
          Memberikan makna pada ruang kota melalui tanda kehidupan kota yang
          dicerminkan pada aktivitas masyarakatnya.
          Memberikan makna pada ruang kota secara kontenkstual.
       Kelemahan pendekatan ini adalah :
          Perhatiannya hanya difokuskan pada satu tempat saja.


       Teori place (dapat) merujuk pada pemahaman pembentukan identitas
lingkungan berdasarkan teori Kevin Lynch yaitu :
          Paht (jalur)
          Edge
          Landmark
          Node
          Distrik


       Gagasan Lynch dalam Image of Environment mengenai pembentukan
identitas lingkungan dapat dimaknai sebagai berikut :
          Identitas lingkungan merupakan karakter spesifik yang tidak dimiliki
          wilayah lain;
          Identitas lingkungan ditempatkan pada unsur-unsur lingkungan yang
          mudah diamati dan dikenali;
          Identitas lingkungan ditampilkan dalam wujud yang bersifat inderawi.


       Ketiganya merupakan rangkaian proses yang berkesinambungan, bahkan
menghubungkan konsep yang bersifat transenden sampai ke wujud fisik yang
mudah dipahami.




                                        36
TEKNIK ARSITEKTUR
ARSITEKTUR KOTA

                                  “ KONDISI EKSISTING KAWASAN AMPEL SURABAYA
                                  MENURUT 3 TEORI PERANCANGAN KOTA DAN RTBL“




   A. PEMBENTUKAN IDENTITAS LINGKUNGAN


            Citra atau identitas lingkungan dapat digali dan dikembangkan
     melalui penelusuran sejarah dan/atau potensi suatu wilayah, karena pada
     dasarnya suatu lingkungan itu mempunyai karekter yang berbeda dengan
     lingkungan lainnya.
            Adalah suatu kesalahan besar jika membuat identitas lingkungan
     yang dilakukan dengan cara meniru atau mengkopi ciri wilayah lain.


              Identitas yang ditelusur melalui aspek historis, misalnya adalah
              lingkungan sekitar keraton, lingkungan religius, kawasan urban
              heritage, Pecinan, dan lainnya.
              Identitas yang ditelusur melalui potensi wilayah, misalnya adalah
              lingkungan    industri   rokok       kretek,   kawasan   pendidikan,
              perkampungan nelayan, kebun buah-buahan khas daerah.


   B. WUJUD IDENTITAS


            Wujud identitas sifatnya adalah inderawi; artinya bisa ditangkap oleh
     panca indera. Wujud identitas bisa berupa :
              Wujud yang bisa ditangkap indera penglihatan; seperti gerbang,
              skulptur, monumen, bangunan menara, jembatan, dan sejenisnya.
              Wujud yang bisa ditangkap indera pendengaran; seperti suara
              burung, terminal bus, stasiun kereta api, pasar, dan sejenisnya.
              Wujud yang bisa ditangkap indera penciuman; seperti bau bunga di
              pasar kembang, bau ikan di perkampungan nelayan, bau limbah
              pencemaran pabrik atau sungai, dan sejenisnya.
              Wujud yang bisa ditangkap suasananya oleh semua indera; seperti
              suasana hening di kompleks makam pahlawan, suasana kegiatan
              pasar dan pertokoan yang ramai, suasana tempat rekreasi yang
              ceria.


                                       37
TEKNIK ARSITEKTUR
ARSITEKTUR KOTA

                                    “ KONDISI EKSISTING KAWASAN AMPEL SURABAYA
                                    MENURUT 3 TEORI PERANCANGAN KOTA DAN RTBL“




             Melalui tiga langkah tersebut maka citra suatu lingkungan bisa
     diwujudkan dalam bentuk yang dapat dipahami dan dibaca oleh masyarakat,
     dalam wujud yang bisa dilihat secara visual, didengarkan secara auditif, bisa
     dikenali baunya, dan ditangkap suasananya.


             Pemahaman terhadap pembentukan identitas lingkungan tidak dilihat
     secara parsial, tetapi secara berkesinambungan yang menghubungkan unsur
     satu dengan yang lain yang memandu pengguna sampai ke tempat tujuannya
     melalui pengamatan secara sekuensial.


2.2 TINJAUAN KHUSUS
2.2.1 TEORI HAMID SHIRVANI
2.2.1.1 Tata Guna Lahan
       Land use kawasan Ampel diperuntukan atas : permukiman, perdagangan &
jasa, Fasum (lihat peta landuse 2001).
       Permaasalahan saat ini :
       Terjadinya mix use (penggandaan fungsi suatu bangunan), misalnya
       perumahan merangkap toko kecil-kecilan (lihat exsisting).
       Adapun untuk penetapan lahan mix use tersebut perlu adanya aturan
       bersama antara warga dengan pemerintah Surabaya.




                    Gambar 35 : Landuse dan Eksisting Kawasan Ampel



                                          38
TEKNIK ARSITEKTUR
ARSITEKTUR KOTA

                                 “ KONDISI EKSISTING KAWASAN AMPEL SURABAYA
                                 MENURUT 3 TEORI PERANCANGAN KOTA DAN RTBL“




2.2.1.2 Bentuk dan Massa Bangunan
       Pola permukiman kampung Arab bersifat alami dan lebih bersifat sirkular
dengan menjadikan masjid dan makam Sunan Ampel sebagai pusatnya.
      Bangunannya mengangkat langgam tradisional asimilatif antara Majapahit
dan Tiongkok. Contoh: Hotel Kemadjoean, yang dibangun tahun 1928 dan
Mihrab yang konon biasa digunakan Sunan Ampel berkotbah – bernuansa
peninggalan khas Majapahit.




                          Gambar 36 : Hotel Kemadjoean


2.2.1.3 Sirkulasi dan perparkiran
    A. Parkir (Parking)
           Tata parkir kawasan Ampel dulunya tidak tertata, sekarang perlahan
    sudah terkoordinir dengan cukup baik dan dijaga petugas. Untuk area parkir
    dan roda empat yang semula tidak beraturan sepanjang Jl. KH Mas Mansyur,
    kini lebih rapi. Hal tersebut dapat memudahkan para peziarah untuk berjalan
    kaki secara nyaman menuju kawasan kompleks pemakaman.




                                      39
TEKNIK ARSITEKTUR
ARSITEKTUR KOTA

                                “ KONDISI EKSISTING KAWASAN AMPEL SURABAYA
                                MENURUT 3 TEORI PERANCANGAN KOTA DAN RTBL“




                      Gambar 37 : Tatanan parkir kawasan Ampel


   B. Sirkulasi (Circulation)
           Sirkulasi kendaraan jalan utamanya (Jl. Nyamplungan) berupa jalan
           satu arah sehingga mampu menghindari arus silang/kemacetan.
           Sirkulasi pejalan kaki yang ingin ke Masjid Ampel dapat ditempuh
           dengan melewati salah satu dari lima gapura yang konon 5 gapura itu
           merunut pada Rukun Islam.




