Docstoc

MEDIA DAN POLITIK

Document Sample
MEDIA DAN POLITIK Powered By Docstoc
					Tugas Individu                                         Dosen Pengajar
Makalah Komunikasi Politik                      Ismandianto, M. I.Kom




                         MEDIA DAN POLITIK




                                Disusun Oleh:

                             YANWAR SETIABUDI

                                 0901120074




                     JURUSAN ILMU KOMUNIKASI

          FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

                             UNIVERSITAS RIAU

                                   2011
                                KATA PENGANTAR



       Alhamdulillah hirobbil ‘lamin..

       Puji syukur atas Ridho Allah SWT yang mana dengan rahmat, nikmat serta
inayahNya, telah melancarkan kerja kami selaku penulis dalam menyelesaikan makalah ini
yang berjudul MEDIA DAN POLITIK yang diberikan oleh Dosen Ismandianto, M. I. Kom.
Pembimbing mata kuliah Komunikasi Politik. Dan kami juga ingin mengucapkan banyak
terima kasih kepada teman-teman yang telah membantu kami dalam penambahan analisa
dalam materi makalah ini.

       Tentu saja dengan terbatasnya pengetahuan yang dimiliki kami maka tulisan ini masih
jauh dari sempurna. Walaupun hanya sedikit, namun demikian kami berharap tulisan ini bisa
bermanfaat bagi para pembacanya. Bak pepatah “biarlah Ilmu sedikit asalkan bermanfaat dari
pada ilmu banyak tetapi tak memberi manfaat bagi orang lain”.

       Kritik dan saran yang bermaksud membangun, apalagi mengembankan pemikiran ini,
kiranya masih keterbukaan bagi siapa saja. Betapa kecilnya bantuan yang diberikan namun
apabila diserta niat yang baik, akan terasa besar juga manfaatnya.

       Semoga dengan hadirnya makalah ini dapat membantu kita untuk menambah ilmu
pengetahuan serta menambah wawasan membaca. Amiin




                                                                     Pekanbaru, Mei 2011




                                                                           Penulis




   i|Komunikasi Politik -Media dan Politik
                                                          DAFTAR ISI



KATA PENGANTAR ................................................................................................................ i

DAFTAR ISI..............................................................................................................................ii

DAFTAR GAMBAR ................................................................................................................ iv

DAFTAR TABEL ...................................................................................................................... v

BAB I ......................................................................................................................................... 1

PENDAHULUAN ..................................................................................................................... 1

1.1. Latar Belakang .................................................................................................................... 1

BAB II........................................................................................................................................ 5

PEMBAHASAN ........................................................................................................................ 5

2.1. Beberapa Teori Komunikasi ............................................................................................... 5

          2.1.1. Teori Jarum Suntik (Hypodermic Needle Theory) .............................................. 6

          2.1.2. Teori Kepala Batu (Obstinate Audience) ............................................................. 7

          2.1.3. Teori Kegunaan dan Kepuasan (Uses and Gratification Theory) ....................... 7

          2.1.4. Teori Lingkar Kesunyian (Spiral of Silence Theory) ........................................... 8

          2.1.5. Teori Penanaman (Cultivation Theory) ............................................................... 9

          2.1.6. Teori Agenda Setting (Agenda Setting Theory) ................................................. 10

2.2. Hubungan Media dengan Politisi dan Pemerintah ............................................................ 13

2.3. Media dan Privasi ............................................................................................................. 25

2.4. Konsenkuensi Hukum Hubungan Antara Media dengan Politik ...................................... 28

2.5. Mitos tentang Media Massa .............................................................................................. 31

          2.5.1. Media Massa dan Kontruksi Realitas ................................................................ 31

          2.5.2. Media Massa dan Kekuasaan ............................................................................. 34

     ii | K o m u n i k a s i P o l i t i k - M e d i a d a n P o l i t i k
          2.5.3. Media Massa dan Kredo Kebebasan .................................................................. 36

          2.5.4. Media Massa dan Demokrasi: Sebuah Utopia ................................................... 42

BAB II...................................................................................................................................... 47

PENUTUP................................................................................................................................ 47

3.1. Kesimpulan ....................................................................................................................... 47

3.2. Saran ................................................................................................................................. 48

DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................................. 49




     iii | K o m u n i k a s i P o l i t i k - M e d i a d a n P o l i t i k
                                            DAFTAR GAMBAR


Gambar 1 Model Agenda Setting ............................................................................................. 12

Gambar 2 Pola Hubungan Kerja Sama antara Masyarakat, Media, dan Pemerintah ........... 19




    iv | K o m u n i k a s i P o l i t i k - M e d i a d a n P o l i t i k
                                            DAFTAR TABEL



Tabel 1 Rambu-rambu Tindak Pidana (Delik) Pers dalam Kitab Undang-Undang Hukum
       Pidana (KUHP) .......................................................................................................... 30




   v|Komunikasi Politik -Media dan Politik
                                             BAB I

                                   PENDAHULUAN


1.1.   Latar Belakang

       Kesamaan utama antara politik dan media ada pada hubungannya dengan orang
banyak. Kedua ranah tersebut membutuhkan dan dibutuhkan oleh masyarakat, yang anonim,
dalam melakukan operasi-operasi rutinnya. Politik berurusan dengan ideologi, dan topik
ideologi tentu saja menyangkut kehidupan sosial rakyat. Sementara media adalah jembatan
antara topik atau tema yang diangkat dengan rakyat yang tersebar.

       Secara teoritis, keduanya bisa berjalan dengan harmoni. Media massa bisa memediasi
kegiatan politik dari para politisi kepada masyarakat. Dan sebaliknya, media juga bisa
memediasi opini, tuntutan, atau reaksi masyarakat kepada para politisi. Media massa adalah
ruang lalu lintas bagi segala macam ide-ide yang menyangkut kepentingan orang banyak.

       Namun demikian, permasalahannya adalah, sejauh apa media bisa bertindak adil atas
berbagai kepentingan yang dimediasinya? Ada begitu banyak kepentingan yang terjadi, dan
bagaimana media massa menempatkannya secara proporsional? Apa yang menyebabkan
sebuah kegiatan politik dari golongan tertentu lebih dikedepankan ketimbang kepentingan
politik lain dari golongan yang lain juga?

       Jawabannya terkadang tak begitu jelas. Dan belum ada Undang-Undang yang tertuang
untuk itu. Belum ada aturan yang mengkriteriakan bahwa seseorang harus mendapat sekian
kalimat untuk dimuat di media cetak, berapa menit di televisi, dan harus mendapat intonasi
yang sama dari pewawancara dalam media televisi.

       Lebih dari itu, masalahnya bukan hanya terletak pada bagaimana bertindak adil, tetapi
juga bagaimana gemuruh aktivitas politik itu bisa selaras dengan empat fungsi media
massa, yakni memberikan informasi, memberikan pendidikan, memberikan hiburan, dan
melakukan kontrol sosial.




   1|Komunikasi Politik -Media dan Politik
         Dalam menghadapi dunia politik, media massa tak jarang menemui kesulitan-
kesulitan tersendiri. Di satu sisi, media massa dituntut untuk melaksanakan fungsinya agar
pembaca, pemirsa, atau pendengar kian memiliki sikap kritis, kemandirian, dan kedalaman
berpikir. Namun di sisi lain, pragmatisme ekonomi memaksa media mengadopsi logika
politik praktis yang terpatri pada spektakuler, sensasional, superfisial, dan manipulatif.

         Politik dan media memang ibarat dua sisi dari satu mata uang. Media memerlukan
politik sebagai makanan yang sehat. Media massa, khususnya harian dan elektronik,
memerlukan karakteristik yang dimiliki oleh ranah politik praktis: hingar bingar, cepat, tak
memerlukan kedalaman berpikir, dan terdiri dari tokoh-tokoh antagonis dan protagonis.

         Politik juga memerlukan media massa sebagai wadah dalam mengelola kesan yang
hendak diciptakan. Tidak ada gerakan sosial yang tidak memiliki divisi media. Apapun
bidang yang digeluti oleh sebuah gerakan, semuanya memiliki perangkat yang bertugas untuk
menciptakan atau berhubungan dengan media.

         Dunia politik sadar betul bahwa tanpa kehadiran media, aksi politiknya menjadi tak
berarti apa-apa. Bahkan menurut C. Sommerville, dalam bukunya Masyarakat Pandir atau
Masyarakat Informasi (2000), kegiatan politik niscaya akan berkurang jika tidak disorot
media.

         Media memang memiliki kemampuan reproduksi citra yang dahsyat. Dalam
reproduksi citra tersebut, beberapa aspek bisa dilebihkan dan dikurangi dari realitas aslinya
(simulakra). Kemampuan mendramatisir ini pada gilirannya merupakan amunisi yang baik
bagi para politisi, terutama menjelang pemilu.

         Yang menjadi masalah bagi politisi adalah bagaimana ia menjalin hubungan
muatualisme dengan pihak media; bagaimana ia membangun kesan tertentu dengan memilih
latar belakang (pada televisi) saat bercakap-cakap dengan media; bagaimana ia mampu
meyakinkan media bahwa ia dan aksinya adalah penting. Semua dilakukan dengan
mengharapkan imbalan berupa publisitas.

         Namun pada saat yang sama, media massa juga harus berpikir bahwa ia tidak
diperkenankan mengadopsi kepentingan-kepentingan tersebut secara berlebihan. Salah-salah,
ia akan menjadi bagian dari program politik sebuah golongan politik. Dan tak mudah
   2|Komunikasi Politik -Media dan Politik
memang membuat garis demarkasi apakah sebuah media prorakyat atau tengah ditunggangi
oleh pihak-pihak tertentu yang juga mengklaim sebagai pejuang kerakyatan.

       Contoh yang sering terjadi adalah ketika nasionalisme menjadi isu sentral dengan
Tentara Nasional Indonesia (TNI) sebagai tokohnya. Dari versi TNI, dirinyalah yang harus
didukung karena ia sedang berjuang menghadapi Gerakan Aceh Merdeka (GAM), misalnya.
Dan keinginan itu kerap dilakukan dengan memonopoli kebenaran. Meski bisa jadi versi TNI
benar, tapi ketika ada upaya menghalangi versi lain untuk berbicara tentang siapa yang
terkena tembakan atau berapa korban yang jatuh dalam kontak senjata antara TNI dan GAM,
maka fakta menjadi tak bermakna.

       Begitu juga dengan media yang biasanya melulu mengutip istilah-istilah yang
dilontarkan oleh pejabat negara. Kita tentu masih ingat dengan istilah Gerombolan Pengacau
Keamanan (GPK), Gerombolan Bersenjata, Teroris Islam, atau Fundamentalis. Ketika media
memberitakan berbagai istilah ini terus menerus tanpa ada konfirmasi pada publik bahwa ia
bersumber dari sebuah pihak, maka media sebenarnya telah termakan oleh praktek politik
media yang sedang dijalankan oleh salah satu pihak, yaitu propaganda melalui labelling.

       Tanpa sadar, sebuah media akan menjadi kaki tangan sebuah golongan. Ia
“diperdaya” oleh sebuah golongan bahwa “ini” penting ketimbang “itu”. Dalam sebuah talk
show di salah satu stasiun televisi, dibangun sebuah wacana bahwa operasi militer di Aceh
tidak menyelesaikan persoalan. Makna kebenaran dari wacana ini memang bisa disetujui.
Namun, diskusi tersebut tidak mempersoalkan bagaimana selayaknya memperlakukan
kelompok sipil bersenjata di Aceh.

       Sebuah golongan mendesakkan sebuah wacana bahwa ia penting untuk diangkat.
Namun, pada saat yang sama, bisa dirasakan bahwa media tengah meniadakan bagian tertentu
dari fakta besar. Sebab, dalam kasus Aceh, perang tersebut juga telah menyebabkan
perpecahan dalam keluarga. Banyak kasus dimana si abang adalah GAM dan si Adik adalah
TNI. Dan keduanya duduk bersama di meja makan.

       Keluarga sebagai penyangga awal dari struktur sosial telah berantakan. Dan tentu ini
bukan hanya masalah operasi militer. Namun, media kerap telah dibingkai oleh sebuah
konsep yang terstigmatisasi dengan salah satu pihak. Dan pada gilirannya, media tidak

   3|Komunikasi Politik -Media dan Politik
memediasi informasi secara benar. Pemberitaan menjadi tidak proporsional, dan kemanusiaan
menjadi taruhannya. Dan tidak hanya itu saja, media pun akhirnya bersifat fasistis.




   4|Komunikasi Politik -Media dan Politik
                                          BAB II

                                    PEMBAHASAN


       Hubungan antar ilmu media dan politik sudah berlangsung lama, jauh sebelum ilmu
politik menemukan jati dirinya sebagai ilmu yang berdiri sendiri dari Filsafat. Akan tetapi,
politik sebagai disiplin ilmu yang baru diakui pada tahun 1880 setelah School of Political
Science berdiri di Columbia College. Karena hubungan yang begitu erat antara media dengan
politik, studi tentang pengaruh pers dalam pembentukan pendapat umu (opini publik) selalu
mendapat tempat dalam kurikulum ilmu politik, 70 tahun sebelum ilmu komunikasi
melembaga sebagai ilmu di Amerika Serikat.

       Namun, studi tentang pengaruh media terhadap aktivitas politik baru menarik bagi
para ahli ilmu-ilmu sosial nanti dalam tahun 1930-an, terutama dalam hubungannya dengan
pernyataan para negarawan dan pemimpin partai politik yang memengaruhi opini publik.
Kini media massa memainkan peranan yang sangat penting dalam proses politik, bahkan
menurut Lichtenberg (1991) media telah menjadi aktor utama dalam bidang politik. Ia
memiliki kemampuan untuk membuat seseorang cemerlang dalam karier politiknya. Hal itu
diakui oleh Robert W. McChesney dalam Thomas (2004) bahwa “in nearly all variants of
social and political theory that media and communication system are cornerstones of modern
societies. In political term, they serve to enhance democracy.

2.1. Beberapa Teori Komunikasi

       Dari berbagai riset sosial yang pernah dilakukan, ternyata media memainkan peranan
yang sentral dalam aktivitas politik. Hasil penelitian Dominik (1972) membuktikan bahwa
dari lima belas sumber informasi politik yang ditanyakan kepada rensponden, ternyata ada
sepuluh sumber yang dieroleh dari media, dan selebihnya dari sumber lain seperti gereja,
sekolah, dan keluarga.

       Melalui medida massa bisa diketahui aktivitas para politisi, tentang pikiran-
pikirannya, pernyataan yang disampaikan, siapa yang menang dan siapa yang kalah,
bagaimana strategi lawan, berapa uang ia habiskan selama kampanye, bagaimana tampan
kadidat, apa yang dia janjikan kepada masyarakat, bagaimana kemampuan debatnya dan
   5|Komunikasi Politik -Media dan Politik
sebagainya. Jelasnya, media berisi banyak informasi dan pendapat tentang politik. Mass
media is the primary source of political information, seperti yang dikatakan Jackson and
Beeck (1970).

       Begitu besarnya pengaruh media terhadap aktivitas politik, sampai banyak penduduk
Amerika Serikat menunda untuk menentukan pilihannya, siapa yang akan menjadi presiden
lima tahun mendatang sebelum mereka lihat sang kandidat tampil di televisi. Dalam kasus
debat pemilihan presiden tahun 1960 antar John F. Kennedy dengan Richard Nixon, televisi
berhasil memengaruhi pemilih dengan luar biasa. Nixon yang pada awalnya diunggulkan oleh
jajak pendapat sebagai calon pemenang ternyata bisa dikalahkan oleh Kennedy yang tampil
dengan penuh pesona dalam kaca televisi. Demikian juga halnya ketika Jimmy Carter
berhadapan dengan Gerald Ford pada tahun 1976, hasil jajak pendapat menempatkan Ford
akan memenangkan pertarungan melihat keduduk-annya sebagai presiden yang berkuasa
(incumbent), ternyata bisa dikalahkan oleh Carter. Pengalaman yang sama berulang lagi pada
pemilihan presiden tahun 1992 ketika Bill Clinton yang tadinya tidak terknal dan tidak
diunggulkan ternyata yang cerdas dan telegenik dalam televisi. Media memang bisa membuat
politisi menjadi selebriti.

       Melihat besarnya pengaruh televisi terhadap pencalonan presiden di Amerika
sehingga ada yang berpendapat bahwa andaikata televisi sudah ada pada waktu pemilihan
presideng tahun 1860, dipastikan Abraham Licoln yang bewajah kurus tidak akan terpilih
menjadi presiden, sekalipun ia memiliki potensi dan kepribadian yang sangat tinggi. The
media is message, seperti yang dikatakan McLihan.

