Your Federal Quarterly Tax Payments are due April 15th Get Help Now >>

Pembelajaran Fisika Berbasis E-Learning by tahang

VIEWS: 753 PAGES: 10

									                                                                                         1


             PEBELAJARAN FISIKA BERBASIS E-LEARNING
                   SMA/MAN DI KOTA KENDARI
                         Oleh : La Tahang*

Abstrak: Masalah: (1) Bagaimana Mengembangan E-Learning yang Memenuhi Standar
dalam Pembelajaran?, (2) Apakah pembelajaran berbasis E-Learning dapat meningkatkan
hasil belajar fisika siswa SMA/MAN di Kota Kendari? (3) Bagaimana ketersediaan faktor
pendukung pembelajaran berbasis E-Learning di SMA/MAN di Kota Kendari?, (4)
Bagaimana sumber daya manusia dari pengajar fisika di SMA/MAN di Kota Kendari?
Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan program pembelajaran Fisika berbasis E-
Learning sebagai salah satu solusi untuk meningkatkan hasil belajar fisika di SMA/MAN
Kota Kendari. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan, bahwa: (1) E-Learning menjadi
salah satu solusi karena dapat meningkatkan gairah belajar, motivasi belajar, dan
kreativitas siswa dalam belajar, hal ini ditunjukkan dari hasil penelitian bahwa 1. Dari 20
responden (guru dan dosen fisika) mengemukakan bahwa Software yang dikembangkan
sebaiknya menyajikan informasi/paparan tentang: (a) Tujuan/Kompetensi yang ingin
dicapai (85.3%); (b) Paparan materi secara rinci (80.7%); (c) Tugas dan latihan-latihan
yang harus dilakukan (75.6%); (d) Soal-soal tes yang harus dikerjakan (50.1%); (e)
Umpan balik dari tugas/latihan dan tes (70%); (f) Sumber bacaan sebagai pelengkap
(79.4%); (g) Program, website atau situs yang bisa di-link (72.1%). (h) Paparan disajikan
dalam bahasa yang lugas/populer (65%); (i) Bahasa yang digunakan dalam paparan e-
learning sebaiknya singkat dan jelas (82.9%); (j) Sajian program dipilah-pilah
berdasarkan tujuan/kompetensi yang diharapkan (79.3%); (k) Paparan Materi,
tugas/latihan dan tes dipilah-pilah sesuai dengan tujuan/kompetensi yang diharapkan
(79.7%); (l) Paparan materi disajikan dan diikuti oleh kegiatan praktek, tugas/latihan dan
tes (75.4%); (m) Sajian materi disekaliguskan, demikian pula dengan tugas/ latihan dan
tes (65.7%); (m) Untuk paparan materi, huruf yang digunakan sederhana/jelas daripada
huruf yang bernuans seni/ribet (64.7%); (n) Warna yang digunakan dalam sajian program
cenderung lebih disukai warna yang kalem/ cold daripada yang ngejreng/spotlight
(44.9%); (o) E-learning yang dikembangkan perlu dilengkapi dengan unsur-unsur yang
gambar/picture yang menarik dan membangkitkan motivasi (70.7%); (p) Untuk
Judul/headline,huruf yang digunakan sederhana/jelas daripada huruf yang bernuansa
seni/ribet (70.7%); (q) Petunjuk/ tanda-tanda/ icon harus jelas dan berlaku umum
(79.3%); (r) Penggunaan gambar/ilsutrasi harus seimbang, tidak lebih banyak dibanding
tulisan (60%); (s) E-learning harus dapat menyajikan informasi tentang ketercapaian
tujuan/ komptensi yang diraih diperoleh pengguna (82.9%); (s) Diperlukan umpan balik
bagi pengguna tentang apa yang telah dilakukan/dikerjakannya (61.4%); (t) E-learning
sebaiknya dikembangkan dengan model yang mudah dipahami (42.9%). (2) E-Learning
dapat meningkatkan hasil belajar fisika siswa SMA/MAN Kota Kendari, ini ditunjukkan
dari 3 sekolah (2 SMA dan 1 MAN) hasilnya meningkat dari rata-rata 6,51 menjadi 7,65;
(4) Ketersediaan pendukung pembelajaran berbasis E-Learning di Kota Kendari cukup
memadai, ini terlihat dari hasil penelitian bahwa semua SMA/MAN di Kota Kendari
sudah tersedia akses internet dan memiliki perangkat komputer yang cukup. (4) Paktor
suber daya manusia (guru fisika) di Kota Kendari masih kurang, hasil penelitian
menunjukkan bahwa belum semua guru fisika dapat memanfaatkan internet sebagai
metode pembelajaran apalagi membuat persiapan mengajar yang siap di upload di
website baik yang masuh offline ataupun online.