                                      40
TEKNIK ARSITEKTUR
ARSITEKTUR KOTA

                                   “ KONDISI EKSISTING KAWASAN AMPEL SURABAYA
                                   MENURUT 3 TEORI PERANCANGAN KOTA DAN RTBL“




2.2.1.4 Jalan Pendestrian




                     Gambar 38 : Pedestrian pada kawasan Ampel



       Pedestrian kawasan Ampel dapat dilihat di sepanjang sisi kanan-kiri Jl.
Nyamplungan dan Jl. KH Mas Mansyur. Pada sisi kanan (dekat sungai) lebar ±
1,5 m, sedangkan pada sisi kiri (dekat pertokoan) lebar ± 2 m. Selain itu, terdapat
jembatan yang menghubungkan Jl. Nyamplungan dan Jl. Pegirian. Rata-rata
lebarnya ± 1,5 – 2 m. Jembatan ini biasa digunakan pejalan kaki yang menuju ke
kawasan Wisata Religi Sunan Ampel setelah dari Masjid Ampel atau sebaliknya.




                     Gambar 39 : Pedestrian pada kawasan Ampel


2.2.1.5 Pendukung Kegiatan (Activity Support)
       Menurut pengamatan kami terdapat pusat-pusat kegiatan yang ada di
Kawasan Ampel yaitu
       PKL yang dapat ditemukan di sepanjang Jl. Nyamplungan dan Jl. KH Mas
       Mansyur




                                        41
TEKNIK ARSITEKTUR
ARSITEKTUR KOTA

                                    “ KONDISI EKSISTING KAWASAN AMPEL SURABAYA
                                    MENURUT 3 TEORI PERANCANGAN KOTA DAN RTBL“




      Pasar Gubah Ampel Suci, yang berada di sepanjang jalan yang menuju ke
      pintu masuk Masjid Ampel
      Masjid Ampel, masjid ini setiap hari tidak pernah sepi dikunjungi orang-
      orang yang ingin berziarah/sekedar sholat di masjid.


2.2.1.6 Perpapanan atau Reklame
      Keadaan pada lokasi yang sebenarnya:




                  Gambar 40 : Beberapa perpapanan pada kawasan Ampel


2.2.1.7 Preservasi
                               Salah satu upaya memelihara dan melestarikan
                       monumen, bangunan atau lingkungan pada kondisinya dan
                       mencegah terjadinya proses kerusakan. Contohnya, yang
                       berada di kawasan ampel adalah masjid Ampel Merupakan
                       masjid kedua di Surabaya, yang didirikan Sunan Ampel
                       sekitar tahun 1421, setelah Masjid Rahmat di Kembang
                       Kuning, Surabaya. Masjid ini telah dipugar empat kali dan
   Gambar 41 :
   Masjid Ampel


                                         42
TEKNIK ARSITEKTUR
ARSITEKTUR KOTA

                                     “ KONDISI EKSISTING KAWASAN AMPEL SURABAYA
                                     MENURUT 3 TEORI PERANCANGAN KOTA DAN RTBL“




                       diperluas, namun keaslian
                       bangunannya masih tetap
                       terjaga.
       Salah   satu    bangunan      cagar      budaya
berlokasi di Jl. KH Mas Mansyur. Rumah
bergaya kolonial dan diperkirakan berusia lebih
dari 90 tahun. Setelah berfungsi sebagai sekolah, markas militer, kini jadi rumah
generasi ketiga dari keluarga Nabhan
       Bangunan Cagar budaya yang lainnya                    Gambar 42 : Rumah Oesman

adalah Hotel Kemadjoean dibangun tahun 1928.
Di lantai dasar Hotel ini terdapat Restoran Yaman
yang merupakan salah satu restauran yang paling
terkenal di kawasan Ampel yang menyajikan
hidangan Timur Tengah.                                      Gambar 43 : Hotel Kemadjoean



2.1.1.9 Ruang Terbuka Hijau (Open Space)
       Perlu disadari bahwa struktur ruang terbuka antara kota yang satu dengan
lainnya berbeda dan memiliki keunikan secara struktural maupun sekuensial;
karena itu ruang terbuka perlu dirancang terlebih dahulu. Tankel (1963)
menegaskan: kehandalan ruang terbuka bukan terletak pada kuantitasnya, tetapi
bagaimana ia dirancang terintegrasi dengan pembangunan (kota).
       Open    space    atau      ruang   terbuka    pada     kawasan    Ampel     dapat
ditemukan/berada di jalur hijau sepanjang sungai yang memisahkan Jl.
Nyamplungan dan Jl. Pegirian. Selain itu, ada juga di ujung tikungan/putar balik
dekat dengan gerbang pintu masuk sebelah selatan. Luas lahan kawasan Ampel
yang digunakan sebagai open space ± 5% dari keseluruhan Ampel.




                                           43
TEKNIK ARSITEKTUR
ARSITEKTUR KOTA

                                    “ KONDISI EKSISTING KAWASAN AMPEL SURABAYA
                                    MENURUT 3 TEORI PERANCANGAN KOTA DAN RTBL“




                       Gambar 44 : Open Space pada kawasan Ampel


2.2.2 TEORI KEVIN LYNCH
2.2.2.1 Path (Jalur)




                        Gambar 45 : Kondisi path pada kawasan Ampel


       Jalan Nyamplungan merupakan rute-rute sirkulasi yang biasanya
digunakan orang untuk melakukan pergerakan secara umum. Jadi Path Kawasan
Ampel terletak pada Jl. Nyamplungan.

2.2.2.2 Node (Simpul)




                                          44
TEKNIK ARSITEKTUR
ARSITEKTUR KOTA

                                     “ KONDISI EKSISTING KAWASAN AMPEL SURABAYA
                                     MENURUT 3 TEORI PERANCANGAN KOTA DAN RTBL“




                    Gambar 46 : Kondisi node pada kawasan Ampel Surabaya
         Persimpangan Gerbang Selatan dengan Jl. Kertopaten merupakan
   pusat/simpul kegiatan dimana orang dapat merasakan perubahan dari suatu
   struktur ruang ke struktur yang lain. Node kawasan ini ialah di persimpangan
   Gerbang Selatan dengan Jl. Kertopaten

2.2.2.3 Edge (Tepian)




      Gapura Masuk sebelah selatan




               Gambar 47 : Kondisi edge pada kawasan Ampel Surabaya


       Edge kawasan ini ialah
            Sungai yang membelah Jl. Nyamplungan dan Jl. Pegirian.


