PENGARUH ANALISIS FUNDAMENTAL TERHADAP RETURN SAHAM BLUE CHIPS DI BURSA EFEK INDONESIA

Document Sample
PENGARUH ANALISIS FUNDAMENTAL TERHADAP RETURN SAHAM BLUE CHIPS DI BURSA EFEK INDONESIA Powered By Docstoc
					BAB IV ANALISIS DAN EVALUSI

A. Analisis Kinerja Fundamental dan Return Saham Blue Chips Berikut ini adalah tabel rata-rata return saham blue chips dan rata-rata variabel fundamental, yaitu: Tabel 4.1 Rata-rata Variabel Fundamental dan Return Saham Blue Chips Tahun 2005 – 2006 Keterangan 2005 2006 RS 32,77 PER 16,69 NPM 20,26 PBV 5,72 ROE 40,98 DER 3,78 DPR 43,58 Sumber: Bursa Efek Indonesia (data diolah, 2009) 2007 119,84 17,25 21,76 9,83 52,61 3,61 91,92

81,86 16,50 16,86 4,14 38,55 3,57 74,62

1. Return Saham (RS) Return saham merupakan hasil yang diperoleh dari investasi dalam suatu periode tertentu yang terdiri dari capital gain (loss) dan dividend yield. Tabel 4.1 menunjukkan bahwa rata-rata return saham blue chips pada 17 perusahaan yang terendah pada tahun 2005 sebesar 32,77. Nilai rata-rata tersebut paling rendah bila dibandingkan pada tahun 2007 sebesar 119,84 dan tahun 2006 sebesar 81,86. Artinya pada tahun 2005, saham blue chips memiliki kemampuan return yang kecil baik dari capital gain (loss) dan dividen yang diberikan tiap-tiap perusahaan pada saham blue

64

65

chips sedangkan pada tahun 2006 dan 2007 saham blue chips memiliki kenaikan return saham dan dividen (lampiran 1).

2. Price Earning Ratio (PER) Price earning ratio adalah rasio price yang dihitung dengan membagi harga saham saat ini dengan earning per share (EPS), EPS sendiri merupakan rasio yang menunjukan berapa besar keuntungan yang diperoleh investor atau pemegang saham per saham. Semakin tinggi nilai EPS tentu saja menggembirakan pemegang saham karena semakin besar laba yang disediakan untuk pemegang saham. PER menggambarkan apresiasi pasar terhadap kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba. Tabel 4.1 menunjukkan bahwa rata-rata PER yang terkecil pada tahun 2006 sebesar 16,50 dan tertinggi pada tahun 2007 sebesar 17,25. Semakin tinggi nilai PER suatu saham maka semakin bagus kinerja perusahaan baik dari manajemen, serta memiliki risiko yang rendah. Artinya saham blue chips pada tahun 2007 memiliki PER yang tinggi dan merupakan saham yang lebih unggul dari tahun 2005 sampai tahun 2006.

3. Net Profit Margin (NPM) Net profit margin adalah rasio profitabilitas yang dihitung dengan membagi keuntungan bersih dengan total penjualan. Rasio ini menunjukan keuntungan bersih dengan total penjualan yang dapat diperoleh dari setiap rupiah penjualan. Tabel 4.1 menunjukkan bahwa rata-rata NPM terendah pada tahun 2006 sebesar 16,86 dan lebih rendah dari tahun 2005 sebesar 20,26 serta rata-

66

rata NPM tertinggi pada tahun 2007 sebesar 21,76. Artinya rasio laba bersih 17 perusahaan yang tercatat pada saham blue chips turun sebesar -0,16 pada tahun 2006 bila dibandingkan pada tahun 2005 dan rasio laba bersih mengalami kenaikan sebesar +0.29 pada tahun 2007. Semakin tinggi nilai NPM suatu saham maka dengan semakin bagus yang kinerja perusahaan bila

membandingkannya

perusahaan

sejenis.

Meningkatnya

pertumbuhan NPM perusahaan pada saham blue chips didorong oleh kenaikan laba bersih beberapa perusahaan (lampiran 3).