Kata Kunci: Pembelajaran Fisika, Berbasis E-Learning, Kota Kendari
*) Drs. La Tahang, M.Pd, Dosen FKIP Unhalu
                                                                                       2


A. Pendahuluan
         Seiring dengan perkembangan Teknologi Informasi yang semakin pesat,
kebutuhan akan suatu konsep dan mekanisme belajar mengajar berbasis TI menjadi tidak
terelakkan lagi. Konsep yang dikenal dengan sebutan e-Learning ini membawa pengaruh
terjadinya proses transformasi pendidikan konvensional ke bentuk digital, baik secara isi
dan sistemnya. Saat ini konsep e-Learning sudah banyak diterima oleh masyarakat dunia,
terbukti dengan maraknya implementasi e-Learning di lembaga pendidikan maupun
industri.
         Banyak pakar yang menguraikan pengertian e-learning dari berbagai sudut
pandang. E-learning merupakan suatu jenis belajar mengajar yang memungkinkan
tersampaikannya bahan ajar ke siswa dengan menggunakan internet, intranet atau media
jaringan komputer lain (Hartley, 2001), dalam http://hilaludinwahid.com/. E-learning
juga didefinisikan sebagai sistem pendidikan yang menggunakan aplikasi elektronik
untuk mendukung belajar mengajar dengan media internet, jaringan komputer, dan lain-
lain (Learn Frame.Com, 2001) pada situs http://www.aboutus.org/LearnFrame.com
         Istilah e-Learning dapat didefinisikan sebagai sebuah bentuk teknologi informasi
yang diterapkan di bidang pendidikan dalam bentuk sekolah maya. Definisi e-Learning
sendiri sebenarnya sangatlah luas, bahkan sebuah portal yang menyediakan informasi
tentang suatu topik dapat tercakup dalam lingkup e-Learning ini.
         Namun, istilah e-Learning lebih tepat ditujukan sebagai usaha untuk membuat
sebuah transformasi proses belajar mengajar yang ada di sekolah ke dalam bentuk digital
yang dapat dijembatani oleh teknologi Internet.Dalam teknologi e-learning, semua proses
belajar mengajar yang biasa didapatkan di dalam sebuah kelas dilakukan secara live
namun virtual, artinya pada saat yang sama seorang guru mengajar di depan sebuah
computer yang ada di suatu tempat, sedangkan siswa mengikuti pelajaran tersebut dari
computer lain di tempat yang berbeda.
         Dalam hal ini, secara langsung guru dan siswa tidak saling berkomunikasi namun
secara tidak langsung mereka saling berinteraksi pada waktu yang sama. Harus diakui
bahwa fokus e-Learning lebih pada efisiensi proses belajar mengajar, cara pengajaran
maupun materi ajar masih dapat mengacu pada kurikulum nasional. Siswa lebih pasif dan
berposisi sebagai konsumen pengetahuan. Guru sebagai otoritas yang pengetahuannya
didukung oleh sistem perpustakaan dan metoda penyampaian. Konsep Knowledge
Management menurut Onno W Purbo http://bebas.ui.ac.id/v10/onno-ind-2., belajar
mandiri yang berbasis pada kreativitas siswa dan mendorong siswa melakukan analisa
hingga sintesa pengetahuan menghasilkan tulisan, informasi, dan pengetahuan sendiri
menjadi fokus yang lebih mengarah ke masa depan. Siswa tidak lagi dibombardir dengan
dokrin ilmu pengetahuan tetapi lebih dirangsang untuk mengekplorasi pengetahuan dan
menjadi bagian integral proses pemurnian pengetahuan itu sendiri,
         Pada tahap ini, metoda belajar mengajar dan kurikulum nasional perlu mengalami
perombakan lumayan banyak. Terlepas dari adanya konsep yang sangat revolusioner ini
dan perlu diujicobakan piranti yang nantinya digunakan di e-Learning maupun
Knowledge Management tidak berbeda jauh.
         Definisi lain menyimpulkan bahwa e-learning adalah semua yang mencakup
pemanfaatan komputer dalam menunjang peningkatan kualitas pembelajaran, termasuk di
dalam-nya penggunaan mobile technologies seperti PDA dan MP3 players. Penggunaan
teaching materials berbasis web dan hypermedia, multimedia CD-Room atau web sites,
forum diskusi, perangkat lunak kolaboratif, email, computer aided assessment, animasi
pendidikan, simulasi, permainan, perangkat lunak manajemen pembelajaran, dan lain
sebagainya. Juga dapat berupa kombinasi dari penggunaan media yang berbeda (Thomas
Toth, 2003), http://mgmptik.info/
                                                                                            3