       Ada beberapa teori komunikasi yang dapat djadikan acuan untuk melihat keprkasaan
media maupun kelemahan-kelemahannya memersuasi masyarakat dalam hubungannya
dengan kativitas politik.

        2.1.1. Teori Jarum Suntik (Hypodermic Needle Theory)

       Teori ini diangkat setelah melihat keberhasilan penggunaan medium radio dan media
cetak sebagai alat propaganda dalam Perang Dunia I, serta keberhasilan drama radio Orson
Walles yang mengisahkan turunnya makhluk Mars ke atas bumi yang didramatisasi sehingga
membuat penduduk di sejumlah kota Amerika jadi gempar. Teori jarum suntik berpendapat

    6|Komunikasi Politik -Media dan Politik
bahwa khalayak sama sekali tidak memeliki kekuatan untuk menolak informasi setelah
ditembakkan melalui media komunikasi. Khalayak terlena seperti kemasukan obet bius
melalui jarum suntik sehingga tidak bisa memiliki alternatif untuk menentukan pilihan lain,
kecuali apa yang disiarkan oleh media. Teori ini juga dikenal dengan sebutan teori peluru
(bullet theory).

        2.1.2. Teori Kepala Batu (Obstinate Audience)

        Teori ini dilandasi pemahaman psikologi bahwa dalam diri individu, ada kemampuan
untuk menyeleksi apa saja yang berasal dari luar dan tidak direspon begitu saja. Teori kepala
batu menolak teori jarum suntik atau teori peluru dengan alasan jika suatu informasi
ditembakkan dari media, mengapa khalayak tidak berusaha belindung untuk menghindari
tembakan informasi itu? Masyarakat atau khalayak memiliki hak untuk memilah informasi
yang mereka perlukan dan informasi yang mereka perlukan dan informasi yang mereka tidak
perlukan. Kemampuan untuk menyeleksi informasi terdapat pada khalayak menurut
perbedaan individu, persepsi, dan latar belakang sosial budaya.

        Perbedaan individu bahwa anak-anak cenderung lebih senang menonton film kartun
sementara perempuan lebih senang menonton sinetron atau telenovela. Perbedaan persepsi
diakibatkan oleh pengalaman individu, misalnya usia dan faktor-faktor psikologis turut
menentukan jenis bacaan dalam surat kabar maupun jenis tayangan dalam televisi. Perbedaan
sosial budaya dapat dilihat dari segi pendidikan, ekonomi, etnis, agama, dan kedudukan
dalam masyarakat. Orang yang berpendidikan cenderung lebih senang membaca surat kabar
yang memiliki banyak ulasan, demikian juga halnya menonton televisi lebih senang pada
acara siaran berita daripada hiburan.

        2.1.3. Teori Kegunaan dan Kepuasan (Uses and Gratification Theory)

        Teori ini diperkenalkan oleh Herbert Blumer dan Elihu Katz pada tahun 1974 lewat
bukunya The Uses of Mass Communication, Current Perspective on Gratification Research.
Teori ini banyak keterkaitan dengan sikap dan perilaku para konsumen, bagaimana mereka
menggunakan media untuk encari informasi tentang apa yang mereka butuhkan. Dalam
praktik teori ini banyak digunakan oleh para politisi. Misalnya bagaimana Bill Clinton



   7|Komunikasi Politik -Media dan Politik
mempelajari cara debat Kennedy ketika ingin tampil debat dengan Bush dalam pemilihan
presiden Amerika 1992.

        Tidak itu saja, di gedung-gedung parlemen bisa dilihat bagaimana para anggota DPR
membaca dan mengikuti bagitu banyak media dalam sehari, hanya untuk memperoleh
informasi dari hasil liputan para wartawan. Politisi menjadikan media sebagai mata dan hati
untuk mengetahui apa yang terjadi di masyarakat, sekaligus menjadikan media sebagai
pengganti partai untuk menghubungkan dengan para pendukung atau konstituennya. Namun,
dibalik itu orang bisa belajar dan mengambil manfaat dari apa yang disiarkan oleh media,
misalnya ketika TVRI masih menjadi media satu-satunya media televisi yang sangat ketat
dalam pemberitaan, boleh dikata belum ada unjuk rasa yang dilakukan oleh masyarakat
Indonesia. Namun, ketika televisi swasta diperkenankan menyiarkan berita-berita luar negeri
tanpa banyak seleksi, orang di Indonesia dengan bebas melihat demonstrasi mahasiswa di
Korea Selatan dan adu jotos para anggota parlemen di Taiwan. Belajar dari apa yang
merekapernah lihat ditelevisi, tidak mengherankan jika demonstrasi dan unjuk rasa juga
makin menjamur, bahkan praktik yang hampir mengakibatkan perkelahian antara para
anggota deparlemen juga sudah terjadi di Indonesia karena meniru apa yang mereka lihat di
televisi.

        2.1.4. Teori Lingkar Kesunyian (Spiral of Silence Theory)

        Teori ini diperkenalkan oleh Elizabeth Noelle Neumann, mantan jurnalis kemudian
menjadi profesor emeritus pada salah satu Institut Publisistik di Jerman. Teorinya banyak
berkaitan dengan kekuatan media yang bisa membuat opini publik, tetapi di balik itu ada
opini yang bersifat laten berkembang di tingkat bawah yang tersembunyi karena tidak sejalan
dengan opini publik mayoritas yang bersifat manifes (nyata di permukaan). Opini publik
yang tersembunyi disebut opini yang berada dalam lingkar keheningan (the spiral of silence).
Menurut beberapa pengamat, teori ini dibuat oleh Elisabeth N. Neumann tidak lepas dari
pengalamannya sebagai mantan wartawan di zaman Nazi di mana Hitler sangat membenci
orang Yahudi sehingga timbul pendapat umum laten yang tersembunyi di tingkat bawah
karena diburu oleh rasa ketakutan.

        Di Indonesia, ketika pemerintah Soeharto berlangsung, terutama satu dekade
menjelang kejatuhannya benyak sekali opini publik berkembang di tingkat bawah, tetapi
    8|Komunikasi Politik -Media dan Politik
tidak bisa terangkat karena bertentangan dengan opini mayoritas di tingkat atas. Akibatnya
muncul banyak humor politik dikalangan masyarakat yang tidak bisa dipublikasikan dalam
media massa. Misalnya istilah Tosiba diplesetkan Tommy, Sigit, dan Bambang, AIDS (Aku
Ingin Ditelepon Soeharto), dan sebagainya. Bahaya opini publik yang mengalami lingkar
keheningan seperti ini bisa menjadi bom waktu yang setiap saat bisa meletus dan melahirkan
kerusuhan.

       2.1.5. Teori Penanaman (Cultivation Theory)

       Teori ini dibuat oleh suatu tim riset yang dipimpin George Gerbner di Annenberg
School of Communication, University of Pennsylvania pada tahun tahun 1980. Teori ini
memberi kontribusi studi komunikasi dengan sebutan Teori Penanaman atau Teori Kultivasi
(Cutivation Theory). Teori ini menggambarkan kehebatan televisi dalam menanamkan
sesuatu dalam jiwa penonton, kemudian terimplementasi dalam sikap dan perilaku mereka.
Misalnya kebiasaan televisi menyiarkan berita atau film tentang kejahatan memberi pengaru
(tertanam) pada sikap dan perilaku penonton untuk tidak mau keluar pada malam hari tanpa
ditemani orang lain. Akan tetapi, tidak demikian halnya di Inggris, stasiun-stasiun televisi
tidak terbiasa menayangkan berita-berita kejahatan dan kekerasan sehingga masyarakat di
sana tidak perlu tajut keluar malam.

       Kasus banyaknya tindak kriminal yang dilakukan oleh anak-anak muda di Amerika
Serikat pernah diteliti oleh polisi dan ahli psikologi. Dari hasil riset tersebut diperoleh data
bahwa banyak tindak kejahatan ditimbul oleh ulah anak-anak yang pernah menjadi pecandu
film kekerasan diusia kanak-kanaknya. Menurut kalangan psikolog, anak-anak yang berada
rentang usia antara 7-9 tahun tidak mampu membedakan antar dunia khayal dengan dunia
nyata sehingga apa yang mereka tonton berpengaruh (tertanam) terhadap jiwa, sikap, dan
perilakunya diwaktu remaja (McConnell, 1986).

       Tingginya frekuensi liputan televisi tentang kekerasan, pemerkosaan, dan kejahatan di
beberapa kota besar di Indonesia, seperti Jakarta, Surabaya, Makassar, dan Palembang,
menyebabkan para penonton dapat bersikap dan berperilaku tidak mau mengunjungi kota-
kota tersebut karena dipersepsikan (tertanam) sebagai kota yang penuh tindakan kriminal,
padahal dalam realitasnya secara keseluruhan tidak demikian. Pernah seorang wartawan
ibukota enggan ke Makassarketika ditugasi meliput pameran budaya karena selalu melihat
   9|Komunikasi Politik -Media dan Politik
unjuk rasa dalam layar TV. Dalam bayangan dia, Makassar adalah kota yang tidak aman,
penuh kekerasan, dan sebagainya. Namun, ketika ia memberanikan diri datang karena belum
pernah berkunjung ke kota ini, ia menemukan hal yang sangat bertolak belakang dengan apa
yang disiarkan dalam televisi. Ia melihat bahwa Makassar adalah kota yang aman, cantik, dan
ia pun ingin kembali jika ada kesempatan lain.

       Dalam kasus sinetron, seorang artis dipersonifikasi sebagai ibu yang judes, cerewet,
dan gila urusan di layar TV. Ketika dalam suatu kesempatan shopping di swalayan, si artis
yang judes itu mau ditonjok oleh seorang ibu merupakan penonton sinetron tersebut, padahal
dalam realitasnya, siartis tersebut adalah seseorang yang sangat berperilakubaik diluar
tayangan layar kaca. Sebaliknya, ada juga bintang televisi yang dielu-elukan dan disanjung
oleh para penggemarnya, tetapi di luar kaca ia berperilaku seronok dan pecandu narkotik dan
obat-obat terlarang (narkoba).

       Di bidang politik misalnya, teori ini memiliki pengaruh yang besar bagi para
penonton dengan menggambarkan (tertanam) dalam jiwa, sikap, dan perilaku mereka, bahwa
partai yang banyak tampil ditelevisi diasosiasikan sebagai partai besar dan berpengaruh,
sekalipun dalam kampanye, kameramen televisi merekayasa dengan hanya meliput tempat-
tempat kerumunan massa-massa. Dari faktor penanaman media terhadap jiwa para pemirsa
memberi pengaruh yang besar terhadap pemilih. Oleh karena itu, tidak heran jika aktor
sekaliber Ronald Reagan dan Arnold Schwarzenegger bisa terpilih sebagai presiden dan
walikota di Amerika. Demikian juga Joseph Estrada terpilih sebagai presiden dan Bon
Revilla sebagai senator di Filipina. Di Indonesia berkat pengaruh media sejumlah aktor dari
artis misalnya Rano Karno, Ajie Massaid, Dede Yusuf, Marissa Haque, Miing Gulimar
sangat dikenal oleh masyarakat sehingga bisa terpilih sebagai anggota parlemen.

       Selain teori ini berhasil dalam menanamkan pengaruh pada jiwa pemirsa, teori
kultivasi banyak mendapat kritik terutama dalam liputan yang bersifat palsu (pseudo events).

       2.1.6. Teori Agenda Setting (Agenda Setting Theory)

       Teori agenda setting pertama kali diperkenalkan pada tahun 1973 oleh Maxwell
McCombs dan Donald L. Shaw dari School of Journalism, university of North Carolina lewat
tulisannya The Agenda Setting Function of the Mass Media. Kedua pakar ini tertarik untuk

   10 | K o m u n i k a s i P o l i t i k - M e d i a d a n P o l i t i k
memilih apakah pendapat para pemilih mengenai isu-isu yang dipandang sangat penting
dibentuk oleh besarnya pemberitaan mengenai siu-isu tersebut. Dari hasil riset itu McCom
dan Shaws menemukan adanya korelasi yang signifikan antar isu diangkat oleh media dengan
isu yang dianggap penting olej pemilih. Teori ini mengakui bahwa media memberi pengaruh
terhadap khalayak dalam pemilihan presiden melalui penayangan berita, isu, citra, maupun
penampilan kandidat itu sendiri. Becker & McLeod (1976) dan Iyenger & Kinder (1987)
mengajui bahwa meningkatnya penonjolan atas isu yang berbeda bisa memberikan pengaruh
yang signifikan terhadap opini publik. Dalam konteks politik, partai-partai dan para aktor
politik akan berusaha memengaruhi agenda media untuk mengarahkan pendapat umum dalam
pembentukan image.

       Dengan menonjolkan isu, citra, dan karakteristik tertentu kandidat, media ikut
memberikan sumbangan yang signifikan dalam melakukan konstruksi persepsi publik dalam
pengambilan keputusan, apakah akan ikut memilih dan siapa yang akan dipilih. McComb
mencontohkan bahwa dalam kondisi seperti ini media bisa tampil untuk mengambil
keputusan dengan mengekspos masalah-masalah yang perlu dipikirkan oleh masyarakat.
Misalnya bagaimana media menggairahkan orang agar tertarik menggunakan hak pilihnya
dalam pemilu. Media tidak saja tergantung pada berita kejadian (news event), tetapi ia
memiliki tanggung jawab untuk menggiring orang melalui agenda-agenda yang bisa
membuka pikiran mereka. Seperti yang dikatakan McCombs “the mass media may not be
successful in telling people what ti think, but the media are stunningly successful in telling
their audience what to think about.”

       Mengenai model hubungan anrata isu, perhatian media dan persepsi publik tentang
agenda setting dapat dilihat pada gambar 5.

       Dari model berikut dapat dijelaskan bahwa sebuah isu yang dianggap penting dimana
media memberi perhatian yang besar akan menimbulkan perhatian yang besar pula bagi
khalayak (X1). Sebaliknya jika suatu isu dinilai oleh mediakurang menarik, dengan
sendirinya isu itu akan kurang menarik bagi khalayak (X5). Di Indonesia, beberapa surat
kabar memiliki kelebihan dalam mengetengahkan siu-isu tertentu (agenda media) lewat tajuk
renvana (editorial), berita utama (headline), artikel yang khusus dibuat untuk itu, serta berita-
berita hasil wawancara (talking news) dari narasumber yang kompeten. Untuk media televisi
agenda setting
   11 | K o m u n i k a s i P o l i t i k - M e d i a d a n P o l i t i k
   Issues                        Diferential Media Attention                 coseequent public
                                                                            perception of issues

       X1                                                                           X1

       X2                                                                           X2

       X3                                                                           X3

       X4                                                                           X4

       X5                                                                           X5

       X6                                                                           X6

                                    Gambar 1 Model Agenda Setting

biasanya dilakukan dalam bentuk talkshow dengan mengundang narasumber yang kompeten.
Misalnya isu kenaikan bahan bakar minyak (BBM), penanggulangan tingginya angka
pengangguran, penyederhanaan jumlah partai politik peserta pemilu, dan lain-lain.

       Para redaktur media memilki ketajaman untuk mengangkat isu-isu yang perlu
dibicarakan oleh masyarakat maupun pemerintah. Isu-isu itu tidak hanya muncul dari anggota
redaksi sendiri, namun para pengelola media biasanya memiliki kelompok pemikir
(narasumber) yang dapat dihubungi setiap saat untuk memberi ulasan. Oleh karena itu, para
penerbit biasanya memiliki penulis tajuk atau artikel yang berbeda menurut bidang keahlian
masing-masing. Bagi masyarakat yang senang membaca surat kabar, berita-berita media
menjadi isu pembicaraan dalam kehidupan sehari-hari. Kalau bukan dengan cara melempar
atau meneruskan isu yang diperoleh di surat kabar, ia memerlukan konfirmasi atau pendapat
dari orang yang membaca berita yang sama. Isu tersebut tadinya hanya sebagai agenda media
bergulir di masyarakat menjadi agenda khalayak. Dan jika hal itu dibaca dan didiskusikan
oleh para pengambilan keputusan,baik dikalangan menteri, anggota parlemen atau
departeman terkait untuk mencari jalan keluar (solution) maka pada akhirnya menjadi agenda
kebijakan.