4. Price Book Value (PBV) Price book value atau PBV menggambarkan seberapa besar pasar menghargai nilai buku saham suatu perusahaan. Semakin tinggi rasio ini, maka pasar semakin percaya akan prospek perusahaan tersebut. Tabel 4.1 menunjukkan bahwa rata-rata PBV saham blue chips terendah pada tahun 2006 sebesar 4,14 dan lebih rendah dari tahun 2005 sebesar 5,14 serta rata-rata PBV tertinggi pada tahun 2007 sebesar 9,83. Artinya saham blue chips pada tahun 2007 memiliki PBV yang tinggi dan merupakan saham yang lebih unggul dari tahun 2005 sampai tahun 2006.

5. Return on Equity (ROE) Rasio yang merupakan rasio keuangan yang banyak digunakan untuk mengukur kinerja perusahan, khususnya menyangkut profitabilitas perusahan atau mengukur kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba atas modalnya sendiri.

67

Tabel 4.1 secara keseluruhan mengindentifikasikan bahwa ROE saham blue chip yang paling rendah pada tahun 2006 sebesar 38,55 (lebih rendah dari tahun sebelumnya sebesar 40,99) dan yang tertinggi pada tahun 2007 sebesar 52,61. Semakin tinggi Artinya pada tahun 2007 perusahaan-perusahaan yang tercatat dalam saham blue chips memiliki tingkat return yang tertinggi terhadap modal sendirinya (lampiran 5) bila dibandingkan dengan tahun 2005 dan tahun 2007.

6. Debt to Equity Ratio (DER) Debt to equity ratio merupakan perbandingan antara total debt (total utang yang berbunga atau interest-bearing debt, baik jangka panjang maupun jangka pendek) dengan total equity. Rasio ini digunakan untuk mengukur permodalan perusahaan dan secara tidak langsung juga untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajibannya membayar hutang. Tabel 4.1 menunjukkan bahwa rata-rata DER saham blue chips terkecil pada tahun 2006 sebesar 3,57 (lebih kecil dari tahun 2005 sebesar 3,78) dan terbesar pada tahun 2007 sebesar 3,61. Artinya pada tahun 2007 rata-rata perusahaan-perusahan yang tercatat dalam saham blue chips memiliki utang yang lebih besar dari pada yang rata-rata utang tahun 2005 dan 2007. Semakin kecil nilai dari DER maka semakin kecil pula perusahaan menggunakan utang sebagai sumber pembiayaan atau dengan kata lain utang perusahaan sedikit.

68

7. Dividend Payout Ratio (DPR) Rasio pembayaran dividen merupakan rasio yang mengukur

perbandingan dividen terhadap laba perusahan. Tabel 4.1 menunjukkan bahwa rata-rata rasio pembayaran deviden tertinggi pada tahun 2007 sebesar 91,92 kemudian tahun 2006 sebesar 74,62 dan terendah pada tahun 2005 sebesar 43,58. Artinya rata-rata perusahaan saham blue chips memberikan kenaikan dividen tiap tahun (lampiran 8) dan juga rata-rata earning per shares (EPS) perusahaan saham blue chips juga meningkat tiap tahun. Semakin tinggi DPR, maka mengidentifikasikan bahwa perusahaan tersebut memberikan tingkat return (imbal hasil) yang tinggi.

B. Analisis Data Statistik 1. Uji Kelayakan Model a. Uji Normalitas Selebaran Tabel 4.2
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test RS N Normal Parameters(a,b) Mean Std. Deviation Most Extreme Differences Absolute Positive Negative Kolmogorov-Smirnov Z Asymp. Sig. (2-tailed) a Test distribution is Normal. b Calculated from data. 51 78.022 0 114.79 197 .202 .202 -.192 1.440 .132 PER 51 16.814 7 11.273 35 .150 .150 -.149 1.072 .201 NPM 51 19.626 5 12.338 03 .105 .105 -.068 .749 .628 PBV 51 6.5651 10.289 58 .281 .264 -.281 2.007 .089 ROE 51 44.046 7 27.770 99 .158 .158 -.083 1.127 .158 DER 51 3.6535 3.5776 2 .274 .274 -.166 1.958 .151 DPR 51 70.040 2 129.69 234 .375 .375 -.322 2.681 .172

69

Tabel 4.2 menunjukkan bahwa nilai Kolmogorov-Smirnov Test semua variabel adalah lebih besar (>) 0,05 dan nilai signifikan di atas α = 0,05. Keadaan ini memberikan gambaran bahwa seluruh data yang dipergunakan dalam model regresi terdistribusi secara normal.
Normal P-P Plot of Regression Standardized Residual