         Dalam praktiknya e-learning memerlukan bantuan teknologi. Dalam
perkembangannya komputerlah yang paling populer dipakai sebagai alat bantu
pembelajaran secara elektronik. Karena itu dikenal dengan istilah computer based
learning (CBL) yaitu pembelajaran yang sepenuhnya menggunakan komputer dan
computer assisted learning (CAL) atau pembelajaran yang menggunakan alat bantu
utama komputer. Saat pertama kali komputer mulai diperkenalkan khususnya pada
pembelajaran, maka ia akan menjadi dikenal atau populer di kalangan siswa karena
berbagai variasi teknik mengajar yang bisa dibuat dengan bantuan komputer tersebut.
         Adapun teknologi dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu technology based
learning dan technology based web learning. Technology based learning ini pada
prinsipnya terdiri dari Audio Information Technology, misalnya: radio, audio tape, voice
mail telephone, dan Video Information Technologies, misalnya: video tape, video text,
video messaging. Sedangkan technology based web-learning pada dasarnya adalah Data
Information Technologies, missalnya: bulletin board, internet, e-mail, tele-collaboration.
(Antonius Aditya Hartanto dan Onno W. Purbo) dalam buku E-Learning berbasis PHP
dan MySQL, 2002.
         Pada dasarnya cara pemberian pembelajaran e-learning dapat digolongkan
menjadi dua, yaitu one way communication (komunikasi satu arah) dan two way
communication (komunikasi dua arah). Komunikasi atau interaksi antara guru dan murid
memang sebaiknya melalui sistem dua arah. Dalam e-learning, sistem dua arah ini juga
bisa diklasifikasikan menjadi dua yaitu, dilaksanakan melalui cara langsung
(synchronous) artinya pada saat guru memberikan pelajaran, siswa dapat langsung
mendengarkan dan dilaksanakan melalui cara tidak langsung (a-synchronous) misalnya
pesan dari guru direkam dahulu sebelum digunakan.
         Adapun karakteristik e-learning antara lain yaitu: (1) memanfaatkan jasa teknologi
elektronik yaitu guru dan siswa, sesama siswa atau guru dan sesama guru dapat
berkomunikasi dengan relatif mudah dengan tanpa dibatasi oleh hal-hal yang protokoler;
(2) memanfaatkan keunggulan komputer digital media dan computer networks; (3)
menggunakan bahan ajar bersifat mandiri (self learning materials) disimpan di komputer
sehingga dapat diakses oleh guru dan siswa kapan saja dan di mana saja bila yang
bersangkutan memerlukannya; dan (4) memanfaatkan jadwal pembelajaran, kurikulum,
hasil kemajuan belajar dan hal-hal yang berkaitan dengan administrasi pendidikan dapat
dilihat setiap saat di komputer.
       E-learning tidak terlepas dari jasa internet. Karena teknik pembelajaran yang
tersedia di internet begitu lengkap, maka hal ini akan mempengaruhi tugas guru dalam
proses pembelajaran. Dahulu, proses belajar mengajar didominasi oleh peran guru, karena
itu disebut the era of teacher. Kini proses belajar dan mengajar banyak didominasi oleh
peran guru dan buku (the era of teacher and book) dan pada masa mendatang proses
belajar dan mengajar akan didominasi oleh peran guru, buku, dan teknologi (the era of
teacher, book and technology).
       Dalam era globalisasi seperti sekarang ini, setuju atau tidak, mau atau tidak mau, kita
harus berhubungan dengan teknologi informasi. Hal ini disebabkan karena teknologi
tersebut telah mempengaruhi kehidupan kita sehari-hari. Karena itu, kita sebaiknya tidak
gagap teknologi (Gaptek)
       Banyak hasil penelitian menunjukkan bahwa siapa yang terlambat menguasai
informasi, maka terlambat pulalah memperoleh kesempatan-kesempatan untuk maju.
Informasi sudah merupakan komoditas sebagai layaknya barang ekonomi yang lain.
Peran informasi menjadi kian besar dan nyata dalam du-nia modern seperti sekarang ini.
Hal ini bisa dimengerti karena masyarakat sekarang menuju era masyarakat informasi atau
masyarakat ilmu pengetahuan.
                                                                                       4


       Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga Kependidikan
Nasional, 2008 memberi contoh klasik yang bisa dipakai bahwa kebutuhan informasi
sudah membudaya yaitu melalui pengalaman Bill Gates yang kita kenal sebagai sosok
orang yang mempunyai perusahaan Microsoft Computer. William Henry Gates III atau
yang lebih dikenal dengan sebutan Bill Gates tersebut sebenar-nya kuliah di bidang ilmu
hukum Harvard University. Ia ingin menjadi pengacara karena dengan keahlian sebagai
pengacara tersebut, maka ia bisa mempunyai power untuk membantu masyarakat yang
memerlukan jasa hukum untuk memperoleh kebenaran tentang TIK dalam pembelajaran,
http://www.scribd.com/doc/45120911/18-KODE-03-B8.
       Bill Gates akhirnya menjadi orang yang sangat produktif dan output oriented.
Menurut Robert Heller dalam Soekartawi, 2003, Jurna Teknodik No.12/VII/Oktober
2003, yang menulis buku tentang Prinsip Dasar E-Learning dan Aplikasinya di Indonesia,
dan Bill Gates menyatakan bahwa “Turn your vision into reality”. Itulah sebabnya
program-program yang ada di Microsoft selalu dibuat user friendly. Berkat jasa Bill Gates
inilah maka e-learning berkembang seperti sekarang ini.
       Pemanfaatan e-learning khususnya internet untuk kegiatan pembelajaran saat ini
dikenal tidak hanya di Indonesia ataupun di Asia Tenggara, namun juga di berbagai
penjuru dunia menurut Rahayu Kariadinata, (2007) http://educare.e-fkipunla.net/. Hal ini
karena suatu kebutuhan baik dalam meningkatkan kualitas pembelajaran secara
keseluruhan serta jawaban atas tantangan global sehingga penggunaan e-learning dalam
hal ini tidak bisa dilepaskan dengan peran internet. Internet pada dasarnya adalah
kumpulan informasi yang tersedia di komputer yang bisa diakses karena adanya jaring-an
yang tersedia di komputer tersebut. Oleh karena itu bisa dimengerti bahwa e-learning bisa
dilakukan karena internet. E-learning sering disebut pula dengan nama on-line course
karena aplikasinya memanfaatkan jasa internet.
       Pemanfaatan internet untuk e-learning di sekolah dapat meningkat apabila fasilitas
yang mendukungnya memadai, baik fasilitas yang berupa infra-struktur maupun fasilitas
yang bersifat kebijakan. Karena itu demi kelancaran terapan e-learning dalam proses
belajar mengajar, perlu diantisipasi hambat-an-hambatan yang sering muncul seperti
ketersediaan telepon dan listrik.
       Penggunaan internet untuk pembelajaran sering disebut e-learning. Istilah lain
untuk menamakan penggunaan internet dalam pembelajaran ialah pembelajaran berbasis
jejaring (web-based instruction), belajar on-line (online learning), ruang kelas virtual
(classroom virtual), atau pembelajaran berbasis WWW (WWW based instruction). Semua
istilah tersebut menyiratkan penger-tian bahwa pembelajar terpisah dari pengajar secara
jarak jauh, pembelajar menggunakan teknologi untuk mengakses bahan ajar.
       Pembelajar menggunakan teknologi internet untuk berinteraksi dengan pengajar dan
pembelajar yang lain, dan terdapat bantuan belajar yang disediakan bagi pembelajar.
Cisco, (2001). e-Learning: Combines Communication, Education, Information, and
Training(http://ww.cisco.com/warp/public/10/wwtraining/elearning) mendefinisikan e-
learning sebagai penggunaan internet untuk mengakses bahan ajar, berinteraksi dengan
isi bahan ajar, pengajar dan peserta ajar lainnya, dan mendapatkan bantuan belajar selama
proses pembe-lajaran, untuk dapat memperoleh pengetahuan, mengkonstruksi
pemahaman, dan bertumbuh kembang melalui pengalaman belajar.
       E-learning yang lengkap akan memiliki fasilitas-fasilitas sebagai berikut:
a. E-Lectures. E-Lectures merupakan fasilitas yang menyediakan presentasi mengenai
    konsep atau teknik esensial yang dibutuhkan pebelajar. Presentasi terse-but dapat
    disajikan berupa tampilan teks melalui perangkat lunak untuk presentasi (misalnya
    Powerpoint), atau presentasi multimedia berupa tam-pilan audio, video, animasi, dan
    gambar.
                                                                                        5