                                          45
TEKNIK ARSITEKTUR
ARSITEKTUR KOTA

                                      “ KONDISI EKSISTING KAWASAN AMPEL SURABAYA
                                      MENURUT 3 TEORI PERANCANGAN KOTA DAN RTBL“




             Jl. KH Mas Mansyur
             Gapura Masuk sebelah selatan


       Pada kawasan Ampel memiliki beberapa tepian yang merupakan
pengakhiran dari sebuah distrik/batasan sebuah distrik yang lainnya.




2.2.2.4 District
    Kondisi empiris pada saat ini

                                                                   Kaw. Fasilitas Umum
                                                                Kec. Semampir (Jl. K.H. Mas
                                                                Mansyur, Jl. Petukangan).


                                                                   Kaw. Permukiman
                                                                Kec. Semampir (Jl.
                                                                Nyamplungan, Jl. Ampel
                                                                Melati, Jl. Ampel Maghfur, Jl.
                                                                Ampel Gading, Jl. Ampel Gubah
                                                                Kidul, Jl. Ampel Cempaka, Jl.
                                                                Ampel Gubah Lor).



                                                                   Kaw. Perdaganganan dan
                                                                   jasa
                                                                Kec. Semampir (Jl. K.H. Mas
                 Kaw. Mix use
                                                                Mansyur – sekitar Hotel
         Kec. Semampir (Jl. Sasak, Gerbang
                                                                Kemadjoean dan Hotel Mesir).
         Ampel Suci – Pasar Ampel).

                Gambar 48 : Kondisi district pada kawasan Ampel Surabaya

       Kawasan Ampel merupakan kawasan yang memiliki kegiatan tertentu atau
kawasan kota dalam skala 2 dimensi. Adapun district pada kawasan ini adalah
perdagangan dan jasa.


                                             46
TEKNIK ARSITEKTUR
ARSITEKTUR KOTA

                                “ KONDISI EKSISTING KAWASAN AMPEL SURABAYA
                                MENURUT 3 TEORI PERANCANGAN KOTA DAN RTBL“




2.2.2.5 Landmark




                                                                Masjid Ampel



    Gapura masuk
    sebelah selatan

                                                             Rumah Oesman Nabhan
2.2.3 ROGER TRANCIK49 : Landmark kawasan Ampel Surabaya
              Gambar

       Roger Trancik mengemukakan bahwa 3 pendekatan kelompok teori
berikut ini merupakan landasan penelitian perancangan perkotaan baik ecara
historis maupun secara modern. Ketiga pendekatan tersebut sama-sama memiliki
potensi sebagai strategi perancangan kota yang menekankan produk perkotaan
secara terpadu, yaitu
   1. Teori figure/ground merupakan hubungan antara bentuk yang terbangun
       dengan ruang terbuka. Menurut       pengklasifikasian pola-pola kawasan
       secara tekstural rupa kehidupan dan kegiatan perkotaan dibagi menjadi
       tiga kelompok yaitu :
               a. Kawasan Homogen
               b. Kawasan Heterogen
               c. Kawasan Menyebar.

            Apabila di sesuaikan dengan kondisi eksisting kawasan Ampel
    Surabaya maka pola kawasan ini bersifat Heterogen karena kawasan ini
    memiliki dua atau lebih pola yang berbenturan. Bisa diliha pada gambar
    dibawah ini




                                      47
TEKNIK ARSITEKTUR
ARSITEKTUR KOTA

                                  “ KONDISI EKSISTING KAWASAN AMPEL SURABAYA
                                  MENURUT 3 TEORI PERANCANGAN KOTA DAN RTBL“




        Gambar 50 Dua kawasan kota Aechen, Jerman. Kedua kawasan memiliki
              pola yang bersifat heterogen seperti pola kawasan Ampel


          Arsitektur dalam lingkungan kota ialah arsitektur yang makro
   artinya secara kongkrit dalam ligkungan makro tersebut di butuhkan perhatian
   secara makro terhadap figure dan ground kawasannya. Dalam tingkat kota
   figure/ground dapat dilihat dengan skala makro besar dan skala makro kecil.
   Apabila di sesuaikan dengan kondisi eksisting kawasan Ampel Surabaya
   maka skala kawasan ini merupakan skala makro kecil. Dimana biasanya
   yang diperhatikan ialah figure/ground kota dengan focus pada satu kawasan
   saja dan berfokus pada ciri khas tekstur juga masalah tekstur kawasan Ampel
   Surabaya di Surabaya Utara.
          Berdasarkan 2 kelompok elemen dalam system hubungan dalam
   tekstur figure/ground, solid dan void berperan sebagai elemen perkotaaan.
   Dimana elemen solid atau blok memiliki tiga elemen dasar, yaitu
          a. Blok tunggal
          b. Blok yang mendominasi sisi
          c. Blok medan

          Apabila disesuaikan dengan kondisi eksisting kawasan Ampel
   Surabaya maka sifat elemen kwasan ini termasuk blok medan yang memiliki
   bermacam-macam massa dan bentuk, namun masing-masing tidak dilihat
   sebagai individu-individu melainkan dilihat secara keseluruhan massanya
   bersama-sama. Dalam tekstur ini, kecenderungan elemen perancangan



                                       48
TEKNIK ARSITEKTUR
ARSITEKTUR KOTA

                                     “ KONDISI EKSISTING KAWASAN AMPEL SURABAYA
                                     MENURUT 3 TEORI PERANCANGAN KOTA DAN RTBL“




   eksisting kawasan ini lebih memperhatikan elemen konkret yang massif saja.
   Elemen      konkret   yang     massif    disini   ialah      bangunan   permukiman,
   perdagangan, fasilitas umum, maupun jasa sekitar kawasan Ampel Surabaya.
   Hal ini dapat dilihat pada gambar dibawah ini




                         Gambar 51 : Field Block elemen solid


             Sedangkan elemen void sebagai ruang spasial sama pentingnya,
   walaupun elemen dasar void tidak dapat terlihat dengan kasat mata (abstrak
   atau kosong). Namun keempat elemen ini mempunyai fungsi yang cenderung
   sebagai system pemilik hubungan erat dengan massa, sebagai penyatu
   sehingga tidak hanaya sebagai elemen penunjang semata dalam perancangan
   sebuah kota. Elemen void tersebut ialah system tertutup yang linear, system
   tertutup yang memusat, system terbuka yang sentral, dan system terbuka yang
   linear.
             Apabila disesuaikan dengan kondisi eksisting kawasan Ampel
   Surabaya, maka elemen void yang sesuai dengan kondisi kawasan ini ialah
   system tertutup yang memusat. Sistem ini memiliki pola ruang yang
   seolah-olah mngesankan terfokus dan tertutup (hard space). Ruang kota
   tersebut dapat diamati pada skala besar seperti di pusat kota maupun di
   beberapa kawasan (misalnya kampung). Hal ini dapat terlihat pada daerah
   permukiman maupun perdagangan Ampel, yang tidak linear tidak terbuka
   namun memusat. Dapat dilihat pada gambar di bawah ini