Dependent Variable: RS

1.0

Expected Cum Prob

0.8

0.6

0.4

0.2

0.0 0.0 0.2 0.4 0.6 0.8 1.0

Observed Cum Prob

Grafik 4.1 Normal P – P Plot (Pengujian Normalitas) Grafik 4.1 menggambarkan sebaran data yang ada menyebar merata dan membentuk garis lurus (linier). Keadaan ini memberikan gambaran bahwa seluruh data yang dipergunakan dalam penelitian ini terdistribusi secara normal. Dengan demikian berdasarkan alat pengujian Kolmogorov-Smirnov Test dan tampilan Normal P-P plot cukup kuat bukti untuk menyatakan bahwa salah satu asumsi klasik statistik yaitu normalitas data yang diperlukan dalam melakukan pengujian regresi sebagai alat analisis dalam statistik parametrik terpenuhi.

70

b. Multikolinieritas Tabel 4. 3 VIF
Collinearity Statistics Model Tolerance 1 (Constant) PER NPM PBV ROE DER DPR a Dependent Variable: RS .658 .440 .186 .323 .675 .288 1.520 2.272 5.366 3.100 1.480 3.472 VIF

Tabel 4.3 menunjukkan bahwa nilai VIF untuk semua predictors adalah bernilai 1,520 untuk Price Earning Ratio, 2,272 untuk Net Profit Margin, 5,366 untuk Price Book Value, 3,100 untuk Return on Equity, 1,480 untuk Debt to Equity Ratio, dan 3,472 untuk Devidend Payout Ratio. Persyaratan untuk dikatakan terbebas dari masalah multikolinieritas adalah apabila nilai VIF tidak melebihi nilai 10 atau berkisar antara angka 1 atau lebih rendah dari 10. Kesimpulannya bahwa model regresi terbebas dari asumsi multikolinieritas.

c. Autokorelasi Tabel 4. 4 Durbin Watson
Model 1 R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Durbin-Watson 2.333

.405(a) .164 .050 111.88856 a Predictors: (Constant), DPR, PER, DER, NPM, ROE, PBV b Dependent Variable: RS

Tabel 4.4 menunjukkan bahwa nilai Durbin-Watson adalah sebesar 2,333. Menurut Cornelius, ( 2004 : 98) untuk mendeteksi ada tidaknya autokorelasi dapat dilakukan pengujian dengan ketentuan sebagai berikut :

71

1. 2.

1,65 < DW < 2,35, kesimpulannya tidak terjadi autokorelasi. 1,21 < DW < 1,65 atau 2,35 < DW < 2,79, kesimpulannya tidak dapat disimpulkan.

3.

DW < 1,21 atau DW > 2,79, kesimpulannya terjadi autokorelasi.

Maka berdasarkan ketentuan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa model regresi terbebas atau tidak terjadi autokorelasi dikarenakan 1,65 < 2,333 < 2,35.

d. Heteroskedastisitas

Scatterplot

Dependent Variable: absut
3

Regression Standardized Residual

2

1

0

-1

-2 -2 0 2 4

Regression Standardized Predicted Value

Gambar 4.1 Scatter plot (Pengujian Homogenitas) Gambar 4.1 Scatter Plot dapat dilihat keadaan data adalah tidak membentuk pola tertentu yang teratur ataupun tidak menumpuk di satu sudut tertentu. Sebaran data terlihat berada di semua arah dan mengisi daerah di atas

72

dan di bawah angka nol secara merata. Hal ini mengindikasikan bahwa model regresi tidak terkena persoalan heteroskedastisitas. Tabel 4.5 Park Gleyser
Model Unstandardized Coefficients B 46.883 -.321 .643 .276 -.163 .963 -.087 Std. Error 29.885 .797 .820 1.452 .390 2.185 .092 Standardized Coefficients Beta -.084 .197 .078 -.119 .081 -.311 t B 1.569 -.403 .784 .190 -.418 .441 -.949 Sig. Std. Error .126 .689 .438 .850 .679 .662 .350

1

(Constant) PER NPM PBV ROE DER DPR

a Dependent Variable: Absut

Tabel 4.5 menunjukkan bahwa nilai sig. t > 0,05 maka model regresi yang digunakan dalam penelitian ini tidak terjadi gejala heteroskedastisitas.

e. Linieritas Tabel 4.6 Pengujian Linieritas RS dan PER
ANOVA Table Sum of Squares ,046 ,024 ,022 ,000 ,047

df 49 1 48 2 51

RS * PER

Between Groups Within Groups Total

(Combined) Linearity Deviation from Linearity

Mean Square ,002 ,024 ,001 ,000

F 25,681 338,161 12,661

Sig. ,038 ,003 ,076

Tabel 4.6 menunjukkan bahwa nilai sig. Deviation from Linierity (0,076) > 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa hubungan antara Return Saham (RS) dengan Price Earning Ratio (PER) adalah linier.