   12 | K o m u n i k a s i P o l i t i k - M e d i a d a n P o l i t i k
       Perlu diketahui bahwa meski media sudah mengangkat sebuah masalah sebagai
agenda dan menjadi pembicaraan dikalangan masyarakat, namun kebijakan yang diambil
oelh para pengambil keputusan kadang tidak sejalan. Dalam kasus Falkland, media Argentina
dengan gencar berusaha memengaruhi pemerinyah dan angkatan bersenjata Argentina untuk
mengambil alih pulau Falkland yang dikuasai Inggris. Dan ketika terjadi upaya
pengambilalihan pulau itu oleh angakatan bersenjata Argentina, justru menimbulkan perang
dengan Inggris yang akhirnya mengakibatkan kesalahan fatal dipihak Argentina. Demikian
juga ketika Timor Timur masih berada wilayah Indonesia dan dinyatakan sebagai daerah
terbuka sejak tahun 1986, hampir semua pemberitaan surat kabar bernada positif. Tayangan
televisi senantiasa mempertontonkan bagaimana kedatangan pejabat Indonesia ke provinsi
tersebut selalu disambut dengan tarian gadis-gadis yang mengenakan tais Timor Timur. Tidak
ada yang berani mengemukakan bahwa kelompok antiintegrasi yang bersembunyi di gunung-
gunung masih memiliki hubungan yang erat dengan para pejuang di kota-kota, termasuk
sebagian besar pejabat pemerintahan sehingga semua terkejut pada saat jajak pendapat
dilakukan, ternyata pihak pro-integrasi kalah total. Siapa yang salah? Tak lain adalah pers
yang selama itu tunduk pada kehendak kekuasaan (Stanley, 2006).

2.2. Hubungan Media dengan Politisi dan Pemerintah

       Hubungan antara media dengan politisi atau pemerintah sudah berjalan sekian lama,
dan hubungan itu bisa dikatakan tidak bisa dipisahkan antar keduanya, bukan saja karena
wartawan membutuhkan para politisi atau pejabat pemerinyah sebagai sumber informasi
(make of news), tetapi juga para politisi maupun pejabat pemerintah memerlukan media untuk
menyampaikan pikiran-pikirannya maupun kebijakan uang mereka ambil untuk kepentingan
orang banyak. Tidak heran jika para wartawan sering tampak bergerombol didepan gedung
istana, parlemen, kantor kementrian, kantor gubernur atau bupati menunggu kesempatan
uantuk mewawancarai para politisi atau para pejabat tersebut. Selain dengan cara itu, para
politisi atau pejabat sering mengundang para wartawan untuk makan malam, berkunjung ke
kantor redaksi untuk diwawancarai dan dipublikasikan.

       Meski ada hubungan yang saling membutuhkan antara media dengan politisi, namun
hubungan ini kadang menimbulakan gesekan yang kurang harmonis. Oleh karena itu, ada
yang mengatakan hubungan antara keduanya seperti benci, tetapi rindu (hate and love),

   13 | K o m u n i k a s i P o l i t i k - M e d i a d a n P o l i t i k
seperti ucapan Senator Orlando Marcado bahwa “It is clear that media needs politician, as
politician needs media. There are inextricably joined together in a :love-hate” realtionship.”

       Hubungan antara media dan pemerintah biasanya lebih banyak bersifat negatif. Sifat
negatif inilah yang sering menimbulkan miscommunication dan misinformation. Konsep
terakhir yang muncul adalah kriteria penyimpangan (deviance), yakni sesuatu mempunyai
nilai berita jika menyimpang dari norma rata-rata, baik yang menyangkut peristiwa, orang,
perilaku, arah perkembangan dan sebagainya (Shoemaker dkk. Dalam Dahlan, 1990). Dengan
demikian, pers cenderung untuk menyiarkan berita yang tidak nyaman bagi pejabat, namun
disukai oleh pembaca. Sementara itu, pemerintah sendiri mempunyai kriteria tentang berita,
yaitu sering dikaitkan dengan keberhasilan, ketertiban, dan pembangunan. Perbedaan persepsi
ini merupakan sumber benturan yang selalu terjadi dalam interaksi antar media dan
pemerintah dan sering dimanfaatkan oleh pihak lain untuk kepentingan politik. Menurut
penasihat publikasi Raegan, pemerintah yang sukses, mestinya dapat menyusun agenda apa
yang harus dilakukan untuk masyarakat, dan bukannya media yang harus membuatkan
agenda apa yang harus dilakukan oleh pemerintah untuk masyarakat (Gurevitch dan JG.
Blumler dalam Lichtenberg, 1991).

       Hubungan yang kurang harmonis antara media dengan pemerintah dapat dilihat dalam
berbagai kasus di beberapa negara seperti berikut ini:

      Di Prancis, para wartawan tidak bisa melaksanakan investigative reporting karena
       takut pemerintah akan melakukan tindakan balasan untuk menekan media. Ketika
       media mengungkap skandal almarhum Presiden Francois Miterrand yang punya anak
       luar nikah, rakyat Prancis jadi marah dan tidak senang pada pers yang terlalu bebas
       dalam mengungkapkan hal-hal yang bersifat privasi pemimpin negara.
      Di Inggris, ada Code of Conduct yang dikeluarkan pada tanggal 19 Agustus 1997
       tentang sanksi hukuman atas pelanggaran yang dilakukan oleh para wartawan, serta
       diberlakukan-nya kode etik jurnalistik yang paling keras dalam sejarah Inggris sejak 1
       Januari 1998. Dalam kode etik jurnalistik itu wartawan dilarang mengambil foto
       seseorang di lobby hotel, kolam renang, restoran, taman, dan geraja tanpa izin terlebih
       dahulu kepada yang bersangkutan.
      Di Jepang, media tidak boleh mengekspos kesehatan Kaisar Hirohito.

   14 | K o m u n i k a s i P o l i t i k - M e d i a d a n P o l i t i k
      Di Singapura, Perdana Menteri Lee Kuan Yew menutup surat kabar Eastern Sun dan
       Singapore Hearld. Dalam kasus ini Lee bertanya , apakah masyarakat Singapura mau
       bebas, tetapi kurang sejahtera, atau mau sejahtera tetapi kurang memiliki kebebasan
       pers. Menurut Lee “Suatu bangsa yang kaya dapat saja menikmati kebebasan persnya,
       sebaliknya suatu bangsa yang miskin dapat juga mengalami ketidakbebasan pers”.
       Oleh karena itu, menurut Lee, sangat aneh jika ada bangsa yang miskin, tetapi
       menikmati kebebasan pers. There is no significant relationship between the wealth of
       country and freedom of the Press. Di Singapura ada larangan bagi media untuk
       mengekspos masalah SARA (suku, agama, dan ras), hal-hal negatif pemimpin negara-
       nagara ASEAN. Bahkan ketika di berbicara di depan Perhimpunan Pemimpin Redaksi
       Surat Kabar Amerika di Washington DC (1988), Lee menegaskan “American concept
       of freedom of the press could bring turmoil to Singapore. I am Asia, I am not
       American. I am not allow American correspondents ti decide my national agenda for
       me.” (Time, May 22, 1988).
      Di Korea Selatan pada tahun 1957 ada 60 persen dari 42 surat kabar harian anti
       pemerintah, dan ketika terjadi pembunuhan Presiden Park Chung Hee (Oktober 1979),
       tokoh pengekangan pers di mana banyak sekali surat kabar ditutup, organisasi pers
       dilarang, dan diperkirakan ada 600 orang wartawan dinyatakan hilang.

       Di Indonesia, mengenai hubungan antara media dengan pemerintah di Indonesia,
diuraikan oleh Edward C. Smith dalam bukunya Pembredelan pers di Indonesia (1986), sejak
zaman pemerintahan kolonial Belanda sudah ada larangan untuk menerbitkan surat kabar,
terutama setelah terbitnya Bataviase Nouvelles (1744) yang bisa bertahan selama dua tahun
setelah organisasi dagang Belanda VOC melarang terbit. Larangan itu diberlakukan karena
ada kekhawatiran pemerintah Belandaatas berita-berita perdagangan yang dipublikasi surat
kabar Bataviase Nouvelles bisa jatuh ke tangan para saingan perusahaan dagang Belanda.
Demikian juga etika H.J. Lion dari Bataviaasch Handelsblad (1858) menulis artikel pegawai
pemerintah, dibayar setengah gaji bulanan dijatuhi hukuman satu setengah tahun penjara,
sementara J.J. Nosse diusir dari Hindia Belanda (Indonesia) karena tulisannya yang tajam
dalam Nieuwsbode (1864).

       Memasuki masa penduduk Jepang, semua penerbit surat kabar dan siaran radio yang
ada sebelumnya ditutup dan digantikan dengan surat kabar baru dibawah pengawasan militer

   15 | K o m u n i k a s i P o l i t i k - M e d i a d a n P o l i t i k
Jepang. Untuk wilayah pulau-pulau besar misalnya diterbitkan surat kabar Jawa Shimbun,
Sumatra Shimbun, Borneo Shimbun, dan Celebes Shimbun. Selain dari itu ada juga surat
kabar Asia Raya terbit di Jkarta, Tjahaja di Bandung, Sinar Baru di Semarang, Sinar
Matahari di Yogyakarta, dan Suara Asia di Surabaya. Surat-surat kabar ini sehari-hari
pendudukan militer Jepang di Asia, termasuk Indonesia.

       Sesudah kemerdekaan Republik Indonesia diproklamirkan pada tahun 1945, terbit
beberapa surat kabar yang menyuarakan kepentingan partai, misalnya Harian Pedoman
(1948) yang dipimpin oleh Rosihan Anwar diidentikkan sebagai Mochtar lubis dipandang
sebagai surat kabar independen nonpartai, Harian Abadi yang dipimpin oleh Suardi Tasrif
menyuarakan Partai Nasional Indonesia (PNI). Mengenai hubungan yang kurang harmonis
antara pemerintah RI dengan media, sevara kronologis Edward C. Smith (1986)
mengemukakan sebagai berikut:

    Tahun 1954, surat kabar Sumber mengritik dengan pedas sikap Soekarno yang
       condong ke Komunis denga tulisan “Dinilai dari kepribadiannya, cara hidupnya....
       Soekarno bukan seorang komunis. Tetapi, seseorang yang sudah terpojok dapat saja
       berkawan dengan setan jika persahabatan itu akan membawa keselamatannya.”
    Harian Indonesia Raya pada tanggal 29 April 1955 mengangkat kasus “Hospitality
       Committee” yang disiapkan untuk memberi hiburan jasmaniah bagi para peserta
       Konferensi Asia Afrika yang membutuhkan. Berita ini menjadi heboh dan diangkat
       oleh hampir semua surat kabar di Indonesia membuat penitia konferensi kelabakan.
    Tanggal 14 September 1965 surat kabar Times of Indonesia memberitakan bahwa
       pimpinansurat kabar Java Bode telah dipanggil ke Markas Besar Komando Militer
       Ibukota untuk ditanya tentang dimuatnya berita mantan Wlikota Presiden Muhammad
       Hatta sebagai satu-satunya peserta Musyawarah Nasional yang tidak berdiri ketika
       Presiden Soekarno memasuki ruangan pertemuan.
    Tanggal 22 Maret 1958 surat kabar Bara di Makassar dibredel karena dianggap
       sebagai juru bicara kaum pemberontakan di Sumatra. Demikina pila surat kabar
       Peristiwa da Tegas di Banda Aceh ditutup tanpa batas waktu di Pdang yang diperoleh
       lewat radio pemberontak




   16 | K o m u n i k a s i P o l i t i k - M e d i a d a n P o l i t i k
    Oktober 1960, pemimpin redaksi Warta di Medan, dijatuhi hukuman penjara tiga
       bulan karena memuat gambar Presiden Soekarno dengan teks “Pengecut, Politikus,
       dan Koruptor Besar.”

       Dengan keluarnya Surat Perintah 11 Maret 1966 yang memberikan legitimasi kepada
Letnan Jenderal Soekarno untuk mengambil tindakan dalam rangka penciptaan stabilitas
nasional, teruama di bidang keamanan, politik, dan perekonomian, maka sejak itu Soeharto
mulai melakukan pembenahan dengan melepaskan para tahanan politik orde lama, termasuk
Mochtar Lubis pada Mei 1966, Undang-Undang Pokok Pers No. 11 Tahun 1966
diberlakukan, dan semua surat kabar yang pernah dilarang diperbolehkan terbit kembali,
kecuali surat kabar yang berhaluan komunis dan cina karena keterlibatannya dalam Gerakan
30 September 1965.

       Sejak tahun 1966 industri surat kabar mulai marak dengan hadirnya kembali surat-
surat kabar yang tadinya dilarang terbit oleh rezim Orde Lama Soekarno, misalnya Indonesia
Raya. Pedoman, Abadi, Nusantara, serta munculnya beberapa surat kabar baru, antara lain
Harian Kami. Sinar Harapan, Berita Yudha, Kompas, Suara Karya, Mercu Suar, Duta
Masyarakat. Surat-surat kabar ini adayang independen dan ada pula yang berhaluan dengan
partai-partai. Sayangnya, ketika peristiwa Malaria Januari 1974, Soeharto kembali menutup
sebagian besar surat kabar tersebut karena dinilai terlalu vulgar dalam memberitakan
kerusuhan. Begitu ketanya pemerintah dibawah pengausa Panglima Komando Pemulihan
Keamanan dan Ketertiban (Pangkopkamtib), budaya telepon sejarah kewartawanan
Indonesia. Jurnalistik kepiting adalah model pemberitaan yang keluar untuk menggi-git
sedikit sedikit-sedikit, tetapi jika diburu lari kembali bersembunyi di balik batu.

       Selama 32 tahun pemerintahan Soekarno, kehidupan media bisa dikatakan mengalami
pasang surut dalam hubungannya dengan pemerintah, terutamaupaya mengatur para
wartawan dengan mengangkat tokoh wartawan BM. Diah dan Harmoko sebagai Menteri
Penerangan. Namun, dalam kenyataannya tekanan pada pers tidak berhenti dengan dalih oleh
Laksus Kopkamtib sehingga antara tahun 1982 sampai tahun 1997 ada enam surat kabar dan
majalah yang dilarang terbit, yakni Prioritas, Sinar Harapan, Tempo, Detik, Editor, dan
Tabloid Monitor, sementara wartawannya ditahan untuk interogasi. Uniknya, Menteri
Penerangan pada waktu itu, Harmoko yang sekaligus sebagai ketua Dewan Pers semestinya
memperjuangkan kebebasan pers justru merekomendasikan SIUP Tempo dicabut, tetapi
   17 | K o m u n i k a s i P o l i t i k - M e d i a d a n P o l i t i k
Jacob Utama sebagai anggota Dewan Pers mengatakan tidak demikian. Dewan pers juga
berada dalam suasana yang sangat dilematis. Saat wartawan Sidney Morning Herald, David
Jenkins, melaporkan bisnis keluarga Cendana, Menteri Penerangan, Harmoko, segera
melarang peredaran harian tersebut di Indonesia. Bukan cuma itu, Hamoko juga menuduh
bahwa para wartawan asing di Jakarta mempraktikkan jurnalistik alkohol, yakni menulis
tidak berdasar fakta, tetapi lebih banyak menulis berdasar ngerumpi sambil minum samapi
mabuk di pub atau kafe (Stanley, 2006).

       Ketika soeharto lengser sebagai Presiden RI terlama pada tahun 1998 dan digantikan
oleh Prof. Dr. Ing. Baharuddin Jusuf pers melalui Menteri Penerangan Letnan Jenderal Yunus
Yosfiah dengan mengizinkan semua media bisa terbit tanpa surat izin terbit. Demikian pila
regulasi pendirian stasiun penyiaran televisi dipermudah. Sejak itu jumlah penerbitan
meningkat sangat tajam, demikian pula stasiun-stasiun penyiaran televisi muncul di daerah-
daerah sebagai sebuah euforia reformasi. Meski dalam suasana yang penuh dengan
kebebasan, tidak berarti gesekan antara media dan pemerintah tidak ada. Hanya saja frekuensi
konflik antara keduanya dapat dikatakan mengalami penurunan. Catatan tentang hubungan
media dan pemerintah selama dua tahun dalam era reformasi dari 3 Mei 1999 sampai 3 Mei
2001 (Salahuddin; 2001) dapat dikemukakan sebagai berikut:

      2 September 1999, Kepala Badan Koordinasi Intelejen Negara (BAKIN) Letnan
       Jenderal Z.A. Maulani mengadukan Sriwijaya Post karena harian itu menulis berita
       “Kabakin Terima Rp400 miliar” pada tanggal 25 Agustus 1999, meski Sriwijaya Post
       pada akhirnya minta maaf.
      28 Maret 2000, M. Iqbal Andi Maga, Wartawan harian Tinombala Palu dipecat oleh
       pimpinan perusahaan secara sepihak karena Iqbal sering kali mengkritik kebijaka
       Gubernur Sulawesi Tengah Paliuju. Pemberitaan Iqbal membuat kelangsungan hidup
       harian Inombala dalam keadaan sulit karena tekanan Gubernur.
      17 Mei 2000, 150 wartawan yang biasa bertugas di Binagraha memutuskan untuk
       memboikot peliputan di istana karena pihak Sekretariat Kepresidenan dinilai
       menghalangi akses informasi dari sumber berita, yakni para wartawan dilarang
       mewawancarai para menteri yang akan mengikuti sidang kabinet di Istana Negera.
      24 Maret 2001, Gubenur Maluku Utara Abdul Muhyie selaku Penguasa Darurat Sipil
       (PDS) mengancam akan melarang wartawan RCTI dan TPI meliput di wilayahnya.