                                           49
TEKNIK ARSITEKTUR
ARSITEKTUR KOTA

                                   “ KONDISI EKSISTING KAWASAN AMPEL SURABAYA
                                   MENURUT 3 TEORI PERANCANGAN KOTA DAN RTBL“




                          Gambar 52 : Central closed system


          Berdasarkan elemen-elemen di dalam tekstur perkotaan, istilah ‘unit
   perkotaan’ sangatlah penting, karena unit berfungsi sebagai kelompok
   bangunan yang disertai dengan ruang terbuka sebagai penegas kesatuan
   massa di kota secara tekstural dalam dimensi yang lebih besar. Dapat
   dibedakan menjadi 6 pola, antara lain grid, angular, kurvilinear, radial,
   konsentris, aksial, dan organis.
          Apabila disesuaikan dengan kondisi eksisting kawasan Ampel
   Surabaya, maka pola kawasan kota secara tekstural di Ampel ialah radial
   konsentris. Dimana pola radial yang terarah dan terbagi dengan cukup rapi
   pada koridor jalan pedestrian (pasar Ampel) menuju kawasan Masjid dan
   Makam Sunan Ampel ini. Pola tekstur kota secara diagramatis tersebut dapat
   dilihat pada gambar dibawah ini




                             Gambar 53 : Radial Konsentris



   2. Teori Linkage merupakan elemen penghubung sebuah tempat dengan
      yang lain sebagai penegas hubungan dan dinamika sebuah tata ruang
      perkotaan dimana merupakan garis semu (berupa pedestrian maupun jalur
      jalan). Ada 3 pendekatan yang disebutkan dalam linkage perkotaan, yaitu




                                        50
TEKNIK ARSITEKTUR
ARSITEKTUR KOTA

                                   “ KONDISI EKSISTING KAWASAN AMPEL SURABAYA
                                   MENURUT 3 TEORI PERANCANGAN KOTA DAN RTBL“




           a. Linkage Visual          : mampu menyatukan daerah kota dalam
                                       berbagai skala.
                    Berdasarkan 5 elemen linkage visual yang menghasilkan
             hubungan secara visual terdiri dari garis, koridor, sisi, sumbu, dan
             irama. Perancangan lansekap melibatkan elemen yang berciri khas,
             memiliki bahan, dan bentuk dalam system penghubungnya yang
             dianggap sebagai dekorasi perkotaan secara visual.
                    Apabila disesuaikan dengan kondisi eksisting kawasan Ampel
             Surabaya, maka kawasan ini termasuk pada elemen garis dan
             koridor. Elemen garis disini memiliki definisi menghubungkan
             secara langsung 2 tempat dengan 1 deret massa. Massa disini dapat
             didefinisikan sebagai bangunan maupu pohon yang bersifat massif.
             Elemen garis tersebut, ada di sepanjang koridor Jl. Nyamplungan
             yang ditumbuhi oleh pepohonan di sepanjang jalan ini. Sedangkan
             elemen koridor disini dibentuk oleh 2 deretan massa (bangunan
             atau pohon) yang membentuk sebuah ruang. Elemen koridor
             tersebut, ada di kawasan permukiman Ampel menuju kawasan
             Masjid Ampel dan Makam Sunan Ampel. Dimana, di sisi kanan-
             kiri jalan maupun pedestrian menuju central kawasan religi ini
             terdapat permukiman penduduk yang cukup rapi namun padat.




                       Gambar 54 : Elemen Garis       Gambar 55 : Elemen Koridor


           b. Linkage Struktural      : menjelaskan kondisi struktur sebuah kota.
                    Dalam linkage structural yang baik, pola perkotaan dan massa
             bangunannya berfungsi sebagai stabilisator dan coordinator dalam
             lingkungannya.      Karena    setiap   penghubung    perlu   diberikan



                                          51
TEKNIK ARSITEKTUR
ARSITEKTUR KOTA

                                    “ KONDISI EKSISTING KAWASAN AMPEL SURABAYA
                                    MENURUT 3 TEORI PERANCANGAN KOTA DAN RTBL“




             penyeimbang tertentu dan koordinat tertentu dalam strukturnya.
             Apabila disesuaikan dengan kondisi eksisting kawasan Ampel,
             maka fungsi linkage strukturalnya ialah Masjid dan Makam Sunan
             Ampel merupakan stabilisator dan koordinator kawasan Ampel ini.

           c. Linkage Kolektif.           : menjelaskan hakikat utama penghubung
                                           dalam kota, dengan mempeehatikan upaya
                                           memperjelas keberadaan yang luas.
                    Berdasarkan     elemen       system   bentuk   kolektif,   menurut
             Fumihiko Maki ada 3 tipe bentuk kolektif, antara lain
             compositional        form,     megaform,     dan   groupform.     Apabila
             disesuaikan dengan kawasan Ampel Surabaya, maka kawasan ini
             memakai elemen groupform traditional. Dimana, groupfrom
             muncul dari penambahan akumulasi bentuk dan struktur yang
             biasanya berdiri di samping ruang publik. Tipe ini dikembangkan
             secara organis, baik untuk kawasan kota lama maupun kota baru.
             Namun, di kawasan Ampel tipe ini dikembangkan untuk kota lama
             (tradisional).

   3. Teori Place merupakan sebuah space yang memiliki suatu ciri khas
      tersendiri. Apabila disesuaikan dengan kondisi Ampel yang merupakan
      kawasan religi, maka karena keberadaannya ta lepas dari Masjid dan
      makam sunan Ampel. Ada elemen perkotaan yang kontekstual, antara lain
         a. Tipologi bentuk sebuah tempat tidak selalu sudah jelas, karena bisa
             jadi ada campuran antara sifat yang statis dan dinamis sehingga
             batas tidak selalu jelas. Selanjutnya, tipologi ini dada 2 jenis, yaitu
             tipologi statis dan dinamis. Adapun tipologi statis ialah tidak bisa
             diklasifikasikan dari sudut pandang bidang sosial saja melainkan
             juga memiliki arti melalui bentuknya. Contoh, pada kasus kondisi
             eksisting kawasan Ampel Surabaya ialah Masjid dan Makam Sunan
             Ampel. Sedangkan tipologi dinamis memiliki kaitan tersendiri
             antara bentuk dan fungsinya, sehingga bisa disebut ‘jalan’



                                            52
TEKNIK ARSITEKTUR
ARSITEKTUR KOTA

                                   “ KONDISI EKSISTING KAWASAN AMPEL SURABAYA
                                   MENURUT 3 TEORI PERANCANGAN KOTA DAN RTBL“




             sekaligus (elemen dan isntitusi perkotaan). Contoh, pada kasus
             kondisi eksisting kawaan Ampel Surabaya ialah pada kawasan
             Ampel keseluruhannya.