73

Tabel 4.7 Pengujian Linieritas RS dan NPM
ANOVA Table Sum of Squares ,045 ,017 ,028 ,002 ,047 df 50 1 49 1 51 Mean Square ,002 ,017 ,001 ,002 F ,956 9,296 ,622 Sig. ,684 ,202 ,783

RS * NPM

Between Groups Within Groups Total

(Combined) Linearity Deviation from Linearity

Tabel 4.6 menunjukkan bahwa nilai sig. Deviation from Linierity (0,783) > 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa hubungan antara Saham (RS) dengan Net Profit Margin (NPM) adalah linier.

Tabel 4.8 Pengujian Linieritas RS dan PBV
ANOVA Table Sum of Squares ,046 ,005 ,041 ,001 ,047

df 49 1 2 48

RS * PBV Between Groups Within Groups Total

(Combined) Linearity Deviation from Linearity

Mean Square ,002 ,005 ,002 ,000

F 3,940 10,017 3,687

Sig. ,222 ,087 ,235

Tabel 4.6 menunjukkan bahwa nilai sig. Deviation from Linierity (0,235) > 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa hubungan antara Return Saham (RS) dengan Price Book Value (PBV) adalah linier.

Tabel 4.9 Pengujian Linieritas RS dan ROE
ANOVA Table Sum of Squares ,044 ,004 ,041 ,002 ,047

df 50 1 49 1 51

RS * ROE

Between Groups Within Groups Total

(Combined) Linearity Deviation from Linearity

Mean Square ,002 ,004 ,002 ,002

F ,935 ,747 ,799

Sig. ,738 ,532 ,516

74

Tabel 4.6 menunjukkan bahwa nilai sig. Deviation from Linierity (0,726) > 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa hubungan antara Return Saham (RS) dengan Return on Equity (ROE) adalah linier. Tabel 4.10 Pengujian Linieritas RS dan DER
ANOVA Table Sum of Squares ,046 ,047 ,035 ,011 ,057

df 49 1 48 2 51

RS * DER

Between Groups Within Groups Total

(Combined) Linearity Deviation from Linearity

Mean Square ,002 ,014 ,001 ,024

F 1,681 235,161 12,661

Sig. ,038 ,023 ,142

Tabel 4.9 menunjukkan bahwa nilai sig. Deviation from Linierity (0,142) > 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa hubungan antara Return Saham (RS) dengan Debt to Equity Ratio (DER) adalah linier.

Tabel 4.11 Pengujian Linieritas RS dan DPR
ANOVA Table Sum of Squares ,045 ,015 ,024 ,012 ,032 df 50 1 49 1 51 Mean Square ,002 ,025 ,001 ,012 F ,856 18,234 ,712 Sig. ,684 ,103 ,082

RS * DPR

Between Groups Within Groups Total

(Combined) Linearity Deviation from Linearity

Tabel 4.10 menunjukkan bahwa nilai sig. Deviation from Linierity (0,082) > 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa hubungan antara Return Saham (RS) dengan Net Profit Margin (NPM) adalah linier. Secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang linier antara variabel independent (predictors) dalam model yaitu price earning ratio, net profit margin, price book value, return on equity, debt to equity ratio,

75

dan dividend payout ratio dengan variabel dependent yaitu return saham). Dengan demikian model regresi terbebas dari masalah linierity.