   18 | K o m u n i k a s i P o l i t i k - M e d i a d a n P o l i t i k
       Ancaman ini tertuang dalam maklumat PDS No. 196/PDS-20032001 yang dibacakan
       oleh Gubernur pada hari Sabtu 24 Maret 2001. Maklumat itu menyebutkan kedua
       korespondentelevisi tersebut terkesan menciptakan informasi yang keliru di
       masyarakat. Keduanya juga diperingatkan tidak lagi membuat berita provokatif yang
       merongrong wibawa pemerintah. Media lokal, yakni Tabloid Ternate Pos, Harian
       Fokus dan Harian Mimbar Kieraha juga diberi peringatan agar tidak lagi membuat
       berita-berita yang meresahkan masyarakat. Jika mereka masih bandel, ketiga surat
       kabar itu akan dilarang terbit dan iedarkan dalam wilayah provinsi Maluku Utara.

       Permusuhan antara pers dengan pemerintah menurut Meriil dikarenakan media
menjalankan fungsinya watchdog dalam mengontrol jalannya pemerintah. Meriil justru
mempertanyakan kenapa hubungan antara media dan pemerintah mesti bermusuhan. Karena
tidak bisa bersahabat dan bekerja sama untuk kepentingan orang banyak. Bukankah keduanya
bekerja untuk kepentingan publik? Tampak media atau wartawan senang jika memiliki sikap
berlawanan dengan pemerintah, padahal hubungan antara keduanya sesungguhnya tidak
dibentuk atas dasar permusuhan, melainkan hidup dalam satu kehidupan yang simbiosis dan
saling membutuhkan. Media and politician can be te best of friends.

       Mengenai format hubungan antar media dengan pemerintah (politisi) serta masyarakat
dapat digambarkan sebagai berikut:

                   Masyarakat                                 Media




                                          Pemerintah

    Gambar 2 Pola Hubungan Kerja Sama antara Masyarakat, Media, dan Pemerintah

       Dari gambar ini terlihat adanya mitra kerja sama segitiga antara masyarakat, media,
dan pemerintah. Demikian pula dalam hal pengawasan, bukan hanya media yang memiliki
hak pengawasan terhadap pemerintah dan masyarakat, tetapi antara ketiganya saling
mengawasi satu sama lain. Tentu saja menjadi persoalan jika media tidak memiliki kesedian
untuk diawasi oelh pemerintah atau masyarakat. Ini berarti media menuntut adanya hak-hak
   19 | K o m u n i k a s i P o l i t i k - M e d i a d a n P o l i t i k
khusus atau keistimewaan, padahal sebagai suatu lembaga kemasyarakatan ia memiliki
kedudukan yang sama dengan lembaga-lembaga sosial lainnya atau individu di depan hukum.
Pengawasan tidak diartikan sama dengan pembredelan atau kontrol dalam bentuk sensor,
melainkan pengendalian agar tetap berada dalam landasan cita-cita bangsa untuk
menciptakan suatu negara adil, makmur, dan sejahtera.

       Pada akhirnya diharapkan peran media bukan hanya memberitakan, tetapi juga dalam
koridor pembangunan bengsa (nation building). Pemerintah menginginkan media dapat
memelihara hegemoni, dengan tidak perlu memproteksi struktur sosial melalui tekanan atau
kekuatan bersenjata, melainkan masyarakat bisa hidup dalam situasi yang konduksif untuk
bekerja dan mencari penghidupan. Untuk media sedapat mungkin berperan untuk memelihara
kondisi masyarakat yang demikian (hegemony). Jadi wartawan dan organisasi-organisasi
media tidak bisa dilihat secara sederhana, yakni hanya melaporkan peristiwa sebagai berita,
melainkan bisa berpartisipasi di dalamnya dan bertindak sebagai pelaku dan pendukung
terwujudnya hegemoni tersebut (McNair: 2003).

       Disini dapat dilihat betapa sulitnya tugas para karyawandi semua negara, khususnya
di negara-negara sedang berkembang, sebab ia berhadapan pada dua sisi kepentingan, yakni
kepentingan pada profesionalisme yang bisa sinergi dengan harapan negara, dimana kedua-
nya menjadi bagian dari tugas nasional. Jadi media dalam memberitakan suatu kejadian
sedapat mungkin bisa melayani kebutuhan masyarakat akan “hak untu mengetahui”, serta
menawarkan opsi terhadap pilihan politik dengan menyuburkan tumbuhnya partisipasi
masyarakat dalam urusan-urusan pemerintahan dan kemanusiaan (Guravitch dan J.G. blumler
dalam Lichtenberg: 1991).

       Dalam hal penegakan demokrasi, Gurevitch dan J.G. blumler dalam Lichtenberg
(1991) mengharapkan media massa bisa berperan untuk:

      Mengawasi lingkungan sosial politik dengan melaporkan perkembangan hal-hal yang
       menimpa masyarakat, apakah masyarakat makin sejatera atau tidak;
      Melakukan agenda setting dengan mengangkat isu-isu kunci yang perlu dipikirkan
       dan dicarikan jalan keluar oleh masyarakat;
      Menjadi platform dalam rangka menciptakan forum diskusi antara politisi dan juru
       negara terhadap kelompok kepentingan dan kasus lainnya;
   20 | K o m u n i k a s i P o l i t i k - M e d i a d a n P o l i t i k
      Membangun jembatan dialog antara pemegang kekuasaan pemerintahan dan
       masyarakat luas;
      Membangun mekanisme sehingga masyarakat memiliki keterlibatan dalam hal
       kebijakan publik;
      Merangsang masyarakat untuk belajar, memilih, dan melibatkan diri, dan tidak hanya
       semata pengikut dalam proses politik;
      Menolak upaya dalam bentuk campur tangan pihak-pihak tertentu agar pers keluar
       dari kemerdekaan dan integritasnya;
      Mengembangkan potensi masyarakat untuk peduli terhadap lingkungan politiknya;

       Untuk mengembangkan harapan media massa dalam perjuangan demokrasi, sudah
tentu tidak begitu mudah. Ada empat hal yang bisa menjadi rintangan dalam pencapaian
peran media dalam mendorong demokrasi, antara lain: (1) Konflik yang terjadi di antara
nilai-nilai demokrasi itu sendiri, demikian pula konflik antar pendapat mayoritas dan
pandangan kelompok marginal yang haus didengar. (2) para komunikator poliyik yang
berwewenang sering muncul sebagai elite dunia atau nasional sehingga jauh dari lingkungan
dan perspektif orang biasa. (3) tidak semua anggota masyarakat tertarik pada politik. Dalam
pandangan demokrasi liberal orang berusaha memiliki kemerdekaan untuk menentukan
dirinya dan menentukan jarak terhadap sistem politik yang ada, termasuk hak untuk
menentukan selera politik. (4) media dalam mendorong nilai-nilai demokrasi hanya dengan
cara yang sesuai lingkungan politik yang berjalan.

       Di AS media sebagai perusahaan bisnis harus hidup dalam pompetisi pasar, seperti
Rupert Murdoch yang mengendalikan kebijakan editorial surat-surat kabar yang berada
dalam kekuasaannya, termasuk menggiring pemerintah kota dan General Electric sebagai
pemilik modal stasiun-stasiun TV di AS. Selain itu, kendala politik juga menjadi masalah, di
mana “national interest” sering kali di canangkan oleh presiden, terutama dalam hal
hubungan luar nereri, perbankan, dan masalah pertahanan dan militer. Oleh karena itu, Hallin
dalam McNair (2003) menekankan agar media dalam memelihara hegemoni antara kekuatan-
kekuatan yang berperan dalam masyarakat, temasuk media massa di harapkan bisa lebih
fleksibel dan mudah beradap tasi dalam pencairan kondisi sehingga system politik yang ada
dalam masyarakat tidak membeku dan tersumbat, melainkan bisa lebih dinamis. Untuk itu


   21 | K o m u n i k a s i P o l i t i k - M e d i a d a n P o l i t i k
media harus membuka dari sebagai ruang public (public sphere) dan menjadi wacana bagi
semua pihak.

       Berbeda dengan pandangan yang menginginkan adanya kerjasama antara dengan
pemerintah, mahaguru komunikasi, dari university of Oregon Everett E. dennis, justru
melihat media sebaliknya bersikap kritis dan argumentative terhadap pemerintah. Alasannya,
karena informasi yang di sebarkan media dapat menimbulkan kekuatan untuk melawan
penguasa yang ada. Oleh karena itu, pers sebagai lambang kekuasaan di perebutkan oleh
para elite sejak dulu sampai sekarang guna mengendalikan informasi yang di se dan
mendukung kebijakannya. Hal ini juga sejalan dengan pandangan Robert W. McChesney
dalam Thomas (2004) bahwa tanpa campur tangan pemerintah, media akan sehat dan tumbuh
subur untuk mendukung terwujudnya apa yang di sebut kebebasan politik.

       Usaha pemerintah untuk menjaga stabilitas dalam negri dengan mencoba mendekati
media dapat di pahami karena bisa di katakana hampir semua pemerintah di dunia tidak ada
yang menginginkan media mengacaukan masyarakat. Mereka berusaha menjinakkan media
dengan berbagai macam alat penekan, melalui penggunaan tekanan hokum (legal pressure ),
ekonomi dan political pressure, undang- undaang kerahasiaan Negara, dan yang palingg
buruk adalah sensor. Selain itu, pemerintah menggunakan media untuk mempromosikan diri
dengan program dan kebijakannya, sekaligus untuk mengontrol dan mengetahui apa yang
terjadi dalam masyarakat. Persoalan yang timbul, bagaimana profesionalisme pers bisa
memahami hal ini, apakah tujuan pemerintah sejalan dengan tujuan pers.

       Menurut kalangan pers, suatu hal yang agak keliru dan salah kaprah adalh jika media
pers selalu di asosiasikan dengan sifat menyerang kepada pemerintah. Pers menginginkan
pemerintah harus jujur, pers akan terpancing untuk mencari ketidakjujuran itu. Sebaliknya
pers juga harus jujur dan tidak mencari-cari kesalahan yang tidak benar untuk kepentingan
tertentu atau di peralat. Pers harus selalu waspada untuk tidak di jadikan kuda tunggangan
dalam mengejar ambisi seseorang. Pers harus berusaha untuk menghindari agar iya tidak di
jadikan moncong oleh para politisi, meski selama ini pers tidak pernah menjadikan para
politisi sebagai moncongnya.

       Meski hubungan antara pers dan pemerintah (termasuk politisi) mengalami pasang
surut dalam perjuangan menegakakn demokrasi, terutama dalam mengingatkan para petugas
   22 | K o m u n i k a s i P o l i t i k - M e d i a d a n P o l i t i k
Negara yang di beri legitimasi sebagai wakil rakyat untuk mengurus kepentingan rakyat,
namun kondisi itu tidak mengurangi nyali para wartawan untuk melaksanakan
profesionalisme dengan rambu-rambu hukum yang bisa menjerat mereka dalam bentuk delik
pidana. Idealisme profesionalisme untuk mendudukkan mereka sebagai watchdog (anjing
penjaga) seperti istilah Sayed Arabi Idiid sebagai inspektur jenderal yang bertugas
mengkritisi jalannya pemerintah agar tidak melenceng dari cita-cita demokrasi. Pers sekali-
kali perlu menggigit, tetapi kalau bisa jangan sampai melukai. Bahkan dalam posisi yang
lebih penting pers atau media di tempatkan pada posisi the fourth branch of government,
yakni sebagai pilar keempat demokrasi selain perlemen (legislative), pemerintah (eksekutif),
dan peradilan (yudikatif).

         Di sini bisa di lihat betapa sulit memahami kebebasan pers suatu Negara tanpa
memahami system yang berlaku dalam Negara itu, sebab free press can also lead to bad
government “kata kishore Mahbubini (1993). Membangun hubungan antara media dan
dengan pemerintah tidak mudah sebab media selain berfingsi sebagai peredictor of political
change, juga berperan sebagai political actor dalam suatu Negara. Media tidak hanya melihat
dalam proses pemilu, tetapi juga dalam tugas-tugas rutin pemerintah sampai kepada pesan-
pesan iklan dan program hiburan yang bernuansa politik. Keterlibatan media sebagai actor
politik dapat di lihat selain perannya dalam membuat agenda untuk mendapatkan perhatian
public, juga melalui berbagai bentuk publikasi yang dapat di jadikan sebagai wacana politik.
Misalnya kolom yang di tulis oleh orang tertentu, feature tentang figure politisi, karikatur,
sementara dalam media siaran selain dalam bentuk iklan politik, juga di sediakan program
debat dan talk show yang bisa di isi oleh para politisi sebagai peluang untuk beriklan tanpa
bayar.

         Meskipun konflik antara pers dengan pemerintah, khususnya pemerintah pusat tidak
begitu banyak selama reformasi, konflik antara mdia dengan partai politik bayak terjadi,
termasuk dengan aparat TNI dan polri. Konflik itu tampaknya lebih banya di warnai dendam
pribadi dan tidak lagi dalam bentuk intervensi lembaga kemiliteran terhadap pers pada massa
rezim Soekarno dan Soeharto. Contoh konflik antara media dan massa p parpol serta aparat
dapat di sebutkan sebagai berikut.

        24 November 1999, Majalah Tempo No. 38, 22 November 1999 menurunkan laporan
         “Hamzah Haz dan Tuduhan Korupsi.” Gerakan pemuda Ka‟bah (GPK) kelompok
   23 | K o m u n i k a s i P o l i t i k - M e d i a d a n P o l i t i k
       pendukung PPP jadi berang. Mereka berunjuk rasa mengetuk Tempo, Sekjen GPK
       Emron Pangkati menuduh pers, termasuk Tempo terlibat dalam konspirasi yang
       bertujuan merusak nama baik Hamzah Haz yang ujung-ujungnya bertujuan mmecah
       belah PPP.
      6-7 Mei 2000, Harian Jawa Pos edisi minggu 7 Mei tidak bisa terbit karena kantor
       media ini di duduki Benser-Ansor dari sore hari hingga tengah maam menyebabkan
       wartawan tidak bisa bekerja. Insiden pendudukan Kantor Jawa Pos di picu berita yang
       berjudul “PKB gerah, PBNU bentuk tim klasifikasi.”para demonstran menuntut tiga
       hal, yakni memecat wartawan yang menulis berita tersebut, minta maaf melalui iklan
       selama satu bulan penuh, dan membangun masjid senilai Rp 35 miliar.
      23 Juni 2000, komandan lascar Jihat Djafar Umar Thalib mengancam akan
       membunuh para wartawan Siuwalima danakan menghancurkan kantor harian yang
       bertiras 5.000 eksemplar itu. Pasalnya, menurut Djafar isi surat kabar Siuwalima
       banyak mendiskreditkan umat islam di Ambon. Akibat ancaman itu, para wartawan
       siuwalima menyembunyikan diri selama beberapa hari.

       Dari uraian di atas, kita memperoleh kesan bahwa hubungan antara media dan politik
selama masa reformasi, kalaupun tidak lagi terlalu banyak tekanan dan campur tangan dari
pihak pemerintah dan militer., konflik dengan partai politik frekuensinya cukup tinggi
terutama dalam hubunganya dengan gerakan amuk masa yang banyak di gerakkan oleh
partai-partai politik. Baik itu di tingkat pusat maupun di daerah-daerah.