b. Discussion Forum. Discussion forum merupakan tempat interaksi antar pebelajar
    dengan pe-ngajar. Pebelajar diharapkan untuk memberikan ini-siasi suatu diskusi dan
    pebelajar yang lain memberikan tanggapan. Pengajar akan meluruskan diskusi
    bilamana jalannya diskusi menyimpang dari tujuan pembelajaran.
c. Ask an expert. Fasilitas Ask an Expert menyediakan para ahli yang terkait dengan
    bahan ajar yang diajarkan. Pembelajar dapat mengakses pakar dalam materi yang
    diajarkan secara online.
d. Mentorship. Fasilitas ini menyediakan pembimbing online mengenai materi yang spe-
    sifik.
e. Local learning facilitator or tutor support. Penyediaan fasilitator lokal atau dosen
    lokal yang dapat memberikan per-emuan tatap muka.
d. Access to network resources. Fasilitas ini berisikan bahan bacaan tambah-an yang
    relevan dengan mata kuliah.
e.Structured group activity. Fasilitas ini berisikan kegiatan kelompok yang terstruktur
    seperti diskusi kelompok kecil, seminar, presentasi kelompok.
f. Informal peer interaction.
   Fasilitas ini menyediakan tempat untuk interaksi antar pebelajar melalui email atau
    chatt-room.
      Prinsip-prinsip belajar yang perlu diterapkan pada rancangan pembelajaran dalam e-
learning adalah sebagai berikut: (1) Dalam rancangan seyogyanya menghindari
pengajaran yang bersifat terlalu menjelaskan (instructivist) untuk hal-hal yang kurang
penting, tetapi memberikan tekanan yang lebih besar pada pendekatan belajar konstruktif.
(2) Pelajar disediakan lingkungan belajar yang dapat memfasilitasi terbentuknya
kelompok belajar sehingga pebelajar dapat memperoleh bantuan belajar melalui jaringan
dalam kelompoknya. (3) Pelajar disediakan kemudahan akses yang lebih besar untuk
menghubungi staf akademik (pengajar) melalui jaringan elektronik. (4) Pelajar disediakan
kemudahan untuk melakukan penilaian diri (self assesment) dan melakukan pemantauan
kemajuan belajarnya. (5) Kemudahan bagi pebelajar untuk memperoleh materi ajar dalam
cara yang efektif dan memanfaatan kekayaan semua sumber belajar yang tersedia dalam
jaringan, yang tidak mungkin diperoleh melalui penyajian di kelas konvensional.
        Upaya membangun e-learning yang berlandaskan pada pemikiran teori belajar yang
lebih bersifat holistik. Kerangka berpikir yang ia ajukan ialah bahwa e-learning merupakan
sistem adaptif yang dibentuk dan diubah melalui interaksi antar komponen dalam sistem
tersebut. Ia mengidentifikasi empat komponen yang membentuk sistem e-learning, yaitu:
(1) peserta didik ialah individu atau sekelompok individu yang bermaksud belajar melalui
bantuan pihak lain; (2) sumber ialah segala sesuatu yang berada di luar peserta didik dari
mana belajar dimungkinkan terjadi, misalnya: buku pegangan, buku teks, film, situs web,
bangunan, awan, mesin, dan sebagainya. (3) konteks ialah lingkungan belajar yang
berubah bilamana diterapkan e-learning; pengaturan pada e-learning akan mengontrol
konteks atau lingkungan belajar tersebut; (4) pengelola belajar, atau yang biasa disebut
pengajar, ialah pihak yang membantu belajar peserta didik, pengajar dapat berbentuk
pengajar da-lam arti tradisional, teman atau kolega, sebaya atau yang lebih tua, atau pro-
gram komputer yang memiliki sistem pakar pengajar.
        Budi Rahardjo, (2003), menilai bahwa pembelajaranberbasis e-learning (internet)
yang ada saat ini kebanyakan masih menerapkan rancangan yang mendasarkan pada
peniruan peran guru pada pembelajaran tradisional. Dalam rancangan e-learning yang ia
kembangkan, peran guru dimodifikasi dengan mendayagu-nakan kombinasi antara
kecerdasan dan pengetahuan kelompok pebelajar yang terlibat dalam e-learning tersebut.
Rancangan tersebut memanfaatkan melim-pahruahnya informasi dalam jaringan internet
serta potensi pebelajar untuk mengorganisasikan belajar secara mandiri. Seperti yang
dinyatakannya “The growth of the internet allows a range of different forms of interaction
                                                                                           6


and means of information retrieval and knowledge sharing not afforded by traditional situated
methods of education". Budi Rahardjo, (2003), selanjutnya, ia menyatakan bahwa e-
learning merupakan lahan penelitian yang subur bilamana mem-perhatikan pendayagunaan
potensi kelompok pebelajar dalam mengorganisasikan sendiri kegiatan belajarnya.

B. Metode Penelitian
        Penelitian ini menggunakan metode penelitian pengembangan (Research and
Development). Seperti dijelaskan Borg & Gall (1989:781) “ Research Educational is a
process used to develop and validate educational products”. Secara konseptual, metode
penelitian dan pengembangan mencakup 10 langkah umum, sebagaimana diuraikan Borg
& Gall (1983:784)
        Langkah-langkah pengembangan yang dilakukan dalam penelitian ini
mengadopsi langkah pengembangan oleh Borg & Gall, sebagai berikut:
a) Research and information collecting; termasuk dalam langkah ini antara lain
   studi literatur yang berkaitan dengan permasalahan yang dikaji, dan persiapan
   untuk merumuskan kerangka kerja penelitian;
b) Planning; termasuk dalam langkah ini merumuskan kecakapan dan keahlian
   yang berkaitan dengan desain dan perancangan e-learning yang dimulai dari
   memilih software yang akan digunakan sesuai dengan permasalahan dan tujuan
   yang akan dicapai pada setiap tahapan.
c) Develop preliminary form of product, yaitu mengembangkan metode
   pembelajaran berbasis e-learning yang diawali dengan penyusunan software
   yang diperlukan dan merancang isi dan langkah-langkah pembelajarannya.
d) Preliminary field testing, yaitu melakukan ujicoba lapangan dalam skala
   terbatas, dengan melibatkan 1 sampai dengan 3 sekolah, dengan jumlah dosen
   dan guru fisika minimal 15-20 orang. Pada langkah ini pengumpulan dan
   analisis data dapat dilakukan dengan cara observasi atau kuesioner.
e) Main product revision, yaitu melakukan perbaikan (jika ada) terhadap produk
   yang dihasilkan berdasarkan hasil ujicoba. Perbaikan ini sangat mungkin
   dilakukan guna memperoleh produk (model) yang siap digunakan lebih luas;
f) Main field testing, Ini dimaksudkan ujicoba utama yang melibatkan pakar
   pendidikan dari dosen yang sesuai bidangnya yaitu pakar IT, pakar Media
   pembelajaran, Pakar materi fisika.
g) Operational product revision, yaitu melakukan perbaikan/penyempurnaan (jika
   ada) terhadap hasil ujicoba lebih luas, sehingga produk yang dikembangkan
   sudah merupakan desain model operasional yang siap divalidasi.
h) Operational field testing, yaitu langkah uji validasi terhadap model operasional
   yang telah dihasilkan diterapkan kepada siswa SMA/MAN di Kota Kendari.
i) Final product revision, yaitu melakukan perbaikan akhir terhadap model yang
   dikembangkan guna menghasilkan produk akhir (final);
j) Dissemination and implementation, yaitu langkah menyebarluaskan
   produk/model yang dikembangkan dapat digunakan secara luas pada tingkat
   SMA/MAN di Kota Kendari.
                                                                                        7