2. Pengujian Hipotesis a. Pengembangan Model Analisis Model analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah model analisis regresi linier berganda. Memudahkan dalam pencarian koefisien regresinya dilakukan dengan bantuan aplikasi komputer program SPSS for Windows versi 15. Bentuk regresi linier berganda dalam penelitian ini yaitu : Y = β0 + β1 X1 + β2 X2 + β3 X3+ β4X4 + β5X5 + β6X6 + ℮ dimana: Y β0 = Return Saham = Return Konstanta

β1, β2, β3, β4 = Koefisien Regresi Variabel Bebas X1 X2 X3 X4 X5 X6 ℮ = Net Profit Margin = Price Earning Ratio = Price to Book Value = Return on Equity = Debt to Equity Ratio = Dividend Payout Ratio = Kesalahan Pengganggu (error)

76

Tabel 4.12 Unstandardized Coefficients
Model Unstandardized Coefficients B 5.140 -6.265 -0.383 -0.083 7.953 4.515 6.219 Std. Error 5.345 1.731 1.933 3.562 1.003 5.382 .227 Standardized Coefficients Beta -.026 .149 -.214 .230 .141 .248 t B .448 -4.453 .716 -.669 25.950 9.839 19.965 Sig. Std. Error .657 .000 .478 .507 .000 .000 .001

1

(Constant) PER NPM PBV ROE DER DPR

a Dependent Variable: RS

Estimasi Tabel 4.11 dapat dirumuskan sebagai berikut : RS = 5,140 - 6,265 PER - 0,383 NPM - 0,083 PBV + 7,953 ROE + 4,515 DER + 6,219 DPR Interpretasi model : 1. Konstanta sebesar 5,140 artinya tanpa ada pengaruh dari price earning ratio, net profit margin, price book value, return on equity, debt to equity ratio, dan dividend payout ratio, perusahaan akan memperoleh return saham sebesar 5,140%. 2. Koefisien variabel bebas price earinig ratio adalah -6,265 artinya price earning ratio mempunyai pengaruh dimana apabila price earning ratio bertambah Rp 1 maka return saham perusahaan akan berkurang sebesar Rp 0,265. 3. Koefisien variabel bebas net profit margin adalah -0,383 artinya net profit margin ratio mempunyai pengaruh dimana apabila net profit margin ratio bertambah Rp 1 maka return saham perusahaan akan berkurang sebesar Rp 0,383.

77

4. Koefisien variabel bebas price book value adalah -0,083 artinya price book value mempunyai pengaruh dimana apabila price book value bertambah Rp 1 maka return saham perusahaan akan berkurang sebesar Rp 0,083. 5. Koefisien variabel bebas return on equity adalah 7,953 artinya return on equity mempunyai pengaruh dimana apabila return on equity bertambah Rp 1 maka return saham perusahaan akan bertambah sebesar Rp 7,953. 6. Koefisien variabel bebas debt to equity ratio adalah 4,515 artinya debt to equity ratio mempunyai pengaruh dimana apabila debt to equity ratio bertambah Rp 1 maka return saham perusahaan akan bertambah sebesar Rp 4,515. 7. Koefisien variabel bebas debt to equity ratio adalah 4,515 artinya debt to equity ratio mempunyai pengaruh dimana apabila debt to equity ratio bertambah Rp 1 maka return saham perusahaan akan bertambah sebesar Rp 4,515. 8. Koefisien variabel bebas debt to equity ratio adalah 4,515 artinya debt to equity ratio mempunyai pengaruh dimana apabila debt to equity ratio bertambah Rp 1 maka return saham perusahaan akan bertambah sebesar Rp 4,515.

78

b. Pengaruh Serempak (Simultan) Tabel 4.13 F Test
ANOVA Sum of Squares df Mean Square Regression 108021.66 6 18003.612 9 Residual 550838.19 44 12519.050 2 Total 658859.86 50 1 a Predictors: (Constant), DPR, PER, DER, NPM, ROE, PBV b Dependent Variable: RS Model 1

F 14.388

Sig. .000(a)

Hipotesis yang dikemukakan adalah: H0 : b1 = b2 = b3 = b4 = b5 = b6 = 0

Artinya: tidak terdapat pengaruh signifikan seluruh variabel bebas dalam model (NPM, PER, PBV, ROE, DER, DPR) secara serempak terhadap variabel terikat RS. H1
:

b1, b2, b3, b4, b5, b6 ≠ 0 (minimal 1 variabel)

Artinya: terdapat pengaruh signifikan seluruh variabel bebas dalam model (NPM, PER, PBV, ROE, DER, DPR) secara serempak terhadap variabel terikat (RS). Hipotesis diuji menggunakan statistik uji F. Cara melakukan uji F ini adalah membandingkan nilai F hasil perhitungan dengan nilai F menurut tabel dan dengan membandingkan nilai sig dengan level of significant. Nilai statistik hitung dapat dilihat melalui hasil perhitungan dengan bantuan aplikasi komputer program SPSS for windows versi 15. Ditentukan tingkat signifikansi pengujian, yaitu () = 5% dengan derajat kebebasan dfkolom = k - 1 dan dfbaris = n - k. Kriteria pengujian hipotesis adalah:

79

Terima H1

Terima H0

Terima H1

-Ftabel = -2,34

Ftabel = 2,34

Fhitung = 14,38

Ftabel = 2,34 (α = 0,05; dfkolom = k – 1 = 7 – 1 = 6 ; dfbaris = n – k = 51 – 7 = 44) Fhitung (14,388) > Ftabel (2,34) dan sig. t (0,000) < sig. α (0,05) berada di daerah tolak H0 (Terima H1). Hal ini menunjukkan terdapat cukup bukti untuk menerima H1. Artinya secara serempak terdapat pengaruh signifikan antara predictors yaitu price earning ratio (PER), net provit margin (NPM), price book value (PBV), return on equity (ROE), debt to equity ratio (DER), dan dividend payout ratio (DPR) terhadap variabel dependen yaitu return saham (RS). Kesimpulan dan keputusan hipotesis sesuai dengan teori yang diutarakan oleh Darmadji (2006) bahwa analisis fundamental memiliki pengaruh dalam perolehan return saham sekarang maupun proyeksi return di masa depan dan penelitian Prasetya (2001) juga menyatakan bahwa hasil pengujian pengaruh analisis fundamental terhadap return saham pada periode bullish dan bearish harga saham gabungan diperoleh kesimpulan bahwa analisis fundamental dengan rasio keuangan secara bersama-sama memiliki pengaruh yang signifikan terhadap return saham.

80

c. Pengaruh Parsial Tabel 4.14 t-test
Model Unstandardized Coefficients B 5.140 -6.265 -0.383 -0.083 7.953 4.515 6.219 Std. Error 5.345 1.731 1.933 3.562 1.003 5.382 .227 Standardized Coefficients Beta -.026 .149 -.214 .230 .141 .248 t B .448 -4.453 .716 -.669 25.950 9.839 19.965 Sig. Std. Error .657 .000 .478 .507 .000 .000 .001

1

(Constant) PER NPM PBV ROE DER DPR

a Dependent Variable: RS

a) Pengaruh Parsial antara Price Earning Ratio (PER) terhadap Return Saham (RS) Hipotesis yang dikemukakan adalah: H0 : b1 = 0 Artinya: secara parsial tidak terdapat pengaruh signifikan antara Price Earning Ratio (PER) terhadap Return Saham (RS). H1
:

b1 ≠ 0

Artinya: secara parsial terdapat pengaruh signifikan antara Price Earning Ratio (PER) terhadap Return Saham (RS). Hipotesis diuji menggunakan statistik t. Cara melakukan uji t ini adalah membandingkan nilai t hasil perhitungan dengan nilai t menurut tabel. Nilai statistik hitung dapat dilihat melalui hasil perhitungan dengan bantuan aplikasi komputer program SPSS for windows versi 15. Ditentukan tingkat signifikansi () = 5% dengan derajat kebebasan df = n – k.

81

Terima H1

Terima H0

Terima H1

-thitung = -4,453 -ttabel = -2,021

ttabel = 2,021

ttabel = 2,021 (α = 0,05; df = n – k = 51 – 7 = 44) thitung (-4,453) < ttabel (-2,021) dan sig. t (0,000) < sig. α (0,05) berada di daerah tolak H0 (Terima H1). Hal ini menunjukkan terdapat cukup bukti untuk menerima H1. Artinya secara parsial terdapat pengaruh negatif dan signifikan antara price earning ratio (PER) terhadap return saham (RS). Kesimpulan dan keputusan hipotesis sesuai dengan teori yang diutarakan oleh Tambunan (2007 : 245) bahwa price earning ratio adalah salah satu rasio yang merefleksikan penilaian investor atas pertumbuhan keuntungan (return saham), risiko, dan kondisi keuangan perusahaan. Penelitian Prasetya (2001) juga menyatakan hasil pengujian pengaruh parsial price earning ratio memiliki pengaruh positif yang signifikan terhadap return saham.

b) Pengaruh Parsial antara Net Profit Margin (NPM) terhadap Return Saham (RS) Hipotesis yang dikemukakan adalah: H0 : b1 = 0 Artinya: secara parsial tidak terdapat pengaruh signifikan antara Net Profit Margin (NPM) terhadap Return Saham (RS).