       Maraknya tampilan berita tentang korupsi, illegal logging dan unjuk rasa di gedung-
gedung pemerintah, markas kepolisian, kejaksaan, dan parlemen tidak lagi menjadi momok
bagi para pejabat Indonesia karena hal itu di pandang memberi peluang kepada media untuk
mencoba memerankan diri dalam membantu pemerintah menciptakan good governance yang
transparan dan akuntabel. Kebiasaan-kebiasaan yang tadinya di anggap sensitive dan peka
dalam budaya birokrasi Indonesia semasa pemerintahan Soeharto melalui berbagai macam
euphemism, makin di sadari sebagai upaya                 rezim orde baru    mengemas diri untuk
membunuh sifat-sifat kritis masyarakat. Oleh karena itu, keberania masyaraka untuk
mengkritik para birokrat bukan hanya dalam bentuk berita Koran dan televise atau unjuk rasa,
tetapi secara terang-terangan di lakukan dalam bentuk parody dan tayang”Republik Mimpi”
menjadi hiburan tersendiri bagi masyarakat untuk melihat perangai para pemimpin bangsa.

   24 | K o m u n i k a s i P o l i t i k - M e d i a d a n P o l i t i k
       Tayangan seperti ini tentu saja memiliki nilai plus minus atau pro dan konta, tetapi di
sisi lain memiliki manfaat agar jabatan-jabatan birokrasi kenegaraan seperti presiden dan
menteri tidak lagi di lihat sebagai posisi yang sacral dari masyarakat, melainkan pendekatan
dan menteri kpepada rakyat sehingga tidak terlihat jarak yang begitu jauh. Dalam
huubungannya dengan keberanian mereka melakukan kritik, mereka melihat para pejabat
adalah representasi public yang memiliki legitimasi. Karena itu, mereka harus siap menerima
kritik dari masyarakat. Kata Thomas Jafferson; Politician who complain about media are like
sailors who complain about the sea, atau dengan pepatah lama “ jangan berubah di tepi pantai
jika takut di lebur ombak, jangan jadi pejabat public jika takut di kritik oleh media.”

2.3. Media dan Privasi

       Meskipun gerakan reformasi di Indonesia telah melahirkan kebebasan pers yang
begitu besar, di sisi lain dampak kebebasan ini juga telah menimbulkan berbagai macam
masalah. Jika semasa pemerintah Soekarno dan Soeharto banyak menimbulkan gesekan
antara media dan pemerintah, hal itu bisa di pahami karena posisi pejabat public pada
tempatnya mendapat sasaran kritik agar bisa menjalankan pemerintah yang baik. Campur
tangan media trhadap privacy seorang pejbat public menjadi sasaran kritik karena pejabat
yang di duduki merupakan presentasi dari legitimasi orang banyak.

       Kasus Gari Hart misalnya mencalonkan diri sebagai Presiden Amerika, dan Joseph
Kenndy yang mencalonkan diri sebagai Gubernur Massachusett, harus mundur karena usil
media. Kasus Bill Clinton dengan Monika Lewensky yang menjadi hangat sehingga hampir
melahirkan    impeach buat Presiden Amerika yang fotogenik itu. Demikian juga halnya
dengan calon partai Republik untuk Presiden AS 2008 McCain pernah memiliki hubungan
romantic dengan Vicki Iseman menurut harian The New York Times. Vicki adalah seorang
perempuan yang punya kerja sebagai pelobi dan sering muncul di kantor McCain ketika ia
menjabat sebagai Ketua Komite Perdagangan Senat AS.

       Kasus yang sama juga menimpa Presiden RI pertama Ir. Soekarno ketika surat-surat
kabar Indonesia pada Juni 1953 ramai memberitakan perkawinannya dengan seorang
jandavberanak satu yang bernama Hartini. Presiden Soekarno yang menjadi sasaran para ibu-
ibu ketika itu menjawab bahwa hal itu bisa saja terjadi antara seorang laki-laki dan seorang
anak perempuan.” Begitu gencarnya serangan media sampai Wakil Jaksa Agung merasa perlu
   25 | K o m u n i k a s i P o l i t i k - M e d i a d a n P o l i t i k
memperingatkan persatuan waartawan agar tidak mempergunakan kejadian itu sebagai dalih
untuk menghina preasiden. Bahkan kasus terakhir adalah perguncingan yang melibatkan
Presiden RI ke-4 Abdurrachman Wahid (Gusdur) dengan Aryanti Sitepu, yang di tembus oleh
para lawan politiknya melalui media sehingga Dewan Pres Indonesia harus turun tangan.

         Dari kejadian itu bisa di tarik pelajaran bahwa para tokoh yang menjadi sasaran
tembak adalah public figur sehingga sangat sulit di pisahkan sebagai individu dalam posisi
penting, tetapi di sisi lain sebagai individu yang memiliki privasi dengan jabatan public yang
di dudukinya. Suatu hal yang tidak bisa di abaikan adalah sikap pers yang kadang menjadi isu
atau gosip para publik figur memiliki nilai komersial sehingga media kadang mendramatisasi
masalah-masalah kecil menjadi berkepanjangan karena unsure komersialisasi tersebut. Tentu
saja hal ini tidak ada larangan, tetapi salah sedikit dapat menyentuh privasi sehingga bisa
menimbulkan delik hukum karena rasa malu di mana masalah pribadi yang bersangkutan di
buka untuk umum.

         Memang dalam banyak hal pers Indonesia sejak reformasi cenderung menyerempet
hal-hal bersifat privasi sehingga di anggap melakukan fitnah dan pencemaran nama baik
orang lain. Laporan terakhir Dewan Pers Indonesia bahwa mulai dari April 2000 sampai Mei
2003 telah masuk 349 macam pengaduan dari anggota masyarakat tentang hak jawab dan
klarifikasi. Pengaduan ini di libatkan 189 surat kabar harian dan mingguan Indonesia atau 33
persen dari total jumlah penerbitan surat kabar dan majalah di Indonesia, serta 3 surat kabar
asing.

         Pengaduan dari anggota masyarakat yang di nilai telah melanggar hak-hak privasi
mereka, tidak saja dalam bentuk klarivikasi dan hak jawab, melainkan banyak kasus secara
terpaksa harus di selesaikan di depan meja hijau, misalnya sebagai berikut.

        Warta Republik, 25 Agustus 1999 menurunkan berita “cinta Segitiga Dua Jenderal;
         Try Sutrisno dan Edy Sudrajat berebut janda.” Laporan ini di muat pada edisi pertama
         November 1998, tanpa wawancara kepada yang bersangkutan, melainkan hanya
         bersumber dari desas-desus. Pemimpin Redaksi Warta Republik di adukan
         kepengadilan dan di jatuhi hukuman percobaan karena pencemaran nama baik.
        Akibat tulisan Kontan, edisi 13 Maret 2000, raja property Ir. Ciputra berniat
         mengadukan tabloid itu ke pengadilan. Pasalnya Kontan memuat tulisan mengenai
   26 | K o m u n i k a s i P o l i t i k - M e d i a d a n P o l i t i k
       aksi para konglomerasi yang di tengarai turut membiayai kasus 27 Juli termasuk
       Ciputra.
      29 Agustus 2000, polisi berencana memeriksa Gatra. Hal itu di sebabkan karena
       Gatra telah menurunkan berita dugaan skandal Gus Dur dengan Aryanti Sitepu. Hal
       itu di sampaikan Kasubdisnum Mabes Polri Senior Superintenden Saleh Saaf dua hari
       setelah majalah Gatra terbit dengan judul cover “heboh Foto Intim Gus Dur-
       Aryanti.”kegiatan yang di lakukan oleh Gatra maupun Aryanti Sitepu dapat di
       kategorikan melanggar hukum dan                etika     kesantunan yang secara tendensius
       menyerang pribadi presiden.
      Letnen TNI Djadja Suparman mengajukan pengaduan terhadap The Jakarta Post,
       Jawa Pos, Radar Bali, Sumatra express, pelita, dan dan Rakyat Merdeka tentang berita
       “Misterius , Dua Jenderal berada di Bali Saat Ledakan.” Masing-masing pada tanggal
       28 dan 29 Desember 2002.
      Surat kabar Rakyat Merdeka, 8 Januari 2002 menurunkan berita “Akbar Sengaja
       Dihabisi, Golkar Nangis Darah.” Akbar tersinggung dengan ilustrasi karikatur yang
       menyertai laporan itu dalam keadaan telanjang dada dengan peluh bercucuran, serta
       muka menahan tangis. Akbar merasa terhina dan mengajukan tuntunan atas
       pembertiaan itu.
      Tempo memuat berita 22 Februari 2003 dengan judul “Polisi Bantah Menangkap
       Anak Wakil Presiden Saat Berpesta Narkoba.” Berita ini di tanggapi oleh M. Said
       Baidury, staf khasus Walpres Hamzah Haz, sementara anak yang di tangkap adalah
       anak dari istri ke tiga Hamzah Haz dari suami sebelumnya.
      20 Januari 2004, Pengadialan Negeri Jakarta Selatan menjatuhkan vonis terhadap
       Koran Tempo untuk membayar ganti rugi sebesar US$ 1 Juta kepada Tomy Winata
       atau berita sepanjang tahun 2003 dengan berbagai judul, antara lain ada Tomy di
       tanah abang. Tomy membantah dan marah di juluki sebagai “Pemulung Besar.”
       Akibat pemberitaan itu Tomy marah dan mengerahkan lebih 200 orang pendukungnya
       berunjuk rasa dengan kekerasan ke kantor redaksi Tempo.

       Jika kita perhatikan kasus-kasus yang yang menyebabkan terseretnya media dalam
privasi seseorang, serta tuntutan yang bisa terjadi pada media, hal itu tidak saja terjadi di
Indonesia, tetapi juga di Negara-negara yang telah maju. Model Dunia Naomi Campbll
misalnya, pernah menuntut sebuah Koran di Amerika Serikat sebesar 3 juta dollar AS karena
   27 | K o m u n i k a s i P o l i t i k - M e d i a d a n P o l i t i k
Koran itu memberitakan Naomi telah melakukan operasi plastic di pinggulnya. Merasa tidak
pernah melakukan hal itu, dan merasa berita tersebut merusak reputasinya, akhirnya tuntutan
ini di menangkan oleh Naomi dan Koran tersebut harus membayar US$ 3 juta. Mengenai
privasi seseorang, sebuah survey pernah di laksanakan di Amerika Serikat dalam tahun 1982,
ternyata hasilnya menunjukkan 6 dari 10 orang menyatakan menolak di wawancara oleh para
wartawan, dan memandang masalah privasi seseorang jauh lebih penting dari pada kbebasan
pers.

2.4. Konsenkuensi Hukum Hubungan Antara Media dengan Politik

        Hubungan antara media dengan politik dapat di lihat sebagai suatu hal yang sangat
menarik, terutama ketergantungan antara suumber berita dengan pihak yang memberitakan.
Namun, di sisi lain hubungan itu cukup rawan jika para pekerja media tidak hati-hati
menjalankan tugas kewartawanannya secara professional sebab hal itu bisa menimbulkan
delik hukum. Ada beberapa faktor yang bisa menyeret para pekerja media di dalam delik
hukum, antara lain:

       Arogansi profesi, terutama para pekerja media yang berusia muda;
       Tidak menjaga profesi orang lain;
       Memandang profesi wartawan sebagai profesi istimewa (merangsang oraang muda
        untuk aktualisasi diri);
       Melakukan malpraktik jurnalistik;
       SDM yang tidak professional-untuk bisa membedakan mana yang seharusnya di
        beritakan, dan mana yang tidak seharusnya di beritakan;
       Melakukan character assassination;
       Mengacaukan masyarakat;
       Menabrak rambu-rambu Undang- Undang Pers dan penyiaran serta etika jurnalistik.

        Hal yang di uraikan di atas perlu mendapat perhatian bagi para pekerja media dalam
menjalankan profesinya. Menurut Prof. Crispin C. Maslog, guru besar jurnalistik dari
university of the Philippines Los Banos, hidup sebagai pekerja media penuh dengan resiko.
Resiko itu kalau bukan dari bentuk iming-iming hadiah untuk memberitakan atau tidak
memberitakan sesuatu menurut kepantingan orang tertentu, seorang wartawan juga tidak

   28 | K o m u n i k a s i P o l i t i k - M e d i a d a n P o l i t i k
luput dari bentuk-bentuk kekerasan seperti pemukulan, penculikan sampai pembunuhan.
Dari catatan yang di buat oleh IPI di sebutkan sejak tahun 1997 sampai 2003, sudah ada 352
wartawan terbunuh di seluruh dunia, atau rata-rata hampir 5 orang tiap bulannya. Dari jumlah
itu 109 orang di benua Amerika, 85 orang di Eropa, 75 di Asia, 43 di Afrika dan 39 di Timur
Tengah (Unesco, 2003).

       Di Indonesia, keadaan yang sama juga banyak di alami oleh para wartawan, sebagai
mana di alami wartawan Bernas Yogyakarta, Muh. Syafruddin (udin) yang di bunuh karena
kasus impress Dana Tretinggal (IDT), Ersa Siregar kameramen RCTI yang terbunuh dalam
konflik bersenjata antara GAM dengan TNI di Axceh, dan penculikan reporter televisi Metro,
Mautya Hafisd dan Budiyanto oleh pasukan Al-Mujahideen di Irak Februari 2005.

       Efek ketidak profesionalan liputan media sudah tentu akan membawa konsenkuensi
hukum dari hubungsn politik dengan media. Menurut Ginting dalam Dewan Pers (2003), ada
tiga arah yang dapat di lakukan dalam mengatasi keblabasan media dan juga sealigus sebagai
kendali agar media terhindar dari privacy invasion. Pertama adalah swaregulasi yang di
lakukan oleh media itu sendiri, kedua melalui hukum: dan ketiga control melalui lembaga
pengaduan masyarakat (ombudsmen). Banyaknya keluahan masyarakat terhadap pemberitaan
pers yang diproses melalui jalur hukum, terutama dalam hal pencemaran nama baik berita
indiakasi bahwa masyarakat tidak terlalu percaya terhadap kontrol internal yang ada dalam
lembaga-lembaga media. Jalur hukum sengaja di tempuh sebagai bentuk “memberikan
pelajaran” pada media. Dalam memberitakan suatu media suka membesar-besarkan (mem-
blow up), dan ketika berita yang di siarkan itu terbukti tidak akurat, maka hak jawab atau
relatnya dibuat pada kolom yang tersembunyi dalam ukuran yang sangat kecil. Suatu sikap
yang oleh masyarakat di nilai tidak fair sehingga masyarakat cenderung menempuh jalur
hukum dari pada hak jawab.

       Menurut Harkristuti Harkrisnowo (Unisco, 2002), rambu-rambu hukum yang bisa
menjerat wartawan, penerbit atau stsiun peyiaran, cukup banyak (lihat table 2 ). Banyaknya
pasal yang dapatm nenjerat wartawan dalam menjalankan profesinya dalam Undang- Undang
hukum pidana Indonesia, juga dalam Undang- Undang perlindungan konsumen, undang-
undang telekomunikasi dan audiovisual, Undang- Undang pers, dan Undang-Undang
penyiaran merupakan rambu-rambu yang harus di perhatikan oleh setiap wartawn Indonesia
agar tidak terseret masuk dalam delik hukum. Oleh karena itu, kebebasan pers yang selalu di
   29 | K o m u n i k a s i P o l i t i k - M e d i a d a n P o l i t i k
gunakan di perjuangkan boleh di kata hanya sebuah idealism, sebagai mana di nyatakan oleh
Merril (1983) bahwa di seluruh dunia, kebebasan per situ adalah suatu hal yang ideal, dan
boleh di kata tidak ada satupun Negara yang mencapainya, apalagi untuk Negara- negara
yang sedang berkembang. The Free in developing countries in particular is still more an
ideal than reality. Lebih lanjut Merril menyatakan bahwa “freedom does not simpli mean to
be free from everything, freev from other people, free from law, free from morality, free from
thought, free from emotion.