                  Gambar 56 : place dinamis


                                                           Gambar 57 : place statis
         b. Skala disini mempengaruhi kesan teradap konteks tepat tersebut,
             karena merupakan hubungan antara lebar/panjang dan tinggi ruang
             dari sebuah tempat yang bersifat agak umum pada orang yang
             bergerak di dalamnya. Apabila dilihat pada kondisi kawasan Ampel
             Surabaya, maka skala pada kawasan ini agak sempit. Karena
             perbandingannya lebih tinggi massanya daripada lebar jalan. Dapat
             dilihat pada gambar di bawah ini




                            Gambar 58 : Skala yang kesannya agak sempit


         c. Morfologi merupakan konteks tempat ke dalam lingkungan yang
             lebih besar, dimana penting bagi suasana didalam konteks tempat
                                                        Gambar 57 : place statis
             tertentu dengan tempat yang lain. Apabila dihubungkan dengan
             konidsi eksisting kawasan Ampel Surabaya, maka morfologi




                                         53
TEKNIK ARSITEKTUR
ARSITEKTUR KOTA

                                “ KONDISI EKSISTING KAWASAN AMPEL SURABAYA
                                MENURUT 3 TEORI PERANCANGAN KOTA DAN RTBL“




             kawasan ini ialah berulang-ulang. Gambar hubungan massa dan
             ruang secara morfologisnya dapat dilihat pada gambar di bawah ini




                                 Gambar 59 : Berulang-ulang



      d. Identitas merupakan ciri khas suatu tempat, roh dari tempat tersebut,
         bahan atau material tempat tersebut, dan pola gambaran dari tempat
         tersebut. Identitas suatu kota yang tidak hanya kebetulan terjadi
         melainkan melalui pencapaian hierarji-hierarki tertentu yang beraturan
         dan berulang dalam banyak aspek pendukungnya. Dengan demikian
         jelas begitu penting memperhatikan elemen-elemen dalam skala mikro
         missal rupa bangunan atau lemen pembentuk wajah lain dalam
         tampilan bangunan. Apabila disesuaikan dengan kondisi eksisting
         kawasan Ampel, maka kawasan ini merupakan kawasan tradisional
         (kuno) religi yang diperkuat oleh keberadaan Masjid dan Makan Sunan
         Ampel. Seperti telah dijelasan sebelumnya bahwa bangunan-bangunan
         dikawasan ini merupakan asimilatif dari kebudayaan Majapahit dan
         Tiongkok.


2.3 TINJAUAN KAWASAN AMPEL TERHADAP RTBL
2.3.1 TINJAUAN UMUM
2.3.1.1 Sasaran Pengembangan Kawasan Ampel
Sasaran-sasaran umum pengembangan Kawasan Ampel sebagai berikut :
       1. Terciptanya daya dukung kawasan yang memadai untuk tumbuhnya
          kegiatan penduduk
       2. Terbentuknya sumber daya manusia yang berkualitas



                                     54
TEKNIK ARSITEKTUR
ARSITEKTUR KOTA

                                   “ KONDISI EKSISTING KAWASAN AMPEL SURABAYA
                                   MENURUT 3 TEORI PERANCANGAN KOTA DAN RTBL“




       3. Meningkatnya kesejahteraan penduduk
       4. Pemberdayaan urban heritage sebagai wisata budaya
       5. Terintegrasinya kegiatan wisata dengan perdagangan
       6. Terspesialisasinya kegiatan perdagangan
       7. Terciptanya sistem kelembagaan yang efektif dan efisien
2.3.1.2 Strategi Umum Pengembangan Kawasan Ampel
Strategi pengembangan Kawasan Ampel adalah sebagai berikut :
    1. Strategi mengoptimalkan daya dukung Kawasan Ampel. Strategi ini
      dapat diupayakan melalui :
          Peningkatan kualitas lingkungan, terkait dengan sekor Fasilitas
          Penyediaan Prasarana dan sarana yang memadai, terkait dengan sektor
          Utilitas
          Pengaturan kepadatan bangunan, terkait dengan sektor Pemanfaatan
          Ruang
          Penjaringan usulan dari masyarakat sekitar untuk identifikasi
          kebutuhan dan tuntutan yang dapat diakomodasi.




    2. Strategi memberdayakan Urban Heritage. Strategi ini dapat diupayakan
      dengan cara :
          Penetapan kawasan konservasi sebagai kawasan wisata budaya
          dengan menggunakan produk hukum, terkait sektor Pemanfaatan
          Ruang
          Pemeliharaan dan restorasi bangunan yang merupakan urban heritage,
          terkait sektor Pemanfaatan Ruang
          Penentuan fungsi urban heritage menjadi multi fungsi, terkait sektor
          Pemanfaatan Ruang.
    3. Strategi meningkatkan dan spesifikasi perdagangan. Strategi ini dapat
      diupayakan melalui :
          Pengintegrasian akses antar zona dalam kawasan, terkait sektor
          Transportasi.


                                       55
TEKNIK ARSITEKTUR
ARSITEKTUR KOTA

                                   “ KONDISI EKSISTING KAWASAN AMPEL SURABAYA
                                   MENURUT 3 TEORI PERANCANGAN KOTA DAN RTBL“




           Penzonaan kawasan sehingga terjadi kesinambungan, terkait sektor
           Pemanfaatan Ruang.
           Pengintegrasian prasarana dan sarana wisata budaya dengan
           perdagangan, terkait sektor, Fasilitas serta Utilitas.
           Pengklasteran zona perdagangan, terkait sektor Pemanfaatan Ruang
           Peningkatan daya tarik perdagangan, terkait sektor ekonomi.
    4. Strategi kemudahan regulasi dan birokrasi
           Restrukturisasi sistem pemerintahan Kawasan Ampel agar dapat
           menyerap potensi lokal secara optimal, terkait sektor Sosial Ekonomi
           Pengadaan       kebijakan-kebijakan       yang     mampu      mendorong
           terlaksananya    pembangunan       yang     baik    dan    sehat   dengan
           mengoptimalkan kinerja sistem.
           Pengupayaan untuk membentuk institusi berbasis lokal sebagai wadah
           organisasi masyarakat lokal dalam mebicarakan pengembangan
           maupun permasalahan yang mereka hadapi, terkait dengan sektor
           Kependudukan.