82

H1

:

b1 ≠ 0 secara parsial terdapat pengaruh signifikan antara Net Profit

Artinya:

Margin (NPM) terhadap Return Saham (RS).

Terima H1

Terima H0

Terima H1

-ttabel = -2,021

thitung = 0,716

ttabel = 2,021

ttabel = 2,021 (α = 0,05; df = n – k = 51 – 7 = 44) thitung (0,716) < ttabel (2,021) dan sig. t (0,478) > sig. α (0,05) berada di daerah tolak H1 (Terima H0). Hal ini menunjukkan terdapat cukup bukti untuk menerima H0. Artinya secara parsial tidak terdapat pengaruh signifikan antara Net Profit Margin (NPM) terhadap Return Saham (RS). Kesimpulan dan keputusan hipotesis sesuai dengan teori yang diutarakan oleh Tambunan (2007 : 145) bahwa dengan tingginya net profit margin, belum tentu suatu saham perusahaan tersebut memiliki tingkat profitabilitas yang tinggi sehingga menghasilkan return saham yang tinggi karena harus membandingkannya dengan net profit margin

perusahaan sejenis.

83

c) Pengaruh Parsial antara Price Book Value (PBV) terhadap Return Saham (RS) Hipotesis yang dikemukakan adalah: H0 : b1 = 0 Artinya: secara parsial tidak terdapat pengaruh signifikan antara Price Book Value (PBV) terhadap Return Saham (RS). H1
:

b1 ≠ 0

Artinya: secara parsial terdapat pengaruh signifikan antara Price Book Value (PBV) terhadap Return Saham (RS).

Terima H1

Terima H0

Terima H1

-ttabel = -2,021 -thitung = -0,669

ttabel = 2,021

ttabel = 2,021 (α = 0,05; df = n – k = 51 – 7 = 44) -thitung (-0,669) > -ttabel (-2,021) dan sig. t (0,478) > sig. α (0,05) berada di daerah tolak H1 (Terima H0). Hal ini menunjukkan terdapat cukup bukti untuk menerima H0. Artinya secara parsial tidak terdapat pengaruh signifikan antara Price Book Value (PBV) terhadap Return Saham (RS). Kesimpulan dan keputusan hipotesis sesuai dengan teori yang diutarakan oleh Tambunan (2007 : 249) bahwa dengan tingginya nilai price book value, belum tentu mencerminkan bahwa saham tersebut akan memiliki return saham yang tinggi.

84

d) Pengaruh Parsial antara Return on Equity (ROE) terhadap Return Saham (RS) Hipotesis yang dikemukakan adalah: H0 : b1 = 0 Artinya: secara parsial tidak terdapat pengaruh signifikan antara Return on Equity (ROE) terhadap Return Saham (RS). H1
:

b1 ≠ 0 secara parsial terdapat pengaruh signifikan antara Return on

Artinya:

Equity (ROE) terhadap Return Saham (RS).

Terima H1

Terima H0

Terima H1

-ttabel = -2,021

ttabel = 2,021

thitung = 25,950

ttabel = 2,021 (α = 0,05; df = n – k = 51 – 7 = 44) thitung (25,950) > ttabel (2,021) dan sig. t (0,000) < sig. α (0,05) berada di daerah tolak H0 (Terima H1). Hal ini menunjukkan terdapat cukup bukti untuk menerima H1. Artinya secara parsial terdapat pengaruh positif dan signifikan antara Return on Equity (ROE) terhadap Return Saham (RS). Kesimpulan dan keputusan hipotesis sesuai dengan teori yang diutarakan oleh Tambunan (2007 : 146) bahwa Return on Equity digunakan untuk mengukur tingkat profitabilitas dan rate of return (tingkat imbal hasil) dari sebuah perusahaan diperoleh melalui

85

perbandingan antara EAT (earning after tax) dan total equitas. Penelitian Prasetya (2001) juga menyatakan hasil pengujian pengaruh parsial return on equity memiliki pengaruh positif yang signifikan terhadap return saham.

e) Pengaruh Parsial antara Debt to Equity Ratio (DER) terhadap Return Saham (RS) Hipotesis yang dikemukakan adalah: H0 : b1 = 0 Artinya: secara parsial tidak terdapat pengaruh signifikan antara Debt to Equity Ratio (DER) terhadap Return Saham (RS). H1
:

b1 ≠ 0

Artinya: secara parsial terdapat pengaruh signifikan antara Debt to Equity Ratio (DER) terhadap Return Saham (RS).