   Tabel 1 Rambu-rambu Tindak Pidana (Delik) Pers dalam Kitab Undang-Undang Hukum
          Pidana (KUHP)

    Jenis                                          Pasal                    Sanksi Maksimal
    Penghinaan                                     310 dst                  9 bulan
    Pengaduan Fitnah                               317                      4 tahun
    Penghinaan Terhadap Kepala Negara/             134, 136 bis, 142, 143   6 tahun
    Wakil Kepala Negara
    Penghinaan terhadap golongan tertentu          156                      5 tahun
    Penghinaan terhadap pemerintah                 154                      5 tahun
    Penghinaan terhadap penguasa umum              207                      7 tahun
    Penghinaan terhadap agama tertentu             156 a                    1 tahun 6 bulan
    Penghasutan                                                             5 tahun
    Penawaran kejahatan                            161                      6 tahun
    Pembocoran rahasia negara                      112                      4 tahun
    Pembocoran rahasia                             32                       7 tahun
    Pornografi                                     282                      9 tahun
    Penyiaran kabar bohong                         Pasal XIV UU 1/1946      1 tahun 6 bulan

   Sumber: Harkristuti Harkrisnowo dalam Unesco (2002)

       Kebebasan pers tidak berarti harus meakukan intervensi dengan mudah para privasi
seseorang.Demikian juga perlakuan hukum kepada pers tidak berarti pengekangan terhadap
kebebasan pers, melainkan untuk mendidik para wartawan agar lebih profesional dan peka
terhadap hal-hal sensitive yang bisa merugikan orang lain atau bangsa dalam arti luas. Untuk
itu pers memiiki tanggung jawab kepada kemanusiaan, temasuk tanggung jawab terhadap
demokrasi. Tidak ada demokrasi tanpa kebebasan berbicara dan tidak mungkin ada
kebebasan berbicara tanpa demokrasi. If democracy fail, it is the foult of the press.

       Sangat aneh jika dalam suatu Negara hukum ada orang tidak mau di kenai aturan
hukum. Oleh karena itu, di depan hukum wartawan tidak ada bedanya dengan warga Negara

   30 | K o m u n i k a s i P o l i t i k - M e d i a d a n P o l i t i k
yang lain. Wartawan tidak memiliki keistimewaan dalam mendapatkan akses untuk hidup
seperti halnya dengan orang lain. Bahkan dalam rancangan revisi KUHP yang di susun sejak
tahun 1998, pasal-pasal refresif untuk pers bukannya di hapus sifat pidananya, justru di
tambah menjadi 42 pasal, sedangkan rancangan yang di buat oleh Departemen Hukum dan
HAM di tambah lagi menjadiv48 pasal. Jangan harap ada kebebasan pers yang lepas dari
undang-undang, sebab para hakim tidak akan membiarkan aturan itu hilang dari Undang-
Undang dengan belajar dari banyak kasus yang terjadi.

       Untuk menjalankan tugas-tugas jurnalistik secara profesional dan terhindar dari
rambu-rambu delik aduan, maka di perlukan Undang-Undang Pers dan Kode Etik untuk di
jadikan pegangan terhadap wartawan. Dengan Undang-Undang pers yang mengatur tentang
fungsi, kewajiban dan peranan pers itu, secara kode etik yang dapat di pedomani oleh stiap
wartawan (lihat Undang–Undang Pers dan Kode Etik Warawan Indonesia, Bab III), maka
wartawan Indonesia di harapkan dapat melaksanakan tugas jurnalistiknya dengan baik sesuai
dengan standar profesionanya. Untuk itu, seorang wartawan dalam mewancarai seorang
sumber, perlu bersikap mawas diri dalam mengajukan pertanyaan yang tidak memojokkan
sehingga menimbulkan rasa antipati dan kehilangan sumber berita. Seorang wartawan harus
memiliki daya antisipasi terhadap efek dari apa yang di tulisnya, apalagi dalam situasi
reformasi, dimana satu kata saja bisa menimbulkan implikasi hukum, dengan kata lain,
semua sudut pemberitaan (angle) harus di cermati. Sebab untuk menciptakan sebuah surat
kabar yang baik, harus memiliki komitmen, tanggung jawab, dan integritas yang tinggi
terhadap profesi jurnalistik.


2.5.   Mitos tentang Media Massa

       2.5.1. Media Massa dan Kontruksi Realitas

       Sejak tahun 1960-an, studi tentang opini publik di Amerika Serikat secara konsisten
menunjukkan bahwa media massa merupakan referensi utama dalam menentukan sikap dan
perilaku politiknya. Mereka percaya bahwa issu-issu spesifik yang dilansir dimedia massa
mepunyai implikasi tertentu dalam kehidupan sosial. Persoalan-persoalan yang dilansir media
massa membentuk peta pemikiran (politik) dalam masyarakt. Austin Ranney mempercayai
ide-ide yang dilontarkan media massa-misal, tentang apa yang dikatakan Richard Nixon dan


   31 | K o m u n i k a s i P o l i t i k - M e d i a d a n P o l i t i k
Jimmy Carter mempengaruhi pendapat umum, seperti halnya yang ada dalam realitas politik
(The World of Politics is really like). Austin Ranney menyebutnya sebagai “Cognitive Maps”.

       Para ahli politik yakin bahwa sumber informasi yang paling utama berpengaruh
terhadap pola pikir masyarakat Amerika adalah media massa televisi, disusul kemundian
surat kabar, baru radio.

       Penelitian Ranney ini mirip dengan hasil studi yang dilakukan Angus Campbell,
Philip E. Converse, Warren E. Miller, dan Donald E. Stoken (1960-an), yang menunjukkan
bahwa televisi sangat berpengaruh terhadap kalangan yang partisipasi politiknya tergolong
pasif. Kalangan seperti ini menganggap bahwa informasi politik melalui televisi sangat
penting.

       Pengaruh yang besar media massa ini disebabkan media massa (terutama televisi)
mempunyai kemampuan:

       Pertama, menciptakan kesan (image) dan persepsi bahwa suatu muatan dalam layar
kaca (visual maupun audio visual) menjadi lebih nyata dari realitasnya (realreality).

       Kedua, media massa mampu membuat liputan “apa yang terjadi” menjadi lebih nyata.
Tentunya atas kemmpuan reporter dalam menformulasikan “what happens” itu menjadi
simbol-simbol verbal, audio, maupun audio-visual. Media bisa menjadi refleksi atau
gambaran lingkungan sekitarnya (Jeffrery Alexander).

       Ketiga, penelitian-penelitian “Uses and Gratification” yang biasanya terfokus pada
efek individu, menemukan fakta bahwa komunikasi mebangun makna ritual (ritual meaning)
yang menggambar-kanbagaimana orang secara bersama-sama dan bekerja sama secara terus-
menerus memakai makna tersebut. Dengan demikian, komunikasi massa membantu orang
menvisualisasikan masyarakatnya, perasaan-perasaannya, dan melakukan pembagian
(sharing) terhadap seperangkat pemaknaan. Media representasikan pandangan-pandangan
yang dipakai masyarakatnya. Pada akhirnya, media bisa menjadi imajinasi simbolik tentang
kesatuan nasional dan identitas nasional.

       Keempat, media diyakini sejak lama menjadi semacam kanal yang berfungsi
mengalirkan emosi dan kecenderungan distruktif psikologis lainnya menjadi gejala internal
   32 | K o m u n i k a s i P o l i t i k - M e d i a d a n P o l i t i k
(individu) yang wajar (normal). Aristoteles, misalnya, sejak ribuan tahun yang silam
menyatakan bahwa menonton pemandangan agresi dapat mengelurkan perasaan-
perasaan agresif yang dimiliki. Teori ini dikenal sebagai Teori Katarsis (Catharsis Theory).
Dominick menjelaskan teori tersebut dengan kata-kata:

“This Theory holds that viewing scenes of aggregasion can actually purge. The viewer’s own
aggressive feeling. Thus, a person who sees a violent television program or movie might end
up less likely to commit viollence.”

       Berbeda dengan Teori Rangsangan (Stimulation Theory), yang menyatakan bahwa
efek media massa adalah significan positive. Artinya, bila seseorang menoton film tentang
kejahatan, sangat mungkin yang bersangkutan terangsang untuk melakukan kejahata. Salah
seorang pakar yang mendukung Teori Rangsangan ini antara lain Albert Bandura. Ia
melakukan riset eksperimental terhadap anak-anak pra-sekolah semacam Taman Kanak-
kanak). Anak-anak ini diputarkan film kejahatan untuk mengetahui bagaimana reaksi anak-
anak terhadap tayangan tersebut. Dalam film tersebut boneka dari karet (dikenal dengan
sebutan Bobo Doll). Setelah menonton film tersebut, diketahui anak-anak cenderung agresif
terhadap stimulus yang sama. Ketika anak-anak tersebut disuguhi boneka Bobo Doll yang
mirip dengan gambar dalam film, anak-anak ini secara spontan menghajar boneka karet
tersebut dengan kemarahan yang tinggi. Bandura meyakini bahwa respons anak-anak tersebut
terhadap isi pesan media massa bersifat imitasi (melakukan peniruan).

       Baik Teori Rangsangan maupun Katarsis sama-sama menunjukkan bahwa media
memiliki relasi terhadap audien-nya.positif atau negatif, konstruktif atau destruktif, pengaruh
tersebut sesungguhnya ditentukan oleh faktor lain (the other) di luar faktor media. Faktor
tersebut bersumber dari komunikannya, tepatnya bagaimana persepsi komunikan terhadap
keberadaan (eksistensi) dari suatu media massa. Ketika media massa dianggap “kredibel”
(dapat dipercaya)- mungkin karena dari sudut jurnalistiknya memiliki akurasi dan validitas
liputan yang tinggi-, maka pengaruh media cenderung besar. Demikian juga, ketika apa yang
disampaikan media bersentuhan secara positif terhadap preferensi sosial, maka media massa
dibutuhkan sebagai penjaga harmoni sosial, memperkuat perasaan sosial. Penelitian-
penelitian ini berangkat dari pernyataan pokok “apa yang dilakukan orang terhadap media”
(What can do people to do media). Penelitian yang lain menunjukkan bahwa besar kecilnya
pengaruh media sangat ditentukan oleh kekuatan ideologis yang memposisikan media dalam
   33 | K o m u n i k a s i P o l i t i k - M e d i a d a n P o l i t i k
masyarakat. Dalam situasi di mana regim di suatu negara cenderung menjalankan politik
represif yang otoriter, maka media cenderung hanya sebagai alat bagi kekuasaan untuk
memperoleh apa yang diinginkan. Banyak regim suatu pemerintahan yang otoriter melakukan
kendali dan koersi yang sangat ketat terhadap media masssa, sehingga media massa
diposisikan hanya sebagai sebuah alat kekuasaan untuk memperbesar efek sisi baik
pemerintahan-nya dan sebaliknya mengecilkan atau sebisanya menutupi setiap hal yang
buruk dari praktek kekuasaannya yang otoriter dan fasis. Gejala membesarkan satu sisi dan
mengecilkan sisi yang lain dalam kerja jurnalistik media sering disebut “hiper-realitas
media”.

       2.5.2. Media Massa dan Kekuasaan

       Dalam tinjauan filsafat, posisi media massa yang demikian ini cenderung sebagai
manifestasi kekuasaan yang menggunakan “rasio instrumental”. Rasio instrumental adalah
rasio yang melihat realitas sebagai potensi untuk manipulasi, ditundukkan dan dikuasai secara
total. Rasio instrumental memandang realitas (alam maupun manusia) sebgai objek untuk
diklasifikasi, dikonseptualisasi, ditata secara efesien untuk tujuan apa pun yang dianggap
penting oleh kekuasaan.

       Media massa menjadi tenpat (wilayah) pertempuran memperebutkan wacana, karena
barangsiapa yang memenangkan pertempuran intu ia bisa mendominasi dan melakukan
hegamoni. Mochtar W. Oetomo berpendapat bahwa sekaranh ini media massa telah menjadi
“arena konversasi publik”. Dengan kuasa mediasi teknologinya, hampir semua bentuk
konversasi penting sosial politik melalui dan didistribusi oleh media. Dalam konteks ini,
media kemudian menjadi pengindentifikasi, pembaca, penerjemah dan pendistribusi realitas.

       Dalam pandangan Yasraf Amir Piliang, fenomena di mana media massa sering
dituduh sebagai tak lebih dari aparatus hegemoni (hegemonic apparatus) sebuah sistem
kekuasaan, ketika ia me-nyampaikan informasi (atau versi informasi) sesuai dengan
kepentingan kekuasaan. Dalam hal ini, tulis Piliang, media tak lebih dari perpanjangan tangan
sebuah sistem kekuasaan hegemonis, sebuah corong untuk memperluas gagasan ideologi
dominan. Menurut Pialang, mestinya media juga bisa menjadi bagian dari perjuangan bagi
hegemoni tandingan (counter hegemony), melalui sebuah sebuah politik yang disebut politik
pertandaan (politics of signication).
   34 | K o m u n i k a s i P o l i t i k - M e d i a d a n P o l i t i k
       Sesungguhnya media merupakan bagian dari sebuah kekerasan simbolik (symbolic
violence) dari sebuah kekerasan simbolik (symbolic battle-field) tempat terjadinya perebutan
dominasi simbolik di antara berbagai kepentingan, yang dalam perang itu tidak hanya terjadi
proses perjuangan hegemoni, tapi lebih jauh lagi diterapkannya berbagi bentuk kekerasan,
khususnya apa yang disebut kekerasan simbolik (symbolic violence) dan kekerasan semiotik
(semiotic violence).

       Piling membedakan antara kekerasan simbolik dengan hegemoni. Bila kekerasan
hegemoni. Bila dalam kekerasan hegemoni aspirasi dari bawah (masyarakat sipil) diserap dan
diartikulasikan untuk memenangkan penerimaan publik, maka dalam mekanisme kekerasan
simbol, sebaliknya penerimaan publik didistorsikan sedemikian rupa, sehingga publik
menerima kriteria, konsep atau nilai–nilai kelas dominan untuk menilai diri dan
mendefinisikan pandangan mereka sendiri. Konsep kekerasan simbol memenciptakan sebuah
mekanisme sosial, yang didalamnya relasi komunikasi saling bertautan dengan relasi
kekuasaan. Sebuah sistem kekuasaan berusaha melanggengkan posisidominannya denga cara
mendominasi (mendistorsi) media komunikasi, bahasa yang digunakan dalam komuniksai,
tanda-tanda yang dipertukarkan, serta interpretasi terhadap tanda-tanda tersebut, sehingga
yang dikembangkan adalah prinsip mono-signification dan monosemy, yaitu pertandaan dan
pemaknaan serba tunggal.

       Ketika media berfungsi sebagai instrument hegemoni, maka apa yang dipresentasikan
oleh media mengenai pesan tertentu, akan terkonstruksi dalam benak imajinasi (kognisi)
khalayak. Itu adalah konsekuensi media sebagai pengkonstruksi, pembentuk, pelebaran,
penyempit kognisi khalayak. Maka, sesungguhnya media telah menjadi alat           perjuangan
simbol bagi kelas-kelas (elit-elit) kapitalis (sebagai sebuah jaringan hegemoni yang memiliki
relasi kuasa: ekonomi, politik, budaya) dan kelas buruh sebagi ajang perjuangan kelas.

       Kekuasaan yang dapat menggerakkan media massa menurut hemat kita hanya sebatas
kekuasaan politik )pemerintahan). Ketika media massa telah masuk dalam lingkaran
komoditi, maka ia tak bisa mengelak dari cengkeraman kekuasaan pasar. Media menjadi
bagian dari kekuasaan kapitalistik. Jemes Lull adalah yang banyak mengkritik media massa
karena perannya yang menumbuhkan “kebutuhan palsu”. Lull menyatakan bahwa hampir
semua pakar teori kegunaan dan kepuasan merekomendasikan sebuah konsep sentral dan
psikologi yakni kebutuhan. Tetapi, pemikiran mereka mengenai apakah kebutuhan itu
   35 | K o m u n i k a s i P o l i t i k - M e d i a d a n P o l i t i k
tidaklah sama. Rosengren, misalnya, medefenisikan kebutuhan sebagai “infrastuktur biologis
dan psikologis yang menjadi landasan bagi semua perilaku sosial manusia”. Ada juga yang
menyatakan bahwa sejumlah besar kebutuhan biologis dan psikologis menyebabkan kita
beraksi dan bereaksi. Media massa nebgakumulasikan “tawaran kebutuhan” dengan cara
menarik dan persuasif, sehingga khalayak terkondisikan preferensinya, atau di-pengaruhi
secara terus-menerus dengan penjelasan-penjelasan imajinatif dan tak jarang juga dengan
menggunakan tawaran kenikmatan hedonistik sampai akhirnya muncul “perasaan
membutuhkan”. Di sinilah Lull mengkritisi media massa yang dinggap “menjerumuskan”
publik ke dalam pembentukkan selera dan motof palsu mengkonsumsi suatu barang.
Kecenderungan hegemoni kapitasitik ini mampu menembus ruang sosial dan budaya yang
sesungguhnya tidak berhubungan sama sekali dengan jenis konsumsi yang nyata. Pesan
komunikasi menyebar luas juga kepada khalayak yang bukan sasaran pokoknya.