2.3.1.3 Rencana Struktur Kawasan Ampel
       Secara struktural pola peruntukan lahan pada kawasan Ampel berjenis
multiple nuclei, yaitu suatu pola peruntukan lahan yang terdiri atas pusat-pusat
pelayanan yang jumlahnya lebih dari satu. Dengan demikian tiap pusat pelayanan
mempunyai jangkauan pelayanannya sendiri. Namun demikian pusat-pusat
pelayanan tersebut tidaklah memiliki hirarki yang sama. Pusat pelayanan yang
termasuk kategori pusat kawasan biasanya memiliki hirarki yang lebih tinggi,
sedangkan pusat pelayanan yang lainnya memiliki hirarki yang lebih rendah.
Pusat-pusat pelayanan yang lebih rendah ditempatkan pada lokasi-lokasi
pengembangan kawasan yang ditujukan untuk memacu perkembangan kawasan
kearah yang dikehendaki. Pola ini tampaknya sesuai dengan perkembangan
kawasan Ampel.




                                         56
TEKNIK ARSITEKTUR
ARSITEKTUR KOTA

                                    “ KONDISI EKSISTING KAWASAN AMPEL SURABAYA
                                    MENURUT 3 TEORI PERANCANGAN KOTA DAN RTBL“




          Kawasan Perencanaan Ampel mempunyai 2 pusat struktur kota yang
direncanakan berdasarkan karakteristik wilayah. Dua pusat struktur tersebut,
yaitu:
 1) Koridor Kembang Jepun
               Pengembangan      koridor        Kembang   Jepun   diarahkan   pada
         pemeliharaan dan peremajaan bangunan urban heritage. Kawasan ini
         direncanakan mempunyai dua fungsi atau multifungsi yaitu bangunan urban
         heritage yang berfungsi sebagai kawasan perdagangan.
               Koridor Kembang Jepun merupakan titik pusat view urban heritage
         yang berbasis perdagangan. Koridor ini didukung oleh kawasan sekitarnya
         yang juga merupakan kawasan urban heritage.
 2) Kawasan Religi Ampel
                Salah satu icon dari kawasan perencanaan Ampel adalah Kawasan
         Religi Ampel, tempat wisata religi yang banyak dikunjungi wisatawan
         domestik. Kawasan Religi Ampel berpotensi untuk dijadikan pusat
         pengembangan kawasan wisata dan perdagangan. Melalui wisata religi
         ampel ini direncanakan kegiatan perdagangan terutama perlengkapan
         muslim dan jajanan khas ampel bisa menjadi ciri khas Ampel sekaligus
         mendorong pertumbuhan kegiatan perekonomian penduduk Ampel.




                                           57
TEKNIK ARSITEKTUR
ARSITEKTUR KOTA

                    “ KONDISI EKSISTING KAWASAN AMPEL SURABAYA
                             MENURUT 3 TEORI PERANCANGAN KOTA“




                                                                 Gambar 61 : Rencana Struktur Kawasan Ampel




                       58
TEKNIK ARSITEKTUR
ARSITEKTUR KOTA

                                   “ KONDISI EKSISTING KAWASAN AMPEL SURABAYA
                                   MENURUT 3 TEORI PERANCANGAN KOTA DAN RTBL“




2.3.1.4 Koefisien Dasar Bangunan
       Koefisien dasar bangunan merupakan angka perbandingan antara luas
dasar bangunan dengan luas lahan dimana bangunan yang bersangkutan dibangun.
Besarnya koefisien dasar bangunan ditentukan oleh beberapa faktor antara lain
kepadatan penduduk, ketersediaan lahan, peruntukan lahan, jenis penggunaan
bangunan dan beberapa faktor lainnya. Berdasarkan faktor-faktor diatas, koefisien
dasar bangunan pada Kawasan Ampel diatur sebagai berikut:
  • Permukiman         informal   kepadatan   rendah   dan   sedang    diarahkan
     memanfaatkan lahan dengan koefisien dasar bangunan 60 - 80 %
  • Permukiman informal kepadatan tinggi diarahkan memanfaatkan lahan
     dengan koefisien dasar bangunan 80 %
  • Kawasan Perdagangan dan Jasa ditetapkan 60%. Seiring dengan kebutuhan
     lahan pada saat ini banyak sekali bangunan-bangunan yang melanggar
     ketentuan tersebut, sehingga perlu diambil suatu kebijakan yakni dengan
     meningkatkan biaya perijinan. (lihat pada gambar        62 : Peta Rencana
     Pembatasan KDB)


2.3.1.5 Koefisien Lantai Bangunan
       Koefisien lantai bangunan merupakan angka perbandingan antara luas
seluruh lantai bangunan dengan luas lahan atau luas kapling dimana bangunan
tersebut berada. Konsep koefisien lantai bangunan memiliki kaitan dengan
koefisien dasar bangunan dan ketinggian bangunan, yang terkait pula dengan:
  • Pertimbangan terhadap pencahayaan dan ventilasi alami sebagai salah satu
     upaya menciptakan lingkungan yang sehat dan nyaman.
  • Pembentukan skyline bangunan yang harmonis dan sekuential.
  • Pembentukan landmark sebagai pembentuk identitas dan titik orientasi
     terhadap lingkungannya.
  • Pembentukan karakter yang berbeda antara berbagai kegiatan fungsional
     yang berlainan.




                                        59
TEKNIK ARSITEKTUR
ARSITEKTUR KOTA

                                  “ KONDISI EKSISTING KAWASAN AMPEL SURABAYA
                                  MENURUT 3 TEORI PERANCANGAN KOTA DAN RTBL“




  • Pembentukan ruang dan jarak yang mempunyai skala harmonis antara
     bangunan dengan ruang luarnya, agar tercipta komposisi ruang yang masih
     berskala manusia.


      Berdasarkan pertimbangan diatas maka, koefisien lantai bangunan pada
Kawasan Ampel diatur sebagai berikut:
  • Untuk bangunan komersil, arahan koefisien lantai bangunan antara 2 – 4
     lantai sesuai tingkat kebutuhan dan peruntukan bangunan.
  • Untuk bangunan lainnya, koefisien lantai bangunan disesuaikan dengan
     kebutuhan dan fungsi kegiatan di dalamnya. Bangunan lain yang dimaksud
     adalah bangunan hunian dan fasilitas penunjangnya. Arahan koefisien untuk
     bangunan ini antara 1 – 2 lantai.