C. Hasil dan Pembahasan
         Dari 20 responden (guru dan dosen fisika) mengemukakan bahwa Software yang
dikembangkan sebaiknya menyajikan informasi/paparan tentang: (a) Tujuan/Kompetensi
yang ingin dicapai (85.3%); (b) Paparan materi secara rinci (80.7%); (c) Tugas dan
latihan-latihan yang harus dilakukan (75.6%); (d) Soal-soal tes yang harus dikerjakan
(50.1%); (e) Umpan balik dari tugas/latihan dan tes (70%); (f) Sumber bacaan sebagai
pelengkap (79.4%); (g) Program, website atau situs yang bisa di-link (72.1%). (h)
Paparan disajikan dalam bahasa yang lugas/populer (65%); (i) Bahasa yang digunakan
dalam paparan e-learning sebaiknya singkat dan jelas (82.9%); (j) Sajian program dipilah-
pilah berdasarkan tujuan/kompetensi yang diharapkan (79.3%); (k) Paparan Materi,
tugas/latihan dan tes dipilah-pilah sesuai dengan tujuan/kompetensi yang diharapkan
(79.7%); (l) Paparan materi disajikan dan diikuti oleh kegiatan praktek, tugas/latihan dan
tes (75.4%); (m) Sajian materi disekaliguskan, demikian pula dengan tugas/ latihan dan
tes (65.7%); (m) Untuk paparan materi, huruf yang digunakan sederhana/jelas daripada
huruf yang bernuans seni/ribet (64.7%); (n) Warna yang digunakan dalam sajian program
cenderung lebih disukai warna yang kalem/ cold daripada yang ngejreng/spotlight
(44.9%); (o) E-learning yang dikembangkan perlu dilengkapi dengan unsur-unsur yang
gambar/picture yang menarik dan membangkitkan motivasi (70.7%); (p) Untuk
Judul/headline,huruf yang digunakan sederhana/jelas daripada huruf yang bernuansa
seni/ribet (70.7%); (q) Petunjuk/ tanda-tanda/ icon harus jelas dan berlaku umum
(79.3%); (r) Penggunaan gambar/ilsutrasi harus seimbang, tidak lebih banyak dibanding
tulisan (60%); (s) E-learning harus dapat menyajikan informasi tentang ketercapaian
tujuan/ komptensi yang diraih diperoleh pengguna (82.9%); (s) Diperlukan umpan balik
bagi pengguna tentang apa yang telah dilakukan/dikerjakannya (61.4%); (t) E-learning
sebaiknya dikembangkan dengan model yang mudah dipahami (42.9%). (2) E-Learning
dapat meningkatkan hasil belajar fisika siswa SMA/MAN Kota Kendari, ini ditunjukkan
dari 3 sekolah (2 SMA dan 1 MAN) hasilnya meningkat dari rata-rata 6,51 menjadi 7,65;
(4) Ketersediaan pendukung pembelajaran berbasis E-Learning di Kota Kendari cukup
memadai, ini terlihat dari hasil penelitian bahwa semua SMA/MAN di Kota Kendari
sudah tersedia akses internet dan memiliki perangkat komputer yang cukup. (4) Paktor
suber daya manusia (guru fisika) di Kota Kendari masih kurang, hasil penelitian
menunjukkan bahwa belum semua guru fisika dapat memanfaatkan internet sebagai
metode pembelajaran apalagi membuat persiapan mengajar yang siap di upload di website
baik yang masuh offline ataupun online.
          Dari hasil di atas dapat dikatakan bahwa secara umum pengembangan metode
pembelajaran berbasis e-learning yang dihasilkan telah memenuhi syarat menjadi
perangkap pembelajara sesuai dengan yang disarankan oleh responden. Hal ini juga
sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Soekartawi (2003) dalam bukunya “Perinsip
Dasar E-learning dan Aplikasinya di Indonesia” Bahwa e-learning harus dikonsep
seperti: infrastruktur e-Learning dapat berupa personal computer (PC), jaringan
komputer, internet dan perlengkapan multimedia. Termasuk didalamnya peralatan
teleconference apabila kita memberikan layanan synchronous learning melalui
teleconference, sistem perangkat lunak yang mem-virtualisasikan dan pembuatan
materi atau konten.
          Selain itu juga terungkap bahwa secara umum faktor pendukung pengembangan
dan pemanfaatan pembelajaran berbasis E-Learning sudah memadai ini terlihat dari
ketersediaan fasilitas teknologi informasi serta dukungan pemerintah dalam hal ini
Diknas Kota Kendari, namun tidak dibarengi dengan kemampuan guru bidang studi fisika
khususnya masih kurang untuk memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi
(TIK). Oleh karena itu diperlukan perhatian guru fisika khususnya dan semua guru
                                                                                         8