       Perilaku yang disebabkan hegemoni kekuatan ekonomi terbut sesungguhnya banyak
kita temukan implikasinya dalam kehidupan sehari-hari. Dipedalaman NTT (kabupaten
Manggarai) bisa ditemukan banyak penduduk di sekitar kebun jambu mentenya memiliki
antene parabola yang bisa menonton tayangan dari manca negara. Dalam fenomena tersebut
pasti banyak terjadi keanehan-keanehan yang meiiputi; over-acting, cultural-lag, cultural
shock, dan lainnya.

       Khalayak media massa, menurut Lull, sebagai konsumen potensial didorang untuk
terlibat dengan produk dan tokoh-tokah komersial dengan membayangkan konteks-arena
fisik, keadaan emosi, dan situasi sosial yang sesungguhnya di mana mereka akan dapat
menggunkan produk itu. Lull mencontohkan sebuah iklan mobil Nissan mendorong para
penonton untuk membeli salah satu mobil mereka yang tampak menarik tetapi dengan harga
bersaing. Jargon iklan tersebut berbunyi “Tidak seharusnya hanya orang-orang kaya memiliki
semua kesenangan itu”. Kata-kata ini menjual jauh lebih banyak ketimbang mobil Nissan itu
sendiri. Kata-kata tersebut digunakan untuk membangunsebuah “bayangan situasi” yang
mengartikan materiil menjadi sesuatu yang wajar.

       2.5.3. Media Massa dan Kredo Kebebasan

Penyair besar asal Libanono yang menuntut ilmu di Universitas Boston, Amerika Serikat,
Kahlil Gibran, sempat merumuskan hakekat sebagi berikut :
   36 | K o m u n i k a s i P o l i t i k - M e d i a d a n P o l i t i k
         Aku mencintai kebebasan, dan cintaku kepada kebebasan sejati tumbuh bersama
   berkembangnya pengetahuanku. Mengenai menyerahnya manusia ke dalam perbudakan dan
   penindasan dan tirai, dan juga kepatuhan terhadapberhal-berhala menakutkan yang
   dibangun pada masa-masa lalu dan dibersihkan bibir-bibir terpanggang karena perbudakan.
   Tetapi aku mencintai budak-budak itu dengan cintaku terhadap kebebasan.

         Mati demi kebebasan adalah lebih mulia daripada hidup dalam bayang-bayang
   kepatuhan yang lemah....

          Kehidupan tanpa kebebasan adalah bagai tubuh tanpa jiwa, dan kebebasan tanpa
   pikiran adalah bagai satu roh yang bimbang..... Kehidupan, kebeasan, dan pemikiran adalah
   tritunggal, dan ketiganya abadi dan tidak akan pernah mati.

         Kebebasan mengundang kita menuju meja makanannya. Di sana kita bisa mengambil
   bagian dengan menikmati makanan yang lezat dan minum anggur yang terbaik.




       Konsepsi “kebebasan” yang ditulis Gibran di atas mempunyai makna yang dalam,
sebuah hasil impresi seorang manusia yang berasal dari luar Amerika dan merasakan
bagaimana hidup dalam komunitas yang menempatkan kebebasan sebagai acuan hidup.

       Kebebasan merupakan “fitrah” manusia. Artinya, manusia bangsa apa pun dan
dimana pun berada pastilah merindukan “kebebasan”. Kebebasan merupakan bagian dari
kebahagiaan. Mereka yang terkekang kebebasannya oleh pihak lain atau keberadaannya
sendiri merasakan penderitaan yang dalam. Mereka yang terkekang kebebasannya pasti
merasa hidupnya dirampas, karena itu Gibran mensejajarkan “kebebasan” dengan
“kehidupan”. Maksudnya barangkali orang yang tidak memiliki kebebasan sama dengan
kehidupannya terampas.

       Ketika Soekarno dipenjara oleh Belanda di Sukamiskin tahun 1931, proklamator kita
itu sempat menuliskan pedihnya hidup dalam penjara yang terampas kebebasannya:


    ........ Sukamiskin ialah tak lebih daripada suatu rumah kurungan, dan saja ini tak lebih
    daripada seorang hukuman; seorang manusia yang mesti melupakan kemanusiaannya.
    Dahulu dalam rumah tahanan hidupku dibatasi, sekarang batasnya telah bertambah sempit
    lagi... Orang hukuman sebenarnya tiada lain daripada seekor binatang ternak; orang
    hukuman menurut kata pengarang Djerman Nietzsche, ialah seorang manusia yang
    dijadikan manusia yang tiada mempunyai kemauan sendiri, seperti binatang ternak.

   37 | K o m u n i k a s i P o l i t i k - M e d i a d a n P o l i t i k
       Sejarah Perang Dunia Kedua di mana manusia menjadi korban ketidakbebasan yang
berakibat fatal, menginspirasi menusia untuk menghargai hak azasi manusia. Perwujudan
komitmen ini tampak dengan dikeluarkannya Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia melaui
sidang ketiga Majelis Umum PBB pada tahun 1948. Para peserta sidang secara terbuka
mengatakan bahwa rumusan deklarasi itu sangat dipengaruhi oleh pengalaman perang dunia
kedua itu. Charles Malik, wakil dari Lebanon dalam sidang itu, misalnya, mengatakan bahwa
deklarasi tersebut diilhami oleh perlawanan terhadap doktrin barbar Nazisme dan fasisme.
Kebebasan ekspresi adalah salah satu topik penting yang dibicarakan dan kemudian
tercantum sebagai pasal 19 deklarasi itu.

       Para pejuang kemerdekaan Indonesia juga sangat menaruh perhatian terhadap
konsepsi hak asasi manusia, sehingga dalam pembukaan konstitusi Indonesia dicetuskan
secara eksplisit bahwa “kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa”. Demikian juga dalam
batang tubuhnya UUD 1945 tercantum hak warga negara untuk mengekspresikan
mengeluarkan pendapat secara lisan maupun tertulis (pasal 28).

       Demikian juga dalam kontekas kebebasan pers, bangsa kita menorehkan sejarahnya
sendiri. Kebebasan pers dalam terminologi pers berarti kebebasan mengeluarkan pikiran
secara lisan maupun tertulis (sekarang ditambah direkam) serta melaui sarana-sarana
komunikasi massa. UU No 21 Tahun 1982 tentang perubahan atas UU No. 11 tahun 1966
tentang ketentuan pokok pers sebagaimana telah diubah dengan undang-undang No. 4 tahun
1967, pasal 3,4, dan 5 mengatur sebagai berikut:


   Pers mempunyai hak kontrol, kritik, dan koreksi, yang bersifat konstruktif (pasal 3); terhadap
   pers nasional tidak dikenakan sensor dan pembredelan (pasal 4); kebebasan pers sesuai
   dengan hak asasi warga negara dijamin dan kebebasan pers ini di dasarkan atas tanggung
   jawab nasional.



       Kurniawan Junaedhie lenih lanjut mendata perkembangan lebih lanjut tentang
konsepsi “kebebasan pers” itu kurun waktu pemerintahan Orde Lama dan Orde Baru. Salah
satu yang menarik adalah Sidang pleno XXV Dewan Pers (tepatnya kapan kurang jelas)
memutuskan rumusan tentang pers pembangunan. Pers pembangunan adalah pers Pancasila
   38 | K o m u n i k a s i P o l i t i k - M e d i a d a n P o l i t i k
dalam arti mengamalkan Pancasila dan UUD 1945 dalm pembangunan berbagai aspek
kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara termasuk pembangunan pers itu sendiri.

       Dalam kurun waktu pemerintah Orba muncul juga istilah “pers perjuangan”; bahwa
pers memperjuangkan suatu sistem pers nasional yang secara idiil, aktif, kreatif, positif
memberi sumbangan kepada tegaknya kehidupan demokrasi ekonomi sesuai dengan dengan
pasal 33 UUD 1945. Dan satu lagi tentang konsep “pertanggungjawaban sosial pers”. Saya
menduga munculnya embel-embel atau istilah tambahan di samping “pers yang bebas” dan
“kebebasan pers” itu sebagai pertanda awal campur tangan “negara” dalam urusan media
massa. Melalui terminologi yang khas itulah pemerintah membuat alasan-alasan yang
kelihatannya logis untuk mengurangi kebebasan media dan pada akhirnya berusaha
mengekang sama sekali. Inilah awal mula praktek berusaha mengekang sama sekali. Inilah
awal mula praktek hegemoni negara dalam media massa. Terminologi berubah fungsinya dari
sebuah konsep tentang model jurnalisme tertentu menjadi sebuah apolgia untuk tidak
memberikan hak-hak kebebasan bagi media, dan sebaliknya menjadi argumen untuk
mengekang kebebasan dengan alasan-alasan tertentu.

       Tercatat misalnya pemakaian istilah “jurnalisme pembangunan” yang disalah-
tafsirkan. Istilah ini (devel opment jornalism) muncul awal mula tahun 1970-an oleh sejumlah
orang di Press Foundation of Asia di Manila, Filipina. Menurut lembaga pers ini di Asia
Tenggara yang dibutuhkan adalah sebarisan wartawan berita selidik yang terlatih dalam soal
ekonomi dan dapat menerangkan kepada pembaca tentang seluk beluk tentang kehidupan
rakyat dan meningkatkan kemajuan dan kesejahteraan. Timbulnya ide tentang jurnalisme
pembangunan sesungguhnya bersamaan dengan terjadinya proses pembaruan dalam
penulisan berita di hampir semua negara-negara maju. Seorang wartawan Asia, Alan
Chalkley menulis buku A Manual of Development Jornalism, dalam buku ini antara lain
menulis bahwa tugas wartawan adalah memberikan informasi yang dilaksanakan dengan
mengemukakan fakta serta memberikan interpretasi tentang fakta tersebut. Dan tugas khusus
jurnalisme pembangunan menurut Chakley ialah tugas promosi. Maksudnya, memberikan
pengertian, kesadaran dan rangsangan              bertindak dalam persoalan yang menyangkut
pembangunan, tetapi oleh Harmoko (yang menjabat menteri Penerangan cukup lama di
bawah pemerintahan Soeharto) konsep itu „diselewengkan”. Jurnalisme pembangunan



   39 | K o m u n i k a s i P o l i t i k - M e d i a d a n P o l i t i k
dikaitkan dengan apa yang disebut “pertanggungjawaban sosial pers” (responsibility of the
press).

          Harmoko dalam sebuah tulisannya menyatakan demikian:


   Setelah Orde Baru semakin memantapkan program pembangunan nasional, maka di bidang
   pembinaan pers semakin ditata secara lebih mantap dengan dihasilkannyaUndang-Undang
   No. 21 tahun 1982 yang merupakan penyempurnaan Undang-Undang No. 4 tahun 1967.
   Berikut dikeluarkan pula Peraturan Menteri Penerangan No. 01/PER/Menpen/1984 tentang
   Surat Izin Usaha Penerbitan Pers, sebagai peraturan pelaksanaan Undang-Undang Pokok
   Pers.



          Sejarah telah mencatat bahwa melalui Kepmenpen No. 01/PER/Menpen/1984 itulah
hegemoni negara terhadap media dimulai. Melalui instrumen tersebut degara mempunyai
kekuatan untuk melarang penerbitan media dan sekaligus membredel (menghentikan paksa
penerbitan) bila tidak sepaham dengan haluan politiknya.

          Pengekangan terhadap kebebasan ekspresi selama pemerintahan Orba sesungguhnya
bukan hanya terhadap media massa, tetapi juga terhadap seluruh aktivitas yang berhubungan
dengan pengkomunikasian ide. Sedangkan instrumen yang dipergunakan di luar pers melalui
Kejaksaan Agung entah dalam bentuk “instruksi” maupun “surat Keputusan”. Lembaga
inijuga dikenal melakukan benyak pelarangan terhadap peredaran buku pengarang Indonesia.
Alasannya pelarangan pun bisa bermacam-macam. Sebagai contoh, Surat Keputusan Jaksa
Agung Republik Indonesia Nomor: Kep.052/JA/5/1981 yang melarang beredarnya barang
cetakan yang berjudul Bumi Manusia dan Anak Smua Bangsa karya Pramudya Ananta Toer,
beralasan bahwa isu buku tersebut setelah dipelajari dengan seksama ternyata dengan
kemahiran dan kelincahan pena pengarangnya secara halus terselubung melalui data-data
sejarah, telah dapat menyusup ajaran Marxisme-Leninisme. Sedangkan instruksi Jaksa Agung
Republik Indonesia No. Ins-007/JA/4/1990 yang tindakan pengamanan terhadap beredarnya
barang cetakan/buku Seri Demokrasi Kesaksian Kaum Kuda yang dirancang dan diedit oelh
Denny J.A, Jonminofri, Rahardjo, dan kelompok studi Indonesia itu tidak jelas. Instruksi
tersebut hanya menegaskan untuk melakukan Operasi Justisi terhadap siapa saja yang
menyimpan, memiliki, mempergunakan, menyampaikan, menyebarkan, memperdagangkan,
dan mencetak kembali buku tersebut.
   40 | K o m u n i k a s i P o l i t i k - M e d i a d a n P o l i t i k
       Memang rujukan untuk pelarangan barang cetakan itu tidak jelas atau tidak baku.
Berikut ini dikutipkan beberapa kriteria pelarangan dan korbannya:

      Zakasia Asawor, Ikben een Papua (1971)
      Gerakan Patriot Merdeka, Indonesia Berjuang, (1978)
      Siauw Giok Tjhan, Lima Jaman: Perwujudan Integrasi Wajar (1982)
      Dalimi Lubis, Alam Barzah-Alam Kubur, Ghalia Indonesia (1985)

Mengandung Paham atau ajaran Marxisme-Leninisme/Komunisme

      Kom Byong Sik, Modern Korea (1971)
      R. Moestopo, Sosialisme ala Indonesia (1971)
      Wahono Nitiprawiro, Teologi Pembebasan: Sejarah, Metode, Praksis dan Isinya
       (1988)
      Harry A. Poeze, Tan Malaka: Pergulatan Menuju Republik (1989)

Menganggu Kehidupan Beragama di Indonesia atau Penodaan Agama Tertentu.

      Funk & Wagnalls Standard Reference Enclyclopedia (1969)
      Slamet Muljana, Runtuhnya Kerajaan Hindhu-Djawa dan Timbulnya Keradjaan-
       keradjaan di Nusantara (1971)
      PA Heuken SJ, Sabda Allah Yang Diwahyukan menurut Agama Islam dan Agama
       Kristen (1979)

Merendahan Martabat Kepala Negara atau Merongrong Kewibawaan Pemerintah

      Brian May, The Indonesian Tragedy (1978)
      Benedict Anderson, Hari-Hari Terakhir Kekuasaan Soeharto (1980)
      Sukmadji indro Tjahyono, Indonesia di Bawah Sepatu Laras (1980)
      Menggugat Pemerinta Otoriter (1980)

Memutae Balikkan Sejarah dan Menonjolkan Tokoh tertentu dalam sejarah

      Y. Pohan, Siapa yang Sesungguhnya melakukan Kudeta terhadap Pemerintahan
       Soekarno (1987)
   41 | K o m u n i k a s i P o l i t i k - M e d i a d a n P o l i t i k
      KML Tobing, Permesta Kandasnya Sebuah Cita-cita (1990)

       Sejak tahun 1968-1992 saja tercatat 187 buku yang dilarang beredar oleh pemerintah
RI. Pada tahun-tahun berikutnya jumlah pelarangan tersebut tentu lebih banyak karena
semakin tumbuh kesadaran krisis masyarakat untuk menuntut kebebasan ekspresi sebagai hak
asasi manusia dan hak demokrasi. Itu sebabnya, setelah pembredelan Juni 1994, ada beberapa
lembaga hak asasi manusia memberi perhatian khusus terhadap masalah kebebesan ekspresi
ini. Internasional Centre Againt Censorship yang berpusat si Inggris, misalnya, menerbitkan
laporan The Press under Siege Censorship in Indonesia, yang memberi uraian ringkas
tentang latar belakang, urutan kejadian dan akhirnya pembredelan tiga media. Di bagian awal
dijelaskan secara ringkas bagaimana hukum dan prakteknya di masa Orde Baru ini
menghambat kebebasan ekspresi.