Terima H1

Terima H0

Terima H1

-ttabel = -2,021

ttabel = 2,021

thitung = 9,839

ttabel = 2,021 (α = 0,05; df = n – k = 51 – 7 = 44) thitung (9,839) > ttabel (2,021) dan sig. t (0,00) < sig. α (0,05) berada di daerah tolak H0 (Terima H1). Hal ini menunjukkan terdapat cukup bukti untuk menerima H1. Artinya secara parsial terdapat pengaruh positif dan signifikan antara Debt to Equity Ratio (DER) terhadap Return Saham (RS).

86

Kesimpulan dan keputusan hipotesis sesuai dengan penelitian Prasetya (2001) yang menyatakan hasil pengujian pengaruh parsial debt to equity memiliki pengaruh positif yang signifikan terhadap return saham dikarenakan DER adalah sebuah rasio yang membandingkan antara total debt (utang jangka pendek dan hutang jangka panjang) dengan stockholders equity (ekuitas pemegang saham). Unsur hutang yang terkandung dalam DER adalah faktor yang paling besar kontribusinya dalam mempengaruhi kebangkrutan perusahaan karena hutang terutama hutang lancar memberikan tekanan dalam waktu dekat terhadap keuangan perusahaan. Tekanan tersebut ditambah dengan tekanan dari unsur hutang tidak lancar (utang jangka panjang) akan semakin meningkatkan resiko kebangkrutan sehingga sangat berkaitan dengan penentuan return saham yang akan diperoleh.

f) Pengaruh Parsial antara Dividend Payout Ratio (DPR) terhadap Return Saham (RS) Hipotesis yang dikemukakan adalah: H0 : b1 = 0 Artinya: secara parsial tidak terdapat pengaruh signifikan antara Dividend Payout Ratio (DPR) terhadap Return Saham (RS). H1
:

b1 ≠ 0 secara parsial terdapat pengaruh signifikan antara Dividend

Artinya:

Payout Ratio (DPR) terhadap Return Saham (RS).

87

Terima H1

Terima H0

Terima H1

-ttabel = -2,021

ttabel = 2,021

thitung = 19,965

ttabel = 2,021 (α = 0,05; df = n – k = 51 – 7 = 44) thitung (19,965) > ttabel (2,021) dan sig. t (0,01) < sig. α (0,05) berada di daerah tolak H0 (Terima H1). Hal ini menunjukkan terdapat cukup bukti untuk menerima H1. Artinya secara parsial terdapat pengaruh positif dan signifikan antara Dividend Payout Ratio (DPR) terhadap Return Saham (RS). Kesimpulan dan keputusan hipotesis sesuai teori yang diutarakan oleh Darmadji (2006 : 201) menyatakan DPR adalah rasio pembayaran dividen yang mengukur perbandingan dividen terhadap laba perusahaan dan semakin besar DPR akan semakin menarik bagi investor dikarenakan dividen adalah salah satu return saham yang diberikan perusahaan secara periodik. Semakin besar besar dividen yang diberikan perusahaan tentu saja memjadikan return saham juga semakin besar atau dengan kata lain berpengaruh positif signifikan terhadap return saham.

d. Uji Kesesuaian (Goodness of Fit) Uji ini bertujuan untuk menguji ketepatan model regresi sample dalam menaksir nilai aktual. Secara statistik dapat diukur dari nilai koefisien determinasi (R2) dimana nilai koefisien determinasi adalah 0 ≤ R2 ≤ 1.

88

Tabel 4.15 Goodness of Fit
Model 1 R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate .000825 Durbin-Watson 2.388

.892(a) .856 .830 a Predictors: (Constant), DPR, PER, DER, ROE, NPM, PBV b Dependent Variable: RS

Tabel 4.13 nilai R square adalah 0,856, artinya kemampuan keseluruhan predictors dalam model regresi untuk menjelaskan variasi dari dependent variable adalah sangat tinggi karena nilai R2 (0,856) mendekati 1. Nilai yang melebihi 50% ini menyebabkan model regresi dikatakan layak serta mampu dalam menerangkan variasi dari variabel terikat


				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:4906
posted:7/22/2009
language:Indonesian
pages:25
Description: Analisis Dan Evaluasi