SMA/MAN di Kota Kendari pada umumnya serta dukungan kebijakan sekolah untuk
memberi kesempatan kepada guru-guru mengikuti training perancangan dan pemanfaatan
ICT dalam pembelajaran.
         Hal ini dapat dipahami karena masih banyak guru yang memberikan
pembelajaran secara konvensional, yang belum memanfaatkan teknologi informasi
sebagai sarana siswa untuk meningkatkan kualitas pembelajarannya, selain itu juga
kualifikasi guru umumnya masih kualifikasi S1, adapun kualifikasi S2 bukan lagi
bidangnya (fisika).
         Setelah peneliti melakukan presentasi umum bahan pembelajaran fisika berbasis
E-Lening di hadapan guru-guru dan pimpinan SMA/MAN di Kota Kendari, secara
spontan merespon untuk mengajukannya usulan kegiatan pelatihan pembuatan perangkat
pembelajaran berbasis E-Learning di Sekolahnya masing-masin.
         Dari uraian di atas (ketersediaan fasilaitas pendukung dan pandangan guru bidang
studi Fisika) tentang perangkat pembelajaran berbasis E-Learning sangat layak digunakan
untuk pembelajaran. Hal ini sesuai dengan konsep belajar menurut pandangan
konstruktivisme dan Behaviorisme, yakni perilaku individu tidak semata-mata refleks
otomatis atas stimulus (S-R Bond), melainkan juga akibat reaksi yang timbul sebagai
hasil interaksi antara lingkungan dengan skema kognitif individu itu sendiri.
         Hasil yang dikemukakan di atas sesuai harapan dalam pengembangan
infrastruktur ICT pada lingkungan pendidikan di Indonesia yang sudah dimulai sejak
tahun 1995, juga tumbuhnya ICT Center disetiap kabupaten/kota sejak tahun 2000,
namun terlihat semakin pesat sejak tahun 2006 dengan dikembangkannya Jejaring
Baharuddin,( Jardiknas 2007).
         Jejaring pendidikan nasional adalah Wide Area Network (WAN) yang
menghubungkan seluruh kantor dinas pendidikan propinsi, kabupaten/kota, sekolah-
sekolah dan perguruan tinggi. Jejaring ini dibuat untuk memperlancar dan
mengoptimalkan arus komunikasi, data dan informasi antar pelaksana pendidikan,
sehingga data dan informasi menjadi lebih optimal, lancar, transparan, efektif dan efisien.
Secara umum, Jardiknas dapat menjadi 3 zona, yaitu: (1) Zona Kantor Dinas Pendidikan/
Institusi; (2) Zona Perguruan Tinggi; (3) Zona Sekolah.
         Pembelajaran berbasis e-learning dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Oos
M. Anwas, (Jurnal Teknodik, Edisi No.12/VII/Oktober/2003), setidaknya ada tiga
fungsi E-Learning terhadap kegiatan pembelajaran di dalam kelas (classroom
instruction). (1) Suplemen (tambahan). Dikatakan berfungsi sebagai suplemen
apabila peserta didik mempunyai kebebasan memilih, apakah akan memanfaatkan
materi pembelajaran elektronik atau tidak. Dalam hal ini tidak ada keharusan bagi
peserta didik untuk mengakses materi. Sekalipun sifatnya opsional, peserta didik
yang memanfaatkannya tentu akan memiliki tambahan pengetahuan atau
wawasan; (2) Komplemen (pelengkap). Dikatakan berfungsi sebagai komplemen
apabila materi pembelajaran elektronik diprogramkan untuk melengkapi materi
pembelajaran yang diterima peserta didik di dalam kelas. Sebagai komplemen
berarti materi pembelajaran elektronik diprogramkan untuk melengkapi materi
pengayaan atau remedial. Dikatakan sebagai pengayaan (enrichment), apabila
kepada peserta didik yang dapat dengan cepat menguasai/ memahami materi
pelajaran yang disampaikan pada saat tatap muka diberi kesempatan untuk
mengakses materi pembelajaran elektronik yang memang secara khusus
dikembangkan untuk mereka. Tujuannya agar semakin memantapkan tingkat
penguasaan terhadap materi pelajaran yang telah diterima di kelas. Dikatakan
sebagai program remedial, apabila peserta didik yang mengalami kesulitan
                                                                                       9