       Edy Suhardono, mengutip Stanley, memaparkan bahwa sejak Orde Baru memegang
kendali pemerintahan hingga dasawarsa tahun sembulan puluha, terjadi pelarangan sekitar
2.000 (dua ribu) judul buku. Rata-rata terjadi 67 judul buku yang dilarang setiap tahunnya.

Selanjutnya Stanley menegaskan:



    Pemerintah Indonesia, maksud saya Orde Baru, barangkali bisa disebut sebagai pemegang
    rekor dalam soal pelarangan buku. Selama hampir 31 tahun, Orde Baru telah melarang
    lebih dari 2000 judul buku. Pelarangan pertama dimulai Orde baru tak lama setelah pecah
    peristiwa G30 S, yaitu pada 30 September 1965. Saat itu, Pembantu Menteri Pendidikan
    Dasar dan Kebudayaan Bidang Teknik Pendidikan, Drs. K. Setiadi Kartohadikusumo,
    melarang 70 judul buku. Pelarangan ini kemudian disusul dengan pelarangan “membabi
    buta” terhadap karya dari 87 pengarang yang dituduh sebagai bagia Kelompok Kiri yang
    harus dilibas habis dari bumi Pancasila. Kebijakan ini tampaknya terus berlangsung
    hingga kini, yaitu melarang buku bukan karena isinya, tapi lebih dikarenakan “noda
    politik” si penulis, si editor dan sang penerbit. Suatu hal yang sama sekali tak ada
    hubungannya dengan sis buku.



       2.5.4. Media Massa dan Demokrasi: Sebuah Utopia

       Akibat praktik hegemoni negara cenderung dilakukan oleh pemerintahan yang
otoriter, dan sebaliknya jarang terjadi di negara yang mempraktekkan demokrasi, maka
masyarakat Indonesia pun selalu menghubung-hubungkan antara “kebebasan” dan

   42 | K o m u n i k a s i P o l i t i k - M e d i a d a n P o l i t i k
“demokrasi”. Kebebasan tidak mungkin lahir tanpa demokrasi dan demokrasi tak akan kuat
tanpa kebebasan. Hal demikian juga menginduksi dalam pikiran kalangan media massa,
khususnya pers. Karena itu, ketika gerakan reformasi digulirkan pertama kali oleh
mahasiswa, pers mendukungnya secara penuh. Reformasi diharapkan membawa perubahan-
perubahandalam demokratisasi dalam berbagai kehidupan. Lembaga Internasional untuk
Bantuan Demokrasi dan Pemilu (International IDEA) menerbitkan sebuah buku yang diberi
judul Penilaian Demokratisasi di Indonesia (2000) antara lain menandaskan bahwa media
merupakan salah satu lembaga demokrasi dan masyarakat sipil yang terpenting. Namun
media dikontrol secara ketat selama Orde Baru. Karena itu, kebebasan pers sekarang yang
berdasarkan UU Pers 1998 adalah pengalaman baru yang kadang-kadang membawa
persoalan-persoalan baru. Di waktu lalu, pemerintah mengontrol pers dengan menekankan
“tanggung jawab” pers kepada masyarakat. Sekarang, pers itu sendiri harus mendefinikan
tanggung jawab ini.

        Dalam kebebasan pers yang baru ditemukan ini, adalah tugas setiap wartawan
Indonesia untuk menghadirkan kebenaran selama memungkinkan dan objektif. Tidak semua
wartawan bekerja sesuai dengan standard yang tinggi. Beberapa siap menuliskan apa pun
yang diinginkan oleh mereka yang mampu membayar, sementara tidak semua wartawan
mempunyai akses bebas terhadap informasi dan saluran-saluran ke sumber-sumber informasi
seperti itu.

        Kebebasan media tidak dapat hidup tanpa akses yang bebas terhadap informasi.
Walaupun ada undang-undang yang menetapkan kebebasan informasi, terdapat beberapa
pembatasan juga, terutama tentang akses kebadan-badan pemerintah. Persoalan-persoalannya
ada pada pegawai-pegawai pemerintah yang mendua mengenai penyediaan informasi.
Mereka enggan memberitahukan dan menerapkan undang-undang itu karena mereka telah
lama diajarkan untuk menjauhkan informasi dari masyarakat dan sekarang merekatiba-tiba
diperintahkan untuk memberikan akses terbuka terhadap informasi. Tetapi, dari perspektif
pegawai pemerintah, membagi informasi berarti membagi kekuasaan.

        Penilaian lembaga independen tersebut satu sisi ada benarnya juga, tetapi yang lebih
penting sebenarnya mencari tahu faktor penyebab tingkah laku birokrasi yang sekan-akan
enggan untuk membuka koridor demokrasi, seakan-akan hendak ingkar terhadap realitas
kekinian. Kiranya, kalangan birokrasi ini tidak bisa memikul tanggung jawab tersebut secara
    43 | K o m u n i k a s i P o l i t i k - M e d i a d a n P o l i t i k
pribadi. Haruslah dicatat dengan tinta tebal dan digaris-bawahi, reformasi yang
menyeruakpada tahun 1999 tersebut prosesnya terjadi begitu cepat. Memang tidak ada yang
menyangka bahwa regim Soeharto yang begitu “perkasa” selama tiga dasawarsa lebih itu bisa
tumbang oelh suatu gerakan sosial yang dimotori oleh mahasiswa. Tidak ada persiapan guna
menyongsosng kehidupan demokrasi, karena kehadirannya datang secara mengejutkan. Yang
barangkali terjadi pada momen ini hingga sekarang adalah keterkejutan budaya (cultural
shock). Peribahan yang tiba-tiba itu membuat panik, sehingga yang terjadi adalah
kegembiraan yang melampaui batas. Akal sehat tidak berfungsi dalam suasana euforia seperti
itu. Dengan demikian, kebebasan yang datang tiba-tiba itu bermuara pada ekspresi yang tak
terkontrol. Salah satu implikasinya adalah “anarkisme massa”. Masyarakat yang selama ini
bagaikan kuda yang dikerangkeng dalam kandangnya tiba-tiba lepas, sehingga lari kian
kemari tak tentu arah. Masyarakat yang kehilangan kendali ini berubah wujud menjadi
kumpulan massa yang tak mengenal rasa takut. Dengan kebebasan dan tak mengenal rasa
takut. Dengan kebebasan dan tak kenal rasa takut inilah yang menyebabkan kontrol hukum
dan etika tak punya wibawa. Hukum adalah apa yang dikehendaki orang banyak, etika adalah
kesepakatan semu untuk melakukan apa saja. Sepanjang yang dilakukan bersama-sama
(meskipun membakar maling yang ketangkap basah), kalau dilakukan bersama-sam
dianggapnya etis dan tak terjangkau hukum) bukan hanya kantor polisi yang dibakar atau
kantor bupati di bumu hanguskan, tetapi juga kantor redaksi media massa diduduki dan
“dipaksa” untuk tidak terbit.

       Memang, tumbangnya regim Orde Baru memberi “angin segar” bagi pertumbuhan
dunia pers. Menurut catatan Lembaga Studi dan Inovasi Pendidikan, pers mulai mendapat
ruang kebebasan yang lebih luas antara lain dengan pencabutan aturan SIUPP, legalisasi
organisasi profesi wartawan non-PWI (seperti AJI, ITJI, dan sebagainya), dan muculnya
beragam media massa baru, baik cetak maupun elektronik. Angin perubahan ini memang
menggembirakan walaupun bukan berarti sudah sepenuhnya mendorongdemokratisasi.
Kebebasan pers yang diberikan negara pasca Orde Baru tersebut baru menumbuhkan dua
kemungkinan:

       Pertama: kebebasan itu baru menjadi jalan pembuka bagi demokratisasi karena setiap
anggota masyarakat diperbolehkan menyampaikan aspirasi dan gagasan-gagasannya dengan
bebas. Dalam kebebasan semacam itu bisa saja proses demokratisasi justru mengalami

   44 | K o m u n i k a s i P o l i t i k - M e d i a d a n P o l i t i k
hambatan serius karena terjadi kesimpang-siuran informasi di masyarakat. Pers yang bebas
akan sangat mempengaruhi dis-informasi sosial tersebut.

       Kedua: kebebasan ini seringkali dijadikan sebagai alat molisasi opini mayarakat atas
suatu fakta. Hal ini erat kaitannya dengan kepentingan politik kelompok-kelompok tertentu
yang berimbas pada keberadaan pers. Dua hal inilah yang menjadi paradoks dalam era
liberalisasi pers pasca otoritarianisme.

       Bisa kita maknai juga kebebasan pers yang hadir di tengah masyarakat kita masih
dalam tataran kulit tetapi belum punya jiwa. Memang jika dilihat dari partisipasi masyarakat
dalam menyelenggarakan atau mengadakan media grafiknya naik tajam dibandingkan dengan
ketika era Orde Baru. Sebagai gambaran kita bandingkan dua kata keberadaan perusahaan
dua data keberadaan perusahaan media massa di tahun 1997 dengan setelah jatuhnya
Soeharto (1999):

             Jenis Media                      Tahun 1997                      Tahun 1999
              Surat kabar                    79 Perusahaan                  299 Perusahaan
               Tabloid                       88 Perusahaan                  866 Perusahaan
               Majalah                      141 Perusahaan                  491 Perusahaan
                buletin                       8 Perusahaan                   11 Perusahaan

                                          Sumber: SPS Jatim

       Data di atas menunjukkan euforia bangsa ini dalam menyongsong era kebebasan,
tetapi belum menunjukkan derajat kualitatif dimana komunikasi bisa diterima sebagai bagian
dari proses konvergensi dalam transformasi sosial. Dengan kekuatan “armada pers” yang
begitu besar menyebabkan institusi pers menjadi kuat. Sudah dikatakan di bagian muka,
bahwa dalam menyongsong era kebebasan ini pers juga terkejut-kejut, tidak siap
mengantisipasi.

       Kebebasan ekspresi yang diberikan kepada institusi pers memang memungkinkan
pers menjadai kritis, tetapi “term” tentang kritis sendiri (akibat bawaan dari perlawanan di
masa lalu terhadap hegemoni negara) masih sebatas pada apa yang disebut “pendekatan
konflik”. Jurnalistik yang bagus dirumuskan sebagai teknik peliputan dan pelaporan yang
berhasil membongkar sisi buram seseorang atau suatu segi kehidupan tertentu. Akibatnya,
kebebasan pers yang datangnya bagai “durian runtuh” itu dipenuhi dengan hingar-bingar

   45 | K o m u n i k a s i P o l i t i k - M e d i a d a n P o l i t i k
prasangka, konflik, pertikaian, penghujatan, dan sisi gelap lainnya. Sementara itu, secara
kebetulan Indonesia terus-menerus dirundung krisis tak berkesudahan. Fakta media dan fakta
sosial ini memancing munculnya spekulasi bahwa pers bebas justru makin membuat situasi
tak nyaman, memperkeruh keadaan, dan bahkan dituduh sebagai pemicu konflik sosial yang
ada.

       Sesuatu yang diluapkan orang adalah bahwa ketika media massa menjdi kritis,
pembacanya juga ikut krisis. Ini juga yang menyebabkan pembaca memiliki bacaan yang
betul-betul dapat dipercaya atau memenuhi seleranya. Dengan demikian, ada realitas terbalik
antara meningkatnya jumlah perusahaan pers (dan tentunya meningkatkan oplah atau tiras)
dengan menurunnya kecendrungan penetrasi media. Dengan sikap selektif itu berarti
pembaca memberikan tuntutan agar media melakukan kompetisi yang sehat untuk
memperebutkan minat bacanya. Memang begitulah “eksistensi pers” bila nasibnya diserahkan
pada mekanisme pasar, hidup matinya pers sangat tergantung pada “pasar”, pembaca!
Pendekatan-pendekatan rasional sebelum mendirikan usaha di bidang pers tidak dilakukan
secara benar. Akibatnya, pers baru yang menyodok pasar sama sekali tidak bersinggungan
denganselera pasar. Akibatnya, banyak perusahaan pers yang baru tiga atau emapt kali terbit
sudah harus gulung tikar. Majalah TEMPO melaporkan fenomena “gulung tikar”nya
perusahaan pers yang disebabkan kurang profesional dalam operasi jurnalistik ataupun visi
pasarnya.

       Selain negara, pembaca, dan profesionalisme, adakah faktor lain yang, mengancam
“kebebasan pers”? Sirikit Syah punya cerita lain. Ia menceritakan bagaimana kebebasan pers
menjadi bumerang bagi bangsa Barat. Sesungguhnya, tak ada kebebasan pers, selain adanya
kepentingan ekonomi dan politik. Pers terancam oleh hukum-hukum sipil dan kriminal
(criminal and civil law) yang mengharuskan pers berhati-hati bila tak ingin dituntut di
pengadilan dengan hukuman yang sangat berat atau denda yang dapat membangkrutkan
perusahaan media massa. Di Inggris, tulis Sirikit, bahkan “The Right to Reply” masuk dalam
UU pertelevisian yang diterapkan disemua negara Eropa anggota European Union. Dan
masih banyak lagi undang-undang dan peraturan yang membatasi kebebasan pers.




   46 | K o m u n i k a s i P o l i t i k - M e d i a d a n P o l i t i k
                                               BAB II

                                            PENUTUP
3.1. Kesimpulan

       Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan

   1. Politik dan media memang ibarat dua sisi dari satu mata uang. Media memerlukan
       politik sebagai makanan yang sehat. Media massa, khususnya harian dan elektronik,
       memerlukan karakteristik yang dimiliki oleh ranah politik praktis: hingar bingar,
       cepat, tak memerlukan kedalaman berpikir, dan terdiri dari tokoh-tokoh antagonis dan
       protagonis.
   2. Politik juga memerlukan media massa sebagai wadah dalam mengelola kesan yang
       hendak diciptakan. Tidak ada gerakan sosial yang tidak memiliki divisi media.
       Apapun bidang yang digeluti oleh sebuah gerakan, semuanya memiliki perangkat
       yang bertugas untuk menciptakan atau berhubungan dengan media.
   3. Dunia politik sadar betul bahwa tanpa kehadiran media, aksi politiknya menjadi tak
       berarti apa-apa. Bahkan menurut C. Sommerville, dalam bukunya Masyarakat Pandir
       atau Masyarakat Informasi (2000), kegiatan politik niscaya akan berkurang jika tidak
       disorot media.
   4. Media memang memiliki kemampuan reproduksi citra yang dahsyat. Dalam
       reproduksi citra tersebut, beberapa aspek bisa dilebihkan dan dikurangi dari realitas
       aslinya (simulakra). Kemampuan mendramatisir ini pada gilirannya merupakan
       amunisi yang baik bagi para politisi, terutama menjelang pemilu.

       Teori komuniksai yang dijadikan acuan untuk melihat keperkasaan maupun
kelemahan media mempersuasif masyarakat dalam hubungan aktivitas politik sebagai
berikut:

       1. Teori Jarum Suntik (Hypodermic Needle Theory)
       2. Teori Kepala Batu (Obtinate Audience)
       3. Teori Kegunaan dan Kepuasan (Uses and Gratification Theory)
       4. Teori Lingkar Kesunyian (Spiral of Silence Theory)
       5. Teori Penanaman (Cultivation Theory)
   47 | K o m u n i k a s i P o l i t i k - M e d i a d a n P o l i t i k
       6. Teori Agenda Setting (Agenda Setting Theory)

3.2. Saran

Aktivitas politik sekarang dalam mempersuasif masyarakat,                   partai mereka lebih sering
dengan kecurangan. Oleh karena itu bagi orang-orang politik lebih bersikap bersih dalam
mempersuasif masyarakat. Jangan ada kecurangan.




   48 | K o m u n i k a s i P o l i t i k - M e d i a d a n P o l i t i k
                                      DAFTAR PUSTAKA



Iqbal,   T.    D.     (2006,     08     04).    Dipetik     Mei      Sabtu,   2011,   dari   google:
    http://tengkudhaniiqbal.wordpress.com/2006/08/04/media-politik-atau-politik-media-
    sebuah-keniscayaan/

Panuju, R. (2002). RELASI KUASA NEGARA MEDIA MASSA DAN PUBLIK. Yogyakarta:
    PUSTAKA PELAJAR.

Prof. Dr. Hafied Changara, M. (2009). Komunikasi Politik : Konsep, Teori, dan Strategi.
    Jakarta: PT. RAJA GRAFINDO PERSADA.

RISWANDI. (2009). KOMUNIKASI POLITIK. Yogyakarta: Graha Ilmu.




   49 | K o m u n i k a s i P o l i t i k - M e d i a d a n P o l i t i k

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:2909
posted:7/29/2011
language:Indonesian
pages:55