      Berdasarkan faktor-faktor diatas, maka koefisien lantai bangunan pada
wilayah Kawasan Ampel adalah sebagai berikut:
  • Bangunan-bangunan permukiman kampung dengan kepadatan tinggi dan
     nilai koefisien dasar bangunan 80 % untuk 1 – 2 lantai maka nilai koefisien
     lantai bangunannya adalah 80 – 160 %
  • Permukiman dengan kepadatan rendah dan sedang yang mempunyai nilai
     koefisien dasar bangunan 60 – 80 % dengan jumlah lantai bangunan antara 1
     – 2 lantai maka nilai koefisien lantai bangunannya sebesar 60 – 160 %.
  • Bangunan-bangunan perniagaan dan jasa yang mempunyai nilai koefisien
     dasar bangunan 60% dengan jumlah lantai bangunan 2 – 6 lantai maka nilai
     koefisien lantai bangunannya sebesar 120 – 360 %. (Lihat pada gambar 63 :
     Peta Rencana Pembatasan KLB)




                                         60
TEKNIK ARSITEKTUR
ARSITEKTUR KOTA

                    “ KONDISI EKSISTING KAWASAN AMPEL SURABAYA
                    MENURUT 3 TEORI PERANCANGAN KOTA DAN RTBL“




                                                                 Gambar 62 : Peta Rencana Pembatasan KDB




                        61
TEKNIK ARSITEKTUR
ARSITEKTUR KOTA

                    “ KONDISI EKSISTING KAWASAN AMPEL SURABAYA
                    MENURUT 3 TEORI PERANCANGAN KOTA DAN RTBL“




                                                            Gambar 63 : Peta Rencana Pembatasan KLB




                        62
TEKNIK ARSITEKTUR
ARSITEKTUR KOTA

                                    “ KONDISI EKSISTING KAWASAN AMPEL SURABAYA
                                    MENURUT 3 TEORI PERANCANGAN KOTA DAN RTBL“




2.3.1.6 Garis Sempadan Bangunan
         Garis sempadan bangunan adalah jarak antara batas luar daerah milik jalan
(Damija) dengan dinding luar bangunan persil. Penetapan garis sempadan
bangunan di wilayah perencanaan, juga mempertimbangkan fungsi jaringan jalan,
fungsi kegiatan dan arahan dari Pelayanan Umum Dinas Tata Kota Surabaya.
Pengaturan garis sempadan bangunan pada kawasan Ampel diarahkan sebagai
berikut:
   • Untuk daerah terbangun yang sudah teratur dan berkondisi permanen namun
        tidak memenuhi syarat GSB, maka penerapan garis sempadan tersebut
        dilakukan pada saat bangunan-bangunan tersebut melakukan perombakan,
        rehabilitasi atau renovasi atau pada keadaan-keadaan khusus saat dilakukan
        proyek pelebaran jalan.
   • Untuk daerah terbangun yang kurang atau tidak teratur dan berkondisi
        bangunan sedang atau buruk, maka penerapan GSB dilaksanakan pada saat
        diselenggarakan program peremajaan atau rehabilitasi lingkungannya.
   • Untuk daerah yang masih kosong, penerapan GSB ditetapkan sedini
        mungkin dengan menggunakan persyaratan mendirikan bangunan atau
        mencantumkan di dalam IMB.
   • Untuk lokasi blok atau super blok, penerapan GSB harus disesuaikan
        dengan ketinggian gedung yang akan dibangun dan dengan jarak jalan di
        depan lokasi, sehingga apabila gedung tersebut lebih dari 15 lantai, maka
        garis sempadannya harus mundur dari garis sempadan yang telah
        ditentukan. Komposisi ini digunakan untuk menghindari jarak pandang yang
        kurang menguntungkan.


2.3.2    TINJAUAN KHUSUS
         Berdasarkan fakta dan analisa, dapat diketahui bahwa permasalahan
kawasan perencanaan Ampel adalah kurangnya daya dukung kawasan terhadap
fungsi dari kawasan tersebut, menurunnya fungsi kawasan Ampel, belum
optimalnya wisata religi, laju pertumbuhan penduduk yang semakin meningkat
serta buruknya kondisi bangunan bersejarah. Potensi dari Kawasan Ampel adalah


                                        63
TEKNIK ARSITEKTUR
ARSITEKTUR KOTA

                                  “ KONDISI EKSISTING KAWASAN AMPEL SURABAYA
                                  MENURUT 3 TEORI PERANCANGAN KOTA DAN RTBL“




posisinya yang strategis dekat dengan pelabuhan, punya nilai sejarah yang tinggi,
komoditas perdagangannya juga beragam, adanya wisata religi, merupakan
mantan pusat perdagangan di Surabaya, banyaknya jumlah penduduk yang berusia
produktif, serta beragamnya etnis yang mendiami kawasan Ampel. Menurunnya
fungsi utama kawasan Ampel, ledakan jumlah penduduk, sarana dan prasarana
yang belum memadai dan belum optimalnya sejumlah tempat wisata yaitu wisata
religi dan budaya Ampel, mendorong untuk melakukan tindakan-tindakan
perencanaan yang dapat meningkatkan dan memperbaiki fungsi dan keadaan
kawasan Ampel saat ini.
       Perkembangan suatu wilayah atau kawasan tidak hanya ditentukan oleh
faktor internal tetapi juga kondisi eksternal. Kawasan Ampel secara ekonomi
memilki potensi yang besar dengan didukung letak geografisnya yang strategis,
juga dipengaruhi oleh kondisi Surabaya dan kondisi global. Secara umum,
rencana tata kota ini mempunyai beberapa asumsi sebagai berikut :
1. Pemberlakuan otonomi daerah yang merangsang proses pembangunan
  daerah
          Pemberlakuan Undang-undang No.22 Tahun 1999 tentang Otonomi
  Daerah menjadi tanda bagi pemberlakuan era baru bagi pemerintahan di
  Indonesia. Dengan diberlakukannya otonomi daerah, pemerintah dapat
  memiliki inisiatif yang lebih kuat untuk menentukan, mendesain dan
  mengembangkan wilayahnya.
          Pemanfaatan potensi ini membutuhkan keserasian antara kebutuhan
  dengan sumber daya manusia. Kawasan Ampel dengan kondisi sumber daya
  manusia yang tergolong sedang hingga tinggi dapat menjadi modal dalam
  pelaksanaan pemasaran kota. Namun kondisi sumber daya manusia yang
  demikian tidak didukung dengan kesejahteraan hidup, sehingga perlu adanya
  peningkatan kesejahteraan hidup masyarakat lokal khususnya.




                                       64
TEKNIK ARSITEKTUR
ARSITEKTUR KOTA

                                 “ KONDISI EKSISTING KAWASAN AMPEL SURABAYA
                                 MENURUT 3 TEORI PERANCANGAN KOTA DAN RTBL“




2. Adanya rencana revitalisasi Sungai Kali Mas
         Selain adanya asumsi pemberlakuan otonomi daerah, pengembangan
  Kawasan       Ampel   juga   memperhatikan     adanya   kebijakan     rencana
  pengembangan kawasan yaitu rencana revitalisasi Sungai Kali Mas dengan
  konsep waterfront city.
         Dampak positif dari adanya rencana tersebut adalah dapat mendukung
  konsep pengembangan Kawasan Ampel. Sedangkan dampak negatif dari
  adanya rencana tersebut adalah apabila rencana tersebut tidak terintegrasi
  dengan konsep pengembangan Kawasan Ampel yang malah dapat merusak
  konsep tata kota yang sudah ada.