memahami materi pelajaran pada saat tatap muka diberikan kesempatan untuk
memanfaatkan materi pembelajaran elektronik yang memang secara khusus
dirancang untuk mereka. Tujuannya agar peserta didik semakin mudah memahami
materi pelajaran yang disajikan di kelas; (3) Substitusi (pengganti). Dikatakan
sebagai substitusi apabila E-Learning dilakukan sebagai pengganti kegiatan
belajar, misalnya dengan menggunakan model-model kegiatan pembelajaran. Ada
tiga model yang dapat dipilih, yakni : (1) sepenuhnya secara tatap muka
(konvensional), (2) sebagian secara tatap muka dan sebagian lagi melalui internet,
atau (3) sepenuhnya melalui internet.

D. Kesimpulan
            Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh maka dapat di sisimpulkan sebagai
berikut :

1. Mengembangan pembelajaran berbasis e-learning sesuai standar harus memenuhi
   syarat-syarat; tujuan/Kompetensi, paparan materi secara rinci; rpp yang jelas; sumber
   bacaan sebagai pelengkap; website mudah dilink bahasa yang lugas/popular singkat
   dan jelas, penggunaan warna cenderung lebih kalem/cold, dilengkapi gambar/picture
   animasi; menu/icon bermakna tunggal; dan interaktif
2. Pembelajaran berbasis E-Learning secara signifikan meningkatkan hasil belajar fisika
   siswa SMA/MAN di Kota Kendari dengan taraf signifikansi α = 0.05 .
3. Ketersediaan faktor pendukung pembelajaran berbasis E-Learning di SMA/MAN di
   Kota Kendari telah memadai dengan rata-rata sekolah telah memiliki komputer
   pembelajaran dan dapat diakses internet.
4. Kesiapan guru fisika di SMA/MAN di Kota Kendari pada umumnya belum
   menguasai penggunaan internet sebagai metode pembelajaran dan sangat kuramg
   yang mampu menyediakan materi pelajaran yang siap di upload di website.
                                                                                 10


DAFTAR PUSTAKA
Antonius Aditya Hartanto dan Onno W. Purbo, E-Learning berbasis PHP dan
               MySQL, Penerbit Elex Media Komputindo, Jakarta, 2002.
Baharuddin, 2007. Pedoman Pelatihan Jardiknas, Biro Perencanan dan Kerjasama
                Luar Negeri, Depdiknas,Jakarta, http://balitbangdiklat.kemenag.go.id
Borg, W, & Gall, M., 1989, “Educational Research”, (Fifth edition) Logman New York
                & Londo.
Cisco, (2001). e-Learning: Combines Communication, Education, Information, and
                 Training. http://ww.cisco.com/warp/public/10/wwtraining/elearning.
Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Nasional,
                 2008, Teknologi, Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam
                 Pembelajaran http://www.scribd.com/doc/45120911/18-KODE-03-B8.
Effendi, Empy, SE., MBA, dan Hartono Zhuang, ST., MBA. 2008. e-Learning Konsep
                dan Aplikasi. Yogyakarta: Andi.
Oos M. Anwas, Model Inovasi E-Learning Dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan,
              Jurnal Teknodik, Edisi No.12/VII/Oktober/2003.
Onno W. Purbo, 2000. Knowledge Management. http://bebas.ui.ac.id/v10/onno-ind-2/
Learnframe Inc, 2001. Offers E-learning skills related to software and support
                              Draper      UT     United    States   84020-1409
               http://www.aboutus.org/LearnFrame.com
Rahardja B. 2001. Internet untuk Pendidikan. http://budi.insan.co.id/internet-
             pendidikan.doc.
========= 2003) Proses e-Learning di Perguruan Tinggi, Seminar & Workshop,
             ITB, http://cobian.lib.itb.ac.id/news/197
Rahayu Kariadinata, (2007), Implementasi Model Pembelajaran Berbasis Komputer,
                http://educare.e-fkipunla.net/
Rusman dan Toto Ruhimat, (2004), Pemanfaatan Teknologi Informasi dalam
             Pendidikan. Jurnal Edutech. Vol 3, No 1 Februari 2004. ISSN. 0852-
             1190
Soekartawi, 2003. Perinsip Dasar E-learning dan Aplikasinya di Indonesia, Journal
                Teknokdik Edisi No.12/VII/Oktober/2003
Thomas Toth, 2003, Penggunaan Multimedia dalam Pendidikan, http://mgmptik.info/

								
To top