3. Sistem kelembagaan yang baik untuk mendukung pelaksanaan otonomi
  daerah
         Pelaksanaan otonomi daerah membutuhkan suatu sistem kelembagaan
  yang baik sehingga pada saat pelaksanaannya tidak terjadi penyimpangan-
  penyimpangan. Sistem kelembagaan ini menjadi kunci bagi keberhasilan
  pelaksanaan konsep pengembangan Kawasan Ampel.
         Konsep     pengembangan     Kawasan     Ampel    ini   harus     dapat
  mengembangkan seluruh potensi kawasan dengan pelaku-pelaku pembangunan
  dengan diwadahi sistem kelembagaan. Sistem kelembagaan ini juga dapat
  diartikan sebagai salah satu kemampuan Kawasan Ampel dalam menggali
  sumber-sumber pendanaan pembangunan, sehingga pembangunan dapat
  terlaksana.


4. Letak geografisnya yang strategis dekat dengan pelabuhan Tanjung Perak
         Asumsi ini merupakan faktor eksternal dari konsep pengembangan
  Kawasan Ampel. Letak geografis yang strategis dekat dengan pelabuhan
  Tanjung Perak menguntungkan dari segi perdagangan dan pergudangan serta
  industri. Selain itu, kondisi ini juga menguntungkan dari segi aksesibilitas
  menuju Kawasan Ampel.




                                     65
TEKNIK ARSITEKTUR
ARSITEKTUR KOTA

                                “ KONDISI EKSISTING KAWASAN AMPEL SURABAYA
                                MENURUT 3 TEORI PERANCANGAN KOTA DAN RTBL“




         Keuntungan ini dapat menjadi salah satu daya dukung kawasan dalam
  pelaksanaan konsep pengembangan Kawasan Ampel. Namun, perlu dikaji
  lebih lanjut apakah daya dukung ini telah memadai atau belum. Apabila belum
  memadai perlu ada tindakan untuk mengoptimalkannya.


5. Adanya rencana revitalisasi Kawasan Masjid Ampel
         Pemerintah Kota Surabaya memiliki rencana terhadap kawasan Masjid
  Ampel yang bernama rencana Revitalisasi Kawasan Religi Masjid Ampel.
  Rencana tersebut mendukung konsep pengembangan kawasan Ampel. Masjid
  Ampel merupakan salah satu daya tarik kawasan sebagai kawasan wisata
  budaya. Dengan demikian diharapkan mampu menarik investor untuk
  menanamkan investasi pada kawasan ini serta mampu menarik pergerakan
  menuju ke kawasan ini.
         Keuntungan tersebut masih harus diintegrasikan dengan kegiatan lain di
  dalam kawasan perencanaan, yaitu kegiatan perdagangan. Diharapkan wisata
  budaya yang memiliki nilai religi dan perdagangan di kawasan perencanaan
  mampu memberi hubungan timbal balik yang menguntungkan antara
  keduanya.

2.3.2.1 Rencana Penggunaan Lahan
      Rencana tata guna lahan merupakan rencana pemanfaatan lahan yang
diperoleh dari analisa penggunaan lahan (land use) serta potensi dan
permasalahan dari penggunaan lahan di kawasan Ampel (Lihat pada gambar 64 :
Land Use)




                                     66
TEKNIK ARSITEKTUR
ARSITEKTUR KOTA

                                  “ KONDISI EKSISTING KAWASAN AMPEL SURABAYA
                                  MENURUT 3 TEORI PERANCANGAN KOTA DAN RTBL“




                            Gambar 64 : Land Use


   Menetapkan kawasan konservasi sebagai kawasan wisata budaya
          Kawasan    konservasi    merupakan    kawasan     yang   memperoleh
   perlindungan khusus. Adanya lahan konservasi secara efektif mampu
   menggambarkan brand image kawasan wisata budaya di kawasan
   perencanaan. Hal ini dilakukan dengan menetapkan kawasan konservasi
   sebagai mix use area yaitu sebagai kawasan konservasi sekaligus kawasan
   wisata budaya melalui produk tata ruang terkait. Kawasan yang akan
   ditetapkan sebagai kawasan konservasi dengan peruntukan sebagai mix use
   area adalah koridor Kembang Jepun dan Kawasan Wisata religi Masjid
   Ampel.


   Menata kawasan perdagangan dan jasa untuk meningkatkan daya tarik
   kawasan sebagai sektor andalan
          Pada kawasan perencanaan perlu adanya penertiban pedagang di pasar
   tradisional. Hal ini dilakukan agar aktivitas bongkar muat dan jual beli pada
   pasar-pasar tersebut tidak menghambat sirkulasi.




                                      67
TEKNIK ARSITEKTUR
ARSITEKTUR KOTA

                                “ KONDISI EKSISTING KAWASAN AMPEL SURABAYA
                                MENURUT 3 TEORI PERANCANGAN KOTA DAN RTBL“




   Menambah dan mengoptimalkan RTH sebagai penunjang konsep
   liveability
            Sebagai salah satu upaya revitalisasi Kali Mas perlu adanya
   penambahan RTH di sepanjang bantaran Kali Mas, selain itu di Kali Pegirian
   juga dapat diadaptasikan aktivita yang sama dengan pengoptimalan taman-
   taman.    Selain itu, penambahan RTH dapat berupa taman kecil dengan
   memanfaatkan pulau jalan pertemuan Jl. KH. Mas Mansyur dengan Jl.
   Nyamplungan serta bundaran di Jl. Hang Tuah. Selain konsep di atas, untuk
   menambah RTH dengan memanfaatkan ruang vertikal pada kawasan
   perencanaan akan diterapkan konsep roof garden pada semua bangunan
   dengan KLB dua atau lebih


   Menyediakan ruang khusus dengan peruntukkan sebagai lahan parkir
            Penetapan ruang khusus dengan peruntukkan sebagai lahan parkir
   dimasukkan dalam produk tata ruang terkait. Spot yang ditetapkan sebagai
   ruang khusus dengan peruntukkan sebagai lahan parkir dengan sistem parkir
   terpadu adalah pada ruas jalan Nyamplungan, Jalan Kembang Jepun Timur
   dan Barat serta Jalan Kalimati (Lihat pada gambar 65 : Lokasi Parkir Terpadu
   Ampel).




                                     68
TEKNIK ARSITEKTUR
ARSITEKTUR KOTA

                    “ KONDISI EKSISTING KAWASAN AMPEL SURABAYA
                    MENURUT 3 TEORI PERANCANGAN KOTA DAN RTBL“




                                                            Gambar 65 : Lokasi Parkir Terpadu Ampel




                        69
TEKNIK ARSITEKTUR

								
To top